ADBM1-004

<<kembali | lanjut >>

SIDANTI mengangkat alisnya. Namun kemudian ia tertawa pula. Katanya, “Marilah kita pulang. Setelah kakang Widura beristirahatn mungkin kakang mempunyai pertimbangan lain”

“Pulanglah dahulu” sahu Widura, “Aku masih mempunyai pekerjaan”

Sidanti menjadi heran. Apakah yang akan dilakukan oleh Widura itu. Tetapi Sidanti yang sombong itu tak mau merajuk. Karena itu ia menjawab, “Baiklah aku pulang dahulu”

Sidanti kemudian tidak menungu jawaban Widura. Segera ia melangkah meninggalkan tempat itu, kembali ke kademangan Sangkal Putung. Kini ia merasa dapat berbuat sekehendaknya. Sedang Widura pasti tak akan berani menghalanginya lagi.

“Widura itu hanya malu-malu saja mengakui kekuasaanku sekarang” katanya dalam hati. “Namun aku yakin bahwa ia tidak akan berani mengganggu aku lagi”

Sidanti itu tersenyum sendiri. Akan datang gilirannya Sedayu ditundukkannya. Kalau ia tak mampu melakukan sendiri, maka cara yang sama seperti yang dilakukan atas Widura itu akan ditempuhnya, “Anak itu akan jauh lebih mudah diselesaikan”. Katanya pula, “Kalau ia terbunuh, tak akan ada yang mempersoalkannya selain Widura. Dan aku yakin Widura  pun kini akan berdiam diri”

Sidanti itu kemudian berjalan dengan wajah yang terang, seakan-akan Sangkal Putung itu benar-benar telah dikuasainya. Seluruhnya. Dan terbayanglah di wajahnya, seorang gadis yang manis dan lincah, yang pernah mengaguminya pula, Sekar Mirah. Dengan modal pimpinan atas Sangkal Putung dan kemudian apabila ia berhasil membinasakan Tohpati atas namanya, maka pasti ia akan cepat menanjak. Seterusnya, ia harus pandai memanfaatkan setiap kesempatan.

Widura yang masih tegak di tempatnya, memandang Sidanti itu sampai hilang dalam gelapnya malam. Ia tersadar ketika kemudian didengarnya ayam hutan berkokok dikejauhan. Ternyata malam telah jauh melampaui pusatnya. Dan sebentar lagi akan terdengar kokok ayam jantan yang terakhir kalinya menjelang fajar.

Perlahan-lahan Widura itu pun menyarungkan pedangnya. Pikirannya masih dipenuhi oleh berbagai persoalan yang menekan. Ternyata tugasnya menjadi sangat berat dan berbahaya. Tidak saja Tohpati dan sisa-sisa laskar Jipang yang lain yang memusingkan kepalanya, namun Sidanti, bagian dari tubuh sendiri, itu pun benar-benar hampir mencabut nyawanya. Berturut-turut beterbanganlah angan-angannya atas pekerjaannya yang berat itu. Tohpati, Sidanti, Ki Tambak Wedi, Agung Sedayu, dan tak dapat diabaikan pula, usaha untuk menemukan Untara.

Widura menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia bergumam, “Aku tidak dapat menghindarkan diri dari kewajiban-kewajiban itu. Meskipun tubuhku akan menjadi lumat karenanya.”

Perlahan-lahan Widura itu pun melangkahkan kakinya. Tiba-tiba saja ia merasa muak untuk berjalan bersama-sama dengan Sidanti . Karena itu dibiarkannya anak muda itu berjalan dahulu. Dan kini ia pun berjalan meninggalkan tegal yang sepi, sesepi taman pekuburan. Ketika sekali ia menoleh, dilihatnya pohon jambu mete itu seperti hantu raksasa yang mengembangkan tangan-tangannya yang banyak sekali jumlahnya untuk menyergapnya. Namun Widura bukan seorang penakut. Karena itu ia sama sekali tidak menjadi ngeri melihatnya. Dan ia masih tetap berjalan perlahan-lahan sambil menghirup udara malam yang segar.

Meskipun tubuhnya menjadi bertambah segar, namun hatinya tidak dapat menjadi sesegar tubuhnya. Berbagai-bagai persoalan, satu demi satu membelit di hatinya. Dan ia tidak mempunyai seorang kawan pun yang dapat diajaknya untuk membicarakan kesulitan-kesulitannya. Ki Demang Sangkal Putung  pun tidak. Sebab dengan demikian Demang Sangkal Putung itu akan mempunyai pandangan-pandangan yang berbeda arah penelaahannya. Hudaya, Citra Gati dan orang lain pun pasti akan menuruti perasaannya saja, tanpa mempertimbangkan dengan pikiran, serta tanpa memandang kepentingan yang lebih besar dan jauh. Karena itu pikiran Widura itu pun menjadi suram. Namun betapa pun juga, dicobanya untuk mengatasi kesulitan itu dengan sebaik-baiknya.

Ketika Widura telah keluar dari daerah pategalan itu, tiba-tiba saja ia membelok kekiri. Ia terkejut sendiri atas langkahnya, “Hem” gumamnya, “Akan kemanakah aku ini?” Tetapi ia meneruskan langkahnya. Tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk pergi ke gunung Gowok. Ia tidak menyadari sepenuhnya, apakah kepergiannya itu akan bermanfaat baginya. Namun, karena pikiran yang suram itu, inginlah ia berbuat sesuatu. Kiai Gringsing yang hampir setiap malam ditemuinya di gunung Gowok, kemudian ternyata mendapat tempat tersendiri di dalam hatinya. Orang yang berbuat dan berbicara seenaknya, seakan-akan hidup ini hanyalah sebuah permainan yang menyenangkan saja.

“Apakah aku dapat berbicara dengan orang itu?” gumamnya. Tetapi kemudian ia pun sadar, bahwa ia pasti akan menjadi kecewa karenanya. Orang bertopeng itu pasti akan mentertawakannya, dan menyuruhnya supaya membicarakan dengan orang yang disebutnya gurunya, Sedayu. Karena itu pulalah Widura itu sering mengumpat di dalam hati. Namun kali ini ia benar-benar ingin menemuinya.

Tetapi Widura itu menjadi ragu-ragu. Apakah Kiai Gringsing masih berada di sana? Hampir setiap malam ia datang bersama Sedayu, tetapi sebelum tengah malam. Dan kali ini tengah malam itu telah jauh lampau. Meskipun demikian Widura itu berjalan terus.

Di perjalanan itu, kadang-kadang pikirannya diganggu juga oleh suara lecutan yang dahsyat yang telah menyelamatkannya. Bahkan kemudian timbul juga berbagai pertanyaan di dalam dirinya, siapakah orang yang telah berbuat itu? Apakah ada orang aneh lagi selain Kiai Gringsing? Apakah mungkin Kiai Gringsing pula yang melakukannya?

Widura menjadi ragu-ragu. Ia mengagumi kesaktian Kiai Gringsing, namun apakah orang itu mampu menggetarkan dadanya dengan suara lecutan itu, dan memaksa Ki Tambak Wedi merubah rencananya?

Gunung Gowok itu kini sudah tidak jauh lagi berada di hadapannya. Dalam keremangan malam, telah dilihatnya pohon kelapa sawit tegak di atas puntuk kecil itu. Namun sebelum ia meloncati parit dan berjalan di atas pematang, tiba-tiba Widura itu terkejut bukan kepalang, sehingga ia terlonjak karenanya. Dekat di belakangnya, didengarnya sebuah letusan yang dahsyat, yang hampir saja menggugurkan isi dadanya.

Secepat-cepatnya Widura berusaha untuk memutar tubuhnya. Dan dengan gerak naluriah tangannya meraba hulu pedangnya. Namun tenaganya yang memang belum pulih itu, seakan-akan tidak mampu untuk melakukan sesuatu. Apalagi getaran di dalam dadanya masih terasa memukul-mukul tak henti-hentinya.

Namun Widura tak melihat seorangpun. Dengan sekuat-kuat tenaganya ia memusatkan kekuatan batinnya melawan getaran-getaran yang masih saja melanda jantungnya. Sehingga lambat laun ia berhasil pula menenangkan dirinya.

Tetapi ia masih belum melihat seorang pun di sekitarnya. Karena itu Widura menjadi gelisah. Tangan kanannya masih melekat dihulu pedangnya. Dan bahkan setelah getaran-getaran di dalam dadanya mereda, Widura itu pun telah siap untuk menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi, meskipun ia sadar, bahwa tenaganya masih belum separo pulih kembali.

Tetapi sekali lagi Widura terkejut. Bukan oleh suara lecutan yang dahsyat. Tetapi kali ini terdengarlah suara tertawa. Suara yang bernada tinggi dan nyaring.

Dengan serta-merta Widura itu pun berpaling. Hampir ia mengumpat ketika dilihatnya seseorang duduk di atas pematang di antara batang-batang padi muda. Dan Widura itu pun segera mengenalnya. Orang itulah yang dicarinya, Kiai Gringsing.

“Ah” desis Widura. “Kiai benar-benar mengejutkan aku”

“Oh” sahut Kiai Gringsing, “Maafkan aku. Aku kira kau senang mendengar lecutan-lecutan itu. Coba Widura apakah kau bisa berbuat seperti aku?”

Sebelum Widura menjawab, Kiai Gringsing itu sudah berdiri dan diberikannya kepada Widura sebuah cambuk lembu yang sederhana. Bertangkai bambu cendani dan ujungnya pun dibuatnya dari anyaman bambu siladan pula.

Dada Widura bergetar karena itu. Ternyata orang yang membunyikan lecutan-lecutan itu adalah Kiai Gringsing dengan cambuk bambu yang sangat sederhana pula. Karena itu, maka betapa kagumnya pemimpin laskar Pajang itu. Bahkan dengan serta-merta terloncatlah pertanyaannya, “Jadi adakah Kiai tadi yang membunyikan cambuk itu berturut-turut tiga kali?”

Kiai Gringsing itu tertawa. Jawabnya, “Aku sedang bermain-main”

“Tetapi perbuatan Kiai itu ternyata telah menolong jiwaku” sahut Widura.

“He” Kiai Gringsing terkejut. Katanya, “Bagaimana itu terjadi. Apa hubungannya bunyi lecutan itu dengan jiwamu?”

Widura telah mengenal Kiai Gringsing beberapa lama. Karena itu maka ia pun telah dapat mengerti serba sedikit tentang sifat orang bertopeng itu. Maka jawabnya, “Suara lecutan itu telah menakut-nakuti orang yang akan membunuhku”

“Kau akan dibunuh orang?” bertanya Kiai Gringsing itu.

Widura kini benar-benar mengumpat di dalam hati. Ia tahu benar bahwa Kiai Gringsing telah berbuat dengan sadar untuk menolongnya. Namun terpaksa ia menjawab pula, “Ya Kiai”

“Apakah persoalannya, sehingga seseorang berbuat demikian jahatnya?” orang bertopeng itu bertanya

Widura menjadi ragu-ragu sejenak. Ingin ia mengutarakan semua persoalan-persoalan yang menyumbat dadanya, namun setelah ia bertemu dengan orang aneh itu, ia menjadi ragu-ragu. Karena itu ia ingin menjajaginya, apakah pintu terbuka baginya untuk menyatakan kesulitan-kesulitannya. “Kiai” katanya, “Aku ternyata mempunyai banyak persoalan-persoalan di sini. Persoalan di dalam lingkungan sendiri dan persoalan yang aku hadapi atas sisa-sisa laskar Jipang”

Widura benar-benar menjadi kecewa ketika tiba-tiba Kiai Gringsing itu tertawa. Katanya, “Kau benar bodoh Widura. Bukankah di Sangkal Putung ada gurumu. Nah katakan kepadanya kesulitan-kesulitanmu itu. Jangan kau katakan kepadaku”

“Tetapi bukankah Kiai bertanya?” potong Widura.

“Marilah kita tidak mempersoalkan lagi tentang hal-hal yang mengerikan. Aku takut mendengar perkara-perkara pembunuhan. Sekarang coba, apakah kau dapat membunyikan cambuk itu”

Sekali lagi Widura menarik nafas panjang. Panjang sekali. Ditatapnya wajah yang bersembunyi di balik topeng itu. Namun yang tampak baginya tidak lebih dari wajah mayat dari kayu yang menyelubungi wajah Kiai Gringsing itu.

Widura mengangkat alisnya ketika ia pun mendengar orang bertopeng itu menarik nafas dalam-dalam. Namun hanya sesaat. Yang kemudian terdengar adalah kata-kata orang bertopeng itu pula, “Nah, cobalah”

Widura tidak dapat berbuat lain daripada mencoba membunyikan cambuk itu. Dengan satu gerakan menyentak sendal pancing ia mencobanya. Dan terdengarlah sebuah lecutan yang keras, namun hanya sekeras para penggembala membunyikan pecut-pecut mereka.

“Ternyata kau tidak sepandai aku” berkata Kiai Gringsing, “Berikan cambuk itu” mintanya.

Dengan hati yang kosong Widura menyerahkan cambuk bambu itu. Dan tiba-tiba sekali lagi menggeletar suara cambuk yang dahsyat. Dan sekali lagi getaran yang dahsyat pula menghantam dada Widura. Untunglah ia segera berhasil memusatkan kekuatan batinnya, sehingga dadanya tidak meledak karenanya. Dengan penuh ketekunan Widura kemudian mencoba menenangkan hatinya. Mencoba meredakan getaran-getaran yang menghentak-hentak jantungnya.

Ketika ia hampir berhasil terdengarlah suara Kiai Gringsing tertawa. Katanya, “Jangan marah Widura. Aku hanya bermain-main. Agaknya kau terkejut karenanya”.

Widura yang menjadi jengkel itu tiba-tiba teringat pada besi yang dibawanya. Besi yang hampir menjadi sebuah lingkaran. Karena itu tiba-tiba ia berkata, “Kiai, aku juga mempunyai permainan. Apakah Kiai pernah bermain-main dengan lingkaran ini?”

Suara tertawa Kiai Gringsing itu pun terputus. Diperhatikannya potongan besi di tangan Widura itu dengan seksama.

Dilihatnya sepotong besi yang melengkung, sehingga kedua ujung dan pangkalnya hampir bertemu.

“Permainan apakah ini?” bertanya Kiai Gringsing.

Widura kemudian memberikan potongan besi itu kepada Kiai Gringsing sambil berkata, “Permainan yang dibawa oleh Ki Tambak Wedi”

Kiai Gringsing menerima sepotong besi itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya, “Permainan aneh. Bagaimanakah Ki Tambak Wedi itu bermain? Dilemparkan atau diguling-gulingkan?”

Sekali lagi Widura mengumpat di dalam hati. Namun Widura  pun menyadari, bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di balik sikap Kiai Gringsing yang dibuat-buat itu. Meskipun demikian, ia menjawab, “Tidakkah Kiai pernah bermain-main dengan benda-benda yang demikian? Aku sangka orang-orang tua suka bermain-main dengan potongan-potongan besi demikian seperti Ki Tambak Wedi. aku sendiri tidak tahu, apakah yang menyenangkan Ki Tambak Wedi namun ia membuat lingkaran-lingkaran semacam itu”

Kiai Gringsing itu pun menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak pernah bermain-main dengan benda-benda semacam itu. Inilah”

Sekali lagi Widura menjadi kecewa. Ia ingin mengatakan kepada Kiai Gringsing bahwa kekuatan Ki Tambak Wedi itu telah berhasil melengkungkan besi itu. Namun sebelum ia berkata apaun, dilihatnya Kiai Gringsing melemparkan besi itu ke arahnya sambil berkata, “Terimalah”

Dengan gerak naluriah Widura melangkah ke samping. Potongan besi itu tepat mengarah kemata kakinya. Karena itu ia harus menghindarinya. Namun ketika kemudian ditatapnya potongan besi yang kini tergeletak di sampingnya, kembali dadanya bergoncang dahsyat sekali. Ia menjadi lebih terkejut lagi dari pada saat ia melihat besi melengkung itu dilemparkan dibawah kakinya, oleh Ki Tambak Wedi. dengan dada yang bergolak, tanpa sesadarnya Widura memungut potongan besi itu. Dan dengan tangan gemetar ia memeganginya. Namun potongan besi itu kini telah lurus kembali. “Alangkah dahsyatnya!” katanya di dalam hati. “Meluruskan potongan besi ini dengan tangan jauh lebih sulit daripada melengkungkannya. Tetapi orang bertopeng itu telah melakukannya”

Sebelum getaran di dalam dadanya itu mereda, terdengarlah Kiai Gringsing itu berkata, “Nah Widura, kalau kau bertemu sekali lagi dengan Ki Tambak Wedi, tanyakanlah kepadanya. Apakah yang menarik hatinya untuk bermain-main dengan besi-besi semacam itu. Apakah besi-besi semacam itu pulalah yang dipakainya sebagai gelang di tangan atau kakinya? Aku sendiri tidak senang bergelang dan berbinggel dikaki. Apakah bergelang akar atau besi sekalipun”

Kini Widura telah berhasil menenangkan dirinya dari ketakjubannya. Meskipun demikian, kekagumannya kepada orang bertopeng itu menjadi bertambah-tambah. Katanya, “Kiai, ternyata Kiai lebih pandai bermain dengan potongan-potongan besi daripada Ki Tambak Wedi”

“He?” orang bertopeng itu terkejut, “Apakah aku bermain-main dengan besi itu?”

“Kiai telah berhasil meluruskannya, “sahut Widura. “Aku menjadi takjub ketika aku melihat Ki Tambak Wedi dengan tangannya berhasil melengkungkan potongan besi itu. Aku kagum akan kekuatan yang tersimpan di dalam tangannya. Tetapi kini, ternyata Kiai dapat pula berbuat demikian. bahkan lebih mentakjubkan lagi. Bukankah meluruskan besi itu lebih sulit dari melengkungkannya?”

Terdengarlah kemudian Kiai Gringsing itu tertawa terkekeh-kekeh. Di antara derai tawanya itu terdengar ia berkata, “Kau memuji aku Widura. Aku menjadi senang sekali karenanya. Apakah kau sudah kawin?”

Pertanyaan itu benar-benar tak diduganya. Karena itu Widura menjadi bingung, sehingga Kiai Gringsing itu mendesaknya, “He Widura, apakah kau sudah kawin?”

“Sudah Kiai” jawab Widura.

“Sudah punya anak?”

“Sudah Kiai, seorang”

“Sayang” berkata orang bertopeng itu masih dalam derai tertawanya, “Kalau belum, kau akan aku ambil untuk menantu meskipun aku tidak punya anak perempuan”

Kembali Widura menarik nafas dalam-dalam sambil mengumpat di dalam hati. Namun ia berdiam diri. Dibiarkannya Kiai Gringsing berkata sekehendak hatinya. Namun ia masih dicengkam oleh kekaguman pada orang itu. Orang yang dengan suara lecutan yang dahsyat telah memperpanjang umurnya, dan dengan kedua tangannya, tanpa dilihatnya telah berhasil meluruskan besi yang melengkung itu. “Kalau demikian” katanya dalam hati, “Apakah dugaan Ki Tambak Wedi tidak keliru? Ki Tambak Wedi menganggap bahwa tidak ada orang sakti selain dirinya di daerah ini. Bagaimanakah dengan orang bertopeng ini? Orang yang namanya sama sekali tak dikenal selain olehku dan Agung Sedayu”

Tetapi Widura kemudian terkejut ketika dikejauhan terdengar suara ayam jantan berkokok bersahut-sahutan. Ketika ia memandang ketimur, membayanglah warna-warna semburat merah di atas garis cakrawala.

“Hampir fajar” desisnya.

Kiai Gringsing itu pun menengadahkan wajahnya. kemudian katanya, “Ya, hampir fajar. Aku harus segera kembali sebelum terang tanah. Orang akan menyangka aku sebagai penari topeng yang kesiangan”

“Kenapa Kiai pakai topeng?” tiba-tiba saja terluncur pertanyaan itu dari mulut Widura.

Kiai Gringsing tiba-tiba terpaku pula di tempatnya. Diawasinya wajah Widura dengan tajamnya. Namun tanpa menjawab pertanyaan itu, Kiai Gringsing melangkah meninggalkan Widura seorang diri.

Widura mengawasi langkah Kiai Gringsing dengan hati yang berdebar-debar. Tiba-tiba saja keinginannya untuk mengetahui siapakah sebenarnya orang bertopeng itu melonjak-lonjak di dalam dadanya. Sehingga tiba-tiba ia meloncat sambil berteriak, “Kiai, berhentilah”

Kiai Gringsing itu pun berhenti. Ketika ia berpaling, dilihatnya Widura meloncati parit dan berlari ke arahnya, “Aku ingin tahu, siapakah Kiai sebenarnya”

“Jangan” jawab Kiai Gringsing. “Kelak akan sampai saatnya, kau tahu siapakah aku, sekarang belum”

“Tidak” jawab Widura. “Aku ingin tahu sekarang”

“Jangan” berkata Kiai Gringsing seperti orang yang ketakutan. Ketika ia melihat Widura menjadi semakin dekat, tiba-tiba Kiai Gringsing itu pun berlari pula, sambil berkata, “Jangan Widura. Kenapa kau masih saja akan menangkap aku?”

Namun Widura tidak memperdulikannya. Bahkan ia semakin mempercepat larinya. Ia benar-benar berusaha untuk dapat menangkap Kiai Gringsing.

Demikianlah maka mereka berdua berlari berkejar-kejaran. Kiai Gringsing itu berlari-lari di sepanjang pematang, melingkari gunung Gowok dan berputar-putar. Meskipun demikian, Widura belum berhasil menangkapnya. Bahkan jarak mereka semakin lama menjadi semakin jauh.

Akhirnya, Widura itu pun tertegun sendiri. Kiai Gringsing itu seakan-akan lenyap begitu saja, seperti asap dihembus angin. Widura yang terengah-engah itu berdiri tegak seperti patung di atas pematang yang basah. Ketika kemudian disapukannya pandangan matanya berkeliling, dilihatnya dikejauhan, Kiai Gringsing melambaikan cambuknya. Hanya lamat-lamat terdengar suaranya, “Besok kita bermain-main lagi digunung kecil itu Widura”

Widura menarik nafas. Tiba-tiba saja ia menjadi geli sendiri atas kelakuannya. Bahkan ia menjadi malu pula. Gumamnya, “Gila. Apakah aku telah kejangkitan penyakit Kiai Gringsing itu pula? Untunglah tak seorang pun yang melihatnya”

Widura yang kemudian menyadari keadaannya itu, kini melangkah di atas pematang menuju jalan kembali kekademangan Sangkal Putung. Kadang-kadang ia tersenyum sendiri. Dan berkali-kali iam merasa, bahwa hampir-hampir saja ia kejangkitan penyakit Kiai Gringsing yang aneh itu.

Widura itu pun kemudian mempercepat langkahnya. Ia tidak mau kesiangan sampai di kademangan.

Warna-warna merah di ujung timur semakin lama menjadi semakin tegas. Ketika Widura menjadi semakin dekat dengan induk desa Sangkal Putung, semakin riuhlah suara kokok ayam jantan yang seakan-akan menyambutnya. Namun Sangkal Putung tampaknya masih lelap di balik kabut malam yang seakan-akan awan yang keabu-abuan menyelimuti raksasa yang kedinginan.

Widura itu pun mempercepat langkahnya. Ia masih harus sembahyang subuh, sebelum melakukan pekerjaannya yang lain. Karena itu, ia harus sampai di kademangan sebelum hari menjadi terang.

Ketika Widura itu hampir sampai di regol halaman kademangan, ia menjadi terkejut. Dalam keremangan embun menjelang fajar, dilihatnya beberapa orang bergerombol di muka regol itu, lebih banyak dari yang seharusnya.

Dan Widura menjadi berdebar-debar pula, ketika tiba-tiba ia mendengar salah seorang yang melihatnya berteriak, “Itulah Ki Widura telah datang”

Widura itu pun berjalan semakin cepat pula. Di muka regol itu dilihatnya Hudaya, Citra Gati, Sonya, Sendawa dan beberapa orang lainnya. Hampir semua dari mereka itu, memegang senjata mereka masing-masing.

“Apa yang terjadi?” bertanya Widura serta-merta.

Citra Gati itup pun kemudian melangkah maju. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia menjawab, “Ternyata kami hanya berprasangka”

“Tentang apa” bertanya Widura pula.

Citra Gati berpaling ke arah Hudaya. Seakan-akan ia minta pertimbangan sahabatnya itu. Namun Hudaya segera memalingkan wajah ke arah lain.

Tampaklah mulut Citra Gati berkumat kamit mengumpati Hudaya. Namun yang kemudian dikatakannya adalah, “Kami berprasangka atas Sidanti, “

“Kenapa dengan Sidanti?” bertanya Widura pula

Sekali lagi Citra Gati berpaling ke arah Hudaya, namun Hudaya masih memandang ke bintang-bintang yang masih bergemerlapan di langit. Karena itu ia menjawab sendiri, “Kami mengetahui bahwa kakang pergi bersama Sidanti, namun kemudian Sidanti itu kembali seorang diri. Ketika ada di antara kami yang menanyakan kepadanya, ia menjawab namun sangat meragukan kami”

Widura itu pun menarik nafas dalam-dalam. Dadanya benar-benar berguncang mendengar kata-kata Citra Gati. Ia menjadi berbangga bahwa anak buahnya itu demikian setia kepadanya. Namun ia melihat bahaya yang besar pula yang ada di antara mereka. Bahaya yang setiap saat dapat meledak. Ternyata kawan-kawan Sidanti sudah demikian muaknya kepada anak muda yang sombong itu, sehingga setiap kesempatan, benturan-benturan di antara mereka agaknya sulit untuk dihindarkan. Namun betapa pun juga Widura harus memperhitungkan kekuatan di belakang Sidanti. Ki Tambak Wedi. Kalau sampau terjadi sesuatu atas muridnya itu, maka tidak mustahil Ki Tambak Wedi akan melakukan pembalasan dendam yang mengerikan. Bahkan tidak mustahil bahwa Ki Tambak Wedi dapat meminjam tangan Tohpati untuk melakukannya. Kalau Ki Tambak Wedi kehilangan Sidanti, maka Tohpati dapat diambilnya menjadi gantinya. Dan keadaannya akan menjadi semakin kalut. Karena itu, selagi ia belum menemukan cara penyelesaian yang sebaik-baiknya, maka ia harus menghindarkan setiap bentrokan yang mungkin terjadi.

Hudaya, Citra Gati dan beberapa orang kawan-kawannya itu masih berdiri di seputar Widura. Sehingga dengan demikian Widura itu terpaksa membubarkannya, “Nah, kembalilah kalian ke tempat kalian masing-masing. Kalian jangan terlalu berprasangka kepada seseorang. Untunglah belum terjadi sesuatu atas kalian. Ternyata aku sekarang aku kembali utuh”. Namun di dalam hatinya Widura itu berkata, “Hampir saja aku tidak kembali. Kalau terjadi demikian, maka apakah kira-kira yang dapat timbul di kademangan ini? Apakah anak-anak ini percaya bahwa aku terbunuh oleh Tohpati?

Tetapi Widura itu tidak berkata apa-apa lagi. Ia langsung berjalan menyibak orang-orang yang berdiri di muka regol itu masuk ke pringgitan.

Demikian ia membuka pintu pringgitan, ia melihat Agung Sedayu masih duduk terpekur. Anak muda itu terkejut ketika mendengar pintu bergerit, dan ketika berpaling, dan dilihatnya pamannya kembali, tiba-tiba wajahnya menjadi cerah. Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu itu menarik nafas dalam-dalam.

Widura itu pun segera pergi ke pembaringannya, melepaskan ikat pinggangnya dan meletakkan pedangnya.

“Apakah kau sudah bersembahyang?” terdengar ia bertanya.

“Sudah paman” jawab Agung Sedayu.

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa berkata sepatah pun ia melangkah keluar kembali, pergi ke perigi. Ketika sekali lagi ia menengadahkan wajahnya kelangit, terdengar ia bergumam, “Hampir fajar”

Baru setelah Widura itu selesai bersembahyang, maka ia pun segera duduk pula bersama-sama Sedayu. Widura itu menggigit bibirnya ketika dilihatnya Sekar Mirah membawa minuman hangat untuk mereka. Bukanlah kebiasaannya uantuk menyuguhkan makan dan minum itu dahulu. Tetapi sejak Agung Sedayu berada di kademangan itu, pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh pembantu-pembantunya, kini telah diambil alih olehnya.

“Marilah paman” katanya, “Mumpung masih hangat”

“Terima kasih Mirah” sahut Widura.

“Apakah kakang Sedayu tidak ingin berjalan-jalan?” terdengar gadis itu bertanya pula kepada Agung Sedayu.

Agung Sedayu menggeleng lemah. Jawabnya singkat, “Tidak, Mirah”

“Ah, hari cerah. Apakah kakang dapat mengantarkan aku kewarung sebentar?” ajak gadis itu.

Sekali lagi Sedayu menggeleng.meskipun sebenarnya ingin juga ia pergi, namun ia tidak berani melakukannya. Karena itu jawabnya, “Tidak Mirah. Aku sedang sibuk di sini”

Sekar Mirah menjadi kecewa. Ditatapnya wadah Widura seakan-akan ia minta ijin untuk Sedayu. Namun Widura itu menundukkan wajahnya, merenungi air jahe panas di hadapannya. Meskipun demikian Sekar Mirah itu masih mencoba memaksanya, katanya, “Aku harus berbelanja untuk kalian, namun aku takut seandainya aku bertemu dengan Sidanti di jalan”

Widura kini mengangkat wajahnya. Dilihatnya Agung Sedayu menjadi bingung untuk menjawab pertanyaan Sekar Mirah itu. Maka Widura itu pun berkata, “Mirah, jangan takut kepada Sidanti. Anak itu bukanlah anak yang jahat. Namun kadang-kadang ia menjadi kecewa karena sikap Sedayu. Nah, pergilah tanpa Sedayu. Aku menjadi jaminan, bahwa tak akan terjadi sesuatu. Apabila kau pergi bersama Sedayu, maka anak muda itu akan bertambah kecewa, dan ia akan dapat berbuat aneh-aneh di Sangkal Putung ini.”

Wajah Sekar Mirah itu menjadi merah. Betapa ia menjadi sangat kecewa mendengar kata-kata Widura itu. Ternyata menurut penilaiannya, Widura berpihak kepada Sidanti. “Aneh” katanya dalam hati. “Bukankah Sedayu itu kemenakannya sendiri?” Meskipun demikian ia tidak berkata apa pun lagi. Ketika sekali ia memandang wajah Sedayu, dilihatnya wajah itu menunduk dalam-dalam. “Anak muda itu menjadi kecewa pula” pikir gadis itu.

Perlahan-lahan Sekar Mirah pergi meninggalkan pringgitan. Sekali-sekali ia berpaling. Namun baik Widura mau pun Agung Sedayu tidak lagi memandanginya. Meskipun demikian, Sekar Mirah itu masih dapat menghibur dirinya, “Sedayu tidak marah kepadaku” katanya dalam hati. “Ia hanya takut kepada pamannya”

Pagi itu, Sekar Mirah pergi kewarung seorang diri. Sebenarnya ia pun sama sekali tidak takut seandainya Sidanti berbuat sesuatu atasnya. Apalagi hari telah berangsur terang, dan di sepanjang jalan telah menjadi riuh oleh orang-orang yang pergi datang kewarung di ujung desa.

Widura dan Agung Sedayu yang duduk di pringgitan itu terkejut ketika mereka mendengar gerit pintu terbuka. Mereka menggeser duduk mereka, ketika dari pintu itu muncul Ki Demang Sangkal Putung. Wajahnya yang sudah mulai ditumbuhi oleh garis-garis umur itu tampak tersenyum. sambil duduk di samping Widura terdengar ia berkata, “Hampir semalam suntuk adi berkeliling malam ini”

Widura tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya kakang”

“Bukankah tidak ada sesuatu yang mencurigakan?” bertanya ki Demang itu pula.

Widura menggeleng, “Tidak kakang”

Ki Demang Sangkal Putung itu pun kini mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Anak-anak sudah siap untuk mengadakan perlombaan-perlombaan yang dapat menarik hati mereka dan menghilangkan kejemuan. Apakah anak-anak adi Widura berminat pula?”

“Ya” sahut Widura, “Aku senang dengan rencana itu”

“Kita dapat segera menyelenggarakannya” berkata Ki Demang itu pula.

Widura itu pun tiba-tiba termenung. Apakah perlombaan-perlombaan itu akan dapat menggembirakan anak buahnya dalam keadaan seperti kini. Ia pasti bahwa perlombaan apa pun Sidanti lah yang akan memenangkannya. Namun akhirnya ia menjawab, “Baiklah kakang, meskipun kami semuanya sudah tahu, siapakah yang akan menjadi pemenangnya. Namun akan menyenangkan pula bagi mereka yang akan menjadi pemenang kedua, ketiga dan seterusnya”

Mendengar keputusan Widura itu, Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Peristiwa itu pasti akan menyenangkan anak-anak muda Sangkal Putung. Perlombaan-perlombaan yang demikian akan menghilangkan kejemuan, dan mereka merasa bahwa dengan perlombaan-perlombaan itu, mereka mendapatkan beberapa kebanggaan.

“Kapan perlombaan itu akan kita adakan?” bertanya ki Demang.

Widura mengerutkan keningnya. Tiba-tiba terngiang ditelinganya kata-katanya Ki Tambak Wedi bahwa waktu yang diberikan kepadanya hanyalah sepasar. Karena itu, maka apa pun yang akan dilakukan harus mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinannya dengan ancaman itu. Widura percaya bahwa orang semacam Ki Tambak Wedi itu pasti akan mampu melakukan apa saja yang dikatakannya.

Karena itu maka katanya, “Adakah anak-anak Sangkal Putung telah bersiap untuk melakukan perlombaan ini?”

“Sudah lama mereka mempersiapkan diri” jawab Ki Demang. “Mereka telah berlatih menggunakan panah, tombak dan bermacam-macam alat untuk berlomba. Sodoran di atas kuda dan bermacam-macam lagi”

“Bagus” sahut Widura. namun kemudian terlintas di dalam angan-angannya setiap sikap dan prasangka pada anak buahnya. Apakah perlombaan-perlombaan yang demikian tidak akan menimbulkan persoalan baru? Pedang, tombak dan semacam itu akan sangat berbahaya bagi anak buahnya yang sedang dibakar oleh ketidak puasan atas sikap satu dengan yang lain. Karena itu, maka kemudian jawabnya, “Kakang. Kita memilih segi-segi yang paling tidak berbahaya dalam perlombaan ini. Terutama bagi anak buahku sendiri. Mereka adalah prajurit-prajurit yang telah mengalami pertempuran, sebenarnya pertempuran, beberapa puluh kali. Karena itu perlombaan-perlombaan dengan pedang dan tombak tidak akan menyenangkan mereka. Sekali pedang dan tombak mereka terayun, maka tujuan mereka adalah melepaskan nyawa lawan-lawan mereka. Sehingga dengan demikian pedang-pedang rotan dan tombak yang berujung bola hanya akan menimbulkan kekecewaan saja. Meskipun demikian, biarlah mereka diberi kesempatan untuk bermain-main. Yang paling baik adalah lomba mempergunakan panah. Sedang bagi anak-anak Sangkal Putung biarlah mereka mendapat kesempatan untuk mempergunakan segala macam senjata”

Ki Demang Sangkal Putung itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia tidak langsung menangani anak-anak Widura, namun terasa pula olehnya, sikap-sikap yang amat menyulitkan bagi Widura untuk mengatasinya. Karena itu maka jawabnya, “Baiklah adi. Aku sependapat. Jadi kapan kita adakan perlombaan ini?”

Sekali lagi Widura merenung. Harus sebelum waktu yang sepasar itu tiba. Maka jawabnya, “Secepatnya kakang”

“Besok?” bertanya Ki Demang.

“Apakah hal itu mungkin?” sahut Widura.

“Mungkin sekali bagi anak-anak Sangkal Putung” jawab Ki Demang. “Tetapi bagaimana dengan anak buah adi?”

“Anak buahku bersiap setiap saat” sahut Widura, “Jangankan perlombaan, bertempur pun siap”

Ki Demang tersenyum mendengar jawaban Widura. katanya, “Tentu. Hampir aku lupa, bahwa mereka adalah prajurit-prajurit”

Widura  pun kemudian tersenyum pula.

Ketika kemudian Ki Demang itu keluar dari pringgitan, Swandaru telah berdiri tegak bertolak pinggang di pendapa. Terdengar ia tertawa riuh sambil berkata, “He paman Hudaya, kenapa paman tidur disitu?”

Hudaya yang terkantuk-kantuk bersandar pohon sawo terkejut mendengar sapa Swandaru. Kemudian sambil menggeleng-gelengkan kepala seakan-akan hendak mengusir kantuknya ia menjawab, “Hem, semalam aku hampir tidak tidur sekejappun”

“Kenapa? Apa paman sedang bertugas?”

Hudaya menggeleng, “Tidak. Tetapi aku bermimpi buruk”

Swandaru tertawa pula, “Mimpi apa?”

“Aku mimpi kau digigit anjing” jawab Hudaya.

Sekali lagi Swandaru tertawa terkekeh-kekeh. Tubuhnya yang bulat itu terguncang-guncang. Beberapa orang yang mendengar suara tertawanya berpaling ke arahnya. Ketika mereka melihat Swandaru, maka mereka tidak memperdulikannya lagi. Anak itu selalu saja tertawa, seakan-akan ia tidak mempunyai pekerjaan lain, selain tertawa. Tetapi sekali lagi orang-orang itu berpaling ketika suara Swandaru itu tiba-tiba saja terputus. Dan orang-orang itulah yang kemudian tertawa di dalam hatinya. Menggelikan sekali. Swandaru itu tiba-tiba saja menjadi tegang ketika melihat Sidanti lewat dimukanya. Namun Sidanti itu berpaling pun tidak.

“Apa kerjamu di sini Swandaru?” terdengar Ki Demang bertanya.

Swandaru mengerutkan keningnya. Dengan lantang ia menjawab seakan-akan sengaja supaya Sidanti mendengarnya, “Apa pun yang aku lakukan, bukankah aku berada di rumahku sendiri?”

“Hus” bentak ayahnya. “Jangan ngelindur. Pergi ke kawan-kawanmu. Katakan, perlombaan diadakan besok di tanah lapang di muka banjar desa”

“He” Swandaru menjadi sangat gembira, “Besok ayah?”

“Ya”

Swandaru itu pun segera berlari menghambur. Langsung ia berlari ke banjar desa dimana kawan-kawannya sering berkumpul.

Tetapi selain Swandaru, anak buah Widura pun mendengar kata-kata ki Demang itu. Mereka sudah mendengar pula sebelumnya bahwa akan diadakan perlombaan bagi mereka. Meskipun mereka senang juga menyelenggarakannya, namun mereka tidak segembira anak-anak muda Sangkal Putung itu.

Sidanti pun mendengar kabar itu. Di sudut pendapa, di tempatnya, ia tersenyum. Katanya dalam hati, “Hem, siapa yang akan mencoba melawan Sidanti? Dengan rotan pun aku akan mampu membunuh, setidak-tidaknya melumpuhkan orang-orang macam Hudaya, Citra Gati dan tikus-tikus bodoh itu. Apalagi dengan tombak berujung bola. Atau barangkali anak muda yang bernama Agung Sedayu itu?”

Hari itu Sangkal Putung benar-benar menjadi sibuk. Seakan-akan di Sangkal Putung akan diselenggarakan suatu peralatan yang maha besar. Anak-anak muda berjalan hilir mudik simpang siur dengan tergesa-gesa.

Hudaya, Citra Gati dan beberapa orang lagi terpaksa ikut sibuk dengan anak-anak muda itu. Mereka terpaksa memberi mereka beberapa petunjuk tentang penyelenggaraan perlombaan besok di muka banjar kademangan.

Diberinya anak-anak muda itu petunjuk-petunjuk bagaimana mereka harus membuat lingkaran-lingkaran dengan kapur di tengah-tengah lapangan kecil itu. Bagaimana mereka membuat garis batas bagi sodoran yang akan diselenggarakan pula.

Semuanya dibuat dengan tergesa-gesa. Namun justru karena itu anak-anak muda Sangkal Putung menjadi sangat gembira. Sehari-harian mereka bekerja tampa mengenal lelah. Apalagi mereka yang besok akan ikut bertanding. Tetapi justru karena itu pula beberapa anak buah Widura yang ditugaskan membantu penyelenggaraan itu mengumpat tak habis-habisnya. Mereka lebih senang bertempur daripada merentang-rentang tali dipanas yang terik, membuat pagar dan garis-garis batas, membuat orang-orangan untuk lomba memanah. Dan masih terlalu banyak yang harus mereka kerjakan.

Namun betapa sibuknya mereka, Sidanti sama sekali tidak mau turun dari pendapa. Apalagi membantu mereka. Bahkan hampir sehari-harian ia berbaring. Kadang-kadang ia tersenyum- senyum sendiri sambil bergumam, “Alangkah bodohnya orang-orang itu. Mereka bekerja keras mempersiapkan arena. Besok akulah yang akan mendapat tepuk sorak dari penonton”

Meskipun demikian, Sidanti menjadi agak kecewa pula. Setelah ia mendengar bahwa bagi mereka hanya diadakan satu macam perlombaan saja. Memanah. Yang lain tidak.

“Biarlah” katanya dalam hati. “Aku pun jemu pada permainan anak-anak itu. Tetapi memanah adalah permainan yang mengasyikkan”

Demikianlah hari itu telah dilampaui oleh anak-anak Sangkal Putung dengan penuh kesibukan. Bahkan sampai pada malam harinya pun mereka hampir tidak dapat tidur. Mereka sibuk dengan berbagai persoalan di dalam angan-angannya. Sedangkan mereka yang besok akan turun kearena, masih mencoba untk menambah ketrampilannya.

Meskipun demikian, Widura tidak kehilangan kewaspadaan. Dibiarkannya anak-anak Sangkal Putung sibuk dengan persoalannya. Namun Widura tetap menempatkan orang-orangnya di segenap penjuru. Ia tidak mau dengan tiba-tiba ditelan begitu saja oleh laskar Tohpati. Karena itu, setiap saat ia tetap pada kesiapsiagaan yang sebenarnya. Bukan sekedar bersiap untuk mengadakan perlombaan-perlombaan semacam itu. Karena itu, maka malam itu pun Widura telah bersiap untk berkeliling kademangan. Kali ini ia tidak berjalan bersama Sidanti, tetapi kembali ia pergi dengan Agung Sedayu.

Agung Sedayu tidak pernah mengetahui apa yang telah terjadi dengan pamannya. Dan ia tidak tahu pula, mengapa semalam pamannya membawa Sidanti serta, dan kini ia harus ikut pula kembali seperti malam-malam sebelumnya.

Seperti biasanya, setelah mereka berkeliling disemua gardu-gardu perondan, maka mereka berdua pergi ke tempat mereka berlatih, gunung Gowok. Di sepanjang perjalanan itu, hampir tak ada yang mereka percakapkan. Widura tidak memberitahukan apa saya yang pernah terjadi, dan Sedayu tidak mau menyatakan pertanyaan-pertanyaan yang bergelut di dalam dadanya.

Namun kemudian, ketika mereka hampir sampai ke puntuk kecil itu, terdengar Widura berkata, “Sedayu, apakah kau tidak ingin ikut serta berlomba?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. terjadilah suatu kesibukan di dalam dadanya. Ia merasa, bahwa ia pun mampu untuk melepaskan panah hampir dalam keadaan yang tak mungkin dilakukan oleh orang lain. Namun, sekali lagi Sedayu terpaksa menggigit bibirnya. Ia belum berhasil melampaui dinding yan memagari jiwanya. Alangkah kerdilnya. Ia takut, kalau ia tidak dapat melakukan dengan pantas, sehingga orang-orang di Sangkal Putung akan kecewa terhadapnya. Ia takut bahwa orang-orang itu akhirnya mengetahui tentang dirinya. Bahwa ia tidak lebih dari seorang pengecut. Karena kebimbangan dan kecemasan yang bercampur baur di dalam dadanya, Sedayu masih tetap berdiam diri.

“Sedayu” akhirnya terdengar pamannya berkata, “Aku telah mencegah dilakukannya perlombaan-perlombaan segala macam jenis. Aku mencoba untuk menghindarkan setiap persoalan yang akan mempertajam ketegangan dan prasangka di antara anak buahku. Selain itu, aku telah menghindarkan kemungkinan, bahwa orang-orang Sangkal Putung dan anak buahku mengharap suatu pertandingan yang dahsyat antara Sidanti dan adik Untara yang mereka bangga-banggakan.” Widura terdiam sesaat. Ketika ia berpaling, dilihatnya Agung Sedayu berjalan sambil menekurkan kepalanya. Kata-kata pamannya itu benar-benar telah menampar jantungnya. Kalau benar-benar terjadi, bagaimanakah sikap yang akan diambilnya. Apakah ia akan melawan Sidanti? Alangkah mengerikan. Sidanti adalah seorang anak muda yang perkasa, yang telah mampu melawan Tohpati meskipun tidak sempurna. Karena itu, meskipun dengan rotan sebesar ibu jari kaku, atau dengan tongkat berujung bola rotan, Sidanti itu akan dapat membunuhnya. Dan ia akan mati terkapar di tengah arena, diiringi dengan teriakan dan umpatan-umpatan penuh kekecewaan atas dirinya.

Tiba-tiba bulu kuduk Sedayu berdiri. Dan tiba-tiba pula ia menjawab, “aku tidak ikut dalam perlombaan apa pun paman”

Widura lah yang kini terdiam. Kalau Agung Sedayu itu sama sekali tidak turut, maka akan timbullah berbagai pertanyaan di antara anak buahnya. Karena itu ia berkata, “Sedayu, bukankah kau masih pandai melepaskan panah?”

Mendengar pertanyaan pamannya itu sekali lagi Agung Sedayu terdiam. Sehingga terdengar Widura mendesaknya, “Sedayu, bukankah kau masih pandai memanah? Mungkin kau dapat ikut dalam perlombaan itu sehingga kau akan dapat memenangkannya”

Berbagai persoalan kini saling mendesak di dalam dada Agung Sedayu. Apakah sebenarnya yang ditakutinya dalam perlombaan memanah? Kalah atau menang, maka ia tak akan menderita sakit karenanya. Namun tiba-tiba Agung Sedayu itu menjadi ngeri membayangkan akibat dari perlombaan itu. Kalau ia kalah, maka orang akan sangat kecewa kepadanya, namun apabila ia memenangkan perlombaan itu dan mengalahkan Sidanti, maka jangan-jangan anak muda yang perkasa itu mendendamnya.

Karena itu akhirnya Agung Sedayu menjawab, “Aku tidak ikut paman”

“He” Widura menjadi semakin tidak mengerti. “Perlombaan memanah pun kau tidak berani?”

“Aku sedang berpikir tentang akibatnya. Kalau aku menang atas Sidanti, maka jangan-jangan Sidanti menjadi semakin bersakit hati” jawab Sedayu.

“Hem” terdengar Widura menggeram. Hampir ia tidak dapat menahan kejengkelannya. Seandainya ia tidak mengingat bahwa anak itu adalah anak kakaknya perempuan, maka Sedayu pasti sudah dipukulnya dan dipaksanya untuk berbuat sesuatu. Atau malahan sudah dipaksanya untuk bertempur melawan Sidanti. Atau anak itu telah lama diusirnya dari Sangkal Putung. Tetapi apa boleh buat. Namun anak itu benar-benar telah memusingkan kepalanya, meskipun kali ini alasannya bisa juga dimengerti.

Akhirnya mereka sampai juga digunung Gowok. Dengan penuh kejengkelan Widura membawa Agung Sedayu dalam satu latihan. Karena itu maka apa yang dilakukan Widura, hampir merupakan pertempuran yang sebenarnya.

Tetapi alangkah bodohnya Sedayu. Ia tidak dapat mengerti hati pamannya, sehingga ia tidak menyangka bahwa pamannya kali ini ingin mencobanya, supaya sekali-sekali ia mengalami suatu keadaan seperti yang harus dialami oleh setiap laki-laki. Sedayu hanya menganggap bahwa pamannya telah menuntunnya dalam suatu tingkatan yang lebih maju dari yang biasa dilakukannya. Maka karena ia takut bahwa pamannya akan marah kepadanya, seandainya ilmunya tidak maju-maju juga, maka Agung Sedayu itu pun kemudian mencoba melayani pamannya dengan sepenuh tenaga pula.

Demikianlah maka Widura melepaskan kejengkelan hatinya pada latihan itu. Serangannya datang bertubi-tubi. Ia ingin melihat apa yang dilakukan Agung Sedayu, apabila tubuhnya benar-benar terkena oleh serangannya.

Tetapi sekali lagi Widura itu mengumpat tak habis-habisnya di dalam hatinya. Demikian ia memperketat serangannya, maka pertahanan Agung Sedayu pun menjadi semakin rapat. Bahkan untuk menyenangkan hati pamannya, sekali-sekali Sedayu berhasil menyerangnya pula dengan serangan-serangan yang kadang-kadang membingungkannya. Dalam keadaan yang demikian itu, maka Agung Sedayu pun telah memeras hampir segenap kemampuannya. Kemampuan yang pernah dipelajarinya dari kakaknya, dari ayahnya dan dari pamannya itu. Sebenarnyalah Agung Sedayu bukanlah seorang anak yang kerdil dalam ilmunya, seperti kekerdilan jiwanya. Semakin keras serangan-serangan yang dilancarkan oleh pamannya itu, semakin heranlah dada Widura dibuatnya. Betapa serasinya Agung Sedayu memadukan unsur-unsur gerak yang diwarisi dari Ki Sadewa lewat kakaknya, lewat ayahnya itu sendiri atau lewat dirinya dengan unsur-unsur gerak yang pernah dilihatnya dan dihayatinya dalam latihan-latihan melawan Kiai Gringsing di gunung Gowok itu.

“Aneh” berkata Widura di dalam hatinya. “Kalau hati anak ini sebesar hati kakaknya, bukankah ilmunya tidak terpaut banyak dari ilmu yang aku miliki?”

Namun Widura itu tidak berkata apapun. Dipercepatnya setiap geraknya dan bahkan kini Widura telah sampai kepada puncak ilmunya. Namun Sedayu itu masih melawannya dengan gigih. Bahkan kadang-kadang anak muda itu mampu melakukan hal-hal yang tak pernah dimengertinya sebelumnya.

Selain dari geraknya yang cepat dan cekatan, ternyata tenaga Agung Sedayu pun cukup kuat pula. Apabila sekali-sekali terjadi benturan di antaranya, maka terasa juga tubuh pamannya itu bergetar. Bahkan apabila serangan-serangan Widura itu berhasil mengenainya, maka Sedayu itu pun hanya berdesis, namun kemudian seakan-akan anak muda itu tak merasakan sesuatu.

Dan ia mampu untuk bergerak kembali dengan lincahnya, selincah burung seriti menangkap mangsanya di udara.

Namun betapa Agung Sedayu berjuang mempertahankan dirinya, tetapi Widura memiliki pengalaman yang jauh lebih besar daripadanya. Sehingga lambat laun, terasa juga tekanan-tekanan Widura menjadi semakin mendesak. Tangan Widura itu semakin lama menjadi semakin sering menyentuh tubuhnya. Meskipun tidak di tempat-tempat yang berbahaya, namun sentuhan-sentuhan itu terasa sakit-sakit juga.

Widura melihat keadaan itu. Justru Karena itu ia memperkuat serangannya. Ia ingin tahu, batas tertinggi dari ilmu kemenakannya.

Tiba-tiba latihan yang keras itu pun terganggu. Dari atas puntuk kecil itu, Widura dan Agung Sedayu mendengar suara tertawa dengan nada yang tinggi. Segera mereka mengenal suara itu, suara Kiai Gringsing. Bahkan kemudian Kiai Gringsing itu tidak saja tertawa, tetapi ia kini bertepuk tangan sambil memuji, “Bagus Sedayu, ternyata muridmu itu menjadi bertambah terampil juga akhirnya”

Gerak Widura itu pun kemudian terganggu. Karena itu maka kemudian ia melontar mundur sambil berkata, “Sudahlah Sedayu, kita hentikan dahulu latihan ini”

Mendengar kata-kata pamannya itu, Agung Sedayu menjadi bergembira. Sebenarnya telah agak lama ia menahan diri supaya ia tidak mengecewakan pamannya itu.

Dengan demikian latihan yang berlangsung dengan serunya itu terhenti. Dengan menganggukkan kepalanya Widura berkata kepada Kiai Gringsing, “Selamat malam Kiai”

“Kenapa latihan ini berhenti?” kata Kiai Gringsing tanpa menghiraukan sapa Widura.

Widura menarik nafas. Jawabnya, “Latihan ini telah berlangsung lama. Kami telah sama-sama lelah”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya, “Syukurlah kalau kau selalu tekun dengan latihan-latihan itu Widura. Mudah-mudahan pada suatu saat kau dapat menandingi Topati”

“Mudah-mudahan Kiai” sahut Widura. Tetapi Widura itu kemudian terkejut bukan buatan ketika Kiai Gringsing itu berkata, “Ternyata Tohpati itu benar-benar seperti hantu. Baru saja aku melihat ia berjalan mendekat tikungan di sebelah”

“He” bertanya Widura tersentak, “Adakah Kiai melihatnya di tikungan itu?”

Kiai Gringsing mengangguk, “Ya” jawabnya. “Ia berjalan bersama dua orang pengawalnya”

“Jadi apakah mereka melihat kita berlatih di sini?” bertanya Widura pula.

“Aku kita tidak” sahut Kiai Gringsing, “Kalau demikian barangkali kalian telah menjadi mayat dibawah gunung Gowok ini”

“Hem” Widura menarik nafas dalam-dalam. “Setan itu benar-benar berbahaya’

Dalam pada itu Widura menjadi gelisah karenanya. Kedatangan Tohpati benar-benar berbahaya. Ia akan dapat mendatangi setiap gardu dan membunuh segenap isinya. Namun apabila demikian, maka pasti telah didengarnya tanda bahaya. Tetapi agaknya Tohpati itu hanya sekedar lewat, dan ingin mengetahui keadaan Sangkal Putung. Tiba-tiba ia menjadi berdebar-debar karenanya. Mungkin Tohpati telah mendengar tentang perlombaan yang akan diadakan besok, “Gila” Widura mengumpat di dalam hatinya. “Aku telah melakukan hal-hal yang aku sangka baik sekali. Aku hanya memberi waktu persiapan penyelenggaraan satu hari saja, supaya kabar ini tidak tersiar jauh. Namun agaknya hantu itu telah mendengarnya pula”. Kembali berbagai persoalan telah menyesakkan dada Widura. persoalan antara laskarnya dengan laskar Tohpati, persoalan antara orang-orangnya sendiri, persoalan Sidanti dan gurunya Ki Tambak Wedi, hubungan yang menyedihkan antara Sidanti dan Sedayu. Dan segala macam persoalan itu setiap kali memukul-mukul otaknya sehingga kepalanya itu akan pecah karenanya. Dan kini Tohpati itu telah siap untuk menerkamnya.

Dalam kegelisahannya itu Widura hampir tak dapat menahan diri ketika ia mendengar Sedayu berkata dengan gemetar, “Paman, marilah kita kembali kekademangan”

“Kenapa?” bentak Widura.

Ketika ia berpaling, ia melihat betapa sikap Agung Sedayu menjadi sangat gelisah. Tetapi Widura itu tahu benar, bahwa anak itu sama sekali tidak gelisah memikirkan Sangkal Putung seperti dirinya, namun anak itu menjadi gelisah karena ketakutan. Widura itu menjadi marah ketika ia mendengar Agung Sedayu berkata dengan jujur, “Paman, apakah yang akan terjadi dengan kita kalau Macan Kepatihan itu nanti mengetahui kehadiran kita di sini?”

“Persetan dengan Macan Kepatihan” sahut Widura. Namun kata-kata Widura itu terputus oleh kata-kata Kiai Gringsing, “Widura, jangan terlalu sombong. Gurumu itu tahu benar tingkatan ilmumu. Kau belum waktunya melawan Tohpati seorang lawan seorang, kalau kau tidak mau membunuh diri. Nasehatnya itu harus kau turut. Sikap berhati-hati itulah yang akan membawamu kejalan keselamatan”

“Aku bukan pengecut” teriak Widura. “Aku akan berkeliling kademangan sekali lagi. Aku akan memeringatkan setiap gardu peronda, bahwa bahaya berada di ujung hidung mereka”

Dada Sedayu itu menjadi semakin bergetar. Pamannya akan mengadakan pengamatan sekali lagi atas gardu-gardu peronda. Bukankah dengan demikian kemungkinannya untuk bertemu dengan Tohpati itu semakin besar. Di sudut-sudut desa, di prapatan-prapatan di tengah sawah, atau ditikungan-tikungan yang sepi. Namun ia melihat bahwa pamannya menjadi marah kepadanya. Karena itu betapa Agung Sedayu mengeluh di dalam hatinya.

Yang kemudian terdengar adalah kata-kata Kiai Gringsing sambil tertawa, “He kau benar-benar berani Widura, seperti kau berani menentang maut melawan Ki Tambak Wedi”

Tiba-tiba pandangan mata Widura itu pun terbanting di atas rerumputan liar dibawah kakinya. Teringatlah ia kepada pertolongan yang pernah diberikan oleh Kiai Gringsing malam kemarin. Kini orang yang menolongnya itu memeringatkannya, supaya ia tidak melawan Tohpati itu seorang lawan seorang. Karena itu ia menyesal atas kekasarannya. Maka katanya ke sambil menganggukkan kepalanya, “Maafkan aku Kiai”

“He” sahut Kiai Gringsing. “Kenapa kepadaku. Seharusnya kau minta maaf kepada gurumu itu”

Sekali lagi Widura mengumpat di dalam hatinya. Namun katanya, “Ya ya. Aku akan minta maaf kepadanya”

“Bagus” berkata Kiai Gringsing. “Kau harus selalu menuruti nasehat gurumu. Di rumah, gurumu pasti akan memberimu beberapa petunjuk, mungkin tentang persiapan Tohpati itu. Mungkin tentang hal yang lain. Namun adalah perlu kau dengar seandainya gurumu itu memerintahkan kepadamu untuk mempersiapkan diri. Seluruh pasukan. Bukan seorang Widura yang sombong. Serangan itu tidak terlalu lama akan terjadi. Tetapi Tohpati itu tak akan berbuat apa-apa malam ini. Nah, selamat malam. Aku tidak sempat bermain-main malam ini. Besok aku akan nonton perlombaan yang kau adakan”

Dada Widura berdesir mendengar kata-kata Kiai Gringsing. Namun ia tidak mendapat kesempatan lagi untuk menanyakan sesuatu. Karena Kiai Gringsing itu kemudian melangkah pergi dengan langkah seenaknya meninggalkan Widura dan Agung Sedayu yang terpaku di tempatnya.

Tetapi, tergoreslah di dalam jantungnya, peristiwa-peristiwa yang pasti akan menggoncangkan lagi kehidupan Sangkal Putung. Besok atau lusa Tohpati akan menyerangnya kembali. Apa yang dikatakan oleh Kiai Gringsing itu tidak lebih dan tidak kurang dari suatu peringatan kepadanya dan pemberitahuan tentang persiapan-persiapan yang dilakukan oleh Tohpati. Namun ia tidak perlu mencemaskan hari besok. Kata-kata orang bertopeng itu, bahwa besok ia akan menonton perlombaan yang akan diadakannya, telah agak memberinya ketenangan, meskipun ia tidak dapat menggantungkan nasibnya kepada orang itu. Mudah-mudahn ia masih berhasil menghim pun kekuatan Sangkal Putung, yang setidak-tidaknya masih seperti pada saat perlawanannya dahulu ketika Tohpati menyerangnya. Mudah-mudahn tenaga Sidanti masih dapat dipergunakannya sebaik-baiknya. Tetapi bagaimana dengan besok lusa, tiga hari, empat hari dan lebih-lebih lima hari lagi? Bagaimanakah nasib Sangkal Putung apabila Tohpati menyerang tepat pada saat Ki Tambak Wedi memuntutnya? Widura menggeleng-gelengkan kepalanya ketika terlintas di dalam benaknya, harapan bahwa Kiai Gringsing akan menolongnya kembali apabila Ki Tambak Wedi akan membunuhnya. “Tidak” katanya dalam hati. “Aku tidak akan memperhitungkan setiap pertolongan yang belum pasti akan datang. Aku harus memperhitungkan kekuatan sendiri” katanya pula. Bahkan kemudian timbullah di dalam benaknya suatu pikiran untuk mengirimkan utusan ke Pajang. Keadaan Sangkal Putung benar-benar gawat. Biarlah salah seorang perwira yang terpercaya akan datang untuk melawan Tohpati lebih-lebih Ki Tambak Wedi. “Hem” gumamnya, “Apabila besok aku belum menemukan cara lain, biarlah seseorang mengharap kedatangan Ki Gede Pemanahan sendiri menyelesaikan persoalan Ki Tambak Wedi, atau bekas perwira nara manggala Demak, guru loring pasar.”

Widura menarik nafas dalam-dalam. Itulah keputusannya untuk sementara. Ketika ia memandang wajah Sedayu, timbullah kembali kejengkelannya terhadap anak itu. Apabila anak itu memiliki keberanian, mereka berdua pasti akan dapat membunuh Tohpati meskipun dengan perjuangan yang berat. Sebab ilmu Tohpati itu sendiri tidak terpaut banyak di atas ilmunya. Namun Sedayu itu hanya pandai mengeluh, gemetar dan ia pasti akan mati ketakutan sebelum tangannya mampu menarik pedang dari sarungnya.

Karena itu Widura tidak berkata sepatah pun kepada kemenakannya itu. Langsung ia memutar tubuhnya dan melangkah kembali kekademangan.

Sedayu pun kemudian cepat-cepat mengikutinya. Namun kini terasa olehnya bahwa pamannya itu benar-benar marah kepadanya. Karena itu maka Sedayu pun benar-benar menjadi bersedih hati. Ia tidak berani berkata apa pun kepada pamannya selain berjalan saja di belakangnya.

Di sepanjang jalan itu Widura sempat juga memikirkan kemenakannya itu. Bagaimana caranya, sehingga ia dapat menguasai berbagai unsur gerak dan dapat menyusunnya dalam satu gabungan yang serasi. Anak itu tidak pernah berbuat sesuatu selain duduk terpekur dan bermain-main dengan rontal dan pensil. Tak pernah dilihatnya Agung Sedayu berlatih di dalam pringgitan yang tak begitu luas itu. Dan tak pernah dilihatnya Agung Sedayu meninggalkan pringgitan selain apabila ia pergi mandi dan sesuci diri. Namun ia tidak mau menanyakannya. Ia hanya ingin mencari pemecahan dengan caranya sendiri atas teka teki itu.

Demikian mereka sampai di kademangan, Widura langsung melepaskan pakaiannya dan merebahkan dirinya di pembaringannya. Tak sepatah kata pun yang diucapkan kepada Agung Sedayu sehingga Agung Sedayu itu pun menjadi semakin bersedih. Sekali-sekali ia sempat juga untuk menilai diri. Dan kadang-kadang timbul juga pikiran dikepalanya untuk besok mengikuti pertandingan memanah. “Paman marah karena aku tak ikut serta” katanya dalam hati. “atau karena hal-hal yang lain, atau karena keseluruhannya”. Namun ia kembali menjadi ngeri membayangkan akibat dari perlombaan itu. “Ah” katanya dalam hati pula, “Biarlah paman marah kepadaku. Ia tidak akan berbuat apa-apa selain berdiam diri. Tetapi akan berbedalah sikap Sidanti itu”

Sedayu pun kemudian mencoba melupakan semua itu. Karena kelelahan akhirnya ia pun tertidur pula dengan nyenyaknya.

Sebenarnya Widura belum juga tertidur. Ia berdiam diri, dan memang ia munggu kemenakannya tertidur. Ia ingin tahu apa saja yang ditulis oleh Sedayu dalam rontal-rontalnya. Apakah ada hubungannya dengan kemajuan ilmunya yang pesat itu. Perlahan-lahan Widura itu bangun, dan perlahan-lahan pula ia membuka beberapa pakaian Sedayu yang diberikannya olehnya. Di dalam lipatan-lipatan pakaian itu ditemuinya beberapa helai rontal yang pernah diminta oleh anak itu daripadanya.

Demikian Widura membuka halaman pertama dari rontal itu, demikian dadanya bergetar, “Inilah sebabnya” gumamnya seorang diri. Kini ia tahu benar, mengapa Agung Sedayu dapat maju dengan cepatnya. Otak anak itu ternyata cerdas pula dalam penelaahan ilmu tata bela diri. Di dalam tubuhnya ternyata tersimpan pula darah ayahnya yang menyalakan keteguhan dan ketrampilan jasmaniah. Namun, sayang betapa sayangnya. Hati anak itu belum terbuka. Dinding yang mencengkam dirinya dalam bilik ketakutan belum dapat dipecahkannya.

Jadi apa yang dilakukan oleh Sedayu selama ini, sama sekali tidak menulis cerita-cerita atau tembang dan kidung. Tetapi ia telah melukiskan beberapa unsur gerak. Mencobanya menggabungkan unsur yang satu dengan yang lain, dan mencoba melukiskan pula cara-cara untuk mempertahankan diri dan mengelak dari serangan-serangan yang keras.

Di dalam rontal-rotal itu Widura melihat beberapa gambar dengan garis-garis arah dari setiap gerakan. Digambarnya beberapa macam unsur gerak, kemudian digambarnya di belakang gambar-gambar itu, sebuah gambar yang lain dengan garis-garis arah untuk menggabungkan gambar-gambar yang terdahulu.

“Hem” Widura menarik nafas dalam-dalam, “Ternyata anak ini melatih diri dengan angan-angannya selain latihan-latihan yang kami adakan di gunung Gowok. Itulah sebabnya aku sering melihat unsur-unsur gerak yang tak aku ketahui darimana dipelajarinya”

Dan Widura itu tak jemu-jemunya melihat gambar-gambar yang dibuat oleh Agung Sedayu. Suatu cara memperdalam ilmu yang jarang ditemuinya. Namun ternyata Agung Sedayu pandai juga menggambar. Gambar-gambar yang dibuatnya ternyata sedemikian jelas. Sikap, gerak dan tujuan-tujuan dari setiap gerakan sekaligus cara-cara untuk menghindarkannya.

Tetapi suatu hal yang tak dapat dilakukan oleh Agung Sedayu. Yaitu melatih untuk percaya pada kekuatan dan ilmunya. Betapa pun Agung Sedayu mengalami kemajuan yang pesat, namun ilmu itu seakan-akan pohon yang subur namun tak berbuah.

Tiba-tiba timbullah pikiran di dalam benak Widura. katanya dalam hati, “Ah, biarlah pada suatu kali, anak ini mengalami pertentangan yang tak dapat dihindari dengan Sidanti. Aku ingin melihat apa yang akan dilakukan. Tetapi apabila sekali Agung Sedayu sempat mengayunkan tangan atau kakinya, maka untuk melawan Sidanti itu pun Agung Sedayu akan dapat bertahan beberapa lama sampai saatnya aku memisahkannya. Namun dengan demikian, setidak-tidaknya perkelahian itu akan berkesan bahwa keduanya memiliki ilmu yang seimbang. Ternyata gerak dan cara bertahan anak ini mengagumkan juga. Apabila demikian, seterusnya Agung Sedayu akan menjadi seorang yang jantan dan berani”

Kemudian dengan hati-hati pula rontal-rontal itu dimasukkannya kembali ke tempatnya. Dan dengan hati-hati pula Widura itu berdiri dan berjalan kepembaringannya, dan sesaat kemudian pemimpin laskar Pajang yang sedang kebingungan itu tertidur pula.

Malam yang tinggal sepotong itu berjalan dengan tenangnya. Tohpati yang benar-benar telah menyusup kedalam dinding perondan laskar Pajang, sebenarnyalah tidak berbuat sesuatu selain keinginannya untuk mengetahui keadaan. Namun Macan Kepatihan itu pun mengumpat di dalam hatinya seperti Widura mengumpatinya. Katanya kepada kedua pengawalnya, “Paman Widura benar-benar seperti setan. Dalam keadaan apa pun peronda-perondanya tak pernah berlengah hati. Apakah mereka tidak terpengaruh oleh perlombaan yang akan diadakan besok? Sayang, aku baru mendengar rencana perlombaan itu senja tadi, sehingga aku tak sempat menyiapkan anak buahku. Seandainya aku mendapat waktu dua tiga hari saja, maka pada saat-saat perlombaan itu aku akan dapat menggulungnya lumat-lumat.

Kedua pengawalnya tak dapat menjawab lain daripada menganggukkan kepala mereka. Sebab dengan mata kepala mereka sendiri melihat dari kejauhan kesiagaan laskar Pajang yang sedang bertugas di gardu-gardu peronda. Mereka melihat beberapa orang dari mereka berjalan hilir mudik di muka gardu sambil memegang tombak atau pedang-pedang mereka yang sudah telanjang.

“Tetapi” berkata Tohpati kemudian kepada pengawalnya, “mudah-mudahan setelah perlombaan itu berakhir, laskar Sangkal Putung masih tenggelam dalam suasana itu, sehingga meskipun sedikit mereka melupakan tugas-tugas mereka sehari-hari. Mudah-mudahan mereka tidak mencium gerakanku kali ini seperti beberapa waktu yang lalu sehingga aku menjumpai kegagalan yang menyedihkan.

“Persiapan kita akan sangat mudah sekali diketahui orang, sehingga petugas-petugas sandi Pajang segera menciumnya” berkata salah seorang pengawalnya.

“Kita akan meninggalkan cara-cara yang pernah kita lakukan” jawab Tohpati, “aku akan membawa kalian dan orang-orang kita masuk ke dalam hutan. Semua kekuatan yang terpencar harus kita tarik. Semuanya akan berkumpul di dalam hutan yang akan aku tentukan. Dari sana kita akan bergerak. Mudah-mudahan tak seorang pun yang mengetahuinya, kecuali di antara kita ada pengkhianat atau justru orang-orang dari petugas-petugas sandi Pajang yang berhasil masuk kedalam lingkungan kita.”

“Kemungkinan itu kecil sekali” sahut pengawalnya.

“Kau benar” berkata Tohpati pula. “Alu mengenal anak buahku satu per satu dengan baiknya. Nah, kalau demikian, aku akan berbuat seperti paman Widura. Secepat-cepatnya sebelum laskarnya terpencar ke segenap penjuru”

“Kapan kita adakan sergapan itu?” bertanya pengawalnya.

“Secepatnya” sahut Tohpati.

Kemudian mereka tidak bercakap-cakap lagi. Dengan hati-hati mereka berjalan di daerah perondan laskar Pajang. Bahkan kadang-kadang mereka berhasil menyusup halaman-halaman yang gelap dan mendekati tempat-tempat yang penting serta gardu-gardu perondan. Dengan otak yang cemerlang, Tohpati dapat mengingat-ingat daerah-daerah yang sepi, yang dapat dilaluinya untuk langsung mencapai jantung Sangkal Putung, meskipun masih diragukan apabila Tohpati berjalan bersama dengan orang-orangnya dalam jumlah yang besar. Namun Tohpati itu selalu mengulang-ulang rencananya. Dan ini adalah kesalahan yang terbesar yang dibuatnya.

Sejak ia menginjakkan kakinya di daerah Sangkal Putung, rencana itu telah diucapkannya. Dan ia sama sekali tidak tahu, bahwa seseorang yang sakti, dengan diam-diam mengikutinya. Dan orang itu telah berhasil mendengar sebagian dari rencananya. Orang itu adalah Kiai Gringsing. Karena itulah maka Kiai Gringsing segera pergi kemudian gunung Gowok. Ia takut apabila Widura dan Sedayu berada di sana, dan kemudian Tohpati itu pun berjalan ke sana pula. Untunglah mereka tidak saling berpapasan. Apabila demikian maka pertempuran tak dapat dihindarkan. Sedangkan Kiai Gringsing tahu benar bahwa Widura pasti harus bekerja sendiri melawan tiga orang yang jauh berada di atas kemampuannya.

Dan semuanya itu telah berlalu. Widura telah tertidur nyenyak di kademangan Sangkal Putung, dan Tohpati pun telah meningggalkan daerah yang akan dijadikan buruannya.

Menjelang fajar, Sangkal Putung telah menjadi riuh. Anak-anak telah bangun. Kebih-lebih lagi, mereka yang akan ikut serta dalam perlombaan-perlombaan. Mereka mengenakan pakaian mereka yang sebaik-baiknya. Menghias senjata-senjata mereka, dengan warna-warna yang beraneka. Bagi mereka yang akan mengikuti sodoran, tidak saja pakaian mereka sendiri yang mereka hias dengan berbagai keoncer-keloncer kain beraneka warna, namun kuda-kuda mereka pun mereka hias sebaik-baiknya. Ujung-ujung tombak mereka yang terbuat dari bola-bola kayu itu pun mereka hiasi dengan pita-pita berwarna. Ada pula di antara mereka yang membuat kalung-kalung dari rangkaian-rangkaian bunga. Melati, menur dan sebagainya. Mereka kalungkan rangkaian bunga itu dilehernya, dileher kuda-kuda mereka dan pada senjata-senjata mereka.

Demikianlah hari itu Sangkal Putung ditandai dengan kesipbukan yang luar biasa. Hampir segenap penduduk Sangkal Putung tumplak blak, mengunjungi lapangan di muka banjar desa. Mereka ingin menyaksikan anak-anak mereka, adik-adik mereka atau suami-suami mereka yang ikut serta dalam perlombaan-perlombaan itu. Ternyata hari itu merupakan hari yang sangat menggembirakan. Namun apabila ada di antara mereka yang mendengar bahwa semalam Macan Kepatihan telah mengunjungi kademangan itu, mungkin suasananya akan jauh berbeda.

Tetapi, ternyata Widura mengetahuinya. Karena itu, justru ia telah memperkuat setiap sudut kademangan. Dilengkapinya gardu-gardu peronda itu dengan kuda-kuda yang kuat dan diperintahkannya untuk mengadakan perondaan keliling dengan kuda-kuda itu. “Jangan seorang atau dua orang” pesannya kepada anak buahnya. “Pergilah berempat. Pergunakan kuda yang sebaik-baiknya dan bawalah tanda-tanda bahaya yang dapat kau bunyikan setiap saat dan disetiap tempat”

Perintah itu agak mengherankan bagi anak buahnya. Namun mereka hanya menyangka bahwa karena di daerah Sangkal Putung sedang ada keramaian, maka penjagaan pun harus diperkuatnya.

Demikianlah maka lapangan di muka banjar desa itu pun menjadi penuh dengan manusia. Beberapa anak-anak muda telah menaiki kuda masing-masing dan berjalan melingkar-lingkar di tengah-tengah lapangan. Beberapa orang di antaranya telah mencoba memacu kudanya dari satu sudut ke sudut yang lain dengan tombak-tombak mereka di tangan. Dan sekali-sekali telah terdengar pula sorak sorai penonton, apabila mereka melihat seorang anak muda yang tampan bermain dengan manisnya di atas punggung kudanya. Tepuk tangan penonton itu pun seakan-akan meledak ketika mereka melihat Swandaru masuk ke lapangan dengan tombak di tangan, bumbung panah di lambung kudanya dan sebuah busur yang besar menyilang dipunggungnya. Demikian ia memasuki lapangan, disendalnya kendali kuda putihnya, dan kuda itu pun segera nyirig. Berjalan miring dengan manisnya. Memang Swandaru itu benar-benar dapat menguasai kudanya. Sekali lagi ia menarik kekang kudanya sambil menyentuh perut kuda itu, dan kuda itu pun segera nyongklang, berlari keliling lapangan.

Laskar Widura yang akan mengikuti perlombaan itu telah hadir pula. Namun bagi mereka perlombaan yang boleh diikuti hanyalah perlombaan memanah. Meskipun demikian, untuk melepaskan kejemuan mereka, banyak juga di antara mereka yang mengikutinya.

Widura pun kemudian hadir pula di lapangan itu bersama-sama dengan Ki Demang Sangkal Putung. Di belakang mereka berjalan Sedayu dengan kepala tunduk. Ketika para penonton melihat kehadiran mereka, kembali tepuk tangan dan sorak mbata rubuh bergetar di lapangan itu. Namun perlahan-lahan mereka dirayapi oleh berbagai pertanyaan di dalam hati mereka. Mereka tidak melihat Widura dan Agung Sedayu membawa busur dan anak panah, sehingga kemudian mereka menjadi kecewa. Terdengar salah seorang penonton berbisik, “Apakah pahlawan itu tidak akan turut serta dalam perlombaan ini?”

Kawannya itu sebenarnya menjadi kecewa juga. Namun untuk menghibur hatinya sendiri ia menjawab, “Tak sepantasnya ia ikut dalam perlombaan yang sekecil ini. Mungkin ia akan ikut serta apabila perlombaan semacam ini diadakan dialun-alun Pajang”

Kawannya yang bertanya itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawaban yang memang masuk diakalnya.

Sesaat kemudian, Widura dan Ki Demang Sangkal Putung beserta Agung Sedayu telah duduk di tempat yang telah disediakan. Pada saat matahari mulai memanjat langit, maka Widura segera membuka perlombaan itu. Dengan sebuah kapak diputusnya tali yang mengikat pemukul bende di sudut lapangan. Kemudian seseorang yang telah ditentukan memungut pemukul bende itu, dan dengan bunyi yang berdengung-dengung bende itu bergema. Sekali, dua kali dan kemudian tiga kali.

Dengan diiringi oleh tepuk tangan yang seakan-akan memecahkan selaput telinga, maka perlombaan segera dimulai. Beberapa orang anak buah Widura berjalan ketengah lapangan, memimpin perlombaan-perlombaan bagi anak-anak muda Sangkal Putung. Perlombaan yang pertama adalah perlombaan ketangkasan bermain pedang. Namun bukan sebenarnya pedang yang dipergunakan. Tetapi mereka mempergunakan rotan dan perisai anyaman bambu.

Permainan ini benar-benar mengasyikkan dan menegangkan. Beberapa anak-anak muda yang gagah telah turut serta mengambil bagian. Berganti-ganti. Satu dua telah terpaksa keluar dari lapangan dengan kepala tunduk. Punggung dan dada mereka dilukisi oleh jalur-jalur merah biru. Namun bagi mereka yang menang, jalur-jalur itu sama sekali tidak terasa pedihnya.

Sejalan dengan terik matahari yang semakin menyengat-nyengat tubuh mereka, maka permainan itu pun menjadi semakin sengit. Bahkan kemudian mencapai puncaknya ketika diarena itu tinggal dua orang yang berhadapan untuk menentukan, siapakah di antara anak-anak muda Sangkal Putung yang akan menjadi pemenang pertama dalam perlombaan itu. Mereka adalah Swandaru Geni dan seorang anak muda yang gagah, bertubuh tinggi besar, bernama Wisuda.

Sejenak kedua anak muda itu, Swandaru dan Wisuda saling berhadapan, maka tepuk tangan dan sorak sorai membahana di udara Sangkal Putung.

Tiga orang anak buah Widura, Hudaya, Citra Gati dan Sonya telah memimpin pertarungan yang sengit itu. Dengan seksama mereka memperhatikan setiap gerak, setiap sabetan rotan dan setiap sentuhan rotan itu ditubuh mereka. Pukulan-pukulan yang mendapat hitungan adalah pukulan-pukulan yang mengenai tubuh dibagian atas perut tetapi dibagian bawah leher.

Demikian pertarungan itu berjalan dengan serunya. Wisuda bertubuh tinggi dan besar, sedang Swandaru lebih pendek dan bulat. Meskipun demikian ternyata tenaga Swandaru jauh lebih kuat dari tenaga lawannya. Apabila rotan-rotan mereka berbenturan, tampaklah bahwa tenaga Swandaru selalu berhasil mendorong tenaga lawannya.

Ketika bende berbunyi, maka pertarungan itu pun berhentilah. Suasana menjadi tegang ketika para penonton menunggu Citra Gati mengumumkan pemenangnya. Dan demikian Citra Gati maju selangkah, maka lapangan yang penuh dengan manusia itu seakan-akan sama sekali tak berpenghuni. Setelah mencocokkan hitungan masing-masing maka berkatalah Citra Gati, “Ternyata yang akan menjadi pahlawan dalam permainan ini adalah anak muda yang bulat pendek, bernama Swandaru”

Langit seakan-akan runtuh di atas mereka karena sorak para penonton. Namun Swandaru tidak puas dengan sebutan itu. Katanya membetulkan namanya, “Sebutlah selengkapnya paman, Swandaru Geni”

Citra Gati tersenyum. ketika ia mengulang nama itu, tak seorang pun yang mendengarnya, karena suara riuh dari pada penonton itu sendiri.

Sidanti yang melihat sambutan yang sedemikian hangatnya atas pahlawan anak-anak muda Sangkal Putung itu mencibirkan bibirnya. Katanya dalam hati, “Swandaru itu pasti akan menjadi bertambah sombong. Aku ingin sekali lagi mengajarnya untuk merasakan bahwa apa yang dicapainya itu belum semenir dibanding dengan ilmuku. Sayang tak ada kesepatan bagi anak buah laskar Pajang untuk melakukannya”

Perlombaan yang berikut adalah sodoran. Dengan duduk dipunggung kuda mereka mempertunjukkan ketrampilam mereka bermain tombak yang ujungnya dibuat dari bola-bola kayu. Permainan ini tak kalah menariknya. Di antara sorak kekaguman ada pula yang terpaksa menerima ejekan-ejekan para penonton, karena sebelum mereka sempat mempertunjukkan keahlian mereka, ternyata mereka telah jatuh terpelanting dair kuda-kuda mereka.

Dalam perlombaan ini sekali lagi Swandaru merajai lapangan di muka banjar desa itu. Kuda putihnya seakan-akan tahu benar apa yang harus dilakukan untuk membantu tuannya. Dan karena itulah maka sekali lagi para penonton menyorakinya sebagai pahlawan yang lengkap dari anak-anak muda Sangkal Putung.

Ki Demang yang duduk di samping Widura itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia berbangga atas hasil yang dicapai anaknya. Usahanya melatih dan menempa anaknya tidaklah sia-sia. Mudah-mudahan untuk seterusnya anaknya mendapat bimbingan dan latihan yang lebih baik daripada apa yang pernah dicapainya.

Widura pun tampak tersenyum-senyum di antara sorak para penonton. Namun sekali-sekali ia mengedarkan pandangannya ke segenap sudut. Di antara perhatiannya atas permainan-permainan itu, diam-diam ia berusaha untuk melihat, apakah Kiai Gringsing berada di antara para penonton yang sekian banyaknya. Tetapi Widura itu kemudian menjadi kecewa. Adalah mustahil untuk menemukan seorang di antara sekian banyak orang, apalagi orang itu belum dikenalnya. Sudah tentu Kiai Gringsing tidak akan mengenakan topengnya, dan sudah tentu pula ia tidak akan memakai kain gringsingnya. Seandainya dapat dijumpainya seseorang memakai kain gringsing, bukanlah jaminan bahwa orang itu adalah Kiai Gringsing, sebab kain gringsing memang banyak digemari orang.

Permainan yang terakhir adalah permainan yang paling menggemparkan. Panahan. Dan panahan ini diikuti pula oleh anak buah Widura. bahkan seorang anak muda yang sudah lama dikagumi di Sangkal Putung turut pula mengambil bagian. Sidanti. Namun para penonton itu menjadi kecewa ketika mereka benar-benar melihat, bahwa Agung Sedayu tidak ikut serta dalam perlombaan. Apa yang mereka nantikan, dan juga sebenarnya dinantikan oleh anak buah Widura sendiri, adalah pertandingan yang akan berlangsung seru antara Sidanti dan Agung Sedayu. Namun mereka benar-benar menjadi kecewa. Bahkan ada di antara mereka yang mulai dirayapi oleh berbagai pertanyaan tentang Agung Sedayu. Apakah sebenarnya anak muda itu mampu berbuat sesuatu?

Swandaru dan Sekar Mirah pun menjadi kecewa pula karenanya. Dengan wajah bersunguut-sungut Swandaru menyelinap di antara mereka dan menggamit Agung Sedayu pada lengannya. Katanya berbisik, “Apakah tuan tidak ikut serta?”

Dada Agung Sedayu berdesir. Namun kemudian dengan lemahnya ia menggeleng. Katanya, “Tidak Swandaru”

Widura mendengar pertanyaan itu. Namun sengaja berpaling pun tidak. Sebenarnya Widura sendiri menjadi sangat kecewa bahwa Agung Sedayu tidak mau ikut serta dalam pertandingan ini.

Sesaat kemudian berjajarlah mereka yang akan mengambil bagian dalam perlombaan ini. Tidak terkecuali, anak buah Widura. di antaranya Sidanti yang dengan tersenyum-senyum memasuki lapangan. Betapa kecewa anak muda itu, melampaui semuanya setelah ia mengetahui pula bahwa Agung Sedayu tidak ada di antara para pengikut perlombaan.

Di hadapan mereka tergantung lesan yang harus mereka kenai. Sasaran itu dibuat dari sabut kelapa yang dibalut dengan kain. Dan dibagi menjadi empat bagian. Kepala, sekecil telur angsa, leher, yang agak cukup panjang, badan lebih besar dan panjang dari leher dan yang terakhir bandul sebesar jeruk bali.

Sasaran yang berupa orang-orangan kecil itulah yang akan menentukan siapakah di antara para pengikut yang paling pandai membidikkan panahnya.

Ketika bende berbunyi, maka perlombaan itu pun dimulailah. Setiap pengikut memiliki lima buah anak panah. Dan oleh kelima buah anak panah itu maka akan diambil nilai tertinggi di antara mereka. Apabila anak panah mereka mengenai kepala, maka berarti mereka akan mendapat lima buah nilai. Leher tiga nilai dan badan dua nilai. Sedangkan apabila pana mereka mengenai bandul, maka apabila mereka telah mendapat nilai, maka nilai itu akan gugur tiga nilai.

Sesaat kemudian meluncurlah anak panah yang pertama diikuti oleh sorak para penonton. Namun sayang, panah itu sama sekali tidak mengenai sasarannya. Disusul dengan anak panah yang kedua, ketiga. Namun ketiga anak panah itu menyentuh sasaran pun tidak. Penonton bersorak-sorak kembali ketiga anak panah yang keempat kemudian tepat mengeni leher sasaran. Tiga nilai.

Maka penonton pun berteriak-teriak pula, “Tiga, tiga”

Penonton mejadi tegang ketika meluncur anak panah yang kelima. Dan meledaklah sorak para penonton. Bukan karena mereka menjadi kagum anak panah itu, mereka tertawa geli, karena anak panah itu mengenai bandul.

“Habis, habis” teriak mereka. Dan tiga nilai yang didapatnya dari panah keempat itu pun menjadi habis karena dengan mengenai bandul itu, maka berarti tiga nilai digugurkan.

Orang yang pertama itu sambil menundukkan kepalanya terpaksa berjalan keluar lapangan. Namun ia pun menjadi geli juga. karena itu, sempat juga ia tersenyum-senyum sendiri.

Maka kemudian majulah orang kedua, ketiga, keempat. Namun tak seorang pun yang dapat menggemparkan penonton karena bidikan-bidikannya yang tepat. Sekali dua kali ada juga di antara mereka yang mengenai sasaran. Namun di antara lima anak panah itu, maka paling banyak dua di antaranya yang dapat mengenai sasarannya.

Ketika kemudian sampai pada giliran Swandaru maju dengan anak panahnya, maka penonton pun menjadi gempar pula. Swandaru telah dapat merampas hati penonton dengan dua kemenangan berturut-turut di dalam arena pertandingan itu. karena itu, maka di antara penonton itu pun mengharap pula, agar kali ini, Swandaru akan dapat setidak-tidaknya tidak mengecewakan mereka.

Sebenarnyalah, maka anak panah yang pertama yang dilepaskan oleh Swandaru benar-benar telah menggemparkan penonton. Meskipun tidak mengenai kepala, namun sekali bidik Swandaru telah mengguncangkan sasaran dengan mengenai bagian badannya. Kegemparan penonton menjadi semakin riuh, ketika panah Swandaru yang kedua dapat mengenai leher. Ketika Swandaru menarik tali busurnya yang ketiga kalinya, maka terdengarlah suara riuh di sekitar arena, “Naik sedikit Swandaru, naik sedikit”

Dan meledaklah sorak para penonton seakan-akan memecahkan selaput telinga ketika anak panah Swandaru itu benar-benar mengenai kepala sasaran.

Swandaru itu pun kemudian berhenti sesaat. Setelah menarik nafas dalam-dalam, maka sekali lagi lapangan itu diguncangkan oleh tepuk sorak yang gemuruh. Sekali lagi anak panah Swandaru mengenai kepala. Namun para penonton itu menjadi kecewa ketika anak panah Swandaru yang kelima yang terbang dari busurnya dengan kecepatan penuh, hanya menyentuh saja kepala sasaran, namun tidak hinggap padanya, sehingga dengan demikian, anak panah itu dianggap tidak mengenai sasarannya.

Swandaru itu memandangi anak panah yang kelima dengan penuh penyesalan. Katanya sambil bertolak pinggang, “He, kenapa kau tidak mau berpaling sejari saja. Kalau kau berpaling sedikit saja, maka anak panah itu akan hinggap dikepalamu”

Namun kemudian telah terdengar bende untuk pengikut berikutnya. Kini mulailah anak buah Widura dengan perlombaan itu. Namun ada pula di antaranya yang tidak lebih tepat dari anak-anak muda Sangkal Putung. Sendawa misalnya. Betapa pandai ia mengayun-ayunkan kelewangnya, namun ternyata ia bukan pembidik yang tepat, ia dapat mengenai perut lawannya dimedan-medan pertempuran. Namun perut orang jauh lebih besar dari seluruh tubuh orang-orangan yang harus dikenainya sebagai sasaran.

Tetapi ternyata Hudaya ada pemanah yang baik. Sejak ia melepaskan anak panahnya yang pertama, maka ia telah menggemparkan lapangan itu. Anak panahnya yang pertama ternyata langsung mengenai kepala sasaran. Demikianlah anak panahnya yang kedua. Ketika ia merik busurnya untuk yang ketiga kalinya dengan berdebar-debar penonton menanti. Dan sekali lagi meledaklah sorak yang gemuruh. Panah ketiga itu pun mengenai kepala sasaran pula. Demikianlah para penonton menjadi semakin tegang. Sekali lagi para penonton berteriak-teriak sekuat-kuatnya ketika anak panah yang keempatnya hinggap dikepala. Dengan demikian ketegangan diarena itu menjadi semakin memuncak. Keempat anak panah yang telah memenuhi kepala orang-orangan itu pun dicabutlah untuk memberi tempat seandainya anak panah yang kelima ini pun akan mengenainya pula. Dan lapangan itu seakan-akan menjadi benar-benar runtuh ketika penonton menyaksikan anak panah kelima yang lepas dari busur Hudaya. Anak panah itu pun tepat pula mengenai kepala orang-orangan itu. Sehingga dengan demikian pemanah itu pun telah menunjukkan kesempurnaan bidikannya. Bukanlah karena kebetulan ia dapat mengenai kepala sasaran. Namun sebenarnyalah memang Hudaya adalah pembidik yang baik.

Ketika kemudian terdengar bende berbunyi, masuklah Citra Gati ketengah-tengah lingkaran. Dengan tersenyum-senyum ia memberi ucapan selamat kepada Hudaya, katanya, “Hudaya, ternyata kau tidak memberi aku tempat. Apa yang dapat kau kerjakan? Tak ada yang dapat berbuat lebih baik daripadamu”

Hudaya itu pun tersenyum pula. Namun ia tidak menjawab. ketika ia bergeser dari tempatnya, ia terkejut ketika ia melihat mata Sidanti menyala-nyala.

Ternyata Sidanti tidak rela melihat kecakapan Hudaya membidikkan anak panahya. Sambutan rakyat Sangkal Putung atas kemenangannya itu pun tak menyenangkannya. Tetapi ternyata Hudaya itu tak menghiraukannya. Ia langsung berjalan kembali ke tempatnya. Berdiri dalam jajaran para peserta untuk melihat bagaimana hasil bidikan kawan-kawannya yang lain.

Dan ternyata Citra Gati itu pun tidak mengecewakan. Dengan tersenyum ia menarik busurnya untuk yang pertama kalinya. Ketika anak panahnya terlepas, maka dengan tegangnya ia mengikutinya dengan pandangan matanya. Ia tersenyum pula ketika didengarnya sorak penonton. Anak panah itu pun hinggap dikepala. Demikianlah anak panahnya yang kedua, ketiga dan keempat. Lapangan itu benar-benar menjadi gempar. Ketika ia memasang anak panahnya yang kelima, Citra Gati berpaling kepada Hudaya. Dilihatnya Hudaya tertawa dan berkata, “Ayo panahmu tinggal satu. Nilaimu tak akan melampaui nilaiku. Tak mungkin kau dapat membidik kepala orang-orangan itu hingga enam kali”

“Berilah aku anak panah satu lagi” sahut Citra Gati.

Hudaya tidak menjawab. Hanya telunjuknyalah yang menunjuk ke orang-orangan di ujung lapangan.

Citra Gati menarik nafas dalam-dalam. Panah-panahnya yang lain telah dicabut pula. Dan kini ia membidikkan anak panahnya yang kelima.

Sekali lagi lapangan itu menjadi gempar. Tidak saja sorak yang membahana, namun beberapa orang yang todal dapat mengendalikan perasaannya telah melemparkan bermacam-macam benda keudara. Tutup kepala, tongkat-tongkat dan bahkan kain yang dipakainya. Anak panah Citra Gati yang kelima pun tepat mengenai sasara. Kepala.

Hudaya pun kemudian berlari-lari mendapatkan sahabatnya itu. Sambil memberi salam ia berkata, “Terlalu. Kau tak mau kalah satu nilai pun daripadaku”

Citra Gati tidak menjawab. perlahan-lahan ia bergeser dari lingkaran pembidik.

Kini sampailah giliran yang terakhir. Demikian anak muda itu berjalan ketengah-tengah lingkaran, maka para penonton pun telah menyorakinya. Dengan tersenyum anak muda itu melambaikan tangannya. Namun senyum itu tidak begitu cerah seperti senyumnya semalam, pada saat ia mengenangkan kemenangan yang bakal dicapainya. Anak muda itu adalah Sidanti.

Ia sama sekali tidak mencemaskan dirinya. Ia yakin bahwa kelima anak panahnya akan tepat mengenai sasaran. Namun betapa pun demikian, maka Hudaya dan Citra Gati itu pun dapat berbuat seperti apa yang akan dilakukan. Sehingga hal itu pasti akan mengurangi kebesaran namanya. Meskipun demikian, ia tidak dapat berbuat apa-apa. Hudaya dan Citra Gati telah melakukannya.

Dan apa yang diyakini itu benar-benar terjadilah. Sidanti tidak memerlukan waktu terlalu lama seperti Hudaya dan Citra Gati. Itulah kemenangannya yang dapat ditunjukkan kepada orang-orang Sangkal Putung. Ia hanya memerlukan saat yang pendek. Memasang, menarik sambil mengangkat busur, kemudian seakan-akan tanpa membidik, maka anak panah itu pun meluncur menuju sasaran. Dan adalah mentakjubkan sekali. Anak panah itu seolah-olah mempunyai mata, sehingga dengan langsung hinggap dikepala orang-orangan.

Orang-orang Sangkal Putung itu benar-benar tak dapat menahan diri lagi. Mereka berloncat-loncatan dan seperti orang yang kehilangan akal kesadaran menari-nari sambil berteriak-teriak keras-keras.

Dengan sebuah senyuman yang kecil Sidanti mengambil anak panahnya yang kedua. Anak panah ini pun menggemparkan para penonton pula. Sekali Sidanti mengerling ke arah Sekar Mirah yang duduk tidak jauh dari Ki Demang Sangkal Putung. Dilihatnya wajah gadis itu menjadi tegang. Namun tiba-tiba ketika ia melihat anak panah Sidanti hinggap di sasarannya, dengan serta-merta ia pun bertepuk tangan sekeras-kerasnya.

Namun ketika ia memandang wajah Agung Sedayu, Sidanti menjadi agak kecewa. Anak muda itu memandang anak panahnya dengan pandangan yang kosong. Ia bertepuk tnagan karena orang-orang lain bertepuk tangan. Tetapi tak ada kesan kekaguman memancar di wajahnya.

“Persetan dengan anak itu” gerutunya di dalam hati. “Namun adalah suatu kenyataan ia tidak berani turun ke arena”

Sidanti puas dengan kata-kata diangan-angannya. Kembali ia memandang sasarannya, dan kembali anak panahnya mematuk kepala. Demikianlah maka kegemparan meledak sejadi-jadinya di lapangan itu ketika panah Sidanti yang kelima hinggap tepat dikepala orang-orangan itu pula.

Ketika sorak sorai orang-orang Sangkal Putung itu telah mereda, maka Widura tampak berdiri dan melangkah maju kearena. Betapa pun isi dadanya, namun ia memberikan ucapan selamat pula kepada Hudaya, Citra Gati dan Sidanti. Kemudian dengan nyaring ia berkata, “Kita masih harus memilih satu di antara ketiga-tiganya. Kini lepaskanlah sasaran itu. Gantungkan dengan tali yang agak panjang. Terbalik. Kepalanya dibawah. Dan apabila tanda berbunyi, ayunkan orang-orangan itu. Nah, ketiga-tiganya mendapat kesempatan yang sama. Membidikkan anak panahnya pada waktu yang bersamaan. Masing-masing dengan tiga buah anak panah, dalam hitungan sampai angka kelima belas”

Hudaya dan Citra Gati tertawa masam. Terdengar Hudaya berbisik, “Sekarang aku harus mengaku kalah. Kalau ada satu saja anak panahku yang hinggap, ambillah nilainya”

“Kita tidak sedang membagi makan. Ambillah angkamu untukmu. Atau barangkali dapat kau simpan untuk perlombaan yang akan datang” sahut Citra Gati.

Keduanya kemudian terdiam. Mereka melihat beberapa orang sedang menggantungkan sasaran dengan tali yang cukup panjang. Kemudian mereka menerima tiga anak panah masing-masing. Dan ketika bende berbunyi, mereka harus sudah siap berdiri pada satu baris lurus menghadap orang-orangan yang telah siap untuk diayunkan.

Sesaat kemudian sasaran itu pun telah dilepaskan. Terayun-ayun seperti buaian tertiup angin yang kencang.

Hudaya, Citra Gati dan Sidanti berdiri dengan tegangnya. Sedang Sidanti tampak tersenyum-senyum kecil. Kali ini ia yakin, bahwa ia akan memenangkan pertandingan ini.

Penonton benar-benar menjadi tegang ketika terdengar Widura mulai dengan hitungannya, “Satu, dua, tiga, ………..”

Panah yang pertama lepas adalah anak panah Sidanti. Anak panah itu benar-benar seperti mempunyai mata. Meskipun sasarannya masih juga terayun-ayun, namun anak panah Sidanti tepat mengenai kepala. Dan lapangan itu pun menjadi semakin gemuruh pula.

“Uh” geram Hudaya, ketika ia melihat ayunan orang-orangan itu dan menjadi goyah karena anak panah Sidanti. “Makin sulit” gerutunya. Citra Gati tidak menyahut. Ia membidik dengan cermatnya, dan anak panahnya yang pertama terbang seperti dikejar setan. Dan sorak di lapangan itu pun membahana pula. Kali ini Citra Gati pun tepat mengenai kepala sasaran.

Belum lagi sorak itu berhenti, maka seolah-olah disusul pula dengan ledakan tepuk tangan yang tak kalah kerasnya. Panah Hudaya pun menyusul kedua anak panah yang mendahuluinya. Kepala.

Citra Gati menyeringai. “Setan kau Hudaya” gumamnya.

Namun Hudaya hanya tersenyum saja. Tetapi segera senyumnya lenyap ketika terdengar para penonton berteriak-teriak seperti orang mabuk. Panah kedua Sidanti tepat mengenai sasarannya pula.

Kini sasaran itu terayun berputaran tidak menentu. karena itu, para pemanah itu menjadi semakin sulit. Hudaya masih membidkkan anak panahnya. Namun anak panah Citra Gati lah yang terbang lebih dulu. Yang terdengar adalah pekik penyesalan. Anak panah Citra Gati itu hanya menyentuh kepala sasaran, namun karena kepala sasaran itu goyah, dan padanya telah melekat beberapa anak panah, maka anak panah Citra Gati itu meloncat dan jatuh beberapa langkah dari orang-orangan itu.

“Gila” teriak Citra Gati diluar sadarnya. Dan ia mengumpat kembali ketika ia mendengar sorak gemuruh para penonton seperti akan meruntuhkan gunung Merapi. Anak panah Sidanti yang ketiga telah hinggap dikepala orang-orangan itu pula.Hudaya menggeram. Ia belum melepaskan anak panahnya yang kedua. Dengan menggigit bibirnya, anak panah itu berlari kencang sekali. Namun sekali lagi penonton menyesal karenanya.

Anak panah itu mengenai anak panah yang lain pula, yang telah lebih dahulu hinggap pada sasaran itu. Anak panah itu pun tak dapat hinggap pula dan jatuh terpelanting beberapa langkah jauhnya.

Pada saat itu Citra Gati telah mengangkat busurnya. Namun sasaran itu bergerak-gerak tak keruan. Kini tak ada lagi harapan baginya untuk mengenai kepala, sebab kepala sasaran itu seolah-olah telah penuh dengan anak panah yang bergoyang-goyang pula. hana pembidik-pembidik yang luar biasa sajalah yang akan dapat mengenainya. Karena itu Citra Gati membidikkan anak panahnya keleher sasaran. Namun tiba-tiba betapa ia menjadi kecewa. Hudaya pun kecewa bukan buatan. Belum lagi mereka sempat melepaskan anak panah mereka yang ketiga terdengar Widura mengucapkan hitungan yang terakhir, “Lima belas……” dan terdengarlah bende berbunyi dengan nyaringnya.

Hitungan yang terakhir itu pun disambut dengan pekik sorak dari para penonton. Mereka berteriak-teriak menyebut nama Sidanti. Dan Sidanti itu pun kemudian melangkah maju ketengah-tengah lapangan sambil melambaikan tangannya.

Anak muda itu menjadi semakin bergembira ketika ia melihat Sekar Mirah seperti anak-anak yang melonjak-lonjak sambil mengacungkan ibu jari kepadanya.

“Nah, lihatlah” kata Sidanti dalam hatinya, “Apa yang dapat dilakukan oleh Sedayu itu. Ternyata tidak lebih dari seorang perempuan cengeng yang hanya dapat bersembunyi dipunggung pamannya”

Hudaya masih berdiri di tempatnya, dan Citra Gati pun masih berada di sampingnya pula. terdengar kemudian Hudaya berkata, “Aku benar-benar tidak membutuhkan nilai itu. Ambillah. Kau akan menjadi pemenang kedua”

Citra Gati tersenyum. ia tidak menjawab kata-kata Hudaya. Namun katanya, “Lihatlah betapa sombongnya anak muda itu”

“Biarkanlah ia berbuat demikian” sahut Hudaya. “Coba kau mau apa? bukankah kau dapat dikalahkan dengan jujur?”

“Aku tidak mau apa-apa” jawab Citra Gati, “Aku benar-benar kalah. Tetapi bagaimana dengan Agung Sedayu?”

Hudaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “aku menjadi agak kecewa. Mungkin ia mempunyai perhitungannya sendiri. Kalau ia menang maka tak ada kekaguman apa pun padanya. Adalah lumrah ia dapat memenangkan pertandingan sekecil ini. Tetapi kalau ia dikalahkan Sidanti, maka namanya akan menjadi surut”

Citra Gati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia memandang berkeliling, ternyata sebagian dari para penonton telah meninggalkan lapangan itu. Tak ada hadiah yang akan diberikan, namun Ki Demang Sangkal Putung akan menyiapkan pesta dengan memotong beberapa ekor lembu bagi kemenangan anaknya dan kemenangan Sidanti.

Citra Gati itu mengerutkan keningnya ketika ia melihat Sidanti dan Sekar Mirah sedang bercakap-cakap dengan asiknya. Ketika sekali ia memandang Agung Sedayu, dilihatnya anak muda itu menundukkan wajahnya.

Sesaat kemudian Widura dengan resmi menutup pertandingan itu. Disebutnya para pemenangnya yang disambut dengan sorak yang gemuruh. Swandaru bagi anak-anak muda Sangkal Putung ternyata merupakan pemenang dalam segala lapangan. Sedangkan bagi anak buah Widura sendiri, Sidanti lah yang menjuarainya.

Namun dalam pada itu, kekecewaan di hatinya terhadap Agung Sedayu kini benar-benar telah sampai kepuncaknya. Ia melihat kekecewaan pada beberapa orang lain. Dan ki Demang itu pun telah bertanya kepadanya, kenapa Agung Sedayu tidak bersedia turut serta meramaikannya. karena itu, demikian ia selesai dengan kata penutupnya, ia sama sekali tidak berkata apa pun kepada Sedayu. Langsung ia pergi meninggalkan lapangan itu dengan kepala tunduk.

Beberapa anak buahnya segera mengikutinya di belakang. Ki Demang pun berjalan pula di sampingnya. Katanya, “Dimanakah angger Sedayu?”

“Masih di belakang kakang” sahut Widura kosong.

Ki Demang itu pun berpaling. Dilihatnya Sidanti berjalan bersama Sekar Mirah dan dilihatnya Sedayu masih berada di tempatnya bersama Swandaru.

Tetapi Ki Demang itu tidak bertanya lagi. Betapa pun juga dirasakannya sesuatu berdesir di dadanya. Sebagai seorang ayah, Ki Demang prihatin atas pilihan anak gadisnya. Karena sikap Sekar Mirah itu, maka pada suatu saat dapat terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Sebagai seorang yang telah cukup usianya, ia tahu benar apa yang tersembunyi di dalam hati Agung Sedayu dan Sidanti. Tetapi ia belum dapat berbuat sesuatu. Dan memang sedang dipikirkannya, bagaimana ia dapat mengendalikan gadis itu.

Agung Sedayu melihat arus manusia itu dengan berdebar-debar pula. lapangan itu seakan-akan sebuah telaga yang mengalir ke segenap penjuru, semakin lama menjadi semakin kering, sehingga akhirnya tinggallah beberapa orang saja yang masih hilir mudik di lapangan itu.

“Apakah tuan akan kembali?” bertanya Swandaru kepada Sedayu.

Sedayu mengangguk, “Ya” jawabnya singkat. Tetapi ia masih duduk di tempatnya.

“Marilah” ajak Swandaru.

Agung Sedayu memandang berkeliling untuk sesaat. Kemudian ia pun berdiri. Katanya, “Sebentar Swandaru, apakah kau tergesa-gesa?”

“Tidak” jawab Swandaru. “Tetapi apakah ada sesuatu yang penting di lapangan ini?”

Sekali lagi Swandaru memandang berkeliling. Orang-orang yang bertugas membersihkan lapangan itu pun telah hampir selesai dengan pekerjaannya. Dan sesaat kemudian lapangan itu pun benar-benar telah sepi.

Tiba-tiba terdengarlah Swandaru itu bertanya, “Tuan, kenapa tuan tidak ikut dalam perlombaan ini?”

Sedayu menggeleng lemah, “Tidak Swandaru”

“Aku muak melihat kesombongan Sidanti. Dan aku muak pula melihat Sidanti,” berkata Swandaru pula. “Biarlah nanti di rumah aku hajar perempuan itu”

“Jangan Swandaru” cegah Sedayu. “Tak ada gunanya. Biarlah ia berbuat apa saja yang disukainya”

Swandaru terdiam. Namun ia menjadi heran. Sedayu masih belum beranjak dari tempatnya, “Apakah yang tuan tunggu?” ia bertanya.

Sekali lagi Sedayu memandang berkeliling. Lapangan oi telah benar-benar menjadi sepi. Hanya satu dua orang saja yang masih sibuk melipat tikar dan beberapa perlengkapan.

“Swandaru” berkata Agung Sedayu lirih. Namun kemudian kata-katanya terputus, dan ia menjadi ragu-ragu.

Swandaru memperhatikan wajah Agung Sedayu dengan seksama. Setelah beberapa lama Agung Sedayu berdiam diri, maka bertanyalah Swandaru, “Apakah yang akan tuan katakan?”

Sekali lagi pandangan mata Agung Sedayu beredar. Kemudian katanya, “apakah aku dapat meminjam panahmu itu?”

“Apakah yang akan tuan lakukan?” bertanya Swandaru.

“Aku ingin berlatih memanah, supaya lain kali aku dapat ikut serta dalam perlombaan seperti ini”

“Sekarang?”

“Ya”

“Apakah tuan belum pandai memanah?”

Agung Sedayu menggeleng. “Belum Swandaru”

Swandaru menarik nafas. Ia benar-benar kecewa mendengar pengakuan itu. karena itu ia bertanya, “Apakah tuan berkata sebenarnya?”

“Apakah kau sangka aku pandai memanah?” bertanya Agung Sedayu.

“Tuan adalah anak muda yang kami kagumi. Ataukah mengkin tuan hanya pandai bertempur dalam jarak yang pendek? Dengan pedang dan tombak?”

“Entahlah Swandaru. Cobalah lihat, bagaimanakah penilaianmu atas diriku”

Swandaru tidak menjawab. dengan tergesa-gesa ia melepaskan busur yang menyilang di punggungnya/dan diambilnya anak panahnya dari bumbung di lambung kuda putihnya. “Inilah tuan” katanya. “Namun berlatih memanah bukanlah dapat dilakukan sehari dua hari”

“Itulah sebabnya kau mulai dari sekarang”

Swandaru tidak menjawab. ia menjadi tegang ketika ia melihat Sedayu memegang busur dan anak panahnya.

“Swandaru” berkata Sedayu, “Aku akan mencoba mengenai sasaran yang masih bergantung itu. Tolong, ayunkanlah seperti pada saat perlombaan tadi”

Swandaru menjadi heran. Kalau Agung Sedayu masih ingin belajar, mengapa sasaran itu harus diayunkannya? Tetapi ia tidak menjawab. Ia berjalan saja ke arah sasaran yang masih tergantung terbalik itu. Ditariknya orang-orangan itu dan kemudian dilepaskannya seperti pada saat perlombaan kedua antara Hudaya, Citra Gati dan Sidanti.

Tetapi Swandaru menjadi bertambah heran ketika ia melihat Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Dengan tangan Agung Sedayu memberi isyarat, supaya Swandaru mempercepat ayunan orang-orangan itu.

“Aneh”“ pikir Swandaru, “Apakah yang akan dilakukannya?”

Kini Swandaru itu pun tidak bertanya. Ditariknya orang-orangan itu semakin jauh, dan kemudian sasaran itu tidak saja dilepaskan namun didorongnya sehingga ayunannya menjadi bertambah cepat.

Tetapi kemudian Swandaru itu melihat Agung Sedayu melambaikan tangannya memanggil. Berlari-lari kecil Swandaru pergi mendekati Agung Sedayu, katanya setelah ia berdiri di samping anak muda itu, “Nah, sekarang apakah yang akan tuan lakukan?”

“Swandaru” berkata Agung Sedayu, “Apakah yang harus aku kenai?”

“Terserahlah kepada tuan” jawab Swandaru. “namun dalam perlombaan-perlombaan, kepalanyalah yang diangap mempunyai nilai tertinggi”

Sedayu tidak menjawab lagi. Perlahan-lahan ia mengangkat busurnya, sedang Swandaru memandanginya dengan wajah yang tegang.

“Aku akan mengenainya dari atas berturut-turut” berkata Agung Sedayu. “Mulai dari bandul, kemudian badan, leher dan yang terakhir kepala”

Swandaru tidak menjawab. Meskipun untuk mengenai kepala sasaran itu cukup sulit, namun mengenai semua bagian berturut-turut menurut rencana itu pun bukan pekerjaan yang mudah. Apalagi ia belum pernah melihat, apakah Sedayu itu benar-benar dpat membidikkan panahnya.

Tetapi kemudian Swandaru itu pun terpaku melihat anak panah Sedayu. Anak panah yang pertama itu laju dengan cepatnya, dan seperti apa yang dikatakan oleh Agung Sedayu, anak panah itu mengenai bandulnya tepat di tengah-tengah.

“Tuan” berkata Swandaru dengan serta-merta. “Ternyata tuan tidak sedang belajar memanah. Tuan dapat mengenai sasaran yang tuan bidik dengan tepat”

“Aku akan mencoba mengenai badannya” sahut Sedayu. Namun ia meneruskan kata-katanya, “Tetapi kau harus berjanji”

“Apakah yang harus aku janjikan?”

“Jangan berkata kepada siapa pun tentang apa yang akan kau lihat”

Swandaru mengerutkan keningnya. Ia benar-benar tidak mengerti sikap Agung Sedayu. Apakah ia sedang merahasiakan sesuatu? Seandainya ia mempunyai cara yang khusus, supaya cara itu tidak dapat ditiru oleh orang lain, apakah salahnya kalau ia mengatakan hasilnya saja? Meskipun demikian, namun Swandaru itu mengguk kosong sambil menjawab, “Baiklah tuan”

“Kau berjanji?”

“Ya”

“Bagus” sahut Sedayu. Dalam pada itu ia telah mengangkat busurnya kembali. Dan panahnya yang kedua itu pun benar-benar mengenai bagian badan dari orang-orangan yang masih saja terayun-ayun itu.

“Luar biasa” desis Swandaru. “Tuan benar-benar mengherankan. Tuan membidik bandul, anak panah tuan hinggap dibandul. Tuan membidik badan dan anak panah tuan hinggap dibadan. Sekarang tuan akan mengenai lehernya, bukan begitu?”

“Aku akan coba” jawab Sedayu. Namun demikian ia selesai mengucapkan kata-katanya, demikian anak panahnya terbang menuju sasarannya, leher.

“Bukan main tuan” berkata Swandaru. “Sekarang bukankah tuan akan mengenai kepala orang-orangan itu?”

Sedayu mengangguk.

“Seharusnya, tuan mengenainya tiga kali. Dengan demikian aku akan yakin, bahwa tuan lebih pandai dari anak muda yang sombong itu”

“Jangan membanding-bandingkan Swandaru” sahut Sedayu. “Aku tidak sedang berlomba. Perlombaan itu sudah selesai dan Sidanti lah yang mendapatkan kedudukan tertinggi. Sedang kini aku hanya bermain-main saja. Tak ada hubungan apa pun dengan perlombaan yang baru saja selesai.”

Sekali lagi Swandaru mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak berkata apapun. Diamatinya anak panah dibusur Sedayu dengan seksama. Sambil membungkuk-bungkuk ia memerhatikan setiap gerak jari Agung Sedayu. Dan sesaat kemudian lepaslah anak panah yang keempat itu.

Sekali lagi Swandaru berteriak, “Bukan main, bukan main. Tuan telah mengenainya pula”

Sedayu tertawa kecil. Ia senang pula melihat seseorang mengaguminya. Apabila demikian, sebenarnya timbul pula keinginannya agar semua prang mengetahuinya pula, bahwa sebenarnya ia pun dapat berbuat saperti apa yang dilakukan oleh orang lain. Namun kembali ia menjadi cemas, apabila dibayangkannya akibat dari kelebihannya itu. Ia cemas kalau ada orang yang mendendamnya. Dan kini yang hadir di lapangan itu tinggal seorang saja. Swandaru. Dan Swandaru telah berjanji kepadanya, untuk tidak mengatakan apa pun dan kepada siapa pun tentang apa yang dilihatnya. Karena itu, sebagai imbangan dari ketakutannya, maka meledaklah keinginannya untuk menunjukkan setiap kemampuan yang ada pada dirinya, meskipun hanya terhadap seorang saja dan kepada dirinya sendiri.

Maka katanya, “Swandaru, berapakah anak panahmu seluruhnya?”

“Sepuluh tuan” jawab Swandaru.

“Marilah, berilah aku dua lagi, supaya aku dapat mengenai kepala sasaran itu tiga kali”

Swandaru yang menjadi gembira melihat permainan Agung Sedayu itu pun berlari-lari kekudanya. Diambilnya seluruh anak panahnya dan diserahkannya kepada Agung Sedayu, “Inilah tuan”

Agung Sedayu menerima anak panah itu. Kemudian dengan cepatnya ia melepaskan dua anak panah berturu-turut. Dan keduanya itu pun hinggap dikepala sasaran pula.

Swandaru itu pun bertepuk tangan sambil berteriak-teriak, “Mengagumkan, mengagumkan”. Namun kemudian ia terdiam ketika Agung Sedayu berdesis, “Jangan ribut Swandaru, aku tidak mau bermain-main lagi”

“Ternyata tuan melampaui setiap orang yang ikut dalam perlombaan itu. Kenapa tuan sendiri tidak ikut serta?”

Sekali lagi Agung Sedayu membantah, katanya, “Tidak, tak ada hubungannya dengan perlombaan yang baru saja berakhir”

“Ya” sahut Swandaru. “Memang tak ada hubungannya. Tetapi tuan benar-benar telah mengagumkan aku. Seandainya tuan melakukannya selagi masih banyak orang di lapangan ini, maka lapangan ini pasti akan meledak karena sorak mereka yang gemuruh”

“Sudahlah. Lupakan perlombaan itu” potong Agung Sedayu. “Apakah kita masih akan bermain-main?”

“Tentu” jawab Swandaru. “Apakah tuan masih mempunyai permainan yang lebih baik lagi?”

“Swandaru” berkata Agung Sedayu kemudian. “Apakah yang lebih kecil dari kepala sasaran itu?”

Swandaru mengerutkan keningnya.jnya, “Tak ada tuan”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya sasaran yang bergerak-gerak terayun kian kemari meskipun sudah semakin lambat. Dan kemudian terdengar ia bertanya, “Swandaru, bahan apakah yang dibuat untuk tali pengikat orang-orangan itu?”

Swandaru menjadi heran. Ia tidak tahu maksud pertanyaan Agung Sedayu. Meskipun demikian ia menjawab juga, “Serat tuan, serat nanas yang dipilin menjadi tali yang kuat”

“Apakah bukan jangat?”

“Oh, bukan tuan. Jangat kulit terlalu kaku”

“Marilah kita buktikan”

Sekali lagi Swandaru menjadi keheran-heranan. Apakah hubungannya antara panah-panah dan serat nanas itu? karena itu maka ia bertanya, “Bagaimanakah tuan akan membuktikan? Dan apakah gunanya?”

Agung Sedayu tidak menjawab. namun dipasangnya sebatang anak panah dibusurnya. Perlahan-lahan busur itu pun diangkatnya. Kini ia membidikkan anak panah itu.

Swandaru yang masih belum tahu maksud Agung Sedayu memperhatikannya dengan berbagai pertanyaan memenuhi dadanya. Kali ini Agung Sedayu menarik tali busur sepenuhnya, sehingga busur itu seakan-akan hampir menjadi patah. Dengan hati yang berdebar-debar Swandaru memandangi busurnya. Namun tiba-tiba Agung Sedayu melepaskan anak panah itu, dan anak panah itu terbang secepat angin.

Betapa Swandaru menjadi terkejut menyaksikan hasil bidikan Agung Sedayu. Sehingga untuk beberapa saat ia tegak seperti patung. Dengan mulut ternganga ia menyaksikan anak panah yang lepas dari busurnya dengan laju yang tinggi itu telah memutus tali penggantung orang-orangan yang terayun-ayun. Demikian cepatnya dan demikian kerasnya. Barulah ia tahu maksud pertanyaan Agung Sedayu, tentang bahan pembuat tali itu.

Swandaru pun pernah juga melihat tali penggantung sasaran itu terputus karena anak panah. Namun justru karena sama sekali tak disengaja. Justru karena anak panah yang condong dari arah bidikan. Tetapi kini Agung Sedayu telah dengan sengaja membidik tali itu. Tali yang jauh lebih kecil dari sasaran itu sendiri. Dan Agung Sedayu ternyata tepat mengenainya.

Karena itu, ketika ia menyadari tentang apa yang dilihatnya maka dengan serta-merta ia meloncat maju. Dengan gairahnya ia mengguncang-guncang bahu Agung Sedayu sambil berkata terbata-bata, “Tuan. Ternyata dugaanku benar. Tuan ternyata benar-benar melampaui setiap orang yang pernah aku lihat. Bukankah dengan mengenai tali itu terbukti tuan tak mungkin dikalahkan oleh siapa pun juga. Tali itu jauh lebih kecil dari kepala sasaran itu. Dan tali itu sedang bergerak-gerak. Ternyata tuan dapat mengenainya. Tidak saja tepat, namun tuan sudah berhasil memutuskannya. Bukankah dengan demikian berarti bahwa tuan mengenainya tepat di tengah-tengah?”

Agung Sedayu yang terguncang-guncang itu pun melepaskan dirinya. Sambil tertawa ia berkata, “Jangan Swandaru. Nanti tubuhku rontok karena guncanganmu. Ternyata tenagamu luar biasa pula, sehingga tulang-tulangku hampir remuk karenanya”

Swandaru menarik nafas. Dengan penuh kekaguman sekali lagi ia memandangi ujung tali yang terputus oleh anak panah Agung Sedayu. Sambil menggeleng-gelengkan kepala ia bergumam, “Apakah tuan dapat menaruh biji-biji mata di ujung-ujung anak panah itu?”

Agung Sedayu tidak menjawab. namun ia tertawa. Kini ia pun menjadi bergembira pula seperti Swandaru. Bahkan ia menjadi semakin berbangga. Timbullah keinginannya untuk menunjukkan berbagai macam permainan, yang dapat menunjukkan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dari orang lain sebagai pencurahan hatinya yang selalu terkekang oleh kekerdilan jiwanya.

“Swandaru” berkata Agung Sedayu kemudian, “Di dalam pertempuran orang tidak saja terikat kepada sasaran tertentu. Mungkin ia harus membidik lawan yang sedang berlari kencang bahkan di atas punggung kuda. Mungkin ia harus membidik tubuh lawannya yang hanya nampak sebagian kecil karena bersembunyi di balik pepohonan. Nah, maukah kau membantu aku bermain-main dengan anak panah?”

“Tentu tuan” jawab Swandaru.

“Tetapi kau harus tatag. Jangan cemas, apabila kau melihat anak panah yang mendatang”

“Apakah yang harus aku lakukan?”

“Bawalah orang-orangan itu sambil berpacu dipunggung kuda. Aku akan mencoba mengenainya”

“Ah, bukankah itu berbahaya?”

Agung Sedayu berpikir sejenak. Kemudian jawabnya, “Baiklah. Aku mempunyai cara lain. Lepaskanlah kepala sasaran itu. Lemparkan ke udara. Biarlah aku mengenainya dengan anak panah”

“Bagus. Permainan yang mengasyikan” sahut Swandaru yang kemudian berlari-lari mengambil sasaran yang telah terjatuh di tanah. Dilepasnya bagian kepalanya dan dengan isyarat ia menunjukkan kepala orang-orangan itu kepada Agung Sedayu.

Agung Sedayu kemudian bersiap. Dengan isyarat pula ia memberi tanda kepada Swandaru untuk melemparkan sasaran itu keudara.

Kedua anak muda itu benar-benar menjadi bergembira, seperti sepasang anak-anak yang sedang bermain-main. Dalam kegembiraan itu maka Agung Sedayu telah melupakan segalanya. Melupakan kecemasannya dan melupakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat menyeretnya kedalam persoalan-persoalan yang tidak dikehendakinya.

Swandaru yang berdiri beberapa puluh langkah dari Agung Sedayu itu pun kemudian melemparkan sasarannya ke arah Agung Sedayu. Ternyata betapa besarnya tenaga Swandaru. Meskipun sasatan itu hempir tak memiliki berat, namun Swandaru berhasil melemparkan melambung melampaui tempat Agung Sedayu berada.

Tetapi sasaran itu tidak sempat melampauinya. Ketika benda itu hampir sampai di atas kepalanya, maka meluncurlah anak panah Agung Sedayu dengan kecepatan tinggi.

Apa yang dilihat oleh Swandaru benar-benar mentakjubkannya. Kini ia bertepuk sejadi-jadinya. Ia melihat anak panah itu menyambar sasarannya dan bahkan sasaran itu pun ikut serta melambung ke atas dibawa oleh arus anak panah Agung Sedayu, hampir tegak lurus keudara.

Tetapi tepuk tangan Swandaru itu pun kemudian terhenti. Ia melihat Agung Sedayu melangkah beberapa langkah maju. Dengan tegangnya ia menunggu, apalagi yang akan dilakukan oleh Agung Sedayu itu, yang kini berdiri tepat dibawah sasarannya yang hampir mencapai puncak ketinggian. Dan ternyatalah sesaat kemudian sasaran itu pun seolah-olah terhenti di udara, dan sesaat pula sasaran itu menukik turun dengan cepatnya.

Namun kembali Swandaru terkejut. Ia melihat Agung Sedayu menarik busurnya dan sebuah anak panah terbang secepat tatit menyambar sasaran yang sedang meluncur turun itu. Sesaat kemudian kedua benda itu pun seolah-olah beradu. Anak panah Agung Sedayu yang kesembilan telah berhasil mematuk sasarannya pula, sehingga benda itu pun kemudian berputar seperti baling-baling di udara. Dua batang anak panah yang saling bertentangan itu seolah-olah sengaja dipasang sebagai jari-jari dari sebuah baling-baling. Swandaru kini tak dapat menguasai diri lagi. Dengan cepatnya ia berlari mendekati Agung Sedayu sambil berteriak-teriak, “Gila, bagaimana tuan dapat melakukan itu?”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia melingkar beberapa langkah surut. Sasaran yang dikenainya melambung pula keatas, namun tidak setinggi semula. Karena itu, kini Agung Sedayu siap melakukan permainannya yang terakhir. Panahnya tinggal sebatang, dan panah itu akan dihabiskannya. Dengan cepatnya ia memasang anak panah itu dan sebelum sasarannya jatuh menyentuh tanah, maka Agung Sedayu masih sempat menyambarnya dengan anak panahnya yang kesepuluh.

Sasaran itu terlempar beberapa langkah, dan kemudian terjatuh di tanah. Namun seakan-akan sasaran itu terseret oleh kekuatan anak panah Sedayu beberapa langkah lagi.

Apa yang dilihat oleh Swandaru itu hampir-hampir tak masuk diakalnya. Tiga anak panah hinggap pada satu sasaran yang sedang melambung di udara.

Seperti orang yang benar-benar kehilangan kesadaran Swandaru berteriak-teriak kegirangan. Bahkan kemudian anak itu telah kehilangan keseimbangan berpikir. Dengan serta-merta ia berteriak, “Tuan. Setiap orang Sangkal Putung harus tahu apa yang telah tuan lakukan. ternyata Sidanti tidak sepantasnya untuk menamakan dirinya pemanah terbaik dari Sangkal Putung. Sebab tuan dapat memanah jauh lebih baik daripadanya”

Agung Sedayu terkejut mendengar kata-kata Swandaru itu. Dengan cemasnya ia berkata, “Jangan Swandaru, bukankah kau telah berjanji?”

“Tuan terlalu merendahkan diri” sahut Swandaru. “Tetapi sekali lagi anak yang sombong itu harus menyadari keadaannya, ia bukan manusia yang tak ada bendingnya. Bahkan Sidanti itu pasti tak akan dapat melakukan seperti apa yang tuan lakukan itu”

“Jangan Swandaru” cegah Agung Sedayu.

Namun Swandaru solah-olah sudha tidak mendengar lagi kata-kata Agung Sedayu itu. Dengan cepatnya ia berlari ke arah kuda putihnya. Dan sebelum Agung Sedayu sempat berbuat sesuatu, Swandaru telah meloncat kepunggung kudanya itu dan seperti sedang berpacu dengan hantu kuda itu lari kencang-kencang.

Agung Sedayu menjadi bingung. Untunglah bahwa dalam endongnya sudah tidak terselip lagi sebatang anak panahpun. Seandainya, ya seandainya demikian, maka sudah pasti kuda Swandaru itu tak akan dapat pulang kekandang.

Tetapi yang terjadi, Agung Sedayu itu berdiri dengan kaki gemetar melihat kuda Swandaru itu terbang meninggalkan lapangan. Sekilas berterbangan pulalah di dalam benaknya, apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Swandaru itu. Terbayanglah kemudian, Sidanti akan datang dengan wajah yang merah membara karena kemarahannya.

Di dalam hati Agung Sedayu itu, timbullah suatu penyesalan. Betapa dengan sombongnya ia telah menunjukkan beberapa permainan yang akan dapat membawa kesulitan kepadanya. Apalagi kini pamannya sedang marah pula kepadanya. Namun ia sudah tidak dapat berbuat sesuatu. Swandaru itu kini telah hilang di balik rimbunnya dedaunan.

Yang tinggal adalah sebuah kepulan debu yang putih, semakin lama semakin tipis dan akhirnya lenyap ditiup angin yang sepoi-sepoi. karena itu, maka keringat yang dingin segera mengalir membasahi segenap tubuh Agung Sedayu.

Swandaru itu pun memacu kudanya menyusul Sidanti yang sedang berjalan perlahan-lahan kembali kekademangan. Dengan asyiknya ia bercakap-cakap dengan beberapa orang yang sedang mengaguminya. Bahkan Sekar Mirah yang kemudian berjalan di samping ayahnya itu pun berkali-kali berpaling dan sekali-sekali dipujinya anak muda itu di hadapan ayahnya.

Ki Demang Sangkal Putung hanya kadang-kadang saja menanggapi pujian-pujian itu. Namun di dalam hatinya, orang tua itu benar-benar mengeluh. Gadisnya harus benar-benar dikuasainya. karena itu, maka Ki Demang Sangkal Putung itu, bahkan bertekad untuk bersikap lebih keras lagi terhadap Sekar Mirah. Ia menyesal bahwa anak gadisnya satu-satunya itu terlalu dimanjakannya. Baik oleh dirinya sendiri mau pun oleh ibunya, sehingga Sekar Mirah itu mempunyai sifat yang sukar dikendalikan. Ia berbuat seenaknya seperti yang dikehendakinya. Perasaannya terlalu tampil ke depan, jauh ke depan dari pikiran wajarnya.

Widura berjalan saja tanpa menghiraukan apapun. Hanya kadang-kadang saja ia memandang orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya. Ditatapnya wajah-wajah yang dengan gembira pulang dari lapangan menyaksikan perlombaan-perlombaan yang sangat menarik hati. Perlombaan-perlombaan yang jarang terjadi di kademangan yang subur itu.

Tetapi langkah Widura itu pun kemudian terhenti, ketika ia melihat dua orang berkuda menuju ke arahnya. Dua orang yang dikenal baik oleh Widura, sebagai laskarnya yang patuh. Bahkan kedatangan dua orang berkuda itu pun sangat menarik perhatian orang-orang yang sedang berjalan pulang dari lapangan itu. Sehingga ada di antaranya yang ikut berhenti pula, menanti kalau-kalau ada sesuatu yang penting bagi Sangkal Putung. Tetapi kedua orang itu ternyata sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda yang mencemaskan, dengan tersenyum-senyum ia kemudian turun dari kudanya dan kemudian mengangguk hormat kepada Widura.

Widura pun mengangguk pula. dilihatnya juga kedua orang itu hanya tersenyum-senyum, namun bagi Widura, senyum mereka adalah senyum yang tak begitu wajar. Meskipun demikian Widura tahu benar maksud kedua orang itu. Mereka tidak mau merampas kegembiraan orang-orang Sangkal Putung dengan sikap-sikap yang tegang dan tergesa-gesa.

Widura pun kemudian tidak bertanya langsung apa keperluan mereka. Tetapi ia yakin pasti ada sesuatu. Kedua orang itu adalah orang yang sedang bertugas berjaga-jaga di ujung kademangan.

“Perlombaan sudah selesai” berkata Widura kepada mereka. “Marilah kita ke kademangan”

Kedua orang itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya, dan dengan menuntun kuda mereka, mereka berjalan di samping Widura ke kademangan.

Sidanti pun melihat kedua orang itu pula, demikian juga Hudaya dan Citra Gati. Bahkan Sonya yang berjalan jauh-jauh di belakang bersama Sendawa mempercepat langkah mereka. Tetapi mereka menjadi kecewa ketika ternyata kedua orang itu tak berkata apa-apa.

Orang-orang Sangkal Putung yang berhenti karena kedatangan orang-orang berkuda itu pun kemudian meneruskan langkah mereka. Ternyata dalam tanggapan mereka, kedua orang berkuda itu pun agaknya hanya ingin menyaksikan perlombaan di lapangan, namun mereka sudah terlambat.

Namun Widura yang segera ingin tahu apa yang sudah terjadi itu, ternyata tidak sabar menunggu sampai mereka tiba di kademangan. karena itu maka perlahan-lahan hampir berbisik ia berkata, “Ada sesuatu?”

Salah seorang dari kedua orang berkuda itu mengangkat wajahnya. sesaat ia memandang orang-orang berjalan di sekitarnya namun kemudian dengan berbisik pula ia berkata, “Tak begitu penting, meskipun harus mendapat perhatian”

“Apakah itu?”

“Di antara beberapa orang yang lewat di muka gardu penjagaan kami, kami melihat seorang yang menarik perhatian kami”

Widura mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Siapa?”

“Seorang yang barangkali hadir juga menyaksikan perlombaan di lapangan. Meskipun pakaiannya kumal dan kotor, namun tongkatnya telah meyakinkan kami”

“Tongkat baja putih?”

Orang itu mengangguk.

“Berkelapa kuning berbentuk tengkorak?”

Sekali lagi orang itu mengangguk.

Widura itu pun menggeram, “Macan yang gila itu sempat menyaksikan perlombaan itu pula”

“Aku sangka demikian. Namun kami tidak berani menangkapnya. Sebab kami tahu pasti kekuatan yang tersimpan pada dirinya”

“Kalian telah berbuat benar” sahut Widura. “Juga kalian tak dapat menghitung, berapa orang yang dibawanya”

Prajurit berkuda itu mengangguk. Katanya, “Kami berenam di dalam gardu kami. Seandainya kami harus bertempur, belum pasti kami berenam sempat melaporkan kehadirannya. Yang dapat kami lakukan hanyalah memukul tanda bahaya. Dan orang-orang itu pun segera akan lenyap. Sedang sebagian besar dari kami, pasti sudah mati”

“Benar” sahut Widura pula, kemudian katanya, “Apakah mereka sudah meninggalkan Sangkal Putung?”

“Kami menyangka demikian” jawab orang itu.

“Aku juga menyangka demikian” berkata Widura. “Orang itu hanya ingin tahu, apakah yang terjadi di sini, dan sekaligus ia dapat mengetahui pula, gambaran kekuatan laskar kita di sini. Untunglah bahwa perlombaan pedang dan sodoran hanya aku peruntukkan anak-anak muda Sangkal Putung, sehingga Tohpati itu tidak dapat mengukur kekuatan prajurit Pajang di Sangkal Putung”

Orang itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan kemudian mereka itu pun saling berdiam diri. Namun apa yang didengar oleh Widura dari penjaga-penjaganya itu, semakin meyakinkannya, bahwa apa yang dikatakan Kiai Gringsing semalam benar-benar akan dilakukan oleh Tohpati. Sekali lagi menyergap Sangkal Putung.

Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh derap kaki kuda yang berdentang-dentang di jalan berbatu-batu di belakang mereka. Semakin lama menjadi semakin keras, sehingga setiap orang yang mendengarnya menjadi cemas karenanya. Bahkan kedua prajurit berkuda itu pun menjadi cemas pula. Karena itu, maka semua mata, berpuluh-puluh pasang, seakan-akan melekat ditikungan jalan di belakang mereka.

Sesaat kemudian muncullah kuda itu, seekor kuda putih dengan penunggangnya yang gemuk bulat. Swandaru.

“Oh” hampir semua mulut berdesah, ketika mereka melihat anak muda itu. Sedang Swandaru itu pun menjadi terkejut pula ketika dilihatnya beberapa orang berhenti di jalan seakan-akan sedang menunggunya. Sehingga tanpa sesadarnya ia bertanya sambil menarik kekang kudanya. “Apakah yang kalian tunggu?”

Kuda Swandaru itu berhenti beberapa langkah dari Sidanti. Namun Sidanti itu kemudian sama sekali tak memperhatikannya. Dengan langkah yang tetap Sidanti meneruskan perjalanannya kembali kekademangan.

Ki Demang Sangkal Putung, yang masih agak jauh dari padanya menjawab pertanyaan anaknya, “Kau mengejutkan kami, Swandaru”

“Ah” sahut Swandaru. “Betapa ayah mudah menjadi terkejut, sedang kakang Sidanti pun sama sekali tidak terkejut mendengar derap kudaku”

Langkah Sidanti pun terhenti. Dengan wajah yang asam ia berpaling ke arah Swandaru. Namun hanya sebentar, dan kembali ia tidak memperhatikan anak muda itu lagi, seakan-akan kehadirannya sama sekali tak berarti baginya.

Swandaru melihat kemasaman wajah itu. karena itu maka hatinya pun menjadi semakin panas. Tiba-tiba timbullah keinginannya untuk memanaskan hati Sidanti pula. maka katanya lantang, “Kakang Sidanti, berhentilah sebentar”

Sekali lagi Sidanti berpaling, kali ini ia memandang Swandaru dengan tajam, katanya, “Jangan ribut Swandaru”

“Aku tidak sedang ribut, “Jawabnya. “Tetapi aku ingin memberitahukan kepadamu, bahwa sebenarnya bukan kaulah pemanah terbaik di Sangkal Putung”

Kali ini Sidanti benar-benar berhenti. Ia tidak saja berpaling, namun dengan sigapnya ia memutar tubuhnya. Ditatapnya wajah Swandaru dengan tajamnya. Dan bertanyalah anak muda itu dengan suara yang bergetar, “Apa katamu Swandaru?”

Ki Demang Sangkal Putung dan Widura pun tertarik pula pada kata-kata Swandaru itu. Namun mereka menjadi cemas, dan berkatalah Ki Demang Sangkal Putung, “Swandaru, hati-hatilah dengan kata-katamu”

Swandaru tidak menghiraukan kata-kata ayahnya. Dengan masih tetap di atas punggung kudanya ia berkata, “Aku berkata sebenarnya, bahwa kakang Sidanti bukan pemanah terbaik di antara kita”

Sidanti itu pun menjadi heran mendengar kata-kata Swandaru yang tiba-tiba itu. karena itu beberapa langkah ia maju mendekati Swandaru. katanya, “Ulangi Swandaru. dan apa alasannya?”

“Baik” jawab Swandaru. “Aku ulangi. Kau bukan pemanah terbaik di Sangkal Putung. Alasanku, di lapangan masih ada seorang pemanah yang pasti melampaui kecakapanmu”

Dada Sidanti menjadi bergelora. Betapa hatinya menjadi panas. Seandainya pada saat itu tidak ada Widura, Ki Demang Sangkal Putung, Hudaya, Citra Gati, Sekar Mirah maka mulut Swandaru itu pasti sudah ditamparnya untuk ketiga kalinya.

Tetapi kini ia masih mencoba menahan dirinya. Sedang beberapa orang lain pun melangkah mendekati mereka. Widura, Ki Demang Sangkal Putung, Hudaya, Citra Gati, Sekar Mirah dan beberapa orang lainnya.

Sekali lagi Ki Demang Sangkal Putung mencoba mencegah anaknya yang kurang dapat menempatkan diri itu, katanya, “Swandaru, sudahlah, jangan membual. Apa pun yang terjadi di lapangan menurut katamu, namun perlombaan sudah selesai. Dan angger Sidanti lah yang kami anggap sebagai pemenangnya”

Swandaru tertawa. Jawabnya, “Ternyata anggapan itu salah ayah”

“Tidak bisa” sahut ayahnya. “Kami semuanya menjadi saksi”

Swandaru masih tertawa. Dipandangnya kemudian wajah-wajah yang tegang di sekitarnya. Dilihatnya beberapa orang memandangnya dengan penuh pertanyaan pada sinar matanya. kKarena itu, maka Swandaru itu pun berkata pula, “Baiklah. Katakanlah dalam perlombaan itu kakang Sidanti ternyata menjadi pemenang. Namun aku katakan bahwa ia bukanlah pemanah terbaik di Sangkal Putung”

Widura masih tetap berdiam diri. Dengan cepatnya ia memaklumi maksud Swandaru. ketika tak dilihatnya Agung Sedayu di antara mereka, maka pasti Agung Sedayu lah yang dimaksud oleh Swandaru itu.dan dengan cepat pula Widura dapat mengira-irakan apakah yang telah dilakukan oleh Agung Sedayu. Agaknya ia telah melakukan beberapa permainan bersama Swandaru. Namun Widura menjadi heran, bahwa Swandaru telah menyusul Sidanti dan mengatakan apa yang dilihatnya. Apakah maksud Swandaru itu telah disetujui Agung Sedayu?

Sidanti telah hampir tak dapat menahan dirinya lagi. Dengan lantang ia berteriak, “Jangan banyak bicara Swandaru. katakan siapa orangnya!”

Swandaru meredupkan matanya. Dipandangnya Sidanti baik-baik. Apakah yang akan terjadi kalau ia menyebutkan nama orang yang telah mengagumkannya itu? Dan dengan las-lasan disebutnya nama itu, katanya, “Kau ingin tahu namanya? Namanya Agung Sedayu”

Sidanti mendengar nama itu, seperti suara guruh yang meledak di atas kepalanya. Sesaat wajahnya menjadi tegang, namun sesaat kemudian tubuhnya menjadi gemetar. Tiba-tiba semua orang pun menjadi tegang pula ketika mereka melihat Sidanti itu, tanpa sepatah katapun, melangkah dengan tergesa-gesa menyibak semua orang yang berdiri di sekitarnya. Dengan dada yang bergelora ia berjalan kembali kepalangan sambil menjinjing busurnya. Namun demikian masih juga ia bergumam, “Bagus. Kita buktikan, siapakah di antara kita yang akan menjadi pemanah terbaik di Sangkal Putung”

Beberapa orang yang kemudian tersadar akan keadaan itu, segera berjalan pula kembali ke lapangan. Mereka ingin menyaksikan apakah gerangan yang akan terjadi.

Widura memandang si dengan hati yang berdebar-debar pula. sesaat ia menjadi ragu-ragu. Namun sesaat kemudian disadarinya, bahwa ia harus hadir pula di lapangan. Seandainya terjadi sesuatu dengan Sidanti dan Agung Sedayu, maka ia pun harus dengan cepat dapat mengatasinya. Meskipun demikian, Widura itu tak dapat melupakan kehadiran Tohpati di Sangkal Putung. karena itu sebelum ia pergi menyusul Sidanti, dipesannya dua orang berkuda itu untuk segera kembali kegardunya, katanya, “Kembalilah ke gardumu. Beritahukan kemudian gardu-gardu yang lain. Dan selalu siapkanlah tanda bahaya. Jangan terlambat”

Kedua orang itu mengangguk, jawabnya, “Baik. Akan segera kami lakukan”

Demikian kedua orang berkuda itu pergi, maka berkatalah Widura kepada ki Demang yang masih saja berdiri kebingungan, “Marilah kita saksikan, apakah yang terjadi”

“Baik, baik” jawab Ki Demang. Dan kepada Swandaru ia berkata, “Swandaru, kau selalu saja bikin perkara. Bukankah dengan demikian kau telah memanaskan hati Sidanti? Apalagi kalau ternyata kata-katamu benar. Lalu bagaimanakah dengan hasil perlombaan itu?”

“Kalau mereka ingin bertanding, apa salahnya ayah” jawab Swandaru. “Bukankah dengan demikian kita akan mendapat penilaian yang jujur atas semua orang di Sangkal Putung?”

“Kalau ada yang ketinggalan dalam perlombaan, itu adalah karena keinginannya sendiri” jawab Ki Demang. Namun ia tidak dapat berkata apa pun seterusnya, ketika diingatnya bahwa Agung Sedayu adalah kemenakan Widura.

Tetapi Widura lah yang meneruskan, “Apa yang terjadi kemudian tidak akan mempengaruhi hasil perlombaan. Adalah salah Agung Sedayu sendiri kenapa ia tidak ikut serta dalam perlombaan itu. Betapa pun pandainya ia membidikkan anak panah, namun apabila itu dilakukan setelah perlombaan, maka tak ada sebuah nilai pun yang dapat diberikan padanya”

Swandaru kini jadi terdiam. Ia sama sekali tak berani menjawab kata-kata Widura. Namun orang lainlah yang kemudian berkata, “Biarlah kakang. Biarlah anak muda yang sombong itu dapat menilai dirinya. Seandainya seseorang dapat melampauinya, meskipun kelebihan itu tak dapat mempengaruhi hasil perlombaan, namun kita semua akan mengetahuinya, bahwa ada orang lain yang sebenarnya lebih berhak atas kemenangan itu daripada Sidanti”

Widura berpaling ke arah suara itu. Dilihatnya di belakangnya Hudaya mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil berkata, “Kau benar kakang Citra Gati”

Widura menarik nafas dalam-dalam. Meskipun demikian ia menjawab, “Aku harus ada di antara mereka. Pertandingan yang kemudian ini pun tak boleh lebih dari pertandingan memanah”

Hudaya tersenyum masam. Sahutnya, “Apa salahnya? Bukankah semuanya ini terjadi diluar arena yang seharusnya? Kalau kali ini kakang masih mencegahnya, maka itu hanya aka nberarti menunda-nunda penyelesaian”

Di dalam hatinya Widura pun membenarkan kata-katanya Hudaya itu. Namun segera terlintas di dalam kepalanya, bayangan-bayangan yang mencemaskannya. Tohpati. Kalau orang-orangnya sibuk dengan bentrokan-bentrokan antara sesama, apakah jadinya kalau Tohpati itu tiba-tiba saja menerkam Sangkal Putung,? Kalau terjadi sesuatu, maka hal itu pasti akan didengar oleh Macan Kepatihan itu. Sebab siapa tahu bahwa seorang dua orang dari laskar Jipang masih ada di antara mereka dan menyaksikan perselisihan itu.

Hal inilah yang tak terpikirkan oleh Hudaya, Citra Gati dan orang-orang lain. Mereka hanya menuruti perasaan mereka saja. Kebenciannya kepada kesombongan Sidanti agaknya telah benar-benar memuncak. Dan mereka mengharap Agung Sedayu akan memberi beberapa peringatan kepada Sidanti. Namun ada hal lain lagi yang tak mereka ketahui. Agung Sedayu tidak lebih dari seorang penakut.

Karena itu, kali ini pun Widura menjadi pening karenanya. Meskipun demikian, maka Widura berkata tegas, “Tak akan ada perkelahian di antara kita”

Hudaya dan Citra Gati tidak berkata-kata lagi. Namun wajahnya membayangkan kekecewaan hatinya. Sesaat mereka saling berpandangan. Hudaya itu, kemudian tersenyum hambar ketika ia melihat Citra Gati mengangkat bahunya.

Ketika mereka melihat Widura melangkah kembali ke lapangan, mereka itu pun mengikutinya pula. sedang Ki Demang Sangkal Putung dengan wajah yang masam berkata kepada anaknya, “Swandaru, segera kau akan melihat akibat pokalmu itu”

Swandaru menundukkan wajahnya. kini baru disadarinya, mengapa Agung Sedayu mencegahnya untuk tidak menyampaikan cerita tentang dirinya itu kepada siapa pun juga. Barulah kini ia dapat menilai perbuatannya itu. Namun semuanya sudah terjadi. Dan sebenarnya hatinya pun terbersit harapan seperti yang diucapkan oleh Hudaya dan Citra Gati itu. Namun ia tidak membantah ayahnya lagi. Bahkan ia pun kemudian turun dari kudanya dan dituntunnya kuda itu berjalan di belakang ayahnya. Sedang Sekar Mirah ternyata berjalan jauh mendahului. Dengan tergesa-gesa ia berjalan di belakang Sidanti di antara beberapa orang lain yang ingin juga menyaksikan pertandingan yang kedua, yang pasti tidak kalah menggemparkan dari pertandingan yang baru saja selesai.

Bahkan beberapa orang sudah mulai menilai-nilai kedua anak muda yang mereka anggap sebagai pahlawan-pahlawan yang mengagumkan. Mereka berdua adalah anak muda yang namanya menjadi buah bibir orang-orang Sangkal Putung. Sidanti ternyata terkenal sebagai seorang yang gagah berani yang dengan kesaktiannya mampu bertahan melawan Macan Kepatihan. Sedang Agung Sedayu bagi mereka merupakan seorang pahlawan penyelamat padukuhan Sangkal Putung.

Keduanya kini akan berhadapan dalam satu pertandingan memanah. Alangkah mengasyikkan.

Sidanti sendiri yang berjalan paling depan dari iring-iringan yang semakin lama menjadi semakin panjang itu, dadanya benar-benar bergelora karena hatinya yang panas. Sejak semula ia berharap agar ia dapat bertanding dalam kesempatan apa pun dengan Agung Sedayu. Namun ia menjadi kecewa ketika Agung Sedayu tidak ikut serta dalam perlombaan itu. Namun tiba-tiba di belakangnya, Agung Sedayu telah membuatnya menjadi bersakit hati. Kini biarlah dibuktikan siapa di antara mereka berdua yang berhak menamakan dirinya pemanah terbaik di Sangkal Putung.

Kabar itu, kabar tentang Agung Sedayu, segera menjalar seperti api yang membakar kademangan Sangkal Putung. Setiap mulut dan setiap telinga telah dirayapi oleh berita itu. Beberapa orang berlari-lari pulang, untuk memanggil kakak-kakak mereka, adik-adik mereka dan keluarga-keluarga mereka yang telah terlanjur sampai di rumah, untuk menyaksikan pertandingan yang pasti akan menggembirakan hati mereka, melampaui pertandingan yang baru saja selesai.

Beberapa saat kemudian Sidanti itu pun menjadi semakin dekat dengan lapangan di muka banjar desa, sejalan dengan hatinya yang menjadi semakin bergelora oleh kemarahan. Maka ia pun semakin mempercepat langkahnya, seakan-akan ia ingin meloncat dengan satu loncatan yang akan dapat mencapai sisa jarak yang sudah tidak terlalu jauh itu.

Di lapangan, Agung Sedayu berdiri dengan dada yang berdebar-debar. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam dadanya. Cemas, kecewa, meyesal bercampur baur. Sehingga lututnya pun menjadi gemetar. Ternyata Swandaru tidak menepati janjinya, sehingga akibatnya benar-benar tak seperti yang diharapkan. karena itu, dalam kebingungan Agung Sedayu itu berjalan hilir mudik tak menentu. Sekali-sekali ingin ia pergi meninggalkan lapangan. Tetapi kemudian ia menjadi ragu-ragu. Sehingga akhirnya dadanya itu pun serasa berdnentangan, ketika ia mendengar suara orang-orang yang ribut semakin lama menjadi semakin dekat. Dan ternyatalah kemudian apa yang ditakutkannya. Dari balik rimbunnya daun-daun, dari balik dinding-dinding batu, muncullah orang-orang itu. Berbondong-bondong dan kemudian pecah berlarian mengelilingi lapangan.

Darah Agung Sedayu itu pun hampir berhenti mengalir ketika dilihatnya, di ujung iring-iringan itu berjalan seorang yang sanga menakutkan baginya. Sidanti.

Dan Sidanti itu langsung berjalan ke arah Agung Sedayu. Dengan langkah yang tetap namun tergesa-gesa, seakan-akan ia takut terlambat, meskipun hanya sekejap.

Tetapi hati Agung Sedayu itu pun kemudian menjadi agak tenteram ketika kemudian dilihatnya, pamannya datang pula ke lapangan. Ki Demang Sangkal Putung dan beberapa orang lagi. Dengan demikian ia hanya dapat berdoa mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu atas dirinya.

Sidanti itu pun kemudian berhenti hanya beberapa langkah saja di muka Agung Sedayu. Dengan wajah tegang dipandanginya wajah Agung Sedayu.

Agung Sedayu masih saja berdiri di tempatnya. Betapa pun dadanya berguncang, namun dicobanya juga menguasau dirinya. Bahkan kemudian dilihatnya juga Sekar Mirah yang memandangnya dengan penuh teka-teki. Akhirnya pamannya dan Ki Demang Sangkal Putung pun berdiri dilingkaran itu pula. hanya Swandarulah yang berdiri agak jauh, namun wajahnya masih sasa tampak memancarkan kebanggaannya atas Agung Sedayu. Sekali-sekali disambarnya wajah Sidanti dengan tatapan matanya. Ditariknya bibirnya ke samping dan kemudian ia tersenyum.

Betapa menyesal Agung Sedayu melihat anak muda itu. Namun kini semuanya telah terlanjur. Dan dirinyalah kini yang menjadi pusat perhatian segenap penduduk Sangkal Putung yang semakin lama menjadi semakin banyak.

Seperti guruh menggelegar di langit, Agung Sedayu itu mendengar Sidanti berkata parau, “Adi Agung Sedayu. Aku telah mendengar apa yang baru saja kau lakukan”

Agung Sedayu menggigit bibirnya. Dengan sudut matanya memandang wajah Swandaru. namun ia pengumpat di dalam hati ketika dilihatnya Swandaru itu tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian Agung Sedayu itu menjawab, “Aku tidak berbuat apa-apa kakang Sidanti”

Sidanti mengerutkan keningnya. Kemudian anak muda itu tersenyum masam, “Jangan menghina aku. Kenapa kau tidak turut saja berlomba?”

“Aku tidak berhasrat” sahut Agung Sedayu.

“Tetapi kenapa kau membuat kericuhan setelah pertandingan selesai?”

“Apakah yang aku lakukan?”

Mata Sidanti menjadi semakin menyala. Dan hati Agung Sedayu menjadi semakin kecut karenanya. Namun dicobanya juga untuk tetap menatap wajah Sidanti dengan wajah tengadah. Tetapi lutunyalah yang terasa bergetaran. Meskipun demikian Agung Sedayu tidak dapat menghindarkan diri dari pertanggungan jawabnya atas semua perbuatannya. Kata-katanya dan anggapan orang-orang Sangkal Putung bahwa ia adalah seorang pahlawan. Dan anggapan-anggapan itu belum pernah dibantahnya. Apalagi ketika dilihatnya di sampingnya Sekar Mirah berdiri dengan wajah yang cerah. Kepada gadis itu pun telah banyak diceritakannya tentang perjalanannya ke Sangkal Putung bersama kakaknya dahulu. Dan diceritakannya betapa ia berdua bertempur melawan Alap-alap Jalatunda dan pande besi dari Sendang Gabus. Betapa dengan dahsyatnya ia berdua berhasil membunuh tiga orang di antaranya dan cerita-cerita lain yang dibuatnya untuk menutupi kekerdilan jiwanya.

Kini ia dihadapkan pada satu pembuktian. Ia tidak dapat berbuat apapun, selain berbuat sesuatu untuk menyelamatkan namanya. Tetapi, betapa ia memaksa dirinya, namun lututnya yang gemetar dan hatinya yang berdebar-debar itu sangat menyulitkannya.

Dan kemudian terdengar Sidanti berkata pula dengan suara yang lantang, “Kau telah menyuruh Swandaru berteriak-teriak sepanjang jalan, bahwa pemenang dalam perlombaan itu bukan pemanah terbaik di Sangkal Putung”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Sekali lagi dipandanginya wajah Swandaru. dan Agung Sedayu itu pun menjadi semakin menyesali sikap Swandaru itu. Dengan tertawa Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya.

Namun Agung Sedayu itu kemudian menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak menyuruhnya. Dan aku tidak berbuat apa-apa”

Semua orang yang mendengar jawaban Agung Sedayu itu menjadi heran. Tanpa berjanji, maka semua orang berpaling ke arah anak muda yang gemuk itu, seolah-olah mereka bertanya kepadanya, apakah yang dikatakannya itu benar-benar bukan sebuah dongengan.

Swandaru pun merasakan pertanyaan-pertanyaan yang memancar dari wajah-wajah itu. Sesaat ia menjadi bingung. Kenapa Agung Sedayu idak saja mengakuinya dan kalau perlu membuktikan di hadapan orang-orang itu? Kenapa masih saja ia merendahkan dirinya sedemikian? Namun tiba-tiba Swandaru itu pun mundur beberapa langkah, keluar dari lingkaran orang yang berjejal-jejal. Dengan nanar ia memandang berkeliling lapangan. Akhirnya ia berlari-lari untuk memungut sesuatu yang tergolek di lapangan itu.

“Inilah” teriaknya, “Aku akan dapat memberikan bukti kepada kalian. Lihatlah sasaran ini. Panah-panahku masih tertancap di sini. Sasaran ini aku lemparkan keudara, dan anak muda itu telah mengenainya tiga kali di udara. Ya tiga kali di udara”

Semua mata memandangi bekas kepala orang-orangan itu. Mereka melihatnya tiga anak panah masih melekat pada benda itu. Dan mereka mendengar pula kata-kata Swandaru itu. Tiga anak panah mengenai satu sasaran yang terbang di udara. Mereka tidak tahu, bagaimana cara Agung Sedayu mengenainya. Namun dengan serta-merta mereka bertepuk tangan gemuruh.

Tepuk tangan yang gemuruh itu benar-benar telah menyalakan bara di dada Sidanti. Selangkah ia maju, dan terdengarlah ia berkata lantang, “Bohong, adakah kalian melihat, bagaimana caranya ia mengenainya?”

Suara yang gemuruh itu pun berangsur diam. Dan akhirnya sama sekali ketika mereka melihat Widura melangkah maju memasuki lingkaran. Dengan tenangnya ia memandang Sidanti dan Agung Sedayu berganti-ganti. Kemudian dipandangnya semua wajah yang berdiri mengitari mereka itu.

Betapa pun juga, Widura itu pun berusaha untuk mengasai keadaan. Sebagai seorang pemimpin maka ia harus berbuat sesuatu. karena itu maka katanya, “Tak ada pengaruh apa pun atas perlombaan yang sudah berjalan. Kita sudah menetapkan pemenangnya. Namun permainan-permainan yang lain masih akan dapat dilakukan. Tetapi bukan untuk merubah dan mempengaruhi perlombaan itu.”

Kembali terdengar tepuk tangan yang gemuruh. Orang-orang yang berdiri berkeliling itu tak akan mau dikecewakan. Mereka benar-benar ingin menyaksikan pertandingan yang pasti akan menyenangkan sekali.

Orang-orang itu pun kemudian diam kembali ketika Widura berkata pula, “Nah, aku sangka Sidanti ingin mengulangi permainan panah seperti yang telah dilakukannya, bersama-sama Agung Sedayu”

“Ya kakang” sahut Sidanti.

Kini Widura memandangi wajah Agung Sedayu. Dilihatnya beberapa titik keringat membasahi keningnya. Namun kali ini Widura sengaja ingin memaksa Agung Sedayu agar berbuat sesuatu yang dapat mendorong dirinya untuk lebih percaya kepada kemampuan diri. Karena itu maka katanya, “Agung Sedayu, biarlah kau melakukannya. Tak ada persoalan apapun. Permainan ini hanya sekedar kelanjutan dari keinginan orang-orang Sangkal Putung mengenalmu. Sedangkan Sidanti ingin pula memperkenalkan dirinya lebih banyak lagi. Bukankah dengan kawan bermain yang lebih baik, akan lebih banyak permainan-permainan yang dapat dipertunjukkan? Bukan hanya sekedar menyamai atau melampaui sedikit kemampuan-kemampuan Hudaya atau Citra Gati”

Hudaya dan Citra Gati yang berdiri di belakang Widura pun tersenyum masam. Namun mereka tidak marah. Bahkan mereka menjadi bersenang hati, bahwa Widura memberi kesempatan kepada kemenakannya untuk melakukan pertandingan meskipun hanya memanah saja.

Kata-kata pamannya itu terasa sedikit dapat menyejukkan hati Agung Sedayu. Bukankah dengan demikian, pamannya akan menjaminnya untuk seterusnya, apabila ada akibat dari permainan ini? Seandainya ia melampaui Sidanti, sedang Sidanti itu kemudian marah kepadanya, bukankah itu menjadi tanggung jawab pamannya? karena itu, terdorong pula oleh keadaan yang telah menyudutkannya, maka Agung Sedayu tidak dapat berbuat lain. Dengan ragu-ragu ia menganggukkan kepalanya. Katanya lirih, “Baiklah paman. Kalau paman menghendaki”

Widura tersenyum. Baru kali ini sejak beberapa hari pamannya itu tersenyum kepadanya. Karena itu hati Agung Sedayu itu pun menjadi bertambah besar pula.

“Nah, baiklah kita berikan tempat kepada mereka berdua” berkata Widura.

Maka orang-orang yang melingkari mereka itu pun kemudian berlari-larian menyibak. Sedang Swandaru menjadi bergembira pula. segera ia pun berlari-lari pula berkeliling lapangan untuk memungut panah-panahnya yang berserakan di sekitar orang-orangan yang telah dilepas kepalanya.

Tetapi kemudian Widura menjadi sulit menentukan sasaran. Tidak menarik lagi apabila mereka berdua harus mengenai orang-orangan itu, walau pun diayunkannya sekali. Mereka pasti akan dengan mudah dapat mengenainya. Dalam pada itu tiba-tiba berkatalah Swandaru, “Paman Widura, pertandingan ini baru dapat dimulai, seandainya kakang Sidanti mampu berbuat seperti yang dilakukan oleh anak muda itu. Mengenai sasaran tiga kali berturut-turut di udara”

Widura mengerutkan keningnya. Kata-katanya itu benar juga, tetapi belum seorang pun yang melihat, Agung Sedayu melakukannya selain Swandaru.

Karena itu Widura ingin berbuat adil. Kedua-duanya harus mulai dengan sasaran dan kesempatan yang sama. Maka katanya, “Swandaru, apakah sasaran orang-orangan itu masih ada?”

“Masih paman” jawab Swandaru.

“Nah, ambillah bandulnya. Ikatlah bandul itu dengan tali yang agak panjang”

Swandaru belum tahu benar maksud Widura. meskipun demikian ia berjalan juga mengambil vandul orang-orangan yang masih terletak di ujung lapangan. Kemudian diambilnya sisa-sisa tali yang masih terserak-serak di sana-sini. Dengan tali itu maka bandul itu pun diikatnya.

“Sudahkah bandul itu kau ikat dengan tali?” bertanya Sonya.

Swandaru mangangguk. Jawabnya, “Bagaimanakah maksud paman Widura dengan bandul ini?”

“Peganglah ujung talinya dan putarlah bandul itu di atas kepalamu” Sahut Sonya.

“Ah” jawab Swandaru perlahan-lahan. “Jangan aku. Sidanti itu dapat membidikkan panahnya ke arah perutku”

Sonya tersenyum. Katanya, “Mereka adalah pemanah-pemanah yang baik. Mereka pasti tidak akan mengenaimu”

Swandaru menggeleng. “Peganglah” jawabnya, “Kalau mereka membidik sasaran itu, maka sasaran itulah yang akan dikenainya. Tetapi kalau Sidanti itu membidik perutku?”

“Marilah” jawab Sonya, “Berikanlah bandul itu, biarlah perutku yang dibidiknya”

Maka kini Sonyalah yang memegang sasaran itu. Dipegangnya ujung tali yang lain, dan diputarnya bandul itu di atas kepalanya dalam lingkaran yang berjari-jari sepanjang tali yang lebih dari sedepa panjangnya, mendatar.

Swandaru itu pun kemudian berlari-lari menepi, bahkan kemudian didekatinya Agung Sedayu yang telah memegang busurnya dan beberapa anak panah di dalam endongnya.

“Masing-masing mendapat kesempatan tiga kali” berkata Widura ketika mereka sudah hampir mulai, “Sampai hitungan kelima belas”

Sidanti pun telah mempersiapkan busurnya pula. dengan wajah tegang ia mengikuti bandul yang berputar di atas kepala Sonya. Ketika Widura mulai dengan hitungan pertama, maka Sidanti lah yang lebih dahulu mengangkat busurnya. Sesaat kemudian terbanglah anak panahnya yang pertama, disambut dengan sorak sorai penonton di sekitar lapangan. Anak panah itu tepat mengenai sasarannya langsung ikut berputar pula dengan bandul itu. Dengan sudut matanya Sidanti melihat tangan Agung Sedayu. Dan tangan itu pun telah bergerak pua. Dan meluncurlah anak panah Agung Sedayu. Kali ini pun para penonton bersorak bergemuruh. Anak panah Agung Sedayu pun hinggap pula pada sasarannya.

Sidanti itu pun menarik nafas panjang. Ia mengumpat di dalam hatinya, “Setan itu mampu juga mengenainya”

Tetapi hitungan Widura sudah sampai yang keenam. Karena itu maka Sidanti itu pun sekali lagi mengangkat busurnya, dan sekali lagi anak panahnya meloncat dari busurnya. Kali ini pun anak panah Sidanti itu tepat mengenai sasarannya, dan karena itu maka para penonton pun menjadi semakin riuh, bersorak dan bertepuk tangan. Dan sorak sorai itu menjadi semakin membahana ketika anak panah Agung Sedayu seakan-akan tanpa mereka lihat, demikian saja telah melekat pada sasaran itu pula. agaknya ketika mereka dang asyik dengan anak panah Sidanti, Agung Sedayu pun telah melepaskan anak panahnya yang kedua.

Sekali lagi Sidanti mengumpat pula. Katanya dalam hati, “Aku harus mengenai untuk yang ketiga kalinya. Kalau anak itu mampu pula mengenai tiga kali, maka harus ditempuh cara yang lain untuk menentukan siapakah di antara kita yang akan menjadi pemanah terbaik”

Tetapi Sidanti itu menjadi terkejut. Tiba-tiba meledaklah sorak para penonton seperti akan meruntuhkan langit. Ketika ia mengangkat wajahnya, dilihatnya sebuah anak panah lagi telah ikut serta dalam putaran bandul di atas kepala Sonya. Agaknya dengan cepat Agung Sedayu telah melepaskan anak panahnya yang ketiga.

“Gila” desisnya. Ketika itu ia mendengar Widura sudah mencapai hitungan yang kesebelas.

Dengan hati-hati Sidanti mengangkat busurnya. Kali ini ia harus benar-benar dapat mengenainya dengan tepat. Kalau tidak, maka Sedayu sudah akan menyisihkannya pada babak yang pertama. Namun ternyata Sidanti adalah pembidik yang baik. Panahnya yang terbang secepat kilat itu pun kemudian mengenai sasarannya pula, disambut oleh sorak yang semakin bergelora. Lapangan di muka banjar desa itu benar-benar seperti akan meledak.

Agung Sedayu masih berdiri di tempatnya sambil mengamat-amati sasaran yang kini sudah tidak diputar lagi. Dengan kedua tangannya Sonya mengacung-acungkan bandul itu sambil berteriak, “Enam panah!”

Widura itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kalian ternyata mempunyai kecakapan yang sama. Karena itu, biarlah kita adakan permainan yang lain. Namun aku belum tahu, apakah sasaran yang lebih baik dapat kita gunakan”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya, namun ia pun belum tahu sasaran apakah yang sebaiknya dipergunakan. Sedang Agung Sedayu lagi sibuk mendengarkan orang menyebut-nyebut namanya. Ia menjadi berbangga juga karenanya. Bahkan kemudian timbul juga keinginannya untuk mendapat pujian yang lebih besar dari para penonton itu. Untuk sesaat ia melupakan pula akibat-akibat yang bisa terjadi. Sebab ia telah membebankan seluruh tanggung jawab kepada pamannya.

Terasa sesuatu menjalar di dalam dada Agung Sedayu. Belum pernah ia sepanjang umurnya mendapat pujian semeriah ini. Pada masa-masa kecilnya, ibunya selalu memujinya. Namun bukan karena ia berbuat sesuatu. Ibunya memuji untuk menyenangkannya saja.

Apa pun yang dilakukannya maka ibunya tidak pernah mencelanya. Sedang ayahnya sekali-sekali sering memujinya pula apabila ia berhasil berbuat sesuatu menurut kehendak ayahnya. Tetapi ayahnya lebih sering kecewa terhadapnya dari pada memujinya. Bahkan sering ia harus menangis kalau ayahnya menyuruhnya mengulang dan mengulang suatu perbuatan yang tak dapat dilakukannya. Betapa sulitnya latihan-latihan yang diberikan ayahnya dahulu kepadanya. Memanah, bandil dan bermacam-macam ketangkasan membidik. Namun ayahnya selalu mengatakan kepadanya, “Kau mampu Sedayu, kau pasti mampu melakukannya” Dan akhrinya ternyata, setelah ayahnya memberinya contoh berkali-kali, akhirnya ia mampu juga melakukannya. Berkali-kali ia diajak ayahnya berdiri di pematang dengan busur di tangan. Ia harus mendapatkan tiga ekor burung dengan tiga batang anak panah. Burung yang tidak boleh dikenainya di atas tanah atau dahan-dahan kayu. Burung itu seakan-akan harus dipetiknya dari udara. Namun akhirnya ia berhasil juga. Kalau ia menangis karenanya, ayahnya berkata kepadanya, “Agung Sedayu, apakah kira-kira yang akan dapat kau lakukan? Kau tidak berani memegang tangkai pedang, apakah kau juga tidak mampu memegang busur?”

Kalau ibunya mendengar pertanyaan itu, maka ibunya selalu menjawab, “Apakah dalam hidup ini tidak ada pekerjaan yang lebih baik dari berkelahi?”

Dan ayahnya menjawab, “Tentu, tentu ada. Dan anak-anakku seharusnya tidak berkelahi. Tetapi mereka harus menjadi laki-laki jantan yang mampu menempatkan dirinya dalam segala keadaan. Ia harus menjadi seorang yang dapat melakukan pengabdian dalam segala bentuk. Mereka harus menghindari segala bentuk kekerasan, namun mereka pun harus dapat melenyapkan kekerasan. Kekerasan yang bertentangan dengan rasa pengabdiannya. Karena itu mereka pun harus dibekali pula dengan ilmu yang mungkin akan berguna bagi pengabdian mereka. Melawan kejahatan, bukan untuk sebaliknya”

Apabila demikian, maka ibunya segera memeluknya sambil mengusap air mata. Bisiknya, “Biarlah pekerjaan itu dilakukan orang lain. Tetapi bukan anakku. Kekerasan akan dapat berakibat buruk perkelahian dapat meneteskan darah. Aku tidak mau kehilangan lagi”

Ayahnya tidak membantah lagi. Bahkan ayahnya selalu berkata dengan lembut, “Maafkan aku nyai. Aku masih selalu ingat pada masa-masa mudaku”

Tetapi kalau ia kemudian keluar dari bilik ibunya, Untara, kakaknya berkata kepadanya, “Ibu sekarang berubah. Ibu dahulu ikut berbangga kalau ayah berhasil melenyapkan kejahatan. Melindungi orang-orang lemah dari penindasan. Ibulah yang sering menggosok pedang ayah dengan minyak dan getah-getahan untuk menjadikan pedang ayah mengkilat seperti bersinar. Dan ibu pulalah yang menggosok busur ayah dengan angkup kayu sehingga busur itu menjadi gemerlapan”

Suasana yang demikian itulah yang kemudian membentuknya menjadi seorang yang kerdil. Ibunya yang selalu memanjakannya dan menakut-nakutinya dengan segala macam cara. Menyekapnya dalam pelukannya. Apabila ia bertanya, “Ibu, bukankah ibu dahulu berbangga atas kejantanan ayah?” Maka ibunya akan menjawab, “Sebuah mimpi yang menakutkan anakku. Itu terjadi pada masa-masa ayahmu masih muda. Ternyata kini ayahmu pun menyadarinya. Bahwa tak ada yang dapat dicapainya dengan pedang di tangan. Tak akan ditemui ketentraman dan kedamaian di hati: dan ayahnya pun pernah pula mengatakannya demikian. Namun menurut ayahnya, dunia masih tetap sepeti keadaannya. Parah, karena kejahatan, nafsu, kebencian, dan segala macam bentuk kekerasan, karena itu maka segala itu harus mendapat imbangan. Tetapi harus memiliki landasan yang berlawanan. Dan landasan itu adalah cinta kasih antar sesama. Kalau sekali-sekali harus digenggamnya tangkai pedang, maka haruslah dilandasi pula dengan cinta kasih. Untuk menegakkan sendi-sendi kehidupan manusia dan kemanusiaan berdasarkan cinta kasih itu.

Dan terjadilah benturan-benturan perasaan di dalam dada Agung Sedayu. Ia menjadi seorang penakut karena ibunya, namun angan-angannya kadang-kadang membumbung tinggi dalam sifat-sifat kejantanan dan kesatriaan.

Perasaan-perasaan itulah yang kini sedang saling mendesak. Seorang jantan tidak boleh membiarkan dirinya dihina tanpa sebab. Seorang jantan harus mempertahankan namanya demi kebenaran seperti mempertahankan nyawanya. Kalau nama itu lenyap, maka biarlah lenyap pula nyawanya. Tetapi dilain pihak, betapa tiba-tiba lututnya menjadi gemetar apabila ia dihadapkan pada persoalan-persoalan yang dapat menimbulkan pertentangan.

Agung Sedayu yang kini sedang berdiri diarena itu masih mendengar tepuk tangan yang semakin lama menjadi semakin surut. Dilihatnya pula, pamannya sedang berbicara dengan beberapa orang. Di antaranya Ki Demang Sangkal Putung dan Citra Gati. Agaknya mereka sedang sibuk mencari kemungkinan untuk membua sasaran yang lebih sulit dari sasaran-sasaran yang pernah dibuatnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya Sidanti berdiri dengan angkuhnya. Dengan acuh tak acuh anak muda itu melihat Widura yang sedang sibuk itu. Sekali-sekali Sidanti itu memandang berkeliling lapangan dan melambaikan tangannya menyambut lambaian tangan anak-anak muda yang mengaguminya.

Agung Sedayu pun kemudian memandang sekeliling lapangan. Orang-orang berjejal-jejal itu seperti sudah tidak sabar lagi menunggu. Beberapa orang yang sudah berteriak-teriak dan dengan tidak sabar mereka melambai-lambaikan tangan mereka. Ketika dilihatna Sekar Mirah, maka dada Agung Sedayu itu pun berdesir. Gadis itu tersenyum kepadanya. Senyum yang aneh, “Ah” katanya dalam hati. “Baru tadi aku lihat ia tersenyum dan memuji-muji Sidanti”. Namun gadis itu mempunyai kesan yang aneh di dalam hatinya. Tiba-tiba timbullah keinginannya agar Sekar Mirah itu selalu tersenyum kepadanya, tidak kepada Sidanti.

Sorak sorai ditepi lapangan, serta senyum Sekar Mirah itu agaknya berpengaruh juga di hati Agung Sedayu. Ternyata di dalam hatinya yang kerdil itu tumbuh juga keinginannya untuk mempertahankan namanya.

“Sidanti itu pasti tidak akan mendendam” pikirnya, “Ia seharusnya bersikap jujur. Kalah atau menang. Aku pun demikian juga. Namun aku mengharap untuk memenangkan pertandingan ini. Seandainya, ya seandainya Sidanti itu marah kepadaku, biarlah paman Widura menyelesaikannya”

Karena itulah maka kemudian Sedayu berketetapan hati untuk berbuat sebaik-baiknya. Akan ditandinginya apa saja yang akan dilakukan oleh Sidanti. “Tetapi seandainya aku mampu” desanya di dalam hati.

Widura masih sibuk berbicara dengan Ki Demang Sangkal Putung. Agaknya mereka belum menemukan cara yang paling baik untuk mengadakan pertandingan berikutnya.

Sidanti yang berdiri di samping Agung Sedayu itu pun menjadi tidak sabar. Ia ingin segera mengakhiri pertandingan itu. Ia ingin segera mendengar orang-orang di sekitar lapangan itu bertepuk gemuruh untuknya. Dan ia ingin anak-anak muda Sangkal Putung melambaikan tangannya kepadanya dan mengelu-elukannya, mengikutinya di belakang sambil memujinya sampai di kademangan. Dan lebih dari itu, ia ingin Sekar Mirah itu pun berjalan di sampingnya sambil mengumpati Agung Sedayu yag ternyata tidak mampu melampaui kecakapannya.

Karena itu, maka anak muda yang sombong itu tiba-tiba bereriak, “Kakang Widura. marilah kita akhiri pertandingan ini supaya kita tidak berlarut-larut, membidik sasaran yang terlalu baik seperti perlombaan anak-anak saja. Biarlah sekarang aku dapat menganjurkan cara yang baik”

Widura, Ki Demang Sangkal Putung, Swandaru, dan orang-orang yang sedang sibuk berpikir itu pun berpaling kepadanya. Dengan ragu-ragu Widura berkata, “Apakah cara itu?”

Seklai Sidanti berpaling kepada Agung Sedayu, kemudian katanya, “Namun terserah juga, apakah adi Sedayu sanggup melakukannya. Kalau tidak, biarlah aku mempertunjukkan permainan itu sendiri. Dengan demikian pemenang pertandingan ini segera dapat ditentukan”

“Ya” sahut Widura, “Tetapi bagaimanakan cara itu?”

Sidanti tersenyum. jawabnya, “Agak sukar dimengerti. Tetapi aku pasti dapat melakukannya”. Sidanti itu berhenti sebentar. Sengaja ia membiarkan orang-orang yan gmendengar kata-katanya itu menjadi semakin bernafsu untuk mengetahuinya. Baru sesaat kemudian ia berkata, “Cara yang pasti akan menarik perhatian”

“Ya” sahut Citra Gati tidak sabar, “Jangan melingkar-lingkar. Sebutkan cara itu”

“Jangan tergesa-gesa kakang Citra Gati. Kau pasti akan keheranan. Melihat pun kau tak akan dapat mengerti, apalagi melakukannya”

Citra Gati tersinggung karenanya. Maka jawabnya lantang, “Jangan sombong anak muda. Kau masih belum mampu mengalahkan Macan Kepatihan di pertempuran, dan melampaui lawanmu di arena pertandingan ini”

Sidanti mengerutkan keningnya. Tetapi dengan cepat Widura menengahinya, “Nah baiklah. Marilah kita mulai. Aku setuju dengan cara apa pun yang kehendaki, asal masih dalam batas kemungkinan dan tidak berbahaya. Kalau Sedayu tidak sanggup melakukannya, maka ia dapat dianggap kalah”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Kembali ia tersenyum dan sekali lagi ia memandang wajah Agung Sedayu. Kini Agung Sedayulah yang menjadi acuh tak acuh. Apa pun cara itu, ia akan menerimanya. Kalau masih mungkin dilakukan oleh Sidanti maka ia pun akan mempunyai kemungkinan yang sama.

Citra Gati masih bersungut-sungut, bahkan katanya dalam hati, “Widura terlalu memanjakannya, sehingga kepentingan kemenakannya sendiri sama sekali tidak diperhatikannya”

Dalam pada itu terdengarlah Sidanti berkata, “kakang Widura, perintahlah salah seorang melepaskan anak panah menyilang lapangan ini melambung ke udara. Nah, biarlah kami mencoba mengenainya”

Widura tertegun mendengar pendapat itu. Apalagi Ki Demang Sangkal Putung. Bahkan sesaat Citra Gati pun terbungkam, namun kemudian bergumam lirih, “Aneh, benar-benar aneh”

Sidanti melihat orang-orang itu menjadi keheranan. Karena itu, maka ia menjadi semakin menengadahkan dadanya. Dengan lantang ia berkata, “Marilah, sebelum senja. Supaya aku masih dapat melihat anak panah yang terbang di udara itu”

Widura tidak dapat berbuat lain dari menyetujuinya. Meskipun demikian sekilas ia menyambar wajah Agung Sedayu dengan pandangan matanya. Namun dilihatnya anak muda itu masih acuh tak acuh saja. Sehingga dengan demikian maka Widura itu pun tidak berkata apa pun kepadanya.

Sidanti yang melihat Agung Sedayu sama sekali tidak terperanjat mendengar usulnya itu, maka ialah yang menjadi heran. Apakah anak itu tidak mendengar, atau anak itu pun akan acuh tak acuh terhadap pertandingan berikutnya. Dan teka-teki itu ternyata telah mendebarkan jantung Sidanti. Meskipun demikian, ia masih dapat berteriak nyaring di dalam hatinya, “Ayolah Agung Sedayu, yang merasa menjadi pemanah terbaik di Sangkal Putung, tandingilah Sidanti.”

Widura itu pun kemudian mengumumkan cara yang akan ditempuh atas usul Sidanti. belum lagi mereka mulai dengan pertandingan itu, maka lapangan itu telah menjadi gempar. Para penonton yang keheran-heranan itu telah menyambut pengumuman Widura dengan tepuk tangan dan sorak sorai yang bergelora.

Hudayalah yang mendapat tugas untuk melepaskan anak panah menyilang garis bidik Sidanti dan Agung Sedayu. Ia sendiri tidak dapat mengerti, bagaimana cara anak-anak muda itu akan membidikkan anak panahnya. Namun Hudaya itu bergumam pula di dalam hatinya, “Bukan siatu hal yang tak mungkin. Sebab laju anak panah itu dapat diperhitungkan”

Tetapi kemudian Swandaru pun menjadi gelisah. Ialah yang pertama-tama berteriak-teriak sepanjang jalan, bahwa bukan Sidanti lah pemanah terbaik di Sangkal Putung. Namun sekarang ia mendengar sendiri usul Sidanti itu. Memanah sebatang anak panah yang melaju di udara, tentu lebih sukar mengenai sasaran kepala orang-orangan itu. Karena itu ia masih belum dapat menebak, apakah Agung Sedayu dapat juga berbuat sebaik Sidanti. Kalau kemudian Agung Sedayu tak mampu menandingi Sidanti, maka ia pun pasti akan mendapat banyak kesulitan. Agung Sedayu pasti akan marah padanya dan Sidanti akan semakin mentertawakannya.

Karena itu, maka Swandaru itu pun mendekati Agung Sedayu yang berdiri tegak di tempatnya. Bisiknya perlahan-lahan, “Bagaimanakah tuan, apakah tuan mungkin juga berbuat demikian?”

Agung Sedayu menggeleng lemah, jawabnya, “Entahlah Swandaru”

———-oOo———-
(bersambung ke Jilid 5)

 

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-04/

 Terima kasih kepada mas Rizal yang telah bersusah payah retype jilid ini.

 Editing, disesuaikan dengan jilid aslinya oleh Ki Arema

<<kembali | lanjut >>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s