ADBM1-068

<<kembali | lanjut >>

KIAI GRINGSING termangu-mangu sejenak. Sekilas ia memandang Ki Sumangkar. Dan jawabnya kemudian, “Tidak banyak. Hanya sekedar hadiah untuk bakal menantunya.”

“O, jadi Ki Demang Sangkal Putung akan pergi ke bakal menantunya di Menoreh?”

“Ya.”

Penjual itu tertawa. Katanya, “Kenapa kau membuat dirimu sendiri bingung, dengan ceritera bahwa kau akan pergi ke Mataram? Mungkin kau mencoba untuk menghilangkan jejak kepergianmu. Jika di sini ada perampok atau setidak-tidaknya orang-orangnya, mereka tidak tahu pasti kemana kau akan pergi.”

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia mengangguk, “Ya, ya, begitulah.”

“Nah, sekarang pergilah dengan aman. Turutlah nasehat kami.”

“Terima kasih. Jika kau tidak berbaik hati memberitahukan hal itu kepada kami, maka kami tentu akan melewati jalan yang berbahaya itu, dan kami akan terjebak ke dalam sarang para penyamun. Barang-barang Ki Demang yang tidak seberapa nilainya, yang akan diberikan kepada bakal menantunya itu, tentu akan dirampasnya.”

“Ya. Sekarang, pergilah lewat jalan yang aku katakan.”

“Terima kasih.”

“Tetapi, apakah kalian memerlukan bekal di perjalanan kalian?”

“O, hanya sedikit, karena kami sudah membawanya.”

“Ambillah.”

Kiai Gringsing menjadi heran, sehingga ia pun bertanya, “Apakah maksudmu, aku membeli bekal padamu?”

“Ambillah. Kau tidak usah membeli. Jualanku tinggal sisanya. Aku sudah mendapat banyak untung sampai hari ini.”

“Ah, jangan begitu.”

“Ambillah menurut kebutuhanmu.”

Kiai Gringsing menjadi ragu-ragu. Tetapi ia pun mengambil beberapa macam makanan. Lalu sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Kau baik sekali. Mudah-mudahan, kebaikanmu akan berbuah sesuai menurut nilainya.”

Kiai Gringsing dan Sumangkar pun kemudian meninggalkan penjual itu. Tetapi, Kiai Gringsing-lah yang membawa makanan yang diambilnya dari dagangan orang yang memberinya banyak petunjuk itu.

Ketika ia kemudian mendapatkan Ki Demang, maka dikatakanlah semua pesan penjual makanan dan beberapa macam bahan yang sering dibutuhkan di dalam perjalanan yang panjang, apalagi lewat hutan yang lebat.

Ki Demang termangu-mangu sejenak mendengar semua pesan itu. Namun kemudian katanya, “Jadi, kita akan berjalan lewat jalan yang ditunjukkan itu?”

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya. “Ya. Kita akan pergi lewat jalan yang ditunjukkan itu.”

“Dan bekal itu?” Ki Demang ragu-ragu. “Maksudku, orang itu terlampau baik hati kepada kita.”

“Ya. Ia tahu bahwa Ki Demang akan pergi ke Menoreh, dan aku katakan kepadanya bahwa Ki Demang membawa sekedar hadiah buat bakal menantunya.”

“Ah,” Ki Demang berdesah.

“Sudahlah, marilah kita berangkat sebelum ada seorang perampok yang datang kemari.”

Ki Demang, Agung Sedayu dan Swandaru menjadi ragu-ragu. Tetapi mereka tidak bertanya lagi. Mereka pun segera meloncat ke atas punggung kuda masing-masing dan meneruskan perjalanan, lewat jalan yang ditunjukkan oleh penjual di warung itu.

“Guru,” tiba-tiba Agung Sedayu berkata, “aku merasakan sesuatu yang tidak wajar pada perjalanan kita ini. Apakah benar jalan yang kita lalui ini, jalan yang paling aman?”

“Padukuhan ini terlampau lengang,” desis Swandaru, “Apakah padukuhan ini masih dihuni orang?”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Itulah yang menarik. Dan karena hal yang tidak wajar, dan kelengangan padukuhan inilah aku mau mendengarkan petunjuk orang itu.”

“Maksud Guru, menghindari penyamun?”

Kiai Gringsing tertawa. Katanya, “Kita adalah petualang yang gatal tangan. Tetapi bukan itu maksudku. Jika kita bertemu dengan penyamun, maka kita akan mendapat keterangan tentang mereka.”

“Aku tidak mengerti, bagaimana maksud Kiai sebenarnya?” bertanya Ki Demang.

Kiai Gringsing pun mengamat-amati makanan yang dibawanya sejenak. Namun makanan itu pun kemudian dilemparkannya jauh-jauh.

“Aku tidak yakin bahwa makanan itu tidak mengandung racun yang sangat lemah, dan dapat memberikan pengaruh atas tenaga kita, sehingga pada suatu saat kita akan kehilangan segenap kemampuan kita.”

“O”

“Jelasnya, Ki Demang. Aku berprasangka, mudah-mudahan prasangka ini keliru,” Kiai Gringsing berhenti sejenak. Lalu, “Bahwa orang itu telah menjerumuskan kita ke dalam sarang perampok. Padukuhan ini adalah padukuhan yang kosong. Rumah, halaman dan kebun tampak kotor dan tidak terpelihara. Aku tidak melihat seorang pun yang ada di dalam rumahnya. Sawah yang berada di dekat padukuhan ini pun menjadi bera dan tidak ditanami lagi. Tentu padukuhan ini sudah dikosongkan oleh penduduknya dan mereka mengungsi ke padukuhan-padukuhan lain, meskipun mereka masih bekerja di sawah yang agak jauh dari padukuhan ini.”

“O. Dan kita sengaja menjerumuskan diri?”

“Sekedar didorong oleh perasaan ingin tahu. Tetapi mungkin gunanya lebih dari itu.”

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Dipandanginya wajah Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berganti-ganti, dan kemudi-an wajah Agung Sedayu dan Swandaru. Namun sebelum ia berkata sesuatu, Swandaru sudah mendahuluinya, “Kita akan mendapat mainan, Ayah. Apa salahnya kita mencari perampok-perampok itu?”

“Ah, bukankah kita akan melamar seorang gadis? Marilah kita hindari semua kemungkinan yang dapat menghambat perjalanan. Aku bukannya menjadi takut terhadap perampok. Aku lebih takut kepada anjing-anjing liar itu seandainya masih ada. Ketika aku mendengar ceritera tentang anjing liar, aku benar-benar menjadi gemetar. Alangkah sakitnya digigit oleh berpuluh-puluh anjing tanpa berbuat sesuatu. Tetapi terhadap para perampok, seandainya terpaksa kita bertemu, apa boleh buat. Aku juga membawa senjata,” Ki Demang berhenti sejenak. Tanpa disadarinya dirabanya hulu pedangnya yang tersangkut di bawah sehelai kain di punggung kuda di bawah pelana, sehingga senjata itu tidak begitu tampak dari kejauhan. Lalu katanya, “Tetapi jika kita tahu benar bahwa kita akan bertemu dengan sekelompok perampok, apa gunanya kita berjalan terus lewat jalan ini? Apakah tidak lebih baik jika kita mengambil jalan lain yang lebih aman dan tidak mengganggu kepergian kita, untuk suatu keperluan yang sangat penting ini?”

Swandaru yang merasa berkepentingan itu pun mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih juga ragu-ragu. Sebenarnya ia ingin juga cepat-cepat sampai ke Menoreh tanpa gangguan apa pun. Tetapi perampok-perampok itu pun tentu sangat menarik hati. Apalagi apabila di antara mereka ada orang-orang yang dapat dianggap penting dari antara mereka.

Kiai Gringsing yang mengangguk-angguk, kemudian menjawab setelah merenung sejenak, “Ki Demang memang benar. Tetapi bagi kita, persoalan perampok itu bukannya sekedar perampok biasa. Perampok itu tentu ada hubungannya dengan berdirinya Mataram. Sebagai daerah yang baru tumbuh, ternyata Mataram menghadapi banyak sekali tantangan. Dimana-mana, orang-orang yang tidak senang terhadap Mataram dengan serentak telah melakukan kegiatannya. Sudah barang tentu semuanya dijalin dalam satu puncak kekuasaan dari mereka itu. Terlebih-lebih lagi, beberapa orang senapati tertinggi Pajang benar-benar tidak mau melihat kehadiran Mataram sebagai suatu daerah yang kuat. Tentu banayak alasan yang dapat dikemukakan. Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang tidak ingin melihat Raden Sutawijaya memiliki kekuasaan, karena ia adalah orang yang besar. Jika ia mempunyai bekal kekuasaan atas suatu daerah yang betapa kecilnya, maka ia pasti akan dapat mengembangkan kekuasaan itu dengan baik. Ada pula di antara mereka adalah prajurit-prajurit, yang semata-mata mengemban tugas. Di antara mereka adalah Untara. Ia merasa ikut membina Pajang se-jak berdirinya. Karena itu, maka ia tidak akan dapat dengan mudah melepaskan diri dari ikatan yang terjalin, antara dirinya dengan Pajang. Yang lain adalah orang-orang yang berjiwa kerdil dan dengki, sehingga mereka menjadi iri melihat perkembangan Mataram, sedang yang masih harus di cari sebabnya adalah orang-orang yang langsung merintangi pembukaan hutan itu, di hutan itu sendiri. Mungkin mereka adalah orang-orang yang sebelumnya sudah bertempat tinggal di daerah itu atau di padukuhan-padukuhan di sekitar Alas Mentaok dan sudah mempersiapkan diri untuk membuka hutan itu. Tetapi, sudah barang tentu mereka merasa dihalangi oleh usaha Raden Sutawijaya. Namun semua itu barulah sekedar dugaan.”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Tetapi seperti Swandaru, ia menjadi ragu-ragu. ia berdiri di antara kepentingannya sendiri dan kepentingan yang lebih besar.

“Nah, apakah Ki Demang dapat sepakat dengan perjalanan ini?”

Ki Demang tidak segera menyahut. Di antara, mereka terdapat Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Sudah tentu bahwa keduanya adalah pelindung yang baik. Apalagi Ki Demang sendiri bukan sekedar seorang yang harus pasrah diri dalam perlindungan orang lain, karena ia pun mampu pula berkelahi. Tetapi setiap kali ia menjadi gelisah. Jika sesuatu terjadi di perjalanan, apakah yang akan dilakukan kemudian?

Namun akhirnya, Ki Demang tidak dapat mengelak lagi. Meskipun Agung Sedayu dan Swandaru tidak menyatakan pendapatnya lagi, tetapi menurut tatapan mata mereka, keduanya ingin mencoba untuk meneruskan perjalanan lewat jalan sempit itu.

“Baiklah,” berkata Ki Demang, “aku akan mengikuti kalian. Aku percaya bahwa kalian sudah membuat perhitungan yang sebaik-baiknya.”

“Mudah-mudahan semua angan-angan dan prasangka kami tidak benar, Ki Demang.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Marilah, kita melihat apa yang ada di depan kita.”

Kiai Gringsing memandang Ki Demang sejenak. Lalu katanya, “Kita akan berusaha, bahwa apa yang kita lakukan ini tidak mengganggu perjalanan kita, karena pada pokoknya kita sedang pergi ke Menoreh. Apa yang terjadi ini hanyalah sekedar gejolak di permukaan air saja. Tetapi arusnya tetap menuju ke muara.”

Ki Demang memandang wajah Kiai Gringsing sejenak. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Aku sudah terlalu tua untuk bertualang.”

“Umurku lebih tua.”

“Bukan umur. Tetapi jiwa kita masing-masing. Aku adalah seorang Demang yang biasa bekerja di satu tempat yang ajeg, tidak berkeliling kemana-mana. Dan cara hidup yang demikian itulah, yang agaknya membuat jiwaku lebih tua dari Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar tersenyum, sedang Swandaru tertawa pendek. Dipandanginya wajah ayahnya yang memang masih nampak lebih muda dari Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Bahkan katanya, “Kebiasaan Ayah memang hanya menunggui banjar dan bendungan di Sangkal Putung.”

“Bukan begitu, Ki Demang,” berkata Ki Sumangkar, “kita memang mempunyai pekerjaan dan kebiasaan kita masing-masing. Itulah justru yang membuat kehidupan ini menjadi sangat menarik.”

Ki Demang pun tersenyum pula. Tetapi ia tidak menyahut lagi.

Demikianlah, mereka meneruskan perjalanan melingkar padukuhan yang sepi, kemudian menyusuri jalan sempit di bulak yang tidak ditanami. Tetapi bulak itu pun tidak begitu luas. Kemudian, mereka mengikuti jalan itu berbelok menuju ke Alas Tambak Bayu.

Tetapi jalan yang mereka lalui itu agaknya memang hampir tidak pernah disentuh kaki. Rerumputan liar dan dedaunan yang dilemparkan oleh pepohonan di sebelah-menyebelah jalan itu, sama sekali tidak menyibak.

Meskipun demikian, agaknya sesuatu telah menarik perhatian Kiai Gringsing, Dilihatnya batang-batang rumput yang patah, dan di antara dedaunan kuning yang runtuh, kadang-kadang tampak juga bekas kaki yang belum terlalu lama pada tanah yang gembur lembab.

Karena itu, maka Kiai Gringsing pun kemudian menggamit Ki Sumangkar dan memperlihatkan bekas-bekas yang menarik perhatiannya itu, sambil berjalan terus perlahan-lahan.

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Aku juga melihat.”

Kedua orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas dipandanginya wajah Ki Demang yang tampak bersungguh-sungguh dan wajah kedua anak-anak muda yang justru menjadi cerah. Ternyata udara terbuka membuat mereka menjadi gembira. Mereka dapat melihat alam yang luas dan rasa-rasanya hati mereka pun menjadi lapang, selapang bulak yang tidak ditanami itu.

Tetapi kedua anak-anak muda itu beserta Ki Demang tertegun, ketika mereka melihat Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar yang berkuda di paling depan berhenti sejenak. Tampaknya mereka sedang mengamat-amati jalan di depan kaki-kaki kuda mereka.

“Ada apa, Kiai?” bertanya Ki Demang.

Kiai Gringsing berpaling. Namun ia pun kemudian tersenyum. Katanya, “Tidak apa-apa. Aku hanya melihat bahwa dekat sebelum kita, ada juga orang yang lewat jalan ini. Tentu atas petunjuk penjual itu.”

“O.”

“Aku semakin yakin, bahwa orang yang menunggui warung itu bukan orang yang baik hati seperti kita duga semula. Padukuhan yang berubah cepat sekali sejak kami lewat terakhir kalinya, memberikan kesan yang menarik, sehingga kita memang harus berhati-hati.

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak kemudian ia pun menyahut, “Baiklah. Aku akan berhati-hati. Tetapi mudah-mudahan jika terjadi sesuatu, tidak akan mengganggu rencana perjalanan kita yang sebenarnya.”

“Aku rasa memang tidak, Ki Demang.”

“Ki Demang tidak menyahut lagi. Namun sekali ia berpaling. Di belakangnya, Agung Sedayu dan Swandaru menengadahkan kepalanya sambil memandang ke kejauhan. Memandang sinar matahari yang menjadi semakin terik, membakar wajah bulak yang tidak ditanami.

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia memang sudah dipagari oleh kekuatan yang dapat dipercaya. Namun demikian, baginya lebih baik tidak bertemu dan berkelahi dengan siapa pun daripada harus terganggu, meskipun tidak terlalu lama.

“Tetapi bagaimanakah jika kekuatan perampok itu melampaui kekuatan kami?” ia berdesah di dalam hati. Tetapi Ki Demang tidak mau memikirkannya lagi. Bukan karena ia menjadi ketakutan. Tetapi, ia tidak ingkar bahwa ia menjadi cemas.

“Jika aku tidak sedang dalam perjalanan yang penting,” katanya di dalam hati, Ki Demang bukannya orang yang menjadi ketakutan dan bersembunyi ketika Tohpati mengancam kademangannya. Bahkan bersama para pengawal kademangan yang masih muda-muda dan beberapa orang laki-laki yang tidak ingin melihat kademangannya ditelan oleh pasukan Tohpati, Ki Demang maju juga ke medan.

Tetapi yang mencemaskannya kini, adalah justru kepentingan perjalanannya itu. Namun agaknya kawan-kawannya seperjalanan adalah petualang-petualang yang selalu tertarik pada persoalan-persoalan yang mendebarkan. Termasuk anaknya yang menjadi murid Kiai Gringsing. Bahkan jika diijinkan, anaknya perempuan akan berbuat serupa pula.

Namun sebenarnya, jika Kiai Gringsing tertarik kepada perampok-perampok itu, bukan semata-mata karena darah petualangannya. Sebenarnya ia pun telah dicengkam oleh kecemasan. Betapa beratnya tantangan yang harus dihadapi oleh daerah yang sedang tumbuh itu.

“Kenapa aku ikut berprihatin atas Mataram?” kadang ia bertanya kepada diri sendiri.

Namun, betapa pun ia mencoba menyembunyikan perasaannya, tetapi terhadap dirinya sendiri ia harus berkata dengan jujur, bahwa sebenarnyalah ia kecewa terhadap Pajang sekarang. Pajang yang dahulu diharapkan dapat menjadi pelita dan pemersatu daerah-daerah yang bertebaran di tanah ini. Tetapi agaknya Sultan Pajang tidak akan berhasil, karena kemudian ia terbenam dalam kamukten yang berlebih-lebihan, meskipun di masa mudanya ia adalah anak muda yang sangat prihatin. Seorang anak muda yang seakan-akan selalu tidur berselimut embun di sawah, yang beratapkan langit yang luas.

Tetapi Kiai Gringsing selalu mencoba menghindarkan diri dari setiap dorongan untuk berbuat lebih jauh lagi. Bahkan kadang-kadang ia mencoba menasehati dirinya sendiri, “Apakah artinya kau seorang diri. Seorang dukun tua, yang tersisih dari percaturan pemerintah sejak Demak masih berdiri?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dan ia terperanjat ketika ia mendengar suara sawangan berdesing di atas kepalanya.

Dengan serta-merta Kiai Gringsing menengadahkan wajahnya. Tetapi dedaunan di sebelah-menyebelah jalan yang rimbun menutup pandangannya, sehingga ia tidak dapat melihat seekor merpati yang terbang dengan sawangan itu. Ketika ia maju beberapa langkah dan berhenti di tempat terbuka, suara sawangan itu telah menjadi semakin jauh.

“Merpati dengan sawangan,” ia berdesis.

“Ya,” sahut Ki Sumangkar, “ketika aku masih kanak-kanak, aku senang juga bermain dengan burung merpati yang diberi sawangan, sehingga seolah-olah kita mendengar desing yang tiada putus-putusnya di udara.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling, dilihatnya Ki Demang menjadi heran dan bertanya, “Apakah Kiai juga senang bermain sawangan?”

Kiai Gringsing tersenyum. Sebelum ia menjawab Swandaru pun berkata pula, “Aku mempunyai banyak sawangan di rumah. Tetapi burung merpatiku sudah hampir habis disembelih. Ayah dan Ibu ternyata benci kepada burung merpati, karena merusak genting dan mengotori dinding.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia menengadahkan kepalanya karena suara itu terdengar lagi, semakin lama semakin dekat.

“Aku pernah mendengar isyarat semacam ini.” katanya.

“Isyarat?” bertanya Ki Demang.

“Aku kira di padukuhan yang kosong, tidak ada anak-anak yang bermain sawangan.”

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Katanya, “Memang agak aneh bahwa di sini ada seekor merpati dengan sebuah sawangan.”

“Maksud, Kiai, apakah merpati ini suatu isyarat bagi para perampok itu?”

“Boleh jadi. Orang-orang di pinggir padukuhan itulah yang melepaskannya, untuk memberitahukan bahwa di jalan ini lewat beberapa orang yang dapat dijadikan korbannya.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata, “Jadi menurut dugaan, Kiai, kita sudah hampir berpapasan dengan perampok-perampok itu?”

“Sekedar dugaan. Sebentar lagi kita memasuki hutan yang semakin lebat. Memang mungkin sekali kita ditunggu oleh para perampok itu di mulut hutan.

Ki Demang memandang hutan yang terbentang di hadapannya. Kemudian ia pun berdesah, “Jika memang jalan itu yang harus kita tempuh, apa boleh buat.”

Hampir di luar sadarnya, disentuhnya tangkai pedangnya yang mencuat dari balik sehelai kain di punggung kudanya, di bawah pelana.

Kiai Gringsing dapat membaca perasaan Ki Demang. Sebagai orang tua yang membawa anak laki-lakinya melamar, maka sudah barang tentu bahwa ia tidak ingin menjumpai gangguan berupa apa pun juga. Tetapi bagi Kiai Gringsing, rasa-rasanya orang-orang itu perlu ditemuinya. Jika mungkin untuk sekedar bertanya-jawab apabila mereka mengetahui serba sedikit tentang diri mereka dan orang-orang yang berdiri di belakang mereka. Menurut perhitungannya, maka para perampok itu tidak akan mengganggu perjalanannya ke Menoreh dan apalagi merintanginya. Mungkin memang ada persoalan yang harus di atasinya, tetapi persoalan-persoalan itu tidak akan banyak mempunyai arti.

Meskipun demikian, Kiai Gringsing tetap berhati-hati. Memang mungkin sekali, bahwa perampok yang dijumpainya adalah segerombolan orang-orang yang kuat dan yang mendapat kepercayaan untuk memagari Mataram, agar Mataram tidak lagi dapat terlalu banyak menarik perhatian orang, sehingga dalam waktu yang singkat akan dapat menjadi sebuah negeri yang ramai.

Demikianlah, maka bagi Kiai Gringsing suara sawangan merpati itu adalah meyakinkan sekali. Ia pernah mendengar isyarat yang sama. Dan kini dihubungkan dengan kecurigaaannya kepada orang-orang yang pernah ditemuinya, maka suara sawangan itu adalah suara yang merupakan isyarat juga baginya, agar ia berhati-hati.

Karena itu, ketika mereka menjadi semakin dekat dengan mulut lorong yang menyusup ke dalam hutan, maka Kiai Gringsing pun kemudian merubah urut-urutan perjalanan mereka. Yang di paling depan dari mereka adalah Kiai Gringsing. Tetapi mereka tidak lagi berjajar dua, tetapi beriringan seorang demi seorang.

Di belakang Kiai Gringsing adalah Swandaru, kemudian Ki Demang Sangkal Putung. Di belakang Ki Demang adalah Agung Sedayu dan di paling belakang dari iring-iringan itu adalah Ki Sumangkar.

“Urut kacang,” desis Swandaru.

Agung Sedayu yang berada di belakang Ki Demang menjawab, “Jalan memang terlampau sempit.”

“Mungkin kita harus turun dari punggung kuda,” sahut Ki Sumangkar yang ada di paling belakang.

Kiai Gringsing sama sekali tidak berkata apa pun. Dengan penuh perhatian dipandanginya hutan yang lebat di hadapannya. Beberapa langkah lagi mereka akan menyusuri hutan perdu yang sempit, kemudian mereka akan segera memasuki hutan yang pepat.

“Berhati-hatilah,” desis Kiai Gringsing ketika mereka telah berada di antara gerumbul-gerumbul perdu.

Swandaru yang berkuda di belakang Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ada semacam kegembiraan yang tidak dikenalnya di dalam hatinya. Ternyata bahwa anak muda itu memang memiliki jiwa petualangan. Kemungkinan-kemungkinan yang berbahaya dan keras seakan-akan membuatnya semakin gairah menghadapi perjalanan itu. Bagi Swandaru ternyata petualangan dan seorang isteri memiliki daya tariknya masing-masing, sehingga ia ingin menempuh kedua-duanya.

Ki Demang yang berada di belakang Swandaru menjadi berdebar-debar. Di dalam setiap benturan kekerasan, sesuatu dapat terjadi atas setiap orang yang terlibat di dalamnya. Mungkin dirinya sendiri, mungkin Swandaru, atau kedua-duanya. Dengan demikian maka perjalanan ini adalah perjalanan yang sia-sia. Namun ia tidak dapat menentang kematian setiap orang di dalam rombongannya yang kecil itu.

Karena itu, sebagai seorang yang memiliki kepercayaan kepada Yang Menjadikannya, maka Ki Demang itu pun berdoa di dalam hatinya, agar perjalanan itu mendapat perlindungan-Nya,

Dalam pada itu, wajah Agung Sedayu pun nampak bersungguh-sungguh. Berbeda dengan Swandaru, maka yang dipersoalkan oleh Agung Sedayu di dalam hatinya adalah, kesulitan-kesulitan yang banyak dihadapi oleh Mataram. Apakah sebabnya maka orang-orang itu masih saja berusaha menggagalkan usaha Raden Sutawijaya untuk membina daerah yang sedang tumbuh ini? Apakah salahnya jika Mataram menjadi ramai seperti kota-kota lain di dalam wilayah Pajang?

Masih terngiang di telinganya keterangan gurunya, bahwa Pajang memusatkan perhatiannya kepada perkembangan Mataram, dan yang justru beberapa orang menganggapnya sebagai lawan, karena Mataram memiliki seorang Raden Sutawijaya. Pengaruh Raden Sutawijaya akan dapat menyuramkan kebesaran cahaya yang pernah dipancarkan oleh seorang anak, yang bernama Jaka Tingkir dan disebut Mas Karebet, yang kemudian menduduki tahta Pajang.

Di luar kehendaknya sendiri, ternyata Agung Sedayu tertarik sekali pada perkembangan Mataram. Ia bahkan menjadi kagum melihat kemauan yang keras dari Raden Sutawijaya yang didorong oleh ayahnya, Ki Gede Pemanahan, untuk mengatasi setiap kesulitan. Bahkan menurut penilaian Agung Sedayu, setiap kesulitan yang dihadapinya, merupakan pendorong yang kuat bagi Raden Sutawijaya.

Di paling belakang dari iring-iringan itu adalah Sumangkar. Persoalan yang dihadapinya di saat-saat terakhir, membuatnya kehilangan gairah untuk memikirkan masalah-masalah yang menyangkut pemerintahan. Yang ada di dalam hatinya kemudian adalah, jika benar mereka akan menghadapi segerombolan perampok yang mengganggu kemungkinan pertumbuhan Mataram, maka perampok-perampok itu harus dimusnahkan. Baik Mataram maupun Pajang tentu tidak akan mendapat keuntungan dari sikap keras yang tidak dilandasi oleh kepentingan yang luas dan jauh, selain kepentingan bagi diri sendiri dan gerombolannya. Bahkan di sejajari dengan usaha-usaha untuk mengadu domba antara Pajang dan Mataram.

Demikianlah, maka sejenak kemudian iring-iringan itu sudah sampai ke mulut lorong yang menghunjam ke dalam hutan Tambak Baya. Lorong itu adalah lorong yang agaknya memang jarang sekali dilalui orang, selain mereka yang terjerumus karena petunjuk orang-orang yang memang dipasang oleh para perampok, atau satu dua orang-orang yang mencari kayu baka di hutan-hutan.

Dengan angan-angan dan persoalan yang berbeda-beda di dalam hati masing-masing, maka mereka pun mulai memasuki hutan itu. Meskipun di bagian tepi dari hutan Tambak Baya itu masih belum merupakan hutan yang lebat pepat, namun sudah terasa bahwa udara mulai menjadi lembab.

Sekali-sekali mereka masih mendengar sawangan merpati yang terbang melingkar-lingkar di atas mereka. Sehingga karena itu, maka mereka pun menjadi semakin berhati-hati.

Namun dugaan Kiai Gringsing, bahwa dihadapan iring-iringan kecil itu sudah ada sekelompok orang yang mendahului menjadi semakin kuat, karena bekas-bekasnya tampak semakin nyata. Ranting-ranting yang patah dan batang-batang rerumputan liar yang terinjak kaki di sepanjang jalan itu.

“Agaknya sudah ada pula orang yang terjerumus ke dalam neraka ini,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya. Namun ia sama sekali tidak mengatakannya, meskipun menurut dugaan Kiai Gringsing, kawan-kawan seperjalanannya mengetahui pula bekas-bekas itu, terutama Ki Sumangkar.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja Swandaru bertanya, “Guru, apakah Guru sudah mengenal jalan ini?”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku baru kali ini melalui jalan ini, meskipun jalan ini agaknya sudah lama ada, dan bahkan sekarang sudah tidak dipergunakan lagi. Tetapi aku kira jalan ini bukan jalan yang harus dilalui untuk pergi ke Mataram.”

“Jadi, apakah kita akan dapat menemukan jalan keluar dari hutan ini? Meskipun hutan ini tidak seluas Mentaok, tetapi hutan ini cukup lebat.”

“Asal kita tidak kehilangan kiblat. Selagi matahari masih ada di langit, kita akan dapat mengetahui arah.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih bertanya, “Tetapi bagaimana jika jalan ini kemudian terputus. Apakah kita harus menyusup hutan di antara sulur-sulur kayu dan menyibakkan dedaunan yang rimbun? Dengan demikian, maka seperti kata Paman Sumangkar, bukan kita naik punggung kuda, tetapi kuda-kuda itu akan menjadi beban selama perjalanan ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, ia mengerti pertanyaan muridnya itu. Namun jawabnya, “Kita melihat keadaan yang akan kita hadapi.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Gurunya ternyata tidak menjawab pertanyaannya. Dan mereka bersama-sama masih harus menunggu dan melihat, apa yang mereka hadapi kemudian.

Dengan demikian, maka Swandaru tidak bertanya lagi. Sambil maju terus ia memandang keadaan di sekitarnya, rasa-rasanya memang ada sesuatu di perjalanan itu. Bahkan nalurinya mengatakan bahwa beberapa pasang mata seakan-akan sedang mengintip di balik dedaunan.

Belum lagi mereka menusuk jauh ke dalam, tiba-tiba saja mereka telah dikejutkan oleh suara yang aneh, tidak jauh dihadapan mereka. Karena itu, maka Kiai Gringsing pun memperlambat langkah kudanya. Didengarnya suara itu dengan saksama. Seperti yang pernah dikenalnya dalam keadaan yang tidak dapat diketahuinya dengan pasti itu, orang-orang yang bersembunyi di hutan Mentaok dan mungkin juga yang bersembunyi di hutan Tambak Baya ini telah membuat berbagai macam keadaan yang membuat seseorang menjadi bingung.

Semakin dekat, ternyata bahwa suara itu adalah suara merintih seseorang. Semakin lama semakin dekat. Bahkan bukan saja seseorang yang merintih-rintih, tetapi orang itu benar-benar berteriak minta tolong.

Sejenak kemudian mereka pun melihat seseorang berlari-lari terhuyung-huyung dari arah yang berlawanan. Di tubuhnya terdapat noda-noda darah yang masih basah.

“Lihat!” Ki Demang hampir berteriak pula.

“Tunggu,” cegah Kiai Gringsing, “kami pernah tertipu oleh keadaan yang serupa. Kita pernah melihat orang, yang luka parah dengan darah di seluruh tubuhnya, ternyata orang itu sama sekali tidak terluka. Dan darah itu sama sekali bukan darah yang sebenarnya.”

Orang yang berlari-lari itu ketika melihat iring-iringan orang berkuda, maka seakan-akan mendapatkan tenaga baru untuk berlari-lari mendekat. Suaranya yang telah parau masih terdengar, “Tolong, tolonglah kami.”

“Ia tidak sendiri,” desis Swandaru. Kiai Gringsing pun justru telah berhenti. Dengan, sigapnya ia meloncat turun. Ketika orang yang berlari-lari itu mendekatinya sambil memegangi lambungnya. Kiai Gring-sing berkata, “Berhenti di situ.”

Orang itu terkejut. Tetapi ia berkata terputus-putus, “Tolong. Tolonglah kami.”

“Apakah kau terluka?”

“Ya, Ki Sanak. Aku terluka parah. Tiga orang kawanku masih terjebak. Mereka berkelahi melawan beberapa orang penyamun.”

“Jangan mendekat,” cegah Kiai Gringsing pula. “Berdiri di situ. Akulah yang akan mendekat.”

Orang yang pucat itu menjadi semakin heran. Tetapi ia berhenti juga sambil berpegangan sebatang pohon.

Kiai Gringsing pun segera melangkah mendekatinya. Di amat-amatinya orang itu sejenak. Kemudian, “Tunjukkan lukamu.”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menunjuk lambungnya,

“Singsingkan bajumu.”

Orang itu menjadi semakin termangu-mangu. Tetapi ia menyingsingkan bajunya pula.

Dari balik baju itu Kiai Gringsing melihat lambungnya tergores oleh ujung senjata tajam. Kali ini ia tidak akan tertipu lagi. Dari luka itu pula darahnya telah menitik. Benar-benar darahnya. Bukan sekedar warna merah.

Karena itu maka Kiai Gringsing pun segera mendekatinya. Diamatinya luka itu sejenak. Dan ia pun yakin bahwa kali ini ia tidak tertipu lagi. Orang yang dihadapinya itu adalah benar-benar orang yang terluka. Dan ia tidak menganggap bahwa orang itu telah dengan sengaja melukai dirinya sendiri begitu parah untuk menjebaknya.

“Kenapa kau, Ki Sanak?” bertanya Kiai Gringsing.

“Penyamun. Kami telah dicegat di balik tikungan itu.”

“Kau bertempur melawan mereka?”

“Kami ingin menyelamatkan barang kami. Tetapi kami tidak dapat bertahan. Aku terluka dan melarikan diri. Mungkin aku sedang mereka cari sekarang.”

“Tidak sulit mencarimu. Tetesan darah di tubuhmu membawa mereka segera datang kemari.”

“Lindungi kami.”

“Kami harus berkelahi melawan mereka?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian tatapan matanya yang pasrah itu pun menjadi redup. Katanya, “Apa boleh buat. Jika kalian tidak dapat melindungi aku karena kalian tidak ingin terlibat dalam perkelahian, aku tidak dapat memaksa. Nasibku sebentar lagi akan ditentukan oleh mereka, apabila mereka menemukan jejakku.”

“Mereka pasti akan menemukan. Bagaimana, Ki Sanak dapat lari?” bertanya Kiai Gringsing.

“Kami tiba-tiba saja telah disergap. Beberapa orang dari kami telah berkelahi. Meskipun kami berusaha keras, tetapi kami tidak akan mampu melawan mereka. Karena itu, kami berlari-larian ke segala arah mencari keselamatan diri kami masing-masing. Beberapa orang penyamun telah mengejar kami berpencaran. Sedang tiga orang di antara kami tidak sempat berlari. Dan mereka masih bertahan melawan seorang penyamun. Sedang penyamun-penyamun yang lain mengejar kami yang berpencaran. Aku dapat menyelipkan diriku di antara dedaunan dan kemudian lari sampai ke tempat ini. Aku tidak tahu bagaimana nasib kawan-kawanku yang lain.”

“Ada berapa orang penyamun yang mencegatmu? “

“Empat orang. Tetapi tiga orang dari kami tidak dapat mengalahkan seorang dari mereka.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata jumlah penyamun itu tidak banyak.

“Berapa jumlah kawan Ki Sanak seluruhnya?” bertanya Kiai Gringsing kemudian.

“Kami berlima, sedang rombongan yang lain berempat.”

“Maksudmu rombongan yang lain?”

“Kami terdiri dari dua rombongan yang bersama-sama akan pergi ke Mataram. Jumlah kami seluruhnya sembilan orang.”

Kiai Gringsing masih mengangguk-angguk. Lalu ia pun bertanya pula, “Kalian sembilan orang tidak dapat melawan hanya empat orang?”

“Tetapi yang empat orang itu adalah orang-orang yang luar biasa. Ketika aku bersembunyi, aku masih melihat tiga orang di antara kami yang terikat dalam suatu perkelahian, melawan seorang saja dari antara mereka, karena yang tiga dari mereka sedang berpencaran mengejar kami. Tetapi, tiga orang kawan kami itu tidak berdaya. Mungkin mereka kini sudah berlari pula. Atau mati.”

Sejenak Kiai Gringsing memandangi wajah yang pucat itu. Kemudian berpaling kepada Sumangkar sambil berkata, “Di hadapan kita ada empat orang penyamun.”

Sumangkar yang ada di paling belakangpun kemudian maju mendekati Kiai Gringsing. Ia pun mengamati orang yang terluka itu dengan saksama. Lalu katanya kepada Kiai Gringsing, “Marilah kita berjalan terus.”

“Kalian akan berjalan terus?” bertanya orang yang terluka itu.

“Ya. Kami akan berjalan terus,” sahut Ki Sumangkar.

“Kalian akan membantu kami?”

“Tergantung kepada keadaan yang akan kita hadapi.”

“O,” orang itu menjadi sedikit kecewa.

“Sekarang,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “cobalah mengobati lukamu itu.”

“Obat apakah yang harus aku pergunakan sekarang? Aku sama sekali tidak membawa obat apa pun juga.”

Kiai Gringsing pun kemudian mengambil sebuah bumbung kecil, berisi obat bagi luka-luka baru. Kemudian ditaburkannya serbuk dari bumbung itu pada luka di lambung yang cukup panjang. Meskipun goresan itu tidak terlalu dalam, namun jika tidak segera mendapat pengobatan, maka luka itu akan dapat berbahaya bagi orang itu.

Orang itu menjadi terheran-heran, bahwa tanpa disangka-sangka ia telah bertemu dengan seseorang yang dapat mengobati lukanya. Dengan demikian ia mulai bertanya-tanya kepada diri sendiri, “Siapakah orang-orang berkuda ini?”

Namun, baru saja Kiai Gringsing selesai mengobati orang itu, dilihatnya sesosok bayangan di kejauhan. Hanya sekilas, karena bayangan itu segera berlindung di balik dedaunan.

Karena itu, maka Kiai Gringsing kemudian berkata, “Kita diamati oleh beberapa orang.”

“Siapa?” bertanya Ki Sumangkar yang kebetulan tidak melihat bayangan itu.

“Apakah adi Sumangkar memperhatikan para petani yang ada di gardu?”

“Ya.”

“Apakah kesan yang kau dapat?”

“Aku mencurigainya. Petani-petani itu seakan-akan sedang berisirahat. Tetapi tidak ada sawah yang dikerjakan di dekat gardu itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Kita akan berhadapan dengan orang-orang yang akan mengejar orang yang terluka ini, dan orang-orang yang memang ditugaskan mengikuti kita.”

“Ya.”

“Nah, tempatkan diri kalian masing-masing,” berkata Kiai Gringsing. Lalu, “Tidak menguntungkan jika kita berada di punggung kuda di daerah yang pepat seperti ini.”

Ki Sumangkar menganggukkan kepalanya.

Sejenak kemudian, maka mereka pun telah berloncatan turun. Agung Sedayu, Swandaru dan Ki Demang Sangkal Putung pun segera menambatkan kuda mereka, seperti juga Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar.

“Mau tidak mau perjalanan ini akan terganggu,” desis Ki Demang.

“Maaf, Ki Demang,” berkata Kiai Gringsing, “mudah-mudahan tidak memerlukan waktu terlalu lama.”

Ki Demang pun menganggukkan kepalanya. Ia masih saja berdiri di sisi kudanya, karena senjatanya tersangkut pada pelana kudanya, terlindung oleh selembar kain di bawah pelana itu.

Sejenak mereka menunggu, sedang orang yang terluka itu duduk sambil menyeringai menahan panas oleh obat yang diberikan Kiai Gringsing pada lukanya. Namun kegelisahan di hatinya bahkan telah mengurangi rasa sakit yang dideritanya.

“Ternyata kami tidak dapat maju lagi,” bisik Ki Sumangkar kepada orang itu, “Kami menghadapi persoalan kami sendiri. Mudah-mudahan kawan-kawanmu selamat.”

Orang itu dapat mengerti. Karena itu maka ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya.

Namun sejenak kemudian, mereka terkejut ketika mereka mendengar derap orang berlari-lari kejar mengejar. Kemudian muncullah seseorang yang berlari sekencang-kencangnya, menuju ke arah mereka.

“Itu seorang dari kawan kami,” desis orang yang terluka itu. Lalu sambil melambaikan tangannya ia memanggil, “Aku di sini.”

“Sst,” desis Kiai Gringsing.

Orang itu terkejut mendengar desis Kiai Gringsing. Tetapi dalam pada itu kawannya sudah mendengar dan melihatnya, sehingga karena itu, maka dengan serta-merta ia pun berlari mendatanginya.

Sejenak kemudian muncullah orang yang mengejarnya. Ketika orang itu melihat buruannya berlari di antara beberapa orang, maka ia pun segera berhenti.

Orang yang baru saja datang sambil berlari-lari itu berhenti di samping kawannya yang terluka dengan nafas terengah-engah. Tanpa menghiraukan orang lain ia bertanya, “Kau sudah ada di sini?”

“Ya. Aku bertemu dengan orang-orang ini.”

“Ia berteriak-teriak,” sahut Kiai Gringsing, “untunglah bahwa yang mendengar suaranya adalah kami bukan orang-orang yang mencarinya.”

“Aku bingung dan ketakutan.”

“Kau terluka?” bertanya kawannya. Orang yang terluka itu mengangguk.

Namun dalam pada itu, orang yang mengejarnya tertawa sambil berkata, “Tidak ada jalan untuk lari. Karena itu, dengan telaten kami mencari kalian seorang demi seorang.”

Semua orang memandanginya dengan tajamnya. Tetapi tidak seorang pun yang segera menyahut.

“Jika kalian keluar dari hutan ini, kalian bukan berarti terlepas dari tangan kami,” orang yang mengejar itu berkata selanjutnya. Lalu, “Bahkan bukan saja kalian yang sudah terlanjur berada di tangan kami, tetapi orang-orang yang baru datang dengan mengendarai kuda itu pun tidak akan dapat meninggalkan kami dengan selamat. Jangan menyesal bahwa kalian telah berada di dalam kekuasaan kami. Hutan Tambak Baya dan Mentaok adalah kerajaan kami.”

“Siapakah sebenarnya kalian, Ki Sanak?” bertanya Kiai Gringsing.

“Tidak ada yang dapat mengenal kami dengan tepat. Kami adalah orang-orang yang tidak bernama dan tidak bertempat tinggal. Istana kami adalah hutan ini. Dan kalian telah masuk ke dalam lingkungan kami, sehingga kalian tidak akan dapat keluar lagi. Mungkin masih ada cara bagi kalian antuk menyelamatkan diri, tetapi barangkali memerlukan suatu perjanjian yang matang.”

“Apa maksudmu?”

“Apakah kalian membawa harta benda? Mungkin bekal kalian atau mungkin barang dagangan?”

“Jika tidak?”

“Nyawa kalian-lah yang kami perlukan. Atau, dua orang di antara kalian menjadi tawanan kami. Keduanya akan kami bebaskan kemudian, jika yang lain dapat menebusnya dengan uang atau emas atau apa pun yang kami tentukan.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dipandanginya Ki Sumangkar yang berdiri sambil menyilangkan tangan di dadanya. Sedang Agung Sedayu dan Swandaru berdiri sebelah-menyebelah Ki Demang yang termangu-mangu di sisi kudanya.

“Nah, apakah yang akan kalian pilih? Atau, barangkali kalian sekarang sudah membawa barang-barang yang cukup?”

“Jika kami membawa barang-barang yang cukup, apakah kami dapat meneruskan perjalanan kami ke Mataram?” bertanya Kiai Gringsing.

“Tidak. Kalian boleh pergi, tetapi kalian harus kembali, tidak terus ke Mataram atau kemana pun juga. Kalian hanya dapat kembali tanpa pilihan yang lain. Sedangkan apabila kalian tidak membawa apa-apa, dan tidak bersedia menyerahkan dua orang sebagai tanggungan, maka kalian semuanya akan kami bunuh.”

“Apakah keberatan kalian jika kami pergi ke Mataram?”

“Tentu tidak ada. Tetapi kami berhak untuk menentukan kemana kalian harus pergi, karena daerah ini adalah kerajaan kami. Apa yang kami katakan harus kalian lakukan.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas di pandanginya dua orang yang berhasil melepaskan diri dari tangan para perampok itu, dan kini ada di antara rombongannya. Namun sekilas terbayang tiga orang yang berusaha berkelahi mati-matian, tetapi tidak berhasil mengalahkan hanya seorang lawan.

Tetapi menurut perhitungan Kiai Gringsing, jika orang-orang itu berhasil melarikan diri, maka mereka pasti akan sampai ke tempat ini karena jalan ini adalah jalan keluar dari hutan Tambak Baya, kecuali mereka yang tersesat dan kehilangan arah. Karena itu, maka Kiai Gringsing sengaja memperpanjang waktu sambil menunggu orang-orang lain yang mungkin akan berdatangan.

“Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing, “kenapa kalian mengganggu perjalanan kami dan perjalanan rombongan-rombongan yang lebih dahulu dari kami? Jika kalian sekedar penyamun yang memerlukan harta benda, maka kalian tentu akan berkeberatan jika kami berjalan terus ke Mataram.”

“Kami bukan orang yang paling bodoh di muka bumi,” jawab orang itu, “tentu kalian dapat berceritera kepada orang-orang Mataram tentang kami.”

“Apakah jika kami kembali ke asal kami, kami tidak dapat berceritera tentang kalian?”

“Aku tidak peduli. Dan mereka yang mendengar ceriteramu itu, tidak akan berani lewat jalan ini pergi ke Mataram.”

“Apakah dengan demikian kalian tidak kehilangan mata pencaharian? Bukankah semakin banyak orang yang lewat, rejeki kalian menjadi semakin banyak?”

Wajah orang itu menegang sejenak. Namun kemudian ia pun tertawa, “Kalian cukup cerdas. Tetapi sayang, bahwa aku tidak peduli pada pendapat kalian itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya wajah orang yang belum dikenalnya itu sejenak. Ternyata wajah itu menyimpan ungkapan sikap yang keras dan kasar.

“Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “apakah sebenarnya maksud kalian dengan tingkah laku kalian di hutan Tambak Baya ini? Manakah yang lebih penting bagi kalian, menyamun untuk mendapatkan harta benda, atau menahan arus manusia yang mengalir ke Mataram?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Dan kembali wajahnya menegang. Katanya, “Terlalu banyak yang ingin kau ketahui. Sekarang, apakah kau membawa barang-barang berharga?”

Kiai Gringsing memandang ke tikungan. Masih belum ada orang lain yang datang. Karena itu ia masih mencoba memperpanjang waktu, “Apakah sebenarnya yang kau maksud dengan barang-barang berharga? Pakaian atau uang.”

“Apa saja. Pakaian, uang, emas atau intan berlian atau kuda-kudamu yang tegar itu.”

“Yang jelas dapat kau lihat adalah kuda-kuda kami. Tetapi sayang, bahwa kuda kami akan kami pakai untuk meneruskan perjalanan. Apakah ada yang lain yang kau kehendaki?”

“Nyawa kalian. Memang sebaiknya nyawa kalian. Jika kalian mati terbunuh, maka semua barang yang kalian bawa akan menjadi milik kami. Juga kuda-kuda itu.”

“Kau hanya seorang diri. Kami berlima dan sekarang bertujuh, meskipun yang seorang telah terluka. Tetapi, ia masih mampu berkelahi melawanmu.”

Tiba-tiba saja orang itu tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Kau sangka aku hanya seorang diri?”

Kiai Gringsing masih belum menjawab ketika tiba-tiba saja ia melihat seseorang berlari-lari. Tetapi langkahnya tertegun sejenak ketika ia melihat sekelompok orang yang berdiri di jalan sempit itu.

Dan ternyata orang itu adalah salah seorang dari kawan-kawan orang yang terluka itu, sehingga sekali lagi ia memanggil sambil melambaikan tangannya, “Aku di sini.”

Dengan ragu-ragu orang itu mendekat. Ternyata di belakangnya diikuti oleh seorang lagi.

“Kemarilah,” berkata orang yang terluka itu. Penyamun yang mengejar orang-orang itu pun memandang kedua orang yang datang itu. Katanya kemudian, “Baiklah, kalian berkumpul di sini. Dengan demikian kami akan lebih mudah menyelesaikannya.”

Kiai Gringsing memandang kedua orang yang datang itu sejenak. Ketika keduanya sudah dekat, ia pun bertanya, “Dimana kawan-kawanmu?”

Kedua orang itu menggeleng. Salah seorang menjawab, “Aku tidak tahu.”

“Kami akan mencari mereka,” penyamun itulah yang menyahut. Lalu diletakkannya jari-jarinya ke dalam mulutnya. Ketika ia meniup, terdengarlah suara suitan yang nyaring, yang gemanya seakan-akan memenuhi Hutan Tambak Baya.

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Kiai Gringsing.

“Aku memanggil kawan-kawanku.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ketika ia menebarkan pandangannya, dilihatnya beberapa sosok bayangan yang bergerak-gerak. Kemudian muncullah beberapa orang mendekati mereka. Empat orang lagi.

Tetapi selain empat orang itu, masih ada lagi seorang yang datang sambil mendorong dua orang yang sudah tidak berdaya. Bahkan yang seorang agaknya telah terluka, meskipun tidak parah.

“Itu kawan kami,” desis orang yang terluka.

“Ya.” sahut yang lain.

“Mereka adalah kawan-kawanmu,” berkata penyamun itu. Lalu, “Kumpulkan mereka di sini,” katanya lantang kepada kawannya yang mendorong kedua orang itu dengan Punggung tombak pendeknya.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Lalu, “Mereka akan berkumpul lagi dan kami harus berkelahi lagi.”

“Kumpulkan mereka. Kami tidak akan membuat kesalahan serupa, membiarkan orang-orang semacam mereka itu berlari bercerai-berai. Kami akan mengepung mereka dan membunuh mereka di dalam lingkaran kepungan kami. Kecuali jika mereka dapat memenuhi syarat-syarat kami.”

“Tidak akan dapat mereka penuhi,” berkata yang baru datang sambil mendorong kedua tawanannya, “sebaiknya mereka dibunuh saja.”

“Kami akan membunuh mereka beramai-ramai. Ada berapa orang yang sudah terkumpul?”

Tidak ada seorang pun yang menjawab. Tetapi orang itu telah menghitungnya dan bergumam, “Enam orang. Masih ada tiga orang yang belum kami ketemukan.”

“Yang seorang sudah mati. Aku berkelahi melawan tiga di antara mereka. Inilah yang dua. Hampir saja aku membunuhnya. Tetapi aku mendengar isyaratmu.”

“Apakah kau berada dekat sekali dari tempat ini?”

“Aku menggiring orang ini. Maksudku, mereka akan kami bawa keluar hutan ini dan menggantungkan tubuhnya di mulut lorong, sampai keduanya mati dengan sendirinya. Keduanya adalah orang yang paling sombong yang pernah aku temui.”

Yang mendengar kata-kata itu menjadi ngeri. Agaknya mereka adalah orang-orang yang dapat membunuh dengan hati yang dingin, seperti mereka sedang menebas pohon pisang yang sedang berbuah.

“Nah,” berkata penyamun yang bersuit itu, “kumpulkan mereka. Apa masih ada yang lain?”

“Mudah-mudahan yang lain belum terbunuh. Kawan-kawan kami sedang mencari mereka.”

Penyamun itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia memandang ke tikungan. Seakan-akan ia pun sedang menunggu kawan-kawannya yang lain. Karena tidak seorang pun yang tampak, maka sekali lagi ia bersuit lebih keras lagi.

Dari kejauhan terdengar suara suitan yang serupa. Agaknya kawan-kawannya mendengar isyaratnya dan menjawab isyarat itu dengan suitan pula.

Beberapa saat mereka menunggu. Kiai Gringsing masih tetap berdiri di tempatnya. Demikian pula Ki Sumangkar, Ki Demang, Agung Sedayu dan Swandaru. Sedang orang-orang yang berdatangan kemudian menjadi semakin gelisah karenanya.

Sejenak kemudian, muncullah dua orang yang lain, hampir berbareng. Yang seorang menggiring seorang tawanan yang sudah hampir tidak dapat berjalan lagi, sedang yang lain datang seorang diri.

“Nah, kumpulkan mereka,” berkata penyamun yang pertama-tama datang, yang agaknya adalah pemimpin mereka.

“Buat apa?” bertanya yang menggiringnya.

“Kami akan membunuh beramai-ramai. Semuanya ada tujuh orang ditambah dengan lima. Dua belas orang.” orang itu berhenti sejenak. Lalu, “Manakah yang seorang?”

“Belum kami ketemukan. Ia pasti bersembunyi di dalam hutan. Tersesat atau keluar lewat belukar. Tetapi ia tidak akan dapat hidup. Jika ia keluar hutan, maka ia akan ditangkap juga, sedang apabila ia masih tetap ada di dalam hutan yang lebat, maka ia akan menjadi mangsa binatang buas nanti malam.”

Pemimpin penyamun itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Jika demikian, kita tidak menunggunya. Berapa orangkah kita semuanya?”

Para penyamun itu menghitung jumlah mereka sendiri. Lalu, “Delapan orang.”

Pemimpin penyamun itu masih meng-angguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Kami semua ada delapan orang. Yang kita hadapi lima orang, dengan tujuh orang yang sudah hampir mati.”

“Yang sudah lelah silahkan beristirahat,” berkata seorang penyamun yang lain, “kami masih segar dan senjata kami belum bernoda darah. Kami berempatlah yang akan menyelesaikan semuanya.”

“Aku belum membunuh!” teriak yang lain, yang datang seorang diri. “Aku akan ikut beramai-ramai sekarang.”

“Semua akan ikut,” jawab pemimpin penyamun itu, “tetapi aku ingin kepastian, apakah orang-orang berkuda itu mau memenuhi permintaan kami?”

Para penyamun itu terdiam.

“Bagaimana, Ki Sanak?” bertanya pemimpin penyamun itu kepada Kiai Gringsing, “Bawalah kepada kami beberapa keping emas dan perak. Kami memberi waktu dua hari dengan dua orang tanggungan. Tanggungan yang kami pilih adalah kedua anak-anak muda itu.”

“Ah,” desah Kiai Gringsing, “tentu tidak mungkin. Mereka adalah cucu-cucu kami yang akan melanjutkan kelangsungan hidup nama kami.”

“Terserahlah kepada kalian. Jika kalian membawa emas itu, maka keduanya akan kami bebaskan.”

“Kami agak kurang percaya menilik sikap dan kata-kata kalian. Jika kami datang membawa tebusan, maka kami pun pasti akan kalian bunuh.”

Pemimpin penyamun itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa berkepanjangan. Katanya, “Kau terlampau berprasangka, kakek tua. Jika demikian, maka tidak ada pilihan lagi dari kalian selain mati. Kami, yang delapan orang ini akan beramai-ramai membunuh kalian. Melawan atau tidak melawan.”

“Itu tidak berperikemanusiaan.”

“Kami memang tidak berperikemanusiaan. Tetapi tidak apalah. Agaknya cukup menyenangkan berburu manusia seperti kalian. Nah, apakah kalian bersenjata?”

Kiai Gringsing menggeleng. Jawabnya, “Kami tidak bersenjata.”

“Kalau begitu, kami akan memberi kalian senjata. Pedang atau tombak atau senjata apakah yang kalian pilih?”

Kiai Gringsing terdiam sejenak. Namun tiba-tiba ia berkata, “Bukankah yang berdiri di sana itu, petani yang duduk di gardu ketika aku lewat?”

Orang yang ditunjuk Kiai Gringsing itu tersenyum. Katanya, “Kau masih dapat mengenali aku. Ingatanmu baik sekali, Kakek. Aku memang yang tadi duduk di gardu itu. Tetapi aku bukan petani seperti yang kau sangka. Aku adalah salah seorang dari penyamun-penyamun yang kebetulan sudah lama ingin memiliki seekor kuda yang tegar seperti kudamu itu.”

“Kalian adalah penjahat-penjahat yang licik. Tentu penjual makanan itu pun kawanmu pula. Ia-lah yang menjerumuskan kami lewat jalan ini. Ternyata kalian sudah menunggu kami di sini. Orang itu memang berusaha menjebak kami.”

Hampir berbareng penyamun-penyamun itu tertawa, Pemimpinnya berkata, “Kau menyenangkan sekali, Kakek tua. Sayang sebentar lagi kau akan mati. Tetapi sebaiknya kau mati paling akhir. Aku senang mendengar kau berkicau seperti seekor burung.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Tetapi tanpa diduga-duga, ternyata Swandaru tidak lagi dapat menahan perasaannya. Tiba-tiba saja dengan lantang ia menjawab. “Kalian akan kecewa. Meskipun Kakek ini sebangsa burung, tetapi bukan jenis burung berkicau. Kakek ini adalah seekor burung kedasih, yang suaranya menggemakan kematian. Nah, apakah kalian siap untuk mati?”

Kata-kata Swandaru itu memang mengejutkan sekali. Bahkan Kiai Gringsing sendiri pun terkejut karenanya. Tetapi sifat-sifat itulah memang yang menonjol pada muridnya yang gemuk itu.

Sejenak, para penyamun yang berdiri bertebaran itu menjadi termangu-mangu. Seakan-akan mereka tidak percaya pada pendengarannya, bahwa anak muda yang gemuk itu telah berkata tentang kematian. Bukan kematian orang-orang yang ketakutan itu, tetapi kematian para penyamun.

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar sudah tidak dapat mencegah lagi. Agaknya benturan yang keras akan segera terjadi. Salah seorang dari penyamun itu ternyata tidak dapat dilawan oleh tiga orang sekaligus, bahkan salah seorang dari ketiga lawannya itu telah terbunuh dan yang dua lainnya, dikuasainya dengan mutlak. Dan sekarang yang ada di sekitarnya adalah delapan orang penyamun. Sedang rombongan Kiai Gringsing bersama orang-orang yang seakan-akan sudah tidak berdaya lagi itu berjumlah lima dan tujuh orang. Namun yang tujuh orang itu sama sekali sudah tidak bersenjata.

Dalam pada itu, penyamun-penyamun itu pun telah bergeger maju. Ternyata kata-kata Swandaru itu membuat mereka marah. Pemimpin penyamun itu pun kemudian berkata, “Jadi kalian benar-benar akan melawan?”

Kiai Gringsing-lah yang cepat-cepat menjawab, “Apakah kalian benar-benar akan memberi senjata kepada kami, agar kalian mendapat perlawanan yang kalian kehendaki? Berilah senjata itu jika benar-benar kalian ingin berkelahi.”

Wajah pemimpin penyamun itu menjadi merah. Tiba-tiba ia berteriak, “Hati-hatilah! Orang-orang ini ternyata lebih sombong dari orang-orang yang baru saja kalian hancurkan itu.”“

“Berikan kami senjata, terutama orang-orang yang baru saja kalian kalahkan. Agaknya kalian telah melucuti senjatanya.”

“Persetan!”

“Kalian akan ingkar?” bertanya Ki Sumangkar. “Itulah ciri dari sifat dan watak kalian. Demikian juga agaknya jika kami menyerahkan tebusan berupa apa pun juga.”

“Diam, diam!” pemimpin penyamun itu berteriak.

“Kenapa kami harus diam? Kita sudah mendapat gambaran yang jelas dari keadaan yang akan kita hadapi.” Swandaru-lah yang menyahut, “Kalian akan membunuh kami. Diam atau tidak, persoalan yang kami hadapi akan serupa saja. Karena itu, jangan risau bahwa kami berbuat sekehendak kami.”

Para penyamun itu tidak dapat menahan kemarahan mereka lagi. Pemimpin penyamun itu tiba-tiba meneriakkan perintah, “Kepung mereka! Jangan seorang pun yang dapat lepas. Kita sudah kehilangan seorang dari kelinci-kelinci itu.”

“Tetapi, tetapi,” tiba-tiba salah seorang dari orang-orang yang sudah tidak berdaya itu berkata dengan gemetar, “kami sudah menyerah. Apakah kami dapat menyingkir dan tidak ikut campur lagi?”

“Kami akan membunuh kalian semua!” teriak pemimpin penyamun itu dengan marahnya.

“Kenapa kalian ketakutan?” bertanya Kiai Gringsing kepada orang itu, “Kalian semula hanya sembilan orang. Sekarang jumlah kita semua bertambah menjadi duabelas orang.”

“Kami sudah tidak bersenjata dan jumlah lawan kita pun berlipat. Tadi, kami sembilan orang melawan empat orang. Apalagi dalam keadaan kami yang parah, dan apakah kalian juga mampu berkelahi seperti kami?”

“Mungkin tidak. Tetapi kami mempunyai harga diri. Jika kami harus mati, kami harus mati dengan dada tengadah. Tetapi kami sama sekali tidak akan pasrah untuk mati. Kami akan melawan, dan kamilah yang akan membunuh mereka.”

“Gila!” teriak tiga orang penyamun hampir berbareng. Dan pemimpin mereka berkata, “Bersiaplah untuk mati. Tetapi kami telah menentukan cara mati yang paling baik bagi orang-orang yang sombong seperti kalian. Kami akan mengikat kaki kalian pada sebatang dahan di dalam hutan. Kepala kalian akan diraih oleh seekor harimau yang ganas dari bawah atau seekor ular menyelusur pada tali pengikat kaki kalian itu. Mungkin juga semut salaka yang akan menyerang kalian dan menyerap darah kalian sampai kering, dan makan daging kalian sehingga yang akan tinggal bergantungan adalah kerangka yang kering.”

Kata-kata itu telah mendirikan bulu roma. Bahkan Swandaru pun berdesis, “Mengerikan sekali. Tetapi bagaimana jika terjadi sebaliknya? Kalian-lah yang akan kami gantungkan pada dahan kayu di hutan ini atau kami ikat dan kami seret di belakang kuda kami?”

“Jangan beri kesempatan mereka berbicara lagi!” teriak pemimpin penyamun yang marah itu.

Serentak para penyamun itu mulai bergerak dari segala arah, sehingga Kiai Gringsing pun harus menyesuaikan dirinya. Kelima orang itu pun segera berpencar. Ki Demang tidak mempunyai pilihan lain daripada berkelahi, meskipun kadang-kadang sepercik kecemasan merayapi hatinya.

Agaknya Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar tidak sampai hati, untuk melepaskan Ki Demang begitu saja menghadapi lawan-lawannya, sehingga karena itu meskipun merasa tidak saling berjanji, keduanya berdiri di sebelah-menyebelah. Sedang Agung Sedayu dan Swandaru dengan gerak naluriah telah menghadapi para penyamun dari arah yang lain. Kelimanya sama sekali tidak mempedulikan lagi, apakah orang-orang yang sudah patah keberaniannya sama sekali itu akan membantu mereka atau tidak.

Ketika para penyamun itu kemudian mengacu-acukan senjata mereka, maka Kiai Gringsing pun berkata, “Bukankah Ki Demang membawa senjata?”

“Ya,” sahut Ki Demang. Dengan tergesa-gesa, ia pun kemudian mencabut pedangnya jang tersangkut di punggung kudanya.

“He!” teriak pemimpin penyamun, “ternyata kalian bersenjata.”

Kiai Gringsing memandang Ki Demang sejenak, lalu memandang pemimpin penyamun itu sambil berkata, “Apakah salahnya jika kami bersenjata? Sebenarnya kami sudah tahu bahwa kami akan bertemu dengan penyamun di sini. Sejak kami bertemu dengan seseorang yang mencurigakan, kami sudah merasa bahwa kami harus bersiap menghadapi segala kemungkinan. Apalagi ketika kami berbicara dengan penjual makanan yang menunjukkan jalan ini kepada kami, jalan yang kami tahu, bahwa bukan jalan yang seharusnya kami lalui. Kami pun tahu bahwa para petani itu sama sekali, bukan petani wajar, karena di sekitar padukuhan yang sudah tidak berpenghuni ini, tidak ada sawah yang sedang digarap. Kami pun curiga atas pemberian penjual makanan yang menurut dugaan kami pasti mengandung sesuatu yang tidak wajar pula. Nah, apakah kata kalian jika sebenarnya kami sudah siap untuk berkelahi?”

“Persetan!” pemimpin penyamun itu menjadi merah padam. Dan sebelum ia melanjutkan, Swandaru telah mendahului, “Menyesal bahwa kawan-kawan kami yang terdahulu tidak menunggu kami, karena mereka tidak tahu bahwa kami akan lewat. Tetapi sebaiknya sekarang mereka tidak pasrah pada nasibnya yang malang.”

Orang-orang yang terdahulu, yang telah dikalahkan mutlak itu menjadi bimbang. Tetapi mereka sama sekali sudah tidak bersenjata. Bahkan ada di antara mereka yang sudah luka-luka.

Agaknya Ki Sumangkar dapat menangkap gejolak hati mereka. Karena itu maka katanya, “Jika kalian sudah tidak bersenjata, kalian dapat mempergunakan apa saja, batu, potongan kayu yang bertebaran itu, atau apa pun juga. Tetapi yang penting adalah keberanian kalian mempertahankan diri. Daripada kalian mati tanpa perlawanan, maka alangkah baiknya jika kalian masih menunjukkan sedikit kejantanan. Mati dalam perlawanan.”

“Persetan!” potong pemimpin penyamun yang marah, “Siapa yang melawan, kematiannya pasti akan sangat menyedihkan. Tetapi siapa yang menyerah, nasibnya akan dipertimbangkan.”

“Ha!” Swandaru hampir berteriak, “Kalian sudah mulai cemas bahwa kami semuanya akan bangkit melawan kalian, meskipun bersenjata sepotong kayu. Meskipun sepotong kayu, jika kami mampu mempergunakannya, maka yang sepotong itu tidak akan dapat dikalahkan oleh pe-dang atau sebatang tombak pendek atau aku lihat di antara kalian ada yang membawa sepasang bindi bergigi. Tam-paknya memang mengerikan, tetapi itu tidak lebih dari sepotong dahan randu alas yang berduri.”

“Sebentar lagi kalian tidak akan dapat mengigau!” teriak pemimpin penyamun. Lalu, “Apakah yang ditunggu lagi. Bunuh semuanya dengan cara yang sudah aku katakan. Mati perlahan-lahan.”

Tetapi Swandaru justru tertawa. Katanya, “Jika kalian menusuk dadaku dengan tombak, maka aku akan mati. Nah, kalian boleh menggantungkan mayatku pada sebatang pohon, apakah dengan kaki di atas atau di bawah atau di samping, aku sudah tidak akan dapat mengetahuinya.”

“Diam, diam!” lalu perintahnya kepada orang-orangnya, “Bunuh semuanya! Tetapi biarkan anak gemuk yang gila ini hidup.”

“Terima kasih!” Swandaru pun berteriak.

Tetapi Swandaru tidak dapat berkata lebih banyak lagi, karena kedelapan penyamun itu pun bersama-sama berloncatan menyerang.

Ki Demang-lah yang menjadi sangat cemas, bukan saja karena dirinya sendiri, tetapi terutama justru karena anaknya yang membuat pemimpin penyamun itu menjadi marah sekali.

Sejenak kemudian, maka mereka pun telah terlibat dalam suatu perkelahian. Kiai Gringsing dan kedua muridnya terpaksa mengurai senjata mereka, cambuk yang berjuntai panjang, sedang Ki Sumangkar pun telah memutar trisulanya yang terikat pada seutas rantai, sedang pasangannya digenggamnya dengan tangan kirinya.

“Gila!” teriak pemimpin penyamun ketika mereka melihat jenis senjataa itu.

Orang-orang yang ketakutan itu pun mulai tergugah hatinya. Mereka mulai dijalari oleh harapan, bahwa orang-orang yang baru datang itu dapat membantu mereka menyelamatkan diri, karena agaknya kelima orang itu memang sudah siap untuk berkelahi.

Sejenak mereka termangu-mangu. Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka segera memungut sepotong kayu yang banyak berserakan di hutan itu. Dengan kayu itu, ia bertekad untuk nempertahankan diri bersama-sama dengan kelima orang berkuda yang baru datang dan yang kemudian telah terlibat dalam perkelahian dengan para penyamun.

Dengan demikian, maka kawan-kawannya pun segera mengikutinya pula. Dahan-dahan yang kering itu merupakan senjata yang cukup untuk sekedar bertahan di sela-sela dentang senjata beradu dan ledakan cambuk Kiai Gringsing dan murid-muridnya. Bahkan ada di antara mereka yang menggenggam sepasang dahan kayu yang tidak terlalu panjang, tetapi ada yang membawa sebatang dahan yang lurus sepanjang tombak pendek. Meskipun ujung kayu itu tidak seruncing tombak, tetapi jika ia berhasil memukul lawannya, maka pukulan itu akan cukup membuat lawannya menjadi pingsan.

Usaha mempersenjatai diri itu ternyata telah membuat para penyamun menjadi semakin marah. Tetapi mereka tidak dapat berbuat sekehendak hati, karena orang-orang itu telah mulai mengadakan perlawanan lagi. Apalagi kini di samping mereka terdapat beberapa orang yang ternyata memiliki kemampuan yang tidak mereka sangkal-sangka.

Kemarahan para penyamun itu pun segera mereka tumpahkan terutama kepada Kiai Gringsing dan kawan-kawannya. Tetapi ketika cambuk Kiai Gringsing mulai meledak disela-sela desing trisula Sumangkar, maka penyamun-penyamun itu harus mengakui betapa dahsyatnya lawan-lawan mereka saat itu.

Kiai Gringsing dan kedua muridnya beserta Ki Sumangkar pun segera melayani lawan-lawan mereka. Ki Demang justru telah bertempur dengan pedangnya, karena seorang penyamun yang marah meloncat menyerangnya.

Namun demikian, meskipun orang-orang yang semula ketakutan itu sudah mempersenjatai diri, namun mereka hampir tidak berarti sama sekali di dalam perkelahian yang menjadi semakin seru. Dengan demikian, maka Kiai Gringsing bersama kawan-kawannya harus berkelahi melawan kedelapan orang itu. Hanya kadang-kadang saja, orang-orang yang bersenjata kayu itu dapat juga mengganggu para penyamun itu dengan serangan-serangan yang tidak berbahaya bagi mereka.

Dengan demikian maka para penyamun itu pun kemudian memusatkan kekuatan mereka kepada Kiai Gringsing dan kawan-kawannya. Orang-orang yang bersenjata kayu itu sama sekali tidak akan berdaya jika kelima orang itu sudah dapat dilumpuhkan.

Ternyata kemudian di dalam perkelahian yang berlangsung semakin sengit, Kiai Gringsing dan kawan-kawannya mengetahui, bahwa lawan-lawannya sama sekali bukan orang-orang yang berilmu tinggi. Jika seorang dari mereka dapat mengalahkan tiga orang sekaligus, itu bukan karena mereka memiliki kelebihan yang luar biasa, tetapi ketiga orang lawannya lah yang sama sekali tidak memiliki keberanian yang cukup untuk bertempur terus.

Karena itulah, maka kedelapan orang itu sama sekali tidak dapat menguasai lawannya, meskipun Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar tidak menunjukkan kelebihan yang ada padanya. Mereka berkelahi seperti lawan-lawannya. Tata geraknya sederhana dan kadang-kadang tanpa arti. Mereka sekedar mempertahankan diri dan memancing segenap tenaga lawannya, agar mereka menjadi lelah dan akan dapat mereka kuasai tanpa membunuh seorang pun dari mereka.

Tanpa perintah yang terucapkan, Swandaru dan Agung Sedayu dapat mengerti isyarat yang diberikan oleh gurunya. Sedang Ki Sumangkar sempat juga berbisik di telinga Ki Demang, “Jangan membunuh lawan.”

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Tetapi sebagai seorang Demang yang pernah berhadapan dengan prajurit di bawah pimpinan Tohpati, maka ia pun mampu menjaga dirinya.

Demikianlah, berganti-ganti mereka berlima melibatkan diri melawan satu atau dua orang penyamun sekaligus. Agung Sedayu dan Swandaru pun tidak berbuat terlampau kasar terhadap lawan-lawan mereka. Apalagi Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar.

Orang-orang yang semula ketakutan dan yang kemudian bersenjatakan kayu-kayu yang mereka pungut di antara batang-kayu, sama sekali tidak mendapat kesempatan lagi. Kelima orang yang bergerak dalam lingkaran yang sempit di sekitar mereka itu bagaikan pagar yang rapat sekali, dan terdiri dari berpuluh-puluh orang dengan senjatanya masing-masing.

Ki Demang pun harus menyesuaikan diri dengan cara lawan-lawannya berkelahi. Mereka bergeser di seputar lingkaran, sehingga lawan-lawannya tidak dapat memusatkan serangannya terhadap seseorang.

Ternyata bahwa kedelapan penyamun itu tidak berdaya menghadapi kelima orang itu. Meskipun kelima orang itu tidak memberikan serangan yang berbahaya, namun mereka tidak tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan terhadap orang-orang itu.

Dalam pada itu, lawan-lawannya pun menjadi semakin lama semakin bingung bercampur marah. Mereka menganggap bahwa lawan-lawan mereka itu pun akan segera dapat mereka binasakan. Namun ternyata bahwa mereka hampir kehilangan nalar untuk mengalahkan mereka.

Swandaru yang biasanya tidak dapat mengendalikan diri, ternyata saat itu sama sekali tidak bernafsu untuk berbuat lebih banyak dari bertahan dan membiarkan lawan-lawannya menjadi lelah. Demikian juga Agung Sedayu.

Namun selagi Swandaru sambil tersenyum meledakkan cambuknya, ia sempat melihat seseorang yang meloncat dari sebuah dahan ke dahan yang lain. Demikian lincahnya seperti seekor kera yang besar sekali sedang bermain-main di antara pepohonan hutan.

Terasa dada Swandaru menjadi berdebar-debar. Ia hanya dapat melihat sepintas karena kebetulan orang itu berada di arah pandangannya, sedangkan gurunya dan Ki Sumangkar sedang menghadap ke arah lain. Ayahnya bahkan sedang melawan orang yang berdiri berlawanan arah dengan lawannya. Dan Agung Sedayu pun tidak sedang memandang ke arah itu.

“Apakah penglihatanku benar?” ia bertanya di dalam hatinya, sehingga selagi ia merenungi bayangan itu, hampir saja senjata lawannya menyentuh hidungnya.

Swandaru terkejut ketika sebuah bindi berdesing di depan wajahnya. Untunglah ia masih sempat mengelak. Namun dengan demikian, dengan gerak naluriah ia menyerang lawannya. Ujung cambuknya berhasil membelit pergelangan tangan, dan ketika ia menghentakkan cambuknya, orang itu pun terseret beberapa langkah dan kemudian jatuh berguling. Bindi yang hampir mengenai Swandaru itu pun terlepas dari tangannya.

Ketika ia bangkit dan meloncat surut, dilihatnya tangannya terkelupas dan mulai membasah darah.

“Gila!” ia berteriak.

Swandaru tidak mengacuhkannya. Selagi lawannya masih sedang memperbaiki keadaannya, ia mencoba memandang ke arah bayangan yang dilihatnya. Tetapi ia tidak melihat apa-apa lagi.

Karena itu, agar kawan-kawannya menyiapkan diri menghadapi keadaan yang tiba-tiba saja dapat mempengaruhi perkelahian itu, maka ia pun berkata, “Guru, apakah Guru melihat sesuatu di luar arena perkelahian ini?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Cambuknya dengan mudah dapat menahan lawan-lawannya. Dengan pandangannya yang tajam ia mencoba mengawasi keadaan di sekitarnya. Tetapi ia tidak dapat melihat sesuatu.

“Di arah ini, Guru,” berkata Swandaru kemudian.

Kiai Gringsing tidak dapat begitu saja berpaling, karena bagaimanapun juga ia sedang berhadapan dengan dua orang lawan. Sehingga karena itu, maka ia pun menjawab, “Kau kemari.”

Swandaru menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi sebelum ia berbuat sesuatu Agung Sedayu-lah yang menyahut, “Aku akan datang, Guru.”

Belum lagi gema suaranya berhenti, maka cambuknya segera meledak mendorong lawannya beberapa langkah surut. Bahkan kemudian jatuh berguling di tanah, sedang ketika cambuk itu sekali lagi meledak, lawannya yang seorang lagi memekik kesakitan. Ujung cambuk Agung Sedayu membelit kakinya dan oleh hentakan yang keras, maka yang seorang itu pun terbanting jatuh pula.

Sementara itu, Agung Sedayu segera meloncat meninggalkan lawannya dan menggantikan kedudukan Kiai Gringsing melawan dua orang yang lain.

Dalam pada itu, ketika kedua orang lawan Agung Sedayu yang terjatuh itu bangkit, maka yang berdiri dihadapan mereka adalah Kiai Gringsing yang juga bersenjata cambuk.

Kedua orang itu masih menyeringai sejenak. Yang seorang kakinya menjadi merah oleh darah yang meleleh dari lukanya. Sedang yang lain telah kehilangan pedangnya, sehingga ia membutuhkan waktu sejenak untuk mencarinya.

Sambil bertempur melawan kedua lawannya, Kiai Gringsing mencoba mengawasi pepohonan yang semakin dalam menyusup ke dalam hutan, tampaknya semakin lebat.

Tetapi ternyata, pandangan mata Kiai Gringsing benar-benar tajam. Setiap gerakan dahan pepohonan tidak lepas dari pengawasannya, sehingga akhirnya ia melihat pula sesosok bayangan yang duduk, di atas dahan hanya beberapa langkah dari arena perkelahian, berlindung di balik rimbunnya dedaunan dan sulur-sulur yang bergayutan.

Kiai Gringsing menarik nafas. Tetapi ia masih belum berbuat sesuatu. Bahkan ia masih bertempur dengan kedua lawannya, seolah-olah ia masih belum melihat orang yang bersembunyi sambil memperhatikan perkelahian itu.

Meskipun Kiai Gringsing tidak melihat orang itu dengan jelas, namun menilik sikapnya ia dapat menduga, bahwa orang itu adalah orang yang memiliki ilmu yang cukup, setidak-tidaknya ia adalah orang yang memiliki kepercayaan kepada diri sendiri.

Dengan demikian, Kiai Gringsing harus berhati-hati. Keadaan agaknya akan menjadi semakin gawat. Namun selagi orang itu masih duduk diam, Kiai Gringsing pun tidak berbuat sesuatu. Ia masih saja melayani lawannya seperti sebelumnya.

Namun hatinya berdesir ketika ia melihat gerak yang lain di kejauhan. Ternyata selain orang yang duduk memperhatikan perkelahian itu, masih ada orang lain yang sedang mengawasi pula.

Tetapi ketika Kiai Gringsing melihat bahwa orang yang duduk itu sekali-sekali berpaling dan tidak membuat gerak yang mencurigakan, maka Kiai Gringsing mengerti, bahwa kedua orang itu adalah kawan.

Dengan demikian, Kiai Gringsing harus menjadi semakin berhati-hati. Ternyata bahwa sejenak kemudian, lawan mereka akan bertambah. Bahkan bertambah dengan dua orang yang pasti memiliki kelebihan dari kawan-kawannya yang telah berada di arena perkelahian.

Selain Kiai Gringsing mencoba menemukan dugaan yang lebih dekat lagi atas kedua orang itu, tiba-tiba saja Swandaru berkata lantang, “Apakah, Guru sudah melihatnya?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Jawabnya kemudian, “Apakah kau benar-benar melihat sesuatu?”

“Ya, Guru. Aku melihat sesuatu bergerak-gerak di kejauhan.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Sekilas ia melihat lagi bayangan yang bergerak semakin dekat.

“Aku melihat lagi, Kiai,” Swandaru hampir berteriak. Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ternyata yang dilihat Swandaru adalah justru orang yang berada di kejauhan. Bukan orang yang duduk di atas dahan itu.

“Jika demikian, orang ini benar-benar orang yang harus diperhitungkan,” berkata Kiai Gringsing kepada diri sendiri. Bahwa ia dapat hadir di tempat itu tanpa diketahuinya adalah pertanda, bahwa orang itu adalah orang yang cukup mempunyai bekal dalam olah kanuragan. Meskipun pada saat ia mendekat agaknya Kiai Gringsing sedang sibuk melayani lawannya, apalagi ia sedang menghadap ke arah lain, namun orang itu adalah orang yang memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan.

“Ternyata mereka datang berdua,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya. Sehingga dengan demikian, maka banyak kemungkinan yang dapat terjadi.

“Ternyata bahwa kami tidak dapat melewati mereka begitu saja,” berkata Kiai Gringsing pula di dalam hatinya, “tentu Ki Demang menjadi semakin cemas. Apalagi jika terjadi sesuatu. Jika perjalanan ini urung, maka ia pasti akan menjadi kecewa sekali dan akulah yang akan dipersalahkannya.”

Karena itu, maka Kiai Gringsing pun harus berusaha, bahwa apa yang akan dihadapinya ini, tidak akan mengurungkan perjalanan mereka ke Menoreh.

“Tetapi kedua orang itu cukup mendebarkan,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Meskipun demikian, Kiai Gringsing tampaknya masih tidak begitu menghiraukannya. Tetapi sekali-sekali ia memandang juga ke atas dahan itu dengan sudut matanya.

Sejenak kemudian, ketika Swandaru sekali lagi melihat, ia pun berkata, “Sekarang orang itu menjadi semakin dekat.”

“Ya,” sahut Kiai Gringsing, “ia menjadi semakin dekat.”

Sumangkar, Agung Sedayu dan Ki Demang sebenarnya tertarik juga untuk melihat. Tetapi mereka harus melawan orang-orang yang menyerang mereka dari jurusan lain, sedang orang-orang yang bersenjatakan kayu itu hampir tidak dapat membantu mereka sama sekali.

Agung Sedayu yang masih muda itu akhirnya tidak dapat menahan diri. Meskipun ia bukan seorang yang cepat kehilangan pengamatan diri, namun keinginannya untuk melihat orang yang dikatakan oleh Swandaru itu telah memaksanya untuk segera mengalahkan lawannya, setidak-tidaknya mendesak mereka jauh-jauh.

Demikianlah, maka sejenak kemudian cambuknya menggelepar keras sekali. Dengan cepatnya ia memutarnya sekali lagi, dan ketika cambuk itu meledak pula, maka terdengar suara seseorang mengaduh.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia sama sekali tidak bertempur dengan menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya. Bahkan sebagian kecil saja yang dipergunakannya untuk melawan para penyamun itu. Karena itu ketika ia mendengar cambuk Agung Sedayu meledak, tahulah ia bahwa Agung Sedayu-lah yang tidak telaten kali ini. Bukan Swandaru. Namun Kiai Gringsing pun mengetahui, bahwa Agung Sedayu pasti ingin segera dapat melihat orang yang disebut oleh Swandaru itu.

Tetapi Kiai Gringsing tidak mencegahnya. Hal itu memang sudah waktunya terjadi. Bahkan semakin cepat menarik perhatian orang-orang yang bergayutan di pepohonan itu, menjadi semakin baik pula.

Ternyata bahwa Agung Sedayu mendesak lawannya dengan dahsyatnya. Ia tidak memerlukan waktu yang panjang. Ketika sekali lagi cambuknya meledak, sekali lagi lawannya harus menyeringai menahan sakit sambil mengeluh tertahan.

Namun cambuk Agung Sedayu menjadi semakin sering meledak. Dengan demikian, maka lawan-lawannya itu pun menjadi semakin sering mengaduh. Di tubuhnya telah tergores jalur-jalur merah silang-melintang. Dengan demikian, maka keduanya menjadi ragu-ragu untuk mendekatinya.

Dalam kesempatan-kesempatan itulah Agung Sedayu mencoba berpaling. Tetapi ia tidak segera dapat melihat orang yang di katakan oleh Swandaru itu. Namun dengan demikian maka Agung Sedayu pun menjadi semakin jengkel, sehingga cambuknya pun menjadi semakin garang pula.

Ternyata bahwa tindakan Agung Sedayu itu, serta noda-noda darah pada tubuh lawan-lawannya telah menarik perhatian orang yang duduk di atas dahan sambil memperhatikan pertempuran yang menjadi semakin cepat. Sejenak ia termangu-mangu, namun kemudian terdengar suaranya, “Kau memang dahsyat sekali anak muda.”

Agung Sedayu terkejut, mendengar suara itu. Demikian juga Sumangkar dan Ki Demang. Karena mereka tidak melihat, mereka menyangka bahwa yang disebut oleh Swandaru itu tidak berada pada jarak sedekat itu.

Bahkan Swandaru sendiri pun terkejut pula. Yang dilihatnya adalah orang lain, dan tiba-tiba ia mendengar suara tidak begitu jauh dari arena.

“He, apakah ada yang lain?” bertanya Swandaru tanpa sesadarnya.

Orang itu tertawa. Jawabnya, “Memang ada yang lain. Yang kau lihat adalah seorang kawanku.”

“O, jadi kalian berdua?” bertanya Swandaru.

“Ya. Kami datang berdua. Dengan delapan orang yang sudah bertempur lebih dahulu, kami adalah sepuluh orang.”

“Bagus,” Swandaru-lah yang menjawab, “setiap orang dari kami akan berkelahi melawan dua orang.”

“Tetapi orang itu tertawa pula. Katanya, “Jangan terlampau sombong. Bagaimana jika kami berdua saja yang akan turun ke arena? Biarlah delapan orang-orang kami itu menonton sambil mengepung kalian, jika ada di antara kalian yang akan melarikan diri.”

“He,” Swandaru meloncat surut setelah meledakkan cambuknya beberapa kali dan mendorong lawan-lawannya. Katanya, “Turunlah. Aku ingin melihat tampangmu.”

“Persetan!” orang itu menggeram. Tetapi ia pun kemudian tertawa lagi, “Kau menyenangkan anak muda. Tetapi sayang, bahwa karena itulah maka kau akan men-jadi seorang anak peliharaan di tempat kami.”

Swandaru tidak segera menjawab. Tetapi cambuknya meledak keras sekali, sehingga kedua lawannya berloncatan surut. Baru kemudian Swandaru berkata, “Turunlah. Aku ingin melihat wajahmu.”

“Apakah kau tidak melihat sekarang?”

“Terlindung oleh sulur-sulur kayu.”

“Baiklah. Aku akan turun,” lalu katanya kepada anak buahnya, “jangan menyerang korban-korbanmu lebih dahulu. Biarlah mereka mepunyai kesempatan mengenal wajahku. Mundurlah supaya mereka tidak berprasangka.”

Para penyamun itu pun segera berloncatan mundur. Bukan saja karena perintah orang yang bertengger di atas dahan itu, tetapi justru karena sebenarnya mereka menjadi ketakutan mendengar ledakan cambuk dan desing trisula Sumangkar, meskipun ujung trisula itu sama sekali belum pernah menyentuh lawan-lawannya.

Sejenak kemudian, orang yang berada di atas dahan itu pun segera meloncat turun. Demikian Kiai Gringsing dan kawan-kawannya melihat wajahnya, maka hati mereka pun bergejolak.

Sejenak Kiai Gringsing termangu-mangu memandanginya. Namun sebagai seorang yang cukup berpengalaman, maka ia pun segera dapat menenangkan hatinya.

“Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “aku tidak menyangka bahwa kau adalah orang yang justru memegang pimpinan di daerah ini.”

Orang itu tertawa. Jawabnya, “Aku pun tidak menyangka, bahwa kau yang tua itulah yang memimpin kawan-kawanmu. Bukan Ki Demang yang kau katakan itu.”

Ki Sumangkar pun kemudian menyahut pula, “Jadi warung itu merupakan kedok yang bagus sekali bagimu, Ki Sanak.”

Orang itu tertawa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Demikianlah. Aku memang mempergunakannya sebagai kedok yang baik sekali.”

Agung Sedayu, Swandaru dan Ki Demang memandanginya dengan heran pula. Namun mereka pun kemudian dapat menenangkan diri mereka sendiri. Namun Agung Sedayu masih juga berdesis sambil mendekati Ki Demang, “Penunggu warung itu, Ki Demang.”

“Ya, penunggu warung. Tentu tidak seorang pun mengira bahwa ia memiliki kemampuan yang begitu tinggi.”

“Guru sudah mencurigainya. Tetapi karena ia tidak mempunyai alasan yang lain, maka guru tentu tidak menyangka bahwa ia-lah justru yang memimpin perampokan ini. Dan ternyata bahwa ia sendiri mempunyai kemampuan yang begitu tinggi.”

“Ya. Kita harus berhati-hati. Bagaimanapun juga hal ini pasti akan mengganggu perjalanan kita, setidak-tidaknya memperpanjang waktu.”

“Tetapi tentu tidak dapat kita hindari. Jika orang itu yang memimpin perampokan, maka kita pasti akan mengalaminya lewat jalan manapun, karena ia pasti akan dapat mengatur orang-orangnya.”

“Ya, ya. Kau benar. Kita tidak dapat menghindarinya lewat jalan yang manapun.”

Keduanya pun terdiam, ketika mereka mendengar orang yang semula dikenalnya sebagai penunggu warung itu berkata, “Ternyata firasatmu baik Ki, Sanak. Aku tahu bahwa makanan yang aku berikan tidak kau makan sama sekali.”

“Terima kasih,” sahut Kiai Gringsing. Lalu, “Tetapi justru kebaikan yang berlebih-lebihan itu dapat menimbulkan kecurigaan. Bukankah hampir tidak pernah terjadi, seorang penunggu atau katakanlah penjual makanan yang begitu baik hati memberi bekal perjalanan kepada orang lewat tanpa alasan?”

Orang itu tertawa. Katanya, “Tetapi karena kau mampu berpikir itulah agaknya maka kau menolak pemberianku, meskipun tidak berterus terang. Kau terima juga makanan itu meskipun kemudian kau buang. Tetapi ada juga yang dengan lahapnya dimakan dan akibatnya mereka tidak dapat memberikan perlawanan yang berarti. Mereka menjadi sesak nafas dan kehilangan kekuatan.”

“Apakah setiap orang lewat kau beri bekal makanan buatanmu itu?”

“Tidak. Hanya orang-orang khusus saja. Seperti kau yang sudah mencurigai aku, maka aku pun sebenarnya agak curiga juga kepadamu. Terutama Ki Demang itu. Aku melihat sesuatu di balik pelana kudanya. Dan ternyata dugaanku benar. Senjata. Seorang Demang yang bersenjata sudah tentu berbahaya sekali. Ternyata dugaanku tidak salah. Meskipun agaknya Ki Demang bertempur seperti acuh tidak acuh, namun tidak seorang pun yang mampu mendekatinya,” orang itu berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi, ternyata kemudian bahwa bukan saja Ki Demang, tetapi anak muda yang gemuk yang banyak berbicara itu pun mempunyai kemampuan yang cukup baik, sehingga dengan demikian, maka kalian berlima mampu bertahan melawan kedelapan orang anak buahku.”

“Terima kasih atas pujian itu. Tetapi adalah wajar, bahwa kami harus berjuang mempertahankan diri dan harta benda kami yang cukup banyak jumlahnya, karena kami pergi untuk melamar seorang gadis dan membawa oleh-oleh untuknya.”

Orang yang semula bertengger di atas pohon itu tertawa. Katanya, “Seperti kau mencurigai pemberianku, aku pun jadi curiga akan ceriteramu. Dalam keadaan yang demikian gawat bagimu, kau masih juga mengatakan bahwa kau membawa harta benda yang cukup banyak jumlahnya. Bukankah itu benar-benar mencurigakan?”

Kiai Gringsing pun tersenyum. Lalu katanya, “Baiklah. Dengan demikian kita memang sudah saling mencurigai. Kita masing-masing memang sudah siap untuk berdiri berseberangan. Kau hendak menyamun kami, dan kami pun ingin mempertahankan diri dan milik kami. Setidak-tidaknya kuda-kuda kami yang tegar.”

“Baiklah. Aku percaya bahwa kau dapat mengalahkan dua tiga orang anak buahku sekaligus setiap orang. Tetapi kau belum mengenal aku dan seorang sahabatku, kami memang orang-orang baru di sini. Tetapi kami mendapat tugas yang berat sekali.”

“Kau sadari tugasmu sebagai seorang penyamun. Apakah penyamun mempunyai ikatan yang luas sekali, sehingga kau mendapat perintah untuk bertugas di sini?”

Orang itu tertawa. Jawabnya, “Demikianlah agaknya. Tetapi kami bukanlah penyamun kebanyakan. Kami adalah pagar bagi Mataram.”

“Seperti yang kau katakan. Kau ingin memagari Mataram dan memisahkannya dari dunia luar. Nah, siapakah yang memegang kendali dari antara kalian? Apakah kau pemimpin tertinggi dari gerakan yang ingin memperkecil arti Mataram?”

“Eh, kau salah duga. Tentu bukan aku, karena aku hanya sekedar menjalankan perintah. Tetapi meskipun demikian, aku mempunyai wewenang yang luas di sini. Beberapa orang yang bertugas di sekitar Alas Tambak Baya dan Mentaok tidak dapat berbuat banyak menghadapi Mataram. Sekarang aku akan mencoba dengan caraku.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi persoalan yang dikatakan oleh orang itu adalah persoalan yang sudah diduganya. Kiai Gringsing ingin mendengar keterangan yang lebih dalam lagi. Tetapi sulitlah dapat di harapkan dari orang itu. Meskipun demikian ia masih juga mencobanya, “Ki Sanak. Meskipun kau berhasil di sini, tetapi jalan ke Mataram bukan hanya satu jalur. Dari Selatan, dari Barat, dan dari Utara masih tetap terbuka.”

“Semua jalan sudah ditutup. Tetapi menurut perhitungan kami, jalan yang menghadap langsung ke Pajang ini adalah jalan yang paling penting. Karena itu, aku-lah yang ditugaskannya di sini.”

“O, kalau begitu Ki Sanak adalah orang yang paling dipercaya dari lingkunganmu.”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Ya. Akulah orang yang paling dipercaya.”

“Masih adakah orang yang melampauimu?”-

“Tidak. Tidak ada lagi orang yang melampaui aku.”

“Yang menugaskan kau di sini?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Mungkin. Satu-satunya orang yang mungkin melampaui aku.”

“Kenapa mungkin?”

“Ia hanya memiliki pengaruh. Jika aku dan pemimpin kami itu harus bertempur, maka aku kira, aku tidak akan dapat dikalahkannya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi harapan untuk mendapat penjelasan dari orang ini, baik sebelum maupun seandainya ia berhasil menangkapnya, akan sia-sia saja. Seperti juga yang pernah terjadi, mereka adalah orang-orang yang teguh memegang rahasia. Kiai Damar, Kiai Telapak jalak, orang-orang yang menyerang rumah Untara yang dihuni oleh para perwira Pajang dan tentu juga orang-orang ini.

“Tetapi setidak-tidaknya aku harus membuka jalur ini,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “Jika orang-orang itu masih ada di jalur ini, maka hubungan dengan Mataram pasti akan benar-benar terputus. Prajurit-prajurit yang meronda tidak akan dapat memecahkan masalah ini, karena mereka hanya sekedar lewat dan segera kembali ke Mataram. Dan jika terjadi benturan senjata, maka prajurit Mataram itu tidak akan dapat mengalahkan orang-orang ini, terutama penjual makanan itu.”

Dalam pada itu, maka orang itu pun kemudian berkata, “Nah, sekarang kalian yang sudah terlanjur mengetahui beberapa hal tentang kami dan usaha kami, tidak akan dapat keluar lagi dari hutan ini.”

“Jangan meramalkan yang belum terjadi.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Aku tidak pernah ikut campur dalam setiap perampokan dan kadang-kadang pembantaian. Tetapi kali ini, ternyata orang-orangku tidak mampu melaku-kannya. Karena itu, aku sendiri harus turun tangan. Jika tidak, maka pagar yang kami buat pasti akan dapat kau tembus. Apakah kau akan pergi ke Menoreh atau ke Mataram?”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Ketika ia kemudian melihat orang yang satu lagi dengan jelas, maka orang itu adalah orang yang mula-mula bertanya kepadanya, di saat ia beristirahat sebelum sampai ke tepi hutan Tambak Baya.

“Nah, jangan menyesal, bahwa kami harus menjalankan tugas kami. Kami mendapat kebebasan mempergunakan cara yang paling kami sukai untuk membantai korban-korban kami. Adalah kebetulan sekali bahwa yang paling menarik dari kalian adalah anak muda yang gemuk itu.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Tetapi ketika ia berpaling kepada Ki Demang, dilihatnya wajah itu menjadi berkerut merut.

Namun, itu adalah wajar sekali. Ki Demang sedang dalam perjalanan untuk melamar seorang gadis justru untuk Swandaru. Dan kini Swandaru yang menjadi pusat sasaran para penyamun itu.

Meskipun demikian Ki Demang percaya, bahwa Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pasti tidak akan tinggal diam.

Dalam pada itu, penjual makanan yang ternyata adalah pemimpin dari para penyamun itu maju selangkah sambil berkata, “Kami akan segera melakukan tugas kami. Kami akan membunuh kalian. Tetapi anak yang gemuk itu akan menjalaninya yang terakhir kali.”

Tetapi adalah di luar dugaan bahwa Swandaru menyahut, “Sejak tadi kau hanya berbicara saja tanpa berbuat sesuatu. Ayo, kita segera menentukan siapakah yang akan terbantai. Kami atau kalian.”

Orang yang ternyata memimpin para penyamun itu mengerutkan keningnya, namun ia pun tertawa, “Kau memang menyenangkan sekali.”

“Persetan!” Swandaru menjadi tidak sabar lagi. Orang itu masih saja tertawa. Tetapi suara tertawanya terputus ketika cambuk Swandaru tiba-tiba saja meledak.

“Anak setan!” pemimpin penyamun itu menggeram. Namun Kiai Gringsing-lah yang menyahut, “Marilah, Ki Sanak. Kita sudah bersiap.”

Orang itu memandang Kiai Gringsing dengan sorot mata yang menyala. Dengan isyarat ia memanggil kawannya yang paling dipercaya. Katanya, “Marilah kita selesaikan orang-orang ini.”

Kiai Gringsing melihat orang itu meloncat mendekat. Karena itu, maka ia pun berkata, “Marilah, adi Sumangkar. Kita yang tua-tua sajalah yang sebaiknya melayani tamu-tamu kita kali ini,” lalu katanya kepada Swandaru dan Agung Sedayu, “Kalian mempunyai tugas khusus. Kedelapan orang itu tentu tidak akan hanya sekedar menonton. Jika mereka berbuat sesuatu, adalah bagianmu.”

Mendengar kata-kata gurunya itu, Swandaru menjadi kecewa. Karena itu, maka ia pun menjawab, “Aku ingin bahwa aku-lah yang mendapat kesempatan membantai penjual makanan yang licik itu.”

Tetapi gurunya menyahut, “Jangan kalian biarkan kedelapan orang itu mengganggu kami. Kami ingin berkelahi seperti kami sedang melagukan tembang macapat.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Ia mengerti bahwa gurunya tentu berpendirian lain. Karena itu maka katanya di dalam hati, “Orang itu tentu orang yang memiliki kemampuan yang tinggi menurut pendapat guru, sehingga aku tidak diperkenankan untuk bertempur melawannya.”

Dalam pada itu, Sumangkar pun telah menyiapkan dirinya di samping Kiai Gringsing. Seperti Kiai Gringsing maka Sumangkar pun melihat, bahwa kedua orang itu bukan orang-orang kebanyakan dan bukan pula seperti penyamun-penyamun yang lain.

Orang yang semula menunggui warung itu pun kemudian berkata, “Kalian akan menyesal. Tetapi apa boleh buat. Aku harus menyelesaikan kalian di sini. Kalian sudah membuat aku marah dan tentu jualanku sekarang sudah habis dicuri orang, karena tidak ada yang menungguinya.”

Tanpa diduga-duga Swandaru menjawab, “Jika daganganmu habis dicuri orang, maka pencurinya tentu anak buahmu sendiri, karena di sini sama sekali tidak ada orang lain.”

“Persetan!” orang itu memotong. Namun sebelum orang itu berbicara, Kiai Gringsing telah mendekat selangkah sambil berkata, “Bersiaplah. Jangan membual kepada anak-anak. Kita sudah berjanji untuk berkelahi dan mempertaruhkan nyawa.”

Orang itu menggeram. Lalu tiba-tiba saja ia berteriak, “Beri aku senjata. Cepat. Beri aku senjata. Agaknya untuk membunuh orang ini diperlukan senjata.”

Sejenak para penyamun itu saling berpandangan. Dan orang itu sekali lagi berteriak, “Berikan senjata itu kepadaku. Apakah kalian tuli? He, yang memegang sepasang bindi. Berikan kepadaku sebuah. Dan kau yang memegang pedang dan pisau belati panjang. Berikan pisau itu kepadaku. Aku akan membunuh orang ini dengan bindi dan pisau belati.”

Orang yang memegang sepasang bindi itu pun segera berlari-lari kepadanya, dan menyerahkan sebuah dari sepasang bindinya, sedang yang membawa sebuah pedang dan pisau belati panjang pun datang pula kepadanya menyerahkan pisau belatinya.

“Nah, aku kini sudah bersenjata dan kalian masih juga bersenjata. Aku akan membunuh orang tua ini, dan kalian harus membunuh anak-anak muda itu beserta Ki Demang. Kemudian tikus-tikus yang lain itu pun harus kau bunuh pula.” lalu ia pun berpaling kepada kawannya yang telah siap melawan Sumangkar, “Bunuh pulalah orang yang membawa senjata aneh itu. Seakan-akan ia adalah seorang petualang yang biasa membelah dada orang dengan trisulanya itu.”

Orang yang diajak berbicara itu mengangguk dan menjawab, “Senjatanya memang sangat menarik. Tetapi orang itu sama sekali tidak menarik bagiku. Apakah kau pernah mendengar tentang orang-orang bercambuk yang telah membunuh Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak?”

Penjual yang menjadi pemimpin para penyamun itu mengerutkan keningnya. Katanya, “O, aku memang pernah mendengar, tetapi aku tidak menghiraukannya. Apakah orang-orang itu adalah orang yang sedang kita hadapi sekarang ini?”

“Aku kira.”

“Persetan! Jika demikian, mereka benar-benar harus dibunuh,” lalu ia pun berteriak kepada para penyamun yang lain, “Cepat, bunuhlah anak-anak muda itu dengan Ki Demang sekali. Mereka tidak berhak lagi keluar dari hutan ini. Kemudian kalian harus menjaga agar kedua orang tua-tua ini tidak dapat lari. Karena, merekalah agaknya yang telah membunuh Kiai Damar, mengaku atau tidak mengaku.”

Para penyamun itu pun segera bergeser maju. Kini mereka berdelapan hanya tinggal menghadapi tiga orang lagi, karena yang dua, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar sudah terikat kepada kedua orang yang sudah bersiap pula menyerangnya.

Swandaru menggeram ketika ia melihat tiga orang mendekatinya. Ia harus berkelahi melawan tiga orang itu. Sedangkan Agung Sedayu pun harus berhadapan dengan tiga orang pula, dan Ki Demang dengan pedangnya berhadapan dengan dua orang penyamun.

Ternyata Swandaru tidak menunggu mereka menyerang. Sejenak kemudian terdengar cambuknya meledak. Ia-lah yang lebih dahulu mulai menyerang lawan-lawannya.

Ledakan cambuk Swandaru bagaikan aba-aba setiap orang yang ada di tempat itu. Semuanya pun segera berloncatan dan menghadapi lawan masing-masing.

Ki Demang tidak lagi dapat berpikir lain daripada bertempur. Mau tidak mau, perkelahian memang harus terjadi karena orang-orang yang berada di mulut hutan itu ternyata adalah orang-orang yang sengaja menghalang-halangi, tetapi menakut-nakuti dengan membunuh orang-orang lain, yang lebih dahulu melalui jalan itu.

Sejenak kemudian, maka Ki Demang pun telah bertempur mati-matian. Tetapi karena ia memiliki pengalaman yang cukup, maka dua orang lawannya bukannya lawan yang dapat membahayakan jiwanya, meskipun ia harus memeras tenaga. Namun demikian, jika perkelahian itu berlangsung lama, maka nafasnya-lah yang agaknya akan mengalami kesulitan.

Dalam pada itu, Swandaru dan Agung Sedayu pun segera berloncatan dengan lincahnya. Karena mereka mencemaskan nasib Ki Demang di Sangkal Putung, maka mereka pun tidak lagi sekedar melayani lawannya seperti yang telah di lakukannya. Kini mereka benar-benar harus segera membinasakan lawannya sebelum dirinya sendiri.

Karena itulah, maka tandang Swandaru dan Agung Sedayu tidak lagi seperti saat mereka bertempur sebelumnya. Kini mereka memeras segenap kemampuan yang ada. Selain lawannya memang menjadi lebih banyak, maka mereka harus berpacu dengan waktu. Mereka tidak tahu, apakah Ki Demang mampu mempertahankan dirinya melawan kedua orang itu, sedangkan apakah gurunya dan Ki Sumangkar dapat mengimbangi lawannya itu pun, masih merupakan pertanyaan yang besar bagi keduanya. Meskipun kedua anak-anak muda itu tidak berjanji, tetapi mereka menganggap bahwa semakin cepat mereka menyelesaikan tugas mereka, itu akan berarti semakin baik buat dirinya sendiri dan buat orang lain yang memerlukan pertolongan.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian pertempuran itu pun meningkat menjadi semakin seru. Untuk melawan Swandaru dan Agung Sedayu yang bertempur seperti banteng yang terluka itu, lawan-lawannya pun telah memeras kemampuan yang ada pada mereka.

Dalam pada itu Ki Demang pun harus mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Kedua lawannya ternyata memiliki pikiran yang serupa dengan Swandaru dan Agung Sedayu. Jika Ki Demang itu segera dapat dibinasakan, maka mereka berdua pun akan segera dapat membantu kawan-kawannya yang lain.

Namun ternyata, meskipun umurnya sudah menjadi semakin tua, Ki Demang cukup tangkas untuk mempertahankan dirinya. Kadang-kadang ia memang harus berloncatan surut. Tetapi kemudian, ia segera menemukan keseimbangan yang mantap untuk bertahan.

Swandaru-lah yang setiap kali menggeram jika ia melihat ayahnya harus bergeser surut. Namun lawannya pun tidak dengan sukarela menyerahkan diri mereka. Meskipun di antara mereka terdapat orang yang telah terluka, tetapi perlawanannya masih tetap harus diperhitungkan.

Sementara itu, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pun telah terlibat di dalam pertempuran yang sengit. Ternyata penjual makanan itu bukan sekedar menakut-nakuti dengan sikap dan kata-katanya. Dengan sebuah bindi dan sebuah pisau belati panjang ia bertempur melawan Kiai Gringsing yang mempergunakan cambuknya. Setiap kali cambuk itu meledak bagaikan memecahkan selaput telinga. Namun orang yang memegang bindi dan pisau belati panjang itu setiap kali tertawa sambil berkata, “Tenagamu dahsyat sekali, Ki Sanak.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ternyata ia benar-benar menemukan lawan yang cukup tangguh, sehingga dengan demikian ia menjadi heran, bahwa orang-orang yang berhimpun untuk menentang berdirinya Mataram itu terdiri dari orang-orang yang pilih tanding. Jika mereka bergabung menjadi satu dan menyusun sebuah pasukan yang besar, maka kekuatannya pasti akan menggetarkan Pajang maupun Mataram. Yang pernah dikenalnya dari lingkungan mereka adalah Kiai Damar, Kiai Telapak Jalak, seorang yang telah menyerang rumah Untara yang dihuni oleh para perwira bersama pemimpin gerombolan penyerang itu, dan kini dua orang lagi yang belum dikenal namanya.

“Delapan orang,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “adalah sulit sekali bagi Mataram untuk mendapatkan delapan orang seperti orang-orang ini. Di Mataram yang dapat aku ketahui hanyalah Ki Gede Pemanahan sendiri dan yang masih sedang berkembang adalah Raden Sutawijaya. Meskipun barangkali Mataram dapat menyusun kelompok-kelompok yang kuat untuk melawan mereka, tetapi Mataram pasti akan mengalami kesulitan.”

Tetapi untunglah bahwa mereka tidak bergerak dalam irama yang mantap, sehingga kemampuan mereka pun agaknya terpecah-pecah.

Dalam perkelahian yang sengit, maka Kiai Gringsing kemudian benar-benar harus berhati-hati. Lawannya kali ini adalah seorang yang dapat bergerak secepat tatit, sehingga kadang-kadang ujung cambuknya tidak dapat mengejarnya, bahkan kadang-kadang, angin yang berdesir karena ayunan bindi orang itu telah terasa di kening Kiai Gringsing. Sedikit saja ia lengah, maka kepalanya pasti dipecahkan oleh lawannya itu.

“Benar-benar di luar dugaanku,” berkata Kiai Gringsing di dalam hati, “jika terjadi sesuatu atas salah seorang dari kami, maka akulah yang bertanggung jawab.”

Namun, selagi ia sempat melihat dengan sudut matanya Swandaru dan Agung Sedayu, hatinya menjadi sedikit tenang, meskipun Ki Demang Sangkal Putung kadang-kadang membuatnya tegang.

Lawan Ki Sumangkar pun ternyata seorang yang tangguh. Tetapi Ki Sumangkar tidak mengalami tekanan yang terlampau berat seperti Kiai Gringsing. Meskipun orang itu mampu mengimbangi tata gerak Ki Sumangkar, namun keduanya masih juga harus berjuang untuk menentukan siapakah yang akan menang, dengan kemungkinan yang lebih baik pada Ki Sumangkar, jika Ki Sumangkar tidak berbuat kesalahan. Setiap kali, Ki Sumangkar dengan senjatanya yang dahsyat itu, berhasil mendorong lawannya surut. Tetapi kemudian lawannya itu pun segera memperbaiki keadaannya. Dalam keadaan yang sulit, lawannya mencoba bertahan dengan senjatanya yang aneh pula. Dua batang tongkat pendek yang tajam di kedua ujungnya, sehingga seakan-akan ia mempergunakan empat buah mata tombak yang runcing.

“Ternyata kami tidak dapat melampaui penyamun-penyamun ini dengan tanpa berjuang mati-matian,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya. Apalagi ternyata lawannya memang memiliki kemampuan yang mendebarkan. Senjatanya itu setiap kali rasa-rasanya telah menyentuh kulit Kiai Gringsing.

Bahkan Gringsing terkejut ketika terasa sebuah sentuhan telah menyentuh lengan bajunya. Dengan gerak naluriah ia melangkah surut. Jika bindi itu menyentuh tangannya, maka tulangnya pasti akan remuk, dan seterusnya kepalanya-lah yang akan dipecah oleh lawannya itu.

Karena itulah, maka Kiai Gringsing menjadi semakin berhati-hati dan sekaligus berjuang semakin dahsyat. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang cukup dan ilmu yang tinggi ia pun segera berusaha menyesuaikan dirinya, tanpa melupakan kemungkinan waktu yang lama dari pertempuran itu, sehingga ia pun harus mengatur pernafasan sejak permulaan.

Dengan demikian, maka pertempuran antara Kiai Gringsing dengan lawannya itu pun meningkat semakin dahsyat. Keduanya memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan, sehingga karena itu, maka arena perkelahian mereka pun seakan-akan menjadi ajang angin pusaran yang sangat dahsyat. Pohon-pohon perdu pun berserakan dan ranting-ranting berpatahan. Senjata Kiai Gringsing meledak memekakkan telinga disela-sela desing bindi dan pisau belati panjang yang bagaikan melontarkan arus angin yang tiada taranya.

Dan perkelahian itu pun kemudian bagaikan tidak dapat dinilai lagi. Gerak tangan dan kaki mereka tidak lagi dapat diikuti dengan mata telanjang.

Ternyata Ki Sumangkar menjadi cemas melihat perkelahian itu. Di Jati Anom Kiai Gringsing telah dapat dilukai, sedang di saat-saat sebelumnya, Kiai Gringsing hampir selalu dapat langsung menguasai lawannya. Dan sekarang ia menjumpai lawan yang seakan-akan lebih tinggi lagi ilmunya dari lawan-lawan sebelumnya.

Tetapi dalam pada itu, Sumangkar sendiri masih terlibat dalam perkelahian yang dahsyat. Ternyata lawannya pun segera mengerahkan segenap tenaganya untuk berusaha secepatnya mengakhiri perkelahian. Tetapi ternyata bahwa Sumangkar bukan lawan yang dapat ditentukan nasibnya.

Di lingkaran yang lain, Agung Sedayu dan Swandaru bertempur mati-matian pula untuk segera mengalahkan lawan-lawan mereka, seperti juga Ki Demang yang sudah mengerahkan semua kemampuannya melawan penyamun-penyamun itu.

Dengan hati yang berdebar-debar, tetapi juga dengan kemarahan yang mencengkam, Swandaru memutar cambuknya seperti baling-baling, sedang cambuk Agung Sedayu menyambar-nyambar seperti puluhan cambuk yang berterbangan di udara.

Orang-orang lain yang bersenjatakan potongan-potongan kayu, sama sekali tidak mampu lagi melibatkan diri di dalam perkelahian itu. Hanya kadang-kadang saja mereka mengayun-ayunkan kayu di tangan mereka apabila para penyamun itu terdesak. Tetapi mereka segera melangkah surut apabila penyamun-penyamun itu memandang mereka dengan tatapan mata yang marah.

“Kepung mereka!” teriak Swandaru, “Jangan biarkan mereka lari.”

Orang-orang itu termangu-mangu sejenak. Lalu terdengar suara Swandaru itu lagi, “Mereka juga mengepung kita dan berusaha agar kita tidak dapat keluar dari hutan ini. Jangan takut. Aku ada di antara kalian. Jika mereka akan menyerang kalian, maka punggungnya akan aku sobek dengan ujung cambukku.”

Orang-orang yang sudah hampir kehilangan keberaniannya sama sekali itu saling berpandangan. Tetapi mereka tidak segera berbuat apa-apa. Karena itu, maka Swandaru berteriak lagi, “Berbuatlah sesuatu. Jika kita berhasil membunuh mereka, kita akan selamat. Tetapi jika tidak, kita lah yang akan digantung di mulut lorong ini dengan kaki kita di atas, dan dibiarkannya kita mati perlahan-lahan atau digapai oleh seekor harimau yang akan melubangi kepala kita dengan taring-taringnya.”

Mereka masih saja termangu-mangu. Namun kemudian Agung Sedayu pun berkata pula sambil bertempur, “Seorang kawanmu telah mati di tangan mereka. Kawanmu itu telah menjadi banten perjuangan kalian untuk melepaskan diri.”

Ternyata kata-kata itu telah menyentuh hati mereka. Karena itu, mereka pun kemudian berpencaran, meskipun mereka tidak berani berdiri sendiri. Mereka telah berdiri terbagi menjadi tiga kelompok kecil yang masing-masing mencoba menjaga lawan-lawan Agung Sedayu, Swandaru dan Ki Demang Sangkal Putung.

“Bagus!” teriak Swandaru, “Kalian dapat memukul kepala mereka dengan tongkat-tongkat kayu kalian.”

Tetapi, orang-orang itu masih saja berdiri termangu-mangu. Mereka tidak berani menerjunkan diri di dalam arena perkelahian itu. Apalagi mereka yang telah terluka. Namun tampak di wajah mereka, sepercik keberanian mulai tumbuh. Juga karena seorang kawan mereka telah terbunuh, sehingga korban yang telah jatuh itu mendorong mereka untuk menuntut balas.

Yang kemudian segera menguasai lawan-lawannya justru adalah Agung Sedayu. Sebuah serangan mendatar membuat ketiga lawannya berloncatan mundur. Namun tiba-tiba seorang dari mereka segera meloncat begitu ujung cambuk Agung Sedayu berdesing di depan wajahnya. Tombak pendeknya berputar sekali, lalu mematuk leher anak muda itu. Tetapi Agung Sedayu pun cepat mengelak, ia sempat meloncat ke samping dan kemudian berputar setengah lingkaran. Tetapi pada saat itu, sebuah bindi melayang menyambar ubun-ubunnya. Dengan demikian, Agung Sedayu terpaksa meloncat lagi. Namun seorang lawannya yang lain mengayunkan pedangnya langsung menebas lehernya.

Agung Sedayu tidak sempat meloncat lagi. Tetapi ia merendahkan diri untuk mengelakkan pedang itu.

Pada saat yang gawat itulah, Agung Sedayu melihat ujung tombak lawannya melayang ke lambungnya.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia harus bertindak tepat. Dalam waktu sekejap, ia harus menentukan suatu langkah untuk membebaskan dirinya dari lawan-lawannya yang semakin garang.

Agung Sedayu bergeser sedikit surut. Ia masih tetap merendahkan dirinya. Namun tiba-tiba ia berputar di atas tumitnya, dan sekali lagi cambuknya berputar pula mendatar. Lawan-lawannya segera berloncatan surut. Tetapi orang yang sedang meloncat dengan ujung tombak terjulur itu tidak dapat berbuat sesuatu, karena ia sedang melayang laju ke depan.

Yang dapat dilakukannya kemudian adalah berusaha menangkis ujung cambuk yang terayun tepat kepadanya.

Karena itulah, maka tombaknya pun segera dirundukkannya. Dengan sebuah hentakan, ia ingin menghentikan ayunan cambuk Agung Sedayu. Namun dengan demikian, maka terjadilah benturan antara dua senjata itu, sehingga ujung cambuk Agung Sedayu pun langsung membelit tangkai tombak itu.

Agung Sedayu yang sudah memperhitungkannya itu pun segera menarik ujung cambuknya sendal pancing. Dengan sepenuh kekuatannya, ia menghentakkan cambuknya demikian tiba-tiba, sehingga lawannya tidak mampu lagi menguasai senjatanya.

Senjata itu pun kemudian terlepas dari tangannya dan terlempar beberapa langkah, lawannya sama sekali tidak mampu bertahan untuk tetap menggenggam tangkai tombaknya itu.

Agung Sedayu melihat kesempatan terbuka baginya. Karena itu, ia tidak menyia-nyiakannya. Sekejap kemudian, maka ia pun segera meloncat menyerang lawannya yang sudah tidak bersenjata itu.

Tetapi ternyata, bahwa kawan-kawan penyamun itu tidak membiarkan kawannya itu menjadi sasaran serangan Agung Sedayu tanpa melakukan perlawanan. Hampir berbareng mereka menyerang dengan ujung senjata yang terjulur lurus ke depan.

Agung Sedayu melihat serangan yang datang dengan dahsyatnya itu. Sekali lagi ia memutar cambuknya untuk mempertahankan jaraknya dari penyamun-penyamun itu. Namun tiba-tiba saja dengan cambuk yang masih berputar, Agung Sedayu meloncat langsung dengan garangnya, menyerang lawannya yang sudah tidak bersenjata itu.

Lawannya masih berusaha mengelak. Dengan tangkas ia meloncat surut sambil merendahkan dirinya dalam-dalam, di bawah putaran cambuk Agung Sedayu.

Namun, ternyata yang mengenainya sama sekali bukan ujung cambuk Agung Sedayu. Selagi cambuknya masih berputar, dan orang itu telah terbebas dari sambaran ujung cambuk yang berdesing di atas kepalanya, namun tiba-tiba saja terdengar keluhan yang tertahan. Ternyata kaki Agung Sedayu-lah yang menyambar orang yang sedang merunduk itu, sehingga ia terlempar beberapa langkah surut dan kemudian jatuh berguling di tanah. Demikian kerasnya tendangan kaki Agung Sedayu, sehingga terasa tulang-tulang iganya menjadi remuk karenanya, dan karena itulah, maka ia tidak lagi mampu untuk bangkit dan ikut memberikan perlawanan.

Dengan demikian, maka lawannya telah berkurang dengan seorang, yang justru merupakan penggerak dari perlawanan mereka.

Dengan demikian, maka perlawanan yang kemudian-pun menjadi jauh lebih lemah. Dua orang yang masih tetap bertempur itu hampir tidak mempunyai kesempatan lagi. Dan Agung Sedayu pun tidak menyia-nyiakan waktu lagi. Keadaan masih cukup gawat. Ia melihat betapa Ki Demang bertahan mati-matian sehingga keringatnya telah membasahi seluruh tubuh dan pakaiannya.

Namun dalam pada itu, selagi Agung Sedayu berusaha mengakhiri perlawanan kedua penyamun yang lain, ia mendengar seseorang memekik kesakitan. Ia masih sempat memalingkan wajahnya dan melihat seorang lawan Swandaru terlempar dari arena dan jatuh di tanah dengan darah yang meleleh dari luka di lambungnya. Ternyata Swandaru telah berhasil mengenai lambung lawannya dengan ujung cambuknya dan dengan sebuah tarikan yang menghentak, maka karah-karah besi di ujung cambuk itu telah melukai lambung lawannya.

Sesaat kemudian, Agung Sedayu pun mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya untuk segera menjatuhkan lawan-lawannya yang lain. Dan usaha itu tidak terlampau sulit baginya. Seorang demi seorang, maka lawannya itu pun berhasil di lumpuhkannya. Yang seorang menjadi pingsan karena keningnya telah disambar oleh ujung cambuk Agung Sedayu, sedang yang lain tidak mampu lagi melakukan perlawanan karena kakinya rasa-rasanya patah karenanya.

Berbeda dengan Agung Sedayu, Swandaru masih bertempur melawan kedua lawannya, yang agaknya dengan gigih melakukan perlawananan. Keduanya mulai berlari-lari mengelilingi pepohonan hutan, mereka memanfaatkan rimbunnya dedaunan dan batang perdu yang tumbuh liar.

“Licik!” geram Swandaru yang menjadi marah karenanya.

Tetapi lawan-lawannya tidak menghiraukannya. Mereka masih menyerang, dan kemudian berlari-larian menjauh.

Agung Sedayu yang sudah selesai dengan lawan-lawannya, melihat cara yang licik itu. Karena itu, maka ia pun segera meloncat memburu salah seorang dari mereka sambil berkata, “Selesaikanlah yang seorang itu. Aku akan menyelesaikan yang seorang lagi.”

Swandaru berpaling, dilihatnya Agung Sedayu telah bebas dari lawan-lawannya. Tetapi ia menyahut, “Bebaskan Ki Demang dari kedua lawannya. Aku akan menyelesaikan cecurut-cecurut ini.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Kemudian dipandanginya arena pertempuran antara Ki Demang melawan kedua orang penyamun yang bertempur mati-matian.

Ki Demang memang tidak dapat segera dikalahkan. Bahkan serangan-serangan Ki Demang adalah serangan-serangan yang berbahaya. Tetapi lawannya pun bertempur dengan gigihnya, sehingga Ki Demang harus memeras segenap tenaga dan kemampuannya. Karena itulah, maka nafasnya menjadi semakin cepat mengalir dan keringatnya membasahi seluruh permukaan kulit tubuhnya.

Agung Sedayu menarik nafas panjang. Meskipun Ki Demang memiliki pengalaman dan ilmu yang dapat mengimbangi lawannya, namun agaknya nafas Ki Demang-lah yang pada suatu saat pasti akan mengganggunya.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun kemudian selangkah demi selangkah mendekati Ki Demang di Sangkal Putung. Dengan saksama ia memandang kedua lawan Ki Demang itu berganti-ganti. Dan bagi Agung Sedayu keduanya tidak memiliki kelebihan apa pun juga. Kedua lawan Ki Demang itu tidak lebih baik dari ketiga lawannya yang telah dikalahkannya.

Namun dalam pada itu, langkah Agung Sedayu itu terasa bagaikan hentakan-hentakan di dalam dada kedua lawan Ki Demang. Mereka sadar, bahwa ternyata Agung Sedayu bukan seorang anak muda kebanyakan, yang menggigil melihat senjata berputar. Ternyata Agung Sedayu itu memiliki kemampuan yang sangat mengejutkan para penyamun itu.

Tetapi para penyamun itu tidak dapat berbuat apa pun juga. Langkah Agung Sedayu sama sekali tidak ada yang menghalanginya lagi. Selangkah demi selangkah ia mendekat dan setiap langkahnya membuat nafas para penyamun itu menjadi semakin sesak.

Ternyata kegelisahan para penyamun itu telah mempengaruhi sikapnya. Perlawanannya pun menjadi kacau, sehingga mereka tidak dapat lagi memusatkan perhatiannya pada ujung-ujung senjatanya.

Pada saat yang demikian itulah, Ki Demang menghentakkan semua kemampuan yang ada padanya. Pedangnya berputar cepat sekali, dan kemudian meliuk mematuk dengan dahsyatnya.

Sesaat kemudian terdengar jerit terputus. Ternyata pedang itu telah menembus dada seorang lawannya.

Darah yang merah memancar dari luka itu. Sesaat ia masih dapat berdiri, namun sesaat kemudian tubuhnya itu pun roboh, seperti robohnya sebatang kayu yang mati.

Kawannya tercengang memandang tubuh yang terguling tanpa berdaya sama sekali itu. Bahkan sejenak kemudian, setiap orang yang menyaksikan, dapat memastikan bahwa orang yang terbaring itu sudah tidak bernafas lagi.

Penyamun yang seorang itu berdiri termangu-mangu. Sejenak ia kebingungan. Dipandangnya Ki Demang di Sangkal Putung berdiri dengan pedang telanjang di tangan. Pedang yang sudah dilumuri dengan darah kawannya. Dan ketika Ia sempat berpaling, beberapa langkah di sampingnya, dilihatnya anak muda bercambuk itu berdiri termangu-mangu.

Rasa-rasanya nyawanya telah berada di ujung ubun-ubunnya. Ketika ia sempat memandang perkelahian yang terjadi beberapa langkah dari mereka, hatinya menjadi semakin berkeriput. Ternyata penjual makanan, yang selama ini menjadi kebanggaan para penyamun itu, masih belum dapat mengalahkan Kiai Gringsing yang tua itu. Bahkan agaknya perkelahian itu masih akan berlangsung lama. Sehingga dengan demikian, ia tidak akan dapat mengharapkan perlindungan dari penjual di warung yang sebenarnya adalah pemimpinnya itu.

“Kenapa ada juga orang yang mampu bertempur melawannya?” berkata penyamun itu di dalam hatinya.

Namun ia kemudian tidak sempat berpikir lagi. Kini, Ki Demang dengan pedang di tangan dan Agung Sedayu sudah menjadi semakin dekat.

Di tempat lain, Sumangkar pun bertempur mati-matian untuk mempertahankan dirinya dan sekali-sekali berusaha menyerang lawannya langsung ke tempat yang berbahaya. Tetapi ia masih juga belum berhasil, sehingga pertempuran itu masih juga berlangsung dengan sengitnya.

Karena itulah, maka penyamun itu menjadi putus asa. Ia merasa tidak akan dapat berbuat sesuatu melawan Ki Demang dan anak muda yang bersenjata cambuk itu. Sehingga sejenak kemudian, maka dilemparkannya senjatanya di tanah sambil berteriak, “Aku menyerah. Jangan bunuh aku dengan cara yang mengerikan itu.”

Agung Sedayu memandang orang itu dengan tajamnya. Namun terhadap seseorang yang sudah melemparkan senjatanya, ia tidak dapat berbuat apa-apa.

“Kau menyerah?” ia bertanya dengan nada yang datar.

“Ya, aku menyerah.”

Agung Sedayu mendekatinya. Kemudian ditariknya orang itu sambil berkata kepada orang-orang yang sudah kehilangan keberanian, meskipun mereka masih menggenggam potongan-potongan kayu di tangannya. “Ambillah orang ini dan Ikatlah. Ikatlah dengan lulup kayu atau dengan kain panjangnya sendiri.”

Orang-orang itu termangu-mangu sejenak. Dan Agung Sedayu berkata selanjutnya, “Ia tidak akan berbuat apa-apa. Aku akan menunggui kalian.”

Mereka masih termangu-mangu sejenak. Agung Sedayu yang tidak sabar, kemudian mendorong orang yang sudah tidak bersenjata itu, sehingga jatuh terjerembab di antara mereka yang bersenjatakan kayu kering itu.

Tiba-tiba saja salah seorang dari mereka bangkit dengan garangnya sambil berkata, “Bunuh. Bunuh saja orang ini.”

“Ya. Bunuh saja,” yang lain menyahut.

Ketika mereka mulai mengangkat kayunya, Agung Sedayu berteriak, “Jangan kau bunuh! Aku menyuruh kalian mengikat tangannya.”

“Tetapi mereka telah membunuh kawanku,” jawab salah seorang.

“Tetapi ia sudah menyerah.”

“Aku tidak peduli,” dan yang lain menyahut pula, “Aku tidak peduli. Ia sudah membunuh. Kami pun akan membunuhnya pula. Hutang harta membayar harta, hutang nyawa membayar nyawa.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ia mengerti bahwa ledakan perasaan orang-orang yang selama ini ketakutan itu membuat mereka kehilangan pertimbangan.

Sebelum Agung Sedayu terbuat sesuatu, orang-orang itu pun telah berteriak-teriak pula, “Biarlah aku yang membunuhnya.” Dan yang lain, “Pukul saja kepalanya.”

Orang yang sudah menyerah itu menjadi semakin ketakutan. Terbayang di wajahnya, betapa ia kehilangan dirinya sendiri. Sama sekali tidak tampak kegarangan dan kekejaman yang pernah dilakukannya.

“Jangan bunuh aku, jangan bunuh aku.” orang itu surut ke belakang dan berjongkok dihadapan Agung Sedayu sambil memohon, “Jangan bunuh aku, jangan bunuh aku.”

Agung Sedayu memandanginya dengan keragu-raguan yang bergejolak di dalam hati. Jika ia mencoba melindungi orang itu, apakah tidak akan timbul salah paham dan justru persoalan baru dengan orang-orang yang akan membunuhnya?

Sekilas Agung Sedayu sempat melihat Swandaru yang masih bertempur melawan para penyamun yang berlari-larian mengitari pepohonan dan rumpun-rumpun perdu yang liar. Kemudian dipandanginya sejenak wajah Ki Demang yang masih tegang.

“Ampuni aku, ampuni aku,” penyamun itu merengek seperti anak-anak yang memaksa ibunya untuk membelikan baju yang baru.

“Tidak ada kesempatan lagi bagimu!” teriak orang-yang marah itu.

Namun dalam pada itu Agung Sedayu bertanya kepadanya, “Apakah kau masih tetap ingin hidup?”

“Ya. Aku masih ingin hidup.”

“Kau ketakutan melihat potongan-potongan kayu yang terayun-ayun itu?”

“Ya. Aku takut sekali.”

“Apakah kau tidak pernah membayangkan, begitulah perasaan takut itu mencengkam hati?”

“Aku takut sekali.”

“Apakah kau tidak pernah membayangkan, bahwa orang lain yang ketakutan, seperti juga yang kau alami saat ini? Bahkan seandainya ada orang yang kau gantung, dengan kakinya di atas dan kau biarkan kepalanya diraih oleh kuku-kuku harimau, mempunyai perasaan takut melampaui perasaanmu sekarang.”

“Bukan aku, bukan aku-lah yang mengikat.”

“Siapakah yang mengikat, tetapi betapa tidak senangnya dihinggapi oleh perasaan takut. Perasaan takut memang dapat menyiksa seseorang melampaui mati itu sendiri. Dan kau sekarang pun sedang ketakutan. Aku tidak dapat berbuat apa-apa.”

“Jangan biarkan aku dibunuh, jangan.”

“Aku ingin kau mendalami perasaan takut. Hayatilah sebaik-baiknya agar kau tidak akan pernah melupakan, bagaimana seseorang yang sedang ketakutan. Dengan demikian di kesempatan yang mana pun juga, apabila kau masih akan tetap hidup, kau tidak akan membuat orang lain menjadi takut.”

“Tidak, aku tidak akan menakut-nakuti orang lagi.”

“Aku tidak yakin kalau kau berkata dari dalam lubuk hatimu. Kau hanya sekedar mengucapkan kata-kata tanpa memikirkan arti dari kata-katamu.”

Orang itu memandang Agung Sedayu sejenak, dan ia masih mendengar orang-orang lain berteriak-teriak, “Serahkan kepada kami.”

Orang itu telah benar-benar menjadi ketakutan. Keringat dingin mengalir membasahi segenap pakaiannya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa bahwa orang itu telah benar-benar merasakan betapa tersiksanya seseorang yang dicengkam oleh ketakutan. Karena itu, maka katanya kepada orang-orang yang melingkarinya dengan tongkat-tongkat kayu yang terayun-ayun, “Sudahlah. Kita akan mengikatnya. Biarlah ia tetap hidup dalam ketakutan. Kami akan menyerahkannya kepada para peronda dari Mataram.”

“Tidak, kami akan membunuhnya.”

“Aku tidak sependapat.”

“Aku tidak peduli. Aku ingin membunuhnya.”

Orang-orang itu pun kemudian berdesakan maju. Wajah mereka menjadi tegang dan tatapan mata mereka yang merah, memancarkan kemarahan yang tiada taranya.

“Jika demikian,” berkata Agung Sedayu kemudian, “aku tidak akan ikut campur lagi. Terserahlah kepada kalian. Biarlah ia mengambil senjatanya. Dan aku akan mengajak semua kawan-kawanku pergi,” ia berhenti sejenak. Lalu, “Lihat, saudaraku yang gemuk itu masih belum berhasil mengalahkan lawannya, yang bertempur sambil berputar-putar dengan liciknya. Biarlah ia melepaskan kedua orang itu dan menyerahkan kepada kalian.”

Orang-orang itu pun tiba-tiba telah terdiam.

“Kemudian aku akan memanggil orang-orang tua yang sedang bertempur itu pula. Biarlah kalian menyelesaikannya.”

Orang-orang itu pun menjadi semakin diam.

Namun dalam pada itu, terdengar Swandaru berkata, “Kakang. Jangan biarkan orang-orang ini melarikan diri. Kenapa kau masih saja berdiri di situ?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Baiklah.” Namun kemudian kepada orang-orang di sekitarnya ia bertanya, “Nah, cepat pilih. Mengikat orang ini atau kami semuanya akan meninggalkan gelanggang.”

Orang-orang itu tidak segera menjawab.

“Cepat. Katakan. Aku tidak mempunyai waktu lagi. Aku harus segera mengambil keputusan. Jawab, ya atau tidak. Jika kau ingin mengikatnya, jawablah ya. Cepat.”

Orang-orang itu masih termangu-mangu. Di wajah mereka masih tampak dendam yang tidak mudah terhapuskan. Sementara Swandaru telah berteriak sekali lagi, “Jangan biarkan mereka lari.”

Agung Sedayu menjadi termangu-mangu. Namun sebelum ia meninggalkan orang-orang itu, Ki Demang-lah yang telah lebih dahulu bergeser. Suara Swandaru bagaikan membangunkannya dari sebuah mimpi melihat penyamun yang sedang ketakutan. Dan ketakutan itu adalah bencana, yang paling dahsyat di dalam hidup seseorang.

Dengan tergesa-gesa Ki Demang pun kemudian berlari ke arena pertempuran yang luas, karena lawan Swandaru masih saja selalu berputar-putar.

Dengan loncatan panjang ia mencoba memotong gerakan salah seorang penyamun yang sedang mengitari sebuah gerumbul perdu, sedang yang lain sedang mencoba menyerang Swandaru dari samping.

Penyamun itu pun segera berhenti. Sekilas dipandanginya pedang Ki Demang yang masih berlumuran darah yang mulai membeku.

Terasa sesuatu meremang di tengkuknya. Namun sebelum ada perintah untuk menyingkir, penyamun itu masih harus berjuang mati-matian. Adalah pengkhianat, penyamun yang menyerah dengan ketakutan seperti lawan Ki Demang, yang kini berdiri berjongkok dihadapan Agung Sedayu itu.

Karena betapa dadanya dicengkam oleh kecemasan, namun kedua penyamun yang tidak ingin menjadi pengkhianat itu masih juga berusaha untuk berjuang terus. Yang seorang melawan Swandaru, sedang yang lain melawan Ki Demang.

Dengan demikian maka Swandaru tidak memerlukan waktu yang lama untuk menguasai lawannya. Ledakan cambuknya segera membuat lawannya terbanting jatuh.

Ketika ujung cambuk Swandaru kemudian membelit pergelangan kaki lawannya itu dan menariknya, maka penyamun itu telah terseret beberapa langkah mendekati Swandaru.

Dengan susah payah, penyamun itu berusaha meloncat bangkit. Tetapi ketika ia berdiri, ternyata tangan Swandaru telah mendorongnya, dan sekali lagi ia terjatuh di tanah.

“Jangan bangkit lagi!” bentak Swandaru sambil menginjak tangan penyamun yang masih menggenggam senjatanya itu.

“Persetan!” penyamun itu menggeram. Tetapi suaranya segera terputus, karena cambuk Swandaru meledak tepat di depan wajahnya.

“Lepaskan senjatamu, atau aku menyobek wajahmu dengan ujung cambukku.”

Orang itu memandang Swandaru sejenak. Tetapi sudah tidak ada jalan lain baginya kecuali melepaskan senjatanya.

Pada saat itu, orang-orang yang bersenjata potongan-potongan kayu itu pun telah melepaskan niatnya untuk membunuh. Mereka pun kemudian mengikat tangan penyamun yang menyerah itu pada sebatang pohon, sementara Agung Sedayu berjalan mendekati Ki Demang yang masih berkelahi.

Betapa kuatnya ikatan yang ada di antara para penyamun itu, dan betapa dalam ketaatan mereka terhadap pemimpin-pemimpinnya, namun penyamun yang sedang bertempur melawan Ki Demang itu pun sama sekali tidak berdaya untuk bertahan terus. Apalagi ketika Agung Sedayu telah berdiri di sebelah arena itu.

Dalam pada itu, Sumangkar masih berjuang mati-matian untuk dapat mengatasi lawannya. Bahkan kemudian orang tua yang pernah berada di istana Kepatihan Jipang itu masih harus memeras segenap kemampuannya. Namun dengan demikian, maka Sumangkar tidak mempunyai cara lain untuk mengakhiri pertempuran itu, selain benar-benar melumpuhkan lawannya, dan jika terpaksa, maka ia harus membunuhnya.

Dengan demikian, maka senjatanya yang dahsyat itu pun segera berputar semakin cepat. Sekali-sekali trisula kecilnya di ujung rantai itu meliuk dan menyambar mendatar. Bahkan sekali-sekali mematuk dengan dahsyatnya.

Lawannya pun telah berjuang mati-matian untuk mempertahankan diri. Seperti para penyamun yang lain, ia tidak menyangka bahwa ia akan menjumpai lawan sekuat itu.

Jika saja Sumangkar mempergunakan senjatanya yang diterimanya dari gurunya, sebuah tongkat baja putih berkepala tengkorak yang kekuning-kuningan, maka namanya akan segera dikenal kembali sebagai saudara seperguruan Patih Mantahun. Tetapi Sumangkar memang ingin melupakan semuanya itu, sehingga senjatanya itu pun telah diserahkannya kepada muridnya. Dan kini ia justru mempergunakan senjata yang mengerikan bagi lawan-lawannya, meskipun bagi Sumangkar sendiri, senjatanya ini tidak sedahsyat senjatanya, yang diterima dari gurunya itu.

Ketika serangan Sumangkar menjadi semakin dahsyat, maka semakin jelas, bahwa lawannya kadang menjadi gugup, sehingga Sumangkar yang telah memeras segenap kemampuannya itu, mempergunakan setiap kesempatan untuk mengakhiri perkelahian, sebelum nafasnya sendiri terputus karenanya.

Dan pengerahan segenap kemampuan Sumangkar itu, telah melahirkan serangan-serangan yang sangat berbahaya bagi lawannya. Hanya karena lawannya pun orang yang memiliki kelebihan di dalam olah kanuragan, maka ia masih juga dapat mengelak dan menghindari serangan-serangan itu.

Tetapi Sumangkar yang benar-benar telah dikuasai oleh nafas pertempuran, tidak lagi dapat berbuat lain daripada berjuang sejauh-jauh dapat dilakukan. Segala ilmu dan kemampuan yang ada padanya telah dicurahkan dan bahkan telah diperasnya habis-habisan, “Aku tidak boleh menunggu sampai nafasku putus,” katanya di dalam hati.

Dengan serangan yang menghentak-hentak, Sumangkar pun kemudian mendesak lawannya semakin dahsyat, sehingga lawannya pun menjadi semakin terdesak karenanya. Ujung trisula Sumangkar semakin lama serasa menjadi semakin dekat mengitari tubuhnya yang basah oleh keringat.

Namun menghadapi serangan Sumangkar yang semakin dahsyat itu, lawannya pun berjuang semakin keras pula. Bahkan untuk sesaat, lawannya itu telah melakukan tindakan untung-untungan. Jika ia berhasil, ia akan dapat mengatasi kemampuan Sumangkar. Jika tidak, maka semuanya masih harus diperhitungkan lagi.

Dengan demikian, maka serangan yang dilakukannya adalah serangan yang dahsyat sekali. Sedahsyat angin prahara yang melanda pepohonan.

Sumangkar terkejut mengalami serangan itu. Sesaat ia terdesak. Namun ia pun kemudian menyadari, bahwa lawannya telah mencurahkan segenap kemampuannya untuk sesaat. Sesaat yang diharapkan dapat menentukan akhir dari perkelahian itu.

Dengan demikian, Sumangkar pun harus mengimbanginya pula. Dikerahkannya pula segenap tenaga, kekuatan, kemampuan dan ilmu yang ada padanya. Ia pun melakukan pertimbangan yang sama seperti lawannya. Jika ia berhasil, maka perkelahian ini akan berakhir. Jika tidak, maka ia akan mungkin sekali terjerumus ke dalam kesulitan.

Karena itulah, maka sejenak kemudian telah terjadi benturan dua ilmu yang sangat dahsyat. Benturan antara dua kekuatan puncak yang sukar dicari bandingnya.

Orang-orang yang ada di sekitarnya sempat menyaksikan benturan kekuatan yang dahsyat itu. Bahkan Kiai Gringsing dan lawannya, yang mempunyai kepentingan yang sama untuk menyaksikan akhir dari pertempuran itu, telah dengan sendirinya mengendorkan pertempuran yang terjadi di antara mereka.

Agung Sedayu, Swandaru, Ki Demang di Sangkal Putung pun telah dicengkam pula oleh kecemasan, sedang orang-orang lain memandang puncak pertempuran itu dengan mulut ternganga.

Sejenak kemudian, keduanya hampir tidak lagi dapat dilihat dengan mata telanjang. Keduanya berputar seperti angin pusaran dalam selubung bayangan senjata masing-masing.

Namun sejenak kemudian, di balik selubung putaran senjata itu terdengar suara tertahan. Sebuah keluhan. Tetapi tidak terlontar seluruhnya.

Yang menyaksikan pertempuran itu menjadi termangu-mangu. Mereka menunggu sejenak dengan tegangnya. Dan yang sejenak itu rasa-rasanya bagaikan tanpa akhir.

Tetapi sejenak kemudian, mereka mulai dapat melihat apa yang telah terjadi. Keduanya mulai tampak semakin jelas. Namun seorang dari keduanya mulai terhuyung-huyung surut.

Dan sejenak kemudian semuanya menjadi jelas. Sumangkar berdiri tegak dengan pangkal rantainya di dalam genggaman. Meskipun demikian, tampaklah segores luka di pundaknya, sehingga di lengannya meleleh titik darah yang merah.

Namun dalam pada itu, lawannya terbungkuk sambil memegangi dadanya. Tangannya dan lengannya menjadi basah oleh darahnya yang memancar dari luka di dada itu.

Sejenak orang itu masih berdiri di atas kedua kakinya. Dengan matanya yang redup dipandanginya wajah Sumangkar yang tegang.

“Kau, kau menang,” suaranya dalam dan datar, “aku tidak menyangka, bahwa aku akan bertemu dengan orang semacam kau. Dalam keadaan seperti ini, seharusnya kau menentukan sikap dan berpihak Pajang atau Mataram.”

“Apakah kau juga berpihak?” bertanya Sumangkar. Orang itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Aku tidak berpihak. Tetapi aku menentukan pihakku sendiri.”

“Aku juga menentukan sikapku sendiri. Aku pun heran bahwa di dalam keadaan seperti ini, kau masih saja berkeliaran di hutan. Kenapa, kau tidak berada di Pajang atau Mataram seperti yang kau katakan itu? Dan apakah pihak yang kau tentukan sendiri itu akan berhasil mengatasi kekuasaan Mataram dan Pajang?”

“Tidak sebodoh itu. Tetapi ceriteranya terlampau panjang, dan umurku terlampau pendek.”

“Sebut, siapakah kau dan siapakah pemimpinmu tertinggi sebelum kau mati. Kau akan menebus dosamu, dan jalanmu akan menjadi lapang.”

Tampak wajah itu ragu-ragu sejenak, tetapi ia pun kemudian menyeringai menahan sakit.

“Kau menang,” suaranya semakin sendat, “tetapi sampai akhir hayatku, aku tidak akan mengakui adanya Mataram, meskipun aku tidak berdiri di pihak Pajang.”

“Jadi, jadi?” Sumangkar meloncat mendekatinya dan mencoba menahan tubuh itu.

Tetapi, tubuh itu sudah terlampau lemah. Trisula Sumangkar menusuk dadanya terlampau dalam. Tiga bekas luka berderet di dada itu.

“Sebut nama pemimpinmu,” bisik Sumangkar.

Tetapi orang itu sudah tidak menyahut. Sejenak ia masih menggeliat. Tetapi kemudian, Sumangkar mendengar tarikan nafasnya yang terakhir.

Perlahan-lahan Sumangkar meletakkan tubuh itu. Sejenak ia merenung. Namun sejenak kemudian ia berpaling, terdengar suara gemerasak yang tiba-tiba saja mengejutkan dan mengejutkan setiap orang yang sedang terpukau oleh peristiwa itu.

Serentak mereka berpaling, dan serentak mereka melihat lawan Kiai Gringsing meloncat meninggalkan arena.

Kiai Gringsing ternyata tidak mau melepaskan lawannya. Secepat loncatan lawannya, ia pun segera memburunya, menyusup dedaunan perdu di hutan yang liar itu.

Demikianlah, mereka pun segera berkejar-kejaran. Kiai Gringsing berusaha sejauh-jauh dapat dilakukan untuk mengejar lawannya dan apabila mungkin menangkapnya. Tetapi ternyata bahwa kemampuan lawannya tidak berada di bawah kemampuannya.

Bahkan Sumangkar yang telah meletakkan lawannya itu pun berusaha untuk ikut mengejarnya pula. Sumangkar adalah seorang yang memiliki kecepatan berlari yang tinggi. Karena itu, ia ingin membantu Kiai Gringsing mengejar orang yang sedang meninggalkan arena itu.

Tetapi ternyata bahwa kedua-duanya tidak berhasil. Bahkan selagi mereka berkejar-kejaran, Kiai Gringsing masih mendengar suara tertawanya di sela-sela gemerisik dedaunan, “Orang bercambuk, kali ini kau menang. Tetapi bukan aku kalah perang tanding melawanmu. Kawan-kawanku lah yang ternyata tidak mampu mengimbangi orang-orangmu. Namun aku sendiri sama sekali tidak gentar melawan kau dan kawanmu yang berhasil membunuh kepercayaanku itu. Tetapi jangan kau kira bahwa usaha kami akan berhenti sampai di sini. Kami akan berusaha terus, sehingga Mataram ini tenggelam dalam kesombongan Sutawijaya dan Pemanahan sendiri.”

“Siapakah kau sebenarnya?” bertanya Kiai Gringsing sambil mengejar terus.

“Aku adalah seorang Panembahan yang tidak bernama.”

“Apakah kepentinganmu dengan Mataram?”

Yang didengar oleh Kiai Gringsing hanyalah suara tertawanya saja yang berkepanjangan. Tetapi ia tidak lagi dapat melihat orangnya. Bahkan Kiai Gringsing telah kehilangan arah ketika suara tertawanya itu berhenti.

Akhirnya, Kiai Gringsing pun berhenti dengan nafas yang terengah-engah. Sebagai seorang yang mumpuni, maka ia pun harus mengakui bahwa lawannya kali ini adalah orang yang mempunyai kelebihan dari sesamanya.

Sejenak kemudian, Sumangkar pun mendekatinya. Ia pun masih juga terengah-engah. Setelah bertempur memeras tenaga, ia masih harus berlari-larian di antara pepohonan.

“Luar biasa,” ia berdesis di antara desah nafasnya.

“Ya, luar biasa,” sahut Kiai Gringsing.

“Jika ia tersusul, belum tentu kita dapat menangkapnya,” berkata Sumangkar kemudian.

“Adi Sumangkar,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “aku tidak begitu pasti. Tetapi dari sikap dan tandangnya, ia tentu orang yang yakin akan dirinya. Yakin bahwa dirinya memiliki kemampuan yang tidak mudah terkalahkan oleh siapa pun juga,” Kiai Gringsing berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi apakah adi Sumangkar melihat sesuatu yang dapat dikenal pada orang itu?”

Sumangkar menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak melihatnya, Kiai. Tetapi samar-samar menilik tata geraknya, aku seolah-olah pernah melihatnya, meskipun hampir berubah sama sekali.”

“Nah, itulah yang ingin aku katakan,” sahut Kiai Gringsing, “sesuatu yang samar tampak pada tata gerak itu.”

Ki Sumangkar tidak menyahut, tetapi tatapan matanya mengambang ke kejauhan, menembus rimbunnya gerumbul-gerumbul liar di dalam hutan itu.

“Marilah,” berkata Kiai Gringsing, “kita kembali kepada Ki Demang di Sangkal Putung.”

“Marilah,” sahut Ki Sumangkar, “Mataram ternyata menghadapi tantangan yang sangat berat. Mudah-mudahan, Ki Gede Pemanahan sanggup mengatasinya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba ia berkata, “Mungkin ia dapat mengenal pula tata gerak, Adi Sumangkar dan barangkali aku.”

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Apa boleh buat. Kita sudah terlanjur berdiri berseberangan di dalam persoalan Mataram. Tentu kita masing-masing akan bertanggung jawab seandainya dugaan kami ini benar.”

“Ya, jika hal itu benar,” desis Kiai Gringsing.

Keduanya pun kemudian melangkah kembali ke arena perkelahian yang sudah menjadi sepi. Yang masih ada adalah orang-orang yang menyerah dan yang sudah dilumpuhkan.

Ketika Kiai Gringsing dan Sumangkar datang kembali, maka Ki Demang pun segera bertanya, “Bagaimana dengan orang itu?”

“Kami tidak dapat menemukannya,” desis Kiai Gringsing, “ia memiliki kemampuan yang tinggi. Dan karena itu, berhasil melarikan darinya pula.”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Desisnya, “Jika demikian, orang itu tentu berbahaya sekali.”

“Ya,” Ki Sumangkar-lah yang menyahut, “orang itu memang berbahaya sekali.”

Ki Demang tidak segera berkata sesuatu. Demikian pula Swandaru dan Agung Sedayu. Mereka menundukkan kepala seakan-akan sesuatu sedang mereka pikirkan.

Namun dalam pada itu, terdengar Kiai Gringsing berkata, “Adi Sumangkar, baiklah lukamu itu diobati lebih dahulu. Meskipun luka itu tidak berbahaya, tetapi jika terlambat, maka luka itu dapat menjadi luka yang sulit disembuhkan. Apalagi luka bekas goresan senjata.”

“Luka ini tidak terlalu dalam. Menilik darah yang mengalir, senjata itu tentu tidak beracun,” sahut Ki Sumangkar.

“Atau beracun lemah sekali. Tetapi racun yang lemah dapat berkerja perlahan-lahan sekali. Karena itu, lebih baik aku mengobatinya.”

Sumangkar menganggukkan kepalanya. Namun ia masih juga memandang berkeliling, kepada orang-orang yang ada di sekitarnya dan kepada beberapa orang penyamun yang masih hidup dan sudah mereka kuasai sepenuhnya itu.

Hampir di luar sadarnya Ki Sumangkar pun berkata, “Lalu, kita apakan mereka itu? Apakah kita akan melepaskannya atau membawanya ke Menoreh?”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Orang-orang itu memang merupakan persoalan bagi mereka. Sudah barang tentu mereka tidak akan dapat melepaskannya, karena ternyata orang-orang itu adalah orang-orang yang berbahaya. Jika mereka dilepaskan dan dapat dijumpai kembali oleh pemimpinnya yang berhasil melarikan diri itu, maka mereka akan menjadi orang yang lebih berbahaya lagi bagi rakyat di sekitar daerah itu dan bagi lalu lintas pada umumnya.

“Guru,” tiba-tiba Agung Sedayu berkata, “bukankah kadang-kadang ada peronda dari Mataram yang lewat di jalur jalan ke Mataram itu?”

“Menurut pemimpin penyamun ini memang demikian.”

“Apakah kita dapat mempercayainya? Jika hal itu tidak benar, maka aku kira pemimpin penyamun itu tidak akan menjerumuskan kita ke jalan ini.”

“Memang masuk akal,” desis Sumangkar, “tetapi jarak kedatangan mereka tidak kita ketahui dan tidak dapat ditentukan.”

———-oOo———-

(bersambung ke Jilid 069)

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-68/

<<kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s