ADBM2-129

Bagian 2

“Ketika aku masih dalam perawatan prajurit yang mengalami kecelakaan itu, tubuhku memang menjadi panas seperti terbakar. Tetapi demikian aku disentuh tangan Kiai Gringsing, keadaan dengan cepatnya menjadi baik.”

Ki Pringgajaya mengerutkan keningnya, dan Sabungsari berkata selanjutnya, “Kiai Gringsing memang seorang dukun yang luar biasa.”

“Ya,” Ki Pringgajaya mengangguk-angguk sambil tersenyum, “sudah aku katakan, bahwa aku pun pernah mendengarnya. Dan aku tidak akan menolak pengakuan sebagian orang atas kemampuannya.”

“Dan aku pun telah membuktikannya. Bukan baru kali ini, tetapi disaat aku membunuh Carang Waja. Orang yang menurut pendengaranku adalah orang yang tidak terkalahkan. Tetapi ia mati oleh tanganku, meskipun aku terluka parah. Untunglah, Kiai Gringsing cepat menangani keadaanku, sehingga aku dapat tertolong. Seperti juga kali ini, aku pun ternyata telah tertolong,” sahut Sabungsari.

Ki Pringgajaya masih saja mengumpat-umpat didalam hati. Ia tidak berhasil menyakiti hati Sabungsari yang sedang terbaring itu. Bahkan hatinya sendirilah yang menjadi sakit karenanya.

Karena itu, maka katanya kemudian, “Aku akan minta diri. Mudah-mudahan kau cepat sembuh Sabungsari. Kau tentu akan mendapat perhatian jauh lebih dahulu dari kawan-kawan sebayamu saat memasuki lingkungan keprajuritan.”

“Terima kasih Ki Pringgajaya,” jawab Sabungsari, “sebenarnya aku pun sudah ingin bertanya, apakah imbalan yang akan aku terima setelah aku membunuh Carang Waja dan kini orang-orang yang mengaku mempunyai persoalan dengan aku dan Agung Sedayu tetapi tanpa menjelaskan masalahnya.”

Ki Pringgajaya tertawa. Katanya, “Orang yang sakit dan mengalami kenaikan panas badan, kadang-kadang memang dapat melihat sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada. Tetapi kau benar-benar pernah mengalami sesuatu meskipun yang kau alami itu menurut pendengaranku adalah sangat aneh. Kau dan Agung Sedyu telah berhasil membunuh lawan-lawanmu, tetapi mayat mereka tidak pernah dapat diketemukan.”

Terasa dada Sabungsari bergetar. Demikian juga Agung Sedayu. Namun mereka masih tetap berusaha menahan diri.

Dalam pada itu, ternyata Untara lah yang telah menjawab, “Apa yang aneh Ki Pringgajaya? Sama sekali tidak ada yang aneh. Agung Sedayu dan Sabungsari telah membunuh lawannya. Ketika mayat itu ditinggal di tengah bulak panjang, maka mayat itu telah diambil oleh kawan-kawan mereka. Bukankah wajar sekali.”

Wajah Ki Pringgajaya menjadi merah. Tetapi juga hanya sesaat. Ia pun kemudian tersenyum pula sambil menjawab, “Benar Ki Untara. Memang tidak aneh. Ya, hal itu memang dapat terjadi.”

“Nah, jika Ki Pringgajaya sudah cukup, marilah kita keluar dari bilik yang pengap ini. Lebih baik kita duduk di pendapa. Sudah aku katakan, bahwa kita pada suatu saat akan membicarakan masalah yang rumit ini, tetapi sama sekali tidak aneh.”

Ki Pringgajaya tidak dapat membantah. Ia pun kemudian mengikuti tentara melangkah kepintu bilik itu setelah ia minta diri kepada orang-orang yang ada didalamnya. Kemudian kepada Sabungsari ia berkata, “Mudah-mudahan kau cepat sembuh. Kau akan segera dapat bertugas lagi dalam lingkungan keprajuritan. Jika diperkenankan, aku akan memohon kepada Senapati Untara, agar kau mendapat tugas pada lingkunganku. Aku memerlukan prajurit-prajurit muda seperti kau.”

Jawaban Sabungsari benar-benar mengejutkan, “Semua pimpinan kelompok telah menyatakan keinginannya untuk menarik aku kedalam lingkungan mereka masing-masing, setelah mereka mengetahui kemampuanku. Tetapi aku yakin bahwa Senapati prajurit Pajang di Jati Anom tidak akan kurang bijaksana, bahwa aku akan ditempatkan pada kelompok yang dipimpin oleh seorang perwira yang memiliki kemampuan melampaui aku.”

Terdengar gigi Ki Pringgajaya gemeretak. Namun bagaimanapun juga ia harus menahan dirinya. Di ruang itu terdapat Agung Sedayu, gurunya dan disaksikan oleh Ki Untara sebagai Senapati prajurit Pajang di Jati Anom. Karena itu, gejolak hatinya itu pun ditahankannya didalam dadanya. Ia tidak sempat menjawab apapun juga, karena Untara kemudian berkata, “Apakah kalian sudah mulai akan menilai kebijaksanaanku sebagai Senapati di daerah ini?”

“Tidak, bukan maksudku,” jawab Ki Pringgajaya.

Sementara Sabungsari yang merasa kurang dapat mengendalikan kata-katanya segera menyahut pula, “Aku mohon maaf Senapati. Aku hanya ingin bergurau.”

Untara mengerutkan keningnya. Ia tahu pasti bahwa Sabungsari tidak ingin bergurau. Bahkan menurut penilaiannya, yang dikatakan oleh Sabungsari itu adalah gejolak perasaannya, sehingga dengan tidak langsung ia sudah menilai kemampuannya dengan kemampuan Ki Pringgajaya. Malahan kata-kata Sabungsari itu dapat diartikan sebagai suatu tantangan terhadap Ki Pringgajaya yang telah berbuat licik terhadap Agung Sedayu.

Tetapi Untara tidak memberi kesempatan mereka berbantah lebih lama lagi. Sekali lagi ia berkata, “Marilah Ki Pringgajaya.”

Dan Ki Pringgajaya yang sudah berdiri dipintu itu pun melanjutkan langkahnya menuruni longkangan dan kemudian naik ke pendapa.

Namun betapapun juga, terasa hati Ki Pringgajaya bagaikan membara mendengar kata-kata Sabungsari yang baru mulai sembuh itu.

Untuk beberapa saat kemudin Ki Pringgajaya duduk di pendapa. Tetapi terasa dadanya bagaikan bergejolak. Ia bukan seorang yang tidak memiliki perasaan sama sekali, sehingga dengan demikian, ia pun mengerti, bahwa Sabungsari telah menantangnya. Ia mengerti bahwa Sabungsari menganggap bahwa kemampuannya tidak akan dapat mengimbangi kemampuan anak muda yang terluka itu.

“Anak itu memang harus dibunuh,” geram Ki Pringgajaya.

Namun itu pun kemudian harus mendengarkan pendapat Untara tentang peristiwa yang telah terjadi di bulak itu. Bahwa ia akan memanggil beberapa orang perwira untuk menilai keadaan.

Terasa gejolak hati Ki Pringgajaya menjadi semakin pepat. Ia sadar, bahwa Untara tentu sudah mendengar pengaduan Agung Sedayu dan terutama Sabungsari tentang dirinya. Ia mengerti bahwa Ki Untara pun pernah mendengar namanya disebut-sebut. Tetapi hanya karena tidak seorang pun yang memberikan bukti keterlibatannya ataupun saksi yang meyakinkan, maka Ki Untara tidak akan dapat menuduhnya dengan serta merta.

“Ki Pringgajaya,” berkata Untara kemudian, “peristiwa itu memang sangat menarik perhatian. Ternyata selain mereka yang terbunuh itu tentu ada orang lain yang segera datang ke bekas arena pertempuran itu. Orang-orang itulah yang kemudian mengambil mayat yang disembunyikan itu.”

“Tetapi apakah maksud mereka?” bertanya Ki Pringgajaya, “seandainya mayat itu dibiarkan saja, maka mayat itu tidak akan dapat mengucapkan kesaksian apapun juga. Mayat itu akan tetap beku dan tidak akan dapat memberikan jalan keluar.”

“Tetapi bagaimanakah kiranya jika tiba-tiba sengaja atau tidak sengaja, ada pihak yang dapat mengenali mereka. Agaknya orang-orang yang bersangkutan itu telah berusaha untuk menghapus jejak sama sekali. Jika ada orang yang dapat mengenal mayat-mayat itu, maka akan dapat dilakukan pengusutan. Meskipun seandainya orang-orang itu datang dari daerah yang jauh, maka kekuasaan Pajang akan dapat mempergunakan prajuritnya yang tersebar untuk menyelidiki keadaan itu,” jawab Untara.

Ki Pringgajaya menjadi gelisah. Tetapi ia tidak segera minta diri. Justru ia ingin mendengar rencana Untara selanjutnya, meskipun ia pun mengerti, bahwa yang dikatakan Untara kepadanya tentu sudah diperhitungkan masak-masak, sesuai dengan persoalan yang sudah didengarnya sebelumnya.

“Ki Untara,” berkata Pringgajaya kemudian, “apakah ada perintah khusus bagiku dalam hubungan dengan persoalan ini?”

“Belum Ki Pringgajaya. Aku belum dapat memberikan perintah khusus kepada siapapun juga, kecuali secara umum aku minta kepada setiap prajurit untuk membantu memecahkan persoalan ini. Setiap keterangan yang didengar oleh setiap prajurit, harus disampaikan langsung kepadaku, siapapun mereka itu. Dari perwira ditataran tertinggi didaerah ini sampai prajurit ditataran terendah, setingkat dengan tataran Sabungsari yang terluka itu.”

“Baiklah Ki Untara,” jawab Pringgajaya, “yang terjadi ini adalah satu tantangan bagi prajurit Pajang di Jati Anom. Memang setiap prajurit merasa wajib untuk ikut serta mencari keterangan, meskipun mungkin yang terjadi itu adalah masalah pribadi dari prajurit muda yang terluka itu, atau persoalan pribadi dari Agung Sedayu.”

“Mungkin sekali,” jawab Untara, “mungkin persoalannya memang dapat dibatasi pada masalah pribadi dari Sabungsari atau Agung Sedayu. Tetapi seandainya persoalan itu persoalan pribadi, tetapi terjadi di daerah ini dan sudah mengancam jiwa seseorang, bukankah juga menjadi kewajiban kita untuk ikut mempersoalkannya?”

“Ya. Memang demikian Ki Untara. Kita harus menyelidiki masalah sampai tuntas. Kita juga harus melihat kemungkinan yang paling pahit dari peristiwa ini,” berkata Ki Pringgajaya.

adbm-129-03“Maksudmu?”bertanya Untara.

“Persoalannya dapat saja terjadi, beberapa orang jahat ingin membunuh Sabungsari dan Agung Sedayu. Tetapi mereka gagal sehingga justru mereka yang terbunuh. Tetapi dapat juga sebaliknya, bahwa Sabungsari ingin membunuh lawannya, entah dalam hubungan apa, sementara ia melibatkan Agung Sedayu kedalamnya. Bahkan mungkin yang lebih buruk lagi bagi Senapati, bahwa Agung Sedayu lah yang dengan perhitungan yang masak telah membunuh seseorang atau lebih dan menyembunyikan mayat mereka dengan sengaja.”

“Jika demikian, bagaimana kiranya jika mereka diam saja dan tidak menyatakannya kepadaku?” bertanya Untara.

“Seandainya Sabungsari tidak terluka, aku kira memang demikian. Mereka tidak akan menyampaikan apapun juga kepada Ki Untara. Tetapi karena Sabungsari terluka, maka ia harus berbicara tentang lukanya itu dengan cara apapun juga.”

Tiba-tiba saja Untara mengangguk-angguk sambil berkata penuh minat, “Mungkin Ki Pringgajaya. Mungkin sekali. Mungkin anak-anak itu dengan sengaja ingin melemparkan kesalahan dari peristiwa ini kepada orang lain.”

“Ya. Segalanya harus dipertimbangkan baik-baik,” berkata Pringgajaya, “segala kemungkinan memang dapat terjadi. Yang putih dapat dianggap hitam dan yang hitam dapat dianggap putih.”

“Ya. Aku mengerti maksudmu,” desis Untara.

“Karena itu, maka sebaiknya kita melihat segenap segi dari peristiwa ini,” berkata Ki Pringgajaya selanjutnya.

“Baiklah,” sahut Untara, “lakukanlah yang dapat kau lakukan disamping tugasmu sendiri. Aku menunggu setiap laporan dari siapapun juga. Mungkin ada beberapa keterangan yang bertentangan. Tetapi dengan demikian segala bahan aku perlukan.”

Ki Pringgajaya pun kemudian minta diri, sambil berkata, “Aku bersedia melakukan apa saja. Juga seandainya Ki Untara mempunyai perintah khusus dalam hubungan dengan peristiwa ini.”

“Aku akan memikirkannya,” berkata Untara kemudian.

Ki Pringgajaya pun kemudian meninggalkan pendapa, sementara Untara menggeram didalam hatinya. “Ia memang licik sekali.”

Tetapi Untara pun menyadari, bahwa dengan demikian ia memang harus sangat berhati-hati menghadapi Ki Pringgajaya yang cerdik itu.

Sepeninggal Ki Pringgajaya, Untara masih merenung beberapa saat. Agaknya Ki Pringgajaya ingin memberikan kesan yang lain tentang peristiwa itu, sehingga jika namanya disebut-sebut oleh Agung Sedayu atau Sabungsari, maka itu adalah karena anak-anak muda itu ingin melontarkan persoalan yang melibat mereka itu kepada orang lain.

Meskipun menurut hati kecilnya Untara lebih percaya kepada Agung Sedayu dan Sabungsari, namun ia memang harus berhati-hati. Ki Pringgajaya bukan orang yang bernalar pendek. Ia cukup cerdik untuk mengancam persoalan itu sehingga menjadi hambatan persoalan yang berbeda dengan apa yang telah terjadi.

Karena itu Untara tidak dengan tergesa-gesa menolak keterangan Ki Pringgajaya yang mengarah itu. Ia pun seperti Ki Pringgajaya, ingin mendengar pendapat dan keterangan-keterangan sebanyak-banyaknya untuk dapat dijadikan bahan, mengurai masalah itu dari segala segi.

Namun Untara pun kemudian menyadari, bahwa ia hanya dapat bekerja dengan orang-orang yang paling dapat dipercaya di lingkungannya. Sejak saat perkawinannya, ia memang sudah merasa, bahwa ada beberapa orang yang pantas mendapat perhatiannya didalam lingkungannya itu.

Ternyata orang yang dimaksud itu sangat terbatas. Jika ia salah memilih orang, maka rencananya itu pun akan menjadi pecah tanpa menghasilkan apapun juga. Bahkan mungkin akan mempunyai akibat yang sangat buruk bagi adiknya dan prajurit muda yang terluka itu.

Demikianlah, pada saat-saat terakhir, setelah Untara mematangkan rencananya didalam hatinya, maka ia pun menemui Kiai Gringsing dan Agung Sedayu. Bagaimanapun juga ia percaya kepada adiknya, karena ia mengetahui sifat-sifatnya. Sejak kanak-kanak Agung Sedayu telah mencoba untuk menghindarkan diri dari perbuatan dusta. Jika sekali-sekali Agung Sedayu terpaksa membela diri dalam ketakutan dimasa kanak-kanaknya dengan mengingkari kesalahannya, maka Untara segera mengetahui, bahwa ia telah berbohong.

Meskipun ada perkembangan sifat dan watak Agung Sedayu, yang tidak lagi dibayangi oleh ketakutan, tetapi Untara masih yakin, bahwa adiknya masih tetap dapat dipercaya, meskipun bukan berarti bahwa Agung Sedayu tidak dapat menyimpan rahasia.

“Kiai,” berkata Untara kemudian, “kita memang harus berbuat sesuatu. Aku kira usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mencelakai Agung Sedayu itu tidak akan berhenti sampai kematian ketiga orang yang mayatnya tidak dapat diketemukan itu.”

“Ya ngger. Aku kira memang demikian,” jawab Kiai Gringsing, “seperti yang telah terjadi, maka dendam itu bagaikan mengikuti Agung Sedayu kemana ia pergi.”

“Karena itu Kiai. Aku mohon Kiai dapat membantu aku. Aku akan bekerja sama dengan orang-orang yang memang dapat aku percaya. Sementara aku ingin memancing orang-orang yang terutama dari lingkungan prajurit Pajang di Jati Anom, untuk berbuat sesuatu. Dalam perkembangan terakhir, menurut ceritera Agung Sedayu dan Sabungsari, maka Sabungsari lah yang dianggap orang paling berbahaya saat ini bagi mereka. Karena itu, biarlah kita mengumpankannya.”

Kiai Ggringsing mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah kita akan mengorbankannya?”

“Tentu tidak Kiai. Kita harus melindunginya,” berkata Untara dengan serta merta, “karena itu, kita harus merencanakannya dengan penuh tanggung jawab. Jika terjadi sesuatu atas anak itu, maka kitalah yang bersalah.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling kepada Agung Sedayu, maka dilihatnya anak muda itu menjadi tegang.

“Kiai,” berkata Untara kemudian, “aku ingin mempersilahkan Kiai membawa Sabungsari kepadepokan kecil itu.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun segera ia mengerti maksud Untara. Karena itu, maka katanya, “Jika itu yang sebaiknya kita lakukan, aku pun tidak berkeberatan.”

“Aku akan meletakkan orang-orangku dalam tugas sandi di sekitar padepokan kecil itu. Sementara aku pun akan membuat tempat yang dapat melakukan pengawasan langsung, dalam gelar keprajuritan seperti yang pernah aku katakan kepada Agung Sedayu.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia pun mengerti, bahwa dengan demikian maka perhatian orang-orang yang bermaksud jahat terhadap isi padepokan itu pun akan tertuang kepada sekelompok pengawasan yang nampak dalam ujud mereka sebagai prjurit, sementara pengawasan yang sebenarnya akan dilakukan oleh petugas-petugas sandi khusus, yang oleh para prajurit Pajang sendiri tidak banyak dikenal.

Namun yang akan mereka lakukan memang tidak hanya semudah yang mereka bicarakan. Untara pun mengerti kesulitan-kesulitan yang bakal tumbuh dengan rencananya. Karena itu, maka Untara pun telah membicarakannya dengan Kiai Gringsing segala kemungkinan yang dapat terjadi dengan bersungguh-sungguh.

Kadang-kadang mereka menemukan satu cara, tetapi kadang-kadang mereka harus merubahnya karena ada kemungkinan lain yang lebih baik.

Akhirnya mereka menemukan juga kemungkinan terbaik yang dapat mereka lakukan. Mereka akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu atas Sabungsari yang akan mereka jadikan umpan untuk menjebak orang-orang yang mereka anggap telah terlibat dalam usaha-usaha yang bukan saja sekedar dendam pribadi, tetapi akan menyangkut masalah yang lebih luas lagi bagi Pajang dalam keseluruhan.

Demikianlah, maka Untara dan Kiai Gringsing pun mulai mempersiapkan diri dengan kewajiban mereka masing-masing. Tugas Kiai Gringsing adalah membawa Sabungsari kepadepokan dengan alasan mempermudah perawatan, sementara Untara mempunyai tugas yang cukup berat dalam hubungan yang luas.

Atas persetujuan Untara, maka Sabungsari pun wajib mengerti rencana itu, karena ia bukan lagi seorang anak muda yang hanya hanyut dalam arus perasaan. Sabungsari yang mengalami berbagai masalah dan perkembangan jiwa itu telah tumbuh semakin dewasa menanggapi keadaan.

“Kau harus tetap seorang yang sakit parah,” berkata Kiai Gringsing, “meskipun kau berangsur baik, tetapi kau harus tetap dalam keadaan yang nampaknya sangat buruk.”

Sabungsari termenung sejenak. Namun ia pun kemudian mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Kiai Gringsing.

“Orang diluar padepokan, bahkan para cantrik yang tidak mengerti seluk beluk dari persoalan ini harus tetap menganggap bahwa kau masih memerlukan perawatan yang sungguh-sungguh. Dengan demikian, maka orang-orang yang bermaksud buruk terhadapmu, tetap menganggap bahwa kau masih sangat lemah dan tidak dapat berbuat apa-apa.”

“Apakah sebenarnya aku sudah boleh berbuat sesuatu?” bertanya Sabungsari.

“Sekarang tidak,” jawab Kiai Gringsing, “sekarang kau masih belum boleh banyak bergerak. Tetapi setiap hari keadaanmu berangsur baik. Namun kau tidak boleh memberikan kesan demikian.”

Sabungsari mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baik Kiai. Aku akan mencoba melakukannya. Mudah-mudahan dengan demikian akan terbuka jalan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.”

Demikianlah, maka pada hari yang sudah ditentukan, Untara telah menyediakan sebuah pedati untuk membawa Sabungsari yang sakit parah itu kepadepokan kecil yang dihuni oleh Kiai Gringsing dan Agung Sedayu. Kepada setiap orang Untara mengatakan, bahwa atas permintaan Kiai Gringsing Sabungsari telah dibawa kepadepokannya, agar ia dapat merawatnya dengan baik.

“Tetapi aku tidak sampai hati melepaskannya tanpa pengawasan,” berkata Untara kepada para perwira yang berkumpul pada saat-saat tertentu di pendapa rumahnya, “aku akan menempatkan sebuah gardu perondan di padukuhan terdekat. Aku akan menempatkan setiap malam tiga orang prajurit yang akan dapat membantu mengawasi keadaan padepokan itu. Jika orang-orang yang bermaksud buruk itu datang lagi ke padepokan, maka ketiga orang prajurit itu akan dapat membantu mereka jika mereka mendengar satu isyarat.”

Sebenarnyalah bahwa Untara telah menempatkan sebuah gardu perondan di padukuhan terdekat. Ia menugaskan setiap malam tiga orang prajurit berkuda untuk mengawasi padepokan Kiai Gringsing yang didalamnya terdapat Sabungsari.

Ki Pringgajaya yang ikut mendengarkan keterangan Untara itu tersenyum didalam hatinya. Ketika ia kembali kebaraknya, maka ia pun berkata kepada pengikutnya, “Kita harus tetap berhati-hati.”

Pengikutnya tertawa pendek. Katanya, “Apa artinya tiga prajurit digardu penjagaan itu.”

Tetapi Ki Pringgajaya berkata, “Jangan terlalu percaya. Untara bukan seorang Senapati yang bodoh. Ia memang mungkin melakukannya kesalahan. Tetapi kita harus meyakinkan, bahwa Untara menganggap persoalan ini sekedar persoalan kecil, sehingga ia benar-benar hanya menempatkan tiga orang pengawas.”

“Kita dapat melihat, apakah perkembangan berikutnya menunjukkan bahwa diluar tiga orang itu, Untara memberikan perlindungan yang lain,” berkata pengikutnya.

“Ya. Kita tidak boleh tergesa-gesa. Kita juga tidak boleh melakukan kesalahan lagi, seperti yang terjadi sehingga Sabungsari berhasil mengkhianati kita. Untunglah bahwa kita cepat berhasil menghapus kemungkinan yang dapat memberikan jalan untuk menelusurinya,, sehingga keterangan Sabungsari tidak cepat dapat dipercaya. Meskipun demikian kita harus tetap berhati-hati. Untara tentu akan berusaha menelusuri juga meskipun ia tidak akan yakin bahwa ia akan dapat membuktikannya. Keterangan Sabungsari dan Agung Sedayu tidak cukup kuat untuk alasan menangkap dan apalagi menghukum aku.”

Pengikutnya mengangguk-angguk. Katanya, “Kita memang kurang teliti mengamati keadaan. Tetapi kesalahan yang sama tidak akan terjadi lagi.”

Ki Pringgajaya tersenyum. Katanya, “Untuk beberapa saat kita tidak akan berbuat apa-apa. Kita menunggu perkembangan tindakan Untara selanjutnya. Jika ia benar-benar hanya menempatkan tiga orang peronda digardu yang dibuatnya di padukuhan sebelah padepokan kecil itu, maka kita yakin bahwa Untara adalah seorang-Senapati yang bodoh. Atau bahwa ia menganggap persoalan itu adalah persoalan kecil dan bersifat sangat pribadi, sehingga ia tidak merasa perlu untuk melibatkan diri terlalu jauh.”

“Mudah-mudahan,” sahut pengikutnya, “namun bagaimanapun juga, kita akan dapat menembus dinding padepokan itu, dan membunuh pengkhianat itu sekaligus Agung Sedayu.”

“Jangan menganggap bahwa hal itu akan mudah kita lakukan. Jika Sabungsari dan Agung Sedayu bersama-sama berdiri disatu pihak, maka mereka akan merupakan kekuatan yang luar biasa.”

“Mumpung Sabungsari masih belum sembuh. Agaknya racun yang diberikan oleh prajurit yang terbunuh itu sudah jauh mencengkam tubuh prajurit muda itu, sehingga Kiai Gringsing mengalami kesulitan untuk menyembuhkannya.”

“Tetapi adalah suatu kebodohan, bahwa Kiai Gringsing telah membawanya ke padepokan kecilnya. Meskipun Untara menempatkan prajurit yang sama sekali tidak akan berarti apa-apa itu.” ia berhenti sejenak, lalu. “mungkin Untara juga bermaksud menjebak orang yang berniat buruk dengan menempatkan tiga orang prajurit itu diluar padepokan. Karena itu, ia mengatakan, bahwa tiga orang prajurit itu akan bertindak jika ia mendengar isyarat. Agaknya Agung Sedayu sudah dipesannya untuk memberikan isyarat jika diperlukan.”

“Isyarat itu tentu akan bersambut dan bersambung.”

Ki Pringgajaya tertawa. Katanya, “Bodoh sekali. Apakah orang yang berniat buruk itu akan memberi kesempatan isyarat itu dapat menjalar?”

Pengikut Pringgajaya itu pun tertawa juga. Namun ia tidak menjawab lagi. Ia sudah mulai membayangkan, bahwa akhirnya padepokan kecil itu akan dapat dimusnahkan bersama segala isinya.

Namun dalam pada itu, Widura ternyata telah berada dipadepokan itu pula mengunggui anaknya. Sementara itu, ada dua orang cantrik baru yang ikut tinggal bersama Widura dipadepokan itu. Mereka adalah dua orang kakak beradik yang meskipun umurnya bukan lagi dapat disebut muda, namun mereka ingin menambah pengetahuan mereka dipadepokan. Hanya Kiai Gringsing, Widura, Sabungsari dan Agung Sedayu sajalah yang mengetahui. Siapakah sebenarnya mereka.

Sementara Sabungsari yang berbaring didalam biliknya pun telah diberitahu pula segala rencana yang sedang dilaksanakan itu termasuk kehadiran Widura dan dua orang cantrik baru dipadepokan kecil itu.

Namun dalam pada itu, dalam waktu-waktu yang terasa sangat berdesakan bagi Agung Sedayu, ia berusaha meningkatkan ilmu Glagah Putih. Ia tidak boleh mengecewakan anak muda itu. Jika niatnya yang menyala itu tidak diimbangi oleh Agung Sedayu, maka Glagah Putih akan dapat menjadi kecewa dan kehilangan tekadnya untuk menempa diri dengan sejauh kemampuan tenaganya.

Tetapi disamping Agung Sedayu membimbing adik sepupunya, maka ia pun menyisihkan waktu sedikit untuk kepentingan dirinya sendiri. Ia tidak dapat ingkar dari kenyataan, bahwa maut telah memburunya kemana ia pergi. Karena itu, maka ia merasa wajib untuk meningkatkan kemampuannya, agar ia dapat melindungi dirinya sendiri dari bencana. Selebihnya untuk mengamalkan ilmunya bagi sesamanya.

Namun ternyata bukan saja Glagah Putih dan dirinya sendiri. Tetapi ia pun berusaha untuk memberikan sedikit dasar olah kanuraga kepada anak-anak muda yang berada di padepokannya. Cantrik-cantrik itu pun ternyata mengikuti segala tuntutannya dengan sungguh-sungguh pula. Mereka merasa berbahagia sekali, jika mereka dapat memiliki sekedar ilmu untuk melindungi diri mereka sendiri.

Tetapi sebagaimana dikatakan oleh Agung Sedayu, bahwa jika kemudian ternyata mereka memiliki serba sedikit ilmu kanuragan, maka mereka harus mempergunakan sebaik-baiknya, sesuai dengan martabat mereka di antara sesama.

Hanya dua orang cantrik yang baru itu sajalah yang masih belum bersedia ikut dalam olah kanuragan. Mereka merasa diri mereka sudah terlalu tua untuk ikut serta mempelajari ilmu yang menurut mereka khusus hanya diperuntukkan bagi orang-orang muda.

“Aku hanya ingin mempelajari kawruh kajiwan dari Kiai Gringsing,” berkata salah seorang dari mereka, “sementara kalian yang muda-muda dapat mempelajari kawruh kanuragan dari Agung Sedayu.”

“Apa salahnya,” sahut salah seorang cantrik dipadepokan itu, “tidak untuk mencari musuh. Tetapi sekedar untuk mengerti.”

Tetapi keduanya tetap merasa diri mereka sudah tidak pantas lagi untuk mulai dengan mempelajari ilmu kanuragan.

Meskipun demikian, akhirnya mereka pun ikut pula berada didalam sanggar. Dengan sisa-sisa tenaga mereka yang mulai menjadi lemah, mereka menirukan satu dua unsur gerak. Namun mereka segera berhenti jika nafas mereka telah menjadi terengah-engah. Anak-anak muda yang berada didalam sanggar itu pun tersenyum saja melihat kedua orang itu. Mereka menganggap bahwa keduanya benar-benar telah terlambat untuk mulai berlatih.

Sementara Agung Sedayu hanya menahan senyumnya saja melihat kedua orang itu duduk terbatuk-batuk di sudut sanggar. Karena sebenarnyalah Agung Sedayu mengetahui, bahwa kedua orang yang dikirim oleh kakaknya itu adalah petugas sandi khusus yang tidak banyak dikenal oleh kalangan keprajuritan Pajang sendiri.

Dalam tugas yang dibebankan kepada mereka, maka keduanya berusaha untuk dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan di padepokan itu. Mereka pun berusaha untuk berbuat seperti yang dilakukan oleh para cantrik yang lain. Namun dalam saat-saat khusus, jika para cantrik yang masih muda berada disanggar bersama Agung Sedayu, maka kedua orang itu kadang-kadang berada didalam ruang dalam bersama Kiai Gringsing, yang menurut pengertian anak-anak muda yang berada dipadepokan itu, keduanya sedang menyadap kawruh kajiwan dari Kiai Gringsing.

“Kalianpun akan melakukannya pada suatu saat,” berkat Agung Sedayu, “kalianpun harus mengetahui serba sedikit kawruh kajiwan, agar hidup kalian tidak terasa kosong tanpa arti.”

Sebenarnyalah pada saat-saat tertentu, keduanya berada didalam ruang tersendiri bersama Kiai Gringsing dan Ki Widura untuk mengurai perkembangan keadaan.

“Belum terasa sesuatu akan terjadi,” berkata Kiai Gringsing.

“Ya Kiai,” jawab yang seorang, “tetapi bukan berarti bahwa tidak akan terjadi.”

“Ya Ki Lurah Patrajaya,” sahut Kiai Gringsing, “kita memang tidak boleh lengah sama sekali. Mungkin kita harus menunggu untuk waktu yang lama. Mudah-mudahan Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda kerasan tinggal dipadepokan ini.”

Keduanya tersenyum. Wirayuda menjawab, “Menyenangkan sekali. Aku merasa mendapat kesempatan untuk benar-benar menikmati kehidupan disini. Semuanya nampak wajar dan tidak dibuat-buat. Terasa anak-anak muda yang berada dipadepokan ini adalah anak-anak muda yang bersih dan jujur. Mereka tidak terlalu banyak dipengaruhi oleh keburaman hati manusia yang menjadi tamak dan dengki, justru semakin banyak yang mereka kenal dari dunia ini. Mudah-mudahan kehadiranku tidak mengotori kebeningan kehidupan disini.”

Kiai Gringsing tertawa. Katanya, “Apakah Ki Lurah mengira bahwa setiap hati dipadepokan ini sebenarnya bening seperti yang Ki Lurah bayangkan. Cobalah Ki Lurah melihat, betapa keruhnya hatiku yang penuh dengan cacat dan noda, sehingga karena itulah maka aku takut melihat kedalam diriku sendiri. Agung Sedayu yang masih muda itu pun telah melumuri dirinya dengan seribu macam noda. Sementara Sabungsari adalah warna yang kusam dari jalur kehidupan seorang yang kecewa. Meskipun pada saat-saat terakhir ia telah berusaha untuk mencucinya dengani perbuatan-perbuatan yang baik.”

Kedua orang petugas sandi khusus itu pun tersenyum sementara Widura berkata, “Kiai Gringsing dengan sengaja tidak menyebut sesuatu tentang aku, dan tentang anakku.”

Kiai Gringsing pun berpaling kepadanya. Katanya, “Biarlah Ki Widura berkata tentang dirinya sendiri.”

Mereka yang ada didalam ruang itu tertawa. Mereka berusaha untuk mengisi saat-saat yang melelahkan karena menunggu sesuatu yang tidak pasti akan terjadi.

Namun mereka tidak boleh mengabaikannya. Yang mereka anggap belum tentu akan terjadi itu memang dapat terjadi setiap saat. Bahkan pada saat-saat yang tidak mereka sangka sama sekali.

Dengan demikian, maka Ki Lura Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda yang mendapat tugas untuk membantu mengawasi keadaan dipadepokan itu tidak dapat meninggalkan tugas mereka barang sekejap. Karena itu, maka mereka pun benar-benar telah hidup didalam padepokan kecil itu seperti para cantrik yang lain.

Sementara itu, keadaan Sabungsari pun menjadi berangsur baik. Ia sudah tidak lagi dipengaruhi oleh racun apapun juga, sementara luka-lukanya pun telah merapat. Didalam biliknya Sabungsari telah mulai melatih tubuhnya untuk bergerak. Ia berjalan hilir mudik didalam biliknya. Kemudian meloncat-loncat dan menggerakkan tangan serta lambungnya. Semakin lama semakin banyak dan keras.

Namun demikian, Sabungsari masih memberikan kesan seperti orang yang sakit parah. Jika ia pergi ke pakiwan, maka Agung Sedayu menolong memapahnya. Meskipun kadang-kadang sambil tertawa Agung Sedayu berbisik, “Kenapa kau tidak minta didukung saja?”

“Agaknya akan menyenangkan sekali,” desis Sabungsari.

Namun jika yang memapahnya Glagah Putih, maka Sabungsari berusaha untuk memberikan kesan bahwa ia benar-benar masih belum mampu berjalan sendiri, karena menurut Agung Sedayu dan Ki Widura sendiri, bahwa Glagah Putih masih belum cukup dewasa untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya.

Meskipun demikian. Agung Sedayu berusaha untuk memberikan kesan bahwa keadaan padepokan itu benar-benar dalam keadaan bahaya.

“Kenapa Sabungsari tidak tinggal di rumah kakang Untara saja?” bertanya Glagah Putih.

“Disini ia mendapat perawatan yang cukup dari Kiai Gringsing,” jawab Agung Sedayu.

“Dipersilahkan kepada Kiai Gringsing untuk tinggal di rumah kakang Untara pula.” berkata Glagah Putih seterusnya.

“Tentu Kiai Gringsing merasa kurang enak. Tetapi dipadepokan ini ia merasa berada di rumah sendiri,” sahut Agung Sedayu. Namun ia pun berkata, “Tetapi dengan akibat yang membebani kita semua. Kita harus selalu berhati-hati. Kita harus merawat Sabungsari sebaik-baiknya. Juga kita harus melindunginya jika ada orang bermaksud jahat terhadapnya dan terhadap kita.”

“Seperti yang terjadi di bulak panjang itu?” bertanya Glagah Putih.

“Ya,” jawab Agung Sedayu pendek.

“Tetapi kenapa kakang Untara tidak mengambil tindakan sesuatu terhadap orang yang menyuruh orang-orang Gunung Kendeng itu untuk mencegat kakang Agung Sedayu.”

“Tidak seorang pun yang mengetahui. Ia dapat saja menyebut nama siapapun juga. Tetapi itu belum dapat menjadi bukti dari satu kebenaran.”

Glagah Putih termenung sejenak. Ada beberapa hal yang tidak dapat dimengertinya. Sikap Sabungsari saat itu dan berbagai masalah yang didengarnya dalam pembicaraan sebelum perkelahian itu terjadi.

Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Apalagi kali Agung Sedayu selalu berkata, “Jangan banyak memikirkan sesuatu yang tidak kita ketahui dengan pasti. Yang penting bagi kita, bagaimana kita meningkatkan ilmu kita masing-masing.”

“Ya. Aku sependapat,” berkata Glagah Putih.

Karena itulah, maka ia pun telah mempergunakan segenap kesempatan yang ada padanya untuk berlatih tanpa mengenal lelah.

Namun yang dilakukan oleh Glagah Putih itu tidak sia-sia. Ilmunya telah meningkat dengan cepat. Ia sudah menguasai sebagian besar dari ilmu yang ada dalam jalur warisan ilmu Ki Sadewa lewat Agung Sedayu yang menguasai ilmu itu pula meskipun tidak langsung. Bahkan seolah-olah ilmu itu didalam diri Agung Sedayu telah dilengkapi dengan berbagai unsur yang dapat meningkatkan nilai dari ilmu kanuragan itu.

Untara yang juga menguasai ilmu itu sepenuhnya, ternyata kemajuannya tidak sepesat Agung Sedayu. Meskipun Untara juga tidak berhenti pada batas penguasaannya, karena ia pun masih selalu berusaha meningkatkan ilmunya, tetapi kemajuan yang dicapainya telah ketinggalan dari Agung Sedayu. Apalagi setelah Agung Sedayu membaca dan mengingat semua isi kitab Ki Waskita. Seolah-olah ia telah terangkat semakin tinggi dengan segala yang ada padanya.

Bukan saja Glagah Putih. Tetapi seisi padepokan itu telah berusaha untuk meningkatkan pengetahuannya tentang olah kanuragan. Para cantrik pun menjadi semakin rajin mempelajarinya. Di waktu sore, ketika mereka tidak lagi mempunyai pekerjaan tertentu, mulailah mereka masuk kedalam sanggar. Jika Agung Sedayu belum sempat menunggui mereka karena kesibukannya dengan Glagah Putih, maka kadang-kadang Ki Widura lah yang menuntun para cantrik itu. Bahkan jika Ki Widura berada didalam sanggar, maka bukan saja olah kanuragan yang telah dipelajari oleh para cantrik, tetapi juga serba sedikit tentang pengetahuan keprajuritan.

Sementara padepokan kecil itu menjadi hangat oleh gairah peningkatkan diri dalam olah kanuragan, maka di padukuhan sebelah padepokan itu, Untara benar-benar telah meletakkan satu kelompok prajurit yang bertugas untuk mengawasi padepokan kecil itu. Terutama dimalam hari, maka kelompok yang sedang bertugas di gardu itu, kadang-kadang meronda memutari padepokan yang nampak sunyi sekali.

“Tidak ada apa-apa dipadepokan itu,” berkata salah seorang dari para peronda itu.

“Tetapi Ki Untara mencemaskannya. Karena itu, kita harus mengawasinya,” sahut yang lain.

“Sebenarnya kami tidak perlu memutarinya. Ki Untara sudah berpesan, jika terjadi sesuatu, penghuni padepokan itu dimintanya untuk membunyikan isyarat. Kita wajib melanjutkan isyarat itu, sementara kita juga harus berusaha melindungi mereka.”

Kawannya yang diajak berbicara hampir saja tidak dapat menahan diri untuk tertawa meledak sekeras-kerasnya. Katanya, “Perutku menjadi sakit menahan tertawa.”

“Kenapa?” bertanya kawannya.

“Kau tidak tahu apa yang kau katakan? Siapa yang harus kita lindungi?” yang lain bertanya, “Agung Sedayu, Sabungsari atau Kiai Gringsing?”

Kawannya yang berbicara untuk melindungi padepokan itu termangu-mangu sejenak, sementara kawannya berkata selanjutnya, “Cobalah melihat tengkukmu sendiri. Agung Sedayu dan Sabungsari, keduanya pernah mengalahkan Carang Waja, meskipun Sabungsari yang membunuhnya. Nah, apa katamu? Meskipun Sabungsari itu prajurit pada tataran terendah dalam lingkungan keprajuritan, tetapi ia memiliki kemampuan yang luar biasa. Apalagi orang bercambuk yang bernama Kiai Gringsing itu. Adalah menggelikan sekali jika kita harus melindungi mereka, karena kemampuan kita bukanlah apa-apa dibanding dengan mereka.”

“Jadi apa gunanya kita berada disini?” bertanya kawannya.

“Tentu hanya dalam tugas yang sebenarnya mampu kita lakukan. Yaitu menunggui kentongan itu. Jika kita mendengar isyarat, maka kita akan menyambungnya sehingga sambung bersambung akan terdengar dari rumah Ki Untara.”

“Jika demikian, kenapa harus kita yang melakukannya? Tugas itu dapat dilakukan oleh anak-anak muda padukuhan ini.”

“Kita bertanggung jawab sepenuhnya atas tugas kita. Berbeda dengan anak-anak muda yang dengan suka rela meronda padukuhannya.”

Yang lain tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk mengerti. Meskipun demikian, prajurit itu merasa bahwa tugasnya tentu bukan sekedar menunggui kentongan digardu itu.

Hari-hari yang dilewati terasa menegangkan bagi seisi padepokan kecil yang sedang di bayangi oleh tangan-tangan yang bernafas maut. Namun justru karena itu, maka padepokan itu rasa-rasanya telah bergejolak semakin dahsyat. Meskipun dari luar dinding tidak nampak sesuatu, tetapi gelora yang ada didalamnya bagaikan dahsyatnya deburan ombak pesisir Selatan.

Glagah Putih menghabiskan waktunya untuk berlatih. Para cantrikpun dengan sepenuh hati menempa diri betapapun sederhananya, disamping kerja mereka sehari-hari.

Dalam suasana yang buram itu, Galah Putih tidak pernah pergi ke sawah seorang diri. Ia pergi kesawah bersama satu dua orang cantrik dibawah pengamatan Agung Sedayu atau Widura. Karena bagaimanapun juga akan dapat terjadi sesuatu di bulak-bulak panjang atau di pategalan.

Sementara itu Sabungsari masih tetap berbaring didalam biliknya. Betapa menjemukan sekali. Jika pintu bilik itu tertutup, maka ia pun segera bangkit dan berjalan hilir mudik. Sekali-sekali ia mengumpat keadaan. Bahkan kadang-kadang ia berkata kepada Kiai Gringsing, “Aku tidak akan betah lebih lama lagi dalam keadaan seperti ini Kiai.”

adbm-129-04Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Baiklah. Sekali-sekali kau dapat berjalan-jalan keluar. Duduk di serambi. Tetapi kau tetap seorang yang sakit parah.”

“Itulah yang aku tidak telaten Kiai,” jawab Sabungsari.

“Dimalam hari kau dapat melatih dirimu serba sedikit, agar keadaanmu segera pulih kembali. Tetapi sudah tentu, diluar penglihatan para cantrik.”

“Sulit sekali Kiai. Hampir setiap saat ada cantrik yang mengamati halaman padepokan ini dari sudut sampai kesudut yang lain. Aku tidak akan mendapat tempat untuk berlatih meskipun dimalam hari.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Cobalah memaksa diri untuk berusaha sedikit ngger. Kita memang sedang dalam usaha untuk menyingkapkan rahasia yang melibatmu sehingga kau luka parah.”

“Bukankah sudah aku katakan dengan gamblang, siapa yang melakukannya, Kiai. Tetapi Ki Untara tidak dapat berbuat hanya atas dasar keteranganku saja,” jawab Sabungsari.

“Justru karena itu, kita harus mencari jalan lain,” desis Kiai Gringsing.

Sabungsari hanya dapat menarik nafas. Ia mengerti apa yang harus dilakukannya. Tetapi kejemuan yang luar biasa telah mencengkamnya, sehingga hampir tidak dapat teratasi.

Dalam pada itu, Untara pun telah berusaha mempercepat peristiwa yang diharapkan akan terjadi. Kepada para perwira ia mengatakan, bahwa Sabungsari menjadi berangsur baik. Jika ia sudah sehat benar, maka ia akan dipanggil dan memberikan kesaksiannya dihadapan para perwira, terutama mereka yang mungkin akan dapat ikut memecahkan persoalannya karena bukan saja tugasnya, tetapi pengenalan mereka atas keadaan lingkungan.

“Mungkin ia akan dapat memberikan sedikit gambaran apa yang telah terjadi dan latar belakang dari peristiwa itu. Agung Sedayu ternyata tidak terlalu banyak mengetahui. Yang diketahuinya adalah ada orang yang mencegatnya di perjalanan. Ia harus bertempur bersama Sabungsari yang hadir pula pada waktu itu.” ia berhenti sejenak, lalu. “tetapi yang lain ia tidak dapat mengatakan apa-apa.”

Beberapa orang perwira yang mendengar penjelasan itu mengangguk-angguk. Namun ada di antara mereka yang menjadi berdebar-debar.

“Jika Sabungsari telah mampu untuk duduk dan berada di pendapa ini barang sebentar, maka aku akan segera memanggilnya dibawah pengawasan Kiai Gringsing. Kini ia masih belum dapat bangkit. Ingatannya nampaknya masih belum pulih karena racun yang kuat telah mempengaruhinya. Untunglah, bahwa racun itu masih belum merusakkan syarafnya, sehingga ia kehilangan kesadaran dan ingatannya sama sekali.”

Para perwira itu masih saja mengangguk-angguk. Mereka pun berharap, agar hal itu akan dapat segera dilakukan, sehingga peristiwa yang diselimuti oleh rahasia itu segera terungkap.

Namun dalam pada itu, seorang di antara para perwira itu menjadi berdebar-debar. Ia harus berbuat sesuatu sebelum Sabungsari mampu melakukannya dihadapan beberapa orang perwira, karena prajurit itu tentu akan menyebut namanya.

“Untara memang gila,” gumam Ki Pringgajaya, “prajurit muda itu tentu sudah menyampaikan laporan. Tetapi ia ingin agar Sabungsari mengulangi menyebut namaku dihadapan orang banyak.”

Tetapi Ki Pringgajaya masih tetap merasa dirinya mampu menghindari segala tuduhan. Ia akan dapat menggugat Sabungsari jika prajurit itu tidak dapat membuktikan, bahwa yang dikatakannya itu bukan sekedar fitnah.

“Meskipun ada dua orang yang akan dapat menyebut kesaksian yang sama, tetapi aku pun dapat menuduh bahwa keduanya telah bersepakat untuk memfitnah aku dihadapan para perwira,” berkata Ki Pringgajaya didalam hatinya.

Namun dalam pada itu, ia pun tidak tinggal diam. Meskipun ia masih merasa mampu mengelak, dan bahkan akan dapat melontar balikkan tuduhan itu, tetapi ia pun berusaha untuk mencari jalan lain. Betapapun juga Sabungsari adalah orang yang sangat berbahaya baginya disamping Agung Sedayu yang merupakan salah seorang dari deretan orang-orang yang harus dibinasakan sebelum sampai saatnya Raden Sutawijaya sendiri.

“Anak itu akan menjadi duri didalam tubuh lingkunganku di Jati Anom. Ia bukan saja dapat memberikan tuduhan, tetapi ia pun agaknya anak yang mampu berpikir dan mengurai masalah yang dihadapinya, sehingga tidak mustahil ia dapat menelusuri persoalan ini, sehingga dapat diketemukan bukti-bukti yang dapat menjebakku,” berkata Ki Pringgajaya pula didalam hatinya.

Karena itulah, maka ia telah mempunyai rencana yang lain. Ia sudah mulai dengan tindak kekerasan meskipun gagal. Ia sudah berhubungan dengan orang-orang Gunung Kendeng. kematian kedua orang itu akan dapat dipergunakannya untuk membakar dendam mereka, seperti yang selalu terjadi. Dendam yang membara karena kematian seseorang. Darah yang harus dibayar dengan darah. Dan nyawa yang harus dibayar dengan nyawa.

Alangkah panasnya bumi yang dihuni oleh titah terkasih dari Yang Maha Agung, namun yang telah dijilat oleh nafsu kebencian dan dendam.

Tetapi Ki Pringgajaya tidak menghiraukannya. Orang-orang yang sejalan dengan tujuannya, pernah mempergunakan orang-orang dari Pesisir Endut, tetapi ternyata mereka pun tidak berhasil. Bahkan Carang Waja yang berusaha menyerang Sangkal Putung, justru telah terbunuh oleh Sabungsari.

“Aku harus mengumpulkan orang-orang yang penuh dengan dendam. Kemudian mengirimkan mereka kepadepokan kecil itu dan memusnahkan segala isinya. Sabungsari yang masih belum mampu bangkit itu tentu akan dengan mudah dapat dibunuh. Yang harus diperhitungkan, adalah Kiai Gringsing, Agung Sedayu dan Ki Widura. Selebihnya adalah tikus-tikus yang tidak berarti apa-apa termasuk Glagah Putih,” geram Ki Pringgajaya. Kemudian, “Para prajurit yang berada di padukuhan sebelah itu pun harus dibungkam pula.”

Demikianlah maka Ki Pringgajaya pun segera menghubungi beberapa pihak. Seorang pengikutnya telah diperintahkannya membuat hubungan dengan kawan-kawannya di Pajang. Bahkan seorang yang mempunyai kedudukan yang tinggi di Pajang, telah dengan diam-diam datang ke Jati Anom untuk menemuinya. Ia telah menjanggil Pringgajaya untuk berbicara ditempat yang terasing.

“Anak itu memang harus segera dibinasakan,” berkata orang itu kepada Ki Pringgajaya.

“Ya. Tetapi di padepokan itu ada tiga orang yang pantas diperhitungkan,” jawab Ki Pringgajaya yang kemudian memberikan beberapa penjelasan tentang isi padepokan kecil itu.

“Tetapi usaha Untara membuat gardu pengawas justru di padukuhan itu memang menarik perhatian tersendiri. Kenapa ia tidak menugaskan saja beberapa orang prajurit langsung tinggal dipadepokan itu,” bertanya orang yang datang dari Pajang itu.

“Aku juga sudah memikirkannya. Aku mempunyai beberapa dugaan. Untara tidak ingin mempergunakan kekuasaannya untuk dengan terang-terangan bagi kepentingan keluarganya sendiri. Rasa-rasanya ia segan untuk mempergunakan prajurit Pajang seolah-olah khusus menjaga adik kandungnya,” Pringgajaya berhenti sejenak, lalu. “sedang kemungkinan lain, bahwa Untara menganggap, para prajurit itu lebih baik berada diluar padepokan sehingga mereka akan dapat mengawasi padepokan itu. Tetapi jika mereka berada didalamnya, maka mereka akan terlibat langsung jika padepokan itu disergap oleh mereka yang bermaksud buruk terhadap Sabungsari dan Agung Sedayu, sehingga mereka tidak dapat berbuat banyak termasuk hubungan dengan induk pasukannya.”

Orang yang datang dari Pajang itu mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Pringgajaya, dengan pertimbangan bahwa kemungkinan Untara memang mempunyai perhitungan tersendiri.

Namun bagaimanapun juga, bukan mustahil untuk membinasakan padepokan kecil itu dengan seluruh isinya. Padepokan itu terpisah dari Kademangan Jati Anom. Gardu terdekat yang dibuat Untara tidak akan banyak membantunya, jika prajurit yang berada digardu itu telah diperhitungkan sebaik-baiknya.

Tetapi keduanya sepakat, bahwa mereka harus sangat berhati-hati. Mereka harus memperhitungkan segala kemungkinan yang dapat terjadi dengan rencana mereka. Jika benar mereka akan membinasakan seisi padepokan kecil itu, maka yang terjadi adalah pertempuran yang akan cukup mendebarkan jantung.

“Kita harus bekerja cepat, sungguh-sungguh dan cermat,” berkata Ki Pringgajaya, “aku memerlukan bantuanmu. Jika kita terlambat, maka kedudukanku akan terancam. Bahkan mungkin pada suatu ketika mereka dapat membuktikan, meskipun bukan dalam hubungan yang luas, tetapi khususnya persoalan pembunuhan atas Agung Sedayu.”

“Kita akan selalu membuat hubungan dalam segala rencana,” sahut orang yang datang dari Pajang.

“Mudah-mudahan kita segera berhasil. Aku harus dapat memberikan kesan yang dapat menggeser tuduhan itu dari padaku. Mungkin orang dari Gunung Kendeng dan dalam hubungan kematian Carang Waja, orang-orang Pesisir Endut, karena mereka mempunyai hubungan yang sangat baik. Ditambah lagi karena kematian kedua orang kawannya, yang mayatnya berhasil kami sembunyikan dan kami kuburkan dengan diam-diam, sehingga mengurangi bobot tuduhan yang dilontarkan oleh Sabungsari dan Agung Sedayu.”

“Persoalannya harus dilihat dari kepentingan kita secara keseluruhan. Pajang sudah mematangkan diri untuk menarik garis perang dihadapan Raden Sutawijaya. Dengan demikian maka segala rencana yang bersangkut paut dengan hal itu harus berjalan lancar.”

Ki Pringgajaya mengangguk-angguk, ia mengerti bahwa orang itu tentu lebih mementingkan persoalan yang besar dalam hubungan persoalannya yang lebih kecil. Tetapi ia pun berkata, “Tetapi kau jangan mengabaikan persoalan yang terjadi di Jati Anom. Yang kami jalankan adalah salah satu rencana dalam hubungan dengan keseluruhannya pula.”

“Aku mengerti. Dan aku tidak akan melepaskan setiap persoalan dalam pemecahan sendiri-sendiri,” sahut orang itu.

Ki Pringgajaya mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan berusaha sesuai dengan kemampuan dan hubungan yang ada padaku.”

“Tugas itu masih tetap tidak bergeser selama kau belum dapat menyelesaikannya dengan baik. Tetapi persoalan-persoalan yang timbul karenanya harus diperhitungkan dengan saksama, agar semuanya dapat berlangsung seperti yang kita harapkan.”

Ki Pringgajaya mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Tetapi harus ada kesan bahwa kita tidak berdiri sendiri-sendiri.”

“Ya. Sudah aku katakan berapa puluh kali. Tetapi juga aku katakan bahwa masing-masing harus berusaha menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya. Hanya dalam keadaan yang khusus seperti yang kau hadapi sekarang ini, kami tidak akan melepaskan tanggung-jawab. Tetapi itu bukan berarti bahwa kami mengambil alih segala persoalan,” jawab orang yang datang dari Pajang.

Ki Pringgajaya mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa ia harus meneruskan segala upaya untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya. Menyingkirkan Agung Sedayu, Swandaru dan Kiai Gringsing berturut-turut. Karena Agung Sedayu yang berdiri terpisah dari lingkungan yang dapat mehndunginya, maka menurut perhitungan, ia adalah orang yang paling lemah, meskipun ia sendiri memiliki kelebihan. Sementara pada Swandaru masih harus diperhitungkan lingkungannya, karena Kademangan Sangkal Putung mempunyai kekuatan yang cukup besar. Sepasukan pengawal yang siap setiap saat.

“Tetapi jika Swandaru dapat dipancing keluar, maka tidak ada salahnya jika ia menjadi sasaran pertama,” berkata Ki Pringgajaya dalam hatinya. Namun yang kini nampak dihadapan matanya adalah sebuah padepokan kecil yang sekaligus akan dapat di selesaikan Agung Sedayu dan Kiai Gringsing. Kemudian prajurit muda yang telah melibatkan diri dan yang sangat berbahaya baginya justru karena penghianatannya, Sabungsari.

Sepeninggal orang yang datang dari Pajang itu, Ki Pringgajaya dengan para pengikutnya telah mengatur diri. Ia harus membuat hubungan khusus dengan orang-orang Gunung Kendeng dan segala sesuatunya diberitahukannya kepada pimpinannya di Pajang yang akan meneruskannya kepada beberapa orang terpenting di sekitar orang yang disebut Kakang Panji.

Ternyata Ki Pringgajaya berhasil memancing dendam orang-orang Gunung Kendeng. Tetapi lebih dari itu, Ki Pringgajaya pun telah menjanjikan hadiah yang cukup besar bagi mereka.

“Aku akan bertemu dengan Ki Pringgajaya,” berkata Kiai Gembong Sangiran, yang menjadi pemimpin dari padepokan Gunung Kendeng kepada utusan Ki Pringgajaya.

Kedatangan Kiai Gembong Sangiran ke Jati Anom telah disambut oleh Ki Pringajaya ditempat yang terasing, seperti saat-saat ia menerima tamu-tamunya yang datang dari luar Jati Anom untuk membicarakan masalah yang bersifat rahasia.

“Aku memerlukan datang dan bertemu dengan Ki Pringgajaya sendiri,” berkata Gembong Sangiran, “aku sudah kehilangan dua orang pengikutku.”

“Ya. Kau harus mengerti, bahwa dengan demikian Agung Sedayu dan Sabungsari bukannya anak-anak yang masih ingusan,” jawab Ki Pringgajaya. Tetapi ia tidak mengatakan bahwa seorang pengikutnya yang khusus mengawasi peristiwa itu dengan busur dan panah juga terbunuh.

“Tetapi saat itu yang kita bicarakan hanya Agung Sedayu. Ternyata ada orang lain yang datang bersamanya, yang ternyata adalah prajurit muda yang bernama Sabungsari, yang telah membunuh Setan Pesisir yang bernama Carang Waja itu.”

“Ya. Itu adalah ukuran bagi Sabungsari. Ia pernah membunuh Carang Waja. Dan kini, Sabungsari, Agung Sedayu, Kiai Gringsing berada di padepokannya bersama Ki Widura, bekas seorang perwira prajurit Pajang di Sangkal Putung dan Glagah Putih yang tidak berarti apa-apa.”

“Tetapi semuanya harus diperhitungkan,” berkata Gembong Sangiran.

“Ya. Dan prajurit di gardu itu pun harus diperhitungkan pula,” berkata Pringgajaya, “karena itu disamping beberapa orang yang harus menyelesaikan orang-orang terpenting dipadepokan itu, kau akan menyiapkan sekelompok pengikutmu untuk bertempur dengan para cantrik dan para prajurit. Sementara sebelum semuanya mulai, isyarat yang ada digardu di padukuhan sebelah harus sudah dibungkam lebih dahulu.”

Kepada Gembong Sangiran Ki Pringgajaya memberikan keterangan yang diperlukan. Mereka berdua telah membicarakan segala kemungkinan yang dapat terjadi dengan memperhitung-kan segala macam segi. Sabungsari yang sakit parah itu memang tidak dapat diabaikan begitu saja. Tetapi ia bukan orang yang sekuat dirinya sendiri di bulak panjang, justru karena ia masih belum dapat bangkit dari pembaringannya.

“Aku akan membawa pasukan segelar sepapan,” berkata Gembong Sangiran.

Ki Pringgajaya tersenyum. Katanya, “Bagaimana kau membawa orang-orangmu sebanyak itu dari Gunung Kendeng?”

“Jika yang kau sanggupkan tidak meleset, maka semuanya itu akan dapat aku lakukan sebaik-baiknya,” jawab Gembong dari Gunung Kendeng.

“Tentu tidak Kiai Gembong Sangiran,” jawab Ki Pringgajaya, “jika usaha ini berhasil, maka tentu akan ada perombakan menyeluruh dalam tata pemerintahan. Banyak orang-orang yang sekarang memegang pimpinan, ternyata tidak mampu bertanggung jawab atas kewajiban yang dibebankan kepadanya, sehingga dengan demikian, maka mereka tidak akan dapat dipergunakan lagi dalam tata pemerintahan yang akan datang. Juga dalam lingkungan keprajuritan, sehingga kedudukan bagimu akan terbuka.”

Janjimu memang semanis gula buat anak-anak yang sedang menangis karena terkunyah cabe rawit. Yang merupakan mimpi biarlah aku nikmati selagi tidur. Tetapi bagaimana dengan lima keping emas?”

Ki Pringgajaya tersenyum. Katanya, “kau kira aku seorang yang selalu menelan ludah sendiri? Apalagi hanya lima keping emas. Isi istana Pajang yang kami kuasai meliputi beratus-ratus keping emas. Tetapi emas tidak begitu penting bagi kami. Yang penting adalah kesempatan untuk menentukan nasib tanah ini bagi masa depan. Kerinduan kami kepada kebebasan yang pernah hidup di tanah ini, membuat kami melepaskan segala macam pamrih pribadi kami. Segala yang ada pada kami semua, jiwa dan raga kami, apalagi sekedar harta benda, telah kami sediakan buat masa depan yang kami inginkan, berdasarkan kerinduan kami kepada satu masa yang cemerlang di tanah ini.”

Tetapi Kiai Gembong Sangiran berkata, “Terserahlah kepadamu. Jika kau rindu pada suatu masa, maka kami rindu pada suatu kesempatan untuk memiliki emas dan uang. Jika kau memiliki berkeping-keping emas, maka biarlah emas itu kami mihki, sedang kau boleh memiliki kesempatan untuk mengatur tanah ini. Untuk langkah pertama ini, aku hanya memerlukan lima keping emas seperti yang kau janji kan.”

“Baiklah. Aku akan memberimu dua keping emas setelah Agung Sedayu kau selesaikan. Dua lagi jika salah seorang lagi kau singkirkan. Yang terakhir akan kami berikan emas keping kelima,” Ki Pringgajaya berhenti sejenak, lalu. “aku kira itu adil.”

“Tetapi kau harus memikirkan orang keempat yang ada dipadepokan itu, Sabungsari. Ia adalah orang yang kini kau anggap paling berbahaya. Karena itu, maka lima keping emas itu kau peruntukkan bagi seisi padepokan kecil itu. Sementara orang-orang Sangkal Putung harus diperhitungkan tersendiri.”

“Kau membuat nilai baru pada perjanjian kita,” berkata Ki Pringgajaya.

“Tentu bukan apa-apa bagimu dan bagi orang-orang yang merindukan satu masa yang pernah hidup di tanah ini,” berkata Gembong Sangiran.

Ki Pringgajaya termenung sejenak. Wajahnya nampak tegang. Sedang bibirnya mulai bergerak-gerak.

adbm-129-05“Lima keping. Lima keping untuk isi padepokan itu,” desisnya.

“Bukankah dipadepokan itu ada Widura? Ia harus diperhitungkan pula. Demikian pula anak muda yang bernama Glagah Putih. Aku sudah kehilangan dua orangku yang terbaik. Apakah kau kira kau dapat menawar nyawa orang-orangku?”

Ki Pringgajaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ingat. Yang kau lakukan di padepokan itu tidak menyangkut namaku dan nama siapapun juga. Kau akan menerima lima keping emas jika pekerjaanmu sudah selesai.”

“Jangan takut. Aku akan melakukannya secepatnya setelah aku mengetahui dengan pasti isi padepokan itu. Aku memerlukan waktu tiga empat hari untuk mempersiapkan diri. Selebihnya akan aku selesaikan sebaik-baiknya. Aku tidak boleh gagal dan mengorbankan nyawa tanpa arti seperti yang pernah terjadi.”

“Jika prajurit muda itu tidak berkhianat, maka segalanya memang sudah selesai. Tetapi pengkhianatannya telah berumah segala-galanya. Bahkan kedudukankupun kini mulai disoroti oleh bukan saja Ki Untara. Tetapi tentu beberapa orang perwira terdekat dengan Untara. Bahkan pada suatu saat, Untara akan memanggil Sabungsari untuk duduk di antara sidang para perwira, yang tentu akan bersama dengan Agung Sedayu, untuk menyebut siapa saja yang telah tersangkut dalam persoalan ini.”

Kiai Gembong Sangiran tertawa. Katanya, “Tetapi aku harus memperhitungkan dua nyawa orang-orangku yang telah terbunuh. Dan aku melakukan rencana berikutnya dengan lebih cermat.”

“Jangan hanya berbicara,” berkata Ki Pringgajaya.

“Lakukanlah. Sebentar lagi, prajurit Pajang akan mulai bergerak dengan kekuatan yang tidak akan terbendung. Mataram akan segera lenyap dari bumi. Sementara itu, maka Pajangpun akan segera kami kuasai.”

Gembong Sangiran tertawa. Katanya, “Betapa bodohnya aku, namun akun dapat mengerti apa yang sedang berkecamuk sekarang antara Pajang dan Mataram. Pajang ingin meyakinkan, bahwa jalan yang akan dilaluinya ke Mataram menjadi bertambah licin dan rata.”

“Kau tidak perlu menghiraukan apapun juga jika kau memang tidak ingin melihat satu masa depan yang baik selain lima keping emas. Jika kau menganggap bahwa mimpi hanya sebaiknya dinikmati dalam tidur, maka lakukanlah untuk lima keping emas.”

Kiai Gembong Sangiran tertawa semakin keras. Katanya, “Baiklah. Aku akan melakukannya. Aku akan membuat perhitungan seimbang dengan nilai lima keping emas. Mimpi yang menakutkan telah terjadi dimana-mana. Di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Di Sangkal Putung dan di daerah ini. Tetapi aku belum terlambat untuk mengambil kesempatan dalam keadaan terjaga. Aku akan membinasakan mereka atas pertimbangan emas dan dendam. Di antara dendam yang kini tersebar di mana-mana. Pesisir Endut telah hangus karena dendam yang kau manfaatkan seperti juga Gunung Kendeng. Tetapi yang terjadi atas Carang Waja adalah satu pengalaman yang sangat baik buat kami perhitungkan.”

Ki Pringgajaya kemudian memberikan kesanggupan untuk memberikan setiap keterangan dan perkembangan. Ia memberikan gambaran tentang kekuatan prajurit digardu di padukuhan sebelah.

Demikianlah maka Kiai Gembong Sangiran mulai memperhitungkan segala sesuatu yang paling baik dilakukan. Kematian dua orang pengikutnya yang paling baik merupakan suatu peringatan, siapakah sebenarnya yang dihadapinya.

Setiap saat ia tidak lepas mengadakan hubungan dengan Ki Pringgajaya, agar ia dapat mengetahui perkembangan yang terjadi.

Tetapi menurut keterangan setiap orang, bahkan orang-orang yang tinggal dipadepokan kecil itu sendiri, Sabungsari masih tetap dalam keadaan yang gawat. Meskipun ada juga perkembangannya dan berangsur baik, tetapi itu memerlukan waktu yang sangat lama.

Sementara Kiai Gembong Sangiran mempersiapkan segala-galanya, maka Ki Pringgajaya pun membuat perhitungan tertentu. Ia telah mengetahui dengan pasti saat orang yang setia kepadanya, mendapat perintah bertugas di padukuhan sebelah padepokan itu.

“Kesempatan itu dapat dipergunakan oleh Gembong Sangiran,” desis Ki Pringgajaya. Dan agaknya Ki Pringgajaya benar-benar telah memperhitungkannya sehingga dengan demikian, maka kesempatan bagi Gembong Sangiran akan menjadi lebih baik.

Namun ternyata bahwa orang-orang yang lebih tinggi kedudukannya didalam lingkungannya di Pajang, mempunyai rencana yang lebih mapan dari rencana Ki Pringgajaya. Setelah mereka mendengar laporan tentang segala persiapan untuk membungkam Sabungsari dan sekaligus melenyapkan Agung Sedayu dan Kiai Gringsing di padepokan kecil itu, maka mereka telah mempersiapkan segalanya sebaik-baiknya.

Ki Pringgajaya yang merasa dirinya dibawah pengamatan Untara merasa segan untuk melakukan sesuatu yang dapat menambah kecurigaan Senopati muda itu kepadanya. Karena itu, ketika orang-orang di Pajang menganjurkan agar pada hari yang telah ditentukan itu ia tidak berada di Jati Anom, maka ia merasa kesulitan untuk minta ijin kepada Untara.

“Jika aku meninggalkan Jati Anom, maka kecurigaan mereka akan bertambah-tambah. Bahkan mungkin, Untara akan mencegah jika aku minta ijin kepadanya. Ia tentu dapat saja membuat alasan untuk menahanku,” berkata Ki Pringgajaya kepada seorang petugas yang datang dari Pajang, “dan aku pun tidak dapat pergi dengan diam-diam dari Jati Anom. Ia akan mempunyai alasan lain untuk berbuat sesuatu atasku, karena aku telah meninggalkan tugasku tanpa sepengetahuannya. Apalagi aku baru saja mengambil waktu beberapa hari untuk beristirahat dan meninggalkan Jati Anom.”

“Jika demikian, biarlah orang-orang yang berada di Pajang mengaturnya,” berkata petugas yang datang ke Jati Anom.

Demikianlah, maka pada saat-saat menjelang hari yang sudah ditentukan itu, datanglah perintah dari Pajang untuk memanggil Ki Pringgajaya menghadap Tumenggung Prabadaru. Seorang Tumenggung yang mendapat tugas untuk pergi ke daerah Timur dalam kunjungan seperti yang selalu dilakukan setiap tengah tahun untuk memelihara kelestarian hubungan dengan Pajang.

Untara yang menerima utusan dari Pajang itu terkejut. Dengan wajah yang tegang ia bertanya, “Kenapa harus Ki Pringgajaya? Aku memerlukannya disini, justru pada saat ini.”

“Aku tidak tahu,” jawab utusan itu, “mungkin karena Tumenggung Prabadaru menganggap, bahwa Ki Pringgajaya telah beberapa kali mengikuti para petugas yang dikirim dalam tugas serupa sebelumnya.”

Untara menjadi ragu-ragu. Yang dikatakan utusan itu memang benar. Beberapa kali Ki Pringgajaya pernah ikut dalam tugas serupa, seperti ia sendiri beberapa kali pernah melakukannya pula.

“Tetapi Ki Pringgajaya kini ada dalam pasukanku,” berkata Untara kemudian, “selagi aku memerlukannya, maka ia tidak akan dapat meninggalkan lingkungannya. Ia aku perlakukan disini dalam waktu dekat ini. Justru karena keadaan di Jati Anom menjadi hangat. Ia adalah seorang perwira yang terhitung memiliki pengalaman yang luas, sehingga aku perlu pikirannya dan mungkin tenaganya.”

“Perintah ini datang dari lingkungan yang lebih tinggi dari kekuasaanmu Ki Untara,” berkata Utusan itu, “terserah kepadamu. Aku hanyalah seorang utusan yang menyampaikan perintah itu. Seterusnya adalah masalah mu.”

Untara mengatupkan giginya rapat-rapat. Ia harus menahan gejolak perasaannya. Bahkan terbersit kecurigaan didalam hatinya, bahwa Tumenggung Prabadaru mengetahui apa yang telah terjadi di Jati Anom dan berusaha melindungi Ki Pringgajaya.

Karena itu, maka Untara pun kemudian berkata kepada utusan itu, “Baiklah. Perintah ini sudah aku terima. Aku akan menyampaikannya kepada yang berkepentingan. Besok ia akan menghadap.”

Tetapi demikian utusan itu meninggalkan Jati Anom, maka Untara pun segera memanggil Ki Pringgajaya, tetapi tidak seorang diri.

Beberapa orang yang sudah menghadapi Ki Untara kemudian harus mendengarkan, bagaimana Untara merasa gelisah, bahwa belum ada tanda-tanda yang dapat dipergunakannya memulai penyelidikannya atas peristiwa yang menimpa prajurit muda yang bernama Sabungsari itu.

“Jika aku menunggu anak itu sembuh dan dapat dimintai keterangannya, maka itu berarti aku akan kehilangan banyak waktu,” berkata Untara.

“Kenapa tidak sekarang saja Ki Untara bertanya kepadanya, agar kita dapat mulai dengan satu penyelidikan yang tidak sekedar meraba-raba dan menunggu,” berkata seorang perwira.

———-oOo———-

Bersambung ke jilid 130

 

diedit dari: http://adbmcadangan.wordpress.com/buku-II-29/

Terima kasih kepada Ki Prass yang telah me-retype jilid ini.

<< kembali | lanjut >>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s