ADBM1-029

<<kembali | lanjut >>

KI TAMBAK WEDI perlahan-lahan memalingkan wajahnya. Dipandanginya muridnya yang berdiri tegang di sampingnya. “Benarkah begitu Sidanti?” tiba-tiba Ki Tambak Wedi bertanya.

Sidanti menjadi heran mendengar pertanyaan itu, maka ia pun bertanya pula, “Apakah maksud Kiai?”

“Apakah benar bahwa perlakuan prajurit-prajurit Pajang sangat menyakitkan hati?”

“Apakah Guru tidak merasakan betapa kita harus mengalami penghinaan ini?” jawab Sidanti. “Kita harus bersembunyi dan selalu menghindarkan diri? Kita selalu dikejar-kejar seperti orang-orang buruan?”

“Apakah kita bukan orang-orang buruan Sidanti?”

Sama sekali tidak diduganya bahwa Ki Tambak Wedi akan bertanya demikian sehingga sejenak justru Sidanti terbungkam. Ditatapnya saja wajah gurunya tanpa berkedip untuk beberapa lama. Terasa sesuatu berdesakan di tenggorokannya, tetapi tidak sepatah kata pun yang dapat meloncat ke luar.

“Marilah bersama-sama kita kenang,” berkata Ki Tambak Wedi. “Apakah yang telah pernah terjadi dengan dirimu Sidanti. Semula kau telah mendapat kesempatan yang baik di dalam lingkungan keprajuritan Pajang seperti yang diinginkan oleh ayahmu.”

“Lalu aku terlempar keluar,” potong Sidanti.

“Ya.”

“Aku menyadari kesalahan itu, tetapi bukankah Guru saat itu tidak mencegah aku, bahkan seolah-olah membenarkan sikapku.”

“Ya. Karena itulah aku menjadi ragu-ragu untuk datang kepada ayahmu. Kau dan aku bersama-sama telah berbuat kesalahan-kesalahan. Kau tidak menjadi seorang anak yang baik menurut kudangan ayahmu. Sedang aku adalah seorang yang diserahi dan dipercaya untuk membawamu sesuai dengan jalan yang diingini oleh ayahmu, Argapati. Tetapi yang terjadi adalah seperti sekarang ini.”

Sidanti menjadi terdiam pula. Meskipun demikian gelora di dalam dadanya tidak juga mereda. Apalagi yang dapat dilakukannya, kalau tidak menghadap ayahnya dan mengatakan segala kesulitannya.

“Aku yakin ayah akan mengerti,” berkata Sidanti kemudian.

“Ya, aku juga yakin,” sahut Argajaya. “Aku adalah saksi yang dapat memperkuat keterangan-keterangan Sidanti dan keterangan-keterangan Kiai. Aku akan dapat berkata tentang apa yang aku dengar dan aku lihat di sini.”

“Tentang Ki Tambak Wedi yang memberontak terhadap kekuasaan Pajang?” potong Ki Tambak Wedi.

Argajaya mengerutkan keningnya. Tiba-tiba suaranya menurun rendah, “Apakah Kiai menyesal?”

Ki Tambak Wedi terperanjat pula mendengar pertanyaan itu. Tiba-tiba ia menengadahkan dadanya sambil berkata, “Tidak. Aku sama sekali tidak menyesal. Apa yang terjadi atas diriku dan padepokanku adalah akibat dari usahaku untuk menangkap keinginan dan cita-cita. Cita-cita tentang masa depan muridku, pewaris ilmuku, dan masa depan perguruanku. Aku tidak akan menyesal.”

“Jadi kenapa Kiai menjadi ragu-ragu,” desak Argajaya.

Ki Tambak Wedi tidak segera menyahut. Sekali lagi sorot matanya terlontar ke dalam kegelapan malam. Sejenak ia berdiam diri. Yang terdengar hanyalah desah nafasnya yang panjang.

Argajaya dan Sidanti pun sejenak terdiam. Mereka menunggu sikap Ki Tambak Wedi. Ketika mereka melontarkan pandangan mata mereka ke kejauhan pula, maka mereka melihat keredipan beribu-ribu kunang-kunang yang hinggap di dedaunan padi yang hijau.

Sejenak mereka dicengkam oleh kediaman yang tegang. Meskipun udara malam terlampau dingin, tetapi dada mereka serasa mendidih. Berturut-turut mereka mengalami kekalahan-kekalahan yang sangat menyakitkan hati. Perhitungan-perhitungan yang kurang cermat, dan persoalan-persoalan pribadi yang sangat mengganggu. Kadang-kadang terbersit pula penyesalan di dalam diri Sidanti, bahwa ia telah membawa Sekar Mirah ke dalam padepokan gurunya, sehingga akibatnya sama sekali tidak pernah dibayangkannya.

“Alap-alap itulah yang gila. Sayang aku tidak mendapat kesempatan untuk mencincangnya sampai lumat,” katanya di dalam hatinya yang pepat.

Dalam pada itu terdengar Argajaya berkata, “Sebaiknya Kiai tidak usah ragu-ragu. Aku tahu benar sifat Kakang Argapati. Ia seorang yang keras hati. Seorang yang mempunyai harga diri, dan seorang yang disuyuti oleh reh-rehannya.”

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bergumam, “Aku merasa bahwa aku belum dapat menempatkan Sidanti sewajarnya, apalagi sesuai dengan keinginan ayahnya.”

“Tetapi itu tidak dapat ditentukan oleh Kiai dan Sidanti sendiri. Keadaan lingkungan Sidanti ternyata tidak memungkinkan. Dan ini bukan kesalahan Sidanti.”

Sekali lagi Ki Tambak Wedi terdiam, ia pun merasakan bahwa kegagalan rencananya sebagian terletak pada kesalahan muridnya. Ternyata gadis Sangkal Putung itu telah memecahkan hubungan yang memang kurang baik antara orang-orangnya dengan orang-orang Jipang. Tetapi ia tidak menumpahkan kesalahan itu kepada muridnya meskipun pernah juga disinggungnya.

Sekali lagi keheningan telah merayapi suasana. Yang terdengar hanya derik bilalang di kejauhan. Sekali-sekali terdengar angin semiut menggerakkan dedaunan.

Tiba-tiba Ki Tambak Wedi itu mengangkat wajahnya. Telinganya yang tajam telah menangkap sesuatu.

“Derap beberapa ekor kuda,” desisnya.

Sidanti dan Argajaya pun segera mendengar derap kaki-kaki kuda. Semakin lama semakin dekat.

“Apakah orang-orang itu telah menemukan jejak kita dan mengejarnya kemari?” gumam Argajaya.

“Tidak mungkin,” sahut Ki Tambak Wedi.

“Apakah ada orang lain?”

“Mungkin sekali,” berkata Ki Tambak Wedi pula. “Mungkin mereka adalah peronda-peronda yang lain, yang terlambat datang menyusul kawan-kawannya.”

“Mari kita lihat,” geram Sidanti.

“Menjemukan,” sahut Ki Tambak Wedi.

Tetapi Sidanti tidak menghiraukannya. Beberapa langkah ia maju dan melihat lepas ke bulak yang terbentang di hadapan pategalan itu.

“Tiga ekor kuda,” desisnya.

Ki Tambak Wedi yang semula tak acuh, kemudian melangkah pula dan berdiri di belakang Sidanti bersama Argajaya.

“Ya, tiga ekor kuda. Mereka adalah peronda-peronda yang lain yang menyusul Widura, tetapi mereka berselisih jalan. Widura mengambil jalan di sebelah Barat, orang-orang itu mengambil jalan di sebelah Timur.”

“Kita apakan orang-orang itu, Guru?” bertanya Sidanti.

“Biarkan saja,” sahut Ki Tambak Wedi.

“Tidak. Aku ingin berbuat sesuatu untuk mengurangi kepepatan dada ini supaya tidak meledak.”

“Akan kau apakan mereka itu?”

“Bunuh.”

Ki Tambak Wedi tidak menyahut. Dipandanginya saja bayangan yang samar-samar semakin lama semakin dekat.

“Di simpang tiga itu, mereka akan berbelok ke Barat seandainya mereka mempunyai perhitungan yang tepat atas panah-panah sendaren yang tadi dilepaskan oleh orang-orang Pajang.”

“Mereka harus dihentikan.”

“Terlambat. Mereka sudah mendekati simpang tiga itu.”

“Tetapi guru dapat berbuat sesuatu atas mereka. Guru dapat melepaskan gelang-gelang itu. Satu saja untuk orang terdepan. Kalau guru segan membunuh kelinci baiklah guru menjatuhkan kudanya saja. Biarlah mereka itu menjadi urusanku.”

Ki Tambak Wedi menggeram.

“Cepat, Guru, mereka sudah menjadi semakin dekat. Apabila mereka telah berbelok ke Barat, maka mereka akan terlepas.”

“Kau terlampau cengeng Sidanti. Kau hanya sekedar ingin membunuh.”

“Cepat, guru.”

Ki Tambak Wedi tidak dapat menolak permintaan muridnya. Memang terasa sekali betapa ia memanjakan Sidanti. Jauh melampaui sikap seorang guru terhadap muridnya. Hampir setiap keinginan dan permintaan muridnya dipenuhinya, meskipun kadang-kadang bertentangan dengan keinginannya sendiri.

Karena itu maka Ki Tambak Wedi itu pun segera mengambil sebuah gelang-gelangnya. Ketika orang-orang berkuda itu hampir sampai di simpang tiga di pinggir pategalan itu, maka terdengarlah angin berdesis. Sebuah gelang-gelang telah meluncur dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti dengan mata.

Tetapi alangkah terkejut mereka bertiga ketika mereka melihat bayangan terdepan itu dengan sigapnya memiringkan tubuhnya. Kemudian memutar kudanya sehingga kuda itu hampir-hampir jatuh terguling. Terdengar suaranya meringkik keras dan kuda itu sejenak berdiri dengan kedua kaki belakangnya.

Kedua penunggang yang lain hampir-hampir saja tidak berhasil menguasai kuda-kuda mereka dan hampir saja membentur kuda yang paling depan. Untunglah mereka pun cukup sigap, meskipun kuda-kuda itu terdorong beberapa langkah melampaui kuda yang pertama.

Ki Tambak Wedi justru terdiam tegak seperti patung melihat korbannya yang gagal. Gelang-gelangnya yang terlepas dari tangannya hampir tidak pernah lepas dari sasaran. Apalagi sekedar prajurit-prajurit peronda. Sedang Widura sendiri pasti tidak akan mampu menghindarkan diri dari senjatanya itu.

Tetapi kali ini ia telah gagal mengenai sasarannya.

“Siapa setan itu?” desisnya.

Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya kemudian melihat ketiga penunggang kuda itu meloncat turun.

“Aku harus mengenal siapakah mereka itu,” desis Ki Tambak Wedi.

“Ya,” sahut Sidanti pendek.

Ternyata jarak mereka masih cukup jauh untuk mengenali wajah seseorang di dalam malam yang gelap. Meskipun bayangan ketiga orang yang berdiri di tempat terbuka itu menjadi semakin jelas, tetapi bentuk sesungguhnya masih belum dapat dikenalnya.

“Aku akan melepaskan satu kali lagi,” berkata Ki Tambak Wedi. “Mudah-mudahan aku segera dapat mengenalnya.”

Sesaat kemudian Ki Tambak Wedi pun telah bersiap dengan sebuah gelang-gelang besinya. Kini ia sengaja berdiri di ujung pategalan untuk dapat dilihat oleh ketiga orang yang berdiri mematung di simpang tiga.

Tetapi Ki Tambak Wedi tidak menunggu mereka mendekat atau melarikan diri. Sekali lagi terdengar udara malam seolah-olah menyibak. Sebuah gelang-gelang telah meluncur dengan cepatnya. Kini tidak mengarah kepada orang yang pertama, tetapi kepada sasaran yang lain.

Namun usaha Ki Tambak Wedi untuk mengetahui orang-orang yang datang itu ternyata berhasil. Orang yang pertama, yang mampu menghindari lontaran gelang-gelang itu, ternyata tidak membiarkan gelang-gelang Ki Tambak Wedi menyambar orang lain. Ketika gelang-gelang itu meluncur beberapa cengkang daripadanya, mengarah kepada orang yang berdiri di sampingnya, terdengar ledakan yang keras memecah sepinya malam. Ledakan sebuah cambuk bertangkai pendek tetapi berjuntai panjang. Cambuk itu seakan-akan telah mengait gelang-gelang itu, sehingga tiba-tiba saja gelang yang meluncur itu melenting keatas, dan jatuh beberapa langkah dari mereka.

“Setan itu hadir pula,” terdengar Ki Tambak Wedi menggeram.

“Kiai Gringsing,” desis Sidanti.

“Siapakah orang itu?” bertanya Argajaya.

“Kiai Gringsing yang bersama-sama dengan kedua muridnya telah melindungi Sekar Mirah di padepokan Tambak Wedi. Bukankah Paman telah mengenai pula kedua muridnya itu. Yang seorang gemuk bernama Swandaru dan yang seorang Agung Sedayu.”

“Oh, anak-anak gila itu datang pula kemari,” Argajaya pun menggeram pula.

“Kebetulan sekali,” desis Sidanti. Kemudian kepada gurunya ia berkata, “Kita selesaikan saja mereka, Guru.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Dilihatnya kedua murid Kiai Gringsing sudah mulai menambatkan kuda-kuda mereka pada batang perdu di tepi jalan, sedang Kiai Gringsing berdiri tegak melindungi mereka dengan cambuknya di tangan.

“Lihat,” gumam Ki Tambak Wedi, “mereka telah menambatkan kuda-kuda mereka. Sebentar lagi mereka datang ke mari. Gelang-gelangku tidak kuasa menahan mereka, selama Kiai Gringsing itu masih saja menggenggam senjatanya yang gila itu.”

“Kita tunggu mereka di sini,” sahut Sidanti. “Kita sama-sama bertiga.”

“Apakah kau yakin bahwa kau akan dapat membunuh mereka?” bertanya Ki Tambak Wedi.

“Guru justru memperkecil hati kami.”

“Bukan maksudku. Tetapi cobalah berpikir dengan otakmu. Jangan diburu-buru oleh nafsu dan perasaanmu saja. Kau pasti sudah tahu keseimbangan yang bakal terjadi seandainya kita harus berkelahi. Setidak-tidaknya perkelahian ini tidak akan berakhir sampai fajar. Sampai orang-orang Sangkal Putung sempat melihat kita dan mereka pasti akan mengejar kita seperti mengejar tupai. Di siang hari, di antara Sumangkar dan Kiai Gringsing, Widura, Swandaru, dan Agung Sedayu beserta pasukannya, kita tidak akan banyak mendapat kesempatan. Baik untuk melakukan perlawanan maupun kemudian untuk menyingkir.”

Sidanti tidak menjawab, tetapi terdengar ia menggeram.

“Apakah kau dapat mengerti?” bertanya gurunya.

Betapa beratnya, namun Sidanti itu menjawab, “Ya, Guru.”

“Nah, kalau begitu kita tidak boleh berbuat sebodoh itu. Kita mempunyai nalar dan perhitungan. Apakah kau mengerti?”

Sekali lagi Sidanti menjawab, “Ya, Guru.”

Meskipun Ki Tambak Wedi tidak mengatakan, tetapi jelas bagi Sidanti dan Argajaya, bahwa Ki Tambak Wedi ingin menghindari perkelahian dengan ketiga orang itu. Perkelahian yang sama sekali tidak menguntungkan dipandang dari segala segi.

“Nah, marilah. Sebelum mereka semakin dekat. Kita menghilang ke dalam pategalan.”

Betapa sakit hati Sidanti, seolah-olah keadaan yang ditemuinya di saat-saat terakhir sengaja menghinanya, merendahkannya dan membuat dadanya pedih. Berturut-turut ia mengalami kegagalan. Bahkan kegagalan yang mutlak. Di saat terakhir, ketika ia ingin melepaskan himpitan perasaannya yang menyesak, malahan dijumpainya Kiai Gringsing, Agung Sedayu, dan Swandaru, yang justru membuat luka di hatinya semakin parah.

Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Diikutinya saja gurunya yang menyusup ke dalam rimbunnya tanaman pategalan. Meskipun kadang-kadang kulitnya tergores dari duri pelepah salak dan kadang-kadang duri daun nanas, tetapi sama sekali tidak dihiraukannya.

Dengan nada yang berat ia bertanya, “Ke mana lagi kita akan pergi, Guru?”

Ki Tambak Wedi tidak segera menjawab. Ia berjalan saja dengan tergesa-gesa menyusup di antara rimbunnya dedaunan tanpa menghiraukan pertanyaan muridnya.

Sikap Ki Tambak Wedi itu mengherankan Sidanti dan Argajaya. Seorang yang selama ini tidak mengenal gentar dan takut, tiba-tiba meninggalkan lawan yang telah berdiri di hadapan hidungnya dalam keadaan yang seimbang. Bahkan seolah-olah seperti seseorang yang sedang ketakutan dikejar hantu.

Meskipun Ki Tambak Wedi sudah mengatakan alasan-alasannya, namun masih juga terasa, betapa pahitnya keadaan yang disuapkan ke mulut mereka tanpa dapat memuntahkannya. Lari dengan tergesa-gesa meninggalkan lawan.

Tetapi baik Sidanti maupun Argajaya sudah tidak bernafsu lagi untuk bertanya. Diikutinya saja kemana Ki Tambak Wedi itu pergi. Semakin lama semakin dalam tenggelam masuk ke jantung pategalan yang gelap dan rimbun itu.

Sementara itu Ki Tanu Metir dan kedua muridnya masih saja berdiri di hadapan ujung pategalan. Orang tua itu cukup berhati-hati. Ia tahu benar bahwa yang melepaskan gelang-gelang besi itu pasti Ki Tambak Wedi. Tidak ada orang lain yang mampu melontarkan senjata serupa itu dengan kekuatan yang luar biasa.

“Kenapa kita tidak segera mendekat?” bertanya Swandaru.

“Jangan, Ngger,” berkata Ki Tanu Metir, “kita harus berhati-hati.”

“Apakah kita akan menunggu mereka mendatangi kita?”

“Apabila mungkin.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Hampir tidak sabar ia menunggu terlampau lama. Ingin ia segera meloncat dan menerkam Sidanti atau pamannya, Argajaya. Tetapi gurunya masih juga berdiri mematung dengan cambuk di tangannya.

Ketika sejenak kemudian gurunya masih juga belum beranjak maka terdengar Agung Sedayu bertanya pula, “Apakah yang harus kita tunggu, Guru? Mereka agaknya tidak akan maju lagi. Mereka juga menunggu kita.”

“Aku bercuriga,” desis Ki Tanu Metir, “Ki Tambak Wedi yang semula telah berdiri di tempat yang agak terbuka, tiba-tiba lenyap di dalam gelapnya bayang-bayang pategalan. Aku sangka, bahwa mereka sengaja memancing kita. Tetapi ingat, setiap saat gelang-gelangnya itu dapat menyambar. Mungkin aku, mungkin Angger Agung Sedayu dan mungkin Angger Swandaru. Kalau ia ingin bertempur dengan jantan, maka Ki Tambak Wedi tidak akan menghilang. Tetapi ia justru akan maju bersama murid-muridnya.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Gurunya akan mampu menghindar atau menangkis serangan Ki Tambak Wedi itu. Tetapi bagaimana dengan kedua mereka itu? Sekali dua kali Ki Tanu Metir dapat membantu mereka, tetapi seandainya serangan itu datang beruntun dengan sasaran yang berbeda, maka keadaannya akan menjadi sulit. Mungkin pada suatu saat, gurunya akan menjadi terlampau sibuk dan tidak berhasil menyelamatkan salah satu dari ketiga sasaran itu.

Karena itu maka baik Agung Sedayu maupun Swandaru tidak bertanya lagi. Mereka dapat mengerti sepenuhnya, kenapa gurunya menjadi terlampau hati-hati, bukan untuk kepentingan Ki Tanu Metir sendiri, tetapi justru untuk kepentingan kedua muridnya itu.

Tetapi setelah beberapa lama mereka berdiri mematung, mereka masih belum melihat seorang pun yang mendekati mereka. Bahkan di antara gelapnya bayangan rumpun salak dari pohon-pohon buah-buahan di pategalan itu, mereka sama sekali tidak melihat gerak apa pun. Mati.

Dalam keheningan malam terdengar suara Ki Tanu Metir perlahan-lahan, “Aku tidak melihat gerak sama sekali.”

“Ya,” sahut Agung Sedayu.

“Aku kira mereka bersembunyi di balik dedaunan,” desis Ki Tanu Metir.

“Atau melarikan diri,” sambung Swandaru.

Ki Tanu Metir tidak menjawab, tetapi kemungkinan itu memang dapat terjadi. Mungkin Ki Tambak Wedi melihat, bahwa mereka tidak akan dapat berbuat banyak terhadap mereka bertiga, sehingga tidak ada gunanya lagi untuk melawan.

“Tetapi mereka sengaja mencegat kita,” berkata Agung Sedayu kemudian.

“Mungkin mereka belum mengetahui, siapakah kita. Mungkin mereka menyangka bahwa kita adalah prajurit-prajurit peronda saja, sehingga mereka mencoba membunuh. Tetapi setelah mereka mengetahui siapakah kita bertiga, maka niat itu diurungkannya,” jawab Ki Tanu Metir.

“Bukan sekedar diurungkannya,” sahut Swandaru, “tetapi mereka merasa bahwa niat itu tidak akan dapat dilakukan. Daripada mereka justru tertangkap atau mati di pategalan ini, maka lebih baik bagi mereka untuk melarikan diri.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnyalah demikian. Tetapi orang tua itu tidak mengatakannya.

“Lalu, sekarang bagaimana?” desis Agung Sedayu.

“Kita kejar,” sahut Swandaru.

“Sangat berbahaya bagi kalian. Ki Tambak Wedi sangat licik dan curang. Ia menyerang dari jarak jauh dengan tiba-tiba. Mungkin dari balik gerumbul, mungkin dari atas dahan pohon buah-buahan yang cukup besar,” potong Ki Tanu Metir.

“Lalu apakah yang akan kita kerjakan?” bertanya Swandaru kepada gurunya.

“Tunggu sebentar. Mungkin ada perkembangan baru.”

“’Kalau tidak?” desak anak yang gemuk itu.

“Kita terpaksa harus sangat berhati-hati. Kita tidak dapat berbuat dengan tergesa-gesa.”

“Jadi kita biarkan mereka melarikan diri?”

Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Ditatapnya pategalan yang berwarna kelam itu, seolah-olah ingin dilihatnya segenap isi yang ada di dalamnya. Ingin dilihatnya tiga orang yang sedang mengendap-endap menyembunyikan dirinya, tetapi siap untuk menyerang dengan licik dan curang.

“Bagaimana, Guru?” bertanya Swandaru.

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat merasakan betapa dendam membara di dada muridnya itu. Sidanti telah pernah membuat keluarganya pening karena hilangnya Sekar Mirah. Hampir-hampir ibunya menjadi putus asa dan ayahnya kehilangan akal. Tetapi orang tua itu tidak dapat membiarkan muridnya diseret oleh arus perasaannya sehingga menghilangkan sendi-sendi perhitungan yang wajar.

Tiba-tiba Ki Tanu Metir itu bergumam, “Kalau saja pamanmu Sumangkar hadir di sini.”

“Kenapa?”

“Kami akan dapat menangkap iblis itu. Bahaya yang kami hadapi tidak akan begitu mengkhawatirkan.”

“Tetapi paman Sumangkar tidak hadir di sini.”

“Aku heran, kenapa mereka tidak berada di sini. Juga Angger Widura tidak ada di sini.” Orang tua itu berhenti sejenak, lalu diteruskannya, “Mungkin mereka berada di ujung pategalan yang lain. Suara panah sendaren yang kita dengar tidak berasal dari sini, tetapi berasal dari ujung pategalan yang lain.”

“Apakah mereka berada di sana?” bertanya Agung Sedayu.

“Mungkin.”

“Licik,” desis Swandaru. “Agaknya ketiga orang itu telah menghindar pula dari tempatnya semula.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia berkata, “Sangat berbahaya untuk mendekati pategalan itu. Justru karena Ki Tambak Wedi yang licik dan memiliki kecakapan membidik. Kelak, kalau Angger Agung Sedayu dapat memanfaatkan kecakapannya, maka aku kira kau tidak akan kalah dari Ki Tambak Wedi.

Swandaru berpaling ke arah saudara seperguruannya. Sekilas diingatnya saat-saat Agung Sedayu menunjukkan kecakapan memanah di muka banjar kademangan. Namun tiba-tiba terdengar anak yang gemuk itu berdesis, “Tetapi Ki Tambak Wedi tidak mempergunakan anak panah dan busur.”

“Angger Agung Sedayu pun mampu berbuat seperti itu,” sahut Ki Tanu Metir, “tetapi angger Agung Sedayu masih harus melatih mempergunakan segenap tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya, supaya kekuatan lemparannya menjadi semakin besar. Apabila latihan itu sudah mendekati kesempurnaannya kelak, maka ia tidak akan kalah dari Ki Tambak Wedi. Angger Agung Sedayu dapat melempar dan mengenai batu yang sedang dilontarkan di udara. Apalagi mengenai tubuh sebesar tubuh-tubuh kita ini.”

Swandaru mengangguk-angguk-anggukkan kepalanya. Ia percaya pada keterangan itu. Memang, Agung Sedayu mempunyai kecakapan membidik yang luar biasa.

Namun tiba-tiba tersentak Swandaru itu bertanya, “Bagaimana dengan Ki Tambak Wedi?”

Sekali lagi Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya lambat, “Terpaksa, Ngger.”

“Terpaksa kita lepaskan?”

Ki Tanu Metir menganggukkan kepalanya.

“Bagaimana mungkin Kiai,” sahut Swandaru. “Kita sudah berdiri berhadapan. Kita akan mendapat kesempatan yang baik. Di saat-saat yang lain kita belum pasti akan menemukan kesempatan yang serupa ini, atau bahkan karena kelicikannya kita akan dapat ditelannya.”

“Berbahaya, Ngger, berbahaya bagimu dan bagi Angger Agung Sedayu. Kalau aku yakin mampu melindungi kalian dari gelang-gelang besi itu, maka aku tidak akan berkeberatan. Tetapi bagaimana kalau aku gagal? Apakah aku harus mengorbankan murid-muridku? Di dalam pategalan itu akan terasa lebih gelap lagi daripada di tempat yang terbuka. Mata Ki Tambak Wedi adalah mata yang sangat tajam, setajam hidung serigala.”

Swandaru tidak menjawab, tetapi terdengar ia menggeram. Bukan saja Swandaru Geni, tetapi juga Agung Sedayu menjadi sangat kecewa. Tetapi mereka dapat mengerti alasan gurunya. Alasan keselamatan, justru keselamatan mereka sendiri.

Sejenak mereka berdiri diam sambil memandangi pategalan yang kelam itu. Sejenak mereka membiarkan diri mereka disapu oleh angin malam yang dingin. Lamat-lamat terdengar cengkerik dan bilalang berderik bersahut-sahutan.

“Kita tidak dapat berdiri saja di sini semalam suntuk,” berkata Ki Tanu Metir kemudian.

Swandaru dan Agung Sedayu serentak berpaling ke arah gurunya. Mereka seakan-akan baru saja terbangun dari tidur mereka yang dibayangi oleh mimpi yang mengecewakan.

“Kita teruskan perjalanan. Mungkin kita bertemu dengan pamanmu Sumangkar dan Angger Widura.”

Ki Tanu Metir tidak menunggu jawaban kedua muridnya. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati kudanya, diikuti oleh murid-muridnya.

“Marilah,” berkata orang tua itu sambil meloncat keatas punggung kudanya.

“Kalian berada di depan. Kita akan berbelok ke barat. Kalau Tambak Wedi itu masih ada di sudut pategalan itu, ia akan melempar punggung kita. Biarlah aku yang berada di paling belakang.”

Kedua muridnya itu pun segera meloncat ke punggung kuda masing-masing. Sejenak kemudian mereka telah menghadap ke Barat. Mereka akan segera memacu kuda mereka menyusur jalan yang membujur tidak jauh dari pategalan itu. Tetapi jarak antara pategalan dan jalan itu menjadi semakin lama semakin jauh. Sehingga lemparan Ki Tambak Wedi sudah tidak akan terlampau berbahaya lagi, seandainya ia masih juga ingin menyerang sambil bersembunyi di pategalan itu.

Sejenak kemudian suara kaki-kaki kuda itu telah membelah sepi malam. Berderap melepaskan debu yang putih. Angin yang silir terasa menyusup kulit. Dingin. Namun panas di dalam dada mereka telah menghangatkan seluruh tubuh.

Mereka tidak memerlukan waktu yang lama untuk sampai ke ujung pategalan yang lain. Tetapi mereka sama sekali tidak menemukan seorang pun di sana. Meskipun demikian orang tua itu bergumam, “Di sini aku melihat bekas pertempuran.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka melihat batang-batang padi yang terinjak kaki-kaki kuda. Mereka melihat rerumputan yang bosah-baseh.

“Agaknya terjadi perkelahian kecil di sini,” desis Ki Tanu Metir, “tetapi tidak terlalu lama. Entahlah, mungkin terjadi juga perkelahian di dalam pagar pategalan itu.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Lalu bagaimana dengan kita?” bertanya Agung Sedayu.

“Menurut perhitunganku, Angger Widura dan Adi Sumangkar telah sampai ke tempat ini, dan Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya melarikan diri, justru ke arah Timur.”

“Ya, arah yang terlindung,” sahut Swandaru.

“Tak ada pekerjaan lain,” gumam Ki Tanu Metir, “kita akan kembali ke kademangan.”

Kedua muridnya tidak segera menyahut.

“Mungkin kita akan dapat mendengar beberapa persoalan yang terjadi di sini,” berkata Ki Tanu Metir pula.

Kedua muridnya pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Terdengar Agung Sedayu berdesis, “Marilah, Guru.”

Mereka bertiga segera meninggalkan tempat itu. Mereka mencoba untuk mengikuti jejak kaki-kaki kuda yang terdahulu. Mereka menyangka, bahwa jejak itu adalah jejak kaki-kaki kuda Widura dan beberapa orang prajurit pilihan, mungkin bersama Sumangkar pula.

Tetapi malam masih gelap, sehingga mereka akhirnya tidak telaten lagi memperhatikan jejak-jejak kuda itu.

“Kita cari jalan memintas. Kita akan sampai juga ke kademangan.” gumam Ki Tanu Metir.

“Jalan inilah yang terdekat Kiai,” sahut Swandaru.

“Oh.”

Dan kuda itu berderap terus. Tetapi kini menjadi semakin cepat. Mereka tidak menghiraukan lagi, apakah jejak-jejak kaki kuda-kuda yang terdahulu itu menempuh jalan lain.

Di sela-sela derap kaki-kaki kuda itu terdengar suara Ki Tanu Metir, “Sayang kita terlambat. Seandainya kita datang sebelum perkelahian itu berakhir, maka kita akan dapat membantu mereka. Bahkan mungkin kita akan sempat menangkap Ki Tambak Wedi.”

Kedua muridnya tidak menyahut, tetapi penyesalan yang serupa merayapi dada mereka pula. Namun semuanya telah terlanjur terjadi. Ki Tambak Wedi ternyata masih sempat melarikan dirinya. Dan petualangannya ternyata masih akan berkepanjangan.

Sementara itu Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya telah semakin dalam terbenam ke dalam pategalan yang rimbun itu. Beberapa saat kemudian, ketika mereka yakin bahwa Ki Tanu Metir dan murid-muridnya sudah tidak mengejarnya lagi, mereka pun segera berhenti. Meskipun mereka sama sekali tidak menjadi lelah karena perjalanan yang tidak menyenangkan itu, namun nafas mereka pun menjadi terengah-engah. Berbagai perasaan yang bergolak dalam dada merekalah yang menyebabkan nafas mereka terasa menjadi sesak.

Ki Tambak Wedi berdiri tegak dengan wajah yang berkerut-merut. Di dalam dadanya bergolaklah berbagai macam persoalan. Persoalan yang sedang dihadapinya kini, melepaskan diri dari orang-orang yang sangat dibencinya, Ki Tanu Metir dan Sumangkar, dan persoalan Sidanti dan Argajaya. Mereka tidak dapat membiarkan diri mereka hanyut dalam arus ketidak-tentuan dan kembara seperti dirinya sendiri. Kedua orang itu merasa mempunyai daerah yang cukup mapan Menoreh.

Tetapi setiap kali Ki Tambak Wedi mengenangkan daerah itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Apakah ia akan bersedia mengikuti keinginan Sidanti dan Argajaya untuk kembali ke Menoreh dalam keadaannya itu?

Ki Tambak Wedi itu terkejut ketika ia mendengar Sidanti bertanya, “Bagaimana, Guru? Kita sudah terlampau lama bergelandangan tidak menentu. Keadaan kita sudah tidak lebih baik dari seorang pengemis atau seorang pencuri ayam. Pakaianku sudah tidak mapan lagi dan noda-noda darah ini masih belum bersih benar. Sobek-sobek oleh goresan pedang dan duri. Apakah kita masih akan memperpanjang masa-masa penyiksaan ini? Sedang aku masih mempunyai teman yang cukup baik untuk berlindung, bahkan untuk pancadan lebih lanjut?”

Ki Tambak Wedi dapat mengerti perasaan muridnya. Ia adalah anak yang manja, yang telah terbiasa hidup dalam keadaan yang baik. Meskipun ada juga darah petualangan yang mengalir di dalam dirinya, namun selama ia masih merasa ada daerah yang lebih baik bagi dirinya, maka tidak dapat disalahkannya apabila ia ingin untuk kembali. Tetapi bukan saja karena itu, bukan saja karena Sidanti tidak tahan lagi mengalami keadaannya kini. Namun lebih daripada itu ia merasa bahwa ia akan mampu menyusun kekuatan untuk menebus segala kekalahan yang pernah dideritanya. Kekalahan yang paling pahit dalam umurnya yang masih cukup muda itu. Ia telah kehilangan segalanya yang dicita-citakannya. Kedudukan dan seorang gadis, Sekar Mirah.

“Bagaimana, Guru,” desak Sidanti.

Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ternyata ia tidak dapat berbuat lain, Betapapun beratnya. Berat sekali, dan tidak seorang pun yang dapat ikut merasakan, betapa hatinya tersiksa karenanya.

Namun Ki Tambak Wedi masih belum segera menjawab. Dicobanya untuk menenangkan hatinya yang sedang bergelora. Gelora yang seolah-olah menghantam dinding-dinding jantungnya dari segala arah. Kekalahan yang dideritanya, dan Bukit Menoreh yang mendebarkan.

“Apakah ada pilihan lain yang lebih baik, Guru?” bertanya Sidanti hampir tidak sabar.

Ki Tambak Wedi menggelengkan kepalanya. Desisnya, “Tidak Sidanti. Aku tidak mempunyai pilihan lain. Padepokanku sendiri telah hancur menjadi debu. Aku sudah tidak mempunyai landasan lain yang dapat aku pergunakan untuk memulai setiap usaha yang akan dapat bermantaat bagimu.”

“Kalau demikian, maka tidak akan ada jalan lain kecuali kembali ke Menoreh,” potong Argajaya.

Dengan ragu-ragu Ki Tambak Wedi menganggukkan kepalanya. “Tidak ada jalan lain.”

“Tetapi, Guru masih ragu-ragu,” berkata Sidanti.

“Memang tidak ada jalan lain,” gumam Ki Tambak Wedi seolah-olah kepada diri sendiri. “Betapa sulitnya jalan itu, tetapi harus aku tempuh. Mudah-mudahan semuanya dapat berjalan dengan baik tanpa ada hambatan.”

Sidanti dan Argajaya menjadi heran. Mereka merasakan sesuatu yang tidak wajar pada Ki Tambak Wedi. Tetapi mereka akhirnya mengambil kesimpulan bahwa Ki Tambak Wedi sedang menyesali kegagalannya. Ia merasa bersalah terhadap Ki Argapati, Kepala Tanah Perdikan Menoreh, bahwa ia tidak berhasil dengan Sidanti sesuai dengan keinginannya.

“Guru tidak usah merisaukan aku,” berkata Sidanti kemudian. “Ayah harus tahu apa yang terjadi. Ayah tidak akan dapat berbuat lain. Aku adalah satu-satunya putera laki-laki. Dan aku adalah seorang yang kelak akan mengganti kedudukannya.”

Tiba-tiba Ki Tambak Wedi berpaling, seakan-akan disembunyikannya wajahnya di dalam kegelapan. Terdengar sebuah keluhan yang panjang meluncur dari hidung orang tua itu.

“Aku menjadi saksi,” berkata Argajaya. “Aku dapat menjelaskan apa yang terjadi.”

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kini ia tidak lagi berdiri menghadap kepada Sidanti dan Argajaya. Pandangan matanya seakan-akan dilemparkannya jauh-jauh ke dalam kelamnya malam.

“Kegagalan ini tidak akan dapat aku lupakan,” keluh orang tua itu. Dan tiba-tiba seperti orang yang menyesal sekali ia bergumam, “Perempuan keparat itu adalah sumber dari kehancuran kita Sidanti. Apakah kata ayahmu tentang kelakuanmu itu nanti. Tentang usahamu melarikan seorang gadis?”

Sebuah dentangan yang keras menghantam jantung Sidanti. Ia tidak menyangka bahwa suatu ketika keluhan itu akan keluar dari mulut gurunya, meskipun gurunya membenarkannya ketika Sidanti menyatakannya. Bahkan gurunya mengijinkannya ketika ia mengambil sikap itu. Ketika ia mengambil Sekar Mirah dari Sangkal Putung.

“Kiai,” terdengar suara Argajaya dalam anda yang berat, “Kakang Argapati tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Tambak Wedi. Ia tidak tahu bahwa kekalahan Sidanti di Tambak Wedi bersumber pada perempuan celaka itu.”

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak yakin akan hal itu. Katanya perlahan, “Mudah-mudahan. Mudah-mudahan Argapati tidak tahu. Mudah-mudahan ia tidak mendengar berita apa yang sebenarnya telah terjadi. Tetapi Argapati bukan anak-anak. Ia adalah seorang yang dapat disejajarkan dengan Ki Gede Pemanahan, Kiai Gringsing, Sumangkar, Ki Patih Mantahun, dan beberapa pemimpin Pajang yang lain.”

“Tetapi Guru tidak menyebut Ki Tambak Wedi.”

Ki Tambak Wedi tidak segera menyahut. Pandangan matanya masih tersangkut pada kegelapan malam. Sekali ia melangkah maju, tidak dirasakannya ketika kakinya menginjak duri daun nanas di bawah telapak kakinya.

Namun akhirnya ia berkata, “Baiklah, Sidanti. Tidak ada jalan lain. Marilah kita pergi ke Menoreh. Kita melintas Hutan Mentaok dan kau akan masuk ke tanah perdikanmu sebagai seorang anak yang pulang kepada ayahnya. Seorang anak yang polah, dan aku mengharap bahwa Argapati akan menjadi seorang ayah yang pradah.”

Sikap Ki Tambak Wedi benar-benar mengherankan Sidanti dan Argajaya. Tanpa menunggu jawaban apapun, Ki Tambak Wedi segera melangkahkan kakinya, menembus semak-semak dan tetumbuhan yang rimbun di pategalan itu.

Sidanti dan Argajaya pun segera mengikutinya. Sejenak mereka berjalan terloncat-loncat. Keduanya sama sekali tidak segera dapat bertanya sesuatu oleh kekaburan sikap Ki Tambak Wedi itu.

Tersuruk-suruk mereka menerobos pohon-pohon buah-buahan yang rendah dan kemudian meloncati batang-batang tales dan ubi panjang. Disasaknya batang-batang nyidra dan garul sehingga berserakan terinjak oleh kaki-kaki mereka. Mereka sama sekali tidak berusaha untuk menyembunyikan jejak-jejak mereka.

Sekali terbersit pula ingatan di kepala Sidanti untuk menghindari kemungkinan, orang-orang Pajang akan mengikuti jejaknya. Tetapi segera teringat olehnya, bahwa kali ini akan menempuh sebuah perjalanan yang jauh. Melintasi beberapa kademangan, kemudian Alas Tambak Baya, Mentaok dan beberapa pedukuhan kecil.

“Menoreh,” Sidanti berdesis di dalam hatinya, “tanah yang telah cukup lama aku tinggalkan untuk merantau. Ketika aku tinggalkan tanah itu aku telah dibekali oleh ayah dengan cita-cita. Tetapi di rantau aku telah menemui kegagalan. Apakah ayah akan berdiam diri dan berpangku tangan melihat kegagalan ini? Bukan sekedar kegagalan, tetapi harga diriku telah terinjak-injak pula di Sangkal Putung dan di Tambak Wedi.”

Terdengar anak muda itu menggeram. Dikepalkannya tinjunya seolah-olah hendak diremasnya leher lawan-lawannya. Namun yang tergenggam olehnya hanyalah sehelai daun yang kuning yang direnggutkannya dari sebatang pohon perdu.

Yang terdengar kemudian adalah langkah-langkah mereka gemerisik menyentuh dedaunan. Kemudian di kejauhan terdengar suara kokok ayam jantan bersahut-sahutan.

Ketika mereka bertiga, Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya menengadahkan kepala mereka, maka tampaklah seolah-olah langit di ujung Timur sedang terbakar.

“Fajar,” desis Ki Tambak Wedi.

“Ya,” hampir berbareng Sidanti dan Argajaya menyahut.

“Apabila pagi menjadi semakin terang, maka kita harus sudah menjauhi induk kademangan. Mungkin kita harus bersembunyi, atau berjalan di pategalan supaya tidak menumbuhkan kecurigaan orang,” berkata Ki Tambak Wedi kemudian.

Sidanti dan Argajaya menganggukkan kepala mereka. Tiba-tiba saja kini mereka merasa sebagai orang-orang buruan yang harus meninggalkan tempatnya dengan penuh ketakutan dan kecemasan. Dengan demikian maka Sidanti merasa dirinya semakin parah. Hatinya menjadi semakin sakit.

Langkah mereka bertiga semakin lama menjadi semakin cepat. Sejenak kemudian mereka telah menyusur pematang memotong jalan. Ketika fajar menjadi semakin terang, maka mereka telah memasuki sebuah pedesaan kecil.

“Aku memerlukan ganti pakaian,” desis Sidanti tiba-tiba. “Noda-noda darah yang kehitam-hitaman pada pakaianku akan menimbulkan kecurigaan.”

Gurunya menganggukkan kepalanya. Pakaian mereka benar-benar telah menjadi lusuh dan kotor. Mereka tak ubahnya sebagai perantau miskin yang tidak sempat berganti dan mencuci pakaian yang hanya melekat di tubuh mereka itu saja. Kotor dan buram.

“Hanya bajumu yang perlu diganti,” sahut gurunya.

“Aku tidak tahan. Pakaianku telah berbau seluruhnya,” jawab Sidanti.

“Suatu penyamaran yang baik. Tidak seorang pun akan memperhatikan kita.”

“Ya,” tiba-tiba Argajaya menyambung, “kita tidak akan segera diperhatikan orang. Orang-orang yang berjumpa dengan kita pasti akan menyangka bahwa kita adalah perantau-perantau yang sedang mencari sesuap nasi pada daerah baru yang masih harus dicari.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Baiklah, aku akan mencari ganti baju.”

Ternyata Sidanti tidak terlampau susah untuk mendapatkan baju. Dimasukinya saja sebuah rumah yang dilewatinya. Langsung dimintanya sepotong baju untuknya. Ketika orang yang mempunyai rumah itu menyatakan keberatannya, maka dalam waktu sekejap tangannya telah terpilin dan lehernya menjadi terlampau sakit karena terkaman jari-jari Sidanti.

Perjalanan mereka selanjutnya adalah perjalanan tiga orang perantau miskin yang berpakaian kusut dan kumal. Mereka berjalan menyusur jalan-jalan yang sepi, sejauh mungkin bertemu dengan seseorang. Meskipun orang-orang itu tidak akan dapat mengenal mereka, tetapi setiap tatapan mata seolah-olah melontarkan ejekan yang sangat menyakitkan hati. Sehingga setiap kali, setiap mereka bertemu dengan seseorang yang memandangi wajah-wajah mereka dengan heran, Sidanti selalu saja menjadi marah. Kadang-kadang orang itu dipukulnya tanpa sebab.

“Jangan menuruti kemarahan hati, Sidanti,” gurunya sering memperingatkannya. “Kau akan membuat perjalanan ini menjadi gagal pula.”

“Kenapa?” bertanya Sidanti.

“Orang-orang yang kau sakiti akan menaruh banyak sekali perhatian atas kita. Bukankah dengan demikian kau telah meninggalkan petunjuk-petunjuk bagi orang-orang yang ingin mengikuti jejak kita.”

“Apa keberatannya? Kita akan pergi ke Menoreh. Sebentar lagi kita akan berada di antara orang-orang kita sendiri. Di antara pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang tidak kalah tangkasnya dari prajurit-prajurit Pajang. Bahkan hampir setiap laki-laki di Menoreh mampu mempergunakan senjata.”

“Tetapi sekarang kita belum sampai ke Menoreh. Kita masih di perjalanan. Kita belum berada di antara para pengawal dan anak-anak muda Menoreh yang perkasa.”

“Apa yang Guru cemaskan?”

“Setan-setan dari Sangkal Putung dapat saja memburu kita. Sumangkar, Kiai Gringsing, Swandaru, Agung Sedayu, bahkan mungkin Widura dan prajurit-prajuritnya.”

Sidanti tidak menyahut. Tetapi terasa hatinya melonjak. Benar-benar menyakitkan hati.

“Aku harus menebus segala kekalahan ini. Segala sakit hati dan segala penghinaan,” katanya di dalam hati, “Ternyata guru cukup bijaksana. Tidak ada gunanya aku mati karena terlampau keras kepala, tidak melihat kenyataan bahwa perlawananku tidak berguna. Adalah lebih baik menyingkir untuk datang kembali dengan membawa kemenangan.”

Langkah-langkah mereka pun semakin lama menjadi semakin cepat. Mereka memilih jalan-jalan pematang dan sidatan-sidatan kecil. Yang terpateri di dalam kepala Sidanti adalah, secepat-cepatnya sampai ke Menoreh, dan secepat-cepatnya menghimpun kekuatan untuk kembali membalas sakit hatinya atas Untara, Agung Sedayu, dan Swandaru. Kemudian akan digilasnya Sangkal Putung. Apabila mungkin untuk merebut tanah perbekalan dan sekaligus Sekar Mirah.

Sidanti mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Argajaya berkata, “Tetapi kita tidak akan dapat memasuki daerah Menoreh dengan keadaan seperti ini. Aku adalah adik Kepala Tanah Perdikan dan Sidanti adalah puteranya.”

Ki Tambak Wedi tidak menanggapi kata-kata Argajaya. Meskipun demikian ia dapat mengerti sepenuhnya. Argajaya ingin perjalanannya tidak terganggu, supaya mereka segera sampai ke Menoreh. Karena itu maka pakaiannya yang kumal itu akan menolong mereka, melepaskan dari segenap perhatian orang yang mungkin akan menghambat perjalanan. Tetapi Argajaya tidak mau memasuki Tanah Perdikannya dengan keadaannya. Ia harus masuk ke daerah itu dengan sikap seorang besar. Orang kedua di Tanah Perdikan Menoreh.

“Ia tidak akan menemui kesulitan apa-apa untuk berbuat demikian,” berkata Ki Tambak Wedi di dalam hatinya. “Di perjalanan mereka akan mendapatkan apa yang diingininya. Kalau Argajaya dan Sidanti ingin berganti pakaian yang, bagaimanapun juga, maka di sepanjang jalan pasti telah disediakan untuk mereka.”

Karena Ki Tambak Wedi tidak menyahut, maka Argajaya pun terdiam pula. Sejenak mereka berjalan sambil berdiam diri. Meskipun di dalam dada mereka bergolak berbagai macam perasaan yang kadang-kadang sangat menggelisahkan dan menyakitkan hati.

Namun tiba-tiba kediaman itu dipecahkan oleh pertanyaan Sidanti kepada Argajaya, “Paman, apakah Paman akan singgah di Prambanan? Di sana paman akan mendapatkan apa saja yang Paman kehendaki.”

Argajaya mengerutkan keningnya. Di Prambanan ia memang akan mendapat apa saja yang dikehendaki. Di Prambanan ada orang-orang yang akan menyambutnya dengan senang hati. Bahkan para prajurit Pajang pernah berada di pihaknya ketika ia berkelahi melawan anak-anak muda yang membuatnya marah. Tetapi seorang dari anak-anak muda yang membuatnya marah itu, yang menyebut dirinya bernama Sutajia, adalah Sutawijaya. Ia tidak mampu mengalahkannya, bahkan ia mendapat malu karenanya.

“Para prajurit itu akan berpendirian lain seandainya mereka mengetahui bahwa anak itu adalah putera Ki Gede Pemanahan,” desisnya. “Gila, aku tidak mengetahuinya sebelumnya, seandainya aku tidak mendengar tentang anak itu di padepokan Tambak Wedi.”

“Bagaimana, Paman?” bertanya Sidanti.

Argajaya menggelengkan kepalanya. “Tidak. Dalam keadaanku ini, aku tidak akan singgah di Prambanan.”

“Kenapa?” bertanya Sidanti pula.

Argajaya tidak segera menjawab. Dan Sidanti-lah yang menyambung kata-katanya, “Paman akan banyak mendapat kesempatan. Aku kira anak-anak gila itu sudah tidak berada di Prambanan lagi. Bukankah mereka berada di Sangkal Putung bersama gurunya?”

“Aku tidak memerlukan Prambanan lagi.”

“Paman akan mendapatkan apa saja. Kalau Paman ingin pakaian maka di Prambanan ada pakaian yang paling baik yang kita kehendaki. Kalau Paman ingin melepaskan kejengkelan hati, di Prambanan Paman akan mendapat sasaran. Bahkan aku pun ingin memutar batang-batang leher sebagian dari anak-anak muda Prambanan yang sombong seperti yang Paman katakan.”

Argajaya tidak menjawab. Tetapi yang terdengar adalah suara Ki Tambak Wedi, “Kau masih juga ingin membuat persoalan dengan orang-orang yang sama sekali tidak bersangkut paut dengan kegagalanmu Sidanti. Dengan demikian kau akan mempersempit kemungkinan bagi dirimu sendiri. Kalau kesan terhadapmu baik, maka kau akan banyak mendapat bantuan dari orang-orang Prambanan apabila kau perlukan. Tetapi kalau kesan terhadap dirimu jelek, maka Prambanan akan menjadi musuh yang kuat bagimu. Prambanan akan segera berdiri berhadapan dengan Menoreh. Meskipun kekuatan Menoreh berlipat dibandingkan dengan Kademangan Prambanan, tetapi apabila Prambanan kelak berdiri berseberangan dengan Menoreh, maka kademangan itu akan merupakan gangguan yang besar. Tetapi kalau secara perlahan-lahan kademangan itu dapat kau pengaruhi, maka kedudukan Untara segera akan goyah.”

Sidanti tidak menjawab. Ia dapat mengerti keterangan gurunya. Meskipun demikian masih juga tumbuh di dalam dirinya, keinginan untuk melepaskan sakit hatinya. Kepada siapa pun dan kepada apa pun. Namun dengan sekuat tenaga ditahankannya. Disimpannya sakit hatinya itu untuk kelak ditumpahkannya kepada Untara, Agung Sedayu, Swandaru, Widura, dan Demang Sangkal Putung.

Sekali lagi mereka tenggelam dalam kebisuan. Langkah-langkah mereka sajalah yang terdengar gemerisik menyentuh daun-daun kering yang bertebaran di jalan sempit yang mereka lalui. Sekali dua kali mereka bertemu juga dengan orang-orang yang memanggul cangkul di bahunya. Tetapi orang-orang itu sama sekali tidak memperhatikannya.

Perjalanan yang akan mereka tempuh bukanlah perjalanan untuk sehari itu saja. Tetapi mungkin empat hari atau sepekan. Mereka harus menembus berbagai macam hutan. Hutan-hutan yang tidak begitu lebat sampai hutan bebondotan. Hutan yang paling liar. Besok mereka akan mulai menyeberangi Alas Tambak Baya, kemudian yang lebih lebat lagi adalah pusat Alas Mentaok.

Sementara itu di Kademangan Sangkal Putung, beberapa orang sedang berbincang di Kademangan. Widura, Ki Demang Sangkal Putung, Sumangkar, Kiai Gringsing, Agung Sedayu, dan Swandaru dan beberapa orang pemimpin yang lain. Berbagai kemungkinan telah mereka bicarakan. Mereka telah mendengar pengalaman masing-masing semalam. Dengan bahan itulah maka mereka mencoba mengurai keadaan.

“Apakah mereka kira-kira masih akan berkeliaran di sekitar Sangkal Putung ini?” bertanya Ki Demang.

***

Widura mengerutkan keningnya. Dengan nada dalam ia berkata, “Bukankah Ki Tambak Wedi telah bertemu dengan Ki Sumangkar dan Kiai Gringsing semalam meskipun tidak dalam waktu yang bersamaan?”

“Ya,” jawab Sumangkar dan Kiai Gringsing hampir berbareng.

“Dengan demikian, maka pandangan Ki Tambak Wedi atas Sangkal Putung akan segera berubah. Sangkal Putung bukan lagi sasaran yang terlampau lunak bagi mereka. Tidak lagi sebagai kandang domba bagi tiga ekor serigala yang paling buas.”

Sumangkar dan Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepala mereka. Bahkan Swandaru, Agung Sedayu, Ki Demang Sangkal Putung, dan orang-orang yang lain pun mengangguk-anggukkan kepala mereka pula. Mereka dapat mengerti jalan pikiran Widura. Bahkan mereka pun dapat menduga, bahwa Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya pasti harus mempertimbangkan sekali lagi manfaat mereka untuk berada di sekitar Sangkal Putung.

“Mereka akan segera pergi,” Swandaru berkata langsung seperti apa yang dipikirkannya. “Mereka tidak akan berani lagi berbuat sesuatu di Sangkal Putung.”

“Kita akan berlega hati,” desis Ki Demang, “kademangan ini akan kembali menjadi tenteram. Bahkan seperti saat-saat sebelum ada kerusuhan yang terjadi antara Pajang dan Jipang. Kini tidak ada lagi orang-orang yang akan dapat mengganggu kita.”

“Aku merasa sayang,” sahut puteranya yang gemuk, Swandaru, “sebenarnya aku masih mengharap mereka berotak tumpul, dan masih saja berkeliaran di sini, sehingga suatu ketika kita akan dapat menangkap mereka.”

“Mereka bukan keledai-keledai yang terlampau bodoh,” berkata ayahnya. “Mereka adalah orang-orang yang cukup mempergunakan otaknya, bahkan terlampau cakap, sehingga menjadi licik karenanya.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang kemungkinan terbesar yang terjadi adalah, Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya akan meninggalkan Sangkal Putung.

“Tetapi apakah kira-kira mereka akan berbuat selicik itu pula di Jati Anom? Karena mereka menganggap bahwa baik Ki Sumangkar maupun Kiai Gringsing berada di Sangkal Putung maka mereka akan segera melakukan pengacauan untuk menakut-nakuti prajurit Pajang di Jati Anom.”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. “Aku kira tidak, Ngger. Hal itu tidak akan banyak bermanfaat bagi mereka. Kemungkinan yang terbesar, mereka akan segera pergi ke Menoreh. Sebab Sidanti adalah putera Menoreh.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia berdiam diri, dan yang lain pun tidak segera menyahut pula. Kini perhatian mereka melontar ke Perbukitan Menoreh, melintasi Hutan Mentaok. Tanah Perdikan yang terbentang di sepanjang pegunungan Menoreh dan dataran di sekitarnya. Membujur dari Utara ke Selatan. Daerahnya meliputi pegunungan yang berbatu-batu, tetapi juga melingkupi daerah sawah yang hijau subur, hutan yang rindang dan yang lebat, bahkan alas pingitan. Hutan buah-buahan yang dipelihara dengan baik, dilindungi segala isinya, sampai pada binatang-binatang yang menghuni di dalamnya.

Sidanti adalah putera Kepala Tanah Perdikan yang besar itu. Putera Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh.

Sejenak mereka yang berada di dalam ruangan itu saling berdiam diri. Mereka disibukkan oleh angan-angan masing-masing tentang segala macam kemungkinan tentang Ki Tambak Wedi, Sidanti, Argajaya, dan bahkan tentang Ki Gede Menoreh. Apakah kira-kira yang akan mereka lakukan seterusnya? Seandainya tidak pernah terjadi sesuatu dengan Sidanti dan Ki Tambak Wedi, maka mereka tidak akan berprasangka apa pun terhadap Argapati. Tetapi apakah ia akan tetap berdiam diri seandainya Sidanti mengatakan apa yang pernah dialaminya, dan bahkan mungkin kuntul dikatakan dandang, dandang dikatakan kuntul? Yang putih dikatakan hitam yang hitam dikatakan putih?

Dalam kediaman itu terdengar suara Widura, perlahan-lahan, “Sementara memang kita akan dapat mengambil kesimpulan, bahwa Sidanti, guru dan pamannya itu akan kembali ke Menoreh. Tetapi kita tidak akan kehilangan kewaspadaan. Setiap peronda masih akan dilengkapi dengan panah sendaren dan kuda.”

“Tepat, Ngger,” sahut Kiai Gringsing, “aku pun berpendapat seperti itu. Meskipun kemungkinan terbesar, mereka akan pergi ke Menoreh, tetapi kita tidak boleh terjebak karena angan-angan sendiri.”

Pertemuan itu pun kemudian berpendapat serupa. Peronda masih harus tetap berada dalam kewaspadaan tertinggi.

Dalam pada itu, maka Kiai Gringsing sendiri berpendapat, bahwa sudah sampai saatnya ia harus mulai dengan sebuah perjalanan. Namun ia masih harus menunggu perkembangan keadaan. Ia masih harus tinggal di Sangkal Putung untuk beberapa hari, untuk meyakinkan dirinya bahwa Ki Tambak Wedi benar-benar telah meninggalkan kademangan itu dan tidak pergi ke Jati Anom.

Demikianlah setelah pertemuan itu Sangkal Putung sama sekali tidak mengurangi kesiagaannya. Setiap hari masih saja dapat dilihat peronda-peronda berkuda dalam jumlah yang cukup untuk menanggapi keadaan seandainya mereka bertemu dengan Ki Tambak Wedi. Mereka masih juga selalu berada di atas punggung kuda dengan bekal panah-panah sendaren. Setiap saat mereka akan mengirimkan isyarat apabila diperlukan.

Tetapi di hari-hari berikutnya mereka tidak pernah menjumpai lagi orang yang selama ini selalu menghantui Kademangan Sangkal Putung. Sehingga lambat laun, mereka semakin meyakini, bahwa Ki Tambak Wedi telah pergi meninggalkan kademangan itu.

Meskipun demikian, Betapapun Swandaru dan Agung Sedayu kadang-kadang diganggu oleh kegelisahan tentang padesan di sepanjang jalan yang akan dilalui oleh Ki Tambak Wedi, terutama Prambanan, namun Ki Tanu Metir masih merasa perlu untuk beberapa lama menunggu.

Ternyata Ki Tanu Metir tidak saja sekedar meyakinkan dirinya bahwa Ki Tambak Wedi telah tidak ada di Sangkal Putung, tetapi yang lebih panting baginya adalah membentuk Agung Sedayu dan Swandaru, sehingga kedua anak-anak muda itu benar-benar mencerminkan perguruannya. Perlahan-lahan Kiai Gringsing mencoba untuk membiasakan kedua anak-anak muda itu mempergunakan senjata sejenis senjatanya. Tetapi Ki Tanu Metir tidak ingin melepas pedang-pedang itu dari lambung murid-muridnya. Bahkan Kiai Gringsing ingin murid-muridnya dapat mempergunakan senjata-senjata itu berpasangan.

Itulah sebabnya maka setiap malam Swandaru dan Agung Sedayu pasti berada di sekitar Gunung Gowok bersama gurunya, Ki Tanu Metir. Bahkan sekali-sekali bersama Sumangkar dan Widura. Mereka ingin juga menyaksikan kemajuan kedua anak-anak muda itu. Ingin melihat keduanya tidak saja memutar pedangnya, tetapi sekali-sekali melentingkan cambuk yang berpangkal pendek tetapi berjuntai cukup panjang, dan sekali-sekali mereka bersenjatakan sebuah cemeti yang lentur.

Sebagai seorang paman Widura berbangga melihat kemajuan Agung Sedayu. Kadang-kadang ia menahan tertawanya seorang diri ketika ia tanpa sesadarnya mengenangkan masa-masa Agung Sedayu untuk pertama kalinya datang ke kademangan ini. Kedatangannya benar-benar telah mengejutkannya. Bagaimana mungkin Agung Sedayu seorang diri berani menempuh perjalanan di malam hari dari Jati Anom sampai ke Sangkal Putung.

Namun di hari-hari kemudian, dikenalnya Agung Sedayu itu seperti pada kanak-anaknya. Penakut yang tidak tanggung-tanggung. Ia takut terhadap apa saja. Terhadap seseorang, terhadap peristiwa-peristiwa yang dianggapnya terlampau keras dan terhadap gelap malam. Semuanya itu membuatnya menjadi seorang anak muda yang lain dari anak-anak muda sebayanya.

“Anak itu hampir membeku dibentak-bentak oleh Sidanti,” desis Widura di dalam hatinya.

Tetapi Widura tidak pula dapat menyembunyikan kekagumannya atas kemenakannya itu. Meskipun ia tidak berani berbuat sesuatu, meskipun ia tidak mampu untuk berbuat banyak, namun ia dapat juga mempelajari ilmu tata bela diri. Ternyata otaknya cukup cerdas, dan cukup- memiliki kemampuan untuk menerimanya. Bahkan yang tidak disangka-sangkanya, Agung Sedayu mampu menyusun unsur-unsur tata bela diri di atas rontal.

Akhirnya dinding yang mengungkungnya itu mampu dipecahkannya. Seperti telur yang sedang menetas, maka meledaklah dinding yang selama ini mengurungnya di dalam suasana ketakutan. Seperti anak ayam yang merangkak ke luar dari pecahan telurnya, Agung Sedayu melihat keadaan di sekitarnya dalam penilaian yang wajar. Sehingga akhirnya Agung Sedayu itu seakan-akan dilahirkan kembali. Lahirlah seorang Agung Sedayu yang sekarang ini.

Widura menarik nafas panjang. Ia terkejut ketika ia mendengar cambuk yang meledak berturut-turut beberapa kali. Ketika ia mengangkat wajahnya, dilihatnya Agung Sedayu bersama Swandaru sedang berlatih melawan gurunya. Widura mengangguk-anggukkan kepalanya melihat kemanakannya mampu meloncat secepat burung sikatan, tetapi ia kagum juga melihat tenaga Swandaru sekuat tenaga seekor gajah.

Kedua anak-anak muda itu kini tidak saja bersenjata pedang, tetapi mereka menggenggam cambuk pula, justru di tangan kanan dan pedang-pedang mereka di tangan kiri. Pasangan kedua senjata itu ternyata cukup menggetarkan. Sekali-sekali terdengar cambuk itu meledak, namun sesaat kemudian maka pedang-pedang mereka telah terjulur lurus langsung mengarah ke dada lawan.

“Hem,” Widura menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hatinya, “Aku sudah tidak akan dapat menyamai anak-anak itu, Agung Sedayu dan Swandaru memiliki kekhususannya masing-masing, Agung Sedayu menempatkan kekuatan geraknya pada kelincahan dan ketangkasannya, sedang Swandaru mempercayakan kepada tenaganya yang bukan main besarnya. Namun demikian Swandaru yang gemuk itu mampu juga bergerak cepat, meskipun memiliki beberapa perbedaan yang khusus dengan kecepatan gerak Agung Sedayu.”

Namun dalam pengamatan Widura, meskipun mereka berguru kepada seorang guru, tetapi terpengaruh oleh bekal, darah yang mengalir di dalam tubuh mereka, ternyata Agung Sedayu masih mempunyai beberapa kelebihan dari saudara muda seperguruannya. Meskipun agaknya Kiai Gringsing tidak membedakan keduanya, tetapi perkembangan mereka sendiri serta bekal yang mereka bawa sejak mereka berguru kepada orang tua itulah yang telah menentukan.

Demikianlah yang terjadi beberapa hari kemudian. Ketekunan Swandaru dan Agung Sedayu ternyata telah banyak bermanfaat bagi mereka. Hari-hari yang pendek itu telah mereka pergunakan sebaik-baiknya. Baik oleh Swandaru dan Agung Sedayu sendiri, maupun oleh gurunya. Beberapa unsur baru dan bahkan yang masih dalam penyusunan telah dicobakannya pula.

Karena di hari-hari itu tidak ada kerja yang lain daripada memperdalam ilmunya, maka di saat-saat yang pendek itu, mereka telah mendapatkan beberapa kemajuan yang dapat memberi kebanggaan kepada mereka. Menambah ketabahan hati seandainya mereka bertemu dengan bahaya di sepanjang jalan. Ki Tanu Metir pun merasa, bahwa kini sudah sampai saatnya kedua muridnya itu dibawanya untuk mengenal perjalanan. Tidak seperti anak-anak nakal yang berjalan sekehendak hati dan berbuat tanpa kendali, tetapi perjalanan itu akan diawasinya sendiri.

“Kita sudah cukup lama meyakinkan diri kita, bahwa agaknya Ki Tambak Wedi telah benar-benar tidak berada di sekitar daerah ini, Ngger,” berkata Ki Tanu Metir kepada kedua muridnya. “Karena itu, maka aku kira, kita sudah sampai waktunya untuk mencoba sebuah perjalanan. Perjalanan yang akan banyak memberikan pengalaman bagi kalian.”

Hati kedua muridnya itu tiba-tiba melonjak. Saat-saat itulah yang mereka tunggu. Sebuah perjalanan. Bukan sekedar sebuah perjalanan, tetapi mereka ingin juga mengikuti jejak perjalanan Ki Tambak Wedi. Mereka ingin tahu apakah yang sudah dilakukannya di sepanjang jalan dari Sangkal Putung sampai ke bukit Menoreh.

“Kita akan berjalan ke Barat,” berkata Ki Tanu Metir, “melintasi Hutan Tambak Baja dan Mentaok yang lebat dan berbahaya. Tetapi yang lebih berbahaya lagi adalah justru apabila kita telah lepas dari hutan-hutan itu dan menginjakkan kaki kita di Tanah Perdikan Menoreh.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka menyadari sepenuhnya apa yang dikatakan gurunya. Betapa besar bahaya yang akan mereka hadapi di hutan Mentaok, namun menurut penilaian mereka maka bahaya itu akan dapat mereka atasi. Seandainya di hutan itu masih juga ada penyamun-penyamun karena Daruka tidak menepati janjinya, maka penyamun-penyamun itu pun menurut perhitungan lahiriah, pasti akan dapat dilawannya. Seandainya mereka bertemu dengan binatang-binatang buas pun, maka mereka tidak perlu menjadi gentar.

Tetapi apabila mereka kemudian keluar dari hutan yang lebat itu dan kemudian menginjakkan kaki-kaki mereka di telatah Menoreh, maka yang dihadapinya adalah Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya. Bahkan kemungkinan mereka akan berhadapan juga dengan Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh. Lalu bagaimanakah dengan pasukan-pasukan mereka, Pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang perkasa?

Bagaimanapun juga, tetapi dada anak-anak muda itu menjadi berdebar-debar juga.

“Tetapi Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya bertiga berani juga berada di sekitar Sangkal Putung,” desis Agung Sedayu di dalam hatinya. “Di Menoreh kita akan berbuat serupa dengan mereka di sini. Sudah tentu tidak dengan kelicikan-kelicikannya yang tidak berperikemanusiaan.”

Kedua anak muda itu kemudian mendengar gurunya berkata, “Kita tetapkan, kapankah kita berangkat?”

“Terserahlah kepada Kiai,” jawab Agung Sedayu.

“Kalian perlu menyiapkan diri.”

“Apakah yang harus kami persiapkan?” bertanya Swandaru.

“Diri kalian sendiri. Kalian harus mengatur perasaan dan nalar. Mempersiapkan segala perhitungan yang mapan Kalian harus dapat membayangkan apa saja yang kira-kira terjadi di perjalanan supaya kalian tidak kehilangan akal apabila tiba-tiba saja kalian menghadapi bahaya yang cukup besar.”

“Aku sudah siap sejak lama, Guru,” sahut Swandaru.

“Perjalanan ini bukan perjalanan tamasya,” berkata gurunya, “tetapi sebuah perjalanan yang berbahaya. Kau menangkap rencana perjalanan ini dengan sudut pandangan yang menyebelah. Kau dilanda oleh kegirangan hati seorang anak muda. Kau mungkin terlalu bernafsu ingin melihat daerah-daerah yang selama ini belum kalian lihat. Kau mungkin terlalu bernafsu untuk membuat perhitungan dengan Ki Tambak Wedi. Tetapi kau tidak memperhitungkan bahaya seperti yang telah aku katakan. Karena itu, siapkan dirimu dalam kesungguhan.”

Kedua anak-anak muda itu sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Yang terpenting dari semuanya dalam mempersiapkan hati dan nalar adalah, bahwa perjalanan ini jangan dikotori oleh perasaan-perasaan yang melonjak-lonjak. Jangan diburu oleh dendam. Tetapi bekalilah dengan maksud yang baik. Kalau kalian ingin menambah pengalaman, maka pengalaman itu akan kalian trapkan dalam landasan kebesaran jiwa. Nah, sekarang bertanyalah kepada diri kalian sendiri, apakah sebenarnya keinginan yang mendorong kalian untuk melakukan sebuah perjalanan, dan justru kalian merasa senang apabila perjalanan itu dilakukan ke Barat? Ke Menoreh?”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak menjawab. Tetapi mereka merasakan sentuhan langsung di dalam hati. Bahkan pertanyaan itu serasa bergulung-gulung bergema di dalam diri mereka, “Ya, kenapa ke Menoreh?”

Tetapi mereka tidak dapat berbohong kepada diri sendiri. Sebenarnyalah bahwa mereka telah didorong oleh rasa dendam mereka terhadap Sidanti. Dendam yang bertimbun-timbun. Sejak Sidanti berada di Sangkal Putung. Baik Agung Swandaru maupun Swandaru mempunyai persoalannya sendiri-sendiri. Beberapa kali Swandaru terpaksa menahan sakit dan malu karena Sidanti telah beberapa kali menampar pipinya yang gembung itu. Sedangkan Agung Sedayu mempunyai beberapa masalah yang tidak juga dapat dilupakan. Bahkan Sidanti telah hampir berhasil membunuh Untara, kakaknya satu-satunya. yang kemudian mencapai puncaknya dengan hilangnya Sekar Mirah. Kedua anak muda itu bersama-sama merasa kehilangan.

“Angger berdua,” berkata Ki Tanu Metir kemudian, “meskipun kalian tidak menjawab, tetapi aku dapat ikut merasakannya, betapa kalian menyimpan persoalan dengan Angger Sidanti.”

Agung Sedayu dan Swandaru masih saja berdiam diri.

“Tetapi bukan itulah sebenarnya yang memaksa aku membawa kalian untuk pergi ke Menoreh. Seandainya demikian, maka aku akan membawa kalian menunggu saja di Sangkal Putung atau di Jati Anom. Suatu ketika Sidanti pasti akan datang lagi.” Orang tua itu terdiam sejenak, kemudian, “Tetapi, Ngger. Justru aku mengira bahwa Angger Sidanti itu akan kembali, maka aku

berhasrat untuk pergi ke Menoreh. Kecuali dengan demikian Angger berdua mendapat suatu pengalaman yang baik di sepanjang jalan, pengalaman untuk berbuat baik apabila diperlukan di sepanjang perjalanan, pengalaman untuk menahan diri dan menahan

nafsu yang mempunyai berbagai macam bentuk, juga untuk mendapat pengalaman menahan diri dalam perhitungan-perhitungan yang cermat. Menilai persoalan sesuai dengan kepentingannya. Apakah Angger

mengetahui maksudku?”

Agung Sedayu dan Swandaru masih saja berdiam diri. Seolah-olah mereka telah membeku meskipun mata mereka memandangi wajah gurunya.

“Angger,” berkata orang tua itu, “kalian harus dapat menimbang. Kita harus melihat persoalan kita, dan yang lebih besar daripada itu adalah persoalan Pajang dan Menoreh itu sendiri. Kita harus dapat mengetahui sikap Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh. Kita harus dapat menilai dengan cermat. Seandainya ayah Sidanti itu bersikap lain, maka kita pun harus bersikap lain. Maksudku, seandainya Argapati tidak sependapat dengan Sidanti. Tetapi apabila Menoreh bulat-bulat melawan Pajang, maka kita pun akan menentukan sikap kita. Ingat, jangan diburu hanya oleh kepentingan sendiri.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia tahu benar maksud gurunya. Gurunya ingin mengatakan, bahwa yang mendorong mereka ke Menoreh, bukanlah kepentingan pribadi mereka, tetapi terutama adalah kepentingan Pajang dan Menoreh itu sendiri.

Meskipun tidak dikatakan oleh orang tua itu, namun tampak pada nada kata-katanya, bahwa Ki Tanu Metir benar-benar mencemaskan kemungkinan yang paling jelek yang dapat terjadi antara Pajang dan Menoreh.

“Kita sudah cukup parah,” desis orang tua itu kemudian, “apalagi di daerah Selatan ini. Pertentangan antara Jipang dan Pajang yang berkepanjangan, orang-orang di antara mereka yang keras kepala tanpa mau melihat kenyataan, kemudian munculnya orang-orang yang memiliki nafsu pribadi yang berlebih-lebihan seperti Sidanti dan gurunya Ki Tambak Wedi, telah banyak merampas tenaga, pikiran, dan bahkan nyawa. Apakah sekarang kita masih belum sampai saatnya untuk berbuat lain daripada berkelahi di antara kita? Seandainya Ki Gede Menoreh nanti benar-benar keblinger, menuruti nafsu puteranya itu, maka kita harus berprihatin. Karena itu, Ngger, seandainya kita menjumpai Ki Argapati dalam kebimbangan, jangan mendorongnya untuk memilih jalan yang menyedihkan itu. Seandainya di dalam kebimbangannya, kalian bertindak menurut nafsu pribadi, untuk kepuasan sendiri, maka berarti kalian telah menjerumuskan Ki Argapati ke dalam bencana. Bahkan seluruh Pajang mungkin akan terkena sentuhannya.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangkat wajahnya. Tampaklah wajah itu menjadi berkerut-merut. Agaknya mereka tidak begitu jelas akan maksud kata-kata gurunya.

“Angger,” sambung Ki Tanu Metir, “jelasnya adalah, apabila Ki Argapati sedang mempertimbangkan tindakan-tindakan yang diambilnya, maka kalian jangan melepaskan dendam kalian. Baik terhadap Sidanti maupun terhadap Argajaya. Seandainya kebimbangan Argapati itu semisal neraca yang seimbang, di antara sikapnya yang jujur menghadapi kenyataan dan harga dirinya sebagai seorang ayah, maka sentuhan sedikit saja akan menyebabkan neraca itu berguncang. Sudah tentu guncangan yang terbesar kemungkinannya adalah, Argapati akan bersikap sebagai seorang ayah, karena kita sudah melanggar harga dirinya pula, hadir di Menoreh tanpa seijinnya. Tetapi kalau kita biarkan saja ia berada dalam pertimbangannya, mungkin ia akan bersikap lain. Mungkin pikirannya yang jernih akan menang. Apabila demikian, maka kita tidak akan berbuat apa-apa. Kita serahkan persoalannya kepada Argapati. Mungkin dengan demikian kita tidak mendapat kepuasan pribadi karena kita tidak dapat bertindak langsung terhadap orang-orang yang kita ingini. Tetapi itu adalah tindakan yang paling baik bagi Pajang dan juga bagi Menoreh.”

Terasa desir yang lembut menyentuh jantung kedua anak muda itu. Tetapi mereka tahu maksud gurunya. Meskipun demikian darah muda yang mengalir di dalam tubuh mereka serasa bergolak. Apabila gurunya menghendaki demikian, maka seolah-olah perjalanan mereka ke Menoreh tidak lebih dari perjalanan yang sia-sia bagi diri mereka sendiri. Mereka tidak boleh apa-apa. Mereka akan menjadi seorang perantau yang sekedar ingin melihat sebuah pegunungan yang membujur ke Selatan di sebelah Alas Mentaok. Tidak lebih dari itu. Mungkin mereka akan melihat dan mendengar ceritera tentang sikap Ki Argapati.

Ki Tanu Metir melihat kekecewaan di dalam sorot mata kedua muridnya. Karena itu maka ia pun berkata, “Tetapi jangan menganggap bahwa perjalanan ini tidak ada artinya. Seandainya, ya seandainya Ki Argapati mendengarkan ceritera Sidanti, kemudian menyiapkan pasukan segelar sepapan, nah, kalian akan berjasa terhadap Pajang.”

“Apakah kita akan melawan pasukan segelar sepapan yang dipimpin oleh Ki Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh dan Ki Tambak Wedi itu?” bertanya Swandaru dalam kekecewaannya.

Ki Tanu Metir yang telah mendalami jiwa murid-muridnya itu tersenyum. Jawabnya, “Sudah tentu tidak, Ngger. Tetapi bukankah dengan demikian kita akan dapat melaporkannya kepada pimpinan Prajurit Pajang?”

“Dan kita tidak dapat berbuat apa-apa pula? Kita hanya sekedar melaporkannya. Kemudian datang pasukan Pajang yang lengkap di bawah pimpinan senapati-senapati tertingginya, mungkin Gede Pemanahan sendiri, mungkin Ki Penjawi atau bahkan Ki Patih Mancanegara, atau setidak-tidaknya Kakang Untara didampingi oleh Paman Sumangkar,” sahut Swandaru.

Sekali lagi Ki Tanu Metir tersenyum. Katanya, “Kita dapat berbuat banyak. Tetapi ingat, bukan untuk kepuasan pribadi. Kita dapat berbuat seperti apa yang kita lakukan di Tambak Wedi. Memberikan jasa-jasa baik terhadap pasukan Pajang.”

Kedua murid Kiai Gringsing itu terdiam. Sadarlah mereka kini, bahwa perjalanan ini sama sekali bukan perjalanan seperti yang mereka inginkan selama ini. Mereka ingin pergi ke Menoreh, menemui Sidanti dan Argajaya untuk membuat perhitungan. Mencari cara untuk dapat melepaskan kemarahan yang membakar hati. Perang tanding. Tetapi yang terjadi akan jauh berbeda.

Meskipun demikian, mereka dapat mengerti maksud gurunya. Nalar mereka dapat menerima. Bahkan mereka tidak dapat berpikir lain daripada untuk kepentingan Pajang itu. Tetapi perasaan merekalah yang kadang-kadang masih terasa bergolak di dalam dada mereka. Perasaan yang mereka tekan sedapat-dapat menurut pertimbangan nalar.

Namun, Ki Tanu Metir pun menyadari, apakah pada suatu saat perasaan itu tidak terdorong keluar tanpa mereka sadari? Apakah mereka pada suatu saat tidak diledakkan oleh perasaan yang justru kini sedang mereka tekan kuat-kuat?

“Mudah-mudahan aku dapat mengendalikan anak-anak ini,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya. Tetapi yang dikatakan adalah, “Baiklah kita tentukan, besok lusa kita berangkat.”

Tiba-tiba kedua anak-anak muda murid Kiai Gringsing itu merasa perjalanan yang akan mereka lakukan terlampau hambar. Tidak ada lagi dorongan yang melonjak-lonjak di dalam dada mereka. Perjalanan yang akan mereka tempuh bagi mereka kini hanyalah sebuah perjalanan biasa. Perjalanan seperti yang pernah mereka lakukan semasa kanak-kanak mereka. Pergi ke kademangan lain bersama kakek untuk melihat sanak keluarga yang sudah lama tidak berjumpa. Bukan lagi perjalanan dalam gairah darah remaja mereka.

Meskipun demikian mereka ingin juga mempergunakan kesempatan itu. Mungkin mereka dapat melihat Alas Mentaok lebih banyak dari yang pernah mereka lakukan. Mungkin mereka akan mendapat pengalaman-pengalaman lain di sepanjang perjalanan, dalam perburuan binatang di dalam hutan.

Kiai Gringsing yang tua itu dapat melihat gejolak di dalam dada murid-muridnya. Tetapi ia tidak memberikan tanggapan apa pun. Dibiarkannya muridnya untuk melihat sendiri dan mengalaminya, apa yang akan mereka jumpai di sepanjang jalan. Mereka akan segera meyakini bahwa perjalanan ini bukanlah sebuah tamasya yang sejuk. Daerah-daerah yang akan mereka lewati akan memberitahukan kepada mereka, bahwa mereka tidak boleh tidur di sepanjang langkah mereka.

“Nah,” berkata Kiai Gringsing itu kemudian, “sejak kini kalian harus mempersiapkan diri. Kalian tidak perlu membuat ceritera tentang perjalanan ini kepada kawan-kawan kalian. Besok, sehari kalian masih berada di kademangan ini. Tetapi fajar berikutnya, kalian harus sudah berada di perjalanan. Supaya perjalananmu tidak terganggu, maka senjata-senjata yang harus kalian bawa pun harus kalian sesuaikan dengan keadaan. Kalian tidak perlu membawa pedang-pedang kalian yang panjang itu. Kalian dapat membawa keris-keris sipat kandel yang dapat kalian sembunyikan di bawah baju, dan senjata yang memberikan kepercayaan kepada diri, cambuk yang dapat dililitkan seperti sehelai ikat pinggang.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Agung Sedayu memang mempunyai sebilah keris peninggalan yang dibawanya dari Jati Anom dan Swandaru pun memilikinya pula dari ayahnya.

“Sekarang, kalian dapat mulai dengan persiapan-persiapan kalian,” berkata gurunya pula.

“Kami sudah siap, Guru,” jawab Swandaru. “Seandainya besok pun kami sudah siap pula untuk berangkat.”

“Kalian masih harus mencuci pakaian. Selembar dua lembar kalian harus membawa ganti pakaian.”

“Apakah itu perlu bagi seorang perantau?” bertanya Swandaru.

“Perlu, Ngger. Seandainya kau kedinginan di jalan, maka kau akan mempunyai selimut. Seandainya tempatmu bermalam penuh dengan nyamuk, maka kau dapat menutup seluruh tubuhmu. Apalagi apabila pakaian yang kau pakai itu sobek, kau akan mempunyai ganti.”

“Kita akan berhati-hati, Kiai. Aku kira aku tidak akan berjalan menerobos semak-semak duri.”

“Memang, kita dapat berhati-hati. Tetapi bagaimanakah kalau baju kita itu sobek bukan karena duri, bukan karena ranting-ranting yang patah dan bukan pula karena umurnya yang tua?”

“Lalu kenapa guru?” bertanya Agung Sedayu.

“Memang mungkin baju-baju kita sobek karena duri, ranting-ranting dan karena ketuaannya. Tetapi yang perlu kau sadari bahwa bajumu itu akan dapat sobek karena ujung pedang. Bahkan bukan saja bajumu, tetapi mungkin kulitmu.”

Kedua muridnya mengerutkan keningnya. Hampir bersamaan mereka bertanya, “Pedang siapa? Bukankah kita hanya sekedar berjalan-jalan di telatah Menoreh dan tidak berbuat apa-apa.”

“Memang kita tidak berbuat apa-apa. Tetapi orang lain dapat berbuat apa-apa atas kita. Dan apakah kita hanya membiarkan saja apa yang terjadi itu?”

“Oh,” kedua muridnya menarik nafas dalam-dalam. “Ya, demikianlah,” gumam mereka di dalam hati, “memang hal-hal yang serupa itu akan dapat terjadi.”

Demikianlah maka mereka pun kemudian mempersiapkan diri mereka. Menyiapkan sepengadeg pakaian yang akan mereka bawa dalam perjalanan. Mereka menyiapkan senjata-senjata khusus mereka menurut nasehat gurunya. Sebuah cambuk bertangkai pendek dan berjuntai panjang yang mereka buat dari janget berangkap tiga ganda. Sebagai senjata di dalam perkelahian yang sebenarnya, maka senjata itu dilengkapi dengan karah-karah baja. Tidak hanya di tangkainya, tetapi hampir di setiap cengkang, janget-janget itu terikat oleh kepingan baja yang tipis. Dalam keadaan yang memaksa, maka tangkai yang pendek bersalutkan kepingan baja itu akan mampu membentur senjata-senjata tajam. Dan dalam keadaan yang khusus pula, maka mereka akan dapat mempergunakan cambuk-cambuk itu tidak seperti yang lazim. Mereka dapat memegang senjata mereka pada ujung jangetnya, dan tangkai yang pendek itu akan menjadi sebuah penggada yang bertangkai panjang dan lemas.

Kiai Gringsing telah mengajari murid-muridnya untuk mempergunakan senjata-senjata itu dalam segala keadaan dan kemungkinan. Bahkan mereka mampu mempergunakan dalam rangkapannya. Cambuk di tangan kanan dan keris-keris mereka di tangan kiri. Dengan senjata itu, maka semua macam senjata akan dapat mereka hadapi. Bahkan mereka yang berpedang di tangan kanan dan berperisai baja di tangan kiri. Meskipun senjata mereka hanya sekedar sehelai cambuk, tetapi saluran kekuatan yang memancar dari senjata itu, akan mampu merenggut senjata-senjata lawan dan bahkan mematahkan tulang-tulang leher. Apalagi apabila senjata itu berada di tangan Kiai Gringsing sendiri.

Meskipun demikian Kiai Gringsing itu berkata, “Aku mengharap bahwa kalian tidak akan pernah mempergunakan senjata-senjata itu. Mudah-mudahan yang terjadi adalah perlakuan yang baik di antara sesama. Juga apa yang akan kita alami dan kita perbuat. Betapa dahsyatnya senjata macam apa pun, tetapi kedahsyatannya hanyalah terbatas. Ingat, hanya terbatas. Terbatas sekali.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun nasehat gurunya itu terdengar janggal di telinga mereka. Mereka mempersiapkan diri dengan segala perlengkapan. Tetapi gurunya mengatakan kepada mereka, bahwa mudah-mudahan mereka tidak perlu mempergunakan senjata itu.

Tetapi kedua anak-anak muda yang sudah cukup lama bergaul dengan Kiai Gringsing itu segera menangkap maksudnya. Kiai Gringsing lebih senang apabila tidak perlu mempergunakan kekerasan apa pun apabila benar-benar tidak dipaksa oleh keadaan. Sedikit banyak, sifat itu telah mempengaruhi kedua muridnya, meskipun kadang-kadang darah muda mereka masih juga melanda dinding jantung dengan dahsyatnya, sehingga nasehat-nasehat serupa itu sering mereka lupakan.

Dan kini gurunya berkata pula kepada mereka tentang hal itu, bahkan gurunya menambahkannya, bahwa Betapapun dahsyatnya sepucuk senjata, tetapi kedahsyatan itu hanyalah terbatas. Terbatas sekali.

Ingatan kedua anak-anak muda itu langsung membubung tinggi kepada Kekuatan yang Maha Besar. Kekuatan yang memancari dan menyumberi segala kekuatan, kekuatan yang berjalan di sepanjang jalan yang dikehendaki-Nya. Meskipun setiap manusia selalu disertai oleh segala kekurangan dan kepicikannya, sehingga setiap langkahnya tidak akan ada yang sempurna di hadapan yang Maha Besar, tetapi adalah menjadi kuwajiban manusia untuk berusaha mendekatkan diri kepada kebenaran. Kebenaran yang mutlak. Sedang penilaian tentang kebenaran yang mutlak itu tidak akan dapat diberikan oleh manusia. Kebenaran yang mutlak hanyalah berada pada Tuhan yang Maha Benar. Sehingga jalan manusia untuk mendekat kepada kebenaran adalah mendekat kepada Tuhannya. Mencoba sejauh-jauhnya melakukan segala petunjuk-Nya yang didasari semata-mata atas kasih-Nya, menjauhkan manusia dari kesesatan.

Apabila ingatan mereka telah menyentuh kepada Sumbernya, maka baik Agung Sedayu dan Swandaru segera menjadi tenang. Meskipun sifat manusia adalah khilaf, tetapi lambaran kepercayaan yang kuat akan mengurangi sejauh-jauhnya kekhilafan itu. Dengan demikian maka sikap dan pandangan mereka terhadap keadaan menjadi tenang pula. Mereka tidak diburu lagi oleh berbagai macam kebencian dan dendam.

Demikianlah, maka Agung Sedayu dan Swandaru pun kemudian menyiapkan diri mereka. Namun kini bukan senjata merekalah yang utama, bukan lagi kebencian dan dendam yang mendorong mereka untuk pergi, tetapi terpercik hasrat yang cerah di dalam dada mereka. Bahwa mereka harus dapat berbuat sesuatu untuk kepentingan sesama. Inilah yang harus mereka lakukan. Meskipun demikian mereka pun tetap menyadari, bahwa untuk itu, mungkin mereka harus menghentikan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan tujuan mereka. Bahkan mungkin akan perlu dilakukan dengan kekerasan apabila terpaksa sekali. Tetapi kekerasan itu bukan tujuan. Kekerasan itu hanya sebagai alat. Karena itu, maka alat itu, kekerasan, tidak boleh bertentangan dengan tujuannya.

Adalah tidak wajar, seandainya untuk kepentingan kemanusiaan, maka dilakukan tindakan-tindakan di luar perikemanusiaan. Untuk menghentikan tindak yang melanggar hukum kemanusiaan telah dilakukan tindak kekerasan yang serupa.

Ketika malam menjadi semakin dalam, di hari berikutnya, Swandaru duduk di ruang dalam rumahnya bersama ayah dan ibunya, yang sibuk melipat pakaiannya sepengadeg. Besok pada saat fajar menyingsing, Swandaru akan pergi mengikuti gurunya, mencari pengalaman-pengalaman baru di dalam hidupnya.

“Apakah kau akan memerlukan waktu yang lama Swandaru?” bertanya ayahnya.

Swandaru menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Aku belum tahu ayah. Mudah-mudahan tidak terlampau lama.”

“Kau harus cepat kembali Swandaru,” berkata ibunya. Tampaklah matanya menjadi basah. Untuk pertama kalinya ia melepaskan anak laki-lakinya itu pergi meninggalkan kademangan, merantau untuk waktu yang tidak tertentu. Ketika Swandaru pergi mencari Sekar Mirah, sama sekali tidak terasa kekhawatiran seperti saat ini. Bukan karena mereka tidak tahu, betapa berbahayanya perjalanan ke Tambak Wedi, tetapi terdorong oleh kecemasan, kemarahan dan perasaan-perasaan lain yang menyesak, maka justru mereka berbangga melihat Swandaru meninggalkan rumah mereka mencari adiknya. Tetapi perasaan kedua orang tua itu kini berbeda. Seolah-olah mereka melepas Swandaru ke dalam kegelapan yang tidak mereka ketahui, apakah yang telah menunggunya di balik kelam itu. Kini tidak ada lagi dorongan apa pun di dalam diri kedua orang tua itu, untuk melepaskan Swandaru pergi. Karena itu, maka terasa betapa berat hati mereka.

“Segalanya akan sangat tergantung kepada guru,” sahut Swandaru.

Kedua orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, semuanya sangat tergantung kepada gurumu. Aku pun telah mengatakan kepada gurumu, perjalananmu yang pertama ini seharusnya tidak akan menjadi terlampau berat bagimu dan angger Agung Sedayu.”

“Mudah-mudahan ayah.”

“Kau harus hati-hati di sepanjang jalan Swandaru. Meskipun aku tidak tahu benar, tetapi aku membayangkan Bahaya yang akan kau hadapi di sepanjang jalan,” berkata ibunya.

“Ya, Ibu.”

“Kau harus dapat membawa diri. Harus kau pilih jalan yang jauh dari reribed. Jangan banyak membuat persoalan dan jangan terburu oleh nafsu.”

“Ya, Ibu. Tetapi sebagian terbesar akan sangat tergantung pula kepada guru.”

Kedua orang tua-tua itu menganggukkan kepala mereka. Terdengar suara Ki Demang lirih, “Aku percaya kepada gurumu, Swandaru. Gurumu bukan orang yang dikuasai oleh nafsu. Bukan orang yang cepat kehilangan nalar dan akal. Ia seorang yang rendah hati dan tepa slira.”

Swandaru tidak menjawab. Namun terasa olehnya betapa hatinya menjadi berdebar-debar. Perpisahan yang dipersiapkan memang kadang-kadang terasa terlampau berat. Agaknya lebih baik apabila tiba-tiba saja ia berangkat karena desakan suatu persoalan yang penting seperti pada saat hilangnya Sekar Mirah. Meskipun ada kemungkinan pada saat itu, bahwa ia tidak akan kembali bersama wadagnya, tetapi hanya namanya saja, tetapi saat itu perasaannya tidak seberat perasaannya di saat ini.

Meskipun demikian, hasratnya untuk pergi telah bulat. Ia pasti akan berangkat besok menjelang fajar bersama gurunya dan saudara seperguruannya, Agung Sedayu.

Dalam pada itu Agung Sedayu sedang duduk di halaman bersama pamannya, Widura. Pamannya, seperti juga ayah Swandaru, memberinya berbagai nasehat. Meskipun Widura tidak memiliki pengalaman dan ilmu seluas Kiai Gringsing, tetapi ia dapat juga memberikan beberapa nasehat yang baik kepada Agung Sedayu.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Agung Sedayu berkata, “Aku akan selalu mengingat segala pesan Paman.”

“Baik, Sedayu. Aku mengharap bahwa kau tidak saja menjunjung tinggi namamu, nama perguruan dan gurumu, tetapi juga nama keluargamu. Kau adalah putera Kakang Sadewa. Nama Sadewa ternyata lebih banyak dikenal orang dari nama ayahmu itu sendiri. Daripada nama ayahmu yang sebenarnya. Sejak ayahmu mengenal dunia ini dengan sadar, ia telah membenci kejahatan. Banyak hal yang telah dilakukan oleh ayahmu di masa mudanya. Mudah-mudahan kau pun akan mewarisi sifat-sifatnya itu. Dalam beberapa bentuk aku telah melihat sifat-sifat ayahmu ada di dalam diri kakakmu. Sedang kau membawa beberapa macam sifat dari ibumu. Tetapi bagaimanapun juga akhirnya kau adalah seorang perkasa seperti Kakang Sadewa. Bahkan suatu perpaduan yang akan sangat manis apabila di dalam dirimu terdapat sifat ayahmu, seorang yang tegak berdiri di atas kebenaran sejauh-jauh dapat dijangkau oleh nalar dan perasaan manusia yang tidak sempurna ini, tetapi juga dibumbui oleh kasih yang tulus dan jujur seperti yang terpancar dari keibuan ibumu.” Widura berhenti sejenak. Ditatapnya kepala Agung Sedayu yang tunduk, lalu sejenak kemudian dilanjutkannya, “Meskipun sifat-sifat yang demikian seolah-olah hanya terdapat di dalam dongeng-dongeng dapat disebutkan beberapa macam watak manusia yang berlawanan sama sekali, yang benar seolah-olah tidak pernah terkena salah, dan yang salah seakan-akan tidak memiliki kebenaran sama sekali, namun kau harus mampu menempatkan dirimu menurut pilihan yang tepat. Adalah pasti bahwa seseorang pernah berbuat kesalahan, tetapi kesadaran untuk berbuat baik harus kau miliki.” Sekali lagi Widura berhenti sejenak, dan kemudian, “Yang lebih penting Sedayu, kau harus selalu merasa dekat dengan Tuhanmu. Dengan demikian kau akan tabah menghadapi setiap persoalan, tetapi dengan demikian kau juga akan selalu takut berbuat kesalahan.”

Agung Sedayu masih menundukkan kepalanya. Seperti pada saat-saat ia makan nasi, terasa bahwa tubuhnya, wadagnya, menjadi semakin segar dan kuat. Maka kata-kata pamannya merupakan makanan bagi kesadaran rohaniahnya. Makanan yang memberinya kesegaran batin.

“Begitulah, Sedayu,” berkata pamannya kemudian. “Sebenarnya aku tidak perlu berbicara terlampau panjang. Aku percaya bahwa gurumu akan berbuat seperti yang aku harapkan. Kiai Gringsing adalah orang yang tepat bagimu. Sayang aku tidak dapat mengenalnya dengan pasti, siapakah sebenarnya Ki Tanu Metir. Tetapi bahwa ia telah mengenal ayahmu dengan baik, telah memberikan harapan, bahwa ia adalah orang yang tepat untuk menuntunmu. Adalah suatu teka-teki bagiku, bahwa Ki Tanu Metir telah mengenal hampir setiap orang yang mempunyai beberapa kelebihan dari orang lain. Ia mengenal Ki Tambak Wedi, Ki Sumangkar, Ki Gede Pemanahan, dan agaknya Ki Gede Menoreh pula. Tetapi orang-orang itu tidak pernah dapat mengetahui dengan pasti, siapakah Kiai Gringsing yang juga disebut Ki Tanu Metir. Orang itu telah mengenal aku pula, sebelum aku mengerti dengan siapa aku berhadapan. Mungkin ayahmulah satu-satunya orang yang dapat menyebut dengan pasti, siapakah sebenarnya Kiai Gringsing yang aneh itu.”

Agung Sedayu kini mengangguk-anggukkan kepalanya. Setiap hari ia berada bersama-sama dengan gurunya. Tetapi seolah-olah orang tua itu masih saja di selaputi oleh segumpal kabut yang tebal. Namun telah tertanam keyakinan di dalam dada mereka yang mengenal Kiai Gringsing, bahwa orang ini sama sekali bukan orang yang berada di jalan yang sesat.

Dalam pada itu terdengar Widura berkata, “Sedayu, apakah semua persiapan telah kau atur dengan baik?”

“Sudah, Paman.”

“Apakah kau akan membawa senjata pula?”

“Ya, Paman. Senjata khusus menurut petunjuk Kiai Gringsing. Selain sesuai dengan ajaran tata gerak yang diberikan, maka senjata itu tidak akan terlampau jelas seperti sehelai pedang.”

“Ya, senjata itu dapat kau lingkarkan seperti ikat pinggang.”

“Ya, Paman. Dan sebilah keris. Kerisku akan aku bawa pula besok.”

Pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Mudah-mudahan kerismu selalu memberimu peringatan. Kau tidak boleh melupakan dirimu dan keadaanmu. Kau pernah merasakan, betapa sakitnya orang disiksa oleh ketakutan. Karena itu jangan menakut-nakuti orang lain. Sebab orang lain pun akan merasakan seperti apa yang pernah kau rasakan.” 1

Sekali lagi Agung Sedayu mengangguk sambil menjawab, “Ya, Paman.”

“Sekarang beristirahatlah. Besok kau akan berangkat pagi-pagi sekali. Di manakah gurumu sekarang?”

“Mungkin guru baru berjalan-jalan, Paman. Kami mendapat kesempatan malam ini untuk minta diri dan mempersiapkan bekal yang akan kami bawa.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia menyuruh Agung Sedayu untuk segera beristirahat, karena malam telah menjadi semakin malam.

Sejenak kemudian Widura itu pun telah meninggalkan kemanakannya, dan masuk ke pringgitan. Ia masih melihat di ruang dalam, dari celah-celah pintu yang terbuka sedikit, Swandaru duduk di hadapan ayah dan ibunya. Tetapi ia tidak melihat Sekar Mirah di antara mereka.

Sementara itu Agung Sedayu masih saja duduk di halaman. Dari tempatnya ia melihat beberapa orang prajurit yang berjaga-jaga di regol halaman, di bawah sinar pelita yang redup. Tetapi tempat duduk Agung Sedayu sendiri terlindung oleh baying-bayang yang agak gelap.

Sejenak ia merenungi regol halaman kademangan itu. Pertama kali ia datang ke Sangkal Putung, regol halaman itu selalu tertutup. Beberapa orang pengawal membawanya dan memberikan tanda-tanda dengan ketokan pintu regol. Kemudian Ki Demang Sangkal Putung sendirilah yang membawanya dari regol halaman menyeberangi pelataran, naik ke pendapa dan kemudian menghadap pamannya.

Agung Sedayu menarik nafas. Besok justru ia akan meninggalkan halaman ini.

Ketika angin malam yang sejuk menyentuh keningnya, terasa udara yang dingin seakan-akan merasuk sampai ke tulang sungsum.

Ketika ia bergeser dari tempat duduknya untuk berdiri dan meninggalkan tempat yang dingin, dan menghindari gigitan nyamuk yang buas, maka tiba-tiba ia terkejut mendengar desir lembut di belakangnya. Agung Sedayu mengurungkan niatnya. Diperhatikannya suatu itu yang semakin lama menjadi semakin dekat. Tetapi Agung Sedayu tidak perlu cemas, sebab ia berada di dalam lingkungan dinding halaman kademangan yang tinggi. Meskipun demikian ia tidak boleh lengah.

Hatinya menjadi kian berdebar-debar ketika terdengar desir itu menjadi semakin dekat. Namun pendengarannya yang terlatih segera dapat mengetahui, bahwa langkah itu sama sekali tidak berbahaya baginya.

Karena itu maka segera ia berpaling. Tetapi sekali lagi ia terperanjat. Di dalam keremangan ia melihat sesosok tubuh berdiri tegak beberapa langkah dari padanya. Seorang perempuan. Tergagap Agung Sedayu menyapa lirih, “Kau, Mirah?”

Yang berdiri itu adalah Sekar Mirah. Tetapi ketika ia mendengar suara Agung Sedayu, tiba-tiba saja terasa darahnya membeku. Gadis itu menjadi kebingungan dan tidak mengerti apa yang harus dilakukannya.

Agung Sedayu yang melihat Sekar Mirah membeku di tempatnya, menjadi bingung pula. Perlahan-lahan ia berdiri, tetapi ia tidak melangkah maju.

Sejenak mereka berdiri tegak berhadapan dalam jarak beberapa langkah. Tetapi masing-masing saling terbungkam dalam ketegangan.

Baru beberapa saat kemudian Agung Sedayu berhasil menguasai dirinya. Dicobanya untuk menenangkan detak jantungnya, dan perlahan-lahan ia bertanya, “Mirah. Kenapa kau berada di situ?”

Sekar Mirah masih membeku. Pertanyaan Agung Sedayu itu telah membuatnya semakin bingung. Seolah-olah pertanyaan itu bergulung-gulung di kepalanya, “Ya, kenapa aku berada disini?”

Tiba-tiba Sekar Mirah menyadari dirinya, bahwa ia adalah seorang gadis, seorang gadis yang sedang menginjak dewasa. Karena itu maka terasa wajahnya menjadi panas.

Sebelum ia dapat berbuat sesuatu, terdengar suara Agung Sedayu mengulangi, “Kenapa kau berada di sini di malam begini?”

Sekar Mirah masih terdiam.

“Apakah kau disuruh oleh ayah atau ibumu?”

Sekar Mirah tidak menjawab.

“Atau,” Agung Sedayu tidak dapat mencari pertanyaan yang lain.

Sekali lagi keduanya terdiam. Namun Agung Sedayu kini sudah tidak lagi dikuasai oleh kejutan yang membingungkan. Ia telah berhasil menguasai perasaannya.

Karena Sekar Mirah masih juga berdiam diri, maka selangkah Agung Sedayu maju mendekatinya sambil bertanya pula, “Mungkin kau mempunyai sesuatu keperluan Mirah? Mungkin dengan seseorang? Pelayanmu barangkali, atau keperluan-keperluan lain yang harus segera kau selesaikan.”

Sekar Mirah masih berdiam diri. Tetapi perlahan-lahan digelengkannya kepalanya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia kini menjadi gelisah. Bukan karena kehadiran Sekar Mirah, tetapi bagaimana ia mendapatkan jawaban dari padanya atas pertanyaan-pertanyaannya.

“Hari sudah jauh malam, Mirah. Apakah kau tidak pergi tidur, atau beristirahat?”

Sekar Mirah mengangkat wajahnya. Dalam keremangan malam Agung Sedayu tidak dapat melihat wajah itu dengan jelas. Namun kemudian perlahan-lahan terdengar gadis itu berkata, “Aku sudah lama menunggu di sudut rumah.”

“O, kenapa baru sekarang kau datang kemari?”

“Kau baru berbicara dengan Paman Widura. Aku tidak berani mengganggu.”

“Dan kau menunggu saja di sudut rumah itu.”

“Ya, hampir aku tidak sabar. Pamanmu terlampau lama.”

“Aku mendengarkan nasehat-nasehatnya. Lalu, apakah kau juga ingin berbicara sesuatu dengan aku?”

Sekali lagi Sekar Mirah terdiam.

“Bagaimana?” desak Agung Sedayu.

“Kau aneh, Kakang,” tiba-tiba terdengar suara itu menjadi

sendat.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dan ia mendengar suara Sekar Mirah lambat, “Bukankah besok kau akan pergi meninggalkan Sangkal Putung?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Tetapi terasa debar jantungnya menjadi semakin cepat. Baru kini ia menyadari kesalahannya, ia tidak memerlukan untuk minta diri kepada Sekar Mirah, meskipun secara tidak langsung ia sudah mengatakannya, bahwa ia akan pergi bersama guru dan saudara seperguruannya, Swandaru.

Sejenak keduanya terdiam. Di kejauhan terdengar tengara menggema memenuhi kademangan. Ternyata tanpa mereka sadari, malam telah hampir sampai di pusatnya.

Sekar Mirah mengangkat wajahnya mendengar tengara kentongan itu. Ia harus segera masuk ke dalam biliknya. Apabila ibunya mengetahui bahwa diam-diam ia merayap ke luar rumah di tengah malam begini, maka ibunya pasti akan marah kepadanya.

“Kakang,” desis Sekar Mirah kemudian, “sudah tengah malam. Aku harus segera tidur.”

Agung Sedayu menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Tidurlah, Mirah. Aku besok minta diri kepadamu, kepada seluruh keluarga di kademangan ini.”

Sekar Mirah menundukkan kepalanya. Desisnya, “Aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan, Kakang.”

“Terima kasih, Mirah,” sahut Agung Sedayu, “mudah-mudahan aku selamat di perjalanan dan keluarga di sini pun selamat seluruhnya.”

“Mudah-mudahan kau segera kembali. Aku mengharap bahwa kau akan kembali ke Sangkal Putung, Kakang, tidak ke Jati Anom.”

“Jarak antara Sangkal Putung dan Jati Anom tidak terlampau jauh di masa damai Mirah.”

Sekar Mirah terdiam. Ia mengharap Agung Sedayu mengatakan banyak hal tentang dirinya. Tetapi Agung Sedayu pun terdiam pula. Bahkan dadanya yang sudah mulai tenang menjadi berdebar-debar kembali.

Alangkah jauh perbedaan sifat antara Agung Sedayu dan Sidanti. Sekar Mirah pernah berkawan agak rapat dengan Sidanti, karena gadis itu mengagumi Sidanti sebagai seorang pahlawan yang tiada bandingnya di Sangkal Putung selain Widura sendiri pada saat itu. Tetapi ternyata bahwa ia hanya sekedar mengaguminya. Tidak lebih daripada itu. Meskipun Sidanti agak lebih banyak memberikan waktunya untuk bersama-sama dengan Sekar Mirah berjalan-jalan, berbicara dan bahkan kadang-kadang seperti anak-anak mereka bermain-main, namun ternyata Sidanti tidak dapat mengikat hati Sekar Mirah seerat tali yang dilepaskan oleh Agung Sedayu dengan kediriannya. Dengan segenap sifat-sifatnya. Meskipun Sekar Mirah lebih senang melihat seorang laki-laki yang agak banyak membanggakan dirinya seperti Sidanti, namun ada unsur lain yang tidak dapat dimengerti oleh Sekar Mirah, kenapa Agung Sedayu pun dikaguminya pula. Apalagi setelah, ia menyadari bahwa hampir di dalam segala hal Agung Sedayu tidak dapat dikalahkan oleh Sidanti, sejak mereka beradu dalam kecakapan memanah.

“Tetapi Agung Sedayu tidak pernah berkata dengan bangga ‘Mirah, tinggallah kau di sini. Besok aku akan bertemu dengan Tohpati, biarlah aku penggal lehernya, aku bawa pulang kepalanya ke kademangan ini untuk menjadi alas kakimu’ dan Agung Sedayu juga tidak pernah berkata kepadanya ‘Apa pun yang kau minta Mirah. Aku akan sanggup mengadakan. Tak ada orang yang dapat menghalangi aku. Tak ada jarak yang dapat membatasi gerakku. Lautan akan aku keringkan dan gunung-gunung akan aku runtuh dan ratakan.”

Tidak. Agung Sedayu tidak pernah berkata demikian. Pada saat anak muda itu datang ke Sangkal Putung untuk pertama kalinya, memang ia berceritera tentang perkelahiannya dengan beberapa orang di sepanjang perjalanannya. Tetapi Agung Sedayu untuk seterusnya tidak pernah berbangga atas dirinya. Bahkan di saat-saat itu, di saat-saat ia baru saja berada di kademangan ini tampaknya selalu dicengkam oleh keragu-raguan dan kecemasan.

“Ia terlampau takut terhadap pamannya,” pikir Sekar Mirah saat itu.

Setiap kali Agung Sedayu hanya berkata kepadanya, “Mudah-mudahan aku berhasil mengatasi lawan-lawanku, Mirah.” Hanya itu. Hanya itu saja yang dikatakan, seolah-olah ia tidak meyakini kekuatan sendiri. Sebenarnya Sekar Mirah agak kecewa terhadap sikap itu. Sikap yang menurut Sekar Mirah kurang jantan. Kurang tatag dan ragu-ragu. Namun meskipun demikian anak muda itu telah mengikat hatinya, dalam keadaannya itu.

Dan kali ini pun Agung Sedayu berkata kepadanya, “Mudah-mudahan aku selamat di perjalanan dan keluarga di sini pun selamat seluruhnya.”

Kenapa Agung Sedayu itu tidak berkata, “Mirah, aku akan pergi ke Menoreh. Kelak aku akan kembali dengan membawa kepala Sidanti untuk alas kakimu. Kau akan dapat melepaskan dendammu kepadanya. Dan kepala itu adalah tanda katresnanku kepadamu.”

Tidak, Agung Sedayu tidak berkata demikian. Bahkan kemudian ia mendengar Agung Sedayu yang berdiri mematung di hadapannya itu berkata, “Pergilah tidur, Mirah. Mudah-mudahan kau besok pagi tidak terlambat bangun, sehingga kau dapat melihat keberangkatanku bersama Kiai Gringsing dan Adi Swandaru.”

Terasa leher gadis itu tersumbat, sehingga ia tidak dapat menyahut. Ia menjadi kecewa. Perpisahan itu sama sekali tidak berkesan kejantanan seorang prajurit yang pergi berperang. Tetapi anak muda yang bernama Agung Sedayu itu minta diri kepadanya seperti seorang perantau yang akan mencari sesuap nasi bagi keluarganya yang ditinggalkannya. Kata-kata yang diucapkan tidak lebih dari, “Mudah-mudahan aku selamat.”

Tetapi Sekar Mirah tidak dapat berdiri di tempatnya terlampau lama. Ia harus masuk ke dalam biliknya. Karena itu maka katanya, “Selamat malam, Kakang. Besok aku akan bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan makan pagi kalian sebelum berangkat.”

Terasa desir yang lembut menggores jantung Agung Sedayu. Ia sendiri tidak tahu, pengaruh apa yang telah menyentuh isi dadanya. Hampir setiap hari Sekar Mirah dan pembantu-pembantunya menyiapkan makan untuk mereka. Untuk pamannya, untuk dirinya dan untuk para prajurit Pajang di Sangkal Putung. Tetapi ketika Sekar Mirah mengatakan itu langsung kepadanya, terasa debar dadanya menjadi semakin cepat.

“Terima kasih, Mirah,” hanya itulah, yang diucapkannya, lalu dilanjutkannya, “Selamat malam.”

Tetapi Sekar Mirah masih belum juga beranjak dari tempatnya. Gadis itu masih berdiri saja seolah-olah mematung. Ia masih mengharap Agung Sedayu mengatakan sesuatu kepadanya, sebagaimana seorang laki-laki yang perkasa siap untuk berangkat ke medan perang, meninggalkan seorang kekasih yang dicintainya.

***

Tetapi Agung Sedayu tidak berkata apa-apa. Agung Sedayu pun menjadi seakan-akan beku ketika ia melihat Sekar Mirah masih saja berdiri mematung.

“Oh,” desah Sekar Mirah di dalam hatinya. Hatinya yang menjadi kisruh.

Agung Sedayu malahan menjadi beku. Diam dan tidak berkata-kata lagi.

Tiba-tiba gadis itu memutar tubuhnya membelakangi. Hampir meledak tangis yang ditahan di dadanya. Ia menjadi kecewa melihat sikap itu. Sikap yang bagi Sekar Mirah kurang jantan. Kurang berani. Bukan kurang berani menghadapi lawan, tetapi ia sama sekali tidak berkata-kata apa-apa kepadanya. Dan sikapnya menunjukkan keragu-raguan yang menjemukan.

Agung Sedayu menjadi bingung melihat Sekar Mirah yang tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sekuat tenaga gadis itu bertahan untuk tidak menangis. Untuk sesaat ia berhasil. Meskipun demikian dadanya serasa akan meledak.

Karena Agung Sedayu tidak berbuat sesuatu, maka Sekar Mirah pun tidak akan dapat mengharap apa-apa lagi daripadanya saat itu. Ia tidak akan dapat mendengar kata-kata yang dapat membuat jantungnya bergetar. Baik Agung Sedayu sebagai seorang laki-laki yang mempunyai banyak kelebihan dari laki-laki yang lain, yang sudah ternyata bahwa ia mampu melawan Sidanti, bahkan dalam, beberapa hal ia telah melampauinya, maupun sebagai seorang laki-laki yang telah menjerat hatinya. Laki-laki yang meskipun tidak memberikan kebanggaan kepadanya, namun dalam keseluruhannya Agung Sedayu telah mengikatnya terlampau erat.

Agung Sedayu terlalu sopan. Bukan, bukan terlalu sopan, tetapi hatinya selalu dicengkam oleh keragu-raguan. Meskipun ia telah berhasil memecahkan dinding yang mengurungnya dalam ketakutan, namun ia masih belum berhasil melepaskan diri dari kebimbangan dan keragu-raguan untuk bersikap. Apalagi apabila terkenang olehnya sikap kakaknya, Untara.

Agung Sedayu yang ragu-ragu itu terperanjat ketika tiba-tiba saja, ia melihat Sekar Mirah itu meloncat berlari meninggalkannya. Sehingga tanpa sesadarnya ia memanggil, “Mirah. Mirah.”

Tetapi Sekar Mirah seakan-akan tidak mendengarnya. Ia berlari terus meninggalkan Agung Sedayu berdiri seorang diri sambil termangu-mangu. Ia menjadi semakin bingung menghadapi Sekar Mirah. Ia tidak mengerti apa yang harus dilakukan.

Sekar Mirah yang yakin benar, bahwa Agung Sedayu tidak akan mengejarnya, kemudian berhenti di belakang rumahnya. Dicobanya untuk menekan hatinya yang seolah-olah sedang mendidih oleh kekecewaan. Ia masih sadar, bahwa ia tidak boleh mengejutkan ayah dan ibunya. Mungkin Swandaru yang masih juga belum tidur. Perlahan-lahan didorongnya lawang leregan di butulan belakang. Kemudian dengan hati-hati pintu itu ditutup kembali setelah ia melangkah masuk. Dengan hati-hati pula diangkatnya slarak kayu dan disilangkannya pada daun pintu. Berjingkat ia melangkah menuju ke biliknya.

Rumahnya sudah terlampau sepi. Ia tidak mendengar suara apa pun lagi. Ketika ia lewat melalui bilik ibunya, hatinya menjadi berdebar-debar. Tetapi bilik itu telah tertutup.

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Namun kekecewaan di dalam dadanya hampir tidak tertahankan lagi, seakan ingin meledak.

Dengan hati-hati ia melangkah ke pintu biliknya. Bilik itu tertutup rapat. Ia sendirilah yang menutupnya ketika ia diam-diam pergi ke luar. Perlahan-lahan sekali ditariknya pintu leregan bilik itu. Perlahan-lahan sekali supaya tidak menimbulkan bunyi. Bunyi derit yang lembut sekalipun.

Sedikit demi sedikit pintu itu terbuka. Semakin lebar. Dan ketika ia menjenguk ke dalam, hampir-hampir ia menjadi pingsan. Jantungnya serasa berhenti berdetak karena kejutan yang luar biasa. Untunglah ia tidak menjerit keras-keras. Dilihatnya seorang duduk di atas pembaringannya. Sinar pelita yang redup agak kemerah-merahan memancar jatuh di atas wajah yang bulat gemuk.

Swandaru.

Swandaru menahan suara tertawanya melihat adiknya terkejut bahkan hampir menjadi pingsan. Perlahan-lahan ia berdiri dam berkata lambat, “Masuklah. Apakah kau terkejut?”

Sekar Mirah masih terbungkam. Detak jantungnya masih belum berjalan wajar. Kedua telapak tangannya masih menutupi mulutnya yang hampir berteriak.

“Masuklah. Aku tidak ingin mengejutkan kau.”

Sekar Mirah masih berdiri membeku.

“Masuklah, Mirah. Darimanakah kau.”

Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi ia tidak berbuat apa pun ketika kakaknya mendekatinya membimbingnya masuk ke dalam biliknya dan mendorongnya duduk di atas pembaringannya.

“Maafkan aku, Mirah. Aku tidak ingin mengejutkan kau Aku sengaja menunggumu, karena aku akan minta diri pula kepadamu.”

Sekar Mirah masih terdiam. Dan Swandaru berkata terus sambil berdiri di mukanya. “Apakah kau tadi menemui Kakang Agung Sedayu di luar?”

Sekar Mirah tidak menyahut. Kejutan yang menghentak dadanya masih belum mereda.

Swandaru pun kemudian berdiam diri untuk sesaat, Dibiarkannya adiknya menjadi tenang. Perlahan-lahan ia berjalan mondar-mandir di dalam ruangan yang sempit itu.

Angin malam yang dingin menyusup lubang-lubang dinding menyentuh tubuh-tubuh mereka. Di kejauhan terdengar suara angkup nangka mencicit seperti sedang menjerit-jerit. Sekali lagi terdengar suara tengara kentongan di kejauhan, sahut-menyahut. Kini malam benar-benar telah sampai ke pusatnya. Tengah malam. Bukan saja suara kentongan dalam nada dara muluk yang terdengar sahut-menyahut, tetapi kemudian disusul oleh kokok ayam jantan untuk yang pertama kalinya, menjalar dari kandang ke kandang, merambat ke seluruh kademangan.

Swandaru menarik nafasnya. Ketika disangkanya adiknya telah agak tenang, maka ia pun berkata, “Aku ingin minta diri kepadamu, Mirah.”

Tetapi ternyata Sekar Mirah masih belum menjawab. Meskipun kejutan yang menghentak dadanya telah mereda, tetapi kekecewaan atas Agung Sedayu masih belum terhapus. Bahkan kemudian ia menjadi sangat jengkel terhadap kakaknya yang telah mengejutkannya.

“Kau marah, Mirah?” bertanya Swandaru. “Aku sama sekali tidak sengaja mengejutkan kau.” Tetapi Swandaru tersenyum di dalam hatinya. Ia sengaja menutup pintu bilik Sekar Mirah, supaya gadis itu terkejut. Tetapi biasanya Sekar Mirah tidak terlampau lama marah kepadanya. Sejenak saja kemarahannya telah menjadi cair. Tetapi kali ini, justru besok ia akan pergi. Sekar Mirah agaknya benar-benar marah kepadanya.

“Aku minta maaf Mirah. Aku datang untuk minta diri-Besok aku akan pergi,” Swandaru berhenti sejenak. Dilihatnya Sekar Mirah menundukkan kepalanya. “Besok aku dan Kakang Agung Sedayu akan pergi melintasi hutan Mentaok, pergi ke Menoreh. Bukankah kau sudah mendengarnya pula? Kami akan pergi bersama guru, Kiai Gringsing.” Sekali lagi Swandaru berhenti berbicara. Di-pandanginya kepala Sekar Mirah yang tunduk. Lalu diteruskannya, “Apakah kau mempunyai pesan sesuatu? Katakanlah. Mungkin kau mempunyai kepentingan. Apakah kau ingin aku memenggal kepala Sidanti dan membawanya pulang supaya kau menjadi bersenang hati, atau bahkan kedua-duanya dengan kepala Argajaya?”

Tiba-tiba Sekar Mirah tersentak. Dengan serta-merta ia menengadahkan kepalanya. Kata-kata itulah yang ingin didengarnya. Tetapi tidak dari mulut kakaknya. Ia ingin mendengar dari mulut Agung Sedayu. Betapa hatinya menjadi terlampau kecewa. Tiba-tiba saja gsdis itu meloncat berdiri, berlari kepada kakaknya. Dengan tangisnya ia berkata sambil mencubiti kakaknya bertubi-tubi. “Kau terlampau nakal, Kakang. Kau terlampau nakal. Kau mengejutkan aku sehingga aku hampir menjadi pingsan.”

“Oh, oh,” Swandaru terkejut. Terasa jari-jari Sekar Mirah menyengat tanpa hentinya. “Mirah. Mirah.”

“Kau terlampau nakal,” desis Sekar Mirah. Tangannya masih saja mencubiti kakaknya. Ia ingin melepaskan segala macam perasaan yang menghentak-hentak di dadanya. Ia ingin melepaskan kekecewaan yang ditahannya. Ia ingin menumpahkan tangisnya yang disimpannya, sehingga dadanya serasa akan pecah.

“Mirah, Mirah,” Swandaru hampir berteriak, “aku minta maaf.”

Tiba-tiba Sekar Mirah menghentikan cubitannya. Dan yang tidak disangka-sangka oleh Swandaru Sekar Mirah itu meremas leher bajunya sambil menangis sejadi-jadinya. “Kakang,” gadis itu berdesah.

“He,” Swandaru yang selama ini menyangka bahwa Sekar Mirah marah kepadanya, menjadi bingung. “Kau benar-benar marah kepadaku, Mirah.”

Tangis Sekar Mirah tidak mereda.

Swandaru menjadi semakin bingung. Ia tidak menyangka bahwa permainannya akan membuat Sekar Mirah benar-benar marah. Tetapi Swandaru tidak mengerti apa yang sedang bergolak di dada adiknya.

“Aku minta maaf, Mirah. Aku tidak ingin membuatmu marah.”

Swandaru melihat Sekar Mirah perlahan-lahan menggelengkan kepalanya. “Tidak, Kakang. Aku tidak marah kepadamu.”

“Oh,” Swandaru semakin tidak mengerti. “Lalu, kenapa

kau menangis?”

Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi tangisnya masih saja menyesakkan dadanya.

“Duduklah Mirah. Kau dapat berkata dengan tenang.”

Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi ia menurut saja ketika sekali lagi Swandaru mendorongnya duduk di atas pembaringannya.

“Apakah kau baru saja bertemu dengan Kakang Agung Sedayu?”

“Ya,” Sekar Mirah mengangguk.

“Apakah kau bertengkar?”

Sekar Mirah menggeleng. “Tidak, Kakang.”

“Lalu, kenapa kau menjadi marah, dan akulah yang menjadi kambing hitam, sehingga tubuhku menjadi merah biru kau cubiti. Bahkan kau menggigit lenganku.”

Sekar Mirah tidak segera menyahut.

“Agaknya kau bertengkar dengan Kakang Agung Sedayu.”

Sekali lagi Sekar Mirah menggeleng. “Tidak. Aku tidak

bertengkar. Bahkan Kakang Agung Sedayu hampir berdiam diri saja. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya minta diri dan berkata ‘Mudah-mudahan aku selamat, Mirah.’ Hanya itu.”

Swandaru mengerutkan keningnya. “Lalu apakah yang harus dikatakan?”

“Ternyata ia adalah seorang yang dicengkam oleh keragu-raguan. Ia seorang laki-laki yang perkasa, yang memiliki beberapa kelebihan dari orang lain. Dari Sidanti dan Argajaya. Tetapi ia tidak berani berkata seperti yang kau katakan, Kakang. Ia tidak berani berkata jantan seperti Kakang Sidanti dahulu.”

“Hus,” Swandaru memotong, “kau masih juga menyebut-nyebut nama Sidanti?”

Sekar Mirah menundukkan kepalanya. Ia telah terdorong mengucapkan nama itu. Terdorong oleh kekecewaannya atas sikap Agung Sedayu yang menurut penilaiannya tidak sejantan Sidanti.

“Mirah,” berkata Swandaru, “aku tidak senang mendengar nama itu masih kau sebut-sebut. Kalau kau masih juga ingin menyebut nama itu, maka kau harus berkata ‘Bawalah kepala Sidanti itu kepadaku.’ Jangan kau ucapkan kalimat yang lain tentang anak setan itu.”

Sekar Mirah membersihkan air yang meleleh di pipinya dengan lengan bajunya. Katanya, “Kakang, aku merasakan perbedaan sikap antara keduanya, Sidanti dan Kakang Agung Sedayu. Kakang Agung Sedayu adalah seorang pendiam yang menjemukan sekali. Seorang yang ragu-ragu dan tidak mengerti kekuatan yang tersimpan di dalam dirinya. Ia tidak menyadari kelebihannya dari orang lain, atau memang ia seorang yang sama sekali tidak mempunyai kepercayaan pada diri sendiri.”

“Hem,” Swandaru bergumam.

“Tetapi Sidanti tidak. Sidanti yakin akan dirinya. Ia mempunyai ketetapan hati untuk melakukan suatu pekerjaan. Ia mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri.”

“Jangan, Mirah. Jangan kau ulangi lagi,” potong Swandaru. Meskipun kata-kata itu diucapkan perlahan-lahan, namun tekanan nadanya benar-benar menunjukkan bahwa ia tidak senang mendengarnya.

Tetapi Sekar Mirah masih berkata, “Aku mengagumi anak-anak muda yang perkasa, yang percaya kepada diri sendiri dan mempunyai cita-cita yang mantap.”

“Seperti Sidanti?”

Sekar Mirah terdiam.

“Seharusnya Sidanti sudah mati bagimu, Mirah. Atau kau benar-benar ingin melihat anak setan itu mati?”

Sekar Mirah masih berdiam diri.

“Mirah,” berkata Swandaru, “betapa perkasa anak muda yang bernama Sidanti itu, tetapi ia tak akan mampu melampaui Kakang Agung Sedayu. Bahkan sekarang, aku pun sanggup dipasang di hadapannya dengan senjata di tangan. Anak itu pernah menampar wajahku beberapa kali. Tetapi untuk seterusnya tidak akan dapat terjadi lagi selagi aku masih mampu bernafas.”

Sekar Mirah seakan-akan menjadi beku di tempatnya. Kepalanya menunduk, sedang tangannya bermain-main dengan ujung bajunya. Tetapi tampak pipinya masih basah.

“Sidanti sekarang sudah bukan tandingan Agung Sedayu lagi.”

Sekar Mirah mengangkat wajahnya, katanya, “Tetapi sifat-sifatnya yang selalu dibayangi oleh keragu-raguan itu membuat aku benci kepadanya.”

Swandaru menarik nafas. Kemudian katanya, “Apakah kau membenci Kakang Agung Sedayu.”

“Ya, aku benci kepadanya. Tidak ada seorang pun yang paling aku benci selain Kakang Agung Sedayu.”

“Betul begitu?”

“Ya.”

“Baiklah,” berkata Swandaru sambil melangkah mundur. “Sekarang aku akan menemuinya.”

“Kenapa?” bertanya Sekar Mirah dengan serta-merta.

“Mirah,” berkata Swandaru bersungguh-sungguh, “aku adalah kakakmu. Aku sudah bekerja dengan susah payah untuk melepaskan kau dari sarang Tambak Wedi. Karena itu adalah kuwajibanku untuk membelamu. Kalau kau benci kepada Kakang Agung Sedayu, maka aku pun harus berlaku demikian juga. Aku akan pergi mendapatkannya. Dimana ia sekarang?”

“Untuk apa kau menemuinya?” bertanya Sekar Mirah.

“Aku harus menyampaikannya ‘Sekar Mirah benci kepadamu’. Begitulah. Aku harus berkata kepadanya supaya ia mengerti akan dirinya. Selama ini ia merasa mendapat hati. Apalagi sepeninggal Sidanti.”

“Apa yang akan kau perbuat itu, Kakang?” Sekar Mirah menjadi cemas.

“Sudah aku katakan. Ia harus menyadari dirinya, bahwa kau benci kepadanya. Ia harus mengerti. Seandainya ia menjadi kecewa, biarlah ia pergi dan memisahkan diri dari aku dan guru besok. Apalagi seandainya ia marah, biarlah aku akan menghadapinya. Aku tidak akan gentar. Seandainya aku kalah, maka aku dapat mengerahkan segenap anak-anak muda Sangkal Putung untuk menangkapnya dan memukulinya sampai mati sekalipun.”

“Kakang.”

“Aku pergi sebentar. Tidak terlampau lama. Aku akan segera kembali memberitahukan kepadamu, bahwa aku telah memukuli anak yang kau benci itu.”

“Kakang.”

“Jangan tidur dulu, Mirah. Aku segera kembali.”

Swandaru segera memutar tubuhnya. Tetapi ketika ia baru melangkah setapak tiba-tiba Sekar Mirah memegangi bajunya.

“Kenapa, Mirah.”

“Jangan, Kakang. Jangan.”

“Kenapa jangan? Lepaskan aku. Anak itu harus mendapat pelajaran.”

“Jangan, Kakang. Jangan.”

“Biar, biar saja. Lepaskan aku. Kenapa kau menahan. Bajuku akan sobek karenanya.”

“Kau tidak usah berbuat apa-apa, Kakang.”

“Tidak, Mirah. Kakang Agung Sedayu harus segera mendengar, bahwa kau membencinya. Ia harus segera menyadari dirinya dan tidak melanjutkan mimpinya yang mengasyikkan itu. Ia harus segera bangun dan melihat kenyataan, bahwa Sekar Mirah bukanlah gadis yang pantas diharapkannya. Aku harus menemuinya sekarang, dan langsung memberitahukannya. Jangan takut seandainya ia marah. Sangkal Putung penuh dengan anak-anak muda yang sanggup berbuat apa saja untukku.”

Tetapi Sekar Mirah masih saja memegangi bajunya. Bahkan semakin keras, sehingga Swandaru yang telah melangkah maju itu terpaksa surut, supaya bajunya tidak sobek karenanya.

“Kenapa kau mencegah, Mirah? Aku tidak senang menyimpan perasaan itu di dalam hati. Aku ingin persoalanmu dengan Kakang Agung Sedayu menjadi jelas.”

“Jangan, Kakang, jangan kau katakan kepadanya.”

“Biar, biar saja. Apakah kau mencemaskan aku?”

“Tidak. Tetapi jangan kau katakan.”

“Kenapa? Coba katakan, kenapa? Bukankah kau membencinya? Bahkan Agung Sedayu adalah orang yang paling kau benci di dunia ini, melampaui kebencianmu kepada Sidanti.”

Tiba-tiba tanpa disadarinya Sekar Mirah menggeleng. “Tidak. Tidak begitu.”

“He?” Swandaru mengerutkan keningnya. “Jadi bagaimana?”

Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi ia menundukkan. kepalanya.

Melihat Sekar Mirah mencoba menghindari pandangan matanya, Swandaru tidak dapat lagi menahan tertawanya. Tiba-tiba saja suara tertawa itu berderai, meskipun anak yang gemuk itu berusaha sekuat-kuatnya untuk tidak mengejutkan ayah dan ibunya yang belum lama masuk ke dalam bilik mereka.

Sekar Mirah terkejut mendengar Swandaru tertawa. Ketika gadis itu mengangkat wajahnya, dilihatnya Swandaru menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangannya, sedang tangannya yang lain memegangi perutnya yang bulat.

“Kenapa kau tertawa?” Sekar Mirah bertanya.

Swandaru tidak segera menjawab, ia masih tenggelam dalam derai tertawanya.

“Kakang, kenapa kau tertawa? Kenapa he?” Sekar Mirah menjadi semakin bernafsu.

“Mirah,” Swandaru menahan diri sehingga nafasnya menjadi terengah-engah, “lain kali hati-hatilah berbicara. Kau berkata bahwa kau benci kepada Kakang Agung Sedayu, tetapi kau memegangi bajuku sehingga hampir sobek ketika kau dengar aku akan menyampaikannya kepada Kakang Agung Sedayu.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia menyadari bahwa agaknya Swandaru tidak benar-benar ingin menyampaikannya kepada Agung Sedayu. Ternyata Swandaru itu telah mengganggunya lagi setelah kakaknya itu mengejutkannya, ketika ia memasuki bilik ini. Karena itu maka sekali lagi Sekar Mirah itu meloncat. Kakaknya itu seolah-olah diterkamnya dan dicubitinya habis-habisan

“Mirah, Mirah.”

Sekar Mirah tidak mendengarkannya. Bahkan kemudian Sekar Mirah menggigit lengan Swandaru sekali lagi. Lebih keras.

“Mirah. He, aku kapok, Mirah. Aku tidak akan mengganggumu lagi.”

“Terlalu kau, Kakang, terlalu,” Sekar Mirah menjadi semakin bernafsu, sehingga Swandaru terpaksa melonjak-lonjak kesakitan. Tetapi ia tidak berhasil mencegah Sekar Mirah menyakitinya.

Sekar Mirah itu baru berhenti ketika ia mendengar suara dari dalam bilik ayahnya, “Mirah, kau kenapa?”

Sekar Mirah segera melangkah surut, sedang Swandaru berdiri tegak di tempatnya. Mereka kemudian mendengar langkah ayahnya tergesa-gesa.

Ketika pintu bergerit, dan kemudian perlahan-lahan terbuka, maka mereka melihat ayahnya berdiri di ambang pintu dengan wajah yang tegang.

“Oh, kau Swandaru,” desah ayahnya setelah dilihatnya Swandaru di dalam bilik itu juga. “Apa yang kau kerjakan? Apakah kalian bertengkar?”

Swandaru menggeleng. “Tidak, Ayah.”

“Apakah kau baru menangis, Mirah?”

“Tidak, Ayah,” jawab Sekar Mirah.

Ayahnya terdiam. Tetapi ia tidak percaya mendengar jawaban Sekar Mirah. Ia melihat mata gadis itu masih merah.

Sejenak kemudian ia berkata, “Swandaru, apakah kau masih saja suka mengganggu adikmu?”

Swandaru menundukkan kepalanya, “Tidak, Ayah. Aku tidak menganggu.”

Hampir saja Sekar Mirah berteriak membantah. Tetapi ia berhasil menahan dirinya. Ia malu apabila kakaknya nanti mengatakan persoalannya dengan Agung Sedayu.

“Lalu kenapa Sekar Mirah menangis?”

Swandaru menjadi bingung sejenak. Lalu tiba-tiba saja ia menjawab, “Ia ingin ikut bersama aku besok ayah.”

“He,” ayahnya terkejut, dan bahkan Sekar Mirah pun terkejut pula. Tetapi ia tidak membantah.

“Benarkah begitu, Mirah?” bertanya ayahnya.

Sekar Mirah tidak segera menjawab. Dipandangnya wajah kakaknya sejenak. Ketika dilihatnya wajah itu membayangkan kecemasan hatinya apabila ia mengingkarinya, maka timbullah iba di hati gadis itu. Ia sudah puas mencubiti kakaknya sehingga merah biru, bahkan menggigitnya.

“Ya, Mirah, kau akan ikut serta besok?”

Tiba-tiba Sekar Mirah mengangguk berat dan jawabannya seolah-olah tersangkut di kerongkongan, “Ya, Ayah. Aku ingin ikut.”

“Oh,” ayahnya menarik nafas dalam. Dan Swandaru pun menarik nafas panjang pula. Bahkan kemudian ia berkata, “Aku melarangnya, dan anak itu memang menangis. Tetapi tidak lama ia agaknya menyadari kekeliruannya.”

Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Syukurlah. Kau jangan terlampau menuruti perasaanmu saja, Mirah. Perjalanan ini bukan perjalanan tamasya. Kau harus dapat membayangkan bahaya yang mengancam di sepanjang perjalanan, apalagi Alas Mentaok yang garang itu.”

Sekar Mirah tidak segera menjawab, tetapi ia mengumpat di dalam hatinya. Ayahnya justru marah kepadanya, meskipun ceritera itu hanya sekedar ceritera yang dibuat-buat oleh kakaknya Swandaru. Meskipun demikian adalah lebih baik daripada kakaknya mengatakan persoalannya yang sebenarnya.

Karena kedua anak-anaknya diam, maka Ki Demang itu berkata kepada Swandaru, “Nah, Swandaru. Beristirahatlah. Besok kau akan mulai dengan perjalanan itu.”

“Baik, Ayah,” jawab Swandaru. Dan ayahnya meneruskan kali ini kepada Sekar Mirah, “Kau pun harus segera tidur, Mirah. Besok kau harus bangun pagi-pagi benar untuk mempersiapkan makan pagi buat kakakmu dan Kiai Gringsing beserta Angger Agung Sedayu.”

“Ya, Ayah,” jawab Sekar Mirah sambil menundukkan kepalanya.

Ayahnya itu pun kemudian pergi meninggalkan bilik itu bersama Swandaru. Setelah menutup pintu lereg biliknya, Sekar Mirah segera merebahkan dirinya di pembaringannya. Sejenak ia masih mengumpat-umpat karena kenakalan kakaknya. Tetapi kemudian angan-angannya segera bergeser kepada Agung Sedayu. Anak muda itu memang aneh baginya. Aneh. Ia tidak mengerti kenapa anak muda yang perkasa seperti Agung Sedayu, seolah-olah tidak mempunyai keberanian untuk menentukan sikap dan berbuat sesuatu yang menggetarkan hati.

Sekar Mirah itu terkejut ketika tiba-tiba pintunya bergerit dan sekali lagi terbuka. Berjingkat Swandaru masuk ke dalam sambil meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya.

Perlahan-lahan Sekar Mirah bangkit. Ketika ia akan berdiri, kakaknya berkata, “Tak usah berdiri, aku hanya sebentar. Aku masih merasa belum selesai dengan persoalanmu.”

“Apa lagi?” bertanya Sekar Mirah sambil bersungut.

“Tentang Kakang Agung Sedayu,” jawab Swandaru. Kemudian perlahan-lahan ia berkata lancer, “Dengar. Kau salah sangka tentang Kakang Agung Sedayu. Aku ternyata lebih banyak mengenal sifatnya daripada kau. Kakang Agung Sedayu adalah seorang yang rendah hati. Seorang yang bagiku terlampau baik. Ia tidak pernah menyombongkan dirinya tanpa maksud. Mungkin ia pernah mengucapkan kata-kata yang berlebih-lebihan pada saat ia datang. Tetapi maksudnya untuk menenteramkan hati kita di sini, bahwa kedatangannya akan dapat membantu melindungi kademangan ini. Tetapi sebenarnyalah ia seorang yang rendah hati. Kau ingat, bahwa ia tidak turut dalam perlombaan memanah dahulu meskipun kecakapannya memanah tiga kali lipat dari Sidanti? Kau harus mengerti, memang Kakang Agung Sedayu berbeda dengan Sidanti dan berbeda dengan aku sendiri dan dengan kau. Tetapi yang rendah hati bukanlah seorang penakut atau pengecut. Itu adalah caranya. Ia tidak akan berkata bahwa lautan akan diloncatinya, dan gunung akan disamparnya sampai rata. Tidak. Ia hanya akan berkata ‘Mudah-mudahan aku selamat’. Kau mengerti, Mirah?”

Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi kepalanya ditundukkannya dalam-dalam.

“Nah, sekarang tidurlah. Aku sudah puas. Terserahlah kepadamu, kepada caramu menilai Kakang Agung Sedayu.”

Swandaru tidak menunggu jawaban Sekar Mirah. Sambil berjingkat ia melangkah keluar pintu dan berjalan hati-hati ke pringgitan. Malam ini ia tidur di bentangan tikar di pringgitan bersama Agung Sedayu. Agaknya Agung Sedayu telah merebahkan dirinya pula meskipun masih belum tertidur. Namun sejenak kemudian mereka pun telah memejamkan mata dan perlahan-lahan mereka jatuh tertidur.

Sebelum fajar pecah di Timur, Agung Sedayu dan Swandaru telah bersiap. Kiai Gringsing sudah berada di antara mereka pula di pringgitan. Seteguk-seteguk mereka minum air hangat dan setelah mereka makan pagi, maka mereka pun segera berkemas.

Beberapa orang mengantarkan mereka sampai ke regol halaman ketika mereka kemudian berangkat. Widura, Ki Demang dan Nyi Demang, Sekar Mirah, dan satu dua orang yang lain. Tidak banyak yang mengerti bahwa hari itu Kiai Gringsing dan kedua muridnya akan meninggalkan Sangkal Putung.

Sumangkar yang tua pun berdiri sambil mengangguk-anggukkan kepalanya di sisi regol halaman. Terasa sesuatu bergetar di dalam dadanya. Bahkan ia berbisik lirih kepada Kiai Gringsing, “Kiai, aku iri hati kepadamu. Kau mempunyai dua orang murid yang dapat kau banggakan. Tidak hanya sikap dan tindak-tanduk, tidak hanya ketangkasannya menggenggam senjatamu yang aneh itu, tetapi mereka adalah anak-anak yang baik.”

Kiai Gringsing tersenyum, jawabnya, “Mudah-mudahan aku berhasil untuk seterusnya.”

“Aku menjadi sangat prihatin Kiai,” sambung Sumangkar. “Perguruanku akan segera putus sampai ujung umurku. Dahulu aku mengharapkan Angger Tohpati akan menjadi penyambung cabang perguruanku lewat Ki Patih Mantahun. Tetapi ia telah tidak ada lagi. Dan aku sampai saat ini tidak mempunyai seorang murid pun.”

“Kau dapat menemukannya, Adi,” sahut Kiai Gringsing yang ikut merasakan betapa sepinya hati orang tua itu.

“Aku belum melihat.”

“Mudah-mudahan Adi segera menemukannya.”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.

Sejenak kemudian maka ketiga orang itu pun berangkat meninggalkan Kademangan Sangkal Putung. Sekali lagi orang-orang tua di Sangkal Putung itu memberikan doa selamat kepada mereka, dan sekali lagi Sekar Mirah mendengar Agung Sedayu berdesis kepadanya, “Mudah-mudahan aku selamat dan segera kembali ke kademangan ini.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikan pelupuk matanya yang bendul karena tangisnya semalam. Bahkan saat ini pun matanya telah menjadi basah pula. Dua anak-anak muda yang paling dekat dengan dirinya bersama-sama pergi. Agung Sedayu dan kakaknya Swandaru.

Meskipun hampir setiap hari kakaknya selalu mengganggunya tetapi setiap kali kakaknya tidak di rumah, terasa rumahnya menjadi sepi. Swandaru adalah satu-satunya saudaranya. Dan kali ini Swandaru pergi untuk waktu yang tidak tertentu. Sedangkan anak muda yang lain, Agung Sedayu, meskipun ia tidak sesuai dengan sifat-sifatnya yang kurang jantan menurut penilaian Sekar Mirah, namun anak muda itu benar-benar telah menambat hatinya dengan segala sifat-sifatnya yang tidak disukainya itu. Kepergian Agung Sedayu pasti akan membuatnya semakin sepi.

Memang terasa, kata-kata anak muda itu seolah-olah memberi kedamaian di hatinya. Tidak terbayang kekerasan dan perkelahian. Tidak tersirat dendam dan kebencian terhadap siapa pun juga. Tetapi apabila darahnya sedang mendidih mengingat perlakuan Sidanti atasnya, maka bagi Sekar Mirah sikap yang penuh kedamaian dan kesejukan itu adalah sikap yang terlampau lemah. Ia sendiri menyimpan dendam tiada taranya kepada Sidanti dan orang-orangnya. Juga kepada Ki Tambak Wedi. Ia ingin Agung Sedayu mendendamnya seperti dirinya. Mengancam dan menggenggam keinginan untuk membalas dendam dan sakit hatinya.

Tetapi Agung Sedayu hanya sekedar berkata kepadanya, “Mudah-mudahan aku selamat, Mirah. Dan segera kembali ke kademangan ini.”

Meskipun demikian ketika ketiga orang in mulai melangkahkan kakinya meninggalkan regol halaman, terasa dadanya menjadi sesak. Ia melihat Swandaru melambaikan tangannya kepadanya dan berkata, “Baik-baiklah menjaga dirimu, Mirah.”

Sekar Mirah itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia ingin menjawab dan mengucapkan selamat jalan, tetapi tenggorokannya serasa tersumbat. Itulah sebabnya ia hanya berdiri saja mematung. Dicobanya untuk menggerakkan tangannya, membalas lambaian tangan kakaknya. Tetapi tangan itu serasa menjadi terlampau kaku.

Meskipun demikian Sekar Mirah itu berhasil menahan air matanya untuk tidak membanjir dari pelupuknya yang basah. Tiba-tiba timbul di dalam hatinya, bahwa sikap yang sebaik-baiknya adalah melepaskan keduanya dengan tabah, dengan dada tengadah. Ia tidak ingin menangis lagi seperti kanak-kanak dan perempuan cengeng. Ia bukan kanak-kanak lagi, dan ia bukan perempuan yang cengeng.

Sekar Mirah menggeretakkan giginya. Dan sesaat kemudian ia berhasil mengangkat tangannya dan melambaikan tangan itu. Dipaksanya bibirnya untuk tersenyum.

Tiba-tiba Sekar Mirah itu berkata lantang, “Selamat jalan Kakang Swandaru, selamat jalan Kakang Agung Sedayu. Mudah-mudahan kalian kembali dengan selamat setelah kalian berhasil melepaskan sakit yang menyekat hati. Perjalanan kalian adalah perjalanan jantan, bukan perjalanan perawan-perawan yang pergi ngunggah-unggahi.”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Sekar Mirah. Tetapi ia tersenyum saja. Dibiarkannya Swandaru menjawab, “Doakan, Mirah.”

Tetapi Sekar Mirah tidak mendengar Agung Sedayu menjawab sepatah kata pun. Bahkan ia melihat wajah itu membayangkan keragu-raguannya. Sesaat dipandanginya wajah gurunya. Tetapi ia tidak mendapatkan kesan sesuatu, meskipun ia melihat gurunya itu tersenyum.

Sekar Mirah berdesah di dalam hatinya. “Sekali lagi aku melihat wajah yang menjemukan itu. Ragu-ragu, ragu-ragu, selalu dalam keragu-raguan,” ia mengumpat di dalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat melepaskan bayangan wajah yang selalu ragu-ragu itu.

Ketiganya, Ki Tanu Metir, Agung Sedayu, dan Swandaru pun semakin lama menjadi semakin jauh. Sementara itu langit menjadi semakin cerah. Orang-orang yang berdiri di luar regol kademangan masih melihat ketiganya berjalan perlahan-lahan semakin lama semakin sayup. Sejenak kemudian maka ketiga orang yang tampaknya menjadi semakin kecil itu menghilang di tikungan.

Betapa gelora di dada Sekar Mirah serasa mengguncang-guncang jantungnya, namun ia bertahan untuk tidak menangis. Diangkatnya kepalanya dan ditengadahkannya wajahnya. Ia kemudian berjalan di samping ayahnya masuk ke dalam halaman dan berjalan naik ke pendapa beriringan dengan ibunya, Sumangkar, Widura dan beberapa orang lain. Meskipun demikian, tidak banyak dari mereka yang berbicara. Satu dua saja berdesis perlahan-lahan dan hanya beberapa kata-kata. Kemudian hening lagi.

Ketika Widura, Sumangkar, dan Ki Demang meletakkan dirinya, duduk di pringgitan kademangan, maka Sekar Mirah berjalan di belakang ibunya langsung masuk ke ruang dalam. Nyai Demang itu pun agaknya menahan dirinya untuk tidak menangis ketika melepaskan Swandaru. Ditabahkannya hatinya, dan ditahankannya perasaannya. Ternyata sikapnya mempengaruhi sikap Sekar Mirah pula. Sekar Mirah yang bertahan mati-matian itu seolah-olah mendapat kekuatan baru melihat sikap ibunya yang tenang dan seolah-olah meyakinkan, bahwa perjalanan kakaknya tidak akan menemukan kesulitan.

Meskipun demikian, Sekar Mirah yang kemudian masuk ke dalam biliknya masih harus mencari kekuatan untuk tidak terbenam ke dalam sikap seorang gadis yang ditinggalkan oleh orang-orang yang dikasihinya. Ia kemudian terpaksa menyibukkan dirinya dengan segala macam kerja. Membenahi biliknya, pakaiannya dan kemudian gadis itu berlari-lari ke luar, pergi ke perigi. Diraihnya senggot timba, dan dengan menggeretakkan giginya, ia mulai menimba air, mengisi gentong dan jembangan.

Tetapi dengan menimba air dari sumur itu, hatinya masih saja berguncang. Karena itu dilepaskan senggot timba itu sehingga suaranya berderak-derak. Gadis itu kemudian berlari ke tumpukan kayu di sudut kandang. Diraihnya sebuah parang, dan dengan sekuat-kuat tenaganya dihantamkannya parang itu pada seonggok kayu di samping kandang itu.

Gadis yang sedang bertahan diri terhadap deraan perasaannya itu terkejut ketika ia mendengar sapa lembut di belakangnya, “Kenapa kau menjadi terlampau gelisah, Mirah.”

Sekar Mirah itu mengangkat wajahnya dan kemudian berpaling ke arah suara itu. Ia menarik nafas lega ketika dilihatnya yang berdiri di samping kandang itu adalah Ki Sumangkar.

“O,” desah gadis itu, “Kiai mengejutkan aku.”

Sumangkar tersenyum, katanya, “Kau terlampau sibuk. Itulah sebabnya maka kau terkejut.”

“Ya, aku terlampau sibuk,” sahut Sekar Mirah, “tetapi bukankah Kiai duduk-duduk di pringgitan bersama ayah dan Paman Widura?”

“Mereka pun telah sibuk dengan kuwajiban masing-masing.”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya, dan Sumangkar itu bertanya lagi, “Kenapa kau sendiri akan memotong kayu itu? Tidakkah ada orang lain? Pembantu-pembantu kademangan ini? Tentu lebih baik laki-lakilah yang memotong dan membelah kayu itu. Kalau tidak ada seorang pun yang hari ini sempat, maka kau dapat minta tolong kepada prajurit-prajurit yang sedang beristirahat.”

“Tidak, Kiai,” sahut Sekar Mirah, “aku pun dapat memotong dan membelah kayu. Apakah bedanya seorang laki-laki dengan seorang perempuan? Aku dapat juga mengambil air di sumur itu setiap pagi, aku juga dapat bekerja keras seperti laki-laki. Dan aku kira tenagaku pun cukup kuat meskipun tidak memadai laki-laki yang kuat. Tetapi aku berani beradu tenaga dengan laki-laki yang sedang.”

Sumangkar tersenyum, katanya, “Aku percaya, Ngger, memang kau adalah seorang gadis yang rajin. Dengan demikian maka tenagamu pun akan berkembang dengan baik. Kau dapat membawa padi setenggok penuh di dalam dukungan, seperti yang dibawa oleh laki-laki di atas kepalanya. Kau memang seorang gadis yang memiliki tenaga yang cukup.”

“Nah, kalau demikian, kenapa aku harus minta bantuan laki-laki hanya sekedar ingin memotong dan membelah kayu?”

“Ya, ya. Aku keliru.”

Mendengar jawaban itu, Sekar Mirah justru terdiam. Ditatapnya mata orang tua yang tersenyum di hadapannya. Di wajah itu dilihatnya goresan-goresan umur yang semakin dalam.

“Nah, teruskanlah, Ngger,” berkata Sumangkar kemudian. Sekar Mirah masih berdiam diri. Tetapi ia menjadi segan untuk meninggalkan pekerjaan itu, karena ia sudah terlanjur membanggakan dirinya.

“Silahkan, Ngger. Aku tidak mengganggu, bukan?”

“O, tidak,” jawab Sekar Mirah ragu. Namun tanpa disadarinya gadis itu kini menatap seonggok kayu di hadapannya. Kayu yang masih belum terpotong pendek dan terbelah. Kayu yang baru saja ditebang dan dipotong-potong panjang, ditimbun di samping kandang.

Kini Sekar Mirah akan memotong-motong kayu itu menjadi pendek dan kemudian membelahnya dengan kapak, supaya kayu itu lekas menjadi kering dan siap untuk dibakar di dapur.

Sekali gadis itu menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak pernah melakukannya. Tetapi ia tidak boleh mundur. Ia sudah terlanjur mengatakan, bahwa ia pun mampu melakukannya. Tidak hanya laki-laki.

Karena itu, maka segera diayunkannya parangnya, sekuat tenaga dihantamkannya kepada sepotong kayu yang tertimbun di hadapannya. Terdengar gadis itu berdesis kecil. Begitu kuatnya ia mengayunkan parangnya, sehingga terasa tangannya menjadi sakit. Tetapi ia tidak mau berhenti, sekali lagi parang itu diayunkan, dan sekali lagi ia berdesis. Tetapi parang itu terayun sekali lagi, sekali lagi dan sekali lagi.

Sumangkar yang melihat gadis itu berusaha dengan sekuat-kuat tenaganya memotong kayu itu tersenyum di dalam hatinya. “Gadis ini memang agak keras kepala. Mirip dengan sifat-sifat kakaknya, Angger Swandaru. Tetapi orang-orang yang demikianlah kadang-kadang yang akan dapat mencapai cita-citanya. Ia tidak gentar menghadapi rintangan dan hambatan. Tenaganya pun ternyata cukup kuat. Sayang ia tidak menggenggam tangkai parang itu dengan baik, sehingga tangannya akan segera terasa sakit, dan bahkan mungkin akan dapat terkilir karenanya.”

Karena itu maka Sumangkar itu pun segera melangkah maju, perlahan-lahan ia berdesis, “Luar biasa, Ngger. Luar biasa.”

Sekar Mirah berhenti sejenak. Ketika ia menegakkan punggungnya, terasa punggungnya pun menjadi sakit. Karena itu, maka dengan sebelah tangannya ia menekan lambungnya.

Sumangkar yang melihat gadis itu berusaha dengan sekuat-kuat tenaganya memotong kayu itu tersenyum di dalam hatinya. “Gadis ini memang agak keras kepala. Mirip dengan sifat-sifat kakaknya, Angger Swandaru. Tetapi orang-orang yang demikianlah kadang-kadang yang akan dapat mencapai cita-citanya.

“Sakit?” bertanya Sumangkar.

“Tidak, Kiai, aku tidak merasa apa-apa.”

“Bagus,” sahut Sumangkar, “kau memang luar biasa, Ngger. Kayu itu akan segera terpotong.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Ia merasa orang tua itu menyindirnya, karena luka pada kayu itu masih belum senyari.

Sumangkar agaknya dapat menangkap perasaan Sekar Mirah itu, sehingga dengan tergesa-gesa ia menyambung, “Maksudku, kalau Angger Sekar Mirah meneruskannya, maka kayu itu pun pasti akan terpotong.”

Sekar Mirah mengangguk perlahan-lahan.

“Tetapi, Mirah,” berkata Sumangkar kemudian, “agaknya kau kurang baik menggenggam parangmu. Coba, berikanlah parangmu itu.”

Tanpa sesadarnya, maka parang itu diserahkannya kepada Sumangkar.

“Begini,” berkata Sumangkar, “lihat beginilah seharusnya kau menggenggam parang itu. Ayunkan perlahan-lahan, lurus ke depan supaya parang ini tidak menggeliat. Kau dapat mengayunkan dan membuat luka-luka di kayu ini agak miring, tetapi jangan terlampau banyak. Kemudian dari arah miring yang berlawanan. Kalau kau sudah dapat tepat menjatuhkan parangmu pada luka yang pertama, maka barulah kau ayunkan parang ini semakin keras. Dengan demikian, kau tidak membuat luka di beberapa tempat seperti ini. Ini terjadi karena kau tidak ajeg menggerakkan parangmu dalam ayunan yang ajeg pula. Nah, cobalah.”

Sekar Mirah tanpa sesadarnya memperhatikan dan mendengarkan keterangan Ki Sumangkar itu baik-baik. Diamatinya dengan saksama bagaimana Ki Sumangkar menggenggam tangkai parangnya, kemudian bagaimana ia mengayunkan parang itu.

“Aku juga dapat melakukannya,” tiba-tiba Sekar Mirah berkata.

Sumangkar tersenyum. Diserahkannya parang itu kepada Sekar Mirah sambil berkata, “Cobalah.”

Perlahan-lahan Sekar Mirah mengayunkan parangnya. Satu kali, dua kali, tiga kali. Kini ia sudah, dapat menjatuhkan mata parangnya pada luka yang telah dibuatnya. Tidak bergeser lagi setiap kali. Semakin lama semakin keras, semakin keras.

“Bagus,” desis Ki Sumangkar.

Sekar Mirah tidak menyahut. Tetapi seakan-akan ia tenggelam dalam keasyikan memotong kayu itu.

Sumangkar melihat keringat yang bercucuran di kening gadis itu, maka katanya, “Sudahlah, Mirah. Kau letih. Biarlah saja dilanjutkan oleh orang lain.”

Tetapi Sekar Mirah seakan-akan tidak mendengar kata-kata itu. Bahkan ia bekerja semakin keras. Ayunannya menjadi semakin cepat dan cepat. Luka pada batang kayu itu dengan cepat bertambah dalam. Percikan tatalnya melontar-lontar ke segenap arah. Bahkan satu dua memercik ke wajah Sekar Mirah sendiri. Tetapi Sekar Mirah sama sekali tidak menghiraukannya.

“Sudahlah, Ngger,” Sumangkar mengulangi, tetapi Sekar Mirah seakan-akan masih belum mendengarnya.

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hati, “Gadis ini memang keras kepala. Ia sama sekali tidak mau mundur apabila ia ingin berbuat sesuatu.”

Baju Sekar Mirah sudah menjadi basah kuyup oleh keringatnya yang seperti diperas dari dalam tubuhnya. Namun ia sama sekali tidak ingin berhenti bekerja. Semakin lama semakin keras dan cepat.

Sekali lagi Sumangkar menarik nafas dalam? Kini ia melihat Sekar Mirah itu melepaskan parangnya, menekan lambungnya dengan kedua tangannya. Kemudian diusapnya keringat yang menetes dari keningnya dengan lengan bajunya.

“Heh,” Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya, “putus juga akhirnya.”

“Luar biasa, Ngger,” desis Ki Sumangkar.

Sekar Mirah berpaling, “Apakah yang luar biasa? Bukankah pekerjaan ini pekerjaan yang biasa saja? Tidak ada apa-apa yang lain dari kerja biasa, memotong kayu?”

“Ya, ya,” sahut Sumangkar, “tetapi bahwa Angger Sekar Mirah yang melakukan itulah yang luar biasa. Bahkan seorang laki-laki pun mungkin tidak akan dapat selesai secepat itu.”

Sekar Mirah tidak menjawab. Sekali lagi ia mengusap peluhnya dengan lengan bajunya. Perlahan-lahan ia berdesah, “Ah, lelah juga akhirnya, Kiai.”

Orang tua itu tertawa. Katanya, “Lelah, tentu lelah. Angger sudah bekerja terlampau keras. Kayu itu sudah terpotong.”

Tertatih-tatih Sekar Mirah itu melangkah dan menjatuhkan dirinya di bebatur kandang. Sekali ia menarik nafas panjang.

“Lenganku menjadi sakit, Kiai, dan telapak tanganku terasa nyeri.” Tetapi segera disambungnya, “Tidak, Kiai, tidak hanya nyeri, tetapi lihat tanganku menjadi melempung sebesar biji jagung di dua tempat.”

“Angger belum biasa,” jawab Sumangkar, “tetapi apabila Angger telah biasa, maka tangan itu tidak, akan melempung lagi.”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, beristirahatlah. Kau pasti lelah sekali.” Sumangkar itu berhenti sejenak. Tanpa dikehendakinya sendiri, diamatinya gadis yang keras hati itu dengan saksama. Tubuhnya yang bulat padat seperti kebanyakan gadis padesan yang bekerja keras setiap hari. Di sawah dan di rumah. Wajahnya yang memancarkan kekerasan hatinya itu dan matanya yang memandang hari depannya dengan penuh keyakinan.

“Sayang ia seorang gadis,” desah orang tua itu di dalam hatinya, “seandainya ia seorang laki-laki muda, mungkin ia tidak akan kalah dari kakaknya Swandaru.”

Sumangkar itu mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa disadarinya. Dan ia berkata pula di dalam hatinya, “Apakah salahnya, meskipun ia seorang gadis. Mungkin ia akan lebih baik dari seorang anak laki-laki. Sekarang gadis tidak akan kalah dari seorang anak muda apabila cukup terlatih. Seorang gadis mempunyai kelebihannya sendiri disesuaikan dengan kodratnya. Perasaan seorang gadis biasanya lebih tajam dari seorang laki-laki apalagi firasatnya. Mungkin seorang gadis akan lebih cepat dapat menanggapi keadaan dari seorang laki-laki. Tetapi seorang gadis harus dituntun untuk mempergunakan nalar. Tidak hanya sekedar perasaan saja.”

“Angger Sekar Mirah agaknya dapat berlaku demikian. Tenaganya cukup kuat, perasaannya cukup tajam dan nalarnya akan dapat juga berkembang dengan baik.”

Sumangkar tidak dapat lagi mengelakkan diri dari cengkaman perasaannya. Ia merasakan sesuatu yang menarik perhatiannya pada gadis itu. Kekerasan hati, kekuatan jasmaniah dan ketabahannya.

“Aku belum pernah merasa tertarik kepada seseorang seperti kepada gadis ini,” katanya di dalam hati, “bahkan anak-anak muda yang pernah aku jumpai pun tidak menarik perhatianku. Aku pernah melihat kelebihan Angger Alap-alap Jalatunda dari anak-anak muda yang lain kecuali Angger Tohpati. Bahkan apabila mendapat kesempatan dan tuntunan, Alap-alap Jalatunda tidak akan kalah dari Angger Sanakeling dan bahkan Angger Sidanti. Tetapi watak anak itu sangat menjemukan dan bahkan memuakkan. Ilmuku akan jatuh ke tanah yang subur tetapi sangar. Aku tidak mau.” Sumangkar itu tiba-tiba mengangguk-anggukkan kepalanya, “Apakah salahnya apabila muridku seorang gadis?”

Tetapi Sumangkar menyimpan perasaan itu di dalam hatinya. Ia ingin mengenal gadis itu lebih banyak. Sifat-sifatnya, tabiatnya dan yang terpenting baginya adalah wataknya. Apakah gadis itu akan dapat menjadi penyambung perguruannya yang baik. Tidak saja dalam olah kanuragan tetapi juga dalam solah tingkah dan tindak tanduk. Sebelum Tohpati mati, maka ia adalah satu-satunya harapan bagi perguruannya. Tetapi ia terseret ke dalam arus yang telah menjerumuskannya ke dalam langkah yang sesat. Sebenarnya sikap Tohpati itu sendiri dapat memberinya kebanggaan. Namun landasan untuk berpijak bagi Macan Kepatihan itu kemudian, yang tidak dapat dibenarkannya.

Sumangkar itu tersadar dari angan-angannya ketika ia melihat Sekar Mirah berdiri. Ia mengusap telapak tangannya sambil berdesis, “Aku harus membuat obat untuk menyembuhkan tanganku yang melempung ini, Kiai.”

“Apakah yang akan kau pergunakan untuk mengobatinya?”

“Kencur.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kelak, kalau Angger telah menjadi biasa, maka tangan Angger itu tidak akan melempung lagi.”

“Aku akan membiasakannya. Setiap hari.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah. Tetapi hati-hati. Jangan sampai mengenai tangan atau bagian-bagian tubuhmu sendiri.”

“Aku dapat berhati-hati,” sahut Sekar Mirah.

Sumangkar tersenyum. Dibiarkannya gadis itu pergi meninggalkannya. Tetapi kesan yang didapatinya dari gadis itu tidak juga disingkirkannya. Bahkan tumbuhlah keinginan yang mendesak untuk berbuat sesuatu sebelum umurnya menjadi semakin tua, dan ia akan segera menurun dari puncak kemampuannya, sebelum ia berkesempatan menurunkan ilmunya.

Sementara itu Sekar Mirah langsung pergi ke dapur untuk mencari beberapa potong kencur untuk mengobati tangannya. Tetapi ia benar-benar bertekad untuk membuat tangannya tidak lagi secengeng itu.

“Tanganku harus menjadi tangan yang kuat,” desisnya di dalam hatinya. Dan ia benar-benar ingin berbuat untuk itu.

Sumangkar terkejut ketika di hari berikutnya, ia melihat Sekar Mirah telah sibuk di samping kandang. Meskipun tangannya masih terasa sakit, tetapi rasa sakit itu sama sekali tidak dihiraukannya. Dengan sepenuh minat ia mengayunkan parang memotong sebatang kayu yang teronggok di samping kandang.

“Apakah lengan Angger sudah tidak sakit lagi?” bertanya Sumangkar.

“Tanganku terlampau cengeng, Kiai,” jawabnya, “aku harus mengajarnya untuk menjadi sedikit kuat.”

Sumangkar tersenyum. Ia menjadi semakin tertarik kepada gadis yang mempunyai tekad sebesar itu. Menurut perhitungan Sumangkar, untuk kepentingan yang lebih besar, maka ia akan tidak segan-segan untuk berbuat jauh lebih banyak lagi.

“Mirah,” berkata orang tua itu, “sebaiknya Angger jangan memaksakan diri. Aku senang melihat Angger bekerja keras tetapi Angger harus mengingat kekuatan tubuh Angger.”

“Kalau aku memanjakan diri Kiai,” jawab Sekar Mirah, “maka aku akan menjadi seorang yang akan selalu bergantung kepada orang lain. Tidak Kiai, aku harus berbuat sesuatu supaya aku mampu berdiri tegak seperti orang-orang lain. Seperti Kiai, seperti ayah dan seperti Kakang Swandaru. Aku tidak mau selalu menjadi beban orang lain, seperti apa yang baru saja terjadi. Aku tidak dapat berbuat apa-apa ketika Sidanti mengambil aku dari padepokan ini.”

“Oh,” Sumangkar mengerutkan keningnya.

“Dengan melatih diri mengayunkan parang ini, setidak-tidaknya aku akan dapat berbuat sesuatu, melawan sedapat-dapat, sementara mulutku dapat berteriak memanggil orang lain.”

Sumangkar tertawa, “Kau memang luar biasa. Seharusnya kau tidak usah menilai diri seperti ayahmu dan kakakmu Swandaru, sebab mereka adalah laki-laki.”

“Apa bedanya?” Sekar Mirah tiba-tiba mengangkat wajahnya dan menengadahkan dadanya, “apakah perempuan selamanya harus bergantung kepada laki-laki. Tidak Kiai. Ada juga hak bagi seorang perempuan untuk membela diri. Bukankah di dalam ceritera-ceritera dan dongeng-dongeng banyak juga disebutkan bahwa seorang perempuan mampu juga menjadi prajurit?”

“Ya, ya Ngger. Apalagi ceritera pewayangan.”

“Nah, kalau demikian apakah salahnya aku menjadi seorang yang mampu menyelamatkan diriku sendiri seperti laki-laki.”

“Ya. ya Ngger,” sahut Sumangkar, “tetapi itu tidak terlampau mudah. Tenaga seorang laki-laki menurut kodratnya berbeda dengan seorang perempuan. Seorang pemuda akan berbeda dengan seorang gadis.”

, “Aku tahu, Kiai, tetapi seorang perempuan yang lemah dan sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa, akan jauh lebih lemah dari seorang perempuan yang lemah tetapi berusaha untuk menemukan kekuatan di dalam kelemahanya.”

“Oh,” Sumangkar mengerutkan keningnya, “pendapat Angger mengagumkan.”

“Tidak mengagumkan, Kiai. Pendapat itu lahir karena pengalaman yang pahit yang pernah aku alami. Aku tidak mau pengalaman semacam itu terulang. Aku senang seandainya aku dapat sedikit memiliki kekuatan untuk menjaga diri. Aku tidak mau menjadi seorang yang menyerah kepada kelemahannya. Aku harus menemukan kekuatan.”

Sumangkar tidak segera menjawab. Tetapi ia melihat tekad yang menyala di wajah gadis itu.

“Kiai, sejak kecil aku mengagumi sifat-sifat jantan. Aku kagum melihat laki-laki memancarkan kelaki-lakiannya. Tidak seperti laki-laki yang cengeng, yang ragu-ragu dan kehilangan kepercayaan diri.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi semakin mengenal watak dan sifat-sifat dari gadis puteri Ki Demang Sangkal Putung itu. Keras hati seperti kakaknya, Swandaru.

Dengan demikian, maka ia menjadi semakin tertarik kepadanya. Seolah-olah orang tua itu menemukan tanah yang subur terbentang di hadapannya setelah bertahun-tahun ia kehilangan sawah garapannya.

“Angger,” orang tua itu kemudian berkata, “Angger benar-benar membuat aku heran. Meskipun Angger selama ini seolah-olah tidak lepas dari sisi ayah dan ibu, tetapi wawasan Angger Sekar Mirah ternyata cukup jauh. Pengalaman Angger yang baru saja terjadi itu masih belum cukup untuk membuat Angger Sekar Mirah menjadi berwawasan sedemikian jauhnya, seandainya di dalam diri Angger sendiri tidak tersimpan benih-benih yang baik seperti yang tersimpan di dalam diri Angger Swandaru. Pengalaman yang terjadi atas Angger Sekar Mirah dapat menumbuhkan bermacam-macam akibat. Bagi orang lain, maka akibatnya akan sangat berbeda. Seseorang dapat menjadi semakin berkecil hati. Semakin ketakutan dan kehilangan kepercayaan. Bahkan pada orang lain lagi dapat menumbuhkan keputus-asaan dan rendah diri. Tetapi sebaliknya kau menjadi semakin teguh seperti karang yang setiap hari dihantam oleh ombak.”

“Oh, sejak kemarin Kiai selalu memuji. Mudah-mudahanlah demikian hendaknya.”

“Aku tidak memuji, Mirah. Aku mengatakan sebenarnya,” sahut Ki Sumangkar, “tetapi sadarilah. Bahwa sekedar menggenggam tangkai parang itu masih jauh daripada cukup untuk menjaga diri. Menjadikan telapak tanganmu bertambah kebal itu pun bukan jalan dan cara yang cukup.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Ya, aku tahu, Kai. Aku tahu bahwa hanya dengan demikian, maka pasti tidak akan berarti apa-apa bagi keselamatan diri. Tetapi setidak-tidaknya aku sudah mulai untuk suatu tujuan yang lebih jauh.”

“Apakah tujuan itu?”

Sekar Mirah terdiam. Dipandanginya wajah Sumangkar yang telah digoresi oleh garis-garis tahun. Orang ini tampaknya menjadi semakin tua.

Dan tiba-tiba saja terungkat di dalam hati gadis itu, bahwa orang tua ini adalah seorang yang memiliki kemampuan seperti Kiai Gringsing, seperti Ki Tambak Wedi, seperti Ki Patih Mantahun menurut pendengarannya, seperti Ki Gede Pemanahan.

Dada Sekar Mirah menjadi berdebar-debar. Ia melihat ujud yang sederhana. Seperti Ki Tanu Metir. Tetapi pada kesederhanaan itu memancar kelebihan-kelebihan yang dahsyat seperti Ki Tanu Metir pula. Katanya di dalam hati. “Apakah aku dapat memperoleh sesuatu dari orang tua itu?”

Dalam keragu-raguannya ia mendengar Sumangkar itu berkata, “Mirah, coba, biarlah aku yang memotong kayu itu.”

Sekar Mirah seakan-akan tersadar dari sebuah mimpi yang dapat menumbuhkan harapan di dadanya. Dengan terbata-bata ia menjawab, “Tidak, Kiai. Tidak usah. Biarlah aku saja yang menyelesaikannya. Seandainya tanganku tidak mampu karena sakit, maka biarlah orang-orangku yang menyelesaikannya.”

Sumangkar tersenyum. “Berikanlah parang itu.”

Sekar Mirah menjadi seakan-akan kehilangan kesadarannya ketika Sumangkar maju beberapa langkah. Mengajukan tangannya dan mengambil parang di tangan Sekar Mirah.

“Lihatlah, Ngger, beginilah seharusnya Angger memotong kayu,” berkata orang tua itu sambil melangkah mendekati sebatang kayu yang lain terbujur di sisi kandang. Kayu itu bukan sekedar sepotong dahan atau cabang yang sedang. Tetapi kayu itu adalah sepotong kayu yang cukup besar.

“Apakah Kiai akan memotong kayu itu?” bertanya Sekar Mirah.

“Ya,” jawab Sumangkar.

“Hanya dengan parang?”

“Ya.”

“Seharusnya dipergunakan kapak. Dan seharusnya bukan Kiai-lah yang melakukannya.”

Sumangkar tersenyum. Kini ia telah berdiri di samping batang kayu yang menelentang itu. Dipandangnya batang kayu itu sejenak. Kemudian perlahan-lahan ia berjongkok. Ia harus membuat gadis Sangkal Putung itu menjadi kagum. Karena itu kali ini ia tidak sekedar memberikan contoh, bagaimanakah caranya menggenggam tangkai parang seperti kemarin. Tidak cuma memberi contoh bagaimanakah parang itu harus diayunkan. Tetapi kali ini ia akan memberikan contoh yang lain, contoh yang bukan sekedar tenaga lahiriahnya. Seperti Kiai Gringsing mampu melecutkan cambuknya dan menimbulkan ledakan yang dahsyat, maka orang tua ini pun mampu menyalurkan kekuatan-kekuatan yang tidak tampak pada gerak dan tingkah laku sehari-hari.

Perlahan-lahan Sumangkar mengangkat parangnya. Di pusatkannya segenap kekuatannya. Ketika perlahan-lahan pula parang itu terangkat kemudian terayun dengan derasnya, maka Sekar Mirah seolah-olah tidak dapat bernafas lagi. Dadanya seakan-akan berhenti bekerja dan segenap perhatiannya tertumpah kepada mata parang Ki Sumangkar. Bahkan jantungnya pun terasa berhenti berdetak.

Sejenak kemudian, Sekar Mirah berdesis menyaksikan parang itu membenam ke dalam batang kayu itu. Membenam dalam-dalam. Seperti membenarkannya ke dalam sebatang pokok pisang.

Terdengar mulut gadis itu sekali lagi berdesis. Tetapi kedua tangannya kemudian menutup mulutnya yang ternganga. Ia tidak percaya kepada penglihatannya. Benarkah parang itu membenam hampir separo ke dalam batang sebesar itu?

Sejenak ia melihat Sumangkar mencoba menarik parangnya yang membenam itu. Tetapi ternyata parang itu tidak cukup kuat. Parang itu adalah parang pemotong kayu. Karena itu maka parang itu tidak dapat mengimbangi kekuatan Sumangkar yang tercurah.

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 030)

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-29/

<<kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s