ADBM2-101

<<kembali | lanjut >>

SEBUAH padepokan kecil akan lahir di sebelah Kademangan Jati Anom. Diatas sebuah pategalan yang sudah ditumbuhi dengan berbagai macam pohon buah-buan, akan dibangun kelengkapan dari sebuah padepokan betapapun kecilnya. Sebuah rumah induk dengan pendapa dan bagian-bagian yang lain, sebuah tempat ibadah, kolam dan sebuah kandang kuda. Di bagian belakang akan terdapat beberapa buah rumah kecil yang akan dihuni oleh beberapa orang yang bersedia tinggal di padepokan kecil itu untuk bersama-sama bekerja keras. Sebuah lumbung, dan halaman untuk menjemur padi dan hasil sawah yang lain akan dipersiapkan pula dilongkangan.

Dihari-hari pertama, Untara dan Widura sudah mulai menentukan letak dan urutan bangunan yang akan dibuat. Meskipun kecil dan sederhana namun agaknya padepokan itu akan sangat menyenangkan.

Sebuah gubug kecil telah dahulu dibangun untuk menyimpan bahan-bahan yang diperlukan bagi bangunan yang akan dibuat itu. Kayu yang sudah siap digarap. Bambu dan atap ijuk segera dipersiapkan pula.

Ketika dua buah sumur sudah siap digali sesuai dengan tempat yang sudah direncanakan dalam keseluruhan halaman padepokan itu, maka mulailah kerja yang sebenarnya. Setiap hari beberapa buah pedati hilir mudik mengangkut batu dan keperluan-keperluan yang lain. Sementara itu beberapa orang pun mulai bekerja dengan keras untuk menyelesaikan pekerjaan yang cukup besar itu.

Agung Sedayu dan Kiai Gringsing tidak ketinggalan pula. Mereka ikut bekerja keras di antara para pekerja yang lain. Bahkan Ki Waskita pun tidak mau tinggal berpangku tangan.

Demikianlah hari-hari berikutnya. pategalan Karang itu telah sibuk dengan kerja. Mulai saat matahari naik, sampai saat matahari turun di balik gunung, orang-orang yang bekerja di padepokan itu lelah melakukan tugas mereka sebaik-baiknya. Bahkan di antara derit roda pedati, derak bambu dibelah dan bebatuan yang gemelutuk. kadang-kadang masih juga terdengar suara dendang dari seseorang yang sedang duduk dibawah sebatang pohon memintal tali ijuk.

Dalam pada itu, sekali-sekali Untara sendiri datang untuk melihat-lihat kemajuan kerja orang orangnya yang membuat dinding batu mengelilingi pategalan itu. Semakin lama menjadi semakin tinggi. Di empat penjuru terdapat empat buah regol meskipun tidak sama. Regol induk dibuat lebih besar dari ketiga regol butulan. Meskipun demikian, Untara telah mempersiapkan papan-papan kayu yang tebal, sehingga keempat pintu gerbang itu akan menjadi pintu gerbang yang kuat.

Kiai Gringsing yang melihat papan-papan yang dipersiapkan untuk membuat pintu gerbang itu tersenyum didalam hati. Rencana itu dibuat oleh seorang prajurit, sehingga segi pengamanan dari padepokan itu benar benar dapat dibanggakan. Pintu gerbang itu akan menjadi pintu gerbang yang sangat sulit untuk dipecahkan meskipun dengan mempergunakan alat apapun juga.

Dari hari kehari dengan berdebar-debar Agung Sedayu melihat perkembangan dari padepokannya. Dinding halaman yang menjadi semakin tinggi dan beberapa bagian rumah yang sudah berdiri.

Kesibukan kerja itu ternyata telah berpengaruh pula pada kepribadian Agung Sedayu. Dalam kerja itu ia merasa telah berbuat sesuatu bagi dirinya sendiri, diatas tanahnya sendiri. Meskipun kerja itu masih diangkat oleh kakak dan pamannya, namun seolah-olah ia pun ikut serta menentukan, bahwa padepokan itu benar benar akan berdiri.

Ternyata bahwa Widura cukup bijaksana menanggapi perkembangan jiwa Agung Sedayu. Meskipun bentuk setiap bangunan dan letaknya sudah direncanakan, tetapi Widura memberi banyak kesempatan kepada Agung Sedayu untuk mengutarakan pendapatnya. Bahkan Widura sama sekali tidak berkeberatan, jika pada suatu saat Agung Sedayu sama sekali merubah bentuk dan letak sebuah bangunan.

“Terserah kepadamu dan kepada gurumu. Agung Sedayu,” berkata Widura, “kaulah yang akan menjadi penghuni dari padepokan ini. Kaulah yang harus menentukannya. Jika aku menyerahkan beberapa bagian dari bahan dan tenaga yang dapat aku kerahkan dari Banyu Asri dan Jati Anom, itu adalah sekedar pelaksanaannya saja. Sedang dari ujud keseluruhannya terletak kepadamu dan kepada gurumu.”

Agung Sedayu kadang-kadang merasa bangga jika ia dapat menentukan sesuatu yang penting, yang kurang pada perencanaan sebelumnya. Ia benar-benar merasa telah berbuat sesuatu yang berguna bagi dirinya sendiri. Sehingga dengan demikian, Agung Sedayu mulai merasa, bahwa ia sedang bekerja keras bagi masa depannya dan kematangan kepribadiannya.

Berbeda dengan Widura, agaknya Untara berpegang teguh pada rencananya. Tetapi agaknya Agung Sedayu memang tidak banyak mempunyai persoalan dengan dinding itu yang dibuat kakaknya melingkari padepokan itu. Meskipun demikian, kadang-kadang Untara pun ikut pula menentukan beberapa bagian dari isi padepokan itu.

“Berilah kesempatan Agung Sedayu melakukan sesuatu,” berkata Widura kepada Untara.

“Ia masih terlalu muda. Seleranya adalah selera yang cengeng,” jawab Untara.

“Biar sajalah. Nanti jika ia sudah masak akan melihat kekurangan itu dan akan merubahnya. Gurunya pun agaknya tidak banyak berbuat sesuatu karena, sebagian besar persoalannya diserahkan kepada Agung Sedayu.”

Untara tidak menjawab. Tetapi baginya. Agung Sedayu masih terlalu kanak-kanak dan kurang pengalaman. Meskipun demikian kadang-kadang Untara pun mendengarkan nasehat nasehat pamannya dan membiarkan Agung Sedayu menentukan sesuai dengan keinginannya meskipun terbatas pada persoalan yang tidak terlampau besar dari keseluruhan rencana.

Dari hari kenari, padepokan itu menjadi semakin jelas. Bangunan-bangunannya mulai berdiri, sedang dindingnyapun telah cukup tinggi, sehingga pategalan itu benar-benar telah berubah menjadi sebuah padepokan kecil yang cantik.

Tetapi setiap kali Untara masih berdesis, “Selera Agung Sedayu adalah selera yang cengeng.”

Namun Untara pun akhirnya menuruti nasehat pamannya meskipun hatinya masih terasa belum puas. Tetapi bahwa padepokan itu semakin lama menjadi semakin berbentuk, ia pun mulai agak lega pula. Dengan demikian ia telah berhasil merenggut adiknya dari Sangkal Putung.

Karena dengan hadirnya Agung Sedayu di Sangkal Putung, rasa-rasanya Untara ikut direndahkan pula martabatnya sebagai seorang laki-laki.

Pada saatnya, maka padepokan itu pun telah dapat disiapkan. Dinding batu yang cukup tinggi telah siap mengelilingi padepokan yang ditumbuhi dengan beberapa batang pohon buah-buahan. Beberapa buah bangunan telah siap pula. Kandang kuda pun telah terisi oleh dua ekor kuda yang tegar.

Dihari yang telah dipilih oleh Kiai Gringsing, saat padepokan itu pun resmi akan dipergunakan, beberapa orang telah diundang untuk ikut menyaksikan. Diantara mereka hadir beberapa orang dari Sangkal Putung.

Ki Demang dan Swandaru dan isterinya bersama beberapa orang telah hadir pada upacara peresmian itu. Tetapi yang terasa mengganggu perasaan Agung Sedayu, bahwa justru Sekar Mirah tidak bersedia datang, meskipun Ki Demang mengemukakan beberapa alasan yang masuk akal.

“Badannya tidak sehat,” berkata Ki Demang.

Tetapi Agung Sedayu tidak mempercayainya. Meskipun demikian ia hanya dapat menganggukkan kepala sambil menjawab, “Mudah-mudahan ia menjadi lekas sembuh.”

Sementara itu, Swandaru pun yang sudah melihat-lihat berkeliling berkata kepada Agung Sedayu, “Padepokan yang sederhana. Mudah-mudahan kau kerasan tinggal disini kakang.”

“Aku akan mencobanya.”

Swandaru mengangguk-angguk. Tetapi beberapa kali ia menunjukkan kekecewaannya atas padepokan yang dilihatnya itu.

“Kau masih harus banyak bekerja untuk melengkapi padepokanmu ini kakang,” berkata Swandaru kemudian.

“Aku menyadari,” jawab Agung Sedayu.

Dan selanjutnya duniamu akan terbatas oleh dinding batu itu sampai hari tuamu. Kau akan menjadi orang yang alim. yang kerjanya setiap hari menghitung amal dan dosa yang pernah kau lakukan. Mengajari para cantrik untuk bercocok tanam dan memelihara ternak. Mengumpulkan telur ayam dan itik.”

“Mungkin aku harus harus berbuat demikian.”

“Lalu kau akan kehilangan semua kesempatan dihari-hari yang masih terlampau pagi. Masa-masa mudamu akan hilang dibalik dinding batu yang mengurungmu disini.”

“Mungkin ada usaha lain yang berguna bagi orang orang di sekelilingku,” jawab Agung Sedayu.

“Kakang,” berkata Swandaru kemudian, “aku tidak menolak untuk mempelajari ilmu kejiwan, kesusasteraan dan pendekatan diri kepada Yang Maha Pencipta. Tetapi diumur yang masih muda ini tentu masih banyak yang dapat dikerjakan dari pada bertapa didalam halaman padepokan kecil yang menurut pendapatku justru setengah-setengah ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam dalam.

“Tetapi semuanya terserah kepadamu kakang. Kaulah yang akan menjalaninya. Meskipun demikian, jika pada suatu saat kau jemu tinggal di padepokan ini, maka ayah tentu akan bersedia menerimamu kembali tinggal di Sangkal Putung.”

“Terima kasih,” jawab Agung Sedayu, “aku akan memikirkannya kelak.”

Demikianlah hari yang pertama itu telah hadir beberapa orang yang mengucapkan selamat atas lahirnya sebuah padepokan kecil itu. Adalah peristiwa yang jarang sekali dapat disaksikan, bahwa sebuah padepokan telah lahir diatas tanah pategalan seperti padepokan yang akan dihuni oleh Kiai Gringsing dan Agung Sedayu.

Tetapi ternyata disamping mereka, orang pertama yang bersedia tinggal di padepokan itu adalah Glagah Putih. Atas ijin orang tua serta kakek dan neneknya, maka ia telah menyatakan keinginannya untuk tinggal di padepokan itu bersama Agung Sedayu.

“Tetapi kita harus bekerja keras,” berkata Agung Sedayu.

“Itu menarik sekali kakang,” jawab Glagah Putih.

“Bagus. Jika kau sudah menyadari, maka kau dapat tinggal dengan senang justru karena kerja.”

Sepeninggal orang-orang yang menghadiri saat-saat padepokan itu mulai dihuni, adalah pertanda bahwa kerja keras harus dimulai. Pategalan di sekitar padepokan itu harus digarap. Dan sebidang tanah yang sudah disediakan adalah sawah yang akan menghasilkan persediaan makan bagi mereka.

“Di ujung pategalan itu adalah sebuah lapangan perdu. Di seberang lapangan perdu terdapat sebuah hutan kecil,” berkata Untara kepada Agung Sedayu, “kau tahu bahwa hutan itu adalah hutan terbuka meskipun terletak didalam tlatah Kademangan Jati Anom. Jika kau memerlukan maka kau dapat menghubungi Ki Demang. Mintalah izin untuk membuka tanah sesuai dengan perkembangan kebutuhanmu dan kebutuhan padepokanmu. Hutan itu tidak terlalu jauh dari pategalan yang kau buat menjadi padepokan itu, sehingga hasil dari kerja membuka hutan itu akan dapat langsung kau rasakan.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia tahu, bahwa sawah peninggalan ayahnya tidak terlampau luas. Agaknya Untara masih belum ingin membicarakan pembagian warisan yang diterima dari ayahnya.

“Bukan begitu,” berkata Kiai Gringsing ketika Agung Sedayu menyampaikannya persoalan itu kepadanya, “bukan karena Untara merasa segan membagi warisan, tetapi ia tentu mempunyai maksud lain yang jauh lebih baik dari sekedar pamrih.”

Agung Sedayu tidak menjawab.

“Ia ingin melihat kau bekerja sebagai seorang laki-laki. Itulah sebabnya ia menunjukkan hutan yang masih harus dibuka itu. Kau dapat memahaminya?”

Agung Sedayu mengangguk lemah.

“Nah, bukankah dengan demikian, kerja berat benar benar harus kita lakukan meskipun belum sekuku ireng dibanding dengan kerja membuka Alas Mentaok?”

Agung Sedayu mengangguk angguk, ia pun dapat mengerti keterangan gurunya. Agaknya kakaknya benar-benar ingin melihat ia bekerja seperti orang-orang lain bagi kepentingan dirinya dikemudiau hari.

Dalam kerja itu. Agung Sedayu justru dapat memahami. Apakah jadinya kelak jika ia masih saja berada di Sangkal Patung.

“Aku tidak tahu apakah dengan demikian aku masih akan dapat mempertahankan martabat orang tuaku,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Tetapi dengan kerja keras, ia masih dapat, berharap bahwa namanya akan dianggap sebagai keturunan Ki Sadewa.

“Pangkat dan kedudukan bukanlah ukuran martabat seseorang,” berkata pamannya pada suatu saat. Sehingga Agung Sedayu menjadi semakin yakin, bahwa dengan kerja ia akan menemukan dirinya sebagai anak Ki Sadewa.

Demikianlah dari hari ke hari, padepokan kecil itu mulai nampak hidup dan berkembang. Halaman depan rumah induknya selalu nampak bersih dan terpelihara. Beberapa batang pohon bunga yang ditanam oleh Agung Sedayu mulai tumbuh dan berdaun hijau. Setiap pagi dan sore Glagah Putih tidak lupa menyiramnya, sehingga pepohonan itu menjadi tumbuh dengan subur.

Bahkan Glagah Putih telah dengan susah payah membendung parit dan atas ijin para petani di Kademangan, ia mengalirkan sebagian kecil air parit itu untuk mengisi sebuah belumbang, yang kemudian dipergunakannya untuk memelihara ikan.

Dipagi hari, jika matahari mulai memancar, cahayanya yang kuning memantul dari air belumbang yang bening membayang didedaunan yang hijau. Beberapa ekor angsa yang dibeli oleh Widura berenang dengan segarnya kian kemari tanpa lelah.

Ternyata bahwa Glagah Putih adalah seorang yang rajin bekerja.

Ketika Agung Sedayu dan Kiai Gringsing memutuskan untuk mulai membuka hutan bagi tanah persawahan, maka Glagah Putih pun tidak mau ketinggalan, membawa sebuah kapak pembelah kayu.

“Kau merebus air saja dipinggir hutan,” berkata Agung Sedayu, “jika air mendidih, kau mulai menanak nasi. Kita tidak usah pulang kepadepokan. Kita makan disini.”

“Ah, itu kerja perempuan,” jawab Glagah Putih.

“Tidak. Di peperangan yang berlangsung lama. maka laki-lakilah yang merebus air dan menanak nasi. Juga di perjalanan yang panjang menghampiri daerah lawan.”

Glagah Pulih mulai berpikir. Tetapi katanya kemudian, “Aku mau merebus air dan menanak nasi, tetapi sesudah itu, aku boleh ikut bekerja.”

Agung Sedayu tertawa. Katanya, “Baiklah. Tetapi tugas utamamu, menyediakan makan kami. Tanpa makan, maka semua kerja akan terbengkelai. Karena itu, jangan kau anggap kerja itu kerja yang tidak berarti.”

Glagah Putih tidak membantah. Dihari berikutnya ia membawa alat-alat untuk merebus air dan menanak nasi.

Dengan sungguh-sungguh Agung Sedayu dan Kiai Gringsing, dibantu oleh Glagah Putih dan Ki Waskita, telah bekerja untuk membuka hutan. Ternyata bahwa kerja mereka tidak sia-sia. Pada saatnya, maka telah terbentang tanah yang sudah siap untuk ditanami, meskipun tidak begitu luas.

Atas persetujuan Ki Demang Jati Anom, maka tanah itu pun kemudian menjadi milik penghuni padepokan kecil itu. Bahkan jika mereka kelak memerlukan, Ki Demang rnasih akan memberikan kesempatan kepada mereka untuk membuka hutan lebih luas lagi.

“Untuk sementara sudah cukup,” berkata Agung Sedayu.

“Tetapi bagaimana dengan kalian sebelum tanah itu menghasilkan?” bertanya Ki Demang.

“Kami masih menjadi tanggungan kakang Untara dan paman Widura,” jawab Agung sedayu.

Ki Demang mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kagum melihat kesungguhan kerja Agung Sedayu dan penghuni padepokan itu yang lain.

Namun dalam pada itu, ketika sawah mereka sudah mulai mendapat air dan dapat ditanami untuk pertama kali, mulailah mereka sempat memikirkan kerja yang lain. Agung Sedayu mulai memperhatikan Glagah Putih yang dalam saat-saat yang memungkinkan selalu melatih diri dengan bekal yang baru sedikit terbatas pada tata gerak dasar dari ilmu keturunan kakeknya yang disadap dari sumber yang sama dengan ilmu ayahnya

“Kiai,” berkata Agung Sedayu kepada Kiai Gringsing dan Ki Waskita ketika mereka sudah mulai sempat beristirahat, “ilmu Glagah putih itulah yang aku katakan. Aku pun sebenarnya merasa sayang, bahwa ilmu itu akan menjadi semakin susut dan bahkan kemudian hilang sama sekali.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam dalam Katanya, “Agung Sedayu. Aku termasuk salah seorang yang mengenal ayahmu dengan baik. Meskipun waktu itu aku adalah Ki Tanu Metir dari Dukuh Pakuwon. Tetapi ayahmu mengenal aku sebenarnya meskipun Untara dan kau belum mengenalku pada waktu itu. Karena itulah, aku pun sebenarnya merasa sayang, jika ilmu Ki Sadewa yang disegani itu akan lenyap. Meskipun dalam beberapa hal, ilmu Ki Sadewa memiliki kelemahan karena bentuknya yang kurang tegas bersandar pada ciri-cirinya. Tetapi itu adalah karena Ki Sadewa bukan seseorang yang terbiasa menyombongkan diri dan ingin memperlihatkan kelebihannya kepada orang lain. Ia lebih senang menenggelamkan ilmu pada ciri-ciri yang umum dan banyak terdapat pada ilmu-ilmu yang lain. Tetapi disela-sela bentuknya yang kurang dapat dilihat ciri-ciri khususnya itu, sebenarnya tersembunyi unsur-unsur yang sangat dahsyat.”

Agung Sedayu hanya mengangguk anggukkan kepalanya saja.

“Diantaranya Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “kau mewarisi, sadar atau tidak sadar, kemampuan bidik yang luar biasa, yang bahkan kurang mendapat perhatian dari Untara. Tetapi pada tingkat tertentu, muka kemampuan itu akan menjadi bekal ilmu yang sangat tinggi tingkatnya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia akan berhadapan dengan usaha yang cukup besar.

Ternyata bahwa kemudian gurunya dan bahkan Ki Waskita telah menyatakan kesediaannya untuk mencoba melihat-lihat unsur unsur gerak dasar dari ilmu yang menjadi semakin lemah itu. Mungkin dengan demikian mereka akan dapat membantu, mengangkat kembali ilmu itu ketingkat yang sewajarnya.

“Apakah aku harus mengatakannya kepada kakang Untara?” bertanya Agung Sedayu.

“Jangan dahulu,” jawab Kiai Gringsing, “Bukannya aku hendak mengkesampingkan Untara. Tetapi harus kau akui Agung Sedayu, bahwa bagi Untara apa yang kau lakukan, tentu akan mendapat penilaian yang khusus, karena agaknya kau belum masuk kedalam batas rencana yang dianggapnya baik bagimu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi itu bukan berarti bahwa kita harus meninggalkannya untuk seterusnya. Jika pada suatu saat, keadaan sudah berkembang semakin baik, maka kita akan mengatakannya kepadanya.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu. “Tetapi sementara ini biarlah pamanmu Widura sajalah yang jika perlu menyampaikan persoalannya.”

Agung Sedayu mengangguk. Katanya, “Aku sangat berterima kasih kepada paman Widura. Agaknya paman Widura berusaha untuk menengahi pendirian kami yang sampai saat ini masih belum sesuai.”

“Ya. Pamanmu merasa bahwa ia adalah orang tuamu sekarang ini. Persoalan antara kau dan Untara adalah persoalannya.”

Dengan demikian, maka Agung Sedayu dan gurunya pun mulai mempersiapkan diri, disamping memperkembangkan padepokannya, juga berusaha untuk melihat kembali ilmu yang ditinggalkan oleh cabang perguruan yang telah mulai susut itu.

Namun dalam pada itu, di Sangkal Putung. Sekar Mirah mulai menjadi gelisah. Betapapun juga ia mencoba untuk mempertahankan harga dirinya, tetapi ada dorongan dihatinya untuk pada suatu kali pergi kepadepokan kecil itu. Rasa-rasanya sudah bertahun-tahun ia tidak bertemu dengan Agung Sedayu yang meskipun menurut penilaiannya anak muda itu mempunyai banyak kelemahan sikap dan pandangan hidup, namun Sekar Mirah tidak dapat ingkar, bahwa ada ikatan yang tidak dapat diurai yang membelit dihati.

Karena itulah, maka ketika ia tidak dapat menahan gejolak hatinya, ia menyatakan keinginannya itu pertama-tama justru kepada gurunya. Tidak kepada ayahnya.

Ki Sumangkar menarik nafas dalam dalam. Katanya, “Sekar Mirah. Sebenarnya aku sudah menunggu, kapan kau menyatakan keinginanmu untuk pergi ke padepokan itu. Tetapi kau tidak mau mendahului keinginan yang akan kau nyatakan, karena aku mengenal tabiat dan sifat-sifatmu. Tetapi apakah salahnya jika pada suatu saat kita berbicara dengan hati nurani. Tidak dengan sikap yang sudah diwarnai oleh nafsu yang betapapun bentuknya.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam dalam. Tetapi ia-pun menganggukan kepadanya meskipun ada beberapa bagian yang tidak segera dapat diserap untuk disesuaikan dengan sifat-sifatnya yang tinggi hati.

“Sekar Mirah,” berkata Ki Sumangkar kemudian, “sebaiknya kau segera menentukan, kapan kita akan pergi, dan sebaiknya kau minta ijin dahulu kepada ayah dan barangkali juga sebaiknya memberitahukan kepada kakakmu Swandaru, yang barangkali akan memberikan beberapa pesan bagi Agung Sedayu.”

Ternyata Sekar Mirah sudah benar-benar didesak oleh keinginannya untuk pergi, sehingga ia pun segera menemui ayahnya dan menyampaikan keinginannya itu.

“Bukan saja karena aku ingin bertemu dengan kakang Agung Sedayu,” berkata Sekar Mirah, “tetapi aku juga ingin melihat, apakah padepokan yang dibangunnya itu melampaui padepokan-padepokan yang pernah aku lihat sebelumnya.”

Sumangkar yang ada pula pada saat itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Ternyata Ki Demang pun tidak berkeberatan. Hanya Swandaru sajalah yang agaknya mempunyai penilaian lain. Katanya, “Kau harus menjaga dirimu Mirah. Kau adalah seorang gadis. Dan kau bukan anak orang kebanyakan yang dapat diperlakukan sekehendak hati. Jika kau ingin juga melihat padepokan itu, kau harus bersikap sewajarnya bagi seorang gadis yang berkedudukkan.”

“Tentu kakang.” Jawab Sekar Mirah, “aku tidak akan pergi ngunggah-unggahi. Tetapi aku ingin melihat, apakah padepokan itu ada nilainya bagi kami.”

“Ah,” Ki Sumangkar berdesis, “nilai sesuatu ujud memang mempunyai ukuran yang dapat dihayati secara umum oleh kebanyakan orang. Tetapi kita menilainya dengan bekal dan keinginan yang lain, maka nilai itu pun akan dapat berubah-ubah menurut dasar penilaian masing-masing. Mungkin padepokan itu sangat berarti bagi Agung Sedayu, tetapi sama sekali tidak bernilai bagi orang lain. Itulah sebabnya, maka kewajaran sikap yang sesuai dengan pesan angger Swandaru adalah meragukan sekali, karena yang wajar itu pun kadang-kadang sama sekali tidak wajar.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kiai, apakah Sekar Mirah tidak berhak ikut berbicara tentang masa depannya sendiri? Jika kita mengakui hubungan apakah yang ada antara Agung Sedayu dan Sekar Mirah, maka adalah wajar menurut penilaian yang wajar pula, bahwa Sekar Mirah ingin ikut menentukan apakah jalan akan dilaluinya bersama Agung Sedayu sudah menemukan arah yang tepat? Kitapun tidak dapat mengingkari, bahwa Sekar Mirah tentu ingin melihat kedudukan Agung Sedayu seimbang dengan kedudukan kelak. Aku adalah Demang di Sangkal Putung dan Kepala Tanah Perdikan di Menoreh atas nama isteriku. Sudah barang tentu aku tidak akan sampai hati melihat adikku satu-satunya hidup terpencil di padepokan kecil yang tidak mempunyai arti sama sekali dalam perkembangan keseluruhan bagi Pajang atau Mataram.”

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan. Jawabnya, “Itulah yang aku maksud. Yang wajar itu pun kadang kadang menjadi tidak wajar. Juga tingkat dan taraf kehidupan seseorang. Bagiku, tingkat kehidupan yang layak terletak kepada diri kita sendiri. Jika hati kita menemukan persesuaian, maka akan tenanglah hidup kita selanjutnya.”

Swandaru memandang Ki Sumangkar dengan tajamnya. Sejenak ia pun termangu-mangu. Namun kemudian ia tidak dapat menahan gejolak dihatinya dan berkata, “Kiai sudah membelakangi hidup keduniawian, karena barangkali umur Kiai yang menjadi semakin tua. Mungkin Kiai merasa sudah waktunya untuk menemukan ketenangan hidup. Baik yang bersifat lahir apalagi batin. Tetapi bagi kami yang muda, maka ketenangan hidup masih harus dinilai dengan sikap kemudian kami. Justru kamilah yang seharusnya memberikan bentuk dan warna kepada keadaan disekitarnya. Bukan sekedar menyesuaikan diri menurut apa adanya. Dengan demikian maka semua usaha akan terhenti, dan kita akan tetap dalam keadaan kita seperti sekarang tanpa kemajuan apapun juga.”

Ki Sumangkar menarik nafas dalam dalam, Katanya, “Sikap dan pendirian itu benar. Tetapi tidak berlebih-lebihan. Jika kita ingin berbuat sesuatu, maka kita tidak dapat mengingkari kenyataan yang ada sebagai landasan. Justru sikap itulah yang akan banyak merubah keadaan. Tetapi jika kita tidak mau melihat yang ada, maka kita akan melakukan beberapa kesalahan berturut turut, karena kita tidak beralaskan kepada kenyataan itu.” Ki Sumangkar berhenti sejenak. Lalu. “misalnya tentang Agung Sedayu. Ia harus berjuang sekuat-kuatnya. Tetapi ia harus berlandaskan kenyataannya sekarang. Ia harus mulai dari sebuah padepokan kecil, karena memang hanya itulah yang dapat dijangkaunya. Di atas alas yang ada itulah maka ia harus berjuang untuk mencapai perubahan demi perubahan sehingga sampai pada suatu tataran yang lebih baik. Dengan menerima kenyataan yang ada, maka semuanya akan berlangsung tanpa banyak mengeluh dan menyesali keadaan.”

Swandaru menegang sesaat. Tetapi meskipun demikian ia dapat melihat sepercik kebenaran pada kata-kata Ki Sumangkar. Namun, bagaimanapun juga ia menganggap bahwa sikap itu adalah sikap yang terlampau lemah dan ketua-tuaan, seolah-olah seseorang harus berbuat sesuatu menurut keadaan yang mungkin saja dilakukan seadanya agar hidupnya menjadi tenang dan tenteram.

“Itu bukan perjuangan,” berkata Swandaru didalam hatinya. Tetapi ia masih menghormati Ki Sumangkar sehingga ia tidak membantahnya lagi.

Demikianlah, maka Sekar Mirah pun segera berkemas untuk pergi. Sebenarnya keinginan yang sama telah mendesak jantung Pandan Wangi. Tetapi ada sesuatu yang menahannya. Ia merasa tidak pantas sama sekali untuk menyatakan keinginannya itu kepada suaminya atau kepada siapapun juga.

Karena itu, maka ia pun menahan keinginannya itu didalam hatinya, betapapun beratnya. Apalagi jika ia sadar, bahwa keinginannya untuk pergi kepadepokan kecil itu bukannya sekedar ingin menilai kelemahan Agung Sedayu dan kekerdilan usaha yang sedang dilakukan itu. Tetapi justru dengan kekaguman akan kebesaran jiwa anak muda itu.

“Kakaknya adalah seorang Senopati besar yang disegani lawan dan dihormati kawan. Tetapi ia tidak segan-segan bekerja keras untuk membuka sebuah padepokan kecil yang tidak berarti. Tetapi yang dengan kemauan yang keras dibangun dengan harapan-harapan bagi masa depannya,” berkata Pandan Wangi didalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat mengatakannya kepada siapapun juga. Kkarena ia sadar, bahwa dengan demikian akan dapat menimbulkan salah paham.

Ketika Pandan Wangi kemudian harus melepas Sekar Mirah pergi bersama gurunya dan dua orang pengawal, terasa sesuatu bergejolak didalam hatinya. Namun ia pun segera sadar, bahwa ia telah diganggu oleh perasaan iri. Dan ia pun sadar, bahwa nalarnya harus bekerja keras untuk menekan perasaan itu dalam-dalam.

Sejenak kemudian maka Sekar Mirah diiringi oleh guru dan dua orang pengawal telah berpacu disepanjang bulak yang panjang. Mereka pun kemudian menyusuri jalan ditepi hutan. Meskipun menurut pertimbangan mereka keadaan sudah berangsur baik, tetapi mereka tidak kehilangan kewaspadaan, karena meskipun hutan itu tidak terlampau lebat, tetapi didalamnya masih mungkin tersimpan bahaya yang dapat menerkam mereka setiap saat.

Tetapi ternyata bahwa mereka sama sekali tidak mendapat gangguan apapun di sepanjang jalan. Karena itulah maka mereka pun tidak terhenti di perjalanan dan sampai kepadepokan kecil itu seperti yang direncanakan.

Beberapa puluh langkah dari regol padepokan, Sekar Mirah berhenti. Dengan wajah yang tegang dipandanginya padepokan kecil itu dari jarak yang tidak begitu jauh.

“Marilah Mirah,” ajak gurunya, “kenapa kau berhenti ?”

Sekar Mirah memandang gurunya sejenak. Tetapi gurunya yang sudah berusia agak lanjut itu segera dapat menangkap perasaannya. Kecewa.

Tetapi Sekar Mirah melanjutkan juga perjalanannya menuju keregol padepokan yang terbuka itu.

Agaknya Glagah Putih yang berada di halaman depan, melihat iring-iringan yang mendekat itu. Karena itulah maka ia pun segera berlari-lari memberitahukan kehadiran beberapa orang tamu kepada kakak sepupunya yang kebetulan ada di padepokan.

Agung Sedayu bersama Kiai Gringsing dan Ki Waskita pun kemudian dengan tergesa-gesa menyongsong tamunya yang datang dari Sangkal Putung itu.

“Marilah Kiai,” Agung Sedayu mempersilahkan, “marilah Mirah. Aku percaya bahwa pada suatu saat, kau akan melihat padepokanku.”

Sekar Mirah mencoba untuk tersenyum betapapun kecutnya. Dimuka regol mereka pun meloncat turun dan menuntun kudanya memasuki halaman. Di belakang regol Kiai Gringsing menyambut mereka sambil tertawa, “Selamat datang di padepokan kecil ini.”

Mereka pun kemudian menyerahkan kuda mereka kepada para pengawalnya yang kemudian mengikatnya pada pohon-pohon perdu dihalaman.

“Ternyata di halaman itu perlu beberapa patok untuk mengikat kendali kuda,” berkata Glagah Putih didalam hatinya. Dan ia pun sudah merencanakan untuk menyiapkan beberapa potong bambu untuk membuat patok penambat kendali kuda.

Sejenak kemudian mereka pun telah duduk di pendapa. Sejenak mereka saling mengucapkan selamat sebelum mereka kemudian mulai membicarakan tentang padepokan yang baru itu.

Dalam pada itu, di belakang Glagah Putih telah sibuk merebus air untuk menyediakan hidangan bagi tamu-tamunya.

Dipendapa, pembicaraan Sekar Mirah mulai merambat pada padepokan kecil yang baru selesai dibangun itu. Beberapa kali ia mengeluh, bahwa kerja semacam ini tidak akan banyak mempunyai arti, selain membuang-buang waktu saja.

“Betapa kecilnya padepokan ini, tetapi untuk membangun rumah dan dinding batu itu tentu diperlukan beaya,” berkata Sekar Mirah.

“Ya, tentu.” jawab Agung Sedayu, “paman Widura dan kakang Untara telah menyediakan bagiku.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukankah itu juga berati bahwa kau tidak berdiri atas hasil kerjamu sendiri? Bukankah dengan demikian berarti bahwa kau juga memerlukan pertolongan orang lain ?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia menjawab. Ki Sumangkar telah mendahului, “Tetapi itu adalah haknya Sekar Mirah. Ki Widura adalah pamannya, sedang Untara adalah kakaknya Agung Sedayu berhak menerima apapun dari mereka. Agak berbeda dengan pemberian orang lain, meskipun dengan ikhlas. Apalagi tanah ini memang tanah Agung Sedayu sendiri.”

Sekar Mirah memandang gurunya sekilas. Jika saja bukan Ki Sumangkar, maka ia masih akan membantah. Tetapi terhadap gurunya, Sekar Mirah merasa segan untuk berbantah.

Sejenak kemudian, setelah mereka minum minuman panas yang dihidangkan oleh Glagah Putih, mereka pun memerlukan mengitari padepokan kecil itu untuk melihat-lihat apakah yang sudah dapat dibangun dalam waktu yang terhitung singkat itu.

Tetapi tidak ada satu pun yang memberikan kepuasan bagi Sekar Mirah. Semuanya serba kurang dan mengecewakan.

Namun agaknya Agung Sedayu sudah mengenal sifat dan watak Sekar Mirah, sehingga ia pun dapat mengerti apakah sebenarnya yang terkandung didalam hatinya.

Karena itulah maka Agung Sedayu dan apalagi Kiai Gringsing, sama sekali tidak menangkis celaan-celaan itu. Bahkan Agung Sedayu mencoba untuk mengangguk-angguk sambil menjawab, “Semuanya masih mungkin diperbaiki Sekar Mirah. Padepokan mi memang belum mapan.”

Sekar Mirah memandang Agung Sedayu sejenak. Katanya kemudian, “Memang masih mungkin diperbaiki. Tetapi ada sesuatu yang memang sudah tidak mungkin ditingkatkan. Yang sudah sampai pada tataran puncaknya. Itulah yang harus mendapat perhatian. Tanah yang kering, tandus dan berbatu-batu. Tidak akan dapat menjadi subur dalam waktu yang singkat. Keterasingan dan tersisih seperti padepokan inipun memerlukan waktu yang lama sekali untuk mendapatkan arti bagi kehidupan luas. Kecuali sekedar bagi satu dua orang yang langsung berkepentingan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ketika ia akan memberikan keterangan yang lebih panjang, Kiai Gringsing menggamitnya, sehingga Agung Sedayu pun terdiam karenanya.

Baru kemudian Kiai Gringsing berbisik, “Tidak ada gunanya. Kau hanya akan berbantah.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Dan ia memang tidak ingin berbantah dengan Sekar Mirah. Karena itulah maka ia pun hanya sekedar mendengarkan, dan sekali-sekali mengiakannya.

Ki Sumangkar menjadi gelisah justru karena sikap Agung Sedayu. Tetapi ia sadar, bahwa memang Agung Sedayu bukannya seseorang yang senang membantah, meskipun Sumangkar tahu, bahwa ada sesuatu yang terasa bergejolak didalam hati anak muda itu.

“Seperti endapan yang semakin lama semakin tebal didasar hati Agung Sedayu,” berkata Ki Sumangkar didalam hatinya, “mungkin endapan itu akan tetap tertimbun baik-baik, tetapi apabila timbunan itu menjadi banyak, maka akan mungkin sekali menjadi penuh dan meluap seperti air yang tertahan dibendungan.”

Tetapi Ki Sumangkar pun tidak mengatakan sesuatu. Ia justru ingin mencoba mengubah sikap dan tingkah laku Sekar Mirah apabila masih mungkin, khusus menghadapi Agung Sedayu, karena agaknya keduanya memang telah berniat menuju kedalam satu ikatan hidup meskipun perbedaan sifat dan watak semakin lama justru menjadi semakin jelas.

Meskipun demikian, rasanya masih ada yang mengikat keduanya untuk tetap berdiri ditempat masing-masing dalam hubungan antara seorang anak muda dan seorang gadis.

Demikianlah ternyata Sekar Mirah tidak betah terlalu lama tinggal di padepokan itu. Ia benar-benar tidak menemukan apapun juga yang dapat memberinya kepuasan, apalagi kebanggaan.

Meskipun demikian Sekar Mirah masih dapat menahan hati untuk menunggu sampai Glagah Putih menghidangkan makan dan lauk pauk sejauh dapat dilakukan.

“Ia adalah putera paman Widura,” berkata Agung Sedayu kepada tamu-tamunya.

“Paman Widura?” Sekar Mirah menjadi heran.

“Ya, kenapa?”

Sekar Mirah tidak menyahut. Tetapi ia benar-benar tidak mengerti, cara hidup yang ditempuh oleh keluarga Agung Sedayu. Widura adalah seorang perwira yang termasuk berpengaruh di Pajang meskipun ia sudah meletakkan jabatan keprajuritannya. Ia mampu membantu Agung Sedayu membuat padepokan itu. Tetapi kemudian anaknya dibiarkannya berada di padepokan itu sebagai seorang cantrik kecil yang paling rendah tingkatnya. Ia harus merebus air, menanak nasi dan menghidangkan jamuan untuk tamu padepokan itu.

“Cara yang paling aneh,” gumamnya, “agaknya keluarga Agung Sedayu memang mempunyai kebiasaan hidup dalam kesulitan.”

Berbeda dengan Sekar Mirah. Ki Sumangkar justru menjadi kagum melihat kesediaan Glagah Putih untuk semakin melakukan pekerjaan itu. Bahkan didalam hati Ki Sumangkar berkata, “Dengan cara itu, mereka akan menjadi orang-orang besar yang tidak akan terpisah dari rakyatnya, karena mereka mengalami kehidupan yang pahit dimasa mudanya. Tetapi mereka dengan tekun mempersiapkan diri untuk menjadi seorang pemimpin yang baik.”

Selelah beristirahat sejenak, maka Sekar Mirah pun kemudian minta diri kepada Agung Sedayu dengan kesan yang buram atas pedepokan yang kecil itu.

Agung Sedayu tidak dapat menahan Sekar Mirah untuk lebih lama lagi di padepokan itu. Ia dapat mengerti, perasaan apakah yang sedang bergejolak didalam hatinya.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun hanya dapat mengucapkan selamat jalan dan berpesan untuk Sekar Mirah berhati-hati di perjalanan.

“Aku bersama guru,” berkata Sekar Mirah, “tidak ada yang dapat menahan kami di perjalanan.”

Ki Sumangkar hanya dapat menarik napas dalam dalam. Tetapi ia tidak berkata apapun tentang perjalanan itu. Bahkan ia pun kemudian segera minta diri pula.

Sekar Mirah mengerutkan keningnya ketika ia melihat gurunya berbicara perlahan-lahan dengan Kiai Gringsing dan Ki Waskita yang lebih banyak melihat perkembangan keadaan daripada ikut mencampuri persoalan mereka. Bahkan Ki Waskita sejenak seolah-olah menjadi orang asing yang tidak banyak bekepentingan dengan kehadiran Sekar Mirah dan gurunya.

Sejenak kemudian maka Sekar Mirah, gurunya dan pengawalnya meninggalkan padepokan kecil yang lengang itu. Sekali Sekar Mirah masih berpaling untuk mencoba melihat padepokan itu dari kejauhan. Benar-benar sebuah padepokan kecil yang tidak berarti apa-apa.

Di padepokan itu, Agung Sedayu melangkah menuju ke pendapa sambil menundukkan kepalanya. Ia merasa bahwa Sekar Mirah sama sekali tidak sependapat, bahwa ia akan tetap tinggal di padepokan itu, karena sifat dan wataknya Sekar Mirah lebih senang tinggal di Kademangan yang besar dan dikelilingi oleh pelayan dan kawan-kawan yang menghormatinya. Setiap keinginannya seakan-akan dapat dipenuhi tanpa melakukan kerja yang berat. Jika sekali-kali bekerja didapur atau di halamanan, bahkan juga disawah, itu adalah karena ia ingin. Bukan karena terpaksa melakukannya.

“Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing kemudian kepada muridnya, “kau tentu sedang menghadapi salah satu ujian didalam penempaan kepribadianmu. Kita semua tahu, bahwa Sekar Mirah tidak tertarik sama sekali dengan padepokanmu. Tetapi hal ini tentu sudah kau mengerti, bahwa lebih banyak berbuat, sehingga pada suatu saat orang lain, termasuk Sekar Mirah mengakui, bahwa kau telah melakukan sesuatu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia memandang Ki Waskita yang lebih banyak diam. Namun ia tidak menemukan kesan apapun juga didalam wajah orang itu.

Tetapi dalam pada itu, tatapan Agung Sedayu yang sekilas itu melontarkan isyarat kepada Ki Waskita. Isyarat seperti yang dilihatnya pada Swandaru. Agaknya setelah masa perkawinannya dengan Sekar Mirah, Agung Sedayu pun masih harus menempuh jalan yang sulit dan berbatu-batu tajam.

“Kenapa harus terjadi seperti itu, justru yang tidak dikehendaki oleh semua pihak? “ pertanyaan itu selalu membelit dihati Ki Waskita. Namun ia masih berusaha untuk menyembunyikan perasaannya itu. Agar tidak menambah bahan perasaan Agung Sedayu. Gurunya dan mungkin juga Widura dan Untara. Meskipun agaknya Untara tentu mempunyai tanggapan yang berbeda. Bagi Untara, kerja keras, tekad dan ketekunan adalah unsur-unsur yang ikut serta menentukan masa depan seseorang. Bagi Untara, maka jika Sekar Mirah dapat menjadi penghambat, maka ia tentu akan menganjurkan untuk melepaskannya.

Ki Waskita hanya dapat manarik nafas. Ia melihat perbedaan sikap yang jauh antara kedua kakak beradik itu.

Glagah Putih yang tidak tahu persoalan tentang hubungan antara Agung Sedayu dan Sekar Mirah, sama sekali tidak melihat gejolak perasaan yang bagaikan mengguncang dada Agung Sedayu. Itulah sebabnya, maka ketika ia menjumpai Agung Sedayu disamping pendapa ia bertanya. “Apakah hidanganku cukup pantas?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menepuk bau Glagah Putih sambil tersenyum. Katanya, “cukup. Terlalu cukup.”

“Kakang tentu sekedar memuji.”

“Tidak. Kau memang pandai memasak.”

Glagah Putih tidak bertanya lagi. Ia pun kemudian mengambil sisa hidangan dan membawanya kebelakang.

Kunjungan Sekar Mirah, rasa-rasanya telah melecut Agung Sedayu untuk bekerja keras. Bukan saja ditanah pekerangannya yang baru, selelah ia membuka hutan, tetapi juga dalam bidang yang lain.

Dimalam-malam yang sepi, ia mulai melihat-lihat tata gerak yang dikuasai oleh Glagah Putih bersama guru-nya dan Ki Waskita. Seperti yang dikatakan oleh Kiai Gringsing, Ki Sadewa memang tidak berusaha untuk menunjukkan kekhususan yang menarik perhatian, seolah-olah dengan sombong mengatakan, “Inilah Ilmuku yang tidak ada duanya.”

Tata gerak yang dilihat pada gerak-gerak dasar ilmu itu cukup sederhana. Namun sekali dan kadang-kadang kurang menyakinkan.

“Sulit untuk menangkap ciri-cirinya. Hampir tidak dapat disebut bahwa ilmu ini adalah ilmu khusus dari perguruan Ki Sadewa,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya.

Tetapi belum mengatakannya. Yang dilihatnya adalah tata gerak dasar yang sangat dangkal yang dikuasai oleh Glagah Putih.

“Mungkin kita memerlukan pertolongan Ki Widura,” berkata Kiai Gringsing.

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin memang demikianlah ajaran ilmu itu. Pada tingkat pertama, yang diajarkannya adalah ilmu yang sangat umum seperti yang dikuasai oleh Glagah Putih. Tetapi mungkin pada tingkat berikutnya ada ciri-ciri khusus yang dapat disadap.

“Tentu ada ciri-ciri khusus itu. Aku melihat ciri-ciri itu pada Ki Widura dan anakmas Untara,” berkata Kiai Gringsing, “tetapi terlalu samar dan mungkin justru sengaja disamarkan.”

Keduanya mengangguk-angguk. Dan mereka pun bersepakat untuk melakukan penelitian berikutnya bersama Ki Widura untuk menemukan kembali ilmu yang sudah menjadi sangat menurun kemampuannya itu.

Dalam pada itu, ternyata usaha Agung Sedayu membuka hutan telah menumbuhkan rangsangan pada orang lain. Ternyata beberadpa orang telah mengajukan permohonan untuk diperkenankan ikut serta membuka hutan itu.

Tetapi persoalan yang dihadapi oleh orang-orang Jati Anom agak berbeda dengan orang-orang yang sedang membuka hutan di Mataram. Alas Mentaok yang lebat dan garang itu dapat dibuka oleh setiap orang yang ingin menggabungkan diri kedalam lingkungan kehidupan Mataram. Mereka dapat membuka hutan dibagian manapun yang mereka pilih. Baru kemudian mereka menyatakan diri dan menyusun lingkungan masyarakat dalam hubungan yang utuh bersama lingkungan-lingkungan kecil yang lain.

Sedangkan di Jati Anom, hutan yang tersisa merupakan hutan yang seolah-olah tetap dipelihara karena berbagai macam kepentingan. Meskipun kadang-kadang hutan itu mendatangkan bahaya karena binatang buas yang tersembunyi didalamnya. Namun hutan itu juga memberikan banyak kegunaan. Kadang-kadang Kademangan Jati Anom memerlukan kayu yang cukup banyak untuk membangun beberapa buah rumah, atau memerlukan hasil hutan yang lain. Tetapi hutan di lereng Gunung Merapi itu agaknya memang masih akan diperlukan untuk waktu yang lama. Bahkan Kademangan yang terletak lebih tinggi lagi dari Jati Anom masih melindungi hutan yang lebat dan pepat seperti alas Mentaok dalam hubungannya dengan penyimpanan air dan menahan runtuhnya tanah dan banjir.

Karena itulah, maka pembukaan hutan di Jati Anom hanya dapat dilakukan dengan terbatas sekali.

Meskipun demikian, Ki Demang di Jati Anom masih memberikan kesempatan bagi beberapa orang yang dengan sunguh-sungguh ingin membuka hutan dan bekerja bersama dengan Agung Sedayu.

“Tetapi kalian harus bersungguh-sunguh,” berkata Ki Demang, “kalian tidak boleh sekedar ingin setelah melihat tanah persawahan yang telah berhasil dibuka oleh Agung Sedayu meskipun tidak begitu luas.”

“Kami bersungguh sungguh Ki Demang.”

“Tetapi kalian harus bekerja dibawah bimbingan Agung Sedayu, karena membuka tanah baru bukannya sekedar menebang pohon-pohon liar dan membuat pematang di seputarnya. Membuka tanah baru harus diperhitungkan apakah kemungkinan mendapatkan air selain air hujan. Kemungkinan-kemungkinan yang mungkin masih harus dipertimbangkan.”

“Kami akan berada dibawah petunjuk-petunjuknya.”

“Hubungilah Agung Sedayu. Kau boleh menyampaikan kepadanya, bahwa aku telah mengijinkan. Tetapi terbatas sekali. Hanya kalian yang menyatakan keinginannya sampai hari ini. Beritahukan kapada orang- orang lain yang ingin ikut serta, bahwa aku tidak akan mengijinkan orang-orang baru untuk ikut pula. Tanah persawahan di Jati Anom aku anggap sudah cukup sampai sekarang. Sedang hutan itu masih sangat kita perlukan.”

Tetapi yang sedikit itu telah menggembirakan hati Agung Sedayu. Rasa-rasanya ia mendapatkan kawan yang mulai memperjuangkan hari depan mereka meskipun hanya dalam lingkungan kecil. Apalagi ketika pada beberapa anak muda diantara mereka yang ikut membuka hutan itu menyatakan keinginan mereka untuk tinggal di padepokan kecil yang masih sunyi itu.

“Belum sekarang,” jawab Agung Sedayu, “pada saatnya, jika padepokan itu telah siap benar, kalian dapat tinggal bersama kami. Sekarang, kami sedang bekerja keras untuk mempersiapkannya.”

“Kami akan membantu,” berkata salah seorang dari mereka.

Agung Sedayu selalu saja tersenyum sambil menjawab, “Terima kasih. Pada saatnya saja nanti aku akan memanggilmu.”

Namu dalam saat itu. Agung Sedayu sedang mempersiapkan sebuah rencana yang cukup rumit bersama gurunya dan Ki Waskita untuk mengetahui dasar-dasar ilmu yang mulai kabur. Satu satunya orang yang akan dapat memberikan banyak bahan adalah Widura sendiri, karena Untara yang sibuk dengan tugasnya tentu tidak akan sempat melakukannya meskipun ilmu itu terdapat lebih lengkap padanya daripada pada Widura.

Untuk kepentingan itu. Agung Sedayu telah menyiapkan sebuah ruang khusus yang akan menjadi sanggar dalam penelaahan ilmu kanuragan. Terutama dalam hubungan dengan ilmu yang masih sangat tipis pada Glagah Putih.

“Kita akan mempergunakan sebagian dari waktu kita untuk berada di dalam sanggar,” berkata Agung Sedayu kepada Glagah Putih.

“Apa salahnya? Aku sudah terbiasa berlatih dalam waktu yang tidak terbatas. Hampir setiap saat kakek memberi kesempatan kepadaku untuk meningkatkan ilmu,” berkata Glagah Putih.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun dengan demikian ia mengerti, bahwa tuntutan yang diberikan kepada Glagah Putihpun kurang memenuhi syarat dan urutan yang tersusun. Seakan-akan dasar ilmu itu diberikan kapan saja dan bagaimana saja yang sedang teringat oleh kakeknya.

Setelah semua persiapan selesai, maka Agung Sedayu, Kiai Gringsing dan Ki Waskita benar-benar mulai dengan penyelidikannya. Mereka dengan bersungguh-sungguh telah mempersiapkan semuanya yang mungkin diperlukan. Rontal dengan penggoresnya siap pula untuk menangkap tata gerak yang menarik perhatian mereka.

Widura yang pada saat-saat tertentu datang kepadepokan itu dan menyetujui semua rencana itu pun telah dipersiapkan diri pula. Bahkan ketika rencana itu siap untuk dimulai, Widura menyerahkan beberapa helai rontal kepada Kiai Gringsing.

“Apakah isinya?” bertanya Kiai Gringsing. “Cobalah lihat Kiai. Mungkin akan berguna untuk melihat tata gerak dasar dari ilmu yang sedang menyusut ini.”

Kiai Gringsing mulai membuka rontal itu. Ia melihat susunan tata gerak dari limu yang sedang mereka tekuni. Meskipun kurang tersusun, namun nampaknya gambar-gambar yang tergores pada rontal itu menunjukkan usaha untuk meningkatkan ilmu yang ada pada orang yang melukiskannya diatas rontal yang masih tersimpan baik itu.

“Rontal ini masih terhitung baru,” berkata Kiai Gringsing, “aku kira tentu bukan peninggalan Ki Sadewa.”

Ki Widura menggelengkan kepalanya. Katanya, “Perlihatkan kepada Agung Sedayu, apakah ia dapat mengenalnya?”

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun rontal itu pun kemudian diserahkannya kepada Agung Sedayu.

Wajah Agung Sedayu menegang sejanak. Ia mencoba mengingat-ingat, dimanakah ia mengenal rontal itu. Rontal yang dilukisi oleh tata gerak yang mungkin dan bahkan yang sangat sulit dilakukan meskipun pada dasarnya ilmu itu adalah ilmu yang termurun sampai kepada Ki Widura dan Untara.

Dalam ketegangan itu, Agung Sedayu melihat Ki Widura tersenyum. Bahkan kemudian katanya, “Kau tentu ingat. Darimanakah aku mendapatkannya.”

Tiba-tiba saja wajah Agung Sedayu menjadi merah sesaat. Ia pun kemudian teringat, bahwa ketika ia berada di Sangkal Putung, dalam cengkaman tata hidupnya yang lama, ia telah mencoba untuk memahami ilmu kanuragan. Tetapi ia tidak dapat melakukannya sesuai dengan keinginannya karena keadaan yang membatasinya saat itu. Karena itulah ia telah mempergunakan cara tersendiri. Ia mulai mengkhayalkan tata gerak yang dituangkannya dalam goresan-goresan diatas rontal.

Sambil mengangguk-angguk kecil Agung Sedayu berkata, “Aku ingat paman.”

Widura tertawa. Katanya, “Kau tentu ingat, karena kaulah yang membuatnya. Kau yang waktu itu masih dikungkung oleh perasaan takut dan tanpa kepercayaan kepada diri sendiri, telah menuangkan khayal tata gerak dari perkembangan ilmumu pada rontal itu. Karena kemungkinan untuk berlatih waktu itu memang sangat sempit, maka kau pergunakan sebagian waktumu untuk berlatih didalam angan-angan. Dan agaknya kau telah berhasil. Ilmumu berkembang seperti yang kau khayalkan meskipun tidak tepat benar, karena ada unsur-unsur gerak yang tidak mungkin dilakukan dalam kenyataan gerak, tetapi dapat kau bayangkan didalam angan-angan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia ingin memberikan beberapa penjelasan, tetapi Ki Widura sudah mendahuluinya, “Tetapi pada suatu saat kau menjadi murid Kiai Gringsing yang memiliki ilmu dasar yang berbeda, meskipun agaknya beberapa bagian dapat kau trapkan setelah kau menguasai gerak dasar dari ilmumu yang sekarang.”

Kiai Gringsing tersenyum sambil memandang rontal ditangan Agung Sedayu itu. Katanya, “Kau memang cerdas. Memang lapangan untuk berlatih bukannya selalu halaman yang sunyi, atau sanggar yang luas. Tetapi angan-anganmu jauh lebih luas dari tlatah Pajang. Perhitungan dan pertimbanganmu dalam latihan khusus ini pasti jauh lebih masak daripada kau langsung dihadapkan pada tata gerak.”

“Karena itu, maka latihan-latihan seperti yang kau lakukan disamping latihan-latihan yang sebenarnya adalah sangat berguna.”

Agung Sedayu kemudian tesenyum pula. Katanya, “Darimana paman mendapatkannya?”

“Aku mendapatkannya di Sangkal Putung. Selagi kau menjadi gemetar setiap kali Sidanti menantangmu, maka kau dengan rajin membuat lukisan-lukisan seperti ini.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya.

Kiai Gringsing dan Ki Waskita pun kemudian tertawa. Terbayang didalam angan-angan mereka, seorang anak muda yang selalu ketakutan menghadapi kedaan di sekitarnya yang saat itu justru sedang dibakar oleh api perselisihan antara sanak kadang di Pajang dan Jipang.

“Tetapi semuanya itu kini tiggal kenangan,” berkata Ki Waskita, “meskipun aku tidak melihat bagaimana pucatnya wajah anakmas Agung Sedayu, namun aku dapat membayangkan, bahwa semuanya itu menjadi gambaran perkembangan jasmani dan jiwanya angger Agung Sedayu.”

“Ya,” sahut Widura, “tetapi bekas-bekasnya tentu tidak akan lenyap sama sekali.”

Agung Sedayu sama sekali tidak menyahut. Dibiarkannya orang-orang itu menilai tentang dirinya. Dan ia pun tidak ingkar, bahwa sifat-sifat yang dimilikinya di masa kanak-kanak itu masih tetap membekas dihatinya, meskipun didalam pertumbuhannya mengalami perubahan-perubahan yang penting.

“Nah,” berkata Ki Widura kemudian, “maksudku dengan rontal itu adalah merupakan salah satu bahan dari usaha kita untuk mencari bentuk dan ciri-ciri dari ilmu yang sudah semakin susut itu. Aku dan Untara adalah prajurit. Dalam pada itu, tentu banyak unsur-unsur gerak yang langsung atau tidak langsung telah terbiasa dalam ilmu yang kini aku miliki, karena tempaan yang aku alami setelah aku menjadi prajurit. Didalam lingkungan keprajuritan, telah tersusun ilmu-ilmu pokok yang harus dikuasai oleh setiap prajurit, meskipun masing-masing telah memiliki bekalnya sendiri.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ternyata bahwa lukisan-lukisan didalam rontal itu akan sangat berarti meskipun lukisan-lukisannya bukanya lukisan yang baik.

Pada hari-hari berikutnya maka padepokan kecil itu mulai dengan kerja yang memerlukan ketekunan. Selain memelihara padepokan itu sendiri, menggarap sawah dan pategalan bagi persediaan makan mereka, maka mereka pun mulai memasuki sanggar dengan sungguh-sungguh.

Yang akan menjadi bahan pengamatan mereka adalah Glagah Putih dan Ki Widura sendiri disamping rontal yang berisi goresan-goresan tangan Agung Sedayu.

Pada hari-hari pertama, beberapa kali Glagah Putih harus mengulangi latihan-latihan yang pernah didapatkannya dari kakeknya. Unsur-unsur gerak yang sederhana yang justru merupakan dasar dari ilmunya. Kemudian beberapa unsur yang lain sudah merupakan perkembangan meskipun sama sekali masih kosong.

Agung Sedayu, Kiai Gringsing dan Ki Waskita memperhatikannya dengan saksama. Setiap kali mereka menghentikan latihan itu, dan minta agar Glagah Putih mengulanginya.

“Kau tidak perlu mengerahkan tenaga,” berkata Kiai Gringsing, “lakukanlah unsur geraknya saja. Aku hanya ingin melihat bentuk dan sikap. Bukan kekuatannya.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Sebenarnyalah ia sudah mulai lelah. Jika ia harus mengulangi beberapa kali dengan segenap tenaganya, maka ia akan kelelahan.

Tetapi Glagah Putih pun kemudian tidak perlu mengulang lebih banyak lagi. Agung Sedayu kemudian berdiri dan melakukan tata gerak seperti yang dilakukan oleh Glagah Putih.

“Kau masih dapat melakukannya Agung Sedayu,” berkata Ki Widura, “tetapi tata gerak yang kau perlihatkan sudah mempunyai isi yang berbeda, karena nafas ilmu yang kau dapatkan dari Kiai Gringsing masih tetap menjiwainya,” berkata Ki Widura.

“Kosongkanlah dirimu,” berkata Kiai Gringsing, “Ki Widura benar. Sehingga sulit untuk mengurai batasnya karena kau memang memiliki keduanya. Jika kau mengosongkan diri, maka yang kau lakukan hanyalah menirukan. Jika yang kau lakukan bergetar pula didalam dirimu, lakukanlah terus.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dipandanginya gurunya dan Ki Widura berganti-ganti. Kemudian Katanya, “Baiklah guru. Aku akan mencoba mengosongkan diri meskipun aku sadar, bahwa pekerjaan itu bukannya pekerjaan yang mudah.”

Kiai Gringsing mengangguk. Lalu, “Mulailah. Seperti Glagah Putih. Yang ingin kami ketahui adalah tata gerak dan bentuknya, bukan kekuatannya. Karena itu, kau tidak perlu melepaskan tenaga sedikitpun juga, selain bagi gerak itu sendiri.”

Agung Sedayu mengangguk. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia pun memusatkan nalar dan perasaannya pada dirinya, pada ujud wadagnya, sehingga yang ada padanya kemudian hanyalah tulang dan daging yang kosong terlepas dari penguasaan gerak naluriah, dan sepenuhnya diserahkan kepada bayangan yang tersisa dalam dirinya pada pengamatannya atas tata gerak yang dilakukan oleh Glagah Putih.

Sebelumnya Agung Sedayu belum pernah melakukannya. Itulah sebabnya ia mengalami beberapa kesulitan. Setiap kali bayangan itu menjadi jelas setelah mengalami pemisahan dari bagian-bagian yang tidak dikehendaki. Namun setiap kali, unsur gerak naluriahnya seolah-olah telah mengaburkannya kembali. Sangat sulit baginya untuk mengendapkan ilmu yang telah dikuasainya sampai pada batas penguasaan urat dan syarafnya sehingga terlepas dari unsur-unsur yang menyentuh simpul-simpul penggerak, sehingga seakan-akan hilang dari perbendaharaan batinnya.

Namun dengan tekun Agung Sedayu berusaha. Jika ia berhasil, maka itu justru merupakan suatu hal yang baru baginya, yang akan merupakan suatu kemajuan atas kekuasaannya terhadap dirinya sendiri, yang wadag maupun yang halus.

Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Ki Widura justru menjadi tegang.

Mereka melihat betapa wajah Agung Sedayu menjadi pucat dan berkeringat. Namun Kiai Gringsing telah membiarkannya. Justru kesempatan itu merupakan kesempatan yang sangat berarti bagi Agung Sedayu. Ilmu yang ada pada Glagah Putih sekedar merupakan pendorong dan peraga dalam usaha pengosongan diri dan menyatukan daya pikirnya pada bayangan yang dikehendakinya, yang tersisa dalam dirinya.

Glagah Putih yang ada didalam sanggar itu pula menjadi heran. Ia sama sekali tidak mengerti, apakah yang sedang dikerjakan oleh Agung Sedayu. Bahkan ia menjadi heran, bahwa Agung Sedayu mengalami kesulitan untuk menirukan tata geraknya yang menurut ayahnya, barulah tata gerak dasar yang sederhana.

Dalam puncak pencapaiannya, wajah Agung Sedayu benar-benar menjadi pucat. Ternyata ia berhasil menyingkirkan semua simpanan didalam dirinya kesudut sampai pada batas penguasaan urat dan syarafnya, yang dikuasai oleh kehendak, sehingga seolah-olah ia tidak pernah memilikinya dan sama sekali tidak mempengaruhinya lagi.

Mulai saat itulah, yang nampak pada penglihatannya mata hati Agung Sedayu adalah bayangan tata gerak yang dilakukan oleh Glagah Putih. Seolah-olah sekali lagi Glagah Putih melakukan dasar tata gerak ilmunya yang masih sangat sederhana itu.

Dari unsur gerak yang sama Agung Sedayu mengikuti penglihatan mata hatinya, dan melakukan tata gerak berikutnya, tepat seperti yang pernah dilihatnya.

Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Widura menarik nafas dalam-dalam. Mereka melihat keberhasilan Agung Sedayu. Bahkan kemudian Ki Waskita berkata, “Ia akan memiliki ingatan yang tajam sekali dengan keberhasilannya itu. Jika ia selanjutnya melatih diri dan menyempurnakannya, maka itu akan sangat berguna baginya. Ia akan mengenal segala ilmu yang pernah dilihatnya dan mempelajarinya, sehingga akhirnya ilmu Agung Sedayu akan menjadi ilmu yang paling lengkap.”

“Tentu belum sejauh itu,” jawab Kiai Gringsing, “tetapi bahwa yang dicapainya itu akan sangat berguna, agaknya memang demikian.”

“Tetapi, tentu Agung Sedayu tidak akan dapat melakukannya, sebelum ia mendapatkan inti dari kemampuannya itu,” berkata Ki Waskita. Lalu, “Apakah Kiai juga pernah memberikan inti dasar dari ilmu itu kepada Swandaru?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sambil memperhatikan tata gerak Agung Sedayu yang sederhana dan merupakan unsur-unsur gerak dasar itu, ia menjawab, “Jika Swandaru memiliki ketajaman batin seperti Agung Sedayu, maka ia pun tentu dapat melakukannya. Tetapi aku tidak tahu, apakah ia berhasil mengurai semua bahan yang ada padanya, untuk menemukan hubungannya sehingga terbentuklah suatu ujud.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Kiai sangat bijaksana.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Diperhatikannya tata gerak Agung Sedayu yang melakukan tata gerak dasar itu berulang kali tanpa dipengaruhi oleh ilmu yang telah dimilikinya. Sama sekali bersih.

Perlahan-lahan tetapi meyakinkan, maka orang-orang yang memperhatikan tata gerak Agung Sedayu itu melihat kebiasaan yang nampak pada tata gerak dasar. Baru kebiasaan. Dan kebiasaan itu mungkin memang terdapat pada tata gerak itu sendiri, atau lahir setelah ilmu itu menurun. Baik pada kakek Glagah Putih atau pada Glagah Putih sendiri, sehingga kebiasaan itu belum dapat dijadikan ciri bagi ilmu itu.

“Setelah aku melihat, bagaimanakah tata gerak dasar Ki Widura, maka barulah akan mendapat perbandingan dibantu oleh gambar yang telah dibuat oleh Agung Sedayu tentang tata gerak yang sudah disempurnakan baru didalam angan-angan,” berkata Kiai Gringsing didalam hatinya.

Sebenarnya, bahwa dengan mengulang-ulang tata gerak dasar itu. banyak yang dapat dicapai oleh Agung Sedayu bagi dirinya sendiri dan bagi ilmu itu. Ia sudah dapat memberikan gambaran yang berulangkali dengan gerak yang tepat sama dan unsur-unsur dasar. Sepuluh kali ia mengulang, maka sepuluh kali pula setiap bagian dari gerak itu diulang.

Ketika Kiai Gringsing menganggap sudah cukup, maka ia pun kemudian berkata, “Sudahlah Agung Sedayu. Untuk kali ini kita sudah cukup.”

Agung Sedayu mendengar suara itu bergetar didalam hatinya. Karena itu maka ia pun kemudian perlahan-lahan berusaha untuk menyalurkan kehendaknya pada wadagnya, sehingga akhirnya, ia pun berhenti.

Namun demikian ia berhenti, dan melepaskan diri dari ketegangan saat-saat ia mengosongkan diri, terasa tubuhnya bagaikan menjadi gemetar karena getar pada urat dan syarafnya, seolah-olah menjalar sampai kepusat syarafnya, sehingga akhirnya seolah-olah yang kosong itu pun telah terisi kembali.

Maka sejenak kemudian. Agung Sedayu itu pun serasa telah pulih kembali menjadi Agung Sedayu sewajarnya. Karena itulah, maka jika ia masih ingin meneruskan usahanya mengulangi tata gerak Glagah Putih, maka ia tidak akan dapat melakukannya tanpa pengaruh ilmunya sendiri.

Di hari itu, Kiai Gringsing rasa-rasanya telah menemukan sesuatu yang baru? Bukan saja pengenalan atas dasar-dasar pokok ilmu yang sedang mereka pelajari, tetapi ia menyaksikan, bagaimana Agung Sedayu berusaha mengosongkan dirinya, dan membuat wadagnya bagaikan terlepas dari segala ilmu yang dimilikinya.

Demikianlah, setelah mereka selesai dengan ungkapan tata gerak itu, mulailah mereka duduk pada sebuah lingkaran dan sekedar berbincang. Widura yang paling banyak mengenal ilmunya dari orang-orang lain yang ada mencoba untuk menjelaskan, apa yang telah mereka saksikan bersama

“Memang belum ada ciri-ciri pokok yang nampak. Tetapi ada sesuatu yang dapat diingat. Gerak kaki itu terulang sampai beberapa kali pada unsur-unsur dasar yang berbeda. Langkah yang melintang siku dari garis lurus pandangan mata dan susunan telapak tangan yang tegak dimuka dada, dapat merupakan pengenalan,” berkata Widura.

Tetapi Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Katanya, “Baru merupakan bentuk-bentuk pada tata gerak. Tetapi belum langsung menyangkut watak. Karena ciri sebenarnyalah dapat dikenali sebagian terbesar pada watak ilmu itu.”

“Satu hal yang dapat Kiai ingat, meskipun tidak dilakukan oleh Glagah Putih. Ketajaman bidik itu bukan sekedar bentuk. Tetapi sudah mengandung watak dari suatu ilmu.” sahut Widura.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Ya Ketajaman bidik memang merupakan ciri dari ilmu itu. Tetapi sudah barang tentu tidak hanya ciri yang satu itulah yang kita lihat. Menilik sikap dan tata gerak dasarnya, maka akan ada kemampuan-kemampuan yang akan nampak dalam tata gerak itu.”

“Aku kira ada watak yang sudah terungkap meskipun hanya permukaannya saja,” berkata Ki Waskita.

“Pertahanan yang kuat dan rapat. Hampir tidak tertembus oleh ujung jarum.” potong Kiai Gringsing.

“Ya. Dan itu tentu dapat dihubungkan dengan watak.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Ki Waskita benar. Tetapi watak yang kita lihat adalah watak yang samar-samar. Ilmu yang banyak dijiwai oleh unsur-unsur gerak pertahanan yang kuat dan rapat, menunjukkan bahwa ilmu itu lebih mementingkan keselamatan sendiri daripada mencelakai orang lain. Aku kira sesuai benar dengan Ki Sadewa. Tetapi yang akan kita cari adalah watak dalan keutuhannya. Kekasarannya, kekerasannya, bentuk dan jenis pukulan yang mematikan, yang sekedar melukai dan sebagai sarana untuk melepaskan diri dari kesulitan.”

“Kita memerlukan waktu,” berkata Widura, “namun aku sudah mulai membayangkan, jika kita dapat menemukan sebagian yang hilang, maka dengan bekal yang ada itu akan tersusunlah kembali ilmu yang dahsyat yang pernah dimiliki oleh Ki Sadewa. Lebih dahsyat dari ilmu yang pernah kita kenal pada orang-orang yang sekarang masih mempergunakannya, karena tidak ada seorang pun yang berhasil mempelajarinya sampai tuntas setelah Ki Sadewa.”

“Mudah-mudahan kita berhasil. Jika tidak seluruhnya, maka jika kita mencapai sebagian besar, maka nama Ki Sadewa akan tidak terlupakan,” berkata Kiai Gringsing.

Ki Widura mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya. Mudah-mudahan demikian.”

Demikianlah, penyelidikan dengan tekun dan bersungguh-sungguh atas ilmu Ki Sadewa itu sudah dimulai. Tetapi mereka semuanya tidak tergesa-gesa. Mereka tidak membatasi waktu penyelidikannya dengan dua atau tiga pekan. Tidak pula dua atau tiga bulan. Bahkan mereka tidak akan memaksa untuk segera menyelesaikannya setelah dua atau tiga tahun.

Karena itulah, maka penyelidikan itu berjalan terus meskipun lambat. Namun demikian, mareka menyediakan waktu betapapun sempitnya setiap hari untuk menelaah, membicarakan atau mencari unsur-unsur gerak yang masih harus diketemukan.

Dengan demikian maka kerja mereka yang lain sama sekali tidak terbengkelai. Sawah mereka yang mulai menghijau, pategalan dan kebun padepokan mendapat pemeliharaan yang teliti.

Namun disamping mengenali ilmu yang sudah hampir dilupakan itu, ternyata bahwa Agung Sedayu juga tidak melupakan dirinya sendiri. Setelah ia berhasil mencoba mengosongkan dirinya, justru seolah-olah demikian saja harus dilakukan, meskipun sebenarnya bekalnya memang sudah dipersiapkan oleh gurunya didalam dirinya, maka ia pun menjadi semakin tertarik kepada ilmunya sendiri. Bahkan kadang-kadang ia pergi menyendiri didalam sanggar dan menylaraknya dari dalam. Sekali-sekali ia mencoba untuk melakukannya seperti yang pernah dilakukan. Mengosongkan diri untuk memberikan kesempatan kepada wadagnya melakukan sesuatu yang dikehendaki. Bahkan pengenalannya yang sedikit terhadap keadaan disekitarnya akan dapat terungkapkan kembali dalam gerak.

“Tetapi apakah gunanya? “ tiba-tiba saja ia bertanya kepada diri sendiri, “aku hanya dapat menirukan. Sedang aku sendiri tidak melihat apa yang aku lakukan. Dengan demikian aku akan selalu memerlukan orang lain untuk membantuku, jika aku ingin menguasai ilmu ataupun tata gerak yang pernah aku lihat dari siapapun juga.”

Namun demikian, Agung Sedayu tidak mengatakan kepada gurunya. Mungkin pada suatu saat gurunya akan memberikan beberapa petunjuk lain. Jika ia memaksa bertanya sekarang, maka seolah-olah ia telah mencoba untuk mendahului rencana yang mungkin telah disusun oleh gurunya.

Meskipun demikian. Agung Sedayu tidak berhenti berlatih. Kadang-kadang sendiri, kadang-kadang dengan gurunya. Tetapi untuk kepentingan itu, Glagah Putih selain dipisahkannya dengan alasan apapun juga, agar ia tidak terganggu karenanya. Jika anak yang masih terlalu muda itu melihat, dan ingin mencobanya, maka akibatnya akan kurang baik bagi anak muda itu sendiri. Apalagi mereka yang masih belum cukup mempunyai bekal dalam kedewasaan ilmunya.

Dengan demikian, maka sebenarnyalah padepokan kecil itu sudah menjadi sibuk dalam kerjanya sendiri, meskipun tidak nampak oleh siapapun karena Agung Sedayu dan penghuni lainnya selalu nampak sibuk pula di sawah.

Namun demikian, tiba-tiba saja, Agung Sedayu menjadi sangat gelisah. Ia merasa sesuatu yang mendesaknya, justru karena ia menginginkan sesuatu pencapaian.

Gurunya dan Ki Waskita adalah orang yang bijaksana. Karena itu mereka pun melihat kegelisahan itu. Meskipun mereka tidak mengetahuinya dengan tepat, namun mereka dapat menduga, apa yang diinginkan oleh anak muda itu.

Meskipun demikian Kiai Gringsing tidak bertanya. Ia membiarkan Agung Sedayu sampai pada suatu saat mengatakannya kepadanya. Dan yang ditunggunya itu pun kemudian ternyata pula.

“Guru,” berkata Agung Sedayu, “keinginanku itu tidak dapat aku tahankan lagi!”

Kiai Gringsing tersenyum. Ia memang menghendaki Agung Sedayu mengatakannya kepadanya. Jawabnya, “Agung Sedayu. Muridku bukannya kau seorang diri. Aku sudah menganggap bahwa kau dan Swandaru adalah anak-anakku. sehingga dengan demikian aku tidak dapat membedakan kalian berdua sama sekali. Juga dalam hal penyerahan ilmu. Karena itu anakku, kalian berdua yang telah dewasa, dan telah menerima bahan-bahan yang cukup sebagai bekal, aku persilahkan untuk mencarinya sendiri. Jika kemudian kalian mengalami perbedaan pertumbuhan, itu bukannya aku yang tidak adil. Tetapi kalianlah yang menentukan. Apakah kalian berhasil mengembangkan yang telah kalian capai, atau tidak.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya.

“Karena itulah, maka aku tidak akan dapat mencegah keinginanmu untuk mencari kesempurnaan dengan bekal yang ada. Pergilah. Tetapi aku memberikan batasan waktu. Padepokan kecil ini tidak boleh terbengkelai. Karena itu, yang kau tuntut sebagai suatu cita-cita dan kenyataan hidupmu sehari-hari harus seimbang. Jika kau akan pergi menyendiri, pergilah. Tetapi tidak lebih dari satu bulan. Dari saat purnama naik, sampai ke purnama berikutnya. Biarlah selama itu, aku, Ki Waskita dan Glagah Putih menunggui padepokan ini. Sementara itu, Glagah Putih juga akan meningkatkan ilmunya, sesuai dengan dasar-dasar tata gerak yang dikuasainya. Karena aku kira Ki Widura untuk sementara dapat melakukannya.”

Agung Sedayu mengangguk kecil. Katanya, “Terima kasih guru. Aku mohon maaf bahwa akhirnya aku mementingkan diriku sendiri. Tetapi aku tidak akan melupakan Glagah Putih dan usaha paman Widura untuk mengenal ilmunya lebih dalam.”

“Lakukanlah yang ingin kau lakukan. Tentang ilmu yang sedang kita kenali itu. kita tidak akan terikat dan terbatas waktu.”

—- > Bersambung ke bagian 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s