ADBM2-102

<<kembali | lanjut >>

———-oOo———-

bahan baku hasil scanning tidak begitu bagus, sehingga beberapa paragraf tidak dapat dilengkapi kalimatnya.

Demikian juga ilustrasinya, gambarnya kabur sehingga tidak kami sertakan dalam wedaran kali ini

mohon maaf

———-oOo———-

ORANG-ORANG yang membuat lingkaran di sekitar arena itu termangu-mangu sejenak. Mereka bagaikan dicengkam oleh peristiwa yang hampir diluar nalar. Ledakan cambuk Swandaru telah mengenai punggung harimau yang menerkamnya dan karah-karah besi baja dan kepingan-kepingan baja yang melingkar di antaranya ternyata telah berhasil menyobek kulit harimau itu, sehingga luka yang panjang telah menganga di punggungnya.

Ketika darah mulai mengalir dari luka itu, maka harimau itu pun menjadi bagaikan gila. Perasaan sakit yang tiada taranya telah mencengkamnya. Namun agaknya ia tidak mau menyerah. Dengan garang ia menggeram, dan sekali lagi menyerang Swandaru dengan kedua kakinya yang terjulur kedepan, dengan kuku-kuku yang tajam runcing.

Tetapi sekali lagi harimau itu terdorong surut. Sekali lagi cambuk Swandaru meledak, langsung mengenai kepala harimau itu.

Harimau itu terjatuh dan berguling beberapa kali.  Aumnya menghentak penuh kemarahan. Namun ledakan cambuk Swandaru bergema lebih keras. Dan harimau itu-pun menggeliat kesakitan. Disusul oleh ledakan sekali lagi, sekali lagi.

Orang-orang Sangkal Putung berdiri mematung di seputar arena itu seperti orang yang sedang bermimpi. Mereka melihat luka yang silang melintang menyobek kulit harimau itu. Jalur-jalur yang panjang menganga sampai panjang.

Mengerikan sekali desis Pandan Wangi memalingkan wajahnya ketika beberapa kali lagi Swandaru masih ingin meyakinkan kedahsyatan cambuknya.

Ketika harimau itu menggeliat sekali lagi, maka Swandaru pun maju selangkah mendekatinya. Perlahan-lahan ia mengangkat cambuknya. Ia ingin meledakkan cambuknya untuk yang terakhir kali dan membunuh harimau itu sekaligus.

Terdengarlah ledakan yang sangat keras bagaikan ledakan petir di langit. Dengan sepenuh tenaga cambuk Swandaru terayun dan mengakhiri perjuangannya melawan harimau itu dalam rangka menguji kemampuan tenaganya.

Pada saat yang hampir bersamaan, didalam sebuah goa yarg sepi dan terpencil, telah terdengar pula ledakan yang sangat dahsyat mengguncang bagaikan gempa yang keras. Seonggok batu karang telah hancur pecah menjadi debu.

Sesaat ruang didalam goa itu menjadi gelap, sehingga Agung Sedayu sendiri justru harus menutup hidungnya dengan telapak tangannya. Napasnya rasa-rasanya menjadi sesak oleh debu yang menghambur memenuhi ruangan yang diguncang oleh kedahsyatan kekuatan cambuk Agung Sedayu.

Ketika ruangan itu kemudian menjadi terang kembali, maka Agung Sedayu melihat kepingan-kepingan batu-batu padas yang berserakan berhamburan diseluruh ruangan.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam ia telah berhasil menyalurkan tenaga cadangannya sepenuhnya pada ujung senjatanya, sehingga ujung cambuknya yang lemas itu, telah mampu meremukkan seonggok batu karang yang keras.

Sejenak Agung Sedayu berdiri termangu mangu kemudian satu-satu ia melangkah dan duduk diatas sebuah batu yang lain merenungi kepingan batu karang yang telah dipecahkannya.

Ketika Swandaru dan pengiringnya berpacu kembali ke Sangkal Putung sambil membawa tubuh harimau yang terluka parah silang melintang itu. Agung Sedayu duduk merenung didalam biliknya. Sejenak ia masih duduk termangu-mangu. Tetapi ia sadar bahwa waktunya sudah sampai pada batas yang diberikan oleh gurunya. Sebulan.

“Aku tinggal mempunyai waktu beberapa saat,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri, tetapi aku kira semua yang penting sudah aku lakukan dan masih berharap bahwa aku akan mendapatkan kesempatan mematangkannya lain kali. Tetapi sekarang aku sudah berhasil membuka pintu dan memasukinya setiap saat yang aku kehendaki.

Agung Sedayu mengusap keringat yang membasahi keningnya. Sejenak ia masih duduk termenung, sejenak kemudian ia pun teringat bahwa sudah tiga malam tidak turun dan menanak nasi.

Karena itu, maka ia pun perlahan-lahan menuruni lubang sempit yang berbelok belok. Setiap kakinya merangkak turun, ia selalu merasa seolah-olah ia sedang beristirahat barang beberapa saat dan melihat-lihat lingkungan dinding goa.

Ketika kemudian Agung Sedayu berada dimulut goa untuk mencari air, maka hampir diluar sadarnya ia memperhatikan cahaya matahari yang jatuh diatas dedaunan yang hijau rimbun di tebing sungai yang curam itu. Selembut angin yang berhembus menyusuri tebing sungai itu telah mengguncang dedaunan yang bergeser satu-satu di perapian cahaya matahari.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam ia sendiri kurang mengerti, kenapa ia senang sekali, memandang cahaya matahari yang jatuh di dedaunan yang hijau segar.

Sejenak Agung Sedayu mengambil nafas panjang sekali. Lalu melangkah ke sungai membawa mangkuk yang dibuatnya dari pelepah upih.

Seperti yang selalu dilakukannya, maka Agung Sedayu pun kemudian menanak nasi dan menjerang air utuk minum. Agaknya kali yang terakhir karena dihari berikutnya ia harus kembali kepada gurunya di padepokan kecil yang telah dibangunnya.

Agung Sedayu tiba-tiba telah dicengkam kerinduan kepada kemenakannya, Glagah Putih.

Ketika Agung Sedayu kembali ke dalam biliknya, ia masih ingin mempergunakan sisa waktu sebaik-baiknya. Setelah duduk merenung sejenak, maka mulailah ia dengan latihan-latihan terakhirnya bagi kekuatan-kekuatan yang diketemukannya didalam goa itu.

Sejenak kemudian ia pun telah duduk bersila diatas sebuah batu padas didalam ruangan. Kedua tangannya pun telah bersilang di dadanya. Setelah mapan, maka mulailah ia memusatkan segenap pikiran, perasaan dan inderanya dalam pemusatan kekuatannya pada sorot matanya yang memiliki kemampuan sentuhan yang bersifat wadag.

Beberapa saat kemudian Agung Sedayu teluh mulai dengan sentuhan-sentuhan sorot matanya meraba dinding ruangan itu. Ia sengaja tidak mempergunakan benda-benda lain, tetapi ia ingin mengetahui kekuatan rabaan sorot matanya pada dinding ruangan didalam goa itu.

Sesaat kemudian nampak ketegangan telah mencengkam Agung Sedayu. Keringatnya mulai mengalir dikulitnya. Semakin lama nampak betapa ia telah tenggelam dalam pengerahan tenaga pada sorot matanya yang mempunyai sifat wadag itu.

Dalam puncak kekuatannya, perlahan-lahan nampak goresan-goresan kecil pada dinding ruangan itu. Semakin lama menjadi semakin jelas. Sehingga akhirnya, goresan-goresan itu nampak sebagai retak-retak yang menjalar pada dinding goa itu.

Sesaat kemudian, dalam hentakkan kekuatannya. Agung Sedayu sadar, bahwa dinding goa itu pun pula pecah dan sedikit demi sedikit batu-batu padas mulai berguguran.

Kesadaran itulah, yang kemudian mulai menahan arus kekuatannya yang lebih dahsyat lagi. Itulah yang sebenarnya ingin diketahuinya, betapa jauhnya kekuatan matanya yang tidak bersifat wadag, tetapi mempunyai kekuatan yang bersifat wadag itu.

Agung Sedayu menghentikan rabaan dan sentuhan kekuatan matanya dahsyat itu. Ia sengaja tidak menggunakan segenap kekuatannya, agar dinding, goa itu tidak menjadi rusak karenanya.

Ketika ia sudah selesai dengan pemusatan kekuatannya, dan kemudian melapaskannya, terasa betapa kelelahan telah mencengkamnya. Namun perlahan-lahan ia bangkit dan berjalan mendekati guguran padas yang runtuh dari dinding goa itu. Retak-retak yang masih melekat pada dinding nampak tusukan-tusukan yang seolah-olah telah menghentak pada batu-batu padas itu.

Perlahan-lahan Agung Sedayu pun meraba dengan tangannya. Debu yang tebalpun kemundian runtuh pula. Debu yang melekat pada dinding yang setiap saat bertambah-tambah tebal beberapa lapis.

Namun, ketika tangannya meraba ditempat yang agak tinggi, pada bagian-bagian yang runtuh oleh sentuhan matanya, ketajaman alat perabanya telah menyentuh sesuatu. Itulah sebabnya, maka dengan berdebar-debar ia pun mulai menghapus debu yang tebal pada dinding goa itu.

Agung Sedayu terkejut. Ia melihat beberapa buah lukisan yang lamat-lamat pada dinding goa itu, yang seakan-akan telah hilang tertutup oleh debu yang tebal.

“Ilmu kanuragan,” ia bergumam dengan wajah yang tegang.

Agung Sedayu tidak sabar lagi. Ia melepas kain panjangnya yang dengan serta merta dikibas-kibaskan pada dinding goa itu untuk menghapus debu permukaan dinding goa yang luas.

Dengan berdebar-debar Agung Sedayu kemudian mulai memperhatikan lukisan-lukisan itu. Dengan segera ia mengenal, ilmu itu adalah ilmu yang sedang ditekuninya di padepokannya bersama gurunya, Ki Waskita dan pamannya Widura.

“Ilmu yang pernah diturunkan oleh ayah kepada kakang Untara dan yang pernah diterima oleh paman Widura,” desisnya dengan hati yang berdebar-debar.

Dengan tergesa-gesa, seolah-olah sedang dikejar oleh waktu yang semakin sempit, ia mulai menelusur ilmu itu dari permulaan. Sebagai seorang yang memiliki ilmu yang tinggi dalam tatarannya, serta orang yang serba sedikit telah pernah mengenal ilmu itu pula, maka Agung Sedayu pun segera mengetahui pangkal dari pada ilmu itu.

Dengan penuh gairah ia memperhatikan setiap tingkatan ilmu yang semakin lama menjadi semakin sempurna itu.

“O, betapa dahsyatnya. Ilmu itu akan sampai pada unsur gerak yang paling tinggi. Dengan mengenal lukisan-lukisan ini, maka seseorang akan mendapat tuntunan unsur-unsur gerak dari ilmu itu sampai ketingkat terakhir.” berkata Agung Sedaya didalam hatinya, sementara ia melangkah terus mengelilingi dinding gua yang penuh dengan lukisan itu. Tingkat demi tingkat, dan semakin tinggi letak lukisan itu, semakin tinggi pula tingkat ilmu yang terlukis didinding goa itu. Beberapa tulisan yang terselip di antara lukisan-lukisan itu memberikan beberapa petunjuk yang semakin jelas, bahwa orang yang melukis itu dengan sengaja telah memberikan dasar-dasar ilmunya yang semakin meningkat dalam urutan yang paling wajar, sampai akhirnya tentu akan mencapai puncaknya.

Akhirnya Agung Sedayu yang sudah memiliki ilmu puncak itu tidak sabar lagi. Ia pun mempercepat langkahnya. Dengan bekal yang ada padanya, ia langsung dapat mengenali tingkatan ilmu yang terlukis pada dinding goa itu.

Namun tiba-tiba langkahnya tertegun. Ia sudah sampai pada lukisan-lukisan yang semakin rumit. Untunglah bahwa ia pernah berusaha untuk mengenali dirinya sendiri lewat lukisan-lukisan yang pernah dibuatnya di Sangkal Putung. Dengan heran ia melihat, seolah-olah lukisan-lukisan itu telah terpancang pada dinding goa itu pula.

“Secara naluriah aku mengikuti perkembangan ilmuku waktu itu dengan benar,” gumam Agung Sedayu.

Dibantu dengan tangannya, ia mulai menelusur lukisan tata gerak dan sikap pemusatan tenaga dan tenaga cadangan yang ada pada diri seseorang. Sikap puncak seperti yang baru saja dicapainya didalam goa itu. Bahkan ada satu lukisan itu menuntun seseorang kepada tingkatan yang lebih tinggi, yang seolah-olah tidak lagi dapat dicapai dengan tanpa melepaskan diri dari kewadagan.

Agung Sedayu benar-benar menjadi tegang. Ia melihat arah ilmu itu pada suatu tingkatan yang paling rumit dan penuh rahasia. Ia melihat seseorang mulai dengan tata gerak halusnya tanpa menyertakan ujud wadagnya, atau melakukan sesuatu yang bersifat wadag. Seperti rabaan sorot matanya. Namun lebih luas dan tinggi. Bukan saja sorot matanya, tetapi seluruh dirinya yang harus melepaskan diri dari dirinya yang bersifat wadag, meskipun untuk tujuan yang bersifat wadag pula.

Agung Sedayu benar benar menjadi berdebar-debar, ia memperhatikan lukisan itu satu-satu. Namun semakin lama menjadi semakin berdebar-debar. Di ujung lukisan itu, ia melihat retak-retak dinding goa yang bahkan sebagian permukaan telah dirontokkan dengan tatapan matanya.

“Puncak ilmu ini ada di ujung itu,” desis Agung Sedayu yang menjadi ragu ragu. Bahkan kemudian kakinya bagaikan tidak mau melangkah lagi oleh kecemasannya sendiri. Dinding itu telah runtuh di sebagian kecil oleh kekuatan sorot matanya, justru pada bagian-bagian yang terpenting dari lukisan itu.

Agung Sedayu belum sempat mempelajari dengan teliti lukisan-lukisan yang ada didinding itu. Tetapi pengamatannya yang tajam telah dapat manangkap, bahwa sikap yang nampak pada lukisan di dinding akan sampai pada suatu puncak ilmu yang sulit untuk dicapai, meskipun dengan dasar yang ada padanya, akan dapat dipelajarinya.

Selangkah Agung Sedayu maju. Tangannya masih meraba lukisan-lukisan pada dinding goa itu. Ia mulai melihat sikap yang mapan untuk sampai pada tingkat ilmu tertinggi dari cabang perguruan ayahnya sendiri.

Tetapi ketika ia maju selangkah lagi, hatinya bagaikan rontok oleh kekecewaan yang memuncak. Dinding goa itu sudah retak, dan lukisan-lukisan yang terpahat pada dinding itu telah ikut rontok pula. Justru tepat pada sikap puncak dari ilmu cabang perguruan yang sedang diamatinya, cabang perguruan ayahnya sendiri.

Kekecewaan yang tajam telah menusuk jantungnya, jika saja lukisan itu masih ada, ia akan mendapat tuntunan untuk mempelajarinya lebih jauh. Meskipun ia telah sampai pada puncak ilmunya sendiri, tetapi agaknya masih ada selapis yang lebih tinggi yang dapat dipelajarinya dari lukisan-lukisan yang terdapat didinding gua itu.

Tetapi kaki Agung Sedayu bagaikan menjadi tidak berdaya sama sekali. Ketika terpandang olehnya bagian-bagian dari lukisan itu yang patah dan pecah karena reruntuhan dinding goa itu.

“O,” Agung Sedayu tiba-tiba saja telah terduduk dengan lemahnya, “aku telah merusak peninggalan yang tidak ternilai harganya ini.”

Kekecewaan penyesalan dan berbagai macam perasaan telah bercampur-baur didalam dirinya. Ia merasa telah kehilangan barang yang paling berharga. Yang dicarinya dan belum pernah diketemukaanya. Tetapi kemudian dengan penuh kesadaran ia melihat yang belum diketemukan itu telah hilang.

Penyesalan yang menghentak dadanya itu bagaikan telah menghisap semua kekuatan tubuhnya. Ilmunya yang dahsat tidak berarti sama sekali untuk melawan kekecewaan didalam diri. Bahkan dengan geram ia menyesali diri. Betapa sombongnya aku. Kenapa aku telah mencoba memecahkan dinding padas itu? Kenapa aku tidak mempergunakan batu-batu atau sasaran lain, selain dinding goa? Kini aku telah membuat kesalahan yang tidak bisa terampuni.

Agung Sedayu menutup kedua belah matanya. Yang hilang itu tidak akan dapat diketemukannya lagi.

Untuk beberapa saat Agung Sedayu terduduk dengan lemahnya menyesali dirinya. Terasa matanya menjadi panas, dan seakan-akan ia telah menutup pintunya sendiri bagi ilmu yang lebih sempurna.

Sekilas ia memandang dinding goa itu sekali lagi. Matanya yang tajam dapat melihat goresan-goresan halus yang tidak begitu dalam pada dinding gua itu. Memang tidak begitu jelas. Apalagi setelah tertutup debu bertahun-tahun lamanya. Lukisan itu benar-benar telah hilang.

Agung Sedayu menemukan kembali lukisan yang tertutup debu itu, tetapi (? dalam naskah asli tidak jelas) setelah ia menemukan pula harapan terakhir. Bagian yang terpenting.

Yang ada itu tidak berarti apa-apa lagi baginya (?, dalam naskah asli tidak jelas), tiba-tiba Agung Sedayu menggeram, “Aku sudah mencapai tingkat ilmu sejajar dengan ilmu tertinggi ilmu yang masih tersisa pada dinding goa itu. Meskipun dari cabang perguruan yang lain, namun aku yakin bahwa tingkat itu sudah aku capai. Tanpa peningkatan lagi, maka lukisan-lukisan itu sudah tidak akan ada artinya apa-apa lagi. Daripada ilmu itu diketemukan oleh orang lain, yang mungkin akan dapat disalah gunakan, maka sebaiknya, lukisan itu aku hancurkan saja sama sekali.”

Agung Sedayu tiba-tiba saja bagaikan menemukan kembali kekuatannya. Dengan hati yang geram ia meloncat berdiri. Dengan kaki renggang dan tangan bersilang didada, ia mulai mempersiapkan diri. Ia ingin menghapus semua lukisan yang ada dengan tatapan matanya.

Namun tiba-tiba saja seolah-olah ia melihat Glagah Putih melintas dihadapan matanya. Seolah-olah ia melihat anak muda itu mencoba mencegahnya dan bertanya, “Apakah aku tidak berhak ikut mewarisinya ?”

Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Bayangan Glagah Putih mulai bermain diangan-angannya.

“Kasihan anak itu,” desis Agung Sedayu, “ia pun berhak mewarisi ilmu itu seperti aku dan kakang Untara. Adalah tidak adil jika aku merusak seluruhnya. Bahwa aku telah mematahkan puncak ilmu itu, adalah benar-benar suatu kecelakaan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi dipandanginya dinding goa yang runtuh itu. Justru pada tingkat ilmu yang tertinggi.

Namun tiba-tiba sorot matahari yang tersisa menerobos masuk pada lubang dilangit-langit goa itu, seolah-olah ia melihat sorot yang ajaib bagi dirinya. Ia sadar, bahwa sorot itu adalah sorot matahari. Sorot yang memancar dari benda langit yang masih tetap menjadi rahasia. Mungkin seseorang masih akan dapat mencari beberapa unsur kejelasan mengenai matahari itu sendiri. Tetapi dalam hubungan yang utuh dari seluruh isi langit, maka manusia bagaikan berhadapan dengan rahasia yang maha besar dan tidak terungkapkan.

Dan kini, kesadaran itulah yang telah menikam jantung Agung Sedayu. Dalam alam yang kecil ini pun ia masih harus menjumpai rahasia yang tidak terungkapkan. Batas yang diperkenankan dicapainya adalah batas yang masih ada. Seolah olah sorot matahari itu sudah memperingatkannya. bahwa memang belum waktunya baginya untuk mengetahui rahasia tertinggi dari ilmu itu. Rahasia yang untuk sementara masih diselubungi oleh batasan dari Sumber segala yang ada.

“Ternyata bahwa kesempatan bagiku masih selalu dibatasi oleh kekuasaanNya,” berkata Agung Sedayu.

Dengan demikian ia justru merasa telah bersalah bahwa ia hampir saja kehilangan akal karena puncak ilmu yang tidak dapat dicapainya itu. Hampir saja ia melupakan keterbatasannya sebagai manusia yang tidak lebih dari debu dalam imbangan seluruh alam.

“Betapa sombongnya aku,” desisnya, “yang sudah aku capai rasa-rasanya masih selalu kurang tanpa pernyataan terima kasih sama sekali dari Sumber Kurnia ini. Seharusnya aku berlutut dan mengucapkan terima kasih bahwa aku telah mencapai sesuatu yang sangat berharga. Bukan sebaliknya mengumpati diri sendiri dengan tamaknya.”

Agung Sedayu pun kemudian mencoba mengendapkan hatinya, betapapun kekecewaannya kadang-kadang masih terasa menyentuh perasaannya. Namun kemudian ia justru duduk sambil menyilangkan tangannya. Ia merasa wajib untuk mengucapkan sukur kepada Yang Maha Kasih, yang lelah memperkenankannya membuka pintu bagi pencapaian ilmunya yang semakin meningkat.

“Bahwa aku masih belum diperkenankan mencapai tingkatan ilmu yang tertinggi, itu memang masih belum waktunya,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Dengan demikian, Agung Sedayu dapat sekedar mengobati kekecewaannya dengan pengakuannya atas kekecilan dirinya sendiri dalam hubungannya dengan alam yang besar dan apalagi dengan penciptanya.

Dengan pengakuannya itu, maka Agung Sedayu merasa bahwa yang perlu dilakukannya didalam goa itu memang sudah cukup. Tepat dalam jarak waktu yang diberikan oleh gurunya, ia dapat menyelesaikan pencapaian yang panjang dari bagian terakhir yang paling sulit. Bahkan ia telah sampai pada pencapaian yang penting, dengan kemampuannya mempergunakan tenaga yang tidak bersifat wadag dalam sentuhan yang bersifat wadag.

Dalam pada itu, Swandaru Geni yang berlatih dengan gigihnya, telah mencapai tingkatan yang lebih tinggi pula dalam oleh kanuragan meskipun dalam segi yang berbeda dengan Agung Sedayu sesuai dengan perhatiannya terhadap keadaan di sekitarnya. Ia menjadi seorang yang tangkas seperti kijang, tetapi kuat seperti seekor gajah. Senjatanya yang mendapat sedikit tambahan pada juntainya, merupakan senjata yang sangat berbahaya, karena setiap sentuhan akan dapat merobek kulit daging. Jangankan kulit daging seseorang, bahkan seekor harimaupun tidak dapat menahan goresan juntai cambuk yang menyobek kulitnya.

Menjelang malam purnama naik, Kiai Gringsing duduk di pendapa padepokan kecilnya bersama Ki Waskita. Glagah Putih masih sibuk di belakang menyalakan lampu yang akan dipasang di regol dan pendapa padepokan itu.

“Hari ini adalah hari terakhir yang aku berikan kepada Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing.

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan Agung Sedayu tidak salah hitung atau tenggelam dalam kesibukan sehingga ia tidak ingat lagi akan waktu. Jika ia menyadari saat ini, maka ia tentu akan datang tepat pada waktunya.”

Kiai Gringsing mengangguk angguk. Katanya, “Agung Sedayu adalah anak yang patuh. Aku percaya, jika tidak ada halangan apapun juga, ia akan datang hari ini, selambat-lambatnya akhir malam nanti.”

Ki Waskitapun mengangguk-angguk. Agung Sedayu bukannya orang yang biasa mengabaikan perintah.

Dalam pada itu, Agung Sedayu memang sudah berkemas meninggalkan bilik didalam goanya. Ketika ia menengadahkan wajahnya, maka lubang di langit-langit bilik itu sudah menjadi buram.

Perlahan-lahan Agung Sedayu pun kemudian meninggalkan bilik itu dengan hati yang berat. Seolah-olah ia masih ingin tinggal lebih lama lagi. Tetapi tidak dapat mengabaikan perintah gurunya, bahwa waktu yang sebulan itu sudah lalu.

Sekali lagi ia merangkak keluar dari lubang yang panjang dan berkelok-kelok turun kejalur goa. Kemudian membenahi barang barang yang masih akan dibawanya kembali. Beberapa lembar pakaian.

Ketika Agung Sedayu melangkah keluar dari mulut goa, terasa kakinya bagaikan menjadi lemah, seperti juga otot-ototnya yang terasa letih sekali.

Ternyata selama didalam goa, Agung Sedayu telah memeras semua tenaga yang ada, sedangkan ia hampir tidak menghiraukan makan dan minumnya. Bekal yang dibawanya, yang memang kurang mencukupi itu, ternyata justru masih tersisa.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa ketekunannya berlatih telah membuatnya kadang-kadang lupa kepada wadagnya, kepada tubuhnya, sehingga baru disaat terakhir terasa betapa sebenarnya lemahnya badannya.

Tetapi ternyata bahwa kekurangan bagi tubuhnya itu tidak mempengaruhi latihan-latihan yang dilakukannya. Seolah-olah ia mendapatkan kekuatan yang lain kecuali kekuatan tubuhnya semata-mata. Dan ternyata bahwa ia telah dapat mempergunakan sebaik-baiknya.

Setelah semuanya selesai, maka Agung Sedayu pun kemudian bersiap-siap untuk meninggalkan goa itu. Dengan ragu-ragu ia melangkah. Namun rasa-rasanya langkahnya menjadi semakin berat. Ketika sekali lagi ia berhenti dan berpaling, maka dilihatnya wajah goa itu telah disaput oleh gelapnya malam.

Namun dalam pada itu cahaya yang kekuning-kuningan mulai memudar (?, dalam naskah asli tidak jelas). Bulan yang bulat telah timbul dari balik cakrawala.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dengan tenaganya (?, dalam naskah asli tidak jelas) yang lemah ia berjalan membawa sebungkus kecil pakaiannya menyusur tebing sungai yang curam.

Dalam perjalanan kembali kepadepokan, mulailah Agung Sedayu membayangkan masa lampaunya. Ia memang heran bahwa dimasa kanak-kanak ia sudah pernah datang ketempat itu bersama kakaknya, Untara. Itu adalah sesuatu yang menimbulkan berbagai pertanyaan.

“Agaknya dengan sengaja ayah menunjukkan tempat ini. Ayah dengan sengaja mendorong kakang Untara dan yang kebetulan aku waktu itu mengikutinya, pergi kemulut goa ini, karena didalamnya justru terdapat tuntunan ilmu yang mencapai tingkat tertinggi itu,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri, “tetapi kenapa ayah tidak berterus terang, sehingga sampai pada akhir hayatnya, ayah tidak sempat memberitahukan sesuatu mengenai isi goa itu?”

Tetapi pertanyaan itu akan tetap menjadi pertanyaan. Bahkan Agung Sedayu pun menjadi ragu-ragu, apakah ayahnya juga mengetahui bahwa didalam goa itu ada lukisan-lukisan pokok-pokok tata gerak dan sikap dari ilmu yang dimiliki oleh ayahnya itu.

Agung Sedayu termangu-mangu. Rasa-rasanya lukisan-lukisan itu memang belum pernah disentuh oleh seseorang untuk waktu yang lama sekali. Menilik tataran ilmu kakaknya, maka tentu Untara pun belum pernah melihat lukisan-lukisan ilmu didalam goa itu.

“Rahasia yang sulit untuk dipecahkan,” gumam Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Karena itulah, maka untuk sementara Agung Sedayu ingin menyimpan rahasia itu di dalam hatinya, “Mungkin pada suatu saat ia dapat menemukan jalan pemecahan yang dapat mengungkap ruang didalam goa itu.”

Dalam pada itu, ketika ia mulai mendaki tebing, terasa tubuhnya manjadi letih sekali. Dengan demikian ia semakin menyadari, betapa keterbatasannya sebagai makhluk yang sangat kecil itu. Betapapun tingginya pencapaian ilmu seseorang, namun ia tetap merupakan mahkluk yang dibatasi oleh kodratnya.

“Agaknya aku terlalu tekun berlatih, sehingga aku melupakan wadagku,” desis Agung Sedayu.

Demikianlah, maka ia pun mulai berangkak-rangkak naik keatas tebing yang curam. Keletihannya terasa sangat mengganggunya. Meskipun karena tekadnya dan latihan-latihan yang pernah dilakukan, maka akhirnya ia dapat mengatasi kesulitan itu. Dengan bantuan cahaya bulan bulat dilangit ia melihat dengan jelas, tebing yang curam dengan batu-batu padas yang menjorok. Di bawah kakinya, nampak mengalir air yang bening memantulkan cahaya bulan yang jauh pada aliran riak yang keputih-putihan disela-sela batu-batu yang besar.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dengan tatapan mata yang redup, seakan-akan ia mengucapkan selamat tinggal kepada sungai, tepian dan tebing yang curam itu.

Perlahan-lahan Agung Sedayu pun kemudian melanjutkan perjalanannya ke sebuah padepokan kecil diluar Kademangan Jati Anom. Padepokan yang belum lama dibangunnya bersama Kiai Gringsing, Glagah Putih dan dibantu oleh Ki Waskita, dengan tenaga dan bahan-bahan yang dikirim oleh kakaknya, Ki Untara dan pamannya Ki Widura.

Tetapi Agung Sedayu masih harus melintasi hutan yang meskipun tidak begitu lebat, tetapi cukup memperlambat langkahnya yang kelelahan dan lemah. Untunglah bahwa didalam hutan itu ia tidak menemukan gangguan apapun juga. Seandainya ia bertemu dengan binatang buas di perjalanannya, maka ia harus mengerahkan tenaga dan kemampuannya pada saat wadagnya tidak memungkinkan.

“Mungkin aku dapat melawannya,” berkata Agung Sedayu didalam hati, “tetapi aku tentu akan kehabisan tenaga sama sekali, sehingga perjalananku menjadi semakin lambat.”

Namun Agung Sedayu ternyata dapat meninggalkan hutan itu tanpa rintangan apapun juga. Ia mendengar juga aum harimau dikejauhan. Tetapi agaknya harimau itu tidak mencium baunya dan tidak mengganggu perjalanannya.

Agung Sedayu masih mempunyai waktu semalam untuk mencapai padepokannya, meskipun dengan demikian ia sudah melampui batas waktu meskipun hanya sedikit. Tetapi agaknya gurunyapun membatasi waktunya sampai menjelang pagi.

Perjalanan Agung Sedayu bukannya perjalanan yang terlalu panjang. Karena itu, betapa letih dan lemahnya, ia masih mampu untuk menempuh perjalanan kembali kepadepokan meskipun memerlukan waktu yang cukup lama.

Semakin dekat Agung Sedayu dengan padepokannya, ia menjadi semakin berdebar-debar. Banyak yang akan dapat disampaikan, kepada gurunya, hasil dari saat-saat ia mengasingkan diri. Pencapaian tingkat ilmu yang lebih tinggi akan menggembirakan hati gurunya. Juga bentuk-bentuk yang lain dari berbagai macam sikap dan tata gerak akan menumbuhkan kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas padanya dimasa depan.

Namun hatinya masih juga berdebar-debar jika ia mengenang lukisan-lukisan pada dinding ruang didalam goa itu, yang justru telah hilang bagian yang terpenting dan tertinggi.

Demikianlah, akhirnya Agung Sedayu pun telah menelusuri jalan yang langsung menuju kepadepokannya. Jalan yang tidak begitu lebar dan masih terlalu sepi. Apalagi dimalam hari.

“Tetapi aku tidak kembali dengan tangan hampa,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Langkahnya terhenti sejenak, ketika dari kejauhan ia melihat lampu obor diregol padepokannya yang kecil. Padepokannya yang baru ditinggalkan tidak lebih dari satu bulan, tetapi rasa-rasanya sudah terlalu lama. Apalagi padepokan itu memang padepokan yang masih baru baginya.

Langkahnya jadi semakin berat, semakin ia mendekati pintu regol. Karena itu, ketika ia telah berdiri diluar pintu, maka sekali lagi ia terhenti sejenak mengatur pernafasannya. Badannya memang terasa sangat letih dan lemah.

Dengan ragu-ragu ia pun kemudian mendorong pintu regol padepokannya. Ternyata pintu itu tidak diselarak, hingga ia pun dengan mudah dapat membukanya.

Namun ketika ia melangkah masuk, terasa dadanya menjadi berdebar-debar. Ternyata ia masih melihat dua orang duduk di pendapa, menghadapi lampu minyak yang masih menyala, mangkuk minuman dan beberapa potong makanan.

“Guru masih bangun. Agaknya dengan sengaja ia menunggu kedatanganku bersama Ki Waskita, ternyata dari persediaan yang ada.” katanya didalam hati.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing yang sengaja menunggu kedatangannya bersama Ki Waskita, seperti yang diduganya, sengaja duduk di pendapa berdua sambil berbincang-bincang panjang lebar. Mula-mula Glagah Putih ikut bersama mereka. Ia lah yang menyediakan minuman dan makanan, karena ia sendiri ingin ikut serta. Tetapi ia pun ternyata letih dan kantuk, sehingga ia pun telah tertidur di sudut pendapa itu juga.

Ternyata gerit pintu regol itu telah didengar oleh kedua orang tua yang ada di pendapa. Ketika mereka memperhatikan keremangan bayangan regol halaman, maka mereka sudah melihat sesosok tubuh yang perlahan-lahan memasuki halaman.

Kiai Gringsing bergeser setapak, sementara Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Kedua orang tua itu memperhatikan sesosok yang berjalan tertatih-tatih melintasi cahaya bulan yang jatuh dihalaman.

“Ki Waskita,” desis Kiai Gringsing. “Aku melihat kekurangan pada anak itu.”

“Nampaknya ia lemah sekali,” sahut Ki Waskita.

Keduanya yang semula ingin menunggu saja di pendapa, kemudian merubah niatnya. Dengan tergesa-gesa keduanya pun kemudian bangkit berdiri dan menyongsong turun kehalaman.

“Agung Sedayu,” desis Kiai Gringsing.

Agung Sedayu mencoba tersenyum. Tetapi rasa-rasanya kepalanya menjadi pening, sehingga langkahnya pun menjadi semakin lamban.

“Kenapa kau? “ bertanya Kiai Gringsing sambil menangkap lengannya, sementara Ki Waskita memegang lengannya yang lain.

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Ia mencoba menenangkan hatinya dan mengatur perasaannya.

Tetapi Kiai Gringsing adalah orang yang cukup berpengalaman. Rabaan tangannya segera memberikan kesan kepadanya, kekurangan yang ada pada muridnya. Dan agaknya demikian juga pada Ki Waskita. Tangannya yang memegang lengan Agung Sedayu segera memberi tahukan kepadanya, bahwa tubuh Agung Sedayu menjadi sangat kurus dan lemah.

Keduanya pun kemudian memapah Agung Sedayu naik kependapa dan didudukkannya diatas tikar yang putih. Kiai Gringsing pun kemudian menuangkan minuman yang sudah agak dingin pada mangkuk Glagah Putih dan kemudian memberikan kepada Agung Sedayu, “Minumlah. Kau letih sekali.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian menerima mangkuk itu. Namun rasa-rasanya tangannya menjadi gemetar.

Dengan dibantu oleh Kiai Gringsing, maka Agung Sedayu pun kemudian minum beberapa teguk. Meskipun minuman itu sudah tidak lagi cukup panas, tetapi masih memberikan kesegaran pada tubuhnya.

“Makanlah,” desis Ki Waskita sambil memberikan beberapa potong makanan kepada Agung Sedayu yang letih.

Hampir diluar sadarnya, Agung Sedayu pun kemudian mengambil sepotong makanan dan dengan tangan yang gemetar, ia pun segera menyuapi mulutnya yang terasa menjadi tegang.

Kiai Gringsing dan Ki Waskita masih belum bertanya sesuatu. Tetapi seolah-olah mereka sudah dihadapkan pada peristiwa yang dapat diketahuinya dari ujung dan pangkalnya. Agung Sedayu tentu terlalu tekun melatih diri, sehingga ia melupakan kebutuhan jasmaniahnya. Kekurangan makan dan minum akan membuat tubuhnya menjadi lemah dan letih betapapun tinggi ilmu seseorang. Yang dapat dilakukan adalah membiasakan diri mengurangi makan dan minum. Tetapi pada batas-batas tertentu bagi kemampuan daya tahan wadagnya, karena makan dan minum adalah kebutuhan mutlak menurut kodratnya.

Setelah minum beberapa teguk dan makan sepotong makanan, maka Kiai Gringsing mulai bertanya kepada muridnya tentang keselamatannya selama dalam perjalanan yang dilakukannya tepat sampai batas terakhir yang diberikan kepadanya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Minum yang seteguk dan makanan yang sepotong, rasa-rasanya telah memberikan pengaruh kepada tubuhnya.

Perlahan-lahan Agung Sedayu bergeser sambil mencoba menjawab pertanyaan gurunya tentang keselamatannya.

“Kau kurus sekali,” berkata Kiai Gringsing, “waktu yang sebulan telah melarutkan kulit dagingmu.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya.

“Aku dapat menebak apa yang kau lakukan. Kau tidak sempat, atau kurang memperhatikan wadagmu. Sebelum aku bertanya tentang peningkatan ilmumu selama kau dalam perjalanan, maka kesan yang aku lihat pertama-tama adalah ketidak seimbangan antara kemauanmu untuk mencapai sesuatu dengan pemeliharaan jasmanimu yang merupakan ujud dari dirimu, karena kau bukanlah Agung Sedayu tanpa wadagmu.”

Agung Sedayu hanya menundukkan wajahnya saja. Ia menyadari bahwa keseimbangan itu memang kurangi dipeliharanya.

“Itu bukan berarti bahwa kau harus memanjakan wadagmu semata mata. Tetapi wadagmu terdiri dari tulang dan daging yang memerlukan pemeliharaan yang cukup. Kau memang dapat menguranginya dengan latihan-latihan tersendiri, tetapi dalam lintas-lintas yang tidak akun dapat kau lampaui.”

“Ya guru,” jawab Agung Sedayu, “kemudian aku menyadari. Dan aku telah mengalami akibatnya. Selanjutnya aku akan dapat selalu mengingatnya.”

“Baiklah,” berkata Kiai Gringsing, “tentu banyak yang dapat kau ceriterakan selama perjalananmu yang pendek itu. Mungkin kau hanya sekedar berjalan saja sebulan penuh. Mungkin kau berhenti ditempat-tempat tertentu. Atau mungkin kau mengalami benturan kekerasan dengan binatang buas atau menolong orang-orang yang mengalami kesusahan. Tetapi nampaknya kau masih terlampau lemah sekarang ini. Aku tahu, bahwa kelemahanmu itu justru menunjukkan kesungguhanmu. Tetapi ketidak seimbangan itu tidak menguntungkanmu,” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu. “sekarang, beristirahatlah. Minumlah beberapa teguk lagi, dan makanlah satu atau dua potong makanan. Kemudian kau mencuci kaki dipakiwan dan beristirahatlah. Aku tidak tergesa-gesa untuk mendengarkan ceriteramu yang panjang.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian minum lagi beberapa teguk dan makan sepotong makanan. Ia sadar, dalam keadaan yang demikian, ia tidak boleh makan terlalu banyak, agar perutnya tidak terganggu karenanya.

Seperti yang dipesankan gurunya, maka ia tidak akan menceriterakan pengalamannya saat itu. Ia memang ingin beristirahat menjelang matahari terbit.

Namun dalam pada itu, Glagah Putih yang tertidur di sudut pendapa ternyata telah terbangun oleh pembicaraan mereka. Karena itu, ketika ia melihat Agung Sedayu, ia pun segera melompat dan dengan tergesa-gesa mendekatinya.

“Jangan kau ganggu dahulu kakakmu,” berkata Ki Waskita, “ia masih terlalu lemah.”

Glagah Putih yang mula-mula tidak memperhatikan keadaan Agung Sedayu, mencoba mengamatinya. Dan ia pun kemudian dapat melihat dalam cahaya lampu minyak, bahwa Agung Sedayu memang nampak kurus dan pucat.

“Apakah kau sakit kakang? “ bertanya Glagah Putih.

Agung Sedayu menggeleng. Katanya dalam nada datar, “Aku sehat-sehat saja.”

“Tetapi kau kurus dan pucat.”

Agung Sedayu mencoba tersenyum betapapun kecutnya.

“Biarlah kakakmu ke pakiwan,” potong Kiai Gringsing ketika ia melihat Glagah Putih masih akan bertanya berkepanjangan.

Glagah Putih menarik nafas panjang. Tetapi ia pun kemudian membiarkan Agung Sedayu melangkah perlahan-lahan menuju kepakiwan. Minuman yang diteguknya telah memberikan sedikit kesegaran pada tubuhnya, sehingga meskipun kadang-kadang ia masih harus berpegangan batang-batang perdu di kebun belakang, namun ia pun sempat membersihkan diri dan kemudian memasuki ruang dalam langsung ke biliknya.

Meskipun bilik itu sudah ditinggalkannya sebulan, agaknya Glagah Putih telah memeliharanya dengan rapi, sehingga ketika ia memasukinya, seolah-olah ia berada pada suasana sebelum ia meninggalkan padepokan kecilnya.

Setelah berganti pakaian, maka Agung Sedayu pun mencoba membaringkan dirinya di pembaringan. Terasa alangkah nikmatnya. Punggungnya yang bagaikan retak, rasa-rasanya dapat menjadi lurus dan pulih kembali. Dengan berbaring ia dapat mengatur pernafasannya dan keadaan tubuhnya yang letih sekali.

Setelah beberapa lama ia berada didalam goa, duduk dan bersandar batu-batu padas yang keras, maka pembaringannya segera memberikan suasana yang lain dan nyaman. Itulah sebabnya, maka kesadarannya pun segera menjadi kabur.

Sesaat kemudian Agung Sedayu itu pun telah tertidur nyenyak.

“Anak itu agaknya letih sekali,” gumam Kiai Gringsing yang ternyata telah duduk di pendapa semalam suntuk bersama Ki Waskita, karena ternyata sejenak kemudian langit di ujung Timur pun telah menjadi kemerah-merahan.

“Aku akan mengambil air,” desis Glagah Putih.

“Masih terlalu pagi.” sahut Kiai Gringsing.

“Tetapi di saat-saat begini aku tidak akan dapat tidur lagi.”

Glagah Putih tidak menunggu jawaban Kiai Gringsing. Ia pun segera pergi ke sumur, mengambil air untuk mengisi jambangan di pakiwan dan didapur.

Sementara itu. Kiai Gringsing dan Ki Waskita justru memasuki biliknya masing-masing. Meskipun mereka tidak akan tidur menjelang fajar, namun mereka pun masih sempat membaringkan dirinya di pembaringan.

Ketika derit senggot terdengar semakin keras, maka Kiai Gringsing pun telah bangkit pula dari pembaringannya. Seperti biasa ia pun mengambil sapu lidi, dan seperti biasanya pula ia membersihkan halaman depan, sementara Ki Waskita mulai membersihkan longkangan.

Padepokan kecil itu rasa-rasanya telah mulai bangun. Namun di antara penghuninya masih ada yang tidur dengan nyenyaknya, seolah-olah tidak menghiraukan orang-orang lain yang sudah mulai sibuk dengan kerjanya sehari-hari.

Tetapi Kiai Gringsing memang membiarkan Agung Sedayu tidur sepuas-puasnya. Dengan demikian maka keadaan tubuhnya akan menjadi bertambah baik setelah dengan sungguh-sungguh ia melatih diri selama sebulan.

Glagah Putih yang sedang menimba air, tidak henti-hentinya bertanya kepada diri sendiri, apakah Agung Sedayu sedang menderita sakit.

“Tetapi nampaknya ia memang sakit. Pucat, kurus dan lemah sekali.” Glagah Putih mencoba menjawabnya.

Demikian nyenyaknya Agung Sedayu tidur, maka ia baru terbangun ketika cahaya matahari yang menyusup dinding jatuh dliwajahnya. Sambil mengedip-ngedipkan matanya, ia mencoba mengetahui waktu dengan bayangan cahaya matahari yang menyusup masuk kedalam biliknya.

“O, sudah terlalu siang,” desisnya.

Perlahan lahan ia bangkit. Tubuhnya masih terasa lemah, meskipun sudah agak menjadi segar sedikit setelah beristirahat beberapa lamanya.

Ketika ia keluar dari biliknya, ia mendengar kesibukan di longkangan. Dengan ragu-ragu ia menengok lewat pintu butulan. Ternyata Ki Waskita sedang membelah kayu dengan sebuah kapak kecil.

Sambil tersenyum Ki Waskita menyapa Agung Sedayu yang menggosok matanya, “Kau sudah bangun Agung Sedayu.”

Agung Sedayu menarik nafas. Jawabnya, “Aku tidur terlalu nyenyak. Agaknya aku telah bangun kesiangan.”

“Sekali-sekali kau boleh bangun kesiangan.”

“Dimanakah Glagah Putih?” ia bertanya.

“Tengoklah di dapur. Baru saja ia ribut kehabisan kayu bakar. Dan aku sedang membuat kayu bakar baginya.”

Agung Sedayu kemudian pergi ke dapur. Dilihatnya Glagah Putih sedang sibuk menghembus api di perapian yang agaknya masih terlalu basah, sehingga nyalanya agak kurang baik.

“Nafasmu akan habis,” desis Agung Sedayu.

“O, marilah kakang.” Glagah Putih tiba-tiba saja telah bangkit, “semalam Kiai Gringsing mencegah aku mengganggu kakang. Apakah kakang sedang sakit ?”

“Sudah aku katakan, aku tidak apa-apa.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Tetapi Agung Sedayulah yang kemudian berbicara lagi, “Apimu. Air itu tidak akan mendidih. Dan bahkan akan berbau asap jika apimu tidak kau nyalakan.”

“O,” Glagah Putih pun berjongkok lagi dimuka perapian. Sekali lagi ia menghembus api itu, sehingga matanya menjadi merah karena asap. Namun akhirnya apinya itu pun menyala.

Agung Sedayu pun kemudian duduk di dekat Glagah Putih. Rasa-rasanya menyenangkan sekali duduk dimuka api dibawah periuk untuk menanak nasi. Seakan-akan Agung Sedayu sedang melepaskan semua persoalannya dengan ilmunya yang membuatnya menjadi sangat letih.

Namun sejenak kemudian, ketika api sudah menyala, mulailah Glagah Putih dengan pertanyaannya yang beruntun, seolah-olah pertanyaan itu sudah disusunnya sejak beberapa hari yang lalu.

Agung Sedayu tersenyum. Jawabnya, “Aku akan berceritera tentang perjalananku. Tetapi tidak sekarang. Aku masih sangat letih.”

“O,” Glagah Putih menjadi kecewa. Tetapi menilik keadaan tubuhnya. Agung Sedayu memang nampak sangat letih.

“Perjalananku adalah perjalanan yang menyenangkan,” berkata Agung Sedayu, “banyak manfaat yang dapat diambil.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi ternyata bahwa Agung Sedayu benar-benar belum akan menceriterakan kepadanya, meskipun hanya sebagian kecil saja.

Tetapi Glagah Putih tidak memaksanya. Ia tahu bahwa Agung Sedayu benar-benar sangat letih. Sehingga karena itu, maka ia pun tidak bertanya lagi tentang perjalanan Agung Sedayu dan menyimpan keinginannya sampai saatnya Agung Sedayu bersedia menceriterakan.

Sebenarnyalah Agung Sedayu masih ingin minta banyak pertimbangan dari gurunya dan Ki Waskita tentang pengalamannya selama ia meninggalkan padepokan. Apakah yang dapat dilakukannya kemudian bagi dirinya dan mungkin bagi Glagah Putih.

Dalam pada itu Kiai Gringsing juga sudah menunggu kesempatan untuk mendengarkan ceritera muridnya. Tetapi ia masih dapat mengerti sampai keadaan Agung Sedayu menjadi semakin baik. Setelah sehari berada dipadepokan, nampaknya ia tentu akan memerlukan beberapa hari untuk memulihkan keadaan tubuhnya yang kekurus-kurusan itu.

Disore hari, setelah semua pekerjaan selesai, maka Agung Sedayu pun duduk di pendapa padepokan kecilnya bersama mereka, maka Agung Sedayu berkata, “Glagah Putih. Tentu menyenangkan sekali jika kita duduk di pendapa sambil minum-minuman panas.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Tetapi ternyata ia cukup cerdas menangkap maksud kakaknya, sehingga ia pun kemudian meninggalkan pendapa dan pergi kedapur.

“Aku tidak boleh ikut mendengarkannya,” gumamnya.

Dalam pada itu, di pendapa, Agung Sedayu yang telah nampak lebih segar itu pun mulai dengan ceriteranya. Sejak ia berangkat, semuanya yang telah terjadi, dan jarak jangkauannya atas peningkatan ilmunya.

Kiai Gringsing dan Ki Waskita mendengarkannya dengan bersungguh-sungguh. Mereka membayangkan, apakah yang telah terjadi atas muridnya itu, seolah-olah mereka dapat melihat sendiri, apa yang sudah dilakukan oleh Agung Sedayu.

“Jadi kau tidak pergi terlalu jauh Agung Sedayu,” bertanya Kiai Gringsing.

“Tidak guru. Aku tidak pergi terlalu jauh.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Dalam pada itu, ia pun mulai membayangkan muridnya yang seorang lagi. Swandaru Geni. Meskipun Kiai Gringsing belum melihat hasil, peningkatan kedua muridnya itu atas ilmu yang diberikan kepada mereka, namun Kiai Gringsing sudah dapat membayangkan perbedaan ciri dan pribadi dari ilmu yang ada dikedua muridnya yang memang memiliki dasar kepribadian yang berbeda itu.

Sambil menarik nafas dalam-dalam. Kiai Gringsing bertanya, “Agung Sedayu. Bagaimanakah mungkin kau dapat menemukan goa ditebing sungai yang curam itu.”

“Sejak kecil aku pernah melihat mulut goa itu,” jawab Agung Sedayu.

“Sejak kecil? “ Kiai Gringsing menjadi heran.

Agung Sedayu pun kemudian menceriterakan teka-teki didalam hatinya. Apakah pada saat itu ayahnya dengan sengaja memberikan petunjuk kepada Untara agar ia datang dan memasuki goa itu.

Kiai Griungsing menarik nafas dalam-dalam tetapi ia pun tidak dapat menemukan jawabannya dengan pasti.

“Aku kira dugaanmu mendekati kebenaran,” berkata gurunya, “tetapi selanjutnya Ki Sadewa tidak sempat memberikan petunjuk lebih jauh lagi sampai saat ajalnya.”

“Jika ayah benar mengetahuinya, kenapa ayah tidak pernah berterus terang, atau setidak-tidaknya ceritera tentang goa itu? Jika ceriteranya memberikan arah meskipun serba sedikit, tentu kakang Untara akan berusaha untuk mencarinya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Memang kita tahu apa yang sudah terjadi sebenarnya. Tetapi agaknya memang ada hubungannya bahwa pada masa kanak-kanak Untara telah menemukan mulut goa itu. tetapi yang dewasanya tidak menghiraukannya lagi.”

“Dan aku sudah merusakkan pahatan lukisan pada dinding goa itu guru.”

Kiai Gringsing termangu-mangu. Ia mencoba menilai apa saja yang sudah dilakukan oleh Agung Sedayu. Pencapaiannya yang cukup banyak, tetapi juga kekecewaan, yang mencengkamnya karena ia telah merusakkan serangkaian lukisan pada dinding goa itu.

Namun dalam pada itu, secara keseluruhan. Pencapaian ilmu, ternyata Agung Sedayu pesat sekali, jauh diatas dugaan gurunya. Gurunya sama sekali masih belum memperhitungkan bahwa Agung Sedayu akan dapat mengembangkan ilmunya dengan sentuhan yang tidak bersifat wadag, tetapi mempunyai akibat yang bersifat wadag dengan tatapan matanya. Tetapi ternyata bahwa Agung Sedayu telah sampai pada tataran itu. Bahkan ia agaknya sudah mulai dipengaruhi oleh lukisan yang dilihatnya, tetapi yang bagian terpentingnya telah terhapus oleh tatapan matanya itu, karena Agung Sedayu sudah mulai mempercakapkan tentang lontaran ilmu tanpa sentuhan wadag. Pelepasan diri dari ujud wadag untuk melakukan perbuatan yang bersifat wadag.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Perkembangan ilmu Agung Sedayu memang jauh bersifat kedalam. Namun dalam pada itu, perkembangan ilmu Swandaru agaknya nampak pada perkembangan keluar, pada ujud jasmaniahnya yang memang memiliki kekuatan melampaui kekuatan sewajarnya.

Ki Waskita yang mendengar pula ceritera Agung Sedayu tentang dirinya selama ia berada di dalam goa itu-pun mengangguk-angguk, ia pun dapat membayangkan, betapa pesatnya kemajuan yang telah dicapainya. Bahkan Agung Sedayu sudah dapat menyentuh dengan tatapan matanya atas benda-benda dengan sifat sentuhan wadag.

“Ia masih terlalu muda,” berkata Ki Waskita didalam hatinya, “tetapi ia sudah menguasai ilrnu yang sangat tinggi. Untunglah bahwa sifat-sifatnya sangat menguntungkan, sehingga ilmu yang dikuasainya agaknya tidak akan disalah gunakan.”

Agak berbeda dengan Kiai Gringsing, maka tanggapan Ki Waskita terhadap Agung Sedayu terasa lebih baik dari tanggapannya atas Swandaru. Kiai Gringsing yang menganggap keduanya adalah muridnya yang berhak mendapat bekal yang sama dari padanya, agaknya mempunyai tanggapan yang agak bersifat khusus. Kiai Gringsing selalu mencoba menganggap keduanya sama dalam pandangannya, tanpa membeda-bedakan.

Tetapi Ki Waskita yang berdiri diluar lingkungan keluarga perguruan kecil itu, dapat melihat dengan jarak. Ia dapat membedakan sifat dan watak kedua murid Kiai Gringsing tanpa terikat oleh perasaan seorang guru terhadap kedua muridnya yang harus diperlakukan sama.

Bagi Ki Waskita, Swandaru agaknya berkembang kearah yang kurang menguntungkan. Keberhasilannya selama ini dan penghormatan yang meriah disaat perkawinannya, telah mendorongnya untuk merasa dirinya terlalu besar. Dengan demikian, maka sikapnyapun agaknya telah terpengaruh pula.

Meskipun demikian, ia bukannya tidak melihat kekurangan pada Agung Sedayu. Jika secara jiwani ia kurang lapang untuk memuat ilmu yang dicapainya dalam usia yang masih terlalu muda, maka ia pun akan terpengaruh olehnya. Ia akan tenggelam kedalam dunia khayalan dan angan-angan. Ia akan hanyut dalam pencapaian ilmu yang lebih tinggi, setingkat demi setingkat, tanpa menghiraukan keseimbangan perkembangan diri, jasmaniah maupun rohaniah. Sehingga apabila ia tergelincir selapis, maka syarafnya akan dapat terganggu.

“Mudah-mudahan ia tidak kehilangan keseimbangan dan pengamatan dirinya,” desis Ki Waskita didalam hatinya.

Dalam pada itu, agaknya Kiai Gringsing masih belum ingin memberikan tanggapan langsung kepada muridnya. Ia masih mencoba untuk mempertimbangkan lebih masak lagi apakah yang sebaiknya dilakukan.

Namun sementara itu, Kiai Gringsing bukannya sama sekali tidak memberikan pesan. Katanya, “Baiklah Agung Sedayu. Masih banyak yang harus aku urai dari keteranganmu. Tetapi sementara ini, biarlah Glagah Putih mendapat tuntunan yang lebih baik. Kau adalah orang yang memiliki kemampuan itu. Kau dapat mengosongkan dirimu dari pengetahuan yang kau miliki dengan sadar, sehingga dengan bersih dari segala macam pengaruh, kau dapat menuntun Glagah Putih sesuai dengan ilmu dasar yang dipelajarinya.”

“Tetapi sampai dimanakah tingkat pengetahuan dan pengenalanku atas ilmu itu guru? “ bertanya Agung Sedayu.

“Memang tidak lebih dari pamanmu Widura. Tetapi jika kau berbekal penglihatanmu atas lukisan pada dinding bilik didalam goa seperti yang kau katakan, maka kau tentu dapat mencapai tingkat ilmu yang lebih tinggi dari pamanmu Widura dan kakakmu Untara.” jawab Kiai Gringsing, “sehingga pada suatu saat, jika waktunya tiba, maka Glagah Putih akan dapat memanfaatkan lukisan-lukisan didalam goa itu sendiri dengan bekal yang sudah dimilikinya, sehingga ia akan dapat menyadap ilmu itu dengan benar dan tidak tersesat.”

“Tetapi ia tidak akan pernah dapat mencapai tingkat tertinggi dari ilmunya, guru. Karena aku sudah menghapusnya dari dinding goa itu.”

Tetapi Kiai Gringsing menggeleng. Katanya, “Belum pasti demikian. Mungkin tingkat kecerdasan Glagah Putih memungkinkannya untuk mencapai tingkat itu dengan bahan yang sudah dimilikinya. Atau mungkin ia menemukan sumber lain yang dapat menyempurnakan ilmunya sampai tingkat tertinggi.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Semuanya masih akan berlangsung Agung Sedayu. Juga mengenai dirimu sendiri. Pada suatu saat. jika ada waktu yang baik, aku tentu ingin melihat kenyataan dari tingkat ilmumu. Sehingga dengan demikian penilaianku atasmu menjadi pasti.”

Agung Sedayu mengangguk kecil. Katanya, “Kapan saja guru perintahkan, aku akan melakukannya.”

“Kau masih harus memulihkan keadaan jasmanimu yang susut dan lemah. Pada suatu saat tubuhmu akan pulih dan kau akan dapat menunjukkan tingkat ilmumu dengan pasti dan meyakinkan.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia menyadari, bahwa dengan demikian bukan berarti bahwa kerjanya sudah selesai. Ia masih harus berada didalam sanggar bersama gurunya dan Ki Waskita untuk menilai tingkat ilmunya yang terakhir. Bukan hanya satu dua hari. Apalagi dengan kuwajibannya terhadap Glagah Putih.

Sejenak kemudian, agaknya Kiai Gringsing sudah tidak ingin lagi membicarakan peningkatan ilmu Agung Sedayu. sehingga Agung Sedayu pun kemudian pergi kedapur memanggil Glagah Putih.

 “Apakah air itu belum mendidih?”

Meskipun sebenarnya air sudah lama mendidih, namun Glagah Putih yang mengerti banwa pembicaraan baru saja selesai menjawab, “Baru saja kakang.”

 “Nah, guru dan Ki Waskita sudah menunggu.”

Glagah Putihpun kemudian menyiapkan minuman dan kemudian membawanya ke pendapa.

Pada hari berikutnya, maka Agung Sedayu pun mulai menjalani hidupnya seperti sediakala. Namun ia pun segera mulai dengan tuntunannya atas Glagah Putih yang dilakukan seperti pesan gurunya. Agung Sedayu masih belum menceriterakan tentang lukisan yang terdapat pada dinding ruang didalam goa itu, agar Glagah Putih tidak tergesa-gesa menguasai ilmu tertinggi, sehingga dapat menumbuhkan kejutan didalam dirinya dan ketidak seimbangan dalam urutan ilmunya itu.

Dalam pada itu, yang dilakukan oleh Agung Sedayu adalah suatu kewajiban yang sulit. Tidak seperti kebanyakan orang-orang yang memiliki ilmu dan ingin menurunkan ilmunya kepada muridnya, maka Agung Sedayu justru sedang mengajarkan ilmu yang tidak dikuasainya benar kepada orang lain.

Tetapi Agung Sedayu pun sadar, bahwa yang dilakukan itu hanyalah sekedar tataran terendah dari peningkatan ilmu Glagah Putih, karena pada suatu saat Glagah Putih akan dapat menemukan jalurnya tersendiri.

Namun dalam hal itu, Agung Sedayu tidak berdiri sendiri. Pamannya, Widura selalu berusaha membantunya meskipun ia merasa bahwa ternyata Agung Sedayu lebih banyak menguasai daripada dirinya, meskipun Agung Sedayu telah memiliki jalur tersendiri dalam cabang perguruan yang berbeda.

Selain usahanya meningkatkan ilmu Glagah Putih, maka Agung Sedayu pun dengan tekun melakukan pekerjaan sehari-hari. Ia tidak terlambat pergi kesawah, bergantian dengan Glagah Putih menelusur air, jika parit menjadi kering. Memelihara kebun dan pohon buah-buahan. Membersihkan rumah dan bangunan-bangunan yang ada dipadepokan itu serta memperbaiki kekurangan dan kerusakan-kerusakan kecil yang timbul kemudian.

Sementara itu, di sebelah menyebelah tanah persawahan Agung Sedayu, telah terbentang pula beberapa bahu sawah. Mereka adalah orang-orang yang telah mendapat ijin dari Ki Demang di Jati Anom untuk membuka tanah persawahan dibawah petunjuk Agung Sedayu disesuaikan dengan kemungkinan penggunaan air dan pemeliharaan selanjutnya.

Bahkan ternyata kemudian, bahwa beberapa orang anak muda seakan-akan telah memaksa untuk ikut tinggal di padepokan kecil, karena mereka sebenarnya ingin pula mendapatkan sedikit kemampuan dalam olah kanuragan.

“Kalian akan menjadi cantrik di padepokanku? “ bertanya Agung Sedayu kepada anak-anak muda yang sebenarnya adalah kawan-kawannya bermain dimasa kanak-kanak.

“Apapun yang harus kami lakukan, kami tidak akan berkeberatan,” jawab salah seorang dari mereka.

Setelah mendapat persetujuan dari gurunya, maka Agung Sedayu pun dapat memilih tiga orang di antara mereka untuk tinggal bersamanya di padepokan kecil itu.

Dengan demikian, maka padepokan itu menjadi semakin ramai. Tiga orang anak muda itu ternyata dengan sungguh-sungguh ingin luluh dalam kehidupan yang berat dipadepokan kecil itu. Mereka harus memenuhi segala kebutuhan mereka sendiri. Dari menanam bahan makan mereka, sehingga menjadikan makanan itu siap untuk dimakan. Bahkan mereka pun harus dapat mencukupi kebutuhan sandang dan keperluan-keperluan lain. Kebutuhan bagi rumah dan bangunan-bangunan yang adar bagi kuda mereka dan bagi semua yang diperlukan.

“Kita akan segera dilepaskan oleh kakang Untara dan paman Widura,” berkata Agung Sedayu kepada anak-anak muda itu, “sehingga kita harus dapat berdiri sendiri. Makan, minum, pakaian dan semua kebutuhan harus kita usahakan dengan kemampuan yang ada pada kita sendiri.”

Tetapi anak-anak muda itu sudah menyatakan tekadnya. Satu-satunya keinginan mereka adalah mendapatkan tuntunan dalam olah kanuragan. Meskipun tidak harus mencapai tingkat tertinggi, namun sekedarnyalah cukup untuk membela diri.

Dari hari kehari, maka keadaan tubuh Agung Sedayu pun menjadi berangsur pulih kembali. Ia tidak lagi nampak pucat dan kurus. Justru pekerjaannya sehari-hari yang berat, selain di sawah juga di sanggar, telah membuatnya nampak segar dan gembira.

Baru setelah Agung Sedayu menjadi pulih sama sekali, gurunya mulai ingin menilai kemampuan yang dapat dikuasainya setelah ia berusaha meningkatkan ilmunya. Meskipun dengan lesan Agung Sedayu pernah melaporkan kepada gurunya, namun Kiai Gringsing ingin melihat, apakah yang dikatakan itu sesuai benar dengan kenyataannya.

Karena itulah maka ia telah menentukan waktu yang paling baik untuk mengadakan penilaian itu. Bersama Ki Waskita, maka ia pun membawa Agung Sedayu kedalam sanggarnya, setelah lewat tengah malam. Setelah Glagah Putih dan para cantrik dipadepokan itu tidur nyenyak.

“Agung Sedayu,” berkata gurunya, “tiba-tiba saja timbul niatku untuk menengok Swandaru ke Sangkal Putung. Aku ingin juga mengadakan penilaian atas peningkatan ilmu yang dicapainya. Namun sebelum itu, aku ingin meyakinkan diriku, bahwa kemampuanmu benar-benar telah mencapai tingkat seperti yang pernah kau katakan kepadaku.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Jika ia harus menunjukkan kemampuannya kepada orang lain, maka ia tentu akan menjadi segan. Tetapi karena hal itu diminta oleh gurunya, serta agar gurunya dapat memberikan penilaian yang tepat, maka ia pun berniat untuk menunjukkan tingkat yang sebenarnya memang sudah dicapainya.

“Marilah Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing, “tunjukkan kepadaku. Terserah kepadamu, yang manakah yang menurut penilaianmu cukup mewakili kemampuanmu.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menjawab, “Guru, apakah aku diperkenankan menunjukkan sentuhan pandangan mataku atas sesuatu benda dalam sifat wadag.”

“Cobalah Agung Sedayu. Pilihkah sasaran yang dapat kau pergunakan.”

Agung Sedayu pun kemudian mengambil sebongkah Batu hitam dari kebun dipadepokannya, Diletakkannya batu itu di ujung sanggar. Kemudian ia duduk beberapa langkah dari batu itu. Bersila sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.

Kiai Gringsing dan Ki Waskita yang ingin menyaksikan kemampuan anak muda itu pun duduk sebelah menyebelah. Mereka pun menjadi tegang pula ketika mereka melihat Agung Sedayu mulai mengatur pernafasannya.

Dengan hati yang berdebar-debar kedua orang tua itu menunggu. Mereka dapat mengikuti, tingkat pengetrapan ilmu Agung Sedayu. Sejak ia memusatkan inderanya dan menyalurkan kekuatan pada sorot matanya dengan sifat wadag untuk meraba batu yang menjadi sasarannya.

Sejenak suasana menjadi tegang. Agung Sedayu yang memusatkan segenap, kekuatannya pada pancaran matanya yang ditrapkan dalam sifat wadag itu menjadi semakin lama semakin tegang pula, sehingga pada suatu saat, ketika kekuatannya mulai tersalur disorot matanya dalam sifat wadag, keringatnya rasa-rasanya telah membasahi seluruh tubuhnya.

Namun dalam pada itu, batu yang dipandanginya itu pun mulai bergetar. Ketika Agung Sedayu seakan-akan menghentakkan kekuatannya, maka tiba-tiba batu itu pun menjadi retak dan pecah berkeping keping.

Kiai Gringsing dan Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Mereka telah menyaksikan kemampuan ilmu Agung Sedayu. Ternyata bahwa yang sebulan itu telah membuat Agung Sedayu seorang yang benar-benar mumpuni. Seorang yang memiliki kemampuan yang luar biasa, yang jarang dimiliki oleh setiap orang.

Ketika Agung Sedayu telah berhasil memecahkan batu itu, maka perlahan-lahan ia pun mulai mengendapkan ilmunya kembali, sehingga sejenak kemudian maka ia pun telah melepaskan pemusatan inderanya dan menarik nafas dalam-dalam.

“Luar biasa Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing, “kau telah mencapai suatu tingkat diluar dugaanku. Kau telah memiliki ilmu yang sulit dicapai. Justru kau telah dapat menemukannya sendiri dalam pencapaian selama kau berada didalam goa itu.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Katanya dengan nada datar, “Tetapi pencapaianku inilah yang telah menghapuskan petunjuk pada puncak ilmu yang terlukis pada dinding goa itu guru.”

“Itu bukan salahmu. Tentu setiap orang akan melakukan kesalahan yang serupa karena ketidak tahuannya. Siapapun tidak akan mengira bahwa pada dinding goa itu terdapat lukisan tentang ilmu yang tersusun dalam urutan yang lengkap seperti yang kau katakan itu meskipun hanya pokok-pokoknya saja.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu. “sehingga dengan demikian, maka kau telah menemukan dua hasil yang sangat penting. Peningkatan ilmumu sendiri, dan susunan ilmu Ki Sadewa yang lengkap. Bukankah dengan demikian usaha kita untuk mewujudkan kembali jalur ilmu itu menjadi jauh lebih mudah. Kita tidak usah bersusah payah mempelajarinya dari bahan-bahan yang memang sangat sedikit. Dari tata gerak dasar ilmu Glagah Putih. Dari tata gerak dan sikap Ki Widura. Kau kini dapat langsung menemukan seluruhnya meskipun tidak dengan tingkat puncaknya. Namun untuk mencapai kemampuan sampai selapis dibawah tingkat puncak itu pun aku kira jarang yang akan dapat melakukannya. Mudah-mudahan Glagah Putih akan dapat menjadi pewaris yang baik dari ilmu itu, yang pada saatnya akan dapat mempelajarinya dari unsur-unsur gerak yang terpahat didinding goa itu. Tentu saja setelah bekalnya cukup lengkap.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Sementara Ki Waskita hanya menyaksikan saja pembicaraan antara guru dan murid itu. Ia sudah merasa ikut berbahagia atas pencapaian diluar dugaan itu, sehingga dengan demikian Agung Sedayu kini sudah menjadi seorang anak muda yang jarang ada bandingnya.

Namun dalam pada itu, agaknya Kiai Gringsing masih ingin melengkapi pengenalannya atas muridnya setelah mencapai tingkat yang lebih tinggi itu dalam tata gerak dan olah kanuragan. Karena itu maka, katanya, “Agung Sedayu, setelah aku melihat kemampuanmu dalam unsur yang khusus dari ilmumu, maka kini aku ingin melihat, kemampuan wadagmu. Aku ingin melihat bagaimana kau mempergunakan wadagmu dalam ungkapan ilmumu dan penggunaannya. Mungkin kau telah meningkatkan kemampuanmu pula dalam ujud jasmaniah, sehingga dalam sentuhan wadagmu yang langsung, kaupun mampu menunjukkan kekuatan yang meningkat.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia memandang isi sanggar itu. Namun ia tidak menemukan sasaran yang dapat dipergunakan untuk menunjukkan peningkatan kekuatan ilmunya yang dapat disalurkan lewat wadagnya.

“Aku dapat mendengar dan melihat pada gerak dan getar ujung cambukmu.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Lalu Katanya, “Baiklah guru. Aku akan mencoba menunjukkannya.”

Agung Sedayu pun kemudian segera bersiap. Sejenak kemudian ia mulai menunjukkan kemampuan jasmaninya dengan lambaran ilmu yang sudah semakin meningkat. Ternyata bahwa ia mampu bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Kakinya menjadi sangat lincah dan kuat.

Untuk beberapa saat Agung Sedayu meloncat-loncat seolah-olah kakinya tidak berjejak diatas tanah.

Gurunya memandang sambil mengerutkan keningnya. Demikian juga Ki Waskita yang mengagumi kecepatan bergerak Agung Sedayu. Apalagi ketika kemudian Agung Sedayu meloncat keatas sebuah amben bambu. Ia masih bergerak dengan cepatnya. Namun amben bambu yang biasanya berderak-derak itu sama sekali tidak berguncang, bahkan sama sekali tidak berderit.

Kedua orang tua yang menyaksikannya benar-benar menjadi kagum. Tubuh Agung Sedayu yang bergerak dengan cepatnya itu menjadi seakan-akan seringan kapuk kapas. Tanpa bobot.

Sejenak kemudian Agung Sedayu telah meloncat turun dari amben bambu dan seperti pesan gurunya, ia telah mengurai senjatanya. Sejenak senjata itu berputar ditangannya. Namun kemudian dengan sepenuh kekuatannya ia mengayunkan cambuknya dan karena tidak ada sasaran lain, maka ia pun telah menghantam lantai sanggar itu.

Terdengarlah ledakan yang dahsyat. Disusul dengan hamburan debu yang tiba-tiba saja telah membuat ruang itu menjadi gelap. Sinar lampu minyak tidak mampu menembus lapisan debu yang berhamburan memenuhi sanggarnya.

Kiai Gringsing dan Ki Waskita yang berada didalam sanggar itu benar-benar telah dicengkam oleh kekaguman yang luar biasa. Kekuatan itu adalah kekuatan yang tidak terkirakan, dan terlebih-lebih lagi, ternyata bahwa Agung Sedayu telah mampu menyalurkan kekuatannya pada benda-benda yang digenggamnya, sehingga seolah-olah benda-benda itu, khususnya senjatanya telah menjadi bagian dari tubuhnya.

Sejenak sanggar itu menjadi sepi. Agung Sedayu yang telah melepaskan segenap kekuatannya yang tersalur pada cambuknya, berdiri tegak dalam tebaran debu yang semakin lama menjadi semakin tipis.

Demikian juga Kiai Gringsing dan Ki Waskita. Sambil menahan nafas mereka menunggu. Perlahan-lahan debu yang memenuhi ruangan itu seakan-akan telah mengendap. Dan perlahan-lahan pula muncullah bayangan Agung sedayu yang berdiri tegak diatas kedua kakinya yang renggang sambil menggenggam cambuknya. Tangan kanannya menggenggam tangkainya, sedang tangan kirinya memegang ujung juntainya. Didepan kakinya menganga sebuah jalur yang lebar dan dalam menyilang hampir dari dinding sampai kedinding.

Kiai Gringsing dan Ki Waskita termangu-mangu sejenak. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya Ki Waskita melangkah maju mendekati lubang yang menjadi pertanda betapa dahsyatnya kekuatan Agung Sedayu.

“Luar biasa,” desisnya didalam hati.

Agung Sedayu masih berdiri termangu-mangu. Ia menunggu tanggapan gurunya atas pencapaiannya.

“Duduklah Agung Sedayu,” berkata gurunya kemudian.

Ketiganya pun kemudian duduk diatas sebuah amben dipinggir sanggar itu. Perlahan-lahan udara didalam ruang itu telah menjadi bersih kembali. Namun rasa-rasanya ditubuh mereka yang berada didalam ruang itu telah melekat debu yang tebal. Terlebih-lebih karena keringat yang mengembun.

“Sebenarnya aku tidak ingin memuji dihadapanmu Agung Sedayu,” berkata gurunya, “tetapi aku tidak dapat mengatakan lain kecuali kekagumanku atas tingkat yang kau capai hanya dalam waktu satu bulan. Itulah agaknya yang menyebabkan kau menjadi kurus dan pucat, bahkan hampir tidak bertenaga, karena kau telah kehilangan keseimbangan antara tekad dan batas kemampuan jasmaniahmu. Untunglah bahwa kau tidak terbenam dalam keadaan yang sulit. Kau dapat mencapai tingkat yang hampir sempurna, sementara jasmani pun masih belum terlambat untuk disegarkan kembali.”

Agung Sedayu tidak menjawab.

“Tetapi yang telah kau lakukan hendaknya menjadi pengalaman. Kau telah mencapai ilmu yang sangat tinggi. Kau telah mampu mempergunakan yang tidak bersifat wadag untuk perbuatan yang bersifat wadag. Kekuatan jasmaniahpun telah menjadi berlipat ganda karena kau telah mampu menguasai kekuatan cadangan didalam dirimu, dan menguasai benda-benda yang ada ditanganmu seperti tubuhmu sendiri, juga dalam penyaluran kekuatan itu,” Kiai Gringsing berhenti sejenak, “namun demikian, kau tidak dapat meninggalkan kodratmu. Itu adalah suatu syarat, bahwa betapapun juga, kau adalah mahluk yang tidak berarti dihadapan Yang Maha Pencipta, sehingga kau tidak akan dapat melepaskan diri dari hukum-hukumnya yang berlaku mutlak bagi setiap manusia.”

Agung Sedayu masih tetap menundukkan kepalanya. Namun kata-kata itu benar-benar telah meresap didalam hatinya. Dan ia pun sadar sepenuhnya, betapa kebanggan mencengkam hati karena pencapaian itu, namun ia tetap hanya sebutir debu didalam alam semesta, dan sama sekali tidak mempunyai arti khusus bagi putaran yang harus berlangsung seperti kodratnya.

Karena itulah maka Agung Sedayu merasa bahwa ia harus lebih menundukkan kepalanya kepada Yang Maha Kuasa, yang telah memberikan kemampuan kepadanya, lebih banyak dari kebanyakan orang.

—- > Bersambung ke bagian 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s