ADBM1-070

<<kembali | lanjut >>

PANDAN WANGI menarik nafas dalam-dalam. Sekali dua kali ayahnya sudah harus menolak lamaran yang datang dari orang-orang penting di Menoreh, bahkan dari daerah tetangga. Agaknya ayahnya pun masih juga menunggu karena ia sudah pernah membicarakannya dengan Kiai Gringsing, apalagi Ki Argapati mengetahui bahwa agaknya anaknya telah bersetuju di dalam hati.

Perlahan-lahan Pandan Wangi itu pun kemudian mengambil pakaiannya yang disimpannya di geledeg bambu. Seperti di luar kehendaknya sendiri, maka dilepaskannya pakaian berburunya. Dikenakannya pakaiannya yang lain, pakaian seorang gadis. Bahkan dibenahinya rambutnya yang kusut dan disaputnya wajahnya dengan kain yang dibasahinya dengan air kendi.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam.

Namun tiba-tiba ia menyembunyikan wajahnya di balik ke dua telapak tangannya. Ia menjadi malu kepada diri sendiri. Seakan-akan berpuluh-puluh pasang mata sedang memandanginya. Memandang seorang gadis yang sedang dibayangi oleh angan-angannya sendiri.

Dengan tergesa-gesa, Pandan Wangi duduk di pembaringannya. Kepalanya masih saja menunduk dalam-dalam.

Gadis itu mengangkat wajahnya ketika ia mendengar suara gelak di pendapa. Agaknya ayahnya dan tamu-tamunya sedang membicarakan kenangan yang menggelikan pada saat tamu-tamunya itu berada di Tanah Perdikan ini.

Pandan Wangi pun tanpa disadarinya telah tersenyum pula meskipun ia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

“Ternyata ayah sama sekali tidak marah,” ia berkata kepada diri sendiri.

Pandan Wangi terkejut ketika ia mendengar pintunya diketuk dari luar. Dengan tergesa-gesa ia berdiri dan melangkah membukanya.

“Ada apa, Prastawa,” ia bertanya kepada saudara sepupunya itu.

“Sudah waktunya menghidangkan makan, Pandan Wangi.”

“Bukankah sudah dihidangkan?”

“Belum. Baru minum dan makanan. Belum makan. Baru saja nasi masak.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba saja memberengut. Katanya, “Bukankah ada pelayan yang dapat menghidangkan suguhan itu? Biarlah mereka membawanya ke pendapa.”

Prastawa termangu-mangu sejenak. Itu sama sekali bukan kebiasaan Pandan Wangi. Jika ada tamu yang khusus, biasanya Pandan Wangi sendirilah yang mengantarkan suguhan itu ke pendapa. Seperti saat-saat yang lewat, untuk tamu-tamu yang masih ada hubungan keluarga, atau tamu-tamu ayahnya yang terdekat, Pandan Wangi tidak membiarkan orang lain membawakannya. Tetapi kini justru tamu yang datang dari jauh, dan seperti yang sudah didengar oleh Prastawa, hubungan yang pernah terjalin antara Swandaru dan Pandan Wangi, Pandan Wangi menolak membawakannya kepada mereka.

“He. Kenapa kau diam saja dan seperti membeku di situ?” bertanya Pandan Wangi kepada anak muda yang kebingungan itu.

“Jadi, bagaimanakah maksudmu sebenarnya?” bertanya Prastawa.

“Aku sedang lelah sekali. Biar orang lain saja yang menghidangkannya. Apakah ayah menyuruhmu memanggil aku dan menghidangkan makan itu?”

“Tidak. Tetapi bukankah itu kebiasaanmu? Jika kau tidak membawanya ke pendapa saat ini, tentu Ki Gede akan bertanya-tanya, meskipun hanya di dalam hati.”

“Aku lelah sekali,” Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam.

Prastawa tidak menyahut. Tetapi dipandanginya saja Pandan Wangi yang sudah berpakaian rapi. Bukan lagi pakaian berburunya. Tetapi pakaian seorang gadis.

“He, kenapa kau memandang aku seperti itu?” bertanya Pandan Wangi kepada adik sepupunya.

“O,” Prastawa tergagap. Namun ia masih sempat menjawab sambil tersenyum, “Kau jarang sekali berhias diri seperti sekarang.”

“Ah.”

“Aku tidak pernah melihat kau secantik itu.”

“Prastawa,” potong Pandan Wangi, “pantaskah kau berkata begitu buat kakakmu sendiri.”

“Tentu tidak pantas jika aku berkata buat aku sendiri. Tetapi aku berkata buat tamuku yang gemuk itu.”

“Ah, kau,” Pandan Wangi melangkah maju. Tangannya sudah terjulur untuk mencubit lengan adiknya. Tetapi Prastawa dengan tergesa-gesa meninggalkannya sambil berkata, “Aku berani berkejar-kejaran sekarang jika kau memakai pakaian seperti itu.”

Pandan Wangi tidak menyahut. Ia mengacukan tangannya ketika ia melihat adik sepupunya itu berpaling. Tetapi sejenak kemudian Prastawa itu sudah hilang di balik pintu.

Prastawa terkejut ketika hampir saja ia melanggar anak muda yang mengikuti Pandan Wangi berburu. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata, “Ah kau. Hampir saja aku terantuk.”

“Kenapa dengan Pandan Wangi?” anak muda itu bertanya.

“Ia sedang bersembunyi.”

“Ya, kenapa?”

“Aku tidak tahu. Bertanyalah kepadanya.”

Anak muda itu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Dimana Pandan Wangi sekarang?”

“Di dalam biliknya. Ia sedang merias diri.”

“Merias diri? Kenapa?”

“Aku tidak tahu, bertanyalah. Ia menjadi cantik sekali. Tidak lagi seperti laki-laki di atas punggung kuda.”

Anak muda itu ragu-ragu sejenak. Tetapi wajahnya yang berkerut-merut itu membuat kesan yang aneh di hati Prastawa. Karena itu ia justru mengganggunya, “Lihatlah sendiri. Apa yang sedang dikerjakannya.”

Anak muda itu ragu-ragu sejenak. Tetapi ia melangkah masuk ke ruang dalam.

Prastawa memandanginya dari kejauhan. Tetapi ketika ia melihat anak muda itu mengayunkan tangannya mengetuk pintu bilik Pandan Wangi yang tertutup, hatinya berdesir. Dengan serta-merta ia berdesis sambil memberikan isyarat agar niat itu diurungkan. Tetapi ia terlambat. Tangan itu sudah mengetuk pintu.

“Bodoh sekali,” desis Prastawa.

Perlahan-lahan pintu bilik itu terbuka. Pandan Wangi terkejut ketika dilihatnya anak muda itu berdiri di muka pintu.

“He, kenapa kau mengetuk pintu?”

Anak muda itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengetahui apa yang sedang kau kerjakan. Menurut Prastawa, kau sedang berhias. Dan kau menjadi sangat cantik, tidak seperti seorang laki-laki di atas punggung kuda. Tetapi kau benar-benar menjadi seorang gadis.”

“Ah,” Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi kemerah-merahan. Ketika ia melihat Prastawa menjengukkan kepalanya di pintu belakang, sekali lagi ia mengacukan tangannya. Tetapi Prastawa itu pun segera menghilang.

“Aku tidak berhias,” berkata Pandan Wangi kemudian, “aku sekedar berganti pakaian. Jika ayah memanggilku dan menyuruh aku membawa hidangan ke pendapa, aku sudah berpakaian rapi.”

Anak muda itu mengangguk-anggukan kepalanya. Tetapi matanya kemudian hinggap di wajah Pandan Wangi. Matanya seakan-akan tidak berkedip sehingga Pandan Wangi menjadi bingung karenanya.

“Kau memang menjadi cantik sekali seperti yang dikatakan oleh Prastawa.”

“Ah, sudahlah. Jangan hiraukan anak bengal itu.”

“Tidak. Bukan karena Prastawa. Aku benar-benar menganggap kau seorang gadis yang sangat cantik. Sejak aku datang, aku tidak pernah melihat kau berhias seperti ini. Kenapa sekarang kau tiba-tiba saja berhias? Ketika kau menghidangkan suguhan bagi ayah dan ibu di pendapa, kau juga berpakaian seorang gadis. Tetapi kau tidak secantik sekarang.”

“Ah, sudahlah. Jangan memuji. Aku akan beristirahat sebentar di dalam bilik.”

Pandan Wangi pun kemudian melangkah surut. Tetapi ia menjadi heran karena anak muda itu tidak segera pergi. Bahkan ia melangkah maju pula sambil berkata, “Aku juga akan beristirahat Pandan Wangi. Aku juga lelah sekali.”

“Di mana kau akan beristirahat?”

“Apakah salahnya jika aku beristirahat di bilikmu juga.”

“He,” wajah Pandan Wangi menjadi merah padam, “apakah maksudmu?”

“Beristirahat,” katanya dengan jujur.

“Kenapa di sini? Apa tidak ada tempat lain.”

“Apakah aku tidak boleh masuk.”

“Sudah disediakan tempat sendiri buatmu dan ayah ibumu.”

Anak muda itu menjadi kecewa. Katanya, “Kau terlampau tinggi hati, Pandan Wangi. Baiklah, memang tempatku tidak di ruang dalam. Aku hanya seorang tamu dari daerah terpencil. Tetapi kau harus ingat bahwa ayahku seorang yang kaya.”

“O,” Pandan Wangi justru menjadi termangu-mangu, “bukan maksudku. Tetapi sebaiknya kau tidak berada di dalam bilikku. Aku akan tidur sejenak.”

Anak muda itu pun kemudian melangkah pergi. Di luar pintu ruang dalam ia melihat Prastawa sedang menunggui para pelayan yang mengatur hidangan yang akan disuguhkan ke pendapa. Sejenak Prastawa memandangi anak muda itu. Kemudian ia mendengar anak muda itu mengeluh.

“Pandan Wangi terlampau tinggi hati. Aku tidak boleh masuk ke dalam biliknya.”

Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia bertanya, “Kenapa kau akan masuk ke dalam biliknya? Itu tidak pantas. Ia adalah seorang gadis.”

“Kenapa? Aku hanya ingin memandanginya. Ia memang cantik sekali dalam pakaian yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Kenapa ia berpakaian begitu bagusnya sekarang? Kenapa tidak ketika ia akan menghidangkan suguhan bagi ayah dan ibuku pada saat kami datang?”

“Ah, tentu ia tidak akan memakai pakaian yang sama saja. Itu hanyalah suatu kebetulan bahwa yang dipakainya sekarang agak lebih baik dari yang dipakainya dahulu.”

“Ayahku seorang yang paling kaya di daerahku yang kecil itu. Mungkin juga karena ayah datang dari daerah kecil, sedang tamu-tamu itu datang dari sebuah kademangan yang besar. Begitu?”

Prastawa mengerutkan keningnya. Katanya, “Kau senang merangkai perasaan. Ada baiknya. Tetapi jika berlebih-lebihan kau akan menjadi seorang anak muda perasa yang agak cengeng.”

“He,” mata anak muda itu menyala sesaat. Namun kemudian katanya, “Kalian tidak menghormati tamu kalian. Pandan Wangi tidak, dan kau juga tidak. Ayahku adalah keluarga Ki Gede Menoreh. Kami adalah tamu dari orang yang berkedudukan paling tinggi di Menoreh. Kalian harus menghormati aku.”

Prastawa mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. Ia sadar, bahwa anak muda itu sedang merajuk.

“Agaknya ia adalah anak yang terlalu manja. Manja sekali,” berkata Prastawa di dalam hati. “Jika Pandan Wangi menjadi jengkel akan kelakuannya itu, salah-salah ia dapat dibantingnya sampai pingsan.”

Prastawa hanya memandanginya berjalan ke pintu samping. Namun supaya tidak menimbulkan kesan yang dapat membuat anak muda itu semakin merajuk, dan mengatakannya kepada ayah ibunya agak berlebih-lebihan, maka Prastawa pun berkata, “Kami minta maaf. Kami tidak tahu maksudmu yang sebenarnya.”

Anak muda itu berpaling. Dilihatnya Prastawa sejenak. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Aku akan melupakannya. Kau anak yang baik.”

Prastawa menahan senyumnya. Memang anak muda itu agaknya lebih tua daripadanya. Tetapi karena tempaan keadaan, Prastawa menjadi lebih dewasa. Pengalamannya di saat-saat kemelutnya pertentangan di atas Tanah Perdikan ini, membuatnya cepat menjadi dewasa. Kematian Sidanti dan bahkan dirinya sendiri yang hampir saja tenggelam di dalam keputus-asaan, membuatnya lebih matang menghadapi persoalan-persoalan hidup.

Prastawa itu terkejut ketika di belakangnya terdengar suara kakak sepupunya, “Apa yang dikatakannya?”

Prastawa berpaling. Sambil tertawa ia berkata, “Anak itu merajuk. Ayo, kau apakan saja tamumu itu?”

“Aku pilin telingamu. Aku tidak berbuat apa-apa.”

“Katanya kau terlampau tinggi hati karena ia tidak kau perkenankan ikut beristirahat di dalam bilikmu.”

“Ah, anak gila.”

“Tetapi ia tidak bermaksud apa-apa. Ia berkata dengan sorot mata yang jujur. Kau sadari itu?”

Pandan Wangi mengangguk. Katanya, “Anak itu tentu merupakan sebuah golek kencana yang hidup di rumahnya. Ia anak orang yang kaya. Anak satu-satunya.”

“Seperti kau. Anak satu-satunya. Tetapi kau tidak cengeng seperti anak itu.”

“Kau memuji lagi. Tentu kaulah yang menyebabkannya seperti orang mabuk tuak. Ia memuji seperti memuji bakal isterinya.”

“Sedang kau adalah bakal isteri orang lain.”

“Hus.”

Prastawa bergeser. Pandan Wangi benar-benar akan memilin telinganya.

“Jangan,” berkata adik sepupunya itu, “tetapi lihat, hidangan sudah tersedia. Siapakah yang akan menghidangkannya ke pendapa? Pelayan atau aku atau kau?”

Pandan Wangi termangu-mangu sejenak, lalu, “Marilah, kita bersama-sama menghidangkannya. Kau membawa nasi dan lauk pauknya.”

“Lalu kau membawa apa?”

Pandan Wangi tersenyum. Dipandanginya hidangan yang sudah tersedia itu sejenak, lalu katanya, “Aku membawa nampannya.”

“Ah,” Prastawa berdesah, lalu katanya, “cepatlah. Nanti Paman Argapati menunggu.”

Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Marilah kita hidangkan bersama. Kaulah dahulu. Aku di belakang. Bawa apa saja, sisanya aku yang akan membawanya.”

Demikianlah, maka hidangan itu tidak jadi disuguhkan oleh para pelayan yang sudah siap, tetapi Prastawa dan Pandan Wangi sendiri akan membawanya ke pendapa.

Beberapa orang pelayan yang berdiri di ruang belakang itu kemudian saling menggamit. Mereka tahu siapakah tamu yang ada di pendapa itu, sehingga seorang di antaranya tidak dapat menahan senyumnya. Karena itu, maka kepalanya pun segera ditundukkannya dalam-dalam. Apalagi ketika ia merasa bahwa Pandan Wangi sedang memandanginya dengan tajamnya.

Ketika pintu pendapa berderit, maka semuanya pun segera berpaling. Yang mula-mula mereka lihat adalah Prastawa. Namun kemudian Pandan Wangi pun melangkah ke luar dengan kepala tunduk.

Berbeda dengan kebiasaannya, bahwa ia dapat dengan cekatan menghidangkan suguhan bagi tamu-tamu ayahnya, maka kali ini Pandan Wangi menjadi gemetar. Ia sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya sama sekali.

“Ha, inilah anak itu,” berkata Ki Gede Menoreh, “ia baru pulang dari berburu bersama tamu kami.”

Kiai Gringsing tertawa. Di luar sadarnya ia bertanya, “Siapakah nama anak muda itu?”

“Rudita,” jawab Ki Gede.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Nah, tentu hidangan ini hasil buruan Angger Pandan Wangi.”

Pandan Wangi mendengar namanya disebut. Tetapi ia tidak dapat menangkap kata-kata Kiai Gringsing dengan jelas. Terasa tubuhnya benar-benar telah menggigil seperti kedinginan. Namun demikian ia masih juga mencoba tersenyum.

Orang-orang tua yang ada di pendapa itu sama sekali tidak heran melihat keadaan Pandan Wangi. Agak gemetar dan kepalanya selalu menunduk.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Pandan Wangi pun kemudian melangkah surut setelah meletakkan hidangan yang dibawanya. Begitu ia melangkahi pintu, maka ia pun segera berlari-lari ke belakang. Dilemparkannya nampan yang dibawanya dan dengan serta-merta ia pun membanting dirinya duduk di atas sebuah amben yang besar di belakang. Nafasnya menjadi terengah-engah seperti ketika ia sedang memburu kijang di hutan perburuan.

Prastawa pun kemudian menyusulnya. Sambil tersenyum ia berkata, “Kenapa kau menjadi begitu gelisah? Kau sudah terbiasa membawa hidangan bagi para tamu. Apakah bedanya tamu yang sekarang dengan tamu-tamu yang lain?”

Pandan Wangi tidak menjawab. Dicobanya menenangkan hatinya sambil duduk bersandar kedua tangannya.

“Sudahlah. Biarlah aku saja yang menyelesaikannya. Duduk sajalah. Jika kau sekali lagi membawa hidangan itu, maka hidangan itu tentu akan tumpah.”

Pandan Wangi masih tetap diam saja. Dipandanginya bayangan dedaunan di longkangan lewat pintu samping yang terbuka.

Ketika Prastawa kemudian menyelesaikan membawa hidangan itu ke pendapa, maka anak muda yang berburu bersama Pandan Wangi dan bernama Rudita itu sudah berada di gandok Kulon menemui kedua orang tuanya.

“Tamu yang datang itu agaknya lebih dihormati oleh Pandan Wangi dari kita, Ayah,” berkata anak muda itu.

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu. Tetapi ia adalah seorang Demang.”

“O,” ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya, “tentu kawan baik Ki Gede Menoreh.”

“Ya,” jawab anaknya. “Pandan Wangi mengenakan pakaiannya yang sangat bagus. Lebih bagus dari yang dipakainya saat membawa suguhan buat kita.”

“Ah, kau.”

“Dan ternyata Pandan Wangi sangat cantik.”

“Cantik? Jadi menurut penilaianmu anak itu sangat cantik?”

“Ya, Ayah. Cantik sekali. Aku belum pernah melihat gadis secantik Pandan Wangi.”

“Berbanggalah bahwa kau mempunyai seorang saudara yang sangat cantik.”

“Ya, Ayah. Aku berbangga,” jawab anak muda itu, “tetapi apakah Pandan Wangi termasuk sanak kita yang dekat?”

Ayahnya menggelengkan kepalanya, “Ia bukan sanak kita yang dekat. Sudah agak jauh, lewat garis keturunan ibunya.”

Anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.

Ayahnya memandanginya sejenak. Ketika anak itu agak membelakanginya, ibunya menggamit ayah Rudita yang duduk di sebelahnya. Keduanya saling berpandangan sejenak, dan ayah Rudita itu pun tersenyum.

Isterinya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka tidak berbicara apa pun juga. Mereka hanya duduk saja berdiam diri sambil memandangi anak laki-lakinya yang kemudian berdiri dan melangkah ke luar.

“Ia sudah dapat menyebut tentang seorang gadis yang cantik. Sayang yang disebut itu adalah Pandan Wangi, sanak sendiri,” berkata ibu anak muda itu.

Ayah Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya isterinya sejenak, kemudian sambil menarik nafas ia berkata, “Sekarang ia menyebut Pandan Wangi. Tetapi dengan demikian perhatiannya kepada perempuan mulai bangkit. Aku berharap bahwa selain Pandan Wangi ada pula perempuan cantik menurut anggapannya nanti.”

“Bagaimana jika tidak?” bertanya isterinya.

“Maksudmu?”

“Jika tidak ada perempuan lain yang menarik selain Pandan Wangi?”

“Ah tentu tidak. Ia tahu bahwa Pandan Wangi adalah sanak sendiri.”

Isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian ia bergumam seperti kepada diri sendiri, “Mereka bukan sanak yang dekat.”

Ayah Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya pula tanpa disadarinya. Namun sesaat kemudian ayahnya itu mengerutkan keningnya dan berkata, “Tetapi siapakah tamu Ki Gede dipendapa itu?”

Isterinya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Orang itu tentu sangat dihormati oleh Ki Gede. Jika tidak, meskipun ia seorang Demang, maka ia tidak akan mendapat pelayanan yang begitu baik dan sambutan yang sangat hangat.”

Isterinya masih berdiam diri.

“Aku ingin memperkenalkan diri,” berkata ayah Rudita.

“Sekarang?”

“Tentu tidak. Tetapi agaknya mereka akan bermalam di sini pula, kesempatan masih panjang.”

Tetapi belum lagi ia selesai berbicara, dilihatnya Prastawa datang kepadanya sambil berkata, “Paman, Ki Gede mempersilahkan Paman makan bersama tamu-tamu yang datang dari Sangkal Putung itu.”

“O,” ayah Rudita itu mengerutkan keningnya.

“Dan Paman sekarang dipersilahkan ke pendapa bersama Bibi.”

Keduanya saling berpandangan sejenak, lalu, “Baiklah. Kami akan datang. Kami akan membenahi pakaian kami sebentar.”

Demikianlah maka kedua suami isteri itu pun kemudian diperkenalkan dengan tamu-tamu Ki Gede yang datang dari Sangkal Putung itu. Namun mereka masih belum tahu maksud tamu-tamu yang datang dari Sangkal Putung itu. Mereka hanya mendapat keterangan dari Ki Gede, bahwa tamu-tamunya adalah sahabat-sahabatnya yang sudah lama tidak datang.

Apalagi tamu-tamu itu sendiri memang belum mengatakan sesuatu tentang Swandaru, karena dirasa waktunya belum tepat.

Setelah makan, maka tamu-tamu itu pun dipersilahkannya untuk beristirahat. Ayah dan ibu Rudita berada di gandok Kulon, sedang tamu-tamu dari Sangkal Putung itu dipersilahkan beristirahat di gandok Wetan.

Dalam pada itu, selagi orang-orang tua beristirahat dan berbicara di antara mereka, maka Swandaru dari Agung Sedayu duduk di serambi gandok. Sejenak mereka saling berdiam diri memandang halaman rumah yang sudah berubah itu. Suasananya benar-benar telah jauh berbeda. Halaman rumah itu kini ditanami dengan pohon bunga-bunga di pinggir-pinggir pagar batu. Sebatang bunga soka putih, seolah-olah tidak berdaun lagi karena bunganya yang sedang berkembang. Sedang di sudut halaman itu kini tumbuh sebatang bunga kemuning.

Keduanya berpaling ketika mereka mendengar langkah mendekatinya. Ternyata yang datang itu adalah Prastawa.

Agung Sedayu dan Swandaru bergeser sedikit untuk memberikan tempat kepada anak muda itu, yang sambil tersenyum kemudian Prastawa pun duduk pula di antara mereka.

Sama sekali tidak ada lagi kesan permusuhan di antara mereka seperti juga pada Pandan Wangi dan adik sepupunya itu. Prastawa mencoba memperbaiki keadaannya dengan berbuat sebaik-baiknya, meskipun kadang-kadang hatinya masih juga merasa pedih.

Sejenak mereka berbicara tentang keadaan masing-masing. Meskipun mereka masih juga tetap berhati-hati agar pembicaraan mereka sama sekali tidak menyentuh persoalan yang dapat mengungkat hubungan di masa lalu itu.

Selagi mereka dengan asyiknya berbicara, di halaman melintas seorang anak muda yang pergi berburu bersama Pandan Wangi. Sejenak anak muda itu berpaling memandang Prastawa, namun ia pun kemudian melangkah terus meninggalkan halaman, masuk ke longkangan gandok Kulon.

“Siapakah anak muda itu?” bertanya Swandaru.

“Rudita,” jawab Prastawa, “ia adalah kadang yang sudah agak jauh dari Kakak Pandan Wangi dari garis ibunya.”

“O,” Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Apakah ia sudah lama berada di sini?”

“Tidak. Ia datang bersama ayah dan ibunya, dua hari yang lalu. Sudah lama mereka tidak berkunjung kemari. Agar hubungan persaudaraan itu tidak terputus, mereka memerlukan mengunjungi Ki Gede di sini.”

Swandaru masih saja mengangguk-anggukkan kepalanya, dan kemudian ia masih bertanya lagi, “Apakah ia pandai berburu?”

Prastawa tersenyum. Tetapi ia menjawab, “Ya. Ia senang berburu.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Namun sebelum ia menyahut maka seseorang datang mendekatinya sambil berkata kepada Prastawa, “Rudita memanggilmu.”

Prastawa mengerutkan keningnya. “Ada apa?”

“Aku tidak tahu.”

Prastawa mengangkat pundaknya. Namun ia pun kemudian berdiri dan berkata kepada Agung Sedayu dan Swandaru. “Ia memerlukan pelayanan melampaui seorang gadis kecil yang paling manja.”

Swandaru dan Agung Sedayu berpandangan sejenak. Namun keduanya tidak mengatakan apa pun. Mereka hanya memandangi saja langkah Prastawa yang pergi ke gandok Kulon.

Di longkangan, Rudita telah menunggu kedatangan Prastawa. Dengan wajah yang tegang Rudita itu bertanya, “Siapakah mereka itu?”

“Yang mana?” Prastawa ganti bertanya.

“Dua orang anak muda di serambi gandok Wetan itu.”

“O, tamu Ki Gede yang baru datang hari ini. Bukankah keduanya ikut duduk di pendapa pada saat kami menghidangkan makanan?”

“Aku sudah tahu. Siapa nama mereka?”

“O,” Prastawa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Yang gemuk itu namanya Swandaru. Ia adalah putra Ki Demang Sangkal Putung. Sedang yang sedang itu bernama Agung Sedayu.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih bertanya, “Kenapa mereka datang kemari? Apakah mereka masih kadang Ki Gede?”

Prastawa menggeleng. “Bukan. Bukan sanak, bukan kadang. Tetapi jika mati, kami akan kehilangan.”

Rudita mengerutkan keningnya, “Apa maksudmu?”

“Tidak apa-apa,” jawab Prastawa, lalu katanya, “marilah. Sebaiknya kau memperkenalkan dirimu.”

“Bukan aku. Merekalah yang harus datang memperkenalkan diri kepadaku. Aku adalah kadang Ki Gede Menoreh. Ayahku meskipun bukan Demang, tetapi ia adalah orang yang terpandang, karena ayahku lebih kaya dari Demang di Tempuran.”

Prastawa mengerutkan dahinya. Jawabnya kemudian, “Mereka tentu tidak akan berani berbuat demikian, karena mereka merasa diri mereka kecil.”

Rudita merenung sejenak, lalu katanya, “Jadi bagaimana sebaiknya?”

“Kaulah yang datang kepadanya. Mereka akan menyambut dengan senang hati.”

Sekali lagi Rudita merenung. Namun kemudian katanya, “Baik, aku akan datang kepadanya. Tetapi jika mereka ternyata menyombongkan diri, aku pilin lehernya sampai patah. Kau dan kedua anak-anak muda itu harus mengerti, bahwa aku adalah murid Kiai Kuda Prakosa.”

Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia menjadi berdebar-debar juga. Agaknya anak muda yang manja ini mempunyai bekal dalam olah kanuragan pula. Bahkan ia telah menyebut pula nama gurunya. Tetapi nama itu belum pernah dikenalnya.

“He, kenapa kau diam saja? Kau tidak usah takut mendengar nama guruku. Aku tidak akan berbuat apa-apa kepadamu. Juga kepada kedua anak-anak muda itu pun aku tidak akan berbuat apa-apa jika mereka menghormati aku seperti seharusnya.”

“Aku akan mengatakannya. Dan mereka tentu akan menghormatimu.”

“Baiklah jika demikian. Tetapi sekali lagi aku peringatkan, jangan mempermainkan aku. Kau pun jangan mempermainkan aku.”

“Tidak, tentu aku tidak berani mempermainkan kau,” berkata Prastawa.

“Marilah,” ajak Rudita.

“Tunggulah di sini. Aku akan mempersiapkan kedua anak-anak muda itu agar mereka mengetahui siapakah kau sebenarnya sebelum kau memperkenalkan diri.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu katanya, “Baik. Pergilah.”

Prastawa pun kemudian berlalu. Hampir saja ia yang masih sangat muda itu tidak dapat menahan tawanya. Di dalam kemelutnya api peperangan, ia sudah berani memegang pedang di medan pertempuran yang paling ganas sekali pun. Namun menghadapi anak muda yang terlalu cengeng, ia masih juga dapat menahan diri, untuk tidak menyakiti hatinya. Apalagi Prastawa tahu bahwa anak itu adalah kadang Pandan Wangi dari saluran darah ibunya, sedang ia bersumber dari saluran darah ayahnya. Anak muda yang cepat menjadi dewasa berpikir karena tempaan keadaan itu tidak mau memberikan kesan yang kurang baik kepada tamunya itu.

“Tetapi bagaimanakah jika sikapnya kemudian menjadi berlebih-lebihan?” ia bertanya kepada diri sendiri di dalam hatinya. Namun kemudian dijawabnya sendiri, “Biarlah Pandan Wangi sendiri mengurusnya.”

Agar tidak menimbulkan persoalan, maka Prastawa pun kemudian berkata berterus terang kepada Agung Sedayu dan Swandaru tentang anak muda yang bernama Rudita itu.

“Sekali-sekali anak semacam itu perlu diperkenalkan dengan kehidupan yang sewajarnya,” berkata Swandaru.

“Ah, kau,” potong Agung Sedayu, “itu bukan urusanmu. Biarlah ayahnya membenturkannya kepada kenyataan hidup yang pahit dan keras. Biarlah kita menghindarkan diri dari persoalan-persoalan yang dapat timbul. Apakah ruginya jika kita berbuat demikian dan karena itu dapat menyenangkan hati orang lain?”

“Kau tidak pernah berusaha menyenangkan hatiku,” sahut Swandaru.

“Apa? Kau sangka aku tidak sedang menyenangkan hatimu sekarang, sehingga aku terlunta-lunta sampai ke tempat ini.”

Prastawa-lah yang tersenyum. Katanya, “Tentu. Kita semua sedang menyenangkan hati Swandaru. Semakin senang ia akan menjadi semakin gemuk.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih Ki Sanak, terima kasih.”

Prastawa justru menjadi tertawa karenanya. Dipandanginya wajah Swandaru yang bulat itu. Lalu katanya, “Ingat, kita akan bermain-main dengan sebatang ranting yang kering. Jika kita salah raba, ranting itu akan patah.”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak menyahut. Mereka hanya memandangi Prastawa yang kemudian pergi menemui Rudita, dan mengajaknya ke serambi gandok Wetan.

Agung Sedayu dan Swandaru yg melihat Prastawa dan Rudita berjalan ke arahnya, tergopoh-gopoh berdiri dan menyongsongnya. Namun Swandaru masih juga sempat bergumam perlahan-lahan, “Jika ada orang yang melihat sikap kita seperti kucing melihat tulang ini, mereka tentu akan mentertawakan.”

Agung Sedayu tidak menghiraukan. Ia bergegas mendapatkan Rudita sambil ngapurancang dan membungkuk dalam-dalam.

“Siapa namamu?” bertanya Rudita.

“Namaku Agung Sedayu, Ki Sanak.”

“Rudita, panggil aku Rudita.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Yang kemudian menganggukkan kepala adalah Swandaru. Dan ketika Rudita bertanya namanya, maka dijawabnya, “Namaku Swandaru. Semula Swandaru Geni.”

“Kenapa semula?”

“Sekarang api itu sudah menjadi suram.”

Rudita mengerutkan keningnya dan Agung Sedayu menarik, nafas dalam-dalam.

“Apa keperluan kalian kemari?” bertanya Rudita kemudian.

“Tidak apa-apa,” Agung Sedayu-lah yang menjawab, “kami hanya ingin melihat tanah yang sudah sangat lama kami tinggalkan. Beberapa waktu yang lampau, aku dan adikku pernah tinggal di padukuhan ini untuk beberapa lamanya.”

“Kenapa kalian pergi.”

“Kami pulang ke Sangkal Putung.”

“Kenapa saat itu kau tinggal di sini? Di rumah ini maksudmu?”

“Tidak, tidak dirumah ini. Kami tinggal di gubug di padukuhan sebelah. Kami adalah penggembala kambing.”

“Kenapa sekarang kau mengunjungi Tanah Perdikan Menoreh langsung menemui Ki Gede? Kenapa kau tidak pergi ke rumah gubugmu itu?”

“Anak ini memang ingin dipilin lehernya,” berkata Swandaru di dalam hatinya, “dan Kakang Agung Sedayu agaknya menjadi kambuh pula.”

“Rudita,” berkata Agung Sedayu kemudian, “tidak ada tempat yang lebih baik dari rumah ini bagi kami. Itulah sebabnya, ayah kami yang tua itu pun ikut pula untuk mengucapkan terima kasih kepada Ki Gede Menoreh.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Kalian harus mencoba menyesuaikan diri di sini. Aku dengar ayah kalian seorang Demang di Sangkal Putung. Jangan kalian menyangka bahwa pangkat Demang adalah pangkat yang sangat tinggi.”

“Tentu tidak,” Swandaru-lah yang tiba-tiba saja menyahut.

Tetapi sebelum ia melanjutkan, Agung Sedayu telah mendahului, “Kami memang merasa, bahwa ayah kami adalah seorang Demang dari sebuah kademangan yang kecil.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa bahwa kedua anak-anak muda itu cukup menghormatinya. Karena itu, maka ia pun bersikap semakin tinggi, seakan-akan ia memang benar-benar seorang yang pantas dihormati.

Dalam pada itu dari celah-celah dinding pendapa, seseorang sedang mengintip peristiwa yang terjadi di halaman dekat dengan longkangan di muka serambi gandok Wetan. Selain orang itu dapat melihat semua yang terjadi, maka meskipun lamat-lamat, ia mendengar pembicaraan mereka, sehingga hampir saja ia tidak dapat menahan hatinya. Kadang-kadang ia menjadi geli sehingga tertawanya harus ditahankannya di dada. Namun kadang-kadang terasa betapa jengkelnya mendengar kata-kata Rudita itu.

Orang itu adalah Pandan Wangi. Bahkan Pandan Wangi itu mengumpat di dalam hati, “Kakang Agung Sedayu selalu bersikap begitu. Tetapi sebenarnya kini sudah bukan masanya lagi untuk berpura-pura. Apalagi berpura-pura menjadi seorang yang sangat rendah martabatnya. Sekali-sekali Rudita memang harus melihat kehidupan ini dengan sewajarnya.”

Tetapi Pandan Wangi tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya dapat menyaksikan sambil mengumpat-umpat di dalam hati.

“Marilah kita duduk di pendapa,” ajak Rudita.

“Terima kasih,” jawab Agung Sedayu, “udaranya sangat panas. Lebih baik aku duduk di serambi. Udaranya terasa agak segar oleh angin yang lembab.”

“Duduklah di pendapa. Aku mengajak kalian duduk di pendapa. Jangan membuat rencana sendiri. Jika aku mempersilahkan kalian ke pendapa, maka kalian akan ke pendapa, bukan pergi ke tempat yang kalian sukai masing-masing. Aku adalah keluarga Ki Gede Menoreh, dan kalian adalah tamu-tamu kami.”

Swandaru berpaling kepada Prastawa. Ia pun kadang langsung dari Ki Gede. Tetapi ia tidak pernah bersikap seangkuh itu.

Namun demikian, ketika sekali lagi Rudita menyuruh mereka naik, maka mereka pun segera naik pula ke pendapa, dan duduk saling berhadapan.

“Ada juga untungnya berkenalan dengan kalian,” berkata anak muda itu, “mungkin kalian lebih banyak mengenal hutan daripadaku. Benar?”

“Maksudmu?” bertanya Agung Sedayu.

“Apakah kau sering berburu?”

“Kadang-kadang.”

“Kau dapat mempergunakan anak panah dan busur?”

“Serba sedikit, Rudita. Tetapi aku memang pernah mencoba.”

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku ingin memberikan sebuah hadiah yang menarik buat Pandan Wangi. Seekor rusa hasil buruan. Apakah kau mau pergi bersamaku ke hutan perburuan itu?”

Agung Sedayu dan Swandaru saling berpandangan sejenak. Ketika mereka berpaling kepada Prastawa dilihatnya anak muda itu menganggukkan kepalanya, sehingga Agung Sedayu pun kemudian berkata, “Baiklah. Aku senang sekali mendapat kesempatan mengantarkan kau berburu. Tetapi sebenarnya aku sendiri tidak begitu mengerti cara-cara yang harus dilakukan untuk mendapatkan seekor binatang buruan.”

“Katamu, kau pernah berburu.”

“Hanya kadang-kadang. Kadang-kadang sekali. Itu pun di hutan yang kecil di sekitar Kademangan Sangkal Putung. Memang kami pernah mendapat seekor rusa di hutan itu.”

“Kau panah?”

“Tidak.”

“Bagaimana kau mendapatkannya?”

“Kami beramai-ramai mengejarnya. Tiga puluh orang anak muda.”

“Bodoh sekali,” berkata Rudita. Namun katanya kemudian, “Baiklah, kita coba. Kita akan berburu.”

“Kapan?”

“Sekarang.”

“O, kita akan kemalaman di hutan perburuan itu. Kenapa tidak besok pagi?”

“Aku ingin memberikan hadiah seekor rusa malam nanti.”

“Tetapi, waktunya tinggal sedikit. Sebentar lagi matahari akan mulai turun di Barat.”

“Aku tidak peduli. Aku ingin sekarang. Akulah yang ingin sekarang. Bukan kalian.” Lalu Rudita itu berpaling kepada Prastawa, “Di manakah hutan perburuan yang paling banyak mempunyai rusa atau kijang?”

Prastawa mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun menjawab, “Di ujung Timur dari Tanah Perdikan ini. Dekat Kali Praga.”

“Yang baru saja kami kunjungi, bersama Pandan Wangi?”

“Terlalu jauh. Hutan itu sedikit lebih dekat.”

“Berapa lama kita sampai ke tempat itu?”

“Menjelang senja kita sampai ke tempat itu.”

“Bodoh sekali kau. Apa yang dapat kita kerjakan di dalam gelapnya malam?”

“Tidak ada hutan yang lebih dekat lagi yang memiliki binatang buruan sebanyak hutan itu. Di hutan rindang di sebelah Barat ada juga satu dua ekor kijang. Tetapi terlalu sedikit untuk diburu dengan tergesa-gesa.”

“Baiklah,” berkata Rudita, “besok pagi saja kita berangkat. Pagi-pagi benar. Kita mengharap bahwa di sore hari kita sudah pulang membawa seekor rusa.”

“Pandan Wangi sering berburu di malam hari. Bahkan pernah ia bermalam dua malam berturut-turut di hutan buruan.”

Rudita mengerutkan keningnya. Dipandanginya Prastawa sejenak, lalu, “Kau berkata sebenarnya?”

“Ya, aku berkata sebenarnya.”

“Dan Pandan Wangi mendapatkan binatang buruan?”

“Ya. Kadang-kadang mendapatkannya. Tetapi kadang-kadang bukan Pandan Wangi sendiri yang berhasil, tetapi para pengiringnya.”

Rudita memandang Prastawa dengan tajamnya. Lalu katanya, “Itulah sebabnya aku ingin memberikan hadiah kepadanya seekor rusa buruan.”

Pandan Wangi yang mengikuti pembicaraan itu dari dalam rumahnya hampir tidak dapat menahan hati lagi. Suara tertawanya hampir saja meledak. Tetapi ia bertahan sekuat-kuatnya. Bahkan kemudian ia pun segera berlalu, agar pada suatu saat ia tidak kehilangan mengendalikan diri.

Demikianlah, anak-anak muda itu masih saja duduk di pendapa. Sebenarnya Pandan Wangi tidak sabar lagi menunggu Rudita itu meninggalkan anak-anak muda dari Sangkal Putung itu. Ada sesuatu yang mendesaknya untuk menemui mereka. Namun kadang-kadang ia mencoba menekan perasaan itu sedalam-dalamnya, justru karena ia adalah seorang gadis.

Namun Pandan Wangi yang duduk sendiri di ruang dalam itu terkejut ketika ayahnya berkata dari balik pintu, “Pandan Wangi.”

“O,” Pandan Wangi menjadi tersipu-sipu. Agaknya ayahnya mengetahui bahwa ia mengintip anak-anak muda yang sedang di pendapa itu. Tetapi sebenarnya ia tidak sedang mengintip Swandaru. Justru ia sedang mengintip Rudita yang berbuat aneh-aneh menurut penilaiannya.

Tetapi Pandan Wangi tidak dapat mengatakannya. Ketika ia kemudian berpaling dan memandang wajah ayahnya, pipinya sendiri menjadi semakin merah, karena ayahnya tersenyum dengan pandangan yang menggelitik hatinya.

“Pandan Wangi,” berkata ayahnya, “mumpung mereka duduk di pendapa, kau dapat menyuguhkan minuman panas bagi mereka.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam.

“Aku kira tidak ada salahnya jika kau menghidangkan minuman bagi mereka. Mereka bukan orang lain bagi kita. Meskipun mereka tamu dari jauh, tetapi mereka sengaja datang untuk memperpendek jarak antara Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh.” Ayahnya pun kemudian mendekatinya sambil berkata lirih, “Pandan Wangi. Marilah kita melihat ke dalam diri kita. Aku memang termasuk orang tua yang ketinggalan batasan hidup seperti yang dikehendaki oleh anak-anak muda. Tetapi aku mengerti bahwa kedatangan Ki Demang Sangkal Putung mempunyai maksud yang khusus. Meskipun belum dikatakan, tetapi sudah membayang di dalam pembicaraan kami. Karena itu aku tidak berkeberatan kau menemui anak Ki Demang itu bersama dengan saudara seperguruannya.”

Wajah Pandan Wangi menjadi panas, tetapi hatinya memang terlonjak untuk melakukannya.

Ayahnya masih memandanginya sejenak. Senyumnya masih saja membayang di bibirnya. Bahkan kemudian ia berkata, “Kau memang seorang gadis yang lain dari gadis sebayamu. Kadang-kadang kau bersikap dan bertindak sebagai seorang laki-laki. Namun dalam pakaian seorang gadis yang baik, kau adalah seorang gadis yang utuh. Meskipun demikian lebih baik bagimu keluar sama sekali ke pendapa daripada kau duduk di dalam seorang diri.”

Wajah Pandan Wangi yang merah menjadi semakin tunduk. Ayahnya tidak menyebut saja bahwa ia mengintip. Jika demikian justru ia dapat membantah bahwa sebenarnya ia sekedar tertarik pada sikap Rudita. Tetapi justru karena ayahnya tidak menyebutkannya, ia menjadi bingung.

“Sudahlah, Pandan Wangi. Yang paling baik buat mereka, sediakan minuman hangat. Agaknya Rudita tertarik pula untuk menemui mereka.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Ia pun kemudian pergi ke dapur, menyediakan minuman hangat bagi anak-anak muda yang duduk di pendapa.

Ketika pintu pendapa itu terbuka dari dalam, anak-anak muda itu pun berpaling. Sejenak mereka memandang seorang gadis yang berdiri di muka pintu sambil membawa nampan berisi beberapa mangkuk minuman.

Perlahan-lahan Pandan Wangi melangkah mendekati mereka. Ditundukkannya saja kepalanya, agar ia tidak menjadi gemetar jika pandangannya beradu dengan tatapan mata Swandaru.

Tetapi yang mula-mula berbicara adalah Rudita, “Ha, duduklah di sini, Pandan Wangi.” Lalu sambil berpaling ia berkata, “Prastawa, kau dapat menerima nampan itu.”

Prastawa mengumpat di dalam hatinya. Tetapi ia beringsut juga menerima nampan yang dibawa oleh Pandan Wangi yang mulai gemetar itu.

“Duduklah di sini. Apakah kau sudah mengenal anak-anak yang baru datang dari Sangkal Putung ini?”

Prastawa hampir tidak dapat menahan gelaknya mendengar pertanyaan itu.

“Apa salahnya kau duduk di sini bersamaku menemui tamu-tamu ayahmu ini. Mereka adalah anak-anak yang datang dari Sangkal Putung.”

“Kakak Pandan Wangi pernah mengenal mereka,” berkata Prastawa. “Bukankah sudah aku katakan, bahwa mereka pernah tinggal di sini? Eh, apakah aku belum mengatakannya?”

Rudita mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu mulutnya pun bergerak, “Jadi kalian memang pernah berkenalan?”

Yang menjawab adalah Prastawa, “Mereka sudah saling mengenal.”

“O,” Rudita masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Kalau begitu, duduklah, Pandan Wangi. Kita temui tamu-tamu kita ini.”

Pandan Wangi menjadi semakin segan duduk di antara mereka justru karena ada Rudita. Tetapi ia tidak dapat pergi lagi karena Prastawa pun mempersilahkannya pula.

“Kita sedang merencanakan untuk pergi berburu,” berkata Rudita. “Aku ingin memberikan hadiah seekor rusa buruan kepadamu.”

Kata-kata itu tidak disangka-sangka akan dikatakannya kepadanya, sehingga karena itu Pandan Wangi justru menjadi tersipu-sipu. Kepalanya menjadi semakin tunduk dan sikapnya yang gelisah menjadi semakin gelisah.

Dalam pada itu, ternyata bahwa Swandaru pun menjadi bingung menghadapi Pandan Wangi. Setelah sekian lamanya mereka tidak bertemu, dan kini Pandan Wangi menemuinya dengan pakaian seorang gadis yang menurut penilaiannya cukup sempurna, maka hatinya pun menjadi berdebar-debar.

Karena itu, meskipun ada juga debar di jantungnya, namun tidak sekeras debar jantung Swandaru, maka Agung Sedayu-lah yang mulai bertanya kepada gadis itu, “Apakah sejak saat kami meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh, kau masih saja senang berburu, Pandan Wangi.”

Pertanyaan yang tidak langsung menyentuh dirinya itu membuat gadis itu seakan-akan terlepas dari belenggu yang menyesakkan. Karena itu maka jawabnya, “Sekali-sekali aku masih berburu, Kakang.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun kemudian. bertanya tentang hutan perburuan di daerah Menoreh dan bahkan hutan-hutan yang kadang-kadang masih belum banyak dijamah oleh seseorang.

“Kita akan berburu ke hutan yang lebat itu,” berkata Agung Sedayu, “tentu binatang buruannya masih jauh lebih banyak dari hutan-hutan perburuan.”

“Maksudmu?” bertanya Rudita yang menjadi heran, bukan saja hubungan Agung Sedayu dan Pandan Wangi yang tampaknya sudah begitu erat, juga karena Agung Sedayu menyebut-nyebut hutan yang lebat dan jarang disentuh tangan manusia.

“Kita berburu di hutan itu. Tentu akan lebih menarik dari sekedar berburu di hutan perburuan.”

Belum lagi Rudita mengerti sepenuhnya, Pandan Wangi justru menyahut, “Kita akan mencobanya.”

Sambil menyentuh Swandaru, Agung Sedayu bertanya, “He, bagaimana dengan kau, Swandaru Geni.”

Swandaru tergagap. Tetapi ia menyahut, “Tentu menyenangkan sekali. Aku sependapat.”

Tetapi tiba-tiba saja Prastawa menyahut sambil tersenyum, “Kau tidak usah berburu kemana-mana Swandaru. Kau berburu saja di sini.”

Sejenak Swandaru justru terbungkam. Sepercik warna merah menjalar di wajahnya. Bahkan bukan saja Swandaru, tetapi Pandan Wangi yang mengerti maksud itu pun menjadi semakin tertunduk dalam-dalam.

Tetapi Swandaru cepat dapat mengatasi kesulitannya, bahkan ia sempat menyahut, “Bagaimana aku akan berburu, kalau yang diburu tidak ada di sini di saat perburuan besok, karena justru akan pergi ke hutan.”

Prastawa tidak dapat menahan gelaknya. Agung Sedayu pun tertawa pula. Meskipun wajah Pandan Wangi terasa panas, namun ia tersenyum pula.

Yang terheran-heran adalah Rudita. Ia tidak mengerti kenapa hal itu dapat menimbulkan tertawa. Karena itu ia pun dengan serta-merta bertanya, “He, siapakah yang kalian maksud? Siapakah yang harus diburu di sini? Aku? Atau siapa?”

Prastawa menahan suara tertawanya. Katanya, “Jangan terlampau perasa. Kami berbicara tentang diri kami. Bukan kau. Kami memang saling memburu pada saat lampau pada saat Menoreh masih belum setenteram sekarang. Akulah yang selalu diburu oleh Kakak Pandan Wangi dan kedua anak-anak muda ini. Tetapi sekarang aku sudah menyadari keadaanku, dosa-dosaku, dan kesalahan-kesalahanku.”

Rudita mengerutkan keningnya. Persoalan yang dikatakan Prastawa adalah persoalan yang berat bagi Menoreh. Bukan persoalan yang dapat disebut sambil lalu saja. Tetapi Prastawa mengucapkannya sambil tertawa-tawa, meskipun ia menyebut dirinya sendiri sebagai buruan.

Sejenak Rudita termenung. Namun kemudian ia berkata, “Kalian membohongi aku. Kalian jangan berbicara tentang persoalan-persoalan yang aku tidak mengerti. Di dalam pembicaraan dengan banyak pihak, kalian harus mengambil persoalan yang tidak dapat menimbulkan salah paham.”

Prastawa menganggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Kita akan berbicara saja tentang binatang buruan di hutan lebat itu. Jika kita berburu ke hutan buruan di sebelah Kali Praga kita akan dapat menyusur ke Utara dan kita akan sampai ke hutan yang masih liar. Tentu di daerah itu banyak sekali binatang buruan. Apalagi tidak terlalu jauh dari aliran Kali Praga sebagai tempat untuk mendapatkan air bagi binatang-binatang yang kehausan, karena tebingnya yang landai.”

“Aku tidak mau,” berkata Rudita, “aku hanya akan berburu di hutan buruan.”

Namun di luar dugaannya, Pandan Wangi yang selama itu berdiam diri sambil menunduk, tiba-tiba menyahut, “Aku ingin berburu di hutan itu. Jika kau tidak berani, kau dapat menunggu kami di luar hutan.”

“Pandan Wangi,” desis Rudita dengan sorot mata yang aneh. Apalagi saat itu Pandan Wangi mengenakan pakaian seorang gadis yang hampir sempurna. Tidak pantaslah nampaknya jika ia berbicara tentang perburuan.

Namun sebelum ia melanjutkan, Pandan Wangi yang mengenakan kain panjang yang singset dan baju yang rapat itu tersenyum kepadanya sambil berkata, “Ya Rudita. Kami akan berburu di hutan yang paling liar di Menoreh. Tentu menyenangkan sekali. Tidak ada orang yang pernah melakukannya selain aku dan ayah. Sekarang ayah sudah tidak pernah lagi melakukannya sejak kakinya tidak mau pulih seperti sediakala. Dan kini aku mempunyai beberapa orang kawan untuk melakukannya.”

Prastawa memandang Pandan Wangi dengan tegangnya. Dari sela-sela bibirnya terdengar suaranya, “Gila. Tentu di hutan liar banyak binatang buas, ular-ular berbisa dan bahkan serangga yang dapat menghentikan jalan darah.”

“Masih banyak lagi. Kumbang biru, semut sabuk putih, kera yang buas berambut merah, harimau dahan yang licik, anjing hutan.”

“Cukup,” Rudita memotong. Wajahnya menjadi kemerah-merahan seperti wajah Pandan Wangi ketika ia baru saja keluar dari pintu depan.

“Apakah kau tidak ingin ikut?” bertanya Pandan Wangi.

Wajah Rudita yang merah menjadi tegang. Namun katanya kemudian, “Aku akan ikut. Akulah yang ingin berburu.”

“Baiklah. Kita akan berangkat besok pagi-pagi. Mungkin kita akan bermalam di hutan itu.”

“Bermalam?” Rudita menjadi heran. “Apakah Paman Argapati mengijinkan kau bermalam? Bukankah kau seorang gadis? Dan apakah kau sering melakukannya seperti yang dikatakan oleh Prastawa, bermalam di hutan dua tiga malam bersama banyak pengiring laki-laki.”

“Kenapa?” bertanya Pandan Wangi.

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Dipeganginya keningnya. Lalu katanya, “Baik, baik. Aku akan pergi berburu besok. Sekarang aku akan berkemas.”

Dengan tergesa-gesa Rudita pun kemudian meninggalkan pendapa itu. Pandan Wangi dan Prastawa memandanginya sambil tersenyum. Namun mereka tidak berkata apa pun juga, sedang Swandaru dan Agung Sedayu pun segan juga bertanya tentang anak muda itu, karena mereka mengetahuinya, bahwa Rudita adalah masih mempunyai hubungan keluarga dengan Pandan Wangi lewat jalur ibunya.

Sejenak kemudian, ketika Rudita telah hilang di longkangan, maka Pandan Wangi pun berkata pula, “Kita benar-benar akan berburu besok. Tetapi yang kita hadapi dan yang mungkin kita temui bukan sekedar binatang buas atau binatang-binatang berbisa. Tetapi mungkin juga bahaya yang lain.”

“Apa yang kau maksud?” bertanya Agung Sedayu.

“Kita harus bersenjata selengkapnya, bukan sekedar senjata untuk berburu, karena di sepanjang tepian Kali Praga kadang-kadang kita jumpai orang-orang yang tidak kita kehendaki.”

Ternyata kata-kata Pandan Wangi itu telah menarik perhatian Agung Sedayu dan Swandaru sehingga tanpa mereka sadari, hampir bersamaan mereka bertanya, “Siapakah mereka itu?”

Pandan Wangi sadar bahwa kata-katanya pasti akan menarik perhatian. Karena itu maka ia pun segera menjawab, “Kami di sini tidak tahu dengan pasti. Tetapi mereka adalah orang-orang yang menyeberang dari sebelah Kali Praga. Kami mengetahui bahwa telah terjadi pertentangan bersenjata di seberang. Dan kami tidak ingin Menoreh menjadi tempat pelarian atau landasan di dalam pertentangan bersenjata itu.”

Kedua anak-anak muda dari Sangkal Putung itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata bahwa ceritera pemilik getek yang membawa mereka menyeberang itu pasti bukan sekedar ceritera atau desas-desus.

Namun dalam pada itu, ternyata Swandaru menjadi sangat tertarik, sehingga katanya kemudian, “Jika demikian, besok kita benar-benar pergi ke Kali Praga, berburu atau tidak berburu.”

“Ah, kau,” desis Agung Sedayu, “tujuan kita adalah berburu. Jika kita menjumpai persoalan lain kecuali binatang buruan, kita tidak dapat lari lagi dari padanya.”

Swandaru tersenyum. Dipandanginya Agung Sedayu sejenak, lalu, “Baiklah, jika itu istilah yang paling baik dipergunakan.”

Prastawa pun tersenyum pula, sedang Pandan Wangi menundukkan kepalanya.

Demikianlah maka mereka masih berbicara beberapa lama tentang hutan liar di sebelah Kali Praga itu. Juga tentang orang-orang bersenjata yang kadang-kadang menyeberang ke Barat setelah terjadi benturan senjata di sebelah Timur Kali Praga.

“Ah,” berkata Prastawa, “kenapa kita berbicara tentang hal-hal yang dapat menegangkan syaraf. Marilah kita berbicara tentang diri kita.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Aku akan pergi sebentar ke belakang. Aku ingin melihat, apakah kuda-kuda sudah dibersihkan.”

Prastawa tidak menunggu jawaban siapa pun. Ia pun segera bergeser. Namun sebelum ia pergi, Agung Sedayu menyela, “Apakah aku dapat melihat bagian belakang dari halaman ini. Aku tidak tahu lagi, di manakah letak pakiwan.”

“Baiklah, aku akan menunjukkannya,” sahut Prastawa.

Tetapi tiba-tiba Pandan Wangi berkata, “Prastawa tunggulah di sini. Biarlah aku yang menunjukkannya.”

“Ah.”

Pandan Wangi pun kemudian berdiri. Ia tahu maksud kedua anak-anak muda ini. Namun rasa-rasanya masih asing bagi Pandan Wangi untuk duduk berdua saja dengan Swandaru di pendapa itu. Karena itu dengan tergesa-gesa ia melangkah sambil berkata, “Marilah, Kakang Agung Sedayu.”

Tetapi Agung Sedayu-lah yang kemudian tersenyum sambil berkata, “Ah, tentu tidak pantas jika kau mengantarkan aku ke pakiwan.”

“Apa salahnya. Aku pantas pergi berburu dan bermalam di hutan.”

Agung Sedayu tertawa. Tetapi ia justru memperbaiki letak duduknya dan bergeser mendekati Swandaru.

“Terserahlah,” berkata Pandan Wangi, “tetapi jika perlu, biarlah Prastawa mengantarkanmu.”

Prastawa tidak menyahut. Tetapi tatapan matanya sajalah yang membuat Pandan Wangi menjadi tersipu-sipu.

Demikianlah, ketiga anak-anak muda itu masih berbincang sejenak mengenai orang-orang yang tidak dikehendaki di hutan di sepanjang Kali Praga. Kemudian Agung Sedayu dan Swandaru pun segera kembali ke gandok.

Dalam pada itu maka orang tua di kedua belah pihak, Swandaru dan Pandan Wangi, ternyata telah mempersiapkan diri masing-masing untuk pada saatnya memasuki pembicaraan yang resmi. Agar mereka tidak terlalu lama berada di Menoreh, maka Ki Demang Sangkal Pulung telah sependapat dengan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar bahwa pada malam harinya mereka akan menyampaikan maksud kedatangan mereka di Tanah Perdikan Menoreh.

Karena itulah, maka ketika Tanah Perdikan Menoreh, dibayangi oleh cahaya senja, Kiai Gringsing-lah yang pertama-tama menemui Ki Gede Menoreh, dan mengatakan bahwa malam nanti Ki Demang di Sangkal Putung, ingin menyampaikan suatu kepentingan kepada Ki Argapati.

Ki Argapati tersenyum. Katanya kepada Kiai Gringsing, “Aku menjadi berdebar-debar. Tetapi aku mendapat firasat bahwa kedatangan Kiai adalah kelanjutan dari apa yang pernah Kiai katakan sebelumnya.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Demikianlah adanya, Ki Gede. Sekarang Ki Demang sudah berada di Menoreh. Biarlah nanti malam Ki Demang menyampaikannya sendiri.”

“Baiklah, Kiai Gringsing. Aku akan menerimanya. Dan karena kebetulan di rumah ini ada juga seorang tamu yang sudah agak lama tidak saling mengunjungi, maka kami akan membawanya menerima Ki Demang, Kiai sendiri, dan Ki Sumangkar.”

“Terima kasih, Ki Gede,” desis Kiai Gringsing, “sebenarnya persoalannya sudah jelas jika tidak ada persoalan lain yang selama ini telah terjadi. Tetapi semuanya harus dilakukan sesuai dengan jalur jalan yang sewajarnya.”

“Ya, ya Kiai. Aku mengerti dan berterima kasih.”

Demikianlah, maka segala sesuatunya pun telah dipersiapkan. Ki Gede Menoreh telah menemui ayah Rudita. Dimintanya ayah Rudita untuk ikut menerima Ki Demang Sangkal Putung yang akan membicarakan Pandan Wangi secara resmi.

“Ayah,” berkata Rudita sepeninggal Ki Gede, “apakah maksud Ki Argapati sebenarnya.”

Ayahnya memandang Rudita sejenak. Lalu sambil tertawa ia pun berkata, “Rudita, Pandan Wangi sudah cukup dewasa. Bahkan umurnya justru sudah agak lampau bagi seorang gadis. Namun sebenarnyalah pembicaraan tentang hubungannya dengan anak Sangkal Putung itu sudah agak lama. Tetapi berhubung dengan banyak persoalan, baru sekarang mereka datang dengan resmi untuk membicarakannya.”

Rudita memandang ayahnya dengan wajah yang tegang. Lalu tiba-tiba saja ia berkata, “Jadi, maksud Ayah, Pandan Wangi akan kawin?”

Ayahnya menganggukkan kepalanya.

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja ia menjadi kecewa mendengar kata-kata ayahnya itu. Bahkan Ia pun kemudian berkata, “Sayang sekali.”

“Kenapa?” bertanya ayahnya.

“Ia cantik sekali.”

Ayahnya tertawa. Katanya, “Apakah seseorang yang cantik sekali itu tidak seharusnya mengakhiri masa remajanya dan kemudian kawin?”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau pun sebenarnya sudah dewasa Rudita. Dan sekarang ternyata kau sudah mengenal kecantikan seorang gadis. Memang sudah waktunya bagimu untuk berbicara tentang gadis.”

“Tetapi Pandan Wangi sudah akan kawin.”

“Ya, tentu. Dan kau pun pada saatnya akan kawin juga. Pada suatu kali kau tentu akan menjumpai seorang gadis yang pantas untuk kau jadikan seorang isteri.”

Anak muda itu tidak menjawab.

“Nah, kau harus mengucapkan selamat kepada Pandan Wangi. Meskipun sudah tidak terlampau dekat, kau adalah sanak kadangnya.”

Rudita tidak menyahut. Tetapi kepalanya ditundukkannya. Tanpa disadarinya ia mulai memandang dirinya sendiri. Bahkan kemudian ia mencoba memperbandingkan dirinya sendiri dengan anak muda Sangkal Putung itu. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Ayah, yang manakah yang kelak akan menjadi suami Pandan Wangi.”

Ayahnya memandanginya sejenak, lalu, “Yang gemuk dan berwajah cerah seperti wajah kanak-anak yang tidak berlapis.”

“Yang tidak berlapis?”

“Ya. Yang di luar dan di dalamnya sama sekali tidak berbeda. Mudah-mudahan dugaanku benar, karena aku hanya menangkap kulit luarnya saja. Memang mungkin sifat yang terbaca pada bentuk dan cahaya matanya itu tidak tepat.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi sayang, bahwa betapa pun bersihnya hati seseorang, ada juga nodanya meskipun hanya setitik. Anak yang gemuk itu agak terlampau bernafsu untuk memenuhi semua keinginannya tanpa kendali. Mudah-mudahan aku salah.”

“Tidak, Ayah tidak pernah salah.”

Ayahnya tersenyum, katanya, “Mana mungkin seseorang tidak pernah salah.”

“Pada umumnya. Jika seseorang bertanya kepada Ayah tentang sesuatu, biasanya Ayah benar. Bukankah karena itu Ayah menjadi terkenal dan disegani. Juga bukankah karena itu Ayah menjadi kaya?”

“Ah,” potong ayahnya, “tidak seorang pun yang mengerti tepat seperti yang kemudian terjadi. Yang aku lihat adalah semacam isyarat dari setiap peristiwa. Karena itu ada dua kemungkinan yang dapat membuat aku keliru. Isyarat itu tidak tepat, atau uraianku tentang isyarat itulah yang tidak tepat.”

Anaknya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Mungkin demikian. Tetapi sampai sekarang, kesalahan semacam itu jarang sekali terjadi. Dan Ayah semakin lama menjadi semakin dikenal orang.”

Ayahnya tersenyum. Katanya, “Berterima kasihlah kepada Yang Maha Murah, bahwa aku mendapat anugerah ketajaman pengamatan atas peristiwa yang bakal terjadi. Tetapi ingat, bahwa yang dapat aku katakan, hanyalah yang aku lihat isyaratnya. Karena banyak sekali persoalan yang tidak dapat aku jawab. Aku juga tidak tahu, apa yang akan terjadi dengan diri kita, dengan Ki Gede Menoreh dan tentang banyak orang. Namun kadang-kadang seseorang yang datang kepadaku membawa persoalan-persoalan yang sudah disertai dengan isyarat itu sendiri.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Selama ini ia tidak pernah tertarik dengan ketajaman indera ayahnya. Yang ia tahu ayahnya adalah seorang yang kaya dan disegani. Yang banyak dikunjungi orang dan setiap kali dapat meramalkan apa yang akan terjadi atas suatu persoalan.

“Atas sesuatu persoalan,” berkata Rudita di dalam hatinya, “jadi tidak pada setiap persoalan. Menurut Ayah, banyak sekali pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya.”

Dan tiba-tiba saja Rudita bertanya, “Ayah, siapakah bakal suami Pandan Wangi.”

Ayahnya menjadi heran. Jawabnya, “Kau aneh. Bukankah Ki Gede sedang menerima lamaran seseorang? Tentu anak muda Sangkal Putung itulah bakal suaminya. Dalam hal ini, kita tentu tidak perlu menunggu bentuk isyarat yang mana pun dan kemudian mengurainya.”

“Maksudku, apakah benar-benar akan terjadi, bahwa Pandan Wangi akan kawin dengan anak muda Sangkal Putung itu.”

Ayahnya tersenyum. Katanya, “Aku tidak berusaha melihat isyarat lain. Kita menganggap bahwa perkawinan itu akan terjadi.”

“Cobalah, Ayah. Buatlah suatu isyarat bahwa perkawinan itu tidak akan berlangsung.”

Ayahnya mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah anaknya sejenak tanpa mengucapkan kata-kata.

“Ayah,” ulang anaknya, “buatkan suatu isyarat. Agar kelak perkawinan itu gagal.”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Yang aku lihat itu adalah suatu isyarat. Bukan syarat-syarat untuk melakukan sesuatu.”

“Apakah bedanya?”

“Ah kau. Kelak kau akan mengetahui dengan sendirinya. Tetapi dengan mudah dapat aku katakan bahwa syarat-syarat diperlukan untuk melakukan sesuatu, atau untuk mengharap sesuatu terjadi. Tetapi isyarat adalah sekedar petunjuk, tanda-tanda atau semacam itu bahwa sesuatu akan terjadi. Jika aku melihat suatu isyarat bahwa seseorang akan mengalami bencana, bukan akulah yang menyebabkan bencana itu terjadi, atau bukan isyarat itulah yang menyebabkan sesuatu itu terjadi. Tetapi yang akan terjadi itu tetap terjadi dengan atau tidak dengan isyarat.”

Rudita mengerutkan keningnya. Ia selama ini hampir tidak pernah berbicara dengan ayahnya tentang kerja ayahnya itu. Dan tiba-tiba saja ia menjadi tertarik karenanya.

“Jika kau masih juga tidak mengerti Rudita, cobalah perhatikan. Jika malam menjelang fajar, maka kau akan mendengar ayam jantan berkokok. Nah, bagaimana seandainya semua ayam di dunia ini dibungkam? Tentu matahari akan tetap terbit, karena bukannya matahari itu terbit karena ayam berkokok, tetapi kokok ayam adalah suatu isyarat akan datangnya fajar.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia tidak begitu mengerti, tetapi sudah mulai terbayang maksud ayahnya.

Karena itu maka katanya, “Jika demikian, apakah Ayah tidak dapat berbuat sesuatu agar yang akan terjadi itu urung atau batal sama sekali.”

Ayahnya menggelengkan kepalanya. “Tidak Rudita. Aku sebenarnya tidak dapat berbuat apa-apa. Untuk mengetahui isyarat itu pun tidak setiap kali dapat aku lakukan. Kadang aku gagal dan sama sekali tidak melihat apa-apa, tetapi kadang-kadang aku salah mengartikan isyarat itu dengan bahasa sehari-hari.”

Rudita mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Baiklah, Ayah.”

“Kenapa?” bertanya ayahnya dengan curiga.

“Tidak apa-apa. Bukankah Ayah mengatakan bahwa Ayah tidak dapat berbuat apa-apa.”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Terasa sesuatu menyentuh hatinya. Sudah lama ia mengharap anaknya itu menyebut sesuatu tentang perempuan, karena umurnya memang sudah cukup dewasa meskipun sifatnya yang kadang masih kekanak-kanakan.

Dan yang membuatnya prihatin, ayah Rudita itu masih saja gagal melihat kemungkinan yang bakal terjadi dengan anaknya, seperti yang kadang-kadang memang terjadi. Tetapi bagi masa depan anaknya, bukan saja karena ia tidak berhasil tetapi sebagian karena pemusatan pikirannya terganggu oleh perasaan takut dan cemas. Ayah Rudita itu tidak berani melihat kenyataan tentang anaknya karena sikap dan sifat anaknya itu sendiri. Jika ia melihat se-suatu yang gelap di masa depan itu, tentu ia akan bersedih. Apalagi jika isterinya mengetahuinya pula.

Karena itulah kemudian ayah Rudita itu hanya pasrah saja kepada Yang Maha Kuasa. Apa pun yang terjadi pasti akan terjadi. Diketahui atau tidak diketahui lebih dahulu. Dan tentu demikian pula atas anaknya itu.

Namun pertanyaan ayahnya tentang kemungkinan yang akan terjadi atas Pandan Wangi itu telah membuatnya berprihatin. Ia mengerti, bahwa anaknya yang jarang sekali bergaul dengan perempuan itu telah tertarik oleh Pandan Wangi meskipun mungkin sekali umur Pandan Wangi agak lebih tua daripadanya, dan keduanya masih mempunyai hubungan darah.

Ternyata bukan saja ayahnya. Ibunya yang sama sekali tidak mencampuri pembicaraan itu pun menjadi berprihatin pula. Ketika anaknya kemudian pergi dengan kepala tunduk, maka ibunya mendekati suaminya sambil berkata, “Apakah yang Kakang pikirkan tentang Rudita?”

“Aku justru menjadi semakin prihatin, Nyai,” jawabnya.

“Agaknya ia mulai tertarik kepada perempuan.”

“Ya. Tetapi sayang sekali, bahwa perempuan itu adalah Pandan Wangi.”

“Ya sayang sekali. Tetapi cobalah Kakang, apakah sama sekali tidak ada kemungkinan untuk menuruti keinginan anak itu?”

“Ah, kau. Bagaimana mungkin. Anak muda Sangkal Putung itu sudah datang untuk melamarnya. Sebentar lagi mereka tentu akan kawin. Apa yang dapat aku lakukan?”

“Batalkan perkawinan itu.”

“Ah,” suaminya bergeser sejenak, lalu, “mana mungkin, Nyai. Mana mungkin seseorang dapat merubah keharusan yang bakal terjadi. Jika hal itu akan terjadi, terjadilah. Tetapi jika batal, itu sama sekali bukan karena seseorang.”

“Kakang,” berkata isterinya, “selama ini kau sudah melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Selama ini kau dapat melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Jika demikian, maka kau pun tentu dapat berbuat sesuatu yang tidak dapat diperbuat oleh orang lain pula. Selama ini kau hanya berusaha melihat apa yang bakal terjadi. Tetapi kekuatan batiniah yang sudah ada itu, tentu akan dapat kau pergunakan untuk mem-pengaruhi sesuatu yang bakal terjadi itu, karena hubungan sebab dan akibat. Jika yang bakal terjadi itu adalah satu saja rangkaian peristiwa dari kejadian-kejadian, maka pengaruh kekuatan batinmu akan berlaku.”

Ayah Rudita itu mengerutkan keningnya. Ia memang memiliki kelebihan dari orang-orang lain. Ia dapat melihat isyarat yang ada pada seseorang, sehingga kadang-kadang ia dapat mengatakan sesuatu yang akan terjadi pada seseorang, meskipun ia tidak ingkar bahwa kadang-kadang ia keliru. Keliru melihat isyarat itu atau keliru mengurai.

“Nyai,” berkata ayah Rudita itu kemudian, “aku pun senang sekali jika aku dapat menuruti keinginan anak itu seperti yang selalu kita lakukan sampai sekarang. Tetapi yang satu ini menyangkut beberapa macam persoalan. Selain aku belum dengan sungguh-sungguh berusaha melihat isyarat apa yang ada pada Pandan Wangi, pada anak muda Sangkal Putung itu dan pada diri anak kita sendiri, sebenarnya aku pun mempunyai beberapa keberatan. Pandan Wangi adalah sanak kita sendiri, sehingga pada kedua anak itu terdapat tetesan darah yang sama. Selain daripada itu, agaknya Pandan Wangi lebih tua dari Rudita.”

“Ah, keberatanmu bukan persoalan yang pokok di dalam kehidupan rumah tangga. Banyak sekali perkawinan antara sanak yang sudah jauh dan sangat berbahagia. Juga umur dua orang suami isteri tidak menentukan.”

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s