ADBM2-127

<<kembali | lanjut >>

JANGAN memperkecil diri sendiri. Jika kau berusaha untuk meningkatkan ilmu adalah suatu usaha yang baik. Tetapi jika kau kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri, maka usahamu sebagian telah gagal,” berkata Agung Sedayu.

Glagah Putih mencoba mengerti keterangan kakaknya. Karena itu, ia tidak kehilangan gairah yang menyala didalam hatinya untuk berlatih.

“Tetapi kau jangan merasa bahwa usahamu akan berhasil dengan menyandarkan kepada kemampuanmu sendiri,” berkata Agung Sedayu, “karena betapapun jauhnya kita berusaha, segalanya tergantung kepada belas kasihan Yang Maha Agung. Namun hanya orang yang berusaha sajalah yang akan mendapatkan belas kasihan-Nya, karena usaha adalah ujud dari permohonan yang bersungguh-sungguh.”

Glagah Putih berusaha untuk menempatkan diri pada kedudukan seperti yang dimaksud kakak sepupunya. Ia mohon kepada Yang Maha Tinggi. Untuk menunjukkan kesungguhan dari permohonannya, maka ia pun telah berusaha sejauh dapat dilakukan.

Namun dalam pada itu, pada saat tertentu. Agung Sedayu telah mulai berbuat sesuatu bagi dirinya sendiri. Meskipun masih sangat terbatas.

Sejak sore hari, ia biasanya menenggelamkan diri di sanggarnya bersama Glagah Putih. Ternyata Glagah Putih memiliki kemampuan yang luar biasa, yang dapat membuat ketahanan tubuhnya menjadi semakin meningkat. Seolah-olah ia tidak merasa lelah sama sekali, meskipun ia sudah berlatih untuk waktu yang lama.

Tetapi Agung Sedayu lah yang membatasi waktunya. Jika Glagah Putih telah berlatih cukup lama, maka Agung Sedayu telah menghentikan latihan itu dan meneruskan dihari berikutnya. Ia masih tetap pada acaranya, bahwa disiang hari, Glagah Putih harus meningkatkan tenaganya, menyesuaikan diri dengan kerjanya sehari-hari. Setiap pagi Glagah Putih masih harus menyapu halaman yang luas dengan tanpa tapak kaki. Glagah Putih harus membelah kayu bakar. Semakin lama, beban yang diberikan oleh Agung Sedayu kepadanya menjadi semakin berat, sementara jalannya menuju kesawah pun menjadi semakin jauh dan sulit. Untuk menghindari pertanyaan orang-orang lain, maka Glagah Putih memilih jalan yang paling sepi. Karena itu, maka ia selalu menyusuri sungai ketika ia berangkat dan kembali dari sawah. Dengan niat yang membara dihatinya, maka Glagah Putih selalu berloncatan dari batu kebatu. Meloncat naik tebing, kemudian menuruninya kembali. Berlari-lari, bahkan kadang-kadang ia mempergunakan sebagian waktunya untuk melatih kemampuan tangannya di pasir tepian. Kadang-kadang dibawah petunjuk Agung Sedayu, Glagah Putih berusaha mengembangkan kemampuan bidiknya dengan mempergunakan batu-batu kerikil. Di sungai yang jarang diambah kaki manusia, Glagah Putih berlatih mempergunakan bandil. Dan bahkan lontaran tangan. Sambil berlari-lari dan meloncat-loncat antara bebatuan, Glagah Putih telah melempar satu sasaran dengan batu sebesar telur ayam. Dikesempatan lain, sasarannyalah bergerak. Bahkan kemudian Glagah Putih yang bergerak berusaha untuk mengenai sasaran yang bergerak pula.

“Lambat laun, kemampuan bidikmu akan meningkat,” berkata Agung Sedayu.

“Kakang Agung Sedayu termasuk orang aneh,” berkata Glagah Putih. “Sambil memejamkan mata, kakang dapat mengenai sebuah batu yang dilontarkan diudara.”

“Ah, itu berlebih-lebihan. Jika aku memejamkan mata, mana mungkin aku dapat membidik sasaran. Jika memejamkan sebelah mata, barulah mungkin dilakukan.”

Namun bagi Glagah Putih, kemampuan bidik Agung Sedayu benar-benar diluar jangkauan nalarnya. Seolah-olah Agung Sedayu telah meletakkan matanya pada alat pelemparnya, sehingga lemparannya tidak pernah meleset dari sasaran.

Sebenarnyalah bahwa perlahan-lahan, dengan memperguna-kan sisa waktu yang ada, Agung Sedayu telah meningkatkan kemampuannya. Dengan sangat berhati-hati ia mulai mencoba melihat isi kitab yang pernah dibacanya atas kebaikan hati Ki Waskita.

Tetapi Agung Sedayu masih belum berbuat sesuatu. Ia baru sekedar melihat kembali pada ingatannya, apa saja yang pernah dibacanya pada kitab Ki Waskita.

Pada kesempatan yang tersisa, Agung Sedayu duduk, menyendiri didalam sanggar. Biasanya jika Glagah Putih telah tertidur setelah memeras tenaganya.

Sambil duduk dibawah lampu minyak, Agung Sedayu mencoba untuk mengingat bait demi bait tulisan yang pernah dibacanya. Kemudian dengan sedikit catatan pada helai-helai rontal, ia memisahkan jenis dan sasaran bagian demi bagian dari ilmu yang tertera didalam kitab itu.

Agung Sedayu benar-benar harus berhati-hati dengan penelaahan ilmu itu. Karena itu, yang mula-mula dilihatnya barulah bagian pertama. Dengan teliti ia membagi hubungan antara isi kitab itu dengan kemampuan ilmu yang ada padanya. Perlahan-lahan dan hati-hati sekali. Ia harus mengenal sifat, watak dan segala kemungkinan yang dapat terjadi dalam hubungan antara ilmu yang ada didalam dirinya. Bukan saja dengan ilmu yang dipelajarinya dari Kiai Gringsing, tetapi juga ilmu yang temurun dari ayahnya lewat lukisan-lukisan yang terdapat didin-ding goa yang pernah dipelajarinya.

Baru kemudian, ia akan melihat kedalaman ilmu dari kitab yang dipinjamnya dari Ki Waskita sampai kehakekatnya.

Demikian berhati-hati Agung Sedayu dengan penelaahannya, sehingga tidak seorang pun yang mengetahuinya. Glagah Putih juga tidak, seperti ia merahasiakan kitab yang pernah dibacanya. Tidak seorang pun yang boleh mengetahuinya, kecuali Kiai Gringsing.

Namun dalam beberapa hal, ketajaman nalar Agung Sedayu telah menyentuh hubungan antara ilmunya dengan ilmu yang pernah dibacanya dari kitab itu. Betapa ia berhati-hati, sehingga untuk mengenal setiap unsur dari ilmu yang dibacanya dari kitab Ki Waskita, Agung Sedayu harus mengujinya dua tiga kali. Baru ketika ia sudah yakin, barulah ia mencoba untuk mencari singgungan. Dalam tahap permulaan, ia baru merambah jalan untuk mencari kemungkinan agar ilmu itu dapat luluh, namun masih tetap memiliki wataknya masing-masing dalam ungkapan-ungkapan tertentu.

Yang dilakukan Agung Sedayu barulah penjelajahan didalam angan-angan dan kemudian di guratkannya beberapa bentuk dan ujud gerak pada rontal. Ia memang mencoba beberapa unsur gerak meskipun sambil duduk. Ia mencoba melihat sesuatu yang terjadi pada gerak jari-jarinya, gerak pergelangan tangannya dan kemudian gerak lengannya.

Tetapi Agung Sedayu baru sampai kepada bentuk dan ujud lahiriah yang mungkin akan dapat menjadi landasan kedalaman gerak bukan saja wadagnya. Tetapi gerak wadag itu akan dapat dipergunakannya untuk melontarkan kekuatan cadangan yang bukan saja terdapat didalam dirinya, tetapi yang dapat diserapnya dari kesatuan dirinya dengan lingkungannya. Dunia kecilnya dengan dunia besarnya.

Meskipun yang dilakukan oleh Agung Sedayu itu tidak lebih dari duduk bersilang kaki sambil menggerakkan jari-jarinya, pergelangan tangan, lengan dan pundaknya, namun ia merasa telah melakukan pekerjaan yang berat sekali. Jauh lebih berat dari yang dilakukannya bersama Glagah Putih untuk waktu yang lebih singkat.

Menyadari betapa sulit dan peliknya persoalan yang dihadapinya, maka Agung Sedayu pun menjadi sangat berhati-hati dan perlahan-lahan sekali. Yang dilakukannya adalah yang paling mudah dan paling tidak berbahaya, sementara ia masih menunggu kesempatan kedatangan gurunya dipadepokan kecil itu.

Namun demikian, yang sangat perlahan-lahan itu, telah mulai nampak pengaruhnya. Meskipun pengaruh itu belum mendasar, sekedar tompangan pada alas yang memang sudah ada, namun terasa, bahwa pada bagian-bagian tertentu, kemampuan Agung Sedayu sudah meningkat.

Pernafasannya menjadi lebih baik dan urat-uratnya-pun seolah-olah menjadi semakin liat. Penguasaan tubuhnya menjadi bertambah mapan, sehingga gerak-gerak naluriahnya tidak terlepas dari pengendalian akalnya. Bahkan saluran perintah dari pusat sarafnya kesegenap tubuhnya menjadi lebih cepat, seperti juga meningkatnya kecepatan gerak anggauta badannya.

Perubahan-perubahan itu telah disadari oleh Agung Sedayu, meskipun perlahan-lahan sekali. Namun dengan tekun ia mempelajari setiap perkembangan. Tidak tergesa-gesa dan dengan penuh kesadaran Agung Sedayu memelihara keseimbangan yang ada didalam dirinya.

Agung Sedayu sama sekali tidak berani merambah pengamatannya pada dasar-dasar ilmu yang dapat memberikan kekuatan pada sorot matanya, meskipun pada dasarnya ia sudah memiliki kemampuan itu. Dan pada bagian ilmu yang tidak bersifat wadag lainnya, yang telah dipahami atau belum oleh Ki Waskita sendiri.

Namun sementara itu, Sabungsari masih saja digelut oleh kegelisahannya. Ia masih belum menemukan jalan yang paling baik, untuk mengatasi kemungkinan yang buruk, yang dapat terjadi atas Agung Sedayu karena pokal Ki Pringgajaya.

Sekali-sekali jika ia kehilangan kebeningan nalarnya, ia bertekad untuk menantang Ki Pringgajaya dalam perang tanding untuk menyelesaikan masalah itu tanpa diketahui oleh Agung Sedayu. Namun setiap kali, ia selalu mengurungkan niatnya. Jika hal itu diketahui oleh Untara dari para pengikut Pringgajaya, maka ia akan mendapat hukuman karena ia telah melawan seorang perwira. Sedangkan alasannya tidak akan dapat dikatakannya dengan disertai bukti-bukti yang dapat menguatkan keterangannya, sehingga ia justru dapat dituduh memfitnah.

Akhirnya, Sabungsari merasa tidak mempunyai jalan lain kecuali menyampaikannya kepada Agung Sedayu sendiri.

“Jika Agung Sedayu menyebut namaku, dan Ki Pringgajaya marah kepadaku, apaboleh buat. Aku akan sekedar membela diriku. Mungkin aku akan dapat mengelak dan mencari saksi apabila hal itu akan terjadi, sebelum aku menerima tantangannya untuk berperang tanding,” berkata Sabungsari didalam hatinya.

Karena itulah, maka ia pun kemudian mengambil keputusan untuk menyampaikan masalah itu kepada Agung Sedayu sendiri sebelum waktu yang tersisa itu habis.

Namun ketika Sabungsari kemudian datang kepadepokan Agung Sedayu, keragu-raguannya telah membayang kembali, Ketika ia melihat Agung Sedayu sibuk berlatih bersama Glagah Putih, Sabungsari menjadi bimbang.

“Agung Sedayu akan menjadi gelisah,” berkata Sabungsari didalam hatinya, “tetapi jika aku tidak menyampaikannya kepadanya, maka pada suatu saat ia akan diterkam oleh kemungkinan yang paling buruk yang dapat terjadi atasnya. Anak muda itu mempunyai sikap yang agak lain dari anak-anak muda sebayanya. Ia banyak menghindari kemungkinan terjadinya kematian. Namun dengan demikian, kadang-kadang ia sendiri terperosok kedalam kesulitan. Betapapun ia mempunyai ilmu yang tinggi, namun sikapnya kadang-kadang membuatnya menjadi orang yang paling lemah didaerah yang panas ini.”

Beberapa saat, Sabungsari bergulat dengan pertimbangan-pertimbangan yang kadang-kadang saling bertentangan, sehingga karena itu, maka ia lebih banyak duduk diam dengan kesibukan angan-angannya sendiri.

Untunglah bahwa ia berada disanggar ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih sedang berlatih, sehingga kedua orang itu tidak memperhatikan sikap Sabungsari yang gelisah.

“Tidak ada jalan lain,” geram Sabungsari kemudian.

Namun Sabungsari berniat untuk mengatakannya tanpa Glagah Putih. Jika anak itu mendengar, maka ia akan mempunyai tanggapan dan sikap tersendiri yang mungkin akan mempengaruhi segala macam pertimbangan dan perhitungan yang akan dibuat oleh Agung Sedayu untuk mengatasi persoalan itu dengan cara yang paling baik.

Beberapa saat Sabungsari masih menunggu latihan itu selesai. Ia masih sempat memperhatikan, betapa Glagah Putih sudah menjadi semakin maju.

“Cepat sekali,” gumam Sabungsari didalam dirinya.

Namun Sabungsari pun melihat tekad yang menyala dihati Glagah Putih, sementara Agung Sedayu pun memiliki cara yang tepat untuk menurunkan ilmu warisan Ki Sadewa itu, sehingga dengan demikian, maka kemampuan Glagah Putih pun meningkat dengan cepat.

Ketika mereka sudah cukup lama berlatih, maka Agung Sedayu pun menghentikan latihan itu. Meskipun Glagah Putih masih berminat, tetapi Agung Sedayu berkata, “Saat-saat latihanmu bukan hanya saat ini. Tetapi waktu yang akan kau pergunakan masih cukup lama, sehingga kau tidak boleh memaksa diri tanpa menghiraukan keadaan wadagmu.”

Glagah Putih tidak menjawab. Ia sudah mendengar kakaknya mengatakannya berpuluh-puluh kali jika ia menghentikan latihan.

Sabungsari yang melihat Glagah Putih kecewa, tersenyum sambil berkata, “Agaknya kau ingin menyelesaikan ilmumu sekarang juga?”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum.

“Beristirahatlah,” berkata Agung Sedayu kemudian.

Glagah Putih pun kemudian keluar sanggar. Ia berjalan beberapa saat diluar untuk mengeringkan keringatnya. Baru kemudian ia pergi kepakiwan untuk mandi.

“Luar biasa,” desis Sabungsari, “ternyata anak kurus itu memiliki tenaga dan kemauan yang luar biasa. Ilmunya cepat sekali maju dan bahkan telah mulai nampak kelebihannya yang akan dapat dikembangkan.”

“Kemauannya yang luar biasa itulah yang mendorongnya mempercepat peningkatan kemampuannya. Ia tidak mengenal lelah. Disiang hari ia mengembangkan kekuatan dan ketrampilan tubuhnya. Dimalam hari ia mempelajari unsur-unsur gerak dari ilmu yang disadapnya. Semuanya dilakukan dengan tekun dan bersungguh-sungguh tanpa melalaikan kerjanya sehari-hari di sawah dan pategalan.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Namun agaknya kegelisahan yang ada didalam hatinya dapat dilihat oleh Agung Sedayu pada kerut diwajahnya, sehingga karna itu, maka Agung Sedayu pun bertanya, “Sabungsari, apakah kau mempunyai keperluan khusus, atau sekedar melihat-lihat Glagah Putih berlatih seperti biasanya?”

Sabungsari termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku mempunyai kepentingan sedikit Agung Sedayu. Sebaiknya aku katakan kepadamu sebelum Glagah Putih hadir lagi disanggar ini.”

Wajah Agung Sedayu menegang. Sabungsari pernah mengatakan seperti yang dikatakannya itu. Kemudian mengajaknya berjalan-jalan menyusur sungai. Namun akhirnya ia harus mengadu ilmu dengan anak muda itu.

Tetapi saat itu Sabungsari bertanya, “Apakah kau mempunyai waktu sedikit saja untuk mendengarkan?”

“Katakanlah,” sahut Agung Sedayu.

Sabungsari masih tetap ragu-ragu. Namun akhirnya ia berkata, “Agung Sedayu. Ternyata bahwa dendam yang kau hadapi, masih membara di Jati Anom ini.”

Wajah Agung Sedayu menjadi semburat merah.

Namun ia tidak bertanya. Dibiarkannya Sabungsari meneruskan kata-katanya setelah ia melihat kepintu sekilas,” Agung Sedayu. Aku bukan satu-satunya orang yang menginginkan kematianmu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Terasa pedih dihatinya bagaikan disiram garam.

“Maafkan aku. Bukan maksudku membuatmu gelisah dan barangkali bingung. Tetapi aku hanya ingin sekedar memperingatkan agar kau tetap berhati-hati.”

“Darimana kau mengetahui hal itu? Apakah kau datang membawa beberapa orang kawan selain para pengikutmu? Mungkin anak orang-orang yang terbunuh di peperangan itu selain Ki Gede Telengan?”

Sabungsari menggeleng. Jawabnya, “Bukan mereka Agung Sedayu, meskipun masih ada hubungannya juga dengan pertempuran di lembah itu. Tetapi hubungan lewat jalur yang sudah berbelit-belit, bahkan sudah kusut, sehingga sulit untuk menelusurinya. Namun jelas, bahwa yang sekarang mengancam keselamatanmu adalah juga orang-orang yang berada didalam barisan orang-orang yang merindukan kembali masa-masa lampau tanpa mengingat perkembangan dan peredaran waktu.”

“Darimana kau tahu? Apakah mereka berhubungan dengan kau sebagai anak Telengan?”

Sabungsari menggeleng. Katanya, “Meskipun ayahku berada didalam barisan itu pula, tetapi aku datang karena dendamku pribadi.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dipandanginya Sabungsari dengan tajamnya, seolah-olah ia ingin melihat isi hati anak muda itu.

“Apakah kau mulai ragu ragu lagi tentang aku, Agung Sedayu?” bertanya Sabungsari kemudian.

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak Sabungsari. Tetapi aku benar-benar menjadi bingung. Apakah sebenarnya yang telah terjadi di Jati Anom, yang berhubungan dengan kehadiranku disini.”

“Agung Sedayu. Kau harus menyadari, bahwa justru karena pengabdianmu bagi tegaknya kemanusiaan, kau telah berdiri di ujung dendam yang membara dihati beberapa orang yang merasa kehilangan seperti aku.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia pun dapat menepuk dada dengan mengatakan, bahwa yang dilakukan itu adalah pengabdian terhadap peri kemanusiaan. Ia telah berjuang melawan kelaliman, ketidak adilan dan bahkan kesewenang-wenangan. Tetapi jika terbayang didalam angan-angan Agung Sedayu sikap Rudita yang memancarkan kejernihan budi, maka rasa-rasanya Agung Sedayu dihadapkan pada suatu bayangan tentang dirinya sendiri yang berwajah gelap meskipun di tangannya terdapat lampu yang menyala betapapun terangnya.

Beberapa saat lamanya Agung Sedayu berdiam diri. Yang mula-mula berbicara adalah Sabungsari menyambung kata-katanya, “Karena itu Agung Sedayu, kau harus selalu menjaga diri.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Yang dikatakan oleh Sabungsari itu adalah suatu keadaan yang tidak dapat diingkarinya. Bahwa ia memang berada dalam ancaman dendam yang tidak ada taranya.

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu kemudian, “kau nampaknya ingin menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan dendam itu. Katakanlah.”

Sabungsari termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Ya. Aku akan mengatakan sesuatu tentang dendam atas dirimu.”

“Katakanlah,” desis Agung Sedayu dengan nada dalam.

Sabungsari beringsut setapak. Sejenak ia memandang wajah Agung Sedayu yang nampak bersungguh-sungguh.

“Agung Sedayu,” berkata Sabungsari, “sebenarnya sudah sejak lama seseorang menghendaki kematianmu selain aku pada waktu itu. Aku sudah hampir mengatakan hal ini kepadamu, tetapi aku selalu ragu-ragu.”

“Sekarang kau tidak perlu ragu-ragu lagi. Aku tetap mempercayaimu,” sahut Agung Sedayu.

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Hampir tidak terdengar ia berdesis, “Terima kasih. Mudah-mudahan dengan demikian, kau akan dapat menjaga dirimu tanpa menimbulkan persoalan-persoalan baru yang dapat menggelisahkanmu.”

“Katakan,” Agung Sedayu menjadi tidak sabar lagi melihat keragu-raguan Sabungsari.

adbm-127-01Sabungsari mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Agung Sedayu. Pada waktu itu, seorang perwira didalam lingkungan keprajuritan Pajang telah mengancammu. Menurut perhitungannya, kau harus disingkirkan. Siapapun yang melakukannya. Pada waktu itu, aku yang juga sedang dibakar oleh dendam telah menyatakan diri untuk membunuhmu dengan tanganku. Tetapi ternyata bahwa aku tidak dapat melakukannya.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Sementara Sabungsari melanjutkan, “Tetapi ternyata yang terjadi adalah seperti ini. Perwira itu agaknya tidak sabar lagi. Ia telah datang kepadaku dan bertanya tentang kematianmu.”

Wajah Agung Sedayu menjadi semakin tegang. Sementara itu Sabungsari berkata pula, “Ada alasan, kenapa aku tidak segera melakukannya. Aku mengatakan, bahwa aku telah terperosok kedalam pertempuran yang membuat aku terluka parah melawan Carang Waja. Karena itu, maka aku terpaksa menunda rencanaku untuk membunuhmu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi kini ia menagih, apakah aku masih akan melakukannya.”

“Apa katamu,” bertanya Agung Sedayu.

“Aku minta waktu dua pekan untuk memulihkan kesehatanku karena luka-lukaku melawan Carang Waja. Yang dua pekan itu kini sudah hampir habis. Sementara itu aku masih selalu ragu-ragu, apakah yang sebaiknya aku lakukan tanpa membuatmu gelisah.”

Agung Sedayu termenung sejenak. Agaknya ia sedang mempertimbangkan apakah yang sebaiknya dilakukan.

Tiba-tiba saja Sabungsari terhenyak karena seperti yang diduganya, Agung Sedayu berkata, “Sabungsari. Betapapun kerasnya hati seseorang, namun ia tentu masih dapat mempertimbangkan pendapat orang lain. Aku akan menemuinya dan membicarakan, apakah yang sebenarnya dikehendaki sehingga ia berniat untuk menyingkirkan aku.”

Sabungsari menggigit bibirnya. Sejenak ia bagaikan membeku. Namun kemudian ia berkata, “Agung Sedayu. Aku sudah memperhitungkan, bahwa kau akan berbuat demikian. Kau akan datang menjumpainya dan mempersoalkan niat itu. Kau tentu menganggap bahwa orang itu akan dapat kau ajak berbicara, kemudian membuatnya menyadari kesalahan dan kekeliruan-nya.”

“Aku masih percaya akan hati nurani seseorang,” jawab Agung Sedayu.

“Kau keliru. Aku sendiri adalah orang yang keras hati. Yang tidak akan mungkin dapat menyelesaikan persoalanku denganmu hanya dengan berbicara. Mungkin kau berhasil membuat aku ragu-ragu. Tetapi aku masih akan tetap mencoba membunuhmu. Jika kemudian niat itu aku urungkan, seperti yang sudah aku katakan, karena aku mengakui kemenanganmu. Seandainya aku sekarang mencoba menantangmu lagi, akupun tentu akan kau kalahkan pula.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Ragu-ragu yang timbul dihati seseorang, adalah pertanda bahwa ia membuat pertimbangan. Kaupun sudah membuat pertimbangan-pertimbangan yang bening waktu itu. Jika tidak, meskipun kau telah aku kalahkan, tentu kau tidak akan berhenti berusaha. Mungkin kau akan mengulangi perang tanding, tetapi mungkin kau akan mengorbankan kejantananmu dan berusaha membunuh aku dengan licik. Tetapi kau tidak melakukan hal itu, justru karena kau mulai mendengar kata hatimu. Nuranimu.”

Sabungsari termangu-mangu sejenak. Ia memang menjadi ragu-ragu. Dan ia pun sama sekali tidak berniat untuk mengulangi usahanya, membunuh Agung Sedayu. Namun demikian ia ingin meyakinkan, bahwa usaha Agung Sedayu untuk berbicara langsung dengan Ki Pringgajaya adalah sangat berbahaya. Apalagi Sabungsari masih belum mengetahui, betapa tingkat ilmu yang dimiliki oleh orang itu.

Menilik sikap dan kepercayaannya kepada diri sendiri, maka Ki Pringgajaya adalah termasuk orang-orang yang pilih tanding, seperti orang-orang yang memimpin pasukan di lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu, termasuk ayahnya, Ki Gede Telengan.

Karena itu, maka katanya, “Agung Sedayu. Kau jangan menilai tingkah laku seseorang dengan tingkah lakumu sendiri. Jangan mengukur sikap seseorang dengan sikap dan pandangan hidupnya. Kau harus percaya bahwa ada orang yang sama sekali tidak dapat mengerti dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Lebih buruk lagi, bahwa ada orang yang memanfaatkan sikap orang lain yang dianggapnya suatu kelemahan.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya, sementara Sabungsari berbicara terus, “Tentu ada orang yang menganggap keragu-raguanmu, seribu macam pertimbangan-pertimbangan didalam hatimu sebelum kau berbuat sesuatu, juga usaha damaimu itu, sebagai suatu kelemahan. Dan tentu ada orang yang justru ingin memanfaatkannya. Menjebakmu dan kemudian berbuat sesuatu yang sangat jahat dan licik.” ia berhenti sejenak, lalu. “ingat Agung Sedayu, akupun pernah berbuat demikian.”

Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Namun kemudian ia bertanya, “Jadi apa yang baik menurut pertimbanganmu Sabungsari.”

“Aku belum tahu apa yang sebaiknya kau lakukan,” jawab Sabungsari, “jika bukan kau Agung Sedayu, mungkin aku menyarankan, agar datang saja kepadanya bersama beberapa orang saksi. Tantang berperang tanding dengan alasan yang dapat saja dicari-cari tanpa menyebutkan persoalan yang sebenarnya.”

“Apakah dengan demikian persoalannya dapat selesai? Bukankah selain Pringgajaya masih ada orang-orang lain yang dapat berbuat seperti itu? Apakah dengan demikian, aku harus menantang perang tanding setiap orang yang berdiri dipihak Ki Pringgajaya. Jika demikian, maka umurku akan aku habiskan diarena perang tanding tanpa dapat berbuat sesuatu yang berarti sepanjang hidupku bagi sesama.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Ada juga benarnya kata Agung Sedayu, bahwa dengan demikian persoalannya tentu masih belum selesai. Kematian Pringgajaya seandainya Agung Sedayu dapat memenangkan perang tanding itu, akan mengundang dendam yang lebih parah lagi dari lingkungannya terhadap Agung Sedayu.

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu, “apakah kau kira lebih baik aku melaporkannya kepada kakang Untara?”

“Jalan itu pun dapat ditempuh. Tetapi ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan. Jika kau datang kepadanya, Ki Pringgajaya tentu akan menjadi curiga, bahwa kau telah melaporkan persoalannya kepada Untara. Dengan demikian, maka ia akan dapat menghilangkan segala jejaknya untuk mengingkarinya. Jika kemudian ternyata kau tidak dapat membuktikannya, maka kau akan dapat dituduh memfitnahnya.”

“Tetapi bukankah kau akan dapat menjadi saksi?” bertanya Agung Sedayu, “bukankah kau mengetahui dan langsung berbicara dengan Ki Pringgajaya bahwa ia akan membunuhku?”

“Akupun harus dapat membuktikannya. Ki Pringgajaya pun akan dapat mengatakan, bahwa aku telah memfitnahnya dan mengadu domba antara Ki Pringgajaya dan kau.”

Agung Sedayu menarik napas dalam-dalam. Katanya, “Ternyata bahwa kau pun kini telah dijalari oleh penyakit ragu-ragu. Kaupun kini mempunyai seribu pertimbangan sebelum berbuat sesuatu.”

“Ada bedanya dengan keragu-raguanmu,” jawab Sabungsari, “kau ingin menghindari sentuhan pada perasaan orang lain. Kau tidak ingin menyakiti hati dan apalagi sampai pada suatu perselisihan yang dapat membawa maut, kecuali jika sudah tidak ada jalan lain untuk menghindar. Tetapi pertimbanganku lain. Aku justru mengetahui betapa liciknya seseorang yang tidak mengenal harga diri. Karena itu, aku tidak dapat menutup mata atas kemungkinan yang paling buruk dapat terjadi atasmu. Diarena perang tanding, atau di arena perang fitnah.”

“Aku tidak akan merendahkan Ki Pringgajaya dengan anggapan, bahwa ia adalah seorang yang licik dan pengecut.”

“Ia mempunyai landasan berdiri yang berbeda dengan aku. Aku datang karena aku merasa anak Ki Gede Telengan. Aku ingin menunjukkan bahwa aku adalah seorang yang memiliki kemampuan untuk mengalahkanmu. Karena itu aku tantang kau perang tanding. Sebenarnya perang tanding. Tetapi Ki Pringgajaya mempunyai landasan yang berbeda. Ia tidak perlu perang tanding dalam arti sebenarnya. Ia tidak perlu menunjukkan apakah ia mampu membunuhmu dengan tangannya atau tidak. Yang penting baginya dan bagi orang-orangnya, kau harus mati. Itu saja. Siapapun yang melakukan. Bahkan meskipun aku yang melakukannya. Seorang yang sama sekali tidak mempunyai sangkut paut secara langsung dengan kelompoknya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan suara datar ia bertanya, “Manakah yang lebih baik aku lakukan?”

Sabungsari merenung sejenak. Katanya, “Itulah yang membingungkan. Tetapi kita harus menemukannya, meskipun mungkin kita akan bertempur melawan mereka.”

“Kenapa bertempur?”

“Justru untuk membuktikan, bahwa kita, maksudku kau, harus membela diri. Jika pertempuran itu dapat dilihat oleh saksi yang jujur, maka kau akan terlepas dari tuduhan yang dapat menjeratmu meskipun kau adik Untara.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Memang sulit untuk melepaskan diri dari kemungkinan-kemungkinan yang paling buruk karena fitnah. Mungkin justru dengan tuduhan memfitnah.

Namun pembicaraan itu terhenti. Glagah Putih masuk kedalam sanggar sambil berkata, “Aku telah menyiapkan minuman. Masih panas, karena air baru saja mendidih. Marilah, lebih baik kita duduk di serambi.”

Agung Sedayu dan Sabungsari saling berpandangan sejenak. Namun mereka pun kemudian berdiri dan melangkah keserambi.

Beberapa saat lamanya mereka duduk sambil minum minuman hangat yang disiapkan oleh Glagah Putih. Mereka pun mengunyah beberapa potong makanan sambil berbincang. Tetapi yang mereka perbincangkan adalah keadaan yang mereka lihat dan mereka lakukan sehari-hari. Sementara Sabungsari juga sempat memberikan beberapa pendapatnya tentang latihan-latihan yang dilakukan oleh Glagah Putih.

Glagah Putih yang menganggap bahwa Sabungsari pun seorang anak muda yang mempunyai ilmu yang tinggi karena ia telah berhasil membunuh seorang yang mempunyai nama yang cukup besar dari Pesisir Endut, dengan senang hati mencoba memahaminya.

Ternyata bahwa yang dikatakan oleh Sabungsari itu pun sangat berguna baginya. Meskipun Sabungsari mempunyai sudut pengliatan dari arah yang agak berbeda dengan Agung Sedayu, namun justru dapat melengkapi pengertiannya tentang olah kanuragan.

Namun ternyata bahwa Sabungsari dan Agung Sedayu masih belum dapat menyelesaikan masalah mereka dengan tuntas. Ketika Sabungsari kemudian minta diri, ia sempat berbisik, “jangan mengukur Ki Pringgajaya dengan sifat dan watakmu sendiri.”

Agung Sedayu hanya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab.

Sepeninggal Sabungsari, Agung Sedayu selalu dibayangi oleh niat Ki Pringgajaya. Ada maksudnya untuk menyampaikan hal itu kepada gurunya, agar ia mendapat petunjuk apa yang sebaiknya dilakukan. Namun dengan demikian, ia harus pergi ke Sangkal Putung.

“Jarak itu tidak terlalu jauh,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya. “aku tidak perlu minta agar guru kembali ke padepokan apabila ia masih mempunyai beberapa kepentingan di Sangkal Putung. Tetapi apa yang harus aku lakukan, aku perlu mendengar pendapat guru.”

Karena itu, maka niat itu pun semakin lama mendesak didalam hatinya. Meskipun demikian, ia masih harus mempertimbangkannya.

Sementara itu Sabungsari pun menjadi semakin gelisah. Waktu yang diberikan oleh Ki Pringgajaya sudah hampir habis. Meskipun Ki Pringgajaya tidak akan menyalahkannya, atau bertindak terhadapnya karena ia tidak berbuat sesuatu atas Agung Sedayu, tetapi ancaman maut itu akan benar-benar tertuju kepada Agung Sedayu itu sendiri.

Sabungsari yang bukan sanak bukan kadang dari Agung Sedayu, karena ikatan jiwani yang terjalin dalam hubungannya yang dimulai dengan permusuhan itu ternyata telah membebaninya dengan perasaan ikut bertanggung jawab atas keselamatan Agung Sedayu, karena Sabungsari merasa jiwanya telah diselamatkan oleh anak muda itu.

“Jika bukan Agung Sedayu, aku tentu sudah mati di pinggir sungai itu. Kawan-kawanku pun tentu telah tumpas dipesisir ketika mengikutinya,” berkata Sabungsari didalam hatinya.

Karena itu, pada saat-saat menjelang batas waktu yang diberikan oleh Ki Priggajaya, ia menjadi semakin gelisah. Seolah-olah ia melihat Agung Sedayu telah berdiri di pinggir jurang kematian.

Sabungsari yang gelisah itu menjadi sangat kecewa ketika kemudian ia mendengar dari anak-anak muda yang tinggal dipadepokan, bahwa Agung Sedayu telah pergi ke Sangkal Putung.

“Tetapi ia tidak akan bermalam,” berkata anak muda itu.

“Apa Agung Sedayu tidak berpesan apapun bagiku?” bertanya Sabungsari.

“Tidak,” jawab anak muda itu, “Ia hanya mengatakan bahwa ia akan pulang meskipun mungkin agak malam.”

Sabungsari kemudian minta diri. Tetapi kepergian Agung Sedayu diikuti oleh Glagah Putih membuatnya gelisah. Karena Sabungsari sadar bahwa nyawa Agung Sedayu sedang terancam.

“Jika Ki Pringgajaya mendapat kesempatan, ia tidak akan menghiraukan waktu yang memang sudah hampir habis ini. Ia tidak akan memperhitungkan aku lagi, karena nampaknya kesabarannya benar-benar telah habis,” berkata Sabungsari kepada diri sendiri.

Dalam pada itu. Agung Sedayu ternyata benar-benar telah pergi ke Sangkal Putung. Kedatangannya memang agak mengejutkan. Tetapi kepada Swandaru ia tidak mengatakan alasan yang sebenarnya. Ia hanya mengatakan bahwa tiba-tiba saja ia ingin pergi ke Sangkal Putung.

“Itu wajar sekali,” Pandan Wangi lah yang menyahut, “tentu bukan karena Kiai Gringsing ada disini.”

Pandan Wangi mengaduh ketika terasa lengannya pedih dicubit oleh Sekar Mirah yang duduk disampingnya.

Tetapi ketika Agung Sedayu mengatakan bahwa ia tidak akan bermalam di Sangkal Putung, Swandaru bertanya, “Kenapa tergesa-gesa?”

Agung Sedayu tersenyum. Jawabnya, “Setiap saat jarak antara Sangkal Putung dan Jati Anom dapat aku tempuh dalam waktu singkat karena jarak itu tidak begitu panjang. Mungkin besok atau lusa, aku tiba-tiba saja ingin pergi kemari lagi.”

Namun pada saat-saat ia berdua dengan gurunya, maka persoalannya itu pun disampaikannya dengan hati-hati.

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ternyata hal itu membuatnya gelisah pula.

“Ki Pringgajaya adalah prajurit Pajang yang masih dalam kedudukannya. Ia seorang perwira yang mempunyai pengaruh di antara anak buahnya. Agaknya ia merasa memiliki kelebihan dari Untara meskipun ia berada dibawah pimpinan kakakmu,” berkata Kiai Gringsing.

“Itulah yang menggelisahkan guru,” berkata Agung Sedayu, “Sabungsari yang juga berada dilingkungan keprajuritan mengetahui hal itu sebelum aku mengalahkannya di pinggir sungai itu,” berkata Agung Sedayu.

Sejenak Kiai Gringsing termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Agung Sedayu. Kau harus berbicara dengan Untara, Pendapat Sabungsari ada juga benarnya. Tetapi kau dapat memberikan saran kepada Untara, agar ia tidak tergesa-gesa bertindak. Bahkan kau minta bantuan Untara, agar yang kau katakan itu dapat dibuktikan. Bukan sekedar tuduhan yang akan dapat disebut fitnah.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud gurunya. Justru Untara lah yang harus memberikan jalan kepadanya, sebagai seorang kakak terhadap adiknya. Ia tidak semata-mata melaporkan tanpa bukti, tetapi Untara harus membantunya, agar ia dapat membuktikan, bahwa Ki Pringgajaya benar-benar ingin membunuhnya.

Dengan demikian maka Agung Sedayu pun memutuskan untuk melakukan seperti yang dinasehatkan gurunya. Ia akan kembali ke Jati Anom untuk menemui kakaknya dan minta pendapatnya. Namun ia masih mempunyai sebuah pertanyaan kepada gurunya, “Guru, bagaimana jika Ki Pringgajaya sudah mencurigainya saat aku menjumpai kakang Untara, sehingga ia telah mempersiapkan dirinya untuk menghilangkan segala jejak dan kesan bahwa ia benar-benar ingin melakukan hal itu?”

“Mungkin sekali Agung Sedayu, tetapi aku kira kau tidak mempunyai jalan lain yang lebih baik dan tanpa menimbulkan persoalan yang gawat dengan prajurit Pajang,” berkata gurunya.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Agaknya memang tidak ada jalan yang lebih baik datang kepada kakaknya untuk menyampaikan persoalannya.

Pembicaraan itu pun terputus, ketika Glagah Putih datang mendekat dan bahkan duduk bersamanya. Namun persoalan yang dikemukakan oleh Agung Sedayu sebagian besar telah terjawab.

Seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu, maka berdua dengan Glagah Putih, mereka mohon diri menjelang senja. Ki Demang Sangkal Putung dan mereka yang berada di Sangkal Putung berusaha mencegahnya. Tetapi sambil tersenyum Agung Sedayu berkata, “Besok atau lusa aku sudah berada disini kembali.”

Dengan demikian maka keberangkatannya kembali ke Jati Anom tidak dapat dicegah lagi. Sebelum gelap, maka keduanyapun meninggalkan Sangkal Putung menuju ke Jati Anom.

Di perjalanan Agung Sedayu sempat mengenang masa remajanya. Ketika ia harus menempuh perjalanan kearah yang sebaliknya. Dari Dukuh Pakuwon ke Sangkal Putung dimalam hari, justru pada saat yang gawat, ketika pasukan Tohpati masih berada di sekitar Sangkal Putung.

Kini ia menempuh jalan yang berlawanan. Namun dalam saat yang gawat pula, karena seseorang sedang mengancam jiwanya.

“Mudah-mudahan aku sempat menyampaikan hal ini kepada kakang Untara,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya, “meskipun Sabungsari tidak sependapat.”

Demikianlah kedua orang itu berkuda menyelusuri ujung malam yang menjadi semakin gelap. Kunang-kunang di antara batang-batang padi nampak berkeredipan seperti reruntuhan bintang-bintang kecil yang bertebaran.

Di perjalanan keduanya tidak banyak berbicara. Glagah Putih lebih banyak merenung tentang dirinya sendiri. Ia memang merasa ketinggalan. Namun ia sudah bekerja keras. Dalam waktu yang terhitung tidak terlalu panjang, ia sudah mendapat kemajuan yang cukup banyak. Karena itu, maka Glagah Putih bukan lagi seorang anak yang dapat dianggap pupuk bawang. Ia sudah mulai dapat diperhitungkan baru dalam tataran permulaan.

Dalam pada itu, selagi Agung Sedayu dalam perjalanan, maka kegelisahan yang sangat telah mengguncangkan hati Sabungsari. Diluar sadarnya ia berjalan-jalan didepan baraknya oleh udara yang terasa panas. Namun, dengan jantung yang berdebar-debar ia melihat seorang prajurit yang dikenalnya sebagai pengikut Ki Pringgajaya keluar dari halaman barak diatas punggung kuda.

“He,” dengan serta merta Sabungsari menghentikannya, “kau akan kemana?”

Wajah prajurit itu menegang. Namun kemudian nampak sebuah senyum yang aneh dibibirnya. Dengan suara datar ia berkata, “Kami dipanggil Ki Pringgajaya.”

“Untuk apa?” bertanya Sabungsari.

“Kami tidak tahu,” jawab prajurit itu.

“Siapa yang kau maksud dengan kami?”

Orang itu tertegun. Namun kemudian nampak lagi senyumnya yang aneh bagi penglihatan Sabungsari.

Sepeninggal orang itu, Sabungsari termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja ia teringat, bahwa Agung Sedayu sedang pergi ke Sangkal Putung.

“Mungkin ia sedang dalam perjalanan kembali,” berkata Sabungsari didalam hatinya, “jika demikian, mungkin sekali Agung Sedayu berada dalam bahaya.”

Karena itu, maka Sabungsari pun kemudian segera kembali ke baraknya. Membenahi diri dan menyambar senjatanya. Dengan tergesa-gesa ia pergi kepada prajurit yang sedang bertugas untuk minta ijin menemui kenalannya di Jati Anom.

Tanpa curiga, maka dibiarkannya Sabungsari berkuda meninggalkan baraknya. Sabungsari sama sekali tidak menunjukkan kesan kegelisahan. Namun demikian kudanya berada di luar regol halaman baraknya, maka ia pun memacunya sekencang angin, menuju ketempat tinggal para perwira termasuk Ki Pringgajaya, yang tinggal tidak di rumah Untara.

Dengan hati yang berdebar-debar, Sabungsari berusaha untuk dapat berbicara dengan Pringgajaya. Karena hubungan yang khusus, maka Ki Pringgajaya pun kemudian justru memanggilnya masuk keruang tidurnya.

Sabungsari menjadi berdebar-debar ketika ia melihat dua orang prajurit telah berada di ruang itu. Namun ia menghilangkan segala kesan yang membayang diwajahnya. Menghadapi keadaan yang gawat itu, ia harus dapat mengendalikan perasaannya.

“Duduklah,” berkata Ki Pringgajaya.

Sabungsari yang menahan perasaannya itu pun kemudian duduk di sebelah prajurit yang dilihatnya berkuda didepan baraknya.

Sebelum Sabungsari bertanya, Ki Pringgajaya telah berkata, “Sabungsari. Waktuku sudah habis.”

“Belum, Ki Pringgajaya. Aku masih mempunyai sisa satu malam dan satu hari besok.”

Ki Pringgajaya menggeleng. Jawabnya, “Sudah terlalu pendek untuk melaksanakannya. Saat ini kami berencana sangat baik. Kami akan melakukannya sendiri. Kau jangan mencoba mencegahnya agar kau tidak menyesal. Mungkin kau akan menempuh banyak jalan untuk mencari kepuasan yang mungkin tidak akan pernah kau dapatkan, karena justru mungkin kaulah yang akan mati jika kau berperang tanding melawan Agung Sedayu.”

“Tidak,” potong Sabungsari, “aku berhasil membunuh Carang Waja. Dalam kesempatan yang sama, yang pernah didapat oleh Agung Sedayu, ia memang dapat mengalahkannya, tetapi tidak membunuhnya.”

Ki Pringgajaya mengerutkan keningnya. Sekilas ditatapnya wajah Sabungsari yang bersungguh-stmgguh. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Mungkin keadaanmu lain dengan Agung Sedayu. Jika Agung Sedayu tidak selalu dibayangi oleh keragu-raguan, maka ia tentu akan dapat membunuh Carang Waja. Tetapi agaknya ia tidak melakukannya.”

“Itu hanya alasan. Tetapi jika aku mendapat kesempatan, aku akan mencobanya. Jika aku yang harus mati, apaboleh buat.”

Tetapi Ki Pringgajaya menggeleng. Katanya, “Itu tidak perlu Sabungsari. Aku tidak mempunyai waktu lagi untuk mencoba-coba.”

“Tetapi akupun tidak mau kehilangan kesempatan,” bantah Sabungsari.

“Jangan memaksa aku untuk memaksamu. Aku tahu kau mempunyai kelebihan yang sukar dicari bandingnya. Tetapi aku bukan anak-anak yang dipasang disini tanpa arti. Jika kau memaksa, aku pun harus berbuat sesuatu untuk mencegahmu. Bahkan seandainya kau berhasil mengalahkan aku, maka kau adalah buruan, karena kau adalah seorang prajurit dalam tataran yang paling rendah, meskipun kau sedang disoroti karena kau telah berhasil melakukan sesuatu yang akan dapat mengangkat derajatmu. Sedangkan aku adalah seorang perwira. Apapun alasannya, jika seorang prajurit berani melawan seorang perwira, maka ia akan mendapatkan hukuman yang berat.”

Darah Sabungsari mulai menjadi panas. Tetapi ia harus menahan diri sejauh-jauh dapat dilakukan.

Namun ia menjadi heran, bahwa Ki Pringgajaya nampaknya tidak tergesa-gesa pergi. Jika benar ia ingin mencegat Agung Sedayu di perjalanan, seharusnya ia dengan tergesa-gesa membawa anak buahnya menyongsong perjalanan anak muda itu apabila ternyata ia belum kembali kepadepokannya.

Meskipun demikian Sabungsari tidak bertanya. Bahkan ia masih berusaha untuk mencegah rencana Ki Pringgajaya, katanya, “Ki Pringgajaya. Aku dapat mencegah dengan cara lain. Aku dapat melaporkannya kepada Ki Untara.”

Tetapi Ki Pringgajaya justru tertawa. Katanya, “Kau akan melaporkan kepada Ki Untara agar Ki Untara mencegah usaha pembunuhan ini, kemudian memberi kesempatan kepadamu untuk melakukannya?”

“Apakah Ki Untara tahu bahwa aku akan membunuhnya?”

“Aku masih mempunyai mulut.”

“Tetapi malam ini Ki Pringgajaya akan ditangkap. Segala pembelaan dan tuduhanmu terhadapku, tidak akan didengar.”

Suara tertawa Ki Pringgajaya justru semakin keras. Katanya, “Kau memang seorang anak muda yang pilih tanding. Tetapi kau terlalu dungu. Aku sekarang akan menghadap Ki Untara dan berbicara tentang kesejahteraan pasukan Pajang di Jati Anom. Ki Untara senang sekali membicarakannya, sehingga lewat tengah malam aku baru selesai dengan pembicaraan yang tidak tentu ujung pangkalnya itu.”

“Tetapi Ki Pringgajaya akan melakukannya sekarang?”

“Membunuh Agung Sedayu?”

“Ya.”

Pringgajaya masih tertawa berkepanjangan. Katanya, “Apakah harus dengan tanganku sendiri? Aku bukan seorang yang cengeng seperti kau. Seolah-olah dengan demikian maka kau akan menjadi seorang pahlawan. Tetapi aku dapat berbuat dengan cara apapun juga. Yang penting bagiku, maksudku dapat tercapai.”

Wajah Sabungsari menjadi semburat merah. Namun ia segera berusaha menghapus kesan itu. Bahkan kemudian kepalanyapun tertunduk. Perlahan-lahan terdengar ia bergumam, “Sia-sialah yang aku lakukan selama ini. Aku sudah berpura-pura mendekatinya, menjadi sahabatnya untuk menjajagi kemampuannya. Ketika aku sudah yakin dapat melakukannya, maka kesempatan itu direnggut dari tanganku.”

“Jangan merengek, karena kau bukan anak-anak lagi. Kau terlalu lamban dan tidak mempunyai gairah perjuangan yang tinggi. Mulailah sejak sekarang. Lakukan yang dapat segera kau lakukan, sehingga kau tidak akan kecewa.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku menyesal sekali. Tetapi aku masih ingin minta kesempatan sekali ini. Bawalah aku menemui Agung Sedayu untuk berperang tanding. Jika aku mati, lakukan rencanamu.”

Ki Pringgajaya mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak tahu pasti, apakah Agung Sedayu sekarang belum mati. Aku memanggil beberapa orang pengikutku untuk menengok akhir dari rencana kami, sementara aku pergi menghadap Ki Untara.”

“Bawa aku serta. Jika belum terjadi, berilah kesempatan aku melakukannya. Bukankah tidak ada bedanya bagi Ki Pringgajaya,” berkata Sabungsari kepada prajurit yang ada di dalam ruang itu.

Ki Pringgajaya termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Tetapi jika kau mati, jangan menyesal dan jangan menyalahkan kami.”

“Itu tanggung jawabku sendiri. Aku tidak tahu akibat apakah yang akan menimpa diriku, seandainya Ki Untara tahu, bahwa aku telah membunuh Agung Sedayu. Mungkin aku akan lari dan kembali kepadepokanku.”

Ki Pringgajaya berpikir sejenak. Lalu katanya, “Aku beri kau kesempatan. Pergilah. Tetapi jika Agung Sedayu telah mati, kau jangan membunuh diri dengan melepaskan kemarahanmu kepada orang-orangku yang telah membunuhnya. Mereka adalah orang-orang yang tidak ada duanya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan seperti Carang Waja, meskipun tidak dengan ilmu sulapan yang mengaburkan perhatian lawan. Tetapi orang-orangku bertempur dengan ilmu seorang jantan.”

Sabungsari tidak banyak berbicara lagi. Ia pun kemudian berdiri sambil berkata, “Tunjukkan kepadaku, dimana Agung Sedayu dapat ditemui.”

“Orang-orangku mencegatnya. Tetapi jika Agung Sedayu telah lampau, maka harus dibuat pertimbangan dan rencana baru.”

Sabungsari tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun kemudian minta diri. Bersama dengan pengikut Pringgajaya yang seorang ia menuju ketempat orang-orang yang mencegat Agung Sedayu.

Di sepanjang jalan, Sabungsari menjadi berdebar-debar. Ia harus berbuat sesuatu. Menurut perhitungannya, kehadirannya tentu akan membuat keadaan Agung Sedayu lebih baik. Mungkin seperti yang pernah terjadi, Glagah Putih memerlukan perlindungan, karena kepergian Agung Sedayu disertai dengan Glagah Putih pula.

Dalam pada itu, dua orang dengan gelisah berdiri di pinggir jalan. Kadang-kadang mereka berjalan mondar mandir, kadang-kadang mereka duduk bersandar batang kayu yang tumbuh di pinggir jalan. Setiap kali mereka memperhatikan bunyi yang lamat-lamat mereka dengar.

“Anak itu sudah lewat,” berkata salah seorang dari keduanya.

“Tidak mungkin. Kita berada disini sejak senja,” jawab yang lain.

“Bagaimana jika keduanya telah lewat sebelum senja?” bertanya yang seorang.

Kawannya terdiam sejenak. Dengan gelisah ia memandang kedalam gelapnya malam. Katanya, “Tidak. Aku yakin, sebentar lagi mereka akan lewat.”

Kawannya tidak menyahut lagi. Keduanyapun kemudian duduk diatas tanggul parit. Sambil memandang air yang mengalir, yang seorang berkata, “Apa katamu tentang anak muda itu.”

Kawannya tersenyum. Jawabnya, “Ia adalah anak muda yang luar biasa. Anak itu tidak dapat dikalahkan oleh Carang Waja. Apakah kau cemas menghadapinya?”

Kawannya tertawa pendek. Desisnya, “Jika aku cemas, lebih baik aku tidak datang ketempat ini. Aku sudah tahu, bahwa anak itu memiliki kelebihan. Tetapi akupun mengenal diriku sendiri. Bahkan seandainya Carang Waja masih hidup, aku bersedia untuk diperbandingkan dengan cara apapun juga.”

Kawannya tersenyum semakin lebar. Katanya, “Kita saling mengenal. Tetapi aku percaya bahwa kita masing-masing tidak berada dibawah tataran Carang Waja. Perguruan daerah Pesisir Selatan itu semakin lama namanya memang semakin suram. Sepasang Iblis dari Pesisir Endut itu tidak lagi mampu mempertahankan hidupnya. Kemudian Carang Waja mati oleh prajurit ingusan dari Jati Anom itu.”

“Tetapi Pringgajaya sangat hati-hati. Kita berdua bersama-sama harus menyelesaikan Agung Sedayu. Ia tidak yakin bahwa salah seorang dari kita dapat melakukannya, meskipun guru pernah memastikan hal ini kepada Ki Pringgajaya.”

“Perwira yang bodoh itu memang terlalu berhati-hati. Tetapi ada juga baiknya bagi kita. Pekerjaan kita tidak terlalu berat,” desis yang lain, “sementara kita masing-masing akan menerima upah yang sama.”

“Kepala anak itu memang mahal. Tidak mudah melakukan seperti yang dikehendaki oleh Ki Pringgajaya. Ia tentu akan mengirimkan orangnya untuk meyakinkan, apakah kita sudah berhasil membunuh anak itu atau tidak.”

“Tetapi jika anak itu sudah lewat atau membatalkan niatnya untuk kembali ke Jati Anom atau karena apapun juga, kita harus menunggu lagi di Jati Anom. Menjemukan sekali.”

“Jika ia tidak lewat hari ini, aku akan minta kepada Ki Pringgajaya, agar kita diwenangkan untuk mencari cara apapun juga yang baik menurut kita. Tidak usah menunggu kesempatan seperti sekarang ini. Kita dapat datang ke padepokannya, justru gurunya tidak ada. Atau cara apapun yang kita pilih sendiri.”

“Prajurit yang berjanji untuk membunuhnya itu tidak juga dapat melakukannya sampai batas waktunya berakhir.”

“Belum berakhir. Tetapi Ki Pringgajaya sudah tidak telaten lagi menunggunya.”

Pembicaraan untuk mengusir kejemuan itu terputus. Mereka serentak berdiri karena mereka mendengar derap kaki kuda.

“Mereka datang,” hampir berbareng keduanya berdesis.

Tetapi keduanya termangu-mangu. Ternyata derap kaki kuda itu datang dari arah yang berbeda.

“Dari Jati Anom. Bukan dari Sangkal Putung.”

“Tentu prajurit Pringgajaya yang ingin mengetahui, apakah kami sudah berhasil membunuh anak itu.”

“Gila,” geram kawannya, “kenapa begitu tergesa-gesa. Ia justru akan dapat menggagalkan rencana kita.”

“Ia hanya akan melihat. Kemudian akan pergi meninggalkan kita disini. Atau mungkin orang lain yang lewat, atau malahan prajurit yang sedang meronda.”

“Lebih baik kita bersembunyi. Aku tidak senang ada orang lain yang melihat kita dan bertanya tentang kita.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun tidak membantah.

Karena itu, maka kedua orang itu pun kemudian meloncati parit dan bersembunyi dibalik rimbunnya belukar di pinggir jalan. Sementara suara derap kaki kuda itu semakin lama menjadi semakin dekat.

Dari balik rimbunnya perdu, keduanya dapat melihat dua ekor kuda mendekat. Dalam keremangan malam, mereka tidak segera dapat mengenal, siapakah penunggangnya.

Namun keduanya pun kemudian yakin, bahwa kedua orang itu tentu mempunyai hubungan dengan Ki Pringgajaya, karena keduanya pun kemudian berhenti tepat pada tanda-tanda yang telah disepakati.

Ketika keduanya telah meloncat turun, salah seorang berkata, “Disini seharusnya mereka menunggu.”

adbm-127-02Sebelum yang lain menyahut, maka kedua orang yang menunggu itu telah berloncatan dari balik gerumbur sambil mendekam. Salah seorang dari mereka berkata, “He, apakah kau diutus oleh Ki Pringgajaya.”

“Ya,” sahut prajurit itu, “aku datang dengan seorang prajurit yang bernama Sabungsari. Yang pernah dikatakan oleh Ki Pringgajaya.”

“He, anak inikah yang akan membunuh Agung Sedayu dalam perang tanding?” bertanya salah seorang dari kedua orang itu.

“Ya.”

Keduanya tiba-tiba saja tertawa menyakitkan hati. Tetapi Sabungsari menahan diri sehingga giginya tidak gemeretak.

Namun prajurit yang mengantar Sabungsari itu berkata, “Anak inilah yang telah membunuh Carang Waja.”

“Ya. Ki Pringgajaya juga sudah mengatakan. Tetapi apakah artinya Carang Waja dalam liarnya rimba ilmu kanuragan. Ia termasuk orang yang disegani. Tetapi sebenarnya ia tidak memiliki kemampuan yang berarti. Ia hanya mampu menipu lawannya dengan ilmu gilanya itu. Tetapi jika lawannya memiliki sedikit kewaspadaan penglihatan batin, ia tidak akan terpengaruh.”

Sabungsari menjadi berdebar-debar mendengar pembicaraan orang itu. Ternyata orang itu mengetahui, bahwa Carang Waja memiliki ilmu yang dapat mempengaruhi perasaan lawannya. Yang merasa seolah-olah bumi telah berguncang, apabila ia menghentakkan kakinya pada tanah tempatnya berpijak. Dengan demikian Sabungsari dapat menilai, bahwa kedua orang itu tentu orang-orang yang memiliki kemampuan yang cukup.

Namun demikian Sabungsari pun berkata, “Ki Sanak. Berilah aku kesempatan. Aku berharap dapat membunuh Agung Sedayu. Seandainya tidak, maka kau akan mendapat kesempatan berikutnya. Setelah bertempur melawan aku, maka kekuatannya tentu sudah susut. Dengan mudah kalian berdua akan dapat membunuhnya.

“Aku tidak perlu bantuanmu. Aku dan saudaraku ini tentu akan dengan mudah membunuhnya. Kami berdua tidak akan melepaskan kesempatan ini. Dengan membunuh Agung Sedayu, kami akan mendapat upah yang tinggi.”

“Upah itu tidak akan berubah,” berkata Sabungsari, “kalian akan tetap mendapat upah, siapapun yang telah membunuhnya.”

“Omong kosong. Jika kau yang membunuhnya, maka Pringgajaya akan ingkar. Agaknya perhitungan itulah yang membuat Pringgajaya menunggu. Seandainya kau tidak terlalu lamban dan berhasil membunuh Agung Sedayu, maka niat Ki Pringgajaya menyingkirkan Agung Sedayu terlaksana, sementara ia tidak kehilangan upah sekeping uangpun.”

“Aku akan menjamin,” berkata Sabungsari, “upah itu akan tetap kalian terima siapapun yang akan membunuh Agung Sedayu.”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Jika itu yang kau kehendaki terserah. Agaknya Ki Pringgajaya pun sudah setuju karena pengikutnya telah mengirimkan kau kemari. Tetapi jika kau mati oleh Agung Sedayu, itu bukan salah kami berdua. Kami tidak akan menolongmu sampai kau benar-benar mati. Baru kemudian kami berdua akan berbuat sesuatu.”

“Terserah kepadamu,” desis Sabungsari, “tetapi aku minta kesempatan yang pertama.”

Prajurit yang mengantar Sabungsari itu pun kemudian berkata, “Terserah apa yang akan kalian lakukan. Aku akan menunggu ditempat terpisah. Ki Pringgajaya sudah berpesan, agar yang terjadi ini tidak menyangkut masalah keprajuritan. Jika Sabungsari berbuat sesuatu itu adalah tanggung jawab pribadinya.”

“Menymgkirlah,” berkata salah seorang dari kedua orang yang mencegat Agung Sedayu, “jika anak ini gagal dan justru mati, kami berdua akan menyelesaikan anak Jati Anom yang sombong itu.”

Prajurit yang mengantar Sabungsari itu pun kemudian meninggalkan ketiga orang yang menunggu Agung Sedayu dan Glagah Putih. Mereka yakin bahwa keduanya akan lewat, karena mereka telah mencari keterangan tentang hal itu kepadepokan kecil anak muda itu.

Ketika mereka kemudian duduk ditepi jalan, setelah Sabungsari menyembunyikan kudanya, maka kegelisahan yang tajam telah mencengkam hati anak muda itu. Sekali-sekali ia memandang kedua orang yang duduk di sebelahnya. Nampaknya keduanya adalah orang-orang yang memang dapat diandalkan.

Dengan demikian, maka dada Sabungsari pun menjadi semakin berdebar-debar. Ia mulai membayangkan, apa yang kira-kira terjadi.

Ketika orang itu mengangkat kepalanya, ketika mereka mendengar derap kaki kuda lamat-lamat dikejauhan. Disela-sela desir angin yang lembut mereka mendengar derap kaki kuda yang semakin lama menjadi semakin jelas.

“Aku mendengar derap mereka datang,” desis salah seorang dari kedua orang yang mencegat Agung Sedayu itu.

“Ya,” sahut yang lain, “kita harus bersiap-siap.” Lalu yang seorang berpaling kepada Sabungsari sambil bertanya, “Bagaimana? Apakah kau akan meneruskan niatmu, berperang tanding dengan adik Untara itu.”

“Ya,” jawab Sabungsari, “aku sudah membulatkan tekadku.”

“Terserahlah kepadamu. Yang penting bagi kami, upah itu sama sekali tidak kurang sekeping pun siapapun yang melakukannya.”

“Aku bertanggung jawab.”

“Jika kau mati.”

“Itu lebih jelas lagi. Kalian berdualah yang benar-benar telah membunuhnya, sehingga perjanjian kalian dengan Ki Pringgajaya tidak berubah,” jawab Sabungsari.

Yang terdengar salah seorang dari kedua orang itu tertawa. Katanya, “Kau terlalu sombong anak muda. Sebaiknya kau tidak usah melakukan perang tanding. Jika kau ingin melihat Agung Sedayu mati, marilah kita bertiga menyelesaikannya. Aku mendengar dari Ki Pringgajaya, bahwa kau didorong oleh dendam yang tidak tertahankan, karena ayahmu terbunuh. Sedangkan aku bernafsu membunuhnya karena upah yang tinggi. Jika kita lakukan bersama, maka tugas kita akan menjadi ringan, dan kita yakin bahwa anak itu akan benar-benar mati malam ini.”

Sabungsari merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku minta ijin untuk melakukannya terlebih dahulu. Jika kalian melihat kemungkinan aku gagal, terserah.”

“Kami tidak akan menolong,” yang seorang menyahut dengan serta-merta, “jika perang tanding sudah dimulai, maka kami akan menunggu sampai salah seorang dari kalian mati. Kecuali jika sejak semula kita sudah sepakat untuk bersama-sama membunuhnya.”

Sabungsari memandang keduanya berganti-ganti, sementara derap kaki kuda itu menjadi semakin dekat.

Tiba-tiba saja Sabungsari berdiri sambil menggeram, “Aku akan membunuhnya. Aku akan membakarnya dengan sorot mataku sampai hangus.”

Kedua orang itu tertawa. Yang seorang berkata, “Aku sudah mendengar dari Ki Pringgajaya, bahwa sorot matamu telah berhasil membunuh seekor anak kambing. Tetapi Agung Sedayu bukan seekor anak kambing. Ia adalah seekor banteng yang garang.”

“Aku tidak peduli,” geram Sabungsari, “tunggulah. Lihatlah bagaimana aku membantainya disini dengan penuh dendam dan kebencian. Aku tidak dapat berbuat lain. Jika aku dapat membunuhnya, aku adalah anak yang telah menjunjung harga diri keluarga. Tetapi jika aku mati, maka aku mati dalam pengabdian bagi nama baik keluargaku. Aku akan mati sebagai seorang anak laki-laki.”

Kedua orang itu termangu-mangu. Mereka melihat mata Sabungsari bagaikan memancarkan api dari jantungnya yang membara. Karena itu, maka mereka pun kemudian percaya, bahwa Sabungsari benar-benar ingin mengadu ilmu dengan anak muda yang namanya menggetarkan daerah Selatan itu.

“Sabungsari,” berkata salah seorang dari kedua orang itu, “aku sudah mendengar betapa anak muda yang bernama Agung Sedayu itu memiliki kemampuan yang tidak terduga. Tetapi akupun juga sudah mendengar bahwa kau memiliki kelebihan dari kebanyakan prajurit. Jika kau memang berkeras, terserah kepadamu. Tetapi yang kau lakukan adalah tanggung jawabmu sendiri. Aku akan melakukan tugasku setelah perang tanding yang kau kehendaki itu berakhir. Jika Agung Sedayu tidak berhasil kau bunuh, maka kami berdualah yang akan membunuhnya.”

Sabungsari tidak menjawab. Tetapi ia berdiri tegang di pinggir jalan. Sementara derap kaki kuda itu semakin lama menjadi semakin jelas.

Dengan kaki renggang dan dada tengadah Sabungsari berdiri tegak. Dengan suara datar ia menggeram, “Tidak ada orang lain yang dapat membunuhnya kecuali Sabungsari.”

Kedua orang itu justru menepi. Mereka berdiri termangu-mangu. Mereka ingin melihat, apakah yang akan dilakukan oleh Sabungsari atas Agung Sedayu. Anak muda yang bersenjata cambuk itu.

Sejenak kemudian, maka derap kaki kuda itu pun telah menjadi sangat dekat. Dua. bayangan orang yang menunggang kuda telah nampak dalam keremangan malam.

Dalam pada itu, Sabungsari pun segera meloncat ketengah jalan sambil berteriak garang, “berhenti. Aku disini Agung Sedayu.”

Agung Sedayu yang datang berkuda itu terkejut. Karena itu, maka ia pun segera menarik kendali kudanya. Demikian pula Glagah Putih yang berkuda disampingnya. Sementara mereka sedang berangan-angan, maka tiba-tiba saja mereka melihat bayangan seseorang meloncat ketengah jalan. Meskipun mereka telah melihat dalam keremangan malam, orang yang berdiri di pinggir jalan, namun mereka tidak menyangka, bahwa tiba-tiba saja orang itu meloncat sambil berteriak menghentikannya.

Agung Sedayu dan Glagah Putih berhenti beberapa langkah dihadapan Sabungsari. Kuda mereka yang terkejut meringkik memecah sepinya malam. Namun sejenak kemudian malam telah menjadi hening kembali.

“Sabungsari,” desis Agung Sedayu.

“Ya. Aku Sabungsari,” jawab anak muda yang berdiri sambil bertolak pinggang ditengah jalan.

“Kenapa kau disini?” bertanya Glagah Putih.

Sejenak Sabungsari termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kami telah siap untuk membunuhmu.”

Agung Sedayu dan Glagah Putih terkejut. Agung Sedayu yang menganggap bahwa Sabungsari benar-benar telah menyadari dirinya, tiba-tiba saja kini ia berdiri ditengah jalan sambil bertolak pinggang. Sementara Glagah Putih yang sama sekali belum mengetahui bahwa Sabungsari pernah mengancam hidup Agung Sedayu itu pun terkejut pula. Nampaknya Sabungsari adalah seorang yang sangat baik bagi Agung Sedayu. Namun tiba-tiba anak muda itu kini berdiri ditengah jalan dengan tangan dipinggang.

Dalam pada itu. Agung Sedayu pun kemudian meloncat turun dari kudanya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Aku tidak mengerti Sabungsari. Apakah kau berkata sebenarnya.”

“Ya. Aku berkata sebenarnya. Aku telah datang ketempat ini untuk menunggumu, karena aku mengerti bahwa kau tidak akan bermalam di Sangkal Putung. Aku sudah menunda rencanaku beberapa hari. Kini aku sudah benar-benar sembuh dari luka-lukaku saat aku bertempur melawanmu dan kemudian membunuh Carang Waja. Kini datang giliranmu. Kaulah yang kini akan aku bunuh.”

“Sabungsari,” Glagah Putih pun kemudian turun pula dari kudanya, “kata-katamu membuat aku menjadi bingung.”

“Aku tidak mempunyai persoalan apapun dengan kau. Pergilah sebelum kau ikut terbantai disini,” sahut Sabungsari.

“Tetapi tingkah lakumu terlalu aneh bagiku,” desis Glagah Putih.

“Kau masih terlalu kanak-kanak untuk mengerti. Aku akan membunuh Agung Sedayu karena ia telah membunuh ayahku. Kau jangan turut campur. Kau bagiku adalah anak-anak ingusan yang tidak berarti.” bentak Sabungsari, “setelah aku berhasil membunuh Carang Waja, maka aku pun yakin, bahwa aku akan dapat membunuhmu.”

Glagah Putih menjadi semakin tegang. Ketika ia berpaling memandang wajah Agung Sedayu, maka yang nampak adalah wajah yang membeku didalam gelap.

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu kemudian, “kau membuat aku menjadi bingung.”

“Jangan kau ratapi nasibmu. Aku datang bersama dua orang yang tidak tanggung-tanggung. Mereka adalah orang-orang yang tidak ada duanya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan tidak kalah dari Carang Waja. Nah, apa katamu sekarang? Jika kau ingin menangis, menangislah. Jika kau ingin berpesan, berpesanlah kepada Glagah Putih.”

Agung Sedayu masih termangu-mangu. Seolah-olah ia tidak percaya kepada peristiwa yang dihadapinya. Seolah-olah ia bermimpi bertemu dengan Sabungsari dalam waktu surut beberapa pekan yang lewat. Pada saat Sabungsari masih dibakar oleh api dendam yang menyala didadanya. Tetapi pada suatu saat, api itu sudah surut. Namun kini tiba-tiba api itu telah menyala kembali. Tiba-tiba saja Sabungsari telah berdiri bertolak pinggang, sambil menantangnya berperang tanding.

“Apakah karena ada dua orang itu, maka Sabungsari telah kambuh lagi dengan angan-angan hitamnya,” bertanya Agung Sedayu didalam hatinya. Namun pertanyaan itu tidak segera dapat dijawabnya. Ia masih melihat Sabungsari berdiri tegak seperti tonggak.

Dalam pada itu, Glagah Putih yang terheran-heran melihat sikap itu, maju selangkah sambil bertanya, “Tetapi bukankah kau Sabungsari yang aku kenal itu? Bukankah kau yang sering datang dipadepokan?”

“Ya. Aku. Apakah kau sudah gila, sehingga kau tidak mau kenal aku lagi?”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa Sabungsari pernah membunuh seseorang yang bernama Carang Waja yang memiliki kemampuan luar biasa.

Karena itu, Glagah Putih benar benar menjadi cemas. Ketika ia memandang dua orang yang berdiri di pinggir jalan, maka detak jantungnya seakan-akan menjadi semakin cepat. Keduanya benar benar nampak garang dan kasar.

Dalam pada itu. Agung Sedayu yang masih termangu-mangu itu pun kemudian berkata, “Sabungsari. Aku benar benar tidak mengerti sikapmu. Tetapi kita sudah saling mengenal. Bukan saja kau mengenal namaku dan aku mengenal namamu. Tetapi kau mengetahui apa yang mampu aku lakukan dan aku mengetahui apa yang mampu kau lakukan.”

“Benar,” Sabungsari hampir berteriak, “tetapi kau tidak mengenal keduanya. Kau tidak mengenal kemampuannya.” Sabungsari berhenti sejenak, lalu. “keduanya adalah orang-orang yang pilih tanding, yang telah menyediakan diri untuk membunuhmu. Keduanya adalah orang-orang yang telah di upah oleh Ki Pringgajaya.”

“Sabungsari,” kedua orang itu berteriak hampir berbareng.

“Kenapa?” bertanya Sabungsari, “bukankah benar kalian diupah oleh Ki Pringgajaya untuk membunuh Agung Sedayu.”

“Itu tidak perlu kau katakan kepada siapapun.”

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s