ADBM2-106

<<kembali | lanjut >>

Ki ARGAPATI termangu-mangu. Sementara Agung Sedayu bertanya, “Tetapi Ki Waskita akan pergi seorang diri tanpa kawan di perjalanan.”

Ki Waskita tersenyum. Jawabnya, “Jalan rasa-rasanya menjadi semakin aman.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa Ki Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh itu memang memerlukan seorang kawan untuk mempersiapkan pasukannya.

Setelah pembicaraan itu tuntas, maka Ki Waskita pun minta diri untuk menengok keluarganya barang sehari semalam. Ia sudah berada dekat dengan rumahnya.

 “Tetapi sampai kapan?” bertanya Agung Sedayu.

 “Aku akan berangkat sekarang. Besok siang aku sudah berada disini lagi untuk meneruskan perjalanan ke Mataram.”

 “Ki Waskita akan berjalan dimalam hari?” bertanya Ki Gede.

Ki Waskita tersenyum. Jawabnya, “Aku sudah terbiasa.”

Ki Gede tidak dapat menahannya lagi. Dibiarkannya Ki Waskita menengok keluarganya dalam perjalanan dimalam hari.

Sebenarnyalah bahwa Ki Waskita hanya ingin sekedar bertemu dengan keluarganya karena ia sudah terlalu lama pergi. Untuk menyatakan keselamatannya dan melihat keselamatan keluarganya.

 “Untunglah bahwa keluargaku mengenal aku sebaik-baiknya,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya, “sehingga mereka sama sekali tidak menyesali tingkah lakuku. Semakin tua aku justru menjadi semakin banyak bertualang lagi.”

Tetapi Ki Waskita tidak dapat menghentikan keterlibatannya itu di tengah jalan. Meskipun ia orang lain sama sekali, baik bagi Pajang maupun bagi Mataram, tetapi ia merasa mempunyai ikatan yang tidak diketahuinya sendiri dengan Kiai Gringsing. Dan Ki Waskita tahu, bahwa Kiai Gringsing tidak akan dapat berdiam diri jika seseorang mulai berbicara tentang warisan Kerajaan Majapahit, karena sebenarnyalah bahwa Kiai Gringsing pun berkepentingan dengan sikap mereka. Bukan karena Kiai Gringsing dengan tamak ingin ikut serta beramai-ramai memperebutkannya, tetapi justru karena Kiai Gringsing merasa bahwa berbicara tentang warisan Kerajaan Majapahit seperti yang dilakukan oleh orang-orang di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu merupakan perbuatan yang tidak wajar karena sebenarnyalah yang mereka kehendaki adalah sekedar kemukten dan kedudukan tanpa mengenali akibat atas kewajiban yang timbul.

Sepeninggal Ki Waskita, maka Ki Gede Manoreh pun mulai membicarakan persiapan yang harus dilakukan bersama Agung Sedayu. Dari mana Ki Gede harus mulai, dan siapa saja yang harus dipanggilnya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya Ki Gede Menoreh sudah benar-benar lelah melakukan tugasnya. Ia tidak lagi nampak bergairah dan penuh gelora perjuangan menghadapi tantangan seperti itu. Tetapi seakan-akan ia harus dituntun aksara demi aksara untuk menanggapi peristiwa yang besar itu.

 “Ki Gede,” bertanya Agung Sedayu, “bukankah para pemimpin pengawal Tanah Perdikan masih lengkap?”

 “Ya. Masih lengkap. Aku belum pernah mengadakan perubahan apapun pada pasukan pengawal dan bebahu yang lain dari Tanah Perdikan ini,” jawab Ki Gede.

 “Jika demikian, mereka harus diajak berbicara. Meskipun tidak dengan serta merta, perlahan-lahan mereka harus mengerti akan tugas yang akan mereka pikul bersama Mataram.”

 “Aku akan memanggil mereka.”

 “Tidak sekarang Ki Gede. Biarlah aku dan beberapa orang pengawal pergi kerumah mereka dan memanggil mereka untuk berkumpul besok pagi.”

 “Angger Agung Sedayu sendiri akan memanggil mereka?”

 “Sudah lama aku tidak berkuda di bulak-bulak panjang seperti di bulak yang mengantari padukuhan-padukuhan di Tanah Perdikan ini.”

 “Baru hari ini angger berkuda menyusuri bulak-bulak di Tanah Perdikan ini ketika angger datang dari Mataram.”

 “Aku hanya sekedar lewat. Kali ini aku akan menikmati hijaunya padi di sawah dan gemerlipnya kunang-kunang di  dedaunan.”

Ki Gede Menoreh menarik nafas panjang. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Terserahlah kepadamu ngger.”

 “Terima kasih Ki Gede. Aku akan pergi bersama dua orang pengawal yang ada di gardu di sebelah regol halaman ini.”

 “Baiklah ngger. Aku akan memberitahukan kepada mereka, sementara yang lain biarlah tetap berada di gardu itu.”

Demikianlah sebagai yang direncanakan, maka setelah makan malam, Agung Sedayu bersama dua orang pengawal yang ada di gardu di sebelah regol halaman rumah Ki Gede itu pun mulai menyelusuri jalan-jalan Tanah Perdikan Menoreh yang sepi. Rasa-rasanya malam menjadi semakin gelap diatas Tanah Perdikan yang memang menjadi terlalu lengang. Tidak banyak lagi gardu-gardu yang diisi oleh anak-anak muda seperti yang pernah dilihat oleh Agung Sedayu beberapa saat lampau. Meskipun para pengawal masih nampak pada tugasnya, tetapi mereka rasa-rasanya melakukannya dengan hati yang kosong.

Kehadiran Agung Sedayu di Tanah Perdikan Menoreh memang mengejutkan beberapa orang pengawal yang pernah mengenalnya. Dengan gembira mereka menyambut kedatangannya. Hampir di setiap gardu Agung Sedayu harus berhenti dan berbicara panjang.

Dari pembicaraan itu Agung Sedayu mendapat kesimpulan bahwa para pengawal merasa sudah tidak banyak lagi gunanya untuk meronda Tanah Perdikan itu seketat beberapa saat lampau.

 “Keadaan sudah berangsur baik. Agaknya sudah tidak ada orang yang berniat mengganggu daerah ini,” berkata salah seorang pengawal.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia masih belum memberikan tanggapan apapun juga.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu seakan-akan telah menimbulkan persoalan baru dihati anak-anak muda itu. Mereka seakan-akan telah dipaksa untuk mengenang kembali, apa yang pernah terjadi di Tanah Perdikan itu pada saat Agung Sedayu berada di daerah itu bersama saudara seperguruannya Swandaru. Bahkan satu dua orang yang telah berjuang bersama anak muda itu, merasa bahwa kedatangan Agung Sedayu telah memanasi darah yang mengalir diurat nadi mereka.

Pada malam itu juga, Agung Sedayu telah mengetuk pintu beberapa orang pemimpin pengawal yang tidak sedang bertugas. Pemimpin-pemimpin pengawal yang terkejut itu, membuka pintu rumahnya dengan mata setengah terpejam.

 “Siapa? Apakah ada berita kematian?” Tetapi mereka pun terbelalak ketika mereka melihat Agung Sedayu dihadapan mereka.

 “Aku sengaja datang di tengah malam,” berkata Agung Sedayu, “aku minta maaf. Tetapi rasa-rasanya berjalan di tengah malam memberikan gairah baru.”

Pengawal itu menarik nafas dalam-dalam.

 “Marilah. Silahkan masuk,” katanya.

Tetapi Agung Sedayu selalu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku mengundangmu untuk datang ke rumah Ki Gede Menoreh besok pagi-pagi, wayah temawon.”

Pengawal itu termangu-mangu. Agung Sedayu bukannya orang Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi ia berkeliaran di malam hari untuk mengundang para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Tetapi para pemimpin pengawal yang didatangi oleh Agung Sedayu pada umumnya sudah mengenalnya. Hubungannya dengan Ki Gede Menoreh dan peranan yang pernah dilakukannya dalam perkembangan Tanah Perdikan Menoreh yang panjang.

Demikianlah Agung Sedayu telah menempuh hampir seluruh jalan yang menjelujur diatas Tanah Perdikan Menoreh. Ia mendatangi pedukuhan yang satu ke padukuhan yang lain, menjumpai beberapa orang pemimpin pengawal yang rumahnya berpencaran.

Malam itu Agung Sedayu mendapat kesan, bahwa memang telah terjadi kemunduran diatas Tanah Perdikan Menoreh. Meskipun demikian Agung Sedayu masih melihat, kemungkinan yang baik bagi bangkitnya kembali para pengawal yang seakan-akan sedang terkantuk-kantuk itu.

Ketika fajar menyingsing, dan para pemimpin pengawal itu terbangun dari tidurnya, maka mereka seakan-akan telah bermimpi semalam, bahwa Agung Sedayu datang kepada mereka untuk menyampaikan perintah Ki Gede Menoreh, memanggil mereka menjelang saat pasar temawon.

 “Tidak,” desis salah seorang dari mereka sambil mandi, “aku tidak bermimpi. Agung Sedayu, anak Sangkal Putung itu memang telah datang.”

Karena itu, maka para pemimpin pengawal itu pun segera bersiap-siap untuk pergi menghadap Ki Gede Menoreh.

Sudah lama mereka tidak menerima perintah itu, sehingga dengan demikian maka para pemimpin itu pun menjadi berdebar-debar. Mereka merasa bahwa sesuatu telah terjadi.

Hampir semuanya di antara para pemimpin itu telah mulai meraba senjata mereka kembali. Dengan dada yang berdebar-debar mereka menarik senjata mereka dari sarungnya dan melihat, apakah senjatanya itu masih cukup tajam.

Dalam pada itu, di rumah Ki Gede Menoreh, Agung Sedayu yang bangun pagi-pagi benar, telah memanggil para peronda di gardu sebelah regol halaman. Sambil menyingsingkan kain panjangnya tanpa mengenakan bajunya ia berkata, “Marilah. Kita mengurangi perasaan dingin yang menggigit tulang.”

Para peronda yang masih berselimut kain panjang didalam gardu termangu-mangu.

 “Marilah. Kita bermain-main barang sejenak. Kita akan berkeringat dan udara yang dingin akan terasa sejuk menyegarkan.”

Para peronda itu sebenarnya masih merasa segan. Tetapi mereka tidak dapat menolak. Karena itu, maka mereka pun segera pergi ke sebelah belakang gandok.

 “Kita akan sekedar bermain-main. Aku terbiasa bangun pagi-pagi untuk sekedar membasahi tubuh dengan keringat dalam segarnya udara pagi.”

Para peronda itu tidak dapat berbuat lain kecuali melepas baju mereka dan bersama-sama dengan Agung Sedayu, mereka mulai berlatih.

Mula-mula para peronda itu benar-benar merasa segan. Mereka melakukan latihan karena terpaksa sehingga yang mereka lakukan adalah gerak-gerak tanpa gairah. Mereka seakan-akan sekedar memenuhi permintaan Agung Sedayu agar tamu dari Sangkal Putung itu tidak kecewa.

Tetapi ketika mereka mulai melihat tata gerak Agung Sedayu yang kadang-kadang mengejutkan, bahkan sekali-sekali mereka melihat Agung Sedayu telah melakukan sesuatu yang sangat menarik, maka mereka pun mulai merasa dijalari oleh darahnya yang memanas.

 “Lihat,” berkata Agung Sedayu, “aku sudah berkeringat.”

Para peronda itu termangu-mangu.

 “Kita tidak berlatih tanpa arah. Merilah kita mencoba berbuat sesuatu yang menarik. Barangkali kita dapat bermain seperti kanak-kanak sebelum kita berlatih dengan permainan orang-orang dewasa.”

 “Apakah yang akan kita lakukan?”

 “Kita akan berlatih bersama-sama bukan maksudku menunjukkan suatu kelebihan yang memang tidak aku miliki. Tetapi cobalah, sentuh dadaku.”

Para peronda itu termangu-mangu. Tetapi mereka sadar bahwa Agung Sedayu ingin berlatih dengan bersungguh-sungguh.

 “Akupun akan menyentuh dada kalian seorang demi seorang. Yang sudah tersentuh dadanya, harus minggir dan dianggap sudah mati. Marilah. Aku berdiri disatu pihak bersama seorang dari kalian. Sedang tiga orang yang lain berdiri dipihak lain.”

Para peronda itu tidak membantah. Mereka segera membagi diri. Seorang bersama Agung Sedayu, yang tiga orang berdiri sebagai lawan.

Dengan demikian latihan itu menjadi semakin panas. Mereka masing-masing mencoba bertahan. Menangkis dan menghindar.

Ketika keringat mulai membasahi tubuh para pengawal itu, maka mereka pun justru menjadi semakin cepat bergerak sehingga latihan itu menjadi semakin hidup dan mantap. Bahkan rasa-rasanya para peronda itu bukan saja sekedar ingin menyentuh lawan dan menghindari sentuhan, namun mereka telah melakukan latihan-latihan yang lebih jauh.

Kejutan-kejutan kecil itu nampaknya mulai menumbuhkan kenangan bagi para pengawal Tanah Perdikan Menoreh terhadap kemampuan masing-masing. Para peronda itu pun seakan-akan telah bangun dari kantuknya dan mulai mengenangkan masa-masa lampau, saat-saat Tanah Perdikan Menoreh menghadapi bahaya.

Seperti yang diharapkan oleh Agung Sedayu, maka gairah yang demikian itu akan menjalar dari satu orang keorang yang lain. Para peronda itu kemudian tentu akan berceritera kepada kawan-kawannya dan bahkan akan mengulang permainannya dengan orang lain.

 “Latihan yang sebenarnya tentu masih kurang menarik,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya, sehingga seperti kanak-kanak mereka masih harus dibimbing mulai dari permainan-permainan yang menjurus.

Seperti yang dikehendaki oleh Ki Gede Menoreh, maka pada wayah pasar temawon, para pemimpin pengawal telah berkumpul di pendapa rumah Ki Gede. Mereka menjadi berdebar-debar melihat beberapa orang kawan mereka yang sudah agak lama tidak berkumpul.

Ketika Ki Gede kemudian hadir di pendapa itu, maka para pemimpin yang jumlahnya tidak lebih dari sepuluh orang itu pun segera duduk melingkar diatas tikar pandan.

Agung Sedayu telah ikut duduk pula di antara mereka. Ki Gede Menoreh minta agar Agung Sedayu menceritakan peristiwa yang mendahului keputusan Senapati Ing Ngalaga untuk melakukan tindakan langsung terhadap orang-orang yang berada di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Untuk beberapa saat Agung Sedayu telah memenuhi permintaan itu. Dengan singkat ia menceriterakan peristiwa yang langsung ditujukan kepada Ki Sumangkar.

 “Mereka telah merencanakan suatu pembunuhan terhadap Ki Sumangkar. Dan rencana itu sudah dilaksanakan seandainya Kiai Gringsing tidak hadir pada peristiwa itu, dan bersama-sama dengan Ki Waskita membantu Ki Sumangkar sehingga terlepas dari maut.” Agung Sedayu berhenti sejenak, lalu. “karena itulah, maka agaknya tindakan yang diambil oleh mereka yang berkumpul di lembah itu, merupakan tindakan yang sudah terlalu jauh dan tidak dapat dimaafkan lagi. Baik oleh Mataram maupun oleh Pajang. Namun ada perhitungan tertentu, bahwa Mataram lah yang akan mengambil tindakan mendahului Pajang.”

“Kenapa?” tiba-tiba saja salah seorang pemimpin itu bertanya.

Agung Sedayu tidak dapat menceriterakan bahwa ada dua buah pusaka Mataram yang ada di lembah itu. Namun ia harus menjawab pertanyaan itu. Maka katanya, “Menurut penyelidikan kami, banyak perwira Pajang yang terlibat langsung, sehingga jika Pajang yang mengambil tindakan, maka agaknya tindakan itu tidak menguntungkan. Orang-orang di lembah itu akan dapat segera mengetahui dengan pasti, tindakan yang akan diambil oleh Pajang.”

Para pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Semula memang terasa ada keseganan untuk terlibat langsung dalam pertempuran itu. Tetapi ketika Agung Sedayu memberikan beberapa penjelasan, maka mereka pun mulai berpikir.

 “Kita harus segera mempersiapkan diri,” berkata Ki Gede Menoreh, “Mataram dalam waktu dekat akan mengambil sikap langsung terhadap mereka yang berada di lembah itu sebelum mereka menyingkir.”

 “Apakah mereka akan mungkin menyingkir?” bertanya salah seorang pemimpin pengawal itu.

 “Tentu. Meskipun mereka merasa kuat. Namun agaknya mereka tidak akan menemukan tempatnya sebaik sekarang. Bukan saja letaknya, tetapi juga hubungan yang mudah dengan para perwira Pajang yang berada di Kota Raja.” jawab Ki Gede, “Tetapi, itu bukan berarti bahwa mereka akan tetap tinggal jika mereka merasa kedudukan mereka terancam.”

Para pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk.

 “Nah. Masih ada waktu beberapa hari. Kalian masih ada kesempatan membangunkan para pengawal,” desis Agung Sedayu.

Para pemimpin itu terkejut. Bahkan Ki Gede Menoreh-pun mengerutkan keningnya. Dan Agung Sedayu pun meneruskan, “Maaf Ki Gede. Agaknya selama ini Tanah Perdikan Menoreh selalu dalam keadaan tenang tanpa sentuhan sama sekali, sehingga para pengawal pun merasa tidak perlu lagi untuk bersiaga setiap saat.”

 “Tidak benar,” salah seorang pemimpin pengawal itu pun membantah dengan serta merta, “kami tidak pernah lengah menghadapi setiap kemungkinan.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Keingkaran itu justru menjadi pertanda yang lebih parah lagi bagi kemunduran diatas Tanah Perdikan itu.

Namun pemimpin pengawal itu harus menundukkan kepalanya ketika Ki Gede Menoreh bertanya, “Apakah kau melihat tanda-tanda itu Agung Sedayu?”

 “Maaf Ki Gede. Semalam aku mengelilingi Tanah Perdikan Menoreh. Aku tidak melihat lagi pengawal berkuda mengelilingi Tanah Perdikan ini. Di gardu-gardu para pengawal lebih senang berbaring jika tidak benar-benar tidur dengan nyenyak. Sementara para pengawal menjadi malas untuk berlatih setiap pagi atau petang hari,” berkata Agung Sedayu meskipun dengan memaksakan diri, “Ki Gede. Maksudku semata-mata ingin mengatakan kekurangan yang ada, agar dengan segera dapat diperbaiki menjelang saat-saat yang cukup gawat.”

Para pemimpin yang tersinggung itu bergeser. Hampir berbareng merekat berkata, “Tidak. Tidak seluruhnya benar.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku minta maaf. Aku bermaksud baik. Tetapi terserahlah kepada kalian.”

Ki Gede mengangguk-angguk sambil bertanya, “Apakah ada gunanya kita ingkar?”

Pertanyaan itu benar-benar telah menyentuh hati para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Sambil memandang wajah Ki Gede dan Agung Sedayu maka seakan-akan nampak pengakuan mulai membayang disorot mata mereka.

 “Kita harus berterima kasih, bahwa masih ada orang yang bersedia melihat dan mengatakan kekuatan kita,” berkata Ki Gede Menoreh, “tanpa penilaian orang lain, kita akan sulit mengenal kekurangan kita sendiri.”

Para pemimpin pengawal itu tidak membantah lagi. Mereka mulai melihat kedalam diri mereka dan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh pada saat-saat terakhir. Dan mereka pun mulai melihat kekurangan-kekurangan dan kemunduran kemunduran itu.

 “Baiklah,” berkata Ki Gede Menoreh, “kita akan segera bangkit kembali. Mulailah hari ini. Apapun yang dapat kalian lakukan untuk membangunkan yang sedang tertidur itu, lakukanlah. Kita akan berbuat sesuatu bersama dengan Mataram menghadapi keadaan yang dapat menjadi bertambah buruk didaerah ini.”

Para pemimpin pengawal itu mengangguk angguk. Namun karena masih ada pertanyaan yang nampaknya tersimpan di hati mereka sehingga masih ada keseganan untuk melakukan sesuatu yang mereka anggap terlalu berat, maka Ki Gede pun berkata, “Kemenangan Mataram adalah kemenangan kita, karena kita pun merupakan daerah terbesar yang berhadapan dengan mulut lembah itu. Beberapa Kademangan kecil akan tergantung kepada perkembangan keadaan tanpa dapat ikut menentukan. Tetapi kita tidak tergantung pada perkembangan keadaan. Tetapi kita harus ikut menentukan keadaan itu.”

Para pemimpin pengawal itu pun kemudian mulai menyadari, bahwa seperti yang dikatakan oleh Ki Gede Menoreh, Tanah Perdikan itu tidak boleh tergantung atas keadaan. Jika keadaan tenang, maka Tanah Perdikan Menoreh juga terasa tenang. Tetapi jika keadaan bergolak maka orang-orang di Tanah Perdikan Menoreh harus mulai mencari tempat persembunyian.

Setiap kali terngiang kembali kata-kata Ki Gede, “Kita harus ikut menentukan keadaan.”

Dalam pada itu, Ki Gede yang sudah merasa cukup setelah banyak memberikan penjelasan, telah berpesan kepada para pemimpin pengawal “ Cobalah melihat kepada diri sendiri. Apa yang sudah terjadi pada saat terakhir diatas Tanah Perdikan ini. Kemudian mulailah bersiap–siap menghadapi tugas yang berat. Setiap orang akan mendapat bebannya masing-masing. Meskipun tidak setiap orang akan ikut serta pergi kemedan.”

Para pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Mereka sadar, bahwa setiap laki-laki diatas Tanah Perdikan Menoreh akan mendapat tugas. Mereka yang tidak ikut serta melakukan tugas ke mulut lembah, harus mempertanggung jawabkan ketenteraman padukuhan-padukuhan diatas Tanah Perdikan Menoreh. Karena mungkin sekali ada pihak yang memanfaatkan keadaan, justru saat Tanah Perdikan Menoreh kosong.

Demikianlah, setelah para pemimpin pengawal itu pulang dari rumah Ki Gede Menoreh, maka mereka pun merasa, seakan-akan telah melihat diri mereka di beningnya wajah air jembangan. Mereka melihat, betapa malasnya para pengawal Tanah Perdikan Menoreh, justru saat-saat Tanah Perdikan Menoreh seakan-akan tidak lagi mempunyai persoalan apapun juga.

Namun demikian, ternyata bahwa para pengawal Tanah Perdikan itu masih belum terlena sama sekali dalam mimpi yang indah. Mereka masih sempat melihat kenyataan, bahwa sebenarnyalah Tanah Perdikan Menoreh mengalami kemunduran.

Seorang pemimpin pengawal yang kemudian berkuda memutari bulak di sebelah padukuhan induk harus menarik nafas dalam-dalam, ketika Agung Sedayu berdesis, “Parit itu sudah tidak mengalir lagi. Meskipun parit kecil itu hanya mengairi sawah beberapa bahu, tetapi karena parit itu kering dimusim kemarau, maka tanah yang beberapa bahu itu tidak akan dapat panen setahun dua kali.”

Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kau benar Agung Sedayu. Kita memang tidak boleh ingkar, bahwa kita mengalami kemunduran di banyak bidang. Dibidang kesiagaan dan juga dibidang yang menyangkut tata kehidupan dan penghidupan rakyat Tanah Perdikan Menoreh.”

 “Untunglah, bahwa masih banyak kesempatan,” desis Agung Sedayu.

Kenyataan yang seakan-akan baru saja mereka lihat itu, ternyata telah memanasi darah mereka. Diam-diam para pemimpin pengawal itu berjanji untuk melakukan apa saja, agar tanah Perdikan Menoreh terbangun dan suasana yang malas itu.

Dalam pada itu, maka para pemimpin pengawal itu-pun setelah tiba di padukuhan masing-masing, segera mengumpulkan para pengawal yang mula-mula juga merasa, segan seperti saat para pemimpin pengawal itu mendengar persoalan yang menyangkut tanah perdikannya di rumah Ki Gede.

Namun para pemimpin pengawal tidak mau mengejutkan mereka, sehingga mereka akan menjadi bingung. Yang mula-mula dilakukan oleh para pengawal itu adalah menceriterakan bahwa Agung Sedayu dari Sangkal Putung telah datang ke Tanah Perdikan Menoreh.

 “Aku sudah melihat “ sahut salah seorang pengawal.

 “Ya.” jawab pemimpin pengawal itu, “kedatangannya telah membawa persoalan baru bagi Tanah Perdikan kita.”

Para pengawal mengerutkan keningnya. Beberapa di antara mereka berkata didalam hati, “Mudah-mudahan tidak menimbulkan keributan di atas Tanah Perdikan ini.”

Tetapi pemimpin pengawal itu berkata, “Selama ini kita dapat duduk dengan tenang tanpa seorang pun yang mengganggu. Tetapi ternyata bahwa diluar kesadaran kita, bahaya itu sudah mengintai. Mereka menunggu kita terlena. Kemudian dengan serta merta mereka akan menerkam kita.”

Beberapa orang pengawal mengerutkan keningnya. Namun mereka pun kemudian kehilangan gairah untuk mendengarkan berita kelanjutannya. Hanya satu dua orang sajalah tertarik oleh berita itu.

Ada beberapa cara yang dipergunakan oleh beberapa orang pemimpin pengawal di padukuhannya masing-masing. Tetapi pada umumnya mereka tidak tergesa-gesa memaksa kawan-kawannya untuk bangkit dan dengan penuh kesadaran mengangkat senjatanya tinggi-tinggi.

Salah seorang pemimpin Tanah Perdikan Menoreh telah memancing gairah kawan kawannya dengan mengajak mereka mengenangkan masa lampau Tanah Perdikan itu.

 “Kita sudah memiliki segalanya. Tetapi apakah kita akan berdiam diri jika orang lain mulai memandang dengan iri perkembangan Tanah Perdikan kita? Yang mula-mula mereka lakukan adalah sekedar mengamati. Kemudian mengukur kemampuan kita yang sedang lengah. Pada suatu saat mereka akan menerkam kita,” berkata pemimpin itu.

Tetapi kata-katanya belum membangkitkan gelora dihati kawan-kawannya. Meskipun demikian ia masih berkata terus, “Yang kini sudah mulai mereka jamah adalah justru Mataram. Jika mereka menguasai Mataram, maka daerah di sekitarnya akan dengan mudah mereka kuasai pula.”

“Mataram?” salah seorang dari mereka bertanya.

 “Ya. Mataram juga tertidur seperti kita. Dan Mataram harus menebus kelengahannya dengan penghinaan. Beberapa orang yang tidak dikenal telah berani berkeliaran di Kota yang sedang tumbuh itu. Bahkan jika kalian sempat melihat. Agung Sedayu terluka oleh orang-orang yang sama. Sangkal Putung mulai diganggu. Dan akhirnya mereka telah sesumbar, bahwa Pajang dan sekitarnya akan mereka kuasai dalam waktu dekat. Nah, terserahlah kepada kalian, apa yang dapat kalian lakukan atas Tanah Perdikan ini.”

 “Siapakah mereka itu?” para pengawal mulai tertarik.

 “Kita akan mendapat keterangan secepatnya.”

Jawaban itu sama sekali tidak memuaskan, sehingga beberapa orang pengawal telah mendesak, “Sebutkan, siapakah mereka yang akan menguasai Pajang, Mataram dan juga Tanah Perdikan Menoreh?”

Pemimpin pengawal itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Kita semuanya belum mengetahui dengan pasti. Tetapi Agung Sedayu sudah mempunyai tanda-tanda yang akan dapat kita pergunakan sebagai pegangan. Kita masih belum dapat menyatakan, apa yang harus kita lakukan, agar masalahnya tidak merembes sampai ketengah mereka, karena sebenarnyalah mereka mempunyai telinga dan mata disegala tempat.”

 “Tetapi kami akan ikut mengambil bagian,” berkata salah seorang pengawal.

 “Ya. Tetapi aku pun belum tahu pasti, apa yang harus kita lakukan. Yang aku tahu, kita akan bertempur. Sarang mereka tidak terlalu jauh dari Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan tidak mustahil, bahwa Tanah Perdikan Menoreh akan menjadi sasaran utama sebelum mereka menuju ke Mataram dan Pajang melalui Sangkal Putung.”

 “Maksudmu orang-orang yang berada di Gunung Tidar?”

 “Di antaranya,” jawab pemimpin pengawal itu.

 “Mereka sudah tidak pernah menjamah Tanah Perdikan ini,” berkata pengawal yang lain.

Itulah kebodohan kita. Kita tidak mengetahui dimana mereka sekarang berada. Tetapi orang-orang Mataram dan Sangkal Putung telah menemukannya.”

Para pengawal itu termangu-mangu. Mereka memang pernah mendengar meskipun hanya seperti desir angin lembut, bahwa akan terjadi sesuatu yang gawat yang berpusar di lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu. Namun mereka tidak menanyakannya.

 “Nah, kita harus bersiap mulai sekarang,” berkata pemimpin pengawal itu, “kita hanya mempunyai waktu sekitar lima hari.”

 “Lima hari,” hampir berbareng para pengawal bergumam.

 “Ya. Dan kita membuktikan, apakah kita masih pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang dahulu.”

 “Yang dahulu? Kenapa?” bertanya seorang pengawal.

 “Tanah Perdikan Menoreh yang dahulu dikawal oleh anak-anak muda yang trampil trengginas.”

 “Kami pengawal Tanah Perdikan sejak dahulu? Apakah kami pernah digantikan oleh angkatan sesudah kami?”

 “Orangnya belum. Tetapi gairah perjuangannya apakah masih tetap seperti gairah perjuangan anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh yang pernah dikagumi oleh Mataram dan disegani oleh orang-orang yang bermaksud buruk atas Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh.”

Para pengawal itu mulai merenung. Namun hati mereka mulai tersentuh oleh kenangan masa lampau yang belum lama terjadi di Tanah Perdikan Menoreh. Yang oleh ketenangan dan ketenteraman justru seolah-olah telah berkisar surut. Bukan saja dibidang keamanan, tetapi juga pada segi-segi kehidupan yang lain.

 “Nah, mulai sekarang bersiaplah. Hari ini Ki Waskita akan pergi ke Mataram mengabarkan, bahwa Tanah Perdikan Menoreh telah siap menghadapi segala kemungkinan.”

 “Apa yang akan terjadi?” tiba-tiba saja seorang pengawal bertanya.

 “Mulailah membayangkan, jika liang semut itu kita siram dengan air. Maka semutnya akan buyar mencari jalannya masing-masing.”

Para pengawal itu pun mengangguk-angguk. Mereka justru mulai dapat membayangkan apa yang mungkin terjadi diatas Tanah Perdikan Menoreh, jika semut yang buyar itu berlari-larian diatas Tanah Perdikan mereka, menjelajahi pedukuhan-pedukuhan dan melintasi batang-batang padi muda di bulak-bulak panjang.

Demikianlah maka para pengawal itu pun mulai mempersiapkan diri. Mereka sadar, bahwa mereka harus melanyahkan kembali tata gerak dan olah senjata.

Itulah sebabnya, maka pemimpin-pemimpin mereka-pun menganjurkan, agar para pengawal itu memanfaatkan waktu yang ada untuk berlatih.

 “Jika kalian mulai menyadari tugas kalian menghadapi keadaan yang sebenarnya gawat ini, maka kita akan mulai dengan anak-anak muda yang lain dan setiap laki-laki yang ada diatas Tanah Perdikan ini,” berkata para pemimpin pengawal.

 “Ya, setiap laki-laki memang harus mempersiapkan diri,” desis para pengawal.

Namun demikian para pemimpin pengawal masih sangat membatasi keterangan tentang rencana pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh untuk ikut serta langsung menyerang lembah di antara Gunung Merapi dan Merbabu, meskipun tugas mereka agak berbeda dengan pasukan Mataram yang akan langsung menusuk kedalam sarang mereka. Sekali-sekali para pemimpin itu hanya menyentuhnya serba sedikit. Namun masih tetap samar-samar.

Pada hari itu, seperti yang dijanjikan Ki Waskita telah berada kembali di Tanah Perdikan Menoreh. Dari Agung Sedayu ia mendengar, bahwa para pemimpin pengawal telah berhasil membangunkan Tanah Perdikan yang sedang terkantuk-kantuk itu.

 “Syukurlah. Mudah-mudahan mereka menemukan gairah seperti masa-masa lalu,” desis Ki Waskita, “sehingga aku akan memberikan laporan dengan mantap kepada Raden Sutawijaya di Mataram.”

Yang kemudian disampaikan oleh Ki Gede Menoreh kepada Ki Waskita pun tidak berselisih dengan pendapat Agung Sedayu. Bagaimanapun juga Menoreh akan siap pada waktunya.

 “Aku yakin,” berkata Ki Gede, “masa istirahat yang tenang telah lampau. Kita akan kembali dalam tugas-tugas kita untuk menegakkan tanah ini bagi masa depan dan bagi anak cucu kita.”

Seperti yang direncanakan pula, Ki Waskita pun setelah beristirahat sejenak, segera mempersiapkan diri untuk pergi ke Mataram, menyampaikan berita kesiagaan Tanah Perdikan Menoreh.

 “Ki Waskita pergi sendiri?” bertanya Agung Sedayu.

 “Ya. Bantulah membangunkan anak-anak muda diatas Tanah Perdikan ini,” jawab Ki Waskita.

 “Sebenarnya aku mengharap Rudita ikut bersama Ki Waskita,” berkata Agung Sedayu.

Ki Waskita mengerutkan keningnya. Sejenak ia nampak merenung. Namun kemudian katanya, “Ia sudah menemukan dunianya sendiri. Aku tidak berani mengusiknya. Bahkan kadang-kadang aku merasa bahwa ia telah berhasil melampaui suatu masa dari orang lain meskipun padanya masih terdapat juga cacatnya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berdesis, “Kadang-kadang aku justru merasa iri kepada Rudita.”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan ia benar benar menemukan kedamaian meskipun ia tidak pernah ingkar bahwa yang dihuninya sekarang adalah dunia yang gelap, penuh dengan segala macam nafsu yang kelam.”

Agung Sedayu tidak bertanya lagi tentang Rudita. Dan agaknya Ki Waskita tidak lagi berceritera tentang dirinya. Yang dikatakan kemudian adalah ibu Rudita, “Nyai Waskita kecewa bahwa aku hanya menjenguk keluargaku sejenak. Tetapi ia menyadari, bahwa aku tidak akan dapat melepaskan diri dari tugas ini.”

 “Syukurlah Ki Waskita. Mudah mudahan kita akan dapat menyelesaikannya dengan baik.” gumam Agung Sedayu.

Setelah minta diri kepada Ki Gede Menoreh, maka Ki Waskita pun meneruskan perjalanannya. Sebagai orang yang jauh lebih tua, ia sudah memberikan banyak pesan kepada Agung Sedayu. Apalagi menghadapi daerah yang sedang susut seperti tanah Perdikan Menoreh.

Sepeninggal Ki Waskita, maka Agung Sedayu telah minta ijin kepada Ki Gede untuk berada di antara para pengawal. Dengan caranya, ia berusaha menggelitik, agar anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh itu bangkit dengan penuh gairah.

Kadang-kadang ia berhasil membawa sekelompok pengawal untuk berlatih.

Tetapi kadang kadang ia harus menyindir dengan tajam. Bahkan diluar kehendaknya, seorang pengawal yang masih sangat muda telah tersinggung.

 “Aku pernah mengenal namamu. Tetapi aku belum pernah melihat siapakah sebenarnya kau ini. Prastawa, anak muda yang perkasa itu tidak pernah menyombongkan diri. Ia adalah kemenakan Ki Gede Menoreh. Sedang kau orang asing bagi kami.”

Pemimpin pengawal yang ada waktu itu terkejut mendengar kata-kata pengawal yang muda itu. Dengan serta merta ia memotong, “Jangan marah. Kami, yang sudah cukup lama menjadi pengawal Tanah Perdikan ini mengenalnya dengan baik.”

 “Aku juga sudah mengenalnya. Ketika di Tanah Perdikan ini merayakan perkawinan Pandan Wangi, ia ada di sini pula.”

 “Dan kau belum menjadi pengawal.”

 “Sudah. Aku pengawal baru waktu itu.” jawab pengawal itu, “tetapi seandainya belum, apakah aku harus menerima sindiran yang tajam seperti ini? Prastawa tidak pernah berbuat seperti orang asing yang sombong itu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari, bahwa memang dapat terjadi singgungan semacam itu meskipun maksudnya sekedar membangunkan para pengawal itu dari mimpi.

 “Aku minta maaf,” tiba-tiba saja Agung Sedayu berdesis, “bukan maksud menyinggung perasaan para pengawal. Tetapi aku ingin menunjukkan keadaan yang sebenarnya.”

 “Kau sangka bahwa kau lebih tahu dari kami orang-orang Tanah Perdikan Menoreh sendiri.” bertanya pengawal muda itu.

 “Sudah,” potong pemimpinnya, “aku tidak menyalahkan Agung Sedayu. Jangan ribut lagi. Aku mengakui kebenaran kata-katanya. Para pengawal yang pernah mengalami masa lalu yang panjang mengakui dengan setulus hati, bahwa keadaan Tanah Perdikan ini menjadi semakin mundur. Bahkan Ki Gede Menoreh dihadapan kami, para pemimpin pengawal, mengakuinya pula.”

Pengawal muda itu mengerutkan keningnya. Tetapi ketika memandang wajah pemimpinnya, secara ia berpaling, karena ternyata sorot mata pemimpinnya itu mulai menyala.

 “Begitu besar pengaruhnya Agung Sedayu disini,” berkata pengawal itu didalam hatinya, “karena itulah agaknya Prastawa tidak menyukainya. Jika ia kembali ke induk Tanah Perdikan dari rumahnya sendiri dan bertemu dengan Agung Sedayu, maka barulah Agung Sedayu menyesal.”

Dalam pada itu, maka latihan-latihan pun telah menjalar sampai kesetiap padukuhan. Mula-mula sekedar para pengawal. Namun kemudian hampir setiap anak muda dan bahkan setiap laki-laki telah mempersiapkan diri meskipun mereka jelas, apa yang sedang mereka hadapi.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu dapat menangkap pembicaraan yang pendek dengan pengawal yang tersinggung itu.

Dengan demikian ia mengetahui, bahwa Prastawa bukannya tidak mempunyai pengaruh diatas Tanah Perdikan Menoreh. Para pengawal yang paling muda, terutama pada angkatan yang terakhir, agaknya telah mengagumi Prastawa sebagai anak muda yang barangkali sebaya dengan mereka.

 “Tetapi ia sedang berada dirumahnya,” desis Agung Sedayu.

Sesuai dengan pendapat Agung Sedayu. maka Ki Gede Menoreh telah memerintahkan untuk memanggil Prastawa. Agung Sedayu berpendapat, bahwa kehadiran Prastawa di tengah-tengah para pengawalpun sangat penting artinya.

Namun Ki Gede Menoreh berkata dengan nada berat, “Aku agak kurang sesuai dengan anak itu. Meskipun ia anak yang baik, rajin dan dengan tekun berusaha meningkatkan diri, tetapi yang dilakukan sebagian terbesar adalah bagi dirinya sendiri.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam dalam.

 “Meskipun demikian,” Ki Gede melanjutkan, “bukan berarti aku membencinya. Ia adalah kemenakanku. Kegagalan ayahnya merupakan pengalaman yang paling pahit bagi hidupnya, dan agaknya justru telah mengarahkan perkembangan berikutnya. Tetapi bahwa semuanya dilihat dari kepentingan diri, akan merupakan pengaruh yang kurang menguntungkan.” ia terdiam sejenak, lalu. “tetapi aku sependapat, bahwa kali ini Prastawa akan memegang peranan. Ia harus mulai mendapat kepercayaan dalam tugas-tugas besar, sehingga ia akan dapat membantu aku dalam tugas-tugas berikutnya. Ia pun harus menyadari kemunduran Tanah Perdikan ini, sehingga setelah tugas ini selesai, kemunduran itu tidak akan terulang lagi.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun seperti Ki Gede Menoreh, ada sesuatu yang kurang mapan pada dirinya dalam hubungannya dengan Prastawa.

Tetapi Agung Sedayu berusaha untuk menyingkirkan segala macam prasangka dan kecurigaan. Tanah Perdikan Menoreh yang mundur itu sedang menghadapi tugas- tugas berat, sehingga semua kemampuan yang ada, memang harus dikembangkan.

 “Sebenarnya ia masih mempunyai waktu setengah bulan lagi,” berkata Ki Gede kemudian, “ia berada dirumah ayahnya untuk membantu menyelesaikan tanah garapan. Saatnya orang mulai menanam padi dan mempersiapkan sawahnya. Sawah Argajaya cukup luas, sementara ia menjadi semakin tua dan lemah, sehingga Prastawa perlu membantunya mengawasi para pekerja yang sedang membajak dan mengolah sawah.”

 “Tetapi bukankah Ki Argajaya masih lebih muda dari Ki Gede karena ia adalah adik Ki Gede,” bertanya Agung Sedayu.

 “Kelemahan rokhaniah telah membuat wadagnya menjadi lemah pula. Ia sering sakit dan bahkan kadang-kadang sangat mengejutkan. Nafasnya tiba-tiba menjadi sesak dan didalam tidurnya seolah-olah ia masih saja dikejar oleh penyesalan.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti, betapa dalam luka hatinya atas peristiwa yang pernah terjadi diatas Tanah Perdikan Menoreh itu karena tingkah lakunya.

 “Untuk mengurangi beban dihatinya, ia telah mengarahkan anaknya untuk menebus kesalahan yang pernah dibuatnya itu,” berkata Ki Gede Menoreh.

 “Agaknya Prastawa akan berhasil memenuhi keinginan ayahnya,” desis Agung Sedayu.

 “Mudah-mudahan. Aku masih ingin membuktikan,” berkata Ki Argapati. Tatapan matanya tiba-tiba saja tersangkut dikejauhan. Agaknya ada sesuatu yang singgah didalam angan-angannya. Mungkin ingatan masa lampaunya, tetapi juga mungkin kecemasan bagi masa depan yang samar-samar.

Dalam pada itu, sebelum Prastawa datang kembali keinduk padukuhan. Agung Sedayu yang selalu berada di antara para pengawal. Menjelang malam ia berusaha memancing latihan bersama parai pengawal. Bahkan kemudian dengan dua orang pengawal sempat melihat-lihat di padukuhan- padukuhan yang berpencaran.

Ternyata bahwa para pemimpin pengawal telah berhasil membangunkan kawan-kawannya. Mereka mulai berlatih dengan bersungguh-sungguh. Dihalaman banjar mereka seakan-akan mencoba mengingat setiap unsur gerak yang pernah mereka kuasai. Dengan sungguh-sungguh mereka berlatih dalam kelompok-kelompok kecil. Gelapnya malam sama sekali tidak mempengaruhi hasrat mereka yang sudah mulai bangkit kembali.

Di padukuhan lain Agung Sedayu menjumpai tingkat latihan yang berbeda. Agaknya pemimpin pengawal di padukuhan itu ingin memanaskan tubuh kawan-kawannya dengan cara yang paling ringan. Sekelompok anak-anak muda berarak-arak berjalan mengelilingi bukan saja padukuhannya, tetapi juga bulak-bulak panjang dan tanggul-tanggul. Mereka berjalan beriringan untuk waktu yang cukup lama.

Baru setelah tubuh mereka berkeringat dan darah mereka menjadi hangat, maka latihan-latihan yang sebenarnya baru akan dimulai.

Dalam pada itu, Prastawa yang berada dirumahnya sendiri terkejut ketika utusan Ki Gede Menoreh datang dan menyampaikan pesan agar Prastawa segera kembali kepadukuhan induk.

 “Kenapa?” bertanya Prastawa, “aku minta ijin kepada paman Argapati untuk waktu kira-kira sebulan. Bukan baru separuhnya lewat?”

 “Tetapi ada persoalan penting yang akan terjadi?”

 “Apa? “

 “Aku kurang pasti. Tetapi sebaiknya kau menghadap Ki Gede untuk menerima penjelasannya langsung. Disana ada anak muda dari Sangkal Putung itu.”

 “Swandaru?” bertanya Prastawa.

Utusan Ki Gede itu menggeleng. Jawabnya, “Bukan Swandaru. Tetapi yang satu, Agung Sedayu.”

Prastawa mengerutkan keningnya. Dengan nada tegang ia bertanya, “Apa yang dilakukan oleh Agung Sedayu disana? Apakah ia sedang membujuk paman Argapati?”

 “Aku tidak tahu. Tetapi kedatangannya disertai oleh Ki Waskita, meskipun Ki Waskita kemudian pergi meninggalkan rumah Ki Gede. Namun ia kembali diesok harinya dan setelah beristirahat sebentar ia telah melanjutkan perjalanannya pula.”

 “Ki Waskita? “ Prastawa termangu-mangu.

Ayahnya yang ikut mendengarkan pembicaraan itu-pun kemudian berkata, “Sudahlah. Pergilah kepada pamanmu. Biarlah pekerjaan disawah aku selesaikan.”

 “Ayah baru sakit.”

 “Tidak. Saat ini aku merasa sehat. Agaknya badanku berangsur pulih kembali.”

 “Seharusnya anak Sangkal Putung itulah yang datang kemari jika ia memerlukan aku. Paman terlalu memanjakannya, sedangkan menantu paman bukannya Agung Sedayu, tetapi Swandaru.”

 “Jangan berpikir begitu,” desis Ki Argajaya, “seandainya kau tidak ingin menghormati tamu itu berlebih-lebihan, kau masih harus menghormati pamanmu.”

Prastawa berpikir sejenak. Namun kemudian ia pun mengangguk sambil berkata, “Baiklah. Aku akan menghadap paman.”

 “Agaknya memang ada yang penting terjadi. Jika tidak, maka Ki Waskita tidak akan menjadi terlalu sibuk, dan pamanmu tidak tergesa-gesa memerintahkan memanggilmu.”

 “Tetapi tentu anak Sangkal Putung itulah yang membuat persoalan. Ayah. Terus terang, aku kurang senang terhadap Agung Sedayu. Berbeda dengan Swandaru yang berhati terbuka dan bercita-cita tinggi. Agung Sedayu adalah seorang yang ragu-ragu. tanpa masa depan yang baik dan agak sombong. Ia lebih senang disapa lebih dahulu daripada menyapa orang lain. Apalagi dengan ramah tamah.”

 “Ah,” sahut Ki Argajaya, “biasanya seseorang yang pendiam dan apalagi pemalu mempunyai sifat-sifat demikian. Ia sama sekali tidak sombong. Tetapi ia memang mempunyai keseganan karena sifatnya itu.”

Prastawa tidak membantah. Tetapi ia tidak sependapat dengan ayahnya. Agaknya ayahnya ingin mengurangi kekurangan Agung Sedayu di matanya.

 “Berbahaya bagi anak-anak muda Sangkal Putung,” berkata Prastawa didalam hatinya, “mereka akan tetap mengagumi orang yang bukan seharusnya mereka kagumi. Satu dua orang anak muda di Tanah Perdikan Menoreh memang menganggapnya sebagai seorang anak muda yang luar biasa.”

Namun dalam pada itu, Prastawa pun segera mempersiapkan diri. Mengemasi pakaiannya dan yang terpenting baginya, adalah senjatanya. Prastawa mulai tertarik pada sepucuk senjata yang agak lain dari jenis-jenis yang pernah dipergunakan. Diluar sadarnya, ia terpengaruh oleh jenis senjata yang pernah dikenal bentuknya dan memiliki kekhususan. Sebilah tombak yang pendek sekali dengan tajam dikedua ujungnya.

“Senjata ini menarik sekali,” berkata Prastawa kepada pengawal yang dijemputnya.

Pengawal itu mengangguk-angguk. Ia pun pernah mengenal senjata semacam itu. Kadang-kadang orang menyebutnya nenggala meskipun nenggala mempunyai nilai yang luar biasa karena unsur ular yang sangat tajamnya. Tetapi bentuknyalah yang memang mirip dengan nenggala.

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam melihat Prastawa mempersiapkan senjatanya. Ia tahu, dari mana Prastawa mendapatkan petunjuk untuk mempergunakan senjata itu.

Bahkan ketika ia pernah bertanya tentang hal itu, maka Prastawa hanya tertawa saja sambil menjawab, “Aku mengenalnya dari angan-anganku ayah. Ketika aku melatih diri untuk meningkatkan ilmu, aku mulai mengkhayalkan berbagai jenis senjata. Di antaranya adalah sebatang tongkat besi berkepala tengkorak. Tetapi aku juga tertarik pada sebatang bindi bergerigi. Bahkan aku pernah berlatih dengan sebuah canggah bertangkai pendek. Namun akhirnya yang paling sesuai adalah senjata ini.”

Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak mau terseret dalam kenangan atas masa lampaunya karena bentuk senjata anaknya itu.

Demikianlah maka Prastawa pun segera bersiap. Ia kemudian minta diri kepada orang tuanya untuk kembali kerumah pamannya.

 “Hati-hatilah,” pesan ayahnya, “kau harus menyesuaikan dirimu dengan keadaan dan lingkunganmu. Jangan menurutkan kata hatimu sendiri, karena lingkunganmu akan sangat berpengaruh atas diri dan kehidupan yang harus kau jalani setiap hari.”

Prastawa mengangguk-angguk. Kemudian dengan nada parau ia menjawab, “Ya ayah. Aku akan berusaha sebaik-baiknya.”

Namun Prastawa pun tahu, bahwa ayahnya kini menjadi orang yang sangat berhati-hati. Seolah-olah ia mempertimbangkan setiap langkahnya sebelas dua belas kali sebelum dilakukannya, meskipun hanya sekedar memperbaiki parit di pinggir padukuhan.

 “Persetan,” geram Prastawa, “aku mempunyai cara lain untuk menunjukkan, bahwa aku dapat berguna bagi Tanah Perdikan ini. Saat itu aku masih sangat muda sehingga aku tidak tahu, kenapa aku berpihak kepada ayah.”

Sejenak kemudian, maka Prastawa dan pengawal yang menjemputnya itu pun telah berada di perjalanan. Pengawal itu masih sempat mengatakan apa yang telah dilakukan oleh Agung Sedayu dihari-hari pertama ia berada di Tanah Perdikan itu.

 “Ia memang terlalu sombong. Ia menyangka bahwa ilmunya sudah sempurna. Aku sekali-sekali ingin mencoba, apakah benar-benar Agung Sedayu mempunyai ilmu yang mantap. Agaknya Swandaru memiliki beberapa kelebihan meskipun didalam perguruan kecilnya Swandaru adalah saudara muda seperguruan dari Agung Sedayu,” berkata Prastawa.

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Meskipun Agung Sedayu mendesak dan bahkan mengajak para pengawal berlatih bersamanya, namun bagi pengawal itu, sama sekali tidak nampak sifat-sifat sombongnya.

Meskipun demikian pengawal itu tidak menjawab. Ia pun sadar, bahwa Prastawa adalah anak muda yang tentu akan ikut memegang peranan dalam perkembangan Tanah Perdikan Menoreh dimasa depan, karena Prastawa adalah anak Ki Argajaya, kemanakan Ki Argapati. Meskipun pengawal itu pun tahu, apa yang pernah terjadi dengan Ki Argajaya dan Prastawa dimasa lampau.

Namun agaknya mereka telah menyadari dan kesempatan yang diberikan oleh Ki Gede Menoreh telah dipergunakan sebaik-baiknya.

Jarak yang mereka tempuh memang tidak begitu jauh. Mereka melintasi beberapa bulak panjang yang subur. Meskipun demikian diluar sadarnya pengawal itu berkata, “Agung Sedayu menjadi kecewa bahwa beberapa dari parit-parit kita menjadi kering.”

 “Apa pedulinya, he.” tiba-tiba saja nada suara Prastawa meninggi, “Ia mulai menghina. Ia tentu akan mengatakan bahwa Tanah Perdikan Menoreh sekarang mengalami kemunduran. Bukankah begitu?”

Pengawal itu tidak menyahut.

 “Gila. aku benar-benar ingin melihat, apakah ilmunya benar-benar sudah mantap. Selama ini aku telah berjuang dengan tekun untuk memperdalam ilmuku. Meskipun ayah sudah sakit-sakitan dan lesu. tetapi ia masih mampu memberikan petunjuk-petunjuk yang sangat berharga, sementara aku mampu mengembangkannya sendiri dalam tata gerak. Paman Argapati pun agaknya ingin melihat aku maju dan tidak ketinggalan dari anak-anak Sangkal Putung itu, sehingga ia pun telah menyisihkan waktu untuk memberikan latihan-latihan khusus bagiku. Mungkin guru anak-anak Sangkal Putung itu lebih banyak waktu untuk memberikan latihan-latihan. tetapi aku menganggap cara itu adalah cara kekanak-kanakan. Mereka masih harus dituntun dari gerak yang satu kepada gerak yang lain. Dari perkembangan jenis keperkembangan berikutnya. Dengan demikian otak mereka tidak akan berkembang. Mereka hanya dapat mempergunakan apa yang pernah mereka pelajari dari gurunya.”

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja Prastawa menunjukkan sikap yang kurang senang kepada Agung Sedayu.

 “Tetapi mungkin Swandaru berbuat lain,” katanya tiba-tiba, “pikirannya lebih hidup, dan cita-citanya agak lebih mantap dari kakak seperguruannya yang ragu-ragu dan sombong itu.”

Pengawal yang mendapat perintah untuk memanggil Prastawa itu sama sekali tidak menjawab lagi. Ia tidak tahu apakah yang dikatakan oleh Prastawa itu benar atau tidak. Tetapi menurut pengetahuannya. Agung Sedayu memang sudah memberikan jasa kepada Tanah Perdikan Menoreh bersama saudara seperguruannya dan gurunya yang bersenjata cambuk itu.

Perjalanan mereka tidak memerlukan waktu yang terlalu lama. Sejenak kemudian mereka telah mendekati pa-dukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.

Perjalanan mereka terhenti, ketika mereka melihat di pinggir padukuhan, sekelompok anak-anak muda yang berlatih dibawah rimbunnya sebatang pohon munggur yang besar.

Prastawa berhenti didekat mereka. Anak-anak muda itu pun berhenti berlatih pula. Salah seorang dari mereka sambil tersenyum mendekati Prastawa yang masih berada di punggung kuda, “Kami sedang berlatih.”

 “Ya. Aku sudah melihat bahwa kalian sedang berlatih,” jawab Prastawa sambil tersenyum.

Kawan-kawannyapun tertawa pula, sementara Prastawa bertanya, “Dimanakah Agung Sedayu?”

 “Ia tidak berada disini. Ia berada di padukuhan sebelah atau di padukuhan lain. Bersama Ki Argapati ia melihat-lihat para pengawal yang sedang mengadakan latihan dimana mana.”

 “Apakah ia memberikan petunjuk-petunjuk tentang latihan-latihan itu sendiri? “ bertanya Prastawa.

Pengawal itu menggeleng, “Ia hanya memberikan beberapa keterangan. Tetapi semuanya ditangani oleh para pemimpin kami disetiap padukuhan.”

 “Sekarang kalian berlatih tanpa seorang pengawas pun.”

 “Kami mengisi waktu kami. Daripada kami duduk merenung menunggui burung tanpa berbuat sesuatu, maka kami mencoba melanyahkan tangan dan kaki kami.”

Prastawa mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Kalian adalah kekuatan bagi Tanah Perdikan Menoreh. Lanjutkanlah. Peningkatan kemampuan setiap orang, berarti peningkatan kemampuan seluruh Tanah Perdikan ini.”

Para pengawal yang sedang berlatih itu pun mengangguk-angguk. Keterangan Prastawa itu membuat mereka semakin bergairah untuk meneruskan latihan mereka, setelah beberapa saat lamanya mereka seolah-olah sedang beristirahat.

Sepeninggal Prastawa, para pengawal itu telah tenggelam lagi dalam latihan yang lebih bersungguh-sungguh. Mereka bukan saja berlatih dengan tangan. Tetapi mereka berlatih dengan mempergunakan senjata-senjata mereka masing-masing.

 “Mudah-mudahan paman sudah ada di rumah,” berkata Prastawa kepada pengawal yang menjemputnya.

 “Seandainya Ki Gede tidak ada, tentu para pengawal mengetahui kemana ia pergi.”

 “Tetapi menurut para pengawal, paman pergi berkeliling bersama Agung Sedayu.” sahut Prastawa.

Pengawal yang menyertainya tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil. Memang mungkin sekali Ki Argapati sedang berkeliling dari padukuhan yang satu kepadukuhan yang lain, setelah agak lama Ki Argapati seolah-olah telah menyepi dirumahnya.

Ternyata seperti yang mereka duga, ketika mereka memasuki ha aman rumah Ki Argapati, yang ada dihalaman adalah beberapa orang pengawal yang justru sedang berlatih. Seorang pemimpin pengawal mengawasi mereka dan setiap kali memberikan petunjuk-petunjuk yang diperlukan.

Ketika Prastawa datang, maka pemimpin pengawal itu menyongsongnya sambil berkata, “Marilah. Sayang sekali. Ki Gede dan Agung Sedayu sedang melihat-lihat berkeliling.”

Prastawa tersenyum. Ia pun kemudian turun dari kudanya dan menyerahkan kudanya kepada seorang pengawal yang membawanya kebelakang.

 “Teruskanlah,” berkata Prastawa.

 “Apakah kau akan menyusul Ki Gede?” bertanya pemimpin pengawal itu.

 “Tidak. Nanti aku justru akan berselisih jalan. Aku akan tetap disini, menunggu paman pulang. Sementara teruskanlah latihan ini. Aku akan melihat-lihat,” jawab Prastawa.

Pemimpin pengawal itu tersenyum. Nampaknya ia menjadi agak segan. Namun akhirnya ia pun mengangguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi kau sajalah yang memimpin latihan ini.”

 “Bukan aku. Kau,” jawab Prastawa.

Pemimpin pengawal itu tersenyum. Namun ia pun kemudian melanjutkan latihan yang diikuti oleh beberapa orang pengawal.

 “Di sore hari, latihan-latihan berjalan lebih luas,” berkata salah seorang pengawal yang tidak ikut dalam latihan itu, karena ia harus berjaga-jaga diregol.

Prastawa mengangguk-angguk. Katanya, “Latihan-latihan ini akan segera menjalar kepadukuhan-padukuhan yang agak jauh dari padukuhan induk. Di padukuhanku, latihan-latihan belum lagi mulai. Tetapi agaknya para pemimpin pengawal telah mendapat penjelasan yang sama dengan kalian.”

 “Ya. Kami telah mendapat penjelasan yang sama. Mungkin hari ini, atau nanti malam, latihan-latihan itu akan dimulai.”

Prastawa mengangguk-angguk. Sekilas ia membayangkan, bahwa para pengawal di padukuhan tentu mempunyai kemampuan yang lebih baik. Disaat lampau, jika ia kebetulan berada di rumah nya sendiri, ia selalu ikut memberikan latihan latihan bagi kawan-kawannya di sekitarnya.

Dan kini ia menyaksikan pengawal-pengawal di induk padukuhan itu sedang berlatih. Sekali-sekali ia mengerutkan keningnya. Ia merasa ikut bertanggung jawab pula atas kemampuan mereka, sehingga akhirnya Prastawa pun tidak dapat berdiam diri. Sekali-sekali ia pun memberikan beberapa petunjuk dan kadang-kadang justru terlibat pula dalam latihan-latihan dengan para pengawal itu.

 “Kalian masih harus bekerja keras untuk dapat mencapai tingkat kemampuan yang pernah kalian miliki,” berkata Prastawa tiaba-tiba diluar sadarnya.

Para pengawal itu mengangguk-angguk. Peringatan itu berarti, Prastawa pun telah mengakui, bahwa telah terjadi kemunduran diatas Tanah Perdikan Menoreh itu.

Dalam pada itu, sementara Tanah Perdikan Menoreh telah dihangatkan oleh latihan-latihan disetiap padukuhan. maka Ki Waskita telah berada kembali di Mataram dengan selamat. Dari Tanah Perdikan Menoreh ia langsung pergi menghadap Raden Sutawijaya, dan melaporkan apa yang dilihatnya di Tanah Perdikan Menoreh dan kesanggupan yang didengarnya dari Ki Argapati.

 “Anak anak muda di Tanah Perdikan Menoreh memang mengalami kemunduran,” berkata Ki Waskita, “tetapi agaknya masih belum terlalu jauh. Dalam waktu yang singkat, maka semuanya akan dapat dicapai lagi sehingga Tanah Perdikan Menoreh akan menemukan dirinya kembali.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih paman. Jika Agung Sedayu tinggal di Tanah Perdikan Menoreh, aku berharap, bahwa kehadirannya itu akan dapat ikut membantu memanaskan Tanah Perdikan itu dengan latihan-latihan.

 “Agaknya ia akan berusaha bersama kemanakan Ki Gede Menoreh yang masih muda dan cekatan itu.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Kita justru menunggu Swandaru. Agaknya ia akan datang bersama pasukannya. Untuk menghindarkan pengamatan Untara yang mungkin akan tersinggung karenanya, maka pasukan Sangkal Putung akan datang dari arah Selatan dan melingkar dilambung Gunung Merapi.”

Ki Waskita pun mengangguk-angguk pula Ia harus menunggu satu dua hari sebelum perintah terakhir akan jatuh dari pimpinan tertinggi Mataram yang akan mengatur semua gelar, baik yang akan memasuki lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, maupun yang akan memasang gelar di mulut lembah.

Hanya akan ada satu perintah dalam gerakan yang besar itu untuk menghindarkan kesimpang-siuran. Dan perintah tertinggi itu sudah barang tentu berada di tangan Raden Sutawijaya.

Sementara itu. agaknya Swandaru pun menyadari bahwa pasukannya tentu sudah ditunggu, ia benar-benar berusaha untuk tidak menarik perhatian, terutama petugas-petugas sandi Untara yang mungkin saja secara kebetulan berada di alur jalan antara Sangkal Putungdan Mataram.

Setelah ia berhasil mengumpulkan sepasukan yang kuat, meskipun ia tidak melupakan keamanan Sangkal Pulung sendiri sepeninggalnya, maka Swandaru dan Kiai Gringsing pun mulai mengatur keberangkatan pasukannya ke Mataram.

Tetapi seperti yang sudah diperhitungkan, maka Pandan Wangi dan Sekar Mirah telah berkeras untuk ikut serta bersama pasukan itu. Betapapun Swandaru dan ayahnya mencoba mencegahnya, tetapi keduanya memaksa untuk ikut serta pergi ke medan.

 “Aku akan berada di belakang garis perang. Jika tidak diperlukan, aku tidak akan mengganggu,” berkata Pandan Wangi.

 “Ya. Aku akan menunggu perintah.”

 “Sekarang kau sudah tidak menurut perintah,” berkata Swandaru.

Tetapi Sekar Mirah menggeleng, katanya. “Sekarang belum mulai. Aku akan menempatkan diri dibawah perintahmu setelah kita berada di lembah. Apalagi aku ingin melihat keadaan guru.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Adalah wajar sekali jika Sekar Mirah ingin melihat gurunya yang terluka cukup parah meskipun tidak berbahaya dan tentu sudah berangsur baik.

Setelah berbicara dengan ayahnya dan Kiai Gringsing, maka akhirnya Swandaru tidak dapat menolak permintaan Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Agaknya mereka sudah mulai dihinggapi oleh kejemuan untuk tinggal dirumah saja melakukan pekerjaan mereka sehari-hari.

“Baiklah,” akhirnya Swandaru mengalah, “tetapi kalian berdua benar-benar harus menurut perintahku di medan. Kalian tidak boleh membuat rencana sendiri yang mungkin akan berbahaya bagi kalian masing-masing.”

Pandan Wangi dan Sekar Mirah mengangguk. Namun mulai nampak kegembiraan di wajah mereka. Mereka sudah lama tidak berkuda di jalan-jalan panjang sambil menggenggam senjata.

Dengan keputusan itu, maka mulailah Sekar Mirah menggosok senjata yang paling dipercayainya. Tongkat pemberian gurunya, sementara Pandan Wangi mulai melihat-lihat kembali sepasang pedangnya.

Dengan demikian, maka Sangkal Putung pun telah mulai mempersiapkan diri. Swandaru yang tidak dapat langsung berangkat ke Mataram, masih harus mengatur tugas para pengawal yang ditinggalkan. Bahkan tugas pengawalan Kademangan tidak hanya dibebankannya kepada pengawal yang tinggal sedikit, tetapi dibebankannya kepada setiap laki-laki.

 “Ayah dan Ki Jagabaya akan mengatur kalian jika kalian harus mempertahankan Kademangan ini dari gangguan siapapun,” berkata Swandaru kepada para pengawal.

Setelah semuanya dianggapnya selesai, serta jalur perintah di Kademangannya sudah tersusun jika para pengawal terpilih telah meninggalkan Kademangan. maka mulailah Swandaru bersiap-siap untuk berangkat ke Mataram.

Seperti yang direncanakan, maka pasukannya mulai berangkat menjelang petang. Sekelompok demi sekelompok, sehingga jika seseorang melihat atau bertemu di perjalanan. mereka tidak akan langsung tertarik perhatiannya. Apalagi Swandaru telah membagi jalan pula. Sebagian harus melalui jalan kecil dibagian Selatan. Jalan yang kurang menarik, tetapi cukup lebar dan rata. Jalan yang akan bertemu dengan jalan yang biasa dilalui dalam perjalanan ke Mataram, menjelang Alas Tambak Baya.

 “Mudah-mudahan pasukan ini tidak terganggu di perjalanan,” berkata Swandaru.

 “Aku kira tidak Swandaru,” sahut Kiai Gringsing, “nampaknya daerah ini cukup tenang. Kesibukan di lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu itu belum terasa sampai kedaerah ini, sehingga orang-orang yang melihat sekalipun tidak akan membayangkan bahwa akan terjadi sesuatu yang akan dapat menentukan masa depan daerah Selatan ini.”

Swandaru mengangguk angguk. Ia sependapat dengan gurunya. Karena itu maka ia pun yakin, bahwa perjalanannya akan ikut serta menentukan.

Namun demikian, sekali-sekali terbersit pula diangan-angannya tentang sekelompok orang-orang yang mengaku dirinya dan berpakaian seperti para perwira prajurit Pajang. Jika tidak dibantu oleh Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Agung Sedayu yang melintas di jalan yang sama, meskipun berlawanan arah. maka ia dan Ki Sumangkar sudah tidak akan dapat melihat medan di lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu itu.

Ketika hal itu dinyatakan kepada gurunya Kiai Gringsing berkata, “Mereka mencari Ki Sumangkar.”

 “Tetapi jika orang-orang mereka itu tidak segera kembali apapun hasilnya, maka mereka tentu akan mengambil sikap lain,” sahut Swandaru.

 “Itulah sebabnya Mataram tergesa-gesa mengambil keputusan sebelum mereka mengambil sikap yang lain itu.”

Swandaru mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa persoalan orang-orang yang sedang berkumpul di lembah itu harus mendapat perhatian sepenuhnya. Dan untuk itulah maka ia membawa sepasukan pengawal pilihan ke Mataram.

Kehadiran para pengawal dari Sangkal Putung di Mataram disambut oleh para pengawal Mataram yang memang sudah diberi tahu akan kehadiran mereka. Barak-barak telah disiapkan pula, sementara segala keperluan mereka telah disediakan.

Swandaru datang ke Mataram bersama Kiai Gringsing diiringi oleh isteri dan adiknya. Namun kehadiran kedua orang perempuan itu sama sekali tidak mengejutkan Raden Sutawijaya karena ia sudah mengenal dan mengetahui, siapakah kedua perempuan itu.

Sekar Mirah yang mencemaskan nasib gurunya, langsung diantar oleh Sutawijaya kegandok. tempat Ki Sumangkar beristirahat selama ia berada di Mataram.

Kedatangan Sekar Mirah memberikan kegembiraan dihati Sumangkar. Bagaimanapun juga, gadis itu adalah satu-satunya muridnya. Murid yang masih akan memperpanjang jenis ilmu dari cabang perguruannya.

 “Aku sudah sehat,” berkata Ki Sumangkar.

 “Tetapi luka-luka guru belum sembuh sama sekali.”

 “Luka-luka pada kulit tidak akan banyak berpengaruh. Marilah. Aku akan menemui tamu dari Sangkal Putung di pendapa.”

“Tetapi, sebaiknya Ki Sumangkar tinggal saja didalam bilik, agar luka-luka itu tidak kambuh lagi.”

Ki Sumangkar tertawa. Katanya, “Aku sudah sembuh. Dan luka-lukaku tidak akan dapat kambuh lagi. Apalagi Kiai Gringsing ada disini. Ia akan dapat memberikan obat untuk luka-lukaku meskipun seandainya harus kambuh lagi.”

Raden Sutawijaya dan Sekar Mirah tidak dapat mencegahnya. Ki Sumangkar pun kemudian ikut bersama mereka ke pendapa. menjumpai para pemimpin pengawal dari Sangkal Putung yang ikut menghadap Raden Sutawijaya di rumahnya.

Raden Sutawijaya menerima pasukan pengawal Sangkal Putung itu dengan gembira. Rasa-rasanya, apa yang akan dilakukannya itu tidak akan gagal lagi. Lembah itu akan tersumbat dari kedua mulutnya, sehingga kedua pusaka itu pun akan dapat diketemukannya bersama hancurnya gerombolan yang sangat berbahaya bagi Pajang dan Mataram.

Sutawijaya yang dikawani oleh Ki Juru Martani dan beberapa orang pemimpin dari Mataram, masih belum membicarakan persoalan-persoalan yang langsung mengenai tugas-tugas mereka di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Tetapi mereka kemudian justru mempersilahkan para pemimpin dari Sangkal Putung dan para prajurit yang lain untuk beristirahat, setelah perjalanan mereka sekelompok demi sekelompok dimalam hari.

Namun, agaknya bagi Ki Waskita yang sudah lebih dahulu berada di Mataram, semuanya sudah jelas. Tugas yang besar itu akan benar-benar mereka laksanakan dalam waktu dekat. Apalagi setelah pasukan pengawal Sangkal Putung hadir di Mataram.

Meskipun demikian Ki Waskita masih harus menunggu pembicaraan yang masak antara para pemimpin Mataram dan Sangkal Putung. Hasil pembicaraan itu akan dibawanya ke Menoreh dan merupakan ketentuan waktu yang harus dipegang bersama-sama.

Demikianlah, setelah pasukan pengawal dari Sangkal Putung itu beristirahat, maka para pemimpin dari Mataram, Sangkal Putung dan Ki Waskita yang mewakili Tanah Perdikan Menoreh itu pun segera mengadakan pembicaraan. Mereka menentukan tempat dan waktu bagi masing-masing pasukan yang akan ikut mengambil bagian dalam penyergapan di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu.

 “Apakah Tanah Perdikan Menoreh dapat diandalkan Ki Waskita,” bertanya Swandaru tiba-tiba, seolah-olah ia dapat melihat apa yang telah terjadi selama masa-masa terakhir.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Pandan Wangi sekilas. Namun kemudian jawabnya, “Tanah Perdikan Menoreh masih memiliki kekuatan dan kemampuannya seperti semula.”

Swandaru mengangguk-angguk, sementara Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya Pandan Wangi juga mencemaskan keadaan Tanah Perdikan itu. Seolah-olah ada firasat yang mengatakan kepadanya, bahwa pada masa-masa terakhir Tanah Perdikan Menoreh telah dibuai oleh kelemahan justru karena ketenangannya.

 “Aku sudah menyaksikan sendiri,” berkata Ki Waskita kemudian, “di saat-saat yang sangat pendek itu, para pemimpin pengawal telah berhasil menyiapkan kekuatan yang ada diatas Tanah Perdikan Menoreh.”

 “Syukurlah,” Raden Sutawijaya menyahut. Ia pun sebenarnya menyimpan pertanyaan serupa. Tetapi ia tidak mengatakannya, karena ia yakin, jika ada kekurangan pada Tanah Perdikan itu, Ki Waskita tentu sudah mengatakannya.

 “Jika demikian,” berkata Swandaru, “kita dapat menentukan segala-galanya sekarang. Waktu dan tempat yang akan menentukan saat dan arah kita masing-masing.

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Sekilas dipandanginya Ki Juru Martani seolah-olah hendak mempersilahkannya untuk mengambil keputusan yang akan mengikat semua pihak.

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia bergeser setapak. Ia dapat menangkap maksud yang tersirat pada tatapan mata Raden Sutawijaya.

 “Marilah, kita akan menentukan bersama-sama,” berkata Ki Juru.

Demikianlah, maka orang-orang terpenting yang ada di pendapa Mataram itu pun segera membicarakan rencana mereka. Seperti semula, maka pembicaraan itu tetap berpangkal pada usaha menyumbat lembah itu dari dua arah, dan pasukan Mataram akan langsung menusuk masuk kedalamnya.

 “Kita akan menentukan waktu,” berkata Raden Sutawijaya.

 “Kita harus bersiap-siap,” sahut Swandaru, “kita harus memperhitungkan perjalanan pasukan kita ke mulut lembah. Terutama di sebelah Timur, karena di Jati Anom ada pasukan Pajang yang kuat, agar tidak menimbulkan salah paham apabila mereka mengetahui kehadiran pasukan kami.”

 “Semuanya harus diatur sebaik-baiknya,” berkata Raden Sutawijaya, “karena itu, kita harus memperhitungkan waktu yang kita perlukan untuk mempersiapkan pasukan itu di lembah.”

 “Tidak banyak persoalan bagi Tanah Perdikan Menoreh,” berkata Ki Waskita, “Tanah Perdikan Menoreh hanya memerlukan waktu sehari untuk menempatkan pasukannya di mulut lembah itu.”

 “Baiklah,” berkata Raden Sutawijaya kita akan mernerlukan waktu tujuh hari sejak saat ini. Tetapi sebelum pasukan kita semuanya siap ditempat, maka kita harus mengirimkan sekelompok petugas yang harus mengawasi keadaan mereka. Tidak perlu memasuki lembah itu sampai kejantung. Yang penting mereka harus dapat melihat lalu lintas di mulut lembah. Mereka harus mengetahui dengan pasti, bahwa gerombolan itu masih ada di lembah dan tidak mengirimkan kedua pusaka itu keluar.”

 “Kita yakin bahwa pusaka-pusaka itu masih ada di lembah sekarang ini? “ bertanya Swandaru.

 “Ya. Menurut orang-orang yang tertangkap itu semuanya masih lengkap berada di lembah itu. Beberapa pihak yang melibatkan diri dalam usaha mereka itu pun telah berkumpul pula. Mereka masing-masing dengan membawa pasukan terpercaya. Agaknya mereka memang akan berpangkal di lembah itu sebelum mereka menghantam Pajang yang menjadi semakin lemah sekarang ini.” jawab Raden Sutawijaya.

 “Tetapi Pajang masih belum merupakan seonggok sampah yang dapat diperlakukan begitu saja,” justru Ki Juru Martani lah yang menyahut, “para Adipati masih siap melakukan perintah Sultan. Dan kekuatan para Adipati itu bukanlah tida dapat ikut menentukan apa yang akan terjadi dengan Pajang.”

 “Benar paman. Tetapi keadaan Pajang sendiri akan mempunyai pengaruh yang besar. Tidak semua Adipati sependapat bahwa ayahanda Sultan Hadiwijaya lah yang naik tahta setelah Demak kehilangan wibawanya. Tetapi karena perubahan dipusat pemerintahan itu sudah terjadi, maka yang lain dapat diselesaikan setapak demi setapak,” jawab Raden Sutawijaya.

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia memandang wajah Kiai Gringsing yang buram. Namun agaknya Kiai Gringsing mempunyai persoalan tersendiri didalam hatinya mengenai orang-orang yang mengaku pewaris kerajaan Majapahit itu. Karena sebenarnyalah Kiai Gringsing berkepentingan langsung dengan mereka.

Tetapi Kiai Gringsing tidak ingin berbuat sesuatu yang akan dapat menambah suasana menjadi semakin keruh. Mataram dan Pajang sudah cukup berat menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, sehingga karena itulah, maka sudah sebaiknyalah bahwa ia menempatkan diri pada pihak yang sudah mengambil sikap tertentu atas orang-orang yang berada di lembah itu.

Tatapan yang sekilas itu agaknya telah mengusik hati Kiai Gringsing sehingga ia pun merasa wajib untuk ikut serta menentukan rencana penyergapan itu. Bukannya sekedar menunggu keputusan dan kemudian melaksanakannya.

 “Raden,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “sejak saat ini, sebaiknya kita sudah mengirimkan kelompok-kelompok kecil yang akan mengawasi lembah itu seperti yang Raden katakan. Tujuh hari adalah waktu yang panjang.”

 “Tetapi jika pada hari ketujuh itu kita semuanya harus sudah siap ditempat kita masing-masing, maka tiga hari setelah pembicaraan ini kita harus sudah berangkat. Gelombang demi gelombang,” sahut Raden Sutawijaya.

 “Benar Raden,” jawab Kiai Gringsing, “dua atau tiga hari itu adalah perhitungan kami. Tetapi bagi orang-orang di lembah itu, kehadiran kami tetap pada hari ketujuh. Karena itu, secepatnyalah kita meletakkan pengawasan. Juga gelombang-gelombang pasukan yang hadir di mulut lembah itu harus kita manfaatkan, selain harus menjaga diri agar pengawas-pengawas dari orang-orang itu berada di mulut lembah tidak melihat kehadiran kita.

 “Ya. Pengawas-pengawas mereka harus kita perhitungkan,” desis Sutawijaya.

 “Kita akan berkumpul agak jauh dari mulut lembah. Kita akan hadir serentak dan bersama-sama waktunya. Kita tidak akan cemas lagi seandainya pengawas mereka melihat kehadiran kita, karena kita langsung telah mempersiapkan diri dalam gelar,” berkata Ki Juru.

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Agaknya hal yang mereka bicarakan itulah yang harus dilakukannya.

Dengan demikian, maka pembicaraan itu pun menemukan pokok-pokok persoalannya. Pasukan Mataram, Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh akan hadir di lembah, pada hari ketujuh setelah pembicaraan itu. Pada hari itu akan berangkat kelompok kecil yang akan mengawasi mulut lembah, dengan pesan bahwa mereka harus menghindari pengawasan orang-orang yang ada di lembah itu.

Semua keputusan itu segera di jalankan. Lima orang yang terdiri dari tiga orang pengawal Mataram dan dua orang dari Sangkal Putung akan segera berangkat. Sementara Ki Waskita dan tiga orang pengawal dari Mataram akan segera menuju ke Tanah Perdikan Menoreh. Tiga orang pengawal Mataram itu kemudian akan pergi bersama dengan dua orang pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh untuk mengawasi mulut lembah dibagian lain.

 “Ingat,” berkata Ki Juru kemudian, “pada hari ketujuh setelah hari ini, waktu fajar menyingsing, pasukan harus sudah berada di mulut lembah dalam gelar. Sementara pasukan Mataram akan mengatur diri langsung memasuki lembah itu.”

Demikianlah ketika semua persoalan sudah disepakatkan bersama dengan perincian waktu, tempat dan jarak, maka Ki Waskita pun segera minta diri. Bersama tiga orang pengawas dari Mataram yang akan bekerja bersama orang-orang Tanah Perdikan Menoreh, mereka berkuda meninggalkan Mataram.

Berbareng dengan keberangkatan Ki Waskita, lima orang yang bertugas di mulut lembah di sebelah Timurpun telah berangkat pula. Mereka akan menyusuri jalan memanjat kaki Gunung Merapi dari arah Selatan. Baru kemudian mereka akan melingkari lambung dan turun di mulut lembah. Sehingga dengan demikian mereka memperkecil kemungkinan untuk bertemu dengan para peronda dari Jati Anom.

Sepeninggal Ki Waskita dan para pengawas, maka Raden Sutawijaya dan Swandaru segera mempersiapkan pasukan masing-masing. Dalam dua hari semuanya harus sudah selesai. Dihari ketiga, pasukan itu akan mulai bergerak dari Mataram. Gelombang demi gelombang. Seperti yang dilakukan oleh pasukan yang datang dari Sangkal Putung, pasukan yang akan pergi kelembah itu pun harus tidak menimbulkan kegelisahan mereka yang melihatnya.

Swandaru tidak banyak lagi harus mengatur diri. Sejak dari Sangkal Putung ia sudah memberikan beberapa pesan dan petunjuk. Karena itu, maka tugasnya tinggallah mengulang pesan-pesannya dan menyesuaikan diri dengan rencana keseluruhan.

Beberapa orang pemimpin dari Sangkal Putung dan Mataram, dalam kesempatan yang pendek itu dapat saling menjajagi kemampuan pasukan masing-masing. Mereka masih sempat menyaksikan latihan-latihan dikedua belah pihak. Baik para pengawal dari Sangkal Putung, maupun para pengawal dari Mataram.

 “Guru,” berkata Swandaru ketika ia hanya duduk berdua dengan gurunya ternyata pasukan pengawal Sangkal Putung tidak kalah bobotnya dengan para pengawal dari Mataram.”

Kiai Gringsing tersenyum. Sambil mengangguk ia berkata, “Kau benar Swandaru. Melihat latihan-latihan dari kedua belah pihak pasukan pengawal yang sedang berkumpul di Mataram sekarang ini, dan siap untuk berangkat, maka keduanya mempunyai bobot yang sama.”

Terasa hati Swandaru bagaikan berkembang. Gurunya, orang yang memiliki ketajaman pengamatan atas ilmu kanuragan, membenarkan pendapatnya. Sehingga dengan demikian ia menjadi semakin bangga dengan Kademangannya dan kepada dirinya sendiri.

Dalam pada itu, keadaan Ki Sumangkar sudah menjadi berangsur baik. Meskipun masih belum sembuh benar namun lukanya sudah tidak banyak mengganggunya lagi.

Jika luka dikulitnya itu sudah sembuh, maka hilanglah bekas-bekas luka itu tanpa bekas.

 “Pada saatnya pasukan ini berangkat,” berkata Ki Sumangkar kepada Kiai Gringsing ketika mereka duduk bersama didalam biliknya, “aku sudah akan sembuh sama sekali.”

 “Tetapi sebaiknya Ki Sumangkar masih harus beristirahat. Meskipun luka-luka itu sudah sembuh sama sekali, namun kekuatan Ki Sumangkar tentu masih belum pulih.” berkata Kiai Gringsing.

Ki Sumangkar tersenyum. Katanya, “Jika aku sakit sehingga aku tidak mau makan dan minum, maka kekuatanku akan susut. Tetapi selama aku beristirahat di Mataram, aku justru makan dua kali lipat dari kebiasaanku, sehingga tenagaku tentu berlipat pula.”

Kiai Gringsing tersenyum. Ia sadar, bahwa ia tidak akan mungkin dapat mencegah Ki Sumangkar agar tidak ikut kemedan yang tentu akan merupakan medan yang berat itu.

Agaknya Sekar Mirahpun telah berusaha pula agar Ki Sumangkar tinggal di Mataram, tetapi muridnya itu pun tidak berhasil. Ki Sumangkar tetap pada pendiriannya untuk ikut serta pergi kelembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Dalam pada itu, Ki Waskita telah melampui perjalanannya dengan tanpa gangguan di perjalanan. Ketika ia memasuki tlatah Tanah Perdikan Menoreh, hatinya terasa sejuk. Agaknya Menoreh benar-benar telah bangun. Di perjalanan Ki Waskita telah bertemu dengan tiga orang peronda berkuda yang mengelilingi padukuhan yang satu dan yang lain.

 “Mereka telah menemukan diri mereka kembali,” desis Ki Waskita.

Tiga orang pengawas yang dikirim oleh Mataram itu termangu-mangu. Mereka tidak begitu mengerti, apakah yang dimaksud oleh Ki Waskita. Namun mereka pun menganggukkan kepalanya tanpa mengerti maknanya.

Di halaman rumah Ki Gede Menoreh, Ki Waskita melihat beberapa orang anak muda sedang berkumpul. Sebagian dari mereka adalah para pemimpin pengawal yang sedang berlatih bersama Prastawa.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Tanah Perdikan Menoreh ingin meloncat sampai ketempatnya berpijak sebelum mengalami kemunduran yang dapat mengganggu Tanah Perdikan itu jika terjadi sesuatu.

Kedatangan Ki Waskita segera disambut oleh Ki Gede Menoreh dan Agung Sedayu. sementara Prastawa melanjutkan latihan-latihannya dihalaman.

Setelah beristirahat sejenak dan minum beberapa teguk, maka Ki Waskita pun langsung menceriterakan perjalanannya ke Mataram. Hasil-hasil yang telah ditetapkan dalam pembicaraan antara Mataram dan Sangkal Putung.

 “Aku mohon maaf Ki Gede, bahwa aku telah memberanikan diri mewakili Tanah Perdikan Menoreh dalam pembicaraan itu, karena akulah orang yang dianggap paling banyak mengetahui tentang Tanah Perdikan ini, sekaligus aku adalah utusan Ki Gede untuk menyampaikan laporan tentang Tanah Perdikan ini.”

Ki Gede tersenyum. Jawabnya, “Akulah yang seharusnya mengucapkan terima kasih. Bahkan seterusnya Ki Waskita yang mendengar langsung semua yang dibicarakan di Mataram, aku harap untuk mengendalikan semua gerakan di Tanah Perdikan ini. Aku mencoba meletakkan kepercayaan kepada Prastawa. Namun sudah tentu bahwa aku tidak akan melepaskannya.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya Mudah-mudahan ia dapat melaksanakan dengan baik. Asal Prastawa tidak meninggalkan semua pesan dan petunjuk orang-orang tua, maka ia tentu akan berhasil.”

 “Mudah-mudahan sahut Ki Gede selebihnya aku minta angger Agung Sedayu untuk mendampinginya. Aku kira angger Agung Sedayu mempunyai pengalaman agak lebih banyak dari Prastawa.”

Satelah berbicara beberapa saat, maka Ki Gede Menoreh pun segera menunjuk dua orang pengawal terpilih untuk mengawani tiga orang pengawas dari Mataram yang akan mendahului ke ujung lembah di sebelah Barat.

 “Apakah aku sajalah yang pergi mendahului paman? “ bertanya Prastawa.

Ki Gede menggeleng. Jawabnya, “kau akan membawa seluruh pasukan Tanah Perdikan Menoreh pada saatnya nanti bersama aku, Ki Waskita dan Agung Sedayu.”

Prastawa mengangguk-angguk. Sepercik kebanggaan telah terbersit dihatinya. Ia mulai mendapat kepercayaan dari Ki Gede Menoreh meskipun masih dibawah pengawasan langsung pamannya. Namun jika ia berhasil dengan baik, maka kepercayaan itu lambat laun akan menjadi semakin besar.

Demikianlah maka setelah beristirahat dan menyediakan bekal secukupnya, lima orang pengawas yang akan mendahului pergi ke ujung lembah itu pun segera berangkat.

Sepeninggal kelima orang itu, Ki Gede masih melanjutkan pembicaraan dengan Ki Waskita, Agung Sedayu dan Prastawa. Mereka sudah mulai membagi kelompok-kelompok pasukannya dalam gelar yang akan mereka pergunakan menyumbat lembah yang menghadap keBarat.

 “Kita masih mempunyai cukup waktu,” berkata Ki  Gede Menoreh, “bahkan menurut perhitunganku, waktu itu agak terlalu longgar.”

 “Ada beberapa pertimbangan Ki Gede,” berkata Ki Waskita, “menurut orang-orang yang berhasil kita tawan dan sekarang berada di Mataram, mungkin masih ada beberapa orang penting yang akan hadir dalam pertemuan di lembah itu. Tetapi juga karena perhitungan waktu dalam persiapan terutama pasukan Mataram yang akan langsung menusuk kejantung lembah itu.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Bagi Menoreh waktu yang tujuh hari itu telah lebih dari cukup, apalagi sekedar memasang gelar untuk menahan arus lawan yang mengundurkan diri jika mereka tidak dapat menahan serangan pasukan Mataram.

 “Kita mengharap, dari para pengawas yang mendahului, kita akan mendapat gambaran kekuatan dari kelompok-kelompok yang sedang berkumpul di lembah itu.” berkata Ki Gede Menoreh.

 “Tetapi aku kira, tidak seluruh kekuatan mereka berada di lembah itu. Mereka yang berkumpul tentu beberapa orang pemimpin serta pengawal-pengawalnya yang mungkin memang agak banyak. Namun pasukan mereka pasti terbagi dalam pemusatan-pemusatan yang setiap saat dapat menghantam Pajang dari beberapa jurusan,” sahut Ki Waskita.

 “Mungkin demikian. Tetapi jika kita berhasil menangkap kepalanya, maka ekornya tidak akan dapat banyak bergerak lagi.”

Ki Waskita mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan Ki Gede. Dan ia pun mengartikan bahwa kelompok-kelompok yang berkumpul di lembah itu hanyalah beberapa orang saja. Dari para wartawan Mataram sudah mendapat gambaran, bahwa lembah itu telah dipenuhi dengan gubug-gubug ilalang yang dihuni oleh kelompok-kelompok dari beberapa gerombolan yang berada di lembah itu.

 “Mereka tinggal di lereng yang tertutup oleh hutan yang masih cukup lebat. Padukuhan dan padepokan kecil yang berada di mulut lembah bagian Timur, agaknya tidak diganggunya sama sekali, agar orang-orang dipadepokan dan padukuhan kecil itu tidak menyebarkan berita kehadiran gerombolan-gerombolan itu.” berkata Ki Waskita.

Ki Gede mengangguk-angguk. Ia pun sudah membayangkan kekuatan yang besar memang sedang menyiapkan diri di lembah itu. Bahkan kekuatan yang ada itu masih juga akan bertambah-tambah.

Dalam pada itu, Ki Gede pun memerintahkan kepada Prastawa untuk mengadakan persiapan sebaik-baiknya. Pengawal Tanah Perdikan Menoreh akan dibagi dalam kelompok-kelompok dibawah seorang pemimpin. Mereka harus siap menangkap dan menjalankan perintah yang disampaikan kepada mereka.

 “Kita masih mempunyai waktu lima hari. Dihari keenam kita sudah berada di perjalanan. Pada saat fajar menyingsing dihari ketujuh kita sudah berada di mulut lembah. Mungkin kita harus masuk agak dalam, di antara hutan yang cukup lebat. Meskipun di lembah itu memang ada jalan setapak, tetapi jika terjadi pertempuran, maka yang akan menjadi jalur jalan pasukan yang mungkin berhasil didesak oleh pasukan Mataram itu, bukannya jalan setapak itu,” berkata Ki Gede.

 “Kita mempunyai beberapa orang yang telah mengenal daerah itu dengan baik,” berkata Prastawa, “mereka akan ditempatkan pada ujung pasukan. Begitu fajar dihari ketujuh itu naik, kita akan menempatkan kelompok-kelompok pasukan kita terpencar di lembah dengan perlengkapan isyarat yang cukup.”

 “Kewajibanmulah untuk menyiapkan semua keperluan itu Prastawa,” berkata Ki Gede, “Agung Sedayu akan dapat kau ajak berbicara. Ia mempunyai pengalaman yang cukup. Juga diatas Tanah Perdikan Menoreh ini. Meskipun ia bukan keluarga Tanah Perdikan Menoreh, namun ia mengenal Tanah ini seperti kalian.”

Prastawa mengangguk. Tetapi terasa sesuatu melonjak dihatinya. “tanpa Agung Sedayu aku juga dapat menyelesaikan tugas ini,” berkata Prastawa didalam hatinya.

Ternyata bahwa Tanah Perdikan Menoreh telah memanfaatkan hari yang tersisa itu sebaik-baiknya. Latihan-latihan diadakan dengan teratur dan bersungguh-sungguh. Prastawa seakan-akan berada di segala tempat memberikan petunjuk-petunjuk. Sementara Agung Sedayu pun mencoba membantunya meskipun sekali-sekali terasa, bahwa sikap Prastawa agak kurang pada tempatnya.

Tetapi Agung Sedayu mencoba untuk tidak berprasangka. Karena itulah ia masih tetap melakukan tugas yang diberikan kepadanya. Bahkan kadang-kadang bersama Ki Gede Menoreh sendiri dan Ki Waskita.

Betapa tajamnya tanggapan Ki Gede Menoreh atas ilmu kanuragan. Meskipun Agung Sedayu sekedar memberikan beberapa bimbingan kepada para pengawal, namun sambil berbisik Ki Gede bertanya kepada Ki Waskita, “Apakah ada penyempurnaan ilmu dari angger Agung Sedayu?”

Ki Waskita tersenyum. Sambil mengangguk ia menjawab, “Luar biasa. Ia menemukan inti dari ilmunya diluar pengamatan langsung gurunya.”

Ki Argapati mengerutkan keningnya, Nampak keragu-raguan membayang diwajahnya. sehingga Ki Waskita merasa perlu untuk menjelaskan. Katanya, “Agung Sedayu meninggalkan gurunya untuk sebulan. Memang agak sukar dimengerti, bahwa yang sebulan itu ternyata telah membuat Agung Sedayu meloncat jauh sekali. Jauh diluar perhitungan gurunya sendiri.”

Ki Argapati mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi maksud Ki Waskita, bahwa Agung Sedayu menemukan inti dari ilmunya justru saat ia meninggalkan gurunya dalam sebulan itu?”

 “Ya.”

Ki Argapati mengangguk-angguk pula. Sejak semula ia sudah mengagumi anak muda itu seperti juga ia mengagumi Swandaru. Karena itu ia mempercayai keterangan Ki Waskita tentang Agung Sedayu.

Namun Ki Argapati pun tidak dapat menyembunyikan perasaan ingin tahunya tentang menantunya yang sudah agak lama terpisah. Karena itu, maka ia pun dengan ragu-ragu bertanya pula kepada Ki Waskita.

Seperti yang dilihatnya pada Swandaru. maka Ki Waskita pun menceriterakan bahwa kekuatan Swandaru yang dilambari dengan latihan-latihan yang mapan, kini merupakan kekuatan raksasa yang sulit dicari imbangannya. Ketrampilannya bermain cambuk telah meningkat jauh sekali. Bahkan ia pun ternyata memiliki kemampuan yang tinggi untuk mempergunakan segala macam senjata.

 “Syukurlah,” desisnya, “aku berbangga karena kelak ia akan menjadi tetua Tanah Perdikan ini disamping isterinya.”

Ki Waskita tidak menyahut. Tetapi ia menyembunyikan sesuatu di dasar hati. Ia tidak sampai mengatakan bahwa ada sesuatu yang lain telah berkembang di dalam jiwa anak muda yang gemuk itu.

 “Aku ternyata terlalu lemah,” berkata Ki Waskita didalam hatinya. Sebenarnya ia merasa bersalah, bahwa ia tidak berterus terang tentang Swandaru yang perkembangan jiwanya agak mencemaskan.

Dalam pada itu, latihan-latihan di Tanah Perdikan Menoreh itu berlangsung dengan penuh gairah. Waktu yang sempit itu mereka pergunakan sebaik-baiknya. Kehadiran Agung Sedayu dan Ki Waskita dapat memberikan warna-warna yang dapat membubuhi latihan-latihan yang diadakan oleh para pengawal. Pengalaman-pengalaman yang diceriterakan oleh Agung Sedayu dan Ki Waskita meskipun hanya sekedar sebagai dongeng menjelang tidur, namun banyak memberikan petunjuk yang sangat berguna bagi mereka.

Dengan demikian, maka rasa-rasanya Tanah Perdikan Menoreh telah bangun kembali setelah terkantuk-kantuk beberapa saat. Bukan saja dalam olah kanuragaan. Tetapi disamping peronda yang mulai berputaran diseluruh tlatah Tanah Perdikan Menoreh, maka orang-orang tua-pun mulai menyadari, bahwa seharusnya parit-parit yang kering itu pun mengalirkan air yang dapat membasahi tanaman dimusim kering.

Dalam pada itu. selagi Tanah Perdikan Menoreh sibuk mempersiapkan pasukan terkuat untuk ikut serta bersama Mataram dan Sangkal Putung berusaha menemukan kembali pusaka-pusaka yang hilang disamping mempersiapkan pasukan pengawal yang akan menjaga keamanan Tanah Perdikan selama tugas itu berlangsung, dari Mataram sekelompok demi sekelompok pasukan pengawal telah mulai bergerak.

Di hari ketika pasukan pengawal Sangkal Putung yang dipimin langsung oleh Swandaru telah dipersiapkan dalam kelompok-kelompok kecil yang berangkat dibarengi oleh kelompok-kelompok kecil dari Mataram mendaki kaki Gunung Merapi. Beberapa orang yang telah mengenal jalan menuju kelambung Gunung Merapi itu membawa mereka lewat jalan-jalan yang kadang-kadang merupakan jalur-jalur sempit ditengah-tengah hutan.

Tetapi jalan yang demikian adalah jalan yang paling baik mereka lalui, sehingga mereka tidak akan mudah diketahui, baik oleh para pengawas yang mungkin dipasang oleh orang-orang yang berada di lembah, namun mungkin juga pasukan sandi dari Pajang.

Menurut perhitungan dihari kelima, pasukan Sangkal Putung dan pasukan Mataram telah berada dilambung Gunung Merapi. Mereka akan melingkari lambung itu dalam iring-iringan yang lengkap. Pasukan Sangkal Putung segera akan menempati tempat-tempat yang akan ditunjukkan oleh para pengawas yang telah mendahului, sementara pasukan Mataram dihari ketujuh, menjelang fajar, akan memasuki lembah dalam gelar perang.

Setiap orang didalam pasukan Mataram dan Sangkal Putung itu sudah mulai membayangkan, apa yang akan terjadi. Mereka mulai menjadi tegang dan berdebar-debar. Mereka telah mendengar, bahwa didalam lembah itu terdapat beberapa orang yang memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga mereka harus berhati-hati menghadapi mereka.

 “Ki Juru Martani akan ikut serta memasuki lembah itu,” berkata salah seorang Senapati.

 “Dari siapa kau dengar?” bertanya kawannya.

 “Ki Lurah Branjangan. Ki Lurah akan menjadi pengapit yang sebelah lagi?”

Kawannya mengangguk-angguk. Namun ini masih bertanya, “Kenapa Ki Juru tidak berada di antara pasukan Sangkal Putung yang menunggu di mulut lembah? Ki Juru sudah tua.”

 “Kau lihat orang bercambuk yang bernama Kiai Gringsing itu? Ia pun sudah tua setua Ki Sumangkar. Tetapi mereka masih saja hidup dalam petualangan mengalami perkelahian dan pertempuran yang satu keperkelahian dan pertempuran berikutnya.

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Namun adalah isyarat bagi setiap pengawal Mataram, Jika Ki Juru ikut serta didalam gelar, itu adalah pertanda bahwa keadaan memang benar-benar gawat.

Sebenarnyalah. Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar tengah membicarakan kemungkinan yang akan mereka hadapi. Ternyata bahwa kedua orang tua itu bersepakat untuk ikut serta memasuki lembah, dan mempercayakan pasukan pengawai Sangkal Putung kepada Swandaru. Pandan wangi dan Sekar Mirah.

 “Tetapi kita harus memperhitungkan kekuatan Tanah Perdikan Menoreh,” berkata Ki Juru kepada Sutawijaya ketika mereka sedang berbincang tentang rencana mereka. “Jika kita mendesak dari Timur, dan lawan mundur ke Barat, apakah pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh cukup kuat untuk menahan mereka ?”

 “Kita tidak akan melepaskan mereka. Jika mereka mundur, berarti mereka akan membuka dua garis peperangan,” jawab Sutawijaya.

Ki Juru mengangguk-angguk. Ia pun mengerti, bahwa pasukan Mataram akan menekan mereka, sehingga seandainya orang-orang yang ada di lembah itu bergeser ke mulut lembah, maka mereka masih akan tetap harus melawan pasukan Mataram yang mengikuti mereka. Dengan demikian maka tekanan pada pasukan Tanah Perdikan Menoreh itu tidak akan terlalu berat.

Dalam pada itu, Raden Sutawijaya merasa tidak perlu lagi menugaskan penghubungnya ke Tanah Perdikan Menoreh, karena ia percaya bahwa Ki Waskita, orang yang sudah kenyang akan pengalaman itu, tidak akan salah langkah.

Sebenarnyalah pada saat menjelang keberangkatan pasukan Tanah Perdikan Menoreh, Ki Waskita, Ki Gede Menoreh, Agung Sedayu dan Prastawa telah mematangkan semua rencana. Prastawa akan memimpin pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh didampingi oleh Ki Argapati sendiri. Keduanya akan berada di ujung pasukan Sementara Agung Sedayu akan berada di sebelah kanan mendampingi pimpinan pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh, sementara pimpinan pengawal yang ada di sebelah kiri akan didampingi oleh Ki Waskita.

Ketika Ki Gede Menoreh bertanya kepada Ki Waskita, apakah Agung Sedayu sudah mampu berdiri sendiri di hadapan orang-orang yang berada di lembah itu, Ki Waskita tersenyum sambil menjawab, “Itulah yang aku merasa heran. Ketika ia sendiri didalam sebuah goa, ia telah berhasil meningkatkan ilmunya, sehingga sulit untuk membedakan lagi antara Agung Sedayu dan gurunya didalam olah kanuragan. Meskipun Agung Sedayu belum sematang Kiai Gringsing, namun ia telah memiliki segalanya yang dimiliki oleh gurunya.”

Ki Gede Menoreh mengangguk-angguk. Sulit baginya untuk mempercayainya. Tetapi Ki Waskita tentu tidak akan berbohong. Apalagi dalam keadaan gawat di mulut lembah itu. Ki Gede Menoreh mengenal beberapa orang sakti dari lingkungan mereka yang mengaku dirinya keturunan Majapahit dan merindukannya kembali.

Ki Waskita agaknya dapat menangkap perasaan Ki Gede. Katanya, “Ki Gede. Seandainya Agung Sedayu kini bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Panembahan Agung atau Penembahan Alit, maka aku tidak akan mencemaskan lagi. Setidak-tidaknya ia akan dapat bertahan untuk waktu yang lama, sementara akan datang kesempatan-kesempatan yang lain yang dapat kita berikan.”

 “Syukurlah,” desis Ki Gede, “aku memang sudah menduga sejak semula, bahwa angger Agung Sedayu akan menjadi seorang yang luar biasa.” Ki Argapati terdiam sejenak, namun kemudian, “apakah Swandaru juga memiliki kemampuan seperti itu?”

 “Ia memiliki kekuatan jasmaniah seperti yang pernah aku katakan. Selebihnya ia memiliki kemampuan memimpin para pengawal sehingga Sangkal Putung menjadi Kademangan yang kuat dari segala segi. Bukan saja kekuatan tempur bila terjadi sesuatu, tetapi juga kesejahteraan Kademangannya telah meningkat. Sawah ladang terpelihara baik, sementara kerja yang lain telah tumbuh pula dengan subur.”

Ki Gede Menoreh mengangguk-angguk. Ia dapat mengambil kesimpulan bahwa menurut pengamatan Ki Waskita, didalam olah kanuragan, Swandaru agak ketinggalan dari Agung Sedayu.

Namun hal itu memang sudah diduga oleh Ki Gede Menoreh, bahwa Agung Sedayu agaknya mempunyai beberapa kelebihan dari menantunya yang gemuk itu.

Dalam pada itu, maka semua rencana telah dapat berjalan seperti yang dikehendakinya. Pada hari yang kelima, pasukan dari Tanah Perdikan Menoreh telah siap menempuh perjalanan. Jaraknya memang tidak terlalu jauh. Tetapi juga tidak terlalu dekat.

Ketika matahari turun, diakhir hari kelima sejak ditentukan saat-saat maka pasukan Tanah Perdikan Menoreh itu telah berangkat ke medan. Mereka berjalan di malam hari untuk menghindari kegelisahan yang dapat timbul jika orang-orang di padukuhan melihat kelengkapan pasukan yang pergi ke medan itu. Sementara perjalanan di malam hari tidak akan terasa panasnya sengatan matahari meskipun jalan menjadi samar oleh kegelapan.

Ki Gede berharap bahwa pasukannya masih mempunyai kesempatan untuk sekedar beristirahat di mulut lembah sebelum fajar menyingsing dihari ketujuh. Istirahat yang akan dapat memberikan kesegaran baru setelah menempuh perjalanan yang meskipun tidak begitu jauh, tetapi cukup melelahkan.

Karena para pengawas tidak memberikan laporan apapun tentang keadaan di lembah itu, maka menurut perhitungan Ki Gede, tidak terjadi sesuatu yang akan dapat merubah rencana.

Namun dalam pada itu, di lembah yang dipagari oleh Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu telah terjadi kegelisahan. Kepergian beberapa orang yang mereka tugaskan untuk melenyapkan Sumangkar, masih belum kembali. Semula mereka menganggap bahwa orang-orang itu masih belum mendapat kesempatan untuk melakukan tugasnya karena Sumangkar selalu berada di Sangkal Putung. Namun karena waktu yang telah terlalu lama itu, benar-benar telah menumbuhkan kegelisahan. Orang yang mereka tugaskan berada di dekat Untara masih dapat memberikan ketenangan karena ternyata Ki Sumangkar masih belum menghadap Untara dan memberikan laporan apapun.

 “Agaknya Sumangkar menganggap peristiwa yang dihadapinya itu bukan peristiwa yang penting,” berkata salah seorang dari mereka yang digelisahkan karena kelambatan kawan kawannya melenyapkan Sumangkar, “ternyata ia masih belum datang menghadap Untara dan melaporkan apa yang telah terjadi.”

 “Mungkin. Tetapi ada kemungkinan lain. Laporan itu tidak diberikannya kepada Untara, tetapi langsung kepada Pajang atau Mataram. Dengan demikian maka jalur perintah kepada Untara itu akan datang dari Pajang.”

Kawannya tertawa. Jawabnya, “Kita mempunyai telinga dan mata di Pajang.” namun kemudian nampak keningnya berkerut, “tetapi tidak di Mataram.”

Dalam kegelisahan itu, tiba-tiba saja datang laporan dari petugas mereka yang ada di Jati Anom. Mereka memberikan laporan bahwa Kiai Gringsing dan Agung Sedayu tidak ada di padepokan mereka yang kecil.

Berita itu semula tidak begitu menarik perhatian. Namun kemudian mereka mulai menghubungkan, bahwa Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar bukannya orang lain setelah keduanya berada di Sangkal Putung untuk waktu yang cukup lama.

 “Apakah kepergian Kiai Gringsing dan Agung Sedayu ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi atas Ki Sumangkar?” pertanyaan itu mulai timbul di antara mereka yang ada di lembah itu.

Ternyata bahwa orang-orang di lembah itu ingin segera mendengar jawabnya. Karena itu, maka mereka bersepakat mengirimkan beberapa orang untuk menemukan orang-orang yang telah pergi lebih dahulu untuk melenyapkan Ki Sumangkar.

 “Mereka berada di sekitar Sangkal Putung,” pesan itulah yang dibawa oleh orang-orang yang kemudian meninggalkan lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu.

Namun dalam pada itu, kepergian mereka berhasil dilihat oleh para pengawas yang telah mendahului keberangkatan pasukan pengawal dari Mataram. Tetapi para pengawas itu sama sekali tidak mengganggunya, karena orang-orang itu tidak akan mengganggu rencana Raden Sutawijaya.

Dalam pada itu, orang-orang yang langsung menuju kedaerah di sekitar Sangkal Putung itu telah berusaha untuk mendengar dan mengetahui, apakah yang sebenar nya telah terjadi.

Dengan berbagai macam akal, akhirnya ia mendengar dari orang-orang yang berjualan di pinggir jalan, bahwa Sumangkar kebetulan tidak ada di Sangkal Putung.

 “Apakah ia pergi ke Jati Anom?” bertanya salah seorang dari mereka yang sedang berusaha mendapatkan keterangan itu.

 “Kami tidak tahu. Tetapi ia pergi dahulu bersama putera Ki Demang. Tetapi putera Ki Demang sudah kembali dan bahkan sudah pergi lagi.”

 “Kemana?”

Orang-orang yang sedang berjualan itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak tahu. Aku hanya mendengar dari orang-orang yang berbelanja. Menantu Ki Demang, yang sering berbelanja bersama Sekar Mirah itu pun sudah beberapa hari tidak nampak. Mungkin keduanya ikut pergi pula. bersama Swandaru.”

Orang-orang yang datang dari lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu menjadi termangu-mangu. Tetapi mereka tidak berhenti berusaha, sehingga pada suatu kali mereka berhasil mendapat ceritera tentang iring-iringan yang meninggalkan Sangkal Putung.

 “Siapa dan berapa orang?” bertanya orang-orang itu.

Orang yang memberikan keterangan itu menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak melihatnya.”

Berita-berita yang didengarnya ternyata membuat mereka gelisah. Ada kemungkinan bahwa Sumangkar telah binasa, karena Swandaru datang kembali ke Kademangan tidak bersama Sumangkar, tetapi bersama Kiai Gringsing. Tetapil jika demikian, maka orang-orang yang berhasil membinasakan Sumangkar itu akan segera kembali.

 “Apakah setelah mereka berhasil membinasakan Sumangkar, mereka diketahui oleh orang-orang Sangkal Putung dan justru mereka juga dapat dibinasakan.”

Berbagai pertanyaan telah tumbuh. Dengan sungguh-sungguh orang-orang itu berusaha mengurai setiap keterangan dan menghubungkannya dengan keterangan-keterangan yang lain.

Baru kemudian mereka mendapat keterangan yang agak menjurus. Ketika seorang petani melihat beberapa orang yang berpakaian seperti perwira prajurit Pajang melakukan kegiatan di tengah-tengah bulak.

 “Mereka membawa beberapa orang pergi,” berkata petani itu.

Yang dapat mereka berikan hanyalah sekedar petunjuk arah. Kemana orang-orang itu pergi.

Dengan susah payah orang-orang yang datang dari Lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu mencoba menelusur jejak. Meskipun sudah samar-samar, tetapi jejak beberapa ekor kuda masih dapat mereka ikuti. Justru ketika mereka melihat jejak kuda yang berjumlah lebih dari sepuluh ekor itu meninggalkan jalur jalan yang banyak dilalui orang.

 “Jalan ini tentu jarang di lalui. Tetapi samar-samar masih nampak jejak sekelompok orang-orang berkuda,” berkata salah seorang dari mereka.

Kawan-kawannya juga melihat rerumputan yang terinjak-injak dan kadang-kadang diatas tanah yang lunak jejak itu masih jelas, karena jalan kecil itu adalah jalan simpang yang sepi.

 “Mereka membawa Sumangkar ke tempat yang tidak banyak didatangi orang,” berkata salah seorang dari mereka.

 “Agaknya demikian,” jawab yang lain.

 “Jika demikian, maka Sumangkar tentu sudah terbunuh. Yang menjadi teka-teki, kenapa mereka yang ditugaskan untuk membunuh Sumangkar itu masih belum kembali.”

Namun demikian mereka masih menelusuri bekas yang kadang-kadang jelas, tetapi kadang-kadang hampir lenyap, sehingga akhirnya mereka sampai kehutan perdu yang terasing.

Ternyata bahwa bekas pertempuran yang terjadi ditempat itu telah mengejutkan mereka. Jika benar Sumangkar sudah mati, maka ia tentu telah melakukan perlawanan yang sengit.

Tetapi mereka telah dikejutkan oleh gundukan tanah didekat tempat itu. Dengan serta merta mereka segera mengenal, bahwa gundukan tanah itu tentu tempat untuk mengubur mayat.

 “Sepuluh,” seseorang hampir berteriak. “Ya. Sepuluh,” sahut yang lain.

Sejenak mereka menjadi tegang. Jumlah itu sama dengan jumlah orang yang ditugaskan untuk membinasakan Sumangkar.

 “Semuanya terbunuh.” salah seorang dari mereka berdesis.

Wajah-wajah mereka menjadi tegang. Sejenak mereka justru berdiri mematung. Beberapa saat mereka telah terpukau oleh berbagai macam tanggapan tentang kenyataan yang mereka temukan itu.

 “Gila,” tiba-tiba salah seorang dari mereka berteriak, “jadi bukan Sumangkar lah yang agaknya telah terbunuh. Tetapi orang-orang yang harus membunuhnya. Agaknya sekelompok orang-orang Sangkal Putung telah menjebak mereka dan membawa mereka ketempat ini untuk dibantai seluruhnya.”

Ketegangan telah mencengkam setiap jantung. Orang-orang dari lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu menyadari apa yang telah terjadi. Namun ternyata bahwa gundukan tanah itu berjajar sepuluh, agaknya justru telah mengurangi kecemasan mereka.

“Semuanya terbunuh,” desis salah seorang dari mereka. Kemudian, “Tetapi itu agaknya lebih baik daripada ada di antara mereka yang tertangkap hidup. Kematian mereka tidak akan dapat memberikan penjelasan apapun tentang lembah yang tertutup itu.”

Yang lain menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang luar biasa. Ki Sumangkar seakan-akan mempunyai kekuatan ajaib pada dirinya. Sepuluh orang terpilih itu tidak berhasil membunuhnya, bahkan merekalah yang telah mati terbunuh.”

 “Mungkin petugas-petugas sandi dari Jati Anom tetapi juga mungkin pengawas-pengawas dari Sangkal Putung telah menemukan kesepuluh orang itu, sehingga mereka berhasil mereka jebak. Dalam pertempuran beradu dada maka sepuluh orang itu memerlukan sepasukan yang besar dari para pengawal Sangkal Putung untuk mengalahkannya,” berkata salah seorang dari mereka.

 “Kita harus segera melaporkan peristiwa ini. Mungkin ada sesuatu yang harus dilakukan. Jika benar kesepuluh orang itu mati dalam pertempuran, memang agaknya tidak banyak keterangan yang telah didengar. Tetapi jika mereka berhasil menangkap satu dua orang hidup-hidup kemudian memeras keterangan mereka sebelum mereka dibantai disini, maka itu akan merupakan hal yang gawat bagi kita.”

Yang lain mengangguk-angguk. Salah seorang berkata, “Kita memang harus segera melaporkan bahwa Sumangkar tentu masih hidup. Tidak ada seorang pun yang memberikan keterangan tentang kematian Sumangkar. Jika sekiranya ia terbunuh juga dalam pertempuran yang dahsyat, tentu mayatnya akan dibawa ke Sangkal Putung oleh para pengawal Kademangan Sangkal Putung.”

Dengan demikian orang-orang dari lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu menyadari, bahwa mereka akan berhadapan dengan bahaya, meskipun mereka belum dapat mengatakan, apakah yang akan terjadi di lembah itu.

Karena itulah maka mereka pun kemudian berpacu kembali kelembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Mereka hampir pasti bahwa justru Sumangkar lah dan orang-orangnyalah yang telah membunuh kesepuluh orang yang ditugaskannya membunuhnya.

Orang-orang itu memasuki lembah tanpa kesulitan, karena para pengawas dari Mataram memang tidak mengganggunya, meskipun dari tempat yang agak tinggi, mereka sempat melihatnya. Orang-orang itu memasuki lembah lewat jalur jalan sempit di antara gerumbul-gerumbul perdu dan hilang kedalam hutan yang semakin lebat.

Demikian para pengawas melihat orang-orang itu lewat, maka mereka pun segera mempersiapkan diri. Saatnya sudah tiba untuk menyongsong pasukan yang tentu sudah mendekati mulut lembah itu.

 “Untunglah, bahwa orang-orang itu sudah memasuki lembah,” berkata salah seorang dari para pengawas.

 “Seandainya belum-pun tidak akan ada pengaruhnya,” sahut yang lain.

 “Ya,” gumam yang lain lagi, “mereka akan tertahan disini. sementara lembah ini sudah tersumbat.”

Yang lain tidak menjawab. Tetapi menurut perhitungan mereka, sebentar lagi pasukan Mataram dan Sangkal Putung itu pun akan segera berada ditempat itu.

Ternyata semua rencana berjalan seperti yang diperhitungkan. Pasukan Mataram dan Sangkal Putung pun datang tepat pada waktunya, meskipun mereka tidak serentak berada ditempatnya.

 “Tidak ada gangguan apapun,” lapor para pengawas.

 “Jadi pasukan Sangkal Putung dan Mataram sudah dapat ditempatkan? “ bertanya seorang Senepati penghubung.

 “Ya. Kami sudah menemukan tempat-tempat yang paling baik bagi pasukan Sangkal Putung dan arah yang benar bagi pasukan Mataram yang akan memasuki lembah dalam gelar yang sempit.” sahut pemimpin pengawas itu.

Senapati itu pun kemudian kembali keinduk pasukannya dan melaporkannya kepada Raden Sutawijaya dan Swandaru.

 “Kita akan mempersiapkannya sekarang. Kita sudah berada di hari keenam. Kita akan beristirahat semalam. Sebelum fajar di hari ketujuh pasukan Mataram sudah akan bergerak,” berkata Raden Sutawijaya.

Demikianlah, maka pasukan Sangkal Putung yang telah berkumpul di lambung Gunung Merapi itu pun segera bergerak ke tempat yang ditunjukkan oleh para pengawas. Mereka segera menempatkan diri di tempat yang paling menguntungkan. Induk pasukan Sangkal Putung itu ditempatkan sebelah-menyebelah jalan setapak yang memasuki gerumbul-gerumbul di lembah itu dan langsung menusuk kedalam hutan. Namun yang lain menebar cukup panjang. Beberapa orang berada ditempat yang agak tinggi. Mungkin orang-orang yang berusaha melepaskan diri dari sergapan orang-orang Mataram akan melarikan diri memanjat lambung Gunung yang lebih tinggi sebelum mereka melingkar. Baik di sebelah Timur maupun di sebelah Barat.

Pada saat yang bersamaan, maka pasukan Tanah Perdikan Menoreh pun telah menempatkan dirinya pula. Mereka pun berharap untuk dapat beristirahat barang sejenak, dimalam hari menjelang hari ketujuh.

Para pengawas pun menempatkan mereka seperti yang dilakukan oleh pasukan Sangkal Putung. Mereka sedikit memasuki lembah dan menebar di tempat yang agak panjang, sementara mereka menempatkan induk pasukan mereka di tempat yang mudah untuk bergerak.

Dalam pada itu, pasukan Mataram telah mengambil sikap tersendiri. Dibawah pimpinan langsung Raden Sutawijaya mereka menyergap memasuki lembah. Mereka harus menemukan pusaka-pusaka yang hilang, yang menurut perhitungan tentu berada di lembah itu pula, sementara mereka pun akan dapat berhadapan dengan orang-orang yang ingin menentukan wajah baru bagi Tanah ini dengan sebuah kenangan atas kejayaan Majapahit.

 “Mudah-mudahan aku dapat berbuat sesuatu,” desis Kiai Gringsing. Seperti orang-orang tua yang berada di sekitarnya. Raden Sutawijaya pun mengetahui, bahwa ada sangkut-pautnya antara Kiai Gringsing dengan mereka.

Ketika matahari turun dihari yang keenam, maka rasa-rasanya darah di tubuh para pengawal Mataram, Sangkal Putung di sebelah Timur, dan para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh di sebelah Barat, mengalir semakin cepat. Meskipun demikian, agar mereka tidak terlalu lelah, maka mereka pun berusaha sejauh dapat dilakukan untuk beristirahat.

Mereka berbaring diatas rerumputan kering, diatas batu-batu besar yang berserakan di lembah, atau di tempat-tempat yang lain. Sementara beberapa orang yang sedang bertugas, dengan saksama mengawasi keadaan.

Beberapa orang pengawas yang memanjat tebing agak tinggi, melihat beberapa buah lampu minyak yang menyala, agak menjorok ketengah hutan. Agaknya lampu-lampu minyak didalam barak-barak yang telah dibuat oleh orang-orang yang tengah berkumpul di lembah itu.

Sementara itu, para pemimpin yang sudah hadir di lembah itu pun mulai tertarik kepada berita tentang hilangnya sepuluh orang yang ditugaskan membunuh Ki Sumangkar. Apalagi setelah mereka mendengar tentang gundukan tanah baru yang jumlahnya juga sepuluh.

 “Sumangkar memang siluman,” berkata salah seorang dari mereka, “ia adalah adik seperguruan Mantahun. Karena itu. maka untuk menyingkirkan orang itu, diperlukan perhitungan yang sangat teliti.”

Yang lain mengangguk-angguk. Mereka pun menyadari, siapakah Patih Mantahun.

Orang-orang yang mendapat tugas untuk menemukan kesepuluh orang itu pun segera melaporkan pula, bahwa mereka mendengar berita dari orang-orang Sangkal Putung, bahwa Sangkal Putung ternyata sedang kosong. Ki Sumangkar tidak ada di Kademangan. Bahkan kemudian Swandaru, isterinya dan Sekar Mirah pun tidak nampak pula.

 “Sekar Mirah adalah adik Swandaru. Ia adalah murid Ki Sumangkar,” berkata salah seorang dari mereka.

Tetapi agaknya sebagian dari mereka sudah mengetahui, sehingga tidak banyak di antara mereka yang bertanya lebih banyak lagi tentang orang-orang yang disebut.

Namun yang menarik perhatian adalah bahwa orang-orang itu tidak berada di Sangkal Putung.

 “Tetapi orang-orang kita yang ada di Jati Anom tidak mengatakan bahwa mereka telah datang untuk menghadap Untara,” berkata salah seorang dari mereka.

 “Jika demikian, maka mereka agaknya telah pergi ke Pajang untuk langsung melaporkan persoalan ini kepada Sultan,” desis yang lain.

 “Tidak. Aku tidak yakin. Bahkan mungkin mereka telah pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Bukankah Pandan Wangi, isteri Swandaru itu berasal dari Tanah Perdikan Menoreh?”

 “Ya,” seorang yang bibirnya seakan-akan selalu dihiasi dengan senyum menyahut, “kawanku, Gandu Demung telah terbunuh ketika ia mencoba untuk ikut mengiringkan pengantin dari Tanah Perdikan Menoreh itu.”

 “Kenapa?” bertanya seorang bertubuh gemuk.

Orang yang selalu tersenyum, dan pernah berada di Gunung Tidar itu berdesis, “Orang-orang Sangkal Putung-pun telah kepanjingan iblis.”

Kawan-kawannya menjadi heran, sehingga salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah kawanmu bernama Gandu Demung itu salah seorang kawan Swandaru atau siapa? Dan kenapa ia terbunuh justru saat itu mengiringkan pengantin dari Tanah Perdikan Menoreh itu?”

Panganti tersenyum. Namun ternyata nada suaranya digetarkan oleh dendam yang menyala dihatinya, “Orang-orang Sangkal Putung adalah orang-orang gila seperti Gandu Demung sendiri.”

 “Ya, tetapi apa yang telah terjadi?”

Panganti sempat menceriterakan dengan singkat, apa yang telah dialami Gandu Demung, sehingga dengan demikian, maka pun telah memperkuat dugaan, bahwa Ki Sumangkar bersama orang-orang Sangkal Putung telah membunuh sepuluh orang yang ditugaskan untuk membinasakan Ki Sumangkar itu sendiri.

Sementara itu, orang-orang terpenting di lembah itu pun telah mengambil keputusan untuk sekali lagi mengirimkan sekelompok orang-orang yang lebih kuat untuk menemukan Ki Sumangkar sebelum ia memberikan laporan kepada siapa pun juga.

 “Menurut laporan yang kami dengar sampai saat ini dari Pajang dan dari Jati Anom. Ki Sumangkar belum memberikan laporan tentang kegiatan kita. Tetapi jelas bahwa ia tidak akan dapat menghadap Sultan. Jika ia nampak di Kota Raja, maka beberapa orang perwira telah siap membunuhnya,” berkata seorang perwira Pajang yang ada di antara mereka.

Namun dalam pada itu maka pertemuan di lembah itu pun telah disiapkan pula Empu Pinang Aring yang telah berada di lembah itu pula, mendesak agar pertemuan segera berlangsung sebelum terjadi sesuatu.

 “Kita terlampau lamban,” berkata Empu Pinang Aring.

 “Sebenarnya kita menunggu apakah usaha untuk mendapatkan keris Kangjeng Kiai Sangkelat itu dapat berhasil.” jawab seorang Perwira tinggi Pajang yang ada di antara mereka, “sementara kakang Panji akan datang sendiri menghadiri pertemuan ini.”

 “Kapan ia akan datang?”

Perwira tinggi itu termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Segera. Maksudnya bahwa ia akan datang sambil membawa pusaka Kangjeng Kiai Sangkelat, sehingga kedudukan kita menjadi semakin jelas. Namun jika belum berhasil dalam waktu dekat ia akan datang tanpa Kiai Sangkelat.”

 “Kita sudah jauh terlambat dari gerakan orang-orang Pajang di Jati Anom, orang-orang Mataram dan orang-orang Sangkal Putung. Sementara menurut pengamatan kami, kelemahan terdapat di Tanah Perdikan Menoreh yang terkantuk kantuk sekarang ini.”

Namun dalam pada itu, selagi mereka menyesali kelambanan kerja yang telah menyebabkan pertemuan di lembah itu masih harus tertunda satu dua hari, maka lembah itu telah digetarkan oleh laporan para pengawas. Dengan tegas mereka menceritakan apa yang telah mereka saksikan di mulut lembah.

 “Kami melihat persiapan sepasukan yang kuat di mulut lembah,” berkata pengawas itu.

Berita itu benar-benar telah memukul setiap jantung. Empu Pinang Aring yang hampir tidak telaten menunggu perundingan yang menentukan bagi kedudukan mereka itu, dengan serta merta bertanya, “Apakah kau melihat sendiri?”

 “Ya. Kami melihat gerakan itu. Pengamat kami kemudian mencoba mengadakan penyelidikan. Ternyata bahwa mereka telah menempatkan diri di mulut lembah, menebar dari kaki Gunung Merapi sampai kekaki Gunung Merbabu.”

 “Gila,” geram perwira Pajang yang ada di antara mereka, “sebut, apakah mereka prajurit Pajang?”

 “Tidak. Menilik pakaian yang mereka kenakan. Kemungkinan terbesar mereka datang dari Mataram.” jawab pengawas itu.

Empu Pinang Aring melangkah mendekati pengawas itu dengan wajah yang merah padam. Katanya, “Mataram sudah menjawab tantangan kita. He, apakah kata Kelasa Sawit?”

Semenjak orang-orang didalam ruangan itu termangu-mangu. Mereka tidak melihat Kiai Kelasa Sawit berada di antara mereka.

 “Ia berada dibaraknya.”

 “Kita harus berbicara sekarang ini. Bukan lagi tentang kedudukan dan kewajiban kita dalam kebesaran kerajaan Majapahit baru. Tetapi kita akan berbicara bagaimana kita menyediakan kuburan raksasa bagi orang-orang Mataram.” geram Empu Pinang Aring.

Perwira Pajang yang ada di antara mereka itu pun kemudian bergumam, “Kakang Panji masih belum ada di antara kita. Tetapi tentu kita tidak akan menunggu perintahnya jika benar-benar orang Mataram itu datang.”

 “Dimana Tumenggung Wanakerti. Bukankah ia diserahi pimpinan disini sebelum orang yang menyebut dirinya kakang Panji itu datang?” bertanya Ki Samparsada seorang yang bertubuh tinggi, berambut berjambang dan berkumis putih.

Perwira prajurit Pajang itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kita akan berkumpul. Kakang Tumenggung harus segera dipanggil.”

Perwira itu pun segera memerintahkan orang-orangnya untuk memanggil orang-orang terpenting yang ada didalam barak mereka masing-masing. Kiai Kelasa Sawit, Empu Pinang Aring, Ki Samparsada, seorang bertubuh raksasa yang bernama Kiai Jagaraga dan beberapa orang lain. Mereka adalah orang-orang yang merasa dirinya memiliki warisan atas kebesaran kerajaan Majapahit.

“Kita belum berbicara apa-apa disini,” berkata orang bertubuh raksasa itu.

“Tetapi kita cukup banyak mendapatkan bahan-bahan yang akan kita bicarakan dengan pihak Pajang yang akan menentukan saat-saat yang tepat untuk mengambil alih kekuasaan,” sahut Ki Samparsada, “kehadiran kita disini tidak sia-sia. Kita sudah lebih dahulu menemukan sikap yang akan kita hadapkan kepada kakang Panji yang masih belum juga datang.”

 “Dan yang kini datang, bukannya kakang Panji, tetapi pasukan Mataram yang kuat.”

Tumenggung Wanakerti yang sudah berada di antara mereka itu pun kemudian berkata, “Sebenarnya persoalan kita sudah selesai. Persoalan-persoalan yang ada di antara kita sudah kita pecahkan meskipun secara kasar. Jika kakang Panji datang, maka kita sudah mendapatkan pola keputusan yang harus diambilnya.” Tumenggung Wanakerti berhenti sejenak, lalu. “jika kini pasukan Mataram datang, itu adalah menyenangkan sekali. Bukankah kita akan mengusulkan kepada kakang Panji, bahwa sebelum kita melangkah lebih jauh, maka kita akan membinasakan Mataram lebih dahulu? Kini orang-orang Mataram itu datang sendiri. Mereka tentu tidak menyadari kekuatan yang akan mereka hadapi di lembah ini. Kekuatan yang sudah kita persiapkan, bukan saja untuk menghapuskan Mataram, tetapi juga akan menelan Kota Raja.”

 “Jangan terlalu berbangga Ki Tumenggung,” berkata Empu Pinang Aring, “meskipun kita sudah banyak berbicara dan mendapatkan pola penyelesaian, tetapi, yang kita bicarakan adalah masalah-masalah yang terlalu kasar. Belum sampai pada masalah-masalah yang lebih kecil dan rumit. Kita belum tahu, apakah kita akan mengumpankan pasukan pilihan yang kita persiapkan di lembah ini, atau kita harus menghindar untuk menyusun diri lebih mantap. Bukankah kita telah merencanakan, jika kakang Panji sependapat, untuk memukul Pajang dengan pasukan terpercaya ini, tetapi gerakan ditempat-tempat lain akan membantu memecah perhatian prajurit-prajurit Pajang.”

 “Ya. Kita tetap pada rencana itu. Dan kita tetap pada rencana untuk menghancurkan Mataram. Dan kini Mataram telah datang dengan sendirinya. Apakah salahnya jika kita mempergunakan pasukan yang telah siap ini.”

Beberapa orang menjadi termangu mangu. Namun kemudian orang bertubuh raksasa itu berkata, “Kita akan mempergunakan pasukan yang ada. Aku ingin bertemu dengan orang yang bernama Raden Sutawijaya dan bergelar Senapati Ing Ngalaga.”

 “Memang tidak ada salahnya,” desis Ki Samparsada, “aku juga ingin melihat Mataram binasa. Dan itu adalah kesalahan Ki Sumangkar. Jika ia lolos dari maut dan justru berhasil membinasakan sepuluh orang kepercayaan kita termasuk Kiai Jambu Sirik dan Kiai Senadarma, maka kini ia telah menyeret Mataram kedalam maut itu. Agaknya ia memang tidak melaporkan kepada Untara di Jati Anom atau kepada para perwira di Pajang. Tetapi ia lebih senang melaporkan kepada Raden Sutawijaya yang kini dengan sombong telah datang dengan pasukannya.”

 “Mereka yang datang dari Mataram itu mengira, bahwa kita sedang bermain-main disini. Mereka tidak tahu, apakah yang sebenarnya ada di lembah ini,” berkata Tumenggung Wanakerti, “Jika demikian halnya, maka kita pun harus segera mempersiapkan pasukan kita masing-masing.”

 “Dalam sekejap pasukan sudah siap,” berkata Empu Pinang Aring. Lalu. “Ada juga gunanya kejutan serupa ini. Orang-orangku telah jemu menunggu Kiai Sangkelat. Jika mereka mendapat kesempatan untuk mendapatkan selingan sekarang ini, maka mereka tentu akan terbangun dan gairah perjuangan mereka akan tumbuh semakin mekar.”

 “Sekarang juga pasukanku siap bertempur,” berkata Kiai Kelasa Sawit, “sebenarnya aku mengharap Untara datang. Ia telah membuat hatiku sakit. Tetapi jika yang datang Mataram, maka aku akan melepaskan dendamku kepada orang-orang Mataram yang dungu itu.”

Tumenggung Wanakerti mengangguk-angguk. Ia percaya, bahwa setiap orang yang telah ikut membicarakan beberapa persoalan di lembah itu sambil menunggu kedatangan pemimpin tertinggi para perwira prajurit Pajang yang terlibat didalamnya, akan dapat mempersiapkan diri dengan cepat. Sehingga mereka tidak perlu cemas, bahwa kekuatan Mataram akan dapat melampui kekuatan mereka.

Namun dalam pada itu. Tumenggung Wanakerti berkata, “Kita masih menunggu kehadiran sebuah pusaka lagi, Kangjeng Kiai Sangkelat. Karena itu, yang sudah ada pada kita harus kita pertahankan. Jika orang-orang Mataram datang dengan niat untuk merebut pusaka-pusaka itu, maka yang akan mereka temukan adalah sebuah kuburan raksasa bagi mereka.”

Empu Pinang Aring mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi Ki Tumenggung. Sesudah kita menyelesaikan tugas ini, maka aku mengharap, agar persoalan kita cepat mendapat penyelesaian. Mungkin kakang Panji masih sibuk sehingga ia belum mendapatkan kesempatan mengambil pusaka Kangjeng Kiai Sangkelat dari gedong pusaka. Tetapi seharusnya ia datang dan menentukan sikap sampai kebahagian yang sekecil-kecilnya. Dengan demikian kita masing-masing akan merasa, bahwa perjuangan ini tidak sia-sia.”

Tumenggung Wanakerti tersenyum. Katanya, “Empu. Jangan cemas. Aku yakin bahwa kakang Panji akan menepati janjinya. Kerajaan Majapahit kelak akan membutuhkan beberapa orang Adipati untuk mengganti para Adipati yang ternyata tidak mampu mengendalikan daerahnya seperti sekarang ini. Tetapi semuanya itu juga dipengaruhi oleh sumber pemerintahan yang berhenti. Sultan Pajang tidak lagi mempunyai gairah perjuangan buat masa depan kita yang panjang.”

Empu Pinang Aring pun tersenyum pula. Katanya, “Aku tidak akan ingkar. Aku adalah seorang yang akan menyebut diriku seorang Adipati yang mumpuni.”

 “Tetapi sekarang, persoalan kita adalah kedatangan orang-orang Mataram.” potong Tumenggung Wanakerti, “karena itu, siapkan sepasukan pengawal yang terkuat untuk melindungi pusaka-pusaka yang sudah ada ditangan kita.”

 “Jangan takut. Orang-orang Mataram tidak akan dapat menyentuh pusaka itu,” desis Kiai Kelasa Sawit.

Dalam pada itu, maka di malam itu juga orang-orang di lembah itu pun segera menyiapkan pasukannya. Dibawah cahaya obor yang bagaikan membakar hutan, mereka bersiap di barak masing-masing.

Orang-orang yang sudah mulai berbaring itu mengumpat didalam hati. Mereka rasa-rasanya malas sekali untuk berbuat sesuatu. Sudah terlalu lama mereka berada di lembah yang menjemukan itu.

Tetapi sebagian dari mereka, kegawatan keadaan itu merupakan suatu selingan yang menggembirakan. Setelah sekian lamanya mereka duduk sambil menghitung peredaran bulan dilangit, mereka akan mendapatkan suatu permainan meskipun dengan taruhan nyawa.

 “Kita akan mencium bau darah,” berkata salah seorang dari mereka, “dengan demikian kita akan terbangun dari mimpi yang menjemukan ini.”

Orang-orang di lembah itu tidak perlu lagi merahasiakan kehadirannya, sehingga karena itu maka mereka tidak lagi segan-segan mempergunakan obor untuk mempersiapkan diri menghadapi orang-orang Mataram yang akan datang ke lembah itu.

Dengan demikian maka lembah itu pun segera digetarkan oleh hiruk pikuk pasukan yang tengah bersiap-siap untuk bertempur dengan sepenuh kekuatan.

Dalam pada itu, malam dihari keenam itu pun telah menjadi semakin dalam. Untuk menjajagi kekuatan lawan, Sutawijaya telah mengirimkan beberapa petugas sandinya. Mereka sejauh mungkin berusaha untuk mengetahui keadaan lawan. Jika ada hal-hal yang berbahaya, maka mereka harus segera melaporkan kepada Raden Sutawijaya.

Dengan dada yang berdebar-debar para pengawas itu melihat obor yang tersebar di lembah yang ditumbuhi oleh hutan yang cukup lebat itu. Obor obor itu bagaikan suatu petunjuk, bahwa lawan yang mereka hadapi sebenarnya adalah kekuatan yang cukup gawat.

Dengan hati-hati mereka berusaha mendekati perkemahan lawan. Didalam gelapnya malam dan pepatnya pepohonan, petugas sandi itu berhasil mendekat meskipun pada jarak yang tidak terlampau pendek.

Namun ternyata persiapan di lembah itu telah mengejutkannya. Mereka melihat pasukan yang kuat bersiap dalam kelompok masing-masing. Mereka melihat beberapa barak yang berpencar. Dan di setiap halaman barak, mereka melihat pasukan yang telah bersiap untuk bertempur.

 “Jumlah mereka terlalu banyak,” desis pengawas itu.

 “Ya. Pasukan Mataram tidak sebanyak itu. Jumlah mereka mungkin dua kali lipat dari pasukan kita.”

Para pengawas itu termangu-mangu. Kemudian mereka memutuskan untuk segera melaporkan kepada Raden Sutawijaya.

Laporan itu telah menumbuhkan persoalan baru bagi Raden Sutawijaya. Pengenalan mereka terhadap kekuatan lawan memang agak kurang cermat. Namun semula Raden Sutawijaya tidak menyangka, bahwa di lembah itu telah berkumpul pasukan yang sedemikian banyak dan kuat.

 “Jadi, apa yang harus kita lakukan?” bertanya pengawas itu.

 “Kita akan berbicara dahulu,” desis Raden Sutawijaya.

Dengan demikian, maka Raden Sutawijaya pun segera memanggil orang-orang terpenting dipasukannya dan di pasukan para pengawal Sangkal Putung. Mereka dengan cermat mendengarkan laporan petugas sandi yang telah melihat perkembangan keadaan lawan di lembah itu.

 “Jumlah mereka terlalu banyak,” desis Raden Sutawijaya.

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa rencana Mataram masih kurang matang Mereka hanya berdasarkan kepada dugaan-dugaan bertandasan keterangan beberapa orang tawanan. Tetapi setelah mereka melihat kenyataan tentang jumlah lawan, maka mereka perlu mempertimbangkannya lebih lanjut.

 “Jika demikian,” Swandaru tiba-tiba saja memotong, “pasukan dari Sangkal Putung tidak perlu menunggu di mulut lembah. Bersama dengan pasukan Mataram maka jumlah kita akan berlipat.”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya petugas sandi yang telah memasuki lembah itu. Kemudian dengan ragu ia bertanya, “Bagaimana menurut penglihatanmu?”

Pengawas itu termangu-mangu sejenak. Memang pasukan Sangkal Pulung jumlahnya hampir sebanyak pasukan Mataram sendiri. Tetapi pengawas itu meragukan, apakah setiap orang didalam pasukan Sangkal Putung itu memiliki kemampuan seorang prajurit.

Karena itu, maku katanya kemudian, “Dengan pasukan Sangkal Putung mungkin jumlahnya akan memadai, karena pasukan Sangkul Putung itu hampir sejumlah orang-orang didalam pasukan Mataram.” ia berhenti sejenak. Sekilas dipandanginya wajah Swandaru.

 “Aku tahu,” sahut Swandaru, “kau meragukan kemampuan secara pribadi dari orang-orangku. Baiklah aku yang bertanggung jawab, bahwa mereka tidak berada dibawah kemampuan seorang prajurit. Atau katakan, bedanya tidak terlalu banyak.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Ia percaya keterangan Swandaru. Para pengawal Kademangan Sangkal Putung memang memiliki kemampuan yang, cukup. Seperti yang dikatakan oleh Swandaru sendiri, bedanya memang tidak terlalu banyak.

Namun demikian Raden Sutawijaya masih ragu-ragu. Jika ia melibatkan langsung pasukan Sangkal Putung, maka pengorbanan Sangkal Putung akan menjadi terlampau besar bagi perjuangan tegaknya Mataram. Namun jika ia tidak membawa pasukan itu serta, maka kekuatan pasukan Mataram masih kurang memadai.

Dalam keragu-raguan itu Kiai Gringsing berkata, “Bagaimana jika kita juga menghubungkan pasukan dari Tanah Perdikan Menoreh? Aku kira pasukan mereka juga cukup kuat.”

 “Maksud Kiai?”

 “Untuk mengurangi tekanan pasukan yang ada di lembah itu, maka biarlah pasukan Tanah Perdikan Menoreh juga memasuki lembah, sehingga pasukan yang ada di lembah itu harus membuka dua garis perang. Meskipun jumlah mereka lebih banyak dari pasukan Mataram, tetapi dengan dua garis perang, mereka tentu akan membagi diri.”

 “Tetapi kita tidak tahu keadaan pasukan Tanah Perdikan Menoreh dengan pasti Kiai,” berkata Raden Sutawijaya, “selebihnya, apakah kita masih mempunyai waktu untuk menghubungi mereka.”

 “Kita masih mempunyai waktu semalam. Kita akan mengirimkan penghubung berkuda.”

 “Tetapi di dini hari mereka tentu belum sampai meskipun mereka tidak banyak beristirahat.”

 “Tidak perlu di dini hari Raden. Mereka secepat-cepatnya baru akan sampai tengah hari. Tetapi jika mereka mendengar pesan itu, maka mereka tentu akan langsung bergerak, sementara kita masih akan tetap bertahan dengan pasukan yang ada, karena menurut para pengawas, jumlah pasukan Mataram dan Sangkal Putung cukup memadai. Kita akan bertahan sampai tengah hari. sebelum pasukan Tanah Perdikan Menoreh bergerak.”

Raden Sutawijaya berpikir sejenak. Kemudian dipandanginya Ki Juru Martani yang sedang berpikir pula.

 “Bagaimana pendapat paman,” Raden Sutawijaya mendesak.

———-oOo———-

Bersambung ke jilid 107

 

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-II-6/

Terima kasih kepada Ki Sarip Tambak Oso yang telah me-retype jilid ini.

<<kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s