ADBM2-135

<<kembali | lanjut >>

DALAM pada itu, maka orang yang disebut Ki Lurah itu pun kemudian berkata, “Ki Sanak. Segera bersiaplah untuk mati. Aku sadar, bahwa kalian bukan orang-orang yang mudah menyerah menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga gawatnya. Karena itu, maka aku persilahkan kalian bersiap untuk bertempur. Kita mempunyai waktu cukup tanpa diganggu oleh orang lain.”

“Ternyata kalian telah melakukan pekerjaan ini dengan sepenuh kesadaran. Baiklah. Seperti kalian, aku pun mempunyai kesadaran atas satu keyakinan, bahwa orang-orang yang bermimpi tentang masa kejayaan Majapahit lama tidak akan mempunyai tempat untuk hidup dimasa ini. Bukan kebesaran Majapahit yang tidak dapat diterima lagi saat ini, bukan pula kesatuan yang pernah terujud, tetapi adalah ketamakan dan kedengkian yang mendukung cita-cita itulah yang harus ditentang.”

“Hanya orang-orang yang tidak mengerti sajalah yang mengatakan, bahwa ketamakan dan kedengkian telah mendukung cita-cita yang besar itu,” berkata orang yang disebut Ki Lurah.

“Itu suatu keyakinan, seperti kalian meyakini perjuangan kalian,” sahut Swandaru, lalu, “jika demikian, kita akan mempertahankan keyakinan kita masing-masing. Seperti kalian menyadari sepenuhnya apa yang kalian lakukan, maka aku pun menyadari sepenuhnya apa yang aku lakukan.”

Swandaru tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun kemudian segera bersiap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi. Demikian pula Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Mereka menambatkan kuda mereka pada batang perdu. Kemudian berdiri tegak dengan dada tengadah meskipun mereka agak berdebar-debar juga menghadapi persoalan yang lidak mereka perhitunhkan sama sekali.

Dalam pada itu, Ki Waskita yang juga telah menambatkan kudanya, justru berdiri agak jauh dari ketiga orang yang sedang dalam perjalanan kembali ke Sangkal Putung itu. Sementara Swandaru yang mengenal siapa Ki Waskita itu pun sama sekali tidak menegurnya. Swandaru menyadari bahwa Ki Waskita tentu mempunyai perhitungan tersendiri atas peristiwa yang sedang mereka hadapi.

“Ki Sanak,” berkata orang yang disebut Ki Lurah, “ternyata aku telah mempersiapkan orang-orangku melampaui kebutuhan. Disini ada tujuh orang. Sedang kalian hanya bertiga. Tetapi kesiagaan ini perlu, justru karena kami mengerti, bahwa orang-orang bercambuk adalah orang-orang yang berbahaya. Juga seorang perempuan yang bersenjata pedang rangkap dari Tanah Perdikan Menoreh, dan seekor macan betina yang mewarisi tongkat Ki Sumangkar.”

“Kami tidak hanya bertiga, tetapi berempat,” desis Swandaru.

“Baiklah, jika yang seorang itu harus diperhitungkan pula. Tetapi ia tidak mempunyai arti khusus didalam pertentangan ini.” jawab orang yang disebut Ki Lurah itu.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang-orang itu mempunyai perhitungan yang salah terhadap Ki Waskita. Namun Swandaru tidak mempersoalkannya. Ia percaya sepenuhnya apa saja yang akan dilakukan oleh Ki Waskita itu.

Demikianlah, maka orang yang disebut Ki Lurah itu pun kemudian berkata kepada para pengikutnya, “bersiaplah Kita akan bertempur beradu dada sebagai orang orang yang mempunyai pegangan dalam perjuangannya.”

Kedua orang yang berpakaian tukang satang itu nnengerutkan keningnya. Namun ketika sepintas ia melihat perhiasan pada timang Swandaru dan permata di leher Pandan Wangi dan Sekar Mirah, maka gairah mereka pun segera melonjak.

Swandaru yang merasa bertanggung jawab atas keselamatan mereka semuanya, maju selangkah. Meskipun ia menyadari, bahwa kedua perempuan yang menempuh perjalanan bersamanya itu juga memiliki kemampuan bertempur, namun menurut tingkat dan tataran hubungan di antara mereka, maka Swandaru adalah orang yang tertua.

Orang yang menyebut dirinya Ki Lurah itu pun segera menempatkan diri untuk melawan Swandaru. Sambil memandang kawan-kawannya seorang demi seorang serta kedua tukang satang itu, ia pun berkata, “Aku akan melawan anak ini. Kalian berenam mempunyai tiga orang korban. Kalian dapat memilih. Kita tidak akan memerlukan waktu lama. Aku hanya memerlukan waktu sepenginang untuk membunuh anak Demang Sangkal Putung ini, meskipun barangkali aku harus berpikir berulang kali untuk berperang tanding melawan gurunya.”

Swandaru menggeram. Namun ia pun menyadari, bahwa orang yang berdiri dihadapannya itu tentu tidak hanya sekedar menakut-nakutinya. Ia tentu mempunyai pertimbangan dan perhitungan yang mapan. Nampaknya ia telah mengenal tentang dirinya, tentang isteri dan adiknya.

Swandaru menjadi berdebar-debar ketika ia melihat keenam orang yang lain telah berpencar. Pandan Wangi, Sekar Mirah dan Ki Waskita harus menghadapi masing-masing dua orang lawan yang masih belum diketahui tingkat kemampuannya.

Namun Swandaru tidak dapat berbuat lain. Jika ia menempatkan diri ditempat kedua perempuan itu, tetapi ternyata orang yang agaknya pemimpin dari kelompok itu memiliki kemampuan yang tidak terlawan, maka ia pun akan menyesal.

Karena itu, ia tidak merubah keadaan yang dihadapinya. Ia harus berani mencoba beberapa saat untuk menjajaki keadaan. Jika keadaan memaksa, maka ia harus dapat mengambil keputusan dengan cepat.

Namun demikian ia berkata didalam hatinya, “Mudah mudahan Ki Waskita mau juga melihat keadaan ini dalam keseluruhan.”

Dalam pada itu, ketujuh orang yang telah menjebak Swandaru dan iring-iringan kecilnya telah bersiap bertindak atas mereka. Orang yang disebut Ki Lurah itu pun berkata, “Aku sudah terlalu lama berada di daerah ini. Aku sudah menjadi jemu karenanya. Dan aku pun ingin segera kembali ke Pajang dengan membawa berita kematianmu, kematian Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Ditambah lagi seorang tua yang bernasib buruk karena ia berada di antara kalian.”

Swandaru tidak menjawab. Tetapi ia pun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja orang yang bertubuh tinggi tegap di antara mereka itu pun berkata, “Ki Lurah, apakah perempuan-perempuan ini harus dibunuh?”

“Ya. Semua harus dibunuh.” jawab orang yang disebut Ki Lurah.

“Sayang sekali. Kedua perempuan ini adalah perempuan-perempuan cantik yang barangkali dapat dimanfaatkan. Aku ingin mendapat salah satu daripadanya. Bagimana jika aku berjanji, bahwa aku akan mengambil perempuan-perempuan ini tanpa mengganggu tugas kita berikutnya.”

“Apa maksudmu?” bertanya Ki Lurah.

“Aku akan membawa mereka. Tetapi dengan janji, melumpuhkan mereka sehingga mereka tidak akan mungkin dapat berbuat sesuatu lagi,” jawab orang itu.

Tetapi Ki Lurah tertawa meskipun ia tetap berhati-hati menghadapi sikap Swandaru. Katanya, “Jangan menyimpan ular didalam kantong ikat pinggangmu. Pada suatu saat kau akan digigitnya.”

“Aku akan mempertanggung jawabkannya,” jawab orang itu.

Namun jawab Ki Lurah kemudian singkat, tegas, “Bunuh semuanya.”

Tidak ada lagi yang bertanya kepadanya. Yang terjadi kemudian adalah sikap-sikap tegang dari mereka yang sudah siap menghadapi benturan kekerasan.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Ki Waskita tertawa pendek. Hanya pendek.

Tetapi ternyata suara tertawa itu mengejutkan orang yang disebut dengan Ki Lurah itu. Wajahnya tiba-tiba menjadi tegang.

“He, siapa kau sebenarnya,” tiba-tiba saja ia berteriak.

Tidak ada yang menjawab meskipun pertanyaan itu mengejutkan.

“Siapa kau orang tua,” sekali lagi terdengar orang yang disebut Ki Lurah itu bertanya.

“Apakah yang kau maksud aku?” bertanya Ki Waskita.

“Jangan berpura-pura. Marilah kita bersikap jantan. Aku tahu, kau bukan orang kebanyakan. Sikapmu sungguh meyakinkan,” berkata orang yang disebut Ki Lurah itu.

“Aku tidak dapat menyebut diriku dengan sebutan lain, kecuali seperti yang sudah aku katakan,” berkata Ki Waskita, lalu katanya pula, “tetapi apakah seseorang seperti kau masih perlu bertanya tentang seseorang? Jika demikian, apakah aku juga boleh bertanya siapakah nama tuan.”

“Menarik sekali,” desis orang itu, “ternyata aku lebih tertarik kepadamu daripada anak muda ini. He, kau berdua yang sudah siap menghadapi orang tua itu. Kemarilah. Orang tua itu perlu mendapat perhatian yang khusus. Meskipun dengan demikian pekerjaanku akan menjadi lebih panjang, tetapi lebih baik menyelesaikannya dalam waktu yang agak lama daripada kalian berdua akan menjadi bahan permainannya.

Kawan-kawan Ki lurah itu menjadi heran mendengar keterangan yang tidak segera dapat mereka pahami. Namun mereka mempunyai keyakinan tentang orang yang disebut Ki Lurah itu. Orang itu tentu mempunyai perhitungan yang mapan atas apa yang dilakukannya.

Karena itu, maka dua orang yang sudah siap untuk bertindak atas Ki Waskita pun bergeser. Mereka dengan hati-hati melangkah mendekati Swandaru sementara orang yang disebut Ki Lurah itu pun perlahan-lahan mendekati Ki Waskita sambil berkata, “Untunglah, kau belum membunuh kedua kawanku. Dan aku pun belum membunuh Swandaru. Agaknya aku harus menyelesaikan kau lebih dahulu, sebelum aku membunuh ketiga orang itu.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ketajaman penglihatannya telah memperingatkan kepadanya, bahwa orang yang disebut Ki Lurah itu memang memiliki kelebihan dari kawan-kawannya yang lain. Bahkan Ki Waskita menduga, bahwa orang itu mempunyai kelebihan pula dari Swandaru.

Karena itu, maka ia harus memancingnya, agar orang itu langsung berhadapan dengan dirinya sendiri. Meskipun ia tidak tahu apakah ia akan dapat menghadapinya, namun ia merasa akan dapat bertahan lebih lama dari Swandaru. Sementara menurut penglihatannya, orang-orang lain yang ada ditempat itu bukanlah orang-orang yang perlu dicemaskan meskipun bukan pula berarti dapat diremehkan. Apalagi mereka masing-masing bertempur berpasangan.

Namun Ki Waskita yakin, bahwa yang seorang itu justru akan lebih berbahaya bagi Swandaru daripada yang dua orang, yang kemudian akan menghadapinya.

Dalam pada itu, Swandaru sendiri justru menjadi heran, bahwa orang yang disebut Ki Lurah itu demikian saja meninggalkannya, dan bersiap menghadapi Ki Waskita. Namun akhirnya ia menyadari, bahwa orang itu tentu mempunyai tanggapan yang tajam atas lawan yang dipilihnya. Orang yang disebut Ki Lurah itu tentu mencemaskan nasib kedua orang kawannya jika kedua orang itu harus berhadapan dengan Ki Waskita, yang agaknya dengan sengaja pula telah memancing orang yang disebut Ki Lurah itu untuk menghadapinya.

Karena yang melakukan itu adalah Ki Waskita, yang dikenal oleh Swandaru dengan baik tingkat kemampuan dan pengalamannya, maka Swandaru sama sekali tidak merasa tersinggung. Dilepaskannya orang yang disebut Ki Lurah itu, dan ia pun segera bersiap menghadapi dua orang lawannya.

Sejenak orang yang disebut Ki Lurah itu memandangi Ki Waskita. Namun sejenak kemudian ia pun berteriak kepada kawan-kawannya, “He, apalagi yang kalian tunggu?”

Keenam kawan-kawannya serentak bergerak. Dua orang tukang satang dari Gunung Sepikul itu pun segera menghadapi lawan yang mereka pilih. Bukan karena perhitungan kemampuan kanuragan, tetapi karena pada Sekar Mirah tergantung perhiasan yang mereka anggap cukup berharga, maka mereka telah memilih gadis itu sebagai lawan.

“Tanpa memperhatikanmu dengan saksama, kami tidak akan mengenalmu sebagai seorang perempuan,” desis salah seorang dari kedua orang dari Gunung Sepikul itu, “ternyata bahwa kau cantik. Dan ternyata bahwa kau memakai perhiasan juga sebagai umumnya seorang perempuan.”

Sekar Mirah tidak menghiraukannya. Namun untuk menjaga diri, karena ia sama sekali belum dapat menjajagi kemampuan lawannya, di tangannya segera tergenggam tongkat baja putihnya.

“Senjata itu memang agak mendebarkan,” desis salah seorang dari kedua tukang satang itu.

Kawannya tidak menyahut. Tetapi ternyata bahwa keduanya telah menggenggam senjata mereka pula. Senjata yang khusus mereka pergunakan. Sebatang tongkat vang patah-patah, dihubungkan dengan rantai-rantai pendek.

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Senjata itu memberikan kesan tersendiri kepadanya. Senjata yang jarang ditemui itu menuntut perlawanan tersendiri pula.

“Aku sudah sering berlatih dengan kakang Swandaru yang mempergunakan senjata lentur,” berkata Sekar Mirah didalam hatinya, “meskipun agak berbeda, tetapi tentu ada persamaan penggunaan antara senjata lentur dengan senjata yang patah-patah ini.”

Sekar Mirah tidak sempat merenungi senjata lawannya terlalu lama. Tiba-tiba saja kedua lawannya meloncat memencar. Kemudian hampir bersamaan pula mereka menyerang.

Pada langkah-langkah pertama Sekar Mirah telah melihat, betapa kasar tata gerak mereka. Apalagi ketika keduanya kemudian mengumpat dengan kata-kata kotor ketika serangan mereka sempat dielakkan oleh Sekar Mirah.

Kekasaran kedua orang itu menarik perhatian Swandaru dan Pandan Wangi pula. Agaknya dua orang itu mempunyai kebiasaan yang berbeda dengan orang-orang lain yang berada di arena itu.

Dalam pada itu, Ki Waskita masih sempat juga bertanya, “Kedua kawanmu yang bertempur melawan Sekar Mirah itu nampaknya dua orang yang aneh.”

“Siapapun mereka, kami akan membunuh kalian,” jawab orang yang disebut Ki Lurah itu.

“Baiklah,” berkata Ki Waskita, “agaknya memang tidak ada pilihan di antara kita kecuali saling membunuh.”

“Ya, memang tidak ada pilihan lain,” desis orang itu.

“Jika demikian,” berkata Ki Waskita, “kita berdualah yang akan menentukan akhir dari pertempuran ini. Siapa di antara kita yang dapat membunuh lebih dahulu, akan mempengaruhi keseluruhan dari pertempuran ini.”

“Omong kosong. Kau kira orang-orangku tidak berarti apa-apa,” geram orang yang disebut Ki Lurah.

Ki Waskita mengerutkan keningnya. Lawan Swandaru dan Pandan Wangi pun mulai bergerak pula. Namun katanya, “Aku dapat memastikan, bahwa anak-anak Sangkal Putung itu akan dapat bertahan cukup lama. Lebih lama dari waktu yang aku perlukan untuk mengalahkanmu.”

“Kau ternyata sombong sekali,” orang itu menggeram sambil bergerak menyerang meskipun baru sekedar memancing sikap lawannya.

Ki Waskita bergeser sambil menjawab, “Aku memang mencoba untuk menyombongkan diri dihadapanmu. Mudah-mudahan aku berhasil. Bukan saja sebagai satu kesombongan, tetapi benar-benar berhasil memenangkan perkelahian ini lebih dari waktu yang diperlukan oleh anak-anak Sangkal Putung itu untuk mempertahankan dirinya.”

adbm-135-01“Persetan,” orang itu membentak. Serangannya menjadi semakin cepat.

Sementara Ki Waskita pun segera meningkatkan tata geraknya. Namun justru karena lawannya tidak bersenjata, maka ia menganggap bahwa lawannya itu benar-benar seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu ia harus benar-benar berhati-hati menghadapi setiap kemungkinan jang dapat terjadi atas dirinya dan atas anak-anak Sangkal Putung yang harus bertempur melawan lawan rangkap.

Dengan demikian maka pertempuran di antara batang-batang ilalang itu pun menjadi semakin lama semakin seru. Orang-orang kasar dari Gunung Sepikul itu ternyata berhasil membuat Sekar Mirah menjadi ngeri. Bukan karena kemampuan tempur mereka yang tinggi, tetapi justru karena kekasaran mereka. Tidak henti-hentinya mereka mengumpat-umpat dengan kata-kata kasar. Dan bahkan kadang-kadang dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan.

“Apakah keduanya juga pendukung cita-cita kejayaan Majapahit?” bertanya Ki Waskita kepada lawannya yang disebut Ki Lurah.

“Kenapa perhatianmu tertuju kepada keduanya?” bertanya orang yang disebut Ki Lurah.

“Keduanya sangat menarik. Agak berbeda dengan kau dan kawan-kawanmu yang lain.” jawab Ki Waskita.

“Keduanya adalah orang-orang gila yang dapat aku manfaatkan,” jawab orang yang disebut Ki Lurah itu.

Ki Waskita yang bertempur semakin cepat masih sempat berkata lagi, “Aku sudah menduga. Orang-orang yang menyebut dirinya pendukung kejayaan Majapahit selalu memanfaatkan orang-orang yang dapat dijebaknya dengan cara apapun. Coba katakan, siapa saja yang telah menjadi korban ketamakan beberapa orang yang masih bermimpi tentang kejayaan Majapahit itu.”

Tiba-tiba saja tata gerak lawan Ki Waskita itu mengendor. Sambil meloncat surut ia berkata, “Agaknya kau mendapat keterangan yang salah tentang cita-cita kami. Sebaiknya aku memberikan beberapa keterangan. Kau agaknya seseorang yang memiliki kemampuan yang cukup. Karena itu, tenagamu dan barangkali pikiranmu akan sangat bermanfaat bagi kami.”

Ki Waskita tidak memburunya ketika lawannya meloncat surut. Bahkan seakan-akan ia memberi kesempatan lawannya untuk berbicara.

“Ki Sanak,” berkata orang itu, “apakah kau tidak mengakui kebesaran Majapahit? Apalagi sebelum masa surutnya.”

“Aku mengakui Ki Sanak,” jawab Ki Waskita.

“Majapahit yang meliputi seluruh Nusantara,” desis orang itu pula.

“Ya. Yang telah mempersatukan daerah-daerah yang berpencaran letaknya, namun dalam nafas kehidupan yang satu,” jawab Ki Waskita.

“Nah, bukankah kita semuanya merindukan masa seperti yang pernah terjadi pada masa kejayaan Majapahit? Tidak seperti Pajang yang kita lihat sekarang kecil, terpecah-pecah dan tidak ada kesatuan sikap dan perbuatan. Masing-masing ingin memaksakan kehendak sendiri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain,” geram orang yang disebut Ki Lurah itu.

“Apakah demikian?” bertanya Ki Waskita, “apakah pengamatanmu cukup cermat?”

“Tentu Ki Sanak. Aku melihat segalanya yang berkembang sekarang Pajang yang kerdil. Dan Mataram yang dengki dan menuruti nafsu pribadi,” jawab orang itu.

“Ki Sanak,” berkata Ki Waskita, “apakah kau tahu pasti, siapakah yang berada dipaling ujung dari barisanmu? Dari orang-orang yang merasa berkepentingan dengan bangkitnya Majapahit kembali pada masa sekarang ini?”

“Pertanyaanmu aneh. Kau tentu tahu bahwa pertanyaan itu tidak akan terjawab. Tetapi katakan, apakah kau tidak merindukan masa-masa yang gemilang itu?” bertanya orang yang disebut Ki Lurah.

“Tentu. Tentu Ki Sanak. Aku dan aku kira seluruh rakyat Nusantara merindukannya. Persatuan yang utuh. Kesejahteraan yang adil dari ujung sampai keujung dari tanah yang dikurniakan oleh Yang Maha Agung ini,” jawab Ki Waskita.

“Lalu apa lagi?” bertanya orang itu.

“Apakah kau kira cara yang kau tempuh itu dapat dibenarkan?” tiba-tiba Ki Waskita bertanya.

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menjawab, “Apakah artinya cara dibanding dengan cita-cita yang luhur dan tidak ternilai harganya. Tidak ada yang pantas disesalkan dari cara yang telah kami tempuh. Setiap cita-cita harus dilambari dengan kesediaan berkorban. Bahkan mungkin kita sendiri yang menjadi korban.”

Ki Waskita menggelengkan kepalanya. Katanya, “Ki Sanak. Aku sependapat dengan kerinduanmu atas kesatuan seperti yang nampak pada masa kejayaan Majapahit. Tetapi aku tidak sependapat dengan cara yang kau tempuh. Yang ditempuh oleh kawan-kawanmu dan bahkan mungkin karena sikap pemimpinmu. Justru karena kau mengabaikan arti dari cara yang kau tempuh itulah, maka kau sudah mulai dengan langkah yang salah.”

“Kenapa? Maksudmu, kita harus menunggu sampai kebesaran dan kejayaan itu datang sendiri? Apakah kau maksud bahwa Pajang akan dengan sendirinya mengglembung menelan daerah-daerah lain yang sudah mulai memisahkan diri? Tidak. Pajang harus dimusnahkan. Mataram harus di lumpuhkan sebelum mampu bangkit dan melangkah. Kekuatan baru harus bangkit untuk menaklukkan kembali daerah-daerah yang telah memisahkan diri.”

“Aku semakin banyak melihat kesalahan pada ucapan-ucapanmu,” berkata Ki Waskita, “apakah artinya kebesaran dan kesatuan yang kaurindukan jika kau masih berpijak pada kekuasaan untuk mengalahkan bagian dari kesatuan yang kau sebut daerah-daerah yang memisahkan diri itu.”

Wajah orang itu menegang. Namun kemudian katanya, “Sudahlah. Ternyata jiwamu terlalu kerdil dan cengeng. Karena itu, jika kau memang tidak dapat mengerti, maka kau harus dibunuh sekarang juga.”

“Terserahlah kepadamu. Tetapi bagiku, kebesaran dan persatuan tidak akan diikat dengan kekerasan dan kekuasaan yang berlandaskan kekuatan. Nampaknya kau mulai dengan cara yang bagiku mustahil akan dapat berhasil itu, selain jatuhnya korban dan mungkin keberhasilan sementara bagi orang-orang yang diburu oleh nafsu ketamakan semata-mata.”

“Pikiran kita tidak akan dapat bertemu. Baiklah. Ternyata aku telah melakukan satu perbuatan sia-sia,” geram orang itu, “sekarang bersiaplah untuk mati.”

Ki Waskita tidak menjawab. Tetapi ia benar-benar bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Namun dalam pada itu, ia masih sempat memperhatikan sekilas, apa yang telah terjadi. Pertempuran telah berlangsung dengan serunya dalam lingkaran-lingkaran pertempuran di padang ilalang itu. Namun yang agaknya mengalami kesulitan pertama-tama adalah justru Sekar Mirah.

Sebenarnya kemampuan kedua orang tukang satang dari Gunung Sepikul itu tidak menggetarkan pertahanan Sekar Mirah. Tetapi Sekar Mirah telah menjadi ngeri karena tingkah laku orang-orang itu. Atas kekasaran yang liar dan buas. Kata-kata kotor yang diucapkannya membual jantung Sekar Mirah bagaikan berhenti berdenyut.

Agaknya kedua orang itu pun menyadari, bahwa Sekar Mirah telah terganggu dengan sikap dan keliaran mereka. Justru dengan demikian, maka mereka tidak segan-segan telah menyinggung perasaan Sekar Mirah dengan kata-kata yang tidak pantas, justru karena Sekar Mirah adalah seorang gadis.

Karena itu, semakin lama pertahanan Sekar Mirah menjadi semakin lemah. Beberapa kali ia terpaksa berloncatan surut.

“Kau lihat,” desis Ki Lurah yang bertempur melawan Ki Waskita sambil menyerang semakin garang pula, “gadis Sangkal Putung itu sudah kehilangan kemampuannya menghadapi orang-orang gila dari Gunung Sepikul itu.”

Ki Waskita tidak menjawab. Ia sadar, bahwa lawan yang pahng berat bagi Sekar Mirah saat itu adalah perasaannya sendiri.

Untuk beberapa saat, Ki Waskita harus memusatkan perhatiannya pada dirinya sendiri. Orang yang disebut Ki Lurah itu telah menyerangnya dengan cepat dan keras. Namun orang itu masih belum mempergunakan senjata apapun juga.

Sekar Mirah benar-benar telah mengalami kesulitan dengan kedua lawannya. Senjata mereka yang aneh, kadang-kadang membuat Sekar Mirah menjadi gugup. Tetapi yang paling berat baginya adalah teriakan-teriakan yang bagaikan membakar telinganya.

“Kalian licik dan liar,” geram Sekar Mirah, “marilah kita memperbandingkan ilmu. Bukan kata-kata kotor dan liar.”

Keduanya justru tertawa. Mereka sama sekali tidak menghiraukan, apa saja penilaian orang lain terhadap mereka. Yang penting bagi keduanya adalah berhasil mengalahkan lawannya dan merampas harta benda yang ada pada lawannya.

Dalam pada itu, Swandaru ternyata harus mengerahkan segenap kemampuannya pula menghadapi dua orang lawannya. Ketika keringatnya mulai membasahi, maka ledakan-ledakan cambuknyapun menjadi semakin tajam menggores isi dada. Rasa-rasanya kedua lawannya telah tersobek selaput telinganya.

Namun demikian kedua lawan Swandaru memang bukan orang kebanyakan. Mereka bertempur dengan garangnya. Menghindar dan berusaha menyusup di antara ujung cambuk Swandaru yang meledak-ledak.

Pandan Wangi pun nampaknya dalam keadaan yang serupa. Ia harus bertempur dengan segenap kemampuan ilmunya. Pedang rangkapnya berputaran, menyambar dan mematuk. Kecepatan geraknya telah banyak berhasil membuat lawannya kadang-kadang kehilangan sasaran. Namun demikian, karena ia harus melawan dua orang yang bertempur berpasangan, maka ia pun harus menjadi sangat berhati-hati.

Tetapi bagi Ki Waskita, keadaan Swandaru dan Pandan Wangi tidak begitu mencemaskannya. Menurut pengamatannya, keduanya masih mempunyai kesempatan untuk bertahan dan bahkan, jika keduanya mampu mengembangkan perlawanan mereka, maka agaknya keduanya akan berhasil.

Namun sementara itu, Pandan Wangi semakin lama menjadi semakin terdesak. Kedua lawannya berteriak semakin keras dan semakin kotor. Kata-kata yang tidak pantas diucapkan, telah mereka teriakkan dengan sengaja.

“Gila, o gila,” geram Sekar Mirah.

Lawannya tertawa berkepanjangan.

Ki Waskita yang benar-benar menjadi cemas melihat keadaan Sekar Mirah yang bertempur melawan dua orang yang liar, kasar dan bersenjata agak lain dari senjata yang banyak dipergunakan, tiba-tiba saja berteriak, “Sekar Mirah. Kau adalah pewaris tongkat besi baja berkepala tengkorak. Senjatamu adalah senjata pamungkas yang dapat kau pakai untuk menutup mulut mereka. Dengan demikian, mereka tidak akan dapat meneriakkan kata-kata kotor lagi.”

“Diam kau,” Ki Lurah lah yang membentak sambil menyerang dengan garangnya. Hampir saja Ki Waskita tersentuh dadanya, sehingga jantungnya akan dapat dirontokkannya. Untunglah, ia masih sempat mengelak, meskipun ia harus membantu Sekar Mirah.

Suara Ki Waskita didengar oleh Sekar Mirah. Ternyata bahwa kata-kata Ki Waskita itu seakan-akan menumbuhkan pertanyaan didalam hatinya, “Kenapa aku tidak membungkam mulutnya yang kasar dan kotor itu.”

Pertanyaan itu ternyata telah bergejolak didalam hatinya. Semakin lama semakin gemuruh, sehingga akhirnya Sekar Mirah diluar sadarnya telah berteriak pula, “Aku tutup mulutmu dengan pangkal tongkatku ini.”

Suara Sekar Mirah itu ternyata telah mendebarkan jantung kedua lawannya. Seolah-olah Sekar Mirah yang ngeri mendengar kata-kata kasar lawannya itu telah mendapatkan tempat untuk bertumpu.

Sebenarnyalah bahwa sejenak kemudian tongkat baja Sekar Mirah telah berputar semakin cepat. Tengkorak yang berwarna kekuning-kuningan itu pun menyambar-nyambar dengan cepatnya, seperti burung sikatan menyambar bilalang.

Kedua lawannya terkejut melihat perubahan pada tata gerak Sekar Mirah. Nampaknya gadis itu telah mendapatkan satu kesadaran baru bahwa lebih baik baginya untuk menutup mulut kedua orang itu daripada ia harus mendengarkannya berkepanjangan, dan apalagi jika ia benar-benar dikalahkan.

“Aku akan mengalami perlakuan yang kasar dan kotor seperti kata-kata yang diucapkan itu jika aku dapat mereka kalahkan,” geram Sekar Mirah didalam hatinya.

Dengan demikian, maka perlawanan Sekar Mirah pun kemudian menjadi semakin meningkat. Kecepatannya bergerak pun mulai dapat membingungkan lawannya. Tongkat baja putihnya dengan pangkal kepala tengkorak itu menyambar-nyambar dengan cepatnya. Sekali-sekali tongkat baja itu telah menghantam senjata lawannya.

Pada benturan-benturan yang terjadi, maka perlahan-lahan Sekar Mirah menjadi semakin mengenal keseimbangan kekuatan antara dirinya dan kedua lawannya. Ketika dengan sengaja Sekar Mirah menangkis senjata lawannya yang menyambar keningnya, maka hampir saja Sekar Mirah berhasil melontarkan senjata lawannya itu. Namun agaknya betapapun tangannya merasa panas dan pedih, namun lawannya itu masih berhasil mempertahankannya.

Ketika Sekar Mirah memburunya dan bermaksud untuk sama sekali memukul dan melontarkan senjata lawannya itu, maka lawannya yang lain telah menyerangnya sambil berteriak kasar.

Sekar Mirah terpaksa menghindari serangan itu. Namun dengan demikian ia menjadi semakin percaya kepada dirinya sendiri. Meskipun ia seorang perempuan, tetapi kekuatannya yang terlatih serta dukungan kekuatan cadangannya, maka ia mampu melawan bahkan melampaui kekuatan lawannya yang kasar dan liar itu.

Dengan demikian, maka pertempuran antara Sekar Mirah dan kedua lawannya itu pun menjadi semakin sengit. Sekar Mirah yang bertempur semakin mapan telah membuat lawannya menjadi gelisah. Beberapa kali mereka mencoba mempengaruhi lawannya dengan kata-kata kasar dan kotor. Namun Sekar Mirah tidak menghiraukannya lagi. Bahkan dengan marah ia menggeram, “Aku harus membungkam mulutnya yang kotor itu.”

Sementara itu, Ki Waskita mulai tersenyum melihat keseimbangan pertempuran antara Sekar Mirah dan kedua lawannya. Dengan demikian maka ia pun berkata, “Sekarang aku mendapat kesempatan untuk memusatkan perhatianku kepadamu Ki Sanak.”

“O,” desis orang yang disebut Ki Lurah, “apakah itu satu pemberitahuan bahwa selama ini kau masih belum sampai pada puncak ilmumu?”

Ki Waskita tersenyum. Namun ia harus meloncat mundur. Serangan lawannya datang bagaikan badai. Agaknya orang yang disebut Ki Lurah itu ingin mempergunakan saat Ki Waskita menjawab kata-katanya.

Tetapi Ki Waskita sempat mengelakkan serangan itu, dan bahkan kemudian ia pun telah bersiap menghadapi serangan-serangan berikutnya.

“Gila,” geram Ki Lurah, “kau memang seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi yang kau lihat padaku belum separuh dari tingkat kemampuanku.”

“Begitu?” bertanya Ki Waskita. Tetapi ia tidak mengabaikan peringatan lawannya itu. Mungkin tidak seluruhnya benar. Tetapi sebagian dari padanya tentu mempunyai kebenaran.

Karena itu maka Ki Waskita pun segera mempersiapkan diri untuk menghadapi ilmu yang tentu lebih dahsyat dari yang sudah diungkapkan dalam gerak oleh orang yang disebut Ki Lurah itu.

Dalam pada itu. Pandan Wangi yang bertempur dengan pedang rangkap, agaknya masih dapat melindungi dirinya. Betapa kedua lawannya berusaha menekannya, tetapi kedua pedangnya yang berputar seperti baling-baling, masih mampu menjadi perisai yang seakan-akan tidak tertembus.”

“Iblis betina,” geram salah seorang lawannya yang hampir kehabisan akal. Apapun yang dilakukan, ternyata Pandan Wangi mampu mengatasinya. Serangan yang datang beruntun dari keduanya, selalu dapat dielakkan. Bahkan dalam keadaan yang paling gawat. Pandan Wangi telah membenturkan senjatanya pula. Namun tenaga Pandan Wangi bukannya tenaga perempuan sewajarnya, sehingga karena itu, maka dalam benturan kekuatan, kedua orang lawan Pandan Wangi itu menjadi heran dan bahkan kemudian menjadi cemas.

Sebenarnyalah bahwa pedang rangkap Pandan Wangi menyambar-nyambar seperti sayap seekor burung Srigunting. Namun yang setiap sentuhannya akan dapat merobek kulit dan daging.

Sementara itu, Swandaru perlahan-lahan namun pasti, akan berhasil menguasai lawannya. Cambuknya yang meledak-ledak membuat lawannya menjadi ngeri. Suaranya bukan saja memekakkan telinga, namun semakin lama suara ledakan cambuk itu bagaikan menyusup masuk kedalam rongga dadanya, dan mengguncang jantungnya.

“Ilmu iblis yang manakah yang kau pergunakan ini he?” geram salah seorang dari kedua lawannya.

Swandaru tidak menjawab. Tetapi cambuknya sajalah yang meledak dengan dahsyatnya.

Kedua orang lawannya meloncat surut. Meskipun ujung cambuk Swandaru tidak mengenai kulit mereka, namun hembusan anginnya seakan-akan telah memperingatkan mereka, bahwa sentuhan ujung cambuk itu bukan saja dapat menyayat kulit mereka, tetapi bahkan akan dapat meremukkan tulang mereka. Hampir diluar sadarnya Swandaru menyahut, “Guruku.”

“Anak setan,” salah seorang dari kedua orang lawan Swandaru itu mengumpat, “darimana kau mendapat kemampuan bermain cambuk itu?”

“Ya, gurumu tentu kerasukan iblis sehingga ia mampu mengajarimu bermain cambuk,” geram lawannya yang lain. Namun kemudian katanya, “Tetapi cambuk semacam itu hanya dapat menakut-nakuti anak kambing cengeng. Bukan untuk menakut-nakuti aku.”

Swandaru menggeretakkan giginya. Tetapi ia masih menyadari, bahwa ia tidak boleh tenggelam dalam arus perasaannya. Bahkan dengan demikian ia masih sempat menjawab, “Aku kira, aku sekarang memang sedang berhadapan dengan anak-anak kambing cengeng.”

Orang itulah yang kemudian menggeram. Namun yang lain masih sempat berkata, “Kita bertempur dengan kemampuan ilmu. Bukan sekedar saling menyindir agar lawannya kehilangan pengamatan diri.”

Swandaru meloncat surut. Dengan demikian ia mendapat kesempatan untuk menjawab, “Baiklah. Bagaimana jika kita bertempur sambil berdiam diri? Bukankah dengan demikian, kita benar-benar sedang beradu tingkat kemampuan dan kekuatan?”

Kedua lawannya tidak menjawab lagi. Tetapi keduanya dengan serta merta telah menyerang dari dua arah yang berbeda.

“Tidak ada aba-aba,” berkata Swandaru didalam hatinya, “tetapi keduanya mampu bergerak serentak, seolah-olah keduanya telah digerakkan oleh otak yang sama.”

Sebenarnyalah kedua orang lawannya mampu bertempur berpasangan dengan mapan sekali.

Namun Swandaru adalah seorang yang memiliki ilmu yang cukup. Ia telah mewarisi semua dasar ilmu Kiai Gringsing, meskipun ia masih belum sampai ke puncak perkembangannya. Namun demikian, ia adalah seorang yang mengagumkan. Kekuatannya benar-benar mengejutkan lawannya disetiap sentuhan dan benturan senjata.

Tetapi kedua lawannya ternyata memiliki kecepatan bergerak yang tinggi. Apalagi kemapanan kerja sama di antara mereka yang mengagumkan. Sehingga dengan demikian, maka Swandaru harus berjuang sekuat tenaganya untuk bertahan.

Tetapi agaknya senjata Swandaru yang agak lain dari kebanyakan senjata itu sangat berpengaruh. Ujung senjatanya yang meskipun tidak tajam, tetapi lentur, kadang-kadang membuat lawannya menjadi bingung. Ujung cambuk Swandaru itu seolah-olah selalu mengejar keduanya kemana pun mereka menghindar.

Meskipun demikian, keduanya bukan kanak-kanak lagi diarena petualangan olah kanuragan. Keduanya adalah orang yang berpengalaman dan mengenal berbagai macam tata gerak ilmu kanuragan. Karena itu, maka keduanya masih memiliki kesempatan untuk menghindari kejaran ujung cambuk Swandaru yang bukan saja berkarah baja seperti saat ia mendapatkannya dari gurunya. Tetapi karah baja yang melingkar pada ujung cambuk Swandaru ternyata sudah menjadi semakin rapat. Dengan demikian, maka setiap sentuhan ujung senjatanya akan dapat menyayat kulitnya sampai ketulang.

Di arena pertempuran yang lain. Pandan Wangi yang bertempur dengan pedang rangkap ternyata membuat lawannya kadang-kadang tidak percaya akan penglihatannya. Perempuan itu seakan-akan benar-benar telah terbang dengan sayap pedangnya. Namun kemudian dengan cepat menukik dan mematuk dengan ujung sayapnya yang tajam, melampaui tajamnya paruh rajawali.

Dengan demikian, maka kedua lawannya telah mempergunakan cara yang khusus pula untuk melawan sepasang pedang itu. Keduanya mengambil jarak yang cukup diarah yang berlawanan. Seperti berjanji keduanya menyerang berganti-ganti, bagaikan arus ombak yang menghantam tebing. Berurutan tidak henti-hentinya, sehingga mereka berharap bahwa Pandan Wangi tidak akan sempat menyerang mereka.

Tetapi Pandan Wangi memiliki ketajaman pengamatan atas kedua lawannya. Ia tidak mau terperangkap kedalam serangan yang datang beruntun. Namun ia dengan tangkasnya melepaskan diri dari garis serangan keduanya, dan dengan cepatnya memusatkan serangannya kepada salah seorang lawannya.

Serangan Pandan Wangi benar-benar mengejutkan. Lawannya yang seorang itu terpaksa berloncatan menghindari serangan Pandan Wangi. Namun Pandan Wangi tidak melepaskannya. Serangannya datang tanpa terbendung.

Tetapi sejenak kemudian Pandan Wangi terpaksa memperhitungkan lawannya yang lain yang dengan tergesa-gesa datang memburunya. Sehingga dengan demikian. Pandan Wangi terpaksa melepaskan kesempatan yang hampir saja terbuka baginya.

“Perempuan ini benar-benar gila,” geram lawannya yang hampir saja dadanya disayat oleh pedang Pandan Wangi. Dengan nafas yang terengah-engah ia pun memperbaiki kedudukannya meskipun ia tidak sempat beristirahat sama sekali walau hanya sekedar untuk mengatur pernafasannya. Karena jika ia terlambat sekejap, maka kawannyalah yang akan menjadi korban putaran pedang Pandan Wangi.

Dalam pada itu, ternyata lawannya benar-benar telah kehilangan pengekangan diri. Mereka telah mengerahkan segenap ilmu dan kemampuan mereka. Sehingga dengan demikian, maka keduanya telah meningkat bukan saja sekedar bertempur dengan tenaga wajarnya. Keduanya telah mulai mengerahkan segenap tenaga cadangannya sampai kepuncak kemampuan.

Pandan Wangi merasa, tekanan kedua lawannya memang menjadi semakin berat. Justru karena itu, maka sengaja atau tidak sengaja, ia pun telah memeras segenap tenaga, kemampuan dan ilmu yang ada padanya.

Pada saat-saat terakhir, ketika lawannya mulai mendesaknya dengan tenaga yang terasa semakin besar, Pandan Wangi yang tidak mungkin menghindar dari arena itu pun menghentakkan kekuatannya. Ketika serangan lawannya mematuknya, maka ia berusaha untuk meloncat kesamping. Namun justru pada saat itu, lawannya yang lain telah mengayunkan senjatanya dengan sepenuh kekuatannya menebas kearah leher.

Tidak ada kesempatan lagi untuk mengelak. Sementara itu Pandan Wangi sadar, bahwa lawannya telah mempergunakan segenap kemampuan yang ada padanya. Bukan saja tenaga wajarnya, tetapi juga tenaga cadangannya. Karena itu, maka Pandan Wangi yang tidak mempunyai kesempatan lain, kecuali menangkis serangan itu, telah mengerahkan segenap kemampuannya pula. Dengan sepenuh pemusatan ilmu, ia telah mengerahkan tenaga cadangannya untuk menangkis senjata lawannya yang langsung menebas lehernya. Bahkan demikian maka ungkapan kekuatan Pandan Wangi yang dihentakkan itu benar-benar telah mengungkap segenap kemampuan yang ada pada dirinya. Setelah beberapa lama ia mesu diri dengan cara yang agak berbeda dengan Swandaru dan Sekar Mirah, karena kekagumannya setelah ia mendengar bahwa ia pun akan mampu menghentakkan ilmu dalam ungkapan yang agak lain dari ungkapan tenaga dan tenaga cadangan saja.

Dengan demikian, maka tanpa disadarinya, dalam ungkapan yang dilambari dengan sepenuh kemampuan yang ada padanya, telah terungkap pula kemampuan yang masih belum disadari kehadirannya. Ternyata bahwa getaran pemusatan ilmunya, seolah-olah telah menjadi alas dan pendorong dari kekuatan cadangannya, sehingga karena itu, maka seolah-olah tenaga cadangannya telah bertambah-tambah diluar pengetahuannya.

Karena itulah, maka ketika senjatanya yang diayunkan dengan segenap kemampuan yang terhentak tanpa kekangan, dan menangkis senjata lawan, maka telah terjadi benturan yang sangat dahsyat. Diluar dugaan Pandan Wangi sendiri, bahwa dalam benturan itu, ternyata senjata lawannya telah terlempar dari tangan. Meskipun terasa tangan Pandan Wangi sendiri menjadi pedih, namun ia masih tetap menggenggam senjatanya.

Terdengar keluhan tertahan. Agaknya perasaan sakit yang sangat telah menyengat tangan lawannya sehingga ia tidak mampu lagi bertahan untuk tetap menggenggam senjatanya.

Ketika senjata lawannya itu terlempar, maka Pandan Wangi yang justru terkejut itu tidak segera dapat memanfaatkan keadaan. Ia terlambat sekejap, sehingga lawannya yang lain berhasil menolongnya.

Baru sesaat kemudian Pandan Wangi menyadari keadaannya. Tetapi kedua lawannya telah bersiap sepenuhnya untuk menghadapinya. Lawannya yang senjatanya terlempar telah berhasil memungut kembali senjatanya pada saat Pandan Wangi harus memperhatikan serangan lawannya yang lain, yang berusaha memberi kesempatan kepada kawannya memperbaiki keadaannya.

Namun dengan demikian Pandan Wangi telah mendapat satu pengalaman baru pada ilmunya. Ia mulai mengenal arti dari latihan-latihan khususnya. Memang ada kelainan yang terasa didalam perkembangan ilmunya disaat terakhir. Namun baru dalam hentakan kekuatan sepenuhnya sajalah ia dapat mengenalinya.

Untuk menghadapi keadaan berikutnya, maka Pandan Wangi telah membuat perhitungan baru. Meskipun belum sepenuhnya diyakini, tetapi ia mulai berani mempergunakan dasar pengalamannya pada ilmunya sesaat sebelumnya.

“Aku harus mencoba menangkis serangan-serangan mereka lebih banyak lagi,” berkata Pandan Wangi kepada diri sendiri.

Karena itulah, maka sejenak kemudian ia pun mulai bergeser mendekati kedua lawannya yang sudah bersiap ditempat yang terpisah.

Sekejap kemudian, maka pertempuran yang sengit itu pun telah terulang kembali. Pandan Wangi justru menjadi semakin garang dengan senjata rangkapnya. Bukan saja ia dengan berani membenturkan senjatanya untuk menangkis serangan lawannya, namun ia pun justru menjadi semakin mantap dengan serangan-serangannya yang berbahaya.

Dengan demikian maka kedua lawannya pun menjadi semakin sibuk menghadapi senjata rangkap Pandan Wangi yang menyambar-nyambar. Mereka harus berhati-hati karena setiap benturan senjata akan dapat melontarkan senjata mereka. Karena itulah maka kedua lawannya tidak lagi menganggap bahwa tenaga mereka tentu lebih besar dari tenaga seorang perempuan. Sehingga yang mereka lakukan kemudian untuk menangkis serangan Pandan Wangi harus mereka perhitungkan sebaik-baiknya.

Dalam pada itu, Swandaru pun semakin lama menjadi semakin garang. Ujung cambuknya meledak-ledak semakin keras. Dan bahkan semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin dekat dengan kulit lawan-lawannya.

Kedua lawannya pun menjadi semakin cemas menghadapi senjata Swandaru. Mereka tidak dapat menangkis serangan Swandaru seperti mereka menangkis pedang atau tombak. Mereka harus membuat perhitungan tersendiri dengan ujung cambuk berkarah baja itu.

Hanya karena lawan Swandaru berdua, maka mereka dapat memecah perhatian Swandaru sehingga dengan kerja sama yang mantap, mereka masih dapat memberikan perlawanan yang berat.

Dilingkaran pertempuran yang lain. Sekar Mirah yang sudah mampu mengatasi perasaannya, bertempur dengan garang. Namun bagaimanapun juga, sebagai seorang gadis ia tidak dapat membebaskan seluruhnya pengaruh kekasaran lawannya. Mereka masih saja berteriak dengan kata-kata kotor. Tingkah laku dan sikap mereka pun benar-benar mengerikan bagi Sekar Mirah. Senjata mereka yang patah-patah itu pun dapat mereka pergunakan sebaik-baiknya, sesuai dengan kekasaran tingkah laku mereka.

Dengan demikian, maka sebenarnyalah bahwa Sekar Mirah merasa terlampau berat menghadapi kedua orang Gunung Sepikul itu. Meskipun ilmu mereka bukannya tidak terlawan, tetapi sikap dan tingkah laku merekalah yang membuat Sekar Mirah menjadi ngeri.

Kadang kadang kemarahan yang meluap berhasil mendorong Sekar Mirah untuk bertempur dengan garangnya, agar ia dengan segera dapat menutup mulut lawannya. Tetapi usahanya tidak segera berhasil. Kedua lawannya yang kasar itu ternyata mempunyai kemampuan untuk mengelakkan serangan-serangannya yang berbahaya.

Tetapi justru perasaan Sekar Mirah lah yang telah meringkihkan perlawanannya. Perasaannya sebagai seorang gadis yang hampir tidak tahan lagi mendengar kata-kata kotor lawannya dan melihat sikapnya yang sama sekali tidak dikekang oleh harga dirinya sebagai orang yang memiliki ilmu kanuragan.

adbm-135-02Karena itulah, maka dalam keadaan terdesak, salah seorang dari mereka justru tidak menyerang dengan senjatanya yang aneh itu, tetapi justru memungut segenggam pasir dan melontarkan-nya kewajah Sekar Mirah.

Untunglah bahwa Sekar Mirah cepat melihatnya. Ia sempat meloncat sejauh-jauhnya untuk mendapat kesempatan mengatupkan matanya sekejap dan menghindari pasir itu menghambur kewajah dan tubuhnya.

Sekar Mirah tidak merasa perlu untuk mencela perbuatan lawannya, karena ia sadar, bahwa kedua lawannya itu tentu tidak akan menghiraukannya. Nampaknya keduanya benar-benar telah kehilangan rasa harga dirinya sehingga cara yang manapun akan dapat mereka pergunakan untuk memenangkan pertempuran itu.

Dengan demikian, bagaimanapun juga Sekar Mirah berusaha untuk tetap tabah, namun ternyata bahwa lambat laun, terasa olehnya, bahwa ia tidak akan dapat bertahan terlalu lama menghadapi kekasaran dan keliaran kedua lawannya itu.

Hanya karena kesadarannya untuk tidak mau mati atau jatuh ketangan kedua orang yang berpakaian seperti tukang satang itu sajalah yang masih memaksanya untuk bertempur terus. Meskipun semakin lama Sekar Mirah menjadi semakin sering berloncatan menghindar.

Sementara itu, Ki Waskita dan orang yang disebut Ki Lurah itu pun masih bertempur dengan cara mereka. Keduanya nampaknya tidak banyak bergerak. Serangan-seranganpun jarang-jarang sekali dilontarkan. Namun setiap gerakan betapapun sederhananya, seolah-olah telah menimbulkan prahara dipadang ilalang Itu.

Sekali-sekali keduanya melangkah bergeser setapak. Kemudian sebuah hentakan serangan mengarah kebagian tubuh yang berbahaya. Tetapi sebuah gerakan kecil, telah membebaskan lawannya dari serangan itu. Meskipun kemudjan hampir tanpa kasat mata, serangan berikutnya menyusul, namun dengan gerakan secepat itu pula lawannya mengelak.

Yang terjadi kemudian, maka kedua orang itu pun seakan-akan berdiri saja saling mengamati untuk beberapa saat tanpa berbuat sesuatu. Disusul pula dengan geseran setapak. Lambat dan seolah-olah tidak berarti sama sekali. Baru kemudian terulang kembali gerakan-gerakan secepat kilat. Hanya satu dua gerakan. Kemudian mereka pun berdiri tegak dan seolah-olah saling menunggu.

Namun demikian, bekas dari sikap dan tata gerak mereka ternyata sangat mengerikan. Batang ilalang berserakan dan berhammran kesegenap arah. Pasir yang tersentuh kaki mereka, tersembur bagaikan tiupan kabut prahara.

Tetapi keduanya bagaikan tonggak-tonggak baja yang berdiri tegak dengan kukuhnya.

Ketika orang yang disebut Ki Lurah itu kemudian meloncat menggempur pertahanan Ki Waskita yang menyilangkan tangannya, maka akibatnya benar-benar dahsyat sekali. Orang yang menyebut dirinya Ki Lurah itu terlontar tiga langkah surut. Sementara itu Ki Waskita masih tetap tegak ditempatnya. Namun ternyata bahwa kaki Ki Waskita bagaikan terhunjam masuk kedalam pasir tepian hampir sampai kelutut.

Namun sejenak kemudian keduanya telah menghentakkan diri, bersiap menghadapi benturan-benturan kekuatan berikutnya.

Demikianlah, maka pertempuran di pinggir Kali Praga itu ternyata merupakan pertempuran yang sangat seru. Masing-masing memiliki kelebihan yang dapat diandalkan. Sehingga dengan demikian, maka pertempuran itu semakin lama menjadi semakin mendebarkan.

Meskipun Pandan Wangi dan Sekar Mirah adalah seorang perempuan, tetapi kemampuan mereka bertempur ternyata tidak kalah dahsyatnya dengan dua orang laki-laki yang melawannya. Namun justru karena Sekar Mirah seorang gadis sajalah, maka kadang-kadang perasaannya masih saja selalu mengganggunya.

Ternyata yang digelisahkan oleh kedua lawan Sekar Mirah, bukan hanya gadis itu saja. Swandaru pun semakin lama semakin memperhatikan adiknya yang nampaknya menjadi semakin terdesak.

Karena itulah, maka Swandaru pun kemudian bertekad untuk segera menyelesaikan kedua lawannya, agar ia masih sempat menyelamatkan adik perempuannya yang terdesak bukan karena ilmu lawannya yang lebih tinggi, tetapi justru karena keliaran dan kekasarannya.

Dengan demikian, maka cambuknya pun menjadi semakin keras meledak. Swandaru yang menghentakkan segenap kemampuannya itu tersalur langsung pada senjatanya. Bukan saja meledak semakin keras, tetapi ujung cambuknya bergerak semakin cepat.

Oleh dorongan kecemasannya melihat adik perempuannya, maka Swandaru pun berusaha semakin keras, untuk segera mengakhiri pertempuran. Namun dalam pada itu, ia masih tetap mempergunakan nalarnya dengan pertimbangan-pertimbangan yang masak sehingga dengan demikian, ia mampu memilih gerak yang paling baik untuk menghadapi kedua orang lawannya.

Dalam serangan beruntun ujung cambuk Swandaru yang berputaran semakin cepat, tidak lagi mampu dihindari oleh lawannya. Seperti angin pusaran, maka akhirnya ujung cambuknya sempat juga menyentuh salah seorang dari kedua lawannya, sehingga terdengar keluhan tertahan.

Lawannya yang tersentuh ujung cambuk itu masih sempat meloncat menghindar, sementara yang lain masih sempat pula meloncat menyerang untuk membebaskan kawannya yang tersentuh senjata Swandaru itu.

Namun bahwa ujung cambuk Swandaru telah berhasil menyayat lengan lawannya, maka kegelisahan pun mulai membakar hati orang yang disebut Ki Lurah itu. Menurut pengamatannya yang sekilas, maka kedua lawan Swandaru agaknya memang sudah mulai terdesak oleh hentakan-hentakkan ujung cambuk anak Sangkal Putung itu.

Sebenarnyalah, Swandaru yang ingin semakin cepat menyelesaikan pertempuran itu telah menjadi semakin cermat. Ia tidak terlempar kedalam arus perasaannya. Tetapi ia justru membuat perhitungan-perhitungan yang semakin mapan, agar ia dapat semakin cepat mengakhiri pertempuran.

Pertempuran dan pertimbangan-pertimbangan yang mapan setelah ia bertempur beberapa saat dan dapat mengambil kesimpulan mengenai kemampuan dan tataran ilmu lawannya, telah membuat kedudukan Swandaru menjadi semakin menentukan.

Lawannya yang terluka di lengan itu, ternyata masih mampu bertahan. Meskipun darah mengalir dari lukanya, tetapi senjatanya masih tetap teracu sementara lawannya yang lain menggeram marah.

Sejenak kemudian, kedua lawannya itu pun telah menemukan keseimbangannya kembali. Sekali-sekali orang yang terluka itu mengusap lengannya. Namun kemudian luka itu seakan-akan tidak terasa lagi.

Swandaru pun telah bersiap pula menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang berat. Tetapi ia menyadari sepenuhnya akan keadaan lawannya. Bagaimanapun juga lawannya yang terluka itu tentu bertambah lemah.

Karena itulah, maka dalam pertempuran selanjutnya, Swandaru telah memberatkan serangan-serangannya pada lawannya yang terluka itu. Jika yang seorang itu dapat dilumpuhkan, maka yang lainpun tentu akan segera menyusul.

Namun sebelum ia berhasil, Sekar Mirah sudah hampir tidak tahan lagi menghadapi kedua lawannya yang berteriak-teriak dengan kata-kata kotor. Bahkan dengan sengaja ia mengucapkan kata-kata yang paling tidak pantas didengar oleh seorang perempuan, apalagi seorang gadis.

Betapapun Sekar Mirah mencoba untuk tidak menghiraukannya, bahkan untuk membungkamnya, namun perasaannya telah bergejolak. Sekali-sekali ia harus berteriak pula mengimbangi suara lawannya, agar ia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh orang-orang liar dari Gunung Sepikul itu.

Tetapi kedua lawannya itu justru tertawa berkepanjangan. Mereka nampaknya semakin berpengharapan, bahwa mereka akan segera dapat mengalahkan gadis cantik dari Sangkal Putung itu.

“Jangan berpura-pura anak manis “ teriak lawannya yang seorang “kau tentu senang pula mendengar kelakar kakangku ini.”

“Kalian curang,” teriak Sekar Mirah.

Keduanya tertawa semakin keras. Dan mereka pun semakin gila dengan caranya yang liar.

Kemarahan Swandaru semakin membakar jantungnya. Tetapi ia selalu bertahan untuk tetap menyadari sepenuhnya, apa yang sedang dihadapi. Ia harus tetap sadar, jika ia tenggelam kedalam arus perasaannya, maka perlawanannya akan semakin tidak menentu, sementara lawannya adalah dua orang yang memiliki ilmu yang mendebarkan. Yang harus dilakukannya justru perhitungan dan pertimbangan yang semakin mapan, agar ia dapat semakin cepat menyelesaikan kedua lawannya.

“Aku harus berhasil lebih dahulu, sebelum Sekar Mirah kehilangan pengamatan diri,” berkata Swandaru didalam hatinya.

Ki Waskita, yang sekali-sekali sempat memperhatikan keadaan Sekar Mirah pun menjadi cemas. Ia tidak akan dapat mempengaruhi perasaan Sekar Mirah dengan cara seperti yang telah dilakukannya, karena ternyata keliaran lawannya benar-benar terasa sangat mengerikan bagi Sekar Mirah.

Namun ia tidak dapat berbuat terlalu banyak. Ternyata lawanyapun adalah seorang yang luar biasa.

Ketika Ki Waskita berusaha meningkatkan ilmunya, maka lawanyapun telah berbuat serupa. Bahkan kemudian terasa, betapa ilmu lawannya menjadi sangat berbahaya bagi Ki Waskita.

“Ada yang tidak wajar,” berkata Ki Waskita didalam hatinya.

Sebenarnyalah bahwa lawannya telah mempergunakan ilmunya yang tidak banyak dikenal. Ki Waskita yang berusaha untuk menghindari setiap serangan, kadang-kadang merasa dadanya bagaikan dihentakkan oleh kekuatan yang tidak terduga.

Namun akhirnya Ki Waskita yang mengamati tata gerak lawannya, dapat melihat kelebihan lawannya. Serangannya yang sebenarnya telah mendahului gerak tangan atau kakinya. Lawannya mampu menyentuh tubuhnya pada jarak dua tiga tapak tangan, sehingga betapa Ki Waskita berusaha menghindar, namun kadang-kadang terasa juga serangan lawannya menghantam tubuhnya, sehingga ia terdorong beberapa langkah surut.

“Ilmu yang mendebarkan,” jawab Ki Waskita didalam hatinya.

Beberapa kali Ki Waskita mencoba meyakinkan dirinya, apakah dugaannya itu benar. Namun akhirnya ia mengambil kesimpulan, sebenarnyalah lawannya mempunyai ilmu yang sukar dicari bandingnya.

Sentuhan serangannya ternyata telah menghantam lawannya pada saat tubuhnya belum tersentuh sasaran. Dengan demikian, maka lawannya akan selalu terlambat menghindar. Lawannya yang menduga, bahwa serangan itu masih berjarak dua tiga tapak tangan, ternyata dadanya telah terasa seakan-akan retak karenanya.

Karena itulah, maka Ki Waskita yang berusaha mengimbangi kecepatan lawannya, beberapa kali telah terjebak. Ia terlambat menghindar dan menangkis, sehingga serangan lawannya beberapa kali telah menghantam dada dan lambungnya.

Hanya karena Ki Waskita memiliki kemampuan dan daya tahan yang luar biasa sajalah, maka ia masih tetap mampu bertempur.

Pengalaman dan pengenalannya atas lawannya, telah membuatnya memperhitungkan setiap kemungkinan. Meskipun mula mula ia berkesulitan untuk mengimbangi kecepatan gerak lawannya yang ternyata lebih cepat dari tangkapan mata wadagnya, namun dengan sungguh-sungguh ia berusaha.

Akhirnya Ki Waskita pun dapat mengetahui bahwa lawannya memang memiliki kemampuan untuk mengelabui tangkapan mata wadag lawannya, sehingga dengan demikian. lawannya tidak akan dapat berbuat banyak untuk menghindar atau menangkis serangannya.

Tetapi yang bertempur melawannya adalah Ki Waskita. Setelah ia mengetahui kelebihan ilmu lawannya, maka ia pun berusaha untuk mengimbanginya.

“Tanpa berbuat sesuatu diluar kemampuan wadag, aku akan dihancurkan sampai lumat,” berkata Ki Waskita didalam hatinya.

Karena itulah, maka Ki Waskita yang memiliki kemampuan untuk membuat bentuk dan bayangan semu itu mulai mempertimbangkan untuk mengimbangi ilmu lawannya dengan ilmunya itu.

Karena itu, maka sejenak kemudian, dengan kemampuan ilmunya, Ki Waskita telah mencoba mengelabui lawannya, dengan membuat dirinya seolah-olah berada ditempat yang lain dari tempatnya yang sebenarnya.

Itulah sebabnya, maka untuk beberapa saat, serangan lawannya pun tidak mengenai sasaran. Justru sebaliknya, pada saat-saat lawannya tersesat mengarahkan serangannya, Ki Waskita lah yang menyerangnya dengan garangnya.

Beberapa kali Ki Waskita lah yang justru berhasil. Namun agaknya lawannya pun memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa. Beberapa kali ia terdorong jatuh, dan bahkan berguling diatas pasir dan batang-batang ilalang. Namun ia masih mampu meloncat berdiri dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi ternyata bahwa lawannya pun memiliki penglihatan batin yang tajam. Setelah beberapa kali ia mengalami kegagalan, maka ia pun menggeram, “Kau licik Ki Sanak. Kau bersembunyi dibalik satu permainan yang curang tanpa mengenal malu.”

Ki Waskita yang sudah mengambil jarak dari lawannya itu pun bertanya, “Kenapa kau menuduh demikian?”

“Kau mencoba bermain dengan ilmu sihir,” sahut lawannya.

“Aku bukan tukang sihir. Aku tidak mampu melakukannya, “jawab Ki Waskita.

“Tetapi kau dapat mengelabui aku. Kau berdiri ditempat yang bukan sebenarnya menurut penglihatanku.” orang yang disebut Ki Lurah itu hampir berteriak.

“Maaf Ki Sanak. Aku tidak merasa berbuat curang dan licik. Aku hanya ingin mengimbangi kemampuanmu yang jarang dijumpai di dunia petualangan olah kanuragan. Kau mampu mengelabui mata wadagku juga,” berkata Ki Waskita.

“Tetapi jangan kau kira, bahwa kau dapat mengelabui aku terus menerus. Setelah aku menyadari keadaanku dan keadaanmu, maka aku pun mampu menembus tirai bayangan semumu. Aku akan dapat melihat, dimana kau sebenarnya berdiri, meskipun mata wadagku masih akan dapat dikaburkan. Tetapi dengan segera mata hatiku akan dapat menunjukkan kepadaku,” sahut orang yang disebut Ki Lurah itu.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia percaya bahwa orang itu tentu memiliki kemampuan untuk melihat dibalik tirai ilmunya. Namun ia pun kemudian berkata, “Baiklah Ki sanak. Kau mungkin sekali akan dapat melihat yang sebenarnya kau hadapi. Tetapi aku pun akan mampu memperhitungkan kemampuan sentuhan seranganmu yang seakan-akan mendahului gerak tubuhmu.”

Orang itu menggeram. Namun ia tidak menjawab lagi. Tiba-tiba ia meloncat menyerang dada Ki Waskita.

Tetapi Ki Waskita telah bersiap menghadapinya. Ia pun kemudian dengan tangkasnya meloncat menghindar sebelum serangan orang itu mencapai jarak tiga kali sepanjang tapak tangannya.

Dengan demikian maka serangan itu tidak mengenai sasarannya. Tetapi ia cepat berkisar. Ketika ia melihat Ki Waskita meloncat kesamping sementara ia melihat seorang lagi tegak berdiri, maka ia sadar, bahwa ia harus melihat, yang manakah yang harus diserangnya.

Meskipun akhirnya orang itu mengetahui juga, tetapi ia memerlukan waktu sekejap. Dan yang sekejap itu memberi kesempatan kepada Ki Waskita untuk mempersiapkan diri menghadapi serangan lawannya yang masih saja membuatnya agak bingung dan tergesa-gesa.

Dengan demikian, maka kecepatan bergerak orang yang disebut Ki Lurah itu telah terganggu. Meskipun sentuhan serangannya dapat melampaui penglihatan wadag lawannya, namun setiap kali ia pun harus memilih, sasaran yang juga membingungkan. Ia harus membedakan yang manakah Ki Waskita yang sebenarnya dan yang hanya bayangan semunya saja.

Karena itulah, maka pertempuran antara kedua orang yang memiliki kelebihan ilmunya masing-masing itu menjadi semakin dahsyat. Keduanya kadang-kadang harus termangu-mangu. Namun kemudian serangan demi serangan meluncur dengan derasnya. Bahkan semakin lama semakin sering menyentuh lawan. Tetapi karena ketahanan tubuh keduanya, maka sentuhan-sentuhan itu seakan-akan tidak banyak berpengaruh terhadap mereka.

Dengan demikian, maka pertempuran antara Ki Waskita dengan orang yang disebut Ki Lurah itu tidak segera dapat diketahui siapakah yang akan menang dan siapakah yang akan kalah, sementara kegelisahan Ki Waskita pun menjadi semakin meningkat karena keadaan Sekar Mirah.

Swandaru yang sudah berhasil melukai seorang lawannya, berusaha untuk mendesak terus. Tetapi ternyata kedua lawannya pun menjadi semakin berhati-hati. Mereka tidak ingin terjerat kedalam putaran cambuk Swandaru, sehingga karena itulah, maka keduanyapun berusaha selalu membuat jarak. Jika serangan Swandaru mengarah kepada salah seorang dari keduanya, maka yang lain dengan cepat berusaha membebaskannya.

Betapapun kesabaran Swandaru menjadi semakin tipis, namun ia tetap berusaha untuk tidak kehilangan akal. Ternyata lawannya yang terluka itu pun masih mampu bertahan dan bahkan menyerang.

Ketika Swandaru terpaksa meloncat kesamping karena serangan lawannya justru pada saat ia memburu lawannya yang terluka, maka ia telah dikejutkan oleh keluhan tertahan. Sekilas ia berusaha untuk melihat, apa yang terjadi.

Sebenarnyalah jantungnya menjadi berdebar-debar ketika ia melihat seorang lawan Pandan Wangi terhuyung-huyung. ,

Ternyata Pandan Wangi yang memiliki kekuatan diluar pengenalannya sendiri sebelum ia terlibat dalam pertempuran itu, telah berhasil mempergunakan sebaik-baiknya. Setiap kali ia memang berusaha untuk membenturkan senjatanya. Sehingga dalam benturan yang kuat senjata lawannya itu telah terlepas.

Pandan Wangi tidak mau terlambat lagi. Sekejap kemudian pedang di tangan kirinya sudah terjulur lurus mengarah kedada orang yang kehilangan senjatanya itu.

Orang itu masih berusaha untuk mengelak. Ia memiringkan tubuhnya. Namun ia terlambat. Ujung pedang Pandan Wangi ternyata telah berhasil menyayat dadanya meskipun tidak langsung menembus jantung.

Tetapi Pandan Wangi tidak sempat memburunya. Lawannya yang lain dengan tangkas telah berteriak sambil menyerangnya, sehingga dengan demikian Pandan Wangi harus meloncat menghindar selangkah.

Lawannya yang seorang itulah yang justru memburunya Ketika Pandan Wangi bergeser, sekali lagi lawannya itu berteriak dan mengayunkan senjatanya dengan sekuat tenaganya.

Pandan Wangi melihat senjata itu terayun. Tetapi sekali lagi ia ingin meyakinkan kemampuannya. Ia sadar bahwa kali ini lawannya telah mengerahkan segenap kemampuan dan tenaganya. Bahkan tenaga cadangannya.

Yang terjadi kemudian adalah benturan yang dahsyat. Swandaru dan Ki Waskita berhasil melihat sepintas apa yang terjadi.

Pandan Wangi yang sengaja membentur tenaga lawannya telah menyilangkan sepasang pedangnya. Sementara lawannya yang percaya akan kekuatan dirinya, telah sengaja pula membenturkan senjatanya.

Sepercik bunga api meloncat diudara. Terasa sepasang tangan Pandan Wangi menjadi pedih. Tetapi ia masih tetap menggenggam pedangnya dengan erat. Bahkan ia masih sempat memutar sepasang pedangnya dengan cepatnya.

Putaran pedang Pandan Wangi itu tidak diduga sama sekali oleh lawannya. Ketika benturan itu terjadi, seperti Pandan Wangi, terasa tangannya menjadi sakit. Terlalu sakit, sehingga hampir saja senjatanya terlepas dari tangannya.

Namun sebelum ia berhasil memperbaiki keadaan itu, senjatanya serasa telah direnggut oleh putaran yang kuat sekali, sehingga ia tidak mampu lagi untuk bertahan.

Demikian senjata lawannya itu terlepas dari tangan, maka Pandan Wangi telah meloncat dengan cepatnya. Pedangnya tidak terjulur dan mematuk tubuh lawan, tetapi kali ini senjatanya terayun mendatar.

Lawannya masih berusaha menghindar. Tetapi ternyata Pandan Wangi bergerak lebih cepat. Meskipun tangannya masih terasa pedih, tetapi ujung senjatanya telah berhasil menyobek lambung lawannya.

Yang terdengar kemudian adalah sebuah keluhan panjang. Orang yang tersayat lambungnya itu pun kemudian terjatuh ditanah.

Sementara itu. orang yang dadanya terluka itu pun masih berusaha untuk meraih senjatanya yang terlepas. Tetapi demikian ia berhasil menggapai hulu senjatanya, ia pun telah terjatuh pula dengan lemahnya.

Sejenak Pandan Wangi berdiri termangu-mangu. Dipandanginya dua sosok tubuh yang terbaring diam. Ia memalingkan wajahnya ketika terlihat olehnya darah yang mengalir dari luka-luka ditubuh yang terbujur diam itu.

Terasa jantung Pandan Wangi bergetar semakin cepat. Kematian itu memang mengerikan meskipun pembunuhan itu bukan baru pertama kali dilakukannya

Kematian kedua orang itu sangat mempengaruhi keseimbangan pertempuran. Meskipun Pandan Wangi tidak segera berbuat sesuatu, tetapi pengaruh itu terasa langsung pada kawan-kawannya. Dua orang tukang satang dari Gunung Sepikul itu tiba-tiba saja telah tidak berteriak-teriak lagi. Agaknya mereka pun berpikir, apakah yang kemudian akan dilakukan oleh Pandan Wangi. Jika perempuan itu kemudian berusaha untuk memisahkan sepasang tukang satang itu, sehingga mereka harus bertempur seorang melawan seorang, maka akibatnya sudah dapat dibayangkannya.

Belum lagi Tukang Satang itu menemukan satu cara untuk menyelamatkan diri sendiri, terdengar sekali lagi pekik kesakitan menyusul satu ledakan cambuk yang dahsyat. Meskipun mereka tidak melihat, tetapi mereka dapat membayangkan, satu dari lawan Swandaru tentu telah terluka pula. Bahkan mungkin terbunuh. Mungkin orang yang memang sudah terluka sebelumnya, tetapi mungkin pula yang seorang lagi.

Kedua tukang satang itu tidak berpikir lebih panjang lagi. Dengan isyarat yang hanya dapat mereka mengerti, mereka pun telah bersiap untuk melarikan diri.

Namun dalam pada itu. selagi mereka meloncat menjauhi Sekar Mirah yang hampir saja kehabisan akal untuk mengatasi kengeriannya atas tingkah laku kedua lawannya, tiba-tiba saja terdengar derap kaki kuda yang dengan cepat mendekat. Bahkan sebelum kedua tukang satang itu berbuat sesuatu, sekelompok orang berkuda telah mengepung mereka yang sedang bertempur.

“Letakkan senjata kalian,” terdengar salah seorang penunggang kuda itu memerintahkan.

Hampir tanpa disadari oleh mereka yang sedang bertempur, maka mereka pun telah berloncatan mundur menjauhi lawan masing-masing.

“Letakkan semua senjata,” sekali lagi terdengar perintah.

—- > Bersambung ke bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s