ADBM1-091

<<kembali | lanjut >>

KETIKA malam menjadi semakin dalam, maka nampaklah berapa tanda bahwa prajurit Pajang akan dapat menguasai keadaan. Kiai Kalasa Sawit yang bertempur melawan Ki Sumangkar, ternyata sama sekali tidak dapat berbuat lain, kecuali memusatkan perhatiannya kepada lawannya itu.

Sementara itu, Kiai Jalawaja dan seorang pengawalnya telah terkurung di dalam lingkaran gelar Cakra Byuha, dan harus menghadapi lawan orang bercambuk yang tidak diduganya sama sekali. Ketika ia memasuki lingkaran gelar itu bersama sekelompok anak buahnya, dan yang kemudian dinding gelar itu terkatup kembali, ia sudah menduga bahwa dengan sengaja prajurit Pajang telah menjebaknya. Tetapi, saat itu ia merasa bahwa ia tidak akan dapat dihalang-halangi oleh siapa pun. Bahkan ia menyangka, bahwa ia akan dapat memecahkan gelar itu dari dalam, sementara prajurit Pajang harus bertempur melawan serangan dari luar gelar.

Tetapi ternyata ia salah hitung. Di dalam gelar itu ia menemukan lawan yang tidak dapat dikalahkannya.

Dalam pada itu, pengawal-pengawal Kiai Jalawaja yang berpencaran pun telah mendapat perlawanan yang kuat dari pemimpin-pemimpin kelompok kecil di lereng Gunung Merapi yang sudah bergabung itu. Dengan sekuat tenaga, mereka berusaha untuk mempertahankan diri, selagi prajurit Pajang memberikan kelonggaran kepada mereka untuk bernafas.

Dalam kekisruhan yang terjadi di dalam peperangan, orang-orang lereng Gunung Merapi itu tidak dapat segera menilai pertempuran antara orang-orang Tambak Wedi dengan prajurit-prajurit Pajang yang bergerak dalam gelar. Bahkan kadang-kadang mereka menjadi cemas menyaksikan serangan yang datang dari segala penjuru, di segala bagian dari dinding gelar yang melingkar itu.

Kiai Kalasa Sawit, yang memimpin pasukannya menjadi marah bukan kepalang. Ternyata bahwa prajurit Pajang benar-benar kuat melawan pasukannya, yang sudah diperkuat oleh pasukan Kiai Jalawaja. Mereka menduga, bahwa prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom yang jumlahnya tidak begitu banyak, ditambah dengan kelompok-kelompok pencuri ayam di lereng Gunung Merapi itu, akan dengan mudah dapat dihancurkan. Apalagi dengan kehadiran Kiai Jalawaja.

Tetapi yang terjadi adalah berbeda dengan dugaannya itu.

“Jika aku tidak bertemu dengan iblis dari Jipang ini, aku tentu sudah berhasil membunuh Untara dan mencerai-beraikan pasukannya,” berkata Kiai Kalasa Sawit kepada diri sendiri. “Tetapi agaknya iblis ini muncul dengan tiba-tiba.”

Selain iblis yang harus dihadapinya, agaknya Kiai Kalasa Sawit pun pernah mendengar sesuatu tentang orang bercambuk yang pernah menjelajahi daerah Selatan. Dan tiba-tiba saja suara cambuk itu pun telah didengarnya di tengah-tengah gelar prajurit Pajang. Dengan demikian ia sadar, bahwa Kiai Jalawaja pun harus berhadapan dengan orang yang akan dapat menghambat gerakannya.

Beberapa bagian yang semula mendapat tekanan yang kuat dari pasukan Tambak Wedi perlahan-lahan dapat mengatasinya, sehingga kemudian gelar itu pun dapat mengembang merata. Pasukan Tambak Wedi yang semula diperkuat dibeberapa bagian, harus menebar mengisi beberapa kekosongan, karena jatuhnya korban di seluruh arena. Apalagi setelah Kiai Kalasa Sawit dan Kiai Jalawaja terlibat melawan orang-orang terkuat yang tidak dapat diatasinya.

Yang segera berhasil menguasai lawannya adalah Ki Waskita. Pengawal Kiai Jalawaja yang melawannya, tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melawan Ki Waskita, sehingga karena itu maka ia pun segera terdesak surut. Semakin lama semakin terpisah dari Kiai Jalawaja yang harus bertempur melawan Kiai Gringsing. Apalagi setelah prajurit-prajurit Pajang yang ada di dalam gelar itu berhasil menguasai semua orang Tambak Wedi yang menyusup bersama Kiai Jalawaja. Beberapa prajurit yang memang menyusulnya di saat-saat mereka menerobos masuk, dibantu oleh beberapa orang prajurit yang bertugas mengawasi keadaan di dalam medan, akhirnya dapat memadamkan perlawanan orang-orang Tambak Wedi seluruhnya di dalam gelar itu.

Yang tinggal kemudian adalah Kiai Jalawaja dan seorang pengawalnya, yang harus bertempur melawan Ki Waskita. Dengan kemarahan yang melonjak-lonjak, mereka menyaksikan seorang demi seorang pasukannya dilumpuhkan. Beberapa orang terbunuh dan terluka, sedang yang lain menyerah kepada kenyataan yang dihadapinya.

Betapa kemarahan menghentak-hentak dada Kiai Jalawaja. Dengan lantang ia berteriak, “He orang-orang gila dan pengecut. Itukah yang dapat kalian lakukan? Aku menghormati mereka yang mati dan tidak mampu lagi mengangkat senjatanya. Tetapi adalah pengecut yang paling licik, jika ada di antara kalian yang meletakkan senjata sebelum kulitmu menitikkan darah.”

Tetapi beberapa orang yang sudah duduk di tanah, ditunggui oleh ujung tombak di punggungnya, sama sekali tidak mampu berbuat apa pun juga. Mereka pun harus membiarkan tangan dan kaki mereka kemudian diikat dengan janget, karena para prajurit Pajang harus melanjutkan pertempuran.

Kemarahan yang memuncak, telah membuat Kiai Jalawaja mengamuk seperti harimau kelaparan. Namun tidak banyak yang dapat dilakukan, karena ia berhadapan dengan Kiai Gringsing, sedang pengawalnya pun benar-benar telah dikuasai oleh Ki Waskita.

“Menyerahlah,” berkata Ki Waskita.

“Persetan!” geram pengawal itu, yang mencoba melawan sejauh dapat dilakukan. Tetapi kemampuan Ki Waskita benar-benar tidak dapat dilawannya.

Namun demikian, sama sekali tidak terbersit ingatan pada pengawal itu untuk menyerah. Apalagi menyerah dan menjadi seorang tawanan prajurit Pajang.

Karena itulah, maka ia pun masih saja melawan terus, betapapun ia terdesak.

Ki Waskita termangu-mangu menghadapi pengawal itu. Ia sebenarnya dapat dengan segera membinasakannya. Tetapi ada sesuatu yang menahannya. Sepercik keragu-raguan telah merayap di hatinya.

Sekali-sekali timbul niatnya untuk membuat lawannya menjadi bingung dan kehilangan akal dengan bentuk-bentuk semu. Bahkan ia mulai mempertimbangkan, apakah dengan demikian ia akan dapat mengurangi korban jiwa di kedua belah pihak.

Namun ia meragukan hasilnya, karena prajurit-prajurit Pajang sendiri tentu akan menjadi bingung dan bahkan mungkin mereka tidak dapat berbuat lebih banyak lagi daripada termangu-mangu dan keheranan.

Karena itulah, maka niatnya itu pun diurungkannya. Dibiarkannya pertempuran itu berlangsung dengan wajar. Apalagi ketika ia mulai dapat melihat kemajuan prajurit-prajurit Pajang.

Sementara itu. Pengawal Kiai Jalawaja masih saja melawan dengan segenap tenaganya, meskipun ia harus berloncatan surut. Bahkan kadang-kadang surut beberapa langkah dengan wajah tegang dan kebingungan.

Tetapi adalah di luar dugaan siapa pun juga, bahwa prajurit Pajang yang telah kehilangan lawan, dan yang masih berada di dalam lingkungan gelar itu, tidak membiarkan seorang pun lawan yang tetap memberikan perlawanan. Itulah sebabnya, maka karena pengawal itu ternyata tidak mau menyerah, prajurit-prajurit Pajang tidak sabar lagi membiarkannya berkeliaran di dalam gelar. Mereka tidak mempunyai pertimbangan yang pelik seperti Ki Waskita, sehingga karena itu, ketika pengawal itu sedang bersusah payah menghindari serangan Ki Waskita, tiba-tiba saja dua orang prajurit Pajang, yang sudah kehilangan kesabaran, menyerang bersama-sama. Dua buah tusukan pedang tidak dapat dielakkannya, sehingga sesaat terdengar keluhan yang tertahan. Namun ketika dua buah pedang itu ditarik hampir bersamaan, dari hunjaman yang dalam di tubuh pengawal Kiai Jalawaja itu, maka orang itu pun terhuyung-huyung sejenak, kemudian jatuh tertelungkup di tanah.

“Ki Sanak,” Ki Waskita mencoba mencegah, ketika ia melihat dua serangan berbareng itu. Tetapi ia tidak berhasil menghentikan serangan itu, sehingga ia pun kemudian hanya dapat melihat mayat itu terbaring di tanah, di antara beberapa sosok mayat yang lain.

Kiai Jalawaja yang melihat pengawalnya itu terbunuh, berteriak nyaring. Kemarahannya benar-benar serasa meledakkan kepalanya, sehingga ia pun telah kehilangan segala pertimbangan.

Karena itu, maka tandangnya pun menjadi semakin kasar dan bahkan seperti seekor binatang buas yang sedang memburu mangsanya.

Kiai Gringsing menyadari, bahwa ia tidak akan dapat berbicara dengan orang yang sedang kehilangan akal itu. Dan ia pun menyadari, bahwa tidak mungkin untuk dapat menangkap Kiai Jalawaja dalam keadaan hidup. Namun seperti Ki Waskita, maka membunuh lawannya diperlukan pertimbangan yang semasak-masaknya.

Sementara itu, Kiai Jalawaja telah benar-benar mengamuk. Senjatanya terayun-ayun mengerikan sekali. Dengan sepenuh kemampuan yang ada, ia menyerang Kiai Gringsing seperti prahara.

Tetapi, setiap kali Kiai Gringsing masih mampu melindungi dirinya dengan putaran cambuknya. Bahkan sekali-sekali meledak menyerang lawannya.

Dalam keadaan yang paling gawat, ternyata Kiai Jalawaja tidak lagi menghiraukan patukan ujung cambuk lawannya. Kulitnya seolah-olah menjadi kebal dan tidak dapat disentuh oleh perasaan sakit. Betapa Kiai Gringsing menyengat tubuhnya dengan ujung cambuknya yang berkarah baja, namun Kiai Jalawaja menyerangnya bagaikan taufan.

Sekilas teringat oleh Kiai Gringsing, lawannya di ujung Tanah Perdikan Menoreh, di antara bukit-bukit kecil yang terpencil, seorang yang menyebut dirinya Panembahan Alit. Orang itu pun rasa-rasanya menjadi kebal dan tidak dapat dilukainya dengan senjatanya.

“Apakah Kiai Jalawaja juga seorang yang memiliki ilmu seperti Panembahan Alit, yang dapat membuat kulitnya menjadi kebal?” pertanyaan itu memang membersit di hati orang tua itu.

Sementara itu, Ki Waskita telah berdiri termangu-mangu memperhatikan pertempuran itu. Pertempuran yang semakin lama menjadi semakin sengit, sehingga akhirnya sampailah mereka pada puncak ilmu dan puncak kemungkinan.

Prajurit-prajurit Pajang yang kurang dapat menilai keadaan, dan menganggap Kiai Jalawaja adalah orang yang hanya sekedar keras kepala seperti pengawalnya, mencoba menyerangnya pada saat orang itu meloncat selangkah surut.

Tetapi malang bagi prajurit itu. Belum lagi senjatanya menyentuh orang yang bernama Jalawaja itu, mereka telah terlempar dari tempatnya dengan luka yang membelah lambung.

Kiai Gringsing menggeram melihat korban yang berjatuhan itu. Apakah ia masih akan tetap membiarkannya mengambil korban-korban yang lain?

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam melihat pertempuran yang menjadi semakin sengit. Ledakan cambuk Kiai Gringsing menjadi semakin sering terdengar, dan rasa-rasanya semakin lama menjadi semakin keras.

Kiai Jalawaja yang agaknya sudah menyadari, bahwa ia tinggal seorang diri di dalam lingkungan dinding gelar, yang semakin lama menjadi semakin mengembang itu, justru membuatnya seperti gila. Serangannya menjadi semakin dahsyat dan tingkah lakunya seolah-olah sudah tidak lagi dikendalikan oleh kesadarannya, sebagai seorang yang memiliki ilmu yang pilih tanding.

Yang nampak kemudian adalah sifat-sifatnya yang sewajarnya. Kasar dan bahkan liar.

Kiai Gringsing memang tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus menghentikan perlawanan Kiai Jalawaja. Hidup atau mati. Dan Kiai Gringsing pun menyadari, bahwa orang itu tidak boleh lepas dari tangannya, karena dengan demikian, ia akan menelan korban yang tidak terhitung lagi jumlahnya. Mungkin di arena pertempuran ini, tetapi mungkin juga di saat-saat yang lain, jika ia mendapat kesempatan melakukannya.

Karena itulah, maka Kiai Gringsing pun telah melawannya dengan segenap kemampuannya pula. Seperti saat-saat ia bertempur melawan Panembahan Alit, maka ia telah mengerahkan segenap kemampuan dan kekuatan, sehingga ledakan cambuknya pun telah bernada lain. Kekuatan cadangan yang tersimpan di dalam dirinya, telah tersalur pula pada ujung cambuknya, sehingga karena itulah, maka ujung cambuk itu seolah-olah menjadi semakin dahsyat. Karah-karah baja yang terdapat pada juntai cambuknya, seolah-olah telah berubah menjadi ujung-ujung senjata yang paling tajam.

Dengan demikian, maka di dalam dinding gelar itu telah bertempur dua orang yang memiliki kemampuan raksasa. Masing-masing telah mengerahkan semua kekuatan yang ada pada mereka, sehingga prajurit-prajurit Pajang yang menyaksikan pertempuran itu pun telah bergeser menjauh. Mereka baru menyadari, bahwa arena yang khusus ini bukannya arena yang dapat dicampurinya. Bahkan sentuhan angin yang semiyut oleh gerakan kedua orang yang sedang bertempur itu, terasa betapa kerasnya menampar tubuh-tubuh prajurit Pajang, yang seolah-olah telah membeku oleh pesona yang mencengkamnya.

Ki Waskita menyaksikan pertempuran itu sambil termangu-mangu. Ia menjadi ragu-ragu, apakah ia akan membiarkan Kiai Gringsing bertempur seorang diri. Meskipun menilik keadaannya, maka nampaknya Kiai Gringsing akan dapat menguasai keadaan. Tetapi jika Kiai Gringsing membuat sedikit kesalahan, maka ia akan terjerumus ke dalam kesulitan. Padahal Kiai Gringsing adalah manusia biasa, yang lemah, lengah, dan kadang-kadang dipengaruhi oleh keadaan di seputarnya. Karena itulah, maka segala kemungkinan masih akan dapat terjadi pada kedua orang yang sedang bertempur mati-matian itu.

Di tempat yang lain, di pusat gelar prajurit Pajang, ternyata telah terjadi pertempuran yang sedahsyat itu pula. Ki Sumangkar harus bertempur dengan sekuat tenaganya. Dengan puncak ilmunya yang dikagumi oleh setiap orang Jipang dan Pajang, sehingga kakak seperguruannya, Patih Mantahun pernah dianggap mempunyai nyawa rangkap. Tetapi karena usianya, yang mempengaruhi kemampuan jasmaniahnya, maka akhirnya Ki Patih Mantahun pun harus mengorbankan jiwanya. Dan ternyata, bahwa ia tidak mempunyai rangkapan nyawa yang dapat menghidupkannya kembali.

Tetapi Ki Sumangkar cukup menyadarinya, bahwa nyawa rangkap pada perguruannya adalah sekedar dongeng yang tidak berlandaskan pada kenyataan. Karena itu, ia pun cukup berhati-hati, karena jika nyawanya yang satu itu meninggalkan tubuhnya, maka ia tidak lebih adalah sesosok mayat yang harus dikuburkan.

Sementara itu, Ki Sumangkar pun mendengar bahwa nada cambuk Kiai Gringsing rasa-rasanya memekik semakin tinggi. Dengan demikian ia pun mengerti, bahwa Kiai Gringsing harus mengerahkan segenap ilmunya pula untuk melawan orang yang telah memasuki lingkungan dinding gelar Cakra Byuha itu.

Sementara itu, Untara telah berhasil menggerakkan pasukannya dalam gelar yang semakin berkembang, meskipun perlahan-lahan. Tetapi ia menjadi semakin yakin, bahwa ia akan dapat menguasai keadaan dan sekaligus menguasai arena. Sekali-sekali ia masih sempat melihat gerigi-gerigi gelarnya, yang mulai menghunjam masuk, ke lingkungan ruang gerak lawan yang mulai kehilangan pegangan, karena pemimpin-pemimpinnya terikat pada pertempuran yang sengit.

Yang masih tetap berdiri temangu-mangu adalah Ki Waskita. Ia menjadi bimbang, apakah ia harus terjun ke dalam arena pertempuran. Meskipun Kiai Gringsing tidak sedang melakukan perang tanding, tetapi ia merasa segan pula untuk mengganggunya, jika ia tidak merasa yakin bahwa Kiai Gringsing menyetujuinya.

Dalam keragu-raguan itu Ki Waskita berdiri mematung di tempatnya. Tidak seperti prajurit-prajurit Pajang yang menghindar menjauhi arena, yang menjadi semakin mengerikan itu, Ki Waskita tetap mengikuti perkelahian itu pada jarak yang justru semakin dekat.

Meskipun demikian, Ki Waskita tidak menjadi lengah. Untuk menyatakan maksudnya, bahwa ia akan mempercepat penyelesaian pertempuran itu, sehingga perang keseluruhan pun akan semakin cepat berakhir, dan korban pun dapat dibatasi, maka Ki Waskita telah melepas ikat kepalanya dan membelitkannya di tangan kirinya.

Ternyata Kiai Gringsing pun sempat melihat dan mengerti maksudnya. Tetapi Kiai Gringsing tidak segera memberikan tanggapan apa pun juga.

Dalam pada itu, Kiai Jalawaja benar-benar telah mengamuk. Tidak ada orang lain yang berani berdiri dekat perkelahian itu selain Ki Waskita, yang ternyata telah menarik perhatiannya.

Menurut pertimbangan Kiai Jalawaja, ia tentu tidak akan segera dapat mengalahkan Kiai Gringsing, atau barangkali semalam penuh pertempuran itu tidak akan selesai. Karena itu, ia harus mendapatkan koban-korban baru yang lain sebanyak-banyaknya. Karena tidak ada prajurit Pajang yang mendekatinya, maka orang yang membelitkan ikat kepalanya di tangan kirinya itu adalah korban yang paling mungkin diambilnya.

Demikianlah, selagi perkelahian itu berlangsung dengan sengitnya. Kiai Jalawaja masih sempat bergeser sedikit demi sedikit mendekati Ki Waskita yang berdiri termangu-mangu.

Agaknya Ki Waskita dan bahkan Kiai Gringsing dapat menangkap maksud Kiai Jalawaja. Karena itulah, maka Ki Waskita pun telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Sedang Kiai Gringsing agaknya sengaja tidak menghalang-halanginya.

Dengan demikian Ki Waskita dapat menduga, bahwa Kiai Gringsing memang tidak berkeberatan jika ia membantu mempercepat penyelesaian.

Sejenak kemudian, yang ditunggu itu pun terjadilah. Namun ternyata bahwa setiap prajurit Pajang telah dicemaskan oleh sikap Ki Waskita yang seperti seseorang yang tidak mengetahui bahaya yang mengancamnya, berdiri termangu-mangu di pinggir arena yang mengerikan.

Bahkan seorang prajurit telah mencoba berteriak memanggilnya, “He, Kiai. Jangan berdiri saja di situ.”

Tetapi kawannya berbisik, “Ia telah memenangkan perkelahian melawan salah seorang dari orang-orang Tambak Wedi.”

“Tetapi bukan yang seorang ini. Agaknya ia adalah pemimpinnya. Sedangkan lawan yang mati itu pun bukan karena orang tua itu. Tetapi dua orang prajurit telah membantunya dan menusuk lawannya bersama-sama.”

Kawannya terdiam.

Namun mereka tidak sempat memberikan peringatan lagi kepada Ki Waskita. Ternyata Kiai Jalawaja benar-benar masih ingin membunuh lawan sebanyak-banyaknya sebelum pertempuran itu berakhir, karena akhir dari pertempuran itu sama sekali tidak dapat dibayangkannya.

Prajurit-prajurit Pajang yang berdiri termangu-mangu mengawasi arena di dalam gelar itu berdesir, melihat bayangan orang Tambak Wedi itu bagaikan angin meloncat menyerang Ki Waskita dengan dahsyatnya. Senjatanya terayun deras sekali, didorong oleh kekuatan yang dahsyat sekali.

Tetapi Ki Waskita sudah siap menghadapinya. Ia sama sekali tidak berusaha menghindar. Tetapi dengan sepenuh kekuatannya pula, ia mengangkat tangan kirinya, menangkis serangan itu.

Dua kekuatan telah berbenturan. Prajurit-prajurit Pajang mengira bahwa Ki Waskita tidak sempat menghindar, sehingga mereka menyangka bahwa Ki Waskita akan lumat menjadi debu.

Tetapi yang terjadi ternyata tidak seperti yang mereka bayangkan. Senjata orang Tambak Wedi yang memiliki kemampuan luar biasa itu telah membentur ikat kepala yang membelit di tangan kiri Ki Waskita.

Akibatnya benar-benar tidak terduga. Senjata Kiai Jalawaja justru terpental, sehingga Kiai Jalawaja sendiri telah terdorong selangkah surut sementara Ki Waskita berdiri tegak di tempatnya, seolah-olah sebuah patung baja yang tidak tergoyahkan.

Kiai Jalawaja yang tidak menduga, bahwa orang yang berdiri termangu-mangu di pinggir arena itu pun orang yang memiliki ilmu yang tinggi, benar-benar terkejut bukan buatan. Karena itulah, maka sejenak ia kehilangan keseimbangan. Hampir saja ia jatuh terlentang. Untunglah bahwa ia masih mampu bertahan.

Namun pada saat yang bersamaan Kiai Gringsing telah berdiri di belakangnya. Dengan ujung cambuknya, ia sengaja hanya menyentuh tubuh Kiai Jalawaja yang belum tegak benar, sekedar untuk memperingatkannya bahwa ujung cambuk itu mampu berbuat lebih jauh dalam keadaannya seperti itu.

“Kiai,” berkata Kiai Gringsing, “aku tahu bahwa kau adalah seorang pemimpin. Karena itu, kau dapat berbuat banyak. Kau dapat menghentikan pertumpahan darah yang berlarut-larut ini, dan kemudian mempertimbangkan langkah-langkah selanjutnya.”

Kata-kata Kiai Gringsing itu pun mengejutkan pula. Sentuhan yang justru perlahan-lahan mengenai tubuhnya, adalah suatu penghinaan bagi Kiai Jalawaja. Apalagi pernyataan Kiai Gringsing itu tidak ada arti lain daripada memerintahkan kepadanya untuk menyerah.

“Gila!” teriak Kiai Jalawaja. Suaranya menggelegar di seluruh medan. “Aku akan membunuh semua orang.”

Kiai Gringsing berdiri tegak dengan kaki renggang. Cambuknya dipeganginya dengan tangan kanan, sedang ujung juntainya dipegangnya dengan tangan kiri. Katanya kemudian, “Jika kita yang tua-tua tidak berbuat sesuatu, maka korban akan semakin banyak. Dan apakah arti dari kematian-kematian itu, selain pemuasan nafsu saja? Akhir dari pertempuran ini sudah membayang. Kau sebagai seorang senopati perang, di mana pun kau berpihak, tentu sudah dapat memperhitungkan. Kau tidak dapat mencari kepuasanmu sendiri, berdiri di tengah-tengah gelar musuh dan berusaha membinasakan lawan sebanyak-banyaknya, sementara anak buahmu sendiri terbunuh seperti batang ilalang.”

“Tutup mulutmu pengecut!” teriak Kiai Jalawaja.

“Kita sama-sama pengecut,” sahut Ki Waskita, “mungkin kami tidak berani melihat kenyataan yang kau hadapi.”

“Persetan! Aku akan bertempur. Di medan hanya ada dua pilihan bagiku. Membunuh atau dibunuh.”

“Tak ada pilihan lain?” bertanya Kiai Gringsing. “Kita mempunyai bahasa yang dapat kita pergunakan untuk menyatakan perasaan kita masing-masing.”

Kata-kata Kiai Gringsing itu telah menyentuh dasar hati Kiai Jalawaja yang paling dalam. Tetapi ia telah mengeraskan perasaannya, sehingga dengan nada kasar ia membentak, “Bahasa yang paling baik di peperangan, adalah ujung senjata. Dan arti yang paling sempurna dari setiap langkah seseorang yang bertempur di medan, adalah kematian.”

Ki Waskita menarik nafas. Katanya, “Kiai. Kau adalah orang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Tetapi ternyata hatimu keras, sekeras batu hitam. Kenapa kau tidak mau mempergunakan sedikit kebijaksanaan?”

“Cukup, orang-orang dungu! Kau tidak akan dapat mempengaruhi aku untuk menyerah dengan cara apa pun juga. Aku bukan anak-anak yang dapat kau bujuk seperti itu.”

Kiai Gringsing masih sempat menghindar. Tetapi Kiai Jalawaja menyerangnya seperti prahara.

Kiai Gringsing masih sempat menghindar. Tetapi Kiai Jalawaja tidak mau memberinya kesempatan. Dengan kecepatan yang hampir tidak dapat diikuti dengan mata wadag, maka tubuhnya bagaikan terbang dengan senjata taracu menyerang Kiai Gringsing sekali lagi.

Kiai Gringsing tidak dapat sekedar menghindar. Ketika ia merasa dirinya justru terdesak, maka kembali cambuknya telah meledak dengan nada yang tinggi, pertanda bahwa ia telah melepaskan semua kemampuan ilmu yang ada padanya.

Dalam kegelapan hati, Kiai Jalawaja tidak menghiraukan lagi patukan senjata lawannya. Karena itu, segores jalur merah telah membekas di punggungnya yang terbuka, karena bajunya yang telah tersayat pula oleh ujung cambuk Kiai Gringsing. Bahkan nampak bekas-bekas yang kehitam-hitaman, seolah-olah baju Kiai Jalawaja telah disobek oleh nyala bara api.

Tetapi Kiai Jalawaja sama sekali tidak berniat untuk mengakhiri pertempuran dengan cara yang paling hina. Menyerah seperti beberapa orang yang tidak sempat berbuat apa pun juga lagi.

Dengan gigihnya Kiai Jalawaja bertempur terus. Sekali-kali ia terdesak surut, dan dalam keadaan yang tiba-tiba ia pun telah menyerang Ki Waskita pula.

“Orang yang keras hati,” desis Ki Waskita kepada diri sendiri.

Dengan demikian, maka prajurit-prajurit Pajang yang bertugas di dalam lingkaran dinding gelar yang semakin terbuka itu pun sama sekali tidak berani mendekat lagi. Mereka sadar, bahwa Kiai Jalawaja telah mengamuk. Ia berbuat apa pun juga untuk membunuh lawan. Bahkan dengan perbuatan-perbuatan di luar perhitungan nalar.

Akhirnya Ki Waskita dan Kiai Gringsing tidak dapat membuat pertimbangan lain. Cara yang paling singkat untuk mengakhiri pertempuran adalah kematian.

Meskipun kematian bukan akhir yang paling baik. Sebenarnya kedua orang itu bukan bermaksud membunuh Kiai Jalawaja. Tetapi hasil perbuatannya. Tidak ada cara yang paling baik untuk menghentikan berkembangnya perdu berduri yang merambat di pepohonan dan kebun bunga, selain memotong pangkal batangnya.

Demikianlah, maka kedua orang itu pun seolah-olah menemukan kesepakatan, meskipun mereka tidak sempat berunding. Dengan hati-hati keduanya segera mempersiapkan diri untuk menentukan akhir dari perkelahian itu.

“Marilah orang-orang licik,” geram Kiai Jalawaja. “Aku kira orang yang selama ini ditakuti dan disegani adalah seorang jantan. Orang bercambuk itu ternyata hanyalah seekor kelinci betina yang ketakutan melihat serigala di medan perang.”

“Kiai,” berkata Kiai Gringsing, “masih ada jalan lain untuk menyelesaikan pertikaian ini.”

“Aku adalah laki-laki.”

Semua persoalan terhenti sampai batas harga diri dan ketamakan. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain kecuali menghentikan semua perbuatan yang dapat dilakukan oleh orang yang sakti itu. Sama sekali tidak ada tanda-tanda sepercik pun, bahwa pada suatu saat akan tumbuh penyesalan di hatinya, bahwa ia telah memilih jalan yang salah.

Demikianlah, maka kemudian Kiai Gringsing dan Ki Waskita pun maju bersama. Sambil mengayunkan cambuknya, Kiai Gringsing berkata, “Maafkan aku, Ki Sanak. Aku terpaksa berbuat seperti prajurit di perang brubuh, bukan perbuatan dalam perang tanding. Aku tidak ingin gagal dan korban akan semakin banyak berjatuhan.”

“Persetan!” orang itu menggeram.

Demikianlah, maka Kiai Gringsing dan Ki Waskita telah bertempur bersama-sama melawan Kiai Jalawaja. Betapapun sakti dan mumpuninya orang itu, namun ia tidak mempunyai banyak kesempatan. Setiap kali ujung cambuk Kiai Gringsing yang didasari atas segala kekuatan yang ada padanya telah menyentuh tubuhnya. Sementara itu, Ki Waskita selalu mendesaknya agar tidak sempat menghindar terlampau jauh.

Kiai Jalawaja pun telah mengerahkan segenap kemampuannya. Ia sadar, bahwa yang sebenarnya mempergunakan senjatanya hanyalah Kiai Gringsing. Sedang orang yang satu lagi, sekedar menjaganya untuk tidak lepas dari sentuhan cambuk itu.

Namun ternyata bahwa kemampuan ilmunya yang membuat kulitnya seolah-olah kebal, tidak mampu bertahan atas puncak ilmu Kiai Gringsing yang tersalur lewat cambuknya. Meskipun tidak ada segores luka pun dan setitik darah yang meleleh, namun tulang-tulang Kiai Jalawaja rasa-rasanya telah menjadi remuk oleh pukulan kekuatan cambuk berkarah besi baja itu. Dengan demikian, maka lambat laun tenaganya pun bagaikan terhisap dari tubuhnya yang menjadi lemah dan tidak berdaya lagi.

Pada saat-saat terakhir itu, ketika terasa maut tidak lagi dapat dihindari, Kiai Jalawaja pun segera mengamuk dengan sisa tenaganya. Ia memang mengharap, senjata Kiai Gringsing itu bukan sekedar melumpuhkannya, tetapi membunuhnya.

Tetapi, Kiai Gringsing dan Ki Waskita berbuat lain. Ketika Kiai Jalawaja seolah-olah sudah kehilangan kemampuannya, maka mereka berdua tidak berbuat apa-apa lagi selain memancing kemarahan pimpinan kelompok yang tidak mereka kenal itu.

Ternyata sebagian usaha mereka berhasil. Kiai Jalawaja benar-benar kehilangan akal. Dengan membabi buta ia menyerang Kiai Gringsing, yang dengan cekatan menghindar. Kemudian Ki Waskita-lah yang seakan-akan berada pada jarak jangkaunya. Dengan kemarahan yang menghentak dadanya, ia menerkamnya. Tetapi Ki Waskita pun berhasil menyingkir dari cengkeramannya.

Demikianlah, pada saat-saat pertempuran itu mulai dibayangi oleh akhir yang suram bagi orang-orang Tambak Wedi, Ki Jalawaja benar-benar telah kehilangan semua kekuatannya. Ia benar-benar sudah tidak mampu lagi berbuat sesuatu. Apalagi bertempur melawan Kiai Gringsing atau Ki Waskita. Ketika kemudian cambuk Kiai Gringsing meledak lagi dan mengenai tubuhnya, maka ia pun menggeliat dengan gigi yang gemeretak. Tetapi kemudian terhuyung-huyung.

Kiai Jalawaja benar-benar tidak mampu bertahan lagi. Dengan lemahnya ia pun jatuh terduduk.

Kiai Gringsing mendekatinya dengan hati-hati. Ia masih mempertimbangkan bahwa hentakan yang terakhir masih mungkin menerkamnya dan melukainya. Tetapi agaknya Kiai Jalawaja benar-benar sudah tidak berdaya.

“Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing, “memang tidak ada pilihan lain bagimu.”

Kiai Jalawaja tidak menjawab.

“Kau akan tetap dihormati sebagai seorang yang memiliki kemampuan di luar kebanyakan orang.”

Kiai Jalawaja sama sekali tidak menjawab. Nafasnya terengah-engah dan wajahnya menjadi semakin pucat.

Sejenak Kiai Gringsing dan Ki Waskita termangu-mangu. Mereka mulai berpengharapan, bahwa mereka akan dapat menangkap orang yang tidak mereka kenal, tetapi memiliki kelebihan itu. Di saat orang yang tidak terluka oleh senjata itu kehabisan kekuatan dan tenaga, maka beberapa serangan cambuk akan dapat membuatnya pingsan.

Tetapi wajah Kiai Gringsing dan Ki Waskita menjadi tegang, ketika mereka melihat orang itu menggeliat. Kemudian perlahan-lahan ia membaringkan dirinya sambil menyilangkan tangannya.

“Ki Sanak,” desis Kiai Gringsing sambil mendekatinya, meskipun ia tetap berwaspada.

“Tidak seorang pun dapat menjamah tubuhku selagi aku masih bernafas.”

“Apakah maksudmu?”

“Aku akan mati.”

“Tidak. Kau memiliki ketahanan tubuh tidak terhingga. Kulitmu seolah-olah tidak terluka oleh cambukku.”

“Kau memang orang gila. Tidak ada seorang pun yang dapat melukai kulitku. Kau pun tidak. Tetapi kau meremukkan tulang-tulangku.”

“Tetapi kau tidak akan mati.”

“Memang tidak. Kau tidak akan dapat membunuhku. Cambukmu juga tidak. Tetapi aku dapat membunuh diriku sendiri.”

“Ki Sanak,” Kiai Gringsing bergeser semakin dekat.

Tiba-tiba orang itu tertawa. Suaranya terdengar dalam sekali, seolah-olah berpusar di dalam dadanya. Namun suara itu semakin lama menjadi semakin lambat. Katanya, “Kalian memang bodoh. Seharusnya kalian tahu, bahwa orang seperti Jalawaja tidak akan membiarkan dirinya menjadi tawanan.”

“Jalawaja,” desis Kiai Gringsing dan Ki Waskita hampir berbareng.

“Aku tidak menyangka bahwa aku harus mati di sini. Aku kira, aku malam ini dapat menebas prajurit Pajang seperti menebas batang ilalang. Tetapi aku sadar, bahwa akibat seperti ini pasti akan terjadi pada suatu saat. Dan aku akan mati sekarang.”

Kiai Gringsing dan Ki Waskita saling berpandangan. Akhir yang demikian itulah yang memang sudah mereka perhitungkan. Ketika timbul harapan bahwa mereka akan dapat menangkap Kiai Jalawaja hidup-hidup, justru mereka menjadi ragu-ragu atas apa yang mereka hadapi. Dan kini memang ternyata bahwa orang itu tidak akan dapat mereka tangkap dalam keadaan hidup.

Sejenak mereka merenungi orang yang sudah berbaring di tanah dengan tangan bersilang di dadanya itu. Namun kemudian, sambil menarik nafas dalam-dalam Kiai Gringsing berkata, “Orang yang keras hati.”

“Tetapi maut ini datangnya terlampau cepat,” ternyata Kiai Jalawaja itu masih bedesis, “jauh lebih cepat dari yang aku harapkan.”

“Apakah kau akan memberikan pesan, Kiai?” bertanya Kiai Gringsing.

“Kau memancing jawaban di saat aku mulai merasakan sentuhan maut. Jangan, Kiai. Itu tidak adil.”

Kiai Gringsing terkejut mendengar jawaban itu. Sejenak ia berdiri termangu-mangu, sedang Ki Waskita-lah yang kemudian menarik nafas dalam-dalam.

Kiai Gringsing dan Ki Waskita pun kemudian berdiri membeku, ia seolah-olah melihat sesuatu bergerak di dalam tubuh Kiai Jalawaja. Perlahan-lahan menyelusuri tubuh itu dari ujung kaki merambat naik, sehingga akhirnya sampai ke ubun-ubunnya.

Pada saat itulah, Kiai Jalawaja menghembuskan nafasnya yang terakhir, setelah seakan-akan ia mengatur dirinya menghadapi maut yang terlampau cepat datangnya itu.

Kiai Gringsing dan Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Sejenak mereka merenungi tubuh yang sudah membeku itu.

Namun mereka pun kemudian menyadari, bahwa pertempuran masih berlangsung terus. Tetapi ternyata bahwa gelar Cakra Byuha itu, sudah menjadi semakin luas mendesak lawan.

“Kemanakah Ki Sumangkar?” bertanya Kiai Gringsing tiba-tiba saja, kepada Ki Waskita.

Tetapi Ki Waskita menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Aku tidak mengetahuinya. Tetapi ia pergi ke pusat gelar.”

Sementara itu, seorang prajurit mendekatinya sambil berkata, “Ki Sumangkar bertempur melawan pemimpin pasukan dari Tambak Wedi.”

“Siapa?”

“Kiai Kalasa Sawit.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Kemudian katanya kepada Ki Waskita, “Apakah kita akan melihatnya?”

“Agaknya lebih baik, Kiai.”

Kiai Gringsing masih mengangguk-angguk. Lalu katanya kepada seorang prajurit, “Jagalah tubuh Kiai Jalawaja. Jika pertempuran ini sudah selesai, maka kalian pun berkewajiban untuk menyelenggarakan sebaik-baiknya.”

Prajurit itu mengangguk. Namun di dalam hati ia berdesis, “Mudah-mudahan aku dapat melihat akhir dari pertempuran ini.” Demikianlah, maka Kiai Gringsing dan Ki Waskita pun meninggalkan tubuh Kiai Jalawaja yang terbaring itu. Dengan hati-hati mereka melintasi bagian dalam gelar pasukan Pajang, yang hanya diawasi oleh beberapa orang prajurit. Namun ternyata bahwa tidak ada sekelompok lawan yang lain, yang berhasil menerobos masuk ke dalam gelar. Apalagi sepeninggal Kiai Jalawaja.

Meskipun Kiai Jalawaja mati di dalam lingkungan gelar, tetapi ternyata berita tentang kematiannya itu segera menjalar. Mula-mula pada prajurit-prajurit Pajang, namun kemudian terdengar pula oleh orang-orang Tambak Wedi. Apalagi ketika beberapa orang dengan sengaja meneriakkan kematiannya, “Kiai Jalawaja mati! Kiai Jalawaja mati!”

Berita kematian itu benar-benpr mempengaruhi setiap jantung, terlebih-lebih mereka yang datang ke Tambak Wedi bersama Kiai Jalawaja. Semula mereka menganggap bahwa pertempuran itu hanyalah sekedar pelepasan dendam dan kebencian tanpa menjumpai perlawanan yang berarti. Jumlah orang-orang yang berada di dalam lingkungan gerombolan-gerombolan yang berada di lereng Gunung Merapi dan prajurit Pajang yang berada di Jati Anom, bukan merupakan lawan yang dapat menahan kemampuan dan kekuatan Tambak Wedi. Apalagi setelah kehadiran pasukan Kiai Jalawaja.

Tetapi ternyata prajurit Pajang di Jati Anom cukup kuat untuk melawan mereka. Apalagi setelah pasukan cadangan hadir di arena, sehingga dengan demikian seolah-olah mempercepat penyelesaian yang sudah menjadi semakin jelas.

Kehadiran pasukan cadangan benar-benar telah menggoncangkan ketabahan hati Kiai Kalasa Sawit. Belum lagi goncangan perasaan itu reda, disusul oleh berita yang datang kepadanya, dari seorang penghubung, bahwa Kiai Jalawaja telah benar-benar mati di peperangan itu.

Kiai Kalasa Sawit menjadi semakin gelisah. Apalagi ia sedang menghadapi lawan yang tidak dapat dikalahkannya, sehingga seolah-olah telah mengikatnya pada titik pertampuran yang sama sekali tidak dapat dilakukan sambil mengamati arena.

“Iblis dari Jipang ini benar-benar gila,” ia menggeram di dalam hatinya.

Sementara Kiai Kalasa Sawit bertempur mati-matian melawan Ki Sumangkar, maka ternyata bahwa kelompok-kelompok gerombolan yang bertebaran di lereng Merapi dan telah bergabung itu, memiliki perlawanan yang kuat pula. Beberapa orang di antara mereka bertempur dengan gigihnya. Sementara pemimpin-pemimpin mereka, Ki Raga Tunggal, Serat Wulung, Sampar Angin, dan beberapa orang lagi, dengan gigihnya menghadapi para pengawal Kiai Jalawaja.

Namun kehadiran pasukan cadangan dari Jati Anom yang telah dipanggil oleh Untara, untuk menjaga segala kemungkinan itu pun dengan cepat dapat mengatasi keadaan di luar gelar.

Untara sendiri benar-benar dapat menguasai seluruh prajurit di arena itu. Bahkan kemudian, ia berhasil menyusun selapis pasukan cadangannya untuk menekan orang-orang Tambak Wedi dari sisi yang lain.

Kiai Gringsing dan Ki Waskita melihat pula kehadiran pasukan cadangan dari Jati Anom. Bahkan kemudian Kiai Gringsing berdesis, “Ternyata bahwa Angger Untara mampu mengatasi keadaan, dengan atau tanpa kita.”

“Ah,” desis Ki Waskita, “bukankah kita tidak banyak berbuat apa-apa di sini?”

Kiai Gringsing tersenyum. Namun ia pun kemudian mengerutkan keningnya, ketika ia mendengar sebuah isyarat yang diteriakkan oleh seseorang di pusat gelar.

“Apakah yang akan dilakukan oleh Kiai Kalasa Sawit?” bertanya Ki Waskita.

“Marilah kita lihat. Mungkin ada sesuatu yang dapat mengejutkan arena ini. Kita tidak tahu pasti, apakah semua kekuatan di Tambak Wedi sudah dikerahkan.”

Keduanya pun kemudian dengan tergesa-gesa meneruskan langkahnya, ke pusat gelar yang sudah menjadi semakin luas itu.

Dalam riuhnya pertempuran yang sengit, mereka melihat betapa Ki Sumangkar memutar senjatanya melawan Kiai Kalasa Sawit yang mengerahkan segenap kemampuannya pula. Mereka masih belum melihat perubahan apa pun yang terjadi di arena itu.

Masing-masing masih tetap bertempur di tempatnya. Suara dentang senjata masih bersahut-sahutan, dan sekali-kali terdengar teriakan yang menyayat. Teriakan kesakitan tetapi juga teriakan kemenangan dan kebanggaan.

Kiai Gringsing dan Ki Waskita segera melihat, bahwa sebenarnya Ki Sumangkar telah berhasil menguasai lawannya. Kiai Kalasa Sawit yang memiliki kekuatan raksasa itu, kadang-kadang menjadi bingung oleh kecepatan gerak Ki Sumangkar. Bahkan kadang-kadang Kiai Kalasa Sawit memaki, apabila ujung trisula Ki Sumangkar berhasil mematuk kulitnya dan menitikkan darahnya.

Tetapi sejenak kemudian, terdengar sekali lagi isyarat yang ternyata terlontar dari mulut Kiai Kalasa Sawit.

Dengan demikian maka setiap orang di pusat gelar itu pun menjadi semakin berwaspada. Mungkin mereka harus menghadapi sesuatu yang tidak terduga-duga.

Sebenarnyalah yang terjadi telah mengejutkan prajurit-prajurit Pajang, meskipun mereka sudah bersiaga. Tiba-tiba saja arena itu menjadi kisruh. Beberapa orang pengawal Kiai Kalasa Sawit bersama-sama telah menyerang Ki Sumangkar. Namun yang lain telah membuat gerakan-gerakan yang menurut ilmu peperangan justru tidak berarti apa-apa. Beberapa orang telah berlari-larian kian kemari dengan senjata teracu-acu.

Untara yang berpengalaman menghadapi gelar perang yang beraneka macam dan cara-cara yang paling aneh sekalipun, mengerutkan keningnya melihat hal itu. Namun kemudian ia pun berteriak, “Jangan lepaskan Kiai Kalasa Sawit.”

Beberapa orang yang mendengar teriakan itu menjadi berdebar-debar. Ki Sumangkar pun menyadari, bahwa dengan demikian lawannya berusaha memisahkan diri daripadanya. Selagi ia sibuk menangkis serangan dari beberapa orang sekaligus dalam kekisruhan itu, ternyata ia benar-benar telah kehilangan lawannya.

Untara sendiri berusaha menusuk langsung ke dalam gerakan yang aneh itu, bersama beberapa orang perwira dan pengawal mereka. Namun rasa-rasanya jalan yang harus ditempuh menjadi buntu. Mereka harus bertempur untuk menyibakkan lawan, yang seakan-akan telah menjadi pepat di pusat gelar.

“Suatu cara yang bagus dari Kiai Kalasa Sawit untuk melarikan diri,” gumam Sumangkar yang menjadi marah. Tetapi ia harus menghadapi beberapa orang sekaligus, yang menyerangnya dengan tiba-tiba.

Baru sejenak kemudian, prajurit-prajurit Pajang sempat menyesuaikan diri. Mereka pun kemudian mengambil alih lawan yang berdesakan di sekitar Ki Sumangkar. Dengan demikian, maka pertempuran telah berpusat di pusat gelar.

Tetapi saat yang pendek itu telah berhasil dipergunakan oleh Kiai Kalasa Sawit. Ternyata ia telah hilang dari arena. Seolah-olah terbenam di dalam arus pengawal-pengawalnya yang bergolak seperti ombak lautan.

Kiai Gringsing dan Ki Waskita pun melihat hal itu. Sejenak mereka termangu-mangu. Bahkan Kiai Gringsing sempat bergumam, “Suatu cara yang licik dari Kiai Kalasa Sawit.”

“Agak berbeda dengan Kiai Jalawaja,” sahut Ki Waskita

“Kiai Jalawaja ternyata seorang yang bertumpu pada harga diri dan keyakinannya.”

Kiai Gringsing termenung sejenak. Kemudian katanya, “Aku ingin ikut mencari Kiai Kalasa Sawit di dalam arena itu.”

“Marilah,” desis Ki Waskita, “kita berpisah.”

Kiai Gringsing mengangguk. Ia pun kemudian meninggalkan tempatnya bersama Ki Waskita, dengan tujuan yang berbeda.

Tetapi arena seolah-olah menjadi pepat. Pertempuran berlangsung dengan sengitnya seperti dalam perang brubuh yang kisruh. Lawan yang datang dari Tambak Wedi itu telah memusatkan kekuatannya pada pusat gelar prajurit Pajang.

Dengan demikian, maka di bagian lain dari arena itu, pertempuran menjadi semakin reda. Seolah-olah mengalir dan bermuara pada sebuah pusaran yang kalut.

Tetapi prajurit Pajang di dinding gelar yang lain menyadari keadaan itu, sehingga sebagian dari mereka pun berusaha untuk mencegah tekanan yang terlampau berat di pusat gelar.

Tetapi orang-orang Tambak Wedi itu agaknya tidak bermaksud memecahkan gelar Cakra Byuha itu. Yang mereka lakukan adalah sekedar usaha untuk melindungi pimpinannya dan merupakan suatu persiapan untuk meninggalkan arena pertempuran.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, sekali lagi prajurit Pajang melihat suatu isyarat. Bukan tanda-tanda bunyi, tetapi api yang terlontar di udara.

Demikian orang-orang Tambak Wedi itu melihat isyarat yang terlempar ke udara, oleh orang-orang yang sudah agak jauh dari pertempuran, maka seperti waduk yang terbuka dengan tiba-tiba, maka pasukan Tambak Wedi itu pun segera susut dari arena.

Sementara itu, Kiai Gringsing dan Ki Waskita masih tetap berusaha untuk menemukan Kiai Kalasa Sawit. Bahkan Ki Sumangkar yang kehilangan lawannya itu pun tidak tinggal diam. Ia juga berusaha untuk mencari jejaknya.

Berbeda dengan ketiga orang itu, maka Untara tidak meneruskan usahanya mencari Kiai Kalasa Sawit. Ia harus menguasai prajurit-prajuritnya, yang berusaha mendesak terus lawannya.

Namun ketika lawannya kemudian berpencaran dan berlarian mencari hidup masing-masing. Untara telah mencegah pasukannya untuk mengejar terus dalam keadaan seperti itu. Bahkan kemudian jatuhlah perintahnya, “Kita akan mengatur diri menghadapi orang-orang Tambak Wedi. Tetapi kalian harus menahan semua kelompok yang ada di medan ini, termasuk pimpinan mereka, Ki Raga Tunggal, Serat Wulung, Sampar Angin, dan yang lain-lain. Jangan biarkan mereka meninggalkan arena.”

Perintah itulah yang kemudian dijalankan oleh prajurit-prajurit Pajang.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian gelar Cakra Byuha itu pun seakan-akan berkembang semakin luas dan akhirnya mencakup seluruh arena, bersama pasukan cadangan yang berada di luar gelar.

Gerombolan-gerombolan di lereng Gunung Merapi, yang berhasil mendesak lawannya itu pun tidak berusaha mengejar lawan-lawan mereka. Apalagi ketika mereka pun melihat bahwa pasukan Pajang juga tidak langsung mengejarnya.

Namun, mereka kemudian terkejut ketika mereka melihat gerakan prajurit-prajurit Pajang yang kemudian justru telah mengepung mereka di arena.

“Apa yang akan dilakukan oleh Senapati Untara?” desis Ki Raga Tunggal.

“Gila! Apakah ia akan membinasakan kita sekarang juga, selagi arena ini sudah berbau mayat?” sahut Serat Wulung.

“Itu adalah perbuatan gila,” desis yang lain.

Tetapi yang lain lagi berkata, “Ini adalah kesempatan yang paling baik buat Untara untuk membunuh kita semuanya. Dengan demikian, ia akan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Seolah-olah kita semuanya telah ditumpas oleh orang-orang Tambak Wedi. Baru kemudian ia datang mengusir orang-orang Tambak Wedi itu.”

Berbagai tanggapan telah timbul di antara gerombolan-gerombolan itu. Namun pada dasarnya mereka merasa diri mereka telah terjebak.

“Apakah kita akan melawan Untara, seperti kita melawan orang-orang Tambak Wedi?” desis Sampar Angin.

Tetapi yang lain menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak ada gunanya. Kita akan menyerah, apa pun yang akan dilakukannya atas kita.”

“Juga jika ia membunuh kita di sini?”

“Menurut dugaanku, ia tidak akan melakukannya. Tetapi aku tidak tahu jika ia benar-benar menjadi gila, karena prajurit-prajuritnya jatuh menjadi korban peperangan ini.”

Beberapa orang di antara mereka menarik nafas dalam-dalam. Namun sebagian dari mereka di luar sadarnya telah memandang Ki Raga Tunggal yang gelisah, seolah-olah mereka menjatuhkan tuduhan, bahwa ia-lah yang menyebabkan semuanya itu.

Ki Raga Tunggal pun agaknya dapat merasakan sentuhan tatapan mata kawan-kawannya yang tajam menusuk ke jantungnya. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata dengan nada datar, “Birlah aku yang menjadi banten. Akulah yang akan menyerahkan diriku kepada Untara, untuk menerima hukuman apa saja yang akan dijatuhkan kepadaku. Karena aku dan orang-orangkulah yang telah membakar lereng Merapi ini, sehingga api pertempuran tidak dapat dihindarkan lagi.”

“Itu adalah maksudmu. Tetapi mungkin Untara mempunyai pertimbangan lain. Kita semuanya harus dibersihkan dari lereng Merapi, agar untuk selanjutnya kita tidak selalu mengganggu tugasnya.”

“Apa pun yang akan terjadi, baiklah kita akan menerimanya dengan senang hati,” desis yang lain lagi.

“Senang atau tidak senang,” geram Serat Wulung.

Sejenak kemudian, mereka pun berdiam diri. Mereka mendengar perintah Untara untuk mengumpulkan anak buah masing-masing dan meletakkan senjata.

“Ini adalah permulaan dari perjalanan kita, menuju ke tiang gantungan,” desis Sampar Angin.

Tidak ada yang menjawab. Tetapi tidak seorang pun yang dapat mengingkari perintah itu. Mereka pada umumnya sudah mengenal sifat Untara. Apalagi di peperangan, yang sudah dibasahi oleh darah prajurit-prajurit Pajang. Untara akan segera berubah menjadi seekor banteng yang terluka.

Semuanya berjalan dengan cepat. Sementara itu, Untara agaknya sedang berbincang dengan beberapa orang senapati yang lain di dalam pasukannya.

Sejenak kemudian, maka terdengar aba-aba, dan para senapati pun menjadi sibuk mengatur kelompok masing-masing.

Para pemimpin gerombolan-gerombolan yang ada di lereng Merapi menjadi heran melihat kesibukan yang sangat pada pasukan Pajang. Ternyata bahwa Pajang sudah membagi prajuritnya. Beberapa orang tinggal mengawasi gerombolan lereng Merapi yang sudah tidak bersenjata lagi. Namun yang lain telah sibuk menyusun barisan.

“Apakah yang akan mereka lakukan?” desis seseorang.

Yang lain menggelengkan kepalanya.

Tetapi akhirnya mereka pun mengetahuinya, bahwa Untara tidak mau melakukan kerja setengah-setengah. Ternyata ia sudah menyiapkan pasukan yang ada, dengan beberapa kelompoknya dari pasukan cadangan, untuk menyusul pasukan lawan ke Tambak Wedi.

“Kami akan menghancurkan pasukan Kalasa Sawit sampai orang yang terakhir. Menyerah atau mati,” desis Untara. “Karena itu, kalian jangan mengganggu kami. Siapa yang tidak mentaati perintah prajurit Pajang, akan kami binasakan, seperti Tambak Wedi.”

Tidak seorang pun yang menyahut. Semua orang tahu, bahwa dalam keadaan seperti itu Untara tidak sempat bergurau.

Demikianlah, maka Untara telah membawa pasukannya menyusul pasukan Tambak Wedi yang tercerai-berai. Untara yakin, bahwa mereka akan mundur dan memasuki padepokan Tambak Wedi yang mempunyai dinding di sekelilingnya.

Tetapi Untara sudah bertekad, Tambak Wedi harus dilumpuhkan sama sekali. Ia tahu benar, bahwa Kiai Kalasa Sawit telah banyak kehilangan anak buahnya. Yang terbunuh maupun yang terluka. Karena itu, maka menurut perhitungannya, prajurit Pajang yang masih ada dengan tenaga cadangan yang segar, akan dapat menguasai Tambak Wedi sepenuhnya.

Sejenak kemudian, maka Untara pun telah siap. Dengan kekuatan yang ada, maka Untara pun segera memberikan perintah kepada pasukannya untuk berangkat.

Prajurit cadangan yang datang kemudian, dan menemukan pertempuran itu sudah hampir berakhir, menjadi bagian terdepan pasukan yang menuju ke Tambak Wedi. Prajurit-prajurit yang lelah dan bahkan ada yang terluka, tetapi bertekad untuk tetap berada di dalam barisan, rasa-rasanya justru menjadi bertambah segar disentuh angin malam yang dingin di lereng Gunung Merapi.

Dalam beberapa saat, Untara sibuk dengan pasukannya. Ia masih belum tersisa. Tambak Wedi adalah daerah yang tidak terlampau mudah dijangkau. Mungkin pasukannya akan menghadapi lawan yang bersembunyi di balik batu-batu besar, dan menyerang sambil bersembunyi.

Namun Untara telah memisahkan sekelompok prajurit pilihan. Di dalam keadaan yang memaksa, mereka harus memisahkan diri. Merekalah yang ditugaskan untuk mengatasi serangan-serangan tersembunyi, dan dengan diam-diam mendekati lawan.

Tetapi ketika pasukan Untara sudah berjalan dengan teratur, maka Untara mulai teringat kepada tiga orang tua yang semula ada di dalam gelarnya.

“He,” ia pun kemudian bertanya kepada salah seorang senapatinya, “di manakah Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita?”

Senapati itu mengerutkan keningya. Namun ia pun kemudian menggeleng sambil menjawab, “Aku tidak melihatnya. Sejak pasukan Tambak Wedi mundur, aku tidak melihatnya lagi.”

Untara mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan mencarinya nanti. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu atas mereka.”

“Mereka berhasil mengalahkan lawan masing-masing. Orang yang menyebut dirinya bernama Jalawaja dapat dibunuh oleh Kiai Gringsing, meskipun di saat terakhir nampaknya ia seperti membunuh diri, karena Kiai Gringsing ingin menangkapnya hidup-hidup, sementara ia sudah tidak dapat berbuat apa-apa,” sahut salah seorang senapatinya.

Untara mengangguk-angguk pula. Tetapi ia tidak menjawab.

Demikianlah, dengan cepat pasukan Pajang itu bergerak mendaki lereng Gunung Merapi, yang disambut oleh embun di gelapnya malam. Namun sejenak kemudian, nampak warna semburat merah mulai membayang di Timur.

“Hampir fajar,” Untara berdesis di dalam hatinya, “apa pun waktunya, orang-orang Tambak Wedi itu harus ditangkap hidup atau mati. Mereka akan menjadi ulat yang selalu mengganggu kesuburan dan ketenangan Pajang untuk selamanya.”

Karena itu, Untara mempercepat gerak pasukannya. Sebelum fajar ia berniat sudah mengepung padepokan Tambak Wedi, yang berdinding batu di seputarnya.

Dalam pada itu, selagi pasukan Pajang bergerak semakin cepat memanjat lereng Merapi, maka Ki Sumangkar yang kehilangan lawannya menggeram dengan marah. Ia sadar, bahwa dalam gerak yang kacau, sesaat setelah terdengar isyarat dari Kiai Kalasa Sawit, maka pemimpin pasukan Tambak Wedi itu berhasil melepaskan dirinya dan lari menjauhi arena. Baru setelah agak jauh, ia melontarkan isyarat berikutnya, agar orang-orangnya pun meninggalkan arena pula.

Sejenak Ki Sumangkar termangu-mangu. Apakah ia akan menyusul lawannya sampai ke Tambak Wedi, atau ia harus menunggu perintah Untara dan menyesuaikan dirinya dengan pasukan Pajang itu.

Selagi ia termangu-mangu, maka terdengarlah langkah dua orang yang mendekatinya. Dalam keremangan malam, ia melihat dua bayangan yang berjalan tergesa-gesa. Namun, ia segera dapat mengenalnya, bahwa keduanya adalah Kiai Gringsing dan Ki Waskita yang sudah menyatu kembali setelah terpisah beberapa lama.

“Apakah kau berusaha menyusul lawanmu?” bertanya Kiai Gringsing kepada Ki Sumangkar.

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian gumamnya, “Aku kehilangan orang itu.”

“Aku dan Ki Waskita pun berusaha mencarinya. Bahkan kami sudah membagi diri. Namun kami tidak menemukannya. Agaknya ia hanyut dalam arus mundur orang-orangnya.”

“Tidak. Bahkan ia adalah orang yang pertama-tama meninggalkan arena dalam kekisruhan yang terjadi beberapa saat, yang dengan sengaja telah ditumbuhkannya, yang kemudian dari kejauhan memberikan isyarat dengan lontaran panah api ke udara.”

Kiai Gringsing dan Ki Waskita mengangguk-angguk.

“Apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Angger Untara?” bertanya Ki Sumangkar kemudian.

“Aku tidak tahu,” Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya.

“Dan apa yang akan kita lakukan?” bertanya Ki Waskita.

Kiai Gringsing merenung sejenak. Kemudian, “Tanda di dada Kiai Kalasa Sawit sangat menarik perhatian. Apakah kita akan melihat, apa yang telah terjadi kemudian di padepokan Tambak Wedi itu?”

Ki Sumangkar dan Ki Waskita saling berpandangan. Meskipun agak ragu, Ki Sumangkar mengangguk sambil berdesis, “Ya. Ada baiknya kita melihat, apa yang kini terjadi di padepokan tua itu. Mungkin kita mendapat gambaran serba sedikit tentang gerombolan raksasa yang masih diselimuti oleh kabut rahasia itu.”

Demikianlah, maka ketiganya bersepakat untuk pergi ke padepokan tua di Tambak Wedi. Mereka ingin mengetahui apa yang akan terjadi. Apakah orang-orang Tambak Wedi itu masih akan tetap bertahan di padepokan itu, atau mereka berniat untuk menentukan sikap yang lain.

Dengan hati-hati, mereka bertiga berjalan tergesa-gesa menyusuri jalan-jalan di lereng pegunungan. Kiai Gringsing masih tetap dapat mengenal jalan menuju ke padepokan itu dengan baik.

“Tidak banyak perubahan terjadi di sekitar daerah ini,” gumam Kiai Gringsing.

Kedua kawannya tidak menyahut. Tetapi kepala mereka terangguk-angguk kecil.

Semakin dekat mereka dengan Tambak Wedi, mereka pun menjadi semakin berhati-hati. Mereka sadar, bahwa di balik gerumbut-gerumbul liar di sebelah-menyebelah jalan yang mereka lalui, atau di balik batu-batu padas, dapat bersembunyi para pengawal padepokan tua itu.

“Kita tidak tahu sikap Angger Untara,” desis Kiai Gringsing, “tetapi menilik sifat dan wataknya, ia tidak akan berhenti.”

“Apakah pasukan Pajang akan menyusul ke Tambak Wedi?” bertanya Ki Sumangkar .

“Aku tidak tahu. Tetapi agaknya Angger Untara akan berkeras hati untuk menyelesaikan tugasnya sama sekali,” sahut Kiai Gringsing.

Ki Sumangkar mengangguk-angguk. Ia pun mengenal sifat Untara, sehingga menurut perhitungannya, Untara tentu akan menyusul lawannya sampai ke Tambak Wedi.

Kiai Gringsing, Ki Waskita, dan Ki Sumangkar menjadi heran, bahwa mereka tidak menemukan seorang pengawas pun di perjalanan menuju ke padepokan itu. Bahkan mereka menjadi curiga, bahwa Kiai Kalasa Sawit telah mempersiapkan sebuah jebakan yang dapat mencelakakan prajurit-prajurit Pajang, apabila Untara menyusul ke Tambak Wedi.

“Tetapi agaknya benar-benar sepi,” berkata Ki Waskita.

“Ya. Aku pun tidak mendengar sesuatu,” desis Kiai Gringsing.

Bahkan sejenak mereka mencoba memperhatikan keadaan di sekitarnya. Namun agaknya benar-benar sepi. Langit yang sudah mulai diwarnai oleh fajar, menjadi semakin merah. Bintang-bintang nampaknya menjadi semakin pudar. Di kejauhan terdengar suara ayam hutan yang berkokok bersahutan.

“Hampir fajar,” desis Kiai Gringsing.

“Kita akan mendapat kesulitan untuk mendekati padepokan tua itu,” sahut Sumangkar.

“Kita akan sampai sebelum fajar,” berkata Kiai Gringsing pula.

Ki Sumangkar dan Ki Waskita hanya mengangguk-angguk saja.

Dengan hati-hati, mereka pun merayap terus mendekati padepokan Tambak Wedi. Setiap kali mereka harus memperhatikan batu-batu besar yang berserakan. Namun ternyata bahwa tidak seorang pun yang mereka jumpai di sepanjang jalan itu.

“Apakah kita akan masuk?” bertanya Ki Waskita.

Kiai Gringsing ragu-ragu. Katanya, “Kita hanya bertiga. Bagaimanapun juga kita tidak akan dapat melawan semua orang yang ada di Tambak Wedi. Betapapun juga ilmu yang dapat dikuasai oleh seseorang, tetapi kemampuan kita tetap terbatas.”

“Jadi?”

“Kita hanya akan mengamati keadaan.”

Ki Sumangkar dan Ki Waskita mengangguk-angguk. Memang tidak ada yang dapat mereka lakukan selain mengamati keadaan. Kecuali apabila prajurit Pajang datang menyusul mereka ke Tambak Wedi.

Tetapi tiba-tiba saja ketiga orang itu terkejut, ketika mereka mendengar sebuah isyarat yang melengking dari arah padepokan tua itu. Dan sejenak kemudian, suara itu telah disahut oleh suara-suara lain, beberapa puluh langkah dari ketiga orang itu.

“Uh,” desis Ki Sumangkar, “hampir saja kita sampai ke tempat yang mereka awasi.”

“Ya. Tetapi kita akan dapat melihat mereka,” sahut Kiai Gringsing.

“Atau kitalah yang dapat mereka lihat.”

Kiai Gringsing tersenyum. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Isyarat apakah yang kita dengar itu?”

“Entahlah.”

“Marilah kita mendekati padepokan itu. Tetapi kita memang tidak seharusnya melalu jalan ini. Tentu pada suatu tempat kita akan dapat dilihat oleh para penjaga itu.”

“Kita akan menerobos belukar?” bertanya Ki Waskita.

“Ya.”

Ketiganya pun kemudian menyingsingkan kain panjang mereka. Dengan hati-hati mereka menyusup ke dalam pohon-pohon perdu liar di sebelah jalan dan langsung memotong arah menuju ke padepokan Tambak Wedi.

Ternyata bahwa Kiai Gringsing dapat mengetahui arah itu dengan tepat. Meskipun langkah mereka menjadi agak lamban, namun akhirnya mereka menjadi semakin dekat dengan padepokan tua itu.

“He, apa yang mereka lakukan?” desis Ki Sumangkar ketika pada suatu saat mereka tersembul dari sebuah belukar di dekat padepokan itu.

Sejenak mereka bertiga termangu-mangu menyaksikan orang-orang yang berada di padepokan itu sedang dalam kesibukan.

Kiai Gringsing, Ki Waskita, dan Ki Sumangkar memperhatikan kesibukan yang mereka lihat dalam keremangan malam. Orang-orang Tambak Wedi seolah-olah sedang mempersiapkan sebuah pasukan yang lengkap dan kuat.

“Apakah mereka akan kembali ke medan?” desis Ki Waskita.

Tidak ada jawaban. Rasa-rasanya ketiga orang itu telah di cengkam oleh suasana yang tidak mereka mengerti.

Dengan tegang, ketiga orang itu berusaha untuk bergeser semakin dekat untuk mengetahui apa yang dikerjakan oleh orang-orang yang berada di padepokan tua itu.

Sejenak kemudian, maka semakin banyaklah orang yang berada di muka regol padepokan. Bahkan kemudian ketiga orang yang bersembunyi itu melihat, beberapa ekor kuda yang membawa beban di punggungnya.

“Agaknya mereka akan meninggalkan padepokan tua itu,” desis Ki Sumangkar.

Kiai Gringsing dan Ki Waskita mengangguk-angguk.

“Mereka merasa bahwa kedudukan mereka terancam.”

“Ya, dan agaknya mereka baru menyadari sifat dan watak Untara. Menurut perhitungan Kiai Kalasa Sawit, Untara tentu akan menyusul mereka ke Tambak Wedi.”

Sejenak ketiga orang itu pun berdiam diri melihat suasana, yang semakin lama justru menjadi semakin jelas, karena langit menjadi semakin merah.

Tetapi orang-orang di Tambak Wedi itu tidak mau didahului oleh cahaya fajar yang terbit di Timur. Sejenak kemudian mereka pun telah siap, dan terdengar lamat-lamat Kiai Kalasa Sawit meneriakkan aba-aba, “Kita akan segera pergi meninggalkan padepokan yang sial ini. Justru selagi kita singgah beberapa hari di sini, kita sudah kehilangan seorang yang paling dipercaya. Kakang Jalawaja. Karena itu, kita harus segera pergi. Kita tidak mau kehilangan lebih banyak lagi. Setan yang bersenjata cambuk dan iblis tua dari Jipang itu ternyata berada di dalam barisan Pajang. Tanpa mereka, Pajang sudah kita hancurkan.”

Tidak seorang pun terdengar berbicara.

“Nah, marilah kita berangkat. Mereka yang berkuda, akan berada di depan. Mereka harus memilih jalan yang paling aman bagi pasukan kita. Sementara matahari berada di langit, kita akan berada di dalam hutan belukar di lereng Merapi sampai menjelang senja. Barulah kita akan menentukan arah yang sebenarnya, menuju ke lembah di antara Merapi dan Merbabu.”

Demikianlah, pasukan berkuda dari gerombolan yang dipimpin oleh Kiai Kalasa Sawit itu pun mulai bergerak. Satu-satu, mereka melintas tidak terlampau jauh dari Kiai Gringsing dan kedua kawannya, sehingga ketiga orang tua itu harus menahan nafas, agar desahnya tidak terdengar oleh orang-orang yang sedang lewat itu. Apalagi jika di antara mereka mempunyai ilmu yang dapat mempertajam pendengaran. Ilmu Sapta Pangrungu.

Tetapi tidak seorang pun yang berpaling. Sampai saatnya pimpinan pasukan itu lewat di hadapan ketiga orang itu.

Namun rasa-rasanya ketiga orang itu justru telah dicengkam perasaan masing-masing, ketika mereka melihat Kiai Kalasa Sawit berjalan dengan senjata telanjang di antara beberapa orang pengawal pilihan. Di mukanya berjalan tiga orang yang bertubuh raksasa, yang tidak dijumpai di medan perang yang baru saja terjadi. Agaknya ketiga orang itu tidak ikut serta bersama pasukan Kiai Kalasa Sawit maupun Kiai Jalawaja.

Yang rasa-rasanya telah membekukan darah ketiga orang-orang tua yang berada di balik gerumbul liar di pinggir jalan itu, adalah seseorang yang berjalan di hadapan tiga orang raksasa itu. Seorang yang berjalan sambil membawa sebuah senjata yang diselubungi oleh sehelai kain putih. Senjata yang bertangkai panjang, yang agaknya adalah sepucuk tombak.

Kiai Gringsing menggamit kedua kawannya yang berpaling memandanginya dengan tatapan mata yang bagaikan menyala.

Ketika Kiai Kalasa Sawit telah lewat beberapa langkah, dan yang kemudian berjalan beriringan adalah orang-orang Kiai Kalasa Sawit yang jumlahnya ternyata masih cukup banyak, maka Kiai Gringsing baru sempat berbisik, “Kau lihat tombak itu?”

“Mencurigakan sekali,” desis Ki Sumangkar.

“Apakah tombak itu yang hilang dari Mataram?” bertanya Ki Waskita.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia menimbang-nimbang apakah yang dapat dilakukannya.

“Kita tidak akan dapat merebutnya sekarang,” desis Kiai Gringsing. “Jika saja pasukan Pajang bergerak ke Tambak Wedi sebelum mereka meninggalkan padepokan ini.”

“Kiai,” berkata Ki Waskita, “apakah sebaiknya aku mencoba membuat permainan, agar mereka menjadi bingung dan memberikan kesempatan kepada kita untuk mengambil tombak itu?”

“Apakah kau yakin, bahwa beberapa orang di sekitar tombak itu dapat kita kelabui dengan bentuk semu?”

Ki Waskita termangu-mangu. Kemudian ia berdesis, “Agaknya para pengawal khusus itu bukanlah orang kebanyakan. Tentu mereka tidak akan dapat kita bingungkan dengan bentuk-bentuk semu.”

“Dan kita tidak tahu pasti, berapa jumlah orang yang memiliki kelebihan seperti Kiai Kalasa Sawit dan Kiai Jalawaja. Orang-orang yang bertubuh raksasa itu pun harus diperhitungkan. Demikian juga agaknya sekelompok orang yang bersenjata telanjang di belakang Kiai Kalasa Sawit.”

Kiai Gringsing masih sempat pula berdesis, “Agak berbeda dengan orang-orang yang membawa pusaka, yang lain menyeberang Kali Praga. Mereka berusaha dengan diam-diam tanpa diketahui oleh siapa pun bergeser ke Barat. Tetapi pusaka yang sebuah lagi agaknya telah dikawal oleh kekuatan segelar sepapan.”

Kedua kawannya hanya mengangguk-angguk saja.

Dalam pada itu, iring-iringan itu berjalan terus, semakin lama semakin cepat. Mereka ingin melenyapkan diri ke dalam lebatnya hutan di lereng Gunung Merapi sebelum matahari terbit di Timur, agar tidak akan dapat disusul oleh prajurit Pajang yang ternyata cukup kuat pula.

Dalam keragu-raguan itulah Kiai Gringsing menjadi semakin gelisah. Rasa-rasanya ingin ia mengikuti iring-iringan itu sampai ke tempat yang mungkin dapat dikenalnya. Memang bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu dua hari. Tetapi mungkin sepekan dua pekan, bahkan dengan menghadapi kemungkinan-kemungkinan pahit.

Tetapi jika kemudian sekilas teringat olehnya, bahwa muridnya harus segera melakukan upacara perkawinan, maka ia pun menjadi kecewa.

“Aku menjadi bingung,” desis Kiai Gringsing, “kesempatan ini seharusnya dapat kita pergunakan untuk mengetahui arah jengkarnya pusaka itu dari Mataram.”

“Kita akan mengikutinya,” berkata Ki Sumangkar.

“Tetapi di dalam waktu dekat, Swandaru akan melangsungkan perkawinannya. Dan aku adalah orang yang mungkin diperlukan.”

Ki Sumangkar dan Ki Waskita mengangguk-angguk. Dan meskipun dengan ragu-ragu, Ki Waskita bertanya, “Apakah Kiai sependapat, jika aku pergi mengikuti iring-iringan itu?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Itu adalah suatu pekerjaan yang sangat berbahaya. Tentu Ki Waskita dapat memperhitungkan akibat apakah yang dapat terjadi jika pada suatu saat, Ki Waskita diketahui oleh mereka.”

“Aku adalah seorang yang memiliki kemampuan berlari cepat,” jawabnya sambil tersenyum.

Tetapi Kiai Gringsing menggeleng, “Tidak, Ki Waskita. Kita masih mempunyai perhitungan yang wajar. Bahwa jiwa seseorang tidak dapat dikorbankan begitu saja. Dan bukankah puteramu sedang menunggu pula di Sangkal Putung?”

“Bagaimana dengan aku?” bertanya Ki Sumangkar.

“Aku kira, pekerjaan itu akan sia-sia saja, Adi. Adalah sulit sekali untuk mengikuti sepasukan yang kuat seperti pasukan Kiai Kalasa Sawit itu. Namun setidak-tidaknya kita sudah dapat melihat, bahwa orang yang bernama Kiai Kalasa Sawit-lah yang mendapat tugas untuk menyingkirkan Kanjeng Kiai Pleret. Itu pun jika dugaan kita benar, bahwa tombak itu adalah Kanjeng Kiai Pleret.”

“Aku kira tidak salah lagi, bahwa tombak itu adalah Kanjeng Kiai Pleret. Tetapi aku pun sependapat, bahwa hampir tidak ada gunanya untuk mengikuti pasukan yang akan berjalan untuk waktu yang tidak diketahui dan arah yang tidak diketahui pula. Namun mungkin ada cara lain untuk mengetahui, kemanakah iring-iringan itu pergi.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia bertanya, “Cara apakah yang kau maksudkan?”

“Jika Kiai setuju, aku akan mengikuti jejaknya. Tidak terlalu dekat dengan pasukannya. Mereka tentu akan berhenti di suatu tempat.”

“Seperti Tambak Wedi,” jawab Kiai Gringsing, “yang satu dua hari akan mereka tinggalkan lagi.”

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya. Agaknya memang tidak banyak gunanya mengikuti mereka.”

“Karena itu, biarlah mereka pergi. Pada suatu saat kita akan menemui lagi Kiai Kalasa Sawit dengan pasukan segelar sepapan. Tidak dengan pasukan Pajang, tetapi dengan pasukan Mataram,” berkata Kiai Gringsing seolah-olah kepada dirinya sendiri.

Ki Sumangkar dan Ki Waskita mengangguk-angguk. Mereka pun kemudian menyadari, bahwa yang kehilangan adalah Mataram. Jika pusaka itu diketemukan oleh Pajang, dan kemudian disampaikan kepada Sultan Hadiwijaya, maka Sultan Pajang itu tentu akan marah dan kecewa terhadap putera angkatnya yang terkasih, Danang Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar, namun yang kemudian telah diwisuda menjadi Senapati Ing Ngalaga dan berkedudukan di Mataram.

“Nah, sebaiknya kita sekarang menentukan sikap yang lain,” berkata Kiai Gringsing.

“Apa yang akan kita lakukan? Padepokan itu tentu sudah kosong.”

“Marilah kita melihat, apa yang tertinggal di dalamnya.”

Ketiga orang itu pun kemudian muncul dari balik gerumbul. Orang terakhir dari pasukan Tambak Wedi sudah lewat, dan hilang di tikungan. Sementara langit menjadi semakin terang oleh cahaya fajar.

Ketiga orang tua itu pun kemudian mendekati padepokan Tambak Wedi. Pintu itu nampak, bahwa Tambak Wedi memang sudah sepi sekali. Tidak nampak lagi seorang pun yang tinggal di dalam lingkungan dinding batu itu.

“Padepokan itu sudah kosong,” desis Ki Waskita.

“Padepokan itu cukup luas,” berkata Kiai Gringsing, “hampir seperti sebuah padukuhan kecil. Sebatang sungai mengalir melalui terowongan di bawah dinding, membelah padepokan itu.”

“Kiai mengenal padepokan ini dengan baik.”

“Aku pernah memasuki padepokan ini lewat terowongan air itu.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Sementara mereka pun kemudian memasuki regol yang terbuka itu.

Tambak Wedi memang sudah kosong. Tidak ada lagi seorang pun yang nampak di dalamnya.

Tetapi bahwa orang-orang yang untuk beberapa saat tinggal di padepokan itu telah pergi dengan tergesa-gesa, nampak pada beberapa macam barang mereka yang tertinggal. Namun hanyalah barang-barang yang tidak penting, yang akan dapat mereka cari di sepanjang perjalanan mereka.

Kiai Gringsing dan kedua kawannya pun kemudian, memasuki padepokan itu lebih dalam lagi. Mereka menemukan baberapa karung barang-barang yang agaknya tidak sempat dibawa. Tetapi barang-barang itu pun bukan merupakan barang penting bagi Kiai Kalasa Sawit, meskipun agaknya barang-barang itu mempunyai nilai yang cukup mahal. Namun barang-barang semacam itu akan mudah didapat oleh Kiai Kalasa Sawit kemana pun ia pergi. Karena barang-barang itu tentu hasil yang mereka peroleh dari kekerasan. Merampok, menyamun, dan tindakan-tindakan lain serupa itu, dengan dalih dana bagi perjuangan mereka, seperti yang dialami oleh ketiga orang tua itu di jalan ke Sangkal Putung.

Namun Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam, ketika mereka melihat beberapa sosok mayat yang terbaring di lantai pendapa padepokan itu. Agaknya mereka adalah orang-orang yang terluka yang sempat mereka bawa mundur, tetapi ternyata nyawanya sudah tidak tertolong lagi.

Kiai Gringsing mendekati mereka itu, meskipun masih harus dengan hati-hati.

“Kiai Kalasa Sawit tidak sempat mengubur mereka,” desis Ki Waskita.

“Ya. Benar-benar tidak sempat.”

Ki Sumangkar yang mendekat pula, telah memungut sebuah bindi di dekat sesosok mayat yang agaknya balum terlalu lama meninggal. Pada bindi itu ia melihat pahatan seekor kelelawar dengan sayap yang mengembang.

“Tidak salah lagi,” desis Ki Sumangkar, “sadar atau tidak sadar, maka pahatan kelelawar itu tentu ada sangkut pautnya dengan gerombolan ini.”

Kiai Gringsing dan Ki Waskita mengangguk-angguk.

Namun tiba-tiba mereka terkejut, ketika mereka mendengar suara seseorang yang sedang merintih. Dengan tergesa-gesa mereka menerobos pintu pringgitan, meskipun mereka sama sekali tidak meninggalkan kewaspadaan.

Di ruang dalam, mereka bertiga melihat beberapa orang lagi yang terbaring. Bahkan ada di antara mereka yang agaknya masih hidup. Tetapi ada pula yang sudah tidak tertolong lagi.

Dengan naluri yang ada di dalam dirinya sebagai seorang dukun, maka Kiai Gringsing pun segera menolong mereka yang masih hidup. Bersama Ki Sumangkar dan Ki Waskita, maka mereka pun telah menyisihkan tiga orang di antara mereka yang terbaring diam.

“Air,” desis salah seorang dari ketiga orang itu.

Dengan cekatan Ki Waskita pun telah mengambil air ke sumur di belakang rumah itu. Namun dengan berdebar-debar ia melihat sesosok mayat lagi di dekat sumur itu.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Lebih dari sepuluh orang yang berhasil dibawa mundur oleh orang-orang Kiai Kalasa Sawit. Bahkan mungkin masih ada di antara mereka yang terluka ikut meninggalkan padepokan ini.

“Mungkin mereka adalah orang-orang yang berkuda di dalam pasukan itu,” desis Ki Waskita di dalam hatinya.

Ketika ia kemudian masuk kembali ke dalam rumah itu dengan membawa air pada sebuah mangkuk tanah yang diketemukannya di dalam rumah itu pula, ia melihat Kiai Gringsing sudah mulai mencoba mengobati luka-luka orang itu.

Titik-titik air itu agaknya membuat ketiga orang yang terluka itu menjadi segar.

“Biarlah mereka hidup,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “selain tugas kemanusiaan, maka mereka akan dapat memberikan sedikit ceritera tentang gerombolannya.”

Namun dalam pada itu, selagi Kiai Gringsing dan kedua kawannya berusaha menyelamatkan nyawa katiga orang itu, terdengar derap kaki kuda di luar padepokan.

Karena itu, sejenak mereka termangu-mangu. Namun sejenak kemudian mereka pun telah meloncat berdiri dan bersiaga menghadapi segala kemungkinan.

“Kita keluar lewat pintu belakang. Mungkin sekelompok orang-orang Kiai Kalasa Sawit kembali untuk mengambil sesuatu yang tertinggal, yang dianggapnya cukup berharga.”

Demikianlah, ketiganya dengan hati-hati keluar lewat pintu belakang. Sejenak mereka mengawasi keadaan. Namun ternyata beberapa ekor kuda itu masih berada di luar regol.

“Siapakah mereka?” bertanya Ki Sumangkar ragu-ragu, “Tentu bukan orang-orang Kiai Kalasa Sawit.”

Ki Waskita termenung sejenak. Ia melihat sekilas seekor kuda yang bergerak di depan pintu gerbang. Tetapi sejenak kemudian, kuda itu telah hilang.

Perlahan-lahan Ki Waskita berdesis, “Aku melihat seorang prajurit.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika demikian, maka dugaan kita benar. Ternyata Angger Untara benar-benar Angger Untara seperti yang kita bayangkan.”

“Prajurit Pajang telah menyusul ke padepokan ini,” sambung Ki Sumangkar. “Sayang, agak terlambat.”

“Marilah kita temui mereka,” berkata Kiai Gringsing.

Ketiganya pun kemudian berjalan ke regol. Pada saat yang bersamaan, ia melihat beberapa ekor kuda yang berlari-larian di depan pintu gerbang. Dan sejenak kemudian, sebuah iring-iringan pasukan segelar sepapan yang menebar. Tetapi pasukan itu tidak segera mengepung padepokan Tambak Wedi.

“Agaknya Angger Untara sudah mendapat laporan, bahwa padepokan ini telah kosong,” desis Kiai Gringsing.

Ki Sumangkar dan Ki Waskita mengangguk-angguk. Untara memang bukan baru sejak kemarin sore menjadi seorang prajurit. Ia adalah seorang senapati yang mempunyai perhitungan yang masak, selain seorang yang mampu bertindak tegas dan cepat.

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s