ADBM1-074

<<kembali | lanjut >>

TETAPI tentu lawan sudah sangat lemah, dan kita tinggal menghancurkan mereka seperti memijat buah ranti.”

“Kau benar. Namun segala jalan akan kita tempuh. Kau harus berusaha dapat menghadap Ki Gede Pemanahan atau orang yang dipercaya, yang dapat diyakini akan menyampaikan kabar itu kepada Ki Gede.”

“Ya. Kami akan berusaha.”

“Nah, berangkatlah. Saat ini Sutawijaya tentu berada di perjalanan. Jika tidak, sekiranya Sutawijaya ada di Mataram, kau dapat mengambil kebijaksanaan lain.”

“Baik.”

“Jangan lupa. Kau harus menyebut, bahwa gadis yang telah terjerat oleh Raden Sutawijaya itu adalah salah seorang gadis dari Kalinyamat, yang sedianya disimpan untuk Sultan Pajang. Jika Ki Gede Pemanahan mendengar, ia tentu akan marah kepada puteranya, karena akan dapat menumbuhkan persoalan baru di Mataram. Bukan persoalan Tanah Mataram lagi, tetapi karena kelancangan Raden Sutawijaya. Kemarahan Ki Gede Pemanahan akan mempengaruhi usaha Raden Sutawijaya kali ini. Jika ia berhasil memasuki padepokan ini hari ini juga, maka besok akan datang utusan dari Mataram untuk memanggilnya.”

Kedua orang yang sudah bersiap untuk berangkat itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mudah-mudahan waktu yang sudah kita perhitungkan tidak meleset. Pada saat yang bersamaan, maka akan tersebar desas-desus tentang persoalan yang sama di Pajang. Jika kemudian Sultan Pajang mendengar dan mengambil tindakan, semuanya akan menjadi lebih lancar.”

Kedua orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Semula kita sudah hampir kehabisan akal. Api apakah yang akan kita pergunakan untuk membakar hubungan antara Pajang dan Mataram yang memang sudah agak buruk. Usaha kita selalu gagal. Untunglah bahwa Raden Sutawijaya sendiri telah menyediakan persoalan baru bagi kita, sehingga agaknya kali ini Sultan Pajang yang tidak dapat mengendalikan diri terhadap perempuan itu akan marah dan mengambil tindakan bukan saja secara pribadi terhadap Raden Sutawijaya karena telah berani menyadap kegadisan simpanannya, puteri dari Kalinyamat itu.”

“Aku kira persoalan ini merupakan persoalan yang sangat gawat bagi Mataram. Mudah-mudahan Sultan Pajang akan segera menjatuhkan hukuman. Jika Raden Sutawijaya melawan, maka benturan itu tidak akan dapat dihindarkan lagi. Justru bukan atas usaha kita.”

“Baiklah, segeralah berangkat. Hati-hati, jangan sampai menimbulkan kecurigaan. Kalian memang bekas prajurit-prajurit Pajang yang akan dapat bersikap benar-benar seperti orang Pajang.”

Demikianlah, selagi padepokan itu sedang diancam oleh bahaya yang memang sudah disadari oleh Putut Nantang Pati, namun mereka masih juga mengirimkan orangnya pergi ke Mataram untuk mempengaruhi Ki Gede Pemanahan agar memanggil Raden Sutawijaya. Tentu Raden Sutawijaya menjadi sangat kecewa dan perlawanannya pun tidak akan segigih semula. Adalah menyenangkan sekali jika mereka berhasil menangkap Raden Sutawijaya hidup-hidup, kemudian dipergunakan untuk memeras ayahandanya, Ki Gede Pemanahan agar ia bersedia diperalat, dan menempatkan orang-orang dari padepokan Panembahan Agung untuk memegang jabatan-jabatan penting di Mataram, yang memungkinkan memancing pertentangan terbuka dengan Pajang atas nama Mataram yang dipimpin oleh Ki Gede Pemanahan.

Kedua orang utusan ke Mataram itu pun kemudian menuruni perbukitan rendah itu melalui jalur yang berseberangan dengan arah kedatangan para pengawal dari Mataram dan Menoreh. Di padukuhan tidak terlampau jauh dari kaki pebukitan itu, mereka akan dapat mengambil kuda mereka untuk menempuh perjalanan ke Mataram. Tetapi mereka tidak dapat mengambil jalan yang menghubungkan Menoreh dan Mataram. Mereka harus melingkar sedikit, meskipun jaraknya juga tidak akan bergeser terlalu jauh.

Putut Nantang Pati yang kemudian menemui Daksina mengatakan bahwa dua orang sudah berangkat ke Mataram. Mereka harus berusaha menyampaikan berita itu kepada Ki Gede Pemanahan secepatnya.

“Tetapi apakah berita itu dapat dipercaya?” bertanya Putut Nantang Pati kepada Daksina.

“Maksudmu berita tentang Raden Sutawijaya itu?” Daksina ganti bertanya.

“Ya.”

“Yakinlah. Jika seandainya saja kedua puteri yang dijanjikan Ratu Kalinyamat itu dipanggil ke dalam istana dan ditanya seorang demi seorang, maka akan ternyata bahwa berita itu bukan sekedar berita bohong. Bahkan menurut pendengaranku, salah seorang dari kedua puteri itu sudah mengandung.”

“Ah.”

“Percayalah.”

“Jika demikian kita tidak perlu memancing persoalan lagi. Pajang tentu akan datang ke Mataram, menghukum Raden Sutawijaya.”

“Nah, bukankah kita tidak perlu mengorbankan orang-orang seperti yang terjadi di Jati Anom.”

“Kita masih belum mengetahui hal itu. Tetapi kini kita tinggal menunggu Mataram dahulu akan hancur. Baru kemudian kita akan membangun Mataram yang kuat. Bersama Mangir kita akan dapat menghancurkan Pajang. Apalagi jika kita berhasil memeras Ki Gede Pemanahan.

“Bagaimana jika Pemanahan ikut musna bersama Mataram dan Sutawijaya sendiri.”

“Bukan soal lagi bagi kita. Kita akan membangun sebuah negeri yang lebih baik dari Mataram sekarang dan sudah barang tentu lebih kuat.”

Daksina mengerutkan keningnya. Dipandanginya Putut Nantang Pati sejenak, lalu katanya, “Tetapi persoalan Mataram bukan sekedar persoalan Mataram itu sendiri, Pajang pun bukan sekedar kota Pajang yang kita lihat itu. Tetapi jika kita berbicara tentang Pajang, kita harus mengingat kekuatan para adipati di daerah Pesisir Utara dan Bang Wetan.”

Putut Nantang Pati tidak segera menyahut. Ia mencoba membayangkan kekuatan yang tersembunyi di belakang Pajang. Kekuatan para Adipati itu. Tanpa sesadarnya ia berdesis, “Jika saja kita dapat memaksa Ki Gede Pemanahan. Ia mempunyai pengaruh yang kuat atas para adipati.”

Daksina mengangguk-angguk, “Itu memang harus dipikirkan masak-masak. Sutawijaya harus tertangkap hidup-hidup. Jika perintah Ki Gede Pemanahan untuk memanggilnya sampai, ia akan kehilangan segala gairah. Nah, kesempatan itu akan kita pergunakan.”

“Ada dua kemungkinan. Ia kehilangan gairah untuk meneruskan pertempuran, atau justru karena putus asa ia menjadi liar dan berkelahi dengan buasnya.”

“Kedua-duanya baik bagi kita. Jika ia menjadi liar dan gelap hati, maka Panembahan Agung akan segera menguasainya. Dengan kekuatan ilmunya ia dapat memaksa Sutawijaya untuk diam. Jika tiba-tiba saja di sekeliling anak muda itu terdapat sebuah pagar besi, maka ia tentu akan segera menyerah.”

Putut Nantang Pati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia pun kemudian mengerutkan keningnya dan bertanya, “Apakah kau berkata sebenarnya?”

“Ya, sebenarnya. Bukankah menurut ceriteramu dan anak buahmu, Panembahan Agung dapat menciptakan yang tidak ada menjadi ada?”

“Bukan menciptakan yang ada menjadi ada.”

“Jadi bagaimana?”

“Membuat yang tidak ada seolah-olah ada. Itulah kekuatan ilmunya.”

Daksina tersenyum. Namun tiba-tiba saja ia berusaha untuk tidak menimbulkan kesan apa pun di wajahnya. Namun yang sekilas itu dapat tertangkap oleh Putut Nantang Pati, sehingga wajah Putut itu menjadi tegang sejenak. Putut Nantang Pati menyadari bahwa Daksina tidak begitu membanggakan ilmu Panembahan Agung. Mungkin Daksina masih belum pernah menyaksikannya sendiri dan apalagi mengalami, yang diketahui oleh Daksina adalah bahwa Panembahan Agung mempunyai beberapa orang pembantu yang dapat dibanggakan. Termasuk Putut Nantang Pati sendiri selain mereka yang telah terbunuh seorang demi seorang di Alas Mentaok sendiri dan di Jati Anom.

“Sekali-sekali kau memang harus mengetahui, betapa besarnya kekuatan ilmu Panembahan Agung. Ia mampu menyesatkan indera seseorang. Bahkan kau.”

“Ya,” jawab Daksina yang tidak ingin menyakiti hati Putut Nantang Pati justru di saat mereka menghadapi pasukan Mataram yang kuat.

Putut Nantang Pati terdiam. Memang masih harus dibuktikan bahwa kekuatan yang demikian itu dimiliki oleh Panembahan Agung.

Namun selagi mereka terdiam untuk sejenak, tiba-tiba telah datang dengan tergesa-gesa seorang cantrik dari padepokan Medang. Padepokan Panembahan Agung.

“Aku mendapat perintah untuk menyampaikan pesan,” berkata cantrik itu.

“Apakah pesan itu?”

“Kalian di sini harus menyiapkan diri untuk menghadapi lawan yang kuat sekali. Yang datang bukan saja para pengawal dari Mataram, tetapi juga para pengawal dari Menoreh. Di antara mereka terdapat orang-orang yang harus diperhitungkan.”

“He?” Putut Nantang Pati terkejut. Demikian pula Daksina sehingga ia bergeser maju.

Sejenak mereka berdua memandangi cantrik itu dengan wajah yang tegang. Namun kemudian Putut Nantang Pati menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Ya. Aku percaya. Tapi bukankah pertahanan yang sebenarnya di hadapan padepokan Panembahan Agung sudah dipersiapkan?”

“Ya. Semuanya sudah siap. Jika Panembahan Agung itu menyampaikan pesan kepada padepokan ini, agar mereka yang di sini tidak terjebak, dan berkesempatan untuk menghindari korban yang akan berjatuhan.”

“Terima kasih. Kami di sini akan berhati-hati menghadapi pasukan yang sangat kuat itu.”

Daksina yang untuk beberapa saat berdiam diri kemudian berkata, “Apakah jaringan pengawas sandi Panembahan Agung jauh lebih ketat dari pengawasanmu justru kau berada di sini sekedar merupakan bayangan padepokan Panembahan Agung? Bukankah seharusnya kita yang berada di sinilah yang memberikan laporan kepadanya tentang gerakan pasukan lawan seperti yang pernah kita laporkan itu?”

Putut Nantang Pati tersenyum. Katanya, “Kau mulai melihat kelebihan Panembahan Agung. Jika ia ingin melihat sesuatu, maka ia tidak perlu menembus batas tempat dan jarak. Ia dapat melihat dari kejauhan apa yang akan terjadi meskipun sekedar berupa isyarat.”

“Apakah itu yang disebut sebangsa aji Sapta Pangrasa, Sapta Pameling, dan Sapta Pengrungu, yang dapat melihat, mendengar, dan bahkan berbicara dari jarak yang jauh?”

“Aku tidak pernah mempersoalkan nama. Ketika aku mulai mempelajari ilmu itu, aku sama sekali tidak peduli bahwa Panembahan Agung menyebutnya sebagai aji Pangangen-angen.”

Daksina mengerutkan keningnya. Dan Putut Nantang Pati tersenyum sambil berkata, “Tetapi sayang, bahwa aku baru dalam tahap permulaan ketika kami di sini harus sudah mulai dengan segala macam usaha menggagalkah berdirinya Mataram sehingga aku belum menguasai permulaannya saja dari ilmu itu.”

Daksina tidak menjawab. Tetapi ia mulai berdebar-debar membayangkan jenis ilmu yang disebut ilmu Pangangen-angen itu.

“Baiklah,” berkata Putut Nantang Pati kemudian kepada cantrik yang mendengarkan pembicaraan itu dengan heran, “kembalilah kepada Panembahan Agung. Beritahukan kepadanya bahwa aku akan menyesuaikan diri dengan keadaan lawan dan rencana kita semula.”

Sepeninggal cantrik itu, maka Putut Nantang Pati masih saja tersenyum-senyum dan berkata, “Mungkin kau tidak percaya. Tetapi baiklah. Aku tidak akan bercerita tentang Panembahan Agung dengan cara yang berlebih-lebihan. Aku harap kau akan dapat melihatnya sendiri. Meskipun demikian kami tidak dapat ingkar, bahwa ilmunya pun terbatas. Maksudku, bahwa ia bukan orang yang dapat melihat seisi bumi ini.”

Daksina mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Aku memang tidak pernah menolak kenyataan serupa itu. Tetapi di dalam perang yang cukup besar, maka ilmu itu tidak akan dapat menyeluruh. Maksudku, kemampuan pengaruhnya pun terbatas. Tidak semua pasukan lawan dapat dipengaruhi oleh ilmu itu.”

“Kau benar. Tetapi jika yang terpengaruh itu senapatinya, maka keadaan lawan itu akan menjadi gawat.”

Daksina menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab.

“Marilah,” berkata Putut Nantang Pati, “pasukan Mataram dan Menoreh itu tentu sudah menjadi semakin dekat. Kita harus menyesuaikan diri dengan kekuatan mereka. Jalur untuk menarik diri sudah kita persiapkan baik-baik. Mudah-mudahan pasukan Mataram dan Menoreh itu akan terpancing dan kita dapat menjebaknya di lembah di hadapan padepokan Panembahan Agung. Seandainya lembah itu tidak dapat dipengaruhi oleh ilmu Panembahan Agung yang disebutnya aji Pangangan-angen itu, namun keadaan Pasukan Mataram dan Menoreh tentu akan berada di dalam kesulitan. Kami akan dapat menggulingkan batu-batu padas dan akan menimpa mereka seperti menimbuni puluhan mayat di dalam satu lubang yang besar.”

“Jangan terlampau berbangga atas diri sendiri,” sahut Daksina, “di dalam lingkungan keprajuritan Pajang, maka setiap sikap yang terlampau berbangga atas diri sendiri, merupakan suatu cela yang besar.”

“Aku tahu. Meskipun aku belum pernah menjadi seorang prajurit, apalagi seorang perwira, tetapi aku mempelajari ilmu keprajuritan. Namun jika aku mengatakan tentang prajurit Mataram dan Menoreh, maka itu karena aku yakin akan berhasil.”

Daksina mengangguk-angguk pula.

“Marilah ke pengawasan yang terdepan,” berkata Putut Nantang Pati, “kita akan melihat kehadiran pasukan Mataram dan Menoreh. Panembahan Agung menyebut beberapa orang yang memiliki ilmu yang perlu diperhitungkan. Mungkin mereka adalah orang-orang bercambuk itu.”

“Tentu mereka yang dimaksudkan.”

“Kita tidak usah cemas. Meskipun barangkali aku sendiri tidak dapat mengalahkannya seperti para pemimpin kepercayaan kami yang berada di perbatasan Alas Mentaok dan juga Kiai Damar dan bahkan Kiai Telapak Jalak, tapi aku tidak akan cemas menghadapi mereka. Sebentar lagi mereka akan berkubur di lembah yang curam itu.”

“Kau yakin?”

“Kenapa tidak?”

“Kau yakin dapat lolos dari tangannya ke dalam jalur yang sudah kau buat?”

“Aku yakin. Beberapa orang prajurit sudah mapan untuk melindungi aku dengan senjata jarak jauh. Dan bukankah kau akan ikut bersamaku?”

Daksina menarik nafas dalam-dalam. Meskipun Putut Nantang Pati percaya sepenuhnya kepada penglihatan Panembahan Agung, namun ia mempergunakan juga perhitungannya untuk setiap rencana yang disusunnya. Dan ia tidak dapat mengingkari ketelitian rencana Putut Nantang Pati untuk menghindari pertempuran jika agaknya mereka tidak akan dapat menahan pasukan lawan yang bakal datang. Apalagi setelah mereka mendapat keterangan, bahwa yang datang bukan saja para pengawal Mataram di bawah pimpinan Sutawijaya, tetapi beserta mereka adalah pasukan pengawal Menoreh.

“Tentu anak gadis Ki Argapati itu,” berkata Daksina di dalam hatinya.

Sejenak kemudian, maka mereka berdua pun pergi ke lereng di kaki pebukitan itu. Dari balik pepohonan mereka melihat lembah dan lereng di hadapan mereka.

“Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan datang?” bertanya Putut Nantang Pati kepada para pengawas yang bertebaran di antara gerumbul-gerumbul liar.

“Belum,” sahut salah seorang dari mereka.

“Jangan lengah. Gerumbul-gerumbul di lereng itu memang memungkinkan untuk berlindung.”

“Tetapi tidak untuk berlindung sebuah pasukan.”

Putut Nantang Pati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Berhati-hatilah, aku akan pergi ke depan.”

Putut Nantang Pati, Daksina, dan beberapa orang pengawalnya pun maju lagi untuk menemui para pengawas yang paling depan. Dengan hati-hati mereka merayap tebing di balik gerumbul-gerumbul yang rimbun.

Dalam pada itu, kelompok-kelompok pasukan Mataram dan Menoreh maju semakin dekat. Mereka menyusup di antara pepohonan. Namun kadang-kadang mereka harus melalui tempat yang terbuka beberapa langkah, sehingga memungkinkan para pengawas lawan dapat melihat mereka.

Dan ternyata demikianlah yang terjadi. Ketika pasukan pengawal Menoreh yang dipimpin oleh Ki Argapati menjadi semakin dekat, dan sekilas mereka terpaksa menyeberangi daerah terbuka, salah seorang dari para pengawas terdepan dari padepokan Putut Nantang Pati dapat melihatnya. Sejenak orang itu memperhatikan seseorang yang merunduk sambil berlari-lari. Kemudian orang-orang berikutnya.

Pengawas itu pun kemudian menggamit kawan-kawannya dan dengan ujung jarinya menunjuk ke arah pasukan yang mendekat.

“Mereka justru melalui jalan itu,” desis salah seorang dari mereka, “agaknya mereka akan langsung memotong pasukan kita, karena dari lereng itulah salah seorang kawan kami telah melepaskan anak panah. Mereka tentu menduga bahwa di tempat itu kini sudah disiapkan pengawasan yang ketat.”

“Tetapi kehadiran mereka harus kita laporkan”

“Tentu. Nah, siapakah yang akan pergi?”

Salah seorang dari para pengawas itu pun kemudian merayap naik untuk melaporkan, bahwa mereka telah melihat sebuah pasukan yang mendekati padepokan mereka.

Tetapi orang itu terhenti, justru karena mereka bertemu dengan Putut Nantang Pati dan Daksina, sehingga dengan demikian maka Putut Nantang Pati dan Daksina sempat melihat sendiri pasukan yang bergerak maju itu. Tetapi keduanya tidak sempat melihat, siapakah yang telah memimpin pasukan mereka,

“Tidak terlalu banyak,” desis Putut Nantang Pati. “Adalah kesombongan tiada taranya bahwa hanya dengan pasukan yang sangat kecil, bahkan hanya sekelompok kecil pasukan pengawal mereka akan menembus padepokanku.”

“Jangan menyangka demikian,” desis Daksina.

“Kenapa?”

“Aku yang mencoba menjebak mereka justru pernah terjebak. Kau sangka bahwa yang kita lihat itu sudah seluruh pasukan?”

“Kalau begitu, siapakah mereka?”

“Mungkin mereka hanyalah sekedar pengawas yang merintis perjalanan. Mungkin sepasukan pengawal yang sudah pasrah akan nyawanya. Mungkin mereka sekedar menjajagi, dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang lain. Namun kita harus berhati-hati menghadapi pasukan dari Mataram dan Menoreh.”

“Kau dasarkan pertimbanganmu kepada peringatan yang telah diberikan oleh Panembahan Agung?”

Daksina mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Bukan hanya pesan itu, tetapi menurut perhitunganku, demikian akan jadinya. Aku pernah mengalaminya.”

Putut Nantang Pati mengangguk-angguk, lalu katanya kepada para pengawas, “Kalian tetap di sini. Jika kalian tergesa-gesa, kalian tidak usah datang kepada kami. Kalian dapat melemparkan isyarat.”

Demikianlah maka Putut Nantang Pati dan Daksina itu pun kemudian dengan tergesa-gesa kembali kepada induk pasukannya. Sesuai dengan peringatan Daksina, maka Putut Nantang Pati pun harus berhati-hati. Diperintahkannya sebagian dari pasukannya untuk bersiap menghadapi jalur arah kelompok lawan yang mendekati mereka.

“Tahan mereka. Tetapi ingat, jika tengara itu berbunyi, kalian harus menarik diri, lewat lekuk yang ditentukan sebelumnya itu. Jika pasukan lawan mengejar kalian lewat jalur jalan itu, maka akan dapat kita menghancurkannya selagi mereka menerobos lembah yang sempit itu. Putuskan tali pengikat batang-batang kayu itu. Dan lembah yang sempit itu akan menjadi kuburan yang besar. Tetapi jika mereka berhasil menerobos masuk meskipun hanya sisa-sisanya saja, mereka akan kita hancurkan di pertahanan terkuat, di hadapan padepokan Panembahan Agung,” berkata Putut Nantang Pati kepada seorang pemimpin kelompok pengawalnya.

Putut Nantang Pati dan Daksina pun kemudian kembali ke induk pasukannya. Mereka sudah menempatkan diri mereka di medan yang mereka pilih. Jika keadaan memaksa mereka akan dengan mudah menarik diri. Dengan sedikit arah tipuan, mereka akan dapat menjebak pasukan lewat sebuah lembah yang sempit, yang memang dipersiapkan untuk mengubur pasukan Mataram dan Menoreh dengan pokok-pokok kayu yang diikat dengan tali yang kuat diatas tebing. Jika tali-tali itu diputuskan dengan kapak, maka pokok-pokok kayu itu akan menggelinding melanda batu-batu padas dilereng sebelah menyebelah lembah yang sempit itu dan bersama-sama menimbun pasukan yang sedang lewat.

“Terlalu sulit untuk melarikan diri. Apalagi tali yang pertama-tama diputuskan adalah di kedua ujung lembah itu,” berkata Putut Nantang Pati.

“Tetapi bagaimana jika pasukan Mataram dan Menoreh itu berjalan dalam jarak yang panjang, sehingga seluruh pasukannya menjadi panjang sekali?” bertanya Daksina.

“Kita mengambil pangkalnya sehingga ujungnya akan terjebak dan tidak akan mungkin melarikan diri lagi.”

Daksina mengangguk-anggukkan kepalanya. Cara yang sederhana itu memang memungkinkan untuk mengurangi kekuatan pasukan Mataram dan Menoreh, dan terutama menimbulkan kekacauan di antara mereka. Dalam kekacauan itulah maka pasukannya akan dapat menyerang dan membinasakan lawan sebanyak-banyaknya.

Namun dalam pada itu, selagi Putut Nantang Pati dan Daksina mempersiapkan diri, maka para pengawas di paling depan itu pun terkejut. Ternyata selain para pengawal yang mereka lihat menyusur tebing dan agaknya berniat langsung memotong pasukan bersenjata panah itu, mereka melihat pasukan yang lebih besar merayap maju di lembah pegunungan itu, di sela-sela pepohonan yang rimbun.

“O,” desis salah seorang dari mereka, “tentu induk pasukannya.”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Mereka memang pandai menyusun kekuatan. Kekuatan yang tidak terlampau besar akan dapat dipergunakan dengan baik jika pimpinannya cakap mengatur laku dan gelar.”

“Gelar apakah yang kita lihat sekarang?”

“Kita belum melihatnya. Agaknya mereka pun masih belum membuka gelar. Mereka baru sekedar merayap mendekat.”

“Tetapi mereka menyusun diri dalam urut-urutan yang panjang. Seorang demi seorang dalam jarak beberapa langkah.”

“Itulah kelebihan mereka. Susunan barisan yang demikian memang sulit untuk dijebak dalam kepungan.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Lalu, “Kita harus memberikan isyarat secepatnya. Ternyata yang datang benar-benar sebuah pasukan yang kuat.

“Kita tidak perlu memberikan isyarat. Kita dapat menggabungkan diri saja langsung dengan induk pasukan. Kita sudah melihat arah pasukan induk yang datang dari Mataram dan Menoreh itu. Agaknya pasukan yang besar itulah pasukan Mataram, sedang pasukan yang kecil yang menyusur lereng itu adalah pasukan pengawal Menoreh.”

Kawannya merenung sejenak, lalu, “Baiklah. Kita pergi ke induk pasukan. Tetapi hati-hati, jangan sampai mereka melihat kita.”

Demikianlah para pengawas itu pun dengan hati-hati telah meninggalkan tempatnya menggabungkan diri ke induk pasukan sekaligus melaporkan apa yang dilihatnya.

“Kami tidak memberikan isyarat agar mereka tidak segera mengetahui bahwa kita akan menyambut kedatangannya.”

“Baiklah. Pasukan induk kita pun akan menyambut mereka sebelum mereka kita seret lewat jebakan yang sudah dipersiapkan. Sementara itu, sebuah pasukan kecil akan menahan pasukan yang menyelusuri lereng itu. Agaknya mereka menganggap bahwa pasukan kita yang mempergunakan panah, masih tetap berada di lereng itu,” desis Putut Nantang Pati.

“Apakah mereka tidak kita pancing sama sekali turun ke lembah?” bertanya Daksina.

“Tetapi pasukan kecil itu jika berjalan terus akan dapat mengganggu orang-orang kita yang berada di tebing, yang siap memotong tali-temali itu.”

Daksina mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Tetapi meskipun pasukan itu kecil, namun aku kira pasukan itu cukup kuat. Apalagi jika para pemimpin Menoreh dan orang-orang bercambuk itu ada di sana, maka kita akan kehilangan banyak kesempatan.”

“Kita akan menahan mereka dengan pasukan yang kuat. Aku sendiri akan memimpin pasukan itu, sambil melindungi orang-orang yang akan memotong tali. Aku harap kau memimpin induk pasukan yang sebagian juga terdiri dari prajurit-prajurit Pajang untuk menahan Sutawijaya. Aku kira induk pasukan itu memang orang-orang Mataram. Jika yang datang Ki Pemanahan sendiri dengan pasukan yang memang tidak akan dapat kita hadapi, kau harus memberikan isyarat, agar aku dapat mempertimbangkan keadaan dan jika perlu segera berusaha menjebak mereka.”

Daksina menganggukkan kepalanya. Ia pun segera mempersiapkan diri dan membagi pasukan. Sebuah pasukan kecil yang kuat akan menghadapi sekelompok pasukan pengawal yang menyusuri tebing, sedang yang lain akan turun ke lembah dan menyambut induk pasukan sebelum mereka akan menyeret pasukan Mataram itu ke dalam kuburan raksasa yang sudah dipersiapkan.

Sejenak kemudian maka pasukan itu pun segera terbagi. Putut Nantang Pati sendiri memimpin pasukan kecil itu dan memisahkan diri dari pasukan induk menyelusur tebing menyongsong lawan. Tetapi mereka tidak terlalu jauh maju, karena sebagian dari mereka harus melindungi orang-orangnya yang siap dengan kapak di tangan untuk memotong tali jebakan.

Dalam pada itu, Daksina pun mulai menuruni tebing dengan penunjuk jalan para pengawas yang melihat pasukan Mataram mendatangi mereka, sedang Putut Nantang Pati yang sudah melihat sendiri pasukan yang mendatangi menyelusur tebang, tidak memerlukan penunjuk jalan sama sekali.

Tetapi Daksina memang tidak ingin bertempur mati-matian. Tugasnya hanya sekedar menahan pasukan itu dan kemudian memancing mereka karena ternyata pasukan itu terlampau kuat untuk dihancurkan dengan kekuatan pasukannya.

Sambil menggenggam senjatanya, Daksina maju diikuti oleh pasukan yang sebenarnya juga cukup kuat. Apalagi di antara mereka terdapat beberapa orang bekas prajurit Pajang yang bertekad untuk ikut serta dengan Daksina, apa pun yang terjadi. Tetapi karena nafsu perlawanan mereka tidak sekuat pengawal Mataram, maka sudah barang tentu bahwa hal itu akan mempengaruhi jalannya peperangan.

Setiap orang di dalam pasukan itu sudah mengetahui dengan pasti, bahwa mereka akan segera menarik diri, jika lawan cukup kuat. Karena itu, gairah untuk bertempur sebelum mereka sampai di pertahanan yang terakhir, di hadapan padepokan Panembahan Agung, agaknya memang sangat kecil selain sekedar mempertahankan hidup, karena mereka tidak mau mati lebih dahulu sebelum mereka melihat, betapa para pengawal Mataram dan Menoreh itu akan kebingungan menghadapi ilmu Panembahan Agung yang sakti.

Di bagian lain dari tebing pegunungan itu, beberapa orang sudah siap dengan anak panah. Mereka harus melindungi pasukan yang sedang mundur lewat sebuah lembah yang sempit dengan anak panah itu. Kemudian, jika pasukan lawan mengejar terus, dan itulah yang memang diharapkan, maka mereka harus memberikan isyarat kepada orang-orang yang memegang kapak di tangannya untuk memotong tali temali yang mengikat beberapa batang pokok kayu yang panjang.

Dengan demikian, maka anak panah mereka tidak boleh menghentikan sama sekali laju lawan. Anak panah itu tugasnya hanya sekedar menahan agar pasukan Panembahan Agung terpisah dari pasukan yang mengejarnya beberapa puluh langkah.

Sementara itu, di lembah yang ditumbuhi oleh pepohon yang pepat, seolah-olah sebuah hutan kecil, pasukan Daksina berhenti. Mereka mempersiapkan diri untuk menyergap pasukan Mataram yang pasti akan melalui daerah itu pula. Beberapa orang di antara mereka memanjat dahan-dahan yang rendah dengan pedang di tangan. Jika lawan mereka lewat dibawahnya, maka mereka yang memanjat itu sudah siap untuk meloncat menerkam sambil menghunjamkan senjata mereka masing-masing di punggung atau dada lawan.

Dalam pada itu, pasukan Mataram yang dipimpin oleh Sutawijaya, maju terus selangkah demi selangkah. Mereka menjadi berhati-hati karena seakan-akan mereka telah mendapat firasat bahwa musuh memang sudah ada di depan hidung mereka.

Apalagi para pengawas yang mendahului dan yang salah seorang telah terluka itu berkata, “Sebentar lagi kita akan sampai ke tempat para pengawas yang bersenjatakan anak panah itu. Mereka berada di tebing itu.”

“Sekelompok dari para pengawal Tanah Perdikan Menoreh melalui tebing itu. Bukankah maksud kelompok kecil itu juga untuk melindungi pasukan ini jika pengawal yang bersenjatakan anak panah itu masih tetap berada di tempatnya, dan apalagi ditambah jumlahnya,” sahut Sutawijaya.

Pengawas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Mudah-mudahan mereka menemukan tempat itu, dan justru tidak terjebak.”

Sementara pasukan yang di lembah itu maju, maka Ki Argapati pun membawa pasukannya maju pula. Menurut petunjuk, agaknya sekelompok pengawal dari Menoreh itu memang sudah berada dekat dengan tempat yang disebut oleh para pengawal sebagai pusat pertahanan pasukan bersenjata jarak jauh.

“Kita harus menemukan mereka, sebelum mereka sempat menghujani pasukan Mataram itu dengan anak panah,” berkata Ki Argapati kepada anak gadisnya.

“Ya, Ayah. Tetapi agaknya mereka sudah berpindah tempat. Jika mereka merasa bahwa kehadiran mereka sudah diketahui, maka mereka akan mencari tempat yang lebih baik lagi.”

“Tidak ada tempat yang agaknya lebih baik dari tempat itu. Namun demikian, agaknya kini mereka merasa terganggu. Mudah-mudahan pasukan pengawal dari Mataram itu dapat mempergunakan kesempatan. Mereka harus segera maju. Tetapi jika mereka tidak mendapatkan serangan di tempat yang mereka duga, maka mereka akan menjadi semakin berhati-hati dan akan berarti bahwa perjalanan mereka akan menjadi semakin lambat, sebab menurut perhitungan mereka lawan telah berpindah di tempat yang belum mereka ketahui.”

Pandan Wangi tidak menyahut. Agaknya mereka telah berada beberapa langkah saja, seperti yang ditunjukkan oleh para pengawas, dari tempat orang-orang Daksina melepaskan anak panah kepada pengawas yang memanjat tebing.

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Ketegangan mulai menjalari dadanya. Ternyata bahwa lawan pun membuat perhitungan yang cukup cermat.

Dari tempatnya Ki Argapati melihat ke lembah di bawahnya. Sejenak ia memperhatikan setiap gerakan. Dan tiba-tiba saja ia melihat bayangan memintas sekejap dari bawah pohon yang satu ke pohon yang lain.

“Pandan Wangi,” desisnya, “kemari.”

Pandan Wangi pun bergeser maju diikuti oleh Prastawa.

“Aku melihat seseorang meskipun hanya sepintas. Aku tidak dapat menyebutkan siapa orang itu. Tetapi arahnya bukan arah yang ditempuh oleh pasukan Mataram.”

“Maksud Ayah?”

“Marilah kita tunggu sejenak. Barangkali kita berkesempatan melihatnya lagi di sela-sela pepohonan yang rimbun.”

Pandan Wangi tidak menyahut, tetapi ia bergeser maju diikuti oleh Prastawa. Sejenak mereka berjongkok sambil berdiam diri di balik dedaunan. Namun dari tempat mereka, mereka dapat melihat lembah di bawah.

Sejenak kemudian mereka pun melihat seseorang bergerak di bawah pepohonan itu pula. Meskipun tidak jelas namun mereka mendapat kesan, bahwa orang itu tentu bukan bagian dari pasukan Mataram yang bergerak maju.

“Ya,” desis Prastawa, “seolah-olah orang itu bukan bagian dari pasukan yang bergerak.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Pandan Wangi menyahut dengan kata-kata yang bernada gelisah, “Apakah mereka bukan bagian dari pasukan lawan yang sedang menunggu?”

“Itulah yang akan aku katakan. Tetapi kita harus meyakinkan lebih dahulu.”

Pandan Wangi tidak menyahut. Namun ketika mereka melihat orang-orang yang kurang cermat bersembunyi itu melintas lagi, maka mereka pun segera mengambil kesimpulan.

“Pasukan lawan telah menunggu pasukan Mataram itu,” berkata Ki Argapati, “kita harus memberitahukan kepada mereka, apa yang telah kita lihat.”

“Apakah kita akan mengirimkan seseorang menuruni tebing dan menemui Raden Sutawijaya?”

“Terlambat. Pasukan Raden Sutawijaya tentu sudah amat dekat dengan orang-orang yang menunggu. Jika dengan tiba-tiba pasukan itu terlibat dalam perkelahian sebelum mereka bersiap, maka akibatnya akan sangat merugikan.”

“Jadi bagaimana menurut pertimbangan Ayah?”

“Kita memberikan isyarat.”

“Bagaimana kita akan memberikan isyarat, kita belum tahu pasti, di mana pasukan mereka berada.”

“Kita lepaskan senjata-senjata jarak jauh langsung kepada orang yang agaknya sedang bersembunyi di hutan kecil itu.”

“Gunanya?”

“Jika mereka melakukan perlawanan, maka pasukan Raden Sutawijaya tentu akan melibat, bahwa di hadapannya ada sepasukan lawan yang sedang menunggu, sehingga isyarat itu datang dari mereka sendiri.”

“Tetapi akibatnya, kehadiran kita pun akan diketahui pula.”

“Biarlah, kita sudah siap bertempur. Jika ternyata kekuatan kita tidak memadai pasukan lawan yang barangkali juga sedang menunggu kita, kita akan memberikan isyarat lagi. Tetapi jika kita bersama-sama mengalami tekanan yang berat, apa boleh buat.”

“Masih ada sekelompok yang mungkin masih bebas.”

“Belum tentu. Mungkin mereka pun menjumpai lawan yang bertebaran.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia tidak menjawab, namun agaknya ia menyetujuinya.

Karena itu, maka sejenak kemudian, setelah mereka menjadi semakin yakin akan keadaan yang mereka hadapi, maka Ki Argapati pun kemudian memerintahkan beberapa orang yang membawa busur dan anak panah untuk bersiap.

“Salah seorang dari kalian yang membawa perisai, perlihatkan dirimu. Mereka akan berbuat sesuatu, dan kita akan menjadi semakin yakin atas mereka,” perintah Ki Argapati. “Sedang yang lain siap untuk melontarkan anak panah kalian.”

Beberapa orang pun kemudian bergeser menepi. Seseorang yang membawa perisai pun kemudian melangkah maju, justru menampakkan diri di atas tebing.

Ternyata usaha Ki Argapati itu berhasil memancing perhatian lawan yang sedang bersembunyi. Ketika seseorang melihat seorang pengawal Menoreh itu berdiri di tebing, maka orang itu pun segera melaporkannya kepada Daksina.

“Siapakah orang itu?” bertanya Daksina.

“Kita tidak mengetahuinya, tetapi jelas bukan salah seorang dari kita.”

Daksina menjadi ragu-ragu sejenak. Namun selagi ia belum mengambil keputusan, dilihatnya sebatang anak panah yang meluncur jatuh di sela-sela dedaunan.

“He, anak panah siapakah itu?”

Salah seorang memungut anak panah itu. Dan dengan suara bergetar ia menyahut, “Bukan anak panah kita. Ujung bedornya pipih dan bulu keseimbangannya melingkar.”

“Anak panah itu berputar selagi meluncur,” desis Daksina, “tentu anak panah orang Menoreh.”

Sebenarnyalah bahwa Ki Argapati telah memerintahkan melepaskan anak panah. Meskipun mereka tidak melihat seseorang namun mereka melepaskan juga anak panah ke arah yang diperkirakan menjadi tempat persembunyian mereka.

Dalam pada itu Daksina menjadi termangu-mangu. Apalagi ketika sebuah anak panah yang lain meluncur pula jatuh di antara mereka.

“Tentu orang yang berdiri di tebing itu melihat kita.”

“Apakah yang dapat kita lakukan?”

“Apa boleh buat. Kita tunggu sejenak, jika anak panah itu masih meluncur, kita akan membalas meskipun dengan demikian kehadiran kita di sini akan diketahui oleh pasukan di hadapan kita. Bukankah jika sebagian dari mereka sudah melihat kita, maka tidak ada gunanya lagi kita bersembunyi? Tetapi selagi mungkin, kita akan menghindari.”

Namun dalam pada itu, bukan saja Daksina dan orang-orangnya yang melihat orang berperisai itu. Ternyata Putut Nantang Pati pun telah melihatnya pula.

“Gila,” geram Putut Nantang Pati, “ternyata pasukan yang menyelusur tebing inilah yang mengetahui lebih dahulu pasukan yang dipimpin Daksina, yang berusaha menyergap pasukan yang datang dan lembah. Jangan beri kesempatan. Kita harus menyerangnya lebih dahulu selagi perhatian mereka tertuju kepada orang-orang di lembah itu.”

Anak buah Putut Nantang Pati pun kemudian menyiapkan diri. Mereka tidak lagi menunggu. Tetapi kini mereka merayap maju menyerang kedudukan Ki Argapati yang sedang memancing perlawanan orang-orang yang ada di lembah.

Kedatangan Putut Nantang Pati telah mengejutkan pengawas yang dengan penuh kewaspadaan memperhatikan suasana di sekitarnya. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia pun meneriakkan isyarat, bahwa sepasukan lawan telah mendekat.

Ki Argapati mengerutkan keningnya. Sejenak ia berpikir, lalu, “Kita hadapi lawan yang datang. Tetapi biarlah dua tiga orang meneruskan pancingan mereka. Lemparkan anak panah yang lebih banyak. Tetapi hati-hati bagi mereka yang tidak menyandang perisai. Jangan menjadi arah bidikan yang mapan. Berusahalah tetap bersembunyi di balik pepohonan.” Lalu katanya kepada Pandan Wangi dan Prastawa, “Hati-hati1ah, kita menghadapi lawan yang belum kita ketahui kekuatannya.”

Demikianlah maka Ki Argapati telah mempersiapkan dirinya dengan tombak pendeknya. Dalam keadaan itu, terasa kakinya memang agak mengganggu. Jika saja kakinya tidak menjadi cacat meskipun berangsur pulih, maka ia akan dapat berbuat lebih banyak lagi, siapa pun yang dihadapinya.

Sejenak Pandan Wangi memandangi ayahnya, seolah-olah ia ingin mendapat penjelasan tentang keadaan ayahnya itu.

“Kakiku sudah baik Pandan Wangi,” tiba-tiba ayahnya berdesis seakan-akan ia mengetahui kegelisahan yang memancar dari tatapan mata anak gadisnya.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam.

“Hati-hatilah,” desis ayahnya, “aku sudah mendengar suara pasukan itu mendekat.”

Pandan Wangi pun kemudian mempersiapkan dirinya. Kali ini ia membawa sepasang pedang. Disampingnya Prastawa pun telah mempersiapkan dirinya pula. Ia pun bersenjata pedang yang lebih besar dari pedang Pandan Wangi.

“Beberapa orang di antara kalian, naiklah lebih tinggi,” perintah Ki Argapati, “usahakan agar kalian dapat bergerak lebih leluasa. Kita harus menyadari, bahwa lawan-lawan kita akan mempergunakan cara yang sering mereka tempuh. Kasar dan sedikit liar. Karena itu, kalian harus mempunyai ruang yang agak luas untuk melawan mereka.”

Dengan demikian, maka sekelompok pengawal dari Menoreh yang terpilih itu pun segera memencar. Mereka telah bersiap dengan senjata masing-masing. Beberapa orang di dalam kelompok tersendiri bersenjatakan tombak pendek. Yang lain pedang dan seorang yang berbadan tinggi kekar membawa sepasang bindi yang besar. Sedang mereka yang memanjat tebing lebih tinggi lagi selain bersenjata pedang, mereka pun memiliki beberapa buah pisau-pisau kecil diikat pinggangnya. Mereka adalah pengawal yang telah terlatih mempergunakan lemparan-lemparan pisau belati kecil.

Dalam pada itu, beberapa orang di antara mereka masih saja melontarkan anak panah ke lembah. Mereka semakin pasti bahwa yang ada di lembah itu bukan pasukan Mataram.

Tetapi Daksina ternyata tidak mudah terpancing. Diperintahkannya anak buahnya untuk tetap berdiam diri.

“Jangan memberikan perlawanan. Musuh yang kita tunggu adalah mereka yang akan datang lewat lembah ini. Serahkan mereka yang di atas tebing kepada Putut Nantang Pati dan kelompoknya. Kita tetap menunggu di sini.”

Anak buahnya pun menyadari keadaan mereka, sehingga karena itu, mereka pun segera berusaha berlindung di balik pepohonan dan dedaunan yang rimbun. Namun demikian, anak panah yang diberi bulu-bulu keseimbangan membelit dan berbedor pipih itu, kadang-kadang dapat menembus rimbunnya dedaunan karena putaran anak panah itu.

Sejenak Ki Argapati menilai keadaan. Ia pun sadar, bahwa Daksina seorang perwira dari Pajang itu bukannya anak kecil. Apalagi kehadiran Ki Argapati telah benar-benar diketahui oleh lawannya, sehingga akhirnya ia berkata lantang, “Berikan isyarat panah sendaren. Pasukan di lembah agaknya sudah berada di hadapan pasukan yang bersembunyi untuk menjebak.”

Begitu perintah itu selesai, maka benturan sudah tidak dapat dihindarkan lagi. Pasukan Putut Nantang Pati melanda para pengawal Menoreh bagaikan banjir. Tetapi pasukan pengawal dari Menoreh itu sudah bersiaga, sehingga mereka pun sudah siap menyambut kedatangan lawannya.

Ternyata bahwa usaha Ki Argapati mengurangi jumlah lawannya pada benturan pertama itu pun berhasil. Para pengawal yang berada di tebing yang agak lebih tinggi, menyambut kedatangan lawan mereka dengan lontaran pisau-pisau kecilnya, sehingga beberapa orang lawan pun terluka karenanya. Bahkan lemparan yang tepat mengenai pundak kanan, seakan-akan membuat lawan itu menjadi lumpuh dan tidak dapat menggerakkan senjatanya lagi. Kecuali mereka tidak biasa mempergunakan senjata di tangan kiri, juga agaknya darah yang mengalir telah merampas sebagian besar dari tenaganya. Apalagi mereka yang langsung terpotong nadi pundaknya.

Namun demikian, beberapa orang yang berada di belakang pertempuran itu masih sempat melemparkan isyarat. Tiga buah anak panah sendaren meluncur sambil bersiul.

Dalam pada itu, pasukan Sutawijaya memang sudah berada semakin dekat pada jebakan yang dipasang oleh Daksina. Dan agaknya suara panah sendaren itu memang menarik perhatian. Namun yang mula-mula terlintas di angan-angan Sutawijaya adalah isyarat bahwa pasukan Ki Argapati sudah terlibat di dalam pertempuran.

“Lihat,” berkata Sutawijaya yang dapat melihat dari jarak yang jauh pertempuran di atas tebing, “mereka sudah mulai. Tetapi kau lihat beberapa orang berdiri di tebing dengan busur dan anak panah itu?”

Beberapa orang pimpinan pengawalnya memandang ke arah tebing itu dengan hati yang berdebar-debar. Mereka harus memperhitungkan apakah yang sebenarnya sudah terjadi.

“Mereka melemparkan anak panah ke lembah di depan kita,” desis Ki Lurah Branjangan.

“Dan itu sangat menarik perhatian,” sahut Sutawijaya.

Tetapi orang-orang yang melemparkan anak panah itu pun segera menghilang. Mereka ternyata telah terlibat di dalam pertempuran.

Sejenak Sutawijaya menilai keadaan. Meskipun hanya sepintas, namun anak panah yang dilontarkan ke lembah itu harus diperhitungkan.

“Isyarat dan arah anak panah itu agaknya mempunyai maksud tertentu,” berkata Sutawijaya kemudian. “Apa salahnya kita berhati-hati sekali. Agaknya mereka memberi peringatan kepada kita, bahwa di lembah di hadapan kita ini pun, para pengawal padepokan ini telah menunggu.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Mungkin. Memang mungkin sekali. Agaknya mereka pun telah memecah pasukannya.”

“Pengalaman mereka atas kegagalan yang pernah terjadi membuat mereka semakin berhati-hati,” desis Sutawijaya.

“Jika demikian, marilah kita maju dengan waspada. Kita tidak dapat membuat gelar yang wajar karena keadaan medan. Tetapi kita akan bergerak maju dalam tiga deret. Yang tengah akan lewat dasar lembah. Yang dua melalui sisi sebelah-menyebelah. Di dalam keadaan yang belum kita ketahui, kita dapat merubah kedudukan. Tetapi ada baiknya jika pasukan yang menjadi sayap itu berjalan seiring meskipun mereka harus berjalan di tebing yang miring.”

“Sayap itu lebih baik sedikit maju,” sahut Ki Lurah Branjangan yang sudah memiliki pengalaman yang cukup, “justru induk pasukan agak mundur beberapa langkah. Kita mungkin akan jatuh dalam keadaan perang brubuh, atau sebelah-menyebelah dari sayap ini akan melanda lawan dalam gelar glatik neba. Tetapi jika lawan berpencar maka perang brubuh itulah yang paling mungkin terjadi.”

“Baiklah. Kita mempersiapkan diri menghadapi keadaan itu. Kita harus mengenal diri kita sebaik-baiknya. Di dalam perang brubuh kita masih harus tetap berada di dalam satu kesatuan.”

Demikianlah maka Lurah Branjangan segera mengatur pasukannya. Ia sendiri berada di sayap kanan, dan seorang senapati yang dipercaya berada di sayap kiri.

“Kita akan bertemu dengan Daksina,” desis Sutawijaya.

“Jangan dilawan seorang diri. Raden harus melihat kenyataan bahwa Daksina memiliki kelebihan. Jika aku yang menjumpainya, aku pun akan melawannya di dalam lingkaran perang brubuh, bukan seorang diri. Aku sudah mempersiapkan beberapa orang untuk menghadapinya. Sebaiknya sambil berjalan maju setiap barisan mempersiapkan dirinya.”

“Baiklah,” berkata Raden Sutawijaya, “aku akan bersiap menghadapinya. Sekelompok pengawal akan menyertaiku melawannya jika aku menjumpainya. Demikian juga seharusnya yang dilakukan oleh penjawat kiri dari gelar yang sederhana ini.”

Demikianlah maka perlahan-lahan pasukan itu maju. Kedua sayap pasukan berjalan mendahului beberapa langkah dan mereka berjalan menyelusuri tebing yang miring. Sedang di tengah-tengah Sutawijaya dan pengawal-pengawalnya berderap maju mendekati daerah yang seolah-olah terasa menjadi semakin rimbun.

Firasat keprajuritannya seakan-akan memberitahukan kepadanya bahwa beberapa langkah lagi, ia harus memperhatikan setiap lembar daun dan setiap batang ranting, karena seakan-akan Sutawijaya itu melihat bayangan yang bersembunyi dan sedang mengintip pasukannya.

Di hadapan mereka, Daksina menunggu dengan tegang. Dua orang pengawas terdepan hampir tidak sabar menunggu kedatangan lawan. Namun mereka pun terkejut ketika mereka melihat pasukan lawan itu mendatangi dalam barisan yang panjang di tebing yang miring. Bukan hanya di sebelah, tetapi sebelah-menyebelah.

“Gila,” desis pengawas itu, “kita menunggu mereka di tengah lembah.”

“Cepat kita laporkan, agar pasukan kita sempat merubah keadaan.”

Kedua pengawas itu pun kemudian berlari-lari meninggalkan tempatnya, melaporkan apa yang dilihatnya tentang pasukan lawannya itu.

“Gila,” geram Daksina, “cepat rubah keadaan ini. Kita akan menghadapi lawan yang berada di sisi sebelah-menyebelah. Tidak ada gunanya kalian menunggu di dahan-dahan dan belakang gerumbul. Mereka akan menusuk lambung. Jika mungkin mereka akan menerobos ke dalam pasukan kita. Dengan demikian, kita akan mengalami kesulitan menarik diri. Karena kita harus bertempur dalam medan yang dibatasi oleh garis tegas, maka kita harus menahan pasukan lawan.”

Demikianlah, maka pasukan Daksina itu pun segera merubah garis pertahanan mereka. Sebagian dari mereka justru berada di sisi tebing. Mereka harus menghentikan gerakan maju sehingga pasukan lawan tidak akan dapat menerobos masuk ke dalam garis pertahanan mereka.

Demikianlah, maka sejenak kemudian kedua pasukan sayap itu pun mendekati letak pasukan lawan. Pada jarak beberapa puluh langkah, mereka sudah saling menyadari, bahwa mereka kini telah benar-benar berhadapan. Karena itulah, maka setiap senjata sudah mulai merunduk dan setiap tangan mulai bergetar.

Kedua pimpinan pengawal yang menjadi penjawat kanan dan kiri dari pasukan Mataram segera meneriakkan aba-aba. Sejenak kemudian pasukannya maju sejauh-jauh dapat dijangkau sebelum lawannya menyongsong mereka dengan garis pertahanan yang rapat, karena mereka memang berkeinginan untuk menarik garis medan yang tegas.

Demikianlah, maka kedua pasukan itu mulai terlibat dalam pertempuran. Daksina, seorang perwira yang berpengalaman itu berhasil membendung pasukan lawannya, sehingga kedua sayap itu tidak dapat bergerak maju sama sekali. Bahkan mereka tidak dapat menghindarkan tekanan pasukan Daksina yang berat, sehingga pasukan yang berjajar surut itu mulai menebar.

Ki Lurah Branjangan yang ada di sayap kanan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar bahwa yang dihadapi adalah seorang perwira yang mumpuni. Karena itu, ketika ia melihat Daksina mengayun-ayunkan pedangnya ia berbisik kepada dua orang kepercayaannya, “Kawani aku mengikat perwira itu dalam pertempuran agar anak buahnya kehilangan bimbingan.”

“Tetapi ia bukan satu-satunya senapati.”

“Kau benar, tetapi tidak ada orang lain yang meliki kemampuan seperti Daksina.”

Demikianlah Ki Lurah Branjangan dengan dua orang pengawal kepercayaannya, menerobos riuhnya pertempuran, mendekati senapati lawan.

“Daksina,” panggil Ki Lurah Branjangan, “aku tidak mengira bahwa kita akan bertemu lagi.”

Daksina mengerutkan keningnya, lalu katanya, “He, kaukah itu pengkhianat. Ternyata kau berada di Mataram tanpa meninggalkan pesan apa pun bagi pasukanmu.”

Ki Lurah Branjangan tertawa. Katanya, “Jangan membual. Aku meninggalkan lingkungan keprajuritan Pajang setelah aku minta diri. Aku tidak lari seperti kau. He, apakah kau mendapat perintah dari Kanjeng Sultan Pajang untuk mengacaukan Mataram?”

Daksina berpikir sejenak, lalu, “Ya. Kau pandai menebak.”

Tetapi Ki Lurah Branjangan justru tertawa, “Jangan seperti kanak-kanak. Bukankah kau pernah berceritera kepada Raden Sutawijaya tentang rencanamu untuk mengadu dombakan Mataram dan Pajang.”

“Aku menjawab pertanyaan kanak-kanak dengan istilah kanak-kanak pula. Jika kau sudah tahu, apa gunanya kau bertanya?”

Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Agaknya tidak ada kesempatan untuk banyak berbicara. Karena itu, maka ia pun segera melangkah maju dan mengulurkan pedangnya lurus ke depan. Dua orang pengawal kepercayaannya pun maju pula dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

“O, inikah cara orang Mataram bertempur? Sejak kapan kau kehilangan sifat jantanmu, Branjangan. Aku kira kau masih tetap seperti ketika kau berada di Pajang, pernyata kau tidak ubahnya Sutawijaya yang bertempur bersama beberapa orang sekaligus. He, di mana Sutawijaya? Apakah ia memimpin kelompok prajurit yang berjalan di atas tebing itu?”

“Daksina,” sahut Branjangan, “kita tidak sedang berperang tanding. Di dalam perang brubuh semacam ini, tidak akan sempat menghitung berapa jumlah prajurit kita masing-masing. Apakah jika kita harus bertempur seorang melawan seorang, jika ada kelebihan di satu pihak, prajurit itu harus duduk saja menonton? Jika seorang lawan mati maka seorang dari pihak yang lain harus keluar gelanggang.”

“Ah, kau sudah pandai membela diri. Baik. Jika kau akan berkelahi dengan kelompokmu. Aku berterima kasih karena dengan demikian kau mengakui, bahwa Daksina memang bukan lawanmu.”

“Di dalam peperangan semua orang adalah lawan semua orang.”

“Bagus. Bersiaplah untuk mati.”

Ki Lurah Branjangan tidak menyahut. Tetapi ia mempersiapkan dirinya dengan penuh kewaspadaan, karena sebenarnyalah ia mengerti, bahwa Daksina memiliki beberapa kelebihan dari prajurit-prajurit Pajang yang lain, sehingga karena itulah maka ia merayap dari pangkat yang satu ke pangkat di atasnya.

Sejenak kemudian mereka pun mulai terlibat di dalam pertempuran. Daksina harus berhadapan dengan Ki Lurah Branjangan dibantu oleh dua orang pengawalnya.

Namun ternyata bahwa Daksina benar-benar seorang yang tangguh. Ia mampu menghadapi ketiga lawannya dengan gigih. Sekali-sekali seorang dua orang pasukannya berusaha membantunya. Namun setiap kali pengawal Mataram yang lain telah memisahkan mereka dari lingkaran pertempuran itu.

Meskipun demikian, orang-orang Daksina adalah orang-orang yang terlatih baik. Di antara mereka terdapat bekas prajurit-prajurit Pajang seperti juga pasukan dari Mataram. Sehingga karena itu, maka amat sulitlah bagi Ki Lurah Branjangan untuk sepenuhnya bertempur bersama kedua pengawalnya yang terpercaya itu. Setiap kali mereka bertiga gagal melakukan tekanan serentak, karena orang-orang Daksina pun cukup cekatan menanggapi keadaan.

Ki Lurah Branjangan mengumpat di dalam hati. Daksina masih tetap seorang perwira yang cerdik di medan. Sayang, ia telah melakukan kesalahan menurut penilaiannya, karena ia terlibat dalam perbuatan yang bagi Lurah Branjangan, semata-mata memanjakan kepentingan dan pamrih sendiri.

Perkelahian di medan itu pun menjadi semakin riuh. Tetapi ternyata bahwa pasukan Daksina berhasil menahan arus pasukan Mataram. Di kedua sisi lembah itu telah terjadi pertempuran yang seru, sehingga selain terdengar gemerincing senjata, gemeretak gigi dan hentakan kaki, juga terdengar derak ranting-ranting patah dan dedaunan yang runtuh sebelum saatnya.

Di sayap yang lain pasukan Mataram pun sama sekali tidak dapat mendesak lawannya yang bertahan pada satu garis pertahanan yang tegas.

Dengan demikian maka usaha Daksina untuk menahan pasukan penyerang itu berhasil. Ia masih harus bertempur untuk beberapa saat. Ia ingin menjajagi kekuatan lawannya, yang menurut penilaiannya tidak sekuat yang disangkanya.

“Jika aku berhasil menghancurkannya di sini, apa salahnya,” berkata Daksina. “Pertempuran ini tidak perlu menyentuh padepokan Panembahan Agung.”

Namun Daksina itu masih juga dibayangi oleh keragu-raguan. Yang dihadapinya adalah Lurah Branjangan. Sehingga karena itu, maka ia pun masih menunggu seseorang yang tentu ada di antara lawan-lawannya, yaitu Sutawijaya.

Bahkan selagi bertempur melawan Ki Lurah Branjangan, Daksina yang curiga dan apalagi dilambari oleh firasatnya sebagai seorang prajurit, ia masih sempat memerintahkan dua orang anak buahnya untuk mencari Sutawijaya.

“Jika ia berpakaian seperti pengawal biasa, kalian pun tentu akan mengenalnya.”

Tetapi selagi kedua orang anak buah Daksina itu bergeser dari tempatnya, mereka terkejut bukan kepalang. Sekelompok pengawal ternyata telah menusuk daerah pertempuran itu langsung dipimpin oleh Sutawijaya sendiri.

Kedatangan pasukan itu memang mengejutkan Daksina yang segera mendapat laporan. Karena itu, maka ia pun kemudian memerintahkan beberapa orang untuk mengambil alih perlawanannya terhadap Ki Lurah Branjangan. Daksina sendiri kemudian bersama beberapa orang pengawal langsung menyongsong Sutawijaya.

Ternyata kedatangan Sutawijaya telah menggoncangkan pertempuran itu. Kekuatan pasukan Mataram telah bertambah besar, sehingga tidak ada harapan sama sekali bagi Daksina untuk menunjukkan kebesarannya dengan menghancurkan pasukan Mataram sebelum mereka mendekati padepokan Panembahahan Agung.

“Gila,” desis Daksina, “agaknya Mataram benar-benar ingin menyelesaikan pertikaiannya dengan Panembahan Agung.”

Namun dalam pada itu, Daksina masih dapat tersenyum sambil berkata di dalam hati, “Jika kalian tidak binasa di sini, kalian akan binasa dikubur di leher lembah itu. Dan jika masih ada juga yang lolos, maka kalian menjadi sasaran yang paling menyenangkan dalam pertahanan terakhir dari susunan pengawal padepokan Panembahan Agung.”

Ternyata bahwa yang terjadi kemudian benar-benar tidak tertahankan lagi oleh Daksina. Itulah sebabnya, maka ia mulai dengan susunan perlawanan seperti yang direncanakan. Sekedar bertahan menurut batas lurus sepanjang lebar lembah daerah pertempuran itu. Kemudian, mereka akan segera mengundurkan diri, yang ternyata harus dilakukan lebih cepat dari yang diperkirakan karena tekanan lawan yang cukup berat, dengan korban yang lebih banyak pula dari perhitungannya.

Sekali-sekali Daksina masih sempat mencoba melihat pertempuran diatas tebing. Sekilas ia masih melihat senjata berkilat. Kadang-kadang ia mendengar sorak yang gemuruh di atas tebing itu meskipun pertempuran tidak seriuh di dalam lembah. Tetapi agaknya anak buah Putut Nantang Pati berusaha menghalau lawannya seperti sedang mengejar tupai. Mengayunkan senjata sambil berteriak-teriak.

Tetapi Ki Argapati yang sudah menduga sebelumnya, sama sekali tidak terkejut menghadapi cara lawannya. Untuk meneguhkan hati anak buahnya, maka Ki Argapati pun kadang-kadang meneriakkan aba-aba yang keras. Di sebelah-menyebelahnya, Pandan Wangi dan Prastawa mendesak lawannya yang bertempur dengan kasar.

Dalam pada itu, ternyata bahwa Putut Nantang Pati benar-benar seorang yang pilih tanding. Dengan tangkasnya ia menghadapi Ki Argapati yang bersenjata tombak pendek. Kakinya yang kokoh itu berloncatan di atas tanah, berbatu padas. Sedang senjatanya berputar seperti baling-baling. Sebilah pedang besar yang bermata rangkap sebelah-menyebelah.

Namun Ki Argapati adalah seorang yang matang di dalam ilmunya, apalagi ia memiliki pengalaman yang cukup banyak di sepanjang hidupnya. Sehingga dengan demikian, ia dapat dengan tenang menghadapi Putut Nantang pati, murid terpercaya dari Panembahan Agung.

Tetapi ketika pertempuran itu berlangsung beberapa saat lamanya, terasa sesuatu agak mengganggu. Meskipun Ki Argapati semula berhasil sedikit demi sedikit mendesak lawannya, namun semakin lama terasa sesuatu yang tidak wajar pada kakinya yang cacat. Rasa-rasanya di dalam daging dipaha dan dilututnya terdapat duri yang tajam, yang mulai menusuk dagingnya.

“Ah,” Ki Argapati mengeluh di dalam hati, “apakah kakiku tiba-tiba saja akan kambuh lagi?”

Tetapi Ki Argapati berusaha untuk menahan rasa sakit yang semakin mengganggunya. Untuk beberapa saat ia masih mampu bertempur tanpa menunjukkan tanda-tanda kelemahan pada kakinya. Yang dilihat lawannya sejak mereka mulai terlibat di dalam pertempuran adalah, bahwa kaki Ki Argapati itu cacat dan timpang. Tetapi ternyata bahwa ketika mereka terlibat langsung, kemampuan Ki Argapati telah mengejutkan Putut Nantang Pati, sehingga perlahan-lahan Putut itu harus mengakui, bahwa lawannya memiliki kemampuan yang tidak akan dapat diatasinya.

Namun, Putut Nantang Pati juga tidak yakin bahwa ia akan dapat dikalahkan. Meskipun Ki Argapati memiliki ilmu yang dahsyat, namun kakinya itu telah menahannya untuk berbuat terlampau banyak. Dan kelemahan kaki ini merupakan peluang yang mungkin dapat dipergunakan oleh Putut Nantang Pati.

Ki Argapati menyadari perhitungan itu. Dan apalagi ketika kakinya merasa semakin lama semakin sakit. Gerakannya mulai terganggu oleh perasaan pedih yang menyengat-nyengat, sehingga Ki Argapati terpaksa memusatkan perlawanannya pada kecepatan ujung tombaknya saja.

Betapa pun Ki Argapati berusaha, namun lawannya yang memiliki kemampuan yang hampir mengimbanginya itu pun merasa, bahwa ada perubahan padanya. Beberapa kali Putut Nantang Pati meyakinkan, bahwa Ki Argapati tidak lagi mampu mempergunakan kakinya dengan wajar. Sekali-sekali Putut itu menyerang dengan garangnya, kemudian berkisar dengan cepat. Selangkah ia surut dengan menyilangkan senjata. Tetapi Ki Argapati tidak meloncat menyerangnya. Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu hanya mencoba menjulurkan tombak pendeknya di sela-sela ayunan pedang Putut yang besar. Tetapi dengan mencondongkan tubuhnya, Putut Nantang Pati dengan mudah menghindarkan dirinya.

Beberapa saat kemudian, setelah Putut Nantang Pati itu yakin bahwa ada sesuatu yang tidak pada tempatnya tiba-tiba saja ia tertawa berkepanjangan.

“Sayang,” katanya, “kedatanganmu kali ini hanya sekedar mengantarkan nyawamu. Aku tahu bahwa yang bersenjata tombak pendek dalam lambaran ilmu yang mapan ini adalah Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang tidak terkalahkan. Seseorang yang tidak saja mampu bertempur di darat tetapi juga dilautan. Tetapi aku pun tahu, bahwa agaknya Kepala Tanah Perdikan yang perkasa ini mengidap penyakit yang parah di kakinya.”

Mendengar kata-kata itu, Ki Argapati menjadi tegang. Ia sadar, bahwa Putut Nantang Pati telah mengetahui kelemahannya.

“Nah, Ki Gede Menoreh,” berkata Putut Nantang Pati, “jangan menyesal bahwa kau sudah melibatkan diri dengan persoalan yang sebenarnya tidak menjadi urusanmu.”

Ki Argapati sama sekali tidak menjawab. Bahkan selagi Putut Nantang Pati berteriak sambil tertawa berkepanjangan, Ki Argapati berdiri saja di tempatnya. Ia merasa mendapat kesempatan untuk beristirahat sejenak. Sekali-sekali ia sempat memijit kakinya yang terasa sakit.

“Ki Gede,” berkata Putut Nantang Pati kemudian, “cobalah menyadari kesalahanmu sebelum kau mati. Kenapa kau bersedia membantu orang-orang Mataram? Jika Mataram menjadi besar di bawah pimpinan Sutawijaya itu, maka Menoreh akan tertutup sama sekali oleh kekuasaannya, sehingga Menoreh tidak akan lebih besar dari sebuah pedukuhan yang tidak berarti. Jika Mataram tidak sempat berdiri dan pemerintahan masih tetap berada di Pajang, Menoreh mendapat kesempatan untuk mengembangkan dirinya menjadi sebuah Tanah Perdikan yang besar dan luas.”

Ki Argapati masih tetap berdiam diri. Ia merasa bahwa kakinya yang sempat beristirahat itu menjadi agak baik. Karena itu ia mengharap agar Putut Nantang Pati itu berbicara saja berkepanjangan.

Tetapi ternyata bahwa Pandan Wangi yang bertempur dengan tangkasnya itu pun mendengar kata-kata Putut Nantang Pati tentang kaki ayahnya. Karena itu, maka ia pun menjadi berdebar-debar. Beberapa saat ia terdesak oleh dua orang lawannya sekaligus. Namun kemudian ia menjadi mapan kembali. Apalagi tiba-tiba saja Prastawa bagaikan seekor burung elang menyambar dengan pedangnya, sehingga kedua orang lawan Pandan Wangi itu terdesak surut.

“Prastawa,” desis Pandan Wangi, “jaga mereka agar tidak mengganggu aku. Kau dengar bahwa ayah mulai disengat oleh rasa sakit di kakinya?”

“Lepaskan mereka,” berkata Prastawa yang kemudian bertempur dengan garangnya. Pedangnya menyambar-nyambar seperti kuku-kuku yang tajam dari seekor burung elang raksasa yang marah.

Di bagian lain dari pertempuran itu, pasukan pengawal Menoreh mulai mendesak lawannya dengan perlahan-lahan, berapa orang yang benar-benar terlatih berhasil bertahan dan bahkan kemudian menunjukkan bahwa mereka pun memiliki pengalaman bertempur yang dapat mengimbangi anak buah Putut Nantang Pati. Betapa pun kasarnya lawan mereka, tetapi karena sebelumnya mereka telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, maka para pengawal itu tidak terkejut dan menjadi bingung.

Namun dalam pada itu, Ki Argapati sendirilah yang tidak berhasil mempertahankan desakan Putut Nantang Pati. Ketika Putut Nantang Pati selesai berbicara dan tertawa, maka mulailah ia memusatkan serangan-serangannya.

“Sekarang memang sudah waktunya kau menjalani hukuman atas kelancanganmu. Sebelum kau mencapai batas pertahanan Panembahan Agung, kau akan mati lebih dahulu. Sayang, kau tidak akan pernah melihat kesaktiannya yang tidak ada taranya. Jika kau tidak mempercayainya, maka sepanjang hidupmu, kau tidak akan pernah melihat buktinya.”

Ki Argapati masih tetap berdiam diri. Tetapi tangannya rasa-rasanya menjadi semakin mantap menggenggam tombaknya.

Sejenak kemudian serangan Putut Nantang Pati itu pun menjadi semakin dahsyat. Ia menyadari sepenuhnya, bahwa kelemahan Ki Argapati ada pada kakinya. Itulah sebabnya maka ia berloncatan dengan lincahnya, menyerang lawannya dari segala arah.

Ternyata bahwa waktu yang hanya sejenak, yang seakan-akan memberi kesempatan kepada kakinya yang sakit untuk beristirahat, tidak berarti apa-apa sama sekali. Ketika ia mulai terlibat lagi dalam pertempuran melawan Putut Nantang Pati, maka perlahan-lahan perasaan sakitnya itu pun kambuh kembali.

Pandan Wangi yang berhasil mendekati ayahnya melihat kelemahan itu pula. Karena itu, maka ia pun segera menyerang Putut Nantang Pati dengan pedang rangkapnya.

Putut Nantang Pati terkejut sehingga ia melangkah surut. Namun ia pun tertawa sambil berkata, “He, agaknya kaulah yang bernama Pandan Wangi.”

“Wangi,” desis Ki Argapati kemudian, “menyingkirlah.”

“Aku akan menyingkirkan orang ini, Ayah.”

“Serahkan ia kepadaku, Wangi.”

Pandan Wangi yang menyadari keadaan ayahnya tidak segera meninggalkan Putut Nantang Pati. Ia justru menyerangnya semakin garang sehingga untuk beberapa saat lamanya Putut Nantang Pati harus berusaha menghindarkan serangan-serangan itu.

Betapa pun kemampuan Pandan Wangi yang berkembang dengan pesat, namun ia masih belum dapat mengimbangi Putut yang garang itu. Karena itulah, maka dalam waktu yang singkat Nantang Pati segera dapat menguasai keadaan.

Namun dalam pada itu, Ki Argapati telah menempatkan diri di dalam pertempuran melawan Putut itu pula, meskipun ia hanya dapat mempergunakan tangannya, sehingga dengan demikian Putut Nantang Pati harus bertempur melawan dua orang sekaligus.

Tetapi karena kaki Ki Argapati benar-benar tidak mampu lagi mengimbangi kemampuan ilmunya, maka geraknya pun menjadi sangat terbatas.

Dalam keadaan yang demikian itulah Ki Argapati sempat menyebut kebesaran nama Tuhan. Ia memang yakin bahwa kemampuan manusia sangat terbatas. Meskipun ia memiliki ilmu yang sempurna sekali pun, namun dibatasi oleh kemampuan jasmaniahnya, maka ilmu itu seakan-akan tidak banyak berguna lagi. Dan tidak seorang manusia pun yang dapat melawan susutnya kemampuan jasmaniah apabila umurnya sudah mencapai batas. Semakin tua seseorang memang akan menjadi semakin matang. Tetapi apabila kemampuan jasmaniah sudah mulai susut, maka setiap orang harus mengakui pertanda ini. Dan terpujilah nama Tuhan yang Adil dan Maha Kuasa, yang dengan pertanda alam menunjukkan Kuasa-Nya yang tanpa batas.

Dan pertanda itu kini terasa oleh Ki Argapati. Betapa pun ilmu yang selama ini disempurnakan di dalam dirinya, namun ia tidak akan dapat melawan sakit di kakinya sendiri. Dan Ki Argapati menerima keadaannya meskipun bukan berarti bahwa ia harus berputus asa.

Sementara itu Pandan Wangi-lah yang mengambil alih serangan-serangan beruntun. Namun serangan-serangannya tidak merupakan bahaya yang sebenarnya bagi Putut Nantang Pati. Sekali-sekali ia menghindar, namun kemudian dengan ragu-ragu ia mendesak gadis Menoreh itu.

“Pandan Wangi,” berkata Putut Nantang Pati, “sebenarnya kau tidak pantas melawan aku. Aku ingin perang tanding di dalam arena ini melawan Ki Argapati. Sebaiknya kau tidak usah mengganggu. Setelah aku selesai dengan Ki Argapati, maka akan datang giliranmu. Tetapi aku tidak ingin membunuh seorang gadis yang cantik seperti kau.”

Pandan Wangi tidak menyahut, tetapi ia menyerang semakin garang.

Putut Nantang Pati akhirnya menjadi marah juga kepada Pandan Wangi. Bahkan ia pun kemudian ingin menyingkirkan gadis itu, atau menghentikan perlawanannya, meskipun ia tidak ingin membunuhnya agar gadis itu tidak mengganggu perkelahiannya dengan Ki Argapati.

Karena itulah, maka Putut Nantang Pati ingin memisahkan Pandan Wangi dari ayahnya. Selagi mereka masih tetap bertempur berpasangan, maka Pandan Wangi yang masih belum memiliki ilmu setinggi ayahnya itu, seakan-akan mampu mengisi kekurangan pada kaki Ki Argapati. Tetapi jika keduanya terpisah, maka Putut Nantang Pati akan dapat mengalahkannya.

Tetapi Pandan Wangi pun mampu berpikir dengan baik. Setiap kali Putut Nantang Pati memancingnya, maka Pandan Wangi sama sekali tidak menghiraukannya. Ia tetap berdiri saja di sisi ayahnya dengan pedang rangkapnya. Dibiarkannya Putut Nantang Pati yang meloncat menjauh yang seakan-akan membiarkan dirinya diserang oleh Pandan Wangi.

Akhirnya Putut Nantang Pati benar-benar menjadi marah. Karena itu ia tidak lagi mengekang diri. Karena ia merasa tidak akan dapat lagi memisahkan gadis itu dari ayahnya, tiba-tiba saja ia memberikan isyarat kepada anak buahnya, dan berteriak, “Pisahkan gadis itu dari ayahnya.”

Beberapa orang anak buahnya yang mendengar aba-aba itu pun segera mempersiapkan diri. Mereka mencoba melepaskan lawan-lawannya dan beberapa orang berusaha mendekati Pandan Wangi.

Tetapi ternyata bahwa aba-aba itu merupakan aba-aba juga bagi para pengawal Tanah Perdikan Menoreh dan terutama bagi Prastawa. Itulah sebabnya, maka mereka pun memusatkan perlawanan mereka agar anak buah Putut Nantang Pati tidak sempat menyerang Pandan Wangi yang bertempur berpasangan dengan ayahnya Ki Argapati yang tidak lagi memiliki kemampuannya yang utuh.

Dengan demikian pertempuran itu pun berkisar di seputar Ki Argapati, sehingga dengan demikian maka ruang dari para pengawal di kedua belah pihak itu pun menjadi sangat sempit. Namun demikian keadaan itu justru menjadi berbahaya bagi para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Dalam pada itu, beberapa orang anak buah Putut Nantang Pati yang berada di belakang garis pertempuran itu telah mempersiapkan diri mereka dengan kapak dan beberapa orang yang lain dengan anak panah. Jika pertempuran di lembah itu bergeser karena Daksina menarik diri, maka mereka harus menahan orang-orang Mataram dengan anak panah mereka. Kemudian, membiarkan mereka lewat apabila kedua pasukan itu telah terpisah, sementara itu orang-orang lain harus memotong tali-tali pengikat batang-batang kayu dengan kapak.

Sebenarnyalah banwa Daksina tidak berhasrat untuk bertempur lebih lama lagi. Korban telah berjatuhan, dan tidak ada kemungkinan sama sekali untuk bertahan. Karena itu, maka ia harus segera menarik diri melalui lembah yang sempit. Jika sebagian pasukan Mataram itu telah dibinasakan di lembah itu, maka sebagian yang lain akan dengan mudah dikalahkan.

“Mudah-mudahan Sutawijaya tetap hidup dan dapat kita tangkap hidup-hidup,” berkata Daksina di dalam hatinya.

Demikianlah maka Daksina pun akhirnya mengambil keputusan untuk dengan perlahan-lahan mundur. Pasukan Mataram itu harus mengikutinya sampai mereka masuk ke dalam lembah yang sempit.

“Sutawijaya tentu ada di ujung pasukannya,” berkata Daksina di dalam hatinya. “Jika pokok-pokok kayu dan batu-batu itu menimpa bagian tengah dan ekor pasukan Mataram, maka yang tersisa adalah bagian ujungnya bersama Sutawijaya.”

Seperti yang sudah dijanjikan, jika Daksina mulai menarik diri, maka ia akan memberikan isyarat kepada Putut Nantang Pati, karena Putut itu pun harus menarik diri pula setelah orang-orangnya selesai dengan tugasnya, meruntuhkan tebing dengan pokok-pokok kayu dan batu-batu padas. Orang-orang yang semula menunggui tali-temali dan mereka yang menyandang anak panah akan dapat membantunya menahan pasukan Ki Argapati. Apabila Ki Argapati mengejarnya terus, selewat lembah yang sempit, maka pasukan Daksina yang sudah kehilangan lawan itu akan membantunya menghancurkan pasukan Menoreh itu.

—- > Bersambung ke bagian 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s