ADBM1-085

<<kembali | lanjut >>

Mohon maaf, kami tidak memiliki cover jilid ini

TERBAYANG sebuah ngarai yang luas berbatasan gunung-gunung padas yang ditumbuhi batang-batang perdu. Di kaki pegunungan itu terbentang sebuah hutan yag besar, panjang dan lebat.

Tetapi Nyai Demang menggelengkan kepalanya. Katanya kepada diri sendiri, “Tentu gambaranku keliru. Bukit-bukit itu panjang membujur ke Utara. Ah entahlah.”

Sekilas terbayang gunung Merapi yang megah, berjajar dengan gunung Merbabu, bagaikan sepasang penganten abadi yang berdiri di belakang Kademangan Jati Anom.

“Tetapi yang lebih penting dari semuanya,” berkata Ki Demang Sangkal Putung seterusnya, “aku sudah melihat sendiri bakal menantumu, Nyai. Seorang gadis yang cantik dan luruh. Jika kita melihat sepintas, kita tidak akan menduga, bahwa gadis itu pantas menyandang sepasang pedang di lambungnya.” Ki Demang berhenti sejenak, lalu, “Tetapi sebenarnyalah ia gadis yang mengagumkan. Di rumah ia bagaikan seorang ibu yang memelihara dengan lembut seluruh isi rumahnya. Perabot-perabot rumahnya dibersihkannya setiap hari dengan tangannya. Ia memasak sendiri di dapur, sementara pelayan-pelayannya hanya membantunya saja.” Sekali lagi Ki Demang berhenti, lalu, “Tetapi jika keadaan memaksa, ia tampil di peperangan dengan sepasang pedang di lambung, ia bertempur melawan penjahat-penjahat yang menakutkan tanpa gentar.”

“Ah,” Nyai Demang tiba-tiba berdesah.

“Kenapa?”

“Aku justru menjadi ngeri.”

“Kenapa ngeri?”

“Jika suatu kali, seperti lazimnya suami isteri mengalami pertengkaran, apa jadinya nanti. Swandaru adalah seorang anak laki-laki yang manja, agak kasar, dan kurang berhati-hati menyatakan pendapatnya kepada orang lain, apalagi kepada isterinya. Sedang isterinya adalah seorang yang memiliki ilmu kanuragan seperti suaminya.”

“Tetapi mereka tentu saja selalu mengekang diri masing-masing, Nyai. Seperti yang juga kita harapkan atas Sekar Mirah dan Angger Agung Sedayu.”

“Kenapa Sekar Mirah dan Angger Agung Sedayu.”

Ki Demang termangu-mangu sebentar. Namun kemudian ia menggeleng, “Tidak apa-apa.”

“Ya, tidak apa-apa. Sampai sekarang, tidak ada persoalan apa-apa yang pernah kita terima, baik dari Angger Agung Sedayu sendiri, maupun dari keluarganya.”

“Tetapi Kiai Gringsing secara tidak langsung pernah mengatakan serba sedikit tentang hubungan antara Agung Sedayu dan Sekar Mirah,”

“Tetapi kita tidak dapat berpegangan kata-katanya. Ia orang lain, baik bagi Agung Sedayu maupun bagi kita.”

“Tidak. Ia bukan orang lain. Ia adalah guru Agung Sedayu. Seorang guru tidak ubahnya dengan orang tua sendiri.”

“Dalam olah kanuragan. Tetapi di dalam hubungan seperti Swandaru dan putera Kepala Tanah Pendikan Menoreh, bukankah Ki Demang sendiri yang harus datang melamarnya? Bukan sekedar Kiai Gringsing yang juga guru Swandaru itu.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan kepalanya terangguk-angguk. Dan ia pun berkata, “Kau benar, Nyai. Harus ada pernyataan yang mapan dari keluarganya. Karena Angger Agung Sedayu sudah tidak berkeluarga, maka Angger Untara-lah yang pantas mewakilinya dengan resmi.”

“Nah, begitulah. Dalam persoalan Sekar Mirah, kita adalah orang tua dari seorang gadis. Kita harus lebih berhati-hati. Sudah barang tentu persoalannya berbeda dengan Swandaru. Secara kasar dapat kita katakan, seandainya tanpa sepengetahuan kita, perkawinan Swandaru tidak akan menimbulkan banyak persoalan. Ia adalah anak laki-laki. Jika ia tidak senang, ia dapat menceraikan isterinya dan kawin lagi dengan perempuan yang dipilihnya kemudian.”

“Ah, apakah begitu, Nyai?”

“Tentu saja. Karena itulah kita harus menjaga Sekar Mirah sebaik-baiknya agar Sekar Mirah tidak mengalami nasib buruk seperti itu. Kita harus mengikat pembicaraan dengan orang tua Angger Agung Sedayu, seperti orang tua Pandan Wangi mengharap kedatanganmu sendiri betapa pun jauhnya.”

“Sebagian aku sependapat, Nyai. Tetapi sebaiknya kau tidak terlampau mencemaskan nasib anak gadismu seperti yang kau katakan. Sudah tentu persoalan kawin dan cerai bukannya persoalan pinjam-pakai atau katakanlah seperti memilih pakaian saja. Swandaru tentu tidak boleh bersikap demikian terhadap isterinya, meskipun seandainya isterimya itu bukan anak gadis Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Demikian juga anak gadis kita tidak boleh diperlakukan seperti itu. Laki-laki yang demikian adalah laki-laki yang buruk.”

“Tetapi itu sudah sifat laki-laki. Ia ingin memperisteri setiap perempuan yang mana pun juga. Dan itu adalah haknya. Sedang perempuan harus menyerahkan diri sebulatnya kepada hubungan perkawinan yang telah diterimanya.”

Ki Demang tertawa. Katanya, “Aku mengerti. Nampaknya kau mengatakan hubungan yang sering kita temui di dalam tata kehidupan masyarakat kita. Tetapi sebenarnya hatimu menjerit menolak kepincangan itu. Bukankah begitu? Justru karena kita mempunyai seorang anak gadis?”

Nyai Demang tidak menjawab.

“Percayalah, bahwa dugaanmu keliru. Tidak setiap laki-laki berbuat demikian. Gambaran yang salah itu dapat menimbulkan persoalan di hati gadis-gadis sebelum persoalan yang sebenarnya dihadapinya. Dan gambaran-gambaran yang salah itu akan menyuramkan rumah tangganya tanpa sebab, selain ketakutan yang tumbuh di dalam dirinya sendiri. Selebihnya, perasaan cemburu.”

Nyai Demang tidak segera menjawab. Tetapi nampak bahwa ada sesuatu yang belum terpecahkan di dalam hatinya.

“Tentu kau tidak akan segera dapat meyakini,” berkata Ki Demang, “tetapi lambat laun kau akan mengerti. Atau barangkali kau mempunyai pendapat bahwa Agung Sedayu mempunyai ciri-ciri seperti yang kau cemaskan itu?”

Nyai Demang menggeleng. Katanya, “Sampai sekarang tidak. Tetapi siapa tahu. Mungkin memang ada laki-laki yang baik seperti yang kau katakan, tetapi perbandingannya terlampau kecil dengan sifat-sifat umum yang kita lihat.”

“Tetapi menurut penglihatanku, Angger Agung Sedayu termasuk yang sedikit itu.”

Nyai Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sebenarnya aku juga tidak berkeberatan. Tetapi orang tuanya atau yang mewakilinya, mungkin Angger Untara atau mungkin Adi Widura atau siapa pun, dengan adat yang lazim datang kepada kita.”

“Tentu, pada suatu saat mereka akan datang.”

“Ki Demang,” suara Nyai Demang merendah, “sebenarnya bukan saja aku khawatir terhadap Angger Agung Sedayu tetapi juga kepada Sekar Mirah. Jika pada suatu saat terjadi keretakan, maka Sekar Mirah yang sifatnya menjadi semakin keras karena ilmu kanuragan yang dimilikinya itu akan berbuat terlampau jauh. Jika pada suatu saat, sifat laki-laki pada umumnya itu hinggap pada Agung Sedayu, tanpa ada pertanggungan jawab dari keluarga dan orang tuanya sama sekali, maka Sekar Mirah akan melepaskan sakit hatinya dengan tindakan serupa.”

“Ah, kau dibayangi oleh ketakutanmu sendiri. Jangan kau katakan hal yang serupa ini kepada anak-anakmu,” potong Ki Demang. “Kau boleh berprasangka terhadap Angger Agung Sedayu, dan kau dapat menuntut agar orang tuanya atau yang mewakilinya ikut bertanggung jawab, tetapi kau jangan berprasangka demikian terhadap Sekar Mirah. Sejauh tuntutan keadilan di hatinya ia tidak akan membalas dengan tindakan serupa itu. Ataukah tindakan serupa itu yang disebut berbuat adil atas laki-laki dan perempuan?”

“Aku tidak mengatakan demikian Ki Demang.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Bahkan ia menjadi curiga, apakah Sekar Mirah sendiri pernah mengatakan dalam suatu pembicaraan dengan ibunya, bahwa apabila seorang laki-laki yang menjadi suaminya kelak berbuat sisip, ia akan mengimbanginya dengan tindakan yang sama? Dan apakah tindakan serupa itu yang dituntutnya sebagai tindakan yang adil?

Ki Demang justru menjadi cemas. Jika benar demikian, maka Sekar Mirah memerlukan penjelasan yang dapat menjernihkan tanggapan batinnya terhadap hidup kekeluargaan.

Namun Ki Demang itu pun tiba-tiba menyadari bahwa pembicaraan mereka telah bergeser. Karena itu, maka katanya sambil tertawa, “Nyai. Bukankah yang kita bicarakan sekarang adalah Swandaru, bukan Sekar Mirah.”

“Ya, Ki Demang. Meskipun masing-masing tidak akan dapat dibicarakan tersendiri, namun barangkali memang ada baiknya kita berbicara sekarang tentang Swandaru. Namun demikian, aku masih akan bertanya serba sedikit, apakah sebenarnya Ki Demang mengetahui, gambaran masa depan bagi Angger Agung Sedayu? Kakaknya, Angger Untara sudah jelas bagi kita. Ia adalah seorang prajurit. Bahkan seorang Senapati. Tetapi apakah Angger Agung Sedayu sudah menentukan sikap menghadapi masa depannya. Sepengetahuanku, sampai saat ini ia tidak lebih adalah seorang petualang seperti Swandaru. Tetapi Swandaru mempunyai kedudukan yang jelas.”

“Sudahlah, Nyai. Marilah kita berbicara tentang Swandaru. Pada saatnya kita memang akan berbicara tentang Angger Agung Sedayu.”

“Baiklah, Kakang. Barangkali Ki Demang dapat memberikan banyak keterangan tentang perjalanan Kakang.”

Ki Demang menarik nafas. Katanya, “Nah, barangkali akan lebih baik demikian.”

Nyai Demang pun mengangguk-angguk.

Sementara itu Ki Demang melanjutkan ceriteranya tentang perjalanannya. Terutama semua pembicaraan yang sudah dilakukan dengan Ki Gede Menoreh. Dan agaknya semuanya sudah mapan.

“Kita tinggal menentukan hari. Mempersiapkan sebuah kelengkapan, bukan saja pakaian dan benda-benda upacara yang lain, tetapi juga sebuah pasukan yang kuat.”

“Kenapa pasukan?”

“Perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh adalah perjalanan yang jauh, sedang di sekitar Tanah Perdikan itu, agaknya masih tersembunyi kelompok-kelompok yang setiap saat dapat mengganggu perjalanan. Tetapi jangan kau pikirkan. Yang penting persoalan Swandaru sudah sebagian besar rampung.”

Nyai Demang mendengarkan semua ceritera dan penjelasan yang diberikan oleh Ki Demang dengan penuh harapan. Namun sejalan dengan itu, kegelisahannya mengenai Sekar Mirah dan Agung Sedayu pun semakin berkembang di dalam hatinya. Tetapi seperti kata-kata Ki Demang, ia lebih senang membicarakan persoalan Swandaru daripada persoalan Sekar Mirah.

Meskipun demikian, Nyai Demang tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya sehingga Ki Demang berkata, “Sudahlah. Kita akan berbicara lagi besok. Sekarang, aku terlampau lelah.”

“Baiklah, Ki Demang. Sebaiknya Kakang beristirahat. Besok kita dapat berbicara lebih banyak tentang anak-anak kita. Keduanya.”

Ki Demang itu pun kemudian pergi ke biliknya. Ketika ia lewat di depan bilik Sekar Mirah, dilihatnya anak gadisnya telah tertidur lebih dahulu.

Sambil berbaring di pembaringan, Ki Demang masih saja diliputi oleh berbagai macam bayangan. Swandaru, Pandan Wangi, Sekar Mirah, Agung Sedayu, dan persoalan-persoalan yang menyangkut mereka itu.

Malam semakin lama menjadi semakin dalam. Angin yang dingin berhembus semakin kencang. Terasa udara yang basah menyusup dari sela-sela dinding kayu mengusap nyala lampu yang kemerah-merahan.

Sepi malam membuat hati Ki Demang semakin ngelangut. Yang kemudian selalu mengambang di angan-angannya adalah justru persoalan anak gadisnya.

Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang memiliki kemampuan olah kanuragan yang mumpuni. Tetapi seperti yang dikatakan oleh isterinya apakah untuk seterusnya Agung Sedayu akan tetap menjadi seorang petualang? Apakah ia akan mengikuti jejak gurunya, pergi dari satu tempat ke tempat yang lain dengan mempergunakan seribu nama dan penyamaran? Apakah Agung Sedayu tidak akan dapat menjadi seorang ayah yang baik, yang bekerja dengan tekun untuk menghidupi seluruh keluarganya dalam segala seginya. Bukan hanya sekedar menyusupi kebutuhan lahiriah, tetapi juga batiniah?

“Ah,” desis Ki Demang, “kenapa aku justru dibingungkan oleh persoalan yang tidak menentu? Siapa tahu Agung Sedayu mempunyai simpanan yang cukup untuk mulai dengan suatu kehidupan baru, atau apa pun yang dapat dilakukan.”

Namun Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Ia pernah mendengar bahwa Agung Sedayu sama sekali tidak tertarik kepada tawaran kakaknya untuk menjadi seorang prajurit di Pajang.

Angan-angan itulah yang membuat Ki Demang tidak segera dapat tertidur seperti juga isterinya.

Dalam pada itu, Agung Sedayu sendiri pun telah dihinggapi oleh kerisauan yang sama. Tetapi ia tidak ingin menunjukkannya kepada orang lain.

Yang juga diganggu oleh kerisauan hati, tetapi dalam persoalan yang lain adalah Kiai Gringsing, Ki Waskita, dan Ki Sumangkar. Mereka seolah-olah digelitik oleh perasaan yang sama tanpa saling membicarakannya terlebih dahulu.

Desir angin di atap terdengar gemerisik. Kadang-kadang keras, kemudian menjadi semakin lembut.

Meskipun mereka mengerti, bahwa yang mereka dengar adalah benar-benar suara angin, namun ingatan mereka segera melayang kembali ke Tanah Mataram. Di malam terakhir mereka merasa, seolah-olah desah angin itu mengandung ancaman yang dapat membahayakan.

Dengan segenap ketajaman indera, orang-orang tua itu pun mencoba menangkap kesan yang timbul dari desah angin malam yang dingin itu. Namun mereka tidak merasakan sesuatu yang dapat menumbuhkan kecurigaan apa pun.

“Agaknya ada sesuatu yang tidak sewajarnya di Tanah Mataram,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, seperti juga Ki Waskita dan Ki Sumangkar.

Namun mereka pun menjadi agak tenang, karena di Mataram masih ada Ki Juru Martani yang tentu memiliki ketajaman indera yang cukup baik untuk melindungi Tanah Mataram dari kemungkinan-kemungkinan yang buruk.

Karena itulah maka mereka pun kemudian mencoba menyingkirkan kecemasan hati mereka. Apalagi ketika kemudian gerimis turun perlahan-lahan. Gerimis yang gemericik di sela-sela desah angin malam yang dingin.

Terasa sejuknya udara telah membuat mereka semakin tenggelam dalam perasaan kantuk sehingga mereka pun kemudian segera tertidur dengan nyenyaknya. Bahkan Ki Demang Sangkal Putung, Nyai Demang, Agung Sedayu, dan mereka yang gelisah pun telah melupakan kegelisahan mereka barang sejenak.

Waktu-waktu berikutnya berjalan selangkah demi selangkah. Di hari-hari berikutnya, Ki Demang Sangkal Putung nampak sibuk berbicara dengan orang-orang tua dari kademangannya dan tamu-tamunya. Mereka mulai menghitung-hitung hari dan saat yang paling baik untuk menentukan hari perkawinan Swandaru.

“Ki Argapati juga akan menghitung hari dan saat yang paling tepat. Kita akan membicarakannya kelak apabila ada dua atau tiga saat yang baik dipergunakan,” berkata Ki Demang kepada orang-orang tua dari Sangkal Putung dan tamu-tamunya yang masih berada di kademangan.

“Tetapi, bukankah Kiai Gringsing adalah seorang dukun yang pandai?” bertanya salah seorang yang berjanggut putih kepada Ki Demang.

“Ya,” jawab Ki Demang, “Kiai Gringsing adalah seorang dukun yang jarang ada duanya.”

“Wah, bukankah Kiai Gringsing dapat memilih hari yang paling baik buat saat perkawinan Angger Swandaru, apalagi Angger Swandaru adalah muridnya?”

Ki Demang memandang Kiai Gringsing yang tersenyum. Berkata dukun tua itu, “Maaf, Ki Sanak. Aku adalah seorang dukun yang hanya dapat mengingat beberapa jenis dedaunan yang dapat dipergunakan untuk mengobati luka-luka kecil. Tetapi sudah barang tentu bukan untuk menentukan hari dan waktu seperti itu.”

“Ah, Kiai selalu merendahkan diri. Tetapi Kiai adalah orang yang paling tepat,” berkata seorang yang usianya sudah lanjut meskipun nampaknya masih segar.

Kiai Gringsing bergeser sejenak lalu, “Maaf, seribu maaf. Bagiku hari-hari tidak ada bedanya. Itu justru karena kebodohanku.”

Orang-orang Sangkal Putung saling berpandangan sejenak. Namun seorang tua yang lain tersenyum sambil berkata, “Aku sudah menduga bahwa Kiai akan berkata begitu. Tetapi aku pun tahu bahwa Kiai adalah seorang yang memiliki pengetahuan yang luar biasa.”

Kiai Gringsing menjadi semakin bingung. Karena itu ia berkata, “Bukan maksudku untuk berpura-pura. Tetapi aku benar-benar tidak mengerti perbedaan hari yang satu dengan yang lain.”

Ki Demang yang mengerti serba sedikit tentang Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Baiklah, Kiai. Agaknya Kiai terlampau yakin akan diri sendiri, sehingga untuk berbuat sesuatu yang penting sekali pun Kiai tidak memerlukan waktu yang khusus.”

Kiai Gringsing tertawa, katanya, “Tentu bukan begitu. Yang benar, aku adalah orang yang terlampau bodoh untuk mengerti kelainan waktu.”

“Nah,” berkata Ki Demang kemudian, “kita akan kembali kepada orang-orang tua dari Sangkal Putung. Kalianlah yang harus menentukan hari-hari yang paling baik itu.”

Orang-orang tua di Sangkal Putung itu pun terdiam. Sekilas mereka memandang Ki Sumangkar dan Ki Waskita. Bagi mereka, tamu-tamu Ki Demang adalah orang-orang yang terhormat, dan sudah barang tentu mereka menganggap tamu-tamu itu adalah orang-orang yang cukup pandai. Mereka telah pernah mendengar, bahwa tamu-tamu Ki Demang adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tiada taranya.

Tetapi mereka pun sudah menduga, bahwa seperti Kiai Gringsing, tamu-tamu itu tentu akan merendahkan dirinya dan menolak untuk mengatakan saat-saat yang paling baik bagi perkawinan Swandaru.

Yang paling gelisah di antara tamu-tamu Ki Demang adalah justru Ki Waskita. Ia mengerti, bahwa Ki Demang Sangkal Putung itu serba sedikit telah mengenalnya. Ki Demang mengetahui bahwa kadang-kadang ia dapat melihat isyarat apa yang akan terjadi di masa depan. Jika Ki Demang bertanya kepadanya tentang Swandaru, maka ia tentu akan mendapat kesulitan untuk menjawab. Selama ini ia sendiri telah digelisahkan oleh penglihatannya atas isyarat tentang masa depan Swandaru. Bahkan kadang-kadang ia memaksa dirinya untuk mengingkari penglihatannya sendiri.

“Swandaru anak baik,” katanya dalam hati.

Ketika Ki Demang memandangnya, maka Ki Waskita pun segera menundukkan kepalanya. Ia berharap bahwa Ki Demang tidak akan bertanya kepadanya tentang Swandaru.

Ternyata Ki Demang tidak bertanya kepadanya. Ia pun kemudian menyerahkan kepada orang-orang tua di Sangkal Putung untuk menentukan hari yang paling baik bagi saat perkawinan Swandaru itu.

Tetapi Ki Demang memang tidak terlampau tergesa-gesa. Ia tidak ingin mendengar keputusan hari pada saat itu juga.

“Masih banyak yang akan kita bicarakan,” berkata Ki Demang, “kita memerlukan beberapa orang patah, paling sedikit dua orang gadis kecil dan dua orang anak muda. Kita memerlukan barang-barang yang akan kita siapkan dan akan kita bawa. Kita akan memerlukan orang-orang yang mengerti tentang jenis dan jumlah sesaji bukan saja di sekitar rumah, halaman dan Kademangan ini, tetapi juga di sepanjang jalan yang akan dilalui oleh Swandaru. Kita harus tahu pasti, upacara apa yang harus dilakukan di sepanjang jalan. Misalnya, melemparkan telur ke sungai yang akan kita lalui, mengelilingi Istana Kiai Sempok, sebatang randu Alas di ujung bulak Kali Asat. Dan yang lain lagi, yang masih banyak harus kita pelajari. Karena itu, juga tentang hari akan kita tentukan di saat lain. Kalian masih mempunyai waktu untuk menghitungnya.”

Orang-orang tua dari Sangkal Patung itu mengangguk- angguk. Salah seorang dari mereka berkata, “Melempar telur, mengelilingi Istana Randu Aras Kiai Sempok dan yang lain hanya harus dilakukan jika kelak kita akan ngunduh pengantin. Jelasnya apabila dalam iring-iringan pengantin terdapat pengantin laki-laki dan perempuan.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, kelak jika Swandaru membawa isterinya pulang ke Sangkal Putung.”

“Ya.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Tetapi timbul pertanyaan di dalam hatinya, “Lalu bagaimana dengan Tanah Perdikan Menoreh? Ki Argapati hanya mempunyai seorang anak. Anak itu adalah Pandan Wangi. Jika Pandan Wangi harus meninggalkan tanah Perdikan Menoreh, lalu siapakah yang akan memimpin Tanah Perdikan itu?”

Sekilas teringat oleh Ki Demang, seorang laki-laki yang pernah ikut membakar Tanah Perdikan Menoreh. Orang itu adalah orang kedua di Tanah Perdikan Menoreh. Jika tidak ada Ki Argapati, maka orang yang bernama KI Argajaya itulah yang berhak atas Tanan Perdikan Menoreh. Bahkan ia pernah berusaha bersama Sidanti, anak-laki-laki Ki Argapati itu sendiri, untuk menyingkirkan Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang sebenarnya.”

“Ah, itu persoalan yang dapat dibicarakan nanti,” berkata Ki Demang di dalam hatinya.

Dengan demikian, maka orang-orang tua itu pun kemudian minta diri. Mereka masih harus datang lagi lain kali dan tidak hanya sekali, tetapi dua kali, tiga kali dan berulang-ulang kali untuk melanjutkan pembicaraan yang penting bagi keluarga Ki Demang Sangkal Patung itu, dan sudah barang tentu dengan hidangan yang mbanyu-mili.

Dengan demikian, maka setiap kali Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Ki Sumangkar pun selalu ikut serta mendengarkan setiap pembicaraan yang merambat dengan lamban itu. Namun mereka benar-benar menginginkan saat dan keadaan yang paling baik.

Sehingga akhirnya, semua rencana pun telah tersusun. Ki Demang Sangkal Putung telah menentukan hari yang paling baik yang akan disampaikan kepada Ki Argapati. Dan Ki Demang pun telah mendapatkan dua orang gadis kecil sebagai Patah dan dua anak muda yang cukup tampan, dan yang kebetulan adalah dua orang saudara kembar.

“Kita akan segera mengirimkan utusan ke Tanah Perdikan Menoreh. Jika semuanya sudah mendapat persetujuan, maka dalam waktu singkat kita akan mempunyai kesibukan,” berkata Ki Demang kepada isterinya pada suatu saat.

“Jadi, kita akan mengantarkan Swandaru lebih dahulu?” bertanya isterinya.

“Kenapa kau bertanya begitu? Bukankah Swandaru memang lebih tua dari Sekar Mirah.”

“Tetapi di dalam perguruannya, Agung Sedayu dianggapnya sebagai saudara tua.”

“Ah, biarlah. Yang penting bagi kita adalah urutan anak-anak kita. Meskipun tidak ada salahnya seorang gadis mendahului kakaknya, tetapi lebih baik jika kakaknya lebih dahulu baru adiknya, sehingga kita tidak perlu menyediakan kelengkapan untuk melakukan upacara nglangkahi.”

Nyai Demang hanya mengangguk-angguk saja.

“Nah Nyai, kita harus sudah mulai bersiap. Perkawinan ini tentu merupakan perkawinan yang meriah. Pandan Wangi adalah satu-satunya anak Ki Gede Menoreh.”

“Dan dalam upacara ngunduh penganten, kita tidak boleh kalah. Peralatan disini harus seimbang dengan peralatan yang diselenggarakan di Tanah Perdikan Menoreh, meskipun barangkali Ki Gede Menoreh lebih berada daripada kita.”

“Maksudnya bukan begitu. Kita tidak perlu saling bersaing di dalam upacara itu. Tetapi setidak-tidaknya kita harus menghormati bakal mertua Swandaru.”

Sekali lagi Nyai Demang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Demikianlah Kademangan Sangkal Putung mulai bersiap-siap. Nyai Demang mulai menyisihkan padi yang paling baik, ketan yang putih dan beberapa ekor ayam dan kambing yang paling gemuk. Bahkan Ki Demang kemudian telah memilih seekor lembu muda yang putih mulus.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Ki Waskita justru bagaikan terikat untuk tetap tinggal di Sangkal Putung. Bahkan Ki Demang meskipun, belum resmi sudah mulai menyinggung kemungkinan sekelompok utusan yang akan dimintanya pergi untuk membuat keputusan terakhir ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Aku sendiri tidak dapat pergi meninggalkan persiapan yang sedang kita lakukan,” berkata Ki Demang.

“Agaknya memang demikian,” sahut Kiai Gringsing yang sudah merasa bahwa sebentar lagi ia akan menempuh perjalanan sekali lagi ke Menoreh. Tentu bersama Ki Sumangkar dan Ki Waskita.

“Tetapi perjalanan itu tentu akan merupakan perjalanan pulang bagi Ki Waskita.” Berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “dan aku bersama Ki Sumangkar akan kembali berdua saja ke Sangkal Putung.”

Karena itu, maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Ki Waskita tinggal menunggu saja, kapan mereka harus berangkat.

Sementara itu, selagi mereka menunggu saat yang akan ditentukan oleh Ki Demang, mereka telah dikejutkan oleh kedatangan sekelompok utusan dari Mataram yang dipimpin oleh Ki Lurah Branjangan.

Ketika sekelompok pengawal dari Mataram itu memasuki padukuhan induk, beberapa orang anak muda sudah mendahului menghadap Ki Demang, dan melaporkan bahwa beberapa orang dengan ciri-ciri yang mereka kenal sebagai pengawal-pengawal dari Mataram telah datang.

“Apakah mereka hanya sekedar singgah sejenak, atau ada kepentingan yang lain?”

“Kami tidak tahu Ki Demang. Kami baru melihat mereka dari kejauhan.”

Karena itulah maka dengan berdebar-debar Ki Demang bersama Kiai Gríngsing, Ki Waskita dan Ki Sumangkar serta para bebahu yang kebetulan sedang berada diinduk Kademangan segera menyongsong mereka keregol halaman

Sebenamyalah bahwa sejenak kemudian iring-iringan itu pun telah mendekati regol. Yang paling depan dari sekelompok pengawal itu adalah. Ki Lurah Branjangan.

Dengan berbagai pertanyaan yang bergejolak di dalam hati, maka orang-orang Sangkal Putung itu pun menyambut tamunya dan mempersilahkan mereka naik ke pendapa.

Meskipun Ki Lurah Branjangan berusaha untuk tersenyum, namun nampak bahwa ada kegelisahan yang memancar di wajahnya.

Betapa pun keinginan mendesak disetiap dada mereka yang menyambut pengawal-pengawal itu, namun mereka tidak dapat dengan serta merta menanyakan, apakah keperluan kedatangan sekelompok kecil pengawal-pengawal itu.

Yang mula-mula mereka tanyakan, seperti kebiasaan yang berlaku adalah keselamatan tamu-tamu itu disepanjang perjalanan.

“Tidak ada kesulitan apa pun juga diperjalanan, Ki Demang,” jawab Ki Lurah Branjangan, “bagaimana dengan Ki Demang sekeluarga, Kiai Gríngsíng dan kedua murid-muridnya, Ki Sumangkar dan Ki Waskita?”

“Semuanya selamat. Seperti yang Ki Lurah lihat, mereka sehat-sehat saja.”

“Syukurlah. Agaknya Ki Demang sudah mempersiapkan segala sesuatu bagi peralatan perkawinan Angger Swandaru.”

Ki Demang tersenyum sambil memandang Swandaru yang duduk disisi pendapa itu bersama Agung Sedayu. Sambil menarik nafas ia menyahut, “Begitulah Ki Lurah. Tetapi darimana Ki Lurah mengetahuinya?”

“Setumpuk kayu di halaman samping yang sudah dibelah-belah menjadi kayu bakar. Dinding-dinding yang mulai dibersihkan. Halaman dan kebun yang menjadi semakin asri. Dan kesibukan yang sudah nampak di Kademangan ini.”

“Tetapi waktunya masih cukup lama Ki Lurah.”

“Berapa hari lagi perkawinan itu akan berlangsung?”

“Menurut rencana kami tetapi masih harus disampaikan lebih dahulu kepada Ki Argapati, kira-kira selapan hari lebih sedikit.”

“O, sudah terlampau dekat bagi sebuah peralatan perkawinan yang besar.”

“Bukan peralatan yang besar,” sahut Ki Demang, “hanya sekedar syarat agar tetangga di sebelah menyebelah menjadi saksi perkawinan Swandaru kelak.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Tetapi agaknya ia tidak akan membicarakan masalah perkawinan Swandaru untuk seterusnya. Wajahnya yang sudah berkesan kegelisahan semakin nampak, bahwa memang ada sesuatu yang akan di katakannya.

“Ki Demang,” berkata Ki Lurah kemudian, “sebenarnyalah bahwa kedatangan kami membawa suatu kabar yang barangkali penting bagi Ki Demang, dan tamu-tamu Ki Demang.”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Lalu ia pun bertanya, “Apakah ada sangkut pautnya dengan Kademangan Sangkal Putung Ki Lurah?”

Ki Lurah menggeleng. Katanya, “Tidak ada hubungan langsung dengan Kademangan Sangkal Putung. Tetapi meskipun demikian, Ki Juru Martani menganggap perlu untuk memberitahukan persoalan ini kepada Ki Demang dan tamu-tamu Ki Demang.”

Ki Demang termangu-mangu sejenak ketika ia memandang wajah Kiai Gringsing, nampak wajah itu pun menjadi tegang.

“Nampaknya penting sekrali Ki Lurah, sehingga Ki Lurah tidak sempat menunggu minuman dan makanan dihidangkan,” berkata Kiai Gringsing.

“Terima kasih. Tentu kami akan menunggu sampai minuman dan makanan dihidangkan, bahkan seandainya Ki Demang menangkap beberapa ekor ayam dan disembelih. Tetapi rasa-rasanya aku ingin mencampaikan pesan yang seolah-olah menyumbat dadaku agar kemudian aku dapat duduk tenang dengan dada yang lapang.”

Kiai Gringsing pun menjadi semakin ingin mengetahui, persoalan apakah yang sedang dibawa oleh Ki Lurah Branjangan.

“Ki Demang,” berkata Ki Lurah kemudian, “agaknya kedatangan kami dengan sekelompok pengawal yang bersenjata lengkap seperti pergi kemedan perang, telah mengejutkan Sangkal Putung.”

Ki Demang mengangguk sambil menjawab, “Ya Ki Lurah. Bukan karena pengawal yang bersenjata lengkap, karena hal itu wajar sekali dilakukan dalam keadaan yang belum mantap benar seperti sekarang ini bagi Mataram. Tetapi justru kedatangan Ki Lurahlah yang telah mengejutkan kami.”

Ki Lurah Branjangan tersenyum, meskipun nampak senyumnya agak dipaksakannya karena kegelisahan.

Ki Demang yang sebenarnya juga ingin segera mengetahui persoalanya yang dibawa oleh Ki Lurah itu pun kemudian bertanya, “Apakah sebenarnya persoalan itu, Ki Lurah?”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas. Wajahnya yang gelisah menjadi semakin bersugguh-sungguh. Dan diluar sadarnya ia memandang Kiai Gringsing sambil berkata, “Kiai, berita ini akan terasa sangat penting bagi Kiai.”

“Aku?” bertanya Kiai Gringsing.

“Ya. Baru beberapa hari Kiai meninggalkan Mataram. Tetapi telah terjadi sesuatu yang sangat gawat. Justru dalam keadaan seperti sekarang.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Tetapi wajahnya yang sudah berkerut oleh umurnya menjadi semakin berkerut.

“Kiai, sepeninggal Kiai, Mataram telah mengalami bencana, sebenarnya bencana.”

Kiai Gringsing yang bertanya-tanya di dalam hati itu pun masih juga terperanjat mendengar keterangan itu. Tetapi ia masih menahan diri dan membiarkan Ki Lurah Branjangan berkata seterusnya.

Tetapi Ki Lurah pun kemudian berkata, “Maaf Ki Demang, agaknya berita yang aku bawa hanya boleh didengar oleh orang tua-tua yang berkepentingan.”

Kata-kata Ki Lurah itu menjadi semakin menggelisahkan hati. Karena itu, maka Ki Demang pun kemudian berkata kepada bebahunya yang ada di pendapa itu, “Maaf, tinggalkan pendapa ini. Agaknya memang ada sesuatu yang penting. Tetapi jangan pergi terlampau jauh.”

Bebahu Sangkal Putung yang ada dipendapa itu saling berpandangan sejenak. Namun mereka harus tunduk kepada Ki Demang yang minta mereka meninggalkan pendapa itu. Mereka pun menyadari, bahwa jika tidak dikehendaki, mereka tidak sewajarnya ikut membicarakan persoalan-persoalan penting yang barangkali langsung menyangkut perkembangan Mataram. Persoalan yang terlampau tinggi untuk mereka ketahui dan apalagi ikut memikirkannya.

Swandaru dan Agung Sedayu menjadi ragu-ragu sesaat. Apakah ia boleh ikut mendengarkan atau tidak. Karena itu, mereka masih duduk saja ditempatnya ketika bebahu Sangkal Putung sudah mulai bergeser dari pendapa.

Tetapi agaknya Ki Luran Branjangan tidak berkeberatan. Ketika Ki Lurah mengangguk kedua anak muda itu justru mendekatinya.

Sejenak Ki Lurah Branjangan memandang berkeliling seakan-akan ingin meyakinkan, bahwa tidak ada lagi orang yang dapat mendengar kata-katanya.

“Silahkan Ki Lurah,” berkata Kiai Gringsing yang agaknya didesak oleh keinginannya untuk mengetahui persoalan yang dibawa oleh Ki Lurah itu.

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Mataram telah kehilangan barang yang paling berharga bagi Raden Sutawijaya.”

“Apakah yang hilang?”

“Kanjeng Kiai Mendung.”

“Kanjeng Kiai Mendung,” hampir bersamaan orang-orang yang mendengar itu mengulang dengan wajah yang tegang.

Ki Lurah Branjangan mengangguk. Sekali lagi ia memandang berkeliling, seakan-akan ia masih belum yakin bahwa tidak ada orang lain yang mendengarnya, “Bahkan lebih dari itu,” desisnya kemudian.

“Apalagi?” bertanya Kiai Gringsing.

“Kanjeng Kiai Pleret.”

Setiap dada terguncang mendencar jawaban itu, sehingga justru sesaat mereka diam membeku.

“Keduanya hilang dalam satu saat.”

“Kapan?” bertanya Kiai Gringsing dengan nada yang dalam.

“Semalam. Baru semalam.”

“Apakah Ki Juru Martani tidak ada di Mataram?” bertanya Ki Waskita.

“Ada. Tetapi ia tidak kuasa mencegahnya.”

“Bagaimana mungkin,” potong Ki Sumangkar, “di Mataram ada Ki Juru Martani, Raden Sutawjaya, K Lurah dan pengawal-pengawal yang sudah memiliki kemampuan dan tata gerak seperti prajurit yang sebenarnya, karena sebagian dari mereka pun pernah menjadi prajurit.”

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Semua terjadi diluar dugaan kami. Agaknya sekelompok orang-orang jahat telah dengan cermat mengamati keadaan sejak sebelum Ki Gede Pemanahan wafat.”

Terdengar Kiai Gringsing berdesis. Namun ia tidak berkata apa pun juga. Meskipun demikian nampak wajahnya menjadi semakin tegang.

“Kiai,” berkata Ki Lurah selanjutnya, “tetapi dalam-hal ini Ki Juru berpesan, agar kehilangan itu dirahasiakan.Mataram akan kehilangan arti perkembangannya tanpa kedua pusaka itu. Selebihnya, Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani menjadi sangat takut, jika Kanjeng Sultan di Pajang menjadi sangat marah dan mengambil langkah-langkah yang dapat mematahkan sama sekali pertumbuhan Mataram.”

“Hampir tidak dapat dimengerti,” desis Ki Sumangkar.

“Memang hampir tidak dapat dimengerti,” gumam Ki Waskita.

“Apakah tidak ada isyarat atau tanda-tanda apa pun yang. pernah nampak oleh Ki Waskita,” tiba-tiba saja Ki Lurah Branjangan bertanya, “hilangnya kedua pusaka Mataram adalah suatu peristiwa yang besar. Karena itu, barangkali meskipun hanya seleret pernah nampak isyarat itu.”

Ki Waskita menggeleng lemah, katanya, “Aku tidak pernah menyangka bahwa hal serupa itu dapat terjadi, sehingga karena itu, maka seandainya ada isyarat, namun tentu berada diluar pengamatanku.”

“Meskipun demikian, barangkali tanda-tanda itu ada.”

“Inilah ciri kepicikan kemampuan seseorang Ki Lurah,” berkata Ki Waskita, “meskipun kadang-kadang aku dapat melihat isyarat itu, tetapi aku adalah seorang yang dibatasi oleh banyak sekali kekurangan.”

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Semula kami hanya pernah mendengar bahwa keris Kanjeng Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten pernah hilang. Bahkan langsung dari gedung perbendaharaan istana Demak. Dan kini Mataram mengalami peristiwa yang hampir serupa.”

“Bagaimana hal itu terjadi?” bertanya Kiai Gringsing. Sekilas terkenang olehnya udara yang mencurigakan pada saat-saat terakhir ia berada di Mataram.

“Tentu ada hubungannya dengan hilangnya pusaka-pusaka itu,” berkata Kiai Gringsing di dalam harinya.

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sesuatu telah terjadi semalam. Udara di Mataram bagaikan ditaburi dengan racun. Semua orang yang bertugas telah kehilangan kesadaran diri. Mereka tertidur ditempat tugas mereka masing-masing.”

“Sirep,” desis Ki Sumangkar, “masih juga ada orang yang mempergunakannya saat ini. Dan masih juga ada orang yang terpengaruh oleh kekuatannya.”

“Mungkin tidak akan dapat mempengaruhi kesadaran Ki Sumangkar, Kiai Gringsing dan Ki Waskita. Juga Ki Juru Martani. Tetapi mereka yang tidak memiliki ilmu yang cukup kuat akan segera terpengaruh. Aku tidak tahu, kenapa saat itu aku pun hampir kehilangar kesadaran. Juga Raden Sutawijaya. Hanya dengan berjuang sekuat-kuatnya kami dapat tetap sadar. Beberapa orang pemimpin di Mataram pun harus memusatkan segenap kemampuannya agar mereka tidak tertidur.”

“Jadi, bagaimana mungkin pusaka-pusaka itu hilang jika Ki Juru, Raden Sutawijaya, Ki Lurah sendiri dan beberapa orang pemimpin masih tetap menyadari dirinya. Dan apakah dalam keadaan yang demikian, Ki Juru dan para pemimpin di Mataram tidak segera menyadari bahwa pusat perhatian orang lain terhadap Mataram, sepeninggal Ki Gede adalah kedua pusaka itu?”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia merenung, seolah-olah ingin mengingat seluruh peristiwa itu kembali.

“Kiai,” berkata Ki Lurah Branjangan, “seakan-akan memang tidak mungkin terjadi. Sekelompok orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi telah menyerang Mataram pada malam itu. Dan kami yang tetap mampu menyadari diri betapa pun pengaruh sirep itu menusuk kedalam jantung kami telah bertempur dengan segenap kemampuan yang ada.”

“Agaknya Ki Juru telah terpancing keluar rumah malam itu,”geram Kiai Gringsing.

“Memang sulit mengatakannya. Tetapi agaknya memang demikian. Ki Juru memang tidak mau meninggalkan bilik penyimpanan pusaka itu. Ia hanya bertempur di depan pintu karena seorang yang memiliki kelebilhan ilmu dari para penyerang yang lain telah mencoba masuk kedalam bilik itu. Namun ketika orang itu berhasil diusirnya, bahkan Ki Juru sudah menahan diri tanpa mengejarnya, ternyata pusaka-pusaka itu sudah tidak ada di dalam bilik.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika demikian sekurang-kurangnya, di antara kelompok penyerang itu ada dua orang yang memiliki ilmu setingkat dengan Ki Juru. Yang pertama adalah yang bertempur di depan pintu, sedang yang lain yang berhasil mengambil pusaka itu dari dalam bilik.”

“Demikianlah agaknya. Orang yang mengambil pusaka itu ternyata telah memecahkan dinding kayu dan justru masuk dari ruang dalam.”

Mereka yang mendengar keterangan itu menjadi semakin tegang. Agung Sedayu dan Swandaru tanpa menyadarinya telah bergeser semakin dekat. Dengan suara bergetar Swandaru menyela, “Berapa orang yang datang malam itu Ki Lurah.”

“Tidak kurang dari tujuh atau delapan orang. Meskipun jumlah kami yang mampu melepaskan diri dari sirep yang kuat itu lebih dari sepuluh orang dan yang dengan sikap naluriah telah berkumpul dipendapa rumah Raden Sutawijaya, namun kami. tidak mampu menahan mereka karena sebagian dari kami memang sudah dipengaruhi oleh gangguan kekuatan sirep itu. Sebagian dari kami harus berjuang melawan kekuatan sirep dan bertempur sekaligus melawan orang-orang yang memiliki kemàmpuan yang cukup tinggi.”

Ki Sumangkar yang tegang itu pun tiba-tiba menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jarang sekali orang yang dapat melontarkan kekuatan sirep yang sebenarnya. Jika orang-orang Mataram itu kemudian tertidur ditempat tugasnya, maka sirep itu tentu dilontarkan oleh seseorang yang memang memiliki ilmu yang tinggi.”

“Mungkin. Tetapi gerombolan itu mungkin memiliki dua atau tiga orang yang bersama-sama mempergunakan ilmunya, sehingga kekuatan sirep itu menjadi berlipat,” desis Ki Waskita.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa sesuatu mencengkam jantungnya. Hilangnya kedua pusaka itu tentu akan mempunyai arti yang jauh bagi Mataram.

Karena itu, Kiai Gringsing sependapat, bahwa hilangnya kedua pusaka itu memang harus dirahasiakan. Bahkan orang-orang Mataram sendiri pun harus tidak mengetahuinya, selain beberapa orang pemimpin yang sangat terbatas.

“Kiai,” berkata Ki Lurah kemudian, “sebagian dari kami percaya, bahwa kedua pusaka itu adalah kelengkapan yang menentukan dari seseorang yang akan menjadi pemimpin. Bahkan ada di antara kami dan barangkali juga beberapa pihak yang percaya bahwa siapa yang dapat memiliki Kanjeng Kiai Pleret dan Kanjeng Kiai Mendung akan dapat menjadi raja yang besar, meskipun masih harus dilengkapi dengan pusaka-pusaka yang lain, terutama Kanjeng Kiai Sangkelat.”

“Bagaimana dengan Kanjeng Kiai Nagasasra dan Kanjeng Kiai Sabuk Inten?”

Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Katanya, “Pusaka-pusaka itu memang harus dipersatukan jika seseorang ingin memiliki kedudukan yang kuat. Tetapi tidak mustahil bahwa gerombolan yang mengambil Kanjeng Kiai Pleret dan Kanjeng Kiai Mendung akan berusaha untuk memiliki pusaka-pusaka yang lain, karena dengan memiliki sebagian dari pusaka-pusaka itu, masih belum berhasil dapat memegang pimpinan pemerintahan. Sekelompok kekuatan yang pernah menyimpan Kanjeng Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten untuk beberapa lamanya ketika kedua pusaka itu hilang, ternyata sama sekali tidak berhasil merebut pemerintahan yang saat itu berada ditangan Sultan Trenggana di Demak. Bahkan kedua pusaka itu telah menyeret mereka kedalam malapetaka dan kemusnahan.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Sebenarnyalah bahwa pusaka-pusaka itu mempunyai pengaruh pada seseorang yang memilikinya. Tetapi hubungan timbal balik antara kekuatan-kekuatan yang ada pada diri seseorang dan kemampuannya menyesuaikan diri dengan pengaruh yang ada pada pusaka-pusaka itulah sebenarnya yang dapat menentukan sifat-sifat yang terpancar dari pusaka-pusaka itulah yang harus di dalami dan luluh di dalam diri seseorang. Barulah pusaka itu mempunyai arti.”

Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Lalu, “Kegelisahan yang besarlah yang kini tengah mencengkam Mataram.”

“Sudah tentu. Terlebih-lebih adalah Ki Juru Martani,” desis Ki Waskita.

“Ya,” sahut Ki Lurah, lalu tiba-tiba saja berkata kepada Ki Waskita, “Ki Waskita, sebagian harapan kami ada pada Ki Waskita. Tentu Ki Waskita dapat mengetahui siapakah yang telah mengambil pusaka-pusaka itu.”

Ki Waskita mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Aku mengerti maksud Ki Lurah. Tetapi Ki Lurah memerlukan penjelasan.”

Ki Lurah Branjangan memandang Ki Waskita dengan tatapan mata yang mengandung harapan. Meskipun demikian ada sesuatu yang agaknya harus diterimanya sebagai suatu kenyataan.

“Ki Lurah,” berkata Ki Waskita, “sebenarnyalah bahwa aku mendapat anugerah dapat melihat isyarat dari berbagai peristiwa dimasa mendatang. Tetapi sudah barang tentu amat sulit untuk mengetahui dimanakah kedua pusaka itu berada. Aku tidak dapat mengatakan dengan pasti, apa yang sebenarnya akan terjadi selain sebuah uraian tentang isyarat. Sedangkan pusaka-pusaka yang ada di Mataram itu telah hilang. Dan aku tidak dapat melihat, siapakah yang mengambilnya.”

“Tetapi setidak-tidaknya Ki Waskita dapat menunjukkan, apakah yang harus kami lakukan? Ki Waskita dapat mencari anak Ki Waskita yang hilang itu dengan arah yang tepat. Sudah barang tentu sekarang Ki Waskita dapat juga menunjukkan kepada kami, dimanakah pusaka itu berada. Di Barat, di Timur, di Selatan atau di Utara, atau dimana saja.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia memang belum mencoba untuk menangkap isyarat dari pusaka yang hilang itu. Tetapi seandainya ia berusaha sekalipun, belum tentu ia dapat menangkapnya. Hubungan antara dirinya dan pusaka itu tidak sedekat hubungan antara dirinya dengan anaknya, sehingga getaran yang paling halus pun mampu menyentuh mata hatinya. Apalagi jarak jangkau kemampuannya pun terbatas, sehingga tidak semua masalah dapat dicapainya dengan ketajaman penglihatan batinnya.

“Jika aku melihat seisi bumi peristiwa yang sudah dan yang akan terjadi, maka aku adalah Yang Maha Melihat. Dan jika aku berani menyangka diriku demikian, maka itu adalah alamat keruntuhanku sendiri,” berkata Ki Waskita kepada dirinya sendiri.

“Ki Lurah,” katanya kemudian, “keterbatasan pengetahuan manusia tidak dapat diingkari. Karena itu jangan terlampau banyak mengharap. Barangkali aku dapat berusaha melihat sesuatu yang dapat nampak, dalam hubungannya dengan pusaka-pusaka itu. Tetapi itu pun tentu terbatas sekali.”

“Cobalah Ki Waskita,” sahut Ki Lurah Branjangan, “Raden Sutawijaya mengharap bantuan Ki Waskita.”

“Tetapi sudah barang tentu Ki Lurah tidak tergesa-gesa. Ki Lurah akan beristirahat sebentar di Sangkal Putung. Atau barangkali bermalam satu atau dua malam.”

“Tentu tidak. Aku harus segera kembali. Bahkan jika mungkin, Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Ki Waskita diharap pergi bersamaku ke Mataram.”

Undangan itu membuat hati Ki Demang menjadi berdebar-debar. Belum lagi ia dapat melaksanakan keinginannya untuk segera mengawinkan anaknya, tiba-tiba datang lagi persoalan yang mungkin dapat menunda saat-saat yang sudah lama ditunggunya itu.

Tetapi untuk memotong pembicaraan itu rasa-rasanya Ki Demang agak segan juga, karena ia mengerti bahwa masalahnya adalah masalah yang sangat penting bagi Mataram.

Tetapi agaknya Kiai Gringsing dapat menangkap kegelisahan itu sehingga katanya, “Ki Lurah. Sudah barang tentu kami tidak akan berkeberatan. Tetapi kami mohon waktu sedikit. Dengan demikian kami mohon maaf bahwa kami tidak dapat pergi bersama Ki Lurah hari ini. Kami akan segera menyusul, mungkin besok, mungkin lusa.”

Ki Lurah Branjangan merasa menjadi sangat kecewa. Tetapi ia pun dapat mengerti, agaknya Kademangan Sangkal Putung sudah disibukkan oleh persiapan saat-saat perkawinan Swandaru.

Kiai Gringsing pun dapat membaca kekecewaan yang tersirat di wajah Ki Lurah itu. Katanya, “Ki Lurah. Agaknya aku sudah dipastikan oleh Ki Demang untuk sekali lagi pergi ke Tanah Perdikan Menoreh untuk menyampaikan keputusan terakhir dari pembicaraan yang berkepanjangan tentang Angger Swandaru. Aku akan datang ke Tanah Perdikan Menoreh dengan kepastian waktu, saat dan upacara yang akan sama-sama dilakukan, baik di Tanah Perdikan Menoreh, maupun di Sangkal Putung.”

“Dalam perjalanan itu Kiai akan singgah di Mataram?” bertanya Ki Lurah.

“Ya,” sahut Kiai Gringsing, “mungkin aku dapat melakukan tugas yang dibebankan oleh Ki Demang, sekaligus menghadap Ki Juru Martani. Aku ingin lebih banyak mengetahui persoalan yang sedang menggelisahkan Mataram.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Namun kemudian ia bergeser maju. Sekali lagi ia memandang berkeliling. Dilihatnya diregol halaman, beberapa orang bebahu dan pengawal sedang bercakap-cakap.

“Kiai,” berkata Ki Lurah Branjangan, “ada sesuatu yang harus aku tunjukkan kepada Kiai. Kecuali isyarat yang kami harapkan dapat dilihat oleh Ki Waskita, maka barangkali pertanda yang kami ketemukan setelah terjadi pertempuran dipintu bilik pusaka itu dapat memberikan sedikit petunjuk.”

Kiai Gringsing menjadi semakin tegang. Bahkan ia pun bergeser setapak sambil bertanya, “Pertanda apa yang dapat kau lihat?”

“Bukan saja aku lihat, tetapi diketemukan oleh Ki Juru. Sekarang tanda itu ada padaku dan atas perintah Ki Juru, tanda itu supaya aku tunjukkan kepada Kiai.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Aku ingin sekali melihat tanda itu.”

Ki Lurah Branjangan pun kemudian mengambil sebuah kampil kecil dari kantung ikat pinggang kulitnya yang lebar. Kemudian kampil kecil itu pun diberikannya kepada Kiai Gringsing sambil berkata, “Kampil itulah yang diketemukan oleh Ki Juru Martani. Silahkan melihat isinya. Barangkali Kiai dapat memberikan tanggapan atas benda itu.”

Dengan dada yang berdebar-debar Kiai Gringsing menerima kampil kecil itu dari tangan Ki Lurah Branjangan. Sebuah kampil dari kain berwarna putih, meskipun agaknya sudah cukup tua sehingga menjadi kekuning-kuningan.

Pada saat Kiai Gringsing menerima kampil itu sudah terasa ditangannya sebuah benda yang pipih di dalamnya. Sebuah benda yang membuat jantungnya semakin cepat berdetak.

“Ternyata kedua pusaka itu benar-benar telah mengundang kesulitan bagi Mataram,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “namun kedua benda itu memang dapat memberikan pengaruh bagi mereka yang memilkinya. Kanjeng Kiai Pleret adalah pusaka yang tidak ada duanya. Sentuhan ujung tombak itu, dan goresan setebal rambut terbagi tujuh, telah dapat melepaskan nyawa orang yang paling sakti sekalipun, bahkan yang memiliki ilmu kebal rangkap lima. Ilmu Lembu Sekilan, ilmu Tameng Waja dan segala macam ilmu keteguhan jasmaniah yang lain yang terpancar dari tenaga cadangan di dalam diri seseorang. Sedangkan Kanjeng Kiai Mendung adalah perlambang kekuasaan yang dilimpahkan oleh Kanjeng Sultan Pajang bagi putera angkatnya, seolah-olah memang demikianlah yang dikehendakinya, bahwa Pajang akan mengalirkan kekuasaannya ke Mataram. Dan kini kedua pusaka itu telah hilang.”

Tanpa disadarinya, dengan dada yang berdebar-debar Kiai Grinsing mencoba untuk mengetahui isi kampil kecil itu dengan jari-jarinya. Ada sesuatu yang membuat jantungnya berdentangan. Rasa-rasanya benda di dalam kampil itu akan sangat mengejutkannya.

Tetapi Kiai Gringsing tidak dapat menduga, apakah yang akan ditemukannya di dalam kampil itu. Sehingga karena itu, ia pun kemudian dengan tangan yang gemetar membuka ikatannya perlahan-lahan.

Bukan saja Kiai Gringsing yang menjadi tegang. Tetapi mereka yang menunggu tangan Kiai Gringsing mengambil benda yang berada di dalam kampil itu pun menjadi tegang pula. Ki Sumangkar, Ki Waskita, Agung Sedayu, Swandaru, Ki Demang Sangkal Putung seolah-olah tidak sabar lagi menunggu, apakah yang akan dilihatnya.

Ki Lurah Branjangan dan beberapa orang pengawal terpercaya dari Mataram, yang merupakan orang-orang tertentu yang boleh mengetahui rahasia hilangnya kedua pusaka itu, menjadi tegang pula meskipun mereka sudah melihat benda yang berada di dalam kampil itu.

Sesaat kemudian maka Kiai Gringsing pun menarik benda yang berada di dalam kampil itu. Sebuah benda yang pipih kehitam-hitaman, yang ternyata adalah kepingan perak hitam yang dipahat dengan sebuah lukisan.

Sejenak Kiai Gringsing mengamat-amati lukisan itu. Semakin lama nampak ia menjadi semakin tegang dan gelisah. Keningnya yang memang sudah berkerut-merut menjadi semakin berkerut lagi.

Pendapa itu bagaikan dicengkam oleh kesenyapan yang tegang. Tidak seorang pun yang bergerak, apalagi berdesah. Bahkan mereka seolah-olah menahan nafas masing-masing.

Dengan tanpa berkedip mereka memandang benda yang dipegang oleh Kiai Gringsing itu.

Meskipun tidak terucapkan, namun seolah-olah setiap sorot mata yang menatap benda itu memancarkan pertanyaan yang menyesak di dalam hati. Benda yang rasa-rasanya mempunyai arti yang besar bagi hilangnya kedua pusaka itu dari Mataram.

Tiba-tiba dalam keheningan yang menyesak itu, terdengar suara Kiai Gringsing, “Benda ini mempunyai arti tersendiri. Tetapi apakah benda ini terjatuh selagi pemiliknya bertempur melawan Ki Juru Martani, atau dengan sengaja dijatuhkannya untuk memberikan tekanan atas tindakannya mengambil kedua puasaka itu?”

“Kiai,” berkata Ki Lurah Branjangan, “di dalam kampil itu masih ada secabik kain yang bertuliskan beberapa kata yang tentu akan sangat menarik.”

Kiai Gringsing rasa-rasanya tidak sabar lagi. Dengan tergesa-gesa tangannya meraih sesobek kain yang memang terdapat di dalam kampil itu.

Mereka yang menyaksikan sesobek kain itu pun sekali lagi terperanjat. Kain itu ditulisi dengan huruf-huruf berwarna merah.

“Darah,” desis Ki Sumangkar.

“Ya. Agaknya kain ini ditulisi dengan darah,” sahut Kiai Gringsing.

Ki Lurah Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kata-nya, “Ki Juru juga berkata demikian.”

“Cobalah membaca Kiai?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Memang ada kesengajaan. Benda itu dengan sengaja di jatuhkannya.”

“Apakah bunyi surat berwarna darah itu Kiai?” bertanya Ki Demang.

Kiai Gringsing mengamat-amati sesobek kain itu. Kemudian membacanya, “Kamilah yang berhak atas pusaka-pusaka itu, karena hanya kamilah yang berhak mewarisi kejayaan tahta Majapahit.”

“Kiai,” desis Ki Waskita.

Kiai Gringsing menarik nafas. Katanya, “Agaknya pertanda ini adalah pertanda dari sebuah perguruan yang semula tidak pernah berkembang. Tetapi pimpinan dari perguruan itu langsung merupakan keturunan dari Majapahit.”

“Kiai,” Ki Waskita bergeser, “yang dikenal oleh Ki Juru Martani keturunan langsung dari Majapahit adalah Kiai Gringsing.”

Kiai Gringsing memandang Ki Waskita dengan tegang. Ia mengerti maksud Ki Waskita, sehingga karena itu maka ia pun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Tetapi Ki Juru tentu tidak akan dengan tergesa-gesa menyangka, bahwa akulah yang telah datang mengambil pusaka-pusaka itu.”

Ki Lurah Branjangan nampak menjadi semakin gelisah.

Kemudian katanya, “Memang tidak Kiai. Meskipun semula Ki Juru terganggu juga untuk menyebut nama Kiai Gringsing, tetapi benda itu memberikan petunjuk kepada Ki Juru bahwa bukan perguruan Empu Windujati lah yang telah mengambil pusaka-pusaka itu.”

Kiai Gringsing terkejut. Katanya, “Apakah kau mengetahui beberapa hal tentang Empu Windujati.”

“Dalam keadaan yang tegang, Ki Juru Martanl mengucapkannya. Seperti juga baru saja diucapkan oleh Ki Waskita tanpa sadar bahwa Kiai adalah keturunan langsung dari Majapahit.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Tanpa sesadarnya ia memandang kedua muridnya yang terheran-heran. Tetapi Kiai Gringsing masih sempat berkata, “Hampir setiap orang dapat menyebut dirinya keturunan Majapahit. Aku pun dapat menganggap diriku demikian. Tetapi, jarak antara Majapahit dan aku sudah terlampau jauh.”

“Kiai,” berkata Ki Lurah Branjangan, “pengawal-pengawalku adalah orang-orang yang terpercaya dan terikat sumpah akan ke-setiaannya. Mereka tidak akan berbuat sesuatu diluar kehendak kami bersama.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Lihatlah Ki Lurah Branjangan. Benda perak hitam ini menunjukkan ciri-ciri khusus. Lihatlah bentuk perisai yang aneh itu. Bulat tetapi bergerigi. Kemudian di tengah-tengahnya terdapat perlambang yang aneh pula. Bukan binatang yang garang dan mempunyai lambang kekuatan. Tetapi seekor kelelawar. Perlambang dari salah satu bentuk kehidupan malam yang hitam.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali-sekali ia memandang wajah Kiai Gringsing dan kawan-kawannya yang masih saja diliputi oleh ketegangan. Terlebih-lebih Ki Waskita yang bukan saja karena benda dan surat yang masih dipegang oleh Kiai Gringsing, tetapi juga keterlanjurannya menyebut hubungan antara Kiai Gringsing dengan Majapahit.

“Tetapi pada suatu saat kedua muridnya itu pun harus mengetahuinya pula. Apalagi peristiwa hilangnya kedua pusaka itu akan memaksa Kiat Gringsing berbuat sesuatu atas nama perguruan Empu Windujati meskipun dalam lingkungan yang sangat terbatas. Tetapi karena seseorang telah menyebut dirinya keturunan Majapahit yang merasa berhak atas warisan tahta dan kejayaan Majapahit, maka pada suatu saat tidak ada jalan lain bagi Kiai Gringsing untuk menyebut dirinya keturunan Majapahit pula dalam menghadapi orang yang mempunyai perlambang yang aneh itu.”

Dalam pada itu, Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Ki Lurah Branjangan, menurut pengamatanku, bahwa orang-orang yang mempergunakan ciri binatang dalam kehidupan kelam itu memang mungkin keturunan Majapahit. Tetapi aku masih harus mencari hubungan dengan nama-nama yang masih aku kenal. Seperti yang kita ketahui, orang yang menyebut dirinya keturunan Majapahit terlampau banyak. Bahkan siapa pun dapat menyebut dirinya keturunan raja-raja Majapahit, karena terlampau sulit untuk membuktikannya apakah pengakuannya itu benar atau tidak.”

“Tetapi yang meninggalkan benda ini?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Menurut dugaanku, orang yang meninggalkan benda ini benar-benar orang yang merasa dirinya berhak mewarisi kerajaan Majapahit.”

“Apakah ada tanda yang Kiai kenal?”

“Aku masih harus menyelidikinya. Tetapi rasa-rasanya aku mendapat firasat, bahwa masih ada keturunan yang sebenarnya, yang merindukan kejayaan Majapahit. Tetapi bukan kejayaan Majapahit sebagi suatu negeri, namun yang diimpikannya adalah semata-mata kamukten yang akan didapatkannya apabila benar-benar wahyu keraton dapat dimilikinya dengan menyimpan pusaka-pusaka yang memiliki pengaruh yang kuat terhadap tegaknya sebuah kerajaan.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Lalu, “Kiai, sebaiknya Kiai bertemu dengan Ki Juru Martani. Mungkin Kiai dan Ki Juru akan dapat memecahkan teka-teki yang terdapat pada benda yang aneh dan menyimpan rahasia itu.”

“Baiklah Ki Lurah. Besok atau lusa aku tentu akan singgah di Mataram.”

“Jangan terlampau lama Kiai. Pusaka itu tentu sudah menjadi terlampau jauh, sehingga kemungkinan untuk segera diketemukan menjadi semakin kecil.”

“Tentu, segera,” jawab Kiai Gringsing, “sebenarnyalah bahwa aku pun berkepentingan dengan diketemukannya pusaka-pusaka itu. Bukan karena kepentingan pribadi, tetapi jika pusaka-pusaka itu masih berada ditangan orang-orang yang merasa dapat mewarisi kedudukan tahta Majapahit dengan mengumpulkan pusaka-pusaka serupa itu, maka ketenteraman tidak akan dapat terwujud. Orang-orang itu tentu akan berusaha untuk mendapatkan pusaka-pusaka yang lain dan yang lain, sehingga keributan akan terjadi dimana-mana.”

“Terima kasih Kiai. Mudah-mudahan Kiai akan segera berada di Mataram.”

“Lalu, bagaimana dengan benda ini? Jika tidak berkeberatan, apakah benda ini dapat aku pinjam sejenak. Pada saat aku singgah di Mataram, benda ini akan aku kembalikan kepada Ki Juru Martani.”

Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Beberapa saat ia menimbang-nimbang. Tetapi agaknya Ki Juru Martani tidak akan marah karena benda itu berada ditangan orang yang dapat dipercaya.

“Tentu orang yang mengambil pusaka-pusaka itu tidak ada hubungannya dengan Kiai Gringsing. Ciri Kiai Gringsing berbeda sekali dengan ciri yang terpahat pada benda pipih dari perak hitam itu,” berkata Ki Lurah Branjangan di dalam hatinya.

Dengan demikian maka akhirnya ia mengangguk sambil berkata, “Aku percayakan benda itu kepada Kiai. Dan tentu Kiai akan membawanya dan mengembalikannya kepada Ki Juru dalam waktu yang singkat. Apalagi agaknya Ki Juru ingin segera berbicara dengan Kiai dalam persoalan ini.”

Kiai Gringsing mengangguk. Jawabnya, “Aku mengerti. Dan aku benar-benar akan segera datang.”

“Jika demikian, maka agaknya keperluanku untuk datang ke Sangkal Putung sudah selesai. Karena itu, maka kami akan segera mohon diri.”

“Ah,” potong Ki Demang, “demikian tergesa-gesa.”

“Mataram baru dalam keadaan yang gawat.”

“Tetapi nanti dulu. Bagaimana pun juga aku belum dapat melepaskan Ki Lurah dan para pengawal meninggalkan pendapa ini, karena jika demikian, maka perempuan-perempuan yang sedang dengan tergesa-gesa menyiapkan hidangan makan akan menjadi sangat kecewa. Sebentar lagi, dan kita akan makan bersama-sama.”

Ki Lurah tidak dapat memaksa, karena dengan demikian Ki Demang akan benar-benar menjadi kecewa. Karena itu maka mereka pun terpaksa menunggu sejenak.

Sementara itu Ki Lurah masih sempat berkata, “Bahwa semuanya yang terjadi, tetap merupakan rahasia bagi rakyat Mataram. Selain, orang-orang yang sangat terbatas, tidak ada yang mengetahui bahwa kedua pusaka itu hilang. Rakyat Mataram sama sekali tidak akan pernah membicarakan kedua pusaka itu, karena mereka sama sekali tidak menge-tahui bahwa sesuatu telah terjadi.”

“Baiklah,” jawab Kiat Gringsing, “kami pun akan membatasi diri. Tidak akan ada orang lain yang mengetahui bahwa pusaka-pusaka itu telah hilang, dan tidak ada orang lain yang akan mengatakan bahwa langsung atau tidak langsung Kiai Gringsing mempunyai hubungan dengan darah keturunan Majapahit.”

Ki Lurah mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum, “Baik Kiai. Kami akan memegang semua rahasia itu sebaik-bailknya. Jika rahasia itu terlontar dari antara kita dan didengar oleh banyak orang, maka kegelisahan akan segera timbul dan mengganggu perkembangan Mataram selanjutnya.”

“Kita akan berbuat sebaik-baiknya. Kami di sini pun akan dapat berbuat dengan sikap dewasa.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Ia memang percaya sepenuhnya kepada orang-orang yang kini berada di Kademangan Sangkal Putung itu, bahwa mereka adalah orang-orang yang matang di dalam sikap dan perbuatan. Bahkan Ki Demang Sangkal Putung pun tentu akan berbuat serupa pula.

Demikianlah maka mereka pun segera mengakhiri pembicaraan yang mereka anggap rahasia itu. Karena itu maka para bebahu dan orang-orang lain yang berada diluar pendapa, segera dipersilahkannya naik lagi ketika kemudian hidangan mulai mengalir dari dapur.

Sejenak kemudian maka mulailah Ki Demang menjamu tamu-tamunya. Beberapa orang bebahu tidak ikut makan bersama karena mereka baru saja makan di rumah masing-masing. Meskipun demikian mereka ikut pula dipendapa melingkari hidangan yang masih panas.

Sambil menyuapi mulut masing-masing, mereka yang berada dipendapa Kademangan Sangkal Putung itu pun berbicara tentang berbagai macam persoalan. Tetapi sebagian besar pembicaraan mereka berkisar kepada saat-saat mendekati perkawinan Swandaru.

Namun Swandaru sendiri tidak terlampau banyak ikut campur dalam pembicaraan itu. Hanya sekali-sekali saja ia tertawa dan menyahut menurut tanggapannya yang kadang-kadang memang dapat menumbuhkan gelak tertawa.

Tetapi sebenarnya Swandaru sendiri sedang diganggu oleh persoalan yang dihadapi oleh Mataram, ditambah lagi persoalan yang samar-samar tentang gurunya.

“Apakah hubungannya pusaka-pusaka yang hilang itu dengan keturunan darah Majapahit. Dan apakah hubungannya gurunya dengan darah Majapahit itu pula,” bertanya Swandaru di dalam hatinya.

Namun demikian ia harus menyimpan pertanyaan itu dalam hati karena yang selalu terdengar di antara mereka justru persoalan Swandaru itu sendiri.

Kecuali Swandaru, Agung Sedaya pun selalu diganggu oleh pertanyaan yang serupa. Namun ia berusaha menyisihkan persoalan itu untuk beberapa saat, karena ia tidak akan dapat merenunginya sebaik-baiknya di dalam pertemuan itu, justru karena mereka yang ada di pendapa itu dengan sengaja berusaha untuk mengesampingkannya pula.

Setelah mereka selesai dengan jamuan makan, dan setelah beristirahat sejenak, Ki Lurah Branjangan tidak dapat ditahan lebih lama lagi. Ia pun segera mohon diri kepada Ki Demang Sangkal Putung sambil berkata, “Ki Demang, lain kali kami akan datang lagi. Bukankah Ki Demang akan segera menyelenggarakan peralatan perkawinan Angger Swandaru, dan yang akan segera disusul pula dengan adiknya? Ki Demang, agaknya beruntung pula Angger Agung Sedayu, karena ternyata Sekar Mirah pandai pula memasak. Aku kira hidangan yang baru saja kita nikmati adalah hasil tangan Sekar Mirah.”

Ki Demang hanya tersenyum saja. Agung Sedayu bahkan menundukkan kepalanya dengan wajah yang kemerah-merahan.

Demikianlah maka Ki Lurah Branjangan, bersama para pengawalnya pun segera bergeser dari tempatnya. Mereka benar-benar akan meninggalkan Sangkal Putung untuk segera kembali ke Mataram.

Ki Demang Sangkal Putung tidak dapat menahan mereka lagi. Ia mengerti, persoalan yang sedang dihadapi oleh Mataram adalah persoalan yang memang gawat. Karena itu, maka dilepaskannya tamunya meninggalkan Kademangannya.

Setelah sekali lagi minta diri, maka Ki Lurah Branjangan pun segera menuntun kudanya keregol halaman. Ia masih sempat minta diri pula kepada Sekar Mirah yang ikut mengantar tamu-tamunya sampai kepintu halaman.

“Aku menunggu undangan yang akan diberikan oleh Ki Demang,” berkata Ki Lurah kepada Sekar Mirah, “setelah kakakmu, tentu segera kau akan menyusul.”

“Ah,” desah Sekar Mirah. Tetapi ia tidak melanjutkannya. Ki Lurah Branjangan adalah seorang yang belum terlampau dikenalnya, meskipun ia mengertinya bahwa Ki Lurah itu adalah salah seorang pemimpin dari Mataram yang sedang tumbuh dan berkembang.

Sepeninggal tamu-tamunya dari Mataram, dan setelah orang-orang lain meninggalkan pendapa, maka mulailah Kiai Gringsing, Ki Waskita, Ki Sumangkar dan Ki Demang berbincang tentang hilangnya pusaka-pusaka yang dirahasiakan itu.

“Kiai Gringsing,” berkata Ki Waskita, “apakah Kiai sama sekali tidak mengerti, ciri-ciri yang nampak pada benda yang agaknya dengan sengaja ditinggalkan itu, sesuai dengan bunyi kalimat yang ditulis pada sesobek kain dengan warna darah itu.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Banyak orang yang merasa dirinya keturunan Majapahit. Seperti yang Ki Waskita ketahui, saat Majapahit pecah, banyaklah para penghuni Istana, yang berpencaran mengungsi. Bahkan sebelum itu pun sudah banyak keturunan Majapahit yang bertebaran karena sudah barang tentu tidak semuanya akan selalu berada dalam lingkungan yang sama. Dan mereka serta keturunan mereka pun berhak menyebut diri mereka keturunan langsung dari Majapahit.”

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Arya Penangsang pun dapat menyebut dirinya keturunan Majapahit. Karena itulah maka ia merasa dirinya lebih dekat dengan tahta Demak daripada Mas Karebet, anak dari Pengging itu.”

“Ya,” sahut Kiai Gringsing.

“Mas Karebet hanyalah seorang menantu dari Sultan Trenggana. Tetapi Arya Penangsang adalah putera dari Pangeran Sekar Seda Lepen.”

“Apakah sekarang akan tumbuh lagi orang-orang yang merasa dirinya berhak atas tahta dan berbuat seperti Arya Penangsang itu?” bertanya Kiai Gringsing.

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat menjawab, Justru karena ia merasa salah seorang yang pernah berada di dalam lingkungan Arya Penangsang. Ia adalah adik seperguruan Patih Jipang yang pernah dianggap mempunyai nyawa rangkap.

“Korban telah cukup banyak,” berkata Ki Sumangkar kemudian, “memang tidak seharusnya terjadi lagi pertentangan yang apalagi melahirkan peperangan seperti yang pernah terjadi antara Jipang dan Pajang.”

“Bukan hanya Jipang dan Pajang,” desis Kiai Gringsing.

“Ya. Kematian yang disebar oleh Arya Penangsang mencengkam daerah yang sangat luas. Prawata, Kalinyamat, dan Pajang. Memang seperti yang aku katakan, sudah cukup banyak. Karena itu, bukanlah berita yang menggembirakan jika masih ada orang yang beralaskan keturunan darah Majapahit kemudian dengan sengaja menumbuhkan pertentangan.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Tetapi nampak betapa pahitnya kenyataan yang harus dihadapinya. Benda yang masih ada ditangannya itu di timangnya, kemudian setelah diamat-amatinya beberapa saat, dimasukkannya kembali ke dalam kampil kecil dan disimpannya di dalam kantung ikat pinggangnya yang lebar. Namun setiap kali dengan kerut merut dikening, benda itu diambilnya, diamat-amati sejenak, dan disimpannya lagi.

“Kiai,” berkata Ki Waskita kemudian, “persoalan yang dihadapi oleh Mataram kali ini adalah persoalan yang gawat sekali. Beberapa kali ada usaha untuk membenturkan Mataram dengan Pajang. Tetapi usaha itu tidak pernah berhasil. Kini ternyata ada tindakan lain yang dilakukan. Langsung memasuki rumah Raden Sutawijaya. Bukankah cara yang ditempuhnya semakin mendekati kekerasan langsung terhadap Mataram.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Mereka tentu mengharap hilangnya kedua pusaka itu, setidak-tidaknya akan mematahkan gairah perjuangan Raden Sutawijaya. Seandainya kedua pusaka itu tidak cukup mempunyai pengaruh yang menentukan dalam memperebutkan wahyu keraton, maka jika benar Raden Sutawijaya menjadi kehilangan cita-citanya, maka selangkah mereka telah maju sebelum mereka akan mengambil pusaka-pusaka yang lain yang mereka anggap akan dapat menentukan kedudukan mereka dari Istana Pajang, tanpa lagi perlu menghiraukan Mataram, karena Mataram telah menjadi buram dan akhirnya akan padam dengan sendirinya.”

Yang mendengar pendapat itu hanya dapat mengangguk-anggukkan kepala. Gambaran-gambaran yang buram memang telah mencengkam hati. Namun mereka adalah orang-orang tua yang cukup dewasa menilai keadaan dengan bijaksana dan berhati-hati.

Namun dalam pada itu, Ki Demang Sangkal Putung, selain menjadi ikut berprihatin atas hilangnya kedua pusaka dari Mataram itu, ia pun dibebani pula oleh perasaan gelisah, bahwa perkawinan anaknya akan terganggu. Meskipun demikian untuk menjaga perasaan tamu-tamunya, Ki Demang sama sekali tidak mengatakannya.

Tetapi agaknya Kiai Gringsing dapat menangkap perasaan yang tersirat pada tatapan mata yang gelisah itu, sehingga katanya, “Ki Demang, agaknya Ki Demang tidak usah ikut melibatkan diri kedalam kericuhan yang terjadi. Seperti rakyat Mataram pada umumnya, mereka tidak akan terpengaruh sama sekali oleh hilangnya kedua pusaka itu, karena mereka memang tidak mengetahuinya. Sebaiknya Ki Demang tetap melanjutkan semua pembicaraan dan rencana yang telah tersusun.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Tetapi ia bergumam, “Jalan ke Menoreh melintasi daerah yang gawat jika terjadi sesuatu dengan Mataram. Kekisruhan yang mungkin tumbuh didaerah itu akan dapat menghambat perjalanan Swandaru dan pengiringnya.”

Tetapi Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tentu tidak. Tentu tidak akan timbul pergolakan apa pun juga dalam satu dua pekan mendatang. Bahkan mungkin sebulan lagi karena Mataram sedang mengumpulkan keterangan-keterangan yang akan dapat dipakainya sebagai pancadan untuk mencari pusaka-pusaka yang hilang. Seandainya terjadi benturan-benturan kekuatan dalam waktu dekat, tentu tidak akan terjadi di sekitar Mataram.”

Ki Demang mengangguk-angguk.

“Ki Demang, sebaiknya Ki Demang tidak terpengaruh oleh berita yang dibawa oleh Ki Lurah Branjangan. Kapan Ki Demang memerlukan, kami akan segera pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Kami akan mengatakan semua pesan Ki Demang. Semua keputusan yang sudah diambil dan semua persiapan yang harus dilakukan oleh pihak Pandan Wangi.”

“Terima kasih Kiai. Tetapi rasa-rasanya memang sukar untuk melepaskan diri sama sekali dari pengaruh berita yang dibawa oleh Ki Lurah Branjangan.”

“Kami mengerti. Tetapi kami harus dapat membagi perhatian kami. Memang mungkin kami akan melakukan dua tugas sekaligus jika kami pada saatnya pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.”

Ki Demang mengangguk-angguk sekali lagi. Katanya, “Semuanya sudah tersusun. Terserah kepada Kiai, kapan Kiai akan berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh. Keputusan kami sekeluarga, berdasarkan keputusan pembicaraan orang-orang tua di Sangkal Putung.”

“Tetapi keputusan itu harus dimatangkan, dan suatu kepastian harus diambil agar kelak tidak akan dapat menumbuhkan persoalan lagi.”

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s