ADBM1-086

<<kembali | lanjut >>

PEMBICARAAN mereka pun kemudian dengan lancar merambat kepada berbagai macam persoalan. Kiai Grirgsing sengaja tidak dengan tergesa-gesa menyampaikan pesan-pesan dari Ki Demang Sangkal Putung. Agaknya Ki Argapati tentu akan mengumpulkan beberapa orang tua-tua di Tanah Perdikan Menoreh dan membicarakannya sama sekali. Karena itu, maka Kiai Gringsing pun menunggu apabila saatnya telah datang.

Seperti yang diduga, maka Ki Argapati kemudian telah siap menyuruh memanggil orang-orang tua yang biasa dibawanya berbincang. Dan kepada Kiai Gringsing ia berkata, “Kiai. Jika sekiranya perlu, aku akan memanggil orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh. Jika aku tidak salah tanggapan, Kiai kali ini datang atas nama Ki Demang Sangkal putung.”

“Sebenarnyalah demikian, Ki Gede. Dan aku beserta kedua kawanku seperjalanan dengan senang hati akan menyampaikan semua pesan-pesan Ki Demang Sangkal Putung, kapan saja yang sebaiknya bagi Ki Argapati.”

“Baiklah. Malam nanti kita akan berkumpul di pendapa. Apakah Kiai sudah tidak terulampau letih?”

“Tentu tidak.”

“Kami pun ingin segera mendengarnya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk sambil tersenyum. Katanya, “Memang semakin cepat semakin baik. Seakan-akan aku telah meletakkan beban yang tersangkut di dalam dada ini.”

Ki Argapati tertawa. Tetapi ia tidak menduga sama sekali bahwa beban yang tersangkut di hati Kiai Gringsing dan kawan-kawannya adalah beban ganda. Jika mereka telah menyampaikan pesan Ki Demang Sangkal Putung, maka akan datang gilirannya, mereka menyampaikan pesan tentang kedua pusaka yang hilang itu, meskipun hanya kepada Ki Argapati seorang diri.

Sebelum malam turun di atas Tanah Perdikan Menoreh, maka tamu-tamu Tanah Perdikan Menoreh itu pun dipersilahkan beristirahat di gandok sebelah kiri. Mereka segera mendapat jamuan makan setelah mereka membersihkan diri di pakiwan.

Beberapa lamanya mereka menunggu di gandok sambil berbicara di antara mereka. Tetapi mereka tidak lagi membicarakan pesan Ki Demang di Sangkal Putung, tetapi mereka membicarakan persoalan pusaka-pusaka yang hilang itu.

“Besok,” berkata Ki Waskita tiba-tiba, “aku akan minta waktu barang satu malam untuk singgah sebentar ke rumah. Aku harus memberitahukan bahwa aku akan memperpanjang waktu kepergianku dengan hilangnya pusaka-pusaka itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi, lusa kami sudah akan kembali.”

“Ya. Besok pagi-pagi aku pergi, di pagi berikutnya aku tentu sudah berada di sini kembali.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar saling berpandangan sejenak. Namun keduanya pun kemudian mengangguk.

“Kami tidak berkeberatan,” berkata Kiai Gringsing, “tetapi di pagi hari berikutnya, Ki Waskita kami harap sudah berada di antara kami, karena kita bersama-sama akan segera pergi ke Mataram. Persoalannya akan segera beralih kepada persoalan yang barangkali tidak kalah pentingnya dengan hari-hari perkawinan Swandaru. Justru dalam lingkungan yang lebih luas. Tetapi kita pun tidak akan dapat mengabaikan hari-hari yang sudah ditunggu oleh Ki Demang Sangkal Putung sekeluarga.”

“Baiklah, Kiai. Mudah-mudahan tidak ada persoalan apa pun yang menghambat perjalananku. Namun demikian, jika pada saatnya aku tidak datang, tentu ada sesuatu yang menahan aku. Mungkin di rumah, mungkin di perjalanan..”

“Apakah kami harus menyusul?” bertanya Ki Sumangkar.

Ki Waskita termangu-mangu. Namun kemudian ia menggeleng, “Aku kira tidak perlu. Dengan demikian aku justru akan memperlambat perjalanan kalian dalam tugas ganda yang berat itu.”

“Tetapi Ki Waskita adalah kawan yang terpercaya bagi kami berdua,” sahut Kiai Gringsing.

Ki Waskita tersenyum. Sambil menggeleng ia berkata, “Tentu tidak. Aku adalah pupuk bawang saja di dalam persoalan ini. Baik persoalan Ki Demang Sangkal Putung maupun persoalan hilangnya kedua pusaka dari Mataram itu.”

“Jika Ki Waskita pupuk bawang, lalu apakah kedudukanku?” bertanya Ki Sumangkar.

Keduanya tersenyum. Tetapi Ki Waskita tidak menjawab pertanyaan Ki Sumangkar.

Ketika kemudian malam turun perlahan-lahan menyelubungi perbukitan Menoreh, maka beberapa orang-orang tua di Menoreh mulai berdatangan di pendapa Ki Gede. Mereka adalah orang-orang yang dipanggil oleh Ki Argapati untuk ikut membicarakan persoalan Pandan Wangi. Sementara Pandan Wangi sendiri seolah-olah tidak mau keluar dari ruang dalam. Hanya sekali-sekali saja ia pergi ke dapur. Tetapi jika beberapa orang gadis yang membantu menyediakan jamuan buat para tamu mulai mengganggunya, maka ia pun berlari masuk lagi ke ruang dalam.

Setelah orang-orang tua yang diundang oleh Ki Argapati berkumpul di pendapa, dan Kiai Gringsing, Ki Waskita, dan Ki Sumangkar telah duduk pula bersama mereka, maka mulailah Ki Argapati membuka pertemuan itu dan mempersilahkan Kiai Gringsing menyampaikan kepentingan yang dipesankan oleh Ki Demang Sangkal Putung kepada orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh.

“Aku menyerahkan keputusan persoalan ini kepada orang-orang tua di Tanah Perdikan ini,” berkata Ki Argapati. “Karena itu, kami ingin mempertemukan orang-orang tua di Menoreh langsung dengan utusan Ki Demang di Sangkal Putung.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia harus menyisihkan persoalan pusaka-pusaka yang hilang untuk sesaat, dan memusatkan pembicaraannya kepada pesan Ki Demang Sangkal Putung.

“Nah,” berkata Ki Gede Menoreh kemudian, “aku persilahkan Kiai untuk memulainya.”

Kiai Gringsing beringsut sedikit. Kemudian ia pun memandang berkeliling. Sambil mengangguk-angguk kecil ia pun kemudian berkata, “Sebenarnyalah bahwa aku membawa pesan Ki Demang Sangkal Putung. Aku akan menyampaikan pesan itu kepada Ki Argapati di hadapan Ki Sanak semuanya.”

Orang yang hadir di pendapa itu pun mengangguk-angguk. Dan Ki Argapati pun menyahut, “Kami sudah siap, Kiai.”

Kiai Gringsing tersenyum. Agaknya Ki Argapati sendiri ingin segera mendengar pesan itu.

“Ki Gede,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “yang penting yang harus kami sampaikan tinggallah masalah waktu. Sudah barang tentu kami tidak akan mengulangi semua basa-basi seperti pada saat kami mengantarkan Ki Demang melamar Angger Pandan Wangi. Pembicaraan sudah berkembang lebih jauh daripada itu.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Untuk menyampaikan persoalan waktu itulah maka kami datang kemari.”

Kiai Gringsing pun kemudian menyampaikan hasil pembicaraan orang-orang tua di Sangkal Putung, sebagai pihak bakal pengantin laki-laki. Namun karena ajang perkawinan yang pokok adalah pada pihak pengantin perempuan, maka semuanya terserah kepada keluarga dan orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh.

“Jadi, menurut perhitungan Ki Demang, perkawinan itu akan berlangsung kira-kira empat puluh hari lagi?” bertanya seorang yang rambut dan janggutnya sudah putih.

“Ya, Ki Sanak,” jawab Kiai Gringsing. “Itu adalah permohonan waktu yang diberikan oleh Ki Demang atas perhitungan orang-orang tua di Sangkal Putung.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia masih belum mengambil kesimpulan. Namun rasa-rasanya ia tidak mempunyai keberatan apa pun tentang hari yang ditetapkan itu, kecuali apabila menurut orang-orang tua hal itu merupakan hari pantangan.

“Empat puluh hari bagi persiapan sebuah perkawinan adalah waktu yang pendek,” berkata salah seorang dari orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh.

“Hari itu sendiri tidak mengandung keberatan apa pun. Tetapi persoalannya adalah waktu yang pendek itu,” berkata orang lain, “sehingga dengan demikian persoalannya tergantung sekali kepada Ki Gede Menoreh.”

Semua orang memandang ke arah Ki Gede Menoreh yang terangguk-angguk. Keningnya nampak berkerut. Agaknya ia sedang mempertimbangkan berbagai kemungkinan tentang saat yang diminta oleh K i Demang Sangkal Putung itu.

Untuk beberapa saat pendapa kademangan itu menjadi sepi. Agaknya masing-masing sedang membuat pertimbangan-pertimbangan di dalam hati.

Ki Gede Menoreh agaknya menyadari bahwa persoalannya banyak tergantung kepadanya. Jika ia tidak berkeberatan melaksanakan perkawinan anaknya dalam waktu singkat itu, muka semuanya akan dapat menerimanya, karena tidak ada seorang pun yang mengajukan keberatan sesuai dengan waktu yang disebutkan oleh Kiai Gringsing.

“Rabo Manis,” desis Ki Gede Menoreh di dalam hatinya, “hari itu adalah hari lahir Swandaru. Waktunya tepat saat matahari terbenam.”

Bagi Ki Argapati sendiri, hari bukannya ketentuan yang paling penting. Baginya tidak ada hari yang mempunyai kelebihan dari hari-hari yang lain. Jika ia memerlukan memanggil orang-orang tua untuk memperhitungkan saat, maka hal itu semata-mata untuk memberikan kesan, bahwa ia tidak meninggalkan perhitungan dan pertimbangan dari orang-orang tua. Jika terjadi sesuatu kelak, orang-orang tua dan tetangga di seputarnya tidak akan menyalahkannya.

Baginya kini yang terpenting adalah pertimbangan jarak waktu. Kira-kira empat puluh hari lagi.

“Untunglah bahwa selama ini aku sudah membuat beberapa persiapan. Perempuan-perempuan tua sudah mulai menyediakan beberapa macam keperluan yang dapat disimpan. Kayu bakar telah tertimbun di belakang kandang. Padi yang paling baik sudah disisihkan dan dikeringkan. Setiap saat padi itu dapat ditumbuk dan menjadi beras yang putih.”

Sementara Ki Argapati membuat pertimbangan di dalam hatinya, maka orang-orang tua di Menoreh pun seakan-akan menunggunya untuk memberikan jawaban.

“Kiai,” berkata Ki Argapati kemudian, “agaknya aku tidak mendengar pendapat yang tidak menyetujui saat perkawinan yang diusulkan oleh Ki Demang Sangkal Putung. Bahkan sebagian dari orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh agaknya menyerahkan persoalan itu kepadaku. Bukan atas perhitungan hari, karena agaknya hari yang diusulkan oleh Ki Demang itu tidak merupakan saat pantangan, tetapi tekanannya kepada waktu yang sempit.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk sambil menjawab, “Demikilanlah agaknya Ki Gede. Namun segala sesuatunya terserah kepada Ki Gede Menoreh.”

“Kiai,” berkata Ki Gede, “sebenarnyalah bahwa hari-hari itu memang sudah kita tunggu. Sedikit atau banyak, kami di sini sebenarnya telah membuat beberapa persiapan yang mungkin. Karena itu, agaknya aku pun tidak berkeberatan atas jarak waktu yang dipesankan oleh Ki Demang Sangkal Putung itu.”

“Jadi tegasnya?” bertanya Kiai Gringsing.

“Aku dapat menerima dengan baik hari itu, kecuali jika ada pertimbangan lain dari orang-orang tua.”

Seorang tua menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Seperti yang sudah dikatakan. Hari itu bukan hari pantangan. Apabila Ki Gede mempertimbangkan pelaksanaannya dapat dilakukan pada hari itu, maka agaknya tidak ada persoalan lagi. Rabo Manis, selapan hari lebih sedikit, karena besok, hari Rabo itu pun hari Rabo Manis pula.”

“Ya, kira-kira empat puluh hari lagi,” sahut Ki Gede Menoreh.

“Semuanya terserah kepada Ki Gede,” berkata seorang tua yang lain. “Hari itu memang bukan hari pantangan, apa lagi hari itu merupakan hari lahir Angger Swandaru.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Baiklah. Semuanya merupakan pertimbangan yang menentukan bagiku. Biarlah aku berpikir semalam. Besok aku akan memberikan jawaban kepada Kiai Gringsing sebagai wakil dari Ki Demang di Sangkal Putung.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Yang penting bagiku, bahwa tidak ada keberatan apa pun juga dengan hari yang sudah ditentukan oleh Ki Demang itu.”

Dengan demikian maka pertemuan itu pun sudah mencapai pokok persoalannya. Pertemuan seterusnya tinggallah membicarakan tentang rangkaian dari upacara itu. Pakaian yang akan dikenakan. Berapa hari pengantin laki-laki harus berada di rumah pengantin perempuan sebelum saat perkawinan dan kelengkapan upacara yang lain sambil menikmati hidangan yang satu persatu disuguhkan.

Tetapi pembicaraan itu sudah tidak begitu penting lagi. Meskipun demikian satu demi satu Kiai Gringsing dan kedua kawannya harus ingat benar apa saja yang sudah dibicarakan, supaya pada saatnya tidak terjadi kesalahan dan kekisruhan.

Akhirnya pembicaraan itu pun berakhir. Meskipun Ki Gede masih akan memberi keterangan besok, tetapi rasa-rasanya semuanya sudah pasti.

Demikianlah maka orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh itu pun minta diri ketika malam menjadi semakin larut. Udara menjadi bertambah dingin dan angin yang basah bertiup menyusup masuk ke pendapa yang terbuka, mengguncang nyala pelita yang berwarna kemerahan.

Sepeninggal orang-orang tua itu, maka Ki Gede pun segera mempersilahkan Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita untuk beristirahat. Ki Argapati mengerti, bahwa mereka tentu merasa letih karena perjalanan mereka dan pembicaraan yang melelahkan pula.

Tetapi Kiai Gringsing pun berkata, “Ki Gede. Kami minta maaf, bahwa kami masih minta waktu sedikit. Kami masih ingin berbicara dengan Ki Gede seorang diri tanpa orang lain.”

Wajah Ki Argapati menjadi tegang. Dipandangnya ketiga tamunya itu berganti-ganti. Namun ia tidak segera dapat menangkap kesan yang tersirat pada wajah-wajah itu. Wajah-wajah yang rasa-rasanya tetap tenang dan tidak melontarkan kesan kegelisahan sama sekali.

“Apakah masih ada yang kurang dari pembicaraan kita?” bertanya Ki Argapai.

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Ditatapnya wajah Ki Argapati yang tegang.

“Ki Gede,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “memang masih ada yang kurang. Agaknya yang kurang itu tidak kalah pentingnya dari yang sudah kita bicarakan.”

Ki Argapati menjadi semakin tegang. Sejengkal ia bergeser maju mendekat.

“Tetapi Ki Gede,” berkata Kiai Gringsing, “aku mempunyai permintaan. Persoalan yang akan kami sampaikan nanti, hendaknya jangan sampai mengganggu persoalan yang tengah dihadapi oleh Ki Gede dan seluruh warga Tanah Perdikan Menoreh.”

“Aku tidak mengerti,” desis Ki Argapati.

“Persoalan yang akan kami kemukakan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan rencana Ki Gede untuk menyelenggarakan perelatan perkawinan Angger Pandan Wangi dan Swandaru. Meskipun demikian, sebaiknya Ki Gede mengetahuinya agar dapat membuat persiapan-persiapan yang masak menghadapi masa-masa perkawinan itu.”

“Baiklah Kiai. Meskipun aku tidak mengerti apa yang akan Kiai katakan, tetapi aku sudah lebih dahulu mempersiapkan diri melakukan semua pesan Kiai.”

“Ki Gede,” Kiai Gringsing pun bergeser mendekat, “menjelang perkawinan Angger Pandan Wangi, ternyata Tanah Perdikan Menoreh telah disusupi lagi dengan sebuah masalah yang dapat menimbulkan kesulitan.”

Ki Gede Menoreh hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sebenarnya ia ingin segera mendengar persoalan apa yang akan dikatakan oleh Kiai Gringsing itu, tetapi ia masih tetap menahan diri.

“Ki Gede,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “yang mula-mula perlu kami sampaikan adalah sebuah berita yang agak menggetarkan hati.”

“Tentang wafatnya Ki Gede Pemanahan?”

“Bukan. Aku yakin bahwa berita itu telah tersebar sampai ke ujung Barat dan Timur dari Tanah Pajang.”

“Jadi?”

“Sepeninggal Ki Gede Pemanahan, Mataram telah di guncang oleh hilangnya dua buah pusaka. Pusaka yang merupakan kekuatan batiniah bagi tegaknya Mataram. Bahkan beberapa orang percaya bahwa pusaka-pusaka itu dapat menuntun wahyu keraton.”

“Maksud Kiai?”

“Kanjeng Kiai Pleret dan Kanjeng Kiai Mendung telah jengkar dari ruang pusaka di Mataram.”

“He,” Ki Argapati terkejut bukan kepalang. Wajahnya yang tegang menjadi bertambah tegang.

“Kedua pusaka itu hilang diambil oleh beberapa orang yang berhasil memasuki ruang pusaka di Mataram.”

“Jadi Mataram telah dimasuki pencuri-pencuri ulung?”

“Bukan saja pencuri, tetapi perampok.”

Ki Argapati mengerutkan keningnya. Keheranan yang sangat telah terpancar di wajahnya.

“Apakah Mataram saat itu sedang kosong sama sekali?”

“Ki Juru Martani dan Raden Sutawijaya ada di Mataram.”

“Ki Juru Martani ada? Bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi?”

Kiai Gringsing pun kemudian menceriterakan serba sedikit dari beberapa hal yang diketahuinya tentang hilangnya kedua pusaka dari Mataram itu

Ki Gede Menoreh menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ceritera Kiai Gringsing itu sulit untuk dipercayai. Namun dalam persoalan yang penting ini, Kiai Gringsing tidak sedang bergurau.

“Peristiwa itu memang aneh,” berkata Kiai Gringsing

“Tentu ada sekelompok orang-orang sakti. Bukan hanya satu atau dua orang.”

“Ya. Agaknya memang demikian. Dan agaknya orang-orang itu dengan sengaja telah meninggalkan tanda-tanda tertentu.”

“Tanda-tanda?”

Kiai Gringsing pun kemudian menceriterakan pula mengenai tanda-tanda yang dengan sengaja ditinggalkan oleh orang-orang yang mengambil pusaka-pusaka itu.

“Tanda-tanda yang aneh. Aku belum pernah melihat ciri-ciri yang demikian. Mungkin suatu perguruan yang kurang terkenal. Mungkin suatu perguruan yang baru sekali meskipun pimpinannya mengaku mempunyai tetesan darah Majapahit.”

“Mungkin sekali.”

“Tetapi apakah Ki Sumangkar dan Ki Waskita juga belum pernah melihatnya?”

Keduanya menggelengkan kepalanya

“Selagi Ki Sumangkar berada di Jipang, apakah ada tanda-tanda yang mirip dengan tanda-tanda itu?”

“Aku belum pernah melihat ciri-ciri seperti itu,” sahut Sumangkar kemudian. “Beberapa buah perguruan kecil yang pada waktu itu membantu Adipati Jipang tidak ada yang memiliki ciri-ciri yang mirip, atau mempunyai arti serupa dengan ciri-ciri yang ditinggalkan itu.”

“Jika demikian, orang itu sengaja menimbulkan kebingungan. Mereka menanggalkan tantangan yang tidak bertanggung jawab, karena siapa pun dapat membuat ciri-ciri yang aneh-aneh sekalipun,” berkata Ki Gede Menoreh.

“Mungkin memang demikian,” sahut Kiai Gringsing. “Besok jika aku kembal ke Sangkal Putung, aku akan mengambil tiruan dari ciri-ciri itu. Mudah-mudahan dapat aku pergunakan untuk menemukan kelompok yang mengaku keturunan Majapahit itu.”

“Mudah-mudahan Kiai. Aku akan menunggu pemberitahuan berikutnya. Mungkin persoalan ini akan merambat sampai ke tlatah Menoreh seperti persoalan Panembahan Agung beberapa saat lampau.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Sekilas ia memandang wajah Ki Waskita dan Ki Sumangkar berganti-ganti. Kemudian katanya, “Ki Gede. Masih ada yang ingin aku sampaikan.”

Ki Gede tidak menyahut.

“Adalah kebetulan sekali, pada saat kami menyeberang Kali Praga, dengan tidak kami sengaja kami mendapat sedikit petunjuk arah kepergian salah satu dari kedua pusaka yang hilang itu.”

Ki Argapati menjadi tegang. Bahkan ia pun bergeser setapak sambil bertanya, “Ke mana arah itu, Kiai?”

Kiai Gringsing pun kemudian menceriterakan pendengarannya pada saat itu menyeberang Kali Praga. Tentang sekelompok orang yang membawa sebuah songsong dan yang kemudian membunuh para tukang perahu.

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Aku sudah menduga, bahwa mau tidak mau aku pasti akan terlibat lagi. Jadi salah satu dari pusaka yang hilang itu di bawa menyeberang Kali Praga dan pergi ke tlatah Menoreh?”

“Begitulah kira-kira Ki Gede.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih, Kiai. Memang seharusnya Kiai memberitahukan kepadaku. Dengan demikian aku dapat berjaga-jaga.”

“Tetapi semuanya ini adalah rahasia, Ki Gede. Bukan saja untuk ketenangan tlatah Menoreh yang akan melaksanakan perelatan, tetapi bagi Mataram, kehilangan kedua pusaka itu pun merupakan rahasia pula. Rakyat Mataram tidak boleh mengetahui bahwa kedua pusaka itu telah hilang. Sebab jika demikian, maka seluruh rakyat Mataram akan menjadi gelisah, dan barangkali akan mempengaruhi kepercayaan mereka kepada pemimpinnya.”

Ki Argapati masih mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku mengerti, Kiai. Aku akan merahasiakannya, demi kepentinganku sendiri dan kepentingan Mataram yang baru tumbuh itu.”

“Terima kasih, Ki Gede. Kelak, jika tiruan ciri-ciri itu sudah siap, aku akan membawa sekeping buat Ki Gede. Mungkin akan berguna bagi Ki Gede dan bagi Mataram. Namun sebelum keperluan Ki Gede sendiri selesai, maka sebaiknya Ki Gede tidak perlu merisaukannya. Karena sebenarnyalah bahwa keperluan Ki Gede sendiri adalah keperluan yang penting bagi masa depan anak perempuan Ki Gede itu.”

“Terima kasih, Kiai. Tetapi justru dalam kesibukan itu aku harus berwaspada. Sudah barang tentu, ada satu atau dua orang kepercayaanku yang akan aku beritahu hal itu. Tetapi dengan jaminan bahwa mereka akan dapat memegang rahasia.”

Kai Gringsing tidak menyahut. Tetapi kepalanya terangguk-angguk.

“Kepada mereka itulah aku akan menyerahkan pengamanan Menoreh selama perelatan itu nanti berlangsung.”

“Ya, Ki Gede. Memang agaknya tidak akan dapat diabaikan kemungkinan yang sama sekali tidak kita harapkan. Mungkin mereka akan mempergunakan kelengahan masa-masa perelatan itu untuk kepentingan mereka.”

“Memang tidak mustahil. Untunglah bahwa Kiai kebetulan mendengar bahwa salah satu dari kedua pusaka itu berada di tlatah Menoreh. Setidak-tidaknya lewat tlatah Menoreh. Bahkan mungkin kedua-duanya, meskipun tidak bersama-sama atau mengambil jalan penyeberangan yang lain.”

“Mungkin sekali, Ki Gede.”

“Baiklah, Kiai. Aku akan mencoba mencari keterangan lewat orang-orangku yang paling aku percaya. Aku akan mencoba mencari berita, apakah ada orang atau sekelompok orang-orang yang membawa sejenis pusaka yang menyeberang di tempat-tempat penyeberangan yang lain.”

“Keterangan yang demikian akan berguna sekali, Ki Gede.”

“Agaknya persoalan yang menghambat tumbuhnya Mataram masih saja timbul.”

“Usaha itu akan dilakukan terus-menerus dalam usaha sekelompok orang untuk menggagalkan Mataram. Bahkan lebih jauh lagi, hancurnya Pajang sama sekali. Dan mereka adalah sekelompok orang yang berada di bawah pengaruh orang yang menyebut dirinya mempunyai keturunan darah Majapahit.”

“Aku semula menyangka bahwa setelah Panembahan Agung dapat diselesaikan, maka tekanan pada Mataram akan menjadi semakin ringan. Tetapi ternyata justru sebaliknya.”

“Karena itulah maka kita tidak akan dapat tinggal diam, Ki Gede.”

“Apakah selama ini Kiai hanya tinggal diam?”

Kiai Gringsing tersenyum. Sekilas dipandanginya Ki Waskita dan Ki Sumangkar berganti-ganti. Kemudian katanya, “Seharusnya aku berkata lain. Kita selama ini memang tidak tinggal diam. Juga Ki Argapati.”

Yang lain pun tersenyum pula. Betapa pahitnya peristiwa yang terjadi atas Mataram, namun orang-orang tua itu masih juga sempat berkelakar.

Demikianlah, maka akhirnya pembicaraan mereka pun berakhir. Ki Argapati mengerti sepenuhnya, apa yang harus dilakukan, seperti yang diduga oleh Kiai Gringsing dan kedua kawan-kawannya. Bahkan, ia merasa bersyukur, bahwa dengan demikian ia dapat mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan, dan tidak tenggelam dalam kesibukan hari-hari perelatan.

“Orang-orang itu mungkin akan menyalakan pertentangan seperti yang mereka lakukan atas Mataram dan Pajang. Kehadiran pusaka itu di Menoreh akan dapat menumbuhkan salah paham, apabila belum saling dimengerti,” berkata Ki Argapati kemudian. “Karena itu, kami mengharap agar Kiai menyampaikan persoalan pusaka yang menyeberang ke Menoreh itu kepada Ki Juru Martani.”

“Tentu. Dengan demikian kami akan mendapat keterangan yang lengkap, dan untuk selanjutnya saling melengkapi.”

Ternyata keterangan itu sangat penting artinya bagi Ki Argapati. Meskipun mungkin pusaka itu hanya dibawa lewat saja tlatah Menoreh, namun hal itu akan dapat menumbuhkan berbagai macam masalah apabila Ki Argapati tidak mendapat keterangan lebih dahulu tentang pusaka itu.

Ketika malam menjadi semakin larut, maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita pun segera kembali ke dalam bilik yang disediakan bagi mereka.

Beberapa saat mereka masih membicarakan masalah pusaka-pusaka itu. Namun kemudian mereka pun segera pergi ke pembaringan dan tidur dengani nyenyaknya.

Pagi-pagi benar mereka telah terbangun. Ki Waskita tetap pada rencananya untuk mengunjungi keluarganya semalam agar mereka tidak terlampau gelisah karena kepergiannya yang berlarut-larut.

“Aku menunggu sampai besok,” berkata Kiai Gringsing.

“Ya. Dan perjalanan Kiai jangan sampai tertunda karena aku. Jika aku tidak datang besok, aku harap Kiai melanjutkan perjalanan seperti rencana. Jika ada kesempatan, aku akan menyusul sampai ke Sangkal Putung.”

Ki Waskita pun kemudian minta diri pula kepada Ki Argapati untuk mengunjungi keluarganya barang satu malam.

“Jadi, aku hanya dapat menyampaikan jawaban resmiku kepada Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar malam nanti?” bertanya Ki Argapati.

Sambil tersenyum Ki Waskita menjawab, “Jawaban Ki Argapati sudah aku ketahui dengan pasti meskipun baru malam nanti diucapkan dengan resmi.”

“O. Aku lupa bahwa aku berbicara dengan seorang Ki Waskita yang benar-benar waskita.”

“Ah. Tidak. Bukan berdasarkan atas ilmu apa pun. Sekedar pertimbangan lahiriah saja. Bukan saja aku, tetapi agaknya Ki Demang Sangkal Putung yang tidak ikut serta datang ke Menoreh pun sudah mengetahui jawaban Ki Gede yang akan diucapkan nanti.”

“Ah. Ki Waskita tidak boleh mengurangi ketegangan kami,” berkata Ki Sumangkar, “biar saja kami menunggu jawaban itu dengan tegang.”

Mereka pun tertawa. Ki Sumangkar meneruskan, “Bukankah, kadang-kadang kita senang mengalami ketegangan oleh sebuah teka-teki? Seperti kanak-kanak senang melakukannya?”

Ketika matahari kemudian memanjat semakin tinggi, maka Ki Waskita pun kemudian berangkat meninggalkan Menoreh, kembali ke rumahnya untuk sekedar mengurangi ketegangan keluarganya yang telah menunggunya beberapa lama.

Dengan demikian, maka di malam hari berikutnya, Kiai Gringsing hanya berdua saja dengan Ki Sumangkar, duduk di antara orang-orang tua di Menoreh untuk mendengarkan jawaban Ki Argapati. Jawaban yang sebenarnya sudah diketahui sebelumnya

Dengan demikian maka pertemuan itu pun berjalan dengan cepat Tidak ada persoalan lagi di antara Ki Argapati dan Kiai Gringsing sebagai wakil Ki Demang Sangkal Putung.

Karena itu, maka pertemuan itu pun kemudian sebagian hanya sekedar pembicaraan yang tidak penting dari acara-acara perkawinan yang bakal diadakan itu.

Namun sementara itu, Ki Waskita yang telah berada di rumahnya, dirisaukan oleh persoalan yang tidak dsangkanya. Ternyata Rudita tidak ada di rumah. Ia minta diri kepada ibunya untuk pergi beberapa hari. Meskipun ibunya tidak mengijinkannya, tetapi ia memaksanya juga.

“Aku sudah dewasa, Ibu. Dan aku bukan sekedar sebuah golek yang hanya pantas diemban dengan cinde. Aku pun ingin mengenal dunia ini dengan segala macam isinya. Yang halus, yang kasar, dan segala bentuknya,” berkata Rudita.

Bagaimana pun juga ibunya menahannya, bahkan dengan air mata, namun Rudita tetap juga pergi meninggalkan rumahnya.

“Aku akan mencarinya,” berkata Ki Waskita.

“Kau harus menemukannya,” berkata ibunya, “bukankah Kakang dapat mengetahui di mana Rudita sekarang berada?”

“Aku dapat menduga arahnya,” berkata Ki Waskita, “tetapi aku tidak tahu tepat, di mana ia sekarang.”

“Ia tidak pernah pergi ke mana pun juga selama ini. Apalagi sepeninggalmu, Kakang. Ia berada saja di dalam biliknya. Siang dan malam. Hanya kadang-kadang saja ia berjalan-jalan di halaman. Bergurau dengan pelayan-pelayan. Tetapi sejenak kemudian ia sudah berada di dalam biliknya lagi.”

“Apa saja yang dilakukannya di dalam biliknya?”

“Membaca rontal.”

“Rontal?”

“Ya. Rontal yang diambilnya dari atas belandar, di dalam sebuah peti kecil.”

Dada Ki Waskita menjadi berdebar-debar. Ia pun kemudian pergi ke tempat ia menyimpan rontal. Tetapi peti itu masih ada di tempatnya.

“Rontal itu dikembalikannya ketika ia berangkat.”

“Ia membacanya dengan tekun?”

“Ya. Hampir tidak pernah berhenti. Seperti yang aku katakan, kadang-kadang saja ia keluar dari biliknya, menghirup udara dan berkelakar sejenak, kemudian kembali lagi ke dalam bilik itu.”

Ki Waskita pun kemudan mengambil peti kecil di atas belandar di dalam biliknya. Ketika ia membuka peti itu, sebuah rontal yang disimpan di dalamnya masih utuh. Dengan hati yang berdebar-debar diambilnya rontal itu dan diamat-amatinya. Ia melihat beberapa goresan tanda yang tentu dibuat oleh Rudita.

“Ia telah mempelajari ilmu itu tanpa tuntunanku,” katanya di dalam hati, “sungguh mendebarkan, jika ia mengambil arah yang salah, maka semuanya akan rusak.”

Tetapi hati Ki Waskita pun menjadi agak terhibur. Tidak cukup waktu bagi Rudita untuk mempelajari ilmu itu sebaik-baiknya, sehingga seandainya ia dapat menguasai beberapa bagian dan terbenam dalam tujuan yang dikendalikan oleh nafsu, maka ia bukan seorang yang sangat berbahaya.

Meskipun demikian Ki Waskita masih juga cemas, jika Rudita ternyata mengembara di daerah yang sederhana dan tenang, daerah yang hampir tidak pernah terjadi keributan apa pun juga, maka ia akan dapat menjadi hantu yang paling menakutkan.

Tetapi Ki Waskita tidak mengatakan kepada isterinya, bahwa Rudita telah menyadap ilmu di dalam rontal itu, karena ia pun masih belum yakin bahwa Rudita berbuat demikian.

“Mungkin ia hanya sekedar membaca dan ingin mengetahui serba sedikit tentang isinya Kemudian mengembalikannya lagi,” katanya di dalam hati.

Namun ternyata ketika Ki Waskita merenungi bilik anaknya, ia menemukan sehelai rontal di bawah tikar di pembaringannya. Dengan dada yang bergetar ia mengamati rontal itu. Rontal yang berisi goresan-goresan huruf-huruf dan gambar.

“Rudita telah mengutipnya,” ia bergumam di dalam hati.

Kegelisahan Ki Waskita pun melonjak di dalam dadanya. Rasa-rasanya ia ingin segera berlari menemukan anaknya. Tetapi ia tidak mau membuat isterinya bertambah gelisah, sehingga karena itu, maka ia telah menekan segala perasaan itu di dalam dirinya sendiri.

Selama di rumahnya, Ki Waskita mencoba untuk bersikap wajar. Tanpa menumbuhkan berbagai prasangka dan pertanyaan pada isterinya. Ia sempat menceriterakan, bahwa ia telah terlibat daham pembicaraan mengenai saat-saat perkawinan Swardaru dengan Pandan Wangi.

“Aku tidak dapat mengelak,” katanya, “justru karena Rudita penah dengan berterus terang menunjukkan sikap yang tidak sewajarnya terhadap Pandan Wangi.”

“Tetapi Rudita adalah anak yang sangat baik. Ia sama sekali tidak menjadi kecewa dan berkecil hati karena keangkuhan Swandaru,” jawab isterinya.

“Anak itu sama sekali tidak angkuh.”

“Ia merasa dirinya menang. Apalagi Ki Argapati agaknya berpihak kepadanya.”

“Kau salah sangka. Sama sekali tidak ada perasaan yang demikian. Anggapanmu bahwa Rudita adalah anak yang baik itu sudah benar. Ia menarik diri tanpa tekanan dari siapa pun juga sehingga tidak seorang pun merasa menang atasnya.”

“Tetapi ternyata, ada semacam endapan di dalam hatinya. Semakin lama semakin padat, sehingga akhirnya meledak. Jika tidak demikian, maka ia tidak akan meninggalkan rumah ini dan pergi tanpa arah. Bukankah itu semacam ledakan yang tidak tertahankan?”

Ki Waskita mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku kira bukan, ia pergi karena desakan jiwa petualangannya yang tumbuh setelah beberapa lamanya ia terkungkung dalam sifat-sifat kemanjaannya.”

“Tentu tidak. Aku tidak pernah mengajarinya menjadi seorang petualang. Aku mengerti, betapa jauh bedanya kehidupan seorang petualang dengan kehidupan orang-orang kebanyakan. Aku pernah mengalami hidup menjadi isteri seorang petualang. Sehingga karena itu, aku ingin anakku tidak menjadi petualang seperti ayahnya.”

Ki Waskita justru tersenyum mendengarnya. Katanya, “Aku sudah berhenti menjadi petualang. Dan aku sudah hidup seperti orang kebanyakan. Jika pada suatu saat, aku pergi agak terlalu lama, bukanlah karena aku bertualang dari satu tempat ke tempat yang lain seperti waktu aku masih muda. Sudah aku katakan, bahwa aku terlibat dalam pembicaraan tentang hari perkawinan Angger Swandaru. Dan karena itu pula maka aku masih harus kembali ke Menoreh dan bersama-sama Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pergi ke Sangkal Putung.”

“Dan kau biarkan saja anakmu tidak pulang?”

“Tentu tidak. Aku mempunyai dugaan atas isyarat yang aku tangkap, Rudita pergi ke daerah Sangkal Putung. Mungkin ia memang sengaja mencari Agung Sedayu dan Swandaru di sana. Jika demikian, maka adalah kebetulan sekali, karena Agung Sedayu dan Swandaru tidak ikut bersama kami ke Menoreh. Jika ia benar pergi ke sana, maka ia akan dapat menemui Agung Sedayu dan Swandaru.”

“Sejak kapan kau meninggalkan Sangkal Putung? Jika sekiranya Rudita pergi ke sana, maka ia pasti sudah sampai di Sangkal Putung sebelum kau pergi.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Baiklah. Aku akan mencarinya. Aku baru meninggalkan Sangkal Putung lewat dua malam.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi aku berkuda, dan Rudita berjalan. Apalagi ia belum melihat jalan yang langsung menuju ke Sangkal Putung itu.”

“Terserahlah kepadamu,” berkata isterinya, “tetapi aku minta pertanggungan jawabmu untuk mengembalikan anakku itu kepadaku.”

Dengan demikian, maka yang semalam suntuk itu adalah malam yang menggelisahkan bagi Ki Waskita meskipun ia sama sekali tidak menunjukkan kesan yang demikian. Di dalam bilik Rudita ia menemukan bukti-bukti yang lain, bahwa Rudita memang telah mengutip beberapa bagian dari isi rontalnya.

Oleh selembar rontal yang tertinggal karena terdapat beberapa kesalahan, dan yang agaknya sudah diganti dengan yang baru, Ki Waskita mempunyai dugaan bagian-bagian yang manakah yang telah menarik hati Rudita.

“Agaknya ia ingin mempelajari ilmu ketahanan diri,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya.

Dalam kegelisahan itu Ki Waskita mencoba menghibur dirinya sendiri. Sifat-sifat Rudita pada saat terakhir ia meninggalkan rumahnya mengarah kepada sifat-sifat yang baik. Sifat damai dan rendah hati.

“Memang segalanya dapat berubah. Tetapi aku masih berpengharapan, bahwa Rudita tidak ditelan oleh nafsu yang ganas seperti Panembahan Agung dan orang-orang yang mengaku dirinya keturunan Majapahit itu,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya.

Kepergian Rudita juga dapat dipakai alasan oleh Ki Waskita uutuk segera meninggalkan rumahnya. Bahkan isterinya bagaikan tidak sabar lagi menunggu fajar, agar suaminya segera berangkat mencari anaknya.

“Aku harap kau masih lebih mementingkan anakmu dari pada hari-hari perkawinan Angger Swandaru. Seandainya kita dapat melupakan semua persoalan yang timbul antara Swandaru dan Rudita sekalipun, kau masih harus mementingkan Rudita. Sangkal Putung tentu sudah diurus oleh banyak orang karena mereka akan mengadakan perelatan. Mereka menunggu hari-hari gembira. Sebaliknya dengan Rudita. Ia sedang diintai oleh bahaya di setiap saat.”

“Tetapi keadaannya tentu tidak segawat yang kau bayangkan. Keadaan sekarang sudah jauh lebih baik, setelah Panembahan Agung tidak ada lagi. Padukuhan-padukuhan menjadi tenang dan damai. Pada dasarnya kebanyakan orang akan tetap menghormati perantau yang singgah di padukuhan masing-masing. Mereka biasanya, memberikan tempat dan kesempatan, meskipun masih ada kecurigaan di antara mereka, karena keadaan memang masih suram. Tetapi, jika sikap Rudita baik, maka ia akan mendapat sambutan dan sikap yang baik di mana-mana.”

“Tetapi itu bukan berarti bahwa Rudita tidak akan menjumpai kesulitan di perjalanan.”

“Mudah-mudahan tidak. Aku akan selalu berusaha mendapat hubungan dengan anak itu meskipun samar-samar. Sampai saat ini, aku tidak melihat isyarat maupun firasat yang mencemaskan keadaan anak itu.”

“Jika kau tenggelam kedalam persoalan Swandaru, maka kau tidak akan sempat mencari anakmu. Bahkan hubungan isyarat itu pun tidak dapat kau lakukan.”

“Ah, sudah barang tentu aku tidak akan berbuat demikian. Rudita adalah anakku. Bukan saja aku merasa bertanggung jawab. Tetapi aku memerlukannya sebagai penyambung namaku. Bukankah karena Rudita aku memberanikan diri masuk ke dalam sarang Panembahan Agung itu?”

Isterinya tidak menjawab lagi. Namun nampak kemurungan yang mencengkam di wajahnya.

Meskipun demikian, menjelang keberangkatan Ki Waskita di dini hari, isterinya masih juga tidak melupakan kuwajibannya. Menyediakan beberapa lembar pakaian yang dibungkus dengan kain berwarna gelap.

Seperti biasanya Ki Waskita tidak pernah memerlukan bekal yang lain. Juga tidak sepotong dua potong makanan. Tetapi karena Ki Waskita termasuk orang yang berkecukupan, maka ia pun membawa bekal uang secukupnya.

“Sampaikan permintaan maafku kepada mereka yang datang kemari, tetapi tidak dapat aku temui karena kepergianku,” berkata Ki Waskita.

“Pada saatnya tidak akan ada orang yang mencarimu lagi, karena kau tidak pernah ada di rumah.”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Sayang sekali bagi mereka yang benar-benar memerlukan pertolongan.”

Demikianlah, maka Ki Waskita pun telah meninggalkan rumahnya lagi sebelum ia sempat melihat sawahnya yang luas dan ternak di kandang. Namun ia masih sempat memberikan pesan kepada beberapa orang pembantunya di rumah, agar mereka bekerja sebaik-baiknya, sehingga tanaman di sawah akan tetap hijau, dan ternaknya pun tetap gemuk dan terpelihara.

Sebelum matahari terbit, Ki Waskita sudah berpacu kembali di atas punggung kudanya menuju ke rumah Ki Argapati.

“Mudah-mudahan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar menunggu aku barang sejenak, karena aku tidak dapat datang tepat pada waktunya.”

Sebenarnyalah, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar sudah siap pula untuk berangkat. Tetapi agaknya Ki Argapati-lah yang menahan mereka barang setengah hari, menunggu kedatangan Ki Waskita.

“Tentu agak berbeda dengan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar,” berkata Ki Argapati, “Ki Waskita harus menyesuaikan diri dengan sikap isteri dan anaknya.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar tersenyum. Sambil mengangguk-angguk Kiai Gringsing berkata, “Baiklah, aku akan menunggu sampai lewat tengah hari.”

Dalam pada itu, di sepanjang jalan Ki Waskita digelisahkan oleh berbagai masalah yang baginya cukup penting. Seperti kata isterinya, masalah Swandaru adalah masalah yang tidak banyak memerlukan perhatiannya, karena persoalannya adalah persoalan yang menggembirakan. Namun apabila setiap kali ia melihat bayangan yang suram pada jalur jalan yang akan ditempuh oleh Swandaru dan Pandan Wangi, maka ada juga sepercik kegelisahan di hatinya.

“Kenapa aku melihat bayangan yang buram itu?” berkata Ki Waskita di dalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat menutup mata hatinya, bahwa ia sudah melihatnya.

Selebihnya adalah pusaka-pusaka yang hilang itu, dan akhirnya kepergian Rudita setelah mengutip beberapa bagian dari rontal yang disimpannya dengan baik.

Dalam pada itu, sementara Ki Waskita berpacu dengan gelisah, Rudita sedang berada di kaki Gunung Merapi. Badannya nampak menjadi kurus, dan pakaian yang melekat di badannya menjadi kumal.

Namun demikian wajahnya nampak tetap cerah, meskipun ia tidak dapat menyembunyikan keletihan yang mencengkam.

Sudah beberapa hari Rudita berada di lereng Gunung Merapi di tepi sebuah sungai kecil yang memercik di antara pepohonan liar. Suatu tempat yang hampir tidak pernah disentuh kaki manusia.

Di sebuah lekuk batu padas Rudita duduk sambil mempelajari rontal yang dibawanya. Seperti dugaan ayahnya, Rudita memang telah mengutip beberapa bagian yang dianggapnya penting.

Dengan tekun rontal itu dipelajarinya. Dimengerti dan beberapa petunjuk dilakukannya dengan tekun.

Setiap hari ia mengikuti petunjuk yang tertulis di dalam rontal itu. Melakukan latihan jasmaniah. Berlari-lari dan meloncat-loncat. Kemudian merangkak seperti seekor harimau. Memanjat seperti seekor kera. Dan di antara gerakan-gerakan yang penting, maka ia melakukan pula latihan-latihan ketahanan dan penguasaan tubuh.

Setiap hari ia melakukan latihan-latihan lain yang agak asing bagi orang lain. Berjalan dengan kedua belah tangannya. Berdiri tegak dengan alas kepalanya dan kedua kakinya di atas. Duduk bersila sambil merentangkan tangannya lurus ke samping. Bahkan melenting seperti ulat dan melingkar seperti luwing.

Perlahan-lahan Rudita berhasil menguasai dirinya sendiri. Menguasai setiap gerak atas kehendak, meskipun tidak mutlak. Bahkan akhirnya ia dapat menguasai perasaan sakit dan lelah.

Meskipun demikian Rudita tetap menyadari, bahwa ia adalah seorang manusia biasa. Karena itu ia tetap menyadari betapa keterbatasan kemampuan yang ada padanya.

Dengan demikian, maka setiap latihan Rudita telah memadukannya dengan permohonan yang tekun kepada Penciptanya, agar ia diperkenankan mempergunakan segala kurnia yang ada padanya di dalam ketahanan dan penguasaan tubuhnya.

Tetapi landasan utama dari segala latihan Rudita, bukannya penguasaan tubuh itu saja, tetapi juga penguasaan nafsu. Segala macam nafsu. Yang baik dan yang buruk.

Seperti yang ditulis di dalam rontal itu pula, Rudita pun menyesuaikan makanan yang dimakannya sehari-hari. Meskipun ia membawa bekal uang, tetapi ia tidak memanjakan lidahnya dengan makanan yang enak setelah letih berlatih. Tetapi ia makan apa yang ada. Bekal yang dibelinya berhari-hari yang lewat, ketika memutuskan untuk tinggal beberapa lama di tempat terpencil itu.

Selain jenis akar, Rudita makan juga beberapa jenis dedaunan. Tetapi tidak segala jenis buah. Karena itu, maka Rudita tidak pernah menyentuh nasi beras maupun jagung, meskipun seandainya ia ingin, ia dapat membelinya, berapa saja yang dikehendaki.

Selain jenis ubi, Rudita juga makan setiap hari jenis empon-empon. Kunir, lempuyang, temu ireng dan beberapa jenis yang lain.

Dalam pada itu, Rudita menyadari sepenuhnya, bahwa latihan-latihan itu tidak akan dapat diselesaikan dalam waktu beberapa hari, bahkan beberapa pekan. Tetapi ia harus tetap menekuninya untuk beberapa tahun. Namun yang beberapa pekan itu akan sangat berarti baginya. Ia akan dapat menguasai persoalan-persoalan pokok dari ilmu yang disadapnya dari rontal yang disimpan oleh ayahnya. Rontal yang bukan saja berisikan huruf-huruf tetapi juga gambar-gambar.

Tetapi agaknya perhatian Rudita agak berbeda dengan ayahnya, sehingga bagian-bagian yang ditekuni pun agak berbeda pula dari ayahnya, meskipun secara umum ia sudah membaca seluruh isi rontal itu.

Meskipun demikian, setiap kali Rudita masih juga bertanya di dalam dirinya. Apakah ia akan dapat berhasil menguasai bagian dari ilmu itu tanpa seorang guru.

“Isi rontal itu baru sebagian kecil dari ilmu yang dimiliki oleh ayah seluruhnya. Bahkan sebagian besar ilmu ayah disadap dari gurunya, bukan dari rontal itu,” berkata Rudita kepada diri sendiri. “Namun jika aku berhasil menguasai sebagian saja dari isi rontal itu, agaknya sudah cukup baik bagiku.”

Dan sebenarnyalah Rudita dengan tekun mempelajarinya sejauh-jauh dapat dilakukan.

Ternyata usahanya dari hari ke hari itu pun mendapat kemajuan, ia mulai merasa jasmaninya bagian mutlak dari penguasaan kehendak. Ia mulai menguasai dengan pasti setiap gerakan. Ia dapat menguasai gerak-gerak naluriahnya dengan sebaik-baiknya, mempergunakan segenap tubuhnya seperti yang dikehendakinya. Penguasaan perasaan sakit dan lelah.

Tetapi seperti yang disadarinya sepenuhnya, ia adalah seorang manusia wantah. Yang tidak akan dapat melampaui batas kemampuan manusia yang memang lemah.

Namun Rudita menjadi seorang manusia yang pada ujud lahirahnya mempunyai banyak kelebihan dari sesamanya.

Tubuhnya mempunyai daya tahan yang luar biasa. Meskipin ia tetap menyadari sentuhan saraf dan peraba, tetapi ia seolah-olah dapat mengesampingkan perasaan sakit, lelah dan sejenisnya.

Meskipun demikian, Rudita tetap berusaha seperti yang dilakukan atas jasmaninya, juga atas rohaninya. Ia menjaga agar tetap merasa dirinya sejemput debu di bawah kaki Yang Maha Kuasa, sehingga dengan demikian, ia tidak akan melakukan perbuatan yang menyimpang dari kehendak-Nya.

“Tak ada yang dapat aku lakukan berdasarkan atas kemampuanku sendiri,” katanya di dalam hati, “semuanya adalah karena kurnia-Nya, dan terlebih-lebih kurnia penggunaan-Nya.”

Dengan demikian, maka Rudita adalah tetap Rudita seperti pada saat ia ditinggalkan oleh ayahnya. Ia tetap seorang yang menyadari dirinya sepenuhnya. Tanpa dikuasai oleh nafsu dan ketamakan. Bahkan sebaliknya, dengan latihan-latihan yang berat itu ia berhasil menguasai bukan saja jasmaninya, tetapi juga nafsunya.

Seperti biasanya di setiap pagi Rudita turun ke sungai kecil di sebelah lekuk batu tempatnya berteduh di hujan dan panas. Mengambil air dengan upih dan membawanya naik setelah mandi. Air yang disediakan untuk minum dan membersihkan tangan dan kakinya.

Tetapi baru saja Rudita menyuruk masuk ke dalam lekuk batu karang di lereng, tiba-tiba ia merasa tanah tempatnya berpijak tergetar. Air ditangannya bagaikan direnggut dengan kasar dan tertumpah di tanah.

Segera Rudita sadar, bahwa lereng Gunung Merapi telah diguncang oleh gempa. Karena itu ia pun segera melangkah surut, karena lekuk batu padas itu akan dapat runtuh dan menimbunnya sekaligus.

Di luar sadarnya, bahwa lereng Gunung Merapi yang di guncang itu telah longsor. Suaranya gemuruh memekakkan telinga. Beberapa butir batu bergulung-gulung di lereng yang terjal.

Rudita termangu-mangu sejenak. Ia menyadari bahaya yang dapat melumatkannya. Karena itu, maka ia pun segera berusaha menyelamatkan dirinya, menghindar dari timbunan batu-batu di lereng Gunung Merapi itu.

Dengan sekuat tenaganya meloncat menjauh. Di hadapannya adalah sebuah sungai kecil tempat ia mandi setiap pagi.

Karena itu, maka ia pun harus terjun ke dalamnya dan meloncat naik ke seberang.

Adalah di luar dugaan Rudita sendiri, bahwa tubuhnya menjadi terasa jauh lebih ringan. Dalam pengerahan tenaga, ia mempergunakan kemampuan yang telah dipelajarinya selama itu. Agaknya ada juga pengaruhnya. Ia telah mampu mempergunakan tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya sebaik-baiknya. Ia tidak saja mampu meloncat jauh lebih panjang apabila ia dikejar oleh ketakutan di masa kanak-kanak. Tetapi kini ia menguasai tenaga yang ada pada masa lampaunya hanya dapat terungkap justru di luar sadar.

Itulah sebabnya, Rudita mampu meloncat dengan sigap turun ke sungai kecil itu, kemudian dengan sekali loncat pula, ia telah berada di seberang.

Namun lemparan batu-batu yang tergelincir itu ternyata mampu mengejarnya. Beberapa buah batu sebesar kepalan tangan telah berguguran seperti hujan, terlempar agak jauh dari lereng itu, meloncati sungai kecil itu pula.

Rudita terkejut bukan buatan ketika ia sempat menengadahkan kepalanya. Tetapi ia tidak sempat lagi menghindari batu-batu yang meluncur ke arahnya.

Meskipun demikian, Rudita tidak menjadi putus asa. Ia pun segera berusaha meloncat sejauh-jauh dapat dilakukan dengan segenap tenaga yang dapat dipergunakannya.

Dengan demikian, Rudita bagaikan dilontarkan oleh kekuatan yang luar biasa besarnya, beberapa kali lipat kekuatan yang dapat dilakukan sebelumnya.

Namun batu-batu yang runtuh itu telah terlampau rendah, sehingga betapa pun ia meloncat dengan cepat dan jauh, tetapi ia masih tetap merasakan sentuhan-sentuhan pada tubuhnya. Beberapa buah batu sebesar kepalan tangan yang bagaikan dilontarkan dari puncak gunung itu telah memukulnya pada beberapa bagian tubuhnya. Pada pundaknya, punggungnya, kaki dan lengannya.

Bagaimana pun juga, hati Rudita telah dicengkam oleh kecemasan. Kulit dan dagingnya akan menjadi sobek dan tersayat. Bahkan mungkin ia akan jatuh terbanting di tanah dan tertimbun oleh bebatuan itu.

Tetapi ternyata yang terjadi adalah berbeda dengan dugaan Rudita sendiri. Loncatannya telah berhasil menjauhkannya dari guguran lereng gunung itu. Dan bahkan Rudita sendiri menjadi heran. Tubuhnya sama sekali tidak terluka oleh sentuhan-sentuhan batu yang berguguran.

Ketika ia sudah berdiri agak jauh dari reruntuhan yang semakin lama menjadi semakin mereda itu, ia sempat menilai dirinya sendiri. Ternyata ia masih tetap dirangsang oleh sentuhan pada tubuhnya. Namun ada sesuatu yang dapat dikembangkannya sebaik-baiknya. Ia tidak terluka dan dapat menguasai perasaan sakit yang menyengat meskipun sentuhan batu-batu itu membekas kebiru-biruan. Meskipun perasaan sakit itu ada, namun ia berhasil mengatasinya dan mengendapkannya.

Sejenak Rudita berdiri termangu-mangu. Ketika guguran batu-batu itu berhenti, ia pun mulai menyadari, bahwa sebenarnya ia telah berhasil menguasai dasar dari ilmu yang dipelajarinya.

Pada saat yang bersamaan, ketika Gunung Merapi mengguncang bukan saja lerengnya sendiri, Ki Waskita yang sudah berada di tlatah Menoreh merasakan guncangan itu pula. Bukan saja guncangan lahirlah, tetapi rasa-rasanya getaran yang dahsyat telah menggetarkan jantungnya. Sekilas terpercik isyarat tentang anaknya. Rasa-rasanya sesuatu telah terjadi dengan Rudita.

Namun ia pun kemudian menjadi tenang kembali setelah gempa berhenti. Ia masih tetap dapat berhubungan dengan getar yang seolah-olah memancar dari pusat dasar jantung anaknya. Bahkan seolah-olah menjadi semakin jelas.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat meraba isyarat yang diterimanya. Rudita tentu telah mengalami sesuatu. Tetapi ia tentu masih tetap selamat dan keadaannya tetap baik.

Karena itu, maka Ki Waskita pun melanjutkan perjalanannya yang tinggal beberapa puluh tonggak saja, langsung menuju ke rumah Ki Gede Menoreh dengan harapan, bahwa ia masih akan bertemu dengan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar di sana.

Di Menoreh, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar sudah menjadi gelisah. Apalagi ketika mereka merasakan goncangan yang keras seolah-olah telah mengayunkan lampu-lampu minyak yang bergantungan.

“Gempa,” desis Kiai Gringsing.

Ki Sumangkar mengangguk lemah. Beberapa orang nampak berlari-larian membawa anak-anak mereka ke halaman. Mereka menjadi ketakutan karena rumah mereka bagaikan akan roboh.

Tetapi gempa itu tidak terlalu lama. Hanya beberapa saat saja. Dan ketika gempa berhenti maka semuanya menjadi tenang kembali.

Namun, beberapa orang mulai mencari-cari arti daripada gempa itu. Mereka menghubungkan dengan persoalan-persoalan penting di dalam keluarga masing-masing. Orang-orang tua di Menoreh mencoba mencari kelemahan-kelemahan pada pembicaraan mereka tentang akan dilangsungkannya perkawinan Swandaru dengan Pandan Wangi. Tetapi beberapa orang Mataram, termasuk Ki Lurah Branjangan yang mengetahui hilangnya kedua pusaka dari Mataram, mencoba mencari hubungan dengan hilangnya pusaka-pusaka itu. Sedang di Pajang, beberapa Senapati yang berprihatin melihat perkembangan Pajang menjadi semakin muram. Apakah Pajang benar-benar akan semakin susut?

Namun dalam pada itu, orang yang menyebut dirinya keturunan langsung dari Majapahit, dan yang telah berhasil mengambil kedua pusaka dari Mataram, tertawa gembira. Mereka menganggap bahwa gempa itu adalah isyarat akan runtuhnya Pajang dan Mataram sekaligus.

Tetapi sementara itu, Rudita yang berada di kaki Gunung Merapi merasakan, bahwa Gunung itulah yang bergetar. Segumpal awan yang putih seakan-akan merambat menuruni lereng. Awan yang mengandung nafas maut, karena awan itu panasnya melampaui panasnya bara.

Untunglah bahwa awan itu meluncur ke arah yang lain, sehingga Rudita tidak harus melarikan diri dari tempatnya.

Dengan demikian, Rudita tidak menghubungkan gempa itu dengan persoalan-persoalan yang dihadapinya atau persoalan-persoalan yang dihadapi oleh orang lain. Baginya, Gunung Merapi-lah yang agaknya terganggu, sehingga terjadi sesuatu di puncaknya. Mungkin guguran-guguran batu-batu padas sebesar kerbau. Mungkin guguran awan panas, dan mungkin karena lubangnya tersumbat, atau sebab-sebab yang lain. Tetapi yang penting bagi Rudita kemudian adalah pergi menjauhi gunung itu. Karena gunung itulah yang telah mengguncang hampir seluruh daerah Pajang. Bukan karena sebab-sebab yang dapat dicari pada persoalan di daerah yang telah diguncangnya, tetapi persoalannya harus dicari pada perut gunung itu sendiri.

“Aku dapat melanjutkan latihan-latihan sambil berjalan,” berkata Rudita kepada diri sendiri, “aku harus mulai dengan perjalanan yang sebenarnya. Merantau melihat luasnya pulau ini.”

Di luar sadarnya, Rudita meraba kantong yang selalu tergantung di ikat pinggangnya. Kantong kecil yang berisi rontal dan beberapa keping uang. Rontal itu sangat penting artinya, sehingga hampir tidak pernah terpisah dari padanya.

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Bekal itulah yang akan dibawanya untuk menempuh petualangan yang lain dengan petualangan yang pernah dijalani oleh ayahnya. Ketika ayahnya merasa dirinya orang yang tidak terkalahkan di masa mudanya, maka ia pun telah pergi bertualang pula, sebelum akhirnya jiwanya mengendap dan menemukan bentuk kehidupan yang jauh lebih manis dari melumuri jari-jari tangannya dengan darah.

Namun dalam pada itu, Rudita yang merasa bahwa ilmu yang dipelajari itu baru pada dasarnya saja, dan tidak lebih dari sebutir batu kerikil dibanding dengan ilmu yang dimiliki oleh ayahnya yang jauh berlipat dari ilmu yang tercantum di dalam rontal itu, mulai dengan petualangan yang berbeda dengan yang pernah dilakukan oleh ayahnya itu.

Sementara itu, Ki Waskita menjadi semakin dekat dengan pedukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Ia masih mengharap akan dapat pergi bersama dengan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Selain ia mempunyai kawan di perjalanan, ia akan mendapat tempat untuk mengurangi beban perasaannya, atas kepergian anaknya.

Pada saat anaknya hilang, Ki Sumangkar telah ikut serta menyusuri bahaya, langsung ke tempat anak tersebut disembunyikan oleh orang-orang Panembahan Agung. Dan kini tentu Ki Sumangkar, setidak-tidaknya akan merasa tersentuh perasaannya karena Rudita telah pergi dengan selapis ilmu yang dipilihnya dari keseluruhan isi rontalnya.

Dengan dada yang berdebar-debar Ki Waskita mendekati regol halaman Ki Argapati. Tiba-tiba saja jantungnya serasa disiram dengan air embun ketika ia masih melihat Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar duduk di pendapa dengan gelisah.

“Ah,” berkata Kiai Gringsing dengan serta-merta, “hampir saja kami berangkat. Ki Waskita sudah terlambat beberapa lama. Sudah barang tentu jaman sudah berbalik jika seseorang seperti Ki Waskita masih harus terlambat.”

Ki Waskita menambatkan kudanya. Sambil tersenyum ia berjalan menuju ke tangga pendapa, sementara Ki Argapati dan beberapa orang bebahunya berdiri menyongsongnya. Demikian juga Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar.

Setelah mereka duduk di pendapa, dan Ki Argapati sempat menanyakan keselamatan keluarga Ki Waskita, maka rasa-rasanya Ki Waskita tidak sabar lagi untuk menceriterakan kepergian anaknya, meskipun ia masih belum mengatakan apa pun juga tentang rontalnya.

“Jadi Angger Rudita pergi? Atas kehendak sendiri, atau hilang seperti yang pernah terjadi?” bertanya Ki Argapati.

“Atas kehendak sendiri, Ki Gede,” berkata Ki Waskita, “ia minta diri kepada ibunya, dan tidak dapat ditahan lagi.”

Ki Argapati, Kiai Gringsing, dan Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka sudah melihat arah perkembangan jiwa Rudita pada saat terakhir. Agaknya Rudita yang kemudian menyadari akan dirinya sebagai seorang laki-laki telah memilih jalannya sendiri.

Dalam pada itu, hampir di luar sadarnya Ki Argapati berkata, “Angger Rudita telah berubah. Tetapi apakah jalan yang ditempuhnya tidak terlampau berbahaya baginya?”

“Aku kira sangat berbahaya,” sahut Ki Sumangkar.

Ki Waskita menggangguk-angguk. Katanya, “Ya. Jalan yang dipilihnya ternyata jalan yang berbahaya. Tetapi ibunya sama sekali tidak berdaya untuk mencegahnya. Dengan menangis ibunya minta agar ia menunggu kedatanganku. Kemudian terserah kepadaku, apakah aku mengijinkan atau tidak. Tetapi Rudita tidak mau mendengarnya. Dengan demikian, maka rasa-rasanya ibunya telah kehilangan anaknya. Rudita adalah seorang anak laki-laki yang lebih dekat dengan ibunya daripada ayahnya. Tetapi tiba-tiba ibunya merasa seolah-olah anak itu telah memberontak terhadapnya dan pergi meninggalkannya.”

“Apakah Ki Waskita tidak dapat mengetahui, kira-kira atau menurut isyarat, ke manakah perginya Angger Rudita itu?” bertanya Kiai Gringsing.

“Aku dapat menduga arah kepergiannya, Kiai,” jawab Ki Waskita, “tetapi tentu tidak pasti, karena Rudita sendiri selalu bergerak. Berbeda dengan saat ia berada di tangan Panembahan Agung. Anak itu seolah-olah berhenti pada suatu titik tertentu sehingga arahnya tidak begitu sulit aku ketemukan.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi di wajahnya tergurat kecemasan tentang keselamatan anak yang masih terlampau hijau itu.

“Ki Waskita,” berkata Kiai Gringsing, “Angger Rudita seolah-olah baru terbangun dari sebuah mimpi buruk. Tiba-tiba saja ia sudah melangkah menempuh perjalanan yang berbahaya tanpa bekal apa pun.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Kemudian serba sedikit dikatakannya tentang rontalnya.

“Rudita agaknya telah mengutip beberapa bagian dari rontal itu. Meskipun aku tidak tahu pasti, pada bagian-bagian yang mana, tetapi setidak-tidaknya ia telah memilih beberapa bagian yang menyangkut ilmu ketahanan tubuh.”

“Dan Angger Rudita berusaha untuk menguasai ilmu itu tanpa tuntunan seorang guru, atau petunjuk dari siapa pun juga?”

“Itulah yang mencemaskan. Mungkin ia dapat menguasai ilmunya, tetapi kegunaannya? Aku cemas, bahwa Rudita akan menjadi kambuh pada sifat-sifat pemanjaannya. Dengan bekal ilmu yang separo masak itu, ia dapat memanjakan dirinya dan memaksa orang lain untuk memanjakannya pula.”

Kiai Gringsing termenung sejenak. Ia melihat keseluruhan dari peristiwa yang terjadi beruntun. Sebelum Swandaru sempat duduk bersanding, maka persoalan yang terjadi di sekitarnya telah berkembang demikian cepat, dan yang mencemaskan adalah perkembangan yang memburuk.

Hilangnya pusaka-pusaka yang penting dari Mataram, kemudian hilangnya Rudita. Betapa pun juga, ia tidak akan dapat seolah-olah tidak mendengar dan tidak melihat persoalan-persoalan itu.

Dalam pada itu, agaknya Ki Waskita pun melihat gejolak perasaan Kiai Gringsing, sehingga karena itu maka katanya, “Kiai, jika Ki Juru Martani dapat mengatakan, bahwa hilangnya kedua pusaka dari Mataram itu hendaknya jangan mempengaruhi persoalan yang sedang Kiai bawa dari Sangkal Putung ke Menoreh, maka sudah barang tentu aku pun akan berkata demikian. Kepada Kiai Gringsing, dan kepada Ki Argapati. Hilangnya Rudita bukan merupakan persoalan yang harus merenggut segala rencana dan persiapan yang sudah masak. Bahkan aku akan tetap membantu menyelenggarakannya. Bukankah persoalannya dapat diselesaikan bersama-sama? Perjalanan hilir-mudik antara Tanah Perdikan Menoreh, lewat Mataram ke Sangkal Putung dan sekaligus mencari Rudita di sepanjang jalan.”

“Apakah Rudita itu ada di arah perjalanan itu?”

“Bahkan aku menduga Rudita akan pergi ke Sangkal Putung. Ada isyarat yang menunjukkan arahnya meskipun tidak tepat. Tetapi agaknya karena Rudita belum mengetahui jalan ke kademangan itu, sehingga ia tersesat dan sedang berusaha untuk menemukan jalan yang benar. Agaknya ia ingin bertemu lagi dengan Angger Agung Sedayu dan Swandaru.” Ki Waskita berhenti sejenak, lalu, “Setelah arah perkembangan jiwanya berubah, maka agaknya Rudita mengagumi Angger Agung Sedayu dan Swandaru. Ternyata beberapa kali ia menanyakan kepadaku tentang kedua anak-anak muda itu.”

“Memang mungkin sekali. Tetapi apakah menurut dugaan Ki Waskita, Angger Rudita akan segera dapat menemukan jalan ke Sangkal Putung?”

“Kita akan segera ke Sangkal Putung, lewat Mataram. Jika kedatangan kita lebih cepat dari anak itu, maka aku akan mencarinya. Mungkin dapat aku pergunakan untuk mencari kesibukan sambil menunggu empat puluh hari lagi.”

“Ah,” Ki Argapati berdesah, “aku harus mengucapkan terima kasih, bahwa kalian telah menempatkan kepentinganku pada urutan yang pertama, meskipun sebenarnya dibandingkan dengan kepentingan yang lain jauh kurang berarti. Namun dengan demikian maka itu akan berarti bahwa aku tidak boleh tenggelam dalam kesibukanku sendiri. Seperti Ki Waskita yang masih juga memperhatikan hari perkawinan anakku, maka aku akan ikut serta mencari Angger Rudita, setidak-tidaknya di tlatah Menoreh.”

“Terima kasih, Ki Gede. Mudah-mudahan kita semuanya akan berhasil. Perkawinan Angger Swandaru dan Angger Pandan Wangi dapat berlangsung seperti yang direncanakan, anakku dapat segera aku ketemukan, dan terlebih-lebih lagi kedua pusaka yang hilang itu.”

Ki Argapati mengangguk-angguk, ia melihat kebesaran jiwa Ki Waskita. Karena itu, maka di dalam hati Ki Argapati pun berjanji untuk sejauh-jauh dapat dilakukan, membantu mencari anak yang hilang itu, dan selebihnya, ia pun merasa berkewajiban untuk ikut mencari pusaka-pusaka yang tercuri dari Mataram meskipun dengan cara yang sangat terbatas, karena kerahasiaan kehilangan itu sendiri.

Demikianlah maka setelah Ki Waskita beristirahat sejenak, dan kemudian menikmati hidangan, ketiga orang tua itu pun segera mohon diri. Mereka akan mulai dengan perjalanan kembali ke Sangkal Putung. Namun seperti yang sudah mereka rencanakan, mereka akan singgah lebih dahulu ke Mataram. Karena mereka berangkat setelah tengah hari, maka ketiganya akan bermalam di Mataram semalam, baru esok pagi mereka akan meneruskan perjalanan ke Sangkal Putung.

Dengan beberapa persoalan yang menyangkut di hati, Ki Argapati pun kemudian melepaskan ketiga tamunya meninggalkan regol halaman. Pandan Wangi ikut mengantarkan mereka sampai ke tepi jalan yang membelah padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.

“Kau harus banyak berprihatin,” desis Kiai Gringsing.

Pandan Wangi menundukkan kepalanya sambil tersenyum. Namun wajah itu menjadi semburat merah.

Ki Argapati yang mendengar pesan itu tertawa. Sementara Ki Waskita meneruskan, “Kau akan menjadi bertambah langsing. Cahaya sorot matamu akan mengandung pengaruh yang dalam, terlebih-lebih bagi bakal suamimu.”

“Ah,” desah Pandan Wangi, dengan kepala yang menjadi semakin tunduk.

“Jangan kau hiraukan,” sahut Ki Sumangkar kemudian, “kau malahan harus berbuat sebaliknya agar dalam upacara timbangan kelak jika saat perkawinan itu tiba, dan kau duduk di pangkuan ayahmu sebelah-menyebelah dengan pengantin laki-laki, kalian akan menjadi benar-benar seimbang.”

Pandan Wangi tidak dapat menahan suara tertawanya meskipun ia berusaha menutup mulutnya dengan tangannya. Dengan wajah yang masih tertunduk ia bergeser dan berdiri berlindung di belakang ayahnya.

“He, kenapa kau tidak menjawab,” ayahnya justru bertanya kepadanya.

Hampir di luar sadarnya Pandan Wangi pun mendorong ayahnya sambil berdesah. Kemudian ia pun berdiri menghadap dinding halaman di sisi regol.

Sejenak kemudian, maka Kiai Gringsing, Ki Waskita, dan Ki Sumangkar pun sekali lagi minta diri. Di wajah mereka yang telah dibayangi oleh garis-garis umur yang semakin dalam itu, sama sekali tidak membayang kegelisahan hati. Baik karena hilangnya pusaka-pusaka dari Mataram maupun karena kepergian Rudita, sehingga mereka yang tidak berkepentingan, sama sekali tidak mengerti bahwa orang-orang tua itu sebenarnya telah dibebani oleh ketegangan yang berat.

Ki Argapati dan Pandan Wangi berdiri termangu-mangu ketika ketiganya kemudian meninggalkan halaman rumahnya. Beberapa orang bebahu Tanah Perdikan Menoreh pun ikut melepas mereka di regol halaman.

Sesaat kemudian, maka tiga ekor kuda yang berlari menjauhi regol itu pun telah hilang di balik tikungan, meningalkan segumpal debu yang kelabu, seperti secercah noda yang melekat di udara terbuka.

Namun selain debu, Kiai Gringsing dan kedua kawannya pun meninggalkan pula sejemput kegelisahan di hati Ki Argapati. Meskipun seperti juga ketiga tamu-tamunya, kegelisahan itu sama sekali tidak membayang di wajahnya.

Ki Argapati harus berhati-hati menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Ia harus benar-benar memilih orang yang dapat diajak berbicara, terutama atas hilangnya kedua pusaka dari Mataram. Orang-orang itu harus orang-orang yang memiliki kemampuan cukup sebagai bekal dan orang yang sepenuhnya dapat dipercaya untuk tetap menyimpan rahasia itu bagi dirinya sendiri. Jika rahasia itu merembes kepada orang lain yang tidak mengetahui betapa gawatnya keadaan, maka dalam waktu sekejap, berita semacam itu akan segera menebar jauh lebih cepat dari tebaran mendung di langit. Setiap telinga akan segera mendengarnya dan setiap mulut akan memperkatakannya. Dengan demikian, maka rakyat Mataram akan segera dilanda oleh kegelisahan yang luar biasa.

“Hilangnya Angger Rudita akan dapat aku bicarakan dengan Pandan Wangi,” berkata Ki Argapati di dalam hati, “tetapi hilangnya pusaka itu dapat juga didengarnya, tetapi tanpa mempengaruhi ketenangannya.”

Agaknya hal itulah yang sulit bagi Ki Argapati.

Namun sebagai seorang yang memiliki pandangan yang tajam dan pengalaman, yang luas, maka Ki Argapati akan berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya.

Sementara itu, Kiai Gringsing dan kedua kawannya berpacu meninggalkan padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Rasa-rasanya kehidupan di atas Tanah Perdikan itu menjadi semakin tenang dalam kesibukan yang meningkat. Rasa-rasanya sawahnya menjadi semakin luas. Jalur-jalur jalan menjadi semakin panjang dan lebar. Di lewat tengah hari masih terdengar suara pande besi di kejauhan menempa alat-alat pertanian. Beberapa buah pedati, nampak merangkak di bulak-bulak yang panjang penuh berisi muatan.

Hampir di luar sadarnya, Kiai Gringsing berkata, “Sebaiknya mereka memang tidak mengetahui bahwa pusaka-pusaka itu hilang, dan apalagi satu di antara kedua pusaka yang hilang itu telah melintasi Kali Praga. Jika demikian, kedamaian yang hidup ini akan segera menjadi terganggu karenanya.”

Demikianlah, maka ketiganya pun berpacu semakin cepat menuju ke Mataram. Di tempat penyeberangan Kali Praga, mereka terhenti sejenak. Agaknya masih belum ada orang-orang yang mulai dengan kerja mereka, menyeberangkan orang-orang lewat dengan perahu-perahu dan getek.

Untuk beberapa lama mereka berdiri termangu-mangu. Dengan tajamnya mereka mencoba mengamati seberang kali Praga. Jika kebetulan orang-orang yang membawa mereka menyeberang dari Mataram ke Menoreh nampak di tepian sebelah Timur sungai, mereka akan memberikan isyarat.

Tetapi mereka tidak melihat sesuatu.

“Apakah kita harus menyeberangi sungai ini tanpa perahu?” bertanya Kiai Gringsing.

“Jika terpaksa, kita akan mencobanya. Jika tidak ada hujan di ujung, maka airnya tidak begitu besar dan dalam. Mungkin kita akan dapat menyeberanginya,” sahut Ki Sumangkar.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun berpaling kearah Ki Waskita, seolah-olah menunggu pertimbangannya.

Namun sebelum Ki Waskita mengatakan sesuatu, seseorang muncul dari balik gerumbul agak jauh dari mereka. Dengan ragu-ragu orang itu berjalan mendekati ketiga orang yang datang dari Menoreh itu.

“Bukankah Kiai bertiga termasuk orang-orang yang menyeberang dua hari yang lalu?” berkata orang itu.

“Darimana kau tahu?” bertanya Kiai Gringsing.

“Aku melihatnya. Tetapi aku masih belum berani turun ke sungai waktu itu. Tetapi agaknya di antara kalian telah ada yang dikenal baik oleh kawanku di seberang, dan karena itulah ia bersedia membawa kalian menyeberang.”

“Begitulah.”

“Apakah kalian sekarang akan menyeberang ke Timur?”

“Ya,” jawab Kiai Gringsing.

“Aku dan dua orang kawanku bersedia membawa kalian menyeberang. Tetapi, karena keadaan yang lain dari kebiasaan ini, kami minta imbalan dua kali lipat yang seharusnya.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Tetapi Ki Waskita mengangguk sambil berkata, “Aku tidak berkeberatan.”

Dengan demikian, maka mereka pun kemudian naik ke atas sebuah getek bersama dengan kuda-kuda mereka, dan perlahan-lahan bergeser menyeberangi Kali Praga, dengan imbalan dua kali lipat dari imbalan yang biasa mereka berikan.

Tetapi yang dua kali lipat itu bukan merupakan masalah bagi Ki Waskita, yang kebetulan membawa bekal cukup.

Namun, ketika mereka mulai bergerak, dengan didorong oleh tiga orang tukang satang, terasa bahwa ada sesuatu yang kurang wajar. Ketiga tukang satang itu nampaknya agak lain dengan tukang satang yang membawa mereka menyeberang ke Barat.

Tetapi ketiga orang yang sedang menyeberang itu mencoba untuk menenangkan hati mereka sendiri.

“Mungkin memang ada perbedaan antara orang-orang di seberang Timur dan di seberang Barat Kali Praga,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya. Demikian pula agaknya Ki Sumangkar dan Ki Waskita.

Namun agaknya, kecurigaan mereka menjadi semakin meningkat. Ketiga orang tukang perahu itu tidak dapat menggerakkan satang mereka sebaik-baiknya. Bahkan kadang-kadang mereka harus berusaha untuk meluruskan jalan perahu mereka apabila sebuah gelombang kecil menyentuh sisi perahu mereka.

Ketiga orang penumpang perahu itu pun saling berpandangan. Agaknya mereka memang sedang disentuh oleh perasaan curiga meskipun mereka tidak saling mengatakannya.

Kecurigaan itu pun memuncak ketika mereka berada di tengah-tengah sungai. Tiba-tiba saja perahu itu menuju ke sebuah onggokan pasir dan batu padas yang menjulang di atas air. Tanpa berkata sepatah kata pun, maka perahu itu akhirnya tersangkut kandas pada pasir yang menyembul ke atas air itu.

“Kenapa kita berhenti di sini?” bertanya Kiai Gringsing.

Salah seorang dari tukang perahu itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara yang berat, orang itu berkata, “Sayang Ki Sanak, kalian termasuk orang-orang yang malang, karena kalian telah mendengar ceritera tentang songsong yang menyeberangi sungai ini.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Katanya, “Songsong yang manakah yang saudara maksud?”

“Bukankah di tengah-tengah sungai ini pula kalian mendengar tukang satang di seberang Timur itu menceritakan, bahwa serombongan orang-orang yang menyeberang ke Barat beberapa hari yang telah lalu, membawa sebuah benda bertangkai panjang dan diselubungi dengan selongsong putih?”

“Ya,” jawab Kiai Gringsing yang merasa tidak perlu lagi untuk mengelak.

“Akhirnya ceritera itu sampai kepada kami. Dan kami merasa bertanggung jawab untuk melenyapkan semua orang yang mengetahui bahwa songsong itu memang sudah menyeberang.”

“Jadi kalian bukan tukang-tukang perahu yang sebenarnya?”

“Bukan. Aku menunggu orang-orang yang menyeberang itu lewat. Tetapi agaknya mereka terlambat pulang. Baru kalian bertiga sajalah yang datang. Aku harus bertindak tegas terhadap setiap kemungkinan yang dapat merembeskan rahasia kepergian pusaka-pusaka yang dapat kami ambil dari Mataram itu.”

Kiai Gringsing memandang kedua kawan-kawannya sejenak. Namun kedua kawannya tidak memberikan kesan apa pun kepadanya. Karena itu maka Kiai Gringsing berkata selanjutnya, “Apakah kalian juga akan melenyapkan pedagang-pedagang yang menyeberang bersama kami itu?”

“Sudah tentu Ki Sanak. Kami akan menunggu sampai saatnya mereka lewat.”

—- > Bersambung ke bagian 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s