ADBM2-123

<<kembali | lanjut >>

SEORANG anak muda yang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan, yang agaknya pemimpin pasukan pengawal padukuhan itu, maju kedepan regol. Dibawah cahaya lampu obor ia memperhatikan kelima orang prajurit yang berdiri termangu-mangu diluar regol padukuhan.

“Apakah aku berhadapan dengan prajurit Pajang di jati Anom?” bertanya anak muda yang bertubuh tinggi itu.

“Ya. Kami adalah petugas dari Jati Anom. Kami malam ini mendapat giliran meronda didaerah ini dan sekitarnya,” jawab perwira itu.

Nampak keragu-raguan membayang diwajah anak-anak muda itu. Namun kemudian anak muda bertubuh tinggi itu berkata, “Silahkan, silahkan memasuki padukuhan kami.”

“Prajurit-prajurit itu pun kemudian memasuki regol padukuhan. Atas perintah perwira itu, maka prajurit-prajurit itu pun singgah sejenak digardu perondan.

“Kami sudah mendengar peristiwa yang terjadi di padukuhan ini,” berkata perwira itu.

“Apakah laporan kami sudah sampai ke Jati Anom?” bertanya pemimpin pengawal itu.

Perwira itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata berterus terang, “Kami tidak mendengar atas laporan yang kalian sampaikan ke Jati Anom. Tetapi kami mendengar dari padukuhan sebelah.”

“O, bukan maksud kami, bahwa kami telah melaporkan ke Jati Anom. Kami telah melaporkan ke Kademangan Klebak. Seterusnya, aku tidak tahu, apakah laporan itu sudah diteruskan,” jawab anak muda itu.

Perwira prajurit Pajang itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengusut laporan itu lebih jauh. Yang kemudian ditanyakannya adalah peristiwa yang telah terjadi itu sendiri.

Dari anak-anak muda padukuhan itu, para prajurit mendengar dengan jelas, apakah yang telah terjadi. Orang yang mengalami itu pun dapat menyebut, wajah-wajah yang keras dan mengerikan, serta ujung-ujung senjata yang mendebarkan jantung di tangan mereka.

Diluar sadarnya, tiba-tiba saja Sabungsari mengangguk-angguk. Seolah-alah ia menemukan hubungan antara ceritera itu dengan ceritera para pengikutnya yang tentu masih menunggu perintahnya di Jati Anom.

“Apakah yang telah melakukannya itu orang-orang dari Pesisir Endut atau orang-orangnya Carang Waja,” desis Sabungsari didalam hatinya. Tetapi ia tidak mengatakannya kepada siapapun juga. Namun bahwa hal itu sangat menarik perhatiannya, justru karena orang-orang Pesisir Endut telah membunuh salah seorang dari pengikutnya.

Dengan saksama para prajurit itu mendengarkan ceritera tentang perampokan itu. Mereka pun dapat menyebut, beberapa orang korban yang mati terbunuh dalam usaha mereka mempertahankan milik mereka, ketika mereka disamun di tengah-tengah bulak yang sepi.

Perwira yang memimpin kelompok kecil prajurit Pajang itu pun menjadi tegang. Ia sadar, bahwa prajurit Pajang di Jati Anom tidak dapat melepaskan tanggung jawabnya. Mereka tidak dapat mengatakan, bahwa hal itu adalah tanggung jawab para pengawal padukuhan. Apalagi bencana yang terjadi di bulak panjang itu.

Tetapi ia pun menyadari, bahwa Pajang tidak mempunyai cukup prajurit untuk setiap saat mengawasi segala bulak didaerah Selatan. Dari Jati Anom, Tambak Wedi di lereng Gunung Merapi, Daerah Wit Manca Warna, kemudian turun ke daerah Cangkring. Sambojan, Temu Agal dan Alas Tambak Baya. Kemudian menyusur ke Timur, melewati daerah Prambanan, Tlaga, Kali Asat menyusur lebih ke Timur. Benda, Sangkal Putung dan daerah di sepanjang Kali Opak keselatan sampai kepesisir.

Prajurit itu menarik nafas alam-dalam. Desisnya, “Tidak mungkin. Tetapi Senapati Prajurit Pajang di Jati Anom tidak dapat menjawab bahwa itu bukan tanggung jawabnya.”

Anak-anak muda yang berada didalam gardu itu pun mengerti, bahwa perwira itu memperhatikan keadaan padukuhan mereka dengan sungguh-sungguh. Dan mereka pun menyadari, bahwa tugas para prajurit itu cukup banyak sehingga mereka tidak akan dapat menunggui padukuhan demi padukuhan.

 “Ki Sanak,” berkata perwira itu kemudian, “kami tidak akan ingkar akan kewajiban kami. Tetapi kalian harus mengetahui, bahwa tidak mungkin kami harus ada di segala tempat untuk menghadapi kemungkinan semacam ini. Karena itu, adalah sudah benar bahwa kalian, seperti padukuhan yang lain, berusaha meningkatkan kemampuan para pengawal. Apakah ada di antara kalian yang dapat memimpin peningkatan itu?”

“Di padukuhan ini ada seorang bekas prajurit. Meskipun usianya sudah lanjut, tetapi ia masih dapat membimbing kami dengan baik,” jawab salah seorang anak muda.

“Bagus. Lakukanlah sebaik-baiknya. Tetapi lebih daripada itu, jika hal itu terjadi lagi, usahakanlah untuk mengenal ciri-ciri mereka. Dengan demikian, kita akan mendapat petunjuk, kemana kita harus mencari orang-orang itu.”

“Masuk kesarang mereka?” bertanya salah seorang anak muda.

“Ya,” jawab perwira itu.

“Untuk membunuh diri?” geram yang lain.

“Jika kalian merasa demikian, jangan pergi. Bukan karena kalian penakut. Tetapi sebenarnyalah bahwa kalian harus mawas diri. Dalam hal yang demikian, berikan petunjuk kepada kami, para prajurit. Kamilah yang akan memasuki sarang mereka,” jawab perwira itu.

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk.

Sementara itu Sabungsari pun menjadi berdebar-debar. Seolah-olah ia melihat jalan yang mulai terbuka. Jika ia pergi ke Pesisir Endut, maka ia akan datang sebagai seorang prajurit yang melakukan tugas keprajuritan.

“Mudah-mudahan pada suatu saat, ada satu dua orang yang mengenal ciri mereka, orang-orang Pesisir Endut. Atau bahkan mendengar mereka sesumbar dan menyebut diri mereka sendiri.”

Tetapi hal itu merupakan rahasia pribadinya, Ia tidak akan mengatakan kepada siapapun juga. Kepada pemimpinnya itu pun tidak.

Dalam pada itu, setelah berbicara beberapa lamanya, maka para prajurit itu pun meneruskan perjalanan mereka. Mereka memasuki padukuhan-padukuhan besar dan kecil yang mereka lalui. Pada umumnya para pengawal padukuhan itu sudah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan, karena gangguan yang pernah terjadi.

“Ada juga baiknya,” tiba-tiba salah seorang prajurit berdesis ketika mereka menyusuri bulak panjang perlahan-lahan.

“Kenapa,” pemimpinnya bertanya.

“Yang terjadi itu seolah-olah telah membangunkan anak-anak muda disetiap padukuhan. Selama ini mereka seakan-akan telah tertidur nyenyak. Kini mereka harus bangkit dan melihat kenyataan,” jawab prajurit itu.

“Dari satu segi,” sahut prajurit yang lain, “tetapi hal itu telah menimbulkan kegelisahan dan kecemasan. Segi itulah yang tidak baik. Apalagi telah jatuh korban jiwa di bulak-bulak panjang itu, sehingga kegelisahan itu telah membendung arus barang dari satu tempat ke tempat lain. Biasanya mereka berjalan dimalam hari. Sejuk dan tidak terlalu ribut di sepanjang jalan. Tetapi kini mereka harus membawa barang-barang mereka di siang hari.”

Yang lain tidak menjawab. Keduanya mempunyai alasan sesuai dengan sudut pandangan masing-masing.

Namun perwira itu akhirnya berkata, “Bagaimanapun juga, tetapi tentu lebih baik jika daerah ini tetap tenang dan tenteram. Persoalan yang menyangkut pemerintahan itu telah menimbulkan persoalan yang cukup gawat. Untunglah, bahwa tidak banyak berpengaruh terhadap orang kebanyakan. Tetapi sebagian dari mereka tentu pernah digelisahkan oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi akibat memburuknya hubungan antara Pajang dan Mataram. Apalagi dengan kejahatan-kejahatan yang langsung menikam jantung ketenteraman hidup orang kebanyakan.”

Para prajurit itu tidak menjawab. Mereka pun menyadari seperti yang dikatakan oleh perwira itu. Bahkan Sabungsari yang sebenarnya mempunyai kepentingan langsung dengan hubungan yang memburuk itu hanya menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar sepenuhnya apa yang telah dilakukan oleh ayahnya. Ia sadar sepenuhnya untuk apa ia menjadi seorang prajurit. Tentu bukan karena keinginannya mengabdikan diri kepada Pajang. Tentu bukan karena ia ingin mendapat gaji atau mengharap kelak akan dapat meningkat dan menjadi orang yang berpangkat. Sebagai anak Ki Gede Telengan ia memiliki kemampuan melampaui perwira yang kini memimpinnya.

Tetapi dengan yang menuntutnya ke Jati Anom itu tiba-tiba saja telah pudar ketika ia melihat kenyataan tentang Agung Sedayu.

“Apakah dengan demikian, aku akan tetap menjadi seorang prajurit,” bertanya Sabungsari kepada diri sendiri.

Namun tiba-tiba saja seakan-akan ada yang mengikatnya didalam kalangan yang semula tidak disukainya itu. Samar-samar ia melihat, bahwa didalam dunianya itu, ia akan dapat berbuat sesuatu dengan ilmunya, sehingga ilmunya itu tidak akan terpendam sia-sia.

Tetapi segalanya masih tetap samar-samar bagi Sabungsari. Ia masih belum menemukan kemantapan sikap. Meskipun demikian, ia mulai melihat satu arah yang dapat ditempuhnya.

“Aku memang harus memikirkannya baik-baik,” berkata Sabungsari didalam hatinya, “sikap Agung Sedayu rasa-rasanya menimbulkan persoalan khusus didalam diriku. Aku tidak mati dalam perang tanding di pinggir sungai itu. Tetapi seperti yang diharapkan oleh Agung Sedayu, bahwa Sabungsari yang lama itu akan mati dan lahir Sabungsari yang baru, bukan jasmani, tetapi rohani.”

Dalam pada itu, sekelompok prajurit itu masih terus dalam perjalanan tugasnya. Dari padukuhan-padukuhan yang lain, mereka pun mendengar banyak persoalan yang akan dapat dijadikan laporan kepada pimpinan prajurit Pajang di Jati Anom.

“Rasa-rasanya, memang ada sekelompok orang yang mulai mengintai daerah ini,” berkata pemimpin kelompok kecil prajurit itu, “hampir setiap padukuhan melaporkan, bahwa mereka pernah melihat orang-orang yang mencurigakan dimalam hari. Bukan orang-orang yang lewat membawa barang-barang yang akan dijual dipasar, sehingga mereka berjalan dimalam hari agar saat fajar menyingsing, mereka sudah dapat mulai menjual dagangannya. Tetapi orang-orang yang nampaknya akan dapat menumbuhkan ketidak tenangan.”

Meskipun demikian, pemimpin prajurit itu masih belum dapat mengambil kesimpulan. Ia masih harus lebih banyak melihat dan mendengar dari anak-anak muda di padukuhan-padukuhan berikutnya.

Selain dari orang-orang yang mencurigakan itu, di perjalanan itu pula para prajurit mendengarkan minat terbesar dari anak-anak muda disatu padukuhan. Ada yang berminat besar pada olah kanuragan, sehingga segenap kegiatan di padukuhan itu ditujukan untuk meningkatkan kemampuan olah kanuragan. Tetapi ada juga padukuhan yang banyak tertarik tentang peningkatan usaha pertanian. Mereka lebih banyak memikirkan peningkatan alat-alat pertanian, sehingga anak-anak muda di padukuhan itu telah mengusahakan agar beberapa pande besi dapat membuat alat-alat pertanian, meskipun mereka akhirnya juga didorong untuk membuat senjata-senjata yang dapat dipergunakan setiap saat untuk menjaga padukuhan mereka.

Malam itu, kelompok kecil prajurit Pajang itu mengakhiri perjalanan mereka sampai di kademangan Cluntang. Mereka diterima bukan saja oleh para peronda di Kademangan. Tetapi ternyata salah seorang dari para peronda itu telah menyampaikan kehadiran sekelompok kecil prajurit itu kepada Ki Demang di Cluntang.

“Kami senang sekali melihat kehadiran para prajurit di Kademangan kami yang kecil,” berkata Ki Demang di Cluntang, “kedatangan kalian mendatangkan ketenangan dihati kami.”

“Terima kasih,” jawab pemimpin prajurit itu, “Yang kami lakukan adalah tugas yang memang harus kami pikul.”

“Kami mempersilahkan kalian singgah tidak hanya sebentar di Kademangan ini. Mungkin sehari, mungkin lebih.”

Pemimpin prajurit yang meronda itu tertawa. Jawabnya, “Kami mengucap terima kasih. Tetapi kami terikat kepada tugas kami. Besok kami terus meneruskan perjalanan kami, mengelilingi beberapa Kademangan lagi. Menjelang pagi kami sudah harus kembali ke Jati Anom.”

“Perjalanan kalian dapat ditambah dengan semalam lagi,” berkata Ki Demang.

“Sayang Ki Demang,” jawab pemimpin prajurit itu, “pada hari ketiga kami harus melaporkan diri kepada pimpinan prajurit Pajang di Jati Anom.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Sayang sekali. Tetapi apaboleh buat. Kami tentu sudah merasa beruntung, bahwa besok kalian akan dapat melihat-lihat Kademangan kami sehari penuh, sebelum kalian melanjutkan perjalanan.”

“Terima kasih Ki Demang. Kami akan meneruskan perjalanan menjelang senja. Kami sengaja ingin melihat kehidupan malam didaerah ini,” jawab pemimpin prajurit itu.

“Nah, jika demikian,” berkata Ki Demang, “silahkan kalian beristirahat di gandok. Kalian masih sempat tidur barang sekejap.”

“Tetapi langit sudah nampak cerah,” berkata pemimpin prajurit itu.

“Tidak mengapa. Kalian masih dapat tidur sekejap. Bukankah kalian tidak mempunyai tugas yang harus kalian lakukan pagi sekali,” bertanya Ki Demang.

Para ptajurit itu saling berpandangan sejenak. Namun mereka pun kemudian tidak berkeberatan ketika dipersilahkan untuk masuk kegandok, kesebuah bilik yang cukup besar dengan sebuah amben bambu yang besar, cukup untuk tempat berbaring kelima orang prajurit itu sekaligus.

Tetapi para prajurit itu tidak semuanya segera berbaring dan tidur mendekur. Dua di antara mereka harus tetap terjaga meskipun mereka rasa-rasanya berada ditempat yang aman.

Meskipun terasa betapa kantuk dan lelah setelah berkuda hampir semalam suntuk, namun dua di antara mereka, masih harus duduk bersandar dinding sambil bertahan. Sekali-sekali kepala mereka terangguk diluar sadar. Namun mereka pun segera tersandar kembali akan tugas mereka.

Tetapi ternyata kawan-kawan mereka pun tidak dengan sengaja menghukum keduanya. Demikian kedua orang prajurit yang lain, sempat memejamkan mata barang sejenak, maka mereka pun segera terbangun dan memberi kesempatan kepada kedua orang kawannya itu untuk berbaring.

 “Tidak ada yang perlu dicemaskan,” berkata pemimpin kelompok kecil itu, “tidurlah. Aku akan berjaga-jaga. Aku memang tidak terbiasa untuk tidur setelah langit menjadi terang. Tetapi bukan berarti bahwa kalian pun tidak boleh tidur pula.”

Agaknya prajurit-prajurit itu memang merasa lelah, apalagi mereka telah merasa aman, sehingga karena itu, maka mereka pun segera lelah tertidur dengan nyenyak, sementara pemimpin mereka duduk dipembaringan sambil bersandar dinding.

***

Pada saat yang sama, Agung Sedayu di padepokannya telah berada di halaman pula ketika langit menjadi merah. Sebelum ia mulai dengan kerjanya sehari-hari, Agung Sedayu memerlukan berjalan mengelilingi padepokannya, justru diluar dinding. Ia sengaja belum membangunkan Glagah Putih, karena pada saatnya anak itu biasanya akan terbangun sendiri.

Sambil berjalan berkeliling. Agung Sedayu mulai memikirkan dirinya sendiri. Ia masih belum ingin mulai dengan isi kitab Ki Waskita. Sambil berjalan-jalan ia baru menganyam angan-angan, apakah yang sebaiknya akan dilakukannya. Ia sadar sepenuhnya, untuk mulai dengan mencari makna isi kitab itu, ia benar-benar harus bersiap lahir dan batin. Sedangkan yang dilakukannya itu barulah sekedar mempersiapkan dirinya.

Ia sadar, bahwa jika Glagah Putih berkeras untuk dengan cepat meningkatkan ilmunya, itu berarti bahwa setiap hari ia akan memberikan tuntunan kepada anak muda itu sampai jauh malam. Jika ia ingin mempergunakan waktu menjelang dini hari, maka waktunya untuk beristirahat di malam hari akan menjadi sangat pendek.

Dengan demikian, ia harus benar-benar memperhitungkan kemampuan jasmaniahnya menghadapi kerja yang sangat berat itu.

“Sebaiknya aku dapat menyisihkan waktu satu atau dua hari dalam seminggu,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri, “aku akan memberikan tuntunan kepada Glagah Putih ampat kali dalam satu minggu, sementara aku akan mempergunakan tiga kali. Sedangkan disiang hari, aku dapat memberikan kesempatan sepenuhnya kepada Glagah Putih dengan latihan-latihan ringan.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Seolah-olah ia sudah menemukan ketentuan yang pahng baik yang dapat dilakukan.

“Aku tidak akan memaksa diri untuk memeras tenaga tujuh hari penuh dalam seminggu. Aku dapat mengurangi waktu bagi diriku sendiri karena aku tidak perlu tergesa-gesa.” ia masih membuat pertimbangan-pertimbangan baru.

Namun yang penting bagi Agung Sedayu adalah melihat dirinya sendiri dengan segala yang ada padanya. Kemudian melihat ilmu yang tersirat dari kitab Ki Waskita. Ia harus melihat perpaduan yang luluh dari pada keduanya. Yang baru harus dapat mempertajam yang telah ada serta mengisi ruang-ruang kosong sehingga benar-benar menjadi mampat padat dalam perpaduan yang menyatu.

Ketika Agung Sedayu berjalan untuk ketiga kalinya melalui regol halaman padepokan kecilnya, maka ia sudah mendengar suara sapu lidi di halaman. Karena itu, maka ia pun kemudian membelok memasuki regol halaman padepokannya.

Ia terhenti dipintu ketika ia melihat Glagah Putih sudah mulai membersihkan halaman dengan cara yang diajarkannya.

Sambil tersenyum Agung Sedayu melangkah mendekatinya. Katanya, “Bagus. Kau harus melakukannya setiap hari.”

Glagah Putih mengangkat wajahnya. Ketika ia melihat Agung Sedayu, ia bertanya, “Kakang dari mana?”

 “Berjalan-jalan,” jawab Agung Sedayu, “aku berjalan mengelilingi padepokan. Ketika aku terbangun dini hari. aku tidak dapat memejamkan mata lagi. Karena itu, akupun mulai berjalan-jalan.”

“Kakang tidak membangunkan aku,” desis Glagah Putih, “aku ingin ikut berjalan-jalan.”

“Kau tentu letih. Semalam kau memeras keringat dalam latihanmu setelah beberapa lamanya kau beristirahat meskipun tidak mutlak,” jawab Agung Sedayu.

“Aku memang letih. Tetapi berjalan-jalan akan memberikan kesegaran tersendiri,” sahut Glagah Putih.

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Baiklah, lain kali kau akan aku bangunkan.”

Glagah Putih tidak menyahut lagi. Ia melanjutkan kerjanya, menyapu halaman dengan cara yang khusus, sehingga bekas sapu lidinya nampak tanpa diselingi oleh bekas telapak kaki, karena ia menyapu sambil melangkah mundur.

Sementara itu. Agung Sedayu pun segera pergi ke pakiwan. Sebentar kemudian terdengar derit senggot timba.

Dalam pada itu, seisi padepokanpun telah terbangun pula. Di ujung hari yang baru itu, mulailah padepokan kecil itu dengan kesibukannya sehari-hari, sementara Agung Sedayu masih harus menyusun urutan waktu yang sebaik-baiknya dihari-hari mendatang.

Kiai Gringsing dan Ki Widura, telah sibuk pula dengan kerjanya masing-masing. Tetapi keduanya mempunyai tanggapan yang berbeda atas sikap Agung Sedayu, karena Kiai Gringsing mengetahui keadaan Agung Sedayu seluruhnya, sementara Ki Widura hanya dapat melihat sebagian yang menyangkut anaknya. Ia tidak mengerti, bahwa telah terpahat didinding angan-angan Agung Sedayu seluruh isi kitab yang dimiliki oleh Ki Waskita, sehingga ia pun tidak membayangkan, bahwa Agung Sedayu akan memerlukan waktu khusus untuk memahami isi kitab itu.

Namun baik Kiai Gringsing maupun Agung Sedayu tidak terlalu memikirkan kehadiran Ki Widura. Ia tentu tidak akan terlalu lama berada dipadepokan itu, karena ia harus kembali ke Banyu Asri dua atau tiga hari kemudian.

Dihari itu, tidak banyak yang harus dilakukan oleh Glagah Putih menurut petunjuk Agung Sedayu. Bahkan hampir tidak ada bedanya dengan hari-hari yang lain. Glagah Putih masih belum merasakan bahwa yang dilakukan dalam kerja sehari-hari itu pun merupakan latihan-latihan tersendiri bagi kemampuan tenaga jasmaniahnya.

Namun Agung Sedayu sudah memberikan pengantar bagi hari itu, “Kau tidak perlu terlalu tergesa-gesa. Jika kau belum melihat sesuatu yang dapat meningkatkan kemampuanmu itu bukan berarti tidak sama sekali.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Meskipun ia tidak mengatakan sesuatu, namun seolah-olah Agung Sedayu mendengar debar jantung Glagah Putih yang mengeluh, “Lamban sekali. Sampai tua aku belum akan mencapai apapun juga.”

Meskipun sebenarnyalah bahwa Glagah Putih telah mengeluh didalam hatinya, tetapi Agung Sedayu tidak mengatakan sesuatu. Dibiarkannya Glagah Putih merasa kecewa, karena Agung Sedayu yakin, bahwa pada saatnya perasaan kecewa itu akan hilang.

Latihan dalam rangka pembinaan ilmu kanuragan bukan kerja sehari dua hari. Jika pada hari-hari yang pertama nampak terlalu bersungguh-sungguh maka semakin lama bukannya justru semakin meningkat, tetapi sebaliknya, semakin lama menjadi semakin kendor, dan akhirnya seperti lampu yang kehabisan minyak,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri. Dan sikap itulah yang dipegangnya untuk pedoman.

Pada hari itu, ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih pergi kesawah, maka mereka telah singgah sejenak ditepian sungai berpasir dan berbatu-batu. Tidak ada yang mereka lakukan selain berjalan menyusuri sungai itu. Tetapi mereka tidak melalui tepian berpasir dan berjalan disela-sela batu-batu yang berserakan. Yang mereka lakukan adalah berjalan diatas batu-batu besar itu. Mereka berloncatan dari batu kebatu.

Di permulaan latihan-latihannya, di Sangkal Putung, Agung Sedayu pun melakukan hal itu. Swandaru hampir tidak telaten dengan latihan-latihan yang demikian. Namun ternyata bahwa latihan-latihan serupa itu sangat berguna bagi keseimbangan dan keteguhan kakinya. Jika semula mereka memilih batu-batu yang kesat, pada saatnya mereka akan mencari batu-batu yang berlumut. Yang licin dan permukaannya tidak datar atau miring.

 “Mudah-mudahan Glagah Putih tidak menjadi jemu,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya.

Mula-mula Glagah Putih memang tidak mengerti maksud kakak sepupunya. Namun ketika terasa beberapa kesulitan, justru ia mulai tertarik pada permainan yang demikian, sehingga karena itulah, maka ia pun kemudian melakukannya dengan bersungguh-sungguh.

Beberapa saat kemudian mereka menyusuri sungai itu, mereka telah sampai ketempat yang hampir tidak pernah disentuh kaki seseorang karena tebingnya yang dalam dan terjal berpadas. Tetapi Agung Sedayu tidak berhenti. Ia berjalan terus meloncat dari batu kebatu diikuti oleh Glagah Putih.

 “Di seberang tebing yang terjal ini kita akan meloncat naik,” berkata Agung Sedayu, “kemudian kita akan menyusuri padang perdu sejenak. Jika kita sampai di ujung bulak, maka orang-orang akan bertanya, kenapa kita melalui jalan itu justru karena sawah kita terletak di ujung yang lain dari bulak itu.”

 “Mereka tidak akan bertanya apa-apa,” jawab Glagah Putih.

 “Belum tentu,” sahut Agung Sedayu sambil meloncat terus, “mereka tentu heran. Jika kita sekedar pergi kesungai, kita tidak akan sampai ketempat ini.”

 “Jadi?” bertanya Glagah Putih.

 “Apakah tidak sebaiknya kita kembali dan naik ketempat kita tadi turun kesungai.”

Glagah Putih tiba-tiba berhenti. Kedua tangannya menekan punggungnya sambil menggeliat, “Kita akan meloncat-loncat lagi?”

 “Ya,” jawab Agung Sedayu.

 “Aku lelah sekali,” desis Glagah Putih.

 “Bagus,” sahut Agung Sedayu, “kelelahan adalah pertanda bahwa kakimu mulai mengalami latihan-latihan betapapun sederhananya.”

Glagah Putih tidak menyahut. Tetapi dipandanginya batu-batu yang berserakan. Sungai yang berkelok-kelok dan pasir yang membentang ditepian.

 “Jika kau lelah sekali, kita akan berjalan diatas pasir,” berkata Agung Sedayu.

Glagah Putih tidak menyahut. Tetapi ia pun kemudian turun diatas pasir dan berjalan menyusuri sungai itu kearah yang berlawanan. Namun beberapa langkah kemudian, rasa-rasanya ada yang memaksanya untuk meloncat keatas sebuah batu. Kemudian kembali ia berloncatan meskipun tidak secepat saat mereka mulai.

Memang tidak begitu menarik. Yang diinginkan oleh Glagah Putih adalah latihan-latihan yang langsung terasa meningkatkan ilmunya. Namun ia tidak bertanya kepada Agung Sedayu. Meskipun didalam hati ia seolah-olah mengeluh, “Jika yang aku lakukan hanyalah sekedar berloncatan dan berlari-lari sepanjang hari, ditambah dengan menyapu halaman dengan cara yang aneh itu, maka apakah aku akan segera dapat menguasai ilmu kanuragan.”

Glagah Putih masih tetap menganggap Agung Sedayu sangat lamban. Meskipun ia tidak mengatakannya.

Dalam pada itu. Agung Sedayu pun melihat kekecewaan itu. Namun setiap kali Agung Sedayu berkata kepada diri sendiri, “Pada saatnya ia akan mengerti dan kekecewaan itu akan hilang dengan sendirinya.”

Agung Sedayu sadar, bahwa pada umumnya seseorang telah didorong oleh suatu keinginan yang melonjak-lonjak. Namun ilmu yang mendalam, bukannya yang dengan cepat dikuasainya. Bukan pula dengan paksa dan tiba-tiba merubah kemampuan jasmaniahnya.

 “Malam nanti aku akan menjelaskan,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri.

***

Dalam pada itu, para prajurit peronda yang sedang beristirahat, ternyata mempergunakan kesempatan disiang hari untuk berbicara dengan anak-anak muda. Melihat-lihat isi Kademangan yang tidak begitu besar itu. Namun juga mendengarkan keluhan-keluhan mereka.

Kademangan Cluntang memang tidak sebesar Sangkal Putung. Tetapi mereka mencoba untuk menjaga keamanan Kademangan mereka sebaik-baiknya. Namun mereka tidak dapat ingkar, bahwa kemampuan mereka memang sangat terbatas.

adbm-123-01 “Kita tidak mempunyai seorang seperti anak Demang Sangkal Putung,” berkata Ki Demang, “anakku enam orang. Dua di antaranya laki-laki. Tetapi mereka tidak lebih dari anak-anak padesan di Kademangan ini. Meskipun mereka juga mencoba berlatih kanuragan, tetapi keduanya tidak lebih dari seorang pengawal di Kademangan Sangkal Putung. Itulah agaknya, maka justru Kademangan-kademangan lainlah yang menjadi sasaran kejahatan dihari-hari terakhir ini.”

Para prajurit itu mengangguk-angguk. Mereka dapat membayangkan, bahwa para penjahat itu pun mempunyai perhitungan, lebih baik merampok ditempat-tempat yang lemah daripada harus memasuki sarang serigala di Sangkal Putung.

Orang-orang Kademangan Cluntang itu nampaknya mengerti pula bahwa para prajurit itu sedang merenungi Kademangan Klebak yang baru saja dilanda bencana kejahatan, sehingga daerah di sekitarnya terpaksa mempersiapkan diri pula.

Karena itu, maka Ki Demang di Cluntang itu pun berkata, “Ki Sanak rasa-rasanya Kademangan inipun sudah tersentuh pula oleh bayangan kejahatan itu. Dua orang peronda melihat empat lima orang berjalan di bulak panjang sambil menjinjing senjata yang mengerikan. Keduanya sama sekali tidak berani berbuat sesuatu. Bahkan mereka bagaikan membeku ditempatnya. Untunglah bahwa orang-orang itu tidak melihat kedua peronda yang bersembunyi sambil menggigil itu.”

Para prajurit itu mengangguk-angguk. Mereka benar-benar melihat bayangan hitam didaerah Selatan yang untuk beberapa saat lamanya menjadi tenang dari kejahatan. Jika terjadi sesuatu, latar belakang dari peristiwa itu bukanlah perampokan. Namun agaknya, di hari-hari terakhir, para penjahatlah yang mulai memasuki daerah yang menjadi sangat gelisah ini.

Dengan penuh perhatian para prajurit itu mendengarkan setiap keterangan tentang keadaan di setiap kademangan seperti yang dipesankan oleh Untara. Namun pada umumnya yang mereka dengar hanyalah keluhan dan kegelisahan.

Ketika matahari condong ke Barat, maka para prajurit itu pun segera mempersiapkan diri. Mereka akan segera melanjutkan perjalanan menuju ke Kademangan-kademangan berikutnya. Mereka akan melihat dan mendengar segala sesuatu yang berkembang disetiap Kademangan yang mereka lalui.

 “Kami berharap, bahwa kehadiran prajurit Pajang di setiap Kademangan dapat dipercepat jarak waktunya,” berkata Ki Demang di Cluntang, seperti juga permintaan-permintaan yang selalu mereka dengar dari daerah-daerah yang kecemasan itu.

Dengan diiringi oleh para bebahu Kademangan, maka para prajurit itu pun kemudian melanjutkan perjalanan ketika matahari menjadi semakin rendah. Dipanasnya sinar matahari sore hari mereka menyusuri bulak-bulak panjang dan lewat di padukuhan-padukuhan kecil dan besar. Sekali-sekali mereka berhenti di gubug-gubug yang terdapat di tengah-tengah sawah jika para prajurit itu masih melihat satu dua orang yang berada didalamnya.

Seperti hari yang pertama, mereka pun menyusuri daerah yang luas didaerah Selatan. Mereka singgah seperlunya saja di gardu gardu. Menjelang malam prajurit-prajurit itu telah menempuh perjalanan yang cukup panjang, sehingga sekali-sekali mereka pun memberi kesempatan kepada kudanya beristirahat, sementara mereka berkesempatan untuk berbicara agak panjang.

Tetapi adalah diluar dugaan dan perhitungan para prajurit itu, bahwa mereka telah berada dalam pengawasan sekelompok orang-orang yang justru sedang mereka perbincangkan. Ketika para prajurit itu mulai memasuki beberapa Kademangan di malam pertama, maka telah sampai laporan kepada seorang yang dadanya dibakar oleh dendam yang tidak akan dapat dipadamkan.

“Kelompok prajurit itu terdiri dari lima orang Ki Lurah,” lapor seseorang kepada pemimpinnya.

“Merekalah yang selama ini aku tunggu. Aku terlambat bertindak atas kelompok yang dua pekan yang lalu meronda didaerah ini, maka sekarang aku tidak akan terlambat lagi.” geram pemimpinnya, “kekalahanku dari Agung Sedayu beberapa saat yang lampau telah membuat darahku bagaikan mendidih, sehingga jantungku hampir meledak. Sementara aku menunggu kesempatan disaat lain, setelah aku meningkatkan diri, maka aku akan mendapatkan sasaran-sasaran yang lain yang dapat mengurangi sakit hatiku.”

“Jadi apakah yang akan kita lakukan?” bertanya pengikutnya.

 “Aku yakin, tanpa Agung Sedayu, Sangkal Putung tidak akan berarti apa apa. Aku berpendapat bahwa Swandaru tidak memiliki kemampuan seperti Agung Sedayu. Karena itu, aku akan memasuki Kademangan itu selagi Agung Sedayu tidak ada. Aku akan membunuh orang-orang di Kademangan itu. Untuk menunjukkan kepada para prajurit yang tentu akan melalui daerah itu pula, bahwa aku telah mampu berbuat sesuatu. Jika mereka sedang sibuk dengan mayat-mayat itu sambil mengumpat-umpat, maka aku akan hadir pula. Mereka adalah prajurit-prajurit Pajang. Mereka adalah prajurit-prajurit Pangeran Benawa. Jika aku menumpas prajurit-prajurit itu, maka berita kematiannya akan didengar oleh Pangeran Benawa. Satu dari mereka akan aku beri kesempatan hidup untuk mengenal siapakah yang telah melakukan pembunuhan itu sebagai pelepasan dendamku kepada Pangeran Benawa.”

Para pengikutnya hanya mengangguk-angguk saja. Mereka pun yakin bahwa pemimpinnya tentu akan dapat melakukannya.

“Aku akan berada di Sangkal Putung sebelum tengah malam. Aku memerlukan waktu beberapa saat untuk membunuh seisi kademangan. Kemudian aku akan menunggu prajurit itu datang ke Kademangan untuk melihat, betapa mereka terkejut menemukan mayat-mayat yang terserak di pendapa.”

“Bagaimana jika para prajurit itu datang lebih awal, sebelum tengah malam misalnya,” bertanya seorang pengikutnya.

 “Kau tahu, berapa besarnya kemampuan seorang prajurit. Di antara mereka, mungkin akan terdapat seorang perwira yang memiliki kemampuan agak lebih baik dari prajurit-prajuritnya. Tetapi mereka tidak akan mampu mengalahkan aku,” jawab pemimpinnya, “jika mereka hadir di Sangkal Putung sebelum aku berhasil membunuh Swandaru, maka kalian akan mempunyai pekerjaan pula. Menahan para prajurit itu beberapa saat. Kemudian, aku sendirilah yang akan membunuh mereka dengan caraku. Seperti aku katakan, seorang dari mereka akan tetap hidup untuk mendengarkan penjelasanku kepada Pangeran Benawa dan Agung Sedayu.”

Para pengikutnya masih mengangguk-angguk saja. Dengan bangga mereka membayangkan. Sangkal Putung akan segera digenangi dengan darah seisi Kademangan. Tanpa Agung Sedayu, mereka memang tidak banyak berarti bagi Ki Carang Waja yang mampu mengguncang bumi.

Dari para pengamatnya, Carang Waja menentukan waktu yang sebaik-baiknya yang dipilihnya. Menurut perhitungannya, dimalam kedua setelah lewat tengah malam, barulah mereka yang meronda akan sampai ke Sangkal Putung.

 “Sesudah aku membunuh seisi Kademangan, maka kita akan membunyikan isyarat untuk memanggil para prajurit itu jika perlu. Para pengawalku akan membunuh siapapun yang berani datang ke Kademangan, sebelum prajurit-prajurit itu yang akan terbunuh.”

Para pengikutnya saling berpandangan. Mereka tidak mengerti sikap Carang Waja. Kenapa ia harus membunyikan isyarat, sehingga dengan demikian akan mengundang kesulitan yang bahkan mungkin tidak akan teratasi.

Namun tiba-tiba terdengar tertawa Carang Waja meledak. Disela-sela suara tertawanya yang mengguntur ia berkata, “Kalian memang pengecut. Kalian menjadi ketakutan melihat pengawal-pengawal itu merayap mengepung kita.”

Para pengikutnya tidak menjawab.

“Jangan seperti cecurut. Seandainya benar hal itu aku lakukan, maka kalian akan memperoleh kebanggaan karena kalian akan dapat membunuh berapapun yang ingin kalian lakukan. Para pengawal dan prajurit yang memasuki daerah sirep yang tajam, akan kehilangan sebagian dari kesadarannya. Bahkan sebagian mereka akan tertidur nyenyak tanpa berbuat apapun juga.”

Para pengikutnya menarik nafas dalam-dalam. Mereka mengerti, bahwa Ki Carang Waja mampu menyebarkan sirep yang dapat mempengaruhi kesadaran seseorang seperti yang pernah dilakukan ketika mereka datang ke Sangkal Putung. Sayang, ternyata bahwa waktu itu Agung Sedayu berhasil mengalahkan Carang Waja, sehingga dendam justru semakin membara didada Carang Waja itu.

Karena itu, maka mereka pun kemudian tidak menunjukkan sikap apapun. Mereka berdaya sepenuhnya terhadap Carang Waja. Bukan saja karena kemampuannya yang melampaui kedua adiknya dari Pesisir Endut, tetapi juga perhitungannya yang tentu akan berhasil seperti yang diharapkannya. Jika beberapa saat yang lalu ia gagal, maka agaknya Agung Sedayu lah yang menyebabkannya. Kini Agung Sedayu tidak ada di Sangkal Putung, sehingga karena itu, maka yang diinginkan oleh Carang Waja itu tentu akan dapat dilakukannya.

Demikianlah, maka mereka pun segera berangkat mendekati Sangkal Putung. Carang Waja tidak mau membicarakannya dengan orang-orang Pajang yang pernah datang bersamanya ke Sangkal Putung untuk membunuh Agung Sedayu tetapi gagal.

“Aku akan melalukan atas namaku sendiri. Yang dikehendaki oleh orang-orang Pajang itu terutama adalah Agung Sedayu. Karena itu, sekarang aku tidak akan berbicara dengan mereka. Aku justru akan membuat para prajurit Pajang terkejut karena tindakanku. Terutama Pangeran Benawa. Bahkan orang-orang yang merupakan api didalam lingkungan keprajuritan Pajang itu sendiri akan terkejut mendengar apa yang telah aku lakukan. Membunuh saudara seperguruan Agung Sedayu dan prajurit-prajurit yang sedang meronda di Sangkal Putung. Aku sadar, bahwa dengan demikian aku akan mengundang dendam para prajurit Pajang yang tidak berpihak kepada mereka yang menyebut dirinya pewaris Kerajaan Majapahit itu. Juga dendam itu akan membakar jantung Agung Sedayu dan gurunya. Tetapi aku tidak gentar.”

“Apakah kita tidak mempertimbangkan kemungkinan, bahwa Untara akan datang dengan prajurit segelar sepapan ke padepokan kita?” tiba-tiba saja salah seorang pengikutnya bertanya.

“Aku tidak peduli. Mungkin juga guru Agung Sedayu, Agung Sedayu dan orang-orang lain akan datang pula bersama mereka, atau sendiri-sendiri. Tetapi aku tidak akan menjadi dungu untuk menunggunya di padepokan. Padepokanku akan menjadi kosong dan mereka hanya akan menemukan gubug-gubug itu. Biarlah mereka membakar padepokan itu jika mereka memang sudah menjadi gila.”

Para pengikutnya hanya dapat mengangguk-angguk. Mereka tidak akan dapat memberikan kemungkinan lain kepada Carang Waja yang hatinya sudah menyala itu.

Demikianlah, maka pada waktu yang sudah diperhitungkan, Carang Waja telah mengambil tempat sesuai dengan rencananya. Sebelum tengah malam, mereka akan memasuki Sangkal Putung. Mereka akan menebarkan sirep yang tajam, kemudian memasuki Kademangan dan membunuh saudara seperguruan Agung Sedayu.

Pekerjaan itu bagi Carang Waja bukanlah pekerjaan yang dianggapnya terlalu berat. Yang dilakukan itu sekedar membuat lawan-lawannya sakit hati. Agung Sedayu dan Pangeran Benawa.

 “Pada saatnya aku akan datang kepada keduanya. Seorang demi seorang akan aku tantang untuk berperang tanding,” berkata Carang Waja didalam hatinya.

Baginya, lima orang prajurit Pajang yang sedang meronda itu sama sekali tidak diperhitungkannya. Prajurit Pajang tidak akan lebih dari para pengikutnya. Belum lagi saudara seperguruannya.

Sebelum tengah malam, maka Carang Waja dan para pengikutnya telah berada di Sangkal Putung. Mereka dengan diam-diam memasuki padukuhan induk dengan meloncati dinding padukuhan, sehingga para pengawal tidak melihat kehadiran mereka di padukuhan itu.

 “Kita akan melepaskan sirep,” berkata Carang Waja. “Tidak saja dengan sasaran rumah Ki Demang. Tetapi seisi padukuhan induk ini akan kita pengaruhi. Karena itu, yang dapat melakukan, bantulah aku melakukannya. Di halaman Ki Demang, aku akan melepaskan ilmu sirep yang paling tajam.”

Demikianlah, maka Carang Waja dan pengikutnya mulai menebarkan ilmu mereka. Bukan saja tertuju kerumah Ki Demang Sangkal Putung, tetapi juga rumah-rumah yang lain di Kademangan itu. sampai penghuni padukuhan yang paling ujung.

Dalam pada itu. Sangkal Putung memang sudah menjadi sepi. Yang masih terjaga adalah anak anak muda di gardu-gardu. Mereka adalah para pengawal Kademangan serta anak-anak muda yang memang terbiasa berada digardu-gardu perondan.

Anak-anak muda itu sama sekali tidak menyangka, bahwa bahaya telah mengintai padukuhan mereka.

Meskipun mereka juga mendengar peristiwa yang terjadi di Kademangan tetangga mereka, tentang orang-orang yang berbuat kejahatan, namun Sangkal Putung terlalu percaya kepada diri sendiri. Sikap Swandaru agaknya telah menulari para pengawal di Sangkal Putung, seolah-olah Sangkal Putung sudah merupakan Kademangan yang paling kuat didaerah Selatan. Bahkan seorang anak muda pernah berkata, “Seandainya tidak ada para prajurit Pajang di Jati Anom, maka Sangkal Putung adalah Kademangan yang jauh lebih kuat dari Jati Anom.

Sebenarnyalah bahwa mereka terlalu berbangga terhadap Swandaru dan Sekar Mirah. Mereka sadar, tidak ada Kademangan di sekitar Sangkal Putung yang memiliki anak muda sekuat Swandaru dan Sekar Mirah. Apalagi ternyata kemudian bahwa di Sangkal Putung ada Pandan Wangi, anak Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang menjadi isteri Swandaru. Dengan demikian, maka Sangkal Putung adalah Kademangan yang paling kuat.

Mereka menganggap bahwa para penjahat tentu merasa lebih aman melakukan kejahatan diluar Sangkal Putung daripada mereka memasuki Kademangan yang wingit itu.

Meskipun demikian, Swandaru sudah memperingatkan, agar mereka yang bertugas menjadi berhati-hati. Bukanlah mustahil, bahwa pada suatu saat penjahat-penjahat itu akan meraba pula pedukuhan-padukuhan di Kademangan Sangkal Putung.

Namun dalam pada itu, menjelang tengah malam. Sangkal Putung ternyata telah dicengkam oleh suasana yang berbeda dengan hari-hari yang pernah lewat. Udara yang panas dan langit yang hitam tidak terasa lagi di-tubuh para pengawal. Rasa-rasanya angin malam menjadi sangat sejuk dan suara cengkerik bagaikan kidung biyung sambil mendukung anaknya yang sedang menyusu dengan mata yang mulai terpejam.

Padukuhan induk Sangkal Putung telah dicengkam oleh pengaruh sirep yang sangat kuat. Para pengawal tidak dapat bertahan lagi. Dimanapun mereka berada, maka mereka telah menjatuhkan diri bersandar apa saja yang dapat menahan tubuh mereka. Mata mereka pun segera terpejam, dan kesadaran mereka mulai mengabur.

Demikian pula mereka yang berada di rumah masing-masing. Mereka yang masih belum tidur karena kerja yang masih harus mereka lakukan, atau perempuan-perempuan yang sedang menganyam tikar pandan yang besok ingin mereka jual kepasar untuk membeli garam, tiba-tiba saja telah terbaring diam.

Udara yang aneh itu telah meraba rumah Ki Demang Sangkal Putung pula. Swandaru yang sudah tidur nyenyak dipembaringannya, sama sekali tidak mengerti, bahwa di padukuhannya telah ditebarkan ilmu sirep yang tajam. Sementara Pandan Wangi yang memang sudah hampir tertidur pula, seolah-olah telah didorong kedalam mimpi yang buram karena firasatnya.

Sekar Mirah lah yang masih gelisah dipembaringan. Betapapun juga, kepergian Agung Sedayu yang sudah cukup lama tanpa pernah menjenguknya itu, telah mengusik perasaannya.

Beberapa malam telah dilewatinya dengan gelisah. Bahkan ia mulai menduga-duga, apakah Agung Sedayu menjadi marah kepadanya karena sikapnya. Mungkin anak muda itu telah tersinggung karena ketidak acuhannya terhadap padepokan kecil yang sedang dibangunnya.

 “Tetapi ia memang terlalu menuruti kata hatinya,” gumam Sekar Mirah kepada diri sendiri, “ia tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Kakaknya pun telah beberapa kali menegurnya, agar ia memilih kewajiban yang sesuai dengan kemampuannya. Tetapi agaknya Agung Sedayu memang malas. Dipadepokan itu ia dapat tidur nyenyak tanpa diganggu. Meskipun matahari telah hampir mencapai puncak langit, jika ia masih malas, ia dapat saja tidur tanpa menghiraukan hiruk pikuknya dunia di sekitarnya.”

Kadang-kadang jengkel yang sangat membuat Sekar Mirah hampir menangis. Namun kadang-kadang ia pun menyesali sikapnya yang mungkin telah menyakiti hati Agung Sedayu.

Kegelisahannya itulah yang masih menahannya duduk di pembaringannya sambil memeluk lutut. Bahkan sekali-sekali ia turun dan berjalan mondar-mandir didalam biliknya.

Ketika ilmu sirep yang tajam mulai menyentuh biliknya, maka Sekar Mirah sedang memeluk lutut dibibir pembaringan. Diluar sadarnya matanya telah terpejam. Namun tiba-tiba saja ia bagaikan didorong dari belakang dan hampir jatuh tertelungkup dari ambennya.

Sekar Mirah terkejut. Untunglah ia sempat menahan tubuhnya dengan tangannya, sehingga hidungnya tidak mencium lantai.

Sesaat Sekar Mirah masih sempat mengumpat. Namun tiba-tiba saja ia mulai memperhatikan suasana yang asing. Ia mula-mula sama sekali tidak merasa mengantuk. Namun tiba-tiba saja ia telah terdorong jatuh dari pembaringannya.

“Ah, aku merasakan suasana yang aneh,” desisnya.

Justru karena itu, maka mulailah ia mempersiapkan dirinya menilai suasana yang dirasakannya asing. Dengan memperkuat daya tahannya, ia berdiri tegak didalam biliknya.

“Tentu ada yang tidak wajar,” desisnya.

Karena itu, maka Sekar Mirah pun segera berganti pakaian. Ia tidak lagi memakai kain panjang seperti kebanyakan seorang gadis. Tetapi ia telah mengenakan pakaian khususnya. Bahkan dengan jantung yang berdebar-debar ia mengambil senjatanya. Bukan pedang atau senjatanya yang lain. Tetapi ia telah mengambil tongkat bajanya yang berkepala tengkorak kekuning-kuningan peninggalan Ki Sumangkar.

Baru kemudian ia keluar dari biliknya dengan hati-hati dan berjalan kebilik kakaknya.

Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Nampaknya kakaknya suami isteri sedang tidur dengan nyenyaknya.

Beberapa saat lamanya ia berdiri dimuka pintu bilik kakaknya. Namun akhirnya ia beringsut meninggalkan pintu itu. Ia ingin minta pertimbangan ayahnya.

Pintu bilik ayahnyalah yang kemudian diketuknya perlahan-lahan. Tetapi ayahnya sama sekali tidak mendengarnya. Bahkan ketika ia mengetuk semakin keras, ayahnya sama sekali tidak terbangun.

Dengan demikian, maka ia pun yakin, bahwa memang ada sesuatu yang tidak wajar di padukuhan induk. Karena itu, maka ia pun justru menjadi semakin bernafsu untuk membangunkan ayahnya.

Karena ayahnya tidak segera bangun, maka perlahan-lahan ia mencoba mendorong pintu biliknya. Ternyata pintu itu dapat dibukanya meskipun agak sulit. Suaranya yang berderak seakan-akan telah mengguncang dinding diseluruh rumah itu.

Yang terbangun lebih dahulu adalah justru Pandan Wangi. Mimpinya yang sangat buruk membuatnya terkejut. Seolah-olah rumah itu diguncang oleh gempa yang dahsyat, sehingga suaranya berderak semakin lama semakin keras.

Ternyata ketika matanya terbuka, ia masih mendengar suara berderak itu. Beberapa saat ia hampir jatuh kembali kedalam tidur yang nyenyak. Namun suara derak yang keras, yang seolah-olah terjadi didalam mimpi itu terdengar pula.

Kesadarannya yang mulai terang, telah mendorongnya untuk mengerahkan daya kemauannya untuk bangkit dari pembaringannya.

Demikian ia bangkit, maka tiba-tiba saja ia telah meloncat turun. Suara berderak itu didengarnya jelas dari pintu bilik ayah mertuanya. Karena itulah, maka tiba-tiba saja ia telah menghentakkan perasaannya sehingga matanya pun terbuka selebar lebarnya dan kesadarannya-pun telah berkembang seutuhnya.

Dengan tergesa-gesa ia melangkah menuju kepintu biliknya. Dengan hati-hati ia pun telah membuka pintunya sambil mengintip keadaan diluar biliknya.

Karena ia tidak melihat seorang pun dari sela-sela pintunya, maka ia pun telah menghentakkan pintunya selebar-lebarnya sambil meloncat keluar. Pandan Wangi telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi yang dilihatnya adalah Sekar Mirah yang berdiri dimuka pintu bilik ayahnya yang dibukanya dengan paksa. Ketika ia mendengar pintu bilik kakaknya terbuka, maka ia pun segera berpaling. Dilihatnya Pandan Wangi telah berdiri tegak sambil memandanginya dengan heran.

“Ada apa. Sekar Mirah,” bertanya Pandan Wangi.

Sekar Mirah tidak masuk kedalam bilik ayahnya. Ia pun dengan tergesa-gesa mendekati Pandan Wangi sambil berdesis, “Kau merasakan sesuatu yang asing?”

Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia memperhatikan dengan sungguh-sungguh keadaannya, maka ia pun mengangguk sambil berdesis, “Ya. Aku merasakan. Tentu pengaruh sirep yang tajam.”

“Dimana kakang Swandaru.”

“Dengkurnya masih terdengar.”

Sekar Mirah masih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Bangunkan dia.”

Pandan Wangi mengangguk. Dengan tergesa-gesa ia melangkah memasuki biliknya sambil berkata, “Aku pun akan berganti pakaian.”

Sekar Mirah kemudian menunggu dengan gelisah diluar bilik. Sementara Pandan Wangi berganti pakaian sambil membangunkan suaminya.

Agaknya Swandaru yang tidak siap menghadapi pengaruh sirep itu, merasa sangat malas untuk bangun. Betapapun Pandan Wangi mengguncangkannya, Swandaru hanya beringsut dan berputar saja. Kemudian matanya kembali terpejam.

Pandan Wangi menjadi gelisah. Karena itu, maka ia pun kemudian mengguncang tubuh suaminya sambil berdesis ditelinganya, “Kakang, kita telah terkena pengaruh sirep.”

“He,” Swandaru membuka matanya. Sekali lagi ia mendengar Pandan Wangi dengan sengaja mengguncang kesadaran Swandaru yang mulai tumbuh, “Kita terkena pengaruh sirep. Bangunlah, ada orang jahat di padukuhan ini.”

Perasaan Swandaru mulai tersentuh. Ia pun kemudian mulai mencoba mempertahankan diri dari pengaruh yang terasa mencengkam jantungnya.

Daya tahan Swandaru ternyata cukup besar. Ia pun segera dapat menguasai dirinya. Perlahan-lahan ia bangkit sambil mengusap matanya.

“Kau menyebut pengaruh sirep?” bertanya Swandaru.

“Ya. Perhatikan suasana di rumah ini,” desis Pandan Wangi.

Swandaru termangu-mangu. Namun ia pun segera dapat mengerti, apa yang telah terjadi di padukuhannya.

Sambil menggeram ia pun meloncat berdiri. Dengan kening yang berkerut ia bertanya, “He, kau justru sudah siap?”

“Ya.”

“Bangunkan Sekar Mirah.”

“Ialah yang membangunkan aku. Ia ada diluar.”

Swandaru pun kemudian menjengukkan kepalanya dipintu yang dibukanya sedikit. Dilihatnya Sekar Mirah berjalan mondar mandir dengan senjatanya di tangan.

“Hati-hatilah Mirah,” desis Swandaru.

“Cepatlah bersiap,” sahut Sekar Mirah.

Sejenak kemudian Swandaru pun telah bersiap pula. Ia pun telah menggenggam cambuk di tangannya, sementara Pandan Wangi telah mengenakan pedang rangkapnya dilambung sebelah menyebelah.

adbm-123-02“Apakah kita akan keluar?” bertanya Sekar Mirah.

“Kita menunggu. Berbuatlah seolah-olah kitapun sedang tertidur nyenyak. Kita berkumpul di ruang dalam,” jawab Swandaru.

Ketiga orang itu pun kemudian berkumpul di ruang dalam. Mereka sama sekali tidak bercakap-cakap. Mereka menunggu perkembangan keadaan.

Sementara itu, Sekar Mirah memandangi kentongan yang tergantung didalam ruang itu. Kiai Gringsing pernah berpesan, bahwa jika perlu kentongan itu harus dibunyikannya. Namun agaknya Swandaru tidak sependapat. Karena itu, dengan isyarat ia menggelengkan kepalanya.

Untuk beberapa saat ketiga orang itu termangu-mangu didalam ketegangan. Mereka duduk dilantai bersandar tiang-tiang rumah yang tegak dan kukuh. Ketika Sekar Mirah melihat pintu bilik ayahnya yang terbuka, maka ia pun berdesis, “Bagaimana dengan ayah?”

Swandaru mengerutkan keningnya. Tetapi katanya kemudian, “Biarlah ayah tidur nyenyak. Tidak akan ada bahaya yang sebenarnya.”

Namun Pandan Wangi menyahut, “Kakang, apakah kau ingat, bahwa beberapa saat yang lalu, kademangan ini mengalami serangan yang sama seperti yang terjadi sekarang?”

“Ya. Saudara seperguruan dari orang-orang Pesisir Endut itu,” jawab Swandaru.

“Mereka adalah orang-orang yang berbahaya. Mungkin sekarang ia datang dengan kekuatan yang lebih besar.” berkata Ptendan Wangi pula.

“Jadi maksudmu?” bertanya Swandaru.

“Kita ingat pesan Kiai Gringsing,” jawab Pandan Wangi.

Swandaru termangu-mangu sejenak. Ketika ia memandang wajah Sekar Mirah nampaknya gadis itu pun sependapat dengan Pandan Wangi. Namun Swandaru pun kemudian menggeleng sambil berkata, “Apakah yang kita cemaskan.”

“Mungkin kau dapat melawan dalam perang tanding orang yang bernama Carang Waja itu kakang,” Sekar Mirah lah yang menjawab, “mungkin pula aku dan Pandan Wangi dapat melawan masing-masing seorang dari mereka. Tetapi jika mereka datang bersama sepuluh orang?”

Sejenak Swandaru termenung. Ia dapat mengerti kecemasan kedua perempuan itu. Kekuatan mereka hanyalah bertiga saja. Padahal mereka tahu, bahwa Carang Waja adalah salah seorang dari mereka yang berhubungan dengan orang-orang yang mengaku keturunan dari Kerajaan Majapahit yang berhak mewarisi kebesarannya.

“Kakang,” berkata Sekar Mirah pula, “kita tidak tahu, siapa sajakah yang datang kepadukuhan ini. Apalagi jika mereka membawa pengikut yang cukup banyak. Masalahnya bukan karena aku menjadi ketakutan. Tetapi para pengawal yang tentu akan tertidur nyenyak itu, akan dapat menjadi sasaran balas dendam mereka. Terhadap orang yang sedang tidur nyenyak, mereka dapat berbuat apa saja. Tetapi jika mereka terbangun, maka akan terjadi peristiwa yang lain.”

Swandaru merenung sejenak. Ia mulai membayangkan, bahwa telah terjadi pembantaian yang semena-mena. Beberapa pengikut Carang Waja telah memasuki gardu-gardu, serta membunuh para pengawal yang tentu tidak akan dapat bertahan atas daya sirep yang kuat itu.

Karena itu, maka ia pun menjadi ragu-ragu. Bahkan ia pun kemudian bangkit dan berjalan mondar-mandir didalam ruang itu. Ia lupa bahwa ialah yang telah berpesan, agar mereka berbuat seolah-olah didalam rumah itu tidak seorang pun yang terbangun.

Dalam pada itu. selagi Swandaru dicengkam oleh keragu-raguan, tiba-tiba saja terdengar suara bagaikan guntur meledak di halaman, “He Ki Demang Sangkal Putung. Apakah kau mendengar? Aku datang untuk membunuhmu dan membunuh anakmu yang bernama Swandaru. Bagiku membunuh kalian tidak akan ada kesulitannya sama sekali.”

Darah Swandaru tiba-tiba saja telah mendidih. Hampir saja ia meloncat kepintu jika Pandan Wangi tidak memeganginya.

“Jangan tergesa-gesa,” desis Pandan Wangi.

“Ada apa lagi Lepaskan. Aku tidak tahan mendengar suaranya.”

“Tunggulah sebentar. Mungkin kita akan mendapatkan cara yang paling baik untuk mengatasi masalah ini,” jawab Pandan Wangi.

“He, sejak kapan kau menjadi penakut?” bertanya Swandaru.

“Bukan karena kami menjadi penakut,” Sekar Mirah lah yang menjawab, “tetapi pertimbangkan keadaan ini sebaik-baiknya.”

Swandaru merenung sejenak. Namun tiba-tiba ia merasa, bahwa ia adalah orang yang bertanggungjawab. Dalam keadaan seperti itu, ia bukannya orang yang masih harus diperingatkan dan dijaga keselamatannya. Tetapi justru ia adalah orang yang menjadi sandaran seisi padukuhan induk dan bahkan seisi Kademangan Sangkal Putung.

Namun tiba-tiba saja dadanya bagaikan retak ketika ia mendengar suara diluar, “Swandaru, menyerahlah. Kami akan meletakkan mayatmu ditempat yang paling terhormat di antara mayat para pengawal yang dengan mudah, semudah memijit biji ranti, telah kami cekik di tempat selagi mereka tidur nyenyak.”

“Persetan,” geram Swandaru.

“Jangan pikirkan harga dirimu semata-mata,” desis Pandan Wangi, “tetapi bagaimana dengan para pengawal. Bangunkan mereka dengan cara apapun. Yang masih hidup, biarlah mencoba bertahan untuk hidup.”

“Pandan Wangi benar,” sahut Sekar Mirah. “Kita tidak ingin melihat darah membanjiri jalan-jalan Kademangan.”

Swandaru menjadi tegang. Ia berdiri di antara gejolak perasaannya dan pertimbangan nalarnya.

“Kakang, berilah kesempatan aku membunyikan tengara ini.” minta Pandan Wangi.

Swandaru termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Bunyikan tengara itu setelah aku berada diluar. Bukan akulah yang membunyikannya. Tetapi kau.”

“Biarlah aku yang dianggapnya penakut,” sahut Pandan Wangi.

“Bukan begitu. Tetapi aku tidak ingin dibayangi oleh anggapan yang buram terhadap diriku.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “berhati-hatilah kakang. Jika benar yang datang adalah Carang Waja, maka ia tentu akan datang bersama orang-orang yang telah dipilihnya dengan cermat.”

Swandaru tidak menjawab. Perlahan-lahan ia berjalan mendekati pintu. Ketika tangannya telah meraba selarak, maka diluar terdengar suara, “He, cepat perempuan-perempuan cengeng. Keluarlah bersama anak yang gemuk itu, agar pekerjaanku cepat selesai. Atau kalian memaksa aku memasuki rumahmu.”

Tetapi belum lagi gema suara itu hilang. Swandaru telah mengangkat selarak pintu sambil menggeram. Kemudian menghentaknya sehingga pintu itu terbuka lebar-lebar.

Sejenak ketegangan telah mencengkam halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung. Sesosok bayangan yang berdiri di halaman, memandang dengan tajamnya, seorang yang meloncat dan kemudian berdiri di pendapa. Sejenak keduanya saling berpandangan. Namun kemudian terdengar orang yang berada di halaman itu tertawa.

Swandaru pernah mengenal suara tertawa itu. Karena itu, maka ia pun segera mengerahkan daya tahannya, agar jantungnya tidak rontok oleh suara tertawa itu.

Namun bagaimanapun juga, Swandaru masih merasakan hentakan-hentakkan didalam dadanya, meskipun ia masih tetap berdiri tegak bagaikan batu karang.

“Kaukah itu Swandaru?” terdengar orang itu bertanya.

“Ya, aku adalah Swandaru,” jawab Swandaru dengan nada dalam.

Terdengar orang di halaman itu tertawa lagi. Katanya, “Bagus. Kau memang seorang jantan, seperti saudara seperguruanmu yang sekarang sedang tidak ada di Sangkal Putung. Bukankah begitu?”

“Adanya tidak berbeda dengan adaku,” jawab Swandaru.

“Kau terlalu sombong,” sahut orang di halaman itu, “kau bukan Agung Sedayu. Dan kau tidak memiliki kemampuan setingkat dengan Agung Sedayu.”

“Omong kosong. Guruku tidak membedakan kedua muridnya.”

“Kau benar. Tetapi disamping ilmu yang diturunkan oleh seorang guru, namun murid itu sendiri akan ikut menentukan, apakah ia dapat mencapai lebih banyak dan menjangkau lebih jauh.”

“Persetan. Apa maumu sekarang? Perang tanding?”

Orang itu tertawa menghentak. Suaranya menggelegar bagaikan guntur yang meledak dilangit. Bahkan berkepanjangan tidak henti-hentinya, susul menyusul seperti hentakan gelombang di lautan.

Terasa dada Swandaru menjadi sesak. Seolah-olah dadanya telah dihimpit oleh guguran gunung anakan. Semakin lama semakin keras semakin keras.

Swandaru telah mengerahkan segenap kemampuannya. Mulutnya mulai terdengar gemeretak karena giginya yang beradu.

Sementara itu. Pandan Wangi dan Sekar Mirah pun telah berusaha menahan diri agar mereka tidak kehilangan kesadaran. Mereka tidak mau menjadi pingsan dan tidak tahu lagi apa yang terjadi.

Dalam pada itu, rasa-rasanya dada Swandaru tidak lagi dapat bertahan oleh himpitan yang menekan semakin dahsyat iga-iganya bagaikan retak dan berpatahan.

Sejenak Swandaru termangu-mangu. Namun kemudian hampir diluar sadarnya, oleh kemarahan yang menghentak, maka diayunkannya cambuknya sekuat tenaganya, sehingga suaranya meledak seperti petir menyambar diatas halaman itu.

Ledakan cambuk itu ternyata berpengaruh. Suara tertawa itu terdengar menurun. Demikian pula himpitan pada dada Swandaru dan kedua perempuan yang berada didalam rumah.

Swandaru merasakan pengaruh itu, Karena itu, maka ia telah mengulangi, mengayunkan cambuknya yang kemudian meledak dengan dahsyatnya, seolah-olah mengimbangi suara tertawa orang yang berdiri di halaman itu.

Orang itu pun merasakan, bahwa suara tertawanya telah terganggu oleh ledakan cambuk itu, meskipun lewat getaran yang berbeda. Namun pengaruh suara itu pada indera orang lain, akan dapat membentur pengaruh suara tertawa itu pada perasaan seseorang.

Sejenak orang di halaman itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya. “Kau memang anak iblis. Meskipun kau tidak sedahsyat Agung Sedayu, tetapi kau mampu juga meledakan cambukmu seperti petir.”

“Katakan, apakah maumu sekarang,” geram Swandaru.

“Tetapi jangan cepat berbangga. Suara cambukmu tidak akan berpengaruh jika aku mulai mengguncang bumi.” geram orang itu.

“Lakukanlah jika kau ingin melakukan,” teriak Swandaru.

“Tetapi jangan menyesal. Mungkin kau akan mampu bertahan beberapa saat lamanya. Namun sementara itu, para pengawal di Sangkal Putung akan habis dibantai oleh orang-orangku dalam tidurnya. Mungkin mereka akan bermimpi buruk menjelang hanyutnya kedalam lingkungan maut sebelum mereka sadar apa yang telah terjadi.”

“Licik dan pengecut,” geram Swandaru, “kau hanya mampu menggertak saja. Atau kau ingin mempengaruhi pemusatan perlawananku atau permainanmu yang tidak berarti itu?”

“Mungkin aku kau anggap licik Swandaru. Tetapi aku tidak peduli. Aku memang berniat untuk membunuh sebanyak-banyaknya. Atau barangkali kau mau membuat perhitungan sedikit. Aku tidak akan membunuh para pengawal, tetapi kau harus bersedia mati dengan tenang di halaman ini.”

“Persetan,” Swandaru berteriak.

Namun dalam pada itu, Pandan Wangi dan Sekar Mirah yang ada didalam rumah tidak sabar lagi. Mungkin orang itu tidak hanya sekedar mengancam. Orang yang licik akan berbuat apa saja untuk mempengaruhi lawannya  Sehingga dengan demikian akan terjadi, pembantaian yang tidak ada batasnya.

Karena itulah, maka keduanya yang menjadi semakin tegang telah bersepakat untuk memukul kentongan yang ada didalam rumah itu kuat-kuat. Apalagi pintu telah terbuka, sehingga suaranya akan dapat lepas mengumandang kesegenap penjuru.

Sejenak kemudian, maka Pandan Wangi telah siap dengan pemukul kentongan. sementara Sekar Mirah berlari kepintu butulan sambil berkata, “Aku akan membuka pintu itu pula, agar suaranya dapat semakin merata.”

“Jaga pintunya, agar tidak ada orang yang sempat memasukinya.”

“Aku akan membunuh siapapun yang berani melangkahi tlundak,” geram Sekar Mirah.

Pada saat Sekar Mirah mendorong pintu butulan itu, maka telah terdengar suara kentongan dalam nada titir. Demikian kerasnya, sehingga suaranya lepas mengumandang sampai kesudut-sudut padukuhan.

Suara itu mengejutkan orang yang berada di halaman itu. Sejenak ia tertegun diam. Sementara suara kentongan itu pun semakin lama menjadi semakin keras.

Swandaru sudah mengerti, bahwa Sekar Mirah atau Pandan Wangi pada suatu saat akan memukul kentongan itu. Namun demikian perasaannya tergetar juga. Ia sudah menduga, bahwa orang yang berdiri di halaman itu akan berbicara tentang suara kentongan itu.

Seperti yang diduga oleh Swandaru, maka sejenak kemudian orang itu pun tertawa. Tetapi agaknya ia sengaja tidak melontarkan kekuatan ilmunya lewat suara tertawanya, sehingga karena itu Swandaru tidak merasakan bahwa suara tertawa itu telah menghentak-hentak isi dadanya.

“Swandaru,” berkata orang itu, “sekian lama aku berusaha mengetahui serba sedikit tentang dirimu seperti aku ingin mengetahui tentang Agung Sedayu. Ternyata bahwa yang aku dengar jauh berbeda dengan kenyataan yang aku hadapi sekarang.”

Tetapi Swandaru pun sudah siap untuk menjawab, “Akupun telah salah duga terhadap orang yang datang dari Pesisir Endut atau saudara seperguruannya yang bernama Carang Waja. Ia sama sekali bukan seorang laki-laki jantan. Ia adalah laki-laki yang dengan licik mempergunakan ilmu seorang pengecut, mempengaruhi lawannya dengan ilmu sirep! Bukankah itu berarti, bahwa kau dan pengikut-pengikutmu baru berani berhadapan setelah lawannya berada dalam pengaruh keadaan yang lemah, bahkan tidur sama sekali? Dan kau nampaknya telah berbuat demikian terhadap kami di Sangkal Putung. Terhadap pengawal-pengawal Kademangan dan anak-anak muda Kademangan ini.”

“O, jadi dalam perang ilmu semacam ini kau masih menganggap bahwa aku licik? Jika demikian, apa yang dapat aku katakan tentang suara kentongan itu?” bertanya orang di halaman itu.

“Adikku hanya sekedar ingin memperingatkan kepada para pengawal untuk bersiaga, agar mereka sempat mempertahankan diri dari serangan licikmu,” jawab Swandaru.

Orang di halaman itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian suara tertawanya kembali terdengar, tanpa lontaran ilmu yang menghimpit dada, “He, kau dengar? Suara kentongan adikmu dalam nada titir itu sama sekali tidak bersambut. Apakah kau tahu artinya? Semua orang di padukuhan induk ini telah tertidur nyenyak. Tidak seorang pun yang terbangun dan dapat menyambut suara kentonganmu. Sementara itu, suara kentonganmu tidak terdengar dari padukuhan-padukuhan lain di luar pedukuhan induk ini.”

Wajah Swapdaru menegang sejenak. Ia pun mulai memperhatikan keadaan padukuhan induknya. Sepi dan mendebarkan jantung.

“Swandaru. Padukuhan induk ini akan menjadi kuburan raksasa. Di antaranya adalah mayatmu sendiri,” berkata orang yang berada di halaman itu.

Jantung Swandaru berdegup semakin keras. Ia mulai membayangkan kematian yang tersebar di padukuhan induknya. Karena itulah maka ia mulai menyesal, bahwa ia tidak pada permulaan sekali memperdengarkan peringatan itu bagi segenap anak muda di Sangkal Putung.

“Apakah benar ia telah melakukannya,” geramnya.

Dalam pada itu, orang di halaman itu pun bertanya, “He, Swandaru. Kenapa kau tiba-tiba saja merenung? Apakah yang kau renungkan? Kematianmu sendiri?”

“Persetan,” Swandaru menggeretakkan giginya. Bahkan kemudian ia pun telah melangkah turun tangga pendapa mendekati orang yang berdiri di halaman itu.

“Bagus,” desis orang itu, “kau memang jantan seperti kakak seperguruanmu. Kau tentu sudah siap untuk berperang tanding.”

“Jangan banyak bicara. Marilah. Aku sudah siap, meskipun kau mampu mengguncang bumi,” jawab Swandaru.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Bagus Swandaru. Aku memang ingin berperang tanding. Kemudian membunuhmu dengan tanganku. Sebentar lagi tentu akan ada sekelompok kecil prajurit Pajang dari Jati Anom yang akan meronda sampai ketempat ini. Hal itu aku ketahui dengan pasti. Dan mereka pun akan mati pula. Dengan demikian sekaligus aku dapat memancing kemarahan Agung Sedayu dan gurumu, serta Pangeran Benawa dari Pajang yang telah kehilangan prajurit-prajuritnya di Sangkal Putung. Ia pun akan dapat menghubungkan kematian prajurit-prajuritnya dengan kelancangannya membunuh dua orang adik seperguruanku. Apalagi dengan sengaja aku akan membiarkan salah seorang dari mereka hidup dan melaporkan apa yang telah terjadi.”

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s