ADBM1-026

<<kembali | lanjut >>

DALAM kediaman mereka, para prajurit itu bertanya-tanya di dalam hati, kenapa tiba-tiba saja sikap anak Jati Anom itu berubah. Anak muda itu tidak lagi menepuk dada sambil menyebut namanya, dan tidak lagi berkata tentang Untara. Sama sekali tidak ada lagi bekas kesombongannya pada pengakuannya yang ikhlas itu. Bahkan sikapnya yang menyakitkan hati, bahwa seolah-olah Untara, senapati mereka yang mereka hormati, harus juga dianggapnya terlampau remeh, dan seolah-olah dalam keadaan serupa itu harus datang kepadanya dan menyatakan terima kasih serta mohon maaf atas segala kesalahannya. Hal yang bagi para prajurit itu tidak akan mungkin sekali terjadi. Untara adalah seorang senapati yang menggenggam tanggung jawab atas wilayah di sekitar Gunung Merapi, bahkan di dataran yang membentang sampai ke pesisir kidul. Meskipun Untara juga anak yang dilahirkan dan dibesarkan di Jati Anom, namun kedudukannya terlampau jauh terpaut dari anak muda yang bernama Wuranta itu. Seandainya pada masa-masa kecilnya mereka berkawan dan bermain bersama dalam satu lingkaran permainan, tetapi keadaan telah membentuk mereka di kedudukan mereka masing-masing.

Belum sempat salah seorang dari mereka dapat memecahkan kediaman itu, maka mereka pun dikejutkan oleh bayangan yang mendekati mereka. Tidak hanya seorang, tetapi lima orang. Mereka mendengar langkah mereka semakin lama semakin dekat, dan melihat mereka semakin jelas. Di dalam remang-remang cahaya obor di kejauhan mereka dapat memastikan bahwa sebagian dari mereka adalah prajurit-prajurit Pajang.

“Para perwira,” desah para prajurit hampir bersamaan. Mereka menyangka bahwa kelima orang itu adalah satu atau dua orang perwira bersama dengan para pengawalnya mengadakan peninjauan keliling. Melihat para prajurit yang sedang bertugas dan melihat orang-orang yang terluka atau terbunuh di peperangan. Adalah menjadi kebiasaan para perwira Pajang untuk melihat, bahkan menangani sendiri tugas-tugas yang berat dan sulit.

Ketika orang-orang yang datang itu menjadi semakin dekat, maka para prajurit itu pun berdiri berjajar, memberi mereka jalan, dan bersiap apabila mereka harus menjawab pertanyaan-pertanyaan. Sedang Wuranta pun kemudian bergeser di belakang para prajurit itu. Ternyata kelima orang itu berjalan ke arah para prajurit itu, sehingga para prajurit itu pun terpaksa mempersiapkan diri mereka untuk menerima kunjungan para perwira. Sejenak mereka menebarkan pandangan mata mereka, untuk mengetahui di mana kawan-kawan mereka berada. Mungkin mereka harus membawa para perwira itu ke tempat-tempat perondan, ke tempat para prajurit mengumpulkan orang-orang yang terluka yang belum sempat dibawa ke pendapa banjar, bahkan mungkin melihat mayat-mayat yang sudah dikumpulkan untuk dikuburkan besok pagi.

Ketika terlihat oleh para prajurit itu mayat laki-laki tua beserta isterinya, maka mereka pun berpaling. Hanya sejenak. Ketika mereka melihat Wuranta di belakang mereka, maka mereka menganggap bahwa seharusnya Wuranta-lah yang wajib memberikan keterangannya.

Kelima orang itu menjadi semakin dekat. Hampir tidak percaya para prajurit itu menajamkan matanya, yang satu di antara mereka ternyata adalah Untara sendiri.

“Ki Untara,” salah seorang dari mereka berdesis.

“Oh,” sahut kawannya perlahan-lahan, “ya, Ki Untara sendiri.”

Ketiga prajurit itu kini berdiri tegak berjajar. Untara memang sering berbuat demikian. Meninjau keadaan langsung di tempat-tempat yang dianggapnya penting. Seperti kebiasaannya berdiri di ujung peperangan, maka ia pun selalu berada di dalam kesibukan akibat dari setiap peperangan, di antara para prajuritnya.

Para prajurit itu menganggukkan kepala mereka ketika Untara lewat di hadapan mereka.

Untara dan para pengawalnya pun menganggukkan kepala mereka pula. Namun tiba-tiba Untara itu menghentikan langkahnya. Ia berdiri di hadapan para prajurit itu. Dengan demikian maka para prajurit itu pun menjadi berdebar-debar.

Sejenak Untara hanya berdiri saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ternyata yang dipandangnya bukan wajah-wajah prajurit yang berdiri tegak di hadapannya, tetapi orang yang berdiri di belakang mereka. Wuranta.

Para prajurit itu melihat arah pandangan mata Untara. Mereka pun menjadi semakin berdebar-debar. Apakah yang akan dilakukan oleh senapati itu? Apakah ia telah mendengar laporan bahwa Wuranta pernah merendahkannya? Dan apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Wuranta setelah ia berhadapan langsung dengan Untara yang namanya sering disebut-sebutnya.

Sejenak suasana dicengkam oleh kesepian. Untara berdiri saja di tempatnya, dan Wuranta seolah-olah menjadi beku.

Namun kemudian mereka melihat Untara itu mengerutkan keningnya sambil berdesis, “Wuranta, bukankah kau itu?”

Wuranta menjadi termangu-mangu. Bagaimana ia harus bersikap terhadap senapati itu di dalam suasana peperangan? Apakah ia harus bersikap seperti para prajurit itu dan menjawabnya seperti jawaban seorang prajurit pula?

Tetapi kata-kata Untara berikutnya telah mengejutkannya dan bahkan mengejutkan para prajurit yang berdiri tegak itu. Katanya, “Aku memang mencarimu Wuranta, sambil melihat-lihat keadaan.”

Wuranta menjadi semakin berdebar-debar. Apakah sebabnya Untara mencarinya? Tiba-tiba ia teringat akan sikapnya selama ini. Karena itu maka ia bertanya di dalam hatinya, seperti pertanyaan yang bergetar di dalam dada para prajurit itu, “Apakah Untara telah benar-benar mendengar sikap Wuranta yang kadang-kadang merendahkannya sebagai seorang senapati, dan ia datang sendiri untuk mengambil tindakan terhadapnya?”

Wuranta yang berdiri tegak seperti para prajurit itu masih saja tegak seperti sebatang tonggak. Namun sejenak kemudian ia berhasil menguasai perasaannya yang tidak lagi melonjak-lonjak. Ia mencoba menenangkan dirinya dan berkata di dalam hati, “Mudah-mudahan aku tidak menjadi gila lagi di hadapan Untara sendiri.”

Para prajurit yang berdiri di muka Wuranta pun menjadi berdebar-debar pula. Tiba-tiba mereka merasa iba seandainya Untara marah dan mengambil sesuatu tindakan atas Wuranta. Pengakuan Wuranta yang ikhlas atas kesalahannya pada saat-saat terakhir telah menyingkirkan sama sekali kebencian para prajurit itu atasnya. Tetapi seandainya Untara sendiri yang datang mencarinya, dan kemudian berbuat sesuatu atasnya, maka tidak seorang pun dari mereka yang dapat menolongnya.

Sejenak kemudian terdengar Untara berkata pula, “Wuranta, kemarilah.”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam ketenangan kini ia dapat menanggapi persoalannya. Ia telah memutuskan untuk tidak bersikap sebagai seorang prajurit. Ia memang bukan seorang prajurit. Ia adalah anak Jati Anom, dan Untara adalah anak Jati Anom pula.

Perlahan-lahan ia melangkah maju, berjalan di sisi ketiga prajurit yang masih berdiri berjajar dengan tegapnya.

“Apakah kau memerlukan aku Untara?” bertanya Wuranta. Hati para prajurit itu pun menjadi semakin berdebar-debar.

“Ya, aku memerlukanmu,” sahut Untara.

“Apakah ada sesuatu yang penting di antara kita?” bertanya Wuranta sareh.

“Tentu,” sahut Untara, “aku memang sengaja datang kepadamu karena aku dengar kau tidak ingin pergi ke banjar padepokan ini. Apakah memang begitu?”

Sejenak Wuranta menjadi ragu-ragu. Tetapi ia ingin berkata sejujurnya, seperti yang terjadi. Maka katanya, “Ya, aku memang tidak ingin pergi ke banjar padepokan. Dari manakah kau tahu?”

Ketiga prajurit itu masih saja diliputi oleh kecemasan. Apalagi ketika mereka melihat sikap Wuranta. Untara adalah senapati perang. Sedang Wuranta menanggapi seperti terhadap teman sepermainan. Meskipun seandainya dahulu memang demikian, tetapi keadaan kini harus sudah berbeda.

“Kenapa kau tidak mau pergi ke banjar?” bertanya Untara.

“Tidak apa-apa,” jawab Wuranta, “aku menunggui kakek tua yang meninggal bersama isterinya.”

“Ya, aku mendengar dari Ki Tanu Metir. Semuanya dikatakannya kepadaku tentang kau. Dan aku dapat mengerti kenapa kau tidak mau datang ke banjar.”

Wuranta mengerutkan keningnya. Apa sajakah yang telah dikatakan oleh Ki Tanu Metir itu tentang dirinya? Dan Wuranta mendengar Untara meneruskan, “Tetapi Ki Tanu Metir tidak mengatakannya kepada Agung Sedayu. Mungkin waktunya dianggapnya kurang tepat. Karena itu ketahuilah, bahwa Agung Sedayu menjadi bingung menanggapi sikapmu. Tetapi aku tidak bingung Wuranta. Aku mengerti, sebab Ki Tanu Metir mengatakan kepadaku. Juga tentang laki-laki tua itu.” Untara berhenti sejenak, lalu diteruskannya, “Aku datang kepadamu untuk mengucapkan terima kasih atas segala jasa-jasamu Wuranta. Dan aku minta kau datang ke banjar padepokan ini. Aku tahu apa yang kau rasakan. Bukan saja karena laki-laki tua seperti yang kau sebutkan.”

Sejenak Wuranta terbungkam. Tidak terlintas di dalam otaknya, bahwa benar-benar Untara telah datang kepadanya untuk mengucapkan terima kasih.

Apalagi ketiga prajurit yang kini berdiri di belakangnya. Mereka berdiri dengan mulut ternganga. Apa yang tidak mungkin baginya ternyata kini benar-benar telah terjadi. Bahwa senapati yang bernama Untara itu datang kepada Wuranta, anak Jati Anom untuk mengucapkan terima kasih.

Sejenak suasana menjadi sepi, yang terdengar hanyalah nafas Wuranta yang berdesah. Di kejauhan satu dua orang prajurit masih berkeliaran di dalam tugasnya.

“Wuranta,” terdengar Untara berkata, “aku minta kepadamu, datanglah ke banjar padepokan ini. Hadapilah persoalanmu dengan jiwa yang besar. Aku adalah anak muda pula seperti kau, dan aku adalah kakak Agung Sedayu itu. Aku pun merasakan sesuatu di dalam diriku, justru karena aku seorang kakak, seorang yang lebih tua, yang sepantasnya telah melakukannya lebih dahulu. Tetapi kesibukanku ternyata tidak memberi aku kesempatan.”

Wuranta tidak segera menjawab. Ia masih diliputi oleh suatu perasaan yang aneh. Ia tiba-tiba saja dihadapkan pada suatu kenyataan yang diharapkannya terjadi di dalam kegelapan hati. Dalam kegelapan ia memang mengucapkan kata-kata itu, bahwa seharusnya Untara-lah yang datang kepadanya dan mengucapkan terima kasih. Tetapi bahwa hal itu terjadi justru setelah hatinya menjadi tenang, malahan membuatnya menjadi termangu-mangu.

Namun ternyata sesuatu telah menyusup di dalam hati anak muda itu. Lamat-lamat tergores di dalam hatinya, suatu jawaban atas pertanyaan yang selama ini mengganggunya. “Apakah aku masih diperlukan oleh para prajurit Pajang? Dan apakah aku berhak ikut menikmati kemenangan ini?”

Kalau Untara, senapati tertinggi di daerah ini datang kepadanya dan mengucapkan terima kasih, maka seharusnya ia dapat berbangga karenanya. Seharusnya ia merasa bahwa dirinya bukan sekedar sampah yang di sisihkan, yang tidak lagi dapat dipergunakan.

“Wuranta,” berkata Untara kemudian, “aku pasti akan menyetujui permintaanmu tentang laki-laki tua yang kau maksud beserta isterinya. Aku dapat mengerti bahwa laki-laki itu pun mendapat penghargaan khusus. Tetapi biarlah para prajurit yang berkewajiban mengurusnya. Mereka akan tahu apa yang harus mereka lakukan,” Untara itu berhenti sejenak. “Nah, bagaimana?”

“Apakah yang harus aku lakukan?” bertanya Wuranta.

“Beristirahat di banjar padepokan. Besok pada saatnya kita bersama-sama pergi ke Jati Anom. Aku akan meninggalkan separo dari prajurit Pajang di padepokan ini dengan beberapa orang penghubung berkuda. Sedang aku sendiri akan tetap berada di Jati Anom.”

Wuranta masih saja tegak seperti patung. Ia justru menjadi bingung menghadapi peristiwa yang tiba-tiba dan tidak diduga sama sekali. Untara sendiri datang kepadanya dan minta ia beristirahat di banjar padepokan.

Kalau yang datang dan minta kepadanya itu Untara sudah tentu sangat sulitlah baginya untuk menolak. Tetapi perasaannya tidak cukup kuat untuk menerima permintaan itu dan hatinya pasti tidak akan cukup besar menghadapi Agung Sedayu dan Sekar Mirah yang berada di banjar itu pula.

Tetapi sejenak kemudian Untara berkata, “Wuranta, baiklah aku beritahukan bahwa aku telah menyetujui permintaan Sekar Mirah dan kedua anak-anak muda yang bersamanya, untuk berpindah tempat peristirahatan. Tidak di banjar itu. Tetapi mereka kini berada di rumah di sebelah banjar. Rumah yang tidak dipakai menyimpan orang-orang sakit apalagi mayat-mayat para prajurit yang terbunuh di peperangan. Di banjar padepokan Sekar Mirah selalu berada dalam ketakutan.”

Wuranta tiba-tiba mengangkat wajahnya. Jadi di banjar sudah tidak ada lagi Agung Sedayu, Sekar Mirah, dan Swandaru. Tetapi kenapa Ki Tanu Metir tidak mengatakannya?

Agaknya Untara mengerti pertanyaan di dalam dada Wuranta, sehingga ia berkata, “Mereka meninggalkan banjar ketika Ki Tanu Metir pergi bersamamu. Bukankah kau juga pergi ke banjar tetapi kau tidak singgah di pringgitan?”

Wuranta mengangguk, “Ya, Untara. Aku memang pergi ke banjar untuk memanggil Ki Tanu Metir.”

“Tetapi kedatangan orang tua itu terlambat. Kakek yang kau maksud suami isteri itu telah meninggal. Bukankah begitu?”

“Ya, itulah mayat mereka.”

Untara berpaling. Dilihatnya dalam keremangan cahaya obor, seorang perempuan membeku di dada suaminya yang beku pula. Terasa dada Untara berdesir. Ia sudah melihat mayat di peperangan dalam keadaan yang paling mengerikan. Tetapi baru kali ini ia melihat seorang isteri mati memeluk suaminya yang mati pula. Mengharukan.

“Mereka akan mendapat perawatan yang sewajarnya. Aku mengerti, bahwa laki-laki tua itu turut menentukan saat-saat yang terakhir dari peperangan ini. Seandainya ia tidak berusaha memberi kau jalan maka keadaan akan menjadi berbeda. Jasanya tidak kalah dengan setiap orang prajurit Pajang. Jasanya hampir sebesar jasamu sendiri.”

“Ah,” Wuranta berdesah. Jasa laki-laki tua itu tidak kalah dengan jasa setiap prajurit Pajang. Tetapi jasa itu masih belum sebesar jasanya. Kata-kata itu diucapkan oleh seorang senapati seperti Untara, senapati yang memimpin sendiri peperangan ini.

Wuranta justru menjadi terbungkam. Tetapi perlahan-lahan ia merasakan bahwa di dalam dadanya berkembang sebuah kebanggaan. Ia tidak perlu merasa dirinya terlampau rendah. Sehingga ia tidak perlu mencari cara yang aneh-aneh untuk menggelembungkan dirinya, menyembunyikan kekerdilannya.

Karena Wuranta tidak berkata sepatah kata pun, maka Untara meneruskan, “Nah, marilah kita pergi ke banjar padepokan ini.”

Wuranta tidak dapat menolak lagi. Karena itu ia hanya dapat menganggukkan kepalanya dan berdesis, “Baiklah, Untara.”

“Besok atau lusa, apabila keadaan telah menjadi tenteram sebagian pasukanku akan kembali ke Jati Anom. Aku akan tetap berkedudukan di sana. Kita tidak perlu mencemaskan kekuatan orang-orang Jipang lagi di daerah ini. Juga orang-orang dari padepokan Tambak Wedi. Kita telah berhasil menyumbat mulut sarang mereka dan menangkap segenap isinya di dalam sarang ini, Mungkin masih ada satu dua kelompok kecil orang-orang Jipang yang keras kepala di-daerah-daerah lain. Tetapi itu pun pasti akan segera diselesaikan.”

Kemudian kepada para prajurit yang berdiri tegak di belakang Wuranta, Untara berkata, “Nah, kau sudah mendengar tentang laki-laki tua itu. Usahakan besok mayatnya berdua telah berada di banjar. Mayat itu akan dikuburkan bersama dengan orang-orang Pajang yang gugur. Mungkin kalian masih belum dapat merasakan jasa laki-laki tua itu, tetapi pada saatnya kalian akan mengetahuinya.”

Sejenak kemudian Untara dan para pengawalnya telah kembali ke banjar padepokan bersama Wuranta. Di banjar itu benar-benar tidak dijumpainya lagi Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah, yang berada di sana tinggal beberapa orang perwira prajurit Pajang dan Ki Tanu Metir.

Ternyata sikap para perwira yang langsung mengerti tugas-tugas berat Wuranta agak berbeda dengan sikap para prajurit. Namun setelah Wuranta berhasil merenungkan dengan tenang, maka sumber dari sikap yang tidak menyenangkan dari para prajurit itu adalah dirinya sendiri. Usahanya untuk menutupi kekerdilannya, ternyata telah banyak menyinggung perasaan orang lain.

Para prajurit yang ditinggalkan oleh Wuranta di halaman di belakang halaman banjar padepokan, sejenak saling berpandangan. Salah seorang dari mereka kemudian berdesis, “He, ternyata kata-kata anak muda itu benar terjadi. Untaralah yang mencarinya dan mengucapkan terima kasih kepadanya.”

“Memang menurut pendengaranku, apa yang dilakukannya dapat menentukan penyelesaian ini.”

“Aku menyangka ia terlampau sombong. Tetapi aku menjadi heran, bahwa pada saat-saat terakhir ia seakan-akan mengakui kesalahannya, mengakui sikapnya yang tidak sewajarnya.”

“Ah,” desah prajurit yang lain, “kenapa hal itu kita risaukan. Biarlah para perwira mengurusnya. Urusan kita adalah, berkeliling padepokan, terutama di sekitar banjar.”

“Tetapi mayat kedua suami isteri itu?”

“Oh, biarlah mereka yang bertugas untuk itu. Kita beritahukan saja kepada mereka, apa yang harus mereka lakukan.”

Ketika para prajurit itu kemudian melakukan tugas masing-masing, maka tempat itu pun menjadi sepi kembali.

Di dalam lingkungan para perwira yang sebagian besar dari mereka telah mengerti benar-benar akan peranannya, maka Wuranta merasa telah menemukan dirinya kembali. Betapa penyesalan dan kecewa melanda dadanya apabila diingatnya segala tindak tanduknya selama ini. Bahkan ia merasa heran sendiri, kenapa ia seakan-akan menjadi liar dan kehilangan pegangan.

Meskipun demikian setiap kali ia teringat akan Sekar Mirah maka hatinya masih terasa pahit. Gadis itu belum lama dikenalnya. Baru beberapa hari. Tetapi yang beberapa hari itu ternjata telah menjadikannya hampir gila.

Malam pun menjadi semakin malam. Di kejauhan terdengar anjing-anjing liar berteriak-teriak berebut makan. Terasa betapa angin membawa bau darah menyentuh hidung mereka yang tajam. Sekali-sekali terdengar suara burung hantu dan burung kedasih seakan-akan sahut-menyahut, meneriakkan kepedihan yang ngelangut.

Sementara para prajurit yang bertugas masih saja sibuk hampir semalam suntuk, maka di sebuah rumah yang tidak begitu jauh dari banjar itu, Sekar Mirah duduk berpegangan tangan kakaknya. Meskipun ia sudah tidak lagi berada di antara mayat dan orang-orang yang terluka, namun ia masih diburu saja oleh takut dan ngeri.

“Kemanakah Ki Tanu Metir kini?” bertanya Swandaru kepada Agung Sedayu.

“Entahlah. Mungkin masih berada di banjar atau kemana. Mungkin guru sedang mencari Wuranta itu lagi. Atau mungkin kini sedang tidur nyenyak.”

Swandaru terdiam. Gurunya kadang-kadang tidak memberitahukan kemana ia pergi. Bahkan kadang-kadang sampai berhari-hari. Tetapi dalam suasana seperti ini, maka mereka seolah-olah selalu ingin berada bersamanya. Bukan karena perasaan takut bahwa tiba-tiba mereka harus bertempur melawan Ki Tambak Wedi, tetapi perasaan sepi seakan-akan menghunjam dalam-dalam di jantung mereka.

Sesaat mereka saling berdiam diri. Namun dengan demikian maka terasa malam menjadi kian sepi. Kesepian itu ternyata tidak menyenangkan sekali, sehingga tanpa sesadarnya Agung Sedayu berbicara sekedar untuk menyentakkan perasaan sepi itu, “Apakah kita tidak akan tidur?”

Swandaru mengangkat wajahnya. Dipandanginya lampu minyak yang menyala berkeredipan. Kemudian Swandaru itu pun berkata kepada Sekar Mirah, “Mirah, tidurlah.”

Sekar Mirah menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku ngeri, Kakang.”

“Di sini tidak ada apa-apa, Mirah,” berkata kakaknya. “Di sini tidak seperti banjar padepokan yang penuh dengan orang-orang terluka. Di sini kita mendapat tempat yang baik. Agaknya pemilik rumah ini pun orang yang baik pula”

“Tetapi ia mendendam seperti orang-orang Tambak Wedi yang lain, Kakang. Siapa tahu,” Sekar Mirah berhenti sejenak sambil memandang berkeliling kalau-kalau ada orang lain di dalam ruangan itu. Ketika tidak dilihatnya seseorang maka ia berkata perlahan-lahan, “Siapa tahu bahwa ia akan mempergunakan setiap kesempatan untuk melepaskan dendamnya.”

“Tetapi tidak seorang pun dari rumah ini terbunuh. Suami perempuan itu ternyata hanya terluka, tidak terlampau parah. Dan sekarang laki-laki itu berada di banjar.”

“Itu sudah cukup membuat hatinya mendendam,” Agung Sedayu dan Swandaru kemudian berdiam diri. Mereka melihat wajah Sekar Mirah yang dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan.

“Kenapa kita tidak kembali saja ke Sangkal Putung, Kakang?” bertanya Sekar Mirah tiba-tiba.

“Ah, bukankah hari masih malam?” jawab kakaknya.

“Tetapi itu lebih baik daripada aku berada di sini. Aku tidak juga dapat tidur dikejar oleh perasaan takut dan ngeri.”

“Jalan masih cukup berbahaya, Mirah,” sahut Agung Sedayu.

“Bukankah orang-orang Jipang dan Tambak Wedi mutlak dihancurkan di sini.”

“Tetapi justru orang-orang yang terpenting dapat meloloskan diri. Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya.”

“Tetapi mereka pasti lari jauh-jauh. Mereka tidak akan berada di sekitar padepokan ini. Apalagi di jalan ke Sangkal Putung. Mereka pasti tidak akan menyangka bahwa kita akan berjalan malam ini.”

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Kini pertimbangan-pertimbangannya datang kembali. Tidak seperti pada saat ia berangkat dari Sangkal Putung. Pada saat ia merasa kehilangan Sekar Mirah. Pada saat itu ia kehilangan sama sekali setiap pertimbangan apapun. Ia hanya ingin pergi dari Sangkal Putung segera untuk berusaha membebaskan Sekar Mirah. Tetapi kini, setelah Sekar Mirah itu bebas dari cengkeraman Sidanti, maka sifat-sifatnya telah datang kembali. Pertimbangan-pertimbangannya bermunculan dari bermacam-macam segi.

“Perjalanan yang demikian akan sangat berbahaya,” berkata Agung Sedayu.

“Bagiku perjalanan itu akan lebih baik. Aku tidak kehilangan waktu semalam ini. Daripada kita duduk tanpa arti di sini, bukankah lebih baik kita berjalan ke Sangkal Putung? Besok kita pasti sudah mencapai kademangan itu. Dan besok kita sudah dapat bersama dengan ayah dan ibu.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia menjadi ragu-ragu. Tetapi Sekar Mirah berkata terus, “Apakah yang kita dapatkan dengan duduk-duduk saja begini? Aku sudah terlampau rindu kepada ayah dan ibu. Ayah dan ibu pun pasti akan terlalu gelisah menunggu.”

Swandaru tidak menjawab dan Agung Sedayu pun berdiam diri. Tetapi pertimbangannya sama sekali tidak sejalan dengan keinginan Sekar Mirah itu.

“Bagaimana, Kakang?” bertanya Sekar Mirah. “Marila kita pulang sekarang.”

Swandaru pun menjadi bimbang. Sebenarnya ia juga ingin segera pulang ke Sangkal Putung. Ia akan segera berkata kepada ibunya, bahwa janjinya telah terpenuhi. Pulang dengan membawa Sekar Mirah. Dan ibunya pun pasti akan bergembira karenanya. Kalau ibunya masih saja menangis, maka ibunya akan menjadi tenang.

Dalam kebimbangan itu ia mendengar Sekar Mirah mendesaknya, “Bagaimana, Kakang? Apakah tidak lebih baik kita pulang saja. Di sini kita sama sekali tidak berarti apa-apa. Mungkin orang-orang Pajang menganggap kita hanya memberati pekerjaan mereka saja.”

Akhirnya Agung Sedayu terpaksa mencegahnya. Katanya, “Jangan, Sekar Mirah. Aku kira kurang baik kiranya apabila kita tergesa-gesa kembali ke Sangkal Putung.”

“Ah,” Sekar Mirah berdesah, “sekehendakmulah kalau kau tidak akan pergi ke Sangkal Putung. Aku kira kau memang tidak akan pergi ke Sangkal Putung lagi. Kau sudah kembali ke kampung halamanmu, bersama kakakmu pula. Apa gunanya lagi kau pergi ke Sangkal Putung? Tetapi aku pasti harus pulang. Ayah dan ibuku menunggu aku. Mungkin ibuku selalu menangis dan ayahku tidak tenang bekerja. Karena itu aku akan segera kembali malam ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Selama ini ia tidak berpikir bahwa ia telah berada dekat dengan kampung halamannya. Kalau ia ingin kembali pulang, maka ia seharusnya pulang ke Jati Anom, ke rumah peninggalan ayahnya yang isinya telah hancur karena pokal Sidanti dan orang-orang Jipang. Tetapi selama ini ia seakan-akan merasa dirinya harus kembali ke Sangkal Putung. Ke tempat tugas pamannya, Widura.

Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu dihadapkan pada kebimbangannya sendiri. Apakah ia harus pergi ke Sangkal Putung atau ia akan tinggal di Jati Anom.

“Ayolah, Kakang Swandaru,” ajak Sekar Mirah, “kita pergi berdua. Di sini kita tidak mempunyai teman seorang pun kecuali kita berdua. Tetapi di Sangkal Putung setiap hidung adalah teman-teman kita yang baik, yang mengerti kesusahan dan kepedihan hati kita. Tetapi di sini kita seperti orang asing, yang dianggap mengganggu pekerjaan mereka saja.”

“Jangan berprasangka, Mirah,” sahut Agung Sedayu. “Tak seorang pun yang menganggap bahwa kita di sini hanya menambah pekerjaan orang-orang Pajang. Bukankah kita tidak mengganggu mereka. Kita dapat mengurus diri kita sendiri. Tetapi yang penting diperhatikan adalah kemungkinan yang akan kita temui di sepanjang jalan.”

“Kalau kau ingin tinggal di sini tinggallah,” potong Sekar Mirah.

“Aku datang bersama Adi Swandaru. Aku dan Adi Swandaru telah menyanggupkan diri kepada Ki Demang Sangkal Putung untuk mencarimu. Kalau kau diketemukan, maka sepantasnya bahwa kami berdualah yang harus menyerahkan kau kepada Ki Demang berdua.”

“Tidak perlu,” sahut Sekar Mirah, “kau tidak perlu pergi ke Sangkal Putung. Aku akan pulang bersama Kakang Swandaru. Kau hanya akan memperlambat perjalanan saja. Ternyata kau masih ingin tinggal di sini. Bahkan kau pasti masih ingin singgah di Jati Anom sehari atau dua hari.”

“Tidak Mirah. Aku tidak akan singgah di Jati Anom,” jawab Agung Sedayu. Tetapi ia menjadi heran mendengar jawaban itu, jawabannya sendiri. Dan sekali lagi ia menjadi bimbang, apakah ia akan pergi ke Sangkal Putung? Namun selanjutnya berkata, “Aku akan pergi ke Sangkal Putung mengantarkanmu. Tetapi jangan malam ini. Kita harus memperhitungkan setiap keadaan. Apalagi Kakang Untara pasti akan mencari kita. Sebab kita adalah sebagian dari tanggung jawabnya.”

“Bohong,” bantah Sekar Mirah. “Untara sama sekali tidak mempedulikan kita lagi. Apakah kita pergi, apakah kita tinggal di sini. Untara tidak akan mempertimbangkan. Bahkan orang-orangnya sajalah yang akan menggerutu karena mereka harus melihat kehadiran kita di sini.”

Agung Sedayu terdiam. Tetapi hatinya bergolak. Ia ingin membantah pendapat gadis itu, tetapi ia tidak ingin bertengkar. Sedang Swandaru yang kebingungan duduk saja sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kepalanya itu terasa pening.

Mereka terperanjat ketika mereka mendengar suara tertawa lirih. Kemudian terdengar pintu berderit. Perlahan-lahan seorang tua masuk ke dalam ruangan itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Orang itu adalah Ki Tanu Metir.

“Hem,” orang tua itu berdesah, “memang bermacam-macam pikiran dan perasaan bergulat di dalam padepokan ini.”

Ketiga anak muda yang berada di dalam ruangan itu memandanginya sambil bertanya-tanya di dalam hati. Apakah yang dimaksud oleh Ki Tanu Metir itu?

“Baru saja aku melihat Angger Wuranta yang sedang digoncangkan oleh perasaannya. Ia mengalami persoalan jiwa yang ternyata menggoyahkan keseimbangannya.”

Ketika Ki Tanu Metir terdiam sejenak maka Agung Sedayu pun bertanya, “Apakah yang telah terjadi dengan Wuranta, Guru?”

“Sekarang tidak apa-apa. Angger Wuranta telah bersedia pergi ke banjar padepokan. Aku kira ia telah berhasil menguasai perasaannya.”

“Apakah yang telah menggoncangkan perasaan itu, Kiai?”

“Ah, entahlah. Mungkin salah mengerti, salah tafsir, tetapi mungkin juga karena ia tidak puas terhadap kenyataan yang dihadapinya. Mula-mula Angger Wuranta merasa dirinya tidak mendapat perhatian dari pimpinan prajurit Pajang. Padahal ia merasa bahwa dialah yang telah membuka jalan masuk ke padepokan ini. Memang sebenarnyalah demikian. Tanpa Angger Wuranta maka semuanya akan menjadi lain. Mungkin sampai saat ini Angger Untara belum berhasil memasuki padepokan ini. Tetapi itu hanya perasaannya saja. Sebenarnya pimpinan prajurit Pajang menaruh perhatian terhadap semua unsur di dalam padepokan ini.”

Ki Tanu Metir berhenti sejenak. Dicobanya untuk menangkap kesan kata-katanya pada wajah anak-anak muda itu. Tetapi yang ditangkapnya adalah berbagai pertanyaan yang memancar dari sorot mata mereka, seolah-olah mereka bertanya, “Apakah yang telah dilakukannya?”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia meneruskan kata-katanya, “Hampir saja Angger Wuranta terjerumus ke dalam sikap yang tidak terpuji. Bahkan hampir mencelakakan dirinya. Sikapnya terhadap para prajurit Pajang terlampau kasar. Justru karena rasa rendah diri yang menjalari dadanya. Tetapi itu sudah lampau. Angger Wuranta telah menyadari keadaannya, bahwa orang-orang Pajang di sini mempunyai banyak sekali persoalan yang harus diselesaikan. Di antaranya adalah soal yang menyangkut Angger Wuranta itu sendiri.”

Ketiga anak-anak muda itu masih terdiam. Tetapi Sekar Mirah yang menundukkan wajahnya, tiba-tiba berkata, “Apakah Kiai menyindir aku?”

“Oh,” Ki Tanu Metir terperanjat. Tetapi kemudian ia tersenyum, “Jangan salah sangka, Ngger. Aku tidak ingin menyindir seseorang. Aku sudah mengatakan bahwa dalam keadaan serupa ini banyak sekali persoalan yang tumbuh dan bahkan berkembang di padepokan ini. Angger Wuranta adalah gambaran dari seorang anak muda yang kecewa. Aku tidak tahu apakah yang mengecewakannya. Kemudian seolah-olah ia membuat sebuah neraca. Neraca yang menimbang berat jasa dan penghargaan. Hampir ia berteriak, “Jasaku tidak dihargai orang”. Untunglah bahwa hal itu belum terjadi. Nah, aku kira persoalan Angger agak berbeda, Angger sama sekali tidak ingin dihargai karena jasa-jasa Angger. Bukankah begitu?”

Sekar Mirah tidak menjawab.

“Mungkin padepokan ini terlampau sepi buat Angger Sekar Mirah. Mungkin tidak seramai Kademangan Sangkal Putung. Di sana Angger pasti akan dikerumuni oleh orang-orang Sangkal Putung, para pemimpin kademangan dan para pemimpin prajurit Pajang. Tetapi keadaan Sangkal Putung berbeda dengan keadaan di sini. Di Sangkal Putung orang-orang sudah tidak disibukkan oleh berbagai macam persoalan. Sedang di sini sangat berlainan.”

“Aku tahu. Aku tahu, Kiai,” potong Sekar Mirah. “Maksud Kiai ingin mengatakan bahwa aku terlampau manja. Bukankah begitu? Nah, buat apa aku bermanja-manja di sini. Itu pun salah satu sebab kenapa aku harus segera pulang ke Sangkal Putung.”

“Bukan begitu, Ngger,” sahut Kiai Gringsing, “meskipun dugaan Angger itu sebagian benar. Tetapi maksudku adalah, bahwa Angger telah cukup dewasa. Karena itu Angger seharusnya menghadapi setiap persoalan dengan sikap dewasa. Bukan sebagai seorang gadis kecil yang patah hati ditinggal kekasih. Lalu lari tanpa mempertimbangkan persoalan yang akan dihadapi di tengah jalan. Tetapi Angger tidak akan berbuat demikian. Angger adalah puteri seorang Demang yang cukup bijaksana. Karena itulah maka kebijaksanaan itu pasti juga Angger miliki. Juga pada Angger Swandaru yang setiap hari mengikuti cara Ki Demang melakukan tugasnya.” sekali lagi Ki Tanu Metir berhenti. Sekali lagi ia menunggu kesan yang terbayang di wajah anak-anak muda itu. Kemudian katanya, “Nah, kalau Angger sependapat, maka aku harap Angger tidak meninggalkan padepokan ini untuk sementara. Aku menyangka bahwa Ki Tambak Wedi, Argajaya, dan Sidanti masih berkeliaran di sekitar tempat ini. Setiap orang yang dijumpainya pasti akan menjadi korban pelepasan dendamnya. Nah, bayangkan apa yang akan dilakukan oleh Sidanti apabila Angger nanti bertemu dengan orang itu di tengah jalan.”

(……maaf ada yang putus di sini karena terpotong saat scanning) Berdebarlah Sekar Mirah mendengar nama Sidanti. Sehingga tumbuhlah kecemasan yang menggores jantungnya yang berdebaran. Meskipun demikian gadis itu tidak menjawab sepatah kata pun. Namun bagi Ki Tanu Metir kediamannya adalah cukup jelas. Kediamannya itu adalah sebuah jawaban yang cukup tegas.

“Tenangkanlah hati kalian di sini. Hadapilah semuanya dengan sikap yang masak. Pengalaman yang telah terjadi seharusnya membuat kalian dewasa.”

Tak seorang pun yang menyahut. Dan sejenak kemudian, Ki Tanu Metir berkata, “Beristirahatlah, aku akan pergi ke banjar. Mungkin ada sesuatu yang harus aku kerjakan di sana, di antara orang-orang yang terluka. Aku datang hanya sekedar menengok kalian.”

Ketika Ki Tanu Metir meninggalkan mereka, maka untuk sesaat mereka masih tetap berdiam diri. Sekar Mirah menundukkan wajahnya dalam-dalam meskipun ia masih tetap berpegangan tangan kakaknya. Agung Sedayu melepaskan pandangan matanya menembus lubang pintu yang masih sedikit terbuka, sedang Swandaru sekali-sekali mengangguk-anggukkan kepalanya. Terngiang di telinganya kata-kata gurunya, “Pengalaman harus membuat kalian dewasa.”

Malam yang hitam pekat berjalan dengan tenangnya. Semakin lama semakin jauh. Bintang-bintang di langit bergeser sedikit demi sedikit ke Barat. Namun ketiga anak-anak muda itu masih saja duduk membeku.

Ternyata malam itu tidak seorang pun di antara mereka yang tertidur. Mereka sama sekali tidak dapat melepaskan kegelisahan dan kecemasan tentang bermacam-macam persoalan. Tetapi Sekar Mirah sudah tidak lagi mendesak kakaknya untuk meninggalkan padepokan itu mendahului ke Sangkal Putung. Setiap kali keinginan itu tumbuh di hatinya, maka terbayanglah wajah Sidanti yang sangat menakutkan baginya.

Sehari berikutnya mereka hampir tidak keluar dari rumah itu. Hanya Agung Sedayu sajalah yang pergi ke banjar sebentar untuk bertemu dengan kakaknya yang masih sangat sibuk. Sebenarnya anak muda itu ingin juga bertemu dengan Wuranta. Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Ia tidak tahu bagaimanakah sikap Wuranta itu kini terhadapnya. Dan ia masih tetap mencari-cari jawab atas pertanyaannya yang mengganggunya selama ini tentang sikap anak muda itu.

Tetapi pada saat Agung Sedayu berada di banjar padepokan itu Wuranta sedang menunggui pemakaman kakek tua suami isteri yang telah menolongnya. Sesaat ia menunggu, namun Wuranta belum juga datang. Akhirnya keragu-raguannya telah mengurungkan niatnya itu, ia tidak menunggu Wuranta lagi, yang ditunggunya adalah kakaknya dan Ki Tanu Metir.

Beberapa saat kemudian Agung Sedayu melihat kakaknya bersama Ki Tanu Metir diiringi oleh beberapa perwira yang lain datang ke banjar itu. Tampak wajah-wajah mereka yang tegang dan bersungguh-sungguh sehingga Agung Sedayu tidak berani menegur kakaknya lebih dahulu. Ia menunggu saja sambil berdiri di bawah tangga pendapa padepokan itu. Terasa dadanya berdebar-debar. Ia memandang kakaknya kini jauh berbeda dengan saat-saat ia masih di Jati Anom. Justru setelah ia melihat pekerjaan dan tugas kakaknya, dan justru karena sikapnya sendiri yang bertambah dewasa. Kini serasa ada jarak yang membatasi antara dirinya dan kakaknya itu.

Ketika Untara sampai di tangga pendapa, ia berhenti sejenak. Dipersilahkannya para prajurit yang datang bersamanya untuk masuk lebih dahulu. Setelah menatap wajah Agung Sedayu agak lama, maka terdengar kakaknya bertanya, “Sudah lama kau menunggu aku?”

“Belum terlalu lama, Kakang,” jawab Agung Sedayu.

“Apa kerja kalian di pondok itu?” bertanya Untara pula. Agung Sedayu terkejut mendengar pertanyaan itu. Dipandanginya wajah kakaknya, kemudian wajah gurunya.

“Kau tidak hadir pada upacara pemakaman prajurit-prajurit yang gugur dalam peperangan ini. Peperangan yang juga telah menyelamatkan gadis Sangkal Putung itu.”

Dada Agung Sedayu berdesir mendengar kata-kata kakaknya. Sejenak ia terdiam membeku. Hanya matanya saja yang berpindah-pindah dari kakaknya kepada gurunya.

“Seharusnya kau datang bersama Adi Swandaru untuk menunjukkan rasa terima kasihmu dan rakyat Sangkal Putung. Bahwa puteri Ki Demang itu sudah dibebaskan.”

Dada Agung Sedayu menjadi sesak mendengar teguran itu. Ia sama sekali tidak mengerti bahwa hari ini akan diselenggarakan pemakaman prajurit-prajurit yang gugur di peperangan ini. Karena itu maka dengan jujur ia berkata, “Aku sama sekali tidak tahu, Kakang, bahwa hari ini telah diselenggarakan pemakaman itu.”

“Kau tidak beranjak dari pondokmu sehari ini. Baru sekarang kau datang, setelah semuanya selesai. Kalau semalam atau pagi-pagi tadi kau datang, kau pasti akan mengetahuinya.”

Sekali lagi Agung Sedayu terdiam. Tetapi terasa dadanya bergetar semakin cepat. Kemudian dengan sungguh-sungguh ia berkata, “Kalau aku tahu, maka aku pasti akan datang. Orang yang mengantarkan makananku pun tidak memberitahukan hal itu kepadaku. Dan….” kata-kata Agung Sedayu terputus. Tetapi matanya terlontar kepada gurunya yang berdiri di samping Untara.

“Bukan kami yang harus memberitahukan itu kepadamu,” jawab kakaknya, “tetapi kau yang harus datang bertanya tentang hal itu kepada kami.”

Wajah Agung Sedayu tiba-tiba menjadi tegang. Ia tidak dapat memahami sikap kakaknya. Perasaannya sama sekali tidak dapat menerima perlakuan itu. Tetapi ia berhadapan dengan kakaknya. Pertimbangannya cukup cermat untuk mencegah berbuat sesuatu yang tidak menguntungkannya.

“Semua orang hadir dalam upacara itu,” kakaknya meneruskan, “hanya kau dan Swandaru sajalah yang tidak.”

“Mungkin para prajurit selalu mendapat keterangan dan pemberitahuan tentang semua hal yang akan terjadi, Kakang, tapi kami tidak,” jawab Agung Sedayu sekenanya.

Tetapi ia terkejut ketika kakaknya menyahut, “Wuranta juga bukan seorang prajurit. Tetapi ia datang jaga dalam upacara itu. Meskipun anak muda itu termasuk salah seorang yang paling berjasa dalam peperangan ini, namun ia tidak bersikap acuh tak acuh. Ia tidak menunggu seorang utusan untuk memberitahukan kepadanya apa yang akan terjadi di padepokan ini. Ia datang sendiri dengan rendah hati dan bersikap wajar.”

Wajah Agung Sedayu menjadi merah. Ia benar-benar tidak mengerti akan sikap kakaknya. Sejak peperangan ini selesai, kakaknya telah marah-marah saja kepadanya. Ia dianggap bersalah karena ia tidak berada di dekat kakaknya ketika pertempuran berlangsung. Agaknya lepasnya Ki Tambak Wedi dan Sidanti telah membuatnya sangat kecewa. Tetapi bahwa kakaknya itu terus-menerus memarahinya itu benar-benar tidak dapat dimengertinya. Kemarin ia menganggap bahwa kakaknya telah merubah sikapnya. Namun tiba-tiba kini sikap itu diulanginya lagi.

Tetapi kali ini yang menjawab adalah Ki Tanu Metir, “Angger Untara, Angger terlampau letih. Angger diburu oleh tugas-tugas yang berat dan kekecewaan yang bertumpuk-tumpuk. Tetapi yang paling mengecewakan Angger adalah hilangnya Ki Tambak Wedi. Itulah sebabnya Angger mudah merasa tersinggung. Namun Angger Agung Sedayu pun tidak terlampau bersalah. Aku seharusnya memberitahukan kepadanya apa yang akan dilakukan di padepokan ini. Terutama upacara itu. Tetapi aku sengaja tidak berbuat demikian. Bahkan sekarang aku mengharap Angger Agung Sedayu segera kembali ke pondoknya.”

Wajah Untara yang tegang menjadi berkerut-merut, “Kenapa?” ia bertanya.

“Sama sekali bukan persoalan yang menyangkut masalah keprajuritan. Bukan pula masalah peperangan. Masalahnya terlampau kecil untuk disebutkan di sini. Tetapi masalah yang terlampau kecil itu pulalah yang telah mendorong Angger Untara semalam datang memanggil Wuranta.”

Kini dada Untara-lah yang berdebar. Di hadapannya berdiri Ki Tanu Metir, guru Agung Sedayu. Agaknya orang tua itu berusaha untuk menutupi kesalahan adiknya yang telah membuatnya sangat kecewa. Adik Senopati yang langsung menangani peperangan ini, tetapi ia adalah satu-satunya orang yang tidak hadir pada upacara penghormatan para prajurit yang gugur, selain kakak beradik dari Sangkal Putung itu.

Tetapi bagaimanapun juga Untara merasa segan terhadap orang tua ini. Dalam urutan tugasnya sebagai seorang Senapati di daerah ini, maka nama Ki Tanu Metir tidak dapat dilupakannya. Dalam tugas sandinya, di saat-saat Sangkal Putung berada di dalam bahaya, maka orang tua ini pulalah yang menyelamatkannya. Kalau ia tidak mendapat perlindungannya, maka dadanya pasti sudah dibelah oleh Plasa Ireng dan kawan-kawannya yang pada saat itu mencarinya karena petunjuk Alap-alap Jalatunda di dukuh Pakuwon. Dan kini, dalam tugasnya yang terberat, memecah padepokan Tambak Wedi, maka orang tua ini pulalah yang seakan-akan telah merintis jalan, dengan melepaskan Wuranta, mendahului segala tindakan-tindakannya.

Namun meskipun demikian ia tidak dapat melepaskan kedudukannya sebagai seorang senapati yang bertanggung jawab. Apalagi berhadapan dengan adiknya yang dianggapnya telah mengabaikan keharusan-keharusan yang harus dilakukannya di dalam lingkungan keadaan serupa itu.

“Kiai,” berkata Untara itu kemudian, “aku tidak tahu masalah yang Kiai maksudkan. Masalah-masalah kecil yang manakah yang mendorong Kiai untuk menyuruh Agung Sedayu segera kembali ke pondoknya, dan yang telah mendorong aku untuk memanggil Wuranta?”

“Ah,” Ki Tanu Metir berdesis, “bukankah aku sudah mengatakan kepadamu, Ngger? Dan Angger bahkan telah berusaha untuk sekedar menyisihkan waktu yang sangat sempit ini untuk memanggil Wuranta dan membawanya kembali ke banjar ini? Aku rasa Angger melakukannya dengan pengertian bahwa Wuranta adalah seorang yang paling berjasa di dalam tugas Angger kali ini. Tetapi Wuranta itu tidak datang sendiri seperti yang Angger katakan. Apalagi dengan rendah hati.”

Wajah Untara menjadi merah mendengar kata-kata Kiai Gringsing itu. Ternyata Kiai Gringsing kali ini benar-benar sedang berusaha untuk mengurangi kesalahan muridnya. Bahkan mempertentangkan kata-katanya tentang Wuranta.

“Nah,” Ki Tanu Metir meneruskan, “seharusnya Angger Untara dapat mengerti. Jangan salahkan Agung Sedayu. Dan sekarang aku tetap berpendapat bahwa sebaiknya Angger Agung Sedayu kembali ke pondoknya.”

Wajah Untara masih memerah dalam ketegangan. Tetapi keseganannya terhadap Kiai Gringsing telah menahannya untuk berbuat terlampau banyak. Namun perasaannya sama sekali tidak senang melihat sikap orang tua itu, yang dengan berterus terang telah melindungi kesalahan adiknya.

Senapati itu ingin adiknya bersikap sebagai seorang prajurit yang baik. Justru karena ia seorang senapati. Untara itu merasa bahwa setiap orang menganggap bahwa adiknya terlampau berat untuk meninggalkan gadis Sangkal Putung itu, sehingga ia tidak menghadiri upacara yang diadakannya hari ini. Sedang Untara merasa bahwa sikap gadis itu terlampau manja, sehingga ia terpaksa memerintahkan kepada bawahannya untuk mengusahakan tempat yang khusus baginya.

“Kiai,” berkata Untara itu kemudian, “tetapi bagaimanapun juga aku tidak dapat membenarkan sikap Agung Sedayu. Apakah Kiai tidak merasa malu, seandainya setiap orang di sini bertanya-tanya di dalam hatinya. Mereka masih dapat mengerti tentang keadaan Swandaru. Kalau anak itu tidak menghadiri upacara ini, maka sudah pasti adiknya tidak mau dan tidak berani ditinggalkannya. Tetapi bagaimana dengan Agung Sedayu yang menungguinya saja tanpa ada hubungan keluarga dengan gadis itu?”

“Ah,” Agung Sedayu berdesah. Tetapi ia tidak berani menyahut. Yang menjawab adalah Kiai Gringsing, “Itu adalah suatu pengorbanan baginya, Ngger. Justru suatu pengorbanan. Aku sengaja melakukannya.”

“Pengorbanan?” wajah Untara menjadi aneh.

“Ya.” Kemudian kepada Agung Sedayu orang tua itu berkata, “sekarang kembalilah ke pondokmu.”

Agung Sedayu menjadi bingung. Sejenak ia berdiri saja seperti patung, sehingga Ki Tanu Metir itu mengulangi, “Kembalilah ke pondokmu. Biarlah persoalanmu aku selesaikan dengan kakakmu.”

“Nanti dulu,” cegah Untara, “jangan pergi dulu. Kau harus minta maaf kepadaku, bahwa kau tidak hadir dalam upacara ini. Jangan kau sebut-sebut lagi alasan-alasan yang pasti hanya kau buat-buat saja saja bersama dengan kakak beradik itu.”

Kini wajah Ki Tanu Metir-lah yang berkerut. Tetapi sebelum ia berbicara Untara telah mendahului, “Ayo, bersikaplah jantan untuk mengakui kesalahan sendiri. Kalau kau tidak melihat kesalahanmu, maka seterusnya kau akan mengulangi kesalahan yang serupa. Aku adalah senapati di daerah ini.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Katanya lembut, “Lakukanlah, Ngger.”

Agung Sedayu menggigit bibirnya. Ia tidak mengerti benar kenapa kakaknya bersikap demikian keras terhadapnya. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain daripada melakukan perintah itu. Katanya, “Baik, Kakang. Aku minta maaf. Mudah-mudahan aku tidak akan mengulangi kesalahanku. Mungkin Kakang tersinggung karena kebodohanku bahwa aku tidak dapat menghadiri upacara yang Kakang anggap sebagai upacara yang penting. Dengan demikian maka aku telah menimbulkan kesan yang kurang baik. Tidak saja atas diriku sendiri, tetapi telah menyentuh kewibawaan Kakang di sini. Sebenarnya aku ingin memberikan banyak keterangan tentang hal itu, tetapi Kakang menganggap bahwa setiap alasan yang hanya dibuat-buat saja. Karena itu maka lebih baik bagiku untuk tidak mengucapkannya.”

Tiba-tiba wajah Untara yang tegang tampak mengendor. Ia melihat sikap adiknya dengan memelas. Adiknya yang sejak kecil pantas dikasihani karena sifat-sifatnya. Kini, ketika adiknya mulai tumbuh dan berkembang telah dipaksanya untuk berbuat demikian. Berbuat memelas seperti pada masa kanak-anaknya.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berusaha untuk tetap dalam sikapnya, sikap seorang senapati perang.

Karena itu maka Untara tidak menyatakan perasaannya. Disimpannya perasaan ibanya di dalam dadanya, bahkan ia mencoba untuk bersikap keras terhadap Agung Sedayu yang memang dianggapnya bersalah, mengabaikan keharusan-keharusan yang berlaku di dalam pasukannya, meskipun ia bukan seorang prajurit.

Dengan nada datar Untara itu berkata, “Nah, kau sudah minta maaf atas kesalahan itu. Karena itu maka kau jangan mengulangi kesalahan itu sekali lagi. Kau adalah orang yang berada di dalam lingkungan pasukanku, meskipun kau bukan seorang prajurit. Tetapi dalam keadaan serupa ini, maka peraturan keprajuritan berlaku atas semua orang, baik ia seorang prajurit maupun bagi mereka yang dengan suka rela menggabungkan diri dalam perjuangan ini untuk kepentingan Pajang.”

Agung Sedayu menganggukkan kepalanya, jawabnya, “Ya, Kakang, aku mengerti.”

“Nah, sekarang kau boleh kembali.”

Agung Sedayu memandang wajah kakaknya sejenak. Hampir saja ia bertanya, “Kembali kemana? Ke Jati Anom atau ke Sangkal Putung?”

Tetapi tiba-tiba Ki Tanu Metir menyahut, “Nah, Angger telah mendapat ijin untuk kembali. Kembalilah ke pondokmu. Tunggulah pesanku untuk selanjutnya.”

“Kenapa ia harus menunggu Kiai?” potong Untara. “Setiap kali ia harus datang ke banjar untuk melihat perkembangan keadaan.”

“Begitu maksudmu, Ngger?” bertanya Ki Tanu Metir.

Pertanyaan itu telah membuat Untara bertanya-tanya di dalam hatinya. Karena itu maka tiba-tiba ia terdiam sejenak. Tetapi sekali lagi ia berusaha untuk tetap bersikap sebagai seorang senapati. Maka jawabnya, “Ya. Aku menghendaki demikian.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baik, baik. Begitulah. Tetapi sekarang Angger silahkan kembali ke pondok.”

Agung Sedayu merasa aneh atas permintaan Ki Tanu Metir itu. Bukan saja Agung Sedayu, tetapi Untara pun bertanya-tanya di dalam hatinya. Kenapa Ki Tanu Metir seakan-akan tergesa-gesa ingin menyingkirkan Agung Sedayu?

Sejenak kemudian Agung Sedayu minta diri kepada kakaknya dan gurunya untuk kembali ke pondoknya. Di sepanjang jalan berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam dadanya. Kadang-kadang ia merasa, bahwa sebaiknya ia pergi meninggalkan padepokan ini, ke Jati Anom atau ke Sangkal Putung saja sama sekali. Ia dapat membuta dan menuli atas semua anggapan orang-orang Pajang padepokan ini atasnya. Tetapi ia dapat memberi penjelasan kepada pamannya, Widura di Sangkal Putung.

“Apakah Kakang Untara tidak setuju melihat hubunganku dengan gadis Sangkal Putung itu?” Agung Sedayu bertanya-tanya di dalam hatinya.

“Mudah-mudahan paman Widura dapat memberinya penjelasan. Tidak sebagai seorang perwira bawahan Kakang Untara, tetapi sebagai seorang paman yang melihat dan mengerti keadaanku sejak aku berada di Sangkal Putung untuk pertama kalinya.”

Di pondoknya Agung Sedayu masih melihat Sekar Mirah tidak mau berpisah dari kakaknya karena kecemasan dan ketakukan yang selalu mengejarnya. Kadang-kadang keinginannya untuk segera kembali ke Sangkal Putung seakan-akan tidak dapat dicegahnya. Tetapi setiap kali ketakutannya kepada Sidanti dan Ki Tambak Wedi sengaja dibesar-besarkannya sendiri untuk membantu mencegah keinginannya itu. Seandainya yang berulang kali menyebut nama Ki Tambak Wedi dan Sidanti itu hanya Agung Sedayu dan kakaknya Swandaru, maka ia pasti masih saja memaksa untuk kembali ke Sangkal Putung. Tetapi ternyata Ki Tanu Metir pun memperingatkannya pula. Dan ia mencoba untuk menganggap bahwa Ki Tanu Metir adalah orang yang paling dapat dipercaya.

Tiba-tiba saja pikiran Agung Sedayu meloncat kepada anak muda putera Ki Gede Pemanahan. Apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh anak muda itu seandainya ia mengalami perlakuan seperti dirinya pada saat ini.

“Tetapi ia putera seorang panglima tertinggi Wira Tamtama,” desisnya, “bagaimanapun juga ia akan mendapatkan beberapa kelainan dari anak-anak muda yang lain.”

Tanpa disadarinya maka keinginannya untuk bertemu dengan Sutawijaya telah mengganggu perasaannya. Kekagumannya atas anak muda itu serasa kian menjadi-jadi.

“Apakah kau bertemu dengan Kakang Untara?” bertanya Swandaru Geni, seakan-akan telah membangunkannya.

“Ya, aku telah menemuinya di banjar padepokan.”

“Apa katanya tentang kita?” Sejenak Agung Sedayu menjadi ragu-ragu, tetapi kemudian ia menjawab, “Tidak apa-apa. Ia hanya bertanya kenapa aku tidak hadir dalam upacara pemakaman pagi tadi.”

“O, apakah upacara itu telah dilakukan?”

“Sudah pagi tadi, meskipun belum seluruhnya. Tetapi upacara pelepasan para jenazah telah dilakukan.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku masih melihat kesibukan di jalan-jalan di padepokan ini. Aku sangka bahwa upacara ini belum dilakukan hari ini. Jadi kita berdua tidak hadir dalam upacara itu?”

“Ya, karena kita tidak tahu.”

“Sayang,” desis Swandaru. “Hal ini dapat menimbulkan kesan yang kurang baik atas kita bertiga.”

Agung Sedayu terdiam. Tetapi lalu ia menjawab, “Mudah-mudahan tidak.”

“Kau yakin?” desak Swandaru.

“Seandainya ada kesan itu, maka Ki Tanu Metir pasti akan memberikan penjelasan. Guru ada di banjar saat ini. Dan agaknya guru tidak menyalahkan aku. Bahkan ia mendesak supaya aku segera kembali ke pondok ini. Aku tidak tahu apakah maksudnya.”

Swandaru dan Sekar Mirah terdiam. Mereka tidak bertanya-tanya lagi. Tetapi terasa ada yang tersangkut di perasaan. Ada sesuatu yang tidak dimengertinya, tetapi membuat mereka gelisah. Sedang Agung Sedayu pun kemudian tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Bahkan kemudian ia berkata, “Beristirahatlah dengan baik. Mudah-mudahan pekerjaan Kakang Untara segera selesai. Kakang Untara tidak akan tinggal lama di padepokan ini.”

“Ya, menurut pendengaranku, Kakang Untara untuk sementara akan berkedudukan di Jati Anom.”

Mereka pun kemudian terdiam. Mereka duduk sambil menikmati pikiran masing-masing. Tetapi wajah-wajah mereka tampak menjadi tegang.

Sepeninggal Agung Sedayu, Untara dan Ki Tanu Metir masih berdiri di tangga banjar padepokan.

Tiba-tiba Ki Tanu Metir berdesis, “Kasihan anak itu.”

Untara mengerutkan keningnya. “Kenapa? Ia sudah menjadi semakin dewasa. Ia harus tahu kewajibannya. Anak itu terlampau manja di masa kanak-anaknya. Sekarang ia harus menyadari bahwa kemanjaannya itu sama sekali tidak menguntungkannya.”

Untara mengerutkan keningnya ketika Ki Tanu Metir menggeleng. “Tidak. Angger Agung Sedayu tidak terlampau manja. Tetapi ia adalah seorang penakut di masa kecilnya. Bahkan lebih dari itu. Ia adalah seorang pengecut. Kau ingat?”

Untara tidak menjawab Tetapi dadanya tersentuh mendengar sebutan itu bagi adiknya. Adik kandungnya.

“Kalau Angger Agung Sedayu itu seorang pengecut, maka ia memang perlu dikasihani.”

“Tetapi ia sekarang sudah tumbuh dan berkembang.”

“Itu hanya terjadi sesaat. Ia akan menjadi seorang pengecut untuk seterusnya. Ia tidak akan berani melihat bahaya yang cukup besar.”

“Kenapa, Kiai? Bukankah ia sekarang telah berani menghadapi lawan yang dahulu sangat ditakutinya? Sidanti.”

“Tetapi jiwanya tetap kerdil. Kalau jiwa itu sudah mulai mekar, maka Angger Untara sendiri telah menekannya. Dan ia akan tetap berjiwa kecil dan pengecut.”

Dada Untara berdesir mendengar kata Ki Tanu Metir yang langsung menyentuhnya. Sesaat ia terdiam. Dipandanginya wajah orang tua itu. Wajahnya itu tampaknya agak berbeda dengan wajah yang selalu dilihatnya. Wajah itu selalu tampak jernih dan seolah-olah selalu membayangkan senyum. Namun kini Untara melihat wajah itu terlampau bersungguh-sungguh.

“Ki Tanu Metir benar-benar tersinggung karena aku marah kepada muridnya, meskipun muridnya itu adalah adikku,” katanya di dalam hati.

Tetapi Ki Tanu Metir itu kemudian berkata, “Bukan saja Angger yang telah menekan jiwanya untuk tetap kerdil, tetapi aku pun telah mengorbankannya. Aku tidak dapat berbuat lain untuk kepuasan prajurit Pajang di Tambak Wedi dan untuk kepentingan anak-anak Jati Anom.”

Untara menjadi semakin tidak mengerti. Wajahnya menjadi semakin berkerut-merut. Tiba-tiba ia berkata berterus-terang, “Aku tidak mengerti Kiai.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia berkata dengan wajah yang semakin tampak bersungguh-sungguh, “Aku sebenarnya sangat kasihan kepada adikmu, Angger. Sebagian dari kesalahannya sehingga Angger marah kepadanya, adalah kesalahanku. Aku sengaja menyimpannya di dalam gubug itu. Aku pula yang mendorong mereka untuk minta kepadamu tempat yang lain, tidak di banjar ini. Alasannya agaknya cukup kuat, karena Sekar Mirah selalu ketakutan di sini. Tetapi apakah Angger ingat alasan yang telah mendesak Angger meluangkan waktu Angger yang terlampau sempit ini untuk memanggil Wuranta?”

“Oh,” Untara mengangguk-anggukkan kepalanya, “Wuranta mempunyai kedudukan yang lain dengan Agung Sedayu, Kiai. Wuranta menurut Kiai sendiri adalah orang yang berhasil menembus rapatnya dinding padepokan ini. Bukankah karena Wuranta ada di dalam padepokan ini maka semuanya dapat berlangsung dengan lancar? Bukankah menurut keterangan dan pengakuan Kiai sendiri, bahwa Kiai dapat masuk ke dalam padepokan ini juga karena petunjuk-petunjuk Wuranta. Itulah sebabnya maka Wuranta harus mendapat penghargaan yang sewajarnya. Para prajurit Pajang harus mendapat penjelasan sehingga mereka tidak memperlakukan Wuranta sekenanya. Meskipun sebagai seorang anak muda Wuranta tidak mampu melawan seorang prajurit pun dalam olah kanuragan, namun keprigelannya dalam bidang sandi perlu mendapat penghargaan.”

“Dan aku telah membantu Angger untuk menyatakan terima kasih itu kepada Angger Wuranta. Aku merasa kasihan, karena kejutan jiwanya Angger Wuranta menjadi rendah diri dan berbuat di luar kewajaran. Kini ia telah menemukan kepercayaan kepada diri sendiri karena Angger Untara sendiri telah menaruh perhatian atasnya, sehingga dengan demikian tidak seorang pun akan mengumpati para prajurit Pajang, bahwa seolah-olah setelah tidak diperlukan lagi, Wuranta langsung dilemparkan tanpa perhatian. Hal itu pasti akan menyakitkan hati anak-anak Jati Anom.”

“Ya, ya aku sudah mengerti. Karena itu betapa aku sibuk, aku perlukan datang mengambilnya.”

“Dan kelak membuat suatu upacara untuk mengucapkan terima kasih kepadanya bersama orang-orang Jati Anom.”

“Ya. Kita harus menjaga supaya ia tetap tenang dan cukup percaya pada diri sendiri. Bukankah seperti yang Kiai katakan, gadis Sangkal Putung itulah yang telah membuatnya hampir berputus asa. Dan itu adalah karena Agung Sedayu pula?”

“Ya. Itulah sebabnya Angger Agung Sedayu harus dikorbankan.”

“Bagaimana?” Untara menjadi semakin bingung.

“Bahwa ia pergi dari banjar, dan kemudian tidak selalu menampakkan dirinya itu berarti memberi kesempatan Angger Untara untuk menempatkan Angger Wuranta di tempat sewajarnya. Ada pun kata orang terhadap Agung Sedayu yang tidak berperan apa pun di sini, itu tidak penting.”

Dada Untara menjadi berdebar-debar mendengar kata-kata Ki Tanu Metir itu. Ia menjadi semakin jelas arah percakapan yang diucapkan oleh Ki Tanu Metir dengan nada yang berat dan bersungguh-sungguh itu. Sejenak kemudian ia masih mendengar Ki Tanu Metir berkata, “Dan aku sudah berusaha untuk melakukannya Aku sudah menyingkirkan Agung Sedayu dari banjar ini, supaya Wuranta tidak lagi berkeberatan datang kemari. Dan aku sengaja tidak memberitahukan upacara yang diadakan hari ini supaya Agung Sedayu tidak datang kemari, apalagi bersama Sekar Mirah. Apabila demikian maka ada kemungkinan bahwa Wuranta akan menyingkir dari banjar ini dan untuk seterusnya ia tidak akan datang kembali. Bahkan mungkin ia akan terus kembali ke Jati Anom sebelum Angger Untara sendiri kembali bersama sebagian dari pasukan Pajang di sini. Nah, Wuranta akan dapat mengatakan kekecewaannya kepada anak-anak muda Jati Anom. Ia dapat mengatakan hal-hal yang tidak benar atau setidak-tidaknya kurang tepat karena arus perasaannya yang kadang-kadang kurang dapat dikendalikan. Dengan demikian bukankah ada baiknya bagi Angger bahwa Angger Agung Sedayu tidak datang dalam upacara ini?”

“Oh,” dahi Untara menjadi berkerut-merut, “itu tidak jujur Kiai,” katanya dengan serta-merta.

“Kenapa?”

“Kiai tidak bersikap adil terhadap keduanya,” ternyata kata-kata Kiai Gringsing telah menyentuh hati Untara sebagai seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya sejak masa kanak-kanaknya. “Seharusnya Kiai memberitahukan dahulu kepadaku akan rencana itu. Aku telah bersikap terlampau kasar terhadap Agung Sedayu. Seharusnya Wuranta pun harus dapat menyadari dirinya. Persoalan-persoalan pribadi harus dapat disingkirkan di dalam masalah-masalah yang jauh lebih besar dan penting.”

“Ya,” sahut Kiai Gringsing. “Aku memang bersalah. Aku tidak memberitahukan dahulu kepada Angger Untara. Tetapi aku tidak sempat. Terlalu sulit untuk mendapat kesempatan berbicara dengan Angger karena pekerjaan Angger yang tidak ada hentinya. Namun Angger jangan mempersoalkannya dengan Angger Wuranta. Ternyata perasaan anak muda itu terlampau mudah tersinggung. Aku kira baru untuk pertama kalinya ia merasa tertarik kepada seorang gadis. Dan gadis itu adalah Sekar Mirah. Justru Sekar Mirah yang sudah terlanjur terikat oleh Angger Agung Sedayu. Tetapi Angger Untara jangan mengatakan kepada adik Angger itu, bahwa ia harus mementingkan persoalan-persoalan yang lebih besar dari persoalan-persoalan pribadinya. Misalnya hubungannya dengan Sekar Mirah dan hubungannya dengan kewajiban-kewajiban yang akan Angger berikan kepadanya. Hubungan yang demikian adalah wajar bagi anak-anak muda. Bahkan mungkin akan membuatnya agak aneh dan berbeda dari kebiasaan hidup sebelumnya. Mungkin ia menjadi berani menentang orang lain dan bersikap kurang menyenangkan. Apalagi di hadapan gadis itu sendiri. Hanya satu dua orang sajalah yang dapat berbuat seperti Angger Untara, mengesampingkan semua persoalan pribadi dan menenggelamkan diri dalam kuwajiban Angger sebagai seorang prajurit. Tetapi aku kira Angger Agung Sedayu tidak akan dapat berbuat demikian. Meskipun mungkin ia dapat menyingkirkan segala macam pamrih kebendaan yang lain, namun hal yang satu itu pun harus hidup di dalam hatinya. Dengan demikian maka pribadinya akan dapat mekar. Hidup Agung Sedayu di masa kanak-anaknya selalu berada di samping seorang perempuan. Ibunya. Itulah sebabnya Agung Sedayu memerlukan seorang perempuan untuk mengembangkannya. Berbeda dengan Angger Untara. Angger Untara sejak lahir seolah-olah telah menggenggam pedang. Dan pedang itu kini masih tetap di dalam genggaman. Pedang merupakan kawan hidup yang paling setia bagi Angger Untara.”

Wajah Untara yang tegang menjadi semakin tegang. Terasa ia benar-benar berbicara dengan seorang yang rambutnya telah memutih, yang memandang segi-segi kehidupan dari sudut-sudut yang tidak pernah dipikirkannya. Dengan demikian maka Untara tidak menjawab. Ia mencoba mencernakan kata-kata Ki Tanu Metir itu. Namun bagaimanapun juga ia merasakan bahwa hal ini tetap merupakan persoalan-persoalan yang harus di tanganinya dalam keadaan serupa ini. Persoalan-persoalan yang tumbuh di dalam masa-masa perjuangan yang berat. Di Sangkal Putung, Untara dan Widura harus menangani persoalan Sidanti yang terlampau tamak dan terlampau ingin cepat menginjakkan kakinya ke tingkat yang lebih tinggi. Di sini ia berhadapan dengan persoalan yang lain.

Ki Tanu Metir agaknya melihat perasaan yang berkecamuk di dalam dada Untara sehingga ia berkata, “Bukankah persoalan-persoalan yang demikian itu dapat tumbuh di mana-mana? Dan bukankah di setiap saat Angger dapat menemui seribu satu macam persoalan? Apalagi dalam saat-saat serupa ini. Di saat-saat anak-anak muda kehilangan sasaran untuk melepaskan ketegangan yang masih mencengkam dada masing-masing, setelah lawan terkalahkan. Kadang-kadang ketegangan-ketegangan itu tidak tersalur sewajarnya. Karena itulah maka Angger Untara harus berusaha untuk menyalurkannya, jangan membendung. Carilah keseimbangan dari keduanya. Mungkin hal ini akan sangat mengganggu Angger. Tetapi ini pun merupakan sebagian dari tanggung jawab Angger sebagai seorang pemimpin. Persoalan ini justru persoalan yang belum pernah Angger alami sendiri.”

Untara mengerutkan dahinya. Tetapi kali ini ia melihat Ki Tanu Metir tersenyum, “Karena itu, Ngger, lengkapilah pengalaman Angger dalam segala segi, supaya Angger tidak canggung menghadapi persoalan-persoalan yang demikian.”

“Ah,” Untara berdesah.

“Hal itu akan sangat berguna bagi Angger, pekerjaan Angger kini sudah jauh berkurang. Pajang telah hampir menemukan kemantapannya. Mudah-mudahan tidak ada persoalan lagi yang akan mengganggu. Mudah-mudahan Pajang berbuat bijaksana sehingga tidak menumbuhkan persoalan-persoalan baru lagi.”

Untara mengerutkan keningnya. Dan ia mendengar Ki Tanu Metir bergumam, “Sebaiknya tidak saja daerah Pati, tetapi Mentaok pun harus segera diselesaikan, di samping Sidanti yang pasti akan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh, justru berhadapan dengan Mentaok.”

Untara tidak segera menjawab. Dicernakannya kata-kata itu baik-baik di dalam hatinya. Meskipun seakan-akan Ki Tanu Metir begitu saja mengatakannya, namun agaknya kalimat-kalimatnya mengandung suatu tuntutan terhadap pimpinan pemerintahan Pajang.

Ia tahu benar janji Adiwijaya kepada Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi. Apabila mereka dapat mengalahkan Arya Penangsang maka mereka akan mendapat tanah Pati dan bumi Mentaok. Meskipun yang memegang peranan penting dalam pertempuran yang terjadi antara kedua induk pasukan Pajang dan Jipang, yang langsung dipimpin oleh Arya Penangsang adalah Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar, dengan mempergunakan tombak Kiai Pleret, namun Adiwijaya tidak akan mengingkari janjinya. Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi akan mendapat tanah yang telah dijanjikan kepada mereka, tapi saat ini yang baru diberikan adalah tanah Pati. Baru Ki Penjawi yang telah menerima tanah yang telah dijanjikan oleh Adiwijaya.

Kedua daerah yang dijanjikan untuk hadiah itu pun ternyata sangat berbeda keadaannya. Pati telah tumbuh menjadi sebuah kota yang semakin hari semakin ramai, tetapi bumi Mentaok masih berupa sebuah hutan yang ganas dan liar. Hutan yang isinya telah dilihat sendiri oleh Sutawijaya dan beberapa kali oleh Ki Gede Pemanahan sebagai seorang prajurit Wira Tamtama. Namun sampai saat terakhir, tanah yang masih berupa hutan itu pun belum juga diberikannya.

Tetapi persoalan itu adalah persoalan para pemimpin pemerintahan. Bukan persoalannya dan bukan persoalan Ki Tanu Metir.

“Apakah maksud Ki Tanu Metir mengungkapkan persoalan itu?” bertanya Untara di dalam hatinya.

Dalam kediamannya itu Untara mendengar Ki Tanu Metir berkata, “Sudahlah, Ngger, silahkan. Para perwira mungkin telah menunggu Angger. Mungkin Angger perlu berislirahat atau ada persoalan-persoalan yang masih perlu Angger bicarakan.”

Untara menganggukkan kepalanya, “Baik, Kiai. Lalu Kiai sendiri akan pergi ke mana?”

“Ah, jangan hiraukan aku,” sahut Ki Tanu Metir sambil tersenyum. “Mungkin aku akan pergi kepada Angger Agung Sedayu atau berjalan-jalan ke mana saja.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia tidak dapat menahan diri lagi dan bertanya, “Tetapi apakah maksud Kiai mengatakan tentang tanah Pati dan bumi Mentaok?”

“Oh,” Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya, “tidak apa-apa, Ngger. Aku tidak bermaksud apa-apa. Tetapi sebaiknya hal-hal semacam itu mendapat perhatian. Tidak seorang pun tahu maksud pimpinan pemerintahan Pajang sekarang. Kenapa Pati yang justru telah berupa menjadi tanah yang ramai telah diserahkan, tetapi bumi Mentaok yang masih harus banyak mendapat pembinaan masih belum. Setelah persoalan orang-orang Jipang ini selesai, maka kejanggalan ini akan sangat terasa. Ki Gede Pemanahan, yang selama ini masih sibuk dengan tugasnya, maka kini ia akan segera mendapat peluang untuk memikirkannya.”

“Ah,” desah Untara, “Ki Gede Pemanahan tidak akan memperhitungkan hal-hal serupa itu. Ia adalah seorang besar yang tidak menimbang betapa besar pengorbanannya. Ia tidak akan berpikir tentang masalah-masalah yang tidak penting seperti tanah Pari dan bumi Mentaok.”

Untara mengerutkan keningnya ketika ia melihat Ki Tanu Metir tersenyum. Orang tua itu menjawab, “Bagaimanakah persoalannya sehingga janji itu lahir? Janji tentang kedua daerah itu?”

Untara tidak menjawab. Ditatapnya saja wajah Ki Tanu Metir yang selama ini dikenalnya sebagai seorang dukun yang baik dan seorang yang pilih tanding dalam olah kanuragan. Seorang yang juga mempergunakan nama Kiai Gringsing. Tetapi apakah Kiai Gringsing itu sudah cukup menyatakan dirinya dengan melepas kedoknya yang dipakainya untuk mengelabui Agung Sedayu, kemudian menyatakan dirinya bahwa Kiai Gringsing itu adalah Ki Tanu Metir? Tetapi siapakah Ki Tanu Metir itu sebenarnya? Ternyata orang itu terlampau banyak menaruh perhatian dan bahkan terlalu banyak mengerti tentang keadaan pemerintahan.

“Angger Untara,” berkata Ki Tanu Metir kemudian, “Aku kira Ki Gede Pemanahan tidak akan mengusik hal-hal yang telah dijanjikan itu seandainya tanah Pati pun tidak diserahkan. Dan kenapa Adiwijaya mempergunakan janji itu di dalam tindakannya? Bukankah sudah sewajarnya bahwa Ki Gede Pemanahan, Ki Penjawi, dan para senapati seperti Angger Untara melakukan perintahnya walau pun tanpa janji apa pun?”

“Ya, ya Kiai,” potong Untara, “aku tahu.”

“Nah,” berkata Ki Tanu Metir, “bukankah Adipati Pajang yang pasti akan menyebut dirinya kemudian Sultan Pajang itu juga mengharapkan janji atas kesanggupannya melenyapkan Arya Jipang.”

“Ah,” desah Untara, “apakah maksud Kiai sebenarnya?”

“Sudah aku katakan,” jawab Ki Tanu Metir, “tidak bermaksud apa-apa. Aku bukan orang penting. Aku bukan orang yang berwenang membicarakan. Tetapi aku ingin Pajang dapat tegak dengan mantap tanpa persoalan-persoalan apa pun yang dapat mengganggunya. Kalau Angger Untara dapat menolong memperingatkan Adipati Adiwijaya lewat siapa pun atas keterlambatannya, maka aku kira Pajang akan bersih dari segala gangguan dan Pajang akan sempat membangun dirinya.”

“Mudah-mudahan hal yang serupa itu tidak terjadi, Kiai. Jangan terlampau mencemaskannya. Orang-orang Pajang cukup besar jiwanya untuk mengatasi kesulitan-kesulitan kecil semacam itu.”

Ki Tanu Metir tersenyum. “Tetapi bukankah Adipati Adiwijaya juga menuntut janji yang diberikan oleh Ratu Kalinyamat kepadanya?”

“Sudahlah Ngger. Aku terlampau banyak berbicara. Lihat Angger Wuranta datang. Apabila Angger telah memutuskan untuk kembali ke Jati Anom, harap Angger memberitahukan kepadaku.”

Untara mengangkat wajahnya, memandangi jalan yang membujur di hadapan banjar itu. Dilihatnya Wuranta berjalan bersama beberapa orang prajurit Pajang. Kini tampaklah mereka menjadi semakin akrab. Wuranta sudah tidak lagi kehilangan keseimbangan, meskipun setiap kali dadanya masih juga berdebar-debar dan gairahnya menghadapi masa depan seolah-olah akan patah. Namun ia sudah mampu menempatkan dirinya. Ia sudah dapat membeda-bedakan persoalan yang dihadapinya.

“Ia tidak akan datang apabila Angger Agung Sedayu masih di sini. Ia pasti akan meninggalkan halaman ini,” desis Ki Tanu Metir.

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Anak itu terlampau perasa. Ia harus menyadari keadaannya dan tidak mudah dihempaskan ke dalam suatu perbuatan putus asa.”

“Perlahan-lahan, Ngger. Perlahan-lahan. Lambat-laun pengalamannya akan menuntunnya. Seperti Angger Agung Sedayu yang kini telah berhasil melepaskan diri dari kungkungan sifat-sifatnya di masa kanak-kanaknya.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia berkata, “Kiai sebenarnya aku masih ingin tahu, kenapa Kiai menaruh perhatian yang besar sekali terhadap Adipati Pajang.”

“Ah, sudahlah anggaplah itu hanya sekedar sendau gurau saja.”

“Tidak, Kiai,” sahut Untara, “ternyata Kiai tidak sekedar bergurau saja.”

“Lihat, Angger Wuranta telah memasuki halaman. Persilahkan ia masuk ke dalam pringgitan.”

Untara tidak mendapat kesempatan lagi untuk bertanya. Wuranta telah berdiri di hadapannya bersama beberapa orang prajurit.

“Masuklah,” Untara mempersilahkan.

Wuranta menganggukkan kepalanya. Kemudian ia melangkah masuk, sedang para prajurit segera pergi ke gandok kiri.

Ketika Wuranta telah hilang di balik pintu, Kiai Gringsing berkata, “Sudahlah, Ngger. Aku akan pergi. Angger sebenarnya tidak perlu merisaukan kata-kataku itu.”

“Aku perlu mengetahui, Kiai.”

Kiai Gringsing menggeleng, kemudian melangkah pergi sambil berkata, “Nanti malam aku akan datang kemari. Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah, biarlah tetap di dalam pondoknya. Besok atau lusa mereka akan ikut serta bersama-sama dengan Angger pergi ke Jati Anom. Kemudian mereka pasti akan segera kembali ke Sangkal Putung. Di Sangkal Putung orang tua mereka telah menunggu dengan cemas. Mudah-mudahan persoalan Sekar Mirah itu dapat diselesaikan dengan baik. Mudah-mudahan Wuranta tidak terluka karenanya, dan Agung Sedayu pun dapat mengerti pula keadaannya.”

“Hem,” Untara menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, Kiai Gringsing telah mendahului, “Jangan kau salahkan anak-anak muda itu. Perasaan yang demikian itu wajar bagi anak-anak muda.”

Untara hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sudahlah, Ngger,” sekali lagi Kiai Gringsing minta diri.

“Silahkan, Kiai.”

Kiai Gringsing pun kemudian meninggalkan halaman padepokan itu. Namun sejenak Untara masih berdiri saja di tangga pendapa. Dicobanya untuk mengingat apa yang baru saja dilakukan. Tiba-tiba anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti kenapa Ki Tanu Metir seolah-olah menahan Agung Sedayu di pondoknya. Ternyata Ki Tanu Metir berusaha memberi kesempatan kepada Wuranta untuk menemukan dirinya kembali. Sebab menurut penilaiannya, Wuranta mempunyai jasa yang cukup besar bagi Pajang.

“Tetapi tanpa Ki Tanu Metir, Wuranta tidak akan dapat berbuat apa-apa,” desis Untara itu. “Anak muda itu hanya sekedar melakukan petunjuk-petunjuk orang tua itu, meskipun dalam saat-saat yang penting kecakapan berpikir Wuranta juga dapat menentukan. Tetapi keduanya memiliki jasanya yang seimbang. Sayang aku tidak dapat berbuat banyak terhadap orang tua itu. Aku tidak akan dapat mengucapkan terima kasih kepadanya. Setiap kali ia hanya tertawa saja, seolah-olah pernyataan terima kasih yang demikian itu hanya merupakan keharusan adat tata cara”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya di dalam hati, “Tetapi terhadap Wuranta aku akan dapat melakukannya. Aku harus menunjukkan kepada anak-anak muda Jati Anom, bahwa pasukan Pajang menyatakan terima kasihnya tidak terhingga kepada mereka, khususnya Wuranta. Mudah-mudahan Ki Tanu Metir pun kali ini mau menerima pernyataan resmi dari pada prajurit Pajang.”

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Untara melangkah naik ke pendapa. Namun tiba-tiba tersirat di dalam hatinya kata-kata Ki Tanu Metir, “Bukankah Adipati Adiwijaya juga menuntut janji yang diberikan oleh Ratu Kalinyamat kepadanya?”

“Hem,” Untara masih mengangguk-anggukkan kepalanya, “dari mana orang tua itu tahu bahwa Ratu Kalinyamat menjanjikan dua orang gadis cantik bagi Adipati Pajang yang kini telah menyebut dirinya Sultan Pajang?”

Sejenak angan-angan Untara meloncat kepada peristiwa itu, pada saat Adipati Adiwijaya menghadap kakanda Ratu Kalinyamat yang sedang bertapa dengan bertelanjang tanpa mengenakan pakaian sama sekali selain rambutnya sendiri yang hitam lebat dan panjang.

Janji Ratu Kalinyamat telah membuat Adipati Adiwijaya menjadi bingung. Wajar kedua gadis itu selalu mengganggunya, sehingga dengan tergesa-gesa pula ia berkeinginan untuk menyelesailkan persoalan Arya Penangsang yang telah membunuh Sunan Prawata, Pangeran Hadiri, dan orang-orang yang tidak sependapat dengan pendiriannya. Dan ketergesa-gesaannya itulah yang menyebabkannya, maka ia pun segera menyatakan janjinya, meskipun tanpa janji apa pun Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi, apalagi Sutawijaya yang telah diangkat menjadi puteranya itu, pasti akan melakukannya. Ternyata ketergesa-gesaannya itu kini dapat menumbuhkan akibat, menurut panggraita Ki Tanu Metir.

Langkah Untara itu tiba-tiba tertegun. Seolah-olah ia belum puas mengenang semua yang pernah terjadi menjelang pecah perang antara Pajang dan Jipang. Dua kadipaten yang termasuk dalam lingkungan Kerajaan Demak. Tetapi setelah Demak kosong, maka kedua kadipaten ini terlibat dalam suatu pertentangan yang tidak dapat diselesaikan, selain dengan peperangan.

Untara masih berdiri di muka pintu yang memisahkan pringgitan dan pendapa banjar padepokan itu. Tangannya sudah melekat pada gawang pintu, tetapi ia masih belum mendorong pintu jtu. Di halaman ia melihat satu dua orang prajurit berjalan hilir-mudik. Sedang di pendapa itu sendiri ia masih melihat beberapa orang yang terluka duduk-duduk di antara mereka. Orang yang lukanya tidak terlampau parah.

“Itu adalah salah satu kelemahan dari Adipati Pajang,” Untara masih saja berbicara sendiri di dalam hatinya. Ia tidak menyadari bahwa beberapa pasang mata para prajurit yang berada di pendapa itu memandanginya dengan heran. Tetapi Untara masih berbicara di dalam dirinya, “Adipati Adiwijaya tidak dapat menahan diri apabila ia melihat wanita-wanita cantik. Tetapi aku kira tindakaanya tentang kedua tanah yang dijanjikan itu tidak terlampau salah. Pati memang harus segera diserahkan. Tetapi aku rasa Mentaok tidak akan terlampau tergesa-gesa. Seandainya tanah itu jatuh ketangan Ki Gede Pemanahan sebagai tanah perdikan yang kini masih berupa hutan yang lebat dan liar, namun akhirnya daerah itu akan jatuh ketangan puteranya Mas Ngabei Loring Pasar. Sedangkan apabila tanah itu dibuka lebih dahulu, maka Ki Gede Pemanahan tidak perlu mencemaskannya, bahwa akhirnya tanah itu pasti akan jatuh ketangan Sutawijaya pula. Bahkan mungkin bukan sekedar daerah Mentaok sebagai tanah perdikan. Mungkin Sutawijaya akan menerima daerah yang jauh lebih luas, untuk mendirikan sebuah kadipaten baru.”

Untara terkejut-ketika tiba-tiba pintu itu terdorong ke samping. Ternyata seseorang telah membukanya dari dalam.

“Oh,” orang itu pun terkejut, tetapi keduanya kemudian tersenyum, “aku tidak tahu kalau Kakang Untara berdiri di situ.”

“Aku baru akan masuk,” sahut Untara.

“Silahkanlah,” orang itu mempersilahkan.

Untara kemudian masuk pula ke dalam pringgitan yang lembab. Disuruhnya beberapa orang untuk membuka genting supaya panas matahari dapat masuk dan memanaskan udara di dalam banjar itu.

“Ki Tambak Wedi tidak sempat membersihkan pringgitan ini,” gumam Untara. “Ia lebih senang berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain, membuat kisruh dan menuntun muridnya untuk berbuat seperti dirinya sendiri.”

Ketika kemudian kepada mereka dihidangkan makan dan minuman, maka mereka pun segera menikmatinya. Badan mereka yang lelah telah membuat mereka lapar dan haus, sehingga makanan yang dihidangkan itu menjadi sangat lezat terasa di lidah-lidah mereka.

Sambil makan ada-ada saja yang mereka percakapkan, dari yang paling menyeramkan sampai yang paling menggelikan dalam peperangan yang baru saja terjadi. Wuranta kini telah dapat ikut dalam percakapan itu dengan wajar. Ia sudah tidak terlalu mudah tersinggung, meskipun ada satu dua orang perwira di antara mereka yang sengaja menyebut-nyebut namanya. Bahkan anak muda Jati Anom yang telah berhasil menemukan dirinya sendiri itu hanya tersenyum saja. Ia kini merasa, bahwa kedudukanya sama sekali tidak berada di bawah para perwira itu di dalam perjuangan.

Tetapi selama itu Untara sendiri tidak terlampau banyak ikut berbicara. Angan-angannya kadang-kadang masih saja diganggu oleh keadaan yang bakal datang. Kadang-kadang ia ikut serta menyesalkan tindakan Adipati Pajang. Tetapi kadang-kadang ia menganggap bahwa tindakan itu cukup bijaksana.

“Kedua sudut pandangan itu mempunyai alasannya masing-masing,” katanya di dalam hati. “Tetapi apa pun alasannya, maka tidak akan dapat dijadikan sebab untuk berbuat hal-hal yang tidak semestinya.”

Untara itu tersadar ketika ia mendengar Wuranta bertanya, “Untara, kapan aku mendapat kesempatan untuk kembali ke Jati Anom?”

“Aku juga sedang memikirkan,” jawab Untara. “Aku kira segera setelah semua persoalan aku selesaikan di sini. Aku sudah memutuskan bahwa aku akan membuat kedudukan untuk sementara di Jati Anom bersama separo dari seluruh pasukan. Sedang yang separo lagi mempunyai tugas di sini. Mengawasi dan menyelesaikan masalah-masalah harian yang akan timbul. Orang-orang yang menyerah memerlukan bimbingan, juga perempuan dan kanak-anak yang kehilangan suami dan ayah-ayah mereka. Sedangkan yang berbahaya akan aku kirimkan ke Pajang.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku sebenarnya tidak perlu menunggu kau, Untara. Aku dapat kembali sendiri.”

“Jangan,” potong Untara. “Aku akan membuat sekedar pernyataan terima kasih. Hari ini aku akan memerintahkan beberapa orang prajurit untuk turun menemui Ki Demang Jati Anom. Setelah aku menentukan hari-hari yang pasti, maka aku akan memberitahukan hal itu lagi kepada Ki Demang.”

“Untuk apa?” bertanya Wuranta.

“Prajurit-prajuritku dan orang-orang Jati Anom yang sudah cukup lama mengalami ketegangan jiwa, perlu mendapat sedikit pelepasan. Aku yakin bahwa Jati Anom masih memiliki kemungkinan-kemungkinan untuk itu.”

Wuranta tersenyum. Katanya, “Maksudmu, Jati Anom masih mampu menyelenggarakan keramaian?”

“Begitulah.”

“Mungkin masih. Tetapi selama ini hati kita terampas oleh kecemasan. Aku tidak tahu, apakah Ki Demang masih sanggup menyelenggarakannya.”

“Aku akan menanyakannya. Mungkin besok aku sudah dapat menemukan keputusan, kapan kita akan kembali.” Dan di luar sadarnya Untara meneruskan, “Anak-anak Sangkal Putung itu pun sudah tergesa-gesa pula ingin pulang ke kampung-halamannya.”

Mendengar kata-kata Untara itu Wuranta mengerutkan keningnya. Wajahnya tiba-tiba menunduk. Dan ia tidak menyahut sama-sekali.

Untara melihat perubahan wajah itu, dan disadarinya keterlanjurannya. Dengan demikian maka ia ingin memperbaikinya katanya, “Mudah-mudahan Ki Demang Jati Anom masih menemukan kemungkinan itu.”

Tetapi Wuranta masih tetap menundukkan kepalanya. Namun terdengar ia bergumam, “Kalau anak-anak Sangkal Putung itu ingin segera kembali, apakah keberatannya? Biarlah mereka kembali ke kampung halaman mereka. Barangkali mereka memang sudah tidak mempunyai urusan apa pun di sini.”

“Ya,” sahut Untara, “mereka sudah tidak mempunyai urusan di sini. Karena itu biarlah mereka segera kembali. Tetapi aku belum tahu, kapan mereka ingin pergi ke Sangkal Putung.”

Sekali lagi Wuranta terdiam. Percakapan mereka kini sudah tidak selancar semula. Dan Untara menyesali keterlanjurannya, namun ia juga menyesali sikap Wuranta yang terlampau mudah tersinggung itu pula.

Bahkan di dalam hati Untara berkata, “Biarlah anak-anak Sangkal Putung itu segera saja kembali. Suasana di sini dan di Jati Anom harus tetap baik. Wuranta mempunyai pengaruh yang cukup di Kademangan Jati Anom. Apalagi setelah mereka mendengar apa yang sebenarnya telah dilakukannya. Maka apabila anak itu kecewa, anak-anak muda Jati Anom pun akan menjadi kecewa pula. Terhadapku, dan terhadap prajurit-prajurit Pajang pada umumnya, yang sementara masih memerlukan Jati Anom sebagai tempat kedudukan mereka.”

Sejenak ruangan itu menjadi sepi. Masing-masing terdiam kaku. Di dalam kediaman itu Untara tiba-tiba berpikir tentang adiknya. Apakah anak itu akan tinggal bersamanya di Jati Anom, ataukah ia akan pergi ke Sangkal Putung?

“Tak ada yang akan dilakukannya di Sangkal Putung. Ia harus tetap berada di Jati Anom bersamaku. Aku akan dapat mendidiknya untuk menjadi seorang laki-laki,” berkata Untara di dalam hatinya. “Baru saja ia berhasil melepaskan diri dari kungkungan dunianya yang sempit dan penuh ketakutan, kini ia telah jatuh ke dalam dunia lain yang sama-sama mengikatnya seperti dunianya yang dulu. Tetapi ia kini terikat oleh perasaan-perasaan yang tidak ubahnya seperti seorang yang sakit ingatan. Seseorang yang terkungkung dalam dunia yang demikian, maka ia akan kehilangan pribadinya. Mungkin Ki Tanu Metir benar, bahwa orang-orang muda akan mengalaminya sesuai dengan kewajaran sifat manusia. Tetapi Agung Sedayu masih terlampau muda. Ia masih harus banyak berbuat dan bekerja untuk membentuk dirinya, sebelum ia terjerumus kedalam dunia lain, yang sebenarnya belum masanya dialaminya”

Terngiang di telinga Untara kata-kata Ki Tanu Metir, “Jangan kau salahkan anak-anak muda itu, Ngger. Perasaan yang demikian itu wajar bagi anak-anak muda.”

“Memang,” Untara membantah di dalam hatinya, “hal itu adalah hal yang wajar. Tetapi bagi mereka yang sudah cukup dewasa. Akan tetapi belum waktunya buat Agung Sedayu. Ia segera akan kehilangan kepribadiannya dan terjerumus dalam suatu keadaan yang berbahaya. Ia akan menjadi alat saja bagi gadis Sangkal Putung itu. Ia tidak akan dapat membedakan lagi apa yang sebaiknya dilakukau dan apa yang tidak. Aku harus menjaganya supaya ia tetap teguh akan kediriannya. Aku harus membantu membentuknya menjadi seorang anak yang memiliki kelebihan dari sesamanya. Hal itu sudah tampak padanya. Benih-benih dari ayah ternyata hidup subur di dalam dirinya. Ia adalah seorang pembidik yang baik. Seorang yang cukup lincah dan tangguh. Kematangannya akan membuatnya pilih tanding. Tetapi apabila sebelum waktu itu datang ia sudah jatuh ke dalam pengaruh seorang gadis, maka semuanya itu tidak akan dapat terwujud.”

Untara tersadar ketika ia mendengar beberapa orang minta ijin kepadanya untuk keluar dari pringgitan itu. Udara ternyata terlampau panas.

“O, silahkanlah,” sahut Untara.

Beberapa orang kemudian berdiri dan berjalan meninggalkannya. Wuranta pun kemudian minta ijin pula untuk keluar. Ia ingin melepaskan diri dari ketegangan yang tiba-tiba mencengkamnya setelah sekian lama dapat dihindarinya. Namun ia kini tidak lagi menjadi seolah-olah kehilangan akal. Ia berjalan di antara para perwira yang pergi keluar pringgitan dan bercakap-cakap di antara mereka. Dengan demikian maka hatinya menjadi agak tenang.

Akhirnya Untara sendiri merasa bahwa udara di dalam pringgitan itu terlampau panas. Ia kini sudah tidak begitu terikat oleh tugas-tugas yang terlampau banyak. Karena itu maka tiba-tiba ia ingin mengunjungi adiknya dan kedua anak-anak muda Sangkal Putung kakak beradik. Ia ingin tahu, apakah keinginan mereka, dan kapankah mereka akan kembali ke Sangkal Putung.

Dengan dua orang perwira bawahannya Untara pergi ke pondok tempat tinggal Agung Sedayu. Ditemuinya ketiga anak-anak muda di pondok itu sedang duduk di bawah sebatang pohon sawo di halaman.

“Hem,” Untara berdesah di dalam hatinya, “itulah kerja mereka di pondok ini. Duduk-duduk dengan malasnya. Ini mempunyai pengaruh yang jelek terhadap Agung Sedayu. Wajarlah apabila ia semakin dalam tenggelam di bawah pengaruh Sekar Mirah. Setiap hari mereka berkumpul tanpa mempunyai perhatian atas masalah-masalah yang penting selain masalah-masalah di dalam diri mereka sendiri.”

Ketika anak-anak muda itu melihat kedatangan Untara, bagaimanapun juga anggapannya terhadap senapati itu, namun dengan tergopoh-gopoh mereka menyambut kedatangannya. Dengan ramahnya Untara dipersilahkan untuk masuk ke dalam dan duduk di sebuah amben yang besar.

Tetapi dada Untara itu menjadi berdebar-debar tetika ia melihat sesosok tubuh terbaring dengan nyamannya diamben itu. Ternyata Ki Tanu Metir sedang tidur dengan nyenyaknya. Tetapi langkah mereka telah membangunkannya. Sambil menggeliat ia berkata, “Ah marilah, Ngger. Aku sedang tidur.”

Untara tidak menyahut. Dianggukkan kepalanya, kemudian bersama kedua kawannya ia duduk di amben yang besar itu, sementara Ki Tanu Metir telah bangun dan duduk pula di antara mereka. Kain yang dipakainya kali ini adalah kain gringsingnya, diselimutkan pada sebagian dari tubuhnya yang tidak berbaju.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Swandaru dan Sekar Mirah berganti-ganti, kemudian adiknya, Agung Sedayu.

“Bagaimanakah dengan kalian?” bertanya Untara tiba-tiba.

“Kami baik-baik saja di sini, Kakang,” Swandaru-lah yang menyahut.

Senapati muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu tiba-tiba ia bertanya pula, “Apakah kalian kerasan di sini?”

Pertanyaan itu mengejutkan mereka, sudah tentu mereka tidak kerasan di tempat yang asing ini. Mereka lebih senang segera kembali ke Sangkal Putung.

Ternyata Ki Tanu Metir sempat menangkap maksud dari pertanyaan itu. Pertanyaan yang mengejutkannya pula. Seharusnya Untara tidak langsung bertanya kepada kedua anak-anak muda itu.

“Apakah yang terjadi dengan Angger Wuranta?” bertanya Ki Tanu Metir di dalam hatinya. “Angger Untara adalah seorang senapati yang berpengalaman. Ia dapat memperhitungkan hampir tepat setiap gerakan lawan. Ia dapat melawan gelar yang bagaimanapun sulitnya. Tetapi ia bukan seorang yang mengerti perasaan anak-anak muda. Ia kurang bijaksana menanggapi persoalan ini. Angger Untara memandang segala persoalan dari kepentingan keprajuritan. Seperti tanggapannya terhadap Angger Agung Sedayu dan Wuranta. Persoalan yang langsung menyangkut pasukannyalah yang paling banyak mendapat perhatian.”

Karena itu selagi Swandaru dan Sekar Mirah masih bingung menanggapi pertanyaan Untara, maka Ki Tanu Metir-lah yang menyahut, “Sudah tentu tidak, Ngger. Kedua anak-anak muda ini, bahkan ketiganya sama sekali tidak kerasan berada di tempat ini. Bagi mereka lebih baik untuk segera kembali ke Sangkal Putung daripada berada di sini. Sudah tentu ayah bundanya menunggu mereka dengan cemasnya. Bahkan mereka telah menyatakan keinginan mereka untuk mendahuluinya.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia beringsut maju dan hampir memotong kata-kata Kiai Gringsing, Kiai Gringsing itu cepat-cepat melanjutkannya, “Tetapi hal itu tidak dapat dilakukannya, akulah yang melarangnya. Mereka harus mengerti bagaimana sikap yang sebaik-baiknya dilakukan. Mereka harus mengucapkan terima kasih kepada pasukan yang telah membebaskannya. Aku minta mereka menunggu, Ngger. Mereka akan pergi bersamamu ke Jati Anom, kemudian secara resmi mereka akan mohon diri untuk kembali ke Sangkal Putung.”

Wajah Untara tampak berkerut. Ia kehilangan kalimat untuk menjawab. Sebenarnya ia ingin berkata, bahwa tidak ada keberatannya seandainya kedua anak-anak muda itu ingin segera kembali ke Sangkal Putung, bahkan itulah yang diinginkannya. Tetapi Ki Tanu Metir telah melarang mereka. Bagi Untara semakin cepat Sekar Mirah pergi, akan semakin baik. Senapati itu mencemaskan kehadirannya sebagai seorang gadis yang cantik. Kecantikannya akan dapat mempengaruhi keadaan. Terutama adiknya. Bukan mustahil apabila kelak akan dapat menumbuhkan persoalan-persoalan baru. Sudah tentu Wuranta tidak akan segera dapat melupakannya. Bahkan seandainya diminta, ia bersedia menyediakan pengawal yang cukup kuat, yang akan dapat melindungi mereka berdua seandainya mereka bertemu dengan Ki Tambak Wedi di perjalanan.

Tetapi Ki Tanu Metir telah mendahului sikapnya. Karena itu maka Untara untuk sejenak tidak berkata sesuatu.

Yang berkata kemudian adalah Ki Tanu Metir, yang melihat wajah Untara berkerut-merut. Seolah-olah ia dapat menebak isi hati anak muda itu. Katanya, “Sebenarnya aku pun tidak kerasan pula berada di sini, Ngger. Aku pun ingin segera kembali ke Dukuh Pakuwon. Tetapi aku pun ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian, bahwa kalian telah membebaskan Sekar Mirah. Adik muridku yang muda ini.”

Dada Untara berdesir. Ternyata kini ia dapat merasakan sesuatu di dalam hatinya, tentang orang tua itu. Ada yang tidak diakui oleh Ki Tanu Metir. Mungkin sikapnya atas Agung Sedayu dan kini sikapnya atas Swandaru, yang keduanya adalah murid Ki Tanu Metir.

Untara masih tetap berdiam diri. Ki Tanu Metir baginya adalah seorang yang banyak sekali memberikan jasanya. Jauh lebih banyak dari apa yang dapat diberikan oleh Wuranta.

Karena itu maka Untara menjadi gelisah. Ia ingin mengatakan berterus terang kepada Ki Tanu Metir, bahwa perasaannya menangkap sesuatu yang tidak wajar pada orang tua itu. Tetapi itu tidak akan dapat diucapkannya di hadapan Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah. Karena itu, maka ia ingin segera mendapat penjelasan dari persoalannya. Kalau ia secepatnya pergi ke Jati Anom membawa mereka itu, maka persoalannya akan menjadi semakin jelas. Ia pun akan segera dapat melihat perkembangan keadaan adiknya. Ia sudah memutuskan, bahwa Agung Sedayu tidak boleh pergi ke Sangkal Putung. Ia tidak berkeberatan hubungan apa pun yang akan dilakukan dengan Sekar Mirah, tapi yang menurut penilaian Untara, Agung Sedayu masih harus membentuk dirinya. Ia akan dapat menjadi seorang yang pilih tanding. Kelak apabila dikehendaki, ia akan dapat menjadi seorang prajurit yang dapat melampaui kebanyakan prajurit. Adipati Adiwijaya pasti akan menghargainya. Dan adiknya itu pasti akan segera mendapat tempat yang baik di kalangan Wira Tamtama.

Terdesak oleh perasaannya yang bergolak itu, maka tiba-tiba Untara berkata, “Besok lusa kita akan pergi ke Jati Anom. Besok aku akan memberitahukannya kepada Ki Demang Jati Anom. Aku mengharap Jati Anom akan menyambut kita dengan resmi. Dalam kesempatan itu kita akan mengucapkan terima kepada orang-orang yang banyak berjasa kepada perjuangan ini.”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Ia pun merasakan apa yang bergetar di hati senapati muda itu, tetapi orang tua itu sama sekali tidak menunjukkan kesan apapun. Ia masih saja tersenyum-senyum dan berkata, “Semakin cepat semakin baik, Ngger.”

Untara mengangguk. “Ya, Kiai,” jawabnya pendek. Ternyata Untara kemudian tidak dapat menyampaikan maksudnya, bertanya tentang keinginan Swandaru dan Sekar Mirah. Bahkan kemudian ia mendapat kesan yang aneh pada orang yang bernama Ki Tanu Metir dan yang sering menyebut diri Kiai Gringsing. Bahkan kesannya terhadap Kiai Gringsing itu menjadi semakin menggetarkan dadanya, sehingga tumbuhlah pertanyaan di dalam kepalanya, “Siapakah sebenarnya orang ini? Apakah benar bahwa Ki Tanu Metir itu hanya sekedar seorang dukun tua di Dukuh Pakuwon, tidak lebih dan tidak kurang? Hubungan apakah yang pernah dijalin antara Kiai Gringsing ini dengan ayah dahulu?”

Pembicaraan itu pun kemudian menjadi terlampau canggung. Sejenak mereka saling berdiam diri. Masing-masing menundukkan kepalanya. Kedua perwira kawan Untara menjadi heran melihat sikap Untara yang seolah-olah dicengkam oleh keragu-raguan dan kebimbangan. Untuk hal-hal yang tampaknya tidak penting itu sebenarnya ia akan dapat mengambil keputusan tanpa menghiraukan terlampau banyak persoalan. Tetapi pembicaraan yang pendek itu agaknya telah membuat Untara ragu-ragu dan membuat kedua kawannya berdebar-debar.

Dalam kecanggungan itulah maka Ki Tanu Metir telah mencoba membuka pembicaraan-pembicaraan yang tidak berarti. Ia bertanya tentang beberapa hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan Untara mendatangi adiknya dan kedua anak-anak muda kakak beradik dari Sangkal Putung itu.

Tetapi Untara tidak dapat terlampau lama duduk di amben bambu yang besar itu. Sejenak kemudian, ia pun minta diri.

“O, begitu tergesa-gesa, Ngger?” bertanya Ki Tanu Metir.

“Ya, Kiai, aku agak lelah. Aku ingin beristirahat sebentar.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. “Silahkan, Ngger.”

Untara pun kemudian turun dari amben itu dan melangkah keluar. Tetapi di muka pintu ia berhenti sejenak dan berkata, “Sedayu, aku memerlukanmu.”

Dahi Agung Sedayu berkerut. Tetapi ia menjawab, “Ya, Kakang, aku akan datang.”

“Datanglah ke banjar.”

Sebelum Agung Sedayu menjawab, Ki Tanu Metir telah mendahuluinya, “Tetapi apakah tidak lebih baik Angger Agung Sedayu tidak usah datang ke banjar hari ini?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Apakah artinya kata-kata gurunya itu, dan apakah keberatannya?

Untara pun terdiam sejenak. Ia segera menangkap maksud Ki Tanu Metir. Namun tiba-tiba Untara mempunyai pendirian lain. Segalanya harus cepat menjadi jelas. Ia tidak ingin bermain sembunyi-sembunyian. Itu akan menyulitkan pekerjaannya saja. Ia harus segera berterus terang. Ia harus segera mendapatkan pemecahan.

Ternyata Ki Tanu Metir dapat mengerti apa yang tersirat di balik tatapan mata Untara yang tajam. Orang tua itu dapat mengerti bahwa Untara sebagai seorang senapati pasti mempunyai cara tersendiri. Apalagi seorang senapati muda.

Orang tua itu pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau cara itu yang akan ditempuh oleh Untara, maka ia pun tidak akan dapat menghalangi. Karena itu maka kemudian ia berkata, “Kalau Angger menghendaki, maka Agung Sedayu pun pasti akan pergi ke sana.”

“Ya,” sahut Untara. “Ia harus pergi ke banjar. Nanti malam.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Untara kemudian pergi meninggalkan mereka. Swandaru memandangi ketiga perwira itu dengan wajah yang keheran-heranan. Tetapi yang bertanya adalah Sekar Mirah, “Apakah sebenarnya keperluan mereka kemari?”

Ki Tanu Metir berpaling. Ditatapnya wajah gadis itu. Ternyata perasaan gadis itu cukup tajam. Tetapi Ki Tanu Metir menjawab, “Ia hanya ingin melihat-lihat semua lingkungan tanggung jawabnya.”

Sekar Mirah terdiam, tetapi hatinya menangkap sesuatu yang lain seperti juga Swandaru Geni. Apalagi Agung Sedayu. Beberapa saat sebelumnya sikap kakaknya telah membuatnya berdebar-debar. Dan kini kakaknya langsung memanggilnya. Apakah kepergiannya atas pendapat Ki Tanu Metir dari banjar tidak menyenangkan hati kakaknya, sehingga kakaknya memerlukan datang memanggilnya? Kalau hanya itu, bukankah kakaknya dapat memerintahkan bawahannya untuk datang ke pondoknya ini.

Tetapi teka-teki itu sudah tentu tidak akan dapat dijawabnya, kecuali langsung bertanya kepada Untara. Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu menemukan suatu sikap di dalam dirinya. Sikap yang selama ini belum pernah dimilikinya. Dengan tetap ia berkata di dalam hatinya, “Apa pun yang akan terjadi, aku harus menghadapinya. Aku tidak punya pilihan lain. Mungkin aku sudah berbuat kesalahan di luar sadarku. Tetapi aku harus mendengar apakah salahku yang sebenarnya. Kalau sekedar ketidak-hadiranku dalam upacara itu saja, maka aku kira persoalannya sudah selesai. Aku sudah memenuhi perintah Kakang Untara untuk minta maaf kepadanya.”

Dengan demikian maka hati Agung Sedayu justru menjadi tenang. Anak muda yang seakan-akan sepanjang hidupnya hanya tergantung saja kepada kakaknya, kini tanpa dikehendakinya sendiri dan tanpa disangka-sangka sebelumnya justru menemukan sikap di dalam dirinya, pada saat-saat ia digelisahkan oleh sikap kakaknya, tempat ia bergantung selama ini.

Maka tanpa disadarinya, perlahan-lahan ia bergumam lirih, “Aku akan datang, dan aku akan bertanggung jawab, apa pun kesalahan yang telah aku lakukan.”

Agung Sedayu itu terkejut ketika ia mendengar kata-kata lembut di belakangnya, “Bagus. Kau memang harus datang, Ngger.”

Ketika Agung Sedayu berpaling, dadanya menjadi berdebar-debar. Ternyata gurunya berada di belakangnya dan mendengar gumamnya, sehingga gurunya itu menyahut kata-katanya.

Namun sejenak Agung Sedayu tidak dapat mengerti maksud gurunya yang sebenarnya. Dan kebimbangannya itu memancar lewat sorot matanya.

Ki Tanu Metir kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan diulanginya kata-katanya, “Kau memang harus berbuat demikian, Ngger.”

“Apakah maksud guru sebenarnya?” bertanya Agung Sedayu kemudian.

“Kau sudah menjadi semakin dewasa. Kau harus menemukan bentuk dari kepribadianmu sendiri. Kau tidak boleh selalu dibebani oleh perasaan ragu-ragu dan terlalu bergantung kepada orang lain. Misalnya kepada kakakmu. Suatu ketika kau harus menemukan sikap sendiri. Kau pada suatu saat harus meyakini suatu pendirian. Pendirian itu adalah pendirianmu. Pendirianmu sendiri.”

Agung Sedayu menundukkan wajahnya. Ia kini mengerti maksud gurunya. Memang selama ini ia terlampau bergantung kepada kakaknya. Dalam segala hal ia seolah-olah terikat kepada keputusan Untara. Ia merasakan bahwa ia tidak sebebas Swandaru apalagi Sutawijaya. Keduanya dapat menentukan sikapnya tanpa terlampau banyak mempertimbangkan pendapat orang lain.

Namun demikian ia mendengar gurunya meneruskan, “Tetapi Ngger, ini tidak berarti bahwa kau harus memutuskan semua seakan seperti seekor kuda yang lepas dari kendali. Kau masih tetap seorang saudara muda Angger Untara. Kau masih tetap harus mendengarkan nasehatnya. Tetapi kau sendiri harus mempunyai landasan sikap. Sikap seorang yang dewasa. Tetapi juga tidak berarti bahwa kau harus menentang setiap pendapat kakakmu.”

Kini perlahan-lahan Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Ki Tanu Metir berkata selanjutnya, “Dalam keadaan yang memaksa kau sebenarnya sudah dapat bersikap. Pada saat Angger Sekar Mirah hilang dari Sangkal Putung, kau sudah bersikap. Tanpa menunggu persetujuan Angger Untara. Tetapi dalam saat-saat yang wajar, kau hanya dapat berbuat sesuatu apabila Angger Untara menentukan.”

Agung Sedayu masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa disadarinya ia memandangi Sekar Mirah dan Swandaru yang telah masuk kembali ke dalam pondoknya.

“Nah, dengan bekal itu, pergilah menghadap Angger Untara. Namun jangan lepas dari keseimbangan. Kau tetap adiknya dan kau tetap di bawah pengaruhnya, apalagi Angger Untara adalah seorang senapati perang yang bertanggung jawab di daerah ini. Daerah medan perang yang masih kemelut, yang masih belum dingin benar. Dalam daerah yang demikian, maka dada setiap prajurit itu pun masih juga berasap. Sentuhan minyak setetes masih dapat mengobarkan api yang masih membara di dalam dada.”

Perlahan-lahan terdengar Agung Sedayu menyahut, “Ya, Guru, aku mengerti.”

Kini Ki Tanu Metir-lah yang mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagus. Tetapi hati-hatilah akan sikapmu itu.”

“Ya, Guru,” jawab Agung Sedayu.

“Nah, sekarang beristirahatlah. Kau dapat mengatur perasaanmu, supaya kau tidak terkejut menghadapi sesuatu yang baru di dalam dirimu. Setiap perubahan harus kau sadari. Dan kau mengerti, supaya kau tetap berada di dalam keseimbangan.”

Ki Tanu Metir itu pun kemudian melangkah pergi. Beberapa langkah ia tertegun, sambil berpaling ia berkata, “Aku akan pergi ke sungai. Kalau aku tidak segera kembali, maka pergilah pada saatnya ke banjar.”

Agung Sedayu mengangguk, “Ya, Guru.”

Ketika Ki Tanu Metir meneruskan langkah, terdengar Swandaru melangkah ke luar dan bertanya, “Kemanakah guru itu?”

“Ke sungai.”

“Kenapa?”

Agung Sedayu memandangi wajah adik seperguruannya ini. Tetapi kemudian ia tersenyum. “Mungkin ia akan mandi. Mungkin mencuci kain gringsingnya yang sudah mulai masem.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kelak, kalau aku sudah sampai di Sangkal Putung, aku akan minta kepada ayah, supaya ayah membeli sehelai kain gringsing yang baru. Kiai Gringsing itu pasti akan senang memakainya.”

Agung Sedayu tersenyum, “Mungkin. Tetapi mungkin tidak. Ia mempunyai ciri-ciri yang khusus pada kain gringsingnya itu.”

Swandaru menggeleng, “Tidak. Kain itu adalah kain gringsing biasa saja.”

“Aku akan membatik buatnya,” tiba-tiba Sekar Mirah menyela. “Kalau ada ciri-ciri kekhususannya, ia dapat memberitahukan. Dan aku dapat membuat ciri-ciri itu pada kain yang aku batik dengan tanganku sendiri.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia melangkah masuk ke dalam pondok.

“Aku akan beristirahat,” katanya, “apakah kalian tidak tidur?”

Keduanya menggeleng. Agung Sedayu pun tidak biasa tidur pada saat-saat seperti ini. Berbeda dengan Ki Tanu Metir. Ia tidur kapan saja ia inginkan, tetapi kadang-kadang semalam suntuk ia sama sekali tidak tidur.

Sebenarnya Agung Sedayu pun tidak ingin tidur. Ia ingin mengatur perasaannya seperti yang dikatakan oleh gurunya.

Ketika kemudian malam tiba, dan padepokan Tambak Wedi disaput oleh warna yang kelam, maka perlahan-lahan Agung Sedayu meninggalkan pondoknya.

“Kau akan pergi ke banjar?” bertanya Swandaru.

“Ya, Kakang Untara memanggil aku. Mungkin ada sesuatu yang dianggapnya penting.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Tampaknya ia ingin mengucapkan sesuatu, tetapi ternyata ia berdiam diri saja.

Namun di luar dugaan Swandaru dan Agung Sedayu, tiba-tiba Sekar Mirah bertanya lirih, “Tetapi, bukankah kau akan kembali ke pondok ini, Kakang?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dengan serta-merta ia menjawab, “Tentu Mirah. Aku tentu kembali ke mari.”

“Lalu, apakah Kakang Agung Sedayu akan kembali ke Jati Anom segera?”

“Ah, aku kira kita akan pergi bersama-sama.”

“Mungkin ada perintah lain dari Kakang Untara.”

Agung Sedayu terdiam. Hal yang demikian itu memang mungkin sekali. Tetapi apakah ia harus selalu tunduk saja kepada perintah kakaknya yang bertentangan dengan kehendaknya? Bukankah ia bukan seorang prajurit Pajang?

Karena Agung Sedayu tidak menjawab maka Sekar Mirah mendesaknya, “Bagaimana, Kakang? Dan apakah kau akan pergi juga ke Sangkal Putung seperti katamu?”

Agung Sedayu masih berdiam diri. Pertanyaan itu telah membuat hatinya berdebar-debar. Sebelum itu, Sekar Mirah seolah-olah membiarkannya, seandainya ia ingin meninggalkan kedua anak-anak Sangkal Putung itu, bahkan tampaknya Sekar Mirah acuh tak acuh saja seandainya ia tidak lagi akan pergi ke Sangkal Putung. Namun dalam keadaan yang mendebarkan ini, Sekar Mirah bertanya kepadanya, apakah ia akan pergi ke Sangkal Putung.

“Bukankah kau mengatakan,” sambung Sekar Mirah, “bahwa kau bersama-sama dengan Kakang Swandaru sedang mencari aku, dan kau akan menyerahkan aku kepada ayah bundaku bersama dengan Kakang Swandaru?”

Debar di dada Agung Sedayu terasa menjadi semakin cepat. Kini ia tidak dapat berdiam diri saja. Maka dengan ragu-ragu ia menjawab, “Ya, Mirah. Aku akan pergi ke Sangkal Putung.”

Sekar Mirah menatap mata Agung Sedayu dengan tajamnya. Tiba-tiba dari mata itu memancar suatu perasaan yang aneh, bahkan mata itu seolah-olah menjadi basah.

Dan perlahan-lahan sekali Agung Sedayu mendengar suara Sekar Mirah di-sela-sela bibirnya yang bergerak-gerak lamban, “Aku dan Kakang Swandaru menunggumu, Kakang.”

Agung Sedayu menganggukkan kepalanya. Dipandanginya kedua kakak beradik itu berganti-ganti. Terasa darahnya seakan-akan menjadi semakin cepat mengalir. Maka jawabnya kemudian tersendat-sendat, “Ya, ya. Aku pasti akan kembali ke pondok ini dan aku akan mengantarkan kalian ke Sangkal Putung.”

Agung Sedayu itu pun kemudian pergi meninggalkan mereka dengan perasaan yang aneh. Sekar Mirah masih berdiri saja sejenak di halaman sehingga Agung Sedayu itu hilang ditelan gelapnya malam.

Sekar Mirah itu tersadar ketika ia mendengar kakaknya berdesis di belakangnya, “Marilah kita masuk, Mirah. Malam terlampau dingin.”

Sekar Mirah mengangguk. Tetapi tiba-tiba gelap malam membuatnya ketakutan lagi. Dengan gemetar dipeganginya tangan kakaknya. Di dalam kegelapan itu terbayang kembali mayat yang bergelimpangan, membujur lintang di halaman, di jalan-jalan bahkan bersandar pagar-pagar batu.

“Kakang,” kata-katanya bergetar, dan pegangannya pada tangan kakaknya menjadi semakin erat, “aku takut Kakang, takut.”

“Apa yang kau takutkan?”

Sekar Mirah tidak menjawab, tetapi wajahnya disembunyikannya di dada kakaknya.

“Marilah masuk, Mirah.”

Swandaru itu pun kemudian membimbing Sekar Mirah masuk ke dalam pondoknya, dan Sekar Mirah itu berjalan saja sambil memejamkan matanya.

Demikian mereka masuk kedalam pondok itu, maka Sekar Mirah pun segera berkata, “Tutuplah pintunya, Kakang.”

Swandaru pun segera menutup pintu. Sekar Mirah kini kembali menjadi ketakutan dan selalu berpegangan tangan kakaknya. Meskipun kemudian mereka telah duduk di atas amben besar di dalam pondok itu, dan ruangan itu diterangi oleh sebuah lampu minyak yang tersangkut di tiang, namun Sekar Mirah masih saja ngeri karena bayangan yang mengganggunya.

Perasaan ngeri itu ternyata mempengaruhi pula perasaan Swandaru Geni. Tetapi ia tidak menjadi ngeri dihantui oleh bayangan mayat yang bergelimpangan. Yang mendebarkan jantungnya adalah suasana yang dirasanya terlampau sepi. Tanpa disengajanya maka matanya hinggap pada pedangnya yang besar, bertangkai gading yang tergantung di dinding. Pedang itu tidak terlampau jauh dari padanya. Sekali loncat ia akan sudah dapat meraih senjata itu. Tetapi perasaannya telah memaksanya untuk berdiri sejenak.

“Kau akan kemana, Kakang?” bertanya Sekar Mirah yang masih berpegangan tangannya.

Swandaru Geni tidak menjawab. Tetapi ia bergeser sedikit dan meraih pedang itu.

“Apakah kau akan pergi?” bertanya adiknya.

Swandaru menggeleng, “Tidak.”

“Tetapi kenapa kau kenakan pedang itu di lambungmu?”

“Hanya sekedar untuk menenteramkan hati.”

“Kenapa, Kakang?” Sekar Mirah menjadi semakin cemas, “apakah ada sesuatu?”

“Tidak, tidak Mirah. Tidak ada apa-apa. Duduklah. Aku ingin membuat hatimu dan hatiku sendiri tenteram. Di samping senjata ini aku tidak akan mengenal takut lagi. Aku harap kau juga tidak lagi menjadi berdebar-debar dan ketakutan.”

Sekar Mirah terdiam. Keduanya kemudian duduk lagi. Tanpa dikehendaki, Sekar Mirah bermain-main dengan juntai pedang Swandaru yang berwarna kekuning-kuningan. Juntai yang diterimanya dari pemberian Sutawijaya.

Di luar malam menjadi semakin kelam. Derik cengkerik dan pekik bilalang bersahutan dengan lengking angkup nangka. Ngelangut. Di kejauhan sekali-sekali terdengar anjing liar menyalak dan menggonggong seakan-akan menangisi keluarganya yang hilang di peperangan.

Sekar Mirah duduk semakin merapat kakaknya. Kesepian malam membuatnya menjadi semakin ngeri. Tetapi dengan pedang di lambungnya Swandaru sudah tidak diganggu lagi oleh kecemasan.

Meskipun demikian setiap desir yang lemah sekalipun seakan-akan telah membuat telinga Swandaru bergerak.

Di dalam kegelapan malam itulah Agung Sedayu melangkah dengan hati yang berdebar-debar. Dilewatinya jalan padepokan Tambak Wedi yang sepi. Jalan yang belum begitu dikenalnya. Tetapi ia tahu benar arah yang harus diambilnya untuk sampai ke banjar padepokan.

Namun Agung Sedayu sama sekali tidak kehilangan kewaspadaan. Ia berjalan di daerah yang belum begitu dipahami. Dan daerah itu adalah daerah yang baru saja dilanda oleh pertempuran. Di ujung jalan ini kemarin berserakan mayat dan orang-orang yang terluka. Di halaman-halaman dan di kebun-kebun di sekitar banjar.

Tidak pula mustahil apabila di balik rimbunnya pepohonan itu masih ada satu dua orang yang bersembunyi, mengintai perjalanannya. Sisa-sisa orang Tambak Wedi atau orang Jipang yang berhasil bersembunyi di balik gerumbul-gerumbul dan rerungkutan, atau di dalam kebun-kebun salak yang terbentang di sela-sela kebun-kebun bambu yang padat.

Gemerisik angin malam menggoyangkan dedaunan dan ranting kecil. Dingin malam di lereng pegunungan mulai terasa membelai kulit. Tetapi Agung Sedayu tidak menghiraukannya. Ia berjalan terus. Selangkah demi selangkah menembus gelapnya malam. Pedangnya tergantung di lambung kirinya. Bergerak-gerak seirama dengan langkah kakinya.

Meskipun jarak yang akan dilalui Agung Sedayu dari pondoknya ke banjar padepokan itu tidak jauh, tetapi di dalam jarak yang dekat itu menunggu berbagai kemungkinan yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya.

Dalam gelap malam Agung Sedayu melangkah terus, seperti hatinya yang sedang gelap pula. Kadang-kadang timbul niatnya untuk berbuat sekehendak hatinya tanpa menghiraukan apa pun yang akan dikatakan kakaknya nanti. Bahkan ia akan bersedia melakukan akibat yang bagaimana pun juga. Tetapi kemudian tumbuhlah sifat-sifatnya yang tidak dapat ditinggalkannya. Ragu-ragu.

Tiba-tiba langkah Agung Sedayu tertegun. Ia sudah melihai lamat-lamat nyala obor di halaman. Tetapi dekat, hanya beberapa langkah daripadanya, ia melihat bayangan hitam yang bergerak-gerak. Menilik sikapnya, bayangan itu pasti bukan prajurit Pajang.

Hati Agung Sedayu menjadi berdebar-debar dan curiga. Selangkah ia maju mendekati bayangan itu, tetapi bayangan itu pun kemudian menjauhinya selangkah pula.

Debar di dada Agung Sedayu menjadi semakin keras. Perlahan-lahan ia bertanya, “Siapa kau?”

Tetapi ia tidak mendengar jawaban. Sekilas angan-angannya meloncat kepada Wuranta. Apakah orang itu Wuranta? Lalu apakah maksudnya ia menungguku di kegelapan.

Agung Sedayu menggeleng lemah, “pasti bukan Wuranta.” Namun di dalam hatinya itu terdengar, “Mungkin. Ia sedang menungguku. Bukankah sikapnya pada saat-saat terakhir sangat membingungkan?”

Selangkah Agung Sedayu maju, dan selangkah orang itu menjauh. Segera Agung Sedayu mengerti, bahwa orang itu sedang memancingnya. Karena itu, maka ia menjadi semakin berhati-hati. Mungkin orang itu cukup berbahaya baginya.

Tetapi hati Agung Sedayu saat itu sedang disaput oleh kegelapan. Betapapun ia mencoba untuk berbuat sebaik-baiknya dan dengan penuh kewaspadaan, namun tiba-tiba kemarahan, kejemuan, dan segala macam perasaan yang tidak menyenangkannya, serasa terungkat. Sekali terdengar anak muda itu menggeram. Lalu sekali lagi ia bertanya, “Siapa kau, he?”

Masih belum ada jawaban. Karena itu maka kemarahan di dada Agung Sedayu menjadi semakin membara, Ia merasa dipermainkan oleh bayangan yang tidak dikenalnya.

Agung Sedayu yang sedang pepat itu, sama sekali tidak sempat untuk membuat pertimbangan-pertimbangan yang jernih. Memang sekali terkilas di dalam hatinya sebuah pertanyaan, “Apakah orang ini Ki Tambak Wedi yang berhasil kembali ke dalam padepokan ini?”

Tetapi pertanyaan yang demikian dijawabnya sendiri, “Tidak. Kalau orang ini yang bernama Ki Tambak Wedi, ia tidak memancing aku. Dengan sekali loncat ia sudah berhasil menerkam aku dan membuatku pingsan atau membunuhku sama sekali. Orang ini pasti bukan Ki Tambak Wedi.”

“Sidanti, Argajaya?”

Agung Sedayu menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika ia melihat bentuk bayangan dalam keremangan malam, maka ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, “Bukan keduanya,” desisnya.

“Aku tidak peduli apakah orang itu Sidanti, Argajaya, atau Tambak Wedi sekalipun,” geramnya kemudian.

Agung Sedayu kemudian benar-benar menjadi bermata gelap. Hatinya yang bingung karena persoalan-persoalan yang bertubi-tubi menggoda perasaannya telah membuatnya kehilangan pertimbangan. Sikap Wuranta yang tidak dimengertinya, sikap kakaknya, dan persoalan yang membuat hatinya menjadi kisruh.

Kini ia ingin menumpahkan segala macam perasaannya itu. Segala macam kejemuan, kejengkelan, kebingungan, dan apa saja.

Tiba-tiba Agung Sedayu menggeretakkan giginya. “Aku sudah cukup dewasa untuk menentukan sikap. Juga terhadap ini, aku tidak perlu berlari-lari melaporkannya kepada Kakang Untara. Aku hanya akan dimarahinya. Diejeknya dan barangkali dimaki-makinya. Apalagi kalau orang ini ternyata orang-orang yang berbahaya, yang kemudian berhasil melepaskan diri. Aku pasti dikiranya seorang pengecut yang hanya berani berbuat di antara orang-orang dapat melindungiku.”

Dengan serta-merta Agung Sedayu pun segera meloncat mengejar bayangan itu. Demikian tiba-tiba sehingga bayangan itu pun terkejut. Namun orang yang berada di dalam kegelapan itu masih mampu menghindarkan dirinya dan berlari membelok ke dalan lorong yang sempit.

Agung Sedayu sudah tidak dapat berpikir jernih lagi. Dikejarnya orang yang berlari itu. Ia sudah tidak lagi menghiraukan apa pun, meskipun mereka kemudian memasuki lorong-lorong yang makin sempit dan rimbun. Lorong-lorong yang jarang sekali dilalui oleh peronda-peronda prajurit Pajang.

Namun Betapapun juga, naluri Agung Sedayu masih mencegahnya ketika bayangan itu meloncat masuk ke dalam sebuah kebun yang kosong. Kebun yang gelap pepat ditumbuhi oleh gerumbul-gerumbul liar, dan rumpun-rumpun bambu. Di sana-sini tumbuh pohon yang besar dan rimbun.

“Ia memancing aku masuk,” geram Agung Sedayu. Tapi ia kini dicengkam oleh keragu-raguan. Perlahan-lahan ia menenangkan diri, menjernihkan pikirannya. Kini ia mencoba untuk menduga, siapakah orang itu.

“Ada beberapa kemungkinan,” katanya di dalam hati, “tetapi kemungkinan bahwa orang itu satu di antara tiga, Sidanti, Argajaya, atau Ki Tambak Wedi sendiri adalah sangat tipis. Menurut pengamatanku, bentuk tubuh mereka agak berbeda. Sikap dan cara untuk melarikan diri pun berbeda pula. Agaknya Wuranta pun bukan pula. Yang paling mungkin adalah sisa-sisa orang Jipang atau orang-orang Tambak Wedi sendiri yang lolos dari tangan prajurit Pajang dan berhasil bersembunyi di dalam liarnya gerumbul-gerumbul dan rumpun-rumpun bambu itu.”

Agung Sedayu masih saja berhenti di tempatnya. Kini ia sudah tidak melihat bayangan itu lagi. Bayangan itu telah hilang ke dalam rimbunnya dedaunan. Tetapi Agung Sedayu kini telah melihat bahaya yang dapat tumbuh apabila ia masuk ke dalam halaman yang liar itu. Ia akan dengan mudahnya disergap dari segala penjuru. Ia tidak tahu, apakah orang itu hanya seorang diri, atau mempunyai kawan-kawan yang cukup banyak. Karena itu, maka ia masih tetap berdiri tegak di tempatnya.

Ketka ia masih saja tidak bergerak, ia melihat bayangan yang hitam itu muncul lagi di dalam kegelapan. Agung Sedayu melihat bayangan itu berdiri tegak dengan kaki renggang, seolah-olah siap untuk menyerangnya.

Selangkah Agung Sedayu surut. Kesadarannya telah memperingatkannya untuk berbuat lebih hati-hati. Dan tiba-tiba saja, maka di tangan Agung Sedayu itu telah tergenggam pedangnya.

Tetapi bayangan yang hitam itu masih berdiri diam. Agaknya ia sengaja menunggu Agung Sedayu menyerangnya. Tetapi Agung Sedayu pun masih tetap berdiri saja di tempatnya.

Ternyata bayangan itu tidak dapat bersabar lebih lama lagi. Sejenak kemudian terdengar suaranya berdesis, “He, prajurit Pajang. Kau memang terlampau berani datang seorang diri ke tempat ini.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dan ia mendengar bayangan itu berkata lagi, “Menurut pengamatan kami, kau adalah seorang dari dua anak-anak muda yang menunggui gadis itu di pondoknya.”

“Nah, sekarang aku ingin minta tolong kepadamu, supaya kau memanggil seorang kawanmu itu dan gadis yang kau tunggui itu pula, supaya kau selamat.”

Terdengar gigi Agung Sedayu gemeretak.

“Kalau kau bersedia, marilah. Kami, beberapa orang, akan mengantarmu kepondok itu. Tetapi ingat, jangan berbuat hal-hal yang dapat membahayakan jiwamu,” Orang itu berhenti sejenak, lalu, “Kami sebenarnya tidak berkepentingan sama sekali dengan kalian. Tetapi bersama-sama dengan kalian, kami akan dapat keluar dari neraka ini. Dengan kalian, maka para penjaga pintu regol tidak akan dapat banyak berbuat atas kami.”

Agung Sedayu menggeram. Kini ia sadar, siapakah yang dihadapinya. Mereka adalah orang-orang yang berhasil bersembunyi di dalam padepokan ini, di antara gerumbul-gerumbul liar dan rumpun-rumpun bambu. Mungkin mereka adalah orang-orang yang pada saat pertempuran terjadi antara orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang, sedang bertugas meronda atau tugas apa pun, sehingga mereka tidak sempat menggabungkan dirinya ketika pasukan Pajang memasuki daerah ini.

“Bagaimana? Apakah kau setuju? Aku tidak akan berbuat apa-apa. Kami hanya ingin keluar dari neraka ini. Hanya itu, tidak lebih.”

Sekali lagi Agung Sedayu menggeram. Orang itu ingin mempergunakannya bersama Swandaru dan Sekar Mirah sebagai tanggungan, supaya mereka dapat keluar dari padepokan ini dengan selamat.

“Mereka benar-benar bodoh,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya, “mereka sama sekali tidak melihat kesempatan untuk lari lewat urung-urung itu. Atau barangkali urung-urung itu pun sudah dijaga oleh prajurit Pajang?”

Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, maka orang itu pun berkata pula, “Nah, apakah kau setuju? Sebenarnya bagimu sudah tidak ada pilihan lain. Salahmulah bahwa kau terjebak di tempat ini. Kau terlampau sombong, berjalan seorang diri di dalam gelapnya malam, di daerah yang masih kemelut diasapi oleh sisa-sisa peperangan. Ayo, lekas, letakkan pedangmu dan ikutlah kami menjemput gadis itu.”

Yang terdengar kemudian suara Agung Sedayu gemetar, “Darimana kau tahu, bahwa gadis itu berada di pondok bersamaku.”

Terdengar suara tertawa lirih. Katanya, “Perempuan-perempuan di padepokan ini selalu berbaik hati kepada kami, memberitahukan apa saja yang ingin kami ketahui. Ternyata mereka mendendam sampai ke ujung rambutnya kepada orang-orang Pajang yang bengis itu.”

“Tutup mulutmu!” Agung Sedayu tiba-tiba membentak. Kemarahannya telah menyala dengan dahsyatnya. Perasaan-perasaan yang telah diendapkannya tiba-tiba teraduk kembali. Dan sekali lagi ia berkata di dalam hatinya, “Aku bukan kanak-kanak lagi. Aku harus dapat berbuat menurut pertimbanganku sendiri. Aku tidak perlu menggantungkan diriku kepada siapapun.”

Perasaan itu telah mendorong Agung Sedayu untuk menyelesaikan masalah yang kini sedang dihadapi. Dengan sepenuh kekuatan ia menindas segala macam keragu-raguan yang ada di dalam dirinya. Ia tidak mau mendengar lagi pertimbangan-pertimbangan apa pun yang tumbuh di dalam hatinya.

Tetapi ia masih tetap berdiri di tempatnya. Ia tidak mau maju lagi masuk ke dalam perangkap.

Karena Agung Sedayu tidak beranjak dari tempatnya, maka bayangan itu maju setapak. “Letakkan pedangmu,” suaranya berdesis, “bagimu sudah tidak ada pilihan lain kecuali mati.”

“Aku memilih mati,” suara itu bergetar seperti gelora di dalam dadanya.

“Gila kau,” bayangan itu pun menggeram, “jangan bodoh.”

“Kalau aku mati, maka kau pun akan mati karena kau tidak akan dapat keluar dari padepokan ini.”

“Kau memang terlampau bodoh, aku dapat mendatangi pondok itu tanpa kau. Mungkin kami perlu membawa kepalamu saja uutuk menakut-nakuti mereka agar mereka bersedia menuruti perintah kami.”

“Lakukanlah,” sahut Agung Sedayu dalam nada yang berat penuh tekanan kemarahan.

Bayangan itu terdiam sejenak. Tetapi Agung Sedayu melihat orang itu melambaikan tangannya.

“Ia memberikan tanda kepada kawan-kawannya,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Dugaan Agung Sedayu itu ternyata tepat. Sejenak kemudian Agung Sedayu melihat empat orang yang lain berloncatan dari tempat persembunyian mereka.

Agung Sedayu meloncat selangkah surut. Ketika ia mencoba menghitung orang-orang yang berdiri di sekitarnya, maka dilihatnya semuanya berjumlah lima orang.

Sekali lagi Agung Sedayu bergeser. Ia mencoba untuk mendapat tempat yang baik. Ia harus melawan kelima orang itu sekaligus. Perkelahian yang demikian adalah suatu pengalaman baru baginya. Tetapi pengalaman itu mengandung bahaya yang cukup besar.

“Tetapi aku bukan kanak-kanak yang hanya dapat merengek lagi kepada kakang Untara. Kakang Untara selalu berbuat tanpa ragu-ragu. Aku bukan pengecut. Aku sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah ini,” kata-kata itu selalu terngiang di dalam rongga telinganya. Ia sama sekali tidak mau diganggu lagi oleh keragu-raguan dan kebimbangan. Dan tiba-tiba saja, kelima orang itu terkejut ketika mereka mendengar Agung Sedayu berteriak, “Aku bunuh kalian! Aku berhak juga membunuh musuh-musuhku.”

Terdengar kemudian salah seorang dari kelima orang itu berdesis, “Jangan membunuh diri. Kau sudah terkepung, Betapapun dahsyat ilmu prajurit Pajang, tetapi melawan kami berlima adalah mustahil”

“Ayo, kalian membunuh aku atau aku membunuh kalian.”

Kelima orang itu tertegun. Ternyata mereka berhadapan dengan seorang yang agaknya tidak berperasaan.

Dan sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu tidak mau lagi dipengaruhi oleh segala macam perasaan ragu-ragu, bimbang, pertimbangan-pertimbangan atau ijin dari kakaknya atau kecemasan bahwa kakaknya akan marah, atau perasaan apapun. Apalagi perasaan takut. Karena itu maka sikapnya pun menjadi terlampau garang dan kasar.

“Apakah kau mencoba menakut-nakuti kami?” bertanya yang lain.

“Persetan! Apakah kau takut atau tidak bukan soalku. Ayo kita bertempur,” jawab Agung Sedayu.

Sekali lagi kelima orang itu menjadi heran. Namun mereka tidak mendapat kesempatan untuk bertanya-tanya lagi. Tiba-tiba-saja mereka melihat Agung Sedayu menggerakkan pedangnya sambil berkata, “Hanya ada dua kemungkinan, “membunuh atau dibunuh.” Aku memilih kemungkinan yang pertama, “membunuh.” Aku tidak peduli lagi atas kalian. Apakah kalian akan merengek minta maaf atau minta dikasihani. Tidak ada maaf dan belas kasihan di peperangan. Kita bersama-sama telah menjadi buas melampaui serigala.”

Kelima orang itu pun sebenarnya adalah orang-orang yang hampir berputus asa. Mereka sebenarnya telah hampir kehilangan pertimbangan-pertimbangan mereka. Mereka pun sebenarnya berada dalam daerah kedua pilihan itu pula, “membunuh atau dibunuh”, tetapi ternyata sikap Agung Sedayu itu telah membuat dada mereka menjadi semakin berdebar-debar.

Mereka terkejut, bahwa dalam sekejap kemudian Agung Sedayu telah meloncat sambil memutar pedangnya. Dengan penuh nafsu ia menyerang lawan-lawannya yang telah mengepungnya itu.

Hampir bersamaan kelima orang yang berdiri melingkari Agung Sedayu itu meloncat surut. Tetapi mereka tidak dapat berbuat lain daripada segera melakukan perlawanan, sebab serangan Agung Sedayu selanjutnya melanda mereka seperti banjir. Selama ini Agung Sedayu selalu dibayangi oleh keragu-raguan dan kebimbangan. Bahkan ia menjadi bingung melihat sikap kakaknya. Seolah-olah apa yang dilakukannya selalu saja salah. Tiba-tiba kini ia dengan sekuat tenaganya telah melepaskan diri dari setiap ikatan yang membelenggu perasaannya.

“Aku harus melepaskan diri dari semua ikatan,” Agung Sedayu itu berteriak di dalam hatinya. “Aku akan berbuat apa saja yang aku inginkan. Sekarang aku ingin membunuh, persetan dengan pendapat orang lain.”

Dengan demikian maka tandang Agung Sedayu menjadi semakin garang. Pedangnya berputaran seperti baling-baling. Kilatan pantulan cahaya samar-samar yang memancar dari langit tampak berkali-kali meloncat dari batang pedangnya.

Tetapi kali ini ia harus bertempur melawan lima orang yang memiliki ilmu tata bela diri pula. Ternyata mereka berlima merupakan lawan yang cukup berat bagi Agung Sedayu. Meskipun Agung Sedayu cukup lincah dan tangguh, namun berkelahi melawan lima orang di dalam gelapnya malam, merupakan pekerjaan yang cukup berat baginya.

Demikianlah maka perkelahian itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Ketika tubuh Agung Sedayu telah basah diusap oleh keringatnya sendiri, maka tandangnya pun menjadi semakin garang. Dengan lincahnya ia berloncatan menghindar dan menyerang, seperti kijang di padang perburuan. Pedangnya terayun-ayun seperti angin pusaran yang melindungi tubuhnya, sehingga sama sekali tidak tertembus oleh satu pun dari kelima ujung pedang lawan-lawannya.

“Anak ini dapat berkelahi seperti hantu,” berkata salah seorang lawan Agung Sedayu di dalam hatinya. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa Agung Sedayu seorang diri mampu melawan mereka berlima. Ternyata mereka yang belum banyak mengenal anak muda, adik Senapati Pajang ini, telah membuat salah hitung. Mereka menyangka bahwa mereka berlima, yang masing-masing merasa mempunyai beberapa kelebihan dari kawan-kawannya, dapat dengan mudah menangkap Agung Sedayu dan memperalatnya.

“Ah, bagaimana kalau kami berhadapan dengan Untara sendiri,” desis yang lain di dalam dadanya. Ternyata mereka tidak saja berhasrat menangkap Agung Sedayu, Swandaru, atau Sekar Mirah, tetapi di dalam setiap kesempatan siapa pun mereka kehendaki, asal orang itu cukup bernilai untuk dapat dijadikannya tanggungan untuk melepaskan diri. Namun ternyata kini mereka terbentur kepada seorang anak muda yang luar biasa. Agung Sedayu.

Meskipun mengalami beberapa kesulitan, tetapi Agung Sedayu yang sedang dicengkam oleh pergolakan persoalan di dalam dirinya itu sama sekali tidak berhasrat berkisar dari tempatnya. Ia sudah bertekad untuk bertempur. Ia sudah bertekad untuk meninggalkan segala macam perasaan yang ada di dalam dadanya. Setiap perasaan yang tumbuh, maka segera ditindasnya. “Ini adalah kungkungan keragu-raguan dan kebimbangan yang selama ini membuat aku kehilangan kesempatan untuk berbuat apa pun menurut kehendakku dan keinginanku sendiri.”

Namun dengan demikian, Agung Sedayu telah benar-benar dicengkam oleh kegelapan hati. Ia tidak mau lagi melihat pertimbangan-pertimbangan apa pun di dalam dirinya. Yang diteriakkan di dalam hatinya adalah, “Aku adalah laki-laki dewasa. Aku dapat berbuat apa saja menurut pertimbanganku sendiri.”

Dengan demikian maka serangannya pun menjadi semakin dahsyat. Pedangnya semakin cepat berputar dan ayunannya pun menimbulkan desing yang mendebarkan hati.

Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Kedua belah pihak seolah-olah sedang dicengkam oleh perasaan yang tidak wajar. Kelima orang itu adalah orang-orang yang sedang berputus asa. Bagi mereka tidak ada pilihan lain daripada berkelahi mati-matian. Kalau mereka kalah, maka mereka pun akan mati pula. Kalau mereka melarikan diri pun mereka tidak akan mendapat kesempatan untuk keluar dari padepokan ini. Karena itu maka apabila mereka masih ingin hidup, maka mereka harus memenangkan pertempuran ini. Pilihan mereka adalah, mati atau berhasil memperalat Agung Sedayu untuk melepaskan diri.

Demikianlah, maka di lorong sempit itu telah terjadi perkelahian antara hidup dan mati. Mereka bergeser dari satu titik ke titik yang lain. Sekali-sekali Agung Sedayu memerlukan tempat yang cukup luas untuk menghadapi serangan-serangan yang datang beruntun seperti banjir, sehingga perkelahian itu pun bergeser masuk ke dalan halaman yang kosong. Tetapi di saat-saat yang lain Agung Sedayu berusaha untuk mempersempit arena. Dengan demikian maka ia berdiri hampir melekat dinding batu di muka halaman yang kosong itu, menghadapi kelima lawannya pada satu arah.

Gelap malam semakin lama menjadi semakin pekat, tetapi langit menjadi semakin bersih. Bintang-bintang yang gemerlapan di langit menjedi semakin jernih, berkilat-kilat dan berkeredipan.

Agung Sedayu sudah tidak mau berpikir lain kecuali membunuh lawan-lawannya. Pikiran yang demikian, membunuh lawan-lawannya tanpa ampun, sebelumnya tidak pernah terkilas di kepalanya. Bahkan dalam peperangan yang hiruk-pikuk, dalam perang brubuh atau di dalam gelar-gelar perang yang lebih baik, membunuh lawannya selalu menimbulkan persoalan di dalam dirinya.

Tetapi kali ini ia benar-benar ingin membunuh lawan-lawannya itu. Semakin lama perkelahian itu berlangsung, maka semakin tampak kegarangan Agung Sedayu. Kelincahan dan ketangkasanya telah menempatkannya ke dalam keadaan yang lebih baik dari lawan-lawannya, meskipun kelima orang itu masih tetap merupakan bahaya yang setiap saat dapat merenggut jiwanya.

Apalagi ketika kelima orang lawan-lawannya itu menjadi semakin berputus asa. Mereka seolah-olah benar-benar ingin membunuh dirinya dengan mempergunakan tangan Agung Sedayu. Agaknya mereka sudah tidak melihat jalan lain untuk keluar dari padepokan ini. Kesempatan yang dianggapnya kesempatan terakhir ini agaknya terlampau sulit untuk dapat dipergunakannya.

“Kalau kali ini kami gagal,” berkata salah seorang dari mereka di dalam hatinya, “nasib kami akan menjadi lebih jelek. Kami akan diburu seperti memburu bajing. Beramai-ramai. Setelah kami tertangkap, maka kami akan menjadi pangewan-ewan. Karena itu, maka lebih baik mati pada saat ini dari pada tertangkap hidup-hidup.”

Dengan demikian maka tandang mereka pun menjadi semakin dahsyat. Berlima mereka berputar-putar mengelilingi Agung Sedayu. Sekali-sekali mereka berloncatan menyerang. Berganti-ganti dan kadang-kadang hampir bersamaan.

Agung Sedayu menggeram. Memang kadang-kadang ia menjadi bingung menghadapi cara kelima lawannya itu bertempur. Namun setiap kali ia selalu berusaha menembus lingkaran mereka dan berdiri di luar. Setiap kali ia melontarkan dirinya jauh-jauh, namun tiba-tiba ujung pedangnya telah mematuk dengan garangnya.

Angin malam di pegunungan yang dingin berhembus semakin kencang. Suaranya berdesir di antara dedaunan yang rimbun. Ketika di kejauhan terdengar anjing hutan berteriak berebut makan, terdengar dari kancah perkelahian itu sebuah keluhan tertahan. Seorang dari kelima orang yang berkelahi melawan Agung Sedayu itu meloncat surut. Tangan kirinya menggenggam pergelangan tangan kanannya. Sepercik darah merah meleleh dari luka yang menganga. Meskipun demikian pedangnya masih tidak terlepas dari tangannya yang terluka itu.

Kawan-kawannya sama sekali tidak sempat untuk menolongnya karena serangan Agung Sedayu masih saja membadai. Bertubi-tubi tiada putus-putusnya. Apalagi kini lawannya tinggal empat orang. Kesempatan baginya menjadi semakin luas. Pedangnya menjadi semakin lincah bermain-main di antara keempat senjata lawan-lawannya.

Tetapi ternyata orang yang terluka itu tidak segera menyerahkan diri kepada nasibnya. Ia masih ingin berbuat sesuatu seandainya ia harus mati. Lebih baik baginya untuk mati dengan dada terbelah, daripada mati perlahan-lahan karena kehabisan darah atau tertangkap oleh orang-orang Pajang.

Kini pedangnya berada di tangan kirinya. Dengan garangnya ia meloncat sambil menggeretakkan giginya. Meskipun pedangnya berada di tangan kiri, namun karena luapan kemarahan dan putus asa, maka tandangnya pun menjadi semakin kasar.

Tetapi baru saja orang itu menginjakkan kakinya di dalam arena perkelahian, sekali lagi terdengar salah seorang kawannya memekik kecil. Seorang lagi terlempar dari lingkaran. Pundaknya tersayat oleh pedang Agung Sedayu. Darah yang merah telah membasahi bajunya.

Namun seperti kawannya, ia tidak menyerah. Bahkan dengan wajah yang membara ia menyerang sejadi-jadinya.

Tetapi keadaan Agung Sedayu menjadi semakin baik. Hatinya pun menjadi semakin terbakar pula melihat sikap lawan-lawannya. Orang-orang yang sudah terluka itu sama sekali tidak menunjukkan kecemasan dan gentar. Bahkan mereka menyerangnya seperti angin ribut yang berputaran.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu pun menjadi semakin bernafsu. Pedangnya bergerak semakin cepat, dan tandangnya pun menjadi semakin garang. Bahkan akhirnya ia sudah sampai ke puncak ilmunya. Tanpa kendali. Dilepaskan segenap kemampuannya untuk membinasakan kelima orang lawannya yang sudah menjadi semakin lemah.

Ternyata lawannya benar-benar menjadi semakin bingung. Sesaat kemudian seorang lagi terluka di keningnya. Darah yang segar mengalir di wajahnya. Ketika tangan kirinya mengusapnya, maka tangan itu pun menjadi merah seolah-olah menyala.

“Setan!” orang itu menggeram. Giginya gemeretak dan dengan kutukan yang paling kotor ia meloncat menyerang kembali.

Semakin lama mereka bertempur, maka semakin dekatlah Agung Sedayu pada batas kemenangannya. Tetapi kemarahan yang meluap-luap telah benar-benar menggelapkan hatinya. Tidak ada pikiran lain daripada membunuh lawan-lawannya.

Ia menggeram ketika ia melihat seorang lawannya kini tidak saja terluka di tangan, pundak, atau kening. Tetapi ujung pedangnya berhasil menggores dada. Terdengar orang itu mengaduh, dan sejenak kemudian tubuhnya terguling di atas tanah. Dari mulutnya meluncur desis kesakitan.

Melihat kawannya terbanting jatuh dan tidak segera dapat bangkit lagi, maka keempat kawannya menjadi semakin kalap. Mereka berloncatan dan menyerang membabi-buta. Seperti Agung Sedayu yang semakin lama menjadi semakin kasar dan garang juga.

Apalagi ketika lawan-lawannya sudah menjadi semakin lelah. Beberapa orang telah benar-benar tidak mampu lagi menghentakkan pedangnya karena darah yang semakin banyak mengalir. Sehingga akhirnya mereka tidak lebih dari seonggok tubuh-tubuh yang hampir tidak berdaya sama sekali.

Saat yang ditunggu-tunggu oleh Agung Sedayu itu kini telah datang. Ia tidak akan dapat dihalang-halangi lagi. Ia tinggal menghunjamkan saja ujung pedangnya ke dada setiap orang yang sudah dengan lemahnya mengayun-ayunkan senjatanya. Tetapi ayunan itu sudah tidak berarti sama sekali.

Terdengar gigi anak muda itu gemeretak. Selangkah ia surut untuk mengambil ancang-ancang. Ia akan segera meloncat maju dengan pedang terjulur. Satu demi satu lawan-lawannya itu akan roboh. Mati. Ia akan dapat berkata kepada kakaknya, bahwa ia telah membunuh lima orang sekaligus yang dengan licik memancingnya. Ia akan berkata kepada kakaknya, bahwa ia adalah laki-laki seperti prajurit yang lain.

Lawan-lawannya pun seolah-olah telah pasrah diri. Mereka sudah merasa tidak mampu untuk berbuat apa-apa. Mereka telah sampai pada puncak keputus-asaan, meskipun ujung pedang mereka masih juga terangkat setinggi lambung. Tetapi kekuatan tenaga mereka sama sekali sudah tidak memadai.

“Tariklah nafas yang terakhir sepuas-puas hati kalian,” desis Agung Sedayu, “sekejap lagi kalian akan terguling di tanah tanpa dapat bernafas lagi.”

Kelima lawannya sama sekali sudah tidak menjawab, apalagi yang masih belum dapat tegak karena terluka di dadanya. Ia masih duduk di tanah, walau pun tangannya masih juga menggenggam pedangnya.

Tetapi yang terjadi adalah di luar dugaan mereka. Di luar dugaan kelima orang yang sudah tidak berdaya itu, dan di luar dugaan Agung Sedayu sendiri.

Ketika Agung Sedayu menggerakkan kakinya, siap untuk meloncat dengan pedang terjulur, tiba-tiba terasa sentuhan di bahunya. Ketika ia berpaling, terjadi hal yang hampir tidak masuk di dalam akalnya, pedangnya dengan serta-merta lepas dari tangannya seperti ditarik oleh kekuatan yang sangat dahsyat.

Selangkah Agung Sedayu meloncat ke samping. Baru sekejap kemudian ia dapat melihat, bayangan berdiri tegak di hadapannya. Pedangnya telah berpindah ke tangan orang itu.

Tetapi Agung Sedayu tidak perlu bertanya. Namun dadanya berdesir tajam ketika ia melihat orang itu menyerahkan pedangnya kembali sambil berkata, “Sudah cukup, Ngger. Kau tidak perlu menyelesaiannya sendiri. Persoalan selanjutnya adalah persoalan para prajurit Pajang.”

Sejenak Agung Sedayu terbungkam. Tanpa berkedip di tatapnya wajah yang kehitam-hitaman di dalam gelapnya malam. Tetapi Agung Sedayu segera mengenalnya, bahwa orang itu adalah gurunya, Ki Tanu Metir.

Tidak sepatah kata pun dapat diucapkan, tiba-tiba kepala Agung Sedayu terkulai tunduk dalam-dalam. Sesuatu telah menusuk langsung ke pusat jantungnya. Bukan ujung pedang lawan, tetapi peringatan yang langsung diberikan oleh gurunya, meskipun tidak dengan kalimat-kalimat. Ia segera menyadari keadaannya. Tidak sepantasnya ia membunuh tanpa mengenal batas-batas perlakuan yahg wajar. Hampir saja ia terperosok ke dalam kegelapan karena hatinya sendiri yang sedang gelap.

Namun yang terjadi itu telah benar-benar merupakan suatu peringatan yang dirasakannya terlampau keras. Tetapi ketika hatinya telah mengendap, maka di sela-sela bibirnya yang bergerak-gerak ia mengucap syukur. Perlahan-lahan sekali. Tidak seorang pun yang mendengarnya selain dirinya sendiri.

Ki Tanu Metir itu pun kemudian melangkah maju, mendekati kelima orang yang sedang menantikan ajal itu. Terdengar ia berkata, “Kalian lebih baik menghentikan perlawanan. Marilah ikut kami, kami tidak akan berbuat terlampau jauh seperti yang kalian duga. Kami akan menyerahkan kalian kepada para peronda.”

Sejenak suasana menjadi hening. Tidak segera terdengar jawaban dari kelima orang itu.

“Menyerahlah. Aku menjamin bahwa kalian akan diperlakukan dengan wajar,” berkata Ki Tanu Metir pula.

Orang tua itu mengerutkan keningnya ketika ia mendengar jawaban, “Kami sudah siap untuk mati.”

“Jangan kehilangan akal. Kalian masih akan mendapat kesempatan seperti kawan-kawanmu yang lain, yang telah menyerah lebih dahulu.”

Sekali lagi kelima orang itu terdiam. Dan yang terdengar adalah suara Ki Tanu Metir kepada Agung Sedayu, “Angger Agung Sedayu. Pergilah ke banjar, bukankah kakakmu Untara menunggumu di sana. Kau sudah kehilangan waktu beberapa saat untuk bermain-main di sini. Beritahukan kepada beberapa orang peronda yang kau jumpai, bahwa di sini ada beberapa orang yang akan menyerah.”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “Baik, Guru. Aku akan pergi ke banjar. Mungkin Kakang Untara sudah terlalu lama nenunggu aku.”

“Ya, pergilah.”

Ketika kaki Agung Sedayu terayun, ia tertegun. Ia mendengar salah seorang dari kelima orang itu berkata, “Aku-tidak akan nenyerah. Aku ingin mati oleh tusukan pedang.”

“Jangan membunuh diri dengan cara yang demikian.”

“Tetapi pertempuran ini belum selesai. He, anak muda. Kalau kau tinggalkan orang tua ini seorang diri di sini, aku akan membunuhnya.”

Agung Sedayu memandangi orang yang berbicara itu, yang keningnya masih menitikkan darah dari lukanya.

“Lakukanlah kalau mampu,” sahut Agung Sedayu. Tetapi dadanya kini sudah tidak dibakar lagi oleh nafsunya untuk membunuh. “Mungkin Ki Tanu Metir bahkan akan memberimu obat yang dapat memampatkan darah dari lukamu.”

Orang itu menjadi heran. Tiba-tiba ia teringat, bagaimana mungkin orang tua itu dapat merebut pedang Agung Sedayu dengan mudahnya, sehingga orang ini pasti seorang yang jauh lebih dahsyat dari anak muda itu. Tetapi sikapnya dan kata-katanya telah mencairkan hati kelima orang yang telah membatu karena putus asa itu.

Sepeninggal Agung Sedayu, kelima orang itu tidak menolak ketika Ki Tanu Metir memberi obat pada luka-luka mereka sekedar untuk menahan arus darah yang mengalir. “Kalian tidak boleh kehabisan darah,” berkata orang tua itu.

Sementara itu Agung Sedayu berjalan dengan kepala tunduk. Peristiwa yang baru saja terjadi telah mengguncang dadanya. Ia merasa menyesal, bahwa ia telah hanyut ke dalam arus kegelapan hati. Namun kadang-kadang masih juga timbul desah di dalam hati, “Kenapa aku tidak dapat berbuat sebebas orang-orang lain? Kenapa aku masih saja terikat sama sekali kepada Kakang Untara?”

Ketika Agung Sedayu sampai di gardu peronda, segera diberitahukannya tentang kelima orang yang baru saja berkelahi melawannya.

“Selesaikanlah mereka menurut ketentuan yang berlaku,” berkata Agung Sedayu.

“Apakah mereka tidak melarikan diri sepeninggalmu?” bertanya prajurit yang sedang bertugas itu.

“Mereka kini bersama Ki Tanu Metir,” jawab Agung Sedayu.

“Baiklah,” sahut prajurit itu kemudian, “aku akan persiapkan orang-orangku. Bukankah mereka berlima?”

“Ya.”

Agung Sedayu tidak menunggui prajurit itu menyiapkan teman-temannya. Segera ditinggalkannya gardu perondan itu untuk pergi ke banjar padepokan menemui kakaknya.

Langkahnya semakin lama menjadi semakin cepat. Dicobanya untuk melupakan apa yang baru saja terjadi. Ia tidak mau lagi membayangkannya, apalagi betapa yang akan terjadi seandainya gurunya tidak mencegahnya melakukan pembunuhan yang tidak terkendali itu.

“Hem,” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam, “aku harus memetik pelajaran dari padanya.” Tetapi ia tidak ingin bahwa peristiwanya itu sendiri selalu membayangi perasaannya.

Sehingga dalam keragu-raguan ia bertanya kepada diri sendiri, “Apakah aku perlu mengatakannya kepada Kakang Untara?”

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tidak perlu. Laporan itu akan datang dari para prajurit yang akan menangkap mereka. Aku tidak perlu berkata apa pun tentang peristiwa itu.” Tetapi kemudian ia berkata pula di dalam hatinya, “Tetapi jangan-jangan Kakang Untara menganggap aku bersalah. Aku telah berbuat sendiri di daerah ini justru di luar wewenangku. Ah, biarlah aku mengatakannya. Salah atau benar, aku akan mengatakannya.”

Agung Sedayu itu pun kemudian melangkah terus. Kini ia mencoba memusatkan perhatiannya kepada kakaknya. Kepada kepentingan yang akan disampaikan kepadanya.

Ketika beberapa puluh langkah daripadanya terpancar seberkas sinar obor, hati Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Sinar obor itu pastilah sinar obor yang dipasang di halaman banjar. Dan kakaknya telah menunggunya di banjar itu pula.

“Apakah yang akan dikatakannya?” gumamnya lambat. Agung Sedayu itu menggelengkan kepalanya. “Tak seorang pun yang tahu selain Kakang Untara sendiri. Mungkin guru, tetapi mungkin pula tidak.”

Semakin dekat Agung Sedayu dengan banjar padepokan itu hatinya menjadi semakin berdebar-debar.

Ketika kemudian ia berdiri di muka regol banjar padepokan itu, dua orang prajurit mendatanginya dan bertanya, “Siapa?”

“Aku, Agung Sedayu,” sahut Agung Sedayu.

Sinar obor yang kemerah-merahan jatuh di atas wajahnya, membuat kesan tersendiri pada kedua prajurit yang memandangi dengan tajam.

Tetapi sebelum keduanya bertanya lebih lanjut, Agung Sedayu telah mendahuluinya membuat penjelasan, “Aku dipanggil oleh Kakang Untara.”

“Sekarang?”

“Ya,” sahut Agung Sedayu.

Kedua prajurit itu saling berpandangan. Dan salah seorang dari mereka berkata, “Silahkanlah.”

Agung Sedayu segera melangkah masuk ke halaman. Halaman banjar padepokan itu kini sudah tampak lebih bersih dan terang. Beberapa buah obor dipasang di sudut-sudut halaman dan sebuah lampu minyak yang cukup terang tergantung di tengah-tengah pendapa. Beberapa orang masih tampak duduk bercakap-cakap di pendapa itu. Sedang beberapa orang yang lain, yang terluka berbaring-baring sambil bercakap-cakap satu sama lain.

Mereka memandangi Agung Sedayu ketika anak muda itu naik tangga dan berjalan di antara mereka, di tengah-tengah pendapa itu. Salah seorang yang telah mengenalnya dengan baik bertanya, “Apakah kau akan menemui kakakmu?”

“Ya,” sahut Agung Sedayu.

“Ia berada di pringgitan.”

Agung Sedayu sebenarnya sudah tidak memerlukan keterangan itu lagi. Ia tahu pasti bahwa kakaknya berada di pringgitan. Mungkin dengan beberapa orang perwira pembantu-pembantunya. Mungkin bahkan sendiri sambil menunggunya. Tetapi ia menjawab, “Terima kasih.”

Dengan dada yang semakin berdebar-debar ia melangkah menuju ke pintu pringgitan. Pintu leregan itu masih terbuka sedikit. Sepercik sinar dian di dalam pringgitan itu sempat meloncat keluar.

Hati-hati Agung Sedayu mendekati pintu. Kini ia sudah berada tepat di muka pintu. Tetapi keragu-raguannya ternyata membuat ia tertegun. Tanpa disengajanya ia berpaling, memandangi orang-orang yang berada di pendapa banjar itu.

Agung Sedayu itu terkejut ketika tanpa disangka-sangkanya orang yang sudah mengenalnya dan memberitahukan kepadanya bahwa Untara berada di pringgitan itu berbicara lagi, cukup keras, “Buka saja. Pintu itu tidak pernah dislarak.”

“Terima kasih,” sekali lagi Agung Sedayu menjawab. Kini tangannya telah memegang wengku pintu yang dibuat dari anyaman bambu wulung. Perlahan-lahan ia mendorong ke samping. Dan pintu itu pun terbuka.

Dada Agung Sedayu berdesir. Di dalam pringgitan itu duduk hanya dua orang saja. Kakaknya, Untara dan seorang lagi, Wuranta.

“Masuklah,” terdengar suara kakaknya berat tetapi dingin. Sedingin angin pegunungan yang bertiup semakin kencang.

“Terima kasih, Kakang,” sahut Agung Sedayu. Suaranya pun tiba-tiba bernada berat. Tetapi terasa sebuah getaran di dadanya terpercik di antara kata-katanya.

Tetapi begitu ia melangkahkan kakinya, Agung Sedayu itu tertegun. Ia melihat Wuranta tiba-tiba berdiri dan berkata, “Untara, aku akan keluar sebentar. Udara terlampau panas di pringgitan ini.”

Terasa jantung Agung Sedayu menjadi semakin cepat berdentang. Ia sadar bahwa kehadirannyalah yang seolah-olah telah mengusir Wuranta dari pringgitan itu. Agaknya Wuranta benar-benar tidak dapat menemuinya.

Dengan demikian maka teka-teki di dalam dada Agung Sedayu menjadi semakin kisruh. Panggilan kakaknya telah membingungkannya, dan kini ia menemukan suatu pertanyaan baru yang semakin membelit hati.

“Apakah sebenarnya yang telah aku lakukan, sehingga aku terperosok dalam keadaan yang membingungkan ini?” desis Agung Sedayu di dalam hatinya.

Tetapi yang terdengar adalah suara Untara, “Duduklah Wuranta.”

“Aku akan keluar sebentar,” sahut Wuranta sambil melangkah.

Tetapi sekali lagi terdengar Untara berkata, “Duduklah.”

Wuranta menggeleng. “Aku tidak betah duduk di dalam pringgitan yang panas ini.”

“Di luar udara akan lebih panas lagi. Duduklah,” ulang Untara.

Tetapi Wuranta masih juga melangkah. Namun langkahnya pun tertegun. Agung Sedayu masih berdiri tegak di muka pintu.

“Wuranta,” Untara mengulanginya lagi, “kemarilah dan duduklah. Dengar kata-kataku. Kemarilah kalian berdua. Duduk di sini. Aku perlu dengan kau berdua.”

Nada kata-kata Untara serasa semakin berat, memberati hati kedua anak-anak muda itu. Ketika sekali lagi Untara memanggil, maka Wuranta tidak dapat lagi menolaknya, “Wuranta. Kemari. Duduklah di sini.”

Dengan wajah yang tegang Wuranta itu pun melangkah kembali. Dengan dada yang berdebaran ia duduk di tempatnya. Sekali matanya menyambar Agung Sedayu yang masih berdiri tegak di muka pintu. Tetapi sesaat kemudian dilemparkannya pandangan matanya ke sudut ruangan.

Agung Sedayu masih tegak di tempatnya. Di lambungnya tergantung sehelai pedang. Di wajahnya terpancar berbagai macam pertanyaan yang telah membingungkannya.

“Jangan seperti hendak berkelahi Sedayu,” tiba-tiba suara kakaknya mengejutkan, “duduklah.”

“Oh,” terdengar Agung Sedayu berdesah, “terima kasih, Kakang.”

“Apakah kau akan pergi berperang?”

Pertanyaan Untara terdengar begitu tajamnya menyentuh telinganya. Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu itu menjawab tegas, “Tidak.”

Untara bergeser. Ditatapnya wajah adiknya. Tetapi Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Meskipun demikian jawaban Agung Sedayu itu terasa telah menggerakkan hati kakaknya. Dalam keadaan yang wajar, adiknya tidak akan menjawab. Apalagi jawaban sesingkat dan tegas itu.

Tetapi Untara itu terdiam. Dipandanginya langkah Agung Sedayu mendekatinya dan kemudian duduk di sampingnya. Dijulurkannya pedangnya ke belakang.

Sejenak mereka saling berdiam diri, dan pringgitan itu dijalari oleh suasana yang sepi tegang. Di kejauhan terdengar lamat-lamat suara burung hantu yang menggetarkan udara malam yang dingin.

Sesaat kemudian Untara menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya adiknya dengan penuh pertanyaan. Tetapi sebelum Untara bertanya, Agung Sedayu berkata, “Aku bertemu dengan lima orang yang bersembunyi di balik rerungkudan. Mereka sengaja menjebak aku.”

Untara masih terdiam, dan Agung Sedayu mengatakan dengan singkat apa yang dijumpainya di perjalanan ke banjar padepokan ini.

Terasa jantung Untara menjadi semakin cepat bergetar. Ia merasakan suatu kebanggaan di dalam dirinya, bahwa Agung Sedayu telah berhasil menguasai diri dalam keadaan yang tiba-tiba itu dan dapat berbuat sesuatu. Tetapi ia tidak ingin menunjukkan pengaruh perasaannya itu. Bahkan wajahnya seolah-olah tidak menunjukkan perubahan apa pun. Meskipun demikian, Agung Sedayu menjadi agak berlega hati bahwa kakaknya tidak menyalahkannya lagi.

Sekali lagi ruangan itu menjadi sepi. Baru sejenak kemudian Untara berkata kepada Wuranta tanpa mempersoalkan ceritera Agung Sedayu, “Aku memang menunggu kesempatan semacam ini Wuranta.”

Wuranta tidak menyahut, tetapi wajahnya pun tunduk memandangi anyaman tikar yang didudukinya.

“Aku ingin setiap persoalan segera selesai. Aku tidak ingin kalian bersikap seperti anak-anak.”

Tiba-tiba Wuranta mengangkat kepalanya. Sorot matanya menjadi tajam bercahaya. Dari sela-sela bibirnya terdengar suaranya bergetar, “Apakah maksudmu, Untara?”

Untara mengerutkan keningnya. Ia berhadapan dengan seorang anak muda perasa. Anak muda yang mudah tersinggung perasaannya. Apalagi dalam keadaan seperti ini. Tetapi Untara tetap dalam pendiriannya, ia ingin menyelesaikan persoalan ini.

“Wuranta,” berkata Untara, “tidak baik kau selalu dikejar oleh perasaanmu itu. Setiap kali kau selalu menghindari pertemuan dengan Agung Sedayu sejak kau meninggalkannya, ketika Agung Sedayu sedang berkelahi dan mengejar Sidanti. Sejak ini, maka anggaplah bahwa di antara kalian sudah tidak ada persoalan lagi, sehingga hubungan kalian menjadi wajar seperti sediakala. Agung Sedayu adalah anak Jati Anom seperti kau, seperti aku juga. Ia untuk seterusnya akan menetap pula di Jati Anom, kalian akan selalu bertemu di jalan-jalan, di perapatan atau di gardu-gardu perondan. Kalau hubungan kalian tidak dapat pulih kembali maka akibatnya pun akan mempengaruhi seluruh anak-anak muda Jati Anom.”

Wajah Wuranta sesaat menjadi pucat. Keringat dinginnya mengalir membasahi pakaiannya. Namun justru karena itu maka ia pun terbungkam.

Agung Sedayu pun menjadi berdebar-debar. Ia tidak tahu persoalan apakah yang sedang dihadapinya. Tetapi yang telah menyengat hatinya adalah kepastian kakaknya bahwa ia akan tinggal untuk seterusnya di Jati Anom. Dengan demikian maka segera ia menemukan kesimpulan, bahwa hal inilah yang akan dikatakan kakaknya kepadanya, di samping persoalan yang masih tidak jelas baginya, hubungannya dengan Wuranta yang menjadi serasa tegang

“Aku dapat merasakan perasaan kalian,” berkata Untara seterusnya, “tetapi aku tidak sependapat bahwa perasaan itu akan terlampau berkuasa di hati kalian. Kalian harus mengimbanginya dengan nalar dan pikiran, bahwa kalian adalah anak-anak muda Jati Anom. Bahkan kalian adalah harapan bagi kampung halaman. Kalian harus dapat menyingkirkan semua persoalan pribadi untuk kepentingan-kepentingan yang lebih besar. Apakah kalian dapat mengerti maksudku?”

Wuranta masih terdiam. Keringatnya semakin banyak mengalir di seluruh wajah kulitnya.

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 027)

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-26/

<<kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s