ADBM2-125

<<kembali | lanjut >>

BUKANKAH kalian pernah melakukannya bagi Senapati Ing Ngalaga yang mempunyai kedudukan yang hampir sama? Raden Sutawijaya itu pun putera Sultan di Pajang, meskipun Putera angkatnya.”

“Tetapi ia sangat baik dan seolah-olah tidak ada jarak dengan kami,” berkata salah seorang gadis.

 “Demikian pula Pangeran Benawa,” sahut Agung Sedayu, “tetapi kalian memang lebih dekat dan sudah pernah melayankan hidangan kepada Raden Sutawijaya.”

Gadis-gadis itu masih saja berdebar-debar. Tetapi keterangan Agung Sedayu itu agak membuat hati mereka menjadi tenang. Jika benar seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu maka Pangeran Benawa tidak akan terlalu memperhatikan sikap dan unggah-ungguh mereka.

Dalam pada itu. Agung Sedayu lah yang kemudian menanyakan, apakah mereka melihat Sekar Mirah.

“Baru saja keluar,” jawab Pandan Wangi, “mungkin ia berada di patehan, melihat anak-anak muda yang menyiapkan minuman.”

Agung Sedayu pun kemudian menyusul Sekar Mirah ke patehan dilongkangan. Ternyata gadis itu memang berada disana, memberikan beberapa petunjuk kepada anak-anak muda yang sedang membuat minuman.

“Ada sedikit yang ingin aku katakan,” bisik Agung Sedayu.

Sekar Mirah pun kemudian mengikutinya. Di balik longkangan, di sudut gandok yang sepi Agung Sedayu berkata, “Aku akan pergi.”

“He Sekar Mirah mengerutkan keningnya, “bagaimana mungkin. Disini kami sedang sibuk.”

“Sst,” desis Agung Sedayu, “ada pesan dari Pangeran Benawa.”

Sekar Mirah menjadi tegang. Kemudian ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh keterangan Agung Sedayu tentang pesan Pangeran Benawa lewat Swandaru.

Barulah Sekar Mirah mengerti persoalannya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Siapakah yang akan pergi bersamamu kakang? Mungkin di perjalanan kau tidak akan menjumpai kesulitan apapun. Tetapi di malam hari, kadang-kadang ada saja sesuatu yang harus kita perhitungkan.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Katanya, “Menurut Pangeran Benawa, Swandaru dan guru sebaiknya tidak meninggalkan rumah ini.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun bertanya, “Jadi dengan siapakah kakang akan pergi?”

“Aku tidak dapat memilih siapakah yang paling baik pergi bersamaku. Mungkin seorang pengawal yang paling baik menurut petunjuk Swandaru, atau barangkali Glagah Putih saja.”

“Apakah itu sudah cukup?” bertanya Sekar Mirah.

“Mungkin sudah cukup. Atau kedua-duanya. Glagah Putih dan seorang pengawal terpilih.”

Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Hampir diluar sadarnya ia berkata, “Bagaimana jika aku saja?”

“Ah,” Agung Sedayu berdesah, “kau diperlukan dalam kesibukan ini.”

Sekar Mirah mengangguk kecil. Ia sadar, bahwa ia harus membantu mempersiapkan jamuan yang dengan tergesa-gesa dilakukan oleh perempuan-perempuan di Kademangan Sangkal Putung untuk menjamu tamu-tamu mereka, termasuk seorang Pangeran dan seorang Adipati.

“Tetapi, kakang harus berhati-hati,” berkata Sekar Mirah, “mudah-mudahan tidak ada apa-apa di perjalanan.”

“Doakan saja Sekar Mirah. Aku sekarang akan segera pergi dengan diam-diam. Jangan berkata kepada siapapun, karena jika hal ini diketahui oleh satu orang saja, maka mungkin sekali akan segera tersebar sampai ketelinga salah seorang pengiring Pangeran Benawa.”

“Bagaimana dengan seorang pengawal? Ia pun tentu akan berceritera kepada kawan-kawannya.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Jika demikian, aku akan pergi dengan Glagah Putih saja.”

Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Tetapi jika hal itu dikehendaki oleh Pangeran Benawa. ia tidak dapat mencegahnya. Ia pun mengerti bahwa Pangeran Benawa sebenarnya sangat mengasihi kakak angkatnya di Mataram, seperti Raden Sutawijaya juga mengasihinya.

Dalam pada itu, dengan diam-diam Agung Sedayu dan Glagah Putih segera mempersiapkan kuda mereka. Melalui longkangan belakang, keduanya pergi dengan diam-diam. Jangankan para tamu, orang-orang Sangkal Putung sendiri tidak mengetahui bahwa keduanya telah meninggalkan halaman.

“Kita lewat jalan-jalan setapak,” berkata Agung Sedayu yang mengenal Sangkal Putung seperti mengenal padukuhannya sendiri. Karena itu, maka ia pun dapat memilih jalan keluar tanpa melalui sebuah gardu penjagaanpun, meskipun kadang-kadang mereka justru harus menuntun kuda mereka.”

Demikianlah, ketika mereka sudah berada diluar padukuhan, maka kuda mereka pun segera berpacu. Dengan cepat mereka melintasi bulak-bulak dan padukuhan-padukuhan. Sejauh mungkin Agung Sedayu menghindari gardu-gardu yang dapat menghambat perjalanannya. Apalagi selama mereka masih berada ditlatah Sangkal Putung.

Agung Sedayu harus dengan secepatnya mencapai Mataram. Kemudian dengan secepatnya pula kembali ke Sangkal Putung. Jarak antara Sangkal Putung dan Mataram memang cukup panjang, sehingga perjalanan itu merupakan perjalanan yang cukup berat jika menjelang pagi mereka haras sudah berada di Sangkal Putung kembali. Apalagi jika ada sesuatu yang dapat menghambat perjalanan mereka.

Namun ternyata di perjalanan menuju ke Mataram, nampaknya mereka tidak menemui gangguan sesuatu. Meskipun jalan gelap dan kadang-kadang mereka masih harus melalui jalan di pinggir hutan, namun mereka tidak mendapat hambatan yang berarti.

Dalam pada itu, di Sangkal Putung yang seolah-olah dengan tiba-tiba saja telah menyelenggarakan sebuah peralatan, telah menjadi sangat ramai. Kademangan Sangkal Putung menjadi terang benderang, apalagi halaman rumah Ki Demang yang penuh dengan obor disetiap sudut dan bagian dari kebun dan longkangan.

Dalam kesibukan itu, tidak seorang pun yang menyadari, bahwa Agung Sedayu tidak berada di halaman rumah Ki Demang itu, kecuali orang-orang tertentu yang memang berkepentingan. Anak-anak muda yang sibuk itu kadang-kadang memang ada yang bertanya, dimana Agung Sedayu. Tetapi Sekar Mirah selalu dapat mencari jawabnya. Jika ia berada di patehan. ia mengatakan Agung Sedayu ada di pendapa. Tetapi jika anak-anak yang dari pendapa bertanya dimana Agung Sedayu, ia menjawab bahwa Agung Sedayu berada di sumur atau di longkangan.

Namun bagaimanapun juga, Sekar Mirah menjadi berdebar-debar juga. Ia mengerti, betapa di malam hari. Meskipun sebagian besar jalan telah lapang dan rata, tetapi hutan-hutan seperti Tambak Baya, kadang-kadang masih merupakan daerah yang sangat mendebarkan. Bulak yang panjang dan kemudian jalan yang menembus daerah yang masih berhutan lebat, bahkan masih merupakan daerah jelajah para perampok dan penyamun.

Terhadap satu dua orang perampok dan penyamun. Sekar Mirah tidak perlu mencemaskan nasib Agung Sedayu. Tetapi jika sekelompok dari mereka bersama-sama mencegatnya di hutan Tambak Baya, maka hal itu akan dapat merupakan peristiwa yang gawat.

Tetapi Agung Sedayu tidak mengalami sesuatu di perjalanan. Glagah Putih ternyata merupakan anak muda yang memang mempunyai kemampuan yang besar dan kemungkinan yang baik dimasa mendatang. Didalam gelapnya malam, ia mampu berkuda dengan cepatnya mengikuti Agung Sedayu. Ketika sekali mereka berhenti di pinggir Kali Opak, tidak nampak kesan kelelahan atau perasaan cemas pada Glagah Putih. Ia pun dengan sigap kembali meloncat kepunggung kudanya yang telah sempat minum air sungai yang jernih dan beristirahat barang sejenak.

Ketika mereka memasuki Mataram digelapnya malam, maka para penjaga di regol telah menghentikannya. Tetapi karena keduanya tidak mencurigakan, maka mereka tidak mengalami banyak kesulitan.

Meskipun Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak menyatakan diri mereka dan kepada siapa ia akan menghadap, namun para penjaga tidak terlalu banyak bertanya tentang mereka. Adalah mungkin sekali seseorang yang datang dari jarak yang kemalaman di perjalanan. Apalagi Agung Sedayu dapat menyebut beberapa nama justru orang-orang yang sudah banyak dikenal di Mataram dan mengaku sebagai sanak kadangnya yang datang dari jauh, meskipun nama itu bukan Senapati Ing Ngalaga.

Tetapi ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih sampai di regol rumah yang didiami oleh Raden Sutawaijaya, maka ia harus mengatakan, bahwa mereka memang akan menghadap Raden Sutawijaya.

“Kenapa malam-malam begini?” bertanya pengawal yang menjaga regol halaman.

“Penting sekali. Kami tidak dapat menundanya sampai besok,” jawab Agung Sedayu.

“Tetapi siapakah kalian?” pengawal itu mendesak.

Agung Sedayu termangu-mangu. Seperti di Pajang, maka sudah barang tentu bahwa tidak semua orang di Mataram dapat dipercaya. Mungkin sekali penjaga itu adalah orang yang dengan sengaja ditempatkan oleh orang-orang yang justru memusuhi Mataram.

Karena itu, maka Agung Sedayu berkata, “Apakah kalian dapat menyampaikan pesan kedatanganku kepada Ki Lurah Branjangan?”

Sejenak pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Ki Lurah tidak bertugas malam ini.”

“Tetapi bukankah rumahnya di belakang rumah ini dan setiap saat dapat dihubungi.”

“Kau aneh. Katakan, siapakah kalian dan apakah keperluan kalian?” bentak penjaga itu.

“Ki Lurah mengenal kami. Jika Ki Lurah ada. maka Ki Lurah akan dapat mengurus segalanya.” Agung Sedayu termangu-mangu, lalu. “atau antarkan kami kepada Ki Lurah.”

Selagi kedua penjaga regol itu termangu-mangu, tiba-tiba saja seorang perwira pengawal datang sambil bertanya, “Ada apa dengan mereka?”

“Mereka ingin menghadap. Tetapi sikap mereka justru mencurigakan. Mereka mungkin sekali berniat buruk dengan merahasiakan diri mereka.”

“Aku tidak merahasiakan. Aku hanya mengatakan, bahwa Ki Lurah mengenal kami.”

Tiba-tiba perwira itu mengerutkan keningnya sambil bertanya, “Bukankah kau?”

“Ya,” sahut Agung Sedayu sambil menjabat tangan perwira itu. Namun ia berbisik, “Aku datang dengan pesan rahasia.”

Perwira itu termangu-mangu. Ia tidak jadi menyebut nama Agung Sedayu. Apalagi Agung Sedayu seolah-olah justru telah mendesaknya semakin jauh dari para penjaga dan membiarkan kendali kudanya dipegang oleh Glagah Putih.

“Sebaiknya jangan ada orang lain yang mengetahui, apakah yang aku lakukan disini,” desis Agung Sedayu pula.

Tetapi perwira itu tersenyum. Katanya lirih, “Orang-orangku dapat dipercaya. Petugas-petugas di rumah ini adalah petugas-petugas khusus yang dipilih melalui beberapa tataran.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Syukurlah. Mudah-mudahan begitu.”

“Kau harus yakin. Jika tidak, kau pun wajib mencurigai aku,” sahut perwira itu sambil tertawa.

Agung Sedayu justru menjadi termangu-mangu. Tetapi ia pun kemudian tertawa pula. Desisnya, “Mudah-mudahan aku dapat yakin kemudian.”

Meskipun demikian, ternyata perwira itu tidak menyebut juga nama Agung Sedayu. Dengan termangu-mangu, penjaga regol itu melihat perwira yang kebetulan sudah mengenal Agung Sedayu itu membawanya masuk dan langsung ke longkangan, bersama Glagah Putih.

“Apakah kau akan bertemu dengan Senapati Ing Ngalaga malam ini juga?” bertanya perwira itu.

“Ya, penting sekali. Aku membawa pesan Pangeran Benawa.”

“He?” wajah orang itu menegang. Lalu. “Baiklah. Aku akan membangunkannya.”

Perwira itu telah membawa Agung Sedayu keruang pengawal dalam. Kemudian bersama salah seorang dari mereka, memasuki bagian tengah dari rumah yang besar itu.

“Tunggulah disini,” berkata pengawal dalam itu.

“Cepatlah sedikit,” berkata perwira yang membawa Agung Sedayu dan Glagah Putih itu.

Pengawal dalam itu pun kemudian menuju kepintu bilik Senapati Ing Ngalaga. Sejenak ia termangu-mangu.

Namun kemudian, ia pun mengetuk pintu bilik itu.

Sejenak kemudian, pintu itu terbuka. Seorang yang mempunyai perbawa yang sangat besar, telah berdiri dimuka pintu, sementara pengawal dalam itu menganggukkan badannya penuh hormat.

“Kenapa kau bangunkan aku?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Ampun Senapati. Ada seseorang yang ingin menghadap membawa berita yang sangat penting yang tidak dapat ditunda sampai besok,” jawab pengawal dalam itu.

Raden Sutawijaya pun kemudian mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Yang dilihatnya di ruang sebelah lewat pintu hanyalah bayangan yang melekat dinding.

Namun katanya kemudian, “Bawa mereka kemari.”

Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian melangkah surut untuk mempersilahkan perwira pengawal yang membawa Agung Sedayu dan Glagah Putih.

Demikian Sutawijaya melihat Agung Sedayu, sejenak ia menegang. Namun kemudian ia pun tertawa sambil berkata, “Kau Agung Sedayu. Marilah. Duduklah di ruang dalam. Kedatanganmu tentu akan menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Tetapi tentu bukan kedatangan dan kematian Carang Waja.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk penuh hormat, karena bagaimanapun juga, ia berhadapan dengan Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram.

adbm-125-01“Terima kasih,” jawab Agung Sedayu, “kami mohon maaf, bahwa kami datang di malam larut.”

Raden Sutawijaya tertawa. Jawabnya, “Aku justru berterima kasih. Tentu kau membawa persoalan yang sangat mendesak. Bukan hanya sekedar menginap karena kemalaman dalam perjalananmu.”

“Senapati benar. Aku memang membawa kabar penting,” sahut Agung Sedayu.

Sejenak kemudian, maka Raden Sutawijaya pun membawa Agung Sedayu dan Glagah Putih ke ruang tengah. Sementara perwira yang membawanya pun kemudian minta diri meninggalkan ruangan itu bersama pengawal dalam yang telah membangunkan Raden Sutawijaya.

Setelah Raden Sutawijaya bertanya tentang keselamatan Agung Sedayu di perjalanan bersama Glagah Putih, maka ia pun berkata, “Nah. sekarang katakanlah. Apakah yang penting itu bagi kami di Mataram.”

Agung Sedayu pun kemudian mengatakan, bahwa Pangeran Benawa berada di Sangkal Putung dalam perjalanannya ke Mataram. Dan ia pun telah menyampaikan pesan Pangeran Benawa kepada Raden Sutawijaya tentang keperluannya dan mempersilahkan Raden Sutawijaya untuk menyesuaikan diri.

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berdesis, “Itulah Agung Sedayu. Ada orang-orang tertentu di Pajang yang selalu mencari-cari kesalahanku. Ketika kita berada di Gunung Merapi, di lembah antara gunung itu dan Gunung Merbabu, maka Pajang telah berbuat serupa. Tetapi agaknya mereka belum puas karena mereka tidak menemukan yang mereka kehendaki. Seolah-olah Mataram sedang mempersiapkan diri untuk memberontak terhadap Pajang. Waktu itu aku sempat mengaburkan kedatangan pasukanku agar mereka memasuki kota dalam pecahan-pecahan kecil, sehingga petugas-petugas dari Pajang tidak melihat pasukan yang seolah-olah dipersiapkan untuk melawan Pajang. Kini Pajang justru mengutus Pangeran Benawa sendiri untuk datang ke Mataram.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Demikianlah yang harus aku sampaikan kepada Senapati Ing Ngalaga.”

“Aku mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Aku akan menyesuaikan diri. Namun sebenarnyalah di Mataram tidak ada kegiatan yang pantas disebut atau dianggap sebagai satu persiapan pemberontakan. Adalah wajar sekali jika pengawal-pengawalku mengadakan latihan-latihan perang didaerah Ganjur atau di pinggir hutan Kleringan dan bahkan kadang-kadang memasuki lebatnya hutan Tambak Baya dan sisa-sisa hutan Mentaok untuk menambah ketangkasan dan ketrampilan mereka. Jika latihan-latihan yang demikian dianggap sebagai suatu persiapan pemberontakan, maka aku tidak mengerti, kegiatan apakah yang dapat aku lakukan sebagai seorang yang telah dianugerahi Gelar Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram?”

Agung Sedayu tidak menjawab, ia memang tidak banyak mengerti tentang tata pemrintahan. Ia juga tidak mengerti batas kewajiban dan wewenang Raden Sutawijaya. Dan ia pun tidak mengerti, apakah kedudukan Raden Sutawijaya itu adalah kedudukan yang memang sudah ada sejak masa pemerintahan sebelum Pajang, atau baru ada karena di Pajang ada seorang Raden Sutawijaya yang mempunyai kedudukan dan sikap khusus.

Sementara itu Raden Sutawijaya meneruskan, “Baiklah Agung Sedayu. Malam ini juga aku akan memerintahkan menarik semua pasukan yang sedang mengadakan latihan-latihan perang-perangan didaerah yang terpencar. Biarlah mereka memasuki baraknya masing-masing sementara para pengawal padukuhan yang setiap saat dapat aku siapkan sebagai pengawal-pengawal dan prajurit, akan aku perintahkan kembali ke padukuhan masing-masing. Sehingga besok saat Pangeran Benawa memasuki Mataram, sama sekali tidak ada kegiatan keprajuritan, kecuali pasar-pasar yang ramai dan kedai-kedai yang penuh dengan para pembeli. Mungkin aku juga akan menjiapkan penyambutan dengan berbagai macam pertunjukan jika Pangeran Benawa berkenan bermalam di Mataram.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat kekecewaan diwajah Raden Sutawijaya atas sikap orang-orang Pajang. Tetapi Raden Sutawijaya masih tetap hormat dan patuh kepada Sultan di Pajang, yang juga merupakan ayah angkatnya dan sekaligus salah seorang gurunya dalam olah kanuragan. Bahkan agaknya jiwa petualangannya dan juga jiwa menyepi dan pemusatan panca indera di tempat-tempat terasing untuk mematangkan dan mendewasakan diri dalam bentuknya yang beraneka adalah karena pengaruh gurunya, yang juga rajanya dan yang juga orang tuanya itu.

Dalam pada itu, ketika Agung Sedayu menganggap bahwa ia sudah cukup jelas menyampaikan pesan Pangeran Benawa, maka katanya, “Tugas yang dibebankan kepadaku agaknya sudah cukup aku lakukan. Karena itu, maka kami akan segera mohon diri. Segala sesuatunya mudah-mudahan akan dapat berjalan dengan baik dan selamat.”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia berkata,” bermalam sajalah disini.”

“Terima kasih Senapati. Aku harus sudah berada di Sangkal Putung menjelang matahari naik, agar tidak menimbulkan beberapa kecurigaan. Karena itu, maka aku harus segera kembali dan secepatnya sampai ke Sangkal Putung.”

Senapati Ing Ngalaga menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau mempunyai tanggung jawab yang besar. Kau, gurumu dan saudara seperguruanmu yang gemuk itu, ternyata terlalu banyak memberikan bantuan terhadap berdiri dan tegaknya Mataram. Karena itu, aku setiap kali akan selalu mengucapkan terima kasih kepada kalian.”

“Yang aku lakukan sama sekali tidak berarti,” sahut Agung Sedayu.

Namun Raden Sutawijaya itu pun bertanya, “Bagaimana dengan kudamu? Meskipun lelah dan barangkali punggungmu terasa sakit, tetapi kau tidak berlari dari Sangkal Putung ke Mataram dan sebaliknya. Karena itu, jika kudamu lelah dan barangkali dapat mengganggu perjalananmu, biarlah kau berdua memakai kuda dari Mataram agar kudamu sempat beristirahat disini.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Kudanya memang tentu lelah setelah menempuh perjalanan dari Sangkal Putung ke Mataram. Kuda itu hanya berhenti sebentar di pinggir Sungai Opak. Meskipun ia dapat memaksa kudanya untuk berlari kembali ke Sangkal Putung setelah berhenti pula sejenak di Mataram, tetapi seperti yang dikatakan oleh Raden Sutawijaya, kudanya tentu merasa lelah.

Tawaran Raden Sutawijaya itu memang menarik perhatiannya. Besok atau lusa atau kapan saja, ia dapat pergi ke Mataram dan kembali dengan kudanya sendiri bersama Glagah Putih.

Karena itu. maka Agung Sedayu pun berkata, “Terima kasih. Jika demikian, aku akan menerimanya dengan senang hati. Biarlah kuda kami tinggal dan beristirahat disini. Pada saatnya kami akan mengembalikan kuda yang kami bawa dan menukarkannya kembali dengan kuda kami.”

Raden Sutawijaya tersenyum. Ia pun kemudian bertepuk dua kali. Ketika seorang pengawal dalam datang mendekatinya, maka diperintahkannya agar seorang gamel menyiapkan dua ekor kuda dan membawa dua ekor kuda yang dipakai oleh Agung Sedayu dan Glagah Putih kekandang.

Gamel yang mendapat perintah itu pun segera mengerti maksudnya. Betapapun malasnya, maka sambil menguap ia pun terpaksa menyiapkan dua ekor kuda. Meneliti segala sesuatunya sampai ketapal kakinya. Karena jika tapal kaki kuda itu kendor, maka kuda itu akan mengalami kesulitan di perjalanan.

Setelah ternyata segalanya siap, maka kuda itu pun diserahkan kepada Agung Sedayu dan Glagah Putih yang telah mohon diri kepada Senapati Ing Ngalaga.

“Berhati-hatilah di perjalanan. Aku kira tidak akan ada gangguan apapun juga. Meskipun demikian, kadang-kadang masih ada juga orang-orang yang tidak bertanggung jawab di sepanjang jalan,” berkata Senapati Ing Ngalaga.

“Kami mohon diri,” berkata Agung Sedayu, “mudah-mudahan tidak ada sesuatu yang dapat mengeruhkan ketenangan yang selama ini terbina sebaik-baiknya.”

Raden Sutawijaya tersenyum. Ia pun mengerti, bahwa Agung Sedayu menangkap ketegangan yang ada di antara Mataram dan Pajang. Karena itu maka Agung Sedayu pun tentu mengerti, bahwa ketenangan yang dimaksudkan, adalah ketenangan yang tegang.

Sejenak kemudian Agung Sedayu dan Glagah Putih-pun segera meninggalkan Mataram. Mereka tidak melalui regol kota yang mereka lalui ketika mereka masuk. Tetapi mereka memilih regol yang lain, agar para penjaga tidak terlalu banyak bertanya dan bahkan mencurigai. Karena semakin banyak pertanyaan yang harus mereka jawab, maka mereka akan semakin banyak mengalami kesulitan untuk merahasiakan keperluan mereka datang ke Mataram.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih pun meninggalkan Mataram tanpa kesulitan. Mereka segera berpacu di sepanjang bulak. Kuda yang mereka pakai adalah kuda yang tegar dan kuat, seperti kuda yang mereka bawa dari Sangkal Putung. Apalagi kuda itu adalah kuda yang segar, yang belum merasa lelah karena perjalanan. Dengan demikian maka perjalanan mereka kembali ke Sangkal Putung dapat mereka lakukan secepat perjalanan mereka berangkat dari Sangkal Putung ke Mataram.

Menjelang dini hari, keduanya telah mendekati Sangkal Putung. Seperti saat mereka berangkat, maka ketika mereka kembali, Agung Sedayu pun memilih jalan yang paling sepi dari kemungkinan-kemungkinan yang dapat menyulitkannya.

Untunglah, bahwa menjelang dini hari, Sangkal Putung benar-benar masih sepi. Tanpa melalui gardu-gardu parondan. Agung Sedayu menyusup memasuki padukuhan induk. Mereka berdua justru menuntun kuda mereka melalui jalan-jalan sempit. Namun akhirnya mereka berhasil mendekati Kademangan. Dan bahkan kemudian keduanya memasuki Kademangan lewat pintu butulan.

Tetapi, ternyata bahwa ada juga seseorang yang melihat keduanya memasuki halaman di belakang sambil menuntun kuda masing-masing. Karena itu, maka orang itu pun bertanya, “He, dari manakah berdua?”

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Tetapi ia pun kemudian menjawab, “Glagah Putih minta aku mengajarinya bermain dengan kuda.”

“Apakah ia belum terbiasa naik kuda?” bertanya orang itu.

“Bukan belum terbiasa naik kuda. Tetapi ia ingin menguasai kuda dan bermain-main dengan langkah-langkah yang menarik. Kuda kami memang kuda pilihan yang dapat menari dengan langkah-langkah kakinya.”

Orang itu tidak bertanya lebih lanjut. Sekilas ia melihat dua ekor kuda yang besar dan tegar. Sambil mengerutkan keningnya ia mengamati kuda itu sejenak, seolah-olah ia baru melihat kuda itu untuk pertama kali. Namun orang itu pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ia memang belum mengenal dengan baik kuda Agung Sedayu dan Glagah Putih yang mereka bawa dari Jati Anom  Karena itu. ia tidak dapat mengatakan sesuatu tentang kedua ekor kuda yang terasa asing baginya itu.

Setelah memasukkan kuda mereka kekandang dan melepas pelananya, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih pun segera pergi ke longkangan. Namun Agung Sedayu berbisik, “Masuk sajalah ke bilikmu dan cobalah untuk berbaring.”

“Tetapi, tubuhku basah oleh keringat.”

“Sekali-sekali mencoba tidur dengan pakaian basah,” desis Agung Sedayu.

Tetapi Glagah Putih pun pergi juga mencuci kaki dan tangannya, mengusap wajahnya dan kemudian masuk kedalam biliknya di gandok tanpa menarik perhatian orang lain. Ia sama sekali tidak menyentuh anak-anak muda yang tidur di longkangan setelah tamu-tamu yang berada di Sangkal Putung pun tertidur pula. Sementara Agung Sedayu masih harus menemui Swandaru dan melaporkan hasil perjalanannya.

Ternyata Swandaru tidak tidur didalam biliknya. Ia berbaring di serambi, pada sebuah lincak bambu. Beberapa orang yang ikut membantu menjamu para tamu Ki Demang pun tertidur pula dengan nyenyaknya, di atas amben bambu pula di serambi belakang berdesakan.

Swandaru terkejut ketika Agung Sedayu menyentuh kakinya. Dengan serta merta ia bangkit. Namun ia pun menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Agung Sedayu berdiri disisinya.

“Kau sudah datang?” bertanya Swandaru.

“Baru saja,” jawab Agung Sedayu.

Swandaru pun kemudian mempersilahkan Agung Sedayu duduk di sebelahnya. Dengan berdebar-debar ia pun bertanya, apakah Agung Sedayu berhasil menemui Raden Sutawijaya langsung.

“Ya,” jawab Agung Sedayu, “aku dapat bertemu dengan Raden Sutawijaya sendiri dan mengatakan kepadanya segala pesan Pangeran Benawa.”

“Apa katanya?”

“Ia akan menyesuaikan diri,” jawab Agung Sedayu.

Swandaru menarik nafas panjang. Desisnya, “Untunglah bahwa Raden Sutawijaya bersedia menyesuaikan diri.”

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Jika Raden Sutawijaya justru tersinggung karenanya, dan dengan sengaja pula menunjukkan kepada orang-orang Pajang, bahwa Mataram sudah siap menghadapi segala kemungkinan, maka akibatnya akan parah,” jawab Swandaru.

“Ah, apakah mungkin demikian?,” Agung Sedayu termangu-mangu.

“Menurut guru, mungkin saja. Raden Sutawijaya sama sekali tidak mau merubah sikapnya untuk tidak datang ke paseban Pajang. Seakan-akan ia memang sudah mengeraskan hatinya meskipun ia mengerti, bahwa hal itu dapat mengakibatkan kurang baik bagi dirinya sendiri, bagi Mataram dan bagi Pajang,” jawab Swandaru pula, “Karena itulah, maka mungkin pula ia justru dengan sengaja menunjukkan Mataram yang sebenarnya.”

Agung Sedayu menggeleng. Katanya, “Tidak. Untunglah bahwa kali ini Raden Sutawijaya tidak berbuat demikian. Seperti yang dilakukannya ketika ia kembali dari Lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.”

Swandaru mengangguk-angguk. Nampaknya bagaimanapun juga. Raden Sutawijaya tidak dapat menantang ayahandanya Sultan Pajang.

“Baiklah,” berkata Swandaru, “nanti, pada suatu kesempatan aku akan mengatakan kepada Pangeran Benawa. Ia sudah berusaha untuk mendapat kesempatan itu. Karena itu, ia sengaja berangkat menjelang sore hari dari Pajang, sehingga akan kemalaman di Sangkal Putung. Menurut Pangeran Benawa ia memang ingin bermalam di Kademangan ini.”

“Agaknya Raden Sutawijaya tetap menghormati Pangeran Benawa pula. Ia mengerti, betapa Pangeran Benawa berusaha berbuat sebaik-baiknya bagi Mataram.”

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Mudah-mudahan hubungan antara Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya tetap baik. Apapun yang akan dilakukan orang, tetapi jika kedua orang itu tetap saling menghormati maka hubungan antara Pajang dan Mataram tidak akan bertambah buruk.”

“Mudah-mudahan. Sementara beberapa orang masih tetap pada rencananya untuk menemukan kesempatan bagi kepentingan diri mereka sendiri,” berkata Agung Sedayu, yang tiba-tiba melanjutkan, “Mataram sudah mengetahui segalanya yang terjadi di sini. Kematian Carang Waja telah didengar oleh Raden Sutawijaya.”

“Demikian cepatnya,” desis Swandaru, “bagi Pajang tidak mengherankan, karena ada jalur laporan lewat Senapati prajurit Pajang di Jati Anom. Apalagi beberapa orang prajurit telah terlibat pula.”

“Tetapi hampir setiap orang mendengarnya. Dan berita demikian akan segera menjalar.”

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya kemudian, Baiklah kakang Agung Sedayu. Aku akan mengatakannya pada kesempatan yang tepat. Tetapi dimana Glagah Putih?”

“Ia berada didalam biliknya. Biarlah ia beristirahat. Perjalanan ini baginya tentu sangat melelahkan.”

Swandaru mengangguk. Jawabnya, “Aku dapat membayang-kan. Kuda-kuda itu tentu sangat lelah pula.”

“Aku membawa kuda dari Mataram. Kuda kami, kami tinggalkan di Mataram atas tawaran Raden Sutawijaya sendiri.”

“O,” Swandaru menarik nafas panjang, “Syukurlah. Itu merupakan pertanda bahwa kedatanganmu berkenan dihati Raden Sutawijaya.”

“Ya,” desis Agung Sedayu, “kita berharap bahwa kedatanganku ke Mataram dimalam hari ini ada gunanya.”

Agung Sedayu pun kemudian meninggalkan Swandaru yang duduk di lincak bambunya. Namun sementara itu di dapur telah mulai terdengar beberapa orang perempuan menyiapkan perapian untuk merebus air.

“Sudah pagi,” desis Swandaru.

Tetapi karena masih sepi, ia pun telah berbaring lagi dan membiarkan orang-orang di dapur mulai menyiapkan air panas untuk minuman. Sementara jika air sudah mendidih, maka anak-anak muda itu akan dibangunkan dan mempersiapkan minuman di pendapa apabila tamu-tamu dari Pajang itu telah terbangun.

Dalam pada itu. Agung Sedayu pun segera pergi kebiliknya dan berbaring disamping Glagah Putih yang ternyata masih belum tidur juga.

“Tidurlah,” desis Agung Sedayu.

“Sebentar lagi hari akan pagi. Ayam sudah mulai berkokok untuk yang terakhir kalinya malam ini.”

“Kau masih mempunyai waktu barang sekejap. Biarlah kau tidak usah ikut membantu menyiapkan minuman dan jamuan pagi bagi para tamu. Aku pun merasa lelah dan akan beristirahat.”

Glagah Putih tidak menjawab. Tubuhnya memang terasa letih sekali. Semalaman ia berada diatas punggung kuda tanpa tidur sekejap pun. Karena itu, maka ketika ia merasa sejuknya dini hari mengusap tubuhnya, tanpa dikehendakinya, matanyapun telah terpejam.

Berbeda dengan Glagah Putih, Agung Sedayu tidak dapat dan memang tidak ingin untuk tidur. Daya tahan tubuhnya jauh lebih baik dari Glagah Putih. Karena itu, maka Agung Sedayu masih dapat mengatasi perasaan lelah dan kantuknya.

Bahkan kemudian, ia mendengar langkah mendekati pintu biliknya. Ketika pintu berderit, ia melihat Kiai Gringsing berdiri termangu-mangu.

Agung Sedayu pun kemudian bangkit dan duduk dibibir pembaringan. Sementara Kiai Gringsing melangkah masuk.

“Berbaringlah. Kau tentu lelah.”

“Terima kasih guru. Tetapi aku tidak lelah sekali.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Kau berhasil?”

Sekali lagi Agung Sedayu menceriterakan hasil perjalanannya.

Sambil mengangguk-angguk Kiai Gringsing berdesis, “Syukurlah. Sekarang, beristirahatlah. Kita berdoa, agar tidak terjadi sesuatu justru di antara orang-orang Pajang itu terdapat orang yang meragukan.”

Ketika Kiai Gringsing melangkah meninggalkannya. Agung Sedayu pun membaringkan dirinya kembali. Tetapi ia memang tidak ingin tidur, karena tidur yang hanya sekejap justru akan dapat membuatnya menjadi pening.

“Jika tamu-tamu itu sudah berangkat ke Mataram, biarlah aku tidur sehari suntuk,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya.

Sementara itu, langitpun menjadi semakin cerah. Demikian air mendidih, maka perempuan-perempuan di dapur membangun-kan anak-anak muda yang tidur di serambi untuk menyiapkan minuman bagi para tamu yang sebentar lagi tentu akan bangun pula.

Swandaru yang berada di serambi itu pun kemudian bangkit pula. Ketika anak-anak muda mulai mempersiapkan minuman, Swandaru pun pergi ke pakiwan untuk mandi, mendahului para tamu yang sebentar lagi tentu akan terbangun pula.

Seperti yang diduganya, maka satu dua orang tamu itu pun mulai terbangun dan pergi ke pakiwan. Pangeran Benawa yang turun kehalaman, tidak segera pergi mandi, tetapi ia masih berjalan mengelilingi halaman, sambil melihat-lihat beberapa batang pohon bunga. Beberapa saat ia berhenti didekat sebatang pohon bunga soka putih yang sedang berkembang.

Swandaru yang kemudian pergi ke longkangan, melihat Pangeran Benawa berjalan-jalan di halaman seorang diri, segera menghampirinya. Ia pun kemudian berdiri pula di sebelah pohon bunga soka putih itu.

“Bagus sekali bunga soka ini,” berkata Pangeran Benawa.

“Ya Pangeran,” jawab Swandaru agak canggung.

Sekilas Swandaru melihat dua orang pengiring Pangeran Benawa berdiri di sudut gandok. Tetapi agaknya keduanya sedang berbicara di antara mereka.

“Di sudut halaman itu terdapat sebatang pohon ceplok piring,” berkata Pangeran Benawa pula, “agaknya isteri dan adik perempuanmu sempat juga memelihara pohon bunga-bungaan di halaman.”

Swandaru memaksa diri untuk tertawa. Jawabnya, “Mereka tidak mempunyai kerja apapun disini Pangeran. Itulah sebabnya mereka sempat memelihara pohon pohon bunga. Hanya kadang-kadang saja mereka ikut pergi kesawah bersama sama perempuan yang lain dimusim menanam dan menuai padi.”

Pangeran Benawapun tertawa pula. Namun kemudian Pangeran itu bertanya, “Bagaimana dengan Agung Sedayu.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia menjawab, “Ia sudah kembali Pangeran.”

“Apakah ia bertemu dengan kakangmas Senapati Ing Ngalaga?”

“Ya,” jawab Swandaru yang kemudian melaporkan apa yang sudah dilakukan oleh Agung Sedayu bersama Glagah Putih di Mataram.

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Syukurlah. Aku masih mengharap, bahwa jurang yang memisahkan Pajang dan Mataram akan dapat dipersempit. Tetapi sementara itu ada juga orang lain yang dengan gigih berusaha untuk membenturkan Pajang dan Mataram. Dengan demikian, maka keduanya tentu akan hancur dan setidak-tidaknya menjadi lemah.”

Swandaru tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling dilihatnya dua orang yang berdiri di sudut gandok, masih berdiri ditempatnya. Keduanya nampaknya masih asyik berbicara tentang Kademangan Sangkal Putung. Agaknya keduanya belum juga berminat untuk pergi ke pakiwan, meskipun Sangkal Putung sudah menjadi semakin terang.

Justru Pangeran Benawa lah yang kemudian berkata, “Aku akan mandi. Aku akan pergi ke Mataram segera setelah setiap orang didalam kelompok kecil kami sudah bersiap.”

“Agaknya kami sedang menyiapkan makan pagi bagi Pangeran dan para pengiring,” jawab Swandaru.

Pangeran Benawa tersenyum. Jawabnya, “Terima kasih.”

Ketika Pangeran Benawa kemudian melangkah ke pakiwan, maka Swandaru pun menarik nafas dalam-dalam. Ia menganggap Pangeran Benawa itu orang yang aneh. Ia sudah mendengar bahwa Pangeran Benawa sama sekali tidak berminat untuk mewarisi kerajaan. Bahkan ia seolah-olah tidak mau menghiraukan pemerintahan Pajang yang sedang surut. Ia lebih senang mengembara dan bertualang atau tinggal didalam biliknya menekuni kitab-kitab yang berisi berbagai macam ilmu dan hasil kesusasteraan.

Swandaru mengerutkan keningnya, ketika ia melihat langkah Pangeran Benawa tertegun di longkangan. Ternyata Agung Sedayu telah berada di serambi gandok dan dengan serta merta berdiri menghormat.

“Selamat pagi Agung Sedayu,” sapa Pangeran Benawa.

Agung Sedayu tersenyum. Jawabnya, “Selamat pagi Pangeran. Apakah Pangeran akan mandi?”

Pangeran Benawa mengangguk. Jawabnya, “Hari sudah semakin terang. Matahari akan segera naik. He. apakah kau baru saja bangun?”

Pertanyaan itu membingungkan Agung Sedayu. Tetapi akhirnya ia mejawab, “Aku tidak baru saja bangun Pangeran. Tetapi aku memang baru keluar dari bilik di gandok sebelah kiri.”

Pangeran Benawa tertawa. Ia tahu pasti, bahwa Agung Sedayu tentu merasa sangat lelah karena perjalanannya yang semalam suntuk. Karena itu katanya, “Aku sudah mendengar serba sedikit tentang kau. Kau memang seorang pemalas. Aku kira kau masih akan kembali kedalam bilikmu dan tidur sampai matahari sepenggalah.”

“Ah, tidak Pangeran. Aku tidak akan tidur lagi. Entah nanti setelah Pangeran berangkat ke Mataram.”

Pangeran Benawa benar-benar tertawa mendengar gurau Agung Sedayu, sehingga beberapa orang telah berpaling kepadanya.

“Ah. sudahlah. Aku akan mandi,” berkata Pangeran Benawa sambil melangkah meninggalkan Agung Sedayu yang berdiri di serambi gandoknya. Dipandanginya langkah Pangeran Benawa. Ketika tanpa sengaja ia berpaling kehalaman, dilihatnya Swandaru masih saja berdiri memandangnya. Sejenak keduanya berpandangan. Namun seperti berjanji keduanya pun tersenyum.

Tetapi Swandaru kemudian melangkah pergi. Melingkari gandok ia pergi ke belakang. Dilihatnya orang-orang di dapur sudah menjadi semakin sibuk menyiapkan makan pagi bagi para tamu. Ki Demang memperhitungkan bahwa tamu-tamunya akan berangkat pagi-pagi, sehingga perjalanan mereka masih terasa cukup segar disaat mereka berangkat.

Sejenak kemudian, maka para tamu dari Pajang itu pun telah duduk berjajar di pendapa, ditemui oleh Ki Demang Sangkal Putung dan Kiai Gringsing. Mereka masih sempat berbincang tentang kemajuan yang dicapai oleh Sangkal Putung sejak tempat itu bebas dari kecemasan, sepeninggal Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan.

“Hadirnya Macan Kepatihan itu banyak memberikan pengalaman bagi kami,” berkata Ki Demang.

adbm-125-02Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Katanya, “beruntunglah Ki Demang mempunyai anak seperti Swandaru. Ia adalah anak muda yang memiliki tanggung jawab yang besar bagi masa depan Kademangan ini. Ia sudah melakukan sesuatu yang sangat bermanfaat. Ia tidak hanya pandai mengeluh, mengumpat dan akhirnya berolok-olok tentang keadaan dan tentang dirinya sendiri. Tetapi ia sudah bekerja keras, merombak segala macam cela yang tidak disukainya.”

“Ah,” desah Ki Demang, “ia adalah anak yang malas. Ia hanya berbuat sesuatu yang disukainya.”

“Tetapi yang disukainya ternyata bermanfaat bagi Kademangan Sangkal Putung. Meskipun ketika kami lewat, pande besi itu tidak sedang bekerja, namun melihat beberapa perapian aku dapat membayangkan, apa yang dapat mereka lakukan disiang hari,” berkata Pangeran Benawa.

“Ya, ya Pangeran,” Ki Demang mengangguk-angguk.

“Jalur-jalur air dipersawahan pun memberikan gambaran yang sangat baik bagiku,” sambung Pangeran Benawa.

Sementara Ki Demang mengangguk-angguk sambil menjawab, “Ya, ya. Pangeran.”

Pangeran Benawa masih berbicara tentang beberapa hal mengenai Sangkal Putung. Bukan saja memuji, tetapi ia dapat menyebut pula beberapa kekurangan yang dapat diperbaiki oleh anak-anak muda Sangkal Putung.

Sementara itu Kiai Gringsing masih sempat memperhatikan para pengiring Pangeran Benawa yang ada di pendapa itu. Ia melihat beberapa macam tanggapan pada wajah-wajah itu. Dengan ragu-ragu ia mencoba untuk mencari makna dari kesan yang didapatkannya.

Sebagian dari para pengiring Pangeran Benawa membenarkan kata-kata Pangeran Benawa. Mereka pun melihat apa yang dilihat oleh Pangeran Benawa. Dan mereka pun ikut berbangga karenanya. Sangkal Putung, sebuah Kademangan, telah berhasil membina dirinya sendiri dengan baik dan mapan.

Namun beberapa wajah yang lain menunjukkan kesan yang berbeda. Mereka menganggap kemajuan yang dapat dicapai oleh Kademangan Sangkal Putung justru sebagai satu masalah.

Tetapi Kiai Gringsing tidak berani memastikan dugaannya. Ia hanya membaca pada wajah-wajah yang memberikan kesan yang berbeda. Tetapi ia sadar bahwa tangkapannya akan dapat salah dan bahkan mungkin berlawanan.

Untuk beberapa saat Pangeran Benawa masih berbincang. Apalagi ketika para bebahu Sangkal Putung yang lainpun berdatangan. Maka Pangeran Benawa pun banyak memberikan pendapatnya bagi perkembangan Kademangan itu.

Kiai Gringsing yang hanya mengangguk-angguk saja mendengarkan pembicaraan itu, berusaha untuk menangkap arti sikap dan kata-kata Pangeran Benawa.

Agung Sedayu dan Swandaru yang kemudian ikut pula duduk di pendapa sempat mendengarkan beberapa kesan yang dikatakan oleh Pangeran Benawa. Kesan yang bagi Swandaru dapat membesarkan hatinya.

Namun dalam pada itu. Agung Sedayu seolah-olah melihat Pangeran Benawa agak berbeda dengan Pangeran Benawa yang pernah dikenalnya. Yang duduk di pendapa itu, benar-benar menunjukkan sikap seorang Pangeran yang menyadari kedudukannya. Berbicara tentang salah satu Kademangan yang berada dibawah pengaruh dan kuasanya. Sementara Pangeran Benawa yang pernah dikenalnya adalah seorang Pangeran yang acuh tidak acuh, kecewa dan menuruti kehendaknya sendiri.

“Apakah karena sekarang Pangeran Benawa itu berada di Sangkal Putung bersama pengiringnya dan dalam kedudukannya sebagai seorang Pangeran, atau memang terdapat perubahan sikap dari Pangeran Benawa itu.” Berkata Agung Sedayu didalam hatinya, lalu. “tetapi bahwa ia telah memerintahkan aku untuk mendahuluinya, masih juga nampak, bahwa Pangeran Benawa sangat mengasihi kakak angkatnya yang berada di Mataram. Atau justru satu perhitungan yang masak tentang perkembangan hubungan antara Mataram dan Pajang. Termasuk salah satu usaha untuk mempersempit jarak yang digali oleh beberapa orang yang ingin melihat ayah dan anak angkat itu hancur bersama-sama.”

Dalam pada itu, orang-orang Sangkal Putung pun kemudian menghidangkan makan pagi bagi para tamu mereka, karena para tamu itu akan segera meninggalkan Kademangan Sangkal Putung.

Ketika matahari naik, maka Pangeran Benawa pun kemudian minta diri. Bersama para pengiringnya, ia pun melanjutkan perjalanannya ke Mataram untuk melaksanakan tugas yang dibebankan oleh ayahanda Sultan Pajang kepadanya, melihat dari dekat perkembangan yang ada di Mataram.

Dalam satu kesempatan, Pangeran Benawa berbisik ditelinga Agung Sedayu, “Ikutilah perkembangan keadaan dengan saksama. Kau adalah seorang yang tidak mempunyai kedudukan apapun juga. Tetapi kedudukan yang demikian justru memberikan banyak kemungkinan bagimu untuk menunjukkan pengabdianmu. Apakah itu bernama Pajang, apakah itu bernama Mataram, namun pada suatu saat, akan nampak, manakah loyang dan manakah emas.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak sempat menjawab karena beberapa orang pengiring Pangeran Benawa telah mendekatinya dan berjalan seiring.

Sejenak kemudian, maka Pangeran Benawa dan para pengiringnya pun telah menerima kuda masing-masing. Sebelum Pangeran itu meloncat kepunggung kudanya, ia masih berkata kepada Ki Demang, “Terima kasih atas segalanya dalam penerimaan ini. Doakan, agar perjalanan kami selamat sampai ke Mataram. Mudah-mudahan perjalanan kami tidak memberikan kesan sekelompok prajurit yang pergi berperang, meskipun kami sudah dengan sengaja tidak mempergunakan gelar keprajuritan sama sekali.”

Ki Demang hanya tersenyum saja sambil mengangguk dalam-dalam. Namun dalam pada itu. Kiai Gringsing telah menangkap satu isyarat, bahwa yang dikatakan Pangeran Benawa itu lebih ditujukan kepada pengiringnya sendiri.

Demikianlah, maka iring-iringan para utusan dari Pajang itu meninggalkan Sangkal Putung. Di setiap regol, gardu-gardu, simpang tiga dan simpang empat, bahkan hampir di setiap jengkal tanah, orang-orang Sangkal Putung berdiri di pinggir jalan melihat para pemimpin dari Pajang itu lewat menuju ke Mataram dengan tugas khusus mereka.

Namun dalam pada itu, tidak seorang pun dari para pengiring Pangeran Benawa yang mengetahui, bahwa sebelum mereka sampai ke Mataram, ternyata telah ada orang dari Sangkal Putung yang mendahului menghadap Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram.

Sementara itu, sepeninggal tamu mereka, Kademangan Sangkal Putung terasa menjadi sepi. Yang kemudian sibuk adalah beberapa orang anak muda yang sedang mencuci mangkuk, sementara beberapa orang perempuan sibuk mencuci alat-alat dapur.

“Sisa hidangan itu masih terlalu banyak,” berkata salah seorang perempuan yang membantu di dapur.

“Biarlah anak-anak muda itu makan lagi,” berkata Sekar Mirah, “mereka tentu senang untuk duduk dilongkangan dan dihadapi beberapa tenong makanan dan lauk pauk.”

Ternyata seperti yang dikatakan oleh Sekar Mirah, maka anak-anak muda pun sejenak kemudian asyik dengan beberapa tenong makanan dan lauk-pauk. Mereka makan sambil berkelakar. Namun karena itu justru mereka tidak merasa, bahwa perut mereka menjadi terlalu kenyang.

“Tamu-tamu itu makan terlalu sedikit,” berkata seorang anak muda yang gemuk, lebih gemuk dari Swandaru.

“Mereka adalah piyayi agung. Memang berbeda dengan kita,” sahut seorang anak muda yang bertubuh kurus, tetapi justru makan terlalu banyak.

Glagah Putih yang ikut makan bersama anak-anak muda itu tersenyum-senyum. Tetapi ternyata bahwa Glagah Putih yang kekurus-kurusan itu makan cukup banyak pula.

Sementara anak-anak muda itu makan dilongkangan, Swandaru nampak sedang berbicara dengan Agung Sedayu. Nampaknya ia sedang bersungguh-sungguh.

“Mudah-mudahan Raden Sutawijaya benar-benar menyesuai-kan diri dalam arti yang baik,” berkata Swandaru sambil menarik nafas dalam-dalam.

“Aku mempercayainya,” desis Agung Sedayu.

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya pula, “Agaknya memang demikian. Syukurlah. Aku masih selalu berdebar-debar. Jika permusuhan antara Pajang dan Mataram semakin memuncak, maka Sangkal Putung masih belum siap benar untuk menghadapinya.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Diluar sadarnya ia bertanya, “Jika benar demikian, bahkan seandainya terjadi perselisihan antara Pajang yang dikendalikan oleh beberapa orang yang justru ingin melihat Pajang dan Mataram hancur, dengan Mataram, apakah yang sebaiknya kita lakukan?”

“Apalagi,” berkata Swandaru, “seharusnya sudah jelas bagi kita. Dihadapan kita adalah sepasukan prajurit Pajang.”

“Kita harus bertempur melawan prajurit Pajang?”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada yang datar, “Kedudukanmu memang sulit kakang. Tetapi kau harus berpegangan pada suatu sikap. Siapapun yang harus kauhadapi.”

“Kau benar Swandaru. Seandainya aku berpegangan kepada suatu sikap, maka sikap itu harus dapat dipertanggung jawabkan. Harus mempunyai dasar berpijak dan tujuan yang jelas. Bukan tiba-tiba saja kita menentukan tempat, dimana kita akan berdiri.” sahut Agung Sedayu.

Swandaru memandang Agung Sedayu dengan tajamnya. Kemudian katanya, “Kakang. apakah masih kurang jelas? Justru kaulah yang selalu menjadi sasaran utama dari orang-orang yang mengaku pewaris kerajaan Majapahit itu.”

“Aku sependapat. Tetapi kenapa kau sebut Pajang?”

“Sebagian dari mereka berada di Pajang.”

“Mereka memang berada di Pajang. Tetapi apakah dengan demikian, sikap itu adalah sikap Pajang? Ingat Swandaru, justru Pajang adalah salah satu sasaran mereka pula.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia menjadi tegang. Meskipun suaranya tertahan, namun nampak gejolak perasaannya yang mulai memanasi perasaannya, “Kakang. Kau seharusnya dapat menilai sikap Pangeran Benawa. Kenapa Pangeran Benawa memerintahkan kau pergi ke Mataram. Bukankah itu suatu pertanda, bahwa Pangeran Benawa sendiri sudah berpihak kepada Mataram?”

“Kau salah tangkap Swandaru. Yang dilakukan oleh Pangeran Benawa bukannya dimana ia akan berpihak. Tetapi ia berusaha untuk menimbuni jurang yang terbentang antara Pajang dan Mataram.”

“Itu adalah tangkapan yang tidak wajar. Yang seolah-olah dipengaruhi oleh perasaan ragu-ragu dan bahkan takut melihat kenyataan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak ingin berbantah. Jika ia masih saja menjawab, maksudnya adalah untuk menjelaskan persoalannya. Tetapi agaknya Swandaru telah berdiri pada suatu sikap yang menurut Agung Sedayu kurang tepat.

Tetapi Agung Sedayu tidak dapat memaksakan pendapatnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata kepada diri sendiri, “Aku harus segera memberitahukan kepada guru, bahwa Swandaru memandang persoalan antara Pajang dan Mataram dengan sudut pandangan yang menyebelah.”

Karena Agung Sedayu tidak menjawab, maka Swandaru berkata seterusnya, “Kakang. Mulailah melihat kenyataan. Apakah yang dilakukan oleh prajurit Pajang di Jati Anom. Mereka selalu mengawasi perkembangan setiap padukuhan didaerah ini. Bukan suatu kebetulan jika beberapa orang prajurit Pajang di Jati Anom melihat orang-orang Pesisir Endut ada disini. Mereka tentu sedang melihat-lihat, apakah yang telah dilakukan oleh padukuhan-padukuhan didaerah ini termasuk Sangkal Putung. Tetapi mereka sudah melihat suatu kenyataan, bahwa Sangkal Putung, meskipun hanya sebuah Kademangan, tetapi Sangkal Putung memiliki kekuatan yang harus mereka perhitungkan. Prajurit yang bernama Sabungsari itu mungkin bukan seorang prajurit biasa. Ia dengan sengaja ditempatkan didaerah ini dengan pengenal, seorang prajurit. Tetapi sebenarnya ia adalah seorang yang paling baik di antara prajurit Pajang.” Swandaru berhenti sejenak memandang wajah Agung Sedayu yang menegang pula.

Tetapi Agung Sedayu kemudian menarik nafas dalam-dalam. Jika ia masih saja membantah, maka akhirnya ia akan benar-benar terlibat kedalam suatu perselisihan dengan Swandaru. Namun agaknya karena kediaman Agung Sedayu itu, Swandaru berkata lebih lanjut, “Tetapi kakang. Pajang sekarang sudah melihat, bahwa Sangkal Putung memiliki kekuatan yang tidak kalah dari Pajang. Apa yang dapat dilakukan oleh Sabungsari? Ia memang berhasil membunuh Carang Waja, tetapi ia sendiri terluka parah. Bahkan sudah dapat disebut mati pula jika ia tidak segera mendapat pertolongan guru. Tetapi seandainya, prajurit itu membiarkan Carang Waja bertempur melawan aku. mungkin akibatnya akan berbeda. Aku sudah dilukainya. Tetapi aku kira aku dapat membunuhnya dengan keadaanku yang masih lebih baik daripadanya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Sementara Swandaru berkata seterusnya, “Nah, pikirkanlah baik-baik. Tetapi, akupun berharap, agar Raden Sutawijaya dapat mengekang diri sehingga perselisihan yang tidak mungkin dielakkan lagi itu tidak terjadi sekarang. Tetapi beberapa saat mendatang, sehingga Sangkal Putung benar-benar sudah siap untuk menghadapinya.”

Namun diluar dugaan Swandaru Agung Sedayu berkata, “Tetapi Sekar Mirah mengharap aku menjadi seorang prajurit. Justru prajurit Pajang.”

“Memang tidak ada salahnya,” sahut Swandaru kemudian setelah berpikir sejenak, “tetapi pada saatnya, kau harus menentukan sikap jika kau tidak ingin berada dalam kedudukan yang semakin sulit. Di Pajang ada kakakmu Untara. Tetapi di Mataram ada Ki Juru dan Raden Sutawijaya yang baik terhadap kita. Yang mempunyai cita-cita yang utuh buat hari depan. Bukan sekedar membiarkan dirinya digumuli oleh kamukten tanpa menghiraukan keadaan yang sebenarnya. Kau memang harus memilih kakang Agung Sedayu. Tetapi kau harus menilai, apakah Untara sudah mendapatkan dirinya pada tempat yang benar.”

Bagaimanapun juga, terasa dada Agung Sedayu bergejolak. Tetapi ia benar-benar tidak ingin berbantah. Meskipun ia merasa tersinggung juga karena Swandaru sudah menyebut nama kakaknya, Untara, namun Agung Sedayu menganggap lebih baik untuk diam daripada berselisih paham. Apalagi masalahnya masih belum terlalu jelas dan pasti.

Karena itu, maka ia pun hanya mengangguk-angguk kecil. Namun ia menjadi prihatin karena sikap Swandaru. Anak muda itu juga telah salah menilai Sabungsari dan Carang Waja. Karena menurut penilaian Agung Sedayu, Swandaru masih harus membuat perhitungan yang lebih cermat untuk menempatkan dirinya sejajar dengan kedua orang yang hampir saja sampyuh itu.

“Tetapi mungkin Swandaru memiliki sesuatu yang belum aku mengerti,” Agung Sedayu mencoba untuk menenangkan hatinya sendiri.

Karena Agung Sedayu tidak menjawab, dan hanya mengangguk-angguk kecil, maka Swandaru menganggap bahwa Agung Sedayu dapat mengerti dan menyadari kekeliruannya. Karena itu, maka katanya, “Cobalah kakang, kau ulangi mempertinibangkan segala-galanya. Kau akan melihat kenyataan itu, dan kau tidak akan lagi terumbang-ambing oleh keragu-raguan. Kau adalah saudara tuaku dalam perguruan kecil ini. Dan kaupun memiliki kemampuan yang tinggi. Meskipun setelah kita berpisah untuk beberapa saat lamanya, justru pada waktu kita mendapat kesempatan untuk mengembangkan ilmu kita masing-masing, aku tidak mengerti dengan pasti, sampai dimana kemampuan yang dapat kau capai dan kematangan ilmu kita masing-masing, namun kau mempunyai bekal yang cukup. Seandainya kau belum dapat mencapai tingkat yang sejajar dengan Sabungsari. maka selisih itu hanyalah selapis tipis. Kau dalam kesempatan yang luas. memang belum berhasil membunuh Carang Waja, karena keadaanmu sendiri agaknya sudah terlalu letih dan parah, namun Carang Waja pun ternyata tidak mampu membunuhmu.”

Sekali lagi Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia melihat. Swandaru telah salah menilai dirinya. Tetapi sudah barang tentu bahwa Agung Sedayu tidak akan dapat menepuk dadanya sambil berkata, “Aku sudah mengalahkan Sabungsari.”

“Sudahlah kakang,” berkata Swandaru, “lebih baik kita membantu anak-anak itu. Jika kakang lebih tekun sedikit dengan ilmu yang sudah ada, maka kita akan dapat mematangkan ilmu yang pada dasarnya, sulit dicari bandingnya.”

Hampir diluar sadarnya Agung Sedayu mengangguk kecil. Namun ketika ia melihat Swandaru melangkah pergi, hatinya menjadi berdebar-debar. Ia merasa, apapun yang dilakukannya adalah salah. Jika ia berusaha meletakkan penilaian yang sewajarnya tentang Swandaru, tentang Sabungsari dan tentang dirinya, maka ia akan menyinggung perasaan anak muda yang gemuk itu. Tetapi jika ia tidak mengatakannya, berarti ia telah membiarkan Sawandaru dalam kesesalan. Penilaian yang salah dalam perbandingan ilmu akan dapat menjerumuskan seseorang kedalam kesulitan.

Tetapi sekali lagi Agung Sedayu berkata didalam hatinya, “Mungkin ada yang belum aku ketahui tentang Swandaru. Mungkin selama ini ia sudah menemukan sesuatu yang dapat membuatnya menjadi seorang anak muda yang tidak ada duanya.”

Namun dengan dibebani oleh kebimbangan tentang adik seperguruannya, Agung Sedayu pun melangkah pergi. Tetapi kebimbangannya pun telah berkembang pula. Bukan saja tentang Swandaru, tetapi juga tentang dirinya sendiri. Mula-mula ia sudah berniat untuk benar-benar menjadi seorang prajurit Pajang. Tetapi kepergian Pangeran Benawa dalam tugas khusus ke Mataram membuatnya menjadi ragu-ragu. Jika benar terjadi perselisihan dan benturan kekerasan antara Pajang dan Mataram, dimanakah ia harus berdiri? Apakah ia akan berdiri di antara prajurit-prajurit Pajang memusuhi Raden Sutawijaya? Tetapi jika tidak demikian, dan ia berdiri di antara para pengawal Mataram, apakah ia akan melawan kakak kandungnya, Untara?

Terngiang ditelinganya kata-kata Swandaru, “Kedudukanmu memang sulit kakang.”

Dada Agung Sedayu berdesir karenanya. Kata-kata itu telah berulang kali mengumandang dihatinya. Setiap kali, terasa jantungnya berdesir dan kegelisahan mencengkam perasaannya.

Untunglah Agung Sedayu segera menyadari keadaannya. Ia pun kemudian melangkah ke serambi dan memasuki biliknya di gandok dengan hati yang bergejolak.

Agung Sedayu dengan hati yang gelisah, kemudian duduk dibibir pembaringannya. Ada bermacam-macam persoalan yang bergejolak didalam dadanya.

Ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat Glagah Putih memasuki bilik itu pula sambil berdesis. Sekali-sekali ia mengusap mulutnya dan keringat yang mengembun didahi.

“Kenapa kau Glagah Putih?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku terlalu banyak makan sambal kakang,” jawab Glagah Putih sambil berdesis.

Agung Sedayu memaksa bibirnya untuk tersenyum. Katanya, “Kau sudah makan?”

“Kakang belum?”

“Sudah. Aku mengantarkan para tamu makan di pendapa.” ia berhenti sejenak, lalu. “he, bukankah kau juga sudah makan?”

Glagah Putih tertawa. Katanya, “Aku makan lagi di belakang, bersama anak-anak muda. Mereka sudah makan  Tetapi ternyata kelebihan jamuan itu terlalu banyak. Sebagian dibagi untuk tetangga-tetangga dan sebagian diberikan kepada mereka yang telah membantu di dapur untuk mereka bawa pulang. Tetapi ternyata masih juga tersisa banyak sekali. Bahkan sekarang pun makanan dan hidangan yang lain masih banyak di dapur.”

“Apakah siang dan malam nanti kita tidak akan makan?”

“Sudah dingin. Tentu orang-orang di dapur sudah masak pula untuk makan siang dan malam nanti,” jawab Glagah Putih sambil duduk dipembaringan pula. Dibukanya bajunya sambil berdesis, “Udara panas sekali.”

“Tidak. Tetapi kaulah yang kepanasan karena kau terlalu banyak makan sambal,” sahut Agung Sedayu.

Glagah Putih tidak membantah, ia mengusap keringatnya yang mengalir diseluruh tubuhnya.

Keduanya berpaling ketika mereka mendengar langkah memasuki pintu. Ternyata adalah Kiai Gringsing yang tertegun melihat Glagah Putih. Sambil tersenyum ia berkata, “Kau tentu tidak mengantuk lagi sekarang.”

Glagah Putih hanya tertawa saja. Tetapi ia tidak menjawab.

“Marilah guru,” Agung Sedayu mempersilahkan.

Kiai Gringsing pun kemudian duduk disisi Agung Sedayu. Agaknya memang ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Namun sekali-sekali nampak Kiai Gringsing memandang Glagah Putih yang mengipasi dirinya dengan bajunya.

“Minumlah,” berkata Agung Sedayu kemudian, “dan duduklah ditempat terbuka, agar kau merasa agak sejuk.”

“Aku ingin tidur saja,” berkata Glagah Putih.

“Itu tidak baik. Baru saja kau makan,” jawab Agung Sedayu dengan sertu merta, “berjalan-jalanlah dahulu barang beberapa lama. Tetapi pakai bajumu itu.”

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun memakai bajunya dan melangkah keluar.

Perlahan-lahan ia melangkah ke belakang untuk mencari minum dan segumpal gula kelapa.

Sementara itu, Kiai Gringsing mulai berkata dengan sungguh-sungguh, “Apakah Swandaru mengatakan sesuatu kepadamu tentang dirinya sendiri, tentang Sangkal Putung. Pajang dan tentang Mataram?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Lalu ia pun bertanya, “Maksud guru, tentang hubungan Pajang dan Mataram?”

“Ya, dan sangkut pautnya.”

“Dengan sungguh-sungguh tidak guru. Tetapi sepintas lalu saja.”

“Apa yang dikatakannya?”

Agung Sedayu termangu-mangu. Namun Kiai Gringsing kemudian berkata, “Ia datang kepadaku dan mengatakan, bahwa kau mempunyai penilaian yang kabur tentang keadaan yang sebenarnya sekarang ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Ia memang mengatakannya hal itu guru.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk, sementara Agung Sedayu mengatakan apa yang baru saja dibicarakan dengan Swandaru sepintas tentang keadaan dan tentang diri Agung Sedayu sendiri.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk, sementara Agung Sedayu berkata, “Guru. Sebenarnya aku memang akan mengatakan kepada guru tentang keadaan dan sikap Swandaru. Tetapi aku tidak tahu, apakah Swandaru memang sudah memiliki bekal yang berhasil dicarinya di antara ilmu yang pernah dimiliki sebelumnya.”

Kiai Gringsing menggeleng sambil menjawab, “Aku belum yakin Agung Sedayu. Tetapi aku kira aku perlu untuk mengetahuinya dengan pasti. Karena itu, maka aku akan tinggal untuk beberapa lamanya di Sangkal Putung. Mungkin aku dapat mengetahui apa yang pernah dimiliki oleh Swandaru. Namun yang penting bagiku, aku ingin menempatkan Swandaru pada penilaian yang wajar tentang dirinya dan orang-orang lain di sekitarnya. Mungkin aku akan dapat memberikan petunjuk-petunjuk yang berguna baginya dalam perkembangannya selanjutnya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dan gurunya berkata seterusnya, “Aku tidak meragukan kau lagi Agung Sedayu. Dalam peningkatan dan pencapaian ilmu selanjutnya. Tetapi juga dalam sikap dan pandangan hidup. Meskipun tidak ada seorang pun yang sempurna dimuka bumi ini. Namun kau sudah berusaha untuk menuju ke arahnya dengan sadar, bahwa kau tidak akan pernah sampai kepadanya, kecuali hanya mendekati saja.”

Agung Sedayu hanya menundukkan kepalanya saja.

“Dengan demikian,” berkata gurunya, “jika saatnya kau akan kembali, maka aku akan tinggal untuk sementara di Sangkal Putung. Justru karena aku menjadi cemas melihat sikap dan penilaian Swandaru terhadap orang lain dan dirinya sendiri. Keberhasilan yang dicapainya di Kademangannya, agaknya membuatnya salah menangkap perkembangan keadaan tentang dirinya sendiri.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya wajah gurunya. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Namun demikian. Kiai Gringsing seolah-olah melihat sesuatu melintas di sorot mata Agung Sedayu. Karena itu maka katanya, “Agung Sedayu. Aku tidak akan terlalu lama. Aku tidak melupakan pesan dan rontal yang kau bawa dari Ki Waskita. Tentang rontal yang disebut-sebutnya ada padaku, biarlah kita bicarakan pada kesempatan yang lain.” Kiai Gringsing, “pesan Ki Waskita dalam surat rontal, dan penyempurnaan, ilrnunya, berdasarkan pengenalannya atas makna isi kitab Ki Waskita, merupakan persoalan yang masih membebani Agung Sedayu. Tetapi seperti pesan gurunya dan juga pesan Ki Waskita, bahwa yang sudah diketahui dan dipahatkannya dalam ingatannya itu, dapat dipelajarinya perlahan-lahan tanpa mengganggu keadaan jasmani dan rohaninya. Agung Sedayu sudah pernah mengalami gangguan jasmani pada saat ia menekuni ilmunya didalam goa yang terasing, kemudian ketika ia memaksa diri menyelesaikan isi kitab Ki Waskita. Sehingga dengan demikian, maka ia pun akan dapat berhati-hati untuk selanjutnya.

“Nah Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing, “jika kau kembali, tentu Sabungsari akan sering datang lagi kepadamu. Ia agaknya sudah berubah dan menemukan suatu sikap yang baru dalam hidupnya. Namun kau masih harus tetap berhati-hati, karena pada suatu saat, kemungkinan yang tidak terduga-duga tentu masih akan dapat tumbuh didalam hatinya. Meskipun agaknya aku condong pada suatu pendapat, bahwa ia benar-benar telah dengan sadar menilai keadaannya.”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya dengan nada datar, “Ya guru. Aku akan tetap berhati-hati menghadapi segala kemungkinan yang kadang-kadang datang dengan tiba-tiba tanpa aku ketahui sangkan parannya. Meskipun demikian aku mohon agar guru tidak terlalu lama tinggal di Sangkal Putung. Namun masalah yang gawat pada diri adi Swandaru memang harus mendapat pengamatan khusus. Lahir dan batinnya.”

“Mudah-mudahan aku dapat berbuat sesuatu. Mudah-mudahan akupun masih dapat menolongnya mempersiapkan dirinya dengan meningkatkan ilmu kanuragannya, sehingga alangkah baiknya, apabila ia benar-benar berada pada tataran seperti yang di anggapnya.”

adbm-125-03Agung Sedayu masih mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan gurunya. Jika Swandaru masih mungkin bersedia mesu diri meningkatkan ilmunya, maka ia akan dapat benar-benar pada tataran seperti yang dikatakannya.

“Syukurlah, jika ia memang sudah memiliki kemampuan itu tanpa setahuku dan diluar pengamatan guru, sehingga pada suatu saat nanti guru akan berbangga melihat bekal Swandaru yang semakin tinggi,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya.

Sementara itu. Glagah Putih telah memasuki biliknya sambil mengunyah gula kelapa.

“Kau makan apa lagi?” bertanya Agung Sedayu ketika anak itu duduk disampingnya.

“Gula kelapa,” jawab Glagah Putih singkat.

“Dari mana kau dapat?”

“mBokayu Sekar Mirah.”

“Kau makan saja tidak henti-hentinya. Tetapi justru karena itu tubuhmu akan selalu kecil meskipun dengan cepat kau bertambah tinggi,” berkata Agung Sedayu kemudian.

Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian berdiri dan mengambil kendi diatas gledeg bambu. Dengan serta merta maka ia pun meneguk air dingin dari dalam gendi itu. Alangkah segarnya.

Kiai Gringsing tersenyum melihat sikap Glagah Putih. Kadang-kadang masih nampak sifatnya yang kekanak-kanakan. Namun Glagah Putih yang sudah meningkat remaja itu bukannya seorang anak muda yang malas. Anak yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu sanggup bekerja keras seperti kakak sepupunya. Agung Sedayu.

“Sudahlah,” berkata Kiai Gringsing kemudian. Lalu,” beritahukan kepada Glagah Putih, bahwa aku akan tinggal.”

Glagah Putih pun berpaling. Dengan kerut merut dikening ia bertanya, “Kiai akan tinggal?”

—- > Bersambung ke bagian 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s