ADBM1-055

<<kembali | lanjut >>

AGUNG Sedayu yang sedang memperhatikan kedatangan pengawas yang berkumis itu terkejut, ketika Swandaru berteriak, “Awas, Kakang!”

Agung Sedayu sadar, bahwa orang yang jatuh itu masih mungkin berbuat sesuatu. Karena itu ia pun segera berpaling ke arahnya. Tepat pada saatnya, Agung Sedayu melihat orang itu berusaha bangkit dan melemparkan lagi sebuah pisau kecil ke arahnya.

Untunglah, bahwa Agung Sedayu tidak terlambat. Ia masih sempat mengelak, sekaligus memungut sebuah batu dan melontarkannya ke arah orang yang kini sudah duduk itu.

Ternyata lemparan Agung Sedayu kali ini, dari jarak yang lebih dekat, disertai kemarahan yang melonjak di dadanya, telah menumbuhkan akibat yang parah. Lemparannya kali ini mengenai dada orang itu. Sejenak serasa nafasnya terhenti mengalir. Kemudian, semuanya menjadi gelap. Dan orang itu pun menjadi pingsan.

Tetapi kini Agung Sedayu masih harus menghadapi pengawas yang berkumis itu. Dengan wajah yang merah padam ia mendekati Agung Sedayu sambil berkata, “Kau memang anak gila. Apakah kau sadari, apa yang telah kau lakukan?”

Agung Sedayu berdiri tegak di atas kedua kakinya yang merenggang. Semuanya sudah terlanjur menjadi kisruh. Karena itu, maka ia harus menghadapi lawannya itu. Kalau tidak, maka agaknya ia sendirilah yang akan menjadi korban.

Sementara itu, selagi semua perhatian tertuju kepada Agung Sedayu dan pengawas yang berkumis itu, Kiai Gringsing mendapat kesempatan untuk merawat pemimpin pengawas yang terluka punggungnya. Dengan hati-hati Kiai Gringsing mencabut pisau itu. Sejenak ia tertegun. Pisau itu pun agaknya beracun pula.

Untunglah bahwa di dalam keadaan yang gawat, di antara orang-orang yang selalu bermain-main dengan racun, ia sudah menyiapkan beberapa jenis obat-obatan. Tanpa menarik perhatian orang lain. Kiai Gringsing segera menaburkan serbuk obat ke atas luka itu. Kemudian dimasukkannya sebutir obat yang lain ke dalam mulutnya. Desisnya, “Telanlah. Kau akan sembuh.”

Di antara sadar dan tidak, pemimpin pengawas itu berusaha menelan obat yang diberikan oleh Kiai Gringsing, sementara lukanya terasa menjadi sangat panas.

“Jangan terkejut. Lukamu memang terasa sakit, tapi kau akan sembuh. Percayalah dan berdoalah agar Tuhan menolongmu.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun terpaksa menyeringai menahan sakit yang menggigit punggungnya.

Dalam pada itu, pengawas yang berkumis itu pun telah berdiri berhadapan dengan Agung Sedayu. Beberapa orang perlahan-lahan bergeser mendekatinya. Wanakerti pun telah berada di dekat keduanya yang sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

“Kau sadar apa yang telah kau lakukan?” bertanya petugas yang berkumis itu.

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah pengawas yang berkumis itu dan Wanakerti berganti-ganti. Bahkan kadang-kadang ia masih sempat berpaling ke arah orang yang kini terbaring pingsan di samping gundukan padas

Dalam pada itu, Swandaru yang sudah mendapat kesempatan beristirahat sejenak, telah berdiri pula. Tertatih-tatih ia berjalan mendekati kakak seperguruannya. Kini ia sudah berhasil menarik cambuknya yang melilit kaki orang yang kekurus-kurusan yang ternyata sedang pingsan pula.

“Aku jadi sangat bingung,” berkata Swandaru kemudian tanpa menghiraukan apa pun. “Orang-orang di sini adalah orang-orang yang sangat aneh bagiku. Aku sama sekali tidak mengerti akan tingkah laku mereka.”

“Diam!” bentak orang berkumis itu. “Atau kau akan aku bunuh sama sekali dengan saudaramu ini.”

“Jangan. Aku memang masih ingin hidup.”

Orang berkumis itu menggeram, sementara Agung Sedayu berkata, “Kenapa kita tidak mencoba berbicara dengan baik. Mungkin kita hanya sekedar salah paham. Dengan berbicara berterus terang, semua persoalan akan dapat diselesaikan.”

“Tidak ada gunanya!” teriak pengawas berkumis itu.

“Anak itu benar,” berkata Wanakerti, “kita masih mempunyai banyak kemungkinan selain kekerasan.”

“Aku melihat perkembangan keadaan dari ketiga orang ini. Kedua orang yang sudah dikalahkan oleh anak yang gemuk ini sudah berusaha untuk berbicara, jauh sebelum peristiwa ini terjadi.”

“Bukan pembicaraan,” sahut Agung Sedayu, “tetapi pengusiran. Setiap kali kita berbicara, maka yang disebut-sebutnya hanyalah, agar kami meninggalkan tanah garapan ini tanpa alasan yang masuk akal. Mereka menghendaki kami pergi. Hanya itu. Sudah tentu kami berkeberatan, karena para petugas pun tidak menginginkan demikian.”

“Ya,” berkata Wanakerti, “kami memang tidak berkeberatan. Hanya, keonaran memang harus diusut sebaik-baiknya.”

“Jangan ikut campur,” bentak prajurit berkumis itu, “apakah kau ingin mengalami nasib seperti pemimpin kita itu?”

“Tidak akan mungkin lagi. Lihat, pelempar pisau itu sedang pingsan.”

“Orang itu memang sedang pingsan. Tetapi ia tidak mengalami gangguan yang berarti. Ia sekedar tidak menyadari keadaan dirinya. Namun lemparanmu memang dahsyat sekali. Bukankah kau telah melemparnya dengan batu?”

“Ya,” jawab Agung Sedayu.

“Itu adalah kesalahan yang besar. Kau sudah berani melawan pengawas. Pengawas daerah yang sedang dibuka ini. Kau sudah mencederai orang lain.”

“Sekali lagi bukan maksudku. Kalau kau perkenankan, biarlah aku menolong orangmu itu. Dan orang itu sama sekali bukan petugas di sini. Seterusnya kita akan berbicara dengan mulut, bukan dengan ujung senjata macam apa pun juga.”

“Jangan mencoba menghindari tanggung jawab. Sekarang serahkan kedua tanganmu. Kau memang harus diikat.”

“Jangan bertindak sendiri,” berkata Wanakerti. “Aku juga seorang petugas seperti kau. Kau bukan pimpinan di sini. Kau dan aku tidak akan berbeda. Hakmu sama dengan hakku dan wewenangmu sama dengan wewenangku.”

“Tetapi ada yang lain,” petugas itu menggeram, “kemampuanmu sama sekali tidak akan dapat menyamai kemampuanku. Kau tidak lebih baik dari orang yang tinggi kekar, yang sama sekali tidak berdaya melawan anak yang gemuk itu. Dan kau tidak akan dapat melawan aku.”

“Aku tidak sendiri,” suara Wanakerti menjadi berat. Meskipun ia sadar, bahwa petugas yang berkumis itu pasti mempunyai kelebihan dari para petugas yang lain. Tetapi Wanakerti pun sadar bahwa petugas yang seorang ini pasti mempunyai latar belakang tersendiri pula, sehingga ia bertindak sebelum membicarakannya dengan kawan-kawannya.

Dalam pada itu, para petugas yang lain pun telah berada di sekitar Wanakerti. Wajah mereka menjadi tegang. Betapapun juga, setelah Wanakerti menyatakan perasaannya, para pengawas yang lain pun ikut pula menyadari, apakah yang sebenarnya mereka hadapi.

Pengawas yang berkumis itu pun menjadi bertambah tegang. Sekali-sekali dipalingkannya wajahnya kepada orang yang pingsan di samping seonggok batu padas. Dengan demikian, maka segalanya telah berubah. Orang yang pingsan itu sama sekali tidak lagi dapat membantunya.

Meskipun demikian pengawas yang gemuk itu sama sekali tidak menyerah. Tiba-tiba saja ia mencabut pedangnya sambil berkata lantang, “Aku telah bertindak tepat menurut pendapatku. Siapa pun yang akan menghalangi, harus aku singkirkan. Aku tidak peduli apakah mereka itu para petugas sendiri.”

Wanakerti maju selangkah. Katanya, “Pemimpin kita telah cedera. Kita bukan orang yang terlampau dungu untuk menilai keadaan. Setiap orang akan dapat menghubungkan, orang yang tinggi kekar, orang yang kekurus-kurusan, kau, dan orang yang pingsan itu. Aku tidak tahu, hubungan apakah yang sudah kalian jalin selama ini. Tetapi sudah tentu, maksud kalian sama sekali tidak akan kami benarkan. Kami, para petugas terpaksa harus menangkap kau dan orang-orang lain itu.”

“Persetan!” geram orang berkumis itu, “Ayo, siapa dahulu yang akan mati.”

Agung Sedayu menjadi bingung. Tetapi ketika ia maju selangkah, Wanakerti berkata, “Serahkan kepada kami. Kamilah yang akan menyelesaikannya.”

Orang berkumis itu menggeram. Dengan mata yang kemerah-merahan dilihatnya tiga orang pengawas telah mengepungnya.

“Menyerahlah. Kami yang seharusnya berlima, kini tinggal bertiga, setelah pemimpin kami terluka dan kau berada di luar lingkungan kami. Tetapi kami masih tetap akan menjalankan tugas kami sebaik-baiknya.”

Pengawas yang berkumis itu memandang ketiga kawannya berganti-ganti. Wajah yang tegang menjadi semakin tegang. Namun tiba-tiba saja ia tertawa berkepanjangan.

“Aku mengenal kalian bertiga dengan baik,” berkata orang berkumis itu di antara derai tertawanya. “Kalian sama sekali tidak akan mampu berbuat apa-apa. Aku tahu pasti, bahwa kalian adalah pengecut-pengecut yang hanya mampu menyembunyikan diri. Coba katakan kepadaku, kenapa kalian semalam tidak berani keluar dari gardu pengawas itu meskipun kalian tahu, bahwa rumah ini terbakar? Kalian adalah petugas yang harus menjaga ketenteraman daerah dari apa pun juga. Juga seandainya di daerah ini ada hantu-hantu. Tetapi kalian tidak mampu. Kalian tidak dapat mengatasi kesulitan hubungan antara para pembuka hutan dengan hantu-hantu sehingga korban masih saja berjatuhan. Yang terakhir, suatu isyarat yang sangat berat. Api. Sedang ketiga orang ini masih saja berkeras kepala.”

“Kami akui,” jawab Wanakerti, “kami tidak dapat melakukan tugas kami dengan baik. Ternyata usahamu selama ini telah berhasil. Kau berhasil menakut-nakuti kami apabila kami akan melakukan suatu tindakan.”

“Itu adalah kebodohan kalian. Kebodohan orang yang kalian sebut pemimpin kalian itu.”

“Jangan banyak bicara,” berkata Wanakerti kemudian, “menyerahlah.”

“Kau gila. Pemimpinmu sudah mati. Sebentar lagi kau dan semua orang yang tidak tunduk kepada perintahku.”

“Kau sudah memberontak kepada Ki Gede Pemanahan.”

“Kau. Kaulah yang sama sekali tidak mampu menjalankan tugas yang dibebankan kepada kalian. Termasuk pemimpin yang dungu itu. Nah, apa katamu?”

Wanakerti tidak menyahut. Ia maju selangkah, diikuti oleh kawan-kawannya dari arah yang lain.

“Jadi kita akan bertempur?” bertanya orang berkumis itu.

Wanakerti masih tetap diam. Tetapi setapak demi setapak ia maju terus.

Orang berkumis itu pun kemudian segera menyiapkan dirinya. Agaknya ia tidak akan dapat menghindar lagi. Ia harus melawan ketiga kawan-kawannya.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing sudah berhasil mengatasi saat-saat yang paling berbahaya dari pemimpin pengawas yang terluka. Perlahan-lahan pemimpin pengawas itu merasa tubuhnya bertambah baik, meskipun ia menjadi sangat lemah karena racun-racun yang bertambah tajam. Kalau saja tidak ada orang tua itu, maka ia pasti sudah mati di dalam beberapa kejapan mata saja.

Kiai Gringsing pun merasa bahwa usahanya berhasil. Karena itu, kini ia dapat memperhatikan keadaan di sekitarnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya orang yang tinggi kekar itu sedang menunggui kawannya yang masih pingsan.

“Apakah kawanmu itu akan kau biarkan saja?” bertanya Gringsing.

Orang yang tinggi kekar itu menjadi bingung.

“Kemarilah,” berkata Kiai Gringsing.

Orang itu masih saja ragu-ragu.

“Kemarilah. Aku tidak menggigit.”

Dengan bimbang orang yang tinggi kekar itu melangkah mendekati Kiai Gringsing. Kegarangannya selama ini sama sekali sudah lenyap. Bahkan wajahnya tampak menjadi pucat dan suram.

“Kau harus mencari air,” berkata Kiai Gringsing setelah orang yang tinggi kekar itu mendekat. “Teteskanlah ke dalam mulutnya. Setitik demi setitik. Jangan terlampau banyak supaya kau tidak membunuhnya, karena titik air itu justru akan menyumbat kerongkongannya. Bawalah orang itu ke barak. Bukankah kau bertubuh raksasa. Kau pasti kuat membawanya. Nanti aku akan datang menolongnya. Luka-luka itu tidak berbahaya meskipun terasa sakit sekali. Bersihkan darahnya dan usahakan menahan apabila masih ada yang mengalir dari luka-luka itu. Tetapi luka-luka itu adalah luka-luka yang dangkal saja.

Orang yang tinggi kekar itu seakan-akan sudah tidak mampu berpikir sama sekali. Di antara sadar dan tidak, ia kemudian kembali kepada kawannya yang pingsan. Diangkatnya kawannya itu dengan kedua tangannya, kemudian dibawanya meninggalkan arena yang masih diliputi oleh ketegangan.

Karena kini semua perhatian tertuju kepada para pengawas yang sudah siap untuk bertempur, tidak seorang pun yang menghiraukan orang yang kekar itu, selain Swandaru. Tetapi Swandaru pun kemudian membiarkannya ketika ia mendapat isyarat dari gurunya.

“Kenapa orang itu kau biarkan pergi?” bertanya pemimpin pengawal yang masih terlampau lemah itu.

“Mereka tidak akan pergi. Orang yang tinggi kekar itu sudah kehabisan nalar. Ia akan menurut apa yang akan aku katakan. Apalagi keduanya itu pun sama sekali tidak penting. Aku menganggap bahwa bawahanmu yang berkumis itulah yang termasuk orang penting dari lingkungan yang belum kita kenal ini. Juga orang yang pingsan, yang melemparkan pisau ke punggungmu.”

Pemimpin pengawas itu mengangguk-angguk. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “Siapakah sebenarnya kau dan anak-anakmu?”

“Aku dan anak-anakku. Itu sudah betul.”

“Ya, namamu dan kedudukanmu.”

“Sudah aku katakan. Kami ingin ikut membuka hutan ini karena kami tidak lagi mempunyai harapan apa-apa di daerah kami yang lama.”

“Kau sangka aku percaya?”

“Sekarang tentu tidak. Tetapi biarlah untuk sementara itulah aku. Percaya atau tidak percaya.”

Pemimpin pengawas itu menarik nafas dalam-dalam.

“Kau dapat duduk sendiri?” bertanya Kiai Gringsing.

“Ya.”

“Baiklah. Aku akan mengambil orang yang pingsan itu sebentar. Sudah tentu aku tidak akan melepaskannya seperti orang yang kekurus-kurusan itu.”

Pemimpin pengawas itu merenung sejenak. Dipandanginya orang-orang yang sedang mengerumuni para pengawas yang justru telah berselisih di antara mereka, sehingga pemimpin pengawas itu tidak dapat melihat, apa yang sedang terjadi di arena.

“Tunggulah, aku tidak akan lama,” desis Kiai Gringsing.

Pengawas itu menganggukkan kepalanya.

Kiai Gringsing pun kemudian berjalan dengan tergesa-gesa ke tempat orang yang sedang pingsan karena hentakkan batu yang telah dilemparkan oleh Agung Sedayu. Karena pengawas yang berkumis itu sedang memusatkan perhatiannya kepada tiga orang lawannya yang mengepungnya, maka ia sama sekali tidak sempat melihat, bahwa seseorang telah mengambil orang yang pingsan itu.

Pada saat Kiai Gringsing mendekatinya, ternyata orang itu sudah mulai membuka matanya. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang sebenarnya telah terjadi. Ketika ia mulai sadar, maka dengan susah payah ia pun mencoba untuk bangkit. Tetapi pada saat itu sepasang tangan yang kuat telah mencengkam pundaknya. Sejenak ia menyeringai, namun tiba-tiba ia telah kehilangan kesadarannya kembali.

Dengan tergesa-gesa Kiai Gringsing pun kemudian membawanya kepada pemimpin pengawas yang terluka. Diletakkannya orang yang pingsan itu di sampingnya sambil berkata, “Ia masih pingsan. Sebentar lagi ia akan sadar.”

“Bagaimana kalau ia lari? Aku sama sekali tidak mempunyai kekuatan untuk berbuat sesuatu.”

“Sebaiknya tangan dan kakinya diikat saja.”

Pemimpin pengawas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan kain panjangnya sendiri, orang itu pun telah diikat tangan dan kakinya, sehingga apabila ia sadar kelak ia tidak akan dapat lari dan berbuat apapun.

“Kau sekarang dapat menungguinya,” desis Kiai Gringsing.

“Kau?”

“Aku akan melihat apa yang terjadi. Agaknya anak buahmu telah berselisih pendapat.”

“Ya. Tetapi ternyata orang yang berkumis itu cukup berbahaya. Ia pasti mempunyai bekal untuk menyombongkan dirinya seperti itu.”

“Aku akan melihat. Jagalah orang yang terikat ini baik-baik. Keadaanmu pun pasti akan segera berangsur baik.”

Pengawas itu menganggukkan kepalanya. Dengan susah payah, dicabutnya pedangnya sambil berkata, “Kalau ia memberontak aku tinggal menghunjamkan pedangku saja.”

“Jangan kau bunuh. Kita memerlukannya.”

“Aku tahu. Tetapi ujung pedangku akan dapat menakut-nakutinya, meskipun aku tidak mampu mengangkatnya sama sekali.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Namun sejenak kemudian, ia pun pergi meninggalkan pemimpin pengawas yang masih sangat lemah itu untuk melihat apa yang telah terjadi di dalam lingkaran orang-orang yang sedang tegang.

Ternyata bahwa suasana telah memuncak. Hampir bersamaan ketiga pengawas itu telah menyerang.

Tetapi ternyata benar tangkas, dengan lincahnya ia berloncatan menghindari serangan yang datang dari tiga arah itu. Bahkan ia masih juga sempat menggeliat, sambil mengayunkan tangan kirinya.

Meskipun tidak terlalu keras, tetapi sisi telapak tangan itu masih juga sempat mengenai pundak salah seorang lawannya, sehingga orang itu menyeringai menahan sakit.

Namun dalam pada itu, para pengawas itu pun menjadi semakin berhati-hati. Mereka menyerang pula berurutan dari arah yang berlainan.

Meskipun demikian, ternyata orang yang berkumis itu masih mampu untuk menempatkan dirinya. Ia sama sekali tidak gentar melawan ketiga kawan-kawannya, meskipun dalam penilaian wajar, ketiga pengawas itu cukup mempunyai kemampuan. Bahkan kemampuan seorang prajurit. Tetapi lawannya yang seorang itu memang seorang yang memiliki ilmu yang cukup tinggi.

Sejenak mereka bertempur melingkar-lingkar. Semakin lama semakin seru. Tetapi juga ternyata bahwa ketiga orang itu tidak akan segera dapat menguasai keadaan.

Agaknya kelima pengawas itu merasa, bahwa dengan begitu saja mereka tidak akan dapat menangkap orang yang berkumis itu. Karena itu maka tiba-tiba salah seorang dari ketiganya telah mencabut pedangnya sambil berkata, “Aku terpaksa memaksamu untuk menyerah sekarang.”

Tetapi orang yang berkumis itu justru tertawa. Katanya, “Apakah kita akan mempergunakan senjata?”

“Ya,” jawab pengawas yang telah mencabut pedangnya.

Orang yang berkumis itu memandanginya sejenak. Kemudian dipandanginya pula kedua orang lawannya yang lain. Mereka pun agaknya telah siap pula mencabut senjata mereka.

Yang berdebar-debar kemudian adalah Agung Sedayu, Swandaru, dan Kiai Gringsing, yang telah ikut menyaksikan perkelahian itu pula. Agaknya senjata-senjata itu justru akan berbahaya bagi Wanakerti sendiri bersama kedua kawannya. Menilik sikap dan geraknya, orang yang berkumis itu memang bukan orang kebanyakan. Ia bukan tataran seorang pengawas bawahan.

“Siapakah yang menempatkannya di dalam lingkungan pengawas itu?” bertanya Kiai Gringsing di dalam hatinya. Tanpa sesadarnya ia berpaling. Di sela-sela orang yang berkerumun, ia melihat tawanannya masih terbaring ditunggui oleh pemimpin pengawas yang terluka itu.

“Kalianlah yang telah mulai dengan senjata,” berkata orang yang berkumis itu. “Kalau terjadi sesuatu atas kalian, bukan salahku. Sebenarnya aku hanya ingin membawa kalian menghadap Ki Gede Pemanahan atau Mas Ngabehi Loring Pasar. Tetapi dengan senjata-senjata itu, mungkin keadaan akan berbeda. Mungkin ujung senjata kita akan mengambil keputusan lain. Kalian mengerti?”

Ketiga pengawas yang lain tidak menyahut.

“Nah, bersiaplah,” desis orang berkumis itu. Ketiga pengawas yang lain itu pun masih tetap berdiam diri. Wanakerti memandang orang berkumis itu dengan dada yang berdebar-debar. Ia menyadari, bahwa orang yang berkumis itu memiliki beberapa kelebihan. Tetapi tanggung jawabnya kini justru serasa tergugah.

Orang berkumis itu bergeser beberapa langkah. Ditatapnya ketiga ujung pedang lawannya berganti-ganti. Tetapi tampaknya ia sama sekali tidak gentar menghadapi mereka.

Di luar lingkaran orang-orang yang dengan tegang menyaksikan perkelahian itu, perlahan-lahan orang yang melemparkan pisau belati beracun ke arah punggung pemimpin pengawas itu mulai sadar. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Namun kemudian disadarinya bahwa tangan dan kakinya telah terikat.

“Setan alas!” ia menggeram.

“Apa kabar, Ki Sanak?” sapa pemimpin pengawas yang ada di belakang orang yang terikat itu.

Dengan susah payah orang itu berpaling. Ia terperanjat melihat pemimpin pengawas itu duduk sambil menggenggam pedang yang teracu kepadanya, “Aku dapat juga membunuhmu. Meskipun pedangku tidak beracun seperti pisaumu,” pemimpin pengawas itu mengerutkan keningnya, “He, agaknya kita pernah bertemu.”

Orang itu berusaha sama sekali untuk melepaskan tangannya. Tetapi ia tidak berhasil.

“Ha,” berkata pemimpin pengawas itu, “aku ingat, bukankah kau dukun yang tinggal di gubug sebelah dari gubug yang roboh oleh angin dua hari yang lalu? He, bukankah kau dukun itu?”

Orang yang terikat itu sama sekali tidak menjawab.

“Kenapa kau lakukan hal itu atasku, he? Apakah kau termasuk orang-orang yang bergabung dalam suatu gerombolan dengan maksud-maksud tertentu?”

Orang itu sama sekali tidak menjawab. Tetapi kadang-kadang ia masih menyeringai menahan sakit di dadanya yang terkena lemparan batu Agung Sedayu.

“Kenapa, he? Selama ini kau dihormati karena kau dapat menolong sesamamu di sini. Hanya orang-orang yang mengalami gangguan hantu-hantu saja yang tidak dapat kau obati, itu pun kau dapat menunjukkan agar kami berhubungan dengan dukun yang tinggal terpencil itu. Ternyata di dalam keadaan ini kau telah memusuhi kami, para petugas.”

Orang itu masih tetap berdiam diri. Kini ia berbaring diam membelakangi pemimpin pengawas itu.

“Dengar,” desis pemimpin pengawas itu, “meskipun aku terluka, aku masih dapat membunuhmu.”

Dukun itu mengerutkan keningnya ketika terasa ujung pedang pemimpin pengawas itu menyentuh punggungnya.

“Di bagian inilah kira-kira pisaumu menancap di punggungku. Aku pun dapat melubangi punggungmu di bagian ini pula. Tetapi sayang bahwa pedangku tidak beracun,” namun tiba-tiba pemimpin pengawas itu berkata. “He, inilah pisaumu yang dicabut dari punggungku. Meskipun sudah merasuk ke tubuhku, namun agaknya masih ada juga sisa racun yang dapat membumbui darahmu.”

Orang itu terkejut sehingga ia tersentak. Tetapi karena kaki dan tangannya terikat, ia hanya dapat berguling. Dengan wajah yang tegang ia melihat pemimpin pengawas itu menggenggam sebilah pisau yang dikenalnya baik-baik. Pisaunya sendiri.

“Kau kenal pisau ini?”

“Jangan. Jangan. Pisau itu sangat beracun.”

“Pisau, ini telah tertancap di punggungku. Sampai saat ini aku masih terlampau lemah karena racun ini. Aku masih belum mampu berdiri tegak. Tetapi aku masih mampu bergeser mendekati kau, kemudian menggoreskan pisau ini memotong urat nadimu di pergelangan tangan.”

“Jangan. Jangan.”

“Kalau kau mempunyai obat pemunah racun di dalam tubuhmu, kau pun akan mati juga, karena darahmu akan mengalir lewat nadimu yang terputus sampai jantungmu kering.”

“Jangan berbuat begitu.”

“Kenapa? Kau sudah berbuat atasku. Kenapa aku tidak boleh berbuat atasmu?”

“Tetapi, tetapi aku tidak ingin membunuhmu.”

Meskipun punggungnya masih terasa pedih, pemimpin pengawas itu masih juga dapat tertawa. Katanya, “Kau tidak bermaksud membunuhku?”

Orang itu terdiam.

“Baiklah, aku tidak akan membunuhmu sekarang. Kau sangat diperlukan bersama seorang pengawasku yang telah memberontak.”

Orang itu kian menjadi tegang. Ia sama sekali tidak menduga bahwa pemimpin pengawas itu masih sempat hidup, dan masih juga ada orang yang berani melawan kehendak pengawas yang berkumis itu. Bahkan ternyata orang yang tinggi kekar dan yang kekurus-kurusan itu sudah tidak berdaya.

“Apa yang kau renungkan?” bertanya pemimpin pengawas itu.

“Bukan apa-apa,” jawab dukun yang terikat itu.

“Bukan apa-apa? Tentu kau sedang merenungkan sesuatu. Apa kau tidak mau menjawab?”

Orang itu terdiam. Tetapi ujung pedang pengawas itu menyentuh tubuhnya, “Katakan, apa yang sedang kau renungkan.”

“Bukan apa-apa,” orang itu tergagap.

“Bohong!” pemimpin pengawas itu menekankan ujung pedangnya. “Atau dengan pisau beracun ini.”

“Jangan, jangan. Aku sedang berpikir, kenapa aku telah terlibat di dalam persoalan yang tidak aku ketahui ini.”

“Nah. Kau sebaiknya memang harus menjawab, meskipun aku tahu bahwa kau berbohong. Kau dapat mengatakan apa saja, karena aku tidak dapat melihat gambaran dari angan-anganmu itu. Tetapi aku bukan orang yang terlampau bodoh untuk sama sekali tidak dapat mereka-reka, yang sedang kau pikirkan.”

Orang itu masih tetap berdiam diri.

“Baiklah aku memang belum mempunyai kekuatan untuk memaksamu berbicara. Kini aku sedang menunggu akhir dari perkelahian itu.”

Tanpa sesadarnya orang itu pun mencoba memandang ke arah orang-orang yang melingkari para pengawas yang sedang berselisih itu. Tetapi ia tidak berhasil melihat, selain punggung-punggung orang-orang yang berdiri dengan tegangnya.

“Kawanmu itu sedang mencoba membela dirinya. Para pengawas yang lain sudah siap menangkapnya. Dengan demikian akan mendapat gambaran yang jelas, apakah sebenarnya yang telah terjadi di daerah ini.”

“Kalian tidak akan mendapatkan apa-apa.”

“Setidak-tidaknya kami dapat menangkap beberapa orang yang dapat membahayakan daerah ini.”

“Itulah kebodohanmu.”

“Apa?” pemimpin pengawal itu membentak. “Kau menganggap aku bodoh?”

Dukun yang terikat itu merasa ujung pedang pemimpin pengawas itu semakin menekan tubuhnya. “Coba ulangi lagi, apakah aku memang terlampau bodoh?”

“Tidak. Bukan maksudku,” sahut orang itu dengan serta merta.

“Nah, sebenarnya itulah gambaran angan-anganmu yang sebenarnya tentang aku. Tetapi biarlah. Aku memang tidak ingin membunuhmu sekarang.”

Orang itu tidak menyahut. Tetapi ia merasa aneh dan heran, bahwa pemimpin pengawas itu masih saja tetap hidup. Tidak ada orang yang dapat menyelamatkan diri dari bisa yang diulaskan pada pisaunya. Tetapi ternyata pemimpin pengawas itu masih tetap hidup.

Dalam pada itu, ketiga pengawas yang sedang berhadapan dengan orang berkumis itu, telah mulai menyerang berganti-ganti, sehingga perkelahian pun telah mulai berlangsung. Semakin lama menjadi semakin seru dan mendebarkan jantung.

Meskipun pengawas yang berkumis itu hanya seorang diri dan harus menghadapi tiga orang kawannya, namun ternyata ia memang memiliki bekal yang cukup baik, sehingga ia masih tetap mampu bertahan.

Bahkan kadang-kadang ia masih juga sempat menyerang dengan dahsyatnya, sehingga ketiga lawan-lawannya terkejut karenanya.

Demikianlah, maka perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru. Namun dengan demikian justru menjadi semakin nyata, bahwa ketiga pengawas termasuk Wanakerti sama sekali tidak mampu mengimbangi orang berkumis itu.

Semakin lama, orang itu justru menjadi semakin lincah. Pedangnya menyambar-nyambar seperti seekor burung sikatan. Cepat dan langsung mengarah ke bagian-bagian yang berbahaya.

Mereka yang menyaksikan perkelahian itu terperanjat ketika tiba-tiba saja mereka mendengar keluhan tertahan, dan seleret warna merah membekas di lengan salah seorang pengawas yang bertempur bertiga bersama-sama. Kemudian setitik demi setitik darah mulai mengucur dari luka itu, menodai bajunya.

Sejenak kemudian terdengar suara pengawas yang berkumis itu tertawa sambil berkata, “Nah. Darah mulai menitik dari lukamu. Jangan salahkan aku kalau kalian nanti tidak akan dapat keluar lagi dari lingkaran perkelahian ini.”

Demikian lantangnya suara orang berkumis itu sehingga tanpa sesadarnya dukun yang terluka itu berkata, “Nah. kau dengar? Apakah kau sangka kawan-kawanmu itu akan berhasil menangkapnya?”

Pemimpin pengawas itu merenung sejenak. Kemudian ia mendengar lagi orang berkumis itu berkata keras-keras, “Jangan menyesal. Semuanya sudah terlanjur. Kita harus mengakhiri persoalan ini dengan pedang yang sudah dicabut dari sarungnya.”

Tidak terdengar jawaban sama sekali. Tetapi ujung pedang pemimpin pengawas itu telah menekan tubuh orang yang terikat itu, “Kau pun akan mati.”

“Kenapa aku?”

“Kalau orang berkumis itu menang, ia pun akan membunuh aku pula. Karena itu, sebelum aku mati, kau harus mati lebih dahulu.”

“Kenapa aku?”

“Jangan berpura-pura. Kenapa kau melempar aku dengan pisau ketika aku berselisih dengan orang itu?”

“Tetapi, tetapi ……,” orang itu menjadi tergagap.

“Nah, jangan banyak bicara lagi. Kita tunggu. Kalau lingkaran orang-orang itu menyibak, dan yang keluar dari lingkaran itu pengawas yang berkumis, maka aku akan segera menghunjamkan pedangku kepadamu dan menyembunyikan pisau itu di tanganku. Begitu ia mendekat, mengayunkan pedangnya ke leherku, aku masih sempat melemparkanya dengan pisau beracun ini dan melukainya meskipun hanya sebaris kecil, seperti goresan ujung duri.”

“Tetapi, apakah kau tidak berpikir, bahwa dengan menghidupi aku, kau akan tetap hidup pula?”

“Aku tidak berpengharapan lagi. Kalau aku membiarkan kau hidup, aku memang teramat bodoh.”

Wajah dukun itu menegang sejenak. Ia berusaha untuk menemukan akal, agar orang berkumis itu berkesempatan menolongnya.

“Orang ini masih sangat lemah,” desisnya di dalam hati, “kalau aku berguling-guling agak cepat, ia tidak akan mampu mengejarku. Pada saat aku yakin akan kemenangan pengawas itu, aku harus cepat-cepat berguling menjauh sambil berteriak-teriak.”

Demikianlah, maka dukun yang terikat itu menunggu kesempatan untuk mendapatkan pertolongan. Karena itu, maka ia selalu saja mengawasi, kalau-kalau orang-orang yang melingkari arena itu mulai menyibak.

Tetapi agaknya perkelahian itu masih berlangsung terus. Meskipun seorang dari ketiga pengawas yang bertempur bersama itu sudah terluka, namun mereka masih tetap bertempur mati-matian.

Namun keadaan selanjutnya telah membuat beberapa orang menjadi kian menegang. Agaknya ketiga orang itu sama sekali tidak akan mampu mengimbangi lawannya yang hanya seorang itu. Ternyata bahwa seorang yang lain telah tergores pula oleh senjata orang berkumis itu, bahkan juga Wanakerti sendiri.

Swandaru yang berdiri di belakang Agung Sedayu, menyaksikan perkelahian itu dengan dada berdebar-debar. Bahkan kemudian ia melangkah maju sambil meremas ujung cambuknya.

Agung Sedayu menahan nafasnya. Sekali-sekali ia berpaling kepada gurunya yang telah menjadi cemas pula. Tetapi Kiai Gringsing masih tetap berdiri diam di tempatnya.

Demikianlah, perkelahian itu semakin lama menjadi semakin jelas, bahwa ketiga pengawas yang berkelahi bersama-sama itu berada di dalam bahaya. Orang berkumis itu dengan lincahnya berloncatan dengan senjata yang menyambar-nyambar. Meskipun demikian, Wanakerti dan kedua kawannya telah mencoba berbuat sebaik-baiknya yang dapat dilakukannya. Mereka mengadakan perlawanan mati-matian, meskipun mereka menyadari bahwa mereka berada di dalam bahaya yang dapat merampas nyawanya.

Swandaru yang tidak dapat menahan diri melihat perkelahian itu, berbisik kepada Agung Sedayu, “Apakah kita akan membiarkan ketiganya mati? Atau seandainya kita akan berbuat sesuatu, kita menunggu korban itu berjatuhan lebih dahulu, atau kita tidak akan berbuat apa-apa sama sekali.”

“Kita akan berbuat sesuatu,” bisik Agung Sedayu. “Berbuat atau tidak berbuat kita pasti akan tersudut, karena orang berkumis itu memang berminat membunuh kita. Ketiga pengawas itu hanya sekedar mencoba mencegahnya.”

“Karena itu kita tidak boleh membiarkan mereka menjadi korban,” Swandaru berdesis pula. “Tetapi apakah pedang itu beracun juga?”

“Tampaknya tidak. Pedang itu adalah pedang pengawas. Orang itu yakin akan dapat mengalahkan lawannya. Tetapi tidak mustahil bahwa ia membawa senjata beracun pula, seperti yang lain.”

Swandaru mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu, “Aku akan mencegah mereka terbunuh.”

“Jangan kau. Kau masih lelah. Nafasmu belum pulih.”

“Jadi.”

“Aku akan minta ijin pada guru.”

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya, “Cepatlah, sebelum salah seorang dari mereka menjadi korban. Apalagi ketiga-tiganya.”

Agung Sedayu pun kemudian bergeser mendekati gurunya. Tetapi sebelum ia mengatakan sesuatu, agaknya gurunya telah mengetahuinya, sehingga ia mendahuluinya berkata lambat, “Hati-hatilah. Pedang itu pasti bukan senjata satu-satunya. Tetapi ingat, jangan bunuh orang itu. Kami memerlukannya.”

Agung Sedayu mengangguk. Namun di dalam hati ia berkata, “Mudah-mudahan aku tidak kehilangan kesempatan untuk menangkapnya hidup-hidup. Atau justru akulah yang ditangkapnya.”

Demikianlah, sejenak kemudian salah seorang pengawas yang berkelahi itu terloncat surut. Sebuah luka yang agak dalam telah menyobek bahunya, sehingga ia menjadi semakin lemah karenanya. Dengan demikian, maka kedudukan ketiga pengawas itu menjadi semakin sulit.

Orang berkumis itu tertegun sejenak. Ketika ia melihat ketiga lawannya termangu-mangu, ia pun tertawa berkepanjangan sambil berkata, “Nah, apakah kalian menyesal?”

Ketiga lawannya sama sekali tidak menyahut.

“Sayang, kalian tidak akan mendapat kesempatan lagi.”

Wanakerti menggeretakkan giginya. Suara tertawa itu memang sangat menyakitkan hati.

“Aku sama sekali tidak ingin mendapat belas kasihanmu,” geram Wanakerti, “karena kami merasa sanggup melakukan tugas kami sebaik-baiknya. Kau mengerti?”

“Maksudmu kau akan bertempur sampai mati?”

“Maksudku, aku akan membunuhmu.”

Orang berkumis itu tertawa semakin keras. Namun tiba-tiba suara tertawanya berhenti ketika Wanakerti berkata, “Sebenarnya kami tidak memerlukan kau lagi. Seandainya kau tidak dapat kami tangkap, dan bahkan seandainya kamu akan mati sekalipun, kami tidak akan berkeberatan. Kawanmu yang pingsan itu agaknya telah diambil oleh para petugas yang lain. Ia akan dapat banyak memberikan keterangan.”

“He,” orang itu terkejut. Tetapi ketika ia berpaling yang dilihatnya adalah orang-orang yang berkerumun.

“Minggir,” ia berteriak.

Ternyata beberapa orang menjadi ketakutan dan segera menyibak. Di sela-sela orang-orang yang telah menyibak itu, orang berkumis itu hanya dapat melihat seonggok batu padas. Kawannya memang sudah tidak berada di tempatnya.

“Aku melihat seseorang mengambilnya,” berkata Wanakerti, “dan aku sengaja memancing perhatianmu. Kini, apa yang hendak kau katakan kepada Ki Gede Pemanahan seandainya ia datang kemari?”

Orang berkumis itu menjadi tegang sejenak. Namun kemudian ia menggeram, “Licik. Licik sekali.”

Wanakerti tidak menjawab. Meskipun lukanya terasa pedih, tetapi ia mencoba untuk tertawa, “Kami tidak berkeberatan untuk mati. Tetapi segala usahamu di sini akan gagal.”

Dalam pada itu, orang yang terikat itu pun dapat mendengar serba sedikit pembicaraan mereka yang berada di arena. Apalagi suara orang berkumis yang keras dan lantang itu. Sejenak meloncat di hatinya keinginannya untuk berteriak, memberitahukan kepada orang berkumis itu, bahwa ia masih berada di tempat itu, meskipun terikat.

Tetapi ketika mulutnya hampir saja bergerak, ujung pedang pemimpin pengawas itu telah menyentuh bukan saja punggung atau lambungnya, tetapi mulutnya.

“Aku tahu, kau akan berteriak memanggilnya,” desis pemimpin pengawas itu.

Orang yang terikat itu mengumpat di dalam hati. Tetapi ia memang tidak mendapat kesempatan untuk berteriak. Karena itu, ia tidak berhasil memberikan isyarat apa pun kepada orang berkumis yang berada di arena.

Orang berkumis yang telah berhasil melukai ketiga lawannya itu menjadi termangu-mangu. Ia sudah berusaha mencegah anak gembala tua yang melempar dukun yang pingsan itu dengan batu. Tetapi kini ternyata ada orang lain yang melakukannya.

“Siapakah yang telah berani mengambilnya?” ia menggeram.

Wanakerti berdesis menahan sakit. Namun kemudian ia menjawab, “Aku tidak tahu. Tetapi menurut sikap dan pakaiannya, ia adalah utusan atau setidak-tidaknya pengawas yang sedang bertugas melihat-lihat perkembangan daerah ini.”

“Bohong, kau bohong. Aku tidak mendengar suara kuda. Kalau benar mereka yang kau maksudkan, mereka pasti datang berkuda. Mereka tidak akan langsung mengetahui apa yang telah terjadi di sini.”

Wanakerti mengerutkan keningnya. Ia tidak segera dapat menjawab. Tetapi kemudian ia berkata, “Aku tidak tahu pasti siapakah yang telah mengambilnya. Tetapi pasti bukan dari golonganmu.”

Orang berkumis itu menggeram. Katanya, “Orang itu pasti belum terlampau jauh. Aku harus menemukannya.”

Tiba-tiba saja orang itu ingin segera menyelesaikan pekerjaannya di arena ini. Karena itu, maka wajahnya menjadi merah dan tatapan matanya menjadi liar.

“Kalian harus segera mati, supaya aku segera dapat menangkap orang yang telah mencuri orang yang pingsan itu.”

Wanakerti tidak menyahut. Bersama kedua kawan-kawannya yang telah terluka ia pun segera bersiap. Tetapi kini ia sudah berhasil mempengaruhi perasaan orang itu, sehingga ia akan selalu diganggu oleh kegelisahannya.

Ternyata bahwa kedua kawan Wanakerti yang telah terluka itu pun mengerti maksudnya. Mereka harus bertahan sejauh-jauh dapat dilakukan. Semakin lama orang berkumis itu akan menjadi semakin gelisah, sehingga pengamatannya atas dirinya sendiri pasti akan berkurang.

Sejenak kemudian maka perkelahian itu pun terulang lagi. Tetapi meskipun orang berkumis itu menjadi gelisah namun ia masih tetap garang. Bahkan sikap dan geraknya menjadi semakin kasar, meskipun kadang-kadang tergesa-gesa dan kurang cermat.

Wanakerti tidak lagi berusaha menyerang. Ia hanya sekedar bertahan dan mengganggu orang berkumis itu apabila ia sedang menyerang kawannya yang paling lemah, yang pundak, tangan dan bahunya sudah terluka.

Meskipun demikian, namun Wanakerti dan kedua kawannya benar-benar berada di dalam kesulitan. Mereka semakin terdesak dan kehilangan kesempatan, sehingga pada suatu saat, orang berkumis itu berteriak, “Aku sudah tidak sabar lagi. Kalian memang harus mati sekarang, di sini.”

Pedang orang berkumis itu pun kemudian berputar semakin cepat menyambar-nyambar ke segala arah.

Namun ia terkejut ketika tiba-tiba saja Agung Sedayu berkata kepadanya, “He, jangan cemas. Dukun yang pingsan itu kini sedang diobati. Seseorang telah membawanya ke tempat Kiai Damar. Karena di sini tidak ada dukun yang lain selain dirinya sendiri, maka hanya Kiai Damar-lah yang akan dapat menolongnya.”

Ternyata kata-kata Agung Sedayu telah menarik perhatian orang berkumis itu, sehingga ia tertegun sejenak. Ditatapnya wajah Agung Sedayu yang telah maju beberapa langkah mendekatinya.

“Darimana kau tahu?” bertanya orang berkumis itu.

“Seseorang telah mengambilnya. Aku kira ia akan dibawa kepada Kiai Damar.”

“Ya, darimana kau tahu?”

Pertanyaan itu ternyata telah membingungkan Agung Sedayu, sehingga sekenanya saja ia menjawab, “Aku hanya menduga. Tetapi, kenapa kau begitu bernafsu untuk mempertahankan orang yang pingsan itu? Seharusnya kau relakan saja orang itu. Karena ia telah melukai pemimpinmu.”

“Tidak sekedar melukai. Luka yang sekecil ujung jarum pun akan berarti kematian.”

“Tetapi pemimpinmu masih belum mati.”

“Bohong!”

Agung Sedayu menjadi ragu-ragu sejenak. Tanpa sesadarnya ia berpaling kepada gurunya. Ketika gurunya menganggukkan kepalanya, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam.

“Baiklah,” katanya kemudian kepada orang berkumis itu, “kau akan dapat melihatnya sendiri.”

“Bohong. Kau akan menjebak aku?”

“Tidak,” jawab Agung Sedayu.

Namun dalam pada itu, pemimpin pengawas itu pun menjadi berdebar-debar. Ia sama sekali tidak mengerti maksud Agung Sedayu. Tetapi percakapan yang sebagian didengarnya itu telah mendebarkan jantungnya.

Karena itu, maka ia pun menekankan pedangnya kini di leher tawanannya sambil menyembunyikan pisau di bawah rerumputan. Setiap saat ia siap menghunjamkan pedangnya ke leher tawanannya dan kemudian menggoreskan pisau, itu apabila orang berkumis itu mendekatinya. Betapa lemah tubuhnya, tetapi ia pasti masih sanggup melemparkan pisau pada jarak yang sangat dekat dan melukainya.

Sejenak kemudian pemimpin pengawas itu malahan mendengar Agung Sedayu berkata lantang, “Menyibaklah. Biarlah orang ini melihat, bahwa pemimpinnya masih dan akan tetap hidup.”

Beberapa orang yang mengerumuni arena itu pun segera menyibak. Dan apa yang dilihat oleh orang berkumis itu memang telah mengejutkannya. Pemimpin pengawas itu duduk di rerumputan sambil mengacukan pedang ke leher dukun yang pingsan itu.

“Setan alas, siapakah yang telah berkhianat?” ia berteriak. Tetapi ketika ia melangkah mendekati mereka Agung Sedayu berkata, “Jangan pergi ke sana. Perkelahian ini masih belum selesai.”

Langkah orang berkumis itu terhenti. Sejenak ia memandang Agung Sedayu dengan sorot mata yang aneh. Sekali-sekali ia masih juga memandang Wanakerti dan kedua kawannya berganti-ganti.

Dengan nada yang dalam ia menggeram, “Jadi maksudmu, agar aku membunuh ketiga orang ini dahulu?”

“Bukan begitu,” jawab Agung Sedayu, “sebaiknya kau tidak usah mengurus orang itu. Pemimpin pengawas itu telah berhasil menangkap orang yang melempar punggungnya dengan pisau, dan bahwa orang itu telah terikat di sana. Biarlah nanti Ki Gede Pemanahan atau puteranya yang akan mengadili.”

Orang berkumis itu menjadi termangu-mangu sejenak. Ia menjadi bingung menghadapi keadaan yang tidak disangka-sangkanya. Banyak hal yang tiba-tiba saja harus dihadapinya. Hadirnya tiga orang ayah beranak itu sejak semula memang telah menimbulkan kecurigaan, sehingga dengan segala macam usaha, bersama-sama dengan kawan-kawannya ia telah berusaha mengusirnya. Tetapi kini justru ia dihadapkan pada keadaan yang tidak dimengertinya. Kenapa pemimpin pengawas itu dapat bertahan dari bisa racun yang sangat tajam. Dan alangkah menjengkelkan sekali bahwa anak yang gemuk itu dapat mengalahkan kedua kawannya yang terdahulu, sehingga ia harus ikut bertindak hari ini bersama dukun yang justru telah tertangkap itu.

Semuanya sama sekali tidak seperti yang direncanakan, karena perhitungannya tentang ayah dan kedua anak-anaknya itu meleset. Dan kini ia harus berhadapan dengan mereka seorang diri.

“Persetan,” orang itu menggeram di dalam hatinya, “ketiga pengawas itu sudah tidak berdaya. Anak ini kalau perlu harus dibinasakan lebih dahulu.”

Karena itu, maka orang berkumis itu kemudian berkata, “Siapa yang akan menghalangi aku? Aku akan mengambil orang yang terikat itu. Aku memerlukannya.”

“Apakah yang akan kau lakukan?”

“Itu urusanku.”

“Tetapi ia telah membuat suatu kesalahan yang besar. Dan adalah wajar sekali kalau dia diikat dan kemudian diserahkan kepada Ki Gede Pemanahan.”

Orang berkumis itu berpikir sejenak. Siapakah yang telah mengikat orang itu? Sudah pasti ada orang yang telah melakukannya. Apalagi pemimpin pengawas itu masih juga belum mati meskipun punggungnya telah terkena racun.

Dalam kebingungan itu terdengar suara Agung Sedayu, “Sudahlah. Jangan berbuat sesuatu yang dapat menjeratmu sendiri. Lebih baik kau menyerah. Kami tidak akan membunuhmu seperti apabila kau yang menguasai kami. Kami adalah orang-orang yang mengerti tentang keharusan mempergunakan saluran-saluran tertentu untuk menjatuhkan hukuman, meskipun kami dapat menguasai kau. Meskipun dengan sewenang-wenang kami dapat memperlakukan apa saja atasmu. Tetapi kami pun sadar, bahwa itu tidak akan dibenarkan oleh Ki Gede Pemanahan dan puteranya, Raden Sutawijaya, sehingga kami harus membawamu menghadap sesuai dengan keharusan yang berlaku.” Sambil terpaling kepada para pengawas yang sudah terluka ia bertanya, “Bukankah begitu?”

“Kalau ia menyerah,” sahut Wanakerti. “Tetapi ia sudah melakukan perlawanan dan melukai kami.”

“Meskipun demikian, kalau ia menyerah, ia akan mendapat kesempatan.”

“Tetapi kalau ia melawan, kami akan membunuhnya berramai-ramai. Bahkan kami akan mempergunakan tenaga orang-orang yang ada di sini untuk menangkapnya atau membunuhnya seperti rampokan macan di alun-alun.”

Orang berkumis itu menjadi tegang.

“Karena itu, menyerahlah selagi masih ada kesempatan. Kau tidak mempunyai kawan lagi yang dapat membantumu, sedang kami ini mempunyai banyak sekali tenaga yang dapat berbuat sesuatu atasmu.”

Sejenak orang itu masih berdiam diri. Namun tiba-tiba ia menggeram, “Ayo, siapa yang akan menangkap aku?” Bahkan kemudian ia berteriak, “Siapa? Siapa yang akan ikut campur di dalam perkelahian ini? Mari, mari.” Sejenak kemudian orang berkumis itu mengacukan pedangnya kepada orang-orang yang mengerumuni arena itu, “Mari, mari, siapa yang akan ikut mati di sini?”

Tetapi orang-orang yang berdiri di sekitarnya itu pun berdesakan mundur. Mereka adalah petani-petani miskin yang mempertaruhkan waktunya dengan suatu harapan, membuka tanah baru untuk keluarga mereka. Mereka sama sekali tidak ingin melakukan apa pun yang bersifat kekerasan, apalagi mempergunakan senjata. Mereka bukan orang-orang yang biasa berkelahi. Mereka hanya sekedar ingin membuka tanah pertanian baru.

“Ayo siapa?”

Tidak seorang pun yang berani tetap berdiri di tempatnya.

“Nah, lihat. Mereka adalah kelinci-kelinci yang ketakutan melihat taring serigala. Ayo, jangan terlampau lama. Kita selesaikan persoalan kita, kemudian aku akan menyelesaikan pemimpin pengawas yang dungu itu.”

Orang berkumis itu telah menjadi liar. Matanya menjadi merah dan nafasnya tersengal-sengal. Selangkah ia maju mendekati Wanakerti sambil berdesis, “Kaulah yang harus mati lebih dahulu.”

Agung Sedayu melihat suasana yang semakin berat bagi Wanakerti dan kawan-kawannya. Mereka pasti tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Luka-luka mereka pun perlu mendapat perawatan agar mereka tidak menjadi kehabisan darah.

“Kalau sudah terlampau lemah karena luka-luka itu,” berkata Agung Sedayu kepada Wanakerti, “beristirahatlah. Rawatlah luka-lukamu agar darahnya berhenti mengalir.”

Wanakerti mengerutkan keningnya. Tetapi ia harus mengakui bahwa tangannya memang sudah hampir tidak dapat bergerak lagi. Apalagi kawannya yang mengalami tekanan yang lebih berat, serta luka-lukanya pun lebih parah.

Tetapi apakah ia dapat melepaskan tugasnya begitu saja? Padahal ia tahu pasti bahwa orang itu cukup berbahaya, bahkan agaknya ia memang telah bersepakat untuk membunuh pemimpinnya.

“Aku harus menangkapnya,” Wanakerti menggeram, “atau aku harus beristirahat dan membiarkan ia membunuh aku, kawan-kawanku, serta pemimpin kami itu?”

“Aku akan mencoba mencegahnya,” desis Agung Sedayu.

Wanakerti memandang Agung Sedayu sejenak. Anak itu tampaknya memang tidak bergurau. Tetapi apakah ia mampu melawan orang berkumis itu seorang diri?

“He,” teriak orang berkumis, “jadi kaulah yang akan menggantikan ketiga pengawas ini, he? Kau memang terlampau sombong. Tiga orang bersenjata pedang tidak berhasil mengalahkan aku. Apa kau sangka karena adikmu yang gemuk itu mampu mengalahkan kedua cucurut itu, lalu kau pun dapat mengalahkan aku?”

“Soalnya bukan kalah atau menang. Tetapi kami yakin, bahwa kami akan dapat menghentikan segala macam perbuatanmu yang telah menggoncangkan daerah ini.”

“Persetan!” ia menggeram. “Kalian memang ingin mati.”

“Tentu tidak. Kami akan dapat berbuat banyak. Kalau aku tidak dapat menangkap kau sendiri, maka ketiga pengawas ini setelah beristirahat akan dapat membantuku. Juga adikku yang gemuk itu, dan mungkin satu dua orang di antara para penonton ini pun bersedia membantu meskipun hanya melempari kau dengan batu dari kejauhan.”

“Gila, gila! Ayo cepat mulai. Jangan banyak bicara lagi.”

Orang berkumis itu pun segera maju mendekati Agung Sedayu. Pedangnya yang tajam terayun-ayun mengerikan. Sedang matanya yang merah menjadi semakin merah.

“Kau harus mati. Mati!”

Agung Sedayu memang merasa bahwa ia harus berhati-hati. Ia tidak dapat bergurau melawan orang ini. Kecuali ia memang mempunyai ilmu yang cukup, orang itu pun telah dilambari dengan kemarahan yang memuncak. Sehingga dengan demikian, maka ia harus benar-benar berhati-hati menghadapinya.

Ketika orang itu melangkah semakin dekat. Agung Sedayu pun segera bersiaga. Orang-orang yang berdiri mengelilingi arena itu menjadi semakin tegang. Bahkan ada di antara mereka yang menjadi pening, hampir pingsan. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

Namun dengan demikian, mereka hari ini telah melupakan kerja mereka melanjutkan pembukaan hutan ini. Tetapi agaknya penyelesaian dari persoalan di arena ini akan menjadi landasan keadaan daerah ini untuk selanjutnya.

Orang-orang itu mengerutkan keningnya ketika mereka melihat, seperti Swandaru, Agung Sedayu pun telah mengurai sesuatu di lambungnya. Sebuah cambuk panjang, seperti senjata anak yang gemuk itu.

“Setiap gembala memang menyimpan cambuk,” desis Agung Sedayu. Lalu, “Memang cambuk ini mempunyai bermacam-macam guna.”

Orang berkumis itu tidak menyahut. Tetapi ia melangkah semakin dekat dan pedangnya kemudian mulai bergetar.

Agung Sedayu sadar, bahwa orang itu agaknya benar-benar sudah akan mulai. Karena itu, maka ia pun harus segera bersiap.

Sejenak kemudian, maka orang itu pun telah meloncat dengan pedang terjulur menyerang Agung Sedayu. Tetapi Agung Sedayu telah bersiap menghindarinya. Ia meloncat ke samping sambil mengibaskan cambuknya sendal pancing.

Terdengar cambuk itu meledak memekakkan telinga. Namun orang berkumis itu pun cukup tangkas. Ia berhasil menghindari dengan suatu loncatan yang cepat dan panjang.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia semakin menyadari, bahwa lawannya memang seorang yang memiliki ilmu yang cukup. Dengan demikian maka ia tidak boleh lengah. Ia belum tahu pasti, sampai berapa jauh lawannya memiliki kemampuan.

Sejenak Agung Sedayu memandang wajah gurunya. Dan wajah itu pun tampaknya menjadi tegang pula karenanya.

Orang berkumis itu pun kemudian telah bersiap pula untuk menyerang. Tetapi seperti Agung Sedayu, ia menyadari bahwa lawannya kali ini meskipun hanya seorang, tetapi lebih berbahaya dari ketiga pengawas yang hampir saja dikalahkannya itu. Apalagi senjatanya yang lentur itu tampaknya memang sangat berbahaya baginya. Dengan senjata semacam itu pula, anak muda yang gemuk itu berhasil merebut senjata lawannya.

Sejenak kemudian maka keduanya pun segera terlibat dalam perkelahian yang semakin lama semakin seru. Setiap kali terdengar ledakan cambuk Agung Sedayu di antara kilatan daun pedang lawannya yang memantulkan cahaya matahari, yang semakin terik pula.

Orang yang menyaksikan perkelahian itu pun menjadi semakin tegang. Mereka seakan-akan telah membeku di tempatnya. Mata mereka hampir tidak berkedip sama sekali. Kedua orang yang berkelahi itu mempunyai kemampuan yang luar biasa. Masing-masing menguasai senjata yang ada di tangannya.

Pedang orang berkumis itu berputaran seperti baling-baling melindungi dirinya. Sekali-sekali pedang itu mematuk seperti seekor ular menyelinap di antara ujung cambuk lawannya. Sejenak kemudian pedang itu menyambar dengan derasnya, mendatar setinggi bahu.

Orang berkumis itu memang benar-benar cekatan. Apalagi dilandasi oleh kemarahan yang memuncak, sehingga seolah-olah ia mendapat tambahan kekuatan untuk mengayunkan pedangnya.

Namun cambuk Agung Sedayu mampu mengimbangi kelincahan ujung pedang itu. Cambuknya berputaran meledak-ledak. Bahkan sekali-sekali Agung Sedayu berhasil menyentuh lawannya meskipun tidak meninggalkan bekas. Namun sentuhan-sentuhan itu semakin lama menjadi semakin sering. Bahkan semakin keras. Apalagi setelah Agung Sedayu berhasil menyesuaikan dirinya dengan tata gerak lawannya.

Maka sejenak kemudian perkelahian itu pun menjadi semakin cepat. Orang berkumis itu segera menyadari, bahwa lawannya bukanlah seorang anak gembala yang sekedar mampu menyombongkan diri.

Tetapi lebih daripada itu, maka orang berkumis itu pun menyadari pula, bahwa kedatangan ayah dan kedua anaknya itu bukanlah sekedar tanpa maksud. Kalau mereka benar-benar sekedar ingin membuka tanah garapan yang baru, maka mereka tidak akan berbuat sampai sedemikian jauh.

Namun pendapat itu ternyata justru telah membuatnya semakin gelisah. Sehingga akhirnya tidak ada kesimpulan lain kecuali membinasakan semuanya, selagi hal ini masih belum didengar oleh lingkungan yang lebih tinggi lagi. Ia akan dapat membuat ceritera apa pun untuk mengelabuhi atasannya. Sedangkan orang-orang lain yang menyaksikan perkelahian itu, akan dapat dibungkamnya dengan menakut-nakuti dan mengancam mereka. Mereka pasti akan menjadi semakin ketakutan apabila kepada mereka diyakinkan bahwa apa yang telah terjadi, telah membuat hantu-hantu Alas Mentaok menjadi semakin marah. Mereka masih belum kehilangan kepercayaan mereka terhadap hantu.

Dengan demikian maka orang berkumis itu pun kemudian berkelahi semakin garang. Pedangnya berputar-putar dan menyambar-nyambar dengan cepatnya.

Namun lawannya pun dapat berbuat lebih cepat pula. Pedang itu sama sekali tidak berhasil menyentuh tubuh Agung Sedayu sama sekali.

Swandaru menyaksikan perkelahian itu dengan tegangnya. Namun Kiai Gringsing kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ia yakin bahwa Agung Sedayu akan dapat mempertahankan dirinya kalau ia tidak membuat kesalahan.

Sementara itu, pemimpin pengawas yang terluka di punggungnya masih juga meletakkan ujung pedangnya di tubuh tawanannya. Bahkan kemudian seperti acuh tak acuh dibiarkan ujung pedang itu menyentuh-nyentuh lehernya.

Dukun yang terikat itu mengumpat-umpat di dalam hati. Apalagi ketika ia melihat pemimpin pengawas itu kini sama sekali tidak memegangi hulu pedangnya. Diletakkannya saja hulu pedang itu di pangkuannya, sedang ujungnya terasa menyentuh-nyentuh kulit lehernya.

Tetapi akhirnya orang yang terikat itu tidak dapat membiarkan ujung pedang itu semakin menekan lehernya sehingga sambil beringsut ia berkata, “Ujung pedang itu menyakiti leherku. Kalau kau bergerak tanpa kau sadari, ujungnya dapat menembus tenggorokan.”

“O, maaf. Tetapi aku tidak sempat memegangi tangkainya. Tanganku masih terlampau lemah karena luka di punggung. Agaknya luka di leher memang lebih berbahaya dari luka di punggung. Tetapi apa boleh buat. Kalau kau tidak melukai punggungku, maka aku akan dapat menggenggam tangkai pedangku itu. Tetapi sekarang aku merasa sangat malas. Kalau terpaksa ujungnya perlahan-lahan masuk ke lehermu, itu namanya suatu kecelakaan. Maaf.”

“Anak setan!” orang itu mengumpat. Tetapi mulutnya segera terkatup ketika pemimpin pengawas itu justru menekankan ujung pedangnya sambil bertanya, “Apa? Apa katamu?”

Tawanannya hanya diam saja.

“Ayo, ulangi.”

Dukun yang terikat itu menggeleng sambil menyeringai.

“Kalau sekali lagi kau mengumpat, aku gores lehermu dengan ujung pedang ini.”

Sekali lagi dukun itu menggelengkan kepalanya.

Dalam pada itu perkelahian di arena menjadi semakin sengit. Namun ternyata, ujung cambuk Agung Sedayu semakin banyak membuat jalur-jalur mereka di kulit lawannya, sehingga pada suatu saat, darah telah menitik dari luka-lukanya.

Orang berkumis itu menggeram. Ia tidak akan dapat membiarkan dirinya menjadi tawanan. Ia tidak mau di tangkap oleh siapa pun juga. Kini ia harus menghadapi suatu kenyataan, bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan anak muda itu. Apalagi apabila adiknya yang gemuk, yang sudah mendapat kesempatan beristirahat, bersama-sama dengan para pengawas yang lain akan bertindak.

Tetapi ia tidak mendapatkan cara untuk melepaskan diri. Ketika ia mencoba memandang orang-orang yang berdiri di paling depan dari lingkaran perkelahian itu, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Ia melihat anak muda yang gemuk itu masih menggenggam cambuknya, kemudian ketiga pengawas yang berpencar. Agaknya mereka telah berhasil memampatkan darah dari luka-luka mereka. Dan orang berkumis itu sama sekali tidak mengetahuinya, bahwa gembala tua itulah yang telah membagikan obat untuk mereka.

Orang berkumis itu kini benar-benar merasa terkepung. Meskipun ia tidak dapat dikalahkan oleh ketiga pengawas itu, namun di pinggir arena itu berdiri ketiganya dan anak yang gemuk itu, ditambah lawannya yang masih segar di arena dengan cambuk di tangan.

Tetapi ia tidak boleh menyerah. Apa pun yang akan terjadi atasnya, bahkan mati pun akan lebih baik daripada ia dapat ditangkap dan diperas segala macam keterangan yang diketahuinya.

“Persetan dukun itu!” ia menggeram di dalam hatinya. “Ia tidak akan membuka mulutnya kalau ia benar-benar seorang jantan. Ia harus mati pula seandainya aku mati di arena ini.”

Namun orang berkumis itu masih mempunyai harapan betapapun tipisnya. Seperti dugaan Kiai Gringsing, pedang itu memang bukan satu-satunya senjatanya.

Kiai Gringsing yang ada di pinggir arena itu pun menjadi semakin waspada. Semakin terdesak lawan Agung Sedayu, Kiai Gringsing pun semakin tajam mengamati gerak orang berkumis itu. Dalam keadaan yang terjepit dan putus asa ia akan dapat melakukan sesuatu yang sangat berbahaya bagi Agung Sedayu.

Demikiankah, maka kemudian ternyata dugaan Kiai Gringsing itu tidak salah. Setelah orang berkumis itu benar-benar merasa tidak dapat bertahan lagi, maka sampailah ia kepada puncak kemampuan yang ada padanya. Oleh keputus-asaan yang tidak terhindarkan lagi, maka ia bertekad untuk berbuat apa saja yang dapat dilakukan.

“Aku tidak mau mati sendiri. Biarlah kita mati bersama,” katanya di dalam hati. “Apabila di dalam puncak perkelahian ini beberapa orang di luar arena menjadi korban, itu sama sekali bukan salahku.”

Sesaat kemudian terasa oleh Agung Sedayu, orang berkumis itu mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Dengan sisa tenaganya, ia menyerang Agung Sedayu dengan garangnya. Namun seperti serangan-serangannya yang lampau, maka ia sama sekali tidak berhasil mengenai lawan-nya, meskipun di dalam keadaan terakhir Agung Sedayu pun telah menjadi basah oleh keringatnya. Bahkan nafasnya pun menjadi semakin cepat mengalir. Ia telah memeras tenaganya untuk selalu menghindari serangan-serangan lawannya yang berbahaya dan menahan serangan-serangan itu dengan lecutan-lecutan cambuk yang memekakkan telinga. Namun dengan demikian, ia sudah mengerahkan sebagian besar tenaganya.

Dalam keadaan yang demikian itulah, ia harus semakin berhati-hati, karena seperti peringatan yang diberikan oleh gurunya, bahwa pedang itu bukan satu-satunya senjata lawannya.

Kiai Gringsing pun tanpa sesadarnya melangkah maju. Ia melihat pandangan yang aneh memancar di mata orang berkumis itu.

Sejenak kemudian, sekali lagi orang itu menyerang Agung Sedayu dengan sisa tenaganya. Namun ketika cambuk Agung Sedayu meledak dan mengenai pundaknya ia terloncat mundur.

Tetapi pada saat ia berputar menjauhi lawannya, Kiai Gringsing melihat bagaimana ia menarik sebuah bumbung kecil dari kantong ikat pinggangnya. Kemudian dicabutnya tutup bumbung kecil itu. Ketika ia menghadap Agung Sedayu, maka dengan tangan kiri ia sudah siap menyerang Agung Sedayu dengan bumbung itu.

Agung Sedayu melihat juga bumbung kecil itu. Tetapi ia tidak segera mengerti, bagaimanakah cara lawannya menyerang dengan senjatanya yang aneh. Semula ia mengira bahwa bumbung itu akan dilemparkannya dengan kekuatan yang melampaui kekuatan manusia sewajarnya, didukung oleh tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya. Karena itu, ia pun segera bersiap untuk menghindarinya. Karena ia tidak dapat menduga betapa besar tenaga itu, maka yang paling baik adalah menghindari benturan dengan cara apa pun, karena ia sendiri masih belum berhasil sepenuhnya mengungkat tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya untuk dibangunkan setiap saat, dan dalam waktu yang hanya sekejap.

Sejenak kemudian ia melihat mata orang berkumis itu menjadi liar. Diedarkannya tatapan matanya ke sekelilingnya. Namun kemudian ia menggeram, “Kalian semua akan mati. Kalian semua yang berdiri di hadapanku. Kemudian akan datang giliran orang-orang lain yang ada di seputar arena ini.”

Kata-kata dalam nada yang dalam itu telah mendirikan segenap bulu-bulu di tubuh orang-orang yang mendengarnya. Apalagi apabila terlihat oleh mereka, mata orang berkumis yang menjadi merah dan liar itu.

Sejenak ia masih mengacu-acukan bumbung itu. Katanya, “Jangan menyesal. Serbuk beracun ini akan membunuh kalian. Aku akan menaburkannya. Setiap butir, akan membunuh seorang dari antara kalian.”

Ancaman itu benar-benar sangat mengerikan. Bahkan Agung Sedayu pun tertegun sejenak. Tetapi akhirnya ia sadar, bahwa orang itu tidak hanya sekedar menakut-nakuti, karena orang-orang di dalam lingkungan mereka adalah orang-orang yang selalu bermain-main dengan racun. Karena itu ia pun segera mengerti, bahwa bumbung itu memang berisi serbuk racun yang keras sekali.

Sebentar lagi orang itu pasti akan mengibaskan bumbung itu, sehingga isinya akan menghambur keluar, berpencar mengenai orang-orang yang ada di bagian depannya. Agaknya ia masih belum akan puas. Ia akan berputar dengan bumbung yang lain dan mengibaskannya pula, sehingga orang-orang yang terkena kemudian akan mati.

“Gila,” desis Agung Sedayu, “jangan bermain-main dengan racun.”

Orang itu menatap Agung Sedayu sejenak, namun kemudian ia tertawa terbahak-bahak, “Nah, ternyata kau pun menjadi ketakutan mendengar ancaman ini. Tetapi apa boleh buat. Kau memang harus mati. Kalau ada orang lain yang akan mati pula, itu adalah nasib mereka. Nasib mereka lah yang memang kurang baik pada hari ini.”

Agung Sedayu memandang bumbung itu dengan wajah yang tegang. Jarak yang memisahkan mereka cukup panjang, karena orang berkumis itu meloncat beberapa langkah surut.

“Kalau kau mendekat, maka itu akan berarti mempercepat kematianmu bersama dengan orang-orang di sekitarmu,” berkata orang itu lantang.

“Itu tidak adil,” sahut Agung Sedayu, “hanya akulah yang bertempur melawan kau. Kau tidak seharusnya membunuh orang lain kecuali aku.”

“Aku sudah bertempur melawan tiga cucurut itu. Mereka pun harus mati. Kemudian anak muda yang gemuk itu, kau, ayahmu, pemimpin pengawas yang dungu itu dan orang-orang yang berdiri di sekitar arena ini, yang melihat kecurangan dan pengkhianatan kalian tetapi tidak mau berbuat apa-apa. Itu pun merupakan suatu kesalahan yang tidak dapat dimaafkan.”

Agung Sedayu tidak menyahut. Dipandanginya saja bumbung di tangan kiri orang berkumis itu, sedang di tangan kanan masih tetap tergenggam pedangnya.

“Isi bumbung itulah agaknya yang berbahaya,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Tetapi ia masih belum dapat menebak dengan pasti, apakah isi itu. Namun yang pasti, senjata itu mengandung racun. Serbuk racun apa pun wujudnya. Serbuk besi, baja, batu atau tulang?

Karena itu, maka ia harus berhati-hati. Ia sudah menerima obat pemunah racun dari gurunya. Tetapi kalau serbuk racun itu mengenai seluruh atau sebagian besar tubuhnya, apakah ia sempat melumurkan obat itu? Dan apakah obat yang ditelannya sudah cukup kuat untuk menahan racun yang keras dan tajam, yang tersimpan di dalam serbuk itu? Bahkan seandainya mungkin, untuk beberapa saat ia akan kehilangan kesempatan untuk melawan. Demikian juga orang-orang lain.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Ujung cambuknya tidak dapat mencapai jarak antara dirinya dan orang berkumis itu.

Dalam ketegangan itu ia mendengar orang berkumis itu tertawa, “Jangan menjadi pucat. Apakah kau ketakutan?”

Agung Sedayu menggeram. Ketika ia memandang gurunya dan Swandaru, mereka pun berdiri pada jarak yang tidak tercapai oleh juntai cambuk mereka.

“Ha, kau akan minta tolong kepada adikmu yang gemuk itu?” desis orang berkumis itu, “Jangan coba-coba. Setiap gerak dari siapa pun juga akan berakibat gawat. Aku masih memberi kau kesempatan mengucapkan pesan terakhir sebelum aku mengibaskan bumbung ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dilihatnya bumbung di tangan kiri orang berkumis itu.

“Cepat!” bentaknya, “Kalau kau tidak mau berbicara, aku akan segera membunuhmu.”

Perlahan-lahan orang berkumis itu mengangkat bumbungnya tinggi-tinggi.

Dada Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Tiba-tiba saja ia menjadi gelisah. Sekali-sekali ditatapnya wajah gurunya, kemudian wajah adiknya yang gemuk. Diremasnya tangkai dan ujung cambuknya dan bahkan kemudian diacukannya cambuknya itu sambil berkata, “Tunggu. Tunggu sebentar.”

“Apa yang harus aku tunggu?” bertanya orang berkumis itu.

“Jangan kau taburkan serbukmu itu dengan cara yang sama sekali tidak berperikemanusiaan,” berkata Agung Sedayu. “Kau akan membunuh banyak orang di belakangku.”

“Sudah aku katakan. Nasib merekalah yang jelek.”

“Kalau kau tidak menghendaki aku pergi, biarlah mereka yang pergi.”

“Jangan banyak bicara. Aku sudah cukup memberi kesempatan kepadamu. Sekarang katakan pesanmu.”

“Tunggu, tunggu,” Agung Sedayu tiba-tiba saja menjadi tergagap. Sambil mengacu-acukan cambuknya ia berkata, “aku masih akan berbicara. Tidak tentang diriku sendiri. Tetapi tentang orang-orang ini.”

“Bicaralah tentang dirimu sendiri.”

“Tunggu,” tangan Agung Sedayu menjadi gemetar, dan tiba-tiba saja cambuknya terjatuh. Dengan serta-merta ia memungut cambuknya sambil berkata tergagap, “aku minta waktu sebentar.”

Orang berkumis itu tiba-tiba tertawa menyentak. Ia senang sekali melihat Agung Sedayu yang kebingungan, namun kemudian ia berkata, “Sudah cukup. Aku sudah muak melihat kau, meskipun sebenarnya aku senang sekali melihat kau ketakutan.”

“Belum, belum cukup. Kau harus memberi kesempatan orang-orang lain ini pergi. Taburan serbukmu akan membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Apakah kau tidak dapat mengambil cara lain, misalnya dengan mengumpulkan kami, orang-orang yang akan kau bunuh dan mengusir orang-orang yang tidak berkepentingan?”

Orang berkumis itu berpikir sejenak. Ketika seseorang di pinggir arena bergerak, ia membentak, “Diam di tempatmu! Atau kau dahulu yang mati.”

“Tetapi, tetapi ……..,” minta orang itu, “kami tidak ikut apa-apa di dalam persoalan ini. Kami hanya sekedar melihat.”

“Ya, kami tidak bersalah,” teriak yang lain.

“Biarkan kami pergi. Kami tidak akan mencampuri persoalan kalian.”

“Ya, kami tidak. Kami tidak.”

Dan tiba-tiba orang berkumis itu membentak, “Diam. Diam! Kalian sama sekali tidak membantuku selagi aku dalam kesulitan. Sekarang kalian mengemis belas kasihanku. Gila! Itu adalah pikiran gila. Matilah kalian bersama anak muda yang sombong ini, yang merasa dirinya tidak terkalahkan. Sambil menunggu saat matimu, berdoalah agar kau tidak terjerumus ke dalam neraka.”

“Ampunkan kami, ampunkan kami,” minta orang-orang yang berada di pinggir arena. Tanpa mereka sadari mereka pun mulai berdesak-desakan mencari perlindungan yang satu pada yang lain, sehingga mereka pun justru dorong-mendorong di antara mereka.

“Menyenangkan sekali. Pemandangan yang paling menarik yang pernah aku lihat. Seorang anak muda perkasa yang ketakutan menghadapi maut, dan sekelompok tikus-tikus yang ketakutan pula, saling berdesakan.”

Namun kini Agung Sedayu sudah tidak menjadi gelisah lagi. Bahkan kemudian ia maju selangkah sambil berkata, “Baiklah. Kalau kau sudah tidak mau mendengarkan aku lagi.”

Orang berkumis itu mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia membentak, “Gila! Kau menantang?”

“Bukan maksudku, tetapi kau sudah tidak mau mendengar lagi. Apa boleh buat.”

Orang itu menjadi tegang. Dipandanginya Agung Sedayu sejenak. Kemudian ia menggeram, “Bagus! Aku memang harus cepat-cepat membunuhmu.”

Orang itu pun maju selangkah pula. Ia mengangkat tabung serbuknya semakin tinggi, sedang matanya menjadi semakin merah dan liar oleh nafsunya yang membakar dadanya. Nafsu membunuh dan membinasakan lawannya.

Orang-orang yang berdiri di belakang Agung Sedayu tidak menghiraukan apa pun lagi. Tiba-tiba mereka berlarian tidak menentu, saling melanggar dan berdesakan menjauhi arena. Beberapa orang terjatuh dan terinjak oleh kawan-kawan mereka.

Pada saat itulah orang yang berkumis itu siap untuk mengibaskan tabung serbuknya. Ia mengangkat bumbungnya semakin tinggi dan siap mengayunkannya ke arah Agung Sedayu.

Ternyata bukan saja orang-orang yang berada di belakang Agung Sedayu, tetapi hampir semua orang di sekeliling arena itu menjadi ketakutan. Mereka merasa bahwa orang berkumis itu akan membunuh mereka semua dengan serbuk mautnya. Karena itu, hampir semua orang berlari-larian berpencaran tanpa tujuan, asal menjauhi lingkaran yang mengerikan itu.

Orang-orang yang hatinya sekecil menir, bahkan tidak sempat lagi melarikan diri. Mereka terduduk di tanah dengan tubuh gemetar.

Yang masih tetap berdiri tegak di tempatnya adalah Agung Sedayu, Swandaru dan Kiai Gringsing. Selain mereka adalah ketiga pengawas yang terluka yang berdiri berpencaran.

Sejenak kemudian, di dalam kekacauan yang kisruh, orang-orang yang berlari-larian itu masih mendengar suara jerit melengking tinggi. Beberapa orang mencoba menutup telinga mereka, sambil berlari semakin kencang. Mereka membayangkan bahwa anak muda yang bersenjata cambuk itu pun kemudian tergolek di tanah dengan tubuh yang hangus kebiru-biruan.

Ketiga pengawas yang berdiri tegang di pinggir lingkaran perkelahian itu pun terkejut bukan kepalang. Ternyata mereka, masih sempat melihat orang berkumis itu siap mengayunkan bumbungnya. Namun tiba-tiba sesuatu telah membentur bumbung itu, sehingga justru serbuk yang ada di dalamnya tertumpah mengenai tubuhnya sendiri.

Suara jerit yang melengking itu adalah suara orang berkumis itu sendiri.

Agung Sedayu masih tetap berdiri di tempatnya. Namun wajahnya menjadi tegang dan bahkan seolah-olah ia membeku di tempatnya.

“Kau berhasil, Agung Sedayu,” desis Kiai Gringsing yang masih menggenggam sebuah bumbung kecil pula meskipun bumbung ini berisi obat-obat yang berharga, “hampir saja aku melemparkannya untuk membentur bumbung orang berkumis itu. Tetapi agaknya kau sendiri telah dapat mengenainya.”

Swandaru pun mendekatinya sambil berkata, “Aku akan melemparkan cambukku. Aku tidak dapat berpikir lagi.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Dari mana kau mendapat batu yang kau lontarkan tepat mengenai bumbung itu?” bertanya Swandaru.

Agung Sedayu masih mencoba menenangkan jantungnya yang bergolak.

Ketiga pengawas yang masih berdiri di seputar arena maut itu pun mendekati Agung Sedayu pula. Seperti Swandaru, mereka pun bertanya, “Darimana kau mendapatkan batu itu?”

“Cambukku telah terjatuh,” jawab Agung Sedayu, “ketika aku memungutnya, aku menggenggam sebutir batu.”

“Tetapi kau luar biasa. Kau dapat membidik dengan tepat bumbung di tangan orang berkumis itu.”

“Ya,” Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jangankan bumbung sebesar itu,” sahut Swandaru dengan bangga, seolah ia sendirilah yang telah berhasil, “sedang telur burung pipit di pucuk pohon cemara pun dapat dikenainya.”

Ketiga pengawas itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Luar biasa,” desis Wanakerti, “kami sudah menyangka, bahwa kita akan mati bersama-sama.”

Agung Sedayu tidak menyahut. Perlahan-lahan ia maju mendekati orang berkumis yang terbaring di tanah. Tubuhnya menjadi merah biru seperti terbakar.

“Apakah Guru tidak dapat berbuat apa-apa atasnya?” bertanya Agung Sedayu.

Kiai Gringsing mendekati orang itu. Tetapi ia berusaha untuk tidak menyentuh racun yang justru berhamburan di sekitar tubuh itu.

“Racun itu keras sekali. Karena itu jangan terlampau dekat,” berkata Kiai Gringsing. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia berkata, “Agaknya aku tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi atasnya. Racun itu sudah mengenai mata dan masuk ke dalam jalur pernafasan, karena serbuk itu menghambur mengenai wajahnya.”

“Jadi kita biarkan orang itu mati?”

“Orang itu sudah mati,” jawab Kiai Gringsing.

“O,” Agung Sedayu menundukkan kepalanya, “mengerikan sekali.”

“Ya,” berkata gurunya. “Kalau serbuk itu mengenaimu dan orang-orang lain, akibatnya akan seperti itu juga. Kau tidak akan sempat menahan racun itu dengan obat pemunah macam apa pun.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Racun yang berhamburan di sekitar orang itu pun cukup berbahaya. Karena itu, harus diusahakan untuk menguranginya.”

“Apa yang akan Guru lakukan?”

“Aku akan mencoba mencairkan racun pemunahnya, meskipun hanya sekedar mengurangi ketajaman racun ini. Racun pemunah itu kita cairkan, kemudian kita siramkan ke sekeliling tempat itu. Kita akan menunggu sampai besok. Kalau pemunah itu berhasil, kita akan dapat mengambil mayat itu dan menguburkannya.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia benar-benar telah berhadapan dengan sejenis racun yang tajam sekali. Apalagi apabila racun itu langsung masuk ke dalam jalur pernafasan.

“Untunglah, bahwa aku masih mendapat perlindungan dari Yang Maha Kuasa,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. “Tiba-tiba saja terbersit akal untuk memungut batu. Kalau tidak, maka aku akan hangus seperti orang itu pula.”

“Sudahlah,” berkata Kiai Gringsing, “kita masih harus mencoba membersihkan tempat ini dari racun itu.” Lalu katanya kepada para pengawas, “Kalau kalian masih mempunyai kekuatan, silahkan kembali ke gardu pengawas. Nanti aku akan mengobati luka-luka itu. Aku dan anak-anakku akan mengurusi tempat ini supaya tidak berbahaya bagi orang lewat.”

Ketiga pengawas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi Wanakerti berkata, “Tetapi bagaimana dengan pemimpin kami itu?”

Kiai Gringsing pun kemudian berpaling. Dilihatnya pemimpin pengawas itu masih duduk saja di tempatnya.

Meskipun demikian pemimpin pengawas itu menjadi tegang pula. Ia tidak segera tahu apa yang terjadi di arena. Namun ketika ia melihat orang tua dan kedua anaknya, ketiga pengawas bawahannya masih berdiri tegak, ia pun menarik nafas dalam-dalam.

“Kita harus membawanya ke gardu pengawas,” berkata Wanakerti.

“Ya. Tetapi bagaimana? Kita sendiri hampir tidak dapat membawa tubuh kita masing-masing. Apalagi membawa seseorang,” jawab kawannya.

Mereka saling berpandangan sejenak. Tetapi mereka tidak segera menemukan jawaban.

“Bagaimana dengan tawanan yang terikat itu?” bertanya Swandaru. “Apakah mungkin ia menolong?”

“Tetapi ia terikat,” sahut Wanakerti.

“Lepaskan ikatannya sementara ia harus membantu pemimpin pengawas itu berjalan. Kalian bertiga dapat mengawasi di belakangnya. Supaya ia tidak mungkin lari lagi, siapkan pedang kalian di punggungnya. Meskipun kalian sudah lemah, tetapi kalian pasti masih dapat menguasainya. Apalagi kalian bertiga.”

Ketiga pengawas itu saling berpandangan sejenak. Akhirnya mereka mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah kita coba,” berkata Wanakerti, “mungkin kita masih dapat menguasainya. Nanti, di gardu pengawas orang itu akan segera kita ikat lagi.”

Demikianlah, maka ketiga pengawas itu diikuti oleh Kiai Gringsing bersama kedua muridnya mendekati pemimpin pengawas yang terluka. Mereka memberitahukan maksud mereka kepada keduanya, kepada pemimpin pengawas itu dan kepada tawanan mereka.

“Aku tidak mau,” geram tawanan itu.

“Coba ucapkan sekali lagi,” desis Swandaru sambil mengangkat cambuknya. “Ayo ulangi.”

Tawanan itu memandang Swandaru dengan sorot mata yang memancarkan kemarahan. Tetapi ia tidak mengulanginya, ia sadar bahwa ujung cambuk itu akan dapat menyobek bukan saja pakaiannya, tetapi juga kulitnya.

“Nah, lepaskan talinya,” berkata Swandaru kemudian kepada ketiga pengawas yang sudah berjongkok di samping pemimpinnya.

“Kalian terluka?” bertanya pemimpin itu.

“Ya,” sahut Wanakerti, “ia jauh lebih parah daripadaku. Untunglah bahwa Ki Sanak itu dapat memberi obat pemampat darah, sehingga kami tidak kehabisan tenaga karenanya.”

“Omong kosong,” tawanan itulah yang menyahut, “tidak ada orang yang dapat memampatkan darah dan mengobati luka-luka selain aku. Apalagi luka-luka beracun.”

“Jangan mengigau,” jawab pemimpin pengawas itu, “kau lihat bahwa aku tidak mati karena racunmu, meskipun aku menjadi sangat lemah saat ini?”

Dukun yang telah menjadi tawanan itu mengerutkan keningnya. Ia memang menjadi heran, kenapa pemimpin pengawas itu tidak mati.

“Nah, apa katamu sekarang? Apakah kau masih tetap tidak mau mematuhi perintahku?” bertanya pemimpin pengawas itu.

“Katakanlah, apakah kau tidak mau menolongnya?” bertanya Agung Sedayu pula.

Orang itu menjadi termangu-mangu. Tetapi setiap kali ia melihat ujung cambuk yang berjuntai menyentuh kakinya, kemudian ujung-ujung pedang yang berkilat-kilat, hatinya menjadi susut.

“Jawablah,” desak Swandaru.

“Tetapi ……..”

“Jawablah,” sekali lagi Swandaru mendesaknya sambil memutar cambuknya.

“Ya, ya. Aku akan menolongnya.”

“Terima kasih,” berkata Kiai Gringsing kemudian. “Lepaskan talinya.”

“Tetapi hati-hatilah,” berkata Swandaru, “jangan biarkan orang itu lari. Ia sangat penting bagi kita.”

“Ya. Kami akan menjaganya sebaik-baiknya. Meskipun aku terluka, tetapi tenagaku serasa masih cukup kuat untuk menghunjamkan ujung pedang.”

Demikianlah, maka dukun itu pun kemudian dibebaskan dari ikatannya. Setelah ia berdiri tegak, maka di bawah ancaman pedang, ia menolong pemimpin pengawas yang terluka itu.

“Bawa pedangku,” berkata pemimpin pengawas itu kepada Wanakerti.

Wanakerti menerima pedang itu sambil bertanya, “Kenapa tidak disarungkan saja?”

“Berbahaya. Orang ini dapat menyalahgunakan senjata itu,” jawabnya. Namun tidak setahu siapa pun, ia membawa pisau beracun yang diambilnya di medan dan diselusupkannya di dalam sarung pedangnya. Meskipun sarung itu terlampau longgar, namun tangkai pisau belati itu tidak dapat masuk seluruhnya ke dalam.

Tertatih-tatih mereka pun kemudian berjalan menuju ke gardu pengawas. Tawanan itu telah memapah pemimpin pengawas yang masih lemah. Sedang ketiga pengawas yang lain, betapapun lemahnya namun mereka masih harus mengikuti dukun yang memapah pemimpin mereka dan langsung mengawasi dengan saksama.

Sementara itu Kiai Gringsing bersama kedua anaknya telah sibuk mencari upih atau dedaunan yang cukup lebar untuk menampung air. Mereka harus mencairkan sejenis racun yang ada pada Kiai Gringsing untuk memunahkan racun yang tersebar di sekitar mayat orang berkumis itu.

Akhirnya mereka mendapatkan daun lumbu yang besar, yang dapat mereka pergunakan seperlunya.

Dalam daun lumbu itulah mereka mencairkan racun pemunah itu. Kedua murid Kiai Gringsing itu masing-masing memegang selembar daun lumbu yang besar. Kemudian setelah ditaburi racun yang dilarutkan ke dalam air, maka cairan itu pun dipercikkan kepada mayat orang berkumis itu dan sekitarnya.

“Jangan mendekat,” Kiai Gringsing memperingatkan kedua muridnya.

Sejenak, kemudian ketiganya berdiri saja mengawasi apa yang terjadi. Mereka tidak melihat apa pun juga selain gelembung-gelembung kecil di kulit orang berkumis yang sudah tidak bernyawa lagi itu. Gelembung-gelembung yang hanya sesaat, kemudian pecah dan mengeluarkan asap yang tipis.

Agung Sedayu dan Swandaru berdiri membeku di tempatnya. Meskipun mereka belum memahami betapa kerja berjenis-jenis racun, tetapi yang mereka lihat itu telah mendirikan bulu roma mereka.

Bukan saja di tubuh orang berkumis itu, tetapi juga di atas pasir dan tanah di sekitarnya. Tetapi tidak sejelas yang mereka lihat pada tubuh mayat yang masih terbujur itu.

“Tidak ada kesempatan untuk menolong orang yang terkena serbuk racun itu. Apalagi apabila sudah masuk ke dalam arus pernafasan. Racun itu adalah reramuan dari jenis racun ular dan racun tumbuh-tumbuhan yang dapat melukai kulit,” berkata Kiai Gringsing.

“Tetapi bagaimana dengan obat pemunah itu?” bertanya Agung Sedayu.

Kiai Gringsing menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak dapat banyak menolong seandainya racun itu belum membunuhnya sekalipun. Aku hanya dapat memperlunak dan mempercepat hilangnya daya perusak dari racun itu atas jaringan-jaringan tubuh manusia, bahkan binatang yang kebal akan racun ular sekalipun.”

Kedua muridnya hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita tidak dapat berbuat apa-apa atas mayat itu hari ini. Kita terpaksa meninggalkannya di sini.”

“Bagaimana dengan binatang buas, Guru?” bertanya Swandaru.

Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Terdengar ia kemudian menjawab, “Binatang buas yang berani menjamah mayat itu akan terkena racun pula. Harimau adalah binatang yang termasuk tahan terhadap racun. Tetapi kalau ia menjilatnya hari ini, ia pasti akan mati.”

“Hanya hari ini?”

“Mudah-mudahan racun itu akan segera menjadi lemah dan kehilangan kemampuannya yang mengerikan.”

“Jadi, apakah kita tidak dapat berbuat apa-apa?” bertanya Agung Sedayu.

Gurunya menggelengkan kepalanya, “Apa boleh buat. Kita tidak dapat mengatasi persoalannya.”

Kedua muridnya itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka pula. Tetapi mereka hanya dapat berdiri tegak memandangi mayat yang terbujur di tanah. Kulitnya benar-benar menjadi seperti hangus. Apalagi di tempat-tempat yang langsung tersentuh oleh serbuk racun yang dahsyat itu.

“Kenapa ia sendiri tidak mempergunakan pemunah atau obat yang membuat mereka sendiri kebal akan racun?” bertanya Swandaru tiba-tiba.

“Memang seseorang dapat membekali dirinya dengan semacam obat yang dapat membuatnya kebal terhadap racun. Tetapi itu pun sangat terbatas. Hanya orang-orang yang benar-benar ahli dan menguasai persoalan segala jenis racun sajalah yang dapat melakukannya. Seseorang yang berusaha untuk mengebalkan dirinya terhadap racun-racun tertentu, harus meracuni dirinya lebih dahulu. Itulah yang sulit. Kalau takarannya tidak tepat, maka orang itu telah membunuh dirinya sendiri. Tetapi kalau ia berhasil, maka ia akan dapat menjadi kebal untuk bertahun-tahun lamanya.

Kedua muridnya hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku pernah mempelajarinya,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “tetapi belum sempurna sekali, sehingga aku masih ragu-ragu untuk mencobanya. Kalau aku pada suatu saat tidak lagi melakukan pengembaraan dan petualangan serupa ini, mungkin aku akan berhasil setelah melakukan percobaan-percobaan atas berjenis-jenis binatang termasuk ular, dan tumbuh-tumbuhan.”

“Kapan hal itu akan Guru lakukan?” bertanya Swandaru.

“Pertanyaan aneh,” sahut gurunya, “aku tidak tahu.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dan gurunya masih berkata terus, “Tergantung kepada keadaanku, keadaan di sekitarku dan keadaan kalian berdua.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling ke arah Agung Sedayu, maka dilihatnya anak muda itu justru menundukkan kepalanya.

Swandaru pun tidak bertanya lagi. Kini ia kembali merenungi mayat yang hangus itu.

Sementara itu, para pengawas berjalan tertatih-tatih menuju ke gardu mereka. Dukun yang menjadi tawanan mereka itu pun dengan tanpa dapat berbuat apa-apa, harus memapah pemimpin pengawas yang telah dilukainya sendiri, sedang di punggungnya, tiga ujung pedang telah siap untuk melubangi tubuhnya apabila ia berbuat sesuatu.

Tetapi ternyata dukun itu bukan seseorang yang mudah berputus asa. Ia masih juga mencari akal, bagaimana ia dapat melepaskan dirinya. Ia sadar, bahwa orang berkumis itu telah mati. Dengan demikian, maka ia merupakan tawanan tunggal yang pasti akan dihadapkan kepada para pemimpin di Mataram. Ia akan menjadi sumber keterangan tentang keadaan di daerah yang kisruh ini.

“Kalau aku mencoba menutup mulut, aku pasti, aku akan diperasnya sampai darahku kering,” desisnya. Meskipun ia baru berangan-angan, tetapi terasa bulu-bulu tengkuknya telah berdiri. Orang-orang Mataram akan dapat banyak berbuat hal itu.

Dadanya berdesir apabila terbayang ujung-ujung pisau yang akan menyentuhnya apabila ia kelak dihukum picis. Hukuman yang paling terkutuk buat seorang pengkhianat.

“Aku pasti dianggapnya seorang pengkhianat,” katanya di dalam hati. “Ki Gede Pemanahan dan puteranya dapat saja memutuskan untuk menghukum aku dengan cara demikian. Hukum picis yang mengerikan itu.”

Dengan demikian, maka dukun yang menjadi tawanan itu masih tetap berusaha, bagaimana ia dapat lolos dari semua kemungkinan yang mengerikan itu.

Sekali-sekali ia mencoba memandang pemimpin pengawas yang terluka itu dengan sudut matanya. Tetapi ia tidak dapat menangkap kesan apa pun, karena pemimpin pengawas itu sekali-sekali masih saja menyeringai menahan sakit.

Ketika ia mencoba berpaling, terasa hampir bersamaan ketiga ujung pedang para pengawas yang terluka itu menyentuh tubuhnya.

“Kau akan berbuat sesuatu yang dapat mencelakakan dirimu sendiri?” bentak Wanakerti.

Tawanan itu menarik nafas. Memang ketiga pengawas itu selalu bersiaga dengan ujung pedangnya, sehingga setiap usaha untuk melarikan diri, agaknya memang sulit dilakukan. Namun demikian, apakah itu berarti bahwa ia harus menyerah untuk dihukum picis?

“Aku harus menemukan cara,” ia berdesis di dalam dadanya.

Dalam pada itu, mereka pun setapak demi setapak maju. Semakin lama menjadi semakin dekat dengan gardu pengawas. Apabila ia kemudian meletakkan pemimpin pengawas itu di gardu, maka ketiga pengawas yang lain itu akan segera mengikatnya kembali dan besok atau lusa menyerahkannya kepada Ki Gede Pemanahan.

Ketika dukun itu kemudian memandang ke depan, hatinya berdesir. Gardu pengawas itu sudah tidak begitu jauh lagi di hadapannya. Sebelum sampai ke gardu itu ia harus mendapat akal. Harus.

Selangkah demi selangkah ia maju. Dalam pada itu dadanya pun menjadi semakin berdebar-debar.

Namun yang dilakukan kemudian adalah menundukkan kepalanya. Dipapahnya pemimpin yang terluka itu sebaik-baiknya. Bahkan seperti memapah anak sendiri yang sedang sakit.

Dengan demikian ia berharap, bahwa pengawas yang lain menjadi lengah. Ia ingin mendapat waktu sekejap saja, untuk dapat melarikan diri seperti yang diinginkannya.

“Para pengawas itu terluka. Mereka agaknya sudah sangat lemah. Kalau aku dapat meloncat selangkah menjauh, maka mereka pasti tidak akan dapat mengejar aku. Agaknya aku masih cukup kuat untuk berlari dan bersembunyi di dalam hutan itu.”

Akhirnya dukun yang tertawan itu memutuskan, bahwa ia akan melakukannya. Lari.

Semakin dekat mereka dengan gardu pengawas, hati dukun itu menjadi kian berdebar-debar. Ia memerlukan waktu hanya selangkah maju.

Kini mereka sudah siap memasuki halaman sempit di depan gardu pengawas. Dengan demikian maka dukun itu pun segera mulai mempersiapkan dirinya. Ia tidak berbuat sesuatu ketika mereka memasuki halaman yang berpagar kayu itu. Pagar itu sama sekali tidak berarti apa-apa baginya. Ia akan dengan mudahnya meloncati pagar yang tidak begitu tinggi itu.

Yang diperlukannya kemudian adalah kesempatan itu. Kesempatan yang hanya sekejap saja.

Ketika mereka sudah sampai di depan gardu pengawas, maka dukun itu merasa, waktunya memang sudah tiba. Ia tidak dapat menunggu lagi, karena apabila sudah terlanjur masuk, maka ia tidak akan dapat keluar lagi tanpa terikat kaki dan tangannya.

Demikianlah, maka ketika ia benar-benar sudah hampir melangkah memasuki ruangan gardu pengawas, maka tiba-tiba saja ia bertindak. Dengan kecepatan yang tinggi, ia memutar pemimpin pengawas itu, kemudian didorongnya ke arah ketiga pengawas yang mengikutinya.

Semua itu terjadi di dalam sekejap mata. Apalagi ketiga pengawas itu tidak menduga sama sekali. Dukun itu tampaknya sudah menjadi sangat jinak, bahkan berpaling pun tidak berani lagi. Namun tiba-tiba mereka melihat pemimpin pengawas yang terluka itu seakan-akan terlempar ke arah mereka.

Yang dapat mereka lakukan adalah menyingkirkan ujung pedang-pedang mereka agar tidak justru mengenai pemimpin mereka yang terlempar itu. Namun sejenak kemudian mereka harus berusaha menahan pemimpin mereka yang terlempar itu agar ia tidak jatuh.

Tetapi ternyata para pengawas itu sudah begitu lemahnya. Ketika mereka menahan pemimpin mereka, maka justru mereka pun telah terdorong selangkah surut, kemudian tanpa dapat mempertahankan keseimbangan me-reka lagi, mereka pun berjatuhan saling menimpa, sehingga ketiganya tidak dapat bertahan sama sekali, jatuh tindih menindih.

Sejenak dukun itu menikmati kemenangannya. Ia melihat para pengawas itu tidak berdaya lagi. Mereka tidak akan dapat segera bangkit dan mengejarnya. Seandainya salah seorang dari mereka dapat segera bangun kembali, ia tidak akan dapat berbuat banyak. Bahkan, seandainya mereka bertiga sekalipun, dukun itu tidak akan gentar lagi menghadapinya.

Karena itu, dukun itu seolah-olah tidak menghiraukan para pengawas itu lagi. Sejenak ia masih melihat mereka menggeliat dan mencoba berkisar dari tempat mereka, dan tertatih-tatih mereka mencoba untuk bangkit.

Dukun itu tertawa berkepanjangan. Ia berdiri beberapa langkah sambil bertolak pinggang.

“Kenapa aku harus lari?” ia berkata. “Kenapa aku tidak membunuh kalian saja?”

Ternyata ketiga pengawas yang mengawal pemimpin mereka yang terluka itu tidak segera dapat bangkit dan berdiri tegak. Namun demikian dukun itu berkata, “Tetapi kalau kalian benar-benar mengerahkan sisa-sisa tenaga kalian, agaknya cukup berbahaya juga bagiku. Aku memang tidak setangkas kawanku yang kalian bunuh itu. Namun demikian, aku yakin kalian tidak akan dapat menangkap aku.”

“Gila. Jangan mencoba berlari,” desis Wanakerti.

Tetapi orang itu tertawa, “Kau akan mengejar aku? Silahkan. Aku akan melihat apakah kalian masih mampu melangkahkan kaki?”

Wanakerti dan kedua kawannya yang sudah berhasil berdiri menggeretakkan giginya. Mereka sadar, bahwa mereka sudah tidak akan dapat lagi berlari seperti apabila mereka tidak sedang terluka. Namun demikian, Wanakerti masih mencoba berkata, “Jangan merasa bahwa kau menang kali ini. Kau pun pasti tidak akan dapat lari secepat yang kau inginkan karena kau pun baru saja sadar dari pingsan yang panjang.”

“Tetapi, aku sudah merasa segar sekarang,” jawab orang itu, “jauh lebih segar dari kalian yang sudah tidak mampu lagi berdiri tegak.”

“Persetan,” Wanakerti maju selangkah.

Orang itu mundur selangkah sambil berkata, “Ha, kau akan mencoba mendekat? Sia-sia. Kau harus merelakan aku pergi sekarang ke mana aku suka. Di sekitar tempat ini tidak ada orang yang dapat membantumu. Orang-orang yang tinggal di barak sudah lari bercerai-berai. Mungkin mereka kembali ke barak atau bersembunyi di mana saja. Sedang ketiga orang, ayah dan anaknya itu, masih sibuk mengurusi mayat orang berkumis itu. Yang ada sekarang adalah kalian dan aku. Pemimpin kalian itu sama sekali sudah tidak dapat bangkit, dan kalian bertiga hanya mampu berjalan tertatih-tatih meskipun kalian berpedang.”

“Tetapi kami tidak akan membiarkan kau lari,” geram salah seorang kawan Wanakerti. Betapapun lemahnya, namun ia melangkah maju juga berpencaran, seolah-olah mereka akan mengepung orang berkumis itu.

Tetapi sikap para pengawas itu tampak sangat lucu di mata dukun yang telah berhasil melepaskan diri itu. Sambil tertawa ia berkata, “Aku seakan-akan melihat tiga ekor siput merayap-rayap. Apakah kalian ingin berlomba lari? Aku memang tidak dapat lari setangkas kijang. Tetapi sudah pasti, jauh lebih cepat dari tiga ekor siput. Asal aku tidak dapat kalian tipu, maka aku pasti akan dapat menyelamatkan diri.”

Ketiga pengawas itu masih juga mencoba maju.

“Cukup,” berkata orang yang sudah berhasil melepaskan dirinya itu, “kalian tidak usah merayap-rayap lagi. Aku sekarang akan lari. Lari jauh sekali melintasi hutan dan pegunungan. Tetapi itu akan jauh lebih baik daripada aku kalian serahkan kepada Ki Gede Pemanahan atau puteranya, Raden Sutawijaya.”

“Jangan lari. Mari kita berhadapan secara jantan.”

“Kali ini aku sama sekali tidak memerlukan sikap jantan itu. Aku lebih baik lari saja, meskipun kalian menganggap aku bersikap licik, betina atau segala macam istilah yang paling jelek dan menyakitkan hati. Tetapi aku tidak akan menjadi sakit hati kemudian karena harga diri aku berbuat bodoh melawan kalian. Sekarang, yang paling baik bagiku memang lari. Lari sejauh-jauhnya.”

Wanakerti menggeretakkan giginya. Tetapi ia memang tidak akan dapat mengejar orang itu. Apa pun yang dilakukan, maka ia sudah tidak berpengharapan lagi untuk menangkapnya. Karena itu ia hanya dapat mengumpat-umpat meskipun ia masih juga berusaha mendekati lawannya.

Tetapi yang terdengar kemudian adalah suara tertawa. Katanya, “Lepaskan niatmu yang gila itu. Kalian tidak akan mampu menangkap aku kecuali ketiga orang yang menyusup di dalam lingkungan orang-orang yang membuka hutan itu datang kemari. Mereka adalah orang-orang gila yang berpura-pura,” orang itu berhenti sejenak. Lalu, “Selamat tinggal. Mudah-mudahan kalian diterkam harimau lapar yang tersesat sampai kemari.”

“Gila! Anak setan!” Wanakerti yang menjadi marah bukan kepalang hanya dapat mengumpat-umpat saja. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa ketika orang itu kemudian memutar dirinya dan siap untuk berlari meninggal-kan mereka.

Tetapi Wanakerti dan kedua kawannya tiba-tiba saja terkejut bukan buatan. Ketika orang itu meloncat maju selangkah, tiba-tiba ia tertegun. Sejenak ia terhuyung-huyung, kemudian dengan wajah yang pucat pasi ia berpaling.

“Siapa, siapa yang telah melakukannya?”

Orang itu masih berdiri sejenak, namun kemudian tubuhnya mulai gemetar, akhirnya ia pun terjatuh di tanah.

Wanakerti dan kedua kawannya menyaksikan hal itu dengan pandangan yang tidak berkedip. Sejenak kemudian ia sadar, apa yang telah terjadi.

Ternyata pemimpin pengawas yang sangat lemah itu masih berhasil mengerahkan sisa-sisa tenaganya untuk melemparkan sebilah pisau kepada orang yang akan melarikan diri itu, tepat mengenai punggungnya meskipun tidak menghunjam terlampau dalam, karena tenaganya sudah tidak memungkinkan. Tetapi sentuhan yang panas seperti bara, kemudian perasaan sakit yang segera menjalar ke segenap tubuh disertai kekejangan yang perlahan-lahan mencengkamnya, dukun itu sadar, bahwa ia telah terkena racun yang kuat sekali.

Itulah sebabnya ia menjadi bingung dan tidak tahu apa yang dilakukan, sedangkan racun itu terlampau cepat mengalir di dalam arus darah, beredar ke segenap tubuhnya.

Ketika Wanakerti berpaling, memandang pemimpinnya, ternyata pemimpinnya itu sudah berbaring di tanah. Nafasnya terengah-engah dan matanya sudah separo terpejam.

“Kenapa kau?” bertanya Wanakerti sambil melangkah mendekatinya. Ia pun kemudian bersama kawan-kawannya berjongkok di sampingnya.

“Aku telah mencoba melepaskan seluruh sisa tenaga yang ada,” suara pemimpin pengawas itu menjadi serak. “Aku melemparkan pisau itu kepadanya. Terpaksa sekali, karena tidak ada jalan lain untuk menangkapnya, meskipun kita sangat memerlukannya.”

“Ya, pisau itu mengenainya,” sahut salah seorang pengawas.

“Ia akan mati karena racun yang kuat. Tunggu dulu. Jangan kau sentuh orang itu. Tunggulah gembala tua beserta kedua anaknya itu. Mungkin mereka dapat memberikan nasehat kepada kalian.”

Wanakerti dan kawannya mengangguk. Namun ia tidak sempat bertanya lagi karena pemimpin pengawas itu kemudian jatuh pingsan.

Sejenak kemudian ketiga pengawas yang telah menjadi sangat letih itu, kebingungan. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Mereka sama sekali tidak mengerti, bagaimana mereka harus menolong pemimpin mereka yang pingsan karena kehabisan tenaga itu. Sedang mereka sendiri pun rasa-rasanya hampir menjadi pingsan pula.

Wanakerti yang masih merasa paling baik di antara kawan-kawannya berkata, “Tidak ada jalan lain. Aku akan memanggil gembala tua beserta kedua anak-anaknya itu. Aku mengharap bahwa mereka akan dapat membantu kita.”

“Ya, ternyata mereka pun memahami ilmu obat-obatan. Bahkan mungkin lebih baik dari dukun yang terbunuh itu,” sahut kawannya.

“Tunggulah kalian berdua di sini.”

Kedua kawannya itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun terasa tubuh mereka sendiri sudah tidak wajar lagi. Kadang-kadang mata mereka menjadi berkunang-kunang dan seolah-olah di telinganya terngiang suara berdesing yang berputaran tidak henti-hentinya.

Demikianlah, maka Wanakerti pun segera berjalan tertatih-tatih mencari Kiai Gringsing beserta kedua muridnya, yang untunglah bahwa mereka masih berdiri tegak, menunggui mayat orang berkumis yang menjadi ajang pertarungan dua jenis racun.

“Mudah-mudahan aku berhasil,” berkata Kiai Gringsing, “sehingga besok mayat itu dapat dikuburkan dengan baik.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah, kita tinggalkan saja mayat itu. Sudah tentu kita tidak akan menungguinya sampai besok.”

“Lalu, kemana kita sekarang?” bertanya Swandaru.

“Kita pulang ke barak untuk sementara.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tetapi sebelum mereka beranjak dari tempat mereka, mereka melihat Wanakerti yang lemah berjalan tertatih-tatih mendekati mereka.

“Guru,” desis Agung Sedayu, “kenapa Ki Wanakerti datang pula kemari?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Katanya, “Marilah, kita pergi mendapatkannya.”

Ketiganya pun kemudian berjalan dengan tergesa-gesa menyongsong Wanakerti yang sudah menjadi semakin lemah. Nafasnya terengah-engah dan wajahnya kian menjadi pucat.

“Kenapa Tuan kemari?” bertanya Kiai Gringsing.

Wanakerti menarik nafas dalam-dalam. Sekali, dua kali, seakan-akan ingin mengendapkan nafasnya yang melonjak-lonjak.

“Panggil namaku, Wanakerti,” desisnya. “Ternyata kalian adalah orang-orang aneh di sini.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Dibiarkannya Wanakerti berkata selanjutnya, “Aku minta kalian datang ke gardu pengawas.”

“Kenapa?”

“Pemimpin kami pingsan.”

“O, kenapa?”

Dengan singkat Wanakerti menceriterakan apa yang sudah terjadi atas pemimpinnya dan atas dukun yang menjadi tawanannya itu.

“Jadi dukun itu terbunuh?” bertanya Kiai Gringsing.

“Ya.”

“Tidak ada harapan untuk diobati?”

“Aku kira ia sudah mati. Aku tidak berani merabanya, mungkin racun itu akan berpengaruh atas aku yang sudah terlampau lemah ini.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Satu-satunya orang yang akan dapat memberikan keterangan mengenai teki-teki di daerah ini justru sudah terbunuh. Dengan demikian maka mereka telah kehilangan satu-satunya sumber keterangan mengenai rahasia yang selama ini menyelubungi daerah ini.

“Kami tidak sengaja membunuhnya,” berkata Wanakerti, “tetapi agaknya memang lebih baik begitu daripada ia berhasil melarikan diri dan memberikan keterangan-keterangan kepada kawan-kawannya. Sebab aku yakin bahwa mereka tidak berdiri sendiri. Orang berkumis, kawan kami itu, agaknya orang yang bertanggung jawab di daerah ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Kita masih mempunyai dua orang. Tetapi mereka tidak akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang penting. Mereka hanya tenaga yang diumpankan.”

“Siapa?”

“Orang yang tinggi kekar dan yang kekurus-kurusan itu.”

Wanakerti mengangguk-angguk pula. Tetapi ia pun sependapat bahwa keduanya pasti tidak akan banyak mengetahui tentang gerakan mereka sendiri.

“Baiklah,” berkata Kiai Gringsing. “Kemudian bagaimana dengan pemimpinmu itu?”

“Ia jatuh pingsan setelah melontarkan pisau ke punggung orang yang berusaha melarikan diri itu.”

“Marilah kita lihat.”

Mereka pun kemudian berjalan perlahan-lahan ke gardu pengawas karena Wanakerti sudah menjadi kian letih dan lemah. Swandaru yang tidak telaten kemudian mendekatinya sambil berkata, “Marilah, aku bantu kau berjalan.”

Wanakerti pun kemudian bergantung pada pundak Swandaru. Dengan demikian maka mereka pun dapat berjalan lebih cepat.

“Mereka yang pingsan segera memerlukan bantuan,” berkata Swandaru kemudian.

Wanakerti mengangguk-anggukkan kepalanya, “Terima kasih,” katanya.

Sejenak kemudian mereka pun telah sampai ke halaman gardu pengawas. Kiai Gringsing mengerutkan keningnya ketika dilihatnya, bukan saja pemimpin pengawas itu yang pingsan, tetapi salah seorang dari kedua pengawas yang tinggal, telah menjadi pingsan pula, sedang yang seorang lagi telah menjadi sangat lemah dan duduk di samping kawannya yang pingsan itu.

Wanakerti pun menjadi cemas. Meskipun tubuhnya sendiri serasa tidak bertulang lagi, namun ia berusaha secepat-cepatnya menghampiri kawan-kawannya yang pingsan.

“Kenapa mereka, Ki Sanak?” Wanakerti bertanya kepada Kiai Gringsing yang sudah berjongkok pula di samping mereka yang sedang pingsan.

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah pengawas yang masih tetap sadar, meskipun menjadi lemah sekali.

Pengawas itu seakan-akan dapat mengerti pertanyaan yang terbayang di mata Kiai Gringsing, sehingga ia menjawab, “Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba ia pingsan.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian bergumam, “Kalian terlampau lelah.”

“Jadi, maksud Ki Sanak, mereka tidak terkena racun?” bertanya Wanakerti.

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya.

“Tidak,” jawabnya, “mereka tidak terkena racun yang lain. Pemimpinmu ini memang terkena racun, tetapi kekuatan racun itu sudah teratasi.”

Wanakerti mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kecemasan masih saja membayang di wajahnya. Dan ia pun bertanya pula, “Tetapi apakah keadaan mereka tidak berbahaya?”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. “Tidak. Mereka hanya kehabisan tenaga.”

Kemudian Kiai Gringsing pun mulai meraba-raba tubuh para pengawas yang pingsan itu. Dikendorkannya ikat pinggang mereka, kemudian perlahan-lahan Kiai Gringsing menggerak-gerakkan tangan pemimpin pengawas itu, sedang Agung Sedayu melakukan hal yang sama pada pengawas yang lain.

“Swandaru,” berkata Kiai Gringsing, “ambillah air dingin.”

Swandaru pun kemudian mengambil air kendi di dalam gardu pengawas. Oleh Kiai Gringsing, bibir mereka yang pingsan itu dibasahinya dengan titik-titik air yang dingin. Setitik demi setitik.

Ternyata bahwa kesejukan air itu telah menyejukkan tubuh-tubuh yang lemah itu. Perlahan-lahan mereka mulai bergerak-gerak. Yang pertama-tama mereka lakukan adalah membuka mata mereka dan mencoba mengenali keadaan di sekelilingnya. Kemudian mereka mencoba mengingat-ingat apakah yang telah terjadi atas diri mereka masing-masing.

Wanakerti menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kedua kawannya yang pingsan itu sudah mulai menyadari dirinya. Bahkan pengawas yang seorang, telah berusaha untuk bangkit perlahan-lahan.

Sambil menggosok matanya ia memandang tubuh yang terbujur berapa langkah daripadanya, “Ya, orang itu sudah mati.”

“Aku menyesal,” berkata Kiai Gringsing.

“Aku tidak melihat jalan lain,” pemimpin pengawas itulah yang menjawab.

“Ya. Agaknya keadaanlah yang sudah menentukan. Tetapi dengan demikian kita kehilangan sumber keterangan, dan kita masih tetap menghadapi suatu rahasia yang gelap.”

Pemimpin pengawas yang terluka itu pun kemudian mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, dan berusaha untuk bangkit. Agung Sedayu yang melihatnya, segera menolongnya sehingga pemimpin pengawas itu pun kemudian duduk bersandar pada tangannya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Badanku menjadi lemah sekali.”

“Beristirahatlah.”

Pemimpin pengawas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kami semua, para pengawas sama sekali sudah tidak berdaya lagi apabila ada sesuatu yang terjadi di sini saat ini. Aku sendiri rasa-rasanya sudah hampir mati, ketiga sisa orang-orangku pun agaknya sudah menjadi sangat letih.”

“Untuk sementara tidak akan ada apa-apa lagi. Untuk sementara,” sahut Kiai Gringsing.

“Belum tentu. Berita kematian kedua orang itu akan segera didengar oleh kawan-kawan mereka. Dan mereka akan segera mengambil tindakan.”

“Mungkin,” Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, “tetapi kematian mereka telah menutup segala kemungkinan kita di sini untuk menyelusur suatu kumpulan yang bagi kita sekarang masih merupakan suatu rahasia.”

Pemimpin pengawas itu mengangguk-angguk pula.

“Karena itu,” sambung Kiai Gringsing, “justru keduanya terbunuh, maka kawan-kawan mereka akan berbuat dengan lebih berhati-hati. Seandainya salah seorang dari mereka masih hidup, mungkin ada usaha-usaha yang segera mereka lakukan untuk mengambil orangnya atau membinasakan sama sekali.”

Pemimpin pengawal itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sekarang,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “marilah kita masuk ke dalam gardu pengawas. Agaknya gardu itu sepi.”

“Ya. Beberapa orang pembantu kami agaknya menjadi ketakutan dan bersembunyi. Aku kira mereka semua berkumpul di dalam barak.”

“Mereka harus ditenangkan.”

“Ya. Tetapi kami tidak dapat berbuat banyak saat ini.”

“Nantilah kita pikirkan. Marilah, kita masuk ke dalam.”

Swandaru dan Agung Sedayu pun kemudian ikut pula menolong, membimbing pengawas-pengawas yang masih sangat lemah itu, sedang Kiai Gringsing menolong pemimpin pengawas yang agak parah itu.

Setelah mereka duduk di sebuah amben di dalam gardu, maka pemimpin pengawas itu berkata, “Ki Sanak. Meskipun aku belum tahu siapakah kau sebenarnya, tetapi aku telah mempercayaimu. Karena itu selama kami tidak dapat menjalankan tugas, maka terserahlah kepada kalian, apa yang sebaiknya kalian lakukan di sini.”

Tetapi Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya, “Bukan begitu. Kau tetap memegang tugasmu. Kami akan membantu.” Kiai Gringsing berhenti sejenak lalu, “Tetapi apakah tidak ada penghubung yang selalu datang kemari?”

Pemimpin pengawas itu termangu-mangu sebentar. Kemudian ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Setiap kali memang ada pengawas yang datang kemari dari pusat tanah yang baru dibuka ini. Tetapi baru dua hari yang lalu penghubung yang terakhir datang kemari, sehingga mungkin masih tiga empat hari lagi penghubung berikutnya akan datang.”

“Kitalah yang akan memberikan laporan,” sahut Wanakerti.

“Apakah kau mampu?” bertanya pemimpin pengawas itu.

“Aku mampu. Mungkin besok badanku akan terasa bertambah baik. Dengan seekor kuda, aku kira aku akan sampai.”

“Sendiri? Di dalam keadaan seperti ini, kau tidak boleh menganggap perjalanan ke pusat kota Mataram ini seperti sebuah tamasya yang menyenangkan.”

“Berdua atau bertiga.”

“Apakah kawan-kawanmu sudah siap untuk pergi? Mereka terlampau lemah.”

“Besok atau selambat-lambatnya lusa, kami sudah siap apabila penghubung dari pusat tanah Mataram belum juga datang,” sahut seorang pengawas.

“Atau,” sambung Wanakerti, “barangkali kita dapat minta tolong kepada salah seorang dari Ki Sanak ini untuk menemani aku pergi ke Mataram.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya sejenak. Namun kemudian ia tersenyum sambil menyahut, “Jangan di antara kami. Kami adalah orang-orang padesan yang sama sekali tidak mengerti unggah-ungguh.”

“Ah, kalian masih saja berpura-pura,” berkata pemimpin pengawas itu. “Tetapi seandainya demikian itu pun sama sekali tidak akan mengganggu, salah seorang dari kalian hanya mengawasi selama perjalanan. Biarlah Wanakerti nanti yang menghadap pada pimpinan pengawal tanah ini.”

Tetapi Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya, “Maaf. Kami akan membantu kalian apa saja yang dapat kami lakukan. Tetapi di sini. Tidak ke pusat pemerintahan dari tanah yang baru ini.”

“ Kenapa?”

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian, “Kami benar-benar tidak pantas. Kami adalah orang-orang yang tidak tahu diri. Berilah kami pekerjaan di sini. Kami akan dengan senang hati melakukannya.”

Pemimpin pengawas itu merasa heran, “Kenapa gembala itu berkeberatan apabila salah seorang dari mereka itu mengawasi salah seorang pengawas pergi ke Mataram. Banyak sekali dugaan yang melintas di kepalanya. Apakah benar mereka merasa tidak pantas menghadap pimpinan Pemerintahan Mataram, sehingga dengan demikian mereka merasa rendah diri? Atau mereka malas untuk melibatkan diri secara langsung di dalam persoalan ini, atau menurut pertimbangan mereka, jalan ke Mataram sama sekali tidak aman? Tetapi mustahil kalau mereka takut untuk menempuh perjalanan itu. Pasti mereka mempunyai alasan lain. Mungkin mereka memang merasa rendah diri, tetapi mungkin juga mereka segan untuk melibatkan diri langsung di dalam persoalan-persoalan pengamanan daerah yang baru dibuka ini.”

Karena itu maka pemimpin pengawas itu tidak mau memaksanya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah. Kalian akan mendapat tugas kalian di sini. Yang sebenarnya lebih tepat, kami akan minta tolong kepada kalian untuk membantu kami di sini.”

“Kami tidak akan berkeberatan,” jawab Kiai Gringsing.

“Selama ini kalian kami minta tinggal di gardu ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah. Tetapi aku kira saat ini orang-orang di barak itu menjadi tegang. Mereka harus ditenangkan.”

“Ya. Kami masih akan minta kepada kalian untuk menenangkan mereka.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah,” katanya, “aku akan pergi ke barak itu. Biarlah anak-anakku di sini. Aku akan membawa dua tiga orang untuk menguburkan mayat itu.”

“Apakah mayat itu tidak berbahaya?”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya, “Racun yang menyerangnya langsung masuk ke dalam saluran darahnya. Berbeda dengan serbuk racun seperti yang membunuh pengawas yang berkumis itu.”

Pemimpin pengawas itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, aku minta diri untuk pergi ke barak. Biarlah anak-anakku menyelesaikan pekerjaan kalian di sini apabila memang diperlukan.”

“Ya. Aku berterima kasih.”

“Kalian berdua tinggal di sini. Aku kira untuk sementara tidak akan ada apa-apa lagi. Meskipun demikian, kau berdua jangan lengah,” berkata Kiai Gringsing kepada kedua muridnya.

“Baiklah,” jawab Agung Sedayu.

Namun Swandaru kemudian berkata, “Apakah hari ini tidak ada rangsum?”

“Ah,” desah Agung Sedayu, “tidak ada orang yang sempat masak pagi ini.”

“Mereka pasti sudah masak ketika keributan ini terjadi. Mungkin mereka belum sempat membungkusnya. Adalah kebetulan sekali apabila aku boleh membungkus sendiri.”

“Hati-hatilah, Swandaru,” berkata Kiai Gringsing, “bersihkan tanganmu. Meskipun hanya sedikit sekali, kau pasti sudah bersentuhan dengan racun. Kalau begitu saja kau menyuap mulutmu dengan tanganmu, mungkin di dalam makanan itu akan ikut tertelan racun di tanganmu itu. Walaupun tidak membahayakan jiwa, tetapi pasti dapat menumbuhkan gangguan pada pernafasan dan syaraf. Nah, sebelum rangsum itu datang, bersihkan tangan dan tubuhmu.”

“Kapan rangsum itu akan datang?”

“Mungkin sore nanti,” Agung Sedayu-lah yang menyahut.

Swandaru berpaling. Namun kemudian ia bergumam di dalam mulutnya sehingga tidak seorang pun yang mendengar.

Sejenak kemudian, maka Kiai Gringsing pun meninggalkan gardu itu, pergi ke barak untuk menenteramkan hati orang-orang yang ada di sana.

Ternyata memang seperti yang diduganya, orang-orang di dalam barak itu pun telah dilanda oleh kebingungan, kecemasan dan ketakutan yang amat sangat. Bahkan ada di antara mereka yang lari dari pinggir arena perkelahian antara pengawas berkumis dengan Agung Sedayu, masih tetap bersembunyi. Mereka tidak berani menampakkan mereka karena mereka menyangka, bahwa orang berkumis itu benar-benar akan mengamuk dan membunuh setiap orang yang dijumpainya.

Ketika Kiai Gringsing sampai ke barak, dilihatnya berapa orang yang ada di barak itu memandanginya seperti orang asing. Mereka duduk di sudut-sudut sambil mengerutkan leher mereka, bahkan ada di antara mereka yang telah membungkus semua milik mereka.

Kiai Gringsing menjadi berdebar-debar karenanya. Ia tidak boleh salah langkah supaya orang-orang di dalam barak itu tidak menjadi semakin ketakutan.

Karena itu, ketika ia memasuki barak itu, dicobanya untuk tersenyum. Namun senyumnya justru membuat orang-orang yang ada di dalam barak itu bertanya-tanya.

Meskipun demikian ada sedikit kelegaan di hati orang-orang yang ada di dalam barak itu. Ternyata orang tua itu masih hidup. Dan ia datang ke barak itu dengan tenang. Hampir bersamaan tumbuhlah pertanyaan di setiap dada. “Lalu kemanakah perginya orang berkumis itu?”

Kiai Gringsing agaknya mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati orang-orang itu. Ia pun sadar, untuk menenangkan mereka, mereka harus tahu bahwa orang yang mereka takuti itu sudah tidak ada lagi. Karena itu, maka katanya, “Sekarang kalian tidak perlu takut lagi. Aku yang hampir mati ketakutan, sekarang sudah dapat mengangkat kepala sambil tertawa.”

Beberapa orang saling berpandangan sejenak.

“Bukankah kalian takut kepada orang yang mengamuk dan mengancam akan membunuh kita semua itu?” bertanya Kiai Gringsing.

Tanpa disadarinya, beberapa orang menganggukkan kepalanya.

“Orang itu sudah tidak ada lagi.”

Orang-orang di dalam barak itu mengerutkan keningnya. Salah seorang yang duduk di sudut memberanikan diri untuk bertanya, “Ke mana pengawas itu sekarang?”

“Ia sudah terbunuh.”

Sejenak ruangan itu menjadi sepi. Tetapi Kiai Gringsing sadar, bahwa sebagian dari mereka hampir tidak dapat mempercayainya.

“Orang itu terbunuh oleh racunnya sendiri. Ketika ia mengangkat bumbung racun itu tinggi-tinggi, ternyata racun itu sudah tumpah dan mengenai hidungnya, sehingga masuk ke jalur pernafasannya. Akhirnya justru ia mati oleh senjatanya sendiri.”

Kiai Gringsing melihat wajah-wajah yang menegang. Mereka saling berpandangan. Tetapi agaknya mereka tidak meyakini.

“Apakah kalian ingin melihatnya?”

Tidak seorang pun yang menjawabnya.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ketakutan yang amat sangat memang telah melanda seisi barak itu.

“He,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “di manakah kawan-kawan yang lain? Apakah mereka pergi bekerja?”

Tidak ada jawaban. Dan Kiai Gringsing hanya menarik nafas dan menarik nafas. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia pergi ke tempatnya. Kemudian duduk sambil menggeliat, “Aku akan tidur di sini. Ternyata lebih aman daripada di tempat-tempat lain. Semalam aku hampir terbakar hidup-hidup.”

Beberapa orang di sekitarnya masih saja mematung.

Namun Kiai Gringsing tidak menghiraukan mereka lagi. Apakah mereka mendengarkan atau tidak. Kiai Gringsing langsung saja berbicara, “Memang mengerikan sekali. Orang berkumis itu harus mati oleh senjatanya sendiri. Kini kita pasti akan merasa aman dan tidak akan terganggu lagi. Setidak-tidaknya untuk sementara.”

Beberapa orang yang ada di dalam barak itu mendengarkan kata-kata itu. Tetapi mereka masih juga berdiam diri.

Dan tiba-tiba saja Kiai Gringsing bertanya, “He, apakah kalian sudah makan? Anak-anakku sudah lapar sejak perkelahian itu. Mereka telah memeras tenaga. Tetapi mereka masih belum makan.”

Masih belum ada jawaban, tetapi beberapa orang sudah mulai menyadari bahwa keadaan memang sudah mulai tenang.

Dan seseorang yang tadi bertanya, bertanya lagi, “Jadi, pengawas berkumis itu benar-benar sudah tidak ada lagi?”

“Percayalah. Ia sudah meninggal. Kau dapat melihat mayatnya yang masih terbaring di tempatnya, karena racun yang keras, sehingga masih terlampau berbahaya apabila disentuh tangan.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. “Jadi, sekarang kita telah bebas daripadanya?”

“Ya. Kita sudah bebas.”

“Kau berkata sebenarnya?”

“Percayalah. Aku tidak akan berbohong. Buat apa aku berbohong kepada kalian?”

“Di mana anak-anakmu sekarang? Apakah mereka masih hidup?”

“Tentu. Mereka berada di gardu pengawas. Mereka sedang merawat pemimpin pengawas yang terluka itu.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan seorang yang lain berkata, “Apakah tidak akan mungkin lagi kami dibunuh bersama-sama?”

“Siapakah sekarang yang akan membunuh kita? Kita memang sudah bebas. Kita dapat bekerja dengan tenang.” Kiai Gringsing berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi, apakah rangsum sudah datang?”

“Tidak ada yang sempat membuatnya. Di dapur pasti tidak ada orang. Mereka bersembunyi seperti sebagian besar dari orang-orang di sini.”

“Kenapa mereka bersembunyi?”

“Mereka tidak mau mati.”

“Dan kenapa kalian tidak?”

Orang-orang itu tidak segera menyahut. Sejenak mereka saling berpandangan, seolah-olah mereka pun bertanya pula satu kepada yang lain, seperti pertanyaan yang diucapkan oleh Kiai Gringsing.

Namun sejenak kemudian salah seorang dari mereka menjawab, “Kami pun sudah siap untuk lari, Ki Sanak. Beberapa orang yang ada di serambi itu akan memberitahukan kepada kita apabila mereka melihat orang itu datang. Dan kita sudah siap untuk lari meninggalkan barak ini. Tetapi kami memang mengharap bahwa orang itu tidak akan datang kemari. Karena kami baginya adalah orang-orang yang tidak berarti sama sekali.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Di mana orang yang bertubuh tinggi kekar dan orang yang kekurus-kurusan itu?”

Orang-orang di dalam barak itu mengerutkan keningnya, “Mereka tidak datang kemari. Mungkin mereka ada di dapur.”

Kiai Gringsing termenung sejenak. Keduanya yang sudah sangat lemah itu pasti tidak akan dapat pergi terlampau jauh. Apalagi orang yang kekurus-kurusan itu. Tenaganya seakan-akan sudah habis diperas di perkelahian melawan Swandaru.

“Aku akan pergi ke dapur,” desis Kiai Gringsing, “aku sudah sangat lapar. Apalagi anak-anakku.”

“Di manakah mereka sekarang?” bertanya seseorang.

“Di gardu pengawas.”

Orang-orang itu pun kemudian terdiam. Meskipun pada sorot mata mereka memancar berbagai pertanyaan, namun mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi.

Kiai Gringsing pun kemudian meninggalkan barak itu dan pergi ke barak yang lain, yang dipergunakan sebagai dapur dan penampungan perempuan dan anak-anak.

Kiai Gringsing terkejut ketika ia memasuki barak itu. Suasananya benar-benar seperti suasana kuburan. Meskipun perempuan dan anak-anak tidak melihat apa yang terjadi, tetapi agaknya mereka memang sudah mendengar, bahwa telah terjadi sesuatu yang dapat mengancam ketenangan mereka.

Di barak itu, Kiai Gringsing melihat beberapa orang perempuan memeluk anak-anaknya sambil menyediakan barangnya, pakaiannya dan semua miliknya yang telah terbungkus dengan kain di sisinya. Agaknya ia merasa, bahwa apabila ia harus lari meninggalkan barak itu semuanya sudah dipersiapkannya.

Ternyata kedatangan Kiai Gringsing telah mengejutkan mereka. Mereka yang ketakutan menjadi semakin ketakutan. Anak-anak sudah tidak berani menangis lagi. Mereka menahan isak mereka di dalam dada, sehingga dada mereka justru menjadi terlampau sakit.

Kiai Gringsing menyadari keadaan itu. Karena itu, maka untuk mengurangi ketegangan, ia bertanya kepada siapa pun yang ada di dalam barak, “He, apakah kalian sudah menanak nasi?”

Tidak seorang pun yang menjawab.

“Bukankah biasanya kalian membantu menanak nasi dan menyiapkan makan orang-orang yang akan bekerja di hutan?”

Tidak seorang pun yang menyahut. Tetapi beberapa orang menganggukkan kepalanya.

“Agaknya kalian telah terpengaruh oleh keributan itu. Kenapa kalian menjadi ketakutan? Semuanya sekarang sudah diselesaikan. Kalian harus percaya kepada para pengawas. Ternyata para pengawas sudah berhasil mengatasi keadaan yang sebenarnya memang tidak berarti apa-apa. Hanya keributan kecil yang segera dapat dikuasai.”

Beberapa orang saling berpandangan sejenak. Tetapi tampak wajah-wajah mereka dibayangi oleh kebimbangan.

“Apakah kalian ragu-ragu?”

Tidak ada yang menjawab. Namun hampir bersamaan beberapa orang memandang ke pintu butulan yang menuju ke dapur.

Kiai Gringsing adalah orang tua yang berpengalaman. Pandangan beberapa orang itu agaknya telah menarik perhatiannya. Karena itu, maka ia pun maju selangkah sambil berkata, “Aku akan melihat, apakah kalian sudah mulai masak.”

Beberapa wajah menegang karenanya. Tetapi Kiai Gringsing pura-pura tidak mengetahuinya. Ia maju selangkah lagi sambi1 berkata, “Kalau sudah ada nasi saja yang masak, maka cukuplah kiranya. Nasi dan garam.”

Perempuan-perempuan itu menjadi semakin tegang. Tetapi tidak seorang pun yang mencegah Kiai Gringsing. Namun semua memandanginya dengan mata yang hampir tidak berkedip.

Kiai Gringsing menyadari keadaan itu. Karena itu, ia pun menjadi semakin berhati-hati. Dengan penuh kewaspadaan ia mendekati pintu butulan. Kemudian dengan kesiagaan sepenuhnya ia melangkah masuk ke dapur.

Tetapi ia tidak segera melihat seseorang. Namun Kiai Gringsing yang mempunyai pendengaran yang tajam, segera mendengar arus nafas di sekitar ruangan itu.

Ketika Kiai Gringsing memandang berkeliling ruangan yang belum pernah dimasukinya sebelumnya itu, dilihatnya sebuah pintu butulan pula. Dan Kiai Gringsing yakin, suara tarikan nafas itu berasal dari luar pintu.

Sejenak Kiai Gringsing berdiri di tempatnya. Dipandanginya keadaan di sekelilingnya. Ruang itu memang sepi. Tidak ada seorang pun di dalamnya. Beberapa peralatan dapur masih berserakan di sana-sini. Kelapa yang baru separuh selesai diparut. Nasi yang sudah masak, tetapi masih belum sempat disenduk dari kukusan, sementara api di perapian sudah padam.

“Dapur ini agaknya telah ditinggalkan dengan tergesa-gesa,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya. “Ternyata di sini tidak ada seorang laki-laki pun. Semua orang laki-laki melarikan diri, bersembunyi atau pergi ke barak sebelah mencari kawan. Di sini tinggal beberapa orang perempuan dan anak-anak yang sudah siap pula untuk lari.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya ketika ia mendengar suara nafas itu lagi. Lebih jelas lagi. Apalagi kalau ia sendiri menahan nafasnya. Maka tarikan nafas yang didengarnya itu seperti hembusan angin di lubang-lubang dinding dapur itu.

Perlahan-lahan, Kiai Gringsing maju mendekati pintu butulan. Ia sendiri berusaha untuk mengatur pernafasannya supaya orang di balik pintu itu tidak mendengarnya.

Kiai Gringsing berhenti beberapa langkah di depan pintu. Sejenak ia berdiri tegang. Namun kemudian ia meneruskan langkahnya. Dari tarikan nafas orang itu Kiai Gringsing segera mengetahui, bahwa orang itu tidak terlampau berbahaya baginya, atau orang itu sengaja memancingnya.

Namun Kiai Gringsing kemudian menyadarinya bahwa suara tarikan nafas itu bukan sekedar tarikan nafas seseorang. Tetapi, pasti dua orang.

Sejenak kemudian Kiai Gringsing telah melekat pintu leregan itu. Dengan hati-hati ia menempelkan telinganya. “Tidak salah lagi. Dua orang.”

Tiba-tiba tangannya menghentakkan daun pintu butulan itu. Ketika pintu itu terbuka dilihatnya sebuah ruang kecil. Serambi yang diberi dinding.

Ketika ia melangkah masuk, di dalam ruang yang agak kegelapan karena tidak ada seberkas sinar pun yang masuk, Kiai Gringsing melihat dua orang yang terbaring di lantai. Salah seorang dari mereka mencoba untuk berdiri. Tetapi ia sudah tidak dapat tegak dengan segera. Sambil berpegangan tiang akhirnya ia berhasil berdiri juga. Orang itu adalah orang yang bertubuh kekar, yang sudah dikalahkan oleh Swandaru.

“Kau,” desis orang itu.

“Ya.”

“Apa maksudmu datang kemari?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihat, apakah kau dapat lari jauh dari tempat ini.”

“Aku hampir mati kehabisan tenaga. Kawanku ini juga. Karena itu aku beristirahat di sini.”

“Sebelum melarikan diri?”

“Kami tidak akan melarikan diri.”

“Selagi kalian masih belum sehat benar. Tetapi pada saatnya kalian akan lari juga.”

Orang itu menggeleng, “Aku tidak akan lari.”

Kiai Gringsing tidak menyahut lagi. Dilihatnya orang yang kekurus-kurusan yang tubuhnya penuh dengan jalur-jalur bekas ujung senjata Swandaru itu pun mencoba untuk bangkit dan duduk. Namun ia masih selalu menyeringai menahan sakit.

“Berbaringlah,” berkata Kiai Gringsing. Tetapi orang itu agaknya tidak menghiraukannya. Dengan susah payah akhirnya ia berhasil duduk bersandar kedua tangannya.

“Seluruh tubuhku terasa sakit dan pedih seperti berbaring di atas bara,” desisnya.

“Tetapi itu akan lebih baik daripada kau mencoba berbuat sesuatu. Luka-lukamu akan berdarah lebih banyak lagi. Kekuatanmu akan menjadi semakin susut. Dan barangkali kau akan pingsan sekali lagi untuk waktu yang lebih lama. Bahkan kalau kau tidak menjaga dirimu baik-baik, kau akan pingsan selama-lamanya.”

“Kau menakut-nakuti aku.”

“Tidak. Aku berkata sebenarnya. Dan kau sekarang memang tidak perlu takut lagi kepadaku. Apalagi kepada hantu-hantu yang akan marah karena aku dan anak-anakku.”

Wajah keduanya menjadi tegang.

“Sudah aku katakan. Jangan terlampau menghiraukan aku dan anak-anakku. Biarlah kami ditelan hantu-hantu itu. Sekarang akibatnya kau sendirilah yang menanggung,” berkata Kiai Gringsing. “Karena kau ingin menyelamatkan orang-orang di barak itu, maka kau telah menumbuhkan keonaran.”

“Kami tidak bermaksud membuat keonaran,” berkata orang yang kekurus-kurusan itu. “Kami tetap pada pendirian kami, hantu-hantu itu akan dapat marah kepada kami semuanya. Kepada kita.”

“Sekali lagi aku katakan. Jangan hiraukan kami.”

“Tidak mungkin.”

“Dengar. Apakah wajar kalau kalian mencoba mencegah kemungkinan malapetaka melanda seisi barak karena hantu-hantu itu marah, tetapi pengawas berkumis yang garang itu akan membunuh orang-orang itu.”

“O, benarkah begitu?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Orang berkumis itu sudah mati. Dukun itu pun sudah mati pula. Yang tinggal adalah kalian berdua.”

“Kenapa dengan kami berdua?”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa. Tetapi kenapa kalian berada di sini? Tidak di barak?”

“Aku merasa lebih tenang di sini. Sakit kami tidak terganggu dan kami dapat beristirahat.”

Kiai Gringsing tidak menyahut lagi. Tetapi ia masih berdiri di tempatnya. Sejenak ia merenungi keduanya. Ia menjadi ragu-ragu. Apakah ia akan segera mengobati keduanya atau tidak.

Tetapi justru karena luka-luka keduanya tidak berbahaya bagi jiwa mereka, maka Kiai Gringsing mengambil keputusan untuk membiarkan saja mereka dahulu, agar mereka tidak dapat pergi meninggalkan tempat itu.

“Bagaimanapun juga, keduanya masih diperlukan,” katanya di dalam hati, “meskipun pengetahuannya tentang lingkungannya terlampau sedikit, tetapi mungkin ia dapat menunjukkan jalur yang dapat ditelusur lebih jauh, sehingga akhirnya dapat diketemukan pusat dari usaha yang masih belum dapat diketahui dengan pasti itu.”

“Sudahlah,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “aku juga tidak akan mengganggu kalian. Beristirahatlah.”

Kedua orang itu tidak menjawab. Mereka memandang saja wajah Kiai Gringsing dengan sorot mata yang membayangkan keheranan. Mereka sama sekali tidak berbuat apa pun ketika Kiai Gringsing kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu.

Di muka pintu ia berpaling sambil berkata, “Kalian memang harus beristirahat. Tidurlah supaya keadaan tubuh kalian segera menjadi baik.”

Kedua orang itu sama sekali tidak menjawab, selain memandang dengan mata mereka yang hampir tidak berkedip.

Tetapi keduanya terkejut ketika Kiai Gringsing kemudian tidak saja menutup pintu. Tetapi pintu itu di selaraknya dari luar.

“He, Ki Sanak,” orang yang kekar itu berteriak, “apa artinya ini?”

“Tidak apa-apa,” jawab Kiai Gringsing dari luar, “supaya kalian dapat beristirahat dengan tenang. Jangan cemas, aku tidak akan pergi jauh. Aku selalu ada di sekitar tempat ini, sehingga apabila kalian memerlukan aku, kalian dapat berteriak memanggil.”

“Tetapi kenapa pintu itu diselarak?”

“Tidak apa-apa. Sudah aku katakan, tidak apa-apa.”

“Buka sajalah. Buka sajalah. Kalau aku memerlukan keluar dari tempat ini, aku tidak usah berteriak memanggil siapa pun.”

“Jangan,” sahut Kiai Gringsing, “nanti kau akan terganggu oleh orang-orang yang keluar masuk ruangan ini.”

“Tidak, tidak,” dan tiba-tiba saja tertatih-tatih orang yang tinggi kekar itu melangkah ke pintu. Sambil memukul-mukul daun pintu leregan ia berkata, “Buka, buka pintu ini.”

“Tentu, nanti aku akan membukanya. Sekarang biarlah saja dahulu. Jangan hiraukan pintu itu. Sudah aku katakan, kau akan dapat beristirahat dengan tenang.”

Kiai Gringsing pun kemudian tidak menghiraukan orang itu lagi, meskipun ia masih memukul-mukul pintu. Meskipun demikian, orang tua itu masih juga ragu-ragu meninggalkan tempat itu. Perlahan-lahan saja ia melangkah memasuki ruang yang lain.

Dilihatnya beberapa orang perempuan dan anak-anak menjadi semakin cemas. Tetapi tidak seorang pun dari mereka yang bertanya kepadanya apa yang telah terjadi.

“Jangan takut,” berkata Kiai Gringsing, karena ia yakin, perempuan-perempuan itu telah mendengar suara orang yang tinggi kekar itu berteriak-teriak. Katanya kemudian, “Orang itu tidak akan terbuat apa-apa. Ia marah kepadaku. Tidak kepada kalian. Aku sengaja menutup dan menyelarak pintu itu dari luar. Jangan dibuka, supaya ia tidak pergi.”

Perempuan dan anak-anak itu memandanginya seperti memandang sebuah tontonan yang paling mencemaskan, seperti mereka melihat seorang penari yang kehilangan kesadaran oleh irama gamelan yang cepat dan menikam dirinya sendiri meskipun tidak terluka.

Kiai Gringsing sadar sepenuhnya akan hal itu. Perempuan dan anak-anak itu memang telah dicengkam oleh kecemasan. Tetapi mereka tidak berani mengatakannya.

“Mereka memerlukan perlindungan,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya. “Sayang, bahwa laki-laki yang ada di barak itu telah terpengaruh oleh lingkungan yang dibangkitkan oleh orang-orang itu, sehingga selalu diliputi oleh ketakutan. Bahkan para pengawas pun telah terpengaruh pula, justru karena di dalam lingkungan mereka pun terdapat seorang yang ikut serta di dalam usaha menakut-nakuti para pekerja.”

Dalam pada itu, tiba-tiba saja Kiai Gringsing teringat kepada kedua muridnya. Mungkin ia dapat membagi tugas. Salah seorang tetap di gardu pengawas, yang lain menunggui kedua orang ini.

Kiai Gringsing tiba-tiba mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kepada perempuan dan anak-anak yang ketakutan itu, “Tunggulah sebentar. Aku akan mencari kawan untuk kalian.”

Kiai Gringsing pun kemudian segera pergi dengan tergesa-gesa kembali ke barak. Ia mengajak beberapa orang yang masih mempunyai sedikit keberanian untuk mengubur mayat dukun yang terbunuh oleh pisau belati beracun, pisaunya sendiri yang dilemparkannya kepada pemimpin pengawas, tetapi yang kemudian justru kembali menikam punggungnya.

Kepada beberapa orang yang lain ia berpesan, bahwa sebentar lagi anaknya akan datang dan memerlukan beberapa kawan sekedar untuk menghilangkan kejemuan, menunggui kedua orang yang sedang beristirahat di sebelah dapur.

Agung Sedayu-lah yang kemudian mendapat tugas untuk menunggui kedua orang yang berada di serambi dapur itu. Bersama dua orang yang diajaknya dari barak, ia pergi ke tempat kedua orang itu terkurung.

“Apakah mereka tidak melarikan diri?” bertanya salah seorang dari dua orang yang diajaknya itu.

“Menurut ayahku, pintunya telah diselarak dari luar.”

“Tetapi mereka pasti dapat membuka dinding yang tidak terlampau kuat. Melepas tali-talinya kemudian menyuruk keluar.”

“Keduanya sangat lemah,” jawab Agung Sedayu. “Menurut Ayah keduanya tidak akan mampu berbuat banyak.”

(bersambung ke Jilid 056)

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-55/

<<kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s