ADBM1-067

<<kembali | lanjut >>

KI RANADANA seakan-akan tersadar dari mimpi buruknya. Tiba-tiba saja ia menengadahkan kepalanya. Ia adalah perwira Pajang yang mengemban tugas langsung dari Senapati di daerah Selatan ini. Karena itu, maka katanya, “Kalian harus tunduk pada perintah kami.”

Orang-orang itu tidak membantah lagi. Beriringan mereka digiring ke luar pintu butulan setelah mereka meletakkan senjata mereka, sedang Swandaru dan Agung Sedayu telah mendahului turun dan menunggu mereka di longkangan.

Sementara itu, mereka yang bertempur di halaman pun telah dapat dikuasai sepenuhnya. Ada juga di antara mereka yang terbunuh, namun ada juga yang tertawan hidup-hidup, meskipun ada beberapa orang prajurit yang terluka yang kehilangan pengamatan diri dan akan membunuh mereka semuanya.

“Kita memerlukan sebagian dari mereka yang hidup,” berkata perwira yang bertugas di halaman. “Jika mereka terbunuh semuanya, kita akan kehilangan jejak sama sekali.”

“Tetapi apa yang diketahui oleh cucurut-cucurut semacam ini. Mungkin orang-orang yang ada di dalam rumah itulah yang pantas dihidupi sekedar untuk mendapatkan keterangannya. Tetapi orang-orang ini tidak pantas sama sekali.”

“Aku perintahkan, yang masih hidup biarlah tetap hidup,” berkata perwira itu dengan tegas.

Tidak ada seorang pun yang membantah lagi. Bersama-sama tawanan yang ada di dalam rumah, mereka dikumpulkan di sudut halaman belakang di bawah penjagaan yang ketat.

Sejenak kemudian, Ki Ranadana pun mulai memberikan perintah agar semuanya kembali ke tempatnya.

“Usahakan, selain yang bertugas di sini, seolah-olah tidak terjadi sesuatu.”

“Ada beberapa orang peronda telah melihat perkelahian di sini. Agaknya mereka memberikan laporan kepada perwira yang ada di banjar.”

“Kau yakin?”

“Ya.”

“Susul mereka. Katakan bahwa tidak terjadi sesuatu. Cegah agar mereka tidak sampai membunyikan isyarat apa pun juga.”

Dua orang prajurit yang bertugas di regol depan pun segera mengambil kudanya dan berpacu menyusul dua orang peronda yang lewat jalan depan.

Untunglah bahwa belum ada tanda apa pun yang dibunyikan. Kedua prajurit itu sempat memberikan penjelasan apa yang telah terjadi.

Agung Sedayu dan Swandaru pun kemudian siap menjalankan tugas itu. Namun Sumangkar masih memperingatkan, “Sebaiknya biarlah keduanya dikawani oleh satu atau dua orang prajurit Pajang agar perjalanan yang meskipun hanya pendek ini tidak terganggu.”

“O,” Ki Ranadana mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Benar. Dalam keadaan yang serba samar-samar memang mudah timbul salah paham. Biarlah dua orang prajurit mengawaninya sampai ke Banyu Asri.”

Dengan demikian maka perjalanan Agung Sedayu dan Swandaru pun disertai dua orang prajurit yang mendapat pesan, agar keduanya tidak memberikan keterangan kepada siapa pun juga supaya tidak terjadi salah paham.

“Katakan kepada siapa pun juga, bahwa besok mereka akan mengetahui dengan pasti apa yang sudah terjadi di sini,” berkata Ki Ranadana.

“Baiklah,” jawab prajurit-prajurit itu. Dan mereka pun mengerti bahwa keterangan-keterangan yang tidak lengkap, hanya akan menambah bahan pembicaraan yang kadang-kadang semakin jauh dari kenyataan yang sebenarnya.

Sejenak kemudian maka keempat orang itu pun segera pergi ke Banyu Asri. Meskipun jarak itu tidak dapat disebut jauh, namun mereka telah mempergunakan kuda untuk mempercepat perjalanan.

Untunglah bahwa di antara mereka terdapat dua orang prajurit Pajang seperti yang diusulkan oleh Sumangkar sehingga di setiap gardu, mereka dapat segera lolos tanpa banyak persoalan, meskipun di setiap gardu mereka benar-benar telah dihentikan dan dicurigai.

Tanpa kedua prajurit itu, Agung Sedayu dan Swandaru justru pasti sudah ditahan. Ada di antara para prajurit yang masih saja mencurigai Agung Sedayu sejak Agung Sedayu datang dan berkelahi dengan seorang perwira yang kebetulan kali ini dibawa serta oleh Untara dengan sengaja, meskipun alasannya adalah alasan hari-hari perkawinannya. Tetapi Untara memang berusaha memisahkan perwira muda itu dari adiknya, tanpa hadirnya dirinya sendiri.

Ketika mereka memasuki rumah Widura, ternyata rumah itu masih terang benderang dan semua pintu tampaknya masih belum tertutup. Agaknya seperti yang direncanakan, Widura mengadakan jamuan semalam suntuk untuk keselamatan kemanakannya Untara yang sedang menjalani hari-hari perkawinannya

Kedatangan Agung Sedayu, Swandaru, dan kedua prajurit itu telah menimbulkan persoalan-persoalan di setiap hati. Ternyata bahwa desas-desus tentang sesuatu yang terjadi itu telah sampai di telinga para petugas sandi di rumah Untara meskipun hal itu masih belum begitu jelas bagi mereka. Namun sebagai seorang prajurit, maka setiap keterangan tetap merupakan bahan yang harus dicernakkannya.

Itulah sebabnya maka ketika mereka melihat Agung Sedayu dan Swandaru datang diiringi oleh dua orang prajurit, maka mereka pun telah bersiap pula di dalam keadaan masing-masing. Mereka yang berada di bagian belakang pun segera duduk di serambi sambil berbicara yang seorang dengan yang lain. Sedang yang ada di bagian depan pun segera naik pula ke pendapa dan duduk di atas tikar yang terbentang dalam pakaian lengkap dengan sebilah keris di lambung.

Agung Sedayu dan Swandaru pun mengerti, bahwa di antara sekian orang yang duduk tirakatan itu terdapat beberapa prajurit Pajang.

Meskipun demikian, maka ternyata bahwa pamannya cukup mengerti akan keadaannya, sehingga ketika ia melihat kemanakannya itu datang, langsung dibawanya masuk ke ruang dalam, “Mari, marilah Agung Sedayu dan Angger Swandaru. Kalian tentu belum makan. Kami mempersilahkan kalian langsung saja untuk mengambil makan kalian berdua.” Sedang kepada kedua prajurit Pajang ia berkata, “Duduklah di pringgitan. Kalian pun harus makan lebih dahulu. Yang lain agaknya baru saja mendahului karena kami tidak tahu bahwa kalian akan datang.”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak membantah. Kedua prajurit yang menyertainya pun tidak. Ternyata meskipun Widura sudah bukan prajurit lagi, namun ia masih tetap bersikap seperti seorang prajurit.

Kedua prajurit itu pun segera duduk di pringgitan. Seseorang kemudian menghidangkan makan dan minuman hangat kepada mereka.

“Silahkanlah,” berkata Widura yang kemudian datang kepada kedua orang prajurit itu.

Keduanya ragu-ragu sejenak, namun salah seorang kemudian berkata, “Apakah kami diperkenankan mencuci diri sebentar.”

“O,” Widura tertawa. Ia tahu bahwa keduanya pasti baru saja berkelahi. Bahkan salah seorang dari padanya masih tampak sangat payah dan bahkan sepercik darah telah menodai bajunya.

Baru setelah keduanya duduk kembali setelah membersihkan tangan dan kaki, mereka pun makan dengan lahapnya. Memang terasa nyaman sekali makan dan minum setelah mereka memeras tenaga dalam perkelahian yang cukup berat.

“Ada juga untungnya,” gumam salah seorang dari keduanya. “Semula aku menggerutu ketika aku ditunjuk untuk pergi. Rasa-rasanya terlalu malas berkuda di malam hari setelah berkelahi mati-matian. Tetapi ternyata kitalah yang paling beruntung.”

Kawannya tersenyum. Katanya, “Yang lain akan ganti meggerutu jika mereka tahu, di sini kita mendapat makan yang lengkap dan yang tidak kita temui sehari-hari. Bagaimana pun juga kita berada di tempat perhelatan.”

Keduanya pun mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak lagi berbicara karena mulut mereka sedang sibuk mengunyah.

Dalam pada itu di ruang dalam, Agung Sedayu dan Swandaru pun sudah dipersilahkan makan oleh pamannya. Setelah mereka membersihkan diri pula. Sedangkan Widura sendiri telah duduk pula di hadapan mereka.

Ketika Agung Sedayu dan Swandaru mulai menyuapi mulutnya, maka mulailah pamannya bertanya, “Apakah mereka benar-benar datang ke rumah itu?”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk hampir bersamaan.

“Mereka telah datang,” sahut Agung Sedayu. “Kami datang kepada Paman untuk menyampaikan pemberitahuan itu.”

Ki Widura mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Dan kalian harus bertempur?” ia bertanya pula.

“Ya, kami harus bertempur,” jawab Agung Sedayu pula, “Guru terluka.”

“He,” Widura terkejut, “Kiai Gringsing terluka? Siapakah lawannya?”

“Tetapi tidak apa-apa. Maksudku, hanya luka ringan. Ia harus melawan beberapa orang pilihan. Salah seorang dari mereka mempunyai kemampuan yang tinggi, tetapi sangat licik. Ternyata orang itu adalah orang yang dikirim langsung oleh pimpinan mereka untuk membinasakan para perwira. Tetapi ia langsung bertemu dengan guru.”

“Bagaimana Kiai Gringsing dapat terluka?”

Agung Sedayu pun kemudian menceriterakan serba sedikit apa yang telah terjadi atas gurunya. Hampir di luar dugaan, bahwa orang itu masih mampu melemparkan sebilah pisau dengan cepat sekali. Dan agaknya gurunya pun lengah waktu itu.

“Ia termasuk salah seorang yang sedikit jumlahnya yang pernah berhasil melukai Kiai Gringsing,” berkata Widura. “Aku hampir tidak pernah melihat ia terluka di dalam pertempuran yang bagaimana pun juga, melawan orang-orang yang paling terpuji kemampuannya.”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak menjawab. Dan Widura berkata seterusnya. “Namun bagaimana pun juga itu merupakan suatu gambaran, bahwa yang datang ke rumah itu bukannya sekedar orang-orang yang berani dan terpilih saja antara mereka, tetapi benar-benar orang yang berkemampuan tinggi. Jika yang dihadapinya bukan Kiai Gringsing, maka akan dapat digambarkan, apa akibatnya.”

Agung Sedayu pun menceriterakan bahwa ada dua orang yang sebenarnya memiliki kemampuan yang tinggi. Yang seorang hampir saja berhasil membinasakan Ki Ranadana. Untunglah, bahwa masih ada kesempatan untuk menyelamatkannya.

Ki Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Benar-benar suatu rencana yang tersusun rapi. Jika tidak diketahui sebelumnya oleh Kiai Gringsing, maka para perwira itu akan benar-benar ditumpas oleh mereka, dengan kesan bahwa orang-orang Mataram-lah yang melakukannya. Suatu usaha yang berani dan hampir saja berhasil menghancurkan Pajang dan Mataram sekaligus.”

Agung Sedayu dan Swandaru masih saja mengangguk-angguk sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya. Mereka pun menyadari betapa bahaya yang sebenarnya dapat mengancam keselamatan para perwira Pajang, dan lebih dari itu, kelangsungan hidup Pajang dan Mataram sendiri, karena jika usaha orang-orang itu berhasil, Pajang dan Mataram pasti akan terlibat dalam suatu benturan yang dahsyat, sedang kedua-duanya masih belum siap untuk melakukannya. Apalagi sebenarnya pada mereka tidak terkandung maksud sama sekali untuk saling berbenturan meskipun agaknya hubungan antara keduanya tidak begitu baik lagi.

“Kita akan berhubungan dengan Ki Lurah Branjangan. Ia lah yang akan memaksa orang-orang yang tertangkap itu untuk tidak lagi menyebut dirinya orang-orang Mataram.”

“Sayang, Paman,” berkata Agung Sedayu, “tidak ada orang-orang penting yang tersisa. Dua orang yang agaknya dapat memberikan keterangan telah terbunuh, sedang yang lain adalah sekedar pelaksana yang tidak banyak mengerti tentang tugas mereka sendiri.”

“Baiklah. Tetapi mereka tetap merupakan tawanan yang penting bagi kita.”

“Mereka dijaga baik-baik, Paman.”

“Besok kita akan melihat mereka,” berkata Widura, “sekarang makanlah banyak-banyak, lalu kembalilah kepada Ki Ranadana. Katakanlah bahwa besok kami akan datang pagi-pagi benar.”

“Baiklah, Paman,” jawab Agung Sedayu.

“Teruskanlah. Aku akan pergi menemui Ki Lurah Branjangan.”

Widura pun kemudian meninggalkan kedua anak-anak muda itu pergi ke gandok menemui tamunya yang datang dari Mataram.

Sepeninggal Ki Wudura. Swandaru justru menyendok nasi lebih banyak lagi sambil bergumam, “Tidak ada yang disegani lagi sekarang. Makanlah seperti biasa. Daging ayam lembaran, bubuk dele, pecel lele. Sedap sekali.”

Agung Sedayu tidak menyahut, tetapi ia hanya tersenyum saja melihat mangkuk nasi Swandaru justru menjadi semakin penuh meskipun yang dikunyahnya sudah sebanyak yang tersisa itu pula.

Ketika Widura turun ke longkangan di sebelah gandok, ternyata langit telah menjadi kemerah-merahan. Fajar sudah mulai membayang. Karena itu, maka ia berkata kepada diri sendiri, “Sebentar lagi kami harus sudah berangkat ke rumah Untara itu.”

Ternyata Ki Lurah Branjangan yang berada di gandok masih tidur mendekur. Tetapi bagaimana pun juga mereka serombongan adalah sepasukan prajurit Mataram meskipun belum menyebut dirinya demikian, sehingga ada di antara mereka yang seolah-olah bertugas jaga di antara mereka sendiri. Ketika Widura memasuki gandok dilihatnya dua orang di antara mereka duduk bersila di belakang pintu bilik. Dua helai pedang tersandar di dinding dekat di samping mereka, sedang keris mereka masing-masing tetap berada di lambung.

Ketika mereka melihat Widura memasuki ruangan itu, maka mereka pun segera bergeser dan mempersilahkan, “Marilah Ki Widura.”

Widura tersenyum. Kemudian sambil duduk di antara mereka ia berkata, “Ki Lurah masih tidur?”

“Ya. Ia tidur nyenyak sekali tampaknya.”

“Aku memerlukannya.”

“O,” kedua orang itu mengerutkan keningnya. Salah seorang di antara mereka pun kemudian berkata, “Aku akan membangunkannya, Ki Widura.”

Sejenak kemudian sambil mengusap matanya Ki Lurah Branjangan pun segera duduk menemui Widura. Tampak dari wajahnya bahwa ia sudah mulai meraba-raba, apakah kiranya yang telah terjadi.

“Ki Lurah,” berkata Widura,” ada sekelompok orang-orang Mataram yang datang menyerang rumah para perwira Pajang dengan diam-diam.”

“He? Orang Mataram?”

“Seperti yang kau cemaskan Ki Lurah. Tetapi sebaiknya Ki Lurah melihatnya. Mungkin di antaranya benar-benar ada orang Mataram. Maksudku, orang-orang yang dengan sengaja menyusup ke Mataram untuk sekedar membuat hubungan yang keruh ini menjadi semakin keruh. Aku yakin bahwa ada di antara mereka yang memasuki tubuh Mataram, dan ada yang tinggal di Pajang.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku juga berpendapat demikian. Itulah sebabnya aku berada di sini.”

“Silahkan berkemas Ki Lurah. Kita akan pergi ke Jati Anom sejenak, untuk melihat orang-orang yang mengaku dirinya orang-orang Mataram itu.”

“Baiklah. Aku akan mandi sebentar.”

Ki Lurah Branjangan pun segera mandi dan berpakaian rapi, seperti ketika ia datang menyampaikan sumbangan dari Raden Sutawijaya untuk Untara.

“Aku ingin mempersilahkan kalian makan lebih dahulu,” berkata Widura ketika Ki Lurah Branjangan telah siap.

“Ah, sepagi ini?”

“Mungkin Ki Lurah akan sibuk dan tidak sempat makan pagi nanti.”

“Aku makan kapan saja ada kesempatan. Aku tidak mudah menjadi lapar meskipun sehari aku tidak makan.”

“Dan kesempatan itu ada sekarang.”

Ki Lurah. Branjangan mengerutkan keningnya, lalu sambil tertawa ia berkata, “Baiklah. Bukankah rumah ini sedang mengadakan perhelatan? Tentu makan dan minuman panas tersedia setiap saat. Siang dan malam. Juga di pagi-pagi buta ini.”

Demikianlah setelah Ki Lurah Branjangan makan pagi, maka mereka pun segera pergi ke rumah Untara yang dipergunakan oleh para perwira itu. Widura, Agung Sedayu, Swandaru, Ki Lurah Branjangan bersama beberapa orang pengiringnya, dan kedua prajurit Pajang yang datang bersama Agung Sedayu dan Swandaru. Sedang para perwira yang sedang berada di rumah Widura justru dipersilahkan untuk tinggal sejenak.

Demikianlah beberapa saat kemudian mereka pun telah sampai. Ki Ranadana segera menyambut kedatangan mereka. Dipersilahkannya mereka duduk di pendapa, di sebelah beberapa sosok mayat yang terbujur diam.

“Inilah sebagian dari mereka,” berkata Ki Ranadana, “sayang bahwa orang-orang terpenting dari mereka telah terbunuh.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya, sayang. Jika mereka tertangkap hidup, maka mereka akan dapat diperas untuk mengatakan sesuatu tentang diri mereka.”

“Aku tidak ingin membunuh,” berkata Sumangkar kemudian, “tetapi sayang, begitu cepat dan tiba-tiba hal itu terjadi.”

“Ya, Ki Sumangkar tidak dapat berbuat lain daripada membunuhnya,” sahut Ki Ranadana. “Jika tidak, akulah yang terbunuh saat itu.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Di manakah di antara mereka yang masih hidup?”

“Di belakang. Di kebun belakang.”

“Apakah aku boleh menemui mereka.”

“Marilah.”

Ki Lurah Branjangan bersama Ki Ranadana, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pun segera pergi ke kebun belakang. Agung Sedayu dan Swandaru pun mengikuti mereka pula.

Sejenak kemudian Ki Lurah Branjangan telah berada di hadapan para tawanan itu. Sejenak ia mengamat-amati mereka seorang demi seorang, selagi langit menjadi semakin cerah.

“Aku adalah seorang Lurah prajurit dari Pajang,” berkata Ki Lurah Branjangan, “kalian harus menjawab pertanyaanku sebaik-baiknya. Kau harus tahu, bahwa di hadapan seorang perwira, seseorang tidak boleh berbohong.”

Para tawanan itu menjadi ragu-ragu sejenak. Namun jantung mereka terasa berdebaran.

Sambil menunjuk seseorang yang berkumis lebat, Ki Lurah Branjangan berkata, “Jawab pertanyaanku. Dari manakah kalian datang dan untuk apa?”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Kami adalah prajurit-prajurit Mataram yang mendapat tugas untuk membunuh para perwira Pajang di sini.”

“Kenapa?” bertanya Ki Lurah Branjangan. “Kenapa perwira Pajang harus dibunuh? Jika berkesempatan kalian tentu akan membunuh aku juga.”

“Pajang harus dimusnahkan.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi kau prajurit Mataram?”

“Ya.”

“Siapakah pemimpinmu? Pemimpinmu yang terbunuh itu?”

Orang berkumis itu ragu-ragu sejenak. Dipandanginya beberapa orang kawannya sebelum ia menjawab. Namun sebuah tarikan pada bajunya membuatnya tergagap, “Ya, ya. Ia pemimpin kami.”

“Siapa namanya?”

“Yang kami tahu, namanya Soma Katik.”

“Kau dapat menyebut seribu nama. Tetapi siapakah orang itu sebenarnya?”

“Soma Katik. Aku tidak tahu lebih dari namanya.”

“Bohong!” Ki Lurah Branjangan telah mengguncang baju orang itu sehingga ia turut terguncang pula.

“Ya, ya. Aku tidak tahu lebih dari itu.”

“Bagaimana mungkin kau berada di dalam pasukannya?”

“Kami memang orang-orang Mataram.”

“Tutup mulutmu!” bentak Ki Lurah Branjangan. “Jadi kau masih menyebut dirimu orang Mataram? Orang-orang Mataram dapat mengenal pemimpinnya dengan baik. Seorang demi seorang, karena jumlahnya memang belum banyak.”

Orang itu memandang Ki Lurah Branjangan dengan ragu-ragu. Kemudian katanya, “Maksudku, kami adalah orang-orang Mataram dari kerajaan yang kami susun sendiri.”

“Eh, jadi kau ikut juga menyusun Kerajaan Mataram?”

“Maksudku, pemimpin-pemimpin kami. Dan kami adalah prajurit-prajuritnya yang harus mengabdi sejauh-jauh dapat kami lakukan, agar kelak kami dapat menjadi seorang yang berkedudukan baik apabila kerajaan kami itu benar-benar sudah berdiri.”

“Jadi apa hubungannya dengan Mataram yang ada sekarang, maksudku dengan Raden Sutawijaya.”

“Pemimpin kami adalah Raden Sutawijaya.”

Ki Lurah Branjangan tidak dapat menahan dirinya, sehingga tiba-tiba saja ia sudah menampar mulut orang berkumis itu. “Gila kau!” teriaknya.

“Jangan, jangan,” orang berkumis itu pun berteriak, sedang kawan-kawannya menjadi sangat berdebar-debar pula.

Tetapi tiba-tiba Ki Lurah Branjangan itu tersenyum, lalu, “Raden Sutawijaya. Ya, Raden Sutawijaya memang pemimpin tertinggi Mataram. Jadi kau mengabdi kepada Raden Sutawijaya?”

Orang itu ragu-ragu sejenak, lalu perlahan-lahan ia mengangguk.

“Sutawijaya pulalah yang membuka hutan Mentaok itu. Jadi kau seorang di antara orang-orang yang menebas hutan itu?”

Orang itu masih tampak ragu-ragu. Tetapi sekali lagi ia mengangguk.

“Jadi bagaimana dengan hantu-hantu? Aku dengar di Alas Mentaok banyak hantu-hantu?”

“O, ya. Di Alas Mentaok memang banyak terdapat hantu-hantu.”

“Kau tidak takut hantu?”

“Kami bekerja bersama dengan hantu-hantu.”

Ki Lurah Branjangan yang tersenyum-senyum itu tiba-tiba menggeram. Dengan suara yang serak ia bertanya, “Kalian pernah datang ke Mataram yang kau sebut-sebut itu?”

Pertanyaan itu membuat orang berkumis itu menjadi pucat.

“Jawablah, apakah kau pernah datang ke Mataram seperti yang kau sebutkan itu? Jika kau orang Mataram, kau pasti dapat mengatakan sesuatu tentang Mataram itu”

Orang itu menjadi gemetar.

Dengan sekali dorong, orang itu pun jatuh, terlentang di antara kawan-kawannya. Ki Lurah Branjangan yang masih berwajah merah itu berkata, “Siapakah yang masih akan menjawab bahwa kalian adalah orang-orang Mataram?”

Tidak seorang pun lagi yang menyahut.

“Siapa?” ulang Ki Lurah Branjangan.

“Tidak ada?” Ki Lurah Branjangan memandang mereka seorang demi seorang dalam cahaya matahari pagi yang sudah mulai naik di atas cakrawala.

“Kalian memang orang-orang gila. Kalian mengatakan apa yang tidak kalian ketahui sama sekali. Hantu-hantu, Kerajaan Mataram dan Sutawijaya.” Ki Lurah Branjangan berhenti sejenak, lalu, “Untunglah bahwa kalian segera mengaku, dan aku tahu bahwa kalian memang tidak tahu apa-apa, karena kalian hanyalah orang-orang yang tidak punya nalar, sekedar mendapat perintah dari orang yang tidak kau kenal pula. Apakah keuntungan kalian berbuat demikian? Janji untuk menjadi tumenggung, atau bupati atau mantri dan lurah?” Sekali lagi Ki Lurah Branjangan berhenti berbicara. Wajahnya masih juga merah, seperti langit di ujung gunung Merapi. “Ketahuilah, bahwa aku adalah Ki Lurah Branjangan dari Mataram.”

Pengakuan itu telah mendebarkan jantung orang-orang yang tertawan itu. Sejenak mereka saling berpandangan, lalu dengan mata yang seakan-akan tidak berkedip mereka memandang Ki Lurah Branjangan yang berdiri tegak seperti patung.

“Pandanglah aku baik-baik. Aku datang dari Mataram bersama beberapa orang pengiring. Dan kau harus yakin, bahwa usahamu telah gagal sama sekali untuk membenturkan Pajang dan Mataram dengan cara yang sangat licik ini,” suaranya menjadi semakin keras. “Sayang, aku hanya berbicara dengan cucurut-cucurut kecil. Aku ingin suaraku didengar oleh pemimpin-pemimpin tertinggimu. Mereka harus tahu, seperti Pajang, Mataram juga sudah siap menghadapi orang-orang macam mereka itu. Macam kalian dan hantu-hantu yang sudah dapat kami ketahui sarangnya, dan yang kini sudah kamanungsan.”

Tidak seorang pun dari antara mereka yang mengucapkan kata-kata, bahkan kepala mereka pun segera tertunduk dalam-dalam.

“Aku akan membawa mereka ke Mataram,” berkata Ki Lurah Branjangan kepada Ki Ranadana,

Tetapi Ki Ranadana menggelengkan kepalanya. Katanya, “Pajang masih memerlukan mereka. Mudah-mudahan ada jalur yang dapat kami pergunakan untuk menemukan pemimpin mereka.”

Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak membantah. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya sekali lagi ia memandang orang-orang itu satu demi satu.

“Sayang,” katanya, “orang-orang penting di antara kalian telah meninggal.”

Tidak ada jawaban apa pun juga.

“Aku sudah cukup Ki Ranadana,” berkata Ki Lurah Branjangan. “Aku kira aku sudah dapat meyakinkan, bahwa orang-orang ini memang benar-benar bukan orang Mataram. Meskipun aku kira di antara mereka yang menjadi pimpinan dari kelompok ini ada yang berada di Mataram dan ada yang berada di Pajang. Kita akan sama-sama dapat membuat laporan kepada atasan kita, agar kita tidak terjerumus ke dalam keadaan yang sama-sama tidak kita kehendaki.”

“Ya,” Ki Ranadana mengangguk-anggukkan kepalanya, “kehadiran Ki Lurah Branjangan ternyata tidak sia-sia. Apa yang kau cemaskan telah terjadi di sini. Dan kau dapat meyakinkan kami bahwa mereka memang benar-benar bukan orang Mataram.”

Ki Lurah Branjangan tidak menjawab. Hanya kepalanya sajalah yang terangguk-angguk.

“Baiklah,” berkata Ki Ranadana, “biarlah mereka berada di situ. Marilah kita kembali ke pendapa. Sebentar lagi kita harus menyelenggarakan penguburan mayat-mayat itu.”

Mereka pun kemudian duduk kembali di pendapa. Tetapi rasa-rasanya mereka tidak tenang duduk di sebelah mayat-mayat yang berjajar-jajar meskipun mereka adalah prajurit-prajurit yang berpengalaman di medan perang.

“Ki Ranadana,” berkata Ki Lurah Branjangan, “aku tidak mempersoalkannya di hadapan orang-orang yang tertawan itu. Tetapi sebenarnya aku ingin membawa orang itu ke Mataram karena mereka mengaku orang-orang Mataram. Aku ingin membuktikan kepada Raden Sutawijaya bahwa kedudukannya benar-benar dalam keadaan yang goyah. Bukan karena ayahanda Sultan Pajang sendiri, tetapi oleh orang-orang yang tidak menyukainya. Yang mencoba mempergunakan hubungan yang memang agak kurang baik pada permulaan kerja kami membuka hutan-hutan di Mentaok, tetapi yang tidak berarti bahwa untuk selanjutnya hubungan itu akan bertambah keruh.”

“Maaf, Ki Lurah Branjangan,” jawab Ki Ranadana, “yang terjadi ini adalah di daerah kami. Daerah yang diserahkan kepada kami, dalam hal ini sebagai wakil Ki Untara. Aku harus menyelesaikan semua persoalan. Aku harus melaporkan apa yang terjadi bersama orang-orangnya sama sekali. Jika semuanya sudah diterima oleh atasanku, dan mereka mengijinkan Ki Lurah Branjangan untuk membawanya, aku sama sekali tidak berkeberatan. Jika tidak semua, mungkin dua tiga orang. Tetapi terserahlah kepada para senapati tertinggi di Pajang yang akan mengambil keputusan terakhir, termasuk Ki Untara sendiri.”

Ki Lurah Brajangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti, bahwa Ki Ranadana memang tidak dapat melepaskan orang-orang itu. Karena itu, maka ia pun berniat untuk menunggu sampai Untara datang.

Setelah berpikir sejenak, maka ia pun kemudian berkata, “Jadi apakah menurut Ki Ranadana, aku sebaiknya menunggu Ki Untara?”

“Jika Ki Lurah Branjangan dapat menunggu, aku kira tidak ada jeleknya, meskipun sudah tentu Ki Lurah tidak akan dapat mempersoalkannya setelah Ki Untara datang tanpa memberinya kesempatan untuk beristirahat dan melepaskan diri dan kesibukan pekerjaannya.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Benar juga kata-kata Ki Ranadana. Ia tidak akan dapat langsung membicarakannya begitu Untara datang, karena ia tidak datang seorang diri. Ia akan datang bersama isterinya.

“Jadi, bagaimanakah sebaiknya, Ki Ranadana?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Persoalannya sudah jelas. Ki Lurah ingin membawa bukti kepada Raden Sutawijaya, bahwa sejenis bahaya yang tidak dapat diabaikan sebenarnyalah memang ada, seperti hantu-hantu yang pernah mengganggu pembukaan hutan Mataram, meskipun dalam ujud yang berbeda. Tetapi Ki Lurah Branjangan tidak dapat tergesa-gesa. Dengan demikian, maka terserah kepada Ki Lurah, apakah Ki Lurah Branjangan akan menunggu di sini atau akan mengambil suatu tindakan lain.”

Ki Lurah menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya wajah-wajah yang ada di sekitarnya. Wajah Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan para perwira yang lain.

“Aku akan memikirkannya. Tetapi setidak-tidaknya Ki Ranadana sudah mengetahui persoalannya dan dapat menyampaikannya kepada Ki Untara. Mungkin aku akan mengambil jalan lain. Aku akan kembali ke Mataram, dan pada suatu saat aku akan datang lagi. Mungkin orang-orang ini sudah tidak ada di sini dan aku harus mengambilnya di Pajang.”

Ki Ranadana menarik nafas dalam-dalam. Jika Ki Lurah Branjangan benar-benar pergi ke Pajang, maka ia akan mendapat kesan yang lain. Bahkan seandainya saat itu di Jati Anom ada Ki Ranajaya seorang perwira muda yang mempunyai sikap yang keras terhadap Mataram, dan sempat banyak bertemu dan berbicara, persoalannya pun akan berbeda. Sedangkan di Pajang sikap yang berbeda-beda banyak ditemui di kalangan para perwira, di antaranya adalah mertua Ki Untara.

“Tetapi Ki Lurah Branjangan sendiri adalah bekas seorang perwira Pajang,” berkata Ki Ranadana di dalam hatinya. Dan bagi Ki Ranadana, tidak perlu diingkari, bahwa memang banyak di antara para perwira yang tidak puas melihat perkembangan Pajang di saat-saat terakhir.

Tetapi Ki Ranadana tidak mengatakannya. Ia akan menyerahkan hal itu sepenuhnya kepada Ki Untara, apakah yang akan dilakukannya jika pada suatu saat Ki Lurah Branjangan kembali untuk mendapatkan tawanan itu, meskipun hanya seorang.

Sejenak Ki Lurah Branjangan berpikir. Akhirnya ia merubah keputusannya untuk menunggu Untara, karena dirasakan akan memakan waktu terlalu lama. Karena itu, agaknya lebih baik baginya kembali saja ke Mataram, dan di saat yang lain kembali ke Jati Anom.

“Aku akan meninggalkan pesan saja,” berkata Ki Lurah Branjangan. “Jika aku menunggu, maka Raden Sutawijaya pasti akan menjadi gelisah. Disangkanya aku menjumpai halangan di sini. Karena itu, aku akan memilih jalan yang kedua. Kembali ke Mataram dan beberapa waktu kemudian datang lagi ke Jati Anom. Aku minta persoalannya telah diketahui oleh Ki Untara, dan akan lebih baik jika beberapa orang yang dapat kami bawa ke Mataram itu tetap tinggal di sini.”

“Tugas yang berat bagi kami,” sahut Ki Ranadana, “bukankah selama itu kita harus menjaganya?”

Ki Lurah Branjangan tersenyum. Jawabnya, “Hanya dua tiga orang saja. Aku kira bukan tugas yang sulit bagi prajurit Pajang yang kuat yang berada di Jati Anom.”

Ki Ranadana pun tertawa. Katanya, “Aku akan menyampaikannya. Keputusan terakhir tidak ada padaku, tetapi ada pada Ki Untara.”

“Aku mengerti,” Ki Lurah Branjangan pun menganggukkan kepalanya, lalu, “dengan demikian maka aku kira persoalan ini menjadi jelas. Aku akan kembali ke rumah Ki Widura untuk berkemas. Aku masih menunggu perkembangan keadaan sehari ini. Besok pagi-pagi aku akan kembali ke Mataram.”

Ki Ranadana mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Silahkan. Tetapi setiap saat kami akan minta Ki Lurah datang meskipun hanya hari ini, selama kami mengadakan pemeriksaan pendahuluan atas para tawanan itu.”

“Aku bersedia sampai malam nanti. Aku akan datang setiap saat aku dipanggil.”

Demikianlah Ki Lurah Branjangan pun kembali bersama Ki Widura ke Banyu Asri. Ternyata Ki Widura sudah tidak ingin mencampuri persoalan para prajurit itu terlampau banyak. Hanya dalam keadaan yang penting sajalah ia bersedia untuk berbuat sesuatu yang berada di dalam lingkungan keprajuritan.

Demikianlah mereka berdua hampir tidak berbicara apa pun di sepanjang perjalanan. Ki Lurah Branjangan sedang mereka-reka tindakan apakah yang sebaiknya dilakukan oleh Mataram menghadapi kenyataan itu, sedang Widura dipengaruhi oleh gambaran-gambaran yang buram yang dapat membatasi hubungan Pajang dan Mataram, sehingga jarak antara kedua kekuasaan resmi atau tidak resmi itu, menjadi semakin jauh.

Meskipun demikian ternyata Ki Lurah Branjangan masih mengharap kelak akan dapat membawa seorang atau dua orang dari antara para tawanan itu sebagai bahan yang langsung dapat didengar oleh pemimpin tertinggi di Mataram.

Sementara itu, sepeninggal Ki Lurah Branjangan, Ki Ranadana pun segera memerintahkan anak buahnya untuk berbuat sesuatu atas mayat-mayat yang masih terbaring di pendapa. Sedang yang lain mendapat tugas untuk mengurus para tawanan dan menempatkan dalam ruang yang dapat diawasi.

Selain tugas-tugas itu, maka Ki Ranadana pun segera memberitahukan kepada semua perwira dan pemimpin pasukan yang ada di Jati Anom tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. Mereka tidak boleh mengadakan tanggapan yang dapat mengeruhkan suasana damai di Jati Anom.

“Biarlah rakyat Jati Anom menunggu pengantin mereka dengan tenang. Jika satu dua orang mengetahui apa yang terjadi, mereka harus yakin, bahwa yang terjadi itu bukan suatu yang perlu menggelisahkan hati. Yang terjadi hanyalah sekedar pengacauan saat-saat Ki Untara melewati hari-hari pengantinnya. Pengacauan yang tidak berarti. Mereka sengaja membuat hari-hari yang penting bagi Ki Untara ini menjadi keruh. Karena itu, janganlah menambah dengan kekeruhan-kekeruhan baru. Prajurit-prajurit Pajang telah siap menjaga segala kemungkinan yang dapat terjadi. Seandainya hal seperti ini akan terulang, maka akibatnya pun sama sekali tidak akan menyentuh rakyat Jati Anom. Dan jangan sekali-sekali menghubungkan kekacauan ini dengan daerah mana pun juga di wilayah kekuasaan Pajang. Yang datang mengacau itu adalah sekelompok orang yang datang dari banyak penjuru,” pesan Ki Ranadana kepada setiap prajurit lewat pemimpin-pemimpin mereka.

Meskipun masih banyak pertanyaan yang timbul di hati setiap prajurit dan rakyat di Jati Anom, namun pesan Ki Ranadana itu telah sedikit memberikan ketenangan di hati mereka. Mereka percaya bahwa Ki Ranadana berkata sebenarnya. Bukan sekedar untuk menenangkan mereka saja. Apalagi mereka melihat kenyataan bahwa tidak ada seorang perwira pun yang terbunuh, meskipun ada juga beberapa prajurit yang terluka. Namun jelas, bahwa prajurit Pajang dalam waktu singkat berhasil menguasai kekacauan yang terjadi itu.

Dengan demikian maka kepercayaan rakyat Jati Anom kepada prajuritnya menjadi semakin kuat.

Dalam pada itu, ketika mayat yang berjajar di pendapa itu sudah dikuburkan sebagaimana seharusnya, mulailah Ki Ranadana bersama beberapa orang perwira memeriksa seorang demi seorang dari para tawanannya. Namun sebagian terbesar dari jawaban mereka sama sekali tidak dapat memberikan gambaran yang pasti tentang usaha mereka yang sebenarnya. Tentang pemimpin mereka dan tentang kekuatan yang ada pada mereka. Satu dua di antara mereka pernah mendengar nama Ki Damar dan Ki Telapak Jalak selagi pemimpin mereka berbicara dengan orang-orang yang tidak dikenal. Tetapi mereka seakan-akan sengaja dipisahkan dari jalur yang menghubungkan mereka dengan pemimpin-pemimpin tertinggi mereka.

Karena itu, maka Ki Ranadana tidak merasa perlu untuk menghubungi Ki Lurah Branjangan lagi. Biarlah ia beristirahat dan menyiapkan perjalanannya kembali bersama pengiringnya ke Mataram.

Demikianlah maka Ki Lurah Branjangan pun menyadari, agaknya ia memang tidak diperlukan lagi. Apa yang dilakukannya sudah cukup meyakinkan, bahwa orang-orang itu benar-benar bukan orang Mataram. Bahkan mungkin ada di antara mereka yang sudah mengaku, asal dan daerah tempat tinggal masing-masing.

Malam berikutnya, adalah malam yang terlampau sepi bagi Jati Anom. Bagaimana pun juga ada semacam perasaan ngeri merayap setiap hati. Meskipun mereka percaya bahwa prajurit Pajang akan melindungi mereka, tetapi bagi mereka, lebih baik berbaring di pembaringan dari pada berada di jalan-jalan yang senyap. Bahkan ada juga satu dua orang yang menyediakan senjata di bawah tikar, atau digantungkan pada dinding di samping pembaringan. Seandainya ada juga bahaya yang datang, mereka harus berbuat sesuatu untuk kampung halaman mereka.

Namun pada malam itu, sebenarnya adalah malam yang paling aman bagi Jati Anom. Di setiap gardu jumlah peronda ditambah menjadi dua kali lipat. Peronda-peronda yang berjalan berkeliling padukuhan diperbanyak pula dan hubungan prajurit berkuda antara padukuhan yang satu dan padukuhan yang lain menjadi semakin sering dilakukan. Bahkan prajurit-prajurit yang biasanya tidur di banjar dan di kademangan, telah berpencar di beberapa tempat untuk menjaga setiap kemungkinan yang dapat terjadi.

Tetapi semua itu dilakukan setelah senja turun, sehingga kesibukan para prajurit itu tidak justru menimbulkan kegelisahan pada hati rakyat Jati Anom.

Namun agaknya malam itu benar-benar malam yang sepi. Meskipun ada juga ketegangan di hati para prajurit yang bertugas, namun ternyata bahwa tidak seorang pun yang lewat memasuki Kademangan Jati Anom. Jalan-jalan menjadi lengang, dan lampu-lampu di setiap rumah cahayanya seakan-akan menjadi redup. Bahkan tidak ada seorang pun yang keluar dari rumahnya pergi ke sawah meskipun mendapat giliran menerima air di malam itu. Hati mereka masih dibayangi oleh peristiwa semalam. Meskipun mereka tidak melihat apa yang terjadi, namun mereka melihat iring-iringan mayat yang dibawa ke kuburan, dan mereka juga melihat prajurit Pajang yang terluka, bahkan ada yang cukup parah.

Prajurit Pajang sendiri menyadari, seandainya mereka belum mengetahui sebelumnya apa yang akan terjadi, mungkin serangan itu sebagian besar akan berhasil. Meskipun seandainya mereka sempat memukul isyarat, namun pasti sudah jatuh korban di rumah kediaman Untara yang dipergunakan oleh para perwira itu. Dan korban-korban itu akan menuntut jatuhnya korban-korban berikutnya, karena tentu orang-orang Pajang akan marah dan menganggap bahwa orang-orang Mataram-lah yang telah melakukannya.

Dan karena itulah maka Ki Ranadana bersyukur di dalam hati. Ternyata orang tua bercambuk itu telah berhasil mencegah suatu benturan yang dahsyat yang dapat terjadi akibat dari peristiwa yang tidak terduga-duga itu seandainya benar-benar terjadi. Karena itu, diucapkan atau tidak diucapkan, maka Ki Ranadana dan setiap prajurit Pajang yang mengetahui persoalan itu selengkapnya akan mengucapkan terima kasih kepada Kiai Gringsing, yang pada malam itu juga terluka meskipun tidak berarti, karena luka itu pasti akan segera sembuh.

Demikianlah perlahan-lahan malam itu pun akhirnya sampai juga pada ujungnya. Ketika langit menjadi merah, maka setiap prajurit yang tegang sepanjang malam menjadi agak lapang. Malam itu ternyata telah mereka lalui tanpa terjadi sesuatu peristiwa yang dapat mengguncangkan ketenteraman Kademangan Jati Anom.

Namun para prajurit itu sadar, bahwa bahaya itu dapat datang bukan saja malam yang lewat. Tetapi masih akan datang lagi malam-malam berikutnya. Bahkan mungkin di siang hari, justru di siang hari prajurit-prajurit Pajang tidak begitu bersiaga seperti di malam hari.

Dalam pada itu, di rumah Ki Widura, Ki Lurah Branjangan telah selesai berkemas. Mereka telah siap meninggalkan rumah Ki Widura kembali ke Mataram.

“Aku mengucapkan terima kasih bahwa Prajurit Pajang telah berhasil mencegah usaha yang keji itu,” berkata Ki Lurah Branjangan kepada Ki Widura. “Jika tidak maka akibatnya akan sangat parah bagi hubungan antara Pajang dan Mataram.”

“Ki Lurah telah melihat sendiri apa yang terjadi di sini,” sahut Widura. “Mudah-mudahan hal ini akan menjadi bahan pertimbangan bagi Raden Sutawijaya yang seakan-akan mengasingkan dirinya dari keluarga istana Pajang.”

Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba ia menganggukkan kepalanya, “Ki Widura benar. Memang Raden Sutawijaya di tengah-tengah hutan belantara yang sedang dibuka. Tetapi aku kira bukan itu soalnya. Raden Sutawijaya dan ayahnya, Ki Gede Pemanahan, terlampau sibuk dengan kerja itu, sehingga masih belum sempat datang menghadap Ayahanda Sultan Pajang. Tetapi tentu bukan maksudnya untuk memisahkan dirinya dari keluarga Sultan Pajang, karena Raden Sutawijaya adalah putera angkatnya yang terkasih, hampir tidak ada bedanya dengan putera Sultan sendiri. Pangeran Benawa.”

Ki Widura tidak menyahut, meskipun kepalanya terangguk-angguk. Yang dikatakan oleh Ki Lurah Branjangan itu adalah sudut pandangan orang-orang Mataram. Namun adalah mustahil bahwa Raden Sutawijaya benar-benar tidak mempunyai waktu sama sekali.

Tetapi Ki Widura tidak mau berbantah dengan seorang perwira Mataram yang pernah menjadi kawannya di dalam lingkungan keprajuritan Pajang. Apalagi kini ia adalah tamunya. Karena itu maka ia pun tidak berusaha membantah meskipun apa yang dikatakan oleh Ki Lurah Branjangan itu tidak sesuai di hatinya.

Ki Lurah Branjangan pun kemudian tidak lagi memperbincangkan Raden Sutawijaya. Sekali lagi ia minta diri untuk segera kembali ke Mataram.

“Selamat jalan, Ki Lurah. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa di sepanjang jalan.”

Ki Lurah Branjangan tertawa. Jawabnya, “Mudah-mudahan tidak ada orang Mataram yang menyamun aku di perjalanan.”

Ki Widura pun tertawa pula.

“Aku akan singgah sejenak, untuk minta diri kepada Ki Ranadana. Tetapi aku akan terus melakukan perjalanan tanpa kembali lagi kemari.”

“Silahkan, Ki Lurah,” sahut Widura. “Ki Ranadana akan senang sekali menerimamu. Marilah, aku akan menyertaimu sampai ke rumah Untara itu.”

Demikianlah Ki Lurah Branjangan itu pun singgah sejenak di rumah Untara untuk minta diri kepada orang-orang yang ada di sana. Ki Ranadana, Kiai Gringsing dengan kedua muridnya, Ki Sumangkar, dan perwira-perwira Pajang yang lain.

Demikianlah maka Ki Lurah Branjangan segera mulai dengan perjalanannya menuju ke Mataram. Ke daerah yang baru dibuka dan masih merupakan suatu kerja yang sangat berat, sebelum Mataram menjadi kota yang cukup besar. Ternyata bahwa daerah yang sedang tumbuh itu harus menghadapi tantangan-tantangan yang cukup berat, yang seakan-akan tersebar di segala penjuru tanah Pajang. Hambatan-hambatan itu ada di Alas Mentaok yang sedang dibuka itu, di daerah perbatasan yang tidak nyata antara Pajang dan Mataram. Bahkan di Pajang dan di Mataram sendiri.

Sepeninggal Ki Lurah Branjangan, maka Kiai Gringsing dan kedua muridnya bersama Ki Sumangkar pun segera minta diri kepada Ki Ranadana. Mereka akan tinggal saja di rumah Widura. Terasa di sana lebih nyaman dan tidak terikat oleh keseganan seperti tinggal bersama para perwira itu.

“Kau juga Agung Sedayu?” bertanya Ki Ranadana.

“Ya. Bukankah aku sedang menyelenggarakan perhelatan perkawinan kakakku.”

Ki Ranadana tersenyum. Katanya, “Tetapi rumah ini adalah rumahmu. Jika kau ingin tinggal di sini kau berada di rumahmu sendiri.”

Agung Sedayu tertawa. Tetapi sebelum ia menjawab, Swandaru sudah mendahuluinya, “Di sini tidak ada asap di dapur seperti di rumah Paman Widura sekarang. Jika asap itu sudah lenyap, kami pun akan segera berpindah tempat lagi.”

Semua yang mendengar kata-kata Swandaru itu tertawa. Ki Ranadana tertawa pula. Ia senang melihat anak muda yang gemuk itu. Selain berkelakar, ia pandai juga menggerakkan senjatanya yang aneh itu seperti senjata gurunya. Bahkan ia kagum melihat hasil yang telah dicapai oleh Kiai Gringsing. Ternyata ia telah membentuk kedua muridnya menjadi anak-anak muda yang mengagumkan.

Demikianlah maka Kiai Gringsing beserta murid-muridnya dan Ki Sumangkar segera meninggalkan rumah itu. Sebelum mereka melangkah ke luar regol, Ki Ranadana berkata, “Kami masih selalu memerlukan bantuan Kiai berdua dan kedua anak-anak muda itu.”

Kiai Gringsing tersenyum, “Tentu. Kami akan berusaha sejauh dapat kami lakukan. Kami tidak akan tinggal jauh. Kami masih akan tinggal di rumah Ki Widura menunggu pengantin itu datang.”

“Terima kasih,” sahut Ki Ranadana, “mungkin untuk waktu yang lama sekali setelah Ki Untara hadir di sini, kalian masih tetap kami minta tinggal di sini.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Ia hanya tertawa saja sambil mengangguk-angguk kecil.

Sejenak kemudian, maka mereka pun telah meninggalkan rumah itu. Di sepanjang jalan yang tidak begitu panjang, mereka tidak terlalu banyak berbicara. Mereka melihat prajurit-prajurit Pajang yang selalu siap menghadapi setiap kemungkinan. Siang dan malam. Namun mereka tampaknya berhasil membuat penduduk Jati Anom tidak gelisah, justru merasa tenang melihat kesiagaan para prajurit.

Ternyata bahwa setelah peristiwa yang berhasil disederhanakan oleh para perwira dan prajurit Pajang itu sehingga tidak menegangkan hati orang-orang Jati Anom tidak ada lagi yang terjadi. Kedua orang yang mencoba mencegah kawan-kawannya menyerang rumah itu tetapi terlambat, masih sempat melaporkan kehancuran kawan-kawannya kepada pemimpin-pemimpin mereka yang lebih tinggi di Pajang.

“Gila,” berkata salah seorang dari pemimpin itu, “kita telah terjebak. Siapakah yang dapat ditangkap?”

“Tidak ada yang dapat lepas. Sebagian terbunuh dan sebagian tertangkap hidup.”

Namun akhirnya mereka mendapat keterangan juga, bahwa kedua orang yang justru paling terpercaya dari pasukan itu telah terbunuh. Mereka pun mengetahui pula, bahwa di dalam pertempuran yang terjadi itu terdengar bunyi cambuk yang meledak-ledak.

“Orang bercambuk itu benar-benar berbahaya. Seakan-akan ia berada di segala tempat untuk merintangi tugas-tugas kita. Tetapi kita tidak akan berhenti. Kita akan menyingkirkan Sutawijaya dari Mataram, bagaimana pun juga caranya.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukan kepalanya. Mereka tetap sependapat bahwa Mataram harus dilebur. Barulah akan bangkit suatu kekuatan baru di Mataram, meskipun tidak dengan tiba-tiba. Perlahan-lahan Mataram akan bangun dengan wajah yang baru sama sekali.

Tetapi di antara mereka ternyata menghendaki lebih daripada itu. Bukan saja Mataram, tetapi Pajang pun harus hancur. Tanpa Pajang yang sekarang, tidak akan ada kekuatan yang dapat mengikat kesatuan tanah ini. Kesempatan untuk bangkit bagi Mataram akan menjadi semakin luas.

Tetapi satu hal yang masih menjadi persoalan, bahwa di antara para pemimpin gerombolan itu, tidak ada seorang yang bernama Raden Sutawijaya atau Ki Gede Pemanahan, atau Ki Penjawi atau Ki Juru Martani, atau nama-nama lain yang mempunyai pengaruh yang cukup. Yang ada hanyalah nama-nama yang tidak dikenal oleh rakyat Pajang pada umumnya, meskipun ada di antara mereka yang memiliki kemampuan seperti Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak. Bahkan perwira Pajang yang terlibat dalam rencana ini pun bukanlah perwira yang namanya lebih besar dari Untara yang muda itu.

Meskipun demikian mereka berusaha terus. Namun mereka mulai curiga di antara mereka sendiri. Jika tidak ada seorang pengkhianat, maka pasukan mereka yang menyerang rumah kediaman para perwira di Jati Anom itu tidak akan terjebak.

Demikianlah, untuk beberapa saat Jati Anom masih tetap tenang. Menjelang hari kelima dari hari perkawinan Untara, maka Jati Anom telah menjadi pulih kembali. Peristiwa yang pernah terjadi di kediaman para perwira itu sudah hampir dilupakan. Baik oleh rakyat Jati Anom mau pun oleh para prajurit Pajang, meskipun mereka tetap berada di dalam kesiap-siagaan.

Di hari yang sudah ditentukan, genap sepasar hari perkawinan Untara, maka rumah Widura pun menjadi ramai.

Hari itu, kedua pengantin akan datang ke Banyu Asri. Di malam harinya akan diadakan upacara sekali lagi mempertemukan pengantin itu dalam upacara ngunduh pengantin. Di hari yang penting itu, bertebaranlah prajurit Pajang memenuhi kademangan. Bahkan di sawah-sawah pun bertebaran prajurit sandi yang ikut bekerja bersama para petani. Mereka memakai pakaian petani dan membawa cangkul di pundak. Tetapi di lambung mereka tergantung sebuah pedang pendek di bawah kain yang mereka singsingkan.

Dengan demikian maka Jati Anom pun menjadi sibuk. Di hari itu, tampaknya sawah yang menebar di seputar padukuhan induk Jati Anom menjadi lebih ramai dari biasanya. Tampaknya petani di Jati Anom menjadi bertambah banyak. Di gubug-gubug di tengah sawah. Di pematang, di tanggul parit, dan di tengah-tengah tanaman jagung yang hampir berbuah.

Namun tidak banyak orang yang menghiraukannya, ada juga satu dua orang lewat yang merasa melihat sesuatu yang agak lain di daerah persawahan itu. Begitu banyak orang yang turun ke sawah pada hari itu. Tetapi mereka tidak menghiraukannya lagi. Sedang bagi orang Jati Anom hal yang serupa itu sudah tidak mengejutkan lagi. Mereka sudah sering melihat prajurit-prajurit sandi yang berkeliaran dalam pakaian seorang petani. Namun agaknya memang tidak sebanyak menjelang datangnya Untara bersama isterinya.

Kesiagaan di hari kelima itu memang agak luar biasa. Mereka bukan semata-mata menjaga keselamatan Untara. Tetapi lebih dari pada itu, mereka menjaga agar peristiwa yang mungkin terjadi itu tidak membakar hati para perwira Pajang dan melemparkan kesalahan kepada orang-orang Mataram.

Menurut utusan yang mendahului, kedua pengantin itu akan datang menjelang sore hari. Mereka beristirahat sejenak, kemudian di malam harinya mereka langsung akan dipersandingkan. Untara sendiri berharap agar semuanya segera selesai, sehingga ia segera dapat melangsungkan tugasnya lagi. Meskipun barangkali ia masih harus beristirahat beberapa hari setelah upacara sepekan itu, namun apabila semuanya sudah selesai, maka ia akan dapat melakukan sebagian tugasnya selagi ia masih beristirahat.

“Pengantin itu berangkat di pagi-pagi benar,” berkata utusan itu, “pengantin laki-laki naik kuda bersama para pengiring, sedang pengantin perempuan naik tandu. Perjalanan mereka tidak akan dapat terlalu cepat. Apalagi di sepanjang jalan, banyak orang yang melihat dan tentu mengganggu perjalanan mereka pula.”

Widura pun segera mempersiapkan penyambutan sebaik-baik dapat dilakukan. Beberapa orang tamu sudah siap di pendapa sejak tengah hari. Bahkan Ki Demang Jati Anom pun telah berada di rumah Widura sejak pagi.

Agung Sedayu dan Swandaru yang menunggu kedatangan pengantin itu pun menjadi tegang pula. Masih terbayang orang-orang yang dengan tiba-tiba saja menyerbu rumah kediaman para perwira. Jika hal itu belum diketahui sebelumnya, maka akibatnya pasti akan mengerikan. Barangkali, demikian Untara datang, maka ia akan segera memimpin pasukan ke Mataram.

“Untunglah, hal itu tidak terjadi,” desis Agung Sedayu.

“Apa?”

“Orang-orang yang malam itu datang menyerbu.”

“O,” Swandaru pun mengerti apa yang dipikirkan oleh Agung Sedayu, karena ia sendiri setiap kali juga memikirkannya.

“Tetapi penjagaan kali ini cukup, bahkan terlalu kuat. Kapan dan dari mana pun datangnya pengacauan, pasti akan diketahui dan dapat dihentikan jauh dari Banyu Asri dan kademangan induk.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang Jati Anom saat itu sudah berpagar prajurit. Dalam pakaian keprajuritan mau pun yang dalam pakaian sandi.

Namun bagi Agung Sedayu, bahaya yang dapat timbul bukan sekedar di Jati Anom. Jalan yang ditempuh oleh Untara cukup panjang sehingga banyak kemungkinan yang dapat terjadi di sepanjang perjalanan itu.

“Apa yang kau pikirkan?” bertanya Swandaru karena Agung Sedayu justru merenung.

“Perjalanan Kakang Untara.”

“Tetapi bagaimana pun juga, tidak ada lagi orang yang dapat melemparkan kesalahan kepada Mataram. Kakang Untara sendiri sudah mengetahuinya, bahwa yang datang mengacau itu sama sekali bukan orang Mataram.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Memang bukan orang Mataram. Tetapi persoalan Mataram sendiri akan semakin berkembang.”

“Ya,” sahut Swandaru, “Mataram akan berkembang sejalan dengan persoalan-persoalannya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya daerah yang sedang tumbuh itu akan banyak mengalami tantangan yang harus dijawab. Tidak dengan ledakan perasaan, tetapi dengan hati yang dingin dan sikap yang dewasa.

Namun dalam pada itu, orang-orang Jati Anom sendiri hampir tidak menghiraukan lagi persoalan-persoalan yang tumbuh di antara dua pusat kepemimpinan Pajang yang seakan-akan terpecah. Jika yang terjadi itu seperti berkembangnya daerah Pati, maka tidak akan banyak menimbulkan persoalan-persoalan yang rumit. Tetapi Mataram lahir dalam suasana yang tegang.

Lewat tengah hari, telah banyak anak-anak yang berkumpul di pinggir padukahan, di tepi-tepi jalan yang akan dilewati oleh Untara. Bahkan beberapa orang anak-anak muda duduk-duduk di gardu sambil bergurau dan menunggu kedatangan pengantin yang agak lain dari pengantin yang sering mereda saksikan di Jati Anom. Pengantin yang akan datang adalah seorang senapati yang memiliki pengaruh yang besar di dalam dan di luar istana.

Tetapi seperti yang sudah diperkirakan, Untara akan datang ke rumah pamannya menjelang sore hari. Ketika matahari ada di puncak langit iring-iringan itu masih berada di perjalanan.

Seperti kesiagaan para prajurit Pajang di Jati Anom, demikian pula kesiagaan iring-iringan itu. Apalagi Untara yang sedang kawin itu mengerti, bahwa di Jati Anom telah terjadi kerusuhan, meskipun ia belum mengetahui secara terperinci apakah yang sudah terjadi. Jika orang-orang yang gagal itu kehilangan akal, dapat saja mereka mencegat iring-iringan yang sedang berada di perjalanan.

Karena itulah, maka di antara iring-iringan itu terdapat sepasukan kecil prajurit. Namun di antara para pengiring yang memakai pakaian lengkap, untuk mengunjungi perhelatan itu pun terdapat beberapa orang perwira kawan-kawan Untara. Sedang sebagian lagi adalah juga prajurit-prajurit sandi yang bertugas mengawal pengantin.

Namun sebenarnya Untara sendiri tidak mencemaskan perjalanan itu. Setiap orang, juga orang-orang yang ingin mengacau, tentu sudah mempunyai perhitungan, bahwa iring-iringan ini pasti merupakan iring-iringan bukan saja orang tua yang mengantar pengantin, tetapi juga sepasukan prajurit yang siap untuk bertempur di setiap saat. Hanya apa bila mereka mempunyai kekuatan yang besar sekali, mereka akan berani mengganggunya.

Demikianlah iring-iringan pengantin itu berjalan lewat padukuhan-padukuhan yang penuh dengan orang-orang yang ingin menyaksikannya di sebelah-menyebelah jalan. Bahkan anak-anak sudah mulai bersorak-sorak sejak mereka melihat debu mengepul di kejauhan.

Di dalam terik sinar matahari, tampaklah warna-warna yang cerah seakan-akan berkeredipan di antara debu yang terlempar dari kaki-kaki kuda. Bagi mereka yang menunggu, rasa-rasanya perjalanan itu terlampau lambat.

Namun bukan saja bagi yang menunggu, baik di sepanjang jalan mau pun di Jati Anom, tetapi bagi Untara dan isterinya yang duduk di dalam tandu itu pun terasa, perjalanan ini terlampau lambat.

Meskipun demikian, mereka pun menjadi semakin dekat pula dengan tujuan. Semakin lama semakin dekat, dan hati Untara pun menjadi semakin berdebar-debar. Bukan hanya karena ia akan disambut oleh orang-orang tua di Jati Anom sebagai mempelai yang dihormati, tetapi ia ingin segera mendengar dengan pasti apa yang sudah terjadi sepeninggalnya.

Untara tersenyum di dalam hati, ketika ia memasuki daerah Jati Anom. Di antara mereka yang menunggunya di pinggir-pinggir jalan, dilihatnya beberapa orang prajuritnya. Bahkan ketika ia menebarkan pandangan matanya ke tanah persawahan, dilihatnya beberapa orang yang kotor oleh lumpur berdiri di pematang, Untara menarik nafas dalam-dalam.

“Tentu sesuatu telah benar-benar terjadi di sini,” katanya di dalam hati. “Penjagaan tampaknya diperkuat. Petugas-petugas sandi bertebaran di segala tempat, bahkan di bulak-bulak yang masih agak jauh dari Jati Anom.”

Dengan demikian hati Untara menjadi kian berdebar-debar. Perjalanan itu terasa seakan-akan menjadi semakin lambat. Tetapi terhadap para pengiring, ia tidak dapat membentak seperti kepada para prajurit, agar perjalanan ini dipercepat.

Ternyata meskipun Untara sedang diiringi oleh orang-orang tua dalam pakaian pengantin, namun ia tidak dapat melepaskan tanggung jawabnya. Justru yang paling menggelisahkan adalah keadaan Jati Anom daripada tentang dirinya sendiri.

“Tetapi di sana ada Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar,” Untara mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Bagaimana pun lambatnya, namun akhirnya iring-iringan pengantin itu pun memasuki dan berjalan menyelusur jalan padukuhan menuju ke rumah Ki Widura. Seorang utusan dengan tergesa-gesa mendahului dan mengabarkan kepada mereka yang sudah menunggu, bahwa rombongan pengantin telah datang.

Maka anak-anak yang sudah berkerumun di muka regol pun segera berteriak-teriak. Mereka berdesak-desakan untuk melihat, alangkah gagahnya Untara yang mengendarai seekor kuda yang tegar di samping sebuah tandu yang bertabir kain yang mengkilap.

Ketika iring-iringan itu memasuki regol, maka mereka pun segera berhenti. Untara meloncat turun dari kudanya, sementara tandunya pun diturunkan pula dari pundak para pengusungnya.

Demikianlah maka Widura segera menerima sepasang mempelai itu, dan mengiringkannya masuk ke dalam.

Tetapi kedua pengantin itu tidak naik lewat pendapa. Mereka berjalan di sisi pendapa, lewat longkangan naik di pintu samping. Mereka masih belum memasuki pendapa, karena upacara itu masih akan dilakukan malam nanti.

Dengan demikian maka kedua mempelai itu langsung dibawa ke dalam bilik yang sudah disediakan untuk beristirahat.

Namun demikian, setelah berganti pakaian dan minum seteguk Untara pun segera keluar dari biliknya menemui para tamu yang menunggunya di pendapa. Tetapi pertemuan itu masih belum merupakan pertemuan yang resmi.

Ki Demang dan beberapa orang tua pun kemudian menyapanya dan menanyakan keselamatannya. Kemudian mereka menanyakan apakah selama ini keadaannya dan isterinya baik-baik saja.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Untara menjawab sambil tersenyum. Seperti kebiasaan pula, maka jawabnya, “Baik. Keadaan kami selalu baik.”

Setelah mereka berbicara sejenak, maka hati Untara rasa-rasanya sudah tidak sabar lagi. Setiap kali dipandanginya Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, pamannya Widura, dan Ki Ranadana. Seakan-akan ia tidak sabar lagi menunggu datangnya suatu saat untuk bertanya kepada mereka, apakah yang sudah terjadi di Jati Anom.

Agaknya Kiai Gringsing dapat menebak isi hati Untara, sehingga katanya, “Untuk berapa hari Anakmas Untara akan beristirahat tanpa memikirkan tugas keprajuritan. Agaknya perlu juga bagi Anakmas untuk melupakan semua persoalan yang setiap hari membebani badan dan pikiran. Agaknya untuk beberapa lamanya, tidak akan terjadi apa-apa di Jati Anom. Sampai saat ini Jati Anom aman dan tenteram.”

Untara mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun menarik nafas dalam-dalam. Meskipun demikian terloncat juga pertanyaannya, “Apakah tidak terjadi sesuatu selama ini?”

“Ada peristiwa-peristiwa kecil yang tidak berarti. Yang sama sekali tidak mengganggu sendi-sendi kehidupan di Jati Anom,” jawab Kiai Gringsing.

“Bagaimana dengan para perwira?”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Dipandanginya saja Ki Ranadana yang mengangguk-anggukkan kepalanya, dan katanya kemudian, “Para perwira tetap menjalankan tugas mereka dengan baik. Tidak terjadi sesuatu atas mereka. Dan mereka saat ini lengkap menyambut kedatangan Ki Untara berdua, selain yang sedang bertugas.”

Sekali lagi Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti, bahwa para perwira yang menjadi sasaran para penyerang itu ternyata selamat. Agaknya Ki Ranadana bersama Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berhasil menyergap mereka sebelum jatuh korban.

“Lalu bagaimana dengan para prajurit?” ia bertanya pula.

“Tidak ada apa-apa dengan mereka. Ki Untara memang dapat melupakan mereka sejenak di hari-hari perkawinan itu. Mereka tetap dalam keadaan yang baik.”

Hati Untara menjadi agak lega. Tidak langsung Ki Ranadana sudah memberikan laporan kepadanya. Meskipun belum terperinci, tetapi pada pokoknya para perwira dan prajurit yang ada di Jati Añom selamat semuanya.

Demikianlah maka Untara pun dapat melepaskan ketegangan di hatinya. Ia pun kemudian dapat menanggapi pembicaraan tamu-tamunya yang lain. Orang tua-tua dan sanak kadang.

Tetapi sebentar kemudian ia pun sudah harus masuk lagi ke dalam biliknya, untuk segera ditempatkan di gandok, karena dalam upacara nanti, ia akan datang ke pendapa dari gandok, sedang isterinya akan menyongsongnya dari pringgitan.

Sementara itu, tamu-tamunya masih saja berdatangan. Semakin lama semakin banyak sehingga pendapa rumah Ki Widura itu hampir menjadi penuh karenanya. Juga tamu-tamu dari Sangkal Putung.

Selama itu Untara memang dapat melupakan tugasnya sehari-hari. Apalagi ketika ia sedang sibuk mengenakan pakaian kebesaran seorang pengantin. Bukan saja pengantin seorang anak muda padukuhan. Tetapi pengantin seorang yang terpandang.

Namun dalam pada itu di antara orang-orang yang berdesak-desakan di halaman, yang ingin melihat upacara yang akan berlangsung di depan pendapa, terdapat orang-orang yang tidak dikenal di Jati Anom. Orang-orang yang tidak hanya sekedar ingin menyaksikan pengantin itu, tetapi juga ingin menyaksikan suasana yang meliputi padukuhan dan seluruh Kademangan Jati Anom.

Tetapi di antara mereka yang asing, maka ada pula anak-anak muda Jati Anom yang ikut berdesak-desakan di antara para penonton. Meskipun sebenarnya mereka telah menjadi seorang prajurit, tetapi kali ini ia sama sekali tidak dalam pakaian seorang prajurit. Sebagai anak Jati Anom mereka dapat mengenal orang-orang Jati Anom sendiri.

Dengan demikian maka anak-anak muda itu mengenal pula orang yang sama sekali asing baginya. Sedangkan orang-orang dari padukuhan di sekitarnya pada umumnya pernah juga dilihatnya selagi mereka pergi ke sawah, ke pasar dan kadang-kadang mereka saling kunjung-mengunjungi. Karena itu wajah-wajah yang asing itu pun segera mendapat perhatian. Mungkin mereka benar-benar datang dari tempat yang jauh sekedar melihat pengantin yang agak lain dari pengantin yang biasa mereka saksikan. Tetapi bagi petugas-petugas sandi dari Pajang itu, setiap yang asing harus mendapat pengawasan. Apalagi setelah terjadi serangan atas rumah Untara yang dihuni oleh para perwira.

Agaknya kedua belah pihak sudah saling mengetahui bahwa mereka saling mengawasi. Tetapi selagi mereka yang asing bagi anak-anak muda Jati Anom yang mendapat tugas sandi itu tidak berbuat apa-apa, maka tidak akan ada alasan untuk bertindak atas mereka.

“Penjagaan benar-benar ketat sekali,” desis seseorang di telinga kawannya yang berdiri di sisinya.

“Sst, aku curiga pada anak muda di belakang kita. Meskipun ia berpakaian bukan seperti seorang prajurit dan tampaknya ia memang anak Jati Anom karena ia mengenal hampir setiap orang, namun agaknya ia mendapat tugas khusus untuk mengawasi orang-orang yang bertebaran di halaman ini, termasuk kita.”

Kawannya tidak berpaling, tetapi kepalanya terangguk kecil.

“Dimana Bubut dan Kandar?”

“Di ujung Barat. Tetapi tentu ada pula yang mengawasi mereka.”

“Kita tidak peduli. Kita tidak akan berbuat apa-apa di sini. Kita hanya sekedar nonton pengantin dan melihat suasana.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sejenak kemudian, ketika di depan gandok terjadi desak-mendesak, maka tahulah orang-orang di halaman bahwa pengantin sudah siap untuk dipertemukan dalam upacara. Karena itu, maka orang-orang yang lain pun mulai berdesak-desakan pula, terutama anak-anak. Mereka berebut dahulu berdiri di depan. Apabila pengantin nanti telah lewat setelah selesai dengan berbagai macam upacara di halaman, membasuh kaki, lempar-melempar sadak, berdiri di atas pasangan dan kemudian bersama-sama memasuki pendapa, maka semua kelengkapan di tiang depan dapat diperebutkan oleh anak-anak. Dua tandan pisang raja, dua jenjang kelapa, padi, dan masih ada beberapa macam buah-buahan yang lain.

Orang-orang yang berwajah asing itu pun dengan sendirinya terdesak pula ke depan. Tetapi anak-anak muda Jati Anom dalam tugas sandinya sebagai seorang prajurit, mendesak maju pula di belakang mereka.

Demikianlah, maka upacara pun segera berlangsung. Seperangkat gamelan mengiringi dengan gending-gending yang agung. Beberapa orang-orang tua duduk di paling depan memberikan restunya dengan nasehat-nasehat dan petunjuk-petunjuk.

Karena Untara sudah tidak mempunyai orang tua, maka upacara pangkon dilakukan oleh pamannya Widura, yang duduk bersila di tengah-tengah ruang dalam, di muka sentong tengah. Pengantin laki-laki duduk di ujung lutut kanannya dan pengantin perempuan duduk di ujung lutut kirinya.

“Bagaimana?” seorang laki-laki tua bertanya.

“Seimbang,” jawab Widura sambil menyeringai. Lututnya terasa agak sakit juga menahan berat tubuh Untara dan isterinya.

“Turunlah,” berkata laki-laki tua itu.

Kedua pengantin itu pun kemudian turun dari lutut Widura dan Widura pun menarik nafas.

Upacara itu pun kemudian disusul dengan upacara-upacara lain, asok kaya, menyuapi isterinya dengan nasi kepelan dan upacara-upacara yang lain sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang senapati yang besar.

Namun perhelatan itu sendiri sama sekali bukan suatu perhelatan yang berlebih-lebihan. Bahkan terlalu sederhana bagi seorang senapati yang namanya sudah dikenal oleh setiap prajurit di belahan Selatan Kerajaan Pajang.

Dalam pada itu, selagi di Jati Anom berlangsung upacara ngunduh pengantin, maka di Mataram Raden Sutawijaya duduk menghadap ayahandanya Ki Gede Pemanahan. Pada wajahnya nampak bahwa keduanya sedang memperbincangkan suatu masalah dengan bersungguh-sungguh.

“Kali ini mereka gagal mengumpankan nama Mataram, Ayah, tetapi lain kali?”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kita harus memperhatikan masalah ini dengan sungguh-sungguh. Aku puji kegigihan sekelompok orang yang berusaha mengusir kita dari tanah yang sudah kita buka ini. Mereka gagal bermain hantu-hantuan. Kini mereka mempergunakan cara lain yang tidak kalah berbahayanya. Bahkan mungkin akan berakibat sangat jauh apabila orang-orang Pajang tidak selalu berusaha mengendalikan diri. Aku tahu, beberapa orang yang tidak dapat mengendalikan diri berusaha menggagalkan usaha kita. Tampaknya usaha mereka berhasil sebagian, karena sampai saat ini, Sultan Pajang tidak juga memberikan ketetapan yang tegas atas tanah yang sudah terbuka ini. Berbeda dengan Pati, kita masih harus menunggu apakah daerah ini akan diakui sebagai suatu daerah yang dapat berdiri sendiri dalam bentuk yang mana pun.”

Raden Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Ki Lurah Branjangan menyarankan agar ada hubungan langsung antara kita dengan Ayahanda Sultan di Pajang. Tetapi aku berkeberatan sebelum ada pengakuan yang tegas atas tanah ini.”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Meskipun tidak terlampau dalam, namun ada juga kecemasan yang merayapi hatinya. Ternyata bahwa Raden Sutawijaya adalah seorang anak muda yang keras hati. Ia sadar, bahwa ada ketimpangan pada sikap Sultan Pajang, sehingga dengan demikian hubungan batin antara Sutawiiaya dan Sultan Paiahg itu pun agaknya semakin lama menjadi semakin jauh dan bahkan seolah-olah tidak akan dapat dipertautkan kembali.

Tetapi selain kecemasan, ada juga sedikit penyesalan di hati Ki Gede Pemanahan. Ialah yang mula-mula meninggalkan istana Pajang dan kembali ke Sela. Ia tidak mau menerima sikap Sultan Pajang yang menunda-nunda hadiah yang sudah dijanjikan, sedang kawannya, seorang senapati yang lain telah menerima bagiannya. Apalagi Ki Gede Pemanahan merasa bahwa tanah yang diperuntukkan baginya adalah sebuah hutan belantara yang masih memerlukan penggarapan yang lama dan tekun.

“Jika aku tidak bersikap keras, maka daerah ini pasti masih belum diserahkan dengan resmi,” berkata Pemanahan di dalam hati, namun, “tetapi sikap itu agaknya mempengaruhi pendirian Sutawijaya yang tidak kalah kerasnya dari sikapku sendiri.”

Ki Gede Pemanahan mengangkat wajahnya ketika ia mendengar anaknya berkata, “Ayah, kenapa Ayahanda Sultan Pajang tidak segera mengakui kedudukan kita?”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mau membakar hati anaknya lagi. Bagaimana pun juga, pertentangan yang berkepanjangan tidak akan menguntungkan bagi kedua belah pihak. Tetapi ia pun tidak ingin menganjurkan agar anaknya merendahkan dirinya, memohon dan memohon kemurahan hati Sultan Pajang atas kedudukannya di Mataram. Kedudukan itu adalah haknya sebagaimana hak Ki Penjawi atas Pati, Dan sikapnya itu sama sekali bukan meloncat dari perasaan iri dan dengki. Ki Gede Pemanahan merasa senang bahwa sahabatnya telah berada dalam kedudukan yang wajar, sesuai dengan pengabdiannya kepada Pajang. Namun ia mengharap bahwa haknya pun akan segera diakui.

“Kenapa Ayah?” desak Sutawijaya. “Apakah Ayah mengerti alasan yang sebenarnya? Jika keadaan kita masih saja tetap seperti sekarang, maka kemungkinan-kemungkinan yang buruk itu memang dapat terjadi. Usaha orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan berusaha untuk mendapat keuntungan bagi dirinya sendiri akan menjadi semakin berbahaya bagi kita dan bagi Pajang sendiri.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak mengerti, Sutawijaya. Aku pun selalu menunggu, kapan kita mempunyai kedudukan yang pasti. Bahkan aku pun menjadi hampir tidak sabar.” Ki Gede Pemanahan berhenti sejenak, “Tetapi jangan terlampau banyak dipengaruhi oleh pengakuan dari Pajang. Kita bekerja terus membuka daerah ini dan menjadikannya suatu daerah yang ramai. Jika kita sudah membuktikan bahwa kita mampu berbuat banyak atas daerah ini, maka pengakuan itu akan segera menyusul. Kita akan mendapat batasan yang tegas atas daerah ini.”

“Tetapi selama itu terjadi, banyak sekali kemungkinan. Mungkin orang-orang yang dengki dan barangkali lebih dari itu, karena mereka sendiri ingin memiliki tanah ini, atau barangkali kecurigaan dan kecemasan orang-orang Pajang atau apa pun yang menyebabkannya sehingga Ayahanda Sultan Pajang justru mengambil sikap lain.”

“Kita memang dapat berprasangka, Sutawijaya. Tetapi kita jangan terlampau dihantui oleh prasangka itu. Sekarang berbuatlah sesuatu. Jadikanlah tanah ini menjadi tanah yang ramai dan kuat. Maka tidak akan ada kemungkinan lain daripada pengakuan, bahwa Mataram sebagai suatu kenyataan telah ada dan mampu mengurus dirinya sendiri, meskipun kita masih ada di dalam lingkungan kesatuan dengan Pajang dan daerah-daerah yang lain.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan ayahnya Tetapi yang menjadi pusat perhatiannya adalah membuat Mataram suatu daerah yang kuat. Dengan demikian maka tidak akan ada orang lain yang dapat memaksakan kehendaknya atasnya dan atas Mataram, meskipun ia sadar akan bahayanya. Jika Mataram merasa kuat, mungkin bukan Sultan Pajang-lah yang berubah pendirian dan sikap, tetapi Mataram sendiri.

“Aku akan menjaga diriku sendiri,” berkata Sutawijaya di dalam hatinya, “aku akan tetap menganggap bahwa Mataram adalah bagian dari Pajang yang satu dan mudah-mudahan akan tumbuh menjadi besar seperti kerajaan-kerajaan yang terdahulu.”

Ki Gede Pemanahan yang seakan-akan dapat membaca kata-kata hati anaknya menarik nafas dalam-dalam. Ia pun mengharap Pajang menjadi besar. Tetapi ia kadang-kadang tidak dapat lari dari kenyataan bahwa Sultan Pajang yang bernama Mas Karebet dan bergelar Sultan Adiwijaya itu ternyata telah banyak berubah. Dan Pajang yang baru tumbuh itu seakan-akan justru menjadi pudar.

“Baiklah, Ayah,” berkata Sutawijaya, “aku akan membuat Mataram mampu mengurus dirinya sendiri dalam segala bidang. Mataram memang harus menjadi kuat. Bukan untuk menakut-nakuti orang lain, tetapi Mataram harus dapat melindungi dirinya sendiri. Di Jati Anom telah terjadi suatu usaha untuk mencemarkan nama Mataram. Untunglah orang tua bercambuk itu ada di sana, sehingga tugas Ki Lurah Branjangan banyak dipengaruhi justru oleh kerja Kiai Gringsing. Jika tidak, maka kita akan menjadi lontaran caci-maki, dan barangkali Untara telah membawa pasukan segelar sepapan memasuki daerah ini bersama mertuanya itu.”

Ki Gede Pemanahan hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat menyalahkan anaknya, karena agaknya Mataram memang harus menyiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan. Jika terjadi fitnah seperti yang baru saja dilakukan di Jati Anom, dan fitnah itu benar-benar berhasil, maka Mataram memang harus melindungi dirinya sendiri.

“Mudah-mudahan hal semacam itu tidak terjadi,” berkata Ki Gede Pemanahan di dalam hatinya. “Ngabehi Loring Pasar adalah seorang anak muda yang paling dikasihi oleh Sultan Pajang di samping anak laki-lakinya sendiri, Pangeran Benawa. Segala sesuatu pasti akan dipikirnya masak-masak sebelum bertindak.”

Tetapi selain kemungkinan-kemungkinan yang pahit itu, Mataram pasti harus bersiap pula menghadapi gerombolan-gerombolan itu sendiri. Dalam keadaan yang penuh kebimbangan dan ketiadaan harapan, mereka mungkin akan berbuat di luar dugaan karena di antara mereka pasti terdapat orang-orang kuat seperti Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak. Bahkan mungkin di belakang kedua orang itu masih terdapat seseorang yang melampaui kemampuan keduanya di dalam nalar dan olah kanuragan, sehingga ia mampu mengendalikan kedua orang yang cukup mumpuni itu.

Karena itulah, maka Ki Gede Pemanahan membiarkan puteranya untuk melakukan rencananya. Bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan dengan membuat daerah yang sedang tumbuh ini menjadi daerah yang kuat.

Dalam pada itu di Jati Anom, Untara yang masih ada di dalam suasana yang lain dari hidupnya sehari-hari, kadang-kadang masih juga malas untuk berbicara tentang tugas-tugasnya. Hanya karena ia adalah seorang yang penuh dengan tanggung jawab sajalah, ia memerlukan juga bertemu dengan Ki Ranadana dan perwira-perwira yang lain, meskipun hanya sekali di dalam satu hari, sedang Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar masih tetap menjadi tamu Ki Widura bersama Agung Sedayu dan Swandaru.

Agaknya Ki Ranadana yang sudah menginjak usia pertengahan, cukup mengerti tentang keadaan Untara, sehingga ia pun selalu membatasi persoalan-persoalan yang dibicarakan. Bahkan ia masih belum menyinggung-nyinggung tentang tawanan-tawanan yang ada di dalam pengamatannya.

Tetapi Untara tidak memerlukan banyak waktu untuk beristirahat. Ia pun segera mulai lagi dengan tugas-tugasnya yang berat. Namun kemudian ia tidak lagi tinggal bersama para perwira di rumahnya. Namun untuk sementara ia tinggal bersama pamannya.

Karena itulah, maka Kiai Gringsing bersama kedua muridnya dan Ki Sumangkar pun merasa bahwa kehadirannya hanya akan mengganggu saja. Tetapi ketika mereka minta diri untuk pergi ke Sangkal Putung, ternyata bahwa Untara dan Widura menahannya.

“Tinggallah di sini untuk beberapa lama Kiai,” berkata Untara. “Di saat-saat ini aku masih terlampau malas untuk berbuat sesuatu. Kehadiran Kiai berdua di sini rasa-rasanya membuat aku tenteram.”

“Tetapi di sini ada sepasukan prajurit yang kuat dengan beberapa orang perwira yang cakap,” sahut Kiai Gringsing.

Untara tertawa. Jawabnya, “Sepasukan prajurit yang kuat, beberapa orang perwira yang cakap akan lebih meyakinkan lagi jika ditambah dengan dua orang tua yang pilih tanding bersama dua orang muridnya. Ingat, bahwa Agung Sedayu itu nilainya tidak kalah dengan seorang perwira muda prajurit Pajang. Ketika ia berkelahi di dalam lumpur, ternyata bahwa aku menganggap, Agung Sedayu mempunyai banyak kelebihan. Bukan karena ia adikku. Dan aku pun yakin bahwa Swandaru pun memiliki kemampuan serupa.”

“Ah, Kakang Untara terlampau memuji,” jawab Swandaru. “Tetapi jika aku dinilai dengan seorang perwira, pasti aku akan melampauinya. Tetapi dalam bidang yang khusus.”

Untara tertawa semakin keras. Swandaru memang pandai menanggapi gurau siapa pun juga.

“Terutama menanggapi isi jodang,” Swandaru menyambung.

Widura pun tertawa pula. Katanya, “Itulah agaknya yang membuat Angger Swandaru menjadi gemuk.”

“Ya, Paman. Aku tidak pernah menolak rejeki.”

“Maksudku bukan itu,” berkata Widura, “hatimu terbuka. Itulah soalnya. Bukan karena kau terlampau banyak makan, meskipun agaknya hal itu benar.”

Suara tertawa Swandaru meledak. Ternyata Widura pandai bergurau juga.

Namun dengan demikian Kiai Gringsing, kedua muridnya dan Ki Sumangkar terpaksa tinggal untuk sementara di rumah itu.

“Kakang Untara pandai juga memanfaatkan kita di sini,” berkata Swandaru kepada Agung Sedayu ketika mereka berada di gandok.

“Kenapa?”

“Penjagaan kita tentu akan lebih rapat dari para prajurit yang hanya berada di regol dan halaman. Kita berada di dalam rumah. Bersama Paman Widura kita merupakan pengawal yang baik selama malam-malam yang suram bagi Kakang Untara.”

“Ah kau.”

“Besok, jika datang saatnya aku kawin, aku akan menahan Kakang Untara barang tiga sampai lima hari untuk mengawal aku.”

Agung Sedayu tidak mendengarkannya lagi. Bahkan ia pun kemudian membaringkan dirinya di pembaringan yang besar.

Swandaru tertawa sendiri. Katanya, “Aku sudah rindukan Sangkal Putung. Dan sudah barang tentu ayah dan ibu menunggu aku pula. Apalagi Sekar Mirah.”

Agung Sedayu berpaling menatap wajah Swandaru sejenak. Namun kemudian ia kembali acuh tidak acuh. Bahkan ia pun kemudian memejamkan matanya.

Swandaru pun tidak menghiraukannya. Ia masih berbicara terus, “Sekar Mirah tentu hampir kehilangan kesabaran. Ia mengira bahwa kami tidak akan berada di Jati Anom lebih dari sepekan. Ternyata sudah hampir sepuluh hari kami berada di sini.”

“Kita berada di Menoreh berbulan-bulan,” sahut Agung Sedayu tanpa berpaling.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya. Kita berada di Menoreh berbulan-bulan. Dan dengan demikian Sekar Mirah menyusul dan mencari kita.”

Agung Sedayu tidak menyahut lagi. Matanya justru menjadi semakin rapat.

Namun tiba-tiba Swandaru bertanya, “Kau sudah mendengar laporan prajurit sandi yang berada di halaman rumah Paman Widura ini ketika upacara ngunduh pengantin berlangsung?”

Agung Sedayu menggeleng lemah.

“Ada beberapa orang yang tidak dikenal menyaksikan upacara itu. Mereka adalah orang-orang yang mencurigakan.”

Kini Agung Sedayu membuka matanya. Dengan kerut-merut di dahinya ia bertanya, “Dari siapa kau dengar hal itu?”

“Dari prajurit Pajang.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Bukan, bukan dari prajurit itu, tetapi dari Paman Widura.”

“Benar dari Paman Widura?”

“Juga bukan,” Swandaru mengingat-ingat.

“Aku yang memberi tahukan hal itu kepadamu. Kakang Untara telah menerima laporan itu.”

“He,” Swandaru membelalakkan matanya, lalu, “o, ya. Kaulah yang memberitahukan kepadaku. Kakang Untara mengatakan hal itu kepadamu. Ya, aku ingat sekarang.”

Kembali Agung Sedayu memejamkan matanya. Sedang Swandaru masih saja duduk di pembaringan yang besar itu sambil tersenyum-senyum sendiri.

“Sampai kapan kita akan tetap di sini?” ia bertanya.

Tetapi Agung Sedayu sama sekali tidak menjawab.

“Keluarga di Sangkal Putung pasti sudah menunggu. Juga keluarga Ki Argapati di Menoreh. Kita di sini merasakan bahwa waktu berjalan terlampau cepat. Tetapi bagi orang yang menunggu, rasa-rasanya matahari tidak bergeser dari tempatnya.”

“Siapa yang menunggu?” desis Agung Sedayu masih sambil memejamkan matanya.

“Paman Argapati.”

“Kenapa Paman Argapati menunggu kita?”

Swandaru tidak menyahut. Ia hanya menarik nafas saja dalam-dalam.

Keduanya pun kemudian terdiam sejenak. Swandaru yang duduk di pembaringan itu pun kemudian menguap. Setelah menarik nafas dalam-dalam ia pun segera merebahkan dirinya di sisi Agung Sedayu. Namun ternyata yang mendekur lebih dahulu adalah Swandaru.

Agung Sedayu justru tidak segera dapat tertidur. Kata-kata Swandaru ternyata telah menyentuh hatinya. Orang-orang yang menunggu itu pasti jauh lebih gelisah dari yang ditunggunya. Bagi orang yang sedang menunggu, waktu seakan-akan sama sekali tidak bergerak.

“Apakah setelah Kakang Untara aku akan segera menyusul?” bertanya Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Namun setiap kali pertanyaan itu tumbuh, Agung Sedayu menjadi berkerut. Katanya di dalam hati, “Apakah isteriku kelak akan aku beri makan batu? Aku masih belum mempunyai pegangan apa pun sekarang.”

Lalu terngiang kata-kata kakaknya dan pamannya, “Kenapa kau tidak menjadi seorang prajurit? Kau mempunyai beberapa kelebihan dari perwira-perwira yang masih muda.”

Tetapi untuk menjadi prajurit Pajang Agung Sedayu sama sekali tidak menginginkannya.

Pendengarannya tentang Pajang yang kurang lengkap itu sempat menimbulkan perasaan yang kurang mapan baginya untuk bekerja bagi Pajang. Ia mendengar bahwa Sultan Pajang kini hampir tidak sempat lagi menghiraukan daerah dan rakyatnya. Ia adalah seorang raja yang mudah sekali dipengaruhi oleh kecantikan seorang perempuan, sehingga waktunya benar-benar terampas habis oleh perempuan-perempuan itu. Semakin lama penghuni keputrennya menjadi semakin banyak, sedang di daerah-daerah, kesulitan pun menjadi semakin bertimbun pula. Sultan Pajang yang bernama Mas Karebet dan yang disebut Jaka Tingkir itu sudah kehilangan gairah petualangannya untuk menyaksikan Pajang seisinya dari dekat. Para Adipati di pesisir sudah hampir kehilangan ikatan dan berbuat sendiri-sendiri sesuai dengan keinginan masing-masing.

Sesudah Pajang berhasil mengalahkan Jipang, maka seakan-akan Pajang sudah waktunya mengenyam hasil jerih payahnya tanpa ada yang mengganggu gugat.

Meskipun demikian, Agung Sedayu harus berhati-hati mengambil kesimpulan bahwa sebenarnyalah yang terjadi demikian. Ia belum mengenal sultan dari dekat. Namun jika hal itu benar terjadi, maka seluruh rakyat Pajang seharusnya menjadi berprihatin.

“Apakah pantas jika seseorang menaiki jenjang perkawinan tetapi masih belum mempunyai pegangan apa pun seperti aku ini? Jika aku ingin menjadi petani, aku tidak tahu lagi, apakah sawah dan ladang ayah masih ada. Apakah Kakang Untara pernah memikirkannya dan menyatakan menjadi hak kami berdua.”

Tetapi Agung Serlayu menggeleng. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berdesah, “Sekar Mirah tidak akan bersedia menjadi isteri seorang petani biasa. Kini ia adalah putera seorang Demang yang cukup kaya.”

Namun dengan demikian Agung Sedayu menjadi semakin gelisah karenanya. Ia sadar, bahwa ia masih belum memiliki masa depan yang mantap meskipun ia memiliki bekal yang cukup. Selama ia berada di dalam asuhan Kiai Gringsing, ia tidak hanya sekedar belajar oleh kanuragan, tetapi ia masih juga mempelajari beberapa macam ilmu yang lain. Dari Kiai Gringsing Agung Sedayu mengenal ilmu kesusasteraan, ilmu bintang-bintang dan sedikit tentang tata hubungan masyarakat. Bahkan Ki Sumangkar pun memberinya beberapa macam ilmu pengetahuan tentang hubungan dan sangkut pautnya penjabat-penjabat yang ada di dalam susunan pemerintahan dan ilmu tata pemerintahan itu sendiri. Hukum-hukum yang terdapat di dalam kitab-kitab yang ada dan hukum-hukum yang tidak tertulis tetapi berlaku dan dipatuhi oleh segala pihak di dalam masyarakat.

Tetapi sampai saat ia menjelang hari-hari yang penting itu, ia masih belum menempatkan dirinya pada suatu kedudukan yang dapat memberinya jaminan hidup di hari-hari mendatang.

“Selama ini aku hanyalah seorang petualang. Guru agaknya seorang petualang juga yang tidak berpikir tentang keluarga dan peri kehidupan ini sebagai manusia biasa. Justru karena Guru sendiri tidak berkeluarga,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. “Tetapi meskipun bertualang bersama, namun Swandaru mempunyai kedudukan lain. Ia sudah pasti akan memasuki hari depan yang jauh lebih baik dari hari depanku, karena ia seorang yang akan menerima warisan kedudukan ayahnya. Seorang Demang di daerah yang sesubur Sangkal Putung.”

Agung Sedayu yang gelisah itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk mengusir kegelisahan itu dengan mengenang peristiwa dan persoalan yang memberinya kegembiraan dan kebanggaan. Tetapi setiap kali ia selalu gagal, sehingga karena itu, ia masih saja tidak dapat tidur senyenyak Swandaru.

Demikianlah, maka setiap kali keduanya berbincang tentang diri mereka sendiri dan tentang masa depan mereka, Agung Sedayu selalu dipacu oleh kegelisahan yang mencengkam. Namun ia selalu berusaha menyembunyikan perasaan itu, dan menanggapi persoalan-persoalan yang dilontarkan oleh Swandaru.

Di hari-hari berikutnya, maka Untara pun mulai menjalankan tugasnya seperti biasa. Tetapi ia tidak lagi tinggal di rumahnya yang dihuni oleh para perwira. Meskipun setiap hari ia datang juga ke rumah itu, tetapi di sore hari ia kembali ke rumah Widura yang untuk sementara dipergunakannya sebagai tempat tinggal.

Dalam pada itu, selagi Untara sudah mulai menjalankan tugasnya seperti biasa, maka Kiai Gringsing dan kedua muridnya beserta Sumangkar merasa bahwa tidak ada lagi masalah yang harus dihadapinya di Jati Anom, sehingga mereka pun minta diri kepada Untara dan Widura untuk kembali ke Sangkal Putung.

“Kenapa di Sangkal Putung?” Tetapi Untara masih saja bertanya, “Bukankah bagi Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar, Sangkal Putung dan Jati Anom tidak ada bedanya, dan bahkan bagi Agung Sedayu, Jati Anom adalah kampung kelahirannya sedang Swandaru pun tidak akan berkeberatan untuk hilir-mudik karena gurunya berada di sini, dan jaraknya pun tidak begitu jauh?”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Sebenarnyalah bahwa bagiku tidak ada bedanya. Apakah aku berada di Sangkal Putung, Jati Anom, atau kembali kepondokku yang barangkali sekarang sudah hampir roboh di Dukuh Pakuwon. Tetapi sebaiknya aku pergi ke Sangkal Putung lebih dahulu. Seterusnya, Dukuh Pakuwon adalah tempat yang paling baik bagiku. Ada sebidang tanah, sebuah gubug kecil dan tetangga-tetangga yang baik. Mereka mengenal aku sebagai seorang dukun bernama Tanu Metir.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi pada suatu saat, Agung Sedayu tentu akan memerlukan Anakmas Untara dan Widura. Ia pun sudah menjadi dewasa sekarang.”

“Tentu kami tidak akan berkeberatan. Adalah kuwajibanku untuk melayani kepentingan Agung Sedayu, apalagi setelah aku berpengalaman. Paman Widura pun pasti akan dengan senang hati melakukannya, karena Agung Sedayu dan aku tidak ada bedanya bagi Paman Widura dalam hubungan keluarga.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu, “Tetapi di samping Agung Sedayu, masih ada lagi yang harus kami selesaikan dalam hal yang serupa.”

“Siapa?”

“Swandaru.”

“He, kau juga?”

“Kami harus pergi ke Menoreh.”

“Jauh sekali. Itulah sebabnya kalian berada di sana dalam waktu yang lama. Aku memang pernah mendengar, tetapi sekedar desas-desus. Kini Adi Swandaru tidak membantah.”

Swandaru hanya menarik nafas dalam-dalam.

“Selain hal itu,” berkata Kiai Gringsing, “jika aku pergi ke Menoreh, maka aku akan dapat singgah menemui Ki Lurah Branjangan. Tetapi mungkin sebelum aku menemuinya ia sudah datang kembali ke Jati Anom. Seperti yang dipesankannya, ia ingin membawa satu atau dua orang tawanan itu. Ia harus meyakinkan kepada Raden Sutawijaya bahwa hal itu telah benar-benar terjadi.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu ia pun bertanya, “Jadi menurut Kiai, ada gunanya jika satu dua orang dari mereka dibawa ke Mataram?”

“Ada. Kedua belah pihak menyadari bahwa ada pihak ketiga yang sengaja menjauhkan jarak antara Pajang dan Mataram. Dan hal itu sangat berbahaya, baik bagi Mataram mau pun bagi Pajang.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun mengakui bahwa yang terjadi itu berbahaya sekali seandainya tidak seorang pun yang dapat menjelaskan apa yang sebenarnya mereka hadapi. Karena itu maka katanya, “Baiklah Kiai. Jika demikian, apabila Ki Lurah Branjangan segera kembali, aku akan menyerahkan satu dua orang kepadanya, agar ia dapat membawanya kepada Raden Sutawijaya.”

“Ya. Mudah-mudahan Sutawijaya pun menyadari, sehingga ia ikut menjaga agar antara Pajang dan Mataram pada suatu saat akan terjalin pengertian yang mendalam.”

“Ya,” sahut Untara.

“Dengan demikian maka Mataram dan Pajang akan menghormati kedudukan mereka masing-masing.”

Untara mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Ya. Mataram dan Pajang harus menghormati kedudukan mereka masing-masing. Mataram harus merasa bahwa Mataram berada di bawah lingkungan kesatuan Pajang yang besar, dan Pajang pun merasa wajib melindungi kesatuan itu. Itulah yang disebut saling menghormati dalam kedudukan masing-masing. Sikap yang lain daripada itu, tidak akan dapat diterima.”

Sesuatu berdesir di dada Kiai Gringsing. Namun ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Ya begitulah.”

“Tidak ada kemungkinan lain, Kiai. Demikian juga jika orang-orang itu dibawa menghadap Raden Sutawijaya. Orang-orang itu akan meyakinkan bahwa sebenarnya ada pihak yang ingin mendorong Mataram untuk menjauh dari Pajang. Dengan tidak langsung mereka membuat kesan bahwa Mataram sudah memberontak. Karena itu Mataram harus dapat menunjukkan kesetiaannya kepada Pajang, agar usaha pihak ketiga untuk menumbuhkan kesan pemberontakan itu dapat dilenyapkan.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk pula. Ia tidak dapat bersikap lain di hadapan Untara. Untara adalah seorang Senapati yang berdiri di atas segala macam sikap. Ia adalah seorang prajurit yang utuh. Karena itu, maka Kiai Gringsing tidak akan dapat berbicara dengan Untara selain mendengarkan pendapatnya sebagai seorang Senapati.

“Kiai,” berkata Untara kemudian, “alangkah besar jasa Kiai Gringsing, jika Kiai dapat mempergunakan pengaruh Kiai untuk memberikan kesadaran kepada Raden Sutawijaya bahwa sikapnya selama ini memang dapat menimbulkan kesan yang kurang baik bagi Pajang. Menurut keterangan yang aku dengar, karena ia terlampau sibuk maka Raden Sutawijaya itu belum sempat menghadap Sultan di Pajang yang kebetulan adalah ayah angkatnya sendiri. Ayah angkat yang sangat mengasihinya. Selain hal itu kurang baik bagi seorang pejabat tinggi di Pajang yang mendapat wewenang atas Mataram, juga kurang baik bagi seorang anak yang setia dan mengenal terima kasih kepada ayahnya.”

Kiai Gringsing masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun terasa dadanya menjadi berdebar-debar. Ketika ia memandang kedua muridnya dengan sudut matanya, maka dilihatnya wajah Swandaru yang agak berkerut, sedang Agung Sedayu berusaha untuk tidak memberikan kesan apa pun mendengar kata-kata Untara itu.

Kiai Gringsing tidak mengetahui, perasaan apakah yang bergejolak di dada Sumangkar. Seorang tua yang pernah berada di pihak Jipang ketika perang antara Jipang dan Pajang pecah. Namun yang kemudian mendapat pengampunan dan bahkan seluruh kebebasannya kembali, karena ternyata ia tidak begitu banyak terlibat dalam perlawanan atas Pajang. Apalagi setelah pasukan Jipang tercerai berai.

“Baiklah, Anakmas Untara,” berkata Kiai Gringsing, “aku akan menyampaikan semua pesan itu jika kelak aku pergi ke Menoreh. Atau jika aku diminta ikut pergi ke Menoreh. Yang penting harus pergi ke Menoreh adalah ayah Swandaru. Mungkin ia tidak dapat pergi berdua dengan Nyai Demang karena perjalanan yang jauh dan sulit. Sehingga Ki Demang agaknya akan mengajak kawan lain selama perjalanan.”

“Terima kasih, Kiai. Aku kira Raden Sutawijaya adalah seorang yang berjiwa besar. Demikian juga Ki Gede Pemanahan. Kelambatan saat menyerahkan Alas Mentaok yang dijanjikan tentu tidak akan menimbulkan kegusaran di dalam hati. Sedang sebenarnya kelambatan itu pun didasari pada perasaan kasih Sultan Pajang kepada putera angkatnya itu. Sultan Pajang akan menyerahkan bumi Mentaok kepada Raden Sutawijaya setelah bumi Mentaok menjadi ramai. Tetapi Ki Gede Pemanahan agaknya salah paham dan memaksa Sultan untuk segera menyerahkannya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Kiai Gringsing berkata, “Aku akan berusaha mengatakan hal ini langsung kepada Raden Sutawijaya kelak.”

“Terima kasih, Kiai. Hormatku kepada Ki Gede Pemanahan dan Raden Sutawijaya disertai ucapan terima kasih yang tidak terhingga atas pemberiannya. Mudah-mudahan Mataram tidak menyulitkan kedudukanku sebagai seorang senapati yang langsung beradu hidung dengan daerah baru yang dibuka itu. Pada saat yang tepat tentu kami akan datang ke Mataram memberikan perlindungan jika Mataram benar-benar ada di dalam bahaya. Selama ini Mataram masih mampu mengatasinya sendiri, dan membinasakan Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak dengan bantuan Kiai. Jika perlu kami akan ikut menyingkirkan bahaya yang lebih besar dan berada di luar kemampuan Mataram untuk mengatasinya.”

Kiai Gringsing masih juga mengangguk, “Baiklah, Anakmas. Aku akan menyampaikan semua pesan itu. Dan aku pun mengharap agar semua persoalan dapat teratasi dengan baik. Soal yang menyangkut kepentingan bagi kedua belah pihak dalam kedudukannya masing-masing.”

Demikianlah maka akhirnya Kiai Gringsing dan kedua muridnya dan Sumangkar pun mohon diri. Mereka minta diri pula untuk pergi ke Menoreh pada suatu saat yang baik. Jika mereka tidak ada waktu, maka mereka tidak akan singgah dahulu ke Jati Anom.

“Kau harus segera kembali, Agung Sedayu,” berkata Untara. “Jika kau memang akan segera kawin, kau jangan terus-menerus bertualang. Isterimu tentu tidak akan cukup kau tinggal menjelajahi tanah ini. Kau harus mapan dan mempunyai kedudukan yang baik. Bukan berarti kau harus menjadi seorang perwira tinggi sekaligus, tetapi kedudukan yang bagaimana pun rendahnya, asal kau mempunyai kemungkinan yang terang di hari mendatang.”

“Baik, Kakang,” sahut Agung Sedayu, setuju atau tidak setuju.

“Dan Adi Swandaru pun aku harapkan agar segera berada di kademangannya kembali. Sangkal Putung akan tetap merupakan daerah yang penting dipandang dari segala segi sesuai dengan letaknya dan daerahnya yang subur.”

“Ya, ya,” sahut Swandaru pula, “aku akan segera kembali.”

“Apakah Ki Sumangkar akan ikut pergi Ke Menoreh?” bertanya Untara kemudian.

“Aku tidak tahu, Anakmas. Tergantung Ki Demang di Sangkal Putung. Apakah aku akan dibawanya atau tidak.”

“Apakah Ki Sumangkar sudah menjadi bebahu Kademangan Sangkal Putung?”

Ki Sumangkar mengerutkan keningnya. Namun sambil mengangkat wajahnya ia berkata, “Bukan, Anakmas, tetapi aku sekarang sudah dianggap keluarga sendiri oleh Ki Demang, apalagi aku memang sudah lama berada di rumahnya.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Baiklah. Selamat jalan. Jangan lupa, apabila kalian singgah di Mataram, hormatku bagi Ki Gede Pemanahan dan Raden Sutawijaya serta ucapan terima kasih yang tidak terhingga. Dan sebagai seorang senapati aku akan selalu bersedia melindungi daerah itu dari kesulitan apabila diperlukan.”

“Baiklah, Anakmas,” berkata Kiai Gringsing, “mudah-mudahan Jati Anom pun selalu aman dan tenteram. Mudah-mudahan peristiwa yang mengejutkan itu tidak terulang kembali.”

“Kami akan selalu bersiap menghadapi segala kemungkinan. Tetapi kami mengucapkan terima kasih atas segala bantuan Kiai, dan terutama bahwa Kiai seolah-olah telah menyelamatkan Jati Anom dalam suasana yang tetap tenang, karena di Jati Anom sedang berlangsung perhelatan. Tanpa perhelatan itu, Jati Anom tidak akan gentar dilanda oleh huru-hara yang bagaimana pun ricuh dan ributnya. Namun demikian, mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu apa pun lagi di daerah ini. Tidak terganggu oleh orang yang mengaku berasal dari Mataram dan oleh orang-orang Mataram yang sebenarnya.”

Orang-orang yang mendengarkan kata-kata Untara itu hanya menarik nafas dalam-dalam. Mereka sadar bahwa mereka berbicara dengan seorang prajurit. Setelah beberapa hari Untara melampaui hari-hari perkawinannya, ia telah berdiri di atas landasannya semula. Seorang senapati yang bertugas di daerah Selatan dari Kerajaan Pajang.

Demikianlah maka Kiai Gringsing bersama kedua muridnya dan Ki Sumangkar pun meninggalkan Jati Anom. Meskipun Untara sudah menjadi semakin banyak tertawa dan bergurau, tetapi ia masih tetap seorang perwira.

Kedatangan Kiai Gringsing dan rombongan kecilnya di Sangkal Putung telah disambut dengan gembira oleh Ki Demang. Dengan serta-merta mereka pun segera dipersilahkan naik ke pendapa.

“Aku kira Kiai berdua serta kedua anak-anak muda itu akan segera kembali,” berkata Ki Demang.

“Kami terpaksa memenuhi permintaan Anakmas Untara untuk tinggal di Jati Anom beberapa hari Ki Demang.”

“Ketika aku pulang dari Jati Anom, aku tidak segera pergi melakukan tugas hari itu, karena aku menyangka bahwa kalian akan segera menyusul. Ternyata kalian kembali beberapa hari kemudian.”

Kiai Gringsing hanya tersenyum saja. Sedang Swandaru berkata, “Sebenarnya kami juga akan segera pulang, Ayah. Tetapi ternyata dapur Paman Widura masih terus berasap.”

“Pantas,” desis seseorang dari dalam pintu. Swandaru berpaling. Meskipun ia tidak melihat seseorang tetapi ia tahu bahwa suara itu suara Sekar Mirah.

“He, kau iri ya?”

Sekar Mirah menjengukkan kepalanya, katanya, “Kenapa aku iri? Apa yang aku irikan? Jika aku tidak mengingat sopan santun aku pulang sebelum pengantin didudukkan di depan sentong tengah.”

“Kenapa?”

“Tidak seorang pun menghiraukan kedatangan kami seperti yang aku duga. Hanya isteri-isteri perwira sajalah yang dipersilahkan duduk. Ayah pun tidak mendapat tempat yang baik meskipun Ayah datang jauh sebelum pengantin siap.”

“Ah,” sahut ayahnya, “aku duduk bersama Ki Demang di Jati Anom. Dalam perhelatan, semua orang sibuk dan sudah barang tentu mereka tidak dapat menemui tamunya seorang demi seorang.”

“Ki Demang tidak jadi bermalam di Jati Anom,” bertanya Agung Sedayu memotong.

“Aku sibuk sekali dengan pekerjaan yang bertimbun-timbun. Bendungan yang belum selesai, perluasan tanah pertanian mendesak hutan sebelah Barat karena terasa daerah kami menjadi semakin padat, dan gangguan-gangguan keamanan yang mulai terasa meskipun tidak menggelisahkan.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Jawaban ayahnya terasa aneh di telinganya. Apakah hal yang dikatakan oleh ayahnya itu tiba-tiba saja telah tumbuh menjadi sesuatu persoalan yang gawat di Sangkal Putung. Semua yang dikatakan oleh ayahnya itu memang pernah didengarnya. Tetapi kini ayahnya menyebut bahwa persoalan itu merupakan persoalan yang membuatnya terlampau sibuk.

“Agaknya Sekar Mirah-lah yang memaksa ayah tidak bermalam di Jati Anom. Mungkin Paman Widura tidak sempat mempersilahkan mereka karena kesibukannya menerima tamu-tamu yang lain,” berkata Swandaru di dalam hatinya. “Tetapi bukankah hal itu wajar di dalam suatu perhelatan?”

Tetapi Swandaru tidak mengatakannya. Bahkan kemudian ia berkata kepada diri sendiri, “Untunglah bahwa ayah pun menyadari hal itu. Tetapi yang penting bagi Sekar Mirah, Kakang Agung Sedayu yang sibuk pula mengatur jamuan di belakang, tidak sempat menemui Sekar Mirah dan mempertemukannya dengan mempelai perempuan.”

Namun Swandaru itu pun tersenyum di dalam hati. Ia sadar, bahwa dalam tingkat hubungan antara Agung Sedayu dan Sekar Mirah dapat menimbulkan persoalan-persoalan yang aneh-aneh, seperti ceritera anak-anak muda yang kemudian sudah berkeluarga, di dalam pertemuan-pertemuan dan di dalam pembicaraan sambil bergurau di gardu-gardu perondan.

“Mungkin aku akan menghadapi persoalan yang serupa. Jika Pandan Wangi merajuk karena aku terlampau lama tidak datang ke Menoreh, aku akan menjadi pening,” gumam Swandaru di dalam hati.

Dan tiba-tiba saja ia menjadi gelisah. Sudah terlampau lama tidak mendengar berita tentang Menoreh. Dan sudah terlalu lama hubungannya dengan Menoreh seakan-akan terputus.

“Hantu-hantu di Mentaok itulah yang gila, sehingga aku tertahan di sana untuk waktu yang cukup lama. Mungkin Pandan Wangi menganggap aku tidak datang lagi kepadanya, atau ayahnya mengambil keputusan lain. Mungkin ada anak muda Menoreh sendiri yang berhasil mengambil alih persoalanku dengan Pandan Wangi,” Swandaru menjadi berdebar-debar memikirkan masalahnya itu. Namun ia tidak segera dapat mengatakannya pada saat itu.

“Tetapi semuanya sudah selesai. Tidak ada lagi persoalan yang akan menghambat. Mudah-mudahan Ki Gede Menoreh tidak menganggap bahwa aku sudah mati di perjalanan.”

Demikianlah, persoalan itu pun merupakan persoalan yang selalu mendebarkan hati Swandaru. Seolah-olah ia tidak sabar lagi menunggu hari-hari berikutnya untuk pergi ke Menoreh. Bahkan ia berkata di dalam hatinya, “Jika ayah merasa terlampau sibuk dan tidak dapat bermalam di Jati Anom untuk semalam saja, apakah ayah juga akan berkeberatan untuk segera pergi ke Menoreh.”

Tetapi Swandaru tidak dapat mengatakan hal itu langsung kepada ayahnya. Karena itu, ketika mereka kemudian beristirahat di gandok, Swandaru mengatakan hal itu kepada gurunya.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah, aku akan mengatakannya kepada ayahmu. Mudah-mudahan ayahmu dapat meninggalkan kesibukannya barang dua pekan untuk pergi ke Menoreh menghadap Ki Gede Menoreh itu. Kau benar, jika hubungan ini terlalu lama terputus, mungkin Ki Argapati mengambil sikap lain.”

“Terima kasih, Guru. Aku segan mengatakannya kepada ayah langsung. Lagipula, ayah tentu akan lebih memperhatikan kata-kata Guru daripada permintaanku sendiri.”

Kiai Gringsing hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Tetapi ia tidak dapat ingkar, bahwa hal itu merupakan kuwajibannya pula, karena muridnya bagi Kiai Grmgsing tidak ada bedanya dengan anaknya sendiri. Sedang kedua muridnya itu kini sedang menghadapi masalah yang serupa.

“Tetapi persoalan Agung Sedayu sudah lebih jelas dari persoalan Swandaru. Meskipun secara resmi Anakmas Untara dan Widura belum datang menemui Ki Demang dan membicarakan masalah anaknya, namun agaknya orang tua Sekar Mirah sudah menerima persoalan itu seluruhnya. Persoalan yang menyusul adalah sekedar hubungan resmi,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Karena itu, maka Kiai Gringsing pun berusaha untuk mendapatkan waktu yang sebaik-baiknya. Di sore hari, ketika mereka sudah menyelesaikan semua pekerjaan, dan sesudah membersihkan diri, mereka pun duduk di pendapa bersama Ki Demang dan Ki Sumangkar, di bawah nyala lampu minyak yang berkeredipan disentuh angin.

Sejenak mereka berbicara tentang Kademangan Sangkal Putung, tentang musim dan tentang tanaman yang subur di sawah dan pategalan.

Barulah pembicaraan mereka mulai merayap kepada anak-anak muda di Sangkal Putung, dan kemudian mereka pun berbicara tentang Swandaru.

Kiai Gringsing tidak mau kehilangan kesempatan itu. Karena itu, maka ia pun segera mengulangi pembicaraan yang pernah disampaikan meskipun hanya sepintas, bahwa Swandaru telah membuat hubungan dengan seorang gadis di Menoreh, putera Ki Argapati, kepala Tanah Perdikan Menoreh.

Ki Demang pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Persoalan itu sedikit banyak sudah pernah didengarnya. Namun ia masih memerlukan banyak sekali penjelasan.

“Apakah Ki Argapati benar-benar tidak berkeberatan, Kiai?” bertanya Ki Demang. “Hal itu harus aku yakini sebelum aku berangkat, agar aku tidak sia-sia pergi menempuh jarak yang jauh, meninggalkan kademangan yang sedang berusaha mengembangkan diri di segala bidang ini?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Alasan Ki Demang sebenarnya tentu bukan kesibukannya di segala bidang karena perkembangan Sangkal Putung, tetapi jika Ki Argapati menolak lamaran yang disampaikannya, maka hatinya pasti akan menjadi sangat sakit. Apalagi ia datang dari jauh.

Kiai Gringsing itu pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Pertanyaan itu wajar tumbuh pada Ki Demang. Apabila kedatangan kita tidak membawa hasil, maka alangkah sakitnya hati ini. Namun jika kita tilik dari kewajaran hidup, kita memang mempunyai dua kemungkinan untuk setiap permintaan. Diterima atau ditolak. Sudah barang tentu Ki Demang baru dapat mengambil kepastian setelah menyatakan permintaan itu dan mendapat jawaban. Bahkan kadang-kadang datang lamaran bagi seorang gadis oleh dua tiga orang sekaligus. Dan sudah barang tentu tidak semua akan dapat diterima.”

Ki Demang pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Ya, Kiai. Demikianlah memang seharusnya. Maksudku, apakah sebelum aku datang melamar kepada Ki Gede Menoreh, sudah ada tanda bahwa lamaranku akan diterima?”

“Pada saat itu Ki Demang, ketika aku meninggalkan Menoreh, agaknya tanda-tanda itu memang sudah ada. Sedang anak-anak yang bersangkutan pun tampaknya sudah sejalan. Tetapi aku tidak tahu perkembangan yang terjadi kemudian. Namun menilik bahwa Ki Argapati adalah orang yang cukup dewasa, aku kira ia tidak akan dengan mudah menarik kembali sikapnya. Tentu juga mengenai puterinya itu. Kecuali jika ada keadaan yang sangat memaksa. Pandan Wangi adalah seorang gadis yang memang sedang mekar.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Karena itu, Ki Demang, sebaiknya hal ini memang harus segera dilakukan. Apakah lamaran ini diterima atau tidak, kita tidak mempersoalkannya sekarang. Kedua-duanya memang mungkin dan kedua-duanya pun wajar. Meskipun demikian menurut penilaianku, lamaran Ki Demang hampir dapat dipastikan akan diterima oleh Ki Argapati sesuai dengan hubungan yang pernah ada, jika tidak ada persoalan yang mendesak seperti yang aku katakan tadi.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Memang hal itu adalah kuwajiban yang harus dilakukan. Karena itu, maka ia pun menganggukkan kepalanya sambil menyahut, “Baiklah Kiai. Aku akan segera pergi ke Menoreh. Tetapi karena Kiai-lah yang dahulu pernah datang kepada Ki Argapati, maka sudah barang tentu aku minta Kiai ikut bersamaku. Apalagi Kiai adalah guru Swandaru yang tentu juga sekaligus akan ikut berkepentingan dengan persoalan anak itu.”

“Tentu aku tidak berkeberatan, Ki Demang. Aku akan pergi ke Menoreh.”

“Bagaimana dengan Ki Sumangkar?” bertanya Ki Demang.

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun menyahut, “Terserahlah kepada Ki Demang. Apakah aku perlu menyertainya atau tidak. Aku tidak mempunyai pilihan sendiri untuk itu.”

Ki Demang merenung sejenak, lalu, “Mengingat perjalanan yang jauh, alangkah baiknya jika Ki Sumangkar pergi bersama kami. Banyak kemungkinan dapat terjadi di perjalanan. Apalagi suasana yang kini hampir tidak menentu. Di perbatasan yang kabur antara Pajang dan Mataram, akan dapat ditemui banyak persoalan-persoalan di luar dugaan. Seperti yang aku dengar, hantu-hantu Alas Mentaok yang ternyata terjadi dari orang-orang yang mempunyai kepentingan tertentu. Orang-orang yang menyerang rumah Anakmas Untara yang dihuni oleh para perwira dan barangkali banyak lagi hal yang serupa meskipun bentuknya berbeda.”

“Jika demikian kita akan berjalan dalam sebuah rombongan kecil,” sahut Ki Sumangkar. “Sudah barang tentu Anakmas Agung Sedayu akan ikut serta bersama kita. Dan bagaimana dengan Sekar Mirah?”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sebaiknya Sekar Mirah menunggu ibunya di rumah. Sudah barang tentu bahwa ibunya tidak akan dapat ikut menempuh perjalanan begitu panjang dan terbahaya.”

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku sependapat dengan Ki Demang. Tetapi menilik sifatnya, bagaimana jika ia memaksa juga.”

“Kita akan mencoba meyakinkan, bahwa ibunya memerlukan seorang pelindung. Sudah tentu bukan orang lain yang paling dapat dipercaya. Dan sudah barang tentu aku dan Swandaru kali ini harus pergi meninggalkannya.”

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian ia masih meragukan, apakah Sekar Miiah yang keras hati itu dapat dibujuknya untuk tinggal.

“Kita besok akan bersiap-siap,” berkata Ki Demang. “Aku menyadari bahwa hal ini harus segera dilaksanakan agar persoalannya tidak berkembang ke arah yang tidak kita kehendaki. Kita tidak tahu apakah yang sudah terjadi di Menoreh akhir-akhir ini dan kita juga tidak tahu apa yang terjadi di daerah yang sedang tumbuh itu. Mudah-mudahan kita masih dapat lewat tanpa dihalang-halangi oleh keadaan dan suasana yang bagaimana pun juga.”

“Baiklah, Ki Demang,” berkata Kiai Gringsing. “Kita pun akan segera mendapat penyelesaian. Jika pembicaraan telah bulat, maka pelaksanaanya pun sebaiknya di lakukan dengan cepat.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Aku akan berbicara dengan Nyai Demang dan Sekar Mirah. Silahkan Kiai memberitahukan kedua anak-anak muda itu agar mereka pun mempersiapkan diri menempuh perjalanan yang panjang ini, Kiai. Meskipun keduanya pernah pergi ke Menoreh, namun mereka pun harus membuat ancang-ancang untuk perjalanan ini.”

Demikianlah maka malam itu juga Ki Demang di Sangkal Pulung telah berbicara dengan isterinya tentang rencana kepergiannya ke Menoreh.

“Kapan Ki Demang akan pergi?” bertanya isterinya.

“Besok aku akan menyerahkan pengamatan dan pimpinan kademangan ini kepada bebahu Kademangan Sangkal Putung. Mereka akan menjalankan tugasku sehari-hari, tetapi mereka tidak akan mengambil tindakan yang sangat penting yang menyangkut perubahan apa pun di Sangkal Putung. Besok lusa aku akan menyiapkan bekal dan minta diri kepada orang-orang tua bersama Swandaru. Jadi hari berikutnyalah aku akan berangkat.”

“Begitu tergesa-gesa?” isterinya menjadi heran. “Tentu tidak mungkin. Jika kau mengikat seorang gadis, tentu harus membawa barang-barang yang umumnya dipergunakan sebagai pengikat. Pakaian sepengadeg, dan beberapa jenis barang lainnya.”

“Aku belum akan membelikan peningset. Bukankah kita belum pernah melamarnya dengan resmi? Jika semua persoalan telah selesai, barulah aku akan pergi lagi membawa peningset itu.”

Nyai Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu ia pun bertanya, “Siapa saja yang akan pergi bersama Ki Demang?”

“Kiai Gringsing yang pernah merintis pembicaraan dengan Ki Gede Menoreh, kemudian sudah tentu Swandaru sendiri, Angger Agung Sedayu dan Ki Sumangkar.”

“Bagaimana dengan Sekar Mirah?”

“Biarlah ia tinggal di rumah mengawanimu. Ia bukan saja anak kita, tetapi ia adalah pelindung yang dapat dipercaya. Sekar Mirah sekarang memiliki kemampuan yang jauh lebih besar dari kemampuan Ki Jagabaya jika di rumah ini datang sesuatu yang membahayakan.”

“Bagaimana jika ia ingin ikut, karena Ki Demang pergi bersama dengan Anakmas Agung Sedayu dan gurunya Ki Sumangkar?”

“Aku akan berbicara. Panggillah anak itu sebentar jika ia belum tidur.”

Sejenak kemudian maka Sekar Mirah pun telah duduk bersama ayah dan ibunya. Tampaklah bahwa ia menjadi gelisah. Bahkan Sekar Mirah menyangka bahwa ayahnya akan berbicara tentang dirinya sendiri.

Tetapi ketika ayahnya sudah mengatakan maksudnya, tiba-tiba saja ia tidak lagi menjadi gelisah, tetapi sepercik kekecewaan telah melonjak di hatinya. Sebenarnya ada keinginan di dalam hatinya, bahwa persoalannya pun sebaiknya segera diselesaikan. Tetapi sudah barang tentu, sebagai seorang gadis ia tidak dapat mengatakannya.

“Kau tinggal di rumah Mirah,” berkata ayahnya.

“Aku ikut,” Sekar Mirah bersungut-sungut.

“Kau tinggal di rumah.”

“Semua orang pergi, dan aku tinggal di rumah.”

“Justru karena semua orang pergi. Kau mengawani ibumu. Jika kau juga pergi, maka ibumu akan tinggal di rumah tanpa seorang kawan pun.”

“Kenapa Ibu tidak pergi sama sekali? Bukankah akan lebih baik jika Ayah datang berdua bersama Ibu?”

“Tentu. Tetapi perjalanan ke Menoreh bukan perjalanan yang pendek. Bukankah kau pernah pergi ke sana? Kau dapat membayangkan, bagaimanakah sulitnya jika ibumu juga pergi bersama kami.”

Sekar Mirah merenung sejenak. Tetapi tampak membayang kekecewaan di wajahnya.

“Aku tidak akan pergi terlalu lama, Mirah. Kau tahu bahwa kini aku sedang sibuk dengan Sangkal Putung yang sedang berkembang ini.”

“Kenapa aku tidak boleh ikut, Ayah?”

“Sudah aku katakan. Ibumu tidak ada pelindungnya. Kau adalah pelindung yang paling baik baginya.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam.

“Ya, Mirah,” berkata ibunya, “tanpa kau aku menjadi sendiri. Bagaimana pun juga tenteramnya kademangan ini, tetapi aku pasti masih juga selalu cemas jika aku sekedar menyandarkan keselamatan isi rumah ini kepada peronda.”

Sekar Mirah tidak menyahut. Kepalanya sajalah yang kadang-kadang menengadah, kadang-kadang tunduk. Sebenarnya ia ingin sekali turut menempuh perjalanan. Selain ia dapat pergi bersama gurunya dan Agung Sedayu, ia pun dapat melihat keadaan yang berbeda dari yang dilihatnya sehari-hari.

Tetapi ketika terpandang wajah ibunya yang suram, maka ia pun berkata, “Baiklah, Ayah. Aku akan mengawani Ibu di rumah.”

“Terima kasih, Sekar Mirah. Aku akan pergi dengan tenang jika kau bersedia menjaga ibumu.”

Demikianlah maka Ki Demang sudah mendapat keputusan untuk berangkat besok tiga hari lagi. Ketika Sekar Mirah bertemu dengan gurunya, maka gurunya pun memberinya nasehat seperti yang dikatakan oleh ayahnya.

“Jagalah ibumu baik-baik. Meskipun kau seorang gadis, tetapi kau adalah gadis yang lain dari gadis-gadis kawanmu bermain. Kau tidak saja dapat bermain nini towong di terang bulan, tetapi kau dapat melindungi ibumu dari bahaya yang sebenarnya.”

Kesempatan yang singkat sebelum mereka berangkat, dipergunakan oleh Ki Demang untuk menyerahkan pimpinan kademangan kepada para bebahunya, kemudian minta diri kepada orang-orang tua agar lamarannya dapat diterima oleh Ki Gede Menoreh.

“Hati-hatilah,” pesan seorang yang rambutnya telah menjadi putih seluruhnya, “perjalanan ini sangat jauh dan berbahaya karena kalian harus melewati Alas Tambak Baya, Alas Mentaok, menyeberang sungai yang besar dan deras, dan perjalanan di daerah yang asing bagi kalian.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia pergi bersama beberapa orang yang dapat dipercaya, namun setiap pesan diperhatikannya juga. Meskipun kadang-kadang orang-orang tua yang memberinya pesan mawanti-wanti itu sama sekali belum pernah melihat Alas Tambak Baya dan Alas Mentaok, namun tanggapan naluriah mereka kadang-kadang berguna baginya.

Dan atas pesan orang tua yang rambutnya sudah memutih itu Ki Demang menyahut, “Terima kasih, Paman. Perjalanan ini memang perjalanan yang jauh.”

“Dengan siapa kau akan pergi?”

“Dengan Swandaru dan beberapa orang lagi.”

“Kau tidak membawa Ki Jagabaya?”

“Tidak, Paman.”

“O, bawalah dia. Orang itu akan dapat memberikan perlindungan kepadamu dan kepada anakmu.”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Tetapi orang itu memang tidak tahu bahwa Swandaru sendiri mempunyai kemampuan melampaui Ki Jagabaya, karena orang tua itu sudah jarang-jarang keluar rumahnya. Tetapi Ki Demang menjawab, “Tenaga Ki Jagabaya diperlukan di kademangan ini, Paman. Ia harus melindungi tidak hanya satu dua orang, tetapi beratus-ratus, bersama-sama anak-anak muda Sangkal Putung.”

“Tidak ada apa-apa di sini. Kademangan ini cukup aman. Tetapi Alas Tambak Baya dan Alas Mentaok itu sangat wingit. Bukan saja hantu-hantu penunggu pepohonan yang besar-besar dan batu-batu yang angker, tetapi juga penyamun-penyamun dan perampok-perampok yang masih banyak berkeliaran.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Jawabnya, “Aku akan sangat hati-hati. Meskipun aku tidak pergi bersama Ki Jagabaya, namun aku pergi bersama beberapa orang kawan yang dapat dipercaya.”

“Tetapi mereka tidak akan memberi ketenangan seperti Ki Jagabaya.”

“Mudah-mudahan mereka dapat melindungi aku seperti Ki Jagabaya.”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Jika kau yakin mereka dapat melindungi kau seperti Ki Jagabaya, terserahlah. Aku hanya dapat berdoa, mudah-mudahan kau selamat, dan Cucu Swandaru dapat menemukan jodohnya.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi kenapa ia mengambil perempuan yang begitu jauh?”

“Hati mereka telah bertaut.”

“Di mana mereka bertemu?”

“Di Menoreh.”

“Apakah Swandaru pernah pergi ke Menoreh?-”

“Pernah. Belum lama ia kembali.”

“O,” orang tua itu mengangguk-angguk. Lalu, “Anak-anak sekarang. Masih ingusan sudah sampai ke ujung bumi. Syukurlah ia kembali dengan selamat. Dan mudah-mudahan perjalananmu pun selamat pula.”

“Terima kasih, Paman. Kami yang akan berangkat mohon pengestu.”

Demikianlah orang-orang tua yang lain pun berpesan serupa. Bahkan para bebahu Kademangan Sangkal Putung yang mengetahui siapa Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, Agung Sedayu, dan Swandaru sendiri pun berpesan agar mereka berhati-hati.

“Menurut pendengaran kami,” Ki Jagabaya berkata, “perampokan dan penyamun di sepanjang jalan menjadi semakin meningkat. Mungkin hal ini disebabkan kegagalan mereka di Mataram dan juga di Jati Anom serta di tempat-tempat lain, mendorong mereka untuk mengambil jalan lain. Semua jalan yang menuju ke Mataram tidak tenteram sama sekali. Ada dugaan bahwa orang-orang yang tidak senang melihat Mataram berdiri itu berusaha untuk membendung arus manusia yang tidak henti-hentinya memasuki daerah baru itu.”

“Memang masuk akal,” berkata Kiai Gringsing yang hadir juga di antara mereka, “orang-orang yang kecewa itu dapat berbuat apa saja. Tetapi mungkin mereka tidak sekedar melepaskan kekecewaannya. Tetapi semuanya itu dilakukan atas suatu dasar pertimbangan dan perhitungan yang masak.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun Kiai Gringsing melanjutkan, “Tetapi kita akan berhati-hati. Kita akan mencari jalan yang paling aman, yang jauh dari kemungkinan perampokan dan penyamun.”

Ki Demang masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dalam pada itu Ki Jagabaya berkata, “Tetapi kita percaya kepada Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Apalagi mereka sudah pernah pergi ke Menoreh. Bahkan Sekar Mirah pun pernah. Bedanya, sekarang perampok-perampok itu bagaikan semut yang diusir dari sarangnya. Bertebaran ke mana pun di seluruh hutan.”

“Pasti ada jalan yang tidak mereka awasi. Justru jalan-jalan sempit dan yang jarang dilalui orang. Meskipun kemungkinan untuk bertemu dengan mereka masih ada juga.”

Para bebahu Sangkal Putung itu pun mengangguk-anggukkan kepala. Tetapi mereka percaya bahwa Ki Demang akan dapat sampai ke tempat tujuan dan kembali ke Sangkal Putung, meskipun ada juga perasaan was-was di dalam hati. Jika terjadi sesuatu atasnya, maka orang yang berhak mewarisi ikut serta bersamanya. Yang tinggal adalah Sekar Mirah. Sedang anak muda yang agaknya dipilihnya menjadi sisihannya, pergi juga bersama Ki Demang itu.

Namun demikian, rencana Ki Demang tetap dilaksanakan. Setelah hari yang ditentukan tiba, maka semuanya pun telah siap. Mereka kini tidak sekedar berjalan kaki, tetapi mereka akan pergi berkuda, supaya perjalanan mereka tidak terlampau lama.

“Cepatlah pulang, Ayah,” pesan Sekar Mirah dengan suara yang tersangkut di kerongkongan.

Ki Demang memandang wajah Sekar Mirah yang muram. Seakan-akan ia melihat wajah gadis itu semasa kanak-kanak apabila ia ingin ikut pergi bersamanya keliling kademangan.

“Kau tinggal bersama ibu.”

“Tidak, aku ikut Ayah.”

“Kau lelah.”

“Tidak.”

Dan jika ia tidak mengijinkannya, maka gadis kecil itu akan menangis.

Tetapi sekarang Sekar Mirah berusaha menahan air mata yang sebenarnya hampir pecah dari pelupuknya. Namun, Sekar Mirah itu menyadari bahwa ia bukan anak-anak lagi, dan bahkan ia kini adalah pelindung ibunya di dalam segala hal. Ia harus melayani ibunya sebagai seorang gadis, tetapi jika perlu ia harus melindungi ibunya sebagai seorang yang memiliki ilmu kanuragan.

Bukan saja Ki Demang yang memandang Sekar Mirah dengan iba, tetapi juga Kiai Gringsing, Sumangkar, Swandaru, dan Agung Sedayu. Mereka mengerti betapa perasaan gadis itu. Sekaligus beberapa orang yang tersangkut di hatinya telah pergi. Ayahnya, kakaknya, gurunya, dan seorang anak muda yang telah merampas hatinya.

Karena itu, maka wajah-wajah itu pun menjadi muram dan berkesan dalam.

Namun akhirnya mereka pun berangkat juga meninggalkan Kademangan Sangkal Putung. Di regol halaman berdiri Nyai Demang bersama Sekar Mirah dan beberapa bebahu kademangan beserta beberapa orang tua tetangga terdekat.

“Mudah-mudahan kalian selamat di perjalanan,” seorang perempuan tua berdoa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, “dan kalian akan pulang membawa seorang menantu yang cantik bagi Nyai Demang.”

Demikianlah, mereka mulai dengan sebuah perjalanan yang jauh. Perjalanan yang mereka sadari sebagai perjalanan yang cukup berat.

Tetapi Ki Demang tidak merasa cemas sama sekali, karena lima orang yang menempuh perjalanan itu, empat di antaranya sudah pernah melakukannya.

Beberapa saat lamanya mereka masih menyusuri jalan di Kademangan Sangkal Putung. Beberapa orang yang sudah mendengar bahwa Ki Demang akan pergi ke Menoreh yang mereka jumpai, mengucapkan juga beberapa ucapan selamat jalan, sedang satu dua orang yang masih belum jelas bertanya, “Apakah Ki Demang akan menempuh perjalanan jauh?”

“Ya,” jawab Ki Demang.

“Jadi benar kata orang bahwa Ki Demang akan pergi ke Menoreh?”

“Ya.”

“Sebuah perjalanan yang jauh dan berbahaya. Ki Demang akan melintasi hutan yang penuh dengan binatang buas.”

Demang mengerutkan keningnya. Yang dikatakan orang ini agak berbeda dengan yang pernah diucapkan oleh orang lain. Yang terdahulu selalu memperingatkan, agar kelompok kecil yang bersamanya pergi ke Menoreh itu berhati-hati menghadapi penyamun, perampok, atau sekelompok orang-orang yang sekedar ingin mengacau dan membendung orang-orang yang mengalir ke Mataram dan sebangsanya. Tetapi yang seorang ini memperingatkan agar mereka berhati-hati terhadap binatang buas. Namun sambil tersenyum Ki Demang berkata, “Tentu. Kami akan berhati-hati menghadapi apa dan siapa pun.”

“Alas Mentaok adalah sarang binatang buas,” katanya. “Ada lebih dari lima jenis harimau yang hidup di hutan itu. Dan yang tidak kalah ganasnya adalah anjing hutan. Meskipun seekor demi seekor anjing hutan itu tidak begitu berbahaya, tetapi jika mereka datang dalam kelompok yang terdiri dari puluhan dan bahkan ratusan ekor, maka sebenarnyalah kalian bertemu dengan bahaya maut.”

“Kami dapat memanjat,” jawab Ki Demang.

“Kuda-kuda kalianlah yang akan tinggal menjadi kerangka tidak lebih dari seratus hitungan.”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Namun Kiai Gringsing-lah yang menyahut, “Mudah-mudahan kami tidak bertemu dengan segerombolan anjing hutan yang berbahaya itu.”

“Mudah-mudahan. Anjing hutan itu sama sekali tidak dapat didekati. Sekelompok banteng pun akan menepi jika mereka menyadari bahwa mereka berada di dalam lingkungan anjing-anjing hutan, meskipun anjing-anjing hutan itu tidak menyerang mereka.”

“Terima kasih,” Ki Sumangkar-lah yang kemudian menyahut.

Ketika mereka melanjutkan perjalanan, maka tampak wajah Ki Demang agak berkerut, sehingga sambil tersenyum Kiai Gringsing berkata, “Peringatan yang baik. Tetapi kita tidak perlu cemas. Anjing-anjing hutan yang liar itu hidup beberapa tahun yang lampau, sebelum Mentaok dihuni oleh hantu-hantu yang menakut-nakuti orang-orang Mataram yang membuka hutan itu. Hantu-hantu itu agaknya mempunyai cara yang baik untuk membunuh anjing-anjing liar itu, sehingga jumlahnya cepat sekali susut.”

“Bagaimana cara mereka membunuh anjing-anjing liar itu?” bertanya Ki Demang.

“Dengan racun. Mereka adalah orang-orang yang ahli dalam hal bermain-main dengan racun. Seekor lembu dilumuri racun hampir diseluruh tubuhnya. Kemudian lembu itu di lepaskan di antara anjing-anjing liar. Nah, sekaligus mereka dapat membunuh berpuluh-puluh anjing liar itu.”

Ki Demang Sangkal Putung itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan wajahnya yang mulai berkerut itu pun menjadi cerah kembali.

Dalam pada itu kuda mereka berjalan terus. Semakin lama semakin jauh meninggalkan Kademangan Sangkal Putung.

Di perjalanan itu Ki Demang justru merasa dirinya sebagai anak-anak yang berjalan di antara pemomongnya. Meskipun di antara mereka terdapat anaknya yang masih muda dan Agung Sedayu, namun ia merasa bahwa mereka itu adalah pelindung-pelindingnya yang baik. Ia merasa bahwa ia adalah orang yang paling lemah di antara sekelompok kecil orang-orang yang akan pergi ke Menoreh itu.

Demikianlah mereka berjalan terus. Dengan mengendarai kuda, mereka maju lebih cepat daripada berjalan kaki. Tetapi apabila mereka sampai ke daerah-daerah yang berhutan lebat, maka mereka akan maju lebih lambat daripada jika mereka tidak membawa kuda. Di dalam hutan yang lebat, kuda bukannya tunggangan. Bahkan kadang-kadang kuda merudang menikmati bekal mereka.

Namun selagi mereka masih berada di luar hutan, maka perjalanan mereka sama sekali tidak terhambat. Kuda mereka berlari kencang, seakan-akan berpacu dengan matahari yang semakin lama menjadi semakin tinggi.

Ketika matahari mencapai nuncak langit, maka mereka pun beristirahat sejenak. Mereka memberi kesempatan kepada kuda mereka untuk makan rumput yang hijau, sedang penunggang-penunggangnya pun duduk di bawah pohon yang rindang menikmati bekal mereka.

Selagi mereka duduk sambil menyuapi mulut mereka, mereka melihat seseorang datang mendekat. Dengan ragu-ragu orang itu bertanya, “Apakah Ki Sanak sedang dalam perjalanan?”

Ki Demang yang duduk di paling tepi menjawab, “Ya, kami sedang dalam perjalanan.”

“Apakah Ki Sanak akan menyeberang hutan Tambak Baya dan Mentaok?”

Ki Demang menjadi ragu-ragu sejenak, lalu dipandanginya Kiai Gringsing yang duduk di sampingnya

“Kami akan pergi ke Menoreh Ki Sanak,” jawab Kiai Gringsing.

“O, apakah kalian tidak akan pergi ke Mataram yang sekarang sedang tumbuh?”

Kiai Gringsing menggeleng.

“Sayang,” desisnya.

“Kenapa?”

“Aku ingin pergi ke Mataram.”

“Kenapa kau tidak pergi?”

“Aku menunggu beberapa orang yang akan bersama-sama menyeberangi Alas Tambak Baya ini.”

“Kenapa harus menunggu?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Jalan terlampau berbahaya. Jika kita ingin menyeberangi hutan, biasanya beberapa orang pergi bersama.”

“Siapakah yang mengatakan kepada Ki Sanak?”

“Orang-orang yang tinggal di sebelah hutan itu. Jika Ki Sanak singgah pada sebuah warung, maka orang-orang itu akan memberitahukan kepada Ki Sanak.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Jika Ki Sanak ingin pergi bersama dengan kami sampai ke seberang Alas Tambak Baya, kami tidak berkeberatan sama sekali. Tetapi selanjutnya Ki Sanak pergi sendiri ke Mataram.”

“Aku tidak berani.”

“Jika demikian, kami akan mengantar Ki Sanak sampai ke Mataram. Kami akan singgah di Mataram sejenak.”

Tiba-tiba saja orang itu menjadi ragu-ragu. Lalu katanya, “Apakah Ki Sanak siap menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi di perjalanan?”

“Apakah yang mungkin terjadi?”

“Perampokan.”

“Kami tidak membawa apa-apa. Mungkin bekal makan kami inilah yang akan dirampoknya. Nasi jagung dan gembrot sembukan. Selebihnya tidak ada.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Kuda kalian adalah kuda-kuda yang tegar.”

“Kuda padesan. Sekedar dapat menyambung perjalanan.”

Orang itu masih ragu-ragu. Namun kemudian ia menggeleng, “Tidak usah, Ki Sanak. Aku tidak akan mengganggu Ki Sanak. Silahkan berjalan terus ke Menoreh.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Sebenarnya arah perjalanan kami masih belum pasti. Kami mungkin akan langsung pergi ke Menoreh, tetapi ada juga niat kami pergi ke Mataram.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi di mana bekal dan barang-barang Ki Sanak disimpan?”

“Ada diwarung itu. Di pinggir Alas Tambak Baya.”

“Kenapa Ki Sanak ada di sini? Kenapa Ki Sanak tidak menunggu saja di pinggir hutan itu?”

Orang itu termangu-mangu sejenak, namun kemudian jawabnya, “Aku sedang berjalan-jalan di sini ketika aku melihat kalian berhenti dan beristirahat di sini.”

“O,” Kiai Gringsing mengangguk-angguk, “jika Ki Sanak berubah pendirian dan ingin pergi bersama kami, beritahukan hal itu kepada kami.”

“Apakah kalian akan berjalan terus?”

“Ya. Kami akan bermalam di seberang Alas Tambak Baya jika kami dapat mencapainya.”

“Tetapi kemana sebenarnya kalian akan pergi?”

“Kami belum tahu. Mungkin kami dapat berganti haluan dengan tiba-tiba.”

“Tetapi kalian tentu mempunyai rencana.”

“Rencana kami masih belum pasti. Tetapi jika kau akan pergi bersamaku, kami akan memastikan rencana kami. Kami pergi ke Mataram, karena kami mempunyai saudara yang tinggal di sana.”

Orang itu menjadi termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Terima kasih. Pergilah ke Menoreh. Aku akan menunggu orang lain.”

Kiai Gringsing tidak segera menyahut. Dipandanginya orang itu tajam-tajam, sehingga ketika tatapan mata mereka beradu, orang itu memalingkan wajahnya.

“Kenapa kau tiba-tiba mengurungkan niatmu pergi bersama kami?” bertanya Kiai Gringsing.

“Aku tidak mau mengganggu kalian, selamat jalan.”

Orang itu tidak menunggu Kiai Gringsing menjawab. Tetapi ia pun segera meninggalkannya. Namun ia sama sekali tidak pergi ke padesan di pinggir hutan Tambak Baya.

Sepeninggal orang itu Ki Demang di Sangkal Putung berkata, “Aku menjadi bingung. Orang itu pun agaknya menjadi bingung mendengar keterangan Kiai.”

Kiai Gringsing memandang orang yang semakin lama menjadi semakin jauh itu. Gumamnya kemudian seakan-akan kepada diri sendiri, “Aku menjadi curiga kepadanya.”

“Kenapa Kiai menjadi curiga?”

“Mula-mula hanya sekedar firasat, tetapi semakin lama aku melihat tanda-tanda itu. Kenapa ia tidak mau pergi bersama kami ke Mataram?”

“Mungkin ia menjadi curiga juga kepada Kiai, karena tiba-tiba saja Kiai berputar haluan.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Mungkin aku terlampau berprasangka, Tetapi mudah-mudahan orang itu sama sekali tidak berniat buruk.”

“Ia seorang diri.”

“Seharusnya ia tidak berada di sini, tetapi di padesan itu. Tetapi mungkin juga ia mempunyai beberapa orang kawan yang menunggui barang-barangnya.”

“Marilah kita pergi ke padesan itu,” tiba-tiba saja Ki Sumangkar menyela. “Di sana ada orang yang menjual makanan, barangkali kita dapat membeli tambahan bekal di perjalanan.”

Kiai Gringsing merenung sejenak, lalu, “Baiklah. Kita pergi ke padesan yang kecil itu.”

Demikianlah mereka pun segera pergi kepadesan itu. Dilihatnya beberapa orang duduk di sebuah gardu. Tetapi mereka adalah orang-orang yang beristirahat setelah bekerja di sawah, ternyata dari alat-alat yang masih ada pada mereka.

“Hanya ada sebuah warung kecil,” berkata Ki Sumangkar, “agaknya jalan ini memang sepi.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Marilah kita membeli bekal.”

“Bekal kita sudah cukup,” berkata Ki Demang.

“Sekedar berbicara dengan penjual itu.”

“Baiklah. Aku menunggu di sini.”

Kiai Gringsing dan Sumangkar-lah yang kemudian mendekat. Sambil membeli beberapa macam makanan Ki Gringsing berkata, “Apakah jalan ini menjadi sepi sekarang?”

“Ya, Ki Sanak,” jawab penjual makanan yang sudah agak lanjut itu, “jalan sangat sepi.”

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu. Tetapi menurut pendengaranku jalan sekarang menjadi tidak aman. Banyak orang yang terpaksa melepaskan barang-barangnya karena mereka tidak mau kehilangan nyawanya.”

“Perampok?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam.

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berpandangan sejenak. Ternyata apa yang mereka dengar selagi mereka masih di Sangkal Putung itu tidak jauh dari keadaan yang sebenarnya. Bagi Kiai Gringsing, perampokan yang terjadi itu bukan semata-mata untuk mendapatkan barang-barang dan kekayaan, tetapi tentu suatu usaha untuk memisahkan Mataram dari lingkungan disekitarnya.

“Tetapi apakah masih ada orang yang kadang-kadang lewat?”

“Ya, kadang-kadang. Beberapa orang kadang-kadang berkumpul di sini. Mereka membentuk semacam kelompok kecil untuk menyeberangi Alas Tambak Baya dan kemudian masuk ke Alas Mentaok yang sedang dibuka itu.”

“Kau tahu segala-galanya,” berkata Ki Sumangkar.

Orang itu mengerutkan keningnya. Lalu suaranya menjadi terputus-putus, “Tidak. Aku tidak tahu apa-apa.”

Tetapi Sumangkar tersenyum, “Jangan takut. Aku bukan ingin menakut-nakutimu. Tetapi apakah di dalam kelompok-kelompok kecil orang tidak takut dirampok? Bagaimana jika perampoknya berjumlah besar?”

“Kadang-kadang ada prajurit Mataram yang datang kemari. Hampir setiap tiga hari, sehingga orang-orang itu sabar menunggu. Jika ada prajurit Mataram datang menyongsong mereka, maka mereka pun pergi dengan aman ke Mataram. Tetapi akhir-akhir ini sering timbul kerusuhan tidak di tengah-tengah hutan, tetapi di sekitar tempat ini.”

“Maksudmu perampok-perampok itu datang kemari?”

Orang itu tidak segera menjawab. Tetapi dipandanginya kedua orang yang berdiri di muka barang-barang dagangannya itu. Sekali-sekali ia memandang Ki Demang, Agung Sedayu yang berdiri beberapa langkah dari tempatnya sambil memegangi kuda.

“Tetapi siapakah kalian?” bertanya penjual makanan itu.

“Yang berdiri itu adalah Demang Sangkal Putung,” sahut Kiai Gringsing, “jangan takut. Kami hanyalah sekedar lewat.”

“Ya. Aku dapat mengenal dari wajah dan sikap kalian, bahwa kalian bukan dari golongan mereka. Tetapi ….” orang itu tidak melanjutkan kata-katanya.

“Apakah kau melihat seseorang yang kau curigai?”

Orang itu tidak menyahut. Tetapi diedarkannya pandangan matanya berkeliling.

Kiai Gringsing dan Sumangkar mengikuti arah pandangan mata orang itu. Tetapi mereka tidak melihat seseorang pun.

“Dinding-dinding sekarang mempunyai telinga,” berkata orang itu, “aku tidak berani mengatakan apa pun.”

“Jangan takut. Tidak ada orang lain yang mendengar.”

Orang itu masih ragu-ragu. Lalu, “Apakah Ki Sanak yakin?”

“Ya. Aku yakin, tidak ada orang lain yang mendengar.”

“Tetapi siapakah sebenarnya Ki Sanak berdua?”

“Kami adalah saudara-saudara Ki Demang. Kami adalah paman-pamannya.”

“Dan kedua anak-anak muda itu?”

“Yang seorang anaknya, yang seorang kemanakannya.”

“Kalian tinggal di Sangkal Putung?”

“Ya.”

“Baiklah. Aku ingin mengiakan pertanyaan Ki Sanak. Para perampok itu kadang-kadang datang kemari, karena semakin sedikit orang yang lewat menyeberang hutan Tambak Baya dan hutan Mentaok.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu bertanya, “Apakah hari ini tidak ada seorang pun yang akan menyeberang hutan ini?”

“Ada seorang. Ia menunggu kawan.”

“Di mana ia sekarang. “

“Berjalan-jalan. Ia sangat gelisah karena belum ada kawan yang akan pergi bersamanya.”

“Bukankah sering ada pengawal-pengawal Mataram yang kau sebut sebagai prajurit-prajurit itu?”

“Ia menjadi gelisah karena perampok-perampok itu sekarang tidak sekedar menunggu, tetapi mereka menyongsong korban-korban mereka kemari.”

Kiai Gringsing menjadi gelisah. Dipandanginya Sumangkar dengan wajah yang tegang. Lalu, “Jadi, jadi mereka akan datang kemari.”

“Ya.”

“Kalau begitu aku tidak akan beristirahat di sini. Aku akan pergi seperti orang itu. Atau sebaiknya aku kembali saja ke Sangkal Putung.”

“Kenapa kembali?”

“Aku tidak dapat menyediakan diri untuk dibantai oleh para perampok.”

“Bukankah kalian akan pergi ke Mataram?”

“Tidak, kami belum pasti pergi ke Mataram. Mungkin ke Mataram, mungkin ke Menoreh.”

“Kenapa?”

Kiai Gringsing yang gelisah menggeleng, “Tetapi aku kira kita tidak akan pergi ke mana-mana.”

Penjual makanan itu tiba-tiba tersenyum, katanya, “Kenapa kalian menjadi ketakutan?”

Sumangkar yang gemetar berkata, “Kita kembali saja.”

Tetapi orang setengah tua di belakang barang-barang jualannya itu tertawa. Katanya, “Kalian tidak usah takut.”

“Kenapa?”

“Aku tahu jalan yang paling baik yang dapat kau lalui.”

“Maksudmu?”

“Jalan yang jarang-jarang dilalui orang, tetapi justru karena itu kalian tidak akan menjumpai seorang perampok pun. Mereka tidak akan telaten duduk berhari-hari tanpa mendapatkan seorang korban pun.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi, ada jalan yang Ki Sanak anggap tidak akan ada seorang perampok pun yang mengganggu perjalanan kami?”

“Ya.”

“Tetapi jalan itu menuju ke Menoreh atau ke Mataram?”

“Kedua-duanya. Kau dapat menempuh jalan itu, kemudian kau dapat memilih jika kalian sampai pada sebuah jalan simpang setelah kalian melewati Alas Tambak Baya.

“Maksudmu jalan itu adalah jalan lurus satu-satunya sehingga kami akan menjumpai jalan simpang?”

“Ya.”

“Terima kasih. Kami harus segera pergi.”

“Ya. Kalian harus segera berangkat sebelum perampok-perampok itu datang.”

“Kapankah kira-kira para pengawal dari Mataram itu akan datang kemari?”

“Baru kemarin mereka datang, tiga hari lagi paling cepat. Mungkin lebih lagi, karena jalan semakin sepi.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia memandang beberapa orang yang ada di gardu. Seorang di antaranya ternyata memperhatikannya baik-baik. Tetapi Kiai Gringsing tidak menghiraukannya.

“Jika demikian kami akan segera pergi. Terima kasih atas petunjuk Ki Sanak. Tetapi jalan manakah yang akan kami tempuh?”

“Melingkarlah. Lewat di belakang padukuhan ini kalian akan sampai jalan sempit yang menjelujur masuk ke dalam hutan. Jalan itulah yang akan kalian lalui.”

“Tetapi jalan itu justru menjauhi arah yang kami tuju. Jalan itu menuju ke Utara, baru ke Barat.”

“Tetapi setelah masuk ke dalam hutan, jalan itu akan melingkar ke Selatan. Memang ada simpang empat pada persilangan jalan itu dengan jalan yang biasa dilalui orang, tetapi kalian dapat berhati-hati dan dengan menyusup gerumbul-gerumbul perdu, kalian dapat menyilang jalan yang sering ditunggui para penyamun itu.”

“Baiklah. Terima kasih. Kami akan segera pergi.”

“Tentu Ki Demang Sangkal Putung membawa bekal banyak sekali.

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 068)

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-67/

<<kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s