ADBM2-109

<<kembali | lanjut >>

KI GEDE Menoreh benar-benar berada dalam kesulitan. Seakan-akan ia hanya berkesempatan menahan dan menangkis serangan lawannya. Tetapi ia sendiri tidak sempat menyerang, karena dengan licik Ki Tumenggung Wanakerti selalu menjahuinya.

Ki Gede Menoreh tidak mau memaksa diri untuk meloncat menyerang. Ia tidak mau menanggung akibat yang parah karena kakinya. Sehingga dengan demikian maka ia lebih baik mempergunakan nalarnya sebaik-baiknya untuk mengatasi kesulitannya.

Ternyata Ki Tumenggung Wanakerti benar-benar ingin menghabisi perlawanan Ki Gede Menoreh. Serangannya semakin lama menjadi semakin dahsyat. Sebelum malam turun, Ki Tumenggung Wanakerti ingin menyelesaikan pertempuran itu, kemudian berusaha untuk menguasai kedua pusaka yang masih berada di tangan pengikut nya Ki Gede Telengan.

Tetapi tidak mudah bagi Ki Tumenggung Wanakerti untuk melumpuhkan Ki Gede Menoreh yang cacad kaki itu. Meskipun Ki Gede Menoreh hanya sekedar mempertahankan diri, namun kadang-kadang senjatanya masih juga berbahaya bagi Ki Tumenggung.

Namun Ki Tumenggung masih mempunyai banyak akal. Ia dapat mempergunakan ilmunya yang tinggi. Kakinya pun kemudian bagaikan kaki kijang direrumputan. Meloncat-loncat seolah-olah tidak menyentuh tanah berputaran di sekeliling Ki Gede Menoreh. Sekali-sekali ia meloncat menjauh, kemudian tiba-tiba ia melingkar sambil menyambar lambung.

Ki Gede Menoreh menjadi semakin sulit menghadapi cara yang cepat dan berjarak panjang itu. Setiap kali Ki Gede Menoreh selalu merasa terganggu karena kakinya. Meskipun tangannya masih cukup cepat, tetapi ia tidak akan dapat bertahan terlalu lama untuk melayani cara yang menyulitkan itu, karena ia harus berputaran menurut arah serangan lawannya.

 “Umurmu tidak akan lama lagi Ki Gede Menoreh yang perkasa. Aku akan menghabisimu dalam aji Langen Pati. Kau akan menikmati tarian mautku di sekitarmu sebelum kau akan menemui nasib yang sangat buruk.”

Ki Gede Menoreh tidak menjawab. Tetapi pada saat-saat terakhir ia harus benar-benar memeras segala macam ilmu yang ada padanya.

Sebenarnya Ki Gede Menoreh tidak akan terpengaruh oleh kekuatan adji yang betapapun macamnya, karena ia mempunyai kemampuan untuk melawannya. Bahkan Ki Gede Menoreh akan sanggup menembus aji lembu Sekilan seandainya Ki Tumenggung Wanakerti benar-benar memilikinya, atau akan dapat bertahan terhadap aji Guntur Geni yang dapat membakar jantung lawan.

Namun ia tidak dapat ingkar akan keadaan jasmaniahnya. Segala macam ilmu dan kekuatan aji yang ada pada dirinya, ternyata tidak mampu mengatasi kesulitan yang timbul dari dirinya sendiri. Dan Ki Gede Menoreh pun menyadari, akhirnya manusia harus pasrah akan kelemahan dan kekecilan diri, betapapun ia dapat menangkap ilmu yang sangat tinggi.

Tetapi Ki Gede Menoreh tidak berputus asa. Ia masih mampu bertempur melawan Ki Tumenggung Wanakerti itu.

Dalam keadaan yang semakin sulit, Ki Gede Menoreh masih dapat merasa bangga setiap ia mendengar ledakan cambuk Agung Sedayu. Rasa-rasanya suara itu telah menyejukkan hatinya. Anak muda yang selalu ragu-ragu dan kadang-kadang nampak kurang yakin akan sikapnya sendiri itu, agaknya telah bertempur dengan sepenuh kemampuannya untuk merebut pusaka-pusaka yang hilang dari Mataram, justru pusaka-pusaka yang terpenting.

Tetapi ternyata bukan saja Ki Gede Menoreh yang perhatiannya tersentuh oleh ledakan cambuk Agung Sedayu. Ternyata bahwa Ki Tumenggung Wanakerti pun selalu digelisahkan oleh suara cambuk itu. Sebagai orang yang memiliki ilmu yang tinggi, Ki Tumenggung mengerti, bahwa ledakan itu adalah merupakan berita betapa dahsyatnya ilmu orang yang menggenggam tangkai cambuk itu.

 “Ia akan segera berhasil menguasai kedua pusaka itu,” berkata Ki Tumenggung Wanakerti didalam hatinya, “jika demikian, maka akan sangat sulit bagiku untuk merebutnya.”

Karena itu, untuk beberapa saat lamanya, ia menjadi ragu-ragu. Ki Gede Menoreh yang telah diganggu oleh kakinya sendiri itu tidak segera dapat ditundukkan, sementara anak muda bercambuk itu sangat berbahaya bagi kedua pusaka yang sedang dikejarnya, karena telah dilarikan oleh Ki Gede Telengan.

Sejenak Ki Tumenggung Wanakerti membuat pertimbangan-pertimbangan. Sementara langit menjadi semakin suram.

Namun akhirnya Ki Tumenggung memutuskan untuk meninggalkan Ki Gede Menoreh dan menghadapi Agung Sedayu.

 “Beberapa orang bekas prajurit Pajang akan mengepung Ki Gede Menoreh agar ia kehilangan kesempatan untuk berputar-putar oleh cacat kakinya,” berkata Ki Tumenggung didalam hatinya, sementara ia ingin membinasakan Agung Sedayu dan merebut kedua pusaka itu dari tangan para pengikut Ki Gede Telengan.

Karena itulah, maka ia pun kemudian berteriak memanggil tiga orang pengawal kepercayaannya. Kemudian diserahkannya Ki Gede Menoreh kepada mereka, karena Ki Tumenggung Wanakerti bertekad untuk melawan Agung Sedayu.

Ki Gede tidak sempat menahannya. Ki Tumenggung masih cukup cepat bergerak sementara kaki Ki Gede menjadi semakin mengganggunya.

Namun sepeninggalnya Ki Tumenggung, tugas Ki Gede menjadi lebih ringan. Meskipun ia harus menghadapi beberapa orang, namun para pengawalnya masih sempat membantunya. Kadang-kadang di antara lawan yang dihadapi, satu dua orang pengawalnya sempat membantunya, mengurangi tekanan ketiga orang lawannya, ketiganya bukanlah orang-orang yang memiliki kelebihan ilmu yang jauh dari kebanyakan para pengawal terpilih Tanah Perdikan Menoreh, namun mereka cukup kuat untuk mengurungnya dalam pertempuran.

Sementara itu, Ki Tumenggung Wanakerti dengan tergesa-gesa menyibak arena untuk mendekati Agung Sedayu. Ia tidak ingin memberikan kesempatan kepadanya untuk mencapai pusaka yang kurang beberapa langkah saja daripadanya. Dengan tangkasnya Agung Sedayu bertempur melawan para pengikut Ki Gede Telengan yang mempertahankan pusaka itu dan para pengikut Ki Tumenggung Wanakerti yang berusaha mendahului mendapatkannya.

Ternyata bahwa ujung cambuknya benar-benar telah menghantui medan yang menjadi semakin gelap. Agung Sedayu sendiri berusaha untuk dapat menguasai Pusaka-pusaka itu sebelum malam menjadi semakin kelam.

Namun tiba-tiba langkahnya tertegun ketika tiba-tiba saja seseorang telah hadir dihadapannya sambil berteriak, “Minggir. Biarlah aku yang menyelesaikan anak ini.”

Agung Sedayu memandang orang itu dengan tegangnya. Ia sadar, bahwa orang itu adalah orang yang telah bertempur melawan Ki Gede Menoreh dan yang telah meninggalkannya untuk menahan gerak majunya mendekati pusaka itu.

 “Anak muda,” berkata Tumenggung Wanakerti, aku kagum akan kemampuanmu. Menurut ceriteranya, kau jugalah yang telah membunuh Ki Gede Telengan dengan ilmu yang serupa dengan ilmu kerling yang tidak ada artinya itu. Sekarang kau berhadapan dengan aku. Tumenggung Wanakerti. Aku bukannya orang yang suka pada semacam ilmu kerlingan mata. Tetapi cobalah kau bertahan dengan kemampuan ilmumu yang manapun juga.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Dipandanginya saja Ki Tumenggung Wanakerti dengan tajamnya.

 “Kau harus mati, dan pusaka-pusaka itu harus kembali kepadaku,” geram Ki Tumenggung Wanakerti.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Orang ini tentu orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ia telah berhasil bertahan melawan Ki Gede Menoreh, dan kini ia sengaja melawannya tanpa menghiraukan kematian Ki Gede Telengan.

Karena itu, maka Agung Sedayu tidak mau kehilangan kesempatan. Demikian ia bersiap menghadapi Ki Tumenggung Wanakerti, maka ia pun berteriak, “Jagalah baik-baik agar orang-orang yang membawa pusaka itu tidak melarikan diri bersama pusakanya.”

Perintah itu sudah pernah didengar oleh para pengawal. Namun ketika Agung Sedayu mengulanginya, maka mereka pun menjadi semakin gigih. Para pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah berusaha untuk mengepung orang-orang yang masih mempertahankan pusaka-pusaka itu dengan mempertaruhkan nyawa mereka.

Sesaat kemudian, maka Ki Tumenggung Wanakerti yang hatinya telah terbakar oleh sikap Ki Gede Telengan, dan kemudian melihat kemungkinan yang semakin dekat bagi Agung Sedayu untuk memiliki pusaka itu, hatinya menjadi semakin menyala.

Dengan Segenap kemampuannya ia langsung menyerang Agung Sedayu. Sementara Agung Sedayu pun telah siap menghadapinya.

Ketika serangan Ki Tumenggung Wanakerti lewat, maka meledaklah cambuk Agung Sedayu mengenai lawannya. Tepat pada lambungnya yang terbuka, karena tangan Ki Tumenggung mengayunkan senjatanya lurus kedepan mematuk lawan.

Namun terasa pada tangan Agung Sedayu, bahwa ujung cambuknya telah menyentuh sesuatu yang seakan-akan memagari tubuh Ki Tumenggung Wanakerti. Apalagi ketika Agung Sedayu melihat, Ki Tumenggung seolah-olah tidak terpengaruh oleh sentuhan cambuknya. Ia hanya menyeringai. Namun kemudian seolah-olah sudah tidak terasa lagi.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Ternyata bahwa orang yang menyebut dirinya Ki Tumenggung Wanakerti itu benar-benar seorang yang luar biasa. Ia agaknya memiliki sejenis ilmu yang dapat menjadi perisai bagi dirinya. Apakah aji Lembu Sekilan, apakah aji Tameng Waja, atau jenis-jenis yang lain, namun ternyata bahwa sentuhan ujung cambuknya tidak memberikan akibat yang menentukan pada lawannya, meskipun Agung Sedayu yakin bahwa cambuknya dapat mengenainya tepat pada lambung.

Tetapi bahwa Ki Tumenggung Wanakerti masih nampak menyeringai menahan sakit meskipun hanya sesaat, Agung Sedayu dapat mengetahui, bahwa Ki Tumenggung Wanakerti tidak mutlak mempunyai sejenis Ilmu Kebal.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun segera mempersiapkan diri menghadapi pertempuran yang tentu tidak kalah sengitnya dengan melawan Ki Gede Telengan. Apalagi Agung Sedayu masih diganggu oleh perasaan lelah badani dan jiwani, setelah ia mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya.

Namun ternyata Ki Tumenggung Wanakerti pun tidak sesegar saat ia mulai turun di medan pertempuran melawan Raden Sutawijaya. Ia sudah memeras tenaganya di medan pertempuran dalam induk pasukannya melawan Senapati Ing Ngalaga. Kemudian melawan Ki Gede Menoreh yang cacat kaki. Baru ia berhadapan dengan anak muda yang bersenjatakan cambuk itu.

Kesadaran akan lawannya, telah membuat Agung Sedayu menjadi semakin membenamkan diri pada ilmunya. Keragu-raguan dan kebimbangan yang sering menghambat segala tingkah lakunya, perlahan-lahan menjadi kabur. Ada semacam dorongan didalam dirinya untuk mengatasi keragu-raguannya. Kedua pusaka itu harus direbutnya. Yang penting baginya, bukannya arti dari pusaka itu bagi Mataram saja. Tetapi ia juga menjadi ngeri membayangkan, jika kedua pusaka itu tetap berada di tangan orang-orang yang tamak dan dikuasai oleh nafsu. Meskipun pusaka-pusaka itu tidak sesuai dan tidak memberikan pengaruh apapun juga kepada orang orang tamak, namun kesadaran mereka memiliki pusaka-pusaka itu. akan mendorong mereka untuk bertindak lebih jauh dan berbahaya bagi Pajang dan Mataram.

Karena itulah, maka sejenak kemudian Agung Sedayu dan Ki Tumenggung Wanakerti telah terlibat dalam pertempuran yang dahsyat. Ki Tumenggung yang menyadari bahwa anak muda itu telah berhasil membunuh Ki Gede Telengan, tidak mau mengalami kesulitan karena kelengahannya. Meskipun lawannya masih sangat muda, namun Ki Tumenggung Wanakerti harus mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada dirinya. Sejak semula ia sudah mengetrapkan kekuatan cadangan yang ada pada dirinya untuk memagari tubuhnya menurut pengetrapan ilmunya, agar senjata lawannya tidak berhasil melukainya dan apalagi melumpuhkannya.

Wanakerti yang bagaikan gila itu, telah melibat Agung Sedayu bagaikan prahara. Serangannya datang beruntun dan berputaran tanpa menghiraukan dirinya sendiri. Ia terlalu yakin, bahwa senjata Agung Sedayu tidak akan banyak berarti bagi tubuhnya, sehingga dengan demikian Ki Tumenggung Wanakerti tidak pernah menghindarkan diri dari beturan-benturan ilmu yang terjadi.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Ia merasa bahwa tenaga Ki Tumenggung Wanakerti memang luar biasa. Bukan saja karena ilmu kebalnya meskipun tidak mutlak, tetapi kekuatannya pun benar-benar merupakan kekuatan raksasa, sementara ia mampu berloncatan secepat burung sikatan.

 “Ilmunya lengkap,” desis Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Namun itu bukan berarti bahwa Agung Sedayu harus menyingkir dari medan dan melepaskan pusaka-pusaka itu.

Agung Sedayu yang telah berhasil meningkatkan ilmunya dalam keadaan yang seakan-akan tidak dapat diperhitungkan dengan nalar hanya dalam waktu yang terhitung sangat singkat, meskipun ia sudah menguasai dasar-dasarnya sebelumnya, benar-benar telah diuji kemampuannya. Setelah ia berhasil membenturkan ilmunya dan membinasakan Ki Gede Telengan, maka ia harus membenturkan pula ilmunya dengan kekuatan raksasa.

Dalam benturan-benturan berikutnya, Agung Sedayu merasa dirinya harus bergeser surut. Serangan-serangan yang datang dari Ki Tumenggung Wanakerti benar-benar bagaikan badai.

Dengan cambuknya Agung Sedayu kadang-kadang menahan. Tetapi setiap kali Ki Tumenggung yang menyeringai menahan sakit untuk sekejap itu telah meloncat kembali dan menyerang dengan garangnya.

Senjatanya kadang-kadang terjulur lurus mengarah dada, namun kemudian ditebaskannya mendatar setinggi lambung.

Agung Sedayu harus berloncatan menghindarkan diri. Dengan dahsyatnya ia meledakkan cambuknya untuk memperlambat serangan-serangan lawannya.

Dalam keadaan yang gawat, maka perlahan-lahan ilmu Agung Sedayu telah tersalur seluruhnya kedalam jalur kekuatan tangannya yang merambat pada cambuknya. Sehingga karena itulah, maka kemudian suara cambuknya semakin terdengar berbeda.

Meskipun suaranya tidak lebih keras dalam tangkapan telinga wadag, namun Ki Tumenggung Wanakerti telah dikejutkan oleh getaran yang menyentuh telinga batinnya. Getaran ilmu yang dilontarkan dari ujung cambuk Agung Sedayu dalam tataran yang lebih tinggi.

 “Gila,” geram Ki Tumenggung Wanakerti sambil meloncat surut.

Dengan mata yang bagaikan menyala ia memandang Agung Sedayu sejenak. Sekali lagi Ki Tumenggung Wanakerti terkejut. Dalam kesuraman ujung malam, ia melihat bayangan wajah Agung Sedayu bagaikan cermin yang menunjukkan kepadanya, terkaman maut yang mulai mendekat.

Gerak Agung Sedayu nampaknya menjadi semakin lamban. Ia tidak ingin mempergunakan tatapan matanya, karena ia tidak yakin akan dapat menembus perisai di seputar tubuh Ki Tumenggung Wanakerti. Namun ia lebih yakin akan kekuatan ilmunya yang tersalur lewat wadagnya.

Hati Ki Tumenggung Wanakerti tergetar ketika lewat wadagnya Agung Sedayu yang tiba-tiba meledakan cambuknya disisi tubuhnya sendiri. Adalah diluar jangkauan nalarnya, bahwa akibatnya benar-benar mengerikan.

Yang sempat melihat, jantungnya bagaikan berhenti berdenyut. Demikian ledakan cambuk menghentak, maka tiba-tiba saja disisi Agung Sedayu telah tergali sebuah lubang memanjang. Ujung cambuknya seakan-akan telah memecahkan bumi sehingga menganga.

Ki Tumenggung Wanakerti menahan nafasnya sejenak. Ia benar-benar bertemu dengan seorang anak muda yang ajaib. Ki Tumenggung tidak akan gentar seandainya ia harus bertempur melawan Ki Gede Telengan yang bagaikan hantu bagi orang-orang yang telah mengenal ilmunya. Namun ketika ia harus berhadapan dengan anak yang masih sangat muda itu, rasa-rasanya ia sudah mulai berjanji dengan maut.

Tetapi Ki Tumenggung Wanakerti segera menghentakkan giginya. Ia tidak mau dipengaruhi oleh kelemahan hati seorang pengecut. Karena itu maka tiba-tiba terdengar suaranya lantang, “Anak muda. Kau jangan berusaha mempengaruhi hatiku dengan permainan cambukmu seperti kebanyakan anak gembala di padang penggembalaan. Kau kini berhadapan dengan seorang prajurit linuwih, yang tidak akan dapat terluka oleh segala macam jenis senjata.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa Ki Tumenggung Wanakerti berusaha mengimbangi kekuatannya dengan ilmunya yang dahsyat lewat lontaran suaranya. Gemanya bagaikan menggelegar seratus kali lebih keras didalam rongga dadanya, sehingga rasa-rasanya tulang-tulang iganya menjadi rontok karenanya.

Tetapi Agung Sedayu memiliki daya tahan yang luar biasa. Ia sadar bahwa suara Ki Tumenggung Wanakerti telah menghentikan pertempuran di sekitarnya, karena kedua belah pihak sedang berusaha menahan agar dadanya tidak retak karenanya.

Namun demikian mereka menguasai diri, maka pertempuranpun telah meledak lagi dengan dahsyatnya. Juga antara Ki Wanakerti dengan Agung Sedayu.

Selangkah demi selangkah Ki Tumenggung Wanakerti mendekati Agung Sedayu. Wajahnya yang tegang penuh dendam membuatnya meniati semakin garang.

Gelap malam mulai meraba lembah yang dibatasi Gunung Merbabu dan Gunung Merapi itu. Namun pertempuran yang terjadi masih berkobar dengan dahsyatnya disegala medan.

Juga Agung Sedayu yang bertempur melawan Ki Tumenggung Wanakerti. Meskipun keduanya telah dipengaruhi oleh kewajaran badani, sehingga kemampuan mereka susut, namun mereka masih tetap merupakan dua kekuatan raksasa yang bertempur dengan dahsyatnya.

Ki Tumenggung Wanakerti benar-benar seorang yang memiliki kecepatan bergerak yang luar biasa. Serangannya bagaikan petir yang menyambar dilangit.

Tetapi Agung Sedayu bukan sebatang pohon raksasa, atau seonggok batu karang yang beku. Secepat petir menyambar, maka secepat itu pula Agung Sedayu mampu menghindari serangan Ki Tumenggung Wanakerti, sehingga serangan itu tidak mengenai sasarannya.

Betapa besar kekuatan serangan itu terasa oleh Agung Sedayu pada desir angin yang menyapu tubuhnya. Meskipun senjata lawannya sama sekali tidak menyentuhnya, tetapi hati Agung Sedayu berdesir oleh kesadarannya, bahwa jika senjata itu mengenainya, maka tubuhnya akan sobek dan tidak akan perlu mengulangi, maut akan segera memeluknya.

Namun dalam pada itu, ujung cambuk Agung Sedayu masih mampu menyusul kecepatan gerak Ki Tumenggung Wanakerti. Meskipun hanya sebuah sentuhan, namun ternyata bahwa lontaran ilmu tertinggi yang sudah tersalur lewat wadag dan senjatanya. Agung Sedayu telah mampu menunjukkan bahwa ilmunya benar-benar merupakan hantu yang garang bagi Ki Tumenggung Wanakerti.

Ternyata demikian ia meluncur dengan serangannya yang berhasil di hindari oleh Agung Sedayu, ujung cambuk Agung Sedayu telah menyentuh betis kakinya.

Ki Tumenggung Wanakerti benar-benar telah terkejut. Sentuhan ujung cambuk Agung Sedayu benar-benar lelah meremas kulitnya dan bagaikan meretakkan tulang-tulangnya.

Ki Tumenggung Wanakerti mengeluh pendek. Sentuhan itu tidak hanya menumbuhkan rasa pedih sesaat yang segera lenyap karena kekebalannya. Tetapi ilmu anak muda itu dalam hentakan segenap kekuatannya tidak hanya sekedar menembus perisai yang menyelubunginya dalam pewadagan kekuatan batiniah, yang terpancar oleh kekuatan ilmunya, namun ilmu Agung Sedayu yang muda itu benar-benar telah berhasil menyakitinya.

Karena itulah, maka Ki Tumenggung Wanakerti tidak lagi dapat bersembunyi dibalik perisai yang tidak kasat mata, tetapi terasa dalam sentuhan wadag. Ternyata bahwa ujung cambuk dalam landasan ilmu Agung Sedayu telah berhasil melampuinya.

Ki Tumenggung menjadi semakin berhati-hati. Namun dengan demikian ia tidak lagi dapat bergerak terlalu cepat, karena ia harus membuat pertimbangan-pertimbangan dan perhitungan atas tata geraknya.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun segera mempunyai bentuknya yang lain Ki Tumenggung Wanakerti yang berhati-hati dan menghitung semua gerak dan sikap, telah dilihat oleh serangan Agung Sedayu yang bagaikan badai. Cambuknya meledak-ledak di seputar lawannya tanpa dapat ditahan, sehingga setiap kali sentuhan-sentuhan kecil menjadi semakin sering meraba tubuhnya.

 “Gila. Anak ini benar-benar mempunya ilmu iblis,” geramnya didalam dadanya yang hampir retak.

Tetapi ia benar-benar tidak dapat bersembunyi lagi dibalik ilmu kebalnya yang ternyata masih teratasi oleh kemampuan ilmu Agung Sedayu lewat ujung cambuknya meskipun ujung cambuk itu tidak berhasil merobek kulitnya seperti jika terjadi pada orang lain. Namun perasaan sakit dan pedih tidak lagi dapat diingkarinya.

Sementara itu Agung Sedayu pun menjadi heran. Sentuhan-sentuhan senjatanya dapat membuat lawannya merasa sakit. Tetapi ujung senjatanya dalam lontaran ilmunya masih belum mampu melukai kulit Ki Tumenggung Wanakerti.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun menjadi semakin dahsyat. Keduanya benar-benar memiliki kekuatan raksasa yang luar biasa.

Namun, akhirnya Ki Tumenggung Wanakerti harus mengakui, bahwa wajarlah jika Agung Sedayu dapat mengimbangi ilmu Ki Gede Telengan sehingga orang yang disegani itu telah terbunuh.

Pengakuan itu benar-benar telah menggoncangkan ketahanan batinnya. Ia merasa bahwa usahanya akan sia-sia. Ketika ujung cambuk lawannya menyengat kulitnya dan terasa sakitnya meskipun hanya sesaat, ia sudah curiga, bahwa perisai ilmu kebalnya akan dapat menyelamatkannya melawan anak ini. Apalagi kemudian, peningkatan ilmu Agung Sedayu menjadikannya semakin bimbang, apakah ia akan dapat bertahan.

Ternyata semakin lama, tubuhnya yang setiap kali tersentuh ujung senjata Agung Sedayu menjadi semakin lemah. Meskipun ia tidak terluka, namun rasa-rasanya tulang-tulangnya telah berpatahan dan tidak mampu menjadi lanjaran tubuhnya lagi.

Meskipun demikian, Ki Tumenggung Wanakerti adalah seorang prajurit linuwih. Ia tidak menyerah karena pengakuan didalam hati. Ia merasa wajib untuk bertempur sampai kemungkinan terakhir.

Itulah sebabnya, maka betapapun perasaan sakit mencengkamnya, tetapi ia justru bagaikan menjadi gila. Dengan hati yang bagaikan menyala ia menyerang seperti seekor harimau yang terluka.

Pada saat-saat terakhir, terasa oleh Agung Sedayu, lawannya telah kehilangan pegangan. Tetapi dengan demikian ia menjadi semakin ganas dan liar. Senjatanya berputaran dan menyambar nyambar seperti seekor lebah yang terbang mengitari lawannya.

Meskipun Ki Tumenggung Wanakerti sudah mulai kebingungan, tetapi nalurinya sebagai seorang yang berilmu tinggi, masih juga sempat membingungkan Agung Sedayu. Ia pun harus menyesuaikan diri dengan serangan-serangan yang datang beruntun dan kadang-kadang benar-benar liar dan buas. Dengan kasar pula Agung Sedayu harus menghindarinya. Kadang-kadang juga berloncatan panjang, dan bahkan kadang-kadang harus merunduk dan berguling.

Pada saat-saat Ki Tumenggung Wanakerti sudah berputus asa, lontaran dendam dan kebenciannya masih sangat berbahaya bagi Agung Sedayu. Sambaran senjatanya melontarkan angin yang menyapu di seputarnya. Namun ketika Agung Sedayu terlambat meloncat oleh serangan yang kasar, maka senjata lawannya benar-benar telah menyentuh tubuhnya.

Agung Sedayu lah yang kemudian menyeringai menahan sakit. Kulitnya benar-benar telah tergores oleh senjata lawannya, meskipun tidak begitu dalam.

Namun darah yang menitik seakan-akan telah mencuci segala keragu-raguan dan kebimbangan. Agung Sedayu yang menjadi sadar akan keadaannya, telah bangun kembali dari keragu-raguan yang mulai tumbuh lagi sejak ia melihat lawannya berputus asa.

Tetapi ternyata bahwa dalam keadaannya itu. Tumenggung Wanakerti justru menjadi lebih berbahaya. Bukan saja bagi dirinya, tetapi juga bagi keselamatannya. Cambuk Agung Sedayu menjadi semakin cepat bergerak dan semakin dahsyat mematuk tubuh lawannya.

Dengan demikian, maka terasa tubuh Ki Tumenggung Wanakerti menjadi semakin lemah. Tulang-tulangnya terasa bagaikan remuk sama sekali, sehingga dengan demikian, ia sudah tidak mempunyai harapan untuk dapat menguasai kedua pusaka itu lagi.

Ki Tumenggung benar-benar telah berputus asa. Hilangnya kedua pusaka itu dari lingkungannya karena pengkhianatan Ki Gede Telengan memang harus ditebus dengan segala yang paling berharga dari dirinya. Tubuh dan nyawanya.

Bekas perwira prajurit Pajang yang memiliki kelebihan dari prajurit kebanyakan itu, merasa bahwa ia telah gagal. Ia tidak lagi menghiraukan apakah induk pasukannya akan menang. Karena betapapun juga hilangnya dua pusaka itu dari lingkungannya, berarti maut baginya. Justru mungkin dengan cara yang lebih mengerikan, jika ia harus mempertanggung jawabkan kepada Kakang Panji dan sidang orang-orang terpenting di antara mereka.

Itulah sebabnya, maka Ki Tumenggung Wanakerti sama sekali tidak berniat untuk menyelamatkan dirinya lagi. Tenaganya yang tersisa diperasnya sama sekali dengan serangan-serangan yang tidak berperhitungan lagi.

Namun justru karena itu, terasa dada Agung Sedayu bergetar, Ki Tumenggung Wanakerti benar-benar seperti orang gila. Ia menyerang dengan dahsyatnya meskipun ia sadar, bahwa Agung Sedayu sudah siap meledakan cambuknya saat ia meloncat.

Tetapi Ki Tumenggung Wanakerti tidak mengurungkan serangannya. Justru ia meloncat sambil mengulurkan senjatanya lurus-lurus langsung menyerang dada.

Agung Sedayu yang berdebar-debar merasa seolah-olah telah berhadapan dengan hantu yang bangkit dari kuburnya. Ada semacam kengerian yang merambat didalam hatinya melihat sikap lawannya yang tidak wajar itu.

Justru karena kengerian itulah, maka hampir diluar sadarnya. Agung Sedayu telah bergeser setapak. Kemudian mengangkat tangkai cambuknya sambil memusatkan segenap kemampuan ilmu yang ada padanya.

Tepat pada saat Ki Tumenggung Wanakerti menerkamnya dengan ujung senjata, Agung Sedayu telah menyongsongnya dengan hentakan cambuk yang dilambari dengan puncak ilmunya yang dihentakkannya sampai tuntas.

Ledakan yang terdengar tidak melampaui suara ledakan yang pernah didengar oleh telinga wadag. Namun terasa sesuatu telah bergetar di antara suara ledakan itu, sehingga ujung cambuknya telah menampar tubuh Ki Tumenggung Wanakerti, seperti petir yang menampar ujung sebatang nyiur.

Terdengar pekik tertahan. Ketika Agung Sedayu bergeser, maka tubuh Ki Tumenggung terbang dihadapannya seakan-akan justru menjadi semakin cepat oleh hentakan cambuk Agung Sedayu yang sendal pancing.

Namun ketika tubuh itu menjejak tanah, seakan-akan tidak ada kekuatan lagi yang tersisa. Tubuh itu langsung terlempar menelungkup. Sekali lagi ia menggeliat dan berusaha menengadah betapapun lemahnya.

Agung Sedayu berdiri beberapa langkah dari tubuh itu. Seakan-akan Agung Sedayu telah membeku ditempatnya. Dipandanginya Ki Tumenggung Wanakerti yang perlahan-lahan menengadah sambil menahan sakit.

Sejenak kemudian, Agung Sedayu pun menyadari dirinya. Tubuhnyapun merasa sakit disegala sendi-sendinya. Kekuatannya sekali lagi telah terkuras habis. Dihentakkan yang terakhir, ia benar-benar telah mehempaskan segenap sisa kekuatannya, sehingga seperti yang telah terjadi pada saat ia membunuh Ki Gede Telengan, maka ia pun tidak lagi mampu berbuat sesuatu.

Selangkah Agung Sedayu mendekati Ki Tumenggung Wanakerti yang terbaring. Hampir saja Agung Sedayu pun tertelungkup. Namun ia masih sempat dengan perlahan-lahan berjongkok disamping tubuh Ki Tumenggung Wanakerti.

 “Anak muda,” Agung Sedayu mendengar Ki Tumenggung masih berdesis, “kau memang anak yang luar biasa.”

 “Aku akan merasa bangga jika aku mempunyai anak seperti kau. Mumpuni dan mengenal jalan yang harus kau lalui.”

Agung Sedayu masih tetap berdiam diri.

 “Siapakah kau sebenarnya anak muda?”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi terdengar suara seseorang di belakangnya, “Ia adalah Agung Sedayu. Adik Untara.”

 “O,” Ki Tumenggung Wanakerti menarik nafas dalam, “jadi kau adik Untara, Senapati dibagian Selatan itu?”

Diluar sadarnya Agung Sedayu mengangguk.

 “Jadi, apakah pasukan Untara ada di antara pasukan Mataram sekarang ini?”

Agung Sedayu menggeleng. Ki Tumenggung Wanakerti sudah sangat lemah, sehingga yang terloncat dari bibirnya tentu tidak akan diselimuti oleh berbagai macam niat yang lain. Nampaknya, keadaannya sudah sangat parah dibagian dalam tubuhnya, meskipun kulitnya tidak terluka.

 “Aku minta maaf anak muda,” berkata Ki Tumenggung Wanakerti kemudian, “mungkin aku sudah melukaimu. Tetapi luka itu tentu tidak seberapa.”

Seolah-olah Agung Sedayu berbuat diluar sadar, ketika ia mengangguk kecil.

 “Tidak ada gunanya lagi pengikut-pengikutku bertempur sepeninggalku. Mereka tentu akan binasa. Karena itu, kuasailah kedua pusaka itu, meskipun aku tidak tahu apakah yang akan kau lakukan seterusnya dengan pusaka-pusaka itu.”

Dengan tanpa prasangka apapun Agung Sedayu menjawab, “Aku akan menyerahkannya kembali ke Mataram.”

Ki Tumenggung menarik nafas panjang sekali.

Namun kemudian nampak senyumnya membayang dibibirnya. Dalam keremangan malam wajah itu nampak semakin beku, sehingga akhirnya hempasan nafas terakhir telah meluncur dari lubang hidungnya.

Agung Sedayu menarik nafas panjang. Ketika ia berpaling, dilihatnya Ki Gede Menoreh berdiri di belakangnya dengan senjatanya masih di tangan.

 “Beristirahatlah Agung Sedayu,” suaranya datar dan berat, “keadaan sudah dapat dikuasai. Pusaka-pusaka itu tidak akan dapat lepas jika tidak hadir orang-orang lain seperti Ki Tumenggung Wanakerti atau Ki Gede Telengan. Karena itu, biarlah para pengawal mengepungnya dengan rapat. Kau dapat memulihkan kekuatanmu kembali. Jika benar hadir orang-orang baru yang memiliki kemampuan tinggi, kau akan dapat mengimbanginya.”

Agung Sedayu mengangguk kecil. Ia pun kemudian duduk disamping tubuh Ki Tumenggung Wanakerti yang terkapar. Sementara itu Ki Gede Menoreh yang sudah beristirahat beberapa saat setelah melepaskan diri dari ketiga lawannya, melangkah mendekati arena pertempuran yang menjadi semakin sempit.

Dua orang pengawal tetap berada didekat Agung Sedayu untuk mengawasinya, jika akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya selama ia berusaha memulihkan kekuatannya.

Para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh telah berhasil menguasai medan seluruhnya. Kematian Ki Tumenggung Wanakerti sesudah Ki Gede Telengan, membuat para pengikutnya menjadi semakin kecut. Mereka tidak lagi dapat berbuat sesuatu meskipun mereka masih berusaha untuk bertahan. Satu-satunya harapan mereka adalah, jika sekelompok pasukan datang lagi menyusul dari pasukan induk.

Tetapi pasukan itu tidak kunjung datang, sehingga mereka pun menjadi berputus asa.

Ki Gede yang kemudian hadir lagi di antara para pengawalnya, dengan lantang berkata, “Ki Tumenggung Wanakerti telah terbunuh. Siapa lagi di antara kalian yang akan mampu menahan kemarahan anak muda itu. Pusaka itu adalah barang yang sangat berharga bagi pemimpin kalian. Tetapi bagi kalian tidak akan banyak mempunyai arti. karena kalian akan tetap menjadi pengawal yang diumpankan dibaris terdepan dalam peperangan, namun tidak mempunyai kemungkinan untuk mendapatkan pengaruhnya kemenangannya jika kalian menang. Karena itu. maka harga pusaka itu tentu tidak akan lebih besar dari nilai jiwamu masing-masing. Sudah banyak korban yang jatuh karena pusaka-pusaka itu. Apapun alasannya. tetapi mengorbankan terlalu banyak jiwa untuk kedua pusaka itu. rasa-rasanya memang kurang seimbang.”

Kata-kata Ki Gede Menoreh ternyata telah menyentuh hati pada pengikut orang-orang mumpuni yang telah terbunuh oleh Agung Sedayu. Tetapi mereka masih belum berani mengambil keputusan.

Dalam pada itu. Agung Sedayu yang sedang sibuk mengatur diri perlahan-lahan telah melepaskan tarikan nafas panjangnya dalam pengaturan nafas dan peredaran darahnya. Tubuhnya perlahan-lahan telah menjadi segar kembali. Angin malam yang sejuk membantu mempercepat pulihnya kekuatannya, meskipun perasaan letih dan pedih dilukanya masih tetap mencengkamnya.

Perlahan lahan Agung Sedayu berdiri. Ketika ia mengedarkan pandangan matanya dalam keremangan malam, ia masih melihat pertempuran yang tidak bergelora lagi. Nampaknya para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang ditunggui oleh Ki Gede telah menguasai keadaan sepenuhnya.

Sejenak Agung Sedayu masih termangu-mangu. Ia tidak digelisahkan lagi oleh pusaka-pusaka itu, karena hampir pasti pusaka-pusaka itu akan dapat dikuasai kembali oleh para pengawal Tanah Perdikan Menoreh, dan yang akan segera kembali ke Mataram.

Selangkah demi selangkah Agung Sedayu mendekati lingkaran pertempuran yang sudah menyempit. Orang-orang Ki Gede Telengan dan orang-orang Ki Tumenggung Wanakerti, seakan-akan telah menyatu dalam kepungan yang tidak tertembus.

 “Menyerahlah,” terdengar suara Ki Gede Menoreh.

Ketika terdengar suara lain menyusul suara Ki Gede Menoreh, maka para pengikut Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti menjadi semakin kecut hatinya. Suara Agung Sedayu.

 “Kalian sudah tidak mempunyai kesempatan lagi,” berkata Agung Sedayu, “bagi kami lebih baik menerima kalian menyerah daripada harus menjatuhkan korban semakin banyak. Jika kalian berkeras untuk bertempur terus, apapun alasannya, itu hanya berarti kematian-kematian yang sia-sia. Mungkin kalian adalah seorang laki-laki jantan, yang pantang menyerah karena kalian memilih mati sambil memeluk senjata. Tetapi kesia-siaan itu benar-benar tidak berarti, juga bukan lambang kejantanan karena sekedar didorong oleh kedunguan dan pengingkaran atas kenyataan yang dihadapi.”

Kata-kata Agung Sedayu telah menyentuh hati orang-orang yang mempertahankan senjata itu. Tetapi rasa-rasanya pusaka-pusaka itu bagi mereka jauh lebih berharga dari jiwa mereka sendiri.

 “Ki Sanak,” berkata Agung Sedayu, “jika dengan pengorbanan kalian pusaka-pusaka itu dapat kalian selamatkan dari tangan kami, maka kalian adalah pahlawan. Tetapi jika kalian sudah mengetahui dengan pasti bahwa pusaka-pusaka itu akan jatuh ketangan kami, maka yang kalian lakukan adalah sekedar sikap keras kepala, sehingga kematian kalian adalah semakin jauh dari pengertian kepahlawanan itu.”

Tetapi nampaknya pertempuran masih berlangsung terus. Namun demikian sudah nampak, keragu-raguan mulai membayang di hati para pengikut Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti.

Agung Sedayu melangkah semakin dekat. Kemudian ia masih mencoba lagi, “Kenapa kalian tidak meletakkan senjata kalian dan menghentikan pertempuran? Apakah kalian benar-benar ingin bertempur sampai mati? Jika kematian yang dapat menghentikan kalian, maka kami akan memenuhinya. Tetapi jika masih ada akal sehat di kepala kalian, maka berhentilah dan menyerahlah.”

Para pengikut Ki Gede Telengan lah yang pertama-tama mulai merasa bahwa tidak ada gunanya lagi mereka bertempur. Seorang yang memegang pusaka yang terselubung kain putih itu pun berdesis di antara kawan-kawannya, “Apakah kita akan bertahan terus?”

Tiba-tiba seorang yang berkumis lebat membentaknya, “Pengkhianat. Serahkan pusaka itu kepadaku. Aku akan menyelamatkannya.”

Tetapi yang lain berdesis, “Sudah terlambat. Kita sudah terkepung rapat. Tidak ada gunanya.”

Orang berkumis lebat itu menggeram. Namun kemudian kepalanya mengangguk-angguk lemah.

 “Kita tidak akan dapat bertahan terus,” berkata orang yang memegang pusaka itu. “Karena itu. kita akan menyerah. Kedua pemimpin kita tidak dapat bertahan terhadap anak muda itu. Apalagi kita.”

Tidak ada jawaban. Tetapi nampaknya kawan-kawannya sependapat bahwa sebaiknya mereka menyerahkan diri kepada para pengawal Tanah Perdikan menoreh itu. sehingga mereka hanya memerlukan seorang dari mereka yang berani memulai.

Namun akhirnya mereka tidak tahan lagi. Orang yang memegang pusaka itulah yang kemudian berteriak, “Kami menyerah.”

Ada semacam hentakan didalam setiap hati. Menyerah adalah suatu perbuatan yang hina. Tetapi mereka tidak dapat ingkar atas kenyataan yang mereka hadapi.

Ki Gede Menoreh pun kemudian memerintahkan orang-orangnya untuk menghentikan pertempuran dan melangkah surut, sehingga kepungan itu menjadi semakin longgar.

 “Letakkan senjata kalian,” perintah Ki Gede ketika sudah ada jarak antara kedua pasukan yang bertempur itu.

Para pengikui Ki Gede Telengan dan para pengikut Ki Tumenggung Wanakerti tidak dapat berbual lain. Mereka segera meletakkan senjata mereka, dan benar-benar menghentikan perlawanan.

Ki Gede Menoreh menunggu sejenak. Ketika ia yakin bahwa tidak ada lagi kemungkinan yang licik dari para pengikut Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti. maka bersama Agung Sedayu keduanya pun memasuki lingkaran kepungan.

Beberapa langkah dari orang-orang yang menyerah itu keduanya berhenti. Dengan nada berat Ki Gede Menoreh berkata, “Kemarilah. Serahkan kedua pusaka itu.”

Dua orang yang membawa pusaka itu pun kemudian melangkah mendekati Ki Gede Menoreh dan Agung Sedayu. Betapapun keragu-raguan menghentak didalam dada mereka, namun mereka pun kemudian menyerahkan kedua pusaka itu masing-masing kepada Ki Gede Menoreh dan Agung Sedayu.

 “Terima kasih,” berkata Agung Sedayu, “kalian sudah ikut membantu mempercepat penyelesaian dari pertempuran ini. Sementara kalian akan dibawa oleh pengawal menghindar dari peperangan ini.”

Tidak seorang pun yang menjawab. Mereka sama sekali tidak menolak ketika kemudian di giring oleh para pengawal menuju ketempat yang lapang untuk mendapatkan mengawasan yang lebih baik.

Ki Gede Menoreh dan Agung Sedayu yang menerima kedua pusaka itu menjadi berdebar-debar. Rasa-rasanya mereka telah mendapatkan anugerah yang tidak ternilai harganya. Kedua pusaka yang dapat mendorong orang-orang yang tamak dan sombong itu untuk melangkah semakin jauh. telah tidak ada lagi di tangan mereka sehingga meraka tentu akan menghentikan usaha mereka yang dapat mengguncang ketenangan Pajang dan Mataram.

Namun dalam pada itu. Agung Sedayu dan Ki Gede Menorehpun segera teringat arena pertempuran yang lebih besar di sebelah Timur. Pertempuran itu tentu jauh lebih dahsyat dan pertempuran sekelomook yang telah terjadi di sisi sebelah Barat ini.

Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Ketika dalam keremangan malam dan kemudian cahaya obor yang dinyalakan oleh beberapa orang pengawal, ia melihat mayat yang bergelimpangan, maka hatinya serasa semakin pedih. Jauh lebih pedih dari lukanya yang tidak terlalu dalam.

Tetapi ia tidak dapat menghindari kemungkinan itu. Betapapun pertentangan didalam dirinya bagaikan benturan ombak dilautan, namun ia sudah melakukannya. Membunuh. Bahkan di antaranya adalah dua orang terpenting. Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti.

Sekilas terbayang wajah Rudita yang tersenyum pahit. Bahkan kemudian seakan-akan ia melihat anak muda itu menangis. Menangisi mayat yang berserakan di sela-sela ilalang dan pepohonan di hutan yang cukup padat itu.

Agung Sedayu terkejut ketika ia merasa seseorang menggamitnya. Agaknya Ki Gede Menoreh dapat mengenali perasaannya, karena sudah cukup lama ia bergaul dengan anak muda itu.

 “Agung Sedayu,” berkata Ki Gede Menoreh, “aku tahu bahwa kau menyesali peristiwa yang telah terjadi. Bahwa kau harus membunuh dengan tanganmu dan dengan ilmumu yang dahsyat itu. Tetapi ada peristiwa yang terjadi karena keadaan. Memang ada peristiwa-peristiwa pahit yang terjadi akibat perbuatan sendiri. Seperti orang yang memetik buah dari tanamannya. Tetapi ada yang demikian saja berada di mulutnya dan harus ditelannya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

 “Kau telah terperosok kedalam keadaan yang tidak dapat kau ingkari meskipun kau masih mempunyai pilihan. Menghindari diri dari perbuatan yang sudah kau lakukan tetapi kau sendiri terbunuh, atau kau mempertahankan hidupmu tetapi orang lainlah yang terbunuh.”

Agung Sedayu memandang Ki Gede Sejenak. Ia mengangguk kecil meskipun ada sesuatu yang terasa belum mapan.

 “Agung Sedayu,” berkata Ki Gede kemudian, “kita masih belum selesai. Meskipun pusaka-pusaka ini sudah ada di tangan kita, tetapi aku masih membayangkan bahwa pertempuran yang sengit masih terjadi. Agaknya para pengikut orang-orang yang merasa dirinya pewaris kerajaan Majapahit itu tidak menghentikan peperangan, sehingga pasukan pengawal Mataram dan Sangkal Putung harus menyesuaikan diri.”

 “Jadi, apakah yang sebaiknya kita lakukan Ki Gede?”

 “Kita menyusul ke medan membawa pusaka-pusaka ini. Kita akan menunjukkan bahwa pusaka-pusaka ini sudah ada di tangan kita, sehingga pengaruhnya tentu akan besar sekali terhadap pengikut-pengikut orang yang merasa dirinya pewaris kerajaan Agung Majapahit itu.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Tetapi jika para pengawal itu gagal bertahan, maka pusaka ini akan berada dalam bahaya.”

Ki Gede mengerutkan keningnya, namun kemudian katanya, “Aku tidak tahu pasti Ngger. Tetapi firasatku memberikan harapan baik pada pertempuran ini. Apalagi setelah sayap yang tertinggal ini ikut serta memperkuat pasukan Tanah Perdikan Menoreh.”

Agung Sedayu berpikir sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah Ki Gede. Kita akan membawa pusaka ini ke medan. Kita akan mengangkatnya tinggi dan memberitakan bahwa Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti sudah terbunuh.”

 “Bagus,” sahut Ki Gede.

Namun tiba-tiba saja Ki Gede melihat mata Agung Sedayu yang redup. Jika harus diteriakkan bahwa Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti terbunuh, maka seterusnya tidak dapat diingkari, bahwa yang membunuh adalah Agung Sedayu. Orang yang ingin menunjukkan kemampuan ilmunya. Orang yang tidak terlawan. Bahkan yang sudah dapat menyamai kemampuan orang-orang dari angkatan jauh sebelumnya.

 “Tidak,” terdengar gumam lirih. Kemudian Agung Sedayu berdesis didalam hatinya, “bukan maksudku.”

Sekali lagi Ki Gede melihat perasaan Agung Sedayu yang membayang pada tatapan matanya. Sambil menarik nafas dalam-dalam, ia menepuk bahunya sambil berkata, “Marilah. Kita akan membagi pasukan kita. Sebagian akan mengawasi para tawanan, yang lain ikut serta menuju ke medan yang tentu lebih garang.”

Agung Sedayu mengangguk lemah. Tetapi tidak membantah.

Sejenak kemudian pasukan itu pun telah terbagi. Sebagian mengawasi para tawanan yang sudah tidak bersenjata lagi yang dibawa ketempat yang lebih lapang, sementara yang lain mengikuti Agung Sedayu dan Ki Gede Menoreh menuju ke medan sambil membawa kedua pusaka, yang telah berhasil direbut itu.

Para pengawal yang ikut bersama Agung Sedayu dan Ki Gede Menoreh sadar, bahwa mereka telah menggantikan kedudukan para pengikut Ki Gede Telengan. Mereka harus mempertahankan pusaka-pusaka itu mati-matian jika ada pihak yang ingin merampasnya. Apapun yang akan terjadi atas mereka sama sekali tidak akan mereka perhitungkan.

“Aku tidak akan menyerah seperti para pengikut Ki Gede Telengan jika keadaanmu terdorong sampai kepada keadaan yang mereka alami.” berkata seorang pengawal muda.

“Mereka tidak mempunyai pilihan lain. Keadaan sudah memaksa harus berlaku demikian.” sahut kawannya.

“Itu namanya pengecut.”

“Keadaan kita berbeda dengan keadaan mereka,” sahut kawannya yang lain, “mereka hampir tidak menyadari apa yang telah mereka lakukan kecuali harapan-harapan kosong yang pernah mereka dengar dari pemimpin-pemimpin mereka. Sedangkan kita adalah orang-orang yang berdiri dan berjejak diatas tanah. Jika kita bertemnur, kita berada dipihak Tanah Perdikan Menoreh, atau pihak-pihak lain yang sejalan. Kita tidak mengharapkan apa-apa, selain kita tetap seorang pengawal dari Tanah Perdikan Kita sendiri.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian mengangguk sambil bergumam, “Kau benar. Ada perbedaan landasan. Yang kita tempuh berbeda dengan yang mereka lakukan. Dan perbedaan itu adalah perbedaan yang hakiki.”

Dalam gelapnya malam, dibawah cahaya beberapa buah obor yang kecil, pasukan Tanah Perdikan Menoreh mencoba menembus hutan menuju ke arena pertempuran di bagian lain dari lembah itu.

Meskipun medan agak sulit, tetapi perlahan-lahan mereka dapat maju disela-sela pepohonan. Sekali-kali mereka terhenti oleh batang-batang yang melintang, dan kadang-kadang sulut yang bergayutan. Namun mereka meneruskan langkah mereka betapapun lambatnya.

Dalam kelamnya malam, sekali-kali terdengar binatang buas mengaum dikejauhan. Disusul oleh raung anjing hutan yang berkejaran.

Beberapa orang prajurit menjadi berdebar-debar. Anjing hutan adalah lawan yang paling berbahaya. Seekor harimau akan dengan mudah dibinasakan; apalagi mereka berada dalam kelompok yang cukup besar. Tetapi anjing hutan kadang-kadang datang dalam kawanan yang tidak terhitung.

“Kau ngeri mendengar suara anjing hutan itu?” Tiba-tiba seseorang bertanya kepada kawan disampingnya.

Kawannya termangu-mangu. Namun kemudian ia mengangguk. Bahkan kemudian menjawab, “Tentu kau juga.”

“Ya. Aku tidak dapat memanjat. Padahal memanjat adalah satu-satunya cara yang paling baik untuk menghindarkan diri dari sekelompok anjing hutan.”

Kawannya tersenyum. Jawabnya, “Ternyata aku masih lebih aman jika sekiranya kita bertemu dengan sekelompok anjing hutan yang jumlahnya sekitar lima ratus ekor.”

“Ah. Itu berlebih-lebihan. Meskipun mereka berkelompok, tetapi tidak akan lebih dari duapuluh lima.”

“Jangan mencoba menghibur diri. Kau harus berani melihat kenyataan.”

“Ah,” kawannya itu menggeser mendekat, “jika benar-benar kita bertemu dengan sekelompok anjing hutan, tolong aku memanjat.”

“Aku tentu mengurusi diriku sendiri.”

“Tetapi kau dapat membantu aku.”

“Dan itu membahayakan diriku.”

Kawannya menjadi tegang, namun kemudian. “baiklah. Kita hidup dalam dunia kita masing-masing. Kita akan mencari keberuntungan nasib kita tanpa menghiraukan orang lain. Syukurlah, bahwa aku masih membawa sebatang tombak yang dapat membantu aku memanjat. Jika di dahan-dahan pepohonan terdapat ular hijau yang banyak terdapat disini, aku pun masih mempunyai serbuk penawarnya.”

“He?”

 “Ular gadung adalah ular yang sangat berbahaya. Jauh lebih berbahaya dari anjing liar. Seekor ular gadung sebesar lidi yang melekat ditengkukmu, akan dapat membunuhmu dalam sekejap jika kau tidak mempunyai obat penawarnya.”

“Ah, bohong. Kau tahu. aku takut sekali kepada ular?”

“Bertanyalah kepada setiap orang, disini adalah sarang ular gadung dan ular kayu hitam berleher merah.”

“Bohong. Bohong. Bohong.”

Kawannya tidak menjawab. Bahkan berpaling pun tidak. Ia berjalan sambil sekali-sekali menengadahkan kepalanya.

“He,” kawannyalah yang kemudian mendekatinya, “kau membawa serbuk penawar itu ?”

“Aku membawa. Tetapi tinggal sedikit sekali.”

“Tetapi, tetapi….” kawannya mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil mendorongnya berkata, “Kau hanya ingin membalas kegelisahanmu oleh suara anjing itu.”

Kawannya tetap tidak menjawab. Sehingga akhirnya keduanya saling berdiam diri.

Dalam pada itu. pasukan kecil itu kemudian menyusup semakin dalam. Dimalam yang gelap, dalam cahaya beberapa obor kecil, pasukan itu sama sekali tidak menebar karena dengan demikian mereka akan mengalami kesulitan perjalanan. Karena itu. maka mereka pun kemudian berjalan berurutan dan menempatkan obor yang hanya beberapa buah itu pada tempat yang terpisah-pisah.

Mereka terhenti ketika mereka melihat cahaya api dikejauhan agak dibagian yang lebih rendah, sehingga orang yang berdiri dipaling depan segera memberi isyarat dan berusaha menyembunyikan cahaya obor mereka yang memang tidak begitu besar itu dibalik gerumbul-gerumbul atau dibalik puntuk-puntuk kecil atau batu-batu besar.

“Apa yang kalian lihat,” bertanya Ki Gede Menoreh sambil maju kebagian depan dari iring-iringannya.

“Api Ki Gede. Perapian disebuah perkemahan.”

Ki Gede Menoreh menarik nafas dalam dalam. Perkemahan itu adalah perkemahan yang dibangun oleh orang-orang yang tinggi di lembah untuk berbicara tentang warisan kerajaan Majapahit itu.

“Pertempuran itu tentu terjadi diluar perkemahan mereka,” berkata Agung Sedayu.

“Apakah pertempuran itu terhenti dimalam kelam ini sehingga mereka kembali keperkemahan ?” bertanya seorang pengawal.

Tetapi Ki Gede menggeleng. Jawabnya, “Mungkin tidak. Pertempuran itu berlangsung terus. Tetapi sebagian dari mereka kembali keperkemahan untuk menyediakan dukungan makanan bagi mereka yang sedang bertempur. Tanpa makan, mereka akan menjadi sangat lemah dan tidak berdaya untuk melanjutkan pertempuran.”

Agung Sedayu mengangguk angguk. Sementara seseorang yang lain berbisik ditelinga kawannya, “kitalah yang tidak akan mendapat makanan dari siapapun juga, karena tidak ada di antara kita yang menyediakannya.”

“Sst. Para tawanan akan diperintahkan untuk menyediakan makanan kita.”

“Dan mereka memasukkan racun kedalamnya.” desis yang lain.

Agung Sedayu mengangguk-angguk, ia bahkan menyatakan keinginannya untuk melakukannya, tetapi Ki Gede sudah menunjuk dua orang pengawalnya untuk melihat, siapakah yang ada diperkemahan itu.

Beberapa saat. pasukan kecil itu menunggu. Mereka masih tetap berusaha menyembunyikan diri dan melindungi cahaya obor-obor kecil mereka.

Beberapa saat kemudian, kedua pengawal itu telah kembali. Sebelum mereka mengatakan sesuatu, menilik sikap dan ketegangan wajahnya. Ki Gede sudah dapat menduga, siapakah yang berada di barak-barak perkemahan itu.

“Kita tidak mengenal mereka,” lapor salah seorang pengawal itu, “menilik ciri-ciri yang dapat kita lihat, mereka tentu bukan orang-orang Mataram atau Sangkal Pulung.”

“Mereka tentu para pengikut Tumenggung Wanakerti,” desis Ki Gede Menoreh, “karena itu. kita harus menyimpang. Kita tidak akan bertempur disini. Tetapi kita akan mencapai medan dan melihat perkembangan keadaan.”

“Ki Gede,” berkala Agung Sedayu kemudian, “sebaiknya, sebelum kita mendekati medan, kita harus mencari hubungan lebih dahulu. Agaknya dimalam hari. keadaan menjadi agak kacau. Menilik perkembangan keadaan, maka orang-orang di lembah ini agaknya telah dapat menerobos para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang dalang dari arah Barat.”

Ki Gede Menoreh mengangguk-angguk. Katanya, “Kau benar ngger. Kita tidak dapat membayangkan keadaan pertempuran itu sekarang, sebelum kita memperoleh hubungan. Tetapi mungkin kita masih dapat bergerak lagi beberapa puluh langkah sebelum kita akan sampai di medan. Aku kira dalam kelamnya malam yang pekat didaerah berhutan ini. Akan terdapat banyak obor di medan periempuran itu.”

Agung Sedayu mengangguk. Tetapi ia menjadi ngeri membayangkan kemungkinan lain yang dapat terjadi diluar pertempuran itu sendiri.

“Ki Gede,” berkata Agung Sedayu, “hutan ini sangat pepat. Jika api obor itu tidak terkendali karena pertempuran yang dahsyat, maka bahaya lain akan dapat timbul. Hutan ini dapat terbakar, sehingga api tidak akan terkuasai lagi.”

“Memang hal itu mungkin sekali terjadi ngger. Tetapi marilah kita berdoa, agar hutan ini tidak terbakar Agaknya tidak terlalu mudah membakar hutan yang hijau seperti hutan di lembah ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kecemasan itu masih tetap ada didalam hatinya.

Sejenak kemudian, maka Ki Gede pun segera mengatur para pengawalnya untuk mencari jalan yang tidak terlalu dekat dengan perkemahan lawan yang sedang sibuk menyiapkan makan. Ada juga kadang-kadang tersembul niat untuk mengganggu mereka dan apabila perlu mematahkan hubungan antara perkemahan itu dengan medan. Tetapi karena masih belum terdapat gambaran yang jelas tentang medan, maka niat itu pun diurungkannya.

Dengan hati-hati maka pasukan kecil itu pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan medan. Mereka tidak terlalu sulit untuk merenungkannya, karena arahnya sudah pasti. Mereka tinggal menyusuri lembah itu. dan mereka tidak akan salah arah.

Beberapa puluh langkah lagi kedepan, maka seperti yang mereka duga, nampak obor yang menebar di pertempuran.

“Kita sudah sampai,” berkata Ki Gede Menoreh, “kita akan mencari hubungan dengan pasukan Mataram atau dengan Prastawa dan Ki Waskita.”

“Kita akan memastikan diri, apa yang akan kita lakukan Ki Gede,” sahut Agung Sedayu.

“Ya. Dan kita tidak boleh salah hitung, karena pada kita terletak pertanggungan jawab terbesar atas pusaka-pusaka ini.”

Agung Sedayu tidak menyahut. Tetapi wajahnya nampak berkerut oleh ketegangan didalam hatinya.

Sementara itu, dua orang penghubung telah diperintahkan oleh Ki Gede Menoreh untuk mencari hubungan. Mereka harus mendapatkan gambaran dari seluruh  medan dibagian Barat.

Sepercik kecemasan telah tumbuh dihati Ki Gede Menoreh. Jika dibagian Barat ini dengan mudah dapat ditembus oleh lawan, maka apakah pasukan Tanah Perdikan Menoreh sudah tidak berdaya sama sekali. Sementara itu, dengan berdebar-debar pula Ki Gede mulai menilai seluruh pertempuran meskipun hanya sekedar dari tebaran dan jumlah obor.

Pertempuran itu agaknya benar-benar merupakan pertempuran yang besar.

“Seharusnya pertempuran itu berhenti ketika gelap turun,” tiba-tiba saja Ki Gede bergumam.

Agung Sedayu berpaling kearahnya. Dengan suara datar ia berkata, “Seharusnya Ki Gede. Tetapi orang-orang di lembah ini tentu tidak akan memaksa diri untuk mengetrapkan unggah-ungguh peperangan. Jika  mereka merasa malam justru menguntungkan, maka mereka akan mempergunakan malam itu untuk kepentingan mereka.”

Ki Gede mengangguk. Namun kemudian katanya, “Kita akan beristirahat sejenak. Kau tentu masih lelah, dan kakiku masih terasa sedikit mengganggu.”

Ki Gede pun kemudian duduk diatas sebuah batu. Pusaka yang di tangannya sama sekali tidak dilepaskannya. Digerakkannya kakinya yang setiap kali kambuh, justru pada saat-saat yang gawat. Sementara Agung Sedayu pun telah duduk pula di sebuah batu yang lain untuk melepaskan lelahnya pula. Dalam pada itu. para pengawal menebar di sekitar kedua orang yang sedang memegang pusaka yang telah berhasil dirampas itu. Meskipun mereka ikut beristirahat pula. tetapi merasa tidak meninggalkan kewaspadaan. Karena itulah maka mereka telah berada di segala arah untuk mengawasi keadaan, karena mereka berada didaerah yang gawat dan kurang mereka kuasai keadaannya. Apalagi dalam gelapnya malam, sementara obor mereka yang kecil menjadi semakin kecil dan tidak berdaya lagi mencapai jarak yang cukup, selain sekedar untuk melihat selangkah didepan kakinya sendiri.

Dalam pada itu. dua orang merayap mendekati medan. Mereka mencoba mengenal pertempuran itu dari jarak yang semakin dekat. Dari cahaya obor. mereka mulai dapat membedakan siapakah yang ada di medan.

Dengan hati-hati kedua orang itu mencari seseorang yang mereka kenal, terutama pengawal Tanah Perdikan Menoreh, meskipun dengan demikian berarti bahwa mereka pun harus berada di medan.

“Kau tinggal disini,” berkata salah seorang dari kedua pengawal itu, “aku akan berada di pertempuran itu.”

“Kenapa aku harus tinggal disini?” bertanya kawannya.

“Jika setelah aku memasuki medan dan aku tidak sempat keluar, maka kau harus memberitahukannya kepada Ki Gede.”

 “Ah. Jika kemungkinan tidak ada, kenapa kau harus mendekat. Yang kita saksikan sudah cukup meyakinkan, bahwa pertempuran itu sampai saat ini masih belum dapat menentukan, siapakah yang akan menguasai medan. Kita sudah dapat melihat, bahwa pertempuran itu bagaikan bercampur-baurnya kawan dan lawan.”

“Jadi, apakah kau sangka dengan demikian sudah cukup? Kita bukan sekedar melihat pertempuran itu. Tetapi kita akan mencari hubungan.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam.

“Tinggallah disini. Tunggulah beberapa saat. Jika aku tidak kembali, tinggalkan aku di medan.”

Kawannya tidak menyahut. Tetapi kecemasan nampak membayang diwajahnya.

Yang seorang tidak menunggu lebih lama. Nampaknya ia tidak menghiraukan lagi kawannya, meskipun sebenarnya ia menyadari, bahwa kawannya yang masih  belum berpengalaman benar-benar menjadi cemas.

“Apa boleh buat,” desisnya, “tugas ini harus dilakukan.”

Sepeninggal kawannya, pengawas yang seorang menjadi semakin cemas. Bukan saja tentang nasib kawannya, tetapi juga tentang dirinya sendiri. Rasa-rasanya didalam gelapnya malam, berpuluh-puluh pasang mata sedang mengintipnya dari balik kegelapan.

Dengan memaksa diri pengawal itu mengatasi kengerian dihatinya. Ia berkewajiban untuk tinggal ditempatnya menunggu kawannya yang mencari hubungan kemedan. Ia sadar, bahwa ia tidak dapat ikut serta, karena jika demikian, apabila kedua-duanya mengalami kesulitan, tidak ada orang yang akan dapat melaporkan lagi kepada Ki Gede Menoreh.

Sementara itu, kawannya telah mendekati medan dengan senjata di tangan. Ketika ia sekilas melihat seorang pengawal Tanah Perdikan Menoreh sedang bertempur, maka ia pun segera mendekatinya dan ikut melibatkan diri kedalam pertempuran itu.

“He, kau.” desisnya sambil bertempur bersama.

Namun ia tidak banyak mendapat kesempatan. Ketika pertempuran itu bergeser seperti geseran air tersentuh batang yang tergelincir kedalamnya. maka kawannya telah tergeser pula, dan ia harus bertempur menghadapi orang lain.

Tetapi segera ia mendapat kesimpulan, bahwa jumlah dan kekuatan kedua belah pihak agaknya memang berimbang.

“Pertempuran itu dapat berlangsung tujuh hari tujuh malam,” katanya didalam hati, “jika tidak ada perubahan keseimbangan, maka sampai pada batas terakhir, akan tinggal dua orang saja yang masih hidup dan bertempur sampai yang seorang terbunuh.”

Tetapi ia tidak dapat membiarkan dirinya terseret oleh angan-angannya karena senjata lawannya hampir saja mengenai hidungnya.

Namun tiba-titia geseran berikutnya, telah menempatkannya pada lingkungan yang lebih menguntungkan. Beberapa pengawal Tanah Perdikan Menoreh sedang berusaha mempertahankan kedudukan masing-masing dalam kerja sama yang rapi.

“Bagus,” desis penghubung itu, “orang tua itu tentu berhasil mempertahankan kedudukannya.”

Penghubung itu pun kemudian berusaha untuk bergeser pula meskipun bagaikan menentang arus. Namun perlahan-lahan ia berhasil mencapai kawan-kawannya yang sebagian besar sudah dikenalnya dengan baik.

“Dimana Prastawa?” pertanyaan itulah yang pertama-tama dilontarkan.

Seorang dari pengawal itu berpaling sejenak. Kemudian jawabnya, “Ia berada diinduk daerah pertempuran ini.”

“Aku ingin menemuinya. Tetapi apakah kau dapat memberikan beberapa keterangan?”

Pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian ia meninggalkan lawannya yang segera mendapat lawan yang lain bersama pengawal yang bertugas sebagai penghubung itu keluar dari arena.

“Pertempuran sudah tidak terlalu keras. Tetapi masing-masing memang berusaha untuk menjaga harga diri. Tidak ada di antara kedua pihak untuk mau mendahului memberikan tawaran untuk menghentikan pertempuran meskipun kami sudah sangat letih. Perut kami menjadi sangat lapar, dan leher kami bagaikan kering.”

“Diperkemahan orang-orang yang berada di lembah ini sedang sibuk menyiapkan makanan.”

“Tidak ada di antara kami yang melakukan hal itu.”

“Kenapa?”

“Prastawa tidak memerintahkan.”

“Ia masih terlalu muda. Apakah ia sendiri tidak lapar dan haus.”

“Tetapi biarlah. Kita akan berusaha merampasnya jika lawan memberikan kesempatan kepada kawan-kawan mereka.”

“Sulit. Mungkin mereka mempunyai cara yang khusus. Jika perlu, biarlah kami melakukannya.”

“Tetapi apakah yang akan kau katakan?”

“Ki Gede mendekati medan ini bersama Agung Sedayu. Aku ingin mengatakannya kepada Prastawa.”

“Apakah persoalanmu sudah selesai?”

“Sudah. Tetapi yang masih kami perlukan adalah keterangan tentang medan. Aku melihat pihak lain diarena ini. Atau aku sudah tidak dapat melihat lagi dalam keremangan malam yang hanya diterangi dengan obor-obor kecil itu? “

Penghubung itu mengerutkan keningnya. Kemudian dengan nada datar ia berkata, “Pasukan Mataram sudah berada di medan ini pula agaknya. Jika demikidan, pertempuran ini benar-benar merupakan pertempuran yang kacau. Bukan saja perang brubuh, tetapi campur baur yang kisruh.”

“Tidak. Masih ada batas. Prastawa memang memilih gelar Glatik Neba,” jawab pengawal itu, “tetapi agaknya di sebelah Timur masih terdapat gelar.”

Penghubung itu mengangguk-angguk. Kemudidan katanya sambil melapaskan lawannya, “Aku akan mencari Prastawa.”

“Ia berada diinduk Pasukan.”

Tetapi tidak mudah untuk mendapatkan Prastawa didalam perang yang kacau itu. Namun demikian, akhirnya ia menemukannya juga di antara beberapa orang pengawal. Sementara tidak terlalu jauh dari padanya, terdapat seorang anak muda yang sedang mengamuk seperti seekor banteng.

“Raden Sutawijaya,”desisnya, “ia berada di medan ini juga.”

Pengawal itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian berusaha untuk mendekati Pratawa. Beberapa lama baru ia berhasil. Sambil mengikuti gerak pertempuran di induk pasukan, maka ia pun kemudian melaporkan kepada Prastawa, apa yang sudah terjadi.

“He,” Prastawa terkejut, “orang yang bernama Ki Gede Telengan dan Tumenggung Wanakerti sudah mati?”

“Ya. Keduanya dibunuh oleh Agung Sedayu.”

“Kau gila, katakan yang sebenarnya.”

“Ya. Dibunuh oleh Agung Sedayu.”

“Tutup mulutmu, atau aku sumbat dengan ujung pedang. Aku tidak tahu siapakah keduanya. Tetapi karena keduanya memiliki tugas-tugas khusus tentu kedua orang-orang yang berilmu.”

“Ya. Keduanya memang orang yang pilih tanding. Tetapi keduanya telah dibunuh oleh anak muda dari Sangkal Putung itu.”

“Kalau kau sebut sekali lagi, aku bunuh kau.” Pengawal itu menjadi heran. Tetapi ia benar-benar tidak berani mengatakannya lagi.

“Bagaimana dengan paman Argapati.”

“Aku diperintahkannya mencari hubungan. Pasukannya sudah dekat di belakang medan ini. Kami akan segera menggabungkan diri.”

“Bagus. Kita akan segera menyelesaikan pertempuran ini dan menghancurkan orang-orang tamak yang menyebut dirinya pendukung Kerajaan Agung Majapahit.”

“Baiklah. Aku akan menyampaikannya kepada Ki Gede. Sebentar lagi pasukan kami akan datang.”

“Pergilah. Aku akan menyampaikannya kepada Raden Sutawijaya.”

Penghubung itu mengangguk. Ia pun kemudian menarik diri dari peperangan dan kembali untuk menemukan kawannya dipersembunyiannya yang gelap dan sepi.

Ketika ia menemukannya, maka kawannya itu hampir tidak tahan lagi menunggu. Tubuhnya menjadi gemetar dan peluh dingin mengalir diseluruh tubuhnya.

“Uh. kau lama sekali. Aku hampir beku disini.”

“Aku hampir luluh di medan yang panas.”

“Disini dingin sekali.”

“Marilah. Kita melaporkannya kepada Ki Gede. Medan itu merupakan medan yang kacau balau.”

Dengan tergesa-gesa keduanya pergi menghadap Ki Gede Menoreh yang telah menunggu dengan gelisah. Dengan jelas, penghubung itu melaporkan apa yang telah dilihatnya.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. “Gelar Glatik Neba agak terlalu berbahaya bagi para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Gelar itu merupakan hantu bagi lawan, jika jumlahnya cukup dan secara pribadi para pengawal memiliki kemampuan yang tinggi.”

“Prastawa menilai pasukannya seperti ia menilai dirinya sendiri. Mungkin ia sendiri dapat membuat kejutan-kejutan di medan perang brubuh. Tetapi para pengawal muda akan menjadi gelisah. Apalagi dalam pertempuran yang sangat panjang,” berkata Ki Gede Menoreh.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia membayangkan kesulitan yang dialami oleh para pengawal, terutama yang masih sangat muda. Muda umurnya dan muda pengalamannya.

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s