ADBM2-105

<<kembali | lanjut >>

JIKA tidak? Ternyata keempat orang perwira itu belum kita kenal sama sekali.” desis Agung Sedayu.

 “Tentu agak aneh.”

 “Apakah mungkin karena sesuatu hal Pajang mengirimkan langsung prajurit-prajurit ke daerah ini?,” bertanya Agung Sedayu.

 “Menurut pertimbanganku, itu tidak mungkin. Mereka tinggal memerintahkan saja kepada Untara seandainya mereka mendapat suatu keterangan tentang kejahatan atau semacamnya didaerah ini. Sebanyak-banyaknya Pajang akan mengirimkan satu dua orang untuk ikut mengatur tindakan yang akan diambil oleh Untara.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Sementara Kiai Gringsing berkata, “Marilah. Kita harus siap berpacu. Lebih baik kita berusaha melepaskan diri dari tangan mereka jika mereka mengejar kita, apabila mereka melihat kita muncul di bulak sebelah.”

 “Jarak cukup jauh. Kita akan mendapat kesempatan untuk menghilang di ujung hutan sebelah,” desis Ki Waskita.

Ketiga orang itu pun kemudian membenahi diri. Mereka mungkin harus berpacu sekencang-kencangnya di jalan kecil di seberang padukuhan jika perwira-perwira itu mengejar mereka.

Sejenak kemudian mereka pun mulai dengan perjalanan cepat mereka. Kuda-kuda mereka yang tegar mulai berpacu melingkari padukuhan kecil yang sepi.

Orang-orang di padukuhan itu melihat mereka dengan heran. Tetapi tidak seorang pun yang bertanya. Bahkan anak-anak kecil berlari-larian menepi ketika tiga ekor kuda berlari kencang melintasi jalan-jalan di pinggir padukuhan.

Seperti yang mereka rencanakan, maka mereka pun berpacu melingkari padukuhan kecil, kemudian melintas melalui jalan di sisi yang lain melingkar kembali menuju ke Sangkal Putung.

 “Kita sudah hampir sampai ke bulak panjang. Jika keempat orang itu masih ada di tempatnya, mereka akan melihat kita berlari disini,” desis Kiai Gringsing.

 “Apaboleh buat,” berkata Agung Sedayu.

Namun dalam pada itu, mereka tiba-tiba saja terkejut ketika mereka mendengar sayup-sayup suara anak panah sendaren yang mengaum di udara mengarah ke tempat para perwira yang menghentikan mereka di balik padukuhan kecil itu.

Suara panah sendaren itu benar-benar telah menimbulkan kecurigaan yang sangat di hati Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Agung Sedayu. Jika panah sendaren itu diberikan bagi para perwira yang telah mereka jumpai, itu berarti persoalannya menjadi gawat. Prajurit-prajurit yang dikatakan melakukan pemeriksaan itu tentu menemukan sesuatu yang penting dan mungkin berbahaya.

Tetapi mungkin juga sendaren itu diterbangkan oleh orang-orang yang bersembunyi di beberapa padukuhan, yang justru sedang dicari oleh para prajurit Pajang itu. Agaknya mereka dengan demikian ingin memberikan isyarat kepada kawan-kawannya, agar mereka menghindar jika masih ada kesempatan.

Namun bagaimanapun juga, persoalannya memang sangat menarik untuk diketahui.

 “Kita akan memacu kuda kita lepas bulak panjang itu. Apapun yang akan terjadi, terpaksa kita lakukan. Persoalannya menjadi sangat menarik bagi kita,” berkata Kiai Gringsing.

Sejenak kemudian mereka telah melecut kuda masing-masing dan berpacu secepat-cepatnya melintasi bulak yang barangkali dapat dilihat oleh keempat prajurit yang menghentikan mereka.

Ketika mereka benar-benar muncul di bulak panjang, yang pertama-tama mereka lihat adalah jalan yang semula mereka lewati. Jalan besar yang menuju ke Sangkal Putung.

Sekali lagi mereka terkejut. Ternyata keempat perwira itu pun sedang berpacu menuju kearah Sangkal Putung, sehingga dengan demikian mereka tidak melihat Kiai Gringsing dan kedua orang kawannya yang berpacu searah, tetapi lewat jalan yang lebih kecil.

Karena mereka berada di bulak yang panjang, maka pandangan mereka sama sekali tidak terhalang. Batang padi yang tumbuh subur tidak cukup tiggi untuk menutupi derap kuda yang sedang berpacu dengan melontarkan debu yang keputih-putihan.

Yang terjadi itu memang sangat menarik perhatian. Seakan-akan Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Agung Sedayu sedang dihadapkan pada sebuah teka-teki yang sangat menarik, tetapi juga mendebarkan hati.

 “Di ujung bulak jalan ini akan menjadi semakin jauh dari jalan besar itu,” berkata Kiai Gringsing.

 “Yang akan dapat memisahkan kita dari peristiwa yang tentu akan sangat menarik,” sahut Ki Waskita hampir berteriak karena jarak mereka yang agak berjauhan.

Kiai Gringsing termangu-mangu, sementara kudanya berlari terus.

Ketika mereka melihat jalan sempit melintas, maka Kiai Gringsing tiba-tiba saja memberikan isyarat bahwa ia akan berbelok.

 “Jalan itu akan sampai ke jalan besar itu lagi,” teriak Agung Sedayu yang ada dipaling belakang.

Tetapi Kiai Gringsing nampaknya tidak menghiraukannya. Ketika kudanya menjadi semakin dekat dengan jalan kecil yang memintas itu, maka ia pun segera bersiap-siap untuk membelok, sehingga kecepatan derap kudanya menjadi agak berkurang.

Ki Waskita agaknya sependapat dengan Kiai Gringsing. Yang mereka hadapi adalah peristiwa yang menarik. Prajurit-prajurit Pajang itu telah berbuat sesuatu yang tidak seharusnya mereka lakukan menurut pertimbangannya.

Karena Kiai Gringsing dan Ki Waskita sudah berbelok pada jalan sempit yang memintas itu, maka Agung Sedayu pun tidak dapat berbuat lain kecuali mengikuti mereka. Namun karena jalan terlalu sempat, maka kuda mereka tidak dapat berlari terlalu kencang. Meskipun demikian keinginan mereka untuk melihat apa yang telah terjadi, memaksa mereka sekali-kali melecut kudanya pula.

Sesaat kemudin maka ketiga orang itu pun telah berada di jalan besar yang semula mereka lalui. Keempat perwira Pajang itu telah jauh dihadapan mereka, sehingga hanya debu yang terlontar dari kaki kuda mereka sajalah yang nampak mengepul tinggi.

Dengan kecepatan penuh ketiga ekor kuda itu berlari mengikuti para perwira yang mencurigakan itu. Bulak panjang itu ternyata hanya mereka tempuh dalam waktu yang pendek. Sesaat lagi mereka akan sampai ke sebuah padukuhan. Namun padukuhan itu pun tidak terlalu besar sehingga kemudian mereka akan muncul lagi di bulak persawahan yang cukup panjang pula, sementara mereka akan menjadi semakin dekat dengan hutan kecil yang membujur di sepanjang jalan.

Kiai Gringsing yang berada di

paling depan, seakan-akan tidak sabar lagi mengikuti derap kaki kudanya. Seolah-olah ia ingin segera meloncat dengan langkah yang sangat panjang, menyusul keempat perwira yang mendahului mereka.

Ketika mereka memasuki padukuhan, maka mereka terpaksa memperlambat kuda mereka, agar tidak menimbulkan persoalan dengan orang-orang padukuhan itu. Jika ada anak-anak sedang berada di pinggir jalan, atau sekelompok orang-orang yang sedang berada di mulut lorong, maka lari kuda yang terlampau kencang akan dapat menimbulkan persoalan tersendiri.

Demikian mereka memasuki padukuhan, maka mereka sama sekali tidak melihat kesan-kesan yang menunjukkan, bahwa daerah itu sedang ada dibawah pengawasan sekolompok prajurit yang sedang melakukan pemeriksaan.

Mereka melihat kehidupan yang wajar seperti yang terjadi sehari-hari. Bahkan karena itu, maka derap kaki kuda merekalah yang telah menarik perhatian. Apalagi orang-orang itu baru saja melihat empat orang berpacu pula melintas jalan padukuhan mereka.

Tetapi betapa terkejutnya Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Agung Sedayu ketika mereka muncul di mulut lorong, saat mereka meninggalkan padukuhan itu. Di tengah-tengah bulak mereka melihat, beberapa orang berkuda sedang berkerumun melingkar.

 “Siapakah yang sedang berkerumun itu?” diluar sadarnya Agung Sedayu berteriak.

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Tetapi ia memberikan isyarat agar kedua orang yang berada di belakangnya memperlambat derap kaki kudanya.

Ki Waskita yang berada di belakang Kiai Gringsing segera bergeser ke sampingnya, sementara Agung Sedayu mendesak semakin dekat.

Ketiga orang itu masih maju mendekati sekelompok orang berkuda yang berkerumun di tengah bulak. Di tengah lingkaran itu terdapat dua orang berkuda pula, yang agaknya sedang dalam kebingungan.

Namun ternyata bahwa orang-orang yang sedang berkerumun itu melihat kedatangan Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Agung Sedayu. Dengan serta merta salah seorang dari mereka berkata, “Ada tiga orang berkuda mendekat.”

Keempat orang perwira yang telah menghentikan dan menyuruh Kiai Gringsing kembali saja ke Jati Anom mengerutkan keningnya. Ternyata ia segera dapat mengenal, bahwa ketiga orang itu adalah tiga orang yang telah dihentikannya.

 “Gila, kenapa mereka menyusul?” desis salah seorang dari keempat orang perwira itu.

 “Siapakah mereka ?”

 “Aku telah menghentikan mereka dan menyuruh mereka kembali. Tetapi agaknya mereka tidak kembali, tetapi mencari jalan lain. Sekarang mereka harus terlibat dalam persoalan ini.”

 “Apaboleh buat,” sahut yang lain. “Mereka pun harus kita bawa bersama kedua orang ini.”

Namun orang-orang yang berkerumun itu terkejut ketika salah seorang dari dua orang yang terkurung itu berdesis, “Kiai Gringsing.”

 “Yang mana kau sebut,” salah seorang yang mengepungnya membentak.

 “Salah seorang dari ketiga orang itu. Yang seorang adalah Ki Waskita sedang anak muda itu adalah Agung Sedayu, adik Untara.”

Wajah orang-orang yang mengepung itu menjadi tegang. Sejenak mereka saling berpandangan.

Namun semuanya sudah terlanjur. Karena itu, pemimpin kelompok itu pun segera berkata mengatasi kebingungan itu, “Siapapun mereka, kita akan menangkapnya dan membawanya ke Pring Sewu.”

Dengan dada yang berdebar-debar mereka melihat Kiai Gringsing semakin lama semakin dekat. Sementara Kiai Gringsing dan kawan-kawannyapun menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat, Ki Sumangkar dan Swandaru telah berada didalam kepungan para perwira itu.

Namun dalam pada itu. Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Agung Sedayu yang cukup cerdas itu pun segera dapat menilai keadaan. Agaknya yang mereka cemaskan itu akan terjadi. Seperti yang dikatakan Untara, memang ada beberapa orang yang sedang mencari Sumangkar.

Dengan demikian maka Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Agung Sedayu justru mempercepat kudanya mendekati lingkaran orang yang berpakaian seperti sekelompok prajurit Pajang.

 “Gila,” perwira yang telah menghentikan Kiai Gringsing itulah yang pertama-tama berkata, “kau berusaha menipu kami. Tetapi kau telah terjebak dan nasibmu berada ditangan kami.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ia melihat Ki Sumangkar dan Swandaru yang mengangguk kepadanya.

 “Siapakah mereka Ki Sumangkar?” bertanya Kiai Gringsing tanpa menjawab kata-kata perwira itu.

Ki Sumangkar tersenyum sambil menjawab, “Aku belum mengenal mereka Kiai. Mungkin aku sudah pernah melihat satu dua orang yang sebaya dengan umurku di antara mereka, tetapi aku tidak mengenalnya lagi, apakah mereka benar-benar perwira-perwira dari keprajuritan di Pajang.”

 “Kami prajurit-prajurit Pajang,” teriak salah seorang dari para perwira itu.

 “Setiap orang dapat mengaku dirinya prajurit. Tetapi sifat seorang prajurit lah yang menentukan apakah benar kalian seorang prajurit atau bukan. Pakaian dan kelengkapan yang ada pada kalian sama sekali tidak berarti apa-apa, selain ciri-ciri lahiriah. Tetapi yang penting adalah watak, sikap dan perbuatan kalian.” berkata Sumangkar.

 “Persetan. Kau menghina kami,” geram salah seorang dari mereka.

 “Dengarlah,” berkata Sumangkar lebih lanjut,” aku tidak percaya bahwa kalian adalah prajurit-prajurit Pajang. Kalian sama sekali tidak bersikap seperti seorang prajurit. Apalagi seorang perwira. Karena itu justru aku ingin bertanya, darimanakah kalian mendapatkan pakaian dan kelengkapan seorang perwira?”

 “Gila. Aku adalah perwira prajurit Pajang.”

 “Mungkin kau memang seorang perwira seperti kawan-kawanmu yang lain. Tetapi jiwamu dan tingkah lakumu sama sekali bukan jiwa dan tingkah laku seorang perwira.”

 “Cukup,” teriak yang lain, “kau telah berada didalam kekuasaan kami. Jangan banyak bicara. Ikutlah kami kemana saja kami perintahkan.”

Ki Sumangkar termangu-mangu. Tetapi Kiai Gringsing telah mendahului, “Baiklah Ki Sanak. Kami tidak dapat mengelak. Jika saja kalian tidak berjumlah sepuluh orang, mungkin kami akan menentukan sikap lain.”

 “Jangan ribut. Ikutlah kami. Jangan mencoba membuat persoalan yang akan dapat memperpendek umur kalian.”

 “Tidak Ki Sanak. Kami tidak akan berbuat apa-apa.” Kiai Gringsing menjawab. Kemudian ia pun bertanya, “Apakah kami akan kalian bawa menghadap Ki Untara?”

 “Tidak.”

 “O, jadi kami harus pergi ke Pajang?”

Perwira itu saling berpandangan sejenak. Namun salah seorang dari mereka berkata, “Jangan banyak cakap. Ikutlah kami.”

Swandaru memandang Kiai Gringsing dengan tajamnya. Tetapi ia heran melihat wajah Ki Sumangkar yang kemudian justru menjadi bening.

 “Ikut sajalah,” desis Ki Sumangkar.

Swandaru termangu-mangu. Tetapi ketika ia melihat Ki Waskita dan Agung Sedayu sama sekali tidak memberikan tanggapan apapun, maka ia pun berdiam diri meskipun dengan penuh kebimbangan.

 “Cepatlah,” geram pemimpin orang-orang yang menyebut dirinya prajurit Pajang itu, “kita akan menyusur jalan ini, kemudian berbelok kekanan.”

 “Kekanan,” bertanya Kiai Gringsing, “apakah kita tidak akan ke Pajang?”

Prajurit-prajurit itu termangu-mangu. Tetapi yang agaknya pemimpin mereka menjawab, “Kemanapun kalian akan kami bawa, kalian tidak akan dapat ingkar. Bahkan apapun yang akan kami lakukan atas kalian.”

Kiai Gringsing tidak bertanya lagi.

Sejenak kemudian, maka mereka pun segera diperintahkan untuk mengikuti jalan yang dikehendaki oleh prajurit-prajurit itu. Seperti yang mereka katakan, mereka sama sekali tidak menuju ke Jati Anom dan tidak pula menuju ke Pajang.

Untuk tidak terlalu menarik perhatian, maka prajurit-prajurit Pajang itu telah membagi diri dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil. Mereka membagi diri dan orang-orang yang dibawanya menjadi tiga kelompok yang terpisah beberapa puluh langkah.

Kiai Gringsing menjadi agak berdebar-debar. Untunglah jarak mereka tidak terlalu jauh, sehingga jika perlu teriakannya akan didengar oleh kelompok yang terpisah itu.

Ternyata mereka memintas lewat jalan sempit yang akan membelah daerah yang berhutan meskipun tidak terlalu lebat, seperti hutan yang terdapat di sebelah Kademangan Sangkal Putung. Namun kemudian mereka akan menyusuri daerah yang sepi, daerah padang ilalang yang belum digarap. Setelah menyusup beberapa daerah perdu yang lebat, mereka akan sampai ke ujung Alas Tambak Baya yang jarang disentuh kaki manusia, yang terpisah oleh lebatnya hutan yang buas dan liar dari jalan yang biasa dilalui menuju ke Mataram.

Dengan demikian, maka Kiai Gringsing dan kawan-kawannya segera mengetahui, apakah yang akan dilakukan oleh orang-orang yang menyebut dirinya prajurit-prajurit Pajang itu. Agaknya seperti yang diperhitungkan oleh Kiai Gringsing, mereka akan menyingkirkan Sumangkar yang telah mendengar beberapa bagian dari rencana mereka di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Tetapi Kiai Gringsing sama sekali tidak berbuat sesuatu. Ia mengikuti saja dengan patuh, seakan-akan ia sama sekali tidak menyadari apa yang bakal terjadi.

Di tengah-tengah padang ilalang, di seberang hutan yang tidak terlalu pepat, Kiai Gringsing melihat pemimpin kelompok itu mulai berbicara dengan sungguh-sungguh dengan beberapa orang kepercayaannya. Tetapi ternyata mereka belum menentukan sikap apapun juga.

Baru ketika mereka sampai didaerah perdu yang lebat, maka Kiai Gringsing merasa perlu untuk berhati-hati.

Di antara pohon-pohon perdu yang lebat, maka iring-iringan itu pun kemudian berhenti. Pemimpin kelompok itu pun kemudian memanggil orang-orangnya sambil berkata, “Kita akan berbicara.”

Sejenak kemudian orang-orangnya pun telah berkumpul sambil mengawasi Kiai Gringsing dan kawan-kawannya.

 “Berkumpullah di antara kami,” berkata pemimpin kelompok itu.

Kiai Gringsing, Ki Waskita, Ki Sumangkar, Agung Sedayu dan Swandaru pun segera berkumpul dikelilingi oleh sepuluh orang prajurit Pajang yang mengawalnya.

 “Aku tidak mengerti,” berkata Kiai Gringsing, “apakah yang akan kalian lakukan atas kami. Bahwa kami menjadi curiga itu sudah sewajarnya. Bahkan kini menjadi semakin sangsi bahwa kalian benar-benar prajurit Pajang.”

 “Siapapun kami, itu bukan soal kalian.”

 “Dan kalian belum menjawab pertanyaan Ki Sumangkar, darimanakah kalian mendapatkan pakaian prajurit itu.”

 “Kami memang prajurit Pajang,” geram seorang yang berpakaian perwira.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin kau memang seorang perwira yang gagah dan apalagi masih muda. Tetapi keperwiraanmu hanyalah sekedar karena kau mengenakan pakaian seorang perwira. Tidak menyusup sampai ketulang sungsummu.”

 “Diam,” bentak perwira muda itu. Lalu katanya kepada pemimpin kelompoknya, “kita akan segera mulai.”

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Kita akan segera mulai.”

 “Apakah yang akan kalian mulai?” tiba-tiba saja Swandaru bertanya dengan curiga.

 “Dengarlah,” berkata pemimpin kelompok itu, “yang memaksa kami melakukan semuanya ini adalah karena tingkah Ki Sumangkar.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tepat. Aku sudah mendengar tentang hal itu dari Ki Untara.”

 “Untara,” pemimpin kelompok itu menjadi heran berbareng dengan Ki Sumangkar sendiri.

 “Katakanlah Agung Sedayu.” minta Kiai Gringsing.

Agung Sedayu pun kemudian mengatakan, apakah yang disebut oleh kakaknya petugas-petugas sandi dari Pajang yang mengetahui persoalan yang terjadi di bulak antara Sangkal Putung dan Jati Anom.

 “Menurut pertimbangan kami, maka sebagian dari kalian memang benar prajurit-prajurit Pajang. Tetapi prajurit-prajurit yang sudah mulai dengan rencana pengkhianatan,” berkata Agung Sedayu kemudian, “dan menurut perhitungan kami pula, kalian tentu akan mencari dan membungkam Ki Sumangkar sebelum Ki Sumangkar benar-benar menghadap kakang Untara, karena laporan Ki Sumangkar akan mempersempit daerah gerak kalian. Apalagi jika kakang Untara memutuskan untuk ikut serta memasuki lembah itu dengan prajuritnya.”

 “Tutup mulutmu,” teriak seorang perwira muda. Tetapi pemimpin kelompok itu berkata, “Teruskan sampai tuntas Aku ingin mendengar pendapatmu sebelum kami menentukan nasibmu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Itulah sebabnya kami tergesa-gesa pergi ke Sangkal Putung. Maksud kami, kami harus mencegah kepergian Ki Sumangkar, karena di sepanjang jalan, keadaan serupa itu mungkin sekali terjadi.”

 “Dan itu sudah terjadi,” desis pemimpin kelompok itu, “kami sudah menunggu hampir dua hari dua malam. Kami berusaha untuk dapat menjumpai Ki Sumangkar seorang diri atau saat-saat terpisah dari pengawal Sangkal Putung. Baru hari ini kami menemukan kesempatan itu. Sayang bahwa kalian telah melibatkan diri sengaja atau tidak.”

Agung Sedayu mengangguk angguk. Dipandanginya Ki Sumangkar sejenak. Lalu katanya kemudian, “Dan hari ini maksud kalian itu akan kalian lakukan.”

 “Ya. Kami akan meyakinkan diri bahwa Untara tidak akan mendengar laporan dari Ki Sumangkar. Kami memang memperhitungkan bahwa Ki Sumangkar akan pergi menghadap Untara di Jati Anom. Itulah sebabnya kami diperintahkan untuk menunggunya sampai kapan pun. Ternyata kami tidak terlalu lama berada di hutan-hutan di sekitar Sangkal Putung. Petugas rahasia kami telah melihat Ki Sumangkar meninggalkan Sangkal Putung hari ini.”

 “Sekarang kita sudah bertemu,” berkata Ki Sumangkar, “memang agaknya agak berbeda dengan perhitungan kalian. Dengan sepuluh orang kalian akan dengan mudah membunuhku. Tetapi sekarang aku tidak sendiri. Disini ada Kiai Gringsing dan dua muridnya. Selebihnya ada pula Ki Waskita.”

 “Aku tahu bahwa dalam keadaan ini kita harus berbuat lebih banyak daripada yang kita rencanakan. Tetapi kalian berlima jangan terlampau sombong dan merasa bahwa kalian dapat melawan kami bersepuluh,” berkata pemimpin kelompok itu, “tetapi maksud kami bukanlah untuk membunuh Ki Sumangkar. Tetapi semata-mata berbuat sesuatu agar Ki Sumangkar tidak sempat menyampaikan laporan kepada Ki Untara.”

 “Memang ada beberapa cara. Salah satu di antaranya adalah membunuhnya,” berkata Kiai Gringsing, “tetapi cara yang manakah yang akan kau lakukan?”

 “Aku akan menawarkan cara yang terbaik bagi kalian. Kami akan membawa kalian menghadap pemimpin kami, Ialah yang akan menentukan apakah yang akan kami lakukan atas kalian. Tetapi jika kalian bersedia berada di antara kami, maka nyawa kalian tentu akan diselamatkan.”

 “Gila,” Swandaru lah yang tidak sabar dengan pembicaraan itu, “kau sangka kami tidak mempunyai kewajiban dan tanggung jawab di tempat kami masing-masing.”

Pemimpin kelompok itu menjawab dengan tenang, “Tentu kami tidak akan mempedulikan apakah kau mempunyai kewajiban atau tidak. Yang penting bagi kami adalah pengamanan semua rencana kami.”

 “Akupun tidak peduli dengan rencanamu. Jika saja guru tidak memberikan isyarat kepadaku, aku tidak akan mau kalian bawa ketempat ini.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Aku salah. Aku kira kita akan dibawa kesuatu tempat yang dapat kita anggap penting. Tempat-tempat semacam itu akan memberikan banyak petunjuk kepada kita. Tetapi ternyata bahwa kita hanya dibawa ketengah hutan seperti ini.”

 “Jangan banyak berbicara lagi Ki Sanak,” suara pemimpin kelompok itu menjadi semakin keras, “kami tidak mempunyai banyak waktu. Kami memang ingin menawarkan beberapa cara penyelesaian. Kalian boleh memilih.”

 “Aku akan kembali ke Kademangan Sangkal Putung,” geram Swandaru.

 “Itu tidak mungkin,” jawab pemimpin kelompok orang-orang yang mengaku sebagai prajurit Pajang itu. “Kalian sudah terlanjur terlibat dalam persoalan yang mungkin tidak kalian kehendaki. Tetapi kalian tidak dapat mengelak. Nasib kalian telah membawa kalian kemari.”

 “Aku tidak peduli,” Swandaru pun berteriak pula.

 “Ki Sanak,” pemimpin kelompok itu masih mencoba untuk menahan diri, “kalian sudah berada di tangan kami. Jika kami membawa kalian kemari, semata-mata untuk menghindari ketegangan yang akan mencengkam orang-orang di padukuhan di sekitar tempat peristiwa ini terjadi. Tetapi disini tidak seorang pun yang akan melihat apa yang terjadi. Juga seandainya kami membunuh kalian berlima dan melemparkan mayat kalian begitu saja.”

 “Menggelikan sekali,” Swandaru menjawab dengan nada tinggi, “kalian tentu sudah pernah mendengar nama Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Ki Waskita. Apakah yang akan kalian lakukan?”

 “Benar. Tetapi kami pun sudah bersiap menghadapinya. Kami bukannya prajurit Pajang yang baru kemarin mengalami pendadaran. Tetapi kami sudah mendapat kepercayaan dan melangkahi jenjang keperwiraan. Selebihnya di antara kami terdapat Kiai Jambu Sirik dari pesisir Lor dan Kiai Senadarma dari kaki Gunung Wilis.”

Ki Waskita yang tidak banyak berbicara itu tiba-tiba menyahut, “Rencana kalian benar-benar merupakan rencana yang besar. Aku kira kalian telah berhasil menghimpun kekuatan Pajang dan Mataram di Kota Rajanya masing-masing. Kalian berhasil mengumpulkan nama orang-orang sakti. Tetapi kalian ternyata tidak mempunyai sikap dan langkah yang dapat menguntungkan rencana kalian dalam keseluruhan. Coba bayangkan, jika saja orang-orangmu tidak mati satu persatu, maka kumpulan orang-orang sakti itu akan mengerikan sekali. Tetapi satu-satu orang-orang kalian mati. Di pinggir Kali Praga, di Jati Anom saat Untara kawin, di bekas padepokan Tambak Wedi, di Sangkal Putung dan diberbagai tempat yang lain.”

 “Kau benar Ki Sanak,” seorang yang berkumis putih menyahut, “aku pun merasakan kekeliruan itu. Tetapi itu bukan berarti bahwa kami akan mengurungkan niat kami membunuh Ki Sumangkar. Kami sadar, Ki Sumangkar adalah adik seperguruan Patih Mantahun dari Jipang. Dan bahkan sekarang kami sadar, bahwa kami berhadapan dengan orang bercambuk dengan murid-muridnya. Dan satu lagi Ki Sanak yang belum kami kenal namun yang nampaknya juga memiliki kemampuan raksasa.”

 “Baiklah,” Swandaru berteriak, “mari kita saling berbunuhan. Aku tidak peduli siapakah kalian, darimana asalnya dan hubungan kalian dengan orang-orang gila yang bermimpi untuk menemukan warisan Majapahit itu. Sekarang, marilah kita mulai. Apakah kita akan bertempur diatas punggung kuda atau kita akan turun dari kuda masing-masing.”

 “Kau anak muda yang berani,” jawab orang berkumis putih, “akulah yang bernama Kiai Jambu Sirik. Aku juga mempunyai seorang murid seperti kau ini.”

 “Cukup,” Swandaru membentak, “kita akan bertempur sekarang.”

Pemimpin kelompok orang-orang yang berpakaian prajurit itu menjawab, “kita akan bertempur diatas kaki kita masing-masung.”

Swandaru ternyata adalah orang yang paling tidak sabar. Ia pun langsung meloncat turun dari kudanya. Namun ia masih sempat menambatkan kudanya pada sebatang pohon perdu.

Yang lain pun segera berloncatan turun pula dan seperti Swandaru mereka pun menambatkan kuda masing-masing.

 “Yang telah terjadi akan terulang pula kali ini,” geram Swandaru, “kalian akan kehilangan beberapa orang terbaik. Kiai Jambu Sirik dan Kiai Senadarma adalah nama yang hanya sempat disebut beberapa kali dalam pergolakan yang akan terjadi kemudian.”

Orang yang bernama Kiai Jambu Sirik dan Kiai Senadarma itu pun mengerutkan keningnya. Swandaru bagi mereka adalah anak muda yang aneh. Nampaknya ia terlalu yakin akan kemampuannya, sehingga tanpa ragu-ragu sedikit pun ia akan menghadapi jumlah yang dua kali lipat.

 “Anak muda,” berkata Kiai Jambu Sirik, “kau memang anak muda yang luar biasa. Ternyata kau mempunyai beberapa kelebihan dari muridku yang aku katakan itu meskipun belum tentu bahwa kemampuanmu dapat mengimbanginya.”

 “Aku akan melawan gurumu,” potong Swandaru.

Kiai Gringsing menarik nafas. Sekilas dilihatnya Agung Sedayu yang hanya berdiri diam meskipun ia tidak menjadi lengah karenanya.

 “Aku masih menawarkan sekali lagi,” berkata pemimpin kelompok itu, “ikutlah kami.”

 “Menarik sekali. Tetapi sayang sekali bahwa kalian bukanah prajurit-prajurit Pajang yang sebenarnya, yang memegang kekuasaan untuk melakukan tugas demikian.”

 “Aku benar-benar seorang perwira prajurit Pajang,” jawab pemimpinnya.

 “Tetapi kau tidak sedang bertugas dalam jabatanmu,” potong Swandaru, “justru kau sedang merusak sendi-sendi ketertiban keprajuritan Pajang. Dan sudah tentu bahwa Kiai Jambu Sirik dan Kiai Senadarma itu bukannya prajurit-prajurit Pajang pula apapun jabatannya.”

Pemimpin kelompok orang-orang yang menyebut dirinya prajurit Pajang itu pun menjadi tegang. Katanya, “Apapun yang kau katakan, katakanlah. Kesempatan terakhir yang aku berikan telah kalian sia-siakan. Sekarang bersiaplah untuk mati. Kami sepuluh orang, akan bertempur melawan kalian berlima. Siapapun kalian, maka kami bersepuluh tentu akan segera menyelesaikan tugas kami. Kami terpaksa membunuh adik Untara pula, karena ia berada di antara kalian dan mengetahui apa yang sudah terjadi dengan Sumangkar.”

 “Kalian akan melakukannya berulang kali,” potong Ki Waskita tiba-tiba, “untuk membungkam orang yang melihat kejahatanmu, maka kau harus melakukan kejahatan itu lagi. Dan itu akan berlaku terus-menerus sehingga kejahatan yang kau lakukan tidak akan berkeputusan.”

 “Itu sudah kami kehendaki,” jawab pemimpin kelompok itu sambil memberikan isyarat kepada kawan-kawannya.

Sejenak kemudian, maka kelima orang itu pun telah berada didalam kepungan sepuluh orang yang menyebut diri mereka prajurit-prajurit Pajang itu.

Wajah Swandaru yang tegang, nampak semakin membara oleh kemarahan yang bergejolak didadanya. Namun disamping kemarahan yang membakar jantung itu, sepercik kegembiraan nampak pula disorot mata anak muda itu. Karena dengan demikian ia akan sempat menjajagi kemampuannya dalam perkelahian yang sebenarnya. Bukan sekedar permainan dengan Raden Sutawijaya.

Swandaru yakin bahwa tidak semua dari kesepuluh orang itu memiliki kemampuan yang setingkat. Karena itu, maka ia akan mendapat kesempatan untuk menilai ditinggkat manakah kemampuannya itu dibandingkan dengan orang-orang yang dianggap sudah mendapat kepercayaan dari lingkungan orang-orang berilmu.

Dalam pada itu, agaknya Kiai Gringsing sependapat dengan orang-orang tua yang ada dipihaknya meskipun mereka tidak berjanji, bahwa mereka akan bertempur dalam satu lingkaran, meskipun dalam jarak yang tidak saling berdekatan. Dengan demikian maka mereka akan dapat saling membantu apabila tidak ada keseimbangan kekuatan di antara mereka dengan lawan-lawan mereka yang berjumlah dua kali lipat.

Dengan isyarat Kiai Gringsing menempatkan kedua muridnya pada kedua sisinya. Agung Sedayu di sebelah kiri dan Swandaru di sebelah kanan. Kemudian Ki Sumangkar dan Ki Waskita mengisi bagian lingkaran yang lain, beradu punggung dengan Kiai Gringsing.

Lawan-lawannya pun kemudian mengambil tempat pula, seolah-olah mereka pun telah mangatur diri. Menurut pendapat mereka, Ki Sumangkar adalah orang yang paling berbahaya karena ia adalah saudara seperguruan Patih Mentahun. Kemudian orang bercambuk itu pun telah mereka dengar pula namanya, bahwa ia memiliki kemampuan yang setingkat dengan Sumangkar.

Selebihnya, Ki Waskita masih belum banyak mereka ketahui dan kedua anak muda murid Kiai Gringsing itu pun masih mereka anggap anak-anak yang sedang tumbuh.

Agaknya orang-orang yang telah berhadapan dalam arena perkelahian itu tidak mau membuang waktu lagi. Mereka pun langsung telah menggenggam senjata masing-masing dan siap untuk dipergunakan.

Tetapi ternyata semua orang yang sedang berhadapan itu terkejut, ketika tanpa diduga-duga Swandaru telah mulai dengan serangannya yang dasyat. Cambuknya tiba-tiba saja meledak bersamaan dengan sebuah loncatan maju dengan secepatnya.

Terdengar seseorang mengeluh. Balum lagi pertempuran itu mulai, Swandaru telah berhasil melukai seorang lawannya meskipun tidak begitu parah, karena ia sempat mengelak. Namun betis kakinya bagaikan disentuh oleh pedang yang sangat tajam, meskipun hanya sentuhan kecil.

 “Anak gila,” orang itu berteriak.

Namun pemimpinnya berkata, “Obatilah dahulu. Luka kecil itu dapat berbahaya bagimu. Sementara itu, kekuatan kami agaknya tidak akan berkurang.”

Swandaru yang merasa berhasil, telah mulai lagi dengan ledakan cambuknya. Tetapi ternyata semua lawannya telah bersiap-siap menghadapinya, sehingga karena itu, serangannya yang berikut sama sekali tidak mengenai lawannya.

Kemarahan yang semakin panas telah membakar dada Swandaru. Kegagalannya telah mendorongnya untuk mencoba lagi, melontarkan serangan kepada lawan-lawannya yang terdekat.

Namun dalam pada itu, langkahnya tertegun karena ia melihat lawannya mulai mengatur diri dalam lingkaran yang rapi. Mereka tidak lagi bergerak dengan liar tanpa hubungan yang satu dengan yang lain.

Namun justru karena itulah, maka Swandaru tidak dapat lagi sekedar mencari kesempatan pada kelengahan lawannya. Ia harus benar-benar bertempur membenturkan ilmu kanuragan. Kecepatan bergerak dan ketangkas an diperlukan menghadapi lawannya yang jumlahnya berlipat itu. Apalagi di antara lawan-lawannya terdapat orang-orang yang bernama Kiai Jambu Sirik dan Kiai Senadarma.

Sejenak kemudian perkelahian itu pun telah menjadi semakin dahsyat. Ternyata Kiai Jambu Sirik dan Kiai Senadarma adalah orang-orang yang benar-benar pantas untuk mendapat tugas membinasakan Sumangkar. Mereka ternyata memang memiliki kemampuan yang tinggi. Jika saja Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Agung Sedayu tidak tergesa-gesa berusaha menjumpai Sumangkar, maka akibatnya tentu akan sangat parah bagi Sumangkar dan Swandaru.

 “Untunglah,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya, “jika kami sekedar menunggu Ki Sumangkar dan Swandaru di padepokan kecil itu, maka kami untuk selamanya tidak akan dapat bertemu lagi dengan mereka.”

Namun dalam pada itu, tekanan lawan-lawannya mulai terasa. Itulah sebabnya, maka Agung Sedayu pun harus bersiap-siap mengerahkan ilmunya untuk menghadapi lawannya.

Ternyata Agung Sedayu yang telah mesu raga didalam goa yang terpisah dari kehidupan itu telah membentuknya menjadi seseorang yang memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari masa sebelumnya.

Adalah mengejutkan sekali, bahwa pada pertempuran yang sengit itu, Agung Sedayu justru dapat menilai ilmunya dengan saksama. Serangan-serangannya yang lepas dari ujung senjatanya, meskipun bagi Agung Sedayu sendiri masih merupakan penjajagan, sehingga belum dilontarkannya dengan segenap tenaga dan ilmu yang telah dikuasainya, namun Agung Sedayu sendiri merasa, betapa kemajuan yang telah dicapainya itu benar-benar suatu kurnia yang tiada taranya.

 “Aku telah menerima kemurahan-Nya. Karena itu, aku harus mempergunakan di jalan-Nya.” ucapan syukur itu telah melonjak didalam hati Agung Sedayu.

Sementara itu pertempuran yang sengit itu menjadi semakin sengit. Namun sementara itu, selagi mereka sedang berjuang dengan mempertaruhkan nyawanya. Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Ki Waskita seakan-akan telah mempergunakan waktunya barang sekejap untuk menilik ilmu Agung Sedayu dan Swandaru yang telah meningkat itu.

Namun dalam pada itu, Swandaru dan Agung Sedayu sendiri, dengan diam-diam telah saling menjajagi, sampai dimanakah kemajuan yang telah mereka capai masing-masing.

Agung Sedayu yang lebih mendalami ilmunya dari segi batinnya, tidak segera menampakkan penguasaan kemajuannya pada segi tata gerak dan lontaran-lontaran serangannya. Namun perlahan-lahan tetapi pasti, bahwa ujung cambuknya semakin lama seakan-akan menjadi semakin berat dan tajam, sehingga setiap sentuhan akan mempunyai akibat yang sangat pahit bagi lawannya.

Agak berbedar dengan Agung Sedayu, kekuatan Swandaru yang sudah jauh meningkat itu pun segera nampak pada pertempuran yang semakin sengit itu. Ledakan-ledakan cambuknya bagaikan membakar udara di seputarnya. Ujung cambuknya yang telah dilingkari dengan beberapa karah dan ditambahnya dengan kepingan-kepingan baja, menjadikan senjatandya itu semakin berbahaya.

Kemajuan kedua anak muda itu tidak terlepas dari pengamatan Kiai Gringsing. Ia bangga atas kemajuan yang telah dicapai oleh murid-muridnya. Tetapi ia pun cemas menghadapi perkembangan nalar, cita-cita dan harapan masa depan Swandaru yang mulai melonjak-lonjak.

Tetapi Kiai Gringsing tidak sempat mempergunakan waktunya terlalu lama untuk menilai murid-muridnya saja. Serangan lawan-lawannya ternyata semakin lama menjadi semakin berat. Kiai Jambu Sirik dan Kiai Senadarma ternyata memusatkan serangan mereka kepada Ki Sumangkar. Agaknya keduanyalah yang telah mendapat tugas untuk membinasakan orang tua bekas seorang pemimpin yang disegani dari Jipang itu.

Tetapi Sumangkar yang sadar akan bahaya yang mulai mendekatinya itu telah mengerahkan kemampuannya pula. Meskipun ia tidak lagi mempergunakan senjata perguruannya yang telah diberikan kepada Sekar Mirah, namun trisulanya telah menyambar-nyambar dengan dahsyatnya.

Meskipun demikian, terasa, tekanan kedua orang itu semakin lama menjadi semakin berat bagi Sumangkar, sehingga ia pun harus sudah memeras keringat untuk mempertahankan dirinya. Hanya karena Ki Waskita berada disisinya, maka kadang-kadang Ki Waskita pun sempat mengganggu serangan kedua orang yang memiliki ilmu yang cukup tinggi itu.

Namun sementara itu, karena puncak kekuatan lawannya yang sepuluh orang dipusatkan kepada Ki Sumangkar, maka Kiai Gringsing dan kedua muridnya, kadang-kadang masih sempat mendesak lawannya dan bahkan sekali-kali mereka dapat memecahkan kepungan mereka. Namun Kiai Gringsing dan kedua muridnya segera menempatkan diri kembali kedalam lingkaran pertahanan mereka.

Kesepuluh orang yang bertempur melawan lima orang itu mulai berkeringat. Bukan saja karena mereka telah mengerahkan tenaga, namun mereka mulai gelisah, bahwa mereka seakan-akan sama sekali tidak mampu menggoyahkan pertahanan lawannya. Bahkan kedua anak-anak muda itu pun rasa-rasanya mampu menempatkan diri dalam pertempuran dilingkungan orang berilmu itu.

 “Mereka telah memiliki bekal yang cukup tinggi,” desis pemimpin kelompok itu didalam hati. Namun demikian, ia sendiri justru ingin meyakinkan, apakah anak muda yang bernama Agung Sedayu dan kebetulan adalah adik Untara itu dapat bertahan lebih lama lagi.

Karena itulah, maka pemimpin kelompok orang-orang yang menyebut dirinya prajurit Pajang itu memusatkan serangannya kepada Agung Sedayu yang mulai menyusun segenap kekuatannya menghadapi lawan yang sangat berat karena jumlahnya yang lipat itu.

Dalam pada itu, Swandaru yang memiliki kekuatan raksasa itu pun segera mengerahkan kemampuannya. Ia tidak mau membiarkan dirinya dan kawan-kawannya sekedar bertahan dari serangan-serangan yang semakin menekan.

Karena itulah, maka suara cambuknya pun kemudian meledak semakin keras. Beberapa langkah ia mengambil jarak dari gurunya, agar ia dapat leluasa mempermainkan juntai cambuknya yang berkarah dan diseling oleh kepingan-kepingan baja yang melingkar bagaikan cincin -cincin yang tajam.

Lawan-lawannya menjadi heran melihat kecepatan dan kekuatannya. Swandaru masih terlalu muda. Namun kemampuannya benar-benar dapat dibanggakan, sehingga karena itulah, maka lawan-lawannya agak sulit untuk mendekatinya karena putaran ujung cambuk yang seakan-akan melindunginya.

Di antara kedua muridnya. Kiai Gringsing sendiri bertempur sambil memperhitungkan segenap kemungkinan. Beberapa kali ia telah gagal menangkap satu dua orang di antara mereka yang menyebut dirinya pewaris kerajaan Majapahit.

Namun kali ini Kiai Gringsing maish harus menimbang-nimbang. Lawannya berjumlah dua kali lipat. Karena itulah ia belum berani merencanakan untuk dapat menangkap mereka hidup-hidup. Yang pertama-tama harus diperhitungkan, bagaimana ia harus mempertahankan diri melawan kekuatan yang terasa semakin menekan.

Yang paling berat adalah Ki Sumangkar. Kiai Jambu Srik dan Kiai Senadarma benar-benar tidak menahan diri. Tidak ada perasaan segan sama sekali untuk langsung berusaha membunuh Ki Sumangkar yang mereka anggap sangat berbahaya.

Ki Waskita merasakan tekanan yang berat pada Ki Sumangkar. Meskipun ia sendiri masih melihat kemungkinan-kemungkinan yang baik untuk menghindar dari pelukan maut, namun secara keseluruhan ia masih harus membuat pertimbangan-pertimbangan.

Karena itulah, maka tiba-tiba saja Ki Waskita itu berteriak, “Jangan terkejut jika hantu-hantu Alas Mentaok ini bangkit dan membantu kami.”

Tidak ada seorang pun yang tahu maksudnya dengan segera. Tetapi lambat laun, Ki Sumangkar, Kiai Gringsing dan kedua murid-muridnya mulai menduga, bahwa Ki Waskita akan bermain-main dengan ilmu semunya.

Ternyata seperti yang mereka duga, sejenak kemudian terdengar derap kaki-kaki kuda mendekat. Semakin lama semakin dekat arena perkelahian yang sengit itu.

Ketika kemudian muncul beberapa ekor kuda, ternyata bahwa penunggang-penunggangnya adalah pengawal-pengawal Mataram yang bertubuh tinggi kekar dengan senjata yang dahsyat ditangan masing-masing. Semuanya membawa sebuah bindi yang besar dan bergerigi seperti duri kemarung.

Dengan cepat kuda-kuda itu pun segera berlari melingkari arena perkelahian itu. Orang-orang yang ada di punggungnya, mengacu-acukan senjata mereka siap untuk menghantam siapapun juga yang dihendaki.

Namun Ki Waskita dan kawan-kawannya termangu-mangu ketika mereka mendengar Kiai Jambu Sirik tertawa, “Jangan bermain seperti anak-anak. Permainan semua itu tidak akan banyak berarti bagi kami semuanya.”

Sementara itu pemimpin kelompok itu pun menyahut, “Ternyata ada orang yang dapat bermain-main dengan bayang-bayang. Permainan itu sendiri tidak berhabaya bagi kami. Tetapi orang yang dapat bermain dengan bayangan semu itu tentu termasuk orang yang memiliki kemampuan yang tinggi.”

Ki Waskita menggeretakkan giginya. Ia sadar, bahwa permainan semunya tidak akan memberikan pengaruh seperti yang diharapkannya. Sehingga karena itu, maka orang-orang berkuda itu pun kemudian bagaikan diusirnya pergi. Satu-satu mereka meninggalkan arena dan hilang dibalik gerumbul-gerumbul perdu.

Kiai Senadarma kemudian berkata, “Lebih baik kita beradu ilmu kanuragan didalam keadaan seperti ini, tanpa permainan hantu-hantunya dan semacamnya.”

Tidak seorang pun yang menyahut. Ki Waskita sama sekali tidak ingin lagi membuat bentuk-bentuk semu, karena ilmu itu sama sekali tidak berarti bagi lawan-lawannya.

Pertempuran selanjutnya adalah benturan antara trampilan dalam olah kanuragan. Sekali lagi setiap orang didalam kepungan itu harus melawan dua orang lawan. Dan kembali lagi yang merasa terberat di antara mereka adalah Ki Sumangkar.

Tetapi seperti yang diduga oleh Swandaru, bahwa kekuatan lawan-lawannya tidak sama yang seorang dengan yang lain. Itulah sebabnya maka setelah masing-masing pihak mengerahkan segenap kemampuannya, maka lingkaran kepungan itu tidak lagi merata.

Kiai Gringsing yang beradu punggung dengan Ki Sumangkar tidak akan dapat membiarkan keadaan yang sulit itu berlangsung terus. Meskipun ia tidak melihat dengan jelas, karena kedudukannya, namun ia merasa bahwa Sumangkar setiap kali telah terdesak. Beberapa kali Sumangkar bergeser semakin dekat di punggungnya. Dengan demikian ia terpaksa berusaha menghentakkan lawannya dan mendesaknya maju.

Namun ternyata bahwa lawan Kiai Gringsing bukannya lawan sekuat Kiai Jambu Sirik atau Kiai Senadarma. Sejenak kemudian, ketika cambuk Kiai Gringsing telah meledak dengan dahsyatnya, seolah-olah mengungkit nada dari dasar bumi, terasalah, bahwa ia mulai menguasai kedua lawannya. Meskipun ledakan cambuknya tidak sekeras ledakan cambuk Swandaru menurut pendengaran telinga wadag. tetapi rasa-rasanya suara cambuk Kiai Gringsing telah melontarkan nada yang langsung dapat mengiris pendengaran batin seseorang.

Orang-orang yang bertempur melingkari Kiai Gringsing dan kawan-kawannya itu justru meremang. Ternyata mereka dapat merasakan, betapa dahsyatnya kekuatan yang tersimpan didalam ledakan cambuk yang suaranya justru tidak terlalu kerasa dalam pendengaran telinga wadag.

Namun mereka pun meremang pula jika mereka mendengar suara cambuk Swandaru yang mengguntur bagaikan memecahkan selaput telinga. Meskipun berbeda dengan sentuhan suara cambuk Kiai Gringsing, tetapi orang-orang yang mengepungnya dapat membayangkan, bahwa Swandaru memang memiliki kekuatan raksasa.

Yang masih terdengar seperti ledakan cambuk sewajarnya adalah cambuk Agung Sedayu. Ketika ia mendengar suara cambuk gurunya dan ledakan cambuk Swandaru, maka sadarlah anak muda itu, bahwa pertempuran itu benar-benar telah mencapai puncaknya.

Karena itulah maka Agung Sedayu pun tidak akan dapat bertempur sekedar mempertahankan diri.

Kiai Gringsing yang bertempur disampingnya mulai memperhatikan kedua muridnya. Ledakan cambuk Swandaru telah memberikan pertanda arah kemajuan ilmunya. Dan Swandaru sendiripun diam-diam ingin mengetahui, apakah yang sudah dicapai oleh Agung Sedayu selama waktu-waktu yang terakhir.

Dalam ketegangan itu, ternyata kedua murid Kiai Gringsing itu masih sempat, seakan-akan saling memperbandingkan ilmunya. Meskipun Agung Sedayu mempunyai sifat yang berbeda dari Swandaru, tetapi ada juga perasaan ingin tahu, apakah saudara seperguruannya juga telah mencapai kemajuan. Dan ternyata bahwa Swandaru telah menunjukkan apa yang dimilikinya.

Ketika pertempuran itu menjadi semakin gawat, maka Agung Sedayu pun tidak dapat berbuat lain, kecuali mengerahkan ilmu yang ada padanya. Apalagi terasa pula olehnya bahwa Ki Sumangkar telah terdesak semakin berat oleh dua orang yang agaknya memiliki ilmu yang meyakinkan untuk melenyapkan saudara seperguruan Patih Mantahun, prajurit terbaik dari Jipang disamping Arya Penangsang sendiri.

Sejenak kemudian ternyata bahwa Agung Sedayu telah mengejutkan lawan-lawannya pula. Ketika ia merasa bahwa saatnya telah tiba untuk mengerahkan kemampuannya, maka mulailah Agung Sedayu membangunkan kekuatannya dan menyalurkannya lewat ujung cambuknya.

Itulah sebabnya, ketika kemudian cambuknya meledak, terasa bulu-bulu tengkuk lawannya semakin meremang. Ledakan cambuk Agung Sedayu bagaikan ledakan yang menghentak di setiap jantung yang mendengarnya. Ledakan yang seolah-olah telah mengguncang dan merontokkan seluruh isi dada. Seperti ledakan cambuk Kiai Gringsing, ledakan cambuk Agung Sedayu langsung menusuk ke pendengaran yang lebih dalam dari telinga wadag.

Hentakan kemampuan Agung Sedayu itu memang telah mengejutkan setiap orang didalam lingkaran kepungan itu. Kiai Jambu Sirik dan Kiai Senadarma yang memiliki ilmu yang masak itu pun menjadi berdebar-debar. Jika ledakan itu berasal dari cambuk Kiai Gringsing, mereka memang sudah menduga, bahwa Kiai Gringsing yang disebut orang bercambuk itu memiliki ilmu yang tinggi, yang harus dilawan bersama-sama jika mereka telah menyelesaikan Ki Sumangkar. Tetapi bahwa anak muda adik Untara itu pun memiliki kedahsyatan ilmu seperti itu, adalah benar-benar diluar dugaan, karena Agung Sedayu adalah anak yang masih sangat muda menurut penilaian umur dibandingkan dengan mereka yang ada diarena pertempuran itu.

Ternyata bukan lawan-lawan Agung Sedayu sajalah yang terkejut. Ki Sumangkar dan Swandaru pun telah terkejut pula. Mereka baru sadar, bahwa Agung Sedayu memang bukannya Agung Sedayu yang dahulu. Seperti juga Swandaru yang meningkat dengan cepat menurut arah perkembangannya, ternyata Agung Sedayu pun telah berkembang sangat pesat didalam pengolahan ilmunya.

Cambuk Agung Sedayu bukan saja telah menggetarkan isi dada mereka yang mendengarnya. Tetapi rasa-rasanya udara pun telah bergetar dan pepohonan bagaikan terguncang oleh lontaran kekuatan yang saling berpengaruh antara dunia kecil didalam diri Agung Sedayu dengan dunia yang besar yang terbentang tanpa batas.

Namun, keterkejutan lawan-lawannya itu ternyata telah mendorong mereka untuk bertempur lebih dahsyat lagi. Mereka tidak mau terperosok kedalam kesulitan seperti yang dialami oleh orang-orang kuat di antara mereka sebelumnya.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi semakin dahsyat. Meskipun lawan mereka termasuk orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi, namun sebenarnyalah bahwa kemampuan mereka tidak setingkat. Bahkan sejenak kemudian, Ki Waskita dapat menduga, bahwa tidak semua orang didalam lingkungan lawannya itu dapat menangkap penglihatan yang hanya semu atas penunggang penunggang kuda yang baru saja mengelilingi lingkaran pertempuran itu. Hanya karena beberapa orang kawannya meneriakkan hal itu, maka mereka menyadari apa yang sedang mereka hadapi.

Swandaru yang bertenaga raksasa itu pun dengan kekuatannya yang mengagumkan telah mengayunkan cambuknya dengan dahsyatnya. Beberapa kali ia berhasil mendesak lawannya yang ternyata tidak memiliki ilmu setinggi Kiai Jambu Sirik dan Kiai Senadarma.

Namun yang mengejutkan mereka, adalah ketika kemudian terdengar seseorang berdesis menahan pedih, agaknya Ki Waskita yang bertempur disamping Ki Sumangkar yang terdesak terus, telah mengerahkan segenap ilmunya. Dan ternyata bahwa lawannya pun bukannya orang terkuat di antara kelompoknya.

Dalam pada itu seseorang telah terdesak mundur. Dengan tergesa-gesa ia berusaha mengobati luka yang tergores dilengannya, sementara kawannya yang bertempur melawan Ki Waskita masih bertahan terus. Tetapi Ki Waskita tidak berhasil mendesaknya dan memecahkan kepungan karena Kiai Senadarma segera membantunya.

Tetapi dipihak lain, Kiai Gringsing yang tidak lagi meragukan kedua muridnya, menganggap bahwa arena pertempuran yang luas dengan senjata cambuknya akan lebih menguntungkan, meskipun Ki Sumangkar masih harus selalu dibayangi karena lawan-lawannya yang sangat kuat.

Itulah sebabnya, maka Kiai Gringsing lah yang kemudian mendesak semakin dahsyat dan berusaha memecahkan kepungan lawannya untuk mendapatkan arena yang lebih baik.

Agung Sedayu yang menyadari sikap gurunya pun segera membantunya. Dengan mengerahkan kemampuannya, maka ia pun berhasil mendesak kedua orang lawannya.

Dengan demikian maka kepungan itu pun menjadi semakin longgar. Swandaru mendapat kesempatan lebih banyak untuk mengayunkan senjatanya yang seolah-olah bergerigi. Dan ternyata bahwa ia pun telah mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Ki Waskita yang telah berhasil melukai seorang lawannya, mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya untuk membantu Ki Sumangkar. Meskipun ia tidak dapat bergerak dengan leluasa karena lawannya yang terluka masih mencoba turun lagi ke arena, namun dalam rangkaian tata geraknya, ia selalu berusaha untuk mengurangi tekanan atas Ki Sumangkar.

Namun sejenak kemudian, orang-orang yang menyebut dirinya prajurit Pajang itulah yang mulai menjadi gelisah. Ternyata jumlah mereka yang sepuluh orang itu masih terlampau sedikit untuk meyakinkan mereka, bahwa mereka akan dapat berhasil dengan tugasnya.

 “Tetapi perhitungan kami, jumlah itu hanyalah sekedar untuk membunuh Sumangkar,” berkata orang yang menyebut dirinya pemimpin prajurit Pajang itu kepada diri sendiri. “Adalah diluar perhitungan bahwa kemudian datang pula orang-orang bercambuk dan muridnya, serta seorang kawannya.”

Tetapi semuanya sudah terjadi. Pertempuran itu sudah menjadi semakin sengit. Ledakan cambuk Kiai Gringsing dan Agung Sedayu ternyata telah membuat hati mereka menjadi kecut.

Kiai Jambu Sirik dan Kiai Senadarma yang berusaha mempercepat tugasnya, telah dipengaruhi pula oleh tata gerak Ki Waskita. Meskipun lawannya yang terluka telah berusaha mengobati dan memampatkan darah yang mengalir, namun ia sudah tidak mampu bertempur seperti saat-saat ia mulai. Sehingga karena itulah, maka Ki Waskita sempat untuk melibatkan diri dalam arena perkelahian Ki Sumangkar. Bahkan kemudian ternyata bahwa keduanya berhasil menyatukan diri dan bertempur berpasangan.

 “Gila,” geram Kiai Jambu Sirik.

Namun ia sama sekali tidak dapat mencegahnya.

Karena itulah maka ia mencoba melihat perkelahian itu dalam keseluruhan. Namun Kiai Jambu Sirik itu terkejut ketika ia melihat Kiai Gringsing telah menguasai kedua lawannya. Cambuknya seolah-olah telah mengurung dengan ledakan-ledakan yang dahsyat. Juntai cambuknya yang berputaran bagaikan segulung asap yang siap menelan kedua lawannya yang semakin terdesak.

Demikian pula lawan Agung Sedayu yang masih muda itu. Cambuknya pun mampu melontarkan serangan yang mengerikan dan menguasai kedua orang lawannya. Bahkan sekali-sekali ujung cambuk itu sudah menyentuh lawannya dengan meninggalkan sesobek luka yang memanjang.

Lawan-lawannya hampir tidak percaya, bahwa sentuhan yang seolah-olah hanya sentuhan kecil saja itu telah mengiris kulit dan dagingnya. Bahkan kadang-kadang ujung cambuk itu seakan-akan begitu tajamnya, sehingga luka yang membekas di tubuhnya mula-mula sama sekali tidak terasa. Baru ketika darah sudah menetes, maka perasaan pedih mulai menggigit kulit.

Swandaru bertempur lebih garang lagi. Tetapi sentuhan ujung senjatanya memang sudah meyakinkan, sehingga justru tidak mengejutkan seperti ujung cambuk Agung Sedayu. Gerak yang kuat dan kasar dari Swandaru benar-benar telah mendesak lawannya. Mereka sadar sepenuhnya, jika ujung cambuk Swandaru mengenai mereka, maka tulang mereka akan dapat diremukkannya.

Dalam pertempuran yang sengit itu. Kiai Gringsing dan kedua muridnya serta Ki Waskita telah dikejutkan oleh keluhan tertahan. Ki Sumangkar yang menjadi pusat serangan lawannya, tiba-tiba terdorong surut. Dengan wajah yang merah ia melihat darah yang mulai mewarnai pakaiannya yang mengalir dari lukanya di pundak kirinya.

 “Gila,” Sumangkar menggeram. Tetapi luka itu telah terasa sangat pedih dan hampir melumpuhkan tangan kirinya.

Kiai Jambu Sirik dan Kiai Senadarma yang melihat luka di pundak Sumangkar itu mendesak semakin kuat. Bahkan tata gerak mereka sudah menjadi semakin kasar dan liar. Apa saja telah mereka lakukan untuk memenangkan perkelahian itu.

Ki Waskita segera dapat menguasai dirinya. Ia sadar, bahwa Ki Sumangkar benar-benar dalam bahaya. Karena itulah, maka ia harus cepat mengambil sikap.

Dengan hentakan tenaganya, maka Ki Waskita mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Selagi kedua lawannya masih ikut serta menikmati kemenangan Kiai Jambu Sirik dan Kiai Senadarma, maka Ki Waskita telah langsung menyerangnya. Sekali lagi orang yang telah terluka segores itu pun terlempar mundur. Lukanya yang kemudian bukanlah luka yang sekedar menimbulkan perasaan pedih dikulitnya, tetapi lambungnya bagaikan tersobek dari sisi sampai kesisi lainnya.

Sementara itu. Kiai Jambu Sirik dan Kiai Senadarma berusaha mendesak terus. Sekali lagi Sumangkar terlempar dan bahkan terpaksa menjatuhkan diri sambil berguling menjauhi lawannya, ketika terasa lengannya pun telah tergores senjata.

Namun pada saat yang tepat, Ki Waskita meloncat meninggalkan lawannya dan menahan serangan Kiai Jambu Sirik dan Kiai Senadarma yang hampir saja berhasil mengakhiri perlawanan Sumangkar. Meskipun demikian, agaknya keduanya bagaikan telah mempersiapkan suatu rencana penyelesaian yang matang. Kiai Senadarma lah yang kemudian usaha menghambat Ki Waskita dan disusul oleh seorang lawan Ki Waskita yang lain, sementara Kiai Jambu Sirik telah siap menyelesaikan tugasnya, memburu Ki Sumangkar dan menusuk dadanya saat ia berusaha untuk bangkit.

Tetapi pada saat itu. Kiai Gringsing berhasil melihat keadaan itu. Itulah sebabnya, maka gulungan ujung cambuknya telah mendesak kedua lawannya dengan dahsyatnya.

Namun waktu terlalu sempit baginya. Karena itulah, maka Kiai Gringsing tidak mempunyai pertimbangan lain. Dengan kemampuan yang ada padanya, maka ia pun menyerang lawannya dengan serta merta, sehingga lawanya tidak berhasil menghindarinya.

Hampir diluar pengamatannya, maka Kiai Gringsing telah menghentakkan cambuk ke arah dua lawannya. Dan yang terdengar kemudian adalah teriakan nyaring yang menggetarkan setiap hati.

Justru karena itulah, maka Kiai Gringsing tertegun sejenak. Kedua lawannya itu pun kemudian terlempar dengan kerasnya, dan jatuh di tanah dengan darah yang bagaikan diperas diluka mereka yang menyilang dada.

Tetapi waktu memang terlampau sempit. Saat itulah Kiai Jambu Sirik telah mengangkat senjata siap menghunjam di dada Ki Sumangkar yang sedang mencoba untuk meloncat bangkit.

Wajah Ki Sumangkar menegang sejenak ketika ia melihat senjata Kiai Jambu Sirik. Dengan susah payah ia berusaha menggapai tangkai crisulanya dan berusaha menangkis senjata lawannya.

Namun keadaan Ki Sumangkar benar-benar tidak menguntungkan. Dengan ayunan senjatanya. Kiai Jambu Sirik dapat memancing Sumangkar untuk bergeser. Dan tepat pada saatnya, Kiai Jambu Sirik meloncat kesisi sebelah kiri sambil berteriak, “Akhirnya aku berhasil menyelesaikan perlawananmu.”

Sumangkar benar-benar dalam kesulitan. Tangan kirinya yang menjadi semakin lemah tidak mampu lagi untuk mengangkat senjatanya menangkis serangan yang meluncur dengan cepatnya kearah lambungnya.

Tidak ada yang nampaknya sempat menolong. Kiai Gringsing baru saja menarik cambuknya dan jaraknya agak terlalu jauh. Sedangkan Agung Sedayu yang berdiri lebih dekat, masih sibuk melayani kedua orang lawannya.

Tetapi agaknya Agung Sedayu tidak dapat membiarkan pembunuhan itu terjadi. Itulah sebabnya, maka dengan serta merta ia meloncat meninggalkan lawannya sambil mengayunkan cambuknya kearah pergelangan tangan Kiai Jambu Sirik.

Ternyata bahwa ujung cambuk Agung Sedayu masih sempat menyentuh pergelangan tangan Kiai Jambu Sirik dari jarak yang tepat sepanjang juntai cambuknya.

Pada saat Kiai Jambu Sirik memusatkan perhatian pada saat kemenangannya, ternyata bahwa ia menjadi agak lengah. Apalagi ia sama sekali tidak menyangka, bahwa Agung Sedayu masih sempat melakukan serangan itu.

Itulah sebabnya, maka ujung cambuk Agung Sedayu itu bagaikan menahan tangannya yang sedang terjulur. Tiba-tiba saja ia melihat segores luka telah menganga dipergelangan tangannya yang gagal mencapai lambung Sumangkar dengan ujung senjatanya.

 “Setan alas,” ia mengumpat.

Tetapi bersamaan dengan itu, terdengar Agung Sedayu mengeluh tertahan. Pada saat ia berusaha menyelamatkan Sumangkar, ternyata serangan lawannya tidak dapat dihindarinya, sehingga sebuah tusukan telah menggores punggung.

Sumangkar yang terlepas dari tusukan senjata Kiai Jambu Sirik segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Meskipun ia telah terluka tidak hanya disatu tempat, tetapi ia masih mempunyai kemampuan sekedar untuk membela diri.

Dalam pada itu. Agung Sedayu lah yang justru dalam kesulitan. Ketika ia berusaha menjauhi lawannya, ternyata bahwa mereka telah memburunya. Dengan geram mereka bertekad untuk membunuh Agung Sedayu yang telah menggagalkan usaha Kiai Jambu Sirik untuk membunuh Ki Sumangkar.

Namun pada saat itu. Kiai Gringsing telah berhasil melepaskan diri dari kedua lawannya yang sudah terbaring ditanah. Dengan loncatan panjang ia kemudian telah berada didekat muridnya yang terluka. Ketika kemudian ujung cambuknya berputar, maka kedua lawan Agung Sedayu terpaksa bergeser menjauh.

Dengan demikian maka pertempuran yang sudah diwarnai dengan darah itu menjadi semakin seru. Swandaru pun sudah mulai terdesak oleh kedua lawannya. Meskipun suara cambuknya bagaikan memecahkan selarut telinga, tetapi ternyata bahwa kedua lawannya memiliki kemampuan yang cukup untuk bersama-sama mendesaknya.

Tetapi dalam pada itu Kiai Gringsing seakan-akan telah terlepas dari lawan-lawannya. Sesaat ia masih bertempur bersama Agung Sedayu. Namun itu tidak berlangsung terlalu lama. Sejenak kemudian lawan Agung Sedayu yang seorang itu pun telah terdesak dan ledakan berikutnya, membuatnya seakan-akan telah lumpuh. Ternyata Kiai Gringsing berhasil mengenainya meskipun dengan pertimbangan yang lebih baik dari saat ia menyingkirkan kedua lawannya.

Agung Sedayu yang sudah terluka di punggung itu masih sempat bertempur untuk mempertahankan diri. Lawannya yang tinggal seorang itu harus mengakui, bahwa Agung Sedayu memang seorang anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi.

Meskipun demikian luka di punggungnya terasa bagaikan menyengatnya setiap saat. Darah yang mengalir membuat tenaganya jauh susut dari kemampuannya yang sebenarnya.

Tetapi Agung Sedayu yang muda itu telah berhasil menguasai puncak ilmunya. Dan itu ternyata bahwa ia mampu bertahan melawan dua orang yang dianggap cukup berilmu didalam lingkungannya.

Itulah sebabnya, bahwa dengan luka di punggung, ia masih mampu menyalurkan kekuatannya pada ujung senjatanya, sehingga cambuknya masih merupakan senjata yang sangat berbahaya.

Yang terjadi kemudian adalah penyelesaian yang semakin pasti. Kiai Gringsing dengan tanpa kesulitan telah membantu mengurangi lawan Swandaru yang bertempur semakin sulit. Ketika yang seorang dari kedua lawannya itu terpaksa melawan Kiai Gringsing, maka Swandaru mulai dengan dada yang gemuruh mendesak lawannya tanpa ampun.

Dalam pada itu, Ki Sumangkar yang terluka cukup parah itu pun ternyata mengalami kesulitan untuk mempertahankan diri dari serangan Kiai Jambu Sirik. Namun Kiai Gringsing tidak memerlukan waktu yang terlalu lama untuk melumpuhkan lawannya. Sebuah serangannya telah melemparkan lawannya sehingga tidak mampu lagi untuk bangkit dan apalagi bertempur. Dengan nafas terengah-engah ia berusaha untuk duduk bersandar sebatang pohon perdu.

Sementara itu, Kiai Gringsing telah berada di antara arena perkelahian antara Ki Sumangkar dengan Kiai Jambu Sirik, dengan daerah perkelahian Ki Waskita melawan Kiai Senadarma dan seorang yang berpakaian seperti seorang perwira prajurit Pajang. Sedangkan dilingkaran perkelahian yang lain, Agung Sedayu yang luka itu masih mempertahankan dirinya.

Pertempuran itu pun agaknya telah sampai ke puncaknya. Swandaru yang bertempur dengan kemarahan yang menghentak di dadanya tidak memberikan kesempatan sama sekali kepada lawannya. Dengan sengaja Swandaru ingin menilai, apakah ilmunya sudah jauh meningkat.

Ternyata orang yang melawannya itu belumlah sekuat Raden Sutawijaya dari Mataram. Ternyata ia selalu terdesak dan bahkan kemudian ujung cambuk Swandaru telah mulai meraba tubuhnya.

 “Kau masih belum setangkas orang-orang yang pantas mengenakan pakaian seorang perwira Pajang,” berkata Swandaru.

Orang itu menggeram, tapi sebenarnyalah bahwa ia tidak mampu mengimbangi kecepatan bergerak dan kekuatan raksasa anak muda yang gemuk itu.

Swandaru yang merasa lawannya menjadi semakin terdesak, sama sekali tidak memberinya kesempatan. Seperti saat-saat yang lalu, kemarahannya benar-benar tidak terkendalikan lagi. Ketika ujung cambuknya sekali lagi menyobek kulit lawannya, Swandaru justru menjadi semakin bernafsu.

Dalam pada itu Agung Sedayu masih bertahan terus. Lawannya yang seorang itu justru pemimpin kelompok yang sudah menjadi semakin lemah. Namun ia masih berhasil mendesak Agung Sedayu meskipun Agung Sedayu masih belum dapat dikuasainya.

Kiai Gringsing dengan cepat berhasil mengurangi lawan Ki Waskita. Ia sengaja melakukannya lebih dahulu agar Ki Waskita dapat segera menyelesaikan lawannya yang bernama Kiai Senadarma.

Sebenarnyalah orang-orang terkuat di antara mereka yang menyebut dirinya perwira Pajang itu pun telah merasakan, bahwa mereka tidak akan dapat bertahan terus. Itulah sebabnya, maka mereka telah berusaha untuk melakukan sesuatu yang licik. Terutama Kiai Jambu Sirik dan Kiai Senadarma.

 “Aku bukan orang-orang yang bertanggung jawab atas peristiwa ini,” berkata Kiai Senadarma didalam hatinya.

Karena itulah, maka ketika menurut penilaiannya, tidak ada harapan lagi untuk dapat memenuhi tugasnya, membunuh Sumangkar dan apalagi orang-orang lain yang ada ditempat itu, maka ia pun telah memilih untuk melarikan diri dari arena.

Dalam pada itu, selagi Kiai Gringsing berada diarena pertempuran antara Agung Sedayu yang terluka melawan pemimpin kelompok prajurit Pajang yang telah mendapat tugas untuk membinasakan Sumangkar, Kiai Senadarma telah memberikan isyarat kepada Kiai Jambu Sirik. Dengan hentakan terakhir ia menyerang Ki Waskita dengan teriakan nyaring. Namun sebenarnyalah teriakan itu merupakan suatu pertanda bahwa ia tidak akan mampu lagi bertahan lebih lama.

Sementara Ki Waskita berusaha menghindar dan mencoba mengamati apakah lawannya menentukan suatu sikap dalam perlawanannya. Kiai Senadarma telah meloncat meninggalkannya disusul oleh Kiai Jambu Sirik.

Sikap itu benar-benar telah mengejutkan. Karena itu untuk sesaat Ki Waskita justru termangu-mangu, sedangkan Ki Sumangkar yang terluka itu tidak lagi mampu untuk mengejar lawannya.

Namun Ki Waskita berpikir cepat. Ia tidak sempat memburu Kiai Senadarma. Namun ia justru lebih dekat dengan Kiai Jambu Sirik yang berlari meninggalkan Sumangkar. Karena itulah, maka ia pun segera berlari mengejar Kiai Jambu Sirik.

Kiai Jambu Sirik mengupat. Ia tidak dapat langsung menuju kekudanya, karena ia masih harus bertempur melawan Ki Waskita.

Sementara itu Agung Sedayu yang bertempur melawan pemimpin kelompok orang-orang yang menyebut dirinya para perwira dari Pajang itu, segera menyerahkan lawannya kepada Kiai Gringsing. Dengan serta merta ia pun segera berlari meninggalkan arena. Sejenak ia berdiri tegak dengan tangan yang bersilang didada. Ia melihat Kiai Senadarma telah meloncat ke punggung kudanya.

Pada saat terakhir, Agung Sedayu telah membangunkan kekuatan yang tersalur dari tatapan matanya. Kekuatan yang tidak kasat mata tetapi mempunyai rabaan wadag.

Sentuhan itu benar-benar telah mengejutkan kuda Kiai Senadarma sehingga kuda itu melonjak sambil meringkik keras-keras.

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s