ADBM2-131

<<kembali | lanjut >>

KIAI BANJAR AKING tertawa. Katanya, “Agung Sedayu yang malang. Aku adalah murid Gunung Kendeng yang lebih tua dari Jandon. Tetapi pada saat terakhir, aku harus mengakui bahwa Jandon telah menemukan banyak sekali kemungkinan didalam perantauannya. Ia datang untuk menuntut balas kematian adik kandungnya. Bukan saja adik seperguruannya. Tentu nilai dendamnya jauh lebih mahal dari tiga keping emas.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun sikapnya benar-benar mengejutkan lawannya. Ia melangkah beberapa langkah kesamping. Katanya, “Baiklah. Jika itu dapat memberikan kepuasan. Meskipun aku tidak yakin bahwa kepunganmu itu akan memberikan penyelesaian.”

“Persetan,” geram Jandon, “aku tidak peduli apakah ini merupakan penyelesaian, atau justru baru permulaan dari permusuhan antara padepokan ini dengan padepokan kami di Gunung Kendeng.”

Agung Sedayu menarik napas dalam-dalam. Sekilas terbayang usahanya yang pendek untuk memahami makna isi kitab Ki Waskita. Tetapi karena lembaran ilmunya sudah cukup tinggi, maka yang sebentar itu ternyata telah mencakup banyak kemungkinan didalam dirinya dan peningkatan ilmunya.

Tetapi yang dihadapi oleh Agung Sedayu adalah orang yang memiliki bekal paling lengkap dari Gunung Kendeng. Karena itu, ia pun harus berhati-hati. Di bulak panjang ia bertemu dengan adik orang yang bernama Jandon itu. Ia pun sadar, bahwa Jandon adalah orang yang lebih baik dari adiknya.

“Betapa pengecutnya aku,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya, “untuk menghadapinya aku tidak dapat semata-mata mencari sandaran kepada isi kitab Ki Waskita. Mudah-mudahan pada saat yang gawat, aku tetap bersandar kepada perlindungan Yang Maha Agung, apapun caranya.”

Sementara itu, Jandon pun telah bergeser mendekati Agung Sedayu yang memisahkan diri beberapa langkah dari sekelompok orang yang berada di pendapa itu. Sementara Gembong Sangiran berteriak sekali lagi, “Manakah orang-orang yang lain, agar aku tidak disebutnya pengecut? He, mana Widura dan Glagah Putih dan manakah para cantrik padepokan yang setiap hari berlatih perang di halaman?”

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Ia memandang Agung Sedayu yang berkisar mencari tempat yang lapang disusul oleh Jandon yang dibakar oleh kemarahan. Dengan garangnya Jandon itu menggeram, “Kau memang sombong dan dungu. Kau belum pernah mendengar namaku.”

“Jika sudah, apakah aku harus menyatakan ketakutanku dan mohon maaf. Apakah jika demikian, kau akan mengurungkan dendammu?”

Jandon menggeram. Sikap Agung Sedayu bagi Jandon rasa-rasanya bagaikan suatu penghinaan yang sangat sombong. Justru karena Jandon tidak mengenal sifat-sifat Agung Sedayu yang sebenarnya.

Karena itu, maka ia pun kemudian menggeram, “Kau memang harus diperlakukan dengan kasar sehingga kau segera mengetahui bahwa kau bukan orang yang luar biasa meskipun kau atau Sabungsari telah berhasil membunuh adikku. Adikku adalah anak ingusan yang baru mulai belajar olah kanuragan. Adalah wajar sekali, bahwa ia tidak akan mampu bertahan. Bukan karena kelebihanmu, tetapi karena ia memang belum waktunya hadir dipertempuran.”

“Apa saja yang kau katakan, sulit untuk aku mengerti. Jika orang yang terbunuh itu adikmu, maka ia telah melakukan beberapa kesalahan,” jawab Agung Sedayu, kemudian, “ia bersalah karena menyerang aku tanpa sebab. Dan ia bersalah, bahwa sebelum ia memiliki bekal yang cukup, ia telah memancing permusuhan hanya karena upah yang ditawarkan oleh Ki Pringgajaya, seperti juga yang ditawarkan kepada gurumu itu sekarang.”

Yang terdengar kemudian adalah justru suara tertawa Gembong Sangiran. Katanya, “Kaulah yang tidak sabar lagi mendengar pembicaraan kami. Sekarang, kau sendiri hanya berbicara saja sepanjang malam.”

Jandon tidak menjawab. Ia pun segera bersiap.

Dalam pada itu, ternyata pembicaraan di halaman itu telah memanggil beberapa orang isi padepokan itu yang tersebar. Ki Lurah Patrajaya dan seorang pengikut Sabungsari telah bergeser dari tempatnya, mendekati halaman.

Bahkan ia telah tertegun ketika ia melihat Ki Widura-pun telah berada di halaman samping memperhatikan apa yang terjadi di pendapa bersama Glagah Putih.

“Agaknya mereka datang dari depan, lewat pintu gerbang,” desis Widura.

Ki Lurah Patrajaya mengangguk. Katanya, “Ternyata mereka merasa terlalu kuat.”

“Kita tidak akan dapat memberikan isyarat apapun juga,” desis Glagah Putih, “suara kentongan itu masih saja bergema diseluruh Kademangan.”

Ki Widura mengangguk-angguk. Jawabnya, “Mudah-mudahan kita tidak perlu membunyikan isyarat apapun juga.”

Sementara itu disisi lain dari halaman itu, Ki Wirayuda pun telah mendekati halaman. Ia pun mendengar pembicaraan di halaman. Namun ia sempat memasuki barak para cantrik dan berpesan, agar mereka tetap berada didalam barak.

“Jika mereka memasuki barak ini, terserah kepada kalian,” berkata Ki Lurah Wirayuda.

Yang berada didalam biliknya dengan gelisah adalah Sabungsari. Ia pun mendengar pembicaraan di halaman meskipun tidak begitu jelas. Namun ia mengerti, bahwa orang-orang Gunung Kendeng itu telah datang dengan sombong dan penuh keyakinan akan dapat menguasai padepokan kecil itu.

Karena itu, maka ia telah menggeram, “Aku akan turun ke halaman.”

“Tunggulah,” salah seorang pengikutnya mencoba mencegahnya, “bukankah Kiai Gringsing memerintahkan agar kau tetap didalam bilik ini.”

“Tetapi perhitungan kita salah,” jawab Sabungsari, “kita menduga bahwa orang-orang Gunung Kendeng itu akan datang dari segala penjuru. Memanjat dinding dan menyerang isi padepokan ini dari segala arah. Di antara mereka akan memasuki bilik ini karena mereka menduga bahwa aku masih sakit. Ternyata mereka tidak berbuat demikian. Mereka akan bertempur di halaman dan mengabaikan aku yang mereka kira masih sakit parah. Dengan demikian, maka mereka akan dapat membunuhku dengan mudah.”

Pengikutnya termangu-mangu sejenak. Namun mereka pun sependapat dengan Sabungsari.

Karena itu, maka akhirnya mereka pun sepakat untuk keluar dari dalam bilik itu dan langsung terjun kedalam pertempuran.

Kehadiran Sabungsari di pintu pringgitan memang menarik perhatian. Jandon yang sudah siap menyerang Agung Sedayu pun terpaksa mengurungkan niatnya.

“Siapakah anak itu,” bertanya Gembong Sangiran kepada Kiai Gringsing ketika ia melihat Sabungsari keluar dari ruang dalam langsung ke pendapa.

“Itulah Sabungsari,” jawab Kiai Gringsing.

“Gila,” teriak Jandon, “kemarilah. Biarlah ia bertempur bersama Agung Sedayu. Aku akan membunuh kalian berdua.”

Sabungsari melangkah maju. Lamat-lamat ia melihat Jandon berdiri di halaman. Agak menepi, karena agaknya ia sudah siap bertempur melawan Agung Sedayu.

“Siapakah orang yang terlalu sombong itu,” geram Sabungsari.

“Tutup mulutmu,” teriak Jandon, “kemarilah. Aku bunuh kau pertama kali.”

Sabungsari yang baru saja sembuh dari lukanya, yang oleh kebanyakan orang masih dianggap luka parah, dan memang tidak diperhitungkan oleh Gembong Sangiran itu berkata, “Agung Sedayu. Siapakah yang sebaiknya membunuhnya? Kau atau aku.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia menjawab, Jandon berteriak, “Aku bunuh kau pertama kali. Jika kau masih sakit, maka membunuhmu tidak akan lebih sulit dari menepuk seekor semut. Karena itu jangan membuka mulutmu terlampau lebar. Kemarahanku akan dapat membuat aku berbuat aneh-aneh terhadapmu.”

“Sudahlah,” potong Agung Sedayu, “kita akan bertempur. Marilah. Aku sudah siap. Sementara itu, biarlah Sabungsari mencari lawan yang lain.”

Jandon menggeram. Dipandanginya wajah Agung Sedayu. Meskipun tidak begitu jelas, namun ia tidak melihat kesan apapun diwajah itu. Seolah-olah ia tidak sedang berhadapan dengan maut yang mengintai dan siap memeluknya.

“Kiai,” berkata Sabungsari kemudian, “siapakah yang harus aku hadapi sekarang ini.”

“Berbaring sajalah di bilikmu. Salah seorang dari kami akan datang kepadamu dan mencekik lehermu,” berkata Gembong Sangiran.

Sabungsari termangu-mangu sejenak. Sekilas dipandanginya orang-orang yang berdiri di halaman. Memang ada beberapa orang pilihan di antara orang-orang Gunung Kendeng yang datang ke padepokan itu selain Gembong Sangiran sendiri.

Beberapa langkah Sabungsari menyeberangi pendapa. Kemudian ia berdiri tegak sambil merenungi lawan-lawannya. Katanya, “Jika aku harus mati, maka biarlah aku mati dipertempuran. Tidak dipembaringan. Sudah lama aku sembuh. Tetapi aku memang berpura-pura sakit untuk memancing kedatangan kalian. Aku dan seisi padepokan ini yakin, bahwa kalian akan datang untuk membunuhku dan Agung Sedayu. Karena itu, setiap malam aku sudah melatih diri, mengembalikan segala kemampuanku dan kekuatan tubuhku. Sekarang aku sudah siap untuk bertempur melawan siapapun juga.”

“Kau gila,” geram Banjar Aking, “kau kira kami termasuk anak-anak yang dapat kau kelabui dengan sekeping gula aren? Jika kau memang merasa dirimu sudah cukup mampu untuk berkelahi, marilah. Kita akan mencobanya.”

“Bagus, siapa kau?” bertanya Sabungsari.

“Banjar Aking dari pesisir Lor.”

“O, jadi kaukah orangnya? Baiklah. Kita akan bertempur. Mungkin kau adalah orang yang lebih baik dari orang-orang Gunung Kendeng yang telah aku bunuh. Tetapi aku pun kini menjadi bertambah baik pula setelah aku mempersiapkan diri beberapa lama di padepokan ini.”

Kini Banjar Aking pun kemudian berkata lantang, “Kemarilah. Jangan ribut disitu.”

Ternyata Sabungsari tidak menunggu. Ia pun segera berlari menuruni tangga sambil berkata kepada orang pengikutnya, “Kau dapat menempatkan dirimu di antara para pengikut orang Gunung Kendeng ini. Berhati-hatilah. Jangan salah menilai lawanmu.”

Kedua orang pengikutnya termangu-mangu. Namun mereka menjadi tegang ketika tiba-tiba saja Sabungsari telah langsung menyerang lawannya.

“Anak setan,” geram Kiai Banjar Aking.

Ternyata bahwa ialah yang pertama-tama harus bertempur. Sementara itu Gembong Sangiran tertawa sambil berkata, “Pantas. Ia dapat disebut prajurit yang baik.” Ia berhenti sejenak, lalu, “baiklah Kiai. Biarlah orang-orangku yang lain membuat padepokan ini menjadi karang abang. Aku datang bersama Putut-pututku terbaik. Mereka akan segera menempatkan diri dalam keadaan yang tidak akan banyak berarti bagi mereka. He, dimana Widura? Apakah ia bersembunyi? Salah seorang Putut yang datang bersamaku. Panjer atau Tanggon, akan segera menyelesaikannya. Sementara murid-muridku yang lain akan menemui para cantrik, apakah mereka akan menyerah, atau akan membunuh diri.”

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling kearah Agung Sedayu, maka ia melihat Jandon sudah siap untuk menyerang sambil berteriak, “Jangan menyesal Agung Sedayu. Aku akan menagih hutangmu kepada adikku, sekaligus dengan bunganya. Kau akan menderita sebelum kau mati.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia meloncat dengan tangkasnya menghindari serangan yang tiba-tiba itu.

Sejenak kemudian di halaman padepokan kecil itu telah terjadi dua lingkaran pertempuran. Sabungsari melawan Kiai Banjar Aking dan Agung Sedayu melawan Jandon, orang terbaik dari perguruan Gunung Kendeng.

Dalam pada itu. Gembong Sangiran pun berteriak kepada para pengikutnya yang sudah bersiap, “Hancurkan padepokan ini. Hanya para cantrik yang menyerah dan tidak melawan sajalah yang kalian beri kesempatan untuk hidup. Tetapi tidak seorang pun boleh keluar dari halaman ini.”

Kedua Putut yang ikut serta bersama Gembong Sangiran termangu-mangu. Namun kemudian Gembong Sangiran itu berkata, “Masih ada Widura di padepokan ini. Cari orang itu dan bunuh sama sekali bersama anaknya yang bernama Glagah Putih. Meskipun kekuatan di padepokan ini melampaui perhitungan kita, tetapi kehadiran Jandon yang tidak kita rencanakan, telah membuat padepokan ini tidak berarti sama sekali.”

Dalam pada itu, orang-orang Gunung Kendeng segera berpencar. Mereka siap untuk memasuki setiap ruang di padepokan itu. Namun ketika Putut Tanggon naik ke pendapa, maka terdengar suara dari samping pendapa itu, “Inilah yang kau cari Ki Sanak.”

Putut Tanggon berpaling. Dilihatnya seorang berdiri di sebelah pendapa dengan kaki renggang, “Kemarilah. Kita mencari tempat tersendiri.”

“Apakah kau Widura?” bertanya Putut Tanggon.

“Ya. Aku Widura.”

Putut Tanggon termangu-mangu. Ia melihat beberapa orang berdiri di sebelah orang yang menyebut dirinya Widura. Namun ia pun kemudian melangkah mendekatinya, sementara beberapa orang lain telah mendekatinya pula.

“Aku akan mencari orang-orang padepokan ini dari arah lain,” berkata Putut Panjer dengan lantang, “jika aku tidak menemukan seseorang, maka aku akan membakar seluruh isi padepokan ini.”

“Tunggu,” berkata Gembong Sangiran, “jangan memanggil orang lain mencampuri persoalan ini. Kita bunuh saja orang-orang yang melawan padepokan ini. Baru kita membakarnya.”

“Itu bagus sekali,” yang terdengar adalah suara didalam gelap, “lakukanlah. Aku menunggu kalian disini.”

Putut Panjer memperhatikan suara itu dengan saksama. Lamat-lamat ia melihat seseorang berdiri dibalik sebuah gerumbul perdu.

“Bagus. Aku kira cantrik padepokan ini cukup jantan untuk mati. Marilah. Aku akan mengantarkanmu kedunia langgeng.”

Putut Panjer tidak menunggu lebih lama. Diikuti beberapa orang murid dari Gunung Kendeng maka ia pun mendekati arah suara itu.

Namun dalam pada itu, para pengikut Sabungsari pun telah berpencar. Mereka pun telah bersiap menghadapi orang-orang Gunung Kendeng. Bagaimanapun juga, namun mereka masih tetap merasa terikat oleh perintah Sabungsari yang menjadi orang terpenting sepeninggal Ki Gede Telengan.

Putut Panjer yang kemudian berhadapan dengan seseorang yang berdiri dalam bayangan gerumbul perdu itu pun termangu-mangu sejenak. Nampaknya orang itu telah bersiap sepenuhnya untuk bertempur. Di tangannya digenggam sebuah kapak, sementara sebuah perisai berada di tangan kirinya.

Karena itu, maka Putut Panjer menjadi ragu-ragu. Apakah benar ia berhadapan dengan seorang cantrik dari padepokan Kiai Gringsing. Jika seorang cantrik yang sudah mulai mapan dalam olah kanuragan, maka yang paling sesuai bagi mereka adalah senjata yang mirip dengan senjata gurunya, sebuah cambuk. Atau senjata yang paling banyak dipergunakan, pedang.

Tetapi orang yang berdiri dalam bayangan gerumbul perdu itu bersenjata sebuah kapak yang khusus, yang memang sebuah kapak yang dipersiapkan untuk bertempur.

“Siapa kau sebenarnya?” bertanya Putut Panjer.

“Aku cantrik dari padepokan ini.” jawab orang bersenjata kapak itu, “dan kau? Siapa namamu?”

“Aku Putut Panjer. Aku heran bahwa cantrik dan padepokan ini bersenjata sebuah kapak,” desis Putut Panjer.

Yang terdengar adalah suara tertawa. Orang bersenjata kapak itu kemudian menjawab, “Aku Putut Wirayuda. Aku termasuk murid tertua dari padepokan ini.”

Putut Panjer termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku pun termasuk Putut yang dipercaya di padepokan Gunung Kendeng. Mungkin kita akan dapat mengukur, siapakah yang lebih baik. Putut dari Gunung Kendeng, atau Putut dari padepokan orang-orang bercambuk, tetapi bersenjata kapak ini.”

Wirayuda mengerutkan keningnya. Namun ia tidak menjawab lagi. Disiapkannya perisainya dan kapaknya untuk menyongsong Putut Panjer yang kemudian menyerangnya dengan garang.

Ketika murid-murid yang lain dari Gunung Kendeng membantunya, maka dua orang pengikut Sabungsari telah membantunya pula, sehingga dengan demikian maka telah terjadi beberapa lingkaran pertempuran.

Di bagian lain, Putut Tanggon telah bertempur pula melawan Widura. Seperti yang diduganya, meskipun Widura sudah bukan prajurit lagi karena umurnya yang semakin tua, namun di medan yang garang itu, ia masih tetap seorang yang harus diperhitungkan.

Pertempuran kemudian terjadi dimana-mana. Masing-masing menghadapi lawan yang masih harus dijajagi kemampuannya. Sementara Kiai Gringsing dan Gembong Sangiran sendiri masih tetap berdiri sambil memperhatikan arena yang berpencaran.

“Aku tidak mengira, bahwa kau mempunyai sekian banyak orang yang dapat membantumu bertempur, Kiai,” desis Gembong Sangiran.

“Tidak banyak yang dapat mereka lakukan,” jawab Kiai Gringsing, “namun aku berharap bahwa mereka dapat melindungi diri mereka sendiri.”

“Tetapi jumlah orang-orangku lebih banyak,” berkata Gembong Sangiran, “Selain yang bertempur melawan Agung Sedayu dan Sabungsari, masih ada dua orang Putut yang akan dapat menyapu semua cantrik-cantrikmu.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan tidak Ki Sanak. Aku juga mempunyai seorang pelindung yang tangguh. Ki Widura. Kau tentu sudah pernah mendengar namanya. Selain Ki Widura, tentu Sabungsari tidak kau perhitungkan, karena kau mengira, bahwa ia masih sakit. Selebihnya, beberapa orang cantrik akan bertahan dengan taruhan nyawanya.”

“Mungkin kau tidak menyombongkan diri hal isi padepokanmu. Tetapi yang akan terjadi sebenarnyalah, kematian demi kematian.” Gembong Sangiran berhenti sejenak, lalu, “tetapi Kiai, apakah tidak ada cara lain yang lebih baik bagi padepokanmu?”

“Apakah cara itu?” bertanya Kiai Gringsing.

“Kau, Agung Sedayu, Sabungsari dan Widura, menyerahkan diri dan mengorbankan nyawanya untuk kepentingan para cantrik di padepokan ini. Karena kematian kalian berarti keselamatan jiwa bagi para cantrik yang lain. Karena jika kami harus mengakhiri perkelahian ini dengan bertempur mati-matian, maka darah kami akan mendidih. Mungkin kami terpaksa membunuh banyak orang yang tidak bersalah sama sekali.”

Kiai Gringsing termangu-mangu. Ia memang melihat jumlah orang-orang Gunung Kendeng agak lebih banyak dari orang-orang yang sedang mempertahankan padepokan itu. Ki Patrajaya agaknya harus bertempur melawan dua orang Gunung Kendeng, sementara seorang pengikut Sabungsari pun harus berbuat serupa.

Sekilas Kiai Gringsing melihat seorang anak muda yang bertempur dengan garangnya. Sambil mengerutkan keningnya ia melihat pertempuran yang keras itu. Ada semacam kecemasan yang menjalar dijantungnya, jika Glagah Putih mengerahkan segenap kekuatannya pada langkah-langkah pertama dari pertempuran itu, maka mungkin sekali ia akan kehabisan tenaga.

“Tentu ia sudah mendapat pesan dari ayahnya,” berkata Kiai Gringsing didalam hatinya, “tetapi ia masih terlalu muda untuk mengekang diri.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk ketika ia melihat dua orang pengikut Sabungsari telah menyatu dalam lingkaran pertempuran melawan tiga orang lawan. Agaknya mereka merasa lebih aman dengan bertempur berpasangan dari pada salah seorang dari mereka harus melawan dua orang sekaligus.

“Kiai,” berkata Gembong Sangiran yang masih belum mulai menyerang, “aku sebenarnya agak curiga, bahwa yang nampak di arena pertempuran ini adalah cantrik-cantrik dari padepokan Jati Anom ini. Aku melihat bermacam-macam cara dan sikap. Aku juga melihat beberapa sifat yang berbeda.”

adbm-131-01“Mungkin kau benar,” jawab Kiai Gringsing, “Ki Widura memang bukan murid Padepokan ini. Sabungsari juga bukan.”

“Masih ada yang lain,” desis Gembong Sangiran yang memiliki penglihatan yang tajam.

“Yang mana?” bertanya Kiai Gringsing.

“Setan,” geram Gembong Sangiran, “apakah kau sudah menjebakku? Tentu aku sudah berhadapan dengan sifat-sifat licik disini. Bahkan mungkin sebentar lagi akan datang sekelompok prajurit Pajang yang khusus dipersiapkan oleh Untara.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia masih memandang berkeliling. Meskipun ada sepercik kecemasan didalam hatinya, namun sama sekali tidak nampak diwajahnya.

Orang-orang Gunung Kendeng memang lebih banyak dari orang-orang yang telah bersiaga menunggu mereka di padepokan itu. Dan Kiai Gringsing pun masih belum mengetahui, apakah orang-orang yang berada di padepokan kecilnya memiliki kemampuan yang akan dapat mengimbangi lawannya, termasuk Sabungsari, Agung Sedayu dan dirinya sendiri.

“Kiai,” terdengar suara Gembong Sangiran yang garang, “kenapa kau masih termangu-mangu saja? Kau tentu menunggu Untara datang dengan pasukannya.”

“Tidak Ki Sanak,” jawab Kiai Gringsing, “aku tidak dapat mengharapkan siapapun juga. Aku tahu, bahwa kau sudah berhasil mengacaukan perhatian siapapun juga dengan memancing kerusuhan itu, sehingga dengan demikian, kami disini tidak dapat lagi membunyikan tengara apapun juga, karena suaranya tentu akan tenggelam dalam gelombang suara titir yang telah bergema di seluruh Kademangan bahkan sampai ke Kademangan tetangga.”

“Jadi kau sadari hal itu Kiai?” bertanya Gembong Sangiran.

“Aku sadari,” jawab Kiai Gringsing.

“Jika demikian, kenapa kau masih berusaha mengadakan perlawanan? Bukankah kau sudah tahu, bahwa hal itu tidak akan ada gunanya?”

“Kami akan mempertahankan diri kami sejauh dapat kami lakukan,” berkata Kiai Gringsing, “karena itu, bersiaplah Ki Sanak. Mungkin kitapun akan terlibat dalam permainan yang mengasyikkan ini.”

“Kau berpendapat demikian?” bertanya Gembong Sangiran, “sebenarnya aku mengharap bahwa kita tidak perlu bertempur. Aku mengharap kau menyerahkan sisa umurmu dengan ikhlas, karena hal itu akan terjadi juga, apapun yang kaulakukan.”

“Kau sudah tahu, bahwa hal itu tidak akan mungkin terjadi.” sahut Kiai Gringsing.

Gembong Sangiran tertawa. Suaranya semakin lama menjadi semakin tinggi. Katanya, “Baiklah jika kau tidak mau menyerah. Perhatikan untuk yang terakhir kali, apa yang dapat dilakukan oleh muridmu menghadapi muridku yang bernama Jandon, yang telah menyempurnakan ilmunya di sepanjang perantauannya.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ia masih belum mendengar suara cambuk Agung Sedayu. Dan ternyata Agung Sedayu memang belum mempergunakan cambuknya untuk melawan Jandon yang juga tidak bersenjata.

“Senjata tidak diperlukan oleh muridku yang seorang itu,” berkata Gembong Sangiran, “meskipun ia membawanya juga, tetapi ia akan dapat menyelesaikan persoalannya tanpa senjata. Kulit Agung Sedayu tidak akan mampu menahan sentuhan jari-jarinya yang bagaikan lidah api yang menjilat kelaras kering.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Tetapi terbersit juga kecemasan didalam hatinya. Ia dalam sekilas melihat, betapa perkasanya murid Gunung Kendeng yang bernama Jandon itu.

Namun Kiai Gringsing pun tetap berpengharapan, bahwa justru disaat-saat terakhir menjelang peristiwa yang menegangkan itu. Agung Sedayu berusaha mempergunakan waktunya yang sempit untuk menekuni dengan sungguh-sungguh makna kitab Ki Waskita dengan lambaran ilmu yang sudah ada padanya.

“Jangan menyesal. Muridmu yang seorang itu akan mati malam ini,” geram Gembong Sangiran.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia melangkah maju mendekati lawannya sambil berkata, “Jika muridku terdesak, adalah kewajibanku untuk melindunginya.”

“Kau tidak akan mungkin berkisar dari tempatmu. Sebentar lagi kau akan mati pula. Mungkin lebih cepat dari muridmu.”

Kiai Gringsing memperhatikan Gembong Sangiran dengan saksama. Ketika Gembong Sangiran maju selangkah pula, Kiai Gringsing berhenti. Agaknya orang yang menjadi pemimpin tertinggi di Gunung Kendeng itu pun akan menyerangnya tanpa senjata.

Sejenak Gembong Sangiran berdiri tegak Tiba-tiba saja tangannya bergerak-gerak perlahan-lahan, terangkat kedepan setinggi dadanya.

Kiai Gringsing pun kemudian mempersiapkan dirinya. Ia sadar, bahwa lawannya telah bersiap untuk menerkamnya. Apalagi ketika ia melihat jari-jari tangan Gembong Sangiran itu terkembang.

“Jari-jarinya itu tentu berbahaya,” berkata Kiai Gringsing didalam hatinya. Sekilas ia sempat memandang Jandon yang bertempur dengan Agung Sedayu dalam cahaya obor yang samar-samar. Ia pun melihat jari-jari tangan orang itu terkembang.

Kiai Gringsing tidak sempat memperhatikannya lebih lama lagi. Sejenak kemudian pemimpin tertinggi dari Gunung Kendeng itu telah meloncat menyerangnya. Sambil menggeram seperti seekor harimau, Gembong Sangiran menerkam lawannya dengan tangan terjulur dan jari-jari terkembang.

Tetapi Kiai Gringsing yang telah bersiaga menghadapi segala kemungkinan itu pun sempat mengelak. Dengan demikian, maka serangan Gembong Sangiran itu tidak menyentuhnya.

Gembong Sangiran memang tidak mengharapkan perkelahian itu selesai dalam sekejap. Namun demikian, dengan garangnya ia memburu loncatan lawannya dengan serangan kaki yang garang dalam ayunan melingkar mengarah lambung.

Kiai Gringsing bergeser pula setapak. Namun ia masih harus meloncat menghindari serangan-serangan yang kemudian mengejarnya.

Dalam pada itu, Sabungsari telah bertempur dengan sengitnya melawan Ki Banjar Aking. Dengan lantang orang Gunung Kendeng yang telah berada di pesisir Lor itu berkata, “Ternyata kau tidak sedang sakit parah. Kau mampu bertempur dengan baik meskipun tidak banyak gunanya.”

Sabungsari menggeram. Katanya, “Siapa yang mengatakan aku masih sakit. Bukankah sudah aku katakan, bahwa aku tidak sakit. Aku sudah siap menghadapi siapapun juga yang bakal datang ke padepokan ini untuk menyerahkan nyawanya.”

Ki Banjar Aking tidak segera menjawab. Ia harus menghindari serangan Sabungsari yang datang dengan garangnya. Namun kemudian ia berkata, “Aku mengerti Sabungsari. Kau tentu berpura-pura sakit. Kau tentu membuat kesan yang lain, agar perhitungan Ki Gembong Sangiran tentang kekuatan di padepokan ini keliru.”

“Lalu, apakah sebenarnya memang demikian?” bertanya Sabungsari, “apakah kalian sudah merasa bahwa perhitungan kalian keliru?”

“Ya,” jawab Banjar Aking sambil menyerang, “kami memang merasa salah hitung. Tetapi karena kekuatan kami memang sudah berlebihan, maka padepokan ini tetap akan musna. Satu hal yang ada diluar perhitungan kami pula, selain kau sebenarnya sudah tidak sakit lagi. Pada saat terakhir tiba-tiba saja Jandon datang ke padepokan kami dan menyatakan diri untuk ikut serta datang ke padepokan ini. Ialah yang paling berkepentingan untuk membunuhmu dan Agung Sedayu. Mungkin, ia akan melakukannya. Karena itu, aku akan memberikan kepuasan kepadanya. Aku hanya akan menahanmu dalam perkelahian yang tidak menentukan. Setelah Agung Sedayu terbunuh oleh Jandon, maka aku akan menyerahkan kau kepadanya yang hatinya membara karena dendam. Aku akan mencari lawan lainnya. Mungkin Widura. Mungkin orang lain. Mungkin aku dapat membantu Kiai Gembong Sangiran untuk membunuh Kiai Gringsing atau bahkan orang tua di padepokan ini akan terbunuh lebih dahulu dari Agung Sedayu.”

Sabungsari tidak menjawab lagi. Ia pun bertempur semakin garang. Meskipun demikian kedua belah pihak nampaknya masih terlalu berhati-hati. Mereka masih berusaha menyembunyikan kemampuan mereka yang sebenarnya sehingga pada saatnya mereka akan dapat mengakhiri pertempuran dengan membunuh lawannya.

Demikian pula Agung Sedayu yang bertempur melawan Jandon. Agaknya ia masih sangat berhati-hati. Ia sadar, bahwa Jandon tentu memiliki kelebihan dari adiknya. Bahkan mungkin Jandon memang seorang yang tidak ada bandingannya. Orang-orang Gunung Kendeng nampaknya sangat hormat kepadanya, meskipun ia juga murid dari perguruan itu. Namun perantauan yang dilakukannya, agaknya telah memberikan pengalaman dan kemampuan yang banyak sekali, sehingga ia telah melampaui segala murid yang pernah menyadap ilmu dari perguruan Gunung Kendeng.

Tetapi Jandon pun harus berhati-hati pula. Namun agak berbeda dengan Agung Sedayu. Jandon merasa bahwa dirinya memang seorang yang tidak terkalahkan. Ia merasa memiliki ilmu yang lengkap, jauh lebih baik dari adiknya yang terbunuh. Padahal adiknya telah mampu melukai Sabungsari. Jika ia bertempur melawan Agung Sedayu, maka pasti ada satu kesalahan yang telah dilakukan oleh adiknya. Mungkin ia terlalu merendahkan lawannya, sehingga ia menjadi lengah.

Meskipun demikian bukan berarti Jandon mengabaikan sama sekali murid padepokan kecil itu. Ia sudah pernah mendengar nama orang bercambuk, guru dan kedua muridnya. Karena itu, maka ia pun merasa wajib untuk berhati-hati, meskipun dengan penuh keyakinan ia merasa akan berhasil membunuh Agung Sedayu dan kemudian Sabungsari.

Dalam beberapa saat kemudian. Agung Sedayu mulai merasakan, betapa berat kemampuan ilmu lawannya. Agaknya Jandon memiliki kemampuan yang sangat besar, tenaga yang sangat kuat dan kecepatan bergerak bagaikan burung srikatan.

Apalagi Agung Sedayu pun mengerti, bahwa Jandon masih belum sampai kepuncak ilmunya. Ia masih berusaha untuk mengerti, bagaimana ia harus menghadapi Agung Sedayu.

Beberapa kali Agung Sedayu memang sudah terdesak. Beberapa kali Agung Sedayu harus berloncatan menjahui lawannya untuk memperbaiki kedudukannya.

Namun sementara itu, Jandon pun tidak tergesa-gesa. Ia mengerti, bahwa mungkin ia memerlukan waktu yang panjang untuk menyelesaikan Agung Sedayu sehingga ia memerlukan tenaganya untuk waktu yang agak lama.

“Tetapi tentu tidak terlalu lama. Betapapun tinggi ilmu anak ini, aku akan menghancurkannya. Jika ia mampu bertahan terlalu lama, aku terpaksa menghancurkannya dengan ilmu dari hutan Larakan di ujung hutan Roban,” berkata Jandon didalam hatinya.

Namun agaknya Jandon masih menyimpan ilmu puncaknya itu. Ia masih berusaha untuk mengalahkan Agung Sedayu dengan ilmu sewajarnya, meskipun ia sudah mulai mengalirkan tenaga cadangannya.

Sementara itu, Ki Widura pun sudah terlibat kedalam pertempuran yang sengit. Sementara Glagah Putih dengan sepenuh tenaga berusaha mendesak lawannya.

Dibagian lain dari halaman padepokan itu, pertempuran benar-benar telah menyala. Orang-orang Gunung Kendeng memang lebih banyak dari orang-orang padepokan kecil di ujung Kademangan Jati Anom itu. Bahkan kelebihan dari mereka, masih ada yang berkeliaran di sebelah menyebelah, sehingga akhirnya mereka menemukan barak para cantrik.

Dua orang murid dari Gunung Kendeng yang masih belum memiliki banyak kelebihan itu telah mengamat-amati barak para cantrik. Mereka melihat lampu menyala. Mereka melihat pintu tertutup. Namun kemudian mereka mendengar suara dari balik pintu yang tertutup itu.

“Gila,” geram salah seorang dari kedua orang Gunung Kendeng itu, “masih ada orang didalam barak. Orang yang tidak kita ketahui, siapakah sebenarnya mereka.”

“Kita pecahkan pintu,” desis yang lain, “kita akan mengetahui siapakah mereka.”

“Jangan memancing semut api bubar dari sarangnya. Kau akan terpaksa menyingkir. Meskipun satu demi satu dapat kau tepuk sampai mati dalam sekejap tanpa kesulitan apapun juga, tetapi jika mereka sama-sama keluar dari sarangnya, maka kau akan kebingungan.”

“Jadi?”

“Biarkan saja mereka disana. Mereka tidak melakukan apa-apa. Bahkan membunyikan tengarapun tidak.”

“Lalu apa yang akan kita kerjakan?” bertanya kawannya.

“Kita membantu kawan-kawan kita. Kita bersama-sama membunuh seorang demi georang dari para penghuni ini. Kita tidak sedang berperang tanding, sehingga kita tidak harus bertempur seorang demi seorang.”

“Kawan-kawan kita sebagian sudah bertempur berpasangan. Kita tidak peduli, apakah kita dianggap licik atau tidak. Semua orang memang harus melibatkan diri.”

Kedua orang itu pun kemudian mengurungkan niatnya untuk memasuki barak para cantrik yang gelisah dibagian belakang padepokan kecil itu. Mereka pun segera menggabungkan diri dengan kawan-kawan mereka yang telah bertempur lebih dahulu, sehingga dengan demikian, maka orang-orang dari padepokan Jati Anom itu harus menghadapi jumlah yang lebih banyak lagi.

Tetapi mereka bukanlah cantrik-cantrik seperti yang diduga oleh orang-orang Gunung Kendeng. Mereka tidak mengira bahwa di padepokan itu terdapat Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda yang dipasang oleh Untara untuk membantu kesulitan seperti yang terjadi saat itu.

Ternyata bahwa Putut Panjer yang berhadapan dengan orang yang mengaku seorang Putut dan bersenjata kapak itu menjadi berdebar-debar. Tenaga orang itu ternyata sangat besar, serta kecepatannya bergerakpun sangat mengagumkan.

“Putut padepokan Jati Anom memang mendebarkan jantung,” berkata Putut Panjer, “tetapi aku masih merasa aneh dengan jenis senjatamu.”

“Jangan bicara tentang senjata,” berkata orang yang menyebut dirinya Putut dari padepokan Kiai Gringsing itu, “para cantrik di Jati Anom dapat mempergunakan senjata apa saja.”

“Tetapi seharusnya senjata yang paling dekat adalah sebuah cambuk,” desis Putut Panjer.

“Jangan hiraukan apakah aku membawa cambuk, kapak atau tiba-tiba saja aku melepaskan senjataku sama sekali dan bertempur dengan tangan meskipun lawannya bersenjata.”

Putut Panjer tidak menjawab lagi. Dengan segenap kemampuannya ia bertempur melawan orang bersenjata kapak yang menyebut dirinya seorang Putut itu.

Tetapi sebenarnyalah bahwa Ki Lurah Wirayuda adalah seorang petugas sandi yang memiliki kelebihan. Ia adalah orang yang tidak banyak dikenal justru karena tugasnya. Para prajurit Pajang pun tidak banyak yang mengenalnya sebagai seorang petugas yang khusus dan mendapat kepercayaan dari Untara, sehingga karena itulah, maka Ki Lurah Wirayuda bersama Ki Lurah Patrajaya telah ditarik oleh Untara untuk tugas khususnya ditempat yang seolah-olah terasing dari kegiatan para prajurit Pajang yang lain.

Dengan demikian, maka beberapa saat kemudian mulai nampak, bahwa senjata kapak Ki Lurah Wirayuda telah membingungkan lawannya. Dengan perisai di tangan kiri, Ki Lurah Wirayuda mampu melindungi dirinya, seolah-olah perisai itu telah menutup seluruh tubuhnya. Tidak ada kesempatan sama sekali bagi lawannya, Putut Panjer, untuk menembus perisai yang karena kecepatan geraknya, dapat melindungi segenap bagian tubuh Ki Wirayuda itu.

“Senjata yang paling gila yang pernah aku jumpai,” berkata Putut Panjer didalam hatinya.

Namun Putut Panjer masih belum kehilangan kesempatan. Ia pun kemudian mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengatasi senjata lawannya yang aneh itu dirangkapi dengan sebuah perisai untuk melindungi dirinya.

Dibagian lain dari arena pertempuran yang berpencar itu, Widura telah bertempur melawan seorang Putut pula dari Gunung Kendeng. Meskipun sudah lama Widura seakan-akan telah meletakkan senjatanya, namun ia masih tetap Widura yang pernah memimpin sepasukan prajurit di Sangkal Putung yang berhadapan dengan pasukan Jipang dibawah pimpinan Tohpati sebelum Untara datang. Ia masih tetap seorang yang garang dengan ilmunya yang dahsyat.

Karena itulah, maka Putut Tanggonpun segera merasakan tekanan yang berat dari bekas Senapati Pajang yang telah menyisihkan diri dari lingkaran keprajuritan itu.

Tetapi Putut Tanggonpun memiliki pengalaman yang luas dalam olah senjata. Ia pernah menghadapi berbagai jenis senjata dan ilmu, sehingga dengan demikian, maka ia pun berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kemampuan lawannya, bukan saja dengan kecepatan bergerak dan kekuatan tenaganya. Tetapi juga dengan cara dan akal yang didasari atas pengalaman tetapi juga kelicikannya.

Itulah sebabnya, maka Widura harus berhati-hati. Ternyata Putut Tanggon bertempur dengan loncatan-loncatan panjang. Kadang-kadang justru ia telah dengan sengaja memancing lawannya berkisar dari arena. Namun kemudian dengan tiba-tiba ia telah berusaha untuk mendesaknya kearah yang diperhitungkannya, dengan baik.

Mula-mula Widura tidak begitu menghiraukannya. Tetapi ketika tiba-tiba saja terasa kakinya menyentuh rerumputan yang dikenalnya baik-baik, karena kadang-kadang ia ikut menyiramnya dimusim kering, barulah ia sadar, bahwa lawannya telah memancingnya dan mendesaknya kearah kolam di sebelah kebun bibit di halaman samping.

“Ia akan berusaha menjebakku kedalam kolam,” desis Widura didalam hatinya. Tetapi ia lebih mengenal tempat itu daripada lawannya. Apalagi mereka sudah keluar dari sinar lampu minyak sehingga kegelapan malam rasa-rasanya menjadi bertambah pekat.

“Tetapi mata orang itu cukup tajam,” berkata Widura kepada diri sendiri.

Namun Widura pun bukannya seorang yang tidak dapat mempergunakan akalnya. Ia masih belum nenentukan sikap. Tetapi ia sudah cukup mengerti, bahwa lawannya akan mendesaknya sehingga ia dapat tergelincir kedalam kolam.

Sementara itu, Glagah Putih ternyata bukan lagi anak-anak yang mulai belajar mengenal hulu senjata. Ketekunannya bukanlah kerja yang sia-sia. Demikian ia menghadapi lawannya, maka ia pun telah mengerahkan segenap kemampuannya.

Anak itu memang agak tergesa-gesa. Tetapi ia sudah sedemikian ingin mengukur puncak dari kemampuannya dalam pertempuran yang sebenarnya setelah ia menempa diri dengan tidak mengenal waktu.

Itulah sebabnya, sejak benturan senjata yang pertama, lawannya segera merasa betapa anak muda itu memiliki kecepatan dan kekuatan bergerak yang mengagumkan. Glagah Putih memang mampu membuat lawannya menjadi bingung. Tetapi ketika datang seorang lagi yang bergabung dengan lawannya, maka keseimbangan pertempuran itu pun telah berubah.

Betapapun juga, namun Glagah Putih masih terlalu muda pengalamannya. Karena itu, maka ketika ia harus bertempur melawan dua orang sekaligus, maka ia mulai mengalami kesulitan. Hanya karena latihan yang sangat berat yang pernah dilakukan sajalah, maka ia masih tetap dapat bertahan, betapapun berat tekanan yang dialaminya.

Ki Lurah Patrajaya yang bertempur tidak terlalu jauh dari anak muda itu pun melihat kesulitan yang mulai menekan Glagah Putih. Namun ia tidak segera dapat membantunya, karena ia sendiri harus bertempur melawan dua orang pula.

Sejenak Ki Lurah Patrajaya melihat medan disekelilingnya. Beberapa orang pengikut Sabungsari pun telah terlibat dalam pertempuran yang berat pula. Dua orang yang bertempur berpasangan, harus melawan tiga orang murid dari Gunung Kendeng.

adbm-131-02Namun dalam pada itu, meskipun dalam kehidupan sehari-hari mereka dengan susah payah mencoba menyesuaikan diri, ketika tekanan-tekanan yang berat mulai mengancam keselamatan mereka, maka diluar sadar, tumbuhlah sifat dan kebiasaan mereka. Semakin lama mereka pun bertempur semakin kasar, mengimbangi kekasaran orang-orang Gunung Kendeng. Bahkan ketika orang-orang Gunung Kendeng mulai berteriak, maka para pengikut Sabungsari pun telah berteriak pula tidak kalah kerasnya.

Putut Tanggon yang bertempur melawan Widura terkejut melihat sikap dan cara para pengikut Sabungsari itu bertempur. Semakin lama justru semakin kasar.

Hampir diluar sadarnya, Putut Tanggon itu pun berdesis, “Cantrik-cantrik Jati Anom ini ternyata jauh berbeda dengan yang aku bayangkan.”

“Kenapa?” bertanya Widura sambil bertempur.

“Mereka mempunyai sifat dan watak yang jauh berbeda dari yang aku duga. Ternyata bahwa padepokan ini merupakan padepokan yang tidak berbeda dengan padepokan kami di Gunung Kendeng, meskipun seolah-olah orang-orang padepokan ini adalah orang-orang yang baik, yang bersifat lembut dan baik hati. Tetapi dalam keadaan yang memaksa kita masing-masing menunjukkan sifat-sifat kita, maka nampaklah betapa kasarnya orang-orang dari padepokan ini,” berkata Putut Tanggon sambil bertempur.

Widura tidak menjawab. Sebenarnyalah bahwa ia pun mulai terganggu karena para pengikut Sabungsari telah bertempur dengan caranya. Namun Widura pun menyadari, tanpa mereka, maka orang-orang dari padepokan kecil itu akan segera mengalami kesulitan. Karena bagaimanapun juga, empat orang pengikut Sabungsari itu dengan caranya telah bertempur dengan garang sekali, meskipun terlalu kasar dan keras.

Namun dalam pada itu, Widura masih harus memperhitungkan keadaan dirinya sendiri. Ternyata bahwa Putut Tanggon tidak dapat mendesaknya sesuai dengan yang diinginkannya. Widura yang menyadari, bahwa ia sudah berada tidak jauh dari sebuah belumbang, justru berpikir seperti yang dipikirkan oleh lawannya. “Akulah yang akan mendesaknya masuk kedalam kolam,” berkata Widura didalam hatinya.

Sementara Widura bekerja keras untuk mendesak lawannya, maka Glagah Putih terpaksa berloncatan surut. Bahkan sekah-sekali ia harus menghindar dengan langkah-langkah panjang dan jauh.

Tetapi kesulitan itu justru telah membakar jantung Glagah Putih. Dengan demikian ia merasa, bahwa ilmunya benar-benar sedang diuji, justru untuk menghadapi dua orang lawan.

Ki Lurah Patrajaya lah yang sekali-sekali sempat memperhatikan anak muda itu, sehingga justru karena itulah maka ia pun menjadi gelisah. Pengamatannya yang tajam segera mengetahui, bahwa Glagah Putih telah mengalami kesulitan menghadapi dua orang lawannya.

“Jika anak itu tidak segera mendapat bantuan, maka ia akan menjadi korban yang pertama kali dari kehadiran orang-orang Gunung Kendeng ini,” berkata Ki Lurah Patrajaya kepada diri sendiri.

Karena itu, maka ia pun kemudian telah menghentakkan kemampuannya. Sebagai seorang kepercayaan Untara, maka ia pun segera dapat menempatkan dirinya. Dua orang lawannyalah yang kemudian telah berhasil didesaknya.

“Aku harus berlomba dengan waktu. Aku lebih dahulu yang dapat mengalahkan lawanku, atau dua orang Gunung Kendeng itulah yang lebih dahulu dapat mematahkan perlawanan Glagah Putih,” berkata Ki Lurah itu pula didalam hatinya.

Namun Ki Lurah itu pun menyadari, bahwa Ki Widura tidak sempat melihat perkelahian anaknya karena jarak mereka menjadi semakin jauh, apalagi karena Ki Widura telah terpancing sampai ketepi kolam, meskipun akhirnya ia menyadari kedudukannya.

Selagi Ki Lurah Patrajaya berjuang untuk mematahkan perlawanan kedua lawannya, agar ia dapat membantu Glagah Putih, maka dibagian lain dari halaman padepokan kecil itu, Sabungsari telah bertempur dengan sengitnya melawan Ki Banjar Aking, yang telah meninggalkan padepokan Gunung Kendeng dan tinggal dipesisir Lor.

Ternyata bahwa Sabungsari yang dianggapnya masih dalam keadaan sakit itu, benar-benar merupakan seekor harimau yang sangat garang. Jika semula Ki Banjar Aking menganggap bahwa ia akan dapat menguasai lawannya dengan mudah, karena keadaannya, meskipun ia mengatakan bahwa luka-lukanya telah sembuh, namun ternyata bahwa kelengahannya itu hampir saja menyeretnya kedalam kesulitan yang parah, justru pada permulaan dari pertempuran itu.

“Anak gila,” geram Ki Banjar Aking, “itulah agaknya bersama Agung Sedayu ia telah dapat membunuh dua orang kepercayaan Ki Gembong Sangiran.”

Karena itulah, maka untuk selanjutnya, Ki Banjar Aking tidak akan membiarkan dirinya dihancurkan lebih dahulu oleh Sabungsari. Dengan sangat hati-hati, ia mulai menjajagi kemampuan Sabungsari.

Namun dalam pada itu, maka keduanya semakin lama telah terlibat dalam perkelahian yang semakin sengit. Ilmu mereka masing-masing perlahan-lahan telah meningkat selapis demi selapis. Sehingga akhirnya, mereka sampai pada suatu kenyataan tentang lawan mereka. Ternyata bahwa masing-masing adalah benar-benar orang yang pilih tanding. Orang yang memiliki kelebihan dari orang lain.

Anak Ki Gede Telengan yang pernah membunuh Carang Waja itu salah seorang murid Gunung Kendeng itu merasa, bahwa lawannya yang dihadapinya itu memang seorang lawan yang sangat berat baginya.

Dalam pada itu, selagi di padepokan kecil itu terjadi pertempuran yang sengit dan mencemaskan, maka beberapa orang prajurit yang dikirim oleh Untara kearah suara kentongan, diluar dugaan dan kebetulan saja, telah bertemu dengan empat orang yang dengan tergesa-gesa meninggalkan padukuhan yang sedang sibuk karena api yang masih belum terkuasai. Sebagai prajurit, maka segera mereka melihat kelainan pada keempat orang itu. Sehingga dengan curiga, maka salah seorang prajurit itu pun menegurnya, “Siapakah kalian?”

Keempat orang itu termangu-mangu. Namun kemudian yang seorang menjawab, “Kami orang-orang Jati Anom.”

“Siapa? Aku mengenal hampir setiap orang Jati Anom,” sahut prajurit itu, “sebut namamu.”

Keempat orang itu tidak segera dapat menjawab. Namun agaknya mereka tidak mendapat kesempatan lagi untuk mengelak. Apalagi prajurit yang mereka jumpai hanya dua orang saja. Maka salah seorang dari mereka berkata, “Kalian adalah prajurit yang malang. Pergilah. Jika tidak, maka nyawamu akan melayang.”

Kedua prajurit yang memang sudah curiga itu bergeser surut. Tetapi mereka tidak melarikan diri. Dengan serta merta mereka telah menarik pedang sambil berkata, “Jangan menghina kami. Kami adalah prajurit yang sedang bertugas. Menyerahlah, sebelum kami mengambil tindakan kekerasan.”

“Kau hanya berdua. Apa yang dapat kalian lakukan atas kami?”bertanya salah seorang dari keempat orang itu.

“Kami memang hanya berdua. Tetapi disekeliling tempat ini tersebar beberapa orang prajurit yang sedang menuju ketempat kebakaran itu. Dua tiga orang dari mereka tentu akan melalui jalan ini pula,” berkata salah seorang prajurit itu.

“Mungkin. Tetapi setelah kalian terbunuh disini,” geram salah seorang dari keempat orang yang ducurigai itu.

Tetapi prajurit-prajurit itu tidak menjawab lagi.

Mereka tiba-tiba saja telah menyerang keempat orang yang mereka curigai itu. Mereka menganggap bahwa keempat orang itu terlibat langsung dalam kebakaran yang telah terjadi.

Tetapi keempat orang itu ternyata cukup tangkas. Mereka pun segera berpencar dan justru mereka pun telah mengepung kedua prajurit yang menyerang mereka itu.

Kedua prajurit itu terkejut. Ternyata keempat orang itu memiliki ilmu yang cukup menggetarkan jantung mereka. Dengan loncatan-loncatan yang cepat keempat orang itu sudah berada didalam libatan pertempuran yang sangat membahayakan jiwa mereka.

Namun dalam pada itu, perkelahian itu tidak segera dapat diakhiri oleh keempat orang itu. Kedua prajurit itu ternyata memiliki kemampuan yang tinggi pula. Mereka mampu bertahan dengan ilmu pedang yang cukup garang.

“Gila,” geram salah seorang perampok, “bunuh mereka secepatnya.”

Tetapi usaha untuk membunuh kedua prajurit itu telah terbentur pada perlawanan yang sangat gigih. Kedua prajurit itu sama sekali tidak menyerah menghadapi kenyataan, bahwa keempat orang itu tidak akan dapat mereka kalahkan.

Namun dalam pada itu, ternyata didalam kekisruhan suara kentongan yang bergema diseluruh Kademangan dan sekitarnya, maka jalan-jalanpun menjadi tidak sesunyi saat-saat yang lain. Masih saja ada sekelompok orang yang dengan tergesa-gesa menuju ke padukuhan yang diwarnai oleh merahnya nyala api yang bagaikan menjilat langit.

Karena itu, maka orang-orang itu pun segera tertegun melihat perkelahian yalig sedang terjadi. Bahkan sejenak kemudian beberapa orang yang bersenjata telah mendekat sambil mengacukan senjata mereka.

“Mereka harus ditangkap,” geram salah seorang prajurit yang sedang bertempur itu.

“Siapakah mereka?” bertanya orang yang baru datang itu.

“Aku tidak tahu. Tetapi mereka sangat mencurigakan. Mereka tentu terlibat dalam kebakaran yang terjadi itu,” jawab prajurit yang masih saja bertempur itu.

Orang-orang itu pun kemudian segera melibatkan diri, meskipun salah seorang dari keempat orang perampok itu berteriak, “Siapa yang melibatkan diri berarti mati.”

Namun dalam pada itu, beberapa orang bersenjata itu tidak menyingkir. Dengan garangnya mereka pun beramai-ramai melibatkan diri melawan keempat orang yang ternyata adalah para perampok yang sedang menyingkir dari padukuhan yang terbakar itu.

Tetapi melawan orang yang jumlahnya terlalu banyak, mereka tidak akan dapat bertahan terlalu lama. Karena itu, maka salah seorang dari mereka pun segera bersuit nyaring, memberikan isyarat kepada kawan-kawannya agar mereka melarikan diri.

Isyarat itu tidak perlu diulangi. Keempat orang itu pun kemudian dengan senjata yang berputar di tangan mereka, telah menerobos kepungan dan berusaha untuk meninggalkan lawan-lawannya.

Tetapi kedua prajurit itu tidak membiarkan mereka terlepas. Demikian keempat orang itu berlari kedalam kegelapan, maka salah seorang prajurit itu dengan tangkasnya menarik sebuah pisau belati kecil dan segera melontarkan kepada salah seorang dari keempat orang itu.

Yang terdengar adalah sebuah keluhan. Meskipun beberapa puluh langkah, orang itu masih berlari, tetapi akhirnya orang itu pun terjatuh dipematang.

Beberapa orang segera memburunya. Dengan kemarahan yang sangat, mereka hampir saja membunuh orang itu. Namun kedua prajurit itu segera mencegahnya.

“Kita perlu mendapat keterangan daripadanya. Kita bawa orang ini ke Jati Anom. Ia harus segera dihadapkan kepada Ki Untara yang gelisah,” berkata salah seorang prajurit.

Dengan tergesa-gesa mereka pun segera berusaha untuk mendapatkan kuda di padukuhan terdekat. Meskipun jarak induk Kademangan tidak begitu jauh, namun membawa seorang yang terluka tentu akan memerlukan waktu yang panjang, jika mereka harus berjalan kaki.

Sejenak kemudian, maka kedua prajurit itu pun telah berderap diatas punggung kuda bersama orang yang terluka itu. Meskipun orang itu telah menjadi semakin lemah, namun kedua prajurit itu harus berhati-hati. Mungkin kawan-kawannya tiba-tiba saja telah menyergapnya, untuk membebaskan kawannya yang tertangkap.

Tetapi sampai saatnya mereka memasuki rumah Untara, mereka tidak mendapat hambatan apapun juga.

Kedatangan kedua prajurit yang membawa tawanan itu telah mengejutkan Untara yang gehsah, yang sedang berbincang dengan orang-orang kepercayaannya. Bahkan Untara sedang membicarakan untuk memerintahkan dua orang di antara mereka, mengamati keadaan padepokan kecil itu.

“Tidak mustahil bahwa segalanya ini telah diatur sebaik-baiknya oleh Ki Pringgajaya atau orang-orangnya yang diperintahkannya,” berkata Untara.

Orang orang yang ikut serta dalam pembicaraan yang terbatas itu pun membenarkannya, sehingga karena itu, maka mereka pun bersepakat mengirimkan dua orang untuk melihat keadaan di padepokan itu.

Namun pada saat itulah, dua orang prajurit datang membawa seorang tawanan yang terluka.

“Siapakah orang itu?” bertanya Untara.

“Kami menangkapnya di bulak sebelah. Mereka nampak mencurigakan dan datang dari arah kebakaran,” berkata prajurit yang menangkapnya. Dengan singkat ia pun menceriterakan apa yang telah terjadi dengan prajurit yang terluka itu.

Untara mengangguk-angguk. Ia pun kemudian menyuluruh salah seorang dari kepercayaannya itu untuk mencoba menolong sedapat-dapatnya agar luka orang itu tidak bertambah parah, sementara ia memerlukan orang itu untuk memberikan keterangan tentang dirinya dan tentang tugas yang harus dilakukannya.

Setelah pada luka itu ditaburkan obat untuk memampatkannya, maka mulailah Untara bertanya kepadanya, siapakah ia sebenarnya dan apakah yang telah dilakukannya.

Untuk beberapa saat lamanya, orang itu berusaha untuk tidak mengatakan sesuatu. Ia mencoba untuk mengingkari segalanya yang telah dilakukannya.

“Baiklah,” berkata Untara, “jika ia tidak mau mengatakan sesuatu bawalah orang itu ketempat kebakaran itu terjadi. Lepaskan ia di antara orang-orang yang sedang marah sebagai salah seorang yang telah melakukan kejahatan yang mengakibatkan kebakaran itu terjadi.”

“Jangan,” tiba-tiba orang itu memohon.

“Itu akan lebih baik bagimu. Kau akan berhadapan dengan orang-orang yang marah, yang tidak lagi dapat mengendalikan diri. Mungkin kau akan diikat dan dilemparkan pula kedalam api yang menyala itu. Atau kau akan mengalami nasib lebih buruk dari kentongan yang dipukul dengan nada titir itu,” desis Untara pula.

Betapapun ia mencoba bertahan, namun ketika tiba-tiba dengan keras Untara memerintahkan agar orang itu dibawa saja ketempat kebakaran, maka sekali lagi orang itu memohon, “Jangan, jangan bawa aku kesana.”

“Ada dua pilihan,” berkata Untara, “kau dilemparkan kepada orang-orang yang sedang marah itu, atau kau harus berbicara.”

Orang itu merenung sejenak. Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Sehingga karena itu, maka ia pun berkata, “Aku akan berbicara sepanjang aku mengetahuinya.”

“Katakan apa yang kau ketahui tentang dirimu dan apa yang telah kau kerjakan,” geram Untara.

“Aku hanya menjalankan perintah untuk merampok dan membakar rumah itu,” jawab orang yang terluka itu.

“Siapa yang memerintahkan itu?” bertanya Untara.

“Gembong Sangiran. Pemimpin tertinggi dari padepokan Gunung Kendeng,” jawabnya.

“Apalagi yang sedang dilakukan oleh Gembong Sangiran sekarang ini,” desak Untara.

“Aku tidak tahu. Aku hanya menjalankan perintah. Yang aku ketahui adalah perintah yang harus aku lakukan,” jawab orang itu.

“Dalam hubungan apa? Jawab pertanyaanku. Kenapa kau harus merampok dan membakar rumah itu?” Untara hampir kehilangan kesabaran.

“Aku tidak tahu.”

Tiba-tiba saja Untara meloncat menangkap lengan orang itu. Katanya, “Kau sudah terluka. Aku masih tetap pada pendirianku untuk melemparmu kepada orang-orang yang marah itu jika kau tidak berbicara. Jangan kau kira beihwa aku hanya menakut-nakutimu. Tetapi aku benar-benar akan melakukannya, karena dengan demikian aku akan dapat mencuci tangan seandainya kerangka mayatmu diketemukan didalam api, bahwa yang melakukan itu adalah orang-orang yang marah. Bahkan prajurit Pajang di Jati Anom.”

“Jangan, aku mohon, jangan.”

“Jika kau mau berbicara, aku akan mempertimbangkan lagi.”

“Tetapi aku benar-benar tidak mengetahui apapun juga. Aku hanya menjalankan perintah. Tidak lebih dan tidak kurang.”

Untara menggeretakkan giginya. Tiba-tiba saja ia berkata kepada seorang prajurit, “Lakukan. Kau hanya menjalankan perintahku. Kau tidak perlu tahu sebab dan akibatnya. Bawa orang ini dan serahkan kepada orang-orang yang marah ditempat kebakaran itu. Mereka tentu sedang sibuk memadamkan api yang menelan rumah yang besar dan seluruh isi dan perabotnya itu.”

“Tidak, tidak, “ orang itu hampir berteriak.

“Kau membuat aku jengkel dan kehilangan kesabaran,” geram Untara.

“Ya, baiklah. Aku mengerti, bahwa pada saat ini, beberapa orang telah mendatangi padepokan kecil selagi Kademangan Jati Anom dicengkam oleh kekisruhan akibat kebakaran itu.”

Untara menarik nafas. Katanya, “Benar telah dilakukannya. Karena itu, lakukan tugas kalian yang telah aku tentukan.”

Yang kemudian bersiap untuk berangkat bukan hanya dua orang, tetapi keempat orang yang memang sudah dipersiapkan oleh Untara.

“Hati-hatilah. Mungkin orang-orang Pringgajaya telah melibatkan diri pula, sehingga kau harus berbuat sesuatu sebelum kau sampai di padepokan itu. Berikan isyarat jika perlu. Tidak dengan kentongan, tetapi dengan panah sendaren.”

Sejenak kemudian maka empat ekor kuda telah berderap meninggalkan rumah Untara menuju ke padepokan kecil yang sedang di cengkam oleh ketegangan yang memuncak.

Tetapi sebenarnyalah bahwa para pengikut Ki Pringgajaya telah bergerak pula. Meskipun menurut pembicaraan yang telah diadakan oleh Ki Pringgajaya dan orang-orang Gunung Kendeng, bahwa hanya orang-orang Gunung Kendeng sajalah yang akan memasuki padepokan itu dan membunuh orang-orang yang sudah ditentukan, namun beberapa orang pengikut terpercaya dari Ki Pringgajaya harus mengawasinya dari luar, jika ada pihak lain yang ikut campur dalam persoalan itu, merekalah yang akan mencegahnya.

Seperti juga para prajurit diparondan, yang sama sekali tidak berusaha untuk melihat suasana yang sebenarnya, bahkan telah ikut pula mengaburkan isyarat kentongan dengan isyarat kebakaran dan perampokan.

Maka beberapa orang prajurit pengikut Ki Pringgajaya telah siap pula untuk menghambat orang-orang yang berpacu dari rumah Untara yang memang sudah mereka perhitungkan.

Karena itulah, maka ketika keempat orang berkuda itu sampai di bulak, mendekati padepokan itu, mereka telah ditunggu oleh beberapa orang yang berusaha mengaburkan wajah mereka dengan berbagai cara. Ada yang menutup wajah mereka dengan ikat kepala, atau dengan kain berwarna putih atau dengan cara apapun juga.

Namun dalam pada itu, keempat orang berkuda itu pun telah memperhitungkan kemungkinan itu pula. Karena itu, maka mereka pun tidak terlalu terkejut ketika mereka melihat beberapa orang menghentikan mereka di bulak dekat dengan padepokan yang sedang dibakar oleh api pertempuran itu.

“Siapakah kalian?” bertanya salah seorang dari keempat prajurit itu.

“Kalian tidak perlu mengetahui siapa kami. Sebaiknya kalian kembali saja ke Jati Anom. Bukankah kau prajurit Pajang di Jati Anom.”

“Ya, aku memang prajurit Pajang di Jati Anom seperti kalian. Tetapi kami mengemban tugas dari Senapati kami. Tidak seperti yang sedang kalian lakukan sekarang.”

Orang-orang yang menghentikan para prajurit itu terkejut. Salah seorang bertanya, “Apakah kalian menyangka bahwa kami juga prajurit Pajang di Jati Anom?”

“Jika tidak, kalian tidak akan mengaburkan wajah-wajah kalian,” jawab salah seorang dari prajurit berkuda itu.

“Persetan dengan igauanmu. Kembali atau kalian akan mati disini sebelum kalian melihat apa yang terjadi di padepokan itu.” bentak seseorang dari mereka yang bertutup kain pada wajahnya.

“Kami akan berusaha untuk membunuh salah seorang dari kalian, agar kami dapat membuktikan bahwa kalian adalah prajurit-prajurit seperti kami, tetapi bahwa kalian sudah sesat dan meninggalkan darma seorang kesatria, maka kalian harus dihukum,” berkata salah seorang prajurit berkuda itu.

“Jangan terlalu berbaik hati terhadap isi padepokan itu. Meskipun salah seorang dari mereka adalah adik Untara. Bahkan karena itulah maka kalian adalah pejuang yang sia-sia. Kalian akan bertempur tidak karena darma seorang kesatria. Tetapi kalian sudah diperalat oleh Untara untuk melindungi adiknya yang terlibat dalam persoalan pribadi. Adalah berlebihan jika kalian harus mengorbankan nyawa kalian untuk kepentingan Agung Sedayu. Jika kalian berjuang untuk Pajang, maka kematian kalian masih dapat dihormati. Tetapi kematian yang kalian hadapi sekarang adalah kematian yang sia-sia saja.”

“Jangan menganggap aku kanak-kanak. Aku mengerti apa yang kalian lakukan,” jawab prajurit berkuda itu, “sedangkan siapapun orangnya yang terancam kejahatan, adalah termasuk kewajiban kami. Apakah ia seorang petani, seorang pedagang atau seorang adik Senapati.”

“Persetan,” geram orang yang bertutup kain putih pada wajahnya, “jika kalian tidak mendengarkan peringatan kami, maka kahan akan kami bunuh.”

Pertempuran tidak dapat dihindarkan lagi. Beberapa orang di antara mereka yang menyembunyikan wajah mereka itu pun segera menyerang.

Keempat prajurit itu pun segera berloncatan turun dari kuda mereka. Didalam gelap dan di jalan sempit, mereka menganggap bahwa bertempur diatas punggung kuda agak kurang menguntungkan.

Karena itu, maka mereka pun segera melepaskan kuda-kuda mereka dan dengan senjata di tangan, mereka menghadapi beberapa orang yang menyerang mereka, yang ternyata jumlahnya agak lebih banyak.

Tetapi keempat orang itu sama sekali tidak gentar meskipun mereka harus melawan enam orang sekaligus.

Mereka pun menyadari, bahwa keenam orang itu adalah pengikut Pringgajaya yang tentu sudah terpilih.

Meskipun demikian, para prajurit itu telah dirayapi oleh kegelisahan. Bukan karena diri mereka sendiri. Tetapi karena mereka mendapat tugas untuk mengamati apa yang terjadi di padepokan kecil itu, maka yang telah terjadi itu, agak menggelisahkan diri mereka.

“Orang-orang ini harus cepat dikalahkan, mati atau meninggalkan arena perkelahian,” geram salah seorang prajurit berkuda itu.

Namun ternyata bahwa keenam orang itu pun telah bertempur dengan gigihnya.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun tentu tidak akan segera dapat diselesaikan. Keenam orang itu tentu akan berjuang sejauh dapat mereka lakukan untuk menghambat, agar para prajurit itu tidak sempat menyelamatkan para penghuni padepokan itu.

Tetapi bagi para prajurit berkuda itu, satu atau dua orang dari keenam orang itu tentu akan dapat menjadi bukti, siapakah sebenarnya yang berada dibalik segala peristiwa yang terjadi beruntun di Jati Anom itu.

Dalam pada itu, ditempat yang terpisah, telah terjadi lingkaran-lingkaran pertempuran yang semakin dahsyat. Di halaman padepokan kecil itu pun pertempuran menyala semakin panas. Tangan-tangan yang telah berkeringat membuat darah seolah-olah menjadi mendidih karenanya.

Dengan cemas Ki Lurah Patrajaya melihat Glagah Putih yang semakin terdesak. Sementara ia sendiri masih belum dapat membayangkan, apakah ia akan segera dapat mengalahkan lawan-lawannya.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing yang merupakan orang tertua, bukan saja umurnya, tetapi juga tingkat ilmunya di padepokan itu, tengah bertempur dengan dahsyatnya melawan Gembong Sangiran. Keduanya menyadari keadaan mereka, sehingga mereka tidak banyak bertempur dengan memeras tenaga. Tetapi keduanya telah menghimpun segala kemampuan dan pengerahan tenaga cadangan.

Meskipun gerak dan benturan-benturan yang terjadi nampaknya sederhana dan tidak terlalu keras, tetapi sebenarnyalah benturan-benturan itu bagaikan beradunya dua raksasa yang sedang mengamuk.

Gembong Sangiran yang nampak lebih kasar dari lawannya, kadang-kadang melambari serangan-serangannya dengan hentakan dan bahkan teriakan-teriakan keras bagaikan membelah langit. Namun Kiai Gringsing tidak terpancing dengan gerakan-gerakan serupa. Ia selalu menyadari kemungkinan untuk memelihara kekuatannya untuk waktu yang tentu tidak terlalu singkat.

Namun Gembong Sangiran pun tidak tergesa-gesa. Ia memperhitungkan kekuatan dari Gunung Kendeng jauh lebih besar dari kekuatan yang ada di padepokan itu. Jika Sabungsari mampu bertahan melawan Banjar Aking, maka tentu tidak akan demikian dengan Agung Sedayu.

Menurut perhitungan Gembong Sangiran, Agung Sedayu lah orang yang pertama-tama akan mati. Jika demikian, maka Jandon akan segera menggulung lawan-lawannya yang lain. Ia akan bertempur bersama dengan Banjar Aking, sehingga dapat sekejap, Sabungsari akan mati. Sekejap berikutnya, maka bertiga dengan Gembong Sangiran sendiri, akan berarti kematian bagi Kiai Gringsing. Selebihnya tidak-akan lebih sukar dari memijit buah ranti.

Karena itu, setiap kali Gembong Sangiran berusaha untuk dapat melihat pertempuran yang dahsyat antara Jandon yang dibakar oleh dendam, melawan Agung Sedayu.

Demikianlah, maka pertempuran antara keduanya sebenarnya merupakan puncak dari pertempuran di padepokan itu. Keduanya memiliki tenaga yang segar dilambari oleh ilmu yang luar biasa.

Jandon yang merasa dirinya mumpuni, dengan penuh keyakinan, merasa akan segera dapat mengakhiri perlawanan Agung Sedayu. Ia yang merasa memiliki ilmu yang tidak ada bandingnya, didasari dengan ilmu yang diterima di Gunung Kendeng, namun yang Kemudian disempurnakannya sendiri dalam perantauan dengan mesu diri dan penyerapan kekuatan dari berbagai macam pengalaman dan pengenalan atas ilmu yang diamatinya dari perguruan-perguruan yang dapat disadapnya, maka ia merasa, dirinya adalah orang yang luar biasa, dan memiliki kemampuan melampaui setiap orang yang pernah dikenalnya.

“Anak muda ini tidak akan mampu bertahan lebih dari sepenginang,” katanya didalam hati.

Karena itu, oleh dendam yang tidak terkendali, maka Jandon pun kemudian meningkatkan ilmunya semakin tinggi, semakin tinggi.

Tetapi lawannya adalah Agung Sedayu. Adalah diluar dugaan dan sama sekali tidak pernah dibayangkan, bahwa Agung Sedayu adalah anak muda yang aneh. Yang secara kebetulan telah mendapat kesempatan untuk menyadap ilmu dari berbagai pihak, dan terutama kesempatan baginya, membaca dan memahatkan isi kitab Ki Waskita didalam hatinya.

Karena itulah, maka seolah-olah Agung Sedayu tidak pernah tergoyahkan. Meskipun ilmu Jandon menjadi semakin meningkat, namun rasa-rasanya Jandon masih saja membentur kekuatan yang tidak teratasi.

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s