ADBM2-117

<<kembali | lanjut >>

SWANDARU pun sejenak tercenung diam. Ia menghubungkan keadaan lawannya dengan benturan yang terjadi sebelum keduanya terlibat pada pertempuran yang aneh itu. Menurut perhitungan Swandaru, benturan yang meskipun telah melemparkan Agung Sedayu itu agaknya menumbuhkan luka-luka dibagian tubuh lawannya yang lengah, karena ia menganggap bahwa Agung Sedayu sudah tidak berdaya.

Namun dalam pada itu. Kiai Gringsing dan Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Sekilas mereka memandang Swandaru dan Ki Widura berganti-ganti. Agaknya keduanya kurang menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi. Namun akhirnya Ki Widura pun mengangguk-angguk kecil.

Dalam pada itu. Agung Sedayu tidak mau melepaskan lawannya. Ia menekan semakin keras himpitan ilmunya, sehingga lawannya merasa seakan-akan dadanya telah hancur dan urat nadinya menjadi hangus.

Sejenak orang yang dikagumi dari Pesisir Endut itu masih mencoba bertahan. Namun akhirnya ia terhuyung-huyung, ia sama sekali tidak mampu lagi mengatasi kesulitan pada tubuhnya yang dihantam oleh ilmu yang tidak terlawan.

Sejenak Agung Sedayu masih tetap menguasai lawannya dengan ilmunya. Namun ketika ia melihat lawanya mulai terhuyung-huyung dan bahkan kemudian jatuh pada lututnya. Agung Sedayu mulai dijalari oleh hambatan-hambatan didalam hatinya sendiri.

Sementara itu, kawan-kawan orang yang terluka didalam itu menjadi termangu-mangu. Mereka menyadari, bahwa saudara tua kakak beradik dari Pesisir Endut itu diluar dugaan, telah kehilangan kekuatan dan kemampuannya. Ia tidak lagi sempat mengguncangkan bumi tempat mereka berpijak dan meremas jantung didalam setiap dada. Yang terjadi kemudian, bahwa orang itu telah menjadi sangat lemah dan berdiri diatas lututnya sambil bertelekan kedua tangannya.

Kecemasan yang sangat telah menjalari dada mereka. Keadaan yang tiba-tiba itu telah membuat mereka menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Tetapi sudah barang tentu bahwa mereka tidak mau hanyut bersama kesalahan saudara tua kakak beradik dari Pesisir Endut itu. Apalagi mereka pun merasa bahwa mereka memiliki ilmu yang tinggi lagi masih dalam bentuk yang berbeda dengan orang yang telah dilumpuhkan oleh Agung Sedayu itu.

Selagi mereka termangu-mangu, tiba-tiba mereka mendengar hiruk pikuk yang semakin keras. Mereka mendengar dentang senjata beradu dan hentakan-hentakan beruntun.

Sebenarnyalah, bahwa mereka yang bertempur di belakang rumah Ki Demang itu telah bergeser selangkah demi selangkah mereka mamasuki halaman samping diluar sadar.

Namun dalam pada itu, orang-orang yang datang ke Sangkal Putung itu pun mengerti, bahwa dua orang pengikut orang dari Pesisir Endut itu agaknya telah terlibat dalam perkelahian pula.

 “Gila,” geram salah seorang dari mereka yang berada di halaman, “apakah masih ada orang Sangkal Putung lainnya yang terlepas dari pengaruh sirep ini?”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi ia tidak melihat kemungkinan lain kecuali melibatkan diri kedalam pertempuran. Saudara tua kakak beradik dari Pesisir Endut yang mereka banggakan itu ternyata disaat-saat terakhir bagaikan kehilangan segenap ilmunya dan jatuh dihadapan Agung Sedayu. Namun itu bukan berarti bahwa mereka pun harus menyerah dan membiarkan diri mereka diikat sebagai tawanan, karena sebenarnyalah mereka pun memiliki kemampuan yang tinggi.

Jika mereka membiarkan salah seorang kawan mereka bertempur dalam perang tanding, itu adalah karena orang itu telah dipenuhi dendam yang tidak tertahankan, sehingga ia menuntut untuk mendapat kesempatan melepaskan dendamnya.

Seperti permintaannya, dan kepercayaannya kepada diri sendiri, maka saudara tua kakak beradik dari Pesisir Endut yang telah mati terbunuh oleh Pangeran Benawa itu menempatkan diri sebagai lawan tunggal Agung Sedayu. Meskipun ia mengetahui bahwa Agung Sedayu telah mengalahkan beberapa orang lawannya di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, namun ia merasa bahwa dirinya tidak kalah perkasa dari Telengan, Wanakerti, Kelasa Sawit dan orang-orang lainnya.

Namun akhirnya ia pun harus tunduk kepada kenyataan, bahwa Agung Sedayu memang seorang anak muda yang tidak dapat dikalahkannya.

Tetapi kekalahan saudara tua kakak beradik yang mati oleh Pengeran Benawa itu bukan berarti bahwa semua kawan-kawannya harus tunduk kepada orang-orang Sangkal Putung. Apalagi di antara mereka telah terlanjur terlibat kedalam perkelahian yang menentukan.

Itulah sebabnya, maka saat yang gawat itu telah dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tiba-tiba saja salah seorang dari kawan orang yang dilumpuhkan oleh Agung Sedayu itu meloncat menyerang Swandaru yang termangu-mangu melihat kemenangan saudara seperguruannya.

Untunglah bahwa Swandaru tidak lengah karenanya. Ia melihat gerak lawannya yang bagaikan bayangan menyambarnya. Karena itu maka ia pun segera bersiaga dan dengan cepat menghindari serangan itu.

Demikianlah, maka Swandaru pun segera terlibat kedalam pertempuran. Sementara yang lainpun telah menyerang Ki Waskita pula.

Dalam pada itu, dua orang yang memasuki halaman itu dari sebelah dinding batu itu pun termangu-mangu. Salah seorang dari mereka berdesis, “Sudah aku nyatakan, bahwa aku tidak setuju dengan caranya.”

Tetapi yang lain menyahut, “Tidak ada waktu dan kesempatan lagi. Kita tidak akan membiarkan diri kita menjadi tawanan orang-orang Sangkal Putung.”

Tidak ada pembicaraan lagi. Ki Widura pun segera terlibat pula dalam pertempuran yang sengit, sementara Kai Gringsing tidak dapat menghindar lagi. Seseorang telah menyerangnya dengan senjata langsung mengarah kedadanya.

Ternyata kemudian, bahwa orang-orang yang semula sekedar melihat pertempuran itu, masing-masing memiliki ilmu yang tinggi pula. Mereka sudah memperhitungkan, jika perang tanding itu berakhir dengan kekalahan kawan mereka, maka adalah menjadi kewajiban mereka untuk berbuat sesuatu bagi kepentingan diri mereka masing-masing dan untuk kepentingan kedatangan mereka ke Sangkal Putung, membinasakan Agung Sedayu.

Sejenak kemudian di halaman Sangkal Putung itu pun telah terjadi pertempuran yang seru. Sementara itu. dua orang yang bertempur melawan Pandan Wangi, dan Sekar Mirah pun telah memasuki halaman depan pula diluar sadar mereka.

Yang masih tetap berada didalam rumah adalah Ki Demang Sangkal Putung. Ia tidak berani meninggalkan pintu rumahnya yang pecah, karena setiap saat ada kemungkinan seseorang memasukinya. Karena itulah maka ia tetap berjaga-jaga dengan senjata di tangan.

Agung Sedayu sendiri masih duduk dengan lemahnya. Seolah-olah ia sedang memulihkan kekuatannya yang tersisa. Dadanya terasa sakit disegala sendi-sendiniya, sementara pengerahan tenaga dalam ilmunya yang aneh itu telah menghisap tenaganya pula.

Itulah sebabnya untuk sesaat ia mencoba memulihkan kekuatannya. Ia tidak melibatkan diri dalam pertempuran yang segera terjadi. Hanya sekilas ia melihat Swandaru bertempur dengan sengitnya, sementara yang lainpun telah melibatkan diri pula. Ternyata bahwa lawan-lawan mereka pun adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tidak terduga. Mereka bukannya sekedar orang-orang yang ikut serta untuk melihat dan jika perlu berlindung di belakang orang yang telah dikalahkan itu. Tetapi mereka masing-masing adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi.

Namun dalam pada itu, ternyata Agung Sedayu telah lengah. Ia tidak begitu menghiraukan lawannya yang jatuh diatas lututnya dan seolah-olah tidak berdaya lagi. Ia membiarkan lawannya yang dikiranya telah lumpuh itu. Apalagi karena ia melihat orang itu tetap pada sikapnya, berdiri diatas lututnya sambil bertelekan dengan kedua tangannya.

 “Ia memerlukan waktu untuk memulihkan tenaganya,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri, “ia akan dengan mudah ditangkap dan menjadi tawanan yang tidak berdaya.”

Karena itulah maka perhatiannya sebagian terbesar ditujukan kepada pertempuran yang tengah berkobar di halaman. Apalagi ketika ia melihat bahwa Sekar Mirah dan Pandan Wangi pun telah terlibat dalam perkelahian melawan dua orang dari lawan-lawan mereka yang berdatangan di Sangkal Putung.

Dalam pada itu, selagi perhatian Agung Sedayu tertuju kepada kawan-kawannya dan terutama pada Sekar Mirah dan Pandan Wangi, maka perlahan-lahan orang yang telah dilumpuhkan itu berusaha memulihkan tubuhnya. Dengan cerdik ia berpura-pura tetap pada keadaannya tanpa berbuat sesuatu. Namun sambil berlutut dan bertelekan dengan kedua tangannya, Perlahan-lahan kekuatannya telah tumbuh kembali didalam dirinya.

Tetapi kekuatan yang kemudian perlahan-lahan mulai timbul itu sama sekali tidak akan cukup kuat untuk berbuat dalam arena yang seru itu. Apalagi di halaman itu masih ada Agung Sedayu yang setiap saat masih akan siap melawannya.

Karena itulah, maka orang yang masih saja berdiri pada lututnya itu membuat perhitungan lain. Ia sama sekali tidak berniat untuk bertempur lagi, karena ia tidak dapat mengingkari kenyataan.

Sementara pertempuran di halaman itu menjadi semakin sengit, maka perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya memperhatikan keadaan. Ia melihat Agung Sedayu tidak sedang memperhatikannya. Ia masih duduk dilempatnya, “Ia pun kelelahan,” berkata orang yang dikalahkan itu didalam hatinya, “tetapi keadaannya tentu jauh lebih baik dari keadaanku.”

Karena itu. maka orang itu pun harus segera mendapat keputusan.

Dalam ributnya pertempuran itu, tiba tiba saja ia meloncat berdiri. Tanpa mengucap sepatah katapun, maka ia mempergunakan tenaganya yang ada untuk dengan secepat-cepatnya melarikan diri.

Agung Sedayu terkejut melihat lawannya itu meloncat berlari. Karena itu, dengan serta merta ia pun bangkit untuk mengejarnya.

Namun pada saat itu ia mendengar teriakan nyaring. Dadanya bagaikan bergetar dan tanah tempatnya berpijak bagaikan goncang.

Sejenak Agung Sedayu mempertahankan keseimbangannya. Bahkan ia pun kemudian bersiap untuk melepaskan ilmunya yang ternyata tidak terlawan oleh orang yang luar biasa itu.

Tetapi ternyata lawannya tidak menyerangnya lagi. Ia justru meloncat keatas dinding halaman. Ketika ia kemudian menghilang dibalik dinding, maka terdengar suaranya bergema, “Agung Sedayu. Kali ini aku gagal. Tetapi aku tidak akan pernah menyerah sebelum aku berhasil memisahkan kepalamu dari tubuhmu.”

Agung Sedayu tertegun. Ia tidak mengejar lawannya lebih jauh lagi. Namun ia justru menjadi termangu-mangu. Ancaman lawannya itu benar-benar membuatnya berdebar-debar. Bukan karena ia menjadi ketakutan. Tetapi dengan demikian maka dendam dihati orang yang mengaku kakak dari dua orang yang terbunuh Pangeran Benawa itu akan berkepanjangan.

Sejenak Agung Sedayu merenungi dinding halaman yang mengelilingi arena perkelahian itu. Seolah-olah ia melihat lawannya berlari cepat sekali bagaikan terbang dengan sayap rangkap. Namun seolah-olah Agung Sedayu pun melihat, bahwa api dendam didada orang itu tentu akan berkembang semakin dahsyat. Di kesempatan lain, ia tentu masih akan datang kembali dan berusaha untuk membunuhnya.

Betapa kegelisahan terasa semakin menekan hati didalam dada Agung Sedayu. Rasa-rasanya ia telah berdiri diatas perapian yang semakin lama nyalanya menjadi semakin besar dan semakin panas.

Agung Sedayu tersadar dari angannya ketika ia dikejutkan oleh suara cambuk yang meledak. Ketika ia berpaling, ia melihat Swandaru sekali lagi mengangkat cambuknya, disusul oleh ledakan yang menekan telinga.

Pertempuran di halaman itu pun menjadi semakin dahsyat. Bukan saja Swandaru yang harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk melawan seorang yang bertubuh tinggi kekar, tetapi nampaknya yang lainpun harus bertempur dengan sengitnya.

Namun ternyata bahwa ada beberapa orang di antara mereka yang menemukan lawan yang tidak seimbang. Adalah mengejutkan sekali bagi seseorang yang bersenjata sepasang trisula, bahkan orang tua yang diserangnya memiliki kemampuan yang tidak terduga. Agaknya ia telah salah memilih lawan, karena diluar pertimbangan yang masak ia telah menyerang Kiai Gringsing.

Kiai Gringsing bukannya seseorang yang haus akan darah. Karena itu maka ia tidak dengan semena-mena bertempur dan menghancurkan lawannya. Meskipun ia memiliki kelebihan, tetapi ia berusaha untuk dapat menangkap lawannya dalam keadaan hidup.

Namun dalam pada itu, dua orang di antara mereka yang bertempur di halaman itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Adalah kebetulan sekali bahwa mereka berdua telah memilih lawan yang paling dekat pada saat pertempuran itu meledak.

Keduanya adalah orang-orang yang diketemukan oleh Ki Waskita dan Ki Widura di halaman sebelah. Salah seorang dari keduanyalah yang telah mengatakan, bahwa mereka sebenarnya kurang setuju dengan sikap yang telah diambil oleh lawan Agung Sedayu.

Pada pertempuran itu, keduanya telah memilih lawan Swandaru dan Ki Waskita, sehingga karena itulah maka Swandaru harus bertempur dengan sekuat tenaganya untuk mempertahankan dirinya.

Sementara itu, Ki Waskita pun harus berhati-hati menghadapi lawannya. Meskipun agaknya ia tidak sekuat lawan yang dikalahkan oleh Agung Sedayu. namun orang itu pun memiliki kemampuan yang harus diperhitungkan.

Tetapi karena ia membenturkan diri pada lawan yang tangguh, maka agaknya ia tidak akan mampu mengalahkannya.

Lawan Ki Waskita lah yang pertama-tama harus melihat kenyataan. Ia merasa bahwa Ki Waskita tidak akan dapat dikalahkannya. Meskipun pada mulanya ia masih berpengharapan, namun ternyata kemudian bahwa orang yang disangkanya orang Sangkal Putung itu memiliki kemampuan luar biasa.

Yang terdengar kemudian adalah satu isyarat pendek. Semacam bunyi burung tuhu.

Tidak seorang pun yang mengetahui dengan pasti arti isyarat itu. Apalagi nampaknya tidak ada perubahan yang terjadi diarena. Orang-orang yang memasuki halaman itu masih saja bertempur dengan serunya.

Ternyata bahwa isyarat itu hanya diketahui oleh dua orang saja di antara mereka yang sedang bertempur. Dua orang yang semula berdiri di halaman sebelah, yang dengan tiba-tiba saja telah merubah sikapnya dalam saat tertentu setelah suara isyarat itu.

Dengan segera mereka keduanya meloncat meninggalkan lawan-lawannya. Mereka mengerahkan segenap kemampuannya tidak untuk bertempur tetapi keduanya berhasil melepaskan diri dan berlari meloncati dinding batu hilang dikegelapan malam.

adbm 117-01Swandaru masih berusaha mengejar lawannya. Tetapi lawannya benar-benar orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Langkahnya bagaikan tidak menyentuh tanah, dan tanpa dapat berbuat sesuatu Swandaru melihat orang itu seakan-akan terbang meloncati dinding.

Swandaru juga berusaha meloncat keatas dinding. Namun yang kemudian nampak dihadapannya hanyalah kegelapan yang senyap. Kedua orang yang melarikan diri itu bagaikan lenyap ditelan bumi.

Ki Waskita justru baru menyusul kemudian. Ia tidak segarang Swandaru. Meskipun ia masih mempunyai kesempatan, tetapi ternyata bahwa ia tidak mempergunakannya untuk mengejar lawannya. Ada keragu-raguan yang terselip dihatinya.

 “Mereka lenyap didalam kegelapan,” desis Swandaru.

Ki Waskita mengangguk. Jawabnya, “Ya ngger. Mereka lenyap. Ternyata bahwa mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Hanya karena mereka merasa tidak akan mampu menghadapi orang-orang di Sangkal Putung, yang jumlahnya tentu akan semakin bertambah-tambah. maka mereka meninggalkan arena.”

 “Mereka ternyata licik paman.”

 “Menurut satu sudut pandangan, memang mereka licik. Seorang laki-laki akan bersedia mati untuk mempertahankan harga dirinya.”Ki Waskita berhenti sejenak, lalu, “tetapi agaknya mereka adalah seorang yang mempunyai nalar yang panjang. Mereka lebih senang tetap hidup, sehingga dikemudian hari masih ada kemungkinan baginya untuk mencapai tujuannya.”

Swandaru mengerutkan keningnya. “Itu adalah dasar pikiran bagi mereka yang tidak merasa perlu membunuh dirinya dalam keadaan yang seharusnya masih dapat dihindarinya.” kata Ki Waskita.

Sambil mengangguk Swandaru berdesis, “Mungkin paman. Tetapi dengan demikian, maka seorang laki-laki akhirnya tidak perlu lagi mempersoalkan harga dirinya.”

Ki Waskita termangu-mangu. Tetapi ia tidak menjawab. Ia kemudian menyadari, bahwa mungkin pendapat Swandaru akan berbeda.

Dalam pada itu, keduanya seolah-olah tersadar ketika mereka mendengar teriakan nyaring. Ternyata bahwa lawan Pandan Wangi berusaha untuk menghentakkan segenap kemampuannya.

Tetapi ternyata bahwa lawannya memiliki ilmu yang lebih tinggi daripadanya, sehingga hentakan kekuatannya itu sama sekali tidak berarti. Pandan Wangi dengan mudah mengelakkan serangan yang tiba-tiba itu. Bahkan kemudian ialah yang justru meloncat menyerang meski pun tidak dengan sepenuh tenaga.

Swandaru yang melihat Pandan Wangi masih bertempur, tiba-tiba saja bergeser setapak. Namun ketika ia sudah siap untuk meloncat, Ki Waskita telah menggamitnya.

 “Kita harus mendapat keterangan tentang serangan ini ngger,” berkata Ki Waskita.

 “Maksud paman?,” Swandaru mengerutkan keningnya, “apakah kita harus menangkap mereka hidup-hidup.”

 “Aku kira demikian. Jika kita didorong oleh nafsu kemarahan, sehingga kita kehilangan perhitungan, maka kita akan kecewa. Kita tidak akan mendapatkan keterangan apapun juga. sehingga banyak hal yang seharusnya dapat kita pecahkan masih harus tetap merupakan teka-teki yang berkepanjangan.”

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah paman. Tetapi aku tidak dapat membiarkan Pandan Wangi bertempur terus melawan laki-laki yang garang itu. Kakang Agung Sedayu pun seharusnya menolong Sekar Mirah jika ia telah dapat memulihkan kesegaran badannya.”

 “Marilah. Kita akan berbuat sesuatu. Kita tidak akan membiarkan mereka lari meninggalkan halaman ini seperti yang lain.”

Swandaru dan Ki Waskita pun kemudian meloncat turun dari dinding halaman. Mereka bergegas mendekati arena pertempuran yang sengit.

Ternyata bahwa pertempuran di halaman itu semakin lama menjadi semakin pasti. Lawan Kiai Gringsing sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu. Meskipun Kiai Gringsing masih saja memberi kesempatan menyerangnya, tetapi serangan-serangan itu sama sekali tidak berarti. Kiai Gringsing semata-mata bermaksud untuk sekedar memeras tenaga lawannya, agar lawannya itu akan kelelahan.

Orang yang bertempur melawan Ki Widura pun tidak mempunyai harapan sama sekali untuk menang. Meskipun Ki Widura masih belum mampu menempatkan diri sejajar dengan Kiai Gringsing. Namun ternyata ia berhasil untuk menguasai lawannya.

Sementara itu lawan Sekar Mirah dan Pandan Wangi pun tidak melihat kesempatan sama sekali untuk menang. Apalagi ketika mereka melihat Swandaru dan Ki Waskita mendekati mereka.

 “Gila,” berkata orang-orang itu di dalam hatinya. Mereka merasa telah diumpankan oleh lurahnya.

Namun betapapun juga, nampaknya sulit bagi mereka untuk dapat melarikan diri. Kecuali ilmu mereka memang masih belum setingkat dengan orang-orang yang telah menghilang dari halaman itu, mereka pun melihat orang-orang yang telah kehilangan lawannya seakan-akan datang mengurung.

Demikian juga orang-orang yang bertempur melawan Kiai Gringsing dan Ki Widura. Agung Sedayu yang tidak mau kehilangan lagi, telah berdiri didekat arena itu. Agaknya ia pun telah bersiap untuk berbuat sesuatu jika lawannya yang masih tinggal berusaha untuk melarikan diri.

Bahkan sejenak kemudian. Agung Sedayu lah yang berkata nyaring, “Menyerahlah. Masih ada kesempatan. Sebentar lagi ilmu sirep ini akan terhapus dengan sendirinya. Para peronda akan terbangun, dan mereka akan berdatangan masuk kehalaman ini. Nah, kalian akan mengetahui akibatnya. Jika kalian mempunyai hubungan dengan mereka yang menyerang aku di Mataram, maka kalian tentu sudah mendengar, apakah yang telah terjadi dengan mereka. Para pengawal yang marah telah datang mencincang mereka beramai-ramai tanpa menghiraukan nilai-nilai kemanusiaan karena terdorong oleh kemarahan yang tidak tertahankan.”

Kata-kata Agung Sedayu itu benar-benar berpengaruh. Sebenarnya Swandaru lebih senang untuk bertempur terus. Tetapi ia masih segan terhadap gurunya dan Ki Waskita.

Karena itu, ia tidak menyahut. Ia justru menunggu, apakah yang akan dilakukan oleh orang-orang yang sedang bertempur di halaman melawan orang-orang Sangkal Putung itu.

Sejenak kemudian, maka orang-orang yang berada di halaman rumah Ki Demang dan terlibat dalam pertempuran yang tidak seimbang itu, benar-benar telah menjadi berputus asa. Bahkan mereka tidak mendapat kesempatan lagi untuk berbuat sesuatu. Bahkan meninggalkan halaman itu pun agaknya tidak akan dapat mereka lakukan lagi.

Karena itu, maka tawaran Agung Sedayu itu adalah kesempatan yang sebaik-baiknya yang dapat mereka lakukan.

Meskipun demikian, mereka masih juga ragu-ragu. Jika mereka menyerah, apakah tidak ada kemungkinan Agung Sedayu ingkar, dan membiarkan mereka dicincang di halaman itu.

Namun sekali lagi mereka mendengar Agung Sedayu berkata, “Ki, sanak. Kami, orang-orang Sangkal Putung tidak ingin lagi melihat kematian-kematian terjadi di Kademangan ini. Karena itu, sekali lagi aku minta kalian untuk menyerah. Aku akan minta kepada, Ki Demang di Sangkal Putung agar kalian tidak mendapat hukuman yang terlalu berat.”

Kata-kata itu benar-benar telah menentukan bagi orang-orang yang sudah merasa diri mereka berdiri di ujung pedang. Karena itulah maka mereka pun kemudian hampir bersamaan melemparkan pedangnya sambil berteriak, “Kami menyerah.”

Kiai Gringsing dan Ki Widura dengan cepat menguasai diri masing-masing. Pandan Wangi pun segera menghentikan serangannya. Sekar Mirah lah yang agaknya masih didorong oleh kepedihan meninggalnya Ki Sumangkar, sehingga rasa-rasanya ia masih ingin melepaskan himpitan perasaan didadanya.

Ketika lawannya menyatakan diri untuk menyerah sambil melepaskan senjatanya, Sekar Mirah masih mengalami kesulitan untuk menahan diri. Karena itulah, maka tangan kirinya masih menghantam dada orang itu, sehingga lawannya itu pun terlempar jatuh.

“Mirah,” desis Agung Sedayu.

Sekar Mirah berdiri tegak. Katanya dengan nada datar, “Aku sudah mencoba menguasai diri. Aku tidak menghantamkan dengan senjataku, sehingga kepalanya tidak hancur.”

Agung Sedayu memandang orang yang terbaring itu. Namun agaknya orang itu masih sempat bangkit sambil menyeringai menahan sakit.

“Bangunlah. Berkumpullah dengan kawan-kawanmu,” berkata Agung Sedayu.

Sejenak orang itu masih harus menahan dadanya dengan telapak tangannya. Sejenak ia berdesis sambil berdiri diatas lututnya.

“Jangan merajuk,” Sekar Mirah lah yang membentak, “jika kau tidak lekas bangkit dan berkumpul dengan kawan-kawanmu, aku akan memecahkan kepalamu.”

“Jangan, jangan,” orang itu ketakutan. Namun justru karena itu maka ia pun segera bangkit dan berjalan tertatih-tatih berkumpul dengan kawan-kawannya yang juga menyerah.

Dalam pada itu, Ki Demang pun telah berada di halaman itu pula.

Namun Sekar Mirah masih juga bertanya, “Apakah pintu itu ayah tinggalkan terbuka?”

“Ya. Pintu itu tidak dapat ditutup lagi,” jawab ayahnya.

“Tetapi bagaimana jika masih ada orang lain yang akan memasuki rumah itu?” desak Sekar Mirah.

Namun diluar dugaan, maka salah seorang dari mereka yang menyerah itu pun menyahut, “Tidak ada orang lain. Kami hanya berlima.”

Jawaban itu benar-benar menarik perhatian. Kiai Gringsing bahkan maju selangkah sambil bertanya, “Apakah benar yang kau katakan?”

“Ya. Kami berangkat dari Pesisir Endut hanya berlima.”

“Siapakah yang dua orang lagi?” bertanya Swandaru tidak sabar.

Orang-orang itu termangu-mangu. Mereka nampaknya menjadi ragu-ragu untuk menjawab.

“Sebut,” bentak Swandaru sambil melangkah mendekati salah seorang dari mereka.

Orang itu mengerutkan lehernya. Tetapi ia masih tetap tidak mengucapkan jawaban.

Swandaru tidak sabar lagi melihat sikap orang itu. Apalagi kemarahan masih saja menyala didadanya, sehingga tiba-tiba saja ia sudah memukul pelipis orang itu sambil membentak, “jawab.”

Orang itu terdorong selangkah. Bahkan kemudian ia pun terjatuh di tanah terdengar ia mengaduh tertahan.

“He orang-orang Pesisir Endut,” bentak Swandaru, “jika kalian mencoba untuk merahasiakan sesuatu yang sebenarnya kalian ketahui, maka jangan menyesal bahwa kami pun dapat bersikap seperti orang-orang Pesisir Endut, seperti dua bersaudara yang ingin membunuh anak-anak yang sama sekali tidak bersalah dan tidak bersangkut paut dengan persoalannya. Apalagi kalian bukan anak-anak lagi, dan kalian pun langsung bersangkut paut dengan persoalan ini.”

Wajah orang-orang Pesisir Endut itu menjadi pucat.

“Bangun,” teriak Swandaru.

Orang yang terjatuh itu pun kemudian bangkit perlahan. Namun rasa-rasanya kakinya menjadi gemetar. Sikap Swandaru yang garang itu membuatnya menjadi semakin ketakutan.

“Jawab pertanyaanku,” Swandaru semakin mendekat, “siapakah dua orang yang datang bersama kalian, tetapi yang kemudian melarikan diri selain pemimpin yang sudah berperang tanding dengan kakang Agung Sedayu?”

Orang itu memandang Swandaru dengan wajah yang semakin pucat. Dengan bibir gemetar ia menjawab, “Bukan maksudku untuk merahasiakan sesuatu. Tetapi sebenarnyalah bahwa kami berempat itu tidak banyak mengetahui tentang kedua orang itu. Mereka adalah orang-orang yang sudah siap menunggu kami di pinggir Kota Raja.”

“Pajang?” desak Swandaru.

“Ya.”

“Jadi kalian singgah di Pajang lebih dahulu sebelum datang kemari?”

Orang itu termangu-mangu. Sejenak ia memandang kawan-kawannya. Tetapi kawan-kawannya menundukkan kepalanya. Sehingga dengan demikian maka orang itu harus mencari jawabnya sendiri.

“Kenapa kau diam?” bentak Swandaru.

Orang itu tergegap. Kemudian jawabnya, “Ya, kami memang singgah dahulu di Pajang untuk kemudian bersama-sama dengan dua orang itu melanjutkan perjalanan.”

Swandaru memandang orang itu dengan tajamnya. Dengan suara gemetar ia menggeram, “Jangan mengelabui kami. Sebut nama kedua orang itu. Kau tentu mendengarnya lurahmu memanggilnya atau justru kau sudah mengenal mereka dengan baik.”

“Aku tidak bohong.” orang itu menjadi semakin gemetar.

Swandaru menjadi tidak sabar lagi. Setapak ia maju dengan wajah yang membara.

Namun ketika tangannya hampir saja diangkatnya untuk memukul orang yang ketakutan itu, Ki Waskita berkata, “Aku percaya ngger, bahwa orang itu benar-benar tidak tahu siapakah kedua orang yang melarikan diri itu.”

Swandaru berpaling. Tetapi wajahnya yang tegang masih saja tetap tegang. Bahkan dengan nada dalam ia berdesis, “Kenapa Ki Waskita mengambil kesimpulan demikian?”

“Aku mendengar beberapa patah kata percakapan kedua orang itu. Mereka memang bukan berasal dari satu kelompok dengan orang-orang ini.” Ki Waskita berhenti sejenak, lalu. “seandainya demikian, maka mereka berdua tentu tidak akan meninggalkan kawan-kawannya begitu saja tanpa berusaha untuk membawa mereka atau menghilangkan kemungkinan seperti yang kita lakukan sekarang.”

Swandaru termenung sejenak. Namun Kiai Gringsing-pun berkata, “Biarlah orang-orang itu disimpan saja lebih dahulu Swandaru. Barangkali pada saatnya ada gunanya.”

Swandaru memandang ayahnya sesaat. Sebenarnya ia agak berkeberatan menyimpan orang di Kademangannya, karena hal itu akan dapat mengundang persoalan yang mungkin akan menimbulkan kegoncangan di Kademangannya.

Tetapi Swandaru tidak dapat berbuat lain. Dalam keadaan yang demikian ia tidak akan dapat menyelesaikan persoalan orang-orang itu menurut kehendaknya sendiri, atau memusnakannya sama sekali.

Ki Demang pun berpikir sejenak. Bahkan kemudian ia berdesis, “Bagaimana jika orang ini kita serahkan saja kepada Pajang atau kepada Mataram?”

“Untuk sementara tidak Ki Demang,” Kiai Gringsing lah yang menjawab, “aku tahu bahwa orang-orang ini akan dapat mengundang keributan. Mungkin akan datang kawan-kawannya untuk membebaskannya. Memang akibatnya akan lebih gawat jika mereka tetap kita simpan dibandingkan jika mereka telah terbunuh sama sekali.”

“Jangan, jangan,” terdengar orang-orang itu meminta.

“Kami tidak akan membunuh kalian,” sahut Agung Sedayu, “kami hanya membuat perbandingan. Dan kami pun minta agar kau mengerti.”

Orang-orang itu terdiam membeku. Ada semacam kebimbangan tentang keselamatan diri. Mungkin Agung Sedayu hanya bergurau atau sengaja mempermainkan perasaan mereka, namun yang pada suatu saat akan menusuk dada mereka dengan pedang, atau mengikat leher mereka dengan tampar serabut, kemudian menggantung tinggi di sudut padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung.

Namun agaknya Agung Sedayu dengan sungguh-sungguh berkata, “Cobalah menenangkan diri, ingat-ingatlah apa yang kalian ketahui selama kalian terpaksa kami simpan di tempat yang khusus. Beberapa orang pengawal akan menjaga kalian siang dan malam untuk beberapa hari.”

Orang-orang itu menjadi agak tenang. Namun mereka masih juga bertanya kepada diri sendiri, “Bagaimana sesudah beberapa hari itu.”

Dalam pada itu, setelah orang-orang itu dibawa untuk di simpan. Agung Sedayu pun teringat kenapa para pengawal yang tertidur. Pengaruh sirep itu pun agaknya sudah menjadi semakin menipis seperti kabut yang disentuh angin lembut. Meskipun peralahan-lahan, namun akhirnya hilang sama sekali.

Dengan ragu-ragu Agung Sedayu pun kemudian pergi ke gardu di regol halaman Kademangan. Dilihatnya beberapa orang masih tidur nyenyak. Ada yang bersandar pohon, ada yang terbaring di gardu.

Dengan hati-hati agar tidak mengejutkan para pengawal Agung Sedayu menyentuh mereka seorang demi seorang. Agaknya pengaruh sirep benar-benar telah terlepas dari mereka, sehingga perlahan-lahan mereka pun mulai terbangun.

 “Kalian tertidur nyenyak sekali,” berkata Agung Sedayu.

Kata-kata itu ternyata telah mengejutkan mereka. Dengan serta merta beberapa orang pun berloncatan bangkit dan bertanya, “Apa yang terjadi?”

Agung Sedayu menunjukan ke halaman sambil berkata, “Lihatlah. Ada beberapa orang mamasuki halaman Kademangan.”

“Apa yang mereka lakukan?” beberapa orang bertanya bersamaan.

Agung Sedayu memandang mereka berganti-ganti. Lalu, “Mereka berusaha untuk menimbulkan huru-hara. Tetapi mereka segera dapat kami atasi meskipun kalian tertidur nyenyak.”

“Siapa saja yang tertidur? Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi atas diriku. Tiba-tiba saja aku seperti pingsan dan tidak tahu apa-apa lagi.”

“Kami menahan beberapa orang. Carilah kawan-kawanmu yang sedang meronda. Jika mereka tertidur, bangunkan mereka. Kami memerlukan beberapa orang pengawal untuk menjaga empat orang tahanan yang berilmu tinggi. Karena itu maka pengawasannya pun harus dilakukan sebaik-baiknya. Disisa malam ini biarlah aku tidak berjaga-jaga. Tetapi seterusnya penjagaan harus diatur sebaik-baiknya.”

Dua orang di antara mereka pun kemudian meninggalkan gardu sambil menggosok mata mereka, seolah-olah mereka tidak yakin atas peristiwa yang baru saja terjadi. Namun salah seorang berkata, “Apakah kau percaya kepada ilmu sirep?”

Yang lain mengerutkan keningnya. dengan ragu-ragu ia berdesis, “Kau sangka bahwa kita sudah terkena sirep?”

Kawan-nya termangu-mangu. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi atas dirinya dan kawan-kawannya. Dengan ragu-ragu ia pun kemudian berkata, “Ya. Aku kira kita sudah terkena sirep. Aku merasa seakan-akan mataku direkat dengan cairan pati pohung.”

Yang lain tertawa pendek. Dengan nada yang datar ia menyahut, “Gila. Ternyata ada sekelompok orang-orang sakti yang telah datang ke Kademangan ini. Mereka telah menyebarkan sirep dan membuat kita semuanya tidak berdaya. Untunglah di Kademangan ini masih tinggal beberapa orang yang dapat mengatasi mereka.”

 “Disini akan tetap tinggal orang-orang yang mumpuni. Swandaru dan Pandan Wangi tidak akan meninggalkan Kademangan. Untuk sementara Sekar Mirah pun masih tinggal.”

Kawannya mengangguk-angguk. Mereka memang berbangga atas anak-anak Ki Demang beserta anak menantunya. Mereka merupakan pelindung Kademangan mereka dari orang-orang sakti yang tidak dapat dilawan dengan cara yang wajar.

 “Seandainya sekelompok penjahat datang ke Kademangan ini, maka para pengawal akan mengusirnya. Kami tidak akan gentar melawan kekuatan yang betapapun besarnya. Tetapi melawan ilmu sirep, adalah diluar kemampuan kami,” geram salah seorang dari keduanya.

Kawannya tidak menjawab. Ketika mereka sampai digardu, di simpang empat, maka mereka melihat beberapa orang pengawal masih tertidur nyenyak. Di antaranya, terjdapat anak-anak muda yang memang terbiasa berada di gardu-gardu meskipun mereka tidak kebetulan sedang bertugas.

“Ilmu itu luar biasa kuatnya. Jarak dari tempat ini cukup panjang bagi ilmu sirep. Tetapi agaknya kekuatan ilmu itu masih mencengkam mereka,” desis yang seorang.

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Sejenak mereka berdiri tennangu-mangu didepan gardu. Mereka melihat dua orang di antara mereka tersandar dinding justru diluar gardu dengan senjata telanjang di tangan.

“Mereka seperti sudah mati. Seandainya dalam keadaan yang demikian, seorang saja dari pihak lawan datang dengan pedang terhunus, maka dalam sekejap, kita sudah kehliangan beberapa orang pengawal.”

“Termasuk kita sendiri. Mungkin kitalah yang paling dahulu.”

“Tidak. Kebetulan kita bertugas di depan rumah Ki Demang. Swandaru tentu akan menolong kita.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Kau selalu mengharap pertolongan orang lain.”

Yang lain tidak menghiraukannya. Perlahan-lahan ia mendekati kawan-kawannya yang masih tetap tidur dengan nyenyaknya.

“Aku akan menyembunyikan senjata-senjata mereka. Baru kita membangunkan.”

Sejenak kawannya ragu-ragu. Desisnya, “Kita tidak sedang bergurau. Di halaman Kademangan ada beberapa yang memerlukan pengawasan.”

Tetapi kawannya tidak menghiraukannya. Dengan hati-hati ia memungut senjata dari mereka yang tertidur di gardu dan meletakkannya beberapa langkah dari mereka.

“Ah, kau masih sempat membuat onar,” desis kawannya.

Tetapi pengawal yang memang senang bergurau itu tidak menghiraukannya. Ketika senjata-senjata itu sudah dijauhkan dari kedua orang yang tertidur itu, tiba-tiba ia menarik kawannya untuk bersembunyi.

“Apa yang kau lakukan?”

“Sst,” desisnya sambil memaksa kawannya untuk berjongkok di belakang segerumbul perdu.

Dari tempat persembunyian itu, ia melempar pengawal yang tertidur itu dengan kerikil beberap kali.

Ternyata bahwa pengaruh sirep benar-benar sudah tidak mencengkam mereka lagi. Ternyata kerikil-kerikil itu telah membangunkan kedua pengawal itu.

Diluar sadar, tangan mereka pun telah menggapai mencari senjata masing-masing. Namun tiba-tiba saja salah seorang bangkit sambil bertanya. “He, kau lihat pedangku?”

“Pedangku juga tidak ada.”

Keduanya pun saling berpandangan. Hampir bersamaan keduanya bergeser kedepan gardu. Dan yang mereka lihat adalah kawan-kawannya yang tertidur nyenyak.

“He, kita semuanya tertidur. Aneh. Hal yang tidak pernah terjadi,” desis yang seorang.

“Bagaimana mungkin,” sahut yang lain. Namun kemudian, “Kitalah yang sedang bertugas. Tetapi agaknya kita pun telah tertidur.”

“Dan senjataku telah hilang.”

“Senjataku juga.”

Keduanya termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba mereka menjadi tegang. Terdengar langkah kaki mendekat, sehingga hampir berbareng keduanya telah memungut senjata kawan-kawannya yang sedang tertidur.

Tetapi ternyata yang datang adalah dua orang pengawal. Meskipun demikian keduanya tetap merasa cemas, justru karena semua orang telah tertidur dan senjata mereka lepas dari tangan.

“Apa yang terjadi?” bertanya salah seorang pengawal yang baru datang.

“Tidak apa-apa,” jawab salah seorang dari mereka yang baru saja terbangun dari tidur.

“Kenapa semuanya tertidur?” bertanya yang lain, “apakah memang sudah menjadi kebiasaan kalian disini?”

“Kenapa semuanya?,” jawab yang seorang dari mereka yang baru bangun, “kami berdua tidak tertidur, kamilah yang sedang bertugas. Sengaja yang lain kami biarkan tidur, agar kami dapat bergantian.”

Pengawal yang datang dari halaman Kademangan itu termangu-mangu. Apalagi ketika mereka melihat kedua orang itu sudah membawa senjata di tangannya.

Tetapi yang seorang dari kedua pengawal yang datang itu masih sempat tersenyum melihat senjata yang berada di tangan salah seorang dari mereka yang baru saja terbangun itu. Senjata itu adalah sebilah golok yang besar meskipun tidak panjang.

Pengawal yang baru saja terbangun melihat kawannya yang baru datang itu dengan heran. Bahkan kemudian ia bertanya, “Kenapa kau tersenyum? Apakah kau tidak percaya?”

Yang baru saja datang itu masih saja tersenyum. Dalam keremangan cahaya obor di gardu ia melihat wajah-wajah yang tenang didalam tidur yang nyenyak.

“Mereka nampaknya tidur nyenyak,” berkata salah seorang dari mereka. Lalu, “he, apakah yang kau genggam itu memang senjatamu?”

Orang yang memegang golok itu menyahut cepat, “Ya. Kenapa?”

 “Jika kau sedang beristirahat, apakah golok itu tidak pernah kau sarungkan?”

“Tentu. Kenapa?”

“Cobalah menyarungkan golokmu.”

Orang itu termangu-mangu. Tiba-tiba saja diluar sadarnya ia memandangi golok yang besar itu. Kemudian sarung pedang dilambungnya. Sarung pedang panjang, tetapi tidak sebesar golok itu.

“Ah,” desisnya. Mau tidak mau ia pun terpaksa tersenyum pula. Demikian pula kedua pengawal yang lain. Bahkan kawannya yang baru saja terbangun bersamanya itu pun mengamat-amati senjatanya pula sambil bergumam, “Aku salah mengambil senjataku. Senjata ini pun tidak cocok dengan sarung dilambung ini.”

Kedua pengawal yang baru datang itu pun tertawa. Salah seorang dari mereka berkata, “Kalian kira kami tidak tahu, bahwa kalian sudah tertidur nyenyak sambil melepaskan senjata kalian. He, apakah kalian dengan sengaja menyembunyikan senjata kalian di sebelah gardu itu.”

“Dimana?” Kedua pengawal yang tertidur itu hampir berbareng bertanya.

“Aku melihat dua buah senjata seolah-olah sengaja disembunyikan atau di singkirkan. Aku kira kalian sudah tidur nyenyak sehingga seseorang dengan mudah mengambil senjata kalian dari tangan. Untunglah bahwa senjata itu tidak menikam kalian sendiri.”

“Dimana?” pengawal itu mendesak.

“Marilah. Aku tunjukkan.”

Mereka pun kemudian pergi kesebelah gardu itu. Dengan telunjuknya pengawal yang memang menyembunyikan pedang itu berkata, “Lihat. Senjata siapakah yang diletakkan disana.”

Keduanya bergegas mengambil senjata masing-masing. Sejenak mereka mengamat-amati. Sambil mengangguk salah seorang dari keduanya bergumam, “Memang senjataku.”

“Dan kau ingkar bahwa kau memang sudah tertidur nyenyak?”

Pengawal yang menemukan senjatanya itu tersenyum. Jawabnya, “Aku tahu sekarang. Kalian menemukan kami sedang tertidur. Kalian sengaja menyembunyikan senjata-senjata kami.”

“Jadi kalian memang tertidur?”

Kedua pengawal yang sedang tertidur itu menarik nafas dalam-dalam. Mereka mencoba mengingat apa yang sudah terjadi. Ternyata yang mereka alami adalah peristiwa yang jarang sekali dapat terjadi.

Mereka masih ingat, betapa mereka bertahan terhadap perasaan kantuk yang luar biasa. Mereka masih melihat kawan-kawan mereka seorang demi seorang berbaring dan mendekur. Keduanya sudah berusaha melawan kantuk dengan berjalan-jalan diluar gardu. Namun akhirnya mereka terlena juga. Mereka tidak tahu, kapan mereka kehilangan kesadaran dan tidur sambil bersandar dinding.

“Sekarang,” berkata kedua pengawal yang datang dari Kademangan, “bangunkan kawan-kawanmu. Kami memerlukan sebagian dari mereka.”

Sejenak kemudian maka para pengawal yang ada digardu itu pun telah terbangun. Dengan singkat pengawal yang datang dari regol Kademangan itu menjelaskan apa yang sudah terjadi, dan membawa perintah agar sebagian dari mereka yang ada digardu itu pergi ke Kademangan untuk membantu mengawasi beberapa orang yang tertawan.

Kabar itu pun segera menjalar. Gardu-gardu yang terletak jauh dari rumah Ki Demang agaknya tidak tersentuh oleh kekuatan sirep itu. Namun mereka pun ramai berbicara tentang peristiwa yang telah terjadi, bahkan mereka pun sadar, jika hal itu terulang, maka peristiwa yang mengerikan akan dapat menimpa Kademangan Sangkal Putung. Dalam keadaan tidak sadar itu mereka yang ingin berbuat jahat dengan sebilah pedang di tangan mendekati gardu itu, maka ia akan dengan mudah sekali menghunjamkan senjatanya di setiap dada tanpa perlawanan sama sekali.

Hampir setiap orang di Sangkal Putung memang sudah pernah mendengar ceritera tentang sirep. Tetapi seorang penjahat yang melepaskan sirep dengan maksud yang sederhana, mengambil barang milik seseorang, pengaruhnya tidak akan lebih luas dari rumah yang menjadi sasaran itu.

Tetapi yang terjadi atas rumah Ki Demang Sangkal Putung benar-benar telah menimbulkan kegemparan. Ternyata beberapa buah rumah dan gardu telah terkena pengaruhnya, hingga tidak seorang pun yang mengetahui apa yang sudah terjadi di rumah Ki Demang Sangkal Putung itu.

“Untunglah, bahwa di Sangkal Putung masih ada orang-orang yang dapat melawan sirep itu,” berkata setiap orang didalam hatinya. Dan mereka pun menjadi semakin berbangga terhadap Swandaru, Pandan Wangi dan Sekar Mirah, disamping beberapa orang tamu yang kebetulan berada di Kademangan Sangkal Putung.

“Tanpa mereka kita tidak berdaya sama sekali,” desis seorang pengawal.

Yang lain hanya mengangguk-angguk saja. Namun mereka pun telah dihadapkan pada tugas yang berat, mengawasi beberapa orang tawanan yang berilmu tinggi. Jika mereka lengah sedikit, maka yang terjadi tentu diluar dugaan sama sekali. Bahkan salah seorang pengawal bertanya kepada kawannya, “Apakah mereka juga mempunyai ilmu sirep?”

“Aku tidak tahu. Tetapi setiap saat tentu ada salah seorang yang memiliki keseimbangan ilmu dengan para tawanan itu ikut mengawasi. Mungkin Agung Sedayu, mungkin pula Swandaru atau yang lain.”

Dengan demikian, sejak saat malam penyebaran sirep itu, Sangkal Putung mempunyai beberapa orang tawanan. Setap kali Swandaru mencoba untuk mendengar apakah mereka mengerti serba sedikit tentang usaha mereka yang merasa dirinya sebagai pewaris Kerajaan Majapahit itu.

“Kami benar-benar tidak tahu,” jawab salah seorang dari mereka.

Sehingga setiap kali, Swandaru harus menahan kecewa. Orang-orang itu selalu menjawab tidak tahu.

Bahkan karena kejengkelan yang meluap, Swandaru telah memanggil seorang demi seorang. Dengan kasar dan dengan lemah lembut ia mencoba untuk mengorek keterangan tentang para prajurit Pajang yang telah terseret kedalam kelompok yang sangat berbahaya itu.

Tetapi usahanya selalu sia-sia. Kiai Gringsing pun sudah memberitahukan kepada Swandaru, bahwa mereka sebenarnyalah tidak tahu apa-apa. Mereka hanyalah pengikut saudara tua kakak beradik dari Pesisir Endut itu.

“Mungkin mereka mendapat perintah untuk menutup mulutnya,” berkata Swandaru pada suatu saat.

Kiai Gringsing menggeleng sambil menjawab, “Menurut pengamatanku mereka benar-benar tidak tahu. Mereka hanya tahu bahwa mereka harus mengikuti orang Pesisir Endut itu membawakan dendamnya bagi Agung Sedayu dan Pangeran Benawa. Tapi mereka tidak mengetahui bahwa dendam mereka telah diarahkan bagi keuntungan orang-orang yang merasa dirinya pewaris kerajaan Majapahit yang kini tersembunyi di Pajang dan di antara beberapa orang berilmu di sekitar Pajang.”

Swandaru tidak menjawab. Tetapi masih nampak keragu-raguannya atas kebenaran pendapat gurunya itu. Menurut pendapat Swandaru, mereka akan dapat memberikan keterangan serba sedikit tentang yang akan dapat dipergunakan untuk menelusuri jalur yang meskipun paling jauh, menuju kearah yang dikehendakinya.

Namun akhirnya Swandaru menghentikan usahanya. Ia merasa bahwa tidak seorang pun yang mendukung usahanya. Agung Sedayu juga tidak.

“Persetan dengan mereka,” berkata Swandaru didalam hatinya, “jika dari mereka tidak akan dapat disadap keterangan apapun, kenapa mereka tidak diserahkan saja kepada Mataram atau Pajang sebagai penjahat apabila kami disini tidak diwenangkan menjatuhkan hukuman yang sesuai dengan kejahatan mereka?”

Tetapi Swandaru tidak dapat memaksakan kehendaknya. Ki Demang Sangkal Putung sendiri nampaknya masih membiarkan orang-orang itu menjadi beban yang menjemukan.

Sementara itu, Ki Waskita menjadi semakin gelisah menanggapi keadaan. Nampaknya orang-orang yang menyebut dirinya pewaris Kerajaan Majapahit itu menjadi semakin garang. Mereka mempergunakan kesempatan dan pihak yang manapun juga untuk mencapai maksudnya. Yang menjadi sasaran pertamamya adalah Agung Sedayu dan sudah barang tentu orang-orang lain pula kelak yang dianggap membantu tegaknya Mataram.

“Kiai Gringsing nampaknya masih acuh tidak acuh saja,” berkata Ki Waskita kepada diri sendiri.

Akhirnya Ki Waskita tidak tahan lagi. Ia mencari kesempatan untuk dapat bertemu dengan Kiai Gringsing tanpa orang lain.

“Kiai,” berkata Ki Waskita, “rasa-rasanya keadaan menjadi semakin gawat. Apakah Kiai masih belum tertarik untuk berbuat sesuatu?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam.

“Atau barangkali Kiai masih ingin menyusun ceritera yang lain lagi tentang diri Kiai? Aku sudah mendengar beberapa ceritera tentang diri Kiai.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Waskita. Yang terakhir aku sengaja menghindari pembicaraan tentang diriku. Karena itu aku telah ingkar, justru karena kehadiran Ki Widura. Bukan karena aku tidak percaya kepada Ki Widura, tetapi aku cemas bahwa pada suatu saat Ki Widura mengambil sikap sendiri sebagai bekas seorang prajurit yang tentu mempunyai wawasan dan perhitungan. Mungkin hal itu akan dibicarakan dengan Untara pada suatu saat, sehingga tindakan selanjutnya akan menyulitkan kedudukanku.”

“Jadi bagaimana menurut Kiai?”

“Aku pernah mengatakan tentang diriku. Aku pernah mengatakan suatu kebenaran. Tetapi aku masih, membatasi diri. Agar hal itu tidak akan sampai ke Pajang lewat siapapun juga, sehingga aku berusaha untuk menghindari orang-orang yang mungkin akan dapat menjadi saluran itu.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Kiai Gringsing memang terlalu lamban. Bahkan mungkin Kiai Gringsing benar-benar berusaha menghindarkan diri dari sentuhan masa lampaunya. Tetapi Ki Waskita tidak dapat memaksanya.

Yang menjadi sasaran perhatiannya kemudian adalah Agung Sedayu. Anak itu justru mengalami keadaan yang menyulitkan-nya diluar kehendaknya. Dendam dan kebencian seolah-olah tertumpuk kepadanya.

“Apakah aku dapat membantunya?” pertanyaan itu tiba-tiba saja tumbuh dihatinya, “bukan sekedar dalam perkelahian-perkelahian. Tetapi memberikan bekal kepadanya. Namun masih juga tergantung kepada gurunya. Apakah gurunya mengijinkan-nya.”

***

Namun dalam pada itu, di sebuah padepokan kecil yang terpencil di sela-sela bukit ditepi pantai Lautan Selatan, seseorang sedang dibakar dendam dan kebencian tiada taranya. Ia merasa terhina, bukan saja oleh kematian adik-adiknya selagi mereka berusaha membunuh Agung Sedayu yang oleh karena nasibnya yang buruk telah bertemu dengan Pangeran Benawa, tetapi lebih daripada itu, karena ia sendiri ternyata dapat dikalahkan oleh Agung Sedayu.

 “Kakang terlalu baik hati,” berkata saudara seperguruannya, “agaknya kakang menganggap anak muda yang bernama Agung Sedayu itu terlalu enteng, sehingga kelengahan itulah agaknya yang telah menjerumuskan kakang Carang Waja kedalam kekalahan yang menentukan itu.”

Orang yang bernama Carang Waja itu menggeram. Katanya, “Sikap itu adalah sikap yang sangat sombong. Dengan sikap itu, aku tidak akan dapat menang melawan Agung Sedayu.”

“Aku tidak tahu maksud kakang.”

adbm 117-02“Aku harus merasa bahwa ilmuku benar-benar masih belum menyamai ilmu Agung Sedayu. Bukan karena kelengahan atau sebab apapun. Jika aku tidak mau mengakui kekalahan itu, maka kekalahan-kekalahan berikutnya tentu akan menyusul.”

“Jadi maksud kakang?”

“Ilmuku harus bertambah sempurna. Atau dengan cara lain. Aku harus melawan Agung Sedayu tidak seorang diri, tetapi dengan kekuatan lain disisiku.”

“Maksud kakang, dengan demikian bukannya dengan perang tanding. Tetapi apakah kakang sudah bersedia merendahkan diri sedemikian untuk menebus kematian kedua anak gila itu? Sementara orang lain telah memanfaatkan dendam yang menyala dihati kakang.”

“Aku tahu,” jawab Carang Waja, “orang-orang Pajang yang gila dengan impian mereka tentang warisan Majapahit itu telah memanfaatkan aku. Tetapi aku tidak peduli. Aku hanya membalas dendam. Sementara itu aku masih akan menerima upah.”

“Kedua anak gila yang dibunuh oleh Raden Benawa itu, juga telah terjerat oleh ketamakannya. Mereka menjadi silau melihat upah yang telah ditawarkan kepada mereka oleh orang-orang Pajang, sehingga mereka justru telah mengorbankan nyawa mereka.”

“Aku tidak setamak mereka,” geram Carang Waja, “yang akan terjadi kemudian adalah permusuhan dari dua perguruan. Perguruan dari Sangkal Putung itu harus dibinasakan.”

Saudara seperguruannya memandang Carang Waja dengan ragu. Sebelum ia mengatakan sesuatu. Carang Waja sudah menyahut, “Aku tahu apa yang akan kau katakan. Dengan Agung Sedayu aku sudah dapat dikalahkan, apalagi dengan gurunya.”

Saudara seperguruannya tidak menyahut.

“Itu menjadi bahan pertimbanganku. Tetapi bukan mustahil bahwa seorang murid yang sudah sempurna ilmunya, akan dapat melampaui gurunya, meskipun aku tidak berpendapat demikian terhadap Agung Sedayu. Agaknya kemampuan Agung Sedayu memang perlu mendapat penjajagan. Apakah ia sudah berhasil menyamai tingkat gurunya, atau masih berada ditataran yang lebih rendah. Aku memang memerlukan keterangan tentang anak muda itu. Juga tentang beberapa orang lain yang berada di Sangkal Putung, jika sudah mendapatkan keterangan yang cukup tentang tataran ilmu mereka, maka aku akan dapat membuat perhitungan. Aku memang tidak boleh tergesa-gesa.

Saudara seperguruannya mengangguk-angguk. Lalu, “Tetapi bagaimana dengan Pangeran Benawa?”

Untuk sesaat Carang Waja terdiam. Terbayang dimatanya, seorang Pangeran yang masih muda, namun memiliki ilmu yang hampir sempurna. Meskipun demikian. Pangeran Benawa kadang-kadang melakukan pengembaraan dengan menyamar diri seperti orang kebanyakan, justru karena kejemuannya terhadap keadaan di istana dan kekecewaannya atas tingkah laku ayahandanya sendiri.

“Apakah menurut pertimbangan kakang. Agung Sedayu mempunyai kelebihan dari Pangeran Benawa? Jika demikian, maka Agung Sedayu adalah orang yang tidak ada duanya di Pajang.”

Carang Waja menggeleng lemah. Jawabnya, “Aku tidak tahu pasti. Aku kira memang sulit untuk mengerti tentang keduanya.”

Saudara seperguruannya mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Jadi apakah rencanamu untuk sementara kakang? Apakah kakang ingin berusaha membebaskan orang-orang kita yang tertangkap?”

“Biar saja mereka tertangkap. Apakah peduliku? Biar mereka dibunuh atau dicincang atau dipicis sekalipun? Mereka tidak akan dapat mengatakan apapun juga tentang aku dan hubunganku dengan orang-orang Pajang.”

“Kakang keliru. Orang-orang itu tentu akan dapat menunjukkan tempat kita sekarang ini. Agung Sedayu berusaha membalas dendam dengan dendam, mungkin ia dapat datang kemari dengan orang-orang pilihan di Sangkal Putung itu. Bahkan mungkin dengan sejumlah pengawal. Akan lebih celaka lagi jika Agung Sedayu berhasil menghubungi Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya.”

Carang Waja mengerutkan keningnya. Wajahnya nampak menjadi tegang. Katanya kemudian, “sebenarnya tidak sukar bagi mereka untuk menemukan tempat ini. Tetapi aku tidak akan tinggal disini sepeninggal dua anak-anak gila itu. Biarlah Pesisir Endut tetap tinggal seperti saat ini, ditunggui oleh beberapa orang yang tidak berarti. Aku akan tinggal diperguruanku sendiri yang mulai tumbuh dan berkembang. Aku akan membentuk diri menjadi orang yang lebih kuat dari sekarang untuk menghadapi Agung Sedayu.”

 “Apakah kakang mengira Agung Sedayu sudah tidak berkembang lagi?”

 “Aku kira ia sudah terlalu puas dengan ilmunya sekarang. Ia tidak sempat lagi menempatkan ilmunya lebih dalam, karena ia banyak terlibat dalam persoalan-persoalan dilingkungannya.”

 “Dengan demikian, berapa tahun waktu yang akan kakang perlukan untuk menyempurnakan diri? Dalam waktu yang panjang itu, perubahan yang pesat tentu telah terjadi di Pajang dan Mataram,” saudara seperguruan Carang Waja itu berhenti sejenak lalu, “mungkin dalam waktu yang panjang itu. Agung Sedayu telah dibunuh oleh orang-orang Pajang. Oleh orang-orang yang merasa dirinya pewaris Kerajaan Majapahit yang merasa dirintangi usahanya untuk menentukan sikap menghadapi Pajang dan Mataram.”

Carang Waja menarik nafas panjang. Ia memang dihadapkan kepada keadaan yang saling berkaitan. Tetapi dendam dihatinya benar-benar tidak akan dapat dikesampingkan.

Namun ia pun sadar, bahwa dendam itu tidak hanya menyala dihatinya dan membakar perguruannya. Tetapi ia pun sadar bahwa kematian-kematian yang terjadi oleh bekas tangan Agung Sedayu di banyak tempat itu pun telah membakar dendam pula dimana-mana.

“Kakang,” berkata saudara seperguruan Carang Waja, “jika kakang masih akan menunggu lagi, satu atau dua tahun. Sementara masih menjadi pertanyaan apakah Agung Sedayu tidak pula meningkatkan ilmunya, maka kakang tentu akan ketinggalan. Kecuali jika kakang memang hanya menginginkan kematian Agung Sedayu oleh tangan siapapun, bukan oleh orang-orang perguruan kita sendiri.”

“Aku akan membunuhnya,” geram Carang Waja. “aku tidak memerlukan waktu yang lama. Tetapi jika perlu, kita akan pergi bersama-sama.”

Saudara seperguruannya mengerutkan keningnya. Lalu katanya dengan nada rendah, “Kita memang orang-orang tamak. Kita sadar bahwa orang-orang Pajang telah memanfaatkan dendam dihati kita. Tetapi kita pun dengan sadar menerima segalanya dengan harapan untuk dapat menepuk dua ekor lalat sekaligus. Kematian Agung Sedayu sebagai pelepasan dendam yang membakar jantung, dan upah yang tidak sedikit yang dijanjikan oleh para perwira Pajang itu disamping pangkat dan jabatan yang akan kita terima jika mereka benar-benar mendapatkan kemenangan kelak.”

 “Aku mengerti,” jawab Carang Waja, “tetapi jangan terlalu diharapkan. Orang-orang Pajang adalah orang-orang licik. Mungkin mereka masih akan datang menemui kita dan berusaha memanfaatkan dendam itu. Tetapi kematian Agung Sedayu dan Benawa justru akan menyeret kita kedalam kesulitan. Kita harus bersedia menghadapi lawan yang lebih besar lagi, karena bagi orang-orang Pajang itu akan lebih mudah membunuh kita, untuk menghilangkan jejak dan mengingkari kesanggupan.”

 “Tetapi kenapa mereka tidak melakukan sendiri atas Agung Sedayu?”

 “Agung Sedayu adalah adik Untara. mereka tidak mau menerima akibat buruk, karena jika salah seorang dari mereka tertangkap, maka jalur itu akan membenturkan mereka pada kekuatan Pajang menghancurkan diri sendiri, pasukan Pajang akan sempat mengadakan pembersihan kedalam dengan menangkap orang-orang yang namanya akan dapat ditelusur. Karena itu, perwira-perwira yang licik itu lebih senang mempergunakan orang-orang diluar mereka sendiri. Dengan demikian jalur yang berbahaya itu akan mudah diputuskan.

Saudara seperguruan Carang Waja itu mengangguk-angguk. Dimatanya nampak dua api yang menyala didada Carang Waja. Dendam yang tiada taranya atas kematian kedua adiknya serta penghinaan atas kekalahannya, namun yang ternyata juga telah dibumbui oleh hubungan mereka dengan para perwira di Pajang yang menjanjikan upah dan pangkat yang tinggi.”

***

Dalam pada itu, dua orang yang lain, yang ikut serta mengalami kegagalan di Sangkal Putung, telah melaporkan pula kegagalan itu. Dengan nada tinggi ia berkata, “Sejak semula aku sudah tidak setuju dengan caranya.”

Seorang perwira yang lebih tua yang menerima laporan itu dengan kening yang berkerut bertanya, “Jika kau sudah tidak setuju dengan caranya, kenapa masih dilakukan juga?”

“Carang Waja ingin mendapatkan kepuasan oleh dendamnya. Ia ingin membunuh Agung Sedayu langsung dengan tangannya, sehingga ia minta diselenggarakan perang tanding.”

“Dan perang tanding itu berlangsung.”

“Ya, perang tanding itu berlangsung. Ternyata Carang Waja tidak dapat mengalahkan Agung Sedayu. Meskipun ia berhasil melarikan diri, tetapi kami berdua hampir saja menjadi korban dan tertangkap di Sangkal Putung.”

“Apakah setelah kekalahan Carang Waja, kalian tidak mengambil sikap lain, misalnya bersama-sama membunuh anak muda yang tanpa menghiraukan kedudukan perang karena perang tanding itu dilakukan oleh Carang Waja, tidak oleh kalian.”

Kedua orang perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun sebelum mereka mengatakan sesuatu, perwira yang lebih tua itu pun mendahului, “Agaknya kalian telah mencoba.”

Salah seorang dari kedua orang yang ikut ke Sangkal Putung itu menjawab tersendat-sendat, “Ya. Kami sudah mencoba.”

“Tetapi kalian tidak berhasil.” perwira itu berhenti sejenak, lalu, “Apakah Agung Sedayu benar-benar tidak dapat dikalahkan meskipun oleh dua orang perwira pilihan dari Paiang?”

“Aku kira Agung Sedayu bukannya anak iblis,” sahut salah seorang perwira yang ikut serta ke Sangkal Putung, “tetapi ternyata bahwa selain Agung Sedayu terdapat beberapa orang lain yang memiliki ihnu yang tinggi, termasuk guru Agung Sedayu.”

Perwira yang lebih tua itu mengangguk-angguk. Ia dapat menggambarkan seluruh peristiwa yang terjadi di Sangkal Putung. Seperti yang diceriterakan oleh kedua perwira yang mengikuti Carang Waja ke Sangkal Putung, seolah-olah terbayang apa yang telah terjadi dalam perang tanding antara Agung Sedayu dan Carang Waja.

“Agaknya Agung Sedayu benar-benar mempunyai kekuatan iblis. Bagaimana mungkin ia dapat mengalahkan Carang Waja. Jika semula ia sudah hampir mati, dalam benturan terakhir, tiba-tiba saja Carang Waja bagaikan lumpuh dengan sendirinya,” gumam perwira itu.

Namun kemudian, “Tetapi apakah kalian yakin, bahwa tidak ada kecurangan. Misalnya dengan diam-diam dan tersembunyi gurunya menyerang Carang Waja selagi ia hampir mengakhiri perang tanding itu?”

Kedua perwira itu menggeleng. Salah seorang menjawab, “Aku yakin tidak ada yang membantu Agung Sedayu, Ia memang mempunyai kekuatan tersembunyi yang dapat melumpuhkan lawannya.”

Perwira yang lebih tua itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Ternyata tugas kita akan menjadi sangat berat. Agung Sedayu hanyalah salah seorang saja dari mereka yang harus dibinasakan. Tetapi yang seorang itu pun justru telah menelan banyak sekali korban. Kita sudah memanfaatkan dendam bukan saja dari Pesisir Endut, tetapi juga dari orang-orang yang bersangkut paut dengan mereka yang telah dibunuh Agung Sedayu di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Tetapi kita tidak pernah berhasil.”

“Sebenarnya, kenapa kita bersusah payah memikirkan Agung Sedayu?” bertanya salah seorang perwira yang gagal di Sangkal Putung, “apakah Agung Sedayu merupakan penghalang utama dari rencana yang agung itu?”

“Sebenarnya yang harus dibinasakan adalah Raden Sutawijaya dan para pemimpin Mataram lainnya. Tetapi kehadiran Kiai Gringsing dan kedua muridnya akan dapat menimbulkan persoalan-persoalan tersendiri. Terutama yang bernama Agung Sedayu itu. Adalah jarang terjadi bahwa seorang Senopati berhasil membunuh tiga orang Senapati lawan yang setingkat dengan Telengan.” perwira itu berhenti sejenak, “nah, apakah orang semacam itu tidak harus mendapat perhatian khusus? Kita masih mengharap bahwa sanak kadang atau saudara seperguruan dari mereka yang terbunuh oleh Agung Sedayu itu akan menuntut balas. Kita akan memberikan dorongan dan memanfaatkan mereka seperti Carang Waja. Tetapi ternyata Carang Waja yang dapat mengguncang bumi itu pun gagal.”

“Dan kita akan berhenti sampai disini? Atau kita mempergunakan cara lain yang lebih baik?”

“Apakah cara itu?”

“Kita membawa pasukan segelar sepapan dengan diam-diam. Sangkal Putung kita hancurkan. Agung Sedayu kita bunuh bersama gurunya dan saudara seperguruannya itu.”

“Cara yang kasar sekali.”

“Kita dapat mempergunakan ciri-ciri perguruan yang pernah mendendam anak muda itu. Kita dapat mempergunakan pertanda padepokan Pesisir Endut misalnya, atau padepokan-padepokan lain. Atau bahkan kita dapat merubah diri menjadi perampok-perampok yang garang tanpa mengenal peri kemanusiaan.”

“Cara yang berbahaya sekali. Tetapi biarlah kita menunggu. Persoalan ini akan segera sampai kepada kakang Panji. Ia mempunyai wawasan yang luas. Bukan sekedar masalah Agung Sedayu. Sultan yang sakit-sakitan itu agaknya menjadi semakin lemah, sementara Sutawijaya menjadi semakin kuat. Bukan saja Mataram, tetapi juga pribadinya. Ia sering hilang dari rumahnya, mengembara unluk memperdalam dan menyempurnakan ilmunya, sehingga saat ini sulit untuk dapat mengambil perbandingan dari ilmunya seperti juga Pangeran Benawa dan Agung Sedayu. Tidak seorang pun yang mengetahui dengan pasti tataran ilmu ketiga orang itu. Sementara sikap mereka semakin mencemaskan kalangan kita di Pajang dan di tempat-tempat lain.”

Para perwira itu termangu-mangu. Ternyata anak pedepokan kecil itu telah menjadi perhatian kalangan istana Pajang dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Apalagi ia adalah adik Untara.

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s