ADBM2-110

<<kembali | lanjut >>

DI BAGIAN lain dari sayap itu. Ki Waskita telah berhasil mengatasi kusulitan yang paling gawat. Ia pun telah berhasil menekan lawannya yang mulai lelah. Lawannya yang bertubuh dan berkekuatan raksasa itu, ternyata sulit untuk mengimbangi Ki Waskita. Bukan saja ketangkasan dan kecepatan bergerak, tetapi ternyata Ki Waskita memiliki kelebihan daya tahan seperti halnya Kiai Gringsing.

Dengan demikian, maka bindi Kiai Jagaraga yang besar dan bergerigi itu tidak lagi banyak mempunyai arti. Ayunan yang semakin lamban tidak akan dapat menyentuh tubuh lawannya yang masih tetap tangkas dan trampil.

“Kau akan kehilangan segenap kekuatanmu,” berkata Ki Waskita kepada raksasa bersenjata bindi itu.

Tetapi lawannya yang lelah itu menggeram. Bagaimanapun juga ia harus menyelesaikan pertempuran itu. Meskipun ia sadar bahwa tenaganya mulai lelah, tetapi ia masih mengharap bahwa tenaga raksasanya masih tetap melampaui kekuatan lawannya.

Namun Ki Waskita benar-benar memiliki kelebihan. Ia masih dapat bergerak cepat, sehingga setiap kali lawannya menjadi bingung dan kehilangan arah.

Sekali-sekali senjata Ki Waskita berhasil menyentuh lawannya, sehingga lawannya menjadi semakin bingung oleh kelelahan dan sakit. Namun demikian, ia masih tetap seorang raksasa yang berbahaya.

Demikianlah maka pertempuran yang lama itu dalam keseluruhan menjadi lamban. Tetapi nafsu membunuh masih tetap membayang di wajah-wajah mereka yang menggenggam senjata di medan itu, apalagi jika mereka melihat kawan-kawan mereka yang telah terbunuh maupun terluka parah. Maka kemarahan dan kebencian telah medorong mereka untuk membunuh semakin banyak meskipun kadang-kadang yang terjadi justru sebaliknya.

Sementara itu, orang-orang yang berada di belakang medan, sedang berusaha untuk mempercepat agar masakan mereka Jekas masak dan dapat dikirimkan ke medan perang. Beberapa orang petugas sudah dengan tidak sabar memperingatkan, bahwa para prajurit dan pengawal di medan sudah hampir kelaparan.

“Mereka tidak akan mampu bertempur,” berkata seorang petugas yang mengurus makan mereka yang bertempur.

“Kami sudah bekerja keras,” jawab juru masak, “kami tidak dapat berbuat lebih cepat.”

“Tetapi kelambatanmu akibatnya dapat menghancurkan seluruh pasukan.”

“He, kenapa?” juru masak yang didesak-desak itu agak jengkel juga.

“Lapar dan haus menyebabkan mereka kehilangan keseimbangan. Mereka akan dengan mudah dapat dikalahkan. Bukan hanya satu dua orang, tetapi beberapa puluh dan bahkan beberapa ratus orang, sehingga keseimbangan pertempuran segera menentukan akhir dari perjuangan yang akan menjadi sia-sia.”

“Aku sudah tahu. Tetapi aku tidak dapat berbuat lebih cepat. Nasi harus ditanak. Kecuali jika aku harus mengirimkan beras saja ke medan.”

Petugas yang mengurus makanan itu pun marah. Dengan garang ia berkata, “Jangan banyak mulut. Lakukan perintahku. Aku dapat memenggal kepalamu.”

Pemimpin juru masak yang merasa sudah bekerja sekuat tenaga itu pun marah pula. Jawabnya, “Jangan keras kepala. Meskipun disini aku juru masak, tetapi aku juga prajurit. Kau kira aku tidak dapat mempertahankan-diri.”

Beberapa orang yang melihat perbantahan itu pun segera melerai. Seorang yang berambut putih berkata, “Apakah kalian sangka dengan pertengkaran itu tugas-tugas kalian dapat kalian selesaikan?”

Kedua orang yang bertengkar itu pun masih saling berpandangan dengan tegang. Namun pemimpin juru masak itu pun kemudian beringsut pergi kembali ketugasnya meskipun wajahnya masih nampak tegang.

“Ayo cepat,” ia pun berteriak membentak-bentak pembantu-pembantunya.

Namun akhirnya nasi pun masak. Tetapi untuk mempermudah cara para prajurit dan pengawal makan, maka juru masak dari Mataram dan Kademangan Sangkal Putung telah menggilas nasi itu dengan penumbuk padi dalam bakul, dicampur dengan kelapa dan garam, sehingga kemudian nasi itu dapat dipotong dan digenggam dengan sebelah tangan.

Ternyata para pengikut orang-orang yang berkumpul di lembah itu pun telah menyelesaikan masakan mereka, sehingga beberapa orang dari mereka telah mengirimkan makanan ke medan dengan cara yang hampir sama, seperti kebiasaan setiap kelompok yang bertempur melalui jarak waktu sewajarnya.

Meskipun pertempuran masih berlangsung, tetapi diluar pembicaraan antara kedua belah pihak, seakan-akan keduanya memberi kesempatan kepada petugas-petugas masing-masing untuk menyampaikan makan dan minum kepada mereka yang sedang bertempur. Berganti-ganti mereka minum dari gendi dan menerima sepotong nasi yang sudah digilas dan kemudian dipotong-potong.

Namun dengan demikian berarti bahwa pertempuran masih akan berlangsung panjang. Mereka yang bertempur itu tidak lagi memikirkan apakah mereka akan menunda pertempuran untuk waktu waktu yang pendek.

Para pengawal dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh yang berada di sebelah Barat pun ternyata telah mendapatkan bagian mereka, sehingga rasa-rasanya tubuh mereka menjadi segar oleh air gendi dan segumpal makanan.

Namun ada juga para pengawal yang teringat kepada Ki Gede dan beberapa orang pengawalnya. Karena itu, maka dibawanya para petugas untuk menyampaikan makan dan minum itu juga kepada mereka.

Dalam pada itu, Agung Sedayu yang bertempur melawan Kiai Kelasa Sawit ternyata semakin menjadi bertambah seru. Kiai Kelasa Sawit yang marah telah kehilangan semua perhitungan dan pertimbangan selain nafsu untuk membunuh anak muda bercambuk itu.

Tetapi betapapun ia berusaha, Agung Sedayu pun telah berusaha pula menghindarkan dirinya dari terkaman maut. Bahkan sekali-kali jika cambuknya meledak, maka lawannya bagaikan dihentak oleh kekuatan yang tidak terlawan.

Di induk pasukan pun keseimbangan perlahan-lahan menjadi semakin jelas. Swandaru benar-benar merupakan kekuatan yang menggetarkan. Cambuknya yang meledak-ledak bagaikan mengguncang seluruh medan. Sementara di seberang Raden Sutawijaya tidak lagi dapat dibendung. Senjatanya merupakan penyebar maut yang sangat menggetarkan, sehingga lawan-lawannya menjadi semakin ngeri menghadapinya.

Yang terjadi di sayap yang lain pun tidak banyak berbeda. Ternyata bahwa orang yang berada di lembah itu salah hitung atas kemampuan para pengawal. Mereka menganggap bahwa para pengawal dari Mataram, Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh, meskipun memiliki kemampuan bertempur yang cukup, tetapi mereka tidak terlatih untuk bertempur dalam waktu yang panjang. Namun ternyata bahwa mereka masih tetap mampu mengimbanginya.

Di sayap yang telah kehilangan seorang pemimpinnya, yang dilumpuhkan oleh Agung Sedayu, maka kekuatan lawan benar-benar sudah teratasi. Ketika Kiai Samparsada dibawa menyingkir, maka pengawal pengawalnya menjadi semakin gelisah. Apalagi mereka sudah mendengar bahwa Agung Sedayu jugalah yang telah membunuh Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti. Kemudian Kiai Samparsada dilumpuhkannya pula. Kini yang dihadapinya adalah Kiai Kelasa Sawit, sehingga para pengikutnya telah mencemaskan keselamatannya.

Namun mereka tidak dapat berbuat banyak. Para pengawal Tanah Perdikan Menoreh pun memiliki ketajaman perhitungan, sehingga hampir tidak ada kesempatan untuk membantu Kiai Kelasa Sawit yang garang itu.

Sebenarnyalah bahwa Kiai Kelasa Sawit telah mengerahkan segenap kemampuan. Ilmunya yang melampaui orang-orang kebanyakan ternyata mempunyai pengaruh yang kuat. Senjatanya bagaikan memiliki dorongan kekuatan yang berlipat, sementara kakinya bagaikan kaki kijang yang kuat dan cepat.

Namun Agung Sedayu pun telah menguasai ilmunya dengan masak. Dengan demikian, maka ia merupakan benteng yang tidak tertembus oleh lawan.

Bahkan semakin lama serangan Agung Sedayu menjadi semakin banyak menyentuh tubuh lawannya. Kecepatan bergerak Kiai Kelasa Sawit ternyata masih belum melampaui kecepatan bergerak ujung cambuk Agung Sedayu yang digetarkan oleh ilmu yang hampir sempurna.

Setiap sentuhan di tubuh Kiai Kelasa Sawit telah menimbulkan noda merah kebiru-biruan. Namun jika kekuatan Agung Sedayu tersalur sepenuhnya pada hentakan kekuatannya, maka tubuh Kiai Kelasa Sawit yang mengeras bagaikan tembaga itu masih juga berhasil dilukai, sehingga darah menitik dari kulit yang sobek ditubuhnya.

Meskipun Kiai Kelasa Sawit setiap kali menyeringai menahan pedih, serta kekuatannya yang semakin susut, tetapi luka-luka itu nampaknya tidak terlalu banyak berpengaruh. Ia masih tetap bertempur dengan garangnya, seakan-akan senjata lawannya sama sekali tidak berarti lagi baginya.

Agung Sedayu menjadi heran bahwa lawannya seakan akan tidak merasakan akibat dari sentuhan ujung cambuknya. Bahkan Kiai Kelasa Sawit yang marah itu menyerang semakin sengit.

Karena itulah maka Agung Sedayu terdorong kepada keharusan untuk mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Kekuatan daya tahan Kiai Kelasa Sawit benar-benar telah menumbuhkan kengerian pada dirinya. Apalagi karena Agung Sedayu pun telah merasa dijalari oleh kelelahan yang semakin menghisap tenaganya.

“Aku tidak boleh kehilangan tenagaku lebih dahulu dari orang ini,” berkata Agung Sedayu..

Karena itulah maka Agung Sedayu pun kemudian telah membuat perhitungan yang cermat. Apakah lebih baik baginya untuk bertahan mengimbangi kemampuan lawannya dengan sekali-sekali saja menyerang atau mengerahkan segenap kemampuannya dan segera melumpuhkan lawannya.

Agung Sedayu tidak dapat mencari pilihan. Kiai Kelasa Sawit lah yang kemudian melibatnya dalam pertempuran bagaikan dalam badai yang dahsyat. Agaknya orang itu memilih dengan cepat menyelesaikan pertempuran, menang atau kalah.

Hentakan-hentakan senjata semakin dahsyat telah saling berbenturan dan saling melukai. Bukan saja Kiai Kelasa Sawit, tetapi sentuhan senjatanya telah melukai Agung Sedayu pula.

Oleh luka dan kelelahan, maka Agung Sedayu pun menjadi semakin garang. Bagaikan mengamuk ia menyerang lawannya, langsung pada tempat tempat yang paling berbahaya.

Akhirnya Kiai Kelasa Sawit tidak dapat mengingkari keadaannya. Ia masih tetap sadar, bahwa kekuatannya memang menjadi jauh susut, apalagi badannya bagaikan dipenuhi oleh luka-luka karena sentuhan ujung cambuk Agung Sedayu.

Tetapi Kiai Kelasa Sawit tidak membiarkan dirinya terbunuh oleh anak muda itu seperti Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti. Dan ia pun tidak mau dilumpuhkan seperti Kiai Samparsada yang belum diketahui nasibnya, apakah ia benar benar mati atau terluka parah.

Karena itulah. Maka Kiai Kelasa Sawit yang sudah terluka silang melintang itu mulai memikirkan jalan keluar dari kesulitannya. Tubuhnya yang menjadi semakin lemah oleh kelelahan dan darah, hampir tidak sempat lagi melakukan perlawanan.

Karena itulah, maka tiba-tiba saja terdengar suitan nyaring dari mulutnya. Kiai Kelasa Sawit telah memberikan isyarat bagi keselamatannya.

Agung Sedayu sadar, bahwa lawannya telah memberikan suatu isyarat. Tetapi ia tidak mengetahui, apakah yang akan terjadi kemudian. Yang dapat dilakukannya hanyalah mempersiapkan dirinya menghadapi kemungkinan yang bakal terjadi. Bahkan beberapa orang pengawal yang mendengar isyarat itu pun telah bersiap-siap pula. Mungkin akan terjadi perubahan yang tiba-tiba diarena pertempuran itu.

Agung Setlayu menjadi berdebar-debar ketika ia melihat geseran yang serentak pada pasukan lawan. Beberapa orang telah menyibak dan dengan cepat mereka telah berkerumun seolah-olah membuat sebuah lingkaran kecil yang bersusun.

Barulah Agung Sedayu kemudian sadar. Kiai Kelasa Sawit yang sudah tidak berdaya lagi itu berusaha untuk melindungi dirinya. Ia tentu akan menyingkir dari arena untuk mempersiapkan diri atau justru untuk tidak menampakkan dirinya lagi.

Sejenak Agung Sedayu diguncang oleh keragu-raguan. Jika ia melihat luka-luka ditubuh lawannya. maka dua hal yang saling bertentangan telah berdesakan didalam hati.

Dengan mudah Agung Sedayu akan dapat membinasakan lawannya yang sudah kehilangan kemampuannya untuk melawan itu. Ia dapat memerintah pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh untuk memecahkan lingkaran perlindungan itu dan ia sendiri memasuki sampai ke pusarnya dan membunuh Kiai Kelasa Sawit.

Namun, terasa sesuatu telah menahannya. Orang itu sudah tidak berdaya lagi seperti Kiai Samparsada. Apakah sudah wajar jika ia masih saja memburunya dan membunuhnya sama sekali?

Keragu-raguannya itulah agaknya yang memberikan kesempatan kepada lawannya untuk menyembunyikan Kiai Kelasa Sawit di tengah-tengah medan. Sementara Agung Sedayu diam mematung, maka para pengawal Tanah Perdikan Menoreh memandanginya dengan tegang. Mereka menunggu apakah yang akan dilakukan oleh Agung Sedayu. Tepai agaknya Agung Sedayu itu bagaikan membeku ditempatnya.

Para pengawal itu menyadari keadaan mereka, dan tanpa menunggu lagi menghantam lingkaran itu. Namun ternyata bahwa Kiai Kelasa Sawit sudah dilarikan oleh pengawal-pengawalnya yang setia.

“Ia melarikan diri,” geram seorang pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

“Agung Sedayu terlalu lamban,” desis yang lain, “sebenarnya ia mempunyai kesempatan untuk melakukannya jika ia mau.”

“Ia mulai kambuh. Keragu-raguannya sudah mencengkam jantungnya lagi,” desis yang lain.

“Sikapnya tidak menguntungkan sama sekali. He. bagaimana hal itu dapat terjadi atasnya?” bertanya yang lain, “bukankah ia sudah membunuh Ki Gede Telengan. Ki Tumenggung Wanakerti dan Kiai Samparsada?”

Medan dipertempuran itu menjadi gempar. Hilangnya Kiai Kelasa Sawit membuat para pengawal Tanah Perdikan Menoreh dan para pengawal Mataram yang sudah melingkari medan dari arah Timur ke arah Barat menjadi ribut. Berbagai tanggapan telah mereka lontarkan terhadap Agung Sedayu. Namun adalah sudah menjadi suatu kenyataan bahwa Kiai Kelasa Sawit sudah melarikan diri.

Tiba-tiba saja salah seorang pengawal yang tidak dapat menahan diri telah berteriak, “Kelasa Sawit melarikan diri.”

Teriakan itu diluar dugaan lelah disambut oleh yang lain. “Kelasa Sawit melarikan diri.”

Ternyata bahwa para pengawal Tanah Perdikan Menoreh dan para pengawal dari Mataram yang lainpun telah berteriak pula sambung bersambung, “Kiai Kelasa Sawit melarikan diri dari sayap.”

Dalam pada itu. Kiai Kelasa Sawit memang telah melarikan diri dari sayap. Dalam perlindungan anak buahnya ia berusaha untuk lepas dari medan. Namun tidak disayap, karena para pengawal semuanya seakan-akan telah memperhatikannya.

Dalam waktu yang singkat. Kiai Kelasa Sawit dibimbing oleh pengawalnya yang setia telah meninggalkan sayap pasukan lembah itu dan memasuki induk pasukan. Selanjutnya ia berusaha untuk menemukan lubang yang dapat dilaluinya untuk meninggalkan arena pertempuran karena luka-lukanya yang parah.

Tetapi teriakan para pengawal itu menjalar terlampau cepat. Bahkan beberapa orang pengawal di induk pasukannya telah mendengarnya dan mereka yang berada dibatas sayap dan induk pasukan pun ikut berteriak, “Kiai Kelasa Sawit melarikan diri.”

Kiai Kelasa Sawit menjadi berdebar-debar. Tetapi ia merasa dirinya telah terlepas dari Agung Sedayu. Agaknya Agung Sedayu tidak akan mengejarnya sampai keinduk pasukan.

“Kita harus segera meloloskan diri,” desis Kiai Kelasa Sawit, “aku memerlukan beberapa saat beristirahat sebelum aku kembali menghadapi anak itu.”

“Malam ini Kiai?” bertanya seorang pengawalnya.

“Kau dungu. Tentu aku harus beristirahat tidak hanya malam ini. Agaknya keadaanku belum menjadi baik.”

“Sehari semalam?”

“Bodoh. Aku akan beristirahat sebulan lamanya.”

“Sebulan?” pengawalnyalah yang kemudian menjadi heran.

Tetapi Kiai Kelasa Sawit tidak menjawab. Ia merasa dadanya menjadi sesak dan luka-lukanya bertambah pedih. Darah semakin banyak mengalir dari tubuhnya meskipun daya tahannya telah berhasil memperkecil kemungkinan cambuk lawannya merobek kulitnya.

Namun dalam pada itu, teriakan-teriakan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh dan para pengawal dari Mataram menjadi semakin keras, dan yang bahkan disambut pula oleh para pengawal dari Sangkal Putung, “Kiai Kelasa Sawit melarikan diri.”

Dengan tergesa-gesa Kiai Kelasa Sawit pun mencari jalan keluar. Pengawalnya tidak dapat mencegahnya lagi meskipun ia sadar, bahwa pasukan di sayap itu akan segera bercerai berai tanpa pimpinannya. Namun ia pun sadar, bahkan jika Kiai Kelasa Sawit tidak meninggalkan medan, maka ia akan dibunuh oleh Agung Sedayu.

Sementara itu. Agung Sedayu yang berada di sayap itu pun termangu-mangu. Para pengawal Tanah Perdikan Menoreh dan Mataram dibagian Barat, serta para pengawal Mataram dan Sangkal Putung dibagian Timur ternyata telah mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Hilangnya Kiai Kelasa Sawit, benar-benar telah melumpuhkan kekuatan lawan. Terutama karena goncangan perasaan. Sebenarnya jika mereka tidak mudah disentuh oleh keputus-asaan. maka mereka masih akan dapat bertahan dan mencari jalan keluar. Tetapi hilangnya dua orang pemimpin di sayap itu membuat hati para pengikutnya menjadi kecut.

Meskipun ternyata kemudian Agung Sedayu tidak berbuat seperti yang mereka duga, namun agaknya mereka menyangka bahwa yang demikian itu, hanyalah menunggu saat yang akan segera datang.

Sebenarnyalah Agung Sedayu mulai lagi dicengkam oleh keragu-raguan. Selelah ia membunuh Ki Gede Telengan. Ki Tumenggung Wanakerti dan melukai Kiai Samparsada sehingga parah, kemudian Kiai Kelasa Sawit, maka rasa-rasanya goncangan-goncangan didalam dirinya tidak terelakkan lagi. Apalagi waktu mereka melihat didalam cahaya obor, tubuh yang silang melintang dipertempuran. Orang kesakitan dan bahkan kadang-kadang terdengar tangis tertahan.

Rasa-rasanya getar hati anak muda itu tidak tertahankan lagi. Bukan kemenangan yang terasa memberi kebanggaan dihati, tetapi justru penyesalan dan kengerian.

Itulah sebabnya, untuk beberapa saat lamanya ia berdiri tegak ditempatnya. Para pengawal Tanah Perdikan dan para pengawal dari Mataram menjadi heran melihat sikapnya. Mereka menduga bahwa Agung Sedayu akan segera mengamuk dan menghalau setiap lawan yang ada di sayap itu, bahkan membunuhnya. Tetapi yang terjadi adalah diluar dugaan itu. Agung Sedayu berdiri termangu-mangu tanpa berbuat apa-apa.

Meskipun demikian, maka para pengawal itu tidak ikut termangu-mangu. Sebagian dari mereka mengerti, bahwa penyakit Agung Sedayu telah kambuh lagi. Keragu-raguan dan kebimbangan.

Karena itulah, maka para pengawal Tanah Perdikan Menoreh lah yang kemudian bersama-sama dengan para pengawal dari Mataram seakan akan telah mengamuk mengusai medan. Orang-orang yang bertahan di lembah itu semakin lama menjadi semakin terdesak dan tidak berdaya.

Pertempuran itu masih berlangsung beberapa lama, sementara Agung Sedayu bagaikan orang bingung berdiri di tempatnya  Namun agaknya goncangan-goncangan didalam hatinya tidak tertahankan lagi. Diluar dugaan para pengawal. Agung Sedayu justru meninggalkan medan dengan langkah yang gontai.

“Kemana,” terdengar seseorang bertanya kepada kawannya.

“Agaknya ia akan kembali kepada Ki Gede yang menjaga pusaka itu,” jawab yang lain.

Mereka menjadi semakin heran. Namun kemudian mereka tidak menghiraukannya lagi dan bertempur semakin sengit.

Agung Sedayu berjalan didalam gelapnya malam. Seakan-akan ia menuruti kemana kakinya melangkah. Adalah karena nalurinya saja ia pun berjalan menuju ketempat Ki Gede Menoreh menunggu dengan hati yang berdebar-debar.

Kedatangan Agung Sedayu mengejutkan para pengawas. Ketika seorang pengawas melihat sesosok bayangan yang berjalan mendekat, maka sambil mengacukan tombaknya ia berdesis, “Siapa?”

Agung Sedayu berhenti. Tetapi ia tidak menjawab. Namun demikian pengawas itu segera mengenalnya. Bahkan ia menjadi cemas melihat keadaan Agung Sedayu yang seakan-akan kehilangan sesuatu.

“He. kenapa kau?” bertanya pengawas itu. Agung Sedayu memandang pengawas itu sejenak.

Namun kemudian Jawabnya, “Aku tidak apa-apa.”

Pengawas itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Tetapi suaramu gemetar. Apakah yang sudah terjadi?”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia berjalan terus.

“Ki Gede ada dibalik batu padas,” desis pengawas itu.

Agung Sedayu barjalan terus menuju kebatu padas yang nampak hitam pekat dimalam hari. Cahaya obor kecil yang sengaja ditempatkan agak jauh, memberikan sedikit ancar-ancar tempat Ki Gede Menoreh beristirahat.

Ki Gede berpaling ketika ia mendengar desir perlahan. Sebuah bayang nampak mendekatinya dengan ragu-ragu.

“Agung Sedayu,” desis Ki Gede.

Agung Sedayu menjadi semakin dekat. Kemudian dengan lemahnya ia menjatuhkan diri dan duduk beberapa langkah di hadapan Ki Gede Menoreh.

Ki Gede Menoreh terkejut melihat keadaan anak muda itu. Dengan tergesa-gesa ia mendekatinya sambil bertanya, “Kau kenapa?”

Agung Sedayu mencoba menenangkan hatinya. Perlahan-lahan ia menarik nafas panjang sekali, seakan-akan udara malam diseluruh hutan itu akan dihisapnya.

“Kau terluka?” bertanya Ki Gede.

“Tidak seberapa Ki Gede,” jawab Agung Sedayu, “hanya goresan-goresan kecil.”

“Tetapi kau nampak letih sekali.”

“Aku memang letih sekali.”

Ki Gede pun kemudian duduk disamping Agung Sedayu. Terasa tubuh anak muda itu gemetar. Nafasnya kadang-kadang memburu, namun kadang-kadang bagaikan terhenti.

“Aneh,” berkata Ki Gede didalam hatinya, “pernafasannya hampir sempurna. Tetapi terasa kini seakan-akan ia tidak memiliki kemampuan untuk menguasai diri dan mengatur pernafasannya sendiri.”

“Agung Sedayu,” desis Ki Gede, “agaknya kau memang terlalu letih. Tetapi seharusnya kau dapat mengatasi kesulitan pernafasanmu, sehingga tubuhmu akan menjadi agak segar. Apalagi sejuknya embun malam akan dapat membantu menyegarkan kelelahanmu.”

Agung Sedayu mengangguk. Tetapi keadaannya tidak bertambah baik.

Agung Sedayu masih saja gelisah, sementara nafasnya sama sekali masih belum teratur.

Ki Gede Menoreh yang sudah semakin tua itu pun ternyata memiliki penglihatan batin yang tajam. Meskipun yang nampak pada wadag Agung Sedayu tidak membahayakannya, namun ternyata kelelahan batinnya membuatnya seolah-olah kehilangan nalar dan pertimbangan.

Ki Gede kemudian semakin menyadari ketika meraba tubuh Agung Sedayu yang gemetar.

“Apa yang sudah terjadi Agung Sedayu?” bertanya Ki Gede Menoreh.

Agung Sedayu memandang Ki Gede dengan tatapan mata yang suram.

“Apakah kau menjumpai peristiwa yang tidak kau kehendaki?” desak Ki Gede.

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian desisnya gemetar, “Bukan maksudku Ki Gede. Benar-benar bukan maksudku.”

“Memang bukan maksudmu Agung Sedayu. Tetapi apakah yang sudah terjadi?”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja seakan-akan nampak dihadapannya Kiai Samparsada yang terbaring dengan luka-lukanya, sementara Kiai Kalasa Sawit yang terhuyung-huyung karena ujung cambuknya. Dengan susah payah orang itu bersuit memanggil pengawalnya untuk membuat lingkaran pelindung di seputarnya. Apalagi kemudian seolah-olah berdiri dikegelapan sambil memandanginya dengan mata merah menyala Ki Gede Telengan yang bersilang tangan dan Ki Tumenggung Wanakerti yang seakan-akan tidak dapat disentuh oleh senjata. Namun keduanya telah berhasil dibunuhnya.

“O,” Agung Sedayu tiba-tiba saja mengeluh, dipandanginya kedua telapak tangannya dan tangkai cambuknya. Tiba-tiba saja tangannya menjadi semakin gemetar.

Ki Gede Menoreh mengerti, apa yang tersirat dihati anak muda itu. Anak muda yang selalu diganggu oleh sifat-sifatnya yang berdasar lubuk hati sejak ia masih kanak-kanak. Keragu-raguan, kebimbangan dan tidak berketentuan.

Betapapun Agung Sedayu berhasil menguasai berbagai ilmu yang menggetarkan, yang dapat mengatasi dan bahkan melampaui ilmu Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti, namun ia tidak dapat mengatasi gemuruhnya jantung didalam dadanya sendiri.

Karena itu, maka Ki Gede pun kemudian menyuruh seorang pengawalnya mengambil gendi yang diberikan kepada kelompok itu dan memberikannya kepada Agung Sedayu, “Minumlah Agung Sedayu. Kau benar-benar harus beristirahat.”

Agung Sedayu tidak menolak. Ia pun kemudian menghirup air dari dalam gendi itu. Seteguk demi seteguk.

Segarnya air gendi dan segarnya malam dapat sedikit memberi ketenangan kepada Agung Sedayu. Beberapa kali ia menarik nafas, seolah-olah ia sedang mengingat apa yang telah dilakukannya di medan perang yang mengerikan itu.

Ki Gede Menoreh masih menunggui dengan sabar. Sekali-kali Agung Sedayu berdesah. Kemudian tatapan matanya kembaki terlempar kedalam gelapnya malam.

Namun kemudian dengan nafas yang tersendat-sendat. Agung Sedayu menceriterakan bahwa ia telah melukai Kiai Samparsada dan Kiai Kelasa Sawit.

“Keduanya terluka parah,” desis Agung Sedayu, “bukan maksudku untuk menjadi pembunuh yang tidak berjantung meskipun di peperangan. Aku sudah membunuh Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti. Apakah aku harus membunuh dan membunuh apapun alasannya?”

Ki Gede Menoreh sudah menduga. Ternyata bahwa ilmu dan kemampuan Agung Sedayu yang melampaui tataran itu justru telah membuat hatinya kadang-kadang terluka.

“Agung Sedayu,” berkata Ki Gede Menoreh, “setiap kali kau hadir di peperangan, maka kau selalu dicengkam oleh kegelisahan semacam itu. Tetapi itu pun bukan salahmu. Semua yang terjadi adalah urutan peristiwa yang tidak terpisahkan. Suatu rangkaian peristiwa yang saling berkait. Juga tentang dirimu sendiri.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya.

“Sebenarnya kau tidak dapat menyesali perbuatanmu di peperangan. Membunuh memang pekerjaan yang terkutuk. Tetapi peperangan merupakan usaha terakhir untuk mempertahankan sikap seseorang dan sekelompok orang yang mempunyai keyakinan dan landasan yang sejalan.”

Agung Sedayu masih tetap menundukkan kepalanya.

“Kau dapat mengerti Agung Sedayu?” bertanya Ki Gede.

“Pengertian yang dapat ditangkap oleh nalarku tidak sejalan dengan perasaanku Ki Gede,” desis Agung Sedayu.

“Kau sadari itu?” bertanya Ki Gede.

“Tanpa kesadaran ini barangkali aku sudah menjadi gila. Aku berusaha untuk menemukan keseimbangan antara nalar dan perasaan. Tetapi kadang-kadang pertanyaan didalam hatiku terlampau banyak yang tidak dapat aku jawab,” berkata Agung Sedayu seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri, “di antaranya, apakah aku memang harus menjadi pembunuh yang tidak berperikemanusiaan? Aku sadar Ki Gede. apakah artinya perikemanusiaan didalam peperangan. Tanpa melenyapkan kebatilan maka aku pun telah berkhianat terhadap perikemanusiaan itu sendiri, karena akibat dari kelestarian kebatilan adalah perkosaan terhadap perikemanusiaan. Tetapi kenapa aku harus melakukannya dengan cara yang tidak dapat aku pilih sesuai dengan cara yang paling baik menurut pendapatku?”

“Agung Sedayu. Jika cara itu harus kau lakukan, karena kau tidak mendapat kesempatan untuk memilih justru kau berada didalam keadaan tanpa pilihan, maka kau harus menerima kenyataan itu. Bukan kau yang telah memaksakannya terjadi. Tetapi kau hanyalah menerima keadaan tanpa pilihan itu. sehingga kau telah berdiri pada satu kesempatan, membunuh. Karena jika kau ingkari kesempatan itu, maka kau telah melakukan kesalahan yang sama nilainya, memberi kesempatan orang lain membunuhmu, padahal kau mempunyai kemampuan untuk menyelamatkan dirimu meskipun yang terjadi harus sebaliknya.

Agung Sedayu mengangkat wajahnya. Dipandanginya langit yang hitam ditaburi oleh bintang-bintang yang berkeredipan. Malam telah semakin dalam, sementara di lembah itu pertempuran masih berlangsung meskipun telah menjadi semakin kendor.

“Sudahlah Agung Sedayu,” berkata Ki Gede, “beristirahatlah. Kau adalah seorang anak muda yang memiliki sesuatu yang merupakan kurnia dari Yang Maha Kuasa. Tergantung kepadamu, apakah kau dapat mengamalkannya, atau sekedar akan kau rendam dalam pelukan perasaanmu yang gelisah. Bukan saja saat ini, tetapi saat-saat mendatangpun persoalan semacam ini akan selalu kau jumpai didalam hidupmu. Karena persoalan baik dan buruk itu merupakan persoalan yang lahir bersama kelahiran manusia itu sendiri.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Namun terasa sesuatu bergetar didalam dirinya, meskipun masih samar-samar.

Semantara itu, Ki Gede Menoreh pun kemudian meninggalkannya kembali ke tempatnya. Ia tidak boleh lengah. Kedua pusaka itu seolah-olah didalam tanggung jawabnya.

Ketika seorang pengawal mendekatinya, maka ia pun berkata, “Awasi Agung Sedayu yang kecewa terhadap dirinya sendiri. Dalam keadaan yang demikian, ia seakan-akan telah berubah. Karena itu, jika ada orang yang bermaksud jahat, maka ia tidak akan mempedulikannya.”

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Ki Gede, apakah artinya aku bagi Agung Sedayu.”

“Kau bukan seorang yang ragu-ragu seperti Agung Sedayu. Itulah kelebihanmu. Karena itu, awasilah anak muda yang sedang diamuk oleh kebimbangan itu.”

Pengawal itu tidak membantah. Ia pun kemudian mendekati Agung Sedayu yang bersandar pada sebatang pohon. Sambil duduk disampingnya pengawal itu bertanya, “Kau lelah?”

“Ya. aku lelah.”

Pengawal itu tidak bertanya lagi. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Ki Gede, Agung Sedayu itu pun kemudian duduk bersandar sebatang pohon sambil meletakkan kepalanya pada kedua telapak tangannya yang diangkatnya di belakang. Ia seakan-akan telah tenggelam kedalam suatu dunia yang lain dari dunia wadagnya, sehingga seperti yang dikatakan orang, namun ia sama sekali tidak memperhatikannya lagi.

“Anak muda yang aneh,” desis pengawal itu. Tetapi ia tetap berdiam diri sambil mengawasi kegelapan yang terhampar di sekitarnya.

“Aku tidak boleh lengah seperti Agung Sedayu,” berkata pengawal itu kepada diri sendiri, sehingga karena itulah, maka ia menggenggam tombaknya erat-erat meskipun ia pun kemudian bersandar pula pada sebatang pohon di sebelah Agung Sedayu. sementara para pengawal yang lain pun tetap bersiaga sepenuhnya karena mereka menyadari, bahwa kedua pusaka yang tidak ternilai harganya itu ada di antara mereka yang berada di tempat terpisah dari peperangan itu.

Sementara itu, pertempuran di lembah memang sudah menjadi semakin lamban. Kedua belah pihak sudah kehilangan puncak kemampuan mereka karena kelelahan.

Orang-orang yang merasa dirinya keturunan Kerajaan Agung Majapahit semakin lama semakin merasa, betapa tekanan para pengawal Mataram. Kademangan Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh tidak lagi dapat dilawan.

Di sayap yang telah ditinggalkan Agung Sedayu, para pengikut orang-orang yang menyatakan dirinya pewaris kerajaan Majapahit itu menjadi semakin gelisah. Pemimpin-pemimpin mereka telah tidak ada lagi di antara mereka. Kiai Kelasa Sawit seakan-akan telah hilang didalam gulungan pengawalnya.

Karena itulah, maka mereka seakan-akan sudah kehilangan segala kesempatan. Tekanan yang semakin dahsyat dari para pengawal Tanah Perdikan Menoreh serta para pengawal dari Mataram yang menghimpit mereka pada kekuatan pengawal dari Kademangan Sangkal Putung dan sebagian yang lain dari para pengawal dari Mataram, membuat mereka kehilangan semua harapan untuk dapat melepaskan diri dari bencana.

Dalam pada itu, Raden Sutawijaya yang berada diinduk pasukan, dengan cerdik telah memotong sayap yang kehilangan pimpinannya itu dengan pasukannya. sehingga sayap itu seakan-akan telah terpisah dari induk pasukannya.

Tidak ada yang dapat dilakukan lagi oleh mereka yang berada disayap pasukan yang terkepung itu. Ketika seorang pemimpin pengawal dari Mataram meneriakkan ancaman-ancaman yang mengerikan, maka mereka menjadi semakin ragu-ragu untuk meneruskan pertempuran.

Namun akhirnya pemimpin pengawal dari Mataram itu berkata, “Tetapi kami masih mempunyai perhitungan. Jika kalian menyerah sebelum saat-saat yang mengerikan itu tiba, maka nasib kalian akan menjadi bertambah baik. Kemarahan dan dendam dihati kami akan berkurang, karena penyerahan kalian berarti mengurangi jumlah korban dipihak kami.”

Tawaran itu benar-benar mempengaruhi perasaan para pengikut orang-orang yang merasa dirinya pewaris kerajaan Majapahit. Dalam keadaan putus asa, maka kesempatan untuk menyerah itu adalah satu-satunya kesempatan terbaik yang akan menghindarkan mereka dari kematian, meskipun mungkin mereka akan jatuh kedalam suatu keadaan yang tidak kalah buruknya daripada mati.

“Kami masih memberi kesempatan,” berkata pemimpin dari Mataram itu, “jika kalian ingin menyerah, maka lepaskanlah senjata kalian dari tangan.”

Tetapi orang-orang yang putus asa itu masih ragu-ragu. Jika mereka melepaskan senjata mereka, sementara lawan mereka masih belum menemukan keseimbangan, sehingga dendamnya masih menyala, maka nasib mereka justru akan menjadi bertambah buruk.

Namun pemimpin pengawal dari Mataram itu pun kemudian meneriakkan aba-aba kepada para pengawal agar mereka memberi kesempatan lawan untuk menyerah.

Para pemimpin pengawal dari Kademangan Sangkal Putung dan dari Tanah Perdikan Menoreh yang berseberanganpun mendengar perintah itu. Sementara mereka masih tetap mengakui, bahwa mereka berada di bawah perintah dari pimpinan pasukan dari Mataram, sehingga perintah yang mengalir dari pimpinan pasukan Mataram, merupakan perintah bagi seluruh pasukan.

“Nah,” teriak pemimpin pengawal dari Mataram, “ulangi perintahku, beri kesempatan kepada mereka untuk menyerah.”

Para pemimpin kelompok, baik dari Mataram, dari Sangkal Putung maupun dari Tanah Perdikan Menoreh pun kemudian mengulangi perintah itu sambung bersambung sampai ke ujung sayap.

Tidak ada kesempatan lain. Kelelahan, putus asa dan hilangnya harapan telah menyudutkan para pengikut mereka yang merasa dirinya pewaris kerajaan Majapahit itu untuk menerima tawaran itu, betapapun buruknya.

“Seorang pemimpin kelompok yang sudah kehilangan ikatan induknya itu pun tiba-tiba saja sudah meneriakkan perintah bagi kelompoknya, “Pisahkan diri dari lawan. Kalian mendapat kesempatan untuk menyerah. Tetapi tidak untuk membunuh diri.”

Ternyata bahwa perintah itu mendapat sambutan dari beberapa orang pemimpin kelompok yang lain meskipun hal itu bukannya merupakan jalur perintah. Mereka merasa bahwa setiap kelompok harus menentukan sikap mereka sendiri, setelah Kiai Samparsada dan Kiai Kelasa Sawit hilang dari sayap itu.

Para pengikut yang berada di lembah itu pun tidak mempunyai kesempatan lain. Itulah sebabnya, mereka-pun kemudian seolah-olah berusaha untuk menjauhi lawan masing-masing sambil mengangkat senjata mereka meskipun senjata itu masih belum dilontarkan.

Para pengawal dari Mataram, dari Sangkal Putung dan dari Tanah Perdikan Menorehpun termangu-mangu sejenak. Pernah untuk memberi kesempatan lawan mereka menyerah tidak dapat mereka abaikan, sehingga karena itu. maka mereka pun membiarkan lawan mereka melangkah surut dan seakan-akan berkumpul didalam sebuah lingkaran yang besar.

“Letakkan senjata kalian,” perintah itu terdengar lagi.

Betapapun juga, keragu-raguan masih nampak di wajah mereka. Sejenak mereka masih berdiri termangu-mangu. Namun pertempuran memang telah terhenti, meskipun keadaan masih tetap tegang.

Dalam keragu-raguan itu, tiba-tiba pertempuran itu telah digetarkan pula oleh teriakan-teriakan kemenangan dari induk pasukan. Raden Sutawijaya di sebelah Barat dan Swandaru di sebelah Timur bersama Pandan Wangi dan Sekar Mirah telah berhasil memaksa lawan mereka untuk menyerah pula.

“Mereka sudah menyerah,” teriakan-teriakan itu terdengar sampai kesayap.

Para pengikut orang-orang yang menganggap dirinya pewaris kerajaan Majapahit itu pun kemudian seorang demi seorang telah melemparkan senjata mereka. Betapapun beratnya, tetapi senjata yang merupakan lambang kehadiran mereka dipeperangan itu, harus diletakkan.

Dengan demikian, maka hampir berbareng kedua bagian dari pasukan lawan itu sudah menyerah. Diinduk pasukan. Raden Sutawijaya masih merenungi tubuh seorang bekas Senapati Pajang yang mendapat tanda kepercayaan untuk menjadi Panglima di lembah itu yang terbujur tidak bernyawa lagi.

Tetapi ternyata bahwa sayap yang lainpun telah digoncangkan oleh peristiwa yang menggetarkan. Ki Waskita yang menjadi semakin lelah, justru menjadi semakin garang, sehingga akhirnya lawannya tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

Raksasa yang memiliki kekuatan berlipat dari kekuatan kebanyakan itu, akhirnya tidak lagi mampu menyelamatkan hidupnya dalam hiruk pikuknya pertempuran.

Kiai Gringsing yang melihat kematian Kiai Jagaraga itu mengerutkan keningnya. Kemudian dengan nada datar ia berkata, “Apakah kau masih akan tetap bertahan? Kawanmu sudah terbunuh.”

Empu Pinang Aring yang bertempur melawan Kiai Gringsing itu meloncat surut, seolah olah ia ingin mendapat kesempatan untuk menyaksikan kebenaran kata-kata Kiai Gringsing, bahwa kawannya telah terbunuh oleh seorang pengawal yang datang dari arah pasukan Tanah Perdikan Menoreh.

Kiai Gringsing sengaja memberinya kesempatan, sehingga Empu Pinang Aring pun melihat betapa kawannya itu tergolek dibawah cahaya obor yang sengaja dipasang untuk menerangi mayat itu oleh para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Empu Pinang Aring menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau benar Kiai. Raksasa itu telah mati.”

“Dan kau?” bertanya Kiai Gringsing.

Empu Pinang Aring termangu-mangu. Sejenak ia mengedarkan tatapan matanya keseluruh medan, seolah-olah ia ingin melihat pertempuran yang panjang itu dari ujung sampai keujung.

Namun dari induk pasukan, ia pun telah mendengar bahwa pasukan yang sedang berhimpun di lembah itu ternyata tidak mampu melawan kekuatan yang berhasil dihimpun oleh Mataram. Kekuatan dari Timur dan dari Barat.

“Mataram memang luar biasa,” desis Empu Pinang Aring tiba-tiba.

“Kau tidak mempunyai kesempatan lagi,” berkata Kiai Gringsing.

Empu Pinang Aring memandang Kiai Gringsing dengan tajamnya. Sekali lagi ia menebarkan tatapan matanya. Kemudian desisnya, “Tidak ada yang dapat menghalangi tekad keturunan kerajaan Agung Majapahit untuk membangun kembali kejayaannya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jangan bermimpi. Kita bukan orang-orang yang takut melihat kenyataan.”

“Apa yang kau tahu tentang kami?”

Kiai Gringsing memandang Empu Pinang Aring sejenak, lalu. “Apa pula yang kau tahu tentang warisan atau keturunan Kerajaan Agung Majapahit?”

“Aku adalah keturunan langsung dari Majapahit yang berhak mewarisi kerajaan.”

“Ada beratus-ratus orang yang dapat mengatakan demikian. Keturunan Majapahit telah tersebar kemana-mana. Sampai ke ujung Timur dari tanah ini. Bahkan sampai ke seberang selat Bali. Tetapi apakah artinya keturunan itu jika Sultan Pajang juga dapat menyelusuri keturunannya yang bersumber dari Majapahit? Jika setiap orang berhak mewarisi kerajaan. apakah itu berarti akan ada beratus-ratus kerajaan Majapahit yang akan lahir?”

“Jangan berbicara seperti kepada kanak-kanak Kiai,” sahut Empu Pinang Aring, “sudah tentu kita akan berbicara tentang hal itu di antara kita.”

“Bukan maksudku memperbodoh kau Ki Sanak. Tetapi bayangkan. Semua orang yang merasa dirinya memiliki hak untuk mewarisi kerajaan itu, pada suatu saat akan berkumpul dan berbicara tentang diri mereka masing-masing. Nah, apakah Ki Sanak dapat membayangkan, siapakah di antara mereka yang akan menjadi raja, menjadi Mahapatih, menjadi Mahamenteri dan jabatan-jabatan yang lebih rendah? Siapakah yang akan menentukan dan mengesahkan?” bertanya Kiai Gringsing.

“Kau sudah tahu jawabnya. Kita mempunyai otak, mempunyai mulut dan kesetiakawanan.”

“Semuanya akan lenyap dihembus oleh nafsu dan ketamakan. Jika kalian sempat mempergunakan otak kalian, kenapa kalian sanggup berkumpul di lembah ini kemudian bersama-sama memusuhi Pajang dan Mataram? Kenapa kalian tidak dapat mempergunakan otak, mulut dan kesetiakawanan kalian, apalagi kalian sudah jelas mengetahui bahwa Sultan Hadiwijaya masih resmi menjadi raja di Pajang dalam jalur langsung atau tidak langsung dari keturunan Majapahit?”

“Omong kosong.”

“Ingat Ki Sanak. Setiap orang akan dapat mengucapkannya. Omong kosong. Akupun dapat mengatakan, apa yang kau ucapkan adalah omong kosong. Juga semua sikap dan pendirian tentang pewaris-pewaris kerajaan Agung Majapahit itu.”

Terdenger Empu Pinang Aring menggeram. Tetapi kata-kata Kiai Gringsing berhasil menyentuh perasaannya. Sejak semula ia pun telah meragukan pembagian kedudukan di antara mereka yang memperebutkan warisan Majapahit itu. Seandainya mereka bersepakat untuk menunjuk seorang Raja, bagaimana dengan kedudukan-kedudukan tinggi yang lain. Apalagi jika mereka ingin mengembalikan tata pemerintahan seperti pada masa Majapahit, karena didalam pertumbuhannya melalui Demak dan Pajang, susunan pemerintahan sudah banyak berubah.

“Baiklah,” berkata Kiai Gringsing, “jika kau masih tetap pada sikap dan pendirianmu, namun sebagai seorang yang mumpuni, kau tentu mempunyai perhitungan yang matang. Lihatlah, apakah kau masih mempunyai nafsu untuk bertempur terus?”

Empu Pinang Aring menarik nafas dalam-dalam.

“Renungkan Empu. Mungkin kau memang sudah merenunginya tidak hanya sehari dua hari. tetapi berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Tetapi ulangilah sekali lagi merenung dalam kenyataan yang kau hadapi sekarang ini.”

Empu Pinang Aring benar-benar tidak dapat mengingkari kenyataan. Pasukannya sudah tidak mampu lagi mempertahankan diri. Tanpa perintah banyak di antara mereka telah melepaskan senjatanya dan berkumpul dilingkari oleh pengawal Mataram. Sangkal Putung atau Tanah Perdikan Menoreh yang mengacungkan senjata mereka.

Tetapi sudah tentu bahwa Empu Pinang Aring mempunyai perhitungan dan pertimbangan tersendiri. Ia tidak begitu saja hanyut pada arus kesulitan yang dialami oleh para pengikutnya.

Namun demikian. Empu Pinang Aring tetap seorang yang memiliki pengamatan yang matang terhadap keadaan di sekitarnya.

“Kiai,” berkata Empu Pinang Aring kemudian, “kau bagiku adalah seorang yang aneh. Aku sudah lama mendengar tentang orang-orang bercambuk. Tidak hanya seorang, tetapi beberapa. Namun demikian, agaknya kaulah induk dari segala macam orang bercambuk itu.”

Kiai Gringsing mengerutkan dahinya.

“Kiai,” Empu Pinang Aring meneruskan, “aku. Empu Pinang Aring, sudah bertahun-tahun hidup dalam dunia yang penuh dengan tantangan maut. Karena itu, aku tidak pernah gentar melihat betapa buruknya peperangan. Aku sudah banyak mengalami kesulitan-kesulitan, tetapi juga kemenangan-kemenangan disegala macam medan. Tetapi aku tidak pernah melangkah mundur, biar kematian menjadi taruhannya.”

“Dan sekarang kau juga akan mempertaruhkan kematian?” bertanya Kiai Gringsing, lalu. “kematianmu memang tidak berarti. Baik bagimu sendiri, maupun bagi keseluruhan perimbangan dari peperangan ini. Bagi kami, akhir dari peperangan ini sudah jelas. Kami akan menguasai keadaan sepenuhnya. Sehingga karena itu  maka kematianmu benar-benar sia-sia. Tidak berarti sama sekali, karena kematianmu tidak akan menentukan apapun juga.”

Jawaban Empu Pinang Aring benar-benar diluar dugaan, “Kau benar Kiai. Kematianku tidak akan berarti apa-apa.”

Kiai Gringsing terkejut mendengar jawaban itu. Karena itu justru ia terdiam sejenak memandang wajah Empu Pinang Aring yang tidak lagi nampak garang.

“Aku yang merasa diriku seorang yang penting didalam pergolakan masa sekarang ini. ternyata harus menghadapi maut tanpa arti.” Empu Pinang Aring berdesis, lalu. “Kiai, seandainya aku mampu melakukan, mengamuk di medan ini sehingga memberi kesempatan kepada pengikut-pengikutku untuk melarikan diri, aku akan melakukannya. Jika aku harus mati, maka kematianku akan berarti, setidak-tidaknya bagi beberapa jiwa pengikutku. Tetapi rasa-rasanya sekarang tidak mungkin lagi aku lakukan.”

“Ya,” sahut Kiai Gringsing, “ternyata hatimu masih bening.”

“Jika keputusanku menguntungkanmu. kau tentu memujiku. Tetapi biarlah. Harga diriku selama ini akan lenyap oleh suatu kesadaran ketiadaan arti bagi semua tingkah lakuku,” Empu Pinang Aring berhenti sejenak, lalu. “Kiai, aku menyerah.”

Kata-kata itu benar-benar mengejutkan. Kiai Gringsing tidak mengira bahwa tiba-tiba saja orang seperti Empu Pinang Aring begitu cepat menyerah.

Tetapi orang itu berkata selanjutnya, “Itu bukan berarti bahwa aku ingin mendapat pengampunan sehingga leherku tidak akan dipenggal. Aku tidak berkeberatan jika aku dibunuh dengan cara apapun juga. Aku akan menghadapinya dengan tabah. Jika aku menyerah, dan bersedia untuk melakukan hukuman apa saja. itu aku maksudkan agar hidupku disaat terakhir masih mempunyai arti betapapun kecilnya. Karena penyerahan ini, dan kemudian hukuman mati yang akan aku lakukan, aku dapat memberikan sedikit kepuasan sepada orang-orang Mataram. Dengan demikian, masih mungkin diharapkan pengampunan atau keringanan hukuman bagi orang-orangku yang kau tangkap sekarang ini.”

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun Empu Pinang Aring benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Sambil mengulurkan senjatanya ia berkata, “Kiai, bukankah Kiai pernah mengatakan, bahwa Kiai ingin melihat barang sejenak senjataku ini.”

Kiai Gringsing masih ragu-ragu. Namun ia melihat kerungguhan diwajah Empu Pinang Aring, sehingga ia pun kemudian menerima senjata itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih bersiap dengan cambuknya menghadapi segala kemungkinan.

Namun ternyata Empu Pinang Aring benar-benar telah menyerahkan senjatanya. Ia pun kemudian berjalan perlahan-lahan diiringi oleh Kiai Gringsing, bergabung dengan pengikut-pengikutnya yang sudah menyerah.

Dengan tatapan mata keheranan pengikut-pengikutnya memandang Empu Pinang Aring yang mereka anggap sebagai orang yang tidak ada duanya. Namun adalah suatu kenyataan bahwa akhirnya Empu Pinang Aring itu pun telah menyerah.

Empu Pinang Aring memandang pengikut-pengikutya sejenak. Kemudian Katanya, “Aku memang ingin menyerah bersama kalian. Sebenarnya aku mempunyai banyak peluang untuk melarikan diri. Tetapi jika aku berhasil, maka aku telah mengkhianati kalian yang tidak mempunyai kesempatan itu. Karena itu aku menyerah. Aku mohon bahwa semua hukuman akan dapat aku jalani dengan memperingan hukuman kalian. Mungkin aku akan dihukum gantung. Tetapi itu bukan soal kalian. Bahkan mungkin aku harus menjalani hukuman picis, dan kalian seorang demi seorang harus mengerat tubuhku dan membubuhkan air asam. Tetapi lakukanlah dengan tabah, karena dengan demikian aku tidak sekedar mengorbankan kalian untuk kepentinganku.”

Beberapa orang pengikutnya tiba-tiba saja menundukkan kepalanya. Namun beberapa orang yang lain telah menggeretakkan giginya. Bahkan salah seorang dari mereka berteriak, “Kita bertempur sampai mati.”

Empu Pinang Aring tertawa. Katanya, “Kau sudah meletakkan senjatamu. Jangan membunuh diri dengan cara yang paling bodoh. Aku tidak ingin mengusik perasaan kalian, agar kita bersama-sama masuk ke lubang kubur. Biarlah aku berbangga dengan sikapku sekarang ini. Jangan memperkecil arti kepahlawanku meskipun kebanggaan itu hanyalah sekedar bagi diriku sendiri.”

Pengikutnya tidak ada yang menyahut. Mereka memandang pemimpinnya dengan dada yang berdebar-debar.

Sementara itu, pengikut-pengikut Empu Pinang Aring pun telah menyerah pula kepada para pengawal dari Mataram, Sangkal Putung atau Tanah Perdikan Menoreh.

Seperti para pengikutnya. Empu Pinang Aring pun melakukan semua yang harus dilakukan oleh para tawanan, seolah-olah ia benar-benar merasa satu dengan para pengikutnya dalam segala keadaan. Juga dalam keadaan yang paling parah itu.

Dengan demikian, maka pertempuran di lembah itu akhirnya telah terhenti juga. Para pengikut mereka yang menamakan diri pewaris kerajaan Majapahit itu telah kehilangan kesempatan sama sekali untuk mempertahankan diri. Meskipun pada mulanya, nampak mereka memiliki kelebihan, terutama dalam jumlah, tetapi sikap Ki Gede Telengan agaknya telah merubah segala-galanya.

Saat-saat pertempuran yang panjang itu berakhir, maka Raden Sutawijaya pun segera memanggil semua pemimpin untuk berkumpul. Baik dari Mataram sendiri, dari Sangkal Putung dan dari Tanah Perdikan Menoreh.

Namun sementara itu, Raden Sutawijaya telah dikejutkan oleh kebanggaan Swandaru yang dengan lantang berkata, “Aku telah berhasil membunuhnya.”

“Siapa?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Ternyata ia adalah Kiai Kalasa Sawit,” jawab Swandaru sambil menengadahkan dadanya.

“O,” Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Beberapa pengawal Kiai Kelasa Sawit yang tertawan, memandang mayat yang terbujur itu dengan mata yang buram. Kiai Kelasa Sawit telah berhasil melarikan diri dari cengkaman maut ketika ia bertempur menghadapi Agung Sedayu. Tetapi karena ia justru berada di induk pasukan, maka diluar sadarnya, ia telah bertemu dengan Swandaru.

Tanpa ampun lagi. maka Kiai Kelasa Sawit telah dibinasakannya.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia mendekati mayat itu. Di belakangnya Prastawa mengikutinya dengan hati yang berdebar-debar.

“Ternyata kakang Swandaru berhasil membunuh Kiai Kelasa Sawit,” desis Prastawa dengan kagum.

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Dalam cahaya obor nampak jalur-jalur cambuk Swandaru yang menyobek kulit.

“Luar biasa,” desis Raden Sutawijaya, “kau memang seorang anak muda yang perkasa. Kau ternyata sudah berada pada tataran Kiai Kelasa Sawit yang mendebarkan itu.”

Swandaru memandang Raden Sutawijaya sejanak

Ia pernah menjajagi ilmu anak muda itu. Namun kini ia dengan bangga dapat membuktikan kepada Sutawijaya. bahwa ia bukan seorang anak muda yang terlalu lemah. Bahkan dari bibir Raden Sutawijaya telah terlontar pengakuan bahwa ia memiliki tataran setingkat dengan Kiai Kelasa Sawit yang telah berhasil dibunuhnya.

Namun dalam pada itu, setiap pengawal Kiai Kelasa Sawit menyadari, bahwa saat-saat yang mengerikan itu terjadi justru saat Kiai Kelasa Sawit sudah tidak berdaya. Ia hanya dapat mempergunakan sisa-sisa tenaganya yang sudah sangat lemah karena luka-lukanya.

Tetapi mereka tidak dapat mengucapkannya, karena mereka merasa tidak berhak untuk mencampuri pembicaraan Raden Sutawijaya dan Swandaru yang gemuk itu.

Sementara itu, maka para pemimpin pun sudah mulai berkumpul. Mereka mengambil tempat diluar medan, sementara para pengawal masih sibuk menyelesaikan persoalan-persoalan kecil yang masih timbul. Satu dua orang lawan benar-benar tidak mau menyerah, sehingga mereka telah memilih mati. Yang lain berusaha melarikan diri. Namun di antara mereka memang berhasil menyusup di dalam rimbunnya pepohonan dan hilang di hutan yang lebat.

Pada saat satu dua orang masih harus bertempur, yang lain telah mengumpulkan para tawanan yang telah meletakkan senjata. Sedangkan sebagian yang lain. harus mengumpulkan orang-orang yang terutama masih diketahui hidup dan terbaring di antara mayat-mayat yang silang melintang.

Kiai Gringsing yang berjalan melintasi medan bersama Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ternyata di lembah itu telah terjadi pembunuhan antara manusia yang tidak dapat dicegah lagi.

Pada saat-saat para pemimpin itu sudah berkumpul, maka yang pertama-tama dilakukan oleh Kiai Gringsing adalah mengobati Sumangkar yang parah. Luka-lukanya merambah di seluruh tubuhnya. Namun Kiai Gringsing masih berpengharapan, bahwa luka-luka itu akan dapat disembuhkan.

“Kita tidak melihat Agung Sedayu,” desis Ki Sumangkar.

“Ia berada dilereng bersama Ki Gede Menoreh,” jawab seorang pemimpin kelompok.

“Ia bersamaku dan telah menyelamatkan aku,” desis Ki Sumangkar yang lemah.

“Ya. Tetapi ia telah kehilangan keseimbangannya sebagai seorang laki-laki jantan meskipun ia berhasil mengalahkan lawan-lawannya.”

“Jangan berkata begitu,” potong Raden Sutawijaya, “kau harus menghargai sifat-sifatnya.”

Namun Swandaru lah yang sudah menyahut, “Aku sudah menduga. Kakang Agung Sedayu tidak akan tahan berada di medan yang besar. Apalagi jika terjadi benturan antara dua kekuatan yang benar-benar besar seperti Pajang.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Ia tidak boleh memaksa diri. Tetapi ia sudah berbuat banyak didalam pertempuran ini.”

“Ya.” Jawab Raden Sutawijaya, “aku sudah mendengar semua laporan tentang Agung Sedayu.”

Swandaru memalingkan wajahnya. Ketika terpandang olehnya Prastawa yang berada beberapa langkah di sebelahnya, Agung Sedayu tersenyum. Dan Prastawa-pun tersenyum pula.

“Sekarang,” berkata Raden Sutawijaya, “panggillah Ki Gede Menoreh dan Agung Sedayu bersama para pengawal dan pusaka-pusaka yang telah diketemukan itu.”

Dua orang penghubung pun kemudian pergi menemui Ki Gede Menoreh untuk menyampaikan pesan Raden Sutawijaya, agar bersama para pengawal Ki Gede turun ke medan.

Agung Sedayu masih tetap ragu-ragu. Berbagai bayangan telah bermain di angan-angannya. Kematian demi kematian telah terjadi. Dan ia pun telah membunuh justru orang-orang penting dari lingkungan lawannya.

Ki Gede Menoreh dapat mengerti sepenuhnya perasaan anak muda itu karena Ki Gede telah mengenal sifat-sifatnya pula. Karena itu, maka dengan hati-hati ia berkata, “Marilah Agung Sedayu. Kita akan bertemu dengan saudara-saudara kita yang berhasil menyelamatkan diri dari benturan kekuatan ini. Apapun yang telah terjadi, jangan kau sesali lagi, karena yang terjadi itu memang sudah terjadi.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sering mendengar orang-orang tua memberi nasehat jika seseorang sedang menyesali sesuatu. Tetapi untuk mengusir penyesalan yang menyesak, adalah suatu pekerjaan yang sulit.

Namun Agung Sedayu pun kemudian mengikuti Ki Gede Menoreh menuju ke medan yang bagi Agung Sedayu merupakan lingkaran yang sangat menggelisahkan.

Kehadiran Ki Gede Menoreh dan Agung Sedayu telah disambut oleh Raden Sutawijaya dengan penuh gairah, sementara Pandan Wangi langsung berjongkok dihadapan ayahnya sambil mengusap matanya yang basah.

“He,” desis Ki Gede Menoreh, “kau sedang mengenakan pedang rangkap.”

Pandan Wangi menengadahkan wajahnya. Kemudian ia mencoba tersenyum.

“Duduklah ditempatmu,” berkata Ki Gede kepada puterinya.

Pandan Wangi pun kemudian duduk kembali di samping Sekar Mirah yang tersenyum melihat sikapnya. Bagaimanapun juga. Pandan Wangi adalah seorang perempuan. Sudah cukup lama ia tidak berjumpa dengan ayahnya. Sedangkan perjumpaan yang terjadi di medan yang menegangkan itu rasa-rasanya telah menggetarkan hatinya.

Sejenak kemudian, setelah saling menanyakan keselamatan masing-masing setelah mereka menghadapi tantangan maut di medan yang resah itu, maka mereka pun segera membicarakan masalah-masalah yang harus segera mereka lakukan. Terutama dengan pusaka-pusaka itu.

“Pusaka-pusaka itu harus segera kembali ke Mataram,” berkata Kiai Gringsing sambil memandang Ki Juru Martani yang nampak tidak begitu gembira meskipun kedua pusaka telah kembali ketangan Raden Sutawijaya.

Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Kelengahan beberapa pengawal pusaka itu di Mataram, termasuk Raden Sutawijaya sendiri, telah menumbuhkan korban yang tidak terhitung jumlahnya sekarang ini.”

Raden Sutawijaya menarik nafas. Namun ia pun kemudian menundukkan kepalanya ketika Ki Juru meneruskan, “Dan kesalahan itu pun telah menyangkut aku pula.”

Tanpa mengangkat wajahnya Raden Sutawijaya berkata, “Mataram dalam keseluruhan telah berbuat kesalahan paman. Ternyata bahwa korban yang jatuh telah meliputi bukan saja laki-laki terbaik di Mataram, tetapi juga dari Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh.”

Kiai Gringsing memandang wajah Agung Sedayu yang buram, sementara Ki Waskita duduk termangu-mangu.

Namun dalam pada itu Swandaru berkata sambil mengangkat wajahnya, “Aku tidak tahu, apa yang sedang kita bicarakan sekarang.”

Semua orang yang mendengarnya berpaling kearahnya. Sejenak Swandaru masih berdiam diri seolah-olah sedang mengumpulkan berbagai masalah yang berceceran didalam angan-angannya.

Namun kemudian ia berkata, “Kita sudah menunjukkan kejantanan. Kita menuntut yang menjadi hak kita. Maksudku, Mataram. Jika jatuh korban, maka mereka adalah pahlawan yang memperjuangkan hak. Mereka tidak mati sia-sia.”

Kiai Gringsing Menarik nafas panjang, sementara Swandaru meneruskan, “Jangan disesali perjuangan yang sudah terjadi ini. Jika demikian, perjuangan ini sendiri telah diperkecil artinya. Kita justru akan berbelas kasihan kepada mereka yang telah gugur. Sedangkan seharusnya kita harus berterima kasih dan berbangga akan pengorbanan jantan yang telah mereka berikan.”

“Ya Swandaru,” berkata Kiai Gringsing, “perjuangan ini telah menuntut pengorbanan. Mereka adalah pahlawan yang gugur karena mereka memperjuangkan hak kita. Kita jangan memperkecil arti dari perjuangan mereka.” ia berhenti sejanak, lalu. “Tetapi yang kita bicarakan bukanlah mereka yang telah gugur. Mereka yang terluka parah dan mereka semuanya yang sudah bertempur. Yang kita sesali adalah kelengahan Mataram sehingga semuanya ini harus terjadi. Pertempuran kematian dan korban-korban lainnya, tanpa memperkecil arti pengorbanan mereka.”

Swandaru termangu-mangu sejenak. Masih ada keseganan dihatinya untuk berbantah dengan gurunya. Namun seakan-akan kepada diri sendiri ia berkata, “Kita sudah mulai kejangkitan penyakit cengeng pula. Penyakit yang agaknya dapat menular dari sumbernya.”

Diluar sadarnya Agung Sedayu berpaling. Tetapi hanya sekilas, karena kembali kepalanya tertunduk dalam-dalam.

“Baiklah,” berkata Raden Sutawijaya, “apapun yang sudah terjadi, perjuangan kita sekarang sudah berhasil. Korban telah jatuh. Dan kita akan selalu mengenangnya.”

Swandaru tidak menyahut lagi. Namun sekali lagi ia memandang Prastawa dengan tatapan mata yang aneh.

Sementara itu, maka Sutawijaya pun mulai mempersiapkan diri untuk membawa pusaka yang telah diketemukan itu.

“Besok kita harus menyelesaikan semua persoalan disini,” berkata Raden Sutawijaya, “kita akan segera kembali ke Mataram dengan pusaka-pusaka itu.”

Beberapa orang pemimpin pengawal Mataram mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Juru berkata, “Besok kita akan kembali ke Mataram menjelang senja.”

“Sore hari paman?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Disiang hari kedua pusaka itu akan dapat menumbuhkan berita yang beraneka macam,” sahut Ki Juru.

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Jawabnya, “Benar paman. Kita besok akan berangkat menjelang senja. Mudah-mudahan semuanya sudah dapat kita selesaikan.”

Dengan demikian, maka semua persiapanpun telah disesuaikan dengan keputusan Raden Sutawijaya untuk kembali ke Mataram menjelang senja, agar perjalanan pasukannya tidak banyak menimbulkan ceritera yang akan dapat menjalar sampai ke Pajang. Sampai ke telinga Senopati Pajang di daerah Selatan.

Dalam pada itu, meskipun pertempuran sudah selesai, namun bukan berarti bahwa pasukan Mataram, Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh telah selesai. Mereka dengan badan yang letih telah mengumpulkan kawan-kawannya yang terluka. Beberapa orang mencoba mengobati yang dapat mereka obati, sementara yang terluka parah, para petugas khusus telah berusaha menolong mereka.

Kiai Gringsing telah ikut sibuk pula mengobati mereka yang terluka. Di antaranya adalah Ki Sumangkar.

Menjelang pagi hari, maka perasaan letih agaknya tidak tertanggungkan lagi Hampir semua orang, tanpa berjanji telah membaringkan dirinya dimanapun juga. Sekejap kemudian, mereka telah mendengkur dengan nyenyaknya dibawah batang-batang pohon, di batu-batu besar atau diatas rerumputan kering.

Hanya beberapa orang sajalah yang telah berjuang untuk tetap terjaga. Mereka adalah petugas-petugas yang bergiliran mengawasi keadaan. Meskipun pertempuran telah selesai, tetapi kesiagaan masih harus tetap dipertahankan. Apalagi mengawasi para tawanan.

Tetapi para tawanan pun agaknya telah mengalami kelelahan yang sangat, setelah mereka diharuskan ikut menyingkirkan mayat-mayat dan menguburkannya di lembah itu. Sebagian terbesar dari mereka pun telah tertidur pula. betapapun mereka dalam kegelisahan.

Para pemimpin pun tidak luput pula dari cengkeraman kelelahan jasmaniah dan rohaniah. Beberapa dari mereka telah mencoba tidur sambil bersandar batang-batang pepohonan.

Swandaru yang bersandar sebuah batu besar segera tertidur dengan nyenyaknya. Di sebelahnya Prastawa pun telah mendengkur pula. Sementara Pandan Wangi dan Sekar Mirah terbaring di balik sebuah batu besar itu.

Orang-orang tua di antara mereka pun harus beristirahat pula meskipun tidak semuanya bersama-sama. Kiai Gringsing masih duduk menunggui Ki Sumangkar yang terluka parah. Sementara Ki Juru dan Ki Waskita mencoba untuk dapat beristirahat barang sejenak.

Dalam pada itu, betapapun letihnya, namun Agung Sedayu sama sekali tidak berhasil memejamkan matanya. Kegelisahannya terasa semakin tajam menghunjam dijantungnya.

Adalah diluar sadarnya ketika Agung Sedayu yang duduk bersandar sebatang pohon itu telah berdiri dan melangkah perlahan-lahan meninggalkan kawan-kawannya yang sedang beristirahat itu.

Seorang petugas yang terkantuk-kantuk melihatnya berjalan menelusuri jalan setapak. Tetapi petugas itu tidak menyapanya.

Selangkah demi selangkah Agung Sedayu berjalan menjauhi kawan-kawannya dan justru turun ke lembah tempat pertempuran yang dahsyat telah terjadi. Meski pun sebagian dari mayat telah dikuburkan, namun yang lain masih tercecer-cecer berserakan. Para pengawal dari Mataram tidak dapat memaksa para tawanan yang sudah menjadi sangat letih untuk bekerja terus, sehingga mereka pun telah memberikan kesempatan untuk beristirahat. Mereka baru akan dibangunkan dan meneruskan kerja mereka bersama-sama para pengawal setelah matahari terbit di Timur.

Agung Sedayu yang gelisah itu berjalan terus di antara pepohonan. Hatinya bagaikan tersayat ketika ia melangkah di antara mayat-mayat yang belum terkuburkan. Apalagi ketika ia sampai pada gundukan tanah yang memanjang, tempat mayat lawan dikuburkan dalam lubang yang memanjang.

Agung Sedayu berhenti termangu-mangu di sebelah kuburan yang panjang itu. Ia membayangkan, bahwa didalam gundukan tanah yang panjang itu terbaring beberapa sosok mayat yang terbujur beku dalam timbunan.yang menghimpit.

Namun itu adalah akibat yang pasti terjadi didalam setiap peperangan. Kematian adalah kelengkapan dari peristiwa perang. Dan kematian hampir tidak dapat dihindarkan lagi disamping kebanggaan dan keresahan hati.

Hati Agung Sedayu yang sudah gelisah itu menjadi semakin gelisah. Diluar sadarnya ia telah mengamat-amati kedua telapak tangannya. Terbayang kembali Ki Gede Telengan yang menggeliat disaat terakhir, Ki Tumenggung Wanakerti yang disayat oleh ujung cambuknya. Kia Samparsada yang hilang di peperangan dan Kiai Kelasa Sawit yang ternyata jatuh ke tangan Swandaru dan terbunuh olehnya selelah ia gagal melarikan diri.

Terasa tubuh Agung Sedayu meremang. Mereka adalah orang-orang penting di antara lawan yang telah dikenal ilmunya meskipun akibatnya berbeda-beda.

Sementara itu, maka yang lain yang terbaring dalam kebekuan itu telah mengalami nasib yang serupa. Mereka pun telah terbunuh oleh tusukan senjata.

—- > Bersambung ke bagian 2

Advertisements

One Response

  1. Agung Sedayu sungguh menjadi orang tercengeng di seluruh lembah antara gunung Merapi dan gunung Merbabu…..top markotop…..!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s