ADBM1-077

<<kembali | lanjut >>

KI WASKITA menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa beberapa orang Pengawal Panembahan Agung itu tentu bukan orang kebanyakan. Jika mereka bersama-sama menyerangnya, maka ia akan menjadi agak bingung juga. Namun ia sudah bertekad, bahwa ia harus terlibat dalam perkelahian yang kisruh sehingga Panembahan Agung akan menjadi ragu-ragu melepaskan anak panahnya, karena dengan demikian akan dapat mengenai anak buahnya sendiri. Atau ia justru harus langsung menyerang Panembahan Agung dalam jarak yang pendek, sehingga Panembahan Agung tidak sempat lagi melepaskan anak panah itu ke arahnya.

Dan agaknya cara yang kedua itulah yang condong akan diambil oleh Jaka Raras. Dengan tangkasnya ia meloncat maju sambil menangkis setiap serangan yang menghujaninya. Semakin lama semakin dekat. Ternyata bahwa ikat pinggangnya benar-benar memiliki kekuatan yang mengagumkan, sehingga ia tidak lagi mencemaskannya, bahwa ikat pinggang itu akan menjadi hancur.

Dalam pada itu, para pengawal Panembahan Agung pun mulai bergerak. Mereka sudah mendengar perintah yang diberikan oleh pemimpinnya, sehingga mereka sudah tidak ragu-ragu lagi untuk bertindak.

Tetapi sebelum mereka sempat berbuat apa-apa, mereka pun terkejut ketika mereka mendengar seseorang berkata, “He, Ki Sanak. Jangan ganggu Jaka Raras. Marilah kita membuat arena permainan sendiri.”

Para pengawal itu pun berpaling. Dilihatnya seseorang muncul dari balik gerumbul-gerumbul perdu di belakang mereka.

Sejenak para pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang berkata, “Biarkan bentuk semu itu. Lawan Panembahan Agung yang licik itu tentu akan mencoba menahan kita di sini, agar ia tidak menjadi bingung karena ia harus melawan kita bersama-sama.”

“Lihatlah dengan saksama,” berkata orang itu, “ini bukan sekedar bentuk semu. Sebenarnyalah kau melihat seseorang yang berdiri di sini.”

Tetapi para pengawal itu menjadi ragu-ragu. Sementara Panembahan Agung hampir tidak mendapat kesempatan untuk membantu mereka, karena Jaka Raras berloncatan semakin mendekatinya.

“Jangan hiraukan,” sekali lagi seorang pengawal berdesis, “yang pasti, Jaka Raras itu sajalah yang harus kita binasakan.”

Para pengawal itu pun kemudian tidak menghiraukan lagi orang yang berdiri di depan gerumbul-gerumbul perdu itu. Dengan tergesa-gesa mereka pun kemudian siap untuk menerjunkan diri melawan Jaka Raras yang sedang bertempur melawan Panembahan Agung.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja salah seorang pengawal itu pun memekik tertahan. Ternyata senjata orang yang berdiri di depan gerumbul itu telah menyambar lengannya, sehingga lengannya itu pun tersobek karenanya.

“He,” salah seorang kawannya berdesis, “apakah kau benar-benar terluka, atau sekedar penglihatanku.”

Orang yang terluka itu terdorong beberapa langkah dan bersandar pada sebuah batu padas yang besar sambil menggeram, “Setan. Ia benar-benar melukai tanganku.”

“Nah, kalian harus percaya bahwa aku bukannya sekedar bentuk semu. Trisulaku telah berhasil menyobek lengan itu, dan sebentar lagi, dada kalian pun akan berlubang karenanya.”

Meskipun demikian para pengawal itu masih termangu-mangu sejenak sehingga mereka tidak segera melibatkan diri dalam perkelahian.

“He, siapakah orang itu,” Panembahan Agung yang sempat memperhatikan dengan seksama itu pun bertanya ketika ia sekilas melihat seseorang yang bersenjata sebuah trisula yang diikatkan pada ujung rantai, hampir seperti cakram bergerigi Jaka Raras.

“Ki Sumangkar,” Ki Waskita-lah yang menjawab, “ia akan menghancurkan pengawalmu.”

“Apakah kalian seperguruan di dalam olah kanuragan setelah kita berpisah dari perguruan kita itu?” bertanya Panembahan Agung.

“Ya. Kami seperguruan. Guru kami adalah tuntunan keadilan sehingga kami harus bekerja bersama melawanmu dan para pengawalmu kali ini.”

Panembahan Agung menjadi semakin marah sehingga rasa-rasanya dadanya akan meledak karenanya. Sambil menyerang Jaka Raras dengan anak panahnya ia berteriak, “Bunuhlah orang itu. Yang berdiri di hadapan kalian itu bukannya bentuk semu.”

Tetapi ketika para pengawal itu mulai menyadari sepenuhnya akan keadaan mereka, maka seorang lagi di antara mereka telah berteriak kesakitan. Trisula Sumangkar benar-benar telah menyambar lambung salah seorang dari mereka.

Yang lain tidak membiarkan Sumangkar mendahului lagi. Mereka pun segera menyerangnya hampir berbareng dengan senjata masing-masing.

Tetapi mereka tidak segera dapat mendekat. Sumangkar memutar rantai yang berujung trisula dan trisula yang lain di tangan kirinya.

Dengan demikian, maka di antara mereka, Sumangkar dan para pengawal Panembahan Agung itu pun segera timbul pertempuran yang sengit. Sumangkar harus melawan beberapa orang sekaligus yang mengepungnya rapat-rapat. Tetapi mereka tidak dapat dengan mudah menyerang Sumangkar yang mempunyai senjata yang aneh itu.

Meskipun demikian, karena jumlah mereka berlipat banyaknya, maka Sumangkar pun akhirnya harus berusaha melepaskan diri dari kepungan yang rapat itu. Untunglah bahwa di sekitarnya terdapat pohon-pohon perdu, sehingga Sumangkar dapat memanfaatkannya sebaik-baiknya.

“Licik,” teriak salah seorang pengawal Panembahan Agung, “kau tidak bertempur secara jantan.”

“Kenapa?” bertanya Sumangkar.

“Kau berlari-lari melingkar-lingkar di seputar gerumbul-gerumbul perdu. Bukan begitu caranya seorang laki-laki bertempur.”

“Maaf, aku akan bersikap jantan terhadap orang-orang yang bersikap jantan pula. Jika salah seorang dari kalian siap untuk berperang tanding, aku akan melayaninya dengan jantan.”

Sejenak para pengawal itu tidak menjawab. Namun sejenak kemudian salah seorang dari mereka berteriak, “Aku menantangmu. Marilah kita bertempur dengan jantan.”

“Aku tidak membawa saksi,” sahut Sumangkar sambil memutar senjatanya.

“Pengecut.”

“Aku mempunyai firasat bahwa kalian akan menjebak aku. Perang tanding itu sendiri adalah suatu cara yang licik dan pengecut.”

“Jangan banyak bicara.”

Di luar dugaan mereka, Sumangkar menjawab, “Baik.”

Dan Sumangkar pun tidak berbicara lagi. Tetapi ia masih mempergunakan caranya. Sekali-sekali ia menyusup di balik batang-batang perdu, kemudian berlari-lari dan dengan tiba-tiba ia menyerang dengan garangnya. Di antara gerumbul-gerumbul yang rimbun itu, sulitlah untuk dapat mengepungnya dan kemudian menyerang bersama-sama dari banyak arah.

Selagi Sumangkar bertempur dengan sengitnya, maka Panembahan Agung pun mengerahkan segenap kemampuannya untuk membinasakan Jaka Raras.

Tetapi anak panahnya seakan-akan tidak banyak berarti lagi. Jaka Raras mempunyai perisai yang dapat memunahkan serangan-serangan anak panah Panembahan Agung. Bahkan semakin lama Jaka Raras justru menjadi semakin dekat.

“Kau tidak akan dapat lari lagi, Panembahan. Aku tahu bahwa kau terikat pada tempatmu itu.”

“Persetan.”

Terdengar Jaka Raras tertawa. Suaranya dalam dan datar. Katanya, “Sekali lagi aku tawarkan kepadamu, hentikan semua kegiatanmu.”

“Syaratnya?” tiba-tiba Panembahan Agung bertanya.

“Aku akan memunahkan semua kesaktian yang ada padamu. Kau akan menjadi seorang panembahan yang baik dan hidup tenteram di padukuhanmu di mana pun yang kau kehendaki.”

“Gila. Syarat itulah yang gila. Lebih baik aku membunuhmu.”

Jaka Raras tidak menjawab. Ia disibukkan oleh anak panah yang bagaikan hujan menyerangnya. Namun ia berhasil menangkis dan menghindarinya.

Betapa pun banyaknya persediaan anak panah pada Panembahan Agung, namun semakin lama menjadi semakin susut juga, sejalan dengan kecemasan yang semakin mengguncangkan dadanya. Apalagi karena ia sadar, bahwa tidak akan banyak gunanya lagi ia melepaskan anak panah itu kepada lawannya.

Apabila sekilas ia melihat kepada pertempuran yang berlangsung antara pengawalnya melawan Sumangkar, maka ia tidak mendapat gambaran sama sekali, siapakah yang akan dapat menang. Setiap kali Sumangkar berlari bersembunyi di balik batang-batang perdu yang rimbun. Kemudian dengan tiba-tiba saja ia menyerang lawan-lawannya yang sedang mencarinya. Setiap kali justru ialah yang berhasil melukai lawannya, sehingga kekuatan para pengawal itu pun semakin lama menjadi semakin berkurang.

Sekali lagi, Panembahan Agung menggeram. Ia tidak dapat mengelakkan kenyataan itu. Yang terjadi bukannya sekedar bentuk-bentuk semu yang dilontarkan oleh Jaka Raras. Tetapi yang terjadi adalah sebenarnya terjadi. Pengawalnya tidak segera dapat mengalahkan lawannya, sehingga karena itu mereka tidak akan segera dapat membantunya.

Karena itu, maka Panembahan Agung pun tidak lagi ingin berbuat setengah-setengah. Ia sudah melepaskan ilmunya yang dahsyat dengan membingungkan lawannya. Tetapi ternyata di antara lawan-lawannya itu terdapat orang yang memiliki kemampuan yang serupa.

Dengan demikian maka Panembahan Agung pun berusaha untuk sampai kepada puncak ilmunya. Ilmu yang didapatkannya dari perguruannya. Ia tahu, bahwa lawannya juga pernah menerima ilmu itu dari gurunya. Tetapi ia mendapatkan lebih banyak sampai saatnya gurunya tidak lagi mampu menambah ilmu itu, justru karena ia lebih dekat pada gurunya itu daripada Jaka Raras. Pada saat maut tidak lagi terelakkan, karena usia yang lanjut, gurunya belum sempat meratakan ilmunya itu kepada Jaka Raras sampai setingkat dengan dirinya.

“Aku terpaksa membinasakannya dengan ilmu ini,” katanya di dalam hati, “jika tidak, maka akulah yang akan dibinasakannya, atau semua ilmuku akan dipunahkannya.”

Dalam pada itu, Sumangkar pun semakin lama semakin sibuk melayani lawan-lawannya yang marah. Tetapi ia masih dapat melawan dengan caranya. Dengan trisula di ujung rantainya dan dengan berlari-lari sambil bersembunyi. Namun yang kemudian menyerang dengan tiba-tiba.

Agaknya Sumangkar berhasil mengurangi jumlah lawannya. Tetapi ia masih belum berhasil melepaskan dirinya sama sekali dari bahaya yang masih selalu mengancamnya dari segala arah. Apalagi ketika kemudian terasa nafasnya mulai mengganggu.

Tetapi Sumangkar adalah saudara seperguruan Patih Mantahun dari Jipang yang dikenal seakan-akan memiliki nyawa rangkap. Karena itu, maka ia masih mampu mengatasi kesulitan yang ada di sekitarnya.

Namun demikian, jumlah lawannya yang banyak itu telah menimbulkan kesulitan yang beruntun. Ketika ujung tombak seorang lawannya berhasil menyentuhnya, maka rasa-rasanya dadanya mulai diganggu oleh debar yang semakin cepat.

Ternyata ketika ia bersembunyi di balik sebuah gerumbul yang rimbun, seorang lawannya yang marah tidak menunggunya atau mengitari gerumbul itu. Untung-untungan ia melontarkan tombaknya dengan sekuat tenaga. Namun ternyata bahwa ujung tombak itu justru berhasil mengenai lengan Sumangkar yang sedang bersembunyi di dalamnya, meskipun luka itu tidak terlampau dalam.

“Setan alas,” Sumangkar mengumpat. Kemarahannya bagaikan menyala sampai ke ujung ubun-ubun. Namun demikian ia harus menyadari bahwa kemampuannya pun terbatas. Apalagi menghadapi lawan yang jumlahnya cukup banyak.

Ternyata kemudian bahwa lawan-lawannya itu telah berhasil melukainya.

Sekilas teringat olehnya Kiai Gringsing yang terbaring dengan luka-lukanya pula. Bagi Sumangkar Kiai Gringsing adalah seorang yang memiliki kelebihan daripadanya betapa pun tipisnya. Meskipun di Jati Anom Kiai Gringsing pernah juga terluka, tetapi agaknya hal itu terjadi karena kesalahan yang dilakukan oleh Kiai Gringsing sendiri. Sedang berhadapan dengan Panembahan Alit, ternyata bahwa Kiai Gringsing tidak akan dapat menghindarkan diri dan luka-lukanya itu meskipun ia sama sekali tidak melakukan kesalahan di dalam pertempuran itu.

Dan kini, ia pun sudah mulai terluka. Seorang demi seorang lawan-lawannya bukannya orang yang harus disegani. Tetapi mereka berada di dalam satu kelompok yang berusaha mengepungnya dan menyerangnya dari segala penjuru.

Debar jantung Sumangkar terasa semakin cepat. Tangannya menggenggam senjata semakin erat. Ketika ia meraba lukanya dengan ujung jarinya, terasa ujung jari itu menjadi hangat oleh darah.

Tetapi Sumangkar tidak segera kehilangan akal. Ia masih tetap menguasai perasaannya. Karena itu ia tidak menjadi putus asa dan membabi buta. Ia masih sempat memperhitungkan dan mempertimbangkan setiap langkahnya.

Sementara itu Panembahan Agung yang sudah sampai pada puncak ilmunya, sudah siap untuk menghancurkan Jaka Raras. Namun Jaka Raras yang agaknya mengetahui bahwa Panembahan Agung berusaha untuk melontarkan ilmunya yang dahsyat, ia pun segera meloncat semakin dekat dan menyerangnya dengan cakramnya yang digantungkannya pada ujung rantainya.

Panembahan Agung mengumpat di dalam hati. Ia belum sempat melontarkan ilmunya itu ketika Jaka Raras mengayunkan cakramnya yang bergerigi itu hampir menyambar hidungnya.

Dengan demikian maka Panembahan Agung terpaksa mempergunakan busurnya untuk menangkis setiap serangan Jaka Raras, sedang tangannya yang lain menggenggam anak panahnya yang sekaligus dipergunakannya sebagai senjata yang mematuk-matuk.

Namun Jaka Raras ternyata sangat lincah. Ia mampu meloncat selincah anak kijang di padang perburuan. Ditambah lagi dengan ayunan senjatanya yang dahsyat itu.

Sekali-sekali terdengar Panembahan Agung menggeram ia belum mendapat kesempatan melontarkan ilmunya. Justru karena Jaka Raras berhasil mendekatinya sampai pada jarak putar cakramnya.

Namun Panembahan Agung pun memiliki kecepatan bergerak yarg luar biasa. Ketika terbuka sedikit kesempatan, maka anak panahnya telah melekat pada busurnya. Dalam jarak yang sangat pendek Panembahan Agung membidikkan anak panahnya.

Jaka Raras terkejut melihat kecepatan bergerak tangan Panembahan Agung itu. Namun jaraknya tidak lagi memungkinkannya untuk menyerang dengan cakramnya.

Karena itu, dadanya menjadi berdentangan. Jarak itu sangat pendek. Sedangkan Jaka Raras mengetahui dengan pasti kekuatan busur Panembahan Agung itu.

Tetapi Jaka Raras tidak membiarkan lehernya terputus oleh anak panah itu. Dengan memusatkan kekuatan pada tangan kirinya ia berdiri tegak. Justru memusatkan tatapan matanya kepada ujung anak panah Panembahan Agung itu.

Yang terjadi kemudian hanyalah beberapa saat yang pendek. Anak panah Panembahan Agung pun telah terlepas dari busurnya dan meluncur dengan cepatnya. Hampir berbareng, karena jarak yang sangat pendek, terdengar benturan yang sangat dahsyat. Jaka Raras terlontar beberapa langkah surut. Dorongan anak panah pada lengannya yang terbalut ikat pinggang itu benar-benar bagaikan merontokkan tulang-tulangnya.

Untunglah bahwa ia memiliki kemampuan dan ketahanan tubuh yang luar biasa sehingga ia masih sempat meloncat berdiri dan mempersiapkan diri dengan serangan berikutnya.

Tetapi Panembahan Agung tidak ingin menyerangnya lagi dengan anak panah, karena ia kini mendapat kesempatan untuk melontarkan puncak ilmunya.

Jaka Raras yang juga bernama Ki Waskita itu terkejut melihat tatapan mata Panembahan Agung. Ia tidak menduga bahwa Panembahan Agung telah sampai kepada ilmu simpanannya.

Untunglah bahwa Jaka Raras masih melihat seolah-olah asap yang tipis bergulung lepas dari mata Panembahan Agung.

Dengan serta-merta Jaka Raras meloncat dan berguling di atas batu-batu padas.

Pada saat itulah terdengar ledakan di sebelah Jaka Raras. Ternyata kekuatan aji pamungkas yang terlontar dari mata Panembahan Agung tidak mengenai sasarannya. Ketika kekuatan itu menyentuh batu padas, maka padas itu seakan-akan meledak.

“Kau gila Panembahan,” teriak Jaka Raras.

“Kau harus lumat dibakar oleh ilmu ini.”

Tetapi Jaka Raras tidak mau menjadi debu. Ia pun pernah menerima dasar-dasar dari ilmu yang dahsyat itu. Tetapi sebelum ia menjadi sempurna, bahkan belum sejauh Panembahan Agung yang dekat dengan gurunya, gurunya itu telah kehilangan kemampuannya karena kekuasaan yang seakan-akan tidak terbatas itu telah direnggut oleh Maha Kekuasaan yang tidak dapat dilawannya, dan yang sebenarnyalah memang tidak terbatas.

Namun dalam pada itu, sepeninggal gurunya ia masih sempat bersunyi diri mematangkan ilmu yang baru diterima dasar-dasarnya. Tetapi dengan dasar-dasar ilmu yang telah lengkap itu, ia telah berhasil membentuk dirinya pada saat itu menjadi orang yang luar biasa. Dengan mesu raga dan olah tapa, maka ternyata bahwa ia berhasil menguasai dan mengembangkan ilmu itu.

Itulah sebabnya, ketika ia diserang dengan kemampuan yang seakan-akan tidak terbatas itu, Jaka Raras benar-benar telah kehilangan pengekangan diri. Ia pun kemudian meloncat bangkit, berdiri pada kedua kakinya yang renggang, dan dengan wajah yang seakan-akan membara memandang mata Panembahan Agung yang mulai melepaskan asap yang tipis bergulung-gulung melibatnya.

Tetapi pada saat yang bersamaan, dari mata Jaka Raras pun telah memancar kabut yang tipis pula, sehingga sejenak kemudian gulungan asap tipis yang seakan-akan saling menyerang itu pun berbenturan dengan dahsyat sekali.

Tidak seorang pun yang mendengar sesuatu. Tidak seorang pun yang melihat batu-batu berguguran atau gumpalan api yang memancar. Namun terasa pada keduanya, maka dada mereka telah berguncang dengan dahsyatnya.

Benturan ilmu yang telah dilontarkan oleh dua buah ujung dari garis lurus yang menghubungkan pasangan mata kedua orang itu bagaikan guruh yang meledak hanya di dada masing-masing. Demikian dahsyatnya sehingga keduanya telah berguncang.

Sebenarnyalah telah terjadi pergolakan yang dahsyat di dalam diri masing-masing ketika keduanya kemudian saling perpandangan. Masing-masing telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada di dalam dirinya.

Panembahan Agung telah menerima ilmu itu hampir lengkap dari gurunya, sedang Jaka Raras baru menerima dasar-dasarnya saja. Tetapi ia telah berhasil mengembangkannya sendiri dan justru tidak kalah dahsyatnya dengan yang dimiliki Panembahan Agung. Panembahan Agung menerima dari gurunya seakan-akan telah berada dalam tingkatnya yang sekarang, sedang Jaka Raras yang harus mencari kesempurnaannya sendiri, ternyata telah justru mendapatkan lebih banyak dari yang ada pada Panembahan Agung yang sudah puas dengan apa yang telah dimilikinya itu.

Sejenak mereka masih saling memandang. Dari segenap lubang kulit mereka, mengembun bintik-bintik keringat yang semakin lama bukan saja keringat yang bening, tetapi menjadi semburat merah seakan-akan di dalam butiran-butiran keringat itu mengembun pula warna darah.

Dengan sekuat tenaga keduanya mencoba mengerahkan segenap kemampuan yang ada di dalam diri mereka. Kedua macam ilmu yang serupa itu bagaikan saling mendesak dan mendorong.

Namun dengan demikian, maka tubuh kedua orang itu rasa-rasanya semakin lama menjadi semakin panas. Desakan-desakan yang tidak kasat mata itu membuat keduanya terbenam dalam ketegangan yang semakin memuncak.

Keringat yang semburat merah itu semakin lama justru menjadi semakin jelas berwarna darah. Semakin lama semakin rata di seluruh tubuh kedua orang yang sedang bertempur dengan ilmu yang dahsyat itu.

Untuk beberapa saat lamanya keduanya bagaikan menjadi patung. Nafas mereka semakin lama menjadi semakin cepat mengalir. Apalagi ketika kemudian dari ubun-ubun mereka seakan-akan telah mengepul kabut yang berwarna putih, seperti yang telah terlontar dari mata masing-masing.

Sejenak kemudian keduanya pun menjadi gemetar. Jantung mereka rasa-rasanya semakin lama semakin lemah, dan darah mereka pun mengalir semakin lambat. Tetapi dalam pada itu, keringat mereka telah benar-benar berwarna darah.

Tidak ada kekuatan seseorang yang dapat mencegah apa yang terjadi kemudian. Kedua sosok tubuh itu benar-benar telah menjadi gemetar seperti orang kedinginan. Perlahan-lahan keduanya telah kehilangan kekuatan mereka, sehingga akhirnya keduanya merasa bahwa pertempuran yang aneh itu memang harus segera berakhir.

Tetapi mereka masih belum tahu pasti, siapakah yang masih akan dapat menghisap udara pegunungan yang segar oleh angin lembah yang mengusap punggung-punggung bukit itu.

Jaka Raras pun kemudian tidak mampu lagi tetap berdiri tegak pada kedua kakinya. Perlahan-lahan ia jatuh berlutut dan mencoba menahan tubuhnya dengan kedua tangannya. Namun demikian ia masih tetap memandang sepasang mata Panembahan Agung yang masih juga memandanginya.

Dalam keadaan yang semakin lemah keduanya tidak mau melepaskan tatapan mata mereka, karena dari mata mereka itulah pancaran kekuatan mereka saling berbenturan. Betapa pun lemahnya keadaan mereka, namun keduanya masih tetap saling memandang dalam puncak ilmu masing-masing.

Dari tubuh kedua orang itu telah benar-benar mengalir keringat yang bercampur dengan darah. Wajah mereka menjadi kehitam-hitaman seakan-akan hangus terbakar oleh ilmu mereka masing-masing.

Dalam pada itu, Sumangkar pun masih harus bertempur mati-matian melawan para pengawal Panembahan Agung. Segores demi segores kulitnya telah disobek oleh senjata lawannya. Semakin lama semakin banyak. Seperti juga Panembahan Agung dan Jaka Raras, maka Sumangkar pun telah dibasahi oleh darahnya, meskipun tidak mengembun lewat lubang-lubang kulitnya, tetapi mengalir lewat luka senjata.

Tetapi senjata Sumangkar yang dahsyat itu masih juga sempat melukai lawan-lawannya. Seorang demi seorang telah tersentuh oleh ujung trisula, sehingga bukan saja dirinya sendiri yang terluka, tetapi beberapa orang lawannya pun telah dilukainya pula.

Namun demikian Sumangkar yang seorang diri itu semakin lama menjadi semakin lemah. Sedang jumlah lawannya masih cukup banyak mengepungnya dan mengejarnya kemana ia berlari dan bersembunyi sebelum ia tiba-tiba meloncat menyerang.

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak akan dapat berbuat lebih banyak lagi. Apalagi ketika ia sekilas melihat Jaka Raras yang berdiri pada lututnya dan menahan tubuhnya dengan kedua tangannya.

Tetapi bagi Sumangkar, tugas seorang di medan perang memang mengarah kepada kemungkinan yang paling pahit itu. Jika ia tidak berhasil, maka ia akan mati. Dan mati di peperangan adalah mati yang paling terhormat bagi seorang prajurit.

Meskipun Sumangkar sudah bukan seorang prajurit, tetapi tugasnya kini adalah tugas seorang prajurit, sehingga baginya apa pun yang akan terjadi, bukannya harus diratapi dan disesali. Meskipun demikian Sumangkar masih tetap bertempur sekuat tenaga.

Tetapi kemampuan dan tenaganya benar-benar tidak dapat dipaksakannya melampaui batas tertentu. Nafasnya yang semakin lama menjadi semakin dalam. Kekuatannya yang semakin susut, dan darah yang semakin banyak mengalir.

Namun dalam pada itu, selagi Sumangkar sudah hampir kehilangan kesempatan untuk mempertahankan hidupnya, seorang anak muda telah meloncat ke tengah-tengah perkelahian itu dengan sebatang tombak pendek. Kemudian disusul oleh dua orang yang lain dengan cambuk di tangannya.

Ketika seorang anak gadis muncul di antara mereka, maka terdengar anak muda bertombak pendek itu berdesis, “Tolonglah Paman Sumangkar lebih dahulu.”

Gadis itu adalah Pandan Wangi. Mereka yang datang ke arena itu adalah anak-anak muda yang merasa cemas karena Sumangkar yang pergi menyusul Panembahan Agung. Setelah mendapat ijin dari orang-orang tua, serta menyerahkan pimpinan pasukan Mataram kepada Ki Lurah Branjangan, maka Sutawijaya bersama dengan kedua murid Kiai Grinsing dan Pandan Wangi mencoba menyusulnya. Semula mereka hanya akan melihat apakah kira-kira yang telah terjadi. Namun dari puncak bukit mereka melihat bahwa di lereng seberang. Sumangkar sedang bertempur melawan beberapa orang yang mengeroyoknya.

Anak-anak muda yang melihat perkelahian yang tidak seimbang itu tidak dapat membiarkannya terjadi. Karena itu, maka mereka pun segera berlari turun dan berusaha membantu Sumangkar yang menjadi semakin lemah.

Pandan Wangi segera mendekati Sumangkar. Masih ada satu dua orang yang mencoba menyelesaikan hidup Sumangkar yang sudah hampir tidak dapat melawan sama sekali, sedang yang lain menghambur melawan anak-anak muda yang berdatangan itu.

Namun Pandan Wangi ternyata cukup cepat. Dengan sepasang pedangnya ia menyerang orang-orang yang masih berusaha menghabisi nyawa Sumangkar.

Sumangkar melihat kehadiran anak-anak muda itu. Terasa dadanya berdesir oleh haru yang mendalam. Apalagi ketika dilihatnya dengan lincah Pandan Wangi berhasil menghalau dua orang yang masih tetap berusaha menyerangnya.

Sesaat Sumangkar masih tetap berdiri di tempatnya. Namun kemudian terasa tubuhnya menjadi semakin lemah. Karena itu, maka ia pun melangkah tertatih-tatih menepi dan duduk bersandar pada sebatang pohon sambil menyaksikan pertempuran yang seakan-akan menyala semakin dahsyat antara anak-anak muda itu melawan para pengawal Panembahan Agung.

Sutawijaya, Agung Sedayu, Swandaru, dan Pandan Wangi bertempur dengan gigihnya. Senjata mereka yang terayun-ayun itu pun berhasil memecah kesatuan pengawal Panembahan Agung yang menjadi kisruh.

Sementara itu Sumangkar melihat dalam sekilas, bahwa anak-anak muda itu akan segera berhasil menguasai keadaan. Jumlah mereka cukup banyak untuk melawan para pengawal yang jumlahnya sudah menjadi semakin susut.

Demikianlah, maka seorang demi seorang para pengawal itu pun terluka oleh ujung pedang, tombak, dan cambuk. Betapa pun mereka berusaha, namun mereka tidak dapat melawan anak-anak muda yang darahnya seolah-olah mendidih menyaksikan perkelahian yang tidak seimbang, sehingga hampir saja membunuh Ki Sumangkar.

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam, ketika ia melihat beberapa orang pengawal itu mencoba melarikan diri. Tetapi mereka justru tergelincir dan terperosok ke dalam tebing padas yang dalam, sehingga yang terdengar hanyalah teriakan ngeri yang menyayat.

Akhirnya, para pengawal Panembahan Agung itu pun tidak lagi dapat berbuat apa pun juga. Tiga orang yang tersisa, kemudian melemparkan senjatanya dan menyerah.

“Kalian benar-benar menyerah?” bertanya Sutawijaya.

“Ya. Kami benar-benar menyerah. Tetapi jangan bunuh kami.”

Sutawijaya memandang mereka sejenak, lalu, “Kalian harus diikat, sementara kami akan melihat pertempuran antara Panembahan Agung dan Ki Waskita itu.”

Ketiga orang pengawal yang menyerah itu tidak mengelak ketika tangan mereka kemudian diikat pada sebatang pohon dengan kain panjang mereka sendiri.

Dalam pada itu, maka anak-anak muda itu pun mendekati Ki Sumangkar dan bertanya, “Apakah Ki Sumangkar tidak terlampau parah?”

Sumangkar menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak. Aku telah mencoba mengurangi arus darah dari luka-lukaku dengan serbuk-serbuk ini yang aku dapatkan dari Kiai Gringsing.”

Sutawijaya melihat sebuah bumbung kecil di tangan Ki Sumangkar yang berisi serbuk seperti yang dikatakannya.

“Aku akan melihat pertempuran itu.”

“Hati-hatilah. Mereka tidak saja mempergunakan ilmu kanuragan. Jangan memasuki daerah kemampuan kekuatan aji mereka yang belum kita ketahui dengan pasti.”

Sutawijaya menganggukkan kepalanya. Ia tidak dapat membiarkan pula sesuatu terjadi atas Ki Waskita yang nampaknya telah menjadi sangat lemah dan berlutut di hadapan Panembahan Agung.

Dengan tergesa-gesa anak-anak muda itu berlari-lari mendekat arena itu. Tetapi langkah mereka tertegun beberapa langkah, ketika rasa-rasanya mereka telah menyentuh arena yang tidak dapat mereka masuki. Rasa-rasanya udara menjadi sangat panas dan mencengkam.

Yang dapat mereka lakukan adalah sekedar menyaksikan apa yang kemudian terjadi. Dengan hati yang berdebar-debar anak-anak muda itu menyaksikan Ki Waskita yang meskipun sudah berdiri di atas lututnya, namun ia masih tetap memandang mata Panembahan Agung. Sebaliknya Panembahan Agung pun masih tetap pula menatap sepasang mata Ki Waskita.

Namun dalam pada itu, anak-anak muda itu pun menjadi heran. Mereka hampir tidak percaya pada penglihatannya, bahwa Panembahan Agung di dalam keadaannya itu duduk bersila di atas sebuah amben kecil dengan sepasang kayu usungan. Tandu.

Serentak tumbuh dihati anak-anak muda itu dugaan, “Apakah Panembahan Agung telah diusung dengan tandu itu?”

Tetapi mereka tidak segera dapat kepastian. Yang dilihatnya adalah Panembahan Agung yang sedang bertempur itu duduk dengan lemahnya di atas sebuah amben kecil yang terikat dengan beberapa helai tali-temali pada usungan yang terletak di sebelah menyebelah amben kecil itu.

Untuk beberapa saat keduanya tetap dalam keadaannya. Mereka seakan-akan telah terpisah dengan dunia sekitarnya. Keduanya seakan-akan tidak melihat anak-anak muda yang ada di sekitar arena itu.

Dengan demikian keduanya masih tetap saling memandang. Agaknya ilmu mereka yang berdasarkan pada sumber yang sama itu sudah berada pada batas kemampuan mereka. Yang mereka lakukan kemudian adalah sekedar bertahan agar diri masing-masing tidak lumat dilanda oleh ilmu lawannya.

Tetapi keadaan itu pun sampai pula pada saatnya berakhir. Baik Panembahan Agung maupun Jaka Raras benar-benar telah sampai pada batas kemampuan mereka. Namun batas itu ternyata berselisih beberapa kejap.

Pada saat terakhir, Panembahan Agung yang duduk bersila di atas ambennya itu masih sempat menghempaskan sisa-sisa kekuatannya pada saat yang pendek, sehingga hampir saja Jaka Raras kehilangan kemampuan untuk bertahan. Namun sekejap kemudian, ternyata Panembahan Agung benar-benar telah kehilangan segenap kekuatannya. Betapa pun ia mencoba bertahan namun perlahan-lahan kepalanya mulai menunduk dengan lemahnya.

Yang dapat dilakukan olehnya hanyalah mengatupkan giginya rapat-rapat. Tetapi kepalanya itu tetap bergerak perlahan-lahan.

Maka sampailah batas yang mengerikan itu. Ketika Panembahan Agung telah kehilangan segenap kekuatannya, ia pun tidak dapat lagi bertahan memandang sepasang mata Jaka Raras, sehingga dengan demikian, maka ilmunya pun perlahan-lahan menjadi padam sejalan dengan gerak kepalanya yang lemah itu.

Karena itulah, maka kekuatan ilmu Jaka Raras bagaikan mendapat kesempatan. Seakan-akan Panembahan Agung telah membuka pintu bagi serangan yang melontar dari kekeuatan ilmu Jaka Raras yang tidak kasat mata itu.

Demikianlah, maka sesaat Panembahan Agung terlepas dari kemampuan tatapan matanya, maka serasa api neraka telah melanda tubuhnya. Sejenak ia menggeliat. Namun ia pun kemudian terkapar tidak berdaya. Meskipun kakinya masih tetap bersila, namun tubuhnya terkulai di atas ambennya dan kepalanya seolah-olah bergantungan tanpa kekuatan sama sekali.

Panembahan Agung agaknya telah terbakar oleh ilmu yang dahsyat yang dilontarkan oleh Jaka Raras.

Namun dalam pada itu, dalam saat yang bersamaan, Jaka Raras pun seakan-akan telah kehilangan segenap kekuatannya pula. Sejenak ia bertahan pada lututnya, namun kemudian ia pun segera duduk bersila pula sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Kepalanya tertunduk dalam-dalam dan matanya telah terpejam.

Anak-anak muda itu berdiri termangu-mangu. Untuk beberapa lamanya mereka tidak tahu apa yang harus dilakukannya selain setiap kali memandang Jaka Raras yang duduk dengan kepala tunduk dan mata terpejam itu berganti-ganti dengan Panembahan Agung yang sudah terkulai dengan lemahnya.

Dalam ketegangan itu, mereka dikejutkan oleh suara di belakang mereka, “Pertempuran sudah selesai.”

Serentak anak-anak muda itu berpaling. Dilihatnya Sumangkar yang lemah berdiri di belakang mereka. Kedua tangannya memegangi luka-lukanya yang dirasanya paling pedih.

“Bagaimana dengan Ki Waskita?” bertanya Agung Sedayu.

“Ia sedang memusatkan segenap kekuatan untuk memulihkan tenaganya. Kekuatan yang tidak tampak di mata kita, tetapi ada di dalam dirinya.”

Anak-anak muda itu termangu-mangu sejenak. Tanpa sesadarnya Pandan Wangi memandang Panembahan Agung yang terkulai diam itu sambil berdesis, “Dan Panembahan Agung itu?”

“Ia kehabisan tenaga sama sekali, sehingga di saat terakhir kekuatan aji pamungkas Ki Waskita berhasil menghantamnya. Tetapi ternyata kekuatan itu pun tidak ada lagi sepersepuluh dari kemampuan yang sebenarnya sehingga Panembahan Agung tidak hancur menjadi debu karenanya.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu Sutawijaya pun kemudian bertanya, “Apakah kami dapat mendekati keduanya, Kiai?”

“Kita harus menunggu sampai Ki Waskita selesai dengan samadinya. Mudah-mudahan ia akan segera dapat pulih kembali.”

Anak-anak muda itu tidak menyahut. Mereka masih saja berdiri termangu-mangu memandang kedua orang yang sudah tidak berdaya itu berganti-ganti. Namun tiba-tiba saja Swandaru bertanya, “Paman Sumangkar, apakah Panembahan Agung itu mati.”

“Aku pun tidak tahu. Apakah ia mati atau sekedar pingsan karena kekuatan aji Ki Waskita yang sudah sangat lemah itu.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia pun kemudian bertanya pula, “Paman. Apakah sebenarnya amben kecil itu? Apakah benar amben itu sebuah tandu?”

“Ya,” jawab Sumangkar.

“Kenapa Panembahan Agung harus ditandu? Apakah ia tidak mau berjalan sendiri atau …”

Sumangkar menganggukkan kepalanya. Katanya, “Dugaanmu benar. Dari Ki Waskita aku mendengar bahwa Panembahan Agung memang cacat kaki. Lebih parah dari Ki Argapati. Tetapi bahwa ia harus berada di atas tandu itu pun baru aku ketahui ketika aku mengikuti perkelahian ini dan melibatkan diri ke dalamnya. Menilik keadaannya, maka Panembahan Agung telah mengalami cacat kaki yang sangat parah.”

Anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak. Meskipun tidak mereka ucapkan, namun seakan-akan mereka berkata di dalam hatinya bersama-sama, “Ia telah mengimbangi cacat tubuhnya dengan ilmu yang luar biasa dahsyatnya.”

Dalam pada itu, Ki Waskita masih saja tekun dalam samadinya dalam usahanya untuk memulihkan segenap kekuatan tenaganya. Karena itu, ia sama sekali tidak menghiraukan apa pun yang terjadi di sekitarnya. Bahkan seandainya ada seekor harimau yang hendak menerkamnya pun ia tidak dapat melawannya sama sekali.

Karena itu, maka agar mereka tidak melakukan kesalahan, maka Sumangkar yang lemah itu pun berkata, “Baiklah, kita menunggunya sampai selesai. Lebih baik kita duduk sejenak di sini. Aku masih harus banyak beristirahat karena rasa-rasanya tubuhku terlampau lemah meskipun kini darah sudah tidak banyak mengalir lagi dari luka-lukaku. Sedangkan orang-orang yang terikat itu pun tidak akan dapat melepaskan diri mereka sendiri.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab, “Baiklah, Kiai. Kita sudah tidak tergesa-gesa lagi. Semuanya seakan-akan sudah selesai. Rudita sudah diketemukan dan sarang Panembahan Agung ini sudah kita kuasai pula seluruhnya.”

Dengan demikian, maka anak anak muda itu pun kemudian duduk di atas rerumputan menunggui Ki Waskita yang sedang samadi. Namun demikian, mereka masih saja selalu diganggu oleh kegelisahan. Mereka tidak dapat melepaskan diri dari perasaan, bahwa mereka masih tetap berada di medan peperangan.

Dada anak-anak muda itu bergetar ketika mereka melihat justru Panembahan Agung yang terkulai itulah yang mula-mula bergerak. Ternyata Panembahan Agung itu tidak mati. Bahkan perlahan-lahan ia berusaha mengangkat kepalanya dan bangkit duduk meskipun nampaknya masih terlampau lemah. Sejenak kepalanya tertunduk kembali karena kekuatannya sama sekali masih belum mampu menahan kepalanya yang tegak.

Sumangkar pun menjadi berdebar-debar. Ia mengenal Panembahan Agung sebagai seseorang yang memiliki ilmu yang luar biasa. Ia pun mengetahui bahwa busurnya yang besar itu dapat melontarkan anak panah raksasa yang dapat meledakkan kepala seseorang.

“Kiai,” berkata Sutawijaya, “Panembahan Agung itu seolah-olah bagaikan mayat yang bangkit lagi dari kuburnya. Mengerikan sekali. Ia akan dapat membakar kita dengan ilmunya.”

“Ya,” sahut Sumangkar.

“Kita mendahuluinya,” geram Swandaru, “kita membunuhnya selagi ia masih belum mampu berbuat apa-apa.”

Sumangkar berpikir sejenak. Agaknya pendapat Swandaru itu dapat dimengertinya. Lebih baik mendahuluinya daripada mereka harus dibakar hidup-hidup oleh ilmunya yang sangat dahsyat itu.

Namun demikian mereka masih tetap ragu-ragu. Sekilas mereka berpaling. Dilihatnya Ki Waskita masih duduk dalam samadinya.

Dalam pada itu, perlahan-lahan Panembahan Agung mendapatkan sebagian kecil kekuatannya kembali sehingga meskipun masih bersandar pada kedua telapak tangannya yang bertelekan di sisi tubuhnya, ia sudah berhasil mengangkat kepalanya.

Dalam pada itu, mereka yang ditinggalkan oleh anak-anak muda itu menyusul Ki Sumangkar menjadi cemas juga. Namun mereka percaya bahwa anak-anak muda yang sudah cukup matang menghadapi berbagai jenis medan itu akan dapat menolong diri mereka sendiri apabila terjadi sesuatu.

Sementara itu, pasukan pengawal Menoreh dan pasukan pangawal dari Mataram telah benar-benar menguasai seluruh padepokan yang oleh Panembahan Agung disebutnya Padepokan Medang.

Sebagian dari para pengawal padepokan itu dapat dikuasai hidup-hidup. Namun korban pun berserakan hampir tidak terhitung jumlahnya dari kedua belah pihak. Namun karena pasukan Mataram dan Menoreh telah mempersiapkan diri menghadapi medan yang membingungkan, justru korban di antara mereka tidak jatuh sebanyak korban dari padepokan itu sendiri. Para pengawal Panembahan Agung ternyata telah terguncang oleh kenyataan yang tidak mereka duga-duga. Mereka menyangka bahwa hanya Panembahan Agung sajalah yang dapat menciptakan kebohongan-kebohongan yang membingungkan. Namun ternyata bahwa lawan mereka pun mampu melakukannya, sehingga karena mereka belum bersiap sama sekali menghadapi hal itu, justru merekalah yang menjadi sangat bingung sehingga korban berjatuhan tanpa hitungan.

Apalagi para pemimpin padepokan itu. Tidak seorang pun yang berusaha untuk tetap hidup. Sepeninggal Putut Nantang Pati dan Daksina, apalagi kemudian Panembahan Alit, maka mereka pun bagaikan saling mendahului membunuh diri di peperangan.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing yang lemah sudah dibawa ke padepokan. Dibaringkannya tubuhnya di pembaringan yang terletak di sebuah gubug kecil dekat regol terdepan padepokan Panembahan Alit.

Namun Kiai Gringsing sudah dapat memberikan petunjuk kepada Ki Demang Sangkal Putung, bagaimana merawat luka-lukanya sendiri. Sementara itu Ki Argapati dan Prastawa sibuk mengatur para pengawal yang memasuki padepokan itu. Menempatkan mereka di tempat-tempat yang pantas mendapat pengawasan dan menjaga para tawanan yang menyerah.

Sementara itu beberapa orang pemimpin pengawal dari Mataram telah mengatur beberapa orang pengawal dan para tawanan untuk membersihkan medan. Menyingkirkan mayat yang berserakan dan mengurus penguburannya.

Di dalam kesibukan itu, Ki Lurah Branjangan segera dapat mengenali beberapa orang yang sebenarnya prajurit-prajurit Pajang. Baik yang menjadi korban di dalam peperangan itu, maupun yang masih hidup dan menjadi tawanan.

Tetapi mereka adalah prajurit-prajurit. Mereka tidak akan dapat memberikan banyak keterangan selain menyebut nama Daksina sebagai senapati mereka yang telah membawa mereka ke padepokan terpencil itu.

Namun dengan demikian semakin nyata bagi Ki Lurah Branjangan, bahwa sebenarnyalah Pajang telah terpecah. Seperti dirinya sendiri yang pernah menjadi seorang senapati di Pajang, kini telah berada di antara para pengawal di tanah Mataram yang sedang berkembang itu. Dengan demikian maka ternyata bahwa kekuatan Pajang telah terpecah dalam bagian-bagian kecil yang saling bertentangan dan bahkan saling bertempur. Jika di peperangan ini ia bertemu dengan Daksina, itu berarti bahwa dua orang Senapati Pajang telah berhadapan di bawah panji-panji yang berbeda warna. Namun dengan demikian, warna-warna itu seakan-akan telah melambangkan keringkihan Pajang yang semakin lama menjadi semakin parah.

Sementara itu, selagi orang-orang di padepokan itu sibuk dengan menyingkirkan mayat-mayat yang akan dikubur di tempat yang masih harus dicari, maka Ki Pemanahan yang berada di Mataram dengan gelisah menunggu kedatangan Sutawijaya. Namun sebagai seorang prajurit ia menyadari, bahwa tugas Sutawijaya tidak akan dapat diselesaikan dalam waktu satu dua hari saja. Mungkin Sutawijaya berhasil menduduki sarang orang-orang bersenjata itu, tetapi tentu diperlukan waktu untuk menguasainya sama sekali.

Namun dalam pada itu, yang seakan-akan membuat Ki Gede Pemanahan tidak sabar lagi menunggunya adalah berita yang sudah sampai di telinganya, yang bersumber dari seorang prajurit Pajang, bahwa Sutawijaya telah melakukan tindakan yang tercela. Ia telah melakukan kesalahan yang besar sekali terhadap Sultan Pajang, yang telah mengangkat menjadi anaknya dan mengasihinya seperti anaknya sendiri.

“Jika berita ini benar, celakalah Sutawijaya. Sultan Pajang mempunyai alasan yang kuat untuk menghukum Sutawijaya. Jika beberapa daerah sebelumnya menyetujui sikapnya, meskipun hanya di dalam hati, tentu akan melepaskan dukungannya terhadap Mataram. Beberapa orang bupati yang menjunjung tinggi nilai kesopanan, akan mengutuknya dan meninggalkannya dalam kesulitan. Bahkan mereka tentu akan mendukung tindakan Sultan Pajang seandainya mereka akan menangkap Sutawijaya,” keluh Ki Gede Pemanahan di dalam hati.

Sekali-sekali Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ia tidak segera mengambil tindakan berhubung dengan berita yang sampai kepadanya, namun ia merasa seakan-akan tersiksa karenanya.

Karena itu, ketika ia tidak dapat menahan hati lagi, masa diperintahkannya beberapa orang penghubung untuk menyusul Sutawijaya ke Menoreh.

“Katakan kepadanya, jika persoalan yang dihadapinya sudah selesai, ia harus segera kembali ke Mataram. Ada sesuatu yang sangat penting untuk dibicarakan,” berkata Ki Gede kepada utusan itu.

Utusan itu menjadi termangu-mangu. Kepergian Sutawijaya ke Menoreh dengan membawa pasukan berkuda adalah untuk melakukan tugas yang cukup berat. Namun tiba-tiba Ki Gede Pemanahan seolah-olah tidak sabar menunggunya dan memerintahkan puteranya segera kembali ke Mataram.

Karena itu maka utusan itu pun memberanikan diri untuk bertanya, “Ki Gede. Kami kurang mengerti Bukankah kepergian Raden Sutawijaya itu untuk menunaikan tugas pengamanan daerah Mataram?”

“Ya. Tetapi yang harus kau sampaikan itu ada juga sangkut pautnya dengan pengamanan daerah yang sedang kita buka ini. Justru tidak kalah pentingnya dengan persoalan yang kini sedang dihadapi oleh Sutawijaya di Menoreh.”

“Apakah aku dapat menyampaikan persoalan itu kepada Raden Sutawijaya.”

Ki Gede menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kau tidak usah menyebut persoalan itu. Mungkin Sutawijaya sendiri tidak segera mengetahui apakah yang akan dijumpainya di dalam persoalan yang aku pesankan kepadamu. Itu tidak penting. Yang penting biarlah Sutawijaya segera kembali.”

“Tetapi bagaimanakah jika tugas itu belum selesai.”

Ki Gede Pemanahan termangu-mangu sejenak.

“Panggilan ini tentu akan menggelisahkannya, Ki Gede. Jika Raden Sutawijaya sedang berada di medan, sudah tentu bahwa aku tidak akan dapat menyampaikan kepadanya.”

“Kenapa?” bertanya Ki Gede.

“Aku mengetahui benar tabiat Raden Sutawijaya. Jika ia dikecewakan oleh sesuatu persoalan, selagi persoalannya yang dahulu belum selesai, ia akan menjadi marah, dan berbuat atas landasan perasaannya.”

“Kau benar.”

“Jadi?”

“BaiKiah. Jika ia masih berada di medan, kau dapat menunggunya sampai selesai. Mudah-mudahan ia tidak mengalami sesuatu di tlatah Menoreh, dan bahkan mudah-mudahan ia dapat berhasil.” Ki Gede berhenti sejenak, lalu, “Tetapi ingatlah, ia harus segera berada di Mataram, sebelum ada persoalan yang datang justru dari Pajang.”

Penghubung itu mengerutkan keningnya. Tetapi Ki Gede berkata seterusnya, “Jangan kau pikirkan apa yang telah terjadi dengan Sutawijaya. Tugasmu adalah membawanya kembali. Biar aku sajalah yang menyampaikan persoalan itu kepadanya, agar tidak terjadi salah mengerti.”

“Baiklah, Ki Gede.”

“Nah, berangkatlah. Pergilah ke induk Tanah Perdikan Menoreh. Kebijaksanaan selanjutnya ada padamu.”

Demikianlah maka penghubung itu pun segera berkemas. Dengan tiga orang kawannya maka ia pun segera berangkat menyeberangi Sungai Praga.

Ternyata di lereng perbukitan padas di perbatasan Menoreh, Raden Sutawijaya bersama anak-anak muda murid Kiai Gringsing, Pandan Wangi, dan Ki Sumangkar sedang dicengkam oleh kegelisahan.

Panembahan Agung itu pun perlahan-lahan mencoba sekali lagi mengangkat wajahnya. Namun sekali lagi wajah itu tertunduk. Agaknya masih belum cukup kekuatan padanya untuk memandang keadaan di sekelilingnya dengan tatapan matanya.

Sementara itu, Swandaru hampir tidak sabar lagi. Sekali lagi ia berdesis, “Apakah kita akan menunggu Panembahan Agung itu berhasil membangunkan kekuatannya dan membakar kita di sini menjadi debu?”

Sutawijaya memandang Ki Sumangkar sejenak, seakan-akan mencari jawab atas pertanyaan Swandaru itu yang memang dapat dimengertinya.

Sekilas Ki Sumangkar memandang Panembahan Agung yang lemah. Nampaknya betapa pun ia berusaha, tetapi ia masih tetap tidak bertenaga. Ia hanya berhasil bangkit dan duduk bertelekan kedua tangannya dengan kepala yang seakan-akan terkulai tunduk tidak bertulang lagi.

Namun tiba-tiba Sutawijaya berdesis, “Apakah ia memiliki ilmu kebal seperti Panembahan Alit. Jika tidak, maka ia tentu sudah menjadi debu oleh kekuatan ilmu Ki Waskita.”

Anak-anak muda itu saling berpandangan. Hampir bersamaan mereka pun memandang kepada Ki Sumangkar. Swandaru-lah yang mula-mula bertanya kepadanya, “Apakah Panembahan Agung itu juga kebal seperti Panembahan Alit?”

Ki Sumangkar menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak mengerti. Tetapi kemungkinan itu memang ada. Ternyata ia berhasil lolos dari maut oleh kekuatan ilmu Ki Waskita. Tubuhnya sama sekali tidak terluka meskipun menjadi kehitam-hitaman.”

Anak-anak muda itu menjadi tegang. Jika benar Panembahan Agung juga memiliki ilmu kebal, maka sudah barang tentu mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa. Hanya Kiai Gringsing-lah yang akan berhasil meremukkan bagian dalam orang itu meskipun kulitnya masih tetap utuh. Tetapi Kiai Gringsing bangkit pun seakan-akan tidak mampu lagi karena luka-lukanya yang agak parah.

Dalam keragu-raguan itulah mereka melihat Panembahan Agung bergerak-gerak lagi. Dengan sepenuh sisa tenaga yang dapat dibangunkannya lagi, ia berusaha mengangkat wajahnya yang kehitam-hitaman.

Betapa pun beratnya, namun akhirnya Panembahan Agung itu berhasil. Ia berhasil mengangkat wajahnya dan memandang keadaan di sekelilingnya. Tatapan matanya itu pun kemumudian terhenti ketika terlihat olehnya Ki Sumangkar bersama anak-anak muda yang sedang termangu-mangu itu.

Debar di jantung Ki Sumangkar dan anak-anak muda itu pun rasa-rasanya menjadi semakin cepat. Mereka hanya dapat berdiri tegak memandang Panembahan Agung dari tempat mereka. Rasa-rasanya mereka bagaikan melekat di atas tanah tempat mereka berdiri.

Sejenak Panembahan Agung menggeram. Matanya masih memandang kepada Ki Sumangkar dan anak-anak muda yang ada di sekitarnya.

“Panembahan Agung sedang menyiapkan ilmunya,” berkata anak-anak muda itu di dalam hatinya.

Namun tiba-tiba anak-anak muda itu mendengar Ki Sumangkar berkata, “Kita harus memencar. Jika tenaga itu tumbuh lagi di mata Panembahan Agung, kita tidak bersama-sama terbakar.”

“Bagus,” desis Sutawijaya, “kita bersembunyi di balik batu-batu padas.”

Anak-anak muda itu pun telah siap untuk meloncat memencar agar mereka tidak hangus bersama-sama. Dari tempat mereka bersembunyi mereka akan dapat berusaha melawan Panembahan Agung sejauh dapat mereka lakukan.

Namun sebelum mereka melangkahkan kaki mereka, terdengar suara lemah di belakang mereka, “Kalian tidak usah menyingkir ke mana pun.”

Serentak mereka berpaling. Dan mereka pun merasa seolah-olah telah terlepas dari mulut seekor harimau yang paling ganas. Mereka melihat Ki Waskita telah mengangkat wajahnya meskipun ia masih duduk bersila.

“Ki Sumangkar,” berkata Ki Waskita, “kau tidak usah cemas lagi terhadap Panembahan Agung. Meskipun ia masih tetap hidup tetapi ia tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Ia telah kehilangan sebagian besar dari dirinya sendiri. Ia sudah tidak dapat memancarkan ilmunya yang dahsyat itu lagi. Di dalam keadaan yang terakhir, kita berjuang untuk saling menghancurkan sumber ilmu yang ada di dalam diri kita masing-masing, bukan bentuk jasmaniah ini meskipun siapa yang menang akan dengan mudah dapat menjadikan bentuk jasmaniah ini menjadi debu.”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Sejenak ia memandang Panembahan Agung yang masih juga memandang ke arahnya dan anak-anak muda yang berdiri di sekitarnya.

Namun tiba-tiba Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Baru kini ia sadar, bahwa tatapan mata Panembahan Agung itu bagaikan tatapan sebutir batu hitam. Tanpa sorot dan tanpa lukisan kehendak sama sekali.

Tiba-tiba saja Sumangkar menjadi ngeri. Seakan-akan ia melihat sebuah sumur yang sudah mati, namun dalamnya tidak dapat dijajagi. Dalam sekali tanpa dasar, namun kosong.

Agaknya anak-anak muda. yang ada di sekitarnya pun menangkap keadaan itu pula, sehingga Pandan Wangi yang meremang di seluruh tubuhnya bergeser mendekatinya sambil berdesis, “Kiai, apakah yang sebenarnya terjadi?”

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Sambil memandang Panembahan Agung ia berkata, “Ia telah kehilangan segala-galanya yang ingin ia miliki di dunia ini. Ilmunya, kedudukannya, dan kini dirinya sendiri.”

Pandan Wangi bergeser semakin mendekati Sumangkar. Meskipun ia prajurit di medan perang, tetapi kesan yang ditangkapnya pada Panembahan Agung agak berbeda. Semula ia sudah siap untuk pergi memencar dan berjuang seorang demi seorang. Tetapi kini justru ia menjadi ngeri dan seakan-akan ia ingin berlindung di belakang Sumangkar yang telah mengalami luka-luka.

Dalam pada itu, perlahan-lahan Ki Waskita pun berdiri pula. Dengan kening yang berkerut ia melangkah mendekati Panembahan Agung yang masih duduk sambil memandang berkeliling. Seakan-akan ia menjadi heran melihat alam yang gumelar di sekitarnya.

Ketika Ki Sumangkar melangkah mengikutinya, Pandan Wangi pun ikut pula di belakangnya diiringi oleh anak-anak muda yang lain.

Beberapa langkah di hadapan Panembahan Agung, Ki Waskita pun berdiri tegak. Kemudian sambil membungkukkan kepalanya ia bertanya, “Apa kabar, Panembahan?”

Panembahan Agung memandanginya sejenak, lalu terdengar ia bertanya. Namun Ki Sumangkar dan anak-anak muda itu terkejut mendengar suaranya yang tidak ubahnya suara seorang tua yang sudah pikun, “Kau siapa, he?”

“Panembahan, apakah Panembahan tidak mengenali aku lagi? Aku Jaka Raras.”

“Jaka Raras,” Panembahan Agung mengingat-ingat. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Siapakah Jaka Raras itu?”

“Aku Panembahan.”

“Kenapa kau panggil aku Panembahan.”

“Bukankah kau menyebut dirimu Panembahan Agung?”

Panembahan Agung itu mengangkat alisnya, lalu, “Aku tidak mengerti.”

“Baiklah. Jika kau tidak mengenal lagi dirimu sebagai Panembahan Agung, biarlah aku memanggilmu Gantar, yang kemudian kau lengkapi namamu menjadi Gantar Angin. Kau ingat.”

“Ya, ya. Aku adalah Gantar Angin.”

“Dan aku adalah Jaka Raras.”

“Jaka Raras,” orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengingat-ingat. Lalu, “O, aku ingat sekarang. Kau Jaka Raras. Ya, Jaka Raras yang dungu itu.” Terdengar suara orang itu tertawa terkekeh-kekeh. Suara tertawa seorang tua.

Namun tiba-tiba suara tertawanya terhenti. Sambil mengerutkan keningnya ia berdesis, “Jaka Raras. Ya, kita pernah berguru bersama.”

“Benar. Kau sudah menemukan permulaan dari kesadaranmu. Cobalah, kau telusuri ingatan itu, sehingga kau tentu akan menemukan keadaanmu sekarang, sebagai seorang Panembahan yang menyebut dirinya Panembahan Agung.”

Orang yang menyebut dirinya Panembahan Agung itu termenung sejenak. Ia masih tetap duduk bersila di atas sebuah amben kecil. Sekali-sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan tangannya yang lemah ia mencoba mengusap keningnya yang sudah menjadi kehitam-hitaman.

Tetapi, ketika kulitnya bersinggungan, Panembahan Agung itu menyeringai menahan sakit.

“O,” Pandan Wangi semakin bergeser di belakang Sumangkar. Ia menjadi bertambah ngeri melihat keadaannya. Rasa-rasanya ia benar-benar menghadapi sesosok mayat yang hidup kembali.

“Jaka Raras,” berkata Panembahan Agung, “di manakah aku sekarang ini berada?”

“Jangan kau cari di mana kau sekarang. Telusurilah kenanganmu sejak kita bersama-sama berguru.”

Panembahan Agung tidak segera menjawab. Dengan ingatannya yang gelap ia mencoba mengenang semua yang telah terjadi atas dirinya.

“Gantar Angin,” berkata Jaka Raras, “mulailah dari nama itu.”

Panembahan Agung mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku sedang mencoba. Tetapi aku rasa, aku tidak akan berhasil.”

“Kau akan berhasil,” sahut Jaka Raras, “kau telah mendapatkan ilmu yang tidak ada taranya. Ilmu yang dapat menciptakan bentuk-bentuk semu, kemudian ilmu yang dapat kau pergunakan untuk membakar gunung dan memecahkan batu-batu hitam sebesar kerbau dengan tatapan matamu. Dan kau mempunyai sebuah busur yang besar sekali yang tidak setiap orang dapat mempergunakan.”

“O,” Gantar Angin yang kemudian menyebut dirinya Panembahan Agung itu mengangguk-angguk kecil.

“Nah, bukankah kau sudah menemukan.”

“Kau benar,” tiba-tiba Panembahan Agung itu mengangkat wajahnya. Sambil memandang Jaka Raras ia berkata, “Aku memiliki ilmu itu, ilmu yang dapat membakar gunung. He, apakah kau akan menghalang-halangi aku? Jaka Raras, aku ingat semuanya. Aku memiliki ilmu untuk menciptakan bentuk-bentuk semu. Nah, malanglah nasibmu. Aku akan membakarmu dengan ilmuku.”

“Panembahan,” berkata Jaka Raras, “kau belum selesai. Ingatanmu baru merambat sampai saat kau mendapatkan ilmu itu.”

“Aku tidak peduli. Aku mempunyai firasat bahwa kau berniat buruk. Karena itu kau harus mati.”

Panembahan Agung itu memandang Jaka Raras dengan tajamnya.

“Jangan kau siksa dirimu dengan kenangan itu. Jika kau menyadari kenyataanmu, dan jika kau berhasil menemukan dirimu saat ini, kau akan mengetahui, bahwa ilmumu sudah punah semuanya.”

Mata Panembahan Agung terbelalak. Dan tiba-tiba saja ia memandang ke dirinya sendiri.

“Panembahan Agung. Kau adalah Panembahan Agung. Tetapi kau bukan lagi Panembahan Agung seperti pada saat kau menyebut dirimu demikian.”

“He,” mata Panembahan Agung itu terbelalak, “jadi ilmuku sudah punah? He, siapakah yang sudah memunahkan ilmuku. Tidak mungkin. Hanya gurukulah yang dapat melakukannya. Tidak orang lain. Tidak ada ilmu yang dapat menyingkirkan ilmuku dari diriku.”

“Gantar Angin,” berkata Jaka Raras, “kita bersama telah menerima bagian dari ilmu guru. Meskipun kau mendapat kesempatan lebih banyak, tetapi setelah guru tidak ada lagi, aku berhasil menyempurnakan ilmuku sehingga mendekati kemampuan guru. Dan aku, seperti juga kau, tentu akan dapat melakukannya. Memunahkan ilmu itu. Kita telah bertempur untuk berusaha saling membakar dan memunahkan ilmu kita masing-masing. Dan karena usahaku aku landasi dengan keyakinan bahwa aku benar, maka aku berani mohon kepada Tuhan agar menolongku di dalam puncak perjuanganku. Ternyata aku berhasil.”

“O, gila kau Jaka Raras. Aku mempelajari ilmu itu bertahun-tahun. Kini kau khianati aku. Kau khianati aku,” Panembahan Agung itu tiba-tiba berteriak keras sekali sehingga suaranya seakan bergema memenuhi lembah dan tebing-tebing pegunungan, meskipun ia tidak mampu lagi melontarkan suara di luar jangkauan getaran tenggorokannya seperti yang pernah dapat ia lakukan.

“Sudahlah, Panembahan. Sadarilah bahwa hukuman Tuhan telah datang.”

“Persetan. Aku tidak mau. Kembalikan ilmuku itu, kembalikan,” Panembahan itu berteriak-teriak.

“Sadarlah, kau bukan anak-anak lagi.”

“Tidak, tidak. Kembalikan, kembalikan,” Panembahan itu menjerit. Namun tiba-tiba suaranya terputus. Sejenak Panembahan Agung itu jatuh terkulai. Namun sejenak kemudian ia pun bangkit kembali perlahan-lahan.

Wajahnya masih tetap kehitam-hitaman. Tetapi justru menjadi semakin mengerikan ketika Panembahan Agung itu justru tertawa, “Ha, akulah manusia yang paling sempurna di muka bumi. Aku adalah satu-satunya orang yang memiliki ilmu yang dahsyat, yang mampu membakar gunung dan memecahkan batu hitam sebesar kerbau. Aku pulalah yang dapat menciptakan apa pun juga yang aku kehendaki.”

“Panembahan,” Jaka Raras mengerutkan keningnya.

Panembahan Agung tertawa semakin keras, semakin keras sehingga tubuhnya yang lemah itu menjadi terguncang-guncang.

“Panembahan, sadarilah keadaanmu.”

Suara tertawanya justru semakin keras. Sambil berteriak ia menengadahkan tangannya, “Aku adalah manusia yang paling sempurna. Aku akan menghancurkan semua negeri yang ada di muka bumi. Akulah penguasa tunggal alam semesta. Aku adalah yang Maha Kuasa di atas bumi.”

Ki Waskita yang juga disebut Jaka Raras itu mundur selangkah. Wajahnya menjadi tegang. Demikian pula agaknya Ki Sumangkar dan anak-anak muda yang ada di sebelahnya.

“Panembahan,” desis Jaka Raras.

“Pergi, pergilah kalian. Jangan ganggu aku lagi. Atau aku harus membakar kalian menjadi abu?”

“Semuanya sudah lampau, Panembahan. Sebaiknya Panembahan melanjutkan selangkah lagi. Panembahan belum sampai pada ujung penjelajahan kenangan masa lampau itu.”

Panembahan Agung mengerutkan keningnya. Namun ia kemudian tertawa lagi, “Persetan. Jangan mencoba menghasut. Jika kau ingin hidup, pergilah.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak dapat menolong lagi goncangan jiwa Panembahan Agung yang agaknya telah menghancurkan nalarnya, sehingga ia tidak lagi dapat mengendalikan gejolak perasaannya.

“Pergi, pergi. Aku akan menghancurkan Mataram. Aku akan menghancurkan Demak yang sudah bergeser ke Pajang itu. Aku akan menghancurkan kekuasaan para Adipati di pasisir dan Bang Wetan. Semuanya, semuanya. Dan aku adalah penguasa tunggal di atas bumi.”

Jaka Raras hanya dapat memandanginya saja ketika Panembahan Agung berusaha untuk meloncat bangkit. Sambil berteriak mengerikan ia menolak kenyataan tentang dirinya yang sebenarnya lumpuh.

Tetapi Panembahan Agung sama sekali tidak mempunyai kekuatan lagi. Ilmunya sudah punah dan kekuatan jasmaniahnya pun telah hampir punah sama sekali.

Karena itulah, maka hentakan kekuatan yang dipaksakannya itu ternyata telah merampas semua yang tersisa padanya. Seperti sebatang pohon pisang, Panembahan Agung roboh di tanah. Nafasnya menjadi terengah-engah, dan wajahnya yang hitam menjadi semakin hitam.

Perlahan-lahan Ki Waskita mendekatinya. Sambil berjongkok di samping tubuh Panembahan Agung ia berkata, “Panembahan, sebaiknya kau menyadari dirimu. Marilah, ikutlah aku.”

“Aku adalah orang yang paling berkuasa. Jangan memerintah aku.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam.

“He kau dengar, bukankah aku orang yang paling berkuasa di muka bumi.”

Hampar di luar sadarnya tiba-tiba saja Ki Waskita mengangguk, “Ya, Panembahan.”

“Nah, bersujudlah.”

“Ya, Panembahan.”

“Akuilah bahwa aku mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas atas manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan di muka bumi.”

“Ya, Panembahan.”

Panembahan Agung memandang Ki Waskita sejenak. Perlahan-lahan ia menggeliat. Ketika terpandang olehnya wajah Ki Waskita yang sedang mengangguk-anggukkan kepalanya, maka tiba-tiba ia pun tersenyum sambil berdesis, “Bagus, akulah yang Maha Kuasa itu.”

Ki Waskita tidak sempat menjawab. Tiba-tiba saja kepala Panembahan Agung itu terpejam untuk selama-lamanya.

Perlahan-lahan Ki Waskita bergeser surut. Diusapkan kening Panembahan Agung yang menjadi dingin.

“Ia sudah meninggal,” desisnya.

Ki Sumangkar diikuti oleh Agung Sedayu, Swandaru, dan Sutawijaya mendekatinya. Tetapi Pandan Wangi masih tetap berdiri di kejauhan. Ia tidak berani memandang wajah dan tubuh Panembahan Agung, yang mengerikan baginya itu.

“Ia tetap pada pendiriannya sampai saat matinya,” desis Ki Waskita. “Ia bertahan pada jalannya yang sesat tanpa setitik terang pun sampai ia harus kembali kepada Yang Maha Pencipta.”

“Mengerikan sekali,” tiba-tiba Agung Sedayu berdesis.

Sutawijaya menundukkan kepalanya. Panembahan Agung adalah gambaran orang yang tetap mengeraskan hatinya sampai saat pengadilan yang abadi itu tiba. Dan ia tidak akan sempat lagi untuk menyesali segenap kesalahan dan mohon ampun kepada Yang Maha Pengasih.

Rasa-rasanya semua pintu telah tertutup baginya, bagi orang yang tidak mengindahkan kasih dan pengampunan-Nya.

Ki Waskita pun kemudian berdiri. Dipandanginya orang-orang yang terikat pada batang-batang pohon sambil menahan segala macam pergolakan di dalam hati. Panembahan yang mereka sangka tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun juga itu, akhirnya terbunuh di peperangan

“Ki Sanak,” berkata Ki Waskita, “Panembahan Agung telah mati. Ia adalah orang yang memiliki ilmu tanpa tanding. Tetapi ia memilih jalan sesat. Kalian yang selama ini mengaguminya dan percaya kepadanya, kini melihat kenyataan, bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna di muka bumi.” Ki Waskita berhenti sejenak. “Nah, yang dapat kalian lakukan kemudian adalah menguburnya dan mengubur kawan-kawanmu yang terbunuh. Berilah pertanda pada kuburannya, panembahan yang pernah menggoncangkan dunia.”

Orang-orang itu tidak menyahut. Tetapi mereka dengan sepenuh hati menguburkan Panembahan Agung setelah ikatan mereka dilepaskan. Salah seorang dari mereka pun kemudian menemukan sebatang pohon nyamplung yang baru tumbuh dan memindahkannya di atas kuburan Panembahan Agung itu, sehingga apabila pohon nyamplung itu kelak dapat tumbuh dan menjadi sebesar gumuk kecil yang berada di lereng bukit, maka akan dapat dikenal, bahwa di tempat itulah Panembahan Agung dikuburkan, tanpa setetes pengampunan atas segala dosa-dosanya.

Demikianlah, setelah penguburan Panembahan Agung dan korban-korban yang lain telah selesai, maka mereka pun segera kembali kepada induk pasukan yang sedang menunggu. Swandaru berjalan di paling depan sambil menolong Ki Sumangkar yang terluka. Sedang dibelakangnya Pandan Wangi melangkah sambil menundukkan kepalanya. Beberapa orang tawanan mengikutnya dengan hati yang kosong. Mereka sama sekali tidak dapat membayangkan, apakah yang akan dapat terjadi atas diri mereka. Dan di belakang mereka berjalan Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Ki Waskita.

Sutawijaya sekali-sekali menarik nafas dalam-dalam. Yang terjadi adalah peristiwa yang sangat gawat bagi Mataram. Jika tidak secara kebetulan ia pergi bersama Ki Waskita dan pasukan pengawal terpilih dari Menoreh, maka ia tidak akan dapat menyelesaikan tugas itu. Bahkan mungkin hanya tinggal namanya sajalah yang akan diucapkan oleh orang-orang Mataram, sebagai seorang pahlawan yang mengorbankan diri sebagai bebanten berdirinya Tanah Mataram. Atau dengan demikian ayahnya akan menjadi sangat kecewa dan melepaskan niatnya untuk mendirikan sebuah negeri yang ramai. Mataram akan terbengkelai, dan akhirnya benar-benar jatuh ke tangan orang-orang yang gila itu.

Tetapi bagi Sutawijaya, peristiwa ini bukan akhir dari perjuangannya untuk menegakkan Mataram. Ia yakin bahwa di Pajang masih ada beberapa orang yang memiliki kelebihan di dalam berbagai bidang, yang tidak senang melihat Mataram tumbuh dan menjadi kuat. Mereka tentu akan melakukan apa saja yang dapat mereka usahakan untuk menghancurkan Ki Gede Pemanahan.

“Persetan dengan mereka,” berkata Sutawijaya di dalam hatinya, “pada suatu saat aku akan menemukan mereka. Ayahanda Sultan Pajang akan mengetahui, siapakah sebenarnya yang telah menggali jarak antara Pajang dan Mataram.”

Namun tiba-tiba dada Sutawijaya terguncang. Hampir di luar kemampuannya untuk menolak, telah hadir pula di dalam angan-angannya wajah seorang gadis cantik dari Kalinyamat itu.

“Persetan,” sekali lagi ia berdesis.

Namun ia akhirnya gagal untuk mengusir kegelisahan di hatinya itu. Ia tidak akan dapat ingkar, jika seandainya ia dihadapkan pada gadis itu.

“Tetapi, apakah benar-benar ia mengandung?” pertanyaan itu telah mengguncangkan dadanya. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia berkata kepada diri sendiri, “Mudah-mudahan tidak. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu akibat dari kekhilafan itu.”

Meskipun demikian Sutawijaya tidak dapat mengingkari, bahwa rahasia itu tentu sudah tersebar. Jika Daksina berhasil mengetahui rahasia itu, maka para pemimpinnya di Pajang pun pasti telah mengetahuinya pula. Bukannya aneh jika kekhilafan itu akhirnya akan didengar pula oleh ayahandanya

Baik ayahanda angkatnya, Sultan Pajang, maupun ayahandanya sendiri, Ki Gede Pemanahan.

Raden Sutawijaya berusaha mengusir angan-angan itu dengan menggeretakkan giginya. Bahkan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Untunglah bahwa orang-orang yang berjalan di sekitarnya tidak memperhatikannya, karena mereka sedang sibuk dengan persoalan mereka masing-masing.

Kedatangan mereka di induk pasukannya disambut dengan perasaan lega, setelah beberapa lamanya pasukan itu dicengkam oleh kegelisahan. Rudita pun kemudian berlari-larian mendapatkan ayahnya dan seperti seorang kanak-kanak yang baru pandai berjalan, ia menangis terisak-isak.

“Rudita,” berkata ayahnya, “lihatlah. Kawan-kawan sebayamu tidak menangis seperti kau meskipun mereka mengalami peristiwa yang barangkali lebih dahsyat dari yang kau alami.”“

Rudita menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak merengek seperti biasanya. Matanya yang redup memandang ke kejauhan, seakan-akan menggapai-gapai mencari persoalan di dalam dirinya sendiri yang tidak dapat diketemukannya selama ini di dalam dirinya itu.

“Memang ada kelainan pada diri ini dengan anak-anak muda sebayaku,” tiba-tiba saja terbersit perasaan itu di dalam dadanya.

Tetapi Rudita hanya menarik nafas dalam-dalam. Ia mulai menyadari bahwa dirinya berbeda dengan Agung Sedayu, dengan Swandaru, Prastawa, dan apalagi Sutawijaya.

Sementara itu, Pasukan dari Mataram dan Menoreh itu pun mempersiapkan diri dan berkemas. Setelah beristirahat secukupnya mereka harus segera kembali ke tempat masing-masing.

Di malam hari, lembah itu bagaikan dunia yang senyap dan terpisah dari dunia yang lain. Gelap pekat dan sunyi. Suara malam bagaikan lagu yang sangat asing menyentuh relung-relung hati yang paling dalam.

Meskipun para pengawal menyadari bahwa peperangan yang aneh itu sudah selesai, namun hampir tidak seorang pun dari mereka yang sempat tidur dengan nyenyak. Berbagai bayangan mengganggu angan-angan mereka. Bahkan kadang-kadang mereka seakan-akan melihat bentuk-bentuk semu yang mengerikan di dalam gelapnya malam.

Ketika angin lembut mengusap tubuh mereka, terasa malam menjadi dingin. Dingin, sepi, tetapi mengerikan.

Di lewat tengah malam para pengawal itu terkejut mendengar suara anjing liar menyalak di kejauhan. Melolong-lolong, seperti hantu-hantu yang buas mencium bau mayat yang berserakan, yang terlampaui tidak diketemukan oleh kawan-kawannya dan karena itu tidak dikuburkan.

Lembah itu rasa-rasanya bagaikan neraka yang dingin beku, tetapi melampaui panasnya bara api kayu mlandingan.

Setiap orang mengharap agar mereka segera terlepas dari belenggu yang menegangkan itu. Setiap kali mereka selalu memandang batas langit di ujung sebelah Timur.

Ketika seorang pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh tidak dapat menahan lagi kesepian yang mencengkam, ia mencoba untuk bangkit dan melangkah hilir-mudik di antara beberapa orang kawannya yang terbaring membujur lintang. Namun hatinya menjadi bergetar ketika ia mendengar di kejauhan terdengar suara burung kadasih. Perlahan-lahan ia kembali duduk dan merayap ke atas rerumputan yang telah dibuatnya menjadi pembaringannya.

“Kau ngeri mendengar suara burung itu?” tiba-tiba saja terdengar kawannya yang berbaring di sampingnya bertanya. Meskipun suaranya lambat sekali, namun pengawal yang gelisah itu terkejut bukan buatan, sehingga hampir saja ia melonjak.

“Kau mengejutkan aku,” desah pengawal yang terkejut itu.

“Aku hanya berbisik,” jawab kawannya.

Pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kesepian yang memuncak itu telah membuat setiap hati menjadi semakin mudah tersentuh.

Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Swandaru mendengarkan suara burung kedasih itu dengan hati yang semakin gelisah. Suara burung kedasih bagi mereka mempunyai arti tersendiri. Beberapa kali mereka pernah mendengar suara burung kedasih sebagai pertanda yang khusus dari anak buah orang yang ternyata menyebut dirinya Panembahan Agung itu.

Namun setelah mereka mendengarkan suara burung itu dengan saksama, disusul oleh suara burung kedasih yang lain di kejauhan, maka mereka pun yakin bahwa yang didengarnya itu adalah benar-benar suara burung kedasih.

“Kau mendengar suara burung itu?” bertanya Agung Sedayu berbisik.

Swandaru mengangguk lemah. Katanya, “Tetapi agaknya suara itu benar-benar suara seekor burung.”

“Ya. Memang agak berbeda. Tetapi agaknya di daerah ini memang banyak burung kedasih. Bahkan mungkin daerah ini merupakan sarang sekelompok besar burung kedasih, sehingga menimbulkan gagasan bagi Panembahan Agung untuk mempergunakan suara burung itu sebagal suatu isyarat tertentu.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi suara burung kedasih yang ngelangut itu masih saja menggelitik hatinya.

Namun keduanya tidak lagi membicarakannya. Keduanya mencoba untuk mempergunakan sisa malam itu untuk benar-benar beristirahat meskipun mereka sama sekali tidak dapat tertidur sekejap pun.

Di antara mereka yang tidak dapat tertidur terdapat Rudita. Malam baginya benar-benar merupakan malam yang dahsyat. Setiap kali ia terkejut mendengar desir daun yang terlepas dari tangkainya dan jatuh di tanah.

Namun dalam pada itu, Rudita sempat melihat kepada dirinya sendiri. Pengalamannya telah menimbulkan persoalan yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Tetapi pengalaman itu ternyata telah memacunya untuk berpikir lebih dewasa. Ia merasa, bahwa sebenarnyalah ia bukan lagi kanak-kanak yang dapat bermanja-manja kepada setiap orang. Memang ayah dan ibunya akan berusaha untuk dapat mengerti perasaannya, tetapi tentu tidak bagi orang lain. Jika orang lain mencoba mengertinya, maka tentu dalam batas-batas yang jauh lebih sempit dari ayah dan ibunya sendiri.

Dalam pada itu, mereka yang mendapat perintah untuk melihat kuda-kuda mereka yang terikat, merasa jauh lebih sepi lagi dari kawan-kawannya, yang ada di dalam pasukan. Beberapa orang yang berada di daerah terpisah, di antara sekelompok kuda yang tertidur sambil terikat pada batang-batang pohon, merasa diri mereka selalu terancam bahaya. Mereka belum mengerti akhir dari pertempuran yang terjadi di depan padepokan Panembahan Agung, sehingga karena itu, mereka masih tetap dibayangi oleh kecemasan bahwa para pengawal dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh akan mengalami kegagalan.

Kecemasan dan kegelisahan yang mencengkam hati mereka, membuat mereka selalu berjaga-jaga sepanjang malam. Senjata mereka sama sekali tidak terlepas dari tangan. Apa pun yang sedang mereka lakukan, maka mereka tetap menggenggam senjata telanjang.

Ketika cahaya kemerah-merahan mulai membayang di langit sebelah Timur, maka rasa-rasanya setiap orang yang berada di lembah itu mulai dijalari oleh ketenangan. Rasa-rasanya darah yang seakan-akan telah membeku di malam hari, mulai mengalir lagi perlahan-lahan di seluruh tubuh.

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s