ADBM2-121

<<kembali | lanjut >>

ORANG berkumis itu telah menyerang lawannya dengan garang. Ternyata perguruan Pesisir Endut telah membentuknya menjadi seorang yang memiliki kekuatan yang besar dan kecepatan bergerak yang mengagumkan. Apalagi mereka tidak lagi mempunyai perasaan belas kasihan sedikit pun juga. seperti juga kedua kakak beradik yang dengan garangnya telah berusaha membunuh Glagah Putih tanpa belas kasihan.

Para pengikut Sabungsari itu pun segera merasakan kekerasan sikap orang-orang dan Pesisir Endut itu. Sambil berteriak nyaring, orang berkumis itu menggerakkan senjatanya dengan kekuatan raksasa.

Tetapi para pengikut Sabungsari ternyata adalah orang-orang yang berpengalaman menghadapi medan yang betapapun garangnya. Bahkan dalam keadaan yang tidak terelakkan lagi, mereka pun termasuk orang-orang kasar dan bahkan buas. Apalagi mereka yang telah terluka oleh senjata Agung Sedayu, seolah-olah mereka mendapat sasaran untuk melepaskan kemarahan mereka.

Pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Meskipun tiga orang di antara para pengikut Sabungsari bersenjata tongkat, namun ternyata tongkat kayu metir itu merupakan senjata yang berbahaya bagi lawan-lawannya. Tongkat-tongkat itu bagaikan tangkai tombak yang menyambar-nyambar, terayun, memukul dan kadang-kadang mematuk lurus mengarah kedada.

Ternyata bahwa yang terjadi kemudian benar-benar diluar dugaan orang dari Pesisir Endut itu. Orang berkumis itu pun mulai merasakan tekanan yang berat dari lawannya. Orang perpedang yang melawan dengan garangnya, justru memiliki kelebihan dari orang berkumis yang mempunyai kekuatan raksasa itu.

 “Kami bukan tujuh orang pengawal Kademangan,” teriak salah seorang pengikut Sabungsari, “jangan menyesal bahwa kalianlah yang akan terbaring diam di padang perdu ini. Sekelompok burung gagak akan segera menyayat tubuh kalian sehingga tinggal tulang-tulang sajalah yang akan berkubur di antara dedaunan kering.”

Tetapi orang berkumis itu berteriak, “Jangan sebut kami anak-anak Pesisir Endut jika kami tidak dapat mencincang kalian.”

Yang terdengar adalah suara tertawa. Tetapi kemudian angin padang yang kering telah melontarkan dedaunan kering yang berserakkan.

Para pengikut Sabungsari yang masih diwarnai oleh kemarahan mereka karena Agung Sedayu telah terlepas dari tangan mereka, telah bertempur dengan garangnya. Sementara orang-orang Pesisir Endut masih berbau darah, karena mereka telah membunuh dan melukai tujuh orang yang telah mereka rampok di perjalanan.

Nampaknya sepeninggal kakak beradik yang memimpin padepokan Pesisir Endut, orang-orang di padepokan itu menjadi bertambah liar dan garang.

Tetapi ketika mereka bertemu dengan anak buah Sabungsari, mereka baru merasakan bahwa di daerah kuasanya, ternyata telah hadir lima orang yang tidak dapat segera mereka kuasai.

Dua orang dari Pesisir Endut itu telah bertempur melawan tiga orang pengikut Sabungsari yang bersenyata tongkat. Namun ternyata bahwa tongkat mereka yang panjang itu berhasil mereka pergunakan sebagai senjata untuk mengimbangi pedang lawan.

Namun demikian, karena mereka telah terluka, maka lambat laun terasa, luka-luka mereka mulai mengganggu. Meskipun ketika mereka selesai mandi, tubuh mereka menjadi segar seolah-olah kekuatan mereka telah pulih kembali. Namun ketika keringat mulai menitik terasa luka-luka itu menjadi pedih.

“Gila,” geram orang yang luka kakinya.

Apalagi ketika ternyata lawannya melihat kelemahan-kelemahan itu. Yang luka lambungnya pun mulai menyeringai, sedang yang lainpun telah mulai kehilangan lagi sebagian dari kecepatannya bergerak.

Meskipun demikian tiga orang bersenjata tongkat itu masih tetap merupakan kekuatan yang berbahaya bagi dua orang lawannya.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin dahsyat. Dua orang Pesisir Endut yang melihat kelemahan lawannya, segera berusaha menekan dengan segenap kemampuannya. Bahkan salah seorang dari mereka berteriak, “Lihat, keseimbangan mereka mulai terganggu. Agaknya mereka telah terluka dan kehilangan senjatanya. Sekarang kita tinggal membunuhnya seperti membunuh seekor tikus kecil.”

Tetapi kata-kata itu telah membakar hati ketiga orang pengikut Sabungsari. Dengan serta merta mereka menyerang dengan dahsyatnya sehingga kedua orang lawannya terdesak beberapa langkah surut.

Meskipun ketiganya sudah terluka, tetapi mereka masih tetap berbahaya. Mereka telah memencar dan menyerang dari arah yang berbeda. Bahkan mereka sempat membuat kedua lawannya menjadi bingung.

Tetapi lawannya yang mengetahui kelemahannya itu pun berusaha untuk memanfaatkan kelemahan itu. Dengan dahsyatnya salah seorang dari mereka telah menyerang lawannya yang terluka dilambung. Seorang kawannya yang lain, mencoba mencegah kedua orang lawannya untuk membantu kawannya yang semakin terdesak.

Meskipun tongkat kayu metir pengikut Sabungsari lebih panjang dari pedang, tetapi ternyata pedang dapat digerakkan lebih lincah dan lebih cepat. Karena itulah, maka pengikut Sabungsari yang bersenjata tongkat itu telah terdesak, sehingga usaha lawannya memisahkannya dari kedua orang kawannya telah berhasil.

Agaknya saat yang demikian itulah yang diinginkannya. Apalagi karena orang bertongkat itu sudah terluka, sehingga lukanya terasa semakin mengganggunya.

Ketika serangan lawannya datang begaikan gempuran badai, maka kemampuan geraknya benar-benar menjadi sangat terbatas. Perasaan sakit pada lukanya telah membuatnya menjadi kehilangan keseimbangan. Pada saat pedang lawannya terjulur, dengan tergesa-gesa ia berusaha untuk menangkis dengan memukul pedang itu kesamping. Namun lawannya dengan serta merta telah menarik pedangnya dan mengayunkannya tegak mengarah kedahinya.

Pengikut Sabungsari itu masih sempat mengangkat tongkatnya, betapapun perasaan takut telah meremas luka di lambungnya. Bahkan ia merasa, darahnya mulai menitik lagi dari luka itu.

Namun ketika lawannya memutar pedangnya dan menggerakkannya mendatar, maka ia benar-benar telah tidak mampu lagi mengikuti kecepatan geraknya. Meskipun ia berusaha meloncat kesamping, namun ujung pedang lawannya telah menyentuh lengannya pula.

Yang terdengar adalah keluhan tertahan. Selangkah pengikut Sabungsari itu surut. Tetapi ujung pedang lawannya telah mengejarnya. Ketika lawannya meloncat dengan pedang terjulur, maka ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa ujung pedang itu telah menghunjam kedadanya.

Pengikut Sabungsari itu tidak sempat mengelak. Ia memandang lawannya sejenak. Namun kemudian sambil menyeringai ia memejamkan matanya untuk selama-lamanya.

Namun dalam pada itu, kawannya yang bertongkat pula tidak mau membiarkan peristiwa itu terjadi begitu saja. Tiba-tiba saja ia pun meloncat meninggalkan lawannya. Sementara lawannya yang seorang lagi telah menyerangnya dengan sisa kemampuannya.

Yang terjadi adalah demikian cepatnya. Ketika orang Pesisir Endut yang berhasil menghunjamkan pedangnya itu berusaha untuk menarik pedangnya dari dada lawan, maka tanpa dapat mengelak lagi, terasa tongkat lawannya telah membentur bagian belakang kepalanya. Demikian kerasnya, sehingga tiba-tiba saja matanya menjadi gelap dan ingatannya pun lenyap bersama nyawanya, karena tulang kepalanya telah pecah karenanya.

Meskipun ia masih serapat menyaksikan lawannya jatuh terjerembab, namun ia sadar sepenuhnya akan kawannya yang seorang lagi. Karena itu, maka ia pun segera meloncat ke arena pertempuran antara kawannya yang bersenjata tongkat dengan seorang lawan dari Pesisir Endut yang sedang dibakar oleh kemarahan. Hampir saja orang bertongkat itu kehilangan keseimbangan. Untunglah kawannya yang meskipun telah terluka, tetapi sempat membantunya.

Kematian-kematian itu telah membuat jantung kedua belah pihak menjadi semakin panas. Mereka bertempur semakin kasar dan liar. Tidak ada lagi pengekangan diri sama sekali. Apapun telah mereka lakukan untuk memenangkan perkelahian yang dahsyat itu.

Dalam pada itu, pengikut Sabungsari yang meskipun masih berpedang tetapi yang pernah dilukai oleh Agung Sedayu dengan tatapan matanya, mulai diganggu oleh perasaan sakit dibagian dalam tubuhnya, ia tidak dapat bergerak secepat saat ia mulai dengan perkelahian itu. Tangannya kadang-kadang terasa menjadi berat, dan tulang-tulangnya bagaikan menjadi lemah.

Namun sementara itu, dua orang yang bersenjata tongkat itu pun telah berhasil mendesak lawannya. Meskipun keduanya tidak memiliki kemampuannya sepenuhnya, tetapi keduanya masih dapat membuat lawannya terdesak.

Ketika kedua ujung tongkat itu menyerang bersama-sama, maka lawannya tidak sempat mengelak lagi oleh dorongan serangan itu. Diluar sadarnya ia meloncat surut, namun ia tidak mendapat tempat lagi. Satu kakinya tiba-tiba saja telah terperosok tebing sehingga yang terdengar kemudian adalah jeritnya yang panjang.

Kedua lawannya sempat memandang orang itu berguling. Namun kemudian disaat jerit itu terhenti, mereka melihat bahwa orang yang terguling itu masih sempat meloncat berdiri. Justru karena ia jatuh diatas pasir tepian, maka ia tidak mengalami kesulitan yang berarti, kecuali beberapa bagian kulitnya bagaikan terkelupas.

Pada saat itulah kedua orang kawannya yang lain merasa, bahwa mereka tidak akan dapat berbuat banyak. Meskipun yang seorang di antara mereka telah berhasil mendesak lawannya yang dibagian dalam tubuhnya merasa semakin sakit. Bahkan urat-uratnya seolah-olah menjadi kejang. Namun dua orang bertongkat kayu yang telah kehilangan lawannya itu akan dapat membantunya, sementara orang yang meluncur tebing itu belum sempat memanjat naik.

Karena itu, maka terasa bagi kedua orang Pesisir Endut itu, bahwa mereka telah salah langkah. Orang-orang berkuda itu ternyata memang bukan orang-orang seperti yang pernah dirampas barangnya dan dibunuh dengan semena-mena.

Pada saat yang demikian itulah, maka terdengar isyarat dari mulut orang berkumis itu. Demikian tiba-tiba dan berlangsung dengan cepatnya pula, sehingga para pengikut Sabungsari itu harus dengan cepat mengambil sikap pula.

Tetapi mereka tidak dapat berbuat banyak terhadap orang berkumis itu. Demikian ia melepaskan isyaratnya, ia pun telah meloncat menjauhi lawannya dan dengan serta merta meluncur tebing itu pula tanpa menghiraukan perasaan pedih yang menggigit kulitnya.

Namun seorang kawannya yang justru sedang mendesak lawannya yang telah terluka dibagian dalam itu, ternyata bernasib sangat buruk. Ketika ia meloncat berlari, salah seorang yang bersenjata tongkat kayu sempat melontarkan tongkatnya, menyilang kaki orang itu, sehingga ia pun tidak dapat menghindarkan diri lagi, dan jatuh terjerembab.

Orang-orang yang sedang marah itu tidak sempat berpikir lagi. Mereka sama sekali tidak berpikir untuk menangkap lawannya hidup-bidup atau mengambil sikap lain, kecuali membunuhnya.

Karena itulah, maka selagi orang yang terjerembab itu belum sempat bangun, maka hampir bersamaan sebilah pedang menusuk punggungnya dan sebatang tongkat memukul kepalanya.

Tidak terdengar orang itu mengeluh. Tetapi orang itu segera mati tanpa sempat menggeliat lagi.

Dua orang kawannya yang telah berada dipasir tepian, segera meloncat berlari tanpa menengok lagi. Orang berkumis yang meluncur tebing dan kawannya yang telah terguling lebih dahulu itu pun tidak sempat merasakan pedihnya kulit mereka yang terkelupas oleh batu padas.

Sejenak orang-orang yang berdiri diatas tebing termangu-mangu. Namun tidak seorang pun di antara mereka yang berniat untuk mengejar. Selain mereka menjadi letih oleh perkelahian itu, maka sebagian dari mereka telah hampir kehabisan tenaga. Pada umumnya mereka telah terluka oleh Agung Sedayu, sehingga mereka tidak mampu lagi untuk berbuat lebih banyak.

Untuk sesaat mereka berdiri di bibir tebing dengan nafas yang tersengal-sengal. Baru kemudian mereka menyadari, seorang kawan mereka telah terbunuh.

“Gila,” geram orang berpedang yang masih belum terluka.

Dengan wajah yang tegang ia melangkah mendekati kawannya yang terbunuh. Justru pada saat mereka telah kehilangan Agung Sedayu.

Ketiga kawannya yang lainpun mengikutinya. Mereka berdiri dengan wajah yang muram memandangi kawannya yang terbujur tanpa dapat bergerak lagi.

“Kita akan menguburnya. Tetapi kita akan membiarkan kedua iblis itu dimakan burung gagak,” geram orang berpedang itu.

Dengan demikian maka keempat orang itu tidak segera dapat meninggalkan tempatnya. Mereka masih mengubur seorang kawannya yang terbunuh oleh orang-orang Pesisir Endut. Meskipun dua orang Pesisir Endut telah terbunuh pula, tetapi dendam telah dinyalakan dihati mereka dan sulit untuk dapat dipadamkan lagi.

Ketika mereka selesai, maka tanpa menghiraukan kedua sosok mayat lawannya, mereka pun meninggalkan tebing. Salah seorang dari mereka telah menuntun seekor kuda yang tidak berpenumpang lagi.

“Kita akan menunggu di ujung padang perdu ini sampai senja. Baru kita akan melanjutkan perjalanan didalam gelap,” desis salah seorang dari mereka.

Salah seorang dari mereka akan pergi kepadukuhan mencari warung atau pasar atau apapun untuk mencari bahan makan bagi mereka dihari itu. Bahkan orang itu sudah bertekad untuk mencuri saja disawah atau pategalan apabila tidak dapat diketemukan warung atau pasar.

Sementara itu, orang-orang dari Pesisir Endut yang telah melarikan diri itu pun telah dibakar oleh dendam tiada taranya. Mereka bersumpah didalam hati, bahwa mereka pada suatu saat harus dapat membalas kekalahan yang sangat memalukan itu.

“Dua orang kita terbunuh,” geram orang berkumis itu.

Kawannya tidak segera menyahut. Tetapi semula ia termasuk orang yang ragu-ragu untuk membuka pertempuran melawan orang-orang yang menyebut dirinya murid Ki Gede Telengan itu.

“Kita akan memberitahukan hal ini kepada semua murid-murid diperguruan Pesisir Endut. Bahkan kita akan menghadap Kiai Carang Waja, untuk memberitahukan bahwa orang-orang dari perguruan Telengan telah menghina kita,” geram orang berkumis itu.

Namun kawannya justru berkata, “Yang penting, kita akan memberitahukan, bahwa orang-orang dari perguruan Telengan juga akan memburu Agung Sedayu. Bukankah Kiai Carang Waja sedang mesu diri untuk menyempurnakan ilmunya? Ialah yang dengan tangannya ingin membunuh Agung Sedayu, sehingga seharusnya bukan orang lain yang boleh melakukannya. Juga bukan orang-orang dari perguruan Ki Gede Telengan.”

Orang berkumis itu termangu-mangu sehingga langkahnya justru terhenti. Dengan nada tinggi ia bertanya, “He, bukankah pendengaranku benar bahwa orang-orang itu sedang memburu Agung Sedayu?”

“Ya. Mereka sedang memburu Agung Sedayu.”

“Jika demikian, Agung Sedayu sudah mulai berkeliaran di daerah ini.”

“Mungkin sekali.”

“Gila,” orang berkumis itu mengumpat, “kehadirannya di daerah ini akan sangat membahayakan kita semuanya. Ia tentu sudah mendapat beberapa petunjuk mengenai Pesisir Endut dari orang-orang yang tertangkap itu. He, apakah kehadirannya itu justru untuk mencari padepokan kita?”

“Entahlah. Tetapi nampaknya orang-orang itu sudah bertemu dengan Agung Sedayu, tetapi justru merekalah yang melarikan diri. Beberapa orang di antara mereka telah kehilangan senjata mereka.”

Orang berkumis itu termangu-mangu. Katanya, “Persetan. Kita memang harus segera melaporkan hal ini kepada Kiai Carang Waja. Jika ia sudah merasa cukup mematangkan ilmunya, maka ia tentu akan pergi ke Sangkal Putung. Kiai Carang Waja tentu tidak akan bersedia menyerahkan korbannya kepada orang lain.”

Kawannya mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah, Marilah kita segera kembali kepadepokan dan membicarakan apa yang sebaiknya kita lakukan.”

Kedua orang itu pun dengan tergesa-gesa melanjutkan perjalanan mereka menyusuri tepian sungai tanpa berhenti lagi. Beberapa pejsoalan telah memenuhi kepala mereka, sehingga mereka menjadi sangat gelisah karenanya.

Ditempat lain yang terpisah jauh. Agung Sedayu dan Glagah Putih melanjutkan perjalanannya kembali ke Jati Anom. Jarak yang harus mereka tempuh masih cukup jauh, sehingga mereka harus berkuda agak cepat, meskipun tidak berpacu di sepanjang jalan.

Ketika mereka telah meninggalkan padang perdu dan memasuki tlatah padukuhan dan melalui bulak-bulak panjang, maka keduanyapun tidak lagi berpacu terlalu cepat. Hanya di bulak-bulak yang benar-benar sepi sajalah keduanya mempercepat langkah kudanya.

Di perjalanan keduanya tidak banyak lagi berbicara. Glagah Putih lebih banyak merenungi peristiwa yang baru saja terjadi. Dalam keadaan yang sulit, di antara orang-orang yang berilmu tinggi, maka ia sama sekali tidak dapat membantu Agung Sedayu, justru ia merupakan salah satu hambatan dari perjuangan Agung Sedayu.

Peristiwa itu merupakan suatu pengalaman yang sangal berharga bagi Glagah Putih. Pengalaman itu merupakan dorongan yang sangat kuat baginya, agar ia bekerja lebih keras lagi untuk mempersiapkan dirinya menghadapi keadaan yang demikian.

Tidak ada lagi kesulitan di perjalanan. Ketika mereka melampaui beberapa padukuhan dan bulak, maka mereka menjadi semakin dekat dengan jalan menyilang yang pernah mereka tempuh jika mereka pergi ke Mataram lewat jalur jalan Selatan. Beberapa ratus patok lagi, maka mereka akan sampai kejalur jalan yang biasa mereka lalui, jalan yang di saat-saat terakhir menjadi semakin ramai dan menjadi pusat lalu lintas.

“Agaknya sebentar lagi kita akan sampai ke Prambanan,” gumam Agung Sedayu.

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Dipandanginya seleret bukit di seberang sungai. Bukit yang nampak hijau.

Seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu, maka sejenak kemudian, mereka telah sampai ke Prambanan. Mereka kemudian mengikuti jalan yang sudah sering mereka lalui. Sekali-sekali Agung Sedayu dan Glagah Putih masih mengamat-amati pakaiannya.

“Apakah pakaian ini tidak lagi menarik perhatian?” mereka masih bertanya kepada diri sendiri.

Tetapi ternyata tidak seorang pun yang memperhatikan. Mereka melalui jalan itu seperti orang-orang lain tanpa menarik kecurigaan. Beberapa orang berkuda telah berpapasan dengan Agung Sedayu dan Glagah Putih. Tetapi mereka hanya memandang sekilas, kemudian mereka meneruskan perjalanan tanpa curiga.

Ketika kuda Agung Sedayu dan Glagah Putih berlari, tidak ada seorang pun yang memperhatikan. Beberapa ekor kuda yang lainpun berlari pula di antara orang-orang yang berjalan kaki, dan beberapa buah pedati yang berjalan lamban seperti siput.

“Apakah kita akan singgah di Sangkal Putung,” bertanya Glagah Putih.

Agung Sedayu menggeleng, jawabnya, “Tidak. Kita akan mengambil jalan memintas. Kita harus segera sampai ke padepokan. Kita sudah cukup lama pergi.”

Demikianlah, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih pun telah menempuh jalan memintas ke Jati Anom. Namun jalan yang mereka lalui adalah jalan yang tidak terlalu sepi, meskipun di beberapa bulak panjang, rasa-rasanya mereka hanya berdua saja di dunia ini. Bahkan kadang-kadang mereka masih harus melalui jalan di pinggir hutan, meskipun bukan hutan yang terlalu lebat.

Namun akhirnya mereka selamat sampai di padepokan kecil mereka. Dengan dada yang berdebar-debar mereka memasuki regol padepokan. Seorang anak muda yang kebetulan melintasi halaman telah melihat kedatangan mereka. Berlari-lari anak muda itu menyambut Agung Sedayu dan Glagah Putih yang kemudian menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya mereka telah berada ditempat yang paling aman.

Kiai Gringsing dan penghuni padepokan itu pun kemudian telah mengerumuninya. Setelah mencuci kaki dan tangannya, maka keduanya pun segera naik ke pendapa. Mereka tidak sempat masuk ke ruang dalam, karena anak-anak muda itu pun segera menyiram mereka dengan pertanyaan tidak henti-hentinya.

Kiai Gringsing ikut mendengarkan pembicaraan yang riuh itu. Namun kemudian ia berkata, “berilah mereka minum. Tentu mereka haus.”

Barulah mereka sadar, bahwa Agung Sedayu dan Glagah Putih tentu memerlukan beristirahat barang sejenak, sebelum mereka harus menjawab pertanyaan yang mengalir seperti pancuran dilereng bukit.

Namun dalam pada itu, rasa-rasanya masih ada yang kurang di padepokan itu. Glagah Putih memandang setiap pintu dan bahkan seluruh halaman. Tetapi ia tidak melihat ayahnya naik ke pendapa.

Kiai Gringsing nampaknya dapat menangkap kegelisahan anak itu. Sambil tersenyum ia berkata, “Glagah Putih. Ayahmu baru menengok padukuhannya Banyu Asri. Jika ia mendengar bahwa kau sudah datang, maka ia akan segera datang pula. Biarlah salah seorang kawanmu besok memberitahukan kedatanganmu.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian ia tidak lagi digelisahkan oleh ayahnya yang tidak ada dipadepokan itu, karena persoalannya tidak mencemaskannya seperti apa yang dialaminya di perjalanan.

 “Nampaknya ada sesuatu yang menarik di perjalanan,” gumam gurunya, “tentu yang kau ceriterakan kepada kawan-kawanmu itu belum seluruhnya.”

Glagah Putih memandang Agung Sedayu sejenak. Sementara Agung Sedayu beringsut setapak sambil menjawab, “Belum guru. Memang ada yang masih belum aku katakan. Aku bermaksud menceriterakan mula-mula kepada guru.”

Kiai Gringsing tersenyum. “Baiklah,” katanya, “aku akan menunggu setelah kau mandi dan beristirahat barang sebentar setelah kau makan.”

Demikianlah, dibawah lampu minyak yang berguncang oleh angin yang menyusup ke pendapa, Agung Sedayu mulai menceriterakan seluruh perjalanannya ke padukuhan tempat tinggal Ki Waskita. Meskipun yang diceriterakannya hanyalah sekedar pengalamannya di perjalanan. Bukan pengalamannya yang khusus di rumah Ki Waskita.

Kiai Gringsing pun mengerti bahwa kehadiran Glagah Putih bersama mereka, agaknya telah menghalangi Agung Sedayu untuk menceriterakan seluruh pengalamannya.

Meskipun demikian, pengalaman di perjalanan itu pun telah sangat menarik perhatiannya. Bahwa orang-orang yang dibakar dendam dihatinya masih saja memburu Agung Sedayu kemanapun ia pergi.

“Bersukurlah kepada Tuhan,” berkata Kiai Gringsing, “karena perjalanan kalian telah mendapat perlindungannya.”

Agung Sedayu dan Glagah Putih mengangguk-angguk. Bahkan kulit Glagah Putih rasa-rasanya telah meremang apabila ia mengingat apa yang telah terjadi. Rasa-rasanya hanya suatu keajaiban sajalah yang telah menolong mereka, karena tiba tiba saja salah seorang dari kelima orang itu telah dicengkam oleh kesakitan tanpa sebab.

“Jika tidak terjadi keajaiban itu, maka aku dan kakang Agung Sedayu tidak akan pernah kembali kepadepokan ini lagi,” berkata Glagah Putih didalam hatinya.

Namun dalam pada itu. Agung Sedayu pun telah mengucapkan sukur didalam hatinya pula. Tanpa kurnia kemampuan untuk membebaskan diri, maka tidak akan ada lagi hari esok baginya dan bagi Glagah Putih.

Meskipun demikian. Kiai Gringsing masih memberikan beberapa nasehat kepada kedua anak muda itu, agar selanjutnya, mereka tetap berhati-hati dan tidak lupa untuk selalu memohon perlindungan Yang Maha Pencipta.

“Sudahlah,” berkata Kiai Gringsing, “beristirahatlah. Besok ceriteramu masih panjang jika kawan-kawanmu datang merubungimu. Siapkan sajalah sebuah ceritera yang sangat menarik. Sekarang, tidurlah.”

Agung Sedayu dan Glagah Putih masuk kedalam biliknya. Namun ternyata Agung Sedayu tidak segera tertidur. Berbeda dengan Glagah Putih yang selain letih yang mencengkam seluruh tubuhnya, maka ia merasa dalam keadaan yang aman dipadepokannya, sehingga karena itu, maka ia pun segera tertidur nyenyak.

Dalam kegelisahannya. Agung Sedayu pun sadar, bahwa ia harus memberikan laporan yang lebih lenggkap kepada gurunya, ia harus memberitahukan apa yang pernah dialaminya di rumah Ki Waskita.

Karena itu, maka ketika Glagah Putih telah tertidur nyenyak. Agung Sedayu pun bangkit perlahan-lahan.

Dengan hati-hati ia pun kemudian beringsut dan justru pergi keluar dari biliknya.

Padepokannya memang sudah sepi. Seolah-olah tidak seorang pun yang masih terbangun, namun ketika ia menjengukkan kepalanya keruang dalam, ternyata gurunya masih duduk diatas tikar yang dibentangkannya di sudut ruangan bersandar dinding sambil menyelimuti badannya dengan kain panjangnya. Ikat kepalanya tidak lagi dipakainya diatas kepala, tetapi tersangkut di lehernya.

“Kemarilah Agung Sedayu,” berkata gurunya, “aku sudah mengira bahwa kau tentu tidak akan segera tidur seperti Glagah Putih. Tentu masih ada yang ingin kau ceriterakan kepadaku. Pengalaman yang berbeda dengan pengalamanmu di perjalanan.”

Agung Sedayu pun kemudian duduk didepan gurunya dengan kepala tunduk.

Sejenak Kiai Gringsing memandang muridnya. Tentu perjalanan itu tidak sia-sia, apalagi hampir saja merampas nyawanya bersama Glagali Putih.

“Katakan, apa yang telah kau lakukan,” berkata gurunya.

Kepada Kiai Gringsing tidak ada satupun yang disembunyikan. Diceriterakannya apa yang telah dialaminya. Dan Agung Sedayu pun mengatakan, bahwa semua yang telah dilihatnya dalam kitab itu seolah-olah telah terpahat didalam hatinya. Ia akan dapat menyebut, setiap huruf yang terdapat dalam kitab itu.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia mendengarkan ceritera Agung Sedayu dengan hati yang berdebar-debar. Dan ia pun mengangguk-angguk dengan kerut-merut dikening ketika Agung Sedayu mengatakan bahwa meskipun ia belum mempelajari makna dari isi kitab itu, maka ia sudah terpengaruh karenanya. Seolah-olah semua ilmunya telah meningkat.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia melihat suatu masa yang cerah pada Agung Sedayu dari segi penguasaan ilmunya. Tetapi ia masih tetap melihat Agung Sedayu dalam ujud jiwani yang tidak berbeda dengan Agung Sedayu sebelumnya.

Meskipun demikian Kiai Gringsing berkata, “bersyukurlah Agung Sedayu, bahwa kau telah mendapat kurnia yang tiada taranya. Kurnia kemampuan daya tangkapmu yang tidak terdapat pada setiap orang. Dan Kurnia bahwa kau mendapat kesempatan membaca kitab Ki Waskita. Namun selanjutnya terserah kepadamu, karena yang ada padamu itu akan dapat kau pergunakan untuk banyak kepentingan. Kepentingan yang baik tetapi juga kepentingan yang buruk.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya.

“Justru karena kurnia itu, maka tanggung jawabmu menjadi bertambah besar. Tanggung jawabmu terhadap masa langgeng-mu.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Desisnya, “Ya guru. Aku menyadari semuanya itu.”

“Syukurlah Agung Sedayu. Kau nampaknya telah memanjat semakin tinggi. Kau dapat melihat kewawasan yang lebih luas. Tetapi jika kau tergelincir, maka kau akan jatuh dari tempat yang lebih berbahaya pula.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia masih mengangguk-angguk kecil.

“Agung Sedayu,” berkata gurunya, “kau dapat mengkhususkan waktu untuk mempelajari makna dari isi kitab itu. Tetapi jangan tergesa-gesa. Kau harus benar-benar mapan dan menyiapkan diri untuk melakukannya, karena yang akan kau alami adalah suatu gejolak didalam dirimu karena gelora ilmu yang seolah-olah mendapat arus baru yang sangat dahsyatnya.”

Agung Sedayu mengangkat wajahnya sejenak. Namun kemudian wajahnya tertunduk lagi. Namun terdengar ia menjawab, “Ya. Aku akan selalu mendengarkan petunjuk guru dalam hal yang bagiku masih terasa asing ini.”

“Berhati-hatilah menghadapi masa depanmu Agung Sedayu. Kau jangan lupa terhadap dirimu sendiri. Terhadap semuanya yang telah kau lakukan sampai saat ini,” berkata gurunya kemudian.

Agung Sedayu mengangguk sambil berdesis, “Ya guru. Aku akan tetap berusaha agar aku selalu sadar akan diriku sendiri.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya dalam nada yang dalam, “Kau sudah tidak lagi berdiri dalam tataran yang setingkat dengan saudara seperguruanmu Agung Sedayu. Mungkin akan ada seseorang yang menyalahkan aku, karena aku memberikan kesempatan yang berbeda atas dua orang muridku. Aku memberimu kesempatan membaca kitab dan memahatkan isinya didalam batimu, sedangkan tidak demikian bagi Swandaru. Mungkin aku memang seorang guru yang kurang baik dan kurang bijaksana sehingga aku telah berbuat kurang adil. Namun semuanya itu tergantung juga kepada orang lain yang memiliki kitab itu. Agaknya Ki Waskita hanya memberi kesempatan kepadamu, tidak kepada Swandaru. Namun seandainya Swandaru mendapat kesempatan yang sama, ia tidak memiliki kemampuan menyimpan ingatan setajam kemampuan yang dikurniakan kepadamu.”

Agung Sedayu masih menunduk. Kepalanya terangguk-angguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab.

adbm-121-01 “Sudahlah Agung Sedayu. Beristirahatlah. Yang ada padamu adalah peristiwa yang besar. Yang pada suatu saat nampak, baik kau sengaja atau tidak kau sengaja. Sekali lagi, terserah kepadamu, warna apakah yang akan kau lukiskan pada hari depanmu dengan ilmu raksasamu itu,” gurunya berhenti sejenak, lalu. “tidak banyak anak muda yang mendapat kesempatan seperti yang kau dapatkan. Di Pajang dan Mataram, tentu akan dapat dihitung dengan jari tangan. Hanya Senapati Ing Ngalaga dan Pangeran Benawa sajalah yang tidak akan dapat diperbandingkan ilmunya, karena mereka memiliki sumber yang tiada taranya.”

Dada Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia tetap tidak menjawab.

 “Nah, tidurlah. Aku sudah dapat melihat gambaran tentang dirimu setelah kau menempuh perjalanan yang mendebarkan itu. Untunglah bahwa kau masih tetap mendapat perlindungan Yang Maha Agung, sehingga kau mendapat jalan untuk melepaskan diri dari cengkaman kesulitan yang gawat.”

Agung Sedayu pun kemudian minta diri kepada gurunya untuk kembali kedalam biliknya. Perlahan-lahan ia membaringkan dirinya disamping Glagah Putih yang masih tidur dengan nyenyaknya disebuah amben yang cukup lebar.

Masih ada satu hal yang belum di sampaikan kepada gurunya karena Agung Sedayu masih menunggu waktu yang lebih longgar. Surat rontal Ki Waskita buat Kiai Gringsing yang tentu akan menyangkut dirinya.

Sejenak Agung Sedayu masih digelut oleh sebuah angan-angan tentang dirinya dimasa mendatang. Namun semuanya menjadi semakin kabur. Akhirnya ia pun tertidur dengan nyenyaknya pula seperti Glagah Putih.

Dalam pada itu, selagi Agung Sedayu dan Glagah Putih terlena dipembaringannya, maka Sabungsari dengan gelisah menunggu para pengikutnya. Ia memang memperhitungkan bahwa para pengikutnya akan melanjutkan perjalanan dimalam hari karena mereka membawa tawanan. Karena itulah, maka Sabungsari dengan hampir tidak sabar lagi menunggu salah seorang dari pengikutnya datang dan memberitahukan kepadanya, bahwa Agung Sedayu telah mereka simpan di sebuah hutan yang sepi di tereng Gunung Merapi.

“Aku akan membunuhnya dan membuktikan baktiku kepada orang tuaku,” geramnya.

Tetapi Sabungsari menjadi sangat gelisah ketika sampai lewat tengah malam tidak seorang pun yang datang kepadanya, memberitahukan kehadirannya sambil membawa Agung Sedayu. Bahkan, sampai menjelang dini hari, orang-orang yang ditunggunya tidak kunjung datang.

Sabungsari yang gelisah itu pun kemudian bangkit dari pembaringannya dan keluar kehalaman baraknya. Kegelisahannya menjadi semakin mencengkamnya ketika langit telah menjadi merah.

“Gila,” geram Sabungsari sambil berdiri di regol baraknya, “apakah mereka telah menjadi gila?”

Sabungsari terkejut ketika seorang penjaga regol mendekatinya sambil bertanya, “He, apakah yang kau cari di dini hari begini?”

Sabungsari tergagap. Namun kemudian jawabnya, “Udara segar sekali menjelang fajar. Aku akan berjalan-jalan.”

Penjaga regol itu tidak menjawab lagi. Dibiarkannya Sabungsari meninggalkan regol dan berjalan menyusuri jalan menuju ke bulak di hadapan padukuhan.

Namun kegelisahan Sabungsari benar-benar telah membakar jantung. Seharusnya salah seorang dari para pengikutnya sudah datang kepadanya untuk memberitahukan dimana Agung Sedayu mereka simpan.

“Aku cekik mereka sampai pingsan,” geramnya.

Dengan hati yang gelisah Sabungsari berjalan di sepanjang bulak. Tetapi ia tidak menjumpai seorang pun dari para pengikutnya. Yang ditemuinya adalah satu dua orang yang menunggui air disawahnya.

Ketika langit menjadi semakin terang, maka Sabungsari pun kembali ke baraknya. Hari itu sesuai dengan laporan kehadirannya kembali dan permohonannya sendiri, ia masih diijinkan untuk beristirahat. Para pemimpinnya menaruh belas kepadanya, karena Sabungsari mengatakan bahwa ia mengalami kesusahan di rumahnya.

Tetapi Sabungsari sendiri merasa jantungnya bagaikan meledak oleh kemarahannya kepada para pengikutnya. Hari itu seharusnya akan dipergunakannya untuk membuat perhitungan dengan Agung Sedayu yang dianggapnya masih belum melampaui kemampuannya.

“Mungkin mereka menunggu siang hari,” berkata Sabungsari kepada diri sendiri, “mungkin mereka segan menjawab pertanyaan penjaga regol yang tentu akan mencurigainya jika salah seorang dari mereka datang dimalam hari.”

Dengan demikian Sabungsari menjadi agak tenang sedikit. Namun bagaimanapun juga, ia tidak dapat mengusir kegelisahannya sama sekali, apalagi ketika kemudian ternyata, bahwa ketika matahari terbit, tidak seorang pun juga yang datang.

“Apakah ada yang kau tunggu?” bertanya seseorang yang melihat Sabungsari menjadi gelisah dan setiap kali melihat kejalan diluar regol.”

Sabungsari mencoba tersenyum. Jawabnya, “Tidak. Tetapi aku memang sedang gelisah. Rasa-rasanya aku tidak tenang dimanapun juga berdiri atau duduk.”

Kawannya mengangguk-angguk. Gumamnya, “Kau harus menenangkan dirimu. Cobalah dengan kesibukan-kesibukan kerja sehari-hari. Kau akan segera melupakan kesusahanmu.”

Sabungsari mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan mencobanya.”

Namun Sabungsari mengumpat umpat didalam hati. Ia memang tidak mempunyai alasan lain agar pada hari itu ia masih mendapat kesempatan menghindari tugas-tugasnya sehari-hari. Tetapi bahwa prajurit itu menaruh belas kasihan kepadanya adalah memuakkan sekali.

 “Aku dapat mencekiknya sampai mati tanpa meraba tubuhmu,” geram Sabungsari didalam hatinya.

Sementara itu, para pengikutnya sebenarnya memang sudah sampai di sekitar Jati Anom. Tetapi mereka ragu-ragu untuk segera menjumpai Sabungsari. Mereka masih harus membicarakan, alasan apakah yang dapat mereka katakan, bahwa Agung Sedayu ternyata telah berhasil melepaskan diri, sedangkan salah seorang dari kawan mereka justru telah dibunuh oleh orang-orang Pesisir Endut.

“Mungkin kita akan dibunuhnya,” desis salah seorang dari mereka.

“Mungkin. Tetapi aku memilih mati dengan senjata di tangan. Meskipun aku akan berhadapan dengan Sabungsari.”

“Matanya akan meremas jantungmu,” desis yang lain.

“Mudah-mudahan kalian juga bersikap jantan. Ia tidak akan dapat mempergunakan ilmu iblis itu untuk melawan kita berempat. Kita akan menyerangnya dari empat penjuru. Ia tidak akan mendapat kesempatan untuk memusatkan tusukan ilmu yang terpancar dari matanya itu kepada salah seorang dari kita, karena dari segala arah kita akan menyerang.”

Sejenak mereka terdiam. Memang tidak ada pilihan lain. Jika Sabungsari mengambil jalan kekerasan, maka mereka akan mempertahankan diri sampai kemungkinan terakhir, karena akhir dari segalanya adalah mati.

“Jika demikian, kita akan menemuinya sekarang,” desis salah seorang dari mereka.

“Biarlah kekuatan kita pulih kembali. Kita akan datang dengan senjata di lambung. Karena itu, biarlah kita beristirahat sehari ini untuk memulihkan kekuatan kita. Sore nanti kita akan menemuinya.”

Kawan-kawannya pun mengangguk-angguk. Mereka memang merasa perlu untuk beristirahat. Mereka memulihkan kekuatan mereka dengan makan dan minum. Yang terluka telah membubuhkan obat pada luka-lukanya. Sementara yang kehilangan senjatanya telah memperlengkapi dirinya dengan senjata lain yang memang mereka simpan sebagai cadangan.

Ketika matahari menjadi semakin tinggi, kegelisahan Sabungsari tidak dapat ditahankannya lagi. Diluar sadarnya, maka ia pun berjalan meninggalkan baraknya tanpa tujuan. Ia menyusuri bulak panjang sambil melihat tanaman yang hijau terbentang dari padukuhan sampai kepadukuhan yang lain.

Diluar sadarnya Sabungsari telah berjalan semakin jauh. Bahkan kemudian ia telah berada di pategalan yang digarap oleh orang-orang dipadepokan kecil yang dihuni pula oleh Kiai Gringsing dan muridnya.

Namun tiba-tiba saja dadanya bagaikan retak ketika ia melihat sekelompok kecil anak-anak muda yang sedang bekerja di pategalan. Di antara mereka ternyata terdapat Agung Sedayu.

Sejenak Sabungsari bagaikan mematung Ia tidak salah lihat. Anak muda itu adalah Agung Sedayu. Sedangkan di sebelah lain terdapat seorang anak muda yang bertubuh tinggi. Glagah Putih.

“Setan,” ia nmengumpat didalam hati, “bagaimana mungkin anak itu dapat membebaskan diri dari tangan orang-orangku. Apakah aku memang sudah gila sehingga penglihatanku tidak wajar lagi.”

Sabungsari mencoba mengingat-ingat.

“Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa anak itu sudah terikat. Bahkan dengan cambuknya sendiri,” geram Sabungsari, “tetapi kenapa kini tiba-tiba saja ia berada ditempat itu.”

Sejenak Sabungsari menilai penglihatannya dipantai Selatan. Ia memang sudah melihat.

“Apakah yang aku lihat bukannya Agung Sedayu yang sebenarnya? Apakah aku sudah dipengaruhi oleh penglihatan-penglihatan semu atau bahkan mungkin oleh penghuni-penghuni laut Selatan, seolah-olah aku melihat Agung Sedayu telah tertangkap? Atau penglihatan-penglihatan lain yang bukan sebenarnya? Atau aku memang sudah gila?”

Beberapa saat Sabungsari masih berdiri membeku. Jantungnya bagaikan berdentangan didalam dadanya, sementara nafasnya tiba-tiba saja terasa memburu. Rasa-rasanya anak muda itu baru saja terbangun dari sebuah mimpi yang dahsyat, yang telah memberinya kepuasan atas tertangkapnya Agung Sedayu. Tetapi ternyata kini ia dihadapkan pada suatu kenyataan, Agung Sedayu masih bebas bekerja di pategalannya bersama Glagah Putih.

Darah Sabungsari serasa mendidih didalam tubuhnya. Sambil mengepalkan jari-jari tangannya ia menggeram, “Aku tidak mau menunggu lagi. Sekarang aku akan membunuhnya, seorang dari mereka akan berlari melaporkan kepada gurunya, tetapi aku tidak peduli.”

Namun ketika kakinya sudah siap untuk melangkah, tiba-tiba saja sepercik pikiran yang lain telah meloncat dihatinya. Ia mulai mengurai peristiwa yang dihadapinya.

“Apakah ia berhasil melepaskan diri dan membunuh kelima orang yang telah menangkapnya?” Sabungsari mulai bertanya kepada diri sendiri.

Pertanyaan itu ternyata telah membuatnya menjadi agak ragu untuk bertindak. Jika benar Agung Sedayu berhasil membunuh kelima orang pembantunya justru saat tangannya telah terikat, maka itu berarti bahwa Agung Sedayu memang memiliki ilmu yang luar biasa.

Sambil mengerutkan keningnya ia mulai membayangkan kembali, apakah yang sudah terjadi. Kelima orang pembantunya berhasil menangkap Agung Sedayu bukan karena mereka mampu melampaui kemampuan anak muda itu. Tetapi karena mereka dapat menangkap Glagah Putih lebih dahulu, yang dipergunakan untuk memaksa Agung Sedayu menyerah.

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Ia harus memperhitungkan semuanya itu. Tetapi itu bukan berarti bahwa maksudnya untuk membunuh Agung Sedayu harus diurungkan-nya. Menurut penglihatannya, saat Agung Sedayu bertempur melawan kelima orang pembantunya, meskipun anak muda itu benar-benar seorang anak muda yang berilmu tinggi, namun rasa-rasanya ia masih akan dapat menguasainya. Sabungsari akan dapat menyerang Agung Sedayu pada jarak yang tidak dapat dijangkaunya. Menurut perhitungannya. Agung Sedayu tentu akan dapat dikalahkannya dengan serangan yang dipancarkan lewat sorot matanya.

Namun Sabungsari tidak sempat berpikir lebih panjang lagi. Pada saat ia masih ragu-ragu, terdengar suara Glagah Putih memanggilnya, “Sabungsari.”

Semua orang yang ada di pategalan itu mengangkat wajahnya. Mereka melihat seorang anak muda yang berdiri termangu-mangu.

Sabungsari pun kemudian melangkah mendekat. Ia memaksa dirinya untuk tersenyum. Dengan suara yang dibuat-buat ia kemudian bertanya, “He, kapan kalian datang?”

“Kemarin menjelang petang,” jawab Agung Sedayu.

Sabungsari pun mendekat lagi. Ia memaksa bibirnya tersenyum semakin lebar. Katanya, “Kau tiba-tiba saja pergi.”

Agung Sedayu melangkah mendekat pula. Jawabnya, “Ah, aku ingin melihat sesuatu yang agak berbeda dengan suasana padepokan kecilku.”

“Kemana kau selama ini Agung Sedayu?” bertanya Sabungsari.

“Sekedar melihat-lihat. Aku diajak oleh Ki Waskita melihat padukuhannya.”

Sabungsari mengangguk-angguk. Rasa-rasanya ia tidak sabar menahan hatinya untuk bertanya, apa saja yang dialaminya di perjalanan. Tetapi ia tidak mau dicurigai dengan pertanyaan-pertanyaannya.

Ternyata bahwa Agung Sedayu tidak mengatakan sesuatu tentang dirinya. Tentang pengalamannya yang pahit di perjalanan atau tentang orang-orang yang telah menangkapnya. Bahkan Agung Sedayu sama sekali tidak menceriterakan perjalanannya lewat Pesisir Selatan.

Sabungsari masih belum dapat memancing Agung Sedayu untuk berceritera lebih banyak. Anak muda itu ternyata lebih banyak berceritera tentang tanah pategalan yang sedang digarapnya itu.

“Gila. Apakah aku memang sudah gila,” geram Sabungsari.

Tetapi Agung Sedayu sama sekali tidak menceriterakan perjalanannya.

Ternyata Agung Sedayu memang sudah mendapat pesan dari gurunya. Untuk sementara ia dan Glagah Putih tidak dibenarkan untuk menceriterakan pengalamannya yang pahit di Pesisir Selatan. Kiai Gringsing melihat peristiwa itu bukannya peristiwa yang berdiri sendiri tanpa hubungan dengan keadaan di Jati Anom. Usaha orang-orang yang mencegatnya untuk menangkapnya hidup-hidup mengingatkannya kepada dendam Carang Waja dari Pesisir Endut.

 “Mungkin ada orang lain yang mendendammu pula Agung Sedayu. Karena itu, jangan menceriterakan pengalamanmu itu kepada siapapun juga untuk sementara.”

Glagah Putih dan para penghuni padepokan yang sudah terlanjur mendengar ceritera itu pun telah mendapat pesan serupa agar mereka tidak mendapat perlakuan yang tidak diharapkannya.

Pertemuannya dengan Agung Sedayu, telah membuat Sabungsari benar-benar bagaikan orang gila. Apalagi sikap Agung Sedayu dan Glagah Putih yang seolah-olah tidak pernah mengalami sesuatu apapun di perjalanan.

Ada keinginan Sabungsari untuk memancing agar Agung Sedayu menceriterakan seluruh pengalamannya di perjalanan. Namun ternyata yang dikatakan oleh Agung Sedayu adalah perjalanan yang menyenangkan dan seolah-olah perjalanan tamasya setelah berhari-hari bekerja berat.

Akhirnya Sabungsari memutuskan untuk meninggalkan Agung Sedayu dan Glagah Putih. Ia masih ingin menunggu orang-orangnya sehari itu. Jika mereka tidak datang, maka ia akan mengambil sikap lain. Mungkin mereka telah dibunuh oleh Agung Sedayu yang tentu akan mampu melakukannya, apabila ia dapat memisahkan Glagah Putih dari arena perkelahian. Atau Agung Sedayu memang sudah tahu, bahwa orang-orang itu adalah pengikut-pengikutnya sehingga ia tidak mengatakan sesuatu tentang mereka.

“Kau tidak singgah dipadepokan?” bertanya Agung Sedayu tanpa prasangka apapun.

Glagah Putih pun menambahkannya, “Aku membawa oleh-oleh buatmu dari daerah di sekitar Kali Praga itu.”

Sabungsari memaksa dirinya untuk tersenyum. Jawabnya, “Lain kali Agung Sedayu. Aku masih mempunyai tugas hari ini. Mungkin besok, mungkin malam nanti jika tugas-tugasku telah selesai dan aku mendapat waktu yang cukup, aku akan datang kepadepokanmu.”

“Dan sekarang, apakah sebenarnya yang akan kau lakukan?” bertanya Glagah Putih.

Sabungsari menjadi bingung. Namun kemudian ia tertawa sambil menjawab, “Tidak ada. Aku hanya kesepian saja. Seperti yang sering aku katakan, aku sering merasa jemu hidup didalam barak itu.”

Sambil berjalan kembali kebaraknya Sabungsari mengumpat-umpat didalam hati. Ia tidak mengerti, keadaan yang bagaimanakah yang dihadapinya. Kadang-kadang ia merasa seperti mimpi. Namun kadang-kadang ia menduga, apakah yang dilihatnya itu bukannya Agung Sedayu yang sebenarnya. Atau barangkali ia memang sudah gila dan tidak mengerti lagi apa yang dilihat dan dialaminya.

Ketika ia sampai di baraknya maka ia pun langsung pergi kedalam biliknya. Dibaringkannya dirinya di pembaringan sambil berangan-angan.

“He, apakah kau sakit?” bertanya seorang kawannya yang menjengukkan kepalanya kedalam biliknya.

Sabungsari mengangkat kepalanya. Namun sambil meletakkannya kembali ia menjawab, “Tidak. Aku tidak sakit. Tetapi rasa-rasanya aku letih sekali.”

 “Hatimulah yang sakit. Kau harus banyak berbuat sesuatu agar peristiwa yang tidak menyenangkan itu segera kau lupakan. Jangan banyak berangan-angan.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak menjawab. Tetapi ia mengumpat-umpat tidak ada habisnya. Seolah-olah ia adalah orang yang paling malang didunia. Semua orang berbelas kasihan kepadanya.

Hari itu Sabungsari mengisi waktunya dengan tidur sejauh-jauh dapat dilakukan. Ketika matahari turun, ia keluar dari biliknya untuk mandi ke sungai. Untuk beberapa saat lamanya ia duduk diatas sebuah batu sambil mengamati ikan-ikan yang berenang menentang arus sungai. Beriring-iringan. Ada yang kecil, sekecil kelingking. Tetapi ada yang agak besar.

Sabungsari baru bangkit ketika matahari telah terbenam dibalik Gunung. Sekali ia menggeliat. Kemudian perlaan-lahan ia melangkah diatas pasir tepian dan berjalan mendaki tebing. Ketika ia berpaling, dilihatnya arus air yang tidak bergitu besar yang menyusup di antara bebatuan yang berserakkan.

“Mampuslah semuanya,” geram Sabungsari.

Sambil menggeretakkan giginya ia pun kemudian bergegas kembali kebaraknya.

Langit telah menjadi buram dan satu-satu bintang mulai nampak di antara awan yang mengalir perlahan-lahan. Dari kejauhan Sabungsari melihat, obor di regol sudah dinyalakan.

Langkahnya tertegun ketika ia melihat seseorang berjalan tergesa-gesa mendekati regol. Ia tidak salah lagi, orang itu adalah salah seorang pengikutnya.

Karena itu, maka ia pun kemudian berlari-lari kecil. Sebelum pengikutnya itu sampai keregol, Sabungsari telah menyusulnya dan menggamitnya.

“He, kau akan kemana?” bertanya Sabungsari.

Orang itu terkejut. Ketika ia berpaling, dilihatnya Sabungsari berdiri tegak sambil memandanginya dengan tajam.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun mengangguk hormat. Katanya, “Aku akan mencari Ki Lurah.”

“Gila. Kalian sudah gila. Kenapa baru sekarang? Kenapa?” bertanya Sabungsari.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jika Ki Lurah berkenan, marilah. Kawan-kawan menunggu dibawah pohon itu. Banyak masalah yang akan kami laporkan.”

Sabungsari mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Marilah. Tetapi kalian jangan mencoba mengelakkan tanggung jawab agar kalian tidak aku cekik sampai mati.”

Orang itu tidak menjawab. Namun kemudian dibawanya Sabungsari kepada kawannya yang menunggunya ditempat yang sepi dan terlindung.

Ketika Sabungsari sudah duduk di antara mereka, maka nampak wajahnya menjadi tegang. Gumamnya, “Jumlah kalian kurang seorang.”

“Itulah yang akan kami laporkan,” desis salah seorang pengikutnya.

“Laporkan seluruhnya apa yang telah terjadi,” geram Sabungsari.

Keempat orang pengikutnya itu saling berpandangan sejenak. Kemudian yang tertua di antara mereka pun beringsut setapak sambil berkata, “Mungkin laporan kami tidak begitu menyenangkan.”

“Persetan. Katakan, dimana Agung Sedayu sekarang he? Apakah kalian tidak berhasil menangkapnya?”

Pengikutnya itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Aku akan mulai sejak permulaan sekali.”

“Cepat katakan,” bentak Sabungsari, “jangan berputar-putar tanpa ujung dan pangkal. Aku sudah jemu menunggu. Kalian pergi terlalu lama sehingga aku hampir menjadi gila karenanya. Sekarang katakan, dimana Agung Sedayu kalian sembunyikan.”

Keempat orang pengikutnya itu pun menjadi berdebar-debar. Mereka sadar, jika mereka mengatakan bahwa Agung Sedayu tidak berhasil mereka bawa dalam keadaan terikat, maka Sabungsari tentu akan marah sekali. Tetapi mereka tidak akan dapat mengatakan laporan yang lain, meskipun mereka belum mengetahui bahwa sebenarnya Sabungsari telah bertemu dengan Agung Sedayu.

Tetapi bagaimanapun juga, jantung mereka rasa-rasanya berdegup semakin cepat. Bahkan diluar sadarnya, salah seorang dari mereka telah meraba hulu pedangnya. Untunglah bahwa Sabungsari kebetulan tidak sedang memperhatikannya.

Dalam pada itu, orang yang tertua di antara mereka pun kemudian berkata, “Ki Lurah Sabungsari. Meskipun aku ingin menyembunyikannya, namun adalah suatu kenyataan bahwa hal itu telah terjadi.”

“Cepat.”

Orang itu pun kemudian dengan singlcat menceriterakan apa yang telah dialaminya meskipun ceritera itu sebenarnya tidak menarik lagi bagi Sabungsari yang ikut menyaksikan sebagian dari semua peristiwa yang mereka alami.

“Semula kami sudah berhasil menangkapnya,” desis orang itu.

Adalah diluar dugaan, bahwa tiba-tiba saja Sabungsari lelah menarik nafas dalam-dalam. Didalam hati anak muda itu berkata, “Bukan aku yang sudah menjadi gila. Peristiwa itu benar-benar terjadi. Agung Sedayu memang sudah tertangkap, tetapi ia berhasil melepaskan diri.”

Para pengikutnya menjadi termangu-mangu. Namun mereka terkejut ketika tiba-tiba saja Sabungsari membentak, “Jadi Agung Sedayu itu sekarang terlepas dari tangan kalian?”

“Ya Ki Lurah. Bahkan seorang kawan kami telah terbunuh.”

“Apakah kalian bertempur lagi melawan Agung Sedayu?” bertanya Sabungsari.

“Tidak. Agung Sedayu tidak kembali lagi. Nampaknya ia sudah menjadi jera.”

“Bohong. Agung Sedayu sama sekali tidak kalian kalahkan dengan pertempuran. Bukankah kau mengatakan bahwa kalian dapat menangkap Agung Sedayu karena kalian lebih dahulu menguasai Glagah Putih? Dengan demikian, seandainya Agung Sedayu menyembunyikan Glagah Putih, kemudian kembali kepada kalian, maka kalian akan ditumpasnya habis.”

Keempat orang itu menundukkan kepalanya. Tetapi didalam hati mereka pun mengakui, bahwa mereka berlima sebenarnya memang tidak dapat mengalahkan Agung Sedayu.

“Nah. jadi siapa yang membunuh seorang di antara kalian,” bertanya Sabungsari kemudian.

Pengikutnya itu pun menceriterakan pengalamannya lebih lanjut. Dikatakannya, bahwa mereka telah berjumpa dengan orang-orang dari Pesisir endut, sehingga kemudian terjadi perselisihan dan perkelahian.

“Jadi. seorang dari kalian telah dibunuh oleh tikus-tikus dari Pesisir Endut he?” geram Sabungsari.

“Ya Ki Lurah. Tetapi kami telah berhasil membunuh dua orang di antara mereka.”

“Persetan. Yang penting bukan berapa orang kau membunuh. Tetapi kalian telah kehilangan seorang kawan,” bentak Sabungsari. Untunglah bahwa ia pun segera menyadari, jika ia berteriak terlalu keras, maka suaranya dapat didengar oleh satu dua orang jika kebetulan mereka berada disawah.

Para pengikutnya hanya menundukkan kepalanya. Namun jantung mereka bagaikan mekar ketika mereka mendengar Sabungsari berkata, “Dendamku telah dinyalakan pula oleh orang-orang Pesisir Endut. Setelah aku membunuh Agung Sedayu, maka aku akan membuat perhitungan dengan tikus-tikus yang sudah kehilangan pimpinannya itu.”

Para pengikutnya hanya dapat mengangguk-angguk kecil. Sementara Sabungsari berkata seterusnya, “Jadi kalian telah kehilangan Agung Sedayu dan seorang kawan.”

“Ya Ki Lurah,” berkata orang tertua di antara mereka.

Sabungsari menggeram. Katanya kemudian, “Untunglah, aku telah menemukan Agung Sedayu. Jika tidak, muka kalianlah yang akan mati sebagai penggantinya.”

Tidak seorang pun yang menyahut.

Dalam pada itu, Sabungsari pun telah bertanya mengenai perincian peristiwa yang mereka alami. Ia juga bertanya dalam beberapa hal, kenapa tiba-tiba saja orang yang berkuda di belakang Glagah Putih disaat Agung Sedayu sudah mereka kuasai, telah terpelanting dari kudanya.

“Itulah yang tidak kami ketahui Ki Lurah.”

“Tidak. Kau tentu mengantuk. Kemudian terjatuh dari punggung kuda dalam keadaan yang tidak mapan sehingga tulang punggungmu terkilir.”

Orang yang mengalami hal itu termangu-mangu sejenak. Ia mencoba mengingat-ingat. Namun rasa-rasanya ia tidak sedang mengantuk.

Tetapi Sabungsari berkata terus, “Mungkin kau bermimpi mengalami sesuatu saat matamu terpejam sekejap. Lalu kau terjatuh. Untunglah kepalamu tidak terinjak kaki kudamu yang terkejut.”

Orang itu tidak menjawab.

“Dengarlah,” geram Sabungsari kemudian, “kalian masih tetap dalam tugas mengawasi Agung Sedayu. Aku benar-benar tidak mau kehilangan anak itu. Awasilah, agar ia tidak meninggalkan padepokan tanpa aku ketahui arahnya.”

Para pengikutnya saling berpandangan. Namun kemudian mereka tidak dapat berbuat lain kecuali mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Kali ini aku tidak memberikan hukuman apapun bagi kalian. Kehilangan seorang kawan memang pahit. Tetapi datang saatnya aku akan menjadikan Pesisir Endut itu karang abang,” geram Sabungsari.

Pengikutnya masih terdiam.

“Pergilah. Aku akan menentukan saat yang tepat untuk membuat perhitungan dengan Agung Sedayu lebih dahulu, sebelum aku akan pergi ke sarang tikus di Pantai Selatan itu.”

Keempat orang pengikut Sabungsari itu tiba-tiba lelah menarik nafas dalam sambil bangkit berdiri dan meninggalkan tempatnya.

Sepeninggal para pengikutnya, Sabungsari masih duduk sejenak dibawah sebatang pohon sukun, dalam gelapnya malam yang menjadi semakin dalam.

Diluar sadarnya, ia mulai menilai Agung Sedayu. Bukan saja kemampuannya, tetapi juga sifat dan wataknya.

“Anak itu memang aneh. Ia sadar sepenuhnya bahwa kelima orang itu benar-benar akan menangkapnya, bahkan mungkin akan membunuhnya dengan cara yang bengis. Namun Agung Sedayu seolah-olah memaafkannya. Jika ia berniat, maka kelima orang itu tentu akan dapat dibunuhnya. Beberapa orang sudah terluka. Dengan menyembunyikan Glagah Putih, maka ia tidak lagi dibebani pekerjaan yang baginya justru terlalu berat. Melindungi anak itu disamping mempertahankan hidupnya sendiri melawan lima orang yang kasar dan garang.”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Tanpa dikehendakinya sendiri, telah terbersit kekagumannya terhadap Agung Sedayu. Bukan saja dalam olah kanuragan, tetapi juga sifat dan wataknya. Meskipun ia memiliki ilmu yang tinggi, bahkan hampir diluar jangkauan nalar, tetapi ia adalah anak muda yang rendah hati. Sabungsari tidak pernah berhasil memancing Agung Sedayu untuk memamerkan meskipun hanya sebagian kecil dari kemampuannya.

 “Tentu ia bukan seorang pembunuh,” desisnya, “jika ia membunuh seseorang, tentu karena alasan yang sangat kuat. Bahkan mungkin untuk mempertahankan hidupnya sendiri.”

Sabungsari menjirik nafas dalam-dalam. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya bintang-bintang bergayutan dilangit.

Namun tiba-tiba seperti orang yang terbangun dari mimpinya ia bangkit sambil menghentakkan tangannya, “Tidak. Aku bukan seorang yang cengeng. Aku harus membunuhnya karena ia sudah membunuh ayahku. Jika ia nampak sebagai seorang anak muda yang ramah dan rendah hati itu tentu hanya sekedar selubung untuk menyelimuti kejahatannya.”

Dengan langkah yang panjang Sabungsari meninggalkan tempatnya. Dengan loncatan-loncatan yang tangkas ia melampaui pematang dan parit yang melintang.

Tetapi ia tidak segera dapat membunuh penilaiannya terhadap Agung Sedayu. Justru karena itu, maka ia pun menjadi sangat gelisah.

Tiba-tiba saja Sabungsari itu menggeram sambil bergumam, “Aku akan menemuinya sekarang.”

Dengan tergesa-gesa Sabungsaripun kemudian pergi kepadepokan kecil yang terpisah dari padukuhan Jati anom, di antara pepohonan pategalan yang jarang.

Kedatangannya telah mengejutkan penghuni padepokan itu. Seorang anak muda yang berada di tangga pendapa menghirup sejuknya udara malam, terkejut melihat kedatangan Sabungsari. Meskipun hari masih belum terlalu malam, tetapi kunjungannya memang menimbulkan pertanyaan.

Agung Sedayu yang berada didalam rumah, mendengar pembicaraan di pendapa. Ia langsung dapat mengenal suara Sabungsari, sehingga ia pun tergesa-gesa keluar diikuti oleh Glagah Putih.

Sabungsari menegang ketika ia mendengar pintu pringgitan terbuka. Apalagi ketika ia melihat, Agung Sedayu muncul dari balik pintu diikuti oleh Glagah Putih.

Namun kekerasan hatinya bagaikan luluh ketika ia melihat Agung Sedayu tersenyum. Dibawah cahaya lampu minyak ia melihat senyum yang jujur dan ikhlas, sehingga hatinya pun menjadi kacau oleh ketidakpastian. Bayangan-bayangan yang nampak disaat ia merenungi anak muda itu dibawah pohon sukun mulai nampak kembali.

“Marilah Sabungsari,” Agung Sedayu mempersilahkan dengan ramah, “duduklah.”

Seperti dicengkam oleh pesona yang tidak dimengertinya, maka Sabungsari pun kemudian duduk diatas tikar yang sudah terbentang di pendapa padepokan kecil itu.

“Malam-malam begini kau datang ke padepokan ini Sabungsari?” bertanya Agung Sedayu.

Sabungsari menjadi agak bingung. Namun kemudian jawabnya seperti yang selalu diucapkannya, “Aku kepanasan di barak. Betapa jemunya melihat tombak bersandar didinding, melihat pedang tergolek hampir disetiap pembaringan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun Glagah Putihlah yang bertanya, “Bukankah kau telah memilih sendiri jalan hidupmu untuk mengabdi sebagai seorang prajurit?”

“Ya.” Sabungsari mengangguk, “tetapi terasa betapa tenangnya tinggal di padepokan ini.”

Agung Sedayu tertawa kecil. Katanya, “Apakah kau tinggal saja di padepokan ini?”

“Tentu tidak mungkin,” jawab Sabungsari, “aku seorang prajurit yang terikat oleh beberapa ketentuan.”

“Jika demikian, sering sajalah datang kepadepokan ini,” sahut Glagah Putih.

Sabungsari menarik nafas daiam-dalam. Diluar sadarnya, ia mengangguk-angguk sambil menjawab, “Aku akan berbuat demikian. Dalam waktu-waktu senggang, aku akan berada di padepokan ini.”

“Kami akan menerimamu dengan senang hati,” sambung Agung Sedayu.

Sabungsari mengangguk-angguk. Sekilas adbm-121-02 wajah Agung Sedayu yang cerah dan wajah Glagah Putih yang tulus. Tidak ada perasaan permusuhan sedikit pun juga pada sorot mata mereka.

 “Karena mereka tidak tahu, bahwa aku terlibat dalam permusuhannya dengan kelima orang yang bertempur melawannya di Pesisir Selatan itu,” berkata Sabungsari didalam hatinya, “jika saja ia mengetahui, mungkin ia akan bersikap lain.”

Tetapi ternyata bahwa dalam setiap pembicaraan dengan Agung Sedayu, Sabungsari tidak mendengar rasa dengki dan apalagi dendam. Ia jarang sekali menyebut seseorang sebagai lawan. Jika terpaksa dikatakannya demikian, maka permusuhan telah terhenti saat perkelahian telah terhenti pula.

Berbagai macam tanggapannya atas Agung Sedayu itu justru menjadikan semakin gelisah. Keringat dinginnya mulai mengalir membasahi kulitnya.

Ada semacam keragu-raguan yang menyusup didalam hatinya, bahwa ia harus melakukan pembunuhan terhadap seseorang yang sama sekali tidak memusuhinya.

 “Jika ia tahu, bahwa aku anak Ki Gede Telengan, mungkin anak muda itu akan bersikap lain,” geram Sabungsari didalam hatinya.

Tiba-tiba saja semuanya telah bergejolak didalam hatinya semakin lama semakin dahsyat, sehingga rasa-rasanya jantungnya berdentangan semakin cepat pula didalam dadanya.

 “Segalanya harus menjadi jelas. Sekarang juga aku akan menyelesaikan persoalan ini,” geram Sabungsari didalam hatinya.

Karena itu, ketika Glagah Putih sedang pergi keruang dalam ia berkata kepada Agung Sedayu, “Agung Sedayu. Dalam saat-saat terakhir aku mengalami tekanan jiwa. Sebenarnya aku ingin membebaskan diri dari himpitan itu. Tetapi aku tidak dapat. Karena itu, aku ingin kau memberi beberapa petunjuk sehingga dapat sedikit meringankan beban perasaanku itu.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya dengan ragu-ragu, “Apakah yang dapat aku lakukan untukmu Sabungsari?”

“Aku akan mengatakan sesuatu kepadamu. Aku tidak tahu, apakah tanggapanmu terhadap hal itu. Mungkin kau akan menaruh belas kasihan kepadaku. Tetapi mungkin kau akan mencibirkan bibirmu sambil menghinaku. Terserahlah kepadamu,” berkata Sabungsari dengan nada dalam.

“Katakan Sabungsari. Mungkin aku dapat membantumu. Setidak-tidaknya, jika kesulitan itu kau katakan kepada seseorang, beban dihatimu sudah akan berkurang.”

Sabungsari mengangguk kecil. Tetapi katanya kemudian, “Agung Sedayu. Kita belum terlalu lama berkenalan. Tetapi aku mempunyai kepercayaan yang sangat besar kepadamu. Meskipun demikian, persoalanku bukannya persoalan anak-anak yang masih terlalu muda. Persoalanku dalah persoalan anak muda yang dewasa seperti kita.”

“Ya,” sahut Agung Sedayu, “katakanlah.”

Sabungsari termangu-mangu sejenak. Ketika Glagah Putih kemudian muncul dari balik pintu, dengan tergesa-gesa Sabungsari berkata, “Aku tidak ingin Glagah Putih mendengarnya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa Sabungsari ingin mengatakan hal itu kepadanya seorang diri.

“Jadi, apa yang baik menurut pendapatmu,” desis Agung Sedayu.

Glagah Putih telah duduk di sebelah Agung Sedayu, sehingga Sabungsari menjadi gelisah. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Apakah kau tidak ingin pergi berjalan-jalan Agung Sedayu?”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Tetapi ia pun mengerti, bahwa dengan demikian, ia akan dapat berjalan berdua saja tanpa Glagah Putih.

“Tetapi bagaimana jika anak itu memaksa untuk ikut serta,” bertanya Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Dalam pada itu Glagah Putih telah menyahut, “Jika kakang pergi berjalan-jalan aku akan ikut.”

Agung Sedayu memandang adik sepupunya itu sejenak. Kemudian katanya, “Glagah Putih, ada sesuatu yang akan kami bicarakan. Sebaiknya kau tinggal saja dipadepokan mengawani guru. Apalagi kau masih harus banyak beristirahat.”

“Aku sudah beristirahat semalam suntuk dan sehari ini aku sudah berada di sawah bersama kakang Agung Sedayu,” jawab Glagah Putih.

“Kita belum beristirahat dalam arti sebenarnya,” sahut Agung Sedayu. “Sejak kita datang semalam kita harus menjawab pertanyaan tanpa henti-hentinya. Siang tadi kita sudah berada disawah. Nah, barangkali kau dapat tidur sekarang.”

Glagah Putih memandang Agung Sedayu dengan tatapan mata yang aneh. Bahkan dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah kakang Agung Sedayu sendiri sudah beristirahat sebaik-baiknya?”

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s