ADBM2-122

<<kembali | lanjut >>

SABUNGSARI memandang dua buah batu yang memang hampir sama besar. Tetapi ia tidak tahu, bagaimanakah Agung Sedayu akan mengangkat batu yang besarnya sebesar kepala gajah itu.

Sabungsari menjadi semakin heran, ketika ia melihat Agung Sedayu kemudian duduk diatas sebuah batu yang lain. Menyilangkan tangannya sambil berkata, “Berilah aku waktu. Aku yakin, bahwa kita tidak akan berbuat curang. Kita masing-masing adalah laki-laki jantan.”

Dengan heran Sabungsari melihat apa yang akan dilakukan oleh Agung Sedayu. Karena itu, maka ia pun kemudian berdiri saja mematung dengan hati yang berdebar-debar.

Dalam pada itu, maka Agung Sedayu pun kemudian memusatkan inderanya pada getaran ilmunya. Tatapan matanya tidak saja mampu meremas dan menghancurkan. Tetapi ia dapat berbuat sesuatu yang lain.

Sejenak Agung Sedayu memandang batu yang tergolek diatas pasir, di antara beberapa batu yang lain. Dengan kekuatan tatapan matanya, maka ia pun kemudian mengangkat batu itu perlahan-lahan.

Sabungsari bagaikan mematung, terpukau oleh kenyataan yang dihadapinya. Agung Sedayu dapat mengatur kemampuannya dan mengangkat batu yang besar itu perlahan-lahan, kemudian meletakannya diatas sebuah batu yang lebih besar lagi, sebesar seekor gajah yang sedang mendekam. Demikian pula dilakukannya atas batu yang sebuah lagi, sehingga kedua buah batu itu kemudian terletak berdampingan diatas sebuah batu yang besar sekali.

Setelah kedua batu itu terletak berdampingan, maka Agung Sedayu pun menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia ingin melepaskan ketegangan yang menyekat dadanya.

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu kemudian, “marilah kita bermain-main. Daripada kita mempergunakan diri kita masing-masing sebagai sasaran, maka baiklah kita mempergunakan benda lain yang barangkali lebih baik dari diri kita. Dengan demikian, maka yang menang di antara kita akan dapat menunjukkan kemenangannya kepada yang kalah, karena yang kalah masih akan tetap hidup. Sedangkan yang kalah akan sempat melihat kekalahannya. Jika kita mempergunakan diri kita masing-masing sebagai sasaran, maka yang menang tidak akan mendapat kepuasan karena tidak dapat menunjukkan kemenangannya kepada lawannya, sementara yang kalah pun tidak akan sempat mengakui kekalahannya, karena ia harus mati dalam benturan ilmu yang dahsyat itu.”

“Persetan,” geram Sabungsari, “aku ingin salah seorang dari kita akan mati.”

“Yang kalah akan menyerahkan nyawanya,” sahut Agung Sedayu dengan serta merta.

Namun jawaban Agung Sedayu itu mendebarkan hati Sabungsari. Seakan-akan Agung Sedayu yakin, bahwa ia akan memenangkan dengan pasti permainan ilmu yang dahsyat itu.

“Nah, terserahlah kepadamu. Jika kau tidak takut menghadapi kenyataan yang manapun juga, kita akan mengadu kemampuan kita masing-masing dengan dada terbuka. Baru kemudian, jika kau memang haus akan kematian, maka yang kalah akan dapat memenuhi nafsu membunuhmu itu.”

Sejenak Sabungsari termangu-mangu. Meskipun dalam keremangan malam, namun ia melihat wajah Agung Sedayu yang jernih. Seolah-olah ia tidak sedang berhadapan dengan lawan yang siap membunuhnya.

“Atau inilah ujud dari kesombongannya,” berkata Sabungsari didalam hatinya, “ia menganggap aku sama sekali tidak berdaya, sehingga demikian yakinnya bahwa ia akan memenangkan pertandingan ini.”

Terdorong oleh harga dirinya, tetapi juga sepeletik keragu-raguannya, maka Sabungsari berkata, “Aku terima tantanganmu yang penuh kesombongan itu Agung Sedayu. Jika aku dapat meremas batu itu lebih lumat dari yang dapat kau lakukan, maka kau akan terpaksa menyerahkan lehermu kepadaku. Aku akan memotong kepalamu dan membawa kembali kepadepokanku, sehingga semua pengikut Ki Gede Telengan melihat wajah pembunuh pemimpinnya.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Apakah ada niatmu untuk berbuat demikian? Apakah memang ada kekasaran itu didalam jiwamu.?”

Pertanyaan itu membuat Sabungsari berdebar-debar. Bahkan ia pun mulai bertanya kepada diri sendiri, “Apakah memang aku berniat demikian?”

Namun sekali lagi, Sabungsari melihat goncangan perasaannya itu sebagai suatu kelemahan. Karena itu ia menghentak sambil menjawab, “Ya. Aku memang sudah merencanakan demikian.”

“Baiklah,” jawab Agmg Sedayu, “apapun yang akan kau lakukan, terserahlah jika kau memang memenangkan permainan ini.”

Dada Sabungsari masih diguncang keragu-raguan. Namun ia menjawab lantang, “Marilah kita mulai. Kita tidak hanya dapat berbicara tanpa arti.”

“Marilah,” sahut Agung Sedayu, “kita akan duduk disini. Kita akan berlomba, siapakah yang dapat melumatkan batu-batu itu lebih cepat. Karena dengan demikian, seandainya kita membenturkan ilmu itu, maka yang lebih cepat itulah yang lebih kuat dan akan menang.”

Sabungsari pun kemudian duduk diatas sebuah batu dua langkah dari Agung Sedayu. Dipandanginya dua buah batu yang terletak diatas batu yang sangat besar. Diluar sadarnya ia pun kemudian memandangi batu-batu besar yang lain yang berserakan. Sentuhan matanya disaat-saat ia menyerang Agung Sedayu, berhasil memecahkan batu-batu itu meskipun hanya segumpal-segumpal. Namun jika ia berbuat demikian berulang-ulang dan tidak henti-hentinya, maka batu itu-pun tentu akan lumat.

 “Aku akan menghitung sampai tiga,” teriak Sabungsari, “kita akan segera mulai. Semakin cepat semakin baik, karena aku akan segera memenuhi janjiku kepada ayahku yang sudah tidak ada lagi karena kau bunuh di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu.”

“Kau sangat tergesa-gesa,” desis Agung Sedayu.

“Kau menunggu kesempatan untuk lolos? Kau tentu menunggu gurumu mencarimu karena kau terlalu lama pergi. Dengan demikian, kau berharap bahwa gurumu akan dapat menolong dan menyelamatkanmu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia melihat, bahwa keragu-raguan yang sangat telah mencengkam jantung anak muda itu.

“Baiklah,” jawab Agung Sedayu, “aku menunggu kau mengucapkan aba-aba itu.”

Sejenak malam menjadi hening. Hanya terdengar gemericik air sungai di antara batu-batu yang berserakkan.

Dalam pada itu, terdengar suara Sabungsari meneriakkan hitungan, “Satu – Dua – Tiga.”

Kedua anak muda itu terdiam. Masing-masing telah melontarkan kemampuan ilmunya yang sukar dicari bandingnya. Dengan tatapan matanya, mereka berlomba untuk memecah lumatkan batu yang besar dihadapan mereka pada jarak beberapa langkah.

Sejenak kedua anak muda itu diam bagaikan patung. Namun dari sorot mata mereka telah memancar kekuatan yang tidak ada bandingnya. Dengan kekuatan tatapan mata mereka, maka keduanya berusaha untuk menghancurkan batu yang telah diletakkan berjajar oleh Agung Sedayu.

Dalam pada itu, ketika tatapan mata Sabungsari yang memiliki sentuhan wadag itu menghantam batu dihadapannya, maka seperti yang telah terjadi sebelumnya, maka segumpal batu telah pecah dan berserakan diatas pasir. Tetapi Sabungsari tidak terhenti pada pecahan pertama. Sekali lagi ia mengulang, dan sekali lagi. Berbongkah-bongkah batu itu pecah dan runtuh diatas batu besar alas sasaran yang pecah itu, selebihnya jatuh diatas pasir.

Karena Sabungsari melakukan terus menerus, maka akhirnya batu yang menjadi sasaran kekuatan matanya itu pun telah pecah berbongkah-bongkah, sehingga akhirnya Sabungsari dengan hentakan yang tersisa telah memecahkan bongkah yang terakhir.

Demikian bongkah yang terakhir dipecahkannya, maka ia pun segera menarik nafas dalam-dalam, mengatur jalan pernafasannya yang menjadi terengah-engah karena ia telah mengerahkan segenap kekuatan ilmu yang ada padanya.

Ketika kemudian ia berpaling memandang batu sasaran tatapan mata Agung Sedayu, maka tiba-tiba saja ia melonjak berdiri. Meskipun pernafasannya belum pulih kembali, namun dengan tanpa menghiraukan keadaan dirinya ia berdiri diatas batu tempat ia duduk sambil berteriak, “Agung Sedayu. Apa yang dapat kau lakukan he? Batu sasaranmu masih tetap utuh.”

Yang terdengar kemudian adalah tarikan nafas Agung Sedayu. Tetapi ia masih tetap duduk diatas batu.

 “Ternyata kau tidak mampu berbuat sesuatu. Kau hanya mampu mengangkat batu itu. Tetapi kau tidak mempunyai kekuatan untuk meremasnya dan memecahkan batu itu.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Ia masih tetap duduk ditempatnya, sementara Sabungsari pun kemudian meloncat mendekati batu yang telah dipecahkannya.

Terdengar anak muda itu tertawa. Katanya disela-sela derai tertawanya, “Agung Sedayu. Kini kau harus mengakui kenyataan, bahwa aku memiliki ilmu yang lebih dahsyat dari ilmumu. Kau yang telah menantang aku dalam perlombaan ini. Tetapi agaknya karena kesombonganmu, kau tidak dapat melihat batas kemampuanmu.”

Agung Sedayu masih tetap duduk diam.

 “Sekarang, dendamku akan terpecahkan. Jika kau ingin ingkar dan masih ingin melawanku, aku masih memberimu kesempatan. Jika kau masih sayang melepaskan nyawamu tanpa perlawanan, maka marilah, kita akan duduk berhadapan dan kita akan membenturkan kekuatan mata kita. Tetapi jangan menyesal, bahwa jantungmu akan terbakar, dan kedua biji matamu akan hangus menjadi arang.”

Agung Sedayu sekali lagi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih tetap duduk ditempatnya.

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu kemudian, “apakah batu sasaranku itu retak pun tidak?”

Suara tertawa Sabungsari menggelegar bagaikan guruh dilangit. Dengan nada memelas ia berkata, “Kasihan kau anak manis. Ternyata bahwa kau tidak mampu berbuat sesuatu selain merajuk. Tetapi sayang bahwa aku tidak lagi mempunyai belas kasihan.”

“Dan kau akan tetap membunuhku?”

Pertanyaan itu tiba-tiba saja telah mengguncang hati Sabungsari. Apakah benar ia akan membunuh Agung Sedayu?

Namun sekali lagi ia menghentakkan perasaannya sambil menggeretakkan giginya. Katanya lantang, “Aku akan memebunuhmu. Itu adalah tekadku sejak aku meninggalkan padepokanku. Itu adalah janjiku kepada diriku sendiri, karena aku adalah anak Ki Gede Telengan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Cobalah kau lihat kedalam dirimu. Apakah benar kau masih tetap pada sikapmu seperti sejak kau berangkat?”

“Jangan merajuk. Jangan merengek dan minta dibelas kasihani,” Sabungsari berteriak. Suaranya menggelegar bagaikan menggetarkan udara malam diseluruh tepian.

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu lemah, “aku tahu, bahwa kau menjadi ragu-ragu. Aku tahu bahwa sebenarnya kau bukan seorang anak muda yang jahat seperti yang kau sangka sendiri. Kau sebenarnya bukan ingin melakukan kejahatan. Tetapi justru karena kau telah dituntut oleh kesttiaanmu. Tetapi cobalah kau pertimbangkan sekali lagi, apakah kesetiaanmu sudah benar.”

“Jangan bicara lagi. Semakin banyak kau bicara, aku menjadi semakin muak kepadamu. Sekarang, kau boleh memilih. Menundukkan kepalamu dihadapanku agar aku dapat mematahkan lehermu, atau kau masih ingin membela diri dan membenturkan kekuatan tatapan mata kita.”

“Apakah kau yakin bahwa kau akan menang?” bertanya Agung Sedayu tiba-tiba.

Pertanyaan itu telah mengguncang dada Sabungsari. Sekilas dipandanginya batu sasaran Agung Sedayu yang masih utuh. Karena itu, maka katanya, “He, apakah kau tidak melihat kenyataan ini? Aku sudah dapat memecahkan batu itu menjadi berkeping-keping. Tetapi kau sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Kulitnyapun sama sekali tidak terkelupas.”

Perlahan-lahan Agung Sedayu berdiri. Dengan tenang ia melangkah mendekat. Kemudian terdengar suaranya lirih, “Kau masih harus meyakinkan, apakah kau memang menang kali ini.”

“Gila, kau memang gila Agung Sedayu,” teriak Sabungsari semakin keras, “lihat, batu ini pecah berkeping-keping.”

Dengan sigapnya Sabungsari meloncat dan menggenggam pecahan batu yang berserakkan diatas pasir tepian.

“Kau lihat ini? Kau lihat ini he?”

Sabungsari bagaikan menjadi gila ketika ia melihat Agung Sedayu masih tetap tenang saja. Bahkan katanya, “Kau memang luar biasa Sabungsari. Kau mampu memecahkan batu itu menjadi berkeping-keping. Tetapi itu belum merupakan pertanda kemenanganmu dan dengan demikian kau berhak untuk mendapat wewenang sebagaimana yang telah kita sepakati.”

“Kau gila. Kau gila. Kau sudah melihat bahwa batu ini pecah berkeping-keping. Apalagi yang akan kau tuntut he?” Sabungsari menghentakkan kakinya.

Namun nampaknya dadanya telah bergelora demikian dahsyatnya, sehingga tiba-tiba saja ia telah meloncat keatas batu besar, tempat batu sasarannya semula terletak.

Sentuhan kaki Sabungsari telah mengguncang batu itu. Apalagi ketika ia berteriak sambil menghentak, “Aku memenangkan pertandingan ini.”

Namun tiba-tiba saja kata-katanya terputus. Oleh hentakan kakinya, maka batu besar itu telah bergetar. Getaran yang lemah sekali, karena Sabungsari tidak sengaja mengguncang batu itu. Tetapi getaran yang lemah itu ternyata telah mengguncang dada Sabungsari sehingga rasa-rasanya menjadi retak. Jantungnya rasa-rasanya berhenti berdetak, dan darahnya seolah-olah telah berhenti mengalir.

Dengan mata terbelalak ia melihat kenyataan yang sama sekali tidak diduganya.

Ternyata bahwa getaran lemah yang mengguncang batu besar itu telah mengguncang batu sasaran pandangan mata Agung Sedayu. Ternyata bahwa getaran yang lemah itu telah menggetarkan batu yang nampaknya masih utuh itu. Namun tiba-tiba saja batu itu telah pecah remuk menjadi butiran-butiran lembut yang menghambur diatas batu besar yang menjadi alasnya dan diatas pasir tepian.

Sejenak Sabungsari bagaikan dicengkam oleh hentakan perasaan yang meremas jantungnya. Ia berdiri mematung dengan mata yang terbelalak. Seolah-olah ia tidak percaya kepada penglihatannya, bahwa batu itu benar-benar telah remuk berhamburan.

Agung Sedayu masih tetap berdiri ditempatnya.

adbm-122-01Dipandanginya sikap Sabungsari yang kebingungan. Bahkan kemudian ia pun meloncat selangkah. Sambil berjongkok ia menggenggam butiran-butiran lembut yang berhamburan, seolah-olah ia ingin meyakinkan, apakah rabaan tangannya seperti juga penglihatan matanya, bahwa batu itu memang telah remuk bagaikan menjadi debu.

Tetapi agaknya memang suatu kenyataan. Batu itu benar-benar telah lumat. Bukan sekedar pecah berkeping-keping.

Ternyata bahwa sorot mata Agung Sedayu, seolah-olah memancarkan ruji-ruji lembut yang langsung menusuk menembus batu yang dijadikan sasaran kemampuan ilmunya. Ruji-ruji itu lelah menghunjam disetiap lubang-lubang yang paling kecil sekalipun menusuk sampai tembus, dalam jumlah yang tidak terhitung oleh bilangan yang manapun juga. Demikian tajam dan kuatnya tusukan ilmunya, sehingga batu yang telah pecah remuk menjadi debu itu, masih tetap dalam ujudnya. Namun oleh sentuhan getaran dan goncangan yang betapapun lemahnya, maka yang masih tetap bergumpal itu pun segera terurai dan tersebar berhamburan.

Sabungsari masih berjongkok sambil meremas debu di tangannya. Untuk sejenak ia masih ingin meyakinkan, apakah ia tidak sedang bermimpi atau sedang dalam libatan ilmu yang langsung mempengaruhi perasaannya, sehingga seolah-olah ia melihat apa yang terjadi, tetapi yang hanya sekedar peristiwa semu saja.

Tetapi akhirnya Sabungsari mempercayai kenyataan itu. Perlahan-lahan ia bangkit dan meloncat turun dari atas batu yang besar itu. Dengan nada yang dalam dan datar ia berkata, “Kau menang Agung Sedayu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sementara Sabungsari berkata seterusnya, “Terserah kepadamu, apa yang akan kau lakukan. Jika kau akan membunuh aku, lakukanlah. Akupun akan mendapat kepuasan tersendiri, karena aku mati selagi aku mempertahankan harga diri padepokan dan perguruan Telengan.”

Agung Sedayu memandang Sabungsari yang menundukkan kepalanya. Nampaknya perasaan anak muda itu pun telah pecah berkeping-keping seperti batu yang telah dihancurkannya dengan tatapan matanya.

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu, “kau memang harus dibunuh.”

Sabungsari mengangkat wajahnya. Nampak kerut merut dikeningnya. Katanya, “Lakukanlah. Aku sudah siap.”

“Kau memang harus mati.” berkata Agung Sedayu, “tetapi tidak perlu wadagmu.”

Sabungsari terkejut. Dipandanginya Agung Sedayu dengan penuh pertanyaan yang membayang diwajahnya.

“Aku tidak tahu maksudmu,” desis Sabungsari.

“Kau memang harus mati. Seperti aku katakan, tidak perlu wadagmu. Tetapi Sabungsari yang lama harus dibunuh, dan kemudian akan lahir Sabungsari yang baru, dengan sifat-sifat dan watak yang baru pula,” sahut Agung Sedayu.

“Persetan,” geram anak muda itu, “kau jangan sesorah. Itu adalah impian orang-orang yang tidak melihat kenyataan duniawi. Kau kira bahwa aku dapat membunuh masa lampauku dan memutuskan segala hubungan wadag dan jiwani dengan hari kemarin? Kau kira dengan peristiwa ini, aku bukan lagi anak laki-laki Ki Gede Telengan? Ia tetap ayahku bagaimanapun keadaanku.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Katanya, “Bukan itulah yang dimaksud Sabungsari. Dalam hubungan dengan masa lampau, kau tidak dapat ingkar. Yang harus lahir dalam ujud manusia yang baru bukannya sesambunganmu dengan masa lampu, tetapi sikapmu menyongsong hari besok.”

Sabungsari termangu-mangu. Namun kemudiann ia pun terhenyak duduk diatas sebuah batu sambil berdesah, “Aku kurang mengerti maksudmu.”

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu, “sudah tentu kau tidak akan dapat menghapus masa lampaumu. Tetapi kau wajib mengerti, bahwa sikap dan tingkah lakumu itu tidak benar menurut pertimbangan nalar yang bening. Karena itu, maka kau harus berani membunuh sikap dan tingkah lakumu, termasuk janji kesetiaanmu yang tidak mapan itu. Kau dapat menyesali segala kesalahan yang pernah kau lakukan dan berjanji kepada diri sendiri dan kepada Yang Maha Tahu, bahwa kau tidak akan pernah mengulangi lagi. Selanjutnya, kau akan mulai dengan lembaran-lembaran baru yang lebih baik dari masa lampau itu.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah itu bukan hanya sekedar impian. Adakah orang yang tak pernah melakukan kesalahan di sepanjang hidup? Kau sendiri misalnya? Apakah benar bahwa kau selalu hidup dalam kebenaran?”

Agung Sedayu menggeleng. Jawabnya, “Tentu tidak Sabungsari. Yang namanya manusia, pasti masih akan melakukan kesalahan-kesalahan yang kecil maupun yang besar. Tetapi manusia yang tidak mau mengetahui sikap dan tingkah lakunya sendiri dan tidak berani menilainya dengan jujur, ia akan tersesat semakin jauh. Sementara orang yang berani menilai diri sendiri dan mengakui dengan jujur, maka ia akan menuju kejalan yang lebih baik.”

Sabungsari menundukkan kepalanya. Meskipun ia lidak dapat menelan seluruhnya setiap kata yang diucapkan oleh Agung Sedayu, namun sebagian dapat menyentuh hatinya pula. Apalagi ia memang tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa Agung Sedayu adalah seseorang yang seolah-olah mempunyai kemampuan tidak terbatas.

Bagaimanapun juga ia masih ragu-ragu akan setiap kata Agung Sedayu, namun satu kenyataan bahwa ia masih tetap hidup. Beberapa kali Agung Sedayu mempunyai kesempatan untuk membunuhnya. Jika ia memang seorang pembunuh, maka ia tentu sudah mati.

“Tanpa mempergunakan kemampuan ilmunya yang luar biasa itu, ia sudah dapat membunuhku saat aku pingsan,” berkata Sabungsari didalam hatinya, “tetapi ternyata Agung Sedayu tidak melakukannya. Aku masih tetap hidup, dan berkesempatan untuk bertanding ilmu dengan taruhan nyawa. Tetapi ia tidak juga mau membunuhku apapun alasannya.”

Sadar akan keadaannya, maka Sabungsari tidak dapat berbuat lain kecuali menerima segala kenyataan.

“Sabungsari,” terdengar Agung Sedayu berkata dengan nada dalam, “apakah kau dapat mengerti yang aku maksudkan?”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku akan mencoba mengerti Agung Sedayu. Tetapi yang aku tidak mengerti, sikap jujur dalam menilai diri sendiri.”

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Jika aku jujur kepada diri sendiri, maka aku tentu masih akan tetap dalam niatku. Jika aku kemudian mengurungkannya itu, adalah karena aku kalah darimu. Bukan karena hal-hal yang lain. Aku tidak dapat mengatakan, bahwa tidak membunuhmu itu adalah karena aku tidak lagi bermaksud demikian. Tetapi karena aku tidak dapat berbuat demikian.”

“Itulah yang aku maksudkan dengan membunuh masa lampau itu dan memandang masa depan dengan sikap yang baru. Sebenarnya kau sudah mulai mengerti bahwa yang kau lakukan itu tidak benar. Kau mulai ragu-ragu, tetapi kau tidak jujur menghadapi keragu-raguanmu itu. Kau telah didorong oleh harga dirimu sebagai seorang anak yang kau anggap harus berbakti terhadap orang tua dengan cara yang salah itu.” suara Agung Sedayu datar, “kau bukannya seseorang yang tidak mengerti baik dan buruk. Tetapi kau tidak berani mengembangkannya didalam hatimu.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam.

“Sudahlah Sabungsari,” berkata Agung Sedayu kemudian, “tentu kita tidak akan dapat berbicara dengan tuntas. Mungkin yang aku katakan itu pun mengandung pengertian yang tidak tepat. Tetapi kita masih mempunyai waktu untuk menelusurinya. Kita masih mempunyai waktu untuk berbicara tentang baik dan buruk dan tentang salah dan benar. Meskipun tidak ada kebenaran yang mutlak selain kebenaran Yang Maha Benar, namun kita dapat menekuninya sejauh kemampuan kita berpikir dan merasakan.”

“Kau membuat aku bingung. Tetapi aku ingin untuk mengertinya. Mungkin besok atau lusa aku dapat melihat lebih jauh dari keadaanku sekarang. Aku benar-benar tidak dapat berpikir, apakah yang sebaiknya aku lakukan,” jawab Sabungsari.

“Marilah, kita kembali kepadepokan.” ajak Agung Sedayu.

“Untuk apa aku harus kembali kepadepokanmu? Apakah kau ingin mengatakan kepada gurumu dan kepada adik sepupumu, bahwa kau telah memenangkan perang tanding dengan cara apapun juga?”

“Aku menganggap bahwa hal itu tidak perlu aku lakukan. Kesombongan yang kau lihat, bagaimana aku mengalahkanmu, menurut pertimbanganku adalah cara yang lebih baik aku tempuh daripada aku harus membunuh sekali lagi.”

“Itu pun sikap yang sangat sombong,” potong Sabungsari.

“Sudah aku katakan. Aku mencoba mengambil jalan yang paling baik,” sahut Agung Sedayu, “karena itu, marilah. Kau menampakkan diri sebelum kita pergi. Kau-pun wajib minta diri kepada guru tidak ada kesan yang kurang baik.”

Sabungsari termangu-mangu sejenak. Tetapi ia melihat dalam keremangan malam sorot mata Agung Sedayu yang tulus. Meskipun dari mata itu dapat memancarkan nafas maut, tetapi dari mata itu pula terasa betapa lembut hati anak muda itu.

Karena itu, maka Sabungsari pun berdesah sambil berkata, “Baiklah. Aku akan ikut pergi kepadepokanmu. Sekarang aku adalah telukanmu. Kau dapat memerintah apa saja kepadaku.”

“Aku tidak bermaksud demikian. Hubunganku dengan kau masih tetap seperti beberapa saat yang lampau,” sahut Agung Sedayu.

Sabungsari termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian bangkit sambil berkata, “Marilah.”

Keduanya pun kemudian membenahi diri. Pakaian mereka yang kotor mereka kibaskan, meskipun mereka tidak dapat menghapus sama sekali bekas perkelahian yang telah terjadi.

“Gurumu akan tetap mencurigai keadaan kita,” berkata Sabungsari.

“Meskipun ia mengerti, tetapi ia tidak akan berbuat apa-apa,” sahut Agung Sedayu.

Sabungsari mengangguk-angguk. Katanya, “Apakah gurumu juga bersikap seperti kau, atau kau bersikap seperti gurumu?”

“Ya,” jawab Agung Sedayu pendek.

Sabungsari tidak bertanya lagi. ia berjalan sambil menundukkan kepalanya. Seakan-akan yang baru saja terjadi telah nampak kembali diangan-angannya. Seolah-olah ia melihat dirinya sendiri pingsan, sementara Agung Sedayu berdiri disisinya dengan kaki renggang dan tangan dipinggang.

“Tetapi ia tidak berbuat apa-apa. Dibiarkannya aku tetap hidup dan sadar kembali.” berkata Sabungsari didalam hatinya.

Untuk beberapa saat ia mencoba menilai sikap Agung Sedayu. Apakah Agung Sedayu tidak berpura-pura, atau justru dengan sikap itu ia ingin menunjukkan kepadanya bahwa ia telah memenangkan perang tanding itu dengan mutlak.

Tetapi Sabungsari menggelengkan kepalanya. Didalam hati ia berkata, “Tentu tidak. Ia juga tidak membunuh kelima pengikutku. Jika ia tidak berbuat dengan jujur, maka ia tentu telah membunuh kelima orang yang mencegatnya dipesisir itu. Tetapi ternyata mereka tetap hidup.”

Untuk beberapa saat, Sabungsari masih dicengkam oleh ketidak pastian sikapnya. Juga terhadap dirinya sendiri.

Agung Sedayu yang berjalan disampingnya, juga tidak banyak berbicara. Ternyata ia pun sekali-sekali masih juga memikirkan apa yang telah terjadi di pinggir sungai itu.

Namun didalam hati, ia sempat bersyukur, bahwa ia mendapat kesempatan untuk menyelesaikan perselisihan itu tanpa pembunuhan. Dengan demikian, maka ia telah mengurangi dendam yang menyala dihati orang-orang yang telah disakiti hatinya, sengaja atau tidak sengaja.

Ketika keduanya mendekati regol padepokan. Sabungsari menjadi berdebar-debar. Bukan karena ia menjadi curiga bahwa ia akan diperlakukan dengan buruk dipadepokan itu. Tetapi justru karena ia mendapat perlakuan yang tidak disangka-sangkanya.

“Jika akulah Agung Sedayu itu, maka lawanku tentu sudah aku cincang sampai lumat. Apalagi mereka yang datang dengan sengaja untuk melepaskan dendam.” berkata Sabungsari didalam hatinya.

Namun akhirnya keduanya telah memasuki regol padepokan kecil itu, dan langsung naik ke pendapa.

“Duduklah,” berkata Agung Sedayu.

“Aku akan kembali ke barak jika kau mengijinkan,” berkata Sabungsari.

“Kenapa tidak?” sahut Agung Sedayu, “tetapi sebaiknya kau minta diri kepada guru.”

Sabungsari termangu-mangu. Sementara Agung Sedayu melangkah kepintu sambil berkata, “Duduklah. Jangan tergesa-gesa.”

Suatu pesona yang tidak dapat diingkari oleh Sabungsari, bahwa ia pun kemudian telah duduk diatas sehelai tikar yang terbentang di pendapa, dibawah sinar lampu minyak yang berkeredipan disentuh angin menjelang fajar.

Perlahan-lahan Agung Sedayu mengetuk pintu. Namun agaknya gurunya memang belum tidur. Meskipun sudah tidak terdengar suara apapun, namun Kiai Gringsing segera mendengar ketukan meskipun hanya perlahan-lahan.

Sejenak kemudian maka pintu itu pun telah berderit. Ketika pintu itu kemudian terbuka. Kiai Gringsing telah berdiri dimuka pintu sambil tersenyum, “Lama sekali kalian pergi.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kami berjalan-jalan mengelingi Jati Anom. Rasa-rasanya ingin melihat dan menunjukkan kepada Sabungsari masa-masa aku masih kecil dan ketakutan.”

Kiai Gringsing tertawa. Lalu katanya, “Aku sudah lama menutup kitab yang aku baca. Glagah Putih pun sudah tidak tahan lagi duduk mendengarkan.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Sementara Kiai Gringsing pun kemudian melangkah mendekati Sabungsari yang duduk sambil menundukkan kepalanya.

Sambil duduk orang tua itu berkata, “Darimana saja kalian anakmas? Nampaknya kalian baru saja berjalan jauh sekali, sehingga pakaian kalian basah oleh keringat dan kotor oleh debu.”

Sabungsari kebingungan. Sekilas ditatapnya wajah Agung Sedayu, seolah-olah ia ingin mendapatkan bantuan, bagaimana ia harus menjawab.

Sebenarnya Agung Sedayu sendiri juga bingung. Namun ia berkata, “Ya guru. Kami berjalan tanpa berhenti.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi senyum yang nampak dibibirnya terasa mempunyai arti tersendiri. Karena itulah, maka Sabungsari menjadi berdebar-debar.

Dalam pada itu, Sabungsari pun segera minta diri.

Ketika ia diantar Agung Sedayu sampai keregol halaman, maka ia pun berkata, “Agung Sedayu. Agaknya gurumu curiga, bahwa sesuatu telah terjadi dengan kita.”

“Kenapa kau menyangka demikian?” bertanya Agung Sedayu.

Sabungsari hanya dapat menarik nafas dalam-dalam, sementara Agung Sedayu berkata, “Sabungsari. Mungkin hati kita sudah dibayangi oleh suatu pengakuan bahwa sesuatu memang telah terjadi. Karena itu, maka seolah-olah kami melihat seseorang mengetahui apa yang telah terjadi itu. meskipun sebenarnya tidak sama sekali. Tetapi mungkin pula guru hanya mendasarkan dugaannya setelah melihat keadaan kita, pakaian kita dan mungkin sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya, yang dalam tangkapan kita justru seolah-olah ia mengetahui apa yang telah terjadi,” Agung Sedayu berhenti sejenak, lalu. “Tetapi seandainya guru mengetahui, aku kira tidak ada keberatannya apapun juga, karena semuanya telah berakhir. Tentu guru tidak akan membuat persoalan baru yang dapat memulai lagi dari apa yang sudah berakhir itu.”

Sabungsari hanya mengangguk-angguk saja. Betapapun juga, terbersit kekhawatiran didalam hatinya, bahwa Kiai Gringsing akan mengambil sikap lain. jika ia mengetahui, siapakah ia sebenarnya.

Sepeninggal Sabungsari, maka Agung Sedayu pun segera masuk ke ruang dalam. Gurunya telah masuk kedalam biliknya, sehingga karena itu, maka Agung Sedayu pun segera masuk kedalam biliknya pula.

Ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Glagah Putih telah tertidur nyenyak. Tarikan nafasnya mengalir teratur dilubang hidungnya, sementara tubuhnya terbaring lurus terlentang diamben bambu.

Agung Sedayu pun kemudian membenahi pakaiannya. Ia masih keluar lagi lewat pintu butulan ke pakiwan di belakang untuk mencuci tangan dan kakinya.

Meskipun badannya telah terasa sedikit segar, tetapi ketika Agung Sedayu kembali kebiliknya, ia tidak segera dapat tidur. Ia berbaring saja dipembaringannya sambil menatap atap. Tetapi ia tidak bangkit betapapun ia digelisahkan oleh peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Ia memaksa dirinya untuk dapat tidur barang sekejap, karena sudah tidak mungkin lagi baginya malam itu menghadap gurunya, mengatakan sesuatu yang penting dan menyampaikan pesan Ki Waskita.

“Besok malam aku akan mempunyai waktu.” berkata kepada diri sendiri. “Besok pagi-pagi aku akan mengatakan, bahwa aku mohon waktu untuk berbicara barang sejenak dimalam hari.”

Dalam pada itu, menjelang dini hari, maka mata Agung Sedayu pun mulai terpejam. Bagaimanapun juga, ia merasa tubuhnya lelah setelah ia berjuang untuk mengatasi kemampuan ilmu Sabungsari yang memang termasuk dalam tataran ilmu yang tinggi.

Saat matahari mulai menjenguk dari balik cakrawala, maka Agung Sedayu telah terbangun pula. Ia mendengar Glagah Putih turun dari pembaringan dan membuka selarak pintu biliknya.

Seperti biasa kedua anak-anak muda itu pun segera melakukan tugas sehari-harinya. Menyapu halaman dan mengisi jambangan pakiwan. Kemudian mereka pun melihat-lihat tanaman dikebun dan ikan yang berenang dikolam.

Glagah Putih sama sekali tidak menduga, bahwa semalam telah terjadi sesesuatu yang mendebarkan antara kakak sepupunya dengan Sabungsari. Yang ia ketahui, keduanya telah pergi keluar padepokan, karena Sabungsari ingin menyampaikan sesuatu yang tidak boleh didengar oleh orang lain.

Karena itu, diluar sadarnya, maka tiba-tiba saja bertanya, “Apa yang dipersoalkan Sabungsari semalam kakang?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum sambil menjawab, “Tidak apa-apa. Persoalan biasa yang dialami oleh anak-anak muda. Mungkin kau sekarang tidak akan dapat mengerti, tetapi beberapa tahun lagi, masalah itu adalah masalah yang biasa pula bagimu.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa kakaknya tidak akan mengatakan apa-apa tentang persoalan yang menurut pengertiannya telah disampaikan oleh Sabungsari kepada kakaknya itu.

Karena itu, maka Glagah Putih tidak bertanya lagi. Meskipun ada juga keinginannya untuk mengetahui, tetapi ia menyadari, bahwa kakak sepupunya tidak akan mau mengatakannya.

Dalam pada itu, Sabungsari pun telah berada didalam lingkungannya pula. Didalam lingkungan keprajuritan. Hari itu, ia tidak mendapat tugas khusus, sehingga karena itu, maka ia mempunyai banyak waktu terluang. Namun justru karena itu, maka ia pun banyak termenung sambil menyisihkan diri dari kawan-kawannya.

Setiap kali anak muda itu telah terlempar kembali kepada persoalannya dengan Agung Sedayu. Ia masih saja dibingungkan oleh sikap anak muda yang luar biasa. Jika ia selama itu dapat berbangga tentang dirinya, sebagai seorang anak muda yang jarang ada bandingnya, maka kini ia merasa dirinya masih terlalu kecil. Ternyata dengan kenyataan yang tidak dapat diingkarinya, ia masih belum dapat mengimbangi kemampuan Agung Sedayu.

“Ada berapa orang anak muda yang dapat menyamai atau melampaui Agung Sedayu di Pajang dan Mataram?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Namun Sabungsari sempat membayangkan betapa dahsyatnya kemampuan Raden Sutawijaya di Mataram dan Pangeran Benawa di Pajang.

Yang terpikir kemudian oleh Sabungari, apakah yang akan dikatakannya kepada para pengikutnya tentang Agung Sedayu. Apakah ia akan membohongi para pengikutnya, atau ia akan berkata terus terang, bahwa ia tidak dapat mengalahkan anak muda yang aneh itu.

Semakin lama ia merenungi dirinya, maka ia pun menjadi semakin gelisah. Terbayang pula wajah dan senyuman guru Agung Sedayu yang seolah-olah mempunyai arti yang khusus.

“Entahlah,” ia berdesah, “aku tidak tahu. apakah yang sebaiknya aku lakukan. Juga sebagai anak Ki Gede Telengan.”

Dengan demikian, maka Sabungsari nampak lebih banyak merenung. Kawan-kawannya tidak banyak menegurnya, karena mereka melihat, dihari-hari terakhir, setelah Sabungsari minta ijin untuk kembali pulang, ia lebih banyak termenung dan gelisah. Kadang-kadang ia duduk menyendiri untuk waktu yang lama. Dan kadang-kadang ia berbaring saja di pembaringan.

Menjelang sore, Sabungsari nampak semakin gelisah. Ketika matahari menjadi semakin rendah di Barat, maka anak muda itu keluar dari baraknya. Kepada penjaga regol ia berkata singkat, “Aku akan pergi kesungai.”

Penjaga itu tidak bertanya lagi. Dibiarkannya Sabungsari berjalan sambil menundukkan kepalanya.

 “Anak itu nampaknya sangat bersedih,” desis salah seorang penjaga itu kepada kawannya yang kebetulan berdiri di sebelah regol.

 “Ya. Tetapi agaknya hatinya sangat tertutup, sehingga kami tidak banyak mengetahui apakah yang sudah terjadi atasnya,” sahut yang lain.

Tanpa menghiraukan sesuatu, Sabungsari berjalan terus menuju ketepian. Dipandanginya sungai yang airnya mengalir tidak begitu deras di antara bebatuan.

Sekilas terbayang apa yang telah terjadi semalam ditepi sungai itu juga, tetapi dibagian yang lain. Terbayang bagaimana Agung Sedayu telah memukul hancur sebuah batu besar dengan tatapan matanya.

 “Ternyata tatapan mata itu mempunyai kekuatan yang tidak terduga,” ia bardesis.

Ketika nampak olehnya bebatuan yang berserakan, maka pengakuan dihatinyapun menjadi semakin dalam bahwa ia memang tidak akan dapat mengalahkan Agung Sedayu dengan cara apapun juga, kecuali cara seorang pengecut. Membunuhnya dengan diam-diam dengan menusuk punggung.

“Aku tidak mau,” geramnya, “bagiku lebih jantan mengakui kekalahan daripada berbuat curang seperti itu.”

Perlahan-lahan Sabungsari pun kemudian turun kepasir tepian. Perlahan-lahan ia berjalan disela-sela bebatuan. Kemudian, hampir diluar sadarnya ia pun duduk diatas sebuah batu besar. Bahkan kemudian ia membaringkan tubuhnya sambil memandang cahaya langit yang menjadi semakin merah.

Sabungsari terkejut ketika ia mendengar desir langkah orang mendekal. Ketika ia berpaling, dilihatnya diatas tebing, dua orang berdiri memandanginya.

“Gila,” geram Sabungsari. Ternyata dua orang pengikutnya telah mencarinya.

Kedua orang itu pun segera turun mendekatinya. Salah seorang berkata, “Kami sudah datang kebarak. Kami diberi tahu, bahwa kau baru pergi ke sungai.”

“Kenapa kalian mencari aku?” bertanya Sabungsari, “apakah ada perkembangan keadaan yang baru?”

Kedua orang itu termangu-mangu. Namun salah seorang dari kedua pengikut Sabungsari itu berkata, “Tidak. Tidak ada perkembangan apapun yang kami lihat. Tetapi kami justru ingin mengetahui, apakah ada sesuatu yang harus kami lakukan.”

“Gila,” bentak Sabungsari yang sudah duduk diatas batu, “jika aku memerlukan kalian, akulah yang akan memanggil atau datang kepada kalian.”

Keduanya mengangguk-angguk.

“Aku tidak mempunyai perintah apapun untuk hari ini,” berkata Sabungsari kemudian.

“Jika demikian,” berkata salah seorang dari kedua pengikutnya itu, “apakah kami boleh kembali kepondok kami?”

“Pergilah. Kalian tidak mempunyai tugas apapun sekarang sampai aku memberikan perintah-perintah baru,” berkata Sabungsari kemudian.

Namun tiba-tiba saja datanglah pertanyaan yang tidak disukainya. Salah seorang dari kedua pengikutnya itu tiba-tiba saja telah bertanya, “Bagaimana dengan Agung Sedayu?”

“Persetan. Diam. Aku akan mengurusnya,” teriak Sabungsari, sehingga kedua orang pengikutnya itu terkejut.

Keduanya tidak berani bertanya lagi. Apalagi ketika mereka melihat Sabungsari itu meloncat berdiri sambil memandangi mereka berganti-ganti dengan sorot mata kemarahan.

“Jika demikian, perkenankan kami pergi,” seorang dari kedua pengikutnya itu berdesis.

“Pergilah,” geram Sabungsari.

Tetapi ketika keduanya melangkah menjauh, maka Sabungsaripun memanggil mereka. Katanya, “Kemarilah. Duduklah. Aku ingin berbicara.”

Keduanya menjadi termangu-mangu. Namun keduanyapun harus mematuhi perintah itu. Keduanya duduk dengan hati yang berdebar-debar. Sekali-sekali mereka saling berpandangan. Namun kemudian keduanya menundukkan kepala mereka memandangi pasir tepian.

Sabungsari berjalan hilir mudik di antara bebatuan. Sekali-sekali ia menengadahkan kepalanya kelangit. Dilihatnya warna merah yang menjadi semakin suram. Sementara mataharipun telah bersembunyi dibalik gunung.

“Aku tidak akan dapat berbohong untuk seterusnya,” berkata Sabungsari kemudian.

Kedua pengikutnya menjadi terheran-heran.

“Dengarlah,” suara Sabungsari menghentak, “dari padepokan Ki Gede Telengan aku sudah berniat untuk membunuh Agung Sedayu.”

Kedua pengikutnya mengangguk-angguk.

Namun keragu-raguan yang sangat tiba-tiba telah melanda jantung Sabungsari sehingga mulutnya pun seolah-olah menjadi terkunci. Ia masih tetap bimbang, apakah ia akan mengatakan tentang kekalahannya, atau tidak.

Sesaat pengikutnya itu termangu-mangu. Mereka menunggu apakah yang akan dikatakan oleh Sabungsari. Namun yang nampak kemudian adalah justru kegelisahan yang sangat. Bahkan kemudian Sabungsari itu membentak, “Pergi, pergi kalian.”

adbm-122-02Pengikutnya menjadi bingung. Namun mereka melihat Sabungsari bersungguh-sungguh, “Pergi. Pergi, cepat, sebelum aku mencincang kalian dipasir tepian ini.”

Betapapun kebingungan mencengkam jantungnya, namun kedua pengikutnya itu pun kemudian melangkah surut.

“Pergi, pergi. Apakah yang kalian tunggu?” bentak Sabungsari pula.

Keduanya tidak dapat bertanya sepatah katapun lagi. Melihat wajah Sabungsari yang bagaikan menyala, maka keduanyapun kemudian meninggalkannya seorang diri di tepian.

Sepeninggal kedua pengikutnya, kembali Sabungsari merenungi dirinya. Langit menjadi semakin kelam dan bintang-bintang pun mulai menghiasi hitamnya malam.

“Sepantasnya aku memang menjadi gila,” geram Saungsari. Namun ia sadar sepenuhnya, apa yang telah terjadi atas dirinya.

Dalam pada itu, dipadepokan kecil yang sepi, Agung Sedayu duduk berdua di serambi gandok dengan Glagah Putih. Mereka berbincang tentang keadaan padepokannya yang semakin berkembang.

“Aku besok akan menjemput ayah,” berkata Glagah Putih, “lebih baik aku datang sendiri daripada hanya sekedar memberitahukan bahwa aku telah kembali.”

“Bukankah kau sudah menyuruh seseorang memberitahukan bahwa kau sudah datang?”

“Tetapi sampai sekarang, ayah belum datang kemari,” jawab Glagah Putih.

“Tentu ayahmu sedang sibuk. Apalagi ayahmu mengetahui bahwa kita datang dengan selamat,” jawab Agung Sedayu.

Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi rasa-rasanya ia memang sudah sangat rindu kepada ayahnya.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu pun mulai gelisah karena ia masih belum menyampaikan pesan-pesan Ki Waskita yang tertulis pada sebuah rontal. Semalam ia telah kehilangan kesempatan. Karena itu, malam itu adalah malam yang tepat untuk melakukannya, sebelum Ki Widura benar-benar datang kepadepokan itu.

“Malam ini adalah malam ketiga aku berada dipadepokan,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri, “nampaknya sudah cukup waktu untuk beristirahat.”

Agung Sedayu merencanakan, setelah Glagah Putih tertidur nyenyak. maka ia akan menghadap gurunya menyampaikan beberapa persoalan. Di antaranya adalah persoalan yang dibawa oleh Sabungsari yang sebenarnya.

Dalam pada itu, ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih berada di serambi gandok, maka di ruang dalam. Kiai Gringsing menghadapi kitab yang besar. Ia membaca kitab itu seperti semalam ia membaca, saat Agung Sedayu minta diri kepadanya bersama Sabungsari.

Kitab itu nampaknya sangat menarik perhatiannya. Sudah beberapa kali ia membaca isinya. Tetapi setiap kali ia telah membukanya dan membacanya kembali.

“Guru mulai membaca lagi,” desis Agung Sedayu yang lamat-lamat mendengar suara gurunya.

“Ia nampaknya tekun sekali membaca,” sahut Glagah Putih, “meskipun Kiai Gringsing sudah tua, tetapi suaranya masih cukup baik. Jika suara tembang itu menggema disepinya malam, aku justru menjadi sangat mengantuk.”

Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu menyahut, “Aku juga. Aneh sekali. Tetapi mungkin karena kita agak letih juga bekerja disawah.”

Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dalam pada itu. Agung Sedayu mulai merenungi dirinya sendiri pula. Jika Glagah Putih telah tertidur, maka ia akan mempergunakan waktunya sebaik-baiknya. Dimalam pertama ia datang kepadepokan, ia sudah menceriterakan segala yang dialaminya. Tetapi ia belum mulai menukik kekedalaman masalah yang diceriterakannya itu. Ia baru berceritera tentang pengalamannya sampai tuntas. Tentang rontal yang dibacanya, tentang pengaruh yang dialaminya setelah membaca rontal itu, dan tentang orang-orang yang mencegatnya, yang ternyata adalah pengikut-pengikut Ki Gede Telengan.

“Rontal Ki Waskita tentu berisi pesan-pesan penting,” berkata Agung Sedayu, “aku tidak boleh menundanya lagi. Seharusnya semalam aku sudah menyerahkannya, jika saja Sabungsari tidak mengajak aku bermain-main ketepian. Sedangkan malam ini adalah malam ketiga.”

Ternyata suara Kiai Giingsing itu benar-benar berpengaruh pada Glagah Putih. Lagu yang menyusup sampai keserambi dinding, rasa rasanya bagaikn silirnya angin lembut yang mengusap wajahnya. Sehingga Glagah Putih yang telah bekerja sehari-harian itu pun mulai mengantuk.

“Jika kau mengantuk, tidurlah,” berkata Agung Sedayu yang melihat mata Glagah Putih menjadi semakin berat.

Glagah Putih tersenyum. Jawabnya, “Sebenarnya masih terlalu sore untuk tidur. He, kakang Agung Sedayu. Kapan kita mulai dengan latihan-latihan yang lebih baik?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia pun bertanya, “Kenapa tiba-tiba saja kau menyebut tentang latihan yang lebih baik?”

“Aku sudah menjadi semakin tua. Sementara orang-orang lain meningkatkan ilmunya, aku sama sekali tidak berbuat sesuatu.”

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Kau masih ingin bertahan dari kantukmu?”

“Bukan karena itu. Aku memang akan tidur sekarang. Tetapi aku bertanya tentang kemungkinan itu sebelum aku pergi tidur.”

“Kapan saja kau siap untuk mulai Glagah Putih. Besok atau lusa?”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Dipandanginya kakak sepupunya dengan tatapan mata yang tajam, seolah-olah ia masih meragukan keterangannya itu.

“Kenapa kau memandang aku seperti itu?” bertanya Agung Sedayu.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Glagah Putih, “aku hanya akan meyakinkan diriku sendiri.”

Agung Sedayu tertawa. Katanya, “Baiklah besok kita benar-benar akan mulai dengan latihan-latihan yang lebih baik. Bukankah kita sudah cukup beristirahat selama dua hari?”

“Ya. Kita sudak cukup beristirahat,” sahut Glagah Putih.

“Nah, sekarang, jika kau sudah mengantuk, tidurlah.”

“Jika belum?” bertanya Glagah Putih.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun jawabnya, “Jika belum, marilah kita bermain macanan.”

Tetapi Glagah Putih justru membaringkan dirinya dipembaringannya sambil berkata, “Aku akan tidur meskipun masih sore.”

Agung Sedayu tidak menyahut. Ia memang ingin Glagah Putih segera tertidur. Agar tidak menimbulkan kegelisahan anak itu, maka Agung Sedayu pun kemudian ikut berbaring pula. Namun Agung Sedayu sama sekali tidak memejamkan matanya.

Dalam pada itu. sejenak kemudian, ternyata Glagah Putih telah tertidur nyenyak. Nafasnya mengalir dengan teratur.

Perlahan-lalian Agung Sedayu pun kemudian bangkit dan dengan hati-hati ia mengambil rontal dari geledeg bambunya. Sejenak ia ragu-ragu. Namun kemudian katanya dalam hati, “Waktunya sudah baik. Agaknya aku pun sudah dapat mengatur perasaanku, mungkin guru akan banyak bertanya tentang isi kitab Ki Waskita setelah membaca rontal itu.”

Dengan hati-hati pula ia membuka pintu biliknya dan kemudian melangkah keluar. Ia masih mendengar gurunya membaca meskipun hanya perlahan-lahan.

Ketika Agung Sedayu mendekat, Kiai Gringsing mengangkat wajahnya.

Ia tahu, bahwa ada yang penting yang akan dikatakan oleh anak itu kepadanya, melengkapi keterangan yang telah diberikannya.

“Duduklah Agung Seuayu,” berkata Kiai Gringsing.

Agung Sedayu pun duduk bersila diamben yang besar menghadap gurunya. Terasa, dadanya berdebar-debar seolah-olah ia sedang menghadapi pengadilan yang akan dapat menjatuhkan hukuman atasnya.

“Kau akan menyampaikan sesuatu yang penting?” bertanya gurunya.

Agung Sedayu mengangguk. Katanya, “Ya guru. Ada sesuatu yang penting, melengkapi keteranganku yang pernah aku sampaikan kepada guru.”

“Aku sudah menduga. Waktu itu keteranganmu memang sudah cukup panjang dan lengkap. Tetapi baru permukaannya saja. Bukankah ada yang lebih penting dari yang permulaan itu.”

“Ya guru. Tetapi sebelum itu, aku ingin menceritakan sesuatu tentang anak muda yang bernama Sabungsari itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Rasa rasanya memang ada sesuatu yang menarik pada anak muda itu.”

“Menarik sekali guru,” sahut Agung Sedayu, “anak itu ternyata adalah anak Ki Gede Telengan.”

“He?” Kiai Gringsing memang agak terperanjat, “bukankah dengan demikian ia cukup berbahaya bagimu?”

“Ya Guru. Ia memang sangat berbahaya. Tetapi untunglah bahwa ia selalu bersikap jantan. Ia tidak mau merendahkan diri dengan berbuat licik dan curang.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Dengan nada yang dalam ia bergumam, “Agung Sedayu. Sebenarnyalah semalam aku memang gelisah. Aku sama sekali tidak dapat tidur. Sekali-sekali aku keluar dan berjalan-jalan di halaman. Tetapi rasa-rasanya kau pergi terlalu lama, seolah-olah sudak lebih lama dari satu malam suntuk.”

Agung Sedayu pun kemudian menceritakan, apa yang telah terjadi dengan Sabungsari. Dari awal sampai akhir.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Syukurlah jika kau menemukan penyelesaian yang sebaik-baiknya. Nampaknya anak itu memang bukan seorang anak muda yang jahat. Jika ia berniat untuk membunuhmu, itu karena didorong oleh kesetiaannya kepada ayahnya. Dipandang dari satu segi, sikap itu tidak perlu dilakukannya. Ia harus lebih dahulu mengetahui dengan pasti, siapakah ayahnya, dan kenapa ia terbunuh.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku berharap, bahwa ia akan berubah. Mudah-mudahan ia mememukan jalan yang baik. Sebagai seorang prajurit, ia memiliki kelebihan yang melampaui kawan-kawan setatarannya. Jika ia mendapat kesempatan, maka ia akan cepat menanjak ketingkat yang lebih tinggi.”

 “Ya Agung Sedayu. Aku kira, kesempatan itu terbuka baginya,” Kiai Gringsing mengangguk-angguk. “Lalu, apakah yang akan dilakukannya kemudian?”

 “Aku tidak tahu guru. Tetapi aku melihat kesadaran membayang dimatanya. Bahkan sejak semula, ia sudah dibayangi oleh keragu-raguan meskipun ia tidak berani mengembangkan-nya didalam hatinya.”

Kiai Gringsing termenung sejenak. Terbayang wajah, sikap dan sifat anak muda itu, yang ternyata menurut Agung Sedayu memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Yang hanya selapis lebih rendah dari Agung Sedayu sendiri.

“Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “bagaimanapun juga. kau tidak boleh meninggalkan kewaspadaan. Mungkin anak itu menemukan kesadarannya. Tetapi mungkin sakit hati dan dendam itu menyala dengan tiba-tiba didalam hatinya yang dapat menimbulkan ledakan yang tidak terduga-duga.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa hentakan perasaan sesaat akan dapat merubah pikiran seseorang, sehingga ia akan dapat melakukan sesuatu yang disesalinya kemudian. Namun betapapun seseorang menyesal, yang sudah terjadi itu sudah terjadi.”

Sejenak kedua orang itu terdiam. Kiai Gringsing mencoba membayangkan, apa yang dapat dilakukan oleh Sabungsari. Sementara Agung Sedayu pun mencoba untuk mengerti, maksud gurunya agar ia tetap berhati-hati.

“Jika ia benar-benar menemui kesadarannya,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “dan ia benar-benar mengamalkan ilmunya didalam lingkungan keprajuritan, maka Pajang akan mempunyai seorang Senapati muda yang pilih tanding, meskipun ia masih harus banyak menyadap pengalaman dalam perang gelar dan penguasaan medan yang luas. Bukan sekedar mengendalikan dirinya sendiri.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja hatinya tersentuh oleh kata-kata gurunya. Jika Sabungsari pada suatu saat dapat menjadi seorang Senapati pinunjul karena pengamalan ilmunya, lalu bagaimana dengan dirinya sendiri.

Diluar sadarnya Agung Sedayu membayangkan, pada suatu saat seorang Senapati agung yang pilih tanding, di punggung kuda diiringi oleh beberapa orang pengawal, datang kepadepokan kecilnya. Sementara ia sendiri dengan pakaian yang kotor dan kaki berlumpur datang menyongsongnya di regol halaman.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tiba-tiba saja terngiang kata-kata Sabungsari, “Aku merasa jemu berada didalam barak dengan suasana yang ajeg.”

Meskipun yang dikatakan oleh Sabungsari itu ternyata hanyalah sikap pura-pura, tetapi ia menganggap bahwa baginya, sikap itu benar-benar akan dirasakannya apabila ia berada didalam lingkungan keprajuritan.

Sejenak kemudian terdengar Kiai Gringsing berkata, “Mudah-mudahan Agung Sedayu. Mudah-mudahan anak itu benar-benar menemukan jalan yang baik bagi hari depannya.” ia berhenti sejenak, lalu. “Kemudian, apakah yang telah terjadi dengan dirimu sendiri. Kau sudah mengatakan tentang kitab yang kau baca sampai tuntas. Kau sudah mengatakan bahwa kau mendapatkan pengaruh dari padanya, meskipun kau belum dengan sengaja mempelajari maknanya. Apa yang terjadi pada dirimu adalah peningkatan dari kemampuan yang memang sudah ada padamu. Nah, barangkali kau sudah siap untuk membicarakan masalah yang lebih mendalam lagi tentang isi kitab itu?”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Terasa keragu-raguan masih saja merayapi jantungnya.

Namun ia pun kemudian berkata, “Guru, pada suatu saat, aku memang harus menekuni bagian demi bagian dari isi kitab itu. Aku harus mempelajari dan menemukan maknanya. Karena didalam diriku sudah tersimpan unsur dari ilmu yang berbeda, maka aku harus mempelajarinya dan mencari kemungkinannya agar yang sudah ada dan yang baru itu dapat luluh didalam diriku.”

“Gejala dari luluhnya ilmu yang bersumber dari cabang-cabang perguruan itu sudah ada. Pengaruhnya sudah terasa pada ilmu yang sudah ada pada dirimu. Kini didalam dirimu telah luluh dua ilmu sejenis yang berbeda sumbernya. Kau menguasai ilmu yang kau sadap dari aku. Tetapi kaupun memiliki pengetahuan yang mumpuni dari ilmu yang pernah mengalir pada saluran perguruan Ki Sadewa, karena kau pernah menemukan goa tanpa kau sengaja. Kini kau telah menguasai bunyi kitab Ki Waskita. Meskipun kau baru menguasai bunyi kalimat-kalimat yang tertulis didalam kitab itu, belum makna dari bunyi itu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat seperti yang dikatakan oleh Kiai Gringsing itu didalam dirinya, Jika ia berhasil mengenal makna isi kitab Ki Waskita, maka seolah-olah ia menyandang trisula didalam dirinya. Tiga ujung ilmu yang akan sangat penting artinya bagi masa depannya.

Sementara itu. ketika keduanya terdiam sejenak, maka dengan gelisah Agung Sedayu pun mulai menyentuh kantong yang berisi rontal dari Ki Waskita kepada Kiai Gringsing. Rontal yang tentu sangat penting, meskipun Agung Sedayu sudah dapat meraba perkembangan yang akan dihadapinya kemudian.

“Nah, Agung Sedayu. Jika kau memang sudah menghendaki, marilah kita berbicara tentang isi kitab itu. Atau barangkali masih ada masalah yang akan kau sampaikan?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Guru. Ketika aku kembali dari rumah Ki Waskita, aku mendapat pesan untuk menyampaikan rontal ini kepada guru. Sebenarnya kemarin malam aku ingin menyampaikannya. Tetapi kehadiran Sabungsari telah menunda rencanaku itu.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Katanya, “Bagaimanakah jika pesan Ki Waskita itu menyangkut batasnya waktu?”

Wajah Agung Sedayu menegang sejenak. Namun kemudian ia hanya dapat menundukkan kepalanya. Jika benar seperti yang dikatakan gurunya, bahwa pesan itu menyangkut batasan waktu, maka ada kemungkinan bahwa gurunya telah terlambat.

Namun ketika kemudian Kiai Gringsing mengurai rontal itu dan membacanya. tidak ada kesan yang mendebarkan diwajahnya. Meskipun wajah itu nampak bersungguh-sungguh, tetapi agaknya tidak ada sesuatu yang membuatnya gelisah dan berdebar-debar.

Beberapa saat lamanya Kiai Gringsing membaca. Bahkan ada beberapa bagian yang nampaknya diulanginya untuk mendapatkan kejelasan arti.

Agung Sedayu kemudian hanya dapat menunggu sambil menundukkan kepalanya. Untuk beberapa saat, gurunya masih saja berdiam diri sambil berpikir.

Dalam pada itu. Agung Sedayu semakin lama menjadi semakin berdebar-debar. Sekilas dibayangkannya apa yang pernah dialaminya di rumah Ki Waskita. Terbayang juga sekilas wajah Rudita yang jernih bening. Kemudian nampak betapa buramnya wajah Prastawa yang berwajah tengadah itu.

Untuk beberapa saat Agung Sedayu harus menunggu. Ia sadar, bahwa gurunya tentu baru mencernakan isi rontal yang disampaikani kepadanya itu.

Ketegangan itu rasa-rasanya benar-benar mencengkam dada Agung Sedayu, sehingga pernafasannya pun rasa-rasanya menjadi sesak. Bahkan kepalanya terasa menjadi agak pening karenanya.

Namun ketegangan itu kemudian telah dipecahkan, ketika Kiai Gringsing menarik nafas sambil berkata, “Agung Sedayu. Didalam rontal ini tertulis beberapa pesan Ki Waskita kepadaku. Ada yang sangat menarik bagiku, karena Ki Waskita telah pernah menyebut sesuatu yang akan sangat berarti bagi perguruan ini.”

Agung Sedayu lah yang menjadi tegang. Namun kemudian ia sadar, bahwa yang dimaksudkan tentu pesan Ki Waskita tentang kitab yang pernah dikatakan kepadanya. Kitab Kiai Gringsing.

Dalam pada itu, maka Kiai Gringsing berkata, “Agung Sedayu. Yang pertama dikatakan oleh Ki Waskita, bahwa kau telah menguasai setiap kata didalam kitabnya. Seolah-olah isi dalam pengertian bunyinya telah kau pahatkan didinding hatimu.”

Agung Sedayu mengangguk.

“Dan itu memang sudah kau katakan kepadaku,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “karena itu, kau kemudian memerlukan waktu khusus untuk mencari makna dari bunyi yang tertulis didalam kitab itu.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya.

“Dalam hal ini Agung Sedayu, Ki Waskita berpesan, agar aku dapat membantumu, mengawasi kerja yang mungkin dapat membahayakan dirimu itu.”

Agung Sedayu mengangkat wajahnya. Kemudian katanya, “Terima kasih jika guru berkenan melakukannya. Masih banyak yang tidak aku pahami, bagaimana aku membuka pintu memasuki daerah penghayatan dan makna dari bunyi kalimat-kalimat didalam kitab itu.”

“Tentu aku akan membantumu meskipun mungkin ada hal-hal yang aku juga tidak mengerti. Tetapi mudah-mudahan aku dapat membantu mencari jalan yang terbaik bagimu selama kau mencari arti dan makna dari isi kitab yang telah kau baca itu.”

Agung Sedayu telah menundukkan kepalanya kembali.

“Selebihnya Agung Sedayu. Apakah Ki Waskita pernah mengatakan kepadamu, bahwa aku juga memiliki sebuah kitab yang memuat pengertian dan ilmu kanuragan dan kajiwan?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya guru. Ki Waskita pernah menyinggungnya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ada sesuatu yang terbuka, tetapi kadang-kadang ada juga sesuatu yang harus tertutup. Pada suatu saat aku memang pernah menyatakan tentang diriku sendiri. Tetapi pernyataan itu aku berikan kepada beberapa orang tertentu. Tidak kepada setiap orang, karena kepentingan yang berbeda-beda. Justru karena itulah, maka yang pernah aku katakan itu, pernah pula aku ingkari. Justru karena ada orang lain yang tidak aku harapkan. Bukan karena tidak percaya, tetapi karena kepentingan lain.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu. “karena itulah, maka sebenarnya pesan yang diberikan Ki Waskita kepadaku, terasa sangat berat untuk dilakukan, tetapi rasa-rasanya menuntut keharusan untuk dilakukan. Jika aku memberi kesempatan kepadamu, mempelajari isi kitab itu kelak pada suatu saat. Maka aku harus memberikan kesempatan serupa kepada muridku yang lain.”

Agung Sedayu mengangkat wajahnya sejenak. Namun wajah itu pun segera tunduk kembali.

Dengan penuh kesadaran ia memahami keterangan gurunya. Murid Kiai Gringsing tidak hanya dirinya sendiri. Tetapi ada seorang yang lain, yaitu Swandaru, sehingga dengan demikian maka gurunya tidak akan dapat emban cinde emban silatan atas kedua muridnya itu.

Sejenak Kiai Gringsing bardiam diri. Seolah-olah ia sedang memikirkan kalimat-kalimat yang akan diucapkannya.

Baru sejenak kemudian ia berkata, “Ki Waskita memang lebih dekat padamu daripada Swandaru. Itu bukan suatu kesalahan, karena ia dapat saja memilih apa yang sebaiknya dilakukan menurut pertimbangannya sendiri atas kau dan Swandaru. Barangkali ia dapat saja mengambil istilah, mengangkat kau menjadi muridnya, tetapi tidak demikian dengan Swandaru.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu. “tetapi tentu tidak akan dapat terjadi demikian dengan aku.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk.

 “Meskipun demikian Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing, “aku akan dapat memilih langkah yang paling adil. Aku pernah menjadi bimbang karena justru aku ingin berbuat adil. Misalnya aku mempunyai dua orang anak, maka yang seorang sudah berumur tujuh belas dan yang lain berumur tujuh tahun. Manakah yang lebih adil, apakah aku harus memberi makan masing-masing semangkuk nasi yang sama banyak dan macamnya, atau aku harus memberikan sesuatu dengan keperluan masing-masing. Bahwa anakku yang berumur tujuh belas memerlukan nasi yang lebih banyak dari anakku yang berumur tujuh tahun.”

Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu. “Yang pertama aku bertindak adil karena aku memberikan sesuatu yang sama meskipun kebutuhan mereka tidak sama. Sedang yang kedua aku bertindak adil karena aku memberikan sesuai dengan yang diperlukan.”

Agung Sedayu masih saja menundukkan kepalanya. Tetapi ia mengerti, arah pembicaraan gurunya.

Tetapi ternyata gurunya kemudian berkata, “Agung Sedayu. Kau dan Swandaru memiliki beberapa perbedaan tingkat dan wawasan. Itulah yang perlu aku pertimbangkan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang gurunya sekilas, maka dilihatnya Kiai Gringsing memandanginya dengan sorot mata yang memancarkan kesungguhan hatinya.

Untuk beberapa saat keduanya saling berdiam diri. Pesan Ki Waskita itu telah menumbuhkan masalah dipadepokan kecil dari Jati Anom itu. Namun Kiai Gringsing pun mengerti, bahwa Ki Waskita agaknya benar-benar mengagumi Agung Sedayu, sehingga ia tergesa-gesa ingin melihat Agung Sedayu menjadi seseorang yang mumpuni.

Jika pesan itu tidak diberikan oleh Ki Waskita yang diketahuinya bahwa pesan itu diberikan dengan jujur tanpa maksud-maksud buruk, maka Kiai Gringsing tentu sudah tersinggung. Adalah haknya untuk memberikan atau tidak apapun yang ada padanya kepada muridnya.

Namun ia pun mengerti, bahwa Ki Waskita benar-benar didorong oleh maksud baiknya terhadap Agung Sedayu.

Tetapi ia memang agak melupakan bahwa pada Kiai Gringsing, disamping Agung Sedayu ada juga Swandaru.

Namun bagaimanapun juga. Kiai Gringsing tidak dapat bertindak tergesa-gesa, meskipun hal itu dinilai sebagai suatu kelambanan. Kiai Gringsing tidak dapat berbuat sesuatu terhadap seorang muridnya tanpa menghiraukan muridnya yang lain, diketahui atau tidak diketahui.

Meskipun demikian. Kiai Gringsing tidak mau mengecewakan Agung Sedayu. Karena itu katanya, “Agung Sedayu. Baiklah aku akan memikirkan semua pesan Ki Waskita. Sudah tentu bahwa semua yang aku miliki akan aku wariskan kepada murid-muridku, karena jika ada satu hal saja yang tercecer, betapapun kecilnya, maka aku sudah mengurangi kemungkinan berkembangnya ilmuku sendiri. Jika demikian yang dilakukan setiap guru terhadap muridnya, maka ilmu itu akan menjadi semakin kerdil sehingga akhirnya akan kehilangan arti.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia sendiri tidak pernah merasa tergesa-gesa. Ia sudah merasa cukup banyak menerima dari gurunya. Dan ia pun mengerti, bahwa gurunya pasti akan berbuat sebaik-baiknya terhadapnya.

Karena itu, maka katanya, “Guru. Adalah mapan sekali jika aku mendapat tenggang waktu menghadapi susunan ilmu yang berbeda itu. Aku sudah menerima banyak sekali dari guru, dan kemudian aku mendapat kesempatan untuk mengenali isi kitab Ki Waskita. Dengan demikian, maka aku memerlukan kesempatan untuk mencernakan isinya sebelum aku menyadap makna dari puncak ilmu yang dapat guru berikan kepadaku.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat kebijaksanaan pada muridnya yang masih muda itu. Ia mengerti bahwa Agung Sedayu mengerti perasaannya, bahwa ia harus menimbang semua segi kemungkinan karena Kiai Gringsing mempunyai dua orang murid.

Maka orang tua itu pun berkata, “Itulah yang sangat menarik Agung Sedayu. Mudah-mudahan kau menyadari sikapmu, sehingga kau benar-benar memiliki kebijaksanaan menanggap sesuatu masalah.”

Agung Sedayu hanya dapat menundukkan kepalanya. Bahkan pujian gurunya telah membuat wajahnya menjadi kemerah-merahan.

“Agung Sedayu,” berkata gurunya kemudian, “sementara aku memikirkan jalan yang terbaik yang dapat aku lakukan, maka kau mendapat kesempatan untuk mencari makna dari isi kitab Ki Waskita. Sudah barang tentu kau jangan menyiksa wadagmu dengan tergesa-gesa ingin menguasai semua masalah yang ada didalam kitab itu. Kemampuanmu menyimpan isi kitab itu didalam ingatanmu memang luar biasa. Tetapi kita semua adalah orang-orang yang memiliki keterbatasan. Demikian juga ketajaman ingatanmu, sehingga semakin lama, maka kemungkinan ada satu dua bab yang menjadi kabur. Tetapi keterbatasanmu untuk menyadap makna dari isi kitab harus kau perhitungkan sebaik-baiknya.”

Agung Sedayu mengangguk sambil menjawab, “Seperti pesan Ki Waskita, aku memerlukan pengawasan dan tuntunan guru.”

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s