ADBM1-007

<<kembali | lanjut >>

ORANG itu sudah dekat benar. Dengan nafas terengah-engah ia berkata, “Huh. Aku hampir mati ketakutan melihat pertempuran itu”

“Kau melihat pertempuran itu kek?” Bertanya salah seorang penjaga.

“Ya, aku melihat” jawabnya.

“Kenapa melihat, kalau kau hampir mati ketakutan?”

“Aku tidak sengaja melihat. Aku berjalan lewat daerah itu. Dan di daerah itu terjadi pertempuran”

“Mau kemana kau sebenarnya kakek?”

“Pulang ke dukuh Pakuwon”

“Dukuh Pakuwon?” bertanya para penjaga keheranan, “Dari mana?”

Orang itu terdiam. Nafasnya masih saja terengah-engah. Baru kemudian ia menjawab, “Aku baru saja pulang dari pesisir”

“Dari pesisir?”

“Ya. Aku baru saka mencari kulit kerang hijau. Kulit kerang ini sangat baik untuk mengobati luka-luka”

“Kau dapatkan kulit kerang itu?”

“Ya”

“Dapatkah dipakai untuk mengobati luka senjata tajam?”

“Tentu. Tentu”

“Banyak kawan-kawan kami terluka. Apakah kau mau mengobati mereka?”

“Tentu. Tentu”

Penjaga itu menjadi ragu-ragu sejenak. Ia tidak dapat percaya begitu saja kepada orang yang belum dikenalnya. Karena itu, maka katanya kemudian, “Pemimpin kami terluka. Marilah, aku antarkan kau ke kademangan. Biarlah para pemimpin yang menentukan, apakah obatmu dapat menolongnya”

“Siapakah yang terluka?”

“Untara”

“Untara?” kakek itu mengulang.

Orang tua itu pun kemudian dibawa oleh beberapa orang penjaga kekademangan. Ketika mereka sampai di pendapa, maka mereka melihat beberapa orang masih sibuk di pringgitan sehingga para penjaga itu menjadi ragu-ragu. Tetapi karena keinginan mereka untuk mengantarkan orang tua itu, maka diberanikan dirinya mengetuk pintu yang masih terbuka itu.

Widura berpaling ke arah mereka. Dilihatnya seorang penjaga berdiri tegak di muka pintu. “Ada apa?” katanya.

Maka diceritakannya tentang orang tua yang telah mendapatkan kerang hijau yang dapat untuk menyembuhkan luka-luka.

Widura yang sedang digelisahkan oleh luka Untara itu tidak berpikir panjang. Segera ia berkata, “Bawa orang itu masuk kemari”

Orang tua itu pun segera dipersilahkan masuk ke pringgitan. Namun demikian ia melangkah pintu, terdengarlah Agung Sedayu menyapanya lantang, “Ki Tanu Metir!”

Orang tua itu memandang berkeliling. Akhirnya dilihatnya Agung Sedayu di antara mereka. Karena itu, maka tampaklah ia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, “Kau di sini juga ngger?”

“Ya Ki Tanu. Aku menunggui kakakku yang terluka” tiba-tiba Agung Sedayu itu teringat pula kepada peristiwa yang dialaminya di Macanan. Maka katanya pula, “Ki Tanu. Kakakku yang terluka ini ada kakakku itu pula. Kakang Untara”

“He?” orang tua itu terkejut, “Apakah Angger Untara belum sembuh?”

Semua orang yang berada di pringgitan memandang orang tua yang bernama Ki Tanu Metir itu dengan seksama. Mereka menjadi heran, bahwa ternyata orang itu agaknya telah mengenal Untara dan Agung Sedayu dengan baik.

Agung Sedayu pun kemudian menjelaskan, “Kakang Untara baru saja terluka dalam pertempuran di perbatasan Sangkal Putung. Bukan luka yang dahulu”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Hem. Itu adalah akibat dari kedudukannya. Baru saja Angger Untara sembuh, kini ia telah terluka kembali”

“Ya Kiai” sahut Widura, “Setiap prajurit menyadari hal itu. Kami pun di sini menyadari, dan Untara pun menyadari”

“Angger benar” jawab Ki Tanu Metir sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katnaya, “Siapakah angger ini?”

Widura ragu-ragu sesaat. Yang menjawab adalah Agung Sedayu, “Paman Widura, pemimpin laskar Pajang di Sangkal Putung”

“Oh” desah orang tua itu, yang kemudian berkata pula kepada Widura, “Angger, apakah aku diperbolehkan mencoba mengobati luka Angger Untara?”

“Silakan Kiai. Kami akan berterima kasih kepada Kiai. Menurut cerita yang pernah aku dengar, Kiai pernah juga merawat Untara beberapa waktu yang lewat”

“Ya ya” sahut Ki Tanu Metir sambil melangkah maju.

Kemudian dengan sangat hati-hati ia mengamati dan meraba-raba luka Untara itu.

Semua orang menegang nafas. Mereka berharap-harap cemas, mudah-mudahan orang tua itu dapat memberinya obat.

Tampaklah Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Kemudian kepada Agung Sedayu ia berkata, “Angger, tolonglah aku membuka bajunya”

Dengan tergesa-gesa Agung Sedayu pun segera menolong Ki Tanu Metir, dengan sangat hati-hati membuka baju Untara.

Dari bungkusannya, Ki Tanu Metir mengeluarkan beberapa jenis obat-obatan, yang kemudian dilumurkan di sekitar luka Untara.

“Marilah kita berdoa di dalam hati kita. Sebab kita hanya wenang berusaha, dan Tuhan lah yang akhirnya menentukan. Mudah-mudahan Angger Untara segera sembuh”

“Apakah luka itu tidak terlalu berat Kiai?” bertanya Agung Sedayu dengan cemas.

Ki Tanu Metir menggeleng, “Tidak terlalu berbahaya”

Semua orang menarik nafas panjang mendengar keterangan Ki Tanu Metir, meskipun banyak di antara mereka yang meragukannya. Kalau luka itu tidak berat, maka orang seperti Untara itu tidak akan mengalami pingsan sedemikian kerasnya.

“Angger” berkata Ki Tanu Metir kepada Widura, “Biarlah Angger Untara beristirahat. Dan biarlah udara di pringgitan ini menjadi sejuk. Karena itu, apabila tidak berkeberatan, biarlah yang kurang berkepentingan meninggalkan ruangan ini”

Widura menjadi ragu-ragu untuk sesaat, diamatinya wajah orang tua itu. Namun kemudian ia berkata, “Baiklah. biarlah ruangan ini menjadi jernih”

Beberapa orang lain segera meninggalkan ruangan itu. Mereka mengerti juga, bahwa dengan demikian udara di dalam ruang pringgitan itu menjadi tidak terlalu panas.

Di dalam ruang itu kini tinggal Widura, Ki Demang Sangkal Putung, Agung Sedayu dan Swandaru. Dari balik dinding Sekar Mirah mencoba mengintip mereka. Tetapi ia tidak berani masuk ke dalam pringgitan itu, sebab agaknya ayahnya dan beberapa orang yang lain lagi berwajah tegang. Dari beberapa orang ia mendengar bahwa Untara terluka.

Sekar Mirah menjadi gembira ketika ayahnya memanggilnya. Setelah ia berlari menjauh, maka dari kejauhan itu ia menjawab, “Ya ayah”

“Kemarilah”

Dengan berlari-lari kecil Sekar Mirah itu masuk ke pringgitan dari pintu belakang. Gadis itu tertegun di pintu ketika ia memandang wajah Agung Sedayu yang suram. Tetapi kesuramannya itu tampaknya menambah Agung Sedayu menjadi dewasa.

“Ambillah jeruk” berkata ayahnya.

“Jeruk apa ayah?”

“Jeruk pecel” sahut ayahnya.

“Ya ayah” jawab gadis itu sambil berlari.

Widura sekejap memandang wajah kemenakannya. Ia melihat sesuatu pada wajah itu, tetapi ia tidak berkata apapun.

Setelah ruangan itu menjadi sepi, maka terdengarlah Agung Sedayu bertanya, “Ki Tanu, apakah benar luka itu tidak begitu parah?”

“Luka itu tidak parah ngger, tetapi aku kira tidak membahayakan jiwanya apabila aku berhasil mengembalikan pernafasannya dengan wajar. Yang lebih berbahaya bagi Angger Untara bukan luka itu, tetapi lihatlah” Ki Tanu Metir itu kemudian menunjukkan sebuah noda kebiru-biruan di lambung kanan Untara. Semua yang menyaksikan noda itu terkejut karenanya. Dengan serta-merta Agung Sedayu bertanya, “Noda apakah itu Kiai?”

“Sebuah pukulan yang tepat di arah ulu hati. Untunglah bahwa pukulan itu dilakukan agak tergesa-gesa, sehingga agaknya belum mempergunakan tenaga sepenuhnya”

Semua orang yang berada di tempat itu merenungi noda itu dengan seksama. Mereka melihat di sekitar noda yang kebiru-biruan itu menjadi agak bengkak dan berwarna kemerah-merahan.

“Ada dua kemungkinan Kiai” berkata Widura, “Pukulan itu tidak dilakukan dengan sepenuh tenaga karena tergesa-gesa atau memang penyerangnya kurang mempunyai tenaga untuk membuat Untara itu menjadi semakin parah”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Mungkin. Namun menilik kemudian yang dapat dilakukan atas Angger Untara, maka orang itu pasti bukan orang kebanyakan”

Kembali ruangan itu menjadi diam. Masing-masing mencoba untuk mencari setiap kemungkinan yang dapat terjadi atas Untara itu, namun tak seorang pun yang mampu untuk mencoba menebak, siapakah yang telah melakukannya.

Pringgitan itu kini menjadi sepi. Ki Tanu Metir masih saja merenungi tubuh Untara. Diraba-rabanya dan dipijit-pijitnya.

Sekar Mirah pun kemudian masuk kembali ke pringgitan itu dengan beberapa buah jeruk nipis. Diserahkannya jeruk itu kepada ayahnya, dan kemudian oleh ayahnya, jeruk itu diberikannya kepada Ki Tanu Metir.

“Terima kasih” sahut dukun tua itu.

Setelah dipotong-potong maka jeruk nipis itu pun diperasnya dan dicampurkannya pada ramuan obat-obatan. Dengan ramuan itu Ki Tanu Metir mencoba mengurut-urut jalan pernafasan Untara. Dari lambung dada dan punggungnya.

Sesaat kemudian terdengarlah Untara itu berdesah, lalu terdengar pula sebuah tarikan nafas yang panjang.

“Bagaimana Kiai?” terdengar Widura bertanya.

Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. ia masih menekan bagian bawah dada Untara dan mengurutnya perlahan-lahan.

Sekali lagi Untara menarik nafas panjang, kemudian terdengar ia mengeluh pendek.

Agung Sedayu, Widura, dan Ki Demang Sangkal Putung mendesak maju. Sedang Swandaru Geni berdiri kaku di belakang ayahnya.

Mereka kemudian menarik nafas lega ketika Ki Tanu Metir itu berkata, “Pernafasan Angger Untara sudah berangsur baik. Mudah-mudahan segera ia menjadi sadar kembali. Gabungan dari dua luka di tubuhnya, benar-benar menjadikannya menderita. Luka tusukan di punggungnya telah sangat melemahkannya, dan noda biru itu telah mengganggu pernafasannya.

Ternyata gerak dada Untara kini telah jauh berbeda. Kini Untara telah tampak bernafas dengan mudah. Sekali-sekali ia telah bergerak dan menggeliat perlahan-lahan sekali. Apalagi dengan obat-obat yang dilumurkan oleh Ki Tanu Metir pada lukanya, sama sekali telah menyumbat pendarahan.

Kemudian Ki Tanu Metir yang menarik nafas dalam-dalam. Lirih ia bergumam, “Mudah-mudahan”

Setelah pernafasan Untara itu menjadi baik kembali, serta beberapa kali ia telah dapat menggerakkan tangannya, maka Ki Tanu Metir itu pun berkata, “Biarlah Angger Untara tidur. Ia kini sudah tidak pingsan lagi. Namun karena tubuhnya yang sangat lemah, maka ia belum dapat menyadari dirinya sesadar-sadarnya”

“Jadi, luka-luka itu tidak membahayakan jiwanya Kiai?” desak Agung Sedayu

Ki Tanu Metir menggeleng, “Marilah kita berdoa. Mudah-mudahan dugaanku benar. Angger Untara akan sembuh kembali”

Ruang pringgitan itu menjadi sepi kembali. Mereka kini tidak lagi berdiri melingkari Untara, namun mereka kini tidak lagi berdiri melingkari Untara, namun mereka kini duduk di samping tubuh Untara yang masih terbaring diam.

Sekar Mirah yang tidak pergi keluar sejak ia menyerahkan jeruk pecel kini ikut duduk di situ pula. Tetapi ia menjadi kecewa ketika ayahnya berkata, “Mirah, manakah minuman kami?”

Sekar Mirah tidak menjawab, tetapi ia segera berdiri dan sambil bersungut-sungut ia keluar dari pringgitan pergi kedapur.

Sejenak kemudian, mereka yang duduk di pringgitan itu serentak berpaling, ketika mereka mendengar gerit pintu terbuka. Di muka pintu itu mereka melihat, Sidanti berdiri tegak. Ketika dilihatnya Widura maka anak muda itu menganggukkan kepalanya.

“Kakang Widura” katanya, “Apakah aku boleh masuk?”

“Apakah kau mempunyai suatu keperluan Sidanti?” bertanya Widura.

Sidanti mengangguk sambil menjawab, “Ya kakang”

“Kemarilah” sahut Widura.

Sidanti itu pun kemudian masuk ke pringgitan dan duduk di samping Widura, di tangannya ia memegang sebuah bungkusan kecil.

“Kakang” katanya, “aku telah mencoba menghubungi guruku. Aku katakan kepada guru, bahwa kakang Untara terluka. Aku coba mengatakan besar, dalam dan letak luka itu” Sidanti berhenti sesaat. Dicobanya mengawasi wajah-wajah mereka yang duduk di sekitarnya. Ketika tak seorang pun menjawab maka Sidanti itu meneruskan, “Namun sayang, menurut guruku, luka demikian adalah luka yang sangat berbahaya. Luka yang tak akan mungkin diobati. Meskipun demikian, maka kita wajib berusaha. Dan guruku pun akan mencoba menolongnya apabila mungkin. Namun segala sesuatu bukanlah kita yang menentukan. Dan inilah obat yang aku terima dari guruku itu. Biarlah aku mencoba mengusapkannya pada luka itu”

Widura mendengar kata-kata Sidanti itu dengan heran, dan bahkan sesaat ia berdiam diri. Timbullah perasaan aneh terhadap Sidanti. Ternyata anak itu tidak sejahat yang disangkanya. Dalam keadaan yang sulit, ia berusaha pula untuk berbuat sesuatu meskipun hasilnya belum pasti akan tampak. Karena itu, maka sesaat kemudian menjawab, “Terima kasih Sidanti”

Agung Sedayu pun menjadi heran pula. tiba-tiba matanya menjadi suram. Ia menyesal bahwa ia telah memusuhi anak muda itu. Ternyata kini ia telah berbuat sesuatu untuk keselamatan kakaknya.

Ki Demang dan Swandaru Geni pun menjadi bersenang hati atas sikap itu. Dengan demikian, maka pertentangan di antara mereka menjadi semakin tipis. Dan karenanya akan terjalinlah persatuan yang bulat di antara semua kekuatan di Sangkal Putung.

Tetapi yang masih saja berdiam diri adalah Ki Tanu Metir. Ia masih belum tahu, obat apakah yang dibawa oleh Sidanti itu. Karena itu, maka katanya, “Angger, apakah aku boleh melihat obat itu?”

Sidanti memandang kepada Ki Tanu Metir, dengan penuh curiga, sehingga kemudian ia bertanya kepada Widura, “Siapakah orang ini kakang?”

Widura berpaling kepada Ki Tanu Metir, kemudian jawabya, “Orang inilah yang telah melakukan pertolongan pertama kepada Untara. Namanya Ki Tanu Metir. Ki Tanu adalah seorang dukun yang berpengalaman”

Sidanti mengerutkan keningnya. Tampaklah dari sorot matanya, bahwa ia tidak senang melihat kehadiran Ki Tanu Metir. Maka katanya, “Apakah Ki Tanu Metir dapat pula mengobati? Atau barangkali seorang dukun yang dapat menebak hati orang, atau menenung orang dari jauh dan menaruh guna-guna?”

“Oh tidak, tidak ngger” sahut Ki Tanu Metir, “Aku bukan dukun semacam itu. Aku sama sekali tidak dapat menebak hati orang, menaruh guna-guna apalagi menenung. Yang aku ketahui hanyalah sekedar beberapa jenis obat-obatan yang dapat dipakai untuk mengobati luka. Itu pun hanya aku dengar dari nenek dan kakek. Hanya itu. Dan sekarang aku mencoba mengobati luka Untara dengan cara yang pernah aku pelajari dari orang-orang tua itu”

“Hem” Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Kalau begitu, obat ini adalah obat yang pasti akan lebih baik dari obat Ki Tanu Metir. Sebab obat ini diberikan oleh guruku, Ki Tambak Wedi”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah Sidanti dan Agung Sedayu berganti-ganti. Kemudian ia menyahut, “Mungkin Ki Tambak Wedi itu seorang dukun yang pandai. Tetapi apakah ia dapat mengobati tanpa melihat luka itu?”

“Tentu” jawab Sidanti, “Ki Tambak Wedi dapat mengobati apa saja meskipun luka itu tidak dilihatnya. Sebab ia pasti tahu bahwa luka senjata pada dasarnya sama saja. Menghentikan aliran darah dan kemudian memampatkan luka itu untuk memulihkan jaringan daging yang telah pecah dan sobek”

“Ya, ya, begitu pulalah yang pernah aku dengar dari orang-orang tua” berkata Ki Tanu Metir, “Namun setiap luka di tempat yang berbeda-beda membawa cirinya sendiri-sendiri. Dan luka Angger Untara itu pun sudah pampat dan tidak mengalirkan darah lagi”

Sidanti mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin tidak senang melihat Ki Tanu Metir berada di ruangan itu. Ketika ia berpaling kepada Untara, maka katanya, “Apakah tubuh itu akan kita biarkan terbaring diam untuk kemudian mati? Kita harus berusaha, meskipun seandainya usaha itu gagal. Namun kita akan mengkhianatinya apabila kita biarkan saja Untara itu mati tanpa ikhtiar apapun”

Widura menjadi ragu-ragu sejenak. Dibiarkannya mereka berdua berbicara. Sementara itu ia mencari kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Namun ia tidak akan dapat menolak kebaikan hati Ki Tambak Wedi. akhirnya Widura itu pun berkata, “Sidanti, darah yang mengalir dari luka itu telah berhenti. Untara kini telah tidur nyenyak. Biarlah obat itu kau berikan kepadaku. Nanti apabila ia telah bangun, biarlah aku mengobati lukanya, atau biarlah Ki Tanu Metir yang melumurkannya”

“Kenapa kita menunda sampai nanti, kakang Untara pasti akan lebih menderita. Kalau kemudian terlambat, maka akan sia-sia segala usaha”

“Tetapi pasti tidak dapat sekarang” potong Ki Tanu Metir. “Obat itu mungkin sekali akan mengadakan tenggang-menenggang dengan obat yang lebih dahulu telah aku lumurkan. Karena itu biarlah obat itu menunjukkan akibatnya dahulu. Kalau ternyata tidak bermanfaat, baiklah kita ganti dengan obat yang lain”

“Banyak waktu yang terbuang” jawab Sidanti, kemudian kepada Widura ia berkata, “Kakang, aku minta ijin untuk mencoba mengobati luka itu”

“Nanti dulu Sidanti” berkata Widura sambil berdiri, “Jangan memaksa. Aku sangat berterima kasih kepadamu dan kepada Ki Tambak Wedi yang telah sudi memberikan obat itu. Namun sayang bahwa luka itu telah terlanjur diobati, dan darahnya telah tuntas. Karena itu, marilah berikan kepadaku, barangkali nanti kita perlukan”

Sidanti itu pun menjadi sangat kecewa. Sehingga ia menggeram. Meskipun demikian ia masih ingin memaksa, katanya, “Kakang, buat apa kita percaya kepada dukun itu. Biarlah aku mengobati luka itu kalau dukun itu marah, biarlah aku patahkan lehernya”

“Ampun ngger, jangan patahkan leherku. Aku masih sangat memerlukannya” Tiba-tiba Ki Tanu Metir itu menyahut, “Tetapi demi kesembuhan Angger Untara, jangan kau sentuh tubuhnya”

Agung Sedayu menjadi bingung mendengarkan pembicaraan itu. Tetapi tiba-tiba ia menjadi sangat tidak senang mendengar Sidanti mengancam Ki Tanu Metir. Meskipun ia dapat menghargai usaha Sidanti, namun ia tidak dapat melupakan, bahwa Ki Tanu Metir pernah menolong Untara itu dahulu, meskipun ia tidak tahu apa yang telah terjadi setelah ia meninggalkan rumah Ki Tanu Metir itu, namun Untara itu ternyata tertolong jiwanya. Sedang obat yang dibawa Sidanti itu masih harus diuji pula. Karena itu, maka tiba-tiba ia berkata, “Kakang Sidanti, berikanlah obat itu kepada paman Widura. biarlah besok atau nanti, paman Widura melumurkannya”

Sidanti itu memandang wajah Agung Sedayu dengan tajamnya. Kemudian terdengarlah suaranya parau, “Agung Sedayu. Ternyata kau tidak mempunyai rasa kasih sayang terhadap kakakmu itu. Apakah kau akan menunggu sampai Untara mati, baru akan kau obati lukanya”

“Kalau kakang Untara gugur, maka sudah tentu akulah yang paling bersedih. Tetapi ia kini sudah berangsur baik. Karena itu jangan diganggu”

Sidanti itu berpaling kepada Widura. dengan wajah yang tegang ia berkata, “Bagaimana kakang?”

“Berikan obat itu kepadaku, Sidanti”

Sidanti itu menjadi tegang. Namun kemudian ia tidak akan dapat memaksakan kehendaknya. Karena itu diberikannya bungkusan daun waru di tangannya itu kepada Widura. “Inilah kakang. Namun kalau Untara itu tidak tertolong, maka kalianlah yang telah membunuhnya. Meskipun demikian, aku mengharap obat itu akan dicoba pula”

“Baiklah, kami akan mencoba obat ini besok kalau ternyata kami perlukan”

Sidanti tidak berkata-kata lagi. Setelah bungkusan di tangannya itu diterima oleh Widura, maka segera ia meninggalkan ruangan itu. Sekali ia berpaling ke arah Ki Tanu Metir, dan sekali kepada Agung Sedayu.

Ki Tanu Metir menangkap pertanyaan yang menyorot dari mata Widura. ia ingin penjelasan tentang obat itu. Karena itu, maka Ki Tanu Metir itu pun berkata, “angger Widura, apakah aku boleh melihat obat itu?”

Widura kemudian duduk kembali di tempatnya. Diberikannya bungkusan daun waru di tangannya itu kepada Ki Tanu Metir. Katanya, “Cobalah lihat Kiai, apakah obat ini bermanfaat pula?”

Dengan hati-hati Ki Tanu Metir membuka bungkusan itu. Ketika ia melihat obat yang terbungkus di dalamnya tampak ia terkejut. Namun kemudian wajahnya menjadi tenang kembali.

“Bagaimana Kiai?” bertanya Widura ingin tahu.

Ki Tanu Metir mengangkat alisnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Aku tidak dapat memberikan obat ini kepada Angger Untara, sebab aku tidak melihat manfaatnya”

Widura memandang Ki Tanu Metir dengan penuh pertanyaan. Ki Tambak Wedi adalah seorang yang cukup sakti. Namun apakah kata-kata Ki Tanu Metir sebenarnya?

Ki Tanu Metir melihat kebimbangan di wajah Widura. Karena itu ia mencoba menjelaskan, “Aku mempergunakan obat yang berlawanan dengan obat ini. Aku kira akibatnya akan merugikan Angger Untara itu. Karena itu, biarlah kita tunggu saja sampai besok pagi. Mudah-mudahan obat yang aku berikan akan berguna”

Ruangan itu kemudian menjadi sepi kembali. Di kejauhan terdengar ayam jantan berkokok bersahut-sahutan.

“Hampir fajar” gumam Ki Tanu Metir.

Agung Sedayu mengangguk. Perlahan-lahan ia bangkit dan mendekati tubuh Untara terbaring.

Tiba-tiba Agung Sedayu itu membungkukkan badannya sambil berkata lirih, “Ki Tanu, kakang Untara telah bangun”

Ki Tanu Metir itu pun segera berdiri dan mendekati Untara pula. Demikian pula Ki Demang Sangkal Putung dan Swandaru Geni. Mereka bersama-sama berdiri mengelilingi pembaringan Untara.

Untara itu kini telah dapat menggerakkan kepalanya. Sekali ia menarik nafas panjang, dan kemudian perlahan-lahan ia membuka matanya. Namun sesaat kemudian mata itu terpejam kembali.

“Masih sangat lemah” desis Ki Tanu Metir, “Tetapi pernafasannya telah menjadi wajar kembali”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan tegang ia menunggu perkembangan keadaan Untara. Sehingga karenanya maka ia tetap saja berdiri di samping kakaknya ketika orang-orang lain telah duduk kembali ke tempatnya.

Sesaat kemudian Sekar Mirah datang sambil membawa minuman hangat. Setelah diserahkannya mangkuk-mangkuk itu maka ia duduk di samping kakaknya. Tetapi segera ayahnya berkata, “Kau harus menyiapkan makan pagi Sekar Mirah”

Sekar Mirah itu mengerutkan keningnya. Sambil memberengut ia menjawab, “Ayah. Aku ingin istirahat. Meskipun aku tidak bertempur, tetapi semalam suntuk aku berjalan mondar-mandir di dapur, menyiapkan segala macam makan dan minuman. Apakah aku tidak boleh duduk sebentar saja?”

“Duduklah, bahkan tidurlah. Tetapi tidak di sini”

Sekar Mirah pun kemudian berdiri dan berjalan ke belakang. Wajahnya menjadi gelap dan sekali ia berpaling sambil mencibirkan bibirnya kepada Swandaru Geni.

“Kenapa aku” bentak Swandaru.

“Apa” sahut Sekar Mirah, “Aku kan tidak apa-apa”

“Kau mencibir aku” jawab Swandaru.

“Salahmu kau melihat bibirku”

Swandaru masih akan menjawab, tetapi ayahnya telah menggamitnya. Karena itu ia berdiam diri. Tetapi dengan tangannya ia mengacungkan tinjunya ke arah Sekar Mirah. Sekali lagi Sekar Mirah mencibirkan bibirnya kepadanya. Namun kemudian ia tenggelam kebalik pintu. Tetapi sebelum ia hilang di belakang daun pintu itu, maka ia pun sempat memandang Agung Sedayu dengan sudut matanya, sehingga Agung Sedayu tertunduk karenanya.

Tetapi perhatian Agung Sedayu kini bulat-bulat tertuju kepada kakaknya, keran itu ia hampir tak memperdulikan apa saja yang terjadi.

Ia mendengar juga sekali Sekar Mirah berteriak di belakang rumahnya, “Gila” berkata Sekar Mirah itu, “Pergi sendiri”

Swandaru mengangkat kepalanya. Hampir saja ia berdiri kalau ayahnya tidak menahannya, “Bukan kau Swandaru”

Widura menggigit bibirnya. Pasti Sidanti telah mengganggunya. Anak itu benar-benar anak yang keras kepala. Namun Widura telah tidak segera berbuat apa-apa, sebab suara Sekar Mirah itu pun telah hilang, dan bahkan dekat di balik dinding gadis itu menggerutu, “Anak setan. Kenapa ia tidak mati dibunuh Macan Kepatihan?”

Dalam pada itu sekali lagi Agung Sedayu melihat Untara menggerakkan kepalanya. Kemudian perlahan-lahan ia membuka matanya. Ketika ia melihat Agung Sedayu berdiri di sampingnya terdengar ia berdesis, “Sedayu”

“Ya kakang” jawab Agung Sedayu serta-merta.

Namun Untara itu terdiam. Kembali matanya terkatub. Namun wajahnya kini sudah tdak seputih mayat. Perlahan-lahan warna-warna merah mulai menjalari wajah itu. Dan perlahan-lahan kepercayaan Agung Sedayu pun tumbuh pula.

Ki Tanu Metir, setelah meneguk minuman hangat itu, berdiri pula mendekati Untara. Dirabanya dada anak muda itu, kemudian diurut-urutnya lambungnya pula.

Sekali lagi Untara membuka matanya. Ketika ia melihat Ki Tanu Metir berdiri di sampingnya pula, maka tampaklah bibirnya bergerak.

“Kiai di sini?”

“Ya ngger, aku melihat bertempuran itu. Dan aku sengaja datang karena aku mendengar Angger terluka”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Ya, aku terluka”. Kemudian desisnya, “Sedayu. Kemarilah. Kau ingin tahu siapa yang melukai aku?”

Bukan main terkejutnya Sedayu mendengar kata-kata kakaknya itu. Karena itu dengan serta-merta ia melangkah lebih mendekati kakaknya sambil berdesis, “Ya kakang, katakanlah siapa yang telah melukai kakang?”

Tidak saja Agung Sedayu yang tertarik pada kata-kata itu. Namun semuanya tertarik pula. Karena itu, maka semua yang hadir disitu bergeser mendekat.

Namun Untara ternyata masih terlalu lemah. Tiba-tiba matanya terpejam kembali.

“Kakang” panggil Agung Sedayu.

“Jangan ngger” berkata Ki Tanu Metir, “Jangan dipaksa”

“Hem” Agung Sedayu menggeram. Ia ingin segera tahu siapa yang telah melakukan perbuatan itu. Tohpati atau Alap-alap Jalatunda? Tetapi ia harus bersabar lagi menunggu Untara itu menjadi lebih kuat.

Diluar, kabut yang tebal mulai turun. Namun ayam jantan yang berkokok semakin lama menjadi semakin ramai bersahutan. Meskipun demikian, lewat pintu mereka masih melihat kehitaman yang kelam di antara kabut yang keputih-putihan. Tetapi mereka menyadari bahwa sebentar lagi, fajar telah menjenguk di garis kaki langit.

Kini mereka tidak dapat berdiri saja di seputar Untara. Widura dan Ki Tanu Metir minta diri sesaat kepada Agung Sedayu untuk sesuci, untuk kemudian mereka bergantian menunggu Untara yang terluka itu.

“Silakan paman” berkata Agung Sedayu.

Ki Demang Sangkal Putung dan Swandaru pun kemudian meninggalkan ruangan itu, sehingga kini tinggallah Agung Sedayu seorang diri.

Telah lama Widura menunggu kesempatan itu. Berjalan berdua dengan Ki Tanu Metir. Dan kesempatan itu kini datang. Karena itu, maka berkata Widura itu sambil berjalan ke padasan, “Ki Tanu Metir, apakah Ki Tanu telah pernah datang ke tempat ini sebelumnya?”Ki Tanu Metir menggeleng, “Belum ngger”

Widura tersenyum. katanya, “Baru kali ini?”

“Ya” sahut orang tua itu

“Ke daerah-daerah sekitar tempat ini?”

“Juga belum”

“Ki Tanu Metir benar-benar belum mengenal aku?”

Ki Tanu Metir berhenti. Diamatinya Widura dengan seksama, namun ia menggeleng, “Belum ngger. Baru kali ini aku mengenal Angger Widura”

Sekali lagi Widura tersenyum, “Mungkin Kiai benar”

Ki Tanu Metir terkejut. Bagaimana sesaat kemudian ia tersenyum sambil berjalan terus.

Sepeninggal Widura, Agung Sedayu masih juga menunggu kakaknya dengan tekun. Sekali-sekali dilihatnya Untara menarik nafas panjang. Namun Untara itu masih belum juga membuka matanya kembali.

Agung Sedayu hampir-hampir menjadi tidak sabar menunggu. Ia ingin segera tahu, siapakah yang melukai kakaknya itu. Tetapi ia tidak berani memaksa kakaknya untuk berbicara.

Sesaat kemudian ketika Untara itu membuka matanya kembali, segera Agung Sedayu membungkukkan badannya sambil berbisik, “Kakang, apakah akan mengatakan kepadaku, siapakah yang telah melukai kakang?”

Untara menarik nafas panjang. Tampak ia menyeringai, kemudian mencoba menggerakkan tangannya, “Tanganku masih lemah sekali” desisnya.

“Jangan bergerak-gerak dulu kakang” Agung Sedayu mencoba mencegahnya.

Untara mengangguk kecil. “Dimana paman Widura?”

“Baru sesuci kakang” sahut Agung Sedayu.

“Aku ingin mengatakan kepadanya, siapakah yang telah melukai aku”

“Katakanlah kakang, selagi kakang sempat, nanti kakang dapat tidur dengan nyenyak”

“Dimana pamanmu?”

“Biarlah nanti aku sampaikan”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan susah payah ia berkata, “Agung Sedayu. Sebenarnya aku telah berusaha untuk melupakan setiap persoalan yang ada di antara kita masing-masing yang berada di tempat ini untuk kepentingan yang lebih besar. Tetapi ternyata aku menghadapi bahaya yang hampir saja merenggut nyawaku. Kalau kali ini aku, maka mungkin lain kali paman Widura dan kau. Karena itu maka sebelum terjadi, kau harus mencegahnya. Aku percaya bahwa kau akan dapat melakukannya bersama paman Widura”

“Ya kakang”sahut Agung Sedayu tidak sabar, “Aku siap berbuat”

“Jangan orang itu mendapat kesempatan meninggalkan tempat ini. Dengan demikian ia akan menjadi lebih berbahaya bagimu dan bagi Sangkal Putung”

“Ya kakang, tetapi siapakah itu?”

“Dimanakah pamanmu Widura?”

“Sebentar lagi ia datang. Aku akan mengatakannya”

“Ya. Memang harus dilakukan secepatnya. Kalau ia tahu aku belum mati dan masih dapat mengatakannya, maka ada kemungkinan ia segera akan kembali”

“Ya, ya” sahut Agung Sedayu tidak sabar.

“Anak itu adalah Sidanti”

“He?” alangkah terperanjat Agung Sedayu, “Sidanti” ulangnya, “Bagaimana mungkin? Bukankah ia berada di sayap yang lain?”

“Sayap itu telah bergabung dengan induk pasukan ketika kami mengejar lawan. Dan ternyata Sidanti telah melakukan rencananya sendiri. Ditinggalkannya anak buahnya untuk berbuat menurut rencananya. Aku terkejut ketika tiba-tiba ia menggamit aku. Tetapi aku tidak mendapat kesempatan. Aku berpaling pada saat pisaunya menembus punggungku. Tetapi aku tidak segera pingsan. Pukulannyalah yang menyebabkan aku tidak tahu apa lagi yang terjadi. Tetapi Tuhan Maha Besar. Aku ternyata diselamatkan oleh Nya dengan lantaran Ki Tanu Metir”

Terdengar gigi Agung Sedayu gemeretak. Namun ketika ia masih ingin mengajukan pertanyaan lagi, dilihatnya nafas kakaknya menjadi agak cepat.

“Kakang” panggil Agung Sedayu.

Untara memejamkan matanya. Dicobanya untuk menenangkan hatinya. Disadarinya bahwa ia masih belum dapat terlalu banyak berbicara. Karena itu katanya, “Aku akan beristirahat. Katakanlah hal ini kepada paman Widura”

Agung Sedayu tidak menjawab. tetapi dadanya seakan-akan hampir meledak. Dilihatnya kakaknya menarik nafas dalam-dalam, dan sekali Untara itu berdesis, “Aku masih terlalu lemah. Kini kepalaku terasa agak pening. Aku akan mencoba tidur lagi”

“Tidurlah kakang” jawab Agung Sedayu, “Tenangkanlah hatimu. Biarkan aku selesaikan persoalan Sidanti”

“Jangan seorang diri” desis Untara.

Tetapi Agung Sedayu tidak menjawab, hatinya sudah tidak dapat ditahannya lagi. Meskipun selama ini Sidanti baginya seakan-akan hantu yang selalu mengejarnya kemana ia pergi, namun hantu itu kini sama sekali tidak menakutkan lagi baginya.

Karena itu, maka demikian kakaknya memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur, cepat-cepat Agung Sedayu beringsut surut, dan dengan tergesa-gesa ia meloncat keluar pringgitan. Sedemikian tergesa-gesa sehingga ia lupa menyandang pedangnya yang telah diletakkannya di samping pembaringan kakaknya itu.

Di pendapa dengan nanar Agung Sedayu mencari Sidanti. Namun di sudut pendapa itu tak dilihatnya seseorang. Karena itu dengan berlari-lari ia turun ke halaman dan langsung dicarinya di belakang rumah.

Namun di belakang rumah itu pun tak ditemuinya Sidanti. Ia tadi mendengar Sekar Mirah mengumpat-umpat disitu. Karena itu ketika ia melihat gadis itu menjengukkan kepalanya dipintu, dengan serta-merta ia bertanya, “Mirah, kemanakah Sidanti?”

“Kenapa kau mencari Sidanti?” bertanya Sekar Mirah, “kenapa tidak mencari aku?”

“Aku tergesa-gesa Mirah”

“Apakah tuan sangka aku menyembunyikan Sidanti?”

“Tidak. Tetapi bukankah kau tadi bercakap-cakap dengan Sidanti di sini? Barangkali kau tahu kemana ia pergi?”

Sekar Mirah menggeleng sambil tersenyum. bahkan kemudian ia melangkah keluar, “Biarlah Sidanti pergi menurut kehendaknya sendiri. apakah kita berkepentingan atasnya?”

“Aku berkepentingan”

“Aku tidak”

“Mirah” Agung Sedayu menjadi jengkel karenanya, “Aku sekarang sedang dihadapkan pada suatu keharusan untuk menemukannya. Dimana ia sekarang?”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Dilihatnya wajah Agung Sedayu bersungguh-sungguh. Karena itu, maka itak tidak mau bergurau lagi. Jawabnya, “Mungkin ke sungai, mungkin ke prapatan”

Agung Sedayu berpikir sejenak. Apakah kepentingan Sidanti keprapatan yang paling mungkin baginya adalah pergi ke kali di sebelah ujung halaman kademangan itu. Sebuah kali yang tidak sedemikian besar, yang airnya seakan-akan hampir kering di musim kemarau.

Agung Sedayu itu pun tidak berkata-kata lagi. Dengan tergesa-gesa ia berjalan menuju kekali, tempat beberapa orang laskar Pajang sering mandi dan mencuci pakaiannya. Namun saat itu masih terlalu pagi. Belum ada seorang pun yang pergi kesana, selain Agung Sedayu yang sedang mencari Sidanti itu.

Ki Tanu Metir dan Widura, setelah sesuci segera bersembahyang. Ketika mereka menengok Untara, dilihatnya anak muda yang sedang terluka itu tidur. Karena itu, maka Ki Tanu Metir tidak mendekatinya.

Sehabis sembahyang, mereka berdua duduk kembali, di atas tikar pandan dan kembali meneguk air yang masih hangat-hangat kuku.

“Dimanakah Sedayu?” desis Widura.

“Ya, dimana angger Sedayu?” sahut Ki Tanu Metir.

Mula-mula mereka menyangka bahwa anak muda itu sedang sesuci di belakang. Tetapi setelah ditunggu beberapa lama, maka Agung Sedayu tidak juga datang. Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak menaruh syak bahwa Agung Sedayu sedang pergi mencari Sidanti. Karena itu, maka Widura itu masih saja duduk dengan tenangnya bersama dengan Ki Tanu Metir.

Sekali Ki Tanu Metir itu berdiri. Didekatinya Untara yang kembali jatuh tertidur karena lemahnya. Dirabanya dada anak itu sambil bergumam, “Pernafasannya menjadi bertambah baik. Mudah-mudahan ia dapat segera memiliki kesadarannya sepenunya kembali. Dalam keadaannya sekarang, maka Angger Untara kadang-kadang masih menjadi pening dan berkunang-kunang”

“Mudah-mudahan” sahut Widura.

“Mulai besok, Angger Untara harus banyak minum obat reramuan sehingga badannya akan menjadi segera kuat kembali. Obat-obatan yang dapat mengganti darahnya yang sudah terlalu banyak mengalir seperti yang pernah dialaminya dahulu”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia teringat kepada obat yang diberikan oleh Sidanti. Karena itu, maka katanya, “Bagaimanakah dengan obat yang diberikan oleh Sidanti?”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Sesaat ia berdiam diri. Tampaklah ia menjadi ragu-ragu karenanya.

“Bagaimana?” desak Widura pula.

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sesaat tampak wajahnya menjadi tegang. Dan akhirnya menjawab, “Maaf ngger. Apakah aku boleh berkata sebenarnya?”

“Ya, tentu” sahut Widura heran.

Perlahan-lahan diraihnya obat dari Sidanti yang diletakkannya di samping kaku pembaringan Untara. Sekali lagi obat itu dibukanya, dan ditunjukkannya kepada Widura.

“Obat ini sangat berbahaya ngger”

“Kenapa?” bertanya Widura heran.

Sekali Ki Tanu Metir memandang kedaun pintu yang terbuka, namun kemudian kepalanya itu ditundukkannya.

Widura menjadi hran melihat sikap Ki Tanu Metir itu. Karena itu, maka ia mendesaknya, “Kenapa obat itu sangat berbahaya Kiai?”

Ki Tanu Metir berpaling ke arah Untara yang masih tertidur. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, ia bergumam, “Untunglah bahwa obat ini belum menyentuh lukanya. Kalau angger pernah melihat, ini adalah salah satu jenis warangan yang akan dapat mempengaruhi peredaran darah”

“He?” Widura terkejut mendengar keterangan itu.

“Warangan ini” berkata Ki Tanu Metir, “Akan dapat membekukan darah, sehingga cairan darah Angger Untara akan bergumpal-gumpal dan menyumbat jalur-jalur nadinya”

“Jadi….” Kata-kata Widura terputus dikerongkongannya.

Namun Ki Tanu Metir sudah dapat menangkap maksudnya. Karena itu, maka ia menyahut, “Ya. Ternyata Angger Untara benar-benar akan dibunuhnya”

Terasa keringat dingin mengalir di tubuhnya. Tiba-tiba teringatlah Widura itu kepada peristiwa yang pernah dialaminya sendiri. Sidanti dan Ki Tambak Wedi pernah akan membunuhnya pula. sehingga karena itu dengan serta-merta ia berkata, “Kalau begitu, maka luka Untara itu pun pasti dibuat oleh Sidanti”

Ki Tanu Metir terdiam sesaat. Kemudian jawabnya, “Mungkin ngger. Adalah mungkin sekali”

Tubuh Widura itu menjadi gemetar karenanya. Perbuatan itu benar-benar tidak dapat dimaafkan lagi. Sidanti benar-benar tidak dapat dilunakkan hatinya. Nafsunya untuk segera menanjak ke tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi telah mendorongnya untuk berbuat hal-hal yang kadang-kadang tidak dapat dimengerti. Dengan demikian maka anak muda itu telah kehilangan segala tata cara dalam peradaban manusia. Bahkan Sidanti itu, telah sedemikan sampai hati untuk melenyapkan kawan sendiri. membunuhnya untuk segera dapat menempati kedudukannya.

Widura itu pun menjadi marah bukan buatan. Karena itu, maka segera ia berdiri. Diambilnya pedangnya dan disangkutkan dipinggangnya.

“Akan kemanakah angger Widura ini?” bertanya Ki Tanu Metir.

“Aku harus menemui Sidanti. Anak itu harus berada dalam pengawasan yang lebih baik. Kali ini Untara, besok aku dan lusa Agung Sedayu”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia pun berdiri juga. Widura yang telah siap untuk berbuat apa pun juga itu memerlukan menjenguk sesaat. Dilihatnya anak itu membuka matanya. Ketika dilihatnya Widura, maka desisnya, “Dugaan Ki Tanu Metir dan paman adalah benar. Aku mendengar apa yang kalian percakapkan. Aku telah mengatakan kepada Agung Sedayu”

“He” kembali Widura terkejut, “Dimana Sedayu sekarang?”

“Aku suruh ia mengatakannya kepada paman Widura”

Widura menggigit bibirnya. Ada sesuatu yang tersimpan di hati Agung Sedayu terhadap Sidanti, seperti minyak yang tersekat di dalam bumbung. Kini ternyata ada api yang menyambarnya, sehingga minyak itu pasti akan menyala dan bumbungnya akan meledak. Karena itu, maka Widura  pun kemudian menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Baiklah aku temui anak itu”

Untara tidak mengerutkan keningnya. Dipejamkannya kembali matanya untuk mencoba beristirahat sebanyak-banyaknya. Ki Tanu Metir lah kemudian yang menungguinya sambil duduk di tikar di samping pembaringannya.

Widura yang menahan kemarahan di dalam dadanya itu, berjalan perlahan-lahan keluar pringgitan. Di luar malam telah berangsur hilang, sehingga bayangan pepohonan di halaman semakin lama menjadi semakin jelas karenanya. Namun ia tidak melihat Agung Sedayu dan Sidanti di halaman itu. Karena itu, maka segera ia menjadi cemas.

Beberapa orang yang melihat Widura menyandang pedangnya, bertanya-tanya di dalam hati. Widura itu di kademangan hampir tidak pernah membawa pedangnya dalam keadaan biasa. Namun kini pedang itu tergantung di lambungnya.

“Mungkin Ki Lurah itu belum sempat melepas pedangnya” berkata salah seorang.

“Aku sudah melihatnya sesuci. Dan pedang itu tidak tergantung dipinggangnya” sahut yang lain.

“Entahlah” gumam orang yang pertama.

Sementara itu Agung Sedayu yang berlari-lari kekali di ujung halaman dengan gelora kemarahan yang menyala di dadanya, tiba-tiba terkejut, ketika pada keremangan pagi ia melihat dua sosok tubuh berjalan ke arahnya. Namun tiba-tiba sesosok di antaranya segera lenyap dan yang tinggal kemudian adalah Sidanti. Agung Sedayu itu tidak sempat berpikir dan bertanya, siapakah orang yang satu itu yang kemudian bersembunyi. Namun yang ada di dalam dadanya adalah kemarahan yang menyala-nyala.

Dengan serta-merta, maka Agung Sedayu itu berteriak, “Kau telah berusaha membunuh Untara. Sekarang aku datang untuk menuntut balas atas luka-luka yang dideritanya”

Sidanti terkejut. Jawabnya, “Siapa bilang?”

“Untara sendiri”

“Omong kosong. Untara belum sadar”

“Jangan ingkar. Aku sudah tidak mempunyai pilihan lain sekarang”

Sidanti itu mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba ia tertawa, “Bagus” katanya, “Aku yang berusaha membunuh Untara, sekarang aku harus membunuh Agung Sedayu”

Agung Sedayu tidak menjawab. segera ia meloncat maju dan menyerang Sidanti sejadi-jadinya.

Sidanti benar-benar terkejut menerima serangan yang tiba-tiba itu. Karena itu, maka ia tidak segera dapat mengelak. Dengan cepatnya ia berusaha untuk memunahkan serangan Agung Sedayu itu dengan menyilangkan kedua tangannya menyambut tangan Agung Sedayu.

Pada saat itu, Agung Sedayu benar-benar telah mempergunakan segenap kekuatannya dilambari dengan kemarahan yang membara di dalam dirinya. Karena itu, maka kekuatannya pun seakan-akan bertambah-tambah juga. Sehingga kemudian terjadi suatu benturan yang dahsyat antara keduanya,

Benturan kekuatan antara Agung Sedayu yang melontarkan kemarahan yang meledak dengan kekuatan Sidanti yang tegak seperti batu karang. Demikianlah maka kedua kekuatan itu telah melemparkan keduanya, sehingga masing-masing terpental dan jatuh terbanting di atas tanah,

Namun setelah mereka terguling, maka segera mereka meloncat berdiri dan siap kembali untuk mempertahankan diri masing-masing.

Agung Sedayu yang sama sekali tidak dapat mengekang dirinya karena kemarahannya, segera menyerang kembali. Serangannya langsung mengarah ketitik-titik yang berbahaya pada tubuh Sidanti. Kalau selama ini Sidanti dan Agung Sedayu selalu urung bertempur dalam setiap persoalan, maka dendam yang tersimpan di hati masing-masing itu kini seakan-akan tertumpahkan. Sidanti yang selama ini merasa, tersisihkan karena kehadiran Agung Sedayu. Baik oleh Widura, orang-orang Sangkal Putung, lebih-lebih Sekar Mirah, namun usahanya untuk memancing perselisihan selalu gagal, maka kini aia terlibat dalam suatu perkelahian dengan Agung Sedayu. Karena itu, maka kesempatan ini harus dipergunakan. Ia harus bertempur sampai rampung. Mati atau mematikan. Apalagi Agung Sedayu ternyata telah mengetahui bahwa dirinyalah sebenarnya yang telah berusaha membunuh Untara. Dan Sidanti tidak dapat mengingkari kalau itu dikatakan oleh Untara sendiri. Meskipun demikian Sidanti itu menyesal, kenapa ia tidak dapat menusuk anak muda yang mendapat kepercayaan langsung dari Ki Gede Pemanahan itu sekaligus, sehingga Untara itu masih sempat berkata tentang keadaannya. Karena itu, maka Agung Sedayu itu pun harus mati. Kalau Agung Sedayu sudah mati di sini, maka ia akan dapat membunuh Untara nanti pada suatu kesempatan. Mudah-mudahan obatnya diusapkan pada luka itu. Kalau demikian maka Untara itu pun pasti akan mati. Tetapi kalau tidak? Kalau rencana itu gagal? Sidanti itu menggeram. Apa yang dilakukan kali ini adalah suatu sikap terakhir. Kalau ia gagal, maka kisahnya sebagai prajurit Pajang akan berakhir. Kalau ia berhasil membunuh Agung Sedayu dan Untara, apakah tidak ada orang-orang lain yang akan menuntutnya?, “Hem” sekali lagi Sidanti menggeram. Kegagalannya terletak pada kegagalannya membunuh Untara, sehingga persoalan itu menjadi berlarut-larut. Tetapi meskipun demikian, ia tidak dapat mengingkari. Ia sudah langsung berbuat dengan tangannya meskipun ia berusaha untuk menghilangkan bekasnya. Ia menusuk Untara tidak dengan senjatanya, tetapi dengan pisau yang lain. Kini tangannya telah berbekas darah. Karena itu, maka apa pun yang akan dihadapinya ia tidak akan ingkar.

Sedangkan Agung Sedayu pun telah menyimpan dendam yang membara di dalam dirinya. Sejak ia hadir di Sangkal Putung, maka ia telah merasakan, bahwa seorang ini sama sekali tidak senang melihat kehadirannya. Anak muda inilah yang seakan-akan telah menyebabkan pamannya selalu marah kepadanya, sehingga seolah-olah Ia menjadi seorang tawanan yang dikurung di dalam pringgitan. Anak muda ini pulalah yang telah berusaha membunuh kakaknya. Sampai saat itu kakaknya adalah orang yang paling baik yang dikenalnya. Orang yang selalu melindunginya dalam setiap kesempatan. Orang yang tidak pernah menyakiti hatinya. Orang yang telah menggantikan ibu bapaknya. Kini orang yang bernama Sidanti itu akan membunuh kakaknya itu. Karena itu, maka segenap kemarahan dam dendam tertumpah kepadanya. Kepada Sidanti.

Demikianlah maka pertempuran itu menjadi seru sekali. Masing-masing telah menumpahkan segenap tenaganya dalam luapan kemarahan dan dendam. Masing-masing sudah tidak dapat lagi melihat kemungkinan lain daripada membunuh atau dibunuh. Agung Sedayu yang banyak sekali mempunyai pertimbangan di kepalanya hampir dalam setiap persoalan, kini pertimbangan-pertimbangan itu seakan-akan telah membeku.

Tetapi ternyata bahwa Sidanti memiliki pengalaman yang lebih luas dari Agung Sedayu. Meskipun persiapan-persiapan di dalam diri Agung Sedayu telah cukup banyak untuk menghadapi murid Ki Tambak Wedi itu, namun ada beberapa kelebihan dari Sidanti atas Agung Sedayu. Karena itu, maka tampaklah bahwa Sidanti mempunyai kesempatan-kesempatan yang lebih baik dari Agung Sedayu. Namun meskipun demikian, Agung Sedayu pun memiliki keadaan yang tidak dimiliki oleh Sidanti. Agung Sedayu yang seakan-akan menyimpan dan menahan gelora yang menyala di dadanya karena keadaannya, maka tiba-tiba kini ia menemukan saluran yang dapat memuntahkan tekanan itu. Sebagai seorang penakut, maka Agung Sedayu selalu berangan-angan untk menjadi seorang yang pilih tanding. Seorang yang tak terkalahkan. Namun setiap gejolak di dalam jiwanya selalu disekapnya di dalam hati. Kemudian setelah ia berhasil menembus dinding yang menyelubunginya, tiba-tiba ia dihadapkan pada persoalan yang langsung menyentuh perasaannya yang paling dalam, sehingga dengan demikian maka Agung Sedayu itu seakan-akan benar-benar sebuah bumbung minyak yang terbakar. Meledak dengan dahsyatnya. Karena itu, maka tandangnya pun menjadi tidak menentu. Ia telah kehilangan kemungkinan untuk mempertimbangkan setiap geraknya. Hanya satu yang ada di dalam hatinya, membinasakan Sidanti.

Sidanti melihat tandang Agung Sedayu itu benar-benar terkejut. Agung Sedayu dalam tangkapan Sidanti adalah seorang yang halus dan lunak. Ia menyangka, bahwa dalam perkelahian pun Agung Sedayu akan mencerminkan sifat-sifatnya itu. Tetapi tiba-tiba ia berhadapan dengan gerak yang ganas dan kasar. Bahkan kadang-kadang sama sekali diluar dugaannya. Agung Sedayu menyerang seperti seekor serigala yang lapar. Tidak hanya seekor, namun tiba-tiba karena luapan perasaannya, Agung Sedayu telah menumpahkan segenap ilmunya, sehingga seakan-akan Sidanti itu menghadapi berpuluh-puluh serigala yang kelaparan sedang berusaha bersantap dengan dagingnya.

Karena itu, maka perkelahian itu menjadi semakin sengit. Sidanti berusaha untuk melawan Agung Sedayu dengan segenap kemampuannya pula. dengan lincahnya ia menghindari setiap serangan Agung Sedayu. Namun serangan itu mengalir seperti banjir. Meskipun demikian kelincahan Sidanti, sekali-sekali berhasil menerobos pertahanan Agung Sedayu yang kuat, sekali-sekali berhasil mengenai tubuhnya, sehingga sekali-sekali Agung Sedayu terpaksa terlempar surut dan bahkan jatuh berguling. Tetapi kambali anak muda itu bangkit, dan kembali serangannya datang membadai.

Namun Sidanti pada dasarnya adalah seorang anak muda yang berjiwa kasar. Ia adalah seorang yang berbuat tanpa kesan membunuh lawannya dan bahkan merobek mayat lawannya sekali. Karena itu, maka segera ia menyesuaikandiri dengan Agung Sedayu. Sehingga sesaat kemudian Sidanti itu pun bertempur dengan cara yang tidak kalah ganas dan kasar dari Agung Sedayu.

Dengan demikian maka perkelahian itu benar-benar menjadi perkelahian yang keras. Seakan-akan perkelahian di antara binatang-binatang buas yang sedang kelaparan berebut makanan. Setiap serangan hampir tak pernah dielakkan. Namun setiap serangan ditempuhnya dengan pengerahan tenaga.

Namun dalam perkelahian yang demikian itu pun, Sidanti mempunyai kesempatan yang lebih banyak dari Agung Sedayu. Pengalamannya yang jauh lebih banyak dan hatinya yang lebih keras, telah memungkinkannya untuk berbuat lebih jauh dari apa yang dapat dilakukan pleh Agung Sedayu.

Tetapi Sidanti itu pun menjadi heran. Betapa ia berhasil mengenai lawannya, bahkan dengan segenap tenaganya, dan betapa ia melihat Agung Sedayu terlempar jatuh, tetapi seakan-akan tubuh Agung Sedayu itu sedemikian liatnya. Demikian ia terbanting, demikian ia bangun kembali. Pukulan-pukulan yang mengenainya benar-benar tak pernah membekas, seakan-akan tubuhnya dapat dibebaskan dari rasa sakit.

Sebenarnya Agung Sedayu sudah waringuten, ia seolah-olah kehilangan segenap perasaannya. Bahkan rasa sakit pun seakan-akan tak dimilikinya. Tekanan gelora yang membakar dadanya telah menjadikannya nggegirisi.

Sidanti benar-benar menjadi bimbang. Apakah Agung Sedayu memiliki ilmu kekebalan?, “Omong kosong” katanya dalam hati. Dan geraknya pun semakin dipercepatnya.

Sisa gelap malam pun semakin lama menjadi semakin tipis. Dan sejalan dengan itu hati Sidanti pun menjadi semakin cemas. Ia ingin segera menyelesaikan perkelahian itu. Namun betapa mungkin. Agung Sedayu seakan-akan tak dapat disakitinya. Seandainya seseorang melihatnya bertempur, dan orang itu mengetahui sebab dari pertempuran itu, maka mau tak mau ia harus berhadapan dengan seluruh laskar Pajang di Sangkal Putung. Meskipun pada saat itu gurunya berada di sampingnya, namun alangkah baiknya kalau ia menyelesaikan persoalan itu sendiri. tanpa gurunya. Dan persoalan itu akan selesai kalau ia dapat membunuh Agung Sedayu. Mudah-mudahan baru Agung Sedayu sajalah yang mendengar dari Untara bahwa ialah yang telah melukainya. Nanti, akan dicarinya kesempatan untuk menyempurnakan pembunuhannya atas Untara. Seandanya ia sempat menutup jalan pernafasan anak yang luka itu, maka segera pekerjaannya akan selesai tanpa bekas.

Dengan demikian maka Sidanti semakin memperketat tekanannya, sehingga titik pertempuran itu telah bergeser dari tempatnya. Tanpa setahu mereka, maka mereka kini sudah merambat mendekati kandang kuda Demang Sangkal Putung.

Sidanti terkejut ketika ia mendengar kuda di dalam kandang itu terpekik karena terkejut. Sesaat kemudian kuda-kuda yang lain pun menjadi gelisah pula sehingga kandang itu menjadi ribut karenanya.

“Gila” geram Sidanti

Suara kuda itu pasti akan memanggil beberapa orang untuk datang kepada mereka. Karena itu, maka sebelum Agung Sedayu sempat berkata, maka ia harus dibunuh atau dilumpuhkan.

Sidanti menjadi semakin gelisah ketika dalam keremangan fajar, benar dilihatnyan beberapa orang berdatangan. Dan Agung Sedayu itu masih bertempur dengan garangnya.

Kini Sidanti benar-benar mengerahkan segenap kemampuannya. Ia berkelahi seperti seekor harimau yang ganas. Dengan segenap kemampuan dan tenaganya, ia berusaha segera mengakhiri pertempuran. Namun tubuh Agung Sedayu itu seakan-akan terbuat dari tanah liat. Tetapi ketika langit menjadi semakin terang, tampaklah bahwa dari tubuh anak muda itu telah mengalir darah dari luka-luka ditubuhnya. Pakaiannya telah rontang-ranting dan wajahnya menjadi merah biru. Bukan saja Agung Sedayu, Sidanti pun telah mengalami tekanan-tekanan yang berat karena serangan-serangan Agung Sedayu yang sedang mengamuk itu.

Tetapi pertempuran itu harus segera berakhir. Dalam keadaan itu akhirnya Sidanti mengambil keputusan yang pasti. Agung Sedayu harus dilumpuhkan dengan cara apa pun juga. Karena itu, maka dengan serta-merta Sidanti itu meloncat, meraih sepotong kayu yang tersandar di dinding kandang itu. Dengan kayu itu ia bertempur melawan Agung Sedayu.

Betapapun kuatnya Agung Sedayu, namun dalam kegelapan pikiran itu, ia sama sekali telah kehilangan hampir segenap perhitungannya. Itulah sebabnya ia tidak dapat melihat dengan hati yang dingin, apa yang telah dilakukan oleh Sidanti. Tangan Sidanti benar-benar seperti tangan hantu yang sangat berbahaya. Meskipun kali ini ia tidak memegang senjata perguruannya, namun sepotong kayu itu pun benar-benar dapat dipergunakan sebagai senjata yang sangat berbahaya. Dalam perkelahian tanpa senjata, anak muda itu telah menunjukkan beberapa kelebihan dari lawannya. Apalagi kini ia menggenggam sepotong kayu. Maka tanpa mempertimbangkan akibat-akibat yang dapat terjadi, Sidanti telah mempergunakan senjatanya untuk melawan dan berusaha membinasakan Agung Sedayu.

Sebuah pukulan yang keras telah mendorong Agung Sedayu ke samping. Berbareng dengan teriakan beberapa orang tiba-tiba melihat perkelahian itu. Bagaimana Sidanti tidak puas dengan pukulan pertama itu. Sebelum Agung Sedayu sempat menguasai dirinya, maka Sidanti telah mengulangi serangannya. Agung Sedayu masih sempat melihat kayu yang terayun itu, karena itu, maka ia masih berusaha untuk menghindarkan dirinya dengan membungkukkan badannya. Kayu itu menyambar beberapa jari di atas kepalanya. Namun karena geraknya yang tiba-tiba, Agung Sedayu kurang dapat menguasai keseimbangan dirinya, sehingga ia jatuh terguling. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Sidanti. Agung Sedayu harus menjadi terdiam saat itu, supaya ia tidak dapat mengatakan sebab dari perkelahian ini. Dengan garangnya Sidanti mengangkat sepotong kayu itu untuk diayunkan kekepala Agung Sedayu yang belum sempat bangun kembali.

Beberapa orang yang melihat perkelahian itu segera berlari-lari mendekati. Mereka melihat Agung Sedayu itu terjatuh, dan mereka melihat Sidanti mengayunkan sepotong kayu kekepala Agung Sedayu. Namun jarak mereka masih terlalu jauh. Sehingga mereka masih belum sempat untuk mencagah Sidanti. Mereka hanya sempat berteriak keras.

Pada saat itu Widura pun telah sampai ke tempat itu pula. ia pun melihat sepotong kayu yang terayun itu. Namun jaraknya pun masih beberapa langkah lagi. Karena itu, maka Widura itu pun hanya dapat berteriak sambil melompat sejauh-jauh mungkin. Tetapi jarak yang harus dicapainya masih ada dua tiga loncatan lagi.

Sidanti sama sekali tidak mau mendengarkan teriakan-teriakan itu lagi. Ia lebih senang mempertanggung-jawabkan perbuatannya itu daripada apabila Agung Sedayu mengatakan sebab yang sebenarnya. Daripada Agung Sedayu bercerita tentang apa yang pernah didengarnya dari Untara. Karena itu, maka sama sekali ia tidak mau mengurungkan niatnya. Hatinya telah bulat sebulat-bulatnya. Dengan demikian maka kayu itu pun telah diangkatnya untuk diayunkannya kuat-kuat. Ia tidak perduli lagi seandainya kepala Agung Sedayu itu menjadi pecah karenanya.

Tetapi justru karena itu, maka perhatian Sidanti seluruhnya tercurah pada sepotong kayu di tangannya dan kepala Sedayu. Anak muda itu hampir tidak memperhatikan lagi apa yang terjadi di sekitarnya. Juga ia sama sekali tidak tahu, bahwa seseorang telah berdiri dekat di belakangnya. Di samping kandang kuda itu.

Ketika kayu di tangannya itu telah sampai kepuncak ayunan dan siap untuk meluncur kekepala Agung Sedayu, Sidanti itu terkejut ketika ia mendengar sebuah suitan nyaring. Ia tahu benar, itu adalah suara gurunya. Namun ia tidak segera mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi. Karena itu, maka ia menjadi bingung untuk sekejap. Dan waktu yang sekejap itu telah merubah segala-galanya. Tiba-tiba ia melihat sesuatu melayang dari balik gerumbul-gerumbul di sekitar tempat itu. Namun sesaat yang pendek. Ia sadar ketika tiba-tiba terdengar sepotong besi yang meluncur itu menghantam sebilah pedang yang terjulur ke punggungnya.

Suara itu berdentang sedemikian kerasnya, sehingga menggetarkan halaman belakang kademangan Sangkal Putung. Namun semuanya telah terlambat, pedang itu telah menyentuh punggung Sidanti, meskipun kemudian terlontar jatuh. Namun tajamnya telah menyobek punggung itu. Sidanti mengeluh pendek. Segera ia memutar tubuhnya. Dilihatnya di belakangnya berdiri Swandaru Geni dengan mata yang menyala, namun ternyata mulutnya menyeringai menahan sakit di tangannya. Pedangnya terlempar beberapa langkah daripadanya.

Sidanti itu pun menjadi semakin marah bukan buatan. Namun terasa luka di punggungnya itu sedemikian nyerinya. Terasa seakan-akan dari luka itu dihisapnya segenap kekuatannya, sehingga dalam waktu yang singkat itu, hampir-hampir ia menjadi lemas dan tak berdaya. Namun ia tidak mau jatuh dan mati di tempat itu. Dengan segenap kemampuan yang ada dicobanya untuk tetap tegak berdiri sambil memandang setiap wajah yang berada di sekitarnya.

Dilihatnya Widura yang kini telah tegak di hadapannya dengan pedang tergantung di lambungnya, di sampingnya Swandaru Geni yang gemetar, namun dengan wajah yang menyala. Kemudian Agung Sedayu yang telah tegak kembali, dan kemudian beberapa orang lain. Sidanti itu menggeram penuh kemarahan dan dendam ia belum berhasil membunuh Agung Sedayu, dan tiba-tiba Swandaru ikut campur dalam persoalan ini.

Sidanti menjadi semakin marah, ketika dilihatnya beberapa orang berdatangan. Ki Demang Sangkal Putung, bahkan Sekar Mirah dan orang-orang lain.

Dalam saat yang pendek itu, maka Sidanti segera dapat mengambil kesimpulan, bahwa hari ini adalah harinya yang terakhir bagi jabatan keprajuritannya. Hari ini adalah hari penentuan bahwa Sidanti bukan lagi berada dalam lingkungan laskar Pajang. Ia telah gagal mempercepat jalan dan memperpendek jarak dari tingkat ketingkat yang lebih tinggi. Bahkan sampati ketingkat yang paling atas. Dan kini ia harus mempertanggung-jawabkannya. Namun Sidanti itu menjadi berbesar hati, ketika diingatnya gurunya berada di tempat itu pula.

Dan gurunya ternyata tidak membiarkan Sidanti itu menjadi gelisah sendiri. dengan garangnya ia meloncat dai tempat persembunyiannya, dan dengan marahnya ia menggeram sambil berkata, “Hem, kini kita harus berterus terang. Siapa yang harus berhadapan sebagai lawan dan siapakah yang akan dapat kita jadikan kawan. Namun adalah pasti, bahwa Sidanti telah kalian anggap berbuat suatu kesalahan. Nah, cepat katakan kepadaku Widura, apa yang akan kau lakukan? bukankah kau pemimpin dari laskar Pajang ini? Aku menuntut, yang melukai Sidanti dengan curang, harus mendapat hukuman. Setidak-tidaknya ia harus mengalami luka seperti yang dialami Sidanti”

Swandaru menjadi berdebar-debar. Apakah ia mau menerima hukuman itu? Yang terdengar adalah jawaban Sedayu, “Sidanti curang pula. Kami berkelahi tanpa senjata, tetapi Sidanti memungut sepotong kayu”

“Itu bukan senjata. Kau memiliki kesempatan yang sama kalau kau mampu. Tetapi Sidanti tidak menyerang dari belakang”

Ketika Agung Sedayu akan menjawab, Ki Tambak Wedi itu membentak, “Tutup mulutmu. Aku berkata kepada Widura. jangan mencoba bermain-main dengan Ki Tambak Wedi”

Orang-orang yang berdiri di sekitar tempat itu, yang belum reda getar jantungnya atas kehadiran orang yang sedemikian tiba-tiba itu, kembali terguncang ketika mereka mendengar orang itu menyebut dirinya Ki Tambak Wedi.

Sesaat Widura menjadi bimbang. Namun kemudian kembali darah kepemimpinannya mengalir kedadanya. Maka jawabnya, “Aku tidak akan memberikan hukuman apa pun sebelum aku tahu benar, dimana letak kesalahan dari peristiwa ini. Dan apakah sumber yang menyebabkan ini terjadi”

“Persetan” teriak Ki Tambak Wedi. “Kau jangan mengigau Widura. atau aku sendiri yang harus menghukumnya?”

Widura mengerutkan keningnya. Yang berdiri di hadapannya adalah Ki Tambak Wedi, maka segala sesuatu harus dipertimbangkannya masak-masak. Karena itu untuk sesaat ia hanya dapat berdiam diri. Dicobanya untuk mengurai setiap peristiwa yang telah dan bakal terjadi.

Karena Widura tidak segera menjawab, maka Ki Tambak Wedi itu pun membentaknya, “Widura, buka mulutmu”

Widura sama sekali tidak senang mendengar Ki Tambak Wedi membentaknya. Ketika ia berpaling ke arah Sidanti, dilihatnya anak muda itu berdiri gemetar, sedang dari punggungnya menetes darah yang segar. Sekali-sekali tampak ia menyeringai, namun ia masih mencoba untuk berdiri tegak.

Dalam pada itu, Widura sedang menilai setiap orang yang berada di sekitarnya. Dirinya sendiri, Agung Sedayu, sementara itu, beberapa orang laskarnya dan Ki Demang Sangkal Putung. Kalau perlu ia dapat memanggil orang-orang lain, yang pasti akan segera datang juga. Apakah dengan kekuatan itu ia akan dapat menangkap Ki Tambak Wedi? Widura menjadi bimbang. Mungkin hal itu dapat dilakukannya, namun apakah tidak banyak korban yang jatuh karenanya? Mungkin dirinya sendiri, mungkin Agung Sedayu, mungkin Ki Demang Sangkal Putung dan mungkin mereka bersama-sama.

Dalam kebimbangan itu sekali lagi Ki Tambak Wedi berteriak, “Widura, jawab pertanyaanku. Kalau kau mau menyerahkan anak yang melukai punggung Sidanti dan Agung Sedayu, maka aku tidak akan berbuat apa-apa”

Kini Widura mengangkat kepalanya. Sudah pasti permintaan itu tidak akan dapat dipenuhinya. Karena itu, maka jawabnya, “Ki Tambak Wedi, aku adalah orang yang bertanggung jawab terhadap semua yang terjadi di Sangkal Putung. Karena itu aku tidak akan mungkin menyerahkan orang-orangku kepada siapa pun juga, apa pun kesalahannya. Aku sendiri yang harus melakukan hukuman atau segala macam tuntutan atas mereka seandainya mereka ternyata bersalah. Karena itu, tinggalkan Sidanti di sini dan aku akan melihat apakah yang telah terjadi, dan aku akan tentukan siapakah yang bersalah. Aku adalah pemimpin tertinggi dari semua jabatan yang berada di tempat ini, sehingga aku tidak mau ada orang lain yang mencampuri urusanku”

Terdengar Ki Tambak Wedi menggeram. Betapa dadanya serasa terbakar mendengar kata-kata Widura itu. Matanya tiba-tiba menjadi merah menyala, dan rambutnya yang telah memutih di beberapa bagian itu, seakan-akan tegak dibawah ikat kepalanya. Tanpa sesadarnya tangannya menggenggam sabil bergumam, “Setan. Apakah kaliah sudah bosan hidup?”

Sekali lagi Widura melayangkan pandangan matanya. Beberapa orang berdatangan pula berkerumun di sekitar tempat itu. Widura menarik nafas ketika ia melihat sebagian besar dari mereka telah membawa senjata-senjata mereka Kalau terjadi sesuatu maka mereka pasti akan melawan Ki Tambak Wedi itu dengan gigih. Meskipun mereka tahu, Ki Tambak Wedi adalah seorang yang ditakuti oleh hampir segenap orang di sekitar gunung Merapi. Namun dalam melakukan kewajibannya, maka tak akan ada di antara mereka yang mengenal takut. Apalagi mereka dalam satu kelompok. Yang mereka hadapi kini hanya seorang saja, meskipun orang itu Ki Tambak Wedi.

Namun meskipun demikian, sebagian besar dari mereka berada di dalam kebimbangan. Widura sendiri menjadi bimbang karenanya. Bukan karena ia takut mati, tetapi apakah ia akan mengorbankan orang-orangnya yang terpercaya untuk menangkap Ki Tambak Wedi? sedang besok atau lusa Macan Kepatihan masih mungkin menyerang mereka kembali dengan kekuatan yang masih cukup besar? Ternyata di dalam pasukan Macan Kepatihan itu bersembunyi tokoh-tokoh seperti Sanakeling, Alap-alap Jalatunda dan orang-orang lain yang pernah menjadi kebanggaan Jipang. Baru Plasa Ireng lah yang dapat dibinasakan oleh Sidanti itu. Apakah dalam keadaan yang demikian, ia harus mengurangi kekuatan pokoknya untuk menghadapi bahaya yang datang dari jurusan lain? Widura itu menarik nafas. Ia menyesal, benar-benar menyesal, bahwa di dalam tubuhnya ada anak-anak muda seperti Sidanti itu. Tetapi semuanya itu telah terjadi. Dan kini ia dihadapkan pada puncak dari kesulitan itu.

Widura itu terkejut ketika ia mendengar Ki Tambak Wedi membentak pula, “Widura, jangan mimpi. Kau tidak dapat berbuat lain daripada memilih di antara dua. Menyerahkan anak muda yang melukai Sidanti dan Agung Sedayu, atau aku membunuh kalian bersama-sama. Jawab”

Sekali lagi Widura menengadahkan dadanya. Ia tidak dapat ingkar akan kewajibannya. Karena itu jawabnya, “Ki Tambak Wedi, kami adalah prajurit-prajurit. Kami tidak dapat menuruti kehendak dari seseorang yang bertentangan dengan tata keprajuritan. Siapa pun orangnya, meskipun orang itu bernama Ki Tambak Wedi, namun kami terpaksa mempertahankan sendi tata keprajuritan yang menjadi pegangan kami. Kalau kami harus memilih, Ki Tambak Wedi, maka pilihan kami adalah melawan sampai kemungkinan yang terakhir. Bahkan kami telah bertekad untuk menangkap Ki Tambak Wedi dan Sidanti bersama-sama”

“Gila” teriak Ki Tambak Wedi. kemarahannya menjadi semakin memuncak. Namun tiba-tiba ia terpaksa mempertimbangkan keadaannya. Widura ternyata benar-benar telah siap dengan segenap anak buahnya. Mereka yang mendengar kata-kata Widura itu pun tiba-tiba telah meraba hulu pedang mereka. Dalam kemerahan sinar matahari pagi, Ki Tambak Wedi melihat orang-orang yang berkerumun di sekitarnya dengan wajah-wajah yang tegang. Wajah-wajah jantan yang keras dan kasar. Wajah-wajah yang untuk kesekian kalinya dihadapkan kepada kemungkinan yang paling akhir dari hidupnya untuk kewajibannya. Maut.

Ki Tambak Wedi tidak dapat menutup segala penglihatannya. Pengalamannya yang panjang, segera dapat memberikan pertimbangan kepadanya. Betapapun kesaktian yang tersimpan di dalam dirinya, namun untuk melawan sekian banyak orang sekaligus, adalah pekerjaan yang sangat berat dan berbahaya. Mungkin ia akan membunuh separuh dari mereka itu. Namun setelah itu ia akan kehabisan tenaga, dan yang separuh lagi akan dapat menangkapnya, mengikatnya dan membawanya ke Pajang. “Hem” geramnya di dalam hati, “Apakah Ki Tambak Wedi terpaksa diikat tangan dan kakinya digiring ke Pajang?”

Sesaat, halaman belakang kademangan Sangkal Putung itu menjadi sepi. Baik Ki Tambak Wedi maupun Widura terpaksa membuat pertimbangan-pertimbangan yang memragukan diri mereka. Keduanya agaknya segan untuk berbuat sesuatu atas yang lain.

Karena itu, maka suasana menjadi sedemikian tegangnya, ketika tiba-tiba Ki Tambak Wedi itu berkata kepada Sidanti, “Sidanti, ikuti aku. Sangkal Putung sama sekali tak akan memberimu sesuatu”

Sidanti yang luka itu pun menyadari sepenuhnya kata-kata gurunya. Sangkal Putung benar-benar tak akan memberinya sesuatu. Dan ia sependapat dengan gurunya, meninggalkan Sangkal Putung. Tetapi masih ada yang menjadikannya bimbang. Senjatanya berada di pendapa kademangan.

Dengan ragu-ragu ia berkata, “Guru, bagaimana dengan senjataku?”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya, “Apakah keberatanmu dengan senjata itu. Senjata itu dapat dibikin. Besok aku bikinkan senjata semacam itu untukmu”

Sidanti tidak menunggu apa-apa lagi. Segera ia beringsut ke samping gurunya.

Tetapi Widura melangkah selangkah maju. Kembali kebimbangan melandanya. Apakah ia akan bertindak terhadap Ki Tambak Wedi dan Sidanti? Tetapi apakah ia akan memberikan pengorbanan yang sangat besar untuk mereka berdua?

Ki Tambak Wedi yang melihat Widura itu bergerak, segera menggeram, “Widura, aku akan pergi. Kalau kau membuat kegaduhan di antara anak buahmu, baiklah. Mari kita mati bersama-sama. Kau tidak akan dapat menangkap Ki Tambak Wedi. aku akan membuat timbangan di antara kekuatan kita. Mungkin kau akan dapat membunuh aku, tetapi tiga perempat dari kalian pasti akan mati bersama aku. Jangan mimpi mengikat tangan Tambak Wedi”

Dada Widura itu pun berdesir. Ia percaya akan kata-kata itu. Tiga perempat daripadanya, atau sedikit-sedikitya separuh pasti akan mati. Karena itu, maka ia tetap tegak di tempatnya ketika Ki Tambak Wedi dan Sidanti beringsut mundur dari tempatnya.

Agung Sedayu menjadi gemetar melihat keadaan itu. Dengan wajah yang merah membara ia menatap wajah pamannya. Tetapi ia tidak berkata sesuatu. Namun, tatapan matanya cukup mengatakan hasratnya untuk menangkap Sidanti.

Agung Sedayu terkejut ketika pamannya menggeleng. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, ia tidak akan dapat menangkap Ki Tambak Wedi itu seorang diri. Meskipun demikian, tanpa sesadarnya ia pun beringsut dari tempatnya.

Ia terkejut ketika tiba-tiba dalam gerakan yang sangat cepat di tangan Ki Tambak Wedi itu telah tergenggam dua buah gelang. Masing-masing sebuah. Gelang dari sepotong besi yang dilengkungkannya. Dengan gelang itu pula, ia mampu menangkis serangan pedang dan alat pemukul lainnya.

Demikianlah, maka akhirnya Widura terpaksa melepaskan Ki Tambak Wedi itu pergi. Dengan penuh pertimbangan Widura masih lebih mengutamakan Macan Kepatihan dengan seluruh laskarnya daripada Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Widura mengharap bahwa Ki Tambak Wedi untuk sementara tidak akan berbuat sesuatu. Sedang Macan Kepatihan dengan laskarnya yang masih cukup kuat itu pasti akan menyerang Sangkal Putung kembali. Mungkin Ki Gede Pemanahan sendiri atau gurunya akan dapat dengan mudah melenyapkan Ki Tambak Wedi yang hanya seorang diri itu.

Namun dengan hilangnya Ki Tambak Wedi, maka bahaya yang sebenarnya akan selalu menghantui Agung Sedayu, Swandaru yang telah melukai Sidanti, dan Widura sendiri.

Demikianlah, ketika Ki Tambak Wedi itu hilang dari lingkungan mereka, segera Agung Sedayu bertanya, “Paman, kenapa mereka itu kita lepaskan?”

Widura menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Dengan menangkap Ki Tambak Wedi, maka aku pasti akan melepaskan lebih separuh dari laskar kita. Seperti yang dikatakannya sendiri, ia sama sekali tidak akan dapat kita tangkap hidup-hidup. Ki Tambak Wedi itu pasti akan menyerah apabila ia telah mati dengan membawa korban yang tidak sedikit dari antara kita”

Agung Sedayu menundukkan wajahnya. Tetapi, ia dapat mengerti pikiran pamannya. Pamannya adalah seorang yang di tempatkan di Sangkal Putung untuk menghadapi Macan Kepatihan sehingga karena itu, maka segenap perhatian, perhitungan dan kekuatan dipusatkannya dalam menghadapi lawannya itu. Persoalan lain yang tidak menyangkut itu, adalah bukan tanggung-jawabnya yang utama, sehingga juga dalam menghadapi Ki Tambak Wedi, maka Widura itu pun memeprhitungkan kemungkinan-kemungkinan itu.

Sesaat kemudian orang-orang yang berkerumun itu pun menjadi sadar bahwa bahaya yang dihadapinya telah menghilang. Dengan lega mereka menarik nafas panjang. Dan satu demi satu mereka pun segera pergi meninggalkan tempat itu setelah Widura berkata kepada mereka, “Kembalilah ke tempat masing-masing. Tetapi jangan lupakan kewaspadaan. Peristiwa ini akan dapat berbuntu panjang”. Kemudian kepada ki Demang Widura berkata, “Kakang Demang, apakah pintu butulan itu boleh kami tutup saja?”

“Silakan, silakan” sahut Ki Demang.

Pintu butulan dinding belakang itu pun segera ditutup. Pintu itu hanya boleh dibuka setiap ada kepentingan yang perlu. Mereka yang pergi ke sungai kecil itu harus mengambil jalan lain, jalan di samping dinding kademangan. Tetapi Widura sadar, bahwa apa yang dilakukan itu hampir tak ada gunanya. Ki Tambak Wedi sama sekali tidak memerlukan pintu itu. Ia dapat meloncat atau memanjat atau apa pun yang ingin dilakukan. Namun, dengan demikian maka kemungkinan-kemungkinan yang kecil dapat dihindarinya.

Widura sendiri itu pun kemudian kembali masuk ke pringgitan bersama Agung Sedayu. Dilihatnya Ki Tanu Metir masih duduk di tempatnya. Ketika ia melihat Widura dan Agung Sedayu yang biru pengab, segera ia bertanya dengan nada cemas, “Kenapa wajahmu ngger?”

Dengan singkat Agung Sedayu mengatakan apa yang terjadi. Tanpa syak tanpa curiga. Dikatakan semuanya yang telah dialaminya.

Ki Tanu Metir mendengarkan setiap kata-kata Agung Sedayu itu dengan seksama. Sesaat Ki Tanu Metir itu mengangkat wajahnya yang memancarkan kecemasan dan kebimbangan. Tanpa sesadarnya ia berkata, “Jadi, Ki Tambak Wedi itu kini membawa Sidanti serta meninggalkan Sangkal Putung?”

“Ya” jawab Agung Sedayu.

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Sehingga pringgitan itu pun menjadi sepi.

Diluar panas matahari mulai membakar dedaunan yang letih. Di sana sini, dibawah batang-batang pohon yang rindang, beberapa orang duduk dengan malasnya. Ada di antaranya yang berbaring-baring di atas helaian anyaman daun-daun nyiur tua.

Dalam keheningan itu, terdengarlah tiba-tiba suara Untara yang lemah, “Jadi Sidanti itu tidak kalian tangkap?”

Widura terkejut mendengar suara Untara. Maka segera ia berdiri dan berjalan mendekati, diikuti oleh Ki Tanu Metir dan Agung Sedayu.

Dengan ragu-ragu Widura menjawab, “Tidak Untara. Terpaksa aku tidak dapat menangkap anak muda itu, karena gurunya tiba-tiba datang melindunginya”

“Ki Tambak Wedi?” bertanya Untara

Widura mengangguk, “Ya” sahutnya. “Mungkin aku dapat menangkap Ki Tambak Wedi itu sendiri, namun berapa orang yang harus aku korbankan?”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Sekali ia menyeringai menahan sakit, namun sesaat kemudian wajahnya menjadi tenang kembali.

“Bagaimana dengan lukamu?” bertanya Widura

“Sudah jauh berkurang. Tidak terlalu pedih. Namun tubuhku masih lemah sekali”

“Ya. Beristirahatlah sebaik-baiknya” berkata Widura

Tetapi Untara itu bertanya kembali, “Apakah Agung Sedayu berkelahi dengan Sidanti?”

“Ya” jawab Widura, “Wajahnya menjadi biru-biru dan Sidanti terluka oleh Swandaru”

Sekali lagi Untara menarik nafas dalam-dalam. Persoalan Sangkal Putung benar-benar akan menjadi pelik. Sidanti itu pasti akan menyimpan dendam di dalam hatinya. Kepada dirinya, kepada Agung Sedayu dan kini kepada Swandaru, dan kepada pamannya itu sendiri. Sekilas ia membuka matanya dan memandang wajah Ki Tanu Metir. Namun tiba-tiba Ki Tanu Metir menggeleng lemah. “Mudah-mudahan mereka segera dapat ditangkap” desah Untara

Widura terkejut mendengar kata-kata itu. Apakah ia harus menangkap Ki Tambak Wedi? meskipun demikian Widura itu tidak bertanya sesuatu. Ketika dilihatnya Untara memejamkan matanya kembali, maka Widura itu kembali duduk bersama Agung Sedayu dan Ki Tanu Metir. Sementara itu Ki Demang dan Swandaru datang pula di antara mereka.

Hari itu adalah hari yang tegang bagi Sangkal Putung. Hampir setiap orang tidak terpisah dari senjata mereka. Mungkin Macan Kepatihan, mungkin Ki Tambak Wedi. namun mereka telah bertekad untuk melakukan tugas mereka sebaik-baiknya.

Gardu penjagaan pun masih juga diperkuat. Beberapa pengawas berkuda hilir mudik di sekitar daerah kademangan Sangkal Putung. Namun Sangkal Putung sendiri menjadi sangat sunyinya. Hampir setiap rumah telah menutup pintunya, dan hampir setiap anak-anak tidak berani keluar dari rumah mereka. Bahkan ada di antaranya yang masih belum berani pulang ke rumah sendiri. mereka masih saja tinggal di kademangan atau banjar desa.

Ki Tanu Metir pun kemudian tidak hanya megobati Untara, tetapi ia pun pergi juga ke banjar desa. Dan dicobanya pula untuk meringankan setiap penderitaan dari mereka yang terluka.

Bukan saja hari itu Sangkal Putung diliputi oleh ketegangan. Beberapa orang pengawas yang dipasang oleh Untara masih saja memberikan laporan bahwa Macan Kepatihan masih menyusun kekuatannya di sekitar tempat itu. Karena itu, maka Untara itu berkesimpulan bahwa laskar Pajang lah yang harus mengambil prakarsa membersihkan mereka. Mereka tidak boleh menunggu saja di Sangkal Putung. Menunggu apabila Macan Kepatihan datang menyerang mereka kembali. Tetapi laskar Pajang suatu ketika harus mencari mereka. Menghancurkan mereka di sarang-sarang mereka. Karena dengan demikian, maka pekerjaan laskar Pajang di Sangkal Putung akan lekas selesai.

Tetapi Widura tidak dapat dengan tergesa-gesa melakukan pekerjaan itu. Menurut perhitungannya, kekuatan Macan Kepatihan masih cukup banyak untuk mengimbangi kekuatan laskarnya. Dan di dalam pasukan mereka terdapat seorang Macan Kepatihan yang berbahaya, dan beberapa orang penting yang lain.

Untara pun menyadari keadaan itu, sehingga kemudian diambilnya ketetapan bahwa gerakan itu akan segera dilakukan apabila Untara telah sembuh benar dari sakitnya itu.

Namun ketegangan itu semakin lama menjadi semakin tipis. Ternyata Macan Kepatihan tidak segera mengadakan penyerangan kembali. Agaknya mereka masih juga memperhitungkan setiap kemungkinan. Dan hilangnya Plasa Ireng pun pasti mempengaruhi keadaan mereka. Bukan saja keadaan Tohpati beserta pasukannya yang tidak lagi tampak di seputar Sangkal Putung, namun perlahan-lahan mereka melupakan pula Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Demikian pula Agung Sedayu dan Swandaru. mereka semakin lama menjadi semakin kehilangan perhatian atas orang yang menakutkan itu.

Tetapi Widura tidak mau melengahkan diri dan seluruh laskarnya. Setiap hari ia masih saja mengawasi sendiri keadaan anak buahnya. Bahkan setiap malam pun ia masih berjalan dari satu gardu kegardu yang lain. Dan diperingatkannya setiap penjaga gardu itu, bahwa bahaya yang sebenarnya masih saja berada di sekitar Sangkal Putung.

Namun ternyata Widura sendiri telah melupakan setiap kemungkinan yang paling berbahaya bagi dirinya dan Agung Sedayu. Ternyata, mereka berdua sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas diri mereka.

Demikianlah, ketika mereka sedang nganglang kademangan, tiba-tiba mereka terhenti sebelum mereka sampai ke ujung jalan yang mengelilingi daerah Gunung Gowok. Mereka terhenti ketika mereka melihat sesosok tubuh berjongkok ditepi jalan itu.

Widura bukanlah seorang anak kecil yang bodoh. Ketika ia melihat orang itu, segera ia menjadi curiga. Karena itu, maka digamitnya Agung Sedayu, dan keduanya pun berhenti.

“Kau lihat orang itu?” bertanya Widura berbisik.

“Ya” sahut Agung Sedayu perlahan-lahan.

“Siapa menurut dugaanmu?”

Agung Sedayu menggeleng, “Entahlah”

Widura mengangkat alisnya. Kemudian katanya, “Hanya ada dua kemungkinan. Ki Tambak Wedi atau Tohpati”

“Tohpati tidak akan seorang diri berada di tempat ini” sahut Agung Sedayu.

“Mungkin saja” jawab Widura. “Beberapa orang lain berada di tempat lain pula. atau orang yang diumpankannya untuk memancing kita”

Agung Sedayu menarik nafas. Meskipun demikian mereka menjadi berdebar-debar juga. Baru saat itu mereka menyadari, bahwa bahaya yang demikian itu memang dapat terjadi. Tetapi kesadaran itu datangnya agak terlambat, sebab bahaya itu sendiri telah berada dipelupuk mata mereka. Beberapa saat terakhir, seakan-akan mereka telah melupakan kemungkinan ini. Namun kelengahan itu telah membawa mereka kedalam satu bahaya.

Kini mereka tidak akan dapat mundur lagi, siapa pun yang akan mereka hadapi. Karena itu, maka Widura itu pun kemudian berkata, “Marilah kita lihat, siapa orang itu.”

“Kita tidak usah mendekat” berkata Widura.

“Lalu bagaimana ?” bertanya Agung Sedayu

“Biarlah ia yang mendekat.”

“Apakah ia mau?”

“Marilah kita lihat” jawab Widura. Widura kemudian tidak menunggu jawaban Agung Sedayu lagi. Perlahan-lahan ia berjalan menepi dan duduk dengan enaknya di tepi jalan. Namun demikian, pedangnya telah disiapkannya, seandainya ada sesuatu yang tiba-tiba harus dihadapinya.

Agung Sedayu kini telah memahami maksud pamannya. Karena itu, maka ia pun berjalan menepi pula, dan berjongkok berhadapan dengan pamannya itu.

“Kalau orang itu ingin bertemu dengan kita, ia pasti akan datang kemari” berkata pamannya.

“Ya” sahut Agung Sedayu.

“Kalau ia akan bertahan di tempatkannya, maka biarlah kita tunggu di sini sampai besok siang.”

Agung Sedayu tersenyum. Meskipun demikian debar jantungnya menjadi semakin cepat. Seandainya orang itu benar-benar Ki Tambak Wedi, maka apakah mereka berdua akan mati sebelum mereka menyelesaikan pekerjaan mereka yang sebenarnya. Menumpas sisa-sisa laskar Jipang.

Agung Sedayu kini sudah bukan seorang penakut lagi. Tetapi ia mempunyai beberapa perhitungan, yang dikatakannya kepada pamannya. “Paman, adalah tidak menguntungkan sekali seandainya orang itu benar-benar Ki Tambak Wedi. Apakah dengan demikian kita tidak akan kehilangan kesempatan untuk melawan Tohpati dengan laskarnya?”

Widura mengangguk-angguk. “Kau benar Sedayu” katanya, “tetapi kita sudah tidak mempunyai kesempatan lagi. Kita hanya tinggal memilih satu kemungkinan. Mempertahankan diri. Apalagi? Kalau kita kembali sekalipun maka orang itu pasti akan mengejar kita, dan kita harus bertempur pula.”

“Tidak dapatkah kita memberikan tanda bahaya?”

“Kita tidak membawa alat untuk itu. Yang ada pada kita hanyalah sehelai pedang.”

Agung Sedayu terdiam. Jawaban pamannya tak akan dapat dipungkiri. Seandainya mereka berjalan kembali, maka orang itu pasti akan mengejarnya, atau bahkan menyerang dari arahnya dengan senjata-senjata jarak jauh. Paser atau bandil atau apa pun yang akan dapat dilemparkannya.

Tiba-tiba Agung Sedayu itu teringat akan sesuatu. Ia mempunyai beberapa kelebihan dengan daya bidiknya. Mungkin akan mengurangi tekanan-tekanan yang akan dilakukan oleh orang yang berjongkok di pinggir jalan itu. Karena itu, maka tiba-tiba saja Agung Sedayu itu pun mengumpulkan beberapa butir batu yang berada di sekitarnya.

“Untuk apa?” bertanya Widura.

Agung Sedayu tersenyum meskipun masam. “Kalau kita yakin bahwa orang itu lawan kita siapa pun ia, maka aku akan menyerangnya sebelum orang itu mendekat.”

Widura menjadi tersenyum pula. Jawabnya, “Tak ada gunanya.”

Agung Sedayu menggigit bibirnya. Meskipun demikian, ia tetap pada pendiriannya.

Tetapi sesaat mereka duduk di pinggir jalan. Orang yang berjongkok itu pun tidak bergerak. Orang itu masih juga berada di tempat itu juga. Karena itu, maka Widura dan Agung Sedayu adalah menjadi semakin lama semakin gelisah

“Orang itu memang membiarkan kita menjadi gelisah” bisik Widura, “tetapi biarlah. Kita akan tetap berada di tempat ini.”

“Ya” sahut Agung Sedayu pendek.

Sebenarnyalah bahwa kegelisahan mereka sudah hampir tak tertahankan lagi. Orang itu sama sekali tidak bergerak dan seakan-akan sebuah patung yang mati.

Sikap itu sama sekali tidak menyenangkan bagi Widura dan Agung Sedayu. Ketika kegelisahan Agung Sedayu telah memuncak, maka ia berkata, “Paman, biarlah aku mencoba melamparnya dengan batu, apakah ia masih akan berdiam diri? Aku kira aku akan dapat mengenainya.”

“Jangan” jawab Widura, “kita jangan menjadi gelisah. Kita harus tetap tenang. Orang itu sengaja membuat kita gelisah.

Agung Sedayu terdiam. Namun dadanya benar-benar akan menjadi pecah karena kegelisahan yang menghentak-hentak. Meskipun berkali-kali pamannya mengatakan bahwa orang itu sengaja membiarkan mereka elisah, namun Agung Sedayu itu benar-benar hampir pingsan dibuatnya.

Sedemikian gelisahnya Agung Sedayu sehingga sekali ia berdiri, kemudian kembali berjongkok di hadapan pamannya. Sesaat kemudian dengan lesunya ia membantingkan diri duduk di sini Widura.

Sebenarnya Widura itu sendiri pun menjadi sangat gelisah. Namun ia masih berhasil mengendalikan dirinya. Ia masih tetap dalam sikapnya. Siap untuk menarik pedangnya apabila terjadi sesuatu.

Di Kademangan Sangkal Putung. Ki Tanu Metir duduk sambil mengantuk. Sekali-sekali Untara yang telah menjadi berangsur baik, bertanya-tanya kepadanya. Namun dengan segannya orang tua itu menjawab sekenanya.

“Apakah Ki Tanu Metir sudah mengantuk?” bertanya Untara

“Hem” sahut Ki Tanu Metir sambil menguap, “aku tidak biasa mengantuk pada saat-saat eperti ini. Kalau tengah malam sudah lampau, biasanya barula haku mengantuk. Tetapi kali ini mataku rasa-rasanya tak mau dibuka lagi”

“Kenapa?” bertanya Untara

“Mungkin aku makan terlalu kenyang” jawab Ki Tanu Metir

Untara tertawa. biasana Ki Tanu Metir itu, pada saat-saat yang demikian ini, pergi berjalan-jalan keluar. Baru segelah lewat tengah malam orang tua itu kembali ke pringgitan. Karena itu, maka Untara bertanya pula, “Ki Tanu, apakah Kiai tidak ingin berjalan-jalan?”

Sekali lagi Ki Tanu Metir itu menguap. Jawabnya, “Setiap hari aku pergi berjalan-jalan. Tetapi kali ini rasa-rasanya agak segan. Mungkin karena aku sudah terlalu lelah”

“Ya” jawab Untara singkat. Ia tahu benar, bahwa Ki Tanu Metir sibuk mengobati orang-orang yang terluka dan dirawat dibajar kademangan. Karena itu, maka Untara itu pun kemudian berdiam diri. Tetapi tiba-tiba ia mendengar Ki Tanu Metir berkata, “Angger Widura dan Angger Sedayu agaknya mempunyai keperluan yang khusus, sehingga sampai saat ini masih belum kembali”

“Apakah ini telah melampaui tengah malam?” bertanya Untara

“Hampir tengah malam” sahut Ki Tanu Metir, “Biasanya pada saat-saat begini mereka telah kembali”

Untara tidak menjawab. mungkin sekali mereka berdua berhenti di salah satu gardu perondan. Berkelakar dengan para petugas, atau menunggu mereka merebus ubi kayu. Tetapi agaknya Ki Tanu Metir berpendapat lain. Katanya, “Hem, aku menjadi semakin mengantuk”

“Tidurlah Kiai” berkata Untara, “Lebih baik ki Tanu beristirahat. Tenaga Kiai masih sangat diperlukan di sini”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Setiap malam aku keluar berjalan-jalan. Aku kira lebih baik aku berjalan-jalan pula malam ini supaya kantukku hilang. Orang yang tidur sebelum tengah malam, rejekinya akan berkurang”

Untara tertawa. Jawabnya, “Jangan terlalu jauh Kiai”

Ki Tanu Metir tertawa pula, “Kenapa?” ia bertanya.

Kembali Untara tertawa. ia tahu benar, bahwa ia tidak perlu memperingatkan orang tua itu. Karena itu, maka jawabnya, “Nanti Kiai jadi lapar lagi”

Ki Tanu Metir itu pun tertawa. Ki Demang Sangkal Putung yang baru datang, dan mendengar percakapan itu pun tertawa pula. sambungnya, “Jangan takut Kiai, didapur masih tersedia ubi rebus”

“Terima kasih” sahut Ki Tanu Metir sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terima kasih. Mudah-mudahan aku tidak memerlukannya”

Ki Tanu Metir itu pun kemudian berdiri dan perlahan-lahan berjalan keuar prtinggitan. Belum lagi ia melangkahi pintu, maka terdengar Ki Demang berkata, “Apakah aku perlu mengantarkan Kiai?”

“Tidak, tidak” jawab Ki Tanu Metir cepat-cepat, “Jangan repot karena aku. Biarlah aku berjalan-jalan sendiri. mungkin ke banjar desa, melihat mereka yang terluka, atau mungkin ke gardu-gardu peronda”

“Jangan ke gardu peronda. Di jalan Kiai dapat bertemu dengan bahaya”

“Oh ya, baiklah” berkata Ki Tanu Metir

Kemudian Ki Tanu Metir itu pun pergi meninggalkan Ki Demang yang kini duduk mengawani Untara. Dalam kegelapan malam, Ki Tanu Metir itu meraba-raba tongkatnya menuju kegerbang halaman.

“Selamat malam Kiai” bertanya orang yang sedang bertugas, “Apakah Kiai akan berjalan-jalan?”

“Ya” jawab Ki Tanu Metir

Orang yang sedang bertugas itu telah mengetahui kebiasaan Ki Tanu Metir itu. Setiap malam berjalan-jalan keluar halaman menikmati sejuknya udara. Karena itu, maka kepergian Ki Tanu Metir itu sama sekali tidak menarik perhatian mereka. Seorang yang sedang duduk menguap di samping regol berkata, “Hem, dingin Kiai. Apakah Kiai tidak lebih senang tidur saja?”

“Uh” sahut Ki Tanu Metir, “Sejak muda aku tidak pernah tidur sebelum lewat tengah malam”

Dan Ki Tanu Metir itu pun berjalan tertatih-tatih menyusup kedalam gelapnya malam. Namun setelah cukup jauh tiba-tiba Ki Tanu Metir itu berpaling. Sekali ia menarik nafas panjang. Kemudian disangkutkannya kain panjangnya. Dan tiba-tiba orang tua itu berjalan tergesa-gesa. Gumamnya, “Hem, kenapa hari ini aku lebih senang terkantuk-kantuk di kademangan? Justru hari ini angger Widura dan angger Agung Sedayu pulang terlambat. Mudah-mudahan tak ada seusatu yang mengganggunya”

Meskipun demikian orang tua itu berjalan dengan cepatnya menyusup kegelapan. Kini Ki Tanu Metir itu sama sekali tidak mempergunakan tongkatnya lagi. Ketika dilihatnya di hadapannya sebuah gardu perondan, maka segera dengan tangkasnya ia menyelinap dan hilang di balik pagar. Kini orang tua itu menyusup di antara rimbunnya dedaunan dan dengan cepatnya berjalan melingkari gardu perondan itu.

Dalam pada itu Agung Sedayu yang duduk di pinggir jalan dengan gelisahnya, benar-benar tak dapat menguasai dirinya lagi. Karena itu, maka katanya, “Paman, aku dapat menjadi gila karenanya. Marilah kita datang kepadanya, kita tanyakan apakah keperluannya”

“Itulah yang diharapkannya. Kita kehilangan kesabaran dan pengamatan diri”

Agung Sedayu menggeram. Ia dapat mengerti kata-kata pamannya, namun ia tidak dapat melawan perasaan gelisahnya, sehingga karenanya maka tubuhnya segera dilumuri oleh keringat dingin yang mengalir dari segenap permukaan kulitnya.

Meskipun demikian, Agung Sedayu bertanya juga kepada pamannya, “Paman, apakah bedanya, seandainya kita harus benar-benar bertempur, menunggu atau datang kepadanya?”

“Kalau orang itu Ki Tambak Wedi, Sedayu, maka keadaan kita memang hampir sama saja. Tetapi kalau orang itu Tohpati, maka kita akan mendapat beberapa keuntungan. Kalau kita maju lagi, mungkin kita akan dijebak oleh orang-orangnya. Sedangkan kalau kita berada di sini, maka kita mempunyai garis ancang-ancang yang cukup luas”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat juga mengerti keterangan itu. Bahkan seandainya orang itu Ki Tambak Wedi pun maka mereka akan lebih banyak waktu untuk memersiapkan diri mereka. Tetapi kenapa mereka harus menunggu terlalu lama?

“Agung Sedayu” berkata Widura, “Sebenarnya pertempuran antara kita melawan orang itu sudah kita mulai. Dalam taraf ini kita sedang mengadu ketabahan jati kita masing-masing. Apakah kita dapat mengendalikan diri atau tidak. Siapa yang lebih dahulu kehilangan kesabaran maka ialah yang lebih dahulu akan kehilangan ketenangan. Seandainya kekuatan kita dengan orang itu seimbang, maka siapa yang kehilangan ketenangannya pasti akan kalah”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia tidak dapat menyabarkan dirinya sendiri lebih lama lagi. Bahkan akhirnya ia berkata, “Paman, meskipun kita tidak mulai lebih dahulu, sebenarnya kita telah kehilangan ketenangan itu. Semakin lama kita menahan diri, maka ketenangan kita akan menjadi semakin tipis. Karena itu selagi kita masih menyadari keadaan, maka marilah kita lihat siapakah yang berada di hadapan kita itu”

Widura menarik nafas. Ia pun sebenarnya telah hampir kehabisan kesabarannya pula. Untunglah bahwa ia masih bersabar sesaat. Namun ternyata waktu yang sesaat itu telah benar-benar menguntungkannya. Bukan karena orang yang berjongkok itu menjadi bingung dan kehilangan ketenangan, tetapi sebenarnya bahwa mereka masih mendapat perlindungan dari Kekuasaan yang melampaui segenap Kekuasaan.

Akhirnya ternyata Agung Sedayu itu menjadi benar-benar tidak dapat mengendalikan dirinya. Kini ia tidak minta ijin lagi kepada pamannya. Dengan serta-merta ia berdiri dan dengan sekuat tenaganya ia melemparkan sebuah batu mengarah kepada orang yang berjongkok di pinggir jalan itu.

Tetapi alangkah kecewanya, dan bahkan kemarahan di dalam dadanya menjadi semakin menyala, ketika orang itu sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Apalagi bergerak, sikapnya pun sama sekali tidak berubah. Jongkok.

“Hem” Agung Sedayu menggeram.

“Sudahlah Sedayu” cegah pamannya.

“Aku tidak sabar lagi. Aku akan datang kepadanya dan akan melihat wajahnya. siapakah orang yang bermain hantu-hantuan itu”

“Jangan” pamannya segera memotong kata-katanya.

“Biarlah” sahut Agung Sedayu.

“Jangan” ulang pamannya.

Agung Sedayu menjadi kecewa. Tetapi ia tidak berani melanggar kata-kata pamannya. Karena itu, maka ia menjadi semakin bingung.

Tetapi ternyata ketabahan hati Widura telah menjengkelkan orang yang berjongkok itu. Orang itu memang membiarkan Widura dan Agung Sedayu menjadi gelisah dan bingung. Tetapi yang dilihatnya hanya Agung Sedayu sajalah yang benar-benar seperti cacing kepanasan. Sedang Widura masih saja duduk di tempatnya tanpa bergerak. Orang itu ingin melihat keduanya menjadi bingung dan dengan demikian, ia akan mendapat permainan yang lucu dan menyenangkan. Tetapi harapannya itu hanya separuh berhasil. Ia hanya melihat Agung Sedayu yang berjingkat-jingkat, berdiri, berjongkok, duduk dan segala macam perbuatan-perbuatan yang aneh.

Karena itu, maka akhirnya ia menganggap bahwa ia tidak perlu menunggu permainan yang lucu itu lebih lama lagi. Disadarinya bahwa cara berpikir pemimpin laskar Pajang itu benar-benar sudah dewasa. Karena itu, maka ia harus membuat permainan yang lain. Mula-mula ia sama sekali tidak menghiraukan lemparan-lemparan batu Agung Sedayu. Dengan sepotong besi batu-batu itu dipukulnya ke samping. Sedemikian cepatnya, sehingga Agung Sedayu sama sekali tidak melihat gerak itu.

Kini ia akan membuat permainan yang lain. Ia ingin melihat Agung Sedayu mati ketakutan atas setidak-tidaknya karena dibakar oleh kemarahannya. Mati dengan cara itu adalah mengerikan sekali. Karena itu, maka orang itu pun tersenyum.

Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Widura benar-benar menjadi sangat terkejut. Sesaat mereka bercakap-cakap sehingga mereka tidak melihat orang yang berjongkok itu. Namun sesaat itu benar-benar telah mendebarkan jantung mereka. Orang yang berjongkok itu telah lenyap.

“Gila” tiba-tiba Agung Sedayu itu pun berteriak, “Kemana orang itu?”

“Jangan berteriak” potong Widura. tetapi Widura itu pun menjadi bersiaga. Ia pun segera berdiri dan menarik pedang dari wrangkanya. Beberapa langkah ia berjalan ketengah jalan dan berbisik, “Orang itu akan menyerang kita dari arah yang tidak kita ketahui”

“Kemana orang itu?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku sangka ia berguling masuk keparit di pinggir jalan itu. Dari sana ia dapat pergi kemana saja yang disukainya. Karena itu kita harus bersiap menghadapi lawan dari segala arah. Ia dapat selalu memperhatikan kita, sedang kita tidak dapat melihat orang itu”

“Marilah kita cari”

“Sangat berbahaya” sahut pamannya, “Aku kini pasti. Orang itu bukan Macan Kepatihan, tetapi Ki Tambak Wedi. Macan Kepatihan tidak akan berbuat sedemikian. Ternyata Ki Tambak Wedi mencoba membunuh kita dengan cara yang paling jahat yang dapat dilakukannya”

Agung Sedayu menggeram. Tiba-tiba tangannya pun telah menggenggam pedangnya. Dengan suara yang berat ia berkata, “Akhirnya akan sama saja paman. Kenapa kita tidak datang menyerangnya”

“Sudah aku katakan” sahut pamannya, “Aku, sebelum ini tidak yakin kalau orang itu Ki Tambak Wedi”

Agung Sedayu tidak menjawab. tiba-tiba ia berputar sambil berteriak, “Ayo, kemarilah. Kita bertempur beradu pedang”

“Jangan berteriak Sedayu” desis pamannya.

“Punggungku dilemparnya dengan batu” sahut Agung Sedayu.

Pamannya mengerutkan keningnya. Ki Tambak Wedi benar-benar ingin mempermainkan mereka. Karena itu, maka betapa kemarahan melonjak dikepalanya. Tetapi Ki Tambak Wedi itu belum dilihatnya.

Agung Sedayu benar-benar menjadi sangat marah dan bingung, sehingga benar-benar seperti orang yang kehilangan kesadaran diri. Sekali-sekali terasa punggungnya dikenai oleh lemparan-lemparan batu dari arah yang tak diketahuinya.

“Agung Sedayu” berkata Widura, “Jangan menjadi bingung dan kehilangan pengamatan. Tenanglah. Kita sudah bersedia menghadapi segala kemungkinan”

Kembali Agung Sedayu menggeram. Tetapi ia mencoba menenangkan dirinya. Sekali dua kali dibiarkannya beberapa butir batu mengenainya, namun ternyata semakin lama menjadi semakin keras. Betapapun ia mencoba berdiam diri, tetapi kembali kemarahannya itu meledak. Sehingga terdengar ia berteriak, “Ayo yang bersembunyi di balik alang-alang atau di balik gerumbul-gerumbul itu. Kemarilah, kita bertempur sebagai laki-laki. Jangan bersembunyi dan menyerang sambil bersembunyi”

Tetapi masih belum terdengar jawaban, sehingga Agung Sedayu seolah-olah benar-benar menjadi gila.

Widura pun telah kehabisan akal. Bagaimana ia akan melawan orang yang tidak dilihatnya. Orang itu pasti bersembunyi sambil berpindah-pindah. Dengan demikian, ia akan dapat menyerangnya menurut arah yang dikehendaki. Namun akhirnya Widura harus mengambil sikap yang dapat memecahkan kebingungan itu. Ia harus berani menghadapi akibat yang paling parah sekalipun. Karena itu, maka katanya berbisik, “Sedayu. Kita tidak akan dapat tetap tinggal di tempat ini. Kita pun harus mengambil sikap. Mari kita bersembunyi pula dengan kemungkinan yang paling pahit, apabila kita menyuruk kegerumbul yang di tempati olehnya. Tetapi kalau tidak kita tidak akan menjadi bulan-bulanan lagi. Dan kita mempunyai kesempatan yang sama dengan orang itu”

“Marilah paman” sahut Agung Sedayu yang juga telah kehilangan akal. Ia sudah tidak dapat berpikir lagi. Sehingga apa saja yang harus dilakukannya, dilaksanakannya tanpa pertimbangan.

Tetapi tiba-tiba didengarnya suara tertawa di dalam semak-semak diseberang parit. Suara itu tidak terlalu keras, tetapi benar-benar menyakitkan hati. Disela-sela suara tertawa itu terdengar ia berkata, “Agung Sedayu. Aku senang sekali melihat kau kebingungan seperti kera yang ekornya terbakar. Kalian tak usah bersembunyi kemana pun sebab akibatnya akan sama saja. Aku akan selalu dapat melihat kalian. Karena itu lebih baik kalian berada di tempat yang terbuka supaya besok ada yang dapat menemukan mayat kalian”

Bukan main marah Widura dan Agung Sedayu mendengar suara itu. Namun suara itu seakan-akan memancar dari tempat yang tak dapat diketahui. Suara itu seakan-akan melingkar-lingkar dan bergetaran dari segenap arah.

Sesaat kemudian suara itu berkata kembali, “Agung Sedayu dan Widura. aku sudah berkeputusan untuk membunuh kalian dengan bantuan kalian sendiri. Kemarahan dan kebingungan, kesakitan dan kelelahan adalah cara pembunuhan yang paling dahsyat. Meskipun kalian tidak menjadi ketakutan, tetapi bagiku tidak ada bedanya. Kalian menderita sebelum ajal datang”

“Setan” sahut Widura, “Itu bukan perbuatan seorang jantan”

Kembali suara tertawa itu menggetar. “Jangan mengumpat-umpat” katanya. “Kau hanya akan menambah dosa saja. Sebaiknya kalian berbaring saja disitu, tenangkan hatimu dan berdo’alah supaya nyawamu tidak tersesat masuk neraka”

“Diam, diam!” teriak Agung Sedayu, “Aku sobek mulutmu dengan pedangku ini”

“Bagus, bagus” sahut suara itu, “Sobeklah kalau kau ingin. Mulut ini memang tidak terlalu lebar”

Mereka berdua, Widura dan Agung Sedayu semakin lama menjadi benar-benar hampir gila dibakar oleh perasaan sendri. Dan suara itu pun masih selalu mengganggunya dari arah yang tidak ketahuan. Mudah-mudahan Widura masih dapat menyadari, bahwa orang itu pasti berpindah-pindah tempat. Namun disadarinya pula bahwa orang itu adalah seorang yang sakti. Tetapi semakin lama kesadarannya menjadi semakin tipis, sehingga akhirnya suara itu seakan-akan melingkar-lingkar di langit yang kelam.

Namun dalam kebingungan yang hampir menelan Widura dan Agung Sedayu itu tiba-tiba terdengar suara yang lain dari suara yang pertama. Suara yang kedua terdengar lunak dan lembut, meskipun tidak pula mereka ketahui arahnya. Katanya, “Widura dan Agung Sedayu. Jangan bingung. Biarkan saja suara itu mengganggu kalian. Anggaplah suara itu suara angin yang lembut, menyentuh daun-daun yang kering. Memang suaranya gemerisik menyakitkan telinga. Namun suara itu sama sekali tidak berbahaya. Turutilah kehendak yang tersembul di dalam hati kalian, untuk mengurangi ketegangan di hati kalian. Kalau kalian ingin bersembunyi, bersembunyilah. Kalau kaian ingin kembali ke kademangan, kembalilah. Kalau kalian ingin berteriak, berteriaklah. Suara itu benar-benar tidak berbahaya”

Widura dan Agung Sedayu menggeram. Namun mereka menjadi bertambah bingung. Sehingga karena itu, maka mereka menjadi terpaku diam di tempatnya. Dalam pada itu suara yang kedua itu berkata pula, “Jangan menjadi bingung. Tegasnya, jangan hiraukan suara itu”

Widura dan Agung Sedayu itu pun mencoba mengingat-ingat suara yang kedua itu. Suara itu pernah didengarnya. Lembut, lunak meskipun bernada tinggi. Tiba-tiba Widura itu pun bergumam, “Kiai Gringsing”

Agung Sedayu segera menengadahkan wajahnya. perlahan-lahan mulutnya berdesis, “Ya, Kiai Gringsing”

Sesaat kemudian suasana menjadi sunyi. Baik Ki Tambak Wedi maupun Kiai Gringsing tidak berkata-kata lagi. Widura dan Agung Sedayu pun berdiri kaku bertolak punggung dengan pedang telanjang di tangan masing-masing. Namun mereka sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam pada itu angin malam yang lembut membelai kening mereka, menggerak-gerakkan ujung ikat kepala mereka yang berjuntai di belakang telinga. Tetapi betapa sejuknya angin menyentuh tubuh mereka, namun hati mereka serasa tersentuh bara. Panas dalam kesunyian malam yang dingin.

Tetapi kesunyian itu benar-benar sangat menjemukan. Kesunyian itu terasa menjadi sedemikian tegangnya, sehingga karenanya Widura dan Agung Sedayu itu seolah-olah telah menahan nafas mereka.

Tiba-tiba Agung Sedayu dan Widura itu terkejut bukan kepalang. Di balik gerumbul-gerumbul itu terdengar suara gemerisik. Bukan saja langkah seseorang, tetapi suara itu sedemikian ributnya.

“Suara apakah itu?” desis Agung Sedayu.

Widura memutar tubuhnya mengarah kepada suara itu. Namun suara itu telah jauh bergeser dari tempatnya semula. Sehingga Widura itu pun ikut berputar pula.

“Suara apakah itu paman“ ulang Agung Sedayu sambil menahan nafasnya.

Widura menggeleng lemah. Ia pun menjadi kebingungan karenanya. Sedang suara itu masih saja terdengar di antara rimbunnya gerumbul-gerumbul di sekitarnya. Namun seperti suara Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing, maka suara gemerisik itu pun melingkar-lingkar tak tentu arahnya.

Namun akhirnya Widura menyadari keadaan itu. Dengan serta-merta ia berkata, “Agung Sedayu. Mereka pasti sedang bertempur”

“Siapa?”

“Ki Tambak Wedi dengan Kiai Gringsing”

“He?” Agung Sedayu itu pun terkejut. “Dimana?”

“Rupa-rupanya Ki Tambak Wedi tidak senang mendengar suara Kiai Gringsing, sehingga orang itu langsung menyerangnya. Dan kini keduanya sedang bertempur di dalam gelap itu. Mereka bergeser dari satu tempat ke lain tempat. Aku tidak tahu pasti, apakah Ki Tambak Wedi ataukah Kiai Gringsing yang sengaja memberikan kesan kepada kita, bahwa pertempuran itu seakan-akan terjadi di langit yang kelam”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Keterangan pamannya itu benar-benar dapat dimengertinya.dan akhirnya ia pun merasakan, kesibukan perkelahian pada suara yang didengarnya. Tetapi perkelahian antara dua orang yang telah memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari mereka. Meskipun demikian Agung Sedayu itu menjadi cemas. Ki Tambak Wedi adalah seorang yang telah mempunyai nama yang cukup menggetarkan di seluruh lereng gunung Merapi itu, sedang nama Kiai Gringsing sama sekali belum dikenal oleh siapapun. Sedemikian besar keragu-raguan Agung Sedayu, sehingga terdengar ia berbisik kepada pamannya, “Paman, apakah Kiai Gringsing cukup memiliki kemampuan untuk melawan Ki Tambak Wedi?”

Widura menarik alisnya. Tetapi pedangnya masih selalu siap di dalam genggamannya. Jawabnya, “Aku tidak meragukannya. Orang itu memiliki beberapa kelebihan. Kekuatan tenaganya telah membuktikannya”

“Apakah paman pernah melihat?”

“Aku belum pernah melihat ia bertempur, namun aku pernah melihat Kiai Gringsing mengimbangi kekuatan Ki Tambak Wedi. orang itu mampu meluruskan kembali lingkaran-lingkaran besi yang dibuat oleh Ki Tambak Wedi dengan tangannya”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian masih saja perasaannya diliputi oleh keragu-raguan dan kecemasan. Di sekitarnya masih terdengar suara gemerisik dan bahkan menjadi jelas. Namun kadang-kadang suara itu menjadi semakin jauh dan berkisar dengan cepatnya.

“Marilah kita melihat paman” ajak Agung Sedayu.

“Kemana?” bertanya pamannya.

Agung Sedayu pun menjadi bingung. Ia tidak tahu arah yang harus didatangi. Suara itu benar-benar melingkar-lingkar seolah-olah memenuhi segenap penjuru.

Ketika Agung Sedayu dan Widura terdiam, maka suara itu menjadi semakin jelas. Kadang-kadang suara itu sedemikian dekatnya, namun kadang-kadang menjadi agak jauh, tetapi suara itu menunjukkan betapa ributnya pertempuran yang sedang berlangsung.

Tiba-tiba mereka terkejut, ketika mereka melihat bayangan yang melontar dari dalam kegelapan, disusul oleh sebuah bayangan yang lain. Demikianlah maka kedua bayangan itu kini bertempur di tempat yang terbuka. Masing-masing dengan caranya dan masing-masing dengan ilmunya yang khusus. Sehingga dalam malam yang gelap itu, Widura dan Agung Sedayu melihat pameran kekuatan yang mengagumkan.

Ki Tambak Wedi benar-benar sampai sedemikian garangnya. Tangannya bergerak-gerak dengan pasti dan cepat. Tangan yang hanya sepasang itu seakan-akan merupakan sepasang senjata yang sangat dahsyatnya. Seperti sepasang tombak pendek yang mematuk-matuk dari segenap arah.

Tetapi lawannya adalah seorang yang sangat lincah. Seperti asap yang berputaran dalam pusaran angin yang kencang. Sepasang kakinya seakan-akan tidak berjejak di atas tanah. Sehingga dengan cepatnya ia dapat berpindah-pindah tempat. Betapapun kekuatan lawan yang menghantamnya, namun serangan itu seakan-akan tidak dapat menyentuhnya.

Demikianlah pertempuran itu menjadi semakin sengit. Widura dan Agung Sedayu berdiri saja mematung. Dadanya terasa berdentangan dan darahnya mengalir semakin cepat. Pedang-pedang di tangan mereka seolah-olah sama sekali tidak akan berarti seandainya mereka harus bertempur melawan salah seorang dari mereka.

“Seandainya kami yang harus bertempur melawan Ki Tambak Wedi,” desis Agung Sedayu di dalam hatinya, “Entahlah apa kira-kira yang akan terjadi”

Sesungguhnyalah bahwa kekuatannya sama sekali tak akan berarti dibandingkan dengan kekuatan dan kesaktian orang yang menakutkan itu.

Malam yang dingin itu semakin lama menjadi semakin dingin. Angin yang basah perlahan-lahan mengalir dari selatan. Namun hati Widura dan Agung Sedayu terasa betapa panasnya. Mereka melihat perkelahian yang dahsyat antara Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing. Namun kadang-kadang keduanya menjadi hilang di dalam kegelapan malam, untuk kemudian muncul kembali di tempat yang lain. Ternyata mereka berdua telah mempergunakan tempat yang amat luas untuk bertempur. Mereka melontar-lontar sangat cepatnya dan loncatan-loncatan panjang yang mengherankan. Seolah-olah kedua-duanya memiliki sayap di punggung mereka, sehingga mereka dapat beterbangan berputar-putar.

Pertempuran itu benar-benar seperti pertempuran antara dua ekor burung-burung raksasa di langit yang luas berebut kekuasaan. Seakan-akan mereka sedang bertaruh, siapa yang menang di antara mereka maka ialah yang dapat merajai langit.

Tetapi Widura dan Agung Sedayu menjadi bingung. Mereka sama sekali tidak dapat menilai, siapakah di antara mereka berdua yang lebih kuat. Keduanya sama-sama memiliki keunggulan dan kelebihan yang sulit dimengerti. Desak-mendesak, silih berganti. Sehingga kemudian keduanya menjadi seperti gumpalan-gumpalan asap yang berbenturan tidak menentu.

Namun kemudian Widura dan Agung Sedayu terkejut ketika mereka melihat benda yang berkilat-kilat di tangan Ki Tambak Wedi pada kedua belahnya. Dalam genggaman tangannya, tiba-tiba telah melingkar gelang-gelang besi baja. Sepasang senjata yang pernah mereka lihat di halaman belakang kademangan serta ciri yang sudah pernah mereka kenal pula. dengan senjata itu, maka tangan-tangan Ki Tambak Wedi itu menjadi semakin berbahaya. Serangan-serangan Kiai Gringsing kemudian selalu tidak pernah dihindarinya, namun dicobanya untuk menempuh serangan itu dengan gelang-gelang baja yang melingkari genggaman tangannya. Bahkan seandainya lawannya mempergunakan pedang sekalipun, namun pedang itu akan ditahannya dengan lingkaran-lingkaran itu.

Dengan senjata itulah maka Ki Tambak Wedi menjadi semakin dahsyat. Tangannya menyambar-nyambar ke segenap tubuh lawannya. Pukulan-pukulannya adalah pukulan-pukulan maut, seandainya tersentuhpun, maka tulang-tulang Kiai Gringsing agaknya akan berserak retak.

Karena itu, maka kini Widura dan Agung Sedayu dapat melihat, bahwa Kiai Gringsing lah yang selalu mencoba menghindar serangan-serangan lawannya. Berkali-kali ia melontar mundur dan menjauh. Tetapi lawannya selalu mengejarnya dengan ganasnya. Sambaran-sambaran tangannya berdesingan seperti lalat yang terbang mengitari tubuh Kiai Gringsing. Sedang cahaya besi baja di tangannya yang bergerak-gerak itu, tampaknya seolah-olah kilat yang menyambar-nyambar.

Widura dan Agung Sedayu menjadi cemas pula karenanya. Meskipun dengan demikian mereka dapat menduga bahwa kemampuan Kiai Gringsing ternyata masih berada setidak-tidaknya menyamai Ki Tambak Wedi. Ternyata dengan senjata yang kemudian terpaksa digunakan oleh Ki Tambak Wedi. namun apabila dengan senjata itu Kiai Gringsing dapat dikalahkan, lalu apakah jadinya mereka berdua?

Tetapi mereka berdua bukannya pengecut. Juga Agung Sedayu kini sama sekali tidak ingin melarikan dri dari bahaya. Meskipun kadang-kadang terasa juga sesuatu yang berdesir di dalam dadanya, seperti yang pernah dirasakannya dahulu, namun kini ia berkata kepada dirinya, “dia itu mempunyai kesaktian yang tiada taranya. Seandainya aku melarikan diri, maka itu pasti hanya akan bersifat sementara. Ia akan dapat mengejarku dan menangkapku seperti kalau aku tetap berada di tempat ini. Karena itu, maka biarlah aku di sini bersama-sama dengan paman Widura dan Kiai Gringsing. Meskipun kekuatanku sama sekali tidak berarti, tetapi lebih baik menghadapinya bersama-sama daripada aku nanti harus dikejarnya seorang diri”

Karena itu, maka Agung Sedayu masih tetap berdiri di tempatnya. Sekali-sekali ia berkisar mengikuti putaran pertempuran Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing.

Ki Tambak Wedi yang kemudian merasa bahwa lawannya selalu terdesak, berkata dengan lantang sambil mengayukan kedua tangannya berputaran menyerang lawannya, “He, orang yang bodoh. Siapakah kau dan apamukah Agung Sedayu dan Widura ini?”

Jawabannya benar-benar menyakitkan hati Ki Tambak Wedi yang menyangka bahwa lawannya telah menjadi cemas akan nasibnya. Namun dengan jawaban itu, terasa seakan-akan lawannya itu masih saja menganggap perkelahian itu seperti sebuah permainan, katanya, “Bukan apa-apa. kami hanya bersama-sama menghuni daerah ini, daerah yang diributkan oleh kehadiran Ki Tambak Wedi”

“Jangan mengigau” bentak Ki Tambak Wedi, “apakah kau benar-benar telah jemu hidup?”

“Oh, kau salah sangka. Aku berkelahi karena aku ingin hidup tenteram di daerah ini”

“Hiduplah tenteram. Kenapa kau ganggu kami yang sedang terlibat dalam persoalan kami sendiri, apakah hubungannya hidupmu dengan persoalan ini?”

“Ada” sahut Kiai Gringsing, “Angger Widura sedang memanggul tugasnya mempertahankan daerah perbekalan ini dari sergapan Macan Kepatihan. Kalau kau binasakan orang itu, maka laskarnya pun akan berhamburan tanpa ikatan. Dan daerah ini akan menjadi kacau balau. Sangkal Putung akan berubah menjadi pusat perbekalan laskar Macan Kepatihan. Sehingga dengan demikian hidupku pun akan terancam”

“Gila. Jangan menganggap aku anak kambing yang bodoh. Kalau kau mampu bertempur melawan Ki Tambak Wedi, kenapa kau tidak mampu bertempur melawan Macan Kepatihan?”

“Seperti kau, kanapa kau tidak mau membunuh Macan Kepatihan? Kenapa mesti muridmu yang bernama Sidanti?”

“Gila, kau benar-benar gila. Seharusnya aku sudah membunuhmu. Nah sekarang kesempatan itu datang, orang yang tidak mau dikenal seperti kau ini pun harus mati. Dan aku akan dapat mengerti, apakah sebabnya kau menyebut dirimu dan memulai dirimu seperti itu. Bukankah kau yang aku jumpai di lapangan dekat banjar desa pada saat Sidanti berlomba memanah?”

Sementara itu perkelahian di antara mereka berdua, Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing menjadi bertambah cepat. Meskipun beberapa kali Kiai Gringsing terpaksa melontar surut, namun perlawanannya masih tetap sengit. Dalam kesibukan perkelahian itu Kiai Gringsing menjawab, “Ya, akulah yang bertemu dengan kau di lapangan itu, kau masih ingat?”

“Tampangmu tak mudah dilupakan” jawab Ki Tambak Wedi, “Dan di daerah ini jarang-jaranglah orang yang mampu bertempur melawan Ki Tambak Wedi sampai dua tiga loncatan. Tetapi kau mampu bertahan beberapa lama”

Kiai Gringsing menggeram. Katanya, “Jadi kau pasti bahwa akhirnya pertahananku pun akan runtuh?”

“Tentu, meskipun kulitmu berlapis baja sekalipun”

“Kau, yang mempergunakan lapisan baja di tanganmu”

“Persetan. Ambillah senjatamu. Kita menentukan siapa di antara angkatan tua yang akan dapat merajai lereng gunung Merapi”

“Aku tidak ingin” jawab Kiai Gringsing, “Tetapi aku juga tak ingin dirajai”

Ki Tambak Wedi tidak berkata-kata lagi. Serangannya menjadi bertambah seru. Sepasang gelang dikedua tangannya bergerak dengan dahsyatnya. Setiap sentuhan daripadanya, pasti akibatnya akan sangat dahsyat.

Namun kemudian masih juga ternyata bahwa Kiai Gringsing terpaksa selalu menghindari serangan Ki Tambak Wedi yang semakin garang. Beberapa kali Kiai Gringsing harus melontar surut, sedang Ki Tambak Wedi tidak akan melepaskan segenap kesempatan yang terbuka baginya.

Tetapi kemudian Kiai Gringsing tidak mau menjadi sasaran untuk meluapkan kemarahan Ki Tambak Wedi saja. Ketika kemudian ternyata bahwa ia tidak dapat bertahan terlalu lama menghadapi sepasang gelang itu, maka kemudian dari balik bajunya Kiai Gringsing menarik pula senjatanya yang tak kalah anehnya. Sebuah cambuk.Ya, cambuk yang tidak terlalu besar, dan berujung agak panjang. Tetapi benda itu keseluruhan tidak lebih panjang dari setengah depa sampai ke ujung juntainya.

Ki Tambak Wedi terkejut melihat senjata itu. Ia lebih tatag menghadapi pedang, tombak dan tongkat baja seperti milik Macan Kepatihan. Tetapi menghadapi senjata yang aneh ini, maka hatinya menjadi berdebar-debar. Cambuk yang kecil itu pasti akan sulit untuk dilawan dengan gelang besinya. Senjata itu lemas dan juntainya akan dapat menyengat tubuhnya dari segenap arah. Dan Ki Tambak Wedi sadar bahwa cambuk itu pasti dari bahan yang dapat dipercaya oleh seorang yang setingkat Kiai Gringsing.

Sebenarnyalah, tiba-tiba saja mereka telah dikejutkan oleh cambuk kecil itu. Cambuk itu memekik sedemikian kerasnya seperti sebuah ledakan yang dahsyat dalam nada yang tinggi. Sehingga tiba-tiba telinga mereka yang mendengarnya menjadi sakit.

Dengan serta-merta Widura dan Agung Sedayu telah menutup sebelah telinga mereka dengan tangan-tangan kiri mereka.

Yang terdengar kemudian adalah geram Ki Tambak Wedi. “Dahsyat. Kau mau mempengaruhi aku dengan letupan yang memekakkan telinga itu?”

“Kalau kau mau” sehut Kiai Gringsing sekenanya.

“Gila. Kau berhadapan dengan maut. Jangan menyesal kalau kau tidak sempat melihat bintang pagi terbenam”

Kiai Gringsing tidak menjawab. kini ia menyerang Ki Tambak Wedi dengan dahsyatnya dengan ujung-ujung cambuknya.

Karena itu maka perkelahian di antara mereka menjadi semakin dahsyat. Masing-masing telah mempergunakan senjata-senjata yang terpercaya. Karena itulah maka perkelahian itu segera meningkat sampai pada saat-saat yang menentukan.

Widura dan Agung Sedayu pun menjadi bertambah tegang pula. Meskipun mereka berada diluar lingkungan perkelahian itu namun terasa pula oleh mereka, bahwa kedua orang yang sedang bertempur itu telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Mereka masing-masing sedang berusah untuk menumbangkan lawannya dalam taraf ilmu yang tertinggi yang mereka miliki.

Kini Widura dan Agung Sedayu tidak lagi melihat Kiai Gringsing selalu terdesak mundur. Bahkan kini mereka dapat merasakan, bahwa cambuk kecilnya benar-benar berbahaya. Sekali-sekali terdengar cambuk itu meledak dan terasa sebuah sengatan yang pedih pada tubuh lawannya. Kedua gelang besi di tangan Ki Tambak Wedi benar-benar tidak dapat dipergunakannya untuk menangkis serangan senjata yang aneh itu.

Demikianlah maka kini keadaan menjadi berubah. Bayangan Ki Tambak Wedi yang bergerak-gerak dengan lincahnya itu seolah-olah terdesak mundur. Bayangan yang lain perlahan-lahan telah mengurungnya. Tidak saja tangan Kiai Gringsing yang bergerak-terak dengan cepatnya, namun ujung cambuknya pun menjadi seakan-akan gumpalan-gumpalan asap yang menyebarkan maut.

Ternyata kemudian, bahwa saat yang menentukan telah datang. Ki Tambak Wedi menggeram tak henti-hentinya. Lawannya benar-benar menakjubkannya. Betapa ia menjadi marah dan memeras segenap kekuatannya, namun adalah diluar dugaannya bahwa suatu ketika di lereng Merapi akan datang seseorang yang akan dapat mengalahkannya. Karena itu mula-mula ia tidak mau melihat kenyataan itu. Dengan sekuat tenaga ia mencoba mempertahankan diri dan namanya. Bahkan hampir-hampir ia sampai pada suatu kesimpulan hidup dan mati. Namun tiba-tiba disadarinya kehadiran Widura dan Agung Sedayu. Diingatnya pula muridnya Sidanti yang belum sembuh benar dari lukanya. Dan diingatnya pula cita-cita masa depan muridnya itu. Karena itulah maka akhirnya Ki Tambak Wedi yang namanya ditakuti di sekitar gunung Merapi itu terpaksa mengakui keadaannya kini.

Kiai Gringsing yang tidak dikenal itu telah mengalahkannya. Karena itu dengan penuh kemarahan, Ki Tambak Wedi menggeram, “He orang gila. Kau mungkin menyangka bahwa Ki Tambak Wedi tidak akan mampu melawanmu. Tetapi aku mempunyai pertimbangan lain sehingga aku menghindari perkelahian seterusnya, hanya kali ini”

Kiai Gringsing tidak menjawab. ia ingin bahwa Ki Tambak Wedi tidak mendapat kesempatan untuk melarikan diri. Namun kelebihannya tidak terpaut banyak dari Ki Tambak Wedi, sehingga karena itu maka usahanya tidak berhasil. Ki Tambak Wedi sempat menghindarkan dirinya dan tenggelam kedalam gerumbul-gerumbul di dalam gelap. Namun demikian terdengar Ki Tambak Wedi berkata, “He orang yang gila. Kau ternyata telah mendorong Agung Sedayu dan Swandaru kedalam keadaan yang menyedihkan. Dengan perbuatanmu ini, maka keinginanku untuk membunuh mereka berdua menjadi semakin besar. Sidanti untuk seterusnya tidak akan kembali ke Sangkal Putung. Tak akan ada yang diharapkannya di sini. Karena itu, maka baginya, Widura sudah tidak penting lagi. Tetapi dendamnya kepada Agung Sedayu dan Swandaru tidak akan dapat dilupakan. Aku atau Sidanti sendiri pada suatu ketika pasti akan melakukannya. Membunuh Agung Sedayu dan Swandaru. menggantung mayat mereka di muka banjar desa Sangkal Putung”

“Jangan berangan-angan” potong Kiai Gringsing sambil mengejarnya, “Selama aku masih ada, maka selama itu aku akan menghalangi maksud yang terkutuk itu. Marilah kita sejak ini menganggap diri kita sendiri berpacu. Aku berjanji untuk menyelamatkan Agung Sedayu dan Swandaru dari ketakutannya terhadap Sidanti. Sedang kalau kau ikut campur, maka aku akan ikut campur pula. kalau suatu ketika aku menjadi lengah dan kedua anak itu mengalami bencana karena pokalmu, maka aku berjanji, bahwa aku sendiri akan membunuh Sidanti dan kau bersama-sama”

“Setan” teriak Ki Tambak Wedi dari kejauhan. Namun nada suarnya menggetarkan kemarahan yang tiada taranya. Belum pernah ia mengalami penghinaan yang sedemikian kasarnya. Ancaman yang langsung diberikan kepadanya dan muridnya.

Namun isa harus mengakui, bahwa hal itu benar-benar mungkin dilakukan oleh orang yang belum dikenalnya dan menamakan dirinya Kiai Gringsing itu. Justru orang itu belum dikenalnya dengan baik, maka kemungkinan yang akan dilakukan oleh orang itu menjadi bertambah besar.

Namun sambil melarikan diri Ki Tambak Wedi yang bukan seorang yang tumpul otaknya itu sempat berpikir, “Aku akan segera mengetahui siapakah orang itu. Siapa yang kemudian memimpin dan menggurui Agung Sedayu dan Swandaru, maka orang itulah sebenarnya yang bernama Kiai Gringsing”

Widura dan Agung Sedayu yang terpaku di tempatnya masih saja tegak seperti tonggak. Namun tiba-tiba Agung Sedayu terkejut ketika Widura itu berkata, “Agung Sedayu, mari kembali ke kademangan. Cepat”

Agung Sedayu tidak sempat menjawab. tiba-tiba dilihatnya pamannya meloncat dan berlari kencang-kencang mendahului, setelah menyarungkan pedangnya. Karena itu, maka Agung Sedayu yang tidak tahu maksudnya pun ikut berlari pula. sepanjang jalan ia tidak habis berpikir tentang pamannya. Ketika Ki Tambak Wedi masih belum dapat dikalahkan, pamannya sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Kini ketika bahaya telah meninggalkan mereka, tiba-tiba pamannya itu berlari-lari pulang. tetapi ia tidak sempat untuk menanyakannya. Sehingga karena itu maka Agung Sedayu itu pun hanya dapat mengikutinya tanpa tahu maksudnya.

Widura yang berlari itu meloncati parit-parit dan pematang-pematang. Ia tidak lewat jalan yang biasanya dilaluinya. Ditempuhnya jalan yang memintas. Kali ini Widura tidak lagi singgah di gardu-gardu perondan seperti biasanya. Baru ketika ia memasuki desa Sangkal Putung, maka Widura itu tidak berlari-lari lagi. Bagaimana langkahnya pun masih tetap panjang-panjang.

Agung Sedayu yang kemudian menyusulnya bertanya sambil terengah-engah, “Kenapa paman berlari-lari?”

“Tidak apa-apa” jawabnya.

Agung Sedayu terdiam. Namun sudah tentu ia tidak percaya. Meskipun demikian, ia sudah tidak bertanya lagi. Dengan langkah yang panjang-panjang pula ia berjalan di samping pamannya.

Widura itu benar-benar menjadi seakan-akan tidak bersabar. Semakin dekat ia dengan kademangan, langkahnya menjadi semakin cepat. Tetapi ketika ia hampir sampai regol, maka dihentikannya langkahnya, diaturnya nafasnya. Dan seakan-akan tidak terjadi apa-apa Widura itu berjalan tenang-tenang.

Agung Sedayu dapat mengerti apa yang dilakukan pamannya terakhir. Widura tidak mau membuat kesan yang aneh terhadap anak buahnya.KI Widura malam itu datang menurut kebiasaan meskipun agak terlambat.

Seorang penjaga di regol halaman menganggukkan kepalanya sambil menyapa, “Agak terlambat Ki Lurah pulang”

“Ya” sahut Widura. Ia mencoba menjawab tenang-tenang meskipun terasa nafasnya mendesaknya, “aku berhenti di beberapa gardu perondan”

Seorang yang lain, yang berdiri pula di sisi pintu menyahut, “Adakah sesuatu yang perlu diperhatikan?”

“Tidak” jawab Widura sambil melangkahi regol. Namun kemudian ia berkata, “adakah seseorang yang baru saja memasuki regol ini?”

Penjaga-penjaga di regol itu mengangkat alisnya. Sambil menggeleng-gelengkan kepala penjaga itu menjawab, “Tidak. Sepengetahuanku tidak”

“Sama sekali tidak?” desak Widura.

Penjaga itu berpikir sejenak. Sambil menggeleng ia menjawab, “Tidak Ki Lurah”

Widura menggigit bibirnya. Kemudian katanya berbisik kepada Agung Sedayu, “Kalau begitu kita lebih dahulu sampai”

“Siapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Sst” desis Widura.

Namun tiba-tiba Widura itu menjadi kecewa ketika seorang penjaga berkata, “Ki Tanu Metir, maksud Ki Lurah?”

“He?” bertanya Widura.

“Yang baru saja masuk regol adalah Ki Tanu Metir yang keluar untuk berjalan-jalan seperti yang dilakukannya setiap hari”

“Setiap hari?” bertanya Widura.

“Ya” jawab penjaga regol itu. “Setiap orang yang bertugas di regol ini melihat, bahwa orang tua itu selalu pergi berjalan-jalan di malam hari”

Widura menarik nafas dalam-dalam. Otaknya bergerak menghubungkan keterangan-keterangan yang didengarnya itu. Tetapi kemudian ia tersenyum, “Marilah Agung Sedayu” ajaknya.

Agung Sedayu benar-benar tidak tahu maksud pamannya. Tetapi ketika pamannya itu berjalan naik ke pendapa, maka ia ikut juga di belakangnya.

Widura berjalan perlahan-lahan masuk ke pringgitan. Dilihatnya Ki Tanu Metir duduk dengan tenangnya menggulung sehelai daun pisang pembungkus makanan, di samping Ki Demang dan Swandaru.

“Ha, kau baru pulang?” bertanya orang tua itu ketika dilihatnya Widura dan Agung Sedayu melangkah masuk

“Ya Kiai” jawab Widura.

“Kau pulang lebih malam dari biasanya. Aku juga baru saja datang. Berjalan-jalan dimalam hari benar-benar dapat memberi kesegaran padaku”

“Ya Kiai. Memang udara sangat segar. Tetapi agaknya terlampau dingin” berkata Widura.

“Ya. Memang malam ini terlampau dingin” sahut Ki Tanu Metir

“Apakah Kiai juga merasakan dinginnya malam?” bertanya Widura.

“Ya, tentu. Aku menjadi menggigil karenanya”

“Aku juga” sambung Widura, “Tetapi memang sudah menjadi kebiasaanku, aku selalu berkeringat apabila aku kedinginan”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Apakah kau berkeringat?”

“Ya, seperti Kiai juga”

Ki Tanu Metir mencoba mengamat-amati pakaiannya. Terasa punggung bajunya memang basah oleh keringat yang mengalir tak habis-habisnya. Karena itu, maka ia pun tersenyum sambil berkata, “Aku juga berkeringat. Tetapi aku baru saja kepanasan minum air jahe hangat. Inilah. Mari minumlah mangkuk itu. Bukankah ini memang disediakan untukmu?” kemudian kepada Swandaru ia bertanya, “Begitu bukan angger Swandaru?”

“Ya, ya. Silakan paman Widura dan tuan …..”

Jangan panggil dengan sebutan yang terlalu jauh. Panggillah dengan sebutan yang lebih dekat. Kakang. Juga kepada Untara lebih baik kau memanggilnya demikian” potong Widura.

“Ya” sahut Agung Sedayu, “Aku lebih senang”

“Baiklah” sahut Swandaru, “Marilah, minumlah”

Widura dan Agung Sedayu pun minum pula air jahe yang hangat. Dengan demikian maka keringat mereka semakin banyak mengalir membasahi tubuh mereka.

Dalam pada itu Ki Tanu Metir itu pun bertanya pula, “Dari manakah angger berdua malam ini. Apakah seperti biasanya nganglang setiap gardu perondan?”

“Ya” sahut Widura, “Dan ke gunung Gowok. Aku sedang berlatih bermain pedang. Guruku, Agung Sedayu telah mencobakan ilmu yang paling akhir”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Sedang Ki Demang Sangkal Putung menjadi terheran-heran. Apalagi Swandaru sehingga dengan serta-merta berdesah, “Ah”

Mereka menjadi semakin tidak mengerti ketika Widura berkata, “Tetapi seorang yang menamakan diri Kiai Gringsing selalu saja mengganggu kami, sehingga usaha kami itu pun tidak dapat kami lakukan seperti yang kami kehendaki”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebelum berkata sesuatu, maka Widura telah berkata pula, “Akhirnya kami tidak meneruskan latihan kami. Tetapi kami berpacu dengan orang yang tidak kami kenal itu kekademangan”

Ki Tanu Metir menarik alisnya. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Siapakah yang lebih dahulu sampai?”

“Ki Tanu Metir” jawab Widura.

“He” sahut Ki Tanu Metir, “Kau berpacu dengan Kiai Gringsing, namun kenapa aku yang lebih dahulu sampai?”

Widura menggeleng, jawabnya, “Entahlah. Aku tidak tahu”

Ki Tanu Metir itu menundukkan wajahnya. Widura dan Agung Sedayu duduk dengan gelisahnya, sedang Ki Demang Sangkal Putung dan Swandaru masih saja memandang mereka dengan penuh pertanyaan yang memancar dari wajah-wajah mereka.

Agung Sedayu yang semula juga ikut menjadi bingung perlahan-lahan dapat menangkap, apakah yang dilakukan pamannya itu. Bahkan kemudian tiba-tiba ia bertanya, “Bagaimanakah dengan Kakang Untara?”

Pertanyaan itu mengejutkan Ki Tanu Metir, sehingga dengan serta-merta ia menjawab, “Sudah semakin baik. Angger Untara sudah dapat bangun dan berjalan-jalan. Sebentar lagi luka iu akan sembuh, meskipun masih diperlukan waktu untuk memulihkan kekuatannya”

“Tetapi malam ini aku tidak harus berkuda ke Sangkal Putung sendiri, dan Kiai tidak usah menyusulku dan setelah Kiai kalah bertempur melawan aku, maka Kiai harus bertempur melawan Alap-alap Jalatunda”

Ki Tanu Metir tidak dapat menyembunyikan senyumnya lagi. Perlahan-lahan ia berdiri dan berjalan mendekati Untara. Ternyata Untara itu juga tidak sedang tidur. Bahkan ketika ia melihat Ki Tanu Metir itu mendekati maka desisnya, “Bagaimana Kiai?”

“Kemana aku harus bersembunyi lagi ngger?” bertanya Ki Tanu Metir kepada Untara.

“Kiai tidak perlu bersembunyi lagi”

Ki Tanu Metir menarik nafas panjang. Kemudian gumamnya, “Tamatlah cerita tentang seorang dukun tua dan tamatlah cerita tentang orang yang berkerudung kain gringsing”

“Cerita itu sudah lama tamat” sahut Widura.

Ki Tanu Metir berpaling. Ditatapnya wajah Widura yang aneh. Tetapi sesaat kemudian orang tua itu tertawa geli. Katanya, “Terlalu banyak yang ingin kau ketahui ngger. Tetapi baiklah, aku tidak perlu bersembunyi lagi. Dugaanmu benar”

Widura tertawa. Agung Sedayu pun tertawa. tetapi Ki Demang Sangkal Putung dan Swandaru sama sekali tidak tahu, apakah yang lucu.

Karena itu, maka Swandaru itu pun segera bertanya, “Apakah yang aneh paman Widura?”

Widura menggeleng sambil tersenyum, “Tidak apa-apa. hanya suatu permainan saja”

“Permainan apa?”

“Ki Tanu Metir mencoba bersembunyi ketika melihat kami lewat. Disangkanya kami tidak melihatnya”

Swandaru mengerutkan keningnya. Jawaban Widura itu semakin membingungkannya. Sehingga kemudian ia mendesaknya, “Tetapi, bagaimanakah cerita tentang paman Widura dan orang yang disebut gurunya yang bernama Agung Sedayu itu?”

“Oh” sahut Widura, “Aku hanya bermain-main. Ki Tanu Metir pernah bertanya kepadaku, siapakah guruku, karena aku tidak mau menunjukkannya, maka aku jawab saja sekenanya, Agung Sedayu”

Swandaru mengumpat-umpat di dalam hatinya. Ia tahu betul, bahwa bukan itulah jawaban dari pertanyaannya. Meskipun demikian ia sudah tidak bertanya lagi. Namun, bagaimanapun juga, ia tidak dapat menjajagi, bahwa sendau gurau itu telah mengungkapkan suatu peristiwa yang selama ini menjadi teka-teki bagi Widura. meskipun Ki Tanu Metir belum mengatakan kepadanya, namun Widura telah dapat merabanya. Bagaimanakah yang pernah terjadi atas Untara. Bagaimanakah sebabnya, maka orang-orang di sekitar rumah Ki Tanu Metir menyangka bahwa orang tua itu bersama Untara telah hilang dibawa gerombolan Plasa Ireng. Kini semuanya sudah menjadi agak jelas bagi Widura. sudah tentu Plasa Ireng beserta Alap-alap Jalatunda tidak akan dapat berbuat sesuatu terhadapnya.

Ki Demang Sangkal Putung  pun sebenarnya mempunyai keinginan untuk mengetahui, apakah sebenarnya yang sedang dipercakapkan oleh Ki Tanu Metir dan Widura, tetapi ia segera mengendalikan dirinya. Persoalan-persoalan diluar dirinya, dan mungkin menyangkut kepentingan kelaskaran Pajang, lebih baik baginya untuk tidak turut mempersoalkannya apabila tidak diminta.

Sesaat kemudian kembali mereka duduk melingkar di atas tikar pandan di pringgitan. Untara masih tetap berbaring di pembaringannya. Meskipun lukanya telah jauh berkurang, namun ia masih belum kuat benar untuk terlalu lama duduk.

Di antara mereka sudah terhidang berbagai makanan. Meskipun sudah terlalu dingin, namun dapat juga untuk menggerakkan rahang-rahang mereka.

Sambil makan Ki Tanu Metir berkata seakan-akan sambil lalu saja, “Bagaimanakah kabarnya angger Sidanti itu sekarang?”

Widura mengerutkan keningnya. Dan dilihatnya wajah Swandaru menjadi tegang.

“Tak ada kabarnya” jawab Widura, “Tetapi sudah pasti ia tidak akan kembali ke Sangkal Putung”

“Tetapi ia pasti mendendam” potong Swandaru tiba-tiba, “Aku telah melukainya”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnyalah bahwa Sidanti itu mendendam. Tidak saja kepada Swandaru tetapi juga kepada Agung Sedayu. Sedang mereka, Widura dan Agung Sedayu pun, mendengar dengan jelas, apa yang dikatakan oleh Ki Tambak Wedi, bahwa dendam Sidanti yang terbesar justru kepada Agung Sedayu dan Swandaru. Agung Sedayu yang dianggap menggesernya dari sudut hati Sekar Mirah, dan Swandaru yang telah melukainya bahkan hampir membunuhnya. Tetapi Agung Sedayu itu menjadi tenteram ketika ternyata bahwa Kiai Gringsing yang sekarang duduk di hadapannya sebagai seorang dukun tua itu, akan melindunginya.

Tetapi Swandaru tidak mendengar janji yang pernah diucapkan oleh orang yang menamakan dirinya Kiai Gringsing. Sehingga dengan demikian maka dadanya menjadi berdebar-debar apabila diingatnya nama itu. Sidanti. Selagi mereka masih berada di halaman yang sama, Sidanti telah pernah menamparnya dua kali. Apalagi kini, maka Sidanti itu tidak akan sekedar menamparnya saja. Tetapi pasti membunuhnya.

Ayahnya pun merasakan kecemasan itu. Karena itu selagi mereka mempercakapkan Sidanti, maka sama sekali Ki Demang Sangkal Putung itu pun ingin mencari perlindungan bagi anaknya. Maka katanya, “Aku menjadi cemas juga akan Angger Sidanti itu. Hubungannya dengan Swandaru terlalu jelek. Sehingga keadaan Swandaru kini pun selalu terancam pula olehnya. Apalagi pada saat terakhir, Swandaru itu telah berusaha untuk membunuhnya, sehingga dengan demikian maka dendam angger Sidanti itu pun menjadi semakin dalam pula”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Swandaru berusaha menyelamatkan aku”

Widura melihat kecemasan yang membayang di wajah ayah-beranak itu. Baik Ki Demang Sangkal Putung maupun Swandaru agaknya tidak akan dapat merasa tenteram. Karena itu, maka Widura itu pun menjadi iba pula kepada mereka. Sehingga tanpa sengaja ia berkata, “Jangan cemas kakang Demang, selagi Ki Tanu Metir masih di sini”

Ki Demang terkejut mendengar kata-kata Widura itu. Bahkan Ki Tanu Metir itu sendiri pun terkejut. Tetapi kembali Ki Demang Sangkal Putung itu menjadi kecewa. Ia menyangka bahwa Widura masih saja bergurau. Karena itu ia berdesah, “Ah, nasib Swandaru benar-benar mencemaskan”

Widura menyadari kata-katanya. Bahkan ia menyesal, bahwa Ki Demang merasa ia hanya bergurau saja. Maka katanya kemudian untuk meyakinkan Ki Demang Sangkal Putung itu, “Aku berkata sebenarnya kakang Demang. Sekaligus aku minta pula keringanan hati Ki Tanu Metir untuk menyelamatkan Agung Sedayu dan Swandaru bersama-sama”

Ki Demang Sangkal Putung sama sekali tidak segara dapat mengerti kata-kata itu. Sekali-sekali ditatapnya wajah Widura, dan sekali-sekali diamat-amatinya dukun tua itu. Sehingga akhirnya ia bertanya, “Maksud adi, apakah apabila angger Agung Sedayu atau Swandaru dicederai oleh angger Sidanti, maka Ki Tanu Metir akan mengobatinya hingga sembuh?”

Ternyata Ki Demang Sangkal Putung itu benar-benar tidak mengerti maksud Widura. dan sebenarnya bahwa Widura mengatakan sesuatu sebelum lawan berbicaranya siap untuk menerimanya. Widura mengatakan suatu hal diluar pengetahuan Ki Demang Sangkal Putung. Tetapi, agak sulitlah bagi Widura untuk berkata terus terang tentang Ki Tanu Metir, meskipun ia sadar, bahwa itu harus dikatakannya.

Setelah menimbang beberapa lama, maka kemudian Widura itu pun menjawab, “Ki Demang, biarlah Ki Tanu Metir berusaha untuk memberikan beberapa pengetahuan kepada Agung Sedayu dan Swandaru, sehingga mereka berdua tidak dapat dikalahkan oleh Sidanti”

Ki Demang Sangkal Putung mengerutkan keningnya. Katanya dengan ragu-ragu, “Angger Agung Sedayu barangkali dapat berbuat demikian. Sebab malahan Angger Sedayu sudah melampaui ketinggian ilmu Sidanti. Tetapi anakku itu?”

“Itulah yang aku maksud, kakang” sahut Widura, “Biarlah Ki Tanu Metir menuntun Swandaru dan Agung Sedayu. Karena Agung Sedayu telah memiliki bekal yang cukup, maka biarlah untuk Sementara Swandaru akan mendapat perhatian lebih banyak daripada Agung Sedayu. Sebab ternyata bahwa dendam itu disebabkan oleh Swandaru sedang berusaha menyelamatkan Agung Sedayu. Sehingga karena itulah maka aku pun minta dengan sangat Ki Tanu Metir untuk memenuhi permintaan itu”

Ki Demang Sangkal Putung benar-benar menjadi pening mendengar keterangan Widura yang justru menjadikannya semakin bingung. Swandaru pun tidak kalah bingungnya. Sehingga bahkan ia menjadi jengkel. Dengan bersungut-sungut ia berkata, “Paman Widura, bahaya itu sebenarnya sedang mengancam kami. Aku dan kakang Agung Sedayu. Apakah dalam keadaan itu aku harus belajar mengobati luka-luka supaya aku sempat mengobati lukaku seandainya Sidanti mencelakakan aku?”

Widura benar-benar menjadi sulit untuk mengatakan maksudnya. Sedang Ki Tanu Metir sendiri sama sekali tidak membantunya. Karena itu, maka katanya kemudian kepada Ki Tanu Metir, “Ki Tanu Metir, tolonglah, jelaskanlah maksudku kepada kakang Demang dan Swandaru. dan katakanlah kepada kami, apakah Ki Tanu bersedia memenuhi permintaan kami. Mengambil Agung Sedayu dan Swandaru sebagai murid Kiai dan memberi mereka bekal keselamatannya dari ancaman Sidanti”

Ki Tanu Metir mengangkat wajahnya. Ditatapnya setiap orang yang duduk di sekitarnya satu demi satu. Kemudian perlahan-lahan ia berkata, “Jadi bagaimana Angger Widura?”

“Terserahlah kepada Kiai” jawab Widura.

Ki Tanu Metir mengangguk-angguk. Kemudian kepada Widura ia berkata, “Angger, permintaan angger aku terima dengan senang hati. Mudah-mudahan aku mampu berbuat demikian, seperti yang telah aku ucapkan Ki Tambak Wedi sendiri. sekarang apakah angger Agung Sedayu dan angger Swandaru bersedia menerima tawaran itu?”

Agung Sedayu lah yang dengan serta-merta menjawabnya, “Aku sangat berterima kasih atas kesempatan itu Kiai”

Tetapi Swandaru belum juga menyadari keadaannya. Ia masih merasa seakan-akan percakapan itu seperti senda-gurau saja. Namun meskipun demikian ia tidak berkata apa-apa, hanya sinar matanya sajalah yang memancarkan kebimbangan dan kebingungannya.

Ki Tanu Metir menangkap kebimbangan di hati Swandaru itu. Karena itu, maka katanya, “Angger, aku tahu angger menjadi ragu-ragu. Mungkin angger tidak mendapat keyakinan, bahwa dengan belajar kepadaku, angger mungkin akan menyelamatkan diri sendiri dari bahaya yang akan ditimbulkan oleh Sidanti. Karena itu, maka aku akan mencoba menyakinkan angger untuk kepentingan keselamatan angger sendiri” Ki Tanu Metir itu berhenti sesaat. Sekali lagi ditatapnya wajah-wajah yang ada di sekitarnya. Terasa alangkah berat hatinya untuk mengatakan sesuatu yang terkandung di dalam dadanya. Sebenarnya Ki Tanu Metir bukanlah seorang yang suka menunjukkan kelebihan-kelebihannya kepada orang lain. Sebenarnyalah bahwa apakah Swandaru percaya atau tidak, bukanlah kepentingannya. Juga seandainya Swandaru itu kelak akan mengalami nasib yang malang karena pokal Sidanti, itu pun sama sekali bukan kepentingannya. Namun ia sadari bahwa seharusnyalah anak itu diusahakan untuk dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Meskipun Ki Tanu Metir itu pun mengetahuinya, bahwa pertentangan antara Swandaru dan Sidanti tidak saja timbul karena persoalan Agung Sedayu itu. Tetapi sejak masa-masa lampau sebelumnya, pertentangan itu memang telah ada. Namun sebab yang langsung sekali adalah usaha Swandaru membunuh Sidanti pada saat-saat Sidanti hampir saja berhasil melumpuhkan Agung Sedayu. Karena itu, oleh sesuatu tekanan di dalam hatinya yang belum pernah dikatakannya kepada orang lain, maka Ki Tanu Metir merasa berkewajiban untuk menolong Swandaru itu, seperti ia menolong Agung Sedayu sendiri, karena persoalan yang bersangkut-paut.

Dengan demikian, maka setelah berhenti sejenak, Ki Tanu Metir itu berkata, “Angger Swandaru, sebelum angger mulai dengan mematuhi petunjuk-petunjuk yang akan aku berikan, adalah wajar sekali kalau angger harus menjadi yakin, bahwa orang yang dipatuhi itu akan dapat memberinya sesuatu. Karena itu, maka biarlah aku mencoba meyakinkan angger. Aku bukan sengaja untuk menunjukkan keanehan dan mungkin juga menyombongkan diri, tetapi aku tidak melihat cara yang lain untuk itu”

Swandaru memandang Ki Tanu Metir tanpa berkedip. Ki Demang Sangkal Putung pun menjadi semakin bingung. Tetapi ia benar-benar ingin melihat, apakah yang akan dilakukan oleh Ki Tanu Metir itu.

Ki Tanu Metir itu pun kemudian berpaling kepada Agung Sedayu dan berkata, “Angger, apakah peristiwa yang angger saksikan tadi mampu meyakinkan angger Swandaru?”

Agung Sedayu tahu benar maksud Ki Tanu Metir. Karena itu segera diceritakannya apa yang baru saja dilihatnya. Tetapi seperti juga Ki Tanu Metir, Agung Sedayu ragu-ragu, apakah ceritanya cukup meyakinkan tanpa melihatnya sendiri.

Meskipun demikian, maka Agung Sedayu telah mencoba menceritakan apa yang telah terjadi. Pertempuran antara Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing. Dan ternyata bahwa Kiai Gringsing itu adalah Ki Tanu Metir itu sendiri.

Swandaru dan Ki Demang Sangkal Putung mendengarkan cerita itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka dapat mengerti beberapa bagian dari cerita itu. Namun tampaklah pada wajah Swandaru, bahwa ia masih juga ragu-ragu mendengar cerita Agung Sedayu.

Mereka bukan tidak percaya pada Agung Sedayu, namun mereka sangatlah sukar utuk membayangkannya, bahwa hal itu dapat terjadi atas seorang dukun tua seperti Ki Tanu Metir itu.

Ki Tanu Metir pun dapat menangkap keragu-raguan itu. Tetapi apakah yang dilakukannya untuk meyakinkan mereka itu.

Dalam kebimbangan itu tiba-tiba terdengar Untara berkata, “Aku juga mempunyai sebuah cerita. Apakah kau mau mendengarkan Swandaru?”

“Tentu” sahut Swandaru kosong.

“Baiklah” berkata Untara pula. perlahan-lahan ia bangkit dan dengan perlahan-lahan pula ia berjalan dan duduk di samping Ki Tanu Metir.

“Lukaku sudah tidak berbahaya lagi” katanya.

Swandaru dan kesempatan memandanginya dengan tegang. Cerita apakah yang akan dikatakan oleh Untara itu.

“Ki Demang Sangkal Putung dan kau Swandaru” berkata Untara itu kemudian, “Cerita ini adalah cerita tentang diriku sendiri. Cerita tentang seorang prajurit yang gagal memenuhi kewajibannya. Mungkin sebagian kalian telah mendengar dari Agung Sedayu, namun aku yakin bahwa pada saat itu paman Widura dan Agung Sedayu telah berusaha mencari aku” Untara berhenti sejenak. Dilihatnya tidak saja Swandaru dan ayahnya yang mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Tetapi juga Agung Sedayu dan Widura sendiri.

“Aku kira, pada waktu itu hampir semua orang menyangka aku telah hilang. Bahkan mungkin orang menyangka bahwa aku telah diculik oleh gerombolan Plasa Ireng, sebab sepeninggal Agung Sedayu kemari, pada waktu itu datanglah Plasa Ireng dan Alap-alap Jalatunda. Namun ternyata aku selamat. Di dalam rumah itu hanya ada aku berdua dengan Ki Tanu Metir. Seorang dukun tua. Aku sedang terluka, agak parah hampir seperti lukaku sekarang. Nah, siapakah menurut dugaan kalian yang telah menyelamatkan aku dari tangan Plasa Ireng itu?”

Widura dan Agung Sedayu menjadi semakin jelas akan persoalan itu. Sudah tentu Plasa Ireng tidak akan mampu mengambil Untara pada saat itu, sebab di dalam rumah itu ada Ki Tanu Metir, yang kemudian menamakan dirinya Kiai Gringsing.

Swandaru dan Ki Demang Sangkal Putung pun segera dapat menjawab pertanyaan Untara itu. Sudah pasti Ki Tanu Metir. Namun kembali mereka tidak dapat membayangkan, apakah yang sudah dilakukan oleh dukun tua itu untuk menyelamatkan Untara. Bagaimanakah rupanya kira-kira kalau orang tua itu bertempur, apakah ia harus melawan Ki Tambak Wedi ataukah ia harus berkelahi melawan Plasa Ireng dengan beberapa orang kawannya.

Swandaru dan Ki Demang itu benar-benar berada dalam kebimbangan dan keragu-raguan. Sehingga kemudian terdengar Untara berkata seterusnya, “Nah, ternyata Ki Tanu Metir lah yang berhasil menyelamatkan aku. Setelah Ki Tanu Metir itu berhasil mengusir Plasa Ireng dan orangnya, maka segera aku pun disembunyikannya di atas kandang kuda, sementara itu Ki Tanu Metir pergi menyusul Agung Sedayu. Baru setelah Ki Tanu Metir kembali, maka aku dibawanya pergi, mengungsi ke tempat yang tak banyak dikenal orang. Dan memang tidak banyak orang yang akan menyangka bahwa aku disembunyikan oleh dukun tua itu. Namun sebenarnyalah demikian”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dadanya sudah berdebar-debar seandainya kakaknya mengatakan bahwa ia telah menjadi ketakutan dan hampir menjadi pingsan ketika kakaknya itu memaksanya pergi ke Sangkal Putung. Sehingga sampai saat terakhir, tidak seorang pun dari Sangkal Putung yang mengetahui, bahwa Agung Sedayu baru saja melampaui suatu masa yang tak pernah disangkanya akan terjadi.

Swandaru dan Ki Demang Sangkal Putung pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun keragu-raguan yang bersarang di dalam dada mereka, masih belum dapat mereka lenyapkan.

Ki Tanu Metir yang melihat perasaan itu pun kemudian berkata, “Angger Swandaru. Aku akan mencoba menunjukkan beberapa permainan yang dapat meyakinkan angger. Bukan semata-mata aku ingin dipercaya, namun semata-mata untuk memberikan dasar-dasar kepercayaan kepada Angger Swandaru, bahwa usahanya akan tidak terlalu sia-sia. mungkin memang tidak akan dapat berhasil seperti yang diharapkan, misalnya, dalam waktu yang pendek akan segera dapat mengimbangi Sidanti, namun setidak-tidaknya ada usaha ke arah itu. Mudah-mudahan lambat-laun akan berhasil pula, meskipun dari sedikit”

Swandaru tiba-tiba menjadi gembira. Kalau ia akan dapat melihat apa pun yang dilakukan oleh Ki Tanu Metir, maka ia akan dapat meyakininya apa yang dilihat itu. Dan apabila demikian, maka ia berjanji di dalam hatinya, bahwa ia tidak akan merasa seorang murid yang tekun. Mudah-mudahan ia tidak akan merasa selalu terancam hidupnya oleh Sidanti sepanjang umurnya.

Karena itu ketika Ki Tanu Metir mengajak mereka itu kehalaman, maka dengan serta-merta Swandaru itu pun berdiri dan berkata, “Benar-benar di luar kemampuanku untuk memikirkan apa yang telah terjadi itu, dan mungkin apa yang terjadi dalam permainan ini. Tetapi aku berjanji, bahwa aku akan menjadi seorang murid yang tekun, demi keselamatanku sendiri dan demi kelangsungan ketentraman di daerah ini”

“Bagus” desis Ki Tanu Metir, “Angger adalah putra seorang Demang yang akan dapat nglintir kekuasaan itu. Mudah-mudahan angger akan dapat membawa bekal secukupnya”

“Terima kasih Kiai” jawab Swandaru.

Ki Tanu Metir itu pun kemudian berjalan mendahului mereka. Tetapi di muka pintu ia berhenti. Sambil berpaling ia berkata, “Kita ke gunung Gowok”

Swandaru tidak peduli, apakah permainan itu dilakukan di rumah, di halaman, atau di gunung Gowok. Karena itu ia menjawab, “Marilah. Aku akan kut kemana Kiai akan pergi”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kembali ia berjalan kehalaman. Ki Demang Sangkal Putung yang ingin juga melihat hal-hal yang baginya tak dapat dimengertinya itu ikut pula bersama Widura dan Agung Sedayu. Hanya Untara sajalah yang tinggal di pringgitan dan kembali ia membaringkan dirinya.

Para penjaga regol yang melihat mereka keluar menjadi heran dan bertanya-tanya di dalam hati. Kemanakah mereka itu pergi? Widura dan Agung Sedayu baru saja pulang dari nganglang. Sekarang mereka pergi lagi bersama Ki Demang, Swandaru dan Ki Tanu Metir. Apakah ada seseorang yang perlu segera mendapat pertolongan dukun tua itu?

Tetapi mereka ridak bertanya terlalu banyak. Mereka hanya menyapa dan sekedar bertanya sepantasnya. Namun Widura yang menjawabnya hanya sekedar menjawab sepantasnya, “Berjalan-jalan” katanya.

Mereka itu pun kemudian berjalan tergesa-gesa ke gunung Gowok. Di sepanjang jalan itu, mereka hampir tidak bercakap-cakap sepatahpun. Masing-masing sedang sibuk dengan angan-angannya.

Ki Tanu Metir itu pun sibuk pula dengan pikirannya sendiri. adalah aneh sekali, bahwa ia seakan-akan memaksa seseorang untuk menjadi muridnya tidak atas permintaan anak itu sendiri. hal yang benar-benar menggelikan. Bahkan terpaksa ia membuktikan kepada anak itu sesuatu yang meyakinkannya, untuk bersedia menjadi muridnya. Tetapi ia tidak dapat menolak permintaan Widura. dan ia tidak dapat membiarkan anak itu hidup dalam ketakutan atas bayangan orang lain yang mendendamnya. Ia harus menolongnya, meskipun dengan demikian terjadi kejanggalan itu.

Pada saat permulaan dari penurunan ilmu itu, Ki Tanu Metir telah melihat sesuatu yang menarik perhatiannya pada Swandaru. Anak itu memiliki sikap tinggi hati lebih dari Agung Sedayu. Mungkin terpengaruh oleh kebiasaan hidupnya sebagai seorang anak Demang, sehingga seakan-akan ia pun memiliki pula kekuasaan yang dimiliki oleh ayahnya, Swandaru tidak segera menerima tawaran untuk menjadi muridnya. Namun ia meragukannya. Ia tidak ingin melihat hal-hal yang tidak dimengertinya itu lambat laun, namun dalam kebimbangan ia menunggu, meskipun telah didengarnya beberapa keterangan mengenai dirinya.

Tetapi dengan demikian, maka Swandaru mempunyai sifat yang lebih terbuka pula. Ia lebih senang melihat dan membuktikan langsung daripada menyimpan teka-teki di dalam hatinya.

“Namun anak muda itu harus tahu” berkata Ki Tanu Metir di dalam hatinya, “Bahwa bukan kehendakku untuk mendapatkan murid-murid yang aku kehendaki, namun apa yang aku lakukan adalah untuk kepentingannya semata-mata, sehingga dengan demikian ia seharusnya tidak berbuat sekehendaknya seakan-akan tidak memerlukannya, tetapi harus benar-benar bertanggung-jawab bagi masa depannya sendiri”

Tetapi Ki Tanu Metir belum dapat mengatakan itu sekarang kepada Swandaru. Mungkin Agung Sedayu akan segera dapat mengertinya, namun Swandaru pasti belum. Anak itu harus melihat sesuatu lebih dahulu, sesuatu yang dapat menarik perhatiannya dan kepercayaannya. Tetapi apa?

Ki Tanu Metir menarik nafas panjang. Ia harus berbuat untuk menunjukkan kelebihannya dari orang lain. Benar-benar suatu hal yang asing baginya. “Mudah-mudahan aku tidak sekedar terdorong untuk menyombongkan diri” orang tua itu tersenyum di dalam hati.

Tanpa terasa mereka pun kemudian sampai pula di sebuah tanah lapang kecil di dekat puntuk kecil yang bernama gunung Gowok. Widura dan Agung Sedayu sudah kenal betul dengan gunung itu. Kepada batang kelapa sawit di atasnya, dan kepada tanah lapang yang kecil itu. Jauh lebih baik dari Ki Demang Sangkal Putung itu sendiri.

Swandaru menjadi gembira. Dilihatnya bintang-bintang yang bergantungan di langit yang biru. Dilihatnya awan yang tipis bergerak lembut keutara.

Sesaat Ki Tanu Metir berdiri termangu-mangu. Terasa sangatlah berat baginya untuk memulai sebuah permainan yang aneh-aneh. Mungkin ia akan dapat berbuat demikian dalam keadaan yang serta-merta, tetapi ketika hal itu dirancangnya lebih dahulu, maka malahan terasa menjadi sulit.

Setelah sesaat mereka tegak membeku, maka Ki Tanu Metir menyadari, bahwa ia harus segera mulai. Karena itu, maka dengan agak canggung diambilnya sepotong besi yang diselipkannya diikat pinggangnya. Dengan ragu-ragu ia berkata kepada Swandaru, “Lihatlah ngger, mungkin kau kenal potongan-potongan besi semacam ini. Dengan potongan-potongan besi semacam ini Ki Tambak Wedi mencoba menakut-nakuti lawannya. Dengan tangannya Ki Tambak Wedi membengkokkan besi-besi semacam ini sehingga hampir berbentuk lingkaran, sehingga mirip dengan bentuk senjata yang disukainya di samping nenggalanya seperti kepunyaan Sidanti yang tertinggal di Sangkal Putung”

Swandaru tidak menjawab. ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ia menunggu apa yang akan dilakukan oleh Ki Tanu Metir atas potongan besi itu.

Orang-orang yang berdiri tegak itu pun kemudian melihat, Ki Tanu Metir menggenggam besi itu erat-erat, kemudian dengan kekuatan tangannya sepotong besi itu dilengkungkannya hampir berbentuk sebuah lingkaran. Widura dan Agung Sedayu menahan nafasnya. Terlebih-lebih Widura. Ia pernah melihat Ki Tambak Wedi menakut-nakutinya dengan permainannya semacam itu.

Tetapi mereka terkejut ketika Swandaru itu berkata, “Kiai, apakah aku tidak dapat melakukannya?”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak mau mengecewakan Swandaru. Besi yang lengkung itu diluruskannya kembali dan diberikannya kepada Swandaru, “Apakah angger ingin mencoba?”

Swandaru menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia menjawab, “Biarlah aku mencobanya Kiai”

Swandaru kemudian menerima potongan besi itu. Sesaat ia diam. Dipandanginya Ki Tanu Metir dan potongan besi itu berganti-ganti.

“Silahkan ngger, silahkan mencoba”

Swandaru itu masih berbimbang hati. Tetapi kemudian dicobanya melakukan seperti apa yang baru saja diperbuat oleh Ki Tanu Metir.

Ketika ia mencoba melengkungkan besi itu, Swandaru benar-benar terkejut. Disangkanya pekerjaan itu amat mudahnya. Karena itu, maka dikerahkannya segenap kekuatan yang ada padanya. Dengan menggertakkan giginya, kedua tangannya menekan potongan besi itu.

Ternyata kekuatan Swandaru pun benar-benar menakjubkan. Besi itu seakan-akan menggeliat, dan kemudian perlahan-lahan membengkok. Tetapi hanya sedikit sekali.

Nafas Swandaru menjadi terengah-engah. Ternyata kekuatannya yang dibangga-banggakannya selama ini hanya mampu membengkokkan besi itu sedikit saja. Itu pun telah dikerahkan tenaganya sebesar-besar mungkin. Sedang Ki Tanu Metir nampaknya dapat berbuat demikian mudahnya, bahkan kedua ujung dan pangkalnya menjadi hampir bertemu.

“Bagaimana ngger?” bertanya Ki Tanu Metir kemudian. Swandaru menyerahkan potongan besi itu kembali sambil berkata, “Aku tidak mampu Kiai”

Ki Tanu Metir tersenyum. Dilihatnya mata Swandaru selalu memandanginya. Dari pandangan mata itu Ki Tanu Metir melihat kepercayaan yang mulai tumbuh di dalam hati Swandaru. Namun kepercayaan itu belum cukup meyakinkannya, bahwa Ki Tanu Metir benar-benar memiliki kelebihan seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu. Sebenarnyalah bahwa Swandaru pun belum pernah melihat kelebihan Ki Tambak Wedi dari orang lain. Tetapi Swandaru telah mempercayainya. Ia percaya karena ia melihat kelebihan Sidanti, murid Ki Tambak Wedi itu, selain setiap orang menyebutnya sebagai seorang yang paling ditakuti di sekitar gunung Merapi. Swandaru percaya karena hampir setiap mulut telah mengucapkannya. Sedang Ki Tanu Metir adalah seorang yang sama sekali tak dikenal sebelumnya.

Ki Tanu Metir menyadari keadaan itu. Ketenaran seseorang berpengaruh juga bagi kepercayaan orang lain terhadapnya. Meskipun ketenaran belum tentu menunjukkan ukuran sebenarnya dari seseorang. Namun Ki Tanu Metir tidak mengingkari pendapat itu. Karena itu, maka ia masih harus mendapatkan kepercayaan lebih banyak lagi dari calon muridnya itu.

Namun setiap ia akan mulai, maka keragu-raguannya tumbuh kembali di dadanya. Permainan yang manakah yang sepantasnya dipertunjukan. Apakah ia mengajak saja Agung Sedayu atau Widura bertempur atau berdua bersama-sama. Tetapi Ki Tanu Metir akan tetap merasakan kebimbangan Swandaru seandainya Swandaru merasa bahwa Widura dan Agung Sedayu telah bersama-sama bersetuju. Kalau demikian, maka sebaiknya Swandaru itu sendiri yang melakukannya.

Tetapi sudah tentu, bahwa permainan itu tidak harus merupakan perkelahian. Karena itu, maka berkatalah Ki Tanu Metir kepada Swandaru, “Kau telah melihat pameran dengan kekuatan ngger. Tetapi tidak selalu bahwa kelebihan kekuatan pada seseorang akan dapat menyelamatkannya dari orang lain yang lebih lemah daripadanya. Kesempatan kelincahan seseorang juga akan turut menentukannya. Nah, sekarang marilah kita melihat, apakah kita cukup memiliki kelincahan”

Sebelum menjawab, maka Ki Tanu Metir itu kemudian mencari beberapa buah batu. Batu itu pun kemudian diletakkannya dalam sebuah lingkaran yang tidak terlalu besar. Kemudian katanya kepada Swandaru, “Nah, marilah kita bermain kejar-kejaran. Apakah angger Swandaru mampu menyentuh aku di dalam lingkaran ini? Kalau aku meloncat terlalu jauh keluar lingkaran atau apabila Angger Swandaru berhasil menyentuh tubuhku, maka aku telah angger kalahkan”

Swandaru mengerutkan keningnya. Permaian ini adalah permainan anak-anak saja nampaknya. Karena itu maka ia menjadi ragu-ragu. Sehingga Ki Tanu Metir itu mendesaknya, “Marilah ngger. Kejarlah aku”

Swandaru menarik nafas. Meskipun demikian dicobanya juga untuk menyentuh Ki Tanu Metir di dalam lingkaran itu. Mula-mula ia merasa bahwa Ki Tanu Metir terlalu menganggap dirinya sebagai anak-anak. Karena itu maka dilakukannya permintaan Ki Tanu Metir itu dengan segan-segan. Ia berjalan saja mendekati orang tua itu, dan dengan loncatan-loncatan dicobanya menyentuh tubuhnya. Tetapi semakin lama Swandaru itu pun menjadi semakin jengkel. Telah berkali-kali ia mencobanya, tetapi setiap kali orang tua itu selalu menghindarinya. Karena itu semakin lama Swandaru menjadi semakin bernafsu. Lingkaran itu tidak terlalu lebar. Ia tinggal mengejar dan menyentuh tanpa takut-takut untuk mendapat serangan atau apa pun dari orang tua itu. Tetapi ia tidak pernah berhasil. Semakin cepat ia bergerak, maka orang tua itu menjadi semakin cepat pula. sekali-sekali merunduk, namun di saat yang lain meloncat tinggi-tinggi. Bahkan ketika Swandaru telah benar-benar kehilangan kesabarannya, dan dengan sepenuh tenaganya ia mengejarnya, maka Ki Tanu Metir itu benar-benar telah membingungkannya. Sekali-sekali ia bahkan kehilangan orang tua itu. Baru ketika orang tua itu memanggilnya, disadarinya, bahwa orang tua itu telah berada di belakangnya.

 ———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 008)

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-07/

Terima kasih kepada mas Rizal yang telah bersusah payah retype jilid ini.

Editing, disesuaikan dengan jilid aslinya oleh Ki Arema

<<kembali | lanjut >>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s