ADBM2-115

<<kembali | lanjut >>

DALAM pada itu, para petani yang meninggalkan Agung Sedayu itu pun telah memasuki halaman Kademangan. Dengan wajah yang merah padam mereka memaksa para pengawal yang menahan mereka, untuk dapat bertemu dengan Ki Demang.

“Ada persoalan apa?” bertanya para pengawal.

“Persoalan penting. Persoalan yang akan kami laporkan langsung kepada Ki Demang.”

“Tetapi masih banyak tamu di pendapa.”

“Persoalan ini harus segera diketahui oleh Ki Demang.”

Para pengawal itu menjadi termangu-mangu. Namun kemudian pemimpin para pengawal itu berkata, “Duduk sajalah disini. Aku akan mengundang Ki Demang untuk datang kemari.”

Para petani itu menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian salah seorang berkata, “Baiklah. Katakan kepada Ki Demang.”

Pemimpin pengawal itu pun kemudian pergi ke pendapa. Dengan hati-hati ia memberikan isyarat kepada Ki Demang, agar Ki Demang datang kepadanya.

Ketika seorang perwira yang masih berada di pendapa sambil menghirup minuman hangat melihat pula pemimpin pengawal itu, maka ia pun bertanya, “Ada apa?”

Pemimpin pengawal itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Tidak apa-apa tuan. Sekedar soal air di sawah sebelah padukuhan induk ini.”

Perwira itu tidak menghiraukannya lagi. Demikian pula orang-orang lain yang semula tertarik pula kepada pemimpin pengawal itu.

Ki Demang yang segan itu pun turun kehalaman mendekati pengawal itu. Dengan segan pula ia bertanya, “Ada apa?”

“Beberapa orang ingin bertemu dengan Ki Demang,” bisik pemimpin pengawal itu.

“Ya, ada apa?” Ki Demang yang merasa terganggu mendesak.

“Silahkan menemui mereka Ki Demang. Mereka ada digardu.”

Ki Demangpun kemudian pergi ke gardu untuk menjumpai para petani yang tidak dapat menahan diri lagi. Berebut mereka menceritakan apa yang mereka lihat di bulak itu.

Ki Demang yang melihat kemungkinan yang dapat menumbuhkan keributan dari peristiwa itu mencoba untuk menahan agar para petani itu tidak berbicara terlalu keras. Tetapi usahanya tidak berhasil. Dan beberapa orang yang duduk di pendapa, ternyata telah tertarik pula melihat cara para petani itu bercerita, sehingga satu dua di antara mereka telah turun dan mendekat.

Hal itu tidak lagi dapat disembunyikan. Sejenak kemudian berita tentang peristiwa di bulak panjang itu telah tersebar diseluruh pendapa sehingga Raden Sutawijaya dan Untara telah mendengarnya.

Seperti yang diduga oleh Ki Demang, maka pendapa itu pun menjadi ribut. Beberapa orang tidak dapat menahan diri lagi dan dengan tergesa-gesa mendekat sambil bertanya berebut dahulu, “Siapa yang terbunuh di bulak panjang?”

Tidak seorang pun yang dapat memberikan penjelasan. Tetapi mereka dapat mengatakan, bahwa di bulak panjang itu terdapat Agung Sedayu.

“Apakah Agung Sedayu sudah membunuh lagi?” diluar sadarnya Kiai Gringsing berdesis.

Seperti yang diperhitungkan oleh Agung Sedayu, maka kemudian para tamu yang masih ada di Sangkal Putung itu dengan tergesa-gesa telah pergi beriringan ke tengah bulak.

Mereka menjumpai Agung Sedayu dan Glagah Putih masih berada di tempatnya. Mereka sengaja menunggu orang-orang yang menurut mereka pasti akan datang, untuk mendapatkan keterangan tentang apa yang telah terjadi.

Ketika orang-orang itu kemudian berdiri melingkar sambil berdesakkan di sekitar kedua sosok mayat dan Agung Sedayu serta Glagah Putih, maka mulailah Agung Sedayu mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi.

“Kau melihat bagaimana orang itu membunuh?” bertanya Kiai Gringsing.

“Ya guru. Dengan ikat pinggangnya. Ia dapat mempergunakan ikat pinggangnya dengan hampir sempurna sehingga ikat pinggang itu mematuk seperti ujung tombak, tetapi dapat menebas seperti pedang.”

“Orang itu masih muda?” bertanya Untara, “semuda Raden Sutawijaya?”

Agung Sedayu mengangguk.

“Dan ia tidak meninggalkan pesan apa-apa?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Tidak Raden. Ia pergi begitu saja dan aku tidak dapat menahannya betapapun aku ingin. Tetapi aku tidak mau terlibat dalam persoalan jika aku memaksanya untuk tinggal.”

Raden Sutawijaya pun kemudian berjongkok memeriksa bekas luka-luka pada tubuh mayat itu. Ketika ia mengangkat wajahnya, dilihatnya Ki Juru menarik nafas dalam-dalam.

“Tidak usah disembunyikan Raden,” seorang perwira berkumis lebat mendesak maju, “kita semuanya tahu, siapakah yang telah melakukannya.”

Agung Sedayu memandang perwira berkumis lebat itu dengan dada yang berdebar-debar. Sejenak ia berdiri tegak tanpa bergerak, sedangkan Glagah Putih menjadi cemas melihat wajah yang keras itu.

“Kakang Tumenggung Brajaketi,” berkata Raden Sutawijaya, “tidak ada maksud menyembunyikan sesuatu. Apalagi jika memang sudah diketahui bersama. Yang sedang kita lakukan adalah meyakinkan dugaan kita, apakah benar bahwa yang telah terjadi seperti yang kita sangka.”

“Apakah masih ada keragu-raguan? Bekas tangannya tidak ada duanya. Ia adalah orang yang paling pantas ditakuti. Bagiku, ia adalah orang satu-satunya yang memiliki wibawa sekarang ini.”

Wajah Raden Sutawijaya menjadi tegang. Dipandanginya perwira berkumis lebat yang kemudian berjongkok pula di seberang mayat yang terbaring dihadapannya, dan yang kemudian beringsut pada mayat yang seorang lagi.

“Jelas sekali. Ia adalah orang besar di masa kini. Harapan setiap orang Pajang, bahwa ia akan tampil untuk menegakkan kegoyahan tahta dan menghancurkan setiap orang yang menentang keputusannya,” geram Tumenggung Brajaketi.

“Jika benar, maka Pajang tentu akan menemukan dirinya kembali,” jawab Raden Sutawijaya.

Jawaban itu mengejutkan Tumenggung Brajaketi. Wajahnya menjadi merah sejenak. Namun kemudian ia menundukkan wajahnya memandangi mayat yang terbaring dihadapannya.

“Ia memang putera satu-satunya,” sahut Ki Juru Martani, “ia memang harapan setiap orang. Jika saja ia tidak menolak untuk menjadi Putera Mahkota.”

“Ia tidak akan menolak,” bantah Tumenggung Brajaketi.

“Jangan kau katakan kepadaku. Katakan kepada Sultan Pajang,” sahut Ki Juru Martani.

Ki Tumenggung menegang. Namun Untara kemudian berkata, “Ia adalah orang yang berbuat sesuai dengan keinginan yang melonjak-lonjak didalam hati. Ia akan membunuh jika ia ingin membunuh. Ia akan pergi jika ia ingin pergi. Kenapa kalian mempersoalkannya disini?”

Raden Sutawijaya berdiri tegak memandang berkeliling. Kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Yang melakukan adalah Adimas Pangeran Benawa, Agung Sedayu. Mungkin kau memang belum mengenal secara pribadi. Tetapi kau tentu sudah mengenal namanya. Ia adalah anak muda yang kecewa. Yang tidak mau terlibat dalam kemelutnya pemerintahan ayahandanya.”

“Ada orang yang dengan sengaja mengkesampingkan,” potong Ki Tumenggung Brajaketi.

“Ada beberapa pihak,” geram Untara, “kakang Tumenggung Brajaketi. Jangan menutup kenyataan, bahwa ada orang yang sedang mengipasi api yang sedang menyala.”

“Adimas Untara,” sahut Tumenggung Brajaketi, “kau adalah Senapati pinunjul. Tetapi pengetahuanmu tentang istana ternyata terlalu sempit. Kau lebih banyak berada di medan yang kurang kau pahami.”

“Aku tahu yang kau maksud,” potong Untara, “apakah kau termasuk orang-orang yang sedang meniup api sekarang ini? Atau semacam kebencian yang tidak berdasar atas tumbuhnya Mataram? Aku menyadari persoalan itu. Tetapi kita tidak akan membicarakannya di setiap kesempatan.”

Wajah Brajaketi menjadi merah padam. Tiba-tiba ia pun berdiri sambil berkata, “Aku adalah Tumenggung yang sadar akan tanggung jawabku terhadap keselamatan Pajang. Aku akan berbuat apa saja untuk menyelamatkan Pajang dari setiap pemberontakan, siapapun yang akan menentang Sultan Hadiwijaya maupun Pangeran Benawa yang berhak menjadi Putera Mahkota, maka ia akan berhadapan dengan aku. Tumenggung Brajaketi.”

Namun tiba-tiba ketegangan itu bagaikan koyak oleh suara seseorang di antara mereka yang berkerumun di seputar mereka, “Ki Tumenggung benar. Setiap orang tentu akan mendukung sikap itu. He, apakah Ki Tumenggung melihat gejala dari seseorang yang akan memberontak? Atau barangkali yang dimaksud oleh Ki Tumenggung adalah orang-orang yang menyebut dirinya pewaris kerajaan Majapahit?”

Wajah Ki Tumenggung Brajaketi menjadi panas seperti tersentuh api. Ketika terpandang olehnya orang yang berbicara itu, jantungnya bagaikan akan meledak.

“Kiai Gringsing,” ia bergumam, “kau memang tidak tahu apa-apa tentang sikap orang-orang besar di Pajang sekarang ini.”

“Ya. Aku memang tidak tahu apa-apa. Karena itu aku bertanya kepadamu.”

“Pertanyaan itu mengundang persoalan,” Untara lah yang memotong, “kenapa kita ributkan persoalan itu sekarang? Pertanyaanku sekarang aku tujukan kepada setiap orang, apakah kalian memang ingin melihat api yang menyala dan membakar Pajang? Aku adalah Panglima yang berkuasa di daerah ini. Terlebih-lebih aku sedang membawa lambang pribadi Sultan Hadiwijaya. Jika kalian masih ingin mempersoalkannya, marilah, persoalkan dengan aku. Aku akan mengambil sikap untuk menyelesaikannya dengan caraku sebagai seorang Senapati, siapapun yang sedang aku hadapi.”

Dada Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Sekilas dipandanginya gurunya. Tetapi Kiai Gringsing justru tersenyum sambil berkata, “Aku hormati sikapmu anakmas. Aku menarik diri dari setiap pembicaraan. Marilah Agung Sedayu, marilah Glagah Putih, biarlah mayat itu dimakamkan sebagaimana seharusnya. Tetapi kita kini tahu, bahwa Pangeran Benawa adalah orang yang tidak ada duanya di daerah Pajang.” Kiai Gringsing melangkah selangkah. Namun ia pun berhenti sambil berpaling. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “He, Agung Sedayu. Apakah kau tidak tahu, siapakah kedua orang yang terbunuh ini?”

Agung Sedayu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian katanya, “Menurut anak muda yang berpakaian petani, yang ternyata adalah Pangeran Benawa, kedua orang ini adalah kakak beradik dari Pesisir Endut.”

“He,” beberapa orang saling berpandangan. Seorang perwira yang berwajah tenang berdesis, “orang-orang yang luar biasa. Pangeran Benawa benar-benar telah membuktikan, bahwa ia adalah seorang laki-laki.”

Yang lain mengangguk-angguk kecil, sementara Raden Sutawijaya pun berkata, “Untara, bagaimanakah jika kau perintahkan saja mengubur mayat-mayat itu?”

“Aku memang akan memerintahkan,” jawab Untara itu, “sudah menjadi kewajibanku. Dan Ki Demang Sangkal Putung tentu akan memberikan bantuan kepadaku. Karena itu, aku akan mempersilahkan semuanya meninggalkan tempat ini.”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Untara sejenak, namun kemudian ia pun berkata, “Aku akan kembali kerumah Ki Demang di Sangkal Putung. Nampaknya keperluanku disini pun sudah selesai, sehingga aku akan segera dapat minta diri.”

Raden Sutawijaya tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun kemudian meninggalkan tempat itu, diikuti oleh pengawal-pengawalnya yang terpercaya.

Selain Raden Sutawijaya, maka beberapa orang yang lain pun meninggalkan tempat itu pula. Ki Tumenggung Brajaketi pun kemudian melangkah pergi. Ketika ia lewat disisi Untara, maka ia pun berkata, “Tidak ada orang lain yang sanggup melakukannya. Apalagi kedua orang itu ternyata kakak beradik dari pesisir Endut.”

Untara memandang wajah Tumenggung itu sejenak. Hampir diluar sadarnya ia berkata, “Apakah Ki Tumenggung juga tidak sanggup seandainya Ki Tumenggung mendapat kesempatan yang sama?”

Wajah Tumenggung Brajaketi menjadi merah padam. Namun ia tidak menjawab pertanyaan Untara. Dengan langkah panjang ia meninggalkan tempat itu bersama beberapa orang perwira yang lain.

Yang kemudian tinggal adalah Ki Demang Sangkal Putung, Kiai Gringsing dan Agung Sedayu. Sejenak kemudian Ki Waskita pun mendekatinya pula sementara beberapa langkah dari mereka berdiri Ki Argapati dan Swandaru Geni, yang kemudian mendekat pula. Sedangkan Ki Widura pun menghampiri Glagah Putih yang masih berdiri kebingungan.

“Mereka adalah orang-orang aneh,” desis Kiai Gringsing, “hampir saja aku kehilangan pengamatan diri.”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Tetapi apakah dengan demikian Kiai dapat menggolongkan beberapa orang yang hadir itu kedalam lingkungan masing-masing?”

“Masih belum Ki Waskita, tetapi setidak-tidaknya aku melihat, bahwa orang-orang tertentu di Pajang kini seakan-akan mempunyai jalannya sendiri. Tetapi lebih parah lagi jika mereka masing-masing berusaha untuk memaksakan keinginan mereka dengan cara apapun juga.”

Ki Argapati yang mengangguk-angguk kemudian berkata, “Mudah-mudahan bukan kesengajaan untuk mengipasi api yang memang sudah dapat menyala sekarang ini seperti yang dikatakan Untara.”

“Siapa tahu,” desis Ki Widura, “tetapi kita masih mengharap masing-masing pihak dapat menahan diri sehingga tidak akan timbul benturan kekuatan. Mudah-mudahan pada suatu saat tumbuh orang kuat yang dapat diterima oleh banyak pihak, sehingga ikatan atas kesatuan Pajang tidak akan koyak berserakan.”

Agung Sedayu sama sekali tidak menyahut. Ia pun kemudian membantu orang-orang yang dipimpin oleh Ki Demang menyelenggarakan kedua sosok mayat yang tergolek itu sebagaimana seharusnya.

Ketika orang-orang Sangkal Putung akan membawa mayat itu ke pekuburan, maka beberapa orang di antara mereka pun dipersilahkan untuk kembali ke Kademangan termasuk Glagah Putih.

“Pergilah bersama orang-orang yang dapat kau minta perlindungannya jika perlu,” berkata Agung Sedayu, “Aku akan ikut ke kubur.”

Kiai Gringsing memandanginya sejenak. Meskipun ia belum mendengar ceritera yang sebenarnya tentang Glagah Putih dan kedua orang yang terbunuh itu, namun rasa-rasanya ia dapat menghubungkannya hal itu dengan Agung Sedayu.

Agung Sedayu tidak mengelakkannya, bahkan katanya kemudian, “Biarlah aku mengawasi anak-anak muda yang pergi ke kuburan guru.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk kecil. Namun ia pun kemudian bersama yang lain dan Ki Demang Sangkal Putung kembali ke Kademangan. Apa lagi mengingat tamu-tamu mereka masih tinggal di Kademangan meskipun mereka sudah bersiap siap untuk kembali.

Tetapi di antara mereka, Ki Waskita nampaknya menjadi ragu ragu. Katanya kemudian kepada Kiai Gringsing, “Biarlah aku tinggal bersama Agung Sedayu Kiai. Silahkan Kiai mendahului. Beberapa orang di Kademangan itu tentu menunggu kehadiran Kiai. Sementara aku akan membantu Agung Sedayu dan anak-anak muda Sangkal Putung.”

Kiai Gringsing tersenyum ia sadar, bahwa jika ia tidak nampak di pendapa Kademangan, tentu ada beberapa orang yang bertanya-tanya. Berbeda dengan Ki Waskita yang tidak banyak dikenal oleh para tamu di pendapa Kademangan Sangkal Putung.

Karena itu, yang tinggal kemudian adalah Agung Sedayu dan Ki Waskita di antara anak-anak muda Sangkal Putung dan orang-orang yang akan mengubur kedua sosok mayat itu. Agung Sedayu tidak sampai hati melepaskan mereka, karena bagaimanapun juga, namanya tersangkut pada peristiwa pembunuhan yang baru saja dilakukan oleh anak muda yang ternyata adalah Pangeran Benawa itu.

Sepanjang jalan ke kuburan. Agung Sedayu sempat menceriterakan apa yang sebenarnya telah terjadi kepada Ki Waskita, yang mendengarkannya dengan seksama. Agung Sedayu sempat mengatakan, menurut pendengaran Glagah Putih, bahwa masih saja ada orang yang membayang-bayanginya.

“Kenapa justru akulah yang selalu dibayangi oleh dendam itu Ki Waskita?” bertanya Agung Sedayu dengan nada yang dalam.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Seseorang kadang-kadang memang harus terjerumus kedalam suatu keadaan yang sama sekali tidak dikehendakinya sendiri, Agung Sedayu. Aku tahu bahwa kau sama sekali tidak ingin melakukan pembunuhan demi pembunuhan. Namun ternyata itulah yang terjadi, sehingga kau kini selalu dibayangi oleh dendam yang tidak ada habis-habisnya. Bahkan rasa-rasanya semakin lama menjadi semakin dalam.”

“Apakah bayangan itu akan selalu mengikutiku sepanjang umurku Ki Waskita?” bertanya Agung Sedayu pula.

“Aku kira tidak, Agung Sedayu. Pada suatu saat kau tentu akan menemukan jalan, melepaskan diri dari lingkungan dendam yang bagimu tentu sangat menggelisahkan. Mungkin kau sendiri akan dapat melepaskan diri. Tetapi akibatnya, kau telah melakukan sesuatu yang membuat bayangan dendam itu semakin kelam.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Diwajahnya membayang kegelisahan perasaannya menghadapi keadaan yang sama sekali tidak dikehendakinya itu, namun yang telah membelitnya seperti sulur-sulur beringin yang mencengkam batu-batu karang.

Berbeda dengan saat-saat pemakaman Ki Sumangkar, maka penguburan itu rasa-rasanya sama sekali tidak ada perhatian dari orang-orang yang berada di Sangkal Putung. Kecuali mereka yang bertugas menguburkannya, hanyalah Agung Sedayu dan Ki Waskita sajalah yang menungguinya. Ada satu dua orang memandang dari kejauhan, namun mereka sama sekali tidak tertarik untuk mendekat, karena berita tentang pembunuhan itu telah tersebar keseluruh Kademangan, sehingga selain orang-orang itu tidak berkepentingan, maka mereka pun tidak mau tersentuh oleh peristiwa yang mendebarkan itu.

Setelah penguburan itu selesai, maka anak-anak muda yang menguburkan mayat itu pun dengan tergesa-gesa meninggalkan kuburan itu. Mereka merasa agak tenang, karena di antara mereka terdapat Agung Sedayu dan Ki Waskita, karena sebagian dari mereka mengetahui, bahwa kedua orang itu memiliki kemampuan yang akan dapat melindungi mereka jika ada pihak yang ingin melibatkan mereka kedalam kesulitan.

Di jalan pulang. Agung Sedayu dan Ki Waskita masih asyik berbicara tentang peristiwa yang baru saja terjadi, sehingga mereka agak tertinggal oleh anak-anak muda dan orang-orang Sangkal Putung yang baru saja menguburkan kedua mayat yang terbunuh itu.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja langkah mereka tertegun. Dengan dada yang berdebar-debar. Agung Sedayu menggamit Ki Waskita ketika ia melihat seseorang duduk dibawah sebatang pohon tidak jauh dari jalur jalan yang mereka lewati.

“Itulah anak muda itu,” desis Agung Sedayu.

“Pangeran Benawa?” bertanya Ki Waskita.

“Menurut beberapa orang, ia adalah Pangeran Benawa. Agaknya pantas juga jika ia disebut Pangeran meskipun ia berpakaian seorang petani.”

Ki Waskita termangu-mangu. Nampaknya anak muda itu sama sekali tidak menghiraukannya meskipun Agung Sedayu memperhatikannya dengan saksama.

“Ya. Aku tidak salah lagi. Kita akan menghadap,” berkata Agung Sedayu.

Ki Waskita sama sekali tidak berkeberatan. Karena itulah, maka mereka pun seolah-olah telah mempercepat langkah mereka mendekati anak muda yang duduk termenung tanpa menghiraukan keadaan di sekitarnya.

Tetapi ia menengadahkan wajahnya pula ketika Agung Sedayu dan Ki Waskita dengan ragu-ragu mendekatinya. Bahkan dengan suara ragu Agung Sedayu berdesis, “Apakah benar aku berhadapan dengan Pengeran Benawa?”

Anak muda berpakaian petani itu memandanginya. Kemudian katanya, “Silahkan duduk Agung Sedayu. Dan, apakah aku boleh mengenalmu Ki Sanak?” katanya pula kepada Ki Waskita.

Agung Sedayu dan Ki Waskita pun duduk di sebelah anak muda itu. Dengan nada dalam Ki Waskita berkata, “Aku dipanggil Ki Waskita, Pangeran.”

“O, jadi kalian sudah yakin, bahwa akulah Benawa itu?” bertanya anak muda itu.

“Semua orang yang mengamati kedua mayat itu sependapat, bahwa kematiannya tentu karena bekas tangan Pangeran Benawa. Aku kurang tahu, apakah yang menandai kematian itu, selain luka-luka yang memang agak berbeda dari bekas senjata kebanyakan. Dan agaknya karena luka-luka itu bukan karena tusukan tombak, bukan pula karena goresan pedang, maka mereka tahu, bahwa senjata yang dipergunakan adalah senjata yang aneh. yang sebenarnya tidak biasa dipergunakan orang.”

Pangeran Benawa mengangguk. Namun kemudian katanya, “Mereka benar, bahwa yang telah membunuh kedua orang itu adalah Benawa. Tetapi jika seseorang kurang yakin, maka aku tentu menandai dahi setiap orang yang aku bunuh. He, apakah kau tidak memperhatikan tanda itu?”

Agung Sedayu menggeleng, sementara Ki Waskita pun mengerutkan keningnya.

“Mereka yang sudah mengenal aku melihat tanda didahi itu. Tidak dengan senjata apapun juga, tetapi dengan ibu jariku.”

“O,” Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“Bekas ibu jari itu akan memberikan ciri dan pertanggungan jawabku atas kematian yang terjadi karena aku.”

Agung Sedayu menarik nafas. Sekilas terbayang bekas yang kebiru-biruan didahi orang itu. Namun sangat samar-samar dan tidak menarik perhatiannya. Tetapi agaknya orang-orang yang telah mengenal Pangeran Benawa telah memperhatikan noda yang berwarna biru didahi orang itu.

“Nah, sekarang apakah kalian mempunyai persoalan dengan aku?” pertanyaan itu mengejutkan Agung Sedayu dan Ki Waskita. Namun hampir berbareng keduanya menggelengkan kepalanya, sementara Ki Waskita menjawab, “Tidak Pangeran. Kami tidak mempunyai persoalan apapun. Jika kami berhenti dan duduk pula disini, sebenarnya kami hanya ingin meyakinkan, apakah benar, bahwa anak muda berpakaian petani ini adalah Pengeran Benawa.”

“Kakangmas Senapati Ing Ngalaga tidak akan salah menilai, ia tahu benar bahwa aku ada disini sekarang.”

“Apakah Pangeran tidak sebaiknya singgah di Kademangan?”

Tiba-tiba saja Pangeran Benawa tertawa. Katanya, “Agung Sedayu dan Ki Waskita, apakah kalian tidak tahu bahwa disana sekarang sedang berkumpul serigala, harimau, anjing hutan, ular yang paling berbisa dan segala macam binatang buas yang lain?”

Jawaban Pangeran Benawa itu benar-benar mengejutkan, sehingga Agung Sedayu tergeser setapak. Dengan wajah yang tegang dipandanginya Ki Waskita yang ternyata juga menjadi berdebar-debar mendengar jawaban itu.

Namun ternyata suara tertawa Pangeran Benawa masih terdengar. Dengan nada tinggi di sela-sela tertawanya ia berkata, “Apakah kalian terkejut? Seharusnya kalian mengerti bahwa demikianlah adanya.”

“Pangeran,” berkata Ki Waskita kemudian, “mungkin aku dapat menangkap maksud Pangeran. Mungkin Pangeran ingin mengatakan bahwa di pendapa Kademangan itu. Sekarang berkumpul orang-orang yang dibayangi oleh nafsu yang menyala bagi kepentingan diri pribadi. Tentu ada di antara mereka orang-orang yang menyebut dirinya pewaris kerajaan Majapahit. Tentu ada para pembesar dan perwira yang tetap ingin mempertahankan Pajang dengan segala akibatnya. Dan ada di antara mereka yang ingin membangun suatu pusat pemerintahan yang baru disamping Pajang. Sudah barang tentu bahwa ada di antara mereka yang dengan jujur serta keyakinan yang mendasar dihati berjuang untuk mencapai maksudnya, tetapi tentu ada di antara mereka orang-orang yang seperti Pangeran maksudkan seperti binatang-binatang buas yang akan saling menerkam. Siapa yang kuat, maka ialah yang akan tampil diatas bangkai-bangkai yang lain.”

Pangeran Benawa memandang Ki Waskita dengan wajah yang tegang. Namun kemudian katanya, “Ki Waskita adalah seseorang yang jauh lebih tua dari aku. Itulah sebabnya Ki Waskita dapat melihat keadaan itu dengan pandangan yang lebih jernih. Ki Waskita masih dapat membedakan bahwa di antara mereka ada yang berjuang karena keyakinan akan kebenaran cita-citanya.” Pangeran Benawa berhenti sejenak, lalu. “tetapi agaknya pandangan mataku memang agak buram. Bagiku semuanya adalah orang-orang yang telah dibakar oleh nafsu bagaimanapun bentuknya dan untuk tujuan apapun.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba Agung Sedayu lah yang bertanya seolah-olah begitu saja meloncat dari ketulusan hatinya, “Apakah Pangeran menganggap bahwa Raden Sutawijaya, Ki Juru Martani, Kakang Untara, guruku Kiai Gringsing dan beberapa orang lain juga termasuk kedalamnya?”

Pertanyaan itu agaknya telah mengejutkan Pangeran Benawa. Namun sejenak kemudian ia telah tertawa. Katanya, “Kau masih muda seperti aku. Pertanyaanmu wajar sekali. Dan aku menjadi bingung untuk menjawabnya.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Tetapi ia masih menunggu jawaban Pangeran Benawa.

“Agung Sedayu,” berkata Pangeran Benawa kemudian, “maaf. Sebenarnyalah aku berpendapat demikian. Tetapi aku masih berbaik hati untuk menilai kebuasan mereka pada tingkat-tingkat yang tidak sama. Itulah kegoyahan pendapat tentang mereka. Kau tahu, kenapa kakangmas Sutawijaya meninggalkan Pajang? Bukankah karena pamanda Pemanahan bernafsu untuk menuntut janji ayahanda Sultan atas Tanah Mentaok yang kemudian dibukanya menjadi sebuah negeri? Dan kau tahu, kenapa beberapa orang Adipati bernafsu untuk menghancurkan Mataram dan sejalan dengan niat itu, beberapa orang perwira Prajurit Pajang telah membumbuinya dengan segala macam dalih? Bagi para Adipati yang ingin berkuasa sendiri, keruntuhan Pajang merupakan pertanda baik. Tetapi lahirnya kekuasaan di Mataram akan menyuramkan harapan mereka untuk berebut kuasa, karena cahaya kebesaran Mataram tentu akan menyilaukan mereka. Tetapi agaknya orang-orang yang merasa dirinya pewaris kerajaan Majapahit pun ingin memperebutkan harta karun yang akan memberikan kepuasan sekejap kepada mereka tanpa menghiraukan kehancuran kesatuan yang sudah lama dipupuk itu. Sementara itu, bukankah Ki Gede Menoreh, Kiai Gringsing dan Ki Waskita langsung atau tidak langsung sudah tersangkut pada putaran perebutan kekuasaan itu? Namun seperti yang aku katakan, bahwa aku masih mempunyai kesempatan untuk menilai lain serta bertingkat. Ada yang pada tingkat yang samar-samar, ada yang karena dorongan harga diri. ada yang menyangkut kepentingan perkembangan pribadi, tetapi ada yang benar-benar karena nafsu ketamakan untuk mendapatkan kepuasan sebesar-besarnya bagi diri pribadi. Untuk sekejap atau untuk waktu yang agak lama.”

“Dan Pangeran?” tiba-tiba saja Agung Sedayu bertanya.

“Aku adalah orang asing di rumahku sendiri. Aku asing dari ayah bunda. Aku asing dari para Senapati. Aku asing dari para inang pengasuhku. Dan kadang-kadang aku merasa asing pula dari diriku sendiri.” jawab Pangeran Benawa.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat kekecewaan yang dalam memancar di mata anak muda itu. Apalagi ketika Pangeran Benawa berkata seterusnya, “Ki Waskita. Sebagai seorang anak, aku harus berbakti kepada orang tua. Dan aku sudah mencobanya. Tetapi aku tidak dapat menghapus kekecewaan yang sudah melekat dihati disaat-saat aku melihat berapa puluh perempuan muda yang tersimpan di istana ayahanda. Mereka telah membayangi cinta kasih ayahanda terhadap ibunda dan aku. Sementara ibunda tidak mau menyadari keadaannya dan memaksa aku untuk menelan kepahitan perasaan itu tanpa berbuat sesuatu.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Pangeran. Bukankah itu berarti bahwa Pangeran telah dikecewakan sebagai seorang putera laki-laki karena tingkah laku seorang ayah. Tetapi apakah Pangeran sudah mencoba mendudukkan diri sebagai seorang Putera Mahkota yang bertanggung jawab terhadap ayahanda Sultan di Pajang yang sedang memerintah?”

“Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang paling aku benci. Kau tentu akan mengatakan, bahwa akupun orang yang sekedar mementingkan diri sendiri. Mendambakan harga diri dan kemanjaan seorang ayah terhadap anak laki lakinya. Gila. Itu pertanyaan gila.”

Ki Waskita dan Agung Sedayu menjadi berdebar-debar melihat akibat pertanyaan yang agaknya tidak disenangi oleh Pangeran Benawa. Bahkan kemudian Pangeran yang muda itu tiba-tiba saja berdiri tegak dengan wajah yang tegang.

Namun seperti berjanji, Ki Waskita dan Agung Sedayu tetap duduk ditempatnya. Bahkan keduanya pun kemudian menundukkan kepalanya seolah-olah mereka benar-benar berhadapan dengan seorang putera Mahkota dalam kedudukannya.

Tetapi sejenak kemudian agaknya hati Pangeran Benawa menjadi tenang. Perlahan-lahan ia duduk kembali sambil berdesah, “Aku memang seorang yang mementingkan diriku sendiri. Kekecewaanku sebagai seorang anak telah mencengkam jantungku terlalu dalam. Aku terlalu dungu untuk dapat membedakan antara seorang anak yang kecewa melihat cinta kasih ibunya terhadap ayahnya dibayangi oleh wajah-wajah perempuan cantik yang tak terhitung jumlahnya, dengan seorang Putera Mahkota yang asing dinegerinya sendiri. Tidak, Aku bukan Putera Mahkota. Aku Benawa, seorang yang bebas untuk melakukan apa saja sesuai dengan nuraninya. Dan aku sudah melakukannya.”

“Apa yang sudah Pangeran lakukan?” bertanya Ki Waskita.

“Membunuh. Aku membunuh setiap orang yang tidak aku sukai. Aku melindungi setiap orang yang aku anggap harus mendapat perlindungan seperti Glagah Putih. Aku bertualang diseluruh negeri. Tetapi aku juga menjadi seorang anak muda yang pendiam dan tidak meninggalkan bilik tidurku untuk berhari-hari.”

Ki Waskita menarik nafas dalam dalam, ia mulai mengenal Pangeran Benawa sebagai seorang anak laki-laki yang terluka hatinya. Agaknya tidak ada seorang pun yang dapat menyembuhkannya.

“Aku sudah cukup banyak berbicara,” berkata Pangeran Benawa kemudian, “aku tidak pernah merahasiakan sikapku terhadap siapapun. Ayahanda pun mengerti pula. Karena itu ayahanda tidak pernah mempersoalkan kedudukanku sebagai seseorang yang berhak atas tahta Pajang jika aku menghendaki.”

“Dan Pangeran tidak pernah mencoba menilai sikap Pangeran itu lagi?”

“Tidak ada gunanya. Aku sudah mengatakan kepada ayahanda, bahwa yang paling pantas untuk kemudian memerintah Pajang adalah kakangmas Sutawijaya. Meskipun ia anak angkat ayahanda, tetapi ia sudah seperti anak sendiri. Dan aku mengakui haknya atas Pajang.”

Ki Waskita termangu-mangu. Dipandanginya wajah Pangeran Benawa sejenak. Dari sorot, matanya memancar pertanyaan yang bergejolak didalam dadanya.

Pangeran Benawa tersenyum melihat sorot mata Ki Waskita. Katanya, “Kakangmas Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga adalah binatang buas yang paling bertanggung jawab, ia menyimpan nafsu didalam dadanya. Ia berjuang untuk mencapai cita citanya. Ia menyingkirkan orang-orang yang menghalanginya. Namun ia adalah orang yang berjuang untuk masa depan yang menurut keyakinannya, akan dapat menjadi tumpuan harapan bagi tanah ini. Ia berbuat sesuatu atas dasar keyakinannya seperti seekor harimau yang berjuang didalam buasnya hutan belantara, di antara binatang-binatang buas yang lain, yang siap untuk membinasakannya.”

Ki Waskita hanya dapat menarik nafas. Tidak ada lagi yang dapat dikatakannya, karena agaknya hati Pangeran Benawa telah membatu.

“Aku akan pergi,” berkata Pangeran Benawa kemudian, “jika kau terlalu lama disini, maka orang-orang di pendapa itu akan menjadi cemas. Mereka menyangka sesuatu telah terjadi, sehingga mereka akan berlari-larian mencarimu, meskipun dengan gejolak hati yang berbeda-beda, bahkan saling bertentangan.”

Pangeran Benawa itu pun kemudian bangkit berdiri. Dengan nada yang dalam ia berkata, “Aku minta diri. Aku tahu bahwa kalian berdua adalah orang-orang yang jarang dicari bandingnya. Tetapi dua saudara dari Pesisir Endut itu tidak berdiri sendiri. Mereka mempunyai hubungan dengan orang-orang yang mendendammu Agung Sedayu. Bukan karena cita-cita dan kesamaan sikap, tetapi semata-mata karena orang-orang yang mendendammu menyebarkan janji dan harapan. Bahkan mereka telah mulai menyebarkan uang dan benda-benda berharga. Nyawamu termasuk salah satu yang akan mereka beli dengan apapun yang mereka dapatkan. Selain nyawamu, masih ada nyawa-nyawa yang lain termasuk Senapati Ing Ngalaga yang menjadi pusat sasaran mereka bersama Mataramnya.”

Agung Sedayu dan Ki Waskita pun kemudian berdiri. Ketika Pangeran Benawa kemudian melangkahkan kakinya, maka keduanya bagaikan terpesona melihat sikap dan langkahnya.

“Berhati-hatilah,” Pangeran Benawa masih berpesan.

“Sekarang Pangeran akan pergi kemana?” bertanya Agung Sedayu.

Pangeran Benawa mengerutkan keningnya. Langkahnya tertegun. Dan jawabnya kemudian, “Aku tidak pernah memikirkan, kemana aku pergi kecuali jika aku sudah rindu kepada ibunda. Barulah aku berpikir tentang arah. Pulang kembali. Tetapi aku pun akan segera menjadi kecewa. Karena itu, ada dua pilihan yang selalu aku lakukan. Bersembunyi didalam bilik, atau pergi kemana saja.”

Ki Waskita menarik nafas panjang. Sementara Pangeran Benawa pun segera melanjutkan langkahnya, berjalan menyusuri jalan panjang yang rasa-rasanya tidak berujung.

Ketika Pangeran Benawa menjadi semakin jauh, maka Ki Waskita pun menggamit Agung Sedayu sambil berkata, “Seorang Pangeran yang kehilangan pegangan hidupnya meskipun ia seorang yang tidak ada taranya.”

“Apakah kira-kira yang akan dilakukannya kemudian paman. Nampaknya ia masih mempunyai kepercayaan kepada seseorang. Raden Sutawijaya.”

Ki Waskita memandang Pangeran Benawa yang nampaknya menjadi semakin kecil. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Ia akan bertualang. Sebenarnya bertualang di sepanjang jalan tapi jika badannya terkurung didalam bilik tidurnya, ia akan bertualang didalam angan-angannya tanpa batas. Tetapi ia masih tetap memiliki nurani seorang kesatria yang melindungi kelemahan dan menghancurkan kejahatan, meskipun caranya adalah cara menurut seleranya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Pangeran Benawa menjadi semakin jauh, sehingga Agung Sedayu pun berkata, “Marilah kita kembali ke Kademangan paman. Jika kita terlalu lama pergi, mungkin akan dapat menumbuhkan kegelisahan.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk ia pun kemudian beringsut sambil bergumam, “Ya. Kita akan segera kembali ke Kademangan.”

Keduanya pun kemudian berjalan perlahan-lahan menyusuri jalan bulak menuju ke pedukuhan induk kademangan Sangkal Putung.

Di Kademangan Kiai Gringsing memang menjadi agak gelisah karena Agung Sedayu yang tidak segera kembali. Namun rasa-rasanya ia menjadi agak tenang karena Agung Sedayu tidak seorang diri. Ia bersama Ki Waskita yang juga seorang yang dapat dipercaya, sehingga jika mereka mendapat gangguan di sepanjang jalan, maka keduanya tentu akan dapat mempertahankan hidup mereka.

Kiai Gringsing itu pun kemudian menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat, Agung Sedayu dan Ki Waskita memasuki regol Kademangan, justru pada saat Ki Demang menghidangkan jamuan makan bagi tamu-tamunya, karena sebagian dari mereka akan segera meninggalkan Kademangan.

Seperti biasa Agung Sedayu tidak langsung pergi ke pendapa. Setelah ia membersihkan diri di pakiwan bersama Ki Waskita, maka keduanya pun segera pergi ke sebelah longkangan, tempat anak-muda mempersiapkan minuman.

“Kau tidak makan?” bertanya seorang kawannya.

“Disini sajalah, bersama kalian,” jawab Agung Sedayu.

“Kiai?” bertanya seorang anak muda kepada Ki Waskita.

Ki Waskita tersenyum. Jawabnya, “Aku juga disini. Jika aku sekarang naik ke pendapa, mungkin aku tidak akan mendapat bagian lagi.”

Anak-anak muda itu tertawa. Meskipun Ki Waskita jarang-jarang berada di Sangkal Putung, tetapi ia merupakan sahabat yang baik bagi anak-anak muda.

Sementara itu, ketika para tamu sudah selesai makan dan beristirahat sebentar, maka mereka pun mulai bersiap-siap untuk kembali. Sebagian dari mereka akan pergi ke Pajang, yang lain ke Jipang dan bahkan ada yang akan menempuh perjalanan jauh ke tempat-tempat lain.

“Aku pun akan ke Pajang lebih dahulu,” berkata Untara, “aku harus menghadap Sultan untuk mengembalikan pertanda pribadinya dan melaporkan tugas yang telah aku lakukan.”

Beberapa orang perwira menyambut dengan senang hati, karena mereka akan mendapat kawan seperjalanan. Semakin banyak kawan seiring, maka semakin menyenangkan perjalanan yang cukup jauh itu. Tetapi beberapa orang yang lain justru menjadi kurang senang.

Seorang perwira berkata kepada kawannya yang duduk disampingnya, “Sultan memang lagi bingung. Kenapa ia menyerahkan pertanda pribadinya kepada Untara?”

“Bukan bingung, tetapi pikun. He, kau tahu, kenapa Pangeran Benawa ada disini sekarang ini meskipun ia tidak menampakkan diri di Kademangan ini?”

Agaknya ia menjadi heran, kenapa ayahanandanya terlalu percaya kepada Senapati muda itu di lereng Gnung Merapi itu.”

Mereka tidak meneruskan pembicaraan itu, karena seorang kawan yang lain mendekatinya. Meskipun perwira itu berbisik baik, tetapi mereka belum mengenal sikap batin orang yang mendekat itu.

Dengan demikian maka hampir setiap orang dihinggapi oleh kecurigaan terhadap kawan-kawan sesama mereka. Hanya kepada mereka yang diketahui dengan pasti sajalah mereka dapat berbicara dengan terbuka.

Ternyata bahwa yang lebih dahulu minta diri adalah Untara. Raden Sutawijaya masih akan tinggal beberapa saat di Kademangan itu. Rasa-rasanya badannya masih lelah meskipun tidak banyak yang dilakukannya di Sangkal Putung.

Demikianlah maka tamu-tamu di Sangkal Putung itu mulai mengalir sekelompok demi sekelompok, Ki Demang mengantar mereka sampai keregol bersama Sekar Mirah dan Pandan Wangi. Meskipun Sekar Mirah berusaha untuk tersenyum sambil mengucapkan terima kasih, namun masih nampak di sorot matanya, kepedihan yang menghunjam jantung.

Diluar Agung Sedayu dan Swandaru memberikan hormat dan ucapan terima kasih pula. Namun setiap kali Agung Sedayu merasa tatapan mata yang tajam menyentuh perasaannya. Seolah-olah merupakan suatu peringatan bahwa ada di antara mereka yang pada suatu saat akan berada ditempat yang saling menyeberang. Bahkan rasa-rasanya Agung Sedayu mulai dibayangi oleh garis batas yang basah karena darah di peperangan.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya ketika Untara berdiri dihadapannya. Beberapa saat lamanya Senapati muda itu memandangi adiknya. Kemudian terdengar ia berdesis, “Agung Sedayu, setiap kejap umurmu semakin bertambah. Apalagi kau sudah mulai berbicara tentang seorang gadis yang akan kau jadikan seorang isteri. Dan kau masih saja bersikap seperti kanak-kanak yang suka bermain kejar-kejaran.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab.

“Aku akan pergi ke Pajang lebih dahulu,” berkata Untara kemudian, “baru dari Pajang aku kembali ke Jati Anom.”

“Ya kakang,” sahut Agung Sedayu kemudian.

“Dan kau? Apa yang akan kau lakukan?”

“Kembali kepadepokan,” jawab Agung Sedayu.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya Swandaru yang mengerutkan keningnya. Namun Untara pun kemudian meninggalkan Sangkal Putung dengan hati yang risau oleh adik laki-lakinya.

Sementara itu, perasaan Agung Sedayu pun rasa-rasanya menjadi gelisah. Pertanyaan kakaknya mengingatkannya kepada hari depannya yang kurang mapan. Apalagi ketika sekilas teringat olehnya sifat dan tingkah laku Sekar Mirah. Gadis yang memiliki sifat sejalan dengan kakaknya Swandaru.

Dengan susah payah Agung Sedayu mencoba mengendapkan perasaannya, sehingga tidak nampak membekas diwajahnya.

Dalam pada itu, sebagian besar para tamu telah meninggalkan Kademangan. Namun masih ada beberapa orang yang tinggal. Mereka masih bercakap-cakap di pendapa tentang berbagai hal yang sedang berkembang disaat-saat terakhir.

Di antara mereka terdapat Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga. Ki Juru, Ki Gede Menoreh, Ki Waskita dan Ki Widura.

“Kita pulang bersama-sama Ki Gede,” berkata Raden Sutawijaya.

Ki Gede tersenyum, jawabnya. “Terima kasih. Kita akan tidak merasa lelah di perjalanan, agaknya Ki Waskita pun tidak akan memilih menempuh perjalanan seorang diri seperti saat ia datang.”

Ki Waskita tersenyum. Jawabnya, “Aku memang lebih senang menempuh perjalanan bersama dengan beberapa orang, sehingga perjalanan tidak tarasa sepi. Tetapi entahlah.”

“Tetapi kalian tentu tidak akan tergesa-gesa,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan tinggal semalam lagi di Sangkal Putung. Biarlah seorang pengawal mendahului kembali ke Mataram dan mengabarkan bahwa baru besok aku kembali.” Raden Sutawijaya berhenti sejenak sambil memandang kepada Ki Juru Martani, seolah-olah minta pertimbangan. Kemudian katanya, “aku kira. aku masih mempunyai waktu jika Ki Demang tidak berkeberatan.”

“Tentu tidak,” sahut Ki Demang dengan serta merta, “kami akan menerima dengan senang hati. Dengan demikian, Kademangan ini tidak segera menjadi terlalu sepi. Malam nanti masih ada kawan untuk membuat Kademangan ini terasa hangat.”

Raden Sutawijaya tersenyum. Jawabnya, “Terima kasih. Disini aku merasa beristirahat. Aku tidak pernah mendapat kesempatan beristirahat sebaik-baiknya di Mataram. Ada saja persoalan-persoalan yang harus aku selesaikan.”

Ki Gede Menorehpun tersenyum pula. Katanya, “Bermacam macam persoalan memerlukan pemecahan Raden. Tetapi disini Raden dapat melupakannya sejenak.”

Raden Sutawijaya tertawa. Ki Juru Martani pun tertawa pula sambil berkata, “Sebenarnya anakmas Sutawijaya sudah terlalu sering meninggalkan Mataram.”

“Tetapi tidak untuk beristirahat seperti ini,” sahut Sutawijaya, “disini aku dapat makan enak dan tidur nyenyak.”

Ki Juru tertawa. Yang lainpun tertawa pula. Mereka mengerti bahwa pada kesempatan yang lain, jika Raden Sutawijaya meninggalkan Mataram, biasanya ia menempuh perjalanan untuk mesu diri, untuk nienyempurnakan ilmunya. Ilmu kanuragan, ilmu kajiwan serta ilmu pengetahuan.”

Dengan demikian, maka beberapa orang tamu Ki Demang masih tetap tinggal untuk semalam. Mereka masih sempat berbincang dan berbicara mengenai banyak masalah. Tetapi agaknya mereka tidak ingin melelahkan pikiran mereka dengan persoalan-persoalan yang berat. Mereka masih berada dalam suasana berkabung. Apalagi jika mereka melihat wajah Sekar Mirah yang buram.

Namun sebenarnyalah, bahwa Raden Sutawijaya mempunyai maksud tertentu dengan keputusannya untuk tetap tinggal di Sangkal Putung. Sejak ia melihat kedua mayat yang terbunuh dengan ciri-ciri bekas tangan Pangeran Benawa, ia memperhitungkan, bahwa Pangeran Benawa berada di Sangkal Putung untuk suatu maksud tertetu.

“Mungkin ia hanya sekedar memberikan penghormatan terakhir kepada Ki Sumangkar yang pasti dikenalnya pula,” berkata Raden Sutawijaya didalam batinnya. “Tetapi mungkin ia masih mempunyai maksud lain selama berada di Kademangan ini.”

Karena itulah, maka ketika kemudian matahari terbenam. Raden Sutawijaya minta diri untuk berjalan-jalan di Kademangan Sangkal Putung. Tetapi ia tidak mengajak para pengawalnya. Yang diajaknya untuk ikut bersamanya adalah Agung Sedayu dan Glagah putih.

Agung Sedayu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia pun menjawab, “Baiklah Raden. Kita akan berjalan-jalan sampai ke ujung padukuhan. Tetapi bagi Sangkal Putung, demikian matahari terbenam, jalan-jalan segera menjadi sepi. Setelah obor dipasang di regol dan jalan-jalan simpang, maka penghuni Kademangan ini mulai menutup pintu rumahnya.”

“Dan gardu-gardu?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Ketika malam menjadi semakin gelap, maka mulailah gardu-gardu menjadi hidup,” jawab Agung Sedayu.

Menyenangkan sekali. Marilah. Aku sengaja tidak mengajak Swandaru. karena ia masih disibukkan oleh banyak pekerjaan di rumahnya,” berkata Raden Sutawijaya kemudian.

Swandaru hanya tersenyum saja. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia merasa beruntung, bahwa ia tidak harus menyertai Raden Sutawijaya karena ia merasa sangat lelah. Ia sudah banyak memeras tenaganya sejak Ki Sumangkar masih sakit. Ia harus memperhatikan Sekar Mirah dan menjaga perasaannya. Apalagi pada saat Ki Sumangkar tidak dapat di tolong lagi.

Setelah minta diri kepada Ki Demang dan para tamu yang lain. Raden Sutawijaya pun kemudian meninggalkan Kademangan bersama Agung Sedayu dan Glagah Putih.

Seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu, maka ketika langit mulai kelam, jalan-jalan di Kademangan Sangkal Putungpun segera menjadi sepi. Anak-anak sudah mulai naik ke pembaringan setelah makun malam. Dan orang-orang tuapun lebih senang duduk berbincang dengan keluarganya di rumah.

Namun ketika malam bertambah malam, justru satu dua orang telah keluar dari rumahnya untuk pergi ke Kademangan. Mereka merasa wajib untuk ikut serta bersama-sama beberapa orang tetangga terdekat untuk berjaga-jaga di pendapa Kademangan setelah meninggalnya Ki Sumangkar.

Demikian, maka pendapa Kademangan Sangkal Putung menjadi semakin banyak orang yang datang berkunjung untuk ikut menjaga agar di Kademangan itu tidak terasa menjadi sangat sepi.

Selain di pendapa Sangkal Putung, maka anak-anak mudapun mulai keluar dari rumahnya dan pergi kegardu terdekat. Selain para pengawal yang kebetulan bertugas, maka anak-anak muda yang lainpun rasa-rasanya mempunyai kewajiban juga untuk ikut membantu mengawasi keadaan. Apalagi mereka mengerti bahwa ada dua orang yang terbunuh didaerah Sangkal Putung. Meskipun pembunuhnya menurut pendengaran mereka adalah Pangeran Benawa, namun kemungkinan-kemungkinan yang tidak mereka kehendaki akan dapat terjadi di Kademangan Sangkal Putung.

Karena itulah, maka setiap kali Agung Sedayu dan Glagah Putih yang menyertai Raden Sutawijaya berjalan-jalan di seputar Kademangan Sangkal Putung, menjadi semakin sering ditegur oleh anak-anak muda yang bukan saja bertemu di sepanjang jalan, tetapi juga mereka yang sudah berada di gardu-gardu.

Namun dalam pada itu Raden Sutawijaya berjalan terus. Ketika mereka sampai di ujung padukuhan induk, maka Raden Sutawijaya pun mengajak Agung Sedayu untuk berjalan di tengah-tengah bulak.

Agung Sedayu menjadi agak berdebar-debar. Tetapi karena Raden Sutawijaya mendesaknya, maka akhirnya mereka bertiga pun berjalan juga di antara tanaman padi yang subur.

“Mudah-mudahan tidak ada sesuatu sebab yang memaksa kami untuk berbuat sesuatu,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya. Rasa-rasanya ia selalu dibayangi oleh kemungkinan untuk melakukan pembunuhan terhadap banyak pihak yang selalu mendendamnya.

Meskipun demikian. Agung Sedayu masih dapat merasakan segarnya udara di bulak panjang. Dalam keremangan malam nampak dikejauhan padukuhan-padukuhan yang menjorok kedalam kelam, seperti bukit-bukit kecil yang berserakan.

Ketika Agung Sedayu menengadahkan wajahnya, dilihatnya langit yang bersih. Bintang-bintang bertebaran di seluruh langit. Namun bulan masih belum nampak, karena hari bulan yang semakin tua.

Namun, ketika mereka sampai ditengah-tengah bulak, rasa-rasanya ada sesuatu yang menyentuh perasaan Agung Sedayu. Nalurinya seakan-akan memberikan pertanda bahwa mereka tidak hanya bertiga saja di bulak yang panjang itu.

Meskipun demikian Agung Sedayu tidak mengatakannya kepada siapapun juga. Tetapi hampir diluar sadarnya ia merapat di sebelah Glagah Putih, seolah-olah ia berusaha untuk memagari anak itu dari bahaya jika tiba-tiba saja terjadi sesuatu ditengah-tengah bulak panjang itu.

Dalam pada itu. Raden Sutawijaya nampaknya sama sekali tidak merasakan sesuatu yang dapat mencemaskannya. Ia berjalan sambil menghirup udara segar sambil sekali-sekali memperhatikan langit yang cerah. Bahkan rasa-rasanya Raden Sutawijaya tidak menghiraukan lagi, berapa jauhnya mereka berjalan memasuki bulak yang panjang.

“Di sebelah ada padukuhan yang cukup besar bukan?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Ya,” sahut Agung Sedayu, “padukuhan sebelah masih termasuk juga Kademangan Sangkal Putung.”

“Dan bulak di seberang?”

“Masih juga termasuk. Bahkan padukuhan di seberang bulak yang tidak terlalu luas itu masih juga termasuk Kademangan Sangkal Putung.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan melihat-lihat padukuhan kecil itu.”

“Tidak termasuk padukuhan kecil. Yang termasuk kecil adalah padukuhan di sebelah. Jika kita berbelok kekanan ditengah bulak itu kita akan sampai padukuhan yang lebih kecil. Ada beberapa padukuhan kecil yang bertebaran di sebelah sebelum kita sampai kebulak yang memisahkan Sangkal Putung dengan hutan kecil itu.”

“Tetapi di hutan kecil itu masih terdapat beberapa jenis binatang buas bukan?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Harimau,” jawab Agung Sedayu.

Raden Sutawijaya termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kita berbelok kekanan. Bukankah jalan ini menuju kemakam itu juga?”

“Ya,” jawab Agung Sedayu singkat.

Glagah Putih memandang Agung Sedayu sejenak. Namun ia justru merasa gembira berjalan-jalan bersama dengan Agung Sedayu dan Raden Sutawijaya.

Namun demikian. Agung Sedayu masih saja diganggu oleh perasaannya bahwa selain mereka, masih ada orang lain di bulak itu. Bahkan rasa-rasanya orang itu selalu mengikuti langkah mereka kemanapun mereka pergi.

Tetapi Agung Sedayu tidak berhasil melihat orang itu. Meskipun setiap kali dengan tiba-tiba saja ia berpaling, namun ia tidak melihat apapun juga didalam keremangan malam.

Meskipun demikian Agung Sedayu berjalan terus. Ketika bulak panjang itu sudah dilampaui, mereka memasuki sebuah padukuhan yang tidak begitu besar.

“Bagaimana dengan para pengawal di padukuhan ini?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Tidak banyak berbeda dengan padukuhan yang lain,” jawab Agung Sedayu, “mereka juga memenuhi gardu-gardu di padukuhan mereka, termasuk anak-anak muda. Tetapi kebanyakan dari anak-anak muda itu, selain yang bertugas hanyalah sekedar berpindah tempat pembaringan.”

Sutawijaya tersenyum. Katanya, “Dimanapun sama saja. Tetapi itu pun lebih baik, karena setiap saat mereka dengan mudah berkumpul. Sementara laki-laki yang lebih tua menjaga rumah-rumah mereka.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia pun berpendapat demikian, meskipun kadang-kadang anak-anak muda itu justru sering mengganggu tetangga di sekitarnya. Jika sebatang pohon jambu berbuah, maka dimalam hari anak-anak muda itu sering tidak dapat menahan diri melihat buahnya yang kemerah-merahan.

Dalam pada itu Raden Sutawijaya, Agung Sedayu dan Glagah Putih pun berjalan terus. Dimuka gardu mereka kadang-kadang harus berhenti dan bercakap-cakap sebentar dengan anak-anak muda yang ada didalamnya. Bahkan jika mereka mengetahui bahwa yang bersama Agung Sedayu itu adalah Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga, maka mereka pun segera berloncatan turun dari gardu dan mengitarinya untuk melihat lebih dekat lagi anak muda yang telah berhasil membuka Alas Mentaok yang pekat itu menjadi sebuah negeri yang termasuk cepat berkembang.

Setelah melewati gardu di ujung lain dari lorong yang membelah padukuhan kecil itu, maka Raden Sutawijaya pun memasuki sebuah bulak yang meskipun tidak terlalu panjang, tetapi terasa sangat sepi.

Agung Sedayu pun kemudian berjalan semakin rapat disisi Glagah Putih. Sementara Raden Sutawijaya berada di sebelah yang lain.

Tetapi Glagah Putih sendiri sama sekali tidak merasakan kekhawatiran apapun juga. Ia terlalu percaya kepada Agung Sedayu dan Raden Sutawijaya. Bahkan ia merasa seandainya mereka bertemu dengan sekelompok penjahat sekalipun, kedua anak muda itu tentu akan dapat mengatasinya.

Namun bagi Agung Sedayu, sentuhan-sentuhan perasaannya masih saja terasa getaran naluriah yang seakan-akan memberitahukan kepadanya bahwa seseorang sedang mengikutinya.

Agung Sedayu termangu-mangu ketika tiba-tiba saja Raden Sutawijaya menggamitnya sambil berkata, “Kita berhenti disini.”

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

Raden Sutawijaya menebarkan pandangan matanya kedalam kesamaran warna malam. Sejenak ia berdiri tegak tanpa berkata apapun juga.

“Ada sesuatu yang menarik perhatian Raden?” bertanya Agung Sedayu kemudian.

“Apakah kau merasakan sesuatu?” Raden Sutawijaya pun bertanya pula.

Agung Sedayu menarik nafas. Ternyata bahwa Raden Sutawijaya merasakan pula seperti sentuhan-sentuhan pada perasaannya.

“Aku merasa bahwa kita tidak hanya bertiga di bulak ini,” jawab Agung Sedayu.

Raden Sutawijaya mengangguk. Jawabnya, “Aku juga merasa demikian. Dan memang itulah yang aku harapkan.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba teringat olehnya seorang anak muda yang berpakaian petani yang telah membunuh dua orang bersaudara dari Pasisir Endut.

“Pangeran Benawa?” hampir diluar sadarnya Agung Sedayu bertanya.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah Agung Sedayu sejenak. Kemudian katanya, “Benar Agung Sedayu. Aku memang berharap dapat bertemu dengan adimas Pangeran Benawa. Aku yakin ia masih berada di Sangkal Putung. Jika ia melihat aku keluar dari padukuhan, maka ia lentu akan menemui aku.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Ia sependapat dengan Raden Sutawijaya. Nampaknya Pengeran Benawa masih mempunyai kepercayaan kepadanya.

“Raden,” berkata Agung Sedayu, “jika demikian, kita akan menunggu sejenak. Orang yang kita tunggu agaknya akan segera datang.”

Raden Sutawijaya mengangguk kecil. Namun katanya, “Kita akau berjalan perlahan-lahan menyusuri jalan ini.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Mereka pun melangkah lagi meskipun lambat, seolah-olah mereka sengaja menunggu seseorang yang akan segera menyusul mereka.

Namun ternyata bahwa yang mereka perhitungkan terjadi. Sejenak kemudian nampak sesosok bayangan yang meloncat ke tengah jalan bulak yang tidak begitu panjang itu, beberapa langkah di belakang mereka.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia berdesis, “Kau lihat seseorang di belakang kita?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling, maka ia pun melihat sebuah bayangan yang mengikutinya.

Meskipun bayangan itu tidak nampak dalam ujud dan bentuk, namun Agung Sedayu segera menduga, bahwa orang itu adalah Pengeran Benawa yang ingin menjumpai Raden Sutawijaya.

Ketiga orang yang berada ditengah bulak itu pun segera berhenti menunggu. Semakin lama bayangan itu pun menjadi semakin dekat. Dan Agung Sedayu pun menjadi semakin yakin, bahwa ia adalah anak muda yang telah dijumpainya bersama Ki Waskita.

Sebelum bayangan itu dekat benar, maka terdengar Raden Sutawijaya sudah menyapanya, “Adimas. Aku yakin, bahwa adimas Pangeran akan menemui aku. Jika tidak malam ini. tentu besok atau pada kesempatan lain.”

Bayangan itu melangkah semakin cepat. Kemudian dengan nada dalam terdengar ia menyahut, “Sudah lama aku berniat kakangmas. Tetapi aku belum mendapat kesempatan. Agaknya di Sangkal Putung ini aku mendapatkan kesempatan itu.”

Ketika kemudian Pangeran Benawa mendekat. Raden Sutawijaya pun menepuk bahunya sambil berkata, “Kau memang orang yang luar biasa. Setiap orang tahu. bahwa kakak beradik dari Pasisir Endut bukan orang kebanyakan. Tetapi keduanya tidak berdaya melawan ilmumu.”

“Ah. Aku tidak dapat membiarkan melihat kekejiannya.”

“Bukan itu yang penting bagiku. Beruntunglah Pajang mempunyai seorang pemimpin seperti adimas.”

Pangeran Benawa memandang Raden Sutawijaya sejenak. Kemudian katanya, “Pajang terasa asing bagiku.”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian menepi dan duduk diatas sebuah batu padas di tepi jalan.

Pangeran Benawa termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian duduk pula disamping Raden Sutawijaya diikuti oleh Agung Sedayu dan Glagah Putih.

“Adimas Benawa,” berkata Raden Sutawijaya kemudian, “apakah adimas tidak melihat keburaman didalam istana Pajang, sehingga adimas tidak segera meringankan tangan, membantu ayahanda Sultan untuk menegakkan kewibawaannya kembali?”

Pangeran Benawa memandang kedalam kegelapan malam. Untuk beberapa saat ia berdiam diri. Kemudian Jawabnya, “Aku adalah seorang pengecut yang lari dari medan perang. Tetapi sebenarnya aku tidak takut melawan apapun yang terjadi didalam istana itu. Yang ternyata mengusir aku dari medan adalah perasaan kecewaku terhadap ayahanda itu sendiri.”

Raden Sutawijaya memandang Pangeran Benawa sejenak. Ia melihat kekecewaan yang dalam membayang di wajah anak muda itu. Betapa gelapnya malam, namun Raden Sutawijaya seolah-olah melihat, bayangan tingkah laku Sultan Pajang yang telah membuat hati anak muda itu bagaikan membeku.

“Adimas,” berkata Raden Sutawijaya kemudian, “tetapi adimas harus ingat, bahwa masalah Pajang adalah masalah yang jauh lebih besar dari masalah Ayahanda Sultan Hadiwijaya sendiri.”

“Aku menyadari. Tetapi seperti yang aku katakan. Hatiku ringkih dan lemah. Aku telah terpukul oleh kekecewaan yang seharusnya dapat aku atasi karena persoalan yang lebih besar dari sekedar kecengengan yang memuakkan.” Pangeran Benawa berhenti sejenak. Lalu. “tetapi ternyata yang terjadi adalah lain. Au telah terpukul oleh kelemahan hatiku dan sama sekali tidak berdaya untuk bangkit kembali.”

Raden Sutawijaya menggeleng. Jawabnya, “Kesadaranmu tentang keadaanmu sebenarnya akan sangat berguna bagi usahamu untuk bangkit menjunjung nama Pajang kembali.”

Tetapi Pangeran Benawa menjawab, “Tidak. Aku justru berusaha untuk menjumpai kakangmas Sutawijaya karena ada sesuatu yang tumbuh didalam hatiku. Benar-benar nuraniku.”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam, sementara Pangeran Benawa meneruskan, “Satu-satunya orang yang mungkin dapat berdiri diatas kekalutan pemerintahan dan kekalutan hati ini adalah kakangmas Sutawijaya.”

Sutawijaya tertegun sejenak. Namun katanya kemudian, “Adimas. Sudah tentu aku tidak mencuci tangan. Aku sudah bersumpah untuk tidak menginjakkan kakiku di paseban istana Pajang sebelum Mataram menjadi sebuah negeri karena hatiku terbakar oleh sikap beberapa orang perwira saat itu. Tetapi itu bukan berarti bahwa aku tidak akan ikut memikul tanggung jawab atas kelestarian Pajang.”

Pangeran Benawa memandang Raden Sutawijaya sejenak. Kemudian katanya, “Tanpa menghadap ayahanda dan menyampaikan persoalan kita masing-masing, sebenarnyalah bahwa ayahanda telah mengambil keputusan. Bahwa ayahanda telah menyerahkan pusaka-pusaka terpenting dari Pajang kepada kakangmas adalah keputusan ayahanda untuk kelangsungan hidup Pajang. Ayahanda mengenal aku dengan segala macam sifat dan watakku sebaik-baiknya pula. Itulah sebabnya maka sebenarnya tidak ada lagi persoalan di Pajang.”

“Tetapi aku mempunyai tanggapan lain. Ayahanda membebankan tugas bagiku sebagai seorang Senapati Perang untuk melindungi Pajang. Dan aku yakin, tidak ada dua, bahwa adimas Benawa lah yang seharusnya menjadi Putera Mahkota. Justru saat yang gawat sekarang ini merupakan waktu yang tepat untuk berbuat sesuatu bagi Pajang.”

Pangeran Benawa menggeleng. Katanya, “Kakangmas Sutawijaya. Pajang bukan satu-satunya tempat bagi kelangsungan pemerintahan. Seandainya pusat pemerintahan itu terletak dimanapun juga, tidak ada bedanya asal pemegang pemerintahan merupakan jalur lurus yang memang berhak dan direstui oleh Ayahanda Sultan Hadiwijaya. Dan aku sudah menemukannya. Mataram.”

“Ah,” desah Raden Sutawijaya, “aku adalah putera angkat. Betapapun besar kasih sayang ayahanda terhadapku, tetapi kau adalah putera yang seharusnya menerima warisan itu.”

“Itulah yang agak berbeda dari kata nuraniku. Yang penting bagi Pajang bukanlah siapa yang berhak atas tahta. Tetapi siapakah yang paling baik bagi kelestariannya. Dan aku memang sudah menyadari, bahwa aku lebih mementingkan yang paling baik bagi Pajang daripada yang lebih berhak.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Dipandanginya wajah malam yang kelam di seputarnya. Agung Sedayu dan Glagah Putih duduk bagaikan membeku. Mereka tidak dapat ikut dalam pembicaraan itu. Tetapi seolah-olah Raden Sutawijaya sengaja membawa mereka untuk menjadi saksi atas sikap dan kata nurani masing-masing tentang Pajang di masa depan.

Untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri. Kedua anak muda yang paling berhak berbicara atas tangan-tangan yang akan menggenggam pemerintahan itu telah berbincang. Dan agaknya Raden Sutawijaya tidak dapat menghindari limpahan tanggung jawab yang telah dihindari oleh Pangeran Benawa.

Tetapi masih membayang keragu-raguan pada wajah Raden Sutawijaya. Pangeran Benawa menentukan sikapnya pada saat hatinya dibakar oleh kekecewaan terhadap ayahandanya. Tetapi apakah sikap itu akan langgeng. Jika kekecewaan itu menjadi semakin kabur dari dinding hatinya, maka apakah ia masih tetap pada pendiriannya.

Pertanyaan itu telah membayangi hati Raden Sutawijaya. Namun ia tidak tergesa-gesa menyatakannya kepada Pangeran Benawa. Agaknya ia masih memerlukan waktu untuk menyampaikannya. Jika Pangeran Benawa telah sempat mempertimbangkannya dua tiga kali saja.

Namun seolah-olah Pangeran Benawa merasakan keragu-raguan Raden Sutawijaya. Ialah yang kemudian mengatakannya meskipun Raden Sutawijaya tidak bertanya, “Kakangmas. Mungkin kakangmas ragu-ragu apakah aku tidak akan berubah pendirian.”

Raden Sutawijaya mengerutkan kuningnya, sementara Pangeran Benawa berkata seterusnya, “Aku mohon kakangmas percaya kepadaku, bahwa aku akan tetap memegang kata-kataku sekarang. Aku tidak baru saja memikirkannya. Aku sudah lama mempertimbangkannya. Agaknya pertimbanganku sudah matang. Apapun yang kelak terjadi atasku, tetapi aku tidak akan berubah dalam hal ini.”

Sejenak Raden Sutawijaya termenung. Namun kemudian sambil menepuk bahu Pangeran Benawa ia berkata, “Adimas. Mungkin kita dapat mengambil suatu sikap bersama. Tetapi semuanya masih tetap tergantung Ayahanda Sultan di Pajang.”

Pangeran Benawa tersenyum. Jawabnya, “Bagiku tidak. Juga jika ayahanda memerintahkan aku untuk bersedia diangkat menjadi Pangeran Pati. Aku akan menolak dengan segala akibatnya.”

“Jangan begitu adimas. Sikap itu akan sangat menyedihkan hati ayahanda.”

“Mudah-mudahan ayahanda mengerti seperti yang aku duga selama ini. Bahkan menurut dugaanku, ayahanda tidak lagi akan bertanya kepadaku, apakah aku bersedia diangkatnya menjadi Pangeran Pati.”

Raden Sutawijaya tidak menyahut lagi. Pangeran Benawa agaknya benar-benar telah mengambil keputusan.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Angin malam berhembus ke Utara. Sementara bintang gemintang bagaikan terbaur di langit yang luas.

“Kakangmas,” Pangeran Benawa memecah keheningan, “aku mohon diri. Tidak ada yang dapat aku katakan lagi. Rasa-rasanya beban yang menghimpit dada telah tertumpah keluar. Aku akan dapat tidur dengan nyenyak.”

“Tetapi akulah yang kemudian tidak dapat tidur,” jawab Raden Sutawijaya, “masalahnya sangat gawat bagiku.”

Pangeran Benawa berdiri sambil tersenyum. Katanya, “Kakangmas adalah Senapati Ing Ngalaga yang telah menerima pelimpahan pusaka terpenting dari Pajang. Tidak ada persoalan lagi yang seharusnya kakangmas risaukan. Jangan hiraukan suara orang-orang yang iri hati. Dan jika kakangmas memerintahkan, aku akan dengan senang hati membantu memusnahkan mereka yang menyebut dirinya pewaris Kerajaan Agung Majapahit tanpa menghiraukan keadaan kecuali dibayangi oleh nafsu ketamakan.”

“Terima kasih adimas,” desis Raden Sutawijaya, “kita masih harus menunggu sikap terakhir ayahanda Sultan Pajang.”

Sekali lagi Pangeran Benawa tersenyum. Bahkan kemudian terdengar suara tertawanya lirih, “ayahanda tidak lagi dapat mengambil sikap apa-apa.”

“Ah,” desah Raden Sutawijaya.

Tetapi Raden Sutawijaya tidak sempat berbicara lagi, karena Pangeran Benawa berkata, “Sudahlah kakangmas. Hari sudah jauh malam. Lebih baik aku segera meninggalkan Sangkal Putung dan kembali ke Pajang.”

“Baiklah adimas. Kita akan menghadapi masa-masa yang berat.”

“Ya. Aku sadar. Tetapi aku yakin, semuanya akan teratasi.”

Pangeran Benawa pun kemudian minta diri kepada Agung Sedayu dan Glagah Putih. Sambil menepuk bahu anak yang masih sangat muda itu ia berkata, “Kau adalah seseorang yang menyimpan kemungkinan yang sangat besar seperti kakakmu Agung Sedayu.”

Glagah Putih menundukkan kepalanya.

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s