ADBM1-069

<<kembali | lanjut >>

“AKU kira, jika ada prajurit-prajurit peronda sampai ke daerah ini, maka tentu ada gardu-gardu dan tempat-tempat pengawas yang menjadi tempat peristirahatan dan pusat-pusat perondaan.”

“Mungkin demikian,” Kiai Gringsing pun mengangguk-angguk.

“Jika demikian, kita dapat menempuh jalan yang semula akan kita lalui. Bukan jalan ini,” berkata Agung Sedayu kemudian.

Tiba-tiba Swandaru mengerutkan keningnya. Sambil berpaling kepada seorang penyamun yang menyerah ia bertanya, “Apakah benar bahwa kadang-kadang ada peronda dari Mataram yang nganglang sampai ke mulut lorong itu?”

“Aku tidak tahu.”

“Aku bertanya, menurut pengetahuanmu. Apakah selama kau menyamun kau pernah melihat, mendengar, atau bahkan menjumpai peronda-peronda dari Mataram yang sampai ke lorong itu.”

Penyamun itu merenung sejenak. Namun kemudian ia menggeleng, “Tidak. Tidak pernah ada.”

“Benar? Tidak pernah ada?”

“Ya, memang tidak pernah ada.”

Swandaru pun kemudian mendekatinya. Katanya seakan-akan bergumam kepada diri sendiri, “Lebih baik mereka disembelih, atau digantung di batang pohon dengan kepala di bawah supaya seekor harimau meraihnya dan melobangi wajahnya dengan kukunya.”

“Swandaru?” ayahnya memanggil.

Tetapi Swandaru melangkah terus. Bahkan gurunya berkata, “Baiklah Swandaru. Ikat saja mereka di pepohonan. Kami tidak memerlukan mereka lagi.”

“Jangan, jangan,” orang itu memohon seperti yang merengek melihat ayahnya membawa sehelai cambuk.

Ki Demang menjadi bingung. Namun Agung Sedayu menggamitnya sambil berbisik, “Biarkan saja, Ki Demang. Swandaru tidak akan berbuat apa-apa.”

Semakin dekat juntai ujung cambuk Swandaru, semakin takutlah orang yang sudah menyerah itu. Sekali lagi ia memohon, “Jangan diikat aku pada sebatang pohon.”

“Kenapa tidak? Tentu kami tidak akan dapat membawa kalian ke Menoreh, karena kami akan mengunjungi Ki Gede Menoreh sebagai tamu yang terhormat.”

“Kami tidak perlu dibawa ke Menoreh?”

“Dan kami tidak dapat melepaskan kau di hutan. Kau akan sangat berbahaya.”

“Jangan dilepaskan kami, asal kami jangan dibunuh dan jangan diikat pada sebatang pohon, karena hutan ini memang banyak dihuni harimau loreng.”

“Lalu kami harus menunggui kalian di sini?”

Penyamun itu tertunduk.

“Jika kalian membuat kami bingung, maka jalan satu-satunya memang membunuh kalian.”

“Tidak, tidak,” tiba-tiba yang lain berteriak, “ada prajurit yang sering meronda di jalan itu. Ada pusat-pusat perondaan di tengah-tengah hutan. Pengawal-pengawal dari Mataram yang kuat berada di gardu-gardu. Bahkan bersama beberapa orang pemimpinnya.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya, sementara Swandaru menarik nafas dalam-dalam.

Namun dengan demikian mereka mengerti, bahwa Mataram tidak tinggal diam menghadapi persoalan ini. Mereka agaknya menyadari bahwa orang-orang yang telah mengganggu ketenteraman daerah yang sedang tumbuh ini adalah orang-orang yang kuat, sehingga mereka terpaksa menempatkan beberapa buah gardu di tengah-tengah hutan.

Ki Demang yang kemudian menangkap maksud anaknya itu pun mengumpat di dalam hati. Bahkan sambil tersenyum ia berbisik kepada Agung Sedayu, “Aku memang terlalu bodoh.”

Agung Sedayu pun tersenyum. Katanya, “Bukan, tetapi Ki Demang kurang terbiasa bersikap seperti kami. Apalagi Swandaru, ia segera dapat menyesuaikan diri dengan sikap guru.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam, sementara ia mendengar Kiai Gringsing berkata, “Kita kembali lewat jalan yang biasa dilalui orang. Kita bawa semua orang yang tertawan.” Lalu kepada orang-orang yang semula menjadi ketakutan Kiai Gringsing itu pun bertanya, “Lalu bagaimana dengan kalian?”

“Kami memang akan pergi ke Mataram.”

“Ikutlah kami.”

Mereka pun segera berkemas. Tawanan-tawanan yang tidak dapat berjalan tegak lagi mereka taruh di atas punggung kuda. Sementara Agung Sedayu dan Swandaru berjalan mengiringinya bersama dengan orang-orang yang semula menjadi putus asa. Di antara mereka yang terluka pun mendapat kesempatan pula mempergunakan kuda Kiai Gringsing dan Sumangkar.

Iring-iringan itu pun kemudian mengambil jalan yang sudah mereka lalui. Mereka berputar lagi menuju lorong yang biasa dilalui orang, karena jalan yang sedang terbentang di bawah kaki mereka itu adalah jalan jebakan.

Sebelum mereka sampai ke tanah pategalan, ternyata mereka masih menemukan seorang kawan dari orang-orang yang berjalan lebih dahulu dan hampir saja dibinasakan oleh para perampok itu. Tetapi demikian hatinya dicengkam oleh ketakutan, maka untuk beberapa lama ia tidak mau keluar dari gerumbul tempatnya bersembunyi. Namun demikian desah nafasnya serta kadang keluhan-keluhan yang tertahan telah menunjukkan di mana ia berada.

Tetapi akhirnya, atas bujukan kawan-kawannya ia mau keluar juga dari persembunyiannya yang tidak tersembunyi itu. Perlahan-lahan kepercayaannya atas tanggapan inderanya mulai timbul kembali.

Demikianlah, akhirnya iring-iringan itu pun sampai ke warung yang kini sudah kosong. Gardu yang kosong dan mulut lorong yang sepi. Meskipun demikian di warung itu masih terdapat beberapa jenis makanan yang dijajakan. Namun Kiai Gringsing tetap mencurigai jenis makanan itu, meskipun ia pun berpendapat bahwa tidak semua makanan berisi jebakan racun yang lemah, karena ternyata tidak semua orang telah diberinya racun itu. Hanya mereka yang menurut dugaannya orang-orang yang berbahaya sajalah yang telah dicobanya untuk diracun, seperti Kiai Gringsing, Sumangkar, Ki Demang, beserta kedua anak-anak muda itu.

Sejenak kemudian maka mereka pun telah melintasi hutan Tambak Baya yang lebat. Tetapi karena jalur jalan yang mereka lalui adalah jalan yang sering disentuh kaki manusia, maka jalan itu agaknya memang tidak begitu sulit.

Di dalam perjalanan itu Kiai Gringsing masih juga sempat bertanya kepada para penyamun yang ditawannya. Katanya, “Apakah jalan ini masih sering dilalui orang, maksudku, orang yang dengan sengaja kalian lepaskan?”

Para penyamun itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Hanya kadang-kadang. Jika kebetulan para prajurit Mataram meronda sampai ke ujung lorong, kami tidak dapat berbuat apa-apa. Orang-orang yang akan lewat jalan ini pun lewatlah bersama para prajurit itu.”

“Apakah pemimpinmu itu tidak dapat membinasakan hanya sekelompok prajurit?”

“Tentu. Tetapi dengan demikian kami akan mengundang kesiagaan yang lebih tinggi lagi dari para prajurit Mataram, sehingga barangkali justru di mulut lorong itu berinya gardu penjaga.”

“Di mana gardu penjaga yang pertama?”

“Tidak begitu jauh lagi.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia percaya pada keterangan itu. Gardu itu tentu tidak begitu jauh. Jika tidak demikian, maka para penyamun itu tidak perlu menyesatkan calon-calon korbannya ke jalur jalan jebakan itu.

Namun dalam pada itu tiba-tiba saja Kiai Gringsing bertanya, “Siapakah pemimpinmu itu?”

Penyamun itu mengerutkan keningnya.

“Siapa?”

“Kami tidak mengenalnya lebih jauh selain yang kami lihat sehari-hari.”

“Siapa? Siapa namanya?”

Penyamun itu menjadi ragu-ragu. Namun katanya kemudian, “Kami memanggilnya Kiai Wedung. Hanya itulah yang kami ketahui tentang dirinya.”

“Kenapa kau ikut orang yang kau sebut Kiai Wedung itu?”

“Kami tidak mempunyai pilihan lain.”

“Aku tidak tahu maksudmu. Kenapa kau tidak mempunyai pilihan lain? Apakah yang kau kerjakan sebelum kau menjadi penyamun?”

Orang itu masih ragu-ragu.

“Apakah kau memang ditugaskan untuk menyamun sebagai tabir saja dari usaha Kiai Wedung membatasi orang-orang yang masuk ke Mataram?”

“Tidak. Kami memang penyamun sejak lama. Tetapi kami dikalahkan oleh Kiai Wedung dan orang-orangnya. Akhirnya mereka memaksakan suatu kerja sama. Kami diperkenankan merampas semua milik orang-orang yang lewat, dan membunuhnya. Hanya sebagian kecil saja yang harus kami serahkan kepadanya, sementara semua tanggung jawab diambil alih oleh Kiai Wedung.”

Kiai Gringsing memandang Sumangkar sejenak. Tetapi Sumangkar tidak memberikan tanggapan apa pun. Sehingga Kiai Gringsing pun bertanya pula, “Apakah kau pernah mendengar tentang seorang panembahan di daerah hutan ini?”

“Panembahan? Maksudmu panembahan siapa?”

“Bukan siapa pun. Tetapi apakah kau pernah mendengar seorang panembahan di sebuah padepokan di sekitar Alas Tambak Baya ini atau di sekitar Alas Mentaok?”

Orang itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku mengenal seorang demang yang mempunyai pengaruh yang besar di kalangan demang-demang yang lain. Agaknya ia menaruh perhatian juga terhadap Alas Mentaok.”

“Siapa?”

“Demang di tlatah Mangir.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam, sedang Sumangkar memandanginya dengan sorot mata yang aneh.

Tetapi menurut dugaan Kiai Gringsing, demang tlatah Mangir itu tentu tidak ada hubungannya sama sekali dengan panembahan yang tidak bernama itu.

Namun demikian, bahwa seorang demang dari tlatah Mangir telah tertarik pada perkembangan Alas Mentaok itu pun bukan suatu hal yang mustahil. Bahkan mungkin bukan hanya demang di tlatah Mangir itu saja, selain panembahan yang mengaku tidak bernama itu. Tetapi mungkin masih ada juga beberapa orang yang berkepentingan dengan Alas Mentaok. Bahkan mungkin juga Kepala Tanah Perdikan Menoreh.

Dan tiba-tiba saja Kiai Gringsing bertanya pula ke penyamun itu, “Kenapa kau sebut demang di tlatah Mangir itu, he? Apakah kebetulan saja kau mengetahuinya bahwa demang itu dengan penuh minat mengikuti perkembangan Mataram atau kau mendengar bahwa ia pernah berkata, bahwa ia tertarik sekali kepada Mataram atau dengan cara yang lain lagi?”

Orang itu menjadi termangu-mangu.

“Bagaimana kau dapat mengatakan hal itu?”

“Aku tidak mendengar sendiri atau melihat sikap itu.”

“Lalu kenapa kau dapat mengatakannya?”

“Menurut Kiai Wedung. Kiai Wedung-lah yang mengetahui hal itu.”

Kiai Gringsing memandanginya dengan tajamnya, mudian ia menggeram, “Itukah ajaran pemimpinmu yang licik itu? Dengan demikian mulutmu akan menjadi racun yang paling berbisa, yang dapat menumbuhkah pertentangan tanpa sebab. Pemimpinmu yang gila itu tentu mengajarimu untuk menumbuhkan pertentangan antara tlatah Mangir dengan Mataram. Jika kau menyebutnya hal itu di hadapan orang-orang Mataram, yang ternyata mereka bukan orang-orang yang bodoh, maka mulutmu pasti akan disumbat. Mungkin dengan sabut kelapa, tetapi mungkin juga dengan tangkai pedang.”

Orang itu tidak menyahut lagi. Tetapi dadanya menjadi berdebar-debar. Memang menurut gambarannya orang-orang Mataram yang sedang berjuang membuka tanah dan berjuang melawan alam yang keras, apalagi gangguan-gangguan yang tidak ada habis-habisnya itu, bukannya orang-orang yang lembut dan ramah-tamah. Mereka pasti orang-orang yang berwajah keras dan berhati keras.

Demikianlah maka iring-iringan itu pun semakin lama semakin dalam menusuk ke dalam Alas Tambak Baya. Meskipun hutan ini sudah menjadi kian sempit, tetapi jantungnya masih merupakan hutan yang lebat sekali.

Jalur jalan yang mereka lalui itu meskipun merupakan jalur yang sering dilewati, namun kadang-kadang mereka masih menjumpai gerumbul yang liar dan sulur-sulur berduri.

Sejenak kemudian, maka jalan yane mereka lewati itu pun menjadi semakin baik. Bagi mereka yang lewat, hal ini merupakan pertanda bahwa daerah ini adalah daerah yang lebih sering dijamah kaki. Dan mereka pun menduga bahwa mereka telah berada dekat dengan gardu penjaga.

“Apakah kita sudah dekat?” bertanya Kiai Gringsing kepada penyamun itu.

Penyamun itu menjadi termangu-mangu. Namun ia pun kemudian menganggukkan kepalanya sambil menyahut, “Ya. Kita sudah dekat dengan gardu penjaga.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berbicara lagi. Kini angan-angannya justru sedang membayangkan, siapakah prajurit-prajurit yang ada di gardu itu. Apakah mereka akan mempercayainya atau tidak, karena para penyamun itu pun akan dapat berkata lain.

“Tetapi ke delapan orang ini pun akan dapat mengiakan keteranganku,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Demikianlah maka sejenak kemudian, mereka pun sudah dapat melihat sebuah barak kecil di tengah-tengah hutan itu. Namun agaknya para prajurit yang bertugas di dalam barak itu cukup berhati-hati, karena ternyata pepohonan di sekitar barak itu sudah dibersihkan.

“Itulah,” desis Agung Sedayu.

Swandaru mengerutkan keningnya. Namun kesan yang didapatnya adalah bahwa di daerah sekitar tempat ini memang dianggap daerah yang gawat, ternyata bahwa yang disebut gardu penjaga itu adalah sebuah barak yang tentu berisi lebih dari sepuluh orang.

Ternyata prajurit yang sedang bertugas mengawasi barak itu pun segera melihat kehadiran iring-iringan itu, dan segera ia memberikan isyarat kepada kawan-kawannya.

Dalam waktu yang singkat, maka di sekitar barak itu telah siap menyambut kedatangan mereka lebih dari sepuluh orang prajurit. Mereka telah bersiaga dengan senjata telanjang, karena iring-iringan itu adalah iring-iringan yang mencurigakan.

“Siapakah kalian?” bertanya prajurit yang sedang bertugas. “Berhenti di situ.”

Kiai Gringsing pun kemudian memberikan isyarat agar iring-iringan itu berhenti.

“Kemarilah satu atau dua orang yang dapat memberikan keterangan tentang kalian,” perintah pengawal itu pula.

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Siapakah yang akan pergi bersamaku? Ki Demang atau Adi Sumangkar.”

“Silahkan, Ki Demang,” berkata Sumangkar.

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ki Sumangkar sajalah. Aku tinggal di sini.”

Ki Sumangkar-lah yang kemudian pergi bersama Kiai Gringsing ke barak itu menemui para pengawal yang sedang bertugas di tengah-tengah hutan.

“Siapakah kau?” bertanya prajurit yang bertugas.

“Kami datang dari Sangkal Putung, Ki Sanak,” jawab Kiai Gringsing.

Prajurit itu memandang Kiai Gringsing sejenak, lalu dipandanginya pula Ki Sumangkar. Bahkan kemudian ditebarkannya tatapan matanya kepada orang-orang yang berdiri agak jauh dari mereka.

“Apakah kalian semuanya datang dari Sangkal Putung?”

“Tidak, tidak semua.”

Prajurit-prajurit yang ada di sekitar barak itu pun tertarik kepada beberapa orang yang ternyata telah terluka, sehingga salah seorang dari mereka melangkah mendekat sampai beberapa depa.

“Kenapa kawan-kawanmu terluka,” bertanya pengawal yang sedang berbicara dengan Kiai Gringsing itu.

“Kami membawa ceritera yang panjang,” berkata Kiai Gringsing, lalu, “sedang iring-iringan ini terdiri dari tiga rombongan.”

“Tiga rombongan?”

“Ya. Yang pertama adalah rombongan kami dari Sangkal Putung. Yang kedua adalah rombongan yang datang, lebih dahulu dari kami, dan yang ketiga adalah penyamun-penyamun.”

“Penyamun?” para pengawal yang mendengar keterangan itu menjadi heran.

Kiai Gringsing pun kemudian menceriterakan apa yang diketahuinya tentang penyamun-penyamun itu kepada para pengawal, dan maksudnya untuk menyerahkan mereka kepada para pengawal.

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia melangkah mendekat sambil bertanya, “Apakah kau berkata sebenarnya?”

“Ya, silahkan bertanya kepada orang-orang yang datang sebelum kami dan yang hampir saja binasa oleh para penyamun itu.”

“Kenapa kalian tidak dibinasakan sama sekali, maksudku siapakah sebenarnya kalian sehingga kalian dapat membebaskan diri dari para penyamun itu dan bahkan menawannya?”

Kiai Gringsing tidak segera menyahut. Dipandanginya Ki Sumangkar dan kemudian ia pun berpaling pula kepada Ki Demang di Sangkal Putung.

“Kami memerlukan keterangan yang selengkap-lengkapnya,” berkata pengawal itu. “Kami tidak mengenalmu dan tidak mengenal orang-orang yang kau sebut penyamun itu. Juga kami tidak mengenal orang-orang yang datang lebih dahulu daripadamu dan hampir saja dibinasakan oleh penyamun-penyamun itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti kecurigaan para pengawal itu.

“Kau dapat memutar-balikkan ceritera yang sebenarnya,” berkata prajurit itu kemudian. “Yang hitam kau katakan putih dan yang putih kau katakan hitam karena kebetulan kau dapat menguasai mereka dengan kekerasan.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia berpikir, lalu katanya, “Salah seorang saksi yang dapat dibuktikan adalah Ki Demang di Sangkal Putung. Jika diperlukan maka dapat dibuktikan bahwa ia benar-benar Demang di Sangkal Putung. Ia dapat memberikan kesaksian apa yang telah terjadi.”

“Apakah bedanya Demang Sangkal Putung dan orang-orang yang lain? Jika kau mengancamnya bahwa ia harus berkata seperti yang kau kehendaki, maka ia akan berkata seperti itu.”

Meskipun Swandaru berdiri agak jauh, tetapi ia dapat mendengar kata-kata itu sehingga tiba-tiba saja ia menyahut. “Aku adalah anak Ki Demang Sangkal Putung. Aku pun sanggup memberikan kesaksian tanpa dipaksa dan bahkan dengan mengucapkan sumpah.”

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Apakah aku dapat mempercayaimu bahwa kau adalah anak Ki Demang Sangkal Putung.”

“Kalian dapat datang ke Sangkal Putung dan bertanya kepada setiap orang. Terlebih-lebih kepada isteri Ki Demang Sangkal Putung itu.”

“Kau sangat yakin bahwa kami tidak akan melakukan pembuktian itu, sehingga kau dapat mengucapkannya dengan sangat lancar.”

Swandaru mendengarkan jawaban itu dengan dada yang berdebaran, sehingga hampir di luar sadarnya ia berkata, “Jadi bagaimana kami harus membuktikan bahwa kami benar-benar telah melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Kiai Gringsing itu?”

“Kiai Gringsing?” ulang pengawal itu. “Yang mana yang kau sebut dengan Kiai Gringsing itu?”

Swandaru tiba-tiba menjadi ragu-ragu. Gurunya sendiri belum mengucapkan namanya, dan kini ia telah menyebutkannya. Namun karena hal itu sudah terlanjur maka ia tidak akan dapat menariknya kembali.

“Itulah,” katanya, “yang berbicara dengan Ki Sanak.”

Pengawal itu memandang Kiai Gringsing dengan saksama. Namun sekali lagi ia berkata, “Aku belum pernah mengenalnya.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Bahkan ia sudah menjadi agak jengkel karenanya, sehingga dengan suara datar ia bergumam, “Lalu apa yang harus kami kerjakan? Apa?”

Dalam pada itu, selagi Swandaru dan rombongannya menjadi bingung untuk membuktikan kebenaran keterangannya, maka tiba-tiba penyamun yang duduk di punggung kuda karena lukanya itu pun berkata dengan suara parau dan terputus-putus, “Tuan, bukankah Tuan pengawal Tanah Mataram? Tolonglah kami. Kami adalah petani-petani dari Cupu Watu. Kami tidak tahu apakah maksud orang-orang ini membawa kami dan menyiksanya di sepanjang jalan ini.”

Kata-kata itu telah mengejutkan semua orang yang mendengarnya. Para prajurit, Kiai Gringsing dan kawan-kawannya, orang-orang yang telah diselamatkannya dan bahkan penyamun-penyamun yang lain pun terkejut pula. Namun mereka pun segera mengerti maksud keterangan itu, sehingga seorang penyamun yang lain pun segera menyambung, “Ya, Tuan. Kami mohon perlindungan. Kami sama sekali tidak mengerti apa kesalahan kami. Apakah karena kami tidak mau pergi dari Cupu Watu seperti yang mereka kehendaki, atau ada sebab-sebab lain.”

Prajurit yang sedang bertugas itu menjadi tegang. Dan tiba-tiba saja ia berkata lantang, “Nah, kau dengar kata-kata itu? Jika aku tergesa-gesa mempercayai keteranganmu, maka aku pasti akan terjerumus ke dalam kesulitan. Nah, ternyata dengan kekuatan kau ingin menentukan sesuatu yang pasti akan mengganggu ketenangan tanah yang baru dibuka ini. Kau tentu telah mengancam orang-orang itu untuk mengatakan seperti yang kau kehendaki, termasuk Ki Demang Sangkal Putung.”

“Tidak, Ki Sanak,” sahut Ki Demang Sangkal Putung sambil melangkah maju. “Aku bebas menentukan sikap dan kata-kataku. Aku masih bersenjata dan senjataku bernoda darah. Jika seseorang dan siapa pun juga ingin memaksakan kehendaknya dengan menakut-nakuti aku, maka aku akan menentangnya sampai ujung umurku.” Ki Demang berhenti sejenak, lalu, “Aku menjadi saksi apa yang telah terjadi. Dan aku telah membunuh seorang dari para penyamun yang menyerang aku.”

Para prajurit itu mengerutkan keningnya. Namun sebelum salah seorang dari mereka memberikan tanggapannya, Swandaru tiba-tiba saja tertawa. Katanya di sela-sela derai tertawanya, “Ki Sanak memang aneh.”

“Kenapa kau tertawa,” para pengawal Tanah Mataram itu menjadi heran.

“Mungkin kalian adalah pengawal baru yang terbentuk di Mataram. Jika kalian pengawal-pengawal yang dibentuk dari bekas prajurit-prajurit Pajang, mungkin kalian akan berpikir lain.”

“Gila kau,” bentak seorang pengawal, “aku bekas prajurit Pajang. Aku datang kemari karena sebuah cita-cita. Aku bukan orang yang pantas kau tertawakan.”

“Hampir kami semuanya pernah menjadi prajurit di Pajang,” berkata yang lain. “Jangan menghina kami.”

Dan pengawal yang berdiri dengan tegangnya di tengah-tengah mereka itu pun membentak keras-keras, “Kenapa kau tertawa, he?”

Swandaru berusaha menghentikan suara tertawanya. Ia melihat sekilas Kiai Gringsing pun ikut menjadi tegang. Namun ia berkata, “Jika demikian aku keliru. Tetapi tentu bukan semuanya bekas prajurit. Aku bahkan menyangka hanya ada seorang dua saja. Tetapi sekali lagi, aku keliru.”

“Apakah sebenarnya maksudmu?” bentak prajurit yang sedang memeriksa Kiai Gringsing.

Swandaru melangkah maju. Tetapi seorang pengawal membentaknya, “Kau tetap di situ.”

“Baik, baik. Aku akan tetap di sini.” Swandaru berdiri di tempatnya sambil berpaling. Dipandanginya orang-orang yang ada di dalam rombongannya termasuk para penyamun. Katanya kemudian, “Jika kami membawa orang-orang ini dengan paksa tanpa salah, apakah kira-kira kami akan datang kemari dan menyerahkan orang-orang ini kepada para pengawal di sini? Kami menganggap bahwa orang-orang ini semula tidak akan pernah mempunyai niat untuk memutar balikkan keadaan. Tetapi kecurigaan Ki Sanak yang berterus-terang itu memang menimbulkan suatu ilham kepada mereka, untuk memutar-balikkan keadaan seperti yang dikatakannya.”

Para prajurit itu mengerutkan keningnya.

“Nah, apakah keuntungan kami dengan membawa orang-orang Cupu Watu ini kemari dalam keadaan luka dan payah, dan kemudian menyerahkannya kepada kalian? Jika kami ingin membinasakan mereka, kami pasti sudah melakukannya.”

Keterangan Swandaru itu memang masuk akal. Satu dua orang dari mereka mulai mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi prajurit yang sudah terlanjur membentak-bentak itu masih juga berkata, “Itu pun omong kosong. Kalian tentu dapat mengambil keuntungan dengan melakukan hal yang gila itu. Kalian dapat melepaskan tanggung jawab kalian. Dan kalian mengharap bahwa kami akan dengan begitu saja memberikan hukuman kepada orang-orang yang kau sebut penyamun itu tanpa memeriksanya dengan teliti.”

Tetapi Swandaru masih tersenyum. Katanya, “Semula aku memang bingung, bagaimana mengatakan yang sebenarnya kepada kalian. Kalian tidak percaya kepada Kiai Gringsing, tidak pula percaya kepada ayahku, Ki Demang di SangKal Putung. Namun tentu aku mempunyai suatu bukti yang dapat kalian lihat. Tidak begitu jauh dari tempat ini. Kami baru saja bertempur. Di sana masih ada beberapa sosok mayat yang tergolek yang sebenarnya akan kami serahkan pula kepada kalian di sini untuk mendapat perawatan yang sewajarnya.”

“Mayat siapa?” bertanya prajurit itu.

“Para penyamun dan seorang lagi adalah seorang dari antara orang yang akan melintasi Alas Tambak Baya ini. Jika benar kami membawa orang-orang ini dari Cupu Watu, maka bekas pertempuran itu pasti tidak ada. Jika kalian melihat tempat itu, maka kalian akan dapat mengambil kesimpulan. Bukan saja perkelahian itu sendiri tetapi lebih dalam daripada itu adalah latar belakang dari pertempuran yang terjadi itu, dan kenapa para penyamun berusaha untuk menutup jalan menuju ke Mataram. Bukan saja jalan perdagangan, tetapi juga arus orang yang ingin menetap di tlatah yang kini sedang tumbuh itu.”

Para prajurit itu mendengarkan keterangan Swandaru dengan dahi yang berkerut-merut. Mereka mulai mempercayai keterangan orang-orang yang mereka curigai itu. Bahkan prajurit yang mula-mula menyangkal keterangan Kiai Gringsing itu pun mulai mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dalam pada itu, selagi persoalan yang timbul pada mereka itu masih belum terpecahkan sepenuhnya, mereka mendengar derap kaki-kaki kuda di dalam lebatnya Alas Mentaok. Gemanya seakan-akan bergulung-gulung datang dari segala arah. Namun bagi mereka yang memiliki pendengaran yang tajam segera mengerti, dari manakah kuda-kuda itu datang.

Sejenak kemudian sebuah iring-iringan prajurit memasuki halaman barak itu. Agaknya yang berkuda paling depan adalah pemimpin dari prajurit-prajurit itu.

“Nah, ia datang,” berkata prajurit yang langsung minta keterangan kepada Kiai Gringsing, “ialah yang akan menentukan apakah kita dapat mempercayai kalian.”

Kiai Gringsing pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia pun kemudian tersenyum ketika orang yang berkuda di paling depan itu terkejut melihatnya. Kemudian dengan bergegas-gegas ia meloncat turun dan berkata, “Kiai, kaukah itu Kiai Truna Podang, eh, Kiai Gringsing.”

“Ki Wanakerti,” desis Kiai Gringsing, “aku dan murid-muridku bersama Ki Sumangkar dan Ki Demang Sangkal Putung sedang mengalami pemeriksaan yang teliti. Aku senang melihat ketelitian para prajurit Mataram.”

Ki Wanakerti pun kemudian menyambut tangan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Dengan wajah yang cerah ia memandang kepada Agung Sedayu dan Swandaru, “Kalian benar-benar memenuhi undanganku.”

Agung Sedayu dan Swandaru pun menganggukkan kepala mereka. Sambil tersenyum Agung Sedayu yang selama itu hanya mendengarkan perdebatan adik seperguruannya itu berkata, “Kami datang ke barak ini tidak dengan kami sengaja.”

“Kenapa?” Ki Wanakerti mengerutkan keningnya.

Sambil menunjuk orang-orang yang ada di sekitarnya ia berkata, “Kami mengantarkan mereka ini.”

Ki Wanakerti memandangi mereka dan kemudian para prajurit. Dilihatnya wajah para prajurit yang ada di sekitarnya menjadi berkerut-merut.

“Apa yang sudah terjadi?” ia bertanya.

Para prajurit itu tidak segera menyahut, sehingga Kiai Gringsing-lah yang berkata, “Tidak terjadi apa-apa di sini. Aku baru saja datang.”

Ki Wanakerti memandang Kiai Gringsing sejenak, kemudian kembali kepada wajah para prajurit yang tunduk.

“Apakah telah terjadi salah paham?” Ki Wanakerti bertanya.

“Tidak. Tidak terjadi apa-apa. Aku baru akan mulai menceriterakan apa yang terjadi.”

Para prajurit itu terdiam bagaikan patung yang membeku, sedang penyamun yang telah berusaha memutar-balikkan keadaan itu menjadi semakin gemetar. Ia merasa bersalah dua kali lipat, sehingga karena itu, tubuhnya yang lemah menjadi semakin lemah.

“Marilah, aku persilahkan kalian masuk ke dalam gardu yang jelek ini,” berkata Wanakerti kemudian.

“Tetapi gardu ini jauh lebih baik dari gardumu di Alas Mentaok, di daerah yang berhantu itu.”

Ki Wanakerti tertawa. “Marilah,” sekali lagi mempersilahkan.

“Maaf Ki Wanakerti,” berkata Kiai Gringsing, “aku datang bersama beberapa orang dalam kedudukan yang berbeda-beda.”

“O, siapa?”

Kiai Gringsing memandang orang-orang yang ada di sebelah-menyebelah Agung Sedayu dan Ki Demang Sangkal Putung. Kemudian katanya, “Aku mempunyai ceritera yang menarik tentang mereka.”

“Tetapi marilah, kami persilahkan kalian duduk. Marilah aku persilahkan Ki Demang di Sangkal Putung.”

Mereka pun saling berpandangan. Dan Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Marilah. Marilah, Ki Demang,” namun kemudian ia berkata kepada Ki Wanakerti, “Ki Wanakerti, kami akan memenuhinya, tetapi bagaimana dengan tawanan kami ini?”

“Tawanan?”

“Mereka adalah para penyamun yang telah mencoba menghentikan perjalanan kami.”

Para penyamun itu menjadi semakin gemetar. Kini mereka tidak berani lagi membuat ceritera palsu itu, karena agaknya Ki Wanakerti sudah mengenal orang bercambuk itu dengan baik.

“Jadi kalian menawan penyamun sekian banyaknya?” bertanya Wanakerti kemudian.

“Bukan semuanya. Yang lain adalah korban-korban mereka yang belum sempat mereka binasakan.”

Ki Wanakerti memandang penyamun-penyamun itu dengan tajamnya. Lalu katanya kepada prajurit-prajuritnya, “Awasi mereka. Bawa mereka ke serambi dan biarlah yang lain beristirahat.”

Para prajurit itu mengangguk. Katanya, “Baiklah. Kami akan mengurusnya.”

Demikianlah maka Kiai Gringsing dan rombongannya kemudian dipersilahkan masuk ke dalam gubug itu. Setelah saling bertanya tentang keadaan masing-masing sejenak, maka Kiai Gringsing pun kemudian menceriterakan tentang orang orang yang telah ditawannya itu.

Ki Wanakerti mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Baiklah, aku memang mendapat tanggung jawab di daerah ini. Kami akan mengurusnya sebaik-baiknya.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Demikian pula di luar sadarnya yang lain pun mengangguk-angguk pula.

“Ada beberapa orang terpaksa terbunuh di dalam perkelahian. Tetapi sayang, bahwa kami tidak dapat menangkap puncak dari kekuatan mereka,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

“Siapakah orang itu?” bertanya Wanakerti.

“Akulah yang ingin bertanya, apakah di daerah ini ada seseorang yang menyebut dirinya seorang panembahan.”

“Panembahan siapa?”

“Ia menyebut dirinya panembahan tidak bernama.”

Ki Wanakerti mengerutkan keningnya. Namun sejenak kemudian ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, “Aku belum pernah mendengar.”

“Tentu namanya yang sebenarnya tidak disebutkannya,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

“Tetapi, apakah orang itu dapat lolos dari tangan Kiai dan kawan-kawan Kiai ini?”

“Ya.”

Ki Wanakerti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tentu bukan orang kebanyakan jika ia dapat melepaskan diri dari tangan Kiai.”

Kiai Gringsing mengangguk. Katanya, “Orang itu memang perlu mendapat perhatian. Aku sudah mencoba mendengarkan keterangan tawanan-tawanan itu. Tetapi tidak seorang pun yang dapat mengatakan sesuatu tentang panembahan tidak bernama itu.”

“Baiklah. Kami akan mencoba mendapat keterangan dari mereka, meskipun sudah tentu keterangan itu tidak akan memuaskan.”

“Tetapi hal itu dapat kau pergunakan sebagai bahan yang cukup penting di daerah tugasmu sekarang ini.”

“Ya. Jika orang itu dapat lolos dari tangan Kiai, maka kami di sini, para prajurit, perlu mempertimbangkan. Mungkin pada suatu saat ia akan datang dan melepaskan dendamnya terhadap para prajurit. Karena itu, kami harus bersiap menghadapinya, meskipun akan terlampau berat.”

“Ada suatu hal yang dapat kau jadikan dasar perhitungan menurut pengamatanku, Ki Wanakerti,” berkata Kiai Gringsing kemudian. “Meskipun ada satu dua orang yang menonjol di antara mereka, namun kekuatan mereka sama sekali tidak seimbang yang seorang dengan yang lain. Ada di antara mereka yang mampu meloloskan diri dari tangan kami, tetapi ada yang hampir tidak berarti. Justru kebanyakan dari mereka adalah orang-orang kasar yang tidak mempunyai dasar ilmu apa pun selain kekasarannya itu. Sedangkan para prajurit, meskipun di antaranya tidak ada yang mampu mengimbangi Ki Gede Pemanahan, namun hampir semuanya memiliki kemampuan dan ilmu yang sejajar, sehingga apabila terpaksa kalian harus berhadapan dengan mereka, maka kalian dapat membentuk kelompok-kelompok yang kuat.”

Ki Wanakerti mengangguk-angguk. Katanya, “Aku harus sudah menyusunnya. Dan kelompok-kelompok itu harus meyakinkan. Jika kita meronda di sekitar tempat ini dan di jalan menuju ke luar, kami harus melepaskan kelompok-kelompok itu.”

“Ya,” sahut Kiai Gringsing, lalu ia pun bertanya, “sampai ke mana saja para pengawal tanah Mataram ini meronda?”

“Kami tidak keluar terlalu jauh dari Alas Tambak Baya. Sebenarnya kami tidak ingin memasuki hutan ini karena hutan ini dapat menimbulkan persoalan. Hutan ini bukan bagian tersendiri dari Alas Mentaok. Tetapi hutan ini adalah hutan yang terpisah dan berdiri sendiri. Orang-orang Pajang akan dapat mempersoalkannya jika mereka menyadari akan hal ini. Tetapi kami terpaksa memasuki hutan ini karena para penyamun dan orang-orang yang tidak senang melihat Mataram berkembang berusaha untuk menghentikan arus manusia yang dapat membuat Mataram menjadi semakin ramai. Bahkan jalur-jalur perdagangan hampir berhenti sama sekali. Karena itu, kami mengirimkan beberapa orang untuk mengawasi hutan ini, dan saat ini kebetulan akulah yang sedang bertugas di sini.” Ki Wanakerti berhenti sejenak, lalu, “Tetapi tugas kami belum memenuhi keinginan kami. Ternyata arus manusia dan arus perdagangan masih belum dapat pulih kembali. Setiap kali masih saja ada orang yang hilang dan pedagang yang mengalami perampokan.”

“Dan sekarang Ki Wanakerti mengetahui, bahwa orang-orang yang berada di mulut lorong ini sebenarnya adalah mereka itu. Orang-orang yang berjualan dan beberapa orang yang tampaknya sebagai petani-petani yang sedang beristirahat itu.”

“Itulah kebodohan kami. Kami sama sekali tidak memperhitungkan mereka. Apalagi penjual makanan itu.”

“Ialah pemimpin dari setiap perampokan itu. Dan orang itu pulalah yang menyebut dirinya panembahan tidak bernama itu.”

Ki Wanakerti mengangguk-anggukkan kepalanya ketika Kiai Gringsing menceriterakan para penyamun itu lebih jauh lagi.

“Syukurlah. Aku baru saja datang dari meronda di daerah Barat sambil mengantarkan tiga orang pedagang sampai ke daerah peronda gardu berikutnya di pintu Alas Tambak Baya. Jika saat itu akulah yang berjumpa dengan panembahan tidak bernama itu, maka aku dan sekelompok pasukanku akan binasa. Tetapi kini aku akan membentuk kelompok-kelompok yang Kiai maksudkan itu.”

“Ya, hati-hatilah. Mungkin kekalahannya kali ini akan merangsang orang itu untuk melakukan perbuatan yang lebih jauh lagi.”

“Tetapi kami dapat tidur nyenyak selama Kiai ada di sini.”

“Aku tidak akan berhenti di sini. Aku sedang mengantar Ki Demang Sangkal Putung ke Menoreh.”

Ki Wanakerti mengerutkan keningnya. Dipandanginya Kiai Gringsing dan kawan-kawannya dengan heran.

“Jadi Kiai tidak sedang pergi ke Mataram?” bertanya Ki Wanakerti.

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak. Kali ini kami akan pergi ke Menoreh.”

“Kenapa Kiai tidak singgah sebentar dan menemui Raden Sutawijaya. Ia tentu senang sekali menerima kunjungan Kiai di saat seperti ini. Sebenarnyalah bahwa Kiai dan kedua murid Kiai itu sudah ditunggu.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Pada suatu saat kami akan singgah. Mungkin setelah kami kembali dengan selamat dari Menoreh. Apabila kami dapat menyelesaikan tugas kami dengan baik, maka kami akan mendapat kesempatan barang sehari dua hari untuk singgah.”

Ki Wanakerti mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia bertanya pula, “Berapa hari Kiai berada di Menoreh?”

“Kami tidak dapat mengatakannya. Tetapi kami harus secepatnya kembali ke Sangkal Putung. Ki Demang tidak dapat meninggalkan tugasnya terlampau lama bersama-sama dengan anak laki-lakinya sekaligus.”

Wanakerti masih mengangguk-angguk.

“Nah, salamku kepada Raden Sutawijaya dan kepada Ki Lurah Branjangan.”

“Ki Lurah Branjangan?”

“Ya. Aku bertemu dengan Ki Lurah pada perhelatan perkawinan Untara.”

“O. Ia memang mendapat tugas untuk datang saat itu.”

“Dan ia pun mengalami sesuatu yang dapat dijadikan bahan pembicaraan dengan Raden Sutawijaya dan Ki Gede Pemanahan. Sedang kini, kau di sini menghadapi hal yang hampir serupa.”

Ki Wanakerti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku sudah mendengar ceritera Ki Lurah Branjangan.”

“Dan kini Ki Lurah Branjangan harus mendengar pula ceriteramu.”

“Ya,” sahut Ki Wanakerti, “semua pemimpin dari tanah Mataram harus mendengarnya. Tetapi ada satu yang sama dari ceriteraku dan ceritera Ki Lurah Branjangan.”

“Apa?”

“Bahwa baik peristiwa di Jati Anom dan Banyu Asri itu, mau pun peristiwa di Alas Tambak Baya, bahkan di Alas Mentaok ketika Kiai Damar dan Kiai Tapak Jalak masih merajalela, selalu muncul beberapa orang bercambuk dan seorang yang bersenjata Trisula yang aneh. Kini orang itu muncul pula di sini. Malahan bersama Ki Demang Sangkal Putung.”

“Ah,” desah Kiai Gringsing, “itu hanya suatu kebetulan. Tentu ada berpuluh-puluh peristiwa yang telah terjadi dan ditangani sendiri oleh Ki Gede Pemanahan dan Raden Sutawijaya.”

“Tentu. Tetapi justru peristiwa yang tidak kalah besar telah dengan kebetulan kalian selesaikan. Dan sudah barang tentu Ki Gede Pemanahan akan mengucapkan terima kasih kepada kalian.”

“Lain kali kami akan singgah. Tetapi kali ini kami terpaksa sekali meneruskan perjalanan, karena perjalanan kami kali ini adalah perjalanan yang sangat penting bagi kami dan terutama bagi Swandaru.”

Ki Wanakerti tidak dapat menahan lebih lama lagi. Kiai Gringsing dan kawan-kawannya tidak mau tinggal lebih lama lagi di gardu itu. Tetapi alasan mereka dapat dimengerti oleh Ki Wanakerti, sehingga Ki Wanakerti tidak menahan lebih lama lagi.

“Kami mengucapkan selamat jalan. Tetapi yang telah terjadi merupakan peringatan bagi kami. Ternyata bahwa di hutan ini ada kekuatan yang tidak dapat kami anggap ringan. Bahkan yang sebenarnya adalah jauh lebih besar dari kekuatan kami seorang demi seorang.”

“Ingat, Ki Wanakerti. Berapa orang yang mempunyai kekuatan yang tidak terduga itu. Kiai Damar, Kiai Telapak Jalak, orang-orang yang menyerang Jati Anom dan sekarang dua orang lagi. Meskipun dari yang dua itu seorang telah terbunuh, namun masih ada seorang lagi yang mungkin dapat mencari kawan baru yang memiliki kekuatan serupa. Tetapi mungkin juga orang yang menyebut dirinya panembahan tidak bernama itu justru termasuk orang terpenting dari lingkungan yang masih merupakan rahasia bagi Mataram.”

“Ya. Aku segera menyampaikannya kepada Ki Gede Pemanahan. Segera setelah kami menyadari, kami akan membentuk beberapa kelompok pengawal untuk menghadapi setiap kemungkinan.”

“Baiklah. Kami akan segera mohon diri. Terserahlah orang-orang yang datang bersama kami. Baik para penyamun mau pun orang-orang yang sebenarnya ingin pergi ke Mataram itu. Selebihnya kami serahkan juga mayat-mayat yang masih berserakan di hutan itu. Kami harap mayat-mayat itu dapat diselenggarakan seperlunya.”

“Baik, Kiai. Kami mengucapkan terima kasih, tentu Raden Sutawijaya menunggu kedatangan kalian di Mataram.”

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya. Tetapi ia pun segera minta diri bersama Ki Sumangkar, kedua murid-muridnya, dan Ki Demang Sangkal Putung. Mereka ingin segera sampai ke tempat tujuan, setelah perjalanan mereka terganggu beberapa lamanya. Dan mereka pun menyadadari bahwa mereka akan bermalam di perjalanan.

Tetapi bagi mereka, bermalam di mana pun juga bukan merupakan persoalan lagi, karena mereka sudah membiasakan diri bertualang, selain Ki Demang Sangkal Putung.

Demikianlah, maka Kiai Gringsing bersama rombongan kecilnya itu pun segera meninggalkan gardu yang ternyata dipimpin oleh Ki Wanakerti itu. Beberapa orang pengawal memandang mereka dengan hati yang berdebar-debar. Hampir saja timbul salah paham di antara mereka. Jika terjadi sesuatu, maka Ki Wanakerti tentu akan sangat marah kepada mereka

Tetapi ketika Ki Wanakerti sempat berceritera tentang Kiai Gringsing dan rombongan kecilnya, maka para pengawal itu hanya dapat mengusap dadanya. Nama Kiai Gringsing memang pernah mereka dengar. Tetapi mereka tidak berpikir jauh. Seandainya terjadi sesuatu, bukan Ki Wanakerti marah kepada mereka, tetapi Ki Wanakerti akan merenungi mayat-mayat mereka yang berserakan seperti mayat penyamun itu.

“Jadi mereka itulah yang disebut orang-orang bercambuk itu, Ki Wanakerti?” bertanya seorang pengawal.

“Ya. Bukankah kalian melihat senjata orang-orang itu adalah hanya sehelai cambuk.”

“Tetapi cambuk itu mampu membunuh. Mampu membelah lambung.”

“Itulah keahlian mereka. Cambuk itu berkarah besi baja yang tipis, hampir tidak terlihat. Jika mereka menghendaki, maka tarikan yang khusus dari permainan cambuknya akan menyobek daging. Tetapi jika mereka tidak menghendaki, maka dengan cara yang hanya dapat dipelajari dalam waktu yang lama, maka bekas lukanya pun seakan-akan tidak lebih parah dari lecutan cambuk gembala kambing.”

Para prajurit Mataram itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Itulah agaknya yang membuat luka-luka yang berbeda-beda pada para penyamun itu pada tubuh mereka. Ternyata bahwa Kiai Gringsing dan kedua muridnya benar-benar menguasai permainan cambuk mereka dengan baik.

Dalam pada itu, maka Ki Wanakerti pun segera memerintahkan pengawal-pengawal itu untuk menyelenggarakan mayat para penyamun yang terbunuh. Tetapi sehubungan dengan keterangan Kiai Gringsing bahwa masih ada seorang yang perlu mendapat perhatian, orang yang menyebut dirinya panembahan tidak bernama itu, maka Ki Wanakerti pun telah membagi anak buahnya menjadi dua kelompok. Yang separo tinggal di gardu dan yang lain pergi ke bekas arena perkelahian itu untuk mengubur mayat-mayat yang masih berhamburan.

Sementara itu, Kiai Gringsing bersama kedua muridnya, Ki Demang Sangkal Putung, dan Ki Sumangkar, telah menjadi semakin jauh terbenam ke dalam hutan yang lebat meskipun tidak begitu luas. Namun mereka masih harus melintasi hutan yang lebih besar lagi, yaitu Alas Mentaok yang sedang dibuka untuk menjadi suatu daerah yang ramai dan dinamai Mataram di bawah pimpinan Raden Sutawijaya.

Tetapi pembukaan hutan itu tidak dapat berlangsung secepat dikehendaki oleh orang-orang Mataram. Banyak rintangan yang harus dihadapi. Namun satu demi satu rintangan-rintangan itu dapat di atasinya.

Demikianlah ketika malam tiba, Kiai Gringsing dan rombongan kecilnya masih belum menyeberangi Kali Praga. Mereka sengaja bermalam di sebelah Timur sungai di sebuah padang perdu tidak begitu jauh lagi dari tepian.

Setelah mengikat kuda-kuda mereka, maka mereka pun mencari tempat yang baik dan tidak berbahaya, karena kadang-kadang ular banyak berkeliaran di padang perdu. Tetapi karena di dekat Kali Praga, tanahnya berpasir, maka agaknya ular tidak begitu senang tinggal di daerah itu.

“Bagaimana kita besok menyeberang?” bertanya Swandaru kepada Kiai Gringsing.

“Kita bergeser sedikit ke Selatan. Di jalur jalan perdagangan antara sebelah Barat dan sebelah Timur sungai itu pasti terdapat tempat penyeberangan.”

“Jalur jalan yang mana yang Guru maksud?” bertanya Swandaru pula.

“Sudah sejak beberapa waktu yang lalu, hubungan antara daerah di sebelah Barat dan di sebelah Timur berlangsung dengan ramainya. Meskipun pada waktu-waktu yang lampau, pusat perdagangan di sebelah Timur Kali Praga berpusat di ujung Selatan, di daerah Kademangan Mangir dan sekitarnya. Kemudian daerah Pliridan yang lewat jalur yang agak sulit menghubungkan daerah itu dengan daerah Prambanan lewat jalan Selatan, dan yang akhir-akhir ini mulai ramai pula jalan tembus di Hutan Tambak Baya dan Hutan Mentaok. Namun yang kemudian terhenti karena para penyamun itu.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Agung Sedayu pun bertanya, “Apakah hanya ada sebuah tempat penyeberangan?”

“Tentu tidak. Di musim kering, kita dapat menyeberang tanpa perahu meskipun agak berbahaya di daerah yang agak ke Utara. Tetapi lebih baik kita menyeberang di daerah penyeberangan itu dengan getek. Apalagi kini kita membawa beberapa ekor kuda.”

Kedua anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Bagi Sumangkar, jalan ke Menoreh itu sama sekali tidak menjadi persoalan. Ia sudah sering menyeberangi sungai-sungai yang besar di sebelah Timur, dan ia pun pernah juga menyeberangi Sungai Praga bersama Sekar Mirah seperti juga Agung Sedayu dan Swandaru. Namun pada saat itu mereka memang tidak membawa kuda.

Namun bagi Ki Demang, menyeberangi Kali Praga itu masih juga menjadi pikirannya. Tetapi untunglah bahwa bukan musimnya Kali Praga menjadi besar dan apalagi banjir.

Demikianlah, maka malam itu mereka bermalam di sebelah Kali Praga. Ternyata tempat itu merupakan tempat yang tenang dan tidak berbahaya sama sekali.

Meskipun demikian, mereka tidak kehilangan kewaspadaan. Berganti-ganti mereka berjaga-jaga. Meskipun tampaknya tempat itu tidak berbahaya, tetapi tidak seorang pun yang mengetahui apa yang tersembunyi di balik dedaunan dan pepohonan.

Di setengah malam pertama, Kiai Gringsing mendapat giliran bersama Swandaru, sedang di setengah malam kedua Ki Sumangkar berjaga-jaga bersama Agung Sedayu dan Ki Demang Sangkal Putung.

Demikianlah, ketika fajar menyingsing di Timur, mereka pun segera berkemas. Mereka membersihkan diri di Kali Praga dan kemudian menyusur ke Selatan.

Semakin dekat dengan laut Selatan, maka Kali Praga itu tampaknya menjadi semakin lebar dan dalam. Airnya tidak mengalir deras lagi. Tetapi rasa-rasanya sungai itu menjadi bertambah garang.

Karena masih terlampau pagi, maka belum banyak orang yang menyeberang di seberangan Kali Praga itu. Tetapi sudah ada satu dua getek yang menyusur tepian sebelah-menyebelah.

Kiai Gringsing dan kawan-kawannya pun kemudian memanggil sebuah getek untuk menyeberang. Mereka berlima dan kuda-kuda mereka.

Mula-mula pemilik getek itu dan seorang kawannya tampak ragu-ragu. Bahkan kawannya itu hampir saja tidak bersedia. Namun Kiai Gringsing dengan hati-hati mencoba memberikan kesan, bahwa mereka adalah orang-orang yang sedang dalam perjalanan yang jauh.

“Apakah tidak pernah ada orang berkuda menyeberang sungai ini?” bertanya Kiai Gringsing.

“Ada juga, Ki Sanak. Tetapi akhir-akhir ini kami melihat kesibukan yang meningkat di Mataram. Para pengawal menjadi terlampau sibuk. Beberapa orang kadang-kadang tampak mengawasi tempat ini. Bahkan kadang-kadang mereka duduk hampir sehari penuh di tepian.”

“Apakah salahnya?”

“Tidak apa-apa, Ki Sanak. Tetapi jika kami menyusur sungai ini lebih ke Selatan. Maka kami melihat kesibukan yang serupa. Tetapi bukan pengawal dari Mataram. Mereka adalah pengawal dari kademangan di tlatah Mangir.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Apakah terjadi sedikit ketegangan antara Mataram yang sedang tumbuh ini dengan Mangir?

Tetapi Kiai Gringsing tidak bertanya lebih lanjut. Ia pura-pura tidak memperhatikan persoalan pengawal dari Mataram dan pengawal-peengawal Kademangan Mangir.

“Ki Sanak,” berkata pemilik getek itu, “ternyata bukan saja di sebelah Timur sungai. Tetapi di sebelah Barat sungai ini pun tampak kegiatan para pengawal yang meningkat. Sebelumnya kami hampir tidak pernah melihat seorang pengawal pun dari Tanah Perdikan Menoreh yang sampai ke tepian Kali Praga. Tetapi kini sekali dua kali kami melihat pengawal-pengawal berkuda seakan-akan mengawasi daerah penyeberangan ini.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Betapa hatinya berdebaran, namun sama sekali tidak berkesan apa pun di wajahnya. Bahkan ia masih juga bertanya, “Jadi di sebelah Barat sungai ini, sudah termasuk daerah kekuasaan Tanah Menoreh.”

“Ya. Tanah Perdikan Menoreh terbentang dari ujung Selatan sampai ke Utara. Agak panjang, meskipun tidak terlampau melebar ke Barat. Namun Tanah Perdikan Menoreh, termasuk daerah yang luas. Tetapi di dalam daerah yang luas itu, beberapa bagian terdiri dari bukit-bukit yang tandus, meskipun bagian yang lain adalah dataran yang subur.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia sebenarnya sudah memahami daerah Tanah Perdikan Menoreh itu. Bukit-bukit yang keras membentang ke Utara. Namun di sebelah Timur dari bukit-bukit padas itu adalah tanah yang subur.

“Ki Sanak,” bertanya Kiai Gringsing kemudian, “apakah dengan demikian berarti kegiatan perdagangan lewat daerah penyeberangan ini menjadi susut?”

“Tidak,” pemilik getek itu menggeleng, “tetapi aku kenal hampir semua pedagang yang sering lewat daerah ini. Aku mengenal mereka seorang demi seorang dengan baik. Dan kami memang agak ragu-ragu melihat Ki Sanak se-rombongan kecil ini, karena Ki Sanak bukan pedagang-pedagang yang kami kenal itu. Apalagi ujud dan sikap kalian memang bukan sikap yang sering kami jumpai di dalam penyeberangan ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ternyata para pemilik getek di daerah penyeberangan ini mempunyai pandangan yang tajam terhadap orang-orang yang lewat.

“Mereka setiap hari melihat orang-orang yang kemudian mereka kenal itu menyeberang. Bahkan sikap dan kebiasaan mereka. Mungkin barang-barang yang mereka bawa,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

“Ki Sanak,” katanya kemudian, “sebaiknya Ki Sanak tidak ragu-ragu. Kami memang orang-orang yang jarang sekali lewat daerah ini. Tetapi bukan berarti bahwa kami tidak pernah sama sekali lewat. Mungkin kecurigaan Ki Sanak atas kami beralasan. Namun sebenarnyalah kami adalah orang-orang yang ingin berkunjung kepada sanak saudara kami yang kebetulan tinggal di Menoreh. Di Tanah Perdikan Menoreh.”

Pemilik getek itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak mereka merenung. Namun kemudian pemilik getek itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah. Marilah Ki Sanak naik.”

Kiai Gringsing dan kedua muridnya, Ki Sumangkar dan Ki Demang Sangkal Putung pun kemudian naik ke atas getek bersama dengan kuda-kuda mereka. Sejenak kemudian maka getek itu pun mulai bergerak dan melintas arus Kali Praga yang tidak begitu deras.

Di tengah-tengah sungai, Kiai Gringsing masih sempat juga bertanya, “Apakah Ki Sanak pernah mendapat kesulitan dari orang-orang yang menyeberang?”

Tukang getek itu tidak segera menyahut. Dipandanginya wajah kawan-kawannya sejenak. Tampaklah keragu-raguan membayang di tatapan mata mereka.

Namun pemilik getek itu akhirnya menjawab, “Pada umumnya tidak, Ki Sanak.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Kemudian katanya pula, “Aku dapat menangkap keteranganmu. Pada umumnya memang tidak. Tetapi dengan demikian kadang-kadang kau pernah juga mendapat kesulitan itu.”

Dengan ragu-ragu orang itu mengangguk.

“Apakah yang pernah terjadi?” bertanya Kiai Gringsing pula. “Jika Ki Sanak tidak berkeberatan, aku ingin mendengar ceritera dan pengalaman Ki Sanak selama menjadi tukang getek ini.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab.

“Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing, “aku memang orang yang jarang sekali menyeberang. Karena itu aku dan kawan-kawanku ingin berhati-hati, barangkali tiba-tiba saja kami dihadapkan pada suatu persoalan yang tidak kami duga-duga sebelumnya.”

Tukang satang itu menelan ludahnya. Namun kemudian katanya, “Tidak banyak kesulitan yang pernah aku alami di sini. Hanya memang pernah terjadi, seorang penumpang getek ini berbuat kasar terhadap penumpang yang lain. Bahkan merampas segala barang-barang yang mereka bawa.”

“O, mereka adalah penyamun.”

“Ya. Mereka telah menyamun semua barang-barang milik para penumpang. Bahkan salah seorang telah mereka lukainya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Dan Ki Sumangkar yang selama itu mendengarkan ceritera itu pun bertanya, “Ki Sanak saat itu menyeberangkan para penumpang itu dari sisi Timur ke Barat atau sebaliknya.”

“Aku membawa mereka dari sisi Barat ke Timur. Begitu getek kami merapat di tepian, orang itu pun segera meloncat dan lari menghilang di dalam semak-semak. Kami sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Apalagi orang itu bersenjata.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi Agung Sedayu masih bertanya, “Apakah penyamun itu hanya seorang? Dan berapa orangkah yang telah dirampas barangnya?”

“Ya. Penyamun itu hanya seorang. Waktu itu semua penumpang getek ini adalah enam orang.”

“Semuanya laki-laki?”

“Ya, Semuanya laki-laki. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Seorang yang lambat memberikan barang-barangnya telah dilukainya dengan senjatanya itu.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi menurut dugaannya orang itu adalah penyamun biasa. Bukan golongan orang-orang yang mendapat tugas untuk memagari Mataram. Meskipun demikian kemungkinan itu pun dapat juga terjadi, betapa pun kecilnya.

Sejenak kemudian mereka pun tidak lagi berbicara untuk beberapa saat. Swandaru duduk dibibir getek sambil memandangi air yang berwarna coklat keputih-putihan. Sekali-sekali tanpa disadarinya tangannya menyentuh air yang agak keruh itu.

Namun tiba-tiba saja terasa bulu-bulunya meremang ketika ia melihat sesuatu yang hanyut di dalam air yang keruh itu. Tidak terlalu cepat, karena arus air Kali Praga semakin dekat dengan muaranya menjadi semakin lamban, sekali-sekali tampak sesuatu itu mengambang di atas air, namun sekali-sekali hilang di bawah permukaan.

“Guru,” terdengar suaranya bergetar, “Lihat.”

Semua orang berpaling ke arahnya.

“Lihat,” ia mengulangi sambil menunjuk kepada benda yang terapung itu.

“Uh,” Ki Demang berdesah, sementara Agung Sedayu mengerutkan keningnya.

“Apakah hal itu sering terjadi?” bertanya Kiai Gringsing kepada tukang getek itu.

Tetapi wajah tukang getek itu pun menjadi tegang. Jawabnya, “Akhir-akhir ini kadang-kadang memang terdapat mayat yang hanyut di Kali Praga. Dua hari yang lalu, kami melihatnya pula.”

“Sebelum dua hari yang lalu, apakah hal yang serupa pernah terjadi?”

Tukang getek itu menggelengkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Hampir sebulan yang lalu. Tetapi aku tidak melihatnya sendiri.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi berbagai pertanyaan menyentuh dasar hatinya.

“Apakah mungkin pula penyamun seperti yang pernah terjadi di sini?” desis Agung Sedayu. Tetapi tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah di sebelah Utara terdapat pula tempat penyeberangan?”

“Ya, tetapi agak jauh.”

“Apakah mungkin mayat-mayat itu hanyut dari tempat itu?”

Pemilik getek itu tidak menyahut. Tetapi dilayangkannya tatapan matanya menyusur sungai yang panjang dan luas itu.

“Jika pada suatu ketika hal itu menjalar kemari,” tukang getek yang lain bergumam, “kami akan kehilangan mata pencaharian, karena tidak ada lagi orang yang mau menyeberang.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah mayat itu dibiarkannya saja hanyut?”

“Apakah yang dapat kita lakukan?”

“Apakah tidak ada yang mengambilnya dan menguburkannya baik-baik.”

Pemilik getek itu merenung sejenak, lalu, “Ada juga niat kami melakukannya. Tetapi kami tidak tahu sebab kematian orang itu. Bagaimana jika ada penyakit yang menular?”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan Swandaru pun ikut mengangguk-angguk pula. Ternyata para tukang getek di Kali Praga itu pun sudah mempunyai pertimbangan yang jauh.

Sambil memandangi mayat yang terapung-apung itu, Agung Sedayu berkata pula, “Memang ada juga bahayanya jika terjadi ada penyakit menular di padukuhan-padukuhan sebelah-menyebelah sungai ini. Tetapi apakah mungkin seseorang yang meninggal karena penyakit menular dilemparkan begitu saja ke dalam sungai?”

“Tentu kami tidak mengetahui dengan pasti. Tetapi kemungkinan itu memang ada. Orang-orang yang terkena penyakit menular kadang-kadang diasingkan sehingga tidak ada orang yang mengurusinya. Mungkin ia mati selagi ia berada di tepi sungai ini, atau sebab-sebab yang lain, sehingga ia ter-jerumus masuk ke dalamnya.”

Agung Sedayu masih mengangguk-angguk meskipun rasa-rasanya masih saja ia ingin mendengar penjelasan orang itu. Namun demikian ia tidak bertanya lagi.

Tetapi dalam pada itu Kiai Gringsinglah yang bertanya, “Ki Sanak. Memang mungkin penyakit menular itu menghantui kalian di sini. Tetapi apakah ada alasan lain daripada penyakit menular itu?”

Pemilik getek itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak. Tidak ada alasan apa pun.”

Kiai Gringsing memandanginya dengan tajamnya, lalu, “Ki Sanak. Aku minta maaf kalau kali ini aku salah menebak. Tetapi menurut dugaanku, memang ada persoalan lain yang membuat kalian di sini ragu-ragu untuk mengambil mayat-mayat itu.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Menurut dugaanku, kalian selain takut akan kemungkinan penyakit menular itu kalian juga takut terlibat pada suatu tindakan kejahatan apabila kalian mengambil mayat itu, karena kalian menduga bahwa di bagian atas dari padukuhan di pinggir sungai ini telah terjadi kerusuhan. Agar kalian tidak terseret dalam suatu persoalan yang kalian tidak tahu-menahu, maka kalian lebih baik sama sekali tidak campur tangan. Bukankah begitu?”

Pemilik getek itu mengerutkan keningnya. Sejenak ia diam mematung. Namun sejenak kemudian ia berkata dengan suara gemetar, “Tidak. Tidak. Aku tidak mengatakan begitu.”

“Tetapi apakah kau menganggap bahwa tidak ada perasaan itu di dalam hatimu?”

Pemilik getek itu tidak segera menyahut. Namun kemudian ia berkata, “Kita sudah sampai.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Mereka memang sudah sampai di seberang.

“Terima kasih,” berkata Kiai Gringsing, “kami akan melakukan perjalanan di daerah Menoreh. Tetapi beritahukan kepada kami, apakah pernah kau lihat sesuatu terjadi di daerah ini? Misalnya kekerasan dan semacamnya yang dapat kau lihat dari getekmu?”

Orang itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak.”

“Benar?”

Orang itu memandang ke sekitarnya. Rasa-rasanya ada sesuatu yang membayangi perasaannya. Namun kemudian ia berkata, “Tidak. Tidak ada sesuatu yang pernah terjadi. Daerah itu diawasi dengan saksama oleh para pengawal Tanah Perankan Menoreh. Seperti yang aku katakan, setiap kali ada peronda yang lewat di daerah ini.”

“Terima kasih,” sahut Kiai Gringsing.

Setelah memberikan upah penyeberangannya, maka mereka berlima pun naik ke tepian sebelah Barat sambil menuntun kuda mereka. Kemudian setelah mereka berada di tempat yang datar, mereka pun segera melanjutkan per-jalanan mereka di atas punggung kuda.

Jalan yang mereka lalui adalah jalan yang rata. Berbeda dengan perjalanan mereka selama di hutan Tambak Baya dan Mentaok, mereka pun tidak menemui hambatan-hambatan. Kuda-kuda mereka dapat berlari meskipun tidak terlalu kencang karena berbagai macam pertimbangan. Agar tidak menumbuhkan kecurigaan mereka berusaha untuk tidak menarik perhatian dan berbuat sesuatu yang asing.

“Daerah ini masih tetap subur dan tenang,” berkata Swandaru.

“Ya. Seperti ketika kita meninggalkannya,” sahut Agung Sedayu.

“Tetapi ada juga bedanya,” berkata Kiai Gringsing, “ternyata Menoreh menganggap perlu meningkatkan pengawasannya di sepanjang Kali Praga. Tentu hal itu dilakukannya bukan tanpa alasan.”

Ki Sumangkar-lah yang menyahut, “Ya. Tentu ada alasannya. Tetapi menurut pendapatku, hal itu bukan timbul karena persoalan yang terjadi di Menoreh sendiri.”

“Ya. Aku sesuai. Menoreh tidak mau menjadi tempat pelarian, atau alas dan sarang dari orang-orang yang menjadi buruan di Mataram dengan berbagai alasan,” sahut Kiai Gringsing.

“Itulah alasan yang tepat,” Ki Demang yang selama itu berdiam diri itu menyahut, “aku pun sama sekali tidak akan membiarkan daerahku menjadi tempat persembunyian orang-orang buruan dari tlatah di sekitar Sangkal Putung.”

“Yang menjadi persoalan kemudian,” berkata Kiai Gringsing, “apakah Menoreh sudah mencium persoalan orang-orang yang berusaha memagari Mataram, atau Menoreh sendiri tidak senang melihat Mataram berkembang.”

“Tentu bukan,” Swandaru-lah yang menyahut. “Menoreh tidak akan mengambil sikap demikian.”

Kiai Gringsing memandang Swandaru sejenak. Namun ia pun kemudian tersenyum. Katanya, “Tentu. Ki Gede Menoreh tidak akan mengambil sikap demikian. Ki Gede Menoreh adalah orang yang berjiwa besar. Apalagi ia yakin akan perkembangan daerahnya sendiri. Tetapi Ki Gede Menoreh tidak berdiri sendiri.”

“Maksud Guru orang-orang yang ada di sekitarnya? Pembantunya atau pelaksana di padukuhan-padukuhan apalagi yang jauh dari padukuhan induk?”

Kiai Gringsing memandang Swandaru sejenak. Kemudian kepalanya terangguk kecil sambil menjawab, “Semuanya baru merupakan dugaan. Mungkin benar dan mungkin sama sekali tidak benar. Seperti di Pajang, ada perwira-perwira yang dengan keras menentang perkembangan Mataram, sedang yang lain masih dapat menilai keadaan dengan tenang.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Memang mungkin.”

“Orang-orang di sebelah sungai ini mempunyai kepentingan langsung dengan perkembangan Mataram,” berkata Ki Sumangkar kemudian. “Ada yang merasa beruntung apabila di seberang Timur sungai menjadi ramai. Tetapi ada yang merasa disaingi. Semula orang-orang di sebelah Selatan Alas Mentaok mengambil bahan-bahan keperluan sehari-hari di sebelah Barat Kali Praga. Tetapi jika Alas Mentaok sudah menjadi ramai dan menjadi sumber bahan-bahan yang serupa, maka hal itu akan menjadi persaingan yang berat bagi daerah seberang sungai. Orang-orang di sekitar Alas Mentaok tidak perlu lagi menyeberangi Kali Praga untuk mendapat bahan keperluannya yang sebelumnya harus dibelinya dari daerah Menoreh.”

“Tetapi tentu bukan atas persetujuan Ki Gede Menoreh,” sahut Swandaru.

“Tentu tidak,” berkata Sumangkar selanjutnya, “dan sikap itu adalah sikap yang mencerminkan kekerdilan pikiran. Tetapi ada saja orang yang berpikiran kerdil serupa itu.”

Swandaru merenung sejenak. Tetapi ia tidak segera menjawab.

“Tetapi,” Kiai Gringsing-lah yang berbicara kemudian, “orang-orang yang mempunyai pandangan jauh justru akan menyambut perkembangan Mataram dengan senang hati, karena perkembangan Mataram tentu akan menumbuhkan kemungkinan-kemungkinan baru meskipun ada juga persaing-an yang akan timbul. Tetapi Mataram pasti memerlukan banyak hal yang tidak dapat dihidupinya sendiri, sehingga harus ada hubungan timbal-balik yang saling menguntungkan dengan daerah di sekitarnya. Jika Mataram akan membuka tanah pertanian yang luas, sehingga mereka tidak memerlukan padi dari Menoreh, namun Mataram harus mengambil ternak dan barangkali barang pecah belah, jembangan, kendi, mangkuk, dan gerabah lainnya.”

Swandaru mengangguk-angguk. Bahkan Agung Sedayu dan Ki Demang pun mengangguk-angguk pula. Mereka dapat mengerti, bahwa goncangan yang dapat timbul karena lahirnya daerah baru itu, apabila tidak dilandasi dengan prasangka, akan tidak menumbuhkan pengaruh buruk. Bahkan apabila kedua belah pihak berbuat dengan jujur, maka akan dapat menimbulkan hubungan yang menguntungkan.

“Tetapi apakah hubungan yang demikian dapat dijalin antara Mataram dengan Menoreh,” pertanyaan itu masih juga sering timbul. Apalagi pertanyaan yang serupa, “Bagaimana dengan Pajang?”

Sejenak kelima orang berkuda itu saling berdiam diri. Matahari yang menjadi semakin tinggi memancarkan cahayanya yang cerah di langit yang bersih. Di hadapan mereka terbentang tanah persawahan yang subur dan luas. Tetapi sebentar lagi, di seberang Kali Praga itu pun akan terdapat tanah persawahan yang serupa.

Dalam pada itu, ternyata perjalanan mereka telah menarik perhatian beberapa orang petani yang sedang bekerja di sawah. Meskipun mereka sering juga melihat orang-orang berkuda yang lewat jalan itu, tetapi kelima orang berkuda yang lewat itu pasti bukan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Meskipun demikian, para petani itu segera tidak menghiraukannya lagi. Bukan hal yang aneh jika orang-orang itu adalah orang-orang yang sekedar melintas, atau seandainya mereka ingin berkunjung kepada sanak kadangnya yang tinggal di Menoreh pun, bukannya suatu hal yang mengherankan.

Namun demikian, rasa-rasanya ada juga pertanyaan yang tumbuh di hati mereka sehubungan dengan perkembangan keadaan terakhir. Terutama di seberang Kali Praga yang sedang tumbuh menjadi suatu negeri yang ramai.

Demikianlah Kiai Gringsing bersama rombongan kecilnya berkuda di sepanjang bulak yang panjang. Meskipun tidak terlalu cepat tetapi kuda mereka itu pun berlari, sehingga mereka tidak memerlukan waktu yang terlalu lama untuk mencapai kademangan induk Tanah Perdikan Menoreh.

“Apakah perjalanan ini masih panjang?” bertanya Ki Demang.

“Kita mengharap sebelum tengah hari kita sudah akan sampai,” jawab Kiai Gringsing, “asal tidak ada gangguan apa pun di perjalanan.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Dalam pada itu, ia pun memperhatikan daerah yang masih agak asing baginya, meskipun ia pernah lewat sepintas ketika ia masih muda. Hanya lewat daerah ini ketika ia sedang menempuh perjalanan yang jauh bersama ayahnya dahulu, ketika ayahnya mengunjungi orang yang sangat dihormati di sebelah Barat pegunungan Menoreh. Orang itu adalah kakek ayahnya yang tinggal di lingkungan keluarga neneknya. Karena itulah ia hampir tidak dapat mengenali lagi tlatah Menoreh yang berkembang dengan pesatnya itu. Hutan-hutan menjadi semakin sempit dan jarang. Sedang sawah dan pategalan menjadi semakin luas.

Tetapi Menoreh sekarang rasa-rasanya menjadi semakin cantik dengan tanamannya yang hijau terbentang sampai ke kaki pebukitan.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing dan rombongan kecilnya maju terus. Semakin lama semakin dekat dengan padukuhan induk. Di sepanjang jalan, mereka tidak banyak berbicara tentang apa pun juga. Bahkan tentang perjalan-an itu sendiri.

Semakin dekat dengan padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh, Swandaru-lah yang menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan kadang-kadang terlontar pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah Pandan Wangi masih ingat kepadanya?”

“Tentu,” pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “sebagai seorang yang setia, ia tidak boleh mengingkari janji yang pernah diucapkannya.” Ia merenung sejenak, lalu, “Kecuali jika Ki Gede Menoreh tidak telaten lagi menunggu karena justru Ki Gede-lah yang menganggap aku telah ingkar.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dan dipersalahkannya dirinya sendiri. Bahkan gurunya. Ia terlalu lama berada di Alas Mentaok, melayani hantu-hantu yang berkeliaran. Kemudian perkawinan Untara dan segala macam persoalan yang menghambat perjalalannya. Meskipun ia hanya terhambat beberapa saat saja, rasa-rasanya ia benar-benar terganggu.

Bukan hanya Swandaru sajalah yang menjadi cemas. Bahkan Kiai Gringsing pun mulai berpikir juga. Pandan Wangi adalah seorang gadis yang mekar. Jika ia menganggap Swandaru terlalu lama melupakannya, dan bahkan ia menganggap bahwa Swandaru tidak akan datang kembali ke Tanah Perdikan Menoreh, maka ia pun tidak terikat lagi.

“Apakah yang akan terjadi jika kini Pandan Wangi telah bersuami?” pertanyaan itu pun tumbuh pula di dalam hati Kiai Gringsing.

Namun demikian mereka berjalan terus. Mereka harus membuktikannya lebih dahulu, apakah memang demikian, atau hal itu hanyalah semata-mata angan-angan mereka saja.

Kelima orang itu menjadi termangu-mangu ketika mereka melihat debu yang mengepul di jalan berbatu-batu di hadapan mereka. Beberapa ekor kuda berlari-lari berlawanan arah dengan rombongan kecil itu.

“Para pengawal,” desis Kiai Gringsing.

“Apakah mereka dapat menghalangi perjalanan kita?” bertanya Ki Demang.

“Mungkin tidak. Kita akan berkata berterus terang.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu lagi. Meskipun demikian keningnya berkerut juga ketika para pengawal Tanah Perdikan itu menjadi semakin dekat.

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s