ADBM1-090

<<kembali | lanjut >>

TIBA-TIBA saja Kiai Kalasa Sawit menggeram. Kemarahan yang ditekannya di dalam dadanya, rasa-rasanya tidak tertahankan lagi, sehingga ia tidak dapat mengekang ledakan yang dahsyat.

Semua orang Tambak Wedi terkejut, ketika mereka kemudian mendengar Kiai Kalasa Sawit berteriak nyaring. Seperti teriakan seekor orang hutan di tengah-tengah rimba setelah berhasil membunuh lawannya.

Dengan serta-merta Kiai Kalasa Sawit meloncat dan menghantam batu padas yang ada di ujung padepokan itu.

Akibatnya dahsyat sekali. Batu padas itu pun menjadi pecah berhamburan.

Pengawal-pengawalnya termangu-mangu menyaksikan ledakan kemarahan Kiai Kalasa Sawit. Mereka mengerti, betapa dahsyatnya tangan pimpinannya itu. Namun setiap kali mereka masih juga mengaguminya. Batu padas itu telah pecah dihantam oleh tangan yang digerakkan oleh kemarahan yang menyala di hatinya.

“Gila!” ia pun kemudian berteriak sehingga orang-orangnya pun mendengarnya. Bahkan yang bertugas di ujung jalan di bawah, dapat juga mendengarnya. “Ternyata orang-orang Pajang telah ikut campur dalam persoalan ini. Tetapi kita tidak gentar. Kita tetap menuntut kematian sepuluh orang bagi setiap orang kita yang mati. Karena prajurit-prajurit Pajang melarang kita bergerak, maka kita pun justru akan mengumpulkan segala kekuatan yang ada. Mungkin kita harus melawan kedua pihak sekaligus. Orang-orang yang telah membunuh kawan-kawan kita dan prajurit-prajurit Pajang. Tetapi jangan takut. Sebentar lagi, Kakang Jalawaja akan datang. Ia membawa beberapa orang pengawalnya. Dan kita akan menjadi semakin kuat. Jika rencananya tepat, hari ini ia datang seperti yang dijanjikan, maka malam nanti kita akan melepaskan dendam kita. Kita akan beruntung jika malam nanti kita dapat menghindari campur tangan orang-orang Pajang, karena besok kita sudah dapat meninggalkan tempat ini, sehingga tindakan berikutnya dari prajurit Pajang tidak akan berakibat apa pun bagi kita. Tetapi jika Untara ikut campur juga, maka aku tidak akan segan membunuhnya. Betapa pun juga tinggi ilmu anak ingusan itu, namun ia tidak akan dapat mengimbangi ilmuku.”

Semua yang mendengar suara Kiai Kalasa Sawit itu rasa-rasanya telah tergetar jantungnya. Suaranya yang mengumandang itu rasa-rasanya langsung menyusup ke dalam pusat jantung. Bahkan mereka yang berada jauh sekali pun rasa-rasanya dapat mendengarnya tidak saja lewat telinganya, tetapi lewat getaran di dalam dada masing-masing.

Dan itu adalah salah satu kemampuan Kiai Kalasa Sawit yang juga dikagumi oleh orang-orangnya.

Dengan demikian maka setiap orang yang ada di Padepokan Tambak Wedi itu pun mengetahui bahwa Kiai Kalasa Sawit telah kehabisan kesabaran. Prajurit Pajang terlampau bersikap tinggi hati dan memerintah. Menurut orang-orang di Padepokan Tambak Wedi, sebaiknya mereka tidak terlalu mengalah terhadap prajurit Pajang di Jati Anom yang jumlahnya tidak terlalu banyak.

“Seharusnya Kiai Kalasa Sawit menunjukkan sikapnya seperti sebelumnya. Ternyata terhadap prajurit-prajurit Pajang ia terlampau sabar, sehingga prajurit-prajurit Pajang itu menjadi semakin besar kepala,” berkata seorang yang bertubuh pendek, kekar, dan berkumis melintang sampai ke pipinya.

“Tetapi akhirnya Kiai Kalasa Sawit tidak dapat mengendalikan diri,” desis yang lain.

“Tidak. Ia masih tetap bersabar. Ia melepaskan himpitan perasaannya setelah prajurit Pajang itu berlalu. Dan itu tidak pernah terjadi sebelumnya.”

Tiba-tiba saja seorang yang bertubuh tinggi, berkulit kuning dan berwajah tampan mendekatinya sambil berbisik, “He, kau tahu bahwa nanti malam akan datang sekelompok kawan kita yang dipimpin oleh Kiai Jalawaja?”

“Ya. Tadi Kiai Kalasa Sawit juga mengatakan. Kemarin pun hal itu sudah disinggungnya sebelum terjadi peristiwa di tengah bulak itu.”

“Jika saja kita semua tidak mengemban tugas yang sangat penting maka aku kira Kiai Kalasa Sawit tidak akan mengekang diri lagi.”

Kawannya yang berwajah tampan itu berhenti sejenak. Mereka masih sempat menyaksikan Kiai Kalasa Sawit meninggalkan tempatnya dan kembali ke dalam rumah induk dari padepokan yang sudah menjadi semakin rusak itu.

“Kenapa Kiai Jalawaja singgah di sini?” bertanya orang berkumis melintang tiba-tiba.

“Tidak seorang pun yang mengetahuinya dengan pasti. Tetapi ia akan datang dan kemudian kita bersama-sama akan pergi meninggalkan tempat ini.”

“Bagaimana dengan dendam kita?”

“Tentu saja kita melepaskan dendam itu lebih dahulu sebelum kita meninggalkan tempat ini.”

“Baru kita merasa puas. Jika kematian yang demikian itu tidak dituntut taruhannya, maka kita akan kehilangan kesetia-kawanan kita. Dan itu akan melemahkan gairah perjuangan kita.”

“Tentu,” sahut kawannya, “dan kita tidak mau membiarkan dendam tetap menyala di hati.”

“Kita akan menunggu perintah. Tetapi pasti setelah Kiai Jalawaja ada di sini.”

“Kekuatan kita akan berlipat. Kiai Jalawaja adalah orang yang luar biasa seperti Kiai Kalasa Sawit.”

“Bahkan mungkin melampauinya meskipun hanya selapis tipis.”

Yang lain mengangguk-angguk. Mereka merasa bangga akan pemimpin-pemimpin mereka yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Dan bahkan sebagian dari mereka, benar-benar ingin mencoba membenturkan diri dengan prajurit-prajurit Pajang yang ada di Jati Anom. Mereka merasa bahwa mereka memiliki kemampuan yang akan dapat menandingi kekuatan prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom jika benar-benar terjadi benturan kekuatan itu.

“Sekali-sekali prajurit Pajang itu harus dihadapi dengan kekerasan agar mereka mengerti, bahwa mereka bukan orang-orang yang memiliki kemampuan luar biasa sehingga setiap hidung harus menundukkan kepalanya di hadapan mereka,” geram seorang pengawal yang gemuk dan berkepala botak.

Dalam pada itu, Kiai Kalasa Sawit justru menjadi semakin bernafsu untuk melepaskan dendamnya. Sekali lagi ia memperingatkan agar orang-orangnya mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Bahkan kemudian ia pun berpesan, agar orang-orangnya yang masih tersebar di sekitar Jati Anom, di jalan yang memintas di sebelah Selatan Gunung Merapi yang menuju ke Prambanan dan jalan-jalan lain yang mungkin dilalui oleh orang-orang yang mencari bantuan ke daerah Selatan, segera ditarik dan dipersiapkan untuk melakukan gerakan di malam nanti setelah Kiai Jalawaja datang di Padepokan Tambak Wedi.

Sementara orang-orang yang berada di Padepokan Tambak Wedi itu bersiap-siap dan membenahi semua senjatanya, maka prajurit-prajurit yang meninggalkan padepokan itu berpacu menuruni kaki Gunung Merapi, meluncur dengan kencang ke Jati Anom. Di sepanjang jalan, mereka tidak henti-hentinya membicarakan sikap dan gerak hati Kiai Kalasa Sawit menghadapi perintah Panglima Untara. “Agaknya Kiai Kalasa Sawit sudah tidak dapat mengekang diri lagi,” berkata perwira yang memimpin sekelompok prajurit itu. “Agaknya ia benar-benar akan melepaskan dendamnya.”

“Tetapi mereka masih berusaha untuk menghormati kita,” desis salah seorang prajurit.

“Ya. Tetapi menilik kesan yang tersirat di wajahnya, aku menganggap bahwa yang dikatakannya itu hanyalah sekedar sikap yang pura-pura, atau katakanlah karena ia masih menganggap kita wakil resmi dari Untara, dan yang berarti kepanjangan limpahan tugas dari Kanjeng Sultan di Pajang.”

“Mungkin. Atau mungkin juga ia masih berusaha untuk mengurangi jumlah lawan. Jika mereka berterus terang membangkang, maka Senopati Untara, sebagai panglima yang mendapat wewenang penuh di daerah ini pun tentu akan segera bertindak sebelum mereka sempat berbuat sesuatu.”

“Memang dapat diambil banyak sekali kemungkinan. Tetapi yang pasti, Kiai Kalasa Sawit akan mencoba membinasakan kelompok Kiai Raga Tunggal.”

“Lalu bagaimanakah sebaiknya dengan kelompok Kiai Raga Tunggal? Agaknya mereka pun telah bersiaga.”

“Aku kira kekuatan Kiai Raga Tunggal tidak banyak berarti melawan kekuatan dari Tambak Wedi itu.”

Untuk beberapa saat prajurit yang berpacu kembali ke Jati Anom itu saling berdiam diri. Mereka mencoba membayangkan dua kekuatan yang akan saling berbenturan.

Prajurit-prajurit Pajang itu sudah banyak mengenal Kiai Raga Tunggal dengan anak buahnya. Menilik kekuatan yang nampak di Tambak Wedi, maka sulitlah bagi Kiai Raga Tunggal untuk bertahan meskipun Kiai Raga Tunggal sendiri adalah orang yang pilih tanding. Namun bagaimana pun juga, jumlah orang di masing-masing pihak akan menentukan juga, apakah yang bakal terjadi. Apalagi menurut pendengaran prajurit-prajurit Pajang, Kiai Kalasa Sawit adalah juga seorang yang memiliki banyak kelebihan dari orang kebanyakan.

“Ki Lurah,” tiba-tiba seorang prajurit berdesis kepada perwira yang memimpin kelompok itu, “apakah tidak sebaiknya Kiai Raga Tunggal diberitahu saja bahwa persiapan di Tambak Wedi itu tidak akan terlawan olehnya, dan untuk sementara mengamankannya di dalam barak prajurit-prajurit di Jati Anom.”

“Mungkin dapat menyelamatkan Kiai Raga Tunggal. Tetapi kita harus menggantikan kedudukannya agar rakyat yang tidak bersalah tidak menjadi sasaran kemarahan orang-orang Tambak Wedi.”

Prajurit itu menarik nafas dalam. Tiba-tiba saja menggeloralah jiwa keprajuritannya dan terlebih-lebih karena usianya yang masih cukup muda, “Itu barangkali lebih baik, Ki Lurah. Kita memang harus bertindak tegas menghadapi Kiai Kalasa Sawit yang nampaknya agak berbeda dengan kelompok-kelompok yang lain yang sudah dapat kita awasi sebaik-baiknya.”

“Kita hanya dapat melaporkan apa yang kita lihat. Ki Untara-lah yang akan mengambil keputusan menurut penilaiannya atas pengamatannya. Ia tentu mendapat gambaran yang lebih luas tentang keadaan di lereng Merapi dalam keseluruhan.”

Prajurit itu pun kemudian berdiam diri. Memang segala sesuatunya tergantung sekali kepada keterangan-keterangan yang didengarnya dari segenap petugas sandinya.

Sejenak kemudian, ketika kelompok yang pergi ke Tambak Wedi itu sudah berada di Jati Anom, maka Untara telah memanggil beberapa orang perwira yang terpercaya untuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapinya.

“Memang sulit,” berkata seorang perwira yang sudah lebih tua dari Untara, “jika kita tidak bertindak cepat, maka persoalannya akan menjadi semakin berkepanjangan.”

“Ya,” sahut Untara, “agaknya Tambak Wedi sudah siap bukan saja melawan kelompok-kelompok kecil yang ada di lereng Merapi, tetapi juga melawan prajurit Pajang.”

“Karena itu, maka sebaiknya kita pun bersiap untuk bertempur. Aku kira memang tidak ada jalan lain,” potong seorang perwira muda.

Untara mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita tidak tahu pasti kekuatan yarg ada di Tambak Wedi. Sebenarnya kekuatan yang sedang berada di tempat itu patut dicurigai. Kekuatan itu menurut laporan yang sampai kepadaku, bukan sekedar kekuatan kelompok penjahat yang betapa pun besarnya. Tetapi laporan terakhir menggambarkan seolah-olah di Tambak Wedi ada pasukan segelar sepapan.”

Perwira-perwira yang sedang berbincang itu nampak merenung. Gerombolan yang ada di Tambak Wedi memang merupakan gerombolan yang lain. Gerombolan yang agaknya mempunyai niat tertentu, bukan sekedar sekelompok penjahat yang memburu korbannya di sepanjang jalan.

“Karena itu,” berkata Untara kemudian, “bukan maksud kita memberikan pengakuan terhadap kehadiran gerombolan-gerombolan yang lain. Tetapi menghadapi kekuatan yang tidak kita ketahui ini, kita dapat memanfaatkannya.”

“Maksud Ki Untara?” bertanya seorang perwira yang lain.

“Kita akan mempergunakan mereka untuk ikut melawan kekuatan di Tambak Wedi.”

Seorang perwira yang sudah lebih tua dari Untara bergeser setapak. Setelah menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Ki Untara. Apakah hal ini tidak perlu kita pikirkan masak-masak terlebih dahulu. Jika kita mempergunakan mereka, maka rasa-rasanya kita pernah berhutang budi. Selanjutnya kita akan mendapatkan kesulitan untuk bertindak tegas terhadap mereka. Bantuan mereka yang tidak seberapa besarnya itu, akan selalu mereka ungkat dalam setiap persoalan.”

“Kau salah memperhitungkan keadaan,” jawab Untara, “merekalah yang mempunyai persoalan dengan Tambak Wedi. Kita akan datang melindungi mereka pada saatnya. Bukankah dengan demikian kita akan dapat mengatakan kepada mereka, bahwa tanpa kita mereka sudah binasa?”

Perwira itu termenung sejenak. Namun kemudian ia mengangguk-angguk sambil tersenyum. Katanya, “Ya. Demikianlah agaknya. Tetapi apakah hal itu tidak akan membuat penduduk di sekitar sarang-sarang gerombolan itu menjadi kacau?”

“Mereka harus memancing pertempuran di luar padukuhan. Tetapi jika mereka menghindar sama sekali, itu pun akan berakibat buruk bagi penduduk yang sama sekali tidak tahu-menahu. Orang-orang Tambak Wedi tentu akan melepaskan kemarahan mereka kepada penduduk di sekitar sarang-sarang Kiai Raga Tunggal, dan bahkan mungkin mengira bahwa mereka memang bersembunyi di rumah-rumah itu.”

Perwira-perwira yang sedang berbincang itu mengangguk-angguk. Agaknya jalan itu adalah jalan yang sebaik-baiknya. Bersama-sama dengan kekuatan gerombolan yang sebenarnya memang mempunyai persoalan dengan orang-orang Tambak Wedi melawan kekuatan Kiai Kalasa Sawit. Dengan demikian agaknya dua hal yang dapat dicapai oleh prajurit Pajang di Jati Anom. Mereka akan mempunyai pengaruh yang semakin mencengkam atas gerombolan-gerombolan yang mereka lindungi, dan kemungkinan yang lebih buruk lagi bagi prajurit-prajurit Pajang menghadapi rahasia di Tambak Wedi dapat dikurangi.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba seseorang bertanya, “Ki Untara. Apakah Kiai Gringsing tidak akan datang lagi kemari?”

Ki Untara mengerutkan keningnya. Sejenak ia ragu-ragu untuk menjawab dengan tegas. Namun kemudian katanya, “Mungkin ia akan datang menjelang senja setelah menitipkan anak muda yang bernama Rudita itu di Sangkal Putung. Biasanya Kiai Gringsing tidak mengingkari janji jika tidak ada sesuatu yang gawat telah terjadi.”

Yang bertanya tentang Kiai Gringsing itu mengangguk-angguk. Meskipun ia seorang perwira yang mempunyai pengalaman yang luas, tetapi pengenalannya atas Kiai Gringsing menumbuhkan harapan baginya, bahwa kehadiran Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar akan dapat membantu mengatasi kesulitan.

Akhirnya Untara berkata, “Meskipun demikian, kita jangan terlalu mengharapkannya. Kita memperhitungkan kekuatan yang ada pada kita. Meskipun kita tidak mengetahui dengan pasti kekuatan yang ada di Tambak Wedi, namun sikap hati-hati adalah sikap yang paling baik. Kita harus menyiapkan semua kekuatan yang ada. Kita tidak mau terperosok ke dalam kesulitan hanya karena kita menganggap bahwa lawan kita hanya sekedar sebuah gerombolan pencuri ayam.”

Perwira yang ada di dalam pertemuan itu mengangguk-angguk. Laporan yang mereka dengar tentang Tambak Wedi memang mengharuskan mereka mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Sementara itu, telah menyusul pula laporan dari beberapa orang petugas sandi, yang melihat hubungan yang tergesa-gesa antara Kiai Raga Tunggal dengan gerombolan-gerombolan yang lain. Mereka melihat orang-orang berkuda yang hilir-mudik membawa pesan. Meskipun petugas-petugas sandi itu tidak tahu pasti apa yang mereka lakukan, namun agaknya mereka telah membuat kesepakatan untuk bersama-sama menghadapi kekuatan yang ada di Tambak Wedi.

Namun petugas sandi yang lain, yang bekerja di sawah di bulak antara padukuhan-padukuhan yang berpencaran di lereng Gunung Merapi, telah melaporkan melihat sekelompok orang-orang berkuda yang menyusuri hutan di Sebelah Selatan dan hilang ke dalamnya.

“Siapakah mereka itu?” bertanya seorang perwira.

“Kami belum mengenal mereka. Tetapi menilik pakaian dan sikapnya kami menduga bahwa mereka adalah kelompok yang kini berada di Tambak Wedi.”

“Apakah yang mereka lakukan di sana?”

“Aku tidak dapat mendekat.”

Ki Untara menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kekuatan gerombolan di Tambak Wedi memang tidak dapat diabaikan.

“Baiklah,” berkata Untara, “kita harus menghadapinya dengan seluruh kekuatan. Kita tidak dapat mendahului menyerang Tambak Wedi yang dikelilingi dengan dinding batu yang kuat. Agaknya akan sangat berbahaya. Pertahanan yang dibangun di balik batu-batu padas, memberi kesempatan lebih banyak kepada mereka. Juga jika kemudian mereka memasuki regol dinding batunya.”

“Jadi apakah yang akan kita lakukan?”

“Kita tidak akan membiarkan mereka memusnahkan dengan kejam gerombolan-gerombolan kecil yang masih ada di lereng Gunung Merapi. Jika kita berhasil menghalau orang-orang Tambak Wedi dan apalagi menghancurkan mereka, mudah-mudahan dapat menggugah hati gerombolan-gerombolan kecil itu untuk menyadari bahwa yang mereka lakukan selama ini tidak ada artinya sama sekali, sehingga mereka mau mencari jalan lain yang lebih baik.”

“Jika demikian, apakah yang segera dapat kita perbuat?”

“Masih ada waktu. Temui Kiai Raga Tunggal dan beberapa orang yang lain.”

“Maksud Ki Untara?”

“Kita akan memberitahukan, apakah yang mungkin terjadi dan apakah yang harus mereka lakukan.”

Beberapa orang perwira menjadi ragu-ragu. Salah seorang dari mereka berkata, “Bagaimanakah jika sekarang Kiai Kalasa Sawit telah mulai dengan gerakannya tanpa menunggu senja?”

Ki Untara termenung sejenak, lalu, “Jika demikian, kalian sajalah segera pergi kepada mereka. Agaknya memang berbahaya bagi anak buah mereka, jika pada suatu saat dengan tiba-tiba pasukan Kiai Kalasa Sawit telah datang.”

Untara pun kemudian memberikan beberapa petunjuk yang harus disampaikan kepada gerombolan-gerombolan kecil. Jika mereka sudah berniat untuk menghadapi Kiai Kalasa Sawit bersama-sama, itu agaknya memang lebih baik. Tetapi jangan membuka garis pertempuran di padesan meskipun agak memberikan keleluasaan dan perlindungan. Mereka harus memancing lawan ke luar padukuhan dan bertempur di tempat terbuka.

“Katakan kepada mereka,” berkata Untara, “prajurit Pajang akan melindungi mereka jika ternyata Kiai Kalasa Sawit benar-benar mengadakan gerakan. Tetapi ingat, segala persiapan harus dilakukan tanpa membuat kegelisahan. Mereka harus dengan perlahan-lahan menghimpun orang-orangnya dan dalam kelompok-kelompok kecil memerintahkan mereka berkumpul di tempat terbuka. Dengan demikian maka Kiai Kalasa Sawit tidak akan melakukan pertempuran di antara rumah-rumah penduduk yang tidak tahu menahu persoalannya.”

Beberapa orang perwira yang mendapat tugas itu pun mengangguk-angguk. Sementara itu Untara berkata selanjutnya, “Prajurit Pajang akan datang dalam gelar, dan mencoba mencegah jatuhnya korban lebih banyak. Semua usaha dengan pembicaraan telah dilakukan. Tetapi jika terpaksa harus dipergunakan senjata, apa boleh buat.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi gerombolan-gerombolan kecil itu harus diperingatkan. Jika mereka ingin memanfaatkan keadaan ini, dan justru memancing perselisihan lebih dahulu, maka mereka pun akan dibinasakan sama sekali.”

Dengan pesan-pesan itulah, maka beberapa orang perwira itu pun kemudian berpencar ke sarang-sarang penjahat yang bertebaran.

Namun agaknya setiap orang dari mereka telah lebih dahulu mendengar dari Kiai Raga Tunggal, dan telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

“Lakukan pesan Ki Untara,” perintah perwira-perwira itu.

Para pemimpin gerombolan yang tersebar di lereng Gunung Merapi itu termangu-mangu. Dari para perwira mereka mendapat penjelasan, bahwa Kiai Kalasa Sawit memang mempunyai kekuatan yang cukup besar.

Ada beberapa orang di antara mereka yang menjadi ragu-ragu. Namun jika kemudian Kiai Kalasa Sawit pada suatu saat berbuat sesuatu atas mereka, maka mereka akan menjadi semakin sulit tanpa kerja sama dengan gerombolan-gerombolan lain yang di dalam saat-saat yang lain justru paling bersaing.

Karena itu, maka akhirnya mereka pun tidak dapat memilih jalan lain kecuali bersama-sama menghadapi kekuatan Kiai Kalasa Sawit. Apalagi pasukan Pajang di Jati Anom telah bersedia ikut campur untuk melerai dan mengatasi keadaan.

Ternyata bahwa sikap Untara itu menimbulkan kesan tersendiri pada gerombolan-gerombolan yang tersebar itu. Rasa-rasanya mereka mulai melihat, sesuatu yang lain dari yang nampak selama ini, seolah-olah prajurit Pajang hanya selalu merintangi dan mengancam tidak ada habis-habisnya.

Kini ketika bahaya yang sebenarnya mengancam golongan mereka, perwira Pajang datang kepada mereka memberitahukan hal itu dan menyediakan diri untuk mencegah korban yang lebih banyak lagi.

Meskipun mereka menyadari, bahwa tindakan prajurit Pajang itu tentu bukannya tanpa maksud, tetapi bahwa mereka tidak membiarkan saja gerombolan-gerombolan itu saling menghancurkan, dan baru kemudian mengambil tindakan, adalah sikap yang dapat menumbuhkan pendekatan di hati mereka.

Dengan demikian ternyata bahwa prajurit Pajang di Jati Anom tidak sekedar menghendaki kehancuran mereka. Tetapi prajurit Pajang masih tetap mencari jalan agar mereka menyadari kesesatannya dan berusaha untuk menunjukkan jalan yang lurus.

Karena itulah, setelah mereka mempertimbangkan persoalannya dari segala segi penglihatan, mereka pun kemudian dengan sepenuh hati mempersiapkan diri. Mereka semakin mantap menyusun kekuatan untuk menghadapi kekuatan Kiai Kalasa Sawit dari Tambak Wedi. Betapa pun orang-orang yang berada di Tambak Wedi itu dibayangi oleh rahasia yang gelap, namun mereka merasa lebih baik menghadapi dengan persiapan sepenuhnya daripada membiarkan diri mereka dihancurkan tanpa perlawanan sama sekali.

Demikianlah, menjelang, matahari bersembunyi di balik gunung terasa bahwa lereng Merapi menjadi semakin panas. Betapa pun setiap kelompok berusaha uutuk tidak menimbulkan ketegangan di antara penghuni lereng Merapi, namun timbul pula beberapa pertanyaan di hati mereka. Mereka tidak dapat dikelabui seluruhnya mengenai persiapan yang dilakukan oleh setiap gerombolan dari lingkungan masing-masing, sehingga beberapa orang yang melihat kelompok-kelompok kecil yang meninggalkan daerah tempat tinggal dan sarang-sarang gerombolan itu menjadi cemas. Apalagi mereka yang melihat, bahwa tidak hanya satu kelompok kecil sajalah yang keluar dari sarang. Tetapi beberapa kelompok, dan bahkan hampir semua orang yang ada di dalam setiap kelompok. Anggauta mereka yang tinggal di dalam padukuhan pun dengan diam-diam telah meninggalkan rumah mereka dan berhimpun dengan kawan-kawan mereka, lengkap dengan senjata masing-masing.

“Apakah yang akan terjadi?” bertanya orang-orang yang melihat itu di dalam hati.

Tetapi ketika kelompok-kelompok itu pergi menjauhi padukuhan mereka, maka mereka pun menjadi agak tenang.

“Jika harus terjadi sesuatu, maka yang terjadi itu tidak akan terlampau banyak melibat padukuhan ini,” berkata orang-orang itu di dalam hati.

Demikianlah maka menjelang senja, kelompok-kelompok kecil yang berkumpul dari beberapa padukuhan dan sarang-sarang gerombolan yang berpencar itu pun telah mendekati pategalan sarang gerombolan yang dipimpin oleh Kiai Raga Tunggal. Seperti yang di pasangan lawan pasukan Kiai Kalasa Sawit di pategalan terbuka yang tidak dihuni orang. Dengan demikian, maka pertempuran yang akan terjadi di antara gerombolannya bersama-sama dengan gerombolan-gerombolan yang berpencaran di lereng Gunung Merapi itu tidak akan menimbulkan banyak korban di antara penduduk yang tidak tahu-menahu persoalannya.

Ketika hari mulai gelap, maka berkumpullah kelompok-kelompok itu bersama pemimpin-pemimpin mereka. Sejenak kemudian Kiai Raga Tunggal pun segera berunding dengan para pemimpin gerombolan-gerombolan yang datang itu untuk menentukan cara perlawanan mereka.

“Kiai Kalasa Sawit bukan orang kebanyakan,” berkata Kiai Serat W ulung, “kita harus menghadapinya dengan hati-hati.”

“Sudah tentu,” sahut Kiai Raga Tunggal, “jika perlu tidak hanya seorang dari kita yang akan menghadapinya.”

“Ya. Dua atau tiga orang.”

Pembicaraan yang berlangsung dengan tergesa-gesa itu pun telah menentukan, kelompok-kelompok yang akan berada di kiblat yang memungkinkan datangnya kekuatan terbesar dari Tambak Wedi, sedang yang lain harus menebar di segala arah, karena kemungkinan yang lain, bahwa pasukan dari Tambak Wedi itu akan mengepung pategalan itu dari segala jurusan.

Sementara itu, bukan saja sarang Kiai Raga Tunggal yang menjadi sibuk. Tetapi juga di kademangan-kademangan di sebelah-menyebelah Jati Anom. Meskipun para demang dan jagabaya di padukuhan itu juga berusaha untuk tidak membuat hati penduduknya menjadi cemas, namun mau tidak mau kesiagaan anak-anak muda dan pengawal-pengawal kademangan itu pun telah menumbuhkan berbagai pertanyaan. Namun setiap kali seseorang bertanya kepada anak-anak muda dan pengawal yang sedang berjaga jaga itu, maka jawab mereka selalu sama.

“Ah, tidak apa-apa. Kami sekedar berhati-hati saja.”

Pada saat yang bersamaan, prajurit Pajang pun telah siap pula untuk mengatasi segala kemungkinan yang akan timbul di daerah kaki Gunung Merapi itu.

Jika orang-orang yang berada di Tambak Wedi, benar-benar tidak mau mengindahkan diri, maka lereng Gunung Merapi akan segera menjadi ajang pertempuran yang seru. Karena menurut perhitungan para petugas sandi dari Pajang, kekuatan di Tambak Wedi memang cukup besar.

Meskipun demikian, Untara masih sempat mengirimkan beberapa kelompok kecil prajuritnya untuk membantu memberikan ketenangan pada pudukuhan-padukuhan dan kademangan-kademangan yang paling dekat dengan daerah yang akan menjadi sasaran. Selain anak-anak muda dan pengawal-pengawal yang memang dipersiapkan dengan diam-diam atas perintah Untara, maka para prajurit itu pun akan bertugas membantu mereka, jika terjadi sesuatu.

Ternyata bukan di lereng Gunung Merapi dan di sekitarnya sajalah yang nampak persiapan-persiapan yang meningkat. Terutama di dataran di sebelah Selatan. Prajurit-prajurit Pajang yang berada di Kademangan Prambanan pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan jika terjadi arus yang mengalir ke Selatan dari benturan-benturan yang terjadi.

Selain Prambanan, maka di Sangkal Putung pun nampak ada perubahan di dalam penjagaan di gardu-gardu perondan. Kedatangan Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita yang mengantarkan Rudita telah menggerakkan Ki Demang di Sangkal Putung untuk menyusun pengawalan yang lebih baik dari pengawalan sehari-hari. Apalagi karena perjalanan Kiai Gringsing dan kawan-kawannya dari Jati Anom telah mengalami gangguan di perjalanan, sehingga agaknya arah yang mereka lalui itu mendapat perhatian yang cukup dari orang-orang yang berada di Tambak Wedi.

Namun dalam pada itu, yang paling kecewa adalah Swandaru dan Agung Sedayu. Mereka tidak dapat ikut berbuat apa pun juga di luar halaman kademangan. Agung Sedayu masih mendapat kesempatan untuk mengelilingi Kademangan Sangkal Putung melihat-lihat kesiagaan anak-anak muda. Tetapi Swandaru sama sekali tidak boleh keluar dari halaman, justru karena saat-saat perkawinannya menjadi lebih dekat.

“Sekarang kau mempunyai kawan baru,” berkata Agung Sedayu yang menjadi gembira karena kehadiran Rudita di antara mereka, “karena itu, aku mendapat kesempatan untuk keluar dari halaman ini.”

“Kenapa kau menjadi sibuk Agung Sedayu?” bertanya Rudita.

“Kau mengetahui, apakah yang sedang terjadi di Jati Anom.”

“Sebenarnya kita tidak perlu berbuat apa-apa. Seandainya mereka datang kemari, asal kita tidak melakukan perlawanan sama sekali, mereka tidak akan berbuat apa pun di sini. Mungkin mereka hanya sekedar lewat atau singgah beberapa saat. Tetapi jika mereka melihat kita mempersiapkan diri, maka memang kemungkinan benturan akan terjadi.”

Agung Sedayu dan Swandaru saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Swandaru-lah yang menjawab, “Rudita. Kita tentu tidak tahu, apakah mereka hanya sekedar lewat atau bermaksud buruk di kademangan ini. Seandainya segerombolan penjahat yang terdesak dari Utara atau dari Barat, lewat di padukuhan ini, namun karena mereka memang segerombolan perampok, dan mereka merampok barang-barang berharga di padukuhan ini, tenlu kita tidak akan tinggal diam.”

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Selama masih ada kecurigaan dan sikap bermusuhan, maka ketenangan dan kedamaian tentu tidak akan terwujud. Seseorang yang sebenarnya sudah ingin bertobat, tetapi dengan penuh curiga orang-orang di sekitarnya tidak mau menerimanya, maka ia akan melonjak kembali dan akan mengulangi segala macam kesalahan yang pernah dilakukannya.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Namun Agung Sedayu-lah yang menjawab, “Kau benar, Rudita. Kita memang harus bersikap damai untuk dapat membantu menciptakan kedamaian. Kecurigaan di antara sesama adalah sumber keributan.”

Rudita memandang Agung Sedayu dengan heran. Tetapi Agung Sedayu menjelaskan seterusnya, “Tetapi kadang-kadang seseorang dengan maksud yang tidak baik memanfaatkan sikap damai dari sesama. Mereka justru mengambil keuntungan yang tidak sewajarnya tanpa menghiraukan korban yang dapat jatuh karenanya. Itulah sebabnya, kami mengambil jalan tengah sekarang ini. Kami mempersiapkan diri dengan diam-diam tanpa memancing perhatian orang lain.”

Rudita menggeleng lemah. Katanya, “Soalnya bukan pada dengan terang-terangan atau dengan diam-diam. Persoalan yang sebenarnya adalah di dalam hati kita masing-masing. Tidak ada kedamaian yang pura-pura seperti itu.”

“Aku mengerti, Rudita,” berkata Agung Sedayu, “tetapi kami masih terlibat dalam kenyataan hidup lahiriah di samping yang rohaniah. Berbahagialah mereka yang telah berhasil menempatkan dirinya di atas kepentingan lahiriah sejauh-jauh dapat dilakukan tanpa memisahkan diri dari kehidupan yang wajar. Tetapi kami belum dapat melepaskan sama sekali kenyataan hidup wadag ini, Rudita. Dan itu adalah kelemahan kami, kelemahan manusia pada umumnya. Sebab adalah sifat manusiawi pula untuk tetap mempertahankan hidup serta kehadiran bangsa dan jenisnya.”

“Sifat manusiawi yang dilandasi oleh keangkuhan dan kesombongan yang tidak berarti. Manusia merasa dirinya sendiri dapat mempertahankan nilai-nilai kehidupan mereka dan terlebih-lebih lagi bangsa dan jenisnya. Kenapa kita tidak dengan ikhlas menyerahkan semuanya kepada Sumber Hidup kita.” Rudita berhenti sejenak, lalu, “Dan inilah keanehan dari manusia wadag. Mereka berjuang mempertahankan jenis mereka, tetapi mereka juga berjuang untuk memusnakan jenis mereka sendiri dengan peperangan dan kekerasan. Jika manusia sudah bersentuhan kepentingan maka yang tumbuh adalah sifat-sifat manusiawi yang diwarnai oleh ketamakannya saja. Bukan kedamaiannya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti sepenuhnya jawaban Rudita itu. Demikian pula Swandaru. Namun mereka ternyata lebih dekat bersentuhan dengan masalah lahiriahnya di samping yang rohaniah. Meskipun di dalam hati mereka mengakui, betapa lemahnya ketahanan kepercayaan mereka terhadap Kekuasaan Tertinggi, namun kadang-kadang mereka merasa bahwa mempertahankan diri adalah suatu yang tak terhindarkan.

“Alangkah bersihnya hati Rudita,” berkata Agung Sedayu di dalam hati, “setelah mengalami goncangan-goncangan di dalam dirinya ia telah menemukan sikap dan masak. Sayang, ia berdiri seorang diri di tengah-tengah arus gejolak manusia yang masih saja dicengkam oleh ketamakan dan keangkuhan seperti yang dikatakannya. Jika kebanyakan orang bersikap seperti Rudita sebenarnyalah kedamaian yang diimpikan setiap manusia akan segera lahir di dalam lingkungannya. Tetapi sayang, Rudita benar-benar seorang diri. Namun agaknya ia adalah batu karang yang tidak goyah lagi oleh benturan ombak ketika laut menjadi pasang dan angin bertiup dengan kencang.”

Dari Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar, Agung Sedayu dan Swandaru dapat mendengar, cacat satu-satunya yang ada pada Rudita sebagai ciri kelemahan manusiawinya adalah usahanya untuk membuat dirinya kebal. Dan usaha itu telah memberikan hasil meskipun baru sebagian kecil.

“Menang tidak ada kesempurnaan di seluruh isi bumi ini. Semuanya mempunyai cacat celanya,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya pula.

Namun demikian Agung Sedayu tidak dapat mengatakan kepada Rudita, bahwa yang dilakukan oleh Sangkal Putung itu, hampir sejalan dengan usaha Rudita membuat dirinya kebal. Tetapi bahwa Rudita tidak akan pernah membalas setiap serangan terhadap dirinya, itulah yang agak berbeda. Sangkal Putung akan berusaha mengusir setiap orang yang mengganggu ketenangannya.

Bagaimana pun juga Rudita harus menyaksikan kesiagaan di Kademangan Sangkal Putung dengan hati yang risau. Tetapi ia sama sekali tidak kuasa untuk mencegahnya.

“Aku tidak turut campur,” desisnya kepada diri sendiri.

Karena itulah, maka dengan bertopang dagu ia duduk saja di gandok Kademangan Sangkal Putung menyaksikan beberapa kesibukan di halaman. Bahkan anak gadis Ki Demang yang bernama Sekar Mirah itu pun turut pula mengatur kesiagaan, meskipun gadis itu masih tetap berpakaian seperti seorang gadis pada umumnya.

Adapun Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita, setelah menyerahkan Rudita agar tinggal untuk sementara di Sangkal Putung, segera mempersiapkan diri untuk kembali ke Jati Anom. Meskipun semula mereka agak ragu, dan menganggap bahwa Jati Anom mempunyai kekuatan yang cukup untuk melakukan perlawanan dan langsung menghancurkan.

Tetapi akhirnya mereka menyadari, bahwa persoalan yang menjadi sebab dari benturan yang mungkin terjadi itu adalah karena perintah Untara kepada setiap kelompok yang ada di lereng Gunung Merapi itu untuk mencari Rudita. Kesimpang-siuran di jalan-jalan dan di bulak-bulak panjang, ternyata telah menumbuhkan benturan yang mungkin akan berakibat panjang.

Benturan itu tidak akan terjadi, jika yang berpapasan adalah kelompok-kelompok yang memang sudah lama saling mengenal meskipun ada juga perasaan bersaing di antara mereka, namun mereka tentu akan dapat menjaga dan mengendalikan diri masing-masing. Tetapi adalah malang bagi orang-orang Kiai Raga Tunggal yang telah bertemu di tengah-tengan bulak dengan orang-orang Tambak Wedi.

Karena itulah, maka ketiga orang tua itu, terutama Ki Waskita, merasa wajib untuk kembali ke Jati Anom. Sejauh-jauh tenaga yang dapat disumbangkan, mereka harus ikut mengatasi kesulitan yang dapat timbul.

“Ki Untara tidak akan dihadapkan pada keadaan yang mungkin akan sulit di atasi jika kita tidak minta bantuannya mencari Rudita,” berkata Ki Waskita. “Karena itu, maka adalah kuwajibanku terutama untuk kembali ke Jati Anom.”

“Kita akan kembali bersama-sama,” sahut Kiai Gringsing.

“Yang lebih menarik lagi adalah pertanda kelelawar di dada dan di sebagian dari alat-alat dan senjata-senjata mereka,” berkata Ki Sumangkar pula.

Karena itulah maka mereka pun segera minta diri kepada Ki Demang sebelum matahari menjadi sangat rendah dan hilang di balik Gunung.

Semula Ki Demang berusaha menahan mereka, tetapi setelah Ki Demang itu mendapat penjelasan dan alasan-alasan dari ketiga orang tua itu, maka ia pun tidak dapat menahannya lagi.

Demikianlah, setelah minta diri kepada Agung Sedayu, Swandaru, Rudita, dan Sekar Mirah serta seluruh keluarga di Sangkal Putung, maka ketiga orang tua itu pun mempersiapkan diri serta kuda yang mereka bawa dari Jati Anom.

“Apakah Kiai bertiga tidak memerlukan sekelompok pengawal yang barangkali dapat membantu Kiai di perjalanan?” bertanya Ki Demang.

“Terima kasih, Ki Demang,” jawab Kiai Gringsing, “aku kira kami bertiga akan dapat bergabung dengan prajurit Pajang di Jati Anom. Sedang di perjalanan, agaknya tidak akan banyak persoalan, karena kami akan memilih jalan lain dari yang kami lalui ketika kami datang kemari.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Ia tahu bahwa pengawal tidak akan banyak artinya bagi ketiganya. Tetapi jika diperlukan, maka Sangkal Putung akan dapat menyediakannya.

Namun agaknya Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita merasa lebih lincah untuk pergi bertiga. Karena itu, maka mereka tidak memerlukan orang lain yang mungkin justru akan memperlambat perjalanan mereka.

Sebelum mereka meninggalkan Sangkal Putung, maka Kiai Gringsing telah memberikan pesan-pesan khusus kepada anak-anak muda yang tinggal di Kademangan. Terutama Agung Sedayu, Swandaru, Rudita, dan bahkan Sekar Mirah. Mereka harus berhati-hati menghadapi setiap perkembangan keadaan.

“Jangan tergesa-gesa mengambil tindakan,” berkata Kiai Gringsing, “pertimbangkan semua perbuatan kalian sebaik-baiknya menghadapi keadaan yang mungkin cukup membingungkan. Tetapi kita berharap bahwa tidak ada seorang pun yang akan menjamah Sangkal Putung, karena jarak antara Tambak Wedi dan Sangkal Putung adalah cukup jauh. Prambanan adalah daerah ngarai yang paling mungkin disentuh oleh pergolakan yang terjadi, jika karena tekanan Prajurit Pajang orang-orang Tambak Wedi itu pergi ke Selatan. Tetapi juga mungkin mereka akan melingkar lambung Gunung Merapi dan hilang di celah-celah Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Meskipun demikian, kalian di sini jangan kehilangan kewaspadaan.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Mereka menyadari, meskipun bahaya yang langsung tidak ada bagi Sangkal Putung, tetapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak diduga-duga memang dapat saja terjadi.

Demikianlah, maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita pun segera berpacu meninggalkan Sangkal Putung. Mereka tidak ingin terlampau malam sampai di Jati Anom. Bahkan kemudian mereka menjadi tergesa-gesa, karena menurut perhitungan mereka, orang-orang Tambak Wedi yang didera oleh dendam dan kebencian, agaknya terlampau sulit untuk dikendalikan.

Untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, maka ketiga orang itu telah memilih jalan yang lain dari jalan yang dilaluinya ketika mereka kembali ke Sangkal Putung. Mereka kini memilih jalan yang meskipun jaraknya bertambah beberapa puluh tonggak, namun mereka menganggap bahwa jalan yang menyusuri bulak persawahan dan tidak melalui daerah yang berhutan dan berbelukar tentu lebih kecil kemungkinannya untuk bertemu dengan kelompok-kelompok dari mana pun juga yang dapat menghambat perjalanan mereka.

Untuk tidak terganggu sama sekali, maka mereka bertiga berusaha menghindari pedukuhan-pedukuhan yang tentu telah bersiap-siap menghadapi setiap kemungkinan seperti Sangkal Putung. Apalagi padukuhan-padukuhan yang lebih dekat. Para pengawal tentu akan menghentikan mereka dan bertanya tentang para peronda itu dengan perbuatan yang nyata.

Namun betapa cepatnya kuda mereka berpacu, tetapi ketika malam mulai membayangi kaki Gunung Merapi, mereka masih belum sampai ke Jati Anom meskipun jaraknya sudah menjadi semakin dekat. Mereka masih harus melalui bulak-bulak pendek dan sudah tidak mungkin lagi untuk menghindari sama sekali satu dua pedukuhan, karena tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh.

Karena itu, maka perjalanan mereka pun mulai terganggu. Ketika mereka memasuki sebuah padukuhan, mereka tidak dapat berjalan terus, karena beberapa pengawal bersenjata telah menghentikan mereka di mulut jalan padukuhan itu.

“Siapakah kalian?” bertanya pengawal-pengawal itu.

Kiai Gringsing memandang mereka dengan ragu-ragu. Namun ia pun kemudian berkata, “Aku akan pergi ke Jati Anom.”

“Siapakah kalian?” desak pengawal itu.

“Aku adalah paman Angger Untara. Hari ini aku harus menghadapnya karena persoalan yang penting.”

Pengawal-pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Apakah kalian dapat membuktikan hubungan yang ada antara kalian dan Untara?”

Kiai Gringsing menjadi bingung. Ia tidak mempunyai bukti apa pun yang dapat dipergunakannya untuk meyakinkan para pengawal itu. Karena itu, ia hanya, berusaha untuk meyakinkan dengan keterangan, “Ki Sanak. Aku benar-benar mempunyai kepentingan dengan Angger Untara. Aku memang tidak dapat membuktikan dengan cara apa pun.”

“Kalian harus turun dari-kuda dan pergi ke banjar. Kalian harus dapat menjawab keberapa pertanyaan sebelum kalian melanjutkan perjalanan, karena perjalanan khususnya ke daerah di sekitar Jati Anom sedang di dalam pengawasan yang rapat.”

“Maaf, Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing, “kami sangat tergesa-gesa. Lihatlah, kami tidak bersenjata. Aku tahu bahwa kalian sebenarnya mencurigai kami.”

“Semua orang harus dicurigai sekarang ini.”

Ki Waskita menggamit Kiai Gringsing sambil berdesis, “Kita berjalan terus. Aku akan bermain-main dengan anak-anak ini.”

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Kita berjalan terus.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar segera mengetahui maksud Ki Waskita yang mampu membuat bentuk-bentuk semu dan dapat mengelabui orang lain.

Dan ternyata sejenak kemudian, malam menjadi semakin gelap. Segumpal awan yang hitam telah menyelubungi ujung padukuhan itu. Sejenak kemudian anak-anak muda yang sedang mengawal regol padukuhannya melihat tiga ekor kuda berlari meninggalkan regol itu kembali ke arah semula.

“Kejar, tangkap,” desis pemimpin pengawal itu.

Namun sementara mereka kebingungan. Kiai Gringsing dan kedua kawannya telah berpacu terus meninggalkan para pengawal yang masih belum menyadari keadaan sepenuhnya. Baru sejenak kemudian para pengawal itu merasa seperti bermimpi. Mereka merasa seakan-akan melihat tiga ekor kuda dan tiga ekor yang lain berlari berlawanan arah. Namun yang semuanya segera hilang di dalam kelamnya malam yang rasa-rasanya menjadi semakin pekat.

Demikianlah, untuk menghindari hambatan-hambatan yang dapat memperpanjang perjalanan, Ki Waskita setiap kali telah membuat permainan yang membingungkan, sehingga karena itu, perjalanan mereka tidak terganggu.

Namun demikian, rasa-rasanya lari kudanya menjadi sangat lambat. Jati Anom masih ada di depan mereka, di seberang beberapa bulak pendek lagi.

“Akhirnya kita sampai juga,” desis Kiai Gringsing ketika mereka hampir sampai di ujung induk padukuhan Jati Anom. “Nampaknya masih tetap tenang dan tidak terjadi sesuatu.”

Ki Sumangkar mengangguk. Katanya, “Tetapi ketenangan kali ini rasa-rasanya cukup menegangkan.”

Belum lagi Kiai Gringsing menjawab, dalam kegelapan mereka melihat bayangan sebuah barisan. Karena itu, Kiai Gringsing dan kedua kawannya segera memperlambat derap kudanya.

“Barisan. Agaknya prajurit Pajang telah siap dalam gelar,” desis Kiai Gringsing.

“Belum dalam gelar,” sahut Ki Waskita.

“Ya. Tetapi sudah siap membuat gelar,” gumam Ki Sumangkar.

Perlahan-lahan Kiai Gringsing dan kedua kawannya mendekati barisan di luar padukuhan induk Jati Anom. Agaknya benturan sudah tidak dapat dihindarkan lagi. Apalagi ketika ketiganya melihat bahwa prajurit Pajang benar-benar berada dalam puncak kesiagaannya dengan segala ciri keprajuritannya. Tunggul, rontek, dan umbul-umbul di ujung barisan.

Kiai Gringsing dan kedua kawannya itu pun berhenti ketika dua orang prajurit menyongsongnya dengan tombak yang tunduk. Ketiganya pun kemudian meloncat turun sambil berkata, “Aku, Ki Sanak.”

“Siapa?”

Kiai Gringsing-lah yang menyahut, “Kiai Gringsing dan kedua kawan-kawanku.”

“O,” prajurit itu agaknya memang sudah mengenalnya. Katanya, “Marilah, Kiai. Silahkan. Ki Untara masih ada di banjar. Sebentar lagi ia akan segera datang dan memimpin langsung pasukan Pajang yang lengkap segelar sepapan.”

Kiai Gringsing termangu-mangu. Ki Sumangkar-lah yang berbisik, “Sebaiknya kita pergi ke banjar.”

“Ya. Kita akan pergi bersama pasukan ini tanpa membawa kuda,” berkata Ki Waskita.

Kiai Gringsing pun mengangguk-angguk. Sejenak kemudian, setelah minta ijin kepada prajurit-prajurit yang menyongsongnya, maka Kiai Gringsing pun melanjutkan perjalanannya ke banjar Kademangan Jati Anom.

Ketika mereka sampai ke tempat itu, ternyata Untara telah siap untuk berangkat. Tetapi ia pun sejenak berhenti dan mempersilahkan Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita untuk naik ke pendapa banjar kademangam dan duduk sejenak.

“Kami sudah siap untuk berangkat, Kiai,” berkata Untara.

“Hampir saja kami datang terlambat,” sahut Kiai Gringsing.

“Kami jadi ragu-ragu apakah Kiai benar-benar akan kembali.”

“Ki Waskita merasa, bahwa meskipun bukan persoalan yang mutlak, tetapi setidak-tidaknya menjadi sebab langsung dari benturan yang terjadi di lereng Gunung Merapi. Jika kelompok-kelompok gerombolan itu tidak sedang mencari Rudita, maka mereka tidak akan bertempur di bulak itu dan yang kemudian menjadi percikan api yang dapat membakar seluruh daerah kaki Gunung ini.”

“Saatnya memang sudah tiba, prajurit Pajang menunjukkan tindakan yang tegas,” berkata Untara. “Kami tidak akan membiarkan persoalan gerombolan itu akan berlarut-larut. Persoalan ini justru akan dapat aku pergunakan sebagai alasan untuk menghapus kehadiran mereka semuanya dari wilayah ini.”

Kiai Gringsing dan kedua kawannya mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Tetapi jika saatnya sudah tiba, silahkan Angger memberikan aba-aba. Kami akan ikut serta bersama pasukan ini dan mencoba menyesuaikan diri.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Tetapi ke manakah Angger akan membawa prajurit segelar sepapan ini? Langsung ke Tambak Wedi?”

“Tidak, Kiai,” jawab Untara, “kami akan bergerak ke Barat dan menunggu di ujung hutan kecil di sebelah simpang tiga ke Bodehan. Petugas-petugas sandi kami akan melihat-lihat keadaan seluruhnya. Jika pasukan Tambak Wedi turun, maka kami tahu sasaran yang akan mereka tuju. Mereka tentu akan menghancurkan gerombolan yang dipimpin oleh Kiai Raga Tunggal, yang kini telah berhimpun dengan gerombolan-gerombolan yang lain.”

“Kemudian Angger akan datang melerai mereka atau menghancurkan mereka semuanya?”

“Kami akan mencoba untuk membatasi arena sehingga tidak merembet ke padukuhan. Dan menurut pertimbangan kami, pasukan dari Tambak Wedi lah yang tidak mematuhi perintah kami. Maka gerombolan itulah yang harus dihancurkan. Kemudian dengan perlindungan yang telah kami berikan kepada gerombolan-gerombolan kecil yang lain, kami menuntut imbalan agar mereka menjadi sadar dan meninggalkan cara hidup yang salah itu. Jika mereka berkeberatan, maka mereka pun akan mengalami nasib seperti orang-orang Tambak Wedi.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, Untara sudah mendahuluinya, “Namun agaknya tugas kami kali ini cukup berat. Petugas sandi kami melihat, sepasukan yang lain telah datang bergabung di Tambak Wedi.”

“Sepasukan yang lain? Maksud Angger?”

“Kami belum tahu. Tetapi lewat senja, sepasukan yang datang dari Selatan telah mendekati Tambak Wedi. Semula para petugas sandi meragukan, dan bahkan menduga akan timbul benturan. Tetapi ternyata pasukan itu adalah bagian dari yang sudah ada.”

Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita terkejut mendengar keterangan itu. Menurut penilaian Untara, pasukan yang sudah ada di Tambak Wedi itu adalah pasukan yang cukup kuat, apalagi jika masih ada pasukan yang lain yang datang untuk menambah jumlah dari pasukan yang sudah ada.

Dalam pada itu Untara pun berkata, “Kiai, agaknya orang-orang yang berada di Tambak Wedi dan dipimpin oleh Kiai Kalasa Sawit itu benar-benar akan melawan pasukan Pajang di Jati Anom. Dengan demikian maka sudah berarti bahwa itu adalah suatu pemberontakan yang harus ditumpas.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa Untara pasti akan bersikap demikian, sikap seorang prajurit sejati yang tidak mengenal penyimpangan selain tindakan tegas bagi mereka yang dengan sengaja melawan kekuasaannya. Jika Untara masih dapat bersabar menghadapi kelompok-kelompok dan gerombolan kecil, karena ia melihat, bahwa alasan utama dari kegiatan mereka adalah benar-benar karena mereka memerlukan makan dan pakaian bagi keluarganya meskipun akan berlebih-lebihan. Tetapi mereka sama sekali tidak mempunyai niat, atau bahkan bermimpi pun tidak, untuk menyentuh kekuasaan Pajang secara keseluruhan.

Tetapi agaknya gerombolan besar yang ada di Tambak Wedi itu mempunyai latar belakang yang agak berbeda. Karena itulah maka tidak ada jalan lain bagi Untara kecuali menghancurkannya. Mutlak.

Demikianlah, maka saat untuk berangkat pun segera tiba. Untara masih mengumpulkan perwira-perwira yang akan memimpin kelompok-kelompok di dalam pasukannya. Mereka mendapat petunjuk-petunjuk untuk menghadapi setiap kemungkinan. Dan kepada mereka pun diberitahukan, bahwa di dalam pasukan mereka akan ikut serta tiga orang tua yang bukan prajurit Pajang.

Perwira-perwira yang sudah mengenal ketiga orang tua itu tersenyum menyambut pemberitahuan itu. Mereka merasa mendapat kawan yang dapat dipercaya, sepenuhnya untuk ikut menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi. Tetapi perwira-perwira muda yang baru, yang belum lama bertugas di Jati Anom, dan masih belum mengenal mereka, mengerutkan keningnya dan saling bertanya, “Buat apa kita membawa tiga orang-orang tua itu?”

“Mungkin mereka dapat dipergunakan sebagai penunjuk jalan, atau orang yang banyak mengenal seluk-beluk Padepokan Tambak Wedi. Sehingga mereka dapat memberikan beberapa petunjuk mengenai daerah itu,” sahut yang lain.

Ketika seorang perwira yang lain mendengarnya, menyahut, “Kalian belum mengetahuinya. Orang-orang itu adalah orang-orang aneh yang memiliki kemampuan yang mengagumkan. Kau akan melihat nanti. Bagaimana orang tua itu bermain-main dengan cambuk. Yang seorang lagi, memiliki sebuah tongkat yang mempunyai kepala kuning berujud tengkorak. Tetapi tongkat itu kini tidak pernah nampak dibawanya lagi, setelah ia tidak berada di dalam pasukan Jipang.”

“Apakah ia bekas seorang prajurit Jipang?”

“Bukan seorang prajurit. Tetapi ia adalah saudara seperguruan dari Patih Mantahun.”

“Patih Mantahun yang mempunyai nyawa rangkap?”

“Ya. Paman seorang senapati muda yang namanya menggetarkan seluruh daerah Demak lama. Macan Kepatihan. Macan Kepatihan adalah lawan Ki Untara yang seimbang.”

Perwira muda itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih belum dapat membayangkan, sampai di manakah sebenarnya kemampuan ketiga orang tua-tua itu.

Demikianlah ketika sudah sampai waktunya, maka iring-iringan pasukan Pajang itu pun mulai bergerak. Langit yang gelap menjadi semakin gelap, dan udara pun kian lama kian bertambah dingin. Angin di lereng pegunungan rasa-rasanya menyusup jauh sampai ke pusat tulang sungsum.

Di ujung barisan Untara berjalan bersama dua orang senapati pengapitnya yang akan berada di sayap gelar pasukannya jika pada saatnya mereka menghadapi lawan. Seorang yang bertubuh tinggi kekar, berkumis lebat akan menjadi penjawat kiri, sedang seorang yang agak gemuk, berwajah rapi dengan kumis sebesar lidi melintang di bawah hidungnya, adalah penjawat kanannya.

Di belakang ketiga orang itu, berjajar tiga orang membawa panji-panji. Kemudian beberapa orang membawa rontek dan tanda-tanda keprajuritan yang lain. Sedangkan di belakang mereka itu adalah pasukan khusus pengawal panji-panji, dengan senjata yang sudah ditarik dari sarungnya.

Barulah di belakang pasukan pengawal itu, berjalan dalam iring-iringan yang teratur, prajurit Pajang yang lengkap segelar sepapan. Di belakang pasukan itu, sekelompok kecil prajurit berkuda. Mereka adalah penghubung-penghubung yang akan dapat bergerak cepat, tetapi mereka juga prajurit-prajurit terlatih yang dapat mempengaruhi medan dengan kuda-kuda mereka yang dapat mereka kuasai sebaik-baiknya, bahkan kuda-kuda mereka itu seolah-olah telah menjadi bagian dari tubuh mereka yang langsung digerakkan oleh kehendak di pusat syaraf.

Di paling belakang berjalan tiga orang tua yang sebenarnya terpisah dari keseluruhan pasukan. Tetapi ternyata bahwa mereka merupakan orang-orang yang penting yang memang diperlukan oleh Untara untuk menghadapi persoalan yang mungkin akan menjadi sangat gawat.

Dalam pada itu, dalam kelamnya malam, sebenarnyalah lereng Merapi itu seakan-akan telah bergetar. Di beberapa bagian nampak beberapa orang bersenjata sedang mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Demikian juga orang-orang yang berada di Padepokan Tambak Wedi. Setiap dada yang seolah-olah telah dibakar oleh dendam itu pun sampai pula saatnya untuk meledak.

Apalagi di Padepokan Tambak Wedi itu telah hadir pula seseorang seperti yang telah direncanakan. Jalawaja, diikuti oleh tiga orang pengawal yang memiliki kemampuan yang mumpuni beserta sepasukan pengikut yang terpercaya.

Ketika Kiai Kalasa Sawit mendengar laporan tentang kedatangan kelompok yang dipimpin oleh Kiai Jalawaja itu, maka rasa-rasanya hatinya bagaikan tidak tertahankan lagi. Ia ingin segera mengerahkan pasukannya turun lereng Gunung Merapi dan langsung menumpas gerombolan cecurut yang dipimpin oleh orang yang menyebut dirinya Kiai Raga Tunggal.

Namun ia masih mencoba menahan diri. Ia menunggu sampai Kiai Jalawaja beristirahat sejenak, meneguk minuman yang dituang ke dalam bumbung, makanan di atas tampah bambu dan sedikit percakapan mengenai keselamatan masing-masing.

Baru sejenak kemudian, Kiai Kalasa Sawit melaporkan apa yang telah terjadi di Tambak Wedi dan persoalan yang telah menyinggung harga dirinya, karena beberapa orang kawannya telah terbunuh.

Kiai Jalawaja mengerutkan keningnya. Sejenak ia terdiam, agaknya ada sesuatu yang dipikirkannya.

“Kakang,” desak Kiai Kalasa Sawit, “aku sudah berjanji untuk menuntut setiap nyawa dengan sepuluh nyawa lawan. Tiga orangku terbunuh. Maka aku harus dapat membunuh sedikitnya tiga puluh orang dari lingkungan mereka. Jika usaha pembalasanku menambah korban di pihakku, maka korban itu pun akan aku perhitungkan pula. Karena itu, tidak ada pertimbangan lain kecuali menumpas lawan sampai orang terakhir.

“Apakah pembalasan semacam itu kau anggap penting?” bertanya Jalawaja.

“Tentu. Itu adalah harga diri kita. Agar untuk selanjutnya tidak ada orang yang akan berani menghina kita serupa itu.”

“Apakah orang-orang yang telah bertempur dan membunuh tiga orang kita itu mengetahui siapa kita sebenarnya?”

Kiai Kalasa Sawit mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Bahkan orang-orang kita sendiri pun sebagian besar, selain yang terpercaya, tidak mengetahui siapakah sebenarnya kita ini. Tetapi apabila pada hulu senjata dan pada ikat pinggang atau sarung pedang terdapat gambar serupa dengan yang terlukis di dadaku ini, maka setidak-tidaknya orang akan mengetahuinya, bahwa ada hubungan antara orang-orang yang mati itu dengan tanda-tanda serupa ini.”

Kiai Jalawaja mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Itu sebenarnya suatu kesalahan yang besar. Tanda-tanda serupa itu seharusnya tidak terdapat di sembarang tempat dan keadaan. Sejak semula aku sudah memperingatkan agar tanda-tanda serupa itu dihapuskan.”

“Tetapi tanda-tanda itu adalah kebanggaan kami,” jawab Kiai Kalasa Sawit.

Kiai Jalawaja termenung sejenak sambil mengangguk-angguk kecil. Nampaknya ia sedang membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu. Baginya, selain membalas dendam masih ada masalah yang harus dipersoalkan.

Namun kemudian Kiai Jalawaja itu pun berkata, “Baiklah. Jika sudah terlanjur terjadi, bahwa tanda-tanda serupa itu jatuh ke tangan tikus-tikus kecil. Jika kita sudah memusnakan mereka, dan besok meninggalkan Jati Anom, maka yang akan tinggal di daerah ini adalah kengerian dan ketakutan atas tanda-tanda yang pernah mereka lihat. Siapa pun yang melihat tanda-tanda serupa itu, akan selalu terkenang akan kehancuran mutlak yang pernah terjadi di daerah ini.”

“Aku sudah memperhitungkan, seandainya prajurit Pajang di Jati Anom ikut campur.”

“Aku tahu. Yang ada di Jati Anom adalah Untara. Ia tidak lebih baik dari anak-anak yang sedang belajar sodoran dengan tombak panjang dan berpacu di atas punggung kuda. Tetapi jika ia bertemu dengan lawan yang tangguh, maka ia akan kehilangan arti sama sekali.” Kiai Jalawaja berhenti sejenak, lalu, “Biarlah jika orang-orang Pajang di Jati Anom ingin ikut mencampuri persoalan yang sebenarnya bukan persoalan mereka. Mereka akan menyesal. Sultan Pajang pun akan menyesal. Dan ia akan memperhitungkan kehadiran kita dengan ciri-ciri yang sudah terlanjur di ketahui oleh banyak orang itu.”

“Para Senapati Pajang akan tercengang melihat kekalahan Untara,” desis Kiai Kalasa Sawit.

“Untara tidak lebih baik dari salah seorang di antara ketiga pengawalku itu. Karena itu, aku tidak akan perlu ikut dalam pertempuran itu.”

“Tetapi apakah kita akan melepaskan mereka tanpa pengawasan kita?”

Kiai Jalawaja nampaknya memang segan sekali. Tetapi kemudian katanya, “Baiklah. Aku hanya ingin nonton perkelahian yang tentu akan terjadi dengan sengitnya. Tetapi jika perlu, untuk mempercepat akhir dari perkelahian itu, aku pun dapat ikut menebang ilalang di antara pengawal-pengawalku.”

“Aku ingin melihat mayat sebanyak-banyaknya berhamburan di lereng Gunung Merapi ini,” desis Kiai Kalasa Sawit.

“Keinginan yang sebenarnya cukup gila. Aku sama sekali tidak melihat gunanya. Aku setuju untuk mempertahankan harga diri dan nama kita, tetapi tidak dengan kerja yang sia-sia serupa itu. Karena dengan demikian, kita pun tentu akan kehilangan.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi apabila peristiwa ini kita anggap saja sebagai pernyataan diri, bahwa kekuatan kami tidak terkalahkan, maka akan ada juga sedikit gunanya bagi perjuangan kita yang lebih besar lagi kelak.”

Kiai Kalasa Sawit mengangguk-angguk. Ia berlega hati karena Kiai Jalawaja tidak berusaha untuk mengurungkan niatnya melakukan pembalasan dan bahkan telah menyatakan kesediaannya untuk mempercepat penyelesaian jika pertempuran akan berkepanjangan.

“Betapa pun besarnya jumlah orang-orang yang berada di bawah pengaruh Kiai Raga Tunggal, dan bahkan seandainya bergabung dengan prajurit-prajurit Pajang sekalipun, mereka akan tumpas malam ini. Penghubung-penghubung dari Jati Anom tidak akan sempat memberikan laporan kepada Kanjeng Sultan Pajang, dan seandainya demikian, maka Pajang tidak akan sempat mempersiapkan bantuannya kepada Jati Anom, yang jaraknya cukup jauh,” berkata Kiai Kalasa Sawit di dalam hatinya.

“Kakang,” berkata Kiai Kalasa Sawit kemudian, “jika Kakang sudah merasa cukup beristirahat, maka kita akan segera mempersiapkan diri dan berangkat menuruni lereng. Kita akan menumpas orang-orang yang telah berani menyentuh harga diri kita itu secepat-cepatnya. Besok pagi-pagi benar, kita sudah dapat meninggalkan padepokan tua ini dengan hati yang lapang. Biarlah besok seisi lereng Merapi sibuk dengan kerja yang mengerikan. Mengubur mayat yang bertebaran tanpa dapat dihitung lagi.”

“Bagaimanakah jika mereka malam ini sudah melarikan diri,” bertanya Jalawaja.

“Persetan. Keluarganya akan kami tumpas sampai cindil abangnya.”

Jalawaja tertawa. Katanya, “Kau benar-benar sudah gila. Kau memang seorang pemarah yang mudah kehilangan akal. Bagaimana mungkin kau dapat menemukan keluarganya?”

“Kakang Jalawaja belum mengetahui, bahwa gerombolan-gerombolan kecil di lereng Gunung ini sebagian justru terdiri dari orang-orang padukuhan yang kesrakat. Mereka bergabung dan melakukan perbuatan-perbuatan yang dianggapnya dapat memberikan makan dan pakaian bagi keluarganya, meskipun ada di antara mereka yang memang sebenarnya perampok-perampok yang berpengalaman.

“Jadi kau akan memasuki padukuhan dan membunuh isinya? Apakah kau dengan mudah dapat membedakan yang manakah keluarga gerombolan Raga Tunggal dan yang manakah yang bukan?”

“Aku tidak sempat berpikir. Tetapi siapa yang berada di sekitar sarang gerombolan itu, mereka akan aku hancur-lumatkan.”

Jalawaja mengangguk-angguk. Katanya, “Terserahlah kepadamu. Aku hanya akan ikut campur jika aku merasa perlu. Jika pertempuran itu berlangsung terlalu lambat, atau jika aku sudah mulai mengantuk dan ingin tidur, aku akan mempercepatnya. Jika kau ingin ikut langsung ke dalam pertempuran itu, terserahlah.”

“Ketiga pengawalmu itu?”

“Biarlah mereka membantumu, Seorang dari mereka akan membunuh Untata jika ia ikut campur.”

Kiai Kalasa Sawit mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Aku sendiri akan membunuh anak yang sombong itu.”

“Kenapa harus kau tangani sendiri? Jika anak-anak dapat melakukan, biarlah mereka melakukan. Jika semuanya masih harus kau lakukan sendiri, kapan anak-anak itu menjadi dewasa?”

“Tetapi biarlah Untara mengerti, bahwa selama ini aku hanya menahan hati saja. Sikapnya terlalu menyakitkan hati, seolah-olah ia adalah manusia yang paling berkuasa di permukaan bumi. Di sini ia merasa dirinya lebih berkuasa dari Sultan Pajang sendiri.”

“Terserah kepadamu. Jika kau ingin ikut dalam permainan anak-anak itu, lakukanlah.”

“Sebaiknya kita lihat apa yang akan kita hadapi,” berkata Kiai Kalasa Sawit kemudian. “Kita memang dapat menganggap lawan kita terlampau kecil, tetapi kita tidak boleh lengah. Karena itu, aku akan mengerahkan semua kekuatan yang ada.”

“Biarlah orang-orangku beristirahat, kecuali ketiga orang itu.”

“Tetapi ada baiknya mereka ikut menonton. Itu tentu akan merupakan hiburan yang menyenangkan setelah mereka menempuh perjalanan yang tegang. Cobalah Kakang bertanya kepada mereka, aku menduga bahwa mereka lebih senang ikut daripada tidur di sore hari.”

Kiai Jalawaja menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Baiklah. Biarlah mereka ikut. Tetapi aku ingin meninggalkan sekelompok pengawal yang tangguh untuk menjaga padepokan ini.”

“Aku mengerti. Dan Kakang dapat menunjuk mereka. Juga orang-orangku yang bertugas malam ini tetap di tempatnya masing-masing.”

Kiai Jalawaja mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Jika kau menganggap waktunya sudah tiba, lakukanlah rencanamu. Kami sudah cukup lama beristirahat.”

Demikianlah maka Kiai Kalasa Sawit pun segera menyiapkan orang-orangnya. Ternyata jumlahnya melampaui dugaan prajurit-prajurit sandi yang mengawasi mereka dari kejauhan. Kelompok-kelompok orang-orangnya pun yang berpencaran di sekitar padepokan tua itu segera berkumpul ketika mereka mendengar isyarat.

Dengan singkat Kiai Kalasa Sawit memberitahukan kepada pemimpin-pemimpin kelompok, apa yang harus mereka lakukan. Mereka harus bertindak tanpa ragu-ragu demi nama baik dan harga diri kelompok yang selama ini masih diliputi oleh kabut rahasia bagi Pajang.

“Kedudukan kita berbeda dengan kelompok-kelompok pencuri ternak itu,” berkata Kiai Kalasa Sawit, “karena itu, kita jangan membiarkan diri kita dihina oleh mereka.”

Sejenak kemudian maka mereka pun telah bersiaga. Kiai Kalasa Sawit yang sudah mendapat laporan bahwa beberapa gerombolan kecil bergabung dengan Kiai Raga Tunggal agaknya tidak begitu menghiraukannya.

Yang diperhitungkan oleh Kiai Kalasa Sawit adalah justru prajurit Pajang. Tidak mustahil bahwa prajurit Pajang tiba-tiba saja akan ikut campur dalam peperangan itu, karena Untara telah pernah memerintahkan perwiranya untuk datang di Tambak Wedi dan mencoba mencegah gerakan apa pun yang akan dilakukan.

“Persetan dengan Untara,” berkata Kiai Kalasa Sawit yang telah mendapat gambaran tentang kekuatan prajurit Pajang di Jati Anom.

“Apakah kau yakin bahwa prajurit Pajang itu tidak lebih banyak dari orang-orangmu?” bertanya Kiai Jalawaja pada suatu saat ketika ia melihat seorang petugas sandinya yang melaporkan bahwa tampak tanda-tanda kesiagaan tertinggi pada prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom menjelang senja.

“Tidak, Kiai,” jawab petugas sandi itu, “jumlah mereka tidak menyamai jumlah kita di sini.”

“Dan tidak ada seorang pun yang perlu kita segani,” sambung Kiai Kalasaa Sawit.

Kiai Jalawaja mengangguk-angguk. Tetapi meskipun demikian ia berpesan, “Hati-hatilah dengan kelicikan prajurit-prajurit Pajang yang mempunyai seribu macam akal. Aku akan melihat pertempuran itu.”

Kiai Kalasa Sawit tidak begitu senang mendengarnya. Berkali-kali Kiai Jalawaja mengatakan, bahwa ia hanya akan melihat meskipun ia berjanji untuk ikut mempercepat penyelesaian jika pertempuran itu berlangsung terlalu lamban, atau apabila ia sudah mulai mengantuk dan ingin segera tidur.

Demikianlah, maka Kiai Kalasa Sawit pun segera memerintahkan pasukannya untuk bergerak menuruni lereng Gunung Merapi, di bawah pimpinan Kiai Kalasa Sawit. Dengan segenap kekuatan yang ada di padepokan itu. Kiai Kalasa Sawit ingin membuktikan bahwa pasukannya, gerombolannya, bukan sekedar sekelompok pencuri kecil yang bergabung menjadi satu seperti kelompok-kelompok yang ada di lereng Gunung Merapi.

Namun dalam pada itu, sebenarnyalah Kiai Kalasa Sawit mempunyai tujuan yang lebih besar. Meskipun tidak jelas terucapkan, agaknya Kiai Jalawaja pun sependapat, bahwa pada suatu saat Pajang harus mengakui, bahwa ada kekuatan yang pada suatu saat akan mengimbangi kekuatan Pajang, di daerah Selatan.

“Kekuatan kita yang berada di Istana Pajang sudah bergerak jauh ke depan,” berkata Kiai Jalawaja di dalam hatinya, “meskipun mereka masih banyak menemui kegagalan. Maka gerakan itu harus diimbangi dengan gerakan di luar istana, agar Pajang mengetahui, bahwa cahaya pulung kraton sudah mulai pudar.”

Namun tiba-tiba saja Kiai Jalawaja mengerutkan keningnya. Lalu, “Tetapi Mataram memang harus mulai mendapat perhatian. Jika Mataram menjadi semakin besar, maka bahayanya akan menjadi lebih besar dari kekuatan Pajang yang tersisa.”

Namun Kiai Jalawaja itu pun kemudian menggeram, “Tetapi pada suatu saat, Mataram pun harus mengakui, betapa kecilnya pengaruh Danang Sutawijaya sepeninggal Ki Gede Pemanahan.”

Angan-angan Kiai Jalawaja itu terputus, ketika iring-iringan itu tiba-tiba saja berhenti.

Sejenak ia mengamati keadaan. Di dalam keremangan malam ia melihat seseorang yang sedang berbicara dengan Kiai Kalasa Sawit. Karena itu, maka ia pun segera mendekatinya.

“Kakang,” berkata Kiai Kalasa Sawit, “pasukan Pajang benar-benar sudah bergerak. Tetapi seperti yang sudah kita duga, jumlah mereka tidak sebanyak jumlah kita. Terlebih-lebih lagi, pasukan itu dipimpin sendiri oleh Untara. Tidak lebih. Meskipun Untara berusaha menakut-nakuti kita dengan semua tanda-tanda dan ciri-ciri keprajuritannya, panji-panji, rontek, umbul-umbul dengan tunggul lambang kesatuannya.”

“Jadi dibawanya pula permainan kanak-kanak itu di daerah terpencil seperti ini?” bertanya Kiai Jalawaja. “Untara memang bodoh sekali. Kami tidak terikat sopan-santun perang gelar keprajuritan. Kami mempunyai cara sendiri dan tata kesopanan sendiri.”

“Tentu, Kakang. Tetapi jelasnya, bahwa agaknya kita memang akan berhadapan dengan prajurit Pajang.”

“Betapa bodohnya Untara,” desis Kiai Jalawaja. “Jika ia melihat kita menumpas penjahat-penjahat kecil di lereng Gunung Merapi ini, maka seharusnya ia mengucapkan terima kasih. Penjahat-penjahat kecil itu tentu sudah membuatnya pening untuk waktu yang lama. Tetapi agaknya ia masih ingin dibingungkan oleh cecurut-cecurut itu dan bahkan sekarang berusaha untuk ikut campur dalam persoalan yang dapat merugikan, bukan saja pasukannya tetapi juga nama dan bahkan nyawanya.

“Ya, Untara akan mati, pasukannya akan musna. Dan nama Pajang akan menjadi semakin buram. Beberapa orang pimpinan akan menjadi semakin ragu-ragu, dan para adipati di pasisir akan semakin kehilangan kepercayaan. Satu-satu mereka akan melepaskan diri, sehingga Pajang akan menjadi semakin lemah. Yang terakhir, adipati-adipati itu pun akan bertekuk lutut kepada kekuasaan tertinggi yang akan kembali memerintah tanah ini. Apalagi setelah Mataram kehilangan sarana hadirnya pulung kraton yang pasti akan jengkar dari Istana Pajang,” desis Kiai Kalasa Sawit.

“Marilah,” berkata Kiai Jalawaja, “kita akan tertempur satu kali saja. Kita tidak akan mengulanginya kapan pun untuk melawan Untara, sehingga karena itu, Untara dan pasukannya harus musnah. Besok kita harus sudah meninggalkan padepokan tua itu dan bergabung dengan pasukan induk di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Mudah-mudahan semua kekuatan, atau pemimpin-pemimpinnya dapat hadir pada pertemuan itu.”

Kiai Kalasa Sawit mengangguk-angguk. Ia sudah mendapat kepastian, bahwa bersama dengan Kiai Jalawaja, ditambah dengan tiga pengawalnya yang terkuat, ia akan dapat memusnakan kelompok-kelompok kecil yang sudah menyinggung harga dirinya. Bahkan seandainya Untara turut campur pun, maka pasukan Kiai Kalasa Sawit yang kemudian ternyata diperkuat oleh sepasukan yang datang bersama Kiai Jalawaja, sudah siap untuk menghancurkannya.

Demikianlah pasukan itu menyelusuri jalan sempit dilereng Gunung Merapi. Berliku-liku seperti sepasukan semut yang menuruni dinding.

Berbagai macam senjata nampak di tangan orang-orang yang berada di dalam iring-iringan itu. Kiai Kalasa Sawit yang kemudian berjalan di paling depan membawa senjata yang dianggapnya paling dipercaya untuk membinasakan Untara jika di medan ia dapat menjumpainya. Di tangannya tergenggam sebuah tombak bermata dua, dengan ujungnya yang runcing berduri pandan.

“Untara menurut keterangan yang pernah aku dengar, terlampau percaya kepada pedangnya,” berkata Kiai Kalasa Sawit di dalam hatinya, “tetapi pedangnya tidak akan banyak berdaya melawan tombakku yang bermata kembar.”

Di belakang Kiai Kalasa Sawit berjalan Kiai Jalawaja dengan segannya. Ia hampir tidak menghiraukan senjata apa yang akan dipergunakannya di peperangan. Ia terlampau yakin akan kemampuannya. Namun demikian, di lambungnya masih juga tergantung sebuah wedung yang berhulu kayu berlian, diukir mirip kepala seekor naga yang sedang menjulurkan lidahnya.

Di belakangnya lagi, tiga orang pengawalnya yang dapat dipercaya, yang memiliki kemampuan tidak terlampau jauh dari dirinya sendiri. Masing-masing membawa senjata yang hampir serupa. Pedang panjang dengan sebuah perisai baja kecil persegi panjang yang dipergunakannya untuk melindungi lengan kirinya, sampai ke pergelangan tangan. Dengan perisai kecilnya, mereka sanggup menangkis serangan senjata macam apa pun juga, bahkan bindi bergerigi pun tidak akan dapat merusakkannya.

Demikianlah maka pasukan yang dibekali dengan dendam itu pun telah siap untuk membunuh siapa pun juga. Setiap senjata sudah siap untuk diayunkan.

Dalam pada itu, petugas-petugas sandi yang mengawasi gerakan itu, baik yang dikirim oleh prajurit-prajurit Pajang, maupun pengikut-pengikut Kiai Raga Tunggal dan kelompok-kelompok kecil yang lain, telah melihat, seolah-olah serangkaian iring-iringan yang menjajakan kematian di sepanjang lereng Gunung Merapi.

Namun dalam pada itu, orang-orang yang berpihak kepada Kiai Raga Tunggal pun telah melihat pula gerakan pasukan Pajang yang ada di Jati Anom, sehingga untuk sementara mereka masih akan dapat bermanja-manja. Meskipun demikian Kiai Raga Tunggal pun sebenarnya cukup cemas menghadapi kenyataan, bahwa pasukan dari Tambak Wedi yang sudah bertambah itu, menjadi semakin besar dan kuat.

“Apakah prajurit Pajang benar-benar akan melindungi kami, atau membiarkan kami musnah lebih dahulu, baru mereka akan mulai menghancurkan orang-orang Tambak Wedi?” pertanyaan itu selalu membayangi Kiai Raga Tunggal dan kawan-kawannya.

Dengan cemas, Kiai Raga Tunggal pun kemudian membicarakan apa yang harus mereka lakukan. Yang penting bagi mereka, seperti yang harus dikehendaki oleh prajurit Pajang, memancing pertempuran agak jauh dari padukuhan yang berpenghuni, agar tidak jatuh korban yang tidak tahu-menahu persoalannya.

“Kita akan memancingnya,” berkata Kiai Raga Tunggal, “kita letakkan sepasukan kecil di ujung bulak. Merekalah yang akan menarik perhatian pasukan dari Tambak Wedi itu. Mereka akan mengikutinya sampai ke tengah-tengah bulak. Sepasukan kecil lainnya akan menghadapi mereka di tengah-tengah bulak itu. Sementara induk pasukan kami akan menyerang dari lambung.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seperti yang sudah mereka sepakati bersama, maka mereka telah membagi tugas. Kiai Raga Tunggal-lah yang akan berada di tengah bulak itu dengan kelompoknya. Sedang yang lain akan segera menyerang lambung.

“Tetapi jika kalian terlambat,” berkata Kiai Raga Tunggal kemudian, “kami tentu akan musnah. Tetapi jika kalian bertindak tepat pada waktunya, mungkin kita akan dapat memperpanjang umur. Kami berharap bahwa prajurit Pajang akan melakukan gerakan sebelum kami dibantai oleh orang-orang Tambak Wedi itu.”

“Apakah kita percaya kepada Untara?”

“Aku percaya kepadanya. Tetapi aku tidak tahu, apakah yang terpikir olehnya sekarang. Jika keadaan memaksa, maka gerakan kita yang terakhir adalah menyelamatkan diri. Jika dengan demikian kita harus masuk padukuhan dan orang-orang Tambak Wedi yang mengejar kami melakukan pembunuhan tanpa semena-mena, maka barulah Untara akan menyesal jika ia tidak bertindak sebelum hal itu terjadi. Tetapi sudah pasti. Untara tidak mau melihat penduduk menjadi korban kebiadaban orang-orang Tambak Wedi.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk.

“Kita bersiap sekarang. Karena jumlah kita jauh di bawah jumlah orang-orang Tambak Wedi, maka kita harus mengurangi jumlah mereka pada benturan yang pertama terjadi di bulak itu. Pasukan panah itu harus berhasil, sebelum terjadi benturan pedang dan senjata jarak pendek.”

Demikian, maka Kiai Raga Tunggal pun menyiapkan pasukannya. Ia akan menjadi umpan untuk memancing pasukan lawan memasuki daerah tebaran anak panah dari kelompok-kelompok yang sudah menyatukan diri itu.

Dalam pada itu maka Kiai Raga Tunggal pun sadar, bahwa ia akan dapat mengalami keadaan yang paling buruk apabila kawan-kawannya mengkhianatinya. Jika kawan-kawannya dengan sengaja memperlambat serangannya beberapa saat saja, maka pasukannya akan benar-benar menjadi musnah sama sekali.

Tetapi itu adalah akibat yang harus ditanggungkannya. Tentu tidak ada orang lain yang bersedia menjadi umpan, karena gerombolannyalah yang pertama-tama telah berbenturan dengan gerombolan dari Tambak Wedi itu, sehingga dengan demikian maka seolah-olah gerombolannyalah yang mempunyai tanggung jawab terbesar di dalam benturan yang bakal datang.

Sejenak kemudian, maka pasukan dari Tambak Wedi pun telah menjadi semakin dekat. Beberapa pengawas telah melaporkan bahwa iring-iringan yang mengerikan itu tengah merayap turun dan mendekati kubu mereka.

“Baiklah,” berkata Kiai Raga Tunggal, “benturan semacam ini sudah dapat kita duga sejak mereka berada di Tambak Wedi untuk pertama kali, bahwa pada suatu saat kita akan bersentuhan dan saling menyakiti hati. Bahkan kemudian saling berbunuhan. Kini semuanya itu akan segera menjadi kenyataan. Selama ini kita adalah perampok-perampok kecil yang masih mempertimbangkan untuk tidak membunuh korban-korban kami. Tetapi tentu tidak saat kita melawan gerombolan dari Tambak Wedi. Kita akan membunuh seperti mereka juga membunuh.”

Anak buah Kiai Raga Tunggal pun menjadi berdebar-debar.

“Jika kalian mulai ngeri melihat tandang dan cara orang-orang Tambak Wedi bertempur, itu adalah pertanda bahwa kalian masih ragu-ragu. Bahwa kalian masih terlampau berbaik hati. Sejak saat kalian mulai menjadi ngeri itulah, maka kalian harus membunuh sebanyak-banyaknya agar kalian tidak justru ditelan oleh kengerian di hati kalian sendiri.”

Anak buahnya pun kemudian mengangguk-angguk. Tetapi dada mereka belum pernah dihinggapi kecemasan seperti pada saat itu.

Tetapi tidak ada waktu lagi untuk membuat pertimbangan-pertimbangan lain. Laporan terakhir mengatakan, bahwa pasukan dari Tambak Wedi itu sudah semakin dekat, sehingga kelompok terdepan dari pertahanan Kiai Raga Tunggal telah hampir dilandanya.

“Sebentar lagi kita harus memilih. Membunuh atau dibunuh,” berkata Kiai Raga Tunggal lantang. “Tetapi jika kalian bertanya kepadaku, maka jawabku, aku lebih baik membunuh di peperangan ini.”

Kata-kata Kiai Raga Tunggal itu berhasil menyentuh jantung anak buahnya sehingga mereka pun tiba-tiba saja menggeram sambil menarik senjata masing-masing. Senjata yang memiliki jenis dan cirinya tersendiri. Seorang yang berkumis lebat menggenggam sebuah tombak pendek. Sedang seorang yang bertubuh gemuk membawa sebuah bindi yang seolah-olah berduri seperti sepotong batang enthong-enthongan. Sedang seorang yang bertubuh tinggi kurus, berwajah garang seperti harimau, membawa sebatang canggah bertangkai pendek. Yang lain lagi membawa parang, pedang, dan tongkat besi berujung runcing.

Tetapi mereka yang berada di bagian terdepan, selain senjata yang masih tetap di lambung, mereka telah menyiapkan busur dan memasang anak panah yang siap dilontarkan.

Sejenak kemudian, maka mereka yang bertugas di paling depan untuk menyeret pasukan dari Tambak Wedi itu ke bulak panjang dan pategalan telah mulai mempersiapkan diri dengan hati yang berdebar-debar. Sebab mereka akan dapat menjadi umpan pertama, dan mayatnya akan dicincang oleh orang-orang Tambak Wedi yang penuh dendam.

Ketika ujung pasukan Tambak Wedi itu sampai ke simpang tiga dan siap untuk langsung menuju ke sarang gerombolan Kiai Raga Tunggal di pategalan di luar sebuah padukuhan, maka kelompok yang telah disiapkan itu pun dengan serta-merta muncul dari balik pematang dan batang-batang jagung muda. Sebelum orang-orang dari Tambak Wedi itu menyadari, maka beberapa puluh anak panah pun telah meluncur menghujani mereka.

“Gila,” Kiai Kalasa Sawit menggeram. Ia pun kemudian memutar tombak bermata kembarnya. Beberapa anak panah telah dipatahkannya. Namun anak panah masih saja meluncur seperti hujan.

—- > Bersambung ke bagian 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s