ADBM2-111

<<kembali | lanjut >>

KENDIL WESI pun kemudian kembali kedalam rumahnya yang juga berada di halaman bagian belakang istana Pajang. Sejenak ia merenung, bagaimana caranya ia dapat keluar dengan seekor kuda.

“Tetapi aku harus melakukannya,” gumamnya.

Dengan sangat hati-hati, ia pun kemudian pergi kekandang di belakang rumahnya. Gelapnya malam ternyata banyak imembantunya. Apalagi para prajurit yang tidak lagi bekerja dengan sungguh-sungguh di Pajang, hampir tidak pernah meronda sampai ketempatnya yang gelap dan tersembunyi di sudut.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui, apa yang dilakukan oleh orang tua itu. Keluarganya pun tidak mengetahui perintah yang diterima dari Sultan. Bahkan ia sempat menipu anaknya dengan mengatakan bahwa sahabat baiknya ternyata sakit keras, sehingga ia harus menengoknya malam itu.

“Kenapa ayah harus datang malam ini?” bertanya anak laki-lakinya.

“Mudah-mudahan ayah masih sempat bertemu dengan orang itu dalam keadaan hidup. Hati-hatilah di rumah. Ayah tidak akan pergi terlalu lama. Tetapi ingat, karena aku tidak mohon diri kepada Sultan, jangan katakan kepada siapapun bahwa aku pergi. Katakan aku sakit dipembaringan. Sebab jika terdengar Sultan aku pergi tanpa pamit, leherku menjadi taruhan. Kau tahu?”

Anaknya mengangguk meskipun ia tidak mengerti, kenapa ayahnya mempertaruhkan lehernya untuk sahabatnya itu.

Namun. karena itulah maka anaknya pun akan tidak banyak pergi keluar rumah, agar ia tidak mendapat pertanyaan, kemana ayahnya pergi.

Dengan hati-hati Kendil Wesi menuntun kudanya menuju ke gerbang butulan. Disaat sepi ia dengan tergesa-gesa keluar dari regol butulan itu dan hilang didalam kegelapan. Baru setelah agak jauh dari gerbang, ia pun meloncat kepunggung kudanya dan berpacu dengan kencangnya.

Terasa angin malam yang menampar wajahnya bagaikan dinginnya air embun. Sambil berpacu orang tua itu merapatkan bajunya.

Ketika ia menengadahkan wajahnya, nampak bintang bertaburan dari cakrawala sampai ke cakrawala. Awan yang tipis selembar hanyut dibawa angin yang lemah.

Kendil Wesi menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah menjadi semakin tua. Tetapi ia sadar, bahwa tugas yang dilakukan itu adalah tugas yang sangat penting, terutama bagi keselamatan momongannya, Raden Sutawijaya.

Meskipun Raden Sutawijaya telah lama pergi meninggalkan Pajang, dan seolah-olah telah melupakannya, tetapi ia adalah pemomong yang setia, yang mengasuh Senapati Ing Ngalaga sejak kanak-kanaknya.

Sementara itu, pasukan Mataram sedang menuruni kaki Gunung Merapi menuju ke Mataram bersama pasukan Sangkal Putung, Pasukan yang memang merupakan pengawal segelar sepapan yang kuat, seperti dilaporkan oleh perwira Pajang kepada Sultan.

Jika di esok harinya, petugas sandi itu pergi ke Mataram, maka mereka akan menjumpai pasukan yang kuat itu masih berada didalam satu kesatuan. Apalagi pasukan Sangkal Putung. Sehingga pasukan itu memang akan dapat memancing pendapat, bahwa Mataram sedang bersiap-siap menghadapi perang yang besar, dengan menyiapkan pasukan yang sangat kuat.

Tanpa berprasangka, pasukan Mataram dan Sangkal Putung itu pun turun dengan cepat. Mereka memang ingin segera sampai ke Mataram. Di pagi hari mereka akan berkumpul, menerima segala macam pesan, perintah dan menghitung diri. sebelum mereka mendapat kesempatan untuk meninggalkan barak dan beristirahat di antara keluarga mereka masing-masing.

Jika pada saat-saat yang demikian itu, petugas sandi dari Pajang menyaksikannya, maka laporannya akan dapat berbahaya bagi Mataram. Para Senapati dan Adipati di Pajang tentu akan segera menjatuhkan prasangka buruk jika petugas sandi itu melaporkan, bahwa mereka memang melihat persiapan pasukan yang besar dan kuat di Mataram. Beberapa orang Adipati yang memang sudah tidak sabar, akan dapat mendorong Pajang dengan bukti-bukti yang disaksikan oleh petugas sandi itu untuk memerangi Mataram dan menghancurkannya.

Raden Sutawijaya sama sekali tidak mengira, bahwa pasukannya akan dapat menjebaknya dalam kesulitan. Menurut perhitungannya, prajurit-prajurit Pajang yang ada di lembah itu tentu tidak akan berani memberikan laporan dengan cara apapun juga kepada Pajang, karena justru dapat menimbulkan kecurigaan kepada mereka.

Namun ternyata bahwa mereka masih mempunyai cara yang cerdik untuk membenturkan Pajang dan Mataram, sehingga kedua kekuatan itu akan hancur bersama-sama, sebelum kekuatan ketiga akan bangkit diatas timbunan mayat dari kedua pasukan yang berbenturan itu.

Dalam pada itu, Kendil Wesi berpacu sekencang-kencangnya menuju ke Mataram. Ia belum pernah pergi ke Mataram sebelumnya, tetapi ia sudah sering mendengar beberapa petunjuk, jalan yang manakah yang harus ditempuh untuk mencapai Mataram. Jalan yang tidak banyak terdapat di antara kedua tempat itu, sehingga Kendil Wesi yang sering bertualang dimasa mudanya, akan dapat dengan mudah menemukannya.

Tetapi Mataram tidak terlalu dekat. Meskipun demikian, Kendil Wesi merasa, bahwa ia akan mencapai Mataram lebih dahulu dari petugas sandi yang baru akan berangkat di keesokan harinya, sehingga petugas sandi itu baru akan mencapai Mataram menjelang sore hari.

 “Jika aku segera dapat menghadap Raden Sutawijaya, maka ia tentu akan sempat menghapus kesan itu,” berkata Kendil Wesi kepada diri sendiri, “perwira yang melaporkan kepada Sultan Pajang itu tentu tidak sekedar mengadu. Ia tentu mempunyai alasan dan bukti-bukti bahwa Mataram memang benar-benar telah bersiap.”

Namun kemudian telah tumbuh pertanyaan didalam dada Kendil Wesi itu, “Tetapi jika benar demikian, apakah sebenarnya alasan Raden Sutawijaya untuk menyiapkan pasukan itu? Apakah ia pun mendapat keterangan yang salah, seolah-olah Pajang akan menyerangnya? Atau karena Raden Sutawijaya memang akan memberontak?”

Tetapi Kendil Wesi itu menggelengkan kepalanya, “Tidak. Momonganku tentu tidak akan memberontak melawan ayahandanya. Ia adalah anak yang baik, meskipun hatinya sekeras batu padas. Ia dapat membedakan, manakah yang baik dan manakah yang buruk dilakukannya.”

Namun karena itu, maka Kendil Wesi menjadi semakin ingin cepat sampai ke Mataram. Ia ingin segera menyampaikan persoalannya kepada Sutawijaya, agar Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram itu segera dapat mengambil sikap.

Dalam pada itu, bintang-bintang pun telah berjalan digaris edarnya. Semakin lama semakin condong ke Barat. Kendil Wesi yang tua itu merasa lelah juga ketika ia sampai ke daerah Prambanan, sehingga untuk beberapa saat lamanya ia beristirahat di pinggir Kali Opak memberi kesempatan kudanya untuk minum dan makan rerumputan segar.

 “Menjelang fajar, aku harus meneruskan perjalanan. Mungkin pada saat Matahari terbit, petugas sandi itu sudah berangkat dari Pajang. Tetapi meskipun demikian, aku tentu datang lebih dahulu dan memberi kesempatan Raden Sutawijaya mengambil sikap, sehingga para petugas sandi itu tidak mendapat kesan bahwa Mataram sedang mempersiapkan diri untuk bertempur melawan kekuasaan Sultan Hadiwijaya,” berkata Kendil Wesi kepada diri sendiri.

Setelah penat-penat ditubuhnya berkurang, serta setelah mencuci muka dengan air kali Opak yang bening, maka sebelum fajar, Kendil Wesi telah meneruskan perjalanannya. Ia tidak menghiraukan lagi dinginnya malam. Bahkan setelah kudanya berpacu, maka keringatnya pun mulai menghangatkan tubuhnya kembali.

Tidak banyak yang dijumpai Kendil Wesi di perjalanan. Satu dua ia memlihat orang-orang yang pergi kesawah untuk menunggui air yang mengalir diparit yang akan dialirkan kesawah secara bergilir.

Namun dengan demikian Kendil Wesi merasa bahwa perjalanannya ternyata cukup aman.

Ketika matahari mulai membayang, maka Kendil Wesi telah berpacu di jalur jalan yang menembus Alas Tambak Baya. Namun nampaknya jalan itu pun cukup aman. Beberapa orang nampak berjalan dengan menjinjing hasil pategalan untuk dijual kepasar. Bahkan sekali-sekali ia telah mendahului iring-iringan pedati yang menuju ke tempat yang lebih ramai untuk menjual hasil sawah.

Kendil Wesi tidak berpacu terlalu cepat agar perjalanannya tidak menarik perhatian. Tidak mustahil bahwa memang sudah ada petugas sandi yang memang dipasang di Mataram. Sehingga karena itu, maka orang tua itu berusaha untuk tidak menarik perhatian siapapun juga yang melihatnya.

Saat burung-burung liar berkicau di pepohonan, maka Kiai Kendil Wesi telah mendekati pintu gerbang Mataram yang sudah bangun dari tidurnya yang nyenyak.

Kedatangan Kendil Wesi memang tidak menarik perhatian. Ia pun tidak bertanya kepada siapapun, dimanakah letak tempat tinggal Senapati Ing Ngalaga karena ia sudah mendapat gambaran.

Karena itu, maka berdasarkan pengenalannya atas petunjuk-petunjuk yang pernah didengarnya, maka ia pun berusaha mencari rumah Raden Sutawijaya.

Dalam perjalanan di jalan-jalan kota, Kendil Wesi menjadi heran. Tidak nampak persiapan-persiapan yang melampaui kewajaran. Di gerbang, di tikungan dan di gardu-gardu, ia melihat jumlah pengawal yang justru nampak terlalu lengang.

 “Apakah laporan itu keliru,” pertanyaan itu telah tumbuh didalam hatinya.

Namun justru karena itu, Kendil Wesi ingin melihat banyak. Rumah-rumah besar yang nampaknya sebagai barak-barak pengawal didekatinya. Ia kadang-kadang memang melihat satu dua orang pengawal dipintu gerbang, tetapi selebihnya sepi.

“O,” ia menarik nafas dalam-dalam, “Syukurlah, kalau Mataram sepi seperti ini. Jika petugas sandi itu datang, ia hanya akan melihat ketenangan yang damai. Tidak ada kesibukan pasukan dan apalagi persiapan perang yang mengancam Pajang.”

Dengan tanpa prasangka apapun, maka Kendil Wesi pun kemudian mendekati regol yang menurut dugaannya, tentulah rumah Raden Sutawijaya. Rumah yang nampak sepi dan lengang, selain dua orang penjaga dipintu gerbang dan sekelompok kecil di gardu di luar halaman.

Ketika Kendil Wesi mendekati gerbang, maka kedua orang pengawal yang bertugas itu pun melangkah maju dan menyapanya.

Kendil Wesi turun dari kudanya sambil membungkuk hormat. Dengan sareh ia pun kemudian bertanya, “Apakah benar aku berada di gerbang istana Senapati Ing Ngalaga?”

Penjaga itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia pun bertanya, “Siapakah kau?”

 “Ki Sanak. Aku adalah pemomongnya saat Raden Sutawijaya masih sangat muda. Aku datang dari padusunan yang jauh.”

“Siapa namamu?”

Kendil Wesi ragu-ragu. Dalam keadaan yang tidak menentu dalam hubungan Pajang dan Mataram, rasa-rasanya ia harus mencurigai setiap orang. Namun jika ia tidak berterus terang, maka Senapati tentu tidak akan mengenalnya.

“Siapa?” desak pengawal itu.

“Aku adalah Jaladara. Namaku Jaladara. Dan aku mohon diperkenankan menghadap.”

Pengawal itu masih ragu-ragu. Karena itu, maka dibawanya Kendil Wesi menghadap pimpinan pengawal yang lebih tua daripadanya diserambi gandok. Apalagi pengawal yang lebih tua itu adalah bekas prajurit Pajang.

Tiba-tiba saja ketika Kendil Wesi menghampirinya, pengawal itu terkejut. Hampir diluar sadarnya ia berdesis, “Kiai Kendil Wesi.”

“O,” Kendil Wesi terkejut. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk. Katanya, “Kau Ki Lurah. Aku tidak menyangka bahwa aku akan dapat bertemu dengan Ki Parta disini.”

“Marilah.”

Ki Parta pun kemudian mempersilahkan Kiai Kendil Wesi duduk di gardu di antara beberapa orang pengawal yang lain.

“Ki Lurah,” berkata Kendil Wesi, “aku memang datang dengan maksud yang khusus. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan momonganku, sehingga aku menjadi sangat rindu. Ki Lurah. Apakah aku yang jauh datang dari Pajang dapat menghadap momonganku?”

Ki Parta mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Minumlah dahulu Kiai. Para pengawal baru saja minum minuman hangat dipagi yang masih terasa dingin. Marilah Silahkan.”

Kiai Kendil Wesi termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja timbullah kegelisahan dihatinya, karena ia masih belum menunaikan tugasnya sebaik-baiknya. Meskipun nampaknya Mataram belum benar-benar menunjukkan gejala seperti yang dicemaskan, tetapi sebaiknya ia menyampaikan semua pesan dan menyelesaikan segala tugasnya lebih dahulu.

Karena itu, maka Katanya, “Terima kasih Ki Lurah, tetapi apakah aku dapat menghadap Raden Sutawijaya?”

Ki Parta tersenyum. Katanya, “Raden Sutawijaya masih dalam perjalanan.”

“Perjalanan?”

Ki Parta termangu-mangu sejenak. Namun kemudian, “Kiai Kendil Wesi, karena aku tahu, siapakah Kiai itu sebenarnya, maka baiklah aku memberitahukan apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh Raden Sutawijaya. Baru saja utusannya telah datang menyampaikan pesan-pesannya.”

Kiai Kendil Wesi termangu-mangu. Ki Parta pun kemudian menceriterakan apa yang baru saja didengarnya dari utusan Raden Sutawijaya yang telah mendahuluinya.

 “Sekarang Raden Sutawijaya dan pasukannya baru beristirahat. Sebentar lagi mereka akan melanjutkan perjalanan memasuki Kota.”

Wajah Kiai Kendil Wesi menjadi tegang. Ia pun kemudian sadar, bahwa tentu ada hubungannya antara kedatangan pasukan Raden Sutawijaya dengan laporan yang diterima oleh Sultan Pajang. Adalah tidak mustahil bahwa laporan itu sengaja diberikan untuk memancing kekeruhan. Pada saat pasukan Raden Sutawijaya dan Sangkal Putung memasuki kota, atau saat-saat mereka membenahi diri, maka petugas sandi dari Pajang akan melihatnya sebagai suatu persiapan pasukan yang besar yang diarahkan kepada Pajang.

 “Tentu ada orang yang dengan licik sengaja memfitnah Raden Sutawijaya,” berkata Kiai Kendil Wesi didalam hatinya.

Dalam pada itu Ki Parta menjadi heran. Tiba-tiba saja Kiai Kendil Wesi itu bagaikan merenungi persoalan yang sangat rumit.

 “Ki Lurah,” berkata Kendil Wesi kemudian, “sebenarnya memang ada pesan yang harus aku sampaikan kepada salah seorang pimpinan prajurit atau pengawal di Mataram. Tetapi pesan itu sangat khusus.”

Ki Parta tersenyum. Katanya, “Baiklah. Biarlah kawan-kawanku meninggalkan aku barang sejenak. Barangkali Kiai Kendil Wesi akan menyampaikan pesan itu kepadaku.”

Para pengawal yang sudah terbiasa dalam tugasnya, dapat menangkap sikap yang mengandung rahasia dari Kiai Kendil Wesi. Karena itu maka mereka pun segera meninggalkan Ki Lurah Parta seorang diri bersama Kiai Kendil Wesi.

Dengan hati-hati Kiai Kendil Wesi mengatakan tugas kedatangannya meskipun tidak dalam keseluruhan. Ada yang masih disembunyikan. Tetapi keterangannya cukup meyakinkan Ki Parta, bahwa sebaiknya Kiai Kendil Wesi segera menyongsong kedatangan Raden Sutawijaya justru sebelum memasuki kota.

Ki Parta yang memang sudah mengenal Kiai Kendil Wesi itu pun sama sekali tidak berprasangka. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata, “Baiklah Kiai. Barangkali memang sebaiknya Kiai pergi menghadap Raden Sutawijaya.”

 “Jika demikian, maka aku mohon diri Ki Lurah. Aku akan langsung melanjutkan perjalanan menghadap Raden Sutawijaya.”

Tetapi Ki Parta pun tidak luput dari sikap hati-hati. Karena itu, maka Katanya, “Biarlah dua orang pengawal mengantarkan Kiai, agar Kiai tidak sesat jalan.”

Kiai Kendil Wesi tidak menolak. Ia pun menyadari keadaan yang serba suram dan tidak menentu. Karena itu, maka sikap hati-hati Ki Lurah itu pun dapat dimengertinya.

Sejenak kemudian maka Ki Lurah pun telah memerintahkan dua orang pengawal untuk mengantarkan Kiai Kendil Wesi menghadap Raden Sutawijaya di peristirahatannya, justru sebelum pasukannya memasuki kota.

Kiai Kendil Wesi yang tua itu pun segera berpacu bersama dua orang pengawal. Sementara itu, Kiai Kendil Wesi sudah mulai memperhitungkan para petugas sandi yang tentu sudah di perjalanan menuju ke Mataram.

Dalam pada itu, dua orang petugas sandi masih berada didalam bilik Sultan Hadiwijaya. Dengan gelisah mereka menunggu Sultan yang sedang mandi.

Terlebih-lebih gelisah lagi adalah perwira yang memberikan laporan tentang kegiatan pasukan di Mataram. Sebenarnya ia ingin agar kedua petugas sandi itu segera berangkat. Menurut laporan yang diterimanya dari prajurit Pajang yang sempat melarikan diri, maka diperkirakan hari itu pasukan Mataram dan Sangkal Putung akan kembali memasuki kota. Jika petugas sandi itu sudah mendekati kota Mataram maka mereka tentu akan melihat kesibukan para pengawal yang memasuki baraknya. Para penjaga yang masih dalam keadaan siaga dan kesibukan-kesibukan lain yang dapat memberikan kesan, bahwa Mataram memang sudah bersiap. Pasukan yang kuat sudah tersusun. Bahkan jika petugas sandi itu melihat kedatangan pasukan Mataram dan Sangkal Putung memasuki kota, maka itu akan dapat diartikan, bahwa pasukan yang kuat itu baru saja pulang dari penempaan diri di gunung-gunung dalam rangka latihan jasmaniah menghadapi tugas-tugas yang sangat berat.

Tetapi agaknya Sultan terlalu lamban. Kedua petugas yang sudah menghadap itu masih harus menunggu Sultan mandi dengan air panas yang masih sedang dijerang.

“Kenapa tergesa-gesa,” berkata Sultan ketika para petugas itu menyembah sambil memohon pesan-pesan yang akan diberikannya.

Petugas-petugas itu tidak berani memaksa. Mereka hanya dapat menundukkan kepalanya dan seperti yang diperintahkannya, mereka harus menunggu.

Baru setelah Sultan selesai berpakaian, kedua petugas itu pun dipangggilnya mendekat.

“Kalian sudah siap untuk berangkat,” bertanya Sultan Hadiwijaya.

“Hamba tuanku,” sahut keduanya hampir berbareng.

“Baiklah. Kalian harus pergi ke Mataram. Mungkin kalian sudah mendengar tugas apakah yang harus kalian lakukan.”

“Hamba tuanku. Hamba memang sudah mendengar,” jawab salah seorang dari keduanya.

“Baiklah. Lakukanlah tugas kalian baik-baik. Tetapi kalian harus dapat menilai keadaan sebaik-baiknya. Jika kalian bertemu dengan satu dua orang pengawal dipintu gerbang, atau di barak-barak pengawal, itu bukan berarti bahwa Mataram sudah siap untuk berperang.”

“Hamba tuanku.”

“Lakukanlah penelitian sebaik-baiknya. Jika kalian menemukan pertanda bahwa Mataram memang sudah siap untuk berperang, apalagi ada pertanda kebencian terhadap Pajang, maka kalian jangan ragu-ragu untuk memberikan laporan.”

“Hamba tuanku.”

“Nah, sekarang pergilah. Kau akan sampai di Mataram sebelum matahari turun dan hilang di balik gunung.”

Kedua petugas itu pun segera mohon diri. Dengan tergesa-gesa ia keluar dari istana, menghadap perwira yang telah lebih dahulu memberikan laporan tentang keadaan di Mataram.”

“Kau tidur didalam bilik Sultan?,” bentak perwira itu.

Kedua petugas itu menjadi berdebar-debar. Kegelisahannya di saat ia berada di bilik Sultan kini bertambah lagi dengan kecemasan.

Dengan suara bergetar salah seorang dari keduanya menjawab, “Aku harus menunggu Sultan mandi.”

“Kau dapat memohon petunjuk dan pesan-pesannya sebelum Sultan mandi,” bentak perwira itu.

“Apakah aku dapat melakukannya jika Sultan memerintahkan aku menunggu,” sahut yang lain.

Perwira itu hanya dapat menggeretakkan giginya. Kemudian dengan geram ia berkata, “Cepat. Berangkatlah sekarang. Kau harus sampai di Mataram hari ini juga.”

Kedua petugas sandi itu pun segera mempersiapkan diri. Dengan bekal uang cukup mereka pun kemudian mulai dengan perjalanannya yang mendebarkan.

Tanpa mempergunakan tanda-tanda pengenal bahwa keduanya adalah prajurit Pajang, maka keduanya pun berpacu menuju ke Mataram.

Selagi kedua petugas sandi itu di perjalanan, maka Kiai Kendil Wesi telah mendekati pasukan Mataram dan Sangkal Putung yang sedang beristirahat. Disaat-saat pasukan itu sudah mengemasi diri untuk melanjutkan perjalanan, maka Kiai Kendil Wesi dengan kedua pengawalnya pun memasuki padukuhan.

Kedatangan Kiai Kendil Wesi benar-benar telah mengejutkan Raden Sutawijaya. Pemomong tua itu telah lama tidak dijumpainya. Meskipun Sutawijaya tidak melupakannya, tetapi orang tua itu hampir-hampir tidak lagi mempunyai arti didalam hidupnya.

Namun kehadirannya, telah mengingatkan Sutawijaya pada masa-masa kecil dan saat-saat ia tumbuh menjadi dewasa.

Karena itu, maka kedatangan Kiai Kendil Wesi itu pun disambutnya dengan gembira.

 “Kemarilah Kiai,” berkata Raden Sutawijaya mempersilahkan Kiai Kendil Wesi duduk diserambi rumah yang dipergunakan untuk beristirahat.

Kiai Kendil Wesi pun kemudian mendekatinya. Dengan serta merta ia berjongkok memeluk kaki anak muda itu. Namun dengan tergesa-gesa Sutawijaya mengangkatnya untuk berdiri sambil berkata, “Duduklah di amben ini Kiai. Marilah. Aku masih momonganmu yang dahulu.”

Nampak orang tua itu menjadi basah. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Raden Sutawijaya. Bahkan ia merasa bahwa ia sudah dilupakannya.

Setelah masing-masing menyatakan keselamatannya, maka Raden Sutawijaya pun kemudian bertanya, “Darimana kau tahu bahwa aku ada disini?”

Kiai Kendil Wesi berpaling kepada kedua pengawal yang mengantarkannya sambil menjawab, “Aku sudah singgah di Mataram.”

“O. dan kedua pengawal itu membawakan kemari.”

“Ya ngger. Aku mohon kepada Ki Lurah yang bertugas di Mataram untuk segera dapat bertemu dengan anakmas sekarang juga.”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Kemudian dengan sunguh sungguh ia bertanya, “Apakah ada sesuatu yang penting kau kabarkan kepadaku, atau hanya kau sudah sangat mendesak ingin bertemu dengan aku setelah sekian lama berpisah?”

“Keduanya Raden. Aku sudah begitu ingin bertemu dengan Raden. Saat itu Raden pergi begitu saja tanpa memberi pesan apapun juga kepadaku. Sebenarnya aku takut berjumpa Raden seperti sekarang ini. Mungkin Raden sudah tidak memerlukan aku sama sekali.”

“Ah,” sahut Sutawijaya, “bukan maksudku begitu Kiai. Kiai sudah terlalu tua untuk menempuh petualangan, membuka Alas Mentaok.”

“Tetapi akhirnya aku datang juga ke Alas Mentaok, namun setelah menjadi sebuah negeri yang ramai,” Kiai Kendil Wesi berhenti sejenak, lalu. “tetapi lebih penting dari itu, sebenarnyalah aku telah diutus oleh tuanku Sultan Hadiwijaya.”

“Oleh ayahanda Sultan?” wajah Raden Sutawijaya nampak menegang.

“Sedemikian besar kasihnya kepada Raden, sehingga Sultan telah mengambil kebijaksanaan yang khusus, mengutus aku datang menghadap angger kemari.”

Raden Sutawijaya mengerutkan dahinya, “Apakah yang dipesankan oleh ayahanda Sultan?”

Kiai Kendil Wesi pun kemudian menceriterakan tugas yang dibebankan kepadanya oleh Sultan Hadiwijaya. Dari awal sampai akhir. Tidak ada satu kalimat pesanpun yang dilampauinya.

Terasa dada Raden Sutawijaya menjadi berdebar-debar. Dengan serta merta ia pun memerintahkan memanggil orang-orang tua yang sedang bersiap-siap untuk berangkat meneruskan perjalanan.

 “Dimohon semuanya hadir sekarang disini,” berkata Raden Sutawijaya kepada pengawalnya.

Sejenak kemudian, maka Ki Juru Martani dan orang-orang tua yang lain telah, berkumpul. Ki Lurah Branjangan dan Ki Lurah Dipayana pun telah menghadap pula.

Dengan jelas, Raden Sutawijaya mengulangi pesan ayahanda Sultan yang disampaikan lewat Kiai Kendil Wesi.

Ki Juru Martani mengangguk-anggukkan kepalanya. Diluar sadarnya ia berguman, “Alangkah besarnya kasih Sultan kepada putera angkatnya.”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya wajah Kiai Gringsing yang tertunduk. Ki Lurah Branjangan yang gelisah.

 “Raden,” berkata Ki Juru Martani kemudian, “kita harus memperhatikan pesan itu. Sultan menjadi cemas, bahwa akan ada tuduhan palsu yang gawat kepada Mataram.”

 “Ya paman. Tentu ada satu dua orang prajurit Pajang yang lolos dari lembah itu dan memberikan laporan yang diputar balikkan kepada ayahanda Sultan.”

 “Dapat dipastikan,” sahut Ki Juru Martani, “karena itu, berbuatlah sesuatu. Peringatan ayahanda Sultan adalah suatu tindakan yang sangat bijaksana. Bukan saja menghindarkan anakmas dari tuduhan-tuduhan yang buruk, tetapi juga menghindarkan ketegangan yang semakin tajam antara Pajang dan Mataram. Sedangkan ketegangan itu memang dikehendaki oleh Pihak yang justru menginginkannya.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu. Ia dapat membayangkan, apa yang telah terjadi di istana Pajang. Ki Juru pun menganggap para perwira yang memancing didalam kekeruhan suasana untuk kepentingan pribadi, tanpa menghiraukan akibat yang dapat timbul bagi ke selamatan tanah Pajang.

 “Raden,” berkata Ki Juru Martani, “pasukan ini harus memasuki Mataram dalam keadaan yang lain. Mungkin para pengawal menjadi kecewa bahwa mereka tidak mendapat sambutan yang sewajarnya. Tetapi para pemimpin kelompok harus menyadari, bahwa keadaan tidak memungkinkannya.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan memecah pasukan ini, sehingga mereka memasuki kota dalam kelompok-kelompok kecil.”

 “Itu pun tidak menguntungkan,” berkata Ki Juru, “biarlah mereka memasuki kota dalam keadaan yang sama sekali tidak menunjukkan ikatan, dalam hari ini sebagian. Besok sebagian dan dua tiga hari lagi.”

 “Jadi, sebagian dari mereka akan tetap berada diluar kota?” bertanya Sutawijaya.

 “Apaboleh buat,” jawab Ki Juru.

 “Jadi bagaimanakah pertanggungan jawab kita kepada mereka yang kehilangan keluarganya? Jika yang lain hadir bersama-sama, maka dengan segera kita akan dapat memberikan pertanggungan jawab kepada keluarga yang kehilangan salah seorang anggautanya di peperangan yang terjadi di lembah itu.”

 “Tetapi kita berada didalam keadaan yang tidak sewajarnya. Kita menghadapi kemungkinan yang dapat mengeruhkan keadaan dan sulit dikendalikan lagi.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Memang tidak ada pilihan lain. Namun tiba-tiba dengan dahi yang berkerut ia berguman, “Bagaimana dengan pasukan pengawal dari Sangkal Putung?. Mereka tidak akan dapat dibaurkan begitu saja memasuki kota Mataram, karena mereka belum mengenal kota itu sebaik-baiknya.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Sesaat kemudian ia pun berpaling kepada Kiai Gringsing, untuk mendapatkan pertimbangannya.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Pasukan Sangkal Putung memang harus mendapat jalan keluar dari pengamatan yang mungkin benar-benar dilakukan oleh pasukan-pasukan sandi dari Pajang.”

“Jadi, apakah mereka akan memasuki kota dalam kelompok-kelompok kecil bersama seorang penunjuk jalan dari Mataram, yang akan membawa mereka langsung kedalam barak-barak,” bertanya Raden Sutawijaya.

“Tetapi barak yang berpenghuni sepasukan pengawal itu pun tentu akan menarik perhatian,” berkata Kiai Gringsing.

“Jadi apakah yang sebaiknya kita lakukan?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Aku akan menjumpai Swandaru dan mencoba membuatnya mengerti. Meskipun aku kira ia akan bersikap lain, tetapi mudah-mudahan ia dapat menerima pendapatku, bahwa pasukan Sangkal Putung akan langsung kembali ke Kademangan Sangkal Putung tanpa singgah di Mataram.”

“Ah,” potong Raden Sutawijaya, “Mataram harus mengucapkan terima kasih.”

“Terima kasih itu dapat diucapkan dengan cara yang lain,” berkata Kiai Gringsing, “seperti juga pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang langsung kembali ke Tanah Perdikannya,” sahut Kiai Gringsing.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Ki Juru Martani untuk mendapatkan pertimbangannya.

“Apaboleh buat,” berkata Ki Juru, “kita benar-benar menghadapi keadaan yang tidak kita inginkan.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu. Sejenak dipandanginya wajah Kiai Kendil Wesi yang tunduk. Kemudian Katanya, “Kiai, kita akan mengambil jalan yang meskipun tidak kita sukai. Tetapi akan dapat menghindarkan diri dari tuduhan-tuduhan yang kurang sewajarnya. Sebenarnya aku segan menghindari tanggung jawab atas keadaan Mataram sekarang, meskipun aku akan mendapat tuduhan yang tidak sepatutnya. Tetapi nasehat dan pesan orang-orang tua, juga ayahanda Sultan tetap aku junjung tinggi, sehingga aku telah mengambil jalan yang melingkar-lingkar untuk sekedar pulang ke rumah kami masing-masing.”

“Terima kasih Raden,” berkata Kiai Kendil Wesi,” dengan demikian Ayahanda Sultan merasa, bahwa Raden masih tetap puteranya. Apapun yang Raden lakukan sekarang, tidak akan dapat menggoyahkan kecintaan ayahanda kepada Raden.”

Raden Sutawijaya menundukkan kepalanya. Terasa sesuatu telah menyentuh hatinya. Sepercik penyesalan telah meloncat dari dasar hatinya bahwa ia seakan-akan telah memisahkan diri dari ayahanda angkatnya karena harga dirinya tersinggung oleh beberapa orang perwira Pajang tentang Alas Mentaok.

Tetapi meskipun demikian, masih belum ada niat dihati Raden Sutawijaya untuk menghadap ke Pajang. Ia masih tetap berdiri di antara kesetiaan seorang putera dan harga dirinya sebagai seorang kesatria yang memegang janji.

Dalam pada itu, maka Kiai Gringsing yang tidak melihat kemungkinan lain itu pun berkata, “Baiklah Raden. Aku akan menemui Swandaru dan mengatakan apa yang sedang kita hadapi sekarang.”

“Silahkan Kiai. Sudah tentu, bahwa aku akan menyatakan terima kasihku dengan cara yang khusus yang belum dapat aku ketemukan sekarang,” sahut Raden Sutawijaya.

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Itu bukannya masalah yang pokok Raden. Kita sedang mencari jalan, yang sebaik-baiknya untuk menghindari salah paham. Salah paham dengan Sultan Hadiwijaya di Pajang.”

“Baiklah Kiai. Tetapi ternyata bahwa perjuangan kita di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu bukannnya perjuangan yang terakhir melawan orang-orang yang merasa dirinya pewaris kerajaan Majapahit yang Agung. Ternyata di Pajang, masih banyak para perwira yang akan bangkit untuk melanjutkan perjuangan mereka dengan cara yang barangkali akan lebih berbahaya bagi Mataram, karena mereka berada didalam istana Pajang,” berkata Raden Sutawijaya.

Orang -orang yang mendengar keluhan Raden Sutawijaya itu dapat mengerti sepenuhnya. Tetapi mereka pun tidak dapat melepaskan Raden Sutawijaya sekedar menuruti perasaannya yang dipanasi oleh darah mudanya.

Namun agaknya Raden Sutawijaya pun sempat berpikir panjang, sehingga ia dapat mengerti semua nasehat dan apalagi pesan ayahanda angkatnya, Sultan Hadiwijaya.

Pada saat Kiai Gringsing berbicara dengan Swandaru tentang kemungkinan yang paling baik yang dapat ditempuh pasukan pengawal Sangkal Putung, nampaknya Swandaru memang agak tersinggung. Bahkan dengan suara lantang ia berkata, “Apa salahnya jika Pajang mengetahui kesiagaan Mataram dan Sangkal Putung? Apakah Pajang merasa akan dapat dengan mudah menghancurkan Mataram dan Sangkal Putung?”

 “Memang tidak Swandaru. Mungkin untuk menghancurkan Mataram dan apalagi dengan Sangkal Putung, Pajang harus mengerahkan kekuatannya, sehingga meskipun Mataram dan Sangkal Putung akhirnya dapat dihancurkan, tetapi Pajang sendiri akan menjadi reruntuhan kekuatan yang tidak berarti.”

 “Nah, apakah Pajang akan mempertaruhkan kemungkinan yang lebih buruk lagi, justru Pajanglah yang akan hancur?” bertanya Swandaru,

 “Yang manapun yang akan hancur, tetapi bahwa keduanya akan menjadi lumpuh itulah yang dikehendaki oleh orang-orang yang bersembunyi dibalik pergolakan ini. Karena diatas reruntuhan itulah mereka akan membangun apa yang mereka impikan dengan nama pewaris kerajaan Majapahit. Meskipun sebenarnya mereka tidak leih dari sekelompok orang yang bermimpi untuk mendapatkan kedudukan dan kekuasaan,” sahut Kiai Gringsing.

Swandaru mengerutkan keningnya. Sebenarnya ia keberatan untuk seolah-olah dengan bersembunyi-sembunyi kembali ke Sangkal Putung tanpa singgah lebih dahulu di Mataram, karena di Mataram ia pun tentu akan disambut pula sebagai seorang pahlawan.

Tetapi Swandaru tidak dapat selalu membantah nasehat gurunya. Apalagi gurunya dengan sungguh-sungguh mengharap agar ia mengerti perkembangan keadaan yang sedang dihadapi oleh Mataran. Bahkan Raden Sutawijaya sendiri telah bersedia untuk beringsut surut dari ketetapan hatinya bersikap terhadap Pajang.

 “Baiklah guru,” berkata Swandaru kemudian, “tetapi ini bukan karena kekhawatiranku menghadapi Pajang. Yang aku lakukan adalah semata-mata karena aku ingin memenuhi permintaan guru.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Swandaru. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya. Tetapi aku melihat, bahwa pandanganmu terhadap Pajang agak sisip. Betapapun kuatnya Mataram. Katakanlah termasuk Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh, tetapi sebenarnyalah bahwa kekuatan itu masih jauh dibawah kekuatan Pajang yang sebenarnya. Kau jangan mengabaikan kekuatan yang tersebar di daerah para Adipati di pasisir Lor dan Bang Wetan. Kau harus membayangkan Pajang dalam keseluruhan. Bukan Kota Raja yang sempit, yang dilingkari oleh dinding batu dengan beberapa pintu gerbang.”

Wajah Swandaru menegang. Namun kemudian tumbuhlah pengakuan didalam hati, bahwa ia jarang sekali membayangkan kekuatan-kekuatan diluar Kota Raja Pajang. Karena perubahan-perubahan yang cepat dapat timbul sekedar mengadakan kejutan pada pusat pemerintahan.

Dengan demikian, maka Swandaru pun tidak membantah lagi. Seperti Sutawijaya, maka ia pun akan mempersiapkan pasukannya dan membawa langsung kembali ke Sangkal Putung melalui jalan melintas dalam kelompok-kelompok kecil. Lebih kecil dari saat mereka berangkat ke Mataram.

Dalam pada itu. Pandan Wangi dan Sekar Mirah tidak banyak memberikan pendapat. Meskipun sebenarnya Sekar Mirah juga menjadi kecewa seperti Swandaru. Namun ia pun dapat mengerti pula, keadaan yang memaksa mereka mengambil jalan lain.

Namun perjalanan pengawal Sangkal Putung agak lebih mudah dari para pengawal dari Mataram. Mereka harus memikirkan para tawanan. Jika para tawanan itu masih belum dapat dibawa masuk kota, maka mereka harus ditempatkan, bukan saja yang dapat menampung jumlah mereka, tetapi juga tempat yang mudah mendapat pengawasan.

Demikianlah, maka baik pasukan Mataram maupun pasukan Sangkal Putung, segera membenahi diri. Membagi pasukan mereka menjadi kelompok-kelompok yang terbagi lagi. Orang-orang Mataram diberi kesempatan berurutan memasuki kota langsung ke rumah masing-masing. Sementara sebagian dari mereka masih harus tinggal diluar untuk menunggu giliran, sekaligus menjaga para tawanan.

Keadaan itu akan dipertahankan sampai keadaan memungkinkan, membawa para tawanan memasuki kota.

 “Dari mana kita mengetahui bahwa para petugas sandi itu sudah kembali ke Pajang?” bertanya Raden Sutawijaya kepada Ki Juru Martani.

Ki Juru mengerutkan keningnya. Namun kemudian dipandanginya Kiai Kendil Wesi yang masih ada di antara mereka.

Kiai Kendil Wesi menangkap pertanyaan yang tersirat dari mata Ki Juru Martani, seperti pertanyaan yang diucapkan Raden Sutawijaya namun ditujukan kepadanya.

 “Mudah-mudahan ayahanda Raden Sutawijaya di Pajang memberitahukan hal itu kepadaku. Jika aku tidak dapat datang sendiri ke Mataram karena berbagai persoalan, maka aku akan menyuruh salah seorang pembantuku untuk menghadap.” sahut Kendil Wesi.

 “Itu berbahaya sekali,” desis Raden Sutawijaya, “tidak semua orang sekarang dapat dipercaya.”

 “Aku tidak akan mempersoalkan kesiap siagaan ataupun petugas-petugas sandi. Pembantuku akan menghadap Ki Juru untuk menyampaikan pertanyaan tentang hari-hari yang baik untuk mulai dengan pembuatan sebuah rumah baru.”

 “O,” Ki Juru mengangguk, “maksudmu, jika orang itu datang, apapun yang dikatakan, maka itu berarti bahwa petugas sandi itu sudah kembali ke Pajang?”

Kiai Kendil Wesi, mengangguk-angguk. Ia menyadari, bahwa tugas yang akan dilakukan oleh pesuruhnya itu pun merupakan tugas yang gawat. Karena itu, maka katanya kemudian, “Orang yang akan aku suruh datang ke Mataram itu pun tidak akan mengetahui persoalan yang sebenarnya. Ia akan datang ke Mataram dengan pesan yang sama sekali tidak menyangkut isyarat yang harus dibawa, dan ia pun tidak akan menyadari akan arti isyarat tentang kehadirannya itu.”

Ki Juru Martani dan Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Mereka mengerti, bahwa Kiai Kendil Wesi akan berusaha sejauh dapat dilakukan untuk menghindarkan kecurigaan yang lebih tajam lagi antara Pajang dan Mataram.

Dalam pada itu, maka justru pasukan Mataram tidak lagi tergesa-gesa. Mereka dengan cermat memperhitungkan kemungkinan yang sebaik-baiknya untuk memasuki Kota. Mereka tidak tahu, berapa lama para petugas sandi itu berada di Mataram, sehingga mereka masih belum dapat mengetahui berapa lama para tawanan masih harus disembunyikan.

Dalam pada itu , maka Kiai Kendil Wesi pun kemudian berkata kepada Ki Juru Martani dan Raden Sutawijaya, “Raden. Tugas yang harus aku lakukan agaknya sudah selesai. Aku tidak akan terlalu lama berada di Mataram. Aku harus segera pulang, sehingga tidak seorang pun yang mengetahui bahwa aku telah meninggalkan Pajang dan berada di Mataram.”

 “Tetapi Kiai harus beristirahat dulu barang sejenak,” minta Raden Sutawijaya.

Kiai Kendil Wesi termangu-mangu. Namun Ki Juru berkata, “Tunggulah. Kau harus makan dahulu. Beristirahat barang sejenak. Baru kemudian kau kembali ke Pajang. Menempuh jalan memintas dan berusaha memasuki Kota Raja setelah gelap. Bukankah begitu?”

Kiai Kendil Wesi tertawa. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Tepat Ki Juru.”

 “Jika begitu, beristirahatlah dahulu.”

Namun waktu berjalan terlalu cepat. Selagi para pengawal Mataram dan Sangkal Putung mengatur diri, maka Kiai Kendil Wesi telah merasa terlalu lama berada di tlatah Mataram. Ia pun kemudian mohon diri kepada pimpinan pasukan pengawal Mataram dan Sangkal Putung untuk segera kembali ke Pajang.

 “Aku harap bahwa aku akan memasuki Pajang setelah malam menjadi kelam. Aku akan kembali memasuki rumahku dengan diam-diam, seperti saat aku pergi, karena aku berpesan kepada keluargaku di rumah, bahwa aku tidak pergi kemanapun hari ini, karena aku sakit.” berkata Kiai Kendil Wesi.

Para pemimpin dari Mataram dan Sangkal Putung tidak dapat mencegahnya lagi. Bahkan Swandaru yang berada di antara mereka pada saat Kiai Kendil Wesi akan kembali ke Pajang, sempat berbincang tentang jalan yang akan dilaluinya.

 “Aku tidak akan melalui jalan yang menjadi jalan induk yang menghubungkan Pajang dan Mataram. Aku akan memintas sehingga aku tidak akan berjumpa dengan petugas-petugas yang akan dikirim dari Pajang, yang barangkali sekarang sudah ada di perjalanan, atau bahkan sudah hampir sampai ketujuan. Mungkin malahan sudah berada di Mataram. Tetapi aku harus berhati-hati.”

 “Baiklah Kiai. Kita yang akan kembali ke Sangkal Putung pun tidak akan mengikuti jalan induk. Sebagian dari kami akan memintas sepanjang jalan yang akan Kiai lalui. Jika Kiai tidak berkeberatan, maka sebaiknya kita berbicara tentang jalan manakah yang akan Kiai pilih,” berkata Swandaru.

Kiai Kendil Wesi mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku justru ingin bertanya, jalan manakah yang sebaiknya aku lalui, karena aku belum banyak mengenal jalan-jalan didaerah Alas Mentaok sekarang ini.”

Swandaru termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Katanya, “Aku akan memberikan dua orang kawan di perjalanan Kiai Kendil Wesi. Jika ada sesuau yang menganggu di perjalanan, atau kira-kira memberikan kesan yang kurang baik bagi pasukan pengawalku, biarlah salah seorang dari pengawal itu kembali memberikan laporan kepada induk pasukan yang akan melalui jalan itu pula, meskipun dalam kelompok-kelompok kecil. Kami bahkan tidak hanya akan melalui satu jalur jalan. Tetapi beberapa jalur jalan yang mungkin tidak sama jaraknya. Sebagian di sebelah Utara jalan induk, dan sebagian di sebelah Selatan jalan induk.

 “Tentu aku tidak akan berkeberatan. Justru aku akan berterima kasih,” jawab Kiai Kendil Wesi.

Demikianlah maka Kiai Kendil Wesi pun segera minta diri. Swandaru telah menyiapkan dua orang yang akan menempuh perjalanan bersama Kiai Kendil Wesi sambil mengamati keadaan, sementara beberapa orang yang lain telah siap untuk berangkat pula menempuh jalan yang berbeda-beda yang akan dilalui oleh kelompok-kelompok pasukan Sangkal Putung.

Tetapi Swandaru pun cukup cermat. Ia sadar, bahwa ada prajurit-prajurit Pajang yang akan mendendam pasukan pengawal Sangkal Putung. Itulah sebabnya, maka ia pun telah memperhitungkan setiap kemungkinan. Ia telah memperhitungkan waktu bagi setiap kelompok pengawal yang akan terpisah. Pada saat-saat tertentu, mereka harus berada ditempat yang sudah diperhitungkan. Mereka tidak boleh melampaui tempat pada waktu yang telah ditentukan. Jika terjadi sesuatu dengan setiap kelompok karena dendam prajurit-prajurit Pajang, maka mereka akan dapat menentukan, dengan kelompok-kelompok manakah para pengawal yang berkepentingan itu harus berhubungan.

 “Kalian harus memberikan tanda-tanda ditempat tertentu,” berkata Sutawijaya, “sehingga jika salah satu pihak dari kelompok-kelompok kita membutuhkan kelompok lain, mereka akan mengetahui, apakah kelompok-kelompok itu telah lewat atau masih belum sampai ketempat itu.”

Karena itulah, maka Swandaru pun telah membicarakan jalan yang akan dilalui oleh pasukan Sangkal Putung dengan cermat. Bahkan sekali-kali ia mengumpat, bahwa ia harus berpusing-pusing memperhitungkan jarak.

 “Kenapa kita tidak lewat saja sambil menengadahkan dada meskipun kita akan bertemu dengan petugas sandi,” katanya didalam hati.

Namun Swandaru tidak dapat mengabaikan pesan gurunya dan keputusan yang telah diambil bersama. Itulah sebabnya, bagaimanapun juga beratnya, maka ia telah mengatur pasukannya dalam kelompok-kelompok kecil yang akan kembali ke Sangkal Putung dalam keadaan bercerai berai.

Kiai Gringsing yang akan kembali bersama pasukan Sangkal Putungpun telah ikut serta membicarakan jalan yang akan dilalui dan ketentuan-ketentuan lain yang harus dilaksanakan oleh pasukan Sangkal Putung.

Sementara itu, Raden Sutawijaya pun telah mengatur diri. Yang paling penting adalah menyelamatkan pusaka-pusaka yang telah diperebutkan dengan mengorbankan terlalu banyak jiwa itu.

 “Malam nanti pusaka-pusaka itu harus dibawa masuk ke Mataram,” berkata Raden Sutawijaya.

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kau pun harus berada di Mataram. Kau harus menampakkan diri seperti biasa dihadapan para pemimpin pemerintahan. Kau dapat berjalan di sepanjang jalan induk dengan seorang atau dua orang pengawal, agar petugas sandi itu melihatmu.”

 “Jika demikian, malam nanti aku akan membawa pusaka itu masuk kedalam kota. Aku dapat berpakaian seperti pengawal kebanyakan yang sedang meronda. Sementara aku membawa Kangjeng Kiai Pleret, maka Kangjeng Kiai Mendung harus kita sembunyikan terlebih dahulu.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Adalah jalan yang sebaik-baiknya bagi Sutawijaya untuk memasuki Kota dalam pakaian pengawal kebanyakan. Kangjeng Kiai Pleret akan dibawanya tanpa tanda-tanda kebesarannya, demi keselamatan pusaka itu.

Agaknya para pemimpin menyetujuinya. Karena itulah, maka pasukan Mataram pun mulai mengatur diri, siapakah yang lebih dahulu akan memasuki Kota tanpa menimbulkan kesan, bahwa Mataram sedang bersiap-siap menghadapi perang yang besar.

Karena itulah, maka kelompok-kelompok kecil telah dilepaskan. Mereka mencari jalan menurut kehendak mereka sendiri. Mereka tidak berbaris dengan upacara kebesaran memasuki pintu gerbang induk disambut oleh rakyat dengan sorak kemenangan. Tetapi mereka memasuki kota yang sepi lengang, karena tidak ada berita kepastian tentang kedatangan para pengawal.

Bahkan utusan yang datang mengatakan, bahwa pasukan pengawal dari Mataram tidak akan memasuki kota. Mereka harus beristirahat lebih lama lagi, sampai saat yang akan diberitahukan.

Rakyat yang sudah siap menyambut kedatangan pasukan itu pun menjadi hambar lagi, sehingga mereka pun kemudian lebih senang menunggu kepastian yang tentu akan diumumkan di jalan-jalan raya daripada gelisah menanti-nanti.

Namun dengan demikian, yang berdebar-debar masih saja harus menahan pertanyaan, apakah keluarga mereka yang berangkat ke medan akan dapat pulang kembali.

Raden Sutawijaya tidak membiarkan mereka tersiksa oleh pertanyaan yang tidak terjawab. Karena itulah, maka ia pun kemudian menentukan bahwa setiap kelompok harus diwakili oleh seseorang atau dua untuk segera memasuki kota dan menyampaikan berita keselamatan dan korban dari setiap kelompok kepada keluarga mereka, sebelum seluruh kelompok mendapat kesempatan untuk memasuki kota dan pulang kerumah masing-masing.

Demikianlah, maka pasukan Mataram pun mulai dengan rencana perjalanan gelombang demi gelombang. Tetapi gelombang-gelombang kecil yang tidak akan menarik perhatian.

Demikian juga pasukan Sangkal Putung. Mereka telah menempuh jalan yang telah ditentu kan. Di antara mereka adalah Kiai Kendil Wesi yang kembali ke Pajang.

Dengan cara yang demikian, maka arus pasukan ke Mataram dan Sangkal Putung menjadi sangat lamban. Mungkin mereka memerlukan waktu tiga atau empat hari. Bahkan mungkin lebih. Apalagi dengan adanya para tawanan di antara pasukan Mataram.

Namun seorang pengawal Mataram yang telah mendapat kesempatan memasuki kota, telah menemukan cara yang baik untuk mempercepat arus pasukannya. Saat yang baik akan dapat dipergunakan. Salah seorang pamannya akan mengadakan peralatan, sehingga kehadiran banyak orang tidak akan menimbulkan kecurigaan.

 “Mereka akan aku persilahkan datang ketempat peralatan sebagai tamu. Kemudian mereka akan kembali kerumah masing-masing tanpa menarik perhatian, seandainya petugas sandi itu memang ada di Mataram. Bahkan seandainya ada sepuluh atau duapuluh petugas sandi sekalipun,” katanya kepada kawan-kawannya.

 “Jika demikian, maka peralatan itu dapat dibuat. Meskipun sebenarnya tidak ada niat untuk mengadakan peralatan, tetapi untuk kepentingan para pengawal, peralatan itu dapat saja diadakan.” berkata seorang kawannya.

 “Kita akan menghadap Raden Sutawijaya,” desis yang lain.

Demikianlah, maka orang-orang itu pun setelah beristirahat sejenak di antara keluarganya yang gembira, maka mereka pun segera minta diri untuk menghadap kembali Raden Sutawijaya yang sedang beristirahat bersama pasukannya diluar kota.

Ketika malam turun, maka Raden Sutawijaya telah bersiap-siap untuk memasuki kota Mataram, sementara Swandaru bersama Pandan Wangi dan beberapa orang pengawal yang lain telah siap pula untuk berangkat ke Sangkal Putung.

Namun dalam pada itu, Sekar Mirah telah minta ijin kepada kakaknya untuk berangkat pada giliran yang lain bersama Kiai Gringsing yang akan membawa Ki Sumangkar yang terluka parah.

 “Kita akan berangkat besok,” berkata Kiai Gringsing, “mudah-mudahan keadaan Ki Sumangkar menjadi berangsur baik.”

Swandaru tidak berkebaratan. Ia tahu, bahwa Sekar Mirah adalah satu-satunya murid Ki Sumangkar. Sedangkan Kiai Gringsing sangat diperlukan untuk merawatnya.

Dengan demikian maka pada saat yang hampir bersamaan, maka Raden Sutawijaya dan Swandaru telah menempuh perjalanan masing-masing setelah keduanya saling bermohon diri.

Pada saat Sutawijaya dan Swandaru meninggalkan padukuhan tempat mereka beristirahat, sebenarnyalah petugas sandi yang mendapat tugas dan Pajang telah berada di Mataram. Mereka memasuki Mataram sebagai orang kebanyakan yang datang ke kota. Meskipun tidak ada tanda-tanda yang dapat menarik perhatian pada kedua petugas sandi itu. namun mereka tetap berhati-hati, karena tentu ada satu dua orang bekas prajurit Pajang yang berada di Mataram, sehingga mungkin mereka akan dapat mengenalnya.

 “Kemungkinan itu kecil sekali,” berkata salah seorang dari keduanya, “aku kira wajahku sudah berubah sama sekali dengan kumis palsu ini.”

 “Ya. Kau dengan kumis palsu dan pakaianmu yang sederhana itu memang sudah berubah. Tetapi aku tidak tahan memakai kumis palsu. Hidungku merasa gatal dan barangkali justru akan mengganggu,” sahut yang lain.

 “Tetapi wajahmu pun sudah berubah. Dengan merubah cara berpakaian dan tingkah laku, kau sudah berubah. Kepalamu yang menjadi agak miring, dan sekali-sekali kau gerakkan dagumu, membuat kau menjadi orang lain. Apalagi dengan mata yang sipit itu.”

Kawannya mengangguk-angguk. Mereka berdua memang berusaha untuk membuat dirinya menjadi orang lain, karena justru mereka menyadari bahwa di Mataram ada orang-orang yang barangkali sudah mengenalnya.

Tetapi agaknya mereka benar-benar telah berhasil merubah diri mereka sehingga sulit untuk dapat dikenal tanpa memperhatikan keduanya dengan seksama dan mengenah ciri-ciri yang lebih dalam.

Ketika mereka memasuki Mataram, maka keduanya pun berusaha untuk mendapatkan penginapan, tetapi sebelumnya mereka masih mempunyai kesempatan untuk berkeliling kota melihat-lihat keadaan dalam sepintas.

“Tidak ada tanda-tanda apapun juga yang dapat dilihat,” berkata salah seorang dari mereka.

 “Tentu tidak hanya dalam sekejap. Kita akan berada ditempat ini barang satu dua hari. Barulah kita akan mendapatkan kesimpulan, apakah Mataram telah bersiap-siap untuk bertempur melawan Pajang atau tidak.”

 “Tetapi untuk melihat hal itu, agaknya merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Mungkin Mataram sama sekali tidak menampakkan kegiatan apapun juga. Tetapi dengan bunyi tanda-tanda yang sudah disetujui sebelumnya, maka dalam sekejap di alun-alun dimuka rumah Raden Sutawijaya itu berkumpul-kumpul beribu-ribu orang yang siap untuk bertempur.”

Kawannya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tentu tidak. Mataram dapat saja memanggil rakyatnya dengan isyarat bunyi dan dalam waktu sekejap alun-alun itu telah penuh dengan laki-laki bersenjata. Tetapi kekuatan yang demikian hanyalah merupakan kekuatan untuk mempertahankan diri. Tetapi kekuatan untuk menyerang tentu harus dipersiapkan lebih dalam dan teliti, karena mereka harus menempuh perjalanan dan ketentuan-ketentuan untuk menyerang dengan gelar-gelar perang yang sudah ditentukan.”

Kawannya mengangguk-angguk. Agaknya yang dikatakan kawannya itu memang benar. Setiap laki-laki dapat saja mengangkat senjata dalam keadaan yang gawat. Tetapi jika mereka akan dikerahkan untuk menyerang, maka tentu diperlukan persiapan.

Dan persiapan itulah yang akan mereka lihat di Mataram.

Namun dalam sekilas para petugas sandi itu sama sekali tidak melihat kesibukan apapun juga. Bahkan rasa-rasanya Mataram terlalu sepi.

Menjelang malam, maka keduanya pun kemudian masuk kedalam halaman seorang demang di padukuhan kecil diluar pintu gerbang. Dengan alasan yang dapat mereka susun sesuai dengan keadaan mereka, maka mereka pun bermalam di rumah Ki Demang itu.

 “Aku mencari saudara perempuan isteriku,” berkata salah seorang dari mereka, “tetapi aku tidak dapat menemukannya setelah aku berkeliling kota menjelang senja.”

 “Mengelilingi kota Mataram memerlukan waktu yang lebih lama,” berkata Ki Demang yang baik hati, “karenanya silahkan angger berdua beristirahat disini. Kami senang sekali menerima angger berdua. Jangankan satu malam. Dua tiga malampun kami tidak akan berkeberatan, sampai saudara perempuan isteri angger itu dapat diketemukan.”

 “Terima kasih Ki Demang,” jawab salah seorang dari petugas sandi itu. “Kami senang sekali dengan kesempatan ini. Mudah-mudahan kami akan dapat membalas budi dikesempatan lain.”

 “O, kenapa harus membalas budi. Ini bukan apa-apa. tetapi adalah menjadi kewajiban kita untuk saling menolong.”

Kedua petugas sandi itu mendapat kesempatan yang sebenarnya memang mereka harapkan. Mereka berdua dapat berada di Mataram dalam waktu yang dikehendaki.

Malam itu. kedua petugas sandi itu sama sekali tidak keluar dari rumah Ki Demang. Mereka sama sekali tidak mengira, bahwa pada malam itu Raden Sutawijaya telah memasuki Kota dan dengan diam-diam kembali ke rumahnya.

Tetapi kedua petugas sandi itu telah mendengar ceritera yang mendebarkan jantung dari Ki Demang. Dari Ki Demang kedua petugas sandi itu mendengar bahwa Raden Sutawijaya tidak berada di rumahnya.

 “Apakah yang mereka lakukan?” bertanya kedua petugas sandi itu.

 “Tidak banyak yang mengetahui. Tetapi hari ini seharusnya Raden Sutawijaya dan pasukannya akan memasuki kota dengan membawa kemenangan.”

 “Kemenangan apa?” kedua petugas sandi itu semakin tertarik kepada ceritera itu.

 “Tidak jelas. Tetapi agaknya ada sekelompok penjahat yang mengganggu Mataram.”

Kedua petugas sandi itu termangu-mangu, tetapi mereka mulai diganggu oleh pertanyaan yang bermacam-macam. Mungkin penjahat itu sekelompok penjahat yang kuat, tetapi mungkin penjahat kecil yang terdiri tidak lebih dari sepuluh orang.

 “Atau, sekedar alasan untuk meninggalkan kota dan mengadakan latihan di daerah yang terpisah dari Mataram?” pertanyaan itu timbul didalam hati.

Beberapa saat lamanya kedua petugas sandi itu mencoba untuk mengurai persoalan yang mereka hadapi. Karena itu, maka mereka pun berusaha untuk memancing ceritera Ki Demang lebih banyak lagi.

Tetapi tidak ada keterangan Ki Demang yang dapat memberikan kepastian. Ki Demang hanya mengetahui bahwa pasukan Mataram sedang bertugas di luar kota yang sedang tumbuh itu, dan akan segera kembali membawa kemenangan.

Malam itu, setelah kedua petugas sandi itu masuk kedalam bilik yang disediakan di gandok sebelah Timur, keduanya mulai membicarakan langkah-langkah yang akan mereka lakukan.

 “Kita akan mendapat kesempatan untuk melihat pasukan Mataram memasuki kota dengan kemenangan seperti yang dikatakan oleh Ki Demang,” berkata salah seorang dari mereka.

Yang lain mengangguk-angguk. Namun kemudian Katanya, “Agaknya berita inilah yang telah sampai ke Pajang, sehingga Sultan memerintahkan kita untuk membuktikan, apakah yang sebenarnya terjadi di Mataram. Mungkin Mataram sedang mengejar sepuluh orang penjahat, mungkin lebih. Atau bahkan hanya satu dua orang, tetapi memiliki ilmu yang tinggi sehingga Mataram harus mengerahkan segenap kekuatannya untuk menangkapnya. Dan berita tentang usaha penangkapan itulah yang sampai di Pajang, seolah-olah Mataram sudah siap untuk bertempur.”

Kawannya mengangguk-angguk pula. Tetapi ia berkata, “Masih harus dilihat. Dan kita akan terperanjat jika kita melihat pasukan segelar sepapan memasuki kota disambut oleh rakyat dengan sangat meriah.”

Keduanya akhirnya bersepakat untuk berada di kota sehari penuh. Mereka harus melihat kedatangan pasukan itu, agar mereka dapat menilai, apakah Mataram benar-benar telah mempersiapkan pasukannya untuk bertempur, atau sekedar untuk mengejar panjahat-penjahat kecil yang berkeliaran.

Pada saat kedua petugas sandi itu kemudian membaringkan dirinya di pembaringan, maka Raden Sutawijaya telah memasuki rumahnya dengan diam-diam. Tidak banyak orang yang mengetahui kehadirannya kembali, karena Raden Sutawijaya tidak mempergunakan tanda-tanda dan ciri-cirinya sebagai Senapati Ing Ngalaga.

Demikian pula, kedatangan pasukannya yang terpisah-pisah. Sebagian telah datang berurutan menghadiri peralatan, tetapi mereka kemudian kembali ke rumah masing-masing sambil menyembunyikan senjata-senjata mereka di bawah pelana kuda atau ditempat-tempat yang tidak mudah terlihat. Sedang beberapa orang yang lain telah meninggalkan senjata-senjata panjang mereka di tempat peristirahatan pasukan Mataram.

Malam itu dengan diam-diam, telah mengalir para pengawal dengan caranya masing-masing, tanpa diketahui oleh kedua orang petugas sandi yang sama sekali tidak menyangka, bahwa pasukan Mataram akan memasuki kota dengan diam-diam.

Perjalanan yang menuju ke Sangkal Putung sama sekali tidak mendapat gangguan apapun juga. Tidak ada petugas sandi yang mengamat-amati perjalanan mereka, dan tidak ada penjahat yang mengganggu.

Karena itu. maka kelompok-kelompok yang berjalan mendahului Swandaru sama sekali tidak memberikan isyarat-isyarat yang dapat mengganggu perjalanan kelompok-kelompok berikutnya.

Hampir semalam suntuk, pasukan Mataram mengalir memasuki kota dengan cara masing-masing. Namun demikian, baru sebagian kecil sajalah dari seluruh pasukan yang telah kembali kepada keluarga mereka, sehingga untuk seluruh pasukan yang ada, diperlukan waktu tiga atau empat hari.

Ketika Matahari terbit di Timur, kelompok-kelompok berikutnya harus memilih cara yang lebih cermat Mereka tidak boleh menarik perhatian, bukan saja petugas sandi yang sudah berada di Mataram menurut perhitungan waktu, tetapi juga rakyat Mataram sendiri.

Dalam pada itu, kedua petugas sandi yang berada di rumah Ki Demang itu pun minta diri untuk meneruskan usaha mereka mencari salah seorang saudara yang berada di Mataram.

 “Jika kami belum dapat menemukannya hari ini, kami masih akan mohon untuk diperkenankan bermalam di padukuhan ini. Jika kami dianggap sangat mengganggu di rumah ini, maka biarlah kami berada di banjar saja,” berkata salah seorang petugas sandi itu.

 “Ah tidak. Sama sekali tidak. Kami tidak berkeberatan, seandainya kalian berdua berada di rumah kami lebih lama lagi.” jawab Ki Demang.

Memang jawaban itulah yang mereka tunggu, sehingga mereka akan dapat meneruskan usaha mereka mengamat-amati Mataram dengan lebih saksama.

Namun ketika mereka berdua memasuki kota, mereka sama sekali tidak melihat perubahan apapun dari yang mereka lihat sebelumnya. Mataram tetap dalam kehidupan wajarnya sehari-hari. Pasar-pasar menjadi kian ramai dan jalan-jalan menjadi semakin banyak orang lewat hilir mudik dengan keperluan masing-masing.

 “Tidak ada kegiatan keprajuritan yang nampak meningkat,” desis salah seorang dari kedua petugas sandi itu.

Kawannya mengangguk. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Kita memang harus menunggu. Pasukan yang akan memasuki kota dengan kemenangan itu akan menunjukkan kepada kita, apakah yang sebenarnya telah terjadi di Mataram,” sahut yang lain.

 “Raden Sutawijaya agaknya akan segera membawa pasukannya memasuki kota setelah tertunda-tunda seperti yang dikatakan oleh Ki Demang. Ternyata kemarin pasukan itu masih belum datang. Mungkin hari ini,” berkata kawannya.

Keduanya berjalan menyusuri jalan-jalan besar di kota Mataram. Dengan sengaja mereka melalui tempat-tempat yang dapat menjadi pusat kegiatan prajurit Mataram. Namun yang mereka lihat hanyalah beberapa orang petugas yang berjaga-jaga di regol seperti biasanya. Tidak ada kesan apapun yang nampak seperti berita yang tersiar di Pajang, seolah-olah Mataram telah siap berperang.

Tetapi keduanya masih menunggu. Mereka berharap akan dapat melihat pasukan yang membawa kemenangan itu memasuki kota.

Tetapi hampir sehari penuh mereka memutari kota, mereka sama sekali tidak melihat tanda-tanda apapun juga. Bahkan berita kedatangan psukan yang membawa kemenangan itu pun tidak kunjung mereka dengar kelanjutannya.

Ketika kedua orang petugas sandi itu berada didalam sebuah warung, mereka mendengar beberapa orang yang berbicara tentang pasukan yang belum datang itu.

 “Berita itu kemarin rasa-rasanya sudah pasti,” berkata salah seorang dari mereka.

 “Aku kira sekedar desas-desus. Tetapi-seakan-akan menjadi pasti,” jawab yang lain.

Kedua petugas itu mencoba menangkap pembicaraan orang-orang itu. Tetapi mereka sama sekali tidak menemukan tanda-tanda yang dapat mereka jadikan sebagai pegangan.

Dengan penuh kebimbangan kedua petugas itu meninggalkan warung itu dan dengan langkah pendek dan perlahan-lahan mereka berjalan menyusuri jalan menjelang senja, seperti dua orang sahabat yang sedang berjalan-jalan menghabiskan waktunya.

Namun kedua orang itu terkejut, ketika mereka melihat beberapa orang berkuda. Hanya beberapa saja. Tidak lebih dari enam orang.

 “Itukah Senopati?,” desis yang seorang.

 “Ya. Ia baru datang,” sahut yang lain.

 “Kau gila. Tentu tidak. Mereka hanya berenam.”

Yang lain mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ya. Nampaknya Sutawijaya sedang meronda daerahnya. Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa ia baru datang dari daerah pertempuran.”

 “Ya. Pengawal-pengawalnya hanya bersenjata sederhana. Tanpa tanda kebesaran apapun juga.”

Kedua orang itu pun melangkah menepi. Sejenak mereka berdiri termangu-mangu melihat Raden Sutawijaya berkuda dengan pengawal yang sedikit itu. Kelengkapan pakaian dan senjatanya benar-benar tidak menunjukkan bahwa ia baru datang dari daerah peperangan.

 “Orang-orang Mataram memang gila,” geram salah seorang dari kedua petugas sandi itu setelah iring-iringan kecil itu lewat.

 “Kenapa?”

 “Tentu Sutawijaya tidak pergi berperang. Jika dalam beberapa lama ia tidak nampak di Mataram, itu bukan berarti ia pergi berperang dan kembali membawa kemenangan.”

 “Lalu, bagaimana menurut dugaanmu?”

 “Seperti biasa. Ia suka bertualang untuk waktu yang cukup lama. Nanti, pada saatnya ia akan pulang membawa dua atau tiga orang isteri. Jika tidak, maka setahun kemudian akan berdatangan bayi-bayi yang menanyakan siapakah ayahnya,” berkata salah seorang dari kedua petugas itu dengan geramnya, “sementara itu ia membuat desas-desus bahwa ia pergi berperang menumpas kejahatan, dan akan kembali membawa kemenangan.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Kau dipengaruhi oleh kejengkelan perasaan, ia bukan saja bertualang mencari selir-selir baru di sepanjang padesan. Tetapi ia pun singgah ditempat-tempat yang sepi dan keramat. Ia suka mesu diri untuk menyempurnakan segala macam ilmu yang telah dimilikinya Ilmu kanuragan dan ilmu kajiwan.”

Kawannya mengerutkan keningnya, sementara yang lain berbicara terus, “Dan kini ia benar-benar telah menjadi orang yang pilih tanding dalam usianya yang masih sangat muda itu.”

 “Ya. Ia memang seorang yang punjul ing apapak. Bukan saja dalam olah kanuragan. Tetapi juga didalam mengembangkan keluarganya. Dalam usianya yang masih muda ia sudah mempunyai beberapa orang putera dari ibu yang berbeda.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Sambil melanjutkan perjalanan kembali kerumah Ki Demang yang tidak begitu jauh dari gerbang kota mereka masih memperbincangkan Sanapati Ing Ngalaga sebagai pribadi.

Malam itu, kedua petugas sandi itu pun telah menemukan kesimpulan dari kunjungannya ke Mataram. Mataram tidak ada apa-apa, selain sifat sombong dan berbangga diri. Selebihnya mereka menjunjung Raden Sutawijaya terlalu tinggi didalam tanggapan mereka atas pribadinya, sehingga mereka menganggap seolah-olah Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga itu sebagai seorang penakluk yang menakjubkan.

Meskipun demikian, para petugas sandi itu akan tinggal sehari lagi di Mataram untuk meyakinkan diri, bahwa di Mataram memang tidak ada apa-apa, selain pembicaraan orang-orang di sepanjang jalan dan dibalik pintu-pintu rumah, seolah-olah Senapati junjungan mereka itu adalah manusia yang memiliki kelebihan dari manusia sewajarnya.

Ketika kedua petugas sandi itu sempat berbicara pula dengan Ki Demang, maka mereka pun tidak lagi menaruh banyak perhatian. Mereka hanya sekedar mengiakan keterangan-keterangannya karena mereka ingin menghormat Ki Demang yang telah memberikan penginapan kepada mereka dengan pelayanan yang justru berlebih-lebihan.

Seperti yang mereka rencanakan, maka dihari berikutnya mereka masih berada di Mataram. Tetapi seperti hari-hari sebelumnya, mereka tidak melihat apapun juga yang dapat menimbulkan kecurigaan, bahwa Mataram telah mempersiapkan diri untuk memberontak terhadap Pajang seperti yang dicemaskan oleh orang-orang Pajang.

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s