ADBM2-112

<<kembali | lanjut >>

DEMIKIANLAH, maka Agung Sedayu pun kemudian menghadap Ki Gede Menoreh ketika ia berada kembali di rumah Ki Gede itu. Rasa-rasanya ia tidak dapat bertahan lebih lama lagi, meskipun hanya semalam.

Hatinya menjadi berdebar-debar ketika Prastawa pun kemudian hadir pula menemuinya di pendapa. Sekaligus Agung Sedayu sempat memandang wajah anakmuda yang buram itu.

Tetapi Agung Sedayu sama sekali tidak ingin mengatakan kepada Ki Gede Menoreh, bahwa sikap Prastawa lah yang telah memaksanya mempercepat meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh.

Semula Ki Gede Menoreh berusaha untuk menahannya. Seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu sendiri, ia masih akan tinggal untuk dua tiga hari lagi. Namun tiba-tiba saja ia telah merubah keputusannya dan kembali ke Kademangan Sangkal Putung.

Tetapi Agung Sedayu tidak lagi merubah niatnya. Dengan nada datar ia berkata, “Guru tentu sudah menunggu aku. Bahkan mungkin guru menjadi gelisah. Sedangkan di padepokan kecil yang akan bangun bersama guru, adikku telah menunggu aku pula. Akulah yang menbawanya kepadepokan kecil itu. sehingga jika aku terlalu lama pergi, mungkin ia akan merasa jemu tinggal di padepokan itu.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Kerinduan memang kadang-kadang bagaikan memanggil kita untuk segera datang. Apalagi kerinduan rangkap seperti angger Agung Sedayu. Adiknya memang sudah lama menunggu. Tetapi selain adiknya, tentu masih ada lagi yang menunggunya.”

Anak-anak muda yang ada di pendapa itu pun tersenyum. Namun berbeda dengan mereka, wajah Prastawa menjadi merah. Terasa sesuatu bagaikan melonjak didalam dadanya.

Tiba-tiba saja wajah Sekar Mirah telah membayang didalam angan-angannya. Ia sadar sepenuhnya, bahwa antara Sekar Mirah dan Agung Sedayu telah terjalin suatu ikatan batin. Namun rasa-rasanya ia tidak ikhlas mendengar kedua-duanya itu dihubung-hubungkan dalam keadaan yang bagaimanapun juga.

Tetapi Prastawa masih dapat menahan hatinya, ia berusaha untuk melenyapkan kesan itu dari wajahnya. Bagaimanapun juga ia masih tetap sadar bahwa ia tidak akan dapat berdiri di antara kedua nama yang sudah bertaut itu.

Demiklanlah, maka Ki Gede tidak dapat menahan lagi agar Agung Sedayu tetap tinggal di Tanah Perdikan Menoreh meskipun hanya untuk dua tiga hari lagi. Karena itulah maka ia pun kemudian hanya dapat mengucapkan terima kasih atas kehadirannya di Tanah Perdikan menoreh dan berada didalam pasukan para pengawal Tanah Perdikan itu saat-saat mereka berada di lembah yang gawat antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Selebihnya Agung sedayu telah memberikan banyak petunjuk bagi para pengawal baik secara pribadi maupun sebagai kelompok dalam gelar perang.

Malam menjelang keberangkatan Agung Sedayu, anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh berkumpul di pendapa rumah Kepala Tanah Perdikannya. Mereka ingin mengucapkan terima kasih kepada Agung Sedayu atas segalanya yang pernah ia berikan bagi Tanah Perdikan itu.

Hampir semalam suntuk Agung Sedayu justru tidak dapat tidur. Sampai menjelang fajar, masih ada anak-anakmuda yang duduk di pendapa. Namun Ki Gedelah yang kemudian mempersilahkan Agung Sedayu untuk beristirahat, meskipun hanya sebentar.

Prastawa yang melihat sambutan anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh kepada Agung Sedayu merasa jantungnya semakin bergejolak. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa, Ki Gede Menoreh seakan-akan memberikan tempat yang amat baik bagi Agung Sedayu di Tanah Perdikan itu, sehingga hampir-hampir melupakannya.

Meskipun Ki Gede sudah nampak memberikan kepercayaan kepadanya terutama saat pasukan Tanah Perdikan Menoreh berada dilemhah antara Gunung Merapi dan Merbabu, namun Ki Gede menjadi sangat berbangga kepada Agung Sedayu.

“Secara kebetulan Agung Sedayu lah yang telah menjumpai orang-orang tua yang tidak memiliki kelebihan apapun juga itu, sehingga karena itulah maka orang-orang Tanah Perdikan Menoreh menganggap bahwa Agung Sedayu adalah anak muda yang perkasa,” geram Prastawa didalam hatinya.

Ketika Matahari kemudian terbit di Timur, maka Agung Sedayu pun telah berkemas. Ia masih sempat tidur meskipun hanya sejenak, sehingga tubuhnya terasa men jadi segar.

“Aku akan singgah barang sejenak di Mataram,” berkata Agung Sedayu kepada Ki Gede ketika ia sudah siap untuk berangkat.

“Salamku buat Senapati Ing Ngalaga, serta Ki Juru Martani dan para pemimpin di Mataram,” berkata Ki Gede M enoreh.

“Baiklah Ki Gede. Aku akan menyampaikannya,” Sejenak kemudian, maka Agung Sedayu sekali lagi minta diri kepada Ki Gede dan para bebahu di Tanah Perdikan Menoreh. Anak-anak mudapun banyak pula yang hadir dihalaman rumah Ki Gede untuk melepas Agung Sedayu meninggalkan Tanah Perdikan itu.

Betapapun geramnya hati Prastawa, namun ia berada juga di antara anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh dan melepas Agung Sedayu sampai keregol halaman.

 “Dua orang pengawal akan mengawaninya sampai ketepi sungai Praga,” berkata Ki Gede.

“Ah. terima kasih Ki Gede, Agaknya hanya akan merepotkan mereka saja. Biarlah aku berjalan sendiri.”

“Bukan untuk mengawal,” berkata Ki Gede, “mereka tidak ada gunanya bagimu. Tetapi sekedar menjadi kawan berbincang di sepanjang jalan sampai ketepi Sungai.”

Agung Sedayu tidak dapat menolak. Karena itu, maka di perjalanannya ia disertai dua orang pengawal yang dapat menjadi kawan bercakap-cakap di sepanjang jalan sampai ketepi Kali Praga.

Sebenarnya terasa berat juga hati Agung Sedayu meninggalkan Tanah Perdikan itu. Ada sesuatu yang rasa-rasanya mengikatnya diatas Tanah Perdikan itu, meskipun sebenarnya ia tidak mempunyai banyak sangkut paut dengan Tanah itu. Ia orang lain bagi Tanah Perdikan Menoreh meskipun ia sudah mengenalnya dengan baik seperti ia mengenal tempat tinggalnya sendiri.

Telah menjadi keputusan Agung Sedayu, bahwa ia akan singgah di Mataram meskipun hanya sejenak. Ia ingin bertemu dengan Raden Sutawijaya dan melihat perkembangan keadaan setelah beberapa hari mereka menyelesaikan tugas mereka di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Dalam pada itu, di sepanjang jalan, para pengawal yang mengantarkan Agung Sedayu masih memanfaatkan pertemuan mereka yang hanya tinggal sejenak itu. Mereka bertanya tentang berbagai hal mengenai bentuk-bentuk gelar di medan dan mengenai jenis-jenis senjata dan penggunaannya.

Agung Sedayu mencoba untuk menjawab semua pertanyaan mereka, meskipun kadang-kadang ia sendiri terpaksa menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Maaf, aku tidak mengerti. Aku belum pernah melihat jenis senjata yang kau tanyakan.”

Perjalanan Agung Sedayu ternyata tidak terlampau panjang ketika kemudian ia mencapai tepi Kali Praga. Dengan hati yang berat maka ia pun kemudian minta diri kepada kedua pengawalnya untuk turun ke getek yang akan membawanya menyeberang.

“Selamat jalan Agung Sedayu. Mudah-mudahan kau tidak lama lagi sudah berada di Tanah Perdikan Menoreh pula,” berkata salah seorang pengawal yang menemuinya.

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “Mudah-mudahan. Aku memang ingin kembali ke Tanah Perdikan Menoreh. Aku ingin membawa adik sepupuku berjalan-jalan menyusur jalan yang agak panjang agar ia dapat mengenal lingkungannya.”

“Benar? Bawalah adikmu ke Tanah Perdikan Menoreh. Ki Gede tentu akan senang sekali menerimanya.”

Agung Sedayu tersenyum. Namun katanya kemudian, “Sudahlah. Selamat tinggal.”

“Kedua pengawal itu pun melepaskan Agung Sedayu menyeberang diatas sebuah rakit bambu. Sejenak keduanya masih berdiri ditepian sambil melambaikan tangan.

Agung Sedayu pun melambaikan tangannya pula. Anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh itu seolah olah sudah menjadi saudara-saudaranya yang dekat.

Namun akhirnya kedua pengawal itu pun meninggalkan tepian. dan berkuda kembali ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Aku tidak dapat mengerti sikap Prastawa,” desis salah seorang dari mereka.

“Mungkin ia meragukan keunggulan Agung Sedayu,” jawab yang lain.

“Jika ia hanya meragukan, itu masih lebih baik daripada jika sebenarnya ia merasa iri atas keberhasilan Agung Sedayu,” desis kawannya.

Yang lain tidak menjawab. Namun nada umumnya memang ada kesan yang kurang baik terhadap anak muda itu. Anak muda yang sebenarnya mempunyai beberapa kelebihan dari kawan-kawannya.

Tetapi sikapnya dan tingkah lakunya telah menumbuhkan kegelisahan di antara anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh.

Bahkan bukan saja anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh, karena akhirnya yang terjadi itu sampai juga ketelinga Ki Gede. Beberapa orang anak muda tidak dapat menahan hatinya, dan disaat Prastawa tidak menghadap Ki Gede, anak-anak muda itu telah menanyakan apakah sebabnya Prastawa bersikap demikian.

Tetapi senerti anak-anak muda itu, Ki Gede Menoreh pun hanya dapat meraba-raba. karena ia pun tidak tahu pasti apa yang terkandung didalam hati anak muda itu.

Namun demikian Ki Gede Menoreh sama sekali tidak ingin bertanya kepada Prastawa. karena ia tidak ingin melihat pertentangan itu meluas di antara anak-anak muda di Tanah Perdikan itu sendiri. Jika Prastawa mengetahui bahwa ada satu dua orang yang menyampaikan persoalannya itu kepada Ki Gede. maka Prastawa tentu akan marah dan dengan curiga akan mencari siapakah yang telah mengatakannya kepada Ki Gede Menoreh.

Tetapi Ki Gede sudah bertekad untuk menjajagi hati anak muda itu dengan hati-hati dan tidak menimbulkan goncangan perasaan padanya.

Sementara itu. Agung Sedayu yang telah menyeberangi Kali Praga telah melanjutkan perjalanannya ke Mataram. Di perjalanan ia sama sekali tidak mengalami gangguan apapun. Agaknya jalan ke Mataram benar-benar merupakan jalan yang tenang.

Demikian pula saat Agung Sedayu mendekati Kota Mataram. Kota yang sedang tumbuh itu nampak tenang dan hidup. Sawah yang luas nampak hijau dan basah, sedangkan di jalan-jalan dan bulak-bulak panjang nampak beberapa buah pedati berjalan perlahan-lahan memuat hasil-hasil sawah yang melimpah pulang kerumah masing-masing.

“Mataram memang suatu negeri yang sedang tumbuh dan akan menjadi besar,” gumam Agung Sedayu. Lalu. “Agaknya wahyu keraton memang mungkin sekali berpindah dari Pajang ke Mataram. Pajang yang semakin suram akan menjadi silam melihat perkembangan Mataram. Apalagi di Pajang sendiri terdapat benih-benih yang akan dapat melumpuhkan kekuasaan Pajang itu sendiri.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam jika ia mengenangkan sikap Raden Sutawijaya yang berkeras tidak mau menghadap ke Pajang. Bahkan kemudian timbul pula suatu pertanyaan, “Apakah Raden Sutawijaya justru telah membuat perhitungan-perhitungan tertentu yang dapat melampaui perjalanan waktu, sehingga Raden Sutawijaya telah berani mengambil sikap terhadap Pajang sejak sekarang?”

Tetapi pengamatan atas perkembangan Pajang memang tidak menggembirakan. Memang beberapa Adipati dipesisir dan di bagian Timur dari daerah Pajang masih tetap merupakan kekuatan yang harus diperhitungkan. Tetapi rasa-rasanya ikatan di antara mereka sudah menjadi semakin kendor. Apalagi Pajang tidak lagi berusaha meneruskan langkah Sultan Trenggana di Demak yang terbunuh di medan saat ia berjuang untuk mempererat ikatan kesatuan Demak di tataran terakhir.

Dan kini. Pajang justru menjadi semakin suram.

Angan-angan Agung Sedayu terputus ketika ia mendekati gerbang kota Mataram. Dilihatnya seorang pengawal berdiri bersandar dinding batu tanpa menghiraukan orang-orang yang melewati pintu gerbang.

Namun hal itu bagi Agung Sedayu merupakan pertanda, bahwa Mataram benar-benar dalam keadaan tenang.

Meskipun demikian, Agung Sedayu berdesis didalam hatinya, “Baru saja pertempuran di lembah itu berakhir. Tidak semua orang dipasukan lawan dapat ditangkap. Bahkan mungkin mereka dapat berhubungan dengan pihak-pihak tertentu untuk melepaskan dendamnya, mengacaukan Mataram meskipun mereka yakin tidak akan dapat berbuat lebih dari pada itu.”

Tetapi Agung Sedayu tidak berbuat sesuatu. Ia lewat melalui pintu gerbang, seperti orang-orang lain lewat.

Namun ternyata Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Nalurinya yang tajam telah menangkap isyarat, bahwa ternyata beberapa orang yang berada di sepanjang jalan, yang seolah-olah sekedar berjalan-jalan tanpa tujuan, adalah petugas-petugas sandi dari Mataram.

Apalagi ketika tiba-tiba saja ia melihat seseorang yang duduk dibawah sebatang pohon sambil terkantuk-kantuk. Di tangannya tergenggam sebatang tongkat yang panjang.

Agung Sedayu tidak dapat dikelabui oleh pakaian yang sederhana dan sikap yang malas. Karena itu, maka ia pun kemudian menghentikan kudanya, dan menuntun mendekati orang itu. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, maka Agung Sedayu langsung duduk di sebelah orang itu sambil memegangi kendali kudanya.

Orang itu memandang Agung Sedayu dengan heran. Bahkan kemudian ia bergeser sambil bertanya, “Siapa kau anak muda?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil menjawab, “Namaku Ki Banaran.”

Orang yang berpakaian sederhana dan bermalas-malas di pinggir jalan itu menatap Agung Sedayu dengan tajamnya. Namun kemudian desisnya, “Pandangmu tajam sekali anak muda. Aku kira kau tidak mengenal aku lagi.”

Agung Sedayu tertawa. Katanya, “Meskipun kau memakai samaran apapun juga, aku tidak akan dapat kau kelabui. Hidungmu mempunyai ciri tersendiri. Tatapan matamu seperti tatapan mata burung hantu. Sedangkan gelang sulur waringin tunggal dikakimu semakin meyakinkan aku, bahwa aku berhadapan dengan Ki Banaran.”

Orang yang disebut Ki Banaran itu akhirnya tersenyum. Katanya, “Luar biasa. Hanya anak muda yang luar biasa sajalah yang dapat mengenalku. Baiklah. Aku tidak dapat ingkar lagi.”

“He. apakah masih ada niatmu untuk ingkar?” bertanya Agung Sedayu.

“Jangan terlalu keras. Bukankah kau tahu, bahwa aku sedang bertugas?”

“Ya. Tetapi apakah yang sedang kau cari disini?”

Ki Banaran mengerutkan keningnya. Namun katanya kemudian, “Kau akan menghadap Senapati Ing Ngalaga?”

“Ya. Aku baru datang dari Tanah Perdikan Menoreh.”

“Sejak pertempuran di lembah?,” bertanya Ki Banaran.

“Ya. Bukankah baru beberapa hari?”

Ki Banaran mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk.

“Apa kerjamu disini?” bertanya Agung Sedayu kemudian.

Ki Banaran menjadi ragu-ragu. Sejenak ia memandang Agung Sedayu, seakan-akan ia sedang meyakinkan apakah ia dibenarkan untuk mengatakan sesuatu kepada anak muda itu.

“Kau curiga kepadaku? Atau barangkali kau benar-benar tidak yakin bahwa aku Agung Sedayu?”

Ki Banaran menarik nafas panjang. Katanya kemudian, “Aku mengerti. Tetapi rasa-rasanya ragu-ragu juga untuk mengatakan.”

Agung Sedayu tersenyum, dan Ki Banaran berkata, “Sebenarnya tugasku sekarang sudah tidak berarti. Tetapi sekedar sikap hati-hati. Apa petugas sandi dari Pajang yang berada di Mataram. Tetapi petugas itu sudah kembali ke Pajang. Meskipun demikian, mungkin ada petugas-petugas lain yang datang kemudian diluar pengetahuan kita.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Itulah sebabnya ada beberapa petugas sandi yang tersebar.”

“Tidak di seluruh kota. Hanya di pintu-pintu gerbang. Disini ada tiga orang petugas sandi untuk mengawasi orang-orang yang keluar masuk pintu gerbang. Mungkin ada yang mencurigakan seperti kau.”

Agung Sedayu tersenyum pula. Katanya, “Ada tiga orang di setiap pintu gerbang. Agaknya sudah cukup. Tetapi apakah kau pernah melihat orang-orang yang pantas dianggap sebagai petugas sandi dari Pajang atau dari manapun juga?”

“Pernah. Kau.”

Agung Sedayu tertawa. Katanya, “Kau tidak pantas menjadi petugas sandi. Tetapi baiklah aku melanjutkan perjalanan. Apakah ada keterangan lain?”

“Bertanyalah kepada Senapati Ing Ngalaga. Pajang menganggap kita sudah bersiap untuk bertempur dan memberontak. Itulah sebabnya maka mereka mengirimkan petugas sandinya kemari untuk melihat persiapan itu.”

Wajah Agung Sedayu menjadi tegang. Dengan sungguh-sungguh ia bertanya, “Dan petugas sandi itu melihat pasukan yang datang dari lembah? Pasukan Mataram dan Sangkal Putung?”

Ki Banaran menggeleng. Katanya, “Pergilah menghadap Senapati. Kau akan mendapat banyak keterangan. Tetapi tidak disini. Batang-batang kayu itu mungkin bertelinga.”

“Sementara kau sendiri tidak,” desis Agung Sedayu.

Ki Banaran mengerutkan keningnya. Namun sambil tersenyum ia pun kemudian berkata, “Sudahlah. Pergilah. Jika kau ingin singgah di warung-warung, mungkin masih ada satu dua yang dapat melayanimu.”

Agung Sedayu kemudian bangkit berdiri sambil berkata, “Selamat tinggal. Duduklah disitu sampai matahari terbenam. Itu adalah tugasmu.”

Ki Banaran mengerutkan keningnya. Namun Agung Sedayu tersenyum. Ia senang melihat Agung Sedayu. Anak muda yang ramah namun memiliki kemampuan yang luar biasa, meskipun pada saat-saat tertentu anak muda itu dapat kehilangan kemampuan untuk mengambil sikap yang menentukan.

Ki Banaran melambaikan tangannya ketika Agung Sedayu meloncat kepunggung kudanya dan berderap meninggalkannya.

Sepeninggal Agung Sedayu, Ki Banaran kembali duduk pada sikapnya. Malas dan seolah-olah tidak acuh terhadap orang-orang yang lewat. Ternyata selain Agung Sedayu, tidak seorang pun yang dapat mengenalnya karena penyamarannya, karena orang-orang Mataram tidak mengira, bahwa Ki Banaran seorang dari para pemimpin pasukan pengawal Mataram berpakaian sangat sederhana dan duduk bermalas-malas di pinggir jalan, seperti tingkah laku orang-orang malas yang menghabiskan waktunya tanpa arti.

Sementara itu Agung Sedayu telah memacu kudanya meskipun tidak terlalu cenat, karena ia sudah berada didalam kota. Ia ingin segera menghadap Raden Sutawijaya untuk mendengarkan keterangannya tentang petugas-petugas sandi dari Pajang dan sikap Pajang terhadap Mataram pada saat saat-saat terakhir.

Kedatangan Agung Sedayu di rumah Raden Sutawijaya ternyata telah mendapat sambutan yang baik sekali. Raden Sutawijaya menjadi sangat gembira karena kedatangannya. Bahkan orang-orang tua di Mataram pun telah memerlukan menerima kedatangannya. Ki Juru Martani, Ki Lurah Branjangan, Ki Lurah Dipayana dan beberapa orang pemimpin lainnya telah berkumpul untuk menyambut kedatangan Agung Sedayu.

Sejenak mereka saling menanyakan keselamatan masing-masing seperti yang selalu dilakukan oleh mereka yang bertemu kembali setelah terpisah beberapa saat.

Setelah Agung Sedayu disuguhi sekedar minum dan beberapa potong makanan, maka mulailah mereka berbicara tentang berbagai macam persoalan yang merambat kepada persoalan yang dihadapi disaat terakhir oleh Mataram.

“Aku bertemu dengan Ki Banaran,” berkata Agung Sedayu.

Ki Juru Martani mengerutkan keningnya. Dengan nada dalam ia bertanya, “Dimana angger menjumpainya?”

“Dipintu gerbang.” jawab Agung Sedayu.

“Apakah yang dilakukannya?,” bertanya Ki Juru kemudian.

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya dengan tersenyum, “Ia sedang bertugas.”

Ki Lurah Branjangan memotong, “Dan kau dengan mudah dapat mengenalnya sebagai Ki Banaran, atau Ki Banaran yang telah menegurmu?”

Agung Sedayu termangu-mangu. Tetapi ia sudah terlanjut berbicara tentang Ki Banaran. Baru kemudian ia sadar, bahwa seharusnya tidak semudah itu untuk dapat mengenalnya, akan dengan mudah dapat mengetahui, bahwa Mataram mengadakan pengawasan yang ketat.

Tetapi sebelum Agung Sedayu menjawab Ki Juru Martani telah mendahului, “Jangan heran jika angger Agung Sedayu mampu mengenalnya. Ia mempunyai ketajaman pengenalan lebih dari orang kebanyakan.”

“Ah,” desah Agung Sedayu, “bukan karena itu Ki Juru. Tetapi ada ciri yang aku kenal baik. karena sebelumnya aku pernah mempercakapkan dengan Ki Banaran sendiri.”

“Apa?,” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Gelang sulur wringin tunggul dikakinya. Bukankah jarang orang yang bergelang dikakinya bagi seorang laki-laki?” jawab Agung Sedayu.

Orang-orang yang mendengarnya mengangguk-angguk. Jawaban Agung Sedayu memang masuk akal. Tetapi bahwa seseorang langsung dapat melihat gelang dikaki orang lain adalah sesuatu yang sangat kebetulan.

Meskipun demikian, orang-orang yang berkumpul menemui Agung Sedayu itu tidak bertanya lebih jauh.

Yang kemudian mereka bicarakan adalah sikap Pajang yang penuh curiga, meskipun pada umumnya para pemimpin di Mataram menyadari, bahwa ada orang-orang tertentu yang telah menghasut dan memanaskan keadaan.

Agaknya pembicaraan mereka jadi berkepanjangan. Agung Sedayu memang berminat untuk bermalam di Mataram, agar ia dapat mendengar banyak keterangan yang barangkali sangat diperlukan.

Dari Raden Sutawijaya sendiri, Agung Sedayu mendengar usaha para petugas sandi dari Pajang yang telah datang ke Mataram tepat pada saat pasukan Mataram dan Sangkal Putung datang dari medan perang.

Agung Sedayu mendengarkan keterangan Raden Sutawijaya itu dengan saksama. Ketajaman nalarnya segera dapat menangkap peristiwa yang terjadi sebagai latar belakang dari usaha para petugas sandi untuk melihat Mataram dalam kesiagaan perang.

Untunglah bahwa kesalah pahaman yang semakin jauh masih dapat dihindari. Pasukan Mataram dan Sangkal Putung masih dapat disamarkan sehingga petugas sandi dari Pajang tidak sempat melihat mereka. Dan beruntunglah bahwa di Pajang masih ada seorang tua yang bernama Kiai Kendil Wesi.

Tetapi lebih dari itu, maka kesempatan yang memang telah diberikan oleh Sultan sendiri kepada Mataram, merupakan sikap yang sangat menguntungkan. Bukan saja bagi Mataram, tetapi juga bagi Pajang sendiri. Bagi pihak yang tidak ingin melihat benturan antara Pajang dan Mataram terjadi.

“Selanjutnya kita masih harus berhati-hati,” berkata Raden Sutawijaya, “kami di Mataram selalu berusaha memelihara hubungan dengan Kiai Kendil Wesi. Tetapi Kiai Kendil Wesi sudah terlalu tua.”

“Apakah tidak ada orang lain yang dapat dipercaya?,” bertanya Acung Sedayu.

“Kita masih sedang menjajagi keadaan. Tetapi bahwa orang tua itu sangat dekat dengan ayahanda Sultan, adalah suatu kesempatan yang jarang didapat oleh orang lain. Apalagi dengan sadar ayahanda Sultan telah mempergunakan orang itu untuk memberikan keterangan yang kami perlukan di Mataram.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat keadaan yang aneh dalam hubungan antara Pajang dan Mataram Sultan Hadiwijaya sendiri seolah-olah telah berpihak kepada Mataram yang sedang berkembang itu.

Namun dengan demikian, nampak jelas, bahwa kekuasaan Sultan Hadiwijaya di Pajang benar-benar telah dibatasi oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. sehingga wibawanya pun telah jauh berkurang. Ia tidak dapat menentukan sikap seperti yang diinginkannya. Bahkan ia harus melakukan hubungan yang dirahasiakan dengan Mataram.

Tetapi tidak kalah anehnya adalah sikap Raden Sutawijaya sendiri. Ayahanda angkatnya ternyata sangat memperhatikannya. Ia lebih percaya kepada anak angkatnya yang telah memisahkan diri daripadanya itu daripada kepada setiap orang disekitamya.

“Sultan Hadiwijaya telah hidup dalam keterasingan yang mewah di istana Pajang,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Ki Juru Martani melihat gejolak didalam hati Agung Sedayu. Tetapi ia tidak mengerti, apa yang sedang dipikirkan oleh anak muda itu. Namun Ki Juru tidak menanyakannya, karena Agung Sedayu tentu tidak akan mengatakannya.

Sementara itu. pembicaraan di antara mereka masih berlangsung beberapa lama Namun kemudian. Ki Juru Martani mempersilahkan Agung Sedayu untuk beristirahat.

Agung Sedayu yang memang berniat bermalam di Mataram itu pun kemudian dipersilahkan kedalam bilik yang telah disediakan kepadanya. Setelah membersihkan diri dan menunaikan kewajibannya, maka ia pun beristirahat sejenak didalam biliknya sambil berangan-angan.

Setiap kali perasaannya selalu diganggu oleh hubungan yang aneh antara Pajang dan Mataram. Seharusnya Raden Sutawijaya dapat mengambil sikap lain sehingga kekalutan yang diam-diam di Pajang tidak berkepanjangan.

Namun agaknya Raden Sutawijaya memang sudah tidak berminat lagi untuk mempertahankan kehadiran Pajang, sehingga ia telah mengambil suatu sikap yang telah diyakini kebenarannya.

Bahkan Agung Sedayu kemudian sampai pada suatu kesimpulan, bahwa Raden Sutawijaya telah tidak dapat lagi mempercayai siapapun di dalam lingkungan istana Pajang, sehingga ia lebih baik mulai dari yang baru sama sekali, meskipun ada juga terbersit keinginannya untuk berdiri pada namanya sendiri. Bahkan Raden Sutawijaya lah yang telah mendirikan Mataram.

Dalam kekalutan itu, terbayang didalam angan-angannya, kakaknya Untara. Seorang Senapati yang berpegang teguh pada dasar-dasar keprajuritannya. Namun karena ia berada diluar istana Pajang, maka ia agaknya tidak banyak mengikuti persoalan-persoalan yang berkembang didalam istana. Bahkan mungkin beberapa orang perwira yang lebih tua, baik umurnya maupun kedudukannya, dengan sengaja memisahkan Untara dari peristiwa-peristiwa yang sebenarnya bergejolak didalam istana Pajang.

Sesaat terbersit didalam hati Agung Sedayu pertanyaan, apakah tidak ada baiknya jika Untara dapat langsung berhubungan dengan Sultan Hadiwijaya. Mungkin Untara mempunyai kemampuan untuk bertindak sesuatu. Sudah barang tentu ia memerlukan beberapa orang kawan.

Namun Agung Sedayu tidak dapat membayangkan, apakah jadinya jika hal itu dapat diketahui oleh pihak-pihak yang berbeda pendapat. Maka dengan demikian, pertengkaran didalam istana itu akan semakin cepat meledak. Masing-masing pihak dengan pengikutnya akan segera terlibat dalam pertempuran yang akan dapat menghancurkan Pajang sama sekali, sebelum seseorang bangkit untuk mengambil alih kedudukan Sultan Hadiwijaya.

“Ya. Orang itu memang harus ada,” tiba-tiba saja terbersit didalam hati AgungSedayu.

Dan Agung Sedayu tidak melihat orang lain kecuali Raden Sutawijaya meskipun Sultan Hadiwijaya sendiri mempunyai seorang putera. Tetapi Pangeran Benawa seperti yang pernah dianggap oleh Agung Sedayu. sama sekali tak tertarik pada tata pemerintahan meskipun sebagai seorang anak muda ia memiliki ilmu yang tidak kalah dari Sutawijaya.

Selagi Agung Sedayu merenungi angan-angannya, ia terperanjat ketika seseorang berdiri dimuka pintu. Ketika ia mengangkat wajahnya, maka dilihatnya Ki Juru Martani memandanginya sambil tersenyum.

“Apakah yang sedang kau renungkan ngger?,” bertanya Ki Juru.

Agung Sedayu pun mencoba untuk tersenyum.

“Apakah kau tidak ingin berjalan-jalan di halaman?,” bertanya Ki Juru Martani.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk sambil berdiri “Baiklah Ki Juru. Aku memang ingin menghirup udara sejuk diluar.”

Keduanya pun kemudian meninggalkan bilik itu. Beberapa orang telah menyalakan lampu minyak di ruang-ruang dalam dan kemudian lampu-lampu minyak didalam bilik-bilik.

Ketika Agung Sedayu dan Ki Juru Martani melintas dihalaman dan berdiri diregol, beberapa orang pengawal mengangguk hormat.

“Kami akan berjalan-jalan,” desis Ki Juru, “angger Agung Sedayu ingin melihat kota ini menjelang malam.”

Pemimpin pengawal diregol itu mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia bertanya sesuatu, Ki Juru sudah mendahuluinya, “Kami akan berjalan-jalan berdua saja. Kami tidak usah mendapat pengawalan, karena kami tidak akan berjalan jauh. Apalagi angger Agung Sedayu telah menempuh perjalanan dari Tanah Perdikan Menoreh juga tanpa pengawalan.”

Pemimpin pengawal diregol itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian tersenyum. Sambil mengangguk hormat ia berkata, “Silahkan Ki Juru.”

Ki Jurupun tersenyum pula. Sambil menggamit Agung Sedayu ia berkata, “Marilah. Kita berjalan-jalan.”

Agung Sedayu pun kemudian mengikuti Ki Juru melangkah di jalur jalan induk Kota Mataram.

Dari pintu pintu rumah yang masih terbuka, cahaya lampu meloncat keluar menerangi daun-daun pepohonan. Di beberapa buah regol. lampu-lampu obor menerangi jalan dengan sinarnya yang samar.

Ki Juru Martani. dan Agung Sedayu berjalan perlahan-lahan. Di.saat matahari baru saja terbenam, masih nampak beberapa orang berjalan tergesa-gesa. Tetapi ada juga yang berjalan-jalan lambat membimbing anaknya untuk mengunjungi sanak kadang atau tetangga.

Dalam samarnya ujung malam, orang-orang yang lewat dan berpapasan berseberangan jalan tidak segera dapat mengenal yang satu dengan yang lain, kecuali mereka yang hampir setiap saat bergaul. Itulah sebabnya, maka tidak seorang pun yang mengenal, bahwa dua orang yang berjalan-jalan perlahan-lahan di sepanjang jalan kota itu adalah Ki Juru Martani dan Agung Sedayu.

Meskipun Kota Mataram sudah menjadi semakin ramai, tetapi dimalam hari. jalan-jalan menjadi lengang. Tidak banyak orang yang berkepentingan dan turun kejalan dalam gelap.

“Jalan-jalan di Mataram masih sunyi di malam hari,” berkata Ki Juru Martani, “tidak ada kesibukan apapun juga dimalam hari. Mungkin ada juga satu dua banjar yang ramai oleh anak-anak muda. Tetapi tidak terlalu banyak. Meskipun demikian, sebentar lagi. sebelum tengah malam, gardu-gardu akan menjadi penuh.”

“Penuh dengan pengawal?,” bertanya Agung Sedayu.

“Bukan. Tetapi anak-anak muda mulai turun. Ada di antara mereka yang memang selalu tidur di gardu-gardu sekaligus ikut serta mengamati keamanan.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ada juga keinginannya untuk melihat banjar-banjar padukuhan yang ramai, karena kebetulan ada kegiatan tertentu di padukuhan itu.

Ketika lamat-lamat terdengar bunyi gamelan, maka Ki Jurupun berkata, “Suara itu tentu berasal dari salah satu banjar. Mungkin anak-anak muda sedang berlatih menari untuk kepentingan tertentu bagi padukuhan itu.”

“Menarik sekali,” desis Agung Sedayu.

“Kau akan menyaksikan?,” bertanya Ki Juru.

“Jika Ki Juru tidak berkeberatan?,” jawab Agung Sedayu.

Keduanyanun kemudian berjalan menuju kearah bunyi gamelan yang semakin lama terdengar menjadi semakin nyaring.

Meskipun kaki Agung Sedayu melangkah terus, namun ia sudah merasa, bahwa Ki Juru Martani tentu bukannya tanpa maksud dengan membawanya berjalan-jalan. Namun Agung Sedayu tidak ingin menanyakannya. Biarlah pada saatnya Ki Jurulah yang akan mulai dengan sebuah pembicaraan yang tentu dianggapnya penting.

Perasaan Agung Sedayu tersentuh ketika ia melihat langit yang semakin cerah. Ternyata bahwa bulan mulai tersembul dari cakrawala dengan cahayanya yang kuning.

Padukuhan-padukuhan yang semula terasa lengang itu pun mulai berubah. Beberapa orang anak-anak mulai menyembulkan kepalanya di sela-sela pintu rumahnya. Kemudian satu-satu mereka turun kehalaman.

Dengan isyarat-isyarat yang khusus dibuat oleh anak-anak kecil, maka mulailah mereka berlari-lari menuju ke halaman-halaman yang luas, setelah mereka mendapat ijin dari orang tua mereka.

Terang bulan adalah saat-saat yang sangat menyenangkan. Anak-anak itu dapat bermain sembunyi-sembunyian atau berkejar-kejaran sepuas-puasnya. Saat-saat mereka bermain, maka anak-anak kecil itu seolah-olah tidak mengenal perasaan takut meskipun kadang-kadang mereka harus bersembunyi dibawah pohon-pohon yang biasanya dianggan pohon-pohon yang keramat, atau di semak-semak yang mungkin dihuni oleh berjenis-jenis ular.

Jika anak-anak laki-laki bermain kejar-kejaran. maka anak-anak perempuan mempunyai jenis permainannya sendiri. Mereka bermain dakon atau gateng degan kerikil. Tetapi ada pula di antara mereka yang bermain jirak kemiri.

Mataram yang lengang itu tiba-tiba menjadi ramai oleh suara anak-anak yang sedang bermain-main. Yang bermain nini towong, kadang-kadang berteriak sambil berlari-lari menghindari kejaran nini towong yang dianggapnya telah kerasukan.

Agung Sedayu tiba-tiba saja menjadi semakin dalam dicengkam oleh kerinduannya kepada adik sepupunya. Glagah Putih tentu tertarik juga oleh sinar bulan yang kekuning-kuningan. Tetapi sudah barang tentu ia tidak dapat bermain seriang anak-anak di padukuhan. karena dipadepokan itu tidak terdapat anak-anak muda yang dapat diajaknya bermain. Karena yang ada dipadepokan hanyalah anak-anak muda yang lebih terikat kepada air di parit yang mengaliri sawah daripada bermain dibawah cahaya bulan yang cerah.

Oleh angan-angannya, maka seolah-olah Agung Sedayu tidak ingat lagi bahwa ia berjalan bersama Ki Juru Martani sehingga Ki Juru itu pun kemudian bertanya, “Apa yang kau pikirkan Agung Sedayu?”

Agung Sedayu tergagap. Diluar sadarnya ia berkata, “Alangkah riangnya anak-anak itu bermain Ki Juru.”

Ki Juru tersenyum. Katanya, “Aku sudah menduga. Mungkin kau sedang memikirkan masa kecilmu.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia tersenyum.

“Kita sudah semakin dekat dengan suara gamelan itu. Agaknya banjar itu salah satu dari banjar di pinggir kota. sehingga kita memang harus berjalan agak panjang,” berkata Ki Juru.

“Ya. Ki Juru.,” jawab Agung Sedayu pendek.

Ki Juru menarik nafas panjang. Namun kemudian katanya, “Sambil berjalan, mungkin ada baiknya kita berbicara serba sedikit tentang perkembangan Mataram, Agung Sedayu.”

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Ia sudah menyangka bahwa pada suatu saat. Ki Juru akan mengemukakan hal yang dapat dianggapnya penting.

Karena itu. maka Agung Sedayu pun berkata, “Apakah ada yang ingin Ki Juru pesankan kepadaku, atau kepada orang lain lewat aku?”

Ki Juru mengangguk-angguk sambil menjawab, “Tidak terlalu penting Agung Sedayu. Aku kira daripada masalahnya tidak aku sampaikan maka ada baiknya jika kau mendengarnya. Hanya sekedar mendengar suatu keinginan saja.”

Agung Sedayu memandang Ki Juru sejenak. Namun kemudian ia pun melontarkan pandangan matanya ke kuningnya sinar bulan didedaunan.

Untuk beberapa saat keduanya justru saling berdiam diri. Mereka melangkah dengan langkah-langkah lamban di sepanjang jalan. Di simpang-simpang jalan mereka melihat satu dua orangyang berjalan memasuki jalan itu pula, kemudian melangkah seiring dihadapan mereka.

“Mereka akan melihat kesibukan dibanjar itu pula,” berkata Ki Juru.

Agung Sedayu tergagap. Sambil mengangguk kecil ia menyahut, “Banyak juga perhatian orang terhadap latihan-latihan seperti yang diselenggarakan itu.”

“Cukup banyak,” berkata Ki Juru, “aku sendiri sering melihat kesibukan-kesibukan dibanjar dengan diam-diam. Bahkan angger Sutawijaya pun sering melakukannya tanpa diketahui orang lain.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“Kita sudah tidak jauh lagi,” berkata Ki Juru, “namun aku masih ingin menyampaikan pesan itu. Barangkali dapat kau pertimbangkan.”

Langkah Agung Sedayu tiba-tiba saja menjadi semakin lambat. Ia mencoba memperhatikan dengan saksama ketika Ki Juru kemudian berkata, “Angger Agung Sedayu. Seperti yang angger ketahui. Pajang justru tidak menghendaki hubungan baik antara Sultan Hadiwijaya dengan putera angkatnya Raden Sutawijaya.”

Dada Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Meskipun ia sudah menduga bahwa persoalannya tentu akan merembet sampai persoalan itu pula.

“Sebenarnya, Raden Sutawijaya sendiri juga bersalah dalam hal ini. Tetapi aku sudah tidak dapat lagi memaksanya untuk memasuki kembali istana Pajang, ia termasuk anak muda yang keras kepala.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“Karena itu Agung Sedayu,” berkata Ki Juru lebih lanjut, “kita harus menghadapi perkembangan keadaan dengan keadaan dan kedudukan kita sekarang ini.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dan Ki Juru meneruskan, “Kita harus menyesuaikan diri dengan sikap beberapa orang perwira di Pajang, yang seperti sudah kita lihat sendiri, bahwa mereka telah menggerakkan pasukan yang kuat untuk menghancurkan Pajang dan sudah barang tentu Mataram. Berkumpulnya kekuatan di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu tentu bukannya persoalan yang berdiri sendiri. Dan apakah kau kira bahwa dengan hancurnya pasukan dilemhah itu. kekuatan mereka benar-benar sudah punah?”

Agung Sedayu berpaling. Ia merasakan pertanyaan itu bukannya sekedar pertanyaan. Dan sebenarnyalah Ki Juru meneruskan, “Bahwa masih adanya seseorang di antara para pemimpin mereka yang hidup, berarti bahwa kekuatan mereka akan segera tersusun kembali.”

Terasa jantung Agung Sedayu berdentang semakin cepat. Ia sadar, bahwa memang ada salah seorang dari para pemimpin mereka yang tetap hidup. Dan itu adalah karena sikapnya yang ragu-ragu. Ia tidak bersikap sebagai seorang prajurit dipeperangan. Seandainya ia tidak membunuh, maka orang itu harus dapat ditangkapnya hidup-hidup.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat ingkar bahwa hal itu memang sudah terjadi. Dan orang yang terluka parah di peperangan itu berhasil diselamatkan oleh anak buahnya. Berbeda dengan Kiai Kelasa Sawit yang ternyata kemudian terbunuh oleh Swandaru.

Dalam cengkaman debar jantungnya. Agung Sedayu mendengar Ki Juru melanjutkan, “Tetapi jangan kau sesali dirimu. Kau sudah berbuat terlalu banyak. Justru lebih banyak dari yang dilakukan oleh Danang Sutawijaya sendiri.”

“Ah,” Agung Sedayu berdesah, “Ki Juru terlalu memuji.”

“Tidak Agung Sedayu. Aku berkata sebenarnya. Kau dapat mempertimbangkan sendiri, apa yang telah kau lakukan, dan apa yang dilakukan oleh Raden Sutawijaya.”

“Seperti yang sedang terjadi Ki Juru. Bukan saja di peperangan. Tetapi juga didalam banyak hal, maka kesempatan merupakan sesuatu yang kadang-kadang ikut menentukan. Dan kesempatan itu datang dengan tidak dapat diperhitungkan lebih dahulu.”

Ki Juru tertawa. Katanya, “Kau tidak sedang menghadapi hitungan-hitungan di perjudian. Kesempatan memang menentukan. Tetapi di peperangan keadaannya agak berbeda meskipun yang kau maksud dengan kesempatan itu memang kadang-kadang terjadi. Namun seandainya kau tidak memiliki ilmu yang matang, apakah kau dapat mempergunakan yang kau sebut kesempatan itu sebaik-baiknya?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi baiklah. Kita bicara soal lain. Bukan soal apa yang telah terjadi dipeperangan. Meskipun masih juga akan selalu menyangkut hal itu,” Ki Juru berhenti sejenak, lalu. “Agung Sedayu. Aku berkata sebenarnya, bahwa kemampuanmu didalam olah kanuragan sekarang tentu sudah tidak kalah dibandingkan dengan Untara.”

Dada Agung Sedayu tiba-tiba saja bergetar. Tetapi ia tidak segera menjawab.

“Bukan maksudku untuk membuat perbandingan yang menyimpan arti yang kurang baik. Tetapi aku ingin mengatakan kepadamu, bahwa jika kau mau memenuhi nasehat kakakmu, maka kau akan dapat menjadi seorang prajurit yang mumpuni.”

Wajah Agung Sedayu menegang sejenak. Tetapi ia masih tetap berdiam diri.

“Maksudku Agung Sedayu, jika kau dapat memantapkan suatu sikap yang barangkali dapat kau mengerti, kau akan dapat ikut menentukan hubungan antara Pajang dan Mataram untuk selanjutnya.”

“Apakah yang dapat aku lakukan Ki Juru?,” bertanya Agung Sedayu.

“Aku juga tidak tahu, apakah usaha ini akan dapat berhasil. Tetapi menurut perhitunganku, dengan kemampuanmu yang sukar ada bandingnya itu kau akan dapat dengan cepat meningkat ke jenjang yang tinggi di dalam tata keprajuritan Pajang dibawah pengaruh nama Untara.”

Agung Sedayu menarik nafas. Sejenak ia merenung. Namun kemudian katanya, “Jalan yang jauh sekali Ki Juru. Tetapi yang harus Ki Juru ketahui, namaku sudah dikenal di Pajang.”

Jawaban Agung Sedayu itu membuat Ki Juru menjadi termangu-mangu. Bahkan sejenak ia berdiam diri. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah begitu? Bukankah kau tidak pernah berada di Pajang?”

Agung Sedayu termangu-mangu pula. Namun kemudian katanya, “Beberapa orang perwira kawan kakang Untara telah mengenal aku. Jika ada satu saja di antara mereka berpihak kepada orang-orang yang mengaku dirinya pewaris kerajaan Maiapahit, maka mereka akan segera berhati-hati terhadap diriku, seperti mereka berhati-hati terhadap kakang Untara. Apalagi jika salah seorang dari mereka yang berada di lembah itu berhasil menyusup kembali kedalam lingkungan keprajuritan di Pajang. Maka kedudukanku akan segera mereka ketahui, karena yang seorang itu tentu akan segera menyebarkan ceritera tentang diriku.”

Ki Juru menarik nafas panjang sekali. Katanya, “Memang kita dapat melihat setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Tetapi jika kau dapat menempatkan dirimu, maka kau akan dapat mereka anggap seperti juga Untara, seorang prajurit yang berdiri diatas kedudukan dan kewajibannya.”

“Jika demikian, lalu apakah yang dapat aku lakukan?” bertanya Agung Sedayu.

Ki Juru tidak segera menjawab. Ia sadar, bahwa yang dikatakan oleh Agung Sedayu itu memang dapat terjadi. Kedudukan Agung Sedayu akan segera di potong oleh orang-orang yang mencurigainya dan bahkan berusaha menyingkirkannya. karena ada di antara para perwira yang pernah melihatnya berpihak kepada Mataram.

Tetapi jika ia dapat menembus segala kecurigaan itu dengan pengaruh nama Untara. Mungkin ia akan mendapatkan tempat yang dapat dipakainya sebagai alas untuk isut serta menentukan sikap prajurit-prajurit Pajang yang memang sudah terpecah itu.

“Agung Sedayu,” berkata Ki Juru kemudian, “mungkin akan ada perebutan pengaruh antara beberapa pihak yang berada di lingkungan keprajuritan di Pajang. Tetapi jika kau dapat menunjukkan sesuatu yang melampaui tataran para perwira, maka kau tentu akan mendapat tempat yang baik. Dan kau bukan seorang yang bodoh dan tidak dapat mempergunakan akal dan nalarmu untuk ikut serta menentukan sikap di antara para prajurit itu. Dengan melihat kenyataan, kau tentu akan mempunyai sikap yang lain dari kakakmu Untara yang benar-benar berdiri diatas satu sikap.”

Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Ia dapat mengerti, bahwa dengan demikian, ia telah turun kedalam satu usaha yang gawat, tetapi mungkin akan banyak gunanya. Jika ia berhasil, maka ia akan dapat menjadi salah seorang perwira yang mempunyai sikap tertentu terhadap Mataram. Dan ia pun sadar, bahwa jika demikian, ia tidak akan dapat berbuat lain. kecuali berpihak pada salah satu sisi di antara pihak-pihak yang berseberangan.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Seandainya ia dapat mencapai satu kedudukan di Pajang yang dapat dijadikannya pancatan untuk melakukan pesan Ki Juru, tetapi tidak sesuai dengan jalan pikiran kakaknya Untara, maka persoalannya tentu akan menjadi semakin berat baginya.

Dan Agung Sedayu yang sadar akan dirinya itu tahu benar, bahwa ia akan menjadi semakin bimbang dan tidak tahu apakah yang akan dilakukannya.

Ki Jurupun melihat, bahwa kebimbangan itu sudah mulai sejak saat itu. Karena itu. maka Ki Jurupun kemudian berkata, “Agung Sedayu. Persoalannya bukan persoalan yang harus diputuskan dengan tergesa-gesa. Karena itu pikirkanlah sebaik-baiknya. Akupun tahu seperti kau juga menyadari, bahwa kau memerlukan waktu yang cukup untuk mengambil sesuatu keputusan. Karena itu. baiklah. Aku sudah menyampaikan pesan itu, yang sudah disepakati sepenuhnya oleh Raden Sutawijaya. Keputusanmu dapat saja kau ambil satu atau dua pekan kemudian. Karena jalan yang kau tempuh pun akan merupakan jalan yang panjang. Sementara itu. permulaan yang betapapun lambatnya akan lebih baik daripada tidak dimulai sama sekali.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dengan kepala tunduk ia berkata, “Baiklah Ki Juru. Aku akan memikirkanmya. meskipun hal itu akan merupakan persoalan yang sangat berat bagiku.”

“Sudah barang tentu kau harus berbicara dengan gurumu. Kemudian kau sampaikan niatmu itu kepada kakakmu jika Kiai Gringsing menyetujui. Untuk sementara kau masih harus menyembunyikan latar belakang sikapmu itu kepada kakakmu Untara, karena kita tahu sikap dan pendirian Untara sebagai seorang prajurit.”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “Aku akan mencoba memikirkannya dengan sunguh-sungguh Ki Juru. meskipun sebenarnyalah bahwa aku sama sekali tidak dapat membayangkan, keputusan apakah yang dapat saya ambil kemudian.”

“Baiklah. Nah, marilah kita sekarang mengisarkan perhatian kita. Padukuhan yang nampak samar-samar itulah yang sedang mempersiapkan sebuah pertunjukkan. Suara gamelan itu sudah dekat sekali,” berkata Ki Juru Martani.

Agung Sedayu tidak menjawab. Dipandanginya padukuhan dalam samarnya sinar bulan. Dan suara gamelan itu terdengar dekat sekali dihadapan mereka. Sementara itu beberapa orang nampak berjalan dengan tergesa-gesa, karena mereka merasa sudah jauh terlambat untuk melihat latihan pertunjukan di banjar padukuhan dihadapan mereka.

Ki Juru dan Agung Sedayu tidak berbicara lagi tentang kemungkinan yang membingungkan itu. Mereka mulai berbicara tentang latihan pertunjukkan yang dapat mereka lihat dibanjar padukuhan itu.

Tetapi ketika mereka mendekati banjar, Ki Juru berkata, “Kita mencari tempat yang terlindung saja.”

Agung Sedayu mengerti, bahwa tentu Ki Juru tidak ingin diketahui oleh orang-orang padukuhan itu. karena dengan demikian kehadirannya akan sangat menarik perhatian, sehingga bahkan akan melampaui perhatian para penonton terhadap latihan yang sedang diadakan itu.

Beberapa saat lamanya kedua orang itu berdiri dibawah bayangan dedaunan sehingga mereka terlindung dari cahaya bulan. Dari dalam kegelapan mereka dapat menyaksikan latihan yang berlangsung di pendapa banjar. Bahkan dari kegelapan mereka dapat melihat beberapa orang yang dengan asyik menyaksikan latihan itu pula.

Sejenak keduanya saling berdiam diri. seakan-akan mereka benar-benar tertarik kepada latihan yang sedang berlangsung. Latihan adegan perang dari ceritera Raden Panji Asmarabangun yang ditarikan dengan mempergunakan topeng bagi setiap pelakunya.

Agung Sedayu berpaling ketika ia mendengar Ki Juru berkata, “Ternyata mereka pandai juga menari.”

“Ya,” desis Agung Sedayu.

“Kau dapat juga menari?,” bertanya Ki Juru.

Agung Sedayu tersenyum. Jawabnya, “Hanya sedikit. Aku tidak sempat mempelajarinya dengan baik. Apalagi sejak ayahku meninggal.”

“Tetapi kau mengenal dasar-dasar tari?”

“Ya.”

Ki Juru bergeser mendekat. Kemudian sambil menunjuk salah seorang penari ia berkata, “Kau melihat penari yang bertubuh kekar itu?”

“Ya,” sahut Agung Sedayu.

“Apakah kau dapat menilai tata gerak tarinya?”

“Ya. Mungkin ia adalah penari yang paling baik.”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ia terlalu baik bagi seorang penari dari padukuhan ini.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia sempat menjawab, Ki Juru telah bergeser mendekati dua orang yang berdiri tidak jauh dari padanya.

“Apakah Ki Sanak dari padukuhan ini?,” bertanya Ki Juru.

Orang itu megerutkan keningnya. Namun ketika ia berpaling. ia sama sekali tidak dapat mengenali Ki Juru yang mempergunakan ikat kepalanya terlalu rendah dan dengan cara yang berbeda dari biasanya. Bajunya agak terbuka dan kainnya tersingsing agak tinggi, seperti kebanyakan para petani yang pergi kesawah.

“Aku memang orang padukuhan ini,” jawab orang itu, “siapakah Ki sanak?”

“Aku dari padukuhan sebelah bulak. Mula-mula aku berjalan-jalan saja menyeberangi bulak. Tetapi ketika aku mendengar suara gamelan, aku pun telah tertarik.”

“Aku mengenal setiap orang di padukuhan sebelah bulak,” sahut orang itu.

“Maksudku, aku tamu di padukuhan sebelah bulak. Aku mengunjungi saudaraku yang tinggal disana. Aku sendiri datang dari luar kota Mataram.”

Orang yang ditanya itu masih akan berbicara. Tetapi Ki Juru mendahuluinya, “Maksudku, aku ingin bertanya, apakah penari yang bertubuh kekar itu tinggal di padukuhan ini pula?”

Orang itu mengerutkan keningnya, Ia lupa bahwa ia masih akan bertanya kepada Ki Juru. siapakah saudara yang disebutkannya, karena justru ia harus menjawab pertanyaan Ki Juru.

“Ki Sanak,” berkata orang itu, “penari yang seorang itu memang bukan orang padukuhan ini. Sebenarnya ia tidak termasuk dalam susunan pemain. Tetapi ketika ia mengetahui latihan itu di banjar ini. maka ia pun segera tampil. Ternyata ia justru menjadi penari yang paling baik. Dan ialah sebenarnya pengatur laku dari ceritera itu untuk seterusnya. Ialah yang memberikan petunjuk-petunjuk dan perbaikan-perbaikan pada latihan-latihan berikutnya sampai saat ini.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku sudah menduga. Ia memiliki banyak kelebihan dari kawan-kawannya. Tetapi siapakah orang itu sebenarnya?”

“Aku kurang jelas. Semula ia datang untuk berjual beli benda-benda berharga. Wesi aji dan juga permata. Tetapi oleh latihan-latihan yang sangat menarik perhatiannya, ia justru berada di padukuhan ini. Ia telah menyatakan kesediaannya tinggal disini barang dua pekan sampai saatnya pertunjukan yang sebenarnya diselenggarakan.”

“Apakah kau tahu. dari manakah asalnya?,” bertanya Ki Juru.

Orang itu menggeleng. Katanya, “Tidak jelas. Mungkin dari Jipang atau justru dari Demak. Entahlah.”

Ki Juru tidak bertanya lagi. Sambil mengucapkan terima kasih ia minta diri.

Ketika Ki Juru meninggalkan tempat itu. Agung Sedayu pun mengikutinya. Belum lagi mereka berada jauh diluar banjar, K i Juru sudah bertanya, “Bagaimanakah tanggapanmu tentang yang seorang itu?”

Agung Sedayu menarik nafas panjang. Sekilas teringat olehnya Rudita, jika pertanyaan itu ditujukan kepada anak muda itu, maka ia tentu akan menjawab, “Kita adalah mahluk yang selalu dibayangi oleh kecurigaan terhadap sesama.”

Namun Agung Sedayu menyadari, bahwa Ki Juru telah mencurigai orang yang berada didalam lingkungan penari di padukuhan itu. Orang itu memang perlu mendapat perhatian lebih banyak lagi.

“Apakah kau tidak melihat sesuatu padanya,” bertanya Ki Juru kemudian, karena Agung Sedayu tidak segera menjawab.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Pendatang itu memang menyimpan kemungkinan-kemungkinan yang pantas dicurigai. Karena itu maka jawabnya, “Ki Juru. Aku tidak dapat menyebut dengan pasti. Tetapi kita memang dapat mencurigai setiap orang. Juga orang itu. Mungkin ia dengan sengaja datang untuk mengamati Mataram dengan saksama. Dan ia mendapat kesempatan untuk tinggal lebih lama lagi di padukuhan itu.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Namun Agung Sedayu meneruskan, “Tetapi apakah perlu kita mencurigai setiap orang?”

Ki Juru tersenyum. Wajah Agung Sedayu menjadi panas ketika Ki Juru menjawab dengan sebuah pertanyaan, “Apakah pengaruh Rudita sudah mencengkam perasaanmu?”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi kepalanya ditundukkan dalam-dalam.

“Agung Sedayu,” berkata Ki Juru, “kadang-kadang ada juga gunanya kita mencurigai seseorang. Meskipun itu sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh sikap berhati-hati. Bukannya sikap memusuhi.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Ia pun dapat mengerti, bahwa mencurigai seseorang itu dapat juga berarti sekedar sikap hati-hati. karena kadang-kadang seseorang memang dapat melakukan sesuatu yang dapat merugikan pihak lain.

“Aku tidak dapat ingkar akan kenyataan itu,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya.

Namun lebih dari itu. Agung Sedayu mulai menilai keadaan dalam keseluruhan. Ki Juru telah menyampaikan pesannya kepadanya, yang tentu sudah sependapat dengan Senapati Ing Ngalaga.

Dengan ketajaman uraian perasaannya. Agung Sedayu mulai melihat kepentingan-kepentingan yang bergulat didalam peristiwa yang sangkut menyangkut. Pesan Ki Juru yang tentu sudah disepakati oleh Sutawijaya itu adalah suatu dorongan bagi kepentingan Mataram.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun juga, setiap orang akan terpancang kepada kepentingan diri. Dan Mataram menganggap, bahwa sebaiknya Agung Sedayu berada didalam lingkungan koprajuritan. Sebab dengan demikian, maka Agung Sedayu akan dapat memberikan keuntungan kepada Mataram.

“Ah,” desah Agung Sedayu didalam hatinya, “akupun sudah mulai berprasangka terlalu jauh. Seharusnya aku menganggap bahwa usaha Ki Juru adalah sekedar usaha untuk mencegah timbulnya benturan antara Pajang dan Mataram.”

Namun pertimbangan-pertimbangan yang bertolak dari kepentingan yang berbeda selalu saja berputaran didalam hati Agung Sedayu.

Dalam pada itu, keduanya berjalan semakin jauh dari banjar padukuhan. Suara gamelan yang mengiringi latihan-latihan di banjar itu pun menjadi semakin samar.

“Menyenangkan sekali, berjalan-jalan di terang bulan,” berkata Ki Juru, “apakah kau sudah lelah?”

“Belum Ki Juru,” sahut Agung Sedayu.

“Jika demikian, kita berjalan-jalan mengelilingi kota.”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “Baiklah Ki Juru. Rasa-rasanya senang juga mendengar bocah berdendang sambil bermain diterangnya bulan.”

Ki Juru tersenyum. Mereka masih berjalan menyusuri jalan-jalan kota. Tanpa tujuan mereka berjalan sekedar ingin melihat-lihat dan mengisi waktu di ujung malam.

Namun pembicaraan kemudian tidak banyak menarik lagi. Setiap kali angan-angan Agung Sedayu selalu jatuh kepada bayangan-bayangan yang buram tentang pesan Ki Juru Martani.

“Mana mungkin aku dapat menjadi seorang prajurit.” pikiran itulah yang selalu mengganggunya, “aku tidak mempunyai dasar sifat yang cukup.”

Tetapi Agung Sedayu tidak mengatakannya.

Ki Juru pun agaknya merasakan perasaan Agung Sedayu yang tidak lagi dapat menangkap kesegaran di sepanjang jalan. Meskipun kadang-kadang Agung Sedayu memperhatikan juga suara anak-anak yang menjerit-jerit melagukan kidung dolanan. Namun Agung Sedayu lebih banyak berbicara kepada dirinya sendiri.

Karena itu. maka Ki Jurupun kemudian mengajak Agung Sedayu kembali kerumah Raden Sutawijaya menjelang tengah malam, setelah keduanya berjalan berputar-putar didalam kota.

Ketika mereka naik ke pendapa setelah mencuci kaki. maka Raden Sutawijaya sama sekali tidak menampakkan diri. Ki Juru pun kemudian mempersilahkan Agung Sedayu memasuki biliknya di gandok.

Namun sebelum Ki Juru meninggalkan gandok, terdengar ia berkata, “Orang itu memang menarik perhatian ngger. Siapapun orang itu, namun ia bukan orang Mataram.”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “Mungkin Ki Juru perlu mengetahui siapakah orang itu. Tetapi sayang, bahwa waktuku di Mataram sangat pendek, sehingga aku tidak dapat ikut serta mengetahui latar belakang kehadirannya.”

Ki Juru mengerutkan keningnya. Namun ia pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Beristirahatlah. Bukankahkau akan melanjutkan perjalanan besok?”

“Ya Ki Juru.”

“Baiklah. Tetapi coba renungkan. Mungkin yang aku katakan kepadamu agak bertentangan dengan sikapmu selama ini. Meskipun demikian kau dapat mengingat kembali apa yang pernah dikatakan Untara kepadamu tentang sifat-sifat seorang prajurit. Dan jika kau berada didalam lingkungan keprajuritan, maka tugas yang kau pikul akan menjadi rangkap. Sebagai prajurit yang baik dan sekaligus berusaha untuk tetap memelihara ketenangan, khususnya hubungan antara Pajang dan Mataram yang kini banyak diracuni oleh perwira-perwira Pajang sendiri yang terlampau mementingkan kepentingan diri sendiri. Sementara Senapati Ing Ngalaga selalu terikat kepada harga dirinya yang berlebih-lebihan tanpa menghiraukan keadaan yang lebih luas dari kelangsungan hidup Pajang.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Keterangan Ki Juru tentang Raden Sutawijaya terasa menyentuh hatinya. Agaknya ada kepentingan-kepentingan yang lebih jujur dari dugaannya yang lebih banyak dipengaruhi oleh prasangka.

“Baiklah Ki Juru,” berkata Agung Sedayu kemudian, “aku akan memikirkannya. Tetapi aku sama sekali tidak dapat menyebutkan sekarang, apakah yang akan aku lakukan.”

“Tentu. Dan kau masih mempunyai kesempatan yang panjang. Tetapi sekali-sekali bertemulah dengan Untara. Namun demikian, segalanya terserah kepadamu. Kiai Gringsing akan banyak memberikan petunjuk-petunjuk yang sangat berguna bagimu, karena sebenarnyalah ia adalah salah seorang yang justru merupakan keturunan langsung dari para penguasa di Majapahit. Ia termasuk salah seorang yang sebenarnya berhak atas warisan-warisan dari kerajaan itu. Tetapi Kiai Gringsing agaknya berpandangan jauh lebih luas dari orang-orang yang hanya mengaku-aku saja sebagai pewaris dan keturunan dari Majapahit.”

Agung Sedayu mengangguk kecil. Sementara Ki Juru melangkah meninggalkan sambil berkata, “Tidurlah. Sebentar lagi tengah malam akan tiba.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Dipandanginya saja Ki Juru yang menyeberangi pendapa dan hilang di longkangan menuju kegandok yang lain.

Agung Sedayu menarik nafas. Ia pun kemudian membaringkan dirinya dipembaringan. Namun matanya tidak segera dapat terpejam. Pesan Ki Juru Martani seolah-olah berputar-putar saja ditelinganya.

“Sekali-kali bertemulah dengan Untara,” kata-kata Ki Juru itu bagaikan selalu terngiang. Ia mengerti, bahwa hal itu tentu akan mendekatkannya dengan kemungkinan untuk menjadi seorang prajurit.

“Tetapi kepentingan kakang Untara dan Ki Juru tentu berlainan. Kakang Untara ingin melihat aku sebagai seorang prajurit yang teguh timbul dan disegani, sementara Ki Juru mempunyai kepentingan lain apapun yang disebutkannya. Untuk kepentingan Pajang dan Mataram, atau kepentingan-kepentingan lain yang pada dasarnya menengahi sikap para perwira yang sudah ada.”

Agung Sedayu pun membayangkan, untuk dapat mencapai tujuan sesuai dengan keinginan Ki Juru Martani. ia harus sedikit menyombongkan diri dengan, memamerkan kelebihan-kelebihannya. sehingga ia akan segera mendapat tempat yang baik didalam lingkungan keprajuritan. Mungkin ia akan dapat menjadi seorang perwira atau Senopati yang memiliki kekuasaan yang khusus, yang dengan pengaruh yang ada dapat membantu menjernihkan hubungan antara Pajang dan Mataram, menyudutkan pengaruh para perwira yang dikuasai oleh nafsu pribadi dengan pamrih yang berlebih-lebihan untuk membangun kembali suatu kekuasaan yang disebut sebagai warisan kekuasaan Majapahit.

Namun akhirnya angan-angan Agung Sedayai itu pun menjadi semakin samar. Akhirnya, matanya pun terpejam sesaat setelah ayam jantan berkokok ditengah malam.

Namun ternyata Agung Sedayu tidak dapat tidur nyenyak. Ia terbangun ketika dikejauhan terdengar suara kentongan yang bersahut-sahutan. Bahkan ia pun segera bangkit ketika ia sadar, bahkan isyarat kentongan itu mempergunakan irama titir.

“Apakah yang sudah terjadi?” bertanya Agung Sedayu kepada diri sendiri. Namun Agung Sedayu tidak bergeser dari tempatnya. Ia masih menunggu perkembangan keadaan.

Dadanya menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar beberapa orang telah berada di pendapa. Langkah mereka yang terdengar sibuk menanggapi suara titir dikejauhan.

Akhirnya Agung Sedayu tidak dapat berdiam diri didalam biliknya. Ia pun kemudian melangkah kepintu. Perlahan-lahan ia mendorong pintu biliknya di gandok.

Dari sela-sela daun pintu ia melihat beberapa orang sudah berada di pendapa. Mereka tidak sempat duduk di atas tikar. Namun mereka hanya berdiri dan berbincang dengan sungguh-sungguh.

Dengan ragu-ragu Agung Sedayu melangkah keluar. Ia masih bimbang, apakah ia diperkenankan naik ke pendapa dan ikut dalam pembicaraan itu. karena ia bukan termasuk salah seorang pemimpin di Mataram.

Namun ternyata Ki Juru Martani yang melihatnya segera memanggilnya, katanya, “Kemarilah ngger. Kita sedang membicarakan suara titir itu.”

Agung Sedayu pun kemudian mendekat. Ia melihat Raden Sutawijaya sudah berada di antara mereka.

“Menurut pendengaranku, isyarat itu bersumber dari arah suara gamelan di banjar yang kita lihat bersama,” berkata Ki Juru kepada Agung Sedayu.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ketika suara titir itu mulai terdengar, agaknya ia masih tertidur. Tetapi ketika ia terbangun rasa-rasanya suara titir itu masih belum merata seperti saat-saat ia keluar dari dalam gandok. Dan arah dari suara itu memang seperti yang disebut oleh Ki Juru meskipun barangkali tidak tepat benar.

Karena itu. dengan ragu-ragu Agung Sedayu pun mengangguk. Katanya, “Mungkin pendengaran Ki Juru sesuai. Tetapi aku tertidur saat-saat suara titir itu mulai terdengar.”

“Paman,” berkata Raden Sutawijaya, “betapapun juga kita harus bersiaga. Kita tidak dapat menunggu disini tanpa berbuat apa-apa.”

“Tetapi sebaiknya kau menunggu laporan untuk menentukan apakah yang sebaiknya akan kita lakukan,” sahut Ki Juru.

Belum lagi Raden Sutawijaya menjawab, seekor kuda berlari mendekati regol. Karena penunggangnya telah dikenal oleh para penjaga regol, maka kuda itu pun mereka biarkan masuk.

Dengan tangkasnya penunggangnyapun kemudian meloncat dari punggung kudanya dan mengikat kuda itu pada sebuah patok yang sudah disediakan di pinggir halaman.

Berlari-lari kecil penunggang kuda itu menuju ketangga dan kemudian naik ke pendapa.

“Katakan,” desis Raden Sutawijaya, “aku tahu. kau membawa laporan tentang suara titir itu.”

“Ya Raden,” jawab orang itu, “ternyata yang dikatakan oleh Ki Juru benar.”

Ki Juru menarik nafas panjang. Sekilas dipandangnya wajah Agung Sedayu dan tegang. Namun anak muda itu pun segera mengerti apa yang telah terjadi. Agaknya Ki Juru yang meninggalkan biliknya, telah memerintahkan petugas-petugas sandi untuk membayangi orang yang dicurigainya dibanjar itu.

“Apa yang sudah kaulihat?,” bertanya Ki Juru kemudian.

“Ketika orang itu kembali dari banjar tempat latihan itu, ada tiga orang yang telah menunggunya. Mereka berbicara ditempat yang sepi dan tersendiri.”

“Kau tidak berusaha mendengar pembicaraan itu?”

“Itulah yang terjadi. Aku mencoba untuk mendekat. Aku hanya mendengar salah seorang dari ketiga orang itu memberikan perintah, agar orang itu tetap berada di Mataram untuk waktu yang tidak ditentukan. Agung Sedayu telah meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Menurut perhitungan mereka. Agung Sedayu akan berada di Mataram meskipun hanya satu dua hari.”

Dada Agung Sedayu bergetar mendengar keterangan orang itu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia masih tetap menjadi sorotan orang-orang yang merasa sakit hati kepadanya.

Tetapi Agung Sedayu tidak dapat ingkar. Ia telah melakukan beberapa pembunuhan di medan perang dilemhah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, sehingga masih ada di antara mereka yang mendendam. Mungkin orang-orang yang kehilangan sahabatnya. Mungkin orang-orang yang kehilangan pemimpinnya.

Sekilas terbayang orang-orang yang telah dibunuhnya itu memandanginya dengan sorot mata yang membara, memancarkan dendam yang tidak ada habisnya.

Dalam pada itu. petugas sandi itu pun meneruskan, “Tetapi agaknya orang-orang itu benar-benar orang yang memiliki ilmu yang tinggi, ternyata kehadiranku dapat diketahuinya, sehingga mereka segera mengejarku.”

“Kau tidak berbuat sesuatu untuk menangkap mereka?” bertanya Ki Juru.

“Kemudian kita bertempur untuk beberapa lamanya. Kedua kawanku sama sekali tidak dapat mengimbangi mereka. Untunglah bahwa para peronda di gardu segera datang membantu.”

“Tetapi orang-orang itu tidak dapat kalian tangkap?” potong Raden Sutawijaya yang tidak telaten.

“Ya Raden. Kami yang kemudian berjumlah lebih dari sepuluh orang, dibantu oleh beberapa orang anak muda sama sekali tidak berdaya. Bahkan mula-mula akan terjadi salah paham. Penari itulah yang meneriakkan kami seolah-olah kami adalah orang-orang jahat yang harus ditangkap. Untunglah, beberapa orang telah kami kenal, dan kami dapat mengatasi kesalah pahaman itu. Namun demikian, keempat orang itu tidak berhasil kami tangkap.”

Raden Sutawijaya menjadi tegang. Tiba-tiba saja ia berteriak, “Cepat, siapkan kudaku. Aku akan mencarinya diseluruh kota.”

Raden Sutawijaya tidak mau mendengar keterangan-keterangan lebih panjang lagi. Ketika kudanya telah siap. maka ia pun dengan tergesa-gesa meloncat naik diikuti oleh beberapa orang pengawal yang telah menyiapkan diri.

“Tunggu,” minta Agung Sedayu, “mereka mencari aku. Biarlah aku ikut bersama Raden.”

“Tinggallah di rumah ini Agung Sedayu. Aku akan mencarinya. Ia telah mengacaukan daerah kekuasaanku. Apalagi mereka berani mengganggu ketenangan kota yang tidak seberapa luas ini.”

“Jika aku telah mereka jumpai, maka ia tidak akan mengganggu kota ini.”

“Kau tamuku sekarang. Aku bertanggung jawab atas semua tamu-tamuku, meskipun aku tahu, bahwa kau akan mampu mempertanggung jawabkan dirimu sendiri.” jawab Raden Sutawijaya.

Agung Sedayu tidak sempat berbicara lagi. Kuda Raden Sutawijaya itu pun segera berderap dan hilang diregol halaman. Yang nampak kemudian hanyalah debu yang mengepul di cahaya bulan yang kekuning-kuningan.

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s