ADBM1-076

<<kembali | lanjut >>

DENGAN demikian maka bersama di dalam satu kelompok dengan Ki Lurah Branjangan, Raden Sutawijaya berusaha untuk menahan Daksina. Meskipun Raden Sutawijaya sadar, bahwa Daksina memiliki kemampuan yang lebih baik daripada dirinya sendiri, tetapi seperti yang pernah di lakukan, Raden Sutawijaya tidak berdiri sendiri.

Di pihak yang lain, Senapati pangapit Panembahan Alit tertahan oleh Ki Argapati yang kini dirangkapi oleh anak gadisnya, Pandan Wangi, karena Pandan Wangi sadar, bahwa gangguan pada kaki ayahnya tentu akan segera kambuh lagi jika ia harus bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Itulah sebabnya maka ia merasa wajib selalu berada di sampingnya.

Di bagian lain, para pemimpin Mataram harus menahan serangan lambung yang berusaha memecah perhatian para pemimpin pasukan Mataram dan Menoreh. Namun ternyata bahwa kekuatan serangan pada lambung itu sama sekali tidak mampu mengatasi ketangkasan para pengawal dari Mataram.

Demikian juga di lambung yang lain. Ketika Agung Sedayu dan Swandaru mulai melecutkan cambuknya, maka ternyata bahwa lawan mereka tidak banyak berarti bagi gelar yang kurang sempurna itu, sehingga serangan lambung di belahan yang terdiri dari orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh itu pun tidak banyak memberikan gangguan.

Sementara itu, pasukan yang berada di bagian belakang dari gelar yang tidak sempurna itu sama sekali tidak mendapat gangguan apa pun. Ki Demang yang berada di bagian belakang, benar-benar merupakan tenaga cadangan yang setiap saat dapat dipergunakan sebaik-baiknya.

Sejenak setelah kedua pasukan itu berbenturan, Panembahan Alit sudah merasa tekanan yang berat dari lawannya. Namun demikian ia masih tetap merasa cukup kuat untuk melawan pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh itu, meskipun ia segera dapat juga mengenal orang bercambuk yang kini menahannya di ujung medan.

“Kita bertemu lagi Panembahan,” berkata Kiai Gringsing setelah keduanya terlibat di dalam peperangan.

“Kenapa kau turut campur?” bertanya Panembahan Alit. “Aku kira kau mendendam ketika aku menahanmu di Alas Tambak Baya.”

“Bukan sekedar itu,” sahut Kiai Gringsing, “tetapi aku memang sependapat dengan Raden Sutawijaya bahwa alas tempat gerombolanmu berpijak ini harus dihancurkan. Sudah sekian lamanya Mataram harus mengalami gangguan-gangguan yang gila dari Panembahan Agung dan Panembahan Alit. Hantu-hantuan, racun, dan seakan-akan kalian telah memagari Mataram dengan kekerasan.”

“Persetan. Tetapi kali ini kalian benar-benar telah terjerumus ke dalam sarang serigala. Kau akan mati dan hancur disayat-sayat oleh ujung senjata kami.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Yang terdengar adalah ledakan cambuknya sehingga Panembahan Alit terkejut dan meloncat menghindar dengan tangkasnya.

Selagi pertempuran itu berlangsung, maka masih terdengar suara Panembahan Agung, “Cepat, tahanlah pasukan Raden Sutawijaya. Kau dapat mempergunakan pengaruhmu. Kemudian aku akan menyerahkan anakmu itu.”

“Sayang, Panembahan,” sahut Ki Waskita, “aku tidak dapat melakukannya. Aku akan membebaskan anakku, tetapi tidak untuk menjerumuskan orang lain ke dalam tanganmu.”

Terdengar raksasa itu menggeram. Dengan nada tinggi ia kemudian berkata, “Jadi kau relakan anakmu mati dengan cara yang mengerikan itu?”

“Kenapa mengerikan?”

“Sudah aku katakan. Aku akan mengikat kakinya dan menjerat lehernya dengan tali yang terikat pada seekor kuda.”

“Jika kau mengerti bahwa hal itu mengerikan, kenapa kau lakukan?”

“Sengaja, agar kau tahu, bahwa kau terlampau sombong dengan membiarkan anakmu mati dengan cara itu. Mungkin kau lebih menghargai hadiah dari Raden Sutawijaya atas bantuanmu saat ini. Mungkin dijanjikan bahwa kau kelak akan diangkat menjadi seorang pemimpin di Mataram sehingga kau bersedia mengorbankan anakmu.”

“Aku sama sekali tidak bermaksud mengorbankan anakku yang manja itu. Aku akan membebaskan dengan caraku.”

“Persetan. Ia akan mati. Jika aku tidak melihat kau berusaha mempengaruhi Raden Sutawijaya dalam hitungan ke sepuluh, aku akan melepaskan isyarat.”

Waskita termangu-mangu sejenak. Tetapi ia sengaja memperpanjang waktu dengan berkata, “Tunggu dulu. Aku sedang berpikir. Jangan mulai dengan hitungan itu.”

“Kau menunggu pasukanku hancur?”

“Bukan itu, tetapi sekedar jaminan bahwa anakku akan selamat. Apakah kau dapat menunjukkan di mana anakku sekarang?”

“Ada padaku. Bukan aku sendirilah yang menemukannya. Tetapi orang-orang kepercayaanku. Kami mengira bahwa anak itu dapat kita pergunakan sebagai umpan antuk memancing kalian. Tetapi kami sudah gagal menghancurkan kalian di mulut lembah yang sempit. Kemudian pemainanku telah kau ganggu. Dan sekarang, satu-satunya kesempatan adalah mempergunakan kau dan anakmu itu.”

“Aku minta jaminanmu.”

Panembahan Agung menggeram. Ia masih belum mulai menghitung, karena Waskita sengaja memperpanjang pembicaraan.

Dalam pada itu, Waskita memang menunggu agar usahanya untuk melepaskan anaknya dapat terlaksana lebih dahulu sebelum Panembahan Agung menentukan sikap dan melepaskan isyarat untuk membunuh anaknya.

***

Dengan petunjuk dari Ki Waskita atas dasar isyarat yang ditangkapnya, maka Sumangkar merayap semakin dekat dengan padepokan Panembahan Agung yang seakan-akan telah menjadi kosong. Para penjaga dan pengawal telah dikerahkan ke medan untuk menahan arus pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh. Yang tinggal di padepokan itu hanyalah beberapa orang yang bertugas mengawasi keadaan dan dua orang untuk menjaga Rudita yang terikat pada tiang di ruang belakang padepokan itu. Panembahan Agung ternyata telah kecewa menahan anak cengeng yang semula disangkanya tidak akan mempunyai arti apa-apa, yang ternyata meleset dari perhitungannya.

Dengan demikian maka nilai Rudita bagi Panembahan Agung itu telah mengalami beberapa kali perubahan. Semula ketika ia menerima anak itu ia mendapat laporan, bahwa anak itu agaknya termasuk orang yang penting, sehingga ia tidak ikut di dalam pertempuran yang sedang berlangsung. Tetapi kemudian Panembahan Agung berpendapat, bahwa anak itu adalah anak yang dianggapnya tidak bernilai. Cengeng dan sama sekali tidak mengetahui apa pun juga tentang Mataram. Namun ketika anak itu akan dibunuhnya, tanpa disadari, anak itu telah berceritera tentang Tanah Perdikan Menoreh, sehingga Panembahan Agung berpendapat bahwa dari anak itu akan dapat diperas beberapa keterangan mengenai Menoreh. Yang terakhir ternyata, Panembahan Agung mengetahui bahwa anak itu adalah anak Jaka Raras, orang yang paling diseganinya karena orang itu juga memiliki ilmu seperti ilmunya sendiri. Ilmu yang dapat menjelmakan kebohongan yang paling besar yang dapat dilakukan oleh seseorang.

Tetapi ternyata bahwa di saat yang paling genting bagi Panembahan Agung, ayah anak cengeng itu sama sekali tidak berniat untuk menebus anaknya, karena ia tidak mau berkhianat kepada Raden Sutawijaya. Dengan demikian maka anak itu benar-benar tidak berarti lagi baginya, sehingga agaknya lebih baik anak itu dibunuhnya saja.

Pada saat itu Sumangkar telah berada di dalam padepokan yang sepi. Menurut Ki Waskita, anaknya ada di bagian belakang dari padepokan itu, sehingga dengan hati-hati, ia berkisar dari balik gerumbul ke balik gerumbul yang lain mendekati ruangan yang paling mungkin dipergunakan untuk menahan Rudita.

Dalam pada itu, Sumangkar menyadari, bahwa Rudita akan dapat dijadikan barang penting untuk memeras Ki Waskita. Karena itu, maka ia pun berusaha dengan secepat-cepatnya untuk melepaskannya.

Sumangkar menjadi berdebar-debar ketika dilihatnya masih ada beberapa orang yang hilir-mudik di halaman rumah induk padepokan itu. Dengan demikian, maka ia berpendapat, bahwa pada suatu saat, jika perlu, ia memang harus mempergunakan kekerasan.

Tetapi Sumangnar maju terus mendekati tempat yang diduganya dipergunakan untuk menyembunyikan Rudita. Ketika ia mendapat kesempatan, maka Sumangkar pun berlari dari balik gerumbul ke sudut rumah induk itu.

Namun, ternyata tanpa disengaja seseorang telah melihatnya. Tetapi karena orang itu tidak begitu jelas, siapakah yang dilihatnya itu, maka ia pun mendekatinya dengan senjata teracu.

Dalam keadaan itu, Sumangkar tidak dapat bersembunyi lagi. Bahkan ia pun kemudian berjongkok di sudut rumah itu sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Siapa kau, he?” bertanya orang yang mendekatinya.

Tetapi orang itu tidak dapat bertanya untuk kedua kalinya, ketika tiba-tiba saja ia terhuyung-huyung.

Dengan mata terbelalak orang itu masih melihat Sumangkar berdiri. Namun kemudian matanya menjadi berkunang-kunang. Dadanya serasa sesak.

Agaknya Sumangkar telah meloncat dan memukul dada orang itu, sehingga akhirnya orang itu pun terjatuh menelentang di tanah. Pingsan.

Dengan tergesa-gesa Sumangkar masih sempat menarik orang itu dan menyembunyikannya di balik pintu yang terbuka. Kemudian dengan hati-hati ia bergeser menuju ke tempat yang paling sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh Ki Waskita menurut rabaan isyaratnya.

Sekali-sekali Sumangkar masih harus berhenti dan berlindung di balik sudut-sudut rumah atau gerumbul-gerumbul yang rimbun.

Ia masih berusaha untuk menghindari kekerasan sejauh dapat dilakukan, karena ia tidak mengetahui dengan pasti, ada berapa orang yang masih tinggal di padepokan ini.

Ketika Sumangkar mendekati rumah yang diduga sebagai tempat untuk menyembunyikan Rudita, maka ia terpaksa bersembunyi melekat dinding ketika ia melihat seseorang justru berjalan ke arahnya. Namun ia tidak membiarkan orang itu memberikan isyarat kepada kawan-kawannya. Demikian orang itu sampai di sudut rumah, maka ia tidak sempat berbuat apa pun juga. Sebuah tangan yang kuat telah mencengkam mulutnya dan sebuah pukulan yang keras terasa mengenai tengkuknya. Setelah itu, maka ia pun jatuh pingsan pula.

Seperti orang yang pertama, maka orang itu pun kemudian disembunyikan di balik dinding. Agaknya rumah-rumah gubug yang bertebaran di padepokan itu sudah dikosongkan, karena orang-orangnya berada di medan di hadapan padepokan yang terpencil dan tersembunyi itu.

Dengan hati yang berdebar-debar Sumangkar melanjutkan langkahnya. Setiap kali ia berhenti dan mendengarkan setiap bunyi yang mencurigakan.

Akhirnya Sumangkar berhasil mendekati tempat yang dicarinya. Lamat-lamat ia mendengar seseorang menangis meskipun tertahan-tahan.

“Hanya Rudita-lah yang menangis dengan cara itu,” desis Sumangkar kepada diri sendiri.

Perlahan-lahan ia berusaha mendekati gubug itu. Ternyata gubug itu sepi. Meskipun demikian Sumangkar yakin, bahwa tentu ada satu atau dua orang yang menjaganya.

Selagi ia termangu-mangu, tiba-tiba ia mendengar suara yang menggelegar dari medan. Ketika ia berpaling, dilihatnya sesuatu telah berbenturan di langit. Sejenak Sumangkar termangu-mangu, namun kemudian ia tidak menghiraukan sama sekali. Ia sadar, bahwa yang dilihat dan didengarnya sama sekali bukannya bentuk yang sebenarnya, seperti dua raksasa yang berdiri di puncak bukit itu. Meskipun ia melihat juga bayangan raksasa di sela-sela dedaunan, tetapi ia sama sekali tidak menghiraukannya, karena raksasa-raksasa itu tidak akan dapat berbuat apa-apa atasnya.

Tetapi ketika ia melangkah semakin dekat, dan berdiri di ujung dinding di belakang gubug itu, ia mendengar bunyi yang berdesing di udara. Seperti bunyi sawangan yang kadang-kadang dipasang pada burung merpati.

Mula-mula Sumangkar tidak menghiraukannya. Namun kemudian ia mulai tertarik ketika ia mendengar suara seseorang di dalam gubug itu, “Kau mendengar bunyi sawangan?”

“Ya,” jawab yang lain.

“Apakah itu suatu isyarat?”

Sejenak mereka terdiam. Namun kemudian salah seorang berkata, “Ya. Itu tentu suatu isyarat. Bukankah Panembahan Agung sudah berpesan, bahwa jika terdengar isyarat yang akan akan dilontarkannya lewat bunyi, maka anak ini dapat dibunuh.”

Rudita yang agaknya mendengar pembicaraan itu pun tiba-tiba berteriak, “Jangan, Jangan bunuh aku.”

“Diam anak gila. Semakin keras kau berteriak, nasibmu akan menjadi semakin jelek. Aku kira Panembahan Agung akan sependapat jika kita memilih cara yang paling baik untuk membunuhnya.”

“Jangan, jangan,” teriak anak itu.

“Kita tunggu sejenak,” terdengar suara dari dalam gubug itu pula, “mungkin ada isyarat lain yang lebih jelas.”

Gubug itu menjadi sepi sejenak. Yang terdengar hanyalah tangis Rudita yang semakin keras.

“Tutup mulutmu, tutup mulutmu,” bentak salah seorang dari penjaganya.

Sumangkar tergeser setapak ketika ia mendengar sebuah pukulan diikuti jerit tertahan.

“Ampun, ampun. Aku tidak bersalah.”

“Jika kau tidak mau diam, aku remukkan mulutmu.”

Suara tangis itu pun menurun. Tetapi terdengar isak yang sesak. Agaknya Rudita mencoba menahan tangisnya sekuat-kuatnya.

Sumangkar terkejut ketika ia mendengar langkah seseorang berlari-lari. Karena itu, ia pun mencoba bergeser dan berlindung di sudut gubug itu, di sisi yang lain dari arah suara yang didengarnya.

Ternyata suara langkah, orang itu telah memasuki gubug tempat Rudita ditahan.

“Aku mendapat perintah langsung dari Panembahan Agung,” desis orang itu.

“Bagaimana mungkin. Panembahan Agung masih berada dipuncak bukit.”

“Gila, seakan-akan kau tidak mengenal ilmunya. Dengar, aku diperintahkan, bersama kalian membawa anak ini ke medan. Cepat.”

“Untuk apa?”

“Untuk memaksa ayahnya menghentikan perlawanan.”

Sejenak bilik di dalam gubug itu menjadi sepi. Tetapi kemudian tangis Rudita seakan-akan meledak lagi. Agaknya, ia menyadari apa yang akan terjadi atas dirinya jika ia dibawa ke medan.

“Jangan, jangan,” Rudita berteriak lagi. Tetapi sekali lagi suaranya terputus ketika terdengar sebuah pukulan mengenai pipinya.

“Jika kau berteriak lagi, aku remukkan mulutmu.”

“Tetapi jangan bawa aku ke medan.”

“Kau tidak mempunyai pilihan. Kau harus pergi ke medan dengan diikat pada lehermu. Setiap kali ayahmu menolak perintah Panembahan Agung, maka tali di lehermu akan menjadi semakin mencekik leher itu. Perlahan-lahan tali itu akan ditarik ke atas dan digantungkan pada sebatang pohon. Jika ayahmu tetap menolak maka kau terayun-ayun di atas jurang yang paling dalam. Tetapi tentu tidak akan lama, karena tali itu akan segera diputuskan dan kau akan terlempar jatuh ke dalamnya. Kau tahu berapa dalam jurang itu? Tidak kurang dari tiga puluh depa.”

“Tidak, tidak,” Rudita menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menangis. Tangannya masih terikat sehingga ia tidak dapat berbuat lain.

Orang-orang yang menjagainya tidak menghiraukan tangisnya lagi. Yang terdengar adalah, “Cepat. Lepaskan talinya.”

Sumangkar menahan nafasnya sejenak. Didekatkannya telinganya pada dinding gubug itu. Yang terdengar kemudian adalah desir tali yang sedang dilepaskan dan tangis Rudita yang tertahan-tahan.

Namun, Sumangkar terkejut ketika ia mendengar langkah mendekatinya. Agaknya perhatiannya terlampau tertuju kepada peristiwa di dalam gubug itu, sehingga ia tidak mendengar langkah mendekati. Baru ketika orang itu sudah terlampau dekat, Sumangkar dapat mendengar desir langkahnya dan desah nafasnya yang justru tertahan-tahan.

Tepat pada saatnya Sumangkar berpaling. Agaknya orang itu memang sedang merunduknya. Tanpa bertanya sesuatu, tombaknya langsung meluncur menyerang lambung.

Tetapi Sumangkar sempat melihat mata tombak itu. Karena itu, maka ia masih sempat mengelak sehingga ujung tombak itu langsung menubruk dinding gubug itu.

Ternyata dinding gubug itu bukannya dinding yang kuat. Ketika ujung tombak itu membentur dinding, maka dinding itu pun tembus dan bahkan oleh dorongan yang kuat, maka tali pengikat dinding itu pun terputus, dan dinding itu seakan-akan telah terbuka di sudut.

Orang-orang yang berada di dalam bilik di gubug kecil itu terkejut. Mereka melihat ujung tombak yang menerobos masuk, kemudian seseorang melanggar dinding sehingga dinding itu hampir roboh.

Selagi orang-orang itu termangu-mangu, maka Sumangkar menyadari keadaannya. Ia tidak dapat menyembunyikan diri lagi. Karena itu, maka ia harus mengambil tindakan yang cepat.

Sejenak kemudian, maka Sumangkar pun mulai bertindak. Selagi orang yang membentur dinding itu berusaha untuk bangkit, maka sebuah pukulan telah mengenai tengkuknya, sehingga sekali lagi ia jatuh terjerembab. Dan bahkan kesadarannya pun seakan-akan telah direnggut sama sekali daripadanya. Dan ia pun jatuh pingsan karenanya.

Untuk beberapa saat Sumangkar masih berdiri di tempatnya. Ia ragu-ragu untuk meloncat masuk. Karena itu, maka ia masih saja berdiri di luar dinding yang hampir roboh itu.

“Jika aku masuk, maka akan dapat mendorong orang-orang itu mempergunakan Rudita untuk memaksakan kehendaknya,” berkata Sumangkar kepada diri sendiri, sehingga dengan demikian, ia masih tetap berada di luar.

Ia berharap bahwa orang-orang yang ada di dalam bilik itulah yang justru keluar dan meninggalkan Rudita. Setidak-tidaknya, sebagian dari mereka.

Ternyata perhitungannya itu benar. Dua orang telah meloncat keluar dengan senjata terhunus, sedang yang seorang lagi justru sedang mengikat kembali tangan Rudita yang sudah hampir terlepas.

“Siapa kau?” bertanya salah seorang dari mereka.

Sumangkar tidak segera menyahut. Bahkan ia melangkah surut sambil memandang berkeliling. Jika ada orang lain lagi yang melihatnya, maka keadaannya akan menjadi gawat. Tetapi rupa-rupanya padepokan itu memang sudah sepi.

“Jangan lari,” bentak salah seorang dari orang-orang yang menunggui Rudita.

Sumangkar tidak menyahut. Ia melangkah lagi surut. Dan seperti yang dikehendakinya, maka kedua orang itu mengikutinya semakin jauh dari bilik Rudita.

“Siapa kau he?” bentak orang itu lagi.

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ia mengharap agar yang masih ada di dalam bilik itu tidak mempergunakan Rudita.

Agaknya kedua orang itu pun tidak sabar lagi. Karena Sumangkar tidak juga menjawab, maka salah seorang dari mereka menggeram, “Baik Jika kau tetap membisu, maka kau akan mati tanpa dikenal namamu.”

Kedua orang itu pun langsung menyerang Sumangkar dengan dahsyatnya. Senjata mereka berputar dan mematuk dengan cepatnya. Agaknya untuk menjaga Rudita, Panembahan Agung telah menempatkan orang-orangnya yang paling terpercaya.

Dengan demikian, maka perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Sumangkar ternyata selalu meloncat surut meskipun hanya berputar-putar di tempat itu.

Tampaknya sulit bagi Sumangkar untuk melawan kedua orang yang menyerangnya dengan garang meskipun ia sudah mempergunakan senjatanya.

Tetapi ia masih sempat untuk berusaha menghindarkan diri dari setiap sentuhan senjata, meskipun ia harus selalu berloncatan dan bergeser surut.

“Kau tidak akan dapat lari,” bentak orang-orang itu.

Sumangkar tidak menyahut. Ia masih melawan dengan gigih sambil terdesak terus-menerus.

“Menyerahlah, dan katakan apa yang kau kehendaki,” berkata salah seorang dari lawannya sambil menyerangnya terus.

Sumangkar tidak menjawab.

“ Gila, apakah kau memang bisu?”

“Tidak,” jawab Sumangkar.

“Jadi bagaimana? Kenapa kau tidak dapat mengatakan, untuk apa kau datang kemari? Jika kau tidak mempunyai niat jelek, kami dapat mengampunimu.”

Sumangkar tidak menjawab lagi. Tetapi ia masih berusaha melawan terus.

Sejenak kemudian terdengar salah seorang dari lawannya tertawa. Katanya, “Kau tentu akan melepaskan anak manja yang bernama Rudita itu. Apakah kau ayahnya? Tentu tidak. Jika kau ayahnya, kau tentu sudah dibinasakan oleh Panembahan Agung, karena ayahnya selalu mengganggunya di medan yang berat itu. Aku mendapat perintah dari Panembahan Agung untuk membawa anak itu ke medan.”

Sumangkar sama sekali tidak menjawab. Ia masih saja bertempur dengan gigihnya meskipun ia masih selalu terdesak surut.

Kedua orang lawannya menjadi semakin marah karenanya. Karena itu, maka salah seorang berkata, “Cepat, kita selesaikan saja orang ini. Kita harus segera membawa anak cengeng itu sebelum pasukan kita menjadi semakin terdesak. Ayah anak itu akan dapat mempengaruhi medan, jika anaknya kita ikat pada sebatang pohon di atas jurang itu.”

Dengan demikian maka kedua orang itu bertempur semakin sengit, dan Sumangkar pun menjadi semakin terdesak karenanya. Ia harus berusaha sekuat tenaga untuk menghindari serangan-serangan lawannya. Dengan senjatanya ia berusaha menahan desakan kedua lawannya itu.

Tetapi meskipun Sumangkar hampir tidak mampu berbuat apa-apa selain berloncatan, bahkan berlari-lari surut dan melingkar-lingkar, namun ia masih berhasil membebaskan diri dari senjata-senjata lawannya yang mematuk berganti-ganti.

Akhirnya lawan-lawannya itu tidak sabar lagi. Salah seorang dari mereka pun berteriak, “Cepat. He, kemarilah, jagalah agar orang ini tidak berlari-larian saja. Kita bunuh saja meskipun kita tidak mengenal namanya. Apa boleh buat. Ia terlalu keras kepala.”

Kawannya yang dipanggil, yang sedang menunggu Rudita, menjadi termangu-mangu. Namun ia pun melihat cara Sumangkar berkelahi. Agaknya jika seorang lagi terjun ke arena perkelahian itu, dan berusaha menahan agar Sumangkar tidak berlari-lari dan menghindar melingkar-lingkar, maka usaha mereka akan cepat berhasil.

Tetapi ia masih tetap ragu-ragu. Jika selain Sumangkar masih ada orang lain yang akan dapat mengambil anak cengeng itu, maka Panembahan Agung tentu akan marah sekali.

Karena itu maka orang itu pun tidak segera beranjak dari tempatnya.

“Cepat, kau kemarilah. Kita selesaikan saja orang tua ini,” teriak salah seorang lawan Sumangkar.

Tetapi orang yang menjagai Rudita itu menjawab, “Tetapi apakah anak ini akan ditinggalkan?”

“Ia tidak akan dapat melepaskan dirinya.”

“Bagaimana jika ada orang lain?”

Kedua lawan Sumangkar itu terdiam. Memang mungkin sekali ada orang lain yang dapat mengambil anak itu selagi mereka bertempur melawan Sumangkar yang meskipun tidak menggetarkan dada mereka, namun terlampau licin sehingga mereka masih belum dapat membunuhnya.

Untuk beberapa saat kemudian, kedua lawannya itu mencoba berusaha tanpa orang ke tiga yang menunggui Rudita. Tetapi Sumangkar memang terlampau licin, sehingga keduanya pun kemudian mengambil cara lain.

Keduanya menyerang Sumangkar dari arah yang berlawanan. Dengan demikian mereka berharap bahwa Sumangkar tidak dapat menghindarkan dirinya lagi dengan berloncatan surut.

Sumangkar memang tampaknya mendapat kesulitan. Tetapi ia masih saja dapat menghindar dengan loncatan-loncatan panjang dari antara kedua orang yang menyerangnya.

“Anak setan. Kau tidak akan berhasil melarikan diri,” teriak salah seorang lawannya yang jengkel, “menyerahlah. Kami tidak akan membunuhmu.”

Sumangkar sama sekali tidak menjawab.

“Apakah ia memiliki aji welut putih,” desis yang lain.

“Persetan. Tetapi ia harus mati. Tentu ia tidak memiliki aji apa pun. Welut putih hanya sekedar untuk melepaskan diri dari tangkapan tangan. Tetapi ia akan mati jika tersentuh senjata.”

Tetapi meskipun dengan banyak kesulitan, namun Sumangkar benar-benar tidak mau pergi apalagi menyerah, sehingga salah seorang dari lawannya berteriak lagi kepada kawannya yang menjaga Rudita, “Selarak pintu depan. Kau lewat dinding yang terbuka itu membantu kami. Dari tiga arah, maka orang ini akan segera mati terbunuh. Kita harus segera menghadap Panembahan Agung.”

Orang yang menjaga Rudita termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menyelarak pintu depan, dan dengan senjata terhunus terjun ke medan yang menjengkelkan itu.

Sumangkar melihat orang itu berlari-lari mendekati arena. Kemudian bertiga mereka mengepungnya. Dengan penuh ketegangan mereka merundukkan senjata-senjata mereka mengarah ke dada Sumangkar.

“Sekarang kau akan mati,” desis salah seorang dari mereka, “jika kau tidak berkeberatan, sebut namamu. Kelak akan ada orang yang dapat mengatakan jika seseorang mencarimu.”

Sumangkar berdiri diam. Dengan tegang pula ia bersiaga untuk mempertahankan dirinya dari sergapan ketiga orang yang sedang marah itu.

“Baiklah. Jika kau tidak mau menyebut namamu, maka kau akan mati tanpa meninggalkan bekas apa pun.”

Sumangkar masih tetap diam. Dan orang-orang itu tidak membuang waktu lebih banyak lagi. Sejenak kemudian mereka pun segera berloncatan menyerang.

Saat yang demikianlah yang sebenarnya ditunggu oleh Sumangkar. Jika ia memberikan perlawanan dan berusaha menentukan akhir dari perkelahian itu, tidak ada orang lagi yang dapat mengancam Rudita dan memaksakan kehendaknya. Karena itu, maka Sumangkar pun tidak mau memperpanjang permainannya lagi.

Demikian ketiga orang itu menyerang, maka Sumangkar pun memutar senjatanya. Sebuah trisula yang kecil terikat pada ujung rantai, dan trisula yang lain di tangan kirinya.

Tetapi orang-orang yang mengepungnya pun memang bukan orang-orang kebanyakan. Untuk beberapa saat mereka masih tetap bertahan dan berusaha untuk mengalahkan orang tua yang bersenjata aneh itu.

Namun usaha mereka sama sekali tidak berhasil. Kini Sumangkar justru tidak berloncatan mundur lagi. Ia tetap berdiri di tempatnya sambil memutar senjatanya. Bahkan rantai itu kadang-kadang dapat digerakkan ke arah yang tidak terduga-duga.

Akhirnya ketiga orang itu menyadari, bahwa sebenarnya Sumangkar bukan orang yang disangkanya hanya mampu berlari-lari. Mereka pun mulai sadar, bahwa ternyata Sumangkar telah memancing mereka bertiga untuk keluar dari bilik itu. Karena itu, maka selagi masih sempat, tiba-tiba saja salah seorang dari mereka bersuit nyaring. Kemudian berteriak, “Ambil anak itu. Kita paksa orang ini berhenti dengan anak itu pula.”

Dada Sumangkar tergetar karenanya. Namun ia tidak mau terlambat. Karena itu, maka ketika orang itu berhenti berteriak, Sumangkar mempergunakan saat yang tepat.

Hampir tidak dapat ditangkap dengan indera wadag ketika begitu mulut orang itu terkatub, maka ia pun terdorong surut dan jatuh terlentang di tanah. Dadanya memancarkan darah yang merah dari lukanya. Tiga buah lubang yang meskipun tidak begitu besar, tetapi ternyata cukup parah dan berbahaya.

Dua kawannya yang lain terkejut melihat peristiwa itu. Tetapi mereka tidak sempat meninggalkan arena, dan apalagi mengancam Rudita. Dalam keragu-raguan itu, keduanya dikejutkan oleh sambaran senjata Sumangkar. Salah seorang dari mereka mengaduh tertahan. Sesaat ia masih berdiri terhuyung-huyung, namun kemudian ia pun jatuh terbanting di tanah.

Kawannya yang seorang menyadari keadaannya. Karena itu ia sama sekali tidak berusaha melawan. Dengan cepatnya ia meloncat berlari ke bilik tempat mereka mengikat Rudita. Namun nasibnya tidak berbeda dengan kedua kawannya. Ketika ia sedang merunduk masuk lewat dinding yang terbuka, maka terasa jari-jari yang kuat mencengkam pundaknya. Ia tidak dapat bertahan ketika ia seakan-akan terseret keluar lagi dari bilik itu.

Ketika ia mencoba berpaling maka ia masih sempat melihat wajah Sumangkar yang garang. Kemudian sebuah pukulan mengenai tengkuknya.

Semuanya menjadi gelap. Dan orang itu pun kemudian pingsan.

Ketika Sumangkar mencoba dengan tergesa-gesa memasuki ruangan itu, ia masih melihat dua orang berlari-lari ke arahnya. Agaknya keduanya telah mendengar suitan kawannya yang dadanya telah berlubang. Karena itu maka ia pun harus segera mengambil sikap agar ia tidak kehilangan kesempatan menyelamatkan Rudita yang terikat di dalam bilik.

Sejenak Sumangkar menimbang-nimbang. Jika ia melepaskan Rudita, mungkin ia justru akan mendapat kesulitan dari Rudita itu sendiri, karena ia sadar, bahwa Rudita adalah seorang yang sangat dipengaruhi oleh perasaan takut dan cemas.

Karena itu, Sumangkar tidak segera memasuki bilik itu ia justru meloncat dan berdiri beberapa langkah dari lubang dinding yang terbuka itu.

Kedua orang yang berlari-lari itu sempat melihat beberapa orang kawannya yang terbaring. Karena itu, maka ia pun langsung mengerti, bahwa orang yang berdiri di belakang gubug itu tentu bukan orang dari pihak mereka atau bukan prajurit Pajang yang berada di dalam lingkungan mereka bersama Daksina. Karena itulah maka mereka berdua pun langsung menyerang dengan garangnya.

Tetapi Sumangkar yang tergesa-gesa itu tidak memberikan banyak kesempatan kepada mereka, karena sejenak kemudian, keduanya pun telah terbaring di tanah.

Sesaat kemudian Sumangkar pun telah berada di dalam bilik itu. Dengan tergesa-gesa ia membuka ikatan Rudita sambil berdesis, “Jangan berbuat sesuatu yang dapat merugikan dirimu sendiri. Aku akan berusaha menyelamatkan kau.”

“Tetapi, tetapi apa yang akan kau lakukan?”

“Bersembunyi. Hanya bersembunyi.”

“Apakah orang-orang itu tidak akan mencari kita?”

“Kita mencari jalan untuk menemui ayahmu. Aku sudah berjanji membawamu ke tempat yang sudah kami setujui bersama. Karena itu, kau harus menurut petunjukku. Jika tidak, dan kau tertangkap lagi, maka kau akan dicincang. Mengerti?”

Mengerikan sekali. Karena itu, maka Rudita pun menjadi gemetar dan berkata terbata-bata, “Baiklah, Kiai. Kita bersembunyi saja. Orang-orang di Tanah Perdikan Menoreh ternyata bukan orang-orang yang baik.”

“Tidak semuanya.”

“Ya. Semuanya. Mereka senang sekali berkelahi satu sama lain. Jika Pandan Wangi dan kawan-kawannya tidak sengaja memburu orang-orang yang tidak dikenalnya untuk saling berkelahi, maka aku tidak akan sampai ke tempat ini.”

“Sudahlah. Sekarang, ikuti aku.”

Rudita tidak menyahut lagi. Dengan kaki gemetar ia mencoba mengikuti langkah Sumangkar, yang dengan sangat hati-hati keluar dari bilik itu lewat celah-celah dinding yang terbuka.

Ketika tanpa disadari kaki Rudita menyentuh orang yang terbaring, tiba-tiba saja ia memekik. Dengan serta-merta ia berlari memeluk lambung Sumangkar sambil berkata dengan gemetar, “Siapa yang mati itu, Kiai, siapa?”

“Yang dua orang itu tidak mati. Mereka hanya pingsan. Tetapi yang lain, entahlah. Mungkin mereka terbunuh oleh senjataku. Tetapi aku tidak sengaja membunuh mereka.”

Rudita melepaskan pelukannya sambil melangkah surut, “Kiai membunuh orang-orang itu?”

“Ya.”

“Kenapa Kiai membunuh?”

“Supaya kau tidak mati terbunuh oleh mereka.”

Darah Rudita serasa berhenti mengalir. Tetapi ia pun sadar bahwa sebenarnya hal itu memang dapat terjadi atasnya. Bahkan mungkin seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang akan membawanya kepada Panembahan Agung, bahwa ia akan digantung di atas jurang yang dalam.

Rasa-rasanya Rudita tidak lagi memiliki kekuatan. Tubuhnya bagaikan sudah tidak bertulang lagi. Ketakutan yang amat sangat telah mencengkam hatinya. Apalagi ketika ia melihat tidak hanya seorang yang terbaring diam. Tetapi beberapa orang.

Dalam keadaan yang demikian Sumangkar berkata, “Jangan kehilangan akal. Jika kau tidak mampu lagi berbuat sesuatu, dan kau akan tetap berada di sini maka kau benar-benar akan digantung atau dicincang. Nah, cepat, bukankah kau tidak ingin diperlakukan demikian?”

Rudita mengangguk lemah. Tetapi ia mengikuti ketika Sumangkar kemudian melangkah meninggalkan tempat itu dan menerobos masuk ke dalam semak-semak.

Dengan susah payah Sumangkar membawa Rudita meninggalkan padepokan itu dan menuju ke tempat ayahnya menunggu. Mereka menghindari daerah peperangan yang semakin bergeser mendekati padepokan. Namun agaknya pertempuran itu masih berjalan dengan sengit dan memerlukan waktu yang cukup panjang.

Dalam pada itu, ternyata Panembahan Agung masih tetap dalam bentuknya. Seorang raksasa yang berdiri di puncak bukit sambil menggeram dengan marahnya, sedang di puncak yang lain Jaka Raras sekedar melayaninya, dalam sikap yang tenang.

“Itulah ayahmu,” berkata Sumangkar sambil menunjuk kepada raksasa itu.

“He,” ternyata Rudita terkejut bukan kepalang. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa di hadapannya seorang raksasa yang besar berdiri di atas bukit. Selama itu ia hanya memperhatikan semak-semak dan duri di sepanjang jalannya. Tetapi ketika ia menengadahkan wajahnya, maka dilihatnya bentuk yang mengerikan itu.

“Jadi raksasa itu sebenarnya ada?” ia bertanya kepada Sumangkar. “Selama ini aku hanya menyangka bahwa raksasa itu hanya terdapat di dalam ceritera-ceritera saja.”

“Memang tidak ada,” berkata Sumangkar.

“Jadi apakah yang tampak di puncak bukit itu?”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Ki Waskita benar-benar seorang yang rendah hati. Ia sama sekali tidak menampakkan ilmunya yang aneh itu. Kepada anaknya pun tidak. Ia tidak mau memberikan kesan kepada anaknya bahwa ayahnya adalah seorang pembohong besar, yang dengan ilmunya dapat mengelabuhi banyak orang sehingga mereka dapat kehilangan pegangan.

Tetapi dalam keadaan yang memaksa, maka Ki Waskita telah melawan setiap bentuk semu dengan bentuk semu pula, sehingga pasukan pengawal Menoreh dan Mataram tidak terjebak karenanya.

“Kiai,” Rudita mendesak, “jadi apakah yang tampak itu jika keduanya bukan raksasa?”

“Tidak ada apa-apa.”

“Yang kita lihat itu?”

“Sebuah gambaran di dalam angan-angan kita setelah kita dipengaruhi oleh ilmu kedua orang itu. Ilmu Panembahan Agung dan ilmu ayahmu sendiri. Pengaruh ilmunya telah menyesatkan kita. Apalagi pengaruh ilmu Panembahan Agung yang dengan sengaja menyesatkan kita dengan tujuan yang jahat.”

“Aku tidak mengerti,” sahut Rudita, “Kiai menyebut nama ayahku?”

“Sudahlah. Marilah kita mendekati bukit itu. Aku sudah berjanji akan membawamu ke tempat itu.”

Namun langkah mereka segera tertegun, ketika tiba saja raksasa yang berdiri di atas bukit itu tiba-tiba tertawa sambil berkata, “Nah, apakah kau tetap pada pendirianmu Jaka Raras. Lihatlah, aku sudah benar-benar bermaksud membunuh anakmu.”

Dan ketika mereka yang mendengar suara itu berpaling memandang ke atas bukit, dilihatnya raksasa itu memegangi seorang anak muda. Anak muda itu adalah Rudita.

Sejenak mereka terpaku di tempat masing-masing. Bahkan mereka yang sedang bertempur, yang melihat Rudita di tangan raksasa itu pun menjadi ragu-ragu. Tetapi mereka tidak dapat membiarkan diri mereka terbunuh di peperangan, sehingga karena lawan-lawannya masih saja menyerang, maka pasukan Mataram dan Menoreh itu pun bertempur terus betapa mereka diganggu oleh kegelisahan yang sangat melihat Rudita di tangan raksasa yang telah diujudkan oleh Panembahan Agung itu.

“Jaka Raras,” berkata Panembahan Agung dalam bentuknya yang mengerikan itu, “apakah kau melihat anakmu?”

Ki Waskita termenung sejenak. Dipandanginya anak muda yang meronta-ronta di tangan Panembahan Agung.

“Hentikan perlawanan orang-orang Mataram dan Menoreh. Jika tidak anakmu akan aku lemparkan ke dalam jurang yang dalam itu. Kepalanya akan membentur batu-batu padas dan akan remuk sama sekali. Otaknya berhamburan dan tulang-tulangnya akan patah.”

“Kau licik Panembahan,” geram Ki Waskita.

Panembahan Agung tertawa. Lalu, “Terserah kepadamu. Aku sudah kehilangan cara lain yang lebih sopan daripada cara ini. Karena itu, terserah kepadamu. Aku memberi waktu kau beberapa saat. Tetapi aku akan segera menentukan sikap.”

Jaka Raras yang juga bernama Ki Waskita itu berdiam diri sejenak. Dipandanginya anaknya dengan wajah yang tegang.

Dalam pada itu Rudita sendiri memandang orang yang di dalam genggaman raksasa itu dengan tegangnya pula. Sejenak ia berdiri membeku. Namun kemudian tubuhnya menjadi gemetar.

“Kiai, bagaimana aku dapat melihat diriku sendiri di tangan raksasa itu?”

“Yang manakah yang kau sadari saat ini tentang dirimu. Apakah kau merasa berdiri di sini bersama aku, atau kau merasa dirimu digenggam oleh raksasa itu.”

“Aku merasa di sini. Tetapi bagaimana dengan aku yang itu, Kiai?”

“Kau hanya satu. Tidak ada kau yang lain. Kesadaranmu tentang dirimu itulah yang benar. Yang kau lihat itu adalah kau di luar dirimu. Dan apa pun dapat berujud seperti dirimu di luar dirimu, tetapi tanpa dapat kau kuasai dan tanpa hubungan rohani sama sekali. Itulah yang kau lihat sekarang. Dan bentuk yang menyerupai dirimu sendiri itu adalah kesatuan bentuk semu dari Panembahan Agung.”

Rudita menjadi bingung. Dengan sosok mata penuh pertanyaan ia memandang sumangkar. Dan Sumangkar pun kemudian berkata, “Baiklah. Jika kau kurang mengerti, jangan hiraukan. Marilah kita cepat menemui ayahmu, agar ayahmu tidak terpengaruh oleh ujudmu itu. Ayahmu adalah seorang yang memiliki ilmu yang seimbang dengan Panembahan Agung. Tetapi kejutan dan kegelisahannya melihat ujud anaknya, barangkali membuat pandangannya menjadi buram. Padahal di dalam pertarungan ilmu, ayahmu memerlukan hati yang bening. Demikian juga agaknya penglihatannya atas ujudmu itu. Goncangan perasaannya telah membuatnya agak bingung dan gelisah, sehingga ia tidak sempat memandang lawannya dengan cermat dengan mata hatinya.”

Rudita masih juga tidak mengerti. Tetapi ia tidak sempat bertanya karena Sumangkar segera menarik tangannya dan melangkah dengan tergesa-gesa di sela-sela gerumbul-gerumbul liar.

“Kakiku sakit, Kiai.”

Tetapi Sumangkar tidak menghiraukannya. Ia menarik anak muda itu semakin cepat.

“Kakiku sakit,” Rudita mengulangi.

Dan Sumangkar menjawab, “Lebih sakit lagi jika kau benar-benar dilemparkan ke dalam jurang itu.”

Rudita tidak menjawab lagi. Ia berusaha untuk mempercepat langkahnya betapa kakinya digigit oleh perasaan nyeri. Tetapi ketakutannya telah membuatnya menahan rasa sakit yang menggigit kakinya.

Namun sekali lagi orang-orang di lembah itu dikejutkan oleh suara tertawa. Kali ini Ki Waskita-lah yang tertawa sambil berkata, “Panembahan Agung. Ternyata kau berhasil mengejutkan aku sehingga aku kehilangan ketajaman penglihatanku untuk beberapa saat. Hampir saja aku menangis melihat anakku yang kau genggam itu, Panembahan. Tetapi akhirnya aku menyadari, bahwa kebohonganmu yang mantap itu hampir menelan aku dan tentu anakku juga. Tetapi Panembahan, sekarang aku sempat melihat apa yang terjadi dengan ilmuku. Dan kau tidak usah ingkar, bahwa bentuk semu yang kau ciptakan itu tentu tidak akan dapat menguasai bentuk yang sebenarnya jika benar anakkulah yang kau pegang dengan bentuk semumu itu. Nah, kau mengerti bahwa aku tidak kehilangan akal? Karena itu, terserahlah kepadamu, apakah kau akan melemparkan bentuk yang menyerupai ujud anakku itu ke dalam jurang, atau akan kau telan sama sekali.”

“Persetan,” teriak Panembahan Agung yang marah. Tetapi ia tidak dapat ingkar, bahwa ia telah gagal lagi. Karena itu maka diputarnya ujud Rudita yang ada ditangannya itu kemudian dilemparkannya membentur lereng bukit. Sebuah ledakan yang dahsyat telah terjadi, disusul dengan api yang melonjak tinggi menelan ujud Rudita yang terdengar berteriak-teriak sekuat-kuat tenaganya.

“Kiai, Kiai,” Rudita yang sebenarnya pun hampir berteriak. Tetapi Sumangkar sempat menutup mulutnya sambil berkata, “Diam saja kau. Jika terdengar oleh orang-orang Panembahan Agung, dan mereka telah mendapat laporan bahwa kau hilang, maka mereka akan mencarimu dan menangkapmu.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi rasa-rasanya ia tidak lagi mengerti, apakah yang harus dilakukan dan bahkan keadaan yang sebenarnya sedang dialaminya.

Ia tidak dapat mempertimbangkan apa pun lagi ketika kemudian Sumangkar menariknya terus menyusup gerumbul-gerumbul perdu.

Dalam pada itu, pertempuran yang terjadi di lembah itu pun menjadi semakin seru. Orang-orang Mataram dan Menoreh pun kemudian menyadari, bahwa yang kemudian hancur menjadi abu itu sama sekali bukan Rudita yang sebenarnya. Kebohongan Panembahan Agung hampir saja berhasil mengguncangkan pemusatan ilmu lawannya, Ki Waskita.

Panembahan Agung yang masih menunggu kedatangan anak buahnya yang disuruhnya mengambil Rudita, menjadi tidak sabar lagi. Apalagi setelah usahanya mengguncangkan ketabahan hati Ki Waskita tidak berhasil.

Dengan demikian, maka ia harus menilai pertempuran yang sedang terjadi itu dengan perhitungan dan pertimbangan wajar. Ia tidak lagi dapat mempergunakan perang urat syaraf yang seakan-akan tidak berpengaruh lagi atas orang-orang Mataram dan Menoreh.

Dengan dada yang berdebar-debar Panembahan Agung harus melihat kenyataan. Pasukannya semakin terdesak terus. Pemimpin-pemimpinnya sama sekali tidak berhasil menguasai lawannya. Meskipun Panembahan Alit mampu mengimbangi kemampuan Kiai Gringsing, tetapi di bagian lain, pasukannya tidak berhasil menahan arus tekanan para pengawal dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh.

Dengan tombak pendeknya Sutawijaya berusaha mendesak lawannya dilengkapi oleh kemampuan menggerakkan senjata Ki Lurah Branjangan. Di bagian lain Ki Argapati dan Pandan Wangi masih tetap merupakan kekuatan yang tidak dapat ditembus oleh lawannya.

Namun semakin lama terasa kaki Ki Argapati mulai dijalari oleh perasaan nyeri. Namun ia tidak mengeluh. Dan ia tidak ingin membuat Pandan Wangi berkecil hati. Sehingga karena itu, maka ia pun masih juga tetap bertempur dengan gigihnya.

Meskipun demikian, Pandan Wangi yang bertempur bersamanya merasakan, tekanan yang semakin berat padanya dengan demikian ia menyadari, bahwa tenaga ayahnya menjadi semakin susut karenanya.

Dengan demikian, maka Pandan Wangi pun bertempur semakin sengit. Ia ingin memaksa lawannya kehilangan kemampuan perlawanannya sebelum ayahnya menjadi lumpuh. Jika ayahnya tidak dapat melakukan perlawanan yang wajar, maka pertempuran itu akan menjadi sangat berbahaya baginya.

Apalagi Putut Nantang Pati yang harus melihat kenyataan yang dihadapinya itu menjadi sangat marah. Ia tahu bahwa usaha Panembahan Agung telah gagal karena tanpa mereka duga, dipihak Mataram dan Menoreh ada seorang yang memiliki ilmu yang serupa dengan ilmu Panembahan Agung, sehingga orang itu berhasil mengacaukan semua usahanya.

Dengan segala kemampuan yang ada, Pandan Wangi mengisi kelemahan ayahnya melawan Putut Nantang Pati. Agaknya Putut Nantang Pati sudah mengetahui kelemahan Ki Argapati, sehingga ia berusaha untuk berkelahi dalam lingkaran yang luas, untuk memaksa Ki Argapati berloncatan. Tetapi Pandan Wangi-lah yang kemudian berusaha mengisi jarak yang panjang itu.

Namun Putut Nantang Pati, seperti yang sudah pernah terjadi tidak berhasil memancing Pandan Wangi menjauhi ayahnya dan menghancurkannya tanpa perlindungan ayahnya. Tetapi sebaliknya Putut Nantang Pati juga tidak pernah berhasil menyerang Ki Argapati yang sudah semakin lemah itu tanpa bantuan anak gadisnya.

Dalam pada itu, di bagian lain, di lambung gelar yang tidak sempurna itu, beberapa orang pemimpin Mataram di satu sisi, dan di sisi yang lain, Agung Sedayu, Swandaru, dan Prastawa, sudah berhasil menghancurkan, usaha lawannya untuk menyergap gelar itu dari lambung. Pasukan Panembahan Agung yang berada di lereng perbukitan, sama sekali tidak berhasil mengganggu gelar itu dari sebelah-menyebelah. Bahkan tanpa mereka duga-duga mereka telah membentur kekuatan yang tiada dapat mereka lawan sama sekali.

Pasukan yang menyerang lambung di belahan pasukan Menoreh terkejut ketika tiba-tiba saja mereka telah dilanda oleh ujung-ujung cambuk Agung Sedayu dan Swandaru. Sedang di sisi yang lain, para pemimpin pengawal Mataram pun dengan cepat berhasil menghancurkan mereka.

Putut Nantang Pati tidak dapat mengabaikan semua yang telah terjadi itu. Kemarahan yang menggelegak sampai keubun-ubunnya serasa akan meledakkan kepalanya.

Tetapi ia tidak dapat terbuat banyak karena ia masih harus menghadapi Ki Argapati meskipun ia mulai terganggu oleh kakinya beserta anak gadisnya.

Di bagian lain tumpuan dari pertempuran itu, Panembahan Alit pun berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk segera mengalahkan Kiai Gringsing. Namun seperti yang pernah terjadi di Alas Tambak Baya, panembahan yang juga menyebut dirinya Tak Bernama itu tidak mampu segera mengatasi lawannya. Bahkan semakin lama rasa-rasanya rambuk Kiai Gringsing meledak semakin dekat dengan telinganya.

Tetapi Panembahan Alit adalah orang yang mumpuni di dalam olah kanuragan seperti Kiai Gringsing sendiri. Karena itulah maka pertempuran di antara keduanya adalah pertempuran yang sangat sengit. Di dalam puncak ilmu masing-masing, maka keduanya telah membuat arena yang seakan-akan terpisah dari keseluruhan pertempuran.

Tenaga mereka bagaikan berkembang sejalan dengan kemarahan yang berkembang di hati masing-masing. Bahkan ranting-ranting dan batang-batang perdu di sekitar mereka telah berpatahan dan daun-daun berguguran di tanah.

Agaknya keduanya sadar, bahwa kali ini mereka harus bertempur mati-matian. Mereka tidak dapat membiarkan pertempuran itu selesai tanpa akhir dalam keadaan serupa itu. Beberapa puluh langkah di belakang Panembahan Alit adalah padukuhan induk yang dihuni oleh Panembahan Agung sendiri. Jika pasukan Mataram dan Menoreh sampai ke pusat padepokan itu, maka habislah alat pertahanan mereka yang selama ini mereka susun.

Dengan demikian, maka tinggal ada dua pilihan bagi Panembahan Alit. Mempertahankan padepokan itu atau mati sama sekali. Itulah sebabnya, maka ia pun bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya.

Ternyata bahwa kemampuan Panembahan Alit tidak berada di bawah kemampuan Kiai Gringsing. Bahkan agaknya Panembahan Alit mempunyai sedikit kelebihan dari Kiai Gringsing. Panembahan Alit di dalam keadaan yang paling sulit itu, tidak lagi menghiraukan sopan santun di dalam perkelahian. Ia tidak lagi memikirkan bahwa apa yang dilakukan adalah tata gerak yang kasar dan bahkan hampir liar. Namun satu hal yang dipegangnya, bertahan sampai kemungkinan yang lain merenggutnya, mati.

Agaknya sikapnya itu sangat berpengaruh kepada anak buahnya. Nantang Pati pun sama sekali tidak berniat untuk mundur setapak. Apalagi karena menurut penilaiannya Argapati tidak akan dapat lagi mendesaknya. Ia lebih banyak bertahan bersama anak gadisnya. Titik berat gerak Ki Argapati kini berada di tangannya. Namun demikian, tangannya tetap merupakan tangan seorang yang mumpuni di dalam olah kanuragan.

Di bagian lain, Daksina mulai terdesak oleh Raden Sutawijaya, Ki Lurah Branjangan, dan para pemimpin pengawal yang telah kehilangan lawannya di lambung. Mereka melepaskan diri dari kelompoknya dan membantu Raden Sutawijaya yang sebenarnya masih belum dapat disejajarkan dengan kemampuan Daksina. Tetapi Daksima tidak dapat melawan beberapa orang sekaligus di dalam kepungan orang-orang Mataram dan Menoreh. Pengawal-pengawalnya seorang demi seorang telah berguguran dan terdesak menjauhinya tanpa dikehendakinya.

Dalam pada itu, Rudita yang dibimbing oleh Sumangkar, yang bahkan seakan-akan diseretnya saja di sela-sela gerumbul-gerumbul perdu itu pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan ayahnya. Namun ketika ia berada di lereng gunung alas berdiri raksasa yang berujud seperti ayahnya, Rudita menjadi ragu-ragu.

“Ayahku bukan sebesar itu,” katanya.

“Marilah,” berkata Sumangkar, “jangan ragu-ragu, akulah yang akan membawamu kembali kepada ayahmu.”

“Tetapi di manakah ayah sebenarnya jika raksasa itu hanya sekedar bentuk semu?”

“Aku mengetahui tempatnya. Karena itu, cepatlah sedikit, agar ayahmu segera dapat mengambil tindakan jika ia yakin bahwa kau sudah selamat.”

Meskipun dengan ragu-ragu, namun Rudita mengikuti saja dibimbing oleh Sumangkar merayap mendekati bukit. Sedang di bukit yang lain tampak Panembahan Agung masih berdiri dengan wajah yang merah membara.

Sejalan dengan kemenangan demi kemenangan yang dicapai oleh pasukan Mataram dan Menoreh, maka Panembahan Agung yang tidak dapat ingkar dari kenyataan itu pun semakin menjadi cemas. Ia sadar bahwa ia tidak dapat mempengaruhi pasukan Mataram dan Menoreh itu dengan kebohongan-kebohongan lain, karena kegagalannya pada bagian pertama dari pertempuran ini, telah membuat lawannya menjadi kebal. Mereka tahu pasti, bahwa apa yang akan diujudkan dalam bentuknya yang semu itu benar-benar tidak akan berpengaruh atas mereka.

Sementara itu Kiai Gringsing masih bertempur dengan gigihnya. Bahkan dengan mengerahkan segenap kemampuannya, perlahan-lahan Kiai Grngsing dapat membatasi kekasaran dan keliaran Panembahan Alit.

Ki Argapati yang bertempur tidak terlampau jauh dari Kiai Gringsing, melihat betapa Kiai Gringsing telah berjuang dengan sepenuh kemampuannya. Bahkan kadang-kadang tampak sesuatu yang mendebarkan jantung Ki Argapati. Tetapi ia tidak mempunyai waktu untuk memperhatikannya terlalu lama, karena Pulut Nantang Pati yang mendekati kegoyahan sikap itu masih saja menyerangnya dengan garang. Bahkan kemudian yang tampak pada sikap Putut itu adalah keputus-asaan atas segala kegagalan Panembahan Agung yang selama ini dianggapnya sebagai manusia yang tidak ada tandingnya di muka bumi. Manusia yang seakan-akan dapat mengubah alam menurut keinginannya dan mengacaukan bentuk yang sebenarnya dengan bentuk-bentuk semu yang tidak dapat dibedakan dengan kenyataan di dalam ujud yang terbayang oleh pengaruh getaran ilmu yang langsung mempengaruhi pusat syaraf.

Dalam pada itu, Agung Sedayu, Swandaru, dan Prastawa tidak lagi harus bertempur mati-matian. Ia kini berada di antara para pengawal. Cambuknya masih meledak-ledak, tetapi mereka tidak lagi harus memeras segenap kemampuan. Apalagi Agung Sedayu yang menganggap lawan mereka tinggal para pengawal yang tidak banyak mengetahui apa yang harus dilakukan itu. Ia bertempur untuk sekedar menahan mereka. Sekali-sekali ia terpaksa melukai, tetapi ia sama sekali tidak ingin membunuh lagi, setelah dengan berat hati ia terpaksa mematahkan serangan lawan-lawannya dengan sungguh-sungguh, dan bahkan menimbulkan kematian.

Dalam keadaan yang demikian, sekali-sekali ia sempat melihat gurunya bertempur. Ada sesuatu yang sangat menarik perhatiannya. Di dalam penempuran yang sangat dahsyat melawan orang yang sudah mencapai puncak ilmunya, ternyata Kiai Gringsing memiliki sesuatu yang masih agak asing bagi kedua muridnya. Meskipun pada dasarnya murid-muridnya sudah memiliki ilmu itu, tetapi ada yang masih mendebarkan jantung mereka.

Agung Sedayu pernah melihat gurunya bertempur melawan orang-orang yang memiliki ilmu yang luar biasa. Gurunya pernah bertempur melawan Ki Tambak Wedi. Melawan hantu-hantu di Alas Mentaok. Melawan banyak lagi orang-orang yang tidak terduga-duga. Bahkan Kiai Gringsing pernah terluka di Jati Anom. Namun kali ini perkelahian di antara kedua orang itu benar-benar merupakan perkelahian yang luar biasa.

“Agaknya Panembahan Alit bukan saja mempergunakan ilmu olah kanuragan secara wajar,” perasaan itu tumbuh di dalam hati kedua murid-murid Kiai Gringsing itu.

Sebenarnyalah mereka melihat, bahwa pertempuran itu rasa-rasanya seperti tidak sewajarnya. Kadang-kadang mereka bergerak terlampau cepat. Namun kadang-kadang mereka berdiri saja dengan tegang sambil menggenggam senjata masing-masing.

Dalam pada itu Panembahan Alit merasa, bahwa kali ini ia benar-benar menemukan lawan yang tidak dapat dikalahkannya dengan segenap ilmu yang ada padanya. Seakan-akan Kiai Gringsing dapat melakukan apa saja yang dilakukannya.

Di lingkaran perkelahian yang lain, Putut Nantang Pati benar-benar telah dicengkam oleh perasaan putus asa. Anak buahnya telah terdesak semakin mundur. Sedangkan ia masih belum berhasil menga1ahkan Ki Argapati dan anak gadisnya, meskipun tampaknya Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu menjadi semakin parah.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba seorang anak muda telah terjun ke dalam arena itu pula. Prastawa, yang agaknya sudah kehilangan lawan-lawannya di lambung, tidak mau membiarkan Pandan Wangi semakin sulit mengalami tekanan Putut Nantang Pati justru karena Ki Argapati menjadi semakin lemah.

Kehadiran Prastawa membuat Putut Nantang Pati menjadi semakin marah. Dengan segenap kemampuan dilambari oleh perasaan putus asa ia mencoba memecahkan perlawanan ketiga orang itu. Tetapi ternyata usahanya sia-sia saja. Meskipun Prastawa tidak sekuat Pandan Wangi, namun kehadirannya benar-benar telah membuat Putut Nantang Pati kehilangan harapan untuk memenangkan perkelahian itu. Bahkan ia telah kehilangan harapan atas keseluruhan dari pertempuran itu.

Dan itulah sebabnya, maka ia pun seakan-akan menjadi kehilangan akal. Dengan membabi buta ia berusaha untuk, memecahkan kerja sama ketiga lawannya. Tetapi Putut Nantang Pati pun merasa bahwa usaha itu tidak akan berhasil.

Dalam keadaan itu, Ki Argapati merasa bahwa tugasnya pun menjadi semakin ringan. Prastawa dapat mengambil sebagian dari tugasnya mengatasi serangan-serangan Putut Nantang Pati yang menjadi semakin kasar dan liar.

Namun dalam kesempatan itu, kadang-kadang ia masih sempat memperhitungkan Kiai Gringsing yang bertempur melawan Panembahan Alit. Sebagai seorang yang memiliki ilmu yang hampir sempurna, Ki Argapati dapat menilai pertempuran yang sedang berlangsung antara Kiai Gringsing dan Panembahan Alit. Meskipun Ki Argapati pada saat itu tidak akan lagi mampu melawan Panembahan Alit karena cacatnya, namun Ki Argapati masih mampu melihat, apakah sebenarnya yang terjadi di arena kedua orang yang pilih tanding itu.

Ki Argapati melihat bahwa keduanya telah sampai kepada inti ilmu masing-masing. Bahkan kadang-kadang mereka telah sampai pada puncak tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya, sehingga nampaknya, tenaga yang terlontar dari kedua orang itu memiliki kekuatan yang luar biasa.

Tetapi selain dari kekaguman Ki Argapati atas kemampuan Kiai Gringsing dan Panembahan Alit yang masih tetap utuh, meskipun umur mereka menjadi semakin tua bahkan seakan-akan justru menjadi semakin masak dan sempurna, Ki Argapati juga menjadi heran, bahwa Kiai Gringsing selama ini telah melakukan suatu usaha yang dapat membahayakan jiwanya. Sejak pertama kali ia melihat kehadiran orang itu di Menoreh pada saat pertentangan berkobar di Tanah Perdikan ini, dan yang ternyata telah didahului oleh peristiwa-peristiwa yang penting yang terjadi di Sangkal Putung, saat Tohpati masih memiliki kekuatan, telah menimbulkan beberapa pertanyaan di hatinya.

“Apakah yang telah mendorong orang tua itu untuk menyabung nyawa di setiap peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di sekitar Mataram? Jika ia sekedar seorang yang memiliki kelebihan di dalam olah kanuragan, kemudian mengambil kedua anak muda itu menjadi muridnya, maka ia tidak akan mempertaruhkan nyawanya bagi Mataram.” Namun kemudaan, “Apakah hanya secara kebetulan saja semuanya itu terjadi?”

Namun Ki Argapati masih tetap menganggap bahwa ada sesuatu yang lain yang mendorong Kiai Gringsng itu berbuat banyak bagi Mataram,

“Bukan hanya bagi Mataram,” Ki Argapati melengkapi pendapatnya sendiri di dalam hati, “ia telah membantu menegakkan Pajang di saat pasukan Jipang masih tersisa. Dan ia telah membantu memadamkan api yang berkobar di atas Tanah Perdikan Menoreh, dan kini ia berbuat banyak sekali bagi Mataram yang sedang tumbuh itu.”

Tetapi Ki Argapati terpaksa menghentikan angan-angannya. Ia melihat Pandan Wangi dan Prastawa menjadi semakin sulit melawan Putut Nantang Pati yang benar-benar telah berputus asa, meskipun beberapa orang pemimpin pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang telah kehilangan lawan-lawannya datang membantu, sehingga Putut Nantang Pati itu seakan-akan telah dikepung oleh empat orang sekaligus, selain darinya sendiri, dan seorang di antaranya adalah seorang anak muda bertubuh gemuk dan bersenjata sebuah cambuk.

Sejenak Ki Argapati mengamati pertempuran itu. Putut Nantang Pati memang seorang yang memiliki perhitungan yang baik. Di dalam keputusasaan itu, hampir di luar sadarnya, ia masih mampu melakukan gerak-gerak yang mengejutkan. Di dalam saat ia tidak lagi dapat berpikir dengan baik, ia masih mampu menemukan sikap yang tidak disangka-sangka oleh lawannya.

“Di dalam segala keadaan, agaknya Putut Nantang Pati benar-benar sudah mapan dan menguasai ilmunya dengan baik,” berkata Ki Gede Menoreh di dalam hatinya. Dan itulah sebabnya, maka ia harus berada di tengah-tengah pertempuran itu meskipun ia hanya sekedar menentukan keadaan, karena untuk langsung bertempur menghadapi Putut Nantang Pati, kakinya menjadi semakin sakit dan lemah.

Kehadiran Swandaru di dalam arena itu telah menggetarkan hati Putut Nantang Pati. Bunyi cambuknya itu bagaikan suara hantu yang memanggilnya dari lubang kubur. Apalagi ketika mulai terasa ujung cambuk menyentuh tubuhnya.

Memang tidak ada jalan untuk keluar dari pertempuran itu. Pasukannya sudah terdesak, dan ia sendiri seakan-akan telah dipisahkan dari pasukannya. Di sekitarnya melingkar orang-orang Menoreh yang bersenjata telanjang teracu kepadanya.

Akhirnya, tidak ada pilihan lain daripada Putut Nantang Pati selain mati. Dan ternyata bahwa ia tidak lagi segan untuk melakukannya.

Demikian juga agaknya Daksina. Sutawijaya, Ki Lurah Branjangan, dan beberapa orang pengawal pilihan telah mengepungnya dan mendesaknya sampai ke tepi padas yang tegak pada kaki pebukitan.

“Kau tidak akan dapat lari lagi,” desis Sutawijaya, “menyerahlah. Mungkin aku masih dapat berbicara dengan mulutku, tidak dengan senjataku, karena aku tahu Paman adalah seorang Senapati Pajang. Di saat Pajang mulai tegak, Paman telah berjasa bagi Pajang. Barangkali jasa Paman itu dapat mengurangi kemurkaan Ayahanda Sultan Pajang dan Ayahanda Pemanahan.”

“Aku tidak akan memohon belas kasihan kepada siapa pun juga. Kepada kedua ayahmu itu pun tidak,” Daksina justru berteriak.

Sutawijaya mengerutkan keningnya, lalu, “Bukan belas kasihan, tetapi Pajang dan Mataram tidak akan melupakan jasa seseorang. Karena itu menyerahlah. Paman tidak akan mengalami nasib yang buruk.”

“Bohong. Aku tentu akan kau perah seperti cucian hingga darahku kering. Kau dan ayahmu Pemanahan tentu ingin tahu, siapa saja yang berada di pihakku.”

“Kau berprasangka. Kami telah bersama-sama berjuang menegakkan Pajang. Karena itu, marilah. Jangan kehilangan akal.”

Tetapi Daksina tidak menghiraukannya. Ia masih tetap bertempur dengan gigihnya.

Para pengawal dari Mataram itu pun masih mencoba melunakkan hati Daksina. Mereka memang berkepentingan untuk dapat menangkap Daksina hidup. Tetapi agaknya Daksina sendiri tidak lagi berminat untuk tetap hidup.

“Daksina,” berkata Ki Lurah Branjangan, “kau tentu mengenal aku dan beberapa orang prajurit Pajang yang ada di sini seperti aku mengenal kau dan beberapa orang kawanmu. Kenapa kau berkeras untuk berkelahi sampai mati jika kita dapat mencari cara penyelesaian yang lain?”

“Persetan!” bentak Daksina. “Jangan banyak bicara Branjangan, kau atau aku yang akan mati.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Daksina bagaikan orang mengamuk.

“Kita tangkap hidup-hidup,” desis Sutawijaya kepada Branjangan.

Tetapi agaknya Daksina mendengarnya sehingga dengan penuh kemarahan ia berteriak, “Sombong. Ayo tangkap aku hidup-hidup jika kau mampu.”

Dalam pada itu, Agung Sedayu yang sudah tidak mempunyai lawan lagi berdiri termangu-mangu. Dilihatnya pasukan Panembahan Agung yang semakin jauh terdesak, sehingga mereka sudah hampir memasuki padepokan induk. Sejenak ia termangu-mangu karena di sekitarnya masih ada beberapa lingkaran perkelahian. Kiai Gringsing yang bertempur melawan Panembahan Alit benar-benar merupakan arena pertempuran yang tidak ada bandingnya. Pertempuran itu tentu lebih dahsyat dari saat-saat Kiai Gringsing harus bertempur melawan Ki Tambak Wedi. Sekilas terbayang perang tanding yang pernah dilakukan oleh Ki Argapati melawan Ki Tambak Wedi. Tentu merupakan pertempuran yang sangat dahsyat pula. Namun kini di samping kemampuan olah kanuragan dan pengungkapan tenaga cadangan, di dalam pertempuran itu terasa sesuatu telah membakar keduanya. Kemarahan dan puncak dari ilmu mereka.

Setiap kali Agung Sedayu masih mendengar cambuk Kiai Gringsing meledak-ledak. Demikian juga cambuk Swandaru. Karena itu, maka Agung Sedayu mulai tertarik untuk membantu salah seorang dari mereka. Tetapi ia pasti, bahwa ia tidak akan dapat banyak berbuat di arena pertempuran melawan Panembahan Alit.

Karena itu, perlahan-lahan Agung Sedayu mendekati arena pertempuran melawan Putut Nantang Pati. Ia masih melihat senjata terayun. Tetapi ketika ia mendekat, terdengar seseorang mengaduh perlahan-lahan. Dan sekali lagi cambuk Swandaru meledak, maka suara itu pun terulang lagi.

Agung Sedayu tertegun ketika ia melihat darah ditubuh Putut Nantang Pati. Ternyata senjata Pandan Wangi telah menyentuhnya, disusul oleh senjata Swandaru, sehingga dari luka di tubuh Putut Nantang Pati itu pun meleleh darah dan menitik ke atas tanah di lembah yang terasing itu.

Putut Nantang Pati menggeram. Tetapi ia sudah bertekad, bahwa lembah terasing ini adalah lembah yang harus dipertahankan dengan mempertaruhkan nyawa. Karena itu, maka ia sama sekali tidak berusaha untuk menghindari maut yang sudah mulai menyentuhnya.

Serangan-serangan berikutnya adalah serangan-serangan yang lebih dahsyat lagi. Dan Putut Nantang Pati yang menjadi semakin lemah, sama sekali tidak mampu lagi untuk menghindarkan diri dari kematian.

Tetapi sebelum saat terakhir datang, maka terdengar suara Ki Argapati, “Cukup. Tidak bijaksana membunuh lawan yang sudah tidak berdaya.”

“Persetan,” tiba-tiba Pulut Nantang Pati berteriak dengan sisa tenaganya, “aku tidak akan mengharap belas kasihan seperti itu. Aku adalah Putut Nantang Pati, murid terpercaya dari Panembahan Agung. Jika kalian ingin membunuh aku, bunuhlah.”

“Ki Sanak,” berkata Ki Argapati, “kematian bukan tujuan kami. Kau harus dapat mengerti, bahwa yang kami perangi bukan kau sebagai manusia wadag. Tetapi adalah sikap dan perbuatan. Jika wadagmu tidak mampu lagi mendukung sikap dan keinginanmu yang salah, maka kami tidak akan berbuat banyak lagi atas wadagmu itu.”

Mata Putut Nantang Pati justru menjadi semakin membara. Sejenak ia memandang Ki Argapati. Namun agaknya ia benar-benar tersinggung oleh kata-kata Ki Argapati itu, sehingga ia pun kemudian berteriak, “Kau menghina aku. Kau menghina kejantananku.”

Hampir di luar dugaan siapa pun juga, Putut Nantang Pati yang lemah itu, didorong oleh kemarahan yang meluap-luap, tiba-tiba saja meloncat secepat tatit di udara, menyerang Ki Argapati, tanpa menghiraukan lawan-lawannya yang lain.

Namun sudah menjadi tekadnya, ketika ujung pedang Pandan Wangi, ujung cambuk Swandaru dan serangan mendatar Prastawa berbareng mengenainya. Bahkan Ki Argapati sendiri yang terkejut, tidak mampu lagi untuk menghindar. Apalagi kakinya benar-benar terasa sangat mengganggunya. Karena itu, yang dapat dilakukannya adalah mengacungkan tombak pendeknya ke arah lawannya.

Demikianlah beberapa ujung senjata, bersama-sama telah mengenai tubuh Putut Nantang Pati. Ia masih dapat menggeram dan menggeliat. Tetapi kemudian ia menghembuskan nafasnya yang penghabisan, menelungkup di atas tanah yang dipertahankannya sampai ujung hidupnya.

Agung Sedayu yang juga melihat tubuh Putut Nantang Pati yang arang kranjang itu memalingkan wajahnya. Meskipun ia berada di medan, tetapi ia tidak sampai hati melihat luka dan darah yang bagaikan membalut tubuh yang terbaring itu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia pernah mendengar ceritera tentang Kiai Ageng Sela yang mengikuti pencalonan senapati. Di dalam pendadaran, Kiai Ageng Sela harus bertempur melawan seekor harimau lapar di alun-alun. Dengan menaiki seekor kuda, Kiai Ageng Sela memasuki arena, diringi oleh sorak sorai prajurit yang menjadi pagar arena dengan tombak di tangan.

Ketika sampai saatnya ia berhasil menusuk harimau itu tepat di punggungnya, dan ketika darah yang merah seakan-akan memancar dari luka itu. Kiai Ageng Sela memalingkan wajahnya. Ia tidak sampai hati melihat harimau itu mengaum dan mandi darah.

Namun dengan demikian, ternyata ada orang yang lain melampauinya di dalam pendadaran itu. Bukan kemampuannya olah senjata sambil mengendalikan seekor kuda. Tetapi orang itu tanpa mengedipkan matanya memandang harimau korbannya yang berguling-guling kesakitan dan kemudian mati terkapar di alun-alun diiringi sorak sorai yang rasa-rasanya akan merobohkan langit.

Kiai Ageng Sela tidak berhasil menjadi seorang senapati. Tetapi Kiai Ageng Sela sama sekali tidak menyesal, bahkan ia masih berasa bersukur bahwa ia tidak berhasil, karena di medan perang, yang dibunuhnya itu tentu bukanya sekedar seekor harimau.

Agung Sedayu sekali lagi menarik nafas dalam-dalam. Dan ia menjadi semakin yakin akan dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan dapat menjadi seorang prajurit yang baik.

Selagi merenungi keadaannya sendiri, maka Agung Sedayu pun terkejut pula ketika ia mendengar orang-orang Mataram bersorak. Ternyata beberapa orang yang juga berasal dari Pajang, termasuk Raden Sutawijaya dan Ki Lurah Branjangan, telah berhasil mengakhiri pertempuran itu. Seperti Putut Nantang Pati maka Daksina pun tidak mau menyerah. Ia sadar, bahwa ia akan mengalami banyak kesulitan di Mataram, jika ia tertangkap hidup-hidup. Ia akan mengalami perlakuan yang parah untuk diperas keterangan dari mulutnya tentang orang-orang Pajang.

Dalam pada itu, yang masih saja bertempur dengan gigihnya adalah Panembahan Alit. Kiai Gringsing benar-benar mengalami kesulitan, bahkan hampir tidak mungkin untuk mengalahkannya. Panembahan Alit memilki ilmu yang sulit diatasi. Kecepatannya bergerak merupakan senjata yang dibanggakannya. Karena itu, maka ujung cambuk Kiai Gringsing hampir tidak pernah berhasil menyentuhnya.

“Ilmu apa sajakah yang sedang bertarung di arena itu,” Raden Sutawijaya pun menjadi heran. Hampir saja ia memerintahkan pasukannya untuk bersama-sama membinasakan Panembahan Alit. Namun Kiai Gringsing sempat berterak, “Biarkan Panembahan Alit bermain-main dengan aku sendiri.”

Dengan demikian, maka perkelahian itu pun berlangsung dengan sangat sengitnya, sementara pasukan Panembahan Agung yang lain telah terdorong memasuki padepokannya.

Panembahan Alit pun mengetahui, bahwa pasukannya telah terdesak dan bahkan terpisah dari padanya. Dan ia pun mengetahui bahwa kedua senapati pengapitnya telah mati di peperangan itu. Namun ia tidak ingin lari, tidak berbuat seperti di Alas Tambak Baya. Kali ini ia bertempur mati-matian mengerahkan segenap ilmu yang ada padanya.

Ternyata bahwa Panembahan Alit yang juga menyebut dirinya Panembahan Tidak Bernama itu berhasil mengimbangi kemampuan Kiai Gringsing. Bahkan sekali-sekali Panembahan Alit mampu mendesak Kiai Gringsing beberapa langkah surut.

Kiai Gringsing pun sadar, bahwa ia tidak akan dapat memenangkan perkelahian itu begitu saja. Ia kagum akan kecepatan bergerak lawannya, yang kadang-kadang dapat melampaui kecepatan ujung cambuknya.

Dengan demikian, maka beberapa orang pemimpin dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh kemudian berdiri melingkari arena pertempuran antara Kiai Gringsing dan Panembahan Alit yang semakin lama justru menjadi semakin seru. Bahkan mereka sudah bertekad untuk bertempur sehari semalam, dan jika perlu lebih panjang lagi dari waktu yang sehari semalam itu.

Namun dalam pada itu, Panembahan Agung sendiri tidak dapat mengingkari kenyataan. Pasukan lawan sedikit demi sedikit telah memasuki padepokannya, sehingga ia tidak akan dapat tinggal diam.

Karena itulah, maka telah terjadi sesuatu yang mengguncangkan keseimbangan pertempuran itu.

Di dalam cengkaman perang tanding yang dahsyat itu, Panembahan Alit masih sempat melihat bayangan raksasa di puncak bukit. Semakin lama bayangan itu menjadi semakin samar. Bayangan itu tidak hilang dengan tiba-tiba, tetapi perlahan-lahan, sehingga akhirnya hilang sama sekali.

Bukan saja Panembahan Alit, tetapi hampir setiap orang sempat melihat raksasa yang seakan-akan perlahan-lahan menjadi asap sehingga akhirnya.tidak lagi kasat mata.

Kepergian bayangan itu agaknya menimbulkan kesan tersendiri. Raksasa yang lain pun tiba-tiba telah lenyap pula dari atas bukit, meskipun dengan cara yang lain, tidak dengan perlahan-lahan.

Sumangkar yang membimbing Rudita melihat juga bahwa kedua raksasa itu telah hilang. Karena itu dengan bergegas ia berkata, “Rudita, ayahmu telah selesai dengan samadinya. Marilah, cepat.”

Keduanya merayap naik di antara batu-batu padas. Hanya beberapa langkah. Di balik sebuah gerumbul mereka melihat Ki Waskita masih duduk di atas sebuah batu yang tersembunyi.

Rudita menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi Sumangkar berbisik, “Itu benar-benar ayahmu, bukan bentuk semu.”

Rudita memandang Sumangkar sejenak, namun kemudian ia berteriak, “Ayah.”

Ki Waskita pun kemudian berdiri. Dipandanginya saja anaknya yang kemudian tertatih-tatih berlari mendapatkannya dan langsung memeluknya sambil menangis seperti kanak-kanak.

Ki Waskita membelai kepala anaknya yang telah hilang beberapa lamanya itu.

“Kau tidak apa-apa?” desis ayahnya.

—- > Bersambung ke bagian 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s