ADBM2-108

<< kembali | lanjut >>

SESAAT Ki Gede Telengan memusatkan segenap kemampuan ilmu dan kekuatannya pada sorot matanya. Dengan tangan yang tersilang, ia berdiri tegak. Dipandanginya Agung Sedayu yang sedang berusaha memperbaiki keadaannya setelah pisau-pisau yang menyambarnya lewat.

Namun tiba tiba terasa seakan-akan urat-urat darahnya bagaikan tersumbat di dadanya. Seakan-akan batu sebesar bukit telah menindihnya. Bukan saja darahnya yang berhenti mengalir, tetapi nafasnyapun bagaikan terputus.

Sejenak Agung Sedayu mencoba membebaskandirinya dengan loncatan-loncatan. Setiap kali ia berhasil melepaskan diri dari garis pandangan mata Ki Gede Telengan, terasa dadanya menjadi longgar. Namun jika sentuhan tatapan matanya itu mengenai dirinya, terasa himpitan itu telah menekannya kembali.

Pada saat-saat tertentu Agung Sedayu mencoba untuk meloncat dan berguling di tanah. Dan terasa olehnya himpitan itu tidak berpengaruh langsung pada dadanya, tetapi pada bagian-bagian tubuhnya yang dapat dikenai oleh pandangan mata Ki Gede Telengan.

Akhirnya Agung Sedayu yakin, banwa Ki Gede Telengan benar-benar telah mempergunakan sorot matanya, dengan kekuatan llmunya, yang dapat mengenainya seperti serangan wadagnya.

Dalam pada itu, pertempuran disayap gelar pasukan Tanah Perdikan Menoreh itu berlangsung dengan sengitnya. Ki Gede Menoreh dengan pengawalnya telah mendekati arena. Dari kejauhan ia melihat betapa bahayanya benturan yang terjadi pada kedua belah pihak.

Seorang demi seorang, pengawal Ki Gede Telengan mempunyai kelebihan, karena mereka memang merupakan pengawal-pengawal terpilih. Tetapi dalam benturan kekuatan itu. ternyata pengawal Tanah Perdikan Menoreh berjumlah lebih banyak, sehingga anak-anak muda yang memang belum berpengalaman sama sekali masih sempat bertempur sambil memperhitungkan setiap kemungkinan, karena mereka tidak bertempur seorang melawan seorang.

Ketika Ki Gede Menoreh berada semakin dekat dengan arena, maka ia melihat betapa Agung Sedayu berusaha menghindarkan diri dari serangan lawan yang dahsyat itu.

Ki Gede Menoreh adalah orang yang memiliki pengalaman yang matang. Karena itulah, maka ia pun langsung dapat mengetahui, apakah yang sedang terjadi dengan Agung Sedayu. Dengan cemas ia mendekat dan meyakinkan, bahwa lawan Agung Sedayu memiliki ilmu yang luar biasa. Ia mampu menyerang lawannya dengan sorot matanya yang mempunyai kekuatan wadag.

Ki Gede Menoreh yang memegang sebatang tombak pendek itu pun mendekat. Ia telah membuat perhitungan tertentu untuk membantu Agung Sedayu. Ia harus menyerang orang yang luar biasa itu dari arah yang berbeda dengan Agung Sedayu, sehingga ia akan mampu mempengaruhi lontaran ilmu yang mengerikan itu.

 “Lindungi aku dari Pengawal-pengawal orang itu,” berkata Ki Gede Menoreh kepada pengawalnya, “aku akan membantu Agung Sedayu yang berada dalam kesulitan.”

Pengawal Ki Gede Menoreh itu pun segera mempersiapkan diri. Mereka harus dapat memberi kesempatan Ki Gede Menoreh mencapai lawan Agung Sedayu yang memiliki kemampuan yang luar biasa itu.

Dalam pada itu, Agung Sedayu benar-benar merasakan tubuhnya bagaikan menjadi semakin terhimpit oleh kekuatan lawannya. Itulah sebabnya, maka ia tidak mempunyai pilihan lain daripada mempergunakan segenap ilmu dan kemampuan yang ada padanya karena ia tidak akan dapat minta bantuan kepada siapapun juga untuk melawan ilmu Ki Gede Telengan itu. Dengan sadar ia dapat menilai, bahwa jika para pengawal Tanah Perdikun Menoreh yang masih muda-muda itu mendapat serangan serupa, maka mereka tentu akan pingsan pada sentuhan yang pertama. Nafas dan darah mereka akan berhenti mengalir untuk beberapa saat lamanya, meskipun serangan itu telah dilepaskan.

Apalagi pada saat itu, Agung Sedayu tidak melihat kehadiran Ki Gede Menoreh di medan.

Sementara itu, di belakang medan di sebelah Timur, Ki Tumenggung Wanakerti berlari-lari kecil menuju kebarak, Ki Tumenggung sengaja memilih jalan melingkar yang mungkin akan dapat menjebak Ki Gede Telengan. Hatinya benar-benar terguncang ketika ia melihat barak telah kosong. Barak penyimpanan pusaka pun telah kosong pula.

 “Gila Telengan memang telah gila,”geramnya.

Pengawal-pangawalnya pun telah dibakar oleh kemarahan pula ketika mereka melihat beberapa kawan mereka telah menjadi mayat. Dibeberapa tempat mereka melihat mayat yang terluka oleh senjata. Bahkan ada yang terluka di punggungnya.

 “Sebagian dari mereka telah terlusuk di punggungnya,” geram salah seorang pengawal, “ia tentu mati sebelum sempat melawan. Orang-orang Ki Gede Telengan itu tentu menusuk dari belakang.”

Ki Tumenggung Wanakerti benar-benar telah dibakar oleh kemarahan yang rasa-rasanya telah meledakan jantungnya. Dengan suara lantang ia pun kemudian meneriakkan perintah, “Kita akan mencarinya sampai ketemu, meskipun kita harus meninggalkan medan di lembah ini.”

Para pengawalnya menjadi berdebar-debar. Mungkin yang akan mereka lakukan adalah sebuah perjalanan menyelusuri jejak Ki Gede Telengan. Apalagi sementara dari mereka mengetahui bahwa Ki Gede Telengan adalah orang yang memiliki ilmu yang sangat dahsyat.

Namua mereka pun menyadari, bahwa Ki Tumeuggung Wanakerti adalah orang yang pilih tanding pula. Ki Tumenggung Wanakerti memiliki ilmu yang seakan-akan tidak masuk akal. Kekuatan dan daya tahan tubuhnya bagaikan sekedar ceritera dalam dongeng-dongeng masa lampau.

Dengan teliti Ki Tumenggung Wanakerti memeriksa jejak-jejak yang mungkin ditinggalkan oleh Ki Gede Telengan. Rerumputan yang berjatuhan, ranting-ranting yang tersibak dan dedaunan yang terinjak kaki.

 “Ia pergi ke Barat,” desis Ki Tumenggung Wanakerti. “Apakah ia tidak mengetahui bahwa di mulut lembah bagian Barat terdapat sepasukan Tanah Perdikan Menoreh.”

Namun dalam pada itu, ia pun telah melihat jejak yang lain. Jejak menuju kearah Timur.

Ternyata bahwa Ki Tumenggung yang berjalan melingkar itu tidak berpapasan dengan pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang tidak lengkap itu.

Beberapa saat lamanya, Ki Tumenggung Wanakerti meyakinkan pengamatannya tentang jejak di sekitar barak itu. Namun beberapa orang pengawalnya yang meragukannya berkata, “Yang kearah Timur adalah jejak kita sendiri saat kita berangkat meninggalkan barak ini.”

 “Mungkin. Tetapi pula tidak. Bahkan aku condong untuk menganggap bahwa itu bukan jejak kita, karena kita saat berangkat kemedan berkumpul di depan barak itu, sekelompok demi sekelompok. Kami berangkat dalam urutan pasukan dan tidak menebar seperti jejak ini.”

Pengawal-pengawalnya mengangguk-angguk. Katanya, “Jika Kita tidak melingkar dan datang kebarak ini lewat sisi, kita akan dapat melihat, apakah jejak itu jejak kita sendiri atau bukan. Karena jika jejak itu bukan jejak kita sendiri, kita tentu akan berpapasan dengan mereka.”

Ki Tumenggung Wanakerti menjadi termangu-mangu sejenak, ia menjadi agak bingung, kemana ia harus menyusul Ki Gede Telengan. Ki Tumenggung yang datang ke barak itu dengan menempuh jalan melingkar, sehingga ia datang ke barak itu dari lereng gunung, memperhitungkan bahwa mungkin ia masih dapat berpapasan dengan Ki Gede Telengan yang menurut dugaannya akan melarikan pusaka itu naik kelereng Gunung Merapi, karena Ki Gede Telengan pun sadar, bahwa di mulut lembah terdapat pasukan yang menunggunya.

Tetapi dilereng Gunung yang agak tinggi ia tidak menemukan jejak apapun juga. Sementara jejak di sekitar barak itu benar-benar telah membingungkannya.

Ki Tumenggung Wanakerti tidak sadar sama sekali bahwa sepasukan pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh telah melintasi barak itu dan menuju kemedan.

Dalam pada itu, Prastawa memang tidak menebarkan pasukannya yang hanya sebagian. Sayap yang kosong karena terbentur Ki Gede Telengan sama sekali tidak diisinya, karena dengan demikian menurut perhitungaannya, pasukannya justru akan menjadi sangat lemah karena terbagi dalam garis tebar yang panjang. Dan itulah sebabnya, maka Ki Tumenggung Wanakerti yang justru berada diarah sayapnya yang kosong tidak dijumpainya.

Prastawa sadar, bahwa pasukannya terutama hanyalah sekedar memancing perhatian dan mengurangi tekanan pada pasukan Mataram dan Sangkal Putung. Itulah sebabnya maka ia memberatkan kekuatannya pada paruh pasukan dan melepaskan sayap yang tertinggal.

Dalam keragu-raguan, akhirnya Ki Tumenggung Wanakerti berkata. “Aku pasti, bahwa Ki Gede Telengan telah menempuh jalan ke Barat. Mungkin ia akan berbelok dan naik kelereng Gunung Merapi melingkari pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang berjaga-jaga di mulut lembah.”

 “Ya. Aku kira mereka memang tidak akan pergi ke Timur,” desis seorang pengawalnya.

 “Mudah-mudahan mereka tidak jatuh ke tangan orang-orang Tanah Perdikan Menoreh. Jika demikian maka pusaka-pusaka itu pun akan jatuh ketangan Ki Gede Menoreh yang pasti akan menyerahkannya kepada orang-orang Mataram lagi.” Geram Ki Tumenggung Wanakerti.

Dengan demikian, maka Ki Tumenggung Wanakerti pun memutuskan untuk menyusul Ki Gede Telengan kearah Barat. Ia telah meninggalkan seorang pengawalnya untuk kembali ke medan.

 “Jika orang-orang Mataram telah binasa, maka katakanlah kepada para pemimpin kelompok bahwa aku mencari Ki Gede Telengan. Biarlah mereka menghancurkan sama sekali orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh dan kemudian menunggu kedatanganku. Jika aku tidak berhasil menemukan orang gila itu atau jejaknya, maka kita akan bersama-sama memencar dan mencarinya.”

 “Tetapi matahari telah condong. Mungkin pertempuran hari ini masih belum dapat diselesaikan,” jawab penghubung itu.

 “O, kita bukan orang-orang cengeng yang meniup sangkakala ketika matahari terbenam dan meninggalkan medan, menunda pertempuran setelah fajar menyingsing. Aku yakin, bahwa para pemimpin dipasukan kita akan mampu bertempur sampai tiga hari tiga malam.”

Penghubung itu ragu-ragu sejenak.

 “Tentu Senopati itu menyadari, jika pertempuran agaknya masih akan berlangsung panjang, ia akan memerintahkan beberapa orang pengawal untuk menyediakan makan dan minum.”

Penghubung itu menarik nafas dalam-dalam. Ia pernah mengalami pertempuran menjelang jatuhnya Jipang, bertempur sambil mengunyah makanan dan minum bergiliran, karena masing-masing tidak ingin menghentikan pertempuran setelah lewat sehari penuh.

Beberapa orang yang bertugas menyiapkan makanan menyusul kemedan dan membagikan makanan khusus kepada para prajurit yang sedang bertempur. Makanan yang dapat digenggam dan langsung masuk kedalam mulut.

 “Pengawal yang bertugas sebagai penghubung itu pun kemudian kembali kepasukannya di medan ketika Ki Tumenggang Wanakerti membawa pasukannya mengikuti jejak Ki Gede Telengan. Sekali-sekali Tumenggung Wanakerti mengalami kesulitan, namun kemudian diketemukannya kembali rerumputan yang terinjak kaki, ranting-ranting yang patah dan pohon-pohon perdu yang tersibak.

Dengan kemarahan yang menghentak-hentak didadanya, Ki Tumenggung Wanakerti berusaha secepat-cepatnya menyusul Ki Gede Telengan yang telah berkhianat dengan melarikan pusaka-pusaka yang tengah mereka pertahankan itu.

Sementara itu, pasukan yang dibawa oleh Prastawa dengan sebelah sayap itu pun telah mendekati medan. Mereka mulai mempersiapkun diri untuk menghadapi pertempuran yang mungkin akan berlangsung dengan dahsyatnya. Tetapi Prastawa yakin bahwa pasukan Mataram dan Sangkal Putung tentu akan segera menguasai medan sehingga beban yang di pikulkan kepada pasukan Tanah Perdikan Menoreh tidak akan terlalu berat.

Tetapi, terbersit pula keinginan Prastawa untuk menunjakkan, bahwa Ia pun mampu melakukan tugas yang penting dan secara pribadi memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan sebagai seorang anak muda dari Tanah Perdikan Menoreh.

Tetapi jumlah pasukan Tanah Perdikan Menoreh memang tidak terlalu banyak. Sebelah sayapnya tertinggal bersama Agung Sedayu. Sementara sebagian dari induk pasukannya dan sayap yang lainpun tidak lengkap bersamanya maju ke depan.

Namun dengan penuh keyakinan Prastawa mendekati medan. Para pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah menggenggam senjata mereka erat. Mereka sudah mulai mendengar sorak yang riuh dipeperangan. Orang-orang Mataram dan Sangkal Putung yang tidak ingin terpengaruh oleh teriakan-terikan orang yang berada di lembah itu, telah berteriak pula. Selain dengan demikian mereka telah menyumbat telinga mereka sendiri, merekapan juga dapat memberikan gairah perjuangan bagi kawan-kawan mereka.

Karena pertempuran itu menjadi riuh, maka setiap isyarat dan perintah hanya dapat diberikan lewat isyarat bunyi yang dapat melampaui sorak sorai yang gegap itu.

Sejenak kemudian, pasukan Tanah Perdikan Menoreh itu telah benar-benar berada di belakang medan. Seorang pengawas tiba-tiba saja telah melihatnya, sehingga dengan demikian maka dengan tergesa-gesa mereka pun berlari-lari memberikan laporan kepada Senopati yang memegang pimpinan atas limpahan kekuasaan dari Ki Tumenggung Wanakerti.

 “Pasukan yang lain telah datang dari arah belakang,” suaranya mengatasi teriakan-teriakan di medan itu.

Senapati yang sedang bertempur dengan gigihnya itu mendengar laporan yang kurang jelas. Karena itulah, maka ia pun telah meninggalkan lawannya dan mempercayakannya kepada Senopati-Senopati pembantunya.

Dari pengawas itu ia mendengar laporan tentang pasukan yang datang dari arah belakang.

 “Apakah mereka pasukan dari Tanah Perdikan Manoreh?”

 “Aku kurang tahu.”

 “Jika demikian mereka telah melalui barak yang dijaga oleh Ki Gede Telengan.”

 “Ya. Telah terjadi pengkhianatan Ki Gede tidak setia.”

Senapati itu termangu-mnangu sejenak. Namun ia harus segera mengambil kepatusan.

Karena itulah maka ia pun kemudian memerintahkan beberapa orang untuk mangatasi kesulitan yang datang dari arah belakang. Beberapa orang pimpinan kelompok dengan orang-orangnya. Namun ia pun telah melepas beberapa orang penghubung untuk memberikan isyarat kepada saysp pasukannya agar mereka menghadapi lawan yang datang dari belakang.

Kehadiran pasukan Tanah Perdikan Menoreh itu benar-benar telah mengejutkan para pemimpin pasukan di lembah itu. Beberapa tanggapan telah timbul di antara mereka. Ada yang menyangka bahwa Ki Gede Telengan telah dibinasakan oleh Ki Gade Menoreh yang mereka kenal sebagai seorang yang memiliki ilmu yang hampir sempurna. Tetapi ada pula yang menduga bahwa pasukan yang datang itu telah merayap dilereng-lereng yang terjal dan turun di belakang barak yang dijaga oleh Ki Gede Telengan.

Namun bagaimanapun juga yang terjadi, mereka telah dihadapkan pada suatu kenyataan, bahwa pasukan Tanah Perdikan Menoreh itu telah mancapai medan dari arah yang lain.

Sejenak kemudian, pertempuran yang terjadi di lembah itu telah mempunyai bentuk yang lain. Gelar dari pasukan Mataram dan Sangkal Patung masih tetap dalam bentuknya, gelar Garuda Nglayang yang mempergunakan beberapa unsur dari gelar Gajah Meta karena bentuk medan. Sayap yang sekaligus merupakan taring yang dipersiapkan antuk manusuk langsung kedalam tubuh lawan, semula terbentar pada pertahanan lawan yang kant, sehingga ujudnya adalah sebagai sayap yang menahan laju lawan, meskipun harus bergerak mundur didorong oleh keadaan yang memaksa.

Kehadiran pasukan Tanah Perdikan Menoreh agaknya akan memberi kesempatan kepada gelar Garuda Nglayang itu untuk berubah menjadi Gelar Dirada Meta. Gelar seekor Gajah yang mengamuk di liarnya rimba belantara.

Prastawa yang menyadari keadaan pasukannya yang kecil, telah merubah gelarnya. Ia tidak mau hadir di medan dengan sayap patah sebelah. Karena itu, maka pasukannya telah dibenturkan dalam arena yang tidak terbatas. Dengan demikian, ia akan dapat lebih banyak menarik perhatian dan dapat membuat lawannya menjadi bingung.

Tetapi menyadari keadaan orang-orangnya, Prastawa masih tetap berpesan, “Jangan lepaskan anak-anak muda yang belum berpengalaman bertempur terpisah sama sekali meskipun kita akan mempergunakan gelar Glatik Neba. Kita akan menyerang. Tetapi jika pasukan Mataram dan Sangkal Putung mendesak, kita akan dapat segera menarik diri dan bertempur sesuai dengan keadaan.

Beberapa orang pemimpin kelompok agak ragu-ragu menangggapi sikap Prastawa. Dalam gelar Glatik Neba, maka kemampuan seorang demi seorang akan sangat menentukan.

 “Prastawa sendiri yakin akan kemampuan diri. Tetapi bagaimana dengan anak-anak muda kita,” desis seorang pemimpin kelompok.

 “Kita akan mengalami kesulitan, tetapi mungkin baik bagi medan dalam keseluruhan. Mudah-mudahan pasukan Mataram dan Sangkal Putung dapat mengimbangi,” jawab yang lain.

Kawannya tidak menyahut. Mungkin memang ada kesengajaan untuk melihat kemampuan seorang demi seorang. Tetapi mungkin pula memberi kesempatan kepada beberapa orang, termasuk dirinya sendiri, untuk menunjukkan kelebihannya.

Sejenak kemudian, pasukan Tanah Perdikan Menoreh benar-benar telah menyerang lawan dalam gelar Glatik Neba, sehingga sayap yang kosong itu pun telah terisi oleh bertebarnya pasukannya, meskipun tidak memadai seperti sayap yang lain.

Gelar Glatik Neba memang dapat membingungkan lawannya pada saat pasukannya membentur kekuatan di ekor gelar lawan. Namun karena mereka telah menyadari bahaya yang mengancam, maka lawannya telah bersiap menghadapinya.

Sesaat kemudian, maka pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang seperti ditebarkan itu telah berada di sepanjang medan. Orang-orang yang cukup berpengalaman tidak melepaskan anak-anak muda lepas dan pungawasan mereka, meskipun mereka sendiri harus bertempur mempertahankan hidup.

Tetapi ternyata lawan mereka, orang-rang yang berada di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu pun memiliki pengalaman pribadi yang cukup. Mereka adalah suatu gabungan dari bekas prajurit Pajang dan pengikut-pengikut dari orang-orang yang memiliki pengalaman bertualang.

Karena itulah, maka orang-orang di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu pun segera menyesuaikan diri dengan gelar lawannya. Mereka menghadang lawan-lawan mereka seorang demi seorang dalam tebaran gelar Glatik Neba.

Jika orang orang di lembah itu tidak harus menghadapi lawan dari arah yang berlawanan, maka pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang dipimpin oleh seorang yang masih terlalu muda itu tentu akan segera terlibat dalam kesulitan. Namun karena orang-orang di lembah itu telah terikat lebih dahulu melawan pasukan dari Mataram dan Sangkal Putung. maka perlawanan mereka terhadap pasukan Tanah Perdikan Menoreh itu pun sangat terbatas.

Prastawa yang berada di pusat Gelar Glatik Nebanya langsung berada dipusat pertempuran. Dengan berani ia menyerang orang yang dianggapnya pemimpin dari pusat gelar lawan.

Namun ternyata bahwa ia tidak mendapatkan lawan yang dikehendakinya, meskipun ternyata seorang bekas Senapati muda langsung dapat mengimbangi kemampuannya. Yang dihadapi Prastawa adalah seorang Senapati, tetapi bukan yang mempunyai tanggung jawab atas gelar lawan.

Sebenarnyalah bahwa saat itu pusat gelar lawan itu pun telah mengalami kesulitan. Dibagian lain dari medan, pasukan Matram dan Sangkal Putung telah berusaha untuk mengimbangi desakan lawan yang berat. Raden Sutawijaya dengan tombak pendeknya mengamuk bagaikan seekor banteng yang terluka. Apalagi ketika anak muda itu sadar, bahwa Ki Tumenggung Wanakerti sudah tidak barada di medan.

Sementara itu, dipusat gelar itu pula, terdapat Ki Juru Martani yang meskipun lebih banyak sekedar mengamati medan dan memberikan arah kepemimpman Raden Sutawijaya. Namun tidak seorang prajurit dipihak lawanpun yang dapat mengganggunya. Ternyata orang tua itu memiliki kemampuan yang luar biasa. Tetapi agaknya ia tidak ingin langsung berada di medan, membunuh lawan sebanyak-banyaknya sambil menepuk dada. Yang dilakukan oleh Ki Juru Martanai seakan-akan hanyalah sekedar mengikuti Raden Sutawijaya yang bergelar Senapti Ing Ngalaga meskipun sekali-sekali harus melindunginya dari serangan-serangan yang curang.

Di induk pasukan Mataram dan Sangkal Putung itu terdapat pula seorang anakmuda yang gemuk dengan senjata cambuk yang mengerikan. Swandaru bagaikan harimau lapar menerkam lawannya dengan ujung cambuknya. Setiap kali lawannya berloncatan menjauh jika cambuk Swandaru berputaran seperti baling-baling.

Di sebelah lain, dua orang perempuan cantik telah bertempur pula dengan dahsyatnya. Benar-benar suatu keadaan yang saling bertentangan. Wajah-wajah yang cantik itu nampak gelap oleh ketegangan. Yang seorang menggenggam sepasang pedang di kedua tangannya, sedang yang lain bersenjata sebatang tongkat baja putih.

Tidak kalah dahsyatnya, pertempuran di sayap gelar kedua pasukan yang bertempur itu. Tekanan pasukan yang berada di lembah itu terasa tidak tertahankan. Mereka mendesak meskipun setapak demi setapak.

Ternyata kehadiran pasukan Tanah Perdikan Menoreh langsung berpengaruh atas medan itu dalam keseluruhan. Pasukan yang ada di lembah itu tiba-tiba saja tidak lagi menekan terlalu berat. Sebagian dari mereka harus mempertahankan serangan pasukan Tanah Perdikan Menoreh dalam gelar Glatik Neba, sehingga jumlah mereka yang menghadapi pasukan Mataram dan Sangkal Putungpun segera berkurang jumlahnya.

Jumlah mereka yang lebih banyak itulah sebenarnya yang membuat pasukan di lembah itu berhasil menekan lawannya yang datang dari arah Timur. Karena itu, ketika jumlah itu berkurang, maka tekanan mereka pun menjadi jauh berkurang pula.

Empu Pinang Aring ternyata harus berjuang mati-matian menghadapi orang bercambuk yang bernama Kiai Gringsing itu. Namun ledakan-ledakan cambuk Kiai Gringsing benar-benar merupakan isyarat yang menggetarkan jantung orang yang merasa dirinya memiliki ilmu yang sempurna itu.

 “Cambuknya memang mengerikan,” desis Empu Pinang Aring didalam hatinya. Ia tidak dapat mengabaikan kenyataan, bahwa getaran ledakan cambuk yang tidak begitu mengejutkan di telinga wadag itu, namun benar-benar telah mengguncang isi dada. Penglihatan dan pendengaran yang bukan sekedar wadag dari Empu Pinang Aring itu dapat mengukur, betapa dahsyatnya sentuhan cambuk Kiai Gringsing itu apabila menyentuhnya.

Sementara itu. Ki Waskita yang berada didalam gelar Glatik Neba itu pun seakan-akan telah terlepas dari seluruh gelar pasukan Tanah Perdikan Menoreh. Ia ikut berbaur kedalam medan pertempuran.

Itulah sebabnya, maka ia langsung bertempur melawan siapa saja yang datang menyerangnya.

Sejenak Ki Waskita termangu-mangu. Ia pun mengerti bahwa Agung Sedayu dan Ki Gede Menoreh tertinggal agak jauh di belakang medan, karena mereka harus bertempur menghadapi sekelompok orang-orang yang akan menyingkir dari lembah. Namun seperti laporan yang diterimanya, orang-orang yang akan menyingkir dari lembah itu jumlahnya tidak terlalu banyak, sehingga tidak melampaui jumlah pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang ada disayap itu.

Dalam pada itu, sebenarnyalah Agung Sedayu sedang dikejar oleh serangan Ki Gede Telengan yang dahsyat.

Tekanan yang seakan-akan langsung dapat menghentikan arus darah dan pernafasaanya.

Itulah sebabnya maka Agung Sedayu merasa bahwa tidak ada jalan lain kecuali melawan serangan-serangan yang dilontarkan oleh tatapan mata Ki Gede Telengan itu.

Tetapi Agung Sedayu harus mendapat kesempatan, meskipun hanya sekejap untuk bersikap dan melawan serangan Ki Gede Telengan itu dengan kekuatan serupa agar ia tidak sekedar menjadi sasaran yang harus meloncat-loncat, menggeliat dan berguling-guling menghindari serangan Ki Gede Telengan yang mengerikan itu.

Karena itulah, Agung Sedayu pun kemudian mencari kemungkinan untuk mendapatkan waktu sesaat sehingga dapat bersikap untuk melawan Ki Gede Telengan.

Dalam keadaan yang terdesak, maka Agung Sedayu pun kemudian tidak dapat menemukan cara lain kecuali cara yang dipergunakan pula oleh Ki Gade Telengan. Itulah sebabnya, maka Agung Sedayu pun kemudian memungut dua butir batu sebesar telur ayam.

Ketika Agung Sedayu harus menghindarkan diri sambil meloncat berdiri, maka dipergunakannya waktu yang sekejap itu baik-baik. Meskipun dadanya terasa bagaikan tertindih bukit disaat ia berdiri, namun ia pun kemudian berhasil melontarkan batu itu ke arah Ki Gede Telengan.

Agung Sedayu adalah seorang anak mada yang memiliki kemampuan bidik yang luar biasa. Karena itu, meskipun waktunya hanya sekejap, namun kedua butir batu itu benar-benar telah mengarah ke wajah Ki Gede Telengan.

Sejenak Ki Gede Telengan tersentak. Kedua batu itu masih dilihatnya meskipun ia sedang memusatkan kemampuannya pada tatapan matanya. Itulah sebabnya. maka untuk sekejap ia melepaskan Agung Sedayu. Disambarnya kedua butir batu itu dengan kekuatan matanya. Kekuatan yang tidak dapat dijamah dengan wadag, tetapi mempunyai kemampuan wadag.

Yang terdengar adalah benturan yang mengejutkan. Walaupun hanya sebuah ledakan kecil. Ternyata kedua butir batu itu tidak tahan disambar oleh kekuatan ilmu Ki Gede Telengan, sehingga seolah-olah keduanya telah meledak.

Betapa besarnya kekuatan Ki Gede Telengan. Jika saja lawannya bukan Agung Sedayu, maka kekuatan matanya tentu sudah berhasil meremukkan dadanya.

Namun dalam pada saat itu, sesaat ketika ilmu Ki Gede Telengan memecahkan kedua butir batu yang menyambar wajahnya, Agung Sedayu mendapat kesempatanh sesaat. Apalagi agaknya Ki Gede Telengan tidak terlalu tergesa gesa, karena ia tidak mengira bahwa Agung Sedayu hanya mamerlukan waktu yang pendek untuk merubah keseimbangan pertempuran itu.

Dalam waktu yang sekejap itu, maka Agung Sedayu pun kemudian berdiri tegak dengan tangan bersilang didadanya. Wajahnya menjadi tegang dan nafasnya bagaikan tertahan sejenak. Dipusatkannya segenap kekuatannya lahir dan batin dalam lantaran ilmu yang ditemukannya didalam goa, saat-saat ia mengasingkan dirinya.

Agung Sedayu merasakan rabaan ilmu Ki Gede Telengan menekan dadanya sesasat setelah ia memusatkan ilmunya. Tetapi ia tidak menghiraukannya. Dengan sesuap daya dan kemampuannya, ia mengatasi tekanan yang menghimpit dadanya itu, untuk membangunkan kekuatan ilmunya yang tidak kalah dahsyatnya.

Sejenak kemudian, maka terasa, tekanan kekuatan lawannya telah berkurang. Agung Sedayu merasa bahwa sentuhan yang bersifat wadag dari sorot matanya telah membentur kekuatan Ki Gede Telengan yang terlontar dari sorot matanya pula.

Kedua orang itu pun kemudian saling berpandangan dengan tegang dalam lontaran kekuatan ilmu masing-masing. Ilmu yang mempunyai ujud yang mirip, tetapi dilandasi oleh pegangan dan pandangan hidup yang justru berlawanan.

Untuk beberapa saat keduanya bertempur dengan cara yang tersendiri, sementara di sekitarnya pertempuran yang sebenarnya masih berlangsung. Namun baik pengikut-pengikut Ki Gede Telengan, maupun pengawal-pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh tidak mengganggu kedua orang yang sedang mengerahkan kemampuan masing-masing. bahkan mereka telah berusaha melindungi mereka yang sedang memusatkan segenap ilmunya itu dari gangguan yang datang dari manapun juga.

Meskipun Agung Sedayu masih muda, tetapi ternyata bahwa ilmunya cukup kuat untuk melawan kekuatan ilmu Ki Gede Telengan. Selain karena Agung Sedayu rajin melatih diri dengan tekun dan selalu mengikuti petunjuk-petunjuk gurunya. Agung Sedayu juga dilandasi oleh keyakinannya bahwa ia berdiri dipihak yang benar untuk menyelamatkan bukan saja sekedar kedua pusaka yang hilang itu, tetapi lebih daripada itu, adalah akibat dari setiap pemilikan kedua pusaka itu.

Karena itulah, maka Agung Sedayu pun selain memiliki kelengkapan ilmu yang utuh, juga berlandaskan kepada tekad pasrah diri kepada kekuasaan Yang Maha Sempurna, yang akan memilih, siapakah di antara keduanya yang dapat mengatasi lawannya.

 “Aku berniat baik,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Dengan demikian, maka pemusatan ilmu Agung Sedayu ternyata menjadi lebih mapan dan lebih mantap.

Sejenak keduanya masih gigih dalam perjuangan yang aneh. Keduanya sama sekali tidak bersentuhan, karena keduanya berdiri pada jarak beberapa langkah. Namun keduanya telah bertempur mati matian mempertahankan nyawanya masing-masing.

Ki Gede Menoreh pun melihat pertempuran yang dahsyat itu. Justru karena itu, maha ia pun tidak mengganggunya. Ia sadar, bahwa jika salah satu pihak, pemusatan ilmunya terganggu, maka Ia akan mengalami kesulitan untuk mempertahankan dirinya.

Karena itu, maka Ki Gede Menoreh hanya menyaksikan pertempuran itu dari jarak tertentu. Ia tidak mau mendekati lagi, apalagi dalam jangkauan pandangan mata Agung Sedayu. Seandainya Agung Sedayu sempat melihat bayangannya, maka ilmunya tentu akan terdorong oleh kekuatan ilmu Ki GedeTelengan.

Dalam pada itu, pertempuran masih terjadi dengan sengitnya. Meskipun secara pribadi, para pengikut Ki Gede Telengan memiliki kemampuan yang lebih baik, tetapi pasukan Tanah Perdikan Munoreh jumlahnya lebih banyak, sehingga karena itu, maka kedua belah pihak telah berhasil melindungi kedua orang yang sedang mempertemukan dalam benturan kekuatan dipihak masing-masing. Sejenak kemudian, ternyata keduanya telah menjadi gemetar. Peluh mengalir dari setiap lubang kulit masing-masing. Bahkan keduanya telah menjadi semakin tegang dan pucat, karena keduanya telah terhisap kedalam pengerahan tenaga yang barlebih-lebihan.

Sebenarnyalah bahwa keduanya telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada diri masing-masing.

Agung Sedayu yang masih muda itu belum mempunyai cukup pengalaman dalam ilmunya, ilmu yang masih terhitung baru baginya. Namun yang sudah ditekuninya.

Dalam latihan-latihan ia tidak saja mempergunakan ilmunya sejauh-jauh dapat dilontarkannya. Tetapi ia selalu berusaha mengenalinya dan mendalami sifat serta wataknya.

Karena itulah, meskipun ia belum pernah mempergunakan dalam benturan ilmu seperti yang sedang terjadi itu, namun Agung Sedayu yang telah mengenal sifat dan watak ilmunya itu sebaik-baiknya, dapat menyesuaikan diri dengan benturan yang berlangsung.

Ternyata bahwa keduanya benar-benar memiliki kekuatan yang sukar dicari bandingannya. Ki Gede Telengan yang telah jauh lebih tua dari Agung Sedayu itu pun menjadi heran, bahwa lawannya yang muda itu ternyata mampu mengimbangi ilmunya yang dibangga-banggakan.

 “Tidak ada sepuluh orang ditelatah Pajang yang memiliki ilmu seperti anak muda ini,” berkata Ki Gede Telengan didalam hati.

Sebenarnyalah bahwa semakin lama Ki Gede Telengan menjadi semakin sulit. Agung Sedayu yang semakin matang itu sempat mempergunakan saat-saat yang gawat itu untuk lebih mengenali diri dari ilmunya, serta hubungan antara diri dan ilmunya itu. Bahkan ia masih sempat mencoba untuk membuat perbandingan-perbandingan, dengan mencari dasar kekuatan yang terkecil dan kemudian mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya.

Tetapi ketika tubuhnya menjadi gemetar dan wajahnya menjadi semakin putih. Agung Sedayu tidak berani lagi mencoba mempelajari perkembangan yang ada didalam dirinya. Yang dilakukan adalah melepaskan puncak kemampuan yang dikenalnya tanpa melepaskan dasar berpijak. Pasrah kepada Yang Maha Agung dengan sepenuh hati disertai permohonan yang tulus, bahwa yang dilakukan semata-mata didorong oleh hasrat untuk melenyapkan kebatilan ketamakan dan kedengkian, yang merupakan sumber lahirnya bermacam-macam kejahatan.

Dalam pada itu, Ki Gede Telengan menjadi semakin gelisah. Ia sadar bahwa lawannya tidak dapat diabaikannya, meskipun masih terlalu muda. Apalagi ketika terasa bahwa desakan ilmunya yang membentur ilmu anak muda itu mulai terasa menyesakkan dadanya.

Ternyata bahwa kegelisahannya itu telah mempengaruhi pemusatan ilmunya, sehingga dengan demikian maka semakin lama kekuatannya justru menjadi semakin susut. Sementara itu, tenaganya yang tua itu memang telah diperasnya habis untuk melawan tekanan yang semakin berat dari ilmu anak muda yang disangkanya anak muda Tanah Perdikan Menoreh.

 “Gila,” Ki Gede Telengan mengumpat didalam hati, “di Tanah Perdikan Menoreh ada juga orang gila seperti anak muda itu.”

Kegelisahannya memuncak ketika tiba-tiba saja ia teringat, bahwa seorang yang memiliki nama menggetarkan telah terbunuh pula oleh orang-orang Tanah Perdikan Menoreh.

 “Panembahan Agung dan Panembahan Alit mati pula di sekitar daerah tanah Perdikan Menoreh,” gumamnya kemudian didalam hati.

Dengan demikian, maka kadang-kadang Ki Gede Telengan merasa bahwa saat-saat yang paling gawat telah mencengkeramnya. Anak muda itu seakan-akan telah berubah menjadi semakin lama semakin besar dan kuat. Tekanan pada jantungnya tidak lagi dapat dielakkannya.

Agung Sedayu didalam penglihatan Ki Gede Telengan itu telah berubah menjadi raksasa sebesar gunung Merbabu itu sendiri. Matanya merah menyala, melontarkan kekuatan yang tidak terlawan, langsung menyusup kedalam dirinya lewat sorotan matanya sendiri.

Kegelisahan, kecemasan dan kenangan atas masa-masa yang telah lewat atas kematian Panembahan Agung dan Panembahan Alit justru membuatnya menjadi semakin lemah. Ketahanannya telah terdesak bukan saja oleh kekuatan ilmu Agung Sedayu, tetapi juga oleh kegelisahannya sendiri. Apalagi ketika teringat oleh Ki Gede Telengan bahwa orang-orang di lembah yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Wanakerti akan dapat menyusulnya pula.

Meskipun Ki Tumenggung Wanakerti mungkin tidak memiliki ilmu seperti yang sedang dibenturkan melawan ilmu anak muda itu, namun Ki Tumenggung Wanakerti memiliki ilmu Lembu Sekilan yang mungkin dapat melindungi dirinya dari sentuhan ilmunya.

Karena itulah, maka Ki Gede Telengan menjadi semakin terdesak. Ia masih tetap tegak ditempatnya. Tetapi wajahnya telah menjadi seputih kapas. Keringatnya bagaikan diperas dari tubuhnya.

Semakin lama tubuh Ki Gede Telengan itu pun menjadi semakin gemetar. Perlahan-lahan ilmunya mulai susut. Meskipun lawannya pun kemampuannya mulai menurun pula.

Tetapi dalam latihan-latihan, Agung Sedayu sudah terbiasa mengerahkan segenap kemampuan yang terperas sampai dasarnya. Bukan saja dalam latihan-latihan kanuragan, tetapi dipadepokan Agung Sedayu melatih kemampuan kekuatannya dengan seribu cara. Mengangkat kayu yang tidak terangkat oleh orang-orang lain, bekerja disawah melampui batas waktu yang dapat dilakukan oleh dua atau tiga orang bersambungan, yang dilakukannya dengan penuh kesadaran dan kesengajaan, sehingga sekaligus ia dapat berlatih pernafasan. Selebihnya, latihan-latihan yang dengan sengaja dilakukan semakin lama semakin berat dengan ikatan yang ketat pada diri sendiri.

Umurnya yang sedang tumbuh dimasa-masa perkembangannya telah ikut menentukan pula akhir dari pertempuran yang dahsyat itu. Ketahanan tubuh dun kemampuan mengatur pernafasannya, ternyata banyak memberikan kesempatan yang lebih baik bagi Agung Sedayu.

Ki Gede Telengan semakin lama merasa nafasnya menjadi semakin sesak. Jantungnya bagaikan semakin lambat bergetar, sehingga dadanya terasa sesak, dan tubuhnya seolah-olah tidak lagi dialiri oleh darahnya yang segar.

Agung Sedayu yang pucat dan gemetar merasa, perlawanan Ki Gede Telengan menjadi semakin lemah. Itulah sebabnya, maka ia telah menyiapkan dirinya, mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang ada padanya untuk memberikan hentakan terakhir pada lawannya.

Namun ia sadar sepenuhnya, jika ia tidak berhasil, maka ialah yang justru akan menghadapi kesulitan.

Pada saat yang gawat itu, Ki Gede Menoreh pun menjadi tegang. Sejenak ia berpikir, apakah yang sebaiknya dilakukan. Ia tidak dapat memperhitungkan dengan tepat, apakah yang dapat terjadi atas kedua orang yang sedang mempertaruhkan nyawanya dengan ilmu yang dahsyat itu.

Namun dalam pada itu, pertempuran masih berlangsung dengan serunya. Para pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah berhasil menahan setiap usaha dari para pengikut Ki Gede Telengan untuk melarikan diri. Sementara kelompok pilihan yang langsung membawa dan mengawal pusaka-pusaka yang akan dilarikan oleh Ki Gede Telengan pun telah terkepung pula.

Ki Gede Menoreh akhirnya tidak dapat berdiam diri sambil melihat pertunjukan yang mengasyikkan itu. Ia pun tidak dapat mencampuri pertempuran itu langsung. Sementara ia masih melihat pusaka-pusaka yang akan diselamatkan itu di tangan orang-orang yang tidak berhak.

Sejenak Ki Gede termangu-mangu. Ia masih mempertimbang-kan langkah-langkah yang akan diambilnya.

Dalam keadaan terakhir yang menentukan itu, tiba-tiba saja terdengar teriakan dikejauhan. Sementara orangnya masih belum nampak. Yang seakan-akan menggetarkan dedaunan hutan dan ranting-ranting.

Ki Gede Menoreh terkejut mendengar suara teriakan itu. Ia sadar, bahwa suara itu bukannya suara sewajarnya. Bukan suara seseorang yang ada pada jarak beberapa puluh langkah. Tetapi tentu lebih jauh. Lontaran suara yang bergema di lembah itu tentu didotong oleh kekuatan dari dalam oleh tenaga ilmu yang dahsyat.

 “Gelap ngampar atau Sapu Angin,” desis Ki Gede didalam hatinya.

Ternyata bahwa suara itu benar-benar telah mengejutkan. Rasa-rasanya lembah itu bagaikan runtuh. Gemanya bagaikan berputaran menggetarkan jantung.

 “Telengan,” terdengar suara itu mengguncang-guncang pepohonan, “kau tidak akan terlepas dari tanganku. Aku sudah mendengar suara jantungmu lewat aji Sapta Pangrungu. Aku sudah mendengar dentang senjata beradu di ujung lembah ini. Kau sudah terjebak olah pasukan Tanah Perdikan Menoreh.”

Suara itu benar-benar mengegelegar. Dan suara itu masih bergema terus, “Aku akan datang untuk membebaskan kau dari orang-orang Menoreh, tetapi setelah itu aku akan membunuhmu.”

Suara itu melingkar-lingkar disetiap dada. Terlebih-lebih lagi Ki Gede Telengan yang sedang bertahan. Meskipun ia masih merasa mampu untuk mengimbangi ilmu Agung Sedayu yang muda itu, namun ternyata bahwa pemusatan pikirannya telah benar-benar telah terganggu suara Ki Tumenggung Wanakerti yang sengaja mempengaruhi keadaan itu, telah merenggut sebagian dari perhatiannya, sehingga justru saat yang paling gawat, ia tidak dapat memusatkan ilmunya untuk bertahan.

Pada saat itulah, Agung Sedayu melepaskan sisa-sisa tenaga yang ada pada dirinya. Ia berhasil mengatasi gangguan pendengarannya, karena ia sudah memperhitungkan dengan matang, hentakan yang terakhir itu akan memberikan akibat menentukan dari pertempuran yang gawat itu.

Meskipun sekilas hatinya juga tergetar, tetapi suara itu justru mempercepat hentakan yang dilepaskannya.

Demikianlah pada saat-saat suara Ki Tumenggung Wanakerti mempengaruhi pemusatan ilmu Ki Gede Telengan, Agung Sedayu telah menghantam lawannya dengan kekuatannya lewat rabaan sorot matanya yang bersifat wadag, mendorong kekuatan ilmu Ki Gede Telengan.

Tekanan itu ternyata benar-benar telah menentukan. Kekuatan Ki Gede Telengan sendiri bagaikan justru memperkuat hentakan ilmu lawannya.

Terasa dada Ki Gede Telengan berguncang. Kegelisahannya karena suara Ki Tumenggung Wanakerti telah menentukan akhir dari perjuangannya dengan ilmunya yang dahsyat itu.

Terasa dada Ki Gede telengan bagaikan terbentur oleh Bukit. Nafasnya tiba-tiba saja terputus dan jantungnya berhenti berdenyut.

Sejenak kemudian, Ki Gede Telengan itu pun menggeliat. Tetapi, ia sudah tidak mempunyai kemampuan untuk mempertahankan hidupnya lagi. Sehingga karena itulah, maka ia pun kemudian jatuh menelungkup perlahan-lahan.

Pertempuran itu telah digemparkan oleh peristiwa-peristiwa yang susul menyusul. Suara Ki Tumenggung Wanakerti telah menggelisahkan segenap pengikut Ki Gede Telengan. Apalagi ketika pengikut-pengikutnya melihat Ki Gede Telengan tidak dapat membebaskan diri dari cengkaman kekuatan yang telah dilontarkan oleh anak yang masih muda itu.

Ki Gede Menoreh yang menjadi tegang karena lontaran ilmu dari orang yang masih belum diketahui, masih sempat mengagumi Agung Sedayu. Anak muda itu ternyata memiliki ilmu yang dahsyat, jauh diluar dugaannya.

Ki Gede memang sudah menduga, bahwa ilmu Agung Sedayu akan meningkat dengan pesat. Tetapi ia tidak mengira, bahwa kemajuannya akan sepesat itu.

Namun Ki Gede kemudian menjadi berdebar-debar. Ia melihat Agung Sedayu terduduk lemah. Tangannya yang masih bersilang, seolah-olah tidak mempunyai kekuatan lagi untuk menahan badannya yang terbungkuk lesu.

Sejenak Ki Gede termangu-mangu. Namun kemudian ia sadar, bahwa ia harus bertindak tepat.

 “Jangan beri kesempatan pusaka-pusaka itu meninggalkan medan,” perintahnya kepada pengawal-pengawal pilihannya yang ada disisinya.

Pengawal-pengawal itu segera meninggalkan Ki Gede, mendekati arena pertempuran yang masih seru. Sebenarnyalah bahwa pengikut-pengikut Ki Gede Telengan yang telah kehilangan pemimpinnya itu hanya dapat berusaha melarikannya dirinya dengan cara apapun.

Sementara para pengawal Ki Gede menahan agar pusaka-pusaka itu tidak sempat meninggalkan medan, maka ia pun segera mendekati Agung Sedayu yang seakan-akan telah kehilangan kekuatannya sama sekali. Agaknya hentakan yang terakhir telah memeras segenap tenaga yang ada pada dirinya.

Perlahan-lahan Ki Gede berjongkok disisi Agung Sedayu. Ia tidak segera menyentuh anak muda itu, agar tidak mengejutkannya sehingga akan berakibat buruk padanya.

Ki Gede Menoreh mendengar tarikan nafas yang tidak teratur. Namun Ki Gede pun mengetahui, bahwa Agung Sedayu masih tetap sadar untuk mengatur pernafasannya yang menjadi sesak.

Ki Gede Menoreh masih tetap tidak mengganggu anak muda yang sedang berusaha untuk mempertahankan dari kesulitan yang tumbuh didalam dirinya. Ia sama sekali sudah tidak berdaya lagi seandainya seorang lawan datang dengan pedang terhunus.

Namun perlahan-lahan Agung Sedayu berhasil menguasai dirinya. Nafasnya semakin lama menjadi semakin teratur, meskipun ia masih duduk dengan lemahnya. Kepalanya masih tertunduk dalam-dalam, sementara nafasnya mulai mengalir teratur.

Namun dalam pada itu, selagi pernafasannya mulai pulih, terdengar lagi suara yang dilontarkan dengan ilmu yang dahsyat sehingga gemanya seakan-akan menggetarkan seluruh lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Agung Sedayu terhentak oleh suara itu. Wajahnya yang pucat dan basah oleh keringat terangkat sedikit. Namun kembali ia tertunduk dengan lemahnya meskipun kegelisahan telah semakin mencengkam jantungnya sehingga pernafasannya yang mulai teratur itu telah menjadi kacau kembali.

Namun Ki Gede kemudian berbisik ditelinganya, “Jangan hiraukan orang yang hanya dapat berteriak itu. Biarlah aku disini. Jika ia datang, aku akan bertanya, apakah yang diteriakkannya itu.”

Agung Sedayu mendengar suara Ki Gede Menoreh. Dengan demikian hatinya menjadi sedikit tenang. Pusaka-pusaka itu telah berada dibawah pengamatan orang yang dapat dipercaya.

Sementera itu, Ki Tumenggung Wanakerti yang marah pun menjadi semakin dekat dengan arena pertempuran yang sebenarnya sudah hampir selesai. Suaranya masih melingkar sekali lagi memenuhi lembah. “Telengan. Kau tidak akan terlepas dari tanganku. Aku akan membunuhmu setelah aku membunuh orang-orang Tanah Perdikan Menoreh yang menjebakmu.”

 “Agaknya telah terjadi sesuatu di antara mereka,” gumam Ki Gede Menoreh.

Agung Sedayu tidak menjawab. Ia kemudian memusatkan segenap sisa kekuntannya untuk mengatur pernafasannya dan memulihkan segenap gerak dan getar didalam dirinya.

Sementara itu, Ki Gede Menoreh telah memerintahkan kepada seorang penghubung untuk pergi ke induk pasukan. Menurut perhitungannya, orang yang datang didahului oleh suaranya yang menggelegar itu tentu tidak sendiri. Ia tentu membawa pengawal yang akan mungkin mengacaukan pertahanan orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh.

Ternyata bahwa induk pasukan Tanah Perdikan Menoreh sudah tidak sepenuhnya ada ditempat. Namun yang ada masih cukup untuk dapat memberikan bantuan kepada sayap yang sedang menghadapi lawan yang khusus itu.

Pemimpin kelompok yang ada diinduk pasukan itu memerintahkan beberapa orang tinggal untuk sekedar mengawasi keadaan dangan pesan agar mereka menghubungi pasukan-pasukan disayap jika terjadi sesuatu.

Sementara itu, ketika keadaan Agung Sedayu berangsur baik. Ki Gede Menoreh pun telah mempersiapkan dirinya. Ia sadar, bahwa sebentar lagi orang yang telah melontarkan kekuatan ilmunya lewat suaranya itu tentu akan datang dengan sikapnya yang masih belum dapat diketahui dengan pasti.

 “Tenangkanlah dirimu,” berkata Ki Gede Menoreh kepada Agung Sedayu, “sebentar lagi keadaanmu akan pulih kembali. Kau akan dapat tampil lagi di medan dengan ilmumu yang dahsyat itu. Biarlah aku manyelesaikan pekerjaan yang tersisa ini.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia benar benar telah menjadi tenang karena kehadiran Ki Gede Menoreh. Ia yakin bahwa tugas yang diembankan kepada para pengawal disayap itu tentu tidak akan sia-sia.

Seperti yang diperhitungkan oleh Ki Gede Menoreh, maka sejenak kemudian telah muncul sekelompok pasukan yang datang dengan tergesa-gesa. Sekelompok pasukan yang belum diketahui dengan pasti, apakah yang sebenarnya mereka kehendaki. Namun sekali lagi Ki Gede memerintahkan kepada pengawalnya, bahwa yang menjadi pusat perhatian adalah kedua pusaka yang masih dipertahankan mati-matian itu.

 “Apapun yang terjadi, kedua pusaka itu jangan sampai lolos. Aku akan menjumpai orang yang berteriak-teriak seperti anak kecil itu, meskipun ia memiliki aji pelontar yang dahsyat dan aji penangkap yang luar biasa pada inderanya.”

Para pengawal Ki Gede pun telah melaksanakan perintah itu dengan kesungguhan hati. Didalam arena pertempuran yang sudah berbau darah itu, ternyata para pengawal Tanah Perdikan Menoreh masih merupakan pengawal yang tidak kalah tangkasnya dari prajurit-prajurit Pajang sendiri. Apalagi mereka yang telah memiliki pengalaman di medan-medan yang berat.

Namun kehadiran orang baru di medan itu, telah menumbuhkan persoalan dihati para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Mereka masih belum tahu pasti, apakah yang harus mereka lakukan terhadap orang itu, karena menurut kata-katanya. Ki Gede Telengan adalah yang menjadi sasarannya, meskipun agaknya ia juga memusuhi Tanah Perdikan Menoreh.

Namun dalam pada itu, perintah Ki Gede Menoreh sudah jelas. Pusaka itu harus dicegah agar tidak meninggalkan tempat apapun yang terjadi.

Sementara itu. Ki Tumenggung Wanakerti telah tampil pula di medan. Dalam waktu yang dekat ia segera mengetahui bahwa Ki Gede Telengan telah terlibat dalam pertempuran melawan orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh.

Namun tiba-tiba saja ia tertegun. Dengan dada yang berdebar-debar ia melihat seseorang yang pernah dikenalnya sebelumnya, berdiri tegak dengan tombak pendek di tangannya.

 “Argapati,” desisnya.

Ki Gede Menoreh memandang orang itu dengan tegang pula. Kemudian dari bibirnya terdengar suaranya, “Jadi kau yang berteriak-teriak itu Wanakerti.”

 “Gila,” geram Wanakerti, “katakan apa yang terjadi. Yang penting bagiku adalah Ki Gede Telengan. Aku memerlukannya.”

Ki Gede Menoreh memandang Ki Tumenggung Wanakerti sejenak. Ia telah mengenal Tumenggung itu sebelumnya. Tetapi ia tidak menyangka samasekali bahwa Ki Tumenggung itu berada di antara orang-orang yang berkumpul di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu.

 “Argapati,” teriak Ki Wanakerti, “katakan apa yang telah terjadi disini.”

Ki Gede Menoreh tidak menjawab. Tetapi ditunjuknya Ki Gede Telengan yang tertelungkup di tanah tidak jauh diri padanya.

 “Mati,” Ki Tumenggung terkejut, “siapakah yang telah membunuhnya? Kau?”

Ki Gede Menoreh menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Bukan aku.”

 “Tentu kau yang membunuhnya meskipun itu aku akan sangat heran Ki Gede Telengan adalah orang yang luar biasa. Aku tahu, bahwa kau pun termasuk orang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Tetapi aku yakin bahwa kau tentu berbuat curang sehingga kau berhasil membunuh Ki Gede Telengan.”

Ki Gede Menoreh memandang wajah Ki Tumenggung Wanakerti dengan para Pengikutnya yang masih termangu-mangu. Sementara itu pertempuran antara para pengikut Ki Gede Telengan dan orang-orang Tanah Perdikan Menoreh pun sudah menjadi semakin mengendor, karena para perigikut Ki Gede Telengan yang sudah menjadi semakin lemah. Bukan saja karena jumlah mereka yang susut dan bahkan tinggal beberapa orang pilihan saja tetapi juga karena mereka merasa dicengkam oleh kebingungan yang tidak dapat mereka hindarkan lagi.

Mereka pun sadar, bahwa kedatangan Ki Tumenggung Wanakerti tentu karena ia ingin menyusul Ki Gede Telengan. Bahkan agaknya Ki Tumenggung itu telah dibakar oleh kemarahan dan dendam. Pusaka-pusakanya telah dilarikan, dan orang-orangnya telah dibunuh.

Dalam pada itu Ki Gede Menoreh telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Namun ia masih menjawab, “Tumenggung Wanakerti. Bukan aku yang membunuh Ki Gede Telengan meskipun dengan cara apapun juga. Tetapi lihatlah anak muda itulah yang telah membunuhnya. Ia berhasil melawan Ilmu Ki Gede Telengan dengan ilmu yang serupa. Ternyata bahwa anak muda itu berhasil mengimbanginya meskipun kini ia harus berusaha memulihkan kekuatannya.”

 “Gila,” teriak Ki Tumenggung Wanakerti, “jangan mencoba mengelabuhi aku. Anak itu mungkin akan mati. Tetapi jangan katakan bahwa ialah yang telah membunuh Ki Gede Telengan.”

 “Aku tidak akan memaksamu percaya. Terserah kepadamu apakah yang baik menurut ceriteramu sendiri. Tetapi Ki Gede Telengan telah mati. Dan kau tidak akan dapat berbuat sesuatu disini.”

Ki Tumenggung Wanakerti melihat pertempurun yang semakin susut. Ia masih melihat beberapa orang pengikut Ki Gede Telengan mempertahankan pusaka-pusakanya. Namun para pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah mengepungnya. Dan bahkan tidak ada kemungkinan lagi bagi mereka daripada menyerahkan pusaka itu kepada para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh.

Kedua pusaka itu ternyata telah menyalakan bara di dalam dada Ki Tumenggung Wanakerti. Kedua pasaka, itulah yang telah mengacaukan perasannnya sehingga ia meninggalkan medan dan berusaha menyelusuri jejak Ki Gede Telengan.

Karena itu maka tiba-tiba saja ia berteriak, “Ambil pusaka-pusaka itu. Siapapun yang menghalangi bunuh saja mereka.”

Para pengawalnya tidak menunggu perintah itu diulangi. Dengan serta mereka telah menghambur di arena dan bertempur melawan siapa saja.

Pertempuran di lembah itu pun menjadi semakin kisruh. Ada tiga pihak yang saling bertempur dengan kacaunya. Para pengikut Ki Gede Telengan yang tersisa merasa bahwa pengikut-pengikut Ki Tumenggung Wanakerti tentu telah mendendam mereka, sementara para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh berusaha untuk merebut pusaka-pusaka yang telah berada di tangan mereka. Sedangkan para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh menganggap kedua pihak yang dipimpin oleh Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti adalah musuh mereka, karena keduanya ingin memiliki pusaka-pusaka itu pula.

Para pengawal yang masih muda dari Tanah Perdikan Menoreh telah menjadi bingung menghadapi keadaan itu. Justru kadang-kadang mereka kehilangan arah perlawanan mereka. Siapakah yang harus dilawannya dalam kacaunya medan itu.

Sementara itu Ki Tumenggung Wanakerti perlahan-lahan melangkah mendekati Ki Gede Menoreh. Dengan wajah yang garang ia berkata, “Jika kau bersedia menarik orang-orangmu, maka aku tidak akan mengganggumu.”

 “Pergilah jika kau mau pergi,” berkata Ki Gede Menoreh, “tetapi pusaka-pusaka itu jangan kau usik lagi. Pusaka-pusaka itu harus kembali ke Mataram.”

 “Kami adalah pemilik yang syah dari pusaka-pusaka itu,” jawab Ki Tumenggung Wanakerti, “karena itu jangan ganggu kami yang sedang berusaha mengambil milik kami dari tangan orang-orang Pajang atau orang-orang yang mendapatkannya dari mereka. Jaka Tingkir sama sekali tidak berhak atas pusaka-pusaka yang tumurun dari Kerajaan Majapahit, apalagi kemudian Sutawijaya anak Pemanahan. Orang itu (tidak jelas) sama sekali tidak berhak memiliki pusaka-pusaka yang (tidak jelas) dijunjung tinggi oleh mereka yang berkuasa pada (tidak jelas) masa pemerintahan Prabu Brawijaya di Majapahit (tidak jelas)

Ki Geda Menoreh menarik nafas dalam-dalam (tidak jelas). Ia tidak mendengarkan sesorah Ki Tumenggung Wanakerti karena pikirannya masih terikat kepada keadaan Agung Sedayu. Jika ia bertempur melawan Ki Tumenggung Wanakerti, maka ia harus melepaskan Agung Sedayu. Hal itu akan sangat berbahaya bagi anak muda itu.

 “He,” teriak Ki Wanakerti, “kau dengar penjelasanku? Nah. kau sekarang dapat memilih. Membiarkan aku mengambil kembali hakku atas warisan Majapahit atau kau harus aku bunuh disini.”

Ki Gede Menoreh mengerutkan keningnya. Tetapi ia mendengar ancaman Ki Tumenggung Wanakerti. Karena itu maka jawabnya, “Ki Tumenggung. Meskipun aku bukan prajurit Pajang, tetapi aku pernah mengalami seperti yang dialami oleh para prajurit didalam segala macam medan. Karena itu biarlah aku tetap bersikap seperti seorang prajurit.

Ki Tumenggung Wanakerti menggeretakkan giginya, ia kenal Kepala Tanah Perdikan Menoreh meskipun tidak begitu rapat. Tetapi ia pun sadar bahwa Ki Gede Menoreh tentu akan melakukan seperti yang dikatakannya. Meskipun ia bukan seorang prajurit tetapi ia mempunyai sifat-sifat seorang prajurit pilihan.

Sejenak Ki Tumenggung memandang seluruh medan. Namun tiba-tiba ia berteriak, “Ambil pusaka itu dan bunuh semua orang. Termasuk anak yang sudah tidak berdaya itu.”

 “Licik.” Ki Gede Menoreh pun tiba-tiba berteriak, “anak itu masih belum mampu mempertahankan dirinya. Kau tidak boleh membunuhnya.”

Ki Tumenggung Wanakerti tertawa berkepanjangan. Katanya, “Kita berada di medan perang. Saat Ki Gede Telengan sampai pada suatu keadaan tidak dapat melawan maka anak itu masih terus menekannya dengan ilmunya, sehingga Ki Gede Telengan terbunuh karenanya. Sekarang anak itulah yang berada pada suatu keadaan tidak dapat melawan. Karena itu dapat saja diberikan tekanan terakhir, bukan dengan ilmu yang mengerikan itu tetapi dengan tajamnya pedang. Mumpung ia masih duduk sambil menyilangkan tangannya.” Ki Tumenggung Wanakerti berhenti sejenak. Lalu. “He datanglah kepadanya, dan penggal lehernya, meskipun ia sedang berusaha memulihkan kekuatannya.”

 “Gila,” Ki Gede Menoreh pun telah menyiapkan diri untuk melindungi Agung Sedayu. Namun tiba-tiba saja Ki Tumenggung Wanakerti telah menyerangnya sambil berteriak, “He Ki Gede marilah kita melihat siapakah di antara kita yang mempunyai ilmu yang lebih tinggi.”

Ki Gede Menoreh terpaksa menghindari serangan itu. Dengan tangkasnya ia meloncat kesamping, kemudian memutar tombak pendeknya dan segera menyerang kembali dengan patukan tombak pendeknya.

Ki Tumenggung masih sempat mengelak, ia mempergunakan pedangnya, sementara seorang pengawalnya telah melemparkan perisainya kepadanya. Sambil mengenakan perisai kecilnya Ki Tumenggung berkata, “He, ternyata kau sekarang timpang Ki Gede. Meskipun tidak terlalu nampak tetapi jika pertempuran ini berlangsung cukup lama, maka cacat itu akan semakin nampak. “He sejak kapan kau menjadi timpang dan cacat kaki.”

Ki Gede Menoreh menggeram. Mata Ki Tumenggung Wanakerti ternyata sangat tajam. Dalam loncatan-loncatan pertama ia langsung dapat melihat kelemahan Ki Gede Menoreh yang kakinya memang sudah cacat.

Tetapi Ki Gede Menoreh yakin bahwa kakinya tidak akan mengganggunya lagi. Kakinya sudah sembuh sama sekali. Meskipun demikian timbul pula pertanyaan di hatinya. “Bagaimanakah jika pertempuran ini berlangsung lama?”

Dalam pada itu beberapa orang pengawal Ki Tumenggung Wanakerti langsung mendekati Agung Sedayu yang masih duduk untuk memulihkan pernafasannya, sehingga jalur-jalur darah serta getaran ilmunya menemukan kewajarannya kembali.

Namun dalam pada itu beberapa pengawal Tanah Perdikan Menoreh pun menyadari keadaan itu. Karena itulah maka beberapa orang di antara mereka telah berusaha menahan orang-orang yang akan menyerang Agung Sedayu.

Namun ternyata para pengikut Ki Tumenggung Wanakerti telah bertempur dengan garangnya, sehingga Para pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah terdesak karenanya.

Apalagi sebagian dari mereka harus tetap mengepung pusaka-pusaka yang sedang diperebutkan itu. Mereka harus menahan agar pusaka-pusaka itu tidak terlepas tetapi juga menahan agar orang-orang yang baru datang dibawah pimpinan Ki Tumenggung Wanakerti tidak berhasil merampasnya.

Dalam kekalutan itu para pengawal Tanah Perdikan Menoreh merasa bahwa tugas mereka menjadi sangat berat. Bahkan beberapa orang anak muda menjadi kebingungan dan hampir saja mereka menjadi putus asa.

Dalam kecemasan itulah telah muncul beberapa orang pengawal yang datang dari induk pasukan. Mereka datang dengan tergesa-gesa karena mereka pun menyadari bahwa di sayap itu telah terjadi pertempuran yang sengit.

 “Cepatlah,” Ki Gede Menoreh meneriakkan perintah, “kalian akan berdiri disampang tiga. Lawanmu adalah orang-orang yang bukan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh siapapun mereka, meskipun di antara mereka juga terjadi pertempuran.”

 “Tidak,” teriak Tumenggung Wanakerti, “kami akan menyelesaikan persoalan kami nanti atau besok atau kelak. Sekarang kami telah menjadi satu untuk membunuh kalian.”

Jawaban Ki Tumenggung itu mempengaruhi pula bagi orang-orangnya dan orang-orang yang telah ditinggalkan oleh Ki Gede Telengan. Namun ternyata ada juga di antara mereka yang ragu-ragu. Terutama orang-orang kepercayaan Ki Gede Telengan yang melindungi pusaka-pusaka itu.

Dalam pada itu untuk mempengaruhi keadaan yang mulai berubah atas hadirnya pengawal-pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh itu Ki Tumenggung berkata seterusnya, “Aku akan memaafkan Ki Gede Telengan dan pengikut-pengikutnya. Apakah Ki Gede Telengan sudah tidak ada lagi. Pengikutnya akan tetap berada didalam lingkungan kami.”

—- > Bersambung ke bagian 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s