ADBM1-003

<<kembali | lanjut >>

KIAI GRINGSING masih saja mengelak dan menghindar. Kemudian terdengar ia berkata pula, “Widura, kalau kau marah, maka aku tak akan mengganggumu, baiklah aku minta maaf. Aku akan pergi. Tetapi jangan menangkap aku.”

Widura masih tidak mau mendengarnya. Ia benar-benar ingin menangkap orang bertopeng itu. Sebab menurut perhitungannya, Kiai Gringsing benar-benar mengetahui dimana Untara dan Ki Tanu Metir. Apabila tidak, setidak-tidaknya maka ia akan dapat mengenali siapakah sebenarnya orang yang bertopeng itu.

Agung Sedayu, yang melihat pamannya benar-benar menyerang Kiai Gringsing, menjadi semakin cemas. Diam-diam ia berdoa di dalam hatinya, mudah-mudahan pamannya tidak dapat menangkap orang bertopeng itu. Ia sendiri tidak mengetahuinya, kenapa tiba-tiba saja mencemaskan nasib orang yang tidak dikenalnya itu.

Widura yang marah itu menjadi semakin marah. Karena itu, ia kini benar-benar berusaha dengan sekuat tenaganya. Setiap kali Kiai Gringsing menghindar, maka menyusullah serangan-serangannya berturut-turut. Bahkan kemudian gerakan Widura itu menjadi semakin berat melingkar serta seperti angin pusaran ia melibat Kiai Gringsing.

Akhirnya Kiai Gringsing pun menjadi semakin sulit. Ia tidak dapat menghindar dan menghindar terus. Ketika serangan Widura manjadi semakin cepat maka keadaannya manjadi semakin berat. Karena itu sekali lagi ia berkata, “Widura, apakah kau betul-betul akan menangkap aku?”

“Sudah aku katakan” jawab Widura.

“Sekali lagi aku minta, urungkan niatmu” minta Kiai Gringsing.

Tetapi Widura sama sekali tidak mau mendengar permintaan itu. Bahkan ia mendesak terus dalam tataran ilmunya yang semakin tinggi.

“Hem” terdengar kemudian Kiai Gringsing menggeram, “Baiklah. Kau ingin mengertahui siapakah Kiai Gringsing itu seperti Agung Sedayu juga, ingin mengetahui unsur-unsur gerak yang akan aku pergunakan, sehingga ia memaksaku untuk bertempur melawan Alap-alap Jalatunda.”

Widura tidak menjawab. Serangan-serangannya bahkan semakin membadai. Namun kini agaknya Kiai Gringsing tidak hanya menghindar terus. Tiba-tiba ia meloncat tinggi dan dengan suatu gerakan yang cepat sekali, orang itu berputar di udara. Ketika ia menggeliat, maka disentuhnya punggung Widura. Sentuhan itu terasa seakan-akan sebuah dorongan yang sangat kuat, sehingga Widura terhuyung-huyung beberapa langkah maju. Untunglah bahwa Widura adalah seorang perwira yang telah mengalami berpuluh-puluh pertempuran. Sehingga dengan tangkasnya ia berhasil menghindarkan diri dari kemungkinan terjerumus mencium batang-batang ilalang liar yang bertebaran dilapangan yang sempit itu.

Namun meskipun demikian, betapa Widura menjadi sangat terkejut. Ia tidak menyangka bahwa orang yang menamakan dirinya Kiai Gringsing itu mampu bergerak sedemikian cepatnya. Lebih dari itu, terasa, bahwa kekuatan Kiai Gringsing itu benar-benar menakjubkan. Tetapi meskipun demikian, Widura, seorang prajurit dalam tugas-tugas keprajuritannya, tidak segera bercemas hati. Ia memang merasakan keanehan lawannya, namun ia tidak mengurungkan niatnya. Bahkan Widura itu kini telah mengerahkan segala kemampuannya. Dengan cepatnya ia menyerang dan menyerang terus beruntun. Tetapi serangan-serangannya, apalagi menjatuhkan lawannya, menyentuh pun tidak. Kiai Gringsing benar-benar mampu bergerak secepat geraknya, bahkan ternyata kemudian bahwa kecepatan bergerak orang yang bertopeng itu dapat melampauinya. Ketika kemudian Kiai Gringsing itu mempertahankan dirinya dan sekali-sekali menyerang juga, terasa, bahwa orang yang bertopeng itu benar-benar aneh.

Dengan demikian maka perkelahian itu menjadi semakin lama semakin cepat. Widura kini telah benar-benar mempergunakan ilmunya yang paling tinggi yang dimilikinya. Karena itu, maka geraknya pun menjadi semakin garang dan cepat. Kedua tangannya bergerak-gerak menyerang ke segenap tubuh lawannya. Sedang kedua kakinya yang kokoh itu sekali dipergunakannya untuk meloncat-loncat namun tiba-tiba tumitnya manyambar lambung.

Namun betapa ia berjuang, tetapi ia menyadarinya, bahwa apabila demikian untuk seterusnya, pekerjaannya tidak akan selesai. Karena itu, maka meskipun ia tidak berhasrat membunuh lawannya, namun ia ingin mempengaruhinya dan kemudian melemahkan perlawanannya. Ketika mereka menjadi semakin cepat bergerak tiba-tiba Widura melangkah surut, dan tiba-tiba pula di tangannya telah tergenggam pedangnya. Pedang yang besar dan tak begitu tajam, namun runcing ujungnya malampui ujung jarum.

Kiai Gringsing terkejut melihat pedang itu, karena itu ia pun meloncat mundur. Bahkan Agung Sedayu yang mengikuti perkelahian itu dengan ketegangan di dalamnya terkejut pula. Apakah pamannya benar-benar akan bertempur mati-matian?

Yang terdengar kemudian adalah suara Kiai Gringsing, “Widura, apakah kau akan membunuh aku?”

“Tidak” sahut Widura. “Sudah aku katakan, aku ingin menangkapmu”

“Kenapa dengan pedang?”

“Aku tidak dapat menangkapmu tanpa senjata. Kau mampu bergerak selincah sikatan. Karena itu, sebaiknya kau tidak usah melawan, supaya aku tidak melukaimu”

“Hem” Kiai Gringsing menarik nafas. “Jangan main-main dengan senjata Widura, senjata adalah lambang dari kematian. Kematian lawan atau kematian diri sendiri. Karena itu, sarungkan senjatamu. Kita bermain-main kembali. Apakah kau sudah lelah?”

Widura mengerutkan keningnya. Ia melihat beberapa kelebihan lawannya. Apalagi ketika disadarinya, bahwa nafas Kiai Gringsing itu masih segar, sesegar pada saat dilihatnya untuk pertama kalinya.

“Gila” umpat Widura di dalam hatinya. “Apakah orang ini mempunyai nafas rangkap, atau memiliki sarang angin di dalam dadanya, sehingga nafasnya tak akan mengganggu”

Namun meskipun demikian, ia sudah bertekad, menangkap orang itu, orang yang banyak menyimpan teka-teki di dalam dirinya.

Karena itu Widura tidak menyarungkan pedangnya. Bahkan ia melangkah maju sambil mengacungkan pedangnya kedada Kiai Gringsing. Katanya, “Kiai, jangan memaksa aku mempergunakan pedangku. Ikutlah aku, dan tanggalkan topengmu itu supaya aku dapat mengenal wajahmu”

Kiai Gringsing masih tegak di tempatnya, seakan-akan kakinya jauh menghunjam kepusat bumi. Dipandangnya Widura dengan seksama, seakan-akan ingin dilihatnya isi dadanya.

Tetapi sesaat kemudian ia berpaling kepada Agung Sedayu. Katanya sambil tertawa, “Sedayu, apakah orang ini sudah kauajari memegang senjata?”

Dada Agung Sedayu berdesir, dan jantung Widura  pun berguncang. Ia tidak menyangka bahwa Kiai Gringsing itu memandangnya seperti kanak-kanak yang sedang merajuk. Karena itu Widura itu pun menggeram, “Kiai, aku sependapat dengan kau bahwa senjata adalah lambang dari kematian. Karena itu, jangan mempersulit keadaan. Aku ingin menangkapmu hidup-hidup sebab aku inginkan beberapa keterangan darimu. Tetapi kalau kau mati karena pokalmu yang aneh-aneh itu, jangan menyesal”

Hem” Kiai Gringsing menarik nafas, “Kau benar-benar marah Widura?”

Pertanyaan itu benar-benar membingungkan. Dan akhirnya Widura  pun menjadi bingung memandang kedirinya sendiri. Apakah ia sedang marah atau karena sekedar didorong oleh keinginan-keinginan yang meluap-luap untuk segera memecahkan teka-teki tentang hilangnya Untara. Tetapi ketika ia melihat topeng Kiai Gringsing yang pucat seperti mayat itu, tiba-tiba saja ia menggeleng, “Tidak” jawabnya. “Aku tidak sedang marah. Tetapi aku sedang mengemban kewajiban. Sekarang aku sedang berusaha untuk menangkapmu, karena itu adalah salah satu dari kewajibanku pula”

“Baik” sahut Kiai Gringsing, “Aku senang bahwa kau tidak sedang marah. Adalah berbahaya sekali senjata di tangan orang yang sedang marah. Kalau kau mau bertempur, marilah. Tetapi kita bertempur tanpa kemarahan di hati. Kata orang, kemarahan akan mempersempit otak kita. Dan senjata di tangan kita akan menjadi kabur kegunaannya”

Widura mengerutkan keningnya. Katanya, “Hem. Kau takut kalau karena kemarahanku, aku membunuhmu”

Kiai Gringsing tertawa. Dan jawabnya mengherankan Widura, “Mungkin. Aku memang takut mati. Mati tanpa arti. Tetapi kalau kau yang mati, maka kau mati dalam pelukan kewajiban. Nah, apakah tidak lebih baik, kau saja yang mati supaya kau disebut pahlawan”

“Jangan mengigau, bersiaplah!” bentak Widura.

“Aku sudah siap. Aku dapat bertempur sambil tersenyum. Apakah orang yang sedang bertempur pasti harus berwajah tegang seperti tambang? Bukan kita bertempur tanpa kemarahan di hati?”

Widura tidak menunggu kata-kata Kiai Gringsing itu berakhir., tiba-tiba saja menggerakkan pedangnya mengarah kedada lawannya. Namun sekali lagi ia terkejut. Kiai Gringsing itu sama sekali tidak bergerak, sehingga pedang itu benar-benar akan menghunjam kedadanya. Tetapi justru karena itu, Widura segera menarik serangannya dan berteriak, “Hei Kiai. Apakah kau sedang membunuh diri?”

Kiai Gringsing menggeleng, “Tidak” jawabnya. “Aku hanya ingin tahu, apakah kau akan membunuh orang yang tidak bersenjata?”

“Oh” Widura tersadar dari ketergesa-gesaannya. Ia adalah seorang perwira tamtama yang biasa bertempur dalam kelompok yang besar, yang tidak pernah bertanya apakah lawannya bersenjata atau tidak. Tetapi dalam perkelahian seorang lawan seorang adalah wajar apabila keadaannya harus berimbang. Dengan demikian, masing-masing tidak meninggalkan kejantanan dan kejujuran.

“Ambillah senjatamu” teriak Widura jengkel.

“Bagus” jawab Kiai Gringsing. Kedua tangannya pun segera bergerak, mengambil sesuatu dari balik kain gringsingnya. Cambuk kuda.

“Gila” geram Widura. “Adakah itu senjatamu?”

“Kenapa? Ini adalah senjataku. Dengan senjata ini pula aku bertempur dengan Alap-alap Jalatunda. Ayo, mulailah”

Widura menjadi semakin tidak mengerti menghadapi orang aneh ini. Meskipun demikian ia bersiap pula. Tetapi kini nafsunya untuk bertempur telah jauh berkurang. Bahkan tiba-tiba ia mengumpat tak habis-habisnya di dalam hatinya.

“Widura” berkata Kiai Gringsing pula, “Aku akan mempergunakan senjataku pada ujung dan pangkalnya. Aku memegangnya di tengah-tengah. Awas, lawanlah dengan pedangmu”

Sekarang Kiai Gringsinglah yang mendahului menyerang. Widura terkejut. Ia mengelak ke samping dan dengan gerak naluriah, pedangnya pun berputar dan membalas serangan itu dengan serangan pula. Kini keduanya bertempur pula dengan cepatnya. Kiai Gringsing itu mempergunakan senjata anehnya dengan cara yang aneh pula. Tiba-tiba orang bertopeng itu berteriak nyaring, “Nah, kau dapat aku kenai Widura”

Terasa sesuatu menyengat pundaknya. Meskipun yang mengenai itu ternyata hanya ujung cambuk kuda, namun sakitnya bukan kepalang. Sehingga Widura itu melontar surut.

“Nah, bayangkan, bagaimanakah kira-kira kalau senjataku ini berujung runcing seruncing senjatamu atau seruncing Nenggala pemberian Ki Tambak Wedi”

Widura terkejut mendengar kata-kata itu. Nenggala pemberian Ki Tambak Wedi adalah senjata Sidanti. “Ah” gumamnya, “Ia hanya ingin mencari persamaan” pikirnya. “Tetapi” katanya pula di dalam hatinya, “Kenapa ia sengaja memegang senjatanya dengan cara yang aneh itu?”

Tetapi Widura tidak sempat berpikir terlalu panjang, sebab Kiai Gringsing itu telah menyerangnya pula sambil berteriak, “Sedayu, awasi muridmu, supaya kau tahu kesalahannya”

Sedayu yang sudah bingung menjadi bertambah bingung. Tetapi ia memperhatikan pula pertempuran itu. Kiai Gringsing dengan cambuk kuda di tangan, dan pamannya dengan sebuah pedang yang menakutkan.

Pertempuran itu semakin lama mejadi semakin seru. Cambuk Kiai Gringsing bergerak dengan cepatnya, menyambar dari segala arah. Ujung dan pangkalnya sekali-sekali mematuk tubuh Widura tanpa dapat dihindari. Semakin lama menjadi semakin sering. Meskipun Widura berusaha sepenuh tenaga.

Karena itu, maka getar di dalam dada Widura pun semakin lama menjadi semakin cepat. Ia kini tidak mau terbelengu oleh perasaan yang tak dimengertinya. Ia tidak memperdulikan lagi apakah ia sedang marah, atau ia hanya sekedar terdorong oleh keinginannya untuk mengetahui dimana Untara berada. Dengan demikian maka nafsunya untuk bertempur mati-matian kini kembali merayapi dadanya. Sehingga oleh karenanya, maka pedangnya pun bergerak semakin cepat, secepat baling-baling ditiup angin musim kesanga.

Sedayu melihat pertempuran itu dengan jantung yang berdentang-dentang. Mula-mula mencemaskan nasib orang bertopeng itu. Namun dalam pengamatannya kemudian, Kiai Gringsing itu ternyata mampu mempertahankan dirinya, bahkan beberapa kali ia berhasil mendesak Widura sehingga pamannya itu meloncat surut. Bahkan kemudian pertempuran itu terasa sangat menarik hatinya. Dengan penuh gairah ia memperhatikan setiap gerak dari mereka berdua. Ia mengagumi ketangkasan pamannya, namun ia heran melihat kelincahan Kiai Gringsing. Cambuk kuda yang tampaknya sama sekali tak berarti itu ternyata merupakan senjata yang berbahaya.

Setapak demi setapak perkelahian itu berkisar dari satu titik ketitik yang lain. Namun Sedayu pun ikut berkisa-kisar pula. Sekali ia terpaksa menahan napas apabila pedang Widura menyambar dengan dahsyatnya, sedahsyat elang menyambar mangsanya. Namun wajahnya pun menjadi tegang, apabila ia melihat pamannya menyeringai kesakitan apabila cemeti kuda orang bertopeng itu menyentuh tubuhnya.

“Hem” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. “Kalau saja aku mampu berbuat seperti mereka itu” gumamnya di dalam hati.

Namun tiba-tiba Agung Sedayu terkejut ketika ia melihat pamannya melontar mundur. Sekali, dua kali dan Kiai Gringsing itu mendorongnya terus. Bahkan kemudian dengan tidak disangka-sangka, kaki orang bertopeng itu berhasil menyambar pergelangan tangan Widura sehingga pedangnya tergetar. Hampir saja pedang itu meluncur dari tangannya.

Gigi Widura gemeretak. Kini ia benar-benar marah. Karena itu tandangnya pun menjadi semakin garang. Gerak pedangnya pun menjadi semakin cepat, sehingga yang tampak kemudian seakan-akan kabut putih yang bergulung-guliung melanda orang bertopeng itu.

Kini Widura lah yang mendesak maju. Kiai Gringsing terpaksa meloncat surut. Bahkan akhirnya orang bertopeng itu tiba-tiba tersandar pada pohon kelapa sawit di belakangnya.

Widura tidak membuang waktu lebih lama lagi. Pedangnya cepat meluncur ke arah Kiai Gringsing. Widura yang merasa dirinya dipermainkan itu, menusuk lawannya dengan sekuat tenaganya, meskipun pedangnya tidak mengarah dada. Namun apabila Kiai Gringsing tidak mampu menghindari kali ini, maka pundaknya pasti akan tersobek.

Melihat peristiwa itu, Agung Sedayu terkejut sehingga ia pun meloncat beberapa langkah maju. Namun ia tak akan dapat berbuat apapun. Yang dilihatnya pedang pamannya yang runcing itu mematuk dengan garangnya.Tetapi mata Agung Sedayu itu pun terbeliak. Dengan mulut yang ternganga ia melihat, betapa Kiai Gringsing itu kemudian berdiri tegak sambil tertawa berkepanjangan. Katanya, “Ah, tenagamu memang luar biasa Widura. Tetapi kau sekarang pasti akan menemui kesulitan untuk mencabut pedangmu itu”

“Setan” terdengar Widura mengumpat. Dengan sekuat tenaga ia berusaha mencabut pedangnya yang tertancap pada pohon kelapa sawit itu. Ternyata Kiai Gringsing mampu mengelakkan diri dengan cepatnya, sehingga pedang Widura yang mematuknya itu langsung mengenai pohon yang disandarinya.

“Jangan main-main kiai” geram Widura dengan wajah yang membara, “Aku dapat bertempur tanpa pedang”

“Jangan” jawab Kiai Gringsing, “Cabutlah pedangmu. Aku menunggu”

Widura masih berusaha sekuat tenaga mencabut pedangnya. Namun ia masih mengumpat di dalam hatinya. Ternyata pedang yang runcing itu telah membenam dalam sekali. Tenaganya benar-benar telah dicurahkan untuk menusukkan pedang itu. Karena itu, maka sekarang, betapa sukarnya untuk mencabutnya.

Beberapa kali Widura menggeram. Tetapi kemudian Kiai Gringsing itu berkata, “Minggirlah, coba apakah aku mampu mencabutnya”

Widura sendiri tidak menyadari, kenapa tiba-tiba ia melangkah ke samping dan memberi kesempatan kepada orang bertopeng itu untuk mencabut pedangnya. Betapa Widura menjadi heran, apalagi Agung Sedayu. Dengan sebuah teriakan kecil, Kiai Gringsing berhasil menyentakkan pedang itu dari batang kelapa sawit, meskipun ia sendiri terhuyung-huyung beberapa langkah mundur. Bahkann hampir saja ia tergelincir jatuh.

“Hem” orang bertopeng itu menarik nafas, “Pedang yang aneh. Besar, tumpul namun runcing seruncing jarum. Kenapa kau membuat pedang seaneh ini?”

Widura tidak menjawab. Tetap ia menggeram. Terdengar giginya gemeretak. Namun ia masih tegak di tempatnya.

“Widura, kita akhiri pertempuran ini. Aku kembalikan pedangmu. Nah, berlatihlah terus” Kemudian kepada Agung Sedayu Kiai Gringsing itu berkata, “Sedayu, kau harus bekerja lebih berat supaya muridmu ini menjadi lekas masak. Ketahuilah, bahwa Sidanti pun selalu mendapat tempaan dari gurunya. Ki Tambak Wedi setiap saat mengunjunginya. Bukankah muridmu itu pimpinan laskar Pajang di sini? Apabila Sidanti kelak melampauinya, maka wibawanya akan berkurang”

Widura terkejut mendengar kata-kata itu. Demikian juga Sedayu. Apakah Sidanti benar-benar berlatih terus? Tetapi Kiai Gringsing tidak memberi mereka kesempatan untuk bertanya. Bahkan sekali lagi ia berkata, “Setiap hari aku akan melihat kalian berlatih di sini. Aku tidak akan mengganggu. Nah Widura, ini pedangmu”

Sebelum Widura menjawab, meluncurlah pedang Widura dari tangan Kiai Gringsing. Dengan gerak naluriah Widura meloncat untuk menangkap pedangnya itu. Kemudian mereka berdua, Widura dan Agung Sedayu melihat, orang bertopeng itu berjalan seenaknya meninggalkan mereka. Lewat puntuk kecil itu, dan kemudian hilang di balik batang-batang ilalang yang tumbuh dengan liarnya.

Widura sesaat berdiri saja mematung. Pertemuannya dengan Kiai Gringsing itu benar-benar berkesan di hatinya, “Orang aneh” gumamnya.

Widura terkejut ketika ia mendengar Agung Sedayu mengulangi kata-katanya, “Orang aneh. Ya, memang orang itu orang yang aneh”

Widura menarik nafas panjang. Katanya, “Orang itu tampaknya selalu tidak bersungguh-sungguh. Tetapi aku menyesal bahwa aku bersikap terlalu kasar kepadanya. Ah, mula-mula aku merasa ia menghinaku” Widura berhenti sejenak, kemudian ia meneruskan, “Namun agaknya ada sesuatu maksud tersimpan di balik sikapnya yang seakan-akan tidak bersungguh-sungguh itu”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan didengarnya pamannya berkata, “Bukankah Kiai Gringsing mengatakan bahwa Sidanti pun selalu mendapat tempaan dari gurunya yang dahsyat itu?”

“Ya” Agung Sedayu mengangguk.

Sesaat kemudian mereka saling berdiam diri. Mereka masih memandang ke arah Kiai Gringsing lenyap di balik batang-batang ilalang.

“Sedayu” berkata Widura kemudian. “Kita akhiri latihan ini. Marilah kita kembali. Ternyata bukan kau yang mendapat kesempatan untuk berlatih, tetapi aku sendiri. Meskipun demikian setiap malam kita datang ketempat ini”

Agung Sedayu mengangguk. Dan diikutinya pamannya meninggalkan tanah lapang yang sempit itu. Mereka berjalan berurutan di atas pematang, kemudian setelah melangkahi parit mereka berjalan menyusur jalan desa menuju kademangan Sangkal Putung.

Hampir di sepanjang jalan mereka tidak bercakap-cakap. Masing-masing sedang dihanyutkan oleh angan-angannya. Widura masih dirisaukan oleh kata-kata Kiai Gringsing, “Sidanti berlatih terus”

“Mudah-mudahan anak itu mempunyai itikad yang baik” katanya di dalam hati. “Semoga ia berlatih untuk menghadapi Macan Kepatihan”. Namun Widura itu beragu. Sikap anak muda itu memang kurang menyenangkannya. Apalagi sikapnya terhadap Agung Sedayu.

Tanpa disengajanya, Widura berpaling kepada kemenakannya yang berjalan menunduk di sampingnya, “Sayang” gumamnya di dalam hati. “Anak itu benar-benar penakut. Kalau anak-anak Sangkal Putung tahu, apalagi Sidanti, maka Sedayu akan menjadi orang yang paling memuakkan di kademangan ini. “Tetapi aneh” berkata Widura seterusnya di dalam hati, “Kenapa agaknya Kiai Gringsing menaruh perhatian atasnya. Anak itu telah dilindunginya dari Alap-alap Jalatunda dan kini ia hadir pula di lapangan sempit itu”

Sedangkan Agung Sedayu sibuk dengan dirinya sendiri. Timbullah di dalam angan-angannya keinginan yang besar untuk setidak-tidaknya dapat berbuat seperti pamannya, seperti kakaknya apalagi seperti Kiai Gringsing yang mampu bergerak selincah burung sikatan. “Aku akan berlatih terus. Setiap malam” janjinya di dalam hati.

Awan di langit semakin lama menjadi semakin kelam. Satu-satu guruh di langit meledak seperti hendak meruntuhkan gunung.

Widura dan Agung Sedayu mempercepat langkah mereka. Mereka lebih senang tidur di pringgitan kademangan Sangkal Putung daripada basah kuyup di jalanan.

Di regol halaman kademangan, Widura melihat Ki Demang tidur di atas anyaman daun kelapa, sedang di sampingnya mendengkur anak laki-lakinya, Swandaru.

Widura tersenyum melihat mereka. Meskipun umur demang Sangkal Putung itu sudah melewati setengah abad, namun ia merasakan benar bahwa adalah menjadi tanggung jawabnya, hidup atau mati dari kademangannya. Ia tidak saja menerima jabatannya dalam saat-saat menyenangkan, bukan sekedar suatu keinginan untuk menerima pelungguh sawah dan kehormatan sebagai seorang demang, namun ia menyadari, bahwa di samping hak yang diterimanya itu, maka ia pun harus mengemban kewajiban yang diperoleh sebagai keseimbangan dari hak-hak itu. Bahkan lebih dari itu, kampung halamannya adalah tanah yang harus dipertahankan. Sebagai demang atau bukan.

Beberapa orang penjaga yang duduk di regol halaman di samping Ki Demang itu pun berdiri ketika mereka melihat Widura memasuki pintu regol, “Selamat malam tuan” sapa salah seorang penjaga.

Widura menganggukkan kepalanya. Ketika ia akan menjawab, dilihatnya Ki Demang menggeliat sambil bergumam, “Apakah adi Widura baru datang?”

“Ya kakang” jawab Widura.

“Silakan, aku lebih senang tidur di sini. Udara terlalu panas” berkata ki demang itu pula.

“Langit kelam kakang” sahut Widura. “Agaknya sebentar lagi hujan akan turun”

“Agaknya demikian” jawab Ki Demang, “Nah, beristirahatlah”

Widura itu pun kemudian berjalan bersama-sama dengan Agung Sedayu naik ke pendapa. Ketika mereka melihat pembaringan Sidanti, mereka terkejut. Pembaringan itu kosong. Dan senjata di dinding di atas pembaringannya itu pun tidak ada pula. Sedang di sampingnya masih berjajar beberapa orang tidur dengan nyenyaknya. Tetapi Widura tidak menanyakannya kepada siapapun. Bersama Agung Sedayu mereka langsung ke pringgitan.

“Kau lelah Sedayu” berkata pamannya kemudian, “Tidurlah”

Sebenarnya Agung Sedayu itu lelah sekali. Tidak saja tubuhnya, tetapi juga angan-angannya. Karena itu, segera ia membaringkan dirinya, di atas tikar pandan di samping pembaringan pamannya.

Tetapi pamannya tidak segera tidur. Setelah diteguknya beberapa teguk air dari gendi digelodog bambu, ia pun duduk sambil mengamati tubuhnya. Tampaklah beberapa goresan-goresan merah biru dan noda-noda yang kehitaman hampir di segenap bagian tubuhnya. Ujung dan pangkal cambuk Kiai Gringsing benar-benar mengagumkan.

Widura itu kemudian terkejut, ketika ia mendengar langkah menaiki pendapa. Perlahan-lahan dan kemudian kemudian hilang. Ketika ia memperhatikan keadaan dan memusatkan pendengarannya, ia mendengar beberapa suara gemerisik. Hanya sebentar, kemudian diam kembali.

Widura mengangkat alisnya. Tetapi ia diam saja. Ia masih menunggu beberapa saat. Baru kemudian ia berdiri perlahan-lahan dan dengan hati-hati melangkah keluar pringgitan. Ketika ia sampai di pendapa dilihatnya Sidanti telah berbaring di tempatnya, seakan-akan tidak terjadi apapun.

“Sidanti” panggil Widura perlahan-lahan.

Sidanti menggeliat. Kemudian dengan segan ia menjawab, “Ya kakang”

“Adakah kau yang baru saja naik ke pendapa?” bertanya Widura pula. Sesaat Sidanti terdiam. Ia ragu-ragu untuk menjawab. Namun ketika Widura memandangnya dengan seksama, seakan-akan ingin melihat debar dijantungnya, maka Sidanti itu pun menjawab, “Ya kakang”

“Dari manakah kau?” bertanya Widura seterusnya.

“Dari belakang kakang. Kenapa?” sahut Sidanti.

“Tidak apa-apa. Sejak tadi aku mencarimu”

Sidanti kemudian bangkit dan duduk dengan malasnya, “Adalah sesuatu yang sangat perlu?”

“Tidak sedemikian penting. Tetapi kemarilah”

“Aku sudah kantuk sekali. Tidakkah dapat ditunda sampai besok?”

“Tentu. Tetapi aku mengharapmu sekarang”

Widura tidak menunggu Sidanti menjawab. Dengah langkah yang tetap ia berjalan memasuki pringgitan kembali.

Sidanti mengumpat di hatinya, “Apa pula yang akan dikatakannya”

Ketika Sidanti sudah duduk di hadapannya, Widura berkata, “Sidanti. Persoalan ini memang tidak begitu penting. Tetapi aku perlu menyampaikannya kepadamu” Widura diam sejenak. Diamat-amatinya baju Sidanti. Basah oleh peluh yang seakan-akan terperas dari tubuhnya. Tiba-tiba ia bertanya, “Darimana kau Sidanti?”

Sidanti menjadi agak gugup. Namun sesaat ia telah tenang kembali. Jawabnya, “Dari belakang”

“Bajumu basah oleh keringat” sahut Widura.

Kembali Sidanti menjadi agak gugup. Jawabnya kemudian, “Aku mencoba melatih diri supaya aku kelak dapat mengimbangi Macan Kepatihan”

“Sendiri?” desak Widura.

“Ya”

“Sidanti. Aku berbangga akan ketekunanmu. Namun kau harus memberitahukannya kepada kawan-kawanmu. Apalagi mereka yang sedang bertugas, supaya tak terjadi salah mengerti. Dalam keadaan serupa ini, setiap orang akan dapat dicurigai. Sampai saat ini aku belum pernah dapat laporan, bahwa kau sering mempergunakan waktumu untuk berlatih diri”

“Apa salahnya?” potong Sidanti, “Apakah kakang Widura ingin kami semua ini menjadi orang-orang yang tidak pernah menemukan tingkat yang lebih baik dari tingkat yang kita miliki sekarang?”

“Tidak Sidanti. Aku tidak bermaksud demikian. Bahkan aku senang kau melakukannya. Tetapi kenapa dengan diam-diam. Apakah kau tak ingin misalnya, beberapa orang ikut serta, dan apakah dengan demikian, ketahanan dan pertahanan kita akan tambah kuat”

“Tentu” jawab Sidanti, “Bukankah telah kita lakukan setiap hari? Dan apa salahnya kalau aku mempergunakan waktu khusus untuk aku sendiri?”

“Aku tidak keberatan. Tetapi kau sering meninggalkan kademangan ini tanpa seorang pun juga mengetahuinya” Widura mencoba untuk mengetahui, apakah yang dikatakan Kiai Gringsing tentang Sidanti benar-benar terjadi.

Sidanti untuk sesaat tidak menjawab. Dipandanginya wajah Widura dengan tajamnya. Tetapi ketika pandangan mata mereka bertemu, Sidanti itu pun menundukkan wajahnya. Namun dadanya masih juga berdebar-debar.

Widura tidak segera mendesaknya. Ia menunggu apakah yang akan dikatakan oleh Sidanti. Hanya tarikan nafas mereka terdengar berkejar-kejaran. Baru beberapa saat kemudian Sidanti menjawab, “Aku pergi atas tanggung jawabku sendiri kakang. Aku kadang-kadang memerlukan tempat yang baik yang tidak aku temui di halaman kademangan ini. Juga karena aku tidak ingin diganggu oleh siapa pun juga”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia yakin akan kebenaran cerita Kiai Gringsing. Namun ia masih mengharap semoga Sidanti benar-benar akan mengamalkan ilmunya untuk kemenangan bersama. Meskipun demikian Widura itu pun berkata, “Sidanti, aku berbangga. Benar-benar berbangga seperti yang aku katakan. Tetapi aku ingin memberimu peringatan. Jangan terlalu berani meninggalkan kademangan ini seorang diri. Macan Kepatihan bukan anak-anak yang ketakutan karena kekalahan-kekalahan kecil. Setiap saat ia dapat datang kembali. Mungkin seorang diri, dan menyergapmu tanpa seorang pun yang dapat melihat apa yang akan terjadi”

“Sudah aku katakan” jawab Sidanti, “Kalau aku terbunuh olehnya selama aku melatih diri, adalah tanggung jawabku sendiri. Tak seorang pun perlu menangisi mayatku”

“Jangan berkata demikian” sahut Widura. Kata-katanya tenang dan berat. Kata-kata seorang tua kepada anaknya yang nakal. “Kalau kau hilang dari antara kami, maka kami semua akan merasa kehilangan. Kita tidak tahu, sampai kapan kita dalam keadaan yang tidak menentu ini. Karena itu, kau adalah lawan Tohpati yang dapat kita banggakan. Ilmumu masih akan berkembang sejalan dengan ilmu Tohpati. Namun kau memiliki kemenangan daripadanya. Gurumu masih ada”

Sidanti tidak menjawab. Tetapi ia tidak senang atas peringatan itu. Dirasakannya seakan-akan kebebasannya terganggu. “Apa pun yang aku lakukan adalah hakku” katanya di dalam hatinya.

“Apakah gurumu tak pernah mengunjungimu?” tiba-tiba Widura bertanya. Dan pertanyaan itu benar-benar membingungkan Sidanti. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab. Sebenarnya ia sendiri tidak pernah merasa keberatan seandainya semua orang tahu, bahwa gurunya sering datang mengunjunginya. Namun gurunyalah yang melarangnya. Selalu teringat olehnya gurunya itu berkata, “Sidanti, kemenangan terakhir haruslah kemenanganmu. Bukan kemenangan orang lain. Juga bukan kemenangan kelompokmu, apalagi pimpinanmu”

Karena ingatannya itu, maka Sidanti kemudian menggeleng, “Tidak. Guru tidak pernah datang”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya, namun ia pasti, bahwa guru Sidanti itu dengan diam-diam selalu datang dan menempa muridnya dengan tekunnya. Sedang di dalam kepala Sidanti itu terngiang kata-kata gurunya pula, “Karena itu Sidanti, aku tak mau seorang pun tahu, bahwa kau sedang menempa dirimu. Aku tak mau seorang pun dapat meneguk ilmu Tambak Wedi meskipun hanya setetes. Sebab, pada suatu saat kau harus menjadi orang pertama di Pajang sesudah Hadiwijaya sendiri”

Kembali suasana di pringgitan itu tenggelam dalam kesepian. Sidanti kemudian menundukkan wajahnya pula. Tubuhnya benar-benar merasa lelah setelah ia memeras tenaganya, menerima ilmu-ilmu penyempurnaan dari gurunya.

“Kau lelah sekali Sidanti” berkata Widura.

“Ya” sahut Sidanti pendek.

“Tidurlah”

Sidanti tidak menunggu perintah itu diulang untuk kedua kalinya. Segera ia berdiri dan berjalan keluar. Di muka pintu ia berpaling. Ketika dilihatnya Widura masih mengawasinya, segera ia melemparkan pandangan matanya ke arah lain.

Kini Widura duduk kembali seorang diri di atas pembaringannya. Angan-angannya terbang kian kemari. Banyak persoalan yang dihadapinya. Dan banyak persoalan yang perlu dipecahkannya. Namun sebagai manusia Widura berdoa, semoga Tuhan Yang Maha Esa berkenan memberinya jalan terang.

Widura  pun ternyata lelah pula. Sejenak kemudian ia pun berbaring dan tertidur pula dengan lelapnya.

Ketika cahaya fajar telah membayang dipunggung bukit, maka Agung Sedayu pun telah bangun dari tidurnya. Dikejauhan masih didengarnya satu-satu ayang jantan berkokok menyambut pagi. Sekali Agung Sedayu menggeliat, kemudian perlahan-lahan ia bangkit dan berjalan keluar. Terasa betapa nyamannya udara menjelang dini hari. Di pendapa beberapa orang  pun telah bangun. Seorang dua orang telah turun kehalaman, sedang yang lain lagi bersembahyang subuh. Agung Sedayu  pun segera pergi kepadasan.

Baru setelah ia selesai sembahyang subuh, dilihatnya pamannya bangkit. Dengan tersenyum ia menyapa, “Ah, kau bangun lebih dahulu Sedayu”

“Ya paman” sahutnya, “Aku tidur lebih dahulu pula”

Pamannya tersenyum. Dan Agung Sedayu  pun kemudian meninggalkan ruangan itu. Ia ingin menikmati cerahnya fajar. Satu-satu di langit masih tersangkut bintang-bintang yang dengan segannya memandang halaman kademangan Sangkal Putung yang baru saja terbangun dari lelapnya malam.

Sangkal Putung itu ternyata benar-benar telah terbangun. Di jalan-jalan telah mulai tampak satu dua orang yang lewat tergesa-gesa. Mereka akan mencoba menjual dagangan mereka di sudut desa. Sebab mereka masih belum berani berjalan terlampau jauh. Di sudut desa itu telah menjadi agak ramai sejak beberapa saat yang lampau. Jual beli dan tukar-menukar banyak pula terjadi.

Tiba-tiba timbullah keinginan Agung Sedayu untuk berjalan-jalan menyusur jalan di muka kademangan itu. Di muka regol beberapa orang penjaga mengangguk kepadanya.

“Akan kemana angger?” bertanya salah seorang daripadanya.

“Berjalan-jalan paman” jawab Agung Sedayu

Orang itu mengangguk. Sahutnya, “Silakan. Barangkali udara pagi di Sangkal Putung dapat menyejukkan hati angger”

Agung Sedayu tersenyum. Dan diayunkannya kakinya melangkah menurut jalan itu. Sekali-sekali ia berpaling untuk mengetahui jarak yang telah ditempuhnya. Agung Sedayu tidak ingin berjalan seorang diri terlalu jauh dari kademangan, meskipun di siang hari yang cerah sekalipun.

Tiba-tiba Agung Sedayu terkejut ketika didengarnya sapa halus di sampingnya. Katanya, “Akan pergi kemanakah tuan sepagi ini?”

Ketika Agung Sedayu menoleh dilihatnya seorang gadis yang kemarin ditemuinya di kademangan muncul dari sebuah jalan sidatan. Karena itu maka sambil mengannguk ia menjawab pendek, “Berjalan-jalan”

Gadis itu, yang tak lain adalah Sekar Mirah, mengerutkan keningnya. Jawaban yang terlalu pendek. Meskipun demikian ia memberanikan dirinya untuk bertanya, “Apakah tuan akan pergi ke warung di sudut desa?”

Agung Sedayu menggeleng, “Tidak” jawabnya.

Sekar Mirah menggigit bibirnya. Tetapi justru karena itu, maka kesannya atas Agung Sedayu menjadi semakin dalam. Anak muda pendiam yang sombong. Tetapi Sekar Mirah berkata pula, “Kalau tidak, akan kemanakah tuan?”

Agung Sedayu menjadi bingung. Ia tidak tahu, akan kemanakah ia sebenarnya. Maka jawabnya sekenanya, “Aku hanya berjalan-jalan saja”

“Oh” sahut Sekar Mirah. “Kalau begitu, apakah tuan ingin melihat warung itu. Barangkali tuan ingin membeli sesuatu. Buah-buahan, kain atau apa? Warung itu menjadi ramai sejak daerah ini tidak aman. Sebab mereka tidak berani pergi terlalu jauh. Bahkan orang-orang dari desa yang lain pun datang kemari. Sebab di sini ada laskar paman Widura, sehingga mereka merasa mendapatkan perlindungan daripadanya.

Agung Sedayu menjadi bertambah bingung. Ia sama sekali tidak memiliki uang sedikitpun. Tetapi sebelum ia menolak gadis itu telah berkata pula, “Marilah tuan. Tuan akan mendapat kesan yang lengkap dari daerah ini”

Agung Sedayu tidak dapat berbuat lain dari mengikutinya. Sekar Mirah berjalan kembali kewarung di sudut desa. Ia senang bahwa Agung Sedayu mengikutinya.

“Kedatangan tuan pasti akan menggembirakan para pedagang di warung itu” berkata Sekar Mirah kemudian.

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Bukankah tuan telah menyelamatkan Sangkal Putung?” jawab Sekar Mirah.

Terasa dada Sedayu berdesir. Meskipun demikian, ia pun tiba-tiba merasakan suatu kebanggaan atas pujian itu. Pujian yang diucapkan oleh seorang gadis yang ramah.

Sekar Mirah adalah gadis yang lincah. Banyak persoalan yang ingin diketahuinya, dan banyak persoalan yang dipikirkannya. Meskipun ia seorang gadis, namun ingin juga ia mengerti banyak hal tentang keadaan di daerahnya. Sebagai seorang anak demang, Sekar Mirah selalu melihat dan mendengar ayahnya mempersoalkan daerah dan orang-orang di daerah Sangkal Putung. Karena itu, maka lambat laun hatinya pun tertarik pada persoalan-persoalan daerah dan orang-orang di daerahnya.

Karena itu pula maka di sepanjang jalan itupun, Sekar Mirah selalu berusaha untuk mengerti akan beberapa persoalan. Maka dengan hati-hati ia bertanya, “Tuan, apakah tuan adik dari seorang yang bernama Untara?”

Agung Sedayu mengangguk. “Ya” jawabnya.

“Ah. Semua orang di Sangkal Putung mengagumi tuan. Bukankah tuan telah menyelamatkan kademangan ini. Semua orang yang bertemu dengan tuan, pasti akan menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan penuh rasa hormat dan terima kasih”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hati, “Ya, seandainya demikian. Tetapi aku akan berlatih terus. Aku ingin untuk benar-benar menjadi orang yang berhak mendapat penghormatan yang demikian.”

“Tuan” Sekar Mirah itu berkata lagi, “Untuk mencapai tingkat yang seperti tuan, berapa lama waktu yang tuan perlukan?”

Agung Sedayu terkejut mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan yang tak diduga-duganya. Apalagi dari seorang gadis. Karena itu untuk sesaat ia tidak menjawab. Sehingga Sekar Mirah itu berkata pula, “Kakang Swandaru pun selalu berusaha untuk melatih diri. Namun apa yang dicapainya itu sama sekali tak berarti. Orang-orang di Sangkal Putung sampai saat ini, yang paling dibanggakan oleh paman Widura adalah Sidanti”

Dada Agung Sedayu berdesir mendengar nama itu. Dilihatnya di dalam rongga matanya Sidanti yang tinggi hati itu memandanginya dengan tajam dan penuh prasangka. Tiba-tiba bulu-bulu Agung Sedayu meremang. Namun ia tidak menjawab. Sebab, tiba-tiba saja timbullah di sudut hatinya suatu keinginan yang tak dimengertinya sendiri. Terhadap gadis itu, ia ingin mempertahankan nama yang telah dicapainya. “Kenapa demikian”, timbul pula pertanyaan di dalam dirinya. Tetapi ia menjawab, “Aku melatih diri sejak kanak-kanak”

“Oh” Sekar Mirah menjadi bertambah kagum. “Pantaslah tuan dapat melakukan semua itu. Aku mendengar seseorang mengatakan bahwa tuan berhasil mengalahkan Alap-alap Jalatunda.”

Agung Sedayu berdebar-debar. Namun ia menjawab, “Alap-alap Jalatunda tidak segarang Tohpati” Tiba-tiba hatinya bergetar ketika ia menyebut nama itu. Meskipun demikian, ia berusaha untuk tetap tersenyum.

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya dengan bangganya. Agung Sedayu itu telah dapat diajaknya bicara. Maka katanya seterusnya, “Berapa lamakah tuan akan tinggal di Sangkal Putung?”

“Aku tidak tahu” jawab Sedayu, “Kalau kakang Untara sudah ditemukan, aku akan segera kembali ke Jati Anom, dan kakang Untara akan kembali ke Pajang”

Sekar Mirah kecewa mendengar jawaban itu. Dan ia mengharap, semoga Untara tidak segera dapat diketemukan.

Demikianlah mereka berjalan sambil bercakap-cakap. Sekar Mirah menjadi gembira dan Agung Sedayu  pun berbangga karenanya. Tanpa disadarinya Agung Sedayu telah banyak bercerita tentang kademangan-kademangan yang pernah dicapainya dalam perjalanannya dari Jati Anom. Diceritakannya tentang si Pande Besi dan tiga kawannya yang terbunuh, dan Alap-alap Jalatunda yang mencegatnya di Bulak Dawa. Namun setiap kata diucapkan, terasa sebuah goresan yang pahit di dalam dadanya. Ingin ia mengatakan apa yang sebenarnya, namun ia tidak mempunyai keberanian, dan bahkan akhirnya ia sengaja menyombongkan dirinya untuk menyembunyikan kekerdilannya. Seakan-akan ia benar-benar pahlawan Sangkal Putung.

Ketika mereka sampai di warung ujung desa, maka apa yang dikatakan oleh Sekar Mirah itu benar-benar terjadi. Para pedagang dan orang yang berada diwarung itu mengaguminya. Mereka tiba-tiba saja seperti orang yang terpesona. Berdesakan mereka mengitari Agung Sedayu untuk sekedar dapat menyambut tangannya. Satu demi satu orang-orang diwarung itu memberikan salamnya, dan satu demi satu tangan-tangan mereka itu disambut oleh Agung Sedayu disertai dengan sebuah anggukan kepala dan sebuah senyuman. Namun tak seorang pun di antara mereka yang mengetahuinya, bahwa di dalam dada anak muda itu bergolaklah kecemasan dan kekhawatiran yang dahsyat.

Sekar Mirah yang memperkenalkan Agung Sedayu itu pun ikut berbangga pula. Kepada kawan-kawannya ia bercerita seperti burung sedang berkicau tentang anak muda yang bernama Agung Sedayu itu, seolah-olah ia melihat sendiri peristiwa-peristiwa yang dialami olehnya. Namun beberapa gadis yang iri hati kepadanya bergumam di dalam hatinya, “Ah Mirah. Dahulu kau selalu berdua dengan Sidanti. Sekarang, ketika datang anak muda yang lebih tampan dan sakti, kau tinggalkan anak muda yang bernama Sidanti itu”

Tetapi tak seorang pun yang berani mengucapkannya. Sebab Sekar Mirah adalah anak Demang Sangkal Putung.

Ketika mereka sudah puas melihat kekaguman orang-orang Sangkal Putung itu, maka Sekar Mirah dan Sedayu pun segera kembali ke kademangan. Juga di sepanjang jalan pulang, Sekar Mirah masih saja berkicau tak henti-hentinya. Namun kini Agung Sedayu senang mendengarnya.

Sampai di kademangan Agung Sedayu segera pergi menemui pamannya di pringgitan, dimana Agung Sedayu sehari-hari menyekap diri. Jarang sekali ia pergi berkumpul dengan orang-orang lain. Hanya kadang-kadang saja ia bercakap-cakap dengan mereka di pendapa. Sedang Sekar Mirah dengan tergesa-gesa pergi kedapur. Ia takut terlambat dengan belanjaannya untuk mempersiapkan makan pagi.

Tetapi langkah Sekar Mirah itu terhenti ketika Sidanti menggamitnya, “Mirah” katanya.

Sekar Mirah berpaling. Dengan tergesa-gesa ia bertanya, “Kenapa?”

“Dari mana kau?”

“Warung” jawab Sekar Mirah pendek.

Sidanti memandangnya dengan tajam. Kemudian katanya, “Dengan Agung Sedayu?”

Sekar Mirah memandang Sidanti tidak kalah tajamnya. Jawabnya, “Ya. Apa salahnya?”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia tersenyum. Katanya, “Mirah, jangan marah, meskipun aku senang melihat kau bersungut-sungut. Aku hanya ingin memberi peringatan. Jangan terlalu sering bergaul dengan anak muda yang belum kau ketahui keadaannya”

Sekar Mirah kemudian menarik nafas. Wajahnya kini sudah tidak tegang pula. Jawabnya, “Aku hanya bertemu dengan Sedayu di jalan, dan aku antarkan ia kewarung di ujung desa”

Sidanti pun kemudian melangkah pergi. Meskipun demikian ia masih curiga berkata, “Ingat-ingatlah Mirah. Jangan terlalu rapat bergaul dengan siapa pun juga. Aku kurang senang melihatnya”

Kembali wajah Sekar Mirah menjadi tegang, “Apakah hakmu?”

Tetapi Sidanti tidak menjawab. Berpaling pun tidak. Ia berjalan saja ke belakang rumah dan lenyap di balik pepohonan yang rapat.

Sekar Mirah masih berdiri di tempatnya. Ia menjadi kesal pada anak muda itu. Tetapi kemudian timbul juga ibanya kepada Sidanti. Pergaulan mereka telah berlangsung lama, dan anak muda itu pun tak pernah menyakiti hatinya.

Dengan wajah tunduk Sekar Mirah masuk kedapur. Dilihatnya beberapa orang telah sibuk menyiapkan makan pagi.

“Kami tunggu kau, Mirah” kata ibunya.

“Oh” Mirah sadar akan dirinya. Yang dibawanya itu adalah bumbu-bumbu masak. Karena itu segera diserahkannya kepada ibunya.

“Nasi sudah masak. Tetapi belum ada lauk dan sayurnya. Terlambat” desah ibunya.

“Kadang-kadang saja” sahut Sekar Mirah. “Bukankah tidak setiap hari aku terlambat?”

“Aku jemu mendengar mereka menggerutu” berkata orang yang gemuk, yang duduk di muka api.

“Ah bibi. Jangan kau dengarkan. Bukankah sudah menjadi kebiasaan mereka menggerutu. Apa pun tidak menyenangkan mereka”

“Tetapi mulut orang yang jangkung dan berkumis tipis itu sangat tajam. Aku pernah dikata-katainya karena termakan cabe rawit olehnya. Dikiranya aku sengaja memasang untuknya. Oh, orang itu benar-benar tidak melihat punggungnya. Apa yang dibanggakannya untuk berlagak di hadapanku”

Tetapi Sekar Mirah menjadi tertawa karenanya. Jawabnya, “Bibi, siapakah yang membelikan lurik abang itu?”

“Oh, oh” orang yang gemuk itu tersipu-sipu. Namun akhirnya ia menjawab, “Aku tidak pernah minta kepadanya. Ia sendiri datang kepadaku dan memberikan kain lurik ini”

Sekar Mirah tidak menjawab. Namun ia masih tertawa. Tetapi tawanya itu patah ketika ia mendengar orang membentaknya, “Kau baru datang Mirah?”

Ketika Sekar Mirah berpaling, dilihatnya Swandaru bertolak pinggang dipintu dapur. “He, kau baru datang?” desak kakaknya.

Sekar Mirah tidak menjawab. Ia hanya mencibirkan bibirnya.

“Kenapa terlambat?” kakaknya membentak.

Tetapi Sekar Mirah tidak juga menjawab, sehingga kemudian Swandaru itu pun pergi dengan sendirinya.

Dapur kademangan itu kemudian tenggelam dalam kesibukan. Semua bekerja dengan cepat dan tergesa-gesa. Tetapi Sekar Mirah kali ini tidak selincah biasanya. Kadang-kadang ia duduk termenung memandangi api yang menjilat-jilat diperapian. Sedang di tangannya masih tergenggam pisau dapur dan daging yang sedang dipotongnya.

Ia baru sadar ketika beberapa orang menegurnya.

Tetapi sesaat kemudian kembali ia termenung. Hatinya sedang dirisaukan oleh angan-angannya tentang anak-anak muda yang dikenalnya. Ternyata pertemuannya dengan Agung Sedayu itu pun berkesan pula di hatinya. Namun selalu diingatnya, senyum Sidanti beberapa saat berselang. “Mirah” katanya, “Jangan terlampau sering bergaul dengan anak muda yang belum kau ketahui keadaannya itu”

Akhirnya Sekar Mirah sampai pada suatu kesimpulan bahwa Sidanti menjadi cemburu karenanya.

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hati, “Bukankah aku mengagumi Agung Sedayu seperti juga orang-orang lain mengaguminya?” Tetapi terdengar pula dari sudut hatinya, “Ah, kau dulu juga mengagumi Sidanti, karena Sidanti adalah orang yang paling mengagumkan di Sangkal Putung. Apa katamu kalau kelak datang Untara yang lebih sakti dari adiknya. Apakah kau akan mengaguminya pula berlebih-lebihan dan melupakan orang-orang lain?”

“Oh” Sekar Mirah memejamkan matanya. Dan tiba-tiba dilemparkannya pisaunya dan dengan tergesa-gesa ia pergi kebiliknya.

“Mirah” panggil ibunya yang terkejut melihat kelakuan anaknya itu. “Kenapa kau?”

“Kepalaku pening” jawabnya sambil berlari.

Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Diikutinya anaknya kebiliknya. Dan dirabanya keningnya. Katanya, “Tidak panas Mirah”

Sekar Mirah berbaring dipembaringannya sambil menengadahkan wajahnya. ketika ibunya meraba keningnya, maka katanya, “Hanya pening sedikit bu. Mungkin semalam aku kurang tidur”

Ibunya tidak bertanya lagi. Ditinggalkannya Sekar Mirah sendiri di dalam biliknya. Pesannya, “Beristirahatlah Mirah. Mungkin kau terlalu lelah”

Sekar Mirah mengangguk. Namun ketika ibunya telah meninggalkannya, kembali angan-angannya bergolak. Bermacam-macam persoalan hilir mudik dikepalanya. Sehingga akhirnya ia menjadi benar-benar pening. Karena itu, maka sehari-harian Sekar Mirah tinggal di dalam biliknya. Tak seorang pun tahu, apa yang sedang mengganggu usia remajanya. Mula-mula ia mencoba untuk tidur, namun tidak dapat. Dengan gelisahnya ia berbaring. Sekali miring kekiri, sekali kekanan. Kadang-kadang ia bangkit, duduk sambil bertopang dagu, tetapi sesaat kemudian direbahkannya dirinya kembali. Sekar Mirah keluar dari biliknya hanya apabila datang saatnya makan. Namun ibunya menyangka tidak lebih daripada Sekar Mirah sedang pening.

Matahari di langit merayap dengan lambatnya. Seakan-akan telah jemu akan pekerjaan yang selalu dilakukan itu setiap hari. Ketika matahari itu kemudian tenggelam di balik bukit-bukit, maka warna-wana yang kelam seakan-akan turun dari langit, menyelubungi wajah bumi.

Demikian lah kembali Sangkal Putung terbenam dalam lelap malam. Ketika sunyi malam menjadi semakin sunyi, maka Widura dan Agung Sedayu pun berangkat pula berkeliling kademangan. Dan kemudian mereka berdua itu pun pergi ke puntuk kecil yang bernama gunung Gowok.

Kini Agung Sedayu semakin gairah menghadapi latihan-latihannya. Bahkan Widura menjadi heran. Anak itu sudah menyimpan kemampuan yang tidak diduganya. Sehingga tiba-tiba saja terloncat pertanyaannya, “Sedayu, darimana kau dapatkan ilmumu itu?”

“Kakang Untara” jawab Agung Sedayu.

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. “Hem” gumamnya. “Kenapa kau masih takut juga kepada Alap-alap Jalatunda? Kalau kau berani melawannya, aku kira kau sendiri mampu mengalahkannya. Setidak-tidaknya kau akan dapat mempertahankan dirimu sendiri sehingga Untara tidak usah terluka karenanya.”

Sedayu menundukkan wajahnya. Memang terasa juga di hatinya, setiap kali ai melihat perkelahian, timbul juga kata-kata di hatinya, “Ah. Tidak aneh. Aku juga dapat melakukannya”. Tetapi ia sediri belum pernah berbuat seperti yang dilihatnya itu dalam peristiwa-peristiwa yang sebenarnya. Agung Sedayu hanya berani menghadapi lawannya dalam latihan-latihan Untara dan kini Widura.

“Besok kau bawa senjata panjang seperti pedangku ini” berkata Widura. “Apakah kau pernah juga berlatih dengan pedang?”

Sedayu mengangguk. “Pernah” jawabnya. “Ayah pernah memberi aku beberapa petunjuk, dan kakang Untara pun pernah memberi aku latihan-latihan dengan pedang, perisai dan tombak”

“Aneh. Aneh” gumam Widura.

“Apa yang aneh paman?” bertanya Sedayu.

“Kau” jawab pamannya. “Hampir aku kehilangan akal karena kedatanganmu Sedayu. Aku berterima kasih karena kau telah memberitahukan kepada kami, bahaya yang akan menerkam kami. Namun seterusnya kau menjadi beban yang hampir tak tertanggungkan”

Wajah Agung Sedayu menjadi semakin tunduk. Ia merasakan pula, betapa sulit keadaan pamannya karena kehadirannya. Tetapi bukankah kakaknya yang telah menjerumuskannya keneraka ini?

“Sedayu” berkata pamannya pula. “Baiklah aku berterus terang. Kehadiranmu ternyata sangat menyulitkan keadaanku. Kini ternyata bahwa kau memiliki kemampuan yang tidak kecil. Namun kau simpan di dalam dirimu, karena terbalut oleh kekerdilan jiwamu. Cobalah, pecahkan dinding yang membatasi dirimu itu. Kau kini berada dalam dunia ketakutan. Kalau sekali kau berani melampaui batas itu, batas antara ketakutan yang membelengumu dan kebebasan bertindak yang dilambari oleh keberanian, maka kau merupakan anak muda yang benar-benar mengagumkan. Sampai saat ini ternyata kau sudah memiliki kemampuan-kemampuan yang tinggi, apabila kemampuan-kemampuan itu kau ungkapkan, dibumbui oleh pengalaman-pengalaman, maka kau tak akan kalah melawan Alap-alap Jalatunda. Kelak kau akan tetap menjadi pahlawan dimata rakyat Sangkal Putung. Kau tidak akan cemas lagi berhadapan dengan bahaya apapun”.

Kata-kata itu bukanlah yang pertama kali didengarnya. Kakaknya pernah juga berkata demikian. Dan hatinya sendiri pun berkata demikian pula. Namun bagaimana? Apabila bahaya itu benar-benar datang, maka hatinya berkerut sekecil biji sawi. “Hem” Sedayu menarik nafas. Katanya di dalam hati, “Kenapa manusia didunia ini harus berkelahi satu sama lain?” Namun ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa masih ada manusia-manusia yang ingin selalu memaksakan kehendaknya kepada orang lain, manusia-manusia yang ingkar kepada sumbernya yang memberi manusia kebebasan untuk melakukan pilihan. Selama manusia tidak menghormati kebebasan yang berasal dari sumber hidupnya, maka selama itu masih akan ada bentrokan-bentrokan di antara sesama. Kebebasan yang setia pada sumbernya, yang pada hakekatnya merupakan kesimpang-siuran hidup manusia seorang-seorang, namun penuh dengan keserasian dalam ujud keseluruhannya. Yang satu sama lain tidak saling berbenturan dan bertentangan. Apabila setiap orang menyadari keadaannya serta patuh pada hakekatnya, sumber hidupnya yaitu kekuasan Tuhan Yang Maha Tinggi, maka manusia akan menemukan kedamaian. Lahir dan batin.

Tetapi, ternyata manusia telah memiliki arti sendiri bagi kebebasannya. Kebebasan yang mutlak, yang tak dapat dikekang oleh dirinya sendiri sekalipun. Yang bahkan kebebasan itu telah dipakainya untuk mengaburkan arti dalam hidupnya. Dengan demikian maka hilanglah keserasian hidup antara manusia. Dan timbullah pertentangan dimana-mana, peperangan dan pembunuhan. Perkosaan terhadap peradaban manusia itu sendiri.

Demikianlah Agung Sedayu harus melihat kenyataan itu. Apakah ia harus menelan keharusan yang dipaksakan orang lain atasnya? Keharusan yang bertentangan dengan haknya? Tetapi betapa ia menyadari keadaannya, namun dinding yang membatasi dunianya itu tak mampu dipecahkannya. Dinding yang selalu menyekapnya dalam ketakutan dan kekhawatiran.

Meskipun demikian, niat untuk melakukannya kini telah semakin besar mengetuk dadanya. Karena itu, ia pun berlatih semakin keras. Dikerahkannya segenap tenaganya dan kemampuan-kemampuan yang tersimpan di dalam dirinya. Sehingga dengan demikian Widura menjadi bergembira karenanya. Ia melihat anak muda itu seakan-akan lain dari Agung Sedayu yang dikenalnya sehari-hari. Lincah, tangkas dan kuat, bahkan kadang-kadang berhasil membingungkannya karena kecepatannya.

Tetapi apabila teringat oleh pamannya itu, betapa kecil hati kemenakannya, maka ia pun menjadi kecewa karenanya. Meskipun demikian, maka Widura itu bekerja sekeras-kerasnya. Diusahakannya untuk dapat mengungkat setiap kemampuan yang ada pada kemenakannya itu.

“Suatu ketika” katanya di dalam hati, “Apabila ia dihadapkan pada suatu keadaan memaksa, mudah-mudahan ia telah mampu untuk menyelamatkan diri”

Demikianlah, latihan itu berjalan dengan cepatnya. Semakin lama semakin cepat. Widura berusaha untuk memeras tenaga kemenakannya, sedang Agung Sedayu pun berusaha untuk mengimbanginya.

Widura sendiri, yang ternyata memiliki ilmu yang cukup tinggi, terpaksa bekerja keras untuk dapat mengatasi kemenakannya itu. Sekali-sekali Agung Sedayu dapat bergerak secepat bayangan. Namun sekali-sekali mencoba juga untuk bertahan beradu kekuatan. Ternyata kekuatan Agung Sedayu  pun mengherankan pula. Ketika serangan Widura membentur dinding pertahanan kemenakannya itu, ia terkejut. Terasa ia bergetar surut, meskipun Agung Sedayu terdorong beberapa langkah pula.

“Luar biasa” desis pamannya. “Kekuatanmu pun luar biasa”

Agung Sedayu tersenyum. Ia senang mendengar pujian itu. Jawabnya, “Bukankah bibi dahulu selalu memberiku pekerjaan itu?”

“He” pamannya mengerutkan keningnya. “Pekerjaan yang mana?” ia bertanya.

“Membelah kayu” jawab Sedayu.

“Ah” desah Widura. “Bukan itu. Pasti ada yang lain”

“Setiap pagi kakang Untara mengajari aku bermain-main berjalan di atas tangan dengan kaki di atas. Kemudian bermain-main dengan pasir ditepian”

“Permainan apakah itu?”

“Hanya memukul-mukul saja. Pasir dan kadang-kadang batang-batang pohon dengan jari”

“Oh” Widura terkejut. Untara telah memberikan latihan-latihan itu. Meskipun Sedayu tidak menyadarinya, namun latihan-latihan itu merupakan latihan yang sangat berguna baginya. Bagi tubuhnya dan bagi ilmu-ilmu yang dimilikinya. Namun sekali lagi Widura mengeluh, “Jiwanya. Jiwanya yang terlalu kerdil. Sayang, ibunya terlalu takut melepaskannya. Sehingga Sedayu tidak lebih dari seorang yang hanya mengenal dinding-dinding batas halamannya. Kemanjaan dan perawatan yang berlebih-lebihan. Untunglah, diam-diam Untara telah memeberinya bekal”

Tetapi latihan mereka terpaksa berhenti ketika tiba-tiba pula hadir orang bertopeng yang menamakan dirinya Kiai Gringsing. Yang mula-mula terdengar adalah suara tertawanya. Tinggi dan nyaring. Namun Widura dan Agung Sedayu sudah tidak terkejut lagi. Mereka sudah menduga bahwa orang itu akan selalu datang melihat mereka. Bahkan kemudian Widura menyapanya, “Selamat malam Kiai”

“Oh” jawabnya, “Selamat malam. Apakah kau masih akan menangkap aku Widura?”

“Tidak Kiai” jawab Widura. Ia berusaha pula untuk menyesuaikan diri dengan orang aneh itu. Karena itu katanya, “Sebenarnya aku belum melepaskan maksudku itu. Namun aku masih belum dapat mengalahkan Kiai. Karena itu aku berlatih terus. Guruku, Agung Sedayu, telah mencoba mempercepat latihan-latihanku”

Orang bertopeng itu pun tertawa. Tetapi nadanya tidak setinggi semula. Katanya kemudian, “Bagus. Agung Sedayu harus menempamu lebih keras lagi. Nah, sekarang cobalah. Tangkap aku. Mungkin latihanmu sehari ini telah menambah ilmumu”

“Bagus” sahut Widura. “Jangan berlari-lari. Aku akan mencoba sekali lagi”

Dengan serta-merta Widura menarik pedangnya, dan dengan garangnya ia langsung menyerang.

“He” teriak Kiai Gringsing. “Aku belum siap”

Namun Widura tidak memperdulikannya. Ia tahu benar, bahwa Kiai Gringsing adalah seorang sakti yang tak memerlukan senjata untuk melawannya. Karena itu, maka ia sama sekali tak menarik serangannya. Ternyata Kiai Gringsing itu pun tak mau dadanya berlubang. Tepat pada saat pedang Widura hampir menyentuhnya, ia memiringkan tubuhnya. “Luar biasa” katanya nyaring, “Seranganmu bertambah cepat”

Widura tidak menjawab. Ketika serangannya gagal, maka cepat ia memutar tubuhnya, dan mengalirlah serangan demi serangan melanda Kiai Gringsing.

Widura bukanlah seorang anak-anak lagi. Pengalaman dan pengetahuannya telah cukup. Karena itu, ia menyadari benar-benar keadaannya. Ia pasti bahwa Kiai Gringsing itu telah memperhitungkanmya pula kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atasnya. Sebagai seorang pemimpin dalam satu rombongan prajurit, meskipun masih banyak yang gelap baginya, namun firasatnya berkata, “Kiai Gringsing ini benar-benar seorang yang bermaksud baik terhadapnya, terhadap Sedayu dan mungkin pula terhadap Untara dan Ki Tanu Metir”

Karena itu Widura sampai pada suatu kesimpulan bahwa, Kiai Gringsing sengaja meningkatkan ilmunya, sebab Sidanti pun berbuat demikian. Dengan demikian maka Widura  pun melakukan perkelahian itu dengan tekad, “Aku sedang berlatih. Dan seorang yang sakti telah berkenan menuntunku”

Demikianlah mereka tenggelam dalam pertempuran. Cepat dan mengagumkan. Apalagi bagi Agung Sedayu. Dengan mulut ternganga ia menyaksikannya. Dan bahkan ia berhasil mengingat-ingat unsur-unsur gerak yang menarik hatinya.

Ternyata Kiai Gringsing itu tidak saja bertempur, namun ia banyak berbicara pula. Disebutnya kesalahan-kesalahan yang dilakukan Widura dan ditunjukkannya apa yang seharusnya dilakukan. Meskipun kadang-kadang dengan nada yang aneh.

Dan apa yang terjadi di gunung Gowok itu tidaklah hanya sekali dua kali. Namun berkali-kali. Setiap malam. Dan hampir setiap malam pula Kiai Gringsing hadir di antara mereka. Bahkan apabila orang itu tidak tampak, maka Widura dan Agung Sedayu menjadi kecewa karenanya.

Tetapi tidak seorang pun yang tahu, apa yang terjadi setiap malam digunung Gowok itu. Yang dilakukan oleh anak-anak Widura di Sangkal Putung setiap hari pun adalah latihan dan latihan. Akhirnya mereka menjadi jemu pada latihan-latihan itu. Namun tak ada lain yang dapat mereka lakukan. Mereka belum dapat meninggalkan Sangkal Putung pada keadaan yang masih tak menentu itu.

Tetapi Agung Sedayu tidak mengalami kejemuan karenanya. Lambat laun perkenalannya dengan Sekar Mirah menjadi semakin rapat. Meskipun mereka jarang-jarang bertemu, namun setiap pertemuan di antara mereka, ternyata berkesan pula di hati masing-masing. Bahkan setiap Agung Sedayu melihat Sekar Mirah bergolak di dadanya.

Tetapi Agung Sedayu masih terlalu muda untuk mengenal perasaannya sendiri. Ia senang bergaul dengan Sekar Mirah dan menjadi bersedih apabila dilihatnya orang lain berada didekat gadis itu. Apalagi Sidanti. Namun Sidanti pun selalu berusaha untuk tetap mendapat perhatian dari gadis itu. Karena itu, pergaulan Sekar Mirah dan Sedayu sangat mengganggu perasaannya.

“Apakah Agung Sedayu benar-benar seorang anak muda yang kesaktiannya melampaui orang lain?” pikir Sidanti. “Sayang, aku belum pernah melihatnya. Tetapi, sekali-sekali perlu juga aku mencobanya. Terhadap Untara sekalipun, aku tak pernah merasa kagum. Alap-alap Jalatunda bukan ukuran. Sedang kemenangan-kemenangan yang pernah dicapainya dalam setiap pertempuran pun tergantung pada banyak persoalan. Tetapi seorang lawan seorang, aku tak akan gentar”

Demikianlah kemarahan Sidanti itu selalu merayap-rayap di dalam dadanya. Sekali-sekali ia masih dapat menahan arus perasaannya itu, tetapi kadang-kadang hampir-hampir ia tak mampu lagi. Kadang-kadang dadanya terasa akan meledak apabila ia melihat Sekar Mirah duduk di halaman bersama dengan Agung Sedayu.

Lambat laun, Agung Sedayu merasakan pula sikap yang aneh dari Sidanti. Karena itu, maka timbullah kecemasan di dalam hatinya. Ia sama sekali tidak akan berani membayangkan, bagaimana seandainya anak muda yang mampu melawan Tohpati itu nanti marah kepadanya. Maka betapa pun perasaannya bergejolak, namun dibatasinya dirinya sendiri, untuk tidak selalu menyakiti hati Sidanti. Tetapi Sekar Mirah tidak melihat kecemasan yang mencengkam perasaan Agung Sedayu. Karena itu apabila Agung Sedayu tidak menampakkan dirinya, maka Sekar Mirah lah yang pergi mencarinya.

Yang tidak kalah peningnya adalah Widura sendiri. Ia melihat persoalan yang dapat meledak setiap saat. Ia melihat betapa Sidanti sama sekali tidak menyukai Agung Sedayu. Dan ia melihat Agung Sedayu pasti akan ketakutan apabila suatu saat Sidanti tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Dengan demikian, maka Widura pun telah berusaha untuk mencagah peristiwa-peristiwa yang hanya akan menambah bebannya.

“Sedayu” berkata pamannya kepada kemenakannya itu, “Kau harus dapat memperhitungkan segenap perbuatanmu di sini. Setiap langkah akan membawa akibat. Melangkahlah kalau kau berani menanggung setiap akibat yang terjadi. Kalau tidak, jangan membuat persoalan-persoalan baru yang bagiku tidak kalah sulitnya dengan laskar Tohpati yang masih saja berkeliaran di sana-sini”

Agung Sedayu hanya dapat menundukkan kepalanya. Kadang-kadang timbul juga niatnya untuk menjadi seorang yang berhati jantan, apa pun yag akan terjadi. Bukankah ia mampu pula menggenggam pedang? Namun kekerdilan jiwanya telah menjeratnya dalam sifat-sifatnya yang penakut. Sehingga yang dapat dilakukannya adalah, semakin menyekap dirinya di pringgitan.

Tetapi suatu ketika ia memerlukan juga untuk keluar dari pringgitan itu. Ke belakang, kepadasan, untuk mengambil air wudlu. Dan kesempatan-kesempatan yang demikian itulah yang dipergunakan Sekar Mirah untuk menemuinya.

“Tuan” panggil gadis itu ketika Agung Sedayu berjalan menyusur dinding-dinding di belakang rumah, “Dari manakah tuan?”

“Dari sumur Mirah”

“Ah” jawab gadis itu, “Tuan tak usah bersusah payah menimba air. Bukankah laskar paman Widura itu cukup banyak. Seharusnya tuan tinggal mandi saja seperti paman tuan itu”

“Tidak baik Mirah. Aku di sini sama sekali bukan seorang pemimpin. Bukan sebagai laskar paman Widura itu pun bukan. Aku di sini seorang diri”

Sekar Mirah tertawa. Jawabnya, “Tuan seorang diri dan paman tuan beserta laskarnya, manakah yang lebih bernilai bagi kami, penduduk Sangkal Putung?”

Sedayu tersenyum. Ia selalu mendengar Sekar Mirah memujinya. Dan ia senang mendengar pujian itu. Namun kali ini adalah sangat berlebih-lebihan. Maka jawabnya, “Jangan memperkecil arti paman Widura dan laskarnya. Mereka telah berhasil mengusir laskar Tohpati.”

“Apakah tuan tidak dapat berbuat demikian?”

“Sendiri tentu tidak” jawab Sedayu. Namun di hatinya terdengar kata-katanya sambil meneruskan, “Apalagi seorang diri. Sepasukan pun tidak mungkin” namun kata-kata itu disekapnya jauh-jauh di sudut dadanya.

Sekar Mirah masih saja tertawa. Bahkan kemudian kata-katanya mengalir seperti banjir. Tak habis-habisnya. Tak putus-putusnya.

“Tidakkah tuan sekali-sekali ingin berjalan-jalan ke warung kembali?” bertanya Sekar Mirah.

Agung Sedayu menggeleng. “Lain kali Mirah”

“Oh. Tetapi tidakkah tuan ingin melihat belumbang ayah? Gurame yang dipelihara oleh kakang Swandaru kini telah sebesar bantal. Barangkali tuan ingin menangkapnya?”

Agung Sedayu menggeleng kembali. “Lain kali saja Mirah”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Memang ia pun merasakan bahwa sikap Agung Sedayu pada saat-saat terakhir menjadi semakin jauh daripadanya. Karena itu Sekar Mirah menjadi cemas, apakah sikapnya terlalu menjemukan?

Tetapi pertemuan itu dikejutkan oleh sebuah langkah tergesa-gesa mendekati mereka. Ketika mereka menoleh betapa dada Agung Sedayu berguncang. Tanpa diketahuinya sendiri, terasa lututnya menjadi gemetar. Ternyata yang datang adalah Sidanti.

Tetapi Sekar Mirah sama sekali tidak menjadi cemas. Disapanya anak muda itu sambil tersenyum, “Marilah kakang Sidanti”

Namun wajah Sidanti itu menjadi semakin tegang. Beberapa langkah dari Agung Sedayu ia berhenti. Ditatapnya wajah anak muda itu dengan tajamnya. Kemudian kepada Sekar Mirah ia berkata, “Mirah, sudah berapa kali aku memperingatkanmu. Jangan bergaul terlalu rapat dengan anak muda itu. Aku sama sekali tidak senang melihatnya”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Kini ia berdiri tegang menghadap Sidanti. Katanya lantang, “Sudah berapa kali, aku menjawab apakah hakmu?”

Sidanti tidak senang mendengar jawaban itu. Maka matanya yang bulat itu seakan-akan memancarkan bara kemarahan. Kepada Agung Sedayu ia berkata, “apakah kepadamu aku harus memberi peringatan?”

Kata-katanya itu tergores di dada Agung Sedayu seperti goresan pisau yang setajam pisau penukur. Namun gelora di dadanya yang gemuruh tidak juga mau berhenti, apalagi ketika dilihatnya mata Sidanti yang menyala itu. Hatinya menjadi semakin kecut. Namun dicobanya juga berjuang sekuat tenaga melawan ketakutannya. Dicobanya untuk bersikap tenang walau dadanya hampir pecah oleh kecemasan dan kekhawatiran. “Jangan lekas marah kakang Sidanti” suara Agung Sedayu terdengar bergetar. Namun ia berhasil mengucapkannya.

“Hem” Sidanti menarik nafas untuk mencoba mengendalikan perasaannya. “Ingat, aku tidak senang melihat pergaulan kalian”

Sedayu tidak segera menjawab. ia masih berjuang untuk tetap menyadari keadaannya. Tetapi Sekar Mirahlah yang menjawab lantang, “Kau tidak berhak berkata demikian kakang. Aku bebas berbuat apa pun di halaman rumahku sendiri. Apa keberatanmu?”

Sidanti menggigit bibirnya. Nyala dimatanya menjadi semakin menyala. Dan ketakutan Sedayu pun menjadi semakin mencengkram hatinya. Dengan ketenangan yang dibuat-buatnya ia berkata, “Sudahlah Mirah, biarlah ia mengatakan apa yang akan dikatakannya”

Sekar Mirah memandang wajah Agung Sedayu dengan heran. Agung Sedayu sama sekali tidak menunjukkan kemarahannya, meskipun Sidanti itu bersikap demikian. Karena itu katanya, “Jangan tuan. Jangan biarkan Sidanti berbuat sesuka hatinya. Rumah ini rumahku. Halaman ini halamanku”

Sidanti kini terdengar menggeram. Kemarahannya telah sampai diubun-ubunnya. Namun ia masih berusaha untuk tidak menyakiti hati gadis itu berlebih-lebihan. Maka karena itulah kemarahannya ditumpahkannya ke Agung Sedayu. Katanya, “Sedayu. Aku dengar kau adalah seorang anak muda yang sakti. Karena itu marilah kita bersikap jantan”

Hati Agung Sedayu benar-benar telah berkeriput sekecil hati anak ayam melihat elang. Tetapi di hadapan Sekar Mirah ia masih mencoba menjaga nilai-nilainya, nilai-nilai yang pernah dikatakannya kepada gadis itu, meskipun sama sekali hanya sebuah dongengan belaka. Karena itu masih dengan ketenangan yang dibuat-buat ia menjawab, “Sidanti. Apakah keuntungan kita berbuat demikian?”

“Jangan bicara tentang untung dan rugi” teriak Sidanti.

Sedayu menjadi bingung. Ia tidak tahu apalagi yang akan dilakukan. Sedang Sekar Mirah  pun menjadi semakin heran melihat sikap Agung Sedayu. Kenapa Sidanti itu tidak saja dipukulnya sampai setengah mati?

Suasana kemudian tenggelam dalam ketegangan. Sidanti berdiri dengan kaki renggang, siap untuk mlancarkan serangan atau bertahan terhadap setiap kemungkinan. Namun Agung Sedayu masih saja berdiri dalam sikapnya. Tenang. Ketenangan yang gelisah.

Karena itu Sekar Mirah menjadi semakin tidak mengerti. Betapa pun orang bersabar hati, namun bagi Sekar Mirah sikap Sidanti itu sudah berlebih-lebihan.

Apalagi ketika kemudian Sedayu berkata terputus-putus, “Kakang Sidanti. Jangan kita memberi contoh kurang baik terhadap laskar paman Widura. Pertentangan kita sama sekali tidak menguntungkan siapa pun juga, selain laskar Tohpati”

Sidanti kembali menggigit bibirnya. Ia merasakan kebenaran kata-katannya Sedayu. Karena itu maka ia berdiam diri untuk beberapa saat. Dan kembali suasana yang tegang itu menjadi diam. Kemudian kediaman itu dipecahkan oleh sebuah suara nyaring di sudut rumah, “Siapa yang ribut?”

Dan muncullah seorang anak muda yang gemuk pendek. Swandaru. Ia berhenti ketika dilihatnya Sidanti dalam kesiapan, Sedayu yang seakan-akan masih tenang-tenang saja dan adiknya Sekar Mirah.

“Apa yang terjadi Mirah?” bertanya anak itu.

“Kakang Sidanti memaksa aku untuk menuruti kehendaknya” jawabnya. Sidanti terkejut mendengar jawaban itu. Sedayu pun terkejut pula. Dan terdengar gadis itu meneruskan, “Menurut kakang Sidanti, aku tidak boleh bergaul dengan setiap laki-laki kecuali kakang Sidanti sendiri”

“Mirah” potong Sidanti. Tetapi Sekar Mirah berkata terus, “Ia mengancamku. Nah, apakah haknya?”

Swandaru memandang Sidanti dengan tajamnya. Telah lama tertanam bibit-bibit ketidak-senangannya terhadap anak muda itu. Karena itu ia berkata acuh tak acuh, “Jangan hiraukan Mirah. Anggaplah kata-katanya seperti angin malam. Gemerisik dan lenyap bersama embun pagi”

Sidanti adalah anak muda yang masih berdarah panas. Kata-katanya itu benar-benar menyakitkan hatinya. Karena itu tiba-tiba saja ia meloncat dan menampar mulut Swandaru seperti pernah dilakukannya. Swandaru terkejut, namun ia tidak mampu untuk menghindar. Terasa sebuah sengatan yang dahsyat dipipinya sehingga ia tersentak mundur. Namun Swandaru itu tidak berhasil mempertahankan keseimbangan tubuhnya, sehingga ia terbanting jatuh, bersamaan dengan pekik adiknya Sekar Mirah. “Kakang Swandaru!” teriaknya.

Swandaru berguling beberapa kali. Kemudian dengan susah payah ia duduk. Dirasakannya kepalanya pening dan ketika ia mengusap mulutnya, tampaklah tangannya menjadi merah. Darah.

Sekar Mirah memandang Sidanti seperti memandang hantu. Betapa gadis itu menjadi marah sehingga mulutnya bergetar. Namun yang dapat diucapkannya hanyalah, “Kau setan, Sidanti”

Pekik Sekar Mirah ternyata didengar oleh beberapa orang yang sedang terkantuk-kantuk di pendapa. Beberapa orang berlari-larian ke belakang rumah. Mereka tertegun ketika melihat Swandaru masih duduk di tanah dan dari mulutnya mengalir darah, di antara mereka berdiri dengan dada yang bergolak pepmimpin laskar di Sangkal Putung itu. Widura. Dengan tajam Widura memandang satu demi satu setiap orang yang berdiri di belakang rumah itu. Sidanti, Sedayu dan Swandaru. Katanya di dalam hati, “Celaka. Swandaru terlibat pula”

Sidanti masih berdiri seperti tonggak. Kaki-kainya yang kokoh seakan-akan jauh menghunjam kedalam bumi. Dengan wajah yang tegang ia berdiri menunggu apa pun yang akan terjadi. Namun ia sudah terlanjur mengayunkan tangannya. Dengan demikian segala akibat yang akan imbul pasti akan dihadapinya.

Dalam ketegangan itu terdengarlah Widura menggeram, “Apakah yang terjadi di sini Sidanti?”

Sidanti tidak segera menjawab. Sesaat matanya menyambar Agung Sedayu dan kemudian Sekar Mirah.

Beberapa orang yang berdiri memagari mereka pun segera dapat menebak, apa yang sudah terjadi. Hudaya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menyipitkan matanya, sedang Citra Gati dengan penuh perhatian menatap wajah Sidanti.

Ketika beberapa saat Sidanti tidak menjawab, maka kembali Widura bertanya, kali ini kepada Agung Sedayu, “Apa yang terjadi Sedayu?”

Agung Sedayu menundukkan wajahnya, mulutnya pun seperti terkunci. Karena itu Agung Sedayu juga tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Yang terdengar kemudian adalah kata-katanya Swandaru, “Yang aku ketahui paman, mulutku berdarah dan kepalaku serasa hampir terlepas”

Widura berpaling ke arah Swandaru yang masih terduduk di tanah, “Berdirilah Swandaru” berkata Widura.

Dengan susah- payah anak muda itu berdiri. Beberapa orang berusaha untuk menolongnya dan menghapus darah yang masih juga meleleh dari mulutnya. Ketika Swandaru telah berdiri meskipun belum tegak benar, ia mencoba memandang setiap wajah yang ada di sekitarnya. Namun ayahnya tidak nampak. Meskipun demikian ia berkata terus, “Tangan kakang Sidanti benar-benar seberat timah”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kembali ditatapnya mata Sidanti, sehingga dengan nanar Sidanti terpaksa melemparkan pandangan matanya jauh-jauh.

“Kenapa kau sakiti dia Sidanti?”

“Anak itu mendahului kakang” sahut Sidanti

“Ah” Widura berdesah, “Benarkah demikian?” katanya kepada Swandaru.

“Hem” Swandaru menarik nafas. “Ada dua orang saksi di sini. Sekar Mirah dan Agung Sedayu”

Sidanti menelan ludahnya. Terasa dadanya menjadi berdebar-debar. Dan didengarnya kembali Widura bertanya, “Sidanti, apakah sebenarnya yang terjadi?”

Sidanti kini tidak ingin bersembunyi dibalakang berbagai alasan yang berbelit-belit. Maka jawabnya dengan dada tengadah, “Yang terjadi adalah persoalan antara aku dan adi Agung Sedayu. Persoalan antara anak-anak muda. Karena itu sama sekali tidak bersangkut paut dengan kelaskaran Pajang di Sangkal Putung”

Jawaban itu benar-benar tak diduga oleh Widura dan oleh siapapun. Sidanti mencoba meletakkan persoalan ini diluar campur tangan pihak-pihak lain. Karena itu maka Widura pun menjadi berdebar-debar pula. Katanya, “Aku adalah pemimpin laskar Pajang di Sangkal Putung. Aku akan bertanggung jawab terhadap setiap peristiwa yang terjadi di sini. Apalagi di antara anak buahku sendiri”

“Tetapi apabila persoalan itu menyangkut persoalan kelaskaran” bantah Sidanti. “Persoalanku adalah persoalan seorang dengan seorang tanpa ada sangkut pautnya dengan kepemimpinan kakang di sini”

Dahi Widura pun menjadi berkerut karenanya. Perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia adalah seorang pemimpin. Karena itu ia harus tetap memiliki wibawa atas anak buahnya. Sehingga kemudian ia bertanya, “Lalu apakah kehendakmu?”

“Biarlah kami menyelesaikan persoalan kami sebagai laki-laki” jawabnya.

Jawaban itu sangat mendebarkan hati. Apalagi Agung Sedayu. Dengan sudut matanya ia memandang wajah pamannya. Namun kemudian wajahnya itu pun ditundukkannya kembali.

Widura menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia berkata, “Ada hakku untuk berbuat atas kalian. Terutama atas Agung Sedayu. Dia tamuku di sini, dan kedua ia adalah keponakanku. Aku melarang dia membuat keonaran di sini”

Terasa sesuatu berdesir di dada Agung Sedayu. Ia sadar bahwa pamannya berusaha membebaskannya dari pertentangan ini. Karena itu tiba-tiba ia mengangkat wajahnya, namun hanya sesaat, dan wajah itu menunduk kembali.

Beberapa orang menjadi kecewa karenanya. Terutama Sekar Mirah sendiri. Hudaya yang berdiri di samping Citra Gati berbisik, “Ah, kakang Widura terlalu memanjakan Sidanti yang sombong itu, sehingga kemenakannya sendiri dikorbankannya. Aku ingin melihat sekali-sekali Sidanti itu dihajar orang. Bukankah ini suatu kesempatan yang baik. Lihatlah betapa kecewa angger Sedayu mendengar keputusan pamannya. Untunglah ia anak yang patuh, sehingga keputusan itu betapa pun beratnya, agaknya akan diterimanya juga”

Mulut Citra Gati berkomat-kamit. Dari matanya menancarlah perasaan muaknya melihat kesombongan Sidanti, sehingga dengan pimpinannya pun ia telah berani membantah.

Sedang Swandaru dengan wajah yang masam memandang Widura dari ujung kaki keujung kepalanya. Apakah mulutnya dibiarkan berdarah, dan Sidanti dibiarkannya begitu saja. Ia memang berharap, Sedayu turun tangan karena peristiwa itu. Ia mengharap bahwa apabila Sidanti marah, maka Agung Sedayu pun akan marah pula. Namun tiba-tiba pamannya mengambil keputusan yang tak diharapkan.

Sesaat kemudian mereka dicengkam oleh ketegangan. Bukan saja orang-orang di sekitar Sidanti menjadi kecewa, namun Sidanti sendiri tidak kalah kecewanya. Sebagai seorang anak muda yang merasa dirinya mumpuni, Sidanti benar-benar ingin memperlihatkan kemampuannya. Ia yakin, bahwa betapa pun kuatnya Agung Sedayu namun ia pasti akan dapat bertahan. Bahkan terhadap Untara sekalipun. Karena itu, betapa ia menyesal, namun ketika ia akan menyatakan sesalnya, didengarnya Widura berkata, “Aku perintahkan kalian kembali ke pendapa”

Sidanti memandang Widura dengan mata yang gelisah. Katanya, “Biarlah aku di sini”

“Kau dengar perintahku” ulang Widura.

Sidanti masih berdiri di tempatnya. Beberapa orang yang sudah mulai bergerak pun tiba-tiba berhenti dan memandang anak muda itu dengan hati yang tegang.

Ketika Sidanti tidak beranjak dari tempatnya, terdengar kembali Widura berkata, “Sidanti, aku perintahkan kau kembali ke pendapa”

“Aku di sini” jawabnya.

Widura  pun menjadi marah karenanya. Ia sadar bahwa Sidanti merasa bahwa kesaktiannya telah bertambah-tambah karena kehadiran gurunya yang menempanya. Namun Widura adalah pemimpin yang sadar akan kedudukannya. Karena itu, selangkah ia maju sambil berkata lantang, “Sidanti, untuk terakhir kalinya aku memberikan peringatanku. Kalau tidak, maka aku akan melakukan kekuasaan yang ada padaku. Tinggalkan tempat ini, dan pergi ke pendapa”

Tubuh Sidanti pun bergetar karena marah. Ia tahu benar bahwa Widura tidak lebih dari padanya, sehingga apabila Widura itu menyerangnya, maka ia tidak yakin bahwa ia tidak akan melawannya. “Setidak-tidaknya aku akan dapat menyamainya. Bahkan mungkin melampauinya” katanya di dalam hatinya. Namun ketika ia melihat beberapa wajah yang keras dan kasar berdiri di sekitarnya, Hudaya, Citra Gati, Sendawa laki-laki bertubuh raksasa bermata satu, Sonya yang mempunyai ciri dipelipis dan dahinya, Patra bungkik dan beberapa orang lagi. Meskipun Sidanti tidak gentar berhadapan dengan setiap orang yang berdiri disitu, namun kalau mereka maju bersama-sama dengan Widura untuk menangkapnya, maka ia pasti akan mengalami kesulitan. Karena itu ketika terpandang sekali lagi mata Widura yang menyala, Sidanti pun kemudian perlahan-lahan menggerakkan kakinya. Selangkah demi selangkah, namun perlahan sekali, ia meninggalkan tempat itu pergi ke pendapa.

Ketegangan pun kemudian mereda. Sekali lagi Widura memandang setiap wajah yang ada di sekitarnya. Kemudian terdengar kembali perintahnya, “Kembali ke pendapa”

Setiap orang yang berada di tempat itu pun kemudian berangsur-angsur pergi. Terdengarlah gumam yang simpang siur di antara mereka. Sedang yang tinggal kemudian adalah Sedayu, Sekar Mirah dan swandaru. Perlahan-lahan Widura meraba pipi swandaru, diamat-amatinya noda yang merah kebiru-biruan dipipi itu, “Tangan anak itu benar-benar luar biasa” katanya di dalam hati.

“Masuklah Swandaru” berkata Widura. “Katakanlah kepadaku nanti apabila ayah datang. Aku akan minta maaf kepadanya”

Swandaru tersenyum meskipun masam, “Kenapa paman minta maaf kepada ayah?”

“Aku menyesal bahwa salah seorang anak buahku, yang seharusnya melindungi rakyat Sangkal Putung, bahkan telah menyakiti hati mereka. Bukankah kau pemimpin dari anak-anak muda di sini? Karena itu maka aku harus minta maaf kepada rakyat Sangkal Putung lewat ayahmu” sahut Widura.

Swandaru mengangguk-angguk. Pipinya masih terasa sakit. Dan sakit itu tidak akan sembuh hanya oleh permintaan maaf saja. Apalagi sakit hatinya. Namun meskipun demikian, dihargainya juga sikap Widura yang jujur itu.

Swandaru dan Sekar Mirah pun kemudian masuk ke rumahnya lewat pintu belakang dengan hati kecewa. Bagaimanapun juga Swandaru tidak dapat melupakan hinaan yang telah dua kali dialaminya. Karena itu tiba-tiba ia menggeram di dalam hatinya, “Awas Sidanti, suatu ketika aku harus membunuhmu. Swandaru bukan cacing yang lemah, tetapi Swandaru, Swandaru Geni, adalah sorang anak jantan”

Sedayu pun kemudian mengikuti pamannya ke pringgitan. Di pringgitan ia duduk saja sambil menekurkan kepalanya. ketika pamannya kemudian duduk di hadapannya, hatinya menjadi berdebar-debar.

“Sedayu” berkata pamannya, “Nah, peristiwa itu sekarang sudah terjadi. Apa katamu?”

Agung Sedayu hanya dapat menundukkan wajahnya. Apalagi ketika pamannya itu berkata pula, “Bukankah aku pernah memberimu peringatan?”

“Aku sudah mencoba melakukannya paman” sahut Sedayu perlahan-lahan. “Tetapi apabila aku pergi ke sumur atau ke belakang untuk keperluan lain, kadang-kadang aku masih berjumpa dengan gadis itu”

“Aku tidak keberatan apa pun yang kau lakukan Sedayu, asalkan kau dapat mempertanggung-jawabkannya. Aku berbesar hati melihat ketekunanmu berlatih hampir setiap malam. Aku berbesar hati melihat kemajuan-kemajuan yang kau capai. Namun hatimu yang kerdil itu masih sekerdil itu pula. Apalagi berhadapan dengan Sidanti. Karena itu Sedayu, kali ini adalah kali terakhir aku mencampuri persoalanmu. Seterusnya, kau sudah cukup besar untuk menjaga dirimu sendiri”

Wajah Sedayu menjadi semakin tunduk. Hampir ia menangis mendengar kata-kata pamannya. Ia kini telah benar-benar kehilangan pegangan. Kakaknya masih belum diketemukan, dan pamannya seolah-olah tak mau lagi melindunginya. “Oh” Sedayu mengeluh di dalam hati.

“Sedayu” berkata pamannya, “Bagaimanakah kalau kau aku antar saja pulang ke Jati Anom?”

Agung Sedayu menggeleng. Ia tidak berani tinggal seorang diri di sana, “Atau ke Banyu Asri?” kata pamannya pula.

Di Banyu Asri  pun keadaannya sama sekali tidak menyenangkan. Orang-orang Jipang yang berpencaran dapat saja menemukannya di Banyu Asri. Alap-alap Jalatunda yang berkeliaran itu, misalnya, sebab Alap-alap Jalatunda itu kini sudah terlanjur mengenalnya, tidak seperti dahulu lagi, sebelum ia pernah bertemu dengan Alap-alap Jalatunda yang mengerikan itu.

“Biarlah aku di sini paman. Aku berjanji tidak akan keluar dari pringgitan sebelum malam”

“Oh” Widura mengeluh. “Terlalu, terlalu” gumamnya. Ia telah benar-benar menjadi jengkel. Dan karena itu, maka mulutnya malahan terbungkam karenanya.

Di pendapa Sidanti masih duduk di sudut di atas tikar pembaringannya. Hatinya menyala oleh kemarahan yang memuncak. Tanpa disadarinya, dibelainya senjatanya yang mengerikan. Beberapa orang yang melihatnya menjadi berdebar-debar karenanya, dan tanpa sadar pula, mereka duduk-duduk di samping senjata masing-masing.

Tiba-tiba ketika Sidanti itu melihat Widura melangkah keluar, ia berdiri pula. diletakkannya senjatanya, dan dengan tergesa-gesa ia menyusulnya.

“Kakang” panggil Sidanti. Widura terkejut, karena itu ia pun segera berhenti.

Tampaklah dahi Widura itu berkerut, ketika dilihatnya Sidanti dengan tergesa-gesa pergi mendapatkannya. Bukan saja Widura yang menjadi tegang, namun beberapa orang yang melihatnya pun tanpa sesadar mereka, serentak berdiri tegak di tempat masing-masing.

Sidanti pun melihat semuanya itu. Karena itu maka kini dapat diketahuinya, bagaimana sikap orang-orang dalam lingkungannya kepadanya. Meskipun demikian Sidanti sama sekali tidak berkecil hati.

Ketika Sidanti sudah berdiri beberapa langkah di hadapannya, Widura bertanya, “Apakah ada sesuatu yang penting?”

“Ya kakang” jawab Sidanti. “Aku ingin mengatakan sesuatu kepada kakang Widura tanpa didengar oleh seorangpun”

“Katakanlah” sahut Widura.

Sidanti beragu sebentar, sehingga tiba-tiba wajahnya beredar kesegala sudut halaman dan pendapa rumah kademangan itu.

“Kalau kau tidak berteriak-teriak maka mereka tidak akan mendengar” berkata Widura.

Sidanti menarik alisnya tinggi-tinggi. Kemudian tampaklah ia tersenyum. Namun senyum itu terasa aneh bagi Widura.

“Kakang” berkata Sidanti perlahan-lahan sambil melangkah mendekati Widura. “Aku ingin mengatakan sesuatu. Tetapi tidak di sini.”

“Berkatalah sekarang” sahut Widura.

Sidanti menarik nafas. Sekali lagi ia memandang berkeliling. Ditangga pendapa ia melihat beberapa orang berdiri berjajar-jajar, dan beberapa orang di antaranya duduk dengan gelisah. Di regol pun dilihatnya beberapa orang penjaga dengan tombak di tangan mereka.

“Baiklah kakang” berkata Sidanti, “Aku hanya akan minta ijin kakang untuk menyelesaikan persoalanku dengan Agung Sedayu secara jantan, supaya persoalan ini tidak berlarut-larut dan menjadi semakin dalam menghunjam di dalam dadaku”

Widura terkejut mendengar permintaan itu. Ternyata Sindanti sama sekali tidak dapat menekan perasaannya. Karena itu untuk sesaat Widura tidak segera dapat menjawab. Bahkan Sidanti sempat berkata terus, “Aku bersedia memenuhi syarat apa pun yang akan diberikan kepada kami berdua. Tanding tanpa atau dengan saksi, tanpa atau dengan senjata”

Wajah Widura tiba-tiba menjadi tegang. Terdengar ia menggeram, kemudian katanya, “Tidak. Aku tidak memberimu ijin. Juga Agung Sedayu tidak akan aku ijinkan”

Sidanti menjadi kecewa. Namun ia masih berkata terus, “Kakang, agaknya kurang bijaksana. Apakah kakang ingin dendam kami masing-masing membakar dada kami, sehingga kelak apabila terdapat kesempatan, maka kami akan bertempur tanpa pengendalian diri? Kini kami masih cukup sadar, bahwa perkelahian yang akan diadakan ini adalah perkelahian antara kita. Hanya karena persoalan pribadi. Sehingga dengan demikian kita masih dapat membatasi diri kita sendiri untuk tidak menghancurkan laskar kita di hadapan laskar Jipang”

Sekali lagi Widura menggeleng, katanya tegas, “Tidak. Perkelahian di antara kita sama sekali tak akan menguntungkan. Apalagi bagi Agung Sedayu. Ia adalah kemenakanku. Dan aku tidak mau melihat salah seorang dalam aliran darahku yang berkelahi karena perempuan”

Wajah Sidanti tiba-tiba menjadi merah membara. Kemarahannya kini menjalar kembali di dadanya. Kata-kata Widura itu benar-benar suatu tamparan baginya.

Dan tiba-tiba pula perasaan yang tersimpan di dadanya itu kini terungkat seluruhnya. Betapa ia memandang Widura tidak lebih daripadanya. Apalagi ia merasa benar-benar bahwa persoalan yang kini dihadapinya sama sekali bukan persoalan kelaskaran, tetapi persoalan pribadi. Karena itu kini Sidanti tidak dapat mengendalikan perasaannya lagi. Meskipun demikian ia masih berkata perlahan-lahan namun penuh dengan tekanan, “Kakang, apakah sebenarnya kakang sedang melindungi anak itu?”

Dada Widura seakan-akan meledak mendengar pertanyaan itu. Ia sadar, bahwa Sidanti hanya ingin menghina Agung Sedayu. Namun karena keadaannya memang demikian, maka Widura hampir-hampir tak dapat menjawab pertanyaan itu. Meskipun demikian ia berkata, “Jangan mengigau Sidanti. Kalau suatu ketika terjadi perkelahian di antara kalian, maka kalian berdua akan terpaksa mengalami hukuman”

Sidanti tersenyum. Senyum yang benar-benar menyakitkan hati. Katanya, “Hem, kakang Widura. Sebagai seorang bawahan aku menghormatimu. Namun sebagai seorang yang mempunyai kebebasan diri dalam persoalanku sendiri aku tidak dapat menerimanya”

Sekali lagi dada Widura terguncang. Wajahnya menjadi merah pula karena marah. Meskipun demikian ia masih mencoba untuk menenangkan dirinya.

Orang-orang yang melihat percakapan itu dari kejauhan menjadi heran. Mereka melihat wajah-wajah yang tegang. Namun kadang-kadang mereka melihat Sidanti tersenyum-senyum seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Karena itu mereka menebak-nebak apakah yang mereka bicarakan. Apakah Sidanti sedang minta maaf kepada Widura?

Namun mereka tidak mendengar ketika Widura berkata, “Aku mempunyai kekuasaan di sini Sidanti”

Sidanti masih tersenyum. Katanya, “Kakang Widura ternyata telah menyalahgunakan kekuasaan itu untuk keuntungan pribadi”

Dada Widura benar-benar hampir pecah karenanya. Ia harus mempertahankan kewibawaannya sebagai seorang pemimpin. Maka katanya, “Tanpa kekuasaan pun aku dapat memaksamu Sidanti”

Sidanti mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia pun berkata, “Kakang, aku ingin berbicara tanpa seorang pun yang melihat”

“Bagus” berkata Widura. Ia benar-benar telah menangkap tantangan itu. Karena itu ia harus menerimanya apabila ia masih ingin dinamai seorang pemimpin. Maka katanya seterusnya, “Nanti malam kita bisa bertemu tanpa seorang pun yang melihat pertemuan itu”

Dada Sidanti pun bergetar semakin cepat. Ia sudah menjerumuskan diri kedalam persoalan yang lebih berat. Namun ia yakin, bahwa ia akan dapat mengatasi semua persoalan itu.

Maka kemudian Sidanti itu pun mengangguk hormat, lalu pergi meninggalkan Widura yang masih tegak dengan tegangnya. Dilihatnya anak muda yang terlalu yakin akan dirinya itu, berjalan ke pendapa, kemudian naik dengan langkah yang tetap.

Widura menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dipandanginya keadaan di sekitarnya. Dilihatnya anak buahnya berdiri berjajar di samping pendapa, sedang di regol halaman dilihatnya beberapa orang yang sedang bertugas tegak dengan tombak di tangan.

“Apa pun yang terjadi” katanya di dalam hati, “Mereka harus menganggap aku sebagai seorang laki-laki yang berani menghadapi setiap keadaan dibawah kekuasaanku. Kalau aku hindari tantangan Sidanti, mereka akan kehilangan kepercayaan, dan aku akan kehilangan kewibawaan”

“Tetapi” terdengar pula suara yang lain, “Bagaimanakah kalau aku dapat dikalahkan?”

“Menang atau kalah bukan soal” jawabnya sendiri, “Aku harus tetap pada keputusanku, keputusan seorang pimpinan prajurit”

Sesaat kemudian Widura itu pun melangkah kembali keregol halaman. Kemudian kepada para penjaga ia bertanya, “Adalah kalian melihat Ki Demang sudah datang?”

“Belum tuan” jawab salah seorang dari mereka. “Malahan Swandaru juga keluar halaman”

“Kemana?”

“Tak dikatakan kepada kami”

Widura menjadi berdebar-debar karenanya. Ia ingin menyampaikan sendiri kabar tentang persoalan antara Swandaru dan Sidanti, untuk kemudian minta maaf kepadanya. Kalau Swandaru sendiri yang mengatakannya, maka Ki Demang akan dapat menjadi salah paham. Apalagi kalau kemudian kawan-kawan Swandaru menjadi marah. Maka akibatnya akan menyulitkannya.

Tetapi, di samping itu tantangan Sidanti juga menggelisahkannya. Ia tidak takut menghadapi apapun, namun sebagai seorang pemimpin ia mempunyai tanggung jawab yang luas.

Bahkan kemudian Widura itu mengumpat di dalam hatinya. “Alangkah bodohnya Agung Sedayu. Ia telah membuat Sangkal Putung menjadi berantakan setelah ia berhasil menyelamatkannya. Kalau anak itu bukan saja seorang pengecut, maka kepalaku tidak menjadi pecah dibuatnya”

Ketika Widura melangkah kembali ke pendapa, terasa seseorang menggamitnya. Orang itu adalah Citra Gati. Dengan wajah yang bersungguh-sungguh ia berbisik, “Apakah yang dikatakan Sidanti itu kakang?”

Widura memandangnya bersungguh-sungguh pula. Namun kemudian ia tersenyum, “Tidak apa-apa” jawabnya.

Citra Gati menggeleng. Katanya, “Aku melihat sesuatu yang tidak wajar kakang. Jangan biarkan kami menebak-nebak, supaya kami tidak semakin muak melihat anak Ki Tambak Wedi yang sombong itu”

“Tenaganya kita perlukan di sini” sahut Widura.

Citra Gati mengangguk-anggukkan kepalanya. Dirasakannya, apa yang dikatakan Widura itu benar. Namun apakah dengan demikian anak muda itu wenang untuk berbuat sesuka hatinya? Karena itu ia bertanya, “Tetapi kakang, aku melihat tingkah lakunya semakin lama semakin tidak menyenangkan”

“Aku akan mencoba untuk mengatasinya” jawab Widura

“Mudah-mudahan kakang berhasil” gumam Citra Gati, “Kalau perlu, kakang dapat minta bantuan kami. Bukankah itu juga termasuk kewajiban kami?”

Widura mengerutkan keningnya. Katanya, “Jangan. Dengan demikian dendam di antara kalian akan semakin menyala. Kewajiban kita masih banyak. Tohpati masih ada di muka hidung kita. Alap-alap Jalatunda dan Plasa Ireng yang berkeliaran di daerah Pakuwon dan Karajan. Mungkin masih banyak lagi orang-orang yang bersembunyi di sana-sini. Suatu ketika mereka akan berhimpun. Dan itu adalah pekerjaan yang berat”

Citra Gati menarik nafas dalam-dalam. Ia kagum kepada anak muda yang bernama Sidanti itu, namun ia membencinya. Meskipun di dalam hatinya ia mengakui, bahwa seorang lawan seorang ia tak akan dapat mengalahkan Sidanti yang hampir dapat mencapai tataran Macan Kepatihan, namun ia tidak senang melihat anak itu dibiarkan sesuka hatinya.

“Kakang” tiba-tiba terdengar Citra Gati berkata pula, “Kenapa kakang tidak membiarkan angger Agung Sedayu sekali-sekali mengajarnya untuk bersopan santun?”

Kembali dada Widura bergetar. Namun jawabnya, “Aku benci melihat perkelahian karena perempuan”

“Oh” Citra Gati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak dapat berkata apa pun lagi. Itu adalah persoalan antara paman dan kemenakannya. Karena itu maka ia pun kemudian kembali ke pendapa dan duduk di samping Sonya dan Sendawa.

“Apa katanya kakang Gati?” bertanya Sendawa setelah Citra Gati duduk di sampingnya.

“Entahlah. Terasa sesuatu dirahasiakan oleh kakang Widura” jawab Citra Gati.

Sendawa, yang matanya cacat sebelah itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tangannya masih sibuk menggosok-gosok senjatanya, sebuah kelewang yang besar dan tebal, sesuai dengan bentuk tubuhnya yang tinggi besar.

Kemudian mereka tenggelam dalam kesenyapan. Angan-angan mereka masing-masing terbang bersama awan di langit. Sekali-sekali burung elang terbang melingkar-lingkar di udara, mencari mangsanya. Namun induk-induk ayam dengan bulu-bulunya yang tebal, segera menyelimuti anak-anaknya yang ketakutan.

Widura  pun kemudian kembali ke pringgitan. Dilihatnya Agung Sedayu duduk terpekur. Dan tiba-tiba saja timbullah perasaan jemu melihat anak itu. Namun ia adalah kemenakannya. Dan ia datang untuk keselamatannya. Karena itu, maka yang dapat dilakukan oleh Widura adalah mengumpat-umpat saja di dalam hati.

Matahari pun semakin lama semakin condong kebarat. Dan Widura tidak melupakan janjinya. Malam nanti.

Dan akhirnya malam itu datang. Ketika pringgitan itu mulai dinyalakan lampu, Widura melihat Demang Sangkal Putung masuk kedalamnya.

“Silakan kakang” sambut Widura.

Ki Demang dengan lelahnya duduk di samping Agung Sedayu yang duduk terpekur. Sejengkal ia menggeser diri, dan terdengar ia berkata lirih, “Marilah Bapak Demang”

“Silakan, silakan ngger” jawab demang Sangkal Putung itu. “Ah, aku baru saja melihat-lihat apakah sawah kita masih sempat ditanami”

“Oh” sahut Widura sambil duduk pula, “Bagaimana keadaannya?”

“Baik” jawab ki Demang.

“Aku mencari ki Demang sejak siang tadi” berkata Widura.

“Ya ya. Aku mendengar dari Swandaru. Aku mendengar pula apa yang telah terjadi. Aku menyesal”

“Kami harus minta maaf kepada kakang” berkata Widura.

“Aku juga. Bukankah Sekar Mirah itu anakku? Anak itu memang seharusnya mendapat peringatan”

Wajah Sedayu menjadi semakin tunduk. Ia sama sekali tidak berani ikut serta dalam pembicaraan itu.

Kemudian terdengar Ki Demang meneruskan, “Dan itu sudah aku lakukan. mudah-mudahan hal yang tak diharapkan ini tidak terulang kembali”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Untunglah demang Sangkal Putung itu sudah cukup usianya untuk dapat memandang setiap persoalan dengan tenang. Karena itu, maka keadaan Widura tidak menjadi bertambah parah lagi.

“Mudah-mudahan” berkata Widura kemudian. “Mudah-mudahan aku akan berhasil menguasai anak buahku”

Ki Demang tersenyum. Namun kemudian ia berkata, “Ah sudahlah, aku ingin bicara masalah lain”

“Apakah itu?” bertanya Widura.

“Aku melihat kejemuan di antara anak-anak kita. Bukankah begitu?”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya” jawabnya. “Terasa benar kejemuan itu. Dan karena itu pulalah maka sering terjadi hal-hal yang sama sekali tak diharapkan. Anak-anak itu kadang-kadang membuat hal-hal yang aneh yang kadang-kadang berbahaya”

“Tepat” sahut ki Demang. “Jangankan anak-anak adi Widura, anak-anak muda Sangkal Putung yang hidup diatara keluarganya pun menjadi jemu oleh ketegangan ini. Nah, aku ada pendapat, kalau adi menyetujui”

“Bagaimana?”

Anak-anak muda Sangkal Putung akan mengadakan perlombaan ketangkasan”

“Bagus” sahut Widura dengan serta-merta. “Ketegangan mereka akan tersalur. Biarlah anak-anakku juga mengadakannya”

Ki Demang tersenyum. “Nah, kita tinggal membicarakan kapan dan perlombaan apa?”

“Baik kakang” jawab Widura. “Biarlah nanti anak-anak menentukan sendiri”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Rencana itu adalah rencana yang baik sekali baginya. Tidak saja untuk menyalurkan ketegangan yang menghimpit mereka terus-menerus, namun juga untuk memberikan petunjuk-petunjuk bagi anak-anak muda Sangkal Putung untuk lebih maju dalam olah senjata. Dan lebih dari itu, permainan yang demikian akan dapat memberi mereka kegembiraan.

“Baiklah” berkata ki Demang itu kemudian, “Biarlah anak-anak membicarakannya. Kini aku ingin beristirahat”

Ki Demang itu pun kemudian berdiri dan berjalan keluar. Widura yang mengantarkannya sampai kepintu, melihat anak-anaknya sudah berbaring di tempat masing-masing. Tetapi ketika pandangan matanya hinggap di sudut pendapa, tempat Sidanti, hatinya menjadi berdebar-debar. Tempat itu ternyata kosong.

“Anak itu belum berada di tempatnya” gumamnya. Namun ia tidak berkata sepatah katapun.

Ketika ki Demang telah turun kehalaman, segera Widura masuk kembali ke pringgitan. Dibenahinya pakaiannya, dikeraskannya ikat pinggangnya dan kemudian disangkutkannya pedangnya di lambungnya. Ia kini sudah benar-benar siap, apa pun yang akan terjadi atasnya malam nanti dalam kedudukannya sebagai pimpinan pasukan Pajang di Sangkal Putung. Ia masih akan berusaha menguasai Sidanti seorang diri. Janjinya untuk bertemu Sidanti tanpa diketahui oleh siapa pun benar-benar akan dipenuhi.

Demikianlah ketika Widura telah siap benar, berkatalah ia kepada Agung Sedayu, “Kau tinggal di rumah kali ini Sedayu. Aku akan pergi seorang diri”

Dada Agung Sedayu berdebar-debar. Justru baru siang tadi terjadi peristiwa yang mengusutkan hatinya. Karena itu ia bertanya, “Kenapa aku tidak ikut serta paman?”

“Tidak apa-apa. Kau tinggal di rumah” Widura tidak menunggu jawaban Agung Sedayu. Segera ia melangkah keluar. Katanya dalam hati, “Biarlah anak itu aku tunggu di regol halaman”

Demikian Widura meninggalkan pringgitan, demikian hati Agung Sedayu kembali keriput. Tiba-tiba saja terasa dadanya menjadi sesak oleh kecemasan yang menghentak-hentak. “Apakah paman sengaja membiarkan Sidanti membunuhku?” katanya di dalam hati. Dan tiba-tiba saja timbullah keinginan yang aneh, “Ah, apabila demikian, biarlah lebih baik aku ikut saja kepada Kiai Gringsing”. Namun kembali timbul ragunya, “Jangan-jangan Kiai Gringsing benar-benar menganggapnya seorang yang sakti. Dengan demikian pada suatu kali ia harus berhadapan pula dengan seorang lawan apa pun alasannya”

Tiba-tiba Sedayu hampir pingsan ketika didengarnya pintu berderit dan dilihatnya kepala Sidanti terjulur masuk. Tetapi anak muda itu tidak meloncat masuk dan memukulnya. Dengan tersenyum ia bertanya, “Dimanakah kakang Widura?”

“Di luar” jawabnya singkat, tetapi terdengar suaranya bergetar.

Tiba-tiba pandangan mata Sidanti itu menjadi aneh. Ditatapnya tiap sudut ruangan. Dan kembali ia bertanya, “Kakang Widura tidak di sini?”

Sedayu menggeleng, dan dadanya menjadi semakin bergetar. Sidanti masih saja menjulurkan kepalanya sambil tersenyum. Kemudian tiba-tiba saja ia melangkah masuk. Ditatapnya wajah Agung Sedayu dengan nyala dendam di matanya. Kemudian terdengarlah Sidanti berkata, “Sayang, kakang Widura tidak mengijinkan kita menyelesaikan masalah kita sendiri”

Betapa pun dada Sedayu bergetar, namun dengan sekuat tenaga masih dicobanya untuk tidak berkesan di wajahnya. Dengan tergagap ia menjawab, “Demikianlah”

“Tetapi bukankah kita bisa menempuh jalan lain?” berkata Sidanti pula, “Kita tidak usah minta ijin kepada kakang Widura”

Tetapi Sidanti terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar suara Widura diluar pintu, “Sidanti, aku menunggumu di sini”

“Oh” sahut Sidanti, “Aku sedang mencari kakang”

“Marilah Sidanti, biarkan Sedayu di tempatnya. Jangan mencoba melanggar perintahku”

Sidanti menarik alisnya. Tampaklah wajahnya menjadi tidak senang. Namun ia tidak menjawab. Dengan tergesa-gesa ia melangkah keluar sambil menggeram, “Baik kakang Widura”. Tetapi kemarahannya kepada Widura semakan membakar dadanya.

“Aku akan memenuhi permintaanmu” berkata Widura kemudian.

Sidanti tersenyum, “Terima kasih” sahutnya.

“Kita pergi sekarang” Widura meneruskan. “Aku masih akan melihat gardu-gardu peronda lebih dahulu”

Sidanti tidak menjawab. Namun ia melangkah kesudut pendapa. Dari dinding di atas pembaringannya diraihnya senjatanya yang menyeramkan itu. Kemudian katanya kepada Widura, “Marilah kakang”

Widura tidak menjawab. Langsung ia melangkah menuruni pendapa, sedang Sidanti berjalan di belakangnya. Di regol halaman Widura berhenti sejenak. Kepada salah seorang penjaga ia berkata, “Aku akan nganglang kademangan. Lakukan tugasmu baik-baik”

“Baik tuan” jawab penjaga itu. Namun matanya memancarkan keheranannya. Biasanya Widura pergi hampir setiap malam dengan Agung Sedayu, namun kini ia pergi bersama Sidanti.

Mereka mencoba meraba-raba apakah sebabnya. Tetapi tak seorang pun di antara mereka yang berani bertanya.

Sepeninggal Widura dan Sidanti, perlahan-lahan Hudaya berjalan keregol itu pula. Gumamnya, “Aneh”

“Apa yang aneh kakang?” bertanya salah seorang penjaga.

“Aku tidak bisa mengerti, apakah sebenarnya yang memukau kakang Widura. Anak muda yang sombong itu seakan-akan tak pernah berbuat salah di hadapan kakang Widura. Kalau aku menjadi kakang Widura, aku biarkan kemenakannya, angger Agung Sedayu sekali-sekali menghajarnya. Namun agaknya angger Sedayu lah yang dianggap bermasalah. Lihat, kini anak yang sombong itulah yang dibawanya”

“Aku pun tak mengerti” sahut Sendawa yang berada di tempat itu pula. “Siang tadi aku melihat Sidanti bercakap-cakap di halaman dengan kakang Widura. Aku tidak tahu, apakah Sidanti itu sedang minta maaf kepada kakang Widura. Tetapi dengan tidak dibawanya Sedayu kali ini benar-benar mengherankan. Tetapi aku mempunyai beberapa prasangka”

Semua orang berpaling kepadanya, “apakah prasangka itu?” bertanya Hudaya

“Terlalu kabur” jawab Sendawa, “Tetapi prasangka yang jelek”

Semua yang mendengar kata-katanya itu menjadi semakin terpaku. Dan terdengar orang yang bertubuh raksasa itu meneruskan, “Kakang Widura agaknya segan juga terhadap Sidanti”

“Janganlah berkata begitu” sahut salah seorang diataranya. “Bukankah ki Widura itu telah berkata, menurut kakang Citra Gati, bahwa tenaga Sidanti itu sangat diperlukan di sini? Ialah satu-satunya orang di samping ki Widura, yang setidak-tidaknya dapat menahan arus kemarahan Macan Kepatihan di antara kita”

Sendawa terdiam. Namun di dalam hatinya, ia membenarkan pula pendapat itu. Tetapi sikap Sidanti benar-benar telah memuakkan pula. Sedemikian muaknya sehingga tanpa disengajanya ia bergumam, “Anak muda itu benar-benar anak setan”

“Siapa?” bertanya Hudaya.

“Sidanti, siapa lagi?”

“Kenapa tidak kau tantang saja berkelahi?” bertanya salah seorang sambil tersenyum.

“Tak ada sebabnya” jawab Sendawa

“Gampang. Kalau sekali-sekali kau tangkap gadis anak Ki Demang itu, kau pasti akan berkelahi dengan Sidanti”

“Belum tentu. Aku dapat juga berhadapan dengan ki Demang atau anaknya yang gemuk bulat itu”

“Kau bersetuju dulu dengan mereka”

“Bagus” Sendawa berhenti sebentar, “Tetapi aku tidak berani berkelahi melawan anak kecil itu”

Yang mendengar pengakuan itu pun tersenyum geli. Sendawa sendiri tersenyum. namun hatinya mengumpat tak habis-habisnya. Seandainya ia mampu, maka Sidanti pasti sudah dihajarnya.

Regol halaman itu kemudian menjadi sepi. Hudaya kemudian melangkah kembali ke pendapa diikuti oleh Sendawa sambil menyeret kelewangnya yang besar dan tebal seperti tubuhnya. Hampir semua orang telah tertidur. Citra Gati tidur dengan gelisahnya. Sedang Patra dengan nyenyaknya mendengkur di samping Sonya.

Widura dan Sidanti masih berjalan menyusur jalan-jalan desa, singgah dari satu gardu kemudian gardu yang lain seperti setiap malam dilakukan oleh Widura. Namun kali ini nampaknya ia sangat tergesa-gesa. Beberapa orang  pun menjadi heran, hampir tidak pernah mereka melihat Sidanti meronda bersama Widura. Tetapi seperti orang-orang di regol halaman, mereka  pun tidak bertanya pula. Digardu anak-anak muda Sangkal Putung Swandaru berdiri bertolak pinggang sambil menguap di muka pintu. Tetapi cepat-cepat mulutnya terkatub ketika ia melihat Widura datang kegardu itu bersama-sama Sidanti. Tetapi Swandaru pun tidak bertanya sesuatu. Hanya matanya sajalah yang memancarkan dendam yang tersimpan di hatinya terhadap anak muda yang perkasa, murid Kiai Tambak Wedi yang namanya menakutkan segenap daerah-daerah di sekitar gunung Merapi.

Baru setelah semuanya itu selesai, berkatalah Widura, “Aku sudah selesai dengan pekerjaanku Sidanti, sekarang kau mendapat giliran”

Mendengar kata-kata Widura itu, Sidanti  pun menjadi berdebar-debar pula. Meskipun demikian ia menyimpan juga kegembiraan di dalam dadanya. Jawabnya, “Baik kakang. Kemana kita akan pergi?”

“Terserah kepadamu” jawab Widura.

“Kita pergi ke tegal” ajak Sidanti.

Widura tidak menjawab. Tetapi ketika mereka sampai disimpang tiga diluar desa induk Sangkal Putung, Widura membelok kekanan, ke tegal. Sidanti yang berjalan di sampingnya, mencoba untuk menenangkan dirinya. Meskipun gurunya sendiri telah memberitahukannya, bahwa Widura tidak lebih daripadanya, namun wibawa orang itu telah menjadikannya gelisah.

Beberapa saat mereka  pun sampai kepategalan yang luas. Di antara tanaman-tanaman buah-buahan, terdapatlah beberapa bagian tanah yang kosong. Meskipun Widura tidak bertanya sesuatu, namun timbullah dugaan dalam hati, bahwa di daerah sekitar inilah Sidanti mendapat tempaan dari gurunya. Bahkan mungkin kali ini pun gurunya ada di sekitar tempat ini. Meskipun demikian Widura sama sekali tidak gentar. Sebagai seorang pemimpin ia akan tetap pada pendiriannya. Apa pun yang akan dihadapi.

Dibawah sebatang pohon jambu mete yang besar Sidanti berhenti. Katanya, “Kita berhenti di sini kakang”

Widura  pun berhenti pula. Ditebarkannya pandangan matanya berkeliling. Dalam keremangan malam, yang dilihatnya hanyalah batang-batang pohon buah-buahan yang tegak di sekitarnya. Batang-batang yang seakan-akan berwana hitam kelam. Kemudian dengan suara yang berat Widura berkata, “Nah, apakah yang akan kau lakukan Sidanti?”

Dada Sidanti berdesir mendengar pertanyaan itu. Bagaimanapun juga Widura memiliki cukup pengaruh atas dirinya. Namun dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan diri dari pengaruh itu. Maka jawabnya, “Aku ingin minta ijin itu kakang”

“Ijin untuk berkelahi dengan Sedayu?”

“Ya”

“Sudah aku jawab”

Sidanti menarik nafas. Jawabnya, “Kakang tidak berhak melarang”

“Sidanti” berkata Widura. Sebagai seorang yang lebih tua maka segera ia pun tahu maksud Sidanti yang sebenarnya. Karena itu ia meneruskan, “Kau tidak usah melingkar-lingkar. Katakan bahwa kau tidak puas dengan keputusan itu. Namun jangan mimpi aku akan merubah keputusan itu”

“Nah” sahut Sidanti, “Sekarang aku tahu, bahwa Sedayu sebenarnya sama sekali bukan seorang pahlawan. Bukan seorang jantan. Apabila demikian, ia pasti sudah berbuat sesuatu. Tetapi ia lebih senang bersembunyi di balik punggung kakang Widura. Bukankah demikian?”

Widura memandang wajah Sidanti dengan sinar mata yang menyala. Jawabnya, “Terserah atas penilaiannmu Sidanti”

“Apakah bukan sebenarnya demikian?”

Widura tidak menjawab. Tetapi ia masih menatap wajah Sidanti dengan tajamnya. Sehingga kemudian terdengar Sidanti mengulangi, “Bukankah sebenarnya demikian?”

Widura masih tetap berdiam diri. Dan pandangannya pun masih tetap menghunjam kedalam biji mata Sidanti. Dengan demikian Sidanti menjadi semakin gelisah. Untuk menutupi kegelisahannya tiba-tiba saja ia berkata lantang, “Kakang Widura, kalau tak kau ijinkan Sedayu bertempur, siapakah yang akan mewakilinya?”

Widura sudah menyangka bahwa akhirnya Sidanti akan sampai pada saatnya, menantangnya berkelahi. Widura  pun sadar bahwa Sidanti merasa bahwa ia tidak akan dapat dikalahkannya. Karena itu maka terdengar Widura menjawab, “Sidanti, katakan sajalah apa yang tersimpan di dalam dadamu. Kau tidak puas dengan keputusanku. Sedang kau merasa sebagai orang yang tak terkalahkan di Sangkal Putung. Sekarang kau sedang mencoba memaksakan kehendakmu. Nah, dengarlah. Aku tetap pada pendirianku” Widura berhenti sejenak kemudian terdengar ia meneruskan, “Tetapi, itu bukan satu-satunya alasan yang ada di dalam hatimu. Kau juga ingin mengatakan kepadaku, bahwa kau tak akan dapat aku kalahkan, sehingga setiap persoalan aku harus mengingat kepentinganmu. Bahkan tersimpan pula di dalam otakmu, keinginan untuk memegang pimpinan, setidak-tidaknya apabila aku berhalangan”

“Bohong” potong Sidanti tiba-tiba. Tetapi ia terdiam pula ketika Widura bertanya, “Apakah aku salah duga?”

Sidanti menjadi seakan-akan terbungkam. Kegelisahannya kini benar-benar sangat mengganggunya. Meskipun kemarahannya telah memuncak namun ia masih berdiri terpaku tanpa sepatah kata pun yang dapat diucapkannya. Sehingga ia terkejut ketika Widura mendesaknya, “Jawab”

“Ya” kata itu meloncat begitu saja dari mulutnya. Namun sesaat kemudian barulah ia menyadari keadaannya. Menyadari jawaban yang sudah terlanjur meloncat dari mulutnya. Karena itu Sidanti sudah tidak akan menelannya kembali. Apalagi ketika ia mendengar Widura berkata, “Bagus. Kau memiliki kejujuran juga. Namun kau seharusnya sudah memperhitungkan jawabannya. Aku tidak dapat dipaksa oleh siapa pun juga. Juga olehmu. Nah, sekarang apa katamu?”

Kembali Sidanti terdiam untuk sesaat. Namun kemudian dipaksanya juga dirinya untuk mengambil sikap. Karena itu maka tiba-tiba ditengadahkannya dadanya sambil berkata, “Kakang Widura, kau harus merubah pendirianmu itu. Aku bukan anak-anak lagi. Tak ada orang lain yang dapat berbuat seperti yang aku lakukan. Nah, siapakah yang sudah menahan kemarahan Macan Kepatihan? Apakah yang kira-kira terjadi seandainya tidak ada Sidanti?”

“Aku akui kau berjasa kepada Sangkal Putung khususnya. Namun aku tidak dapat membenarkan, kau berbuat sekehendakmu. Betapa pun besarnya jasamu, namun kau adalah satu di antara kita yang telah menjalin diri dalam kehidupan bersama untuk kepentingan bersama”

Tiba-tiba mata Sidanti itu pun menjadi liar. Kemarahannya kini benar-benar telah membakar dadanya. Katanya, “Aku akan memaksakan kehendakku”

“Aku sudah menyangka” jawab Widura, “Dan aku sudah siap”

Tetapi Sidanti masih saja berdiri di tempatnya. Hanya bola matanya sajalah yang seakan-akan meloncat dari kelopaknya. Widura yang sudah siap itu pun menunggu apa saja yang akan dilakukan oleh anak muda yang sombong itu. Bahkan Widura masih juga berkata, “Kalau aku memberimu kesempatan kali ini Sidanti, maka kesempatan yang serupa akan berulang dan berulang kembali. Sekali aku membiarkan perintahku dilanggar maka pelanggaran itu pun akan selalu terjadi”

Sidanti benar-benar telah dibakar oleh kemarahannya. Namun ia masih berdiri saja, seolah-olah sebuah tonggak yang mati. Sehingga dengan demikian tegal itu pun menjadi sepi. Kesepian yang tegang.

Sesaat kemudian, kesepian itu dipecahkan oleh bunyi bilalang di atas dahan-dahan kayu. Dalam kesepian, terdengar suara bilalang itu demikian kerasnya sehingga Widura menjadi terkejut karena suara itu, namun Widura terkejut, karena kedewasaannya berpikir sebagai seorang prajurit. Demikian telinganya mendengar bunyi bilalang itu, demikian Widura menjadi pasti, Ki Tambak Wedi ada di sekitar tempat itu.

Demikian suara bilalang itu berhenti, terdengar Sidanti berkata, “Apakah kakang Widura tetap pada pendirianmu?”

Widura tidak menjawab, tetapi ia mengangguk.

“Bagus” berkata Sidanti lantang, “Kita lihat, apakah Sidanti tidak berhak menyamai kakang Widura di Sangkal Putung”

“Hak itu hanya dapat kau terima dari panglima tamtama Pajang, Ki Gede Pemanahan” sahut Widura.

“Omong kosong!” bentak Sidanti

Sekali lagi Widura membiarkan anak itu membentak-bentak. Tetapi dalam pada itu kegelisahan Sidanti  pun tidak juga berkurang. Maka kemudian ia berkata, “Sekarang bersiaplah kakang, aku akan memaksakan kehendakku dengan nilai-nilai seorang jantan”

“Silakan. Meskipun penilaianmu atas kejantanan terlalu kerdil” sahut Widura.

Sidanti sudah tidak dapat berbicara apa-apa lagi. Dengan gemetar ia berjalan kesebatang pohon perdu, menyangkutkan senjatanya, untuk kemudian dengan gemetar pula ia putar tubuhnya menghadapi Widura tanpa senjata di tangan.

Widura heran melihat kelakuan Sidanti. Namun kedewasaannya segera menolongnya untuk memecahkan teka-teki itu. Sidanti adalah seorang pelaku. Dibalakangnya berdiri Ki Tambak Wedi. Apa yang dilakukan oleh Sidanti itu, agaknya telah diatur oleh gurunya. Dan kali ini gurunya memerintahkannya untuk berkelahi tanpa senjata.

Widura kemudian melepaskan ikat pinggangnya. Dengan demikian pedangnya pun terlepas pula. Seperti Sidanti, Widura  pun menyangkutkan pedangnya pula didahan perdu.

Kini mereka berdua telah tegak berhadap-hadapan tanpa senjata. Sidanti agaknya sudah tidak dapat bersabar lagi. Dengan serta-merta ia berkata, “Aku akan mulai kakang”

Sebelum Widura menjawab Sidanti telah meloncat dengan garangnya. Kedua tangannya terjulur lurus ke depan mengarah satu keleher Widura dengan ibu jarinya, sedang yang lain menghantam dada dengan keempat ujung-ujung jarinya.

Namun Widura tidak sedang tidur. Karena itu, dengan tangkasnya ia berputar setengah lingkaran sambil merendahkan dirinya. Sehingga serangan Sidanti itu terbang beberapa jengkal dari tubuhnya. Bahkan demikian serangan Sidanti itu lewat, segera Widura membalasnya dengan sebuah serangan pula. Sebuah serangan mendatar pada lambung Sidanti.

Tetapi Sidanti itu benar-benar tangkas. Meskipun tubuhnya masih melambung karena tekanan serangannya, ia berhasil menggeliat dan menghindari serangan Widura.

“Hem” Widura menggeram. Katanya dalam hati, “murid Kiai Tambak Wedi ini benar-benar lincah”

Sebenarnyalah Sidanti dapat bergerak selincah burung walet yang menari-nari di udara pada senja hari di atas pantai. Geraknya cepat dan cekatan. Sekali-sekali ia mampu menyambar seperti burung elang, namun kadang-kadang ia menukik seperti merpati jantan.

Tetapi Widura sendiri mirip seekor burung rajawali yang tangguh. Dengan kedua tangannya yang kokoh kuat, sekuat sayap-sayap rajawali, ia selalu berhasil melindungi tubuhnya dari sergapan yang tiba-tiba. Bahkan sepasang kakinya itu pun sangat mendebarkan jantung. Dengan putaran-putaran yang berbahaya kaki Widura itu merupakan sebuah perlawanan tersendiri di samping gerak tangannya yang cepat cekatan. Sehingga Widura itu seakan-akan memiliki sepasang otak yang masing-masing dapat mengatur kaki dan tangan dalam gerak pasangan yang tersendiri.

Demikianlah perkelahian itu menjadi semakin lama semakin seru. Sidanti yang lincah menjadi semakin lincah, dan Widura yang kokoh itu pun menjadi semakin tangguh.

Kini mereka seakan-akan telah luluh dalam satu lingkaran yang berputar-putar. Bayangan mereka melontar-lontar seakan-akan tak terjendali lagi. Saling menyerang dan saling melibat dalam gerakan-gerakan yang aneh dan membingungkan. Tetapi Sidanti dan Widura tidak menjadi bingung karenanya. Mereka memiliki daya pengamatan yang cukup kuat. Meskipun tangan Sidanti yang cepat itu bisa berubah menjadi berpasang-pasang dan menyerang dari segenap penjuru, namun kaki Widura itu pun seolah-olah menjadi berpuluh-puluh jumlahnya, melontar-lontarkan tubuhnya dari satu titik ketitik yang lain. Sekali-sekali terjadi benturan antara keduanya. Namun ternyata bahwa kekuatan mereka  pun berimbang.

Sekali-sekali Widura terdorong surut, namun kali yang lain Sidanti terlempar beberapa langkah. Kalau mereka dalam kesiagaan yang sama, maka setiap benturan akan memaksa keduanya surut beberapa langkah mundur.

Ketika peluh telah membasahi tubuh-tubuh mereka, maka perkelahian itu pun menjadi bertambah sengit. Sekali-sekali Sidanti harus merasakan, betapa wajahnya menjadi panas oleh sengatan tangan Widura yang berat dan mantap. Sekali ia terdorong surut, dan sebelum ia berhasil memperbaiki keseimbangannya, tangan Widura telah menyusulnya. Kembali wajah Sidanti terangkat. Namun ketika sekali lagi tangan Widura menyambar wajah itu, Sidanti berhasil mengelakkannya.

Kali ini, Widura sendiri terseret oleh tenaga tangannya sehingga hampir-hampir saja ia tidak mampu melepaskan diri dari serangan Sidanti yang tiba-tiba. Untunglah kemampuan Widura cukup tinggi, sehingga ketika sebuah pukulan mengarah kepelipisnya, Widura sempat merendahkan dirinya. Tetapi ternyata Sidanti pun cukup lincah. Ketika disadarinya bahwa serangan tak menyentuh tubuh Widura, cepat-cepat ia menggerakkan kakinya langsung menyerang dada. Widura yang sedang merendahkan dirinya itu terkejut. Ia tidak sempat mengelak, yang dapat dilakukannya adalah, memukul kaki Sidanti dengan kedua sisi telapak tangannya.

Benturan kekuatan itu pun telah mendorong mereka masing-masing beberapa langkah surut. Dan sesaat kemudian mereka telah berloncatan kembali, saling menyerang dan saling bertahan.

Sidanti yang lebih muda dari lawannya memiliki nafsu dan tenaga yang lebih baik dari lawannya, namun Widura memiliki ketenangan dan pengalaman melampaui Sidanti . Karena itu , maka dengan pengalamannya itu, Widura selalu dapat menempatkan dirinya, sehingga meskipun Sidanti lebih banyak menyerangnya, namun keadaan Widura tidak mencemaskan.

Yang menjadi cemas kemudian adalah Sidanti . Menurut gurunya, Widura itu pasti akan dapat dikalahkan setelah ia mendapat tempaan yang khusus untuk kepentingan itu. Namun ternyata setelah ia berkelahi beberapa lama, Widura itu masih dapat melawannya dengan baik, sebaik pada saat mereka baru mulai. Meskipun Sidanti yakin, bahwa Widura itu pun tak akan dapat memenangkan perkelahian itu, tetapi ia menjadi gelisah, apabila ia tak pula dapat menang daripadanya.

Bahkan Widura sendiri kadang-kadang menjadi kagum pada geraknya sendiri. Tiba-tiba saja ia berhasil melepaskan serangan yang seolah-olah dengan sendirinya meluncur dari kedua tangan dan kaki-kakinya. Sebagai seorang yang cukup mempunyai pengalaman dalam pertempuran bersama dan seorang-seorang, maka Widura merasakan, bahwa ada sisipan ilmu pada ilmunya yang telah dimilikinya dari kakak iparnya, Ki Sadewa. Namun ilmu itu terasa sama sekali tidak mengganggunya, bahkan terasa keserasian dan nafas yang sama pula dengan ilmunya. Tiba-tiba teringatlah ia kepada seorang aneh yang selalu datang melihat latihan-latihan Agung Sedayu di gunung Gowok. Orang yang memakai ciri kain gringsing dan juga menamakan dirinya Kiai Gringsing.

“Hem” gumam Widura dalam hati. “Agaknya ilmu orang aneh itu pun telah menyusup masuk kedalam perbendaharaan ilmu yang telah aku miliki. Dan ternyata sikapnya yang aneh-aneh itu menolong aku pula kali ini”

Dan teringatlah oeh Widura kata-katanya orang bertopeng itu, “Sidanti pun selalu melatih diri bersama gurunya”

Tangkapannya atas kata-kata itu ternyata benar. Pada suatu saat ia harus bertempur melawan anak muda yang sombong itu. Dan hal itu kini telah terjadi.

Demikianlah dengan nafsu yang bergejolak di dalam dadanya, Sidanti berusaha untuk dapat mengalahkan Widura, dan memaksakan kehendak-kehendaknya atas pimpinannya itu. Tidak saja dalam persoalannya dengan Agung Sedayu, tetapi jauh dari itu. Ia ingin memaksakan kehendaknya dalam setiap persoalan.

Tetapi ternyata bahwa ia tidak segera dapat menundukkann Widura. Betapa pun ia telah berjuang. Diperasnya segenap kemampuan yang telah diterimanya dari gurunya, namun Widura itu masih saja dengan gigihnya melakukan perlawanan. Tetapi, baik Sidanti sendiri mau pun Ki Tambak Wedi, sama sekali tidak mengetahuinya, bahwa hampir setiap malam, seperti juga Sidanti yang mendapat tempaan terus-menerus, Widura  pun selalu berkelahi melawan orang aneh yang menamakan dirinya Kiai Gringsing. Bahkan orang aneh itu berkelahi tidak saja dengan tangan dan kakinya, tetapi dengan mulutnya juga. Orang itu ternyata sempat melihat kekurangan Widura dan bahkan kesalahan-kesalahan kecil sekalipun.

Perkelahian yang sengit itu masih berlangsung lama. Mereka sudah hampir menumpahkan segenap tenaga mereka. Karena itu maka tenaga masing-masing semakin lama menjadi semakin susut. Bintang-bintang di langit telah melampaui pertengahannya. Karena itulah maka Sidanti menjadi semakin gelisah karenanya. Kalau ia gagal mengalahkan Widura, maka nasibnya bukan menjadi bertambah baik, tetapi Widura pasti akan semakin bersikap keras kepadanya.

Tiba-tiba Sidanti dan Widura kembali mendengar suara bilalang. Seperti suara yang semula mereka dengar. Karena itu Widura  pun menjadi semakin berwaspada. Ia yakin, bahwa suara itu adalah suatu aba-aba yang harus dilakukan oleh Sidanti .

Ternyata dugaan Widura itu pun benar. Demikian Sidanti mendengar suara bilalang itu, tiba-tiba saja ia meloncat surut. Kemudian sambil berdiri tegak di atas kedua kakinya yang kokoh, ia berkata lantang, “Kakang, perkelahian kita tidak akan ada akhirnya”

Widura tidak segera menyerangnya. Ia pun kemudian berdiri beberapa langkah dari Sidanti , katanya, “Apakah yang kau inginkan kemudian?”

“Bukankah kita membawa senjata masing-masing?”

Widura menarik nafas dalam-dalam, ditatapnya wajah anak muda itu dengan seksama. Namun dalam malam yang kelam itu tak dilihatnya kesan apa pun pada wajah itu, selain kesan kemarahan yang membakar jantung Sidanti. Dalam pada itu terdengar Widura berkata, “Apakah kau menyadari perkataanmu itu Sidanti?”

“Tentu” jawab Sidanti, “Bukankah maksud kakang Widura mengatakan, bahwa dengan senjata-senjata itu, dada kita masing-masing akan mungkin terbelah karenanya?”

“Ya”

“Aku menyadari kemungkinan itu. Namun bukan maksudku membunuh kakang Widura. Kalau kakang bersedia memenuhi setiap permintaanku, baik dalam hubunganku dengan Sedayu, mau pun kedudukanku di Sangkal Putung dan seterusnya sebagai prajurit Pajang, maka aku tak akan menyentuh senjataku dalam perkelahian ini”

Sekali lagi Widura menarik nafas dalam-dalam. Yang terloncat dari mulutnya adalah, “Sidanti, aku telah siap mempertahankan keputusanku”

“Bagus” teriak Sidanti sambil meloncat meraih pusakanya. Sesaat Widura masih tegak di tempatnya. Tetapi ketika ia melihat Sidanti telah menggenggam senjatanya, maka perlahan-lahan Widura itu pun berjalan mengambil senjatanya. Pedang yang tidak begitu tajam, namun ujungnya runcing melampaui ujung jarum.

“Kita akan bertempur sebagai laki-laki, kakang” berkata Sidanti .

“Tentu” sahut Widura.

“Kita tidak ingin saling membunuh, namun siapa yang mula-mula mengalirkan darah dari lukanya, ialah yang kalah”

“Bagus” sahut Widura.

“Yang kalah harus tunduk pada setiap keputusan dari yang menang”

Tiba-tiba Widura menggeleng, “Tidak” katanya segera. “Kekalahan kita masing-masing di sini tidak mempengaruhi kedudukan kita. Akulah pimpinan laskar Pajang di Sangkal Putung”

Dada Sidanti serasa menggelegar karenanya. Tiba-tiba ia berteriak, “Lalu apakah gunanya kita bertempur di sini?”

“Aku tidak tahu. Aku hanya memenuhi permintaanmu. Sebab bagaimanapun, kau tidak akan dapat mempersoalkan atas Sangkal Putung dan kekuasaan yang ada di tanganku. Aku akan mengambil keputusan menurut keyakinanku, menurut kebenaran yang aku yakini. Tidak dapat seorang pun yang akan mempengaruhi keputusan itu”

“Gila. Apakah kau sangka aku tidak dapat membunuhmu kakang” teriak Sidanti pula.

“Kalau aku mati, maka aku akan mati sebagai seorang pemimpin yang bertanggung jawab. Bukan sebagai kelinci yang sedang melarikan diri dari terkaman anjing hutan”

Tubuh Sidanti tiba-tiba bergetar karena kemarahannya. Matanya yang bulat itu sesaat menjadi redup. Kemudian ditariknya keningnya kesisi, namun kemudian meledaklah kata-katanya, “Apakah kau ingin kita bertempur sampai mati?”

“Tidak” sahut Widura. “Aku tidak mempunyai keinginan untuk berkelahi dengan kekuatan dalam lingkunganku sendiri. Apalagi sampai mati. Tetapi aku juga tidak ingin melihat kewibawaanku dikurangi. Sebab aku bertanggung jawab kepada panglima Tamtama di Pajang. Tidak kepadamu dan tidak kepada Agung Sedayu. Sedang panglima di Pajang itu menyalurkan perintah adipati Pajang yang sedang menegakkan kewibawaan Demak. Nah, kewibawaanku adalah sebagian dari kewibawaan adipati pajang itu”

“Persetan” potong Sidanti hampir hangus dibakar kemarahannya, “Bersiaplah”

Widura kini benar-benar tak dapat menghindarkan diri dari perkelahian bersenjata. Tiba-tiba saja Sidanti telah meloncat menyerang dengan garangnya. Senjatanya yang tajam di ujung dan pangkalnya itu berputar seperti baling-baling, kemudian melontar seperti jarum pemintalan. Sekali-sekali menyambar dengan ujungnya namun kemudian mematuk dengan pangkalnya.

Widura menggigit bibirnya. Dengan tangkasnya ia meloncat-loncat menghindari serangan itu. Pedangnya pun kemudian bergerak-gerak datar, kadang-kadang menyilang dan tiba-tiba saja terjulur lurus kedada lawannya.

Kali ini pun Sidanti merasakan, bahwa olah pedang Widura itu cukup mampu untuk melawan senjatanya. Namun ia masih akan mencoba menggunakan kelincahannya dan kecepatannya untuk menembus dinding baja dari putaran pedang lawannya.

Perkelahian di antara keduanya kini menjadi bertambah mengerikan. Senjata Sidanti benar-benar merupakan senjata yang berbahaya. Setiap sentuhan dari tajam di ujung dan pangkal senjata itu akan menyobek tubuh lawam. Tetapi pedang Widura itu pun setiap saat dapat membelah dada lawannya. Dengan kekuatan yang mengagumkan pedang itu menyambar-nyambar seoerti alap-alap di udara.

Tetapi perkelahian ini pun tak akan berujung pangkal. Karena kepandaian mereka mempergunakan senjata masing-masing. Maka yang terjadi hanyalah benturan-benturan di antara senjata mereka. Demikian besar kekuatan mereka berdua, maka dalam setiap sentuhan di antara senjata-senjata itu, terperciklah bunga api yang seakan-akan berloncatan dari kedua senjata itu.

Sidanti pun telah berjuang memeras segenap ilmunya, dan Widura  pun tak kalah sengitnya mempergunakan segenap tenaganya. Demikian dahsyatnya perkelahian itu, sehingga seakan-akan tenaga mereka pun segera terhisap habis. Baik Sidanti mau pun Widura telah mempergunakan pula setiap tenaga cadangan di dalam tubuh mereka. Kekuatan-kekuatan yang dilambari dengan ketekunan latihan-latihan dimasa-masa lampau telah mereka kerahkan. Namun keadan mereka maih tetap berimbang. Bahkan setelah tenaga mereka semakin susutpun, mereka tak dapat melampaui satu dari yang lain.

Kini serangan-serangan mereka sudah tidak secermat pada saa mereka mulai. Kadang-kadang mereka terseret beberapa langkah karena tarikan senjata mereka sendiri. Namun dalam saat yang demikian, lawannya pun tidak segera sempat menyerang. Dengan lemahnya, mereka terpaksa melangkah terhuyung-huyung maju.

Bahkan kadang-kadang, karena sentuhan batu-batu kecil pada kaki mereka, mereka telah kehilangan keseimbangan.

Demikianlah pertempuran itu menjadi aneh. Ketika Sidanti mencoba menembus pertahanan Widura dengan sebuah tusukan pada lambungnya, maka Widura  pun berusaha untuk menghindarinya. Ketika ia meloncat ke samping, tiba-tiba kakinya terperosok oleh lubang-lubang yang telah terjadi selama perkelahian itu. Widura yang kelelahan itu pun tidak dapat menahan diri, sehingga ia terhuyung-huyung hampir jatuh. Sidanti ingin mempergunakan kesempatan itu, tetapi ketika serangannya gagal, bahkan ia terseret beberapa langkah oleh senjatanya. Dalam keadaan yang demikian, masing-masing ingin mencoba mempergunakan kelemahan-kelemahan lawannya, namun mereka sendiri seakan-akan telah tidak mampu lagi menggerakkan tangan dan kaki mereka. Sehingga dengan demikian, tidak ada keseimbangan antara kehendak dan perhitungan mereka dalam tata perkelahian itu, dengan tenaga-tenaga mereka yang seakan-akan telah terperas habis. Namun tak seorang pun diatara mereka yang mendahului mengakhiri perkelahian yang aneh itu.

Malam semakin lama menjadi semakin dalam, dan bintang-bintang pun menjadi semakin bergeser kebarat. Langit yang biru gelap tersaput leoh mega yang selembar-selembar mengalir dihanyutkan oleh angin yang lembut.

Namun yang berkelahi masih berkelahi juga. Tetapi perkelahian itu kini sama sekali sudah tidak berbahaya lagi bagi kedua belah pihak. Meskipun sekali-sekali Sidanti masih menusukkan senjatanya, namun senjata itu tak akan sampai menyentuh tubuh lawannya. Sedang apabila Widura mencoba mengayunkan pedangnya dengan kedua tangannya, maka ia sendirilah yang akan terpelanting jatuh.

Nafas mereka berdua kini satu-satu tersangkut di dalam kerongkongan. Peluh mereka mengalir seperti mereka sedang bertempur di dalam hujan yang pekat. Bahkan apabila sekali-sekali terjadi juga benturan di antara senjata-senjata mereka, maka mereka berdua itu pun terdorong surut dn kemudian terbanting jatuh di tanah. Dengan susah payah mereka berebut dahulu untuk bangkit, dan apabila mungkin menyerang sebelum lawannya menguasai diri sepenuhnya. Namun usaha itu tak akan pernah berhasil. Sebab lutut-lutut mereka seakan-akan sudah tidak berpaut lagi.

Meskipun tenaganya sudah hampir habis terperas, namun Sidanti masih mengumpat-umpat dalam hati. Bahkan ia menjadi heran, bahwa Widura mampu melawan dengan baiknya. Pada saat mereka berdua bertempur melawan Tohpati berganti-ganti, Widura itu ternyata tidak lebih baik daripadanya. Kini ia telah mendapat tempaan yang padat dari gurunya, dan bahkan gurunya itu pun berkata, bahwa ilmunya pasti akan lebih baik meskipun hanya selapis tipin dari Widura. Namun ternyata kini, bahwa ilmunya benar-benar tidak melampaui ilmu Widura itu sendiri. Apakah tempaan selama ini, dihampir setiap malam dengan ilmu-ilmu gurunya yang hampir sempurna itu sama sekali tak berpengaruh atasnya?

Sedang Widura  pun benar-benar kagum kepada anak muda murid Kiai Tambak Wedi itu. Namun di dalam lekuk-lekuk hatinya, terasa juga bahwa ia sedang mengagumi dirinya sendiri. Ternyata bahwa merah biru di wajah-wajah kulitnya, hampir setiap malam apabila ia berkelahi melawan Kiai Gringsing yang memegang cemetinya di tengah-tengah itu ada juga manfaatnya baginya. Kini ia benar-benar menghadapi senjata Sidanti bukan sekedar cemeti kuda. Apabila senjata yang mengerikan itu benar-benar dapat menyentuhnya, maka akibatnya tidak saja sekedar merah biru di wajah-wajah kulitnya, tetapi luka-luka yang pedih akan menganga. Karena itu  pun Widura bersyukur dalam hati. Siapakah sebenarnya orang aneh yang menamakan dri Kiai Gringsing itu?

Tetapi Widura tidak sempat berangan-angan. Kini mereka berdua berhadap-hadapan dengan tubuh gemetar. Bukan karena marah yang membakar dada mereka, namun karena tenaga nr telah terkuras habis.

Sidanti yang dengan susah payah masih mencoba tegak di atas kedua kakinya, menggeram dengan suara parau yang gemetar. Katanya, “Mampus kau kakang Widura”

Keadaan Widura  pun tidak lebih naik dari keadaan Sidanti . namun otaknyalah yan glebih baik. Meskipun nafasnya telah hampir putus ditenggorokan, namun ia berkata di antara engah nafasnya, “Sidanti, apakah hasil yang kita dapatkan dari perkelahian ini?”

Terdengar Sidanti menggeram. Matanya msih menyalakan kemarahannya yang meluap-luap. Bahkan ia menjadi semakin marah, ketika ia menyadari keadaannya. Ternyata Widura tak dapat ditundukkannya. Apalagi ketika ia mendengar pertanyaan Widura itu. Namun sesaat kemudian pertanyaan itu benar-benar membingungkannya. “Ya, apakah yang sudah didapatnya dari perkelahian itu?”

Namun yang terlontar dari mulutnya adalah sebuah makian yang kasar. “Setan. Bukankah dengan demikian kau tahu bahwa kau bukan orang yang aneh di Sangkal Putung. Bahwa Widura  pun manusia juga yang tidak lebih dari Sidanti?”

“Tentu” sahut Widura. “Apakah aku pernah berkata bahwa aku keturunan malaikat?”

“Tetapi kau merasa, seakan-akan dirimu tak terkena salah. Semua orang harus tunduk atas kehendakmu”

“Itu bukan karena aku Widura. Tetapi itu karena wewenang yang aku terima”

“Omong kosong” bentak Sidanti, “Sejak sekarang kau harus merubah sikap itu”

Widura menggeleng, “Tidak” jawabnya tegas.

Dada Sidanti benar-benar akan meledak karenanya. Namun ketika ia ingin menyerang lawannya kembali, ia terhuyung-huyung. Dengan susah payah ia mencoba untuk menemukan keseimbangannya kembali. “Gila” anak itu mengumpat lagi. Tetapi kali ini tak ditujukannya kepada siapapun.

Sedang Widura masih tegak di tempatnya. Namun seandainya sebuah angin kencang menyentuhnya maka Widura itu pun pasti akan roboh. Karena itu, ia tidak ingin berbuat sesuatu. Otaknya yang telah dipenuhi dengan berpuluh-puluh ribu macam persoalan ternyata masih tetap baik, betapa pun tenaganya telah terhisap oleh embun malam. Kini ia yakin bahwa Sidanti itu sama sekali sudah tak berdaya seperti dirinya sendiri.

Dalam pada itu, tiba-tiba mereka berdua terkejut. Namun Sidanti hanya sesaat. Tetapi Widura lah kemudian terguncang dadanya. Meskipun telah disangkanya lebih dahulu, namun kehadiran yang tiba-tiba di antara mereka, benar-benar mengejutkan. Dan dengan wajah cerah Sidanti berkata kepada orang yang baru datang itu, “Selamat datang guru”

Kiai Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya yang panjang runcing serta sepasang matanya yang tajam, setajam mata burung hantu merupakan pertanda, bahwa Kiai Tambak Wedi adalah seorang yang tidak dapat mengenal puas atas segenap usaha yang pernah dicapainya.

Widura  pun kemudian mengangguk pula. Seperti Sidanti, ia pun mencoba memberi salam kepada orang sakti itu, “Selamat datang Kiai”

Kiai Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Widura dengan tajamnya, seperti akan ditelannya hidup-hidup. Kemudian sambil mengangguk kecil ia menjawab, “Hem, selamat Widura”

Widura  pun mencoba untuk mengenal wajah orang yang namanya terkenal di daerah sebelah timur gunung Merapi itu. Semakin jelas ia mengenal wajah itu, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Di antara sepasang matanya yang tajam itu, tampaklah hidung Kiai Tambak Wedi besar dan melengkung seperti paruh burung. Sayang, malam yang pekat itu tak memberi kesempatan kepada Widura untuk melihat setiap garis yang tergores di wajah itu.

“Widura” berkata Kiai Tambak Wedi itu kemudian. Suaranya besat dan seakan-akan bergetar saja di dalam dadanya, “Ternyata kau mampu menyamai muridku”

Widura mangguk kecil. Jawabnya, “Aku hanya mecoba melayani adi Sidanti bermain-main Kiai”

“Jangan sombong” sahut Kiai Tambak Wedi. “Meskipun kau berhasil mempertahankan namamu, tapi jangan berkeras kepala. Aku tidak senang melihat sikapmu”

Widura tidak segera menjawab. Sekali lagi ia mencoba menatap wajah Kiai Tambak Wedi yang sedemikian saktinya, sehingga orang mengatakan bahwa ia mampu menangkap angin.

“Widura” berkata Kiai Tambak Wedi kemudian. “Aku heran, bahwa kau mampu bertempur dalam tataranmu sekarang. Aku sangka kau tidak akan dapat menyamai muridku. Namun agaknya ilmumu pun bertambah. Aku sangka, setelah Sidanti menambah ilmunya akhir-akhir ini kau akan menjadi ketinggalan karenanya”

Kali ini pun Widura tidak menjawab. Ia masih tegak seperti patung. Patung yang kurang seimbang, sehingga setiap sentuhan akan dapat merobohkannya.

“Tetapi” berkata Kiai Tambak Wedi itu pula, “Sangkaanku itu keliru” Kiai Tambak Wedi diam untuk sesaat. Kemudian katanya, “Meskipun demikian itu bukan berarti bahwa setiap tuntutan Sidanti sudah dilepaskan”

Widura menjadi semakin berdebar-debar. Guru Sidanti itu kini ternyata telah secara langsung turut dalam setiap persoalan di Sangkal Putung. Meskipun demikian dibiarkannya Kiai Tambak Wedi itu berkata, “Widura, sebenarnya aku tidak ingin mencampuri persoalanmu sebagai pimpinana laskar Pajan di Sangkal Putung. Apabila kau tidak berbuat banyak kesalahan. Aku bermaksud membiarkan Sidanti melakukannya sendiri, tetapi ternyata karena Sidanti tak dapat mengalahkanmu, maka kau pasti masih akan berkeras kepala. Kini biarlah aku meneruskan permintaan Sidanti itu. Terus terang, tanpa berbelit-belit . Widura, kau harus menyingkirkan Agung Sedayu. Kedua, setiap kau berhalangan maka Sidanti lah pemimpin laskar Pajang di Sangkal Putung. Kemudian kau harus menyampaikan kemenangan Sidanti atas Tohpati. Seterusnya kau harus mengusulkan kepada atasanmu, panglima wiratamtama. Untuk kedudukan yang lebih baik bagi Sidanti, ingat, masa depan Sidanti harus berbeda dari masa depanmu. Kau sudah puas dengan kedudukanmu sekarang. Tetapi Sidanti tidak. Sidanti melihat jauh kemasa depan. Dengarlah Widura, bukankah dengan menyingkirkan Jipang, maka adipati Pajang sekarang ini, adalah pewaris satu-satunya kerajaan Demak. Aku kira sultan Cirebon, manantu Trenggana pula, tidak akan mempunyai tuntutan apa-apa. nah, apa pula yang kelak akan terjadi dengan janji tanah Mentaok dan Pati bagi mereka yang dapat membunuh adipati Jipang? Bukankah dengan demikian hari depan Pajang sendiri masih akan berbelit-belit. Dalam keadaan yang demikian Sidanti harus tampil ke depan. Kau dengar? Kalau kemudian Sidanti telah menemukan kedudukan yang pantas baginya, kau adalah salah seorang dari panglimanya. Begitu?”

Widura masih berdiam diri. Namun tiba-tiba ia menjadi muak mendengar semua kata-katanya Kiai Tambak Wedi. Tetapi ia harus menjaga dirinya. Kiai Tambak Wedi adalah seorang yang sakti. Bahkan ia terkejut ketika Kiai Tambak Wedi itu berkata, “Kau adalah anak tangga yang pertama bagi Sidanti , Widura. Bagaimana?”

Tiba-tiba Widura itu pun menggeleng. Kini ia menjawab dengan ketegasan yang sama seperti jawabannya kepada Sidanti. “Sayang Kiai, aku tidak dapat memberikan apa-apa kepada Sidanti”

Kiai Tambak Wedi menarik alisnya. Kemudian ia tersenyum. Katanya, “Jangan berkeras kepala Widura. Ingat, nasibmu akan dapat menjadi kurang baik”

Sekali lagi Widura menggeleng. “Kiai, mungkin aku dapat menjanjikannya di sini karena aku takut kepada Kiai. Namun aku tidak akan dapat melaksanakannya kelak. Bukankah dengan demikian aku sekedar menipu Kiai. Karena itu lebih baik berkata terus terang”

Sidanti yang mendengar percakapan itupun, wajahnya menjadi semakin membara. Bahkan kemudian ia menggeram, “Bukankah guru dapat memaksanya?”

“Tentu Sidanti” sahut Kiai Tambak Wedi. “Aku akan bisa memaksanya. Menangkapnya sekarang dan mengikatnya di batang  jambu mete ini. Kemudian dengan kukuku ini aku dapat menggores kulitnya sehingga terkelupas. Tetapi Widura tidak akan membiarkannya aku berbuat demikian, bukankah begitu?”

Dada Widura  pun menjadi semakin berdebar-debar. Meskipun demikian ia menjawab, “Benar Kiai, aku mengharap Kiai tidak akan berbuat demikian. Tetapi permintaan Kiai itu pun tak akan dapat aku penuhi”

Kiai Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Jangan begitu Widura. Nasibmu, hidup matimu kini ada di tanganku”

“Terserahlah kepada Kiai”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Jawaban itu benar-benar tidak menyenangkan. Katanya, “Widura, jangan membuat aku marah. Aku bisa membunuhmu sekarang”

“Terserah kepada Kiai. Aku harus tetap pada perintahku. Hidup atau mati adalah akibat yang sudah aku ketahui sejak aku masuk menjadi seorang prajurit. Adalah sudah seharusnya aku mati sambil menggenggam kewajiban. Bukan mengingkari”

Ki Tambak Wedi, seorang yang sudah kenyang mengenyam pahit manisnya kehidupan itu, mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Widura. Ia kagum pada kejantanannya. Kagum pada tanggung-jawabnya. Meskipun demikian, ia sama sekali tidak senang mendengar jawaban itu. Dengan demikian seakan-akan Widura itu sama sekali tidak takut kepadanya. Ia ingin agar setiap orang menjadi gemetar dan menggigil ketakutan mendengar namanya. Apalagi apabila mereka berhadapan. Namun agaknya Widura sama sekali tidak bersikap demikian.

Karena itu, maka sekali lagi Ki Tambak Wedi itu berkata, “Widura, orang-orang seperti kau ini benar-benar merupakan mutiara-mutiara yang tersimpan dalam perbendaharaan keprajuritan Pajang. Aku ingin agar mutiara-mutiara demikian itu tidak akan hilang tertimbun oleh lumpur. Karena itu Widura, aku minta kau membantu Sidanti dalam usahanya mendapatkan tempat yang baik dalam hidupnya yang penuh dengan cita-cita itu. Aku sendiri pasti akan merupakan kekuatan yang mengalasinya”

Sekali lagi Widura menjadi muak. Bahkan ia menjadi muak melihat wajah yang panjang bermata seperti mata burung hantu dan berhidung terlalu runcing itu. Meskipun demikian, tak ada suatu pun yang dapat dilakukannya. Dan ia masih mendengar Ki Tambak Wedi meneruskan, “Apabila kelak Sidanti akan sampai di tempat itu, maka kau pun akan ikut serta mukti pula bersamanya”

Widura menggeleng tegas. Jawabnya, “Biarlah aku di tempatku. Apa pun yang akan aku alami”

Dada Ki Tambak Wedi itu pun sudah mulai dirayapi oleh kemarahan yang semakin lama semakin menyala. Agaknya Widura sudah tidak mungkin dapat dibujuknya. Karena itu katanya, “Widura, apakah kau benar-benar menunggu aku marah?”

Widura yang berdiri seperti pucang kanginan itu menjawab, “Sudah aku katakan Kiai. Namun aku tetap pemimpin laskar Pajang di Sangkal Putung. Bukan orang lain”

“Widura” sahut Ki Tambak Wedi yang mulai tidak dapat mengendalikan kemarahannya. “Kau tetap pemimpin laskar di Sangkal Putung. Tetapi kau harus menurut perintah-perintah Sidanti yang akan diberikan terus menerus kepadamu. Perintah-perintahmu hanyalah saluran dari perintah-perintahnya. Tetapi dimata para prajurit itu, kau tetap seorang pemimpin yang berwibawa. Bersedia?”

Sekali lagi Widura menggeleng tegas, “Tidak” jawabnya.

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku sudah menduga bahwa kau akan tetap pada pendirianmu. Nah, bagaimanakah kalau aku membunuhmu sekarang?”

Widura menyadari keadaannya. Ia tidak lebih dari seorang yang kecil di hadapan Ki Tambak Wedi. Tetapi ia tidak mau mengorbankan kewibawaan, saluran kewajiban prajurit. Sedang orang seperti Ki Tambak Wedi itu pasti akan dapat melakukan apa saja yang dikatakannya. Meskipun demikian Widura menjawab, “Kiai pasti akan mampu melakukannya. Terserahlah kepada Kiai. Tetapi Kiai harus menyadari keadaan Sidanti. Anak itu keluar bersama aku. Apakah kata mereka kalau anak itu kembali seorang diri, dan besok mayatku diketemukan di sini?”

Mendengar jawaban itu Ki Tambak Wedi tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Katanya di antara derai tawanya, “He Widura, ternyata kau tidak sejantan yang aku sangka. Ternyata kau mulai ketakutan dan mencari jalan untuk menolong dirimu sendiri”

Mendengar suara tertawa dan kata-kata Ki Tambak Wedi itu, telinga Widura seperti terjilat api. Sehingga ia lupa, dengan siapa ia berhadapan. hampir berteriak ia membentak, “Cukup!”

Ki Tambak Wedi terkejut mendengar bentakan itu, sehingga dengan serta-merta derai tertawanya itu terputus. Dengan tajamnya ia memandang wajah Widura yang masih berkata terus, “Apakah kau sangka bahwa setiap makhluk akan menyerahkan hidupnya demikian saja tanpa usaha untuk menyelamatkan diri. Bukankah hak setiap hidup untuk mempertahankan hidupnya?”

“Tetapi caramu adalah cara yang licik” sahut Ki Tambak Wedi.

“Tidak” bantah Widura. “Tetapi aku hanya ingin mengatakan, kalau kau bunuh aku, maka pekerjaanmu itu tidak akan bermanfaat. Setiap orang dapat segera mengambil kesimpulan apa yang sudah terjadi”

“Seandainya mereka mengetahui sekalipun, apa yang akan mereka lakukan terhadap Sidanti? Apakah mereka berani melakukan tindakan apa pun terhadap anak itu?”

“Tentu”

“Aku akan dapat membunuh mereka semua”

“Mereka adalah prajurit-prajurit. Kalau mereka tak dapat mengatasi seseorang, maka atasannyalah yang akan melakukan. Bagaimana anggapan Kiai tentang seorang perwira tamtama yang bernama Pemanahan? Juru Mertani atau adipati Pajang sendiri?”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Persetan dengan mereka. Tetapi aku tidak sebodoh yang kau sangka. Aku sudah bersedia alat untuk membunuhmu. Semua orang mengenal bahwa senjata Sidanti adalah senjata tajam. Sekarang aku akan membunuhmu dengan senjata pemukul”

Dada Widura menjadi berdebar-debar karenanya. Apalagi ketika tiba-tiba ia melihat, Ki Tambak Wedi itu menarik sebuah tongkat besi dari pinggangnya dibawah kain panjangnya. Besi itu tidak terlalu panjang. Hanya dua jengkal, sebesar ibu jari kaki. Diamat-amatinya senjata sambil bergumam seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri, “Hem, bukankah orang yang bersenjata pemukul itu seorang senapati Jipang yang bernama Tohpati? Dan bukankah mulut Sidanti juga dapat berkata demikian kepada kawan-kawannya? Lihatlah wajah Sidanti itu sendiri, dan hampir di seluruh tubuhnya menjadi merah biru. Itu akan bagus sekali untuk melengkapi ceritanya. Kau berdua berjumpa dengan Tohpati dan beberapa orangnya. Kalian bertempur mati-matian, dan kau terbunuh dalam perkelahian itu”

Getar di dalam dada Widura menjadi semakin cepat. Kini ia benar-benar berhadapan dengan maut. Dan ia tidak akan dapat menemukan jalan untuk menyelamatkan diri. Meskipun demikian sama sekali tak terlintas di dalam otaknya untuk memenuhi permintaan Sidanti, menebus nyawanya dengan menjual kewibawaan Pajang.

Demikianlah maka sesaat mereka berada dalam keadaan yang tegang. Widura, Sidanti dan Ki Tambak Wedi seperti tonggak-tonggak yang kaku. Yang mula-mula menyobek kesepian adalah Ki Tambak Wedi. katanya, “Bagaimana Widura. Apakah kau masih ingin bertahan pada pendirianmu? Memang keadaanmu masih cukup baik. Kalau kau mati, maka kau akan dihormati sebagai pahlawan. Namun bukankah lebih baik apabila kita dapat melihat dan merasakan dalam hidup kita ini kehormatan itu daripada sesudah kita mati?”

Widura tidak menjawab sepatah katapun. Ia sedang mempersiapkan dirinya menghadapi maut.

“Bagaimana Widura?” bentak Ki Tambak Wedi yang sudah mulai kehilangan kesabaran. “Kalau kau mati, aku akan berusaha Sidanti lah yang akan mengganti kedudukanmu. Aku akan pancing Tohpati, aku akan bunuh pula dia atas nama Sidanti”

Widura menggeram mendengar rencana gila-gilaan itu. Namun kali ini pun ia tidak menjawab. baginya, sudah tidak ada gunanya lagi untuk berbicara apapun. Maka yang dapat dilakukan adalah menunggu apa saja yang akan terjadi.

Ki Tambak Wedi ternyata benar-benar telah kehilangan kesabaran. Dengan sepotong besi itu ia berjalan mendekati Widura sambil berkata, “Aku tidak biasa mempergunakan senjata semacam ini. Tetapi untuk kepentingan Sidanti, aku akan memecah batok kepalamu, sehingga orang benar-benar menyangka kau mati karena pukulan tongkat baja putih milik Tohpati itu”

Sekali lagi Widura menggeram. Tanpa disengaja ia mengangkat pedangnya. Melihat gerak pedang itu Ki Tambak Wedi tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Gila. Apakah kau akan melawan aku? Dengan satu sentuhan dari anak kecil, kau pasti sudah akan roboh. Jangan gila. Kau hanya tinggal mempersiapkan kepalamu saja. Manakah yang sebaiknya aku pukul supaya kau segera mati. Dengan demikian aku sudah bermurah hati kepadamu”

Mulut Widura benar-benar telah terkunci. Sesaat ia ingat kepada kemenakannya, Sedayu. Namun ia tidak menyalahkannya. Saat yang lain dikenangnya kemenakannya yang satu lagi, Untara. Katanya dalam hati, “mudah-mudahan anak itu masih hidup, dan mudah-mudahan suatu ketika dijumpainya adiknya itu dan diselamatkannya dari kerakusan Sidanti yang gila ini”

Widura kini melihat Ki Tambak Wedi itu semakin lama semakin dekat. Suara tertawanya masih saja terdengar berkepanjangan.

Tetapi tiba-tiba suara tertawa itu pun terputus. Mereka semua terkejut bukan buatan. Apalagi Widura dan Sidanti. Dalam sepi malam itu terdengar tiba-tiba sebuah ledakan dahsyat. Sehingga getarannya telah menggerakkan daun-daun pepohonan dan menggugurkan daun-daun kuning yang tidak mampu berpegangan dahan-dahannya lagi. Bahkan ledakan itu telah menggetarkan dada mereka yang mendengarnya. Lebih-lebih Widura dan Sidanti.

Ki Tambak Wedi itu kini tegak seperti patung. Namun tampaklah ia memusatkan perhatiannya memandang segenap arah. Matanya yang tajam setajam mata burung hantu itu pun menjadi liar.

Dalam ketegangan itu pun sekali lagi terdengar suara ledakan itu. Lebih keras dan getarannya semakin dalam menusuk dada. Widura dan Sidanti terpaksa memejamkan mata mereka dan memusatkan perlawanan mereka dengan kekuatan batin melawan getaran yang aneh itu.

Mata Ki Tambak Wedi itu pun menjadi semakin liar. Bahkan tiba-tiba ia berteriak, “Dahsyat. Kekuatan orang itu pasti sama dengan kekuatan raksasa. Tetapi jangan seperti seorang pengecut. Mari, datanglah kemari. Aku bersedia menyambutmu”

Namun tak ada jawaban. Yang terdengar sekali lagi suara ledakan itu. Lebih keras pula dari yang terdahulu.

Ki Tambak Wedi itu pun kemudian menjadi marah bukan kepalang. Seperti orang gila ia berteriak-teriak, “Ayo, kemarilah. Jangan bersembunyi. Inilah Tambak Wedi”

Tetapi kemudian tegal itu menjadi sepi. Suara ledakan itu pun tak terdengar lagi. Mengerutkan keningnya Ki Tambak Wedi itu masih tegak seperti patung. Ia masih mencoba mengetahui dari manakah arah suara ledakan-ledakan itu. Namun suara itu tak terdengar lagi.

Dalam pada itu, tumbuhlah suatu persoalan di dalam dirinya. Dalam diri Ki Tambak Wedi yang perkasa itu. Ia tidak akan takut berhadapan dengan seitap orang bagaimanapun saktinya. Ki Tambak Wedi itu merasa, bahwa dirinya pasti akan mampu menghadapi siapa saja dalam pertempuran seorang lawan seorang. Biar pun orang itu Adiwijaya, yang terkenal memiliki aji Lembu sekilan, Rog-rog Asem, Sapu Angin sejak masa kanak-kanaknya, sejak ia masih bernama Mas Karebet. Setidak-tidaknya ia pasti akan dapat menyelamatkan dirinya dari lawannya. Namun orang yang meledakkan lecutan-lecutan itu pun bukan orang kebanyakan, sehingga apabila ia mengejarnya, maka ada kemungkinan orang itu berhasil melarikan diri.

Yang kemudian mengganggunya adalah, apabila Widura itu dibunuhnya, maka ternyata akan hadir sedikit-dikitnya seorang saksi. Orang yang menyuarakan lecutan-lecutan dahsyat itu. Dengan demikian maka cerita Sidanti lambat atau cepat, pasti akan diketahui kebohongannya. Karena itu, tiba-tiba Ki Tambak Wedi itu pun mengumpat tak habis-habisnya. Katanya, “Setan itu ternyata berhasil menolong memperpanjang nyawamu Widura. Ia akan merupakan saksi yang mengganggu jalan Sidanti. meskipun demikian, ingatlah, Sidanti tak akan pernah melepaskan tuntutannya. Abiarlah kali ini lau tetap hidup. Aku beri waktu kau sepasar. Kalau dalam sepasar kau tidak merubah pendirianmu, dalam setiap kesempatan aku akan dengan mudah membunuhmu. Mungkin dengan cara-cara yang sangat mengerikan”

Widura masih berdiam diri. Apalagi kini, dadanya masih dipengaruhi oleh getaran-getaran leacutan yang dahsyat itu. Karena itu ia sama sekali tidak menjawab kata-kata Ki Tambak Wedi.

“Pulanglah berdua. Jangan membuat persoalan supaya aku mempunyai pertimbangan- pertimbangan lain”

Widura masih tetap tegak seperti tiang-tiang yang beku. Ia mendengar kata-kata Ki Tambak Wedi itu, namun seakan-akan ia tidak mengerti maknanya. Setelah ia kehilangan harapan untuk dapat menyelesaikan tugasnya, membersihkan sisa-sisa laskar Jipang, karena keinginan Sidanti yang melonjak-lonjak, maka tiba-tiba dadanya digetarkan oleh suara lecutan yang hampir menggugurkan isi dadanya, kini ia mendengar Ki Tambak Wedi itu mengurungkan niatnya.

Untuk sesaat Sidanti  pun menjadi seolah-olah kehilangan kesadarannya. Namun seperti orang yang tersentak bangun dari tidurnya ia mendengar gurunya itu berkata, bahwa Widura akan dibebaskannya. Karena itu, maka timbullah berbagai pertanyaan di dalam dirinya. Keadaan itu sudah terlanjur sedemikian buruknya. Apabila Widura itu masih tetap hidup, apakah keadaannya tidak menjadi semakin sulit.

Maka dengan terbata-bata terdengarlah Sidanti itu bertanya, “Guru, apakah guru akan memaafkan kakang Widura?”

“Tidak” sahut gurunya. “Aku hanya memberinya waktu sepasar”

“Kenapa guru masih memberinya waktu?”

“Ada bermacam-macam pertimbangan. Aku masih berusaha untuk mencari jalan yang baik bagimu. Kecuali apabila dalam sepasar Widura masih tetap keras kepala. Selain yang sudah akua katakan, setan yang memperdengarkan suara lecutan itu pun dapat mengganggu jalanmu Sidanti, “

“Kenapa guru tidak menangkapnya saja, dan membunuhnya pula?”

“Kau dengar suara lecutannya?” bertanya gurunya. “Kau merasakan getaran di dadamu? Nah, itu pertanda bahwa orang itu pun bukan orang kebanyakan. Mungkin ia dapat melepaskan diri dari tanganku meskipun ia tidak berani langsung melawan aku dalam satu perkelahian”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun masih tampak di wajahnya, bahwa ia menyesal akan keadaan itu. Seandainya Widura itu terbunuh dan orang mempercayainya, bahwa yang membunuh Widura itu Tohpati, menilik dari bekasnya, maka tak seorang pun yang berani menyatakan dirinya, mengganti kedudukan Widura. Semua orang di Sangkal Putung menyadari, bahwa tak seorang pun yang dapat melampaui Sidanti. kecuali kalau Pajang menunjuk orang lain yang dikirim langsung dari Pajang. Namun siapa pun orang itu, nasibnya tidak akan lebih baik dari Widura.

Kemudian terdengarlah kembali suara Ki Tambak Wedi, kali ini kepada Widura. “Nah Widura. Aku masih akan membiarkan kau hidup sepasar lagi. Kembalilah kalian berdua. Sekali lagi aku memperingatkan kau Widura. Jangan membuat persoalan atas Sidanti, supaya aku tidak datang kepadamu bersama-sama dengan Tohpati, untuk memengal lehermu dan seluruh laskarmu”

Kini Widura telah menyadari keadaannya seluruhnya. Ia mendengar semua kata-kata Ki Tambak Wedi. ternyata orang itu sama sekali tidak mempunyai pendirian berpihak antara Pajang dan Jipang. Ia dapat berada dimana saja yang dapat memberinya keuntungan. Dengan demikian maka Ki Tambak Wedi mau pun Sidanti adalah benar-benar orang yang sangat berbahaya.

Yang terdengar kemudian adalah suara Ki Tambak Wedi pula, “Nah Sidanti. Jangan cemas, aku akan terus menerus mengawasi keadaan. Kau dengar pula itu, Widura?”

Sebelum Widura berkata sepatah katapun, dan sebelum Sidanti menjawab terdengarlah Ki Tambak Wedi itu menggeram. Kemudian dengan serta-merta dilemparkan potongan besi yang masih digenggamnya ke arah kaki Widura. Kemudian dengan satu loncatan yang cepat, Ki Tambak Wedi itu menghilang di balik pepohonan. Ia masih akan mencoba mencari, siapakah yang telah memperdengarkan suara lecutan yang dahsyat, yang telah mengganggu pekerjaannya. Namun karena suara itu sudah tidak terdengar lagi, serta Ki Tambak Wedi menyadari, bahwa belum pasti ia kan dapat menangkapnya, akhirnya Ki Tambak Wedi itu pun melepaskan maksudnya.

Sidanti dan Widura masih tegak di tempat masing-masing. Ketika tanpa sesadarnya Widura memandang potongan besi yang tergeletak beberapa jengkal di muka kakinya ia terkejut bukan buatan. Besi itu kini melengkung sehingga kedua ujung-ujungnya hampir bertemu. Adalah kekuatan yang luar biasa yang dapat melakukannya. Sepotong besi sebesar ibu jari kaki, yang panjangnya tidak lebih dari dua jengkal itu dapat dilengkungkannya sedemikian, sehingga hanpir menjadi sebuah lingkaran.

Widura menarik nafas dalam-dalam. Ki Tambak Wedi benar-benar luar biasa. Namanya yang menakutkan itu, tidak saja karena kesombongannya, namun ia benar-benar memiliki kekuatan yang tidak ada taranya.

Sidanti yang melihat wajah Widura dalam keremangan malam, serta sikapnya yang gelisah, dan kemudian dengan serta-merta memungut besi yang hampir menjadi lingkaran itu, tertawa pendek. Desisnya, “Apa kau heran kakang, bahwa Ki Tambak Wedi dapat melakukannya? Melengkungkan besi sebesar itu dengan tangannya?”

“Tidak” jawab Widura. “Orang yang sakti seperti Ki Tambak Wedi itu pasti akan dapat berbuat lebih banyak dari permainan ini, meskipun permainan ini telah menggoncangkan dadaku”

Sekali lagi Sidanti tertawa. Dengan bibir yang ditarik kesisi ia berkata, “Sejak saat ini kau jangan terlalu sombong dan berkeras kepala supaya umurmu tidak hanya terbatas pada lima hari ini saja”

Widura menggeleng. Sahutnya, “Aku tidak senang orang lain mencampuri persoalan dalam tata kelaskaran Pajang. Sudah aku katakan, hidup matiku akan aku pertaruhkan untuk kewibawaan Pajang”

 

(bersambung ke Jilid 4)

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-03/

Terima kasih kepada mas Rizal yang telah bersusah payah retype jilid ini.

Editing, disesuaikan dengan jilid aslinya oleh Ki Arema

<<kembali | lanjut >>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s