TADBM-412

<< kembali ke TADBM-411 | lanjut ke TADBM-413 >>

Bagian 1

TADBM-412DALAM pada itu, Ki Patih yang telah menghentakkan seluruh kekuatannya untuk menghentikan perlawanan Ki Ajar ternyata mengalami kelelahan yang sangat luar biasa sehingga tumpuan kedua lututnya menjadi goyah. Sejenak kemudian Ki Patih pun telah terdorong ke belakang dan rebah di atas tanah. Sejalan dengan mengendornya pemusatan nalar dan budi Ki Patih, bayangan-bayangan semu yang semula bertebaran di seluruh medan perang tanding itu pun perlahan-lahan telah menghilang bagaikan asap tertiup angin.

“Ki Patih!” hampir bersamaan Ki Gede dan Ki Jayaraga berseru sambil meloncat memasuki medan perang tanding. Sedangkan Raden Mas Rangsang dan kedua cucu Ki Patih dengan tergesa-gesa telah berlari mendekat.

“Ampun Ki Patih, bagaimana kah keadaan Ki Patih?” desis Ki Gede perlahan sambil berlutut di sisi tubuh Ki Patih yang terbujur diam diikuti oleh Ki Jayaraga.

Ki Patih tidak menjawab. Hanya dada Ki Patih saja yang terlihat bergelombang tak beraturan. Sementara wajah Ki Patih terlihat sangat pucat.

“Eyang Patih?” hampir bersamaan Ki Lurah Mandurareja dan Ki Lurah Upasanta berdesis perlahan sambil berlutut begitu keduanya sampai di samping tubuh Ki Patih Mandaraka. Sementara Raden Mas Rangsang tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya berlutut sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam dengan wajah yang sangat tegang.

Ki Patih yang tampak wajahnya sangat pucat itu perlahan-lahan membuka matanya. Sebuah senyum kecil segera saja tersungging di bibirnya begitu pandangan Ki Patih menangkap bayangan orang-orang yang mengerumuninya. Setelah menarik nafas dalam-dalam beberapa kali, nafas Ki Patih menjadi sedikit longgar dan mulai teratur walaupun belum sepenuhnya.

“Bantu aku duduk,” tiba-tiba terdengar Ki Patih bergumam perlahan.

Beberapa orang yang sedang mengerumuninya itu dengan segera membantu Ki Patih untuk duduk. Sejenak kemudian Ki Patih pun telah duduk bersila dengan kedua tangan bersilang di depan dada.

Dalam pada itu Matahari telah memanjat semakin tinggi. Panasnya terasa mulai menggatalkan kulit. Ki Tumenggung Surayudha yang tidak ikut menunggui Ki Patih telah memerintahkan beberapa prajurit untuk mengangkat jasad Ki Ajar yang tertelungkup di antara semak belukar. Sementara beberapa prajurit yang lain telah diperintahkan untuk mencari keris Kanjeng Kiai Sarpasri yang terlepas dari genggaman Ki Ajar.

Beberapa prajurit segera mengangkat tubuh Ki Ajar dan membawanya ke tempat yang agak lapang. Para prajurit yang menyentuh tubuh Ki Ajar itu pun telah dibuat menjadi berdebar debar.

“Tubuh ini nyaris tak bertulang,” bisik seorang prajurit yang berkumis tipis dan tampan sambil membantu kawan-kawannya mengangkat tubuh Ki Ajar dari semak-semak.

“Mengerikan,” desis kawan di sebelahnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kekuatan aji Ki Patih telah meremukkan tubuh bagian dalam Ki Ajar. Seandainya Ki Ajar tidak memiliki ketahanan tubuh yang kuat, tentu tubuhnya telah hancur menjadi sayatan daging dan pecahan tulang.”

“Nggegirisi,” gumam prajurit yang lain, “Mungkin Ki Ajar memiliki semacam ilmu kebal sehingga tubuhnya tidak hancur.”

“Menurut perhitunganku Ki Ajar tidak mempunyai ilmu kebal,” sahut prajurit di sebelahnya, “Buktinya tangan Ki Ajar ini terluka oleh serangan ilmu Ki Patih.”

“Mungkin Ki Ajar belum mengetrapkan ilmu kebalnya sampai ke puncak pada saat Ki Patih berhasil melukai pergelangan tangan kanannya,” seorang prajurit yang agak gemuk menyahut.

“Dengan keris pusaka di tangannya, Ki Ajar memang terlalu menganggap remeh Ki Patih,” yang lain ikut menimpali.

Demikianlah sambil tetap berjalan mengangkat jasad Ki Ajar yang telah membeku, para prajurit itu pun tak henti-hentinya membicarakan perang tanding yang baru saja usai.

“Siapakah yang lebih tinggi ilmunya? Ki Patih atau kah Ki Rangga Agung Sedayu?” tiba-tiba saja seorang prajurit yang bertubuh kurus yang sedari tadi diam saja telah mengajukan sebuah pertanyaan.

Sejenak kawan-kawannya bagaikan membeku mendengar pertanyaan itu. Tidak ada seorang pun yang berani menjawab. Akhirnya dengan perlahan-lahan dan sangat hati-hati mereka pun kemudian meletakkan jasad Ki Ajar di atas tanah yang agak lapang.

“Bagaimana pendapat kalian?” kembali prajurit yang bertubuh kurus itu bertanya sambil menegakkan tubuhnya.

“Pendapat yang mana?” bertanya kawannya yang lain hampir bersamaan sambil berpaling ke arahnya.

“Perbandingan ilmu itu,” jawab prajurit kurus itu sambi mengerutkan keningnya, “Ilmu siapakah yang lebih tinggi, Ki Patih atau kah Ki Rangga Agung Sedayu?”

Kawan-kawannya tidak segera menjawab, mereka hanya saling pandang sambil mengerutkan kening.

Akhirnya seorang prajurit yang rambutnya sedikit beruban mencoba menjawab, “Mereka berdua tidak dapat di perbandingkan. Ki Rangga masih termasuk muda dibanding dengan Ki Patih sehingga masih banyak kemungkinan untuk mencapai tataran yang lebih tinggi. Sedangkan Ki Patih semasa mudanya dahulu adalah seorang yang tanpa tanding kecuali dengan Sultan Pajang yang pada masa mudanya bergelar Mas Karebet atau Jaka Tingkir.”

Para prajurit yang sedang mengerumuni jasad Ki Ajar itu tampak mengangguk-angguk. Demikian juga dengan prajurit yang bertubuh kurus itu. Agaknya dia dapat memahami apa yang disampaikan oleh kawannya itu.

“Namun seumur hidupku, aku baru menyaksikan sebuah aji yang nggegirisi,” gumam prajurit yang bertubuh kurus itu kemudian, “Ilmu Panembahan Cahya Warastra memang ngedab-edabi yang mampu mengubah bentuk wadagnya menjadi raksasa. Akan tetapi ternyata Ki Rangga mampu mengatasinya. Ki Rangga dapat berubah wujud menjadi tiga, itu juga sebuah ilmu nggegirisi yang belum pernah aku saksikan seumur hidupku.”

“Bagaimana dengan Ki Patih yang dapat memecah dirinya menjadi berpuluh-puluh bahkan mungkin sampai ribuan?” kawan yang di sebelahnya ganti bertanya.

“Itu mungkin sejenis Aji Bala Srewu,” jawab prajurit yang bertubuh kurus itu, “Sepanjang pengetahuanku Aji Bala Srewu itu hanya sebuah tipuan saja, sebuah ilmu yang mampu mengungkapkan bentuk-bentuk semu namun tidak mempunyai pengaruh apapun terhadap lawannya.”

“Dari mana engkau tahu?” kembali seorang prajurit bertanya.

“Aku pernah mempelajarinya walaupun tidak tuntas,” jawab Prajurit yang bertubuh kurus itu dengan enteng.

“Ah, macam kau!” sergah kawannya

Kawan-kawannya yang telah melangkah pergi dari tempat itu hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala mereka tanpa menanggapi angan-angan dari prajurit yang bertubuh kurus itu.

Dalam pada itu Ki Patih yang telah selesai dalam mengatur tata letak urat syaraf serta pernafasannya terlihat semakin segar. Sambil tersenyum Ki Patih pun kemudian mengurai kedua tangannya yang bersilang di dada dan bangkit berdiri.

“Agaknya kita memerlukan beberapa lubang kubur lagi,” berkata Ki Patih kemudian sambil memandang ke arah kedua cucunya yang juga telah ikut berdiri.

“Hamba Eyang Patih,” jawab Ki Lurah Upasanta, “Kami akan perintahkan beberapa prajurit untuk menggali lagi. Sementara itu, apakah pemakaman sudah dapat dimulai?”

“O, tentu-tentu,” jawab Ki Patih cepat, ” Perintahkan orang-orang yang sedang menunggu di gerbang padukuhan induk itu untuk segera menuju ke sini.”

Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, kedua Lurah Wira Tamtama yang merupakan cucu dari Ki Patih itu segera mundur dan meninggalkan tempat itu untuk melaksanakan perintah Ki Patih.

Sepeninggal kedua cucunya, sejenak Ki Patih masih berdiri termangu-mangu. Ketika pandangan matanya kemudian tertumbuk pada sesosok anak muda yang berkulit sedikit gelap dengan wajah yang menyiratkan sebuah wibawa yang agung, tiba-tiba saja Ki Patih tertawa pendek.

“Cucunda Buyut, masalah yang kita hadapi telah berlalu. Mengapa wajahmu masih terlihat gelisah dan tegang?” sapa Ki Patih kepada seorang anak muda yang berdiri di sebelahnya.

Anak muda yang tak lain adalah Raden Mas Rangsang itu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian, “Aku gelisah memikirkan masa depan Mataram. Kanjeng Eyang Buyut sudah sedemikian sepuh namun masih mampu menunjukkan kemampuan yang diluar jangkauan kami yang muda-muda ini. Kami tidak dapat mengingkari garis dari Yang Maha Agung, bahwa suatu saat Kanjeng Eyang Buyut pasti akan meninggalkan kami semua, dan belum ada seorang pun dari kami yang muda-muda ini yang dapat dikatakan mempunyai kemampuan mendekati atau pun bahkan sejajar dengan Kanjeng Eyang Buyut.”

“Ah,” kembali Ki Patih tertawa pendek, sementara Ki Jayaraga dan Ki Gede hanya tersenyum saja mendengar ucapan calon penerus trah Mataram itu.

“Raden,” berkata Ki Patih kemudian sambil menepuk bahu Raden Mas Rangsang, “Pemimpin yang sejati itu pasti akan muncul dengan sendirinya jika memang Yang Maha Agung telah menetapkan waktunya. Ingat lah leluhur Wangsa Rajasa, Ken Arok. Kalau Yang Maha Agung sudah menghendaki dia menjadi Raja, tidak ada seorang pun manusia yang dapat menghalanginya pada waktu itu,” Ki Patih berhenti sebentar. Kemudian lanjutnya, “Bagaimana dengan Bekel Gajah Mada? Dia telah berhasil mempersatukan Nusantara dari ujung timur sampai ke ujung barat di bawah panji-panji kebesaran kerajaan Majapahit. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa dari seorang prajurit yang berpangkat Bekel kemudian dapat mencapai kedudukan menjadi seorang Maha Patih Hamangkubumi. Gajah Mada adalah sebuah contoh keteladanan tentang seorang abdi yang setia kepada Rajanya. Seandainya Gajah Mada mempunyai nafsu pribadi untuk menjadi Raja, alangkah mudahnya melenyapkan Hayam Wuruk yang pada saat dia naik tahta masih berusia sangat muda. Namun jiwa pengabdian Maha Patih Gajah Mada memang luar biasa. Dia bekerja tanpa pamrih, hanya mengabdi demi kejayaan Majapahit.”

Orang-orang yang berada di sekitar Ki Patih itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka semua sudah paham tentang kisah Maha Patih Gajah Mada dari babat-babat yang mereka baca. Seseorang yang dianugrahi oleh Yang Maha Agung kecerdasan dan kemampuan ilmu olah kanuragan yang dahsyat tiada taranya. Dengan aji lembu sekilan yang dimilikinya, Maha Patih Gajah Mada telah mampu menggulung jagad dan mempersatukan negeri-negeri kecil yang tersebar luas di seluruh Nusantara di bawah panji-panji kebesaran Majapahit.

“Mengapa Maha Patih Gajah Mada sendiri tidak berniat untuk menjadi Raja?” tiba-tiba saja pertanyaan itu telah menggelitik hati Raden Mas Rangsang.

Agaknya Ki Patih dapat membaca pikiran Raden Mas Rangsang. Maka katanya kemudian, “Seseorang yang sudah mampu mengendapkan hatinya dari gejolak keinginan pribadi, dan sudah membulatkan tekadnya bahwa seluruh hidupnya akan dipersembahkan hanya untuk mengabdi, tidak akan tergoda oleh gebyarnya dunia. Maha Patih Gajah Mada telah menempatkan dirinya sebagai pendamping Raja Hayam Wuruk dan tidak ada terbesit niat sebiji sawi pun di dalam hatinya untuk meraih kamukten melebihi dari apa yang telah diterimanya walaupun dia mampu untuk melakukan itu. Karena dia sadar, bahwa seorang Raja adalah pilihan langsung dari Yang Maha Agung melalui Wahyu Keprabon. Tanpa Wahyu Keprabon, walaupun dia trah seorang raja sekali pun, dia tidak akan dapat menduduki singgasana, demikian juga sebaliknya.”

Raden Mas Rangsang dan kedua orang tua-tua itu hampir bersamaan telah menarik nafas dalam-dalam. Sudah banyak kejadian, dimana seseorang yang mengaku trah dari Majapahit telah berusaha menggalang kekuatan untuk membangun kembali kejayaan kerajaan terbesar yang pernah ada di Nusantara ini, namun mereka tidak pernah berhasil.

“Berhati-hati lah dengan orang-orang yang masih mempunyai mimpi seperti itu,” berkata Ki Patih selanjutnya, “Engkau telah mendengar sendiri dari mulut Ki Ajar sebelum perang tanding tadi, bahwa menurut Ki Ajar dan kelompoknya yang berhak atas tahta di negeri ini adalah trah dari Pangeran Sekar Seda Lepen. Di kemudian hari, mereka akan dapat menjadi duri dalam daging bagi pemerintahan Mataram.”

Raden Mas Rangsang dan kedua orang tua itu hanya dapat mengangguk-anggukkan kepala mereka tanpa menjawab sepatah kata pun. Ketika rombongan iring-iringan jenasah dari arah pintu gerbang padukuhan induk itu telah mendekati tanah pekuburan, perhatian mereka pun segera tertuju kepada iring-iringan jenasah itu.

“Marilah,” berkata Ki Patih kemudian sambil melangkah, “Sebaiknya kita segera menyelenggarakan pemakaman yang sempat tertunda beberapa saat tadi.”

“Hamba Ki Patih,” hampir berbareng kedua orang tua itu menjawab. Sementara Raden Mas Rangsang mengikuti saja langkah Ki Patih mendekati orang-orang yang mulai berkerumun di tanah pekuburan.

Demikianlah akhirnya jenasah jenasah itu pun segera dipersiapkan untuk dikebumikan sebagaimana mestinya. Para prajurit telah menggali beberapa liang kubur lagi untuk jasad Ki Ajar Serat Gading dan Kiai Sambiwaja serta beberapa murid perguruan Serat Gading yang telah menjadi korban.

Setelah seorang yang dituakan dari Padukuhan Induk memanjatkan doa, dengan segera para prajurit dibantu oleh beberapa laki-laki penghuni padukuhan induk yang ikut hadir untuk menutup lubang-lubang kubur itu dengan tanah-tanah gundukan bekas galian yang banyak tersebar di tanah pekuburan itu.

Ketika Ki Tumenggung Surayudha mendapat kesempatan mendekati Ki Patih yang sedang memperhatikan pelaksanaan pemakaman itu, dengan segera dia berbisik perlahan, “Ampun Ki Patih, kami tidak dapat menemukan keris pusaka Ki Ajar.”

Sejenak Ki Patih mengerutkan keningnya. Namun sejurus kemudian dia tersenyum sambil berdesis, “Biarlah Ki Tumenggung. Kemungkinannya keris itu telah dipanggil kembali oleh pemiliknya yang disebut Eyang Guru oleh Ki Ajar. Sebagaimana yang pernah terjadi di masa pemerintahan Panembahan Senapati.”

Ki Tumenggung Surayudha menarik nafas dalam-dalam. Hatinya sedikit tergetar. Kekuatan keris Kanjeng Kiai Sarpasri itu benar-benar sangat nggegirisi.

Dalam pada itu, ketika orang-orang yang berada di tanah pekuburan itu baru saja selesai menyelenggarakan pemakaman dan akan berkemas-kemas untuk kembali ke padukuhan induk, tiba-tiba saja mereka telah dikejutkan oleh suara derap kaki seekor kuda yang dipacu dengan sangat kencang. Segera saja semua pandangan mata tertuju ke arah gerbang padukuhan induk.

Sejenak kemudian mereka yang berada di tanah pekuburan itu pun telah melihat seorang penunggang kuda muncul dari balik gerbang padukuhan induk yang telah roboh dan langsung saja memacu kudanya dengan kencang menuju ke arah tanah pekuburan.

“Siapakah penunggang kuda itu?” pertanyaan itu berputar-putar hampir di setiap kepala orang-orang yang berada di tanah pekuburan itu.

Namun pertanyaan itu segera terjawab ketika tiba-tiba saja Ki Gede Menoreh berseru dengan nada yang penuh kegembiraan, “Ah, kiranya Ki Waskita yang telah hadir!”

Penunggang kuda yang memang adalah Ki Waskita itu segera mengurangi laju kudanya begitu mendekati kerumunan orang-orang yang ada di tanah pekuburan. Dengan tangkasnya dia meloncat turun begitu kuda itu telah berhenti. Sambil menuntun kudanya, Ki Waskita pun dengan bergegas segera menuju ke tempat Ki Patih dan orang-orang tua itu berdiri.

Sesampainya Ki Waskita di depan Ki Patih, dengan sedikit membungkukkan badannya, Ki Waskita pun kemudian berkata sambil tersenyum, “Ampun Ki Patih. Agaknya hamba telah terlambat. Namun sokorlah semuanya dalam keadaan selamat.”

Ki Patih tertawa tertahan sambil menunjukkan luka di lengan kirinya. Katanya kemudian, “Ternyata aku telah menjadi semakin lamban dan sedikit pikun. Lawanku telah berhasil memberikan sebuah kenang-kenangan untuk aku ingat seumur hidupku.”

“Ah,” orang-orang yang mendengar kelakar Ki Patih itu telah tertawa.
Demikian juga Ki Waskita. Namun katanya kemudian, “Ampun Ki Patih, luka itu sepertinya mengandung racun walaupun aku percaya racun itu tidak akan mampu menjalar lebih jauh lagi. Namun alangkah baiknya kalau sekalian saja racun itu dikeluarkan dari luka agar kelak di kemudian hari tidak menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan.”

“Engkau benar Ki Waskita,” jawab Ki Patih sambil meraba lukanya, “Racun yang mengeram di sekitar luka ini harus dikeluarkan. Jika dibiarkan, suatu saat dapat menyerang kembali jika ketahanan tubuhku melemah.”

Orang-orang yang berada di sekitar Ki Patih telah mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka juga mempunyai pendapat yang sama. Sebaiknya racun itu memang dibersihkan sama sekali dari luka yang berada di lengan kiri Ki Patih.

“Biarlah Tabib keprajuritan di padukuhan induk nanti yang akan mengobati luka ini,” berkata Ki Patih kemudian, “Sebaiknya kita segera kembali ke padukuhan induk.”

Kemudian katanya kepada Ki Tumenggung Surayudha, “Persiapkan pasukan Mataram untuk kembali ke kota Raja. Untuk membantu pengamanan Tanah Perdikan Menoreh dan menjaga kemungkinan keadaan yang dapat berkembang diluar pengamatan kita, engkau dapat menempatkan sepasukan prajurit untuk membantu para pengawal menjaga padukuhan induk dan sekitarnya.”

“Hamba Ki Patih,” jawab Ki Tumenggung Surayudha, “Apakah Ki Patih berkenan kembali ke Kota Raja bersama pasukan Mataram?”

Ki Patih tersenyum sambil menggeleng. Sambil berpaling sekilas ke arah Ki Gede Menoreh, ki Patih pun menjawab, “Aku akan menjenguk keadaan Ki Rangga Agung Sedayu terlebih dahulu. Nanti menjelang senja, bersama dengan Raden Mas Rangsang aku akan kembali ke Kota Raja dengan pengawalan dari prajurit pengawal kepatihan saja.”

Orang-orang yang berdiri di sekitar Ki Patih itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Nah, sekarang marilah kita berbincang bincang sambil berjalan kembali ke padukuhan induk,” berkata Ki Patih kemudian sambil mengayunkan langkahnya.

Demikian lah akhirnya mereka yang telah selesai melaksanakan pemakaman itu telah berbondong-bondong meninggalkan tanah pekuburan. Sementara Ki Patih dan orang-orang tua beserta Raden Mas Rangsang yang berjalan di urutan paling belakang itu telah terlibat dalam pembicaraan yang riuh.

“Aku dengar Ki Waskita baru saja sakit,” berkata ki Gede Menoreh.

“Benar Ki Gede,” jawab Ki Waskita sambil menuntun kudanya, “Kita tidak bisa mengelabui umur. Dengan semakin bertambahnya umur, semakin lemah pula wadag seseorang.”

“Tidak semuanya benar,” potong Ki Gede dengan serta merta, “Siapapun tahu kalau Ki Patih Mandaraka adalah priyagung yang sudah melewati batas umur rata-rata manusia, bahkan paling sepuh di antara kita. Namun dengan seijin Yang Maha Agung, Ki Patih masih diberi kekuatan untuk berperang tanding melawan Ki Ajar Serat Gading, orang yang mengaku keturunan perguruan Nagaraga.”

“Ah,” Ki Patih yang mendengar gurauan Ki Gede tertawa masam, “Jujur saja aku akui, jika Ki Ajar tidak terlalu meremehkan lawannya, aku tidak tahu apakah aku sekarang ini masih bisa berjalan bersama-sama dengan kalian?”

“Ampun Ki Patih,” Ki Waskita menyahut, “Untuk ukuran Ki Patih, tentu saja kami tidak berani dengan deksura membandingkan diri kami yang sudah tua bangka ini, karena menurut pengamatan kami, tentu Ki Patih mempunyai suatu rahasia untuk dapat memiliki umur yang panjang dan tetap awet muda.”

Orang-orang di sekitar Ki Patih saling pandang. Namun Ki Jayaraga lah yang menyahut, “Ampun Ki Patih. Mohon Ki Patih berkenan memberi petunjuk kepada kami yang sudah tua bangka ini, kira-kira sejenis obat atau reramuan apakah yang telah dipergunakan oleh Ki Patih sehingga Ki Patih tetap kuat dan awet muda?”

Orang-orang yang mendengar pertanyaan Ki Jayaraga itu hampir tidak dapat menahan tawa. Demikian juga Ki Patih, sebuah senyum telah tersungging di bibirnya. Namun ketika Ki Patih baru saja akan menjawab pertanyaan Ki Jayaraga, tiba-tiba saja Ki Gede Menoreh yang berjalan di sebelah kirinya bergumam perlahan namun cukup mengejutkan orang-orang yang mendengarnya, “Ampun Ki Patih, untuk urusan awet muda, aku kira jawabannya ada pada diri Ki Waskita. Bukankah baru beberapa bulan yang lalu Ki Waskita telah menikah lagi?”

Kali ini orang-orang yang mendengar pertanyaan Ki Gede itu benar-benar tidak dapat menahan tawa. Sejenak kemudian meledaklah tawa yang berkepanjangan di sepanjang jalan menuju padukuhan induk. Namun ketika mereka menyadari bahwa suasana masih dalam keadaan berkabung, dengan serta merta mereka segera menyesuaikan diri walaupun di sana sini beberapa orang masih belum dapat menghapus senyum dari wajah mereka.

Ki Patih yang mendengar kata-kata Ki Gede itu sejenak tersenyum sambil mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “O, aku baru mendengar sekarang ini kalau Ki Waskita telah menikah lagi. Selamat Ki Waskita, semoga Ki Waskita dapat memulai kehidupan baru dalam keadaan bahagia dan sejahtera. Itulah agaknya mengapa sekarang ini Ki Waskita terlihat lebih muda dari usia yang sebenarnya.”

“Ah,” Ki Waskita yang menyadari dirinya sedang menjadi pusat perhatian segera menjawab, “Ampun Ki Patih, perempuan yang aku nikahi itu umurnya sudah setua aku. Pertimbangan yang aku ambil ketika menikahinya adalah agar ada seseorang yang dapat membantuku dalam menyiapkan kebutuhanku sehari-hari.”

“Mengapa Ki Waskita tidak menikah dengan perempuan yang masih muda?” bertanya Ki Patih kemudian, “Dengan demikian kebutuhan Ki Waskita yang lain pun akan tercukupi.”

“Ah,” kembali terdengar tawa yang tertahan-tahan. Memang kebanyakan orang akan memilih perempuan yang masih muda jika mereka harus menikah lagi. Tentu saja semua itu dengan berbagai macam alasan dan pertimbangan.

“Ampun Ki Patih,” berkata Ki Waskita kemudian dengan raut muka yang terlihat bersungguh-sungguh, “Pertimbanganku pada waktu itu adalah, bagaimana aku mendapatkan ketenangan dalam menjalani sisa hidupku yang hanya tinggal beberapa saat lagi.”

Orang-orang yang mendengar kata-kata Ki Waskita ini menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-angguk. Mereka menyadari, betapa sulitnya menjalani kehidupan di hari tua tanpa seorang pun pendamping. Memang untuk urusan segala macam tetek bengek rumah tangga mereka dapat mengambil beberapa pelayan. Namun keberadaan seorang pelayan tentu saja sangat berbeda perannya dengan seorang istri.

Tanpa terasa langkah-langkah mereka telah mendekati regol padukuhan induk. Beberapa orang penghuni padukuhan induk dibantu oleh para prajurit tampak sedang memperbaiki regol yang telah roboh dan terbakar.

“Kayu mahoni cukup kuat untuk sebuah gerbang,” desis Ki Patih ketika mereka melewati regol yang sedang diperbaiki itu.

“Hamba Ki Patih,” jawab Ki Gede, “Kami belum sempat mencari bahan yang terbaik untuk regol ini. Namun kekuatan kayu Mahoni kami rasa sudah cukup memadai.”

Ki Patih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika tanpa disadarinya dia telah berpaling ke arah orang-orang yang sedang bekerja itu, ternyata mereka telah menghentikan pekerjaan mereka sejenak dan hanya berdiri mematung sambil menundukkan kepala.

“Apakah kami mengganggu?” bertanya Ki Patih, “Teruslah bekerja! Kami hanya lewat saja.”

“Sendika Ki Patih,” jawab seorang prajurit tertua yang mewakili rombongan pekerja itu sambil membungkukkan badannya dalam-dalam.

Demikianlah ketika orang terakhir telah melewati regol yang sedang diperbaiki itu, para pekerja dibantu oleh beberapa prajurit pun segera meneruskan pekerjaan mereka.

Dalam pada itu, di langit Matahari telah memanjat semakin tinggi. Ketika bola api raksasa itu telah berada tepat di atas ubun-ubun, panasnya pun bagaikan membakar seluruh permukaan bumi.

Di tegal kepanasan pebukitan Menoreh, seseorang tampak sedang berdiri dengan gagahnya. Matanya yang setajam burung elang sesekali terlihat memandang kekejauhan seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.

“Menurut Begawan Cipta Hening, orang yang harus aku bunuh itu baru akan datang besuk siang di tempat ini,” orang yang bertubuh tegap dan kekar itu berdesis perlahan, “Jika memang Begawan Cipta Hening memiliki sebuah ilmu yang disebutnya dengan nama Sulih Nyawa itu, tentu Mataram akan gempar begitu menyadari Panembahan Cahya Warastra telah bangkit kembali dari kematiannya.”

Orang yang berbadan tegap dan kekar itu sejenak tersenyum. Seolah-olah sudah terbayang kemenangan di depan matanya.

“Dan dengan sangat mudahnya aku akan membunuh Ki Rangga Agung Sedayu yang sedang tergolek tak berdaya di atas pembaringannya,” kembali orang itu berangan-angan, “Semoga saja dia tidak mati terlebih dahulu agar dengan tanganku sendiri aku dapat mengakhiri kesombongannya.”

Untuk sejenak orang itu termenung. Terbayang kembali apa yang telah terjadi di dalam sebuah goa yang tersembunyi di puncak Suralaya dekat Tegal Kepanasan beberapa saat tadi.

“Engkau sudah sangat terlambat Bango Lamatan,” berkata orang yang menyebut dirinya Begawan Cipta Hening itu, “Seharusnya engkau bawa jasad Panembahan Cahya Warastra ke tempat ini sebelum cahaya pertama dari sinar Matahari menyentuh bukit Suralaya.”

“Ampun Begawan,” jawab Bango Lamatan sambil membungkukkan badannya dalam-dalam, “Aku baru berhasil mengambil jasad Panembahan dari bekas medan pertempuran menjelang tengah malam. Dalam perjalanan membawa jasad panembahan ini pun aku harus sangat berhati-hati jangan sampai ada yang mengikuti perjalananku. Aku benar-benar mohon maaf atas keterlambatan ini.”

Terdengar orang yang menyebut dirinya Begawan Cipta Hening itu menarik nafas dalam-dalam. Dalam keremangan goa yang cukup gelap, sebenarnya bukanlah halangan yang berarti bagi Bango Lamatan untuk mengenali wajah Sang Begawan. Namun entah sudah berapa kali Bango Lamatan selalu gagal untuk mengenali wajah orang yang sedang duduk di atas sebuah batu besar hanya beberapa langkah di hadapannya.

“Bukankah engkau adalah orang kedua dalam perguruan Cahya Warastra?” bertanya Begawan Cipta Hening dengan suara yang berat dan dalam setelah sejenak mereka berdiam diri. Terdengar suaranya yang bergaung itu memantul dinding-dinding goa dan menciptakan suara-suara aneh yang menyeramkan.

“Benar Begawan,” jawab Bango Lamatan dengan perlahan, “Namun sesungguhnya aku bukanlah murid asli dari perguruan Cahya Warastra, jalur ilmu kami sangat berbeda.”

“Walaupun jalur ilmu yang engkau tekuni berbeda dengan jalur perguruan Cahya Warastra. Namun kenyataannya bahwa Panembahan Cahya Warastra telah mengangkatmu menjadi orang kedua dalam susunan kepemimpinan perguruannya itu merupakan bukti bahwa tingkat ilmumu memang patut diperhitungkan. Jadi urusan membawa jasad Panembahan itu ke sini sebelum Matahari terbit bukanlah soal yang rumit bagimu,” kembali suara berat dan dalam itu bergaung ke seluruh sudut-sudut goa dan memantulkan suara mirip geraman berpuluh-puluh ekor serigala.

Bango Lamatan menarik nafas dalam-dalam mendengar ucapan Sang Begawan. Sejenak pandangan matanya tertuju ke arah jasad Panembahan Cahya Warastra yang tergeletak di lantai goa yang lembab dan basah. Sepercik keragu-raguan mulai muncul dalam hatinya. Benarkah orang yang menyebut dirinya Begawan Cipta Hening ini mempunyai sejenis ilmu yang ngedab-edabi itu? ilmu yang mampu membangkitkan jasad yang sudah membeku untuk bisa bangkit kembali?

Kalau seandainya saja Panembahan Cahaya Warastra dapat memenangkan perang tanding itu, tentu dia tidak perlu menghadap seseorang yang menyebut dirinya Begawan Cipta Hening di bukit Suralaya dekat Tegal Kepanasan.

Akhirnya setelah menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu, dengan sangat hati-hati Bango Lamatan pun menjawab, “Maaf Begawan, pada saat aku akan mengambil jasad Panembahan, ada seseorang yang sedang berada di dekat bekas medan perang tanding itu. Malam memang sangat gelap pada saat itu. Namun tampaknya dengan sengaja orang itu telah menampakkan dirinya dan hanya berdiri diam di bawah sebatang pohon. Tidak ada suatu usaha pun untuk menyamarkan dirinya terhadap lingkungan di sekitarnya. Dari sikapnya yang sombong itu aku dapat menarik sebuah kesimpulan, orang itu pasti memiliki keyakinan yang tinggi atas kemampuan ilmunya.”

“Atau justru sebaliknya, dia hanyalah seorang dungu yang tersesat sampai ke bekas medan pertempuran. Mengapa tidak engkau bunuh saja orang gila itu, he!” terdengar Begawan Cipta Hening itu menggeram. Getaran suaranya seakan-akan meruntuhkan dinding-dinding goa.

Untuk sejenak dahi Bango Lamatan berkerut-merut. Dia memang hanya melihat orang di bekas medan perang tanding itu berdiri termangu-mangu sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sikapnya yang terlalu tenang itu lah yang telah menggelisahkan Bango Lamatan.

“Maaf Begawan,” jawab Bango Lamatan kemudian, “Sebelum aku memutuskan apa yang akan aku perbuat terhadap orang itu, tiba-tiba saja dalam keremangan malam ada dua bayangan yang terlihat mendekati bekas arena perang tanding itu.”

“Bodoh! Mereka tentu para prajurit yang bertugas mengumpulkan korban di medan pertempuran,” kali ini terdengar Begawan Cipta Hening membentak, “Seharusnya engkau bunuh sekalian kedua orang itu!”

Untuk sejenak Bango Lamatan harus menekan dadanya yang terasa sesak bagaikan tertimbun berbongkah-bongkah longsoran batu padas di lereng pegunungan. Suara bentakan orang yang menyebut dirinya Begawan Cipta Hening itu bagaikan suara halilintar yang meledak tepat di depan hidungnya.

“Aku tidak sempat berpikir terlampau jauh, Begawan” sahut Bango Lamatan kemudian setelah dadanya terasa lapang, “Dalam keadaan yang serba tidak pasti itu, aku segera mengambil keputusan untuk mengambil jasad Panembahan, sebelum kedua orang yang datang kemudian itu semakin dekat. Dan anehnya orang pertama yang hadir di bekas medan pertempuran itu ternyata tidak berbuat apa-apa. Dia hanya diam saja ketika aku membawa jasad Panembahan Cahya Warastra itu pergi.”

“Berarti dugaanku benar, dia hanyalah orang dungu yang tersesat ke tempat itu!” kembali terdengar orang yang menyebut dirinya Begawan Cipta Hening itu menggeram sambil menghentakkan salah satu kakinya ke lantai goa. Akibatnya adalah sangat dahsyat, goa itu bagaikan diguncang gempa sehingga di beberapa bagian dari dinding-dinding goa itu telah runtuh berguguran.

“Itulah bodohnya engkau, Bango Lamatan!” kembali Begawan Cipta Hening membentak. Suaranya bagaikan auman berpuluh singa di padang gurun, “Engkau belum dapat membedakan orang yang berilmu tinggi dan orang yang dungu. Akibatnya kedatangan jasad Penembahan ini sudah sangat terlambat, dan aku sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi!”

Jantung Bango Lamatan bagaikan terlepas dari tangkainya. Musnah sudah harapannya untuk membalas dendam terhadap orang-orang Mataram dan Menoreh. Ada sebuah penyesalan di dalam hatinya, mengapa dia sampai terlambat membawa jasad panembahan Cahya Warastra.

“Kecuali..” tiba-tiba terdengar nada suara Begawan menurun, “Nyawa Panembahan ini harus ditukar dengan nyawa dari seseorang yang sangat berharga. Nyawa dari seseorang yang telah diramalkan akan merajai tanah Jawa.”

Bango Lamatan tertegun sejenak. Berbagai dugaan muncul dalam benaknya. Siapakah orang yang dimaksud oleh Begawan Cipta Hening itu?

“Pergilah!” tiba-tiba terdengar suara Begawan Cipta Hening seperti salak seekor anjing hutan, melengking tinggi menyakitkan telinga, “Carilah calon Raja Jawa itu. Besok setelah Matahari tergelincir sejengkal, engkau akan menjumpai orang itu di tegal kepanasan. Bunuhlah dia sebagai pengganti dari nyawa Panembahan Cahya Warastra. Ilmu Sulih nyawa yang aku kuasai mengisyaratkan pengganti nyawa Panembahan adalah nyawa dari orang itu.”

Bergemuruh dada bango Lamatan begitu mendengar perintah begawan Cipta Hening. Walaupun secara pribadi bango lamatan belum mengenal Sang Begawan, terutama tingkat ilmunya. Namun menilik salah satu kemampuannya yang mampu menghindarkan diri dari pengamatan bango Lamatan, itu sudah menunjukkan akan ketinggian ilmunya. Apalagi Panembahan Cahya Warastra semasa hidupnya juga mengakui akan ketinggian ilmunya, terutama ilmu Sulih Nyawa yang dipercaya dapat membangkitkan orang dari kematian.

Namun tiba-tiba saja terbesit niat dari bango Lamatan untuk mencoba kedahsyatan ilmu orang yang menyebut dirinya Begawan Cipta Hening itu.

Maka katanya kemudian, “Baiklah Begawan, aku mohon diri. Aku akan menghadang orang yang Begawan maksud besok siang di Tegal Kepanasan. Aku yakin kali ini aku tidak akan gagal lagi.”

Selesai berkata demikian, Bango Lamatan dalam sekejap telah memusatkan segenap nalar dan budinya untuk mengetrapkan aji Halimunan sambil bergeser keluar goa.

Namun alangkah terkejutnya Bango lamatan, tanpa menyadari dari arah mana datangnya, tiba-tiba saja ada sebuah kekuatan yang luar biasa dahsyat mendorongnya sehingga dia telah terlempar dan jatuh terguling-guling keluar dari goa.

Bersamaan dengan itu terdengar sebuah tawa yang mirip suara hantu yang bangkit dari liang kuburnya, “Apa yang ingin kau tunjukkan kepadaku Bango Lamatan? Sekali lagi engkau berani bersikap deksura di hadapanku, aku tidak akan mengampuni selembar nyawamu.”

Bango lamatan yang masih tertatih-tatih bangkit berdiri segera menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah pintu goa sambil berkata, “Ampun Begawan, maafkan sikap hamba yang deksura. Hamba berjanji tidak akan mengulangi lagi.”

Tidak terdengar jawaban dari dalam goa. Hanya suara angin lembut yang berdesir menyibak dedaunan dan membelai rumput-rumput ilalang yang banyak tumbuh rapat berjajar-jajar di lereng bukit Suralaya.

*****

Dalam pada itu, di padukuhan induk Ki Patih dan rombongannya telah selesai mendapat jamuan makan siang. Ki Tumenggung Surayudha dan Ki Tumenggug Singayudha yang mendapat sedikit cedera ternyata telah mempersiapkan pasukan Mataram segelar sepapan untuk kembali ke kota Raja. Sementara sepasukan khusus prajurit Mataram telah ditinggalkan di padukuhan induk menoreh untuk membantu menjaga keamanan Tanah Perdikan Menoreh.

Sejenak kemudian, di halaman banjar padukuhan induk telah berkumpul para prajurit Mataram yang akan kembali ke kota Raja. Mereka berbaris dengan rapi dan teratur menurut tataran pangkat dalam keprajuritan. Halaman banjar padukuhan induk yang cukup luas itu ternyata tidak mampu menampung seluruh pasukan sehingga sebagian yang lain telah menempatkan diri di jalan-jalan di depan banjar dan halaman rumah-rumah yang berada di sebelah menyebelah banjar. Sementara para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang hanya hadir sebagian karena harus menjaga keamanan di seluruh sudut-sudut padukuhan induk dan sekitarnya, telah di tempatkan di barisan paling kiri di halaman banjar.

Sedangkan para penghuni padukuhan induk yang telah kembali dari tempat pengungsian mereka dan ingin menyaksikan acara pelepasan para prajurit mataram kembali ke kota Raja telah hadir sejak tengah hari tadi. Mereka tidak memperdulikan panas Matahari yang menyengat. Perempuan-perempuan sambil menggendong anaknya yang masih bayi mencoba berteduh di bawah rindangnya pepohonan yang ada di seputar banjar. Para laki-laki lebih senang berdiri berjajar-jajar merapat ke dinding pembatas halaman banjar yang rendah. Sementara gadis-gadis dengan agak malu-malu berdiri berlidung di balik punggung biyung mereka, namun mata mereka tak pernah lepas mengamati para prajurit-prajurit muda yang tampak gagah perkasa dan berwibawa.

Demikianlah setelah semuanya tertata rapi, Ki Patih dan beberapa orang-orang tua telah keluar dari ruang dalam melalui pintu pringgitan menuju ke pendapa.

Ki Tumenggung Surayudha yang telah selesai melihat persiapan pasukan Mataram segera menghadap Ki Patih.

“Ampun Ki Patih,” berkata Ki Tumenggung kemudian sesampainya dia di hadapan Ki Patih, “Persiapan pasukan telah selesai, kami menunggu perintah dari Ki Patih.”

Ki Patih mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian sambil berpaling ke arah Ki Gede Menoreh dia bertanya, “Apakah Ki Gede ingin menyampaikan sesuatu sebelum pasukan Mataram berangkat kembali ke kota Raja?”

“Demikianlah Ki Patih,” jawab Ki Gede dengan serta merta, “Jika hamba memang diijinkan untuk menyampaikan rasa terima kasih kami atas bantuan pasukan Mataram yang tak terhingga kepada Tanah Pedikan ini.”

“Silahkan, Ki Gede,” berkata Ki Patih kemudian sambil mempersilahkan Ki Gede untuk maju ke depan.

“Terima kasih, Ki Patih,” berkata Ki Gede sambil menganggukkan kepalanya dalam-dalam dan bergeser beberapa langkah ke depan.

Selama Ki Gede menyampaikan sesorahnya, suasana tampak cukup tenang kecuali anak-anak yang tampak berdesak-desakan di pinggir pendapa. Mereka sama sekali tidak takut atau pun peduli atas peringatan orang-orang tua mereka untuk berdiri sedikit agak mundur. Anak-anak itu ingin melihat dari dekat dan sekaligus mengagumi para prajurit Mataram yang terlihat gagah dan mengagumkan.

“Besok kalau sudah besar aku juga mau jadi prajurit,” bisik seorang anak laki-laki berambut keriting kepada teman di sebelahnya.

“Ah, macam kau mau jadi prajurit,” sergah temannya sambil mencibir, “Pergi ke pakiwan malam hari saja engkau masih minta diantar biyungmu.”

“Itu kan sekarang, aku masih kecil,” jawab anak yang berambut keriting tak mau kalah, “Besok kalau sudah besar, aku tentu jadi anak yang pemberani.”

“Belum tentu,” sahut teman lainnya yang berbadan gemuk, “Aku lihat kemarin engkau menangis meraung-raung di belakang dapur karena kakimu dipatuk ayam.”

Anak-anak yang bergerombol itu tertawa mendengar ucapan anak yang gemuk sehingga seorang Lurah prajurit yang berdiri tidak jauh dari anak-anak itu harus memberi isyarat kepada mereka untuk lebih tenang.

Namun anak-anak itu hanya dapat tenang sejenak. Anak yang berbadan gemuk itu ternyata melanjutkan kata-katanya namun dengan setengah berbisik, “Bagaimana mau jadi prajurit, kalau sama ayam saja kalah. Padahal untuk jadi prajurit harus berani berkelahi melawan harimau?”

“Melawan harimau?” hampir berbareng anak-anak itu berseru keras sehingga Lurah prajurit yang berdiri tidak jauh dari mereka itu telah berpaling dan membelalakkan matanya ke arah mereka, sebagai isyarat agar mereka diam.

Agaknya kali ini anak-anak itu menjadi agak takut kepada Lurah prajurit yang berdiri tidak jauh dari mereka sehingga mereka menjadi sedikit lebih tenang.

“Demikianlah,” terdengar Ki Gede mengakhiri sesorahnya, “Atas nama seluruh penghuni Tanah Perdikan Menoreh, kami mengucapkan ribuan terima kasih atas bantuan dari Mataram dalam menjaga keamanan dan keutuhan wilayah Tanah Perdikan Menoreh. Kami, seluruh penghuni Tanah Perdikan Menoreh selalu siap sedia berjuang di bawah panji-panji kebesaran Mataram.”

Segera saja tepuk tangan yang riuh menggema memenuhi udara di sekitar banjar Padukuhan induk menyambut kalimat terakhir dari pemimpin tertinggi Tanah Perdikan Menoreh itu.

“Terima kasih Ki Gede,” sambut Ki Patih sambil menyalami Ki Gede diikuti oleh para orang-orang tua begitu ayah Pandan Wangi itu selesai memberikan sesorahnya dan kembali ke tempatnya semula.

“Hamba Ki Patih,” Ki Gede menyambut salam ki Patih dan para orang-orang tua, “Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih.”

Ki Patih tidak menjawab hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian kepada Ki Tumenggung Surayudha, “Nah, sekarang aku akan mengucapkan terima kasih kepada para penghuni Tanah Perdikan Menoreh terutama para pengawal serta memberi sedikit bekal kepada para prajurit agar mereka semakin mantap dalam menatap masa depan.”

“Hamba, Ki Patih,” berkata Ki Tumenggung sambil mempersilahkan Ki Patih Mandaraka.

Demikianlah, setelah Ki Patih dalam sesorahnya mengucapkan terima kasih atas bantuan para penghuni Tanah Perdikan Menoreh terutama para pengawal serta memberikan sedikit bekal mental untuk para prajurit dalam mengemban tugas-tugas di masa mendatang, acara pelepasan para prajurit Mataram itu pun selesai. Para Lurah Wira Tamtama segera membawa pasukannya secara berangsur-angsur meninggalkan halaman banjar padukuhan dan sekitarnya untuk bersama-sama kembali ke kota Raja.

“Bukankah rakit-rakit itu masih berada di tepian kali Praga?” bertanya Ki Tumenggung Surayudha kepada Ki Tumenggung Tirtayudha yang berjalan di sebelahnya.

“Aku rasa tidak akan ada orang yang berani memindahkannya,” jawab Ki Tumenggung Tirtayudha, “Biarlah Pasukan Jalamangkara nanti yang menyeberang paling akhir. Mereka harus mengatur kuda-kuda mereka terlebih dahulu.

Ki Tumenggung Surayudha mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika tanpa sadar dia memandang ke depan, tampak Ki Tumenggung Singayudha sudah meninggalkan mereka jauh di depan.

“Agaknya lukanya tidak terlalu parah,” desis Ki Tumenggung Surayudha perlahan tanpa sadar.

Ki Tumenggung Tirtayudha yang berjalan di sebelahnya berpaling.

“Siapa?” tanyanya kemudian dengan kening yang berkerut-merut.

Sejenak ki Tumenggung Surayudha menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian sambil tersenyum dan berpaling ke arah sahabatnya itu, “O, Ki Tumenggung Singayudha maksudku.”

Ki Tumenggung Tirtayudha tidak berkata sepatah kata pun. Hanya kepalanya saja yang terangguk-angguk serta pandangan matanya yang terlempar jauh ke arah ki Tumenggung Singayudha yang sudah berada di depan.

bersambung ke bagian 2

4 Responses

  1. Oala mbah…sdh lama ditunggu kok gak muncul-muncul….selak ora uman ngeng….

    monggo…, sudah lengkap

  2. Ki Waskitha yang melihat bahwa dari tubuh Agung Sedayu yang terbaring diam di pembaringan itu memancarkan semacam sinar pelangi yang sangat menyilaukan, terkejut bukan kepalang. Namun demikian Ki Waskita membuka matanya lagi, yang tampak pada seluruh tubuh Agung Sedayu hanya sinar keputih-putihan yang menyejukkan.

  3. galagah putih dan rara wulwn kok tidak menyelesaikan misinya.. geburu hamil… pada hal waktu memburu saba lintang sampai tuntas ,.. kenapa sekarang memburu pangeran ranapati tidak tuntas.. langsung berlalih tugas..trus sekarang istirahat…prajurit kan harus patuh pada pimpinan.. pimpinan nya belum ngasih ijin kok mendahului..aneh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s