ADBM1-022

<<kembali | lanjut >>

AKU tidak pernah mempunyai keberanian yang cukup untuk menegurnya, meskipun aku sering berpapasan dengan gadis itu.”

Wuranta tertawa, ditatapnya wajah Alap-alap yang keras dan bermata seperti mata burung alap-alap itu. Katanya, “Tuan adalah seorang anak muda yang perkasa. Semuda umur Tuan, Tuan telah memiliki banyak kelebihan dari anak-anak muda sebaya Tuan, bahkan yang lebih tua dari Tuan. Tetapi kenapa Tuan tidak memiliki keberanian untuk menegur seorang gadis yang justru telah berada di dalam lingkungan Tuan sendiri?”

Alap-alap Jalatunda menggeleng-gelengkan kepalanya. Desisnya, “Aku tidak tahu.”

“Baiklah,” gumam Wuranta, “akulah yang nanti akan menegurnya apabila kita berpapasan.”

“Gila,” tiba-tiba mata Alap-alap Jalatunda menjadi merah, “meskipun kau kini membawa pedang di lambungmu, ayo, kita lihat siapakah yang lebih berhak disebut jantan.”

Wuranta tertegun sejenak, tetapi kemudian ia tersenyum, “Apakah Tuan salah sangka? Maksudku, aku akan menegur untuk kemudian memberi jalan kepada Tuan supaya Tuan dapat berbicara lebih lancar.”

“He,” mata Alap-alap Jalatunda yang menyala itu pun sedikit demi sedikit menjadi suram kembali.

“Apakah Tuan sependapat?”

Alap-alap Jalatunda tidak segera menjawab.

“Tetapi kalau Tuan tidak sependapat, baiklah. Aku akan menutup mulut.”

“Tetapi,” desis Alap-alap Jalatunda, “kalau kau ingin membantu aku, aku kira aku tidak akan berkeberatan.”

“Begitu?”

Alap-alap Jalatunda menganggukkan kepalanya, tetapi ia tidak menyahut.

Keduanya pun kemudian berjalan kembali menyusul Sekar Mirah lewat lorong kecil yang telah dilalui oleh gadis itu.

“Apakah kita menyusul di belakangnya?” bertanya Wuranta.

“Ya, kenapa?”

“Kita laki-laki muda mengikuti seorang gadis?”

“Jadi bagaimana?” bertanya Alap-alap Jalatunda dengan herannya.

“Kita mencari jalan lain yang akan sampai ke sungai itu pula. Seolah-olah kita tidak sengaja mengikutinya. Kita selusuri sungai ini. Kalau perlu dari salah salah ujung. Bukankah kita sedang nganglang dan tidak sengaja menjumpainya di sungai?”

Alap-alap Jalatunda mengerutkan dahinya. Sejenak ia berdiam diri. Mulutnya berkumat-kamit, tetapi sama sekali tidak terdengar kata-katanya.

“Tuan,” berkata Wuranta kemudian, “ada beberapa alasan yang harus Tuan pertimbangkan. Selain supaya gadis itu tidak menjadi takut dan kemudian menghindar, maka tidaklah pantas anak-anak muda mengikuti seorang gadis yang akan pergi ke sungai. Seandainya ia tidak menghindar, maka gadis itu pasti akan mengurungkan niatnya. Untuk mandi misalnya, atau mencuci pakaian. Tetapi yang lebih penting bagi Tuan, maka apa yang Tuan lakukan tidak akan menimbulkan kecurigaan bagi para pengawas.”

“He, kenapa para pengawas? Seandainya mereka berkeberatan, maka leher mereka akan aku penggal di hadapan gadis itu.”

“Bukan begitu Tuan,” Wuranta diam sejenak, kemudian diteruskannya, “Siapakah yanq harus mengawasi gadis itu? Orang-orang Jipang atau orang-orang padepokan ini?”

“Bergantian. Semua orang yang telah memiliki senjata di tangannya tidak terkecuali. Gadis itu termasuk salah satu hal yang harus mendapat pengawasan seperti jalan masuk, dinding-dinding padepokan, rumah-rumah penting dan lain-lain.”

“Nah, bukankah kadang-kadang Tuan akan menemui seseorang yang tidak senang terhadap Tuan.”

“Aku tidak perduli. Orang itu akan dapat aku bunuh seketika.”

“Tetapi ingat. Sidanti mempunyai kepentingan pula atas gadis itu. Bukan aku menganggap Tuan tidak berani, tetapi dalam keadaan seperti sekarang, jangan dulu timbul curiga-mencurigai di kalangan sendiri.”

Wajah Alap-alap Jalatunda menjadi tegang. Wuranta yang dianggapnya terlampau bodoh itu dapat memberinya petunjuk yang dapat dimengertinya. Karena itu, maka tiba-tiba ia mengangguk-angguk sambil tersenyum, “Baik, aku menuruti nasehatmu. Jadi bagaimana dengan kita? Gadis itu telah hilang di balik tikungan. Kalau kita terlambat, ia pasti sudah selesai mandi atau mencuci. Dengan demikian, maka kau tidak akan mendapat kesempatan melihatnya.”

“Bukankah kesempatan itu tidak hanya sehari ini? Seandainya sekarang aku terlambat, besok masih juga ada hari.”

Alap-alap Jalatunda tersenyum. Sekali lagi ia mengangguk-angguk sambil berkata, “Bagus, bagus. Kau benar. Agaknya akulah yang takut terlambat.”

Keduanya kemudian memutar langkahnya. Mereka tidak menempuh jalan yang telah dilalui Sekar Mirah.

“Kemana kita?” bertanya Alap-alap Jalatunda.

“Aku tidak tahu. Tuan-lah yang lebih tahu dari aku. Atau barangkali Tuan akan menyelusuri sungai ini dari ujung sampai ke ujung yang lain? Bukankah dengan demikian tak seorang pun akan mencurigai Tuan.”

“Baiklah,” sahut Alap-alap Jalalunda, “marilah kita pergi ke ujung sungai ini memasuki padepokan. Kita berjalan menyelusur tepian sampai ke ujung yang lain.”

“Marilah, Tuan. Sikap berhati-hati adalah sikap yang paling baik dalam segala hal.”

Keduanya pun kemudian berjalan dengan tergesa-gesa. Setelah beberapa kali mereka membelok, akhirnya mereka sampai pada dinding padepokan yang cukup tinggi. Dinding batu yang agaknya umurnya sudah cukup tua.

“Beberapa puluh langkah lagi kita akan sampai ke sungai,” gumam Alap-alap Jalatunda.

Wuranta tidak menyahut. Ia berjalan saja di samping Alap-alap Jalatunda. Dan benarlah katanya, segera mereka sampai ke sebuah lereng yang dangkal. Ketika mereka menuruni lereng itu, maka oleh Wuranta tampak seakan-akan sebuah mata air yang besar tersumbul dari dalam tanah.

“Hem,” katanya di dalam hati, “inilah agaknya sebuah urung-urung air yang cukup besar.”

Dalam pada itu terdengar Alap-alap Jalatunda berkata, “Inilah ujung sungai itu. Air memasuki daerah padepokan lewat di bawah dinding yang rendah.”

“Bukan main,” sahut Wuranta, “bagaimana urung-urung itu dapat dibuat?”

“Aku tidak tahu. Tetapi urung-urung itu terbuat dari batu pula, bagian atasnya lengkung supaya urung-urung ini tahan desakan air, meski banjir sekalipun.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa disadarinya ia mengamat-amati urung-urung itu. “Tidak terlampau tebal,” desisnya di dalam hati.

“Kau menaruh perhatian?” bertanya Alap-alap Jalatunda.

“Aku mengagumi pembuatnya,” desisnya, “urung-urung ini agaknya tidak terlampau tebal.”

“Memang tidak. Dua atau tiga kali lipat dari tebal dinding itu.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Hatinya menjadi puas melihat urung-urung air itu. Urung-urung itu akan sangat berguna baginya. Tetapi ia berkata dengan tiba-tiba, “Mari kita berjalan. Kita akan terlambat.”

Alap-alap Jalatunda tersenyum. Jawabnya, “Bukankah besok masih juga ada hari?”

Wuranta tersenyum pula, tetapi ia mulai melangkahkan kakinya menyelusuri tepian.

“Apakah tempat untuk mandi dan mencuci itu jauh dari ujung ini?”

“O, tidak. Bukankah kita juga tidak terlampau jauh berjalan. Di belakang tikungan itu ada sebuah belik. Di situlah ia biasa mandi. Beberapa orang perempuan padepokan ini pun mandi dan mencuci di situ pula.”

“Tuan agaknya mengetahui terlalu banyak tentang gadis itu.”

“Hus,” desis Alap-alap Jalatunda.

Mereka pun terdiam sejenak. Hanya langkah mereka di atas pasir tepian terdengar gemerisik lembut.

Di samping mereka, air sungai yang jernih mengalir segar. Sepercik-sepercik buih berloncatan, apabila sepotong dahan yang kering jatuh ke dalamnya.

Di kejauhan burung-burung bertengger di atas cabang-cabang pepohonan meneriakkan dendang yang riang. Mereka sama sekali tidak menyadari apa artinya pedang di lambung orang-orang yang berjalan di lorong-lorong padukuhan itu. Tidak banyak terjadi permusuhan di antara mereka. Tidak banyak timbul persoalan selain berebut makan.

Tidak seperti manusia yang mempunyai nalar dan budi yang menyadari seribu satu macam kepentingan. Dan setiap sentuhan kepentingan, dapat saja berakhir di ujung pedang. Mereka lebih banyak berbicara dengan bahasa pedang daripada bahasa cinta kasih di antara mereka.

Wuranta terkejut ketika tiba-tiba Alap-alap Jalatunda menepuk bahunya. Terdengar ia berbisik lirih, “Wuranta, lihatlah. Gadis itu lagi mencuci bajunya.”

“He,” Wuranta menarik keningnya, seakan-akan ingin membuat matanya menjadi lebih lebar.

“Di mana?” ia bertanya.

“Di belik itu.”

“O,” Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Dilihatnya Sekar Mirah sedang berjongkok membelakangi mereka di tepi belik. Agaknya ia memang sedang mencuci bajunya.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Wuranta berkata, “Marilah kita berjalan. Kenapa berhenti?”

Alap-alap Jalatunda menggeleng, “Tidak. Aku di sini saja.”

“Lalu bagaimana dengan aku?”

“Kau juga di sini saja.”

“Kenapa?”

“Jangan banyak bertanya.”

“Adakah setiap kali Tuan berbuat demikian. Memandang keindahan gadis itu dari kejauhan?”

Alap-alap Jalatunda tidak menjawab.

Tetapi Wuranta menjadi berdebar-debar karenanya. Perbuatan Alap-alap Jalatunda itu justru berbahaya bagi Sekar Mirah. Anak muda itu akan selalu berangan-angan. Karena ia tidak berani berkenalan dengan gadis-gadis, maka angan-angannya akan dapat menjadi terlampau liar dan buas. Karena itu, maka Wuranta itu pun berkata, “Marilah Tuan. Lewat di sampingnya bersama aku. Mungkin Tuan sekali dua kali akan dapat bercakap-cakap dengannya. Kecuali kalau Tuan berkeberatan karena memperhitungkan pengawasan orang-orang Sidanti.”

“Setan. Jangan kau sebut lagi monyet-monyet itu. Aku tidak takut. Dan mereka tidak akan menyangka, bahwa aku sengaja mengikuti gadis itu seperti katamu tadi. Sebab aku datang dari arah yang sangat berbeda.”

“Karena itu marilah.”

Alap-alap Jalatunda ragu-ragu sejenak. Tetapi Wuranta menarik tangannya sambil berkata, “Marilah. Gadis itu tidak akan menggigit.”

Alap-alap Jalatunda masih ragu-ragu. Tetapi kemudian ia pun melangkah kakinya.

Dengan kepala tunduk Alap-alap Jalatunda berjalan, di tepian, di atas tanggul bersama Wuranta. Sekali-sekali ia hanya berani melemparkan sudut pandangannya.

Sekar Mirah yang sedang mencuci bajunya terkejut mendengar langkah di atas tanggul sungai. Cepat-cepat ia meletakkan cuciannya dan membetulkan kain pinjungnya. Ketika ia perpaling, dilihatnya dua orang berjalan dengan pedang di lambung masing-masing.

Tanpa diduganya, maka Wuranta menganggukkan kepalanya sambi berkata, “Maaf. Kami tidak tahu bahwa Nini sedang mencuci pakaian. Karena itu kami tidak sengaja telah lewat di tanggul ini.”

Wuranta melihat kerut-merut di kening Sekar Mirah. Tetapi tiba-tiba dadanya berdesir. Ia melihat Sekar Mirah tersenyum. Dengan manisnya ia menjawab, “Oh, tidak apa Tuan. Tanggul ini memang sering dilalui orang. Akulah yang bersalah, mencuci pakaian di belik di bawah tanggul ini.”

Sejenak Wuranta justru terbungkam. Ia tidak menyangka bahwa Sekar Mirah akan menjawabnya sambil tersenyum. Bahkan kemudian Sekar Mirah itu berkata, “Bahkan aku menjadi sangat senang, bahwa seseorang sudi menegur aku. Selama ini orang-orang di padepokan ini acuh tak acuh saja kepadaku, justru karena aku bukan orang padepokan ini.”

Wuranta masih saja terbungkam. Apalagi Alap-alap Jalatunda. Tetapi Wuranta menjadi berdebar-debar bukan karena senyum Sekar Mirah yang telah menggoncangkan hatinya. Sama sekali tidak. Ia tetap menyadari dirinya. Ia sedang bermain-main dengan Alap-alap Jalatunda. Tetapi ia tidak menyangka, bahwa Sekar Mirah akan semudah itu tersenyum kepada laki-laki yang belum dikenalnya.

“Apakah benar gadis ini Sekar Mirah yang dikatakan oleh Agung Sedayu.” Wuranta justru menjadi ragu-ragu. Alangkah murahnya senyum gadis itu.

Tetapi tiba-tiba ia terhenyak dalam suatu sikap seperti ia sendiri. Ia tidak tahu apakah sebenarnya yang tersimpan di dalam hati Sekar Mirah. Kenapa dirinya sendiri bersikap baik juga terhadap Alap-alap Jalatunda? Apakah demikian juga agaknya Sekar Mirah yang sedang berusaha untuk menemukan jalan keluar dan kesulitannya.

Wuranta seakan-akan terbangun ketika ia mendengar Sekar Mirah berkata, “Kenapa Tuan menjadi bingung? Apakah Tuan juga akan mandi?”

“O, tidak. Tidak,” Wuranta tergagap. “Kami hanya kebetulan saja lewat.”

“Apakah Tuan seorang prajurit?” bertanya Sekar Mirah.

“Aku bukan,” sahut Wuranta, “tetapi Tuan ini adalah seorang pemimpin prajurit Jipang. Ia bernama Alap-alap Jalatunda.”

Dada Sekar Mirah berdesir mendengar nama itu. Nama yang pernah didengarnya sejak di Sangkal Putung dahulu. Dan kini ia melihat seorang anak muda yang berwajah keras dan bermata tajam, setajam mata burung alap-alap.

Sejenak Sekar Mirah terpaku diam. Dipandanginya Alap-alap Jalatunda dengan tajamnya seperti hendak dilihatnya sesuatu di dalam dada anak muda itu. Dengan demikian, maka Alap-alap Jalatunda itu pun menjadi semakin tunduk. Ia tidak dapat menentang mata Sekar Mirah yang seperti api menjilat wajahnya.

Wuranta bukan seorang anak muda pemalu. Ia dapat bergaul dengan gadis-gadis di padukuhannya, meskipun ia tahu batas-batas yang tak dapat di lewatinya. Namun di hadapan Sekar Mirah, Wuranta merasa dadanya seperti berdentang terlampau cepat.

Dalam pada itu terdengar suara Sekar Mirah, “Aku tidak menyangka bahwa suatu kali aku akan dapat bertemu dengan seorang anak muda yang namanya jauh menjangkau di luar lingkungannya. Aku pernah mendengar nama Alap-alap Jalatunda. Hampir setiap prajurit Pajang membicarakannya.”

Wuranta yang berdiri di samping Alap-alap Jalatunda semakin lama menjadi semakin dapat menguasai dirinya kembali. Ia kini telah menjadi agak tenang, sehingga ia sempat menjawab, “Apakah yang mereka katakan tentang dirinya?”

“Ia adalah salah seorang yang paling disegani dari pihak Jipang, di samping nama-nama Sanakeling dan Sidanti.”

“Sidanti bukan seorang prajurit Jipang,” tiba-tiba Alap-alap Jalatunda bergumam perlahan, seolah-olah hanya ditujukan kepada dirinya sendiri.

“Apa yang Tuan katakan?” Sekar Mirah bertanya.

Alap-alap Jalatunda menjadi semakin tunduk. Mulutnya bagaikan terkunci, sehingga ia tidak dapat menjawab pertanyaan Sekar Mirah itu.

“Tuan,” Wuranta-lah yang kemudian bertanya, “Nini Sekar Mirah ingin Tuan mengulangi kata-kata Tuan yang tidak begitu jelas baginya.”

Wajah Alap-alap Jalatunda menjadi merah, seperti seorang jejaka kecil bertemu dengar seorang gadis yang memikat hatinya.

“Apakah Tuan mengatakan bahwa Sidanti bukan salah seorang prajurit Jipang?”

Alap-alap Jalatunda menganggukkan kepalanya.

“Demikianlah Nini, Sidanti bukan seorang prajurit Jipang.”

“O,” Sekar Mirah menyahut, “ya, aku tahu. Justru Sidanti pernah berada di Sangkal Putung. Ia adalah bekas seorang prajurit Pajang.” Sekar Mirah berhenti sebentar, lalu diteruskannya, “Apakah Tuan sekarang berada di padepokan ini juga?”

Alap-alap Jalatunda tidak segera menjawab. Sehingga Wuranta terpaksa mendesaknya.

“Tuan, Tuan harus menjawab pertanyaan itu.”

Perlahan-lahan Alap-alap Jalatunda mengangkat wajahnya. Hatinya seakan-akan pecah seperti belanga yang terbanting di atas batu hitam ketika ia sepintas memandang Sekar Mirah yang hanya berkain pinjung yang telah basah, berdiri menatapnya. Tatapan mata gadis itu seperti tusukan anak panah yang langsung melubangi dinding jantungnya.

Sekali lagi wajah Alap-alap Jalatunda terbanting di atas pasir tepian jang basah. Tanpa dikehendakinya sendiri, tangannya bergerak-gerak meraba bulu pedangnya. Dengan gelisah ia berdiri saja membisu.

“Bagaimana jawab Tuan?” bertanya Wuranta.

“Tuan tidak sudi berbicara dengan aku?” suara Sekar Mirah seperti meremas hatinya menjadi lebu.

“Tidak, bukan begitu,” jawab Wuranta. “Ia terlampau sopan. Itulah sebabnya, maka setiap kata-katanya pasti diatur sebaik-baiknya supaya tidak menimbulkan salah sangka. Agak berbeda dengan aku yang kasar ini.”

“Apakah Tuan bukan seorang prajurit?” bertanya Sekar Mirah kepada Wuranta.

“Bukan. Aku hanya sekedar seorang gembala yang kebetulan mendapat pinjaman sehelai pedang.”

Kening Sekar Mirah tampak berkerut-merut. Ia melihat pancaran mata yang jauh lebih tajam dari seorang gembala biasa. Karena itu, maka ia mendesaknya, “Aku tidak percaya bahwa Tuan hanya sekedar seorang gembala. Wajah Tuan tidak meyakinkan kata-kata Tuan.”

Hati Wuranta menjadi berdebar-debar. Jangan-jangan pujian itu dapat menumbuhkan kemarahan Alap-alap Jalatunda. Karena itu, maka dengan serta-merta ia menjawab, “Nini salah lihat. Tetapi sebaiknya Nini mendengarkan jawabannya.” Kemudian kepada Alap-alap Jalatunda ia berbisik, “Berkatalah Tuan.”

Alap-alap Jalatunda mencoba memaksa dirinya sendiri untuk mengucapkan kata-kata. Maka dengan terbata-bata ia berkata, “Ya, aku sekarang berada di padepokan ini.”

“Bersama Sidanti?” bertanya Sekar Mirah pula.

“Ya, bersama Sidanti,” jawab Alap-alap Jalatunda. Sekar Mirah tiba-tiba mencibirkan bibirnya. Tetapi sejenak kemudian ia tersenyum, “Dari manakah Tuan berdua ini?”

Alap-alap Jalatunda menjadi kebingungan. Sekenanya saja ia menjawab, “Berjalan-jalan.”

“Berjalan-jalan. Dalam keadaan serupa ini Tuan masih sempat berjalan-jalan.

“Berjalan-jalan menurut pengertian seorang prajurit,” Wuranta-lah yang menyahut. “Aku kira Nini tahu pula maksudnya, seperti barangkali prajurit-prajurit Pajang pernah berkata demikian pula.”

“Apakah artinya?”

“Nganglang, melihat keadaan. Supaya tak ada bahaya yang dapat dengan diam-diam melanda padepokan ini.”

“Dan supaya aku tidak dapat melarikan diri, begitu?” potong Sekar Mirah.

“Apakah Nini akan berbuat begitu seandainya mungkin?”

“Aku pernah berangan-angan untuk melepaskan diri dari neraka ini. Tetapi ternyata aku akan mengurungkan niatku setelah aku melihat bahwa di dalam neraka pun aku bertemu dengan anak-anak muda yang lain daripada Sidanti.”

Wajah Alap-alap Jalatunda menjadi semakin merah. Kini mulutnya benar-benar menjadi terbungkam. Bahkan terasa seakan-akan dentang jantungnya akan memecahkan dadanya.

Tetapi Wuranta menjadi semakin tenang. Sambil tersenyum ia menjawab, “Tetapi neraka ini adalah milik Sidanti, Semua isinya adalah miliknya pula.”

“Bohong,” tiba-tiba Alap-alap Jalatunda memotong.

“Aku sependapat dengan anak muda yang bergelar Alap-alap Jalatunda itu.” sahut Sekar Mirah. Dan kata-katanya itu membuat dada Alap-alap Jalatunda menjadi semakin bergelora.

“O, jadi demikian?” berkala Wuranta. “Kalau begitu aku salah menilai keadaan di padepokan ini.”

“Kau orang kemarin sore di padepokan ini,” geram Alap-alap Jalatunda.

“Mudah-mudahan kalian benar,” gumam Wuranta seperti kepada diri sendiri.

“Nah, apakah Tuan juga akan mencuci pakaian seperti aku?” bertanya Sekar Mirah sambil tersenyum.

“Tidak,” sahut Wuranta, “kami sedang nganglang.”

Kemudian kepada Alap-alap Jalatunda ia berkata, “Bagaimana Tuan? Apakah kita akan meneruskan perjalanan?”

Alap-alap Jalatunda mengangguk, “Marilah.”

“Kenapa Tuan begitu tergesa-gesa?” bertanya Sekar Mirah.

“Kami tidak sedang berjalan-jalan di bawah terangnya bulan purnama,” jawab Wuranta. “Mudah-mudahan kesempatan itu suatu ketika datang padaku. Berjalan-jalan sambil berdendang lagu Asmaradana.”

“Aku akan berdoa untukmu,” sahut Sekar Mirah.

Wuranta tidak sempat menjawab, ketika Alap-alap Jalatunda menggamitnya sambil berkata, “Ayolah. Kau masih saja berbicara.”

“O,” desis Wuranta, “marilah.”

“Kalian benar-benar tidak mau tinggal lebih lama lagi?”

“Bukan aku yang menentukan,” sahut Wuranta.

“Aku bertanya kepada yang berhak menentukan.”

“Jawablah Tuan,” berkata Wuranta.

“Ah,” Alap-alap Jalatunda berdesah. Namun ia berkata, “Lain kali aku akan datang.”

“Aku menunggu kedatangan Tuan,” jawab Sekar Mirah.

Alap-alap Jalatunda hampir tidak dapat menahan gelora di dalam dadanya. Karena itu maka dengan tergesa-gesa ia melangkah pergi meninggalkan tepian itu. Wuranta pun kemudian terloncat-loncat mengikutinya. Sekali ia berpaling dan dilihatnya. Sekar Mirah melambaikan tangannya. Betapa beratnya, namun Wuranta terpaksa mengangkat tangannya pula.

Sementara itu di kepalanya berkecamuk berbagai pertanyaan tentang gadis itu. Gambarannya tentang Sekar Mirah sebelum ia melihatnya, adalah jauh berbeda dari kenyataan yang dihadapinya.

Meskipun sikap itu agak mirip dengan sikap Swandaru Geni, namun apa yang dilihatnya telah membuatnya termenung untuk beberapa lama.

Wuranta itu terkejut ketika, ia mendengar Alap-alap Jalatunda mengumpat, “Setan kau Wuranta. Kau berbicara tak ada habis-habisanya.”

Wuranta tertawa, jawabnya, “Jangan marah, Tuan. Aku memberi kesempatan kepada Tuan, tetapi Tuan hanya berdiam diri saja.”

“Aku tidak biasa bergurau dengan wanita.”

“Sekali-sekali Tuan perlu berbuat demikian, supaya kita tidak menjadi lekas tua.”

Alap-alap Jalatunda terdiam. Ia berjalan semakin cepat seperti takut terlambat. Sehingga Wuranta perlu memperingatkannya, “Kenapa Tuan berjalan semakin lama semakin cepat. Gadis itu tidak akan mengejar Tuan.”

“O,” Alap-alap Jalatunda seakan-akan tersadar dari sebuah angan-angan yang dahsyat. Ia memperlambat jalannya. Kemudian ditunggunya Wuranta berjalan di sampingnya. Katanya, “Gadis itu agaknya tertarik kepadamu. Tetapi awas, lehermu akan dapat terpenggal sebelum kau menjadi Demang Jati Anom.”

“Aku tidak berminat, Tuan,” jawab Wuranta.

“Kenapa?”

“Bukan karena gadis itu kurang cantik. Tetapi aku tidak pantas untuk menempatkan diri dalam sayembara pilih maupun sayembara tanding di samping Tuan dan Sidanti.”

“Jangan kau sebut lagi iblis itu!” tiba-tiba Alap-alap Jalatunda membentak. Matanya menjadi merah seperti bara.

Wuranta menjadi berdebar-debar. Tetapi kemudian ia tersenyum. Ia tidak mau kehilangan akal menghadapi Alap-alap yang buas ini. Katanya, “Kenapa Tuan marah? Apakah aku kurang memberi kesempatan kepada Tuan?”

“Kalau sekali lagi kau sebut-sebut nama Sidanti dalam hubungannya dengan gadis itu, aku sobek mulutmu. Kau tadi sudah menyebut namanya di hadapan Sekar Mirah, seakan-akan Sidanti-lah yang paling berkuasa di sini.”

“Maaf,” jawab Wuranta, “ternyata aku keliru.”

Alap-alap Jalatunda tidak berkata-kata lagi. Segera ia memutar tubuhnya dan berjalan cepat-cepat kembali ke pondoknya. Tetapi ia tertegun ketika Wuranta berkata, “Apakah kita akan berpacu lagi?”

“O,” Alap-alap Jalatunda memperlambat langkahnya.

“Tuan,” berkata Wuranta kemudian, “aku sudah melihat gadis itu, tetapi di manakah ia tinggal?”

“Kau akan mencurinya?”

“Tidak Tuan,” Wuranta tampak bersungguh-sungguh, “percayalah. Aku hanya ingin tahu. Aku sendiri sama sekali tidak berpikir lagi tentang gadis itu.”

“Kenapa kau tanyakan pondoknya?”

“Ah, Aku kira bukan terdorong oleh suatu keinginan apapun. Adalah suatu kelajiman saja bagiku mengetahui rumah orang-orang yang sudah aku kenal.”

“Tetapi jangan berbuat gila, supaya kau tidak mati muda.”

Senyum Wuranta di mulutnya menjadi semakin lebar. Dengan lucu ia mengangguk dan menjawab, “Tuan, aku lebih baik memilih menjadi Demang Jati Anom tanpa gadis itu daripada mendapat gadis itu tetapi harus hidup tanpa kepala.”

“Persetan,” geram Alap-alap Jalatunda, “kau memang lahir hanya untuk menjadi seorang badut yang tidak berarti.”

“O, Tuan salah,” jawab Wuranta. “Orang yang banyak tertawa umurnya akan menjadi lebih panjang.”

Alap-alap Jalatunda tidak menjawab, tetapi tanpa sesadarnya ia berjalan lewat rumah tempat tinggal Sekat Mirah.

Dengan berbagai macam akal, bahkan dengan akal seorang badut sekalipun akhirnya Wuranta berhasil mengetahui tempat tinggal Sekar Mirah dan ujung sungai yang berupa urung-urung. Kedua penemuan itu baginya sangat berarti. Itulah sebabnya, maka setelah ia berhasil, maka ia tidak lagi banyak bertingkah. Bahkan ia menjadi semakin hati-hati, meskipun ia tidak ingin merubah kesan Alap-alap Jalatunda terhadapnya. Seorang badut yang tidak berarti. Tetapi yang dibicarakannya kemudian hanyalah soal-soal yang benar-benar tidak berarti dan tidak ada hubungannya dengan padepokan Tambak Wedi, Sidanti dan Sekar Mirah.

Siang itu Wuranta dapat beristirahat sepuas-puasnya. Ia ingin tidur sepanjang siang hari. Tetapi bahkan kepalanya menjadi pening karena selama ia berbaring, matanya tidak juga mau dipejamkannya. Berbagai persoalan hilir mudik di kepalanya. Sekar Mirah, urung-urung sungai dan rumah tempat gadis itu tinggal.

Tetapi tidak kalah menggelisahkan adalah sikap Alap-alap Jalatunda terhadap Sekar Mirah. Sinar matanya yang buas dan liar telah mencemaskannya. Namun yang mengherankannya adalah sikap Sekar Mirah sendiri. Apakah gadis itu tidak melihat sorot mata Alap-alap Jalatunda yang seakan-akan akan membakar gadis itu, meskipun hanya sekilas. Bagi Wuranta, sikap Sekar Mirah sendiri adalah sikap yang sangat berbahaya.

Wuranta menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendapat perintah sekali lagi, malam itu ia harus turun ke Jati Anom. Ia harus melihat perkembangan keadaan. Ia harus melihat, apakah yang terjadi kemudian di Jati Anom?

Senja itu Wuranta berangkat dengan dada yang berdebar-debar. Apakah ada seseorang lagi yang akan mengintainya? Apakah Alap-alap Jalatunda masih juga mengikutinya? Tetapi Wuranta tidak lagi menjadi cemas. Ia akan pulang saja ke rumahnya. Kalau Agung Sedayu atau salah seorang dari ketiganya tidak ada di rumahnya, ia dapat meninggalkan pesan supaya pagi harinya disampaikan ke rumah Agung Sedayu oleh salah seorang keluarganya.

Akhirnya malam yang kelam pun turun menyelimuti lereng Merapi. Perjalanan Wuranta menjadi semakin lama semakin dekat dengan Kademangan Jati Anom. Dua hari ia telah berada di padepokan Tambak Wedi, tetapi ia sendiri belum berkesempatan untuk melihat seluruh bagian dari terapat itu.

Meskipun demikian bagian-bagian terpenting telah dilihatnya. Seandainya keadaan memaksa, maka ia telah dapat memberi beberapa petunjuk kepada Agung Sedayu dan Swandaru.

Dengan hati yang berdebar-debar Wuranta melangkah terus. Sekali dua kali ia berpaling, tetapi ia tidak melihat seorangpun. Ia masih belum tahu benar, apakah perjalanannya itu diikuti oleh seseorang atau tidak. Tetapi agaknya Sidanti masih belum juga mempercayainya bulat-bulat.

Ketika ia memasuki halaman rumahnya, maka ia tidak segera melintasi halaman masuk ke dalam rumahnya. Sejenak ia berdiri di balik regol halaman di dalam tempat yang terlindung. Ia mencoba memperhatikan, kalau-kalau seseorang mengikutinya. Tetapi beberapa lama ia berdiri, ia tidak mendengar sesuatu. Karena itu maka ia pun segera masuk ke dalam rumahnya lewat pintu butulan di belakang.

Ketika pintu terbuka, ia mendengar suara Agung Sedayu dan Swandaru berdesis, “Hampir aku tidak sabar menunggumu.”

“Hem,” Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kedua anak muda itu telah menunggunya. Ketika kedua kakinya telah melampaui tlundak pintu, maka segera pintu itu akan ditutupnya. Tetapi Wuranta terkejut ketika ia mendengar suara lirih di belakangnya, “Jangan ditutup dahulu.”

Wuranta mencoba memandangi arah suara itu di dalam gelap. Ia sudah berusaha untuk melihat dan mendengar seluruh isi halamannya. Tetapi ia tidak dapat melihat orang itu.

“Aku, Ngger,” berkata suara itu.

“Ki Tanu Metir?” bertanya Wuranta.

“Ya,” jawab orang yang ternyata Ki Tanu Metir, “aku menunggu Angger di ujung kademangan ini. Seperti Angger Agung Sedayu dan Angger Swandaru, aku pun hampir tidak sabar. Alangkah banyaknya nyamuk di kademangan ini. Ketika aku hampir kehabisan kesabaran, barulah aku melihatmu berjalan tertatih-tatih di dalam malam yang semakin gelap.”

“Oh,” Wuranta tersenyum. Baru kemudian ia melihat Ki Tanu Metir berdiri di bawah sebatang pohon kemuning yang rimbun. Keduanya pun kemudian masuk dan menutup pintu rumah itu rapat-rapat.

“Aneh,” desis Wuranta.

“Apa yang aneh?” bertanya Agung Sedayu.

“Ternyata Ki Tanu Metir mengikuti aku sejak dari ujung kademangan ini. Ketika aku memasuki regol halaman, aku telah berlindung sejenak, menunggu apabila seseorang mengikuti aku. Tetapi aku tidak melihat seorang pun. Namun ternyata orang yang mengikuti aku berhasil masuk tidak setahuku.”

“O,” sahut Ki Tanu Metir, “itu mudah sekali dilakukan.”

“Bagaimana?”

“Aku mendahului Angger masuk ke dalam halaman ini. Sebab aku tahu pasti bahwa Angger akan memasuki halaman rumah ini.”

“Oh,” Wuranta tersenyum. Tampaknya sederhana sekali. Tetapi anak muda itu menjadi semakin mengagumi orang tua yang bernama Ki Tanu Metir itu.

Sejenak mereka terdiam, seakan-akan sesuatu telah membungkam mereka. Hanya wajah-wajah merekalah yang membersitkan berbagai macam perasaan yang bergolak di dalam hati.

Di kejauhan terdengar angkup nangka seakan-akan sedang mengeluh. Seperti anak-anak yang rindu menunggu ibunya ngrena di tempat yang sangat jauh.

Dalam keheningan itu terdengar suara Ki Tanu Metir perlahan, “Kami sudah menyangka, bahwa kau malam ini akan turun lagi, Ngger.”

Wuranta mengangguk, “Ya, Kiai, aku mendapat tugas untuk melihat perkembangan tiga orang prajurit berkuda yang kemarin aku beritahukan kepada Sidanti.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Perkembangannya berlangsung terlampau cepat. Hari ini pasukan Untara telah berada di Jati Anom.”

“He?” Wuranta mengerutkan alisnya, “sudah datang?” seakan-akan ia tidak percaya.

“Ya, pasukan itu sudah datang meskipun tidak sekuat pasukan Widura di Sangkal Putung.”

Wuranta tidak tahu kekuatan Widura di Sangkal Putung, sehingga karena itu ia berkata, “Bagaimanakah imbangan kekuatan itu menurut perhitungan Kiai.”

“Aku ingin mendengar keteranganmu. Selain orang-orang Jipang, apakah Sidanti mempunyai pasukan tersendiri di padepokannya?”

“Ya. Menurut penglihatanku dan menurut keterangan yang tidak jelas dari Alap-alap Jalatunda, di padepokan itu ada dua jenis pasukan. Pasukan Sidanti dan pasukan Alap-alap Jalatunda.”

“Pemimpin dari orang-orang Jipang adalah Sanakeling.”

“He?” Wuranta menarik keningnya.”Jadi bukan Alap alap Jalatunda?”

“Bukan. Apakah kau belum melihat Sanakeling?”

“Aku melihatnya, tetapi aku tidak banyak berbicara dengan orang yang mengerikan itu.”

Ki Tanu Metir tersenyum. Lalu sambungnya, “Apakah kau dapat memberikain gambaran tentang imbangan kekuatan mereka, antara orang-orang Sidanti dan orang-orang Sanakeling?”

“Apakah mereka tidak sejalan?”

“Bukan begitu. Maksudku, dengan demikian akan dapat digambarkan kekuatan seluruhnya dari padepokan Sidanti itu. Kami ingin memperbandingkan dengan kekuatan Tohpati di Sangkal Putung.”

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi orang-orang yang agaknya bukan orang-orang Jipang itu pun cukup banyak. Setiap laki-laki di padepokan Tambak Wedi menyandang senjata. Setiap penghuni dan setiap cantrik.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya.”Angger Untara harus segera mendengar. Agaknya kekuatan di padepokan itu agak lebih besar dari kekuatannya. Bahkan mungkin lebih besar dari kekuatan Tohpati. Sedang pasukan Pajang di Jati Anom tidak sekuat pasukan Angger Widura, apalagi tanpa anak-anak muda Sangkal Putung.”

Wuranta ikut mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia tidak menyahut. Yang terdengar adalah suara Ki Tanu Metir itu masih saja bergumam seperti kepada diri sendiri, “Aku kira kemungkinan yang dapat dilakukan oleb Angger Untara adalah menarik sebagian pasukan Angger Widura. Baginya tidak ada kesempatan untuk menyusun kekuatan anak-anak muda Jati Anom seperti Sangkal Putung dalam menghadapi orang-orang Jipang. Tetapi apabila ada gerakan Sidanti ke Sangkal Putung, Angger Wuranta harus segera menyampaikan kabar itu kemari.”

Wuranta masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba terkejut ketika Swandaru memotong, “Kiai, Kiai hanya mengatakan tentang pasukan Jipang dan pasukan Pajang. Tetapi Kiai tidak minta keterangan tentang Sekar Mirah. Bukankah kedatangan kami sebenarnya berkepentingan dengan Sekar Mirah?”

“Oh,” Ki Tanu Metir berpaling memandangi muridnya yang gemuk itu. Katanya, “Ya, ya. Kau benar. Kita berkepentingan dengan Sekar Mirah. Tetapi kita berkepentingan pula dengan pasukan Pajang itu.”

“Itu adalah persoalan kedua bagi kita Kiai,” Agung Sedayu menyahut. “Sekarang bagaimana kita menyelamatkan Sekar Mirah?”

“Hem,” Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam, “baiklah. Aku akan berbicara tentang Sekar Mirah. Tetapi ingat, kita tidak dapat berbicara tentang Sekar Mirah tanpa berbicara tentang Sidanti. Dan kita tidak dapat berbicara tentang Sidanti tanpa berbicara tentang Untara.”

“Tak ada gunanya kita mendahului pasukan kakang Untara kalau kita masih harus menunggu mereka. Menunggu prajurit-prajurit Pajang itu siap menghadapi Sidanti.”

“Kedua persoalan itu tidak dapat dipisahkan.”

“Keduanya mempunyai sifat yang berbeda,” sahut Swandaru. “Sekar Mirah tidak dapat dibiarkan seperti daerah Tambak Wedi itu sendiri. Seribu tahun lagi Sidanti berada di Tambak Wedi, maka Tambak Wedi tidak akan mengalami noda apa pun seperti Tambak Wedi yang sudah berbentuk seperti sekarang ini.Tetapi Sekar Mirah tidak. Setiap satu hari bertambah panjang, maka noda itu pun menjadi semakin dekat padanya. Dan apabila noda itu sudah melekat padanya, maka seumur hidupnya ia akan tersiksa.”

Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah muridnya itu. Ia tahu benar, dorongan apakah yang telah membuat Swandaru menjadi terlampau keras. Tetapi ia tidak ingin terlampau memanjakan murid-muridnya, sehingga karena itu ia menjawab. “Jadi bagaimana Anakmas Swandaru. Apakah kau telah cukup menyusun rencana yang harus aku kerjakan? Kalau demikian, marilah. Aku akan melakukan segala ketentuan yang telah kau buat.”

Jawaban itu telah membentur dada Swandaru seperti tujuh kali sekeras bunyi cambuk Kiai Gringsing itu. Karena itu maka wajahnya pun menjadi tertunduk lemah. Perlahan-lahan terdengar ia berdesah, “Maaf Kiai. Aku terlampau bingung.”

Ki Tanu Metir menjadi beriba hati setelah ia melihat muridnya menjadi menyesal. Tetapi wajahnya hampir-hampir tidak menunjukkan perasaannya itu.

Sedang Wuranta yang melihat mereka menjadi heran. Begitu besar pengaruh Ki Tanu Metir atas Swandaru. Maka besarlah dugaannya bahwa Ki Tanu Metir adalah guru kedua anak muda itu.

Setelah mereka sejenak berdiam diri maka berkatalah Ki Tanu Metir, “Anakmas Wuranta. Sekarang aku ingin tahu, bagaimanakah dengan seorang gadis yang bernama Sekar Mirah? Apakah kau telah melihatnya?”

“Ya Kiai, aku telah bertemu dengan Sekar Mirah.”

Agung Sedayu dan Swandaru tersentak mendengar jawaban itu sehingga tanpa mereka sadari mereka bergeser maju. Tetapi mereka tidak segera berani bertanya.

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya Kemudian dilanjutkannnya pertanyaannya. “Bagaimanakah dengan Sekar Mirah. Apakah ia selamat?”

“Menurut pengamatanku, ia baik-baik saja, Kiai.”

“Tidak ada sesuatu apa pun dengan dia?”

Kening Wuranta menjadi berkerut-merut. Ia tahu maksud pertanyaan itu. Tiba-tiba ia menjadi ragu-ragu. Dan pertanyaan itu bergema kembali di dalam hatinya, “Tidak ada sesuatu apa pun dengan dia?”

Karena Wuranta tidak segera menjawab maka Agung Sedayu yang didorong oleh berbagai macam perasaan di dalam dadanya mendesaknya, “Bagaimana kakang Wuranta? Apakah tidak ada sesuatu yang terjadi?”

Dalam keragu-raguan Wuranta menjawab, “Tidak. Aku kira tidak.” Tetapi Wuranta sendiri tidak dapat meyakini kebenaran jawabannya. Namun menilik kata-kata Alap-alap Jalatunda yang menyebut Sidanti sebagai seorang pengecut terhadap wanita, maka Sekar Mirah masih belum disentuhnya.

Agung Sadayu itu pun menarik nafas dalam-dalam. Tetapi gelora di dalam dadanya seakan-akan hendak meledakkan dadanya. Ia ingin segera berangkat ke lereng Merapi, ke padepokan Tambak Wedi. Ia ingin segera melihat apa yang sebenarnya terjadi atas Sekar Mirah.

Dalam pada itu terdengar Ki Tanu Metir bertanya pula, “Di manakah kau jumpai gadis itu?”

“Di sungai Kiai.”

“He,” ketiga orang yang mendengar jawaban itu terkejut. “Di sungai,” hampir berbareng mereka mengulang.

“Ya.”

Ki Tanu Metir beringsut maju. Sambil mengerutkan dahinya ia berkata, “Angger Wuranta. Keteranganmu mengenai Sekar Mirah sangat menarik perhatian. Apakah benar kau jumpai Sekar Mirah itu sedang berada di sungai?”

“Ya Kiai. Gadis itu sedang mencuci.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian Katanya, “Anakmas, cobalah ceriterakan apakah yang Angger ketahui tentang Sekar Mirah dan tentang padepokan itu?”

Wuranta pun kemudian dengan singkat menceriterakan apa yang telah dilihatnya, dan apakah yang telah didengarnya. Dikatakannya tentang Sekar Mirah yang sedang mencuci pakaiannya, tentang urung-urung dan tentang dinding yang mengelilingi padepokan itu. Tentang sikap Alap-alap Jalatunda dan sikap orang-orang yang dijumpainya. Tetapi ada satu yang tidak diceriterakannya, adalah sikap Sekar Mirah kepadanya dan kepada Alap-alap Jalatunda. Wuranta masih ingin mengetahui latar belakang daripada sikap itu. Sebab ia yakin bahwa Sekar Mirah tidak akan berbuat demikian tanpa sesuatu maksud tertentu.

Belum lagi Wuranta selesai berceritera, telah terdengar gemeretak gigi Swandaru Geni. Dengan gemetar ia berdesis, “Kalau aku tidak dapat mengambil kembali Sekar Mirah, maka lebih baik aku tidak kembali ke Sangkal Putung. Adalah aib yang tidak dapat dihapuskan dari keningku, dari kening Kademangan Sangkal Putung, bahwa Padepokan Tambak Wedi berhasil mencuri Sekar Mirah dari lingkungannya.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam mendengar kata-kata Swandaru. Tetapi kali ini dibiarkan anak itu melontarkan kemarahan yang bergolak di dalam dadanya.

Namun Agung Sedayu berkata pula, “Kalau terjadi sesuatu dengan Sekar Mirah, maka padepokan itu harus dijadikan karang abang.”

“Bagus,” tiba-tiba Swandaru menyahut, “ternyata itu lebih baik. Setiap anak muda Sangkal Putung pun akan sependapat. Pasukan Paman Widura, pasukan Kakang Untara dan anak-anak muda Jati Anom akan menghancur-lumatkan setiap hidup di atas padepokan Tambak Wedi.”

Ki Tanu Metir masih saja berdiam diri. Dibiarkannya anak-anak muda itu melepaskan perasaannya. Dibiarkannya mereka mengurangi nyeri-nyeri yang seakan-akan meremas-remas jantung.

Baru ketika kedua anak-anak muda itu menjadi agak tenang, maka Ki Tanu Metir mulai berbicara lagi, “Bagaimanakah dengan dinding padepokan itu?”

“Dinding itu cukup tinggi Kiai. Bahkan hampir merupakan sebuah benteng. Di dalam maupun di luar dinding itu cukup banyak orang-orang Sidanti maupun orang-orang Jipang yang berkeliaran siang dan malam.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampaklah kerut-merut di dahinya menjadi semakin dalam. Orang tua itu pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Angger Wuranta, bukankah malam ini Angger kembali ke padepokan Tambak Wedi? Meskipun sebenarnya ada juga dua orang yang mencoba mengawasi Angger malam ini, tetapi mereka hampir tidak berarti. Jarak itu terlampau jauh, dan mereka segera kembali setelah Angger mendekati rumah ini. Dua orang itu sama sekali tidak usah diperhitungkan. Laporkan kepada Sidanti, bahwa Angger Untara sudah berada di Jati Anom. Pasukannya segelar sepapan lengkap dengan pasukan berkuda.”

Ketiga anak-anak muda yang mendengar penjelasan Ki Tanu Metir itu menjadi heran. Agung Sedayu mengangkat wajahnya seakan-akan ia hendak berbicara, tetapi mulutnya tidak mengucapkan sesuatu.

“Angger Wuranta,” berkata Ki Tana Metir kemudian, “tugas Angger pun akan segera sampai kepada puncak yang berbahaya. Tetapi agaknya Angger mampu bermain sebaik-baiknya sehingga aku sama sekali tidak mengkhawatirkan Angger.”

“Mudah-mudahan, Kiai,” Wuranta bergumam seperti kepada diri sendiri. “Tetapi bagaimana dengan keterangan tentang pasukan segelar sepapan. Apakah hal itu tidak seharusnya malah dirahasiakan sama sekali?”

“Tidak ada gunanya, Angger. Orang-orang Sidanti pasti akan segera mengetahui pula. Kalau mereka mengetahui hal itu sebelum Angger melaporkannya, maka kepercayaan mereka akan turun. Sedang kehadiran Angger di lereng Merapi, di padepokan Tambak Wedi, sangat diperlukan.”

“Baiklah, Kiai,” sahut Wuranta.

Dan tiba-tiba Agung Sedayu memotong pembicaraan itu, “Lalu bagaimana dengan Sekar Mirah, Kiai?”

“Kita akan membicarakannya. Segera kita harus mengambil sikap. Tetapi sikap itu harus tepat. Kita tidak dapat berbuat sesuatu dengan tergesa-gesa, sebab akibat dari perbuatan itu justru sebaliknya dari yang kita harapkan.”

Agung Sedayu terdiam. Meskipun gelora di dalam dadanya belum juga surut.

Sesaat kemudian, setelah minum dan makan beberapa potong makanan yang disediakan oleh keluarga Wuranta, maka Wuranta itu pun meninggalkan Kademangan Jati Anom kembali ke padepokan Tambak Wedi, sementara itu Ki Tanu Metir dan kedua muridnya pergi menemui Untara.

Untara dan sebagian dari pasukannya berada di rumahnya sendirian dan sebagian lagi berada di kademangan. Ki Demang Jati Anom yang selama ini menyingkir untuk menghindari orang-orang dari padepokan Tambak Wedi, kini telah berada di rumahnya. Sebenarnya ia bukan seorang penakut, tetapi ia sama sekali belum siap untuk berbuat sesuatu. Apalagi diketahuinya, bahwa kekuatan Sidanti dan Sanakeling benar-benar berada di luar kemampuannya untuk menahannya.

Malam itu Untara masih duduk dengan beberapa orang pemimpin pasukannya bersama Ki Demang Jati Anom. Mereka sedang berbincang mengenai beberapa persoalan. Ketika mereka melihat Ki Tanu Metir bersama kedua muridnya, maka mereka bertiga segera dipersilahkannya masuk.

Belum lagi Untara bertanya sesuatu, maka Agung Sedayu lah yang pertama-tama berkata, “Kami belum dapat berbuat sesuatu, Kakang.”

“Duduklah,” Untara mempersilahkan. “Marilah, Kiai.”

Ki Tanu Metir menganggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah Untara sejenak tetapi Ki Tanu Metir itu tidak segera berkata sesuatu.

Mereka pun kemudian duduk di antara para pemimpin pasukan Pajang dan Ki Demang Jati Anom. Mereka pun kemudian ikut pula mendengarkan pembicaraan mereka. Tetapi Untara sendiri tidak segera bertanya tentang kepentingan Agung Sedayu dan Swandaru. Untara tidak segera bertanya bagaimanakah nasib gadis itu, dan bagaimanakah cara untuk membebaskannya. Untara itu hanya berbicara tentang letak, kekuatan dan persoalan-persoalan keprajuritan yang lain sehingga Agung Sedayu dan Swandaru menjadi gelisah. Mereka merasa bahwa kepentingan mereka sama sekali tidak mendapat perhatian dari Untara.

Ki Tanu Metir agaknya dapat menangkap perasaan kedua anak-anak muda itu. Orang tua itu melihat betapa wajah keduanya dibasahi oleh keringat yang dingin. Bagaimana mereka duduk dengan gelisah. Tetapi mereka tidak segera dapat mengemukakan perasaan mereka.

Namun Ki Tanu Metir pun dapat mengerti, bahwa perhitungan Untara harus bertaut pada setiap persoalan. Ia memandang keseluruhan persoalan yang dihadapinya, bukan sepotong-potong seperti yang selalu digelisahkan oleh Agung Sedayu dan Swandaru Geni.

Tetapi tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar Ki Demang Jati Anom berkata, “Tetapi sayang, Anakmas Untara, sekian banyak anak-anak muda di Jati Anom yang aku percaya, justru yang paling banyak memberikan harapan kepadaku sebelumnya, bahwa ia akan mampu membimbing kawan-kawannya, setidak-tidaknya membantu Angger, ternyata kini telah berkhianat.”

“Siapa?” bertanya Untara. “Aku mengenal setiap pemuda di Jati Anom.”

“Tentu. Angger tentu mengenalnya. Namanya dikenal oleh setiap orang. Bahkan setiap anak-anak muda di Jati Anom menaruh harap kepadanya. Tetapi suatu hari beberapa orang melihatnya berjalan bersama-sama dengan orang-orang Jipang dan orang-orang padepokan Tambak Wedi. Bukan sebagai seorang tawanan, tetapi sebagai seorang yang bebas. Bahkan orang itu menduga bahwa anak itu telah membantu orang-orang dari lereng Merapi itu.”

“Ya, tetapi siapakah namanya?”

“Wuranta.”

“He,” betapa terkejutnya Untara mendengar nama itu. Ia same sekali tidak menyangka bahwa Wuranta kini berbalik berada di pihak orang-orang Ki Tambak Wedi.

Tetapi tidak kalah terkejut pula Agung Sedayu dan Swandaru. Mereka tahu benar bahwa Wuranta sama sekali tidak berkhianat. Tanpa mereka sadari, bersama-sama mereka berpaling memandangi wajah Ki Tanu Metir yang berkerut merut. Kalau ada salah paham di antara orang-orang Jati Anom sendiri, itu adalah tanggung jawab Ki Tanu Metir. Bahkan hal ini telah pernah dikemukakan oleh Wuranta sendiri. Data kini ternyata hal itu benar-benar terjadi. Demang Jati Anom yang pasti mendengar dari beberapa orang yang melihat peristiwa beberapa hari yang lalu, ketika Wuranta berpura-pura dikejar-kejar oleh Agung Sedayu lalu menemui Sidanti dan kawan-kawannya.

Agung Sedayu dan Swandaru menjadi gelisah ketika Ki Tanu Metir tidak segera mengatakan keadaan Wuranta yang sebenarnya. Malahan orang tua itu berkata, “Adalah wajar sekali Ki Demang. Telur sepetarangan, ada yang menetas hitam dan ada yang menetas putih.”

Agung Sedayu dan Swandaru saling berpandangan sejenak. Tetapi mereka tidak berkata sepatah kata pun meskipun di dalam dada mereka berdesakan pertanyaan tentang kata-kata gurunya itu.

Dalam pada itu Ki Damang pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan menyesal ia berkata pula, “Wuranta adalah anak yang paling memberi kebanggaan kepadaku beberapa saat yang lampau. Aku tidak tahu, apa yang telah menyeretnya masuk ke dalam perangkap hantu-hantu dari lereng Merapi.”

Orang-orang yang berada di dalam ruangan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sejenak mereka berdiam diri, sehingga ruangan itu pun menjadi sepi.

Di luar beberapa orang prajurit berjalan hilir mudik. Ada yang sedang bertugas, tetapi ada juga yang duduk sambil minum air hangat. Ada pula yang berjalan-jalan saja tanpa tujuan di sekitar halaman. Mencoba mengenali beberapa macam bentuk pepohonan dan rumah-rumah penduduk.

Ketika malam telah jauh melampaui pertengahannya, maka pertemuan itu pun berakhir. Mereka masing-masing segera pergi beristirahat di tempat yang baru hari ini mereka tempati. Ki Demang pun kemudian kembali ke kademangan dengan hati yang tenang. Sebab di rumahnya kini berada sebagian dari prajurit-prajurit Untara.

Ruangan pertemuan itu kini menjadi semakin sepi. Yang berada di dalamnya hanyalah Untara, Agung Sedayu, Swandaru dan Ki Tanu Metir.

Agung Sedayu yang sejak tadi selalu menahan pertanyaannya di dalam hati, kini anak muda itu tidak dapat lagi menyimpannya, sehingga terloncatlah pertanyaannya, “Kiai, bagaimana dengan Wuranta?”

Dengan serta-merta Untara menyahut, “Ya, aku menyesal sekali mendengar keterangan Ki Demang, bahwa Wuranta kini telah berkhianat.”

Ketika Ki Tanu Metir tidak segera menyahut, maka kegelisahan Agung Sedayu dan Swandaru pun menjadi semakin memuncak. Hampir-hampir saja mereka tidak dapat menahan dirinya lagi, dan langsung mamberi penjelasan tentang anak muda itu.

Tetapi sebelum mereka mengatakannya, maka berkatalah Kiai Gringsing, “Angger Untara, agaknya Angger tidak mengetahui keadaan Wuranta sebaik-baiknya. Tetapi itu bukan salah Angger. Bukankah Ki Demang yang mengatakan hal itu kepadamu?”

Untara mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya, “Bagaimana maksud Kiai sebenarnya?”

“Aku ingin menjelaskan tentang Wuranta.”

“Apakah Kiai mengenalnya?”

“Aku mengenalnya,” jawab Kiai Gringsing. “Tetapi Ngger, apakah Angger tidak pernah menerima laporan dari tiga orang prajurit yang mendahului Angger datang kemari?”

“Ya, ya. Mereka telah mendahului aku. Perintahku kepada mereka mengatakan bahwa mereka harus melihat keadaan Jati Anom. Kalau tempat itu berbahaya mereka harus memberi keterangan kepadaku. Kalau tidak, maka mereka pun harus menyatakan, bahwa mereka telah kembali dan tidak terdapat hal-hal yang menghalangi keberangkatan kami. Dan mereka kemudian telah kembali. Malahan mereka bertemu dengan Agung Sedayu, Swandaru, dan Kiai di sini.”

“Tidak di rumah ini.”

“O,” Untara mengerutkan keningnya, “laporan itu tidak terperinci.”

“Apakah mereka tidak mengatakan tentang seorang anak muda yang lain, yang malam itu pergi ke lereng Merapi?”

“Ya, ya.” Wajah Untara menjadi agak tegang. “Aku mendengarnya. Aku memang sudah merencanakan untuk menanyakan hal itu kepada Kiai langsung. Keterangan orang-orangku tentang anak muda itu tidak begitu jelas. Aku ingin tahu, apakah menurut pertimbangan Kiai anak itu tidak berbahaya bagi kita di sini?”

“Anak itu banyak membantu kami. Akulah yang menempatkannya sehingga anak itu mendapat kepercayaan dari Sidanti.”

“Dari Sidanti? Bagaimanakah sebenarnya persoalan yang Kiai katakan itu?”

“Ah. Tidak aneh. Angger juga mempunyai suatu kelompok prajurit sandi.”

Untara mengerutkan keningnya.

“Anak itu agaknya berhasil masuk kedalam lingkungan mereka untuk kepentingan kita.”

Untara kini mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil meraba-raba janggutnya yang tumbuh tidak teratur ia bertanya, “Apakah Kiai meyakininya?”

“Aku melihat sejak ia mulai, “Sahut Kiai Gringsing. Lalu diceriterakannya serba sedikit tentang keadaan Wuranta.

Sehingga justru dari anak muda itu ia mendapat banyak keterangan mengenai padepokan Tambak Wadi dan mengenai Sekar Mirah.

“O,” Untara menarik nafas dalam-dalam, “begitulah ceriteranya. Jadi anak muda itu adalah Wuranta.”

“Ya, Wuranta. Aku kira ketika orang-orangmu mendengar juga nama itu.”

“Aku belum sempat mendengar laporannya dengan lengkap. Mereka datang ketika pasukan sudah siap untuk berangkat,” Untara berhenti sejenak, lalu katanya, “Tetapi kenapa Kiai tidak mengatakannya kepada Ki Demang Jati Anom supaya mereka tidak mencurigai anak muda itu?”

“Ki Tambak Wedi mempunyai seribu pasang telinga. Telinga-telinga itu berada di pepohonan, di dinding-dinding halaman, di regol-regol dan tersebar di mana saja. Sedang kita di sini masing-masing mempunyai seribu mulut yang akan mengatakan setiap rahasia dari mulut yang satu ke mulut yang lain. Aku belum tahu benar tentang diri Ki Demang Jati Anom.”

Untara mengerutkan keningnya. Sejenak wajahnya menjadi berkerut-merut, namun sejenak kemudian ia pun tersenyum. Katanya, “Kiai cukup hati-hati. Seharusnya aku sudah mengerti akan hal itu. Terima kasih Kiai. Mungkin aku terpengaruh oleh pengertian yang lebih banyak tentang Ki Demang itu. Sudah lama aku mengenalnya. Dan aku percaya kepadanya.”

“Ya, mungkin demikian bagi Angger Untara, tetapi aku tidak. Aku baru saja melihat dan mengenalnya.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baik Kiai. Sikap Kiai akan membantu sekali. Mudah-mudahan Wuranta dapat melakukan tugasnya dengan baik. Dan mudah-mudahan sesudah ia menyelesaikannya, namanya tidak akan tetap dibenci oleh orang-orang Jati Anom. Tetapi justru sebaliknya.”

“Itu adalah tanggung jawab kita bersama, Ngger. Kita harus menyelamatkannya dan menyelamatkan namanya.”

“Ya, ya Kiai. Dan kita tidak akan mengingkarinya.”

“Anak muda itu bukan saja dapat memberikan banyak keterangan mengenai padepokan Tambak Wedi karena ia berhasil masuk ke dalamnya, tetapi juga tentang Sekar Mirah.”

“Oh,” Untara mengerutkan keningnya, “ya, tentang Sekar Mirah. Bagaimana dengan gadis itu?”

“Seorang penjabat saja tidak akan dapat mengetahui tempat dan kebiasaan gadis itu apabila ia berada di luar padepokan. Tetapi Wuranta berhasil menemukannya, bahkan anak muda itu telah berhasil bercakap-cakap dengan Sekar Mirah.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Apakah Kiai telah menemukan hubungan tindakan yang sebaik baiknya untuk segala kepentingan?”

“Itu adalah keputusan yang harus Angger ambil.”

“Tetapi aku memerlukan pertimbangan dan pendapat Kiai”

Ki Tanu Metir mengangguk-angguk pula. Kemudian diceriterakannya apa yang didengar dan dilihat oleh Wuranta. Hubungan antara Sidanti dan Sanakeling. Dinding-dinding batu yang tinggi. Ujung-ujung senjata di balik batu-batu besar di lereng Merapi, dan kesulitan-kesulitan yang lain yang harus mendapat banyak perhatian. Akhirnya orang tua itu berkata, “Kekuatan mereka tidak kurang dari kekuatan Tohpati selagi masih utuh.”

Untara mengerutkan keningnya. Wajahnya yang tegang terhunjam pada nyala api dlupak yang terletak di tengah-tengah lingkaran duduk mereka. Kemudian perlahan-lahan ia berkata, “Begitukah keadaan yang sebenarnya?”

“Menurut Wuranta.”

“Kiai percaya kepada laporan itu?”

“Aku percaya.”

“Kalau demikian, laporan itu akan menjadi dasar perhitunganku. Aku membawa pasukan tidak sekuat paman Widura di Sangkal Putung. Aku sangka kekuatan padepokan Tambak Wedi tidak sebesar pasukan Jipang yang menyerah.”

“Kau harus berusaha memperkuat pasukanmu, Ngger. Sebelum orang-orang Tambak Wedi mengetahui. Kalau mereka mengambil sikap, mendahului menyerang Jati Anom sebelum Angger bersiap, maka keadaan Angger akan menjadi sulit.”

“Ya, Kiai. Yang mula-mula akan membantu aku adalah anak-anak muda Jati Anom. Mereka adalah kawan-kawan bermain di masa kanak-kanak. Tetapi kekuatan itu tidak seberapa.”

“Orang-orang yang tinggal di padepokan Tambak Wedi serupa benar dengan orang-orang Sangkal Putung. Setiap lelaki adalah seorang prajurit.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia harus mempertimbangkan keadaan itu sebaik-baiknya. Kalau Tambak Wedi mendahului memukul Jati Anom, maka ia pasti benar-benar berada dalam kesulitan. Mungkin pasukannya akan mampu mengundurkan diri dengan korban yang sekecil-kecilnya, tetapi bagaimana dengan kademangan Jati Anom ini sendiri? Mungkin orang-orang Tambak Wedi akan menetap di kademangan ini atau menghancurkan isi dan bentuknya. Yang kedua itulah yang paling mungkin dilakukan. Sebab bagi orang-orang Tambak Wedi dan sisa-sisa pengikut Tohpati itu lebih merasa aman bertahan di padepokan Tambak Wedi.

“Aku harus mengambil sikap segera,” desis Untara, “satu-satunya jalan yang segera dapat aku lakukan adalah menarik sebagian pasukan Pajang di Sangkal Putung. Tetapi itu pasti mengandung bahaya, seandainya orang-orang Sanakeling dan Sidanti langsung menyerang Sangkal Putung. Mungkin aku dapat menempatkan beberapa orang pengawas, tetapi kemungkinan yang paling pahit harus menjadi pertimbanganku.”

Ki Tanu Metir tidak menjawab. Pikirannya pun berkata demikian dan ia pun menjadi cemas seperti Untara, apabila Tambak Wedi langsung menusuk ke Sangkal Patung.

Sejenak mereka terdiam. Untara sibuk berpikir tentang masalah yang sedang dihadapinya. Masalah yang segera harus mendapat pemecahan. Dan ia berterima kasih kepada Kiai Gringsing dan kepada Wuranta yang telah memungkinkan ia melihat perimbangan kekuatan antara pasukannya dan pasukan lawannya.

Namun dalam pada itu Agung Sedayu dan Swandaru masih saja dirisaukan oleh sikap Untara. Meskipun guru mereka telah menyinggung-nyinggung tentang Sekar Mirah, tetapi Untara seakan-akan menanggapinya dengan acuh tidak acuh. Sehingga karena dadanya yang pepat, maka diberanikannya dirinya bertanya, “Kakang, lalu bagaimana dengan Sekar Mirah?”

Untara mengangkat wajahnya. Perlahan-lahan ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada Kiai Gringsing, “Bagaimanakah dengan gadis itu Kiai? Apakah yang telah Kiai lakukan dengan mendahului keberangkatan kami?”

“Yang baru kami lakukan adalah menemukan Angger Wuranta,” sahut Kiai Gringsing.

“Kalau kita dapat menyelesaikan persoalan Ki Tambak Wedi, merebut kedudukan mereka, bukankah persoalan Sekar Mirah itu akan selesai dengan sendirinya.”

Agung Sedayu dan Swandaru tersentak di tempatnya. Bahkan setapak mereka bergeser maju. Wajah-wajah mereka menjadi tegang dan bahkan terdengar Swandaru berdesis dalam nada yang tinggi, “Tidak. Tidak semudah itu.”

Untara mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah Swandaru yang gemuk bulat itu, tetapi Swandaru pun menatap wajah Untara dengan tajamnya.

“Setiap hari aku berkelahi dengan gadis itu, tetapi ia adalah adikku. Aku adalah saudaranya laki-laki. Karena itu keselamatannya adalah menjadi tanggung jawabku.”

Wajah Untara pun kemudian menjadi tegang, “Bagaimanakah maksudmu?” ia bertanya.

“Sekar Mirah harus mendapat perhatian yang khusus. Ia harus mendapat penyelesaian lebih dahulu justru sebelum pasukan Pajang menyerang padepokan Tambak Wedi. Sebab apabila demikian, maka Sekar Mirah akan menjadi banten. Ia akan menjadi tempat untuk melepaskan kemarahan orang-orang Tambak Wedi. Seperti seekor kambing di antara kawanan serigala yang lapar dan buas.”

Dahi Untara pun kemudian menjadi berkerut-merut, “Lalu apa yang harus aku kerjakan?”

Swandaru terdiam, namun sorot matanya masih memancarkan suatu tuntutan perasaannya yang tidak terucapkan. Yang menjawab pertanyaan Untara itu adalah Agung Sedayu, “Kakang, setiap tindakan atas padepokan itu harus dipertimbangkan pula keselamatan Sekar Mirah. Kakang tidak akan dapat bertindak hanya berdasarkan kepentingan pasukan saja.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya, jawabnya, “Ya, aku memang memperhatikan keduanya. Aku mempertimbangkan untung rugi setiap tindakan. Itulah sebabnya aku tidak dapat dengan tergesa-gesa mengambil sikap apa pun tentang Sekar Mirah. Sejak aku masih berada di Sangkal Putung, bukankah pendirian itu sudah kau mengerti? Tanggung jawabku adalah tanggung jawab keperajuritan. Aku bertanggung jawab terbadap Panglima Wira Tamtama. Tidak kepada orang lain. Karena itu maka setiap tindakanku pun berdasarkan atas pertanggungan jawab itu.”

Agung Sedayu dan Swandaru sama sekali tidak puas mendengar jawaban itu. Hampir saja mereka berbareng menyatakan perasaannya. Tetapi Kiai Gringsing, orang tua yang telah kenyang makan pahit manis kehidupan, segera memotongnya, “Nah, apalagi yang masih akan dipersoalkan? Semuanya sudah jelas. Semuanya berpijak pada pendirian yang serupa. Mungkin ada perbedaan landasan untuk berbuat, tetapi unsur-unsur yang harus dipertimbangkan tidak berbeda. Adalah wajar bahwa sudut pandangan Angger Swandaru dan Agung Sedayu berbeda dengan Angger Untara. Tetapi kalian masing-masing tidak akan dapat berbuat sendiri-sendiri. Apalagi dalam keadaan sekarang, di mana Angger Untara masih harus memikirkan jumlah dan kekuatannya. Bukankah begitu Angger?”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ia tidak sependapat sepenuhnya, tetapi kalimat Ki Tanu Metir yang terakhir merupakan tekanan yang tidak dapat dihindarinya. Ia dihadapkan pada kenyataan, bahwa pasukan Pajang tidak akan dapat berdiri sendiri tanpa orang-orang itu. Meskipun Untara tidak lagi secara langsung memerlukan anak-anak muda Sangkal Putung, tetapi hal itu tidak akan dapat dihindarinya. Setiap ia menginginkan sebagian dari pasukan Widura, maka setiap kali ia harus mempertimbangkan anak-anak muda kademangan itu. Dan Swandaru adalah pemimpin langsung dari anak-anak muda Sangkal Putung.

Apalagi kalau diingatnya, bahwa Ki Tanu Metir lah yang mengatakan pertimbangan itu. Tak ada orang lain yang dapat mengimbangi kekuatan dan kemampuan Ki Tambak Wedi selain Ki Tanu Metir. Pertimbangan-pertimbangan itulah yang membuat Untara mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bergumam dalam nada yang datar, “Ya, Kiai benar. Aku tidak dapat berbuat lain lepas dari pertimbangan itu. Aku tahu benar maksud Kiai. Dan aku tidak dapat melangkahinya.”

“Jangan begitu, Ngger,” berkata Kiai Gringsing. “Aku sama sekali tidak meletakkan pepalang di hadapan Angger sebagai pertanda, kapan dan bagaimana Angger harus berbuat. Bukankah kenyataan yang Angger hadapi pun memaksa Angger untuk diam di kademangan ini untuk sementara dan merahasiakan kekuatan Angger yang sebenarnya? Bukankah Angger Untara tidak akan dapat segera memukul padepokan Tambak Wedi karena jumlah pasukan Angger kurang mencukupi?”

Untara menarik nafas dalam-dalam, “Ya, Kiai benar.” Namun terasa sesuatu seakan-akan menyentuh jantungnya.

“Angger Untara,” berkata Ki Tanu Metir, “ketahuilah, bahwa Angger Wuranta malam ini datang ke kademangan ini.”

Untara mengangkat wajahnya sambil bertanya, “Dimana ia sekarang?”

“Ia telah kembali.”

“Aku ingin bertemu.”

“Jangan sekarang, Ngger. Masih ada satu dua orang yang bertugas mengawasinya. Karena itu ia harus dijaga benar-benar agar tidak dicurigai oleh orang-orang lereng Merapi itu. Malam ini Angger Wuranta membawa berita bahwa siang tadi Angger Untara telah datang di Jati Anom.”

“Kenapa berita itu justru dibawa oleh Wuranta?”

“Adalah lebih baik demikian, sebab mereka pasti akan segera tahu pula. Bahkan apabila Angger Wuranta belum memberitahukan kepada mereka, maka kepercayaan mereka kepada Angger Wuranta akan surut. Setidak-tidaknya mereka menganggap bahwa Angger Wuranta kurang cakap melakukan tugasnya. Tetapi yang perlu Angger ketahui adalah, bahwa Angger Wuranta akan melaporkan kepada Sidanti, bahwa Angger datang segelar sepapan lengkap dengan prajurit-prajurit berkuda.”

“Kenapa demikian?”

“Sidanti akan ragu-ragu untuk mendahului menyerang Angger. Karena itu Angger pun harus pasang gelar sandi. Setiap hari Angger harus membuat kesan seakan-akan Kademangan penuh dengan prajurit. Setiap hari semua prajurit harus keluar, berjalan dalam kelompok-kelompok dan meronda berkeliling. Beberapa orang berkuda harus selalu hilir mudik pula di segenap sudut kademangan.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebagai seorang Senapati segera ia menangkap maksud Kiai Gringsing. Ia harus berusaha mengelabuhi petugas-petugas sandi dari Tambak Wedi yang pasti akan dipasang oleh Sidanti. Bahkan mungkin di antara petugas-petugas sandi itu nanti adalah Wuranta sendiri.

Meskipun Untara merasa singgungan-singgungan langsung pada perasaannya, oleh kata-kata Kiai Gringsing, apalagi kedua muridnya, yang seakan-akan kepentingan mereka harus mendapat perhatian terlampau banyak dari kepentingan-kepentingan yang lain, namun ia mengucapkan terima kasih pula di dalam hatinya kepada orang tua yang aneh ini. Orang itu telah mendahuluinya berbuat sesuatu. Dan apa yang dilakukannya ternyata sangat barguna, tidak saja bagi orang tua itu serta murid-muridnya sendiri, tetapi sangat berguna pula bagi seluruh pasukan Pajang di Jati Anom.

Untara seakan-akan tersedar ketika ia mendengar Kiai Gringsing bertanya, “Bagaimana pertimbangan Angger?”

“Ya, ya Kiai,” sahut Untara terbata-bata, “aku sependapat dengan Kiai. Mulai besok aku akan pasang gelar sandi untuk mengelabuhi perhitungan lawan, supaya mereka tidak mengambil keuntungan dari keadaan ini dengan mendahului menyerang Jati Anom.”

“Bagus,” desis Kiai Gringsing.

“Sementara itu, aku akan dapat mengumpulkan anak-anak muda Jati Anom, teman-temanku bermain, di masa kanak-kanak. Meskipun jumlah mereka dan ketrampilan mereka belum seperti anak-anak muda Sangkal Putung, namun aku mengharap mereka akan membantu.”

“Tentu.”

“Kalau demikian, maka malam ini aku akan memberikan beberapa perintah kepada para pemimpin prajurit Pajang di sini,” berkata Untara, “supaya sejak pagi, mereka telah melakukan gelar sandi yang kita maksudkan.”

“Baiklah,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “kami pun akan segera beristirahat.

Mungkin kami masih akan banyak berbuat di samping Angger Untara. Meskipun demikian, sebelumnya kami minta maaf seandainya kami tidak berada dan berbuat di dalam lingkungan Angger, sebab kami bukan prajurit Pajang. Meskipun demikian kami berjanji, bahwa kami tidak akan mengganggu setiap rencana Angger. Kami akan selalu bertanya apa yang akan Angger lakukan dan kami selalu akan melaporkan apa yang akan kami perbuat, supaya kami tidak menjadi saling tunjang.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Seandainya yang berbicara itu bukan seorang Kiai Gringsing, maka ia akan menyawab, “Dalam keadaan serupa ini, maka perintah seorang Senapati perang berlaku bagi setiap orang di dalam wilayah kekuasaannya untuk kepentingan gerakan pasukan.” Tetapi Untara tidak dapat berkata demikian terhadap orang tua itu. Ia merasa ada sesuatu perbawa yang tidak mampu dilampauinya. Ia tahu bahwa ia hanya bertanggung jawab terhadap Ki Gede Pemanahan. Namun orang tua ini pun sangat mempengaruhi sikap dan jalan pikirannya. Kadang-kadang ia merasa, sebagai seorang Senapati, ia adalah orang yang harus mengambil sikap dan keputusan. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan tentang orang tua yang bernama Ki Tanu Metir dan sering menyebut dirinya dengan sebutan Kiai Gringsing itu.

“Nah, selamat malam, Ngger,” desis Kiai Gringsing itu kemudian, “kami, aku dan anak-anak ini akan beristirahat. Mudah-mudahan usaha Angger berhasil dan usaha kami pun akan berhasil.”

“Baik, Kiai,” sahut Untara, “terima kasih.” Namun hatinya sekali lagi merasakan sebuah sentuhan kata-kata orang tua itu yang telah membuat garis pemisah atas kerja yang akan mereka lakukan masing-masing. Tetapi Untara tidak ingin bertanya.

Kiai Gringsing dan kedua muridnya pun segera meninggalkan rumah itu. Mereka pergi ke rumah Wuranta. Menurut pendapat Kiai Gringsing, kedua muridnya dan dirinya sendiri lebih baik berada di tempai itu. Setiap saat mereka dapat bertemu dengan Wuranta apabila anak itu pulang, tanpa dicurigai oleh orang-orang yang mungkin masih saja mengawasinya.

Dalam pada itu, Wuranta telah menjadi semakin dekat dengan padepokan Tambak Wedi. Kali ini ia tidak kesiangan. Bahkan sebelum bayangan fajar mewarnai langit di ujung Timur, Wuranta telah memasuki daerah padepokan Tambak Wedi.

“Justru dengan demikian ia merasakan betapa ketatnya penjagaan. Tanpa disadarinya, tiba tiba dua ujung tombak telah mengarah ke lambungnya. Terdengar suara berdesis, “Siapa?”

Wuranta berpaling. Dilihatnya dari sisi sebuah batu besar dua orang pengawal telah mengancamnya dengan tombak, sedang dua orang lain berdiri beberapa langkah dengan pedang di tangan.

“Mereka sangat berhati-hati,” desisnya di dalam hati.

“Siapa?” terdengar pertanyaan itu diulang.

“Wuranta,” jawab Wuranta pendek.

Para penjaga itu terdiam sejenak. Tampaknya mereka sedang berpikir.

“Dari mana?” salah seorang dari mereka bertanya pula.

“Jati Anom.”

Kedua ujung tombak itu pun kemudian terangkat kembali. Tanpa mengucapkan kata-kata mereka melepaskan Wuranta begitu saja. Bahkan keempat orang itu pun segera meninggalkannya.

Wuranta menjadi agak heran melihat sikap itu, tetapi ia tidak bertanya. Ia langsung melangkahkan kakinya, meneruskan perjalanannya. Tetapi tiba-tiba ia tertegun ketika lamat-lamat ia mendengar suara berdesis, “Ia datang ke mari dibawa oleh Ki Lurah Sidanti. Tetapi ia sekarang menjadi sahabat Alap-alap kerdil itu.”

Terasa dada Wuranta berdesir. Kenapa orang-orang di padepokan ini berkata demikian? Agaknya mereka telah membedakan antara Sidanti dan Alap-alap Jalatunda.

Sambil merenung Wuranta berjalan terus. Berkali-kali ia membelok menyusup antara batu-batu besar. Dan ia tahu, bahwa di setiap sisi batu-batu itu, tidak mustahil akan terjulur ujung-ujung pedang yang akan menghentikan langkahnya.

Tetapi beberapa orang penjaga yang telah mengenalnya, membiarkannya lewat tanpa menyapa sepatah kata pun. Bahkan ada yang dengan malas memalingkan mukanya. Tetapi ada pula yang mendebarkan dada Wuranta. Lamat-lamat ia mendengar sekelompok penjaga menyapanya, “He, apakah Tuanku baru datang dari bertamasya?”

Wuranta tidak tahu maksud pertanyaan itu. Karena itu ia tidak segera menjawab.

“Tentu Tuanku belum mengenal kami,” sambung yang lain.

Wuranta masih berdiam diri.

“Kenapa Tuanku menjadi terheran-heran seperti seekor kera kena sumpit?”

Wajah Wuranta menjadi merah. Kini ia tahu benar, bahwa sekelompok penjaga itu sedang mempermainkannya.

“Apakah maksud kalian dengan pertanyaan itu?” desis Wuranta.

“Jangan marah Tuan. Semalam kami berburu kelinci, tetapi tak satu pun yang aku dapatkan. Jangan Tuan membiarkan diri Tuan menjadi kelinci buruan kami. Tuan akan kami kuliti dan kami bakar seperti kami membakar kelinci.”

Alangkah marahnya anak muda Jati Anom itu. Tetapi ia masih mencoba menahan dirinya. Ia tidak tahu ujung pangkal dari persoalannya. Karena itu, ia masih belum menanggapinya.

“Pergilah. Laporlah kepada Yang Dipertuan Sidanti. Katakanlah, bahwa kami prajurit-prajurit dari kadipaten Jipang, pengikut setia Senapati Agung kami Arya Penangsang dan Senapati muda Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan telah menghinamu…”

Belum lagi suara itu berhenti, terdengar mereka tertawa bersama. Meledak seolah-olah tawa itu telah tertahan-tahan bertahun-tahun di dalam dada mereka.

“Kenapa terjadi demikian?” gumam Wuranta di dalam hatinya.

Kini ia mendapat kesimpulan, bahwa kedua golongan di dalam padepokan itu agaknya tidak dapat luluh menjadi satu keluarga. Agaknya mereka masing-masing merasa, bahwa hubungan yang terjadi itu hanyalah bersifat sementara.

Kini tahulah Wuranta, kenapa beberapa orang yang ditemuinya baru-baru saja bersikap aneh terhadapnya. Tahulah ia kenapa orang-orang itu berkata, bahwa kedatangannya kemari karena ia dibawa oleh Sidanti, tetapi ia kini telah menjadi sahabat Alap-alap yang kerdil.

Wuranta menarik nafas. Ia tidak ingin menanggapi orang-orang itu. Dengan demikian ia akan hanyut dalam pertentangan orang-orang padepokan itu sendiri tanpa dapat menyelesaikan pekerjaan yang dibebankan kepadanya.

Tetapi sebelum ia melangkahkan kakinya, dadanya berdesir sekali lagi. Tiba-tiba ia melihat bayangan seseorang berdiri di atas sebuah batu yang besar sambil bertolak pinggang. Terdengarlah suaranya lantang, “Ayo, siapa yang ingin bertemu dengan Sidanti. Inilah Sidanti. Jangan hanya berteriak-teriak di belakang punggung.”

Tiba-tiba setiap suara dan orang-orang yang menyebut dirinya prajurit Jipang itu terdiam. Tak seorang pun yang berani bergerak dari tempatnya. Mulut mereka pun seoIah-olah terkunci. Bahkan beberapa orang menjadi saling berpandangan.

Dalam keadaan yang demikian, terasa betapa besar perbawa Sidanti. Prajurit-prajurit Jipang itu pun dapat dipengaruhinya seperti kena sihir. Laki-laki yang tegap dan kokoh, dengan berbagai macam senjata di tangan mereka, berdiri diam seperti patung oleh kehadiran Sidanti itu.

“Ayo,” berkata Sidanti, “siapa yang ingin mencoba, bagaimana Sidanti berbuat terhadap orang-orang yang ingin menghinanya. Padepokan ini adalah padepokan guruku. Kalian berada di tempat ini karena belas kasian guruku, Ki Tambak Wedi. Kalau kalian merasa bahwa kalian tidak kerasan di sini, kenapa kalian tidak pergi saja?”

Tak seorang pun yang berani menjawab.

“Siapa?” sekali lagi Sidanti bertanya, “kalau aku tidak mengingat kepentingan yang sama di antara kita, maka kalian akan menjadi bangkai malam ini juga. Sidanti bukan hanya pandai berbicara, tetapi pedangnya mampu juga memenggal lehermu.”

Belum lagi debar jantung Wuranta berhenti, sekali lagi dadanya digetarkan oleh peristiwa yang menyusul. Dari dalam kegelapan terdengar sebuah suara nyaring menjawab kata-kata Sidanti, “Ah, jangan terlampau sombong Sidanti. Kalau kita sudah meletakkan dasar kerja sama yang baik, maka setiap persoalan harus diselesaikan dengan baik pula. Tidak dengan caramu itu. Kau dapat menghubungi aku, dan aku lah yang akan bertindak atas anak-anakku yang kau anggap kurang sopan. Tidak dengan menjajakan keberanian dan kesaktian,”

“Orang-orang Jipang itulah yang keterlaluan,” bantah Sidanti, “mereka sengaja menghinaku.”

“Tetapi caramu tidak menyenangkan aku.”

“Aku tidak perduli, apakah kau senang atau tidak senang.”

“Kalau demikian, apa maumu?”

Dari dalam kegelapan, Wuranta melihat sebuah bayangan meluncur langsung bertengger di atas sebuah batu yang lain tepat di hadapan Sidanti. Orang itu adalah Sanakeling.

Kini keduanya telah berhadapan dengan wajah-wajah yang tegang. Meskipun mereka belum mencabut pedang masing-masing, tetapi di tangan kiri mereka telah tergenggam senjata-senjata rangkapan, justru senjata-senjata mereka yang berbahaya. Tangan kiri Sidanti menggenggam nanggalnya yang runcing di kedua ujungnya, sedang tangan kiri Sanakeling menggenggam sebuah bindi.

Dalam ketegangan itu, tiba-tiba mereka telah dikejutkan oleh sebuah ledakan di samping mereka. Sebuah batu yang besar terpukul sehingga percikan pecahannya berserakan ke segala penjuru. Kemudian berdentang sebuah gelang-gelang besi di bawah batu-batu tempat Sidanti dan Sanakeling berdiri.

Sidanti dan Sanakeling menyeringai berama sama. Bahkan orang-orang Jipang pun terdengar mengaduh. Ternyata pecahan-pecahan batu itu telah melukai tubuh-tubuh mereda sehingga berdarah.

Yang dapat berbuat sedahsyat itu, dengan senjata semacam itu tidak ada duanya. Pasti Ki Tambak Wedi.

Dan sejenak kemudian KiTambak Wedi telah berdiri di antara mereka. Di antara Sidanti dan Sanakeling. Dengan wajah yang merah padam, maka ditunjuknya hidung Sanakeling dan Sidanti berganti-ganti. “Gila. Kalian anak-anak gila. Apakah kalian sadari apa yang kalian lakukan itu? Alangkah bodohnya. Alangkah gobloknya. Kalian akan menghancurkan diri sendiri di hadapan hidung orang-orang Pajang. Apakah kalian buta dan tuli? Lihat dan dengar. Sekarang pasukan Pajang telah berada di Jati Anom.”

Sidanti, Sanakeling, dan orang-orang Jipang yang lain terkejut untuk kedua kalinya. Kini jantung mereka bergetar dan seakan-akan mereka disentakkan pada sebuah mimpi yang mengerikan. Bahwa orang Pajang akan datang ke Jati Anom adalah suatu hal yang telah mereka duga, tetapi demikian cepatnya itu cepatlah di luar perhitungan mereka.

Karena itu dengan serta-merta Sidanti bertanya, “Apakah mereka orang-orang Pajang yang berada di Sangkal Putung?”

“Aku tidak tahu,” sahut Ki Tambak Wedi. Kemudian ia melanjutkan.”Dari Sangkal Pulung atau bukan, tetapi kalau kalian berkelahi sesama kalian, maka membunuh kalian akan sama mudahnya mencekik katak kekeringan.”

Sanakeling dan Sidanti terdiam. Keduanya menundukkan kepala masing-masing. Namun mereka merasa beruntung, bahwa belum terjadi sesuatu di antara mereka. Kalau mereka bertempur, maka anak buah mereka pun pasti tidak akan tinggal diam. Dan kini mereka tidak akan dapat lagi saling menyembunyikan diri, bahwa sebenarnya di dalam padepokan itu telah terjadi keretakan yang semakin lama menjadi semakin parah. Hanya karena Ki Tambak Wedi lah maka mereka tetap berada di pihak masing-masing sambil mengendalikan diri sekuat-kuat hati. Namun Ki Tambak Wedi pun yang tampaknya berdiri di tengah-tengah itu, sebenarnya tidak berpijak di tempatnya dengan jujur. Ia tetap memelihara ikatan di antara mereka, karena mereka mempunyai kepentingan yang bersamaan. Tetapi apabila kepentingan bersama itu telah lampau, maka dengan hati dan darah yang dingin, Ki Tambak Wedi akan dengan mudah membinasakan orang-orang Jipang yang kini berada di pihaknya.

Kesepian itu tiba-tiba pecah, ketika dengan serta-merta pula Sidanti berkata, “He Wuranta. Bukankah kau datang dari Jati Anom?”

Wuranta tersentak. Dengan terbata-bata ia menjawab, “Ya Tuan.” Tetapi hatinya menjadi kecut ketika ia mendengar Ki Tambak Wedi telah mengatakannya lebih dahulu, bahwa orang-orang Pajang telah berada di Jati Anom.

“Guru telah mengatakan bahwa orang-orang Pajang sudah berada di Jati Anom. Lalu apa kerjamu sehingga kau belum mengetahuinya?”

“Aku sudah mengetahuinya, Tuan.”

“Tetapi kau tidak mengatakan. Dari mana aku tahu, bahwa kau telah mengetahuinya.”

Dada Wuranta berdebar-debar mendengar pertanyaan itu. Dicobanya untuk tetap tenang dan menjawabnya, “Tuan. Bukankah aku baru saja datang? Aku melihat Tuan berdiri di atas batu itu dengan wajah merah padam. Bagaimana aku berani berbuat sesuatu?”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Apakah baru sekarang kau ketahui?”

“Pasukan Untara datang siang kemarin. Baru sore tadi aku berangkat.”

Sekali lagi Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya, “Sekarang katakan, apa yang kau lihat?”

“Pasukan Untara segelar sepapan telah berada di Jati Anom. Lengkap dengan pasukan berkuda.” Meskipun kata-katanya lancar, tetapi terasa juga sebuah getaran yang meragukan. Kini ia berhadapan dengan orang yang bernama Ki Tambak Wedi yang telah mengetahui pula, bahwa pasukan Untara berada di Jati Anom. Apakah Ki Tambak Wedi itu tahu pula tentang dirinya? Kalau demikian, maka akan selesailah tugasnya oleh sebuah tali gantungan.

“Siapakah anak itu?” terdengar Ki Tambak Wedi meNggeram.

“Aku ketemukan anak ini di Jati Anom, Guru.”

“Apakah ia dapat kau percaya?”

“Sampai saat ini, Guru,” jawab Sidanti ragu-ragu. Sebenarnya ia tidak ingin menunjukkan kepercayaan itu langsung di muka Wuranta. Dan Sidanti itu menjadi semakin sulit ketika gurunya bertanya, “Apakah dua orang yang aku jumpai malam tadi mengikutinya dan mengawasinya?”

Sidanti menggigit bibirnya. Tetapi ia menjawab, “Aku masih perlu meyakinkannya, Guru.”

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang Wuranta menundukkan wajahnya, untuk menyembunyikan berbagai kesan yang bergolak di dalam dirinya. Ia senang mendengar kepercayaan Sidanti, dan ia tersenyum di dalam hati mendengar pertanyaan Ki Tambak Wedi yang terlampau berterus terang itu. Tetapi tiba-tiba lehernya berkerut merut, “Apakah Ki Tambak Wedi sedang mencoba menilai tanggapan Sidanti tentang diriku yang salah, yang justru sebenarnya telah diketahui oleh Ki Tambak Wedi?”

Tetapi ternyata tidak demikian. Tiba-tiba Ki Tambak Wedi itu pun meloncat pergi sambil bergumam, “Kalau kalian masih juga bertengkar, maka kalian berdua akan aku bunuh bersama-sama. Tak ada gunanya kalian berdua di padepokan ini. Kau jangan merasa, bahwa justru kau muridku Sidanti. Tetapi kebodohanmu hampir tak dapat dimaafkan.”

Sidanti tidak menjawab. Kepalanya tiba-tiba menunduk. Dan tanpa bertanya sepatah pun dibiarkannya gurunya pergi.

Sepeninggal Ki Tambak Wedi, maka Sidanti pun segera meloncat turun mendapatkan Wuranta. Dilanjutkannya pertanyaannya, “Jadi pasukan Pajang telah berada di Jati Anom?”

“Ya, seperti yang telah dikatakan oleh Ki Tambak Wedi. Dari manakah diketahuinya tentang hal ini?”

“Guru adalah orang aneh. Tetapi bagaimana dengan pasukan Untara itu?”

Wuranta tidak segera menjawab. Sekali lagi ia mengatur perasaannya yang sebenarnya bergejolak. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tiba-tiba Sidanti mendesaknya, “Bagaimana? Kenapa dengan pasukan itu?

“Pasukan Untara datang segelar sepapan, Tuan”

“Bagaimana dengan pasukan Untara itu dibandingkan dengan pasukan Widura?”

Hampir saja terloncat jawaban dari mulutnya, tetapi untunglah ia menjadi sadar, bahwa ia belum pernah melihat pasukan Widura. Maka jawabnya, “Pasukan Widura yang manakah yang Tuan maksud?”

“Oh,” Sidanti menelan ludahnya, “kau belum pernah melihatnya. Pasukan itu berada di Sangkal Putung.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Untunglah ia tidak terlanjur menjawab karena terlampau bernafsu.

“Tetapi bagaimana aku mendapat gambaran tentang kekuatan pasukan Untara itu?”

“Sulit Tuan. Adalah sulit bagiku untuk mengatakan seberapa banyak orang di dalam pasukan itu.”

“Baik, Baik. Guru pasti akan melihatnya sendiri. Kalau tidak, aku akan mengirim seseorang yang cukup berpengalaman melihat kekuatan pasukan.”

“Silahkanlah Tuan,” gumam Wuranta, “aku tidak banyak mengetahui keadaan dan susunan keprajuritan.”

“Kau perlu pengetahuan mengenai hal itu Wuranta, apabila kau akan menjadi seorang prajurit yang baik kelak.”

“Aku tidak begitu bernafsu untuk menjadi seorang prajurit, Tuan. Aku ingin menjadi seorang Demang.”

Sidanti tersenyum. Katanya, “Baik. Kau akan menjadi Demang Jati Anom. Aku akan membunuh Demang yang sekarang ini berkuasa. Bukankah begitu maksudmu?”

Tiba-tiba dada Wuranta berdesir. Telinganya masih terasa ngeri mendengar kata-kata Sidanti itu. Ia sama sekali tidak ingin melihat demangnya terbunuh. Tetapi ia tidak menjawab lain daripada mengangguk dan berkata, “Demikianlah Tuan.”

“Jangan takut,” tetapi hati Sidanti mengumpat habis-habisan. Katanya di dalam hatinya, “Persetan kau. Baru saja kau mulai, kau sudah membayangkan pangkat yang menyenangkan itu. Aku yang sudah lama berada di dalam perjuangan ini sama sekali belum mendapat apa-apa. Membayangkan saja aku belum sempat. Sepantasnya kau aku cekik sampai mati, begitu kami berhasil menduduki Jati Anom dan mengusir pasukan Pajang itu. Dengan demikian, maka pemberontakan Tambak Wedi akan menjadi jelas. Dan Pajang yang baru akan tegak berdiri dan sedang menghadapi Adipati-adipati di pesisir Lor dan Bang Wetan itu akan menjadi semakin sulit kedudukannya. Sementara itu Ki Tambak Wedi akan terus menghimpun kekuatan ke Selatan dan Timur Gunung Merapi.”

Keduanya kemudian terdiam. Langkah mereka seakan-akan menjadi semakin cepat. Dan agak jauh di belakang mereka, berjalan Sanakeling menjinjing bindinya.

Para pemimpin padepokan Tambak Wedi dan orang-orang Jipang yang berada di padepokan itu pun segera mengadakan pertemuan. Kali ini dipimpin sendiri oleh Ki Tambak Wedi. Agaknya kehadiran Untara di Jati Amom telah menumbuhkan persoalan yang harus mendapat perhatian yang cukup.

Tetapi sayang, bahwa Wuranta tidak diperkenankan ikut serta di dalam pembicaraan itu. Hanya orang-orang penting dan mendapat kepercayaan sajalah yang boleh ikut di dalam pembicaraan itu.

“Beristirahatlah,” berkata Sidanti kepada Wuranta, “mungkin kau akan mendapat pekerjaan baru yang lebih penting dari kerjamu yang dahulu.”

“Baik, Tuan,” sahut Wuranta.

Tetapi ketika ia melangkah keluar dari ruangan itu, ia tertegun. Alap-alap Jalatunda menggamitnya sambil berbisik, “Jangan kau ganggu gadis itu.”

“Ah,” Wuranta tersenyum, “apakah aku tidak boleh melihatnya?”

“Aku cekik kau sampai mati. Sekarang kau jangan lagi bersandar kepada kekuatan Sidanti. Nama itu semakin lama menjadi semakin jelek di mata prajurit-prajurit Jipang. Salah sendiri. Sikapnya terlampau sombong. Ia bukan Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan. Tetapi ia bersikap seolah-olah berkuasa melampaui Tohpati itu.”

“Ki Sanakeling hampir berkelahi melawan anak muda itu.”

“He? Begitu?”

“Ya.”

“Aku belum sempat menemuinya. Aku harap demikian. Kalau tidak, maka akulah yang akan berkelahi kelak.”

“Perkara gadis itu?”

“Mungkin. Mungkin juga karena kesombongannya. Aku tidak dapat lagi diperintahnya seperti hari-hari yang lampau.”

“Tetapi pasukan Untara telah datang. Apakah kalian akan sibuk dengan pertentangan pribadi?”

Alap-alap Jalatunda terdiam. Tetapi kerut-merut di keningnya tampak semakin dalam. “Kau dapat bertemu dengan gadis itu?” tiba-tiba Alap-alap Jalatunda bertanya.

“Kenapa?”

“Tetapi apakah kau berpihak kepada Sidanti?”

“Aku selalu mementingkan kepentingan bersama.”

“Persetan. Kau mau apa tidak membawa pesanku kepada gadis itu?”

“Baiklah. Itu tidak ada sangkut pautnya dengan pasukan Untara.”

“Katakan aku menginginkannya. Kalau ia bersedia, maka aku akan mengorbankan segala-galanya untuknya.”

“Baik, Tuan. Pesan itu akan sampai segera. Siang ini.”

Wuranta pun kemudian meninggalkan rumah itu. Ketika ia berpaling, ia melihat para pemimpin agaknya telah semakin banyak hadir. Bahkan ia melihat beberapa orang penjaga telah siap pula di muka rumah itu. Menilik perbedaan sikap dan pakaian maka yang berjaga-jaga di luar itu datang dari kedua belah pihak.

Dan kini Wuranta telah mendapatkan suatu kepastian, bahwa di dalam padepokan itu pun telah terjadi keretakan yang gawat. Suatu hal yang menguntungkan bagi pasukan Untara. Tetapi bagaimana dapat memanfaatkan keretakan itulah yang harus dicari saat dan kesempatan yang tepat.

Meskipun Wuranta merasa juga agak lelah dan kantuk, namun ia tidak ingin tidur. Ia ingin tetap bangun dan berjaga-jaga. Kalau-kalau ada sesuatu keputusan mengenai dirinya, maka ia tidak akan diseret selagi ia sedang tidur.

Tetapi tiba-tiba Wuranta teringat akan pesan Alap-alap Jalatunda untuk menemui Sekar Mirah dan menyampaikan pesannya. Pesan yang gila.

“Hem,” Wuranta menarik nafas dalam-dalam, “apakah aku akan menyampaikan pesan itu?”

Sementara itu matahari yang telah mulai memanjat langit di ujung Timur, telah memancarkan sinarnya yang kekuning-kuningan. Dedaunan menjadi cerah dan segar. Tetes-tetes embun yang masih menyangkut di rerumputan memantulkan kilatan cahaya matahari yang binar.

Wuranta masih saja duduk di muka pondokan yang diperuntukkannya. Pondokan pada sebuah rumah yang didiami oleh seorang laki-laki dan perempuan tua. Suami isteri yang agaknya telah terlampau lama menghuni padepokan ini.

“Apakah Angger tidak ingin tidur?” bertanya kakek penghuni rumah itu, “Ke manakah Angger semalam tadi pergi?”

“Jalan-jalan saja, Kek,” sahut Wuranta.

“Huh, tak ada seorang anak muda dari padepokan ini yang sempat berjalan-jalan. Tetapi agaknya Angger bukan anak muda dari padepokan ini.”

“Aku anak Jati Anom.”

“O, pantas, pantas. Aku baru melihat Angger setelah Angger di tempatkan di rumah ini.”

“Ya, Kek.”

“Bagus. Angger telah memilih pihak yang benar. Ki Tambak Wedi adalah seorang yang tidak dapat ditakar kemampuannya, ia mampu menangkap angin taufan, seperti Ki Ageng Sela. mampu menangkap petir. Meskipun aku sudah tua, tetapi aku masih bersedia mengangkat, senjata seperti anak-anak muda apabila orang-orang Pajang benar-benar akan menahancurkan padepokan ini. Bukankah orang-orang Pajang telah merencanakannya demikian hanya karena Adipati Pajang menjadi iri hati atas kesaktian Ki Tambak Wedi.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia tidak menjawab.

“Ah, agaknya Angger mengantuk dan payah. Silahkanlah beristirahat. Di amben dalam telah disediakan oleh nenek, ubi rebus. Tidak sekedar ubi rebus, tetapi ubi yang direbus dengan legen. Manis, Ngger.”

“Terima kasih, Kek,” Wuranta pun segera bangkit. Perutnya memang merasa lapar. Dan ubi badek adalah makanan yang sangat digemarinya. Namun meskipun kemudian mulutnya mengunyah ubi, pikirannya masih juga dikalutkan oleh berbagai macam persoalan. Pesan Alap-alap Jalatunda, pembicaraan para pemimpin padepokan ini dan orang-orang Jipang dan berbagai macam yang lain. Disadarinya, bahwa keadaan akan dapat berkembang dengan cepatnya.

Setelah kenyang, maka Wuranta segera bangkit. Perlahan-lahan ia pergi ke biliknya, berbaring-baring untuk melepaskan waktu. Namun ia tidak melepaskan pedang dari lambungnya.

“Baiklah, aku penuhi pesan Alap-alap Jalatunda,” desisnya. “Aku mengharap bahwa perkembangan daripadanya tidak akan berbahaya bagi Sekar Mirah, tetapi dapat mempertajam keretakan antara Sidanti dan Alap-alap yang buas itu.”

Akhirnya Wuranta pun berketetapan hati untuk menemui gadis itu di pinggir sungai, menyampaikan pesan Alap-alap Jalatunda dan melihat kemungkinan yang dapat terjadi. Kini ia akan berjalan seorang diri. Tidak dalam pengawasan Alap-alap Jalatunda, karena anak muda itu sedang mengadakan pembicaraan dengan pimpinan-pimpinan yang lain.

Wuranta itu kemudian menjadi gelisah, ia tidak lagi dapat berbaring di dalam biliknya. Perlahan-lahan ia bangkit dan melangkah ke luar. Di halaman dilihatnya kakek penghuni rumah itu sedang menyiangi tanamannya.

“Kau tidak tidur, Ngger?”

“Tidak, Kek.”

“Dua malam Angger berada di sini. Dua malam Angger tidak tidur di pondokan.”

Wuranta tersenyum. Tetapi ia merasa aneh dengan badannya sendiri. Ia tidak merasa terlampau lelah dan terlampau kantuk.

“Aku akan berjalan-jalan, Kek. Aku akan menikmati cerahnya pagi di padepokan ini.”

“Heh,” kakek itu tersenyum, “silahkan. Seumurku ini pun agaknya aku tidak sempat menikmati cerahnya pagi.”

Kalau begitu, Kakek banyak kehilangan pada usia-usia muda Kakek.”

“Mungkin. Mungkin aku banyak kehilangan. Tetapi aku banyak pula menemukan. Aku kehilangan cerahnya pagi, tetapi aku dapat menyadap ilmu Ki Tambak Wedi sebanyak-banyaknya. Ilmu kasampurnan lahir dan batin.”

“Ilmu macam apakah itu?”

“Ilmu kasunyatan. Persoalan kita adalah persoalan yang nyata. Kita manfaatkan apa yang dapat kita lihat dan kita raba dan kita rasakan.”

“Maknanya?” bertanya Wuranta.

“Kemampuan berpikir menguasai alam. Memecahkan teka-teki yang memenuhi keadaan di sekitar kita. Dengan demikian maka kita akan menjadi rajin bekerja dan mencari. Menguasai dan memanfaatkan alam. Menghisap sari-patinya.”

“Itu saja?”

“Apa lagi?”

“Itulah sebabnya Kakek banyak kehilangan. Kakek tidak dapat menikmati cerahnya pagi. Apalagi menikmati kurnia Pencipta pagi yang cerah. Yang memiliki rahasia yang tak akan terpecahkan, sehingga sia-sialah Kakek menghabiskan umur.”

Laki-laki itu terkejut mendengar jawaban Wuranta, sehingga ia terhenyak beberapa saat. Ditatapnya wajah anak muda yang tersenyum-senyum itu.

Tiba-tiba orang tua itu berkata, “Agaknya Angger mempunyai pengetahuan yang berbeda?”

“O, aku sama sekali tidak berpengetahuan, Kakek. Apalagi berilmu. Tetapi aku hanya sekedar mencoba mengerti tentang diri sendiri. Siapa dan apakah aku ini?”

“Kasian,” orang tua itu seakan-akan mengeluh, “kasian benar kau, Ngger. Lihat, betapa Ki Tambak Wedi mampu menjadikan dirinya seorang yang maha sakti karena ia mampu memecahkan teka-teki alam di sekitarnya.”

“Dari manakah Ki Tambak Wedi menemukan kekuatannya dan kemampuannya yang luar biasa itu?”

“Justru ia menguasai dan memanfaatkan kekuatan alam di sekitarnya.”

Wuranta tersenyum. Ia tidak akan dapat berbantah dengan orang tua itu. Bertahun-tahun orang tua itu mengunyah dan menelan saja pandangan hidup yang didengarnya dari Ki Tambak Wedi. Meskipun demikian, Wuranta itu bertanya, “Dan apakah yang sudah Kakek dapatkan setelah Kakek menyadap ilmu Ki Tambak Wedi sebanyak-banyaknya? Ilmu yang dapat Kakek pergunakan menangkap taufan atau menangkap asap atau menangkap petir seperti Ki Ageng Sela?”

Orang tua itu terkejut mendengar pertanyaan Wuranta. Tiba-tiba ia terdiam. Sejenak ia menjadi bingung.

Wuranta masih saja tersenyum. Tiba-tiba ia berkata, “Sudahlah Kakek, bekerjalah. Aku akan berjalan-jalan. Aku tidak pernah berusaha menghisap kekuatan yang diberikan oleh alam seperti cara yang ditempuh oleh Ki Tambak Wedi. Tetapi aku ingin menikmati cerahnya pagi. Mengucap syukur kepada Pencipta pagi yang cerah dan memohon kekuatan kepada-Nya untuk menghadapi tiap kesulitan.”

“Kepada siapa?” orang tua itu bertanya.

“Tidak kepada benda-benda yang memiliki segala macam kekuatan, tidak berusaha mencari dan memanfaatkan dan menguasai rahasia kekuatan dari pepohonan dan sudut-sudut yang gelap, tetapi kepada Pencipta setiap benda, setiap pepohonan dan setiap sudut-sudut yang gelap dan terang.”

Orang tua itu masih saja menjadi bingung. Bahkan wajahnya kini menjadi berkerut-merut. Tetapi Wuranta sudah melangkahkan kakinya sambil berkata, “Lain kali kita bercakap-cakap, Kakek. Sekarang aku akan berjalan-jalan.”

“Silahkan, Ngger, silahkan,” jawab orang tua itu. Namun kepalanya masih dilingkari oleh kata-kata Wuranta yang terdengar aneh di telinganya.

Dalam pada itu Wuranta telah meninggalkan halaman rumah kakek tua itu. Namun tiba-tiba ia menjadi cemas. Kalau orang tua itu mengatakan pendiriannya kepada kawan-kawannya, maka setidak-tidaknya ia akan mendapat perhatian khusus. Tetapi Wuranta akhirnya dapat melupakan pembicaraan itu. Kakek tua itu pasti tidak akan mempersoalkannya, karena orang tua itu tidak segera memahami kata-katanya dan kata-katanya sendiri.

Langkah Wuranta itu kemudian membawanya ke jalan padepokan yang kemarin dilewatinya bersama Alap-alap Jalatunda. Menyelusuri tebing sungai. Sepanjang jalan Wuranta selalu mereka-reka, bagaimana ia akan menyampaikan pesan Alap-alap Jalatunda kepada Sekar Mirah.

“Mudah-mudahan ia tidak salah mengerti,” desis Wuranta seorang diri. “Mudah-mudahan ia sadar akan persoalan yang dihadapinya dan dapat memanfaatkannya.”

Tetapi alangkah kecewa Wuranta ketika ia sampai kebelik sungai itu. Ia tidak melihat Sekar Mirah mencuci pakaiannya seperti kemarin.

“Hem,” desahnya, “agaknya tidak setiap hari ia pergi ke sungai mencuci pakaian. Mungkin hari ini pakaiannya tidak ada lagi yang dicucinya. Bagaimana aku dapat menemuinya?”

Wuranta itu menjadi agak bimbang. Apakah ia dapat menemui gadis itu di pemondokannya? Wuranta tidak berani menerima akibat dari perbuatannya itu. Kalau para penjaga dan pengawas melihatnya, maka akibatnya adalah kegagalan seluruh tugasnya.

“Apa yang harus aku lakukan?” gumamnya.

Tetapi tanpa disadarinya langkahnya telah menyelusuri jalan menuju ke pondokan Sekar Mirah. Sekali dua kali di jumpainya juga beberapa orang laskar yang sedang meronda. Tetapi para peronda itu seakan-akan tidak menghiraukannya. Mereka telah mengenal Wuranta, karena Wuranta sering berjalan bersama Sidanti, Alap-alap Jalatunda, dan pemimpin yang lain.

Tetapi tanpa diduga-duganya langkahnya terhenti. Di lorong sempit yang menuju ke sungai ia melihat Sekar Mirah berjalan di depannya dalam arah yang berlawanan. Tiba-tiba saja hatinya menjadi berdebar-debar. Dan tiba-tiba saja keringatnya mengalir membasahi punggungnya.

“Aku hanya sekedar membawa pesan,” desisnya di dalam hati untuk menenangkan perasaannya sendiri. “Mudah-mudahan ia tidak salah terima.”

Dadanya menjadi semakin tegang ketika di kejauhan ia melihat Sekar Mirah itu tersenyum kepadanya. Senyum yang cerah, secerah sinar pagi yang mengusap ujung pepohonan.

Langkah mereka, semakin lama menjadi semakin dekat. Dan jantung Wuranta seakan-akan berhenti berdenyut ketika ia mendengar gadis itu menyapanya, “Selamat pagi, Tuan.”

“Selamat pagi,” jawab Wuranta tergagap. Sikapnya tiba-tiba berubah. Tidak selincah sikapnya kemarin.

“Dari mana Tuan sepagi ini?”

“E,” Wuranta agak kebingungan mencari jawab. Akhirnya sekenanya ia berkata, “Jalan-jalan, Nini.”

“Sepagi ini?”

“Justru sepagi ini, Nini. Pagi yang cerah,” Wuranta telah menjadi agak tenang sehingga kata-katanya telah mulai meluncur agak lancar.

Tetapi meskipun demikian hatinya masih saja diliputi oleh kebimbangan tentang pesan Alap-alap Jalatunda yang harus disampaikannya.

Dalam pada itu terdengar Sekar Mirah bertanya pula, “Kenapa Tuan hanya seorang diri? Di manakah kawan Tuan yang seorang kemarin?”

“Ia adalah orang yang penting di dalam kedudukannya, Nini. Pagi ini orang-orang penting sedang mengadakan pertemuan. Sedang aku adalah seorang yang hampir tak berarti di sini.”

Sekar Mirah tersenyum. Katanya, “Tuan terlampau merendahkan diri.”

“Aku berkata sebenarnya.”

“Tetapi bagaimanakah kedudukan kawan Tuan kemarin di samping kedudukan Sidanti?”

“Ada bedanya Nini, Sidanti adalah pemimpin padepokan ini, sedang Alap-alap Jalatunda adalah pemimpin Laskar Jipang.”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyangka bahwa Wuranta adalah anak muda dari padepokan ini. Kalau Wuranta itu salah seorang laskar Jipang. maka setidak-tidaknya ia pernah mendengar nama Sekar Mirah sebagai seorang puteri Demang Sangkal Putung yang akan dapat membedakan kedudukan Sidanti dan Alap-alap Jalatunda. Sebab keduanya pernah berada di sekitar Sangkal Putung, bahkan Sidanti sendiri pernah berada di kademangan itu.

Tetapi hal itu tidak penting bagi Sekar Mirah. Ia tidak pula bertanya kenapa justru anak itu menjadi sahabat Alap-alap Jalatunda, meskipun Sekar Mirah tidak tahu, bahwa persahabatan itu adalah persahabatan yang semu, yang didorong pula oleh keharusan Alap-alap Jalatunda mengawasi Wuranta.

Dengan sadar Sekar Mirah menghadapi keduanya. Sidanti dan Alap-alap Jalatunda. Itulah sebabnya ia bertanya, “Jadi Alap-alap Jalatunda itu benar-benar seorang pemimpin Laskar Jipang?”

“Ya.”

“Alangkah menarik. Usianya agaknya masih cukup muda. Tetapi ia telah memangku kedudukan yang cukup berat.”

“Ya.”

“Sayang ia tidak berjalan bersama Tuan pagi ini.”

Kening Wuranta berkerut. Debar dadanya menjadi semakin deras. Ia merasa bahwa ia telah mendapatkan kesempatan. Tetapi ia masih saja ragu-ragu.

“Apakah sepagi ini para pemimpin padepokan ini sudah mulai mengadakan pembicaraan?”

“Dalam keadaan khusus, Nini.”

“Kenapa?”

“Pasukan Untara telah berada di Jati Anom.”

“He,” tiba-tiba wajah Sekar Mirah itu berubah. Tetapi hanya sejenak. Gadis itu berusaha untuk menguasai perasaannya sekuat-kuatnya. Tetapi sejenak kemudian, ia melangkah sambil bergumam, “Aku melihat dua orang prajurit berjalan kejurusan ini. Aku tidak mau mereka mencurigai aku atau Tuan.”

“Oh,” dada Wuranta menjadi berdebar-debar. Ketika ia berpaling, ia memang melihat dua orang prajurit berjalan di kejauhan. Tetapi ia telah menyatakan kesanggupannya menyampaikan pesan Alap-alap Jalatunda. Karena itu dengan tergesa-gesa ia berkata, “Nini, sebenarnya aku membawa pesan dari Alap-alap Jalatunda. Pesan itu mengatakan, bahwa Alap-alap Jalatunda menginginkan Nini untuknya. Ia sanggup mengorbankan apa saja untuk kepentingan itu.”

Wuranta melihat wajah Sekar Mirah menjadi kemerah-merahan. Tetapi yang sama sekali tidak diduganya gadis itu tersenyum sambil menyahut dengan serta-merta, “Aku menunggunya.”

“Gila. Gila,” desis Wuranta di dalam hati. Bagaimana mungkin jawaban itu begitu cepatnya tanpa dipikirkannya? Apakah gadis itu telah mempunyai perhitungannya tersendiri atau memang semuanya ini telah masuk di dalam rencananya.

Tetapi sebelum Wuranta sempat berkata lagi, Sekar Mirah telah meneruskan perjalanannya. Kedua orang peronda berjalan ke arahnya. Perlahan-lahan Wuranta melangkahkan kakinya pula, namun dadanya masih dipenuhi berbagai macam persoalan antara Alap-alap Jalatunda dan gadis itu.

Kedua peronda itu kemudian berjalan di sisinya melampauinya. Keduanya berpaling dan salah seorang daripadanya bertanya, “Kau sudah kenal gadis itu?”

Wuranta menggeleng sambil tersenyum, “Belum. Apakah ia adikmu?”

“Pantas kau berani mengganggunya.”

“Aku tidak mengganggu. Aku hanya mengucapkan selamat pagi. Sebab aku heran, bahwa padepokan ini telah melahirkan gadis secerah matahari pagi.”

“Dengar,” berkata yang seorang lagi, ingat-ngatlah kata-kataku ini. Supaya lehermu tidak dipancung oleh Sidanti, jangan mencoba-coba mengganggunya.”

“He,” Wuranta pura-pura terkejut “apakah ia adik Sidanti?”

“Setan belang itu tidak bersanak keluarga di sini, selain gurunya yang hidungnya mancung seperti paruh burung hantu, dan baru-baru ini datang pamannya yang bernama Argajaya. Gadis itu adalah gadis simpanannya yang dicurinya duri Sangkal Putung.”

“O,” Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya, “maaf. Aku tidak tahu.”

“Untunglah bahwa kami yang melihat perbuatanmu. Kalau orang-orang padepokan ini, mungkin kau segera akan digantung.”

“Maafkan aku,” desis Wuranta pula.

Kedua orang itu pun segera berlalu. Wuranta sama sekali sudah tidak memperhatikannya lagi. Tetapi yang mencemaskannya adalah bagaimanakah jadinya apabila Alap-alap Jalatunda ingin melaksanakan maksudnya?, “Itu adalah tanggung jawabnya,” desisnya, “tetapi apakah anak yang liar itu tidak berbahaya bagi Sekar Mirah?”

Wuranta kemudian berjalan kembali ke pondoknya dengan penuh kebimbangan dan kecemasan. Tetapi ia harus menyampaikan jawaban Sekar Mirah, “Aku menunggunya.”

“Kalau saja jawaban itu dilandasi oleh kesadaran dan perhitungan yang cermat,” desisnya di dalam hati. “Tetapi Alap-alap itu bukan seorang anak muda yang dungu.”

Ketika Wuranta sampai di halaman pondokannya, ia melihat kakek yang menghuni rumah itu masih bekerja di halamannya.

Ketika kakek tua itu melihat Wuranta maka segera disapanya, “Cepat sekali Angger menikmati pagi? Apakah Angger sudah puas?”

Wuranta tersenyum, jawabnya, “Sudah, Kakek. Aku sudah puas.”

Kakek tua itu pun tersenyum pula. Katanya kemudian, “Angger mendapat kepuasan dengan kesejukan dan kesegaran pagi. Aku mendapat kepuasan dengan kerja ini. Tetapi kerjaku menghasilkan, sedang selain kepuasan apakah yang Angger dapat dengan berjalan-jalan itu?”

Wuranta mengerutkan alisnya. Tetapi kemudian ia tersenyum kembali, jawabnya, “Kau mendapatkan sesuatu yang langsung dapat kau rasakan, bahkan kau raba, Kek.”

“Lalu, apakah ada hal-hal lain daripada ini?”

“Tentu. Berapa umurmu, Kek?”

“Limapuluh tahun.”

“He?” Wuranta terkejut mendengar jawaban itu.

“Kenapa kau terkejut, Ngger?

“Kakek terlampau banyak bekerja. Kakek kurang sekali menikmati keindahan pagi. Itulah sebabnya dalam usia Kakek yang baru setengah abad itu, Kakek tampaknya telah terlampau tua. Ayahku adalah seorang petani yang bekerja setiap hari hampir sehari penuh. Tetapi setiap kali ayahku menengadahkan wajahnya ke langit. Melihat matahari yang baru terbit di pagi hari atau melihat bintang gemintang yang bergayutan di langit di malam hari. Setiap kali ayahku menyebut nama Penciptanya. Maka hatinya menjadi tenteram dan damai. Kedamaian hati dan kerja yang tekun itulah agaknya yang menjadikan ayahku masih kelihatan terlampau muda meskipun umurnya sudah tujuhpuluh lima tahun.”

Kakek tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Benarkah itu?”

“Ya, Kek. Aku tidak berbohong. Kerja keras, tetapi kita gembira karena kita menyadari arti dari hidup kita. Aku melihat Kakek terlampau tekun bekerja, tetapi kerja itu menjadi tujuan hidup Kakek.”

“Kalau aku tidak bekerja begini keras, aku akan mati kelaparan, Ngger.”

“Kerjalah, Kek. Kerja keras. Tetapi hidup bukan sekedar bekerja.”

“Kalau aku seorang yang kaya raya, Ngger, maka aku tidak perlu bekerja begini berat.”

Wuranta kini tertawa. Ia mengerti jalan pikiran kakek tua itu. Sedang kakek tua itu menangkap kata-katanya begitu wantah, seperti kata-kata yang terucapkan. Tetapi kakek itu tidak dapat menangkap maksud yang seharusnya diungkapkan dari balik kata-katanya. Karena itu maka Wuranta berkata, “Maaf, Kakek. Aku terlampau lelah, aku ingin beristirahat.”

“Silahkan, Ngger. Silahkan beristirahat. Angger juga terlampau keras bekerja, supaya Angger tidak menjadi lekas tua.”

Wuranta tertawa semakin keras. Jawabnya, “Ya, ya Kek. Tetapi aku menyadari arti dari kerja yang aku lakukan. Bukan karena sekedar takut kelaparan.”

“Ah,” orang tua itu mengerutkan keningnya, tetapi ia pun kemudian tertawa. Namun suara tertawanya sama sekali tidak mengungkapkan pengertiannya atas kata-kata Wuranta.

Tetapi Wuranta tidak menghiraukannya lagi. Ia ingin beristirahat, menganyam persoalan yang baru saja dihadapi dan masih harus dipecahkannya.

Tanpa menanggalkan pakaian, dan pedangnya, Wuranta merebahkan dirinya di sebuah amben bambu di dalam bilik yang diperuntukkan baginya. Terdengar amben itu berderit, dan berderit pulalah hati anak muda itu.

“Hem,” desisnya, “ternyata pekerjaan ini tidak semudah yang aku sangka. Mudah-mudahan aku berhasil.”

Wuranta yang lelah itu akhirnya sekali dua kali menguap, dan sejenak kemudian maka ia pun telah tertidur.

Tetapi agaknya anak muda itu tidak cukup lama beristirahat. Tiba-tiba ia terkejut ketika, ia mendengar pintu berderak. Cepat ia meloncat bangun dan dilihatnya Alap-alap Jalatunda berdiri di hadapannya, memandanginya seperti seekor harimau lapar melihat seekor rusa yang masih muda.

“He Wuranta,” desisnya, “kau mampu bangun dari tidur secepat itu, dan secepat itu siap pula berdiri tegak, menghadapi setiap kemungkinan?”

Wuranta tidak tahu arah pertanyaan itu, karena itu ia tidak menjawab.

“Hem,” desis Alap-alap Jalatunda, “ternyata kau bukan anak muda sebodoh yang aku sangka. Sejak aku melihat kau berkelahi di perjalanan ke Jati Anom, aku sudah menyangka, bahwa kau memiliki bekal cukup untuk bermain-main dengan pedang.”

“Apakah yang sebenarnya Tuan maksud?”

“Kau sudah mengganggu Sekar Mirah. Dua orang melihat dan memberitahukan kepadaku. Ingat, dengan sedikit ramuan kata-kata, aku dapat menggerakkan Sidanti untuk memancungmu di perapatan.”

“Apakah katanya?”

“Hem, kau agaknya membanggakan kepandaianmu yang sama sekali tidak berarti itu?”

“Kapankah Tuan lihat aku berkelahi dengan seorang laki-laki di perjalanan ke Jati Anom?”

Tiba-tiba Alap-alap Jalatunda terbungkam. Tanpa disadari ia telah terlanjur mengatakan apa yang sudah dilihatnya ketika ia dengan diam-diam mengikuti Wuranta. Sebenarnya Wuranta sama sekali tidak terkejut mendengarnya, tetapi ia harus berpura-pura tidak tahu.

“Tuan, aku tidak tahu kata-kata Tuan semuanya. Aku sama sekali tidak mengganggu Sekar Mirah. Aku sama sekali tidak berkelahi dengan siapa pun juga. Memang aku bertemu, dan ditegur oleh dua orang laskar Tuan. Tetapi apakah aku harus menjawab bahwa aku sedang menyampaikan pesan Alap-alap Jalatunda kepada Sekar Mirah? Bukankah lebih baik bagi Tuan jika aku mengiakan dan pura-pura saja tidak tahu siapakah gadis itu?”

Alap-alap Jalatunda mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Wuranta. Bahkan kemudian ia tertawa sambil berkata, “Ternyata kau memang tidak terlampau bodoh, Wuranta. Terima kasih. Agaknya kau berbuat sesuatu yang menyenangkan.”

“Apakah yang menyenangkan?” Wuranta masih pura-pura bertanya.

“Kau, kau telah berbuat sesuatu yang menyenangkan aku. Kau telah menghindarkan aku dari kecurigaan kedua orang prajurit itu, meskipun ia adalah prajuritku sendiri, tetapi seandainya kau tidak menerima teguran itu dan mengatakan bahwa akulah yang menyuruhmu, maka orang itu pasti akan mengatakannya kepada kawan-kawannya, meskipun tidak bermaksud jahat. Tetapi hal yang demikian itu berbahaya, sebab mungkin orang-orang Sidanti akan mendengarnya pula.”

“Bagaimana kalau Sidanti mendengarnya?”

Alap-alap Jalatunda mengerutkan keningnya. Tiba-tiba wajahnya menjadi semburat merah dan giginya gemeretak, “Persetan, dengan orang itu! Aku kini tidak takut lagi. Tetapi untuk berhadapan dengan Sidanti aku harus tahu benar, bahwa aku tidak sedang berebut tulang kering. Bagaimana pesan itu?”

“Sudah aku katakan, Tuan.”

“Bagaimanakah jawabnya?”

Wuranta menjadi ragu-ragu.

“Jangan membisu. Kau tinggal menirukan jawabannya. Menirukan saja. Bukan kau yang harus menjawab.”

Wuranta menarik nafas panjang. Kemudian ia menjawab, “Ia menanti Tuan.”

“He,” mata Alap-alap itu terbelalak, “ia menanti aku?”

“Demikianlah jawabnya.”

“Hanya itu?”

“Ya, hanya itu. Sebab kedua laskar Tuan yang keparat itu segera datang dan Sekar Mirah pun meninggalkan aku.”

“O, setan betul kedua prajurit itu. Tetapi, tetapi Sekar Mirah berkata demikian?”

“Ya, Tuan. Tuan dapat percaya atau tidak. Tetapi demikianlah pendengaran telingaku.”

“Baik. Baik. Aku percaya kepadamu. Nanti malam aku akan datang kepadanya.”

“He,” kini Wuranta-lah yang terkejut, “nanti malam Tuan akan datang?”

“Ya, bagaimana?”

“Bagaimana Tuan akan datang kepada Sekar Mirah di dalam padepokan ini? Apakah dengan demikian Tuan tidak akan langsung berhadapan dengan Sidanti?”

“Bodoh kau. Aku akan datang dengan diam-diam. Kalau Sekar Mirah memang menerima aku, maka aku tidak akan menemui kesulitan apa-apa.”

“Apakah Sekar Mirah akan Tuan bawa pergi?”

“Kemana aku harus pergi? Oh, kau ternyata terlampau bodoh. Apakah perlunya aku pergi. Aku dapat datang ke pondoknya setiap saat dengan diam-diam. Kenapa harus pergi?”

“Bagaimana mungkin Tuan? Bagaimana mungkin Tuan berbuat demikian?”

“Itu urusanku. Jangan ributkan lagi hubungan kami seterusnya. Aku akan datang setiap saat aku anggap aman. Tak akan ada kesulitan apa-apa. Orang-orangku akan dapat membantu aku mengawasi keadaan selagi aku berada di rumah itu.”

“Tuan,” nafas Wuranta menjadi tersengal-sengal, “apakah Tuan tidak bermaksud membawanya pergi dan kemudian kawin?”

“Kawin?” sahut Alap-alap Jalatunda hampir berteriak karena terkejut mendengar pertanyaan itu. Tetapi kemudian suara tertawanya pun meledak. Demikian kerasnya sampai tubuhnya berguncang-guncang. Jawabnya, “Oh anak yang malang. Kenapa kau berpikir bahwa aku akan kawin? Apakah saat seperti ini adalah saat yang baik untuk kawin. Tidak Wuranta. Aku tidak mau kawin sebelum aku memenangkan peperangan ini. Aku cemas kalau malam ini aku kawin, besok aku ditangkap Untara.”

“Lalu apa yang akan Tuan lakukan?”

“Tidak apa-apa. Hubungan kami tidak perlu diikat dengan perkawinan atau ikatan macam apapun. Sekar Mirah akan dapat kawin dengan siapa saja kelak. Dengan Sidanti atau dengan orang lain.”

“Oh,” keringat dingin kini memenuhi tubuh Wuranta. Ini adalah perbuatan yang liar dan bahkan biadab. Seandainya Sekar Mirah menyadari perbuatannya sebagai suatu usaha untuk melepaskan diri dari lingkungan padepokan ini, maka ia akan kecewa. Bahkan mungkin ia akan kecewa sepanjang hidupnya menghadapi Alap-alap yang buas ini.

“Kenapa kau menjadi bingung?” bertanya Alap-alap Jalatunda.

“Tidak. Aku tidak bingung. Aku hanya sedikit kurang mengerti. Kenapa Tuan tidak saja mengambilnya sebagai isteri. Bukankah dengan demikian hubungan Tuan dengan gadis itu tidak akan pernah merasa tenteram? Bukankah Tuan telah mengatakan akan mengorbankan apa saja untuk kepentingan itu. Aku kira juga kedudukan Tuan dan cita-cita Tuan. Tuan akan dapat meninggalkan padepokan ini dan hidup di tempat yang jauh bersama gadis itu selelah Tuan melamarnya kepada ayahnya.”

Sekali lagi Alap-alap Jalatunda itu tertawa terbahak-bahak. “Tidak, tidak demikian Wuranta. Tetapi kau jangan menghiraukan persoalan ini. Kau sudah cukup berjasa bagiku. Kau telah mengikat hubungan yang tak berhasil aku sambung sendiri. Aku dapat berhubungan dengan perempuan-perempuan yang cukup dewasa menghadapi keadaan, tetapi menghadapi gadis-gadis yang masih terlampau hijau aku menjadi canggung. Dan bahkan aku menjadi bingung.”

“Itu adalah pertanda bahwa sebenarnya Tuan merasa bahwa, tubuh Tuan tidak lagi sesuai untuk gadis-gadis seperti Sekar Mirah.”

“Apa?” tiba-tiba wajah Alap-alap Jalatunda menyadi merah. “Kau maksudkan bahwa aku tidak pantas berhubungan dengan Sekar Mirah?”

Wuranta terkejut melihat sikap Alap-alap Jalatunda itu. Agaknya kata-katanya terdorong terlampau tajam, sehingga Alap-alap itu menjadi marah kepadanya.

Karena itu, maka seterusnya ia mencoba mengendalikan dirinya dan mencoba mempergunakan pikirannya untuk menguasai perasaannya. Ketika kemudian dilihatnya Alap-alap Jalatunda benar-benar marah, maka Wuranta menahan dirinya sekuatnya untuk tidak berkata terlampau lancang.

“Wuranta,” geram Alap-alap Jalatunda dengan mata yang menjadi kemerah-merahan, “ternyata kau benar-benar gila dan ingin mati di padepokan ini. Kau mencoba mencampuri persoalanku dengan Sekar Mirah. Kau mencoba mempengaruhi perasaanku supaya aku menjauhkan diri dari gadis yang menurut katamu justru telah bersedia menungguku.”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan sangat hati-hati, “Tuan agaknya salah paham.”

Alap-alap Jalatunda mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menyawab.

“Aku berkata bahwa Tuan merasa tubuh Tuan tidak sesuai lagi untuk gadis-gadis seperti Sekar Mirah. Aku tidak mengatakan bahwa sebenarnya demikian. Tuan, kata-kataku belum selesai. Lanjutannya adalah, seharusnya Tuan jangan merasa demikian. Supaya Tuan tidak menjadi canggung apalagi bingung.”

Alap-alap Jalatunda menggigit bibirnya. Tetapi ia menggeram, “Wuranta, aku tahu bahwa kau mencoba mempermainkan kata-kata. Tetapi aku tahu benar maksud kata-katamu. Aku bukan anak-anak yang dapat kau kelabui dengan kalimat-kalimat yang kau susun jungkir balik. Kau memang berkata seperti yang ingin kau katakan. Aku tidak salah paham. Tetapi yang tidak jelas bagiku adalah maksud kata-katamu itu. Apakah kau sebenarnya ingin mempengaruhi aku agar menjauhkan diri dari Sekar Mirah dan memberi kesempatan kepadamu, ataukah karena kau sekedar terdorong oleh perasaanmu sehingga kau mengucapkan kata-kata itu.”

Wajah Wuranta segera menadi semburat merah. Alap-alap Jalatunda sebenarnya memang bukan anak-anak. Ternyata ia menangkap usahanya untuk memperbaiki kesalahannya. Tetapi hatinya menjadi lega ketika Alap-alap itu berkata, “Wuranta, kali ini kau aku maafkan, sebab aku mengira bahwa kau hanya terlanjur saja menuruti perasaan. Ternyata kau menyampaikan pesan itu kepada Sekar Mirah. Malam nanti aku akan datang kepadanya. Kalau kau tidak sebenarnya menyampaikan pesan itu, maka kau akan aku gantung di prapatan di muka regol padepokan dengan seribu macam alasan yang pasti akan diterima oleh setiap orang yang tinggal di padepokan ini. Apalagi keadaan kini menjadi semakin tegang karena kedatangan Untara. Ki Tambak Wedi sendiri akan melihat, apakah benar pasukan Untara itu segelar sepapan seperti yang kau katakan. Agaknya Ki Tambak Wedi kurang percaya dan ia mempunyai perhitungan tersendiri. Justru karena itu aku harus segera mendapatkan Sekar Mirah sebelum besok atau lusa aku harus bertempur melawan orang-orang Pajang di Jati Anom. Mungkin Ki Tambak Wadi tidak akan menunggu mereka kemari, tetapi kitalah yang akan datang ke sana.”

Dada Wuranta menjadi berdebar-debar mendengar kata-kata Alap alap Jalatunda itu. Bukan saja karena Alap-alap Jalatunda itu tahu tepat perasaannya mengenai Sekar Mirah, tetapi juga tentang sikap Ki Tambak Wedi. Ternyata Ki Tambak Wedi benar-benar seorang yang mempunyal pandangan yang cermat nenghadapi pasukan Pajang. Ia tidak lekas percaya dan mempunyai daya pengamatan yang jauh.

Dalam pada itu Alap-alap Jalatunda berkata seterusnya, “Nah, sekarang beristirahatlah. Jangan mencoba mengkhianati aku dengan segala macam fitnah yang dapat kau sampaikan kepada Sidanti, supaya kau selamat di padepokan ini. Jangan kau sangka bahwa Sidanti mempercayaimu sepenuhnya, apalagi Ki Tambak Wedi. Hari ini Ki Tambak Wedi akan ke Jati Anom, sedang kau harus tinggal di padepokan ini sampai besok. Ki Tambak Wedi akan berbuat menurut pertimbangannya. Baik atas orang-orang Pajang di Jati Anom, maupun terhadapmu.”

Dada Wuranta menjadi semakin berdebar-debar. Terasa sikap Ki Tambak Wedi itu berbahaya baginya. Dalam keadaan yang demikian maka Wuranta itu pun teringatlah kepada Ki Tanu Metir. Menghadapi Ki Tambak Wedi, Ki Tanu Metir mendapat sikap yang seimbang. Karena itu, maka keadaannya akan banyak tergantung pada permainan antara kedua orang tua-tua itu.

“Tetapi hari ini aku harus tetap berada di padepokan ini,” katanya di dalam hati.

Tetapi Wuranta itu terkejut ketika ia mendengar Alap-alap Jalatunda berkata, “Beristirahatlah. Tidak hanya hari, tetapi kau dapat beristirahat sampai besok. Sampai Ki Tambak Wedi menentukan sikap. Aku mengucapkan terima kasih bahwa kau telah membantuku apabila katamu benar, bahwa kau telah menyampaikan pesan itu kepada Sekar Mirah.”

Wuranta tidak segera menjawab. Ia masih dikuasai oleh kegelisahan. Dan ia mendengar Alap-alap Jalatunda itu berkata, “Aku akan pergi. Maaf bahwa aku tidak dapat berbuat sesuatu untuk mengusir prajurit-prajurit yang kini di tempatkan di sekitar rumah ini. Itu bukan atas kehendakku. Bukan pula kehendak Sidanti. Sidanti hanya berceritera tentang kau, bagaimana kau diketemukan dan bagaimana kau mendapat kepercayaan daripadanya. Ki Tambak Wedi ternyata mempunyai sikap tersendiri kepadamu. Kau harus tetap tinggal di sini sampai jatuh keputusan lain dari orang tua itu.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia berusaha untuk menguasai dirinya dengan baik. Perlahan-lahan ia bergumam, “Baik. Aku akan tetap tinggal di sini menunggu keputusan itu. Mudah-mudahan Ki Tambak Wedi berhasil melihat keadaan sesungguhnya di Jati Anom, sehingga kecurigaan yang ada itu segera hilang.”

Wuranta menjadi curiga ketika ia melihat Alap-alap Jalatunda tersenyum. Senyum itu terlampau aneh baginya. Tetapi ia tidak berbicara lagi. Dibiarkannya Alap-alap Jalatunda itu meninggalkannya. Ia merasa bahwa Alap-alap itu pun sudah tidak memerlukannya lagi. Ketika ia mengantarkannya sampai ke muka pintu, maka dilihatnya beberapa orang prajurit berjalan hilir mudik di luar regol halaman.

Wuranta pun segera menyadari keadaannya. Orang-orang yang berjaga-jaga itu pasti mendapat perintah untuk mengawasinya. Terasa juga bahwa dadanya menjadi berdebar-debar.

“Hem,” gumamnya di dalam hati, “pekerjaan ini memang penuh dengan bermacam-macam bahaya.”

Tetapi semisal seseorang yang menyeberangi sungai, Wuranta telah berada di tengah-tengah. Maju atau mundur, ia sudah terIanjur menjadi basah. Maka harapannya kemudian adalah mudah-mudahan Ki Tanu Metir dapat mengimbangi permainan Ki Tambak Wedi, sehingga nyawanya tidak segera berada di ujung tali gantungan.

Wuranta masih melihat orang tua yang menghuni rumah itu bekerja dengan tekun di halamannya tanpa memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Seakan-akan kerja yang dilakukan itu adalah pusar dari segenap hidupnya, dan orang tua itu sendiri telah menjadi budak daripadanya, “Sayang,” desisnya di dalam hati. “Seandainya orang tua itu mendengar kata-kata Alap-alap Jalatunda maka Sidanti pun mungkin akan mendengar laporannya. Ternyata ia masih saja sibuk dengan kerjanya.”

Perlahan-lahan Wuranta melangkah ke halaman. Ia merasa bahwa beberapa pasang mata sedang mengamatinya. Tetapi Wuranta pura-pura tidak mengetahuinya. Ketika ia mengamati pagar dinding halaman itu, maka ia melihat bahwa pagar itu tidak terlampau tinggi. Tetapi sudah barang tentu ia tidak dapat berusaha melarikan diri dan melampaui dinding padepokan Tambak Wadi meskipun ia akan dengan mudah keluar dari halaman itu.

“Apakah Angger sudah cukup beristirahat?” terdengar orang tua yang sedang bekerja di halamannya itu bertanya.

“Sudah, Kek,” sahut Wuranta, “sudah terlampau cukup.”

“Apakah Angger akan berjalan-jalan lagi untuk menikmati siang yang cerah ini?”

“Di halaman ini pun aku dapat menikmatinya.”

Orang tua itu berhenti bekerja. Dipandanginya wajah Wuranta sambil berkata, “Kenapa di halaman ini? Apakah Angger tidak dapat menikmati pagi di halaman ini pula?”

Wuranta tersenyum. Katanya, “Teruskan kerjamu, Kek. Aku tidak akan mengganggu dengan bermacam-macam percakapan yang tidak akan berarti apa-apa buat kau.”

Kakek itu pun tersenyum pula. Dan diteruskannya kerja. Sejenak kemudian ia berhenti pula sambil memandangi berkeliling. Ia melihat pula kehadiran dan kepergian Alap-alap Jalatunda. Kemudian beberapa orang laskar di sekitar halamannya. Perlahan-lahan ia berkata kepada Wuranta yang berdiri dekat padanya, “Kalau aku tidak bekerja keras, dan penghasilanku tidak memenuhi ketentuan yang diberikan oleh pimpinan padepokan, maka aku bukanlah penghuni padepokan yang baik. Aku akan dapat bermacam-macam peringatan dan bahkan apabila hal tersebut berjalan beberapa kali, aku akan dapat menerima hukuman denda atas hasil dari seluruh halaman, kebun, sawah dan ladangku yang tidak seberapa luas. Dengan demikian, maka makan kami sekeluarga akan menjadi sangat kurang.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah menduga bahwa ada suatu tekanan yang memaksa orang-orang padepokan ini diperbudak oleh kerja.

Tetapi ia tidak akan sempat lagi memikirkannya. Memikirkan kakek yang tua itu dan persoalan-persoalan lain yang tidak banyak diketahuinya. Ia kini harus memikirkan dirinya sendiri. Bagaimanakah keadaan yang akan dihadapi selanjutnya.

“Aku hanya dapat menunggu,” katanya di dalam hati, “aku tidak dapat berbuat sesuatu.”

Dengan demikian, maka Wuranta itu pun kembali masuk ke dalam biliknya dan dengan hati yang kosong merebahkan dirinya di atas amben pembaringannya.

Kepalanya kini menjadi semakin pening memikirkan dirinya sendiri dan Sekar Mirah. Bagaimanakah sikap gadis itu nanti apabila Alap-alap Jalatunda datang kepadanya.

“Aku tidak sempat memberi peringatan kepada gadis itu,” gumamnya kepada diri sendiri, “mudah-mudahan ia dapat membawa dirinya.”

Semakin jauh matahari bergeser di garis edarnya, hati Wuranta menjadi semakin tidak tenang. Ketika matahari telah menjadi condong ke Barat, maka dadanya terasa menjadi pepat. Makan siang yang dihidangkan oleh nenek penghuni rumah itu tak dapat ditelannya seperti biasanya. Hanya satu dua suap saja yang dapat dimakannya, sehingga suami isteri itu menjadi sangat heran.

“Apakah kau sakit, Ngger?” bertanya laki-laki tua yang makan bersamanya.

“Tidak, Kek” sahut Wuranta.

“Angger makan terlampau sedikit.”

“Aku tidak apa-apa, Kek.”

Laki-laki tua itu tidak bertanya lagi. Tetapi sebagai orang Tambak Wedi ia dapat mengerti. Laskar yang hilir-mudik di luar halamannya itu pasti berhubungan dengan adanya anak muda Jati Anom itu di rumahnya.

Demikianlah, maka akhirnya matahari pun menjadi semakin rendah menggantung di langit sebelah Barat. Sejenak kemudian, maka ujung Gunung Merapi yang menjulang tinggi itu pun menjadi kemerah-merahan seperti seonggok bara raksasa yang memanasi langit yang kemerah-merahan pula.

Ketika terdengar suara burung yang ribut berebut sarang, maka hati Wuranta pun menjadi semakin kisruh. Kisruh tentang dirinya sendiri dan tentang nasib Sekar Mirah, adik Swandaru yang selalu dihantui oleh kegelisahan.

Tetapi Wuranta tidak dapat berbuat apapun, ketika perlahan-lahan malam turun menyelimuti lereng Gunung Merapi. Semakin lama semakin samar dan gelap. Lampu-lampu minyak pun segera dinyalakan berkeredipan seperti mata anak-anak yang cemas ketakutan. Apabila angin yang silir menyentuhnya, maka lampu-lampu itu pun seakan-akan terpejam untuk sesaat.

Hati Wuranta pun menjadi semakin tidak tenang. Ia tidak dapat mengetahui apakah yang sudah terjadi di luar pagar batu halaman rumah itu. Ia tidak tahu apakah yang sedang dilakukan oleh Ki Tambak Wedi kini. Apakah orang tua itu sedang berada di Jati Anom, apakah ia sedang merencanakan untuk memancungnya. Tetapi bayangan yang terkuat mempengaruhinya adalah bayangan Alap-alap Jalatunda yang sedang merayap-rayap mendekati pondok Sekar Mirah.

Dengan demikian maka hati Wuranta menjadi semakin cemas. Kalau Alap-alap Jalatunda itu berhasil dan Ki Tambak Wedi mengetahui peranan yang sedang dilakukan, maka semua usahanya itu akan sia-sia. Ia tidak berhasil memberikan bantuan apa-apa kepada Agung Sedayu, Swandaru, dan Ki Tanu Metir. Apalagi kepada pasukan Pajang. Bahkan mungkin namanya pun untuk seterusnya tidak akan dapat diperbaikinya, sebab orang-orang Jati Anom yang melihatnya berjalan bersama-sama dengan orang-orang lereng Merapi pasti sudah menyangkanya bahwa ia berpihak kepada Jipang.

Kematiannya akan tidak berarti sama sekali. Ia akan merupakan korban yang sia-sia. Namun meskipun demikian, ia masih juga dapat menghibur dirinya, bahwa usaha itu dilakukan dengan maksud yang baik, dengan tekad yang dapat dibanggakan. Adalah wajar, bahwa sesuatu usaha itu dapat berhasil dan dapat juga gagal.

Akhirnya Wuranta itu pun menjadi agak tenang. Ia pasrah diri kepada Kekuasaan Tertinggi. Kekuasaan yang jauh lebih tinggi, dan bahkan sama sekali tidak dapat diperbandingkan dengan kekuasaan Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Alap-alep Jalatunda. Hanya di dalam tangan-Nya terletak kepastian tentang dirinya.

Meskipun demikian, Wuranta sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Ia ingin tidur dan melupakan segala-galanya. Seandainya sesuatu terjadi, tetapi ia tidak dapat berbuat apapun, maka hatinya pasti akan bertambah pedih. Karena itu, ia ingin saja tidur. Tidur. Namun meskipun ia ingin tidur, ia sama sekali tidak menanggalkan pedangnya, dan slarak kancing pintu biliknya pun dipasangnya.

Wuranta mengangkat kepalanya sesaat ketika ia mendengar langkah kaki di muka biliknya. Ia berdesah di dalam hati, ketika kemudian ia mendengar suara batuk-batuk kakek tua penghuni rumah itu.

Tetapi agaknya kakek tua itu berhenti di muka pintu biliknya dan perlahan-lahan berkata, “Angger, apakah Angger sedang sakit?”

“Oh, tidak Kek,” jawab Wuranta sambil barbaring.

“Apakah Angger tidak makan lebih dahulu? Bukankah ini masih terlampau sore untuk pergi tidur, Ngger?”

“Aku terlampau lelah, Kek. Dua malam aku hampir tidak tidur sama sekali. Sekarang aku ingin tidur sepuas-puasnya.”

“Tetapi makanlah dahulu.”

“Terima kasih, Kek.”

“Heh,” Wuranta mendengar orang tua itu berdesah, lalu terdengar langkahnya menjauh. Wuranta memang tidak mempunyai nafsu sama sekali untuk makan. Perutnya sama sekali tidak terasa lapar meskipun siang tadi ia pun hanya makan terlalu sedikit.

Rumah itu pun kemudian menjadi sunyi. Sekali-sekali terdengar suara batuk-batuk kakek tua penghuni rumah itu, tetapi sebentar kemudian sunyi kembali. Wuranta terkejut ketika ia mendengar suara cicak dekat sekali di atas kepalanya, sehingga ia mengumpat di dalam hatinya.

Sementara itu, malam pun menjadi semakin malam. Di kejauhan terdengar suara burung hantu seperti suara jejaka yang sedang mengeluh meratapi nasibnya yang malang.

Wuranta masih berbaring di pembaringannya. Terasa olehnya betapa waktu berjalan terlampau lamban. Serasa sudah hampir semalam suntuk ia berbaring, tetapi kemudian ia mendengar suara kentong di kejauhan. Dara muluk.

“He,” Wuranta terkejut mendengar suara kentongan itu, “baru tengah malam.” Dan anak muda itu merasa tersiksa di pembaringannya.

Tetapi sekali lagi Wuranta mengangkat kepalanya. Kemudian ia berusaha untuk mengatur nafasnya, supaya orang di luar biliknya menyangkanya bahwa ia sudah tidur, karena ia mendengar desah langkah mendekati biliknya. Namun yang didengarnya itu bukan hanya langkah seseorang.

“Siapakah mereka?” pertanyaan itu berputus di dalam dadanya.

Sejenak kemudian Wuranta mendengar pintu lereg biliknya diketuk orang perlahan-lahan. Dan Wuranta itu pun kemudian mendengar suara di luar, “Angger, Angger Wuranta. Apakah Angger sudah tidur?”

Wuranta mempertajam pendengarannya. Memang tidak hanya satu orang yang berdiri di luar pintu biliknya. Dan tanpa disengaja tangannya meraba hulu pedangnya.

“Hem, apa lagi yang akan terjadi? Apakah Ki Tambak Wedi sudah mendapat kesimpulan tentang diriku?”

“Angger Wuranta,” ia mendengar suara itu lagi.

“Kakek tua itu,” desis Wuranta di dalam hatinya. Tetapi Wuranta tidak segera menjawab.

Sakali lagi terdengar ketokan di pintunya dan suara orang tua itu terdengar lagi, “Angger, bangunlah. Ada sesuatu yang barangkali penting bagi Angger?”

Wuranta menggeliat di pembaringannya. Perlahan-lahan ia menyahut dengan nada yang datar, “Apa Kek?”

“Bangunlah, Ngger. Ada yang penting bagi Angger.”

“Apakah yang penting itu?”

“Silahkan Angger keluar sebentar, hanya sebentar.”

Hati Wuranta berdesir. Perasaannya seakan-akan memberitahukan kepadanya, bahwa akan terjadi sesuatu yang berbahaya baginya. Tetapi ia tidak akan dapat menghindar. Dan terdengar sekali lagi suara kakek tua itu, “Keluarlah sebentar, Ngger.”

Wuranta itu pun bangkit dari pembaringannya. Dibenahinya pakaiannya dan dirabanya hulu pedangnya. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Tetapi kemudian disadarinya, bahwa ia tidak akan dapat menghindari apa pun yang akan terjadi. Dengan demikian maka tekadnya menjadi bulat. Dan ia berkata kepada diri sendiri di dalam hatinya, “Aku bukan cacing yang menyerahkan dirinya untuk diinjak-injak. Aku harus berbuat sesuatu meskipun akibatnya sama. Tetapi lebih baik mati dengan pedang di tangan daripada mati di tiang gantungan.” Dengan demikian maka Wuranta itu tidak menjadi ragu-ragu lagi. Perlahan-lahan dan hati-hati ia mendekati pintu biliknya. Perlahan-lahan dan hati-hati pula ia membukanya. Ketika pintu itu terbuka, alangkah terkejutnya anak muda itu. Ia melihat kakek tua penghuni rumah itu berdiri tegap di muka pintunya dengan sehelai pedang di lambungnya.

Wuranta tegak sebagai patung melihat orang tua itu tersenyum. Sejenak mulutnya seakan-akan terbungkam, namun dadanya bergelora demikian kerasnya.

“Selamat malam, Ngger,” orang tua penghuni rumah itu menyapanya. Senyum yang masih saja membayang di wajahnya, terasa oleh Wuranta sebagai suatu ejekan yang menusuk perasaannya.

“Apakah Angger heran melihat aku? Bukankah aku sudah Angger kenal sejak tiga hari yang lalu?”

“Oh,” Wuranta mengumpat di dalam hati, “setan tua itu sempat juga membuat hatiku menjadi samakin parah.”

“Adakah yang aneh padaku, Ngger?”

Dengan nada yang datar Wuranta menjawab, “Tidak ada, Kek. Tidak ada yang aneh.”

“Tetapi tatapan mata Angger Wuranta terasa agak lain dari biasanya. Apakah dengan bekerja sehari ini aku sudah bertambah tua lagi?”

Dada Wuranta berdesir. Tetapi ia menjawab, “Tidak Kek. Kakek tampaknya bertambah muda. Agaknya kakek menyadari kebenaran kata-kataku. Dan agaknya kakek telah mencoba menikmati keindahan malam. Nah, apakah Kakek ingin mengajakku melihat bintang yang bergayutan di langit? Bukankah dengan demikian Kakek dapat melupakan sejenak kesulitan dan penderitaan Kakek selama Kakek diperbudak oleh kerja yang membosankan itu?”

Orang tua itu mengerutkan keningnya, tetapi ia kemudian tersenyum. Ketika ia berpaling, dilihatnya laki-laki yang datang bersamanya memandanginya dengan penuh pertanyaan.

“Kau belum mengenalnya,” berkata kakek itu kepada kawannya.

“Sudah, Paman” jawab laki-laki yang masih agak muda itu.

“Kau baru mengenal orangnya. Bentuknya dan wajahnya. Tetapi kau belum mengenal tabiat dan sifat-sifatnya. Anak muda ini adalah anak muda yang mempunyai perasaan lembut seperti helai-helai benang kepompong sutra.”

“Ah,” Wuranta berdesah. Tiba-tiba ia melihat sinar yang aneh memancar dari sepasang mata orang tua itu, selain senyumnya yang menyentuh perasaan. Wuranta merasakan bahwa orang tua itu sengaja menyindirnya dan membuatnya sakit hati. Apalagi ketika ia melihat laki-laki, kawan orang tua itu tertawa pendek.

“Sekarang, apakah maksud Kakek, dan siapakah Kakek ini sebenarnya?”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Petanyaanmu aneh anak muda. Bukankah Angger telah mengenal aku selama beberapa hari?”

“Aku mengenal Kakek kemarin berbeda dengan aku melihat Kakek saat ini. Aku telah mengenal Kakek dengan cangkul di tangan, tetapi Kakek sekarang membawa pedang di lambung.”

“Oh, itukah yang Angger tanyakan? Aku yang kemarin adalah aku yang sekarang. Setiap laki-laki di padepokan berhak mengenakan pedang di lambungnya dan berkewajiban mempertahankan padepokan ini dengan seluruh kemampuan yang ada. Kini keadaan meningkat dengan cepatnya. Pasukan Untara telah berada di Jati Anom. Itulah sebabnya aku mengenakan pedangku.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Nah, sekarang katakan maksudmu. Katakanlah kepentingan yang kau sebut-sebut itu?”

Dada Wuranta menjadi bertambah pepat ketika ia masih saja melihat kakek tua itu tersenyum.

“Katakanlah” desak Wuranta tanpa sesadarnya.

“Sabarlah, Ngger,” sahut orang tua itu, “aku akan mengatakannya perlahan-lahan, supaya aku tidak salah ucap. Dengarlah baik-baik. Angger Wuranta, aku mendapat perintah dari Angger Sidanti untuk membawa Angger menghadap.”

“Tengah malam begini?”

“He,” orang tua itu menjadi heran mendengar jawaban Wuranta, “apa bedanya tengah malam dan tengah hari? Bukankah bagi seorang prajurit, apalagi dalam keadaan yang penting semacam ini, tidak ada perbedaan waktu? Sekarang Angger harus menghadap. Besok pagi Angger Sidanti sudah akan mulai dengan sebuah gerakan yang menentukan. Kau tahu, bahwa apa yang kau katakan kepada Angger Sidanti ternyata tidak benar? Mungkin kau tidak sengaja berbohong, tetapi kalau kesalahan tidak dibetulkan, maka akibatnya akan jauh sekali. Ternyata menurut Ki Tambak Wedi yang baru saja datang dari Jati Anom, Untara sama sekali tidak datang dengan pasukan segelar sepapan. Memang ia membuat gelar sandi dengan menggerakkan orang-orangnya yang dibawanya. Peronda yang hilir-mudik dan penghubung-penghubung berkuda. Tetapi Ki Tambak Wedi tak dapat dikelabuhi. Itulah sebabnya Ki Tambak Wedi memutuskan, sebentar lagi kita berangkat ke Jati Anom. Begitu matahari memanjat langit, begitu kita hancurkan pasukan Pajang. Nah, kau dengar. Itulah sebabnya semua persoalan harus diselesaikan sekarang. Termasuk persoalanmu.”

“Apakah ada persoalan dengan aku?” bertanya Wuranta.

Orang tua itu tertawa. Ketika ia berpaling, maka laki-laki yang berdiri di sampingnya itu pun tertawa pula.

“Aku tidak tahu pasti, Ngger. Apakah persoalanmu itu. Tetapi yang aku tangkap, ternyata Ki Tambak Wedi mencurigaimu. Apalagi ketika Ki Tambak Wedi itu mendengar percakapan di dalam rumahmu. Percakapan yang mencurigakan. Bukankah di dalam rumahmu itu bersembunyi anak-anak muda yang bernama Swandaru dan Agung Sedayu? Apakah dengan demikian tidak sewajarnya bahwa Ki Tambak Wedi menjadi curiga. Bukankah dengan demikian dapat timbul dugaan, bahwa kedua anak muda itu merupakan penghubung antara Angger Wuranta dan Untara tanpa mencurigakan? Tetapi aku tidak banyak mengetahui, Ngger. Aku adalah orang kecil. Tugasku sekarang membawa Angger menghadap Angger Sidanti. Marilah.”

Wuranta memandang wajah orang tua itu dengan pandangan mata yang berapi-api. Kini jelas baginya, bahwa nyawanya telah berada di ujung nenggala Sidanti yang mengerikan itu. Tetapi apakah ia akan dengan suka-rela dituntun oleh kakek-kakek tua itu menghadap pada Sidanti untuk menyerahkan lehernya?

Berbagai persoalan telah merangsang jantung Wuranta. Sesaat ia berdiri saja seperti tonggak. Namun gemuruh di dalam dadanya serasa gemuruhnya perut Gunung Merapi.

Yang juga menumbuhkan pertanyaan di dalam hatinya adalah orang tua yang bernama Ki Tanu Metir. Kalau Ki Tambak Wedi mendengar suara Agung Sedayu dan Swandaru di dalam rumahnya, lalu apakah Ki Tambak Wedi tidak mengetahui bahwa Ki Tanu Metir ada di dalamnya pula?

Wuranta itu tersadar ketika orang tua yang berdiri di mukanya itu berkata, “Sudahkah Angger siap menghadap Angger Sidanti?”

Wuranta memandang wajah orang tua itu dengan tajamnya. Sekilas ia melihat pedang di lambung kakek tua itu dan di lambung laki-laki yang datang bersamanya, seolah-olah ia ingin mengetahui, apakah kedua pedang itu akan mampu mematahkan pedangnya. Tetapi kemudian disadarinya, bahwa di luar rumah itu pun agaknya berkeliaran orang-orang Sidanti. Karena itu, maka ia harus berhati-hati.

Meskipun demikian, apakah ia akan menurut saja dijerat lehernya seperti seekor kambing yang akan disembelih.

“Aku adalah laki-laki,” katanya di dalam hati, “aku sudah menyanggupi melakukan pekerjaan seperti ini yang oleh Ki Tanu Metir sudah disebut-sebut pula kemungkinan-kemungkinannya. Karena itu aku tidak boleh menghindar. Lebih baik bagiku mati di sini, dikeroyok orang-orang itu daripada aku harus menjawab beribu macam pertanyaan yang pasti akan diberikan oleh Sidanti, Ki Tambak Wedi, dan mungkin juga Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda.”

Karena itu maka tiba-tiba Wuranta itu mundur selangkah sambil meraba hulu pedangnya, katanya, “Kakek, siapakah yang memerlukan, aku atau Sidanti. Kalau Sidanti yang memerlukan aku, biarlah ia datang kemari. Kalau aku yang memerlukannya, maka aku akan datang kepadanya.”

Kakek tua itu mengerutkan keningnya. Kemudian ditatapnya wajah Wuranta dengan tajamnya. Namun sesaat kemudian ia tersenyum, “Jangan begitu, Ngger. Sebaiknya Angger datang kepadanya, apa pun yang akan terjadi. Kami hanyalah utusan-utusan yang tidak banyak mengerti persoalannya. Tetapi aku menyesal bahwa aku telah mengatakan sebagian dari persoalan yang aku ketahui.”

“Tidak, Kakek. Aku tetap di sini.”

“Ah,” orang tua itu berdesah, “jangan memperberat pekerjaan kami.”

Wuranta melihat cahaya mata orang tua itu. Tetapi ia sudah membulatkan tekadnya. Hanya tiba-tiba saja terasa hatinya berdesir tajam ketika teringat olehnya akan nasib Sekar Mirah. Apakah yang akan terjadi dengan gadis itu? Apakah saat ini Alap-alap Jalatunda telah memasuki pondok gadis itu?

Adalah bertepatan sekali, ketika Wuranta sedang mencemaskan Sekar Mirah, maka Alap-alap Jalatunda benar-benar sedang merayap-rayap mendekati pondoknya. Sehabis mendengarkan beberapa penjelasan dari Ki Tambak Wedi tentang Jati Anom yang baru saja dilihat oleh orang tua itu, maka dengan tergesa-gesa Alap-alap Jalatunda berusaha untuk memenuhi pesannya lewat Wuranta meskipun ia tahu bahwa Wuranta pasti akan dipanggil oleh Sidanti. Tetapi ia mengharap Wuranta tidak mengatakan tentang dirinya. Ia mengharap Wuranta memerlukannya untuk mengurangi kesalahannya atau mungkin menolongnya. Seandainya Wuranta akan mengatakan juga tentang dirinya, maka ia akan dengan mudahnya menjawab, bahwa semuanya itu hanyalah fitnah saja. Wuranta itu dapat dituduh sedang mencari kawan menjelang tiang gantungan. Apabila kemudian Sidanti bertanya kepada Sekar Mirah, maka gadis yang telah bersedia menunggunya itu pasti tidak akan mengatakan apa yang telah terjadi.

Namun pertimbangan-pertimbangan Alap-alap Jalatunda ternyata sudah tidak jernih lagi, karena keinginannya yang meluap-luap untuk segera mendapatkan Sekar Mirah. Otaknya seakan-akan sudah tidak dapat lagi dipakainya untuk membuat pertimbangan-pertimbangan yang tepat. Itulah sebabnya, maka ia tidak dapat memperhitungkan, bahwa Sidanti akan segera saat itu juga memanggil Wuranta. Pada sangkanya, maka hal itu akan dilakukannya nanti atau besok atau kapan saja, bahkan mungkin setelah Jati Anom jatuh. Sebab menurut perhitungan Ki Tambak Wedi, Jati Anom pasti tidak akan mampu bertahan terhadap sergapan yang akan dilakukan dengan tiba-tiba. Sayang, bahwa Alap-alap Jalatunda tergesa-gesa meninggakan pertemuan setelah penjelasan Ki Tambak Wedi selesai. Hanya Sanakeling-lah yang kemudian ikut memutuskan, bahwa malam itu juga pasukan Jipang dan Tambak Wedi akan turun ke Jati Anom. Keputusan itu kemudian dibicarakan lagi dalam pertemuan yang lebih lengkap. Tetapi mereka tidak menemukan Alap-alap Jalatunda di dalam pertemuan itu. Seorang yang bertugas di regol banjar pertemuan itu berkata, bahwa ia bertemu dengan Alap-alap Jalatunda yang sedang pergi nganglang.

Tetapi karena Sanakeling bersedia mempertanggung-jawabkan keputusan itu bersama beberapa orang pemimpin laskarnya yang lain, maka keputusan itu jatuhlah atas semua kekuatan di Tambak Wedi.

“Aku akan mencari Alap-alap Jalatunda,” berkata Sanakeling, “Kalau aku tidak menemuinya karena ia pergi nganglang ke luar padepokan, maka biarlah aku memanggilnya dengan tanda.”

“Baik,” sahut Sidanti, “sementara ini aku memanggil Wuranta. Anak gila itu lebih baik diselesaikan sekarang daripada menjadi duri di dalam padepokan ini.”

Tetapi baik Sidanti maupun Sanakeling tidak menyangka sama sekali, bahwa Alap-alap Jalatunda itu sedang dituntun oleh nafsunya menuju ke gubug Sekar Mirah.

“Persetan dengan sesorah demit tua itu,” Alap-alap Jalatunda menggerutu di dalam hatinya, “aku sudah terlanjur mengikat janji. Aku harus datang. Kalau ada sesuatu yang penting, biarlah Kakang Sanakeling mendengarnya. Ia pasti akan menyampaikan kepadaku nanti. Tetapi malam ini aku harus bertemu dengan gadis itu supaya kelak semua pesan-pesanku tidak dianggapnya sebagai pesan yang kosong, bahkan berbohong. Kalau mereka memerlukan aku segera maka Kakang Sanakeling pasti akan membunyikan tanda.”

Demikianlah, maka dengan hati-hati Alap-alap Jalatunda melangkah semakin dekat dengan pondok gadis yang sedang menunggunya itu.

Malam pun semakin lama menjadi semakin dalam. Di kejauhan masih saja terdengar burung hantu mengeluh berkepanjangan. Embun yang sejuk setetes-setetes jatuh di antara rerumputan yang hijau kekuning-kuningan.

Desah kaki Alap-alap Jalatunda hampir tidak terdengar. Perlahan-lahan sekali ia mendekat pondok Sekar Mirah. Ia tidak berani mengambil jalan dari depan, sebab ia tahu benar, bahwa Sidanti meletakkan beberapa orang pengawas di sekitar pondok itu. Meskipun Alap-alap Jalatunda tahu juga, bahwa pengawasan itu tidak begitu ketat. Karena Sidanti menganggap bahwa Sekar Mirah tidak akan mungkin dapat lari meninggalkan padepokannya.

Tetapi kali ini Alap-alap Jalatunda cukup berhati-hati. Keinginannya untuk bertemu dengan Sekar Mirah telah mendorongnya untuk berbuat apa saja, asal maksudnya itu tercapai.

Dengan sangat hati-hati anak muda itu merayap-rayap dari satu halaman ke halaman berikutnya. Dengan hati-hati anak muda itu meloncati dinding batu yang satu kemudian dinding batu berikutnya. Ia harus mendekati pondok itu dari belakang, supaya tak seorang pun yang melihatnya.

Pengenalannya tentang padepokan itu sudah cukup baik, sehingga dengan tidak banyak kesulitan, maka Alap-alap Jalatunda itu pun menjadi semakin dekat.

Ketika ia tinggal terpisah oleh selapis dinding batu, maka Alap-alap itu berhenti sejenak. Dicobanya mengatur detak jantung, serta pernafasannya.

“Tengah malam,” desisnya, “mudah-mudahan aku tidak dianggapnya berbohong.”

Namun demikian, dadanya kini menjadi berdebar-debar. Timbullah kebimbangan di dalam hatinya. Bagaimanapun juga ia harus memperhitungkan, apakah yang akan dilakukannya, apabila seseorang melihatnya masuk ke dalam pondok itu.

“Hem,” Alap-alap itu menggeram, “tak akan ada seorang pun yang melihat. Kalau aku berhasil masuk, maka aku akan mendapat sambutan yang tak akan dapat aku lupakan seumur hidupku. Sambutan itu pasti akan sangat berbeda dengan sambutan yang pernah aku terima dari perempuan yang manapun. Nyai Sari, Nyai Lames, dan bahkan Nyai Pinan, yang menyebabkan aku hampir saja menjadi lumat karena kemarahan Tohpati.”

Alap-alap Jalatunda itu menyadari, bahwa Sekar Mirah adalah seorang gadis yang jauh berbeda dengan perempuan-perempuan yang pernah dikenalnya. Perempuan-perempuan yang tidak lagi membedakan, apakah yang datang itu Alap-alap Jalatunda, apakah laki-laki yang mana pun juga. Tetapi Sekar Mirah itu telah menunggunya. Alap-alap Jalatunda. Bukan laki-laki yang lain. Bukan pula Sidanti atau Wuranta sendiri.

Angan-angan itu telah mendorong Alap-alap Jalatunda ke dalam suatu tindakan yang lebih berani. Kini pagar yang tinggal selembar itu telah diloncatinya. Dan kini ia telah berada di halaman belakang pondok yang dipakai untuk menyimpan Sekar Mirah oleh Sidanti. Sebuah pondok kecil yang didiami oleh Sekar Mirah seorang diri. Hanya kadang-kadang saja, setiap hari satu dua kali, seorang perempuan tua yang memasak untuknya, datang mengantarkan makanannya dan meminjaminya satu dua lembar pakaian.

Di halaman belakang itu Alap-alap Jalatunda bersembunyi. Sejenak ia berdiam diri melihat keadaan di sekitarnya. Dipasangnya telinga dan matanya sebaik-baiknya. Ia tidak ingin gagal untuk mendapatkan Sekar Mirah malam itu juga.

Ketika tidak seorang pun yang dilihatnya, dan tidak didengarnya gemerisik apapun, perlahan-lahan ia merayap mendekati pondok itu. Ia berlindung dari satu gerumbul ke gerumbul yang lain. Sangat berhati-hati, seperti seseorang yang sedang mengintai lawannya yang sangat disegani.

Akhirnya Alap-alap Jalatunda itu sampai juga beberapa langkah dari dinding pondok Sekar Mirah. Sekali lagi ia menjadi ragu-ragu. Di dalam pondok itu terasa sangat sepinya. Tetapi Alap-alap Jalatunda melihat sinar pelita yang berkeredipan, berloncatan dari lubang-lubang dinding bambu rumah itu.

Terasa suatu pergolakan yang dahsyat di dalam dada anak muda itu. Kadang-kadang tumbuh juga keinginannya untuk membatalkan saja niatnya dan menunggu sampai kesempatan lain yang lebih baik. Tetapi ketika teringat olehnya, bahwa pasukan Untara sudah berada di hadapan hidungnya, maka nafsunya menjadi berkembang kembali.

“Mungkin besok atau lusa aku harus sudah meninggalkan padepokan ini. Mungkin Ki Tambak Wedi akan mengambil keputusan untuk menduduki Jati Anom. Kalau aku harus berangkat besok malam, maka aku tidak akan pernah mendapat kesempatan sama sekali.”

Dengan demikian, maka Alap-alap Jalatunda itu menjadi semakin bernafsu. Kini ia maju beberapa langkah lagi. Dengan sangat hati-hati ia melekatkan tubuhnya pada dinding rumah itu. Beberapa kali ia bergeser, sehingga suatu ketika ia berhenti sambil menarik nafas dalam-dalam. “Di sini gadis itu tidur,” desisnya. Telinganya yang tajam ternyata berhasil mendengar desah nafas Sekar Mirah di dalam pondok itu.

Perlahan-lahan, sangat perlahan-lahan ia mengetuk dinding. Dan sangat perlahan-lahan pula ia menyebut nama Sekar Mirah.

Ternyata ia berhasil membangunkan gadis itu. Ia mendengar pembaringan Sekar Mirah berderit.

“Mirah,” desis Alap-alap Jalatunda.

“Siapa?” bertanya Sekar Mirah. Suaranya hampir tidak terdengar. Dengan demikian maka Alap-alap Jalatunda menjadi sangat gembira. Sekar Mirah benar-benar akan menyambutnya seperti yang diharapkannya.

“Aku, Mirah.”

“Alap-alap Jalatunda?”

Alangkah gembiranya hati anak muda itu. Tanpa sesadarnya terloncat pertanyaannya, “Darimana kau tahu, bahwa aku yang datang?”

“Sidanti tidak akan datang lewat belakang rumah. Apalagi kawanmu telah menyampaikan pesan itu kepadaku siang tadi.”

Alap-alap Jalatunda hampir-hampir menjadi pingsan karena gembira mendengar jawaban itu. Ternyata Wuranta benar-benar telah menepati kesanggupannya, dan Sekar Mirah benar-benar telah menunggunya. Karena itu maka ia berdesis di dalam hatinya, “Terima kasih Wuranta. Kau telah berjasa kepadaku. Tetapi maaf, bahwa aku tidak sempat menolongmu. Mudah-mudahan kau besok atau lusa segera naik ke tiang gantungan, atau mudah-mudahan aku mendapat tugas untuk memenggal lehermu. Aku sekarang sama sekali tidak memerlukanmu lagi.”

Ketika angin malam berdesah di dedaunan membawa udara yang sejuk dingin, maka terdengar Alap-alap Jalatunda berbisik di balik dinding, “Sekar Mirah, apakah benar kau telah menungguku seperti yang dikatakan oleh Wuranta?”

Sekar Mirah terdiam sejenak. Wajahnya menjadi kemerah-merahan. Meskipun demikian Alap-alap Jalatunda mendengar suara Sekar Mirah sendat, “Ya, ya, aku menunggumu.”

Alap-alap Jalatunda menarik nafas dalam-dalam. Kini ia benar-benar telah mendengar sendiri apa yang dikatakan oleh Sekar Mirah. Maka ia tidak akan menjumpai kesulitan lagi masuk ke dalam gubug itu, dan kemudian meninggalkannya.

“O, alangkah bodohnya Sidanti,” desahnya di dalam hati, “ia tinggal akan menemukan Sekar Mirah yang sama sekali tidak seperti yang diharapkannya. Anak itu yang bersusah payah mengambilnya ke Sangkal Putung, maka aku lah yang akan mendapatkannya. Agaknya aku tidak hanya mendapat kesempatan satu kali dua kali datang ke rumah ini, asal aku tidak terbunuh saja besok atau lusa di medan Jati Anom. Seandainya terbunuh sekalipun, maka aku sudah tidak akan menyesal lagi.”

Alap-alap Jalatunda itu pun kemudian bergeser beberapa langkah maju sambil berbisik, “Sekar Mirah, aku akan masuk.”

“Masuklah, pintu tidak terkancing. Aku tidak memasang slarak di dalam.”

“Aku tidak dapat masuk lewat pintu, Mirah. Aku tidak ingin kedatanganku dilihat oleh para pengawas.”

“Kau akan masuk dari mana?”

“Maaf Mirah. Aku akan membuka dinding bambu yang ringkih di sudut rumah ini. Tolong, singkirkanlah pelita, sehingga sinarnya tidak jatuh ke sudut di sebelah kanan ini.”

“Oh. Apakah kau tidak akan mendapat kesulitan?”

“Tidak Mirah. Pekerjaan itu terlampau mudah aku kerjakan.”

“Baiklah. Aku akan memindahkan pelita itu ke sisi sebelah kiri.”

Sesaat kemudian terdengarlah gemerisik kaki Sekar Mirah pada lantai pondoknya, Perlahan-lahan gadis itu berjalan memindahkan pelita minyak tanah ke sisi yang lain.

Alap-alap Jalatunda hampir-hampir tidak dapat bersabar lagi menunggunya. Begitu sinar pelita bergerak, maka anak muda itu segera menarik pedangnya, dan memutuskan beberapa utas tali pengikat dinding pada tiang di sudut rumah. Dinding itu memang tidak begitu kuat, sehingga dalam waktu yang pendek, Alap-alap Jalatunda telah berhasil masuk ke dalamnya.

Ketika Sekar Mirah melihat anak muda itu telah berada di dalam pondoknya, maka tiba-tiba tubuhnya menggigil karenanya. Tiba-tiba ia menyesal bahwa ia telah membuat suatu permainan yang berbahaya. Tetapi meskipun demikian, ia masih tetap menyadari apa yang sedang dihadapinya.

Karena itu, maka sesaat Sekar Mirah itu berdiri saja mematung. Ditatapnya Alap-alap Jalatunda dengan tajamnya. Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk tetap tenang, dan sadar mempergunakan nalarnya.

Alap-alap Jalatunda yang telah berada di dalam rumah itu pun sejenak berdiri tegak seperti tiang-tiang bambu yang berjajar di dalam rumah itu. Sejenak ia kehilangan akal. Dan sejenak ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya.

Ternyata Sekar Mirah itu sama sekali tidak seperti yang dibayangkannya. Tidak seperti Nyai Sari, Nyai Lames, dan lebih-lebih Nyai Pinan. Seandainya yang berdiri di hadapannya itu Nyai Pinan, maka perempuan itu pasti akan segera lari menubruknya, menyeretnya duduk di atas ambennya. Tetapi Sekar Mirah tidak berbuat demikian. Tidak menyambutnya seperti yang dibayangkannya. Justru karena itu maka ia menjadi bingung.

Alap-alap Jalatunda mengharap Sekar Mirah itu berlari dan kemudian memeluknya, sambil membisikkan kata-kata-yang mesra. Tetapi yang dijumpainya adalah Sekar Mirah itu berdiri beberapa langkah daripadanya sambil memandanginya seperti memandangi hantu.

Namun Alap-alap Jalatunda itu pun segera menyadari keadaannya. Waktunya tidak terlampau banyak. Ia harus segera menemui Sanakeling dan mungkin Ki Tambak Wedi masih akan mengadakan beberapa pembicaraan lagi. Karena itu, maka ia harus segera meninggalkan tempat itu.

Karena Sekar Mirah masih saja berdiri mematung, maka dengan sepenuh keberaniannya, Alap-alap Jalatunda berkata, “Bukankah kau menungguku Sekar Mirah?”

Sekar Mirah tergagap mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia menjawab, “Ya, aku menunggumu.”

“Waktuku tidak banyak Sekar Mirah. Aku harus segera kembali ke tempat pertemuan.”

Sekar Mirah menjadi merah padam mendengar kata-kata itu. Tetapi ia tidak mengetahui maksud sebenarnya dari Alap-alap Jalatunda. Karena itu maka ia menjawab, “Aku hanya ingin tahu maksudmu.”

“He,” kata-kata itu benar-benar mengejutkan Alap-alap Jalatunda. Bagaimana mungkin Sekar Mirah itu masih bertanya apakah maksudnya. Tetapi Alap-alap Jalatunda itu terdesak oleh kesempatan yang sangat sempit. Maka sifat-sifatnya segera nampak pada sikapnya. Dengan kasar ia berkata, “Mirah. Aku menginginimu. Bukankah Wuranta telah mengatakan?”

Sekali lagi wajah Sekar Mirah menjadi merah. Tetapi kini ia hampir berhasil menguasai dirinya. Dengan agak tenang ia menjawab, “Ya, Wuranta telah mengatakannya. Karena itu, aku ingin membicarakannya dengan kau langsung.”

Sesaat Alap-alap Jalatunda berdiri termangu-mangu. Ia sama sekali tidak mengerti maksud Sekar Mirah. Apakah yang masih harus dibicarakan?

Dalam keragu-raguan itu ia melihat Sekar Mirah membetulkan letak sanggulnya yang kurang rapi karena ia baru saja terbangun dari tidur. Namun dalam keadaannya itu, Alap-alap Jalatunda melihat wajah Sekar Mirah menjadi bertambah cantik. Matanya yang redup dan beberapa helai rambutnya yang jatuh terkulai di sisi telinganya, membuat wajah itu seolah-olah menjadi semakin berseri.

Dengan penuh keragu-raguan, Alap-alap Jalatunda itu kemudian bertanya, “Sekar Mirah, apakah masih ada yang harus dibicarakan lagi?”

Sekar Mirah pun menjadi tidak mengerti pula jalan pikiran Alap-alap Jalatunda. Bukankah menurut pesannya dan seperti yang dikatakannya sendiri, Alap-alap Jalatunda itu menginginkannya.

Karena itu, maka jawabnya, “Alap-alap Jalatunda. Bukankah kau telah menyampaikan pesan lewat Wuranta dan kemudian telah kau ulangi sendiri pula? Bukankah dengan demikian di antara kita lalu timbul persoalan? Alap-alap Jalatunda, apabila benar demikian maka kita harus membicarakan, apakah yang akan kita lakukan?”

Alap-alap Jalatunda menggeleng-gelengkan kepalanya yang mulai terasa pening. Tidak saja karena tuak yang diminumnya ketika ia berada di dalam banjar para pemimpin padepokan tetapi juga karena kata-kata Sekar Mirah itu.

Dalam pada itu Sekar Mirah berkata pula, “Alap-alap Jalatunda. Kita harus tahu benar bahwa apa yang ingin kita lakukan bersama itu berhasil tanpa diketahui oleh Sidanti.”

“Tak seorang pun yang tahu. Aku yakin, bahwa tak seorang pun yang melihat aku masuk kemari.”

“Mungkin Alap-alap Jalatunda, tetapi persoalan kita tidak hanya sekedar persoalan hari ini. Persoalan kita adalah persoalan yang cukup panjang.”

“Sekar Mirah,” sahut Alap-alap Jalatunda, “aku tidak berkeberatan kalau persoalan kita menjadi persoalan yang panjang, tidak hanya berhenti saat ini. Tetapi itu tidak perlu dibicarakan. Aku akan selalu kembali apabila ada kesempatan. Mungkin besok atau lusa aku harus turun ke Jati Anom karena pasukan Untara kini telah berada di depan hidung kita. Apabila aku kemudian kembali ke padepokan ini, aku akan selalu datang kepadamu pula.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Berita kedatangan pasukan Untara mendekati padepokan itu telah membuatnya agak berpengharapan. Tetapi kemudian ia menjadi cemas. Apabila Sidanti menjadi mata gelap, bukankah kedatangan Untara mendekati padepokan itu hanya mempercepat kehancurannya.

Tetapi kini yang berdiri di hadapannya bukanlah Sidanti, tetapi Alap-alap Jalatunda. Dan jawaban Alap-alap Jalatunda tidak dapat dimengertinya.

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 023)

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-22/

<<kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s