ADBM2-114

<<kembali | lanjut >>

PENGAWAL itu pun bergeser surut. Sejenak ia hilang diluar pintu paseban dalam. Namun kemudian ia nampak kembali bersama seorang anak muda. Agung Sedayu.

Wajah Untara benar-benar menjadi tegang. Ketika Agung Sedayu bergeser sambil berjongkok setapak demi setapak, rasa-rasanya anak itu menjadi sangat lamban. Hampir saja ia berteriak agar adiknya itu bersikap sedikit cepat.

Ketika Agung Sedayu sudah duduk bersila dan menyembah, kemudian duduk sambil menunduk menunggu pertanyaan Sultan Hadiwijaya, dada Untara rasa-rasanya bagaikan pecah.

“Kau siapa?” bertanya Sultan Hadiwijaya.

“Hamba Agung Sedayu tuanku.”

Sultan Hadiwjaya mengerutkan keningnya. Ia pernah mendengar nama itu. Karena itu. maka ia pun kemudian berdesis, “Kau adik Untara?”

“Hamba tuanku.”

Sultan mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara beberapa orang perwira tiba-tiba saja tidak dapat menahan diri untuk berpaling. Bahkan beberapa orang di antara mereka dengan wajah yang berkerut merut memandanginya sambil berkata didalam hati. “Jadi anak inilah yang memiliki cambuk bernafas maut itu seperti gurunya. Kiai Gringsing.”

Sementara itu Sultan mengangguk-angguk kecil. Dipandangnya Agung Sedayu yang menunduk. Seakan-akan ia ingin memperbandingkan anak itu dengan Untara.

Namun Untara lah yang tidak sabar. Jika Agung Sedayu menghadap ke Pajang, tentu ada persoalan yang penting yang dibawanya. Tetapi ternyata Sultan Hadiwijaya tidak segera bertanya.

“Agung Sedayu,” akhirnya Sultan pun bertanya, “apakah kau datang untuk menyusul kakakmu yang telah datang terlebih dahulu kemari?”

Agung Sedayu termangu-mangu. Sekilas dipandanginya kakaknya yang duduk dengan gelisah. Kemudian diluar sadarnya, ia pun melihat beberapa orang yang dengan ragu-ragu memandanginya sekilas-sekilas. Namun agaknya mereka terikat oleh kehadiran mereka di paseban. sehingga mereka pun segera menundukkan kepala mereka kembali.

Namun kesan yang sekilas itu membuat dada Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Seolah-olah ia melihat sejumlah orang dengan sejumlah sikap yang berbeda-beda. Bahkan ia pun ragu-ragu. apakah kakaknya membenarkan kehadirannya dipaseban itu. meskipun ia hanya sekedar utusan.

Sebenarnyalah Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang hidup didalam lingkungan yang jauh dari adat dan tata kehidupan istana meskipun ia adik seorang Senapati yang dihormati. Namun Kiai Gringsing telah memberikan banyak petunjuk, sebagaimana ia harus menghadap seorang raja dan tata unggah-ungguh didalam paseban, khususnya unggah-ungguh di istana Pajang.

Karena itu, maka sikap Agung Sedayu pun tidak banyak menimbulkan persoalan dan kesulitan bagi dirinya.

Karena Agung Sedayu masih saja dicengkam oleh keragu-raguan, maka sekali lagi Sultan bertanya, “Apakah kau mempunyai kepentingan yang lain?”

“Ampun tuanku,” jawab Agung Sedayu, “sebenarnyalah hamba tidak menyusul kakang Untara, karena hamba tidak tahu bahwa kakang Untara telah berada di paseban.”

“O,” Sultan mengerutkan keningnya, “jadi?”

Untarapun menjadi gelisah. Dan rasa-rasanya Agung Sedayu memang terlalu lamban menjawab. Rasa-rasanya ingin Untara membentaknya untuk segera berbicara.

“Ampun tuanku,” Agung Sedayu berkata selanjutnya, “sebenarnyalah bahwa hamba datang dari Sangkal Putung untuk menyampaikan berita yang barangkali kurang menyenangkan. Menurut pertimbangan guru hamba dan Ki Widura, maka sebaiknyalah bahwa hamba menyampaikan juga berita itu kepada tuanku, karena tuanku telah mengenal pula seseorang yang bernama Ki Sumangkar. yang pernah mempunyi kedudukan penting pada saat Jipang masih berdiri.”

“Ya. ya. Aku kenal Ki Sumangkar dengan baik. Dan aku pun telah mendengar bahwa ia sekarang dalam keadaan sakit yang gawat. Apakah kau membawa berita tentang orang tua yang baik itu?”

“Hamba tuanku. Agaknya Yang Maha Kuasa telah berkenan memanggil hambanya yang bernama Ki Sumangkar.”

“He,” wajah Sultan Hadiwijaya menegang sejenak.

Untara yang mendengar berita itu pun terkejut pula. Setapak ia bergeser sambil berpaling kearah Agung Sedayu. Namun Agung Sedayu hanya dapat menganggukkan kepalanya saja.

Sementara itu. beberapa orang perwira yang berada di ruang itu pun menunduk pula dalam-dalam. Sebagian dari mereka yang tidak mengetahui peristiwa yang sebenarnya terjadi di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu menganggap bahwa Ki Sumangkar telah dihinggapi oleh penyakit yang sewajarnya. Tetapi sebagian yang lain. yang mempunyai hubungan langsung dengan apa yang terjadi di lembah itu, menganggap bahwa kematian Sumangkar itu sudah tidak dapat dihindari lagi. Mereka telah mendengar bahwa luka-lukanya dipeperangan itu benar-benar tidak akan mungkin tertolong lagi, betapapun juga ia mendapat pengobatan dan pertolongan.

“Sisa kekuatan Jipang itu kini telah lenyap pula,” berkata seorang perwira didalam hatinya.

Sementara itu Sultan Hadiwijaya justru termenung sejenak. Dipandanginya Agung Sedayu yang duduk dengan kepala tunduk. Baru kemudian ia berkata, Agaknya saatnya memang sudah tiba. Ki Sumangkar memang sudah tua meskipun belum tua sekali. Tetapi jika saat itu datang, tidak seorang pun yang akan dapat mengingkari. Betapapun tinggi ilmu seseorang, betapapun pandainya seseorang dalam ilmu pengobatan, dan betapapun seseorang berusaha, namun saat-saat kematian memang tidak berada didalam genggaman tangan manusia. Kematian hadir disaat Yang Maha Kuasa menentukan untuk memanggil seorang hambanya seperti saat Yang Maha Kuasa menghadirkannya didunia ini.”

Paseban itu menjadi senyap. Berbagai tanggapan telah bergejolak disetiap dada.

“Agung Sedayu,” berkata Sultan Hadiwijaya, “baiklah. Aku terima pemberitahuan itu. Sebagai seorang sahabat aku memang wajib datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Tetapi karena keadaanku sendiri, maka aku akan mengirimkan utusan untuk melihat, untuk menyampaikan rasa persahabatanku kepadanya untuk yang penghabisan kali.”

Agung Sedayu pun kemudian menyembah. Sekali lagi ia memandang sekilas kepada kakaknya. Tetapi Untara masih saja menunduk.

Sebenarnyalah telah melonjak penyesalan dihati Untara. Ia tidak sempat datang lagi ke Sangkal Putung menengok Ki Sumangkar. Sebenarnya ia sudah berkeras untuk pergi ke Sangkal Putung. Namun tiba-tiba saja ia harus datang menghadap ke Pajang, sehingga ia tidak sempat bertemu lagi dengan Ki Sumangkar.

Sebelum Agung Sedayu meninggalkan paseban, ia masih menyampaikan pesan, saat-saat Ki Sumangkar akan dimakamkan, menjelang matahari dipuncak langit dikeesokan harinya.

Sejenak kemudian maka Agung Sedayu pun mohon diri. Ketika ia sudah berada di luar regol istana, maka dijumpainya dua orang pengawal yang datang bersamanya, dan bertiga mereka pun segera berpacu kembali ke Sangkal Putung. Apakah mungkin mereka ingin untuk masih sempat ikut memandikan jenazah Ki Sumangkar.

“Tetapi agaknya kita sudah terlambat,” berkata Agung Sedayu, “meskipun demikian, kita akan berusaha.”

Namun sebenarnyalah, pada saat itu. orang-orang di Sangkal Putung justru telah sibuk menyediakan air untuk memandikan jenazah Ki Sumangkar yang ternyata memang sudah saatnya menghadap Tuhannya kembali.

Sepeninggal Agung Sedayu maka suasana di paseban pun telah berubah. Kedatangan Agung Sedayu ke Pajang seolah-olah merupakan jawaban atas persoalan yang dibicarakan didalam paseban itu, bahwa orang-orang yang berkumpul di Sangkal Putung itu memang beralasan, karena justru mereka menunggui saat-saat terakhir dari Ki Sumangkar.

Meskipun demikian, seorang perwira yang berusia mendekati setengah abad memberanikan diri untuk bertanya, “Tuanku. Peristiwa kematian Ki Sumangkar memang merupakan peristiwa yang penting. Tetapi tidak bagi Pajang. Peristiwa itu penting bagi Jipang dan bekas-bekas pengikut Adipadi Jipang. Dengan demikian, apakah perlu bahwa kematiannya dibawa kepaseban di Pajang, dan mendapat perhatian dari tuanku?”

Sultan Pajang mengerutkan keningnya. Ia melihat beberapa orang perwira yang lain justru mengangguk-angguk, seolah-olah mereka membenarkan pertanyaan kawannya itu.

Karena itu. maka ia menganggap perlu untuk memberikan keterangan, “Para pemimpin prajurit Pajang tentu masih ingat jelas, siapakah Sumangkar itu. Dan setiap pemimpin prajurit di Pajang pun tentu mengetahui, bahwa sampai saat-saat terakhir perlawanan Tohpati di sekitar Sangkal Putung, Ki Sumangkar masih ada didalam pasukan Macan Kepatihan itu. Namun pada suatu saat ia telah berhasil dihubungi dan ditangkap. Kemudian dibawa ke Pajang di saat Tohpati tidak dapat mempertahankan diri lagi. Tetapi aku telah memberikan pengampunan, atas persetujuan kakang Pemanahan yang pada waktu itu masih memegang kendali pimpinan prajurit di Pajang. Nah. bukankah dengan demikian, sewajarnya jika kematiannya diberitahukan kepadaku? Agar aku tidak merasa kehilangan dan mempunyai prasangka buruk terhadap orang yang sebenarnya telah meninggal?”

Para perwira menundukkan kepalanya. Mereka yang semula mengangguk-angguk mendengar pertanyaan tentang orang tua itu, maka mereka pun telah mengangguk-angguk pula mendengar jawaban Sultan Hadiwijaya.

Sementara itu Sultan berkata selanjutnya, “Dalam hal ini agaknya Untara lah yang paling mengetahui, karena nilai yang berhadapan  langsung dengan pasukan Tohpati di Sangkal Putung bersama pamannya Ki Widura.”

Untara masih saja menundukkan kepalanya.

“Karena itu,” berkata Sultan kemudian, “sekarang aku akan mengutus Untara pergi ke Sangkal Putung sebagai pertanda aku ikut berduka cita atas kematian itu. Aku sendiri sebenarnya ingin datang.Tetapi kesehatan ku tidak memungkinkan.”

Beberapa orang perwira mengerutkan dahinya. Demikian besar perhatian Sultan terhadap Ki Sumangkar yang pernah menentangnya itu, sehingga ia telah mengutus Untara untuk datang ke Sangkal Putung atas namanya.

Bahkan mereka terkejut bukan buatan ketika tiba-tiba saja Sultan Hadiwijaya berkata, “Untara. Supaya pasti bahwa kedatanganmu adalah seperti kehadiranku sendiri, maka bawalah pertanda kebesaran yang meyakinkan.”

Untara sendiri justru menjadi termangu-mangu. Apalagi ketika Sultan Hadiwijaya kemudian mengambil keris masih dalam wrangkanya dari punggungnya dan menyerahkannya kepada Untara, “Untara. Bawalah serta Kanjeng Kiai Crubuk.”

Rasa-rasanya setiap dada dari mereka yang ada dipaseban itu tergetar. Seolah-olah mereka tidak percaya penglihatan mereka, bahwa Sultan Hadiwijaya telah memberikan pusaka pribadinya yang paling terpercaya itu kepada Untara sebagai pertanda kehadirannya di Sangkal Putung disaat Ki Sumangkar meninggal. Apalagi mereka yang mengetahui dengan pasti apa yang telah terjadi dengan Ki Sumangkar di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.”

Tetapi sebenarnyalah bahwa Sultan Hadiwijaya dari Pajang itu telah menyerahkan kerisnya Kangjeng Kiai Crubuk kepada Untara yang menerimanya dengan penuh keragu-raguan. Untara sendiri tidak mengerti, kenapa Sultan berkenan memberikan pertanda dengan menyerahkan Kangjeng Kiai Crubuk. Sebenarnya masih ada pertanda lain yang tidak kalah jelas dan pasti yang nilainya tidak setinggi Kangjeng Kiai Crubuk. Kangjeng Sultan dapat memberikan pertanda dengan sebuah panji-panji dengan tunggul kebesaran, atau pertanda yang lain. Namun Untara pun tidak dapat menolak ketika ia harus menerima Kangjeng Kiai Crubuk untuk dibawanya ke Sangkal Putung. Keris yang dipergunakan oleh Hadiwijaya yang saat itu masih seorang Adipati Pajang, untuk mengimbangi kedasyatan keris Adipati Jipang, yang bernama Kangjeng Kiai Setan Kober. Untunglah bahwa perang tanding yang hampir saja meledak di antara kedua Adipati itu masih dapat dilerai, meskipun akhirnya perang antara Jipang dan Pajang tidak dapat dihindarkan lagi.

Dengan hati yang berdebar-debar maka Untara pun kemudian mohon diri sambil membawa Keris Kangjeng Kiai Crubuk di tangannya. Ia sama sekali tidak berani menyelipkan pusaka Pajang itu di punggungnya seperti ia membawa kerisnya sendiri.

Betapapun anehnya, namun tidak seorang pun yang berani mencegah niat Sultan Hadiwijaya itu. Para perwira dan pemimpin Pajang yang hadir hanya dapat melihat Untara yang meninggalkan paseban sambil membawa pusaka yang sangat dihormati itu. Bahkan mereka pun melihat bahwa agaknya Untara sendiri menjadi ragu-ragu dan kurang yakin akan kepercayaan Kangjeng Sultan itu.

Sepeninggal Untara, maka pertemuan di paseban itu tidak ada lagi kepentingannya. Maka Sultan pun kemudian memerintahkan mereka yang hadir untuk meninggalkan paseban setelah Sultan sendiri masuk keruang dalam istana Pajang.

Yang baru saja terjadi di paseban, ternyata telah menjadi bahan pembicaraan yang ramai. Para perwira dan pemimpin pemerintahan telah memberikan tafsiran yang berbeda-beda. Ada yang menganggap bahwa Sultan dengan sengaja menunjukkan kepercayaannya kepada Untara. Tetapi ada yang berpendapat lain justru karena keris itu adalah perlambang pertentangan antara Pajang dan Jipang.

Dalam pada itu. Agung Sedayu yang telah mendahului kakaknya meninggalkan Pajang berusaha untuk segera dapat sampai ke Sangkal Putung. Namun mereka pun menyadari, bahwa mereka tidak akan sempat ikut memandikan janazah Ki Sumangkar, karena agaknya perjalanan mereka rasa-rasanya menjadi terlalu lama.

Ketika Agung Sedayu dan dua orang pengawal dari Sangkal Putung memasuki padukuhan induk Kademangan, mereka melihat kesibukan yang semakin meningkat. Ternyata bahwa orang-orang Sangkal Putung berusaha untuk ikut membantu sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk menyelenggarakan jenazah Ki Sumangkar.

Di rumah Ki Demang Sangkal Putung, kesibukan itu semakin terasa. Pada saat Agung Sedayu dan kedua pengawal Kademangan itu memasuki regol halaman, maka mereka langsung menyerahkan kuda mereka untuk diikat di tonggak di sudut halaman. Dengan tergesa-gesa mereka pun menuju ke pendapa.

Ki Demang Sangkal Putung, Ki Widura dan Kiai Gringsing yang melihat kedatangannya segera menyongsongnya dan dengan tidak sabar mereka bertanya apakah ia berhasil menghadap Sultan Hadiwijaya.

“Aku mendapat kesempatan itu guru,” berkata Agung Sedayu kemudian, “malahan di Pajang sedang berlangsung sidang di paseban dalam. Aku diperkenankan masuk dan memberikan laporan tentang Ki Sumangkar yang didengar oleh para pemimpin dan para perwira yang hadir saat itu, termasuk kakang Untara.”

“O,” Ki Widura mengerutkan keningnya, jadi Untara ada di Pajang?”

“Ya. Semula Sultan menyangka bahwa aku datang untuk menyusul kakang Untara. Tetapi ternyata bahwa keteranganku tentang Ki Sumangkar telah mengejutkan seisi paseban.”

Ki Widura, Kiai Gringsing dan Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-angguk. Mereka pun kemudian membawa Agung Sedayu naik ke pendapa. Mereka duduk di sisi jenazah yang sudah dimandikan dan dibaringkan diatas amben bambu ditengah-tengah pendapa.

Raden Sutawijaya ternyata masih tetap berada di Sangkal Putung bersama Ki Juru Martani. Mereka merasa wajib untuk ikut menunggui Ki Sumangkar, karena mereka mengerti sepenuhnya, apakah yang dilakukan orang tua itu di saat-saat terakhir.

Agung Sedayu pun kemudian memberikan keterangan tentang perjalanannya kepada mereka yang berada di pendapa. Saat-saat ia berada di Pajang dan kesempatannya menghadap Sultan.

Raden Sutawijaya mendengarkan keterangan itu sambil termangu-mangu. Sekilas terbayang ruang paseban yang sudah lama sekali tidak dilihatnya. Bahkan rasa-rasanya ruangan itu tidak akan pernah di ambahnya lagi, sejak ia meninggalkan istana mengikuti jejak ayahandanya, Ki Gede Pemanahan yang bertekad untuk membuka Alas Mentaok.

“Jadi Sultan akan mengirimkan utusan?” bertanya Kiai Gringsing.

“Demikianlah keterangan yang aku dengar dari Sultan sendiri,” jawab Agung Sedayu.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya tubuh yang terbujur diam itu sambil berguman, “Bagaimanapun juga, kau masih mendapat perhatian dari Sultan di Pajang, karena sebenarnyalah bahwa kau adalah seorang yang seharusnya berada didalam lingkungan istana.”

Raden Sutawijaya yang mendengar guman Kiai Gringsing itu mengangguk-angguk. Ia pun mengakui, bahwa Ki Sumangkar adalah keluarga dari lingkungan istana Pajang. Hanya karena kerendahan hatinya ia berada disegala lingkungan dan meninggal di rumah seorang Demang di Sangkal Putung dalam keadaan sederhana.

Sementara itu, didalam rumah Ki Demang, Sekar Mirah setiap kali masih saja menangis tersedu-sedu. Ia benar-benar merasa kehilangan atas meninggalnya Ki Sumangkar. Apalagi ia merasa bahwa ia adalah satu-satunya murid Ki Sumangkar yang wajib menunjukkan baktinya sebagai seorang murid.

Meskipun Ki Sumangkar sudah memberikan segala pokok-pokok ilmu yang ada namun Sekar Mirah merasa bahwa ia masih memerlukan bimbingannya untuk mengembangkannya sehingga ilmunya menjadi mapan dan masak.

Tetapi yang terjadi adalah diluar kehendak manusia. Betapapun juga. jika saat itu datang, maka ia akan datang dengan segala keperkasaannya melampaui segala macam ilmu, kemampuan, dan kekuasaan duniawi.

Dalan pada itu. Agung Sedayu masih memberikan beberapa keterangan tentang sikap Sultan Hadiwijaya yang bijaksana dan penuh wibawa.

“Mengherankan sekali,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya, “bahwa dalam pengaruh kewibawaan itu ada juga orang-orang yang ingin menghancurkannya.”

Namun Agung Sedayu tidak mengetahui lebih banyak tentang Sultan Hadiwijaya.

Dalam pada itu, segala persiapannya telah dilakukan dengan cermat. Jenazah itu masih akan bermalam satu malam. Menjelang matahari mencapai puncak diesok hari, jenazah itu baru akan dikebumikan.

Sehari penuh maka berdatanganlah orang-orang yang ingin memberikan penghormatan terakhir bagi Ki Sumangkar. Bukan saja orang-orang Sangkal Putung dan beberapa orang pemimpin Mataram yang datang menyusul setelah mereka mendengar bahwa Ki Sumangkar telah meninggal. Tetapi berita itu pun telah disampaikan pula kepada orang-orang Jipang yang pernah mengenal Ki Sumangkar dengan baik.

Dengan demikian maka Sangkal Putung seakan-akan telah menjadi sangat ramai. Beberapa buah rumah di sekitar rumah Ki Demang telah disiapkan untuk menginap tamu-tamunya yang berdatangan dari luar Sangkal Putung.

Meskipun berada di tempat yang jauh dari istana Pajang dan Jipang, namun ternyata bahwa nama Ki Sumangkar masih sanggup mengundang demikian banyak orang disaat terakhirnya.

Dalam pada itu, ternyata Untara yang meninggalkan istana Pajang tidak langsung menuju ke Sangkal Putung. Ia memerlukan kembali lebih dahulu ke Jati Anom, agar para prajurit yang ditinggalkannya tidak menjadi gelisah.

Baru menjelang malam Untara bersama beberapa orang perwira dan pengawal telah datang ke Sangkal Putung mewakili Sultan Hadiwijaya memberikan penghormatan terakhir bagi Ki Sumangkar.

Kedatangan Untara telah mengejutkan para tamu. Apalagi karena Untara membawa pusaka yang tentu merupakan suatu pertanda dari seseorang yang memiliki kekuasaan.

Ketika beberapa orang menyambutnya di tangga pendapa Kademangan, maka Untara menjelaskan kehadirannya, “Atas nama Kangjeng Sultan Hadiwijaya dari Pajang, yang pada saat ini berhalangan untuk datang memberikan penghormatan terakhir, maka aku telah datang dengan membawa pertanda pribadinya, Kangjeng Kiai Crubuk.”

Kata-kata itu memberikan ketegangan sejenak. Namun sambil menundukkan kepalanya. Kiai Gringsing-pun kemudian menyahut, “Kehadiran pertanda pribadi Sultan Hadiwijaya sangat membesarkan hati kami. Silahkan anakmas Untara, anakmas saat ini mewakili Kangjeng Sultan dari Pajang.”

Untara termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun melihat Raden Sutawijaya yang dengan segera berdiri dan menghormatinya sambil berkata, “Kangjeng Kiai Crubuk memberikan arti tersendiri kepadamu Untara. Silahkan. Kau mempunyai kedudukan khusus sekarang.”

Untara masih ragu-ragu. Namun Raden Sutawijaya yang mempercayai pusaka di tangan Untara itu pun segera mempersilahkan. Sementara Ki Juru dan  orang-orang yang lainpun memberikan tempat kepada Senapati Besar itu. terlebih-lebih karena ia membawa pertanda kebesaran Pajang.

Malam itu, pendapa Kademangan Sangkal Putung telah penuh dengan para Tamu. Mereka berbincang dalam kelompok-kelompok di antara mereka. Sekelompok berbicara tentang sebab-sebab kematian Ki Sumangkar yang tidak banyak dimengerti selain sakit yang parah untuk beberapa saat lamanya. Sementara yang lain membicarakan pusaka Sultan Pajang yang dibawa oleh Untara sebagai wakil pribadinya memberikan penghormatan terakhir kepada Ki Sumangkar.

Dalam pada itu, Untara sendiri bertanya kepada Kiai Gringsing, “Apakah sudah tidak ada lagi obat yang terlampaui Kiai?”

“Semua yang aku kenal telah aku usahakan, tetapi agaknya Tuhan memang sudah menghendaki sehingga kemampuan yang terbatas itu sama sekali tidak dapat menolongnya,” jawab Kiai Gringsing.

Untara mengangguk-angguk. Ia pun menyadari, bahwa batas waktu bagi seseorang tidak akan dapat lagi digeser dengan cara apapun juga.

Sementara itu Kiai Gringsing masih sempat menceriterakan, bagaimana ia berusaha. Segala macam tumbuh-tumbuhan yang diduganya akan dapat memberikan pertolongan telah dicobanya. Tetapi hasilnya sama sekali tidak ada.

Hampir tidak seorang pun yang berada di pendapa Kademangan Sangkal Putung itu sempat tidur semalam suntuk. Namun karena mereka adalah para Senapati, prajurit dan pemimpin pemerintahan serta beberapa orang pemimpin pengawal dari Mataram, maka mereka sudah terbiasa untuk tidak tidur semalam suntuk. Apalagi mereka mempunyai kawan berbincang tanpa ketegangan, menghadapi minuman panas dan sekedar makanan.

Untara yang membawa pusaka Pajang itu pun duduk ditempatnya tanpa bergeser. Ia benar-benar memberikan penghormatan terakhir atas nama Sultan Hadiwijaya dari Pajang, sehingga karena itu, maka Raden Sutawijaya telah memberikan tempat khusus kepadanya, justru karena pertanda kebesaran yang dibawanya.

Di ruang dalam, Pandan Wangi sibuk menenangkan Sekar Mirah. Beberapa orang perempuan yang lainpun ikut pula menungguinya. Oleh kelelahan yang mencengkam, maka akhirnya Sekar Mirah pun jatuh tertidur sambil terisak. Namun perlahan-lahan ia nampak menjadi agak tenang, sehingga Pandan Wangi sempat meninggalkannya untuk membersihkan diri.

Di pintu dalam Pandan Wangi berpapasan dengan Swandaru yang gelisah karena keadaan adiknya. Dengan nada dalam ia bertanya, “Bagaimana dengan Sekar Mirah?”

“Ia mulai tidur meskipun semula karena kelelahan. Tetapi mudah-mudahan dengan demikian ia dapat menjadi tenang,” sahut Pandan Wangi.

Swandaru mengangguk-anggguk. Katanya, “Kaupun perlu beristirahat. Meskipun kau tidak segelisah Sekar Mirah, tetapi nampaknya kau pun menjadi tegang, justru karena keadaan Sekar Mirah.”

“Aku tidak apa-apa,” jawab Pandan Wangi “aku akan ke pakiwan. Jika sempat, akupun akan tidur barang sejenak.”

Swandaru mengangguk sambil melangkah masuk kedalam bilik adiknya dengan hati-hati. Ketika dilihatnya Sekar Mirah yang tertidur, maka ia pun kemudian meninggalkannya dan pergi ke pendapa.

Ketika Pandan Wangi kembali ke pintu belakang setelah ia menyegarkan diri di pakiwan, ia tertegun melihat Agung Sedayu yang berada di antara anak-anak muda yang sibuk menyediakan minum bagi para tamu yang seakan-akan bergantian mengalir seperti arus air  sungai. Diluar sadarnya ia pun mendekatinya sambil bertanya, “Kau disini kakang Agung Sedayu?”

Agung Sedayu memandanginya sejenak. Kemudian sambil mengangguk ia menjawab, “Ya. Aku membantu menyiapkan minuman.”

“Kenapa kau tidak duduk di pendapa?”

Agung Sedayu menggeleng. Jawabnya, “Sama saja bagiku. Barangkali aku lebih bermanfaat disini daripada duduk di pendapa.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Sambil melangkah memasuki pintu belakang ia merenungi sikap Agung Sedayu. Ia selalu berendah hati dan berada di antara mereka yang seolah-olah tersembunyi tanpa berusaha menampakkan diri dalam kesibukan-kesibukan yang lebih berarti.

Namun dalam pada itu. ternyata bahwa sejenak kemudian Ki Waskita pun menyusul Agung Sedayu di antara anak-anak muda yang sibuk menyiapkan minuman itu.

“Kenapa paman tidak duduk di pendapa?” Agung Sedayulah yang bertanya.

Ki Waskita menggeleng. Katanya, “Di pendapa duduk para pemimpin dan perwira dari Mataram dan Pajang. Selebihnya adalah sanak keluarga Ki Sumangkar dari Jipang. Agaknya aku lebih baik berada disini. Kecuali aku tidak merasa asing, aku pun dapat membantu kalian membuat minuman.”

Agung Sedayu tidak mencegahnya. Ia merasakan betapa gelisah duduk terasing di antara para tamu yang riuh berbicara di antara mereka.

Ketika malam menjelang fajar, maka Ki Demang-pun mempersilahkan tamu-tamunya yang akan beristirahat untuk pergi kerumah tetangga-tetangganya yang sudah dipersiapkan. Meskipun kurang memadai, namun tempat-tempat itu telah memberikan kesempatan bagi tamu-tamunya untuk sekedar beristirahat setelah hampir semalam suntuk mereka duduk di pendapa.

Untara yang membawa pertanda pribadi Sultan Hadiwijaya dipersilahkan beristirahat di gandok kanan Ki Demang Sangkal Putung dengan pengawal kepercayaannya. Sementara Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani berada di gandok sebelah kiri. Agung Sedayu, gurunya dan Ki Waskita telah dipindahkan kebilik di belakang karena mereka telah dianggap sebagai keluarga sendiri.

Ketika para tamu sempat berbaring sejenak, maka Agung Sedayu dan Ki Waskita lah yang duduk di pendapa menunggui jenazah Ki Sumangkar. Sejenak kemudian Kiai Gringsing yang baru saja kepakiwan telah datang pula bersamaan dengan Pandan Wangi yang muncul dari pintu pringgitan.

Ki Demang Sangkal Putung yang ingin beristirahat, di ruang dalam berkata kepada Swandaru yang telah duduk di depan bilik Sekar Mirah yang masih tertidur, “Jika kau tidak ingin tidur, duduklah di pendapa.”

Swandaru mengangguk. Ia pun segera bangkit menengok adiknya. Ketika ia melihat Sekar Mirah masih nyenyak, maka ia pun kembali ke pendapa seperti yang dipesankan ayahnya.

Prastawa yang datang bersama Ki Argapati, agaknya tidak ingin beristirahat pula. Ketika Ki Argapati telah ditempatkan di rumah sebelah dan mencoba untuk berbaring, maka Prastawa pun kemudian meninggalkannya. Agaknya ia lebih tertarik duduk di pendapa bersamaan Swandaru daripada berada didalam bilik di rumah sebelah bersama Ki Gede Menoreh.

Namun anak muda itu mengerutkan keningnya ketika ia melihat Agung sedayu duduk tepekur disisi amben tempat jenazah Ki Sumangkar terbaring.

“Kau tidak beristirahat Prastawa?” bertanya Pandan Wangi yang menemuhi adik sepupunya.

Prastawa menggeleng. Katanya, “Aku sama sekali tidak merasa lelah atau mengantuk.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

Namun sementara itu Prastawa lah yang agaknya sedang menunggu seseorang. Setiap kali ia memandang pintu pringgitan. Kemudian mengedarkan pandangan matanya ke sekitarnya.

Tetapi ia tidak melihat orang yang dicarinya.

“Dimanakah Sekar Mirah itu?” ia selalu bertanya kepada diri sendiri. Tetapi ia segan untuk menanyakan kepada Pandan Wangi, rasa-rasanya ia tidak berhak untuk bertanya tentang gadis itu, meskipun betapa keinginannya untuk bertemu seolah-olah sangat mendesaknya. Namun Prastawa masih tetap menyadari keadaannya.

Namun akhirnya ia menemukan akal juga. Ia pun kemudian bergeser mendekati Swandaru dan bertanya beberapa hal tentang Ki Sumangkar.

Swandaru selalu menjawabnya seperti yang diketahuinya tentang Ki Sumangkar. Ia sama sekali tidak mengetahui arah pertanyaan Prastawa yang sebenarnya.

Namun kemudian ternyata bahan Prastawa sampai pada pertanyaan yang mulai menjurus, “Swandaru, bukanlah Ki Sumangkar memiliki senjata yang tidak kalah dahsyatnya dengan senjata Tohpati yang bergelar macan Kepatihan itu?”

Swandaru mengangguk. Jawabnya, “Ya. Meskipun ukurannya agak berbeda. Senjata Ki Sumangkar itu agak lebih kecil. Tetapi perbedaannya hampir tidak nampak.”

“Senjata yang sangat mengerikan. Tentu satu-satunya muridnya yang akan memiliki senjata itu.”

“Sudah lama senjata itu diberikan kepada Sekar Mirah.”

Prastawa mengangguk-angguk. Lalu ia pun bertanya pula, “Apakah yang dilakukan Sekar Mirah sekarang? Ia tentu merasa kehilangan.”

“Ya. Ia merasa dirinya menjadi sebatang kara. Yang dikerjakan sekarang adalah menangis sepanjang hari. Kemudian tertidur oleh kelelahan.”

Prastawa termenung sejenak. Namun ia pun mengetahui bahwa Sekar Mirah tentu berada didalam biliknya sepanjang hari. Ketika Ki Sumangkar masih belum meninggal dunia. Sekar Mirah masih nampak sekali-sekali di bilik gurunya meskipun seakan-akan tidak ada orang lain yang diperhatikannya selain Ki Sumangkar yang sedang sakit. Namun kemudian gadis itu bagaikan hilang dari antara keluarga Ki Demang Sangkal Putung.

Diluar sadarnya Prastawa memandang Agung Sedayu. Tetapi agaknya Agung Sedayu sama sekali tidak menghiraukannya. Karena itu, maka Prastawa pun kemudian sambil mengangguk-angguk berkata, “Tetapi harus ada orang yang dapat menenangkannya. Ia harus menyadari, bahwa yang pergi itu tidak akan dapat kembali.”

“Pandan Wangi selalu ada didekatnya,” jawab Swandaru, “karena sekarang ia sedang tidur. maka Pandan Wangi dapat hadir disini.”

Prastawa masih mengangguk-angguk. Karena Sekar Mirah sedang tidur, maka sudah barang tentu gadis itu tidak akan keluar dari biliknya.

Dengan demikian, maka tiba-tiba saja Prastawa merasa lelah dan kantuk. Rasa-rasanya ia lebih senang berbaring didekat Ki Argapati di rumah sebelah daripada duduk di pendapa itu. Apalagi jenazah Ki Sumangkar telah ditunggui oleh beberapa orang, sehingga kehadirannya agaknya tidak diperlukan lagi.

Karena itu, maka Prastawa pun kemudian minta diri kepada Swandaru untuk beristirahat barang sejenak.

“Mungkin aku masih sempat tidur barang sekejap menjelang pagi,” berkata Prastawa.

“Silahkan, kau memang perlu beristirahat,” sahut Swandaru.

Tanpa minta diri kepada orang-orang lain yang berada di pendapa itu, maka Prastawa pun kemudian bergeser dan turun dari pendapa. Perlahan-lahan ia berjalan melintasi halaman pergi ke rumah sebelah.

Di pendapa beberapa orang masih bercakap-cakap tentang Ki Sumangkar. Ki Waskita yang juga berada di pendapa bergumam, “Nampaknya Ki Sumangkar sendiri sudah tidak berusaha untuk membantu Kiai.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Ki Sumangkar tidak pernah menolak obat apapun yang aku berikan.”

“Benar Kiai. Tetapi tidak ada gejolak dari dalam dirinya untuk membantu penyembuhannya. Namun memang segalanya berada di dalam Kuasa Yang Maha Agung.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya Ki Sumangkar sendiri merasa bahwa ia sudah terlalu lelah melakukan tugas-tugasnya selama ini. Ia merasa bahwa ilmunya sudah seluruhnya diturunkan kepada murid satu-satunya. Ia berharap bahwa Sekar Mirah dengan bantuan orang-orang di sekitarnya akan dapat mengembangkan ilmunya sehingga mencapai tataran tertinggi seperti Ki Sumangkar sendiri.”

“Apakah Ki Sumangkar tidak merasa wajib untuk menuntun muridnya sehingga ilmunya sampai ke puncak?” bertanya Ki Waskita.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak seorang pun yang mengetahui isi hati seseorang. Juga kita tidak tahu apa yang sebenarnya dikandung dihati orang yang baik itu.”

Ki Waskita termangu-mangu ketika ia melihat Kiai Gringsing mengedarkan tatapan matanya. Kemudian bergeser mendekatinya. Seolah-olah sambil berbisik ia berkata, “Agaknya Ki Sumangkar terlalu yakin, bahwa Agung Sedayu yang sudah mampu mengembangkan ilmunya sampai ketingkat tertinggi itu akan dapat membantu Sekar Mirah. Tetapi lebih dari pada itu, ada sepercik kekecewaan dihati Ki Sumangkar.”

Meskipun Kiai Gringsing tidak menyebutkannya, tetapi rasa-rasanya Ki Waskita sudah dapat menangkap seluruhnya. Ki Sumangkar tentu kecewa melihat sikap Sekar Mirah menghadapi Agung Sedayu. Bahkan juga sikap Sekar Mirah terhadap keadaan di sekelilingnya. Agaknya kekecewaannya itu pula yang membuat Ki Sumangkar ragu-ragu untuk mengembangkan ilmu Sekar Mirah sampai pada tingkat tertinggi. Agaknya Ki Sumangkar tidak yakin, bahwa ilmunya akan dipergunakan dalam jalan kebenaran sepenuhnya. Jika nafsu apapun mulai berbicara dalam ilmu yang sudah mencapai tingkat tertinggi, maka akibatnya akan sangat menyulitkan peradaban sesamanya.

Ki Waskita yang mengangguk-angguk itu masih saja mengangguk-angguk. Meskipun Kiai Gringsing telah diam, tetapi di telinganya seolah-olah terdengar Kiai Gringsing itu berceritera panjang lebar mengenai Ki Sumangkar dan sikap serta pandangannya terhadap kehidupan di sekitarnya di saat-saat terakhir.

Dalam pada itu maka langit pun menjadi semakin merah. Beberapa orang pengawal yang telah sempat beristirahat mendekati mereka yang duduk di pendapa dan mempersilahkan mereka bergantian beristirahat.

Meskipun Waskita kemudian meninggalkan pendapa itu juga bersama Kiai Gringsing. tetapi keduanya sama sekali tidak dapat tidur barang sekejap pun. Keduanya berbaring saja di pembaringan sambil sepatah-sepatah berbicara tentang Ki Sumangkar.

Dalam pada itu Swandaru yang masuk kedalam biliknya masih sempat memejamkan matanya sejenak. Demikian juga Pandan Wangi yang berbaring di antara beberapa orang perempuan yang membentangkan tikar disamping pembaringan Sekar Mirah.

Namun Agung Sedayu sama sekali tidak dapat tertidur sekejap pun. Seperti semula ia kembali ke tempat anak-anak muda merebus air dan menyiapkan minuman. Ia berbaring juga di atas sebuah lincak bambu di serambi. Namun matanya sama sekali tidak dapat terpejam. Apalagi di sekitarnya beberapa orang anak muda masih saja sibuk menyiapkan minuman panas bagi mereka yang terbangun dari tidurnya dan bergantian berjaga-jaga. Baik di pendapa, maupun di regol-regol dan gardu-gardu di sekitar Kademangan.

“Kenapa kau berbaring disitu?” bertanya seorang anak muda.

“Hangat,” jawab Agung Sedayu pendek, “dekat perapian.”

“Tetapi kau akan selalu dikejutkan oleh mereka yang sibuk disini apabila kau memejamkan mata,” sahut yang lain.

Tetapi Agung Sedayu tidak beringsut dari tempatnya. Ia tetap berbaring saja sambil menatap atap serambi yang sempit. Kemudian bergeser memandang bayang-bayang kegelapan yang mulai diwarnai oleh merahnya fajar.

Ternyata bahwa sejenak kemudian, orang-orang yang tertidur didapur telah mulai bangun. Beberapa orang perempuan mulai mencuci beras dan menyiapkan perapian, sementara yang lain pergi ketempat anak-anak muda menyiapkan mmuman sambil memesan beberapa mangkuk minuman panas.

Sebentar kemudian, maka fajar pun menjadi semakin terang. Orang-orang yang berada di Kademangan itu pun mulai terbangun dan menjalankan kuwajiban masing-masing. Ada yang membersihkan halaman, ada yang menimba air mengisi jambangan pakiwan, dan kerja sehari-hari mereka masing masing. Namun dalam pada itu, para tamu yang menginap di rumah sebelah menyebelahpun telah mulai bangun pula.

Ketika kemudian matahari mulai naik, sibuklah Kademangan Sangkal Putung dengan persiapan penguburan jenazah Ki Sumangkar. Orang-orang penting dari Pajang, dari Mataram, dari Jipang dan bahkan dari Demak telah siap pula untuk melakukan upacara. Untara yang membawa pertanda pribadi Sultan Pajang, menjadi pusat segala perhatian. Namun selain Untara, meskipun tidak dalam kedudukannya sebagai seorang priyagung dari Pajang, namun Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga, merupakan seorang tamu yang juga menarik perhatian.

Jika Untara dalam kedudukannya serta karena pertanda pribadi Sultan Pajang, maka Raden Sutawijaya adalah putera angkat terkasih dari Sultan Pajang itu sendiri. Namun yang kemudian seolah-olah telah memisahkan diri dan mendirikan suatu negeri baru yang disebutnya Mataram diatas Alas Mentaok yang telah dibukanya.

Demikanlah, ketika saatnya telah tiba, maka jenazah Ki Sumangkar pun segera dipersiapkan.

Di sepanjang jalan dari rumah Ki Demang Sangkal Putung sampai kepemakaman, orang-orang Sangkal Putung berdesak-desakan ingin memberi penghormatan yang terakhir. Meskipun Ki Sumangkar bukan orang Sangkal Putung, tetapi karena sudah lama berada di rumah Ki Demang, maka orang-orang Sangkal Putung telah mengenalnya dengan baik, seperti mereka mengenal Sekar Mirah sendiri.

Bahkan orang-orang dari Kademangan di sekitarnya ada pula yang memerlukan datang untuk menyaksikan penguburan yang telah dikunjungi oleh orang-orang besar dari Pajang dan beberapa Kadipaten di sekitarnya.

Dalam pada itu, Pandan Wangi selalu sibuk dengan Sekar Mirah. Agung Sedayu yang dipanggil oleh Swandaru mencoba untuk menenangkannya pula. Namun setiap kali Sekar Mirah masih saja menangis. Seakan akan ia telah kehilangan ayahnya sendiri

“Sadarilah keadaanmu Mirah,” Agung Sedayu mencoba mengendapkan perasaan gadis itu, “kau adalah muridnya. Ki Sumangkar adalah titah dalam lingkup ciptaan Yang Maha Kuasa, ia datang karena kehendak-Nya. Dan ia pergi karena dipanggil-Nya. Jika kita bersedih itu adalah wajar sekali. Setiap perpisahan memang tidak menyenangkan bagi seseorang terutama yang mempunyai ikatan khusus. Tetapi, perpisahan itu tidak dapat ditolak oleh siapapun juga. Justru penolakan itu, meskipun hanya didalam hati, akan menjadi titik-titik noda bagi utuhnya hubungan kita dengan Yang Maha Peneipta itu. Karena seakan-akan kita menolak keharusan yang telah ditetapkan-Nya dengan tuntutan didalam sikap hubungan kita dengan-Nya itu.”

Sekar Mirah mencoba untuk menangkap isi kata-kata Agung Sedayu. Bagaimanapun juga anak muda itu baginya menjadi tumpuan harapan dimasa datang. Meskipun kadang-kadang Agung Sedayu mengecewakannya di dalam sikap. tetapi kadang-kadang anak muda itu sangat mengagumkan dan menumbuhkan harapan.

Namun di sela-sela isaknya ia berkata, “Kakang Agung Sedayu. Aku ingin ikut mengantar jenazah guru sampai ke makam.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dipandanginya Swandaru dan Pandan Wangi berganti-ganti, seolah-olah ia minta pertimbangan mereka.

Swandaru pun menjadi bingung. Untuk sejenak ia terdiam.

“Jangan dilarang,” minta Sekar Mirah.

“SekarMirah,” berkata Agung Sedayu kemudian, “sebaiknya aku menyampaikannya kepada Ki Demang.”

“Tetapi ayah pun jangan melarang.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Aku akan mengusahakannya Mirah. Tetapi berjanjilah kepada diri sendiri, bahwa kau tidak akan mengikuti dorongan perasaan sedihmu di pemakaman agar segalanya dapat berjalan seperti biasanya.”

Sekar Mirah terdiam sesaat. Dan Agung Sedayu berkata seterusnya, “Kau memang akan menangis Mirah. Itu sudah wajar. Tetapi sadarilah, bahwa tangismu harus tetap dapat kau atasi dengan nalar. Kau harus tetap sadar, bahwa yang terjadi itu memang harus terjadi. Dan bahwa kau menangis itu pun wajar sekali karena kau kehilangan. Tetapi kau pun harus sadar pula, bahwa itu adalah luapan kesedihanmu tanpa dapat menimbulkan perubahan apa-apa juga atas yang terjadi. Ki Sumangkar akan tetap pergi untuk selama-lamanya. Dan itu harus terjadi tanpa dapat dicegah lagi.”

Sekar Mirah mengangguk.

“Jika kau berjanji, aku akan menyampaikannya kepada Ki Demang. Mudah-mudahan Ki Demang pun tidak berkeberatan. Aku akan menjelaskan bahwa kau akan tetap sadar sepenuhnya akan keadaan yang kau hadapi di pemakaman.”

Sekali lagi Sekar Mirah mengangguk.

“Jika demikian, bantulah ia membenahi diri Pandan Wangi,” berkata Swandaru, “orang-orang diluar sudah mulai bersiap-siap.”

Swandaru dan Agung Sedayu pun kemudian meninggalkan bilik Sekar Mirah, membantu gadis itu membenahi rambut dan pakaiannya.

Dalam keadaan yang demikian kedua perempuan itu sama sekali tidak membayangkan kegarangan mereka di peperangan. Namun agaknya sikap dan tingkah laku Sekar Mirah dapat membantunya meringankan beban perasaan. Ia mencoba mempergunakan nalarnya sebaik-baiknya seperti yang dipesankan Agung Sedayu, agar ia tidak terseret dalam duka yang tidak berbatas.

Namun dalam pada itu. selain para pemimpin dari berbagai penjuru datang memberikan penghormatan terakhir, maka ada juga di antara mereka yang datang untuk kepentingan yang lain. Seorang perwira prajurit Pajang dengan saksama memperhatikan setiap orang yang ada di Sangkal Putung sebaik-baiknya.

Perwira itu mencoba untuk mencari kemungkinan lain yang dapat terjadi di Sangkal Putung karena sedemikian banyak orang yang hadir.

Tetapi ia tidak melihat sesuatu selain orang-orang yang dengan tulus memberikan peghormatan terakhir pada pemakaman Ki Sumangkar.

Dengan tidak menumbuhkan kecurigaan maka perwira itu pun kemudian ikut pula dalam kesibukan disaat keberangkatan jenazah. Namun ia masih sempat juga berdiri di regol untuk melihat-lihat orang-orang yang berdesakan untuk menyaksikan upacara pemakaman.

Sejenak perwira itu termangu-mangu, namun ia pun kemudian mendekati seorang yang sudah berambut putih meskipun tubuhnya masih nampak kuat dan kekar.

“Sebentar lagi jenazah akan diberangkatkan,” berkata perwira itu.

“Apakah ada bayang-bayang dibawah lentera?” bertanya orang berambut putih.

Perwira itu menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak. Tidak ada apa-apa. Semuanya wajar.”

Perwira itu pun kemudian meninggalkan orang berambut putih itu. Beberapa orang mendengar percakapan itu. Tetapi mereka tidak mengerti dan sebagian besar sama sekali tidak menghiraukannya.

Namun berbeda dengan orang-orang yang tidak memperhatikan sikap dan pembicaraan perwira dengan yang berambut putih itu, maka seorang anak muda dalam pakaian seorang petani mengerutkan keningnya. Ia memperhatikan orang berambut putih itu dari antara orang-orang yang berdesakan.

Tetapi ia tidak berbuat apa-apa. Sejenak kemudian anak muda itu sudah memperhatikan kesibukan di halaman Kademangan Sangkal Putung.

Setelah saatnya tiba, serta segala persiapan dan upacara sudah dilakukan, maka jenazah Ki Sumangkar-pun segera diiring menuju ke makam. Para pemimpin dari Pajang, Mataram dan beberapa Kadipaten yang lain ikut pula mengantar jenazah itu dalam iring-iringan yang panjang.

Beberapa lapis di belakang jenazah Sekar Mirah berjalan dibimbing oleh Pandan Wangi. Dengan sekuat tenaga ia bertahan untuk tidak menitikkan air mata. Ia mencoba untuk menahan gejolak perasaannya dengan nalarnya.

Swandaru dan Agung Sedayu berjalan di belakang kedua perempuan itu. Mereka hampir tidak berbicara sama sekali. Hanya kadang-kadang Agung Sedayu berpaling, karena Glagah Putih mengikutinya di belakangnya.

“Kau tidak tinggal di Kademangan saja?” bertanya Agung Sedayu.

“Semuanya ikut serta. Ayah, Kiai Gringsing dan kakang ikut pula. Aku sendiri di Kademangan.” jawab Glagah Putih.

Agung Sedayu tidak bertanya lagi.

Namun dalam pada itu, di bagian lain dari iring-iringan itu, beberapa orang perwira yang merasa kedudukannya lebih tinggi dari Untara merasa canggung, bahwa Untara lah yang telah mendapat limpahan pertanda pribadi Sultan Pajang.

“Ia adalah Senapati yang kuasanya meliputi daerah Sangkal Putung,” berkata seorang Tumenggung yang kumisnya tebal meskipun satu dua sudah nampak memutih. “apalagi saat laporan itu sampai kepada Sultan yang diberikan langsung oleh Agung Sedayu, Untara sedang berada di istana.”

Kawannya, juga seorang Tumenggung yang umurnya sebaya dengan Tumenggung yang berkumis itu mengangguk. Jawabnya, “Mungkin demikian. Tetapi mungkin Sultan memang sudah pikun, sehingga tidak dapat berpikir panjang lagi.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Demikianlah iring-iringan itu berjalan memanjang di sepanjang jalan Kademangan. Di sebelah menyebelah jalan, berjejal-jejal orang yang ingin menyaksikan iring-iringan itu.

Ketika perwira yang berbicara dengan orang berambut putih dimuka regol halaman Kademangan itu sampai ditikungan diluar padukuhan induk, sekali lagi ia bertemu dengan orang berambut putih itu. Ketika ia berjalan di depannya, maka perwira itu berkata, “Tak ada apa-apa.”

Orang berambut putih itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab sama sekali.

Tetapi diluar sadar mereka, maka anak muda yang sejak semula memperhatikannya, masih juga berdiri tidak jauh di belakangnya. Ia pun mendengar kata-kata perwira itu. Tetapi ia pun tidak berbuat apa-apa.

Selangkah demi selangah, maka iring-iringan itu pun semakin jauh dari rumah Ki Demang Sangkal Putung dan mendekati pemakaman. Untuk menjaga segala kemungkinan, maka Swandaru telah memerintahkan beberapa orang pengawal mengawasi keadaan. Sekelompok pengawal telah mendahului berpencar di pemakaman. Sementara yang lain tetap berada di Kademangan. Yang lain lagi telah ikut dalam iring-iringan yang semakin panjang.

Sutawijaya yang berada di antara iring-iringan itu memperhatikan keadaan dengan saksama. Ia berjalan disamping Untara yang membawa pertanda pribadi Sultan Pajang. Namun keduanya seakan-akan tidak berbicara sepatah katapun sejak mereka berangkat dari Kademangan.

Dalam pada itu, ketika Sutawijaya melihat regol pemakaman, tiba-tiba saja ia teringat akan ayahandanya yang sudah tidak ada lagi. Ketika Ki Gede Pemanahan meninggal, maka ia pun mendapat penghormatan yang besar seperti Ki Sumangkar. Bahkan penghormatan yang tercermin dari hadirnya pusaka Pajang yang telah dianugerahkan kepada Raden Sutawijaya berupa sebuah songsong merupakan penghormatan yang sangat tinggi.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah kehilangan ayahandanya. Dan kini ia rasa-rasanya berdiri di seberang pagar dari ayahanda angkatnya, bukan karena ayahanda angkatnya itu sendiri. Tetapi ia sendirilah yang telah menjauhkan diri dari padanya.

Tetapi Raden Sutawijaya tidak sempat berangan-angan terlalu lama. Sebentar kemudian, maka iring iringan itu pun telah mendekati regol makam.

Beberapa orang telah mendahului. Mereka mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pemakaman jenazah Ki Sumangkar itu. Di antara mereka yang mendahului adalah Swandaru dan Agung Sedayu. sementara Glagah Putih mengikuti mereka di belakang.

Banyak orang yang ikut mengantarkan jenazah itu sampai kemakam. Tetapi para pengawal berusaha untuk menahan mereka agar mereka tidak memasuki makam, sebelum para pemimpin dan tamu yang datang dari jauh.

Dengan demikian, maka orang-orang itu pun bagaikan berpencar di seputar makam. Mereka berusaha untuk mendapat tempat diluar dinding makam yang tidak terlalu tinggi, agar mereka dapat melihat kedalam. Tetapi ternyata bahwa orang-orang penting yang kemudian memasuki makam mengiringi jenazah itu telah melingkar menutup pandangan mereka.

“Seharusnya mereka menepi,” desis seseorang diluar dinding makam.

“Menepi kemana?” bertanya orang di sebelahnya, “Kekiri atau kekanan, asal mereka tidak menutup pandangan kami.”

“Tetapi jika mereka kekiri atau kekanan. mereka akan tetap menutup pandangan orang lain,” desis yang lain lagi.

Orang yang pertama tidak menjawab. Tetapi ia tetap bersungut-sungut.

Sementara orang-orang yang bertugas sedang mempersiapkan jenazah yang akan diturunkan kedalam makam, maka beberapa orang yang lain didalam makam itu telah berpencar pula. Bernaung dibawah pepohonan yang terdapat disela-sela batu-batu nisan.

Glagah Putih yang tidak ikut membantu Agung Sedayu dan Swandaru telah menepi pula. Ia duduk agak jauh diluar kerumunan orang-orang yang berada di sekitar liang pemakaman.

Angin yang berhembus didedaunan rasa-rasanya telah menyegarkan badannya. Diluar sadarnya ia bergeser selangkah demi selangkah. sehinggga akhirnya ia telah berdiri terpisah dari orang-orang lain yang berada didalam dinding makam itu.

Glagah Putih yang kemudian duduk dibawah sebatang pohon rasa-rasanya bagaikan diayun dalam ayunan. Apalagi semalam ia pun kurang tidur meskipun tidak terjaga semalam suntuk.

Tetapi tiba-tiba saja ia tertarik pada sebuah pembicaraan dari dua orang yang berdiri diluar dinding, dekat di belakangnya. Karena itu maka ia pun kemudian berusaha mendengarkan pembicaraan itu dengan saksama.

Meskipun tidak begitu jelas tetapi ia mendengar seorang dari mereka berkta, “Itulah Agung Sedayu.”

“Yang mana?”

“Agak terlindung. Tetapi kau tentu melihatnya, ia berdiri disamping saudara seperguruannya, Swandaru yang gemuk itu.”

Sejenak kedua orang itu terdiam. Ketika dengan hati-hati Glagah Putih berpaling kepada mereka tanpa menarik perhatiannya, maka Glagah Putih melihat dua orang yang memperhatikan Agung Sedayu dengan saksama. Yang seorang sudah berambut putih, sedang yang lain agak lebih muda sedikit meskipun nampaknya umurnya tidak terpaut banyak.

Ketika keduanya mulai berbicara lagi, Glagah Putih berusaha pula untuk mendengar percakapan mereka. Salah seorang dari keduanya berkata, “Anak muda itu nampaknya tidak lebih dari penggali kubur.”

“Ya,” jawab yang lain, “tetapi ia sudah berbuat sesuatu yang sangat mengejutkan. Benar-benar diluar nalar. Seolah-olah ia bukan manusia biasa.”

Kawannya tertawa pendek.

Ketika Glagah Pulih mengerling kepada mereka, ia melihat orang yang tertawa itu memandang kesekitarnya, kepada orang-orang yang berdiri di sebelah menyebelah bertolakan dinding batu yang rendah. Orang itu berkata, “Kau nampaknya cemas benar.”

“Kau dengar apa yang terjadi di Mataram?”

Yang lain masih tertawa. Katanya, “Aku dengar. Tetapi mereka yang telah digilasnya itu bukan aku dan kau.”

“Ah, sombong kau. Apa kelebihan kita dari Wanakerti?”

“Sst,” desis kawannya, “kau mulai menyebut nama. Hati-hatilah sedikit. Pepohonan itu mempunyai telinga.”

“Lebih pasti orang-orang di sekitar kita itu mempunyai telinga.”

“Tetapi telinga mereka tidak untuk mendengarkan pembicaraan kita.”

Sejenak keduanya terdiam. Sementara itu mereka yang melakukan upacara pemakaman pun berjalan terus. Glagah Putih tidak melihat ketika jenazah Ki Sumangkar diturunkan. Kemudian setelah upacara selesai, maka makam itu pun mulai ditimbun dengan tanah.

Dalam pada itu, Pandan Wangi yang berdiri disisi Sekar Mirah menjadi berdebar-debar. Setiap kali ia memandang wajah gadis yang muram itu. Namun agaknya Sekar Mirah berusaha sungguh-sungguh untuk tidak kehilangan nalar dan tenggelam dalam arus perasaannya.

Sementara itu, beberapa orang telah melakukan seperti kebiasaan mereka dalam upacara pemakaman. Segenggam-segenggam mereka melontarkan tanah ke makam yang sedang ditimbun itu.

“Kau?” desis Pandan Wangi.

Sekar Mirah berpaling. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia pun melangkah maju. Beberapa orang yang tahu bahwa ia adalah satu-satunya murid Ki Sumangkar telah menyibak dan memberikan kesempatan kepada Sekar Mirah untuk juga melontarkan segenggam tanah.

“Itu adalah Sekar Mirah,” tiba-tiba saja Glagah Putih mendengar orang itu berbicara lagi, sehingga ia mengurungkan niatnya untuk ikut melontarkan tanah kemakam.

“Ya aku tahu. Gadis itu adalah bakal isteri Agung Sedayu,” jawab yang lain.

“Tetapi ia pun seperti seekor macan betina. Jika ia berdiri dengan tongkatnya, ia akan berubah sama sekali.”

Kawannya tidak menjawab. Untuk sesaat Glagah Putih tidak mendengar keduanya berbicara. Yang didengarnya adalah geremang orang-orang yang ada diluar dinding itu. Karena pemakaman sudah selesai, maka mereka pun mulai berdesakan meninggalkan makam.

Namun sejenak kemudian terdengar salah seorang itu berbicara, “Lihat. Siapa saja yang berada di makam itu. Ada berapa puluh orang sakti disini. Mereka datang dari segala penjuru. Jika saat ini diadakan sayembara untuk memilih yang paling sakti, maka akan ada pertunjukan yang paling menarik ditahun ini.”

“Dan kau akan ikut serta?” bertanya yang lain.

“Tentu tidak.”

“Tetapi kau katakan, bahwa kau bukan orang-orang yang terbunuh di Mataram. Menurut pengertianku, kau merasa memiliki kemampuan melampaui mereka.”

“Itu bodoh sekali. Kebodohan semacam itulah yang telah banyak membunuh orang-orang sakti. Untuk membinasakan Agung Sedayu harus dipergunakan akal. Bukan sekedar membenturkan ilmu.”

Yang lain tertawa kecil. Namun kemudian katanya, “Orang-orang telah pergi. Kita pun akan pergi. Kita tidak perlu cemas melihat orang-orang sakti itu berkumpul disini. Mereka datang dari segala penjuru dengan segala pendirian masing-masing. Mereka tidak akan berbincang dan menentukan sikap apapun juga. Apalagi disini ada Untara. Ia adalah seorang prajurit yang lurus dalam sikap dan pendirian.”

Dengan hati-hati Glagah Putih mencoba melihat mereka, ketika ia mendengar salah seorang berkata, “Marilah. Apa lagi yang kita tunggui.”

Kedua orang itu mulai bergerak. Tetapi tiba-tiba salah seorang berkata, “Anak itu memperhatikan kita.”

Yang lain mengerutkan keningnya dan bertanya, “Yang mana?”

Dengan pandangannya yang seorang menunjuk Glagah Putih yang berdebar-debar.

“Anak kecil itu?”

“Ia bukan lagi anak kecil, ia mulai meningkat remaja.”

Yang lain tertawa. Katanya, “Ia tidak mendengar pembicaraan kita.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun ia sempat memperhatikan wajah keduanya. Meskipun demikian. ia pun mulai mengerti tentang dirinya sendiri. Bahkan latihan pendengaran yang selalu dilakukannya memberikan keuntungan baginya. Pendengarannya ternyata menjadi semakin tajam, melampaui kebanyakan orang, sehingga kedua orang itu menganggapnya tidak mendengar pembicaraan mereka.

“Aku dapat mendengarnya meskipun lamat-lamat,” katanya kepada diri sendiri, “tetapi aku mengerti apa yang mereka percakapkan.”

Meskipun demikian Glagah Putih menjadi gelisah pula. Jika kedua orang itu memutuskan untuk berbuat sesuatu atasnya karena ia dianggap memperhatikan percakapan mereka, maka ia akan mengalami kesulitan, setidak-tidaknya saat ia berada di Sangkal Putung.

Karena perhatian Glagah Putih tertumpah seluruhnya kepada kedua orang itu, maka tiba-tiba saja ia merasa bahwa pemakaman itu sudah selesai. Beberapa orang telah beringsut dari tempatnya dan berjalan meninggalkan gundukan tanah merah yang ditaburi dengan bunga.

Perlahan-lahan Glagah Putih mendekat. Ia melihat Sekar Mirah masih berdiri disisi makam yang baru itu. Disampingnya Pandan Wangi memegangi tangannya, sementara Agung Sedayu berdiri di belakangnya bersama Swandaru.

“Marilah Mirah,” desis Pandan Wangi.

Sekar Mirah mengangguk. Ia bertahan untuk tidak menangis, meskipun matanya nampak merah.

Disamping regol makam, Kiai Gringsing berdiri termangu-mangu. Di sebelahnya Ki Waskita dan Ki Demang bercakap perlahan-lahan. Sementara di sebelah lain nampak Untara sedang berbicara pula dengan Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani di antara para pengawal mereka.

“Mereka menunggu kita,” desis Swandaru.

Sekali lagi Sekar Mirah mengangguk.

Sejenak Sekar Mirah masih memandangi tanah yang merah itu. Kemudian ia pun melangkah meninggalkannya. Betapa dadanya bagaikan retak, tetapi Sekar Mirah tidak menangis. Setitik air matanya meleleh dipipi. Namun jari-jarinya segera mengusapnya.

Ketika langkahnya sampai dihadapan Untara dan Raden Sutawijaya, ia berhenti. Dengan isyarat ia mempersilahkan keduanya berjalan lebih dahulu.

Untara dan Raden Sutawijaya ragu-ragu. Namun Kiai Gringsing lah yang kemudian berkata, “Silahkan anakmas berdua berjalan di depan bersama Ki Juru Martani.”

Meskipun masih juga nampak ragu-ragu, tetapi mereka pun kemudian berjalan mendahului Sekar Mirah dan Pandan Wangi yang kemudian mengikut di belakang. Sementara itu, di belakang mereka, para pemimpin dan para Senapati yang datang dari segala penjuru itu pun mengikutinya pula.

Glagah Putih yang kemudian berlari-lari kecil menyusul Agung Sedayu. menggamitnya sambil berbisik, “Ada sesuatu yang penting aku sampaikan kakang.”

“Apa itu?” bertanya Agung Sedayu.

“Kau sempat mendengarnya sekarang, mumpung belum terlambat?”

Agung Sedayu memandanginya sejenak. Namun kemudian sambil mengusap kepala anak itu ia berkata, “Nanti saja di rumah Glagah Putih.”

“Tetapi penting. Jika tidak kau tentu tidak akan mengatakannya. Tetapi tidak perlu sekarang. Kita sedang dalam perjalanan kembali.”

Glagah Putih menjadi gelisah. Dapat saja terjadi sesuatu disetiap saat. Sementara itu Agung Sedayu masih belum mengerti persoalannya.

“Kakang,” ia berjalan disisi kakang sepupunya, “bagaimana jika terlambat.”

“Apa yang terlambat? Jangan cemas Glagah Putih Sebentar lagi kita akan sampai. Sekarang sebaiknya kau simpan ceriteramu itu.”

Glagah Putih, menjadi jengkel. Tetapi ia tidak dapat memaksa Agung Sedayu untuk mendengarkan ceriteranya. Apalagi Agung Sedayu berjalan dalam iring-iringan. Jika ia memaksa untuk berceritera, maka ia harus berbicara keras-keras sehingga mungkin akan ada orang yang mendengarnya.

Karena itu Glagah Putih tidak lagi mengikuti Agung Sedayu. Ia berjalan sendiri di antara orang-orang yang meninggalkan makam. Sekilas dilihatnya ayahnya berjalan bersama Ki Demang dan Ki Waskita. Namun kemudian bergeser mendekati Kiai Gringsing dan Ki Gede Menoreh.

Glagah Putih tidak mempedulikan mereka. Ia berjalan saja searah dengan mereka. Sementara orang-orang yang berjalan pun tidak menghiraukannya pula.

“Uh,” desahnya, “aku sudah berusaha. Tetapi kakang Agung Sedayu menganggap persoalan yang akan aku katakan itu tidak perting. Mudah mudahan tidak terjadi sesuatu di sepanjang jalan kembali ke Kademangan.”

Namun kemudian dijawabnya sendiri, “Tentu tidak akan ada apa-apa. Ia berjalan di antara banyak orang. Nampaknya semua orang berilmu tinggi. Tentu dalam keadaan seperti ini tidak ada orang yang berani mengganggunya. Bahkan tidak ada sekelompok orang yang berani mengganggu iring-iringan ini. Disini ada kiai Gringsing, ada Ki Waskita, ada kakang Untara, kakang Agung Sedayu dan kakang Swandaru. Ada Pandan Wangi, Sekar Mirah. Ki Gede Menoreh, ada lagi Raden Sutawijaya, Ki Juru Martani, para perwira dari Pajang dan para Senapati dari Mataram, beberapa orang Adipati dengan para pengawalnya.”

Glagah Putih mengerutkan dahinya. Diluar sadarnya ia berguman perlahan-lahan, “Jika ada pasukan sekuat iring-iringan ini, maka negara diseluruh dunia tentu akan takluk. Masing-masing tentu membawa pasukan segelar sepapan. Dengan rontek dan umbul-umbul. Alangkah dahsyatnya. Sepasukan yang panjang dibawah para Senapati yang tidak terkalahkan.”

Glagah Putih menjadi tegang oleh angan-angannya. Dipandanginya orang-orang yang berjalan di sebelahnya. Nampaknya semua memang orang penting dan memiliki ilmu yang tinggi.

Namun diluar sadarnya, dua orang terus mengamatinya. Salah seorang berkata, “He kau lihat anak kecil itu mendekati Agung Sedayu.”

“Tetapi Agung Sedayu tidak menghiraukannya,” desis yang lain.

“Ia belum sempat. Tetapi mungkin sekali anak kecil itu mendengar percakapan kita. Dan ia ingin memberitahukannya kepada Agung Sedayu,” berkata yang pertama.

“Itu tentu berbahaya bagi kita. Tetapi nampaknya ia belum sempat.”

“Aku sudah menduga, bahwa anak itu berbahaya. Tetapi kau tidak mendengarkannya. Kau anggap ia anak kecil dan tidak mendengar percakapan kita.”

“Aku kira memang begitu. Kita saja yang cepat menjadi cemas. Mungkin ia akan menceritakan apa saja kepada Agung Sedayu yang tidak ada sangkut pautnya denga pembicaraan kita.”

“Kau selalu mencoba mengelakkan persoalan yang sebenarnya.”

“Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan.”

Yang lain termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Lihat, anak itu memisahkan diri. Ia berjalan sendiri.”

“Sendiri? Kau kira yang lain itu bukan orang?”

“Maksudku, ia berjalan sendiri di antara sekian banyak orang.”

“Apa yang dapat kita lakukan?”

“Kita giring anak itu keluar dari iring-iringan.”

“Lalu?”

“Kita bungkam untuk selama-lamanya.”

“He?”

“Tidak ada jalan lain, mumpung ia belum sempat mengatakannya kepada Agung Sedayu atau kepada orang lain.”

Yang seorang nampak termangu-mangu. Namun yang lain mendesak, “Apakah kita akan membiarkan usaha kita gagal karena Agung Sedayu sudah mengetahui bahwa ia selalu dibayangi oleh dendam?”

“Ia tentu selalu merasa dibayangi oleh dendam. Tetapi bagaimana anak itu?”

“Bunuh saja.” yang lain menggeram, “sudah aku katakan. Membunuh Agung Sedayu harus dengan akal. Tidak dengan sekedar membanggakan ilmu yang tentu tidak akan dapat menyamainya. Cobalah jujur kepada diri sendiri. Apakah kira-kira empat atau lima orang seperti kita dapat membunuhnya?”

“Kita tidak harus membunuhnya dengan tangan kita berdua saja. Kita harus mengamat-amatinya dan kemudian menentukan sikap.”

“Jika demikian, membinasakan anak itu termasuk tugas kita.”

Keduanya terdiam. Mereka barjalan di sebelah iring-iringan itu. Rasa-rasanya jalan memang menjadi pepat. Tetapi keduanya masih sempat melihat Glagah Putih berjalan seenaknya tanpa berprasangka, karena ia merasa bahwa ia berjalan di antara banyak orang yang berilmu.”

“Kita mendahului,” desis salah seorang dari kedua orang yang mengikuti Glagah Putih, “kita cegat di tikungan. Kita akan berusaha memisahkannya dari iring-iringan.”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi keduanyapun kemudian mencari jalan lain mendahului iring-iringan itu.

Di mulut sebuah lorong mereka menunggu. Jika Glagah Putih lewat mereka akan berusaha menarik perhatiannya dan memisahkannya dari iring-iringan itu.

Siapkan pisau belati kecil itu. Aku akan berdiri melekat tubuhnya sambil menekankan ujung pisau itu dibawah kain panjang.”

“Mencurigakan. Kita panggil saja anak itu. Baru setelah ia mendekat, kita ancam ia dengan pisau.”

“Apakah ia akan mendekat? Baiklah kita coba. Kita panggil anak itu. Nampaknya ia ingin mengetahui banyak hal. Karena itu agaknya ia akan tertarik oleh sikap-sikap yang justru mencurigakan baginya.”

Demikian iring-iringan itu berjalan terus. Para perwira dan Senopati yang datang dari luar Sangkal Putung masih akan kembali ke rumah Ki Demang. Baru kemudian mereka akan minta diri untuk kembali ke tempat masing-masing.

Demikian pula Untara dan Raden Sutawijaya. Mereka berdua bersama pengawal masing-masing berjalan menuju ke Kademangan. Berbeda dengan saat mereka berangkat, yang hampir tidak berbicara sama sekali, maka di jalan pulang mereka nampak banyak berbincang tentang keadaan Ki Sumangkar menjelang saat-saat terakhir, meskipun Raden Sutawijaya masih sangat membatasi keterangannya tentang luka-luka yang diderita oleh Ki Sumangkar.

—- > Bersambung ke bagian 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s