ADBM2-126

<<kembali | lanjut >>

NAMUN agaknya kedua orang anak muda itu tidak akan berselisih. Nampaknya keduanya tidak salah paham dan tidak dibatasi oleh perasaan yang buram. Keduanya nampak berbicara dengan akrab dan ramah. Sekali-sekali terdengar keduanya tertawa.

Adipati Partaningrat masih saja bersungut-sungut. Ia benar-benar kecewa karena kedatangan Pangeran Benawa. Meskipun ia sadar, bahwa ia berada di Mataram, berada di antara para pengawal Raden Sutawijaya. tetapi ia tidak gentar untuk bertindak atas anak muda itu. Sehingga dengan demikian, justru ia akan dapat membuktikan bahwa Raden Sutawijaya telah memberontak.

Pangeran Benawa yang datang itu justru telah merendahkan dirinya. Ialah yang lebih dahulu meloncat dari punggung kudanya karena ia merasa sebagai seorang saudara muda. Apalagi kemudian Pangeran Benawa telah menyatakan keinginannya untuk bermalam dipasanggrahan yang sederhana itu.

Tetapi Adipati Partaningrat tidak dapat membantah keputusan Pangeran Benawa. Ia pun harus ikut bermalam di pasanggrahan itu bersama para pengiringnya, yang telah mendahului bersamanya, dan yang kemudian menyusul bersama Pangeran Benawa.

Namun ternyata bahwa di pasanggrahan itu terdapat juga seperangkat gamelan. Meskipun Adipati Partaningrat masih juga ragu, namun ia sudah melihat satu kemungkinan untuk menunjukkan kepada Raden Sutawijaya bahwa Mataram sama sekali tidak berarti baginya. Ia akan dapat menunjukkan beberapa segi kemampuannya dengan tidak langsung dihadapan orang-orang Mataram.

Meskipun demikian Adipati Partaningrat masih belum mengatakan sesuatu. Ia masih menunggu kesempatan yang sebaik-baiknya. Bahkan ia berkata didalam hatinya, “Jika tidak malam nanti, besok malam pun masih ada kesempatan. Tetapi nampaknya akan lebih baik aku lakukan di Mataram, dihadapan para pemimpin dan sesepuh yang mengagumi Sutawijaya, seolah-olah ia tidak akan dapat dikalahkan karena memiliki kemampuan yang tidak terbatas.”

Tetapi seperangkat gamelan itu telah memberikan angan-angan yang menarik bagi Adipati Partaningrat.

Malam itu, Adipati Partaningrat masih belum berbuat sesuatu. Baginya pesanggrahan itu terlalu sepi. Hanya beberapa orang pemimpin Mataram sajalah yang berada di pesanggrahan bersama Raden Sutawijaya, sehingga jika ia mempertunjukkan sesuatu, tidak akan banyak orang yang melihatnya.

Yang dilakukan olah beberapa orang Mataram sendiri, mereka sekedar pemukul gamelan untuk mengisi kekosongan. Beberapa orsng memperdengarkan gending-gending dalam permainan yang sederhana.

Pada suatu kesempatan sambil duduk mendengarkan suara gending yang ngerangin, Adipati Partaningrat berkata kepada Pangeran Benawa, “Pangeran, orang-orang Mataram sudah menjamu kita dengan kecakapan mereka bermain gamelan, justru dipasangrahan kecil ini. Jika besok kita kembali ke Mataram, maka jamuan yang lebih lengkap akan dapat diperdengarkan. Dalam kesempatan itu apabila Pangeran tidak berkeberatan, biarlah kita menjamu juga orang-orang Mataram dengan tari. Dengan iringan gamelan yang ditabuh oleh para pradangga dari Mataram, kita akan mempertunjukkan ketrampilan kita menari.

Wajah Pangeran Benawa menjadi merah. Ia mengerti maksud Adipati Partaningrat. Namun Pangeran Benawa tidak akan dapat mencegahnya. Keinginan itu sudah diucapkan dihadapan Raden Sutawijaya. Apalagi ketika Raden Sutawijaya sudah menyahut, “Menyenangkan sekali. Adimas Pangeran Benawa, aku akan senang sekali mempersilakan para tamu untuk menari di pendapa rumahku di Mataram. Para pemimpin dan sesepuh Mataram tentu akan senang menyaksikannya. Orang-orang Mataram sendiri tidak ada yang pandai menari. Mereka hanya sekedar dapat mengibaskan sampur, tetapi sama sekali tidak dalam irama yang mapan.”

Adipati Partaningrat tersenyum. Katanya, “Terima kasih atas kesempatan itu. Menari bagiku  adalah sebagian dari hidupku. Kerena itu, disetiap kesempatan aku akan menari. Jika aku mendengar suara gamelan, rasa-rasanya kaki dan tanganku sudah menjadi gatal.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih. Hal yang jarang sekali terjadi. Mungkin tidak akan terulang dalam sepuluh atau lima belas tahun, bahwa para priyagung dari Pajang bersedia menari di pendapa rumahku yang sederhana di Mataram.

Ketika malam menjadi semakin malam, dan para tamu dari Pajang itu sudah dipersilakan masuk ke dalam bilik masing-masing maka Pangeran Benawa telah memanggil Adipati Partaningrat. Dengan nada dalam ia bertanya, “Apakah maksudmu paman Adipati?”

“Tidak apa-apa Pangeran,” jawab Adipati Partaningrat, “aku sekedar ingin mengisi malam-malam yang kosong di Mataram selama kita berada disini.”

“Aku ingin berpesan, berhati-hatilah dengan tingkah lakumu disini,” desis Pangeran Benawa.

“Ya, Pangeran. Aku akan selalu mengingatnya.”

Namun dalam pada itu. Pangeran Benawa pun telah mendengar laporan meskipun belum lengkap, tentang sikap Adipati Partaningrat langsung dari Raden Sutawijaya sendiri.

“Aku sudah menduga,” berkata Pangeran Benawa didalam hati. Karena itu, ketika Adipati Partaningrat menyatakan diri untuk menari di pendapa, hatinya menjadi berdebar-debar.

Malam itu, para tamu dapat tidur nyenyak dipesanggrahan didaerah Ganjur. Meskipun mula-mula mereka merasa bahwa bilik yang disediakan bagi mereka, terutama Adipati Partaningrat, tertalu sederhana, namun mereka akhirnya tertidur pula sampai fajar menyingsing.

“Bersiaplah sebaik-baiknya” berkata Adipati Partaningrat kepada pengiringnya yang paling dipercaya.

“Aku sudah siap Kangjeng Adipati.”

“Kau adalah seorang yang tidak ada duanya selain aku sendiri. Kau dan aku harus dapat memaksa Raden Sutawijaya berpikir, bahwa ia tidak akan dapat menyombongkan dirinya dihadapanku. Dan kemampuan yang tersimpan di Mataram ini hanyalah sebesar hitamnya kuku bagi kekuatan baru yang sudah siap tampil di cakrawala.”

Pengiringnya tidak menyahut. Namun ia pun menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa Raden Sutawijaya adalah seorang yang pilih tanding. Seorang, anak muda yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan.

“Tetapi ia akan menyadari, bahwa dunia ini terlalu luas untuk dapat dihitung berapa jenis ilmu yang pernah dikenalnya. Ia akan menjadi heran dan kagum, bahwa sesuatu telah terjadi dihadapannya.” berkata pengiring Adipati yang setia itu didalam hatinya.

Ketika matahari kemudian naik, maka Raden Sutawijaya telah membawa tamunya kembali ke Mataram. Adipati Partaningrat merasa dirinya direndahkan, karena ia harus berkuda di belakang Raden Sutawijaya yang berada dipaling depan bersama Pangeran Benawa. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa, justru karena ada Raden Benawa.

Di perjalanan mereka tidak mendapat hambatan apapun. Bahkan beberapa orang yang mengetahui, bahwa yang lewat adalah Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa, maka mereka pun telah berdiri berjajar di sepanjang jalan.

Demikianlah, dengan selamat mereka sampai ke Mataram. Ki Juru Martani telah menyambut mereka di bawah tangga pendapa dan mempersilahkan mereka naik, setelah semua membasahi kaki mereka di jambangan dibawah sebatang pohon kemuning di sudut halaman.

Disiang hari itu, para tamu dari Pajang telah beristirahat di Mataram. Namun mereka tidak terlalu lama duduk di pendapa dan di bilik yang telah disediakan bagi mereka. Dalam pada itu, Pangeran Benawa telah minta kepada Raden Sutawijaya untuk mengantarkannya mengelilingi kota Mataram.

Raden Sutawijaya segera mengetahui maksud Pangeran Benawa. Ia pun menunjukkan kepada para pengiringnya, bahwa di Mataram tidak ada persiapan dalam bentuk apapun untuk memperkuat kedudukannya dan apalagi untuk memberontak melawan Pajang.

Karena itu. maka dengan senang hati Raden Sutawijaya pun memenuhi permintaan Pangeran Benawa, membawanya beserta para pengiringnya termasuk Adipati Partaningrat untuk berkeliling, melihat-lihat keadaan kota Mataram yang telah berkembang semakin ramai.

Seperti yang diharapkan oleh Pangeran Benawa, maka para tamu dari Pajang itu tidak melihat kegiatan yang mencurigakan. Dengan sengaja Pangeran Benawa mengajak Raden Sutawijaya untuk melihat-lihat barak para pengawalnya. Ternyata bahwa barak itu nampaknya tidak lebih dari sebuah penginapan bagi beberapa orang anak muda. Meskipun jumlahnya cukup banyak, tetapi jumlah itu hanya sekedar mencukupi untuk menjaga ketenangan kota Mataram saja, dan sama sekali tidak mencerniinkan satu persiapan perang atau pengerahan kekuatan.

Menjelang sore hari Pangeran Benawa berkata kepada Adipati Partaningrat sambil berbisik, “Kita tidak melihat sesuatu yang dapat dan patut dicurigai.”

Adipati Partaningrat mengangguk-angguk. Namun ia masih berdesis, “Apakah kita sudah melihat semuanya? Mungkin Raden Sutawijaya sengaja tidak membawa kita ketempat-tempat yang dirahasiakan.”

Pangeran Benawa mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Biarlah nanti kau perintahkan satu dua orang-orangmu untuk mengelilingi kota tanpa orang Mataram.”

Adipati Partaningrat mengangguk. Jawabnya, “Baiklah Pangeran. Barangkali dengan cara demikian, hasilnya akan lebih baik dan menyeluruh. Orang kita akan dapat melihat kesibukan di pinggir kota atau tempat-tempat tertentu yang tidak mudah diketahui tanpa memperhatikannya dengan saksama.”

Karena itu, maka ketika Pangeran Kenawa dan Raden Sutawijaya telah kembali, bersama para pengiringnya, maka Adipati Partaningratpun telah memerintahkan dua orang untuk pada saat matahari terbenam untuk melihat-lihat keadaan Mataram tanpa orang Mataram mengikuti mereka.

Sementara itu, maka Adipati Partaningrat pada suatu kesempatan telah berkata kepada Pangeran Benawa dihadapan Raden Sutawijaya, “Pangeran. Di Pasanggrahan Ganjur kita sudah dijamu dengan ngeranginnya suara gamelan. Di Mataram, bukan saja suara gamelan, tetapi Raden Sutawijaya tentu akan menjamu kita lebih meriah, sementara seperti yang sudah aku katakan kemarin, selagi kita berada dipesanggrahan, maka kita akan mengiringi bunyi gamelan itu dengan tari. Meskipun aku bukan penari yang baik, tetapi aku sanggup untuk menjadi salah seorang dari para penari itu.”

“Bagus sekali,” sahut Raden Sutawijaya, “aku kemarin juga sudah menyatakan, bahwa hal itu akan sangat menyenangkan bagi orang-orang Mataram yang jarang sekali menyaksikan tari yang baik.”

Karena itulah, maka Raden Sutawijaya pun segera mempersiapkan pendapa rumahnya dan menyediakan seperangkat gamelan. Ia pun telah memerintahkan mengumpulkan para pradangga terbaik untuk mengiringi orang-orang Pajang yang akan menari di pendapa.

Dengan demikian, ketika malam tiba, pendapa rumah Raden Sutawijaya itu pun telah menjadi ramai. Halaman yang luas itu diterangi dengan obor disegala sudutnya. Orang-orang di sekitarnya, yang melibat persiapan di pendapa itu pun telah berkerumun untuk menyaksikan keramaian yang tiba-tiba saja telah diselenggarakan.

Tetapi karena keramaian itu diselenggarakan tanpa direncanakan, maka tidak banyak orang Mataram yang mengetahui. Jarak jangkau bunyi gamelan akan mengundang dan yang berkesempatan dapat datang melihatnya. Tetapi tidak demikian bagi mereka yang tinggal agak jauh. Mereka tidak mengerti, bahwa di pendapa itu telah diselenggarakan keramaian yang jarang sekali terjadi.

Sementara dua orang pengiring Adipati Partaningrat mengelilingi Mataram, maka Adipati Partaningrat sendiri dengan pengiringnya yang paling dipercaya telah mempersiapkan sejenis tarian yang akan dapat membuat orang-orang Mataram menjadi heran.

Ketika segala persiapan telah selesai, maka keramaian pun segera dimulai. Di pendapa duduk Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya, Ki Juru Martani dan para tetua dan pemimpin Mataram yang lain. Mula-mula hanya suara gamelan sajalah yang terdengar, sementara para tamu dari Pajang sedang mengenakan pakaian tari mereka, meskipun pakaian tari yang ada di Mataram nampaknya kurang memuaskan bagi mereka.

Untuk membuka pertunjukkan itu, maka orang-orang Mataramlah yang mulai dengan tarian yang sederhana. Sesuai dengan kemampuan orang-orang Mataram. Seorang gadis menari dengan lemah lembut dan penuh dengan gerak-gerak yang indah mempesona. Disusul dengan tari perang yang gagah dan cepat, yang dilakukan oleh dua orang anak muda. Sementara itu, para tamu dari Pajang yang tidak sedang bersiap-siap untuk menari, menyaksikan dengan hati setengah, kecuali Pangeran Benawa.

Raden Sutawijaya melihat, bahwa tarian itu tidak menarik bagi orang-orang Pajang, karena di Pajang, terlalu sering diselenggarakan pertunjukkan yang jauh lebih baik

Namun dalam pada itu, orang-orang Mataram yang berada di halaman, menjadi gembira berkesempatan melihat pertunjukkan itu.

Semakin malam, maka halaman rumah yang luas itu pun menjadi semakin banyak dikunjungi orang, sementara tari-tarian yang diselenggarakan di pendapa itu pun menjadi semakin menarik.

Akhirnya, ketika orang-orang Pajang telah selesai dengan berpakaian dan merias diri, maka mulailah di antara mereka menari. Mula-mula dua orang penari menarikan tari topeng. Mereka menceriterakan perang antara Panji dengan Prabu Kelana yang ingin merampas isterinya.

Tari-tarian itu ternyata sangat menarik perhatian. Orang-orang Mataram bertepuk tangan tanpa henti-hentinya. Mereka jarang sekali melihat penari yang terampil dan mengagumkan. Bukan saja gerak yang mapan dan lincah, namun perang itu ternyata telah sangat menarik perhatian. Keduanya seolah-olah tidak sedang menari di pendapa. Keduanya seolah-olah benar-benar sedang berperang tanding. Namun setiap gerak mereka masih dibatasi oleh irama gamelan yang bagaikan memenuhi seluruh kota Mataram.

Dalam pada itu, kedua orang Pajang yang sedang mengelilingi Mataram ternyata tidak menjumpai suatu yang menarik. Mereka tidak melihat barak-barak prajurit yang sudah bersiap untuk bertempur. Mereka tidak melihat latihan-latihan yang berlebih-lebihan dilakukan di Mataram. Mereka tidak melihat lumbung-lumbung yang disiapkan untuk mendukung suatu peperangan besar yang akan berlangsung lama.

“Kami tidak melihat tanda-tanda itu,” berkata salah seorang dari keduanya.

“Berita yang sampai di Pajang itu ternyata keliru. Mereka mengira bahwa Raden Sutawijaya sekarang sudah benar-benar bersiap untuk bertempur. Mereka mengira, bahwa setiap sudut kota terdapat barak-barak yang penuh dengan prajurit yang siap untuk berangkat ke medan. Mereka mengira bahwa anak-anak muda dan para petani pun telah mempersiapkan diri. Apabila terdengar tengara, mereka akan datang berduyun-duyun kebanjar padukuhan dengan senjata di tangan, bersama-sama dengan para prajurit maju ke medan perang. Ternyata yang kita lihat adalah sebaliknya. Raden Sutawijaya masih sempat beristirahat di Ganjur untuk bermain-main dengan kuda-kudanya seperti yang sering dilakukannya sejak menjelang dewasa.” sahut yang lain.

Kawannya mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Marilah. Kita kembali ke rumah Senapati Ing Ngalaga.”

Keduanya pun kemudian berpacu kembali ke rumah yang sedang menjadi ajang keramaian itu. Ketika mereka mendengar suara gamelan, maka salah seorang dari mereka bergumam “ Apalagi yang akan dilakukan oleh Adipati Partaningrat?”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi keduanya seakan-akan berpacu lebih cepat.

Demikianlah, mereka masih sempat menyaksikan akhir dari tari topeng yang mengagumkan itu. Mereka masih melihat kedua orang kawannya dengan mengenakan topeng menari di pendapa. Namun sebenarnyalah bahwa mereka tidak sekedar menari, karena mereka benar-benar telah bertempur. Mereka benar-benar memukul lawan dan mereka benar-benar menghantam lambung dengan kaki mereka.

Sorak sorai para penonton bagaikan menggugurkan bintang-bintang dilangit. Mereka menjadi heran, karena kedua penari itu seolah-olah tidak merasakan sesuatu jika lawannya benar-benar menghantamnya.

adbm-126-01Pukulan-pukulan yang menghentak dada, lambung dan bahkan kening, sama sekali tidak mempengaruhi irama tari mereka. Sambil menari, mereka ternyata telah memamerkan daya tahan tubuh mereka yang luar biasa. Sebagai seorang prajurit, baik dalam kehidupan mereka sehari-hari, maupun dalam ceritera topeng itu, mereka benar-benar telah menunjukkan kelebihan yang mengagumkan.

Ketika keduanya selesai dan meninggalklan pendapa masuk ke bilik rias, gemuruhlah seisi halaman rumah Raden Sutawijaya yang luas itu. Tepuk tangan dan sorak memuji terdengar sahut menyahut seperti gemuruhnya gelombang dipantai Selatan.

Sejenak kemudian, maka disusul dengan tari perang yang nampaknya lebih dahsyat lagi. Kedua penari yang trampil ternyata telah memetik adegan dalam perang Baratayuda Perang antara Bima melawan Duryudana. Dua orang saudara sepupu yang terlibat kedalam perang saudara yang dahsyat. Sedangkan keduanya adalah dua orang yang pilih tanding.

Dalam tari itu, ternyata keduanya telah membawa bindi kayu yang biasa dipergunakan dalam tari yang serupa.

Pangeran Benawa yang melihat salah seorang dari kedua penari itu adalah Adipati Partaningrat, menjadi berdebar-debar. Jika pada tarian yang pertama, dua orang penari topeng itu telah memperlihatkan kemampuan mereka bertempur tanpa senjata, maka yang dilakukan oleh Adipati Partaningrat tentu akan lebih gila lagi.

Untuk beberapa saat, keduanya menari seperti seharusnya dilakukan oleh penari yang lain. Mereka menunjukkan kemampuan mereka memperagakan gerak dalam irama yang lengkap. Bahkan keduanya telah mempesona dengan tarian mereka yang utuh dan lengkap.

Namun, ketika adegan perang mulai mereka lakukan, maka tarian itu seakan-akan telah berubah. Meskipun mereka masih bergerak dalam irama gamelan, namun mereka mulai melakukan permainan yang mendebarkan jantung.

Ternyata bahwa kedua penari itu benar-benar telah bertempur dengan mempergunakan bindi kayu. Mereka benar-benar memukul dan menghentak lawannya dengan bindi. Tetapi lawannya benar-benar cekatan dan cepat. Pukulan-pukulan mereka jarang sekali mengenai lawannya. Namun bindi itu benar-benar mengena, para penari itu seolah-olah tidak merasakannya.

Demikianlah, tari itu telah mencengkam seluruh penontonnya. Mereka berdiri dengan tegang. Seakan-akan darah mereka telah berhenti mengalir. Jika mereka melihat salah seorang di antara mereka terkena bindi kayu pada bagian tubuhnya, maka para penontonlah yang nnenyeringai kesakitan, sementara kedua penari itu sama sekali tidak terlepas dari irama gerak tari mereka.

Sementara itu. Pangeran Benawa menyaksikan pertunjukkan itu dengan tegang. Ia segera mengerti maksud Adipati Partaningrat. Ia ingin menunjukkan kepada Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga, bahwa Adipati Partaningrat dan pengiringnya yang terpercaya itu adalah orang yang pilih tanding.

Dengan dada yang berdebar-debar Pangeran Benawa mengikuti tarian yang mendebarkan itu. Kadang-kadang keningnya nampak berkerut merut. Namun kadang-kadang terdengar ia berdesis.

“Sudah melampaui batas,” berkata Pangeran Benawa didalam hatinya, “itu adalah sikap yang sangat deksura.”

Tetapi Pangeran Benawa menjadi heran ketika ia berpaling kearah Raden Sutawijaya. Senapati Ing Ngalaga itu sama sekali tidak menunjukkan sikap yang buram. Bahkan dengan wajah cerah ia kadang-kadang bertepuk tangan. Seolah-olah Raden Sutawijaya itu telah terpesona dan keheranan melihat apa yang telah terjadi di pendapa.

“Apapula yang akan dilakukan oleh kakangmas Sutawijaya,” desis Pangeran Benawa didalam hatinya.

Pangeran Benawa tahu pasti, siapakah orang yang mendapat gelar Senapati Ing Ngalaga. Ia pun dapat menjajagi, sampai betapa tinggi kemampuan yang dimilikinya. Karena itu, sikap Raden Sutawijaya yang nampak heran dan kagum itu justru meragukannya.

Tari perang itu masih berlangsung. Keduanya saling memukul. Saling menangkis. Seperti seharusnya terjadi dalam tari perang, maka kadang-kadang salah seorang dari mereka berpura-pura terdesak dan berlutut membelakangi lawannya. Pada saat yang demikian lawannya berdiri tegak di belakangnya. Namun yang tidak biasa dilakukan, justru pada saat yang demikian itu, lawannya yang menurut adegan ceritera dalam keadaan menang itu telah memukuli punggung lawannya dengan bindinya.

Namun, ketika saatnya yang terduduk pada lututnya itu harus bangkit, ia pun bangkit dan melanjutkan tari perang yang semakin lama menjadi semakin mengerikan.

Dalam pada itu, beberapa orang pemimpin dari Mataram pun ternyata tanggap ing sasmita. Mereka mengerti maksud Adipati Partaningrat, bahwa yang dilakukan itu adalah suatu permainan untuk menyatakan diri sebagai seorang Adipati yang pilih tanding. Yang kebal dan tidak terluka segorespun meskipun tubuhnya dihantam dengan bindi kayu yang cukup besar.

“Luar biasa,” desis Ki Lurah Branjangan ditelinga Demang Jodog yang sedang berada di Mataram dan berkesempatan melihat tari yang sedahsyat itu.

“Memang luar biasa,” jawab Ki Demang Jodog, “tetapi apakah kira-kira bindi itu dapat mematahkan tulangku.”

“Jangan kibir Ki Demang. Jika anak-anak yang baru dapat berjalan yang menghantam tulang belulangmu, tentu tulang-tulangmu tidak akan patah. Tetapi jika Adipati Partaningrat yang memukulmu, maka ia tidak perlu mengulang sampai dua kali.”

“Aku adalah murid seorang bekas benggol kecu yang menyadari kesalahannya. Ia adalah orang dugdeng yang tidak ada duanya di sekitar Congot.”

Ki Lurah Branjangan tersenyum. Katanya, “Kau memang bodoh Ki Demang. Yang kau dapatkan adalah sekedar kelebihan jasmaniah. Tetapi Adipati Partaningrat telah mempergunakan tenaga cadangan didalam tubuhnya untuk memukul dan menahan pukulan. Kekuatan itu berlipat dari kekuatan wajarmu. Mungkin kau tidak akan lecet kulitmu dipukul dengan sepotong besi sekalipun oleh tetangga-tetanggamu. Tetapi jangan berbicara tentang seseorang yang memiliki tenaga cadangan.”

Ki Demang terdiam. Tetapi wajahnya menjadi bertambah tegang.

Dalam pada itu, kedua orang penari itu menjadi semakin gairah. Mereka merasa bahwa orang-orang Mataram telah mengaguminya. Hampir tidak ada seorang pun yang mengerti, bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi.

“Mungkin Raden Sutawijaya dapat mengerti. Tetapi ia tidak akan pernah memikirkan, bahwa inilah ukuran Senapati Pajang yang ada sekarang dan yang diluar pengetahuannya dan pengetahuan Sultan Pajang sendiri, sadang mempersiapkan kekuatan yang akan bangkit diatas reruntuhan yang direncanakan. Reruntuhan Pajang dan Mataram yang akan berbenturan sesamanya.” berkata Partaningrat didalam hatinya.

“Sementara itu, ia pun berusaha untuk benar-benar dapat menjatuhkan gairah perjuangan Raden Sutawijaya dengan menunjukkan kemampuan yang hampir tidak dapat dinilai dengan nalar itu.

Bagi Pangeran Benawa, apa yang dilakukan oleh Partaningrat itu bukannya sesuatu yang perlu dikagumi. Baginya tidak ada yang aneh dari perbuatan kedua penari itu.

Bahkan jika ia mau, maka ia akan dapat berbuat sesuatu yang akan dapat menghancurkan kebanggaan keduanya. Tetapi Pangeran Benawa tidak dapat berbuat demikian, justru karena kedua orang itu adalah pengiringnya.

Yang diharapkannya adalah bahwa Raden Sutawijaya akan berbuat sesuatu yang dapat menghentikan kesombongan itu. Jika sekiranya Raden Sutawijaya bangkit dari tempat duduknya dan ikut serta menari sebagai apapun juga, maka orang-orang Pajang yang sombong itu tentu akan menyadari, siapakah Raden Sutawijaya itu.

Tetapi ternyata Raden Sutawijaya lebih senang duduk di pringgitan, di sebelah Pangeran Benawa sambil mengagumi kedua orang penari itu.

“Kakang Sutawijaya memang orang aneh,” desis Pangeran Benawa didalam hatinya.

Sehingga akhirnya, Pangeran Benawa lah yang tidak dapat menahan diri sehingga ia berbisik di telinga Raden Sutawijaya, “Apakah kakangmas tidak akan menari?”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil tersenyum ia menggeleng, “Tidak adimas, aku tidak dapat menari.”

“Jika sekiranya kakangmas tidak dapat menari, aku tidak akan bertanya demikian, karena aku kenal kakangmas dengan baik.”

Tetapi Raden Sutawijaya justru tertawa. Sekilas dipandangi-nya wajah Pangeran Benawa yang tegang. Katanya, “Aku bukan seorang penari yang baik adimas. Dan bukankah kali ini sengaja aku memberi kesempatan kepada tamu-tamuku untuk lelangen di pendapa Mataram. Tentu kurang menarik jika tiba-tiba saja aku berdiri dan menari. Apalagi dilihat oleh orang-orang Mataram sendiri.”

“Aku tahu kakangmas. Tetapi menghadapi keadaan ini, seseorang harus berbuat sesuatu.”

Raden Sutawijaya masih tertawa. Katanya, “Biarkan saja adimas. Bukankah dengan demikian aku sudah memberi kesempatan kepadanya untuk mendapatkan kepuasan karena kekaguman para penonton?”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun berdesis, “Tetapi bukankah dengan demikian akan dapat berarti memperkecil arti diri sendiri?”

Tetapi Raden Sutawijaya masih saja tertawa. Bahkan kemudian ia berdesis, “Memang luar biasa. He, kau lihat, mereka sama sekali tidak lecet meskipun mereka benar-benar saling memukul dengan bindi kayu.”

“Apakah kakangmas heran?” bertanya Pangeran Benawa.

“Ya. Aku heran sekali,” desis Sutawijaya.

“Aku justru heran, karena kakangmas menjadi heran melihat permainan anak-anak itu.”

Raden Sutawijaya justru tertawa berkepanjangan. Namun ia berusaha untuk menahan diri agar tertawanya tidak mengganggu pertunjukkan yang sedang berlangsung itu.

Demikianlah perang yang terjadi di pendapa itu pun menjadi semakin dahsyat. Keduanya saling memukul dan menangkis. Demikian dahsyatnya sehingga dalam benturan-benturan senjata yang terjadi, maka bindi Adipati Partaningrat itu pun tiba-tiba telah pecah dan patah. Namun dalam pada itu, lawannya masih menyerangnya dan menghantamnya dengan bindinya.

Tetapi Adipati Partaningrat tidak menghindar. Ditangkisnya bindi itu dengan lengannya. Dan pecahlah bindi kayu lawannya bersamaan dengan meledaknya sorak para penonton.

Raden Sutawijaya yang duduk di pendapapun ikut pula bertepuk tangan, sehingga Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam sambil berdesis, “Kau orang yang paling aneh yang pernah aku lihat.”

Raden Sutawijaya berpaling. Kemudian desisnya, “Siapakah yang lebih aneh di antara kita?”

Pangeran Benawa mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa sambil menjawab, “Bukan hanya kita sajalah orang-orang aneh di Pajang dan Mataram.”

Keduanya pun tertawa semakin keras. Tetapi bersamaan dengan tepuk tangan para penonton dan suara gamelan yang keras, maka suara tertawa mereka seakan-akan hilang tertelan oleh keriuhan itu.

Dalam pada itu, agaknya yang tidak lajim telah terjadi dalam perang antara Bima dan Duryudana itu. Setelah senjata bindi mereka pecah, maka tiba-tiba saja mereka telah menarik keris masing-masing. Justru keris yang terbuat dari kulit.

Beberapa kali keduanya dengan sengaja menunjukkan, bahwa keris itu bukan keris yang sebenarnya. Kedua keris di tangan kedua penari itu adalah sekedar keris dari kulit dan dapat dilipat.

Para penonton menjadi bertanya-tanya didalam hati. Baru saja mereka mempergunakan bindi kayu yang berat dan keras. Sekarang mereka akan mempergunakan keris yang terbuat dari kulit. Sudah barang tentu bahwa bindi kayu itu akan jauh lebih menarik daripada perang tanding memakai keris dari kulit.

Meskipun demikian para penonton masih terpancang ditempatnya. Mereka masih juga ingin melihat, apa yang akan terjadi.

Kedua orang itu benar-benar penari yang sangat baik. Dengan keris dari kulit mereka masih tetap mempesona, meskipun agak kurang lajim bahwa perang antara Bima dan Duryudana mempergunakan senjata semacam itu.

Namun tiba-tiba para penonton menjadi heran. Mereka kemudian melihat kedua penari itu bertempur seolah-olah bersungguh sungguh. Keris kulit itu di tangan mereka seolah-olah telah berubah menjadi sebatang pedang pendek yang terbuat dari besi baja pilihan. Benturan antara kedua ujung keris itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa kedua keris itu terbuat dari kulit, seperti saat-saat mereka mulai dengan mempergunakan keris kulit itu.

Yang mendebarkan adalah pada saat-saat salah seorang dari keduanya terdesak menepi. Ketika keris itu menyambar, maka lawannyapun mencoba menghindar. Karena keris itu tidak mengenai sasarannya, maka keris itu telah menyentuh sudut tiang. Setiap orang menahan nafas sejenak ketika mereka melihat, bahwa keris dari kulit itu ternyata telah berhasil menyobek sudut tiang yang terbuat dari kayu jati. Tiang itu robek seolah-olah telah dihentak dengan sebuah kapak yang besar dan tajam.

Sejenak kemudian, meledaklah sorak para penonton. Bahkan beberapa orang yang duduk di pendapa itu pun terheran-heran karenanya.

Pangeran Benawa tergetar hatinya melihat permainan itu. Ia sama sekali tidak menjadi heran melihat apa yang dilakukan oleh Adipati Partaningrat. Namun ia menjadi berdebar-debar, bahwa yang dilakukan oleh Adipati Partaningrat itu benar-benar telah berlebih-lebihan. Apabila Raden Sutawijaya benar-benar telah merasa tersinggung, maka sudah tentu ia tidak akan hanya tersenyum dan bahkan tertawa saja.

Dalam pada itu. Raden Sutawijaya memang telah mengerutkan keningnya. Namun ia masih juga berkata, “Luar biasa. Itu adalah satu keanehan. Lebih aneh daripada pecahnya bindi kayu itu.”

“Apakah hal itu aneh juga bagi kakangmas?” bertanya Pangeran Benawa.

“Ya, aneh.”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba berharap bahwa Raden Sutawijaya tidak tersinggung karenanya, justru yang dilakukan oleh Adipati Partaningrat sudah berlebih-lebihan.

Namun dalam pada itu, yang sama sekali tidak diharapkan telah terjadi. Dalam wuru karena kekaguman para penonton, Adipati Partaningrat benar-benar telah lupa diri, sehingga dalam satu adegan yang tegang ia telah menusuk lawannya. Demikian lawannya mengelak, maka ujung keris kulitnya itu telah menancap pada tiang. Bukan sembarang tiang, tetapi saka guru pendapa itu.

Gemparlah seluruh penonton di halaman itu. Mereka tahu pasti bahwa keris di tangan Adipati Partaningrat itu adalah keris yang terbuat dari kulit. Dan kini mereka melihat kulit itu menancap pada saka guru pendapa yang luas itu.

Namun dalam pada itu, jantung Pangeran Benawa bergetar dahsyat. Diluar sadarnya ia berpaling kepada Raden Sutawijaya. Darahnya serasa berhenti mengalir ketika ia melihat wajah Raden Sutawijaya itu menjadi merah membara. Betapapun juga. Raden Sutawijaya kini benar-benar telah tersinggung. Adipati Partaningrat telah menyentuh saka guru pendapanya. Bahkan dengan memamerkan kelebihannya, menancapkan keris yang terbuat dari kulit itu pada tiang yang terbuat dari kayu jati yang terukir memet, diwarnai dengan sungging yang halus.

Pangeran Benawa tahu pasti, bahwa Raden Sutawijaya yang sejak semula telah berusaha menahan diri itu, tidak lagi dapat bersabar. Yang dilakukan oleh Adipati Partaningrat memang sudah berlebih-lebihan. Ketika Adipati Partaningrat merusak saka rawa pendapa itu. Raden Sutawijaya masih dapat bersabar. Tetapi setelah saka gurunya dilukai, maka darahnya pun telah mendidih karenanya.

Dalam pada itu, seakan-akan diluar sadar, tiba-tiba saja Pangeran Benawa berdesis, “Kakangmas, aku mohon ampun. Akulah yang membawanya kemari. Biarlah aku yang mengajarinya untuk sedikit mengenal unggah-ungguh. Yang dilakukan adalah sikap deksura dan tidak tahu diri.”

Tetapi Raden Sutawijaya sudah menyilangkan tangannya. Meskipun ia tidak bergerak pada tempat duduknya, namun ternyata ia telah memusatkan kemampuannya dalam kemarahan yang tidak terkendali.

Pangeran Benawa tergetar. Didalam hati ia berdesis, “Terlambat. Kakangmas benar-benar telah marah.”

Namun sikap Raden Sutawijaya sama sekali tidak menarik perhatian orang lain. Setiap orang masih terpancang perhatiannya pada keris yang menancap pada saka guru pendapa itu. Apalagi dengan sengaja Adipati Partaningrat tidak mencabutnya. Ia memberi kesempatan kepada setiap orang untuk dapat menyaksikannya, bahwa hampir separuh dari panjang keris itu telah tenggelam.

Sementara itu, maka ketika hati Adipati Partaningrat sudah menjadi puas akan kekaguman para penonton, maka ia pun melanjutkan tari yang dilakukan. Ia sudah selesai dengan puncak pameran ilmunya. Karena itu, maka ia pun sudah siap untuk masuk keruang rias.

Tetapi, ketika ia ingin mencabut keris yang menancap itu, telah terjadi sesuatu diluar dugaannya. Ternyata bahwa keris itu seolah-olah telah melekat menjadi satu dengan tiang kayu itu. Betapapun juga Adipati Partaningrat berusaha untuk mencabut keris itu, ternyata ia tidak berhasil. Bahkan ketika ia berusaha untuk menyobek kulit yang telah dipergunakan untuk menunjukkan kemampuan ilmunya itu. ia sama sekali juga tidak berhasil.

Keringat dingin telah mengalir di punggungnya. Ia memang sudah berkeringat karena menari sambil mengerahkan ilmunya. Tetapi yang mengalir kemudian, membuat tubuhnya menjadi dingin dan gemetar.

“Gila. Kenapa keris ini telah melekat,” katanya didalam hati sambil menghentakkan segenap kekuatannya. Tetapi keris itu tidak terlepas dan tidak patah meskipun hanya terbuat daru kulit.

Tiba-tiba tarian itu telah terganggu. Gamelan yang masih berbunyi dalam irama yang keras itu, menjadi tersendat-sendat.

Tarian itu benar-benar terganggu ketika tiba-tiba Raden Sutawijaya berdiri dari tempat duduknya dan maju ketengah-tengah pendapa mendekati Adipati Partaningrat yang sedang sibuk berusaha melepaskan keris itu dari saka guru. Sementara Pangeran Benawa yang cemas dengan dada yang berdebar-debar mengikutinya di belakang.

“Bagaimana paman Adipati?” bertanya Raden Sutawijaya, “apakah memang belum saatnya keris itu dicabut dari saka guru? Paman telah berbuat sesuatu yang sangat mengagumkan. Seluruh rakyat Mataram, para pemimpin dan para Senapati telah menjadi kagum akan kemampuan paman. Paman telah menari dan bertempur benar-benar dengan mempergunakan bindi, sehingga bindi itu hancur berkeping-keping. Kemudian paman telah mempergunakan keris yang terbuat dari kulit. Namun yang di tangan paman Adipati mempunyai ketajaman melampaui tajamnya kapak. Bahkan terakhir paman telah berhasil menghunjamkam keris itu pada saka guru pendapa rumahku ini. Namun sudah barang tentu aku mohon, agar keris itu dicabut. Dengan demikian, maka bentuk saka guru itu tidak akan menjadi rusak.”

Wajah Adipati Partaningrat menjadi tegang. Namun ia benar-benar tidak mampu menarik keris itu dari saka guru pendapa rumah Raden Sutawijaya itu.

“Silahkan paman,” sekali lagi Raden Sutawijaya mempersilahkan.

Wajah Adipati Partaningrat menjadi semakin tegang. Bahkan kemudian seolah-olah telah menjadi merah membara oleh gejolak didalam dadanya.

Pangeran Benawa yang berdiri di belakang Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti apa yang telah dilakukan oleh Raden Sutawijaya. Ternyata betapa kemarahan membakar jantung, namun yang dilakukan oleh Raden Sutawijaya masih tetap terbatas tanpa membuat kekisruhan di halaman rumahnya.

Adipati Partaningrat menjadi sangat gelisah karenanya. Tubuhnya bergetar ketika ia mendengar Raden Sutawijaya bertanya, “Apakah paman tidak dapat menarik keris itu?”

Adipati Partaningrat tidak menjawab. Sementara itu, para pemukul gamelan pun menjadi bingung, sehingga akhirnya suara gamelan pun telah berhenti dengan sendirinya.

Raden Sutawijaya tersenyum melihat sikap Adipati Partaningrat. Bahkan kemudian katanya, “Paman Adipati telah berhasil mempesonai orang-orang Mataram. Tetapi ternyata paman Adipati tidak dapat menyelesaikan pertunjukan paman yang sangat berkesan itu, justru pada bagian kecil diakhir pertunjukan. Jika paman menarik keris itu, kemudian sambil menari membawanya masuk keruang rias, maka pertunjukan ini menjadi sempurna, dan semua orang akan sangat kagum kepada paman Adipati. Namun temyata bahwa paman sendiri telah menodai pertunjukan yang sangat luar biasa ini.”

Wajah Adipati Partaningrat sebentar menjadi merah. Namun sebentar kemudian menjadi putih pucat. Sekali dipandanginya keris kulit yang menancap itu, kemudian dipandanginya wajah Raden Sutawijaya yang tersenyum.

Dalam pada itu, maka mulailah Adipati Partaningrat menyadari, dengan siapa ia berhadapan. Ia mulai mengerti, kenapa keris itu tidak dapat ditariknya dari saka guru pendapa Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga.

Sejenak ia merenungi keris yang terbuat dari kulit itu. Dengan kemampuannya ia telah berhasil mempesona orang-orang Mataram. Ia menjadikan keris yang terbuat dari kulit itu lebih tajam dan lebih kuat dari baja dengan kekuatan cadangan didalam dirinya.

Namun ternyata bahwa keris yang terhunjam itu tidak dapat ditariknya.

Seandainya yang tertancap itu besi baja sewajarnya, maka dengan kekuatan tenaga cadangannya ia tentu akan dapat menariknya atau bahkan mematahkannya. Namun justru karena keris itu terbuat dari kulit, sementara sebuah kekuatan telah mencengkamnya, maka ia sama sekali tidak berhasil menariknya atau mematahkannya.

Dalam kebingungan itu. Senapati Ing Ngalaga melangkah maju. Dengan nada penuh penyesalan ia berkata, “Paman. Jika keris itu tidak dapat paman cabut dari tiang pendapa itu, lalu apakah keris itu akan tetap terpancang disitu? Nampaknya saka guru pendapa ini tentu akan aneh bagi para tamu yang datang kemudian, yang tidak mengetahui apa yang telah terjadi malam ini.”

Adipati Partaningrat tidak segera menjawab. Tetapi wajahnya telah benar-benar menjadi pucat.

“Cabutlah,” desis Pangeran Benawa, “paman harus tahu bahwa keris itu telah mengotori saka guru yang berukir dan diwarnai dengan sungging yang sangat lembut.”

Tidak ada yang dapat dikatakan oleh Adipati Partaningrat kepada Pangeran Benawa selain dengan nada rendah ia menjawab, “Ampun Pangeran. Ternyata aku tidak mampu melepas keris itu dari cengkeraman kekuatan yang sudah tentu bukan karena saka guru itu sendiri.”

Raden Sutawijaya tersenyum. Katanya, “Jadi paman sudah mengaku bahwa paman tidak dapat melepas keris itu?”

Pertanyaan itu benar-benar telah mendebarkan jantung. Meskipun Adipati Partaningrat menundukkan kepalanya dalam-dalam, namun seakan-akan ia melihat berpuluh-puluh pasang mata tertuju kepadanya dengan penuh pertanyaan.

Akhirnya, terdengar Raden Sutawijaya berkata, “Paman. Jika paman telah mengaku tidak dapat melepas keris itu, biarlah aku mencobanya. Aku adalah pemilik rumah ini. Aku adalah orang yang paling berkepentingan atas kebersihan dan kerapian pendapa ini. Karena keris yang tertancap di saka guru itu aku rasa mengganggu, dan orang yang melakukannya sudah mengaku tidak dapat mengambilnya, maka adalah menjadi kewajibanku.”

Adipati Partaningrat tidak menjawab. Namun jantungnya rasa-rasanya berhenti berdetak.

Demikian pula orang-orang yang menyaksikan dengan kagum, apa yang telah dilakukan oleh Adipati Partaningrat. Kini perhatian mereka seluruhnya tertumpah kepada Raden Sutawijaya. Meskipun Raden Sutawijaya tidak ikut menari, namun apa yang akan dilakukannya itu benar-benar mendebarkan setiap jantung.

Sejenak Raden Sutawijaya berdiri tegak. Kemarahan yang menghentak didalam dadanya, telah membuatnya dengan sengaja menunggu, agar setiap orang sempat menyaksikan apa yang akan dilakukannya.

Meskipun pada wajah dan bibirnya, Raden Sutawijaya sama sekali tidak menunjukkan gejolak perasaannya, namun sebenarnyalah didalam dadanya, seakan-akan telah menyala bara api yang sangat panas.

Sesaat kemudian, halaman rumah itu pun menjadi hening sunyi. Setiap orang berdiri mematung. Bahkan nafas mereka pun seakan-akan telah berhenti mengalir. Dengan mata terbelalak mereka melihat, apa yang akan dilakukan oleh Raden Sutawijaya.

Mereka mengira bahwa Raden Sutawijaya akan menggenggam hulu keris itu dan menghentakkannya sehingga keris itu akan terlepas. Kemudian menunjukkan kepada Adipati Partaningrat bahwa ia telah berhasil melakukan, apa yang tidak dapat dilakukan oleh Adipati itu.

Tetapi ternyata Raden Sutawijaya tidak berbuat demikian. Ia tidak menggenggam hulu keris itu erat-erat dan mengerahkan segenap kekuatan cadangannya.

adbm-126-02Namun yang dilakukannya adalah mencepit keris itu dengan dua jarinya. Jari telunjuk dan jari-jari tengah. Kemudian seakan-akan tanpa melepaskan kekuatan apapun juga ia menarik keris itu.

Meledaklah setiap hati orang-orang Mataram ketika mereka melihat, hanya dengan jepitan dua jari. Raden Sutawijaya telah berhasil menarik keris yang tidak dapat dicabut oleh Adipati Partaningrat. Adipati yang telah mempertunjukkan tari yang menggegerkan para penontonnya. Namun yang kemudian ternyata bahwa dibanding dengan Raden Sutawijaya, ilmunya masih jauh dibawah beberapa lapis.

Adipati Partaningrat menundukkan kepalanya semakin dalam ketika ia mendengar sorak gemuruh mbata rubuh di halaman, seakan-akan meruntuhkan bintang-bintang yang berpencar dilangit. Orang-orang Mataram dengan penuh kebanggaan telah bersorak dan berteriak sekuat-kuatnya. Mereka telah menyaksikan suatu pameran kekuatan yang luar biasa.

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti, bahwa kemudaan Raden Sutawijaya memang masih mudah membakar jantungnya. Namun pengamatan Ki Juru Martani yang jauh, melihat bahwa yang terjadi itu tidak akan terlepas dari pengamatan orang-orang di Pajang yang dengan tajamnya sedang menyoroti Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga itu beserta Mataram yang sedang tumbuh.

Dalam pada itu, maka terdengar Raden Sutawijaya berkata, “Paman, aku telah melepas keris itu. Aku tidak bermaksud berbuat sesuatu yang dapat menyinggung perasaan paman Adipati. Tetapi semata-mata karena itu sudah menjadi kewajibanku.”

Ki Juru Martani menarik nafas semakin dalam. Bahkan ia berdesis didalam hati, “Itu tidak perlu angger. Kau melukai hatinya semakin dalam.”

Tetapi Ki Juru tidak mengucapkannya. Ia sadar, bahwa hati Raden Sutawijaya pun sedang terluka. Karena itu, maka ditahankannya saja perasaannya didalam dadanya.

Dalam pada itu, kepala Adipati Partaningrat menjadi semakin tunduk. Sikapnya menjadi jauh berbeda, bahkan berlawanan sama sekali, dengan saat-saat orang-orang Mataram bersorak menyambut tari-tariannya yang menggemparkan. Saat ia menggoreskan ujung keris kulit pada tiang pinggir pendapa rumah itu. Apalagi kemudian ketika ia berhasil membenamkan keris itu pada saka guru.

Sementara itu. Raden Sutawijaya yang mengangkat wajahnya sambil memandang kepala Adipati Partaningrat yang tunduk. Hatinya yang membara membuatnya hampir kehilangan kesabaran.

Namun, lambat laun, tumbuh juga perasaan belas kasihannya kepada Adipati Partaningrat. Agaknya Adipati yang sombong itu sudah merasa, bahwa ternyata Raden Sutawijaya memiliki kemampuan yang luar biasa, yang tidak dapat diatasinya.

Jika semula maksudnya adalah mengecilkan arti Raden Sutawijaya dengan mempertunjukkan pameran kekuatan dan ilmu, namun ternyata bahwa akhirnya ia harus mengakui, bahwa anak muda yang diangkat menjadi putera Sultan di Pajang itu memiliki kelebihan yang mengagumkan.

Dalam pada itu, orang-orang Mataram yang semula tergetar juga melihat kemampuan orang Pajang itu, akhirnya menyadari pula, bahwa pemimpinnya memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari orang Pajang yang sombong itu. Karena itu, jika beberapa orang Senapati Mataram merasa berdebar-debar melihat pameran ilmu itu, akhirnya kepercayaannya kepada diri sendiripun telah tumbuh pula.

Ki Demang di Jodog yang sejak semula sudah merasa tersinggung akhirnya berdesis, “Memang luar biasa. Aku kira mereka sekedar mempergunakan kekuatan jasmaniah mereka saja, sehingga aku mengira bahwa bindinya tidak dapat mematahkan tulangku. Tetapi ketika aku melihat keris kulit itu memecahkan kayu jati tua pada saka rawa itu hatiku memang tergetar, apalagi ketika keris itu menghunjam hampir separuh pada saka guru. Namun akhirnya Raden Sutawijaya bertindak juga. Tepat pada waktunya kita hampir kehilangan kepercayaan pada diri sendiri.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Desisnya, “Hanya satu dua orang Pajang yang dapat berbuat demikian.”

Ki Demang Jodog itu mengangguk-angguk pula.

“Tetapi Ki Demang itu pun merupakan orang yang jarang ada tandingnya di antara para prajurit Pajang. Mereka mungkin memiliki keprigelan bermain senjata. Tetapi mereka tidak memiliki kekuatam jasmaniah seperti Ki Demang Jodog, sehingga Ki Lurah tidak akan tergetar seandainya tengkuknya dipukul dengan bindi kayu, bahkan dengan sepotong linggis besi,” berkata Ki Lurah selanjutnya.

Ki Demang Jodog menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian menyadari, bahwa ilmunya masih nampak terlalu kasar dimata orang-orang terpenting di Pajang dan Mataram. Tetapi itu akan berguna dalam saat-saat tertentu, daripada dengan lamban ia harus maju ke medan perang.

Dalam pada itu, temyata Raden Sutawijaya tidak lagi berniat membuat Adipati Partaningrat semakin sakit. Karena itu, maka katanya kemudian, “Marilah paman Adipati. Aku persilahkan paman membenahi pakaian paman, dan barangkali paman perlu berganti pakaian apabila tari-tarian yang paman suguhkan kepada kami sudah selesai. Kami merasa sangat bergembira, bahwa kami telah mendapat kesempatan untuk melihat salah satu bentuk tari yang bernilai tinggi.”

Adipati Partaningrat tidak menjawab. Dengan kepala tunduk ia pun kemudian masuk kedalam bilik pringgitan, yang dipergunakannya untuk merias diri sebelum ia mulai dengan tariannya yang dahsyat.

Dibantu oleh pengiringnya ia mulai berganti pakaian. Lawannya perang tanding dalam tarian itu pun duduk dengan lemahnya. Kecuali karena ia sudah mengerahkan segenap ilmunya, ia pun merasa, bahwa ternyata apa yang telah mereka lakukan itu tidak ada artinya sama sekali.

Sambil berganti pakaian adipati Partaningrat berdesis kepada pengiringnya, “Ternyata bahwa Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga itu memiliki ilmu lahir dan batin yang tidak dapat dijajagi sebelumnya. Aku kira apa yang di pertunjukkan itu belum merupakan puncak ilmunya.”

Pengiringnya yang semula merasa dirinya pilih tanding itu pun menjawab, “Kita salah hitung Kangjeng Adipati.”

“Bukan sekedar salah hitung. Tetapi kita adalah orang yang paling dungu di Pajang. Bukan saja aib dan malu, tetapi Pangeran Benawa pun tentu akan marah. Hal itu sudah aku perhitungkan. Tetapi aku kira, kemarahan Pangeran Benawa akan dapat ditebus dengan kuncupnya setiap hati orang-orang Mataram. Namun ternyata yang terjadi adalah sebaliknya.”

Para pengiringnya tidak menjawab lagi. Ketika pintu terbuka, mereka melihat Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa. Namun kemudian ternyata hanya Pangeran Benawa sajalah yang masuk kedalam bilik itu sambil menjinjing keris yang terbuat dari kulit itu.

“Luar biasa,” desis Pangeran Benawa. Lalu, “Kalian telah membuktikan betapa dahsyatnya kekuatan para prajurit Pajang. Meskipun kalian datang tanpa pakaian kebesaran dan pakaian keprajuritan, namun kalian telah berbuat sesuatu yang dapat menunjukkan bahwa kalian adalah prajurit linuwih.”

Adipati Partaningrat tunduk semakin dalam.

“Paman Adipati ternyata memiliki ilmu yang sukar tandingnya. Kekuatan cadangan didalam tubuhnya telah mampu membuat kulit ini melampaui tajam dan kuatnya baja pilihan, sehingga kulit ini dapat menusuk menghunjam kedalam saka guru itu.”

Adipati Partaningrat tidak menjawab. Sementara hatinya berdegup semakin cepat.

Pangeran Benawa meletakkan keris itu pada tikar yang terbentang didalam bilik tempat merias diri itu. Kemudian sambil melangkah keluar ia berkata, “Simpanlah keris itu baik-baik paman Adipati. Mungkin paman masih perlu memamerkan kemampuan paman di padukuhan-padukuhan kecil atau di gerbang-gerbang pasar.”

Betapa sakitnya hati Adipati Partaningrat. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, karena ia pun menyadari, siapakah Pangeran Benawa itu.

Baru kemudian, ketika Pangeran Benawa telah berada diluar pintu. Adipati Partaningrat menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Nasibku buruk sekali hari ini.”

Para pengiringnya pun hanya dapat menundukkan kepala. Ia mengerti, betapa pedihnya hati Adipati yang sakti itu. Ternyata dengan meyakinkan sekali Raden Sutawijaya telah menunjukkan kepada orang-orang Mataram, bahwa ia memiliki kemampuan yang jauh lebih tinggi dari Adipati Partaningrat. Sementara itu, dengan sangat menyakitkan hati Pangeran Benawa menganggap yang dilakukan itu hanya pantas dilihat oleh orang-orang padukuhan kecil dan sebagai tontonan di pasar-pasar.”

Tetapi Adipati Partaningrat harus menelan kepahitan itu tanpa dapat mengelak. Ia pun menyadari, bahwa segala itu terjadi karena pokalnya sendiri. Jika ia tidak berusaha menyombongkan diri dihadapan Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga, maka ia tidak akan mengalami perlakuan yang demikian.

Dengan hati yang dibebani oleh penyesalan tetapi juga sakit dan pedih. Adipati Partaningrat membenahi pakaiannya. Melepas pakaian tarinya dan mengenakan pakaiannya sendiri. Ketika ia selesai berpakaian, maka dilihatnya keris kulit itu masih tergolek diatas tikar.

Karena itu, maka ia pun memungut keris itu dan memasukkan kedalam wrangkanya, serta meletakkannya menjadi satu dengan pakaian tarinya yang lain.

Adipati Partaningrat menarik nafas dalam-dalam. Dengan keris itu ia mampu menggemparkan orang-orang Mataram, tetapi keris itu pula yang membuatnya menjadi terlalu kecil dihadapan Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga.

Demikianlah, pertunjukkan malam itu diakhiri dengan kesan yang aneh bagi para penontonnya. Dengan demikian mereka telah menyaksikan kelebihan dari Raden Sutawijaya yang jarang sekali diperlihatkan dihadapan orang banyak. Tetapi karena kemarahan yang tidak terkendalikan, maka Raden Sutawijaya telah melakukannya diluar pertimbangan hatinya yang bening.

Sejenak kemudian halaman rumah Raden Sutawijaya itu pun telah menjadi sepi. Orang-orang yang menonton pertunjukkan telah pulang kerumah masing-masing, sementara beberapa anak muda justru telah pergi ke gardu-gardu.

Didalam gardu telah terjadi perbincangan yang hangat mengenai pertunjukkan di pendapa. Mereka mempersoalkan kemampuan Adipati Partaningrat dan para pengiringnya yang ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa.

Ketika dua orang penari bertopeng bertempur dengan tangan mereka seolah-olah mereka sedang berkelahi dengan sungguh-sungguh, mereka sudah menjadi heran. Apalagi ketika mereka melihat Adipati Partaningrat dengan seorang pengiringnya bertempur dengan bindi. Kulit kedua orang penari itu seakan-akan menjadi kebal dan tidak menjadi gatal oleh hentakan dan pukulan bindi pada tubuhnya.

“Namun cara Adipati Partaningrat mempergunakan keris itu benar-benar tidak dapat dipertimbangkan dengan nalar,” desis salah seorang anak muda, “dengan keris dari kulit yang lentur dan lemas itu, ia dapat menyobek tiang-tiang kayu jati. Bahkan kemudian menghunjamkan keris itu pada saka guru.” Namun kemudian suaranya merendah, “Disinilah letak kelemahannya. Ternyata ia gagal memamerkan kemampuannya dihadapan Raden Sutawijaya.”

Dengan demikian maka kebanggaan anak anak muda Mataram kepada Raden Sutawijaya menjadi semakin besar. Mereka menganggap bahwa Raden Sutawijaya adalah seseorang yang tidak akan dapat terkalahkan oleh siapapun juga.

“Kecuali Sultan Pajang,” desis seseorang.

Kawan-kawannya berpaling kepadanya sambil bertanya, “Kenapa?”

“Sultan Pajang adalah gurunya,” jawab anak muda itu.

Yang lain mengangguk-angguk. Mereka pun mengerti, bahwa Sultan Pajang yang semasa kecilnya bernama Mas Karebet dan bergelar Jaka Tingkir itu adalah seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa.

Dalam pada itu, ketika anak-anak muda Mataram sibuk memperbincangkan peristiwa yang baru saja terjadi di pendapa itu, maka Raden Sutawijaya telah menjamu makan tamu-tamunya. Seakan-akan ia sudah melupakan apa yang telah terjadi. Bersama para pemimpin Mataram ia mempersilahkan tamu-tamunya untuk makan sebaik-baiknya.

Namun sikapnya itu rasa-rasanya semakin menyakiti hati Adipati Partaningrat. Bahwa Raden Sutawijaya tidak menyinggung kesalahannya sama sekali, baginya benar-benar suatu sikap yang sangat sombong. Betapapun juga ia sudah berbuat sesuatu yang luar biasa. Namun bagi Raden Sutawijaya, apa yang dilakukannya tidak ada artinya sama sekali, sehingga karena itu, maka Raden Sutawijaya telah menganggapnya terlalu kecil.

Dalam saat saat yang demikian. Adipati Partaningrat mencoba untuk menilai orang-orang Mataram yang hadir di pendapa. Ki Juru yang tua itu pun duduk bersama mereka. Disaat-saat Ki Juru sedang menunduk, maka Adipati Partaningrat mencoba untuk mengamatinya.

Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Orang itu adalah saudara seperguruan Ki Gede Pemanahan, ayah Raden Sutawijaya yang sebenarnya. Apakah Ki Juru juga seorang yang pilih tanding seperti Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi yang telah menerima hadiah tanah Pati setelah bersama dengan Ki Gede Pemanahan berhasil mengalahkan Arya Penangsang dari Jipang? Namun setiap orang tahu, bahwa saat-saat yang tegang menjelang kematian Arya Penangsang di pinggir bengawan sore, Ki Juru Martani pun ada di antara mereka.”

Sejenak Adipati Partaningrat termangu-mangu. Namun Ki Juru Martani memang tidak dapat disisihkan dari perhitungan jika ia ingin menilai kekuatan Mataram. Bahkan Adipati Partaningrat pun tidak melupakan kekuatan-kekuatan yang berada diluar Mataram.

Tetapi bagaimanapun juga, Adipati Partaningrat seakan akan tidak sempat lagi mengangkat wajahnya. Seolah olah setiap orang tengah memandanginya sambil mencibirkan bibirnya, memperolok-olokkan kegagalannya bermain-main dengan keris kulit.

Namun betapapun juga. Adipati Partaningrat harus menahan perasaannya. Ia harus berada di Mataram bersama Pangeran Benawa. Betapapun juga warna perasaannya, maka semuanya itu adalah akibat dari tingkah lakunya sendiri, diluar tanggung jawab Pangeran Benawa.

Malam itu adalah malam yang paling buruk bagi Adipati Partaningrat. Setelah jamuan selesai, maka para tamu dari Pajang itu pun dipersilahkan beristirahat kedalam biliknya.

Tetapi meskipun malam menjadi semakin dalam, namun Adipati Partaningrat sama sekali tidak merasa mengantuk. Ketika beberapa orang pengiringnya dan bahkan seakan-akan seluruh Mataram sudah tidur nyenyak. Adipati Partaningrat masih merenungi kegagalannya. Ada semacam penyesalan. Tetapi ada juga semacam dendam. Rasa-rasanya ada keinginan baginya untuk membalas sakit hatinya kepada Raden Sutawijaya.

“Tetapi ia terlalu sakti,” desisnya didalam hatinya.

Dengan demikian, bagi Adipati Partaningrat, perjalanannya ke Mataram saat itu adalah perjalanan yang tidak akan pernah dilupakan. Baginya perjalanan itu benar-benar telah menyiksa-nya.

Hati Adipati itu jengkel juga melihat beberapa orang kawannya sudah tertidur nyenyak. Seolah-olah mereka sama-sekali tidak ikut menanggung beban perasaan seperti yang ditanggungnya.

Namun ternyata bahwa lawannya menari itu pun masih belum dapat tidur juga. Bahkan ketika dilihatnya Adipati Partaningrat gelisah, pengiringnya yang ada didalam bilik itu juga, bertanya, “Kangjeng Adipati. Apakah Kangjeng Adipati tidak dapat tidur?”

Adipati Partaningrat bangkit dan duduk dibibir pembaringan. Dengan wajah yang muram ia menjawab, “Udara terlalu panas. Tetapi lebih panas lagi adalah darah didalam jantungku.”

“Ternyata Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga benar-benar orang luar biasa,” desis pengiringnya.

Adipati Partaningrat hanya mengangguk saja. Ia tidak dapat berbicara yang lain tentang Raden Sutawijaya. Setiap orang telah melihat, apa yang sudah dilakukannya.

Adipati Partaningrat yang gelisah itu pun kemudian bahkan bangkit berdiri dan melangkah keluar biliknya. Tetapi agar ia tidak mengejutkan orang lain, maka dengan hati-hati sekali ia mendorong pintu bilik itu.

Udara diluar ternyata agak memberikan kesejukan. Dengan hati yang kosong ia duduk diatas amben bambu di serambi. Sekilas dilihatnya halaman yang luas dan lengang. Namun kemudian ia melihat nyala obor didalam gardu. Ternyata ia masih mendengar suara para peronda yang bercakap-cakap didalam gardu.

“Meskipun tidak dapat dibuktikan, tetapi aku menangkap dengan perasaan, Mataram benar-benar sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan,” desis Adipati Partaningrat.

Beberapa saat lamanya Adipati Partaningrat duduk di serambi. Ketika tubuhnya merasa lebih segar, maka ia pun melangkah kembali masuk kedalam biliknya.

Di gandok yang berseberangan, dibalik longkangan, seseorang menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia melihat Adipati Partaningrat itu hilang dibalik pintu, maka dengan hati-hati ia pun meninggalkan tempatnya menyusup kedalam gelapnya malam, dan seakan-akan hilang ditelan gelap. Namun kemudian di belakang rumah itu, orang itu berdesis, “Syukurlah, bahwa ia tidak berbuat apa-apa lagi.”

Orang itu berhenti di sudut rumah bagian belakang ketika ia melihat seseorang masih berada di serambi yang gelap. Sambil berbisik orang itu bertanya, “Bagaimana dengan orang-orang itu Ki Lurah Branjangan?”

“Tidak apa-apa,” jawab Ki Lurah Branjangan, “aku menjadi berdebar-debar melihat Adipati Partaningrat keluar dari biliknya. Tetapi agaknya sekedar untuk melupakan kegelisahannya.”

Orang itu tidak bertanya lagi, sementara Ki Lurah Branjanganpun melanjutkan langkahnya menuju ke bagian belakang dari halaman yang luas itu.

Dalam pada itu, ketika malam pun kemudian berlalu, orang-orang Mataram yang bangun dipagi hari yang cerah, telah disongsong dengan ceritera yang sangat menarik. Orang-orang yang tidak sempat menyaksikan pertunjukkan yang menggemparkan di pendapa itu pun telah menyesal. Apalagi mereka yang mendengar gamelan, tetapi karena matanya tidak mau terbuka lagi, maka ia lebih senang tidur berselimut kain panjang daripada bangun dan berjalan menuju kehalaman rumah Senapati Ing Ngalaga.

“Kalau aku tahu, akan terjadi pertunjukkan yang sangat menarik, aku tentu akan datang ke halaman itu,” desisnya.

Tetapi pertunjukkan itu telah lewat, sehingga ia hanya dapat mendengarkan saja apakah yang telah terjadi di halaman itu.

Dalam pada itu, ternyata Pangeran Benawa tidak ingin segera kembali ke Pajang. Ia masih akan tinggal di Mataram. Ia ingin melihat-lihat perkembangan Mataram dan isinya.

“Aku akan senang sekali mengantarmu adimas,” berkata Raden Sutawijaya, “kita akan mengelilingi Mataram dan sekitarnya.”

Seperti yang dikatakannya, maka ketika matahari telah naik. Raden Sutawijaya mempersilahkan Pangeran Benawa dengan para pengiringnya untuk melihat Mataram. Mereka berkuda dari ujung yang satu sampai keujung kota yang lain. Mereka melihat gerbang di segenap penjuru dan mereka pun melihat padukuhan-padukuhan yang semakin ramai dengan pasar-pasar yang penuh dengan bermacam-macam barang dagangan yang diperjual belikan. Hasil bumi, gerabah, tetapi juga barang-barang besi hasil buatan pande besi yang sebagian bekerja di sekitar pasar-pasar itu pula.

“Kota ini berkembang pesat sekali,” berkata Pangeran Benawa.

Raden Sutawijaya hanya tertawa saja. Sementara ia mempersilahkan tamunya untuk melihat segala-galanya.

Ternyata Pangeran Benawa pun dengan sengaja membawa orang-orangnya untuk melihat sendiri, apakah Mataram telah bersiaga seperti yang dikatakan beberapa orang di Pajang atau tidak. Ia yakin, bahwa yang akan dilihat oleh orang-orangnya adalah jauh berbeda dari yang dikatakan orang.

“Kita memang tidak melihat apa-apa,” berkata dua orang yang telah mengelilingi Mataram dihari sebelumnya kepada Adipati Partaningrat, “sekarangpun kita tidak melihat juga.”

Adipati Partaningrat mengangguk. Ia tidak dapat berkata lain, karena memang tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Mereka tidak melihat barak barak yang penuh dengan prajurit atau anak-anak muda yang dihimpun dalam latihan keprajuritan. Yang mereka lihat adalah pasar yang ramai dan para pedagang yang hilir mudik. Pedati yang penuh dengan hasil sawah dan pategalan memasuki kota. Sementara pedati yang kembali dari kota membawa perlengkapan dan alat-alat pertanian atau keperluan-keperluan yang lain bagi padukuhan.

“Mataram akan menjadi kota yang ramai,” desis salah seorang pengiring Adipati Partaningrat.

“Itulah yang berbahaya,” berkata Adipati itu, “meskipun sekarang tidak nampak persiapan-persiapan perang, tetapi jika kota ini menjadi besar maka dengan sendirinya Mataram akan menjadi kuat.”

Para prajurit yang mengiringi Adipati Partaningrat dan Pangeran Benawa tidak dalam kebesaran keprajurit an itu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya mereka tidak mengerti, kenapa orang-orang Pajang menjadi sangat cemas menghadapi Mataram. Mataram adalah kota yang baru tumbuh. Sedang kekuatan Pajang sudah mapan dan tersebar di kota-kota besar dibawah beberapa orang Adipati yang pilih tanding dan dapat dibanggakan.

“Apakah kekuatan Mataram dapat mengimbangi kekuatan satu Kadipaten saja?” pertanyaan itu tumbuh didalam setiap hati para pengiring itu. “Padahal Pajang meliputi beberapa Kadipaten.”

Namun para pengiring itu tidak bertanya lebih banyak lagi. Mereka mengikuti saja pemimpin mereka yang diantar oleh Raden Sutawijaya dan beberapa orang pemimpin dari Mataram.

Setelah mereka melihat Mataram dalam keseluruhan, maka mereka pun segera kembali lagi ke rumah Raden Sutawijaya untuk beristirahat dan mendapatkan jamuan.

Pangeran Benawa ternyata ingin bermalam satu malam lagi. Baru esok harinya mereka akan kembali ke Pajang.

***

Dalam pada itu, ketika Pangeran Benawa tengah berbincang dimalam terakhir kehadirannya di Mataram, karena esok harinya ia akau kembali ke Pajang bersama para pengiringnya, maka di Jati Anom, Sabungsari pun tengah berbincang dengan Agung Sedayu. Hampir setiap saat ia berada di padepokan kecil itu. Ternyata ia mendapat ijin dari pimpinannya, karena mereka tahu bahwa Sabungsari yang masih belum sembuh benar itu memerlukan kesegaran lahir dan batinnya. Apalagi mereka tahu, bahwa Sabungsari tidak pergi ke tempat yang terlarang bagi para prajurit. Tidak ke tempat-tempat yang diduga menjadi ajang perjudian. Tidak pula pada perjudian dengan mengadu berbagai macam binatang. Dari jengkerik sampai ke adu ayam jantan. Para pemimpin prajurit di Jati Anom itu mengetahui bahwa Sabungsari selalu menghabiskan waktunya dipadepokan kecil Agung sedayu. Dan para prajurit itu pun mengetahui bahwa Agung Sedayu adalah adik Untara.

Sementara itu, Glagah putih yang merasa dirinya jauh ketinggalan dari anak-anak muda, telah berlatih dengan sungguh-sungguh. Ia menghabiskan waktu tertuangnya didalam sanggar. Bersama Agung Sedayu atau tidak bersamanya. Bahkan dalam kesempatan tertentu, Sabungsari ikut pula melihat apa yang telah dilakukan oleh Glagah Putih.

“Luar biasa,” desisnya.

Sabungsari sendiri adalah anak muda yang menempa diri karena dibakar oleh dendam yang tidak dapat dikendalikannya lagi. Ia bagaikan menjadi gila dengan janjinya kepada diri sendiri untuk membunuh Agung Sedayu. Namun demikian, ia masih juga mengagumi melihat apa yang dilakukan oleh Glagah Putih. Anak yang masih sangat muda itu sama sekali tidak sedang dibakar oleh dendam kepada siapapun juga. Namun demikian, ia telah membajakan dirinya tanpa mengenal letih.

Sementara itu. Agung Sedayu pun merasa dibebani oleh satu kewajiban mengimbangi tekad anak yang luar biasa itu. Ia tidak ingin mengecewakan adik sepupunya. Karena itu, maka ia pun telah bekerja keras pula menuntun Gagah Putih dalam olah kanuragan.

Sabungsari kadang-kadang dihinggapi oleh perasaan heran yang sulit untuk disimpannya saja. Ia melihat ungkapan ilmu yang berbeda dari ilmu yang dikuasai dan dipergunakan oleh Agung Sedayu dalam keadaan yang gawat. Namun demikian, ungkapan ilmu yang diperlihatkan dalam latihan dan petunjuk-petunjuk yang diberikannya kepada Glagah Putih, ternyata dikuasainya juga dengan baik dalam tingkat yang tinggi.

Ketika ia tidak dapat menahan hati lagi, maka setelah Glagah Putih menyelesaikan latihannya, Sabungsari pun bertanya, “Aku melihat perbedaan ungkapan ilmu yang kau berikan kepada adik sepupumu dengan ilmu yang nampak padamu. Aku sudah pernah bertempur melawanmu dalam tataran yang aku kira termasuk tingkat tertinggi. Namun aku sama sekali tidak melihat ciri-ciri yang kau ungkapkan dalam latihan-latihan bersama adik sepupumu. Mungkin ada dua jenis ilmu yang kau kuasai dan luluh dalam bentuk yang baru. Tetapi aku melihat beberapa unsur yang berbeda meskipun aku tidak dapat menyebutnya bertentangan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa ketajaman penglihatan Sabungsari dapat membedakan ilmunya yang bersumber dari gurunya. Kiai Gringsing, dan ilmu yang dikuasainya dari dinding goa yang bersumber pada cabang perguruan Ki Sadewa, ayahnya. Dalam keadaan tertentu maka ia adalah murid Kiai Gringsing. Ia menguasai ilmu yang diterimanya dari gurunya, dengan segala perkembangan dan penyempurnaannya lebih baik dari yang lain. Karena itu, dalam keadaan yang paling gawat, maka yang nampak padanya adalah ilmu yang diterimanya dari gurunya. Karena ilmu itu pulalah yang lebih dahulu hadir didalam dirinya.

Namun demikian, penguasaannya atas ilmu yang disadapnya dari dinding goa itu pun tidak kalah dahsyatnya apabila kemudian dapat dikembangkan dan disempurnakan. Dalam pada itu, Glagah Putih lah yang diharapkannya akan dapat melakukannya di saat-saat mendatang.

Karena itulah, maka ia tidak dapat ingkar kepada Sabungsari. Ia menceriterakan dua sumber ilmu yang berbeda yang ada didalam dirinya, meskipun Agung Sedayu tidak mengatakannya, dimana ia mendapatkannya.

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s