ADBM1-087

<<kembali | lanjut >>

NAMUN DALAM pada itu, Kiai Gringsing pun sadar, bahwa ia dan kedua kawannya itu pun telah terlibat terlampau jauh seperti saat ia terlibat dalam perang yang terjadi di Sangkal Putung.

“Saat itu aku memang memilih Pajang,” bertata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “tetapi Pajang tidak memberikan harapan apa pun juga kepada bumi ini di kemudian hari.”

Demikianlah, ketiga orang itu pun kemudian berpacu dengan angan-angan masing-masing. Di sepanjang jalan menuju ke pusat pemerintahan di Tanah Mataram mereka hampir tidak pernah berbicara selain sepatah-sepatah.

Namun ketika mereka mendekati pintu gerbang kota. Kiai Gringsing berkata, “Kita akan singgah semalam. Besok pagi-pagi kita akan melanjutkan perjalanan ke Sangkal Putung.”

Di luar sadar kedua kawannya menengadahkan wajah ke langit. Matahari sudah hampir hilang di balik cakrawala.

“Kita memasuki regol halaman rumah Raden Sutawijaya setelah malam hari,” sahut Ki Waskita.

“Belum terlampau malam,” desis Ki Sumangkar.

Ketiganya pun terdiam pula. Mereka berpacu semakin cepat. Jalan-jalan yang mereka lalui tidak lagi jalan-jalan sepi seperti jalan kecil menuju ke tempat penyeberangan. Jika mereka kemudian melalui celah-celah padukuhan, nampak bahwa padukahan-padukuhan itu mulai berkembang semakin maju. Jalan-jalan menjadi semakin baik dan terawat. Menjelang senja, nampak beberapa orang memasang obor di sudut jalan dan di regol padukuhan.

“Padukuhan-padukuhan kecil nampak semakin hidup,” berkata Kiai Gringsing.

“Mereka menyadari bahwa mereka harus berbuat sesuatu buat masa depan. Buat anak cucu,” sahut Ki Sumangkar.

“Apalagi ternyata bahwa Raden Sutawijaya adalah seorang anak muda yang lincah. Sejak daerah-daerah kecil semacam ini masih menjadi hutan yang mulai digarap, anak muda itu tidak henti-hentinya mendorong dengan segala cara. Kini pohon buah-buahan yang sengaja di tanam, bukan pepohonan yang memang ditinggalkan saat menebang sudah nampak semakin subur. Jika pohon-pohon itu kelak menjadi besar dan berbuah, maka pohon-pohon pelindung yang sengaja ditinggalkan saat membuka hutan, akan segera ditebang pula.”

“Suatu perencanaan yang masak. Ternyata Ki Gede Pamanahan tidak bekerja sekedar menuruti perasaan, seperti saat ia dengan diam-diam meninggalkan Pajang. Tetapi benar-benar suatu kerja yang besar seperti kebesaran Mataram yang mulai nampak sekarang ini,” berkata Kiai Gringsing pula.

Kedua kawannya mengangguk-angguk. Mereka dapat merasakan bekas tangan Ki Gede Pemanahan itu, yang kemudian dilanjutkan dengan baik oleh putranya, Raden Sutawijaya.

Semakin dekat dengan pintu kota, padukuhan-padukuhan semakin nampak ramai. Ketika gelap mulai turun, di sana-sini nampak obor di sudut-sudut padukuhan dan di tikungan jalan.

Beberapa gardu pun sudah mulai menjadi terang oleh lampu-lampu minyak. Anak-anak muda yang sudah selesai dengan kerja mereka sehari dan mempunyai waktu, mulai berdatangan dan duduk bersama di gardu-gardu sekedar berkelakar sebelum para peronda menempatinya.

Namun mereka yang berada di gardu-gardu itu, meskipun mereka bukan orang-orang yang bertugas ronda, agaknya mereka pun merasa bertanggung jawab atas keamanan padukuhan mereka. Ternyata sekali-sekali Kiai Gringsing dan kedua kawannya pernah dihentikan pula oleh sekelompok pemuda yang sedang berada di gardu meskipun mereka tidak sedang meronda.

“Kami akan pergi ke Mataram,” berkata Kiai Gringsing ketika anak-anak muda itu bertanya kepadanya.

“Ki Sanak datang dari mana?”

“Kami datang dari tlatah Menoreh.”

“Apakah kepentingan Ki Sanak?”

“Kami dalam perjalanan kembali ke Sangkal Putung. Kami akan singgah dan bermalam di Mataram karena agaknya kami tidak dapat melanjutkan perjalanan. Hari sudah gelap dan perjalanan kami masih agak jauh.”

Anak-anak muda itu memandang ketiga orang-orang tua itu berganti-ganti. Salah seorang dari anak-anak muda itu mendesak maju dan berkata, “Kami belum mengenal kalian. Apakah keperluan kalian yang sebenarnya?”

“Keperluan pribadi anak muda. Kami mengunjungi saudara kami di Menoreh. Kami orang-orang Sangkal Putung.”

“Apakah kalian mempunyai keluarga atau sanak kadang di Mataram?”

“Bukan keluarga, tetapi orang yang sangat baik terhadap kami.”

“Siapa?”

“Raden Sutawijaya.”

“He? Maksudmu putera Ki Gede Pemanahan?”

“Ya. Kami akan bermalam di rumahnya. Kami pun kemarin berangkat dari rumahnya setelah semalam kami bermalam.”

“O,” anak muda itu mengerutkan keningnya, “benar begitu?”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Kenapa aku harus borbohong?”

“Jika demikian,” anak muda itu tergagap, “silahkan. Silahkan Ki Sanak meneruskan perjalanan. Kami minta maaf bahwa kami telah menghentikan perjalanan Ki Sanak.”

“Aku akan mengatakannya kepada Raden Sutawijaya.”

“Jangan, jangan, Ki Sanak. Kami tidak mengetahui.”

“Maksudku mengatakan bahwa anak-anak muda di padukuhan-padukuhan cukup mempunyai tanggung jawab. Kami berbangga dengan kalian.”

“Ah,” anak muda itu menarik nafas. Yang lain pun tidak lagi dicengkam olah ketegangan.

Demikianlah maka ketiga orang itu pun segera melanjutkan perjalanan mereka. Semakin kelam hitamnya malam, mereka pun menjadi semakin dekat dengan rumah Raden Sutawijaya.

Namun dengan melihat sikap dan kesiagaan anak-anak muda yang tidak berubah dari kebiasaan, maka Kiai Gringsing dan kawan-kawannya menganggap bahwa rahasia hilangnya dua buah pusaka dari rumah Raden Sutawijaya benar-benar masih merupakan sebuah rahasia yang tertutup. Jika rahasia itu merembes ke luar lingkungan yang dapat dipercaya untuk menyimpannya, maka kesiagaan tentu akan meningkat dan barangkali akan nampak penjagaan yang berlebih-lebihan.

Namun itu bukan berarti bahwa orang-orang Mataram yang terpercaya itu tidak berusaha mencari kedua pusaka itu. Agaknya sudah ada beberapa orang petugas sandi yang mendapat tugas untuk mencoba menelusuri jejak kedua pusaka itu.

“Tetapi amat sulit untuk menemukannya,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Sejenak kemudian ketika malam sudah menjadi semakin gelap, ketiga orang itu pun mendekati regol halaman rumah Raden Sutawijaya. Mereka berhenti ketika mereka melihat dua orang penjaga di ujung halaman menundukkan tombak mereka.

“Siapa?” bertanya kedua penjaga itu.

“Kiai Gringsing,” jawab Kiai Gringsing.

“O, silahkan, Kiai,” berkata salah seorang dari kedua penjaga itu.

Penjaga yang bertugas di regol pun tanpa banyak pertanyaan mempersilahkan mereka memasuki halaman. Berbeda dengan di tempat-tempat lain, maka di halaman rumah ini nampak penjagaan yang agak lebih kuat dari saat-saat yang lain, meskipun tidak begitu menarik perhatian. Namun orang-orang yang sebenarnya sudah mengetahui bahwa kedua pusaka di Mataram itu hilang, hampir setiap saat mengadakan hubungan dengan Raden Sutawijaya atau Ki Juru Martani. Tetapi sampai begitu jauh, mereka sama sekali belum mendapat gambaran apa pun juga.

Kedatangan Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita disambut dengan gairah oleh Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani.

Sejenak mereka saling bertanya tentang keselamatan masing-masing, serta keselamatan Ki Argapati di Tanah Perdikan Menoreh sambil sedikit menyinggung hasil perjalanan mereka untuk menyampaikan pesan dari Ki Demang di Sangkal Putung.

“Semua berjalan dengan lancar,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “tidak ada kesulitan sama sekali.”

“Syukurlah. Dengan demikian kita yang berada di Mataram hanya tinggal menunggu, kapan kita harus menghadiri hari perkawinan itu,” desis Ki Juru Martani.

Percakapan mereka pun terhenti ketika kemudian hidangan mulai disuguhkan. Minuman panas dan beberapa potong makanan.

Meskipun sudah terlalu malam, namun beberapa orang telah menyalakan api di dapur dan mulai menanak nasi, sementara Kiai Gringsing dan kawan-kawannya pergi ke pakiwan.

Baru menjelang tengah malam, Raden Sutawijaya mempersilahkan tamu-tamunya untuk makan malam meskipun sudah agak terlambat.

Dalam kesempatan itulah, mereka mulai mengarahkan pembicaraan mereka tentang masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh Mataram.

“Aku sudah mendapatkan tiruan dari benda yang ditinggalkan oleh orang-orang yang mengambil pusaka itu,” berkata Ki Juru Martani, “hampir tidak dapat dibedakan. Dan aku percaya bahwa pembuatnya tidak akan membuat lebih dari yang aku pesankan.”

“Kami akan membawa masing-masing sebuah,” berkata Kiai Gringsing.

“Silahkan. Jika waktunya Kiai kembali ke Sangkal Putung tiruan itu akan kami berikan,” jawab Ki Juru. Setelah terdiam sejenak, lalu, “Selebihnya kami mendapat keterangan yang sangat menarik.”

“Apa Ki Juru?” bertanya Kiai Gringsing.

“Jalan menyeberang ke tlatah Menoreh di bagian Selatan menjadi sepi.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi berita itu sudah sampai di telinga Ki Juru pula.”

Petugas-petugas kami mendengar beberapa macam keterangan yang belum dapat dipastikan, karena kebanyakan orang-orang di sekitar sungai itu dicengkam oleh ketakutan, sehingga tidak banyak yang berani memberikan keterangan.” Ki Juru berhenti sejenak, lalu, “Beberapa orang tukang satang telah terbunuh oleh orang-orang yang tidak di kenal. Mereka minta menumpang sebuah perahu. Namun, kemudian mereka membunuh tukang-tukang satangnya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ketika ia memandang Ki Sumangkar dan Ki Waskita berganti-ganti, mereka pun mengangguk pula.

“Petugas-petugas sandi dari Mataram cukup cekatan,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “tetapi agaknya mereka tidak tahu bahwa orang-orang yang telah membunuh tukang-tukang satang itu membawa salah sebuah pusaka yang hilang.”

“Apakah yang disampaikan kepada Ki Juru selain pembunuhan itu?” bertanya Kiai Gringsing.

“Hanya itu. Tetapi pembunuhan itu sangat menarik perhatian. Daerah penyeberangan itu menjadi sepi,” Ki Juru berhenti sejenak, lalu, “Nah, apakah berita itu benar, Kiai. Bukankah Kiai lewat daerah itu juga?”

Kiai Gringsig mengangguk-angguk pula. Katanya, “Ya, Ki Juru. Memang demikianlah yang sebenarnya. Kami telah melihat mendiri. Tidak ada seorang pun yang bersedia turun ke sungai karena tukang-tukang satang itu menjadi ketakutan.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Agaknya keterangan yang ditangkap oleh petugas-petugas sandinya tidak salah. Karena itu maka katanya, “Tentu hal itu sangat menarik perhatian. Justru setelah Mataram kehilangan dua buah pusakanya.”

“Ya, Ki Juru,” sahut Kiai Gringsing, “dan apakah ada keterangan lain yang Ki Juru dengar dari petugas-petugas sandi?”

“Tidak, hanya itu. Dan sudah barang tentu kami ingin bertanya pula kepada Kiai. Apakah Kiai mempunyai keterangan lain tentang jalan yang sepi itu?”

Kiai Gringsing pun kemudian menceriterakan apa yang diketahuinya. Songsong yang dibawa menyeberang, dan orang-orang yang berusaha melenyapkan jejak kepergian mereka. Tetapi dengan terpaksa sekali maka ketiga orang itu sudah terbunuh.

Ki Juru menjadi tegang sejenak. Katanya, “Kematian ketiga orang yang barangkali cukup penting itu sangat menarik perhatian. Mereka tentu tidak akan tinggal diam. Pada suatu saat mereka tentu akan tahu, bahwa ketiga kawannya yang bertugas di pinggir Kali Praga itu hilang dan terbunuh.”

“Kami juga menyangka demikian. Jika akhirnya mereka mengetahui bahwa salah seorang pembunuh dari ketiga kawan-kawannya itu adalah seorang yang bersenjata cambuk, maka mereka akan dengan mudah menemukan aku.”

Ki Juru mengangguk-angguk pula. Katanya, “Agaknya Kiai memang harus terlibat secara langsung.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kepada Ki Sumangkar dan Ki Waskita, maka keduanya pun mengangguk-angguk.

“Kita tidak akan dapat ingkar,” berkata Ki Waskita, “namun agaknya Kiai Gringsing-lah yang mudah mereka kenal karena di daerah ini orang yang bersenjata cambuk telah banyak dikenal orang.”

“Agaknya memang begitu,” berkata Ki Juru. “Barangkali memang tidak ada pilihan lain.”

“Dalam keadaan seperti sekarang,” berkata Ki Sumangkar, “sebaiknya Kiai Gringsing memang harus berada di antara kekuatan Mataram. Jika tidak, maka Kiai Gringsing akan menjadi sasaran tunggal sebelum mereka berbuat banyak terhadap orang-orang Mataram.”

“Tunggal?” bertanya Kiai Gringsing. “Bagaimana dengan kalian berdua?”

“Maksudku, yang nampak jelas adalah Kiai Gringsing. Mereka akan mudah melihat sasaran mereka. Apalagi jika Kiai Gringsing terpisah dari kekuatan Mataram atau pihak-pihak yang berdiri di pihak Mataram.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Aku mengerti. Aku harus berada di dalam kekuatan yang besar dari seluruh Mataram dan tidak berdiri pada pihak yang terpisah. Agaknya di dalam hal ini aku memang tidak mempunyai pilihan. Demikian pula agaknya dengan murid-muridku. Tidak banyak orang yang sempat membedakan antara aku sendiri dan murid-muridku di dalam mempergunakan senjata.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Ia pun menyadari, bahwa murid-murid Kiai Gringsing pun akan dapat menjadi sasaran pembalasan. Apabila orang-orang yang telah mencuri pusaka-pusaka dari Mataram itu sekedar mengenal bahwa yang telah membunuh ketiga kawannya yang bertugas di pinggir Kali Praga adalah orang bercambuk itu.

Demikianlah maka pembicaraan itu pun menjadi berkepanjangan. Mereka mulai menjajagi tanggapan masing-masing atas persoalan yang sedang dihadapi oleh Mataram itu.

“Kiai,” berkata Ki Juru kemudian, “kami sudah menyebarkan petugas-petugas sandi. Tetapi tidak seorang pun yang mendapat keterangan tentang pusaka-pusaka yang hilang. Malahan kini kami mendapat keterangan dari Kiai, bahwa salah satu dari kedua pusaka yang hilang itu telah dibawa menyeberangi Kali Praga. Karena itu, maka sudah barang tentu kita tidak akan dapat menunggu dan menunggu sampai pada suatu saat kita mendengar berita, bahwa pusaka-pusaka itu berada di suatu tempat.”

“Dengan menyebarkan petugas-petugas sandi, maka Mataram tidak berarti menunggu.”

“Tetapi kita tahu, bahwa kekuatan yang kita hadapi adalah kekuatan yang tidak ada taranya, sehingga kita tidak akan dapat menyerahkan hal itu semata-mata kepada petugas-petugas sandi.”

“Jadi maksud Ki Juru?”

“Aku dan Angger Sutawijaya sudah berkeputusan, bahwa kami berdua akan mencari pusaka-pusaka itu.”

“Dan meninggalkan Mataram?”

“Ya. Kami akan meninggalkan Mataram.”

“Ki Juru,” Ki Sumangkar memotong, “dalam keadaan seperti sekarang, Mataram memerlukan pimpinan yang teguh. Apalagi jika rahasia hilangnya pusaka-pusaka itu sampai bocor.”

“Angger Sutawijaya tidak akan melepaskan kepemimpinannya atas Mataram. Justru karena tanggung jawabnya maka ia harus menemukan pusaka-pusaka itu kembali,” Ki Juru menjawab, lalu, “Kiai. Kedua pusaka itu sudah tidak ada di Mataram. Dengan demikian Mataram tidak akan kehilangan lagi barang-barang yang berarti selama kami pergi. Ada pun pemerintahan di Mataram, untuk sementara dapat kami serahkan kepada beberapa orang yang akan melakukan tugas sehari-hari. Tidak ada hubungan keluar yang penting dan segera harus dilakukan. Kita akan mempertahankan hubungan seperti sekarang ini dengan Pajang, dengan Mangir, dengan Menoreh dan dengan daerah-daerah lain.”

“Dan apakah alasan kepergian Angger Sutawijaya selama ia meninggalkan Mataram?”

“Raden Sutawijaya akan mesu sarira. Ia harus menambah ilmu dan olah kanuragan. Bertapa dan nenepi di tempat-tempat yang dianggap mempunyai pengaruh atas pribadinya.”

Kiai Gringsing dan kedua kawannya termenung sejenak. Mereka memandang Raden Sutawijaya yang menundukkan kepalanya. Terkenang oleh orang-orang tua itu, betapa pada masa mudanya Sultan Pajang yang juga disebut Jaka Tingkir itu bertualang dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu padepokan ke padepokan yang lain.

“Kiai,” berkata Ki Juru Martani kemudian karena Kiai Gringsing tidak menyahut, “sebenarnyalah bahwa Raden Sutawijaya akan pergi ke tempat-tempat yang sepi dan terasing. Bukan saja untuk mencari pusaka-pusaka yang hilang, tetapi benar-benar untuk mesu diri.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Di tempat-tempat yang sepi, jauh dari kesibukan sehari-hari, maka Raden Sutawijaya akan dapat merapatkan diri dengan Sesembahannya.”

“Maksud Ki Juru?”

“Raden Sutawijaya akan dapat dengan tanpa memikirkan persoalan-persoalan yang lain, mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung. Kepada-Nya-lah Raden Sutawijaya akan memohon. Memohon bagi Mataram dan memohon bagi dirinya sendiri.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Demikian juga kedua kawannya. Ki Sumangkar dan Ki Waskita. Karena mereka pun beranggapan bahwa semua permohonan, seharusnyalah ditujukan kepada kekuasaan tertinggi, kepada Yang Maha Kuasa

“Apakah ada yang tidak sesuai dengan pendapat Kiai,” bertanya Ki Juru.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak. Tidak ada yang tidak sesuai. Mula-mula aku bertanya-tanya untuk apakah sebenarnya Raden Sutawijaya pergi ke tempat-tempat sepi.”

“Seperti yang dilakukan oleh ayahanda angkatnya. Di sembarang tempat, yang kadang-kadang berbahaya bagi dirinya. Tetapi di tempat-tempat semacam itu, Mas Karebet merasa dirinya dekat dengan Yang Maha Kuasa. Dengan tuntunan-tuntunan para pertapa dan guru-gurunya, ia memohon kepada Yang Maha Kasih, keterbukaan hati dan kemampuan yang tersimpan di dalam dirinya. Dan Tuhan mengabulkan permohonannya. Hatinya yang bersih pada saat ia memanjat ke tangga tahta Pajang karena sebelumnya ia sama sekali tidak bermimpi untuk memegang kekuasaan itu. Bahkan kemudian ia pun mendapat anugerah untuk dapat mempergunakan kekuatan-kekuatan yang tersimpan di dalam diri seseorang tetapi yang tidak banyak dikenal oleh orang itu sendiri. Namun bahwa hati manusia adalah hati yang lemah dan dungu, sehingga kadang-kadang kurnia yang paling berharga pun, tidak dapat kita junjung untuk selama-lamanya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Waskita berkata, “Kadang-kadang kita memang senang bermain-main dengan kekuatan asing yang sebenarnya tidak kita kenal. Tetapi yang tidak akan keliru adalah apabila kita memohon kepada Yang Maha Kuasa itu, sehingga kita akan terhindar dari sentuhan kekuatan hitam yang dapat menjerumuskan kita ke tempat yang paling terkutuk.”

“Tetapi batas itu memang kabur,” sahut Ki Sumangkar, “jika kita tenggelam kepada pemujaan kekuatan tanpa menghiraukan sumbernya, kita memang akan mudah terjerumus, karena menurut bentuk lahiriahnya, sangat sulit dibedakan. Kadang-kadang kita melihat kekuasaan yang melampaui kekuasaan jasmaniah manusia kebanyakan yang tidak diketahui asalnya. Apakah itu kurnia keterbukaan kemampuan yang memang sudah ada pada diri kita, atau kita menyadapnya dari sumber yang hitam. Sebab dari keduanya kita dapat melihat, bahwa telah terjadi sesuatu yang mencuat dari permukaan, tanpa kita mengerti alasnya.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan Angger Sutawijaya tidak salah pilih. Jika ia ingin memiliki sesuatu hendaknya ia memperhatikan sumbernya pula. Karena sebenarnyalah sumber dari segalanya yang bening tidak akan teratasi oleh kekuatan yang mana pun juga dari yang buram dan hitam.”

Tetapi tiba-tiba Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Kita telah terlibat dalam pembicaraan yang khusus. Tetapi sebenarnya semuanya itu tidak perlu kita ucapkan, karena Raden Sutawijaya akan pergi bersama Ki Juru Martani, yang tentu sudah dapat melihat jauh lebih jernih dari penglihatan kita.”

“Ah,” Ki Juru pun tertawa, “bukan begitu. Tetapi kami memperbincangkan perjalanan yang akan ditempuh oleh Raden Sutiawijaya. Ia perlu banyak pengetahuan dan pengalaman sebelum ia akan memegang kekuasaan yang lebih besar sejalan dengan perkembangan Tanah Mataram.”

“Baiklah, Ki Juru,” berkati Kiai Gringsing, “kami mengharap besok akan mendapat tiruan dari tanda yang aneh itu. Kami akan membawanya ke Sangkal Putung. Mungkin selama kami menunggu saat perhelatan perkawinan Swandaru, kita akan dapat menemukan sesuatu.”

“Mudah-mudahan, Kiai,” sahut Ki Juru, “usaha menemukan pusaka-pusaka itu memang sulit. Tetapi adalah kuwajiban kita untuk berusaha. Dan sudah barang tentu, kami akan mengucapkan beribu-ribu terima kasih bahwa Kiai sudah terlibat di dalam usaha pencaharian itu. Bahkan keterlibatan yang sungguh-sungguh.”

“Itu sudah menjadi kuwajibanku, Ki Juru.”

“O,” Ki Juru mengangguk-angguk, “hampir aku lupa bahwa sebenarnyalah Kiai Gringsing sangat berkepentingan. Apa lagi bahwa orang yang mengambil pusaka itu menyebut dirinya pewaris Kerajaan Majapahit.”

Kiai Gringsing tersenyum. Ia masih sempat berkelakar, katanya, “Tetapi Ki Juru jangan sekali-kali menuduh aku.”

Orang-orang yang mendengarnya tertawa. Tetapi betapa pun juga masih tersirat kesan, betapa berat beban yang harus mereka pikul di hari-hari mendatang.

Apalagi bagi Kiai Gringsing dan kedua kawannya yang sudah bersedia membantunya. Mereka tidak dapat mengabaikan hari-hari perkawinan Swandaru dan bagi Ki Waskita, hilangnya Rudita yang kemudian menjadi bahan pembicaraan pula dengan Ki Juru Martani.

Hilangnya Rudita ternyata merupakan peristiwa yang cukup menegangkan pula. Bagi Ki Waskita, Rudita tentu memiliki arti yang tidak kalah pentingnya dengan pusaka-pusaka yang hilang itu bagi Mataram.

“Kita memang sedang dihadapkan pada ujian yang berat sekarang ini,” berkata Ki Juru Martani sambil menarik nafas dalam-dalam, “dengan demikian, kita akan saling membantu. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesediaan Ki Waskita membantu kami. Tetapi di dalam perjalanan kami, kami tentu akan berusaha untuk mendapatkan keterangan, apabila mungkin jejak kepergian Angger Rudita itu.”

“Terima kasih, Ki Juru,” sahut Ki Waskita, “mudah-mudahan usaha kita bersama dapat berhasil. Mungkin sekaligus semuanya, tetapi mungkin satu demi satu. Tetapi kita sudah berusaha sejauh-jauhnya yang dapat dilakukan oleh manusia yang lemah.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Sedang Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya oleh bayangan yang beraneka warna tentang Rudita. Ia melihat Rudita dalam keadaan yang kurang wajar bagi seorang laki-laki muda. Meskipun kemudian ia melihat sedikit perubahan pada anak muda itu, tetapi apakah kepergiannya seorang diri itu bukannya suatu tindakan yang sama sekali kurang bijaksana, dan dapat membahayakan dirinya.

“Ki Waskita,” bertanya Raden Sutawijaya kemudian, “apakah Rudita marah atau merajuk pada saat ia pergi? Kemudian seolah-olah ia dengan sengaja membuang diri karena merasa dirinya tidak berarti?”

Waskita menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Ia pergi dengan penuh kesadaran. Perubahan yang terjadi di dalam dirinya telah mendorongnya untuk mengenal dunia ini seluruhnya. Dunia yang besar yang terbentang di sudut langit ini dan dunia kecil dari dirinya sendiri. Ternyata menilik keterangan ibunya dan tanda-tanda yang aku dapatkan, Rudita sedang berusaha menekuni dunia kecilnya jauh lebih banyak dari dunia yang besar ini. Karena sebenarnyalah bahwa rahasia di dunia kecil itu baginya jauh lebih rumit dari rahasia dunia besar yang kasat mata.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Namun kemudian, “Tetapi apakah perjalanan itu tidak membahayakan dirinya?”

“Tentu, Raden. Itulah yang mencemaskan. Tetapi aku mengharap bahwa Rudita akan dapat diselamatkan justru oleh kelemahannya. Tidak banyak orang yang akan menghiraukannya dan apalagi tertarik kepadanya dalam suatu sikap tertentu. Rudita tidak lebih seorang anak muda yang berada di jalan tanpa arti sama sekali bagi orang-orang yang memiliki ilmu dan kemampuan.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Keterangan Ki Waskita memang menarik sekali. Rudita akan diselamatkan oleh kelemahannya sendiri.

“Mungkin sekali,” desis Raden Sutawijaya di dalam hatinya. Yang terbayang adalah permainan yang sering di lakukan di masa kanak-kanak. Mereka yang menjadi pupuk bawang justru tidak pernah diperhatikan dan berada di luar hitungan meskipun ia boleh ikut bermain-main. Di dalam permainan dunia besar yang kasar ini, Rudita adalah pupuk bawang. Dan agaknya itu memang jauh lebih baik baginya.”

Demikianlah malam menjadi semakin larut. Mereka berbincang terus sehingga mereka baru sadar justru ketika terdengar kentongan dara muluk menjelang dini hari.

“Kiai,” berkata Ki Juru kemudian, “begitu asyik kita berbicara sehingga aku lupa mempersilahkan Kiai, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita untuk beristirahat. Silahkan. Besok kita akan melanjutkan pembicaraan ini.”

“Ki Juru, besok kami akan mohon diri,” berkata Kiai Gringsing, “kami ingin segera sampai ke Sangkal Putung. Aku seolah-olah meninggalkan anak yang baru dapat merangkak di pinggir sumur terbuka. Justru karena telah terjadi perkelahian di Kali Praga itu. Apalagi menjelang saat-saat Swandaru akan menghadapi hari perkawinannya.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Juga Ki Waskita agaknya masih saja gelisah, karena Rudita masih belum dapat diketahui dengan pasti.”

“Apakah Ki Waskita tidak dapat mengetahui di mana anak itu sekarang?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Ia selalu bergerak sekarang ini,” jawab Ki Waskita, “tetapi menurut tangkapan isyarat yang samar-samar anak itu sedang menuju ke Sangkal Putung meskipun ia belum pernah pergi ke tempat itu.”

Raden Sutawijaya mengagguk-angguk. Katanya, “Syukurlah jika ia benar-benar pergi ke Sangkal Putung. Meskipun seandainya ia tersesat, tetapi ia dapat bertanya kepada seseorang tentang arah yang pasti. Mungkin ia memerlukan waktu perjalanan dua kali lipat dari yang sebenarnya diperlukan. Tetapi itu lebih baik daripada ia pergi tanpa tujuan.”

“Tetapi itu pun belum pasti Raden,” sahut Ki Waskita, “namun mudah-mudahan ia benar-benar pergi ke sana. Jika apabila kami nanti sampai ke Sangkal Putung dan Rudita masih belum ada di sana, maka kami terpaksa mencarinya.”

Ki Juru Martani pun menyadari bahwa banyak yang masih harus mereka lakukan. Karena itu, maka ia pun berkata, “Baiklah. Kita akan bersama-sama melaksanakan tugas kita masing-masing. Mungkin kalian akan lebih banyak bergerak di sebelah Utara. Sedang kami akan mencoba menyelusuri daerah Selatan. Dari Barat menuju ke Timur. Mungkin kami akan sampai ke Pegunungan Sewu dan daerah di sekitarnya. Mudah-mudahan kita akan berhasil.”

“Mudah-mudahan, Ki Juru,” desis Kiai Gringsing.

“Nah, sekarang kami persilahkan kalian beristirahat di gandok. Besok pagi-pagi sajalah aku menyerahkan tanda tiruan itu. Tanda yang sampai sekarang tidak aku mengerti artinya.”

Masih ada waktu beberapa lamanya untuk beristirahat. Meskipun sebentar kemudian ayam jantan mulai berkokok untuk yang terakhir kalinya di malam itu. Namun waktu yang pendek itu sudah cukup bagi Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita untuk melepaskan lelahnya.

Pagi-pagi benar, mereka sudah mempersiapkan diri. Ketika matahari mulai memanjat langit, mereka telah selesai berkemas dan siap untuk berangkat kembali ke Sangkal Putung.

“Kalian terlalu tergesa-gesa,” berkata Ki Juru.

“Masih banyak yang harus kami kerjakan Ki Juru,” sahut Kiai Gringsing.

Namun demikian Ki Juru masih sempat mempersilahkan mereka untuk makan pagi sebelum berangkat, bersama dengan Sutawijaya dan Ki Lurah Branjangan.

Baru setelah mereka selesai makan pagi, maka Ki Juru Martani pun menyerahkan kepingan perak bakar yang berwarna kehitam-hitaman dengan pahatan ciri sebuah kelompok yang masih belum dikenal dengan pasti. Namun yang jelas telah menyebut dirinya sebagai pewaris Kerajaan Majapahit.

“Terima kasih, Ki Juru,” berkata Kiai Gringsing, “kami akan mencoba memecahkan rahasia yang terkandung di dalam tanda ini. Mungkin kami tidak akan berhasil. Tetapi jika kemudian kami menemukan tanda-tanda yang serupa, maka kami akan segera dapat mencari hubungannya.”

“Baiklah, Kiai,” sahut Ki Juru yang kemudian katanya, “kami pun tidak akan menunggu terlampau lama. Jika kami kemudian menemukan jejak kedua pusaka itu, mungkin kami akan menelusurinya, sehingga mungkin kami akan menjelajahi daerah yang luas.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Kiai. Selama aku dan Angger Sutawijaya pergi, aku mahon agar Kiai, Ki Sumangkar, atau Ki Waskita sekali-sekali singgah di rumah ini. Ki Lurah Branjangan dengan beberapa orang pilihan, akan mencoba menggantikan tugas-tugas kami. Namun mereka akan sangat berterima kasih jika kalian sudi menengok barang sehari dua hari. Aku kira bahwa kalian tidak akan meninggalkan Sangkal Putung sebelum hari-hari perkawinan itu.”

Kiai Gringsing mengangguk. Jawabnya, “Ya, Ki Juru. Kami akan berada di Sangkal Putung sampai secepat-cepatnya empat puluh hari lagi. Namun selama itu, kami sudah barang tentu akan dapat sekali-sekali mengunjungi Mataram dan mencari Angger Rudita. Tetapi kami tidak akan meninggalkan Sangkal Putung untuk sebuah petualangan. Baru setelah perkawinan itu selesai, mungkin kami akan meneruskan usaha kami dengan sungguh-sungguh mencari pusaka-pusaka yang hilang itu apabila belum dapat diketemukan.”

“Tetapi akan segera menyusul saat perkawinan yang kemudian,” tiba-tiba saja Raden Sutawijaya menyela.

“Maksud Raden?”

“Bukankah Agung sedayu dan Sekar Mirah juga sudah bersepakat untuk kawin?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Agaknya mereka memang mempunyai ikatan batin. Tetapi agaknya saat-saat itu masih agak panjang.”

“Setidak-tidaknya setelah berganti tahun. Bukankah menjadi pantangan untuk mengadakan perhelatan dua kali pada tahun yang sama?”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya. Memang jarang sekali orang yang berani mengadakan perhelatan dua kali dalam tahun yang sama. Jika bukan karena pantangan, mungkin karena mereka harus mengeluarkan beaya yang tidak sedikit dua kali dalam setahun.”

Ki Juru tersenyum. Katanya, “Atau karena kedua-duanya.”

“Tetapi,” berkata Kiai Gringsing, “aku kira, setelah perkawinan Swandaru, aku, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita akan sempat menyisihkan waktu. Apalagi jika Angger Rudita benar-benar sudah dapat kami ketemukan.”

“Terima kasih. Kami pun akan mencoba mencari jejak Angger Rudita pula. Mudah-mudahan semuanya dapat kita selesaikan dengan baik dan selamat. Mudah-mudahan tidak harus mempertaruhkan korban yang terlalu banyask.” Ki Juru berhenti sejenak. Kemudian sambil memandang Ki Lurah Branjangan ia berkata, “Tetapi bukan berarti bahwa kau dapat meninggalkan segala persiapan. Mungkin harus ditempuh jalan kekerasan seperti saat Angger Sutawijaya memecahkan pertahanan Panembahan Agung. Tidak mustahil, bahwa orang-orang yang menyebut dirinya pewaris Kerajaan Majapahit itu telah menyusun kekuatan yang besar, atau bahkan mendapat dukungan dari satu dua adipati.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan mencoba menjalankan semua perintah dengan baik. Kita semuanya menyadari, bahwa kekuatan yang kita hadapi bukannya kekuatan yang kecil. Kita mengenal orang-orang sakti sejak Mataram baru mulai dibuka. Pada masa daerah ini di bayangi oleh kekuatan hantu-hantuan. Ternyata ada dua tiga orang sakti di antara mereka. Kemudian orang-orang yang mengganggu jalan menuju ke daerah yang sudah mulai terbuka, dan orang-orang yang dengan sengaja ingin membenturkan kekuatan Pajang dan Mataram saat perkawinan Untara. Disusul oleh pameran kekuatan yang mencapai puncaknya dengan pecahnya padepokan Panembahan Agung. Namun ternyata dugaan kita salah. Setelah Panembahan Agung dapat disingkirkan, masih saja kita jumpai orang-orang yang memiliki kelebihan seperti tiga orang yang mengaku tukang satang itu, yang justru mampu menerobos bentuk semu Ki Waskita dengan penglihatan batinnya, setelah penglihatan wadagnya terganggu.”

Ki Juru mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang berat sekali tugas yang dihadapinya. Adalah kebetulan sekali orang-orang itu datang seorang demi seorang, jika mereka menghimpun kekuatan dan bersama-sama menyerang Mataram, akibatnya akan berlainan.

Demikianlah sejenak kemudian kuda-kuda yang dipergunakan oleh Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita pun telah disiapkan. Sementara itu, Ki Juru berkata, “Kita akan menunaikan tugas kita masing-masing. Tetapi sebenarnyalah bahwa pokok dari tugas itu sebenarnya bersamaan.”

“Ya, Ki Juru,” sahut Kiai Gringsing.

“Jika ternyata kemudian Kiai memerlukan kekuatan pasukan dalam keadaan yang bagaimana pun juga, Kiai dapat segera menghubungi Ki Lurah Branjangan.”

“Terima kasih. Kemungkinan itu memang ada.”

“Dan yang tidak lupa pula ingin kami pesankan, kami mohon maaf kepada Ki Demang di Sangkal Putung. Mungkin saat-saat perkawinan Swandaru, kami masih dalam perjalanan. Jika kami tidak dapat hadir, kami mohon maaf. Tetapi kami sudah menyiapkan beberapa orang yang akan mewakili Mataram.”

“Ah. Perhelatan itu hanyalah perhelatan kecil. Perhelatan yang diselenggarakan oleh seorang padesan.”

Ki Juru tersenyum. Lalu, “Tetapi jika kami dapat mengingat hari yang ditentukan dan kami mempunyai kesempatan, kami akan memerlukan datang dari mana pun juga kami berada pada saat itu.”

“Tidak perlu terlampau menyusahkan.”

“Sebuah petualangan kadang-kadang memerlukan saat-saat untuk mengurangi ketegangan. Di dalam perhelatan yang demikian itulah agaknya kami dapat melakukannya.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Mungkin. Tetapi mungkin justru akan mengganggu. Namun demikian, terserahlah kepada Ki Juru dan Raden Sutawijaya. Jika kesempatan itu ada, maka sudah barang tentu kedatangan Ki Juru dan Raden Sutawijaya akan sangat membesarkan hati Ki Demang Sangkal Putung, ia akan dapat mengangkat dadanya sambil berkata kepada sesama Demang yang hadir, “He, siapakah yang pernah mengadakan perhelatan dan dihadiri oleh Ki Juru Martani dan Raden Sutawijaya, putera angkat Kanjeng Sultan di Pajang yang kini bergelar Senapati Ing Ngalaga di Martaram.”

“Ah,” Sutawijaya menundukkan wajahnya yang menjadi kemerah-merahan. Tetapi ia sudah mengenal sifat Kiai Gringsing dengan baik, sehingga ia pun akhirnya tersenyum pula.

Demikianlah maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita pun segera melanjutkan perjalanan, kembali ke Sangkal Putung. Masing-masing di antara mereka telah membawa tiruan tanda-tanda yang masih belum dapat mereka pecahkan.

Sementara itu, mereka pun telah mendengar rencana kepergian Ki Juru Martani dan Raden Sutawijaya dari Mataram. Perjalanan yang berat bagi kedua orang pemimpin tertinggi itu, dengan akibat-akibat dan kemungkinan-kemungkinan yang paling berbahaya. Tetapi sudah menjadi ketetapan hati, bahwa keduanya harus menyelusuri hilangnya pusaka-pusaka yang menjadi tanggung jawab mereka dengan mempertaruhkan apa saja yang ada pada mereka.

Di perjalanan, kembali Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Ki Waskita tidak habis-habisnya berbicara tentang tanda-tanda yang aneh itu. Hilangnya kedua pusaka dari Mataram dan hilangnya anak laki-laki Ki Waskita.

Tetapi dengan demikian perjalanan mereka rasa-rasanya menjadi semakin cepat. Hampir di luar sadar, mereka sudah berada di ujung Alas Mentaok. Jalan yang mereka lalui sudah menjadi semakin rata dan ramai, dibandingkan dengan beberapa saat yang lampau.

“Jika persoalan-persoalan yang menyangkut Mataram itu segera dapat diselesaikan, maka Mataram akan mendapat kesempatan cukup untuk membangun diri. Kini Mataram harus membangun sambil mempertahankan kehadirannya, sehingga tenaga yang ada di dalamnya dan terhitung masih belum cukup banyak itu harus terbagi,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

“Tetapi mengherankan sekali,” sahut Ki Sumangkar, “Mataram bagaikan mempunyai kekuatan gaib yang dapat menghisap penghuni dari tempat-tempat lain untuk bekerja keras membangun setelah menebas hutan yang lebat. Biasanya di antara kita terlampau malas untuk meninggalkan tempat tinggal. Bahkan yang tinggal di lereng Gunung Merapi, yang setiap kali harus bersentuhan dengan lelehan api dan batu-batu panas, tidak juga mau meninggalkan kampung halamannya.”

“Dari satu segi kecintaan terhadap kampung halaman memang dapat dibanggakan,” potong Ki Waskita, “tetapi dari segi yang lain, mereka masih terkungkung oleh pandangan yang sempit. Jika mereka meninggalkan kampung halamannya dan berpindah di tempat yang baru, yang memberikan harapan, mereka merasa seolah-olah mereka sudah berpindah dari satu daerah kesatuan ke tempat yang lain di luar lingkungannya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia tiba-tiba saja mengenang jalan setapak yang pernah dilaluinya. Bahkan pada saat Sutawijaya bertiga dengan Agung Sedayu dan Swandaru pergi tanpa pamit dari Sangkal Putung menuju ke tlatah yang masih diselubungi oleh padatnya hutan yang sangat lebat, Alas Mentaok. Pada masa perampok dan penjahat-penjahat yang lain masih berkeliaran hampir di setiap sudut.

Tetapi kini daerah itu sudah menjadi daerah padesan. Daerah yang sudah didiami oleh penghuni yang bersedia bekerja keras bagi daerahnya untuk mempersiapkan hari-hari yang lebih baik bagi masa mendatang.

Namun selagi mereka melanjutkan pembicaraan mereka di sepanjang perjalanan, tiba-tiba saja mereka tertarik kepada dua orang penunggang kuda yang memacu kudanya melampaui ketiga orang itu. Meskipun orang-orang itu tidak berpaling, tetapi rasa-rasanya kedua orang itu memperhatikannya.

Tetapi ternyata kedua orang itu berpacu terus. Mereka semakin lama menjadi semakin kecil dan hilang ditelan oleh padukuhan di hadapan mereka.

Demikian mereka hilang dari tatapan mata, maka Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Apakah kalian memperhatikan kedua orang penunggang kuda itu?”

“Ya,” sahut kedua kawannya hampir bersamaan. Dan Ki Sumangkar pun meneruskannya, “Agaknya memang ada yang menarik perhatian pada keduanya.”

“Agaknya memang demikian. Tetapi aku tidak tahu pasti, apanya yang telah menarik perhatian.”

“Barangkali karena mereka agaknya tertarik juga kepada kita. Mereka nampaknya memperhatikan kita bertiga meskipun mereka tidak ingin memberikan kesan yang demikian,” sahut Ki Waskita

“Atau barangkali kitalah yang sudah terganggu syaraf kita. Banyak persoalan yang telah terjadi, sehingga rasa-rasanya kita mencurigai setiap orang,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

Kedua kawannya tertawa. Ki Sumangkar pun menyahut, “Mungkin juga demikian. Kita tidak dapat berpikir wajar lagi dalam keadaan serupa ini.”

“Bukan salah kita,” potong Ki Waskita, “keadaanlah yang telah membuat kita menjadi demikian. Curiga, cemas, ragu-ragu, dan kadang-kadang bahkan tidak percaya kepada diri sendiri.”

Sekali lagi mereka bertiga tertawa.

Demikianlah kemudian tanpa disadari sambil berbicara tentang bermacam-macam persoalan, langkah kuda-kuda mereka pun menjadi semakin cepat, meskipun mereka tidak sengaja mengikuti kedua orang yang telah melampaui mereka. Mereka mencoba untuk tidak terlampau dikuasai oleh perasaan mereka yang memang sedang terombang-ambing oleh keadaan yang tidak menentu. Perhelatan, tetapi juga hilangnya kedua pusaka dari Mataram dan hilangnya Rudita.

Namun, selagi mereka berpacu di jalan lurus ke Sangkal Putung, tiba-tiba Ki Waskita berdesis, “Nanti dulu Kiai. Ada sesuatu terasa di hati.”

Ketiganya memperlambat kuda mereka. Bahkan kemudian mereka pun berhenti sejenak di bawah sebatang pohon yang rindang.

Sebelum Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar bertanya sesuatu, mereka melihat Ki Waskita menundukkan kepalanya. Agaknya ada sesuatu yang sedang direnunginya dengan mata batinnya.

Sejenak kemudian tiba-tiba saja ia mengangkat wajahnya dan berkata, “Rudita agaknya memang mendekati Sangkal Putung. Ia kini berada di perjalanan sepanjang lereng Merapi.”

“Maksud Ki Waskita, apakah kita akan singgah sejenak?” bertanya Kiai Gringsing.

Ki Waskita menjadi termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata, “Kita teruskan perjalanan ini sebentar, Kiai. Kita akan menyampaikan hasil tugas kita kepada Ki Demang dahulu. Kemudian barulah aku akan mencari Rudita di sepanjang lereng Merapi.”

Tiba-tiba saja Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Ki Waskita. Apakah kita tidak lebih baik mencari Rudita lebih dahulu. Jika benar ia menyelusup lereng Merapi maka ia akan sampai ke tempat yang tidak diharapkan. Mungkin ia ingin melihat Kembang Manca Warna yang menurut kata orang mempunyai tujuh macam bunga pada sebatang pohon. Mungkin ia ingin menemukan bunga melati pada pohon itu, yang katanya menjadi lambang keberuntungan, karena tidak banyak orang yang dapat melihat bunga melati pada batang Kembang Manca Wana itu.”

Ki Waskita mengangguk-angguk.

“Jika ia berada di sekitar daerah itu, maka ia akan dapat menjadi sasaran orang-orang jahat yang kadang-kadang memang mencari mangsanya pada mereka yang berkunjung untuk melihat Kembang Manca Warna itu. Apalagi apabila kemudian ia berjalan menyusuri jalan setapak di lereng itu dan sampai ke Padukuhan Karang Watu.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku pernah mendengar bahwa Padukuhan Karang Watu dikuasai oleh sekelompok penjahat.”

“Bukan dikuasai oleh sekelompok penjahat. Padukuhan itu memang merupakan sarang dari penjahat-penjahat dari yang kecil, yang senang menangkap ayam tetangga sendiri, sampai ke penjahat besar yang berani membongkar rumah seorang Senapati di Demak saat itu. Agaknya keturunannya pun tentu memiliki kelebihan seperti itu pula dan menurut pendengaranku, penduduk padukuhan itu masih juga melakukan berbagai macam kejahatan.”

Ki Waskita ragu-ragu sejenak. Namun ia berkata, “Rudita tidak membawa bekal cukup banyak sehingga menarik perhatian mereka. Apalagi aku tidak mau mengganggu ketenangan hati Ki Demang. Baiklah kita sampaikan hasil perjalanan kita. Malam nanti kita mencoba mencari Rudita.”

“Malam nanti?” bertanya Ki Sumangkar.

“Ya. Maksudku, menjelang pagi kita berangkat.”

Ki Sumangkar mengangguk-angguk. Katanya, “Semakin cepat memang semakin baik. Daerah itu memang merupakan daerah yang kadang-kadang dapat membahayakan. Apalagi bagi Angger Rudita. Kita yang tua-tua pun harus cukup berhati-hati jika kita berjalan melalui daerah itu, meskipun menurut pendengaranku, mereka tidak biasa melakukan hal itu di halaman rumah sendiri.”

“Tetapi cukup mencemaskan,” desis Kiai Gringsing.

Demikianlah, mereka pun kemudian berpacu semakin cepat. Mereka ingin segera sampai ke Sangkal Putung. Beristirahat sejenak, kemudian menjelang pagi, mereka harus sudah meninggalkan kademangan itu untuk mencari Rudita. Karena rasa-rasanya Ki Waskita sudah menangkap isyarat yang agak jelas dari anaknya yang hilang itu.

Dengan demikian maka perjalanan Kiai Gringsing dan kedua kawannya pun menjadi semakin cepat. Rasa-rasanya mereka ingin segera sampai. Namun, sudah barang tentu mereka tidak akan dapat begitu saja turun dari kudanya, makan, minum, dan pergi lagi. Mereka harus menunggu kesempatan yang biasanya diakukan di malam hari, menyampaikan hasil perjalanan mereka kepada Ki Demang dan para tetua di Sangkal Putung.

Setelah mereka memasuki daerah Kademangan Sangkal Putung, rasa-rasanya kuda-kuda mereka justru menjadi semakin malas sehingga mereka pun justru berpacu lebih cepat. Dada mereka menjadi semakin mendesak untuk segera sampai.

“Apakah kita dapat segera menyampaikan hasil perjalanan kita?” bertanya Ki Waskita.

Kiai Gringsing menggeleng. Katanya, “Ki Demang masih harus mengundang orang-orang tua itu.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Memang secepatnya menjelang pagi kita baru dapat berangkat.”

Mereka tidak banyak berbicara lagi. Apalagi karena mereka telah sampai ke padukuhan induk Kademangam Sangkal Putung.

Kedatangan Kiai Gringsing disongsong oleh Ki Demang dan keluarganya dengan wajah yang bertanya-tanya. Namun mereka sebenarnya tidak lagi mencemaskan hasil perjalanan itu, karena persoalannya sebagian terbesar hanyalah terletak pada waktu dan pelaksanaan saja.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam ketika mereka melihat Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah ikut menyambut kedatangannya. Apalagi karena wajah-wajah mereka yang nampak bening. Tentu tidak terjadi apa pun dengan mereka.

Ki Demang Sangkal Putung pun kemudan mempersilahkan mereka naik ke pendapa, setelah mereka membersihkan kaki di jambangan yang tersedia di sisi halaman.

Ki Waskita tanpa menanyakan kepada siapa pun juga, menyadari bahwa Rudita memang belum ada di Sangkal Putung. Dengan demikian, maka ia pun yakin, bahwa tangkapan isyarat yang memberikan petunjuk tentang anaknya, agaknya dapat dipegangnya sebagai sasaran yang pasti.

Tetapi Ki Waskita dengan sengaja telah menahan perasaannya tanpa mengatakan apa pun tentang Rudita, agar ia tidak segera merusak suasana, karena Agung Sedayu dan Swandaru pasti akan segera tertarik dan mempersoalkannya lebih banyak dari hasil perjalanan mereka ke Tanah Perdikan Menoreh.

Setelah Ki Demang kemudian menanyakan keselamatan ketiga orang utusannya di perjalanan, dan setelah mereka dipersilahkan minum dan makan beberapa potong makanan, maka berkatalah Ki Demang, “Aku akan mengumpulkan orang-orang tua di Sangkal Putung untuk mendengar langsung hasil perjalanan Kiai bertiga. Aku kira besok atau lusa sajalah kita berbincang. Malam nanti aku harap Kiai memberikan sedikit gambaran tentang hasil perjalanan itu kepada kami, karena sekarang kalian tentu masih lelah.”

Ketiga orang itu berpandangan sejenak lalu Kiai Gringsing-lah yang berbicara, “Ki Demang. Sebaiknya nanti malam sajalah kita bertemu dengan orang-orang tua di Sangkal Putung. Kita dapat berbincang cukup panjang. Jika ditunda sampai besok atau lusa, barangkali sebagian besar persoalannya, aku sudah menjadi lupa.”

“Ah,” Ki Demang tertawa. Namun kemudian dengan bersungguh-sungguh ia bertanya, “apakah ada sesuatu yang penting dengan Mataram?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Ada persoalan kecil yang harus kami lakukan.”

Agaknya Ki Demang pun dapat mengerti tentang ketiga orang itu. Mereka bukan seorang Demang, bebahu sesuatu daerah, atau Kepala Tanah Perdikan seperti Ki Argapati, sehingga mereka rasa-rasanya dapat berbuat bebas seperti burung yang terbang di langit yang jernih. Kapan mereka ingin hinggap, dan kapan mereka ingin terbang.

Ki Demang kemudian sambil mengangguk-angguk berkata, “Baiklah. Aku akan mengundang malam nanti untuk berbicara panjang lebar dengan Kiai bertiga.”

“Terima kasih, Ki Demang.”

“Tetapi, apakah Kiai ada keperluan yang harus Kiai lakukan di luar kademangan ini?”

Kiai Gringsing tersenyum. Ketika ia memandang Ki Waskita maka Ki Waskita pun menjawab, “Sebenarnya hanya suatu keinginan untuk mengetahui sesuatu. Seperti umumnya orang-orang tua, kita kadang-kadang sudah digoda oleh keinginan yang kurang masuk akal.”

“Apakah kami dapat mengetahui?” bertanya Ki Demang.

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Bukan apa-apa, Ki Demang. Ada sesuatu yang menarik perhatian. Tetapi sekaligus kami ingin melihat pohon Kembang Manca Warna.”

“Ah,” Ki Demang tertawa, “Ki Waskita tertarik juga kepada ceritera tentang Kembang Melati yang akan dapat mendatangkan keberuntungan itu?”

“Setidak-tidaknya aku dapat berceritera, apakah pohon itu mempunyai tujuh macam daun serta tujuh macam bunganya.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Ketika seseorang akan mengatakan tentang pohon Kembang Manca Warna itu, Ki Demang memotongnya, “Jangan kau katakan sesuatu tentang pohon itu. Nanti Ki Waskita menjadi kecewa karenanya.”

Ki Waskita tersenyum. Tetapi matanya yang tajam menangkap pertanda bahwa sebenarnya Ki Demang pun sudah menduga bahwa ada sesuatu yang penting bagi ketiga orang-orang tua itu. Bukan sekedar diganggu oleh sifat ingin tahu. Tetapi tentu tidak bijaksana untuk mengatakannya kepada setiap orang termasuk orang-orang yang tidak berkepentingan, meskipun itu keluarganya sendiri.

Karena itulah, maka Ki Demang pun memenuhi permintaan Kiai Gringsing untuk mengundang orang-orang tua pada malam itu juga. Mereka diminta untuk mendengarkan keterangan Kiai Gringsing dan kedua kawan-kawannya, apakah hasil dari pembicaraan-pembicaraan terakhir dengan Ki Argapati.

Ketika kemudian malam turun menyelubungi Kademangan Sangkal Putung, beberapa orang telah berkumpul di pendapa kademangan, duduk dalam sebuah lingkaran kecil, mengelilingi lampu minyak yang diletakkan di atas ajug-ajug di tengah-tengah.

Ketika mereka sudah minum seteguk dan makan sepotong makanan yang dihidangkan, maka mulailah Kiai Gringsing menyampaikan hasil kunjungannya di Tanah Perdikan Menoreh.

“Tidak ada yang harus dirubah. Acara yang kita sampaikan kepada Ki Argapati dapat diterimanya. Semuanya akan berjalan sebaik-baiknya seperti yang kita kehendaki.”

Orang-orang tua di Sangkal Putung itu pun mengangguk-angguk. Mereka mendengarkan dengan saksama ceritera yang kemudian disampaikan oleh Kiai Gringsing tentang sikap Ki Argapati yang lapang dan penuh pengertian.

“Syukurlah,” desis seorang yang sudah berambut putih, “jika demikian kita tidak usah membuat perhitungan baru. Semuanya sudah mapan dan pada saat-saat yang tepat. Jika Ki Argapati minta perubahan-perubahan, meskipun hanya saat dipertemukannya pengantin, maka kita harus memperhitungkan kembali semuanya. Jika saat itu merupakan saat pantangan, kita harus mencari syarat untuk mengangkat pantangan itu.

Tetapi tidak ada persoalan apa pun. Sehingga dengan demikian maka pembicaraan itu pun segera selesai. Semuanya, menganggap bahwa segala-galanya memang akan berjalan lancar seperti pembicaraan-pembicaraan yang mereka lakukan sebelum saat perkawanan itu tiba. Tidak ada rintangan, tidak ada perbedaan pendapat dan tidak ada kesulitan apa pun juga.

Hanya Ki Waskita-lah yang setiap kali tersentuh oleh semacam isyarat yang buram tentang perkawinan Swandaru, sehingga hatinya menjadi kuncup. Ia tidak tahu pasti, saat-saat yang manakah yang akan diliputi oleh kabut yang gelap dari masa yang panjang, setelah perkawinan itu berlangsung.

Namun adalah kelemahan hati manusia, bahwa Ki Waskita itu setiap kali mencoba ingkar dari penglihatannya. Bahkan di dalam hati ia berkata, “Tidak akan ada apa-apa yang terjadi.”

Demikianlah, ketika pembicaraan itu sudah selesai, orang-orang tua itu pun masih juga berbicara untuk beberapa saat lamanya. Seperti halnya orang-orang tua, mereka berbicara tentang keharusan dan pantangan-pantangan yang wajib dilakukan oleh Swandaru.

“Sampai saat perkawinan ini berlangsung, Swandaru tidak boleh pergi sama sekali. Swandaru tidak boleh meninggalkan halaman rumahmu,” berkata seorang yang giginya tinggal dua buah di bagian depan.

Swandaru tidak menyahut. Tetapi sekilas dipandanginya wajah gurunya, seolah-olah ia minta pertimbangannya. Kemudian karena ia tidak mendapat kesan apapun, ia pun kemudian memandang wajah Agung Sedayu yang ikut hadir pula di pendapa. Tetapi kebetulan Agung Sedayu tidak sedang memandanginya.

Bagi Swandaru, untuk tetap berada di halaman rumahnya selama kira-kira empat puluh hari, rasa-rasanya seperti sedang menjalani hukuman. Tidak seperti ayahnya, Swandaru sudah mulai dijalari kebiasaan bertualang. Karena itu, untuk tinggal di rumah selama waktu yang panjang, alangkah menjemukan sekali.

Tetapi Swandaru hanya menundukkan kepalanya. Ia sadar, bahwa tidak baik membantah pendapat orang tua di dalam pertemuan serupa tu.

Setelah mereka berbincang beberapa lama, dan setelah para tamu itu dipersilahkan makan malam, maka pertemuan itu pun kemudian diakhiri. Orang-orang tua itu pun minta diri dengan pesan, bahwa setiap saat diperlukan, mereka akan dengan senang hati melakukan apa saja bagi Ki Demang.

Barulah sepeninggal orang-orang tua itu, Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita yang masih duduk di pendapa dengan Ki Demang dan anaknya serta Agung Sedayu, mencoba untuk menjelaskan persoalan yang sedang dihadapi.

“Tetapi semuanya ini jangan mempengaruhi rencana yang sudah disusun sebaik-baiknya bagi Swandaru,” berkata Kiai Gringsing.

Ki Demang tidak menyahut.

“Biarlah Ki Waskita menjelaskan persoalannya,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

Ki Demang mengangguk-angguk. Tetapi ia masih tetap diam. Ki Waskita-lah yang kemudian menceriterakan serba sedikit tentang anaknya yang pergi dari rumahnya dengan tujuan yang tidak menentu.

Seperti yang diduga, Agung Sedayu dan Swandaru-lah yang menanggapinya dengan serta-merta. Bahkan terloncat dari bibir Agung Sedayu, “Kita harus mencarinya. Perjalanan yang demikian akan berbahaya sekali bagi Rudita.”

Ki Waskita mencoba menenangkan dirinya sendiri, sehingga katanya kemudian tidak menunjukkan kegelisahan sama sekali, “Terima kasih, Agung Sedayu. Tetapi kau harus ingat bahwa Angger Swandaru tidak boleh pergi ke mana pun. Ia tentu akan merasa sangat sepi dan jemu jika ia tidak mempunyai kawan yang sesuai di rumah ini.”

“Jadi, aku pun tidak boleh beranjak selama empat puluh hari?” bertanya Agung Sedayu.

“Tentu bukan begitu. Tetapi sebaiknya kau tidak pergi terlampau jauh. Ke sawah, ke pategalan. Tetapi hanya untuk sepanjang pagi atau sore. Kemudian kau dapat mengawani Swandaru di rumah. Tetapi jika kau pergi mencari Rudita, kau akan pergi untuk dua atau tiga hari. Bahkan lebih.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya Swandaru yang menundukkan kepalanya. Rasa-rasanya ada sesuatu yang memanggilnya dari saudara seperguruannya itu, sehingga akhirnya Agung sedayu tidak dapat memaksakan diri untuk meninggalkan halaman selama Swandaru berada dalam masa persiapan hari perkawinannya.

Apalagi ketika kemudian Ki Demang berkata, “Angger Agung Sedayu. Aku minta dengan hormat, agar Angger Agung Sedayu sudi mengawani Swandaru dalam masa-masa ia tidak dibenarkan untuk meninggalkan halaman. Menurut pertimbangan orang tua-tua selama selapan hari, Swandaru memang harus berada di dalam lingkungan pagar halaman. Dan selapan hari itu akan mulai dua hari lagi.”

Tiba-tiba, di luar dugaan Swandaru menyela, “Jadi selama dua hari ini aku masih dapat pergi ke mana pun?”

“Ah,” sahut ayahnya, “yang dua hari ini pun sebaiknya tidak usah kau pergunakan untuk pekerjaan yang berbahaya.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa ayahnya tentu akan melarang jika ia ingin ikut mencari Rudita meskipun hanya selama dua hari. Ketemu atau tidak ketemu. Selebihnya ia akan mematuhi semua pantangan. Namun mencari Rudita bagi ayahnya adalah pekerjaan yang sangat berbahaya karena terbayang saat-saat hilangnya Rudita yang disimpan di sarang Panembahan Agung.

Tetapi Agung Sedayu dan Swandaru tentu tidak akan dapat menjelaskan perbedaan keadaan antara Rudita yang pergi atas kehendak sendiri dan Rudita yang hilang diambil oleh orang-orang Panembahan Agung.

Dengan demikian, maka niat Agung Sedayu dan Swandaru meskipun masih disimpannya di dalam hati untuk ikut mencari Rudita di sekitar lereng Merapi tidak akan dapat dikemukakannya lagi.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Ki Demang, usaha kami untuk mencari Rudita menurut Ki Waskita, akan kami sesuaikan dengan setiap rencana Ki Demang menyangkut saat-saat perkawinan Swandaru. Kami akan pergi mencari anak itu, tetapi setiap kali kami akan datang kembali dalam tiga atau empat hari seandainya anak itu masih belum segera dapat diketemukan. Kecuali jika keadaan memaksa dan mendesak untuk melindungi jiwanya, mungkin kami akan sedikt menyimpang dari rencana kami itu.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih, Kiai. Aku pun dapat mengerti, bahwa perjalanan Angger Rudita adalah persoalan keselamatan jiwa seseorang. Karena itu, aku tidak akan dapat mencegahnya. Bahkan apabila mungkin seharusnya kami ikut membantunya.”

“Ki Demang mempunyai tugas pula di saat-saat terakhir ini.”

Ki Demang mengangguk-angguk pula. Katanya, “Kiai. Meskipun aku tidak mempunyai pasukan sekuat pasukan Tanah Pendikan Menoreh, tetapi jika di dalam usaha Kiai mencari Angger Rudita diperlukan sepasukan pengawal, mungkin di daerah lereng Gunung Merapi terdapat sarang penjahat yang kuat, kami akan memyediakannya. Anak-anak muda Sangkal Putung akan dengan senang hati membantu menyelamatkan jiwa seseorang.”

“Terima kasih, Ki Demang,” Ki Waskita-lah yang menyahut, “agaknya di mana-mana aku hanya akan membuat kesulitan. Di Tanah Perdikan Menoreh dan kini di Kademangan Sangkal Putung.”

“Ah, tentu tidak,” berkata Ki Demang, “sudah banyak yang Ki Waskita taburkan. Dan yang Ki Waskita taburkan itu adalan benih-benih kebaikan. Sudah waktunya Ki Waskita memetik hasilnya apabila diperlukan. Apalagi sampai kini pun Ki Waskita masih saja menaburkan benih-benih kebaikan itu.”

Ki Waskita tersenyum. Betapapun asamnya. Katanya, “Ki Demang selalu memuji. Tetapi memang mungkin sekali kami memerlukan bantuan itu. Namun sejauh dapat kami lakukan, kami akan membatasi persoalan ini sehingga suasana di Sangkal Putung tidak akan terpengaruh oleh peristiwa ini. Juga Angger Swandaru. Sebaiknya Angger Swandaru melupakan saja persoalan ini, setidak-tidaknya menjelang saat-saat perkawinan.”

“Aku mengharap bahwa Rudita dapat hadir pada hari perkawinan itu,” sahut Swandaru. “Mudah-mudahan usaha pencaharian itu tidak banyak menemui kesulitan.”

“Mudah-mudahan,” desis Kiai Gringsing, “kami masih percaya kepada tangkapan isyarat Ki Waskita. Mudah-mudahan kami akan sampai pada sasarannya secepatnya.”

Demikianlah maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita pun menyatakan rencananya pula untuk meninggalkan Kademangan Sangkal Putung menjelang dini hari.

“Begitu tergesa-gesa?” bertanya Ki Demang.

“Rudita adalah anak yang kurang pengalaman,” sahut Ki Waskita …. ………. ………. (maaf ada satu baris yang terpotong dari penjilidan buku aslinya) tidak terlampau jauh dari lereng Merapi, meskipun agaknya Rudita selalu bergerak. Namun justru karena ia selalu bergerak itulah yang sedikit memberikan ketenangan di hatiku.”

“Kenapa?”

“Itu berarti bahwa ia bebas. Ia berjalan ke mana saja yang disukainya, meskipun agaknya ia telah tersesat.”

Ki Demang tidak dapat menahan Ki Waskita yang digelisahkan oleh kepergian anaknya yang hampir tidak mempunyai pengalaman petualangan sama sekali. Namun yang tiba-tiba saja telah pergi meninggalkan kampung halamannya oleh desakan perubahan yang bergejolak di dalam jiwanya.

Karena itu, maka Ki Demang pun segera mempersilahkan tamu-tamunya itu beristirahat, karena besok menjelang pagi mereka sudah harus pergi meninggalkan Sangkal Putung.

Tetapi perjalanan yang akan dilakukan bukan perjalanan yang panjang. Setiap kali Ki Demang akan dapat berhubungan dengan mereka, karena setiap kali mereka akan selalu kembali ke Sangkal Putung sebelum meneruskan usahanya apabila Rudita masih belum dapat diketemukan. Sehingga dengan demikian Sangkal Putung akan tetap menjadi pangkalan mereka selama mereka mencari Rudita yang menurut penilaian Ki Waskita berdasarkan penglihatan batinnya berada di sekitar daerah lereng Merapi di bagian Selatan.

Demikianlah maka pagi-pagi benar, sebelum matahari terbit, ketiga orang-orang tua itu pun telah siap untuk berangkat. Mereka masih memerlukan memberikan berbagai macam pesan kepada Agung Sedayu sehubungan dengan perstiwa yang dialami oleh ketiga orang-orang tua itu di Kali Praga.

“Sebaiknya kau pun tidak terlalu banyak berada di luar halaman rumah ini Agung Sedayu,” desis Kiai Gringsing, “dan untuk sementara berhati-hatilah dengan cambukmu. Jika kau mencurigai seseorang, jangan terlampau mudah menyebut dirimu orang bercambuk, karena mungkin akan mempunyai akibat yang gawat, jika kau bertemu dengan orang-orang yang mencari aku akibat kematian kawan-kawannya di penyeberangan Kali Praga itu.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Di dalam hati ia bertanya, “Sejak kapan Guru mengajarkan sifat yang demikian kepadaku. Apakah sikap yang demikian itu hanya sekedar sikap berhati-hati karena keadaannya memang gawat, atau dengan sengaja mengekang aku agar aku tidak terlampau liar?”

Tetapi Agung Sedayu tidak bertanya lagi. Ia menyadari saat yang penting sekali bagi Swandaru itu harus banyak mendapat perhatian. Sesuatu yang terjadi atas Swandaru, sekaligus akan menimpa pula bagi bakal isterinya yang menunggu di Tanah Perdikan Menoreh.

Menjelang matahari terbit, maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita pun berangkat meninggalkan Sangkal Putung tanpa menunggang kuda. Kepada muridnya satu-satunya Sumangkar berpesan agar ia menjaga dirinya sebaik-baiknya. Mungkin keadaan akan memaksa muridnya itu melakukan sesuatu untuk mempertahankan dirinya.

Tidak banyak orang Sangkal Putung yang melihat kepergian Kiai Gringsing. Ketika di ujung lorong, para peronda yang masih berada di gardu menyapanya, maka Kiai Gringsing pun menjawab, “Kami akan sekedar berjalan-jalan. Bukankah kata orang, orang-orang tua harus banyak berjalan-jalan? Terlebih-lebih lagi di waktu menjelang pagi. Badannya akan, menjadi sehat dan akan menghambat masa ketuaannya sehari setiap tonggak.”

“Ah, jika demikian, apakah jika Kiai berjalan-jalan lima tonggak pagi ini, berarti umur Kiai terhambat lima hari.”

“Ya.”

“Jika hal itu Kiai lakukan setiap pagi, maka Kiai justru akan menjadi bertambah muda lima hari. Pada suatu saat Kiai akan sampai pada suatu masa seperti saat Kiai dilahirkan.”

Kiai Gringsing tertawa. Katanya, “Memang mungkin sekali. Tetapi sudah barang tentu sesudah itu, aku tidak akan dapat berjalan-jalan lagi.”

Para peronda itu tertawa. Demikian pula Ki Sumangkar dan Ki Waskita.

Sejenak kemudian mereka pun meneruskan perjalanan mereka di dalam gelapnya ujung pagi yang sudah dibayangi oleh warna-warna merah di langit.

Ketiga orang itu dengan sengaja melanjutkan perjalanan hanya dengan berjalan kaki, karena dengan demikian, maka mereka akan dapat melalui setiap lorong dan mungkin tempat-tempat yang terpencil dan tersembunyi. Apalagi perjalanan mereka bukannya perjalanan yang terlampau jauh dan panjang.

Dari Sangkal Putung mereka berjalan menuju ke lereng Gunung Merapi. Menjelang pagi, nampak Gunung Merapi bagaikan bayangan kerucut raksasa yang menyangga langit yang mulai cerah. Semakin lama bayangan yang biru kehitam-hitaman itu menjadi semakin jelas. Ujungnya menjadi kemerah-merahan seperti bara.

Ketiga orang itu berjalan terus menyusuri bulak-bulak panjang. Perjalanan mereka memang tidak terlampau cepat. Tetapi tanpa mereka sadari setelah mereka melalui jalan sempit di pinggir hutan rindang, mereka telah menyelusuri jalan ke Macanan.

Tiba-tiba saja Ki Sumangkar berkata, “Kita akan lewat sebuah padukuhan yang dikenal dengan baik oleh Kiai Gringsing. Dukuh Pakuwon.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Orang-orang Dukuh Pakuwon telah melupakan orang yang bernama Ki Tanu Metir itu.”

“Tentu tidak, Kiai. Cobalah bertanya, apakah mereka mengenal Ki Tanu Metir. Mereka tentu akan mengatakan, mereka mengenal orang tua itu dengan baik. Sudah barang tentu mereka tidak akan mengenal Kiai dalam sikap dan pakaian seperti sekarang ini. Coba Kiai mengenakan pakaian, sikap, dan tata gerak seperti Ki Tanu Metir yang tua, hampir pikun, dan gemetar kebongkok-bongkokan itu, maka mereka akan segera berkata, “Ya, itulah Ki Tanu Metir.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Teringat saat-saat ia didera oleh orang-orang Jipang, karena ia menyembunyikan Untara di rumahnya. Dan yang ternyata kemudian telah memaksanya meninggalkan gubugnya seperti cengkerik disiram air pada lubang persembunyiannya.

Tetapi Kiai Gringsing itu pun kemudian tersenyum. Katanya, “Senang juga rasa-rasanya untuk singgah barang satu dua hari di padukuhlan kecil itu. Tetapi dengan demikian, maka akan dapat menghambat usaha kita mencari Angger Rudita.”

“Tetapi jika Kiai ingin singgah?” sahut Ki Waskita.

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Katanya, “Ah, tidak. Aku tidak akan singgah. Aku hanya ingin lewat saja padukuhan itu, seperti orang yang tidak pernah mengenalnya dengan baik.”

Ki Sumangkar dan Ki Waskita hanya tersenyum saja. Mereka dapat mengerti, sepercik kerinduan telah menyentuh hati Kiai Gringsing. Bagaimana pun juga, Kiai Gringsing pernah mengasingkan dirinya di padukuhan itu untuk waktu yang lama. Hanya kadang-kadang saja ia pergi untuk beberapa hari apabila darah petualangannya mulai mendidih di dalam tubuhnya. Tetapi ia pun kemudian kembali menetap di padukuhan itu lagi.

Tetapi kepergianmya yang terakhir, saat-saat Sangkal Putung dibakar oleh api pertentangan antara Jipang dan Pajang, serta kehadiran Agung Sedayu dan Untara, dua orang anak sahabatnya yang telah meninggal lebih dahulu daripadanya, telah memisahkan orang tua itu dengan padukuhan kecilnya karena ia pun kemudian menetap di Sangkal Putung. Namun yang setiap kali ditingggalkannya juga bertualang bersama dua orang muridnya.

Kerinduan itu agaknya telah membawa Kiai Gringsing berjalan menyusuri jalan kecil yang melintasi padukuhan yang pernah ditinggalinya itu.

Ki Sumangkar dan Ki Waskita hanya mengikutinya saja. Mereka pun merasakan, bahwa orang-orang tua kadang-kadang mempunyai kerinduan akan masa-masa lampaunya.

Ketika mereka memasuki jalan padukuhan, Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Halaman dan rumah yang pernah dihuninya terletak tidak jauh dari mulut jalan padukuhan.

“O,” desisnya, “padukuhan ini masih seperti saat aku tinggalkan.”

“Belum ada perubahan, Kiai?” bertanya Ki Waskita.

“Perubahan yang sangat kecil terdapat di sana-sini. Tetapi agaknya gairah kerja di padukuhan ini sudah meningkat. Meskipun perubahan-perubahan yang berarti belum nampak, namun padukuhan ini nampaknya menjadi semakin bersih.”

Kedua kawannya hanya mengangguk-angguk saja.

Ketika kemudian mereka melalui sebuah halaman rumah yang tidak begitu luas dan gersang, terasa dada Kiai Gringsing berdebaran. Halaman rumah yang kotor itu adalah halaman rumahnya yang sudah lama sekali ditinggalkannya.

“Kasihan,” desisnya.

“Inikah halaman rumah Kiai,” bertanya Ki Waskita.

“Ya. Inilah halaman rumah Ki Tamu Metir itu.”

Ki Waskita mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang nampaknya seperti halaman rumah yang diterlantarkan begitu saja.

Ketika seseorang berpapasan di jalan sempit itu, tiba-tiba saja Kiai Gringsing bertanya, “Ki Sanak. Rumah siapakah yang nampaknya kosong itu?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Kemudian jawabnya, “Rumah itu sudah tidak berpenghuni lagi.”

“Kemanakah penghuninya?” bertanya Ki Sumangkar.

“Tidak seorang pun yang mengetahui.”

“Namanya?” sambung Ki Waskita.

“Ki Tanu Metir. Seorang dukun yang pandai dan baik.”

“Seorang dukun yang dapat meramal nasib?” tiba-tiba saja Ki Sumangkar menyela.

“Ah,” Kiai Gringsing berdesah. Tetapi orang yang ditanya itu menjawab, “Bukan, Ki Sanak. Bukan dukun yang sering meramal nasib. Ia adalah seorang dukun yang hanya mengkhususkan diri pada ilmu pengobatan. Ia adalah seorang yang pandai mengobati segala macam penyakit.”

“O,” Ki Sumangkar mengangguk-angguk, lalu, “apakah tidak seorang pun yang mengetahui kemana dukun tua itu pergi?”

“Ia memang sudah tua. Apakah Ki Sanak sudah mengenalnya?”

Ki Sumangkar terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun kemudian sambil tersenyum ia menjawab, “Aku belum pernah mengenalnya. Tetapi biasanya dukun-dukun adalah orang tua, setua kami.”

“Ya. Ia adalah orang tua yang baik. Suka menolong dan tidak mempunyai pamrih.”

“Ah, tentu,” sahut Ki Waskita, “biasanya dukun yang demikian adalah dukun yang baik. Yang tidak berpura-pura dapat berbuat lebih banyak dari yang dapat dilakukan. Ki Tanu Metir tentu seorang yang baik seperti yang kau katakan. Berjiwa besar, pemurah terhadap sesama dan barangkali juga seorang yang kaya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Apalagi ketika ia melihat sebuah senyum kecil di bibir Ki Waskita dan Ki Sumangkar.

“Ya,” jawab orang itu, “tetapi ia bukan orang yang kaya. Satu-satunya miliknya adalah seekor kuda.”

“Dimanakah kuda itu?”

“Hilang seperti Ki Tanu Metir sendiri. Ketika beberapa orang laskar Tohpati mencari dua orang buruan yang bersembunyi di rumahnya, maka saat itu merupakan kiamat bagi dukun tua yang baik itu. Ia hilang tanpa bekas. Demikian juga kudanya.”

“Apakah tidak seorang pun yang pernah bertemu lagi dengan orang itu?” bertanya Kiai Gringsing.

Orang itu memandang Kiai Gringsing dengan saksama, sehingga Kiai Gringsing menjadi berdebar-debar. Tetapi orang itu pun kemudian mengangkat bahunya sambil berkata, “Tidak seorang pun yang mengetahuinya. Tetapi banyak ceritera tentang orang tua itu yang kemudian tersebar.”

“Apa ceriteranya?” tiba-tiba Ki Sumangkar memotong.

Sekali lagi Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih, Ki Sanak. Kami bertanya karena kami melihat halaman rumah itu nampak gersang dan kotor.”

“Tetangga-tetanggalah yang kadang-kadang membersihkannya.”

“Dan ceritera itu,” desak Ki Sumangkar.

Kiai Gringsing menggigit bibirnya. Tetapi ia tidak dapat mencegah ketika Ki Waskita juga bertanya, “Apakah ceritera itu sangat menarik?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya ketiga orang yang belum dikenalnya itu. Namun kemudian ia pun berkata, “Ceritera itu memang sangat menarik. Tetapi tidak seorang pun dapat mengatakan, yang manakah yang sebenarnya terjadi.”

“Ada berapa macam ceritera?” bertanya Ki Sumangkar.

“Bermacam-macam.”

“Di antaranya?”

“Ada yang mengatakan bahwa sebenarnya Ki Tanu Metir sudah meninggal. Tetapi karena ia seorang dukun yang sakti, maka ia masih sering menampakkan dirinya di daerah bekas pertempuran antara pasukan Pajang dan Jipang di daerah Sangkal Putung. Orang itu mendendam prajurit-prajurit Jipang, karena prajurit-prajurit Jipang itulah yang membunuhnya tanpa kesalahan apa pun.”

“O, mengerikan sekali,” desis Ki Waskita sambil menahan tertawanya.

“Tetapi ada ceritera lain lagi,” berkata orang itu.

“Bagaimana dengan ceritera itu?”

“Bahwa Ki Tanu Metir adalah seorang dukun yang sakti. Yang ditangkap dan dibunuh oleh orang-orang Jipang saat ia menyembunyikan Untara dan adiknya itu bukanlah wadagnya yang sebenarnya. Seseorang yang dipaksa menunjukkan arah persembunyian Untara itu tidak dapat melihat apa yang sebenarnya telah terjadi.”

“Jadi apa yang sudah dibunuh oleh orang-orang Jipang itu?”

“Ternyata di simpang empat bulak panjang sebelah Selatan padukuhan ini, pada pagi harinya diketemukan sebatang pohon pisang yang penuh dengan tusukan senjata tajam. Agaknya pohon pisang itulah yang disangkanya dukun tua itu. Dan sebenarnya dukun tua itu masih hidup.”

“Yang manakah yang mendekati kebenarannya?” bertanya Ki Sumangkar.

“Aku tidak tahu. Tetapi ada ceritera yang lain lagi.”

“Ceritera apa lagi,” Kiai Gringsing berdesah.

“Sebenarnya Ki Tanu Metir memang sudah terbunuh. Tetapi bukan karena kesaktian prajurit-prajurit Jipang. Ki Tanu Metir memang mati atas kehendak sendiri pada saat orang Jipang marah tetapi tidak mampu membunuhnya. Ia hilang dengan seluruh badan wadagnya.”

“Bukan main, ia mrayang seperti Kiai Dandang Wesi.”

“Aku belum pernlah mendengar ceritera tentang Kiai Dandang Wesi,” desis orang itu.

“Ceritera-ceritera yang mengerikan bulu roma,” desis Kiai Gringsing.

Tetapi Ki Waskita bertanya, “Apakah Ki Tanu Metir memang sakti? Kenapa ia tidak bertempur saja melawan orang-orang Jipang dan menghancurkannya sama sekali?”

“Tentu ia tidak mau. Selamanya ia tidak pernah berkelahi, bertengkar, dan apalagi bertempur. Ia adalah seorang dukun. Justru ia mengobati orang sakit. Bukan menyakiti orang sehat.”

Ki Waskita dan Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam sambil berdesis, “Itu adalah seorang dukun yang sempurna. Ia tidak akan menyakiti seseorang apa pun alasannya.”

“Ya. Itulah yang dilakukan oleh Ki Tanu Metir,” desis orang itu.

“Baiklah, Ki Sanak,” Kiai Gringsing menyahut sebelum orang itu berceritera lebih banyak lagi, “kami minta diri. Kami hanya sekedar lewat daerah ini.”

“Tetapi siapakah Ki Sanak bertiga?”

“Kami orang-orang Sangkal Putung. Kami akan pergi ke Jati Anom,” sahut Kiai Gringsing.

“He, orang Sangkal Putung? Banyak orang Sangkal Putung yang sudah aku kenal. Apakah mereka tidak pernah berceritera tentang dukun tua yang bernama Ki Tanu Metir?”

“Tidak. Orang-orang Sangkal Putung tidak berceritera tentang dukun tua itu.”

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Ki Sanak. Ceritera yang paling aku percaya adalah ceritera yang lain lagi.”

“Terima kasih. Ceriteramu sudah cukup panjang,” jawab Kiai Gringsing, “kami akan meneruskan perjalanan.”

“Ceritera yang aku percaya adalah ceritera yang paling pendek.”

“Sebutkan dengan sebuah kalimat,” berkata Ki Sumangkar.

“Ki Tanu Metir masih hidup, ia berada di Sangkal Putung sekarang. Apakah kalian percaya? Itulah ceritera yang menurut pendapatku paling masuk akal. Ia tidak dibunuh oleh pasukan Jipang waktu itu. Ia dapat lolos bersama Senapati Untara yang ternyata juga tidak mati.”

Ketiga orang itu menarik nafas. Ki Sumangkar kemudian bertanya, “Jadi, apakah arti ceriteramu yang berkepanjangan itu?”

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s