ADBM2-128

<<kembali | lanjut >>

DADA Agung Sedayu berdebar ketika ia melihat tangan itu bergerak. Seperti yang diduganya, sebuah cakram telah meluncur mengarah ke keningnya. Karena itu, maka dengan tangkasnya pula, ia menggerakkan cambuknya tepat menghantam cakram yang meluncur kearahnya, sehingga cakram itu terlempar kesamping.

Tetapi sekejap kemudian cakram berikutnya telah menyusul. Agung Sedayu masih sempat menghantam cakram itu dengan ujung cambuknya. Namun ketika cakram yang ketiga meluncur pula, maka yang dapat dilakukan oleh Agung Sedayu adalah meloncat menghindar.

“Gila,” akhirnya Agung Sedayu menggeram. Ia tidak mempunyai kesempatan meloncat mendekat sambil menghentakkan cambuknya. Cakram itu dapat mematuknya setiap saat. Semakin dekat, semakin berbahaya, karena kesempatan untuk menghindar dan menangkis menjadi semakin pendek.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Ia melihat betapa Sabungsari telah membunuh lawannya dengan sorot matanya. Sejenak ia mulai digelitik oleh niatnya untuk merampungkan pertempuran itu dengan cara yang sama, seperti yang dilakukan oleh Sabungsari.

Namun Agung Sedayu masih ragu-ragu. Ia masih ingin menemukan cara yang lain sehingga cara itu tidak perlu dipergunakan. Meskipun ia menjadi gelisah pula karena keadaan Glagah Putih, namun ia masih mencoba cara lain untuk melawan cakram yang setiap datang meluncur menyambarnya.

“Ia membawa cakram dalam jumlah tidak terbatas,” berkata Agung Sedayu didalam hati. Namun kemudian, “tetapi di jalan ini pun berserakkan batu yang jumlahnya tidak terbatas pula.”

Karena itu, maka ketika sebuah cakram lagi meluncur menyambarnya, maka Agung Sedayu telah meloncat menghindar sambil merendahkan diri. Namun dalam pada itu, tangannya telah menggenggam sebutir batu pula, sebesar telur ayam.

Sejenak Agung Sedayu menunggu. Ketika ia melihat sebuah cakram lagi menyambarnya, maka ia pun segera meloncat menghindar. Cambuknya berada di tangan kirinya, sementara tiba-tiba saja dari tangan kanannya telah meluncur sebuah batu sebesar telur ayam.

Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang memiliki kemampuan bidik yang luar biasa. Ia mampu membidik sebuah batu yang meluncur diudara. Ia bahkan dapat mengenai anak panah dengan anak panah selagi anak panah itu terbang melayang di udara.

Tetapi sasaran Agung Sedayu saat itu bukannya benda mati. Tetapi seorang yang memiliki ilmu dan kemampuan bergerak yang luar biasa. Sehingga dengan demikian, betapapun lawannya terkejut karena tiba-tiba saja mendapat serangan dengan sebuah lontaran seperti ia melontarkan cakramnya, namun ia masih juga mampu meloncat menghindarinya.

Namun dalam pada itu, serangan Agung Sedayu itu ternyata telah mempengaruhi serangan lawannya. Ia kemudian harus berhati-hati, karena Agung Sedayu berusaha mengimbanginya dengan serangan dari jarak yang jauh dengan lemparan-lemparan batu.

Dalam pada itu, selagi lawan Agung Sedayu meloncat menghindar, ternyata Agung Sedayu sempat memungut dua buah batu yang siap pula dilemparkannya. Bahkan meskipun dengan berdebar-debar, Agung Sedayu ingin mencoba, apakah senjata lawannya benar-benar senjata yang dahsyat seperti bentuknya.

Karena itu, ketika Agung Sedayu melihat dalam kilatan cahaya bintang-bintang di langit, cakram berikutnya meluncur menyerangnya, Agung Sedayu mencoba mengerahkan kemampuan bidiknya untuk menghantam cakram itu dengan sebuah batu yang dipungutnya.

Yang terjadi adalah sebuah benturan yang dahsyat. Ternyata keduanya memiliki kekuatan raksasa. Batu Agung Sedayu berhasil menghantam cakram lawannya yang meluncur bagaikan kilat. Hanya dengan kemampuan yang tidak ada taranya, Agung Sedayu dapat melakukannya. Ketajaman tatapan matanya, yang dapat menangkap kilatan cakram yang meluncur dimalam hari. dan kemampuan bidiknya yang seolah-olah menjadi semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya segala ilmu yang ada padanya.

Tetapi ternyata bahwa cakram itu benar-benar terbuat dari besi baja pilihan. Meskipun cakram itu hanya kecil saja, namun dalam benturan yang terjadi, telah terpercik bunga api diudara. Batu yang dilontarkan oleh Agung Sedayu ternyata menjadi pecah berhamburan menjadi debu.

Jantung Agung Sedayu berdetak semakin cepat. Jika cakram itu mengenai dadanya, maka segenap tulang belulangnya akan rontok dan cakram itu akan dapat menembus sampai ke punggung.

Karena itu, maka ia pun telah melawan lontaran dengan lontaran. Meskipun batu-batu yang dipungutnya di sepanjang jalan itu tidak memiliki kedahsyatan seperti gerigi cakram itu, namun jika ia berhasil mencapai lawannya, maka batu itu pun akan mampu menyakitinya.

Tetapi ternyata bahwa yang terjadi adalah pertempuran yang seolah-olah tidak ada ujung pangkalnya. Keduanya mampu melemparkan serangan yang dahsyat, tetapi keduanya pun mampu meloncat menghindar. Sehingga dengan demikian, maka pertempuran itu seolah-olah tidak akan dapat berakhir. Sementara Glagah Putih telah menjadi semakin sulit menghadapi prajurit yang menyerangnya dengan semakin kasar. Pengalamannya yang cukup telah membuat Glagah Putih semakin lama semakin mengalami kesulitan.

“Aku harus menemukan cara yang lebih baik,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya, ia tidak dapat membiarkan dirinya terlibat dalam pertempuran tanpa akhir. Namun dengan demikian, Glagah Putih akan dapat mengalami bencana yang benar-benar gawat.

Agung Sedayu melihat akhir dari pertempuran antara Sabungsari dan lawannya, ia melihat Sabungsari masih terbaring diatas rerumputan tanpa mengetahui dengan pasti, apakah anak muda itu masih hidup atau sudah mati. Dan Agung Sedayu pun mengerti, bahwa dalam tahap terakhir dari lontaran ilmunya lewat sorot matanya, Sabungsari telah dengan sengaja tidak menghindari serangan lawannya. Karena itu, meskipun ia berhasil melumpuhkan lawannya, tetapi ia sendiri mengalami keadaan yang gawat.

Luka-lukanya dalam pertempuran melawan Carang Waja baru saja sembuh. Kini ia sudah mengalaminya sekali lagi yang mungkin tidak kalah gawatnya dengan luka-luka yang dideritanya ketika ia bertempur melawan Carang Waja, atau bahkan nyawanya telah meninggalkan tubuhnya.

Agaknya Agung Sedayu dapat mengambil arti dari peristiwa itu. Karena itu, maka ia pun telah mencari cara yang sebaik-baiknya untuk segera dapat mengalahkan lawannya.

Sementara pertempuran itu masih berlangsung pada jarak yang panjang, dengan saling melontarkan senjatanya, maka Agung Sedayu telah bertekad untuk melakukan sesuatu yang dapat merubah dan mempercepat akhir dari pertempuran itu.

Agung Sedayu mula-mula ingin membiarkan lawannya bertempur sampai senjatanya yang terakhir. Namun ternyata bahwa senjata orang itu agaknya tidak akan habis-habisnya. Apalagi nampaknya lawannya memiliki perhitungan yang cermat, sehingga ia tidak menghambur-hamburkan senjatanya tanpa dasar pertimbangan sikap lawannya.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun segera melakukan rencananya. Ketika senjata lawannya menyambarnya, maka ia pun menjatuhkan dirinya. Namun dalam pada itu, Agung Sedayu telah mengambil tidak hanya dua butir batu. Tetapi lebih banyak lagi. Di tangan kirinya yang menggenggam cambuk, Agung Sedayu menggenggam pula dua butir batu. Di tangan kanannya dua butir.

Demikian ia melenting berdiri, maka ia pun telah melempar lawannya dengan empat butir batu berurutan.

Betapapun lawannya mampu meloncat dengan cepat, tetapi ternyata bahwa tidak semua batu yang dilontarkan oleh Agung Sedayu dapat dihindarinya. Apalagi dalam kesempatan yang pendek itu, lawannya tidak sempat pula melontarkan senjatanya.

Rambitan berhasil menghindari dua batu yang datang berurutan. Tetapi demikian kakinya menjejak tanah selagi ia menghindari batu yang kedua, maka batu yang ketiga telah menyambar pundaknya. Selagi orang itu menyeringai menahan sakit, maka batu berikutnya telah menyusul menyambar kening.

Orang itu menjadi sangat marah. Sambil menggeram ia meloncat tegak diatas kedua kakinya menghadap Agung Sedayu. Tangannya sudah siap memungut senjatanya pada kampil kulit yang tergantung dilambung. Ternyata lontaran kekuatan Agung Sedayu telah berhasil menembus daya tahannya dan menyakitinya. Tulang pundaknya bagaikan retak, sementara keningnya rasa-rasanya telah membengkak. Namun perasaan sakit itu sama sekali tidak mempengaruhi kemampuannya bertempur betapapun sengitnya.

Tetapi ternyata Agung Sedayu telah mempergunakan cara yang lain untuk menghadapi lawannya. Ia tidak lagi melemparkan batu-batu menghantam tubuh lawannya. Namun ia telah berdiri tegak dengan tatapan mata yang langsung dapat menghantam lawan.

Berdasarkan pengamatannya yang telah menjerat Sabungsari dalam kesulitan, maka Agung Sedayu benar-benar telah memperhitungkan segalanya yang bakal terjadi. Demikian lawannya merasa sentuhan wadag dari tatapan mata Agung Sedayu, maka ia pun segera bersikap pula. Ia harus segera melontarkan cakramnya untuk memecahkan pemusatan ilmu Agung Sedayu yang mengerikan itu.

Namun yang dilakukan Agung Sedayu ternyata lebih cepat. Demikian tangan orang itu memungut cakram didalam kampil kecil yang tergantung dilambung, maka serangan yang memancar dari tatapan mata Agung Sedayu itu telah langsung mencengkam dan meremas tangan lawannya.

Yang terdengar adalah keluh tertahan. Rambitan merasa tangannya bagaikan telah diremukkan oleh himpitan besi baja sebesar lesung. Rasa-rasanya tulang belulangnya menjadi lumat dan sama sekali tidak berdaya.

Rambitan mengumpat dengan kasarnya. Ia memiliki daya tahan yang luar biasa. Tetapi ternyata tatapan mata Agung Sedayu dengan serta merta telah dapat langsung mengenainya, menembus perisai yang telah ditebarkan di seputarnya meskipun tidak kasat mata.

Ternyata kemampuan ilmu Agung Sedayu telah jauh melampaui kemampuan ilmu Sabungsari. Meskipun yang ditekuni dari makna kitab Ki Waskita barulah pada tingkat permulaan, namun karena dasar yang memang sudah ada pada dirinya, ternyata sorot mata Agung Sedayu memiliki kemampuan yang sulit diimbangi.

Dalam pada itu, Rambitan pun mencoba untuk memusatkan segenap kemampuannya pada daya tahannya. Ia sadar, bahwa Agung Sedayu yang sesaat melepaskan serangannya itu, ingin melihat akibat yang terjadi pada dirinya. Namun dalam pada itu, yang tidak disangka oleh Agung Sedayu, bahwa Rambitan mampu juga mempergunakan tangan kirinya.

Bukan saja sebilah cakram kecil, tetapi Rambitan telah dengan cepat menarik dan dengan sekuat tenaganya melontarkan parangnya langsung mengarah kedada anak muda itu.

Agung Sedayu benar-benar terkejut. Ia berusaha untuk bergeser sambil melecut parang itu dengan tangan kirinya. Namun ternyata parang itu meskipun telah bergeser arah, tetapi ujungnya masih menyentuh lengan Agung Sedayu.

Terdengar Agung Sedayu menyeringai menahan sakit. Namun ia pun segera menyadari kedudukannya. Kembali ia berdiri tegak tanpa menghiraukan tangannya. Kembali ia melontarkan ilmunya, tidak lagi pada tangan kanan lawannya, tetapi tangan kirinya yang sedang menggapai cakram dikampilnya.

Sekali lagi lawannya memekik tertahan. Lengannya yang sebelahpun rasa-rasanya telah remuk pula oleh cengkaman tanggem baja yang menghimpit tanpa dapat dihindari.

Dalam pada itu, jantung Rambitan rasa-rasanya akan pecah oleh dentang didadanya. Kedua tangannya telah menjadi lumpuh.

Sementara itu, Agung Sedayu berdiri tegak beberapa langkah dihadapan Rambitan yang seolah-olah sudah tidak berdaya lagi. Kedua tangannya tidak dapat dipergunakannya lagi untuk melepaskan cakramnya. Sementara Agung Sedayu dengan sekehendak hatinya akan dapat menyerang dan menghancurkannya. Agung Sedayu akan dapat melecutkan cambuknya tanpa dapat dilawan. Ia akan dapat melukainya berlipat sepuluh kali dari luka yang telah menggores tubuhnya. Agung Sedayu pun dapat memungut beberapa buah batu dan melemparkan ketubuhnya tanpa dapat dihindarinya. Atau Agung Sedayu akan dapat meremas dadanya dengan tatapan matanya sampai lumat.

Dalam pada itu, Rambitan berdiri tegak dengan kedua tangannya yang tergantung dengan lemahnya tanpa dapat berbuat sesuatu. Ia hanya dapat pasrah, dengan cara apa Agung Sedayu akan membunuhnya.

Sementara itu, prajurit yang bertempur dengan Glagah Putih melihat, bahwa kedua orang yang bertempur melawan Agung Sedayu dan Sabungsari agaknya tidak akan dapat memenangkan perkelahian itu. Bagaimanapun juga, maka ia mulai memikirkan nasibnya sendiri. Jika ia masih tetap berkelahi melawan Glagah Putih, sementara Agung Sedayu berhasil memenangkan perkelahian itu, maka Agung Sedayu akan menempatkan diri menjadi lawannya. Itu berarti satu bencana yang tidak akan dapat dihindarinya lagi.

Dengan demikian, maka tidak ada jalan lain yang dapat dipilihnya kecuali melarikan diri dari arena. Meskipun ia dapat menguasai lawannya yang masih sangat muda itu pada suatu saat, namun adalah mengerikan sekali jika ia harus melawan Agung Sedayu yang seolah-olah memiliki seribu jenis ilmu bertimbun didalam dirinya.

Karena itu, selagi ia masih sempat, maka dengan perhitungan yang cermat, ia pun mendesak lawannya. Namun dengan cepat ia telah meloncat berlari menghilang di antara gerumbul-gerumbul perdu.

Glagah Putih terkejut melihat sikap lawannya. Ia sudah merasa bahwa ia tidak akan dapat bertahan terlalu lama lagi. Namun tiba-tiba saja lawannya telah berlari meninggalkannya.

Agung Sedayu yang berdiri tegak dihadapan lawannya yang sudah tidak berdaya itu pun sempat melihat lawan Glagah Putih yang melarikan diri. Ia pun melihat Glagah Putih yang termangu-mangu sejenak. Namun ketika Glagah Putih siap meloncat untuk mengejarnya. Agung Sedayu berkata, “Jangan Glagah Putih.”

Glagah Putih tertegun. Dengan ragu-ragu la memandang Agung Sedayu yang berdiri tegak ditempatnya.

“Kau tidak tahu, apakah yang ada dibalik gerumbul-gerumbul perdu itu,” desis Agung Sedayu kemudian.

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Baru ia menyadari, jika ada beberapa orang bersembunyi dibalik pohon perdu itu, maka ia akan terjebak kedalam kesulitan.

“Tetapi jika ada orang lain. kenapa mereka tidak menampakkan dirinya,” pertanyaan itu mulai mengganggu Glagah Putih. Tetapi ia tidak sempat bertanya, sementara Agung Sedayu telah melangkah mendekati lawannya yang sudah tidak berdaya.

Rambitan berdiri tegang memandang lawannya yang selangkah demi selangkah mendekatinya, Di tangan Agung Sedayu masih tergenggam cambuknya yang dapat meledak. Sementara matanya yang dapat mencengkam tubuhnya melampaui cengkaman wadagnya, masih tetap memandanginya dengan tajamnya, meskipun dari sorot mata itu tidak lagi melontar ilmu anak muda yang dahsyat itu.

Yang dapat dilakukan oleh Rambitan adalah menunggu, ujung cambuk lawannya akan dapat menyobek kulitnya arang kranjang. Tubuhnya tentu tidak akan berbentuk lagi. Jika ia terkapar dan ditinggalkan di pinggir jalan itu, maka jika ada orang yang menemukan tubuhnya, maka tidak akan ada seorang pun yang dapat mengenalnya.

“Tetapi itu lebih baik,” berkata Rambitan didalam hatinya, “adalah merupakan suatu hinaan bagi perguruan Elang Hitam, jika salah seorang muridnya yang terpercaya terkapar mati dengan luka arang kranjang.”

Namun Rambitan menjadi heran ketika ia mendengar Agung Sedayu berkata, “Ki Sanak. Marilah kita mencari jalan lain daripada memilih cara yang tidak menyenangkan. Kau akan tetap hidup untuk menghadap kakang Untara. Mungkin beberapa masalah yang kabur akan dapat dijelaskan.”

Rambitan tidak menjawab. Ketika ia berpaling memandang saudara seperguruannya, maka dilihatnya orang itu tidak bergerak lagi.

“Kita dapat melihat mereka,” berkata Agung Sedayu, “aku pun ingin mengetahui keadaan Sabungsari. Karena itu, ambillah keputusan, bahwa cara yang liar ini sebaiknya tidak kita pergunakan.”

Rambitan benar-benar tidak tahu, bagaimana ia harus menjawab. Agung Sedayu itu tinggal meledakan cambuknya menyayat tubuhnya yang sudah tidak berdaya melawannya. Kedua tangannya telah lumpuh karena tulang-tulangnya rasa-rasanya telah remuk. Sementara ia tidak akan sempat lagi melarikan diri meskipun kakinya masih utuh, karena dengan sorot matanya Agung Sedayu tentu akan dapat menangkapnya dan meremukkan tulang-tulang belakangnya.

Tetapi dalam pada itu, tiba-tiba Agung Sedayu telah menunjukkan sikap yang tidak dimengertinya. Ia tidak berusaha membunuhnya dengan penuh kemarahan dan kebencian.

Tetapi akhirnya Rambitan pun mengetahui, bahwa jika ia masih tetap hidup, maka ia akan menjadi sumber keterangan tentang usaha pembunuhan itu. Ia akan dapat diperas dengan berbagai macam cara untuk mengungkap rencana yang keji itu.

Rambitan menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mempunyai pilihan lain. Katanya didalam hati, “Apaboleh buat. Aku hanya sekedar diupah. Aku tidak tahu persoalan apapun juga yang ada di antara mereka.”

“Bagaimana pendapatmu Ki Sanak,” bertanya Agung Sedayu, “sementara kita masing-masing akan dapat melihat, apakah saudara seperguruanmu atau saudaramu atau siapapun juga yang datang bersamamu itu masih mungkin ditolong. Aku pun akan melihat Sabungsari yang terbaring diam itu.”

Rambitan tidak menjawab. Ia masih berdiri tegak. Sementara kedua tangannya seolah-olah tidak dapat digerakkannya lagi.

Dalam pada itu, Glagah Putih tidak sabar lagi menunggu. Ketika ia sadar akan keadaan Sabungsari, maka ia pun berlari-lari mendekatinya. Ketika ia berjongkok disamping prajurit muda itu, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam karena ia melihat Sabungsari tersenyum sambil berkata lirih, “Aku tidak apa-apa Glagah Putih.”

“Tetapi kau terluka,” desis Glagah Putih.

“Ya,” jawab Sabungsari, “aku menjadi lemah sekali. Tetapi lukaku sudah pampat. Aku masih harus berdiam diri untuk beberapa saat, karena kepalaku menjadi pening, dan agar darahku benar-benar menjadi pampat. Tubuhku memang menjadi sangat lemah. Namun mudah-mudahan tidak terlalu gawat.”

Glagah Putih termangu-mangu. Tetapi ia pun kemudian duduk disamping Sabungsari yang masih terbaring.

“Bagaimana dengan Agung Sedayu?” bertanya Sabungsari, “ia benar-benar seorang yang mampu berpikir dengan terang dalam keadaan apapun juga. Terhadap lawannya itu pun ia agaknya masih dapat memaafkan.”

“Ya,” jawab Glagah Putih, “meskipun kakang Agung Sedayu juga terluka.”

Sabungsari terdiam. Ia mendengar segala percakapan Agung Sedayu dengan Rambitan. Tetapi ia masih belum berani mengangkat kepalanya atau bangkit berdiri mendekat, karena ia masih ingin memampatkan darahnya sama sekali.

Dalam pada itu. Agung Sedayu bertanya sekali lagi,” jawablah. Kita harus segera dapat mengambil keputusan.”

Rambitan yang termangu-mangu itu pun kemudian menjawab, “Aku sudah tidak berdaya Agung Sedayu. Terserah kepadamu. Apakah kau akan membunuh aku, atau kau akan berbuat lain.”

“Aku tidak ingin membunuhmu,” sahut Agung Sedayu.

“Tetapi itu sama sekali bukan satu keluhuran budi dan sikap,” tiba-tiba saja Rambitan menggeram, “jika kau tidak membunuhku, maka justru kau telah menyiksa aku. Aku tahu, bahwa kau dan Untara akan dapat memeras keterangan dari mulutku dengan cara yang paling keji sekalipun. Tetapi aku sudah berniat, agar kau tidak perlu berbuat demikian. Aku akan berkata apa saja yang aku ketahui. Mungkin setelah itu, kau atau Untara akan membunuhku pula.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau terlalu berprasangka. Tetapi baiklah. Apapun yang kau duga, kau akan melihat suatu kenyataan. Jika kau benar-benar sudah menyerah, kita akan pergi ke Jati Anom.”

Rambitan tidak menjawab. Ia sudah tidak berdaya sama sekali. Seandainya Glagah Putih yang kemudian memegang cambuk Agung Sedayu, maka anak itu pun akan mampu membunuhnya, karena ia hanya dapat meloncat-loncat dengan kakinya tanpa berbuat sesuatu dengan tangannya.

Namun dalam pada itu, dengan tatapan mata yang sangat tajam. Agung Sedayu melihat bayangan yang bergerak beberapa langkah di belakang Rambitan. Meskipun tidak begitu jelas, dalam keremangan malam Agung Sedayu sempat melihat orang itu menarik busurnya sambil membidiknya.

Sejenak Agung Sedayu menjadi tegang. Namun dengan demikian diluar sadarnya Agung Sedayu telah meningkatkan kemampuan penglihatannya. Seolah-olah ia melihat semakin jelas, seseorang yang melepaskan anak panah kearahnya.

Ketika pendengarannya yang meningkat pula mendengar desing anak panah yang meluncur, maka Agung Sedayu pun telah meloncat kesamping, sehingga anak panah yang mengarah kedadanya itu dapat dihindarinya.

Tetapi ternyata anak panah yang keduapun telah meluncur pula. Hampir saja menyambar kening. Karena itu, maka Agung Sedayu harus meloncat pula dengan sigapnya. Ketika anak panah ketiga meluncur, maka ia pun harus berguling sekali untuk menghindarinya.

Dalam pada itu, ia masih sempat berkata, “Glagah Putih, hati-hati.”

Glagah Putih pun segera berbaring di antara rerumputan dan tanah yang tidak datar, sehingga kemungkinan untuk dikenainya menjadi semakin sempit.

Namun dalam pada itu, Sabungsari sama sekali tidak mampu bergerak. Seandainya orang berpanah itu membidiknya, maka ia hanya dapat pasrah kepada nasibnya. Jika orang itu benar-benar memiliki kemampuan bidik yang cukup, maka orang itu akan dapat membunuhnya dari jarak beberapa langkah.

Sementara itu. Agung Sedayu mulai berbuat sesuatu agar ia tidak sekedar menjadi sasaran. Ketika anak panah berikutnya meluncur ke arahnya. Agung Sedayu tidak berusaha untuk meloncat menghindar, tetapi ia telah menangkisnya dengan memukul anak panah itu dengan cambuknya.

Ledakan cambuk yang tidak terlalu keras itu ternyata telah mengganggu orang yang menyerangnya dari jarak jauh itu. Bahkan, tiba-tiba saja orang itu telah mengambil satu sikap yang mengejutkan.

Rambitan yang memandang saja dengan sedikit harapan, bahwa akan ada orang yang membebaskannya, melihat betapa Agung Sedayu harus berloncatan menghindar. Namun agaknya Agung Sedayu telah siap untuk mendekati orang berpanah itu dengan perisai cambuknya.

Yang terjadi kemudian adalah diluar dugaan. Rambitan tiba-tiba saja berdesah tertahan. Perlahan-lahan ia bergeser dan terhuyung-huyung. Sementara itu, orang berpanah itu pun telah menghilang kedalam gerumbul.

Agung Sedayu melihat dan mengerti apa yang telah terjadi. Rambitan telah sengaja dibunuh oleh orang itu untuk menghilangkan jejak, setelah orang itu gagal membebaskannya, karena ia tidak dapat mengenai Agung Sedayu. Namun dengan demikian. Agung Sedayu yang kehilangan itu menjadi marah. Betapapun juga keragu-raguan menghambat keputusannya, namun seolah-olah dengan gerak naluriah, ia telah menghentakkan kekuatan sorot matanya. Dengan cepat ia menyerang langsung menusuk kedalam gerumbul yang masih bergoyang dengan sorot matanya.

adbm-128-01Dedaunan perdu didalam gerumbul itu bagaikan diremas. Namun sementara itu terdengar pekik meninggi. Pekik yang seakan-akan telah membangunkan Agung Sedayu sehingga ia menyadari, apa yang telah dilakukannya.

Sementara Agung Sedayu membeku ditempatnya. Glagah Putih yang melihat bahwa orang berpanah itu telah meninggalkan tempat itu, segera meloncat berdiri. Ia masih melihat Rambitan terhuyung-huyung. Dan ia pun masih mendengar orang memekik tinggi dibalik gerumbul.

Ternyata bahwa kemampuan ilmu Agung Sedayu yang memancar lewat sorot matanya, telah menyusup di antara dedaunan dan ranting-ranting gerumbul perdu, sementara dedaunan dan ranting-ranting perdu itu sendiri yang langsung tersentuh sorot mata Agung Sedayu telah menjadi lumat.

Baru sejenak kemudian Agung Sedayu meloncat berlari kebalik gerumbul yang hancur lumat itu. Dengan jantung yang berdebaran, ia melihat sesosok tubuh terbaring diam. Di tangannya masih tergenggam sebuah busur dan dilambungnya tergantung sebuah endong tempat anak panah.

Dengan jantung berdebar-debar Agung Sedayu berjongkok disamping tubuh yang terbujur itu. Perlahan-lahan ia menempelkan telinganya kedadanya. Namun ternyata dada itu sudah tidak berdetak lagi.

“Ia sudah mati,” desisnya.

Glagah Putih yang menyusulnya berdiri termangu-mangu di belakangnya. Ia mendengar Agung Sedayu berdesis. Karena itu, ia bertanya, “Kenapa orang itu mati?”

Agung Sedayu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Secercah penyesalan melonjak dihatinya. Tidak ada niatnya untuk membunuh. Bahkan seakan-akan tanpa disengaja ia telah melontarkan ilmunya lewat tatapan matanya. Yang terjadi demikian cepatnya, sehingga kesempatan untuk berpikir baginya terlalu sempit. Apalagi untuk mempertimbangkan akibat yang bakal terjadi. Bahkan Agung Sedayu pun masih harus menilai kemampuannya sendiri, yang seakan-akan telah meningkat diluar pengamatannya sendiri.

Baru beberapa bab dari isi kitab Ki Waskita yang mulai didalami maknanya. Namun karena pilihan yang tepat dan kemampuannya untuk mengetrapkan pada landasan yang mapan, maka ternyata bahwa ilmu yang ada pada dirinya itu telah meningkat.

“Tetapi agaknya orang ini hampir tidak mempunyai daya tahan yang dapat melindungi dirinya serba sedikit. Agaknya ia bukan seorang yang setingkat dengan kedua orang dari Gunung Kendeng itu,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya.

Glagah Putih yang berjongkok pula disamping Agung Sedayu memandang orang itu dengan tegang. Orang itu mati tanpa luka yang nampak pada tubuhnya. Tiba-tiba saja seolah-olah gerumbul itu telah diremas oleh angin prahara yang tidak kasat mata. Dan orang itu telah menjadi korbannya pula.

“Apakah gerumbul ini disambar petir?” tiba-tiba saja Glagah Putih bertanya.

Agung Sedayu berpaling sejenak. Katanya, “Agaknya orang ini harus mengalaminya. Apapun sebabnya, tetapi ia kami dapatkan telah mati disini.”

“Bagaimana dengan lawan kakang Agung Sedayu?” bertanya Glagah Putih.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun beringsut pula. Kemudian ia pun bangkit dan berjalan menuju ke tempat Rambitan yang terbaring menelungkup. Sebatang anak panah menghunjam dalam ditubuhnya. Agaknya ujung anak panah itu telah menyentuh bagian dalam tubuhnya yang menentukan, sehingga Rambitan ternyata telah tidak bernafas lagi.

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ketika Glagah Putih berjongkok disisinya, maka Agung Sedayu itu pun berkata, “Telah terjadi tiga kematian. Dua orang murid dari Gunung Kendeng, dan seorang yang tidak dikenal. Tetapi sudah pasti, bahwa orang ini adalah pengikut orang yang mengupah kedua murid Gunung Kendeng ini.”

“Kenapa mereka kakang?” bertanya Glagah Putih pula.

“Bukankah dengan demikian jalur hubungan antara orang yang mengupah dan orang yang diupah telah terputus?” berkata Agung Sedayu.

“Tetapi kita sudah mengetahui, bahwa yang memerintahkan kedua orang itu melakukan pencegatan ini adalah Ki Pringgajaya,” desis Glagah Putih.

“Siapakah yang dapat membuktikannya? Jika aku atau kau atau Sabungsari mengatakannya, bahwa kedua orang yang terbunuh ini adalah atas perintah Ki Pringgajaya, maka kita akan dapat dituduh memberikan kesaksian palsu.”

“Tetapi bukankah kenyataannya demikian?” desak Glagah Putih.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat memberikan penjelasan sehingga dapat memberikan kepuasan bagi Glagah Putih. Ia tidak dapat mengatakan, bahwa kita sering menjumpai kenyataan yang tidak dapat dibuktikan. Bahkan kita kadang-kadang tidak dapat meyakinkan orang lain bahwa satu kebenaran adalah kebenaran.

“Glagah Putih,” berkata Agung Sedayu kemudian, “kita akan mencoba mengatakan kenyataan ini kepada kakang Untara. Tetapi bagaimana dengan Sabungsari?”

“Ia masih tersenyum ketika aku mendekatinya. Ia terluka, tetapi aku tidak tahu, apakah luka itu berbahaya baginya.”

Agung Sedayu pun kemudian meninggalkan Rambitan dan dengan tergesa-gesa mendekati Sabungsari yang masih saja tersenyum melihat kedatangan Agung Sedayu.

“Bagaimana dengan kau Sabungsari?” bertanya Agung Sedayu.

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Agaknya lukaku sudah mulai pampat. Aku sudah dapat bangkit dan duduk.”

“Tunggu,” desis Agung Sedayu, “jangan tergesa-gesa.”

“Aku sudah mengobatinya. Mudah-mudahan luka itu tidak akan berdarah lagi.”

“Jika kau terlalu banyak bergerak, maka luka itu akan berdarah lagi. Karena itu, berbaring sajalah beberapa saat. Sementara aku akan mengurus tiga sosok mayat yang berserakkan.”

“Tiga?” bertanya Sabungsari, “jadi orang yang melepaskan anak panah itu kau bunuh juga?”

“Bukan maksudku. Aku hanya ingin menghentikannya. Tetapi ternyata ia telah mati.” desah Agung Sedayu.

“Kenapa ia mati?” sekali lagi Glagah Putih bertanya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pura-pura tidak mendengar pertanyaan itu. Katanya kepada Sabungsari, “berbaringlah barang sejenak. Aku akan mengumpulkan mayat itu. Kita akan pergi ke Jati Anom, menghadap kakang Untara. Ketiga sosok mayat itu akan menjadi salah satu bukti bahwa telah terjadi sesuatu pada kita disini.”

Sabungsari termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Ya. Mungkin Ki Untara meragukan keterangan kita. Tetapi kita harus mengatakannya.”

“Tetapi bagaimana dengan kedudukanmu, Sabungsari. Tentu ada persoalan didalam tataran keprajuritan. Mungkin kau dianggap berbuat kesalahan. Atau mungkin kau akan mengalami kesulitan, karena Ki Pringgajaya yang memiliki pengaruh dan kedudukan itu menganggap bahwa kau adalah salah seorang penghalang dari rencananya. Apalagi kau dengan sengaja telah menyilang dan memotong usahanya kali ini,” berkata Agung Sedayu.

“Aku mengerti Agung Sedayu. Tetapi aku memang sudah menentukan sikap. Apapun yang akan terjadi, aku tidak akan surut,” jawab Sabungsari.

“Tetapi mungkin sekali hal ini akan mengancam keselamatanmu,” sambung Agung Sedayu.

“Aku sadar. Tetapi aku akan menghadapi segala akibat dari sikapku ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat kekerasan hati Sabungsari. Namun sejak ia mengenal Sabungsari, ia menganggap bahwa anak muda itu benar-benar seorang laki-laki yang bersikap jantan. Seperti saat ia menghadapi kekalahan, maka ia pun bertekad menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi atasnya, karena ia sudah menentukan sikap.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu bangkit sambil berkata, “Biarlah kau berbaring sejenak. Aku akan menyingkirkan mayat itu, agar tidak diketemukan oleh orang yang kebetulan lewat atau para petani yang pergi kesawah. Sementara itu, keadaanmu akan menjadi semakin baik.”

Sabungsari tidak mencegahnya. Dibiarkannya Agung Sedayu pergi sambil berkata, “Tunggulah disini Glagah Putih.”

Glagah Putih tidak menyahut. Ia pun kemudian duduk disamping Sabungsari, sementara Agung Sedayu menyingkirkan mayat itu kedalam gerumbul sehingga tidak mudah diketemukan oleh seseorang.

Baru setelah semuanya selesai. Agung Sedayu mendekati Sabungsari yang masih terbaring sambil berkata, “Apakah keadaanmu sudah semakin baik?”

“Ya. Aku sudah merasa baik. Mungkin aku masih terlalu lemah. Tetapi aku sudah dapat berkuda sendiri kembali ke Jati Anom,” jawab Sabungsari.

Glagah Putih pun kemudian bangkit untuk mencari kuda-kuda mereka yang ternyata tidak berada ditempat yang terlalu jauh. Kuda-kuda itu masih sibuk mengunyah rerumputan segar ditepi jalan, beberapa puluh langkah dari tempat perkelahian itu. Sedangkan Sabungsari minta agar Glagah Putih juga mengambil kudanya ditempat yang terlindung.

“Aku tidak sempat mengikat kuda-kuda itu,” berkata Glagah Putih. Dan Agung Sedayu pun mengerti, bahwa Glagah Putih pun harus mempertahankan dirinya dari serangan yang tiba-tiba dari seseorang yang merunduknya, dari balik gerumbul-gerumbul perdu.

Sejenak kemudian. Agung Sedayu telah mencoba membantu Sabungsari naik keatas punggung kudanya. Ternyata betapapun lemahnya, Sabungsari masih dapat menjaga keseimbangannya.

Perlahan-perlahan mereka bertiga pun kemudian berkuda ke Jati Anom. Mereka akan langsung pergi ke rumah Ki Untara untuk menyampaikan peristiwa yang baru saja terjadi. Meskipun mereka tidak dapat membawa saksi yang lain, kecuali diri mereka sendiri, namun mereka menganggap bahwa hal itu perlu segera disampaikan kepada Untara.

Agung Sedayu yang berada dipaling depan, menjadi gelisah karena langit yang sebentar lagi akan dibayangi oleh warna fajar di Timur. Jika kemudian datang pagi, sementara mayat-mayat itu masih ditempatnya, ada kemungkinan akan diketemukan oleh orang-orang yang pergi ke sawah atau oleh orang-orang yang tidak sengaja melintasi gerumbul-gerumbul itu.

Kedatangan Agung Sedayu, Sabungsari dan Glagah Putih dilewat tengah malam itu, ternyata telah mengejutkan para prajurit yang bertugas. Apalagi ketika mereka melihat keadaan Sabungsari yang lemah dan pakaiannya penuh bernoda darah.

“Kenapa anak itu?” bertanya seorang prajurit kepada Agung Sedayu.

“Aku akan menghadap kakang Untara,” jawab Agung Sedayu, “aku akan melaporkan semua yang telah terjadi.”

Prajurit itu pun kemudian mempersilahkan Agung Sedayu, Sabungsari dan Glagah Putih naik ke pendapa. Dengan hati-hati Agung Sedayu membantu Sabungsari turun dan memapahnya naik ke pendapa bersama Glagah Putih.

Ternyata keadaannya cukup parah. Seperti saat ia bertempur melawan Carang Waja, maka Sabungsari sekali lagi mengalami luka yang sangat parah.

Dengan lemahnya, Sabungsari duduk di pendapa bersandar tiang. Sekali-sekali masih nampak ia menyeringai menahan sakit didadanya.

“Apakah kau akan berbaring saja?” bertanya prajurit yang bertugas. “Jika kau ingin berbaring, marilah, aku bawa kau ke gandok.”

Sabungsari menggeleng sambil menjawab, “Aku menunggu disini sampai Ki Untara mendengar semua keterangan kami.”

Prajurit itu mengangguk-angguk. Katanya, “Seorang kawan telah mencoba menyampaikan hal ini kepada Ki Untara. Tetapi ia belum lama tidur. Ki Untara baru saja nganglang di sekitar Jati Anom bersama beberapa orang prajurit. Kemudian ia duduk di pendapa itu beberapa saat.”

Dengan demikian, maka Agung Sedayu, Sabungsari dan Glagah Putih itu masih harus menunggu. Glagah Putih yang lelah itu pun bersandar tiang pendapa pula. Sekali ia beringsut sambil berdesah. Ternyata kelelahan yang sangat telah membuatnya mulai merasa kantuk. Namun demikian, ia harus bertahan sambil menunggu Untara menemuinya dan mendengarkan segala keterangan tentang peristiwa yang baru saja terjadi.

“Mayat-mayat itu pun harus diambil,” berkata Glagah Putih didalam hatinya.

Beberapa lamanya mereka menunggu. Namun ternyata bahwa Untara tidak menolak kedatangan mereka dan tidak menyuruh mereka menunggu sampai keesokan harinya. Bukan saja karena yang datang adalah Agung Sedayu, tetapi Untara menyadari, bahwa yang akan mereka sampaikan tentu sesuatu yang sangat penting.

Ketika Untara selesai membenahi dirinya, maka ia pun bergegas pergi ke pendapa. Ia terkejut melihat keadaan Sabungsari yang sangat lemah. Dengan dahi yang berkerut ia berkata, “Biarlah prajurit itu beristirahat. Agaknya ia terluka parah.”

“Ya kakang. Sabungsari terluka parah,” sahut Agung Sedayu.

“Tetapi biarlah aku disini. Aku ingin ikut mendengarkan laporanmu Agung Sedayu. Mungkin ada beberapa hal yang perlu aku jelaskan, karena sebagian dari keterangan tentang peristiwa ini aku ketahui sebelum terjadi,” berkata Sabungsari dengan suara gemetar.

Untara mengerutkan keningnya. Sejenak semula ia pun sudah menduga bahwa soalnya tentu sangat penting.

“Baiklah,” berkata Untara, “tetapi biarlah lukamu diobati lebih dahulu.”

“Aku sudah mengobatinya Ki Untara,” berkata Sabungsari, “tetapi hanya untuk sementara. Meskipun demikian, biarlah kita berbicara lebih dahulu. Baru kemudian aku mohon dapat diobati dengan cara dan obat yang lebih baik.”

Ki Untara mengangguk-angguk. Kemudian dipandanginya beberapa orang prajurit yang ada di sekitarnya. Dengan satu isyarat, maka mereka pun meninggalkan Ki Untara dengan ketiga orang tamunya.

Agung Sedayu kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi. Tetapi ia baru menceriterakan kejadian di bulak panjang itu. Ia belum mengatakan, siapakah yang berada di belakang peristiwa itu.

Untara mendengarkan keterangan itu dengan saksama. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Agung Sedayu. Apakah sangkut pautnya orang-orang dari Gunung Kendeng dengan kau dan Sabungsari? Menurut pendengaranku, orang-orang Gunung Kendeng tidak pernah bersentuhan dengan kau dan Sabungsari. Tetapi mungkin ada peristiwa dan kejadian yang lepas dari pendengaranku.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian justru kepada Glagah Putih, “Glagah Putih, aku kira kau sangat lelah dan mengantuk. Tidurlah. Nanti aku akan membangunkanmu.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Terasa sentuhan mata kakak sepupunya itu bagaikan memberikan isyarat kepadanya, agar ia pun tidak perlu mendengarkan peristiwa yang membayangi kejadian di bulak panjang itu.

Agaknya Untara mengerti maksud adiknya. Karena itu, maka katanya, “Sebaiknya demikian Glagah Putih. Marilah, aku akan membawamu kepada mbokayumu. Kau sebaiknya membersihkan diri, minum dan barangkali kau lapar, mbokayumu akan menyediakan makan buatmu.”

Glagah Putih tidak dapat mengelak lagi. Isteri Untara pun sangat baik kepadanya. Karena itu, maka ia pun mengikuti Untara masuk keruang dalam, dan menyerahkan Glagah Putih kepada isterinya yang nampaknya masih mengantuk.

“Mbokayu masih mengantuk,” desis Glagah Putih.

“Tidak Glagah Putih,” sahut Nyi Untara, “aku sudah tidur sejak sore. Marilah, kau pergi dahulu ke pakiwan. Kemudian kau minum minuman hangat. Kau akan aku persilahkan makan, meskipun nasi dingin.”

“Aku tidak ingin makan mbokayu. Tetapi jika minum, aku memang sangat haus.”

Isteri Untara itu tersenyum. Ketika Glagah Putih pergi kepakiwan dan Untara sudah kembali ke pendapa, isteri Untara itu mengambil air panas di tempat para peronda, yang selalu menyediakan bagi mereka yang bertugas. Kemudian menyedia-kan tempat bagi Glagah Putih untuk beristirahat.

“Minumlah. Jika kau tidak ingin makan, baiklah kau beristirahat di amben itu,” berkata isteri Untara.

“Terima kasih. Aku memang akan tidur. Agaknya kakang Agung Sedayu dan kakang Untara masih selalu menganggap aku kanak-kanak yang tidak boleh mengetahui beberapa hal.”

Isteri Untara tersenyum. Katanya, “Bukan begitu Glagah Putih. Seperti aku, kakangmu Untara sama sekali tidak menganggap kanak-kanak lagi. Tetapi dalam beberapa hal yang penting, aku juga tidak dibenarkan untuk mendengarkan pembicaraannya.”

“Tetapi mbokayu seorang perempuan,” bantah Glagah Putih.

“Meskipun perempuan, mungkin akan berbeda dengan bakal mbokayumu dari Sangkal Putung. Mungkin ia justru diperlukan hadir dalam pembicaraan-pembicaraan penting. Juga isteri anak Ki Demang di Sangkal Putung itu,” jawab isteri Untara sambil tersenyum.

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia pun mengerti, masalahnya bukan laki-laki atau perempuan. Juga bukan karena ia masih dianggap kanak-kanak. Tetapi Glagah Putih tetap merasa tidak senang, karena ia masih belum berhak mendengarkan pembicaraan-pembicaraan penting.

“Aku harus segera menjadi seorang anak muda yang dewasa. Bukan dalam umur, tetapi dalam sikap dan olah kanuragan. Jika aku sudah memiliki ilmu yang cukup, maka aku tentu tidak akan tersisih seperti ini,” berkata Glagah Putih didalam hatinya ketika ia sudah berbaring dipembaringannya.

Untuk beberapa saat Glagah Putih masih belum berhasil memejamkan matanya. Namun kemudian, perlahan-lahan ia pun mulai kehilangan kesadarannya. Akhirnya anak muda itu pun jatuh tertidur.

Dalam pada itu, di pendapa. Agung Sedayu masih duduk bersama dengan Untara dan Sabungsari yang lemah. Namun agaknya obat yang telah ditaburkan keatas luka anak muda itu sementara dapat menolongnya.

“Nah, sekarang katakanlah, apa yang sebenarnya telah terjadi atas kalian,” berkata Untara kemudian.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Tetapi sebelumnya aku minta maaf kakang, bahwa aku akan menyangkutkan nama prajurit Pajang yang berada di Jati Anom. Aku tidak tahu, apakah kakang Untara sudah menduga, atau setidak-tidaknya melihat sesuatu yang menarik perhatian, atau sama sekali tidak mengira bahwa hal ini dapat terjadi.”

Untara memandanginya dengan tajamnya. Seakan-akan ia tidak telaten menunggu. Namun ternyata bahwa kata-kata Agung Sedayu tertunda lagi, ketika seorang menyuguhkan minuman hangat bagi mereka.

“Ada juga minuman hangat pada saat begini,” desis Agung Sedayu.

“Setiap saat ada minuman hangat di parondan,” sahut Untara, “lalu bagaimana ceriteramu itu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sadar bahwa ia berhadapan bukan saja dengan kakaknya, tetapi dengan seorang Senapati prajurit Pajang.

Sejenak kemudian Agung Sedayu pun segema menceriterakan akan semua peristiwa bukan hanya yang telah terjadi di bulak seperti yang sudah dikatakannya, tetapi ia mulai menyebut nama Ki Pringgajaya, salah seorang perwira pasukan Pajang di Sangkal Putung.

Untara mendengarkan keterangan itu dengan dahi yang berkerut. Meskipun ia terkejut, letapi tidak ada kesan apapun di wajahnya selain ketegangan.

“Jadi menurut dugaanmu, orang-orang itu telah diupah oleh Ki Pringgajaya?” bertanya Untara.

“Mereka mengatakannya sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang upahan Ki Pringgajaya,” jawab Agung Sedayu.

“Mereka mengatakan sendiri, atau Sabungsari yang mengatakannya.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Kakang, Sabungsari mengetahui persoalannya. Sementara orang-orang itu pun tidak membantah. Mereka mengakui bahwa mereka adalah orang-orang upahan. Sementara yang bertempur dengan Glagah Putih adalah seseorang yang dapat dikenal dalam pakaian seorang prajurit.”

“Apa artinya pakaian. Setiap orang dapat mengenakan pakaian prajurit. Penjahat dan pengkhianat dapat juga mengenakan pakaian seorang prajurit.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Jika keadaan Sabungsari memungkinkan, ia dapat membantu memberikan penjelasan.”

Untara memandang Sabungsari yang pucat. Lalu katanya, “Kau dapat mengatakannya jika itu tidak membuat kau semakin parah.”

Sepatah-sepatah Sabungsari mencoba menjelaskan apa yang telah dialaminya. Bahkan ia serba sedikit mengatakan pula rahasianya yang membawanya menjadi seorang prajurit, karena hal itu sudah diketahuinya pula oleh Ki Pringgajaya. Daripada orang lain yang mengatakannya, lebih baik Sabungsari sendirilah yang mengucapkan pengakuan itu.

Meskipun yang dikatakannya hanya pokok-pokoknya saja dari seluruh hubungan peristiwa, namun Untara sudah mendapat gambaran yang jelas tentang apa yang sudah terjadi.

“Baiklah aku akan mengusut persoalan ini. Tetapi aku tidak dapat mempercayaimu begitu saja tanpa bukti-bukti atau keterangan-keterangan lain yang lebih meyakinkan. Sekarang, aku ingin melihat mayat-mayat itu, sehingga mungkin akan dapat membuka jalan yang lebih lapang bagi penyelesaian masalah ini.”

“Marilah kakang. Aku pun sebenarnya menjadi cemas, jika para petanilah yang menemukannya,” sahut Agung Sedayu.

Bersama beberapa orang prajurit, Untara pun segera berkemas. Kepada isterinya, ia menitipkan Glagah Putih yang sedang tidur nyenyak.

“Jika ia terbangun dan mencari Agung Sedayu, katakan bahwa Agung Sedayu aku bawa mengambil mayat-mayat yang ditinggalkannya di bulak panjang itu.”

Isteri Untara itu mengerutkan dahinya. Meskipun ia seorang isteri Senapati prajurit Pajang di Jati Anom, namun setiap saat hatinya masih juga berdebar-debar jika Untara pergi dalam keadaan yang gawat. Tetapi ia selalu menyembunyikan perasaannya. Bahkan sambil tersenyum ia berkata, “Agaknya Glagah Putih baru akan bangun setelah matahari tinggi.”

Sabungsari yang terluka itu pun telah dipapah oleh beberapa orang prajurit dan dibaringkannya di gandok. Seorang prajurit yang ahli dalam obat-obatan, telah dipanggil untuk memberikan obat yang lebih baik kepada Sabungsari yang terluka itu.

Prajurit yang kemudian datang itu pun dengan saksama telah memeriksa luka Sabungsari. Ia pun mendengar berita tentang sebab luka-luka itu, meskipun Sabungsari hanya menceriterakan sebagian kecil dari seluruh peristiwanya.

“Jadi orang-orang dari Gunung Kendeng itulah yang melukaimu?” bertanya orang itu.

“Ya. Lukaku memang agak parah.”

“Baiklah. Aku akan berusaha. Tetapi seperti yang kau katakan, lukamu memang cukup parah. Kau terlalu banyak mengeluarkan darah. Untunglah bahwa kau mempunyai obat yang dapat memampatkannya. Meskipun obat itu mempunyai akibat sampingan.”

Sabungsari mengerutkan keningnya. Sambil menyeringai ia bertanya, “Apakah akibat itu?”

“Pernafasanmu tentu agak terganggu. Tetapi aku akan membersihkannya. Kemudian mengganti dengan obat yang lebih baik, yang selalu dipergunakan oleh para prajurit.”

Sabungsari mengangguk-angguk kecil. Dibiarkannya orang itu membersihkan lukanya dan kemudian menaburkan obat yang lain.

“Sabungsari,” berkata orang itu, “aku sudah mendengar apa yang pernah kau lakukan. Kau sudah pernah berhasil membunuh Carang Waja. Sekarang kau berhasil mengalahkan orang dari Gunung Kendeng. Yang terjadi itu tentu akan menjadi perhatian pula bagi Ki Untara. Mudah-mudahan kau akan cepat mendapat tingkat yang lebih baik.”

Sabungsari tidak menjawab. Terasa lukanya menjadi nyeri. Bukan saja karena tersentuh tangan orang yang mengobatinya itu. Tetapi obat itu sendiri membuat tubuhnya serasa mendidih.

“Obat itu tentu terasa panas ditubuhmu,” berkata prajurit yang mengobatinya itu, “tetapi obat itu akan bekerja sebaik-baiknya. Mudah-mudahan obat itu akan dapat mengatasi kesulitan yang terjadi pada tubuhmu karena kekurangan darah dan nafasmu yang tidak teratur. Kau tentu memerlukan obat lain yang dapat kau minum besok pagi-pagi untuk menyegarkan tubuhmu.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia bertanya, “Bagaimana sebenarnya dengan luka-lukaku?”

Prajurit yang mengobatinya itu mengerutkan keningnya. Sejenak keragu-raguan membayang di wajahnya. Baru kemudian ia berkata, “Sabungsari. Kau adalah seorang prajurit pinunjul. Seorang yang memiliki kelebihan dari prajurit-prajurit sebayamu. Bahkan mungkin dengan tataran diatasmu. Karena itu, aku harap kau mempunyai ketahanan jiwani yang besar pula, melampaui kawan-kawanmu.”

Sabungsari mengerutkan keningnya. Tidak sabar ia mendesak, “Katakan. Aku bukan anak-anak yang masih suka merengek.”

Prajurit yang mengobatinya itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Baiklah aku berterus terang Sabungsari. Lukamu gawat sekali. Meskipun nampaknya tidak lebih parah dari saat kau bertempur dan membunuh Carang Waja, namun sebenarnya lukamu kali ini berbahaya bagi keselamatanmu.”

Sabungsari menegang sejenak. Namun kemudian terdengar suaranya datar, “Terima kasih. Aku mengerti keadaanku.”

“Tetapi jangan berkecil hati,” berkata prajurit yang mengobatinya, “kita wajib berusaha. Tetapi jika usaha kita gagal, itu adalah diluar kemampuan kita.”

“Ya,” sahut Sabungsari pendek.

“Betapa kecilnya, kita masih harus berpengharapan,” berkata prajurit itu.

Sabungsari tidak menjawab. Tetapi ia mengerti maksud prajurit yang mengobatinya itu. Lukanya adalah luka yang membahayakan jiwanya. Bahkan harapan untuk dapat sembuh adalah sangat kecil.

Sesaat Sabungsari menyeringai. Dadanya memang terasa sangat sakit. Bukan saja pedihnya luka pada dagingnya. Namun nafasnya terasa menjadi sesak. Jantungnya bagaikan berdetak semakin cepat.

“Aku terpengaruh sekali keterangan orang itu,” berkata Sabungsari didalam hati, “rasa sakit dan nafas yang menyesak ini tentu datang justru karena kekerdilan jiwaku. Tetapi seandainya aku harus mati, maka aku sudah berbuat satu kebajikan terhadap Agung Sedayu. Sebenarnya aku sudah harus mati di pinggir kali ketika aku menantangnya berperang tanding. Tetapi ia membebaskan aku dari kematian jasmaniah dengan harapan, balrwa aku dapat membunuh segala macam sifat dan sikapku waktu itu.”

Sabungsari menarik nafas panjang sekali. Namun justru karena ia pun kemudian pasrah kepada Yang Maha Kasih, maka hatinya menjadi tenang. Perlahan-lahan nafasnya terasa semakin lapang, meskipun perasaan sakit didadanya masih terasa bagaikan meremas jantung.

Dalam pada itu, maka prajurit yang mengobatinya itu pun kemudian minta diri setelah ia berpesan, “Cobalah untuk tidur Sabungsari. Coba pula menenangkan hati. Apapun yang akan terjadi, jangan kau risaukan, karena garis hidup seseorang tidak berada di tangannya sendiri. Kau sudah berbuat sesuatu yang memberimu kebanggaan. Jika kemudian kau harus mengalami sesuatu karena perbuatan kesatria itu, kau justru dapat berbangga karenanya.”

Sabungsari menggeram. Tetapi ia tidak menjawab. Ia hanya memandang saja prajurit itu meninggalkan biliknya tanpa berpaling lagi.

Sepeninggal prajurit yang mengobatinya itu, Sabungsari berusaha menenangkan hatinya. Ia mencoba memejamkan matanya, namun rasa-rasanya dadanya bagaikan pecah. Sekali-sekali wajahnya nampak menegang kemerah-merahan. Namun kemudian wajah itu menjadi pucat seputih kapas.

Untuk beberapa lamanya Sabungsari harus bertahan. Namun akhirnya ia berusaha untuk tidak menghiraukan lagi perasaan sakit itu. Meskipun demikian, kadang-kadang ia merasa heran juga karena sikap prajurit yang mengobatinya itu. Seolah-olah ia dengan sengaja memberikan kesan yang mencemaskan.

“Tetapi ia menganggap bahwa hatiku adalah hati yang tabah. Ia menganggap bahwa aku dapat melihat kenyataan dengan hati semeleh,” berkata Sabungsari kepada diri sendiri, “tetapi nyatanya hatiku adalah hati yang selalu-dibayangi oleh kecemasan. Bukankah batas terakhir dari keadaan ini adalah kematian. Dan kematian itu tidak lagi menakutkan aku, karena aku telah menemukan diriku sendiri dalam ujud yang lebih baik dari saat lampau. Jika sekiranya aku harus mati saat ini, maka aku akan mendapat nilai jauh lebih baik daripada saat aku mati di pinggir kali dalam perang tanding melawan Agung Sedayu. Saat itu aku akan mati dalam kekelaman sehingga aku akan terjun kedalam kegelapan langgeng di antara tangis dan gemeretak gigi tanpa akhir.”

Ketenangan hati Sabungsari ternyata banyak menolong dan memperingan penderitaannya, sehingga karena itu, betapa perasaan sakit masih terasa menghentak-hentak didadanya, namun akhirnya ia berhasil tidur meskipun hanya beberapa saat.

Dalam pada itu, Untara diiringi oleh Agung Sedayu dan beberapa orang prajurit telah berpacu menyusur jalan menuju ke tempat Agung Sedayu menyembunyikan tiga sosok mayat. Dua orang dari Gunung Kendeng, sedang seorang yang lain masih belum diketahuinya. Tetapi kuat dugaan Agung Sedayu, bahwa yang seorang itu tentu pengikut Ki Pringgajaya pula.

“Tetapi nampaknya ia bukannya orang yang telah bertempur melawan Glagah Putih,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya.

Dalam pada itu, maka kuda mereka pun berlari semakin kencang. Apalagi ketika bayangan warna fajar telah mengusap langit. Agung Sedayu menjadi semakin tergesa-gesa. Jika saatnya orang pergi kepasar, atau saat para petani menengok air parit yang membelah bulak panjang itu, dan tanpa mereka sengaja menemukan tiga sosok mayat yang diletakkannya dibalik gerumbul, maka kegemparan itu akan dapat menggelisahkan bukan saja satu dua orang.

Semakin dekat mereka dengan tempat yang baru saja menjadi arena pertempuran, hati Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Kuda-kuda mereka rasa-rasanya menjadi semakin lamban.

Namun akhirnya. Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Beberapa puluh langkah lagi ia sudah akan sampai di tempat yang ditujunya. Ia sudah melihat dalam keremangan sisa malam, gerumbul-gerumbul yang berserakan di pinggir jalan yang membujur panjang itu.

“Kita sudah sampai kakang,” desis Agung Sedayu kemudian.

Iring iringan itu pun menjadi semakin lambat. Dan akhirnya mereka berhenti dibekas arena pertempuran. Untara dan para prajurit yang mengiringinya masih sempat melihat bekas bekas dari pertempuran yang sengit. Gerumbul-gerumbul bagaikan terinjak-injak oleh segerombol binatang buas yang berlaga. Pohon-pohon perdu berpatahan dan daun-daunnya yang bagaikan diremas. Tanah yang seperti baru dibajak. Dan sesudut tanaman disawah yang menjadi lumat.

Ki Untara menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa adiknya memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, menurut pengamatannya, maka pertempuran itu pun tentu telah berlangsung dengan dahsyatnya. Menurut ceritera adiknya, telah terjadi tiga arena pertempuran. Sabungsari dan Agung Sedayu masing-masing melawan seorang murid dari Gunung Kendeng, sedang Glagah Putih bertempur melawan seorang yang mempunyai ciri seorang prajurit.

“Tentu Sabungsari dan Agung Sedayu telah bertempur dengan sengitnya,” berkata Untara didalam hatinya.

Ketika ia kemudian turun dari kudanya, maka para pengiringnya serta Agung Sedayu pun telah meloncat turun pula.

“Dimana kau sembunyikan mayat-mayat itu?” bertanya Untara kemudian.

Sekilas Agung Sedayu mengangkat wajahnya memandang langit. Cahaya kemerah-merahan mulai nampak di atas cakrawala. Karena itu, maka Agung Sedayu pun dengan tergesa-gesa mengajak kakaknya pergi kebalik sebuah gerumbul yang masih belum menjadi lumat.

“Disini aku menyembunyikan mayat-mayat itu,” desis Agung Sedayu sambil menyibak dedaunan.

Namun alangkah terkejutnya, ketika ia tidak melihat ketiga sosok mayat itu terbaring ditempat semula. Sejenak Agung Sedayu menegang. Dengan sigapnya ia menyibak dibagian lain. Tetapi ia tidak menemukan mayat-mayat itu.

“Kenapa?” bertanya Untara yang melihat Agung Sedayu menjadi sibuk.

adbm-128-02“Mayat itu hilang kakang,” jawab Agung Sedayu terbata-bata.

“He,” Untara pun terkejut pula. Dengan serta merta ia pun meloncat mendekati Agung Sedayu sambil bertanya, “dimana kau letakkan tadi?”

“Disini,” jawab Agung Sedayu sambil menunjuk tempat ia menyembunyikan mayat-mayat itu.

Untara terdiam sejenak. Dengan saksama ia merenungi gerumbul itu dan keadaan di sekitarnya. Sekali-sekali la menyibak pula gerumbul-gerumbul di sebelah menyebelah. Mungkin Agung Sedayu keliru. Tetapi ternyata mereka tidak menemukan mayat mayat itu sama sekali.

“Aneh,” desis Agung Sedayu, “aku meletakkannya disini. Didalam gerumbul ini.”

Untara termangu-mangu sejenak. Ia tentu tidak dapat mencurigai adiknya, bahwa anak muda itu menipunya. Ia pun yakin bahwa Agung Sedayu tentu sudah berbuat seperti yang dikatakannya, karena menurut pengenalannya sejak anak muda itu masih kanak-kanak. Agung Sedayu tentu tak akan menipu atau pun mengatakan sesuatu yang tidak benar dengan maksud apapun juga.

Tetapi Agung Sedayu tidak dapat membuktikan seperti yang dikatakannya.

Untuk beberapa saat lamanya Agung Sedayu masih mencoba mencari ketiga sosok mayat itu di antara gerumbul-gerumbul. Mungkin ada binatang liar yang telah menyeret ketiga sosok mayat itu. Atau barangkali ia keliru mengingat. Tetapi ternyata bahwa ketiga sosok mayat itu tidak dapat diketemukan.

“Seseorang tentu sudah mengambilnya, “geram Agung Sedayu kemudian.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat Sabungsari terluka. Tentu perkelahian itu benar-benar telah terjadi. Bekas-bekasnya pun cukup menyakinkan. Tetapi kenapa tiga sosok mayat yang dikatakan itu telah hilang.

“Apa pendapatmu Agung Sedayu?” bertanya Untara.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku menjadi bingung kakang. Tetapi aku tidak berbohong, bahwa hal itu memang sudah terjadi.”

“Aku mempercayaimu Agung Sedayu. Tetapi apa yang dapat aku lakukan kemudian? Yang kau sebut-sebut itu sama sekali tidak dapat kami lihat. Bukannya aku menuduh kau mengatakan apa yang tidak terjadi, tetapi yang kau sebut-sebut murid Gunung Kendeng dan sebagainya, sama sekali tidak dapat dikuatkan. Mungkin mereka mengaku orang-orang Gunung Kendeng dengan segala macam fitnahan terhadap seseorang yang sudah disebut namanya, tetapi mereka sama sekali bukan orang yang dikatakannya.”

“Tetapi aku yakin,” desis Agung Sedayu.

“Aku mengerti, kau tidak bermaksud mengatakan yang tidak sebenarnya kau dengar dari mulut mereka. Tetapi siapakah yang dapat membuktikan dalam keadaan seperti ini, bahwa kedua orang yang terbunuh itu adalah benar-benar murid dari Gunung Kendeng.”

“Aku kira mereka tidak berbohong pula,” jawab Agung Sedayu, “mereka menyebut diri mereka dengan bangga. Dan agaknya mereka sejak semula tidak bersiap untuk datang ketempat ini, berbohong dan kemudian mati.”

“Tentu,” jawab Untara, “Mati atau tidak mati, mereka dapat saja berbohong. Mereka tentu berniat untuk menghapus jejak, karena mereka juga mempunyai perhitungan. Jika mereka mengaku orang-orang Gunung Kendeng dan sebenarnya mereka memang orang-orang dari Gunung Kendeng, apakah itu tidak berarti menantang prajurit Pajang? Apakah perguruan Gunung Kendeng itu akan mampu bertahan jika prajurit segelar sepapan datang ke padepokan mereka?”

“Tetapi kakang,” jawab Agung Sedayu, “perhitungan mereka adalah, bahwa tidak seorang pun yang akan dapat menyebut, bahwa mereka memang berasal dari Gunung Kendeng. Mereka memperhitungkan, bahwa aku akan mati disini. Demikian pula Sabungsari. Tetapi ternyata yang terjadi adalah lain sama sekali, sehingga ada orang yang dapat menyebut mereka berasal dari Gunung Kendeng.”

Untara mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin perhitungan-mu benar. Setelah terjadi sesuatu diluar perhitungan mereka, maka kawan-kawan mereka telah mengambil satu tindakan khusus dengan menyingkirkan mayat-mayat yang kau tinggalkan. Tetapi kenapa kawan-kawan mereka tidak muncul saat kedua orang itu mulai terdesak.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan Untara. Namun demikian, ia kemudian berkata, “Kakang, semuanya nampak kabur bagiku. Tetapi orang yang membunuh lawanku dari Gunung Kendeng itu pun tidak berusaha bertempur bersamanya saat-saat ia terdesak. Justru ia berusaha membunuhku dari jarak jauh. Ketika ia gagal, maka ia malah membunuh orang Gunung Kendeng itu sendiri dengan anak panahnya.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Persoalan yang dihadapinya adalah persoalan yang rumit. Namun dengan demikian, ia yakin bahwa memang ada orang yang berdiri dibalik segala peristiwa ini. Tetapi ia tidak dapat mempergunakan sekedar keterangan Agung Sedayu dan Sabungsari saja. Karena mereka berdua dapat saja bersepakat untuk menyebut seseorang yang mereka inginkan untuk dilibatkan dalam persoalan ini.

“Agung Sedayu,” berkata Untara kemudian, “aku sudah mendengar semua laporanmu. Aku sudah melihat Sabungsari yang terluka parah. Aku pun melihat arena pertempuran itu. Tetapi aku tidak melihat mayat yang kau katakan. Dan aku tidak mendapatkan petunjuk apapun juga, dengan siapa kalian bertempur, selain keterangan yang kau berikan.”

“Kakang,” berkata Agung Sedayu, “demikianlah kenyataan yang aku hadapi sekarang. Sebagai seorang yang mengalami, aku melaporkan hal ini kepadamu, karena kau adalah Senapati didaerah ini. tetapi persoalan selanjutnya terserah kepada kakang Untara. Apakah ada jalan untuk mengusutnya, atau kakang menganggap bahwa hal ini adalah satu peristiwa yang dapat dilupakan begitu saja.”

Wajah Untara menegang. Katanya kemudian, “Agung Sedayu. Kau sudah cukup dewasa. Kau tidak dapat merengek lagi seperti saat kau masih kanak-kanak. Merajuk dan marah-marah. Adalah kebetulan bahwa Senapati didaerah ini adalah kakakmu. Tetapi itu bukan berarti bahwa aku dapat berbuat apa saja untuk kepentinganmu. Aku tetap seorang Senapati dengan siapapun aku berhadapan.”

“Justru itu kakang,” sahut Agung Sedayu, “aku menyerahkan persoalan ini kepadamu. Bukan lagi sebagai kanak-kanak yang mengurungkan permintaannya karena harus menunggu. Tidak. Aku memang hanya dapat menyerahkan segalanya kepada kakang Untara sebagai seorang Senapati didaerah ini. Bukan sebagai seorang kakak.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun mengangguk-angguk kecil sambil berkata, “Aku akan menyelidiki persoalan ini. Tetapi sampai berapa jauh langkah yang dapat aku ambil, aku masih belum tahu. Karena kau sudah menyebut nama dari mereka yang tersangkut persoalan ini, maka aku akan memperhatikannya. Melihat tanda-tanda dan kemungkinan-kemungkinan padanya. Mudah-mudahan aku mendapat bukti yang cukup untuk berbuat sesuatu, sehingga aku bukannya orang yang bertindak hanya karena perasaan yang sedang bergejolak. Apalagi menyangkut seseorang yang kebetulan adalah keluargaku sendiri.”

Agung Sedayu termenung sejenak. Ia mengerti sikap kakaknya. Dalam keadaan yang bagaimanapun juga, dihadapan siapapun juga, kakaknya adalah seorang prajurit. Karena itu, ia memang tidak mengharap sikap kakaknya itu dapat digerakkan justru karena ia adalah adiknya. Sejenak semula Agung Sedayu memang ingin membawa persoalan itu karena persoalannya menyangkut nama beberapa orang prajurit Pajang di Jati Anom.

Ketika Untara menganggap bahwa ia sudah cukup bahan untuk meneliti persoalan itu, maka ia pun segera icembali ke Jati Anom diikuti oleh para pengiringnya dan Agung Sedayu. Di sepanjang jalan tidak banyak yang mereka bicarakan, karena masing-masing sedang sibuk dengan angan-angan mereka sendiri.

Ketika mereka memasuki gerbang rumah Untara di Jati Anom, langit sudah menjadi semburat merah. Dipepohonan telah terdengar kicau burung-burung liar. Merdu dan riang. Seperti kanak-kanak yang bermain-main kejar-kejaran. Saling berteriak dengan lepas.

Agung Sedayu hanya sejenak duduk di pendapa. Ia melihat kakaknya menjadi murung dan merenung. Karena itu, ia pun kemudian minta ijin untuk pergi menengok Sabungsari yang terluka.

“Lihatlah. Tetapi jika ia masih tidur, jangan kau bangunkan.” pesan Untara.

Agung Sedayu pun kemudian meninggalkan kakaknya yang duduk di pendapa dengan beberapa orang perwira terdekat. Agung Sedayu tidak tahu apa yang dibicarakannya kemudian. Namun agaknya menyangkut laporan yang telah diberikan kepada Untara.

Meskipun dugaan itu benar, tetapi ternyata Untara cukup berhati-hati. Ia tidak menyebut nama seseorang didalam lingkungannya. Ia hanya mengatakan kepada para pembantunya, apa yang dilihatnya, bahwa adiknya bersama Sabungsari mengalami peristiwa yang menimbulkan perselisihan di bulak. Tetapi mereka tidak menemukan mayat yang ditinggalkan oleh Agung Sedayu didekat arena pertempuran itu.

“Aku harus benar-benar memilih orang yang dapat dipercaya untuk mendengar bahwa Ki Pringgajaya dianggap tersangkut dalam hal ini,” berkata Untara kepada diri sendiri.

Sementara itu, Agung Sedayu yang masuk kedalam gandok terkejut melihat keadaan Sabungsari. Ternyata anak muda itu menjadi sangat pucat. Sekali-sekali terdengar Sabungsari yang sudah terbangun meskipun matanya masih terpejam itu berdesis menahan sakit.

“Sabungsari,” suara Agung Sedayu lemah sekali agar tidak mengejutkan Sabungsari yang sedang mengalami kesakitan.

Sabungsari membuka matanya. Dilihatnya Agung Sedayu berdiri di sebelah pembaringannya.

“Bagaimana keadaanmu?” bertanya Agung Sedayu yang kemudian duduk di sebelah Sabungsari.

“Dadaku serasa semakin sakit. Lukaku menjadi panas. Dan pernafasanku kian menjadi sesak,” jawab Sabungsari perlahan-lahan.

“Kau sudah diobati?” bertanya Agung Sedayu pula.

“Ya. Tetapi nampaknya prajurit yang menjadi juru pangupakara itu tidak begitu banyak berpengharapan tentang kesehatanku.”

“Ah, apa benar begitu? Aku lihat lukamu saat kau bertempur dengan Carang Waja lebih parah lagi,” desis Agung Sedayu.

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia Kemudian berkata, “Aku kira semula juga begitu Agung Sedayu. Tetapi prajurit itu agaknya sangat mengenal jenis-jenis luka. Ketika ia melihat lukaku, maka ia pun langsung dapat menilai, meskipun ia belum mengatakannya. Pada wajahnya aku melihat, bahwa ia sangat cemas melihat keadaanku, yang semula aku kira tidak separah lukaku saat aku telah bertempur melawan Carang Waja.”

—- > Bersambung ke bagian 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s