ADBM1-094

<<kembali | lanjut >>

SETIAP KALI mereka melihat gardu parondan, Ki Waskita mengangguk-angguk sambil bergumam, “Bukan main. Ini adalah gambaran dari kekuatan Tanah Perdikan Menoreh yang sebenarnya. Apalagi agaknya mereka bukan saja anak-anak muda yang hanya pandai menggenggam cangkul dan bajak. Tetapi juga anak-anak muda yang pandai memegang pedang.”

Ki Argapati mengangguk-angguk pula. Jawabnya, “Peristiwa-peristiwa yang terjadi di atas Tanah Perdikan ini telah menempa anak-anak mudanya untuk menyiapkan diri menghadapi segala macam kemungkinan. Mereka ikut serta mengalami pahit getir selama api-api pertentangan berkobar membakar Tanah Perdikan ini. Terutama di saat-saat terakhir.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Ternyata bukan saja anak-anak muda Ki Gede. Setiap kali kita menjumpai beberapa orang laki-laki yang sudah tidak dapat disebut anak-anak muda lagi, duduk dalam lingkaran di simpang-simpang tiga atau empat di dalam padukuhan mereka di malam hari, di bawah lampu obor yang kemerah-merahan. Tentu mereka bukan hanya sekedar ingin duduk dan bercakap-cakap di antara mereka.”

“Mereka memberikan sentuhan kepada anak-anak mudanya, agar mereka berbuat lebih banyak dari yang tua-tua,” jawab Ki Argapati, “tetapi selebihnya, mereka pun merasa wajib pula untuk mengamati keadaan padukuhan masing-masing.”

“Dalam keadaan yang gawat, mereka tidak dapat diabaikan,” berkata Ki Waskita. “Justru mereka telah memiliki pengalaman yang lebih banyak dari anak-anak mudanya.”

Ki Gede Menoreh hanya mengangguk-angguk saja. Terbayang kembali pertentangan yang telah menyala di antara keluarga sendiri di atas Tanah Perdikah Menoreh, sehingga hampir saja membakar Tanah Perdikan ini menjadi hangus. Untunglah, bahwa akhirnya api itu dapat dipadamkan, meskipun harus ada korban-korban yang sangat berharga bagi Tanah Perdikan ini.

Demikianlah dalam keseluruhan, Tanah Perdikan Menoreh sudah siap menghadapi segala kemungkinan, sehingga tidak ada lagi yang perlu dicemaskan. Pandan Wangi yang menjelang hari-hari perkawinannya sama sekali tidak dapat ikut serta dalam kesiagaan itu, namun dari ayahnya dan dari para pemimpin pengawal ia mendengar, bahwa Tanah Perdikan Menoreh bagaikan menyiapkan diri untuk menghadapi peperangan yang gawat.

Dalam pada itu, selagi Menoreh mempersiapkan dirinya, di kaki bukit kecil, sekelompok orang-orang yang tegang sedang memperbincangkan hasil yang telah mereka peroleh di dalam tugas mereka. Pemimpin kelompok itu seorang yang berkumis lebat dan berambut terurai di bawah ikat kepala yang tidak dilingkarkan di kepalanya, tetapi hanya disangkutkannya saja melingkari tengkuknya, berjalan hilir-mudik dengan gelisahnya.

“Besok pagi-pagi, sebelum matahari sepenggalah, kami harus sudah berada di kaki Gunung Tidar. Di sana kami harus menghadap Empu Pinang Aring.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Apa katanya jika ia mengetahui bahwa beberapa orang kawan kita sudah mati terbunuh di Tanah Perdikan Menoreh?”

Seorang di antara mereka bergeser setapak, lalu katanya, “Tetapi itu adalah hal yang sangat wajar. Aku pun hampir mati pula di padukuhan induk.”

“Dan kau tinggalkan dua sosok mayat kawanmu di sana.”

Orang itu pun termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan nada yang tinggi ia berkata, “Tidak ada kesempatan untuk membawa mereka. He, apakah mungkin aku melakukannya dalam keadaan seperti itu? Juga aku tidak menemukan mayat kawan-kawan kita yang terdahulu mati.”

Pemimpin kelompok yang rambutnya terurai itu menggeram. Lalu katanya, “Kelompok ini adalah kelompok yang paling sial. Yang kita dapatkan tidak seberapa banyak, tetapi kita harus mengorbankan lima orang kawan. Itu sudah keterlaluan.”

“Kita belum bertemu dengan kelompok-kelompok lain. Kita tidak dapat mengatakan, bahwa hasil kitalah yang paling sedikit. Juga kita belum tahu, mungkin ada korban yang lebih banyak lagi.”

“Mudah-mudahan tidak. Mudah-mudahan kitalah yang telah membayar paling mahal. Jika ada lagi kelompok yang harus mengalami bencana seperti kelompok kita, maka kita akan menjadi lemah. Dan itu berarti kedudukan kita di dalam pembicaraan di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu pun akan lemah pula. Jika kekuatan kita tidak memadai, juga dana perjuangan yang kita dapatkan tidak cukup, maka kita akan dikesampingkan dari pembicaraan. Setidak-tidaknya suara kita sama sekali tidak akan berarti apa-apa.”

“Kedudukan pertemuan itu sudah berubah. Kematian Kiai Jalawaja akan mempengaruhi keadaan.”

“Mungkin ada orang lain yang menggantikannya,” jawab yang lain, “atau seandainya tidak ada orang sekuat Jalawaja, namun kelompoknya tentu akan tetap diperhitungkan, karena kelompok yang dipimpin oleh Kiai Jalawaja itu cukup kuat, di samping kelompok Kiai Kalasa Sawit.”

Yang lain mengangguk-angguk. Terbayang di dalam angan-angan mereka, pertemuan yang tegang di lembah antara Gunung Merbabu dan Merapi.

“Bukan pertemuan seperti yang akan berlangsung di Tanah Perdikan Manoreh,” gumam orang yang rambutnya terurai. “Dan kau hampir saja membuat Tanah Perdikan Menoreh berkabung, bersama Pandan Wangi itu, gadis yang akan kawin beberapa hari mendatang. Jika demikian maka Menoreh benar-benar akan kehilangan kegembiraannya. Tetapi dendamnya akan menyala sampai ke ujung bumi. Dan Ki Gede Menoreh bukan orang yang tidak diperhitungkan sekarang ini. Jika ia ikut campur bersama pasukan pengawalnya, maka kita akan semakin kehilangan kesempatan.”

“Untunglah bahwa gadis itu sempat mengelak.”

“Bukan hanya sempat mengelak. Jika dilepaskan di arena, maka kau berdua tidak akan dapat mengalahkannya.”

“He?”

“Kau memang dungu. Kau tidak mengetahui apa yang seharusnya kau ketahui. Gadis Menoreh itu lebih dahsyat dari seekor macan betina yang kelaparan. Aku lupa memberitahukan hal itu kepadamu, saat kau berdua mencari kawan-kawanmu yang hilang.”

“Tetapi ia tidak berbuat apa-apa kecuali mengelak.”

“Ia sudah siap untuk duduk bersanding sebagai pengantin. Karena itu ia tidak menerkammu.”

Orang yang berhasil melarikan diri dari pedukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk.

“Baiklah,” berkata pemimpin kelompok yang rambutnya terurai itu, “kita akan menghadap ke Gunung Tidar dengan keadaan seperti yang kita alami sekarang ini. Tidak lebih dan tidak kurang.”

“Mudah-mudahan kita kemudian datang ke lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu itu dengan kekuatan dan dana yang cukup, sehingga kita tidak akan sekedar tersisih. Empu Pinang Aring yang telah ikut serta mengambil bagian dalam perjuangan sekarang ini, harus diperhitungkan oleh orang-orang yang memakai ciri kelelawar itu. Mereka tidak akan cukup kuat untuk berdiri sendiri tanpa kekuatan-kekuatan yang lain.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk.

“Bersiaplah. Kita akan berangkat menjelang senja. Kita akan berada di perjalanan sepanjang malam hari. Mungkin waktu itulah yang terbaik bagi kita.”

“Terbaik dan teraman,” sahut yang lain, “meskipun kita akan menguap sepanjang jalan.”

Demikianlah maka sekelompok orang-orang itu pun segera mempersiapkan diri. Mereka telah membenahi semua barang-barang dan uang yang mereka dapatkan selama mereka menjelajahi Tanah Perdikan Menoreh dan sekitarnya, meskipun mereka harus melepaskan beberapa orang kawan mereka.

Menjelang senja, maka kelompok kecil itu pun telah bersiap. Mereka akan menempuh perjalanan semalam suntuk dan di pagi hari menjelang matahari naik sepenggalah.

“Apakah kita sudah tidak mempunyai waktu lagi menjelang pertemuan di lembah antara kedua gunung itu?” bertanya seseorang dari antara mereka.

“Kita tidak tahu pasti, kapan pertemuan itu diadakan. Tetapi Empu Pinang Aring memberi batas waktu kepada kita sampai besok menjelang matahari naik sepenggalah. Mungkin pertemuan itu masih akan berlangsung beberapa hari lagi. Sementara Empu Pinang Aring masih sempat berbuat sesuatu jika ada kekurangan pada persiapan kita menjelang saat-saat pertemuan itu,” jawab orang yang rambutnya terurai, “karena dalam pertemuan itulah, akan diatur imbangan kekuatan dan tentu juga imbangan kekuasaan yang akan diperoleh kelak, selama perjuangan selanjutnya dan bahkan apabila kekuasaan Pajang benar-benar sudah kembali kepada garis keturunan Majapahit.”

“Dan orang berciri kelelawar itulah yang merasa dirinya keturunan langsung dari Majapahit.”

“Bukan hanya Kiai Kalasa Sawit. Juga Empu Pinang Aring adalah keturunan langsung dari Prabu Brawijaya Pamungkas. Dan bahkan masih banyak orang terlibat di dalamnya dan merasa dirinya keturunan langsung dari Majapahit. Dan patut kalian ketahui, orang pertama dari ciri kelelawar itu bukan Kiai Kalasa Sawit. Ia adalah orang yang berada pada tataran yang sama dengan Kiai Jalawaja, Empu Pinang Aring, dan beberapa orang yang lain.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka pun pernah mendengar tentang orang-orang yang tidak mereka kenal, namun yang memiliki kekuasaan lebih banyak dari pemimpm-pemimpin kelompok yang langsung terjun ke dalam gelanggang.

Namun mereka tidak terlalu banyak memikirkan orang-orang yang tidak mereka kenal itu. Itu adalah tugas pemimpin-pemimpin mereka. Yang penting mereka dapat menjalankan tugas yang dibebankan kepada mereka sebaik-baiknya, sehingga jika kelak perjuangan itu berhasil, mereka akan mendapat kedudukan yang baik. Sawah pelungguh yang luas dan kedudukan yang memadai di padukuhannya. Mungkin seorang demang atau bebahu yang lain. Jika ia terjun ke dalam lingkungan keprajuritan maka kelak akan mendapat kedudukan sebagai seorang lurah dengan seratus orang anak buah.

Ketika mereka meninggalkan bukit kecil, langit sudah mulai disentuh oleh warna senja. Bibir mega yang putih, nampak kemerah-merahan oleh sinar matahari yang sudah hampir terbenam.

“Kita tidak memintas lewat tengah-tengah hutan,” berkata pemimpin kelompok yang rambutnya terurai itu.

“Bukankah jalan itu lebih dekat?” bertanya seseorang di antara mereka.

“Tetapi kita akan justru lebih lama sampai, karena di malam hari jalan itu sulit ditembus. Kita akan menyusur di sepanjang jalan sempit di pinggir hutan dan sekali-sekali menembus padukuhaan-padukuhan itu tidak akan dapat menghambat perjalanan kami.”

“Tetapi Menoreh telah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan,” memotong seorang yang bertubuh kecil.

“Kita berada di luar Tanah Perdikan Menoreh. Kademangan kecil di sebelah Tanah Perdikan itu tidak akan dapat banyak berbuat apa pun juga terhadap kita. Tetapi kita pun tidak akan mendapat apa pun juga di daerah yang gersang itu.”

“Daerah itu justru banyak tergantung kepada Tanah Perdikan Menoreh, terutama di musim paceklik.”

“Jika demikian, kita tidak perlu cemas.”

Meskipun demikian iring-iringan kecil itu tidak dapat meninggalkan kewaspadaan. Mereka sadar, bahwa orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh yang meronda akan sampai ke daerah itu juga meskipun jarang sekali. Daerah perbatasan ternyata telah mendapat perhatian yang meningkat setelah peristiwa yang mengguncang ketenangan Tanah Perdikan itu terjadi, justru menghadap hari-hari perkawinan anak perempuan Ki Gede Menoreh sendiri.

Semakin jauh iring-iringan itu dari perbatasan Menoreh, maka mereka pun merasa semakin aman. Padukuhan-padukuhan kecil yang akan mereka lalui tidak akan dapat mengganggu perjalanan mereka menuju ke kaki Gunung Tidar. Apalagi di malam hari yang gelap. Maka tidak akan ada seorang pun yang akan dapat menghentikan mereka.

Seperti yang mereka perhitungkan, maka perjalanan itu sama sekali tidak mengalami gangguan. Setelah mereka meninggalkan daerah yang berhutan lebat, maka mereka pun sekali-sekali memasuki bulak-bulak persawahan yang gersang, meskipun nampak tanaman palawija yang berwarna kekuning-kuningan.

Berbeda dengan Tanah Perdikan Menoreh, meskipun daerah itu hanya dibatasi oleh ujung hutan dan bukit-bukit kecil, namun tata kehidupan di kademangan itu sudah jauh berbeda. Bukan saja karena kegairahan hidup yang berbeda, tetapi tanah dan alam di kademangan itu agak berbeda pula dengan Tanah Perdikan Menoreh, yang dipimpin oleh seseorang yang selalu berusaha menaklukkan dan memanfaatkan alam bagi kesejahteraan kampung halaman.

Kademangan kecil itu telah terlibat dalam sebuah putaran yang tidak berujung pangkal. Rakyatnya yang miskin tidak sempat untuk memikirkan usaha-usaha lain kecuali mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Namun dengan demikian, tanah yang rasa-rasanya menjadi semakin kering itu tidak dapat memberikan apa-apa kepada mereka. Dengan demikian hidup mereka menjadi semakin miskin, sehingga mereka semakin tidak sempat lagi untuk berbuat sesuatu.

Tidak ada orang yang berani mematahkan dinding lingkaran itu. Pernah Ki Gede Menoreh mencoba juga untuk memberikan beberapa petunjuk terhadap tetangganya itu. Tetapi tidak seorang pun yang berani mencobanya.

Demikianlah iring-iringan itu pun melalui padukuhan-padukuhan yang gelap dan seolah-olah tidak bernafas lagi. Lampu-lampu minyak hanya nampak di beberapa rumah yang agak lebih baik dari rumah-rumah disekitarnya.

Namun dengan demikian, perjalanan mereka sama sekali tidak terganggu karenanya.

Sementara itu, di Tanah Perdikan Menoreh, anak-anak muda semakin banyak berada di gardu-gardu. Bahkan untuk mengisi waktu-waktu yang luang di ujung malam, beberapa orang dari mereka telah pergi keluar padukuhan dengan beberapa orang pengawal. Mereka mempergunakan kesempatan untuk melatih diri mempergunakan senjata sebaik-baiknya, agar jika terjadi sesuatu, mereka tidak menjadi bingung dan kehilangan akal.

“Mungkin, pada suatu saat, kita harus mempergunakannya,” berkata seorang pengawal yang masih muda.

Dan dengan penuh gairah anak-anak muda itu pun telah melatih dirinya dalam olah kanuragan.

Namun dalam pada itu, Ki Gede Menoreh masih juga memikirkan kemungkinan yang dapat terjadi, apabila iring-iringan pengantin dari Sangkal Putung itu berada di perjalanan. Dalam iring-iringan itu tentu akan terdapat beberapa macam barang berharga. Sebagian besar dari mereka, tentu akan membawa pakaian dan kelengkapan yang pantas untuk menghadiri saat-saat perkawinan, meskipun belum mereka pakai di sepanjang jalan.

“Jika keberangkatan mereka itu tercium oleh orang-orang yang berdalih mengumpulkan dana itu, maka akan dapat terjadi kemungkinan yang kurang menguntungkan,” berkata Ki Argapati ketika ia duduk bersama Ki Waskita di pendapa.

Ki Waskita mengangguk-angguk. Jawabnya, “Orang-orang yang disebut mencari dana perjuangan itu pada hakekatnya adalah penyamun-penyamun dan perampok-perampok. Tetapi mereka memiliki kekuatan yang tidak dapat diduga.”

Ki Argapati pun mengangguk-angguk pula. Ia sependapat dengan Ki Waskita, bahwa yang mereka hadapi sekarang bukanlah perampok-perampok dan penyamun-penyamun yang sewajarnya. Tetapi mereka adalah sekelompok orang-orang yang memiliki kekuatan yang bahkan merasa mampu untuk pada suatu saat bersiap melawan Pajang dan Mataram.

“Menurut mereka,” berkata Ki Waskita, “kekuatan mereka berakar sampai ke kadipaten-kadipaten di Pesisir Lor dan Bang Wetan. Dan itu sangat mencemaskan.”

Ki Argapati merenung sejenak. Seolah-olah ia sedang mempertimbangkan kebenaran keterangan itu. Namun kemudian ia menggeleng, “Aku kira tidak seperti yang dikatakannya itu. Mungkin benar, bahwa kekuatan mereka menjangkau daerah kadipaten di Pasisir Lor dan Bang Wetan, tetapi kekuatan itu tentu sekedar merupakan kekuatan tersembunyi seperti kekuatan mereka di daerah ini. Jika mungkin ada satu dua orang adipati yang mempunyai pikiran sejalan dengan mereka, maka mereka tentu tidak akan menempatkan dirinya di bawah perintah pemimpin gerombolan semacam itu.”

Ki Waskita mengerutkan keningnya. Katanya, “Masih harus dipertimbangkan masak-masak, Ki Gede. Pemimpin gerombolan itu mempunyai kedudukan yang khusus. Ia dianggap memiliki hak atas tahta di atas Pulau Jawa karena ia dianggap keturunan yang sah dari Maharaja di Majapahit. Sedangkan Sultan Pajang adalah anak dari Pengging yang kemudian hidup di Tingkir.”

“Tetapi jika ditelusur dengan teliti, maka ia pun dapat menyebut dirinya berhak atas tahta di Pajang sekarang ini.”

“Itulah agaknya yang tidak diakui, Ki Gede. Karena itu, maka memang mungkin ada satu dua orang adipati yang meskipun tidak berterus terang, tetapi membantu usaha untuk menggulingkan pemerintahan Pajang.”

“Sekaligus merencanakan memusnahkan orang-orang yang berada di dalam gerombolan yang mengaku keturunan Majapahit itu, setelah mereka tidak diperlukan lagi.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Banyak kemungkinan dapat terjadi. Tetapi tidak dapat disangkal lagi, bahwa Pajang memang sudah goyah.”

“Apakah tidak ada tangan yang mampu menegakkan Pajang kembali seperti pada saat berdirinya, apalagi mengembangkan kekuatannya seperti masa-masa lampau?” bertanya Ki Argapati.

“Satu-satunya harapan adalah Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga.”

Ki Argapati mengangguk-angguk. Tetapi desisnya, “Sayang, bahwa Raden Sutawijaya memilih jalan sendiri. Seakan-akan dengan hati yang terluka meninggalkan Istana Pajang. Bahkan seolah-olah luka itu tidak tersembuhkan sampai saatnya ayahandanya meninggal. Dan bahkan sampai sekarang, setelah menerima pusaka-pusaka yang tidak ternilai apalagi dipandang dari segi limpahan kekuasaan. Seolah-olah sudah ada perlambang, bahwa Sultan Hadiwijaya condong untuk menyerahkan tahta kepada Raden Sutawijaya daripada kepada puteranya sendiri, Pangeran Benawa.”

“Jarak antara Mataram dan Pajang masih belum dapat dirapatkan. Betapa pun Sultan di Pajang mencobanya,” berkata Ki Waskita. “Karena itu pulalah, betapa pedih hati Ki Gede Pemanahan. Ia merasa seolah-olah ia-lah yang bersalah membawa Sutawijaya meninggalkan istana dengan hati yang luka, sehingga beberapa orang telah mentertawakannya, bahwa Alas Mentaok yang lebat dan wingit itu akan dapat dijadikan sebuah negeri yang ramai. Darah muda Raden Sutawijaya telah menggelepar oleh cemoohan itu, dan di luar sadarnya ia bersumpah tidak akan menyentuh paseban di Istana Pajang, sebelum ia dapat menjadikan Alas Mentaok sebuah negeri yang ramai dan besar.”

“Dan sumpah itu seolah-olah telah mencengkamnya sampai sekarang. Meskipun Ki Gede Pemanahan telah tidak ada.”

“Ya.”

Ki Argapati mengangguk-angguk. Telah beberapa kali hal itu dibicarakan dengan bersungguh-sungguh atau sekedar sebagai bahan percakapan. Tetapi rasa-rasanya tidak ada habis-habisnya persoalan hubungan antara Pajang dan Mataram itu untuk dibicarakan

Namun dalam pada itu, pembicaraan mereka pun segera berkisar kembali kepada persoalan yang akan mereka hadapi. Jalur jalan antara Sangkal Putung, Mataram, dan Tanah Perdikan Menoreh.

“Apakah Ki Demang di Sangkal Putung perlu diberitahu, bahwa mereka harus berhati-hati di perjalanan mengingat perkembangan keadaan di Menoreh?” bertanya Ki Waskita.

Ki Gede termenung sejenak. Lalu, “Tetapi Ki Waskita tidak usah pergi ke Sangkal Putung. Mungkin ada perkembangan keadaan yang perlu dan gawat di Tanah Perdikan Menoreh, meskipun pemberitahuan semacam itu penting juga untuk dilakukan.”

“Jadi?”

“Biarlah dua atau tiga orang pergi ke Sangkal Putung membawa pesanku.”

“Bagaimana jika mereka mengalami bencana di perjalanan?”

“Aku akan mengirimkan mereka segera. Jika dalam waktu sepasar mereka tidak kembali, tentu ada persoalan yang gawat yang mereka hadapi di perjalanan. Dan itu berarti bahwa kita harus mengambil tindakan khusus, justru karena waktu menjadi semakin pendek.”

Ki Waskita merenung sejenak. Namun kemudian ia pun mengangguk sambil berkata, “Aku kira rencana itu baik juga, Ki Gede. Aku mengerti, bahwa keadaan dapat berkembang ke arah yang gawat di Tanah Perdikan ini. Meskipun tidak banyak artinya, aku pun merasa perlu untuk tetap berada di sini.”

Ki Gede tersenyum. Lalu, “Kita akan mempersiapkan pasukan untuk menjemput pengantin sampai ke tepi Sungai Praga. Siapa tahu, ada tukang-tukang satang seperti yang pernah terjadi atas Ki Waskita bertiga bersama Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar.”

“O. Jadi akan ada pacak baris di tepian Kali Praga?”

“Tidak, Ki Waskita. Kami akan menyusun baris pendem. Pasukan kami tidak akan nampak, karena mereka akan tersebar di padukuhan-padukuhan dan di tengah-tengah bulak. Di gubug-gubug tempat anak-anak mengusir burung, dan di tempat-tempat yang lain. Namun mereka siap untuk melakukan sesuatu di sepanjang jalan yang akan dilalui oleh Swandaru dan pengiringnya.”

Ki Waskita merenungi kata-kata Ki Gede itu sejenak. Agaknya memang lebih baik demikian. Pasukan pengawal yang menyongsong Swandaru di seberang Kali Praga itu tidak semata-mata nampak sebagai suatu barisan yang akan mengawal iring-iringan penganten meskipun belum dalam pakaian kebesaran.

Demikianlah, maka Ki Gede pun kemudian mempersiapkan rencana pengawalan yang sebaik-baiknya dilakukan, tanpa mengganggu upacara yang akan berlangsung, agar dengan demikian tidak mengurangi kemeriahan suasana perkawinan anak perempuannya.

Di malam harinya Ki Gede memanggil tiga orang pengawal terpilih. Mereka harus pergi ke Sangkal Putung untuk menyampaikan pesan khusus dari Ki Gede mengenai keadaan di Tanah Perdikan Menoreh di saat-saat terakhir.

“Jalan yang selama ini aman, ternyata telah mulai dijamah oleh tangan-tangan yang bernoda darah. Mereka dapat berbuat apa saja dengan dalih apa pun juga. Karena itu, hati-hatilah di perjalanan. Jika terpaksa sekali, hindarkan diri dari kesulitan,” pesan Ki Argapati kemudian.

“Kami mengerti, Ki Gede,” jawab salah seorang dari mereka.

“Menurut Ki Waskita, yang berada di jalan-jalan dari antara para penyamun itu bukanlah orang-orang terpenting yang harus disegani. Tetapi kadang-kadang mereka berjumlah banyak, sehingga kalian harus memperhitungkan keadaan sebaik-baiknya jika kalian bertemu dengan mereka.”

Ketiga orang itu mengangguk-angguk. Mereka sadar, bahwa perjalanan mereka bukannya perjalanan menjemput pengantin, tetapi perjalanan mereka adalah perjalanan yang berbahaya. Sama berbahaya dengan seorang prajurit yang berangkat ke medan perang.

“Bawalah senjata kepercayaan kalian. Sebaiknya kalian memilih jalan yang paling aman, melalui Mataram yang sudah menjadi ramai. Tentu kalian sudah mengenal orang-orang Mataram, terutama Ki Lurah Branjangan.”

“Kami mengenalnya, Ki Gede.”

“Jika kalian harus menjawab seribu satu macam pertanyaan di Mataram, kalian dapat langsung minta dipertemukan dengan Ki Lurah Branjangan atau orang-orang lain yang kau kenal.”

“Ya, Ki Gede.”

“Dan kalian pun telah mengenal pula Ki Demang Sangkal Putung yang pernah datang kemari.”

“Ya, Ki Gede.”

“Nah, besok kalian berangkat. Aku beri kalian waktu sepekan. Jika dalam waktu sepekan kalian tidak kembali, kami akan mengirimkan kekuatan yang lebih besar. Mungkin aku sendiri atau Ki Waskita akan pergi menyusul.”

“Baiklah, Ki Gede. Kami akan mencoba menepati waktu yang telah ditentukan. Jika tidak ada kesulitan di perjalanan, maka waktu itu sudah cukup panjang. Kami tidak perlu bermalam di Mataram. Jika kami berangkat besok pagi-pagi benar, kami akan dapat mencapai Sangkal Putung meskipun mungkin malam hari. Di Sangkal Putung kami tidak akan mengalami kesulitan jika kepada para peronda kami menyatakan maksud kami untuk bertemu degan Ki Demang di Sangkal Putung.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Katanya, “Tetapi itu akan merupakan perjalanan yang melelahkan.”

“Mungkin melelahkan, Ki Gede, tetapi kami akan segera dapat beristirahat.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Terserahlah kepadamu. Mudah-mudahan perjalananmu tidak terganggu sama sekali, sehingga kalian dapat kembali pada waktu yang diharapkan.”

“Kami mohon doa restu Ki Gede dan Ki Waskita.”

“Sekarang beristirahatlah. Besok kalian akan berangkat dini hari. Siapkanlah bekal dan sudah barang tentu senjata.”

Ketiga orang itu pun kemudian minta diri. Sekali lagi Ki Gede berpesan agar mereka berhati-hati di perjalanan.

“Besok kalian dapat berangkat langsung tanpa menunggu aku lagi,” berkata Ki Gede kemudian.

Sepeninggal ketiga orang itu, Ki Gede masih berbicara dengan beberapa orang pemimpin pengawal. Mereka mulai membicarakan persiapan pengawalan sandi pada saat Swandaru nanti memasuki Tanah Perdikan Menoreh.

“Pengawalan diberatkan pada kesiagaan di padukuhan-padukuhan yang akan dilalui oleh iring-iringan dari Kademangan Sangkal Putung,” berkata Ki Gede.

Para pemimpin pengawal mendengarkan semua penjelasan Ki Gede dengan saksama, sehingga mereka pun kemudian mempunyai gambaran yang jelas dari apa yang harus mereka kerjakan.

Ternyata Ki Gede condong menempatkan anak-anak muda yang berada di dalam lingkungan pasukan pengawal di padukuhan masing-masing untuk memimpin anak-anak muda di padukuhan itu. Bahkan di setiap padukuhan yang akan dilalui oleh iring-iringan dari Sangkal Putung itu akan diperkuat oleh beberapa orang pasukan pengawal yang akan dicairkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Bukan maksud kami menjebak segerombolan penyamum tetapi pada suatu saat tindakan serupa itu memang perlu. Kami tidak akan dapat membiarkan mereka berkeliaran di Tanah Perdikan Menoreh, meskipun kami tahu bahwa mereka memiliki kekuatan yang besar. Namun Menoreh pun percaya kepada kemampuan diri sendiri untuk mengamankan kampung halaman,” berkata Ki Gede kepada para pemimpin pengawal.

Para pemimpin pengawal itu masih saja mendengarkan dengan saksama. Mereka pun mulai membayangkan, bahwa kesibukan yang terselubung di setiap padukuhan. Yang penting dari usaha menyamarkan kesiagaan kekuatan itu adalah karena Menoreh akan tetap mengadakan perhelatan perkawinan tanpa kecemasan.

“Jangan mengeruhkan suasana,” pesan Ki Gede, “jika kalian mengadakan kegiatan pengawalan dan latihan-latihan, usahakan seolah-olah hal itu berlangsung begitu saja tanpa kecemasan dan apalagi gambaran tentang peperangan dan kekacauan.”

“Kami mengerti, Ki Gede,” jawab salah seorang dari mereka.

“Aku percaya bahwa kalian akan dapat melakukan tugas yang sulit itu. Berjaga tetapi dengan kesan tenang dan damai. Bahkan kegembiraan yang tidak bercela di hari perkawinan anakku itu.”

Para pemimpin pengawal itu meninggalkan pendapa rumah Ki Gede dengan kerut di kening. Tugas itu memang sulit. Tetapi mereka harus dapat melaksanakan dengan tertib.

Dalam pada itu, ketiga orang yang pada pagi harinya harus berangkat ke Sangkal Putung tengah sibuk membenahi bekal yang akan mereka bawa. Sekedar makanan dan yang penting adalah senjata. Mereka dapat mengalami perlakuan yang berbahaya dari orang-orang yang mulai berkeliaran di tlatah Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan mungkin mereka harus bertempur mati-matian dan bahkan benar-benar mati. Namun mereka tidak akan ingkar terhadap tugas yang dibebankan kepada mereka.

Menjelang dini hari, mereka bertiga telah berkumpul. Meskipun mereka tidak perlu lagi minta diri kepada Ki Gede, namun mereka bersepakat untuk berkumpul dan berangkat dari rumah Ki Gede.

Para peronda yang melihat kehadiran mereka bertiga menyongsong sambil berkata, “Apakah kalian akan berangkat sekarang? Agaknya Ki Gede masih belum bangun.”

“Aku tidak usah minta diri. Aku hanya sekedar singgah, mungkin ada hal-hal yang perlu disampaikan kepadaku.”

“Rasa-rasanya tidak ada pesan apa pun juga,” sahut seorang peronda.

“Baiklah. Nanti sampaikan kepada Ki Gede, bahwa aku bertiga sudah berangkat ke Sangkal Putung.”

Para peronda itu mengangguk-angguk. Salah seorang menyahut, “Selamat jalan. Mudah-mudahan kalian tidak mengalami bencana apa pun juga di perjalanan yang panjang itu.”

Demikianlah ketiganya segera memacu kudanya, meninggalkan padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.

Langit masih nampak hitam pekat. Bintang gemintang masih nampak menyala. Namun cahaya kemerah-merahan sudah mulai membayang di ujung langit sebelah Timur.

“Sebentar lagi fajar akan menyingsing,” desis salah seorang dari ketiganya.

Kawan-kawannya menengadahkan wajahnya ke langit. Dan bersamaan mereka pun mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya.”

Namun kuda-kuda mereka berpacu terus. Angin pagi yang dingin rasa-rasanya menembus sampai ke tulang. Embun pagi telah membasahi tubuh dan pakaian mereka sehingga udara pagi terasa menjadi semakin sejuk.

Tetapi perjalanan di dini hari rasa-rasanya justru telah menyegarkan badan mereka. Dengan cepatnya kuda-kuda mereka menusuk kegelapan menyeberangi bulak-bulak panjang. Satu demi satu padukuhan-padukuhan telah mereka lalui, sehingga mereka pun menjadi semakin jauh dari padukuhan induk, dan menuju langsung ke tempat penyeberangan di Kali Praga.

Ketika kemudian langit dikuakkan oleh cahaya pagi yang kekuning-kuningan, kuda ketiga pengawal itu pun masih berpacu terus. Mereka menjadi semakin dekat dengan Kali Praga. Di perjalanan itu, mereka harus berhenti beberapa kali sebelum mereka sampai ke pinggir Kali Praga, karena sekelompok peronda telah menghentikan mereka. Tetapi mereka tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkepanjangan, karena mereka telah mengenal kelompok-kelompok peronda yang bertugas nganglang di tlatah Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan peronda-peronda di gardu-gardu yang penuh berisi anak-anak muda pun sama sekali tidak menghambat perjalanan mereka.

Ketika orang itu menyeberangi Kali Praga setelah matahari naik ke punggung bukit dan panasnya mulai terasa gatal di kulit. Kemudian mereka memacu kudanya langsung menuju ke Tanah Mataram yang menjadi semakin ramai.

Dalam pada itu, selagi ketiga orang itu berpacu terus, di Tanah Perdikan Menoreh yang sudah menjadi ramai, para pemimpin pengawal mulai merencanakan bagaimana mereka akan melakukan tugas mereka. Para pemimpin pengawal itu mulai membuat gambaran tentang padukuhan-padukuhan yang mungkin akan dilalui oleh Swandaru dan iring-iringannya. Mereka pun mulai memperhitungkan kemungkinan yang ada di padukuhan-padukuhan itu, kekuatan anak-anak mudanya dan pengawal-pengawal yang berasal dari padukuhan-padukuhan itu.

“Kita harus mulai menghubungi anak-anak muda itu,” berkata salah seorang dari para pemimpin pengawal itu.

“Ya. Tetapi mereka pun harus mengetahui, bahwa yang harus mereka lakukan, jangan sampai menimbulkan gangguan, khususnya gangguan batin bagi rakyat di sekitarnya.”

Dengan demikian, mereka pun segera membagi tugas. Mereka membagi diri dalam batas lingkungan masing-masing, sehingga mereka akan dapat menyelesaikan tugas mereka dengan cepat.

Ternyata bahwa mereka tidak mengalami kesulitan apa pun dalam tugas mereka. Anak-anak muda menyambut petunjuk-petunjuk mereka dengan senang hati. Bahkan sebagian dari mereka telah mulai melakukannya. Namun agaknya para pemimpin pengawal itu memberikan tekanan kesiagaan pada padukuhan-padukuhan yang ditembus jalan yang langsung menuju ke Tanah Mataram, selanjutnya ke Sangkal Putung.

Meskipun demikian tidak berarti bahwa padukuhan-padukuhan lain telah mengabaikan kesiagaan mereka, karena peristiwa yang telah terjadi di Tanah Perdikan Menoreh dan menumbuhkan korban itu, agaknya telah membangunkan mereka yang sedang tertidur dalam buaian ketenangan di Tanah Perdikan Menoreh.

Dalam pada itu, Ki Waskita masih saja selalu termangu-mangu dibayangi oleh isyarat yang buram. Bahkan setiap kali timbul pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah semuanya ini merupakan arti dari isyarat itu? Bahwa dengan demikian perkawinan Swandaru akan mengalami gangguan yang dapat menyuramkan masa depannya?”

Ki Waskita menjadi ragu-ragu. Menurut uraiannya pada isyarat yang nampak, keburaman masa hidup Swandaru bukanlah pada saat perkawinannya, tetapi justru setelah perkawinan itu berlangsung.

“Mungkin aku telah kehilangan kemampuan pengamatan atas isyarat itu. Mungkin kesulitan yang terjadi di saat perkawinan ini akan memburamkan masa depannya yang panjang, bukan sebaliknya terjadi setelah masa perkawinannya berlalu,” berkata Ki Waskita kepada diri sendiri.

Keragu-raguan semacam itu hampir tidak pernah terjadi padanya selama ia mendapatkan kurnia ketajaman pandangan bagi masa depan. Tetapi justru hal itu terjadi atas Swandaru, dan karena hal itu tidak sejalan dengan keinginannya, maka isyarat itu telah membingungkannya. Dalam keadaan serupa itu, penglihatannya justru telah dikaburkan oleh keinginannya yang sama sekali berbeda.

“Aku menjadi bingung,” desisnya, “dan ini adalah kelemahan yang jarang terjadi padaku. Mudah-mudahan aku mendapat petunjuk, sehingga aku dapat membedakan antara isyarat yang aku lihat, dan keinginanku sendiri.”

Namun Ki Waskita tidak dapat mengatakannya kepada siapa pun. Ia mencoba mengendapkan persoalan itu di dalam dirinya meskipun rasa-rasanya akan menjadi beban yang cukup berat baginya.

Selain kegelisahan tentang isyarat itu, maka baik Ki Waskita maupun Ki Gede Menoreh masih juga digelisahkan oleh perjalanan ketiga orang pengawal yang pergi ke Kademangan Sangkal Putung. Meskipun tidak terucapkan, namun keduanya, bahkan beberapa orang pemimpin yang mengetahui perjalanan itu, selalu berdoa, mudah-mudahan perjalanan ketiga orang pengawal itu tidak mengalami gangguan apa pun juga di perjalanan.

Bahkan Pandan Wangi yang juga mengetahui keberangkatan ketiga pengawal itu tidak dapat menghindarkan diri dari kecemasan yang membuatnya selalu termangu-mangu.

“Kau cemaskan ketiga orang utusan itu, Wangi?” bertanya ayahnya.

Pandan Wangi mengangguk.

“Percayalah, bahwa mereka akan dapat menjalankan tugas mereka sebaik-baiknya. Selebihnya, serahkanlah semuanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka tidak sedang dalam perjalanan dengan maksud buruk. Karena itu, maka perjalanan mereka tentu akan mendapat perlindungan.”

Pandan Wangi mengangguk lemah, meskipun masih tetap nampak kegelisahan di wajahnya.

Namun dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa ketiga orang yang pergi ke Sangkal Putung itu sama sekali tidak mengalami gangguan apa pun juga. Mereka melintasi Tanah Mataram tanpa singgah, karena mereka tidak mengalami kesulitan apa pun juga. Apalagi mereka berminat untuk segera mencapai Sangkal Putung dan kembali sebelum batas waktu yang ditetapkan.

Tetapi ternyata kedatangan mereka telah mengejutkan orang-orang Sangkal Putung. Apalagi Ki Demang. Ia menyangka bahwa sesuatu telah terjadi sehingga dapat menghambat hari-hari perkawinan anaknya.

Meskipun demikian, ia masih dapat mengendalikan dirinya, sehingga ia tidak tergesa-gesa bertanya tentang keperluan ketiga pengawal itu. Ki Demang masih dengan sabar mempersilahkan mereka duduk, bertanya tentang keselamatan perjalanan mereka dan mereka yang ditinggalkan di Tanah Pcrdikan Menoreh. Ia masih menunggu Sekar Mirah menghidangkan minuman hangat dan sekedar makanan.

Barulah kemudian ia berkata, “Maaf, Ki Sanak. Setelah Ki Sanak beristirahat sejenak, rasa-rasanya aku tidak sabar lagi untuk mendengar pesan yang barangkali kalian bawa dari Tanah Perdikan Menoreh. Biarlah kami mendengarnya.”

Ketiga orang itu mengangguk-angguk. Sejenak mereka memandang orang-orang yang duduk menemuinya di pendapa. Selain Ki Demang, nampak juga Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Bahkan Swandaru dan Agung Sedayu pun duduk bersama mereka pula.

Kemudian orang yang tertua di antara ketiga orang pengawal itu pun menyahut, “Ki Demang, mungkin kedatangan kami agak mengejutkan. Tetapi sebenarnya kami tidak membawa pesan yang mencemaskan.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia mendesaknya, “Sukurlah, Ki Sanak. Namun rasa-rasanya kami ingin segera mengetahuinya.”

Orang yang tertua itu tersenyum. Tetapi ia tidak ingin membuat suasana kian menegang. Karena itu, maka ia pun segera menceriterakan apa yang mereka ketahui tentang Tanah Perdikan Menoreh, seperti yang dipesankam oleh Ki Argapati. Bahkan, juga yang diketahuinya tentang para penyamun yang telah dibunuh oleh Ki Waskita di perjalanan, seperti yang juga didengarnya dari Ki Argapati.

“Kami mendapat tugas khusus untuk memberitahukan hal itu, Ki Demang,” berkata orang itu, “agar Ki Demang dan para sesepuh di Sangkal Putung mengetahuinya. Hal itu agaknya dianggap penting oleh Ki Gede, karena beberapa hari lagi, iring-iringan pengantin laki-laki akan segera memasuki tlatah Menoreh. Jika Ki Demang tidak mengetahui perkembangan terakhir yang telah terjadi di Tanah Perdikan Menoreh, maka mungkin sekali akan terjadi hal-hal yang tidak dikehendaki.”

Ki Demang menjadi tegang sesaat. Tanpa disadarinya ditatapnya wajah Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berganti-ganti. Pada wajah-wajah itu pun nampaklah ketegangan yang mencengkam. Apalagi Swandaru dan Agung Sedayu.

“Ki Sanak,” berkata Ki Demang kemudian, “jika demikian, apakah itu berarti bahwa penganten yang akan memasuki tlatah Menoreh itu harus diiringi pengawal segelar sepapan?”

Pengawal itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Ki Gede Menoreh sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengatasi apa saja yang mungkin akan dapat terjadi. Namun demikian, itu bukan berarti bahwa iring-iringan pengantin itu dapat mengabaikan kewaspadaan.”

“Apakah yang sudah dilakukan oleh Ki Gede khususnya karena perkembangan keadaan itu?” bertanya Ki Demang.

“Ki Gede sudah meningkatkan kesiagaan. Terutama pada padukuhan di sepanjang jalan yang akan dilalui oleh penganten laki-laki saat mereka memasuki Tanah Perdikan Menoreh sampai ke padukuhan induk. Meskipun sesuai dengan pesan Ki Gede, kesiagaan itu jangan sampai nampak terlampau nyata, sehingga dapat menimbulkan kegelisahan dan mengurangi kegembiraan rakyat Menoreh di saat perkawinan itu berlangsung.”

“Apakah mereka sama sekali tidak mengerti, bahwa peristiwa itu telah terjadi? Maksudku peristiwa perampokan dan kematian para perampok itu?”

“Mereka mengetahuinya, karena berita itu segera tersebar di seluruh Tanah Perdikan. Namun kegelisahan yang nampak di kalangan para pengawal akan menambah kegelisahan rakyat Menoreh. Pengawalan yang akan dilakukan, adalah pengawalan yang tersamar. Tetapi justru di tempat peristiwa perampokan itu terjadi, di ujung yang berlawanan dengan arah yang akan dilalui penganten dari Sangkal Putung, pengawalan dilakukan sebaik-baiknya oleh para pengawal yang berasal dari padukuhan itu sendiri tanpa penyamaran. Tetapi padukuhan itu sama sekali tidak akan dilalui oleh iring-iringan dari Sangkal Putung. Namun justru pengawalan yang demikianlah yang akan memberikan ketenangan kepada penduduknya yang mungkin merasa terancam oleh dendam para perampok yang terbunuh di padukuhan mereka. Sehingga bagi mereka keselamatan padukuhan mereka harus mendapat perhatian lebih besar dari kegembiraan di hari-hari perkawinan anak perempuan Kepala Tanah Perdikan Menoreh.”

Ki Demang Sangkal Putung dan mereka yang mendengar penjelasan itu mengangguk-angguk. Mereka menyadari betapa gawatnya perjalanan ke tlatah Menoreh jika para perampok itu kemudian berusaha melepaskan dendam mereka kepada calon penganten kedua-duanya. Apalagi mereka tentu beranggapan bahwa penganten yang akan dipertemukan itu tentu telah dilengkapi dengan perhiasan yang mahal dan berharga.

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya ia berkata, “Kenapa semuanya itu terjadi justru pada saat Swandaru akan kawin?”

Namun Kiai Gringsing kemudian menyahut, “Bukan karena Swandaru akan kawin, Ki Demang. Tetapi agaknya pemerintahan Pajang memang benar-benar telah goyah. Di mana-mana telah timbul kerusuhan. Semuanya ini adalah akibat dari perkembangan di masa lalu. Sepeninggal Sultan Trenggana, maka timbullah berbagai persoalan yang telah menimbulkan perbedaan sikap dan pandangan terhadap kelangsungan tahta Demak. Permusuhan di antara saudara dan keluarga sendiri menjadi-jadi.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Ternyata bahwa pertentangan itu masih belum berakhir. Seperti yang telah terjadi di sekitar kademangan ini, di saat Angger Macan Kepatihan masih mempunyai cukup kekuatan. Agaknya kekisruhan di daerah Pajang ini belum dapat dianggap selesai dengan tuntas. Dan sekarang, persoalan-persoalan itu telah tumbuh lagi dan bahkan berkembang dengan suburnya, seperti getumbul-gerumbul perdu yang justru beronak dan duri.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Tetapi bagaimana pun juga perjalanan ke Menoreh itu harus diperlengkapi dengan kekuatan untuk menghadapi setiap kemungkinan.”

“Ya, Ki Demang. Aku sependapat. Tetapi tidak berlebih-lebihan,” sahut Ki Sumangkar.

“Tetapi Ki Sumangkar jangan lupa. Kekuatan perampok yang ada di sekitar tlatah Menoreh itu tidak kalah dahsyatnya dengan kekuatan yang ada di Tambak Wedi. Bukankah prajurit Pajang segelar sepapan mengalami kesulitan melawan mereka? Nah, apakah yang akan terjadi jika ternyata iring-iringan penganten dari kademangan ini bertemu dengan pasukan perampok yang berkekuatan seperti kekuatan mereka yang ada di Tambak Wedi?”

Kecemasan Ki Demang memang dapat dimengerti. Namun dalam pada itu salah seorang pengawal itu pun menjawab, “Seperti yang sudah kami katakan, bahwa pengawal Tanah Perdikan Menoreh akan mengadakan baris pendem di padukuhan-padukuhan sebelah Kali Praga. Dengan satu isyarat, mereka akan segera dapat berkumpul dan melakukah tugas yang betapa pun beratnya.”

“Tetapi Ki Sanak tidak mengalami pertempuran yang dahsyat di lereng Gunung Merapi.”

“Ki Waskita yang kini berada di Tanah Perdikan Menoreh pernah menceriterakannya. Dan agaknya Ki Waskita pun mengalaminya, sehingga ia akan dapat memberikan beberapa pertimbangan kepada Ki Gede Menoreh.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Teringat sekilas saat perkawinan Untara yang tegang. Agaknya akan terjadi juga pada saat-saat perkawinan Swandaru, apalagi agaknya perlindungan bagi keduanya berbeda, karena Untara adalah justru seorang senapati perang.

Namun dalam pada itu Kiai Gringsing berkata, “Kita dapat memberitahukan persoalannya kepada Mataram. Agaknya Mataram juga berkepentingan dengan mereka, karena hubungan mereka dengan pusaka yang hilang itu agak lebih jelas dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi berurutan.”

“………….. (ada kalimat yang tidak lengkap dari buku aslinya) jika Mataram harus ikut menjadi sibuk hanya karena Swandaru anak seorang Demang di Sangkal Putung, akan melangsungkan perkawinan. Apalagi jika terjadi sesuatu, maka Mataram harus mempertaruhkan nyawa para pengawalnya.”

“Ki Demang,” berkata Kiai Gringsing, “persoalannya tidak terbatas pada perkawinan Swandaru. Tetapi bahwa telah terjadi banyak peristiwa yang gawat di Pajang, Mataram, dan sekitarnya adalah karena persoalan Pajang dan juga Mataram itu sendiri. Karena itulah maka Mataram pun tentu tidak akan ingkar jika mereka diminta untuk bersiaga.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Sedang Kiai Gringsing berkata selanjutnya, “Namun bagaimana pun juga, perkawinan itu harus berlangsung.”

Swandaru yang menjadi pusat persoalan sama sekali, tidak menyambung pembicaraan itu, meskipun dadanya bagaikan bergetar oleh kegelisahan dan bahkan kemarahan yang meluap-luap. Ia merasa terganggu oleh tingkah laku para perampok itu, justru menjelang hari-hari perkawinannya.

Pembicaraan itu masih berlangsung beberapa lama. Namun akhirnya Ki Demang tidak dapat menolak, bahwa pcrsoalan itu akan diceriterakan kepada Ki Lurah Branjangan di Mataram pada saat mereka singgah seperti yang sudah direncanakan dan menyampaikan kepada para pemimpin di Mataram.

Dalam pada itu, ketika Swandaru dan Agung Sedayu telah berada di halaman, mereka mulai membicarakan persoalan yang dihadapi di saat yang sangat penting bagi Swandaru itu. Namun sikap yang nampak pada Swandaru adalah sikap seorang anak muda yang darahnya masih mudah meluap.

“Kenapa Ayah nampaknya menjadi gentar,” desisnya. “Aku tidak akan takut menghadapi apa pun juga. Adalah wajar seandainya aku harus mempertaruhkan nyawa.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi katanya dengan nada yang datar, “Tetapi sebaiknya perjalanan itu memang disiapkan sebaik-baiknya. Agaknya memang akan menjadi sebuah perjalanan yang gawat.”

Swandaru memandang Agung Sedayu sekilas. Lalu katanya, “Tidak usah dirisaukan lagi. Jika kita selalu ragu-ragu, maka perkawinan itu akan tertunda untuk waktu yang tidak ditentukan. Dan aku akan menjadi semakin tua karenanya.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi kata-kata Swandaru itu justru membuatnya merenungi diri sendiri. Sekali-sekali terngiang di telinganya kata-kata Swandaru, “Aku akan menjadi semakin tua.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Pandangannya kini justru tertuju kepada diri sendiri yang seperti juga yang dicemaskan oleh Swandaru itu, menjadi semakin tua. Dan dalam usianya yang merambat terus itu, ia masih tetap seorang petualang yang tidak mempunyai pegangan bagi masa depannya.

“Sekar Mirah adalah seorang perempuan yang memiliki ilmu kanuragan,” katanya di dalam hati, “apa salahnya jika kita berdua justru menjadi sepasang pengembara yang menjelajahi padukuhan diseluruh Pajaing?” Namun kemudian, “Tetapi keluarga yang demikian bukanlah keluarga yang manis. Apalagi jika kemudian lahir anak-anak yang mungil.”

Agung Sedayu justru menjadi gelisah karena persoalannya sendiri.

Namun demikiah, ia tidak ingin menambah suasana menjadi sulit. Diendapkannya persoalan dirinya sendiri itu di dalam hati. Ia tidak ingin membawa orang lain ikut dalam kegelisahan itu, meskipun ia gurunya, karena gurunya pun tentu sedang disibukkan oleh persoalan saudara seperguruannya, Swandaru.

Para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh masih mempunyai waktu yang lapang untuk beristirahat. Mereka akan tinggal satu hari di Sangkal Putung. Dengan demikian setelah bermalam dua malam, mereka akan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Bukankah kalian masih mempunyai cukup waktu seandainya kalian tinggal di sini semalam lagi?” bertanya Ki Demang.

“Sepasar adalah batas waktu. Lebih cepat agaknya akan menjadi lebih baik, karena dengan demikian aku akan mengurangi ketegangan perasaan Ki Gede dan Ki Waskita di Menoreh.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Ia tidak dapat menahan lagi ketiga orang itu minta diri di keesokan harinya. Menjelang fajar mereka akan meninggalkan Sangkal Putung, agar mereka tidak terlalu malam sampai di Tanah Perdikan Menoreh yang ternyata di saat terakhir agak dirisaukan oleh kerusuhan yang datang dari luar Tanah Perdikan.

Demikianlah, menjelang fajar di pagi hari berikutnya para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh itu pun benar-benar meninggalkan Sangkal Putung. Jika di perjalanan kembali mereka tidak mengalami gangguan apa pun juga, maka tugas mereka dapat mereka selesaikan dengan baik sehingga dengan demikian telah mengurangi kemungkinan buruk bagi iring-iringan penganten dari Sangkal Putung beberapa saat mendatang.

Sepeninggal para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh, maka Ki Demang Sangkal Putung, Kiai Griagsing, dan Ki Sumangkar pun segera mengadakan pembicaraan khusus. Namun tidak ada yang dapat mereka sepakati selain memperkuat pengawalan.

“Memang hanya itu,” berkata Kiai Gringsing, “tidak ada cara lain. Tetapi apa salahnya jika kita menyampaikan persoalan ini juga kepada Ki Lurah Branjangan meskipun tidak semata-mata untuk minta bantuan pengawalan selama kita berada di tlatah Mataram menjelang daerah penyeberangan di Kali Praga karena di sebelah penyeberangan itu, para pengawal Menoreh sudah siap dalam baris pendem.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Memang menegangkan sekali. Seolah-olah mereka sedang mempersiapkan sebuah perjalanan perang yang gawat, menyusup ke daerah musuh.

Karena itulah, maka Ki Demang pun segera mulai membicarakan dengan para pemimpin kademangan, siapakah yang akan mereka bawa ke Tanah Perdikan Menoreh dalam keadaan yang gawat itu.

“Kau tinggal menunggu kademangan, Ki Jagabaya,” berkata Ki Demang kepada Ki Jagabaya, “karena ketenangan kademangan ini tidak kalah pentingnya dengan pengamanan perjalanan Swandaru. Pada saat Swandaru kembali sambil membawa isterinya, kademangan ini harus dapat menerimanya sebaik-baiknya. Jika kademangan ini ternyata menjadi tidak tenang karena gangguan yang sama seperti yang telah terjadi di Menoreh, maka usaha Ki Gede untuk tetap memelihara suasana yang gembira akan sia-sia.”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa kerusuhan yang terjadi di Tanah Perdikan Menoreh ternyata mempunyai jalur hubungan dengan kerusuhan di lereng Gunung Merapi.

“Jika mereka kecewa di Tanah Perdikan Menoreh karena mereka gagal merampok iring-iringan penganten, maka mereka akan dapat mengirimkan orang-orangnya ke mari dan melepaskan dendamnya di sini karena setiap orang mengetahui bahwa penganten laki-laki di Tanah Perdikan Menoreh itu berasal dari Sangkal Putung,” berkata Ki Demang kemudian.

“Kami mengerti, Ki Demang,” sahut Ki Jagabaya, “dengan demikian kita harus membagi kekuatan. Tetapi mereka yang menempuh perjalananlah yang agaknya lebih penting. Jumlah mereka tentu lebih terbatas, sedang di kademangan ini, aku dapat mengerahkan para pengawal dan semua anak-anak muda. Bahkan semua laki-laki.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat, Ki Jagabaya. Tetapi meskipun demikian, kita semuanya harus selalu berhati-hati. Terserahlah kepada Ki Jagabaya, siapakah yang akan pergi bersamaku ke Tanah Perdikan Menoreh.”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Waktu yang pendek itu harus dipergunakan sebaik-baiknya. Karena itulah, maka Ki Jagabaya bermaksud untuk menyiapkan sekelompok pengawal yang paling dapat dipercaya. Bahkan mereka masih memerlukan latihan-latihan khusus untuk mengatasi setiap kesulitan di perjalanan. Mereka harus mampu mempergunakan kuda sebaik-baiknya dan mereka harus mampu bertempur di atas punggung kuda.

Dalam pada itu, selagi Sangkal Putung dan Menoreh sibuk dengan persiapan masing-masing, dan selagi para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh berpacu kembali, maka di kaki Gunung Tidar, beberapa orang sedang berkumpul untuk membicarakan rencana mereka yang paling menarik.

“Kita akan menghadapi serombongan pengiring penganten,” berkata salah seorang dari mereka, “tentu empu akan menyetujui rencana kita.”

Yang lain mengangguk-angguk. Salah seorang berkata, “Kita harus dapat memberikan keterangan sejelas-jelasnya secara terperinci. Kita harus tahu pasti jalan yang kira-kira akan dilaluinya, sehingga kita dapat menempatkan diri sebaik-baiknya.”

“Kau sajalah yang menyampaikan kepadanya.”

“Kita bersama-sama,” jawab yang lain.

Sejenak mereka berdiam diri. Namun mereka tengah sibuk dengan angan-angan mereka. Iring-iringan penganten itu tentu membawa banyak harta dan benda. Bukan saja sebagai barang-barang yang akan dipergunakan dalam upacara serah terima, tetapi juga perhiasan mereka yang tentu akan mereka pergunakan pada saat perkawinan itu berlangsung, juga para pengiringnya.

“Tetapi mereka tentu membawa pengawal yang kuat,” berkata salah seorang dari mereka.

“Sebut, berapa orang. Sepuluh, dua puluh?”

“Seandainya sekian.”

“Kami dapat mempersiapkan orang sejumlah itu. Bahkan lipat dua. Mereka adalah orang-orang kademangan yang tidak banyak berarti. Kecuali jika mereka dikawal oleh sepasukan prajurit Mataram.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Lalu, “Sebentar lagi kita mendapat kesempatan untuk menghadap. Kita akan menyampaikannya. Setelah kesempatan ini tertunda dua hari.”

Yang lain masih saja mengangguk-angguk. Namun rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi menunggu kesempatan untuk menghadap Empu Pinang Aring yang memerintahkan kepada mereka untuk datang ke Gunung Tidar, justru saat yang ditentukan telah lewat.

Dalam kegelisahan itu, mereka berkali-kali telah mendesak kepada pengawal terdekat untuk segera mendapat kesempatan melaporkan apa yang telah mereka lakukan di Tanah Perdikan Menoreh.

“Empu Pinang Aring sedang terganggu kesehatannya,” berkata pengawal terdekatnya.

“Kenapa?” bertanya salah seorang dari mereka yang ingin menghadap itu.

“Tentu aku tidak tahu kenapa Empu Pinang Aring menjadi sakit, bahkan Empu Pinang Aring sendiri pun tidak tahu pula sebabnya. Mungkin kita dapat menduga, bahwa Empu Pinang Aring terlalu letih, karena perjalanannya yang tergesa-gesa ke lembah Gunung Merapi. Karena itulah maka kesempatanmu menghadap menjadi tertunda. Tetapi itu pun tidak dapat kita anggap dugaan yang tepat, karena Empu Pinang Aring tidak pernah mengenal lelah. Tiga hari tiga malam ia bertempur tanpa berhenti sama sekali, tidak mempengaruhi kesehatannya, tanpa makan tanpa minum. Apalagi sekedar perjalanan betapa pun tergesa-gesanya. Karena itu, mungkin pula ada sebab lain yang tidak kita mengerti.”

“Apakah sekarang masih juga belum dapat menerima kami?”

“Aku tidak tahu. Tetapi hanya orang-orang terpenting sajalah yang dapat menemuinya. Laporanmu mungkin akan diterima bukan oleh Empu Pinang Aring sendiri. Mungkin Kakang Rimbag Wara atau mungkin Kakang Panganti. Tetapi laporanmu akan diterima hari ini siapa pun yang akan mewakili Empu Pinang Aring.”

“Tetapi laporanku penting sekali.”

“Katakan kepada siapa pun yang akan berkewajiban menerimanya.”

Orang-orang yang sudah menunggu terlampau lama itu menjadi kecewa. Tetapi sudah barang tentu mereka tidak akan memaksa seandainya Empu Pinang Aring sendiri tidak dapat menerima mereka.

“Aneh,” mereka masih saja menjadi heran, “mana mungkin Empu Pinang Aring menjadi sakit. Aku tidak pernah mendengar sebelumnya. Dan aku tidak dapat membayangkan bahwa hal itu telah terjadi.”

Tetapi nampaknya Pinang Aring benar-benar telah menutup diri bagi mereka yang tidak termasuk orang-orang yang paling dipercaya.

Seperti yang dikatakan oleh pengawal itu, maka ternyata beberapa orang yang telah pergi ke Menoreh itu pun telah dipanggil untuk memasuki sebuah rumah induk dari perkemahan mereka. Tetapi yang menerima mereka memang bukan Empu Pinang Aring sendiri meskipun agaknya Empu Pinang Aring juga berada di rumah itu.

“Seorang pengawal telah mendesak agar kalian dapat diterima hari ini,” berkata seorang yang bertubuh kecil, berkulit kuning dengan kumis yang kecil menyilang di atas bibirnya.

“Ya, Kakang Panganti,” jawab salah seorang yang tertua dari mereka, “sudah terlalu lama kami menunggu.”

“Apa salahnya? Kalian tidak akan mendapat tugas baru lagi untuk beberapa lama sampai saat terpenting itu tiba.”

“Apa bekal kita sudah cukup?”

“Empu Pinang Aring tidak peduli lagi. Ada sesuatu yang lebih penting dari semuanya itu. Dan kini yang jauh lebih berharga itu telah ada di sini.”

“Apakah yang jauh lebih berharga itu?”

“Kelak kalian akan mengetahuinya. Sekarang jika kalian memang ingin segera menyampaikan pesan atau laporan tentang tugas-tugasmu, katakanlah. Pada saatnya aku akan menyampaikan kepada Empu Pinang Aring.”

“Apakah saat-saat ini sama sekali tidak ada kesempatan untuk menghadap empu betapa pun pentingnya.”

“Tidak pada waktu dekat ini.”

“Apakah sakitnya cukup parah?”

Panganti termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Empu sebenarnya tidak sakit. Tetapi ia hanya sekedar ingin beristirahat tanpa diganggu oleh siapa pun untuk kira-kira sepekan. Ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Jauh lebih penting dari tugas kalian selama ini.”

“Tetapi ada bahan yang barangkali dapat dipertimbangkan.”

“Katakanlah. Tetapi jika hal itu hanyalah sekedar masalah pengumpulan dana dan barangkali sumber-sumber yang kalian anggap baik, sebaiknya lupakan saja dalam saat-saat seperti ini.”

Orang-orang itu mengerutkan keningnya. Salah seorang dari mereka bertanya, “Kenapa?”

“Sudah aku katakan. Masalahnya ada yang lebih penting daripada itu. Pertemuan di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu memerlukan perhatian sepenuhnya.”

“Apakah ada sesuatu yang kurang wajar telah terjadi?”

“Kematian Kiai Jalawaja memerlukan perhatian.”

Orang-orang itu mengangguk-angguk. Lalu salah seorang bertanya, “Kapankah hal itu sebenarnya akan terjadi?”

“Hanya Empu Pinang Aring sajalah yang mengetahuinya. Kita tidak perlu. Kapan pun hal itu terjadi sama saja akibatnya bagi kita. Bersiaga, menghadapi setiap kemungkinan.”

Orang-orang itu termangu-mangu sejenak. Lalu yang tertua di antara mereka berkata, “Baiklah. Aku akan mengatakannya apa pun tanggapan atas laporanku itu.”

“Katakanlah.”

Orang itu pun segera melaporkan apa yang telah terjadi. Beberapa kelompok-kelompok kecil orangnya berhasil mendapatkan dana meskipun tidak banyak. Korban telah jatuh. Dan mereka mendapat keterangan, bahwa Ki Gede Menoreh akan mengadakan perhelatan perkawinan putera puteri satu-satunya.

Panganti mengangguk-angguk kosong. Seperti ia mendengarkan laporan yang lain. Tanpa perhatian, apalagi tertarik atas sesuatu yang telah terjadi.

“Ya,” sahutnya kemudian, “terima kasih. Yang telah menjadi korban, sudahlah. Itu adalah peristiwa yang wajar bagi suatu perjuangan.”

“Tetapi, apakah perkawinan itu tidak menarik perhatian?”

“Di daerah manakah selama ini kau melakukan kegiatan.”

“He?” orang itu menarik nafas. Ia sadar, bahwa laporannya hanyalah sekedar didengar tanpa perhatian sama sekali.

Panganti mengerutkan keningnya. Dipandanginya orang yang telah memberikan laporan kepadanya itu. Dengan heran ia bertanya pula, “Di manakah selama ini kau melakukan kegiatan? Apakah pertanyaan ini mengherankan kalian?”

“Aku sudah melaporkan semuanya dengan teliti. Tiba-tiba saja aku ditanya, di manakah aku melakukan kegiatan.”

“O,” Panganti tersenyum, “kau kecewa mendengar pertanyaanku? Baiklah. Aku minta maaf. Tetapi cobalah ulangi, di manakah kau melakukan kegiatan?”

“Seandainya aku belum melaporkannya, tentu sudah diketahui, di manakah aku ditugaskan.”

Panganti masih tersenyum. Katanya, “Jangan merajuk. Kau tahu, bahwa bukan akulah yang mengatur tugas setiap anggauta kita di sini. Kali ini aku diwajibkan menerima laporanmu, karena Empu Pinang Aring berhalangan. Aku kira kau cukup tua untuk mengerti.”

Orang itu menelan ludahnya. Ia tidak berani merajuk lagi, karenanya ia tiba-tiba saja sadar, dengan siapa ia berhadapan. Panganti adalah seorang yang mudah tersenyum dan tertawa. Sikapnya baik dan kadang-kadang lemah lembut. Kata-katanya sedap dan menyenangkan.

Namun dengan sikap yang sama, dengan senyum dan tertawa, dengan lemah lembut dan kata-kata yang sedap dan menyenangkan, ia membunuh orang-orang yang tidak disukainya. Dengan seakan-akan bergurau saja ia menukikkan keris ke jantung seseorang yang dikehendaki. Bahkan sambil menganggukkan kepalanya dalam-dalam ia tiba-tiba saja menghantam wajah seseorang sehingga giginya rontok dan bahkan kadang-kadang mematikan. Dengan tersenyum pula ia kemudian berkata, “Maaf, aku tidak sengaja membunuhnya.”

Orang tertua dari kelompok yang bertugas di Menoreh itu pun kemudian berkata, “Ki Panganti. Kami bertugas di Tanah Perdikan Menoreh dan sekitarnya.”

“O, di daerah hantu itu,” desis Panganti.

Orang itu mengerutkan keningnya. Di luar sadarnya ia berta-nya, “Kenapa daerah hantu?”

“Ki Argapati adalah seorang yang teguh timbul. Orang yang jarang ada bandingannya di muka bumi ini.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Apakah yang kau maksudkan adalah perkawinan anak gadisnya itu?”

“Ya. Pandan Wangi akan kawin dengan Swandaru. Anak seorang Demang dari tlatah Sangkal Putung. Kademangan yang subur dan kaya raya.”

Panganti mengangguk-angguk. Katanya, “Memang menarik sekali. Tetapi apakah kau ingin mengusulkan agar kami membunuh diri di induk Tanah Perdikan di saat hari perkawinan itu?”

Orang yang tertua dari kelompok yang bertugas di Menoreh itu menggelengkan kepalanya, “Tidak. Bukan begitu. Aku sudah mendapat keterangan yang lebih jelas dari orang-orang Menoreh. Di saat-saat kami menyamar dan berada di pasar, kami mendengar, kapan pengantin laki-laki bakal tiba dari Sangkal Putung, dan kapan akan kembali ke Sangkal Putung membawa pengantin perempuan.”

“Memang ceriteramu mulai menarik. Dan kau berhasil mengetahui hari dan waktunya?”

“Kami mendengarnya dari orang-orang Menoreh. Mereka tahu pasti kapan mereka harus merayakan hari-hari perkawinan itu. Pandan Wangi adalah anak satu-satunya dari Kepala Tanah Perdikan Menoreh.”

Panganti mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kau membayangkan bahwa pengantin laki-laki itu pun tentu membawa perhiasan yang cukup banyak. Perhiasan pengantin laki-laki itu sendiri dan perhiasan para pengiringnya. Bahkan mungkin harta kekayaan bagi calon isterinya. Begitu?”

“Ya.”

“Dan kau membayangkan, bahwa jika kami bergerak untuk mendapatkan dana dari mereka itu, kita akan melakukannya di luar tlatah Menoreh, karena Menoreh tentu sudah mempersiapkan diri karena peristiwa yang terjadi di ujung Tanah Perdikan dan bahkan di halaman belakang rumah Kepala Tanah Perdikannya itu.”

“Ya.”

“Baiklah. Keterangan ini akan aku sampaikan kepada Empu Pinang Aring. Mungkin dapat menarik perhatiannya. Meskipun ia sama sekali tidak berminat lagi mencari sumber dana yang baru, namun agaknya pengantin ini sangat menarik sekali. Meskipun kalian harus tahu, bahwa Sangkal Putung adalah kademangan yang kuat. Tentu Sangkal Putung mempunyai pengawal-pengawal yang kuat pula. Barangkali Empu Pinang Aring telah mendapat bahan yang cukup selama ia berada di lembah Gunung Merapi menjelang pertemuan puncak antara beberapa pemimpin kelompok yang mendukung perjuangan tegaknya kembali kekuasaan Majapahit di Pulau Jawa.”

Pemimpin kelompok yang bertugas di Tanah Perdikan Menoreh itu mengangguk-angguk. Katanya, “Terserahlah kepada Ki Panganti. Kami sekedar memberikan bahan pertimbangan. Pengantin itu tentu akan melalui jalan yang paling baik menuju ke Tanah Perdikan Menoreh. Dan jalan yang paling baik itu adalah jalan terbaru yang dibuka oleh Mataram. Tetapi menjelang tepian Kali Praga, mereka akan melalui sebuah lapangan perdu dan rawa-rawa meskipun tidak begitu luas. Apakah yang dapat kita lakukan di tempat itu, tentu akan menguntungkan sekali. Kita dapat bergerak cepat dan kemudian menghilang sebelum yang kita lakukan itu didengar oleh para pengawal Tanah Mataram yang kuat, atau mungkin di tempat lain yang lebih baik.”

Panganti tertawa. Katanya, “Pengetahuanmu tentang daerah ini memang picik sekali. Kau kira orang-orang Sangkal Putung itu akan kebingungan dan tidak dapat berbuat apa-apa? Tetapi baiklah. Aku akan menyampaikannya kepada Empu Pinang Aring. Jika tebusannya sepadan menurut perhitungan, maka agaknya Empu Pinang Aring sendiri tidak akan keberatan untuk hadir. Tetapi setidak-tidaknya ia akan memerintahkan orang yang dapat dipercaya untuk melakukannya.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Namun kemudian ia menjadi kecewa ketika Panganti menepuk bahunya sambil berdiri, “Aku terima laporanmu. Sangat menarik.”

Ketika pemimpin kelompok itu tertegun, Panganti tertawa. Sambil melangkah pergi ia berdesis, “Tunggulah. Mungkin ada kabar baik.”

Beberapa orang yang baru datang dari tlatah Perdikan Menoreh itu pun termangu-mangu. Ternyata Panganti sama sekali tidak memperhatikan laporan mereka. Panganti tidak bertanya apa pun yang cukup penting, baik mengenai laporannya maupun mengenai keterangannya tentang perkawinan itu.

“Ia tidak bertanya, apakah yang dapat kita lakukan, perincian dari usaha kita dan yang lain-lain, terutama mengenai pengantin itu.”

Seorang yang berwajah keras seperti padas menarik nafas sambil mengumpat, “Apakah kerja itu sama sekali tidak berarti?”

“Jangan berputus asa,” sahut pemimpin kelompok itu, “mungkin para pemimpin memang sedang sibuk. Kematian Kiai Jalawaja agaknya memang mempunyai pengaruh yang luas.”

“Mungkin ada pertimbangan-pertimbangan lain,” sahut kawannya yang bertubuh tinggi. “Agaknya Ki Panganti banyak mengetahui mengenai Sangkal Putung dan sekitarnya. Karena itu, mungkin ada pertimbangan-pertimbangan lain yang belum kita ketahui.”

Yang lain mengangguk-angguk. Namun mereka sama sekali tidak puas atas penerimaan para pemimpin mereka, setelah mereka menjalankan tugas di daerah Tanah Perdikan Menoreh dan sekitarnya. Bahkan dengan mengorbankan beberapa orang kawan mereka. Tetapi mereka tidak dapat menuntut perhatian lebih banyak lagi meskipun dengan berdebar-debar mereka telah menunggu untuk waktu yang cukup lama.

Namun dalam pada itu, sebenarnyalah para pemimpin kelompok yang berada di kaki Gunung Tidar itu sedang membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu menghadapi perkembangan keadaan. Seperti orang-orang yang berada di Tambak Wedi, maka Empu Pinang Aring juga hanya untuk sementara saja berada di kaki Gunung Tidar. Namun agaknya kehadiran kelompok yang cukup besar itu telah menyingkirkan beberapa kelompok kecil penyamun dan perampok yang sebelumnya telah berada di sekitar Gunung Tidar.

Ternyata bahwa kematian Kiai Jalawaja telah merubah keseimbangan kekuatan di dalam kelompok-kelompok yang merasa dirinya berkepentingan untuk memulihkan kembali kekuasaan Majapahit. Kelompok-kelompok yang dipimpin oleh orang-orang yang merasa dirinya keturunan langsung dari kekuasaan yang berhak untuk berkelanjutan.

Agaknya hal itu telah mencengkam para pemimpin kelompok yang sebelumnya memang sengaja berpencaran, untuk mengaburkan jejak hilangnya pusaka-pusaka dari Mataram.

Di kaki Gunung Tidar itulah Empu Pinang Aring sedang berbincang dengan mendalam mengenai kemungkinan yang sedang dihadapinya menjelang pertemuan di lembah antara Gunung Merbabu dan Gunung Merapi itu.

“Apakah artinya kekuatan Kalasa Sawit sekarang ini tanpa dukungan Kiai Jalawaja atau sebaliknya,” berkata Empu Pinang Aring dalam ruangan tertutup yang hanya dihadiri oleh empat orang kepercayaannya termasuk Ki Panganti.

“Tetapi pengaruh Kiai Kalasa Sawit cukup besar bagi para pemimpin yang ada di dalam lingkungan pemerintah dan keprajuritan di Pajang. Suaranya banyak didengar dan rencananya hampir seluruhnya disetujui,” desis seorang yang bertubuh besar, berkumis lebat, dan bermata tajam. Di keningnya terdapat segores bekas luka yang menyilang.

“Kau benar Rimbag Wara,” jawab Empu Pinang Aring, “tetapi itu adalah karena pengaruh hadirnya kekuatan Kiai Jalawaja dan pengiringnya.”

“Tetapi kenapa bukan Kiai Jalawaja sendiri yang mempunyai pengaruh langsung kepada para pemimpin di Pajang itu, Empu?” bertanya Ki Panganti.

“Kiai Kalasa Sawit mempunyai suatu kelebihan. Ia dapat membuktikan bahwa saluran keturunannya jauh lebih dekat dari Kiai Jalawaja. Selebihnya Kiai Kalasa Sawit masih mempunyai hubungan langsung dengan pemimpin tertinggi yang ada di dalam tubuh keprajuritan Pajang. Karena itu, maka pengaruh Kiai Jalawaja atas Pajang harus disalurkannya lewat Kiai Kalasa Sawit.”

Ki Panganti mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Apakah Empu Pinang Aring tidak membuktikan bahwa keturunan Empu lebih dekat jika ditelusur lewat Prabu Brawijaya Pamungkas?”

“Aku sedang berusaha mendapatkan bukti-bukti yang meyakinkan tentang diriku. Tetapi itu memerlukan waktu yang lama. Sementara ini semua rencana yang sudah disusun bersama harus dapat dilaksanakan sebaik-baiknya.”

“Tetapi apakah dalam pertemuan di lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu itu sudah akan mempersatukan kedua pusaka yang kita ambil dari Mataram?”

“Seharusnya memang demikian. Tetapi aku akan mencegahnya. Songsong itu tidak akan aku bawa ke lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu itu dengan alasan apa pun juga.”

“Apakah hal itu tidak akan menimbulkan pertentangan?”

“Betapa pun juga, tetapi tidak akan ada sekelompok pun yang berani memaksakan perselisihan sebelum kedua pusaka itu bergabung. Bahkan tentu ada usaha untuk tetap memelihara kerja sama dengan membagi kekuasaan dan daerah pengaruh atas seluruh wilayah Pajang.” Empu Pinang Aring berhenti sejenak, lalu, “Sebenarnya aku lebih senang menempatkan pusaka-pusaka itu sejauh-jauhnya dari Pajang dan Mataram. Mungkin di Pesisir Utara, mungkin di daerah Bang Wetan. Dengan demikian tidak akan ada kecemasan bahwa kekuasaan Mataram atau Pajang akan dapat menjangkau kita.”

“Belum tentu, Empu,” sahut seorang yang bertubuh gemuk. “Para Adipati masih mengakui kekuasaan Pajang. Mereka akan dapat digerakkan setiap saat di bawah pimpinan Senapati Pajang yang ditugaskan. Karena itu, tidak akan banyak bedanya dengan daerah yang dekat dengan pusat pemerintahan Pajang dan Mataram. Selebihnya, kita tidak akan dapat berhubungan langsung dengan para pemimpin dan prajurit Pajang, sekaligus di Pajang kita akan dapat menghubungi orang-orang yang tengah menyiapkan benturan antara Pajang dan Mataram.”

Empu Pinang Aring mengangguk-angguk. Meskipun demikian ia mulai membayangkan beberapa orang adipati yang akan dapat dipengaruhinya sebagai pewaris kekuasaan Majapahit. Apalagi oleh ketidak puasan mereka terhadap pimpinan Pajang yang sedang kehilangan nafas gerak kepemimpinannya.

Namun dalam pada itu sejenak kemudian Empu Pinang Aring itu pun berkata, “Baiklah. Aku akan menunggu. Mungkin pertemuan di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu akan dapat menentukan, apakah yang sebaiknya aku lakukan.”

“Mungkin suatu gerak maju yang serasi antara kekuatan-kekuatan yang ada di pihak kita sekarang,” berkata Panganti, “tetapi tidak mustahil bahwa yang terjadi adalah sebaliknya. Jika pimpinan yang selama ini kita anggap sebagai orang yang paling berpengaruh, dan memiliki kekuasaan resmi di dalam pemerintahan Pajang yang sekarang kurang berhasil mengendalikan keadaan, maka yang terjadi justru perselisihan dan benturan antara kekuatan yang selama ini merasa diikat oleh kepentingan yang sama.”

“Karena itu kita tidak boleh lengah. Sepeninggal Kiai Jalawaja tentu telah timbul perubahan di dalam tubuh pasukan yang dipimpin oleh Kiai Kalasa Sawit. Mungkin sebagian besar pasukan Kiai Jalawaja akan bergabung dengan kekuatan Ki Kalasa Sawit.”

“Tetapi tergantung kepada pimpinan tertinggi. Mungkin ia masih akan tetap berpegang pada keseimbangan yang benar. Namun perkembangan terakhir dari setiap kelompok yang ada tentu akan mempengaruhinya pula. Karena itulah, maka semua kekuatan yang ada, menjelang hari pertemuan itu harus sudah berada di kaki Gunung Tidar ini. Kita akan memasuki lembah itu dengan kekuatan sepenuhnya. Kekuatan senjata dan kemungkinan untuk bertahan di dalam segala pengaruh keadaan, termasuk dana yang ada pada kita.”

Yang lain mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Panganti berdesis, “Empu. Ada sesuatu yang barangkali dapat dipertimbangkan sehubungan dengan dana yang dapat kita bawa dalam pertemuan yang akan diadakan di lembah itu.”

“Sudah aku katakan,” berkata Empn Pinang Aring, “meskipun hal itu ikut menentukan seperti yang kau katakan, tetapi yang terpenting bagi kita adalah pengumpulan kekuatan. Kita tidak akan dapat membiarkan orang-orang kita menjadi korban usaha pengumpulan dana itu lagi. Kita akan lebih menghargai tenaga manusia daripada jumlah uang yang lebih banyak lagi. Pengumpulan harta benda aku anggap sudah cukup banyak.”

“Tetapi Empu,” desak Panganti, “ada suatu cara yang mudah sekali untuk menambah jumlah itu.”

Empu Pinang Aring mengerutkan keningnya.

“Beberapa saat lagi, sebuah iring-iringan pengantin akan menempuh perjalanan yang jauh. Mereka akan menempuh perjalanan dari Sangkal Putung ke Tanah Perdikan Menoreh dan sebaliknya.”

Namun agaknya Empu Pinang Aring tidak tertarik lagi. Bahkan katanya, “Dalam benturan yang demikian, maka tentu akan jatuh korban dari kedua belah pihak. Iring-iringan itu tentu bukan hanya satu atau dua orang saja. Setiap kematian di antara kawan-kawan kita tentu akan mengurangi kekuatan yang telah ada.”

“Tetapi apakah dalam hal ini tidak dapat diperhitungkan dengan kemungkinan yang akan kita dapatkan dari mereka? Pengantin dari dua keluarga yang cukup kaya tentu memiliki perhiasan yang cukup. Dipakai atau tidak dipakai di saat mereka menempuh perjalanan. Tetapi perhiasan itu tentu ada pada mereka. Terlebih-lebih lagi, iring-iringan sepasang pengantin itu pada saat mereka dibawa ke Sangkal Putung di hari yang kelima.”

Empu Pinang Aring termangu-mangu.

“Kita dapat memperhitungkan, Empu,” berkata Panganti, “berapa orang yang ada di dalam iring-iringan itu. Tentu tidak semua orang laki-laki dari Sangkal Putung akan ikut bersama mereka.”

“Bagaimana kita mengetahui jumlah mereka?” bertanya Empu Pinang Aring.

“Kita memasang orang yang harus mengawasi jalan yang menghubungkan kedua daerah itu. Perjalanan dari Tanah Perdikan Menoreh ke Sangkal Putung tentu lebih menguntungkan, karena di antara mereka terdapat pengantin perempuan.”

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s