ADBM2-119

<<kembali | lanjut >>

KI WASKITA,” berkata Agung Sedayu kemudian, “apakah dengan membiarkan mereka, persoalan ini telah dapat kita anggap selesai?”

“Tentu tidak Agung Sedayu. Tetapi kita tidak perlu menghiraukannya.”

“Ki Waskita, bagaimana jika kita berusaha menemui dan berbicara dengan mereka?”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “ Kita akan menunggu ngger. Mudah-mudahan tidak ada persoalan yang menjadi gawat. Pada suatu saat mungkin kita akan mendapat kesempatan untuk berbicara dengan mereka.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil.

Untuk sesaat keduanya telah berdiam diri. Masing-masing sedang merenungi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.

Namun sejenak kemudian Ki Waskita pun berkata, “Angger Agung Sedayu, sebenarnya masih ada yang ingin aku katakan. Mungkin dapat menjadi bahan pembicaraan kita di sepanjang jalan pulang.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya Dengan nada dalam ia bertanya, “ Tentang orang-orang itu?”

Ki Waskira menggeleng. Katanya, “Tentang Angger Agung Sedayu. Agar kedatangan Angger Agung Sedayu ke rumahku tidak sia-sia, maka aku ingin mencari cara bagaimana aku dapat membantu angger menyempurnakan ilmu yang telah angger miliki, sekaligus aku ingin menitipkan ilmu dari cabang perguruanku agar tidak menjadi punah, dan dengan serta merta dilupakan orang. Seperti angger ketahui, aku tidak akan dapat mewariskannya kepada Rudita.”

Sesuatu terasa bergejolak di hati Agung Sedyu. Pertentangan di dalam dirinya kembali menyala.

“Angger,” berkata Ki Waskita, “aku mengenal Angger Agung Sedayu dengan baik. Karena itu aku pun mengetahui bahwa angger menjadi ragu-ragu. Angger berdiri di antara dua sikap yang berbeda,” Ki Waskita berhenti sejenak, lalu. “tetapi sebaiknya angger dapat melihat kembali sikap angger sejak angger masih sangat muda. Apakah ilmu yang kemudian angger miliki itu dapat angger manfaatkan bagi sesama atau sebaliknya, meskipun akibatnya justru menggelisahkan angger sendiri.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi sekilas seolah-olah ia melihat perjalanan hidupnya, sejak ia masih dibayangi oleh ketakutan melihat gendruwo bermata satu pada sebatang pohon randu alas di pinggir jalan antara Jati Anom dan Sangkal Putung. Bagaimana ia menjadi ketakutan, dan gemetar mendengar seseorang menyebut harimau putih di Lemah Cengkar.

Namun kemudian, ketika ia memiliki ilmu kanuragan, maka ia merasa mempunyai tanggung jawab bagi keselamatan sesama. Meskipun hanya setitik, ia pernah memberikan perlindungan bagi sesamanya.

“Angger Agung Sedayu,” berkata Ki Waskita kemudian, “adalah suatu bentuk pengorbanan, jika angger kemudian selalu merasa dibayangi oleh dendam dan kebencian. Yang telah angger berikan tentu sangat berharga bagi mereka yang merasa dirinya bebas dari bahaya dan mungkin justru cengkaman maut.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia masih tetap dibayangi oleh keragu-raguan. Namun yang dikatakan oleh Ki Waskita itu berhasil menyusup ke dalam hati.

“Bukankah angger telah bersedia datang ke tempat ini?” tiba-tiba saja Ki Waskita bertanya.

Agung Sedayu termangu-mangu. Keterangan Ki Waskita tentang Rudita lah yang telah menumbuhkan kebimbangan dan keragu-raguan di hatinya. Namun tiba-tiba Ki Waskita memberikan kemungkinan lain. Sehingga dengan demikian Agung Sedayu menjadi bingung menanggapi sikap orang tua itu disamping keragu-raguannya sendiri.

Ki Waskita pun mengerti, bahwa sikapnya telah membuat Agung Sedayu menjadi bingung, sehingga anak muda itu tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.

 “Angger Agung Sedayu,” berkata Ki Waskita, “baiklah aku berterus terang agar tidak menumbuhkan keragu-raguan yang semakin dalam di hati Angger Agung Sedayu. Sebenarnyalah aku ingin memberikan sedikit pengetahuan yang barangkali perlu bagi angger. Tetapi aku tidak dapat menurunkannya langsung, justru karena di rumah ada Rudita.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Kemudian hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Jadi maksud Kiai, kita akan pergi ke tempat lain?”

Tetapi ternyata Ki Waskita menggeleng. Jawabnya, “Tidak ngger. Kita tidak akan pergi kemanapun.”

“Jadi bagamana hal itu dapat terjadi?” bertanya Agung Sedayu.

“Itulah yang akan aku katakan sekarang,” Ki Waskita berhenti sejenak, lalu katanya, “aku rasa, tidak ada orang lain di sekitar kita. Aku berharap bahwa tidak ada telinga yang mendengar keterangan selain angger sendiri.”

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Diluar sadarnya ia memperhatikan keadaan di sekitarnya. Ternyata ia pun tidak mendengar apapun juga selain gemerisiknya angin yang lembut.

“Tidak ada gerumbul di pinggir jalan di tempat ini,” berkata Ki Waskita.

“Ya,” sahut Agung Sedayu dengan serta merta.

Tiba-tiba langkah Ki Waskita terhenti, sehingga Agung Sedayu pun berhenti pula. Keningnya mejadi berkerut ketika ia melihat wajah Ki Waskita yang nampak menjadi bersungguh-sungguh.

“Angger Agung Sedayu,” Ki Waskita berkata perlahan-lahan, “aku memang tidak akan dapat menyakiti hati Rudita dengan memperlihatkan caraku menurunkan ilmu kepada angger. Aku tidak dapat dengan semata-mata mewariskan ilmu kanuragan yang tidak dapat dimengertinya, bahwa ilmu itu pun dapat berguna bagi sesama apabila kita dapat mempergunakannya dengan tepat.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Tetapi ia tidak membantah, meskipun ia tahu bahwa yang dikatakan oleh Ki Waskita tentang anaknya itu tidak tepat.

“Karena itu ngger, maka aku telah menentukan cara yang lain,” Ki Waskita berkata selanjutnya, “aku mempunyai sebuah kitab rontal yang barangkali berguna bagi Angger Agung Sedayu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Barulah ia menyadari, apa yang harus dilakukannya.

“Jadi, Ki Waskita ingin memberikan atau meminjamkan kitab itu kepadaku?”

Agung Sedayu menjadi heran ketika ia melihat Ki Waskita menggeleng. “Maaf ngger. Kitab itu adalah kitab yang sangat berharga bagiku. Karena itu, aku saat ini belum dapat meminjamkan, apalagi memberikan kepada orang lain. Apalagi kita mengetahui, bahwa banyak mata memandang ke arah Angger Agung Sedayu dan banyak telinga yang mendengarkan tentang Angger Agung Sedayu.”

Kembali Agung Sedayu menjadi bingung. Tetapi ia tidak bertanya. Ia menunggu penjelasan yang tentu akan diberikan oleh Ki Waskita.

“Angger, jika angger membawa kitab itu, maka angger tentu akan terancam. Bahkan kemungkinan kitab itu akan jatuh ketangan orang lain yang tidak seharusnya memilikinya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih tetap bingung.

“Maksudku ngger,” Ki Waskita ternyata benar-benar memberikan penjelasan, “aku ingin memberikan kesempatan Angger Agung Sedayu membaca dan mempelajari isinya. Tentu tidak seluruhnya, karena ada beberapa bagian yang sudah kau kuasai meskipun dari sudut pendekatan yang berbeda.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar kehendaknya ia bergumam, “Jadi itu berarti bahwa aku harus tinggal di rumah Ki Waskita untuk waktu yang sangat lama.”

“Aku tidak berkeberatan jika kau tinggal di rumahku untuk satu atau dua tahun. Tetapi tentu tidak mungkin. Kiai Gringsing tentu akan menjadi gelisah dan cemas. Karena itu, maka angger cukup tinggal di rumahku barang empat atau lima hari saja.”

“Apakah artinya empat atau lima hari itu bagi mendalami ilmu yang pelik itu Ki Waskita.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tahu, Angger Agung Sedayu adalah seorang yang sangat cerdik dan cerdas. Tatapan mata Angger Agung Sedayu tidak ubahnya seperti tatapan mata seekor ular bandotan.”

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar.

“Bukan dalam arti buruk ngger. Angger sudah dapat memusatkan ilmu yang angger miliki pada kekuatan sorot mata yang mempunyai sentuhan wadag. Bahkan lebih dari itu. Pada suatu saat kekuatan sorot mata angger bukannya sekedar merupakan tekanan dan lontaran panasnya bara pemusatan indera, tetapi pada suatu saat sorot mata angger akan mempunyai daya dorong dan pegangan melampaui kekuatan tangan raksasa. Kekuatan mata angger akan dapat meremas, menggenggam dan melontarkan gunung anakan.”

“Ah,” desah Agung Sedayu, “itu sangat berlebih-lebihan.”

“Mungkin memang berlebih-lebihan ngger, tetapi aku memang ingin mengatakan, betapa kekuatan itu telah mulai angger rintis dan mulai angger ketemukan. Tetapi seperti seorang yang memasuki sebuah goa yang gelap, angger hanya tahu, bahwa angger sudah ada didalam karena pintunya tebuka. Tetapi angger belum tahu, bagaimanakah seharusnya angger membuka pintunya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Semakin dalam ia mempelajari ilmu, maka semakin banyak yang terasa belum dikenalnya.

“Tetapi ngger, aku kira ada yang penting yang angger miliki. Angger adalah seseorang yang mempunyai kenangan yang sangat kuat. Mungkin angger melupakan kamus ikat pinggang yang baru saja angger letakkan, tetapi aku yakin, bahwa angger tidak akan melupakan sesuatu yang angger anggap penting. Seperti seekor ular yang tidak akan pernah kehilangan bayangan dikepalanya tentang sesuatu yang pernah dilihatnya, seolah-olah bayangan penglihatannya tercetak didinding kepalanya.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ia mencoba untuk mengerti isi dari kata-kata Ki Waskita. Karena itulah maka ia mencoba untuk menilai kemampuan ingatannya sendiri. Apakah benar bahwa ingatannya atas sesuatu yang pernah dilihatnya dan menarik perhatiannya memang sangat tajam.

Sekilas terbayang masa masa lampaunya yang tidak seperti dikatakan oleh Ki Waskita. Ia tidak dapat mengingat semua yang pernah dialaminya.

“Tidak ada bedanya dengan orang lain,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya, “setiap orang tentu dapat mengingat sebagian dari peristiwa yang pernah dialaminya. Sedangkan sebagian yang lain terlupakan.”

“Anak mas,” berkata Ki Waskita kemudian, “cobalah kau menilai dirimu sendiri.”

“Ki Waskita,” jawab Agung Sedayu, “Aku kira, tidak ada yang berbeda dengan orang lain. Aku tidak dapat mengingat seluruh peristiwa dalam hidupku.”

Ki Waskita tensenyum. Katanya, “Memang tidak Agung Sedayu. Kau tentu tidak akan menaruh perhatian yang sama terhadap setiap peristiwa didalam hidupmu. Tetapi pada suatu saat kau tentu pernah melihat sesuatu yang telah mencengkam segenap perhatianmu. Cobalah kau ingat apakah ada sesuatu yang membekas dalam ingatanmu, seperti saat kau mengalaminya.”

Agung Sedayu merenung sejenak. Tiba-tiba saja ia mencoba mengenang kembali apa yang pernah dilakukannya disaat yang penting selama ia memperdalam ilmunya.

“Goa itu,” Agung Sedayu berkata didalam hatinya. Hampir ia terlonjak. Seolah-olah ia masih berada didalam goa itu. Seakan-akan ia melihat jelas, lukisan dan petunjuk-petunjuk yang terpahat didinding goa. Suatu urut-urutan tataran yang harus dipelajari dan dikuasai untuk mencapai tingkat ilmu yang sempurna dalam cabang perguruan Ki Sadewa.

“Aku melihatnya kembali didalam angan-angan,” gumam Agung Sedayu.

“Apa?” bertanya Ki Waskita.

“Lukisan yang terpahat didinding goa itu.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah mengira, bahwa kau memiliki kurnia alam itu. Ketajaman ilmu bidikmu, kemampuan sentuhan tatapan matamu seperti sentuhan wadag yang sangat perkasa, dan sifat-sifatmu yang lain, menunjukkan bahwa kau memang seorang yang memiliki kekuatan alami yang tidak lain adalah kurnia dari Yang Maha Agung kepadamu. Ternyata bahwa kau memiliki daya tangkap yang sangat tajam pula, sehingga sesuatu yang menarik perhatianmu, akan-terpahat didalam ingatanmu seutuhnya seperti saat kau menyaksikannya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dalam waktu yang singkat, ia masih meyakinkan, apakah benar kata-kata yang diucapkan oleh Ki Waskita itu.

Ternyata bahwa seperti gambar yang terpancang di hadapannya yang nampak jelas berurutan, seolah-olah ia sedang menghadapi pertunjukkan wayang beber yang dibawakan oleh seorang dalang yang dikenalnya baik-baik, yaitu dirinya sendiri, yang membawakan ceritera tentang seorang lakon yang dikenalnya sebaik dalangnya, dirinya sendiri pula.

Agung Sedayu melihat, dari satu saat kesaat berikutnya pada bagian-bagian yang penting dari seluruh hidupnya. Yang dianggapnya tidak berbeda dengan orang lain, bahwa ada yang dapat diingat dan ada yang dilupakannya, ternyata mempunyai beberapa perbedaan. Ia pun kemudian sadar, bahwa pada saat-saat peristiwa yang terjadi itu memberikan kesan yang dalam dihatinya, maka semakin jelas ingatan itu terpaleri diangan angannya. Sehingga Agung Sedayu pun berkesimpulan, perhatiannya atas sesuatu yang terjadi, seperti pahatan yang dibuatnya pada sebuah batu padas. Semakin dalam ia menghunjamkan pahatnya, maka bekasnya akan menjadi semakin jelas dan tidak mudah terhapus oleh peristiwa-peristiwa berikutnya.

“Apakah kau sudah menemukan kemampuan yang ada pada dirimu sendiri ngger?” bertanya Ki Waskita kemudian.

Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“Nah, jika demikian, maka baiklah aku berterus terang tentang rencanaku. Aku ingin meminjamkan kitab itu kepadamu. Bacalah dan perhatikan dengan saksama. Goreskan setiap garis yang ada pada rontal itu di dinding ingatanmu dalam-dalam, sehingga tidak akan mudah terhapus. Tentu kau tidak akan dapat memahami isinya dalam waktu singkat. Tetapi itu memang tidak perlu. Yang perlu kau lakukan adalah mengingat apa yang tertulis dan terlukis. Baru kemudian, di saat yang panjang kau dapat mempelajari dan mencari makna dari isi kitab itu. Sehingga pada suatu saat, kau akan menguasai isi dari buku itu dengan sempurna, bukan saja sekedar ingatan tentang bunyi yang tertulis dan sikap serta gerak yang terlukis, tetapi kau benar-benar seorang yang memiliki ilmu itu dengan segenap sifat dan wataknya, menguasainya seperti kau menguasai batang tubuhmu sendiri.”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Terasa sesuatu bagaikan mengguncang isi dadanya.

Ternyata bahwa Ki Waskita telah benar-benar melimpahkan kepercayaan kepadanya, ia diperkenankan melihat isi kitab yang merupakan sumber ilmu dari perguruan yang dianut oleh Ki Waskita dalam olah kanuragan dan kajiwan. Meskipun Agung Sedayu mengerti, bahwa dalam mempelajari ilmu kanuragan dan kajiwan itu menyangkut keserasian hubungan timbal balik antara ilmu dan pribadi, namun seseorang akan mempunyai kesempatan yang luas dengan kesempatan yang diterimanya. Mungkin ia tidak akan dapat memiliki kemampuan untuk mengetahui isyarat pada penglihatan di masa mendatang seperti yang dimiliki Ki Waskita, karena didalam dirinya tidak ada wadah yang sesuai dengan penyadapan ilmu itu. Namun ia akan dapat mengetahui bagimana hal itu dapat terjadi. Demikian pula bagian yang lain yang termuat didalam kitab itu.

Ki Waskita mengerti, bahwa ada guncangan yang terjadi didalam diri anak muda itu. Kesempatan itu merupakan kesempatan yang besar sekali artinya bagi masa depannya. Tetapi kesempatan itu juga merupakan suatu hentakan yang harus dapat tembus dari batas keragu-raguannya.

Sejenak keduanya saling berdiam diri. Tetapi kaki mereka masih melangkah perlahan-lahan diatas jalan persawahan. Beberapa puluh langkah lagi mereka akan memasuki padukuhan yang tidak begitu besar, tetapi juga bukan padukuhan yang kecil. Padukuhan tempat tinggal Ki Waskita yang banyak dikenal orang sebagai seorang yang mengetahui apa yang terjadi, meskipun Ki Waskita sendiri tidak merasa demikian. Ki Waskita hanya merasa menerima karunia untuk melihat isyarat-isyarat yang dapat diuraikannya. Tetapi tidak sejelas melihat peristiwa-peristiwa itu terjadi.

Beberapa saat kemudian barulah Agung Sedayu berkata, “Ki Waskita. Aku tidak dapat mengatakan, betapa besar terima kasihku atas kepercayaan yang Ki Waskita limpahkan kepadaku dengan memberikan kesempatan yang sangat luas itu.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku pun berterima kasih kepadamu ngger. Dengan demikian aku telah mendapat kesempatan untuk menitipkan kelanggengan ilmu itu kepada Angger Agung Sedayu. Aku tidak dapat berbuat demikian bagi anakku, karena ia telah menemukan sikap yang berbeda, yang karena keyakinannya tidak akan dapat dirubah lagi, meskipun aku mengakui bahwa sikapnya adalah sikap yang lebih luhur dari sikapku dan sikap kita semuanya yang masih mempercayakan diri dan beramal dengan sikap-sikap yang disebut kekerasan.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya, sementara Ki Waskita melanjutkan, “Aku tidak tahu, apakah yang akan aku lakukan dengan kitab itu kelak, karena aku sadar, bahwa umurku pada suatu saat akan mencapai batasnya.”

Agung Sedayu masih tetap berdiam diri.

“Nah,” berkata Ki Waskita kemudian ketika mereka sampai di mulut lorong memasuki regol padukuhan, “kita sudah selesai dengan pembicaraan kita. Aku akan memberikan kitab itu nanti menjelang pagi. Terserah kepadamu, saat-saat yang manakah yang akan angger pilih untuk melihat isinya dan memahatnya di dinding hati Angger Agung Sedayu. Aku yakin bahwa dengan demikian isi kitab itu akan tetap terpateri untuk selama-lamanya. Sementara dari satu saat kesaat berikutnya, kau dapat membacanya dan mempelajarinya langsung dari pahatan yang tergores di hatimu tanpa memerlukan kitab itu lagi.”

“Terima kasih Kiai.” Suara Agung Sedayu menjadi semakin dalam.

“Tetapi aku mohon, bahwa yang angger lakukan itu janganlah mengusik ketenangan hati Rudita.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti maksud Ki Waskita. Rudita jangan mengetahui apa yang dilakukannya dengan kitab itu.

Betapa berat hati Agung Sedayu karena ia harus berbuat sesuatu dengan diam-diam dan seolah-olah bersembunyi dari penglihatan Rudita, namun ia pun mengangguk sambil menjawab, “Aku akan berusaha Ki Waskita.”

“Terima kasih ngger. Ia tidak akan mengira bahwa dalam waktu yang sangat singkat, isi kitab itu sudah kau miliki meskipun belum kau temukan maknanya.”

“Aku akan selalu mengingatnya Ki Waskita.” jawab Agung Sedayu.

Ki Waskita tidak menyahut. Keduanya telah memasuki regol padukuhan. Digardu nampak beberapa orang peronda duduk dibibir gardu, sementara yang lain telah tidur mendekur.

“Selamat malam Ki Waskita,” desis salah seorang peronda itu.

Ki Waskita tersenyum. Ia mendekati gardu itu sambil melihat anak-anak muda yang tidur nyenyak.

“Siapa saja?” bertanya Ki Waskita.

“Anak-anak malas,” jawab peronda yang duduk dibibir gardu.

Ki Waskita tertawa. Sambil melangkah pergi ia berkata, “Tentu mereka terlalu kenyang makan di sore hari.”

Yang lain tertawa pula. Salah seorang berkata, “Mereka baru saja pulang sambatan dan menghabiskan semua yang disuguhkan kepada mereka.”

Suara tertawa meledak. Ki Waskita pun tertawa pula sambil melangkah pergi.

Tidak banyak lagi yang dibicarakan antara Ki Waskita dan Agung Sedayu. Mereka tidak mau pembicaraan mereka didengar oleh orang lain. Bahkan oleh keluarga mereka sendiri, atau oleh Glagah Putih.

Sampai di rumah Ki Waskita pun mereka tidak lagi menyebut tentang kitab itu. Glagah Putih yang belum tidur, menyongsong Agung Sedayu dipintu bilik sambil bertanya, “Apa yang penting kakang?”

Agung Sedayu mengibaskan kain panjangnya sambil berkata, “Kainku basah. Ketika aku mencuci kaki dipakiwan, ujung kainku tercelup di jambangan.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Agung Sedayu tidak mau menjawab pertanyaannya, sehingga ia pun mengerti, bahwa yang dibicarakan dengan Ki Waskita tentu sesuatu yang bersifat rahasia.

“Aku lelah Glagah Putih,” berkata Agung Sedayu kemudian, “apakah kau masih belum ingin tidur?”

Glagah Putih menarik nafas panjang. Terasa ada semacam kekecewaan yang tergores dihatinya. Tetapi Agung Sedayu tidak dapat berbuat sesuatu. Ia tidak dapat mengatakan, apa yang baru saja dibicarakannya dengan Ki Waskita. Karena itulah maka ia berpura-pura saja tidak mengetahui, bahwa ada sesuatu yang bergejolak dihati adik sepupunya.

Glagah Putih pun kemudian berbaring dengan gelisah. Agung Sedayu yang berbaring disisinya telah memejamkan matanya. Nafasnya telah berjalan teratur. Dan sejenak kemudian, Agung Sedayu itu pun telah tertidur.

Betapapun gelisahnya, namun akhirnya Glagah Putih pun kemudian tertidur pula. Kegelisahannya ternyata telah dibawanya didalam mimpi, sehingga kadang-kadang ia berdesah pelahan-lahan.

Agung Sedayu yang sebenarnya masih belum tidur, telah membuka matanya. Perlahan-lahan ia bangkit. Dipandanginya wajah adiknya yang buram dengan iba hati. Tetapi ia terikat pada suatu keharusan untuk tetap berdiam diri.

Seperti yang telah dijanjikan, ketika malam menjadi semakin dalam dan sepi, terdengar desir langkah halus mendekati biliknya. Di kejauhan terdengar kokok ayam yang bersahut-sahutan.

Agung Sedayu pun bangkit dan membuka pintu biliknya perlahan-lahan. Ia melihat Ki Waskita berdiri dengan sebuah kitab di tangannya.

Sejenak Ki Waskita termangu-mangu. Seolah-olah masih ada sesuatu yang meragukannya untuk memberikan kitab rontal itu.

Namun kemudian ia berkata, “Terimalah anakmas. Inilah kitab yang aku katakan. Ada beberapa bagian yang tercantum didalam kitab itu, yang tentu semuanya tidak dapat angger anggap sesuai dengan pribadi angger. Terserahlah, yang manakah yang angger anggap sesuai, tentu angger yang lebih tahu dari orang lain.”

Agung Sedayu menjadi tegang. Namun kemudian ia mengangkat tangannya sambil berkata, “Terima kasih Ki Waskita. Aku akan berusaha sejauh dapat aku lakukan untuk menerima kemurahan hati Ki Waskita.”

Ketika Agung Sedayu menerima kitab itu. terasa tangannya gemetar secepat getar jantungnya. Dengan menerima kitab itu, satu kewajiban yang berat dan mendebarkan harus dilakukannya. Ia harus berusaha tidak mengecewakan orang yang telah memberikan kepercayaan kepadanya itu.

Ki Waskita tidak memberikan pesan lebih banyak lagi. Ketika kitab itu sudah berada di tangan Agung Sedayu, maka katanya, “Terserahlah kepadamu. Setelah kau selesai, kembalikan kitab itu kepadaku. Aku tahu, bahwa kau tentu belum mendapatkan banyak manfaat dari kitab itu kecuali mengingat isinya. Baru kemudian kau akan mendapat kesempatan untuk mendalami tanpa memerlukan kitab ini lagi.”

Agung Sedayu mengangguk sambil bergumam, “Terima kasih Ki Waskita.”

Ki Waskita pun kemudian meninggalkan Agung Sedayu yang termangu-mangu. Namun Agung Sedayu pun segera menyadari dirinya, bahwa ia telah memegang sesuatu yang sangat berharga. Kitab itu akan dapat mempunyai arti yang berlawanan apabila jatuh di tangan yang berbeda sikap, pendirian dan pandangan hidupnya. Isi dari kitab itu akan bermanfaat bagi kemanusiaan dan beradaban, tetapi dapat pula menjadi guncangan yang gawat bagi tata kehidupan manusia.

Agung Sedayu pun kemudian kembali masuk kedalam biliknya. Perlahan-lahan ia menutup dan menyelarak pintunya.

Sejenak ia berdiri disisi pembaringan. Dipandanginya Glagah Putih yang masih tertidur nyenyak.

Ada sesuatu yang mendorongnya untuk membuka kitab itu. Perasaan ingin tahunya tidak dapat dikekangnya lagi. Sehingga karena itu, maka ia pun kemudian duduk menghadapi bancik lampu minyak didalam bilik itu.

Perlahan-lahan kitab itu dibukanya. Tangannya yang gemetar menjadi semakin gemetar. Ia sadar, bahwa ia harus mempunyai ingatan yang urut terhadap kitab itu.

Karena itulah, maka ia tidak mau membuka asal saja membuka kitab rontal itu. Ia membuka sejak halaman yang pertama dan satu demi satu halaman itu ditatapnya dengan tajamnya. Kata demi kata dibacanya, dan lukisan demi lukisan dipahatkannya didinding kenangannya.

Tetapi Agung Sedayu tidak perlu tergesa-gesa. Ketika Glagah Putih menggeliat, maka ia pun menutup kitab yang baru dibacanya dua helai itu, yang sama sekali masih belum menyinggung isinya, karena yang dua helai itu baru merupakan pendahuluan dan sekedar mempekenalkan kepada pembacanya, siapakah yang menyusun kitab itu.

Ternyata Glagah Putih tidak terbangun. Meskipun demikian. Agung Sedayu telah menyimpan kitabnya di tempat yang tidak akan dapat diketahui oleh siapapun didalam bilik itu.

Sambil duduk dibibir pembaringan Agung Sedayu mencoba, apakah benar yang dikatakan oleh Ki Waskita, bahwa yang telah dilihatnya pada rontal itu seolah-olah telah terpahat didinding hatinya.

Dengan pemusatan pikiran, maka Agung Sedayu ternyata telah berhasil melihat kembali helai-helai rontal itu seperti ia masih menggenggamnya. Ia melihat kalimat demi kalimat. Huruf demi huruf dan garis demi garis. Ia dapat melihat segores luka pada rontal itu. Dan ia pun melihat setitik noda di sudut.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia benar-benar dapat menyadap dari penglihatannya seutuhnya apa yang pernah dilihatnya dengan penuh minat dan pemusatan pikiran.

Lebih daripada itu, maka isi helai-helai pertama dari kitab itu telah menarik perhatiannya, yang membawa sebuah nama yang tercantum pada kata pengantar kitab itu.

Bahwa saat bintang yang cahayanya seperti seribu obor yang menyala dilangit, seorang pertapa yang telah menjauhkan diri dari libatan pengaruh duniawi, dan yang telah mendekatkan diri pada sangkan paraning dumadi, yang diberi pertanda oleh Yang Maha Sakti dengan gelar Empu Pahari, telah menerima wisik didalam mimpi menjelang fajar menyingsing, bahwa tangannya akan menjadi lantaran turunnya ilmu yang akan diwarisi oleh para sakti yang mendapat anugerah sejati, untuk diamalkan sesuai dengan tetesan hati yang bening dalam kasih. Dan mereka yang mewarisi diatas alas kebenaran akan menjadi pelita yang dapat menerangi kegelapan di sekitarnya. Akan terdengar sorak sorai kegembiraan dihati sesama yang dilindunginya dan akan terdengar gemeretak gigi dan tangis kehancuran bagi mereka yang terkena azabnya karena langkah yang sesat. Terpujilah Yang Maha Benar.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

Dari pengantar itu ia mengetahui sebuah nama di jaman yang telah jauh lampau. Empu Pahari, yang telah menyusun kitab itu. Yang telah mencoba menuangkan ilmu kedalam sebuah kitab rontal yang turun temurun sampai kepada Ki Waskita.

Ternyata Agung Sedayu telah terlarik untuk membaca seluruh isi kitab itu, dan memahatkannya di dinding hatinya. Meskipun kemudian kitab itu tidak berada di tangannya lagi, namun itu sama sekali tidak akan berpengaruh lagi atasnya, karena la akan tetap dapat melihat seluruh isinya untuk diketemukan maknanya dan kemudian seperti yang diharapkan oleh penyusun kitab itu, adalah penganmalannya.

Agung Sedayu telah mengangguk-angguk diluar sadarnya, seolah-olah ia baru saja menemukan sesuatu yang paling sesuai baginya di sepanjang perjalanan hidupnya.

Agung Sedayu sadar dari angan-angannya ketika ia melihat Glagah Putih sekali lagi menggeliat. Tetapi anak itu benar-benar telah terbangun dan membuka matanya.

“Kau sudah bangun kakang?” bertanya Glaguh Putih.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ternyata Glagah Putih telah terbangun sebelum ia sendiri sempat tidur barang sejenak.

Tetapi Agung Sedayu menjawab, “Ya Glagah Putih. Aku sudah terbiasa bangun pagi-pagi sekali. Bukankah begitu?”

“Apakah aku bangun terlalu siang kali ini?”

“Tidak,” cepat-cepat Agung Sedayu menggeleng, “hari masih sangat pagi. Akupun baru saja terbangun.”

Glagah Putih pun kemudian duduk pula. Tetapi ia menjadi gelisah ketika ia mendengar senggot timba berderit.

“Aku bangun kesiangan,” katanya, “sudah ada orang menimba air di belakang.”

“Tetapi kita sekarang adalah tamu,” desis Agung Sedayu.

“Apa salahnya aku mengisi jambangan di pakiwan?”

Agung Sedayu tersenyum. Adik sepupunya memang seorang yang rajin. Ia senang melakukan pekerjaan apapun juga yang dapat dikerjakannya.

Disiang hari, Agung Sedayu sama sekali tidak berbuat sesuatu. Nampaknya ia benar-benar sedang beristirahat. Kerjanya ikut serta Rudita pergi kesawah. Duduk di gubug kecil sambil ikut makan kiriman ditengah hari.

adbm 119-01Tetapi dimalam hari, jika Glagah Putih telah tertidur, dan seisi rumah telah nyenyak pula, maka mulailah ia mengamati isi kitab rontal yang diberikan oleh Ki Waskita kepadanya. Dengan tekun ia membaca dan memahatkan isinya dihatinya. Dengan memusatkan inderanya, maka seolah-olah ia telah memindahkan setiap huruf yang tertulis didalam kitab itu kedalam rangkuman ingatannya untuk selama-lamanya.

Kitab yang diberikan oleh Ki Waskita bukannya kitab yang tebal. Isinya tidak terlalu banyak, menurut jumlah hurufnya. Tetapi maknanya tiada terkirakan luasnya. Seluas lautan yang menampung setiap arus air dari daratan. Seperti langit yang menyimpan angin yang bergeser lembut, tetapi juga prahara yang mengguncang gunung.

Dada Agung Sedayu bagaikan terhimpit oleh sepasang batu sebesar belahan bumi. Pepat dan bagaikan remuk karena hubungan kalimat-kalimat yang terdapat didalam kitab itu.

Namun Agung Sedayu menghindarkan diri dari setiap sentuhan makna isi kitab itu. Seperti pesan Ki Waskita, ia hanya melihat huruf-hurufnya, menghafal bunyi kata-katanya. Ia tidak ingin dadanya pecah sebelum ia mempersiapkan diri untuk mulai mengamati makna isi kitab rontal itu.

Meskipun demikian, kadang-kadang jantungnya telah tergetar bagaikan akan meledak.

Untuk menyelesaikan seluruh kitab itu, Agung Sedayu tidak memerlukan waktu yang lama. Ia membaca sejak malam menjadi sepi. Dan ia baru berhenti ketika Glagah Putih mulai menggeliat bangun.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu setiap malam sama sekali tidak tidur sekejap pun.

Namun dengan demikian ia cepat menyelesaikan tugasnya. Pada hari yang ke empat, maka badannya mulai nampak lemah. Bukan saja karena ia sama sekali tidak tidur empat malam berturut-turut. Daya tahan tubuhnya cukup kuat meskipun ia harus berjaga-jaga sepekan atau dua pekan sekalipun. Tetapi pemusatan inderanyalah yang membuatnya nampak letih sekali.

“Kau sakit kakang?” bertanya Glagah Putih dengan cemas.

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Aku tidak apa-apa.”

“Tetapi kakang nampak pucat dan lemah sekali.”

“Aku tidak apa-apa Glagah Putih. Mungkin udara terasa terlalu panas sehingga rasa-rasanya aku malas untuk keluar.”

“Kau makan sedikit sekali hari ini.”

Agung Sedayu tertawa sambil mengusap kepala adik sepupunya. Katanya, “Kau aneh. Aku tidak apa-apa.”

Glagah Putih tidak bertanya lagi meskipun ia tetap mencemaskan kesehatan kakak sepupunya.

Pada hari kelima, Agung Sedayu bertambah lemah. Ia tidak pergi ke sawah bersama Rudita. Bahkan yang tidak terbiasa dilakukan oleh Agung Sedayu, menjelang tengah hari, ia berbaring dipembaringannya.

Glagah Putih yang ikut bersama Rudita kesawah bertanya dengan cemas, “Rudita, apakah kau mengetahui, apakah sebabnya kakang Agung Sedayu menjadi nampak letih sekali? Matanya menjadi kemerah-merahan, sedangkan wajahnya menjadi pucat.”

Rudita tersenyum. Tetapi ia menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak mengerti Glagah Putih. Mungkin kakangmu kurang enak badan. Udara di Tanah Perdikan Menoreh tentu jauh lebih panas dari lereng Gunung Merapi yang sejuk.”

Glagah Putih mencoba mengingat-ingat, apakah benar Jati Anom udaranya lebih sejuk dari Tanah Perdikan Menoreh. Namun yang diketahuinya, di Tanah Perdikan Menoreh terdapat juga bukit-bukit, meskipun tidak setinggi Gunung Merapi. Sore hari terasa lebih panjang di Tanah Perdikan Menoreh, karena matahari tidak segera bersembunyi dibalik puncak Gunung.

“Apa yang kau renungkan?” bertanya Rudita.

“Aku tidak merasakan, bahwa udara di Jati Anom terasa lebih sejuk dari ditempat ini,” berkata Glagah Putih.

Rudita tertawa. Katanya, “Jangan hiraukan kakakmu. Ia tidak apa-apa. Ia mungkin memang letih. Tetapi ia tidak sakit.”

“Darimana kau tahu?”

“Aku hanya menduga. Bukankah kakakmu seorang yang memiliki daya tahan jasmaniah yang luar biasa?”

“Karena itu, seharusnya ia tidak mengalami keletihan seperti itu.”

Rudita menggeleng. Katanya, “Aku tidak tahu, dan aku tidak dapat bertanya kepadanya. Tetapi aku kira ia tidak apa-apa.”

Glagah Putih tidak bertanya lagi. Seperti biasa ia ikut duduk di gubug menunggui padi yang mulai mekar. Ketika seseorang mengirim makan dan minuman, ia pun ikut serta menghabiskannya.

Sementara itu, selagi keduanya sibuk mengunyah makanan sambil mengamati burung yang berterbangan mengintari persawahan yang mengombak kekuning-kuningan ditiup angin, seseorang telah berjalan menyusur pematang mendekati mereka.

Rudita dan Glagah Putih saling berpandangan sejenak. Dengan ragu-ragu Glagah Putih berbisik, “Siapa?”

Rudita menggeleng. Tetapi ia tidak menjawab karena orang itu sudah menjadi semakin dekat.

Seleret senyum membayang di wajah orang yang nampaknya sangat ramah itu. Dengan nada yang ramah pula ia bertanya, “Apakah aku boleh ikut duduk bersama kalian?”

“Silahkan,” Rudita beringsut setapak untuk memberi tempat kepada orang itu duduk di gubugnya pula.

“Siapakah Ki Sanak itu?” tiba-tiba saja Glagah Putih bertanya, “apakah kau juga orang padukuhan ini?”

Orang itu tersenyum. Dipandanginya Rudita sambil menyahut, “Nampaknya anak muda belum mengenal aku. Aku memang bukan orang padukuhan ini. Karena itu, maka Rudita pun belum mengenal aku pula.”

“Kau mengenal namaku?” bertanya Rudita.

“Dari petani-petani yang berada disawah aku mengenal kalian berdua. Rudita dan Glagah Putih. Tetapi aku menjadi heran, dimanakah Agung Sedayu? Biasanya kalian selalu bertiga. Menunggui burung bertiga. Ke pategalan bertiga, menyusuri air di parit bertiga. Aku tahu bahwa Agung Sedayu dan Glagah Putih bukan anak padukuhan ini pula.”

Rudita termangu-mangu. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kau mengenal kami bertiga dengan baik.”

“Ya. Sudah tentu, karena aku mengagumi kalian. Kalian adalah anak-anak muda yang luar biasa. Terutama Agung Sedayu. Apakah ia sudah kembali ke Jati Anom?”

Pertanyaan itu mencurigakan sekali. Meskipun Glagah Putih masih sangat muda, namun ia mulai merasa bahwa ada sesuatu yang nampaknya kurang wajar pada orang yang sangat ramah itu.

Namun selagi Glagah Putih masih menimbang-nimbang, Rudita telah menjawab tanpa prasangka sama sekali, “Agung Sedayu masih berada disini. Hari ini ia tidak ikut serta bersama kami. Nampaknya ia letih sekali.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Dengan sungguh-sungguh ia bertanya, “Apakah ia sedang sakit?”

Rudita menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Ia tidak sakit.”

“Apakah yang dilakukannya, sehingga ia menjadi letih sekali? Apakah ia berlatih olah kanuragan siang dan malam?”

Rudita termangu-mengu sejenak. Sementara itu Glagah Putihlah yang menjawab. “Aku tidak pernah melihat ia berlatih apapun juga. Mungkin ia sedang sakit.”

Orang itu mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja ia bangkit sambil berkata, “Sudahlah. Sebenarnya aku ingin bertemu barang sebentar. Tetapi ia tidak ada di antara kalian sekarang.”

“Siapakah kau?” sekali lagi Glagah Putih bertanya.

Orang itu menggeleng sambil tersenyum. Katanya, “Tidak ada gunanya kau mengetahui siapa aku. Sampaikan salamku kepada Agung Sedayu. Aku adalah sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu.”

Tanpa menunggu lagi, orang itu pun segera meninggalkan kedua anak muda itu didalam gubugnya sambil termangu-mangu. Dengan cepat ia meloncat-loncat dipematang. Semakin lama semakin jauh.

Namun ketika ia meloncati parit sampai ke jalan bulak, ternyata seseorang yang lain telah menunggunya. Keduanya berjalan dengan tergesa-gesa menjauh menyusuri bulak yang panjang.

Sepeninggal keduanya, maka Glagah Putih benar-benar telah dibayangi kecemasan. Dengan nada yang dalam ia berkata, “Mereka nampaknya mempunyai maksud tertentu terhadap kakang Agung Sedayu.”

Rudita tersenyum sambil menjawab, “Kenapa kau berprasangka? Keduanya adalah sahabat Agung Sedayu.”

“Aku tidak yakin. Orang itu tentu berbohong. Banyak orang yang mendendam kakang Agung Sedayu. Termasuk orang itu.”

Rudita bahkan tertawa. Katanya, “Glagah Putih. Kau masih sangat muda. Jangan mudah berprasangka.”

“Aku hanya berhati-hati. Mungkin keduanya bermaksud baik. Tetapi ada firasat yang mengatakan, bahwa keduanya bukan sahabat kakang Agung Sedayu.”

Rudita menggeleng. Katanya, “Jangan mudah berprasangka. Sebaiknya kita mempercayainya. Kau nampaknya dibayangi oleh kecemasan dan kegelisahan.”

Glagah Putih menjadi heran. Namun ia mencoba menjelaskan, “Rudita. Banyak orang yang tiba-tiba saja menyerang kakang Agung Sedayu. Mungkin karena kakang Agung Sedayu terlibat dalam pertempuran dibanyak tempat dan setiap kali ia telah membunuh lawannya, dikehendaki atau tidak. Sanak keluarga dan saudara saudara seperguruan orang-orang itu ingin membalas kematian mereka yang terbunuh oleh kakang Agung Sedayu dengan membunuh pula.”

Rudita mengerutkan keningnya. Ia melihat kejujuran dimata Glagah Putih. Yang dikatakannya itu tentu bukan sekedar prasangka.

“Kekerasan memang bukan jalan yang paling baik untuk menyelesaikan persoalan,” berkata Rudita kemudian. Namun ia pun mengerti bahwa ia tidak akan dapat banyak berbicara dengan anak yang mesih terlalu muda itu, karena didalam dadanya telah mulai tersimpan pengetahuan dan ilmu dasar tentang olah kanuragan.

“Jika Glagah Putih masih belum mulai,” berkata Rudita didalam hatinya, “dalam keadaan seperti keadaannya sekarang, maka harus banyak penjelasan yang diberikan kepadanya kenapa bukan kekerasan yang paling baik dilakukan dalam hubungan antara sesama.”

Glagah Putih termangu-mangu. Memang banyak hal yang tidak dimengertinya. Rudita bagi Glagah Putih adalah seorang yang aneh, seaneh Prastawa. Namun dalam keadaan yang jauh berbeda, bahkan berlawanan. Meskipun banyak yang tidak dimengertinya, namun sikap Rudita terasa sejuk dan semanak tanpa dibuat-buat. Baginya Prastawa adalah secercah padang yang tandus dan gersang, sedang Rudita adalah bayangan sejuknya dedaunan yang hijau rimbun.

Tetapi Glagah Putih tidak bertanya lebih lanjut. Sekali-sekali memandang kekejauhan, kearah kedua orang yang mengaku sahabat Agung Sedayu itu menghilang.

“Sudahlah,” berkata Rudita, “jangan hiraukan lagi. Kita masih mempunyai pekerjaan. Burung-burung itu masih saja berputaran. Jika kila lengah, maka mereka akan menukik dan mengambil padi kita yang sudah mulai menguning.”

Glagah Putih pun kemudian kembali memperhatikan burung gelatik diudara. Sekali-sekali ia menarik tali-tali yang menggerakkan orang-orangan di tengah-tengah tanaman padi yang menguning.

Dalam pada itu, dua orang yang mengaku sahabat Agung Sedayu itu pun berjalan semakin jauh dari gubug di tengah sawah itu. Dengan nada datar salah seorang dari keduanya berkata, “Kita belum kehilangan Agung Sedayu.”

“Tetapi terlalu lama,” sahut yang lain, “apakah Sabungsari telaten menunggu lebih dari sepekan?”

“Ia tahu siapa Agung Sedayu. Kita tidak dapat tergesa-gesa. Kita akan menunggu sepekan lagi. Jika ia masih belum menuju ke Jati Anom kembali, atau meneruskan perjalanan ketempat lain, kita akan mengambil sikap.”

“Apakah kita akan membiarkannya pergi ketempat lain?”

“Tentu tidak. Kita akan menggiringnya kembali ke Jati Anom. Jika perlu dengan kekerasan.”

Keduanya terdiam. Tetapi keduanya sadar, bahwa jika mereka harus mempergunakan kekerasan, maka mereka harus benar-benar bersiap menghadapi segala kemungkinan, karena mereka sudah dapat mengukur, betapa tinggi ilmu Agung Sedayu.

“Kita tidak akan dapat melakukannya jika ia berada bersama Ki Waskita,” berkata salah seorang dari mereka.

“Ya,” sahut yang lain,” Ki Waskita dan Agung Sedayu mempunyai kemampuan yang luar biasa. Jika mereka berdua, maka kita tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jika kita memaksakan diri, maka itu berarti bahwa kila telah membunuh diri.”

Yang lain tidak menyahut lagi. Tetapi keduanya menyadari, betapa berbahayanya Agung Sedayu disamping Ki Waskita bagi mereka sekelompok kecil pengikut Sabungsari.

Adalah diluar dugaan mereka, bahwa sebenarnya Sabungsari selalu mengawasi mereka dan Agung Sedayu. Sabungsari menunggu, benturan yang akan terjadi antara orang-orangnya dengan Agung Sedayu. Dengan demikian ia akan dapat menjajagi, betapa jauhnya Agung Sedayu menguasai ilmu yang jarang ada bandingnya. Sabungsari pun pernah mendengar, bahwa tatapan mata Agung Sedayu memiliki kemampuan sentuhan wadag pula. Namun Sabungsari belum dapat mengukur, tingkat sentuhan wadag yang terpancar dari mata anak muda itu. Sedangkan jenisnya pun masih belum diketahuinya dengan pasti pula. Apakah tatapan mata Agung Sedayu itu mampu merontokkan isi dada dengan hentakan dan goncangan yang tidak terlawan, atau sorot mata Agung Sedayu itu mempunyai kekuatan remas dan himpitan seperti tangan raksasa, atau sorot mata itu memancarkan panasnya bara seperti lontaran lahar dari mulut gunung berapi.

Sementara itu Agung Sedayu sendiri masih berbaring di pembaringannya. Sekali-kali ia pergi berjalan-jalan keluar. Namun rasa-rasanya tubuhnya memang menjadi sangat lemah. Pemusatan inderanya bagaikan menghisap seluruh tenaganya.

“Tetapi aku harus menyelesaikannya,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri. Batapapun lungkrah badannya dan letih jiwanya, namun ia tidak akan berhenti sebelum ia sampai pada huruf yang terakhir.

“Satu malam lagi aku akan selesai,” gumannya. Agung Sedayu yang letih itu pun kemudian berjalan keluar biliknya dengan langkah yang lemah. Sendiri ia duduk di serambi merenungi dirinya sendiri. Ia masih saja menghindarkan diri dari penelaahan makna dari ilmu yang telah dibacanya.

“Aku tidak mau hancur sama sekali dengan memaksa diri mengungkap makna dari kalimat-kalimat didalam kitab itu,” berkata Agung Sedayu.

Agung Sedayu berpaling ketika mendengar desir langkah mendekat. “Ki Waskita,” desis Agung Sedayu.

“Duduk sajalah ngger,” berkata Ki Waskita.

Ki Waskita pun kemudian duduk di sebelahnya. Sambil menepuk bahu Agung Sedayu ia berkata, “Kau nampak letih sekali. Aku mengerti, bahwa kau benar-benar telah memeras tenaga dan pemusatan indera untuk menangkap kalimat-kalimat yang tertera didalam kitab itu.”

Agung Sedayu mengangguk sambil menjawab, “Ya paman. Aku telah menyadap isinya dan memahatkannya di dinding ingatanku. Aku berhasil mengingat huruf demi huruf dari kalimat-kalimat yang sudah aku baca.”

“Apakah masih banyak yang belum terbaca?” bertanya Ki Waskita.

“Tidak paman. Dugaan paman hampir tepat. Aku memerlukan waktu semalam lebih panjang dari yang paman perhitungkan.”

“Enam malam?”

“Ya. Malam nanti aku akan menyelesaikannya.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi jangan memaksa diri ngger. Kau dapat beristirahat barang satu dua hari. Kemudian kau mulai lagi dengan bagian terakhir itu.”

“Aku akan menyelesaikannya sama sekali paman.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Kau tentu menyadari tingkat kemampuan dan daya tahan angger sendiri. Tetapi aku tidak berkeberatan seandainya angger menundanya barang dua tiga hari, bahkan sepekan sekalipun. Aku dan keluargaku senang sekali jika angger masih bersedia tinggal lebih lama disini. Dengan demikian, keadaan angger pun tentu tidak akan menjadi terlalu letih.”

“Aku akan menyelesaikannya dengan segera Ki Waskita.”

Ki Waskita tidak dapat melarangnya. Di pengasingan. Agung Sedayu pun telah mengerahkan segenap daya tahan jasmaniahnya untuk menyelesaikan tataran ilmu yang sedang dipelajarinya, sehingga ia hampir melupakan keadaan wadagnya. Namun meskipun nampaknya yang dilakukan di rumahnya itu lebih ringan, tetapi ternyata bahwa akibatnya tidak kalah berat bagi wadag dan jiwanya.

Ketika Ki Waskita kemudian meninggalkan Agung Sedayu duduk seorang diri, maka anak muda itu pun kemudian bangkit pula dan melangkah perlahan-lahan ke biliknya, langsung membaringkan dirinya di pembaringan. Rasa-rasanya tubuhnya bagaikan tidak berbobot lagi dan terombang-ambing oleh sentuhan angin yang betapapun lembutnya.

Ketika Glagah Putih kembali dari sawah, dan memasuki bilik itu pula setelah ia mencuci kakinya, ia menjadi semakin cemas. Nampaknya Agung Sedayu benar-benar seperti orang yang sedang sakit.

“Kau nampaknya benar-benar sakit kakang?” bertanya Glagah Putih.

Agung Sedayu mencoba tersenyum. Tetapi ia lebih baik mengiakannya dari pada Glagah Putih selalu mengejarnya dengan bermacam-macam pertanyaan.

“Badanku memang terasa tidak enak Glagah Putih. Tetapi tidak apa-apa. Agaknya kadang-kadang aku memang diganggu oleh perasaan pening untuk satu atau dua hari. Setelah itu, maka aku akan segera sembuh dan sehat kembali.”

Glagah Putih termangu-mangu. Sementara itu Agung Sedayu melanjutkan, “Aku sudah mengatakan keadaanku kepada Ki Waskita. Aku sudah mendapat obat yang akan segera memulihkan kesehatanku.”

Seperti yang diharapkan oleh Agung Sedayu, maka Glagah Putih pun mengangguk-angguk. Ia tidak bertanya lebih banyak lagi. Jika memang Agung Sedayu sakit, maka ia harus beristirahat dan berobat.

Namun Glagah Putih sama sekali tidak menyadari, apa yang sebenarnya terjadi dengan Agung Sedayu. Ketika malam tiba, dan Glagah Putih mulai mengantuk, Agung Sedayu mulai mempersiapkan diri. Demikian Glagah Putih tertidur, dengan tubuh yang lemah Agung Sedayu bangkit dan mengambil kitab rontal dari tempatnya.

Agung Sedayu masih memaksa diri untuk menyelenggarakan kalimat-kalimat yang sudah tidak begitu banyak lagi. Dikerahkannya sisa tenaga yang ada padanya. Kemampuannya, daya pikir dan daya tangkapnya, daya ingat dan segala kegiatan jiwani serta jasmani.

Kata demi kata dipahatkannya didinding hatinya. Kalimat demi kalimat serta rangkaian-rangkaian pengertian meskipun tanpa ditelaah maknanya. Karena Agung Sedayu sadar, bahwa ia tidak akan mampu memahami maknanya sekaligus disaat-saat tubuhnya sudah menjadi sangat lemah.

Dibagian terakhir dari kitab itu, nafasnya bagaikan mengalir semakin lamban. Matanya menjadi kabur dan daya tangkapnya pun menyusut. Namun ia masih sempat melihat kalimat terakhir sampai pada huruf yang terakhir pula.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi, ternyata bahwa tubuhnya menjadi sangat lemah. Namun ia masih ingat dan menyadari, bahwa kitab itu tidak boleh terletak di sembarang tempat.

Tertatih-tatih Agung Sedayu berdiri. Disembunyikannya kitab rontal itu ditempatnya dengan susah payah.

Ketika ia kembali duduk disisi pembaringan, maka ia harus bertumpu pada tangannya yang berpegangan ander planggrangan di dalam bilik itu.

Dalam keadaan yang sangat lemah dan tubuh gemetar Agung Serayu masih memaksa diri untuk duduk tepekur, menghubungkan diri dengan Panciptanya. Betapa besar rasa terima kasihnya, bahwa ia sudah diperkenankan menyelesaikan pekerjaan yang berat, dan mendapat kurnia untuk dapat memahatkannya didalam hatinya.

Namun pada kalimat-kalimat terakhir yang diucapkannya didalam hati, tubuh Agung Sedayu benar-benar telah menjadi lemah. Ia tidak dapat bertahan duduk lebih lama lagi. Diluar sadarnya, maka perlahan-lahan ia terhuyung-huyung dan jatuh dikaki pembaringannya.

Tetapi Agung Sedayu tidak mengerti apa yang telah terjadi, karena ia telah menjadi pingsan.

Ia tidak tahu, berapa lamanya ia pingsan dibawah bibir pembaringannya, ia sadar ketika terasa tubuhnya bagaikan terbang. Per-lahan-lahan tubuhnya turun dan kemudian terbaring di pembaringan.

Matanya yang gelap perlahan-lahan menjadi semakin terang. Meskipun masih kabur, ia melihat beberapa orang mengerumuninya.

“Kakang, kakang,” ia mendengar suara Glagah Putih. Karena itu, seolah-olah kekuatannya telah merayapi tubuhnya kembali. Meskipun masih sangat lemah, ia sempat membuka mulutnya dan menggerakkan bibirnya.

“Glagah Putih,” desisnya.

Glagah Putih pun kemudian menempelkan telinganya di mulut Agung Sedayu untuk mendengarkan kata-katanya yang lirih, “Aku tidak apa-apa.”

Tetapi wajah Glagah Putih masih tegang. Bagaimana ia dapat percaya bahwa kakak sepupunya itu tidak apa-apa.

Beberapa orang menjadi sibuk. Digosoknya tubuh Agung Sedayu yang dingin dengan minyak adas. Yang lain memijit-mijit kakinya. Yang lain lagi menyediakan air panas baginya.

Berbeda dengan orang-orang yang gelisah itu. Ki Waskita berdiri dengan tangan bersilang didada. Ia tidak cemas seperti orang-orang itu meskipun ia menjadi berdebar-debar pula. Ia tahu sepenuhnya bahwa yang terjadi itu adalah akibat Agung Sedayu yang telah memaksakan diri untuk menyelesaikan pekerjaannya, membaca kitab yang diberikannya sampai kata yang terakhir.

Yang dicemaskan oleh Ki Waskita adalah justru kitabnya. Ia tidak melihat kitab itu di tangan atau di dekat Agung Sedayu terbaring di kaki pembaringannya.

Karena itu, ketika ada kesempatan sekejap. Ki Waskita berbisik, “Dimanakah kitab itu ngger?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian bibirnya nampak tersenyum. Jawabnya lirih, “Sudah aku simpan baik-baik Ki Waskita.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Desisnya, “Sukurlah, terima kasih. Aku tahu, bahwa keadaan angger tidak berbahaya. Meskipun demikian kau harus beristirahat sebaik-baiknya dan berusaha memulihkan keadaan jasmaniah dan rohaniah angger yang kelelahan.”

Agung Sedayu menarik nafas panjang. Ketika seseorang meletakan mangkuk berisi air jahe dibibirnya maka ia pun telah meminumnya seteguk. Tubuhnyapun terasa menjadi semakin segar.

 “Minumlah,” berkata Ki Waskita.

Agung Sedayu mengangguk. Sambil tersenyum ia berkata, “Sudah hampir separuh kuhisap. Air jahe itu segar sekali.”

Ki Waskita tersenyum pula. Katanya kemudian, “berbaringlah sebaik-baiknya. Kau harus tidur dan beristirahat.”

Agung Sedayu mengangguk. Ketika ia melihat sekeliling ruangan, ia melihat Rudita memandangnya dengan tatapan mata yang redup. Tetapi Agung Sedayu tidak mengetahui apa yang tersirat dihatinya.

Karena keadaan Agung Sedayu sudah berangsur baik, maka ruangan itu pun menjadi semakin lengang. Satu-satu orang-orang yang berkerumun telah meninggalkan bilik itu meskipun mereka masih selalu dibebani oleh pertanyaan, kenapa Agung Sedayu tiba-tiba telah pingsan.

Yang kemudian tinggal di ruangan itu adalah Ki Waskita, Glagah Putih dan Rudita. Sejenak Rudita termangu-mangu. Namun kemudian ia mendekati Agung Sedayu sambil berkata, “beristirahat sebaik-baiknya adalah obat yang paling baik bagimu Agung Sedayu.”

“Terima kasih Rudita. Aku akan tidur.” Rudita pun kemudian minta diri dan meninggalkan ruangan itu pula. Sementara Ki Waskita masih menungguinya sambil duduk di bibir pembaringan.

“Jika kau mengantuk, tidurlah,” berkata Ki Waskita kepada Glagah Putih.

Galgah Putih tersenyum sambil menggeleng. Jawabnya, “Tidak Ki Waskita. Aku tidak merasa kantuk lagi.”

Ki Waskita mengangguk-angguk Sementara Agung Sedayu pun kemudian bertanya, “Ki Waskita. Apakah yang sudah terjadi atasku.”

Ki Waskita memandang Glagah Putih sejenak katanya, “bertanyalah kepada adikmu.”

Agung Sedayu mengerutkan keningya. Kemudian ia pun bertanya, “Apa yang kau ketahui tentang peristiwa ini Glagah Putih.”

“Tidak seluruhnya. Ketika aku terbangun oleh goncangan pada pembaringan ini, aku melihat kakang sudah terbaring dilantai. Karena aku menjadi bingung, maka aku pun memanggil Ki Waskita. Dengan demikian maka seisi rumah ini menjadi bingung.”

Agung Sedayu mencoba mengingat apa yang terjadi. Ia masih ingat betapa ia kehilangan keseimbangan. Matanya menjadi gelap, dan ia bagaikan tidak mempunyai tenaga lagi untuk mempertahankan keseimbangan, sehingga ia pun terjatuh.

“Aku menjadi pingsan,” katanya didalam hati.

Dalam pada itu, Ki Waskita pun berkata, “Sudahlah Agung Sedayu. Tidurlah. Masih ada sisa waktu malam ini, meskipun tinggal sepotong. Sebentar lagi fajar akan menyingsing, dan kita semuanya akan memasuki hari baru.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk ia berkata, “Terima kasih Ki Waskita. Aku akan mencoba untuk tidur. Mungkin aku tidak akan bangun pagi-pagi. Mungkin aku akan bangun ketika matahari sudah tinggi.”

“Tidak ada salahnya,” jawab Ki Waskita, “mungkin itu lebih baik bagimu.”

Agung Sedayu mengangguk kecil. Ia pun menyadari keadaan dirinya yang sangat lemah dan memerlukan banyak istirahat.

Ki Waskita pun kemudian meninggalkan ruangan itu. Ia tidak lagi digelisahkan oleh kitabnya. Tetapi ia masih belum merasa perlu untuk dengan tergesa-gesa minta kitab yang telah disimpan oleh Agung Sedayu itu.

Sejenak Agung Sedayu masih menelusuri peristiwa yang baru saja terjadi, sementara Glagah Putih duduk terpekur disisinya.

“Tidurlah. Masih ada waktu,” berkata Agung Sedayu.

“Sebentar lagi fajar akan menyingsing. Sebaiknya kau sajalah yang tidur kakang.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia menganggukkan kepalanya.

Oleh keletihan yang sangat, maka akhirnya Agung Sedayu pun tertidur pula. Seperti saat ia pingsan maka ia pun tidak mengetahui, berapa lamanya ia tertidur.

Tetapi ketika ia membuka matanya, Glagah Putih sudah tidak berada di sisinya. Agaknya ia sudah pergi ke belakang. Seperti biasanya anak itu rajin menimba air, mengisi jambangan di pakiwan.

Hari itu ternyata Rudita dan Glagah Putih tidak pergi ke sawah. Diserahkannya pekerjaan mereka kepada pembantunya, menunggui burung di sawah.

Karena badan Agung Sedayu sangat lemah, maka ia lebih banyak berada di pembaringannya. Sekali-kali Glagah Putih menungguinya. Namun kadang-kadang ia berada di serambi bersama Rudita.

Meskipun demikian, ada kalanya Rudita sendirilah yang menunggui Agung Sedayu. Ketika Glagah Putih sedang pergi ke sungai, maka Rudita memerlukan menunggui Agung Sedayu sambil berbicara tentang bermacam-macam persoalan. Dari air parit yang bening, sampai ke burung gelatik yang berterbangan di langit.

Namun akhirnya Rudita bertanya, “Apakah sebenarnya sakitmu payah Agung Sedayu?”

Pertanyaan itu terdengar aneh ditelinga Agung Sedayu. Namun demikian ia menjawab, “Tidak Rudita. Sakitku bukan apa-apa. Mungkin hanya karena kelelahan atau kelainan yang kurang aku pahami.”

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak menyalahkan kau Agung Sedayu. Karena kau sudah memilih sikap dalam perjalanan hidupmu. Aku mengerti, apakah yang menyebabkan kau mejadi letih dan bahkan seperti benar-benar sakit.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Wajahnya nampak menegang sejenak. Namun Rudita tersenyum sambil berkata, “Aku tidak pernah menganggap kau bersalah. Atau ayah bersalah. Atau orang-orang yang lebih senang menekuni kekerasan. Itu sudah aku yakini dan kau pilih menjadi sikap hidupmu.”

“Apa maksudmu Rudita?” bertanya Agung Sedayu.

“Kau memaksa dirimu untuk membaca dan menyelesaikan kitab yang dipinjamkan oleh ayah kepadamu.”

Terasa wajah Agung Sedayu menjadi panas. Namun ia melihat Rudita tersenyum sambil berkata, “Itu bukan suatu kesalahan.”

Sejenak Agung Sedayu justru diam mematung. Dipandanginya wajah Rudita yang seperti air telaga yang jernih sehingga nampak batu-batu kerikil yang tergolek didasarnya.

“Rudita,” bertanya Agung Sedayu, “apakah kau bermaksud mengatakan bahwa aku telah membaca kitab Ki Waskita sehingga aku menjadi sangat letih?”

Rudita tersenyum. Jawabnya, “Benar Agung Sedayu. Kau telah membaca kitab ayah. Kau ingin menyelesaikannya secepatnya, sehingga kau memaksa diri untuk membacanya hingga semalam suntuk. Jika kau membaca kidung tentang hilangnya Arjuna yang ternyata sedang bertapa menjadi seorang Wiku yang sakti, mungkin kau akan dapat menemukan kesegaran rohani dan mendapatkan beberapa pesan dari isi kidung itu yang dapat dipetik bagi kehidupan sehari-hari. Tetapi kitab ayah adalah sangal berlainan isi dan manfaatnya. Yang pertama-tama nampak akibatnya adalah keletihan jasmani dan rohani. Apalagi dengan cara yang kau tempuh sekarang ini. Kau selesaikan seluruh isi kitab itu dalam waktu yang sangat singkat.”

“Rudita,” suara Agung Sedayu bergetar, “darimana kau tahu, bahwa aku telah membaca kitab Ki Waskita? Apakah Ki Waskita mengatakannya kepadamu?”

“Tentu tidak Agung Sedayu. Ayah tidak akan mengatakan kepadaku, karena ayah tahu, bahwa aku lebih senang melihat kitab itu tidak pernah disentuh oleh siapapun. Bahkan seandainya kitab itu dimusnakan, maka itu berarti salah satu usaha penjernihan dari lingkungan hidup manusia yang semakin lama menjadi semakin keruh ini.”

“Jadi dari siapa kau mengetahuinya?”

“Aku hanya mencoba meraba dengan naluriku.” Rudita termangu-mangu sejenak. Lalu, “Ketahuilah Agung Sedayu. Akupun pernah mengalami keadaan yang hampir serupa dengan yang kau alami. Tetapi agaknya kau mempunyai banyak kelebihan dari aku didalam penyadapan ilmu dari kitab ayah. Kau dapat mempergunakan ketajaman ingatanmu yang jarang dimiliki deh seseorang. Dengan memandang sesuatu dan melukiskan didinding ingatan, maka yang pernah kau lihat, tidak akan pernah kau lupakan, meskipun peristiwa-peristiwa sehari-hari yang tidak penting dan tidak sengaja kau catat pada lembaran-lembaran ingatanmu akan terlupakan seperti yang terjadi pada banyak orang.”

Wajah Agung Sedayu menjadi tegang. Hampir tidak percaya ia mendengar kata-kata Rudita. Hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Rudita, apakah benar pendengaranku, bahwa kau pernah juga mempelajari isi kitab Itu?”

Rudita tersenyum sambil mengangguk. Katanya, “Itulah wajahku yang sebenarnya Agung Sedayu. Aku tidak jujur terhadap diriku sendiri. Aku ingin melihat kitab itu tidak disentuh tangan siapapun. tapi aku sendiri pernah membacanya. Aku membaca dari huruf pertama sampai huruf terakhir. Tetapi karena aku hanya sekedar membaca tanpa mencoba mengingat isinya maka aku tak dipengaruhi apapun juga oleh bacaan itu. Tetapi ketika aku memetik satu bab kecil dari isi buku itu, dan mengutipnya diatas rontal yang lain, maka aku mengalami keadaan yang serupa dengan keadaanmu. Bedanya Agung sedayu, kau mengutip dengan tatapan matamu dan pahatan didinding ingatanmu, sedang aku mengutip dengan arti yang sebenarnya. Menulis dan melukis diatas rontal huruf demi huruf dan garis demi garis. Aku hampir mati juga ketika aku menggoreskan huruf terakhir. Hanya dari satu bab kecil.”

Agung Sedayu masih kebingungan mendengar keterangan Rudita, seolah-olah ia tidak percaya tentang isi keterangan itu.

“Agung Sedayu,” berkata Rudita, “isi bab kecil yang aku kutip itu kemudian aku bawa menyingkir dan mencoba memahami isinya. Mempelajari dengan sikap dan laku seperti yang disebut didalam kitab itu sehingga akhirnya aku menemukan maknanya. Aku membebaskan diri dari akibat sentuhan wadag pada wadagku. Kau heran?” Rudita berdiri sambil berjalan mondar-mandir, “itulah kepalsuanku dihadapan keyakinanku sendiri. Tetapi benar benar hanya itu Agung Sedayu. Aku memetik satu bab yang paling lemah dari seluruh isi kitab itu. Aku memberikan perlindungan pada diriku sendiri sehingga dengan demikian maka sebenarnya akulah manusia yang paling berprasangka kepada sesama.”

Agung Sedayu mendengarkan keterangan Rudita itu dengan saksama. Sementara itu Rudita meneruskan. “Tetapi aku mencoba berlindung dari satu anggapan, bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Yang sempurna hanyalah yang sempurna adanya. Yang memberikan segalanya tanpa prasangka seutuhnya dalam cinta kasih sampai pada balas maut.” Rudita menundukkan kepalanya, “tetapi aku adalah seorang pengecut yang ketakutan melihat bayangan maut itu, meskipun maut dalam batas arti kewadagan.”

“Kau telah menyadap bab yang memberikan kekebalan?”

“Kau kini melihat Agung Sedayu, bahwa akupun berprasangka justru pada permulaannya. Tetapi untuk seterusnya, aku berusaha untuk melihat dengan pandangan yang jernih bagi sesama.” Ia berhenti sejenak. Dipandanginya wajah Agung Sedayu yang pucat. Katanya kemudian, “Aku tahu apa yang kau lakukan, karena aku pernah mengalami meskipun dalam arti dan batas yang agak berbeda. Kau telah memahatkan semuanya didinding hatimu. Sehingga pada suatu saat, kau akan mengalami masa-masa penghayatan dan penemuan maknanya. Kau akan mengalami keadaan yang lebih berat dari yang kau alami sekarang ini. Tetapi karena kau akan mempunyai waktu yang jauh lebih panjang, maka aku kira kau dapat mengukur kemampuanmu untuk menangkap dan memahami maknanya sesuai dengan keadaanmu, jasmaniah dan rohaniah.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam Tetapi ia masih bertanya, “Darimana pula kau mengetahui bahwa aku akan dapat selalu mengingat isi kitab itu seutuhnya?”

“Kau tidak akan melakukan suatu kebodohan yang paling dungu dalam hidupmu. Jika kau tidak dapat melakukannya, maka kau tidak akan memaksa diri untuk menyelesaikan isi kitab itu dalam waktu hanya enam hari. Kau tentu akan mempelajarinya sekaligus mencari maknanya serta kemampuan ungkapannya untuk waktu-waktu yang lama. Satu dua tahun atau lebih. Itu pun baru dasarnya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Rudita adalah seorang anak muda yang luar biasa. Ia mempunyai ketajaman pandangan berdasarkan firasat dan nalurinya, dengan mengurainya dan memperhitungkan hubungan timbal balik, maka ia dapat menerka dengan tepat apa yang telah dilakukan oleh Agung Sedayu.

Karena itu, maka Agung Sedayu kemudian tidak dapat ingkar lagi. Dengan nada yang dalam ia berkata, “Sebenarnyalah aku memang telah membaca isi kitab Ki Waskita dan memahatkannya di dinding ingatanku. Aku ingat setiap huruf yang terdapat pada kitab itu, dan aku akan dapat membacanya kembali. Seperti yang kau katakan, baru kemudian aku akan memahaminya sebagai satu ilmu yang memiliki banyak segi yang nampaknya berdiri sendiri. Dan kau telah memetik salah satu bab dari padanya.”

Rudita mengangguk-angguk. Katanya, “Satu bab yang paling lemah. Dan satu bab itu telah membuktikan warna hatiku yang sebenarnya. Prasangka, cemas, dan kemunafikan.”

“Tetapi sangat terbatas. Kau telah memberikan warna yang lebih tajam dari warna yang buram itu sepanjang hidupmu. Kau telah memilih sikap yang mapan, yang bagiku merupakan tantangan yang tidak terkalahkan, karena aku tidak mempunyai keberanian cukup untuk melakukannya.”

“Kau sudah memilih jalan sendiri.”

“Ya, aku sudah memilih jalan sendiri. Mudah-mudahan aku tetap pada jalan yang paling baik yang dapat aku lalui. Paling baik dari pilihan yang sangat buruk.”

Rudita menarik nafas dalam-dalam, namun kemudian ia berdiri sambil berkata. Kesadaranmu telah menolongmu. Tetapi adalah pasti bahwa kau akan tetap berada di jalanmu, karena kau sadar telah memilih yang paling baik dari yang buruk sekali, tetapi sekali lagi aku katakan, aku tidak dapat menyalahkanmu, tidak dapat menyalahkan ayah dan Kiai Gringsing, tidak dapat menyalahkan orang-orang yang menyebut dirinya pewaris Kerajaan Majapahit, tidak dapat menyalahkan orang-orang yang harus menebus pilihannya dengan kematian.”

“Aku berdiri ditempat yang berbeda dengan mereka,” sahut Agung Sedayu. “Yang kau sebut terakhir itu.”

 “Ya. sudah aku pastikan. Kau beradu di tempat yang berbeda, tetapi pada bagian yang sama. Semua adalah yang sangat buruk. Dan kau berada di tempat yang paling baik dari yang sangat buruk itu. Sementara aku memilih, aku ulangi, aku memilih bukan berarti bahwa aku telah mendapatkan yang aku pilih itu sesuai dengan pilihanku, bahwa aku akan berdiri meskipun di tempat yang paling buruk dari yang baik.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil, ia menyadari sepenuhnya apa yang dimaksud oleh Rudita. Dan ia pun melihat, bahwa yang dikatakan itu tidak sisip. Sehingga dengan demikian, seolah-olah nampak di angan-angannya, sebuah padang yang sangat luas, yang dibagi oleh sebuah jurang yang sangat dalam. Batapa kecilnya dirinya berdiri dibagian yang tandus berbatu-batu. Tetapi ia masih dapat menghindari ujung-ujung karang yang runcing, kawah gunung berapi yang membara, rawa-rawa yang bagaikan mendidih dan gerumbul-gerumbul yang menjadi sarang ular bandotan. Sementara itu di seberang jurang yang dalam, terdapat taman yang sejuk oleh pohon-pohon bunga. Nampak sekecil dirinya Rudita berdiri di pinggir jurang, direrumputan yang kekuning-kuningan. Namun masih juga terdapat beberapa helai bunga yang memberikan kesegaran yang damai.

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s