ADBM2-116

<<kembali | lanjut >>

ORANG-ORANG yang mengadakan pembicaraan itu pun mengangguk-angguk. Tetapi nampaknya masih ada beberapa hal yang belum sesuai di hati masing-masing. Namun orang yang berpakaian petani itu pun kemudian berkata, “Kita mempunyai kawan yang cukup banyak. Jika separuh dari kawan-kawan kita mati, sebagai tebusan kematian orang-orang bercambuk itu, kita masih mempunyai kekuatan yang cukup. Dendamku kepada anak muda yang bernama Agung Sedayu rasa-rasanya tidak akan dapat ditukar dengan kematian gurunya sekalipun.”

“Apakah kau berhasil membakar hati saudara tua kakak beradik dari Pesisir Endut itu?” bertanya orang yang berpakaian pedagang.

“Aku berusaha memindahkan dengan mereka dari Pangeran Benawa dan mengalihkannya kepada Agung Sedayu. Tetapi menurut kakang Carang Waja, kedua-duanya harus dimusnahkan. Meskipun demikian aku telah berhasil meyakinkannya, bahwa membunuh Agung Sedayu lebih penting artinya daripada membunuh Pangeran Benawa. Kematian Pangeran Benawa akan dapat memberikan perubahan pola berpikir Sultan Hadiwijaya yang nampaknya mulai mempercayai segala keterangan yang didengarnya dari banyak pihak, bahwa Mataram benar-benar akan melawan kekuasaan Pajang,” jawab orang berpakaian petani itu.

“Mudah-mudahan ia percaya. Jika Pangeran Benawa terbunuh, dan kita tidak berhasil melemparkan kesalahan itu kepada Mataram maka mungkin Sultan justru akan bersikap lain,” berkata perwira Pajang yang ada di antara mereka, “aku sependapat. Untuk sementara kita kesampingkan dahulu Pangeran Benawa meskipun satu kali ia telah mencampuri persoalan ini. Tetapi menurut perhitunganku, masalahnya justru karena alasan perikemanusiaan semata-mata.”

“Tetapi apakah kau yakin bahwa orang yang bernama Carang Waja itu memiliki kemampuan melampaui orang-orang bercambuk?” bertanya orang berpakaian pedagang.

Orang yang berpakaian petani mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Mungkin sekali. Carang Waja adalah orang yang jarang sekali menampakkan diri. Jika saja kedua adik-adiknya tidak terbunuh, sulit bagi kita untuk melibatkannya. Namun seandainya ia hanya sampai kepada kematian Agung Sedayu pun, dendam kita sudah dikurangi. Kematian Telengan. Tumenggung Wanakerti, Samparsada yang cacad dan Kelasa Sawit yang tidak berdaya dan kemudian terbunuh oleh Swandaru, adalah kematian yang telah membasahi tangan Agung Sedayu dengan darah mereka. Selebihnya, aku sendiri telah menyatakan kepada Carang Waja, bahwa aku akan melibatkan diri langsung dalam usaha pelepasan dendam ini.”

Kawan-kawannya yang mendengarkan kesanggupan orang berpakaian petani itu mengangguk-angguk. Nampaknya ia benar-benar berpengharapan bahwa orang berpakaian petani itu bersama-sama dengan kawannya yang disebutnya Carang Waja akan dapat membalas dendam membunuh Agung Sedayu, Pangeran Benawa dan kemudian Raden Sutawijaya.

“Aku akan menemui Carang Waja,” berkata orang berpakaian petani itu, “aku harus menyampaikan segala keterangan yang diperlukan. Baru kemudian Carang Waja akan menyusun rencananya, ia tidak mau diperbodoh oleh keadaan seperti kedua adiknya dan orang-orang yang telah mati terdahulu.”

Yang lain mengangguk-angguk. Kemudian salah seorang perwira yang ada ditempat itu berkata, “Pergilah. Pertemuan kita sudah cukup. Kita sudah mendapat gambaran dari peristiwa yang bakal datang. Kita akan menyampaikan kepada jalur yang akan sampai kepada kakang Panji. Ia harus mengetahui semua yang kita lakukan, agar tidak ada salah paham di antara kita semuanya.”

Beberapa orang pun kemudian minta diri. Yang tinggal hanyalah tiga orang perwira prajurit Pajang. Seorang yang berkumis putih tersenyum sambil berkata, “Kita harus membakar dendam di dada mereka.”

Yang lain pun tertawa. Dengan suara datar ia menyahut, “Kita harus meyakinkan mereka, bahwa dendam mereka harus terbalaskan. Dengan demikian kita akan dapat memperalat mereka. Keadaan akan menjadi semakin kisruh. Sementara Mataram menjadi lemah. Agung Sedayu, gurunya dan Swandaru merupakan kekuatan yang penting bagi Mataram. Jika orang-orang itu tetap dibakar oleh dendam didalam dadanya, maka mereka  akan menjadi tangan-tangan kita yang baik tanpa mereka sadari.”

Ketiga orang perwira itu tertawa berkepanjangan. Mereka melihat orang-orang yang marah itu akan melakukan balas dendam tanpa memperhitungkan segala keadaan yang berkembang kemudian. Dengan janji dan harapan, dilandasi oleh dendam dan kemarahan, mereka merupakan kekuatan yang berbahaya bagi Pajang dan Mataram.

Kematian-kematian disegala medan dan perang tanding, merupakan minyak yang tertuang kedalam api.

Dalam pada itu, orang-orang yang meninggalkan para perwira itu pun dengan tergesa-gesa menuju kesebuah rumah yang menjadi tempat mereka selalu bertemu dan berhubungan dengan para prajurit di Pajang.

Mereka seolah-olah telah terbius oleh dendam dan harapan untuk mukti dengan warisan kerajaan Majapahit. Karena itulah maka mereka seakan-akan tidak dapat berpikir dengan bening, apakah yang mereka lakukan itu bermanfaat bagi mereka dan sesamanya, atau hanya sekedar sebagai pelepasan nafsu dan harapan-harapan yang kabur.

Sementara itu, di Mataram pun telah terjadi perjuangan pula. Tetapi Raden Sutawijaya bukan seorang yang sekedar didorong oleh nafsu dan harapan bagi dirinya sendiri. Ia melihat Mataram dan Pajang dalam keseluruhan. Bahkan wilayah yang tersebar dipasisir dan ujung pulau di sebelah Barat dan di sebelah Timur.

Sementara mereka sibuk dengan rencana dan sikap masing-masing, maka Kiai Gringsing yang masih berada di Sangkal Putung pun menjadi gelisah. Ia sadar, bahwa Ki Waskita tidak akan lama lagi berada di Kademangan itu. Besok atau lusa, atau bahkan tiba-tiba saja, Ki Waskita akan minta diri dan kembali kepada keluarganya. Namun rencananya untuk menemukan orang yang bernama Jaka Warih cukup menggelisahkan Kiai Gringsing.

Di malam hari, menjelang tidur, didalam biliknya Kiai Gringsing merasa gelisah. Ketika ia bangkit dan duduk merenung, dilihatnya Agung Sedayu yang tidur diamben yang besar bersama Glagah Putih nampak nyenyak. Di sebelah lain, di seberang dinding bambu, Ki Waskita dan Ki Widura agaknya sudah tertidur nyenyak pula.

Diluar sadarnya Kiai Gringsing mengamat-amati lukisan yang ada di tangannya. Perlahan-lahan ia menarik nafas panjang sekali. Diwajahnya terbayang perasaan kecewa, betapapun ia mencoba melepaskannya.

“Kenapa lukisan ini ada dipergelangan tanganku,” desisnya didalam hati.

Tetapi lukisan oleh luka seperti dipergelangan tangannya itu memang sulit untuk dihapuskan. Memang hal itu mungkin dilakukan dengan mengelupas daging dipergelangan itu, dan kemudian menyembuhkannya, meskipun akan berbekas dan menumbuhkan cacat kulit. Tetapi cacad yang demikian bukannya merupakan ciri dari salah satu pihak yang manapun juga.

“Sekarang sudah terlambat,” desis Kiai Gringsing. “Seandainya ia berusaha untuk menghapus lukisan di pergelangan tangannya itu, namun sudah ada orang yang pernah melihatnya. Dan justru orang-orang itulah yang mempunyai penilaian khusus terhadapnya, Ki Gede Menoreh dan Ki Waskita.”

Hampir diluar sadarnya Kiai Gringsing bangkit berdiri. Perlahan-lahan ia melangkah kepintu. Dengan hati-hati ia mendorong pintu bilik di gandok itu.

Ketika pintu itu terbuka, terasa udara yang segar mengusap wajahnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam, ia melangkahi tlundak pintu untuk menghirup udara yang sejuk di halaman.

Tetapi wajahnya berkerut, ketika saat ia mendorong pintu untuk menutupnya. Agung Sedayu nampaknya terbangun. Sambil mengangkat kepalanya, ia memandangi Kiai Gringsing yang berdiri dipintu.

“Apakah Kiai akan keluar?” bertanya Agung Sedayu.

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Aku akan kepakiwan Agung Sedayu.”

Tetapi Agung Sedayu tidak meletakkan kepalanya lagi. Ia justru bangkit dan duduk dibibir pembaringannya, sementara Glagah Putih masih tetap tidur nyenyak.

Sejenak Agung Sedayu termenung. Namun ia pun kemudian bangkit dan berdiri termangu-mangu. Dipandanginya Glagah Putih yang tidur nyenyak. Ia masih melihat pintu terbuka sedikit, tetapi Kiai Gringsing sudah tidak nampak lagi didepan pintu yang masih menganga itu.

Perlahan-lahan Agung Sedayu melangkah. Didorongnya daun pintu itu. Dan ia pun melangkahi tlundak pintu pula.

Dengan hati-hati Agung Sedayu menutup pintu biliknya. Udara memang terasa segar. Dan agaknya Kiai Gringsing benar-benar telah pergi ke pakiwan.

Sejenak Agung Sedayu duduk di serambi. Di pintu regol ia melihat obor yang masih menyala. Lamat-lamat ia melihat sesosok tubuh melintasi halaman. Agaknya para pengawal yang berada di gardu regol halaman.

Agung Sedayu merasakan angin malam yang segar. Ketika ia memandang api obor di regol, maka mulai terbayang gardu-gardu yang tersebar di seluruh Kademangan Sangkal Putung. Anak-anak muda lebih senang berkumpul di gardu-gardu daripada di rumah masing-masing. Mereka dapat bergurau dan berkelakar. Jika mereka mengantuk, maka mereka dapat tidur berdesak-desakan sehingga dinginnya malam tidak terasa lagi di tubuh mereka. Sementara laki-laki yang lebih tua lebih senang tinggal di rumah dan menjaga milik masing-masing. Bagaimanapun juga, rumah dan harta yang ada di rumah harus mendapat pengawalan seperlunya.

Agung Sedayu beringsut ketika ia melihat seorang anak muda melangkah mendekatinya. Agaknya para penjaga di regol melihat pintu biliknya terbuka, sehingga mereka melihat pula Agung Sedayu yang duduk di serambi.

“Kau tidak dapat tidur Agung Sedayu?” bertanya anak muda itu sambil duduk di sebelahnya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Didalam terlalu panas.”

“Kiai Gringsing turun pula ke halaman,” berkata anak muda itu, “agaknya ia pergi ke pakiwan.”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “Ya. Agaknya guru pun tidak dapat tidur seperti aku.”

“Apakah kau sama sekali belum tidur sejak sore?”

Agung Sedayu tertawa. Jawabnya, “Aku baru saja terbangun. Aku tidur sejak sore.”

Anak muda itu ikut tertawa pula. Katanya kemudian, “Malam terlalu sepi. Rasa-rasanya mataku tidak lagi dapat kubuka. Meskipun aku sudah berjalan-jalan mengelilingi halaman ini sambil meronda, namun rasa-rasanya kantukku bagaikan mencengkam. Bukan aku sendiri, tetapi semua petugas dimalam hari ini. Anehnya, tidak banyak anak-anak muda yang tidur digardu. Hanya bebera orang. Padahal biasanya lebih dari sepuluh orang.”

 “Kalian terlalu lelah. Dalam beberapa hari ini kalian bekerja keras,” sahut Agung Sedayu.

Anak muda itu mengangguk. Namun kemudian katanya, “Hampir setiap hari aku bekerja keras. Jika tidak terjadi apa-apapun aku tetap bekerja keras disawah. Tetapi aku tidak pernah merasa lelah seperti ini.”

 “Sebaiknya kalian bergantian beristirahat,” berkata Agung Sedayu, “separuh dari kalian yang ada di gardu itu tidur. Kemudian bergantian yang lain.”

Anak muda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kami sudah mencoba. Sekarang beberapa orang sedang tidur. Tetapi rasa-rasanya mata ini seperti kena sirep.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa ada orang yang mampu melepaskan pengaruhnya sehingga menyebabkan orang lain kehilangan pengamatan diri. Beberapa orang menyebutnya sebagai ilmu sirep. Dan tidak mustahil bahwa ada orang yang melakukannya di Sangkal Putung.

Namun Agung Sedayu pun mengerti, bahwa jiwa yang kuat dan kesadaran pribadi yang tinggi, tidak akan dapat terkena oleh pengaruh sirep yang bagaimanapun kuatnya.

“Aku akan berkeliling halaman,” berkata anak muda itu, “jika aku lebih lama lagi duduk disini, aku akan tertidur.”

“Kau dapat mencegah kantukmu. Pergilah ke dapur. Mungkin masih ada makanan yang dapat kau makan dengan sambal.”

Anak muda itu tersenyum. Tetapi ia pun kemudian bangkit berdiri dan berjalan turun ke halaman dengan langkah gontai. Meskipun demikian tangannya tidak terlepas dari hulu pedangnya yang tersangkut di lambung.

Sepeninggal anak muda itu Agung Sedayu mulai merenungi malam yang memang terasa sangat sepi. Dikejauhan terdengar burung malam bagaikan memekik ketakutan. Angin yang bertiup menyusup pendapa telah bermain dengan api lampu minyak yang berayun-ayun.

Tiba-tiba saja dada Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Bahkan ia pun mulai bertanya kepada diri sendiri, “Apakah benar seseorang telah melontarkan ilmu sirep diatas halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung?”

Agung Sedayu berpaling ketika ia mendengar desir langkah mendekat. Ternyata gurunya telah muncul di sudut longkangan.

“Malam mulai terasa dingin,” gumam Kiai Gringsing.

“Ya guru,” jawab Agung Sedayu termangu-mangu.

“Kau tidak mengantuk?” bertanya gurunya.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya, ia sedang memikirkan ilmu sirep, sehingga diluar sadarnya ia telah menghubungkan pertanyaan gurunya dengan angan-angannya.

“Apakah perasaan kantuk malam ini agak berlebih-lebihan guru?” bertanya Agung Sedayu.

Gurunya termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kenapa kau bertanya begitu?”

Agung Sedayu memandang gurunya sejenak. Dengan ragu-ragu ia berdesis, “Apakah ada ilmu sirep yang sangat tajam guru?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Sejenak ia tertegun. Namun kemudian ia pun duduk disamping Agung Sedayu sambil menjawab, “Ilmu semacam itu banyak dikenal orang, Agung Sedayu. Seperti ilmu yang lain, maka tentu ada tatarannya. Ada yang ringan, tetapi mereka yang berilmu tinggi, maka pengaruh ilmunya juga terasa sangat tajam.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Secara tidak langsung gurunya pernah memberi beberapa petunjuk, sehingga ia akan dapat tetap bertahan dalam kesadaran, betapapun pengaruh ilmu semacam itu mencengkamkan dirinya. Apabila dikehendaki. Agung Sedayu akan dapat bertahan meskipun perasaan itu datang bukan saja karena kekuatan ilmu seseorang, tetapi datang dari dirinya sendiri.

Agung Sedayu yang sedang berangan-angan tentang ilmu sirep itu berpaling ketika gurunya bertanya, “Apakah kau merasakan sesuatu pada kesadaranmu sekarang ini? Maksudku, apakah kau menduga bahwa sekarang seseorang telah menyebarkan sirep di Kademangan Sangkal Putung?”

Sejenak Agung Sedayu merenung. Namun kemudian jawabnya, “Para peronda telah dicengkam oleh perasaan kantuk dan sepi. Mereka biasanya tidak pernah mengeluh dalam tugasnya, tetapi malam ini mereka seolah-olah tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Baru saja seorang di antara mereka duduk di amben ini. Kemudian berjalan mengelilingi halaman dan kebun, sekedar untuk mengusir kantuk.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Bagaimana dengan kau sendiri?”

Agung Sedayu termangu-mangu. Dengan ragu-ragu ia menjawab, “Guru. Aku masih agak sulit membedakan, apakah kantukku sekarang ini karena ilmu sirep seseorang, atau justru karena aku baru saja terbangun dari tidur yang nyenyak.”

Kiai Gringsing tertawa. Katanya, “Baiklah. Kau tidak akan dapat terlepas dari pengaruh perasaan kantuk dari manapun datangnya. Dan kau memang memerlukan waktu untuk mengetahui, apakah perasaan itu datang dari dirimu sendiri atau oleh pengaruh diluar dirimu. Itu bukan perkara yang sulit bagimu. Tetapi kau memang perlu memusatkan inderamu untuk menanggapi sentuhan pada simpul-simpul syarafmu.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia seharusnya mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan dalam keadaan seperti itu. Tetapi sudah barang tentu tidak di serambi. Dalam pemusatan indera, maka gangguan-gangguan yang kecil akan dapat memecahkan daya pemusatannya. Mungkin seorang peronda datang mendekatinya atau menyapanya dari halaman.

“Cobalah sekarang kau cari sumber perasaan kantukmu itu,” berkata Kiai Gringsing, “aku disini. Jika ada orang lain datang mendekat, biarlah aku yang menemuinya.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Namun katanya, “Aku akan masuk kedalam guru.”

“Lakukanlah. Tetapi jika Glagah Putih Terbangun, maka kau akan gagal. Mudah-mudahan ia akan tetap tidur nyenyak,” berkata Kiai Gringsing.

Agung Sedayu termangu-mangu. Sejenak ia membuat pertimbangan. Namun kemudian katanya, “Ia akan tetap tidur nyenyak guru.”

“Jika begitu, masuklah.”

Agung Sedayu pun kemudian meninggalkan tempatnya, masuk kedalam biliknya. Glagah Putih ternyata masih tetap tidur dengan nyenyaknya.

Sejenak Agung Sedayu berdiri termangu-mangu. Namun ia pun kemudian duduk dipembaringan.

Dengan cermatnya ia mengatur diri dalam penjajagannya, apakah ia telah dikenai pengaruh dari luar dirinya atau yang dirasakannya sekedar karena ia memang sangat letih.

Untuk menentukan pertimbangan yang jernih, dicobanya untuk menghapuskan segala pengaruh dan pertimbangan yang didengarnya dari anak muda yang sedang bertugas di gardu, dan yang telah datang kepadanya saat ia duduk di serambi gandok.

Sejenak Agung Sedayu duduk sambil berdiam diri. Dengan dasar-dasar yang pernah di pelajarinya dari gurunya, ia menelusuri dirinya dengan rabaan ilmunya. Beberapa saat ia duduk berdiam diri. Bahkan kadang-kadang terpejam, sementara pernafasannya menjadi teratur seperti orang yang sedang tidur nyenyak.

Diluar Kiai Gringsing duduk sendiri. Disapunya halaman yang gelap itu dengan tatapan matanya yang tajam. Tetapi tidak melihat sesuatu. Di regol pun ia tidak lagi melihat pengawal yang berjalan hilir mudik.

Kiai Gringsing itu pun menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia bangkit. Tetapi ia tidak meninggalkan tempatnya, karena ia tahu bahwa didalam bilik di gandok itu. Agung Sedayu sedang memusatkan inderanya untuk mengetahui pengaruh yang ada didalam dirinya.

Sesaat kemudian Kiai Gringsing berpaling. Agung Sedayu sudah berdiri di pintu biliknya.

“Tutuplah. Dan duduklah disini.”

Agung Sedayu mendorong pintu biliknya dan kemudian duduk disamping Kiai Gringsing di serambi gandok.

“Apakah yang kau ketemukan pada dirimu?” bertanya Kiai Gringsing.

“Ada sesuatu yang asing bagiku guru,” jawab Agung Sedayu.

“Kesimpulanmu?”

“Agaknya di Kademangan Sangkal Putung benar-benar telah disebarkan ilmu sirep sekarang ini.”

Kiai Gringsing tersenyum. Namun sebelum ia berkata sesuatu, terdengar pintu bilik di sebelah berderit. Ketika Ki Waskita kemudian melangkah keluar, maka ia pun tersenyum sambil berkata, “Aku mendengar percakapan kalian. Dan aku tahu apa yang dilakukan oleh Agung Sedayu. Perasaannya benar-benar tajam. Ia telah menemukan kelainan suasana malam ini.”

Agung Sedayu pun menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab.

Sementara itu Ki Waskita yang kemudian disusul oleh Ki Widura telah duduk di serambi pula bersama Agung Sedayu dan gurunya.

Sementara itu Agung Sedayu termangu-mangu. Betapa kuat kesadaran diri Ki Waskita dan Ki Widura. Justru pada saat mereka sedang tertidur, mereka menjadi sadar ketika kekuatan sirep menyentuh simpul-simpul syaraf mereka.

“Kiai,” berkata Ki Waskita, “aku sependapat dengan Agung Sedayu. Agaknya telah disebarkan sirep diatas Kademangan Sangkal Putung.”

“Sirep yang tajam,” sambung Ki Widura, “jika Ki Waskita tidak membangunkan aku, mungkin aku masih tetap tertidur nyenyak. Bahkan semakin nyenyak.”

Agung Sedayu mendengarkan pembicaraan itu dengan dada yang berdebar-debar. Jika benar ada sirep yang kuat di Kademangan Sangkal Putung, maka tentu ada sumber kekuatan sirep itu.

Ternyata bahwa bukan saja Agung Sedayu yang cemas. Sementara Kiai Gringsing yang semula nampak tenang saja menghadapi sirep itu, mulai nampak bersungguh-sungguh.

“Sirep ini benar-benar tajam,” desisnya, “adalah kebetulan bahwa Agung Sedayu terbangun karena derit pintu yang aku buka. Jika tidak maka ia pun kini tentu masih tertidur seperti Swandaru. Jika tidak ada sesuatu yang membangunkannya, maka ia akan tidur semakin nyenyak.”

“Jadi?” bertanya Agung Sedayu.

“Kita akan membangunkannya. Swandaru, Pandan Wangi, Sekar Mirah dan Ki Demang. Mungkin kita memang harus berjaga-jaga,” desis Kiai Gringsing.

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku akan membangunkan mereka.”

Ketika Agung Sedayu berdiri dan melangkah di longkangan. Gurunya bangkit pula sambil berkata, “Dalam jarak selangkah, mungkin saja terjadi sesuatu dalam keadaan seperti ini. Marilah, aku antar kau kepintu butulan.”

Agung Sedayu dan Kiai Gringsing pun kemudian berjalan dengan hati-hati kepintu butulan. Di longkangan dalam ia melihat anak-anak muda tertidur di serambi.

“Pintu tidak diselarak Kiai,” desis Agung Sedayu.

“Semua orang telah tertidur. Masuklah, dan bangunkanlah Swandaru dengan hati-hati.”

Agung Sedayu mendorong pintu butulan dan kemudian melangkah masuk. Kiai Gringsing yang semula berdiri saja dimuka pintupun kemudian masuk pula keruang dalam.

Di dapur nampak beberapa orang perempuan tidur nyenyak pula. Sementara di setiap bilik sama sekali tidak terdengar lagi suara seorang yang masih terbangun.

Dengan hati-hati Agung Sedayu mengetuk pintu bilik Swandaru yang tertutup. Sekali, dua kali, dan kemudian berkali-kali. Agaknya Swandaru memang tertidur nyenyak sekali.

Ternyata indera Pandan Wangi masih lebih tajam dari indera suaminya yang tertidur nyenyak sekali. Dengan agak terkejut Pandan Wangi bangkit dan berdesis, “Siapa?”

“Aku. Agung Sedayu,” jawab Agung Sedayu, “bangunlah dan bangunkan suamimu.”

“Kenapa?”

“Guru ingin berbicara.”

Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun membangunkan Swandaru yang tidur seperti sedang pingsan.

“Ada apa?” bertanya Swandaru sambil menggosok matanya.

“Kiai Gringsing ada diluar.”

“He,” Swandaru pun meloncat dari pembaringannya. Ia sadar, bahwa tentu ada yang penting terjadi.

Namun matanya rasa-rasanya masih saja akan terpejam. Bahkan setelah ia berdiri sejenak, rasa-rasanya ia ingin menjatuhkan dirinya kembali dipembaringan.

“Mataku tidak mau terbuka,” desisnya.

“Aku juga,” sahut Pandan Wangi, “rasa-rasanya seperti sedang mimpi saja.”

Agaknya percakapan itu didengar oleh Agung Sedayu yang diluar. Karena itu maka katanya, “Justru karena itu guru memanggil adi Swandaru.”

Swandaru mencoba untuk memaksa dirinya melangkah keluar. Ketika ia berada dipintu, maka dengan segannya ia mendorong daun pintu itu.

Kiai Gringsing ternyata telah berdiri didekat pintu itu pula. Dengan suara datar Kiai Gringsing berkata, “Swandaru. Cobalah kau lawan perasaan kantukmu. Cobalah melihat, apakah perasaan kantukmu itu wajar.”

“He?,” Swandaru mengerutkan keningnya. Namun peringatan gurunya telah menggerakkan hatinya untuk berbuat sesuatu pada dirinya sendiri, seperti juga Pandan Wangi.

“Apakah ada sesuatu yang tidak wajar Kiai?” bertanya Pandan Wangi.

“Pertahankan kesadaranmu. Kau harus berjuang melawan perasaan kantuk yang bukan saja menyerang kau berdua, tetapi seisi Kademangan Sangkal Putung.”

adbm 116-01Swandaru menggeretakkan giginya. Dengan nada geram ia berkata, “Maksud guru, seluruh Kademangan telah terkena sirep?”

“Ya. Juga kau dan Pandan Wangi.”

Pandan Wangi melangkah mendekat sambil membenahi rambutnya. “Jika demikian, apakah Sangkal Putung berada dalam bahaya?”

“Belum pasti,” jawab Kiai Gringsing, “tetapi kita harus berhati-hati. Apakah Sekar Mirah sedang tidur?”

“Ya Kiai. Nampaknya tidurnya sudah mulai nyenyak. Atau justru karena pengaruh sirep ini juga,” jawab Pandan Wangi.

“Sebaiknya kau bangunkan juga gadis itu. Tetapi hati-hati, jangan mengejutkannya. Sementara Swandaru sebaiknya membangunkan Ki Demang yang tentu tertidur nyenyak pula.”

Swandaru termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia melangkah kepembaringannya untuk mengambil senjatanya yang diletakkannya dibawah tikar. Sambil berjalan meninggalkan biliknya menuju kebilik ayahnya ia berkata kepada Pandan Wangi, “Berhati-hatilah. Siapa tahu bahaya sudah berada diambang pintu.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Namun kemudian dipandanginya Agung Sedayu dan Kiai Gringsing dengan tatapan wajah yang penuh keragu-raguan.

Kiai Gringsing pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Baiklah. Aku dan Agung Sedayu akan menunggu dipintu butulan.”

Pandan Wangi menundukkan kepalanya. Namun ketika Agung Sedayu dan Kiai Gringsing melangkah keluar, maka ia pun segera menutup pintu biliknya.

Pandan Wangi tidak memerlukan waktu terlalu lama. Sebentar kemudian ia sudah membuka pintu biliknya kembali. Namun ketika ia melangkah keluar, maka ia sudah mengenakan pakaian khususnya dan pedang dilambung.

Dengan hati-hati Pandan Wangi memasuki bilik Sekar Mirah yang memang tidak diselarak. Di atas tikar yang terbentang dilantai, seorang perempuan tidur dengan nyenyaknya menunggui Sekar Mirah yang kadang-kadang masih gelisah. Tetapi Sekar Mirah sudah tidak mau lagi ditunggui oleh Pandan Wangi seperti pada malam-malam ia ditinggalkan oleh gurunya.

Pandan Wangi tidak mengusik perempuan itu. Perempuan itu tentu tidak mempunyai kemampuan apapun juga untuk melawan sirep yang tajam. Karena itu, ia tidak menghiraukannya sama sekali.

Perlahan-lahan Pandan Wangi duduk dipembaringan Sekar Mirah. Kemudian disentuhnya ujung ibu jari kakinya dengan sentuhan khusus.

Sentuhan itu lelah membangunkan Sekar Mirah. Tetapi seperti yang lain, maka Sekar Mirah seakan-akan tidak berhasil menguasai perasaannya. Matanya seakan-akan sama sekali tidak mau terbuka.

“Sekar Mirah,” desis Pandan Wangi.

Sekar Mirah bergeser. Tetapi ia masih saja memejamkan matanya.

Sekali lagi Pandan Wangi menyentuh Sekar Mirah. Tidak lagi di ibu jari kakinya, tetapi pada pergelangan tangannya.

Sekar Mirah membuka matanya. Dengan setengah sadar ia melihat Pandan Wangi tersenyum memandanginya.

“Bangunlah Mirah,” desis Pandan Wangi.

“O,” Sekar Mirah berdesis, “apakah sudah pagi?”

Pandan Wangi menggeleng. Jawabnya, “Masih jauh malam. Tetapi ada sesuatu yang memaksa kita bangun malam ini.”

Jawaban Pandan Wangi menarik perhatian Sekar Mirah. Meskipun sambil memaksa diri ia bangkit dan duduk disamping Pandan Wangi.

Namun ketika tangannya menyentuh hulu pedang Pandan Wangi ia terkejut. Setapak ia bergeser sambil mengamati Pandan Wangi dalam pakaian khususnya.

“Kenapa kau?” Sekar Mirah bertanya.

Tetapi ia menjadi agak tenang ketika ia masih melihat Pandan Wangi tersenyum.

“Sekar Mirah,” berkata Pandan Wangi sareh, “cobalah kau mengamati perasaan kantukmu yang tidak wajar. Kita semua telah terbius oleh perasaan kantuk dari kekuatan ilmu sirep.”

“He?” sekali lagi Sekar Mirah terkejut. Namun justru karena hentakan-hentakkan itulah, maka kantuknya sudah mulai berkurang.

“Cobalah pertahankan dirimu,” berkata Pandan Wangi kemudian.

Sekar Mirah adalah gadis yang memiliki kelebihan dari gadis-gadis kebanyakan. Karena itulah maka ia pun kemudian mencoba untuk melawan pengaruh ilmu yang dibaurkan diatas Kademangan Sangkal Putung itu.

“Mirah,” berkata Pandan Wangi kemudian, “bersiap-siaplah. Meskipun barangkali tidak akan terjadi apa-apa di Kademangan ini, namun bahwa seseorang telah menyebarkan ilmu sirep ini, agaknya telah memaksa kita untuk berhati hati.”

Sekar Mirah tidak menjawab. Ia pun kemudian berdiri menutup dan menyelarak pintu biliknya. Dengan cepat ia mengenakan pakaian seperti yang dipakai oleh Pandan Wangi.

“Aku sudah siap,” berkata Sekar Mirah, “apakah kita akan keluar ke pendapa?”

“Kiai Gringsing dan Agung Sedayu ada di butulan. Kakang Swandaru telah membangunkan Ki Demang. Mungkin mereka berada di ruang dalam sekarang.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Sambil mengambil senjatanya yang diterimanya dari gurunya ia berkata, “Marilah. Biarlah bibi tidur nyenyak di bilik ini sendiri.”

Keduanya pun kemudian keluar dari dalam bilik. Mereka menemui Kiai Gringsing dan Agung Sedayu di ruang dalam dimuka pintu butulan bersama Ki Demang dan Swandaru.

“Apakah yang akan kita lakukan sekarang?” bertanya Ki Demang.

“Sebaiknya Ki Demang, Pandan Wangi dan Sekar Mirah berada di ruang dalam. Biarlah kami melihat-lihat di halaman,” jawab Kiai Gringsing.

 “Bagaimana dengan Ki Waskita dan Ki Widura?” bertanya Ki Demang.

 “Mereka duduk di serambi gandok. Mereka sudah menyadari bahwa ada pengaruh sirep sekarang ini. Para pengawal nampaknya telah terkena pengaruhnya. Salah seorang telah berusaha melawannya dengan berbagai cara,” sahut Agung Sedayu, “tetapi ketika mereka menemui aku, mereka belum tahu. bahwa mereka telah tersentuh pengaruh ilmu sirep.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Kemudian jawabnya, “Baiklah. Kami akan berada di ruang dalam.”

 “Sediakan alat isyarat. Mungkin kita memerlukannya. Jika ada satu dua orang yang terlepas dari pengaruh ini, mereka akan mendengar jika isyarat itu kita bunyikan,” berkata Swandaru.

 “Tetapi sirep ini terlalu kuat. Mungkin para pengawal di seluruh Kademangan. setidak-tidaknya seluruh padukuhan induk ini sudah tertidur.”

Tetapi Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tentu tidak. Betapapun kuatnya pengaruh sirep, tetapi sirep tidak akan dapat mencengkam daerah seluas itu. Seluas padukuhan induk.”

Sekar Mirah memandang Kiai Gringsing dengan bimbang. Namun ia pun kemudian mengangguk-angguk. Ia percaya bahwa Kiai Gringsing tentu memiliki pengamatan yang lebih jelas dari orang lain.

Dalam pada itu Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Karena itu, maka jika kau membunyikan kentongan, maka para pengawal di gardu-gardu di ujung padukuhan tentu dapat mendengarnya.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Dan ia pun kemudian menutup pintu butulan ketika Kiai Gringsing, Agung Sedayu dan Swandaru keluar menuju ke serambi gandok.

“Jangan tertidur lagi,” desis Ki Demang.

“Aku sudah tidak merasa kantuk lagi ayah,” sahut Sekar Mirah.

“Bagus. Duduklah di ruang tengah. Aku akan. melihat-lihat ruang depan.”

“Apakah ayah akan ke pendapa?” bertanya Sekar Mirah.

“Tidak. Aku akan tetap berada didalam rumah.”

Sekar Mirah dan Pandan Wangi pun kemudian duduk di ruang dalam. Dengan kekuatan dan ketahanan mereka, kedua perempuan itu melawan perasaan kantuk yang rasa-rasanya masih saja menyentuhnya.

Untuk melepaskan diri dari ketegangan, maka Pandan Wangi pun kemudian berjalan di seputar ruang dalam dan ruang belakang. Ia melihat-lihat pintu-pintu yang masih tertutup, apakah selaraknya telah terpasang. Ia menyadari,bahwa puitu butulan tentu tidak diselarak saat Agung Sedayu dan Kiai Gringsing memasuki rumah itu dari longkangan, karena biasanya anak-anak muda yang berada di longkangan masih hilir mudik masuk keluar pintu membenahi barang-barang dan alat-alat jamuan. Namun agaknya perempuan yang biasanya menutup pintu butulan itu telah tertidur di dapur sebelum ia menyelarak pintu butulan itu.

Ketika terpandang olehnya dakon di sudut ruang belakang, maka dakon itu diambilnya dan kemudian dibawanya ke ruang dalam.

 “Kita cegah kantuk kita dengan dakon,” berkata Pandan Wangi.

Sekar Mirah pun mengangguk sambil menjawab, “Marilah. Setiap biji kekalahan, kita akan saling mencubit.”

 “Ah. jari-jarimu seperti ujung tongkat besi bajamu. Siapa yang kalah sampai tiga kali berturut-turut harus memijit yang menang.”

Sekar Mirah tersenyum. Ia tidak menjawab. Tetapi ia pun segera menempatkan diri.

Sejenak kemudian kedua perempuan itu telah mulai bermain dakon. Nampaknya memang ganjil. Keduanya mengenakan pakaian yang khusus dengan senjata masing-masing. Namun keduanya masih juga sempat bermain dakon dengan kelungsu.

Diluar, Kiai Gringsing, Agung Sedayu dan Swandaru telah berada di serambi gandok. Ki Waskita dan Ki Widura masih duduk di tempatnya, seolah-olah keduanya sama sekali tidak beringsut.

“Apakah kalian melihat sesuatu?” bertanya Kiai Gringsing.

Keduanya menggeleng. Sementara Ki Waskita menjawab, “Malam memang terlalu sepi. Sirep ini memang kuat sekali.”

“Aku akan melihat para pengawal di gardu-gardu itu, “gumam Swandaru.

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya kepada Agung Sedayu, “Sertailah adikmu.”

Agung Sedayu mengangguk. Dan ia pun kemudian mengikuti Swandaru melintasi halaman menuju ke gardu di depan regol.

Tetapi seperti yang mereka duga, para pengawal telah tertidur nyenyak. Seorang di antara mereka bersandar dinding dengan pedang telanjang di tangan. Agaknya ialah yang mendapat giliran berjaga-jaga. Tetapi matanya tidak mau dibukanya lagi. Sementara yang seorang lagi duduk diatas batu bersandar sebatang pohon di sebelah gardu itu. Di tangannya masih tergenggam tangkai tombak yang tersandar pula pada dinding gardu.

“Mereka bagaikan mati,” geram Swandaru.

“Kita akan mencoba membangunkan mereka,” berkata Agung Sedayu.

“Apakah mungkin? Memang mereka akan dapat terbangun, tetapi sejenak kemudian mereka akan tertidur lagi, karena mereka tidak mampu melawan kekuatan sirep yang keras ini.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian mendekati pengawal yang duduk diatas batu dan tidur bersandar sebatang pohon. Ia adalah anak muda yang telah berusaha untuk melawan perasaan kantuknya.

Dengan hati-hati Agung Sedayu mencoba mengguncang tubuh anak muda itu. Namun hampir saja anak muda itu justru jatuh terjerembab. Dan ketika ia berhasil memperbaiki duduknya, maka matanya telah terpejam lagi.

“Memang sulit,” desis Agung Sedayu.

“Jika demikian, kita harus berada disini menggantikan mereka yang sedang meronda. Kita tidak dapat mengharapkan mereka lagi, karena mereka nampaknya tidak berdaya sama sekali.” berkata Swandaru.

Agung Sedayu mengangguk. Tetapi ia berdesis, “Aku akan memberitahukan kepada guru, bahwa aku akan berada disini bersamamu.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Ia bukan seorang penakut, tetapi ia menyadari, bahwa tentu ada kekuatan yang luar biasa yang berada di padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung. Sehingga karena itulah maka ia mencemaskan dirinya sendiri dan juga Agung Sedayu Meskipun hanya melintasi halaman Kademangan, tetapi mungkin dapat terjadi sesuatu yang gawat.

Karena itu, maka katanya, “marilah, kita pergi bersama-sama, kita harus berhati-hati menghadapi keadaan seperti ini.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun ia pun segera menyadarinya pula. Maka jawabnya, “Baiklah. Setiap kemungkinan memang dapat terjadi.”

Demikianlah kedua orang itu pun bersama-sama melintasi halaman sekali lagi menuju ke serambi gandok menemui orang-orang tua yang berada di serambi itu.

“Kami akan menggantikan para peronda,” berkata Swandaru.

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Tetapi berhati-hatilah. Jangan tercengkam oleh pengaruh sirep yang kuat ini. Jika kalian tertidur pula, maka akan terjadi malapetaka atas kalian berdua.”

Swandaru mengangguk sambil menjawab, “Kami akan bertahan.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Kemudian dilepasnya kedua muridnya itu pergi kegardu untuk menggantikan para peronda yang agaknya tidak segera dapat melakukan lugas mereka.

Tetapi Agung Sedayu dan Swandaru tidak berada didalam gardu. Mereka berdiri di sebelah menyebelah regol halaman bersandar dinding. Meskipun belum berada didalam genggaman, namun mereka telah siap mengurai senjata masing-masing.

Sementara untuk memberikan kesan seolah-olah mereka adalah para peronda, maka di tangan kiri mereka tergenggam tangkai tombak panjang yang dipungutnya dari para peronda yang tertidur.

Sepeninggal kedua muridnya, maka Kiai Gringsing pun duduk pula bersama Ki Waskita dan Ki Widura. Dari serambi gandok mereka dapat melihat sebagian besar dari halaman Kademangan. Jika seseorang melintas, maka mereka akan dapat mengetahuinya, sementara orang yang berada di halaman akan tidak mudah melihat mereka yang ada di serambi jika lampu minyak di serambi itu dipadamkan.

Agaknya ketiga orang itu pun menganggap bahwa lampu minyak tidak mereka perlukan lagi di serambi, sehingga Kiai Gringsing pun telah memadamkannya.

“Apakah kita akan tetap disini?” bertanya Ki Waskita kemudian.

“Kita akan melihat-lihat berkeliling,” berkata Ki Widura.

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun ia merasa perlu untuk tetap mengawasi halaman dan meskipun tidak begitu jelas, dari tempatnya ia dapat melihat ke regol halaman yang diterangi oleh lampu obor yang samar-samar.

“Silahkan,” berkata Kiai Gringsing, “aku akan mengawasi keadaan dari tempat ini.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Kepada Ki Widura ia berkata, “Marilah Ki Widura, kita menghirup udara segar dibawah pengaruh sirep ini. Mungkin ada sesuatu yang perlu kita lihat di belakang.”

Ki Widura pun kemudian berdiri pula ketika Ki Waskita bangkit. Keduanya pun kemudian melangkah turun dari serambi, lewat longkangan langsung menuju ke halaman samping. Sementara Kiai Gringsing masih tetap duduk di tempatnya, di serambi yang gelap.

Didalam rumah, di ruang tengah Sekar Mirah dan Pandan Wangi masih asyik bermain dakon. Berganti-ganti mereka kalah dan menang. Demikian asyiknya, sehingga mereka tidak menyadari bahwa waktu merangkak terus, menghunjam ke pusat malam yang sepi.

Sekar Mirah menjadi kesal ketika biji keciknya tertumpah dari genggaman, sehingga tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah kita masih akan meneruskan permainan ini?”

Pandan Wangi tersenyum, jawabnya, “Kali ini kau seharusnya kalah mutlak.”

 “Belum tentu. Aku masih dapat berjalan beberapa langkah di lubang-lubang dakonmu. Satu pikulan akan membuat aku menutup kekalahanku.”

Pandan Wangi tertawa. Katanya, “Tidak mungkin. Kecikku sudah tidak banyak lagi.”

Sekar Mirah memberengut. Jawabnya, “Aku mau bermain terus. Tetapi diulang dari awal.”

Pandan Wangi tertawa semakin keras. Katanya, “Kau nakal sekali.”

Namun tiba-tiba keduanya bagaikan teringat sesuatu. Sekar Mirah memandang berkeliling sambil berdesis, “Dimana ayah?”

“Ya. Dimana?” bertanya Pandan Wangi.

Keduanya termangu-mangu. Namun Sekar Mirah berkata, “Ayah mengelilingi setiap bilik di rumah ini.”

“Tetapi sudah cukup lama.”

“Ya. Seharusnya ayah sudah berada disini lagi sekarang. Atau barangkali ayah memang sengaja berada di ruang depan, di belakang pringgitan. sehingga ia dapat mendengar apa yang terjadi di pendapa.”

“Marilah kita lihat,” tiba-tiba saja Pandan Wangi berdesis.

Keduanyapun kemudian berdiri. Dengan hati-hati mereka melangkah memasuki ruang dibagian depan. Tetapi mereka tidak menemukan Ki Demang di ruang itu.

“Apakah ayah keluar menyusul Kiai Gringsing?” bertanya Sekar Mirah.

“Jika demikian, apakah kita akan mencarinya ke gandok?,” sahut Pandan Wangi.

“Kita lihat dahulu setiap bilik. Jika ayah keluar, ia tentu mengatakannya kepada kita.”

Keduanya termangu-mangu sejenak. Namun mereka pun segera melangkah memasuki setiap bilik didalam rumah itu. Bilik-bilik yang pintunya terbuka atau tidak diselarak.

Dibilik Sekar Mirah, perempuan yang tertidur diatas tikar yang terbentang dilantai sejak Sekar Mirah dan Pandan Wangi meninggalkannya.

Kemudiaan mereka melihat bilik-bilik yang lain. Satu demi satu.

Namun tiba-tiba langkah mereka tertegun ketika mereka memasuki bilik kanan di ruang depan. Sejenak keduanya terhenti dipintu bilik. Mereka melihat Ki Demang terbaring di amben bambu didalam bilik yang jarang dipergunakan itu.

“Ayah,” desis Sekar Mirah.

Pandan Wangi tertegun tegang. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati Ki Demang diikuti oleh Sekar Mirah.

“Kenapa ayah?” bertanya Sekar Mirah dengan suara bergetar.

“Nampaknya tidak apa-apa,” sahut Pandan Wangi, “pernafasannya berjalan teratur.”

Sekar Mirah tiba-tiba saja meloncat mendekat. Dirabanya tangannya yang hangat.

“Ayah tertidur,” desis Sekar Mirah, “ia tidak dapat melawan kekuatan sirep ini.”

Pandan Wangi termangu-mangu. Namun kemudian sambil mengangguk-angguk ia menjawab, “Ya. Ternyata sirep ini benar-benar kuat. Syukurlah jika Ki Demang tidak mengalami sesuatu.”

adbm 116-02Sekar Mirah justru tertawa. Diguncangnya ayahnya sambil berkata, “Ayah. Apakah ayah sudah tidak dapat mengatasi cengkaman sirep ini, he?”

Perlahan-lahan Ki Demang membuka matanya. Tetapi setelah menggeliat ia pun memejamkan matanya lagi.

“Ayah, ayah.” Sekar Mirah mengguncang tubuh ayahnya semakin keras.

Sekali lagi Ki Demang membuka matanya. “Ayah harus berusaha melawan sirep ini. Mungkin ada sesuatu yang akan terjadi di Kademangan ini.”

Ki Demang mendengar kata-kata anaknya itu. Karena itu, maka ia pun kemudian bangkit dan duduk di tepi amben.

“Ayah tertidur lagi.”

“Ya,” sahut ki Demang, “aku tidak berhasil membebaskan diri.”

“Tentu ayah akan berhasil jika ayah memusatkan kekuatan lahir dan batin. Cobalah ayah. Marilah, kita melihat-lihat segenap ruang di rumah ini. Mungkin dengan demikian ayah akan dapat mengatasi sirep yang tajam ini.”

Ki Demang memaksa dirinya untuk bangkit. Ia mencoba melawan pengaruh sirep itu dengan sekuat tenaga lahir dan batinnya. Dengan mengerahkan segenap tenaganya ia melangkah menuju kepintu. Namun kadang-kadang rasa-rasanya matanya bagaikan tidak dapat dikuasainya sama sekali.

Tetapi lambat laun, Ki Demang berhasil berdiri tegak dan melangkah dengan tetap. Ia sudah mampu mengalasi kesulitan yang terbesar dan mengalahkan perasaan kantuknya.

“Ternyata aku menjadi lengah. Ketika aku melihat bilik-bilik dan semua pintu, tiba-tiba saja aku tidak dapat menahan keinginanku untuk sekedar berbaring. Tetapi ternyata aku menjadi tertidur dan tidak mengerti lagi apa yang terjadi.” ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi bukankah tidak ada sesuatu yang terjadi selama aku tertidur lagi?”

“Didalam rumah ini tidak ayah. Tetapi entahlah diluar. Namun aku sama sekali tidak mendengar sesuatu, atau isyarat apapun juga. Agaknya diluarpun tidak terjadi sesuatu.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Ia pun kemudian mengikuti kedua perempuan itu mengelilingi setiap ruangan didalam rumahnya dan melihat setiap pintu, apakah sudah diselarak.

Dalam pada itu, Ki Waskita dan Ki Widura telah berada di halaman belakang. Meraka berhenti sejenak di sudut kandang. Tetapi mereka tidak mengejutkan kuda yang sedang berada didalam kandang itu.

 “Nampaknya memang terlalu sepi,” berkata Ki Widura.

 “Perasaan kita agaknya telah terpengaruh oleh ilmu sirep yang tajam itu Ki Widura. Mungkin biasanya di belakang rumah Ki Demang ini juga sesepi sekarang,” jawab Ki Waskita.

Ki Widura tersenyum. Dipandanginya lampu minyak di sudut belakang rumah Ki Demang yang besar itu, Nyalanya yang berguncang-guncang ditiup angin bagaikan gelisahnya hati orang-orang, yang masih dapat bertahan dari pengaruh sirep yang tajam di rumah Ki Demang Sangkal Putung itu.

“Marilah,” berkata Ki Widura kemudian, “kita mengelilingi rumah ini.”

Ki Waskita mengangguk. Ia pun kemudian melangkah perlahan-lahan disamping Ki Widura.

Namun beberapa langkah kemudian, rasa-rasanya keduanya menjadi ragu-ragu untuk melangkah maju. Bahkan kemudian Ki Waskita berbisik, “Kita berhenti sejenak Ki Widura. Mungkin lebih baik kita berdiri di sebelah anjang-anjang batang suruh yang rimbun itu.”

Ki Widura tidak menyahut. Ia pun merasakan sesuatu yang kurang wajar. Seolah-olah telinganya mendengar sesuatu yang tidak dapat disebutnya.

Keduanya pun kemudian bergeser kebelakang anjang-anjang pohon suruh yang merambat dengan rimbunnya, sehingga keduanya berdiri di antara anjang-anjang dan dinding belakang rumah Ki Demang.

“Aku tidak tahu pasti, apakah perasaanku benar Ki Widura,” berkata Ki Waskita.

“Aku juga merasakan sesuatu. Tetapi aku tidak dapat menduga, apakah karena kesadaran kita bahwa sirep ini tentu telah dilontarkan oleh seseorang atau lebih, sehingga setiap sentuhan pada perasaan kita, kita rasakan seolah-olah seseorang tengah mengintip kita dan siap untuk menyerang,” berkata Ki Widura.

“Mungkin. Tetapi mungkin pula kita benar-benar diintai oleh seseorang atau bahkan dua tiga orang.”

Ki Widura termangu-mangu. Sejenak ia membayangkan lingkungan Kademangan Sangkal Putung. Di Serambi gandok ada Kiai Gringsing. Di regol Swandaru dan Agung Sedayu berjaga jaga, sedang didalam rumah tentu Sekar Mirah dan Pandan Wangi pun telah siap menghadapi segala kemungkinan.

Hampir diluar sadarnya ia menarik nafas sambil berdesis, “Kita sudah bersiaga sepenuhnya. Mudah-mudahan kita tidak lengah. Jika benar seseorang atau segerombolan orang bermaksud jahat, maka mereka datang dalam gelar yang berbeda. Mereka tidak menyerang dengan pasukan yang besar, bahkan segelar sepapan. Tetapi mereka tentu hanya beberapa orang pilihan.”

Ki Waskita menganggu-angguk. Ia sadar, bahwa peristiwa kematian dua orang bersaudara dari Pesisir Endut tentu tidak begitu saja dapat dilupakan. Meskipun yang melakukan adalah Pangeran Benawa, namun dendam sanak kadangnya akan dapat tertuju kepada orang-orang Sangkal Putung.

Dengan ragu-ragu Ki Waskita pun menyahut Ki Widura. “Nampaknya kali ini kita berhadapan dengan sebuah perguruan yang memiliki kemampuan yang khusus, mereka datang ke Sangkal Putung dengan caranya sendiri.”

“Justru karena itu kita harus berhati-hati,” sahut Ki Widura.

Keduanya terdiam sejenak. Mereka mencoba untuk mengetahui keadan di halaman belakang rumah Ki Demang Sangkal Putung. Namun terasa kesepian masih saja mencengkam.

Tetapi kedua orang itu tidak segera pergi dari balik lindungan anjang-anjang batang suruh yang rimbun. Untuk beberapa saat mereka masih saja menunggu. Bahkan keduanya pun kemudian duduk di bebatur batu.

Di regol depan Agung Sedayu dan Swandaru merasakan sentuhan-sentuhan perasaan yang sama. Bahkan Agung Sedayu mulai dibayangi lagi oleh kecemasan, bahwa ia akan menjadi sumber dari kegelisahan yang dapat terjadi di Sangkal Putung.

Meskipun demikian ia masih tetap manahan diri. Ia menunggu perkembangan-keadaan lebih lanjut.

Swandaru yang gelisah, semakin lama menjadi semakin tegang. Bahkan kemudian ia mendekati Agung Sedayu sambil berbisik, “Kita tidak dapat menunggu dalam kegelisahan. Kita harus berbuat sesuatu.”

“Apa yang dapat kita lakukan?” bertanya Agung Sedayu.

“Kita mencari mereka yang menyebarkan sirep ini. Jika kita menemukan sumbernya, maka kita akan dapat menghentikan ilmu terkutuk yang licik ini,” sahut Swandaru.

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia bertanya lagi, “Kemana kita mencarinya? Akupun mengerti, bahwa mereka yang menyebarkan sirep ini tentu berada ditempat yang tidak jauh. Namun apakah kepergian kita tidak merupakan kesempatan bagi mereka untuk memasuki halaman rumah ini, karena kita tidak tahu berapakah jumlah mereka.”

Swandaru termangu-mangu. Betapapun kemarahan telah mencengkam jantungnya, namun ia tidak dapat meninggalkan rumahnya. Ia mengerti kecemasan seperti yang dirasakan oleh Agung Sedayu. Meskipun di rumah itu masih ada beberapa orang yang dapat dipercaya, tetapi jumlah orang yang belum nampak itu masih belum diketahui.”

Namun dalam pada itu, getar naluriah pada kedua anak muda itu telah membuat mereka semakin berhati-hati. Diluar sadar keduanya bergeser mendekati gardu dan bahkan kemudian keduanya berada didepan gardu yang sepi, karena para pengawal masih tetap tertidur nyenyak.

 “Ada sesuatu yang harus kita perhatikan lebih dari sirep ini sendiri,” desis Agung Sedayu.

Swandaru tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk kecil.

Dalam saat-saat yang tegang itu, Kiai Gringsing masih tetap duduk di tempatnya. Ia memperhatikan halaman yang remang-remang di gelapnya malam. Cahaya lampu di pendapa dan di regol menggapai dengan lemahnya dedaunan yang berada di halaman.

Namun tiba-tiba orang tua itu mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia berdiri. Didalam keremangan malam ia melihat bayangan yang bergerak diatas dinding halaman.

 “Hm,” desis Kiai Gringsing, “akhirnya mereka datang.”

Namun Kiai Gringsing masih tetap ditempatnya. Ia masih menunggu perkembangan seterusnya, karena ia, yakin bahwa orang yang datang itu tentu tidak hanya sendiri.

Diluar sadarnya ia memandang keregol halaman. Tetapi Agung Sedayu dan Swandaru tidak dilihatnya lagi. karena keduanya telah berada digardu, sementara Ki Waskita dan Ki Widura berada di belakang rumah.

Seperti yang diduga oleh Kiai Gringsing. maka bayangan diatas dinding halaman itu pun telah bertambah lagi.

 “Tiga orang. Tentu masih ada yang lain,” berkata Kiai Gringsing didalam hatinya.

Namun selagi ia termangu-mangu. maka ia melihat ketiga orang diatas dinding itu telah meloncat kehalaman. Sejenak mereka berdiri termangu-mangu Namun kemudian salah seorang dari mereka tiba-tiba saja berkata dengan suara lantang, “He orang-orang Sangkal Putung. Aku tahu bahwa ada beberapa orang di antara kalian yang ternyata berhasil lolos dari cengkaman sirepku yang tajam. Tentu kalian adalah orang-orang yang luar biasa. Namun demikian, kalian tidak akan dapat melepaskan diri dari tanganku.”

Suara itu bagaikan bergema melingkar-lingkar diatas rumah Ki Demang Sangkal Putung yang sepi.

Kiai Gringsing masih berdiri ditempatnya. Ia tidak segera turun kehalaman. Sejenak ia masih harus menilai keadaan.

Yang tidak sabar adalah Swandaru. Ia pun mendengar suara itu. karena itu. dengan sekali loncat ia sudah berdiri di regol halaman rumahnya.

 “Siapa kau?” terdengar suara Swandaru tidak kalah lantangnya.

Orang yang berdiri di halaman itu berpaling. Mereka melihat Swandaru berdiri bertolak pinggang di regol halaman, yang kemudian diikuti Agung Sedayu yang dengan gelisah berdiri di sebelahnya.

 “Kau salah seorang yang lepas dari pengaruh sirep. Siapa kau he?” Orang itu justru bertanya.

Swandaru sudah mulai tersinggung. Dengan keras ia menjawab, “Aku yang bertanya. Bukan Kau.”

Orang yang berdiri di halaman itu termangu-mangu.

Namun kemudian terdengar suara tertawanya berkepanjangan Kau jangan sombong anak muda yang gemuk. Kau jangan menganggap aku seperti anak-anak muda di Kademangan. Meskipun kau lolos dari sirepku tetapi lebih baik kau bersikap lain dari sikap sombongmu, itu.”

Swandaru menjadi semakin tegang. Dengan geram ia menjawab. “Jangan pedulikan apakah aku bersikap sombong atau tidak. Tetapi jawab pertanyaanku. Siapa kalian bertiga.”

Ketiga orang itu saling berpandangan sejenak. Namun sekali lagi terdengar suara tertawa mereka meledak.

“Anak itu memang luar biasa,” desis salah seorang dari mereka, “ia berhasil lolos dari ilmu sirepku. Tetapi sayang, ia terlalu bodoh untuk menilai dirinya.”

“Ia memang perlu dikasihani,” sahut yang lain, “aku senang kepada anak muda itu. Karena itu aku manfaatkan kesombongannya.”

“Gila,” Swandaru berteriak, “kalian telah menghina aku.”

Swandaru benar-benar telah kehilangan kesabaran. Tetapi sebelum ia melangkah maju. Agung Sedayu telah mendahuluinya sambil berkata, “Selamat datang Ki Sanak. Apakah kalian juga senang melihat aku.”

Kata-kata Agung Sedayu justru mengejutkan ketiga orang itu. Nadanya yang dalam seolah-olah telah melontarkan getaran kebesaran dirinya. Meskipun Agung Sedayu tidak membentak-bentak seperti Swandaru, namun ketiga orang itu menganggap, bahwa Agung Sedayu justru lebih berbahaya dari Swandaru.

Karena itu. salah seorang dari ketiga orang itu menjawab dengan nada yang dalam pula, “He anak muda. Kalian berdua benar-benar mengherankan. Agaknya kalian memang orang-orang yang telah ditempa oleh ilmu yang dahsyat. Di Sangkal Putung ada seorang anak muda yang telah menggemparkan kalangan orang-orang berilmu. Apakah ia berilmu kanuragan maupun kajiwan. Anak muda itu telah melakukan pembunuhan tanpa berperikemanusiaan. Sejak sebelum peristiwa di lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu. Kemudian pada peristiwa itu sendiri. Disusul dengan pembunuhan yang benar-benar mengerikan di Mataram, karena korbannya telah dicincangnya sampai lumat. Tetapi justru yang terakhir, di Sangkal Putung, yang melakukan adalah orang lain. Pangeran Benawa.” ia berhenti sejenak, lalu. “namun bagaimanapun juga, sumber dari segala bencana bagi perguruanku adalah anak muda yang bernama Agung Sedayu. He apakah salah seorang dari kalian berdua bernama Agung Sedayu?”

Dada Agung Sedayu terasa menjadi sesak. Peristiwa demi peristiwa telah terjadi. Dan nampaknya semuanya telah berkisar pada dirinya. Seakan-akan ia telah terperosok pada sebuah lingkaran. Kemana pun ia berjalan, ia tidak akan menemukan ujung atau pangkal dari peristiwa-peristiwa yang susul menyusul.

Namun dalam pada itu, ternyata keributan yang terjadi di halaman dengan kata-kata yang diucapkan keras-keras bahkan dengan teriakan-teriakan yang lantang itu telah terdengar dari dalam dan belakang rumah Ki Demang Sangkal Putung.

Karena itulah maka Pandan Wangi dan Sekar Mirah pun dengan tergesa-gesa telah pergi ke ruang depan. Namun mereka masih belum membuka pintu yang memisahkan ruangan itu dengan pringgitan dan pendapa. Mereka masih berdiri di balik pintu yang tertutup, meskipun mereka berusaha untuk mendengar setiap perkataan yang terlontar dari pihak yang manapun juga.

“Mereka mencari Kakang Agung Sedayu,” desis Sekar Mirah.

Pandan Wangi mengangguk. Katanya, “Dimanapun Agung Sedayu selalu dicari.”

“Itu adalah justru akibat dari keragu-raguannya. Jika ia berbuat dengan tegang tanpa seribu pertimbangan, maka ia justru akan terlepas dari lingkaran yang membelenggunya.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu mengerti pendapat, Sekar Mirah, karena jika Agung Sedayu berbuat lebih banyak dengan menjatuhkan korban berlipat, maka dendam yang tertuju kepadanyapun akan berlipat.

Tetapi Pandan Wangi tidak mengatakannya.

Sementara itu, Ki Waskita dan Ki Widura nampaknya telah mengambil sikap tersendiri. Dengan hati-hati mereka bergeser ke sudut bagian depan rumah. Dari kegelapan mereka melihat yang terjadi di halaman. Namun mereka tidak melihat Kiai Gringsing turun dan berbuat sesuatu.

“Kita keluar halaman,” desis Ki Waskita.

Ki Widura tidak menyahut. Tetapi ia mengerti maksud Ki Waskita. Mereka tidak akan langsung berhadapan dengan orang-orang yang ada di halaman, tetapi mereka ingin melihat, apakah ketiga orang itu tidak membawa pasukan yang membahayakan.

“Jika mereka membawa pasukan yang menyusup masuk padukuhan induk, maka kita harus segera membunyikan isyarat. Betapapun kuat ilmu sirep, namun dalam pemusatan kekuatan dan kemampuan dipertempuran, maka kekuatan itu akan dapat dengan sendirinya diawasi. Apalagi seandainya pengaruhnya begitu kuat, maka pihak lawan pun akan terpengaruh juga oleh kekuatan itu,” berkata Ki Waskita.

Ki Widura tidak menjawab. Tetapi mereka dengan sangat hati-hati beringsut dari tempatnya. Dalam bayangan rimbunnya dedaunan, maka mereka pun meloncati dinding halaman samping, justru keluar halaman.

Dengan sangat hati-hati keduanya menyusuri gelapnya malam. Dengan ketajaman indera, keduanya mencoba untuk mengetahui, apakah ada orang lain yang mengepung Kademangan.

“Nampaknya tidak ada,” desis Ki Widura.

“Tidak ada pasukan. Tetapi mungkin satu dua orang,” sahut Ki Waskita.

“Jika ada, mereka tentu mendekati halaman depan atau bahkan pintu gerbang. Jika Swandaru dan Agung Sedayu lengah, mungkin mereka dapat; di sergap dari belakang, dari luar regol halaman.” desis Ki Widura.

Keduanya pun bergeser lagi. Mereka mencoba mendekati regol halaman, karena mereka mencemaskan Swandaru dan Agung Sedayu yang perhatiannya tertumpah kepada ketiga orang yang berdiri di halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung.

Dengan hati-hati mereka merayap di antara semak-semak dikebun tetangga. Satu dua langkah mereka bergeser maju.

Ki Waskita pun kemudian menggamit Ki Widura ketika mereka menjenguk halaman rumah di sebelah rumah Ki Demang. Dalam keremangan malam dan cahaya obor dikejauhan mereka melihat didalam regol rumah dua orang yang sedang menunggu

Ki Widura menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya kedua orang itu sedang mengikuti peristiwa yang terjadi di halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung dengan saksama, sehingga dengan demikian maka keduanya tidak mengetahui kehadiran Ki Waskita dan Ki Widura yang menjadi semakin dekat.

Ki Waskita dan Ki Widura bergeser semakin dekat di sepanjang dinding penyekat halaman di rumah sebelah itu. Dinding yang membatasi longkangan dan halaman di belakang gandok dengan halaman depan, sehingga dengan demikian mereka dapat mencapai jarak yang lebih dekat.

Dari balik dinding itu Ki Waskita mendengar salah seorang dari kedua orang itu berkata, “Nah, dengarlah pengakuan anak muda itu.”

Ki Waskita dan Ki Widura mengerutkan keningnya. Dan mereka pun mencoba mendengarkan apa yang sedang diucapkan oleh seseorang di halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung.

“Ki Sanak. Aku kira pandanganmu terhadap sikap anak muda yang kau sebut bernama Agung Sedayu itu tidak tepat. Agung Sedayu sama sekali tidak berniat untuk membunuh siapapun juga. Tetapi jika itu terjadi, apalagi dipeperangan, maka itu adalah diluar kuasanya, karena betapapun juga ia lebih menghargai hidupnya sendiri seperti yang dilakukan oleh setiap orang. Kalau didalam sikap mempertahankan diri ia harus membunuh, maka hal itu juga merupakan beban yang memberati perasaannya.”

“Omong kosong. Sebutkan. Siapa Agung Sedayu. Apakah kau atau siapa?” terdengar seseorang bertanya.

“Akulah Agung Sedayu.”

Terdengar suara tertawa bagaikan membelah langit. Nampaknya orang itu sama sekali tidak menghiraukan apakah ada orang yang dapat mendengar suaranya atau tidak. Namun mungkin pula ia menganggap bahwa orang-orang di Sangkal Putung telah tertidur nyenyak, sehingga tidak akan ada seorang pun yang dapat mendengar suara tertawanya.

Dalam pada itu, kedua orang di halaman rumah sebelah itu pun menjadi tegang. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku sebenarnya tidak sependapat dengan cara yang diambilnya.”

Yang lain menjawab, “Ia terlalu yakin akan dirinya. Tetapi aku pun yakin pula. Seandainya kedua bersaudara dari Pesisir Endut itu tidak sedang bernasib malang, sehingga mereka bertemu dengan Pangeran Benawa, maka keduanya agaknya akan berhasil membunuh Agung Sedayu dengan bantuan seorang saudara seperguruannya. Sedangkan orang itu merasa dirinya memiliki kemampuan lebih besar dari tiga orang yang sudah bersiap-siap membunuh Agung Sedayu itu.”

Sejenak keduanya terdiam.  Namun dengan demikian Ki Waskita dan Ki Widura dapat menjajagi apa yang sebenarnya sedang terjadi atas Agung Sedayu di halaman rumah Ki Demang.

Dengan demikian, maka Ki Waskita tidak menunggu lebih lama lagi. Jika akan terjadi sesuatu, biarlah segera terjadi.

Sambil menggamit Ki Widura. maka ia pun segera berdiri tegak. Sambil terbatuk-batuk kecil ia pun kemudian dengan sengaja menampakkan dirinya kepada kedua orang yang sedang memperhatikan peristiwa di halaman rumah Ki Demang itu.

Ternyata sikap Ki Waskita telah mengejutkan kedua orang itu. Dengan serta merta keduanya berbalik dan bersikap meghadapi segala kemungkinan.

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Maaf jika aku telah mengejutkan kalian.”

“Siapa kau?” bertanya salah seorang dari keduanya.

Ki Waskita pun kemudian meloncati dinding penyekat diikuti oleh Ki Widura. Dengan suara dalam Ki Waskita menjawab, “Marilah, Kami mempersilahkan kalian masuk kehalaman. Agaknya lebih baik jika kita berkumpul bersama kawan-kawanmu. Atau mungkin masih ada kawanmu yang lain di sekitar Kademangan ini?”

Kata-kata Ki Waskita telah mendebarkan jantung kedua orang itu. Salah seorang dari mereka bertanya, “Siapa kau?”

“Aku pengawal Kademangan ini. Aku sedang meronda ketika aku melihat kalian. Dan ternyata ada tiga orang kawan kalian di halaman itu?” Jawab Ki Waskita semakin membuat kedua orang itu tegang. Ternyata masih ada orang lain yang tidak dikuasai oleh ilmu sirep yang tajam itu.

“Menapa kau menjadi bingung?” bertanya Ki Waskita, “bukankah di setiap Kademangan ada beberapa orang pengawal yang meronda?”

Kedua orang itu tidak dapat menahan dirinya lagi. Salah seorang dari keduanya bertanya, “Kalian berdua dapat membebaskan diri dari pengaruh sirep ini?”

“Ya,” jawab Ki Widura, “beberapa orang kawanku telah tertidur nyenyak. Tetapi kami berdualah yang memang mendapat giliran saat ini, selain Agung Sedayu dan Swandaru di halaman itu.”

Kedua orang itu menjadi semakin tegang, sementara Ki Widura meneruskan kata-katanya, “Marilah. Lebih baik kita berkumpul. Dengan demikian kita akan dapat memecahkan persoalan kita dengan baik.”

“Persetan,” geram salah seorang dari kedua orang itu, “mungkin kau mempunyai ilmu yang dapat bertahan atas kekuatan sirep. Tetapi pengawal Kademangan yang betapapun tinggi kemampuannya, namun ia tidak akan dapat berbuat banyak.”

—- > Bersambung ke bagian 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s