ADBM1-078

<<kembali | lanjut >>

Mohon maaf, kami tidak memiliki cover jilid 78 ini

———-oOo———-

KI LURAH Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah menduga sebelumnya. Meskipun demikian, pengakuan Raden Sutawijaya itu telah menggetarkan dadanya. Hubungan antara Raden Sutawijaya dengan seorang gadis yang dikehendaki oleh Sultan Pajang, tentu akan menimbulkan persoalan yang sangat rumit, justru pada saat Mataram sedang tumbuh dan berkembang menjadi suatu negeri yang ramai.

“Paman,” berkata Sutawijaya kemudian, “aku mengerti bahwa keteranganku ini mengguncangkan kepercayaan Paman kepadaku. Baik sebagai seorang anak muda yang selama ini dianggap sebagai seorang pemimpin oleh orang-orang Mataram maupun sebagai putera angkat Ayahanda Sultan Pajang sendiri.”

Ki Lurah Branjangan tidak segera menanggapinya. Terasa sesuatu bergetar di dalam dadanya. Memang ada semacam tuntutan terhadap tingkah laku Raden Sutawijaya itu. Karena dengan demikian, maka semua perjuangan bagi berkembangnya Mataram selama ini menjadi pudar. Kemarahan Sultan Pajang dalam saat semacam ini benar-benar tidak menguntungkan. Di saat Mataram sedang menghadapi kesulitan yang berturut-turut telah menghambat perkembangannya.

“Ki Lurah, Ki Lurah,” desis Raden Sutawijaya, “kenapa kau diam saja? Apakah kau lebih dahulu telah menjatuhkan hukuman atasku dengan sikap diammu itu? Dan dengan demikian kau ingin menunjukkan bahwa kau telah membenciku, menganggap aku seorang anak muda yang liar dan tidak berkesopanan sama sekali? Jika demikian, sebaiknya Paman mengatakannya. Aku tidak akan marah. Aku akan menerima semua caci dan maki dari siapa pun juga.” Raden Sutawijaya terdiam sejenak, lalu, “Tetapi apakah yang dapat aku katakan kepada Ayahanda Ki Gede Pemanahan.”

Tiba-tiba saja Ki Lurah Branjangan menjadi iba kepada anak muda yang sedang menyesali kesalahannya itu. Sejenak Ki Lurah Branjangan memalingkan wajahnya ke sekitarnya. Ketika ternyata bahwa tidak ada seorang pun yang duduk di dekat mereka, maka ia pun berkata, “Raden, semuanya telah terjadi. Apa pun alasannya, namun hal itu sudah terjadi.”

“Ya, Paman, dan aku mengetahui bahwa aku tidak akan dapat mencari alasan apa pun untuk mengurangi kesalahanku.”

“Begitulah. Tetapi agaknya jalan yang paling baik bagi Raden sekarang adalah berterus terang. Berterus terang kepada Ki Gede Pemanahan. Apa pun yang akan terjadi kemudian, memang tidak akan dapat dihindari dan apalagi dengan sengaja mengelakkan diri dari pertanggungan jawab.”

“Apa yang Paman maksud dengan pertanggungan jawab? Apakah aku harus menghadap Ayahanda Sultan dan mohon untuk memperisteri gadis itu? Apakah dengan demikian aku tidak akan segera ditangkap dan dipenggal leherku?”

“Bukan begitu maksudku, Raden. Bertanggung jawab terhadap persoalan ini berarti, Raden harus bersedia melakukan perintah apa pun juga dari ayahanda Ki Gede Pemanahan.”

“Jika Ayahanda memerintahkan aku menghadap Ayahanda Sultan?”

“Apa boleh buat.”

“Tidak, Paman. Aku tidak dapat menghadap Ayahanda Sultan saat ini. Bukan karena aku takut menghadapi hukuman apa pun yang akan dijatuhkan atasku karena aku sudah menodai gadis yang akan diambilnya menjadi isterinya. Tetapi aku merasa bahwa belum saatnya aku menghadap. Mataram masih belum berbentuk. Aku sudah berprasetia, bahwa aku tidak akan menghadap Ayahanda Sultan sebelum aku berhasil menjadikan Alas Mentaok menjadi sebuah negeri. Pada saat itu, para pemimpin di Pajang seakan-akan telah menghinakan aku dan Ayahanda Ki Gede Pemanahan, bahwa kami tidak akan berhasil membuka Alas Mentaok dan membuat suatu negeri yang ramai. Karena itu maka aku tidak akan menghadap dan bertemu muka dengan para pemimpin pajang sebelum aku dapat menengadahkan dadaku dan berkata, ‘Bahwa Alas Mentaok telah menjadi sebuah negeri yang patut dihitung di dalam percaturan pemerintahan di Pajang’.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk kecil. Katanya kemudian, “Itulah sulitnya, Raden. Sebenarnya aku sependapat, bahwa sebaiknya Raden tidak usah datang ke Pajang apa pun alasannya. Tetapi persoalan yang satu ini agaknya telah menambah segala macam sikap dan tekad kita.”

Raden Sutawijaya menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia bergumam seakan-akan kepada diri sendiri, “Aku telah mengkhianati perjuanganku sendiri. Kini aku berdiri di atas kesulitan yang hampir tidak terpecahkan.”

“Sudahlah, Raden,” berkata Ki Lurah Branjangan kemudian, “sebaiknya Raden tidak hanyut dalam persoalan yang satu itu saja. Masih banyak persoalan yang harus dihadapi. Karena itu, sebaiknya Raden menabahkan hati. Raden harus menghadap ayahanda Ki Gede Pemanahan secepatnya. Kemudian Raden akan mendengarkan keputusan yang akan diambil oleh ayahanda. Apa pun sumpah dan prasetia yang sudah Raden ucapkan, namun kadang-kadang kita harus menelan ludah sendiri untuk tujuan yang lebih besar.”

“Tetapi itu bukan sifat kesatria Ki Lurah. Aku tidak mau. Yang sudah aku ucapkan adalah ucapan kesatria. Aku tidak akan menelan ludah sendiri apa pun akibatnya.”

“Raden benar. Tetapi Raden sendiri sudah melangkahkan kaki Raden melintasi pagar ayu yang dihormati oleh para kesatria. Sehingga akibatnya menuntut agar Raden melepaskan sikap kesatria yang lain lagi.”

“O,” Raden Sutawijaya menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Namun yang terdengar kemudian adalah gemeretak gigi.

Ki Lurah Branjangan dapat mengerti, betapa hati Raden Sutawijaya diombang-ambingkan oleh kebimbangan yang dahsyat. Tetapi bagi Ki Lurah Branjangan, tidak ada jalan lain daripada segera menyelesaikan masalah yang satu itu.

“Raden Sutawijaya sudah bertekad untuk menjadikan Mataram sebuah negeri,” berkata Ki Lurah Branjangan di dalam hatinya, “tetapi jika tidak diketemukan penyelesaian yang baik maka Mataram yang sedang berkembang ini akan segera pecah berserakan.” Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam sambil memandang Raden Sutawijaya yang kini memandang ke kejauhan menembus gelapnya malam. Dan Ki Lurah itu pun berkata kepada diri sendiri lebih lanjut, “Ki Gede Pemanahan harus berusaha menemukan jalan itu. Ia adalah orang yang disegani oleh Sultan Pajang, sehingga kemungkinan yang paling besar untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik adalah Ki Gede Pemanahan. Mungkin Ki Gede Pemanahan dapat mencarikan gantinya atau syarat-syarat lain yang dikehendaki oleh Sultan Pajang.”

Tetapi Ki Lurah Branjangan tidak sampai hati mengatakannya kepada Raden Sutawijaya. Jika kelak ia sampai di Mataram dan menghadap Ki Gede Pemanahan, maka ia akan menyampaikannya langsung kepadanya.

Dalam pada itu maka Raden Sutawijaya pun kemudian berdiri dan berjalan hilir-mudik. Kegelisahan yang sangat nampak pada sikapnya. Sekali-sekali ia berhenti, seakan-akan ingin mengatakan sesuatu. Namun kata-kata itu ditelannya kembali di kerongkongannya.

“Sebaiknya Raden beristirahat,” berkata Ki Lurah Branjangan, “bahkan jika mungkin Raden tidur sekejap untuk menyegarkan tubuh Raden. Biarlah para petugas berjaga-jaga mengawasi keadaan. Aku kira, Alas Mentaok menjadi semakin aman setelah Panembahan Agung tidak ada lagi. Jika anak buahnya yang masih berserakan masih saja melakukan kegiatan, semata-mata terdorong oleh dendam atau barangkali sekedar mencari makan. Tetapi mereka tidak lagi mempunyai pegangan yang terarah bagi kegiatannya itu.”

Raden Sutawijaya yang gelisah itu mengangguk kecil. Katanya, “Aku akan mencoba, Paman. Jika Paman ingin beristirahat, silahkanlah.”

Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya, lalu katanya, “Baiklah, Raden. Aku akan mencoba untuk tidur barang sejenak. Besok pagi kita memasuki kota Mataram yang sedang kita bangun itu dengan tubuh yang segar.”

Tanpa menunggu jawaban Sutawijaya, Ki Lurah Branjangan pun kemudaan mencari tempat yang mapan untuk membaringkan dirinya. Tanpa alas selain rerumputan yang kering.

Sutawijaya sendiri pun kemudian duduk bersandar sebatang pohon. Meskipun sambil bersandar, namun ia mencoba memejamkan matanya juga untuk melupakan kegelisahannya barang sejenak.

Tetapi rasa-rasanya terbayang wajah gadis Kalinyamat yang muram dan basah oleh air mata, wajah Ayahanda Ki Gede Pemanahan yang penuh penyesalan dan wajah Ayahanda Sultan Pajang yang merah darah karena marah.

Sekali-sekali terdengar Raden Sutawijaya berdesah. Ayahanda Sultan Pajang adalah orang yang tidak terlawan. Di dalam dirinya terkumpul beberapa puluh macam aji yang menurut orang-orang yang mengenal dari dekat sejak masa mudanya memiliki kelebihannya masing-masing. Bahkan beberapa orang berpendapat bahwa di seluruh Pajang tidak ada orang yang menyimpan ilmu dan aji sebanyak yang dimiliki oleh Sultan Pajang. Sejak ia masih kanak-kanak, ia sudah mengelilingi seluruh pulau Jawa dan berguru hampir kepada setiap orang yang sakti, sehingga ia berhasil mempelajari dan kemudian menguasai aji Lebur Seketi, Welut Putih, Tameng Waja, Sepi Angin, Lembu Sekilan, dan masih banyak lagi. Itulah sebabnya maka ketika Arya Penangsang ingin menyingkirkan saudara-saudara sepupunya untuk menguasai tahta Demak, termasuk Adipati Pajang pada waktu itu, meskipun utusannya berhasil memasuki bilik tidur Adipati Pajang, namun senjatanya sama sekali tidak melukainya. Berkali-kali orang-orang yang sudah berada di dalam biliknya selagi Adipati Pajang masih tertidur nyenyak itu berusaha membunuhnya. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan ketika Adipati Pajang itu menyingkapkan selimutnya dan menyentuh utusan itu, maka utusan-utusan itu pun menjadi pingsan karenanya, sehingga keduanya dengan mudahnya dapat ditangkap, dan kemudian disadap keterangannya.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Memang terlintas di dalam kepalanya, jika hal itu akan menjadi dinding pemisah antara Pajang dan Mataram, maka apa boleh buat. Namun setiap kali ia sadar bahwa Ayahanda Adipati Pajang yang kemudian mengangkat dirinya menjadi Sultan Pajang itu adalah orang yang tidak terlawan, maka hatinya menjadi berdebar-debar. Bukan karena dirinya sendiri, tetapi karena ia tentu akan gagal membangun Mataram menjadi sebuah negeri. Dan kegagalannya itu akan memberikan kepuasan kepada beberapa orang yang sejak semula tidak percaya bahwa ia akan dapat membuka Alas Mentaok dan membuatnya menjadi suatu negeri.

“Tentu orang-orang itu pulalah yang telah mengirimkan Daksina kepada Panembahan Agung untuk bergabung dengan orang yang luar biasa itu,” berkata Sutawijaya di dalam dirinya sendiri.

Dan tiba-tiba saja hampir di luar sadarnya ia memperbandingkan Sultan Pajang dengan Panembahan Agung.

“Ayahanda Sultan memiliki ilmu yang lengkap. Yang kasat mata dan yang tidak kasat mata. Aku kira Ayahanda Sultan Pajang masih berada di atas Panembahan Agung meskipun hanya selapis tipis. Dan dengan demikian, apakah yang dapat aku lakukan jika Ayahanda Sultan benar-benar akan mengambil tindakan.”

Sutawijaya justru semakin bingung. Apalagi ia tahu pasti bahwa perempuan merupakan bagian dari nafas kehidupan Sultan Pajang.

Rasa-rasanya pikiran Raden Sutawijaya pun menjadi buntu. Ia tidak lagi mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan.

“Tetapi semuanya sudah terlanjur,” tiba-tiba ia menggeretakkan gigi. “Semisal orang yang menyeberangi sungai, aku sudah terlanjur basah, sehingga aku tidak akan dapat ingkar lagi.”

Sutawijaya itu menjadi tegang sejenak, lalu, “Aku harus segera menghadap Ayahanda Pemanahan. Apa pun yang harus aku lakukan, kecuali menghadap Ayahanda Sultan. Aku baru akan menghadap jika Mataram sudah menjadi sebuah negeri yang ramai dan dapat aku banggakan, sehingga tidak akan ada orang yang menghinaku lagi.”

Tiba-tiba saja Raden Sutawijaya yang sedang bingung itu berdiri tegak sambil menengadahkan dadanya. Dengan lantang ia berteriak, “Kita berangkat sekarang. Kita lanjutkan perjalanan. Kita akan memasuki gerbang kota.”

Suara Raden Sutawijaya itu benar-benar mengejutkan setiap orang di dalam pasukannya. Bahkan Ki Lurah Branjangan pun terbangun dengan dada yang berdebar-debar.

Sekali lagi mereka mendengar Sutawijaya berkata, “Kita berkemas sekarang. Kita segera melanjutkan perjalanan. Cepat. Siapa yang lambat, akan aku tinggalkan di sini.”

Perintah yang tidak terduga-duga itu membuat para pengawal sejenak kebingungan. Tetapi mereka pun segera bangkit berdiri dan dengan tergesa-gesa mengemasi diri mereka dan kuda-kuda mereka.

Sutawijaya benar-benar bersikap aneh malam itu. Dengan tergesa-gesa ia pun membenahi dirinya. Kemudian berteriak, “Bawa kudaku kemari. Sekarang.”

“Raden,” Ki Lurah Branjangan mendekatinya dan berkata dengan sareh, “apakah sebenarnya yang telah terjadi?”

“Tidak ada apa-apa. Tetapi kita akan berjalan terus. Kita sudah berada dekat dengan gerbang kota. Apa gunanya kita beristirahat di sini?”

“Bukankah pertanyaan yang nadanya serupa itu sudah aku katakan sebelum Raden mengambil keputusan untuk berhenti di sini.”

“Bohong. Kalian menghendaki kita berhenti. Dan aku terpaksa memenuhi permintaan kalian. Ternyata sikap itu adalah sikap yang bodoh.”

“Raden,” berkata Ki Lurah Branjangan pula, “sebagai orang yang lebih tua, aku mengerti bahwa yang sebenarnya bergejolak adalah dada Raden sendiri. Dan itu pun adalah persoalan yang wajar sekali. Karena itu, cobalah Raden tenang sedikit. Aku tidak berkeberatan seandainya kita melanjutkan perjalanan sekarang. Tetapi tentu tidak tergesa-gesa. Biarlah para prajurit menyiapkan kuda mereka dan membenahi pakaian dan peralatan yang kita bawa. Jika kita tergesa-gesa mungkin ada beberapa macam barang yang tertinggal dan barangkali beberapa orang tawanan akan kurang mendapat pengawasan.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Sikap Ki Lurah Branjangan yang tenang dan sareh, membuat hatinya yang melonjak-lonjak itu menjadi agak tenang pula. Karena itu maka katanya, “Baiklah, aku menunggu sejenak. Tetapi jangan menjadi malas dan berlama-lama mengemasi diri.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian mengemasi pakaian dan beberapa macam alat yang dibawanya. Terutama senjata-senjatanya.

Beberapa saat kemudian, maka para pengawal pun sudah siap. Para tawanan sudah dihitung dan dipersiapkan pula untuk segera berangkat.

“Aku akan menghadap Ayahanda Pemanahan malam ini,” gumam Raden Sutawijaya.

Ki Lurah Branjangan tidak menjawab. Sekilas dipandanginya wajah Raden Sutawijaya yang tegang. Namun ia tahu pasti apakah sebenarnya yang bergejolak di dalam dadanya itu.

Sejenak kemudian maka iring-iringan itu pun segera berangkat. Raden Sutawijaya memerintahkan beberapa orang membawa obor dan berada di paling depan, di tengah-tengah iring-iringan dan di belakang.

Di perjalanan tidak banyak pengawal yang berbincang. Mereka masih terkantuk-kantuk di punggung kuda. Hanya sekali-sekali mereka terkejut jika kuda yang ditumpanginya meloncati lubang dan batu-batu padas di perjalanan.

“Apakah yang sebenarnya terjadi?” bertanya utusan yang memanggil Sutawijaya itu kepada Ki Lurah Branjangan yang berkuda beberapa langkah di belakang Raden Sutawijaya

Ki Lurah Branjangan memandangi utusan itu sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berdesis, “Aku tidak mengerti.”

“Agaknya ada sesuatu yang penting. Agaknya benar-benar berhubungan dengan desas-desus itu.”

“Desas-desus yang mana?”

“Setiap orang aku kira sudah mendengar bahwa Raden Sutawijaya telah melakukan hubungan terlarang dengan seorang puteri istana yang berasal dari Kalinyamat.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Berita semacam itu memang mudah sekali tersebar. Apalagi menyangkut seorang pemimpin yang disegani seperti Raden Sutawijaya itu.

“Apa kata Ki Gede Pemanahan?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Aku tidak tahu, tetapi Ki Gede Pemanahan agaknya sedang menekan perasaannya. Jika hal itu benar, mungkin Ki Gede akan mengalami kejutan. Meskipun ia seorang Senapati yang pilih tanding di medan perang, tetapi amat sulitlah bagi seseorang untuk memerangi perasaan sendiri.”

Ki Lurah Branjangan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu lagi tentang Raden Sutawijaya.

Demikianlah iring-iringan itu maju terus meskipun tidak begitu cepat. Tetapi jarak yang mereka tempuh memang sudah tidak begitu jauh lagi. Sebentar kemudian mereka pun sudah mendekati gerbang kota yang baru dibangun itu.

Para penjaga gerbang melihat obor yang semakin lama menjadi semakin dekat. Mereka tidak segera mengetahui siapakah yang datang beriringan. Yang mereka ketahui adalah, bahwa ada utusan yang menjemput Raden Sutawijaya ke Tanah Perdikan Menoreh. Namun demikian, belum pasti bahwa yang datang itu adalah Raden Sutawijaya dengan pasukannya.

Karena itu, maka pemimpin peronda di pintu gerbang itu pun segera memerintahkan para pengawal yang bertugas untuk bersiap. Yang sedang tidur pun dibangunkannya.

“Jika mereka itu hantu-hantu di Alas Mentaok, atau penyamun dari Tambak Baya, maka kita harus menghalaunya,” berkata pemimpin peronda itu.

“Mudah-mudahan bukan mereka,” desis seorang pengawal yang masih terkantuk-kantuk.

“Justru karena sarangnya mungkin telah diduduki oleh Raden Sutawijaya, maka mereka pun berkeliaran sampai ke tempat ini,” gumam pengawal yang lain.

Para pengawal itu pun kemudian mempersiapkan diri. Seorang di antara mereka telah berdiri di sisi kentongan yang jika terpaksa dapat dipergunakannya untuk mengirimkan isyarat pada para peronda di dalam kota Mataram yang sedang dibangun itu.

Obor itu merayap semakin dekat. Namun para peronda masih belum dapat mengetahui siapakah mereka itu.

Namun ketika mereka melihat sepasukan berkuda mendekati gerbang, maka mereka pun mulai yakin, bahwa yang datang itu adalah benar-benar Raden Sutawijaya.

Demikianlah, maka para penjaga pintu gerbang itu pun segera menyibak. Mereka benar-benar melihat seorang anak muda yang menggenggam sebatang tombak pendek.

Namun agaknya wajah anak muda itu tidak secerah biasanya. Di depan pintu gerbang ia sama sekali tidak berpaling, dan tidak memberikan salam kepada para penjaga, selain sebuah anggukan kecil yang kosong.

“Apakah yang sudah terjadi?” para peronda itu bertanya-tanya di dalam hati.

Namun di dalam iring-iringan itu mereka melihat beberapa orang yang tidak mereka kenal, dan bahkan para penjaga itu melihat ciri-ciri mereka sebagai tawanan.

Ketika iring-iringan itu sudah memasuki gerbang, maka para penjaga itu pun menjadi sibuk berbincang. Seorang pengawal yang kurus seolah-olah melihat sendiri apa yang terjadi, dan berkata lantang, “Raden Sutawijaya sudah menguasai lawannya. Yang ada di antara para pengawal itu adalah para tawanan. Mereka adalah sisa-sisa dari pasukan lawan yang terbunuh di peperangan dan menyerah.”

“Dari mana kau tahu?” bertanya kawannya.

Pengawal yang kurus itu termangu-mangu sejenak, lalu, “Tentu demikian yang sudah terjadi.”

“Kira-kira,” kawannya yang lain memotong.

Pengawal yang kurus itu memandangi kawannya sejenak. Namun kemudian ia tidak berkata apa pun lagi.

Dalam pada itu iring-iringan itu pun langsung menuju ke jantung kota. Namun ketika mereka sampai di alun-alun, maka sekali lagi Raden Sutawijaya dilanda oleh keragu-raguan. Di seberang alun-alun itu adalah sebuah bangunan yang besar tempat tinggal Ayahanda Ki Gede Pemanahan yang kemudian juga sering disebut Ki Gede Mataram setelah Mataram nampak akan menjadi sebuah negeri yang ramai.

“Apakah Raden akan langsung menghadap?” bertanya Ki Lurah Branjangan kepada Sutawijaya.

“Yang manakah yang baik menurut pertimbangan Paman?”

Ki Lurah Branjangan termangu-mangu sejenak. Lalu katanya kemudian, “Menurut pertimbanganku sebaiknya Raden menunggu sampai besok.”

“Tetapi kenapa para pengawal agaknya mengeluh ketika kita berhenti di luar pintu gerbang?”

“Raden,” berkata Ki Lurah Branjangan, “jika kita sejak semula langsung masuk ke pintu gerbang, kita sampai di alun-alun ini sebelum jauh malam seperti sekarang, bahkan menjelang fajar. Kita masih sempat menghadap, dan membagi pekerjaan bagi para pengawal. Yang lain dapat beristirahat di barak-barak dan bergantian menjaga tawanan. Tidak di pinggir hutan.”

“Kita adalah pengawal Tanah Mataram, yang tidak ubahnya seperti prajurit-prajurit Pajang. Apa salahnya kita berada di pinggir hutan di malam hari?”

“Tentu, Raden. Kita dapat berada di segala tempat. Tetapi jika tidak ada kemungkinan lain,” berkata Ki Lurah Branjangan kemudian. “Tetapi baiklah aku tidak menyalahkan siapa pun juga. Tetapi aku mengerti kegelisahan hati Raden. Sebaiknya Raden tidak membawa pasukan seluruhnya untuk menghadap. Raden dapat menyerahkan kepada para pimpinan untuk mengatur anak buahnya dan para tawanan itu. Sedang Raden sendiri dapat beristirahat sejenak sambil menunggu fajar di tempat yang lebih baik dari rerumputan kering itu. Terserahlah kepada Raden siapakah yang harus menyertai Raden menghadap ayahanda besok. Mungkin aku, mungkin beberapa orang lain lagi.”

Raden Sutawijaya terdiam sejenak. Rasa-rasanya hatinya masih saja mendidih karenanya. Namun kemudian ia berkata, “Paman, suruhlah para pengawal beristirahat. Jagalah tawanan itu sebaik-baiknya. Aku akan menghadap ayahanda besok. Sendiri.”

“Sendiri?”

“Ya. Sendiri.”

Ki Lurah Branjangan menjadi termangu-mangu, Sutawijaya adalah seorang anak muda. Darahnya masih terlampau cepat menjadi panas. Karena itu, jika ia berhadapan sendiri dengan ayahnya dalam keadaan seperti itu, mungkin akan dapat timbul salah paham padanya. Karena itu maka Ki Lurah itu pun berkata, “Raden, apakah Raden tidak memerlukan seorang saksi yang dapat ikut serta melaporkan peristiwa-peristiwa yang mengerikan di dalam perjalanan Raden. Dengan demikian maka kesaksian itu akan dapat mengurangi beban Raden.”

“Jadi maksud Paman, kemenangan kita bersama para pengawal dari Menoreh itu akan aku pergunakan untuk memperkecil kesalahanku dalam persoalan gadis Kalinyamat itu?” bertanya Sutawijaya.

Ki Lurah Branjangan menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia mengangguk lemah sambil menjawab, “Demikianlah apabila mungkin, Raden.”

“Tidak. Aku tidak akan melakukan tukar tambah seperti itu. Biarlah aku menerima hukumanku lebih dahulu sebelum aku melaporkan tentang hasil perburuan kita bersama pengawal dari Menoreh.”

Ki Lurah Branjangan tidak dapat berbuat lain. Namun dengan demikian ia menjadi semakin cemas. Agaknya Sutawijaya akan mengakui segala kesalahannya dengan dada tengadah. Ia akan menghadapi segala akibat dari tindakannya itu. Tetapi ia tidak akan bersedia datang menghadap Sultan Pajang. Bukan karena ia tidak berani mempertanggung-jawabkan perbuatannya dan menerima hukumannya, tetapi justru ia tidak mau menjadi bahan tertawaan para Senapati di Pajang yang sejak semula sudah tidak percaya bahwa Alas Mentaok akan dapat dibuka oleh Ki Gede Pemanahan yang juga disebut Ki Gede Mataram bersama anaknya Raden Sutawijaya.

Sekilas terbayang di angan-angan Ki Lurah Branjangan, seorang senapati muda yang berada di antara Pajang dan Mataram. Senapati yang namanya tidak dapat dikesampingkan. Jika jatuh perintah dari Sultan Pajang untuk menggempur Mataram, maka Untara tentu tidak akan menunggu bantuan kekuatan dari para adipati di pasisir mana pun juga. Kekuatan Untara sendiri dengan prajurit yang berada di Pajang, di bawah pimpinan para senapati yang membenci Raden Sutawijaya beserta ayahandanya Ki Gede Pemanahan, yang iri hati dan yang mempunyai keinginan untuk memiliki sendiri Tanah yang sudah ternyata akan menjadi sebuah negeri yang subur ini, sudah terlalu besar bagi Mataram.

Dengan demikian, maka yang akan disebut oleh Raden Sutawijaya mempertanggung-jawabkan segala kesalahannya itu adalah ambaguguk-akuta-waton. Ia akan bersikap dan menghadapi akibat dari sikapnya itu. Kasar atau halus.

Sebagai orang yang telah mempunyai pengalaman yang luas dan umur yang sudah cukup panjang, maka Ki Lurah Branjangan kemudian memberanikan diri untuk berpesan, “Raden, sebaiknya Raden bersikap dewasa menghadapi persoalan orang-orang dewasa. Raden tidak boleh dibayangi oleh sikap seorang anak muda menghadapi tantangan. Raden akan menghadap ayahanda sendiri. Dan karena itu, Raden harus menyiapkan bekal secukupnya agar Raden dapat disebut sebagai seorang anak yang baik di dalam segala persoalan. Anak yang baik adalah anak yang menghormati orang tuanya di dalam segala bentuk.”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Di luar sadarnya anak muda itu mengusap dadanya sambil berkata, “Baiklah, Paman. Aku akan mendengarkan pesan Paman semuanya. Aku akan menghadap sebagai seorang anak menghadap ayahandanya.”

“Apakah Raden dapat bersikap demikian pula kepada Ayahanda Sultan Pajang?”

Raden Sutawijaya memandang Ki Lurah Branjangan dengan tajamnya. Namun kemudian ia menundukkan kepalanya tanpa menjawab sepatah kata pun.

Ki Lurah Branjangan pun tidak mendesaknya. Ia sadar bahwa Raden Sutawijaya memang tidak dapat menjawab saat itu. Nalarnya dan perasaannya masih belum dapat sejalan. Sehingga dengan demikian maka Ki Lurah Branjangan pun terdiam untuk beberapa saat.

Ki Lurah Branjangan itu mengangkat wajahnya ketika terdengar perintah Raden Sutawijaya perlahan-lahan, “Paman, biarlah para pemimpin kelompok mengurus kelompoknya masing-masing. Dan serahkan para tawanan kepada yang bertugas. Beri kesempatan mereka beristirahat. Aku besok akan menghadap sendiri. Tetapi para prajurit harus bersiap di alun-alun agar pada saatnya aku dapat melaporkan perjalanan kita bersama mereka semuanya.”

“Baiklah, Raden.”

“Sekarang, aku pun akan beristirahat.”

“Kemana Raden akan beristirahat? Apakah Raden akan kembali kepada ayahanda malam ini?”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak, lalu, “Tidak. Di mana pun aku dapat beristirahat. Tinggalkan aku di sini sendiri.”

“Sendiri?”

“Ya. Sendiri.”

“Itu tidak mungkin, Raden. Raden harus disertai beberapa orang pengawal yang akan mengawasi keadaan.”

“Tinggalkan aku sendiri.”

Ki Lurah Branjangan menjadi bingung. Namun sebelum ia dapat berbuat sesuatu, justru Raden Sutawijaya sudah memacu kudanya menembus gelapnya malam ke arah yang tidak diketahui.

Ki Lurah Branjangan pun dengan sigapnya melecut kudanya. Tetapi ternyata kelambatan beberapa kejap itu sudah sangat membingungkan. Justru karena jalan yang bercabang-cabang di dalam kota.

Hanya dalam beberapa saat yang pendek, Ki Lurah Branjangan telah kehilangan Raden Sutawijaya. Jika ia berada di bulak yang panjang, mungkin ia sempat menyusul, atau setidak-tidaknya dapat mengikutinya. Tetapi jalan di sekitar alun-alun ini benar-benar membuatnya bingung dan kehilangan jejak. Apalagi di malam hari.

Karena itu, maka Ki Lurah Branjangan pun segera kembali kepasukannya dengan wajah yang tegang. Ketika beberapa orang pemimpin kelompok mendapatkannya dan bertanya tentang Raden Sutawijaya, muka Ki Lurah Branjangan itu hanya menggeleng sambil menjawab, “Aku tidak tahu, apakah yang merisaukannya.”

Namun ternyata bahwa ceritera tentang gadis Kalinyamat itu telah merambat ke setiap telinga. Dan setiap pengawal pun berpendapat, bahwa Raden Sutawijaya telah dirisaukan oleh keadaan gadis itu. Apalagi gadis itu adalah gadis simpanan Ayahanda Sultan Pajang.

Dalam kegelisahan itu, maka Ki Lurah Branjangan pun memerintahkan agar pasukan itu beristirahat ke barak mereka. Para tawanan harus mendapat pengawalan dan pengamatan secukupnya.

“Lalu bagaimana dengan Raden Sutawijaya?” bertanya utusan Ki Gede Pemanahan yang memanggil Raden Sutawijaya itu.

“Biar sajalah ia melepaskan kerisauan hatinya. Tetapi aku yakin bahwa ia akan datang besok pagi menghadap Ayahanda Ki Gede Pemanahan tanpa diketahui orang lain. Bagi Raden Sutawijaya persoalan yang akan dibicarakan dengan ayahandanya adalah persoalan yang sangat penting.”

Utusan itu tidak mempersoalkan lagi. Meskipun ia menjadi cemas bahwa Raden Sutawijaya tidak akan memenuhi panggilan Ki Gede dan karena kegelisahan dan perasaan bersalah ia pergi tanpa tujuan. Namun agaknya Raden Sutawijaya yang jantan itu tidak akan lari dari pertanggungan jawab bagaimana pun bentuknya.

Demikianlah maka para pengawal yang letih itu pun segera pergi beristirahat selain mereka yang bertugas, betapa pun risaunya hati mereka melihat sikap Raden Sutawijaya. Tetapi sebagian besar dari mereka dapat mengerti, bahwa anak muda yang sedang kalut itu mencari ketenangan di sepinya malam tanpa orang lain, meskipun kecemasan masih saja membayangi perasaan mereka, jika saja Raden Sutawijaya tidak sempat berpikir jauh.

Dalam pada itu Sutawijaya yang sedang berpacu itu pun tidak menghiraukan apa pun lagi. Dilecutnya kudanya sehingga berlari semakin cepat, berderap di atas jalan berbatu-batu. Ia sadar ketika ia melihat pintu gerbang kota sudah ada di hadapannya. Tetapi ia tidak berhenti. Ketika beberapa orang penjaga mencoba menghentikannya, kudanya yang bagaikan gila itu berlari terus sehingga para penjaga itu pun berloncatan menepi.

“Siapa orang gila itu,” desis seseorang.

Pemimpin penjaga itu pun kemudian berdesis, “Aku tidak akan mengejarnya. Bukankah ia Raden Sutawijaya?”

Yang lain berpikir sejenak, lalu, “Ya. Raden Sutawijaya.”

“Kenapa ia memacu kudanya?”

“Aku tidak tahu. Tetapi ia adalah pemimpin yang terpercaya sehingga kita tidak perlu mencurigainya sama sekali.”

Para pengawal itu pun mengangguk-angguk. Tetapi mereka masih saja dicengkam oleh perasaan heran bahwa Raden Sutawijaya memacu kudanya secepat angin keluar kota di saat yang aneh pula.

“He, bukankah Raden Sutawijaya pergi ke Menoreh?” tiba-tiba seorang penjaga bertanya.

“Baru saja pasukannya memasuki kota lewat gerbang Utara. Seorang penghubung telah memberitahukan hal itu kepadaku,” sahut pemimpin penjaga. “Tetapi bahwa ia berlari lewat pintu gerbang ini keluar kota, aku tidak tahu apakah maksudnya.”

Para penjaga itu pun terdiam. Mereka merenungi sikap yang aneh dari Raden Sutawijaya. Tetapi akhirnya mereka menjadi jemu, dan membiarkan saja apa yang akan terjadi, karena mereka tidak akan dapat menebaknya dengan tepat.

Dalam pada itu kuda Raden Sutawijaya pun berpacu di tengah-tengah bulak yang panjang, menembus gelapnya sisa malam. Nafasnya terasa mengalir berdesakan seperti gejolak perasaannya yang bagaikan merekahkan dadanya.

Namun akhirnya Raden Sutawijaya itu menarik kekang kudanya. Perlahan-lahan kudanya itu pun memperlambat derap kakinya, sehingga akhirnya berhenti sama sekali di tengah-tengah bulak yang kelam.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia ingin menghirup udara yang segar sebanyak-banyaknya setelah ia berpacu di atas punggung kudanya.

Sejenak Raden Sutawijaya duduk diam di atas punggung kuda. Dipandanginya keredip kunang-kunang yang hinggap bertaburan di daun padi, seperti mutiara yang di sebar di atas rerumputan hijau.

Namun kemudian terasa dadanya menjadi sesak. Persoalan yang dihadapinya seakan-akan tidak akan dapat terpecahkan. Ia berdiri pada dua ujung yang bertentangan. Sebagai seorang kesatria ia harus mengakui dan bertanggung jawab atas gadis Kalinyamat yang sudah membuat hubungan gelap dengan dirinya. Jika ia harus digantung, maka ia tidak boleh ingkar. Tetapi sebagai kesatria pula ia sudah bersumpah, bahwa ia akan membuat Mataram menjadi sebuah negeri yang ramai. Ia tidak akan menginjak tangga Istana Pajang sebelum ia dapat menengadahkan dadanya dan berkata, bahwa Mataram sekarang sudah menjadi sebuah negeri seramai Pati.

Raden Sutawijaya berdesah pendek sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Angin malam yang lembab bertiup perlahan-lahan. Namun hati Raden Sutawijaya yang gemuruh bagaikan prahara yang menyapu belukar.

Perlahan-lahan Raden Sutawijaya turun dari kudanya. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Namun jantungnya terasa semakin cepat berdetak.

Dengan lemahnya Raden Sutawijaya duduk di atas sebuah batu di pinggir parit yang mengalir gemericik. Diamatinya arus air bening yang hanya setinggi mata kaki itu.

Namun justru terbayang di dunia angan-angannya, seraut wajah seakan-akan bercermin di dalam air yang jernih itu. Wajah seorang gadis yang sebenarnya sudah bukan gadis lagi. Apalagi ia sudah mulai mengandung.

Sutawijaya mulai membayangkan bagaimana hal itu telah terjadi. Ketika ayahanda angkatnya, sultan di Pajang menghadap kakandanya Ratu Kalinyamat, maka jatuhlah janji, jika seseorang dapat membunuh Arya Penangsang yang telah membunuh suami Ratu Kalinyamat itu, maka ia akan mendapatkan dua orang gadis cantik.

“Tentu Ratu Kalinyamat tahu benar sifat Ayahanda Sultan Pajang,” berkata Sutawijaya di dalam hatinya.

Dan yang sebenarnya membunuh Arya Penangsang adalah dirinya. Raden Sutawijaya. Tetapi kepada Sultan Pajang dikatakan bahwa pembunuhnya adalah Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi, agar janji Sultan Pajang atas mereka yang berhasil membunuh Arya Penangsang, hadiah tanah Pati dan Alas Mentaok diserahkan.

“Kedua gadis cantik itu tidak pernah disebut sama sekali oleh Ayahanda Sultan Pajang,” berkata Raden Sutawijaya di dalam dirinya pula.

Dan terbayang pula, betapa akhirnya justru Ki Penjawi dahululah yang menerima Tanah Pati sebagai hadiah. Sedang ayahandanya sendiri, Ki Gede Pemanahan tidak segera menerima bagiannya yang masih berupa hutan belukar.

“Aku yang membunuh Pamanda Arya Penangsang. Tetapi hadiah yang diterima Ayahanda Ki Gede Pemanahan adalah yang paling jelek dan lambat, yang harus didesak dengan sikap yang agak keras,” desis Sutawijaya lambat. “Jadi apakah aku terlalu bersalah jika aku mengambil hadiah yang sebenarnya dijanjikan oleh Ratu Kalinyamat? Salah seorang dari kedua gadis itu?”

Tetapi kepala Raden Sulawijaya pun tertunduk lesu. Memang ia telah melakukan kesalahan. Kedua gadis itu sudah diambil oleh ayahandanya Sultan Pajang. Dan sebagai gantinya Sultan Pajang telah menghadiahkan Tanah Pati dan Alas Mentaok.

Sekali lagi membayang di angan-angannya, bagaimana ayahandanya melakukan suatu cara untuk menangani usaha membinasakan Arya Penangsang itu.

“Tentu Adipati Pajang akan turun ke medan,” berkata Ki Juru Martani pada waktu itu, “ia adalah orang yang sakti tanpa tanding. Mungkin ia akan berhasil mengalahkan Arya Penangsang di medan. Tetapi usahakan bahwa ada orang lain yang diperintahkannya dengan hadiah tanah yang cukup baik.”

Ternyata Ki Pemanahan berhasil menahan Adipati Pajang agar ia tidak turun sendiri ke gelanggang.

“Ampun, Tuanku,” sembah Ki Gede Pemanahan, “jika para panglima sudah tidak sanggup lagi melakukan, barulah Tuanku melakukannya sendiri. Tetapi sepanjang masih ada orang lain yang sanggup, biarlah orang itu melakukannya.”

Sultan Pajang yang pada waktu itu masih seorang adipati menyetujuinya. Bahkan katanya, “Jika ada yang sanggup membunuhnya, maka aku akan memberikan hadiah tanah Pati dan Alas Mentaok. Tetapi jika tidak ada yang sanggup melakukannya, maka aku sendiri akan turun ke medan.”

Seperti yang dikehendaki oleh Ki Juru Martani, maka ayahandanya Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi menyanggupinya di paseban.

“Ternyata perhitungan Ki Juru Martani itu benar,” gumam Raden Sutawijaya. “Ki Juru Martani mengharap aku ingin ikut ke medan bersama ayahanda. Dan aku pun telah memaksa untuk pergi. Dan seperti yang diharapkan oleh Ki Juru Martani pula, maka Ayahanda Sultan tidak sampai hati melepaskan aku, anak angkatnya yang dikasihinya tanpa memberikan sipat kandel. Dan ternyata bahwa Ayahanda Sultan Pajang memberikan Kiai Pleret, tombak pusaka yang tiada duanya itu kepadaku.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Memang tombak Kiai Pleret itulah yang diharapkan oleh Ki Juru Martani. Dan ternyata dengan tombak itu pulalah ia berhasil melukai Arya Penangsang karena kuda Arya Penangsang tiba-tiba menjadi binal tanpa dapat dikendalikan lagi.

Raden Sutawijaya yang sedang diamuk oleh lamunan itu pun terkejut ketika ia mendengar ayam jantan berkokok di kejauhan. Ketika ia mengangkat wajahnya, dilihatnya cahaya merah sudah nampak di langit. Fajar.

Sekilas terbayang darah yang memancar dari lambung Arya Penangsang. Darah yang merah melampaui merahnya fajar di langit. Ususnya yang mencuat ke luar, ditahannya dengan tangannya, kemudian disangkutkannya di keris pusakanya. Tetapi malang, justru ketika Arya Penangsang itu menarik keris pusakanya yang sakti tiada tandingnya itu, ususnya sendiri terpotong, dan Arya Penangsang itu pun tewas seketika.

“Bukan saja karena keris itu,” desis Sutawijaya, “tetapi luka di lambung oleh pusaka Kiai Pleret itu pun merupakan luka yang tidak dapat disembuhkan lagi. Kiai Pleret adalah pusaka yang tiada bandingnya, ditambah pula oleh luka karena keris pusakanya sendiri, Setan Kober.”

Tetapi sekali lagi Sutawijaya terbanting pada kegelisahan yang tidak ada bandingnya pula. Bagaimanakah keputusan ayahandanya Ki Gede Pemanahan tentang gadis Kalinyamat itu.

Raden Sutawijaya menggeram sambil menggeretakkan giginya. Cahaya merah di langit bagaikan warna wajah Ayahanda Ki Gede Pemanahan yang menjadi sangat marah.

“Apa boleh buat. Aku harus menghadap. Apa pun yang akan terjadi.”

Untuk beberapa lamanya Raden Sutawijaya masih berada di tempatnya. Sekali-sekali kepalanya ditengadahkan memandang warna langit yang seakan-akan menjadi semakin tajam.

Namun dalam pada itu, Raden Sutawijaya terkejut ketika terdengar derap kuda menuju ke arahnya. Dengan gerak naluriah ia pun meloncat berdiri. Di kejauhan dilihatnya bayangan di dalam samarnya sinar fajar, seekor kuda mendekatinya. Tetapi Raden Sutawijaya tidak segera dapat mengetahui siapakah penunggangnya.

Baru ketika kuda itu menjadi semakin dekat, Raden Sutawijaya mengenalnya. Ki Lurah Branjangan.

“Darimana Ki Lurah mengetahui bahwa aku ada disini?” bertanya Raden Sutawijaya.

Ki Lurah Branjangan pun kemudian meloncat turun. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati Raden Sutawijaya sambil berkata, “Raden. Penjaga gerbang itu menjadi bingung. Salah seorang dari mereka memerlukan datang kepada induk pasukan yang memasuki kota ini dari gerbang Utara.”

“Apa katanya?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Para penjaga itu menjadi bingung. Baru saja mereka mendengar bahwa pasukan ini memasuki kota lewat gerbang Utara. Namun mereka pun segera melihat Raden keluar lagi lewat gerbang ini. Karena itu mereka memerlukan mengirimkan seorang pengawal untuk menanyakan kepada kami, karena mereka selalu dikejar oleh teka-teki tentang Raden.”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Dengan demikian Paman menemukan jejakku dau menyusulku kemari?”

“Begitulah,” Ki Lurah Branjangan berhenti sejenak, lalu, “sebaiknya Raden kembali masuk ke kota dan bergabung dengan induk pasukan yang kini sedang beristirahat.”

Raden Sutawijaya tidak segera menyahut. Tetapi ditatapnya warna merah di langit.

“Fajar telah mewarnai langit,” berkata Ki Lurah Branjangan, “apakah Raden tidak segera kembali sebelum langit menjadi terang dan jalan-jalan penuh dengan orang-orang yang akan pergi ke pasar untuk menjual hasil bumi mereka? Jika kita kembali saat ini pun, di perjalanan kita akan bertemu dengan para pedagang dan orang-orang yang akan pergi ke pasar itu.”

Raden Sutawijaya merenung sejenak.

“Silahkan, Raden.”

“Baiklah, Paman,” desis Raden Sutawijaya kemudian, “aku akan kembali.”

“Marilah. Mumpung masih gelap.”

Raden Sutawijaya masih saja ragu-ragu. Namun ia pun kemudian pergi juga kekudanya.

Keduanya pun kemudian berkuda menuju kembali ke kota. Tetapi Raden Sutawijaya tidak lagi berpacu seperti dikejar hantu.

Seperti yang dikatakan oleh Ki Lurah Branjangan, maka di perjalanan mereka telah bertemu dengan orang-orang yang pergi ke pasar. Beberapa orang perempuan masih membawa obor di tangan sedang di beberapa tikungan, orang-orang mulai berkerumun memperjual-belikan dagangan mereka.

Sekali-sekali mereka bertemu dengan pedati yang penuh dengan muatan menuju ke kota. Muatan yang akan dibawa ke pasar.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam di dalam sejuknya udara pagi. Ia sempat melihat sendiri bahwa sebenarnya Mataram memang sudah mulai menjadi ramai.

“Tetapi masih belum menjadi sebuah negeri yang dapat dibanggakan di paseban Pajang. Beberapa orang pemimpin dan senapati tentu masih mencibirkan bibirnya dan mengejek bahwa aku telah menelan ludah kembali,” berkata Raden Sutawijaya di dalam hati.

Tetapi Raden Sutawijaya pun sadar sepenuhnya bahwa tidak ada jalan lain kecuali menghadap Ayahanda Ki Gede Pemanahan.

Meskipun demikian Sutawijaya tidak segera pergi menghadap. Ia masih harus menunggu matahari terbit dan langit menjadi terang. Karena itu, maka ia pun pergi bersama Ki Lurah Branjangan ke tempat para pengawalnya beristirahat.

Kedatangan Raden Sutawijaya di antara para pengawalnya justru menumbuhkan ketegangan. Tidak ada seorang pun yang berani memandangnya, apalagi menegurnya. Mereka yang melihat Raden Sutawijaya mendekatinya, segera menundukkan kepalanya.

Raden Sutawijaya sendiri tidak berkata sepatah kata pun kepada siapa pun juga. Ia hanya duduk saja menyendiri menunggu cahaya matahari yang semakin terang di langit.

Rasa-rasanya hari lambat sekali terbit. Dalam keadaan yang gelisah, ia mengharap agar ia segera dapat bertemu dengan ayahanda, apa pun yang akan terjadi atasnya.

Akhirnya saat yang ditunggunya itu pun datang. Matahari sudah memanjat semakin tinggi, sehingga datanglah saat baginya untuk menghadap ayahanda.

Betapa pun hatinya berdebaran, tetapi Sutawijaya mempersiapkan diri untuk menghadap. Dibenahinya pakaiannya, agar ia cukup pantas menghadap ayahandanya meskipun ia baru saja pulang dari peperangan.

Keberangkatan Raden Sutawijaya menghadap ayahandanya di ikuti oleh pandangan mata yang penuh dengan getaran pertanyaan di dalam dada Ki Lurah Branjangan. Apakah yang kira-kira akan terjadi dengan anak yang masih muda itu.

Tetapi seperti yang diharapkan oleh Raden Sutawijaya bahwa ia akan menghadap ayahanda seorang diri. Tanpa seorang pun yang boleh mengikutinya.

“Mungkin Raden Sutawijaya merasa malu persoalannya itu didengar oleh orang lain,” berkata Ki Lurah Branjangan kepada diri sendiri.

Dalam pada itu dengan dada yang berdebar-debar Raden Sutawijaya menyusuri jalan kota yang mulai ramai itu menuju ke rumahnya. Rumah yang dibangun oleh ayahandanya dalam kedudukannya sebagai seorang cikal bakal dari Tanah Mataram yang besar, yang diharapkannya dapat menjadi negeri yang ramai.

Ada sesuatu yang serasa menahan Raden Sutawijaya untuk memasuki halaman rumahnya yang luas lewat regol depan. Dengan hati yang berdebar-debar ia memasuki regol samping dan langsung menuju ke butulan.

Ketika seorang pengawal melihatnya, maka dengan hati-hati ia mendekatinya sambil membungkuk-bungkukkan punggungnya. Agaknya telah terasa oleh pengawal itu suasana yang lain dari biasanya.

“Ayahanda Raden sudah menunggu di pringgitan,” desis pengawal itu.

Raden Sutawijaya memandanginya sejenak. Lalu, “Dari mana kau tahu?”

“Aku baru saja dari halaman depan. Para pengawal di regol depan siap menunggu kedatangan Raden. Mereka semuanya mengetahui bahwa Ki Gede Mataram berada di pringgitan sejak pagi-pagi benar. Bahkan semalam sampai jauh malam ayahanda menunggu Raden di pringgitan itu juga.”

Terasa sesuatu berdesir di dada Raden Sutawijaya. Agaknya persoalannya itu benar-benar telah membuat ayahandanya sangat berprihatin. Dengan demikian maka dadanya pun menjadi semakin berdebar-debar.

“Silahkan Raden segera menghadap. Bukankah pasukan yang Raden bawa telah memasuki regol Utara tadi malam.”

“Dari mana kau tahu?”

“Laporan itu sampai kepada kami di sini. Bahkan semua penjaga gerbang yang ada di kota ini.”

Dada Sutawijaya menjadi semakin berdebaran. Kemudian diserahkannya kudanya kepada pengawal itu sambil berkata, “Aku akan segera menghadap.”

Raden Sutawijaya mengatur dirinya sejenak. Kemudian ia pun memaksa kakinya untuk melangkah lewat longkangan samping menuju ke pendapa.

Dengan dada yang serasa berdentangan Raden Sutawijaya naik ke pendapa. Ayahandanya, Ki Gede Pemanahan seperti yang dikatakan oleh pengawal itu, memang berada di pringgitan. Duduk di atas tikar pandan yang putih menghadap semangkuk minuman.

Rasa-rasanya dada Raden Sutawijaya akan meledak melihat wajah ayahanda yang muram. Jauh berbeda dengan wajah ayahanda ketika melepaskannya pergi mencari orang-orang bersenjata yang mengganggu perkembangan wilayahnya itu.

Beberapa orang pengawal di regol depan melihat Raden Sutawijaya yang justru datang lewat longkangan samping. Tetapi mereka tidak berbuat apa-apa. Mereka justru memandang saja dari kejauhan.

Ketika Raden Sutawijaya berada di atas tangga, ayahandanya sudah melihatnya. Tetapi ia masih tetap berdiam diri menunggu Sutawijaya mendekatinya.

Dengan ragu-ragu Sutawijaya mendekat. Kemudian duduk di hadapan ayahandanya yang memandanginya dengan tatapan mata sayu.

“Kau sudah datang semalam Sutawijaya?” bertanya Ki Gede Pemanahan.

“Ya, Ayahanda,” jawab Raden Sutawijaya dengan dada yang bergejolak semakin cepat.

“Kau tidak langsung pulang.”

“Sudah terlampau malam, Ayahanda. Aku takut mengejutkan Ayahanda.”

“Ketika aku mendengar laporan itu, aku menunggu kau di sini. Tetapi kemudian aku mendengar laporan berikutnya bahwa kau keluar lagi lewat gerbang yang lain.”

Raden Sutawijaya menjadi semakin bingung. Justru karena itu ia tidak menjawab.

“Aku akan berbicara dengan kau tentang masalah yang penting. Tetapi tentu tidak sekarang. Kau tentu masih lelah. Nanti setelah kau membersihkan diri, makan dan minum, beristirahat sebentar, kita akan berbicara dengan tenang.”

Sesuatu melonjak di dada Raden Sutawijaya. Ia ingin mendengar keputusan ayahandanya segera. Tetapi ia tidak berani mendesaknya.

“Aku ingin mendengar ceriteramu tentang tugas yang kau lakukan. Apakah kau berhasil?”

Raden Sutawijaya menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Kami berhasil, Ayah.”

“Kau mendapat bantuan dari Ki Gede Menoreh?”

“Ya, Ayah. Dan bantuan dari seorang yang menyebut dirinya Ki Waskita, yang juga ternama Jaka Raras. Bantuan yang menentukan.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk. Kemudian ia bertanya, “Apakah kau temukan pula orang bercambuk itu?”

“Ya, Ayah. Mereka berada pula di Menoreh.”

Ki Gede masih mengangguk-angguk. Lalu, “Sekarang pergilah membersihkan dirimu. Aku juga belum makan. Kita akan makan bersama-sama di ruang dalam. Kemudian kita akan berbincang sedikit.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak memandang ayahnya. Wajahnya tiba-tiba saja tampak terlampau tua. Baru beberapa hari ia meninggalkannya. Namun di dalam beberapa hari itu rasa-rasanya ayahnya sudah berubah menjadi bertahun-tahun lebih tua.

“Pergilah ke belakang,” berkata Ki Gede Pemanahan. Meskipun suaranya terdengar sareh, tetapi terasa bahwa di dalam dada orang tua itu bergejolak perasaan yang tertahan.

Sutawijaya pun kemudian bergeser surut. Perlahan-lahan ia pergi meninggalkan ayahandanya duduk seorang diri seperti sebelum ia datang.

Ketika ia turun di halaman, sekali lagi ia memandang ayahandanya yang duduk sambil menundukkan kepalanya. Terasa sesuatu bergetar di dadanya. Ayahnya telah benar-benar berubah. Seakan-akan ayahnya bukan lagi seorang prajurit yang bahkan seorang panglima di peperangan. Yang duduk di pendapa sambil menundukkan kepalanya itu seolah olah seorang tua yang putus asa menghadapi penghidupan yang sulit. Yang tidak dapat lagi berusaha mencari makan buat anak dan isterinya.

Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Namun ayahandanya sama sekali tidak berpaling ke arahnya.

Beberapa orang pengawal di regol memandang Raden Sutawijaya dengan heran. Ki Gede Pemanahan menunggu semalam di pendapa. Pagi-pagi benar Ki Gede sudah bangun dan duduk di pendapa itu pula. Kini Raden Sutawijaya sudah datang. Tetapi baru beberapa saat sudah disuruhnya meninggalkannya.

Para pengawal itu tidak mendengar apa yang sudah dikatakan oleh Ki Gede Pemanahan dan apa yang akan dilakukannya.

Sementara itu Sutawijaya pun pergi ke belakang. Sambil termangu-mangu ia kemudian masuk lagi lewat pintu butulan dan langsung ke biliknya mengambil ganti pakaian dan kemudian pergi ke pakiwan.

Baru setelah ia selesai mengemasi dirinya, ia kembali menemui ayahnya yang masih duduk di pendapa. Masih seperti tadi. Kepalanya tertunduk lesu, seakan-akan ayahandanya itu tidak bergerak sama sekali.

Ketika Ki Gede Pemanahan melihat Sutawrjaya naik lagi ke pendapa, maka katanya, “Nah kau sudah selesai. Marilah kita makan bersama di ruang dalam.”

Sutawijaya tidak menjawab. Ia mengikuti saja ketika ayahnya kemudian bangkit dan melangkah masuk keruang dalam.

Ternyata makan mereka sudah disediakan. Seorang pelayan yang menunggui makanan itu pun kemudian pergi ke belakang setelah Ki Gede Pemanahan dan Raden Sutawijaya duduk menghadapi hidangan itu.

“Marilah kita makan Sutawijaya,” ajak ayahnya.

Sutawijaya merasa semakin asing di rumah dan di hadapan ayahnya sendiri. Biasanya ayahnya tidak begitu kaku menghadapinya. Bahkan kadang-kadang ayahnya tidak begitu menghiraukan, apakah ia sudah makan atau belum setelah ia sering bertugas keluar.

Seperti melayani seorang tamu, Ki Gede Pemanahan mempersilahkan anaknya untuk menyenduk nasi dari ceting lebih dahulu, kemudian mengambil lauk pauknya sebelum ia sendiri mengambilnya.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “tidak baik orang makan sambil berbicara. Tetapi jika dengan irama yang baik aku kira tidak akan mengganggu. Karena itu, sambil makan, aku akan bertanya tentang perjalananmu.”

Leher Sutawijaya terasa menjadi semakin sempit sehingga ia agak susah menelan nasi yang sudah dikunyahnya lumat-lumat. Namun ia mengangguk sambil menjawab, “Silahkan, Ayah.”

Tetapi Ki Gede Pemanahan tidak segera bertanya. Ia menyuapi mulutnya kemudian mengunyahnya dan menelannya.

Sutawijaya termangu-mangu beberapa saat. Namun ia pun kemudian makan sambil menundukkan kepalanya.

“Bagaimana dengan perjalananmu itu,” tiba-tiba saja Ki Gede Pemanahan bertanya.

Sutawijaya mengangkat wajahnya. Ia sudah menelan suap nasi yang terakhir. Jawabnya kemudian, “Kami berhasil dengan baik, Ayah.”

“Nah, sekarang ceriterakanlah. Dari permulaan sampai kau datang lagi menghadap aku sekarang ini.”

Raden Sutawijaya menarik nafas. Kemudian ia pun mulai menceriterakan pengalamannya menusuk langsung ke sarang orang-orang yang selama ini dianggapnya mengganggu perkembangan Mataram. Dikatakannya pula tentang pasukan pengawal Tanah Perdkan Menoreh yang membantunya karena kebetulan seorang tamu Menoreh telah hilang pula, Sutawijaya juga menceriterakan tentang Daksina dan Ki Waskita yang memiliki ilmu yang aneh.

Ki Gede Pemanahan yang sudah selesai makan itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mendengarkan ceritera Raden Sutawijaya dengan asyiknya.

“Menarik sekali,” berkata Ki Gede kemudian, “untunglah bahwa kau mendapat kawan orang-orang tua yang berpengalaman. Jika kau tidak berhasil menghindarkan diri dari reruntuhan kayu-kayuan dan bebatuan di tebing itu, tentu kau akan kehilangan segala-galanya. Mataram pun kehilangan orang-orangnya yang terbaik, dan gangguan berikutnya tentu akan memunahkan segala keberangan dan hasrat untuk tetap membangun Tanah Mataram. Kemudian orang yang memiliki ilmu yang aneh itu pun sangat berjasa kepada kita di Tanah yang sedang tumbuh ini. Mudah-mudahan aku mendapat kesempatan bertemu dengan mereka. Dengan Ki Gede Menoreh, dengan orang-orang bercambuk itu dan dengan Ki Waskita. Aku akan mengucapkan terima kasih kepada mereka, karena langsung atau tidak langsung mereka telah ikut menegakkan Mataram yang goyah ini. Dengan demikian jika kemudian ternyata ada orang yang mengganggu perkembangan Mataram dengan alasan apa pun, maka orang itu telah menyia-nyiakan segala pengorbanan dan bantuan yang pernah diterima oleh Mataram.”

Dada Sutawijaya rasa-rasanya menjadi sesak karenanya. Meskipun ayahnya tidak langsung menyebut namanya, tetapi rasa-rasanya kata-kata ayahnya itu memang tertuju kepadanya.

Dengan demikian maka Raden Sutawijaya pun hanya dapat menundukkan kepalanya saja.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan kemudian, “kau pun tidak boleh melupakan semuanya itu. Kau sendiri mengalami dan melihat, bagaimana tebing jurang seperti yang kau ceriterakan itu runtuh. Dan kau tahu sendiri, betapa orang yang bernama Panembahan Agung itu dapat mempermainkan kalian, jika tidak ada orang yang bernama Ki Waskita itu.”

“Ya, Ayah. Aku tidak akan melupakannya.”

“Bagus,” Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk, “sekarang, jika kau sudah selesai makan, beristirahatlah. Aku ingin berbicara sedikit tentang dirimu.”

Dada Raden Sutawijaya berdebar-debar semakin cepat.

“Kau dapat mempergunakan waktumu sekehendakmu. Jika kau lelah dan kantuk karena semalaman kau tidak tidur, sekarang tidurlah. Aku harap setelah tidur sejenak, kau akan menjadi segar, dan pembicaraan kita akan lancar.”

“Aku sama sekali tidak lelah, Ayah. Jika Ayah ingin mengatakan sesuatu, aku sudah siap”

“Tidak, Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “kau perlu beristirahat agar hatimu menjadi bening dan kau dapat mendengarkan penjelasanku sebaik-baiknya.”

“Aku tidak sedang bingung, Ayah.”

Ki Gede menggelengkan kepalanya. Katanya, “Sebaiknya kau memang tidur. Menilik ceriteramu, selama kau berada di Menoreh, kau hampir tidak pernah tidur untuk beberapa malam. Semalam kau tentu juga tidak tidur sama sekali. Karena itu, sekarang pergilah ke bilikmu. Kau perlu tidur meskipun hanya sekejap.”

Sutawijaya tidak dapat membantah lagi. Ia pun kemudian meninggalkan ayahnya dan pergi ke dalam biliknya. Namun kegelisahan di hatinya rasa-rasa menyentak-nyentak dadanya, sehingga ia sama sekali tidak dapat tidur. Jangankan tidur, berbaring pun Sutawijaya tidak betah.

Dengan gelisah Sutawijaya duduk di bibir pembaringannya. Sekali-sekali ia bergeser setapak. Kemudian berdiri dan melangkah hilir mudik.

Ternyata ayahandanya membiarkannya dalam kegelisahan itu. Rasa-rasanya sudah berhari-hari Sutawijaya berada di dalam biliknya, namun ayahandanya masih belum juga memanggilnya dan membawanya berbicara.

Namun Sutawijaya itu terkejut, ketika pintu biliknya berderit. Dilihatnya Ki Gede Pemanahan sudah berdiri di depan pintu yang kemudian terbuka.

“O,” desis Sutawijaya, “apakah Ayahanda memanggil aku sekarang?”

Ki Gede Pemanahan tidak menyahut. Tetapi ia melangkah saja masuk dan duduk di tepi pembaringan Sutawijaya.

Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Sehingga ayahnya berkata, “Duduklah. Agaknya lebih baik berbicara di sini daripada di ruang dalam.”

Rasa-rasanya dada Raden Sutawijaya menjadi sesak. Jantungnya berhenti berdetak. Tetapi ia pun kemudian duduk pula di sebelah ayahandanya.

Sejenak keduanya saling berdiam diri, sehingga ruangan itu pun menjadi hening.

Yang terdengar kemudian adalah tarikan nafas yang panjang dari Ki Gede Pemanahan. Agaknya ia pun merasa sulit untuk memulai pembicaraannya dengan anak laki-lakinya.

Namun kemudian akhirnya terucapkan juga pertanyaan, “Sutawijaya, apakah kau telah mendengar desas-desus yang keras tentang dirimu sendiri?”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Darahnya bagaikan benar-benar berhenti mengalir.

“Desas-desus yang semakin lama menjadi semakin merata di seluruh Mataram?”

Sutawijaya tidak segera menjawab pertanyaan itu. Tetapi justru ia pun bertanya, “Dalam hubungannya dengan apa, Ayah?”

Ki Gede Pemanahan memandang wajah anaknya sejenak. Namun kemudian dilontarkannya tatapan matanya ke luar pintu sambil berkata, “Aku kira kau tentu sudah mendengarnya. Hampir setiap orang memperkatakannya.”

Sutawijaya menjadi semakin gelisah.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan kemudian, “apa boleh buat. Aku memang harus mengatakannya kepadamu, bahwa orang-orang Mataram selalu membicarakan tentang hubungan yang menurut desas-desus itu terjadi antara kau dengan salah seorang gadis dari Kalinyamat yang diperuntukkan bagi Kanjeng Sultan Pajang.”

Meskipun Raden Sutawijaya sudah menduga bahwa persoalan itulah yang akan dibicarakan oleh ayahandanya, namun pertanyaan itu rasa-rasanya telah meretakkan dadanya.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede kemudian dengan nada yang dalam, “aku hanya sekedar bertanya. Jika memang tidak terjadi hal itu, kau dapat menjawabnya bahwa hal itu tidak benar.”

Sutawijaya berusaha menenangkan hatinya. Rasa-rasanya jika mungkin ia ingin menekan jantungnya yang berdentangan semakin cepat dan keras.

“Aku ingin mendengar jawabanmu Sutawijaya. Katakan dengan jujur apa yang sebenarnya telah terjadi. Jika kau berkata sebenarnya, maka kita akan dapat bersama-sama mencari jalan yang paling baik dan benar untuk mengatasi persoalan yang agaknya akan menjadi rumit.”

Sutawijaya masih berdiam diri. Terasa dadanya bergolak semakin dahsyat. Meskipun sudah semalam suntuk ia menganyam perasaan, namun ketika pertanyaan itu benar-benar dilontarkan, maka ia pun masih juga menjadi sangat bingung.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “kau sudah bukan anak-anak lagi. Jika pada saat kau baru saja kembali dari peperangan dan membawa hasil yang harus dihargai oleh Mataram, namun kemudian kau sudah dihadapkan pada persoalan pribadimu, sama sekali bukan maksudku untuk memperkecil perjuanganmu bagi Mataram. Tetapi semata-mata karena persoalan yang sudah terjadi itu tidak akan dapat dibiarkannya tanpa penyelesaian.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam.

“Sutawijaya,” Ki Gede meneruskan, “kau bukan kanak-kanak yang hanya pandai memecahkan belanga, namun kemudian kau tinggalkan bersembunyi.”

Sutawijaya bergeser setapak. Katanya kemudian dengan nafas yang tertahan-tahan, “Maafkah aku, Ayahanda. Sebenarnyalah bahwa hal itu sudah terjadi.”

Ki Gede Pemanahan memejamkan matanya sesaat. Jawaban itu pun sudah diduganya. Namun seperti Sutawijaya, ia pun sejenak menjadi bingung mendengarnya.

Namun kemudian Ki Gede Pemanahan, orang tua yang penuh dengan pengalaman dan pengenalan atas hidup dan kehidupan itu pun menarik nafas dalam-dalam. Dengan susah payah ia berhasil mengendalikan perasaannya yang bergelora.

Meskipun demikian masih juga tampak ketegangan yang memancar di sorot matanya.

Sutawijaya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dan dengan dada yang berdentangan ia mendengar ayahandanya berkata, “Sutawijaya. Setelah kau berhasil menaburi tanah ini dengan bunga yang semerbak dengan usahamu menumpas laskar Panembahan Agung, maka kini kau melumuri Tanah Mataram yang mulai berkembang ini dengan lumpur. Sutawijaya, apakah kau tahu arti seorang gadis bagi Sultan Pajang?”

Raden Sutawijaya tidak menjawab, tetapi kepalanya tertunduk semakin dalam.

“Anakku,” berkata Ki Gede Pemanahan, “ketika aku meninggalkan Pajang dan kembali ke Sela untuk memaksa Sultan Pajang mengingat kembali janjinya untuk menyerahkan Alas Mentaok, aku masih mempunyai keyakinan bahwa ia akan melakukannya. Bahkan sekarang pun jika kau memaksakan kehendakmu untuk mendapatkan suatu daerah yang sudah ramai sekali pun mungkin Sultan Pajang akan memberikannya. Apalagi setiap orang tahu, bahwa sebenarnya kau adalah anak angkatnya yang dikasihinya seperti anaknya sendiri.” Ki Gede terdiam sejenak untuk mengatur pernafasannya, lalu, “Tetapi jika kau mengambil seorang gadis dari padanya, akibatnya tentu akan lain.”

Sutawijaya menjadi semakin tunduk. Ia menyadari sepenuhnya kata-kata ayahandanya. Dan ia pun mengerti akan hal itu. Tetapi ketika semuanya itu terjadi, hatinya serasa gelap dan ia sama sekali tidak ingat apa pun juga, termasuk kemungkinan semacam itu.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “kau masih belum menjawab seluruhnya. Kenapa hal itu terjadi dan akibat yang timbul kemudian dari peristiwa yang pahit itu?”

Sutawijaya tidak dapat ingkar lagi. Maka ia pun kemudian menceriterakan, bahwa sama sekali di luar kesengajaannya bahwa ia bertemu dengan gadis di dalam pingitan itu, dan apalagi kemudian terjadi hubungan yang telah menodainya.

“Ayahanda, gadis itu ternyata kini telah mengandung.”

“O,” Ki Gede Pemanahan mengusap dahinya yang berkeringat, “bagaimana mungkin semuanya ini terjadi. Tetapi yang hampir tidak masuk akal itu ternyata telah terjadi.”

Sutawijaya tidak menyahut.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “tidak ada jalan lain bagimu kecuali menghadap ayahandamu Sultan Pajang. Mungkin ayahandamu sudah mendengar. Tetapi mungkin juga karena ketakutan yang sangat dari gadis itu, serta belas kasihan orang-orang di sekitarnya, hal itu masih belum sampai kepada Sultan meskipun setiap orang sudah mengetahuinya. Tetapi kemungkinan itu adalah kemungkinan yang sangat kecil. Karena itu lebih baik kau datang menghadapnya lebih dahulu dan pasrah diri atas segala kelancanganmu daripada Sultan harus mengambil sikap lebih dahulu.”

Terasa kepala Sutawijaya menjadi pening. Peristiwa demi peristiwa yang membayang di angan-angannya berputar seperti kepalanyalah yang berputar. Lambat, namun kadang-kadang cepat seperti baling-baling ditiup angin yang kencang.

“Tidak ada jalan lain Sutawijaya,” terdengar suara Ki Gede Pemanahan.

Kepala Sutawijaya menjadi semakin pening. Terngiang di kepalanya sumpahnya sendiri yang pernah diucapkan, bahwa ia tidak akan menginjakan kakinya di tangga Istana Pajang sebelum ia menjadikan Mataram sebuah negeri yang ramai. Namun kemudian suara ayahandanya bagaikan meledak di telinganya, “Tidak ada jalan lain Sutawijaya, kau harus menghadap.”

Karena itu, Sutawijaya justru terdiam beberapa saat tanpa dapat berkata apa pun juga. Wajahnya menjadi tegang kemerah-merahan. Sedang denyut jantungnya serasa semakin cepat berdetak.

Tetapi, sekali lagi suara ayahandanya itu seolas-olah menjerit di telinganya, “Kau harus menghadap dan pasrah diri atas segala kesalahan yang kau lakukan.”

Maka terasa sesuatu bergejolak di dalam dada Raden Sutawijaya. Benturan perasaan yang rasa-rasanya akan memecahkan jantungnya.

Namun justru karena itu, maka Raden Sutawijaya itu pun seakan-akan terbungkam karenanya.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “apakah kau mempunyai pertimbangan lain?”

Untuk beberapa saat Sutawijaya masih tetap berdiam diri. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, sedang nafasnya bagaikan saling memburu di lubang hidungnya.

“Kau harus cepat memutuskan Sutawijaya. Kau harus melakukannya sebelum ayahandamu Sultan Pajang berbuat sesuatu.”

Dengan susah payah Sutawijaya berusaha untuk mengendapkan perasaannya. Sekali-sekali ia menark nafas dalam-dalam.

“Aku ingin mendengar sikapmu Sutawijaya.”

Sutawijaya masih saja termangu-mangu. Namun ia tidak akan dapat terus menerus berdiam diri. Karena itu maka katanya kemudian, “Ayahanda. Aku mohon beribu-ribu maaf. Sebenarnya aku sama sekali tidak menghendaki hal ini terjadi. Tetapi apa boleh buat, bahwa yang telah terjadi tidak akan dapat diingkari lagi. Namun demikian, Ayahanda, apakah tidak ada jalan lain yang dapat aku tempuh selain datang menghadap Ayahanda Sultan?”

Wajah Ki Gede Pemanahan memerah sejenak. Lalu, “Maksudmu Sutawijaya.”

Dada Sutawijaya menjadi semakin berdebar-debar. Suaranya menjadi semakin dalam dan lamban, “Ayahanda, apakah ada cara lain yang dapat aku tempuh selain menghadap Ayahanda Sultan Pajang. Aku sudah berjanji, bahwa sebelum Mataram menjadi ramai, aku tidak akan menginjakkan kakiku di atas tangga Istana Pajang.”

Ki Gede Pemanahan memandang puteranya dengan tajamnya. Lalu katanya, “Apakah kau tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatanmu?”

“Bukan maksudku, Ayahanda. Tetapi hanya karena aku sudah bersumpah,” Sutawijaya tergagap. “Aku tidak mau menjadi sasaran ejekan para pemimpin pemerintahan dan prajurit di Pajang yang sejak semula sudah menganggap bahwa usahaku akan sia-sia.”

“Kenapa kau lebih memperhatikan para pemimpin prajurit dan pemimpin pemerintahan di Pajang daripada ayahandamu Sultan sendiri?”

Kepala Sutawijaya semakin tertunduk. Lambat ia menyahut, “Aku sudah terlanjur bersumpah.”

“Tetapi apakah hal itu bukan sekedar kau buat menjadi alasan, agar kau tidak harus datang ke Pajang?”

“Tidak, Ayahanda. Sama sekali tidak. Itu adalah sumpah yang sebenarnya sudah aku ucapkan. Ketika para pemimpin di Pajang seakan-akan mencibirkan bibirnya mendengar tekad kita untuk membuka Alas Mentaok, aku tidak dapat menahan perasaan lagi. Aku telah mengucapkan sumpah itu.”

“Kenapa para pemimpin di Pajang itu tidak yakin bahwa kita akan berhasil?”

“Aku tidak tahu pasti, Ayah. Tetapi hal itu ada hubungannya dengan perkembangan keadaan kita sejak Mentaok benar-benar diserahkan kepada Ayahanda. Pada saat Ayahanda meninggalkan Pajang dan kembali ke Sela, maka perhatian seluruh pemimpin di Pajang tertuju kepada Ayahanda. Itulah permulaan dari sikap mereka yang menyakitkan hati. Mereka menganggap seolah-olah kita telah memaksakan kehendak kita kepada Ayahanda Sultan. Justru ketika akhirnya Sultan benar-benar menyerahkan Alas Mentaok kepada kita, maka para pemimpin itu mulai melontarkan sikap yang menggelitik hati itu, sehingga akhirnya aku tidak dapat menahan perasaan dan aku telah mengucapkan sumpahku saat itu bahwa aku akan menjadikan Mentaok sebuah negeri yang ramai.”

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s