ADBM1-021

<<kembali | lanjut >>

SEKALI lagi Sidanti tersenyum. Betapapun dadanya bergolak karena lepasnya Agung Sedayu, namun terhadap anak muda Jati Anom ini ia ingin bersikap baik, sebagai permulaan dari hubungannya dengan anak-anak muda di kademangan ini.

“Ia menjadi ketakutan, Paman. Mungkin aku dapat menolongnya.”

“Apakah pedulimu atas pengecut itu?”

Sidanti mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Hubungan yang baik antara kita dan anak-anak muda Jati Anom akan berakibat baik, Paman.”

Argajaya menggeram. Namun ia tidak menjawab. Meskipun demikian pandangan matanya yang tajam seolah-olah telah menghunjam menembus jantung Wuranta.

“Wuranta,” berkata Sidanti kepada anak Jati Anom itu, “apakah kau menyangka bahwa suatu ketika Agung Sedayu akan kembali kemari?”

“Itu adalah hal yang mungkin sekali, Tuan. Bahkan mungkin tidak akan terlampau lama lagi. Hari ini, siang, atau malam nanti.”

“Lalu bagaimana dengan kau?”

Wuranta terdiam sejenak. Kemudian desisnya perlahan-lahan, “Agung Sedayu melihat aku datang bersama Tuan-tuan. Aku sangka ia pasti mendendamku.”

“Lalu?”

“Aku harus bersembunyi, Tuan.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Sejenak ia berpikir. Dan ia tiba-tiba bertanya, “Apakah kau ingin ikut aku?”

Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang ditunggu-tunggunya. Tetapi meskipun demikian Wuranta tidak segera menjawab. Wajahnya tampak ragu-ragu.

“Buat apa kau bawa anak itu?” bertanya Argajaya.

“Apa salahnya kita menolongnya, Paman. Mungkin anak muda ini dapat membantu kita.”

“Hanya seorang pemberani yang bermanfaat bagi kita. Bukan seorang pengecut. Seandainya daerah ini kelak, seperti diduga oleh Ki Tambak Wedi, akan menjadi landasan bagi Untara untuk meloncat ke padepokan di lereng Gunung Merapi itu, maka anak semacam itu tidak akan bermanfaat.”

“Tidak, Paman. Mungkin ia akan berguna kelak.”

“Buat apa? Ia tidak akan berani menginjak tanah ini kembali. Kalau kita memerlukan seorang anak muda yang dapat memberi kita beberapa keterangan, ia harus seorang anak yang berani. Berani berada di kampung halamannya untuk menyampaikan sesuatu kepada kita. Tetapi anak ini? Biar sajalah ia mampus dibunuh Agung Sedayu.”

Sidanti menegangkan wajahnya sejenak. Namun kemudian ia tertawa. Katanya, “Paman adalah seorang pengawal yang berani. Karena itulah Paman merasa muak melihat seorang yang berada di dalam ketakutan. Tetapi adalah jauh berbeda, Paman dan anak muda Jati Anom ini.”

Wuranta memperhatikan pembicaraan tentang dirinya yang berlangsung di hadapan hidungnya, dengan demikian ia pun mampunyai penilaian atas kedua orang itu. Argajaya adalah seorang pemberani yang lugu. Yang terlampau percaya pada kekuatan diri. Sedang Sidanti adalah seorang iblis yang licik. Keduanya pasti akan sangat berbahaya baginya. Bahkan disadarinya, bahwa kepercayaan Sidanti kepadanya itu pun harus diterima dengan sangat hati-hati. Namun bagaimanapun juga ia melihat kebenaran anggapan keduanya. Argajaya pun mempunyai alasan yang kuat untuk menolaknya. Karena itu, maka ia meyesal, bahwa ia telah bersikap terlampau takut menghadapi keadaan. Tetapi semuanya telah terlanjur. Ia harus dapat memanfaatkan apa yang masih dipunyainya sekarang.

Yang bertanya kepadanya kemudian adalah Sidanti, “Wuranta. Apakah kau ingin turut aku?”

Kembali Wuranta terdiam.

“Kau akan tinggal bersama pasukanku di padepokan guruku. Mungkin kau akan mengalami hal-hal yang baru, yang dapat merubah sikapmu itu.”

Dengan ragu-ragu Wuranta kemudian bertanya, “Lalu apakah tugasku di sana, Tuan?”

“Huh,” Argajaya berdesah, “hanya orang-orang yang terlampau bodoh yang bertanya demikian.”

“Ya,” sahut Sidanti, “ternyata kau memang agak terlampau bodoh. Tetapi tak apalah. Sebenarnya melihat wajahmu aku mempunyai harapan, bahwa kau akan berguna bagi kami, tetapi agaknya otakmu terlampau tumpul untuk wajah yang cerah itu.”

Sekali lagi dada Wuranta berdesir. Kembali ia membuat kesalahan. Namun agaknya ia masih mempunyai harapan ketika Sidanti berkata, “Yang pertama kau ucapkan adalah kesanggupan. Mungkin kau harus berbuat sesuatu yang dapat membahayakan jiwamu. Bukankah kami terdiri dari prajurit-prajurit yang sedang memperjuangkan suatu cita-cita?”

“Tak akan ia ketahui apakah yang kau sebut cita-cita itu Sidanti. Baginya tak akan dimengerti, apakah arti Pajang dan Jipang. Apakah arti perjuangan Ki Tambak Wedi menentang kekuasaan Pajang sekarang ini. Untuk apa dan bagaimana?”

Sidanti terdiam. Tiba-tiba anak muda itu merenungi wajah pamannya. Di dalam hati kecilnya sendiri terbersit suatu pertanyaan, “Apakah pamannya mengetahuinya? Apakah pamannya menyadari, bahwa di padepokan gurunya sekarang ada dua pihak yang mempunyai pancadan yang berbeda menghadapi Pajang? Dan apakah pamannya sendiri menyadari sepenuhnya, untuk apa ia berjuang? Untuk apa Ki Tambak Wedi menentang Pajang?”

Sebenaranya Sidanti sendiri telah beberapa lama berusaha mencari alasan yang tepat yang dapat dipergunakannya untuk membenarkan sikapnya menentang Pajang. Tetapi ia tidak dapat menemukannya. Sementara ia dapat memuaskan dirinya dengan alasan yang dicari-carinya. Mungkin ia dapat mengatakan kepada orang lain, bahwa ternyata Pajang berbuat sewenang-wenang. Pajang sebenarnya tidak berhak untuk melintir kedudukan Demak, merajai hampir seluruh pulau Jawa. Mungkin ia dapat berpura-pura membenarkan sikap Arya Penangsang dari Jipang.

Tetapi ia tidak dapat berbuat demikian kepada diri sendiri. Ia tidak dapat berkata bahwa Pajang tidak berhak mewarisi kekuasaan Demak. Ia tidak dapat mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa Pajang berbuat sewenang-wenang. Beberapa usaha dari bupati-bupati di sepanjang pesisir untuk melepaskan diri dari kekuasaan Demak setelah Demak jatuh, tidak dapat disejajarkan dengan usahanya itu. Meskipun dari segi kekuatan dan jumlah prajurit yang akan dapat dihimpunnya Sidanti tidak perlu cemas. Di belakangnya terbentang suatu daerah yang luas di Pegunungan Menoreh. Sisa-sisa kekuatan Jipang dan pengaruh Ki Tambak Wedi di sekitar lereng Merapi. Bupati-bupati di pesisir pasti tidak akan dapat berbuat seperti apa yang dilakukan oleh sisa-sisa prajurit Jipang yang putus asa itu.

Sidanti yang kebingungan itu hanya dapat menemukan jawaban yang sama sekali tidak dikehendakinya. Meskipun demikian setiap kali terdengar suara yang tidak diinginkannya itu, suara dari relung yang jauh di dasar hatinya, bahwa pemberontakan ini hanya sekedar didorong oleh nafsu, ketamakan, dendam, dan kebencian. Inikah cita-cita? Nafsu untuk berkuasa dan kedudukan yang baik dengan cepat, ketamakan yang berlebih-lebihan, dendam yang menyala-nyala di dalam dadanya karena kegagalan-kegagalannya selama ini. Sementara itu hatinya dibakar oleh kebencian yang hampir-hampir tidak dapat terkendali lagi.

Wuranta, anak muda Jati Anom masih berdiri di mukanya dengan wajah termangu-mangu. Kata-kata Argajaya benar-benar telah mencemaskannya. Ia melihat orang itu sebagai seseorang yang banyak harus mendapat perhatiannya. Orang itu pada saat pertama telah tidak menyenanginya. Maka bahaya daripadanya adalah bahaya yang pasti akan menjadi paling besar.

Karena Sidanti dan Wuranta masih juga berdiam diri, maka Argajaya-lah yang berkata pula, “Nah, Sidanti tanyakanlah, untuk apa ia ikut ke padepokan Ki Tambak Wedi. Kau akan tau dan kau akan dapat mengukur sampai di mana tingkat kecerdasan otaknya.”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Dalam kebimbangan terdengar ia bertanya, “Ya, untuk apa kau ingin ikut bersama kami, Wuranta?”

Pertanyaan itu telah mendebarkan jantung Wuranta. Untuk masuk ke padepokan Ki Tambak Wedi memang bukan pekerjaan yang mudah. Ia harus berhati-hati menilai pertanyaan itu. Ia tidak akan dapat menjawab dengan alasan yang dibuat-buatnya seolah-olah ia memihak kepada Jipang untuk menentang Pajang. Alasan yang terlampau dibuat-buatnya pasti akan menimbulkan kecurigaan atas mereka berdua setelah mereka kecewa terhadapnya karena kebodohannya.

Karena itu maka dicobanya untuk menghindari jawaban atas pertanyaan itu, katanya, “Bukankah Tuan yang telah menawarkan kepadaku untuk turut ke padepokan lereng Merapi?”

Argajaya mengerutkan keningnya. “Gila,” desisnya. “Agaknya kau pandai juga berbantah. Tetapi jawaban itu hanya menambah keyakinanku bahwa kau benar-benar anak yang bodoh.” Kemudian kepada Sidanti ia berkata, “Lepaskan keinginanmu untuk membawanya.”

Tetapi agaknya Sidanti berpendirian lain. Tenyata anak muda itu tertawa, “Jawabanmu benar,” katanya, “memang akulah yang telah menawarkan kepadamu apakah kau ingin turut dengan aku ke lereng Merapi.”

“Lalu bagaimana maksudmu, Sidanti?”

“Aku bawa orang ini, Paman. Mungkin justru kebodahannya itu akan dapat membantu kami dalam beberapa kepentingan yang sesuai dengan sifatnya itu.”

“Terserahlah kepadamu, Sidanti. Mungkin juga ia dapat membantu mengambil air di pancuran atau memanjat kelapa di kebun-kebun.”

Sidanti mengangguk-angguk sambil berkata, “Mungkin, Paman, tetapi mungkin juga untuk kepentingan yang lain.”

Argajaya tidak mau berdebat lagi dengan kemenakannya. Ia merasa bahwa Sidanti lebih banyak berwenang dari padanya. Karena itu maka katanya kemudian, “Aku akan kembali.”

“Baiklah, Paman. Kita kembali ke padepokan.” Kemudian kepada orang-orangnya ia berkata, “Kita kembali sekarang.”

Argajaya tidak menunggu mereka. Segera ia melangkahkan kakinya mendahului berjalan ke arah Barat, memunggungi matahari yang sedang memanjat lebih tinggi menghadap lereng Merapi yang ujungnya menjadi kemerah-merahan seperti sedang terbakar. Dari mulutnya mengepul asap yang putih, membumbung tinggi, namun kemudian menghambur karena sentuhan angin pagi.

Orang-orang Sidanti itu pun kemudian berjalan pula menyusul Argajaya di belakangnya, sedang Sidanti berjalan paling belakang bersama Wuranta. Ketika mereka meninggalkan tlatah Jati Anom maka bertanyalah Sidanti, “Kau benar-benar ingin meninggalkan kampung halamanmu?”

Wuranta memandangi wajah Sidanti dengan heran. Denga hati-hati ia bertanya, “Kenapa meninggalkan, Tuan? Apakah aku kelak tidak akan dapat kembali lagi?”

“Tentu. Kau tentu akan kembali. Bahkan hari ini kau dapat juga kembali ke kademangan ini.”

Wuranta heran mendengar jawaban Sidanti itu. Hari ini ia dapat kembali ke Kademangan Jati Anom, apakah maksudnya? Tetapi ia tidak segera menjawab atau bertanya. Ia menunggu Sidanti itu menyatakan maksudnya. Ia harus sangat berhati-hati menghadapi anak muda yang tampaknya selalu tersenyum-senyum saja ini. Namun di balik wajahnya yang terang itu, Wuranta merasakan sifat-sifat yang tidak dapat dijajaginya.

“Wuranta,” berkata Sidanti itu kemudian, “kembali atau tidak kembali ke Jati Anom itu sangat tergantung kepadamu sendiri. Kepergianmu ke lereng Merapi ini, meskipun berdasarkan atas tawaranku, tetapi aku terdorong oleh keinginanku melindungimu karena kau takut terhadap Agung Sedayu.”

“O,” Wuranta hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apabila kau suatu ketika merasa berani datang kembali ke kampung halamanmu, apakah keberatannya?”

“Tentu,” sahut Wuranta dengan wajah yang bersungguh-sungguh, “aku tentu berani datang kembali ke kedemangan ini.”

“Kenapa kau sekarang takut kami tinggalkan?”

“Aku dapat kembali di malam hari, Tuan. Meskipun seandainya Agung Sedayu ada di rumahnya, maka aku akan dapat memilih jalan yang tak mungkin dilihatnya. Meskipun kami sama-sama anak Jati Anom, namun beberapa bulan terakhir Agung Sedayu tidak ada di rumah. Ia tidak melihat keadaan terakhir dari kampung halamannya, sehingga sudah tentu aku lebih mengenalnya, apalagi di malam hari dan lebih-lebih lagi apabila aku bersenjata seperti Agung Sedayu.”

“Kau ingin membawa pedang seperti aku?”

“Aku memang pernah belajar bermain pedang.”

“Siapakah yang mengajarimu?”

Wuranta mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Justru ayah Agung Sedayu semasa hidupnya.”

“Ki Sadewa?” Sidanti terkejut.

Wuranta mengangguk.

“Jadi kau murid Ki Sadewa?”

“Tidak sepenuhnya, Tuan. Aku belum menjadi muridnya. Ki Sadewa agaknya ingin melihat apakah aku mampu menjadi muridnya. Tetapi sampai saat meninggalnya, aku tidak pernah dijadikannya muridnya. Mungkin pengaruh yang demikian itulah yang menyebabkan aku takut terhadap anak-anak Ki Sadewa. Apalagi dengan Untara. Kalau ia yang datang dengan tiba-tiba saat ini, mungkin aka sudah mati membeku.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia mempunyai penilaian yang agak berbeda terhadap Wuranta yang disangkanya sekedar anak yang terlampau bodoh. Mungkin otak anak muda itu memang tidak terlampau baik sehingga Ki Sadewa tidak meneruskan maksudnya untuk menuntun anak itu, apalagi menjadikan muridnya.

Tetapi mungkin pula karena sebab-sebab lain. Kali ini Wuranta berusaha untuk mencuri pusaka yang terdapat di dalam rumah Agung Sedayu.

“Mudah-mudahan sifat anak itu tidak terlalu baik. Dengan demikian aku akan dapat mempergunakannya untuk kepentingan yang barangkali sesuai dengan sifatnya yang tidak baik itu,” pikir Sidanti sambil melangkahkan kakinya di samping Wuranta.

Tiba-tiba Sidanti itu bertanya, “Kalau kau membawa pedang apakah kau berani melawan Agung Sedayu seorang melawan seorang?”

Wuranta terdiam sejenak. Sekali lagi ia membuat penilaian atas pertanyaan-pertanyaan Sidanti. Dan kali ini ia menjawab, “Sebenarnya belum tentu aku dapat dikalahkan, Tuan. Tetapi aku merasa bahwa Agung Sedayu adalah anak Ki Sadewa. Sebenarnya aku tidak hanya belajar kepada Ki Sadewa sendiri, Tuan. Aku juga belajar kepada tetangga-tetangga yang lain, bahkan anak-anak muda di Jati Anom ini menganggap aku melampaui diri mereka. Tak ada seorang pun yang berani melawan aku berkelahi.”

“Bagaimana dengan Untara dan Agung Sedayu?”

“O,” Wuranta menelan ludahnya. Ia harus memainkan peranannya, cukup baik. Kalau tidak, anak muda yang dihadapi itu agaknya cukup tajam untuk menangkap kesalahan-kesalahan yang kecil sekalipun. “Keduanya itu terkecuali, Tuan.”

Sidanti tersenyum. Ia mendapat kesan baru pada anak muda Jati Anom itu. Dan ia tidak menyembunyikan kesannya. Katanya, “Kau anak muda yang sombong. Tetapi aku tidak yakin bahwa kau dapat memenuhi sepersepuluh dari kata-katamu itu.”

“Kenapa, Tuan?” sahut Wuranta dengan tiba-tiba sehingga langkahnya terhenti. “Kenapa tidak?”

“Kau berani kembali ke Jati Anom sekarang?”

“O,” Wuranta terdiam. Sementara itu Sidanti tertawa.

“Jangan sekarang, Tuan.”

“Baik. Nanti malam?”

“Tentu, Tuan, apakah sebabnya aku tidak berani.”

“Wuranta,” berkata Sidanti, “kau akan menjadi kawanku yang terpercaya kalau kau dapat melakukan pekerjaan yang akan aku berikan kepadamu.”

“Pekerjaan apakah itu, Tuan?”

“Tidak terlalu sulit. Kau hanya akan mondar-mandir saja. Dari padepokanku ke Jati Anom dan sebaliknya.”

“Untuk apa, Tuan?”

“Apakah anak-anak muda di Jati Anom menaruh kepercayaan kepadamu?”

“Tentu, Tuan,” sahut Wuranta. “Aku adalah tetua anak-anak muda di sini meskipun tidak dinyatakan secara resmi. Memang ada satu dua anak yang tidak mau tunduk kepadaku dan kepada sebagian besar dari anak-anak muda Jati Anom, tetapi dalam kesempatan seperti sekarang ini, mereka pasti akan segera aku singkirkan.”

“Singkirkan bagaimana?” bertanya Sidanti.

Wuranta mengerutkan keningnya, jawabnya, “Aku pernah juga melakukannya, Tuan. Aku bunuh anak yang melawan kehendakku beberapa hari yang lalu.”

Kini Sidanti tersenyum di dalam hati. Ia menemukan seorang anak muda yang menyenangkan. Pengecut, sombong, pendendam, pembual, dan licik. Namun Sidanti bukan anak kemarin sore untuk segera mempercajainya. Sidanti cukup berhati-hati menghadapi anak-anak muda yang baru saja dikenalnya.

Terhadap Wuranta ini pun Sidanti cukup waspada meskipun tidak tampak pada wajah serta sikapnya. Meskipun seakan-akan ia dapat mempercayai setiap kata-kata Wuranta, namun setiap kali Sidanti itu mempersoalkannya di dalam hatinya.

Perjalanan mereka itu pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan padepokan Ki Tambak Wedi di lereng Merapi. Mereka kini telah melewati Randu Lanang. Dan beberapa ratus langkah lagi mereka telah memasuki tlatah padepokan Ki Tambak Wedi.

Namun yang beberapa ratus langkah itu terdiri dari jurang-jurang yang curam, tebing yang terjal di antara hutan yang membujur di ereng-ereng Gunung Merapi.

“Inilah padepokan kami,” berkata Sidanti kepada Wuranta ketika mereka melihat sebuah padepokan di antara rimbunnya dedaunan dan dikitari oleh hutan-hutau yang tipis. “Di sinilah aku berprihatin selama bertahun-tahun membentuk diri di bawah pimpinan Ki Tambak Wedi. Dan kini sebagian dari prajurit Jipang pun berada di sana pula.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia melihat berkeliling, maka hatinya menjadi berdebar-debar. Setiap kali ia melihat ujung tombak mencuat dari balik batu-batu dan dari belakang pepohonan. Beberapa kali pula ia melihat dua orang yang asyik duduk di atas sebongkah batu. Namun ternyata bahwa kedua orang itu adalah dua orang di antara para pengawas yang bertebaran.

“Penjagaan di sini cukup baik,” desis Wuranta di dalam hati. “Alangkah sulitnya untuk dapat masuk tanpa diketahui meskipun malam hari.”

Tetapi Wuranta tidak segera menjadi putus asa melihat kerapatan penjagaan itu. Ia yakin, bahwa di suatu tempat, akan dapat diketemukan tempat-tempat yang lemah dari penjagaan itu.

“Apakah yang sedang kau renungkan,” tiba-tiba Wuranto terkejut mendengar pertanyaan Sidanti.

“Tidak apa-apa,” sahut Wuranta, “tetapi aku heran apakah di tempat ini dapat diperoleh makan yang cukup bagi seluruh isi padepokan?”

“Pertanyaanmu yang pertama-tama berhubung dengan tempat ini adalah soal makan. Kenapa?”

Wuranta tidak segera menjawab. Ternyata setiap kata-katanya mendapat penilaian cukup cermat.

“Kenapa kau tidak bertanya tentang kekuatan yang tersimpan di dalam padepokan ini? Atau siapa saja yang tinggal di padepokan ini sekarang. Atau di mana saja kamt menempatkan para penjaga kami?”

Wuranta tiba-tiba tersenyum. Katanya, “Itu tidak menarik perhatianku, Tuan. Aku adalah seorang petani. Ketika aku melihat tanah di lereng ini, aku segera menyangka bahwa di sini tidak banyak dibangun tanah-tanah persawahan meskipun aku melihat parit yang mengalirkan air yang cukup.

“Kau salah Wuranta,” jawab Sidanti, “agak di bagian atas kau akan melihat sawah yang bertingkat-tingkat. Sebuah air terjun yang cukup besar dan kebun-kebun salak yang luas. Nanti kau akan menyaksikan sendiri, bahwa padepokan ini tidak kalah ramainya dengan Kademangan Jati Anom. Tetapi bagi kaum dagang, padepokan kami tidak menarik perhatian. Tidak seperti Jati Anom yang reja. Apalagi Sangkal Putung yang merupakan persimpangan jalan bagi para pedagang keliling. Sehingga setiap kali orang-orang kami harus turun menukarkan hasil bumi kami dengan orang-orang di bawah kaki Gunung Merapi. Dengan Kademangan Jati Anom misalnya. Tetapi kalau kau bertanya tentang pande besi, maka pande besi kami jauh lebih baik dari pande besi di mana pun. Lebih baik dan lebih banyak. Pande besi Sendang Gabus yang terbunuh itu pun bukan seorang yang mengagumkan di daerah kami, daerah Tambak Wedi.”

“Nama apakah sebenarnya Tambak Wedi itu, Tuan?”

“Nama tempat. Padepokan kami adalah Padepokan Tambak Wedi. Orang yang bertanggung jawab atas padepokan kami kemudian disebut orang Ki Tambak Wedi.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia mengedarkan pandangan matanya menebar ke sekitar Padepokan Tambak Wedi. Ternyata memang tanah itu adalah tanah yang subur. Adalah di luar dugaannya bahwa padepokan setinggi itu ternyata berpenduduk cukup padat. Kini padepokan itu menjadi semakin padat karena orang-orang Jipang di bawah pimpinan Sanakeling berada di sana pula.

Sejenak kemudian maka mereka pun telah memasuki Padepokan Tambak Wedi itu. Mereka menyusup sebuah regol yang besar pada dinding padepokan yang tebal, kuat dan tinggi. Dinding batu hitam yang diatur cukup baik melingkar seputar padepokan yang ramai.

“Dinding ini pun merupakan sebuah persoalan,” desis Wuranta di dalam hatinya. “Apakah seseorang akan dapat meloncati dinding setinggi ini? Mudah-mudahan ada bagian-bagian yang setidak-tidaknya mungkin dapat dipanjat.”

Tetapi Wuranta kemudian tidak mendapat kesempatan lagi untuk berangan-angan. Segera ia sampai ke sebuah rumah yang cukup besar. Sidanti membawanya masuk ke dalam rumah itu. Dan di dalam rumah itu ditemuinya para pemimpin yang lain. Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, dan yang lain-lain.

Dengan canggung Wuranta duduk di antara mereka, di antara orang-orang yang belum dikenalnya. Dengan demikian maka ia harus menjadi lebih berhati-hati. Setiap katanya harus dipertimbangkannya masak-masak supaya ia tidak terjerumus dalam kesulitan.

Beberapa orang dari mereka menerima kedatangan Wuranta dengan sikap acuh tak acuh. Ada yang sama sekali tidak memperhatikannya lagi seperti Argajaya. Kehadiran Wuranta bagi mereka sama sekali tidak berarti apa-apa.

Tetapi ada juga di antara mereka yang menyambutnya dengan ramah. Hubungan yang baik dengan Jati Anom akan sangat menguntungkan mereka. Terutama dalam segi kekuatan. Setidak-tidaknya Jati Anom jangan sampai menjadi pangkalan yang baik bagi Untara seperti Sangkal Putung. Kalau anak-anak mudanya tidak membantu, maka kedudukan Untara pun tidak akan sekuat kedudukan Widura di Sangkal Putung.

Demikian jugalah harapan Sidanti. Ia mengharap Wuranta dapat membantunya, membuat Jati Anom benteng pertama bagi pertahanan Tambak Wedi. Tetapi dalam waktu yang pendek ini dia belum dapat mengirimkan pasukannya ke Jati Anom karena berbagai pertimbangan. Terutama pertimbangan tentang kekuatan yang belum mencukupi untuk dibagi-bagi. Kalau ia menempatkan sebagian dari kekuatannya di Jati Anom, maka kekuatannya itu pasti tidak akan dapat melawan seandainya Untara datang dengan prajurit segelar-sepapan. Sedangkan menurut perhitungannya, maka kedatangan Untara pasti tidak akan terlalu lama lagi.

Maka yang dapat dikerjakannya sekarang adalah mempengaruhi anak-anak muda Jati Anom, supaya mereka tidak dapat bekerja bersama dengan orang-orang Pajang, meskipun Untara dan Agung Sedayu sendiri berasal dari Jati Anom.

Wuranta adalah salah seorang dari anak-anak muda Jati Anom yang akan dijadikannya alat untuk itu.

Karena itu, maka setelah mereka duduk bersama sejenak, maka diajaknya kemudian Wuranta berjalan-jalan di dalam padepokan itu. Ditunjukannya beberapa bagian dari kekuatannya di Padepokan Tambak Wedi itu. Diberitahukannya beberapa nama yang dapat menggetarkan dada anak muda Jati Anom itu. Tetapi sampai demikian jauh, Sidanti masih tetap menyimpan rahasia-rahasia yang penting. Ia masih belum dapat mempercayai anak muda yang baru saja dibawanya itu.

“Apakah yang menarik perhatianmu, Wuranta?” bertanya Sidanti kemudian.

“Tuan,” jawab Wuranta, “padesan yang di tengah-tengahnya dibelah oleh sebuah sungai adalah padesan yang baik. Kehidupan di atasnya pasti diliputi oleh suasana tenteram dan damai seperti padukuhan ini. Apalagi menurut penglihatan sepintas, padukuhan ini pun dikelilingi oleh jalan yang cukup lebar. Bukankah begitu?”

“Memang padesan ini dibelah oleh sebuah sungai,” sahut Sidanti. “Tetapi tidak dikelilingi penuh oleh jalan seperti yang kau maksud. Di sisi Timur dan Utara memang membujur jalan yang cukup lebar. Di sisi Barat sebuah jalan sempit, tetapi di sisi Selatan padepokan ini berbatasan dengan sebuah pategalan.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia tidak segera bertanya.

“Kau memang seorang petani yang tekun,” berkata Sidanti. “Perhatianmu yang pertama-tama tertuju pada sungai, jalan dan parit. Apakah kau tidak tertarik kepada hal-hal yang lain?”

“Tentu, Tuan,” jawab Wuranta, “aku tertarik juga akan kekuatan prajurit di Tambak Wedi ini. Aku tertarik kepada ketabahan hati mereka.”

“Apakah kau tidak ingin menjadi seorang prajurit? Bukankah kau sudah pernah belajar bermain pedang?”

“Tentu, Tuan, aku ingin menjadi seorang prajurit yang baik. Seperti Tuan, misalnya.”

Sidanti tertawa. “Kau pasti akan dapat menjadi seorang prajurit yang baik.”

Wuranta tertawa pula. Katanya, “Tuan berolok-olok.”

Sidanti masih juga tertawa, tetapi ia tidak menjawab kata-kata Wuranta itu. Sejenak ia berdiam diri sambil melangkah mengelilingi padepokannya yang cukup luas. Setiap kali mereka bertemu dengan beberapa orang laki-laki yang garang dengan pedang di lambung masing-masing.

“Hem,” desah Wuranta di dalam hatinya, “padukuhan ini penuh dengan senjata yang siap menyambut pasukan Pajang apabila mereka datang kemari. Alangkah sulitnya untuk mencapai padepokan ini. Di antara cerung-cerung jurang dan tebing, pasukan Tambak Wedi mendapat kesempatan yang cukup banyak untuk menyambut pasukan Pajang apabila mereka merayap naik.”

“Wuranta,” tiba-tiba Sidanti berkata, “kau dapat mencoba membantu kami apabila kau mau. Tetapi kau harus yakin bahwa kami akan dapat mengenyahkan kekuasaan Pajang, setidak-tidaknya untuk sementara dari tlatah di sekitar Gunung Merapi. Pengaruh Ki Tambak Wedi cukup luas di sini. Sekarang baru dihimpunnya orang-orang yang percaya kepada kekuatannya. Orang-orang dari segenap sudut daerah ini. Orang-orang dari Prambanan, Mayungan, Pucangan, Asem Gede, bahkan kelak pasti dari daerah yang lebih jauh, Wanakerta dan Mangir. Sedang aku sendiri adalah Putera Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang luas. Semuanya itu akan merupakan landasan yang kuat untuk melawan Pajang yang kini agaknya harus menghadapi kekuatan para bupati di Pesisir Utara. Suatu ketika pasukan Pajang akan menjadi semakin lemah, sedang kita menjadi semakin kuat. Suatu ketika maka Untara dan Widura pasti akan ditarik kembali untuk menghadapi pemberontakan di sebelah timur kekuasaan Demak lama. Nah, dalam pada itu kami akan dapat membangun kekuatan. Kau tahu, bahwa Jati Anom akan dapat menjadi benteng yang kuat dari kekuasaan Ki Tambak Wedi di sini? Kelak Jati Anom pasti akan menjadi pintu gerbang yang ramai dari suatu daerah yang besar yang dapat menyaingi Pajang sekarang ini. Sebentar lagi Paman Argajaya akan kembali ke Menoreh. Paman akan segera kembali membawa kekuatan yang lebih besar dari kekuatan Pajang di daerah ini, sementara itu kita akan membangun terus. Dalam pada itu, bantuan anak-anak muda Jati Anom sangat kami harapkan. Kami tidak akan melupakan jasa-jasa yang telah kalian berikan. Terutama kau apabila kau mampu menghubungi anak-anak muda sebayamu.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mendengar sebuah rencana yang besar dari seorang putera kepala Tanah Perdikan. Ia percaya bahwa Sidanti dapat mengerahkan tenaga manusia cukup banyak dari tanah pegunungan Menoreh. Ia percaya bahwa di tanah yang garang seperti Menoreh, pasti telah dilahirkan laki-laki yang kuat dan garang pula, yang sesuai benar dengan tugas seorang prajurit dalam keadaan seperti Sidanti dan Argajaya kini. Dan ia dapat juga mempercayainya bahwa pengaruh Ki Tambak Wedi memang cukup luas di daerah lereng Gunung Merapi. Beberapa-orang terkenal yang tersebar di beberapa daerah telah mengakuinya sebagai seorang guru dalam olah kanuragan dan kebatinan.

Sejenak kemudian mereka pun saling berdiam diri. Sekali-sekali Sidanti mencoba memandang wajah anak muda Jati Anom itu. Tetapi Sidanti tidak segera mendapat kesan sesuatu pada wajah itu. Namun sejenak kemudian Sidanti mendengar Wuranta itu bergumam, “Bukan main.”

“Apa yang bukan main?”

“Tuan, dan Ki Tambak Wedi. Apakah kelak Tuan akan dapat menjadi Sultan?”

Sidanti tertawa semakin keras. Katanya, “Tidak setiap orang dapat menjadi Sultan. Tetapi siapa tahu, bahwa suatu ketika aku mendapatkan tombak Kangjeng Kiai Pleret atau sepasang keris Nagasasra dan Sabuk Inten atau keris yang keramat Kiai Sengkelat.”

“Apakah pengaruh senjata-senjata itu?” bertanya Wuranta.

“Senjata-senjata itu adalah senjata-senjata kebesaran. Senjata itu mempunyai pengaruh atas orang-orang yang memilikinya.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang pernah mendengar bahwa pernah terjadi perjuangan yang dahsyat untuk memperebutkan keris-keris Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten. Tetapi ia tidak membuat tanggapan sepatah kata pun.

“Nah, pikirkanlah Wuranta. Mungkin kau akan dapat menjadi seorang demang atau seorang kepala tanah perdikan seperti ayahku. Tetapi apakah kau berani pulang ke Jati Anom?”

“Kenapa tidak, Tuan?”

“Kalau bertemu dengan Agung Sedayu?”

“Sudah aku katakan, Tuan. Aku akan datang malam hari, sehingga kemungkinan untuk bertemu dengan Agung Sedayu dapat dihindari.”

“Bagaimana mungkin kau dapat bertemu dengan anak-anak muda yang lain?”

“Aku kunjungi rumahnya masing-masing. Kalau aku sudah mempunyai cukup kawan, maka aku akan dapat menyingkirkan Agung Sedayu.”

“Kalau Untara datang bersama pasukannya?”

“Kami akan menyingkir.”

“Jangan. Biarlah kalian tinggal di rumah kalian masing-masing. Kalian akan merupakan pembantu yang baik. Kalian dapat memberitahukan kepada kami apa saja yang telah dilakukan oleh Untara. Tidak perlu kau sendiri, sebab Agung Sedayu telah pernah melihat kau datang bersama aku. Kau dapat menempatkan beberapa orang di Jati Anom. Dari mereka kau akan mendapatkan beberapa keterangan yang akan kau bawa kemari.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bagaimana?”

“Akan aku coba, Tuan,” sahut Wuranta.

Sidanti tersenyum. Tetapi senyumnya itu sangat meragukan hati Wuranta. Ia tidak dapat menduga tepat arti daripada senyumnya itu.

“Apakah kau masih ingin berjalan-jalan?” tiba-tiba Sidanti bertanya.

“Ya, Tuan. Di manakah sawah yang bertingkat-tingkat itu?” bertanya Wuranta.

“Perhatianmu sebagian besar masih tertuju pada sawah dan parit. Tetapi baiklah. Marilah kita kembali, kau akan mendapat kawan yang baik.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Diikutinya Sidanti berjalan kembali ke banjar ke tempat para pemimpin laskar di Padepokan Tambak Wedi. Kemudian dipanggilnya seorang anak muda yang sebaya dengan Wuranta. Alap-alap Jalatunda.

“Adi,” berkata Sidanti kepada Alap-alap itu. “Kau mendapat seorang kawan. Kawan dari Jati Anom yang bersedia membantu perjuangan kita. Ia ingin melihat-lihat daerah padepokan ini. Tetapi perhatiannya sebagian besar tertarik pada sawah dan parit-parit. Nah, bawalah ia berjalan-jalan supaya ia mengenal daerah ini dengan baik.”

Alap-alap Jalatunda memandangi Wuranta sejenak. Matanya yang tajam telah menumbuhkan berbagai pertanyaan di hati Wuranta. Tetapi betapa tajam mata anak muda itu, namun anak muda ini pasti tidak selicik Sidanti.

“Baiklah,” jawab Alap-alap Jalatunda dengan ragu. “Marilah, ke mana kau ingin berjalan-jalan?”

Terasa bahwa anak muda yang disebut bernama Alap-alap Jalatunda ini agak terlampau kasar. Namun Wuranta tidak akan dapat menolaknya.

“Pergilah, dan bawalah ke mana kau suka,” berkata Sidanti kemudian.

Keduanya pun kemudian melangkah keluar. Tetapi belum lagi mereka meninggalkan halaman, terdengar Sidanti memanggil Alap-alap Jalatunda. Ketika mereka sudah berhadapan di muka pintu, maka Sidanti pun berbisik perlahan, “Jangan kau anggap anak muda itu seperti seekor kelinci yang bodoh. Ternyata ia cerdik melampaui kancil. Awasi dan ingat-ingat apa saja yang ingin dilihatnya.”

Tiba-tiba Alap-alap Jalatunda tersenyum, “Apakah maksudmu, aku harus menyelesaikannya dan melemparkannya ke sawah atau ke sungai?”

“Jangan. Kita harus mendapatkan kepastian, apakah ia dapat kita pergunakan atau tidak.”

Kembali Alap-alap Jalatunda tersenyum. Katanya, “Hanya itu pesanmu?”

“Ya, dan tumbuhkan kekagumannya atas kekuatan kita.”

Alap-alap Jalatunda pun kemudian membawa Wuranta berjalan berkeliling padepokan. Seperti yang dikatakannya, Wuranta ingin melihat sawah yang bertingkat-tingkat dan parit yang membelah sawah dan padepokan mereka. Tetapi hampir seluruh padepokan dijelajahinya, namun belum juga ditemukannya apa yang dicari. Jalan untuk memasuki padepokan itu.

“Aku tidak boleh tergesa-gesa,” katanya di dalam hati. “Kalau mereka mencurigai aku, maka selesailah tugasku. Mungkin kepalaku besok akan ditemukan oleh Agung Sedayu di muka rumahnya.”

Akhirnya mereka pun kembali ke tempat para pemimpin. Kembali Wuranta duduk dengan kaku di tengah-tengah orang yang belum begitu dikenalnya. Sementara itu ia mendengar Sidanti berkata, “Wuranta, kau akan segera menerima tugasmu setelah kau sehari berada di antara kita. Tugas yang masih sangat ringan. Malam nanti kau harus turun kembali ke Jati Anom. Lihat apakah yang terjadi di sana, dan coba lihat, apakah Agung Sedayu masih di sana pula.”

Wuranta menjadi berdebar-debar mendengar perintah itu. Ia tidak dapat meraba tepat maksud Sidanti. Ia melihat anak muda itu tersenyum. Dan senyumnya memancarkan seribu satu macam kemungkinan.

Karena Wuranta tidak segera menjawab, maka berkatalah Sidanti, “Bagaimana, apakah kau sanggup melakukannya? Kau tidak perlu takut terhadap siapa pun. Kau harus belajar berani menghadapi bahaya apabila kau benar-benar ingin menjadi seorang prajurit yang baik. Kau dapat mengatakan kepada kawan-kawanmu di Jati Anom tentang apa yang kau lihat di sini. Kekuatan Tambak Wedi tidak akan dapat digoyahkan hanya oleh kekuatan Untara. Kalau seluruh prajurit Pajang di sepanjang pantai utara dan di seluruh daerah Bang Wetan ditarik, mungkin Tambak Weii dapat bedah. Itu pun baru suatu kemungkinan. Apalagi sebentar lagi kalau prajurit dari Menoreh sudah datang. Maka tidak akan ada kekuatan yang dapat memasuki daerah Tambak Wedi. Semuanya pasti akan hancur selagi mereka mencoba memanjat tebing Gunung Merapi ini.”

Wuranta masih berdiam diri. Tetapi terasa detak jantungnya menjadi semakin keras memukul dinding dadanya.

“Nah, pergilah. Kalau kau masih belum berani bertemu dengan Agung Sedayu, maka tugasmu hanyalah melihat apakah ia masih berada di Jati Anom.”

Wuranta tidak akan dapat terus-menerus berdiam diri tanpa menanggapi perintah itu. Karena itu maka kemudian jawabnya per-lahan-lahan, “Baiklah, tuan. Aku akan pergi ke Jati Anom.”

Sidanti tertawa. “Kenapa kau ragu-ragu? Kau takut?”

“Tidak, Tuan,” sahut Wuranta.

“Baik,” tetapi Sidanti masih tertawa, “kalau kau berangkat senja nanti, maka besok pagi-pagi kau sudah kembali kemari. Kau akan langsung memberitahukan tugasmu itu kepadaku. Apakah yang telah terjadi di Jati Anom dan apakah Agung Sedayu masih berada di tempat itu.”

“Baik, Tuan,” sahut Wuranta.

“Hubungi anak-anak muda yang dapat mengerti apa yang akan kau katakan kepada mereka. Kepada yang berkeras kepala kau dapat memberikan gambaran bahwa Tambak Wedi akan mampu menggilas Jati Anom apabila dikehendaki. Mereka yang menentang akan hancur, sedang mereka yang memilih perjuangan kami akan menikmati kemenangan.”

“Baik, Tuan.”

“Nah, sekarang beristirahatlah. Berangkatlah senja nanti. Kau tidak perlu menemui aku lagi.” Kemudian kepada salah seorang yang berada di tempat itu Sidanti berkata, “Tempatkan anak muda ini di rumah Kakek Kriya.”

Wuranta pun kemudian dibawa pergi. Ke pondokan yang diperuntukkannya. Ia harus beristirahat sejenak supaya senja nanti ia dapat melakukan tugasnya. Berjalan kembali ke Jati Anom dan pagi-pagi besok ia harus sudah menghadap Sidanti.

Sepeninggal Wuranta, Sidanti melihat Argajaya berdiri sambil bergumam, “Buat apa kau pelihara anak gila itu. Apa pula gunanya kau bawa ia berkeliling padepokan ini kemudian kau lepaskan kembali ke Jati Anom?”

Sidanti tersenyum, jawabnya, “Sudah aku katakan, Paman. Ia akan merupakan alat yang baik untuk menakut-nakuti anak-anak muda Jati Anom. Sedangkan kalau anak itu seperti yang dikatakannya, mempunyai pengaruh yang baik, maka ia akan dapat menjadi jembatan untuk mengenal anak-anak muda yang lain.”

“Kau terlalu percaya kepadanya,” berkata Sanakeling. “Apakah kau yakin bahwa ia tidak akan berkhianat?”

“Sidanti tidak akan sebodoh itu,” sahut Sidanti. “Aku ingin melihat, apakah ia tidak sekedar alat Agung Sedayu atau Untara untuk menjebak dan memasukkan orang-orangnya kemari. Karena itu maka aku minta nanti senja apabila ia pergi, Adi Alap-alap Jalatunda mengikutinya. Lihatlah, apakah ia berhubungan dengan Agung Sedayu atau tidak. Kalau ia menemui Agung Sedayu, maka anak itu besok akan tergantung di ujung Kademangan Jati Anom. Mayatnya akan tergantung-gantung selama seminggu sebelum kita memaksa orang-orang Jati Anom mengambil dan menguburkannya.”

Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Argajaya yang sudah melangkahkan kakinya, tertegun dan berpaling kepada Sidanti. Katanya, “Kau telah membuang waktu untuk mengurus anak bodoh itu. Tetapi ada juga baiknya kau mengirimkan seseorang untuk melihatnya.”

Sidanti tidak menjawab. Ketika ia melihat wajah Alap-alap Jalatunda, maka dilihatnya anak muda itu tertawa sambil berkata, “Aku tidak saja ingin menggantungnya di ujung Kademangan, bahkan aku ingin menggantung Agung Sedayu itu sendiri.”

“Jangan sombong,” desis Sidanti, “kau hanya mengamat-amati anak itu. Kalau ia memasuki rumah Agung Sedayu, cobalah lihat, tetapi hati-hati supaya bukan lehermu yang dijerat oleh Agung Sedayu, apakah Wuranta menemui Agung Sedayu atau seorang perempuan tua di rumah itu yang diakunya sebagai bibinya? Kalau ia menemui Agung Sedayu, maka semuanya sudah jelas. Kau tidak usah berbuat apa-apa. Tinggalkan saja ia pergi supaya kau tidak mati dibunuh oleh adik Untara itu. Besok anak itu akan datang kemari lagi untuk menyerahkan lehernya.”

“Aku sendiri dapat menyelesaikannya, Kakang,” berkata Alap-alap Jalatunda.

“Kurang menyenangkan. Kita bersama-sama akan membuat perhitungan dengan anak itu.”

“Tetapi,” berkata Sanakeling, “apakah rahasia Tambak Wedi dengan demikian sudah diketahui oleh Agung Sedayu?”

“Tak ada yang dapat dikatakan tentang padepokan ini selain kekuatan yang tangguh. Ia tidak melihat suatu kelemahan pun. Aku belum tahu, rahasia apa yang sebenarnya disembunyikannya di balik keinginannya untuk melihat sawah-sawah dan sungai di daerah ini.”

Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada Alap-alap Jalatunda ia berpesan, “Hati-hatilah kau, supaya bukan kau yang tergantung di ujung Kademangan Jati Anom.”

Alap-alap Jalatunda tertawa mendengar pesan Sanakeling. Pesan itu terdengar sebagai suatu ucapan sendau-gurau saja. Hatinya menjadi gembira mendapat suatu pekerjaan yang baginya dapat memberi kesegaran setelah beberapa lama ia duduk saja terkantuk-kantuk di padepokan itu. Kerjanya hanya berjalan hilir mudik, atau memberi beberapa petunjuk kepada para prajurit dan orang-orang baru yang berasal dari daerah sekitar padepokan itu, atau orang-orang yang datang dari berbagai daerah karena pengaruh nama Ki Tambak Wedi atas keluarga mereka atau orang-orang yang mereka hormati.

***

Tetapi kini ia harus mengikuti seorang anak muda dari Jati Anom itu. Mengawasi dan kemudian berbuat sesuatu apabila perlu.

Namun dalam pada itu terdengar Argajaya berkata, “Jadi kalau kali ini anak Jati Anom itu tidak menjumpai Agung Sedayu, kau akan mempercayainya untuk seterusnya?”

“Bukan berarti begitu, Paman,” jawab Sidanti. “Untuk seterusnya pun anak itu perlu diawasi. Baru setelah terbukti kesetiaannya, maka sedikit demi sedikit ia akan dapat dilepaskan.”

“Tidak banyak gunanya,” gumam Argajaya. “Anak itu tidak akan banyak memberikan apa-apa kepada kita. Pada saat kau dapat suatu keyakinan bahwa ia dapat dipercaya, maka Untara sudah berada di hadapan hidungmu.”

“Pada saat yang demikian kita memerlukan bantuan anak-anak muda Jati Anom. Setidak-tidaknya mereka tidak membantu pasukan Untara. Tidak menyediakan makan bagi mereka, apalagi memberikan bahan-bahannya.”

“Untara dapat berbuat dengan kekerasan.”

“Itulah yang kita inginkan. Anak-anak muda itu akan merupakan minyak di dalam bumbung bambu. Kalau kita mampu menyalakan, maka meledaklah bumbung itu.”

Argajaya tidak menjawab. Kemudian ia meneruskan langkahnya keluar dari dalam bilik itu. Meskipun demikian ia bergumam, “Kalau tekadmu telah bulat untuk melawan Pajang, sebaiknya kau mengambil orang-orangmu dari Menoreh.”

Sidanti tidak menjawab, karena Argajaya pun tidak berhenti. Sejenak kemudian orang itu telah hilang di balik pintu.

Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda pun kemudian meninggalkan bilik itu pula. Sekali lagi Sidanti berpesan kepada Alap-alap muda itu, “Jaga, jangan sampai ia mengetahui bahwa kau mengikutinya supaya ia berbuat seperti yang dikehendakinya.”

“Apakah ia berangkat senja nanti sebelum malam?”

“Kau takut dilihatnya?”

Alap-alap Jalatunda mengerutkan keningnya, kemudian jawabnya, “Sebelum gelap adalah sangat sulit untuk mengikutinya tanpa diketahuinya.”

“Usahakan agar ia berangkat setelah matahari turun di bawah cakrawala.”

Alap-alap Jalatunda tidak menjawab. Tetapi ia berjalan terus meninggalkan ruangan itu di belakang Sanakeling.

Ketika mereka sampai ke halaman, Sanakeling masih mencoba memperingatkan Alap-alap Jalatunda, “Hati-hatilah kau, Alap-alap kecil.”

Alap-alap Jalatunda mempercepat langkahnya. Desisnya, “Apa sulitnya pekerjaan itu? Kalau anak itu berbuat yang aneh-aneh aku tidak perlu menunggu besok. Malam nanti anak itu akan aku gantung di ujung Kademangan Jati Anom.”

“Jangan membuat perkara. Turuti saja kata-kata Sidanti, anak gila itu. Dengan demikian kita tidak akan banyak menemui kesulitan di sini.”

“Mau apa saja dia terhadapku? Aku tidak takut terhadap murid Tambak Wedi itu.”

“Kau memang terlampau sombong. Kau masih belum dapat menyamainya meskipun kau berlatih seorang diri hampir setiap malam. Kau sangka Sidanti itu tidak berbuat sesuatu untuk mempertinggi ilmunya?”

“Tidak,” sahut Alap-alap Jalatunda, “ia hanya menunggui bilik gadis itu saja siang dan malam. Tetapi ia pengecut. Ia tidak berani masuk.”

Sanakeling berpaling memandangi wajah Alap-alap Jalatunda. Kemudian katanya, “Jangan hiraukan gadis itu. Tetapi jangan pula berbuat sesuatu yang merugikan kedudukan kita di sini. Sementara kita harus menerima saja keadaan ini. Kalau anak Jati Anom itu benar-benar menemui Agung Sedayu, katakan saja hal itu kepada Sidanti, jangan kau lakukan sendiri hukuman atasnya.”

Alap-alap Jalatunda tidak menjawab.

“Beristirahatlah,” berkata Sanakeling, “kau malam nanti akan berjalan sepanjang malam.”

“Baiklah,” jawab Alap-alap itu, yang kemudian berjalan ke pondoknya yang didiaminya dengan beberapa orang anak buahnya.

Senja itu Alap-alap Jalatunda telah menyiapkan diri mondar-mandir di jalan kecil di tengah-tengah padepokan itu. Pedang di lambungnya berkali-kali dirabanya, seakan-akan tangannya sudah terlampau gatal untuk mempergunakan. Dengan gelisah ia mengawasi regol halaman rumah tempat Wuranta beristirahat. Kalau-kalau anak Jati Anom itu berangkat menunaikan perintah Sidanti.

Tetapi akhirnya ia tidak sabar lagi. Alap-alap Jalatunda itulah yang kemudian mendatangi pondokan Wuranta.

“Kau akan pergi sekarang?” bertanya Alap-alap itu.

“Ya, sebentar lagi,” sahut Wuranta. “Sekarang telah senja.”

“Masih terlampau siang. Sebaiknya kau berangkat sesudah gelap.”

“Kenapa?”

“Tak seorang pun melihatmu kecuali para penjaga. Mungkin ada orang-orang yang sengaja memata-matai padepokan ini. Mereka akan melihatmu dan mungkin kau akan mendapat bahaya di perjalanan.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah,” katanya, “aku akan berangkat sesudah gelap.”

Mendengar jawaban Wuranta itu maka Alap-alap Jalatunda tersenyum di dalam hati. Kalau anak itu bersedia berangkat sesudah gelap, maka pekerjaannya tidak akan terlampau sulit. Ia merasa bahwa ia pasti jauh lebih berpengalaman dari anak muda yang bernama Wuranta itu, sehingga ia akan mendapat banyak kesempatan untuk melakukan tugasnya.

Ketika kemudian matahari menjadi semakin rendah, dan tenggelam di balik punggung Gunung Merapi, maka lereng di sebelah timur itu pun menjadi semakin suram. Warna kemerah-merahan yang berpencaran di langit pun semakin lama semakin pudar, sehingga akhirnya perlahan-lahan kabut yang hitam turun menyelimuti lereng Gunung Merapi itu.

Ketika seseorang menyalakan pelita di dalam bilik itu, maka berkata Alap-alap Jalatunda, “Hari telah mulai gelap. Apakah kau sudah siap untuk berangkat?”

“Aku sudah siap sejak tadi,” sahut Wuranta.

Alap-alap Jalatunda mengerutkan keningnya, tetapi kemudian dipaksakannya bibirnya tersenyum, “Baik. Marilah aku antar kau sampai ke perbatasan.”

“Aku berani berjalan sendiri.”

Sekali lagi Alap-alap Jalatunda mengerutkan keningnya. Tetapi sekali lagi pula ia memaksa bibirnya untuk tersenyum, “Kau memang berani. Tetapi supaya tidak menimbulkan salah paham dengan para penjaga yang belum mengenalmu dengan baik.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Alasan itu memang masuk di akalnya. Karena itu maka jawabnya, “Terima kasih.”

“Apakah kau juga memerlukan senjata?” bertanya Alap-alap Jalatunda.

Wuranta berpikir sejenak. Lalu jawabnya, “Aku memang memerlukannya. Apakah kau mempunyai senjata rangkap?”

“Setiap orang mempunyai senjata rangkap di sini. Bahkan setiap orang apabila dikehendaki dapat membawa tiga atau empat pedang sekaligus. Pande besi di padepokan ini melimpah ruah.”

“Terima kasih. Apakah kau dapat memberi aku sebuah pedang yang tidak terlampau besar?”

Alap-alap Jahtunda mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya, “Marilah kita berangkat. Aku akan mengambil sebilah pedang untukmu sambil berjalan.”

Keduanya pun kemudian berangkat meninggalkan rumah itu. Ketika mereka sampai di gardu dekat regol halaman rumah itu, Alap-alap Jalatunda berkata kepada salah seorang penjaganya, “Beri aku pedangmu itu. Kau akan dapat mengambilnya lagi.”

Orang itu diam termangu-mangu. Tetapi Alap-alap Jalatunda berkata lagi, “Berikan pedangmu itu. Cepat! Dengan wrangkanya.”

Orang itu tidak menjawab. Tetapi dilepaskannya pedang beserta wrangkanya, dan diserahkannya kepada Alap-alap Jalatunda.

“Terima kasih,” berkata Alap-alap Jalatunda sambil menyerahkan pedang itu kepada Wuranta. “Anak muda ini adalah anak muda yang berasal dari Jati Anom. Ia adalah kawan kita. Kenalilah baik-baik.”

Orang-orang di dalam gardu itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kemudian keduanya meneruskan perjalanan mereka. Di sepanjang jalan itu, Alap-alap Jalatunda masih sempat berceritera tentang Padepokan Tambak Wedi. Berceritera tentang dirinya dan tentang orang-orang Jipang yang berada di padepokan itu.

“Kekuatan Tambak Wedi benar-benar di luar dugaanku,” berkata Wuranta. “Alangkah besar pengaruh Ki Tambak Wedi, sehingga ia mampu mengumpulkan sekian banyak laki-laki yang siap untuk bertempur di pihaknya.”

“Huh,” Alap-alap Jalatunda mencibirkan bibirnya, “omong kosong. Siapakah yang berkata demikian?”

“Sidanti. Bahkan Sidanti akan dapat mengambil kekuatan yang tidak terhingga dari Bukit Menoreh.”

“Anak itu memang seorang pembual. Sejak kita berada di sini ia berkata, bahwa ia akan dapat menyusun kekuatan yang tidak akan dapat terkalahkan.”

“Bukankah kekuatan itu kini telah terbentuk?”

“Kekuatan ini adalah kekuatanku. Mereka adalah orang-orang Jipang yang setia kepadaku. Sepeninggal Tohpati, tak ada orang lain yang dapat mereka percaya selain aku.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun di dalam kepalanya menjalar suatu pengertian baru, bahwa para pemimpin di padepokan itu ternyata saling berebut pengaruh.

“Jadi siapakah sebenarnya yang berkuasa di sini?”

Alap-alap Jalatunda terdiam sejenak. Pertanyaan itu sukar dijawabnya. Namun kemudian katanya, “Akulah yang berkuasa atas orang-orang Jipang. Tetapi karena Sidanti di sini adalah tuan rumah, maka aku wajib menghormatinya. Ia adalah murid Ki Tambak Wedi. Seorang yang memiliki padepokan ini.”

Wuranta masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia bertanya, “Bagaimanakah hubungan Sidanti dengan orang-orang Jipang yang berada di bawah pimpinanmu itu?”

Sekali lagi Alap-alap Jalatunda mendapat pertanyaan yang sulit. Tetapi akhirnya ia menjawab, “Orang-orang Jipang di sini menghormatinya. Bukan karena anak itu sendiri, tetapi karena gurunya, Ki Tambak Wedi.”

Wuranta terdiam sejenak. Tiba-tiba teringat olehnya, bahwa Sidanti telah membawa lari seorang gadis Sangkal Putung. Adik Swandaru seperti yang diceriterakan kepadanya. Karena itu maka tiba-tiba timbullah keinginannya untuk bertanya, “Apakah Sidanti telah beristri?”

Alap-alap Jalatunda mengerutkan keningnya. “Belum,” jawabnya. “Ia adalah laki-laki pengecut. Ia menyimpan seorang gadis di padepokan ini. Tetapi ia tidak berani mendekatinya. Kalau gadis itu dibiarkannya saja, maka ia akan menyesal. Akulah nanti yang akan mendapatkannya.” Alap-alap itu kemudian tertawa terbahak-bahak, sehingga beberapa orang yang sedang berjaga-jaga di tepi jalan menjadi terkejut karenanya. Namun tiba-tiba ia berhenti tertawa dan berkata, “He, sampai ke mana aku mengantarmu?”

Wuranta tertegun mendengar pertanyaan itu sehingga keduanya tiba-tiba saja berhenti. Sejenak Wuranta memandangi wajah Alap-alap Jalatunda, dan sejenak kemudian ia berkata, “Terserahlah kepadamu. Tetapi agaknya kau sudah berjalan terlampau jauh.”

Alap-alap Jalatuda mengerutkan keningnya. Katanya, “Kita sudah berjalan sampai beberapa puluh langkah dari regol padepokan. Tetapi kau masih belum lepas dari lingkaran pengawasan orang-orangku. Marilah, aku antar kau beberapa puluh langkah lagi sampai penjagaan yang terakhir.”

“Aku kira kau sudah mengantarku cukup jauh.”

“Biarlah. Marilah.”

Kembali mereka berjalan bersama-sama. Dan kembali Alap-alap Jalatunda mulai membual. Berceritera tentang dirinya dan tentang orang-orang Jipang di padepokan itu.

“He, apakah yang sedang kita bicarakan tadi ?” bertanya Alap-alap Jalatunda itu.

“Seorang gadis,” sahut Wuranta.

“Ya, seorang gadis cantik. Sidanti mengambilnya dari Sangkal Putung.”

“Apakah gadis itu bakal isterinya?”

Sekali lagi Alap-alap Jalatunda itu tertawa terbahak-bahak. Jawabnya, “Dicurinya gadis itu di tengah jalan. Gadis itu adalah anak Demang Sangkal Putung.”

“Tetapi bukankah maksud Sidanti mengambil gadis itu menjadi isterinya?”

“Darimana kau tahu?”

“Aku bertanya.”

Alap-alap Jalatunda menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Mungkin. Tetapi mungkin pula tidak. Melihat sikapnya yang cukup hati-hati, aku kira memang gadis itu akan diperisterikannya. Kalau tidak, maka Sekar Mirah pasti sudah menjadi korbannya. Tetapi Sidanti itu pun nanti akan tinggal menggigit jari.”

“Kenapa?”

“Gadis itu cantik sekali. Kau kira aku seorang laki-laki yang buta akan kecantikan seorang gadis?”

“Tetapi bukankah gadis itu seakan-akan milik Sidanti?”

“Omong kosong. Gadis itu adalah barang curian. Aku akan dapat mencurinya, meskipun bukan membawanya lari.”

Dada Wuranta menjadi berdebar-debar. Gadis itu pasti adik Swandaru. Ia menjadi bertambah cemas karenanya. Seorang gadis di dalam lingkungan laki-laki sekasar Alap-alap Jalatunda, Sanakeling dan Sidanti pasti akan sangat berbahaya, seperti seekor ayam yang berada di dalam sarang musang. Tetapi bukankah dengan demikian akan dapat timbul pertentangan yang semakin tajam di antara mereka? Meskipun demikian, meskipun pertentangan itu akan dapat menguntungkan Pajang, namun umpan yang diberikan ternyata terlampau mahal. Tidaklah sewajarnya, bahwa Sekar Mirah harus dibiarkan saja di dalam sarang hantu-hantu supaya mereka saling berkelahi satu sama lain.

Wuranta itu tiba-tiba terkejut ketika Alap-alap Jalatunda bertanya, “He, apa yang kau renungkan? Apakah kau ingin gadis itu juga?”

“Aku belum pemah melihatnya. Sehari aku berada di padepokanmu, tetapi aku tidak bertemu dengan seorang gadis cantik. Yang aku lihat hanyalah perempuan-perempuan yang garang seperti kalian.”

Suara tertawa Alap-alap Jalatunda terdengar lagi memenuhi ereng-ereng Gunung Merapi. Dua orang pengawas yang duduk di atas sebuah batu sebesar punggung gajah, mengawasinya dalam kegelapan malam sambil bersungut, “Suara itu adalah suara Alap-alap Jalatunda.”

“Ya, agaknya ia mendapat sesuatu,” sahut yang lain.

Mereka terdiam ketika Alap-alap Jalatunda itu kemudian berjalan di sisi batu tempat mereka duduk.

“He, siapa di sini?”

“Aku, ki Lurah,” sahut pengawas itu.

“Buka matamu baik-baik. Anak muda yang bernama Wuranta ini adalah kawan kita di sini. Kalau nanti ia kembali dari Jati Anom, maka ia tidak boleh diganggu. Beritahu semua kawan-kawanmu yang bertugas malam ini. Ingat, namanya Wuranta.”

“Baik, ki Lurah.”

Kedua anak muda itu meneruskan perjalanannya. Kini Wuranta justru berusaha menahan Alap-alap Jalatunda untuk tetap berjalan bersamanya.

“Apakah gadis itu disembunyikan?” bertanya Wuranta.

“Kenapa ?”

“Aku ingin melihatnya. Aku ingin menilai, apakah kau benar-benar mengerti kecantikan seorang gadis.”

“Besok kau akan melihatnya apabila kau masih hidup.”

“Apakah aku nanti malam akan mati?”

Alap-alap Jalatunda itu tersenyum. Kemudian katanya, “Nah, pergilah. Aku sudah cukup jauh mengantarmu. Kau sudah melampaui pengawasan terakhir. Hati-hatilah di jalan. Lakukan pekerjaanmu baik-baik.”

“Kalau aku berhasil, apakah aku akan mendapat hadiah gadis yang cantik itu?”

“Huh, apa artinya kau buat gadis itu? Gadis itu akan menjadi milikku.”

“Kau harus menyisihkan Sidanti.”

“Huh, Sidanti tidak banyak berarti bagiku,” sahut Alap-alap Jalatunda, namun kemudian ia berkata, “sekarang pergilah. Besok pagi kau harus sudah menghadap Sidanti.”

“Kenapa tidak menghadap kau saja? Bukankah pengaruhmu atas orang-orang Jipang jauh lebih besar daripada Sidanti?”

“Padepokan ini adalah padepokannya.”

“Dan gadis itu?” Wuranta sengaja membakar hati Alap-alap muda itu, meskipun hatinya masih saja diselubungi oleh kecemasan. Mudah-mudahan segala sesuatunya tidak terjadi seperti yang dikatakan oleh Alap-alap muda yang buas itu.

Alap-alap Jalatunda tidak segera menjawab. Pertanyaan itu telah mendebarkan jantungnya. Tetapi di dalam hatinya ia sibuk menilai diri. Apakah ilmu Sidanti masih juga jauh berada di atas kepandaiannya? Selama ini ia telah mencoba menempa diri sendiri dengan bekal ilmu yang telah dimilikinya. Diperasnya segenap kemampuan yang ada padanya untuk mencoba meningkatkan ilmunya. Dengan tekun ia memperbesar kekuatannya dengan berbagai macam alat-alat yang dapat diketemukan: pasir, batu dan pepohonan. Hampir setiap hari, apabila ia pergi mandi ke sungai, ia selalu melatih jari-jarinya hampir seperempat hari dengan pasir tepian. Kemudian latihan itu diulanginya di malam hari. Dicobanya pula untuk meningkatkan kelincahan kakinya dengan meloncat-loncat dari batu ke batu. Kemudian berlari di tebing-tebing sungai yang curam. Meloncat terjun, kemudian kembali berlari mendaki lereng-lereng yang terjal.

Alap-alap Jalatunda berharap bahwa ilmunya akan menjadi semakin sempurna, sehingga apabila sekali lagi ia bertemu dengan Agung Sedayu, maka ia tidak akan menjadi malu.

Tetapi sasaran itu ternyata tidak saja ditujukan kepada Agung Sedayu. Kini, setelah ia melihat seorang gadis yang cantik itu, tiba-tiba ia mulai menilai dirinya kembali. Namun kini ia mencoba memperbandingkan dirinya dengan Sidanti.

Kedua anak muda itu, Wuranta dan Alap-alap Jalatunda untuk sejenak saling berdiam diri. Yang terdengar hanyalah desir kaki mereka menyentuh kerikil yang tersebar di sepanjang jalan. Sekali-sekali di kejauhan terdengar bunyi burung hantu yang seakan-akan sedang meratap.

Wuranta menunggu jawaban Alap-alap itu. Tetapi ternyata Alap-alap Jalatunda masih saja berdiam diri.

Tiba-tiba sekali lagi Alap-alap Jalatunda berkata, “He, sampai ke mana aku mengantarmu?”

Wuranta berpaling. Dipandangi wajah Alap-alap Jalatunda. Namun di dalam kegelapan malam, ia tidak mendapatkan suatu kesan apapun. Meskipun demikian, dada Wuranta berdesir melihat ketajaman mata anak muda itu.

“Sudahlah. Aku akan berjalan sendiri. Mungkin langkahku akan lebih cepat. Besok pagi-pagi aku mengharap akan dapat melihat gadis yang kau katakan.”

“Kau akan menjadi orang ketiga yang menginginkan gadis itu besok.”

“Tidak ada orang lain?”

“Hampir semua laki-laki di sini. Tetapi yang lain tidak berani berbuat apa-apa. Bahkan kakang Sanakeling pun lebih baik menutup matanya daripada berhadapan dengan Sidanti.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Menurut penilaiannya Sanakeling adalah seorang laki-laki yang kasar. Tetapi agaknya orang itu lebih senang melihat darah di medan perang daripada kecantikan paras seorang gadis. Meskipun demikian laki-laki yang kasar itu tidak dapat diabaikan dalam memperhitungkan keselamatan Sekar Mirah.

Tetapi kali ini Wuranta belum tahu, di manakah Sekar Mirah itu disimpan.

Alap-alap Jalatunda pun kemudian berhenti, melepaskan Wuranta berjalan sendiri. Ketika anak muda itu melangkahkan kakinya, Alap-alap itu berkata, “Hati-hatilah. Kau akan melampaui hutan-hutan, meskipun tidak terlampau lebat, satu dua sungai yang curam, dan Tegal Mlanding yang justru lebih lebat dari hutan. Mungkin kau akan bertemu dengan harimau, tetapi lebih celaka lagi kalau kau bertemu dengan gerombolan anjing-anjing liar yang ganas.”

“Tentu. Aku akan sangat berhati-hati. Tetapi aku tidak takut menghadapi binatang-binatang itu, karena aku cukup pandai memanjat.”

Alap-alap Jalatunda tertawa. Katanya, “Aku sangka kau tidak takut karena pedang di lambungmu.”

Wuranta pun tertawa pula. Sambil meneruskan langkahnya ia berkata, “Sampai ketemu lagi.”

Alap-alap Jalatunda tidak menjawab. Ditatapnya punggung Wuranta sampai anak muda itu lenyap ditelan oleh kelamnya malam.

Ketika Wuranta telah tidak tampak lagi Alap-alap Jalatunda itu menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba hatinya menjadi berdebar-debar ketika disadarinya, apa saja yang telah dikatakan kepada Wuranta. Ia belum tahu, apakah Wuranta itu berpihak kepadanya atau kepada Sidanti. Mulutnya begitu saja membual seperti apabila ia berada di tengah-tengah orang-orang Jipang.

“Gila,” desisnya, “kalau anak itu berkhianat, maka akan aku patahkan lehernya. Atau kenapa tidak sekarang saja?”

Alap-alap Jalatunda itu menggeleng-gelengkan kepalanya, “Sidanti menghendaki ia hidup.”

Alap-alap Jalatunda kemudian menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak begitu menyesal akan ketelanjurannya. Bahkan kemudian berkata, “Kalau aku benar-benar berhasil mendapatkan gadis itu sebelum Sidanti, maka aku tidak akan perlu merahasiakannya lagi. Aku pasti akan menengadahkan dada untuk menerima tantangannya. Aku sekarang bukan lagi beberapa bulan yang lalu. Mudah-mudahan usahaku dan ketekunanku selama ini mendapat imbalan sewajarnya.”

Alap-alap Jalatunda itu pun kemudian melangkahkan kakinya lagi. Sambil meraba-raba hulu pedangnya ia berkata, “Aku harus mengikutinya. Mudah-mudahan ia benar-benar menemui Agung Sedayu. Besok anak itu pasti akan digantung di ujung Kademangan Jati Anom.”

Dengan demikian maka Alap-alap Jalatunda itu pun mempercepat langkahnya. Ia harus tidak kehilangan Wuranta. Tetapi beberapa puluh langkah saja, Alap-alap Jalatunda yang bermata setajam mata burung Alap-alap segera melihat sebuah bayangan yang berjalan beberapa jauh di mukanya menuju ke Jati Anom. Bayangan itu adalah Wuranta, yang sama sekali tidak menyadari bahwa sepasang mata yang tajam selalu mengikutinya.

Langkah Wuranta pun semakin lama menjadi semakin cepat. Ia ingin segera sampai ke Jati Anom. Ia ingin segera bertemu dengan Agung Sedayu dan Kiai Gringsing beserta Swandaru untuk menceriterakan pengalamannya yang pendek itu.

Jalan yang ditempuh oleh Wuranta adalah jalan yang cukup gelap. Apalagi ia belum pernah berjalan melewati daerah itu. Tetapi Wuranta mempunyai pegangan arah. Ketika ia berjalan bersama Sidanti naik ke lereng Merapi, ia dapat mengenali bahwa tidak ada jalan lain selain jalan yang dilewatinya itu. Meskipun di beberapa tempat jalan itu tampaknya seakan-akan terputus oleh semak-semak, namun Wuranta berhasil menembusnya.

Sebelah menyebelah jalan itu adalah pepohonan hutan, yang meskipun tidak lebat tetapi cukup gelap. Wuranta seakan-akan tidak dapat lagi melihat jalan di hadapan kakinya karena kepekatan malam. Karena itu maka anak muda itu berjalan sambil menengadahkan kepalanya. Diikuti saja celah-celah dedaunan yang menjelujur sepanjang jalan.

Tetapi yang masih belum diketahuinya adalah, bahwa di belakangnya seorang anak muda yang garang telah mengikutinya. Justru ingin melihat apakah Wuranta menemui Agung Sedayu atau tidak. Karena itu, maka Wuranta sama sekali tidak memperhitungkan bahaya yang kini sedang mengikutinya.

Ketika malam menjadi semakin malam, maka Wuranta pun segera semakin mempercepat langkahnya. Angin malam yang sejuk berhembus membawa udara lembab yang dingin. Meskipun demikian, namun tubuh Wuranta telah menjadi basah karena keringatnya yang mengalir dari lubang-lubang kulitnya.

Sementara itu, di belakangnya Alap-alap Jalatunda pun terpaksa mempercepat langkahnya pula. Anak muda ini pun sama sekali tidak merasa betapa sejuknya malam karena hatinya sedang dibakar oleh tugasnya. Ia pun ingin segera sampai ke Jati Anom untuk melihat apa saja yang akan dilakukan oleh Wuranta. Bahkan sekali-sekali timbullah keinginannya untuk menyelesaikan tugasnya dengan membunuh anak muda itu. Sudah terlampau lama ia tidak meneteskan darah lawan dengan pedangnya. Rasa-rasanya sudah bertahun-tahun. Tetapi selalu saja diingatnya, bahwa Sidanti menghendaki Wuranta itu besok hidup-hidup menghadapnya. Kalau ternyata Wuranta itu berkhianat maka Sidanti sendiri agaknya yang akan mendapat permainan.

Tiba-tiba Alap-alap Jalatunda itu menggerutu di dalam hatinya. “Huh, Sidanti ingin mendapat permainan tetapi ia tidak mau mengambilnya sendiri malam ini.”

Dalam pada itu maka jarak yang mereka tempuh pun semakin lama menjadi semakin jauh, dan sejalan dengan itu, maka Jati Anom pun menjadi semakin dekat pula.

Sekali-sekali Wuranta mendengar suara binatang-binatang buas yang berkeliaran di hutan-hutan. Terasa bulu kuduknya meremang. Tetapi ketika tersentuh tangkai pedangnya, maka kembali ia menengadahkan wajahnya sambil berdesis seorang diri, “Ayo, siapa yang ingin mencoba tajam pedangku?”

Tetapi ia menjadi ngeri ketika didengarnya gonggong anjing liar di kejauhan. Anjing liar itu akan dapat merupakan bahaya yang jauh lebih besar dari bahaya seekor harimau, karena anjing itu biasanya bergerombol sampai berbilang puluhan.

Meskipun demikian Wuranta masih dapat menghibur dirinya. “Aku pandai memanjat, sedang anjing-anjing itu tidak akan dapat mengejarku.” Namun sejenak kemudian ia berdesis, “Tetapi dengan demikian aku tidak akan dapat menyelesaikan tugasku. Kembali besok pagi-pagi ke lereng Merapi.”

Kadang-kadang Wuranta menjadi berdebar-debar mengenangkan tugasnya. Apakah sebenarnya yang dimaksud oleh Sidanti? Apakah cukup apabila ia besok mengatakan bahwa Jati Anom tidak ada perubahan sesuatu dan Agung Sedayu masih berada di rumahnya? Apakah dengan demikian Sidanti akan datang dengan beberapa orang untuk menangkap Agung Sedayu?

Dalam kebingungan itu ia bergumam, “Lebih baik aku beritahukan saja kepada Agung Sedayu. Orang tua yang bernama Ki Tanu Metir itu pasti akan dapat memberinya beberapa pertimbangan yang baik baginya dan bagi aku. Bukankah nasibku sendiri bagaikan sebutir telur di ujung tanduk yang runcing?”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Ia ingin menyerahkan bagaimana dan apa saja yang harus dilakukan kepada Ki Tanu Metir.

Dalam pada itu, di belakangnya seorang anak muda sedang mengintainya. Apakah ia nanti akan menemui Agung Sedayu atau tidak.

Perjalanan Wuranta dan Alap-alap Jalatunda itu pun semakin mendekati Jati Anom. Alap-alap Jalatunda menjadi heran terhadap dirinya sendiri. Kenapa ia menjadi berdebar-debar?, “Persetan dengan Agung Sedayu,” tiba-tiba ia bergumam perlahan-lahan. “Kalau aku nanti dilihatnya, baiklah, aku akan mencoba apakah aku sudah berhasil menyamainya.” Tetapi meskipun demikian dada Alap-alap Jalatunda masih terus bergetar Betapapun ia mencoba menenangkannya.

Kedua anak muda itu berjalan dengan berbagai persoalannya sendiri-sendiri. Tetapi keduanya masih harus meraba-raba, apakah sebenarnya yang sedang dihadapinya. Mereka, seperti malam itu juga, berjalan di dalam kelam. Kakinya tidak akan dapat menghindar seandamya seonggok duri berada tepat di bawah telapak kakinya yang sudah hampir menginjaknya.

Tetapi tiba-tiba Wuranta itu tertegun sejenak. Telinganya seakan-akan mendengar desir di balik dedaunan di sisi jalan itu. Tetapi ketika dicobanya untuk mendengar sekali lagi, maka suara itu pun lenyap.

“Siapa?” desisnya di dalam hati. Dengan demikian maka langkahnya pun menjadi kian lambat.

Alap-alap Jalatunda yang melihat langkah anak muda itu tertegun-tegun menjadi heran. Kenapa? Bahkan kadang-kadang ia melihat Wuranta itu berhenti sama sekali untuk sesaat. Sehingga dengan demikian maka Alap-alap Jalatunda itu harus bersembunyi di belakang pepohonan atau berjongkok di samping rumput-rumput ilalang yang tumbuh liar di pinggir-pinggir jalan. Namun setiap kali suara desir itu di dengar lagi oleh Wuranta.

Wuranta bukanlah seorang penakut. Tetapi karena ia hampir belum pernah mengalami peristiwa-peristiwa semacam itu, maka hatinya pun semakin lama menjadi semakin berdebar-debar. Sekali-sekali ia berpaling dan ditebarkannya pandangan matanya tajam-tajam berkeliling. Tetapi yang dilihatnya hanyalah kelamnya malam. Pepohonan yang tegak membisu. Sekali-sekali dilihatnya dedaunan bergerak-gerak disentuh angin malam.

Wuranta menarik nafas. Untuk menenteramkan hatinya ia berkata kepada diri sendiri, “Tak ada sesuatu yang perlu mendapat perhatian yang berlebih-lebihan.”

Wuranta pun kemudian berjalan kembali. Ditenangkannya hatinya. Ditetapkannya langkahnya seperti semula. Namun terasa setiap kali jantungnya menghentak semakin keras.

“Beberapa langkah lagi aku akan sampai ke ujung hutan,” gumamnya. Tetapi di ujung hutan itu didapatinya sebuah hutan perdu. Baru sesudah hutan perdu itu ia akan sampai ke daerah persawahan dan pategalan dari desa-desa kecil sebelum ia sampai ke Kademangan Jati Anom.

Ketika suara berdesir itu masih saja di dengarnya, maka Wuranta pun mempercepat langkahnya. Aku harus segera sampai ke daerah persawahan. Aku harus berada di tempat. Terbuka supaya tidak seorang pun yang dapat mengikuti aku dengan sembunyi-sembunyi.

Ternyata kegelisahan itu tidak saja melanda Wuranta, Alap-alap Jalatunda pun menjadi gelisah. Apakah anak muda itu merasa bahwa beberapa langkah di belakangnya, seseorang sedang mengikutinya? Tetapi Alap-alap Jalatunda sama sekali tidak tahu, bahwa Wuranta sedang diganggu oleh suara berdesir di antara pepohonan di sisi jalan.

Sedang Wuranta sendiri akhirnya tidak mempedulikan lagi suara itu. Terdengar ia menggeram perlahan, “Kalau ada seseorang yang ingin mengganggu aku, marilah, Aku tidak akan gentar.”

Dengan demikian maka Wuranta seakan-akan tidak lagi merasa seseorang berada di sisi jalan dan mengikuti langkahnya. Dibiarkannya saja suara berdesir yang sekali-sekali masih juga didengarnya. Meskipun demikian, namun tangan Wuranta itu selalu meraba hulu pedangnya. Di dalam hati ia berkata, “Tidak bersenjata pun aku berani melewati jalan ini. Apalagi kini aku mempunyai sebilah pedang.”

Yang didengarnya kemudian adalah gonggong anjing liar di kejauhan. Kemudian disahut oleh sebuah auman yang dahsyat. Terbayanglah di dalam kepala Wuranta, bahwa sedang terjadi bertarungan yang sengit antara segerombol anjing-anjing liar melawan seekor harimau. Anjing adalah binatang yang seakan-akan disediakan menjadi makanan harimau. Tetapi kalau anjing-anjing itu sedang lapar, maka suatu ketika terjadi harimau menjadi makanan anjing-anjing liar itu.

Tetapi ketika hiruk-pikuk itu semakin menjauh, kembali terdengar sebuah desir yang lembut. Kini semakin dekat di pinggir jalan, bahkan seolah-olah desir itu adalah desir kakinya sendiri yang menyentuh daun-daun perdu. Namun yang dilihatnya tidak lebih dari batang-batang kayu dan dedaunan.

Kegelisahan Wuranta semakin lama menjadi semakin kuat melanda hatinya. Namun karena anak muda itu belum memiliki pengalaman yang cukup, maka ia sama sekali tidak dapat menanggapinya. Bahkan kemudian di cobanya menenangkan hatinya dan menganggap bahwa sebenarnya tidak ada apa-apa sama sekali. Telinganya sajalah yang seakan-akan melihat hantu, tetapi yang sebenarnya tidak ada apa-apa. Yang disangkanya hantu itu tidak lebih dari sebuah ranting yang kering, atau selembar kelaras kering ditiup angin.

Tetapi semakin lama Wuranta justru menjadi semakin yakin, bahwa yang didengarnya itu bukan sekedar daun kering yang gugur ditiup angin.

Dengan demikian maka akhirnya Wuranta tidak lagi dapat menghibur dirinya dengan macam-macam dugaan. Mau tidak mau ia harus mengatakan kepada dirinya sendiri, bahwa yang didengarnya itu adalah langkah seseorang. Bahkan kemudian ia mendengar suara nafas yang semakin deras dan desis perlahan-lahan. Karena itu maka Wuranta harus menyiapkan dirinya menghadapi segala macam kemungkinan.

“Siapakah yang mengikuti aku?” katanya di dalam hati. “Apakah ia orang lereng Merapi yang sengaja di kirim oleh Sidanti untuk mengawasi aku, atau orang lain yang menyangka justru aku orang dari padepokan Ki Tambak Wedi.”

Dalam kegelisahannya Wuranta itu berhenti. Dihadapinya suara berdesir yang semakin dekat itu dengan hati yang berdebar-debar. Bahkan untuk mengatasi kegelisahannya, tiba-tiba Wuranta itu berkata keras, “He, siapa yang berada di balik pepohonan. Ayo, tampakkan dirimu!”

Namun tidak terdengar jawaban. Yang terkejut bukan kepalang mendengar sapa itu adalah Alap-alap Jalatunda. Ketika ia melihat Wuranta berhenti, Alap-alap Jalatunda segera berdiri di belakang sebatang pohon yang cukup besar melindungi tubuhnya, “Apakah Wuranta telah melihat aku?”

Sekali lagi ia mendengar Wuranta berkata, “Ayo, keluarlah dari persembunyianmu!”

Masih tak ada jawaban. Sedang kegelisahan Alap-alap Jalatunda pun menjadi semakin meningkat.

Dalam kegelapan malam ia melihat bayangan Wuranta berdiri tegak seperti patung. Tetapi ia tidak melihat Wuranta itu melangkah kembali ke arahnya.

“Apakah yang di lihat anak itu?” desis Alap-alap Jalatunda di dalam hatinya. Tetapi berbeda dengaa Wuranta, Alap-alap muda itu telah menyimpan banyak sekali pengalaman di dalam dirinya. Ia menganggap bahwa Wuranta sedang diganggu oleh firasatnya. Mungkin Wuranta itu merasa sesuatu yang tidak pada tempatnya dan sekedar menganggap bahwa seseorang sedang mengikutinya. Tetapi Alap-alap Jalatunda tidak yakin bahwa sebenarnya anak itu telah melihatnya.

Karena itu maka Alap-alap Jalatunda masih saja bersembunyi di balik sebatang pohon. Di dalam malam yang gelap tidak sulit baginya untuk berusaha supaya Wuranta tidak dapat melihatnya meskipun seandainya Wuranta itu berpaling ke arahnya.

Dari sisi pohon tempatnya berlindung, Alap-alap Jalatunda berusaha melihat bayangan anak muda Jati Anom yang tampaknya menjadi sangat gelisah.

“Apakah anak itu dicekik hantu?” gumam Alap-alap Jalatunda perlahan-lahan.

Tetapi ia mendengar Wuranta berteriak lagi, “Ayo, siapakah yang bersembunyi?”

“Uh,” desis Alap-alap Jalatunda, “penakut itu hampir menjadi gila.” Tetapi kemudian tumbuh pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah ia telah melihat aku, dan akulah yang di panggilnya?”

Hati Alap-alap yang buas itu berdesir. Bahkan terdengar giginya gemeretak. Sekali lagi ia bergumam di dalam hatinya, “Setan, jangan terlampau sombong. Kalau kau menantang Alap-alap Jalatunda maka lehermu benar-benar akan aku patahkan.”

Kalau saja Alap-alap Jalatunda itu tidak selalu mengingat pesan Sidanti untuk membiarkan Wuranta itu hidup, maka ia pasti sudah menyergapnya, membunuhnya dan melemparkan mayatnya ke dalam parit.

“Sidanti ingin setan kecil itu hidup sampai besok,” katanya pula di dalam hatinya, “tetapi kalau ia menyerangku, apa boleh buat. Aku harus membunuhnya, dan membawa kepalanya kembali ke padepokan. Tetapi aku tidak akan mendahuluinya. Aku akan menunggu di sini sampai anak itu datang untuk membunuh dirinya.”

Namun tiba-tiba Alap-alap itu terkejut. Ia melihat Wuranta meloncat surut dan mencabut pedangnya. Dengan tegangnya anak muda Jati Anom itu siap menghadapi segala kemungkinan dengan pedang yang datar setinggi dada.

“Hem,” desah Alap-alap Jalatunda, “anak itu benar-benar telah menjadi gila karena ketakutan. Tetapi melihat gerak tangannya ia memang memiliki sedikit kecakapan bermain pedang.”

Namun belum delesai Alap-alap Jalatunda berdesah kepada diri sendiri, ia kini benar-benar terkejut ketika ia melihat dengan tiba-tiba sebuah bayangan lain yang melontar dari dalam gerumbul di sisi jalan langsung menyerang Wuranta.

“O,” Alap-alap muda itu menggeram, “ternyata Wuranta tidak sedang gila. Tetapi orang yang menyerangnya itulah yang gila. Tetapi siapa orang itu? Dan apakah maksudnya menyerang Wuranta?”

Alap-alap Jalatunda itu pun menjadi tegang pula. Dengan tajam ia mencoba melihat apa yang seterusnya terjadi.

Dan yang terjadi adalah sebuah perkelahian yang sengit. Ternyata orang yang menyerangnya itu memiliki kemampuan yang cukup baik seperti Wuranta yang ternyata mampu pula mempertahankan diri.

Dalam gelap malam Alap-alap Jalatunda melihat dua bayangan hitam yang melontar berputaran. Serang menyerang dengan serunya.

“Hem,” Alap-alap Jalatunda itu menarik nafas untuk mencoba melepaskan ketegangannya, dan kemudian berkata di dalam hatinya, “ternyata Wuranta itu pandai juga bermain pedang, meskipun ayunan tangannya masih juga seperti orang membelah kaju.”

Tetapi perkelahian itu sendiri telah membingungkan Alap-alap Jalatunda. Bagaimana ia harus bersikap menghadapi pertempuran itu? Kalau kemudian Wuranta dapat memenangkan perkelahian itu, maka rencananya sama sekali tidak berubah. Ia hanya mengikuti saja anak itu meneruskan perjalanannya ke Jati Anom. Tetapi bagaimana kalau Wuranta itu terdesak?

“Setan,” Alap-alap itu menggeram. “Siapakah yang berani mengganggu perjalanan ini. Orang itu pasti tidak tahu bahwa di sini ada Alap-alap Jalatunda.”

Tiba-tiba kening Alap-alap itu menjadi berkerut-merut. Tumbuhlah pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah orang itu Agung Sedayu?” Menurut pendengaran Alap-alap Jalatunda dari Sidanti, bahwa Wuranta pagi tadi sedang dikejar-kejar oleh Agung Sedayu ketika dijumpainya. Tetapi Sidanti meragukan kebenaran peristiwa itu. Bahkan Sidanti meragukan sikap Agung Sedayu sendiri yang meninggalkannya berlari. Tetapi kalau hal itu benar terjadi karena Wuranta ingin mencuri milik Agung Sedayu, maka adalah suatu kemungkinan bahwa Agung Sedayu mendendamnya.

Tetapi Alap-alap Jalatunda tidak melihatnya dengan jelas.

Dari jarak itu, apalagi di malam yang gelap Alap-alap Jalatunda tidak mudah untuk mencoba mengenali unsur-unsur gerak dari lawan Wuranta itu.

“Apakah aku akan mendekatinya?” Tetapi Alap-alap Jalatunda menjadi ragu-ragu. Kemungkinan yang tidak diharapkan cepat terjadi. Kalau Wuranta melihatnya, maka gagallah tugasnya. Apalagi kalau orang yang menyerang Wuranta itu ternyata Agung Sedayu, maka ia harus berkelahi melawannya. Dan ia tidak yakin, apakah ia pada saat itu dapat mengimbangi adik senapati Pajang yang bertugas di sekitar Gunung Merapi ini. Seandainya demikian, maka tugasnya pun akan gagal pula karenanya.

Sekali lagi Alap-alap Jalatunda menggeram. Ia benar-benar menjadi bingung dan tidak segera tahu apa yang sebaiknya dikerjakan.

Dalam pada itu perkelahian itu pun menjadi semakin lama semakin sengit. Wuranta berusaha melawan dengan. pedang di tangan. Dikerahkannya segenap kemampuan yang ada padanya. Namun meskipun orang yang menyerangnya itu tidak bersenjata, tetapi kelincahannya telah memaksa Wuranta untuk memeras keringatnya. Orang itu meloncat-loncat berputaran mengelilingi Wuranta untuk menghindari sambaran pedangnya. Sekali-sekali ia meloncat menjauh, namun tiba-tiba serangannya datang menyambar dengan cepatnya. Seperti pusaran serangannya membelit dari segala arah.

Dengan sepenuh tenaga Wuranta melawannya. Namun keragu-raguan di hatinya kadang-kadang telah mengekang sambaran-sambaran pedangnya. Betapa dadanya dilanda oleh beberapa pertanyaan tentang orang yang tiba-tiba menyerangnya. “Siapa dan mengapa?”

Tetapi serangan orang itu semakin lama menjadi semakin cepat. Bahkan hampir-hampir tak tertahankan lagi. Meskipun Wuranta belum merasa dikenai di bagian tubuhnya yang berbahaya, tetapi ia merasa, apabila perkelahian itu diteruskan, ia pasti akan kehabisan tenaga.

Anak muda itu merasa beruntung bahwa ia telah mendapatkan sepucuk senjata yang dapat menolongnya memperpanjang perlawanannya. Tetapi sudah sekian lama ia berkelahi, namun senjatanya seakan-akan hampir tidak berguna.

Meskipun demikian Wuranta tidak segera menjadi berputus asa. Selama ia masih mampu menggerakkan pedangnya, maka ia akan melawannya terus. Apa pun yang terjadi. Namun dalam pada itu, terbersit suatu penyesalan di dalam hatinya. Kalau ia gagal menghindarkan diri dari orang yang menyerangnya itu, maka tugasnya pun menjadi gagal pula karenanya. Gagal bukan karena kesalahannya, tetapi justru karena sebab-sebab yang tidak diketahuinya.

Karena itu maka tiba-tiba timbullah keinginannya untuk bertanya. Meskipun tangannya sibuk menggerakkan pedang, namun dengan tersengal-sengal ia bertanya, “He, siapakah kau dan apakah sebabnya kau menyerangku?”

Alap-alap Jalatunda lamat-lamat mendengar pula pertanyaan itu. Dengan demikian ia mengambil kesimpulan bahwa orang yang menyerang itu sama sekali bukan Agung Sedayu. Kalau demikian siapakah ia? Apakah orang itu salah seorang yang sengaja ditugaskan oleh Sidanti? Tetapi seandainya demikian, maka Alap-alap Jalatunda pasti segera dapat mengenalnya. Tetapi penyerang itu sama sekali belum pernah dikenalnya, baik orangnya maupun tata geraknya. Dengan demikian maka Alap-alap Jalatunda itu menjadi semakin bingung. Karena itu, maka ia pun ingin sekali mendengar jawab orang yang menyerang Wuranta itu.

Tetapi orang itu tidak segera menyahut. Mereka masih saja berkelahi dengan serunya. Bahkan kemudian titik perkelahian itu sudah berkisar ke sana ke mari.

Sekali lagi Wuranta yang sudah mulai kelelahan itu bertanya, “Siapakah kau, dan apakah sebabnya kau menyerang aku?”

Sejenak masih belum terdengar jawaban. Dengan berdebar-debar Wuranta menunggu, bahkan Alap-alap Jalatunda pun menjadi bcrdebar-debar pula.

Tetapi sejenak kemudian Wuranta itu pun terkejut bukan main. Hampir saja ia meloncat surut ketika ia mendengar lawannya itu berbisik, “Jangan terlampau keras. Suaramu didengar oleh orang lain.”

Kini Wuranta-lah yang terdiam. Ketika perlawanannya menjadi kendor karena keheranan yang menghinggapi perasaannya, terdengar lawannya berkata, “Lawanlah terus. Sepasang mata Alap-alap sedang mengintaimu.”

“Siapa kau?” Wuranta tidak tahan lagi, sehingga sekali lagi ia bertanya keras-keras.

“Jangan terlampau keras,” jawab suara itu pula. Wuranta menjadi semakin heran. Tetapi jawaban itu benar-benar mempengaruhinya, sehingga tanpa sesadarnya ia berbisik, “Siapa kau?”

Wuranta mendengar orang itu tertawa perlahan sekali. Meskipun demikian serangannya sama sekali tidak berkurang. Sesaat kemudian didengarnya orang itu menjawab, “Jangan lengah supaya pedangmu tidak terlempar jatuh.” Orang itu terdiam sejenak. Lalu terdengar suaranya kembali, “Kenapa kau berjalan ke Jati Anom malam ini?”

“Siapa kau?” bertanya Wuranta kemudian.

“Apakah kau tidak dapat mengenali aku?”

“Siapa?”

Kembali ia mendengar suara tertawa, “Aneh, meskipun kau pandai juga bermain pedang, tetapi ingatanmu ternyata kurang baik. Kau baru saja melihatku pagi tadi bersama Agung Sedayu.”

“He?” Wuranta menjadi semakin heran. Tetapi ketika ia meloncat surut, serangan orang tua itu menjadi semakin garang. Sekali lagi ia mendengar peringatan, “Berkelahilah terus. Seseorang mengikutimu.”

“Siapa?” Wuranta berhenti bertanya lalu katanya, “Maksudku siapa kau?”

“Tanu Metir,” jawab suara itu pendek.

“He?” sekali lagi Wuranta menjadi heran. Ia mengenal dukun itu. Tetapi ia tidak menyangka bahwa orang tua itu mampu bergerak sedemikian lincahnya. Meskipun ia telah menduga bahwa Ki Tanu Metir memiliki beberapa kelebihan, tetapi bukan kelebihan jasmaniah. Namun ternyata bahwa orang tua itu mampu berkelahi melampaui anak-anak muda yang pernah dilihatnya.

“Apakah benar kau dukun tua yang datang bersama Agung Sedayu?”

“Kenapa aku berbohong? Bukankah kau masih dapat mengenali aku, setidak-tidaknya suaraku?”

Wuranta terdiam. Tetapi ia berkelahi terus seperti permintaan lawannya yang mengaku bernama Ki Tanu Metir.

“Ya. Ya. Aku mengenalmu.”

“Nah, ketahuilah bahwa seseorang mengikutimu, Alap-alap Jalatunda”

“He?”

“Jangan terlampau keras.”

“Kenapa ia mengikuti aku?”

“Aku tidak tahu. Tetapi apakah maksudmu datang kembali ke Jati Anom malam ini? Apakah hal itu tidak menimbulkan kecurigaan mereka? Bahkan Alap-alap Jalatunda telah mengikutimu sampai di sini?”

Wuranta masih berkelahi terus. Perlahan-lahan ia menjawab, “Aku harus pergi ke Jati Anom atas perintah Sidanti. Aku harus melihat apa yang terjadi di kademangan itu dan apakah Agung Sedayu masih ada di Jati Anom?”

Ki Tanu Metir terdiam sesaat. Sekali ia meloncat ke samping namun kemudian kakinya berputar hampir menyentuh lambung Wuranta.

Wuranta mengumpat di dalam hati. Orang tua itu benar-benar di luar dugaannya. Apalagi serangannya seakan-akan bersungguh-sungguh sehingga apabila Wuranta lengah sesaat, maka tubuhnya pasti akan dikenai oleh serangan Ki Tanu Metir itu.

Tetapi justru Wuranta mengetahui bahwa lawanya adalah Ki Tanu Metir, maka tendangannya pun menjadi ragu-ragu. Pedangnya tidak terayun-ayun dengan garangnya. Bahkan setiap kali ia menahan ayunan senjatannya itu.

“Jangan ragu-ragu,” berkata Ki Tanu Metir. “Kalau kau ragu-ragu, maka mata Alap-alap yang tajam itu pasti akan mengetahuinya.”

“Dimanakan ia sekarang?”

“Tidak terlampau jauh. Karena itu jangan terlalu keras. Kita bisa berkisar ke tempat yang lebih lapang supaya ia tidak dapat mendekat.”

Demikian perkelahian itu berkisar ke tempat yang agak lapang. Kesempatan Alap-alap Jalatunda untuk mendekati perkelahian itu menjadi semakin kecil. Karena itu, maka di kejauhan Alap-alap Jalatunda hanya dapat mengumpat di dalam hatinya yang semakin kisruh. Sekali-sekali ia melihat Wuranta terdesak. Dalam keadaan yang demikian ia benar-benar menjadi bingung. Apakah ia akan membantunya atau tidak? Tetapi lawan Wuranta itu sudah jelas bukan Agung Sedayu dan bukan pula orang yang dikirim Sidanti.

Sekali-sekali Alap-alap Jalatunda itu menggertakkan giginya. Ingin ia meloncat dan ikut serta berkelahi di pihak manapun. Tetapi tugasnya telah mencegahnya berbuat demikian. Ia hanya dapat menilai dengan tegang kedua orang yang sedang berkelahi itu.

“Tetapi Wuranta itu terdesak,” desisnya. “Mereka berkisar semakin jauh.” Lalu gumamnya, “Bagaimanakah kalau Wuranta itu terbunuh. Apakah aku akan membiarkannya? Sidanti pasti menyangka bahwa aku yang membunuhnya. Tetapi kalau aku membantunya, maka tugasku pun akan gagal sama sekali.”

Dalam kebingungan itu Alap-alap Jalatunda berdiri saja seperti patung. Sekali-sekali dirabanya hulu pedangnya namun kemudian tangannya itu terkulai dengan lemahnya, tergantung di sisi tubuhnya yang bersandar sebatang pohon tempatnya berlindung.

Sementara itu Wuranta masih juga berkelahi melawan Ki Tanu Metir. Perlahan-lahan Wuranta mendengar Ki Tanu Metir berkata, “Kau ternyata sedang dalam pengawasan. Mungkin Sidanti ingin membuktikan, apakah kau bukan sekedar seorang yang memancing kepercayaan seperti yang sebenarnya kau lakukan. Karena itu berhati-hatilah. Ternyata lereng Merapi itu pun berisi rang-orang yang berotak terang meskipun kadang-kadang licik.”

“Jadi apa yang harus aku lakukan?” bertanya Wuranta

“Pulanglah ke rumahmu. Aku, Agung Sedayu, dan Swandaru berada di sana. Tetapi jangan terlampau cepat. Berilah kami kesempatan masuk ke rumah itu. Apakah Agung Sedayu sudah mengenal keluargamu sehingga ia dapat masuk dengan aman?”

“Aku kira sudah. Yang ada di rumah hanyalah orang-orang tua. Tak ada orang lain lagi. Dan mereka pasti mengenalnya. Mungkin mereka lupa, tetapi mereka akan segera ingat kembali apabila Agung Sedayu menyebut dirinya.”

“Baik. Kami akan kesana. Kami akan menemuimu di rumahmu sehingga tidak menimbulkan kecurigaan bagi orang yang mengikutinya.”

“Terima kasih atas peringatan itu Kiai. Kalau aku tidak mengetahui bahwa seseorang mengikuti aku, maka besok mungkin aku sudah digantung di pinggir jurang.”

“Suatu peringatan bagimu. Hati-hatilah untuk seterusnya.”

“Baik, Kiai.”

“Sekarang bertempurlah sesungguhnya. Aku akan menghindar dan meninggalkan perkelahian ini. Ingat, jangan terlampau cepat, supaya aku mendapat waktu masuk lebih dahulu ke rumahmu bersama Agung Sedayu”

“Baik, Kiai.”

“Mulailah.”

Wuranta pun segera memutar pedangnya lebih cepat. Tetapi tenaganya telah benar-benar hampir habis. Ia harus mengerahkan sisa-sisa tenaga yang ada padanya untuk dapat bergerak lebih cepat.

Alap-alap Jalatunda yang melihat perkelahian itu dari kejauhan menjadi semakin cemas. Ia tidak dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi. Ketika perkelahian itu berkisar ke tempat yang agak lapang, maka bayangan keduanya menjadi tidak jelas. Tetapi dari jarak yang agak jauh itu, Alap-alap Jalatunda hanya sekedar melihat dua buah bayangan yang melontar ke sana ke mari. Sekali-sekali tampak sekilas sinar gemerlapnya pedang Wuranta memantulkan cahaya bintang gemintang di langit. Tetapi setelah itu maka kedua bayangan itu pun seakan-akan menjadi lebur tak terpisahkan.

Setiap kali Alap-alap Jalatunda merasa bahwa Wuranta terdesak, hatinya menjadi berdebar-debar. Ia berdiri pada keadaan yang sulit.

Tetapi ia melihat suatu perubahan pada perkelahian itu. Ia melihat salah seorang daripadanya terdorong beberapa langkah surut bahkan kemudian berguling beberapa kali untuk menghindari lawannya. Dalam pada itu, lawannya berusaha mengejarnya terus. Sebuah pedang terjulur lurus-lurus ke depan sedang lawannya terus-menerus menghindarinya.

Alap-alap Jalatunda menarik napas dalam-dalam. “Hem,” desahnya, “ternyata Wuranta berhasil mengatasi kesulitan. Agaknya anak itu cakap juga bermain pedang.”

Pertempuran itu memang hampir sampai pada akhirnya. Wuranta dengan sisa-sisa tenaganya ingin menunjukkan bahwa ia benar-benar sempat memenangkan perkelahian itu, dan Ki Tanu Metir pun mampu pula bermain dengan baiknya. Kali ini ia beperan sebagai seorang yang sedang di desak oleh lawannya. Sebagai seorang yang mencoba mengerahkan sisa-sisa kekuatannya untuk menyelamatkan diri dari sambaran pedang.

Melihat saat-saat terakhir dari perkelahian itu Alap-alap Jalatunda menahan nafasnya. Setiap kali Wuranta mendesak lawannya, Alap-alap Jalatunda itu mengepalkan tinjunya. Seolah-olah ia ingin meloncat dan membantu menerkam lawan Wuranta itu. Tetapi hanya giginya sajalah yang terdengar gemeretak.

Alap-alap Jalatunda itu bersorak di dalam hatinya ketika melihat lawan Wuranta itu meloncat surut beberapa langkah, kemudian dengan tergesa-gesa membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan anak muda Jati Anom itu.

“Jangan lari!” Alap-alap Jalatunda mendengar lamat-lamat suara Wuranta.

“Jangan sombong,” jawab orang yang lari itu, “aku belum kalah.”

“Tunggu dan kita teruskan perkelahian ini.”

“Belum waktunya.”

“Pengecut!”

“Kau pembual yang besar kepala.”

“Siapakah kau he?” bertanya Wuranta

Yang terdengar hanyalah suara tertawa. Lawan Wuranta itu tertawa dalam nada yang tinggi. Demikian tajamnya nada suara itu sehingga dada Alap-alap Jalatunda serasa tertusuk beribu jarum. Apalagi Wuranta, kali ini ia benar-benar menderita di dalam dadanya, bukan sekedar sebuah permainan.

Untunglah bahwa suara tertawa itu tidak terlampau lama. Suara tertawa yang aneh itu segera berhenti.

Wuranta tidak mampu lagi berlari mengejar lawannya itu. Kini ia berdiri bersandar sebatang pohon di pinggir jalan. Tenaganya benar-benar terkuras habis, apalagi isi dadanya serasa hancur tersayat-sayat oleh suara tertawa yang bernada tinggi dan tajam itu.

“Hem,” desahnya, “siapakah sebenarnya orang yang bernama Ki Tanu Metir itu? Tanpa tenaganya ia dapat membunuh aku hanya dengan nada suaranya.”

Di tempat lain Alap-alap Jalatunda pun berdiri pula bersandar sebatang pohon sambil menahan dadanya dengan telapak tangannya.

“Gila,” geramnya. Tetapi ia tidak sepayah Wuranta. Tenaganya masih cukup kuat untuk menahan dirinya meskipun suara tertawa itu benar-benar seperti meremas ulu hati.

“Hampir aku tidak percaya bahwa orang yang memiliki kekuatan seperti orang itu dapat dikalahkan oleh Wuranta. Suara tertawanya seakan-akan mempu merontokkan tulang-tulang iga. Aneh. Mungkin ia mempunyai kekuatan batin yang tinggi, tetapi kekuatan jasmaniahnya yang sangat kurang. Tetapi kenapa ia tidak berusaha mengalahkannya lawannya itu dengan kelebihannya itu?”

Orang itu bagi Alap-alap Jalatunda telah menimbulkan pertanyaan yang sulit untuk dijawabnya. Tetapi dengan demikian ia mengenal bahwa di lereng Merapi ini ada seseorang yang aneh. Yang selama ini tidak pernah diperhitungkan. Orang itu bukan Agung Sedayu, bukan Untara, bukan Widura, bukan Sidanti, dan bukan Ki Tambak Wedi.

Ketika Alap-alap Jalatunda telah terasa segar kembali, maka dijulurkannya kepalanya melihat apakah Wuranta sudah meneruskan perjalanannya. Tetapi anak muda Jati Anom itu ternyata kini malahan duduk di atas rerumputan kering bersandar pohon di sisi jalan. Tampaklah ia terlalu payah setelah berkelahi sekian lama melawan orang yang tidak dikenalnya.

“O, anak itu hampir mati,” gumam Alap-alap Jalatunda di dalam hatinya. “Mudah-mudahan ia tidak mati karena jantungnya rontok. Apabila demikian Sidanti akan marah kepadaku. Akulah yang disangkanya membunuh anak itu. Tetapi kalau ia masih saja duduk di situ, maka perkerjaan ini pasti akan tertunda. Kalau anak itu sampai ke Jati Anom setelah terang, maka aku tidak akan dapat mengikutinya terus.”

Namun Alap-alap Jalatunda masih mencoba menyabarkan diri. “Biarlah ia sekedar bernafas.”

Wuranta yang duduk bersandar sebatang pohon itu sebenarnya memang sedang berusaha untuk memulihkan nafasnya yang tersengal-sengal. Tetapi ia juga sengaja beristirahat agak lama seperti pesan Ki Tanu Metir. Meskipun kemudian nafasnya telah agak teratur, tetapi ia masih saja duduk dengan tenangnya.

“Mampuslah tikus cengeng,” geram Alap-alap Jalatunda yang hampir kehabisan kesabaran. Alangkah senangnya apabila ia diijinkan meloncati anak muda itu dan kemudian mencekik lehernya.

Tetapi akhirnya Wuranta itu berdiri juga. Sekali ia menggeliat, kemudian memijit punggungnya dengan kedua tangannya.

“Pemalas,” Alap-alap Jalatunda masih saja mengumpat-umpat seorang diri.

Wuranta itu akhirnya melangkahkan kakinya juga. Perlahan-lahan. Bukan saja karena ia sengaja memperlambat perjalanannya, tetapi sebenarnyalah bahwa ia sendiri sedang kelelahan.

Ketika menurut perhitungan Wuranta waktu yang diberikan kapada Agung Sedayu, Swandaru, dan Ki Tanu Metir telah cukup, maka barulah ia mempercepat langkahnya. Pedangnya kini telah menggantung di lambungnya.

Namun dalam pada itu ia dapat juga berbangga kepada diri sendiri. Ternyata ia dapat juga bermain pedang, meskipun tidak terlampau baik.

Langkah Wuranta itu pun semakin lama menjadi semakin cepat. Angin yang silir telah menyegarkan tubuhnya. Selembar-selembar daun yang kuning berguguran di atas tanah yang basah oleh embun.

Alap-alap Jalatunda mengikutinya dengan berdebar-debar. Semakin dekat dengan Jati Anom hatinya menjadi semakin tegang. Alap-alap Jalatunda sendiri tidak berusaha menyadari apakah sebabnya maka ia diganggu oleh kecemasan. Kalau sekali-sekali timbul gambaran Agung Sedayu di dalam benaknya, maka cepat-cepat ia menggeram, “Persetan dengan anak itu. Bahkan aku ingin berjumpa langsung dengan Agung Sedayu supaya aku sempat membunuhnya dalam perang tanding sebagai laki-laki.”

Tetapi Alap-alap Jalatunda tidak meyakini angan-angan itu. Agung Sedayu yang dibencinya itu masih merupakan seorang yang disegani.

“Tetapi suatu kali dendamku akan aku lepaskan,” Alap-alap Jalatunda menggeram lagi.

Perjalanan itu pun semakin lama menjadi semakin dekat. Jati Anom kini telah berada di hadapan hidung mereka.

Kini Alap-alap Jalatunda tidak lagi dapat lengah barang sekejap. Ia tidak boleh kehilangan Wuranta. Pekerjaan untuk mengikutinya bukanlah pekerjaan yang mudah. Tetapi Alap-alap Jalatunda itu cukup berpengalaman, sehingga ia tidak banyak menemui kesulitan. Apalagi Wuranta sendiri dengan sengaja membiarkan dirinya diawasi. Karena itulah pekerjaan Alap-alap Jalatunda itu menjadi terasa lebih mudah.

Alap-alap Jalatunda menjadi berdebar-debar ketika Wuranta berjalan dengan perlahan-lahan langsung menuju ke rumah Agung Sedayu. Bahkan mulai timbullah kecurigaannya, bahwa anak itu bukanlah anak yang dapat dipercaya. Kalau demikian maka prasangka Sidanti atasnya benar-benar beralasan.

“O, umurmu tidak lebih sampai besok,” berkata Alap-alap Jalatunda itu di dalam hatinya. Meskipun demikian ia tidak mau melepaskannya. Dengan hati-hati ia mengikuti anak itu sampai ke depan regol rumah Agung Sedayu.

“Bukankah rumah itu rumah Agung Sedayu,” berkata Alap-alap Jalatunda di dalam hatinya. Alap-alap itu pernah satu kali memasuki rumah itu bersama dengan Sidanti sebelumnya.

Di muka regol, Alap-alap Jalatunda melihat Wuranta itu berhenti. Ketika Wuranta itu kemudian dengan hati-hati menjengukkan kepalanya di regol halaman, maka ia mulai menjadi ragu-ragu.

“Kalau anak itu sengaja dikirim oleh Agung Sedayu, ia pasti tidak akan ragu-ragu lagi masuk ke dalam halaman,” desisnya kepada diri sendiri. Tetapi Wuranta itu tidak segera langsung masuk ke dalam halaman. Karena itu maka keinginannya untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Wuranta itu menjadi semakin besar. Kini ia tidak dapat memastikan apakah Wuranta itu termasuk orangnya Agung Sedayu seperti yang disangka oleh Sidanti.

Ketika Wuranta masuk, maka Alap-alap Jalatunda segera mendesak maju. Ia tidak mau kehilangan anak muda Jati Anom itu. Dengan hati-hati pula diikutinya saja ke mana anak muda itu pergi.

Dengan berdebar-debar Alap-alap Jalatunda melihat Wuranta pergi ke belakang. Dengan penuh perhatian dilihatnya Wuranta pergi ke sebuah bilik di bagian balakang rumah Agung Sedayu.

Alap-alap Jalatunda itu berhenti dan segera bersembunyi di balik rumpun pisang ketika ia melihat Wuranta pun berhenti. Anak muda itu segera melepas ikat kepalanya dan dengan ikat kepala itu ia menutup wajahnya. Dilepasnya pula bajunya dan diikatkannya di lambungnya.

“Apakah yang akan dilakukannya?” bertanya Alap-alap Jalatunda kepada diri sendiri. Tingkah laku Wuranta itu benar-benar menimbulkan keheranan di hatinya.

Alap-alap Jalatunda itu berkisar semakin dekat ketika ia melihat Wuranta perlahan-lahan mengetuk pintu bilik belakang rumah itu.

“Siapa?” terdengar seorang perempuan bertanya.

“Aku bibi.”

“Siapa?”

“Aku”

Perlahan-lahan terdengar amben bambu bergerit, disusul oleh langkah seorang perempuan mendekati pintu. Sejenak kemudian pintu itu pun bergerit terbuka.

Alangkah terkejutnya perempuan itu ketika tiba-tiba ia melihat ujung pedang tepat mengarah ke dadanya. Hampir-hampir ia memekik, tetapi segera Wuranta membentak, “Jangan membuat gaduh! Kalau kau berteriak, maka perutmu akan berlubang.”

Perempuan itu terdiam. Ia berdiri gemetar di muka pintu.

“Jawab pertanyaanku!” berkata Wuranta. “Apakah Agung Sedayu masih ada di sini?”

Dengan tergagap perempuan itu menjawab, “Aku tidak tahu, Tuan.”

“Jangan bohong! Aku melihatnya sore tadi. Ayo katakan, apakah ia di rumah ini. Kalau tidak, maka kepala anakmu itu akan aku penggal.”

“Jangan, Tuan. Kalau Tuan ingin membunuh, bunuh aku saja.”

“Itu adalah urusanku, apakah aku akan membunuhmu atau akan menggantung anakmu.”

“Anakku tidak bersalah apapun, Tuan,” perempuan itu mulai menangis.

“Kalau kau ingin anakmu selamat, jawab apakah siang ini Agung Sedayu masih di sini?”

Perempuan itu ragu-ragu sejenak. Tetapi ujung pedang Wuranta menjadi semakin dekat dengan dadanya. “Ayo katakan! Atau kepala anakmu akan menggelinding di halaman ini?”

“Jangan, Tuan.”

“Katakan sebelum aku kehabisan kesabaran!”

“Ya, siang tadi Angger Agung Sedayu ada di rumah ini.”

“Apakah sekarang ia ada di rumah ini juga?”

Perempuan itu terdiam. Kembali ia mejadi ragu-ragu untuk mejawab pertanyaan itu. Tetapi pedang itu hampir menyentuh dadanya.

“Bagaimana? Apakah kau tidak dapat berbicara lebih cepat?”

“Aku tidak tahu, Tuan. Aku tidak tahu.”

“Bohong! Jangan mencoba berbohong ya. Aku tidak banyak mempunyai waktu untuk bercakap-cakap tanpa arti. Atau kau menunggu aku marah dan kehilangan kesabaran sehingga anakmu mati?”

“Tidak, Tuan. Tetapi sebenarnyalah aku tidak tahu apa-apa.”

Wuranta tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba ia melangkah maju sambil berkata, “Minggir, aku akan mengambil anakmu yang sedang tidur itu.”

“Jangan, Tuan. Jangan”

Mata Wuranta yang menyembul di atas ikat kepala yang menutupi wajahnya memancarkan sorot yang mengerikan. Terdengar ia menggeram sambil beringsut maju. “Minggir, minggir, atau kalian berdua aku bunuh bersama-sama.”

“Jangan, Tuan,” rintih perempuan itu. “Kalau tuan ingin membunuh aku, bunuhlah, tetapi jangan anakku itu.”

“Persetan!” sahut Wuranta. “Aku hanya akan menghidupimu kalau kau berkata sebenarnya. Ayo jawab di mana Agung Sedayu sekarang?”

Perempuan itu terdiam.

“Cepat katakan, apakah ia masih berada di sini?”

Tubuh perempuan itu bergetar. Dengan suara parau ia menjawab penuh keragu-raguan. “Ya, Tuan. Angger Agung Sedayu masih berada di sini.”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. “Bagus!” katanya. “Ternyata kau menjawab sebenarnya. Di mana ia sekarang? Apakah ia berada di dalam rumah, atau bersembunyi di atas kandang?”

“Angger Agung Sedayu baru pergi, Tuan.”

“Cukup,” potong Wuranta. Ia tidak mau mendengar perempuan itu menjelaskan kemana Agung Sedayu pergi atau bahkan mengatakan dengan siapa ia pergi.

“Keteranganmu sudah cukup. Aku hanya ingin tahu apakah Agung Sedayu masih berada di Jati Anom. Ternyata anak itu benar-benar anak yang sombong. Siang tadi ia telah dilihat oleh kawan-kawanku dari lereng Merapi, tetapi ia merasa bahwa ia tidak perlu melarikan dirinya.”

Perempuan itu hanya berdiam diri.

“Jangan kau katakan kepada Agung Sedayu, bahwa aku malam ini datang kemari. Kalau besok Agung Sedayu mendengar kedatanganku dan anak itu lari, maka anakmulah yang akan aku penggal lehernya.”

“Tuan,” perempuan itu hampir menjerit, “bagaimanakah kalau Angger Agung Sedayu itu dengan kehendaknya sendiri ingin pergi dari rumah ini meskipun aku tidak mengatakan sesuatu kepadanya?”

“Mustahil! Kalau ia ingin pergi, maka ia akan pergi siang tadi. Tetapi sampai malam ini ia masih berada di rumah ini.”

“Tetapi anak muda itu sekarang ternyata telah pergi. Bagaimanakah kalau ia tidak kembali?”

“Cukup, cukup! Sekarang masuklah. Tutup pintu ini. Aku akan melihat pintumu sepanjang malam.”

Perempuan itu masih saja menggigil di muka pintu rumahnya, sehingga sekali lagi Wuranta membentaknya, “Masuk, cepat!”

Perempuan itu tidak dapat berbuat lain daripada menurut saja perintah itu. Dengan tubuh yang gemetar ia surut selangkah, dan dengan perlahan-lahan ia menutup pintu rumahnya.

“Jangan kau buka lagi pintu rumahmu sampai besok, supaya kau tidak aku bunuh bersama anakmu”

Tak terdengar jawab. Tetapi Wuranta mendengar suara perempuan itu menangis. Dan tangis perempuan itu telah menyentuh hati anak muda itu. Ia kenal benar siapakah perempuan penunggu rumah Agung Sedayu itu. Dan ia dapat merasakan betapa ketakutan telah melanda hatinya. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Ia sendiri sedang dalam keadaan yang mengkhawatirkan.

Sesaat kemudian, dengan hati yang trenyuh Wuranta melangkahkan kakinya meninggalkan pintu bilik di belakang rumah itu sambil membetulkan baju dan ikat kepalanya. Sementara itu ia bergumam di dalam hatinya, “Maafkan aku bibi. Aku telah membuat kau ketakutan.”

Wuranta tahu benar bahwa Alap-alap Jalatunda pasti sedang mengawasinya. Karena itu, maka ia pun harus tetap berhati-hati. Kini ia akan menuju ke rumahnya sendiri. Seperti pesan Kiai Gringsing yang dikenalnya dengan nama Ki Tanu Metir, maka Agung Sedayu, Swandaru, dan Ki Tanu Metir akan berada di rumah itu.

Wuranta pun kemudian dengan hati yang berdebar-debar meniggalkan halaman rumah Agung Sedayu. Ketika ia menginjakkan kakinya di atas jalan yang membelah pedukuhannya, maka sekali ia berpaling. Halaman rumah itu tampak gelap. Dan ia tidak melihat seorang pun di dalamnya. Tetapi ia yakin bahwa Alap-alap Jalatunda sedang mengintainya.

Perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya di atas jalan yang berbatu-batu. Selangkah demi selangkah. Suara gemerisik kakinya terdengar beruntun di tengah-tengah sepinya malam. Sekali-sakali angin yang kencang bertiup menggerakkan daun-daunan yang hijau. Tetapi sejenak kemudian sepi kembali.

Akhirnya Wuranta itu sampai pula ke muka rumahnya. Sejenak ia ragu-ragu. Apakah Alap-alap Jalatunda tidak akan mengintai rumahnya itu pula? Tetapi mudah-mudahan orang itu tidak berhasil melihat ruangan-ruangan di dalam rumahnya dari celah-celah dinding.

Perlahan-lahan ia melangkah masuk ke dalam halaman. Hatinya yang berdebar-debar selalu saja mengusik perasaannya. Tetapi ia melangkah terus.

Wuranta tidak menuju ke pintu depan rumahnya. Anak muda itu berjalan di sisi pendapa dan membelok lewat di samping gandok. Kemudian perlahan-lahan ia mengetuk pintu belakang.

“Siapa?” ia mendengar seseorang menyapa.

“Wuranta,” jawabnya.

Sejenak kemudian pintu itu pun terbuka dan anak muda itu hilang ditelan ke dalamnya.

Alap-alap Jalatunda yang selalu mengintainya menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa seolah-olah tugasnya telah selesai. Ia hanya mendapat kewajiban untuk melihat apakah Wuranta menemui Agung Sedayu atau tidak. Ternyata apa yang dilihatnya sama sekali tidak menumbuhkan kecurigaannya atas anak muda Jati Anom itu. Bahkan ia senang melihat cara anak muda itu mengetahui Agung Sedayu masih berada di rumahnya atau tidak. Karena itu, maka Alap-alap Jalatunda merasa bahwa tidak ada lagi gunanya ia terlalu lama berada di Jati Anom.

“Aku akan mendahuluinya,” katanya di dalam hati. “Besok kalau Wuranta sampai padepokan Ki Tambak Wedi, aku harus sudah berada di sana supaya aku tidak mendapat kesan, bahwa malam ini aku telah mengikutinya. Mungkin ia masih akan singgah ke rumahnya sendiri. Biarlah, itu tidak penting bagi tugasku.”

Alap-alap Jalatunda itu pun segera melangkah dengan hati-hati untuk meninggalkan Jati Anom. Ia tidak memperhatikan apa yang terjadi seterusnya di rumah Wuranta. Dan ia sama sekali tidak tahu, bahwa Agung Sedayu dan kawan-kawannya telah menunggu Wuranta di dalam rumahnya untuk mendapatkan beberapa macam ceritera tentang lereng Gunung Merapi.

“Tidak banyak yang dapat aku lihat sehari ini,” berkata Wuranta.

“Waktumu hanya sedikit,” sahut Ki Tanu Metir, “tetapi tidak berarti bahwa kau telah gagal. Bukankah kau besok akan kembali lagi?”

“Tidak besok Kiai,” jawab Wuranta, “malam ini.”

Ki Tanu Metir, Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kemudian terdengar Agung Sedayu bertanya, “Apakah kita akan pergi bersama Wuranta malam ini Kiai?”

“Jangan,” jawab Ki Tanu Metir. “Kita sama sekali belum mendapat gambaran bagaimana kita harus mendekati rumah tempat Sidanti menyembunyikan Sekar Mirah. Bagaimana cara kita memasuki padepokan Ki Tambak Wedi dan bahkan Wuranta belum melihat dimanakah rumah tempat Sekar Mirah itu berada.”

“Apakah kita masih harus menunggu lagi?” sahut Swandaru.

“Ya,” jawab Kiai Gringsing, “kita harus lebih banyak mendapat petunjuk.”

“Kita menunggu sampai Sekar Mirah mengalami nasib yang paling buruk dalam hidupnya?” bertanya Agung Sedayu.

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tentu tidak. Tetapi kita pun tidak akan mempercepat nasib yang paling buruk itu menimpanya. Bukankah begitu? Kalau kita dengan tergesa-gesa melakukan usaha ini, dan akhirnya usaha kita dapat diketahui oleh mereka, bukankah itu hanya berarti mempercepat bencana yang menimpa Sekar Mirah?”

“Waktu itu tidak dapat kita perkirakan. Mungkin hari ini Sekar Mirah telah kehilangan segala-galanya”

“Tidak,” tiba-tiba Wuranta menyela.

“Apakah kau tahu?” bertanya Swandaru

“Menurut Alap-alap Jalantunda, Sidanti adalah seorang pengecut di hadapan gadis-gadis, sehingga Sidanti membiarkan saja Sekar Mirah sampai sekarang di dalam penyimpanan. Bahkan apabila ada kesempatan Alap-alap Jalatunda itu sendirilah yang berbahaya bagi Sekar Mirah. Tetapi menurut keadaan yang aku lihat, Alap-alap Jalatunda tidak akan dengan begitu saja berani menembus pengawasan Sidanti.”

Mereka kemudian terdiam sejenak. Persoalan yang mereka hadapi adalah persoalan yang benar-benar mendebarkan jantung. Bencana yang setiap saat dapat menimpa Sekar Mirah adalah bencana pula buat kedua anak-anak muda murid Kiai Gringsing itu.

Tetapi mereka tidak dapat mengingkari kenyataan yang mereka hadapi, bahwa Sekar Mirah kini berada di dalam lingkungan yang penuh dengan bahaya. Seolah-olah gadis itu berada di dalam suatu rumah yang dipagari dengan ujung tombak dan pedang.

“Kita tidak boleh menuruti perasaan saja tanpa pertimbangan nalar, Ngger,” berkata Ki Tanu Metir kemudian. “Dengan demikian kita akan dapat terjerumus ke dalam suatu keadaan yang tidak kita kehendaki, sedang dengan demikian Sekar Mirah pun tidak akan dapat kita selamatkan.”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak menjawab. Mereka melihat segala macam kesulitan dan bahaya dengan darah yang mendidih. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

Yang terdengar kemudian adalah gemeretak gigi Swandaru dan Agung Sedayu menggeram.

“Angger Wuranta,” berkata Ki Tanu Metir, “Angger telah mendapatkan suatu kesempatan yang baik. Mudah-mudahan kesempatan itu akan berkembang sehingga Angger segera dapat melihat tempat Sekar Mirah disembunyikan dan jalan yang akan dapat kita lalui. Ternyata Angger dapat melakukan tugas Angger sebaik-baiknya sehingga tidak anehlah bagi Angger untuk mendapat kepercayaan yang lebih banyak lagi, Tetapi jangan kehilangan kewaspadaan. Untuk waktu yang agak lama maka Angger pasti selalu di dalam pengawasan Sidanti. Karena itu jangan sekali-sekali datang kembali ke rumah Agung Sedayu. Kalau Angger mendapat kesempatan pulang ke Jati Anom, datang sajalah ke rumah Angger dan meninggalkan pesan di sini.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari bahaya yang timbul apabila kali ini Ki Tanu Mtetir tidak memperingatkannya bahwa Alap-alap Jalatunda sedang mengikutinya.

Dalam pada itu Alap-alap Jalatunda telah bersiap untuk meninggalkan Jati Anom. Ia melangkah perlahan-lahan menyusuri jalan kademangan. Diamat-amatinya regol demi regol seperti belum pernah dilihat sebelumnya. Dengan langkah yang ringan ia melintasi tikungan demi tikungan.

Alap-alap Jalatunda itu kemudian berhenti sejenak di simpang empat induk kademangan. Diawasi jalan yang lurus di hadapannya silang menyilang. Satu arah jalan itu akan sampai ke rumah Agung Sedayu, sedang ketiga arah yang lain akan menebar ke segala bagian kademangan. Pada jalan itu kemudian bercabang-cabang jalan-jalan yang lebih kecil menyusup ke segenap sudut.

Sejenak Alap-alap itu berdiri diam di sudut perapataa itu. Disandarkannya tubuhnya pada dinding batu hampir setinggi dedeg dan pengawenya.

Tetapi tiba-tiba Alap-alap itu dikejutkan oleh derap kaki beberapa ekor kuda. Dengan sigapnya ia meloncat ke atas dinding batu dan bersembunyi di antara daun-daun pepohonan yang rimbun. Dengan hati yang berdebar-debar ia menunggu, derap kaki kuda siapakah yang bergemeretak di sepanjang jalan kademangan di larut malam ini.

Tetapi Alap-alap Jalatunda menjadi kecewa. Suara kaki-kaki kuda itu seakan-akan patah di tengah-tengah. Hilang dan tidak berderap di bawah tempatnya berlindung.

“Setan,” Alap-alap itu mengumpat, “siapakah yang berkuda di malam begini?”

Tetapi suara derap kuda itu seakan-akan lenyap begitu saja. Yang didengar oleh Alap-alap Jalatunda kemudian adalah desir angin malam terhempas di dedaunan dan dinding-dinding batu. Di kejauhan suara cengkerik bersahut-sahutan dengan derik bilalang.

“Apakah aku mendengar derap kaki hantu ataukah telingaku yang telah menjadi rusak,” gumam Alap-alap Jalatunda itu seorang diri.

Tetapi ia yakin bahwa ia telah mendengar derap kaki kuda. Bahkan menurut perhitungannya tidak hanya seekor kuda, tetapi paling sedikit tiga.

Hati Alap-alap Jalatunda menjadi tidak tenteram. Ia tidak dapat melupakan suara derap kaki-kaki kuda itu. Karena itu, maka hatinya mendesak semakin kuat untuk mencari, di manakah kuda-kuda itu berhenti.

Dengan hati-hati Alap-alap itu pun kemudian meloncat turun ke dalam halaman rumah di sisi jalan. Halama yang gelap oleh tanaman yang liar. Di sana-sini masih terdapat gerumbul-gerumbul dan rumpun-rumpun bambu.

Alap-alap Jalatunda itu pun segera menyelusup di antara rumpun-rumpun bambu dan gerumbul-gerumbul di halaman. Terbungkuk-bungkuk ia berjalan ke arah suara kaki-kaki kuda itu menghilang. Tiba-tiba ia teringat bahwa arah itu adalah arah rumah Untara.

“Setan,” desisnya, “apakah mereka itu Agung Sedayu dengan kawan-kawannya atau bahkan Untara sendiri.”

Keinginannya menjadi semakin mendesak. Dan ia menyuruk semakin cepat ke arah rumah Agung Sedayu. Seakan-akan ia mendapat kepastian bahwa kuda-kuda itu telah masuk ke dalam halaman rumah itu.

Ketika ia sampai di halaman di samping halaman Agung Sedayu, maka ia pun menjadi semakin hati-hati. Beberapa saat ia berdiri saja di bawah dinding di halaman seberang. Diperhatikan keadaan dengan saksama.

Tiba-tiba dadanya berdesir ketika ia mendengar suara ringkik kuda di halaman rumah Agung Sedayu. Kemudian ia mendengar suara orang yang sedang bercakap-cakap di dalam rumah. Tetapi ia tidak dapat menangkap kata-kata yang diucapkan.

“Demit itu agaknya,” Alap-alap itu mengumpat di dalam hati. “Agung Sedayu atau bukan, tetapi mereka ternyata lebih dari seorang. Kalau mereka bukan Agung Sedayu, maka sedikit-dikitnya rumah itu bcrisi empat orang bersama Agung Sedayu.”

Alap-alap Jalatunda itu kemudian tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia beringsut meninggalkan halaman itu untuk kembali ke lereng Gunung Merapi. Setidak-tidaknya ia telah menyelesaikan tugasnya mengawasi Wuranta. Dan kini tanpa disengaja ia telah melihat beberapa ekor kuda masuk ke dalam halaman rumah Agung Sedayu. Dengan demikian apabila mereka turun dari lereng Merapi, mereka harus memperhitungkan keadaan itu. Mereka tidak dapat turun seenaknya, berdua, bertiga atau bahkan seorang diri.

Dengan sedikit keterangan itu, Alap-alap Jalatunda meninggalkan Jati Anom. Bahkan ia ingin tahu, apakah besok Wuranta dapat juga membuat laporan tentang kuda-kuda itu.

Karena itu maka Alap-alap Jalatunda tidak sempat melihat apa yang terjadi sesudah itu di Jati Anom.

Ternyata ketiga orang berkuda itu adalah utusan Untara. Mereka harus mendahului pasukannya yang segera akan sampai pula di Jiati Anom besok. Mereka harus mengetahui apakah Jati Anom sudah siap menerima mereka. Apakah di Jati Anom tidak ada bahaya yang dapat mencelakakan pasukannya.

Ketiga orang berkuda itu kemudian diterima oleh perempuan yang menunggui rumah Agung Sedayu. Diceriterakannya apa saja yang baru saja dialaminya. Diceriterakannya tentang seorang laki-laki yang wajahnya tertutup oleh ikat kepala tanpa baju dan mengancamnya dengan pedang.

“Apakah orang itu kini mencari Agung Sedayu,” bertanya salah seorang dari orang-orang berkuda itu.

“Aku tidak tahu,” jawab perempuan itu. “Tetapi aku tidak mengatakan kemana Agung Sedayu pergi, dan orang itu tidak menanyakannya pula.”

“Tetapi kau mengatakan bahwa Agung Sedayu hari ini masih di kademangan ini?” bertanya orang berkuda itu.

“Aku kehilangan akal ketika orang itu mengancam akan membunuh anakku.”

Orang-orang berkuda itu terdiam. Sejenak kemudian salah seorang dari mereka bertanya, “Di manakah Agung Sedayu sekarang?”

Perempuan itu ragu-ragu sejenak. Ia sama sekali belum mengenal laki-laki berkuda itu. Karena itu, maka ia tidak segera menjawab.

“Kau mencurigai kami pula?” bertanya salah seorang dari mereka.

Perempuan itu masih juga berdiam diri.

“Adalah sewajarnya kau mencurigai kami. Tetapi biarlah kami mencoba mendapatkan kepercayaan darimu. Aku tahu dari Ki Untara tentang rumah ini. Bahwa ada seorang perempuan yang menunggui rumah ini. Aku mengetahui dari Ki Untara pula, bahwa Agung Sedayu datang ke rumah ini dengan kedua orang kawannya. Seorang bertubuh gemuk bernama Swandaru dan seorang lagi telah agak lanjut usia. Bukankah begitu?”

Perempuan itu menganggukkan kepalanya.

“Apakah kau masih ragu-ragu. Kalau kau mengenal kelengkapan prajurit, maka melihat pakaianku kau akan segera mengenal bahwa aku seorang prajurit.”

Perempuan yang tidak banyak mengetahui seluk-beluk keprajuritan itu sama sekali tidak dapat segera membedakan pakaian seorang prajurit dan bukan. Tetapi keterangan orang itu tentang Agung Sedayu memberinya sedikit kepercayaan. Dalam tanggapannya, ia melihat beberapa perbedaan yang tidak dapat dikatakannya, antara orang-orang ini dan orang-orang lereng Merapi yang satu dua pernah dilihatnya berkeliaran di Jati Anom.

“Jadi apakah Tuan-tuan ini prajurit Pajang?”

“Ya, aku adalah prajurit Pajang yang datang dari Sangkal Putung.”

Sejenak perempuan itu mematung. Diawasinya prajurit-prajurit Pajang itu dengan seksama seolah-olah hendak meyakinkan diri bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang tidak berbahaya.

Para prajurit Pajang itu pun sengaja berdiam diri. Dibiarkannya perempuan itu menilai diri mereka.

Akhirnya perempuan itu berkata, “Aku sendiri tidak tahu kemana Angger Agung Sedayu pergi.”

Prajurit-prajurit itu mengerutkan keningnya. Sejenak mereka saling berpandangan. Tetapi perempuan itu masih memberi keterangan

“Angger Agung Sedayu hanya meninggalkan sekeping papan, yang hanya boleh aku tunjukkan kepada orang-orang yang tidak mencurigakan.”

“He?” ketiga prajurit itu menjadi heran. Apakah arti papan itu bagi mereka?

Mereka menjadi bertanya-tanya di dalam hati ketika perempuan itu pergi dan mengambil sepotong papan bekas sebuah peti yang rusak. Di atas papan itu terlukis beberapa buah coretan dengan enjet, perlengkapan makan sirih.

Tiba-tiba wajah para prajurit itu menjadi cerah. Adalah menjadi kebiasaan mereka untuk memberikan beberapa tanda arah apabila mereka sedang bepergian. Orang-orang yang berjalan kemudian akan mengenal kemana orang-orang yang terdahulu pergi. Tanda-tanda demikian hanyalah dikenal oleh kelompok-kelompok atau prajurit-prajurit dari satu lingkungan tertentu menurut perjanjian mereka masing-masing.

Dan tanda yang dilukis dengan enjet itu jelas bagi mereka, arah yang ditempuh oleh Agung Sedayu.

“Hem,” desis salah seorang prajurit itu, “ternyata Adi Agung Sedayu cukup berhati-hati. Tanda itu tidak akan dapat dikenal selain oleh prajurit Pajang khsusus yang berada di Sangkal Putung.”

Perempuan itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah,” berkata prajurit-prajurit itu, “kami akan menyusulnya. Mungkin ada sesuatu yang penting yang dapat kami perbincangkan dengan mereka.”

“Silahkan,” berkata perempuan itu.

Sejenak kemudian para prajurit itu pun segera meninggalkan rumah Agung Sedayu mengikuti petunjuk pada lukisan enjet itu. Mereka menuju ke barat dan pada tempat yang ditentukan mereka membelok ke kiri. Beberapa langkah sekali lagi mereka membelok ke kiri dan sampailah mereka pada suatu regol tiga halaman dari ujung jalan. Regol itu adalah regol halaman rumah Wuranta.

Mereka yang berada dalam rumah itu terkejut ketika mereka mendengar derap kaki kuda memasuki halaman. Dengan hati-hati Wuranta turun ke halaman belakang. Dari celah dedaunan dilihatnya tiga bayangan turun dari kuda-kuda mereka.

Wuranta segera masuk kembali ke dalam rumahnya dan memberitahukan apa yang dilihatnya. Tiga orang berkuda kini berada di halaman depan.

Sejenak Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Akulah yang akan melihatnya. Seandainya Alap-alap Jalatunda berada di halaman dan mengintai rumah ini maka ia tidak akan mengenal aku. Kalau ketiga orang yang datang itu justru atas petunjuk Alap-alap Jalatunda, maka kita harus mengubah setiap rencana. Orang itu tidak akan kita lepaskan dan kita akan menghadapi jumlah yang lebih besar besuk.”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak menjawab. Tetapi mereka berdiri tegang di muka pintu ketika Ki Tanu Metir dengan hati-hati keluar lewat pintu belakang.

Orang tua itu adalah seorang yang memiliki beberapa kelebihan dari orang kebanyakan. Itulah sebabnya, maka ia berhasil mendekati ketiga penunggang kuda itu tanpa mereka ketahui.

Dengan penuh perhatian Ki Tanu Metir melihat ketiganya mendekati pendapa.Perlahan-lahan mereka naik dan perlahan-lahan pula mereka mengetuk pintu.

Tiba-tiba Kiai Gringsing menarik napas dalam-dalam. Menurut pengamatannya, ketiga orang itu adalah prajurit-prajurit dari Sangkal Putung. Karena itu, orang tua itu pun segera mendekatinya.

Kini, ketiga prajurit itulah yang terkejut, karena tiba-tiba saja mereka melihat sesosok tubuh telah berdiri di ujung pendapa.

Dengan serta-merta mereka meraba hulu pedang masing-masing. Terdengar salah seorang bertanya, “Siapa?”

“Akulah yang bertanya,” sahut Ki Tanu Metir, “siapakah kalian bertiga?”

Ketiga prajurit yang mendengar sapa itu menarik napas dalam-dalam. Suara itu pernah dikenalnya. Suara Ki Tanu Metir.

“Oh,” desis salah seorang dari mereka, “adakah itu Ki Tanu Metir?”

“Ya.”

“Kami adalah prajurit-prajurit yang datang dari Sangkal Putung.”

“Pakaianmu telah memperkenalkan dirimu. Marilah masuk lewat pintu belakang,” berkata Ki Tanu Metir perlahan-lahan.

“Kenapa lewat pintu belakang?”

“Rumah ini mungkin mendapat pengawasan dari orang-orang lereng Merapi. Tetapi menurut perhitunganku, orang-orang itu telah meninggalkan halaman ini. Masuklah, dan berbicaralah dengan Agung Sedayu. Aku mempunyai pekerjaan di sini. Aku harus meyakinkan diri, bahwa tak seorang pun yang melihat kehadiranmu di rumah ini supaya Wuranta menjadi korban kesalahan yang telah aku buat.”

“Apakah yang telah Kiai lakukan?”

“Masuklah lewat pintu belakang.”

Ketiganya pun kemudian berjalan lewat pintu belakang masuk ke dalam rumah. Sementara itu Kiai Gringsing tinggal di luar dan dengan kemampuan yang ada padanya, diselidikinya seluruh halaman rumah itu. Tetapi telinganya sama sekali tidak menangkap suara apapun. Ia tidak mendengar nafas seseorang, dan ia tidak melihat gerak-gerak yang mencurigakan.

“Kalau Alap-alap itu masih berada di sini, ia tidak akan luput dari pengawasanku,” desis orang tua itu di dalam hatinya. Meskipun demikian, ia tidak puas dengan pengamatannya di halaman itu. Dengan gerak yang lincah secepat tatit ia meloncat ke luar halaman dan melihat setiap kemungkinan dengan penuh perhatian.

Kiai Gringsing tidak mau menduga-duga, apakah Alap-alap Jalatunda masih berada di tempat itu atau tidak. Ia harus dapat meyakinkan dirinya. Ia tidak mau mengorbankan Wuranta yang dengan tulus telah bersedia membantu mereka. Karena itu maka usahanya untuk meyakinkan diri itu pun tidak terbatas di sekitar halaman rumah Wuranta, tetapi ia berjalan cepat-cepat menyusur jalan menuju lereng Merapi.

Akhirnya yang dicari oleh Ki Tanu Metir itu diketemukannya juga. Samar-samar ia melihat sebuah bayangan meninggalkan Jati Anom. Orang itu adalah Alap-alap Jalatunda.

“Hem,” desah Ki Tanu Metir di dalam hatinya. “Menilik jarak yang telah ditempuh, agaknya orang ini telah pergi tanpa melihat kehadiran ketiga prajurit dari Pajang. Seandainya ia melihat juga, tetapi ia tidak tahu bahwa ketiganya telah masuk ke halaman rumah Wuranta.”

Dengan demikian hati Ki Tanu Metir itu pun menjadi tenteram. Ia tidak mencemaskan lagi nasib Wuranta besok apabila ia kembali ke lereng Merapi. Sebab apabila Alap-alap Jalatunda melihat ketiga prajurit Pajang itu menemui Agung Sedayu di rumah Wuranta, maka mereka pasti tidak akan mempercayai lagi anak muda Jati Anom itu. Dengan demikian maka nasib Wuranta pun akan tersangkut di ujung pedang.

Ketika Ki Tanu Metir itu kembali ke rumah Wuranta, maka dilihatnya ketiga prajurit Pajang itu sedang berbincang dengan asyiknya. Mereka agaknya sedang membicarakan masalah tentang Jati Anom.

“Marilah Kiai,” Agung Sedayu mempersilahkan. Dan duduklah Ki Tanu Metir kini di antara mereka.

“Ki Untara minta aku melihat kademangan ini Kiai,” berkata salah seorang prajurit-prajurit itu. Ia akan masuk besok bersama pasukannya.

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada Wuranta ia berkata, “Angger harus dapat menyesuaikan diri. Sebenarnya kami ingin segera mengetahui tempat Sekar Mirah disembunyikan, supaya kami dapat menempuh suatu cara yang cepat pula untuk membebaskannya. Kami ingin membebaskan gadis itu sebelum Angger Untara memukul lereng Merapi dengan pasukannya.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Selain daripada itu,” berkata Ki Tanu Metir, “kita tidak boleh menunggu Sidanti menghubungi daerah asalnya. Kedatangan Argajaya akan dapat memberikan cara baru baginya dalam usahanya menentang Pajang. Argajaya akan dapat memberi nasihat kepada Sidanti untuk menghubungi ayahnya. Dan ayahnya pasti tidak akan keberatan mengirimkan sepasukan segelar sepapan untuk kepentingan anaknya.”

Wuranta masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi usaha yang harus dilakukan bukanlah usaha yang mudah. Ia tidak akan dapat langsung bertanya di mana Sekar Mirah. Tetapi ia akan dapat berbuat demikian lewat Alap-alap Jalatunda yang sudah menceriterakan lebih dulu tentang gadis itu.

Meskipun demikian ia tidak boleh tergesa-gesa melakukan pekerjaannya.

Melihat wajah Wuranta yang tegang agaknya Ki Tanu Metir dapat meraba perasaannya, sehingga kemudian katanya, “Angger, memang pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Pekerjaan itu adalah pekerjaan yang sukar dan harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Mudah-mudahan Angger dapat melakukannya dengan baik.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Aku akan coba Kiai. Tetapi sekarang aku tidak banyak mempunyai waktu lagi. Aku harus segera kembali ke lereng Merapi. Aku harus sampai pada saat fajar menyingsing. Tetapi agaknya aku akan terlambat. Mudah-mudahan keterlambatan sedikit itu tidak menjadi soal bagi pekerjaanku.”

“Mudah-mudahan, Ngger,” sahut Kiai Gringsing. “Tetapi Angger jangan kehilangan kewaspadaan. Katakan saja apa yang Angger lihat di sini. Angger melihat ketiga prajurit datang ke Jati Anom. Bahkan mereka datang ke rumah Angger. Mungkin atas petunjuk Agung Sedayu. Untunglah Angger dapat melarikan diri. Tetapi prajurit itu segera pergi.”

Wuranta mengangguk-anggukkkan kepalanya. Tetapi ia bertanya, “Kenapa aku harus mengatakan kehadiran ketiga prajurit ini?”

“Kalau laporanmu sama atau setidak-tidaknya mirip dengan laporan Alap-alap jalatunda, maka kau pasti akan dapat kepercayaan lebih banyak.”

“Tetapi apakah dengan demikian tidak akan merugikan ketiga prajurit ini Kiai?”

“Apakah kerugiannya? Besok pasukan Untara datang. Berita itu pasti didengar oleh Sidanti. Ia pasti mempunyai orang-orang yang bertugas untuk mengawasi keadaan. Seperti kau, tetapi satu sama lain tidak saling diperkenalkan.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Kemudian ia pun minta diri untuk segera kembali ke lereng Merapi. Ia akan berusaha datang tepat pada waktunya, atau pun kalau terlambat, maka kelambatannya tidak akan terlampau panjang.

Kiai Gringsing dan kawan-kawanya pun kemudian melepaskan Wuranta itu pergi dengan berbagai pesan. Dada Kiai Gringsing pun kadang-kadang berdesir melihat langkah Wuranta meninggalkan halaman rumahnya. Ia menyadari betapa besar bahayanya pekerjaan yang kini sedang dilakukan oleh Wuranta itu.

“Mudah-mudahan Tuhan melindunginya,” desisnya di dalam hati.

Dengan tergesa-gesa kemudian Wuranta berjalan meninggalkan Jati Anom. Ia ingin sampai ke padepokan Ki Tambak Wedi sebelum fajar. Tetapi menilik waktu yang seolah-olah berlari terlampau cepat, maka Wuranta itu pun merasa bahwa kedatangannya pasti akan terlambat.

“Tetapi keterlambatanku pasti tidak akan terlampau banyak,” anak muda itu mencoba menenteramkan hatinya sendiri.

Tanpa disengaja maka langkahnya pun menjadi kian cepat. Angin pegunungan yang bertiup perlahan-lahan telah memberinya kesegaran.

Beberapa lama Wuranta di perjalanan, tidak dirasakannya. Tetapi tiba-tiba saja dilihatnya remang-remang pepohonan di sisi jalan. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya langit di sebelah timur telah diwarnai oleh cahaya fajar yang kemerah-merahan.

“Hem,” desah Wuranta, “hampir fajar. Tetapi apabila benar kata Ki Tanu Metir bahwa Alap-alap Jalatunda mengikutiku, maka ia akan dapat banyak berceritera. Ia akan dapat mengatakan bahwa aku telah berkelahi melawan seseorang. Kemudian ia akan dapat berceritera pula tentang tiga ekor kuda.”

Perjalanan Wuranta menjadi kian mendaki. Ia telah sampai di lereng-lereng Gunung Merapi. Beberapa pedukuhan yang sepi telah dilampaui, dan kini ia telah melampaui hutan-hutan yang tidak begitu lebat. Meskipun demikian di dalam hutan itu masih juga berkeliaran harimau dan babi hutan. Tetapi yang paling mengerikan adalah gerombolan anjing-anjing liar yang jumlahnya tidak terhitung lagi.

Sejenak kemudian maka ujung-ujung pepohonan telah menjadi kemerah-merahan pula. Disusul oleh warna kuning yang cerah.

“Hari telah pagi,” berkata Wuranta kepada diri sendiri.

Namun dengan demikian ia dapat melihat dengan jelas segala sudut-sudut jalan menuju ke padepokan Tambak Wedi.

Ketika ia menjadi semakin dekat, kembali dilihatnya beberapa pucuk senjata di belakang batu-batu besar, di tikungan-tikungan, dan di sisi-sisi jalan. Penjagaan yang ketat memagari padepokan itu. Penajagaan itu bukan saja untuk menjaga setiap kemungkinan, tetapi dengan demikian maka Ki Tambak Wedi tetap memelihara suasana dan keadaan perang. Penjagaan itu memberi pekerjaan bagi orang-orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi yang berkeliaran dalam jumlah yang cukup besar. Tanpa penjagaan itu, maka mereka akan mempunyai terlampau banyak kesempatan untuk duduk termenung. Kesempatan untuk memikirkan diri sendiri dan kesempatan untuk bertengkar satu dengan yang lain. Tetapi kesiap-siagaan yang selalu dibangun oleh Ki Tambak Wedi dapat mencengkam seluruh perhatian mereka. Seolah-olah Untara dan prajurit-prajurit Pajang telah berada di muka hidung mereka.

Dengan demikian mereka tidak mendapat kesempatan untuk berpikir tentang diri sendiri, tentang kesulitan-kesulitan yang mereka alami dan tentang hari depan mereka yang gelap. Mereka tidak mendapat kesempatan untuk bertengkar satu dengan yang lain berebut berbagai macam persoalan.

Setiap orang yang berada dalam dipenjagaan itu memandangi Wuranta dengan curiga. Tetapi kemudian mereka membiarkannya lewat. Anak muda Jati Anom itu adalah anak muda yang kemarin dibawa oleh Sidanti, dan kemudian berjalan meninggalkan padepokan ini bersama Alap-alap Jalatunda.

Matahari di atas cakrawala pun merayap semakin tinggi. Cahayanya yang menyangkut di ujung gunung merapi seakan-akan telah membakar puncak itu sehingga berwarna merah membara. Dalam pada itu maka padepokan Tambak Wedi itu pun menjadi semakin dekat.

Setelah melampaui beberapa lapis penjagaan maka akhirnya Wuranta sampai kejantung padepokan Tambak Wedi.

Anak muda itu langsung menuju ke rumah yang kemarin pertama-tama dimasuki bersama Sidanti dan Alap-alap Jalatunda.

Dada Wuranta berdesir melihat Alap-alap yang masih sangat muda itu. Matanya benar-benar seperti mata burung Alap-alap. Anak itu tampaknya telah rapi benar. Agaknya ia telah sempat mandi dan membenahi pakaiannya. Tidak ada tanda-tanda bahwa semalam ia pergi mengikutinya ke Jati Anom.

“Hem, kau Wuranta,” sapa Sidanti.

Sekali lagi dada Wuranta berdesir. Ia tidak tahu tanggapan Sidanti yang sebenarnya kepadanya pagi ini. Apakah murid Ki Tambak Wedi itu akan menerimanya dengan baik, atau telah disiapkannya tali gantungan untuknya.

“Duduklah,” berkata Sidanti itu pula mempersilakan Wuranta duduk bersamanya di atas sebuah tikar pandan yang putih.

“Kau datang terlampau siang,” berkata Sidanti.

“Ya, Tuan,” sahut Wuranta. “Ada beberapa sebab yang menghambat kedatanganku.”

“Minumlah, kemudian ceriterakanlah apa yang kau lihat di Jati Anom.”

Wuranta menelan ludahnya. Seakan-akan ia sedang duduk di hadapan seorang jaksa yang sedang memeriksa perkaranya. Ia tidak tahu hukuman apakah yang kemudian akan dijatuhkan atasnya.

Seteguk ia minum air hangat yang sudah terhidang di hadapannya. Diraihnya segumpa gula kelapa. Ia mencoba untuk menenangkan hatinya, tetapi ketika air hangat itu diangkatnya, maka ia merasa beberapa tetes tertumpah menyiram kakinya. Ternyata lengannya masih juga gemetar. Tetapi ketika lehernya telah menjadi basah, maka ia menjadi agak tenang.

“Apakah perjalananmu menyenangkan? Berkata Sidanti tiba-tiba.

Wuranta menggeser duduknya, membetulkan pedangnya yang mencuat ke belakang. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam, lalu jawabnya, “Ya, tuan. Perjalanan kali ini benar-benar menyenangkan.”

“Ceriterakanlah apa yang kau lihat dan apa yang kau dengar?”

“Aku tidak hanya sekedar melihat dan mendengar, Tuan” jawab Wuranta, “tetapi aku hampir mati di perjalanan.”

“Kenapa?” Sidanti terkejut.

Tetapi Wuranta melihat bahwa sebenarnya Sidanti hanya berpura-pura saja. “Alap-alap itu pasti sudah berceritera tentang Ki Tanu Metir yang sudah mencegat perjalananku,” katanya di dalam hati.

Wuranta itu pun kemudian berceritera tentang apa saja yang dilakukannya. Berkelahi dengan seseorang laki-laki yang tidak dikenalnya yang mencegat perjalanannya. Kemudian menggertak perempuan tua yang menunggui rumah Agung Sedayu dan yang terakhir tentang tiga orang penunggang kuda yang datang ke Jati Anom.

Sidanti dan Alap-alap Jalatunda mendengarkan dengan penuh minat. Seakan-akan apa yang didengarnya itu belum pernah diketahuinya lebih dahulu. Kadang-kadang wajah mereka berkerut-merut, kadang-kadang menjadi tegang.

“Setan,” desis Wuranta di dalam hatinya, “mereka benar-benar licik.” Tetapi tiba-tiba ia menyadari keadaan dirinya sendiri. “Dan aku pun harus berbuat licik seperti mereka pula.”

Ketika Wuranta selesai berceritera maka Sidanti pun kemudian mengangguk-anggukan kepalanya. Dipandanginya Alap-alap Jalatunda sekilas, lalu katanya, “Kau benar-benar hebat. Siapakah kira-kira laki-laki yang menyerangmu?”

Wuranta tidak segera menjawab. Ia pun memandangi Alap-alap Jalatunda sekilas. Baru kemudian ia menjawab sambil menggeleng, “Aku tidak tahu, Tuan. Sebenarnya aku ingin bertanya kepada Tuan, siapakah yang telah mencegat aku di perjalanan itu?”

Sidanti mengerutkan keningnya. Tetapi tiba-tiba ia tersenyum, “Kau menyangka bahwa aku telah memasang seseorang untuk mencegatmu? Apakah gunanya? Kalau aku ingin membunuhmu, sekarang aku dapat melakukannya.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

“Jadi, kau benar-benar tidak mengetahuinya?”

“Benar, Tuan,” jawab Wuranta. “Maaf bahwa aku memang menyangka bahwa Tuan ingin mengetahui sedikit tentang diriku dengan mengirimkan seseorang mencegat perjalananku, meskipun Tuan tidak benar-benar ingin membunuhku.”

“Memang masuk akal,” sahut Sidanti, “tetapi aku tidak melakukannya.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak segera mengucapkan sesuatu.

Yang bertanya kemudian adalah Alap-alap Jalatunda, “Lalu bagaimana dengan tiga orang berkuda itu?”

“Mereka hampir membunuhku,” sahut Wuranta.

“Bohong!” desis Alap-alap Jalatunda. “Apakah kau seorang anak muda yang pilih tanding dan dapat mengalahkan tiga orang prajurit Pajang?”

Dada Wuranta berdesir mendengar pertanyaan itu. Sebenarnyalah bahwa ia tidak akan dapat melepaskan diri dari tiga orang prajurit Pajang seandainya mereka benar-benar ingin membunuhnya. Tetapi ceriteranya telah diucapkannya, bahwa ia melepaskan diri dari ketiganya.

Tetapi tiba-tiba Wuranta itu pun tersenyum. Wajahnya yang tegang menjadi kemerah-merahan. Beruntung bahwa ia segera dapat menguasai perasaannya.

“Bagaimana?” desak Alap-alap Jalatunda.

“Aku memang dapat melepaskan diri dari mereka. Sebagaimana Tuan lihat, aku selamat sampai di sini.”

“Apakah kau mampu melawan mereka bertiga?” bertanya Sidanti.

Wuranta menggeleng. Senyumnya masih saja melekat di bibirnya.

“Lalu bagaimana?” Alap-alap Jalatunda hampir mebentak.

Wuranta berusaha sekuat-kuatnya menguasai perasaannya. Sambil tersenyum ia menjawab, “Sudah aku katakan, aku melepaskan diri dari mereka”

“Sesudah kau bertempur melawan mereka, atau sesudah kau membunuh ketiganya?”

Wuranta masih tersenyum. Perlahan-lahan ia menjawab, “Justru sebelum mereka melihat aku.”

“Gila!” Alap-alap Jalatunda berteriak. Tetapi terdengar Sidanti tertawa terbahak-bahak.

“Kau memang seorang pengecut. Seorang pengecut yang suka sekali membual.”

Wuranta tidak segera menjawab. Tetapi ia menjadi berlega hati ketika Sidanti mentertawakannya. Alap-alap Jalatunda itu pun tertawa pula sambil berkata, “Sebenarnya kau cukup mampu untuk berkelahi. Kau dapat mengusir laki-laki yang menyerangmu. Tetapi kau benar-benar seorang pengecut.”

Wuranta mengerutkan keningnya. Dengan serta-merta ia bertanya, “Darimana Tuan tahu bahwa aku mampu berkelahi?”

Kini Alap-alap Jalatunda yang terbungkam. Sejenak ia menjadi bingung. Tetapi sejenak kemudian ia pun menjawab, “Bukankah kau sendiri mengatakannya bahwa kau mampu mengusir laki-laki yang tak kau kenal itu?”

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Wuranta bergumam, “Apakah aku tadi berkata begitu?”

“Ya, kau mengatakannya.”

“Dan Tuan tidak menganggap bahwa kali ini aku pun hanya membual saja?”

Sekali lagi Sidanti tertawa. Katanya, “Aku memerlukan seseorang seperti kau. Pengecut sekaligus pembual.”

Wuranta pun tersenyum. Ia melihat beberapa orang kemudian masuk ke dalam ruang itu pula. Wajah mereka diliputi oleh berbagai pertanyaan. Mereka melihat Sidanti tertawa berkepanjangan dan Alap-alap Jalatunda pun tertawa-tawa pula.

“Apa yang kalian tertawakan?” bertanya Sanakeling.

“Pengecut ini,” jawab Sidanti. Kemudian ia berkata kepada Wuranta, “Pergilah, kau boleh beristirahat. Kau akan mempunyai pekerjaan yang serupa untuk saat-saat mendatang. Tetapi apakah kau masih berani datang ke Jati Anom apalagi apabila ketiga prajurit itu mengetahui rumahmu?”

“Sejak lama Agung Sedayu melihat rumahku. Mungkin ketiga prajurit itu adalah sraya Agung Sedayu untuk menangkapku.”

“Jangan membual lagi,” potong Sidanti. “Agung Sedayu tidak memerlukan orang lain untuk memenggal lehermu.”

“Tetapi ternyata ia tidak berani datang ke rumahku?”

“Anak muda Jati Anom. Adik Untara itu segan mengotori tangannya dengan darah kelinci.”

Wajah Wuranta sesaat menjadi kemerah-merahan. Bagaimanapun juga sebagai seorang anak muda, ia merasa tersinggung oleh berbagai hinaan yang diucapkan oleh Sidanti berturut-turut. Tetapi segera ia menyadari kewajibannya, sehingga sekali lagi ia terpaksa menekan perasaannya.

Wuranta terkejut ketika ia mendengar Sidanti bertanya, “Apakah kau marah?”

Wuranta memaksa dirinya untuk tersenyum. “Tidak, Tuan. Tetapi aku ingin suatu ketika dapat mengalahkan Agung Sedayu.”

Sidanti tertawa. Kemudian katanya, “Pergilah. Kalau kau lelah, beristirahatlah.”

“Baik, Tuan” sahut Wuranta, “tetapi aku ingin menjelaskan kepada Tuan, bahwa untuk seterusnya, meskipun pasukan Untara telah berada di sekitar Jati Anom, aku tidak takut untuk turun. Jati Anom adalah kampung halamanku. Kenapa aku menjadi takut pulang? Aku mengenal semua jalan-jalan dan lorong-lorong. Aku kenal segenap sudut-sudutnya, rumpun-rumpun bambu yang lebat dan tempat-tempat yang lain untuk bersembunyi.”

“Aku sudah menyangka,” potong Sidanti

“Apa yang sudah Tuan sangka?”

“Ceriteramu pasti hanya berkisar pada tempat persembunyian, tempat untuk melarikan diri dan sebagainya. Kau tidak akan berceritera tentang kemungkinan yang lain, misalnya membinasakan mereka, mencegat mereka atau perbuatan-perbuatan serupa.”

Wuranta tersenyum, Betapapun hatinya menjadi kecut.

“Pergilah,” berkata Sidanti, “kau mendapat kesempatan untuk beristirahat, melihat-lihat tempat ini bersama Alap-alap Jalatunda.”

Wuranta menganggukkan kepalanya. Ia melihat kewaspadaan pada sikap dan kata-kata Sidanti. Ia pun menyadari bahwa Alap-alap Jalatunda pasti mendapat tugas untuk mengawasinya selama ia berada di padepokan Tambak Wedi.

Wuranta kemudian meninggalkan tempat itu. Di halaman ia sejenak menunggu Alap-alap Jalatunda yang masih berada di dalam.

“Bagaimana menurut pertimbanganmu, Alap-alap Jalatunda?” bertanya Sidanti.

“Ia berkata sebenarnya.”

“Ya, aku juga percaya kepadanya. Bodoh, berterus-terang tetapi licik dan pembual.”

“Orang yang demikian dapat kita pergunakan untuk sementara. Tetapi sifat pembualnya adalah sifat yang berbahaya,” sahut Sanakeling.

“Ya, kita pergunakan untuk waktu yang tertentu. Akan datang saatnya, anak itu kita lemparkan ke dalam jurang. Tetapi sekarang ia akan bermanfaat. Nanti malam ia harus turun kembali ke Jati Anom melihat perkembangan daerah itu. Bagaimanakah dengan ketiga orang berkuda yang semalam datang ke kademangan itu,” berkata Sidanti.

Alap-alap Jalatunda mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sambil bersungut-sungut ia bertanya, “Apakah aku mendapat tugas untuk mengikutinya lagi?”

Sidanti tertawa sambil menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tidak. Nanti malam kau dapat tidur nyenyak di gubugmu.”

Alap-alap Jalatunda tidak berkata sepatah kata pun lagi. Ditinggalkannya ruangan itu langsung turun ke halaman. Ditemuinya Wuranta yang telah agak lama menunggunya.

“Apakah kau mau tidur?” bertanya Alap-alap Jalatunda.

Wuranta menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku harus berprihatin supaya niatku dapat terlaksana.”

“Apakah niat itu?”

“Sederhana,” jawab Wuranta, “menjadi demang dan beristri cantik.”

Tiba-tiba Alap-alap Jalatunda itu tertawa terbahak-bahak. “O, dapurmu,” katanya. “Seorang Demang harus orang yang berani.”

“Kelak aku akan menjadi orang yang berani juga.”

“Mudah-mudahan kau akan dapat menjadi seorang Demang,” gumam Alap-alap Jalatunda.

“Dan beristri cantik, supaya aku dapat juga beranak seorang gadis yang cantik, seperti yang kau katakan.”

“Anak Demang Sangkal Putung itu?”

“Kalau aku menjadi seorang Demang, maka pantaslah aku menjadi menantu seorang demang pula.”

“Huh!” tiba-tiba Alap-alap Jalatunda meludah. “Sebelum kau mimpi mendapatkan gadis itu, lehermu telah patah.”

“Kenapa?”

“Kau berani melawan aku?”

Wuranta tersenyum. “Jangan marah, Tuan. Aku belum pernah melihat gadis itu. Bagaimana aku dapat jatuh cinta kepadanya? Bukankah bukan hanya Demang Sangkal Putung saja yang beranak seorang gadis?”

Alap-alap Jalatunda menelan ludahnya.

“Tuan,” tiba-tiba Wuranta berbisik, seakan-akan ia takut suaranya didengar orang lain, “apakah gadis itu cantik?”

Alap-alap Jalatunda berpaling. Ditatapnya wajah Wuranta dengan tajamnya. Dengan nada yang datar ia menggeram, “Kau benar menginginkannya?”

“Ah, aku tidak gila, Tuan. Gadis itu adalah milik Sidanti. Bagaimana aku berani berangan-angan?”

“Omong kosong. Tak seorang pun yang memilikinya di sini. Siapa yang dahulu mendapatkannya, ialah yang memiliki, meskipun hanya sesaat, dan meskipun sesudah itu digantung, tetapi puaslah rasanya.”

Dada Wuranta berdesir mendengar kata-kata Alap-alap Jalatunda itu, tetapi ia tidak menyahut.

Tiba-tiba Alap-alap itu berkata, “Apakah kau ingin melihatnya?”

“Bagaimana aku bisa meilhat tuan? Bukankah ia berada di dalam ruangan tertutup? Apakah aku dapat masuk ke dalamnya?”

Alap-alap Jalatunda tertawa mendengar pertanyaan Wuranta. Katanya, “Kau memang bodoh. Apakah seorang gadis yang disembunyikan itu siang malam berada di dalam biliknya? Apakah sekali-sekali ia tidak memerlukan air?”

“Air untuk minum maksud Tuan?” bertanya Wuranta.

“O,” tertawa Alap-alap Jalatunda semakin menjadi. “Seorang perempuan yang sudah dewasa tidak dapat berpisah dengan air. Tidak saja untuk minum, tetapi untuk mencuci misalnya.”

“O, ya, ya,” cepat-cepat Wuranta menyahut.

“Demikian juga Sekar Mirah. Ia tidak harus berada di dalam biliknya setiap saat. Gadis itu diperbolehkan keluar asalkan tidak terlampau jauh. Ke sumur atau ke kali misalnya, lalu kemudian masuk kembali ke rumah yang khusus dipergunakan untuk menyimpannya. Tetapi ia tidak pernah terlepas dari pengawasan. Dan seandainya gadis itu mencoba untuk lari, maka meskipun ia berhasil meninggalkan halaman itu, maka ia tidak dapat keluar dari padepokan ini.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Jadi, bagaimanakah aku dapat melihatnya?”

“Hampir setiap pagi ia mencuci pakaian yang ada padanya. Pakaian yang hanya selembar dua lembar itu, setelah ia mendapat pinjaman dari perempuan-perempuan di padepokan ini.”

“Kenapa setiap hari dicucinya?”

“Aku rasa bukan karena pakaian itu menjadi kotor. Tetapi gadis itulah yang ingin keluar dari dalam bilik yang sempit itu. Mencuci baginya adalah alasan yang paling baik. Mungkin juga ke pakiwan atau bahkan ke sungai.”

“Siapakah yang harus mengawasi gadis apabila ia pergi ke sungai?”

“Tentu saja para penjaga”

Wuranta mengerutkan keningnya. Bagaimana mungkin seseorang dapat hidup dalam keadaan demikian. Tetapi keadaan itu adalah keadaan yang dipaksakan atas gadis itu, sehingga Betapapun juga, maka ia tidak akan dapat menolaknya.

“Baiklah, Tuan,” berkata Wuranta kemudian, “kalau aku mendapat kesempatan, maka aku pun ingin melihatnya.”

“Marilah,” sahut Alap-alap Jalatunda. Tetapi ia kemudian mengerutkan keningnya sambil berkata, “Kau ingin mencoba bermain api?”

“Oh,” kini Wuranta-lah yang tertawa, “aku hanya ingin melihatnya karena Tuan mengajak. Percayalah bahwa aku tidak akan berani berbuat apa pun selain memandanginya dari kejauhan. Betapapun cantiknya gadis itu, tetapi aku hanya akan mendapat kesempatan untuk memandanginya.”

Sejenak Alap-alap Jalatunda terdiam. Sekali ia berpaling memandangi wajah Wuranta dengan penuh kecurigaan. Tetapi kemudian ia berkata, “Jangan mencoba berbuat gila. Nyawamu berada di ujung rambutmu. Pedepokan ini bukan tanah nenek-moyangmu, dan kau belum menjadi seorang demang di Jati Anom.”

Sekali lagi Wuranta tertawa. Katanya, “Tuan benar-benar seorang pencemburu. Kelak kalau Tuan sudah beristri, maka tak seorang pun yang boleh memandangi istri Tuan.”

Kening Alap-alap Jalatunda itu pun menjadi semakin berkerut-merut. Sejenak ia terbungkam, tetapi kemudian ia pun tersenyum dan berkata, “Mungkin kau benar Wuranta. Aku pun tersenyum juga akhirnya mendengar kata-katamu itu.”

Keduanya pun kemudian terdiam. Mereka berjalan menyusur jalan padepokan yang tidak telampau lebar. Sekali-sekali mereka berpapasan dengan beberapa laki-laki bersenjata. Laki-laki yang berwajah keras dan kasar, berkumis tebal, berjambang dan berjanggut. Rambut mereka kadang-kadang tidak tersusun rapi, bahkan kadang-kadang begitu saja berjuntai di bawah ikat kepala.

Bulu kuduk Wuranta kadang-kadang menjadi meremang. Laki-laki itu adalah laki-laki yang selama ini hidup dalam pengembaraan. Mereka seakan-akan tidak pernah mengecap kenikmatan hidup berumah tangga. Bahkan sampai saat ini dan sampai kapan hal itu masih berlangsung terus.

“Prajurit-prajurit Pajang di Sangkal Putung dan yang akan datang di Jati Anom pun seakan-akan hidup dalam pengembaraan,” gumam Wuranta dalam hatinya. “Tetapi mereka memiliki kebanggaan. Mereka memiliki harapan bagi masa depan yang jauh. Seandainya tidak untuk dirinya sendiri, tetapi untuk anak keturunan mereka.”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia terperanjat ketika Alap-alap Jalatunda menyapanya, “He, kenapa kau?”

Wuranta mencoba tersenyum, “Tidak apa-apa,” jawabnya.

“Apakah kau masih memikirkan gadis itu?”

“Apakah Tuan menyangka begitu?”

Alap-alap Jalatunda pun tersenyum pula. Bahkan kemudian ia pun mengumpat, “Gila, kau.”

Kembali mereka berdua saling berdiam diri. Langkah mereka satu-satu di atas jalan berbatu menumbuhkan suara gemerisik perlahan-lahan.

Tiba-tiba Alap-alap Jalatunda berhenti. Digamitnya Wuranta sambil berbisik, “He, apakah kau melihat seseorang berjalan lewat jalan samping itu?”

Wuranta pun segera berpaling memandang ke arah pandang Alap-alap Jalatunda. Tiba-tiba dilihatnya seorang gadis berjalan seorang diri menyelusur lorong sempit itu.

“Itukah dia?” bertanya Wuranta.

Alap-alap Jalatunda mengangguk. “Ya, itulah Sekar Mirah.”

“Kemana dia?”

“Jalan itu menuju ke sungai”

“Apakah gadis itu dapat pergi dengan bebas ke sungai? Apakah dengan demikian ia tidak berusaha melarikan diri?”

“Apakah gadis itu kau sangka dapat meloncat dinding padepokan ini? Seandainya ia dapat maka para penjaga di sekitar padepokan ini akan menangkapnya. Jangan pula dilupakan bahwa beberapa orang akan selalu mengawasinya.”

“Di mana para pengawas itu?”

“Mereka tidak semata-mata mengawasinya. Dan pengawasan itu pun tidak akan terlampau ketat seperti seandainya yang ditahan itu Agung Sedayu.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan oleh Alap-alap Jalatunda itu dapat dimengertinya. Memang agaknya bagi seorang gadis, pasti akan amat sulit mencoba keluar dari dinding padepokan yang cukup tinggi seperti sebuah benteng yang sangat rapat. Bahkan di sana-sini di dalam dinding itu tumbuh rumpun-rumpun bambu ori yang rapat.

Apalagi sungai itu mengalir membelah padepokan. Sehingga sungai itu pun berada dalam lingkungan dinding-dinding padepokan itu pula.

Meskipun demikian, ada sesuatu yang ingin diketahuinya, sehingga Wuranta itu pun bertanya, “Tuan, jika Sekar Mirah itu pergi ke sungai, apakah ia tidak akan mendapat kesempatan untuk melarikan diri?”

“Sungai itu berada di padepokan.”

“Tetapi bukankah ia dapat menyusur aliran sungai itu, ke hulu atau ke udik, kemudian keluar dari dinding yang mengelilingi padepokan ini?”

Alap-alap Jalatunda menggeleng, katanya, “Aku tidak tahu siapakah yang membuat padepokan ini. Tapi apa yang kau tanyakan itu agaknya telah dipikirkan pula oleh orang-orang yang membuatnya.”

“Bagaimana?” bertanya Wuranta.

“Di perbatasan sungai ini masuk dan keluar padepokan, dinding padepokan ini telah dibuat terlampau rendah kemudian digalinya dasar sungai seperti sebuah terowongan. Dengan demikian maka air akan menutup seluruh lubang masuk dan keluar dari padepokan ini. Tak ada selubang jarum pun berada di atas permukaan air. Apabila seseorang akan berusaha keluar atau masuk lewat sungai ini, maka ia harus menyelam untuk waktu yang cukup lama. Nah, apakah hal yang demikian itu akan dapat dilakukan oleh Sekar Mirah? Seorang yang cakap berenang dan menyelam pun akan ragu-ragu untuk melakukannya, sedandainya ia belum mengenal betul keadaan padepokan ini. Mereka pasti menyangka bahwa genangan air itu akan masuk kedalam pusaran.”

Wuranta mengangguk-anggukan kepalanya. Sebenarnya ingin benar ia melihat ujung sungai itu pada sisi-sisi padepokan. Tetapi ia tidak dapat langsung mengutarakannya.

Tiba-tiba Wuranta itu terperanjat ketika sekali lagi Alap-alap Jalatunda menggamitnya sambil bertanya, “He, gadis itu sudah hampir tidak tampak lagi.”

“Lalu bagaimana maksud Tuan?”

“Aku selalu menunggunya di muka rumah yang diperuntukkan baginya pada saat-saat begini, apabila aku tidak sedang bertugas.”

“Apakah Tuan sudah mengenalnya?”

Alap-alap Jalatunda menggelengkan kepalanya. “Aku tidak berani menegurnya.”

“Takut kepada Sidanti?”

“Persetan anak iblis itu. Kenapa aku takut kepadanya?”

“Jadi, kepada siapa Tuan takut?”

“Aku tidak pernah merasa takut kepada Sidanti kini. Mungkin beberapa saat berselang aku ketakutan mendengar namanya. Tetapi aku sudah mencoba untuk mempersiapkan diri melawannya. Meskipun aku tidak berguru lagi kepada seseorang. Tetapi cara-cara yang pernah dipesankan kepadaku aku lakukan dengan baik dan teratur. Apalagi kini, aku mempunyai waktu yang cukup untuk meningkatkan ilmuku. Sedang Sidanti tidak pernah melakukannya.”

“Jadi, bagaimana?”

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 022)

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-21/

<<kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s