ADBM2-113

<<kembali | lanjut >>

AGUNG SEDAYU masih termangu-mangu. Tetapi ia tidak sampai hati melihat para pengawal mengalami kesulitan. Dan hampir diluar sadarnya ia telah mengangkat cambuknya kembali.

Sekali lagi terdengar cambuk Agung Sedayu meledak. Meskipun Agung Sedayu tidak mengenai seorang pun dari ketiga orang lawannya, namun suara cambuknya telah mengejutkan mereka. Sejenak mereka bagaikan kehilangan pengamatan diri oleh getaran didalam dada mereka. Suara cambuk itu bagaikan melecut jantung sehingga rasa-rasanya tangkai jantung mereka telah patah.

Namun yang sekejap itu, ternyata merupakan saat-saat yang menentukan bagi ketiga orang yang bernasib malang itu. Meskipun mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi, namun dalam keadaan yang tiba-tiba itu, mereka telah kehilangan kesempatan. Selagi mereka mencoba mengatasi getaran jantung didalam dada masing-masing, maka tiba-tiba saja salah seorang pengawal telah melontarkan tombak pendeknya kepada salah seorang dari mereka.

Orang itu terkejut. Namun ia masih sempat meloncat dan berusaha memukul tangkai tombak yang mengarah kedadanya.

Ia berhasil menghindarkan diri dari ujung tombak itu. Namun tepat pada saat itu, sebuah pisau belati telah meluncur mematuk punggungnya.

Terdengar orang itu mengaduh. Namun ia pun mulai terhuyung-huyung ketika kedua orang kawannya telah kembali mengamuk seperti orang kerasukan iblis.

Namun kemudian seorang kawannya membuat mereka benar-benar terpengaruh sehingga tata gerak mereka pun mulai kabur. Apalagi kekuatan jasmaniah mereka pun telah mulai susut setelah mereka bertempur melawan Agung Sedayu dan kemudian para pengawal.

Agung Sedayu lah yang kemudian bagaikan membeku di tempatnya. Ia melihat senjata-senjata yang teracu-acu. Kemudian seolah-olah satu demi satu telah merobek tubuh orang-orang yang malang, yang berada didalam kepungan para pengawal yang dibakar oleh kemarahan, kebencian dan dendam, bagaikan seekor rusa yang mengamuk dikerumunan serigala-serigala yang lapar.

Namun akhirnya, kedua orang yang masih bertahan itu pun menjadi kehilangan kekuatan. Luka mereka bagaikan arang kranjang. Tubuh mereka telah menjadi merah oleh darah.

Namun demikian, para pengawal masih belum merasa puas. Apalagi kedua orang itu masih saja berusaha menggerakkan senjatanya, betapapun mereka sudah sangat lemah.

Tetapi keduanya tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Mereka pun kemudian terhuyung-huyung dan jatuh dihadapan Agung Sedayu yang berdiri mematung.

Sejenak Agung Sedayu bagaikan kehilangan akal. Ia melihat tiga orang tergolek ditanah. Meskipun demikian agaknya para pengawal masih belum puas. Mereka mendesak maju sambil mengangkat senjata masing-masing.

“Cukup,” teriak Agung Sedayu tiba-tiba bagaikan membelah keriuhan jerit para pengawal yang marah.

Para pengawal itu tertegun sejenak. Namun beberapa orang di antara mereka berteriak, “Lumatkan mereka. Cincang sampai hancur.”

Beberapa senjata telah terangkat. Namun mereka terkejut bukan buatan, ketika senjata mereka kemudian terayun kearah tubuh-tubuh beku itu.

Sekali lagi para pengawal itu mendengar cambuk Agung Sedayu meledak. Namun yang terjadi kemudian adalah tangan-tangan mereka telah disengat oleh perasaan pedih. Senjata-senjata mereka terlepas dan terlempar jatuh ditanah, disamping ketiga tubuh yang sudah tidak bergerak lagi.

Beberapa orang pengawal yang kehilangan senjatanya termangu-mangu. Namun kemarahan yang tidak tertahankan lagi telah membuat mereka mata gelap. Bahkan salah seorang dari mereka berteriak, “Agung Sedayu, kau berpihak kepadanya?”

Agung Sedayu masih melihat salah seorang dari ketiga orang yang terbaring itu tiba-tiba menggeliat. Sehingga diluar sadarnya ia menjawab, “Biarkan yang masih hidup tetap hidup.”

“Minggir,” teriak pengawal yang lain jangan menghalangi kami. “Mereka telah membunuh kawan-kawan kami.”

“Mereka akan membunuh aku juga. Tetapi jangan kehilangan akal, sehingga kalian telah kehilangan dasar-dasar peri-kemanusiaan.”

“Aku tidak peduli. Minggir, atau kami harus memaksamu.”

Agung Sedayu tetap berdiri ditempatnya. Bahkan ketika beberapa orang pengawal mendesak maju maka Agung Sedayu telah menggeram, “Jangan kalian teruskan kegilaan itu.”

Tetapi beberapa orang pengawal yang masih bersenjata tidak menghiraukannya. Mereka mulai mengangkat senjata-senjata mereka.

Tetapi sekali lagi terdengar cambuk Agung Sedayu meledak. Bahkan suaranya bagaikan merontokkan jantung didalam setiap dada para pengawal.

Namun ternyata para pengawal yang marah itu menjadi semakin marah. Mereka justru kemudian mulai mengepung Aggung Sedayu yang selalu berusaha merintangi mereka.

Tetapi pada saat itu seorang anak muda dengan tergopoh-gopoh muncul diarena. Ia langsung berjongkok disamping ketiga orang yang terbaring ditanah. Sejenak ia mengamat-amati ketiganya. Kemudian meraba dadanya dengan cemas.

“Mereka telah mati,” geram anak muda itu.

“Yang seorang masih hidup Raden,” desis Agung Sedayu.

Tetapi Raden Sutawijaya itu menggeleng sambil berdesis, “Tidak. Ketiganya telah mati Mungkin yang seorang adalah yang terakhir.”

Perlahan-lahan Raden Sutawijaya berdiri. Dipandanginya para pengawal yang berdiri melingkar. Selangkah demi selangkah ia berjalan sambil menatap setiap wajah. Dengan suara berat dan datar ia berkata, “Kalian adalah pengawal-pengawal yang berani, jantan penuh perasaan setia kawan.”

Para pengawal mengerutkan keningnya. Dan Raden Sutawijaya meneruskan, “Tetapi kalian adalah pengawal-pengawal yang kurang nalar.” Sejenak Raden Sutawijaya berhenti, lalu. “kalian telah membunuh semua orang yang kita cari. Aku terlambat mencegahnya ketika para pengawal mencincang lawan Paman Juru Martani, meskipun paman Juru Martani pun telah berusaha menggagalkannya. Dan sekarang, ketiga orang inipun telah kalian bunuh pula.”

Para pengawal yang mendengar kata-kata Raden Sutawijaya itu pun bagaikan membeku ditempatnya. Seolah-olah mereka mulai sadar, apa yang telah mereka lakukan. Sekilas mereka melihat tiga sosok tubuh yang terbaring di tanah. Jika Agung Sedayu tidak mencegahnya, maka ketiganya tentu tidak akan berujud lagi. Meskipun demikian, ternyata Agung Sedayu telah gagal untuk mempertahankan hidup ketiga orang itu, bahkan satu saja di antara mereka.

Ketika para pengawal masih termangu-mangu. Raden Sutawijaya meneruskan, “Nah, sekarang apa yang kalian dapatkan dari ketiga sosok mayat itu? Kepuasan yang buram?”

Tidak seorang pun yang menjawab. Namun para pengawal itu mulai dapat membayangkan kemana arah pembicaraan Raden Sutawijaya itu. Dan seperti yang mereka duga, maka Raden Sutawijaya pun berkata lebih lanjut, “Sekarang, kita tidak akan mendapatkan keterangan apapun dari mereka. Mereka semuanya telah mati.”

Para pengawal menundukkan wajahnya. Mereka menyadari ketergesa-gesaan mereka, sehingga mereka tidak dapat berpikir dengan bening.

Sekilas mereka memandang Agung Sedayu yang berusaha mencegah mereka. Bahkan hampir saja telah timbul salah paham. Meskipun agaknya Agung Sedayu mempunyai pertimbangan yang lain dari Raden Sutawijaya, namun mereka mengakui, bahwa mereka telah kehilangan nalar dibakar oleh kemarahan yang tidak terkendali.

Dan kini, mereka tinggal dapat menyesali tingkah laku mereka. Ke empat orang yang mereka buru telah mereka ketemukan. Tetapi mereka sama sekali tidak mendapatkan keterangan apapun juga dari mereka, karena mereka telah mati.

Raden Sutawijaya yang berdiri didalam lingkaran para pengawal itu pun kemudian menggeram, “Nah, apakah kalian belum puas atas kelakuan kalian? Silahkan. Siapa yang masih ingin mencincang korban kalian. Mereka tidak lagi merasakan dan mengetahui apa yang kalian perbuat, betapapun biadabnya.”

Para pengawal Mataram itu menunduk dalam. Tetapi tidak seorang pun yang menjawab.

“Agung Sedayu,” berkata Raden Sutawijaya kemudian, “aku minta maaf atas kelakuan para pengawal. Mereka benar-benar telah dibayangi oleh kemarahan dan dendam.”

“Aku mengerti,” sahut Agung Sedayu dengan suara yang dalam. Direnunginya ketiga sosok mayat yang terbaring diam. Katanya kemudian, “mereka telah mati. Dan mereka tidak akan dapat menuntut apapun perlakuan yang pernah mereka alami.”

“Ya. Dan mereka pun tidak akan dapat berbicara, siapakah mereka sebenarnya dan dari manakah mereka itu datang.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi sorot matanya membayangkan penyesalan yang dalam. Bahkan kemudian seolah-olah ia melihat Rudita telah berdiri di antara para pengawal itu dengan mata yang redup.

Tetapi Agung Sedayu mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Raden Sutawijaya berkata, “Kumpulkan mayat-mayat itu. Kita akan menguburnya besok siang dengan upacara sepantasnya.”

Para pengawal masih tetap membeku ditempatnya. Sementara Raden Sutawijaya masih melangkah berputaran sambil memandangi wajah-wajah yang mulai berkeringat.

“Marilah Agung Sedayu. Kau tentu perlu beristirahat. Ternyata perhitunganku salah. Aku minta kau tetap tinggal di rumah agar kau dapat beristirahat. Namun justru kaulah yang telah berhasil menemukan orang-orang yang kita cari di seluruh kota.” ajak Raden Sutawijaya.

Agung Sedayu tidak menyahut. Tetapi ketika Raden Sutawijaya melangkah, ia pun mengikuti di belakangnya. Cambuknya masih didalam genggaman, sedangkan juntainya dipeganginya dengan tangan kirinya.

Orang-orang yang berdiri dalam lingkaran itu pun menyibak, dan memberikan jalan kepada Raden Sutawijaya dan Agung Sedayu. Seorang pengawal muda berdesis lirih ketika Agung Sedayu lewat dihadapannya, “Aku mohon maaf Agung Sedayu.”

Agung Sedayu berpaling. Anak itu masih muda semuda dirinya sendiri. Namun Agung Sedayu tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil sambil menahan gejolak perasaannya.

Ketika kedua anak-anak muda itu telah naik ke pendapa, maka mulailah para pengawal Mataram yang telah menyadari dirinya sendiri itu mengangkat mayat-mayat yang terbaring ditanah. Mereka menempatkan ketiga sosok mayat itu diserambi gandok, membaringkannya diatas amben bambu yang besar.

“Mana yang satu lagi?” bertanya salah seorang pengawal.

“Masih di pendapa,” sahut yang lain.

Tetapi sesosok mayat yang masih di pendapa tidak segera dibawa keserambi gandok dan dibaringkan disamping mayat kawan-kawannya. Ketika Raden Sutawijaya bersama Agung Sedayu mendekati Ki Juru Martani yang sedang berjongkok merenungi mayat itu, seorang pengawal terdengar berkata di antara kawan-kawannya, “Ciri itu adalah ciri seorang prajurit.”

Raden Sutawijaya tertegun sejenak. Namun kemudian ia pun melangkah mendekati Ki Juru dengan tergesa-gesa.

“Angger,” berkata Ki Juru, “lihatlah.”

Raden Sutawijaya dan Agung Sedayu pun kemudian berjongkok didekat mayat itu. Ketika ia memandang ikat pinggangnya, maka ia pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Ikat pinggang itu memang ikat pinggang prajurit Pajang. Tetapi setiap orang dapat saja memakainya. Mungkin ia mendapatkan-nya dari saudaranya yang kebetulan juga seorang prajurit. Atau bahkan ia dapat merampasnya dengan kekerasan.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Tetapi kemudian katanya, “Tetapi mungkin juga ia memang seorang prajurit. Danang, cobalah kau lihat timangnya yang bukan saja timang seorang prajurit. Tetapi ia sudah menghiasinya dengan emas dan permata. Jika ikat pinggang ini bukan miliknya sendiri, ia tentu tidak akan berbuat demikian. Atau katakan ia merampasnya dari seorang perwira, tentu emas dan permata itu akan diambilnya dan dipindahkannya pada ikat pinggang yang lain, bukan ikat pinggang seorang prajurit.

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Dipandanginya ikat pinggang prajurit yang sudah ditambahinya dengan hiasan emas dan permata, yang memang tidak dilarang oleh pimpinan keprajuritan Pajang sejak Ki Gede Pemanahan masih menjadi Panglima, sehingga banyak para perwira yang menghiasi timangnya dengan lapisan emas dan permata.

Namun kemudian Raden Sutawijaya berkata, “Tetapi aku belum pernah melihatnya. Jika ia seorang perwira Pajang, tentu aku pernah mengenal atau melihatnya.”

Ki Juru menggeleng. Katanya, “Tentu tidak semuanya. Mungkin ia baru saja diangkat menjadi seorang perwira karena ia memiliki ilmu yang sangat tinggi.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Sementara itu Agung Sedayu berkata, “Mungkin ia adalah seorang petugas sandi.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Dan Ki Juru berkata, “Salah seorang dari mereka yang bertempur melawan Agung Sedayu tentu penari yang cakap itu.”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “Ya Ki Juru. Meskipun semula aku tidak pasti. Tetapi agaknya salah seorang dari mereka adalah penari yang kita lihat di banjar padukuhan itu.”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah kepada diri sendiri ia berkata, “Sayang. Ia adalah seorang penari yang sangat baik. Ia memiliki pengetahuan yang sangat berharga bagi tubuhnya sebagai seorang penari. Tetapi ia telah melakukan sesuatu yang menjerumuskannya dalam kesulitan, dan bahkan maut.”

Raden Sutawijaya memandang Ki Juru sejenak, kemudian ditatapnya wajah Agung Sedayu yang tunduk merenungi mayat itu.

“Paman,” berkata Raden Sutawijaya kemudian, “apakah paman sependapat, bahwa ikat pinggang itu sebaiknya kita simpan saja. Mungkin ikat pinggang itu akan dapat menjadi jalur mengenalnya kita terhadap orang-orang yang sudah tidak dapat kita ajak berbicara itu, justru karena para pengawal Mataram sendiri yang terlalu dibebani oleh dendam dan kemarahan, sehingga mereka telah melakukan sesuatu yang sangat bodoh.”

Ki Juru memandang ikat pinggang itu sejenak. Lalu ia pun kemudian bertanya, “Apakah yang tiga orang itu juga mengenakan ikat pinggang keprajuritan?”

Raden Sutawijaya menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Tidak paman. Mereka tidak mengenakan ikat pinggang semacam itu. Juga pada mereka tidak terdapat tanda-tanda apapun juga.”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Baiklah Raden. Kau dapat menyimpan ikat pinggang itu. Mungkin ada gunanya. Tetapi mungkin juga tidak sama sekali. Tidak akan ada seorang pun yang akan mengaku memiliki ikat pinggang itu, kecuali jika ikat pinggang itu pernah dirampas dengan paksa dan orang yang merampasnya mempergunakan tanpa dirombak bentuk dan ujudnya.”

Raden Sutawijaya pun kemudian memerintahkan seorang pengawal untuk mengambil ikat pinggang itu dengan penjelasan, bahwa yang penting bukannya emas dan permatanya, tetapi mungkin akan dapat dipergunakan untuk mencari jejak dari keempat orang itu.

Demikianlah sisa malam itu pun kemudian dipergunakan oleh Raden Sutawijaya untuk duduk di pendapa bersama para pemimpin Mataram. Agung Sedayu yang dipersilahkan untuk beristirahat, ternyata lebih senang untuk ikut duduk di pendapa dan mempercakapkan keempat orang yang telah terbunuh itu.

“Angger Agung Sedayu lah yang dicarinya di Mataram,” berkata Ki Juru kepada para pemimpin Mataram.

Agung Sedayu menundukkan kepalanya ia sama sekali tidak ingin bermusuhan dengan siapapun. Tetapi keadaan telah mendorongnya untuk menanam dendam dihati orang. Ia sadar, bahwa setiap jiwa yang direnggutnya, akan berarti menambah jumlah musuh yang mendendam dan membencinya.

Agung Sedayu mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Ki Juru berkata, “Angger Agung Sedayu. Karena peristiwa ini, maka sudah tentu angger akan tinggal lebih lama lagi di Mataram. Mungkin angger perlu menenangkan hati. Tetapi mungkin pula dengan pertimbangan lain. Sudah tentu angger Agung Sedayu tidak akan cemas di perjalanan. Angger akan dapat mengatasi setiap kesulitan yang datang. Namun aku mengerti, bahwa angger sama sekali tidak akan bermaksud menambah lawan. Apalagi membakar dendam.”

Agung Sedayu menarik nafas. Pertimbangan Ki Juru dapat dimengerti. Ki Juru tentu mencemaskannya, bahwa masih ada orang yang akan mencegatnya di sepanjang jalan. Jika ia terpaksa bertempur, maka ada kemungkinan, bahwa ia harus melakukan pembunuhan lagi untuk menyelamatkan diri. Dengan demikian maka ia telah menyaingi dendam pada suatu lingkungan terhadapnya, sehingga dendam itu akan menjadi semakin subur. Dan timbullah lingkaran yang tidak terputuskan, dendam, pembalasan, yang harus dilawan dan menimbulkan kematian yang akan membakar dendam itu lagi.

Tetapi ketegangan jiwa Agung Sedayu bagaikan tidak tertahankan lagi. Ia ingin segera sampai dipadepokannya. Ia baru akan dapat beristirahat jika ia sudah ada ditengah kerja padepokannya. Memanggul cangkul dan menyelusuri parit ditengah bulak. Membelah kayu dan menyapu halaman disaat fajar menyingsing. Melepaskan diri dari segala macam persoalan yang pelik dan menyakitkan hati, sambil mendengarkan kicau burung dicerahnya pagi.

Namun ketika terpandang wajah Raden Sutawijaya, terpercik juga sebuah keluhan di hati, “Aku memang seorang yang sangat mementingkan diriku sendiri.”

Meskipun demikian Agung Sedayu sadar, bahwa ia memang bukan Raden Sutawijaya yang dadanya dipenuhi oleh api perjuangan sesuai dengan keyakinannya. Tidak untuk dirinya sendiri. Tetapi untuk membakar cita-citanya menjadikan Mataram sebuah negeri yang ramai.

Sejanak Agung Sedayu termangu-mangu. Ia tidak segera dapat mengambil keputusan. apakah ia akan tinggal lebih lama lagi, atau ia memutuskan untuk segera meninggalkan Mataram dan kembali kepadepokan kecilnya, dimana Glagah Putih telah menunggunya dengan tidak sabar lagi.

Dalam pada itu, para pengawal nampak sibuk dengan persiapan upacara penguburan keempat sosok mayat itu. Meskipun keempat sosok mayat itu adalah mayat-mayat orang-orang yang tidak disukai, tetapi Raden Sutawijaya memerintahkan agar mayat-mayat itu dikubur dengan upacara sepantasnya.

Agung Sedayu masih saja termangu-mangu memandang para pengawal yang nampak hilir mudik dihalaman.

Namun ketika ia melihat cahaya kemerah-merahan membayang, maka tiba-tiba saja kerinduannya untuk kembali kepadepokan kecilnya tidak tertahankan lagi, sehingga katanya kemudian, “Ki Juru. Agaknya aku lebih senang untuk segera sampai ke padepokan kecilku. Aku sudah terlalu lama pergi meninggalkan adik sepupuku.”

“Glagah Putih maksudmu?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Ya. Ia tentu sudah menunggu. Mungkin ia menjadi kecewa bahwa aku terlalu lama meninggalkannya.”

Raden Sutawijaya yang masih muda itu pun tiba-tiba tersenyum. Yang terbayang padanya bukannya seorang anak muda yang bertubuh tinggi, berwajah bening, namun dengan sorot matanya yang menunjukkan kekerasan hatinya. Tetapi yang terbayang padanya adalah seorang wanita cantik yang keras hati di Sangkal Putung.

Karena itu, maka Raden Sutawijaya pun kemudian berkata sambil tersenyum, “Paman. Memang sulit untuk menahan Agung Sedayu lebih lama lagi. Mungkin adik sepupunya sudah sangat merindukannya. Mungkin adik seperguruannya. Mungkin gurunya. Tetapi mungkin juga Sekar Mirah.”

“Ah,” desah Agung Sedayu sambil menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak membantah. Gadis itu pun memang mulai terbayang. Namun justru menumbuhkan kegelisahan dihatinya karena gadis itu selalu memandang masa depannya dengan suram.

Agaknya Agung Sedayu benar-benar tidak dapat ditahan lagi untuk tinggal lebih lama di Mataram. Cahaya matahari yang kemudian jatuh di atas tanah berdarah dihalaman rumah Raden Sutawijaya itu, membuat hatinya menjadi semakin dekat dengan padepokan kecilnya yang tenang dan damai.

“Baiklah Agung Sedayu,” berkata Raden Sutawijaya, “agaknya kau benar-benar ingin kembali kepadepokanmu. Karena itu, biarlah kau ditemani oleh dua orang pengawal dari Mataram. Bagaimanapun juga peristiwa yang baru saja terjadi, membuat kita harus berhati-hati. Meskipun kau merupakan orang yang mumpuni dalam olah kanuragan, tetapi kedua pengawal itu akan dapat menjadi kawan berbincang di sepanjang jalan. Mungkin perlu untuk melakukan perintahmu di perjalanan atau keperluan-keperluan yang lain.”

Agung Sedayu tidak dapat menolak. Ia pun menyadari, bahwa kawan di perjalanan dalam keadaan yang masih dibayangi oleh merahnya darah itu tentu akan berarti baginya.

Karena itulah maka Agung Sedayu pun kemudian minta diri untuk berkemas, karena ia akan berangkat pagi-pagi tanpa menunggu upacara penguburan keempat sosok mayat itu.

Ketika Agung Sedayu telah siap untuk berangkat, ia masih sempat minta maaf, bahwa ia tidak dapat menunggui upacara pemakaman para pengawal dan penguburan ke empat sosok mayat itu meskipun ia adalah sasaran dari mereka.

“Ah, aku justru berterima kasih,” berkata Raden Sutawijaya, “sebab menurut perkembangan tingkah lakunya, mereka bukan saja akan mencelakaimu, tetapi mereka dengan licik berusaha untuk mengambil pusaka-pusaka terpenting di Mataram. Dan kaulah yang telah menyelamatkan pusaka-pusaka itu.”

“Ki Juru Martani. Aku hanya membantumu saja,” sahut Agung Sedayu.

Tetapi Ki Juru tertawa. Ia sadar bahwa ketegangan jiwa Agung Sedayu telah memaksanya untuk segera meninggalkan Mataram. Katanya, “Apapun yang kau katakan ngger, tetapi kita semuanya sudah mengambil kesimpulan seperti yang dikatakan oleh Raden Sutawijaya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian sekali lagi ia mohon diri dan berangkat menuju ke Sangkal Putung, diiringi oleh dua orang pengawal pilihan dari Mataram. Karena kemungkinan yang buruk-pun akan dapat terjadi pada kedua pengawal itu saat mereka kembali tanpa Agung Sedayu. Karena itu, maka mereka berdua pun harus bersiap menghadapi kemungkinan itu, meskipun jalan antara Mataram dan Sangkal Putung pada umumnya tidak terdapat hambatan-hambatan apapun.

Demikianlah, ketika matahari memanjat semakin tinggi di langit, Agung Sedayu mulai dengan perjalanannya kembali ke padepokan kecilnya lewat Sangkal Putung. Mungkin gurunya masih tinggal di Kademangan itu menunggu Ki Sumangkar yang terluka parah dipeperangan.

Ketika kuda Agung Sedayu berlari meskipun tidak cukup kencang, namun terasa betapa segarnya udara pagi mengusap wajahnya. Langit nampak hijau cerah terbentang dari ujung sampai ke ujung bumi. Mega yang tipis selembar-selembar mengalir dihanyutkan angin pagi, sementara Agung Sedayu merasa semakin jauh dari kejaran perasaan bersalah karena pembunuhan-pembunuhan.

Sudah lama Agung Sedayu terlepas dari sejuknya suasana sejak ia meninggalkan padepokannya. Hanya sesaat-sesaat ia sempat melihat hijaunya tanaman di sawah. Di perjalanan dari Tanah Perdikan Menoreh ia juga melalui bulak-bulak panjang yang hijau seperti yang dilaluinya bersama kedua orang pengawal dari Mataram itu. Di pematang nampak beberapa ekor bangau berdiri di sebelah kakinya yang panjang.

“Mataram memang akan menjadi besar,” tiba-tiba saja Agung Sedayu berdesis.

Kedua pengawal yang berkuda bersamanya mengerutkan keningnya. Mereka tidak begitu mendengar kata-kata Agung Sedayu, sehingga salah seorang dari mereka bertanya, “Apa yang kau maksudkan Agung Sedayu?”

Agung Sedayu menarik nafas panjang. Katanya kemudian, “Mataram akan menjadi besar. Tanahnya subur dan menyimpan kemungkinan yang sangat luas. Banyak orang dari segala penjuru berdatangan untuk ikut membuka hutan, sehingga Mataram meluas dengan cepatnya. Mereka bekerja keras dan yang paling menggembirakan, mereka segera merasa diri mereka satu tanpa terbelah-belah lagi. Mereka dapat melupakan asal usul mereka dan hidup bagaikan keluarga dengan tetangga-tetangga mereka yang baru.”

Para pengawal itu mengangguk-angguk. Bagi mereka, Mataram merupakan tanah harapan bagi masa depan serta sepanjang keturunannya.

Dalam pada itu, selagi Agung Sedayu menyusuri jalan menuju ke Sangkal Putung, Raden Sutawijaya masih merenungi ikat pinggang keprajuritan dari salah seorang yang telah terbunuh di halaman rumahnya, sementara orang-orang lain sibuk mempersiapkan keberangkatan ke empat sosok itu ke kubur.

“Tidak ada tanda-tanda apapun yang dapat memberikan petunjuk mengenai orang-orang itu paman,” berkata Raden Sutawijaya kepada Ki Juru Martani.

Ki Juru mengerutkan keningnya. Ketika ia menerima ikat pinggang itu dan mengamatinya, ia pun menggeleng. Katanya, “Memang tidak ada tanda-tanda apapun juga. Orang itu sudah merubah timang ikat pinggangnya dengan melapisnya dengan emas dan memberikan beberapa butir permata yang mahal. Agaknya ia memang seorang perwira yang bangga akan kedudukannya dan termasuk seorang yang cukup kaya.”

Raden Sutawijaya merenung sejenak. Ia mencoba mengingat-ingat apakah ia pernah mengenalnya. Tetapi kemudian ia berkata, “Aku yakin, bahwa aku belum pernah mengenal sebelumnya. Mungkin ia orang baru bagi Pajang.”

“Atau sama sekali bukan prajurit Pajang,” sahut Ki Juru Martani.

Raden Sutawijaya tidak menjawab lagi. Ia mencoba untuk menyingkirkan teka-teki itu dari angan-angannya meskipun ia masih berniat untuk menyimpan ikat pinggang itu.

Dalam pertempuran di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, Agung Sedayu telah membunuh Ki Tumenggung Wanakerti. Mungkin saja seorang perwira yang lain mendendamnya karena Agung Sedayu untuk selanjutnya akan dapat menjadi penghalang yang besar bagi keinginan golongan mereka. Apalagi mereka tentu menganggap bahwa Agung Sedayu telah berdiri dipihak Mataram.

Tetapi mungkin pula orang itu telah dikirim oleh para pemimpin dari kelompok yang merasa kehilangan Ki Gede Telengan, yang mereka ketahui telah dibunuh oleh Agung Sedayu pula. Atau bahkan oleh Kiai Samparsada yang masih belum dapat melepaskan dendamnya.

Banyak pertimbangan-pertimbagan yang membayangi angan-angan Raden Sutawijaya. Namun ia mencoba untuk melupakannya, Setidak-tidaknya untuk beberapa saat. Jika kesempatan terbuka untuk mencari jawaban atas ikat pinggang itu, maka ia tentu akan mempersoalkannya kembali.

Karena itulah, maka setelah menyimpan ikat pinggang keprajuritan itu, ia pun segera turun di antara para pengawalnya untuk menyelesaikan persiapan penguburan ke empat mayat dari orang-orang yang terbunuh dihalaman itu, sementara yang lain sibuk pula mengurus, beberapa orang pengawal yang telah menjadi korban. Tetapi agaknya tidak semua pengawal terbunuh. Empat orang dari mereka masih dapat diharapkan hidup meskipun mereka mengalami cidera yang berat. Sedang dua di antara mereka tidak dapat tertolong lagi jiwanya, karena luka-luka yang parah. Mereka mengalami serangan tanpa dapat membela diri sama sekali.

Jika para pengawal itu terkenang kepada kawan-kawannya yang gugur dan terluka parah, maka darah mereka bagaikan mendidih. Rasa-rasanya mereka ingin melemparkan saja mayat-mayat itu di pinggir hutan agar menjadi mangsa binatang buas atau tubuh itu hancur disayat-sayat anjing hutan.

Tetapi mereka tidak dapat melakukannya. Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani sama sekali tidak menghendakinya. Mereka masih tetap berpegang pada peradaban manusia, sehingga bagaimanapun juga, keempat sosok mayat itu harus diselenggarakan sebagaimana seharusnya.

Namun berbeda dengan keempat sosok mayat itu, dua orang pengawal yang gugur mendapat penghormatannya tersendiri. Mereka adalah para pengawal yang sedang melakukan tugasnya saat mereka disergap oleh orang-orang yang tidak mereka kenal, sehingga mereka sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Membunyikan isyarat pun tidak sempat.

Dengan demikian maka Mataram menjadi sibuk. Para pengawal mengatur segalanya untuk upacara pemakaman kawan-kawannya dan keempat orang lawan mereka. Sementara keluarga para korban dengan sedih merenungi kematian kedua pengawal yang justru sedang bertugas di dalam kota mereka sendiri.

“Agung Sedayu lah yang menurut kabarnya menjadi sasaran keempat orang itu. Tetapi anakkulah yang harus menjadi banten,” seorang ibu tua menangis disamping suaminya yang telah tua pula.

“Ia gugur dalam tugasnya,” suaminya mencoba meredakan tangisnya.

“Tetapi sekarang Agung Sedayu begitu saja pergi seolah-olah tidak terjadi apa-apa di Mataram,” tangis isterinya dengan kesal.

“Ia memang tidak tahu diri,” keluarga yang lain menyahut, “seharusnya ia tetap berada disini. Bebanten itu adalah tebusan nyawanya. Dan ia sama sekali tidak memberikan penghormatan kepada mereka. Tanpa anakku dan anakmu yang gugur, ialah yang mati dihalaman ini.”

Yang lain menganggguk-agguk. Tetapi mereka tidak dapat menyampaikan perasaan itu kepada Raden Sutawijaya. Karena itu, mereka hanya dapat membicarakan di antara mereka saja.

Namun mereka kemudian mendengar beberapa orang pengawal yang datang dan duduk di sebelah keluarga korban yang gugur itu berbicara. Salah seorang dari mereka berkata, “Tanpa Agung Sedayu, Mataram benar-benar akan menjadi buram. Mungkin pusaka Mataram telah hilang, atau Ki Juru Martani lah yang telah gugur sekarang ini.”

“Tetapi kenapa ia pergi sebelum pemakaman ini selesai?” bertanya yang lain.

“Hatinya terlalu ringkih. Mungkin lembut, tetapi mungkin cengeng seperti yang dikatakan oleh beberapa orang. Ia merasa bersalah pada setiap kematian. Apalagi karena tangannya. Itulah sebabnya hampir terjadi salah paham antara Agung Sedayu dan para pengawal. Tetapi itu tidak mengurangi besar jasanya sekarang ini, meskipun ia berusaha melarikan diri dari kenyataan bahwa ia telah membunuh lagi dihalaman rumah ini.”

Pembicaraan itu terputus. Salah seorang dari para pengawal itu dipanggil kawannya dan pergi meninggalkan tempat itu.

Beberapa orang keluarga korban yang terbunuh itu pun termangu-mangu. Mereka mendengar pembicaraan para pengawal itu, sehingga mereka mempunyai penilaian banding tentang Agung Sedayu. Namun bagi mereka Agung Sedayu justru merupakan orang yang memiliki banyak teka-teki yang sulit pada dirinya. Ia mempunyai banyak wajah tentang watak dan sifatnya. Seorang prajurit yang berani, seorang pembunuh yang disegani, tetapi juga seorang yang cengeng dan kecil hati dan seorang yang penuh belas kasihan.

Sementara itu Agung Sedayu masih dalam perjalanannya menuju ke Sangkal Putung. Ia berbicara tentang berbagai macam persoalan dengan pengawal yang mengawaninya di perjalanan. Tetapi Agung Sedayu selalu menghindar jika kedua orang pengawal itu mulai berbicara tentang peperangan. Apalagi tentang nama-nama yang kadang-kadang datang didalam mimpinya. Ki Gede Telengan, Ki Tumenggung Wanakerti, Kiai Samparsada atau Kiai Kalasa Sawit. Bahkan kadang-kadang ia melihat sebuah barisan yang panjang dari orang-orang yang dibunuhnya dengan tubuh yang koyak koyak sejak tangannya pertama kali di kotori dengan darah.

Tetapi Agung Sedayu senang sekali jika kawan-kawannya di perjalanan itu membicarakan tentang hijaunya sawah yang terbentang di sebelah menyebelah jalan. Tentang parit-parit yang mengalirkan air yang bening, dan tentang jalan-jalan yang semakin ramai dilalui pedati yang membawa hasil sawah menuju ke tempat-tempat yang ramai.

“Pada saatnya Mataram merupakan pusat perdagangan di daerah baru dan sedang berkembang ini,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya, “dari Kademangan-kademangan di daerah Selatan, Tanah Perdikan Menoreh dan Kademangan di sekitarnya. Daerah lereng Gunung Merapi dan daerah di sebelah Timur yang berada digaris lurus antara Mataram dan Pajang.”

Dalam pada itu. perjalanan mereka pun semakin lama menjadi semakin jauh dari Mataram. Matahari memanjat semakin tinggi di langit, sehingga sinarnya yang mulai panas terasa gatal menggelitik tubuh. Setitik keringat mulai mengembun di kening.

Tetapi kuda-kuda mereka berlari terus. Kadang-kadang mereka harus memperlambat jika mereka berpapasan dengan pedati yang berjalan lamban beriringan.

Ketika mereka mendekati sungai Opak, maka mereka pun beristirahat sejenak. Mereka memberi kesempatan kuda-kuda mereka minum dan makan rerumputan segar, sementara Agung Sedayu dan kedua pengawal, yang mengawaninya duduk bersandar sebatang pohon yang rindang.

Menilik orang-orang yang lalu lalang, dan orang-orang yang bekerja di sawah, maka nampaknya di daerah itu tidak ada tanda-tanda yang dapat memberikan kesan yang kurang baik seperti yang terjadi di Mataram. Nampaknya Prambanan tetap tenang tanpa mengalami gangguan apapun juga, meskipun letaknya yang tidak terlalu jauh dari Mataram. Agaknya di Kademangan itu terasa tangan-tangan pasukan Pajang yang berada di Jati Anom membantu menjaga pengamanannya meskipun tidak langsung.

“Mungkin masih ada dua tiga orang prajurit yang bertugas di Kademangan ini jika diminta,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya, “agaknya berbeda dengan Sangkal Putung yang merasa dapat melindungi dirinya sendiri, sehingga bantuan kakang Untara tidak diperlukan lagi.”

Nampaknya kedua pengawal Mataram yang bersama Agung Sedayu itu pun sedang memperhatikan keadaan Prambanan. Bahkan salah seorang dari mereka berdesis kepada kawannya, “Prambananpun tentu akan menjadi besar.”

“Mereka berusaha untuk memenuhi kebutuhan sendiri, seperti Sangkal Putung. Dari segi kekuatan, maka prajurit Pajang yang masih ada di Prambanan merupakan orang-orang yang diharap dapat meninggalkan ilmu kanuragan mereka pada anak-anak muda di Prambanan,” sahut yang lain.

Agung Sedayu berpaling kepada mereka. Tetapi ia tidak menyahut. Ia pun mengerti, bahwa para prajurit Pajang di Prambanan dengan senang hati memenuhi permintaan anak-anak muda Prambanan untuk melatih mereka dalam olah kanuragan. Tetapi justru karena Prambanan sejak semula adalah Kademangan yang tenang, subur dan berkecukupan, maka justru gejolak anak-anak mudan,ya tidak begitu nampak. Agaknya di Prambanan tidak ada seorang anak muda seperti Swandaru. Mereka cukup puas dengan keadaan mereka meskipun hanya sederhana. Tidak ada perjuangan yang menggelegak seperti Sangkal Putung untuk membuat kademangan itu menjadi semakin besar dan kuat.

Namun demikian. Prambanan merupakan Kademangan yang cukup ramai.

Agung Sedayu yang masih bersandar sebatang pohon itu memandangi arus sungai Opak yang mengalir dengan tenang. Di musim kering, airnya yang jernih mengalir dengan segan. Tidak lebih dari sebatang sungai kecil yang mengalir didataran pasir yang luas. Tetapi dimusim basah arus Kali Opak dapat menghanyutkan rumpun-rumpun bambu di tepian. Airnya memenuhi seluruh luasnya sungai dari tanggul sampai ke tanggul. Bergejolak kecoklatan, sehingga orang-orang yang ingin menyeberang harus mempergunakan rakit-rakit dengan tukang satang yang kuat.

Namun dalam pada itu, selagi Agung Sedayu memandangi arus air yang jernih dan hijaunya tanaman di sawah, keningnya berkerut ketika ia melihat dua orang berkuda berpacu seperti dikejar hantu.

“Kau lihat,” di luar sadarnya Agung Sedayu berdesis.

Kedua pengawal Mataram yang menyertai Agung Sedayu itu pun termangu-mangu. Namun kemudidan katanya, “Menarik sekali. Marilah kita berdiri di pinggir jalan. Mungkin kita sudah mengenal mereka, atau barangkali ada sesuatu yang dapat kita ketahui tentang mereka.”

Agung Sedayu mengangguk. Ia pun kemudian berdiri dan bersama kadua pengawal itu mereka melangkah ketepi jalan. Meskipun mereka tidak semata-mata memandangi kedua orang yang berpacu itu, namun mereka sengaja untuk dapat melihat kedua orang itu dari dekat.

Dari kejauhan nampak debu putih mengepul tinggi. Kuda-kuda yang berlari itu mengurangi kecepatannya ketika mereka menyeberangi sungai yang tidak begitu dalam. Kemudian memanjat tebing dan semakin lama derap kuda itu pun menjadi semakin cepat pula.

Namun ternyata kedua orang berkuda itu terkejut ketika mereka melihat Agung Sedayu berdiri di pinggir jalan, seperti Agung Sedayu pun terkejut pula melihat mereka.

“Agung Sedayu,” salah seorang dari kedua orang berkuda itu berdesis.

Keduanya pun kemudian menarik kekang kuda mereka, sehingga tepat dihadapan Agung Sedayu kedua ekor kuda itu pun berhenti. Dengan tergesa-gesa keduanya segera meloncat turun dari kuda mereka.

Agung Sedayu pun kemudian memperkenalkan kedua orang berkuda itu kepada para pengawal yang menyertainya dari Mataram. Keduanya adalah para pengawal dari Sangkal Putung.

“O,” salah seorang pengawal dari Mataram bergumam, “agaknya ada keperluan yang penting sehingga keduanya berpacu agaknya menuju ke Mataram.”

Agung Sedayu mengangguk. Ia pun ingin segera mengetahui, apakah kedua pengawal itu sedang melakukan tugas yang penting.

Namun sebelum Agung Sedayu bertanya, salah seorang pengawal dari Sangkal Putung itu telah berkata, “Agung Sedayu. Kami berdua memang sedang dalam perjalanan ke Mataram mencarimu. Jika kau belum berada di Mataram, kami harus langsung menuju ke Tanah Perdikan Menoreh setelah kami menghadap Senapati Ing Ngalaga.”

“Apakah yang sudah terjadi?” bertanya Agung Sedayu tidak sabar lagi.

Pengawal itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian salah seorang berkata, “Baiklah. Aku akan mengatakannya disini. Bukankah kau sudah berada dalam perjalanan kembali ke Sangkal Putung.”

“Ya.”

“Untunglah kami tidak berselisih jalan.”

“Jalan ini adalah jalan yang paling baik. Bahkan dapat disebut satu-satunya karena jalan-jalan kecil yang lain masih terlalu sulit atau lebih jauh dilalui dan apalagi untuk berpacu,” Agung Sedayu menjawab, lalu. “coba katakanlah, apakah keperluanmu?”

“Kami harus menyampaikan berita yang penting. Ki Sumangkar yang terluka parah itu, kini nampaknya menjadi semakin gawat.”

“Ki Sumangkar?” Agung Sedayu dan kedua pengawal dari Mataram itu berbareng mengulangi.

“Ya,” jawab salah seorang pengawal dari Sangkal Putung itu.

“Bagaimana dengan guru?” bertanya Agung Sedayu.

“Maksudmu Kiai Gringsing?”

“Ya.”

Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Kiai Gringsing masih tetap menungguinya siang dan malam. Ia telah berusaha sejauh dapat dilakukan. Tetapi seperti yang dikatakannya kepada Ki Demang, bahwa ia tidak lebih dari seorang manusia biasa. Yang dapat dilakukannya memang sangat terbatas.”

“Tetapi guru adalah seorang dukun yang sangat pandai.” potong Agung Sedayu.

“Semua orang mengakuinya. Tetapi seperti yang dikatakannya sendiri, bahwa ia adalah seorang yang tidak lebih dari orang-orang kebanyakan. Usahanya tidak seluruhnya harus berhasil. Juga dalam hal obat-obatan. Tetapi ia tidak berputus asa. Kiai Gringsing sedang mencari sejenis daun turi tetapi yang bunganya berwarna kehitam-hitaman. Batangnya tidak lebih besar dari pohon landep. Mudah-mudahan ia berhasil.”

Agung Sedayu menjadi tegang. Ia menganggap bahwa gurunya adalah seorang yang memiliki pengamatan yang luas tentang obat-obatan. Jika Kiai Gringsing mengalami kesulitan, maka nampaknya keadaan Ki Sumangkar memang benar-benar gawat.

Karena itu. maka katanya kemudian, “Jadi kalian juga mendapat tugas untuk menyampaikannya kepada Raden Sutawijaya?”

“Kiai Gringsing memerintahkan demikian. Ki Demang dan Swandaru pun berpendapat demikian juga, meskipun Ki Sumangkar sendiri sebenarnya berkeberatan,” jawab salah seorang pengawal Sangkal Putung itu.

Agung Sedayu termangu-mangu. Maka katanya kemudian, “Jika demikian, maka kalian akan tetap pergi ke Mataram meskipun kalian telah bertemu aku disini.”

“Ya. Kami akan terus ke Mataram.”

Agung Sedayu merenung sejenak. Ia membuat pertimbangan tentang rencana kedua pengawal itu pergi ke Mataram. Apakah tidak sebaiknya kedua pengawal dari Mataram sajalah yang kembali dan menyampaikan berita itu.

Namun tiba-tiba ia menggeleng. Katanya, “Memang sebaiknya kalian pergi ke Mataram. Tidak baik menyerahkan tugas kepada orang lain.. Menghadaplah Senapati Ing Ngalaga di Mataram untuk menyampaikan berita itu. Dan katakanlah bahwa kalian telah berjumpa dengan aku di perjalanan ini.”

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Salah seorang dari keduanya menjawab, “Baiklah. Jika demikian, kami akan melanjutkan perjalanan kami.”

“Berilah kudamu kesempatan minum dan sedikit makan rumput. Kemudian segeralah melanjutkan perjalanan. Kami sudah beristirahat sejenak, sehingga biarlah kami meneruskan perjalanan kami. Tiba-tiba saja rasanya kami ingin segera berada di Sangkal Putung,” berkata Agung Sedayu.

“Silahkan. Ada baiknya juga kudaku minum,” jawab salah seorang pengawal dari Sangkal Putung itu.

Agung Sedayu dan dua orang pengawal dari Mataram itu pun segera mempersiapkan diri. Kuda mereka nampaknya sudah cukup beristirahat sehingga telah menjadi segar kembali. Kuda-kuda itu telah minum beberapa teguk dan makan rerumputan segar di pinggir Kali Opak.

Sejenak kemudian Agung Sedayu dan kedua orang pengawal dari Mataram itu pun berpacu. Mereka rasa-rasanya seperti dikejar-kejar oleh waktu. Kecemasan yang sangat telah mencengkam hati Agung Sedayu. Seolah-olah ia didesak oleh suatu keinginan untuk masih dapat bertemu dengan Ki Sumangkar dan sedikit berbicara.

“Waktu itu masih panjang,” geram Agung Sedayu, “kenapa aku tergesa-gesa. Besok, lusa, sepekan atau sebulan lagi aku masih akan dapat berbincang dengan Ki Sumangkar. Ia akan sembuh dan sehat kembali seperti sediakala.”

Namun dilubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak dapat mengingkari keharusan yang dapat terjadi kepada Ki Sumangkar, bahkan kepada setiap orang, jika yang Maha Kuasa memang sudah menghendakinya.

Karena itulah, maka kuda Agung Sedayu dan kedua pengawal dari Mataram itu pun berderap semakin kencang. Beberapa orang yang berpapasan dengan keduanya menjadi heran. Apalagi orang-orang yang sedang menunggui sawah di pinggir jalan. Baru saja mereka melihat dua orang berkuda berpacu kearah yang berlawanan dengan ketiga orang itu.

Tetapi baik yang berdua maupun yang bertiga dengan arah yang berlawanan, sama sekali tidak berbuat sesuatu yang mencurigakan. Yang mereka lihat, mereka adalah orang-orang yang bepergian dengan tergesa-gesa.

Demikian pula para pengawal Sangkal Putung yang pergi ke Mataram. Selelah beristirahat sejenak, maka mereka pun segera meneruskan perjalanan mereka. Mereka berpacu seperti dikejar hantu, karena mereka pun sebenarnya merasa cemas, bahwa jika Raden Sutawijaya berkenan mengunjungi Ki Sumangkar, ia akan datang terlambat.

Jarak antara Prambanan ke Sangkal Putung dan ke Mataram tidak berselisih jauh. Tetapi jalan ke Mataram, semakin dekat, menjadi semakin baik. Lebih baik dari jalan yang menuju ke Sangkal Putung setelah melewati Prambanan, sehingga karena itu, berpengaruh pula pada laju kuda mereka yang pergi ke arah yang berlawanan pula.

Dengan demikian, maka para pengawal Sangkal Putung yang pergi ke Mataram ternyata lebih cepat mencapai tujuannya meskipun selisih waktu yang diperlukan hampir tidak berarti. Di saat Agung Sedayu memasuki Kademangan Sangkal Putung, maka para pengawal dari Sangkal Putung telah berhenti didepan regol rumah Raden Sutawijaya, karena dua orang pengawal bersenjata tombak telah berdiri di sebelah menyebelah sambil mengacukan senjata mereka.

“Siapakah kalian Ki Sanak?” bertanya salah seorang penjaga regol itu.

“Kami dalang dari Sangkal Putung,” jawab pengawal yang datang.

“Siapakah yang kalian cari?” bertanya penjaga regol pula.

“Kami akan menghadap Senapati Ing Ngalaga.”

Namun sementara itu penjaga regol yang lain bertanya, “Kau akan mencari Agung Sedayu?”

“Tidak,” jawab pengawal itu, “kami telah berpapasan di jalan. Kami akan menghadap Senapati Ing Ngalaga untuk menyampaikan pesan Kiai Gringsing kepadanya.”

Para penjaga regol itu termangu-mangu. Namun kemudian mereka membawa kedua pengawal dari Sangkal Putung itu kepada pimpinan mereka.

“Aku akan menyampaikannya,” berkata pimpinan penjaga regol itu, “tunggulah. Jika Senapati dapat menerima kalian, maka kalian akan kami persilahkan.”

Kedua pengawal dari Sangkal Putung itu terpaksa menunggu. Rasa-rasanya waktu berjalan sangat lamban, dan pimpinan penjaga itu masih saja belum datang kembali.

Tetapi akhirnya ia datang pula, justru bersama dengan Senapati Ing Ngalaga sendiri.

Pada saat Senapati Ing Ngalaga melihat kedua pengawal dari Sangkal Putung itu, rasa-rasanya ia tidak sabar lagi. Dengan serta merta ia pun bertanya sebelum seperti kebiasaannya, menanyakan tentang keselamatan tamu-tamunya di perjalanan.

“Apakah kau bertemu dengan Agung Sedayu?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Ya Raden. Kami bertemu di Prambanan,” jawab salah seorang pengawal itu.

“Kemarilah. Tentu ada yang penting yang akan kau sampaikan.” ajak Raden Sutawijaya.

Kedua pengawal itu pun kemudian mengikutinya naik ke pendapa dan duduk diatas tikar yang telah terbentang.

Sejenak kemudian maka salah seorang dari mereka pun segera menyampaikan pesan dari Kiai Gringsing di Sangkal Putung tentang keadaan Ki Sumangkar.

Sementara itu. Agung Sedayu yang tergesa-gesa telah sampai pula di Kademangan Sangkal Putung. Dengan tergesa-gesa pula ia memasuki regol dan menyerahkan kudanya kepada seorang pengawal beserta kedua orang pengawal yang datang bersamanya dari Mataram.

Agung Sedayu tertegun ketika ia melihat Sekar Mirah berlari menuruni tangga. Dengan serta merta gadis itu berseru dengan suara serak, “Kakang.”

Agung Sedayu bagaikan membeku ditempatnya. Ia melihat Sekar Mirah berlari ke arahnya. Namun Sekar Mirah melihat pula dua orang pengawal dari Mataram, maka langkahnya pun bagaikan patah. Namun ia sudah berdiri beberapa langkah saja dihadapan Agung Sedayu.

“Ada apa Sekar Mirah?” bertanya Agung Sedayu kebingungan, namun ia segera sadar, bahwa ia sudah mendengar keadaan Ki Sumangkar, guru Sekar Mirah. Karena itu. maka ia pun kemudian bertanya, “bagaimana keadaan Ki Sumangkar?”

Sekar Mirah menundukkan kepalanya. Setitik air mata mengambang dipelupuknya. Dengan suara sendat ia berkata, “Guru menjadi semakin gawat. Kiai Gringsing dan ayah telah mengutus dua orang pengawal ke Mataram mencarimu.”

“Aku lelah bertemu di perjalanan,” jawab Agung Sedayu, “mereka sekarang melanjutkan ke Mataram untuk menyampaikan kabar ini kepada Raden Sutawijaya.”

Sekar Mirah mengangguk. Tetapi rasa-rasanya ia tidak dapat menahan air matanya. Tiba-tiba saja setelah ia berdiri dihadapan Agung Sedayu ia menjadi cengeng dan menangis diluar sadarnya.

Agung Sedayu menjadi kebingungan. Ia tahu apa yang harus dilakukan terhadap gadis itu. Ada juga niatnya untuk menggandengnya naik ke pendapa. Tetapi rasa-rasanya tangannya menjadi kejang.

Yang dapat dilakukan kemudian hanyalah berkata, “Sudahlah Sekar Mirah. Jangan menangis. Aku ingin melihat keadaan Ki Sumangkar.”

Agung Sedayu melangkah perlahan-lahan diikuti oleh Sekar Mirah. Ketika ia memandang ketangga pendapa, ia melihat gurunya. Ki Demang dan Swandaru berdiri menunggunya.

Yang mula-mula sekali melangkah monyongsongnya adalah Kiai Gringsing yang diikuti oleh Ki Demang. Baru kemudian Swandaru pun turun dari tangga.

Wajah mereka nampak sayu agaknya mereka mengalami kelelahan lahir dan batin. Terlebih-lebih Kiai Gringsing.

“Marilah Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing, “kami sedang berjuang untuk mengatasi kegawatan pada diri Ki Sumangkar.”

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Ketika ia memandang wajah Ki Demang, maka Ki Demang pun berkata, “Kami sudah berusaha sejauh dapat kami lakukan.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Nampaknya Ki Demang berusaha untuk menunjukkan bahwa usaha yang telah dilakukan oleh seisi rumah itu benar-benar sudah sejauh-jauh dapat dicapai. Bahkan seolah-olah Ki Demang ingin mengatakan kepadanya, bahwa ia tidak dapat dipersalahkan karena keadaan yang gawat dari Ki Sumangkar.

Agung Sedayu justru menjadi termangu-mangu. Mungkin tatapan matanya seolah-olah menuduh bahwa orang-orang yang ada di rumah itu tidak berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengobati Ki Sumangkar. Tetapi itu tidak mungkin. Ia yakin, gurunya adalah seorang dukun yang pandai dan benar-benar mengabdikan diri untuk kepentingan sesama.

Namun Agung Sedayu pun kemudian menyadari. Agaknya Ki Demang sengaja mengatakannya agar Sekar Mirah pun mendengar pula. Agaknya gadis yang gelisah itu menganggap bahwa orang-orang yang ada di sekitar gurunya yang sakit itu masih belum berusaha sepenuh tenaga.

Tetapi Agung Sedayu tidak menanggapinya. Bersama gurunya, diikuti oleh Ki Demang dan Swandaru, ia memasuki bilik Ki Sumangkar di gandok sebelah kanan.

Agung Sedayu tertegun di pintu bilik. Ketika ia melihat tubuh yang terbaring diam itu, rasa-rasanya dadanya bergejolak keras sekali. Wajah Ki Sumangkar nampak pucat sekali. Baru beberapa hari saja ia tidak melihatnya. Namun nampaknya Ki Sumangkar menjadi sangat kurus dan lemah,

Pada tubuh itu sama sekali tidak terbayang, kemampuan raksasa yang dimilikinya. Ki Sumangkar adalah adik seperguruan Patih Mantahun dari Jipang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, sehingga seolah-olah ia tidak dapat dikalahkan di medan perang yang manapun juga. Bahkan beberapa orang menganggap bahwa Patih Mantahun dan saudara-saudara seperguruannya memiliki nyawa rangkap.

Agung Sedayu terperanjat ketika ia mendengar gurunya berbisik, “Masuklah.”

Dengan ragu-ragu Agung Sedayu melangkah masuk. Hatinya menjadi semakin berdebar-debar ketika ia kemudian melihat Ki Sumangkar memiringkan kepalanya.

Seleret senyum membayang diwajah yang pucat itu. Kemudian terdengar suaranya parau dikerongkongan, “Kau datang Agung Sedayu.”

Rasa-rasanya dada Agung Sedayu bagaikan bergetar. Suara Ki Sumangkar yang lemah, dalam dan parau itu. bagaikan pertanda yang baru padanya tentang orang tua itu.

Perlahan-lahan Agung Sedayu melangkah mendekat. Kiai Gringsing, Ki Demang Sangkal Putung dan Swandaru pun memasuki bilik itu pula, sementara Sekar Mirah masih tetap berdiri diluar. Ia tidak ingin mengganggu pertemuan antara Agung Sedayu dan Ki Sumangkar yang sudah sangat lemah. Karena ia merasa, bahwa betapapun keras hatinya, namun pada saat-saat tertentu, kelemahan perasaannya sebagai seorang gadis tidak, dapat dikendalikan lagi, sehingga air matanya akan dapat menambah kegelisahan hati gurunya yang sedang dalam keadaan gawat.

Agung Sedayu pun kemudian duduk di sebuah dingklik kayu di sisi pembaringan Ki Sumangkar, sementara yang lain berdiri selangkah di belakang Agung Sedayu.

“Kiai,” tiba-tiba saja Agung Sedayu berdesis. Ada sesuatu yang terasa menghangati kerongkongannya.

Ki Sumangkar tersenyum. Katanya, “Apakah ada seseorang yang memberitahukan kepadamu tentang keadaanku?”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “Ya Kiai. Aku mendengar dari dua orang pengawal yang pergi ke Mataram.”

“Apakah sebenarnya keperluanmu belum selesai?” bertanya Ki Sumangkar lemah.

“Aku memang sudah di perjalanan kembali ke Sangkal Putung Kiai,” jawab Agung Sedayu.

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “luka-lukaku sangat parah. Kau sudah berhasil menyelamatkan nyawaku di peperangan itu. Tetapi segala sesuatu tentang hidup seseorang tergantung sekali kepada Yang Maha Kuasa. Dan aku tidak akan ingkar akan setiap keputusan yang diambil-Nya tentang diriku. Sekarang, besok atau lusa.”

“Ah,” desah Agung Sedayu, “guru tentu akan berusaha lebih banyak untuk menyembuhkan Kiai.”

Ki Sumangkar tersenyum. Katanya, “Aku sangat berterima kasih kepada segala pihak. Kepada gurumu. Kiai Gringsing yang telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meringankan penderitaanku. Kepada Ki Demang di Sangkal Putung. Kepada saudara seperguruanmu dan isterinya kepada Sekar Mirah yang telah merawat aku dengan sebaik-baiknya selama aku sakit.”

“Kiai akan sembuh.” potong Agung Sedayu.

Tetapi Ki Sumangkar tersenyum pula. Dengan suara tertahan ia berkata, “Jangan seperti kanak-kanak Agung Sedayu, seolah-olah kita dapat menahan putaran janji tentang diri kita sendiri. Tetapi itu bukan berarti bahwa aku tidak mau berusaha. Aku masih tetap minum dan makan semua obat untukku. Memang segalanya dapat terjadi. Dan aku akan menerima apa saja dengan hati yang lapang.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam dalam, ia merasa benar-benar dihadapkan pada seorang yang seolah-olah telah mapan dalam perjalanan terakhir dari hidupnya. Jika ia mengenang sikap Ki Sumangkar di peperangan yang seakan-akan merupakan hantu penyebar maut, maka ketika maut itu sendiri datang mendekat, ia sama sekali tidak meronta.

“Ia adalah seorang yang telah memahami arti hidupnya,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya, “bahkan akhirnya ia harus kembali ketempatnya yang abadi. Dengan sadar ia melihat dirinya yang singgah di kefanaan ini. Seperti ia pernah datang, maka ia akan pergi.”

Agung Sedayu mengangkat wajahnya yang tertunduk ketika ia mendengar Ki Sumangkar berkata, “Sudahlah. Sekarang berceriteralah tentang dirimu. Tentang Tanah Perdikan Menoreh dan tentang Mataram.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling, dilihatnya wajah-wajah yang tegang didalam bilik itu.

Sejenak ia berdiam diri. Namun kemudian katanya, “Semuanya dalam keadaan baik Kiai. Tanah Perdikan Menoreh dalam keadaan baik. Mataram pun dalam keadaan baik.”

“Syukurlah. Semuanya baik.” namun kemudian nada suaranya menjadi dalam, “tetapi kau datang sendiri tanpa Ki Waskita.”

Agung Sedayu bergeser sedikit. Jawabnya, “Ketika aku pergi ke Mataram dari Tanah Perdikan Menoreh, Ki Waskita sudah mendahului kembali kepadukuhannya Kiai. Ia merasa sudah terlalu lama meninggalkan sanak keluarganya.”

Kí Sumangkar tersenyum, “Ya. Ia mempunyai anak isteri. Memang sebaiknya ia pulang ke rumahnya. Rumah bagi Ki Waskita ada artinya, karena ia adalah seorang yang hidup seperti kelajiman orang kebanyakan.”

Agung Sedayu melihat mata yang cekung itu menjadi redup. Namun hanya sesaat, karena Ki Sumangkar pun kemudian berkata, “Kau tentu belum beristirahat, Agung Sedayu. Beristirahatlah.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia masih tetap duduk ditempatnya, sehingga Kiai Gringsing lah yang kemudian berkata, “Marilah Agung Sedayu. Kecuali kau perlu beristirahat, maka Ki Sumangkar pun perlu beristirahat pula.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian minta diri untuk keluar dari bilik Ki Sumangkar.

Namun Kiai Gringsing pun menyuruhnya untuk benar-benar beristirahat. Membersihkan diri dan kemudian makan sekedarnya. Orang-orang Sangkal Putung itu pun telah mendengar ceriteranya tentang empat orang yang mencarinya di Mataram, dan tanpa dikehendakinya, mereka semuanya telah terbunuh oleh kemarahan para pengawal, karena mereka telah lebih dahulu membunuh beberapa orang pengawal dan melukainya yang lain.

Sementara itu, orang-orang di Sangkal Putung itu pun bersetuju untuk memberikan kabar kepada Widura di Jati Anom. Selain Widura juga mengenal Ki Sumangkar dengan baik. ia akan tahu pula alasannya kenapa Agung Sedayu tidak segera kemali.

Sementara itu, ketika malam tiba. orang-orang di Kademangan Sangkal Putung bagaikan tidak dapat tidur nyenyak. Terutama mereka yang berada di rumah Ki Demang. Berganti-ganti mereka menunggu Ki Sumangkar yang dalam keadaan gawat. Agung Sedayu yang ikut menungguinya pula telah menjadi sangat cemas melihat keadaan orang tua itu.

Tetapi nampaknya Ki Sumangkar gembira atas kehadiran Agung Sedayu. Ia minta Agung Sedayu menceriterakan keadaan Tanah Perdikan Menoreh. Orang tua itu minta agar Agung Sedayu berceritera tentang keadaan rakyatnya, sawah dan pategalannya dan ketenangan hidupnya. Demikian juga tentang Mataram.

Sambil mendengarkan ceritera Agung Sedayu. Ki Sumangkar kadang-kadang tersenyum, kadang-kadang mengerutkan dahinya.

Namun ketika Agung Sedayu duduk sendiri didalam bilik Ki Sumangkar, maka orangtua yang sudah sangat lemah itu sempat memberikan beberapa petunjuk kepadanya.

“Sekar Mirah adalah gadis yang keras hati,” berkata Ki Sumangkar hampir berbisik, “jika hatimu keras pula. maka didalam ikatan perkawinan kelak akan banyak sekali terjadi benturan-benturan dan persoalan-persoalan yang akan berpatahan. Untunglah kau mempunyai sifat yang lain Agung Sedayu. Mudah-mudahan kau berhati seluas lautan. Tetapi itu bukan berarti bahwa kau tidak boleh menentukan sifat. Jika perlu kau sekali-sekali harus bersikap keras pula terhadapnya.”

Agung Sedayu menunduk. Ia mengerti sepenuhnya maksud Ki Sumangkar. Ia pun kadang-kadang lelah dibayangi oleh kecemasan tentang sifat-sifat Sekar Mirah. Namun Ki Sumangkar berkata selanjutnya, “Tetapi Agung Sedayu. sifat-sifat keras hati itu akan dapat bermanfaat pula bagi masa depannya dan sudah barang tentu masa depanmu. Jika Sekar Mirah dapat menyalurkan kekerasan hatinya menurut jalan kebenaran, maka ia akan menemukan hari depan yang cerah. Dan adalah kewajibanmu untuk memagari kekerasan hatinya yang tersalur menurut jalan kebenaran.”

Masih banyak yang dikatakan oleh Ki Sumangkar. Namun jika ada orang lain yang memasuki bilik itu, maka ia pun terdiam dan berbaring tanpa mengucapkan sepatah katapun. Apalagi jika yang datang Sekar Mirah sendiri.

Tetapi jika mereka telah meninggalkan bilik itu, Ki Sumangkar melanjutkan pesan-pesannya kepada Agung Sedayu sebagai bekal hidupnya dimasa depan.

“Aku juga sudah memberikan banyak nasehat kepada Sekar Mirah,” berkata Ki Sumangkar, “tetapi ia harus selalu diperingatkan setiap kali. Dan itu adalah tugasmu, karena aku tidak akan dapat membantumu lagi.”

Agung Sedayu memandang wajah orang tua itu. Ia sangat berterima kasih atas segala pesan-pesannya. Tetapi ia pun menyadari, bahwa Ki Sumangkar harus banyak beristirahat.

Karena itu. maka dengan hati-hati ia kemudian berkata, “Kiai. Aku sangat senang mendengar petunjuk-petunjuk Kiai. Tetapi aku mohon Kiai untuk dapat beristirahat agar keadaan Kiai menjadi bertambah baik.”

Ki Sumangkar tersenyum. Katanya, “Kau tentu mendapat pesan dari gurumu. Kiai Gringsing selalu memperingatkan aku, agar aku banyak beristirahat dan tidur. Aku pun selalu melakukannya. Istirahat, tidur, menenangkan hati dan tidak memikirkan apa-apa.”

Agung Sedayu termenung memandanginya.

“Tetapi aku tidak mau kehilangan kesempatan. Kau dan Sekar Mirah tentu akan segera kawin. Aku berharap bahwa perkawinanmu akan menjadi baik.” Ki Sumangkar berhenti sejenak, lalu. “kau dapat melihat perkawinan Swandaru dan Pandan Wangi. Swandaru adalah seorang anak muda yang berhati sekeras baja. Bahkan kadang-kadang didalam sikap sehari-hari, kekerasan hatinya itu nampak pula. Tetapi Pandan Wangi adalah seorang perempuan yang lembut dan sabar. Meskipun aku tidak tahu, siapakah yang lebih cakap mempergunakan senjata di antara mereka, tetapi Pandan Wangi selalu menempatkan diri sebagai seorang isteri yang baik. Karena itulah, maka hubungan di antara mereka pun nampak tenang dan tanpa kemelut.”

Agung Sedayu mengangguk kecil.

“Meskipun keadaanmu berbeda,” Ki Sumangkar meneruskan, “tetapi pada dasarnya dapat ditempuh keseimbangan yang serupa. Pandan Wangi adalah seorang isteri, dan kau akan menjadi seorang suami. Kedudukanmu berbeda dengan kedudukan Pandan Wangi. Tetapi hubungan yang baik akan dapat kau bina dengan sifat-sifat yang lembut. Dan kau adalah seorang yang lembut hati.”

Agung Sedayu sama sekali tidak menjawab. Namun ia menjadi cemas bahwa dengan demikian Ki Sumangkar telah berbuat kesalahan karena ia terlalu banyak berbicara.

Untunglah, Kiai Gringsing kemudian memasuki bilik itu dan duduk bersama Agung Sedayu menungguinya, sehingga Ki Sumangkar pun menjadi lebih banyak diam dan mencoba untuk memejamkan matanya.

Dalam keadaan yang bagaimanapun juga. Ki Sumangkar tidak pernah menolak untuk minum segala macam obat yang diberikan oleh Kiai Gringsing. Ia pun tidak menolak obat apapun yang dilekatkan pada luka-lukanya.

Namun demikian, meskipun luka-luka dikulit dan dagingnya berangsur baik. tetapi keadaannya benar-benar menjadi semakin gawat. Dan Kiai Gringsing tidak lebih dari seorang manusia biasa. Ia tidak dapat berbuat melampaui kemampuan dan kuasa yang dilimpahkan kepa danya oleh Sumber segala Kekuasaan.

Yang kemudian datang di Sangkal Putung lewat tengah malam adalah Ki Widura. Bahkan sekaligus dengan Untara yang diberitahukannya pula. Bersama mereka selain para pengawal adalah seorang anak muda yang bertubuh kecil. Glagah Putih.

Glagah Putih yang sudah rindu kepada Agung Sedyu itu pun segera memeluknya dan berkata, “Kau terlalu lama pergi kakang. Aku kira kau tidak lagi ingin kembali kepadepokan kecil itu.”

Agung Sedayu menepuk bahu adiknya. Terasa sesuatu tergetar dihatinya. Namun kemudian ia menjawab, “Tentu tidak Glagah Putih. Aku tidak akan melupakan padepokan kecil itu. Tetapi seperti yang kau lihat, bahwa ada sesuatu yang menghambat rencanaku kembali.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Ketika ia melepaskan kakak sepupunya, maka ia pun kemudian melihat Untara yang berdiri tegak sambil memandang wajah Agung Sedayu dengan tajamnya.

Agung Sedayu pun menjadi berdebar-debar. Ketika Ki Demang mempersilahkan tamu-tamunya untuk duduk di pendapa, rasa-rasanya Untara masih saja selalu memandanginya.

Dalam kegelisahan itulah, maka ia pun kemudian duduk di belakang kakaknya bersama Glagah Putih, sementara Untara dan Widura duduk berhadapan dengan Ki Demang.

Sejenak mereka saling memperbincangkan keselamatan masing-masing seperti kebiasaan mereka. Baru kemudian Ki Demang memberikan kesempatan kepada Kiai Gringsing untuk mengatakan tentang keadaan Ki Sumangkar.

“Apakah kami dapat bertemu?” bertanya Widura.

Kiai Gringsing mengangguk. Jawabnya, “Tentu. Ki Sumangkar merasa gembira jika ia melihat seseorang menjenguknya meskipun setiap kali ia mengetahui bahwa kami akan memberitahukan tentang sakitnya kepada seseorang ia selalu berusaha mencegah.”

Ki Widura mengangguk-angguk. Kemudian sambil memandang Untara ia berkata, “Marilah. Mudah-mudahan Ki Sumanggkar tidak terkejut justru karena kita datang di saat yang asing bagi sebuah kunjungan.”

Untara pun kemudian mengikuti pamannya pergi ke bilik Ki Sumangkar. Sekar Mirah yang sedang menunggui gurunya, kemudian melangkah keluar ketika ia mengetahui beberapa orang tamu datang kepintu bilik itu.

“Apakah gurumu sedang tidur?” bertanya Ki Demang.

Sekar Mirah menggeleng. Dengan suara parau ia menjawab perlahan-lahan, “Guru jarang sekali dapat tidur nyenyak. Ia baru saja minum beberapa teguk.”

Kiai Gringsing pun kemudian menyahut, “Baiklah, biarlah aku sampaikan kepadanya, bahwa ada beberapa orang tamu datang dari Jati Anom.”

Untara dan Widura pun kemudian dipersilahkan masuk. Glagah Putih yang termangu-mangu di pintu pun kemudian melangkah masuk ketika Agung Sedayu menggamitnya.

Sumangkar tersenyum melihat kedatangan Widura dan Untara. Sepercik kegembiraan memang nampak di wajahnya. Kunjungan itu memang sangat menggembirakanya. Orang-orang yang semula berdiri berseberangan pada saat Pajang dan Jipang bermusuhaan. namun kemudian, telah lama pula bekerja-bersama untuk menegakkan Pajang, ternyata tidak melupakannya. Mereka memerlukan datang menengoknya saat ia sakit.

Widura yang kemudian duduk di samping pembaringan itu pun mengusap kaki Ki Sumangkar yang dingin. Beberapa patah kata Ki Widura bagaikan menggugah hati Ki Sumangkar. Namun ia adalah orang yang memiliki penglihatan yang tajam tentang keadaannya sendiri, sehingga ia pun tidak akan dapat lari dari kenyataan tentang keadaannya yang gawat.

Sambil tersenyum Ki Sumangkar berkata, “Aku memang belum terlalu tua. Mungkin umurku tidak terpaut banyak dari Kiai Gringsing. Atau bahkan aku lebih tua satu atau dua tahun, namun jumlah umur bukanlah batas yang memagari umur itu sendiri.”

Ki Widura menarik nafas. Ia memang tidak dapat memberikan harapan-harapan yang cerah sekedar untuk menggembirakan hati Ki Sumangkar seperti kepada orang-orang yang tidak memiliki pegangan hidup yang kuat.

Bahkan seakan-akan dengan terang Ki Sumangkar dapat melihat perjalanan hidupnya yang telah sampai di ujung lorong yang panjang dan penuh dengan corak dan ragam pengalaman.

Beberapa saat Ki Widura dan Untara masih berbicara tentang berbagai macam persoalan. Namun nampaknya Ki Sumangkar lebih banyak bersikap pasrah.

Setelah beberapa lama mereka berada didalam bilik itu, maka keduanya pun kemudian minta diri untuk keluar dari bilik itu.

“Beristirahatlah Kiai,” berkata Untara, “banyak beristirahat agaknya akan banyak memberikan bantuan pulihnya kembali kesehatan seseorang.”

Ki Sumangkar tersenyum. Jawabnya, “Terima kasih anakmas Untara. Aku akan mencoba untuk dapat tidur.”

—- > Bersambung ke bagian 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s