ADBM1-095

<<kembali | lanjut >>

GANDU DEMUNG mengangguk-angguk sambil menjawab, “Ya. Ya. Maksudku memang demikian. Hubunganku dengan Ki Bajang Garing seperti yang sudah aku katakan, hendaknya menjadi pertimbangan. Selain itu, barangkali Ayah dapat menunjuk kelompok yang lain yang memadai, sebagai kelompok ke tiga.”

“Kau belum melihat kekuatan yang sebenarnya dari kelompok kita, kelompok Ki Bajang Garing, dan kelompok-kelompok yang lain,” berkata saudaranya yang paling tua, “sehingga dengan demikian sebenarnya kau belum dapat mengatakan, bahwa tiga, empat atau satu kelompok sudah cukup untuk melakukan tugas itu.”

“Aku sudah mempunyai gambaran,” jawab Gandu Demung, “bukankah sejak kecil aku berada dalam lingkungan ini?”

“Tetapi perubahan telah banyak terjadi di daerah ini. Yang kecil sudah menjadi besar, tetapi yang besar justru menjadi kecil.”

“Baiklah. Baiklah besok aku akan melihat, sudah barang tentu yang pertama-tama adalah kelompok kita sendiri.”

“Kau akan melihat yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya.”

Gandu Demung mengerutkan keningnya. Namun ia menjawab, “Tetapi ingat, pengantin itu akan dipertemukan dalam waktu yang singkat. Tidak ada sebulan lagi. Bahkan tinggal setengah bulan lebih sedikit.”

“Kau harus mendapatkan kepastian waktu.”

“Tentu. Seperti yang aku katakan, kita perlu melihat dan mengamati langsung Tanah Perdikan Menoreh, menyusuri jalan menuju ke Sangkal Putung.”

Demikianlah untuk sementara pembicaraan itu berakhir. Gandu Demung memang tidak memaksakan agar saudara-saudaranya segera mengambil keputusan. Tetapi tanggapan saudara-saudaranya agaknya dapat diharapkan, bahwa mereka tidak akan menolaknya.

Adalah sudah menjadi kebiasaan Gandu Demung, berada di segala tempat dan di segala cuaca. Itulah sebabnya, maka ia sama sekali tidak mengeluh, bahwa ia harus berada di tempat yang sempit dan pengap di sarang keluarganya. Meskipun letak rumahnya tidak berubah, tetapi ternyata di malam hari, mereka tidak berada di rumah itu. Untuk sementara mereka menyingkir di sebuah gubug kecil di pategalan. Hanya perempuan dan anak-anak sajalah yang berada di rumahnya.

“Sebenarnya malam ini tidak perlu,” berkata Gandu Demung, “jika yang kalian cemaskan adalah tindakan dari Empu Pinang Aring, tentu tidak akan berbahaya justru aku berada di sini.”

Kakaknya yang tertua menyahut, “Biarlah kita membiasakan diri berada di tempat yang terpisah dari padukuhan, agar semua persoalan tidak akan menyangkut keluarga kita. Bukan saja sentuhan dengan Empu Pinang Aring, tetapi juga dengan gerombolan-gerombolan lain yang menjadi hampir kelaparan sekarang ini.”

Gandu Demung mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa kelompok-kelompok penjahat itu harus menjadi sangat berhati-hati dalam keadaan yang bagi mereka merupakan masa yang sulit. Karena dalam keadaan yang memaksa mereka tidak segan-segan untuk melakukan kekerasan atas kelompok-kelompok yang lain, yang menurut perhitungan mereka akan dapat dikalahkan.

Karena itulah, maka kelompok-kelompok yang merasa dirinya terlampau kecil, akan segera lenyap, meskipun mungkin hanya untuk beberapa saat dan yang kelak apabila keadaan telah memungkinkan akan segera muncul kembali. Atau bahkan telah meninggalkan daerah itu untuk bergabung dengan kelompok-kelompok serupa ditempat yang jauh.

Dalam pada itu, ternyata kehadiran Gandu Demung di tempatnya telah menimbulkan suatu gelombang yang menggerakkan kelompok-kelompok yang ada di sekitar Gunung Tidar. Di malam pertama, Gandu Demung tidak banyak berbicara lagi tentang rencananya. Ia merasa bahwa apa yang dikatakannya sudah cukup banyak.

Baru di keesokan harinya, Gandu Demung bersama saudara-saudaranya melihat-lihat apakah yang sebenarnya ada di dalam kelompok mereka.

“Mungkin kau belum mengenal beberapa orang yang kini justru menjadi kekuatan kelompok kita,” berkata kakaknya yang tertua.

Gandu Demung mengangguk-angguk. Ia memang melihat beberapa orang baru di dalam lingkungannya.

“Mereka telah kami panggil untuk kami perkenalkan dengan kau,” berkata kakaknya yang tertua.

Gandu Demung menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kakaknya telah membawanya ke tempat yang jarang sekali disentuh kaki manusia. Di pinggir hutan, di tepian sungai berpasir.

“Di manakah mereka tinggal selama ini?” bertanya Gandu Demung.

“Mereka berada di dalam lingkungan keluarga masing-masing. Aku kira seperti juga orang-orang Ki Bajang Garing. Hanya dalam saat-saat tertentu kita berkumpul dan berbicara tentang keadaan kita dalam keseluruhan.”

Gandu Demung mengangguk-angguk. Katanya, “Ternyata susunan kelompok ini justru menjadi semakin baik dan rapi. Tetapi sayang, bahwa aku sudah tidak dapat berada di antara kalian semuanya, karena aku merasa terpanggil ke dalam tugas yang lebih besar.”

Beberapa orang yang ada di tempat itu untuk diperkenalkan dengan Gandu Demung mengangguk-angguk. Namun ternyata seorang yang bertubuh besar, tegap berkumis melintang tetapi berkepala botak tertawa pendek sambil berkata, “Mungkin suatu kesempatan yang baik sajalah yang telah memperkenalkan kau dengan Empu Pinang Aring, Anak Muda.”

Gandu Demung mengerutkan keningnya. Sekilas dipandanginya wajah kakaknya yang menjadi tegang pula.

“Maaf Gandu Demung. Aku memang orang baru di sini. Tetapi jangan dikira bahwa aku adalah orang kelaparan yang minta perlindungan. Orang di dalam kelompok ini tentu sudah mengenal siapakah aku. Kakakmu itu pun mengenal aku pula. Bertanyalah kepadanya, siapakah sebenarnya orang terkuat di kelompok ini.”

Gandu Demung termangu-mangu. Sekilas dipandanginya kakaknya berganti-ganti. Dari yang paling tua, sampai adiknya yang paling muda, yang berjumlah empat orang itu selain dua saudara perempuannya.

Kakaknya yang paling tua pun kemudian bertanya kepada orang yang berkepala botak itu, “Apa sebenarnya maksudmu?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa adikmu itu jangan menganggap kami, orang-orang yang belum dikenalnya, sebagai orang yang menumpang hidup di sini. Jika aku di sini, bukan menjadi pimpinan, karena sejak aku datang, sudah ada seorang yang disegani. Tetapi bahwa pimpinan tertinggi di kelompok ini bukanlah orang terkuat tentu sudah diketahui.”

Tiba-tiba kakak tertua Gandu Demung itu meloncat berdiri sambil membelalakkan matanya. Katanya, “Aku tidak mengira bahwa kau bersikap seperti itu. Tetapi kau harus menyadari, tidak seorang pun yang mengetahui dengan pasti, bahwa kau adalah orang terkuat di sini, karena kita belum pernah menentukan ukuran yang dapat kita terima bersama-sama. Apalagi jika yang kau anggap pimpinan tertinggi adalah ayah.”

Orang itu masih tertawa. Katanya, “Kadang-kadang kita memang perlu meyakinkan, siapakah yang memegang peran tertinggi di dalam suatu kelompok tertentu. Mungkin seseorang dianggap sebagai pemimpin tertinggi karena pengaruhnya, karena kecakapannya memimpin dan membuat rencana yang masak, tetapi mungkin juga karena memang tidak ada orang lain di dalam kelompok itu yang dapat mengalahkannya.”

Kakak tertua Gandu Demung mengangguk-angguk. Katanya, “Baik. Baik. Justru saat adikku ada di sini kau ingin menunjukkan bahwa kau adalah orang yang tidak terkalahkan di sini. Marilah. Aku akan mewakili ayahku yang tidak akan mempedulikan kau dengan kesombonganmu, meskipun aku belum dapat menyamai kemampuan ayahku.”

Orang berkepala botak itu masih tertawa. Katanya, “Jangan mencari kesulitan. Sebenarnya kata-kataku sama sekali tidak aku tujukan kepadamu, karena selama ini kau telah berhasil memimpin kelompok ini dengan baik. Aku hanya ingin menunjukkan kepada adikmu bahwa ia tidak boleh bersikap seperti sikapmu, karena ia sama sekali bukan pemimpin di sini. Lebih-lebih lagi, jika ia menganggap bahwa orang-orang yang ada di sini sekarang ini, adalah orang-orang yang menggantungkan hidupnya kepada mereka yang telah lama berada di dalam kelompok ini.”

“Itu pikiran gila,” bentak kakak tertua Gandu Demung.

Namun dalam pada itu, Gandu Demung pun tersenyum sambil berkata, “Baiklah. Aku mengerti. Tentu yang dimaksud adalah apakah aku pantas menyebut diriku adik dari pemimpin kelompok ini. Baiklah. Jika itu yang kau kehendaki, maka aku pun akan menerima dengan senang hati. Bukankah jelasnya kau menantang aku untuk berkelahi sehingga dengan demikian kau akan mendapat ukuran mengenai diriku di antara saudara-saudaraku dan orang-orangnya di sini.”

Orang berkepala botak itu menjadi tegang, justru karena ia tidak menyangka bahwa Gandu Demung akan mempergunakan istilah yang terus-terang.

Namun kemudian ia berkata, “Ternyata kau cukup jantan, sehingga pantas kau berada di lingkungan kelompok Empu Pinang Aring.”

Gandu Demung mengangguk-angguk. Sejenak dipandanginya orang berkepala botak itu. Ujudnya memang meyakinkan. Badannya yang tegap besar dan dadanya yang bidang ditumbuhi bulu-bulu yang lebat.

Dalam pada itu, Gandu Demung pun kemudian berkata kepada kakaknya, “Biarlah aku memenuhi keinginannya.”

“Gandu Demung. Akulah yang mewakili ayah di sini. Karena itu biarlah aku menertibkan orang-orangku. Jika kau memang ingin mengukur kekuatannya, lakukanlah. Tetapi aku harus mendapat kepastian, bahwa aku akan dapat mengalahkannya. Jika tidak, maka kewibawaanku sebagai pemimpin di sini akan selalu direndahkannya. Karena itu biarlah ia yakin, bahwa aku adalah pemimpinnya di sini.”

Tetapi adiknya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kakang, aku wajib menerima tantangannya agar aku dapat membuktikan bahwa orang itu bagiku tidak berarti apa-apa.”

“Anak Setan,” geram orang berkepala botak itu, “ayo, cepat. Lakukanlah. Tetapi jika kau hanya dapat bersembunyi di punggung kakakmu, apa boleh buat.”

“Nah, kau dengar, Kakang? Akulah yang memang ditantangnya. Dan aku sama sekali tidak berkeberatan. Aku adalah salah seorang pemimpin yang dipercaya di dalam lingkungan kelompok besar yang dipimpin oleh Empu Pinang Aring. Jika orang berkepala botak itu dapat mengalahkan aku, maka ia adalah orang yang pantas duduk di sebelah Empu Pinang Aring seperti aku. Bahkan mungkin melampauinya.”

Kakaknya yang paling tua menggeretakkan giginya. Lalu kata-nya, “Baiklah. Lakukanlah. Sebenarnya tidak perlu kau sendiri yang melawannya. Semua saudara-saudaramu akan mampu mengalahkannya. Bahkan kalau perlu mematahkan lehernya.”

Orang berkepala botak itu tertawa. Katanya, “Memang sulit untuk mendapatkan gambaran kekuatan seseorang. Di dalam tugas kita masing-masing, kita tidak akan dapat langsung saling mengukur. Jumlah orang yang sudah dibunuh bukan ukuran kemampuan seseorang.” Orang berkepala botak itu berhenti sejenak, lalu, “Jika kau dapat mengalahkan aku, Gandu Demung, maka baru kau pantas memimpin kami melakukan perampokan atas sepasang pengantin dari Tanah Perdikan Menoreh, karena menurut pendengaranku, Menoreh adalah lumbung orang yang berilmu tinggi.”

Gandu Demung tidak berbicara lagi. Ia pun kemudian berdiri dan membenahi pakaiannya, menyingsingkan kain panjangnya, dan bahkan kemudian melepaskan senjatanya dan menyerahkannya kepada kakaknya.

“’Dalam permainan ini aku tidak memerlukannya.”

Kakaknya menerima senjata itu sambil berkata, “Hati-hatilah.”

Gandu Demung tersenyum. Lalu dipandanginya orang berkepala botak itu sambil berkata, “Tepian ini berpasir. Kita dapat bermain-main di sini dengan sejumlah saksi. Kita dapat bermain-main sampai tengah hari, sampai senja, atau tiga hari tiga malam. Aku akan melayanimu saja sesuai dengan seleramu.”

Orang berkepala botak itu menggeram. Ternyata Gandu Demung sama sekali tidak mengacuhkan ujudnya yang di dalam banyak hal sangat berpengaruh. Ketika ia mula-mula datang ke tempat itu, maka semua orang dapat digertaknya dengan ujudnya yang meyakinkan dan sekali-sekali ia memang dengan sengaja menunjukkan kemampuan tangannya yang melampaui kekuatan seekor kerbau.

Namun menghadapi Gandu Demung yang menganggapnya tidak berarti itu, hatinya benar-benar tergetar.

Sementara itu Gandu Demung sudah berjalan menjauhi kerumunan anggauta kelompok yang diperkenalkan kepadanya. Bahkan di antara mereka pun terdapat orang-orang lama yang sudah mengenalnya dengan baik. Meskipun demikian, apalagi orang-orang baru menjadi sangat berdebar-debar. Karena sikap orang berkepala botak itu nampaknya begitu garang.

Orang berkepala botak itu pun kemudian mengikuti Gandu Demung. Sementara orang-orang yang lain pun kemudian berkerumun mengelilingi keduanya yang siap untuk bertempur.

“Tentukan peraturan permainannya,” geram kakaknya.

Orang berkepala botak itu menyahut dengan serta-merta, “Serahkan kepada kami berdua.”

“Maksudmu?”

“Apa saja yang akan dilakukan oleh yang menang. Jika ia menaruh belas kasihan, biarlah ia mengasihani sejauh dikehendaki. Jika tidak maka kemungkinan terpahit akan kita alami.”

“Itu tidak mungkin.”

“Sikapnya sangat menghina aku,” jawab orang berkepala botak, “sehingga tantanganku telah berubah bentuk. Bukan sekedar mengetahui siapakah yang terkuat, tetapi juga sebagai sikap ingin pertahankan harga diri. Dan harga diriku sama nilainya dengan nyawaku. Tetapi jangan takut bahwa aku akan membunuhnya. Aku masih mempunyai rasa perikemanusiaan. Sejauh yang dapat aku lakukan adalah membuatnya cacat sehingga ia akan kehilangan kesombongannya.”

Gandu Demung mengerutkan keningnya. Ia tidak menyangka bahwa orang berkepala botak itu benar-benar telah terbakar hatinya. Namun demikian ia berkata, “Baiklah. Terserah kepadamu. Sudah aku katakan, aku hanya melayani menurut seleramu.”

“Persetan,” geramnya.

Gandu Demung pun kemudian mempersiapkan diri. Raksasa berkepala botak itu tentu memiliki kekuatan jasmaniah yang besar. Namun ia tidak yakin bahwa ia memiliki kecepatan bergerak yang sesuai dengan kekuatannya itu.

Sejenak kemudian raksasa itu telah melangkah mendekat. Nampaknya ia terlampau yakin akan dirinya. Akan kekuatannya dan ketahanan tubuhnya, seolah-olah ia membiarkan serangan lawannya mengenainya tanpa akan menghindar atau menangkisnya.

Gandu Demung memang agak heran melihat kesombongan orang bertubuh raksasa itu. Namun dengan demikian ia menjadi semakin berhati-hati. Mungkin memang ada sesuatu yang pantas diandalkannya, sehingga ia berani berbuat demikian. Padahal orang itu tahu, bahwa Gandu Demung adalah orang yang mendapat kepercayaan dari Empu Pinang Aring.

Dalam pada itu, suasana menjadi semakin tegang. Setiap orang yang melihat kemarahan yang telah membakar jantung orang berkepala botak itu menjadi berdebar-debar. Mereka menyadari bahwa orang berkepala botak itu memang memiliki kemampuan yang tidak terlawan oleh mereka. Bahkan beberapa orang menjadi heran ketika mereka mengetahui, bahwa orang berkepala botak itu akan bergabung dengan kelompok mereka.

“Apakah ia tidak mendapat kesempatan yang lebih baik daripada berada di sini,” pernah seseorang bertanya kepada kawan-kawannya.

Namun kemudian ternyata bahwa orang berkepala botak itu benar-benar telah menjemukan bagi kawan-kawannya. Ia selalu memaksakan kehendaknya. Bahkan kadang-kadang merampas milik kawan-kawanrya yang disukainya.

Meskipun demikian, ia masih tetap tunduk kepada pimpinan kelompok, meskipun setiap kali ia mengatakan, bahwa ia memiliki beberapa kelebihan dari saudara-saudara Gandu Demung.

Kedatangan Gandu Demung bagi orang berkepala botak itu adalah kesempatan untuk menunjukkan, bahwa ia memiliki sesuatu yang pantas dikagumi, dan bahkan ditakuti oleh setiap orang di dalam kelompok itu.

Sejenak kemudian Gandu Demung telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Dengan hati-hati ia pun maju beberapa langkah. Ia tidak mau menganggap bahwa lawannya adalah seseorang yang hanya pantas berada di dalam lingkungan kecil dari sekelompok penjahat di sekitar Gunung Tidar.

“Hari ini adalah hari yang terakhir bagiku di sini. Sebagai seorang yang hanya menggantungkan diri kepada seseorang yang semula tidak aku ketahui tingkatan ilmunya,” berkata orang berkepala botak itu tiba-tiba. “Karena hari ini aku akan membuktikan bahwa akulah orang terkuat di dalam kelompok ini, sehingga sepantasnya akulah yang harus menjadi pemimpin kalian. Mula-mula aku tidak berniat demikian. Tetapi penghinaan yang berlebih-lebihan, justru telah menumbuhkan dendam di dalam hatiku. Siapa yang tidak tunduk kepada keputusanku ini, akan aku bunuh di tepian ini juga.”

“Gila,” teriak kakak Gandu Demung.

Namun sebelum ia meneruskan, Gandu Demung telah mendahului, “Biarkan ia berkicau seperti seekor burung. Suaranya akan segera terhenti jika ia mengerti, berapa luasnya langit, dan betapa dalamnya lautan.”

Kemarahan orang berkepala botak itu benar-benar tidak tertahankan lagi. Dengan serta-merta ia melangkah maju sambil mengayunkan tangannya mendatar, menghantam wajah Gandu Demung.

Gandu Demung mejadi heran melihat tata gerak itu. Sangat sederhana. Namun justru karena itu, maka ia pun menjadi sangat berhati-hati.

Demikianlah, ketika ayunan tangan itu hampir mengenai pelipisnya, maka ia pun menarik kepalanya sambil bergeser melangkah ke samping.

Tangan orang berkepala botak itu berdesing di sebelah telinga Gandu Demung. Dan dengan demikian Gandu Demung dapat meraba, betapa kuatnya tenaga yang terlontar pada ayunan tangan itu.

“Gerak yang sederhana itu sangat mencurigakan,” berkata Gandu Demung di dalam hatinya.

Namun, dalam pada itu, Gandu Demung telah didorong oleh suatu keinginan untuk mengetahui kekuatan daya tahan lawannya. Karena itulah, maka sebelum orang berkepala botak itu menyadari kegagalannya. Gandu Demung telah menyerangnya. Kakinya terjulur mendatar mengarah ke lambung lawannya. Meskipun Gandu Demung tidak mempergunakan segenap kekuatannya, namun serangan kaki itu sangat berbahaya bagi lawannya.

Ternyata orang berkepala botak itu sama sekali tidak mengelak. Dibiarkannya saja kaki Gandu Demung menghantam lambungnya

Benturan itu telah mengejutkan kedua belah pihak. Gandu Demung terkejut bahwa lawannya benar-benar memiliki kekuatan raksasa sesuai dengan ujud badannya. Sedangkan orang berkepala botak itu tidak mengira bahwa Gandu Demung yang tidak sebesar dirinya itu telah berhasil menyakiti lambungnya.

Orang berkepala botak itu menggeram. Di antara mereka yang berada di dalam kelompoknya tidak seorang pun yang mampu menyakitinya dengan serangan yang betapa pun kuatnya.

Sejenak kemudian kembali keduanya menyiapkan diri untuk suatu perkelahian yang tentu akan menegangkan. Orang-orang yang mengelilingi keduanya seolah-olah telah menahan nafas mereka. Apalagi ketika mereka melihat orang bertubuh raksasa itu melangkah mendekati lawannya dengan kedua tangannya mengembang.

Gandu Demung termangu-mangu melihat sikap lawannya. Apakah ia dengan demikian telah menjebaknya, atau justru karena ia benar-benar meyakini ketahanan tubuhnya.

Dalam keragu-raguan itu justru Gandu Demung melangkah surut di luar sadarnya.

Tetapi langkah Gandu Demung itu agaknya telah mempengaruhi setiap orang yang menyaksikannya. Mereka menganggap bahwa agaknya Gandu Demung merasa segan menghadapi lawannya yang mempunyai ujud dan kekuatan raksasa itu.

Agaknya orang berkepala botak itu pun menganggapnya demikian. Karena itulah maka ia pun kemudian tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “O, anak malang. Mimpi apakah gerangan yang telah membawamu kemari mengunjungi sanak dan saudara-saudaramu. Ternyata di sini kau hanya akan mengalami nasib yang menyedihkan. Kau harus menebus kesombonganmu dengan cacat seumur hidupmu.”

Kakak Gandu Demung menjadi tegang. Ia pun menjadi cemas melihat sikap adiknya yang disangkanya memiliki kelebihan dari saudara-saudaranya yang ditinggalkan di daerah yang buram itu.

Namun tiba-tiba saja semua orang telah dikejutkan oleh sebuah tata gerak yang tidak terduga-duga. Belum lagi suara tertawa orang berkepala botak itu menurun di antara kata-katanya, tiba-tiba saja suara itu terputus. Ternyata Gandu Demung menjadi muak mendengar suara tertawa itu, dari segera meloncat menyerang langsung memukul mulut lawannya yang sedang tertawa itu.

Serangan Gandu Demung itu benar-benar telah mengejutkan orang berkepala botak itu. Tiba-tiba saja ia merasa mulutnya disengat oleh sentuhan tangan yang membuatnya menyeringai kesakitan meskipun tidak mematahkan giginya, tetapi serangan Gandu Demung yang tiba-tiba itu telah menyakitinya.

Selain perasaan sakit, orang berkepala botak dan mereka yang menyaksikannya pun menjadi heran. Betapa cepatnya Gandu Demung bergerak, sehingga tidak ada yang dapat mencegahnya, memukul mulut orang berkepala botak itu.

Sementara orang berkepala botak itu termangu-mangu kebingungan, Gandu Demung berkata dengan lantang, “Orang bertubuh raksasa. Aku ternyata tidak mengetahui, mimpi apakah gerangan aku semalam. Apalagi, makna dari mimpiku itu. Mungkin perlambang dari nasib yang malang, tetapi mungkin pula perlambang dari sebuah permainan yang mengasyikkan. Dan aku pun menjadi bingung melihat perlawananmu yang menggelikan itu.”

Orang berkepala botak itu marah bukan buatan. Seperti yang dilakukan oleh Gandu Demung, maka orang itu ingin menyerang dengan tiba-tiba, tetapi ternyata bahwa tubuh raksasanya itu tidak mampu bergerak secepat Gandu Demung,

Namun ternyata bahwa tenaganya memang terlampau kuat. Tangannya terayun menyambar kepala Gandu Demung. Terlalu keras, sehingga jika tangan itu berhasil menyentuh wajah lawannya, maka rahang Gandu Demung tentu akan patah karenanya.

Tetapi gerak itu terlalu sederhana seperti tata gerak yang terdahulu. Betapa lambannya bagi Gandu Demung meskipun cukup keras.

Gandu Demung memang memiliki kemampuan bergerak secepat burung sikatan. Karena itulah, maka ia mampu mengimbangi kekuatan lawannya dengan kecepatan geraknya.

Sekali lagi tangan orang berkepala botak itu terayun beberapa jari dari rahangnya. Sekali lagi terasa desir angin yang menyambar oleh dorongan ayunan tangan itu. Dan sekali lagi Gandu Demung berdesah karena ia menyadari betapa kuatnya tenaga orang berkepala botak itu yang terlampau percaya kepada kekuatannya sehingga ia tidak begitu menghiraukan tata geraknya. Meskipun demikian, itu bukan berarti bahwa sebenarnya orang itu tidak mampu melakukan tata gerak berlandaskan ilmu kanuragan.

Namun Candu Demung masih saia melihat serangan lawannya yang lamban betapa pun kuatnya. Ketika ayunan tangan orang berkepala botak itu tidak mengenai sasarannya, maka ia pun melangkah maju dengan sebuah loncatan. Tangannya terjulur lurus meraih tubuh Gandu Demung.

Gandu Demung sadar, jika tubuhnya tersentuh tangan lawannya, apalagi tertangkap, ia harus dapat segera melepaskan diri sebelum tulangnya diremukkannnya.

Tetapi agaknya terlampau sulit bagi orang berkepala botak itu untuk menangkap anggauta badan Gandu Demung.

Namun dengan demikian, maka kemarahan semakin membakar hati orang berkepala botak itu. Kegagalan-kegagalannya telah membuatnya semakin garang. Bahkan orang berkepala botak itu pun kemudian menyerang dengan membabi buta tanpa memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan oleh lawannya.

Tetapi agaknya ia memang terlalu percaya kepada kekuatannya. Setiap kali ia melangkah maju menerkam lawannya, sebelum tangannya berhasil menyentuh tubuhnya, justru serangan Gandu Demung telah mengenainya. Meskipun demikian, seolah-olah ia tidak merasakan sesuatu meskipun sekilas nampak bibirnya menyeringai. Namun ia melangkah maju terus mengejar lawannya.

Gandu Demung menjadi berdebar-debar. Tetapi ia memiliki kecepatan bergerak yang jauh melampaui kemampuan lawannya. Karena itu, ketika sekali lagi orang berkepala botak itu melangkah maju, maka ia pun mendahuluinya menyerang dengan kakinya mendatar mengenai lambung.

Langkah orang berkepala botak itu terhenti. Sekali lagi ia menyeringai, namun kemudian ia melangkah maju lagi dengan tangan terjulur lurus ke depan.

“Gila,” desis Gandu Demung, “apakah badannya terbuat dari besi baja?”

Tetapi ia tidak sempat berpikir terlalu lama. Kedua tangan lawannya hampir saja berhasil mencengkam bajunya. Tetapi Gandu Demung segera memiringkan tubuhnya. Ketika kedua tangan itu terjulur tepat di muka dadanya, maka ia pun segera melangkah justru mendekat. Dengan tangannya ia menghantam perut orang itu dengan kekuatan yang menghentak.

Sebuah keluhan tertahan di mulut orang berkepala botak itu. Sesaat kedua tangannya dengan gerak naluriah memegang perutnya yang terasa mual. Sedangkan Gandu Demung mempergunakan kesempatan itu untuk menghantam tengkuk orang itu dengan sisi telapak tangannya. Orang itu tertunduk sejenak. Terasa tengkuknya disengat oleh perasaan sakit yang amat sangat.

Gandu Demung ingin mempergunakan kesempatan selanjutnya. Namun ia tidak mengira, bahwa orang yang sedang terbungkuk karena serangan di tengkuknya itu tiba-tiba saja telah menangkap kaki Gandu Demung.

Gandu Demung terkejut ketika tiba-tiba saja tubuhnya seperti terseret oleh arus yang kuat. Tulang-tulangnya bagaikan patah karena genggaman tangan yang sangat kuat itu.

Tetapi Gandu Demung telah memiliki ilmu olah kanuragan. Itulah sebabnya, maka ia pun seolah-olah digerakkan oleh nalurinya, menjatuhkan dirinya di atas pasir tepian. Kaki yang ditangkap itu pun dihentakkannya, sedangkan kakinya yang lain telah menghantam dada orang itu.

Sekali lagi sebuah keluhan tertahan di kerongkongan orang berkepala botak itu. Namun tangannya ternyata tidak melepaskan kaki Gandu Demung. Bahkan dengan kekuatan yang luar biasa, orang itu mencoba memutar tubuh Gandu Demung.

Gandu Demung menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa ia berada dalam bahaya. Jika orang itu berhasil memutar tubuhnya dan menghantam batu sebesar kerbau di sungai itu, maka kepalanya tentu akan pecah karenanya.

Namun dalam pada itu, Gandu Demung telah merasakan tubuhnya terangkat dan berputar perlahan-lahan, semakin lama menjadi semakin cepat.

Orang-orang yang menyaksikan hal itu menjadi cemas. Mereka tidak menduga, bahwa pada suatu saat Gandu Demung akan lengah, dan kakinya berhasil ditangkap oleh lawannya yang mempunyai kekuatan raksasa itu.

Kakaknya yang paling tua adalah orang yang paling cemas melihat perkembangan perkelahian itu. Baginya, adiknya adalah kebanggaan keluarganya. Terutama di dalam olah kanuragan. Dan kini ia melihat kaki adiknya itu dapat ditangkap oleh lawannya dan mulai diputarnya. Jika orang berkepala botak itu berhasil membenturkan kepala adiknya itu dengan batu-batu padas di pereng, maka kepala itu tentu akan sumyur.

Dengan demikian, maka orang berkepala botak itu tentu akan semakin sombong dan berbangga diri. Meskipun kemenangan itu tidak akan berarti mengecutkan hatinya, karena menurut perhitungannya adalah kebetulan saja Gandu Demung lengah sehingga kakinya dapat ditangkap lawannya, namun kebanggaannya terhadap adiknya selama ini di hadapan orang-orangnya akan merupakan suatu ceritera khayal yang barangkali akan ditertawakan kelak.

Demikian pula orang-orangnya yang lain. Kecemasan telah mencengkam setiap jantung, sehingga semua orang yang menyaksikannya telah menahan nafasnya.

Ketika putaran itu menjadi semakin cepat, dan Gandu Demung merasakan himpitan tangan lawannya menjadi semakin kuat, maka sadarlah Gandu Demung, bahwa lawannya benar-benar akan membunuhnya. Kesadaran itulah yang kemudian telah menggelapkan pertimbangannya.

Gandu Demung bukanlah orang yang murah hati, pemaaf, dan penuh dengan kerelaan berkorban untuk sesamanya. Ia adalah orang yang berada di dalam lingkungan Empu Pinang Aring yang mempunyai kebiasaan seperti kawan-kawannya yang lain.

Karena itulah, maka Gandu Demung tidak mempunyai pilihan laki kecuali bukan saja mempertahankan hidupnya, tetapi juga membunuh lawannya dengan caranya.

Ternyata seperti yang diduga, orang berkepala botak itu memutar lawannya sambil mendekati batu-batu padas di pereng. Ia sudah bertekad untuk membenturkan kepala Gandu Demung sehingga pecah.

Darah yang mengalir di tubuh saudara-saudara Gandu Demung rasa-rasanya sudah berhenti mengalir. Bahkan kakaknya yang paling muda sudah tidak dapat menahan hatinya lagi. Sambil menggeram ia melangkah maju, karena ia merasa bahwa ia tidak akan dapat melihat salah seorang saudaranya hancur berkeping tanpa berbuat apa pun juga.

Namun dalam pada itu, selagi semua orang sedang dicengkam oleh kecemasan dan kebingungan, Gandu Demang ternyata tidak tinggal diam dan menyerahkan kepalanya untuk diledakkan pada batu-batu padas yang bergerigi runcing.

Pada saat orang berkepala botak itu merasa, bahwa kemenangan sudah berada di telapak tangannya, dan tinggal beberapa langkah saja lagi, kepala Gandu Demung akan membentur batu padas yang terjal dan bergerigi tajam, Gandu Demung telah mengentakkan kekuatannya.

Bertumpu pada kekuatan tangan lawannya. Gandu Demung menghentakkan dirinya, membungkuk pada punggungnya. Suatu kekuatan yang luar biasa telah terhimpun pada kedua belah tangannya. Dengan tidak terduga-duga, maka badannya yang kemudian menjadi lengkung itu, telah mengayunkan kedua tangannya menggapai wajah orang berkepala botak itu.

Dengan serta-merta, kedua tangan Gandu Demung telah mencengkam kepala orang berkepala botak itu. Betapa kuatnya tangan Gandu Demung, sehingga dalam waktu yang hampir tidak dapat diketahui oleh lawannya, Gandu Demung telah dapat mengguncangnya sehingga kehilangan keseimbangan.

Dengan demikian, maka putaran itu pun bagaikan baling-baling yang terlepas dari porosnya. Untuk beberapa saat keduanya berputaran tidak menentu. Namun agaknya Gandu Demung masih tetap sadar agar kepalanya tidak membentur tebing batu padas yang keras itu.

Sejenak kemudian keduanya pun terlempar jatuh di atas pasir basah yang kehitam-hitaman.

Dengan susah payah keduanya berusaha untuk menguasai diri. Gandu Demung dengan sigapnya meloncat berdiri, sementara lawannya pun telah berusaha berdiri pula.

Tetapi sebenarnyalah, bahwa Gandu Demung yang merasa bahwa lawannya benar-benar akan membunuhnya itu telah kehilangan kesabaran. Sehingga dengan demikian, nampaklah warna hatinya yang sebenarnya. Seperti seekor harimau yang lapar, maka ia pun kemudian menjadi liar dan buas.

Demikian orang berkepala botak itu mencoba untuk tegak berdiri, maka tiba-tiba sebuah hantaman yang keras telah mengenai tengkuknya. Gandu Demung tidak saja memukul lawannya dengan tangannya, tetapi sebuah loncatan mendatar, dengan kaki terjulur lurus telah mengenai tengkuk lawannya itu, sehingga sekali lagi ia terhuyung-huyung dan kehilangan keseimbangan. Betapa pun kuatnya ketahanan tubuhnya, namun ia pun terjatuh pula menelungkup.

Tetapi orang berkepala botak itu segera berhasil menyadari keadaan dirinya. Karena itu, dengan serta-merta ia pun berusaha untuk tegak berdiri. Dengan didorong oleh kekuatan kedua tangannya, maka ia pun segera bangkit.

Namun ternyata bahwa Gandu Demung yang marah itu, bagaikan telah menjadi gila. Ia pun segera meloncat mendekat. Dengan kemarahan yang memuncak ia langsung menggenggam rambut yang tinggal beberapa helai di kepala orang bertubuh raksasa yang botak itu. Ketika kepalanya dihentakkan oleh tarikan pada rambut yang tersisa itu, sebuah pukulan yang keras menghantam bagian belakang kepalanya.

Yang terdengar adalah sebuah keluhan tertahan. Tetapi kemudian keluhan itu terputus karena lutut Gandu Demung menghantam wajahnya.

Beberapa orang yang menyaksikan perkelahian itu bagaikan menjadi beku. Mereka melihat bagaimana Gandu Demung membenturkan kepala lawannya pada lututnya yang diangkat ke depan. Beberapa kali, sehingga lututnya menjadi merah oleh darah yang mengalir dari mulut lawannya yang berkepala botak itu.

Namun agaknya Gandu Demung masih belum puas. Ia mulai nampak betapa ia dilahirkan dan dibesarkan di antara sekelompok penjahat yang buas. Karena itulah, maka ia pun dapat berbuat sebuas para penjahat itu pula.

Tetapi orang berkepala botak itu tidak menyerah. Ia memang mempunyai ketahanan tubuh yang tidak terduga-duga. Meskipun wajahnya telah merah oleh darah. Namun tiba-tiba ia masih mengerahkan sisa kekuatannya. Dengan serta-merta ia merenggut kepalanya meskipun lembaran-lembaran rambutnya seolah-olah telah tercabut dari kepalanya yang sedang berbenturan berkali-kali dengan lutut lawannya itu.

Dengan serta-merta ia pun kemudian, mendekap lambung Gandu Demung sedemikian kuatnya sehingga keduanya terdorong beberapa langkah dan jatuh di atas pasir.

Sejenak mereka berguling-guling sekali lagi. Kemarahan Gandu Demung benar-benar tidak terkekang. Dengan garangnya ia berusaha untuk memukuli lawannya yang mendekapnya erat-erat. Semakin lama semakin erat, sehingga seakan-akan Gandu Demung tidak dapat bernafas lagi.

Beberapa saat Gandu Demung tertegun, bagaimana mengatasi lawannya yang bagaikan melekat pada tubuhnya yang berguling-guling di pasir tepian itu, bahkan telah menyesakkan nafasnya.

Namun kemudian dengan kekuatan yang ada padanya, ia mendorong kepala botak yang melekat di tubuhnya itu. Sesaat kemudian, seperti anak-anak yang bermain-main di tepian, maka Gandu Demung pun mengangkat kakinya di sisi tubuh lawan dan menjepit lehernya. Demikian kuatnya sehingga orang yang berkepala botak itu merasa seakan-akan lehernya telah terjepit oleh sepasang besi yang berhimpitan.

Raksasa yang berkepala botak itu menggeliat. Kepalanya terangkat sejenak, namun kemudian sebuah putaran telah membenamkan kepalanya ke dalam pasir.

Gandu Demung menyadari, bahwa kekuatan lawannya tidak akan dapat diimbanginya dengan kekuatan. Karena itu, ia tidak ingin melanjutkan perkelahian ini pada jarak genggaman tangan. Karena itu, tiba-tiba saja Gandu Demung melepaskan lawannya dan melenting berdiri.

Raksasa botak itu merasa himpitan di lehernya terlepas. Dengan serta-merta pula ia berusaha untuk berdiri sambil mengusap wajahnya yang penuh dengan pasir.

Saat itulah yang ditunggu oleh Gandu Demung. Demikian lawannya tertatih-tatih berdiri, sebuah serangan dengan kekuatan kakinya telah menghantam kening lawannya itu. Tumit Gandu Demung yang bagaikan bola besi telah membuat orang berkepala botak itu menjadi pening dan terhuyung-huyung.

Betapa buasnya Gandu Demung dalam kemarahan. Tidak kurang dari kebengisan Panganti dengan senyumnya, dan tidak kalah dari kegarangan Rimbag Wara yang kejam. Dan Gandu Demung adalah seekor harimau hitam yang buas dan liar.

Tetapi kali ini Gandu Demung ingin memperlihatkan kemenangannya yang sempurna. Ia sama sekali tidak mempergunakan pedangnya. Namun ketika keempat jari-jarinya telah mengembang sambil menekuk ibu jarinya, maka kakaknya yang tertua, yang pernah melihat bagaimana adiknya membunuh dengan cara itu, menjadi berdebar-debar. Dengan serta-merta ia melangkah maju.

Dalam ketegangan itu, ia masih sempat memikirkan kemungkinan yang bakal datang. Orang berkepala botak itu, akan masih dapat dipergunakan. Kekalahannya akan meyakinkan, bahwa ia bukan orang terkuat di muka bumi ini.

Karena itu, sebelum jari-jari Gandu Demung itu mencengkam kepala lawannya dan membenam bagaikan ujung pedang, kakaknya sempat berteriak, “Gandu Demung, hentikan.”

Gandu Demung mendengar suara kakaknya. Betapa pun kemarahan mencengkam jantung, namun ia masih tetap menyadari, bahwa kedatangannya adalah dalam rangka untuk mengumpulkan kekuatan. Teriakan kakaknya telah memperingatkan pula kepadanya, bahwa raksasa berkepala botak itu akan berguna dalam usahanya di Tanah Perdikan Menoreh, atau justru di hadapan Kademangan Sangkal Putung sendiri.

Karena itulah maka perlahan-lahan Gandu Demung mengendorkan ketegangan di jantungnya. Perlahan-lahan pula ia melangkah surut menjauhi lawannya.

Ternyata bahwa raksasa berkepala botak itu telah kehabisan tenaganya. Meskipun ia berusaha, namun ia tidak lagi mampu berdiri tegak. Sentuhan pada ujung rambutnya, telah dapat melemparkannya terjerembab di atas pasir basah.

Gandu Demung berdiri tegak seperti patung. Ia memandang kakaknya yang perlahan-lahan mendekatinya.

“Lihatlah orang dungu,” berkata kakaknya kepada orahg berkepala botak itu, “apa yang sebenarnya telah terjadi. Jika aku tidak mencegahnya, maka jari-jari adikku telah menghunjam di kepalamu dan memecahkan botakmu itu.”

Orang itu terengah-engah.

“Tetapi ternyata bahwa hatinya, betapa pun gelapnya karena ia memang dilahirkan di antara kami, namun ia masih bersedia memaafkanmu meskipun tentu saja dengan pamrih. Kau akan dapat menjadi salah seorang pembantu yang baik dalam tugas yang bakal datang.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Sesaat ia memandang mata Gandu Demung yang bagaikan menyala. Bagaikan mata seekor harimau hitam yang bertengger di dahan-dahan pepohonan. Mengerikan sekali.

“Aku menyerah,” suara raksasa itu dalam sekali, seolah-olah berputar di dalam perutnya.

Gandu Demung menggigit bibirnya. Ia bukannya seorang pemaaf. Jika sekiranya ia tidak memerlukan tenaganya, maka orang itu tentu sudah diremasnya, dan kepalanya sudah dilubanginya dengan kuku-kukunya yang setajam pedang.

Orang berkepala botak itu menundukkan kepalanya. Ternyata ia baru mengenal Gandu Demung yang sebenarnya. Ganas, liar, dan bahkan buas seperti binatang hutan.

Sejenak Gandu Demung masih termenung. Namun kemudian tiba-tiba saja kakinya terayun ke kepala orang berkepala botak itu sambil menggeram, “Kau aku hidupi kali ini. Tetapi jika sekali lagi kau menyakiti hatiku, aku akan mencincangmu dan melemparkan kepalamu yang botak itu kepada anjing kelaparan di sepanjang-jalan.”

Betapa sakitnya hati orang berkepala botak itu seperti sakitnya sentuhan kaki Gandu Demung di wajahnya yang sudah bernoda darah. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, karena ia yakin, bahwa Gandu Demung tidak sedang tergurau.

Gandu Demung kemudian melangkah meninggalkan orang berkepala tolak itu. Sejenak ia memandang ke sekelilingnya dan berkata dengan nada yang berat, “Ayo, siapa lagi orang-orang baru di sini yang merasa dirinya tidak terkalahkan. Siapa yang tidak percaya bahwa Gandu Demung adalah salah seorang dari kepercayaan Empu Pinang Aring.”

Semua orang menundukkan kepalanya. Bahkan untuk bernafas pun rasanya mereka tidak sanggup lagi karena ketakutan yang mencengkam hati.

Sejenak suasana menjadi sepi tegang. Namum kemudian terdengar kakak Gandu Demung yang tertua berkata, “Pertemuan kita sudah cukup hari ini. Pergilah kalian. Bawalah raksasa botak ini.”

Beberapa orang pun kemudian melangkah meninggalkan tempat itu. Dua orang di antara mereka memapah orang berkepala botak yang ternyata sudah kehilangan kekuatannya sama sekali sehingga tidak lagi mampu berdiri.

“Gila,” desis orang berkepala botak itu ketika mereka sudah menjadi semakin jauh, “benar-benar tidak aku duga, bahwa ada orang yang memiliki kemampuan seperti anak gila itu. Aku adalah orang yang menganggap diriku kebal bukan karena ilmu, tetapi karena kekuatan alamiah yang aku miliki. Namun sentuhan tangannya bagaikan api bara besi baja. Aku tidak tahan menahan pukulannya.”

“Bukan saja pukulannya. O, jika kau melihat bagaimana jari-jarinya mengembang. Hampir saja kepalamu diterkamnya.”

“Ya. Aku sadar sekarang. Jari-jarinya memang seperti ujung pedang. Jika saudaranya yang paling tua tidak menahannya, kepalaku tentu sudah berlubang.” Namun kemudian ia masih sempat berkata, “Tetapi ternyata bahwa aku adalah orang terpenting di sini. Jika tidak, saudara tertua Gandu Demung itu tidak akan menahannya. Bahkan mungkin ia membiarkan jari-jarinya itu mencengkam sampai ke otak.”

“Mungkin kau orang terpenting. Tetapi kau tidak dapat lagi menyebut dirimu orang terkuat. Kau tentu dapat menduga, bahwa saudaranya itu pun memiliki ilmu serupa meskipun tidak sekuat Gandu Demung.”

Orang berkepala botak itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memang tidak menyangka, bahwa ada kekuatan yang tidak ada taranya. Tetapi dengan demikian kita menjadi mantap. Apa pun yang akan kita lakukan, kita tidak akan gentar karena pemimpin yang akan membawa kita ke medan tugas, bukannya hanya sekedar menggantungkan nasibnya kepada kita semuanya.”

“Ya. Dan sudah barang tentu Gandu Demung tidak akan berbuat demikian pula.”

Raksasa berkepala botak itu mengangguk-angguk. Ia mengucap terima kasih di dalam hatinya, bahwa ia masih sempat hidup dan melakukan pekerjaan yang memang disukainya itu.

Setiap kali, hatinya masih saja disentuh kengerian jika teringat olehnya kemungkinan bahwa kepalanya akan berlubang sejumlah jari tangan.

Dalam pada itu, Gandu Demung masih berada di tepian bersama saudara-saudaranya. Mereka masih berbicara tentang beberapa hal, juga tentang raksasa berkepala botak itu.

“Apakah ia tidak akan membuat kesulitan di kemudian hari?” bertanya salah seorang saudara Gandu Demung.

“Tidak. Ia telah benar-benar menjadi jera,” desis saudaranya yang tertua. “Melihat sorot matanya dan wajahnya yang pucat, aku berpendapat, ia tidak akan berani menyombongkan dirinya lagi.”

Saudara-saudaranya yang lain mengangguk-anggukan kepalanya.

“Marilah, kita akan kembali ke gubug kita. Kita dapat berbicara selanjutnya mengenai rencana kita,” ajak saudaranya yang tertua.

Demikianlah maka mereka pun kemudian meninggalkan tempat itu, kembali ke sebuah gubug yang khusus dibuat di pategalan yang jauh dari padukuhan, bahkan sudah dekat di pinggir sebuah hutan kecil yang panjang.

Dengan sungguh-sungguh mereka mulai merencanakan apa yang sebaiknya mereka lakukan.

“Kita dapat menghubungi salah satu kelompok lain yang pantas,” berkata Gandu Demung kemudian. “Aku masih ragu-ragu, apakah dua kekuatan saja dapat berhasil menguasai sepasang pengantin itu bersama para pengiringnya.”

“Kekuatan Ki Bajang Garing tidak terpaut banyak dengan kekuatan kita di sini,” berkata saudara Gandu Demung yang tertua. “Karena itu kau tentu sudah dapat mempertimbangkannya.”

“Masih kurang. Agaknya kita masih perlu mencari kekuatan yang dapat membantu. Meskipun agaknya Ki Bajang Garing dan kelompok kita tidak sejalan sebelumnya, namun di dalam hal ini, kita akan dapat menemukan cara untuk bekerja bersama,” sahut Gandu Demung. “Aku menemukan keyakinan, bahwa hal itu dapat dilakukan setelah aku bertemu sendiri dengan Ki Bajang Garing.”

Saudara-saudara Gandu Demung mengangguk-angguk. Yang tertua kemudian berkata, “Aku akan menemui Kiai Wedung Kalang dari daerah Hutan Pengarang. Mudah-mudahan kita dapat menemukan sikap yang sama menghadapi persoalan ini.”

“Tetapi jika harus didahului dengan kekerasan seperti yang terjadi pada kelompok Ki Bajang Garing, bahkan di kelompok kita sendiri, maka aku akan meyakinkan mereka,” desis Gandu Demung.

Saudara-saudaranya mengangguk-angguk pula. Yang tertua bergumam, “Memang mungkin.”

Gandu Demung mengangkat alisnya. Sekilas terbayang kelebatan hutan Pengarang. Dan ia yakin, bahwa penghuni Hutan Pengarang tentu bukannya kelinci-kelinci kecil, tetapi tentu sebangsa serigala atau bahkan harimau belang.

“………………. (ada satu baris bagian atas yang hilang di buku aslinya, terpotong pada saat proses penjilidan) ………………. Gandu Demung.

“Baiklah. Sebenarnya hubungan ayah dengan Kiai Wedung Kalang cukup baik. Jika terjadi sesuatu, agaknya persoalannya tentu mirip dengan keragu-raguan orang berkepala botak itu.”

“Justru keragu-raguan yang demikian itulah yang perlu diyakinkan.”

Saudara-saudara Gandu Demung mengangguk-angguk. Dan mereka pun kemudian sepakat untuk pergi ke Hutan Pengarang di keesokan harinya.

Ketika matahari terbit, maka tiga orang bersaudara telah pergi ke Hutan Pengarang. Gandu Demung hanya disertai dua orang saudaranya saja membawa pesan ayahnya untuk Kiai Wedung Kalang. Agaknya rencana yang disusun Gandu Demung itu tidak akan terlampau sulit untuk diterima oleh orang-orang dari Hutan Pengarang.

Meskipun demikian tidak mustahil bahwa orang-orang di Hutan Pengarang yang merasa mempunyai beberapa orang yang berilmu tinggi, tidak akan bersedia berada di bawah perintah orang-orang lain.

“Jangan kau sebutkan seluruh rencanamu,” berkata saudara Gandu Demung yang tertua, “jika tidak ada kesepakatan itu antara kita, maka berarti dari Hutan Pengarang akan dapat mendahului rencana kita.”

“Mereka tidak akan kuat untuk melakukannya sendiri,” jawab Gandu Demung.

“Mungkin mereka akan mencari kawan-kawan lain.”

“Itu berarti bahwa kita akan bertempur.”

“Ya. Dan kemungkinan yang demikian itu memang ada.”

Gandu Demung mengangguk-angguk. Ia tidak dapat mengingkari kenyataan yang memang dapat terjadi, karena lingkungan mereka tidak ubahnya dengan lingkungan Hutan Pengarang itu sendiri. Lambang dari kekuasaan adalah kekuatan.

Dalam pada itu, selagi orang-orang di sekitar Gunung Tidar sibuk dengan rencananya, maka di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu pun telah mulai sibuk pula. Mereka yang berada di daerah itu, harus menyiapkan suatu pertemuan rahasia yang “……. (ada satu baris bagian atas yang hilang di buku aslinya, terpotong pada saat proses penjilidan) …… pasukan yang seolah-olah berimbang kekuatannya. Di dalam satu hal mereka dapat berjalan seiring. Namun di dalam persoalan yang lain, benturan mungkin sekali terjadi, juga di dalam persoalan mereka, berlaku pertimbangan, bahwa kekuatan akan menentukan kekuasaan.

Ternyata bahwa Kiai Kalasa Sawit telah datang lebih cepat dari rencana. Namun ia telah membawa berita yang mengejutkan. Kematian Kiai Jalawaja. Dan kematian Kiai Jalawaja itu ternyata telah mengharuskan para pemimpin itu mengadakan pembicaraan pendahuluan.

Namun mereka tidak menemukan sikap yang dapat memberikan arah yang jelas pada pertemusn yang lebih besar antara beberapa orang pemimpin, bukan saja kelompok-kelompok yang berada di tempat persembunyian yang tersebar, tetapi di antara mereka juga terdapat beberapa orang pemimpin prajurit di Pajang.

Akhirnya mereka sependapat bahwa persoalan yang akan mereka bicarakan akan ditentukan pada suatu saat. Di saat mereka akan berkumpul di lembah yang seolah-olah tertutup dari dunia di luar lingkungan mereka itu.

Namun bagaimana pun juga, pengaruh terbesar berada di tangan seorang Senopati Agung dari Pajang yang tidak banyak diketahui, siapakah sebenarnya orang itu. Jarang sekali yang pernah mengenal wajahnya dari dekat, dan apalagi mengetahui keadaannya yang sebenarnya. Hanya beberapa orang kepercayaannya sajalah yang dapat bertemu muka dan berbicara berterus-terang. Orang-orang itulah yang mewakilinya mengadakan hubungan dengan para pemimpin kelompok-kelompok yang menyatakan diri bergabung dengan perjuangan untuk menegakkan lagi kekuasaan Majapahit.

Tetapi pada pertemuan yang menentukan, maka telah ada kesanggupan dari orang yang tidak banyak dikenal itu untuk hadir langsung memimpinnya.

Namun dalam pada itu, suatu kegiatan yang terpisah telah pula terjadi di Sangkal Putung dan di Tanah Perdikan Menoreh. Hari-hari yang dilalui, bagaikan terbang dihembus oleh angin yang kencang bagi Ki Demang Sangkal Putung dan Ki Gede Menoreh. Rasa-rasanya mereka menjadi sangat tegesa-gesa. Persiapan yang telah mereka lakukan sejak selapan hari yang lalu, rasa-rasanya masih jauh dari mencukupi.

Tetapi bagi Swandaru dan Pandan Wangi, hari-hari rasa-rasanya berjalan terlalu lambat. Matahari berkisar dengan malasnya. Rasa-rasanya sejak terbit sampai saat terbenamnya, perjalanannya telah memerlukan waktu dua kali lebih lama dari hari-hari biasa. Apalagi jika malam tiba. Suara burung hantu yang ngelangut, seolah-olah telah menghentikan putaran waktu. Dan malam pun menjadi jauh lebih panjang.

Bahkan ternyata bukan keluarga terdekat dari Ki Demang Sangkal Putung dan Ki Gede Menoreh sajalah yang terpengaruh oleh persiapan itu. Bahkan anak-anak muda di kedua tempat itu pun menganggap bahwa waktu menjadi sangat lamban. Mereka pun ingin segera melihat Swandaru dan Pandan Wangi duduk bersanding dalam pakaian kebesaran sepasang mempelai. Baik di Tanah Perdikan Menoreh, maupun di Kademangan Sangkal Putung.

Untuk mengisi waktu, maka mereka yang telah ditunjuk oleh Ki Demang Sangkal Putung untuk pergi bersamanya mengawal Swandaru ke Tanah Perdikan Menoreh, mencoba menenggelamkan diri ke dalam latihan-latihan yang sungguh-sungguh. Mereka telah mendengar berita, bahwa ada sesuatu yang telah terjadi di Tanah Perdikan Menoreh, sehingga tidak mustahil bahwa di sepanjang jalan mereka harus mempergunakan senjata mereka.

Agar tidak membuat orang-orang lain cemas, maka mereka telah mengambil tempat yang terpencil untuk melakukan latihan-latihan yang sungguh-sungguh. Di tengah pategalan bersama Agung Sedayu.

Agung Sedayu yang juga menyadari bahwa kemungkinan yang sulit memang dapat terjadi, maka ia pun telah berusaha sejauh mungkin mempersiapkan anak-anak muda di Sangkal Putung yang akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Dengan sungguh-sungguh ia telah mencoba meningkatkan kemampuan anak-anak muda yang pada dasarnya memang pernah berlatih olah kanuragan. Pada saat Tohpati mengancam Sangkal Putung yang kaya dengan bahan makanan untuk merampasnya dan menguasainya sebagai lumbung yang tidak akan kering, anak-anak muda itu sudah ikut serta di dalam setiap pertempuran yang terjadi. Dari para prajurit Pajang yang berada di Sangkal Putung mereka mendapat dasar-dasar olah kanuragan. Namun kemudian mereka telah meningkatkan ilmu mereka sedikit demi sedikit. Sedangkan yang terakhir, Agung Sedayu telah membimbing mereka dengan sepenuh hati.

Anak-anak muda itu pun dengan sepenuh hati pula melatih diri. Tidak saja dalam kelompok yang terdiri dari beberapa orang, tetapi Agung Sedayu menilik mereka seorang demi seorang.

“Waktunya menjadi semakin pendek,” berkata Agung Sedayu, “tidak ada sepuluh hari lagi.”

“Tujuh hari,” desis seorang yang bertubuh tinggi.

“Nah, tujuh hari lagi kita akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh sebagai pengiring Swandaru. Tentu akan merupakan sebuah iring-iringan yang cukup menarik perhatian. Tetapi tentu akan menarik perhatian pula bagi orang-orang yang berniat buruk. Sudah kalian dengar apa yang telah terjadi di tanah Perdikan Menoreh. Dan sudah kalian dengar pula apa yang telah terjadi di sebelah Barat Jati Anom, di lereng Merapi, pada sebuah padukuhan yang bernama Tambak Wedi. Mungkin kita akan menjumpai orang-orang Tambak Wedi yang berkeliaran sampai ke Tanah Perdikan Menoreh, tetapi mungkin pula kita akan bertemu dengan kelompok lain yang mempunyai tujuan dan cara yang sama dengan kelompok Kiai Kelasa Sawit.”

Anak-anak muda Sangkal Putung itu mengangguk-angguk.

“Kita harus menyadari, bahwa setiap orang dalam gerombolan itu memiliki kecakapan bertempur seperti seorang prajurit, sehingga kalian pun harus membuat diri kalian mempunyai kecakapan bertempur seperti seorang prajurit.”

Anak-anak muda Sangkal Putung itu mengangguk-angguk. Namun mereka pun sadar, bahwa kemampuan mereka sudah mulai meningkat pula. Dan bahkan mungkin sudah berhasil menyamai kemampuan sebagai seorang prajurit. Baik dalam perkelahian seorang lawan seorang, maupun dalam kelompok dan bahkan gelar.

Untuk meyakinkan diri sendiri, salah seorang dari anak-anak muda itu telah mencoba bertanya kepada Agung Sedayu, “Apakah kemampuan kami masih jauh berada di bawah kemampuan orang Tambak Wedi itu?”

“Tentu tidak,” jawab Agung Sedayu, “bukan sekedar membuat kalian berbesar hati, tetapi menurut penilaianku, kalian sudah memiliki kemampuan seorang prajurit. Tetapi jika kebanggaan itu membuat kalian menjadi sombong, maka itu adalah permulaan dari kehancuran. Serupa dengan itu adalah kehilangan pengamatan diri. Memang tidak akan dapat menghindarkan diri dari kemarahan yang menyentuh perasaan. Tetapi kita jangan lupa diri dan kehilangan perhitungan,” Agung Sedayu berhenti sejenak. “Tetapi yang lebih utama dari semuanya itu adalah, bahwa kita tidak perlu berkelahi dengan siapa pun juga dengan alasan apa pun juga.”

Anak-anak muda itu mengerutkan keningnya. Namun salah seorang dari mereka bertanya, “Aku tidak mengerti. Kenapa kita tidak perlu berkelahi. Untuk apa kita belajar mempertahankan diri dalam ujud olah kanuragan seperti ini?”

“Hanya dalam keadaan yang memaksa. Jika kita tidak dapat menemukan jalan lain, maka baru jalan yang paling buruk inilah yang kita tempuh untuk menyelamatkan diri atau menyelamatkan sikap yang kita yakini kebenarannya.”

Anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepala, mereka memang sudah mengerti sifat dan watak Agung Sedayu. Namun sebagian besar dari mereka menganggap sikap itu sebagai sikap yang ragu-ragu. Bahkan beberapa orang dari mereka pernah berkata, “Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang pilih tanding. Sayang, ia adalah seorang yang lemah, sehingga nampaknya ia bukan sebagai seorang yang berhati jantan. Agak berbeda dengan Swandaru. Ia adalah seorang laki-laki jantan yang lengkap. Memiliki ilmu yang tinggi, keputusan yang tegas dan tidak ragu-ragu menentukan sikap menghadapi apa pun juga.”

Agaknya Agung Sedayu pun menyadari akan sifat dan wataknya itu dibanding dengan saudara seperguruannya. Tetapi Agung Sedayu sama sekali tidak merubah sikapnya. Bahkan kehadiran Rudita di dalam sentuhan-sentuhan yang tajam di hatinya, membuatnya justru semakin ragu-ragu.

Dengan sadar ia pun memahami dirinya sendiri, seperti yang dikatakan oleh gurunya, bahwa ia masih berdiri di atas dua alas. Bahkan kadang-kadang ia kurang jujur terhadap dirinya sendiri.

“Tetapi itu adalah sifat kebanyakan orang, Agung Sedayu,” berkata gurunya, “kau tidak usah berkecil hati. Cobalah mencari bentuk yang paling mantap bagimu sendiri. Jangankan kau. Sedangkan aku, dan bahkan Ki Waskita, ayah Rudita, belum menemukan kemantapan sikap seperti Rudita.”

Setiap kali Agung Sedayu hanya dapat merenungi dirinya sendiri. Dan bahkan sekali gurunya pun berkata, “Rudita sendiri bukannya orang yang telah menemukan sikap murni. Kau tahu, bahwa ia masih melindungi dirinya dalam sifat pasrahnya dengan ilmu kebal yang justru lebih baik dari ayahnya sendiri. Bukankah itu juga suatu sifat yang sama seperti yang terdapat di dalam hatimu, namun dalam ujud yang lebih lemah. Jauh lebih lemah.”

Dan sekarang, Agung Sedayu berhadapan dengan anak-anak muda Sangkal Putung. Bukan dengan Rudita. Karena itulah maka ia harus menyesuaikan dirinya dan sikapnya, agar mereka tidak kehilangan pegangan, justru karena dasar penilaian yang berbeda pada sikap dan pandangan hidupnya.

Anak-anak muda Sangkal Putung itu tentu tidak akan dapat diajak berbicara tentang sikap dan pandangan hidup Rudita. Sehingga jika dipaksakannya, maka akibatnya akan kurang baik bagi anak-anak muda itu dan hubungannya dengan Agung Sedayu sendiri. Untuk memperkenalkan sifat dan watak Rudita kepada anak muda itu, perlu keadaan dan waktu yang khusus.

Karena itulah maka di hadapan anak-anak muda itu, Agung Sedayu sama sekali tidak memperbincangkan tentang sikap dan watak. Dengan sungguh-sungguh ia membimbing mereka dalam olah kanuragan, sehingga kemampuan anak-anak muda itu memang meningkat di hari-hari terakhir. Semakin dekat mereka dengan hari-hari perkawinan Swandaru, maka mereka pun semakin bersungguh-sungguh melatih diri.

Sementara itu menjelang hari-hari keberangkatan Swandaru ke Tanah Perdikan Menoreh, Kademangan Sangkal Putung menjadi semakin sibuk. Tidak ada yang dapat dibawa dari Sangkal Putung, selain barang-barang bagi upacara pengantin. Kelengkapan lain yang berupa makanan dan buah-buahan akan dicari setelah mereka berada di Tanah Perdikan Menoreh, karena tidak mungkin membawanya langsung dari Kademangan Sangkal Putung.

“Pengawalan yang kuat telah disiapkan oleh Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing kepada Ki Demang Sangkal Putung.

“Terima kasih, Kiai,” jawab Ki Demang, “kami percaya, bahwa Anakmas Agung Sedayu mempunyai gambaran yang cukup bagi perjalanan kita nanti.”

“Aku sendiri juga sering melihat. bagaimana anak-anak muda itu berlatih. Mereka telah memiliki kemampuan seorang prajurit. Baik dalam perkelahian seorang lawan seorang, maupun di dalam kelompok yang barangkali harus menghadapi kelompok yang mapan seperti pasukan Kiai Kalasa Sawit di Padepokan Tambak Wedi.”

“Tetapi apakah jumlahnya mencukupi, Kiai.”

“Aku kira sudah cukup. Seandainya ada sekelompok orang yang mencegatnya, tentu tidak akan segelar sepapan seperti kekuatan yang ada di Tambak Wedi. Mungkin kekuatan yang cukup besar, namun masih dapat diperhitungkan, bahwa kekuatan para pengiring Swandaru pun cukup besar pula.”

Namun bagaimana pun juga Ki Demang Sangkal Putung masih saja selalu dibayangi oleh kecemasan. Seolah-olah daerah Selatan, yang membujur panjang dari Sangkal Putung sampai ke Tanah Perdikan Menoreh itu merupakan daerah yang paling gawat dari seluruh wilayah Pajang.

“Justru pada saat Swandaru akan kawin, daerah ini telah menjadi panas kembali,” gumamnya.

“Itu hanya suatu kebetulan Ki Demang,” berkata Ki Sumangkar, “tetapi mudah-mudahan iring-iringan pengantin Swandaru tidak akan menemui kesulitan apa pun juga.”

“Kita akan selalu berdoa,” desis Kiai Gringsing kemudian.

Namun yang juga menjadi persoalan kemudian adalah Sekar Mirah. Dengan sangat ia minta untuk ikut serta bersama iring-iringan itu ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Mirah,” berkata ayahnya, “kau sudah mendengar, jalan yang akan kita lalui tidak selicin jalan untuk tamasya.”

“Aku tahu, Ayah. Justru karena itu, aku ingin ikut serta bersama Kakang Swandaru dan Kakang Agung Sedayu.”

“Kau adalah seorang gadis. Dalam keadaan yang gawat ini, sebaiknya kau tinggal di rumah saja.”

“Ayah sangka bahwa aku tidak dapat menjaga diriku sendiri?”

“Aku tahu, Mirah. Tetapi kesulitan seorang gadis akan jauh lebih besar dari kesulitan seorang laki-laki.”

Tetapi seperti biasanya, hati Sekar Mirah menjadi sekeras batu. Katanya, “Tidak ada bedanya, Ayah. Batas terakhir bagi seorang laki-laki dan seorang perempuan adalah mati. Apakah ada yang lebih buruk dari itu?”

“Ada, Mirah,” jawab ayahnya, “jika kau jatuh ke tangan penjahat-penjahat itu?”

“Mereka hanya dapat menangkap aku jika tubuhku telah terbaring tanpa bernafas lagi.”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, dalam keadaan seperti itu Sekar Mirah sudah tidak dapat diajak berbicara lagi. Kemungkinan satu-satunya adalah mengijinkan ia ikut serta bersama iring-iringan pengantin yang akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh itu. Sebab jika tidak, maka justru ia akan dapat menyusul seorang diri.

Dengan demikian maka sambil menarik nafas dalam-dalam Ki Demang berkata, “Baiklah aku berbicara dengan Ki Sumangkar.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah gurunya yang berkerut-merut, seolah-olah ia ingin minta kepadanya agar ia tidak berkeberatan.

Tetapi Ki Sumangkar sama sekali tidak memandang wajah Sekar Mirah. Bahkan ia memandang ke kejauhan, seolah-olah tidak mendengar pembicaraan itu.

Sekar Mirah menjadi ragu-ragu. Dan ayahnya pun kemudian berkata, “Sudahlah. Pergilah ke belakang, barangkali ibumu memerlukan bantuanmu. Aku akan berbicara dengan Ki Sumangkar.”

Sekar Mirah masih saja ragu-ragu. Tetapi ia pun kemudian bergeser surut meninggalkan ayahnya yang masih saja duduk dipendapa bersama Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar.

Sepeninggal Sekar Mirah, Ki Demang bertanya kepada Ki Sumangkar, “Bagaimana pendapat Kiai dengan perkembangan terakhir dari Tanah Perdikan Menoreh?”

Ki Sumangkar tersenyum. Katanya, “Sekar Mirah adalah seorang gadis yang cukup untuk melakukan perjalanan bersama dengan para pengawal. Selebihnya ia akan dapat menjadi kawan Pandan Wangi nanti dalam perjalanan kembali ke Kademangan Sangkal Putung. Karena satu-satunya perempuan yang pantas untuk ikut dalam iring-iringan ini hanyalah Sekar Mirah. Jika kita mengajak perempuan lain yang akan menjadi kawan Pandan Wangi, maka akibatnya akan dapat menyulitkan.”

Ki Demang dapat mengerti pendapat Ki Sumangkar. Tetapi Sekar Mirah adalah anaknya. Sedangkan anaknya hanya dua. Swandaru dan Sekar Mirah. Jika terjadi sesuatu di perjalanan, maka kedua-duanya ada di dalam iring-iringan itu pula.

Tetapi Ki Demang memang tidak akan dapat memilih orang lain. Satu-satunya perempuan yang pantas untuk menjadi kawan Pandan Wangi dalam perjalanan yang gawat itu adalah Sekar Mirah.

Karena itulah maka Ki Demang Sangkal Putung pun kemudian mengangguk sambil berkata, “Memang tidak ada pilihan lain, Ki Sumangkar.”

Ki Sumangkar pun dapat mengerti, kecemasan yang mencengkam hati Ki Demang Sangkal Putung. Karena itu, maka katanya kemudian, “Kami semuanya akan berusaha untuk membebaskan diri dari kesulitan. Dan kami akan selalu berdoa, mudah-mudahan kami dilindungi oleh Yang Maha Murah, sehingga perjalanan kami sama sekali tidak akan mendapat gangguan apa pun juga menyahut.”

Karena itu, maka Ki Sumangkar dan Kiai Gringsing pun kemudian meninggalkan Ki Demang yang masih saja merenung. Dengan suara yang datar Ki Demang berkata, “Semuanya aku serahkan kepada Kiai berdua.”

“Mudah-mudahan kami dapat melakukan tugas kami sebaik-baiknya,” jawab Kiai Gringsing.

Sepeninggal Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar yang kemudian turun ke halaman. Ki Demang masih duduk untuk beberapa saat di pendapa. Kemudian ia pun menerima beberapa orang bebahu kademamgannya dan orang-orang tua di Sangkal Putung. Dengan hati-hati Ki Demang masih mencoba menyaring di antara mereka, siapakah yang akan turut ke Tanah Perdikan Menoreh bersama iring-iringan pengantin.

“Empat orang yang memiliki kemampuan dan ketahanan berkuda,” berkata Ki Demang, “tetapi yang cukup pantas mewakili orang-orang tua di Sangkal Putung.”

Ki Jagabaya yang hadir juga di pendapa itu mengerutkan keningnya. Dengan menyesal ia bergumam, “Kalau saja aku boleh ikut serta.”

“Kau harus berada di kademangan ini Ki Jagabaya,” sahut Ki Demang.

Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun memandang kepada seorang yang umurnya sudah setua Ki Demang Sangkal Putung, namun yang badannya masih nampak jauh lebih segar meskipun kumisnya sudah memutih.

“Ia adalah bekas seorang prajurit,” berkata Ki Jagabaya.

Ki Demang pun memandang orang berkumis putih itu. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ya. Ya. Aku lupa, bahwa ia adalah bekas seorang prajurit.”

“Bukan hanya aku,” jawab orang berkumis putih itu, “lihatlah orang yang duduk di sisi kanan Ki Demang itu.”

Semua orang berpaling kepada orang yang duduk di sebelah kanan Ki Demang. Seorang yang nampaknya lebih tua dari orang berkumis putih serta Ki Demang sendiri. Orang itu meskipun masih kuat, tetapi giginya sama sekali sudah habis. Ketika ia kemudian tersenyum nampaklah bahwa ia memang sudah tidak bergigi lagi.

“O,” Ki Demang mengangguk-angguk, “kau benar, ia juga bekas seorang prajurit. Tetapi apakah kau masih kuat naik kuda dalam perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh?”

“Jangankan naik kuda,” jawab orang itu, “aku masih sanggup pergi ke Menoreh dengan naik kerbau tanpa pelana.”

Orang-orang yang mendengarnya tertawa. Sedangkan Ki Demang pun mengangguk-angguk sambil tersenyum.

Demikianlah akhirnya beberapa orang yang bersedia ikut serta ke Tanah Perdikan Menoreh di antara orang-orang tua di Sangkal Putung, Ki Demang telah memilih empat orang. Dua di antaranya adalah bekas prajurit Pajang yang sudah terlalu tua bagi jabatannya. Namun demikian mereka masih cukup kuat untuk berkuda mengiringkan pengantin dan Sangkal Putung ke Tanah Perdikan Menoreh. Sedangkan dua orang lagi adalah orang-orang tua yang pernah menjadi pengawal Kademangan Sangkal Putung dimasa mudanya. Namun pada saat Sangkal Putung menjadi sasaran pasukan yang dipimpin Tohpati mereka pun masih sanggup menggenggam pedang disamping anak-anak muda yang masih segar.

Dengan demikian, maka Kademangan Sangkal Putung telah mempunyai susunan yang lengkap dan pasti, siapakah yang akan berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh mengiringkan Swandaru. Karena seperti yang diperhitungkan, Swandaru dan para pengiringnya, memang akan membawa barang-barang dan perhiasan. Selain yang akan mereka serahkan kepada pihak pengantin perempuan, maka mereka pun telah membawa perhiasan bagi diri mereka masing-masing. Bagaimana pun juga ada suatu kebanggaan di dalam hati apabila di saat perhelatan itu tiba, mereka dapat memakai perhiasan yang tidak kalah dengan orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh sendiri. Karena itu, maka mereka pun harus bertanggung jawab atas barang-barang dan perhiasan yang mereka bawa, selain perjalanan Swandaru itu sendiri.

“Lima belas orang anak-anak muda terlatih baik,” berkata Ki Demang kemudian kepada para bebahu itu, “selebihnya empat orang tua-tua, aku sendiri, Kiai Gringsing dengan Agung Sedayu dan Ki Sumangkar, selain Swandaru sendiri. Selain semua itu, aku masih akan disertai seorang perempuan. Sekar Mirah.”

“Ah,” desis Ki Jagabaya, “Sekar Mirah memang mempunyai kelebihan dari seorang gadis biasa. Tetapi apakah perjalanan ini tidak terlampau berbahaya baginya?”

“Perjalanan kembali dari Tanah Perdikan Menoreh pengantin perempuan memerlukan sekurang-kurangnya seorang kawan. Tidak ada perempuan lain yang paling pantas untuk perjalanan ini kecuali Sekar Mirah. Jika aku membawa orang lain, maka dalam suatu keadaan yang gawat, ia akan menjadi pingsan karenanya.”

Ki Jagabaya kemudian mengangguk-angguk. Memang tidak ada orang lain kecuali Sekar Mirah.

Dalam pada itu, hari-hari pun merambat semakin maju. Yang sebulan menjadi sepuluh hari. Kemudian tinggal sepekan dan akhirnya saat-saat yang dinantikan dengan tegang itu pun sampai pula di ujung hidung.

Dua hari lagi, Swandaru akan berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh bersama pengiringnya. Seperti yang sudah direncanakan, maka setiap orang dalam iring-iringan itu tidak dibenarkan mempergunakan perhiasan di perjalanan. Dan sesuai dengan pendapat Ki Demang sendiri, maka iring-iringan itu tidak akan berjalan bersama-sama. Tetapi mereka akan membagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang terpisah, meskipun jaraknya tidak akan terlalu jauh.

“Ada juga baiknya,” berkata Ki Sumangkar, “jika kita terperosok pada sebuah perangkap, maka tidak seluruhnya berada di dalamnya.”

“Ya. Itulah yang aku pikirkan,” berkata Ki Demang, “aku harus memisahkan Swandaru dan Sekar Mirah.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia mengerti, kecemasan yang sangat selalu membayangi Ki Demang Sangkal Putung tentang kedua anak-anaknya yang akan ikut bersamanya ke Tanah Perdikan Menoreh.

Dalam pada itu, selagi Sangkal Putung mempersiapkan diri, maka di Tanah Perdikan Menoreh, nampak kegiatan yang meningkat pula dari para petani. Pagi-pagi benar, sudah ada beberapa orang yang berada di sawah, meskipun baru duduk-duduk di pematang. Ada di antara mereka yang duduk di gardu-gardu di ujung bulak.

Namun dalam pada itu, salah teorang dari dua orang yang berjalan melintasi sebuah bulak panjang tertawa sambil berkata, “Lihatlah, betapa orang-orang Tanah Perdikan Menoreh telah bersiap menghadapi setiap kemungkinan.”

Yang lain pun menyahut, “Mereka menganggap bahwa kita adalah anak-anak dungu yang tidak dapat melihat, bahwa meskipun yang nampak di pundak para petani itu adalah cangkul, tetapi pada mereka pasti terdapat senjata. Karena aku yakin, mereka bukannya petani-petani sewajarnya.”

“Kita akan menyesuaikan pengamatan kita dengan Ki Bajang Garing,” berkata yang seorang lagi.

Yang lain mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi pengamatanmu benar, Gandu Demung. Mereka tentu pengawal-pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang mengadakan baris pendem menyongsong kedatangan Swandaru besok lusa.”

Keduanya pun kemudian tertawa tertahan. Sambil berjalan terus mereka sempat mengamati keadaan Tanah Perdikan Menoreh yang bersiaga sepenuhnya.

“Keamanan yang mantap di hari-hari terakhir tentu membuat mereka agak lengah,” berkata Gandu Demung.

Yang lain tidak menjawab. Keduanya pun berjalan terus sebagai dua orang petani yang sekedar melintas di daerah Tanah Perdikan Menoreh.

Di tempat yang sudah ditentukan, di pinggir sebuah hutan perdu yang sepi, mereka ternyata telah ditunggu oleh tiga orang yang bersama-sama melihat-lihat daerah Tanah Perdikan Menoreh dari dekat. Seorang yang bertubuh pendek segera berkata, “Kita tidak melihat sesuatu yang pantas mendapat perhatian. Tetapi daerah ini merupakan daerah yang tidak dapat kita jadikan medan.”

“Kenapa?” bertanya Gandu Demung.

“Kau juga melihat-lihat daerah ini?”

“Ya.”

“Tentu kita sama-sama melihat. Aku telah melihat-lihat di daerah penyeberangan. Aku melihat kesibukan yang berlebih- lebihan di sawah di sebelah penyeberangan itu.”

Gandu Demung tertawa. Katanya, “Kita melihat hal yang sama. Itu adalah kecerobohan yang tidak boleh diulangi oleh Ki Gede Menoreh. Dengan demikian, maka kita dapat melihat, bahwa jika kita bertindak dengan tergesa-gesa, maka kita akan masuk ke dalam perangkap.”

Dalam pada itu, seorang yang bertubuh tinggi kekar, berdada bidang dan berkumis melintang menyambung, “Sebenarnya kita tidak perlu berlaku seperti pengecut sekarang ini. Seolah-olah dengan ketakutan kita melihat-lihat, apakah ada lawan yang berbahaya bagi kita atau tidak. Jika kita memang berniat, kita dapat berbuat apa pun dan di mana pun.”

“Kiai Kalang Wedung memang orang yang paling dungu yang aku kenal,” sahut Ki Bajang Garing. “Aku sudah ragu-ragu, kenapa Carangsoka memilih Kalang Wedung untuk bersama-sama melakukan tugas yang rumit tetapi tidak banyak manfaatnya ini.”

“Bajang yang malang. Kau jangan mengigau sekarang ini.”

“Tidak ada kesempatan untuk saling membanggakan diri dengan sombong sekarang,” potong Gandu Demung, “kita melihat tugas kita yang sulit. Kita tidak boleh menjadi pengecut. Tetapi kita bukan orang dungu yang tidak berperhitungan. Karena itu, maka kita akan mengambil sikap. Sikap sebagai seorang yang mempunyai nalar yang utuh, tetapi bukan sikap seorang pengecut.”

Kiai Kalang Wedung mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tertawa. Katanya, “Kau mempunyai sifat watak seperti ayahmu. Ternyata kau memiliki kelebihan dari saudaramu. Tetapi kau agaknya keras kepala dan kurang menghargai orang lain. Itulah yang lain dari ayahmu, karena ayahmu justru terlalu memperhatikan pendapat orang lain, sehingga dalam banyak hal tidak berani mengambil keputusan.”

“Sekarang kita berbicara tentang tugas kita,” potong Gandu Demung.

Kiai Kalang Wedung dari Hutan Pengarang masih saja tertawa.

Sejenak Gandu Demung termangu-mangu. Namun ia masih tetap pasti, bahwa Kiai Kalang Wedung akan tetap membantunya dengan baik. Ketika ia datang menemuinya di Hutan Pengarang, ternyata ia tidak mengalami kesulitan apa pun juga. Ia tidak perlu menunjukkan kemampuannya untuk mengatasi orang-orang yang merasa dirinya berilmu tinggi, karena demikian ia memperkenalkan diri, langsung Kiai Kalang Wedung berkata, “O, jadi kau anak yang luar biasa itu? Apalagi kau sekarang berada di dalam lingkungan Empu Pinang Aring.”

Sehingga dengan demikian, maka semuanya berlangsung tanpa kesulitan. Kiai Kalang Wedung langsung menyatakan kesanggupannya bekerja tersama untuk tugas yang rumit itu bersama Ki Bajang Garing.

Seperti yang diduga oleh Gandu Demung, Kiai Kalang Wedung memang tidak merubah niatnya untuk membantunya menyelesaikan tugas itu. Meskipun kepada Gandu Demung ia berkata, “Mumpung aku mempunyai kawan yang berani mempertanggung-jawabkan tindakan yang berat dan agak kasar ini, karena dengan demikian kami berarti menantang Tanah Perdikan Menoreh dan sekaligus Kademangan Sangkal Putung. Dua daerah yang mempunyai pertimbangan nilai tersendiri di samping Pajang dan Mataram yang tumbuh menjadi semakin kuat.”

Demikianlah maka beberapa orang yang datang mendahului ke Tanah Perdikan Menoreh untuk melihat keadaan dan justru turut mengawasi keamanannya, telah sependapat, bahwa Tanah Perdikan Menoreh benar-benar sudah diliputi oleh kesiagaan yang penuh, meskipun tidak jelas nampak pada pasukan pengawal yang berkeliaran. Namun menurut pertimbangan mereka, maka untuk melakukan sesuau di atas Tanah Perdikan Menoreh, akibatnya akan dapat menyulitkan.

“Kita tidak akan melakukan di sini,” berkata Gandu Demung setelah mendengarkan beberapa pendapat, “kita akan menyusur ke Timur dan melihat keadaan di sepanjang jalan ke Sangkal Putung.”

“Ya. Kita akan melihat-lihat, di mana kita dapat melakukan tugas ini sebaik-baiknya,” jawab Ki Bajang Garing.

“Kita akan berangkat besok. Menurut pendengaran kami iring-iringan pengantin akan berangkat besok pula dari Sangkal Putlung,” berkata Kiai Kalang Wedung.

“Kita akan kehilangan kesempatan untuk berpapasan dengan mereka. Mungkin di saat kita melintasi Mataram, mereka justru sedang beristirahat di Mataram apabila mereka akan singgah.”

“Jadi?”

“Kita akan berangkat sekarang. Kita akan bertemu dengan mereka di hutan Tambak Baya. Hanya ada satu jalur jalan. Dan kita tidak akan meleset lagi. Kita tentu akan berpapasan dengan mereka. Jika kita ternyata terlampau cepat, kita akan bermalam di Hutan Tambak Baya satu malam.”

Ternyata semuanya pun sependapat. Mereka segera berkemas. Mereka akan mengambil kuda-kuda mereka yang tersembunyi, dan secara terpisah mereka akan pergi ke Hutan Tambak Baya.

Menjelang sore hari, beberapa orang berpacu melintasi bulak-bulak panjang tanpa menimbulkan kecurigaan, karena mereka hanya masing-masing berdua atau bertiga. Mereka berharap untuk dapat bertemu dengan iring-iringan pengantin dari Sangkal Putung, sehingga mereka akan dapat memperhitungka kekuatannya.

Namun ternyata bahwa orang-orang dari sekitar Gunung Tidar itu terlampau cepat sehari, sehingga mereka harus bermalam lagi di hutan Tambak Baya, karena mereka tidak mau melepaskan iring-iringan itu lewat tanpa pengamatan.

Di pagi hari berikutnya, orang-orang Sangkal Putung telah sibuk mempersiapkan sebuah iring-iringan yang akan membawa Swandaru ke Tanah Perdikan Menoreh menjelang hari perkawinannya. Mereka dengan hati-hati mempersiapkan diri sehingga apabila terjadi sesuatu di perjalanan, tidak akan mengecewakan dan akan membuat mereka menyesal untuk seterusnya.

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s