TADBM-416

<< kembali ke TADBM-415 | lanjut ke TADBM-417 >>

Bagian 1

tadbm-416SELAMAT bertemu kembali Kangmas Pangeran,” sapa Pangeran Jayaraga dengan suara yang berat dan dalam, “Apakah ada keperluan yang sangat mendesak sehingga Kangmas Pangeran memerlukan waktu untuk menjumpai aku di tengah padang rumput Lemah Cengkar ini?”

Pangeran Ranapati diam-diam mengumpat dalam hati. Namun jawabnya kemudian, “Adimas Adipati. Aku sengaja mencegat rombongan ini untuk membebaskan Adimas dari tawanan orang-orang Mataram yang tidak tahu diri.”

“Kangmas Pangeran,” jawab Pangeran Jayaraga setelah terdiam sejenak, “Saat ini aku sudah bukan seorang Adipati yang berkedudukan di Panaraga lagi. Aku hanyalah seorang tawanan yang akan dibawa menghadap penguasa tertinggi Mataram untuk menerima hukuman. Jadi aku mohon jangan panggil lagi aku dengan sebutan Adipati,” Pangeran Jayaraga berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Perlu Kangmas ketahui, aku sudah tidak punya niat sebiji sawi pun untuk meraih kamukten dunia. Apa yang akan aku jalani di hari-hari mendatang hanyalah pasrah terhadap kekuasaan  Yang Maha Agung yang menguasai jagad se isinya ini.”

“Omong kosong!” geram Pangeran Ranapati, “Aku tidak yakin niat itu keluar dari lubuk hatimu yang paling dalam. Aku tahu semua itu hanya keinginan hatimu yang sesaat. Jika pada suatu saat kesempatan itu datang, engkau pasti akan mengambil kesempatan itu,” Pangeran Ranapati berhenti sejenak. Nafasnya menjadi sedikit memburu karena kemarahan yang mulai mengoyak dadanya. Lanjutnya kemudian, “Nah, Adimas Pangeran, engkau tidak usah menunggu atau mencari kesempatan itu. Sekarang aku datang untuk menawarkan kesempatan bagimu untuk meraih kamukten yang sempat terlepas dari tanganmu. Apakah Adimas mau mempertimbangkan tawaranku ini?”

Sungguh diluar dugaan Pangeran Ranapati, pangeran Jayaraga ternyata telah menggeleng-gelengkan kepalanya, bukan hanya sekali bahkan sampai berkali-kali.

‘Tidak Kangmas. Aku ucapkan terima kasih atas tawaran dari Kangmas Pangeran. Aku sudah membulatkan tekadku untuk mengabdikan sisa umurku ini di jalan yang diridhoi olehNYA”

Sekali lagi Pangeran yang keras hati itu menggeram, bahkan terdengar lebih keras. Katanya kemudian sambil menunjuk ke hidung Pangeran Jayaraga, “Adimas! Jika memang itu sudah menjadi keputusanmu, aku tidak akan memaksa. Tapi ketahuilah! Aku tidak pernah mengemis belas kasihan pada seseorang, demikian juga sebaliknya, aku tidak pernah menaruh belas kasihan kepada siapapun. Jika Adimas telah berkeputusan menolak tawaranku, aku pun demikian. Tidak akan pernah membiarkan orang yang berani menolak tawaranku, hidup  lebih lama lagi sampai Matahari terbit di keesokan harinya.”

Tersirap darah Pangeran Jayaraga sampai ke ubun-ubun. Agaknya orang yang pernah menjadi Senapatinya Kadipaten Panaraga dan mengaku masih trah Panembahan Senapati ini telah terbiasa memaksakan kehendaknya, kepada siapapun tanpa terkecuali.

Namun sebelum Pangeran Jayaraga menjawab, tiba-tiba orang-orang yang sedang bertempur di padang rumput Lemah Cengkar itu telah dikejutkan oleh suara derap beberapa ekor kuda. Suara itu memang masih cukup jauh, namun gemanya telah memantul di lereng-lereng bukit dan batu-batu padas di tebing-tebing sungai.

Beberapa orang mencoba mempertajam pendengaran mereka tak terkecuali kedua Pangeran itu. Dan agaknya tanpa membutuhkan waktu yang lama, keduanya segera dapat mengetahui dari arah mana datangnya suara derap kuda-kuda itu.

“Bukan dari arah Jati Anom,” berkata Pangeran Ranapati dalam hati, “Tentu bukan prajurit-prajurit Jati Anom. Arahnya dari selatan. Mungkin hanya rombongan para pedagang yang akan lewat saja.”

Namun Pangeran Jayaraga justru mempunyai dugaan yang berbeda.

“Menilik arahnya yang dari selatan Jati Anom, kemungkinan mereka adalah orang-orang dari perguruan bercambuk. Di sebelah selatan Jati Anom kalau aku tidak salah ada sebuah perguruan kecil, namun sangat terkenal karena salah satu pewarisnya telah menjadi agul-agulnya Mataram, dan sekarang sedang berada di sini, Ki Rangga Agung Sedayu.”

Dugaan Pangeran Jayaraga ternyata sangat tepat. Ki Widura yang telah dibangunkan oleh Cantrik yang sedang bertugas jaga, segera membangunkan Ki Swandaru yang kebetulan sedang menjalani perawatan di padepokan Jati Anom.

“Aku ikut Paman Widura,” berkata Ki Swandaru kemudian sambil membenahi pakaiannya. Tak lupa seutas cambuk yang menjadi senjata andalannya segera dililitkan ke lambung.

“Ngger, kita belum tahu apa yang sedang terjadi dengan kuda-kuda itu,” Ki Widura berhenti sejenak. Kemudian,  “Menilik ciri-ciri peralatan yang dipakai, kuda-kuda itu memang kemungkinannya berasal dari para prajurit Mataram, namun masih harus dibuktikan. Sebaiknya angger di padepokan saja. Bukankah angger Swandaru masih belum pulih benar?”

“Aku sudah sehat Paman,” jawab Ki Swandaru mantap, “Rasa-rasanya aku sudah tidak betah lagi setiap hari hanya mondar-mandir di halaman padepokan ini. Marilah paman. Jangan mengkawatirkan keadaanku. Aku sudah dapat menjaga diriku sendiri.”

Ki Widura hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ada sedikit penyesalan di dalam hatinya, mengapa dia tadi membangunkan Ki Swandaru? Walaupun tujuan sebenarnya hanyalah untuk memberitahukan kepergiannya kepada anak Demang Sangkal Putung itu.

“Baiklah,” akhirnya Ki Widura mengalah, “Kita bawa sekitar sepuluh cantrik yang benar-benar sudah dapat diandalkan.”

Demikianlah, dua belas ekor kuda segera berderap di malam yang dingin menyusuri jalan-jalan padukuhan mengikuti jejak-jejak kuda di sepanjang jalan.

Ketika rombongan itu kemudian telah mencapai jalan simpang, dengan jelas mereka melihat jejak-jejak  kuda itu menjadi  semakin banyak.

“Jejak-jejak kuda ini sebagian besar menuju Kademangan Jati Anom,” berkata Cantrik yang bermata sipit yang telah turun dari kudanya, “Namun yang pasti, semua jejak ini berasal dari arah timur.”

Ki Swandaru mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja dia menghentak kudanya sehingga kuda itu terkejut dan melonjak berlari menuju ke timur.

“Kita menuju lemah Cengkar!  Sesuatu mungkin sedang terjadi di lemah Cengkar!” teriak Ki Swandaru sambil memacu kudanya lebih kencang lagi.

Segera saja Ki Widura dan para Cantrik memacu kuda-kuda mereka menyusul Ki Swandaru yang telah berpacu semakin jauh.

Demikianlah suara derap kaki-kaki kuda di atas jalan berbatu-batu itu telah mengejutkan orang-orang yang sedang bertempur dengan sengitnya di padang rumput lemah Cengkar.

Ketika pendengaran Ki Swandaru yang tajam melebihi orang-orang kebanyakan itu lamat-lamat mendengar dentingan senjata yang beradu dan sorak sorai yang riuh rendah, sadarlah  Ki Swandaru bahwa telah terjadi pertempuran di lemah Cengkar.

“Mungkin sepasukan prajurit Mataram sedang menghadapi sekelompok orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Atau mungkin  sekelompok orang-orang yang tidak senang melihat Mataram berkembang dan menjadi besar,” berkata Ki Swandaru dalam hati sambil memacu kudanya mendekati lemah Cengkar.

Dalam pada itu Pangeran Ranapati yang telah bersiap untuk membuat perhitungan dengan Pangeran Jayaraga telah dikejutkan oleh suara ledakan cambuk yang menggelegar memecah udara malam.

“Gila!” geram Pangeran Ranapati.

Pada awalnya Pangeran Ranapati menyangka Ki Rangga Agung Sedayu lah yang telah meledakkan cambuk itu. Namun ketika dia  berpaling ke arah medan pertempuran antara Ki Rangga Agung Sedayu melawan Gurunya, terlihat mereka berdua sedang bertempur dengan sengitnya tanpa menggunakan senjata sama sekali.

Tampak Ki Rangga sedang mengerahkan kemampuan ilmunya yang dapat menghilangkan bobot tubuhnya. Setiap kali serangan beruntun datang membadai dari lawannya, dengan ilmu menghilangkan bobot tubuhnya yang hampir sempurna, Ki Rangga dapat melenting tinggi kemudian ketika masih di udara pun Ki Rangga mampu melenting lagi ke arah yang tak terduga.

Namun lawan Ki Rangga kali ini adalah Ki Ageng Selagilang yang lebih dikenal dengan nama  Ki Singawana Sepuh, guru pangeran Ranapati. Dengan ilmunya yang dapat mengelabuhi pengamatan lawan atas keberadaan dirinya, dengan tanpa memberi ruang sedikitpun kepada Ki Rangga, serangan Ki Singawana Sepuh datang bertubi-tubi bagaikan ombak di pantai yang tak henti-hentinya menghempas karang.

Untuk sementara memang Ki Rangga hanya dapat menghindar dan menghindar terus. Lawannya tidak pernah memberi ruang gerak yang cukup untuk balas menyerang. Setiap kali Ki Rangga dengan sapta panggraitanya mampu mengenali keberadaan lawannya yang hilang dari pandangan mata, di saat yang bersamaan itu lah lawannya kembali muncul di tempat yang berbeda sambil melancarkan serangan yang dahsyat.

“Agul-agulnya Mataram itu lambat laun pasti akan kehabisan nafas,” berkata Pangeran Ranapati dalam hati sambil tetap mengawasi jalannya pertempuran mereka berdua, “Guru hanya tinggal menunggu waktu saja, tapi itu pasti akan memakan waktu yang sangat lama. Murid utama orang bercambuk itu pasti memiliki ketahanan  tubuh yang luar biasa. Seharusnya Guru segera saja melepaskan ilmunya yang lain yang lebih dahsyat agar pertempuran segera berakhir. Aku yakin kemampuan ilmu Guru masih berada di atas Ki Rangga.”

Ketika Pangeran Ranapati sedang menilai pertempuran itu dengan sungguh-sungguh, tiba-tiba saja kembali terdengar ledakan cambuk menggetarkan udara di atas lemah Cengkar, disusul dengan ledakan-ledakan cambuk yang lain berturut-turut. Namun ledakan cambuk berikutnya tidaklah sedahsyat ledakan cambuk sebelumnya.

“Siapakah yang sedang bermain-main dengan cambuk yang memuakkan ini?” geram Pangeran Ranapati. Sementara Pangeran Jayaraga justru telah menarik nafas dalam-dalam untuk mengendorkan urat syarafnya yang selama ini terasa sangat tegang.

“Kalau aku tidak salah, tentu saudara muda seperguruan Ki Rangga Agung Sedayu yang datang bersama murid-murid padepokan orang bercambuk yang lain,” desis Pangeran Jayaraga, “Semoga kesulitan yang dialami oleh pasukan Mataram segera teratasi.”

Demikian lah ketika sekali lagi terdengar ledakan cambuk menggelegar di udara, Pangeran Ranapati pun sudah tidak dapat menahan hatinya lagi.

“Adimas Pangeran,” berkata Pangeran yang keras hati itu kemudian, “Masih ada kesempatan untuk berpikir sekali lagi. Aku akan segera kembali. Tidak perlu banyak waktu bagiku untuk membungkam suara-suara cambuk yang memuakkan itu  selama-lamanya.”

Selesai berkata demikian, tanpa menunggu tanggapan Pangeran Jayaraga, putra laki-laki satu-satu Rara Ambarasari itu dengan langkah bergegas segera menuju ke tempat suara cambuk yang semakin sering terdengar meledak-ledak.

Dalam pada itu Ki Rangga yang telah mengerahkan ilmu yang dapat menghilangkan bobot tubuhnya ternyata belum mampu menandingi kecepatan gerak Ki Singawana Sepuh. Beberapa kali serangan Guru Pangeran Ranapati itu mampu menyentuh tubuhnya. Seandainya saja tubuh Ki Rangga tidak dilindungi oleh ilmu kebal yang hampir sempurna, tentu tubuh Ki Rangga sudah lumat diterjang serangan-serangan  lawannya.

“Aku harus mencari cara untuk mengurangi tekanan serangan Ki Ageng,” berkata Ki Rangga dalam hati sambil melenting ke samping kiri menghindari serangan lawannya yang muncul tiba-tiba selangkah di hadapannya. Namun belum sempat Ki Rangga menjejakkan kakinya di atas tanah, Ki Singawana Sepuh yang telah lenyap kembali dari pandangan, tiba-tiba telah muncul di belakangnya dan menghantam punggung.

 “Gila!” geram Ki Rangga. Tidak ada kesempatan menghindar atau berbalik arah. Hanya dengan mengetrapkan ilmu kebal setinggi-tingginya punggung Ki Rangga terhindar dari kehancuran. Namun benturan itu telah membuat Ki Rangga terdorong ke depan beberapa langkah.

Pada saat tubuh Ki Rangga terdorong ke depan itu lah, Ki Rangga sengaja menjatuhkan dirinya berguling beberapa kali di tanah sebelum akhirnya Ki Rangga melenting berdiri di atas kedua kakinya yang renggang. Namun yang berdiri tegak dengan kedua kaki renggang ternyata tidak hanya satu orang, melainkan ada tiga  ujud Ki Rangga yang sangat sulit dibedakan antara satu dengan lainnya.

Untuk beberapa saat Ki Singawana Sepuh berdiri termangu-mangu. Serangan susulan yang sedianya akan dilancarkan kepada lawannya segera ditahannya. Ketiga ujud Ki Rangga yang berdiri beberapa langkah di hadapannya benar-benar telah mendebarkan jantungnya.

Ilmu kakang pembarep dan adi wuragil yang sedang disaksikan oleh Ki Singawana Sepuh itu memang sudah sangat jarang dijumpai saat ini, bahkan dapat dikatakan sudah punah. Baru kali ini Guru Pangeran Ranapati itu menjumpai seseorang yang mampu menguasai ilmu yang sudah sangat langka itu dengan sangat sempurna.

“Luar biasa,” gumam Ki Singawana Sepuh tanpa sadar sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, “Memang bukan cerita kosong tentang kedahsyatan agul-agulnya Mataram ini. Sekilas aku hampir-hampir tidak dapat membedakan ketiga ujudmu Ki Rangga. Namun sebagaimana ilmu-ilmu yang lain, tidak ada ilmu yang benar-benar sempurna. Aku masih dapat menemukan celah untuk mengetahui kelemahan ilmumu itu.”

“Terima kasih Ki Ageng,” jawab salah satu ujud Ki Rangga. Sementara ujud yang lain menyahut, “Walaupun Ki Ageng pada akhirnya akan mampu mengurai ilmuku dan menemukan ujud yang asli, namun aku yakin Ki Ageng masih memerlukan waktu walaupun hanya sekejap sehingga yang hanya sekejap itu cukup bagiku untuk menemukan persembunyian Ki Ageng.”

Ki Singawana Sepuh mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil. Dari cara lawannya menanggapi pernyataannya, dia menyadari sepenuhnya bahwa Ki Rangga ingin menunjukkan kalau dia benar-benar sudah dapat menguasai ujud-ujud semunya dan akan bertindak sesuai dengan kehendak ujud aslinya.

“Walaupun sebuah ujud semu itu mampu menirukan segala gerak gerik ujud aslinya, sejauh pengetahuanku, belum ada seseorang yang mampu memancarkan ilmunya melalui ujud-ujud semu itu sehingga ujud-ujud semu itu akan mempunyai kemampuan sebagaimana ujud aslinya,” berkata dalam hati Ki Singawana Sepuh kemudian.

Berbekal keyakinan itu lah, Ki Singawana Sepuh pun kemudian segera berkata, “Marilah kita teruskan permainan petak umpet ini. Agaknya permainan ini akan menjadi semakin menarik. Masing-masing dari kita harus menemukan tempat persembunyian kita dan sekaligus menghancurkannya.”

Berdesir dada Ki Rangga. Lawannya benar-benar mempunyai keyakinan yang kuat akan dapat dengan mudah menemukan kelemahan ilmunya.

“Mungkin sekarang ini Ki Ageng mengetahui dengan pasti manakah ujudku yang sebenarnya,” berkata Ki Rangga dalam hati, “Namun dalam sebuah pertempuran yang sengit, aku mempunyai banyak kesempatan untuk menyembunyikan ujudku yang asli.”

Demikian lah akhirnya, dengan tanpa peringatan terlebih dahulu, tiba-tiba saja tubuh Ki Singawana Sepuh lenyap dari pandangan lawannya. Namun Ki Rangga sudah mewaspadai sebelumnya, sehingga begitu lawannya menghilang dari pandangan, ketiga ujud Ki Rangga pun segera meloncat menyatu untuk kemudian berpencar ke tiga arah yang berbeda.

Ki Singawana Sepuh terkejut bukan alang kepalang. Serangannya yang sudah hampir meluncur tertahan sejenak. Guru Pangeran Ranapati itu memerlukan waktu sekejap untuk mengenali ujud asli Ki Rangga. Kesempatan yang hanya sekejap itu sudah cukup bagi Ki Rangga untuk menemukan persembunyian lawan dengan mengetrapkan ilmu sapta panggraitanya. Maka yang terjadi kemudian adalah sangat diluar perhitungan Ki Singawana Sepuh. Serangan ketiga ujud Ki Rangga telah melanda tubuhnya, satu mengarah dada, satu mengarah lambung dan ujud yang terakhir menghantam punggung.

Tidak ada waktu untuk menghindari semua serangan itu. Namun di saat semua serangan itu meluncur dengan bersamaan, Ki Singawana Sepuh segera mengetahui melalui pengamatan batinnya bahwa ujud Ki Rangga yang menyerang dada itu lah ujud yang asli.

Segera saja Ki Singawana Sepuh menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk melindungi dadanya dari terjangan kaki Ki Rangga. Benturan itu memang dahsyat sehingga membuat Ki Rangga terpental ke belakang beberapa langkah. Namun yang terjadi pada diri Ki Singawana Sepuh benar-benar di luar dugaan. Ketika dengan yakinnya Guru Pangeran Ranapati itu menangkis serangan yang mengarah dada, dua serangan lain yang dianggapnya hanyalah serangan dari ujud-ujud semu yang sama sekali tidak banyak berarti, telah melanda bagian tubuhnya yang lain bersamaan dengan benturan di bagian dada.

Terdengar umpatan yang sangat kasar dari mulut Ki Singawana Sepuh. Tubuhnya bagaikan tergencet kekuatan raksasa sehingga Guru Pangeran Ranapati itu pun telah jatuh terduduk. Untuk sejenak ujud Ki Singawana Sepuh pun menjadi terlihat oleh pandangan mata lawannya.

 “Setan! Gendruwo! Tetekan!” geram Ki Singawana Sepuh dengan muka yang membara. Baru kali ini dia merasa dipermalukan oleh lawannya. Dengan perlahan dia bangkit berdiri. Tidak tampak tubuhnya mengalami kesakitan akibat serangan lawan. Justru dengan wajah yang merah padam dia segera menggosokkan kedua telapak tangannya sebelum meletakkan telapak tangan kanan yang terbuka di depan dada, sedangkan tangan kirinya yang terkepal ditarik sejajar lambung.

“Aku mengakui keunggulanmu Ki Rangga,” berkata Ki Singawana Sepuh kemudian dengan suara mirip auman seekor singa, “Ketahuilah, aku baru melakukan penjajagan ilmu, belum sampai merambah ke kedalaman ilmuku,” dia berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Bersiaplah, aku akan meningkatkan ilmuku selapis. Jika Ki Rangga masih dapat bertahan pada tingkatan ini, tidak ada jalan lain bagiku selain  menggunakan ilmu pamungkasku untuk menghentikan perlawananmu. Dan ketahuilah, selama ini belum pernah ada lawan yang mampu mengimbangi kedahsyatan ilmu pamungkasku.”

Kembali sebuah desir tajam menggores dada Ki Rangga Agung Sedayu. Agaknya lawannya kali ini tidak akan bermain-main lagi. Guru Pangeran Ranapati itu akan merambah ke tingkatan ilmu yang lebih tinggi.

Sejenak kemudian, pandangan batin Ki Rangga melihat sebuah asap tipis kebiru-biruan tampak muncul dari kedua telapak tangan lawannya yang kini kedua-duanya terjulur kedepan. Namun hanya sekejap asap tipis itu pun hilang bagaikan tertiup angin.

“Ilmu apalagi ini,” desis Ki Rangga dalam hati, “Mungkin sejenis tapak dahana atau tapak geni, aku belum tahu.”

Untuk beberapa saat Ki Singawana Sepuh masih berdiam diri. Sementara ketiga ujud Ki Rangga tampak berdiri termangu-mangu menunggu apa yang akan terjadi.

Dalam pada itu Pangeran Ranapati yang sedang berjalan dengan tergesa-gesa sekali lagi telah dikejutkan oleh suara ledakan cambuk diikuti jeritan seseorang yang sedang meregang nyawa.

“Hentikan!” Bentak Pangeran Ranapati begitu melihat seorang laki-laki berumur sekitar setengah abad  dengan perawakan gemuk sedang membantai lawan-lawannya.

Laki-laki berperawakan gemuk yang tak lain adalah Ki Swandaru Geni itu sejenak menghentikan putaran cambuknya. Sambil memutar tubuhnya menghadap penuh kearah kedatangan Pangeran Ranapati, dia ganti membentak, “Tutup mulutmu!  Jangan hanya pandai membentak-bentak! Ini medan pertempuran, bukan tempat main judi atau  minum tuak! Kalau Ki Sanak ingin bertempur, bertempurlah!  Aku siap mengantarkan selembar nyawamu yang tak berguna itu ke alam kelanggengan!”

Bukan main marahnya Pangeran Ranapati mendapatkan dirinya  dibentak-bentak oleh orang yang belum dikenalnya. Seumur hidup baru kali ini dia mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dari orang yang belum dikenalnya. Segera saja darah di dalam tubuhnya menggelegak dan mendidih sampai ke ubun-ubun. Dengan tangan yang gemetar menahan kemarahan yang dahsyat, tangan kanannya segera meraba hulu keris pusakanya. Sejenak kemudian keris luk sembilan yang berwarna kehitam-hitaman itu pun telah berada di genggaman dan segera diangkatnya tinggi-tinggi.

“Tataplah langit peluklah bumi, jangan rindukan lagi Matahari terbit esok pagi!” teriak Pangeran Ranapati dengan suara yang menggelegar.

Sekarang giliran Ki Swandaru yang terkejut. Tanpa ancang-ancang orang yang berperawakan tinggi besar dengan wajah yang berwibawa itu telah menyerangnya. Keris luk sembilan di tangan lawannya itu mengeluarkan asap hitam pekat yang bergulung meluncur ke arah wajahnya.

Ki Swandaru sadar sepenuhnya. Sebagai murid Kyai Gringsing yang selain berilmu tinggi dalam olah kanuragan, Kyai Gringsing juga dikenal sebagai seorang dukun  yang ahli dalam pengobatan. Walaupun semasa berguru dulu, dia tidak pernah mempelajari ilmu tentang pengobatan, akan tetapi sekali-sekali dia bersama kakak seperguruannya disuruh membantu meracik obat. Di saat-saat itulah kadang Gurunya memberi sedikit pengetahuan tentang berbagai jenis racun dan cara menghindarinya jika memang belum tahu obat penawarnya.

Melihat jenis asap hitam pekat yang bergulung-gulung meluncur ke arahnya, Ki Swandaru segera menyadari bahwa jangan sampai asap tersebut  terhisap ke dalam jalan pernafasannya dan masuk ke paru-paru. Asap hitam pekat itu tentu mengandung racun yang sangat kuat dan jahat.

Dengan sebuah loncatan panjang ke arah kiri, murid kedua orang bercambuk itu segera memutar cambuknya dengan deras di atas kepala. Angin pun segera menderu dan berputar sehingga membuyarkan asap hitam pekat yang meluncur ke arahnya.

Namun belum sempat Ki Swandaru bernafas lega, lawannya telah meluncur kembali ke arahnya secepat tatit yang meloncat di udara. Ujung keris luk sembilan itu sekarang tampak membara dalam gelapnya malam.

Demikianlah kedua orang yang belum saling mengenal itu telah terlibat dalam sebuah pertempuran yang sengit. Cambuk Ki Swandaru tak henti-hentinya meledak-ledak. Semakin lama suara ledakan itu semakin lemah, namun sebagai gantinya setiap kali ujung cambuk itu menggeliat, udara malam di sekitarnya bagaikan diguncang gempa dahsyat dan menghentak setiap dada orang yang berada di sekitarnya.

Beberapa tombak di sebelah Ki Swandaru, Ki Widura yang sudah tidak dapat disebut muda lagi sedang bertempur melawan seorang anak muda yang perkasa bersenjatakan sepasang trisula.

Ki Widura menyadari bahwa lawannya usianya jauh terpaut di bawahnya. Gerakannya sangat cepat dan lincah bagaikan burung sikatan menyambar bilalang di tanah padang. Sepasang trisula yang dihubungkan dengan seutas rantai sepanjang hampir dua depa itu sekali-kali meluncur dan mematuk dada.

Namun Ki Widura berusaha untuk tidak terpancing dengan gerakan lawannya yang sangat lincah  itu. Dengan bertumpu pada kedua kakinya yang kokoh, sekali-kali Ki Widura hanya menggeser kedudukannya selangkah-selangkah jika lawannya berloncatan mengitarinya dan menyerangnya dari segala arah.

 

Masih menunggu lengkap satu bagian, dari rotal yang dikirim dari Padepokan Sekar Keluwih

Bagi yang tidak sabar, silahkan kunjungi website aslinya yang saat ini sedang kejar tayang di https://cersilindonesia.wordpress.com

<< kembali ke TADBM-415 | lanjut ke TADBM-417 >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s